BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tulisan ini

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Tulisan ini akan menjelaskan terkait penyelenggaraan good governance
dalam pengelolaan CSR di Kota Cilegon melalui forum multi-stakeholder.
Penelitian ini difokuskan pada aspek transparansi dan akuntabilitas lembaga
Cilegon Corporate Social Responsibility (CCSR) sebagai forum multistakeholder. Baik dari sisi pengelolaan CSR, maupun dari fungsi kordinasi
terhadap pemangku kepentingan yang terlibat dalam pengelolaan CSR di Kota
Cilegon.
Lembaga CCSR yang berdiri sejak tahun 2011 ini memiliki beberapa
perbedaan dengan forum multi-stakeholder lain, hal ini dapat dilihat melalui
kepemilikan dua rekening yang dibedakan peruntukan dan fungsinya, dan
model kerja partisipatif yang turut melibatkan masyarakat, perusahaan, dan
Pemkot dalam pengelolaan CSR di Kota Cilegon. Lembaga CCSR bahkan
pernah diundang oleh Kementrian Sosial RI untuk menjelaskan tata kerja
lembaga dan dijadikan sebagai model kemitraan di beberapa daerah di
Indonesia. (www.bantenposnews.com 2013)
Namun di sisi lain, hal tersebut bertolak belakang dengan diseminasi
informasi lembaga CCSR yang cenderung tertutup. Bahkan lembaga ini tidak
menyediakan akses informasi yang terbuka dalam proses penyelenggaraan
CSR integratif terhadap publik. Dengan kata lain, lembaga CCSR belum dapat
dikatakan sepenuhnya akuntabel dan transparan dalam pengelolaan CSR di
Kota Cilegon. Maka dari itu, penting untuk melihat dan menganalisa sejauh
mana derajat transparansi maupun akuntabilitas lembaga CCSR sebagai
lembaga publik dalam pengelolaan CSR di Kota Cilegon.
Dengan adanya tulisan ini, diharapkan dapat memberikan rekomendasi
perubahan yang membangun terhadap aspek transparansi dan akuntabilitas
lembaga CCSR kedepannya. Sehingga penyelenggaraan pengelolaan CSR
1 melalui forum multi-stakeholder ini benar-benar menghasilkan program CSR
yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan yang terlibat di Kota Cilegon.
Serupa dengan penelitian ini, penulis menyajikan dua literature review
yang juga meneliti terkait forum multi-stakeholder. Penelitian pertama,
merupakan karya yang ditulis oleh Dini Suryani dalam tulisan skripsinya
dengan judul “THE POLITIC OF CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY :
(Studi Tentang Peran Forum Multistakeholder CSR dalam Melakukan Kontrol
Terhadap CSR sebagai Co-production dalam Penyediaan Public Goods di
Kabupaten Kutai Timur)”. Tulisan ini menggambarkan kontestasi kepentingan
para pemangku kepentingan (pemerintah, perusahaan, dan masyarakat) dalam
rangka penyediaan public goods di Kutai Kalimantan Timur. Penelitian ini
menemukan adanya peran dominan salah satu perusahaan anggota MSH-CSR
disebabkan karna ketergantungan MSH-CSR terhadap
biaya operasional
forum. Selain itu penelitian ini menemukan masih banyaknya praktek rente
ataupun pihak-pihak yang mencari keuntungan dalam penerapan program CSR
di Kutai Kalimantan Timur.
Penelitian kedua dilakukan oleh Rahmatullah dalam thesisnya dengan
judul “Kemitraan antara Pemerintah Kota Cilegon dengan Perusahaan di
Wilayah Kota Cilegon dalam Melaksanakan Program Corporate Social
Responsibility melalui Lembaga Cilegon Corporate Social Responsibility”.
Thesis ini secara garis besar menggambarkan hubungan kemitraan yang terjalin
antar tiga aktor, yaitu perusahaan, Pemkot Cilegon dan masyarakat. Penelitian
ini menyimpulkan rendahnya jumlah perusahaan yang berpartisipasi dalam
forum, landasan hukum lembaga CCSR yang cenderung lemah, dan
keterlibatan masyarakat yang cenderung pasif dalam tahapan pelaksanaan
program CSR.
Berbeda dengan penelitian di atas, penulis mencoba untuk melihat aspek
transparansi dan akuntabilitas lembaga CCSR sebagai forum multi-stakeholder.
