BAB II. TINJAUAN PUSTAKA A. Nilai religi Nilai adalah sesuatu

advertisement
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Nilai religi
Nilai adalah sesuatu yang berlaku, sesuatu yang memikat atau menghimbau kita. Nilai
berperanan dalam suasana apresiasi atau penilaian dan akibatnya sering akan dinilai
secara berbeda oleh orang banyak. Definisi lain tentang nilai dikemukakan oleh Merril
(dalam Murdiyono, 2010:2), menurutnya nilai adalah patokan atau standar pola-pola
pilihan yang dapat membimbing seseorang atau kelompok ke arah satisfaction,
fulfillment, and meaning.
Religi berasal dari kata religion. religio berarti ikatan dan pengikatan diri
kepada
Tuhan atau lebih tepat manusia menerima ikatan Tuhan sebagai sumber ketentraman dan
kebahagiaan (Djojosantoso dalam Hariyani, 2008:15). Menurut Bouman (dalam
Pudjiono, 2006:15) religion bertugas untuk mengatur kehidupan orang sehari-hari agar
selalu dalam bimbingan Tuhan sang pencipta. Religion atau agama menurut
Koentjaraningrat (dalam Pudjiono, 2006:15) adalah salah satu sistem religi.
Dari sudut femalogis, Mangunwidjaja (1986:82) menjelaskan bahwa agama lebih
menitik beratkan pada kelembagaan yang mengatur tata cara penyembahan menusia
kepada penciptanya dan mengarah kepada aspek kuantitas, sedangkan religi lebih
menekankan pada kualitas manusia beragama. Sedangkan menurut Glok dan Stark
(dalam Pudjiono, 2006:15) memahami religi sebagai percaya tentang ajaran-ajaran
agama tertentu dan dampak dari ajaran itu dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.
Moeljanto dan Sunardi (dalam Pudjiono, 2006:16) menyatakan bahwa semakin orang
religis, hidup orang itu semakin nyata atau semakin sadar terhadap kehidupanya sendiri.
Dalam sebuah pengantar bukunya, Nurcholis Madjid (dalam hariyani, 2008:16)
mengatakan bahwa setiap manusia memiliki naluri religiusitas—naluri untuk
berkepercayaan. Naluri itu muncul bersamaan dengan hasrat memperoleh kejelasan
tentang hidup dan alam raya menjadi lingkungan hidup itu sendiri. Karena setiap
manusia pasti memiliki keinsafan apa yang dianggap “makna hidup”.
Nilai religi merupakan akhlak yang mulia (Muhaimin, 2009:111) sebagai salah satu
faktor internal siswa yang mempunyai andil dalam prestasi belajar. Siswa pada
hakikatnya merupakan masa transisi dari anak-anak menuju remaja. Pada masa ini
dimulai pembentukan dan perkembangan sistem moral sejalan dengan pertumbuhan
pengalaman agama. Dalam perkembangan lebih lanjut pengalaman kehidupan beragama
sedikit demi sedikit semakin mantap sebagai suatu unit yang otonom yang merupakan
organisasi yang disebut “nilai-nilai religi” sebagai hasil peranan fungsi kejiwaan
terutama motivasi, emosi, dan intelegensi.
Nilai-nilai religil merupakan dasar dan arah dari kesiapan siswa mengadakan tanggapan,
reaksi, pengolahan dan penyesuaian diri terhadap rangsang yang datang dari luar. Semua
tingkah laku dalam kehidupannya seperti belajar, bergaul dan bermasyarakat diwarnai
oleh sistem nilai-nilai religiusnya. Sehingga, jika siswa yang tinggi nilai-nilai religiusnya
maka besar kemungkinan mereka akan menjadi siswa yang baik, rajin belajar dan taat
pada tata tertib sekolah. Siswa tersebut akan belajar dengan penuh kesadaran tanpa ada
unsur paksaan sebab mereka sadar bahwa belajar merupakan salah satu kewajiban dari
ajaran ke-Tuhanan.
B. Tujuan pendidikan nasional
Tujuan Pendidikan Nasional yang tercantum dalam UU Nomor 20 tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional, Bab II Pasal 3 adalah :
Untuk mengembangkan potensi dasar peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman, bertaqwa, kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,
cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung
jawab.
Kriteria pertama dan utama yang harus dimiliki oleh peserta didik dari hasil proses
pendidikan adalah menjadi manusia yang beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia.
(kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual). Setelah nilai-nilai keimanan dan
ketakwaan tertanam pada jiwa peserta didik, selanjutnya anak didik dibekali ilmu
pengetahuan, kecakapan, keahlian dan keterampilan ( penguasaan ilmu pengetahuan dan
teknologi atau kecerdasan intelektual).
Khusus untuk biologi, berdasarkan Permendiknas tahun 2005 nomor19 tentang Standar
Isi, menjabarkan mata pelajaran Biologi dikembangkan melalui kemampuan berpikir
analitis, induktif, dan deduktif untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan
peristiwa alam sekitar. Penyelesaian masalah yang bersifat kualitatif dan kuantitatif
dilakukan dengan menggunakan pemahaman dalam bidang matematika, fisika, kimia dan
pengetahuan pendukung lainnya.
Mata pelajaran Biologi bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai
berikut.
1.
Membentuk sikap positif terhadap biologi dengan menyadari keteraturan dan
keindahan alam serta mengagungkan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa.
2.
Memupuk sikap ilmiah yaitu jujur, objektif, terbuka, ulet, kritis dan dapat
bekerjasama dengan orang lain.
3.
Mengembangkan pengalaman untuk dapat mengajukan dan menguji hipotesis
melalui percobaan, serta mengkomunikasikan hasil percobaan secara lisan dan
tertulis
4.
Mengembangkan kemampuan berpikir analitis, induktif, dan deduktif dengan
menggunakan konsep dan prinsip biologi
5.
Mengembangkan penguasaan konsep dan prinsip biologi dan saling keterkaitannya
dengan IPA lainnya serta mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap
percaya diri
6.
Menerapkan konsep dan prinsip biologi untuk menghasilkan karya teknologi
sederhana yang berkaitan dengan kebutuhan manusia
7.
Meningkatkan kesadaran dan berperan serta dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Berdasarkan tujuan-tujuan yang tersebut, keimanan, ketaqwaan dan akhlak mulia
menjadi pondasi dasar, konstruksi pertama dan bingkai utama dalam jiwa anak didik,
maka berbagai ilmu pengatahuan dan teknologi yang dikuasainya akan mampu
mengangkat derajat, meninggikan harkat martabat dan kehormatan anak didik.
Kemudian apabila setiap anak didik memiliki kriteria tersebut di atas, akan terbentuk
suatu komunitas warga negara yang berkualitas tinggi sehingga mampu menciptakan
kondisi masyarakat yang berperadaban tinggi. Akhirnya, akan disegani dan dihormati
oleh seluruh masyarakat dunia.
Semua pihak perlu mengakui dengan jujur bahwa isi tujuan pendidikan Nasional belum
dipahami secara tepat dan akurat oleh para pendidik khususnya dan oleh masyarakat
bangsa Indonesia umumnya, sehingga karena salah pemahaman mengakibatkan salah
penerapan dan implementasinya dalam proses belajar mengajar. Keterpurukan kondisi
bangsa Indonesia yang dirasakan dewasa ini, penyebab utamanya karena nilai-nilai
keimanan, ketakwaan dan akhlak mulia, umumnya belum tertanam dalam jiwa bangsa
Indonesia. Keterbelakangan bangsa kita saat ini bukan karena kalah bersaing dalam
penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Untuk membuktikan bahwa iman dan takwa belum begitu nyata dalam realita, mari kita
pahami dahulu apa arti iman dan taqwa. Iman berasal dari kata amana yang berarti
percaya atau membenarkan. Taqwa adalah taat melaksanakan perintah Allah dan
mampu menjauhi segala yang dilarang-Nya. Contoh : Allah SWT memerintahkan
manusia agar suka memberi melalui infak, sadaqah dan zakat, sebaliknya Allah
melarang mencuri, menipu dan berbuat curang. Maka orang yang bertakwa akan
memilki sifat suka memberi dan anti mencuri, suka menyumbang dan anti berbuat
curang. Giat berbuat kebaikan dan enggan melakukan kejahatan. Maraknya berbagai
tindak korupsi oleh pejabat birokrasi, politisi dan pegawai negeri, dari pemerintahan
tingkat pusat, tingkat daerah bahkan sampai tingkat desa. Menjamurnya perilaku tidak
jujur, meningkatnya tindak kriminal dalam kehidupan sosial masyarakat. Itu semua
terjadi akibat lemah bahkan hilangnya nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan dalam hati
manusia (Suherman, 2011:2).