Penulis memiliki anggapan dasar bahwa kapasitas lembaga CCSR sebagai
forum multi-stakeholder cenderung lemah, sehingga berimplikasi terhadap
akuntabilitas dan transparansi lembaga CCSR terhadap publik. Sehingga
2 penting untuk menganalisa sejauh mana kapasitas lembaga CCSR dalam
menyelenggarakan prinsip akuntabilitas dan transparansi.
Seperti yang kita ketahui, dinamika aktor-aktor yang terlibat dalam
lingkup Governance terkait isu mengenai pembangunan masyarakat, menjadi
isu hangat pada beberapa tahun terakhir. Tidak jarang beberapa daerah di
Indonesia mendirikan forum maupun lembaga independen sebagai mitra kerja
pemerintah
dan
perusahaan
dalam
menerapkan
program-program
pembangunan masyarakat yang integratif. Diantaranya penerapan program
tanggung jawab sosial perusahaan/Corporate Social Responsibility (disingkat
CSR) melalui forum multi-stakeholder.
Pemerintah Indonesia sendiri dalam menaggapi isu CSR melalui
UU
nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas, memberikan mandat
terhadap seluruh perusahaan untuk melaksanakan tanggung jawab sosial
perusahaanya, terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar perusahaan.
Melalui kebijakan ini, Tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) tidak lagi
dipandang sebagai sebuah program voluntary, namun telah menjadi sebuah
program mandatory yang wajib dijalankan oleh sebuah perusahaan. Tuntutan
kontribusi nyata perusahaan dalam pembangunan masyarakat inilah yang
memerlukan adanya kontrol pemerintah sebagai pembuat kebijakan maupun
masyarakat sebagai sasaran kegiatan CSR. UU nomor 40 tahun 2007 di atas
juga turut memberikan pengaruh pada konsep penerapan CSR sebagai sebuah
bentuk sinergi antar pemangku kepentingan (negara, swasta, masyarakat) yang
terlibat dalam penerapan CSR, sehingga seluruh pengelolaan program CSR
tidak lain mencakup seluruh kepentingan stakeholder.
Menanggapi isu terkait kontribusi perusahaan dalam pembangunan
masyarakat di Kota Cilegon, maupun sebagai partner perusahaan dan partner
pemerintah daerah Kota Cilegon. Lembaga independen CCSR (Cilegon
Corporate Social Responsibility) hadir sebagai forum pemangku kepentingan
dalam tata kelola CSR di Kota Cilegon yang ditetapkan berdasarkan Peraturan
Walikota (Perwal) Nomor 3 tahun 2011.
3 CCSR
merupakan
lembaga
independen
non
pemerintah
yang
mensinkronisasikan dan mengintegrasikan program dan kegiatan CSR
perusahaan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah
(RPJMD) Kota Cilegon. Maksud pendirian CCSR adalah sebagai mitra
pemerintah dan dunia usaha dalam rangka penerapan CSR dari perusahaanperusahaan yang terdapat di Kota Cilegon.
Perannya sebagai lembaga independen non-pemerintah memungkinkan
lembaga ini menjadi “wadah” bertemunya pemerintah, masyarakat, maupun
perusahaan dalam merumuskan kepentingannya masing-masing melalui
program CSR, dan juga sebagai lembaga pengelola dana CSR perusahaan.
Kedepannya, kontribusi perusahaan yang diharapkan
mampu
membantu
pemerintah dalam proyek pembangunan maupun kesejahteraan masyarakat
daerah tidak lagi hanya terdistribusi pada daerah ring 1 perusahaan saja, namun
secara merata diterapkan keseluruh daerah di Kota Cilegon.
Kota Cilegon sendiri dikenal dengan label “Kota Baja”, yang menjadikan
kota ini sebagi basis vital ekonomi daerah karena keberadaan BUMN penghasil
baja, yaitu PT Krakatau Steel. Sebagai perusahaan terbesar di Kota Cilegon,
Krakatau Steel sering mendapatkan
berbagai penghargaan, diantaranya
penghargaan sebagai pemenang untuk kategori Industri Strategis dalam ajang
Metro
TV
Economic
Challenges
Award
2012.
(krakatausteel.com).