C. Pembelajaran problem based instruction
Dewasa ini, model pembelajaran ini mulai diangkat, sebab ditinjau secara umum
pembelajaran berdasarkan masalah terdiri dari menyajikan kepada siswa situasi masalah
yag autentik dan bermakna yang dapat memberikan kemudahan kepada siswa situasi
masalah yang autentik dan bermakna yang dapat memberikan kemudahan kepada mereka
untuk melakukam pemyelidikan dan inkuiri. Menurut Dewey (dalam Trianto, 2010:91)
belajar berdasarkan masalah adalah interaksi antara stimulus dengan respon, merupakan
hubungan dua arah belajar dan lingkungan.
Lingkungan member masukan kepada
siswa berupa bantuan dan masalah, sedangkan sistem syaraf otak berfungsi menafsirkan
bantuan itu secara efektif sehingga masalah yang dihadapi dapat diselidiki, dinilai,
dianalisis serta dicari pemecahannya dengan baik (Trianto, 2010:89).
1. Ciri-ciri model pembelajaran berbasis masalah
Ciri-ciri khusus pengajaran berbasis masalah:
a) Pengajuan pertanyaan atau masalah.
Pengajaran berbasis masalah bukan hanya mengorganisasikan prinsip-prinsip atau
ketrampilan akademik tertentu, pembelajaran berdasarkan masalah
mengorganisasikan pengajaran di sekitar pertanyaan dan masalah yang keduaduanya secara sosial penting dan secara pribadi bermakna untuk siswa. Mereka
dihadapkan situasi kehidupan nyata yang autentik, menghindari jawaban
sederhana, dan memungkinkan adanya berbagai macam solusi untuk situasi
tersebut.
b) Berfokus pada keterkaitan antar disiplin
Meskipun pengajaran berbasis masalah mungkin berpusat pada mata pelajaran
tertentu ( IPA, Matematika, Ilmu-ilmu Sosial), masalah yang akan diselidiki harus
telah dipilih yang benar-benar secara nyata agar dalam pemecahannya siswa
mampu meninjau masalah itu dari banyak mata pelajaran.
c) Penyelidikan autentik
Pengajaran berbasis masalah siswa melakukan penyelidikan autentik untuk mencari
penyelesaian nyata terhadap masalah nyata. Mereka harus menganalisis dan
mendefinisikan masalah, mengembangkan hipotesis dan membuat ramalan,
mengumpulkan dan menganalisis informasi, melakukan eksperimen (jika
diperlukan), membuat inferensi dan merumuskan kesimpulan. Metode penyelidikan
yang digunakan bergantung pada masalah yang sedang dipelajari.
d) Menghasilkan produk/karya dan memamerkannya.
Pengajaran berbasis masalah menuntut siswa untuk menghasilkan produk tertentu
dalam bentuk karya nyata atau artefak dan peragaan yang menjelaskan atau mewakili
bentuk penyelesaian masalah yang mereka temukan. Produk itu dapat berupa
transkip debat, laporan, model fisik, video atau program komputer (Ibrahim dan Nur,
2000:5-7 dalam Trianto, 2010:94) Pengajaran berbasis masalah dicirikan oleh siswa
bekerja sama satu sama lain (paling sering secara berpasangan atau dalam kelompok
kecil).
2. Tujuan pengajaran berdasarkan masalah
Pembelajaran berdasarkan masalah memiliki tujuan sebagai berikut:
a) Membantu siswa mengembangkan keterampilan berfikir dan keterampilan
memecahkan masalah.
b) Belajar peranan orang dewasa yang autentik.
c) Menjadi pembelajar yang mandiri.
3. Sintaks pengajaran berdasarkan masalah
Menurut Ibrahim (dalam Trianto, 2010:97) peran guru di dalam kelas PBI antara lain
sebagai berikut:
a) Mengajukan masalah atau mengorientasikan siswa kepada masalah autentik yaitu
masalah kehidupan nyata sehari-hari.
b) Memfasilitasi penyelidikan misalnya melakukan pengamatan atau melakukan
eksperimen.
c) Memfasilitasi dialog siswa.
d) Mendukung belajar siswa.
Sintaks pengajaran berdasarkan masalah:
Tahap-1 : orientasi siswa pada masalah
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan,
mengajukan fenomena atau demonstrasi atau cerita untuk memunculkan masalah,
memotivasi siswa untuk terlibat dalam pemecahan masalah yang dipilih.
Tahap-2 : mengorganisasi siswa untuk belajar.
Guru membantu siswa untuk mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar
yang berhubungan dengan masalah tersebut.
Tahap-3 : membimbing penyelidikan individual maupun kelompok.
Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan
eksperimen, untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.
Tahap-4 : mengembangkan dan menyajikan hasil karya.
Guru membantu siswa dalam merecanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti
laporan, video dan model serta membantu mereka untuk berbagi tugas dengan
temanya.
Tahap-5 : menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Guru
membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka
dan proses-proses yang mereka gunakan.
D. Tinjauan Konsep nilai religi dalam pembelajaran biologi pada materi pokok
pencemaran lingkungan
Tinjauan konsep nilai religi dalam pembelajaran biologi pada materi pokok pencemaran
lingkungan dapat dijabarkan pada tabel berikut:
Tabel 1. Penjabaran nilai religi pada materi pokok pencemaran lingkungan
No
Nilai religi
1.
Kesadaran
2.
Tanggung jawab
3.
Kebersihan diri
4.
Kebersihan lingkungan
integrasi dalam pembelajaran
a. Kesadaran sebagai seorang hamba
Allah
b. Kesadaran sebagai khalifah di muka
bumi
a. Memiliki tanggung jawab dalam
kelestarian lingkungan
a. Menjaga kebersihan pakaian
b. Menjaga kebersihan badan
a. Menjaga kabersihan kelas
b. Menjaga kebersihan lingkungan
sekolah
c. Mengupayakan kelestarian
lingkungan baik di sekolah maupun
dirumah
Sumber: Muhaimin (2009:112)
E.
Integrasi nilai religi dalam pembelajaran
Integrasi dapat dimaknai sebagai proses memadukan nilai-nilai tetentu terhadap sebuah
konsep lain sehingga menjadi suatu kesatuan yang koheren dan tidak bisa dipisahkan
atau proses pembauran hingga menjadi satu kesatuan yang utuh dan bulat. Integrasi
antara nilai religi dan pelajaran umum esensinya adalah perpaduan antara dimensi agama
dan ilmu.
Menurut Sadulloh (dalam Sauri, 2010:3) sekurang-kurangnya terdapat empat ciri agama,
pertama, adanya kepercayaan terhadap yang Maha Gaib, Maha Suci, Maha Agung,
sebagai pencipta alam semesta. Kedua, Melakukan hubungan dengan hal-hal di atas,
dengan berbagai cara misalnya dengan mengadakan upacara-upacara ritual, pemujaan,
pengabdian dan sebagainya. Dalam Islam melakukan hubungan dengan Maha Pencipta
(Rabb), dengan mengucapkan dua kalimah syahadat sebagai awal pengakuan bahwa
Allah sebagai Rab dan Muhammad sebagai Rasul-Nya, melaksanakan shalat lima waktu
melaksanakan puasa, membayar zakat bagi yang sudah nisab, melaksanakan ibadah haji
bagi yang mampu. Adanya suatu ajaran (doktrin) yang harus dijalankan oleh setiap
penganutnya. Dalam Islam doktrin itu terdiri dari tiga aspek yaitu Iman, Islam dan Ihsan.
Menurut pandangan Islam, bahwa ajaran atau doktrin tersebut diturunkan oleh Rabb
tidak langsung pada setiap manusia, melainkan melalui nabi-nabi dan rasul-rasulNya
sebagai orang-orang suci. Maka menurut pandangan Islam, adanya rasul dan kitab suci
merupakan syarat mulak adanya agama.