Pengelolaan limbah yang baik dan keberhasilan program CSR bina lingkungan
dan program kemitraan (PKBL) menjadi salah satu faktor penting peneliti
memilih perusahaan ini sebagai salah satu objek penelitian. Selain capaian
perusahaan ini dalam praktek penerapan CSR kemanusiaan dan beberapa
kegiatan lingkungan, dari beberapa penelitian sebelumnya, perusahaan ini juga
merupakan perusahaaan yang paling aktif dalam penerapan program CSR
melalui Lembaga CCSR (Cilegon Corporate Social Responsibility).
Di Kota Cilegon sendiri, terhitung memiliki kurang lebih sebanyak 170
perusahaan, mulai dari skala kecil hingga besar. Namun demikian, tidak semua
perusahaan bergabung sebagai anggota CCSR, bahkan berdasarkan beberapa
narasumber, tidak sedikit perusahaan yang program CSR-nya cenderung tidak
4 berjalan. Sehingga, dengan hadirnya lembaga CCSR di Kota Cilegon,
diharapkan
kedepannya
seluruh
perusahaan
mau
bergabung
dan
mengintegrasikan program CSR-nya sejalan dengan program Pemkot Cilegon.
Lembaga CCSR sendiri memiliki beberapa model kerja yang cenderung
partisipatif, dengan penerapan tiga model kerja utama yang melibatkan tiga
pemangku kepentingan, yaitu Pemkot Cilegon, Perusahaan, dan Masyarakat
Kota Cilegon. Selain itu, CCSR memiliki dua rekening pendukung kinerja
lembaga, diantaranya rekening operasional dan rekening program CSR. Hal ini
yang pada praktiknya menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi perusahaan
untuk bergabung dalam forum ini. Dikarenakan perusahaan tidak perlu
mengeluarkan biaya tambahan diluar dari biaya program CSR.
Meskipun dalam segi normatif lembaga CCSR memiliki beberapa
kelebihan,
namun
dari
segi
praktis
lembaga
CCSR
cenderung
mengesampingkan aspirasi maupun peran aktif publik. Berdasarkan beberapa
narasumber pun menyampaikan kinerja lembaga yang cenderung tertutup dan
tidak transparan terhadap publik. Hal ini yang juga memengaruhi tersebarnya
spekulasi-spekulasi negatif terhadap lembaga CCSR di masyarakat Kota
Cilegon.
Forum multi-stakeholder dalam pengelolaan CSR sebagaimana bentuk dan
namanya, selayaknya menyelenggarakan pengelolaan CSR berdasarkan
aspirasi dari masing-masing pemangku kepentingan. Sehingga sifat kesetaraan
dan kesejajaran yang juga menjadi pondasi dasar good governance benar-benar
tercipta. Bukan hanya sekedar menerapkan check and balances saja, namun
juga turut menyelenggarakan program CSR yang sesuai dan tepat sasaran.
Untuk itu, konsep good governance dianggap mampu dalam menggambarkan
dan menganalisa kinerja forum multi-stakeholder dalam penyelenggaraan
pengelolaan CSR yang akuntabel dan transparan.
Penelitian dengan tema Good Governance dalam pengelolaa CSR melalui
Forum Multi-stakeholder ini mencoba untuk menganalisa sejauh mana
kapasitas lembaga CCSR sebagai forum multi-stakeholder dalam perspektif
good governance. Berdasarkan penelitian sebelumnya, forum multi-stakeholder
5 telah banyak diteliti dan dianalisa melalui berbagi aspek dan perspektif. Untuk
itu, penelitian ini akan lebih difokuskan pada aspek transparansi dan
akuntabilitas lembaga CCSR dalam rangka perwujudan good governance
dalam pengelolaan CSR.
1.2
Rumusan Masalah
Berdasarkan pemaparan diatas, pertanyaan besar penelitian ini adalah:
“Bagaimana kapasitas lembaga Cilegon Corporate Social Responsibiilty
(CCSR) dalam menyelenggarakan prinsip transparansi dan akuntabilitas dalam
pengelolaan CSR di Kota Cilegon?”
1.3
Tujuan Penelitian
1.
Menganalisa kapasitas lembaga CCSR dalam penyelenggaraan
pengelolaan CSR yang transparan terhadap publik di Kota Cilegon.
2.