Adapun Ilmu adalah pengetahuan yang tersusun secara sistematis dengan menggunakan
metode ilmiah, ilmu dapat diartikan juga sebagai organisasi sistematik dari suatu
bangunan pengetahuan (body of knowledge) beserta pengembangannya. Ilmu juga
merupakan kegiatan intelektual tentang dunia fisik untuk menemukan penjelasan umum
tentang gejala dan hubungan gejala yang terjadi secara alamiah.
Poedjawijatna dalam Sauri (2010:3) memberikan batasan pengertian tentang ilmu bahwa
Ilmu adalah pengetahuan yang sadar menuntut kebenaran yang bersistem dan berlaku
universal. Pada umumnya ilmu diperoleh melalui observasi dan eksperimentasi dalam
kerangka penelitian ilmiah.
Dalam menginternalisasikan nilai-nilai religi; Simon, Howe, dan Kirschenbaum (dalam
Murdiyono, 2010:3) menawarkan 4 (empat) pendekatan yang dapat digunakan, yaitu
pendekatan penanaman moral, pendekatan transmisi nilai bebas, pendekatan teladan, dan
pendekatan klarifikasi nilai.
Menurut Kirschenbaum (dalam Murdiyono, 2010:3) pendidikan nilai perlu dilakukan
dengan menggunakan pendekatan secara komprehensif. Pendekatan secara komprehensif
dalam pendidikan nilai maksudnya adalah pendidikan nilai yang menyeluruh atau
komprehensif yang dapat ditinjau dari segi metode yang digunakan, pendidik yang
berpartisipasi (guru, orang tua), dan konteks berlangsungnya pendidikan nilai (sekolah,
keluarga).
F. Hasil Belajar Aspek Afektif
Hasil belajar menurut Taksonomi Bloom (dalam Sudrajat, 2008:8) terbagi menjadi tiga
kawasan (domain) perilaku individu beserta sub kawasan dari masing-masing kawasan,
yakni : (1) kawasan kognitif; (2) kawasan afektif; dan (3) kawasan psikomotor.
Kawasan afektif yaitu kawasan yang berkaitan aspek-aspek emosional, seperti perasaan,
minat, sikap, kepatuhan terhadap moral. Penilaian hasil belajar afektif kurang mendapat
perhatian dari guru. Target afektif mengacu pada objek, aktivitas, atau ide sebagaimana
menurut Krathwohl (dalam Depdiknas, 2008:4) bila ditelusuri hampir semua tujuan
kognitif mempunyai komponen afektif. Tingkatan ranah afektif menurut taksonomi
Krathwohl ada lima, yaitu: receiving (attending), responding, valuing, organization, dan
characterization. Hal tersebut dijabarkan dalam Yulaelawati (2004: 62) yaitu: A1
(menerima/receiving) merupakan kesadaran dan kepekaan atau bertoleransi terhadap
suatu gagasan; A2 (menanggapi/responding) merupakan kemampuan memberikan
tanggapan atau respon terhadap suatu gagasan; A3 (menilai/valuing) merupakan
kemampuan memberikan tanggapan atau respon terhadap suatu gagasan, benda, bahan,
atau gejala tertentu; A4 (mengelola/organization) merupakan kemampuan mengatur atau
mengelola berhubungan dengan tindakan penilaian dan perhitungan yang telah dimiliki;
A5 (menghayati/characterization) merupakan tindakan puncak dalam perwujudan
perilaku seseorang yang secara konsisten sejalan dengan nilai atau seperangkat nilai-nilai
yang dihayati secara mendalam.
Secara gamblang dirinci sebagai berikut:
1. Penerimaan (receiving/attending), kawasan penerimaan diperinci ke dalam tiga tahap,
yaitu :
a.
Kesiapan untuk menerima (awareness), yaitu adanya kesiapan untuk berinteraksi
dengan stimulus (fenomena atau objek yang akan dipelajari), yang ditandai
dengan kehadiran dan usaha untuk memberi perhatian pada stimulus yang
bersangkutan.
b.
Kemauan untuk menerima (willingness to receive), yaitu usaha untuk
mengalokasikan perhatian pada stimulus yang bersangkutan.
c.