Menganalisa sejauh mana derajat akuntabilitas lembaga CCSR sebagai
forum multi-stakeholder.
3.
Menganalisa urgensi lembaga CCSR sebagai forum multi-stakeholder
dalam tata kelola CSR di Kota Cilegon.
1.4
Kerangka Teori
Konsep mengenai tanggung jawab sosial perusahaan sudah sejak lama
diperdebatkan dalam dimensi politik, peran maupun keikutsertaan pemangku
kepentingan menjadi kunci utama dalam melihat dinamika politik yang
berkembang pada penerapan tanggung jawab sosial perusahaan. Peran penting
pemangku kepentingan dalam tanggung jawab sosial perusahaan pada akhirnya
memengaruhi tata kelola CSR, dimana pengelolaan tanggung jawab sosial
tidak lagi hanya diemban oleh aktor tunggal perusahaan, namun lebih
melibatkan pemangku kepentingan lain- diantaranya pemerintah daerah
maupun masyarakat.
Konsep good governance dengan berbagai prinsip dalam penyelenggaraan
CSR, menawarkan beberapa aspek yang harus dipenuhi oleh sebuah lembaga
6 publik, dalam hal ini lembaga CCSR. Diantaranya akuntabilitas dan
transparansi yang secara fundamental menyediakan sarana bagi keikutsertaan
publik yang lebih partisipatif melalui aspek keterbukaan dan kesetaraan dalam
pengelolaan CSR.
Paragraf di bawah akan menjelaskan toeri mengenai forum multistakeholder dalam pengelolaan CSR, dimulai dengan penjelasan mengenai
konsep CSR dan urgensi keikutsertaan stakeholder melalui forum multistakeholder. Dilanjutkan dengan penjelasan teori good governance dari aspek
akuntabilitas dan transparansi dalam melihat kapasitas lembaga CCSR sebagai
forum multi-stakeholder.
1.4.1 Forum Multi-stakeholder dalam Pengelolaan CSR
Terdapat beberapa pengertian mengenai CSR atau tanggung jawab
sosial perusahaan, diantaranya yang dikemukakan oleh Suharto, mengenai
program
CSR
yang
berkesinambungan
dalam
upaya
peningkatan
kesejahteraan masyarakat sekitar perusahaan. CSR adalah operasi bisnis
yang berkomitmen tidak hanya untuk meningkatkan keuntungan perusahaan
secara finansial, melainkan pula untuk membangun sosial-ekonomi kawasan
secara holistik, melembaga dan berkelanjutan. (Suharto 2006). Sama halnya
dengan penjelasan CSR menurut (Carrol 1979) dalam tulisannya, yang
merupakan salah satu bentuk tanggung jawab dari sebuah korporasi, yaitu
tanggung jawab filantropis terhadap lingkungan maupun masyarakat sekitar
perusahaan.
Berhubungan dengan aktor-aktor yang terlibat dalam penerapan
program CSR, pengertian lain mengenai CSR juga diungkapkan Tsoutsoura
(2004), dimana CSR merupakan seperangkat kebijakan, tindakan, dan
program komprehensif yang terintegrasi kedalam operasi bisnis, distribusi,
dan proses pengambilan keputusan dalam perusahaan yang umumnya
berkaitan dengan isu-isu mengenai etika bisnis, investasi masyarakat,
masalah lingkungan, tata laksanakan, serta pasar, dan tempat kerja. Dengan
kata lain, hal ini menjelaskan terkait peran perusahaan dalam usaha
7 peningkatan kesejahteraan masyarakat maupun lingkungan, dan juga usaha
pengembangan masyarakat yang berkelanjutan.
Maraknya penerapan CSR yang dilakukan oleh beberapa perusahaan
dibeberapa daerah sebenarnya tidak terlepas dari logika dasar pertumbuhan
CSR itu sendiri. Seperti istilah “the triple bottom lines” yang diperkenalkan
oleh Elkington dalam Brundtland Report (1987), yaang terdiri dari Profit,
planet, people. Elkington dan Brundland menyatakan bahwa sebuah
perusahaan agar mampu terus bertahan/eksis, baiknya tidak hanya mencari
profit semata, namun juga memperdulikan planet atau lingkungan tempat
perusahaan itu beraktifitas, dan people atau masyarakat sekitar yang terkena
dampak dari aktifitas perusahaan (Marlia & Hidayat 2008).