Mengkhususkan perhatian (controlled or selected attention). Mungkin perhatian
itu hanya tertuju pada warna, suara atau kata-kata tertentu saja.
2. Sambutan (responding), mengadakan aksi terhadap stimulus, yang meliputi p
roses sebagai berikut :
a.
Kesiapan menanggapi (acquiescene of responding). Contoh : mengajukan
pertanyaan, menempelkan gambar dari tokoh yang disenangi pada tembok kamar
yang bersangkutan, atau mentaati peraturan lalu lintas.
b.
Kemauan menanggapi (willingness to respond), yaitu usaha untuk melihat halhal khusus di dalam bagian yang diperhatikan. Misalnya pada desain atau warna
saja.
c.
Kepuasan menanggapi (satisfaction in response), yaitu adanya aksi atau kegiatan
yang berhubungan dengan usaha untuk memuaskan keinginan mengetahui.
Contoh kegiatan yang tampak dari kepuasan menanggapi ini adalah bertanya,
membuat coretan atau gambar, memotret dari objek yang menjadi pusat
perhatiannya, dan sebagainya.
3. Penilaian (valuing). Pada tahap ini sudah mulai timbul proses internalisasi untuk
memiliki dan menghayati nilai dari stimulus yang dihadapi. Penilaian terbagi atas
empat tahap sebagai berikut :
a. Menerima nilai (acceptance of value) atau menilai, yaitu kelanjutan dari usaha
memuaskan diri untuk menanggapi secara lebih intensif.
b. Menyeleksi nilai yang lebih disenangi (preference for a value) yang dinyatakan
dalam usaha untuk mencari contoh yang dapat memuaskan perilaku menikmati,
misalnya lukisan yang memiliki nialai seni yang memuaskan.
c. Komitmen yaitu kesetujuan terhadap suatu nilai dengan alasan-alasan tertentu
yang muncul dari rangkaian pengalaman.
d. Komitmen ini dinyatakan dengan rasa senang, kagum, terpesona. Kagum atas
keberanian seseorang, menunjukkan komitmen terhadap nilai keberanian yang
dihargainya.
4. Pengorganisasian (organization). Pada tahap ini yang bersangkutan tidak hanya
menginternalisasi satu nilai tertentu seperti pada tahap komitmen, tetapi mulai
melihat beberapa nilai yang relevan untuk disusun menjadi satu sistem nilai. Proses
ini terjadi dalam dua tahapan, yakni :
a. Konseptualisasi nilai, yaitu keinginan untuk menilai hasil karya orang lain, atau
menemukan asumsi-asumsi yang mendasari suatu moral atau kebiasaan.
b. Pengorganisasian sistem nilai, yaitu menyusun perangkat nilai dalam suatu sistem
berdasarkan tingkat preferensinya. Dalam sistem nilai ini yang bersangkutan
menempatkan nilai yang paling disukai pada tingkat yang amat penting,
menyusul kemudian nilai yang dirasakan agak penting, dan seterusnya menurut
urutan kepentingan.atau kesenangan dari diri yang bersangkutan.
5. Karakterisasi (characterization). Karakterisasi yaitu kemampuan untuk menghayati
atau mempribadikan sistem nilai Kalau pada tahap pengorganisasian di atas sistem
nilai sudah dapat disusun, maka susunan itu belum konsisten di dalam diri yang
bersangkutan. Artinya mudah berubah- ubah sesuai situasi yang dihadapi. Pada
tahap karakterisasi, sistem itu selalu konsisten. Proses ini terdiri atas dua tahap,
yaitu :
a. Generalisasi, yaitu kemampuan untuk melihat suatu masalah dari suatu sudut
pandang tertentu.
b. Karakterisasi, yaitu mengembangkan pandangan hidup tertentu yang memberi
corak tersendiri pada kepribadian diri yang bersangkut (Depdiknas, 2008:8).
Pemikiran atau perilaku harus memiliki dua kriteria untuk diklasifikasikan sebagai
ranah afektif (Andersen, 1981:4). Pertama, perilaku melibatkan perasaan dan emosi
seseorang. Kedua, perilaku harus tipikal perilaku seseorang. Ada 5 (lima) tipe
karakteristik afektif yang penting, yaitu sikap, minat, konsep diri, nilai, dan moral.
1. Sikap
Sikap merupakan suatu kencendrungan untuk bertindak secara suka atau tidak
suka terhadap suatu objek. Sikap dapat dibentuk melalui cara mengamati dan
menirukan sesuatu yang positif, kemudian melalui penguatan serta menerima
informasi verbal. Perubahan sikap dapat diamati dalam proses pembelajaran,
tujuan yang ingin dicapai, keteguhan, dan konsistensi terhadap sesuatu. Penilaian
sikap adalah penilaian yang dilakukan untuk mengetahui sikap peserta didik
terhadap mata pelajaran, kondisi pembelajaran, pendidik, dan sebagainya.
2. Minat
Minat atau keinginan adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu. Hal
penting pada minat adalah intensitasnya. Secara umum minat termasuk
karakteristik afektif yang memiliki intensitas tinggi.
3. Konsep Diri
Target, arah, dan intensitas konsep diri pada dasarnya seperti ranah afektif yang
lain. Target konsep diri biasanya orang tetapi bisa juga institusi seperti sekolah.
Arah konsep diri bisa positif atau negatif, dan intensitasnya bisa dinyatakan dalam
suatu daerah kontinum, yaitu mulai dari rendah sampai tinggi. Konsep diri ini
penting untuk menentukan jenjang karir peserta didik, yaitu dengan mengetahui
kekuatan dan kelemahan diri sendiri, dapat dipilih alternatif karir yang tepat bagi
peserta didik. Selain itu informasi konsep diri penting bagi sekolah untuk
memberikan motivasi belajar peserta didik dengan tepat.
4. Nilai
Sikap mengacu pada suatu organisasi sejumlah keyakinan sekitar objek spesifik
atau situasi, sedangkan nilai mengacu pada keyakinan. Target nilai cenderung
menjadi ide, target nilai dapat juga berupa sesuatu seperti sikap dan perilaku. Arah
nilai dapat positif dan dapat negatif. Selanjutnya intensitas nilai dapat dikatakan
tinggi atau rendah tergantung pada situasi dan nilai yang diacu.
5. Moral
Moral berkaitan dengan perasaan salah atau benar terhadap kebahagiaan orang
lain atau perasaan terhadap tindakan yang dilakukan diri sendiri. Misalnya menipu
orang lain, membohongi orang lain, atau melukai orang lain baik fisik maupun
psikis. Moral juga sering dikaitkan dengan keyakinan agama seseorang, yaitu
keyakinan akan perbuatan yang berdosa dan berpahala. Jadi moral berkaitan
dengan prinsip, nilai, dan keyakinan seseorang.
G.
Tinjauan Konsep pencemaran lingkungan
Penemaran lingkungan adalah masuknya bahan anorganik dan organik atau organisme
kedalam lingkungan yang dapat mengganggu atau membahayakan organisme di
lingkungan tersebut. Pencemaran dapat terjadi secara alami atau sebagai akibat kegiatan
manusia. Seiring dengan pertambahan penduduk, semakin banyak pula pencemaran
lingkungan (Tim Abdi Guru, 2007:166).
1. Pencemaran air
Pencemaran air adalah masuknya bahan pencemar kedalam lingkungan air.
Tanda–tanda pencemaran air dapat lihat secara:
a. Fisis, yaitu pada kejernihan air, perubahan suhu, perubahan rasa, dan perubahan
warna air.
b. Kimia, yaitu adanya zat kimia yang terlarut dan perubahan pH.
c. Biologi, yaitu, adanya mikroorganisme di dalam air tersebut.
Akibat pencemaran air:
a. Zat yang memperkaya perairan sehingga merangsang pertumbuhan
mikroorganisme. Akibatnya kadar oksigen dalam air berkurang sehingga
mengganggu makhluk hidup air lainnya. Sampah organik pada air akan
mengalami penguraian yang merangsang mikroorganisme seperti ganggang akan
tumbuh subur sehingga akan menutupi ekosistem air. Peristiwa ini disebut
eutrofikasi.
c. Zat-zat yang bersifat racun akan membunuh organisme yang hidup di air. Zat
yang bersifat racun contohnya pestisida yang penggunaannya secara berlebihan
sisanya dapat sampai lingkungan air. Karena sisa pertisida itu sulit diuraikan oleh
mikroorganisme. Hal ini akan menyebabkan turunnya kandungan oksigen dalam
air tersebut. Polutan dapat berasal dari limbah industri, rumah tangga dan
pertanian.
c. Timbulnya endapan, koloidal dan bahan terlarut.
d. Perubahan pH perubahan warna, bau dan rasa (Teguh dan Eny, 2008:253)
Untuk mengatasi polusi air dapat dilakukan upaya antara lain:
a. Mengelola limbah cair industri dan rumah tangga sebelum dibuang ke perairan.
b. Tidak membuang sampah keperairan atau selokan.
c. Tidak membuang sisa pestisida keperaiaran.
d. Secara rutin membersihkan perairan (Tim Abdi Guru, 2007:167).
2. Pencemaran udara
Penceemaran udara didefinisikan sebagai masuk atau dimasukkanya makhluk hidup,
zat, energy dan atau komponen lain ke udara dan atau berubahnya tatanan udara oleh
kegiatan manusia atau proses alam sehingga kualitas udara menurun sampai
ketingkat tertentu yang menyebabkan udara menjadi kurang atau tidak dapat
berfungsi lagi sesuai peruntukanya.
Zat pencemar udara diklasifikasikan menjadi dua bagian yaitu :
a. Partikel yang merupakan butiran halus dan masih munglin terlihat dengan mata
seperti uap air, debu, asp dan kabut.
b. Zat pencemar barupa gas yang hanya dapat dirasakan melalui penciuman.
Dampak terjadinya pencemaran udara adalah sebagai berikut:
(a) Rusaknya lapisan ozon, (b) Pemanasan global, (c) Hujan asam,
(d) Pengaruh polusi udara terhadap organ tubuh manusia.
Upaya untuk mengatasi polusi udara adalah sebagai berikut:
(a) Lokalisasi industry, (b) Tidak membakar sampah dipekarangan,
(c) Pembuatan taman kota, (d) Mencegah penebangan dan kebakaran hutan (TAG,
2007:168).
3. Pencemaran tanah
Penyebab pencemaran tanah karena adanya sampah–sampah yang tidak dapat
diuraikan, seperti plastik, kaleng, dan kaca. Akibat pencemaran tanah: kesuburan
tanah menurun dan pertumbuhan tanaman terganggu.
Upaya mengatasi pencemaran tanah, antara lain :
a. Melakukan daur ulang sampah yang tidak dapat diuraikan oleh
mikroorganime.
b. Memisahkan sampah plastik dengan non plastik.
c. Jangan membuang sampah di sembarang tempat.
Beberapa penyebab terjadinya kerusakan hutan, yaitu:
a. Berladang yang berpindah–pindah.
b. Penebangan kayu secara liar.
Akibat kerusakan hutan :
(a). Kondisi kesuburan tanah menurun. (b). Air tanah berkurang.
(c) Peningkatan suhu tubuh. (d). Flora dan fauna terancam. (Teguh dan Eny,
2008:253).
4. Pencemaran suara
Sumber pencemaran suara adalah suara bising. Suara bising merupakan bunyi yang
tidak diinginkan dari suatu usaha atau kegiatan dalam tingkat dan waktu tertentu yang
dapat menggangu kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan. Suara bising dapat
berasal dari suara mesin pabrik, mesin kendaraan dan mesin pesawat. Sumber suara
yang mengeluarkan suara di atas 80 dB akan menggangu kesehatan manusia.
Hilangnya pendengaran dimulai pada tingkat kebisingan 80-90 dB selama 8 jam, pada
tingkat 120 dB akan membuat telinga sakit, dan dapat membunuh manusia pada
tingkat 180 dB.
Upaya yang dapat dilakukan untuk menanggulangi pencemaran suara adalah sebagai
berikut:
a. Membuat dinding kedap suara
b. Melengkapi alat peredam suara pada mesin-mesin pabrik
c. Menggunakan penutup telinga jika bekerja dekat mesin bersuara bising.
Download