Baik teori the triple bottom lines, maupun tuntutan tanggung jawab
filantropis perusahaan, dapat dilihat betapa pentingnya CSR bagi aktivitas
sebuah korporasi. Hal ini yang turut memengaruhi penerapan CSR sebagai
salah satu bentuk capaian Good Corporate Governance, karena mewadahi
berbagai kepentingan stakeholder di dalamnya. Freeman merupakan salah
seorang yang turut mempopulerkan Corporate Governance dalam arti luas.
CG menempatkan shareholder dan stakeholder berada dalam posisi yang
sama dalam memengaruhi kinerja maupun aktivitas perusahaan.(Freeman
1984)
Berbicara terkait dengan peran penting partisipasi stakeholder dalam
pengelolaan CSR. Maka kita dapat merujuk pada teori stakeholder yang
diperkenalkan oleh Freeman. Stakeholder atau sering disebut sebagai
pemangku kepentingan menurut Freeman (1984) merupakan kelompok atau
individu yang dapat memengaruhi/dipengaruhi oleh capaian dari tujuan
sebuah organisasi. Secara implisit hal ini menunjukan bahwa sebuah
korporasi dalam melakukan aktivitasnya tidak hanya dipengaruhi oleh
faktor-faktor internal perusahaan-seperti pemilik perusahaan dll, namun juga
faktor-faktor eksternal perusahaan-seperti pemerintah maupun masyarakat.
Logika stakeholder sendiri tidak terlepas dari penerapan CSR yang
secara
langsung
maupun
tidak
langsung
berpengaruh
terhadap
8 pengembangan masyarakat daerah. Hal ini yang turut menempatkan
pemerintah
dan
masyarakat
sebagai
pemangku
kepentingan
yang
dipengaruhi ataupun berpengaruh terhadap aktivitas sosial perusahaan,
terutama dalam pelaksanaan CSR.
Urgensi
stakeholder
dalam
sebuah
korporasi
bahkan
dalam
perkembangannya turut mendorong adanya usaha dalam penyelenggaraan
dialog maupun kolaborasi antar stakeholder oleh korporasi. Toyo Keiza
Weekly dalam Nobuyuki Tokoro merekomendasikan tahapan tertinggi
dalam dialog pembangunan antar stakeholder, yaitu “kolaborasi” sebagai
metode operasional CSR maupun dialog secara langsung dengan pemangku
kepentingan. Dalam tulisannya, Tokoro menjelaskan terkait kolaborasi
antara korporasi dan NGO dalam pelaksanaan CSR sebuah korporasi adalah
penting diterapkan oleh sebuah perusahaan. (Tokoro, Nobuyuki 2007)
Sehingga penerapan program CSR tidak semata-mata hanya untuk
menjalankan
kewajiban
filantropis
perusahaan,
namun
juga
turut
menghadirkan aktor lain yang memiliki kompetensi dalam pengembangan
masyarakat, misalnya saja LSM.
Pemberian ruang terhadap stakeholder dalam pengelolaan CSR tidak
lain merupakan sebuah bentuk sinergi dan kemitraan antar stakeholder, hal
ini yang pada gilirannya membentuk konsep kemitraan tiga aktor dalam
pengelolaan CSR. Menurut Natural Resources Cluster dari Business
Partners for Development dalam Suryani, dini (2010), kemitraan tiga aktor
merupakan
“A voluntary collaboration to promote sustainable development based on an
efficient allocation of complementary resources accross business, civil
society and government”
Melalui interaksi maupun kolaborasi dari kemitraan tiga pemangku
kepentingan (Pemerintah, korporasi, dan masyarakat), terdapat beberapa
manfaat bagi korporasi, antara lain : membantu korporasi dalam memahami
kapasitas dan keterbatasan yang dimiliki oleh perusahaan, dan bertindak
berdasarkan kebutuhan dan aspirasi publik (Business impact 2000). Tidak
9 jarang, dari beberapa kasus, hal ini berimplikasi positif terhadap kenaikan
tingkat pendapatan perusahaan, reputasi baik perusahaan, dan bahkan akan
menciptakan manfaat komersial yang disebut Suchman sebagai “licence to
operate” bagi perusahaan. (Suchman : 1995)
Sejalan dengan logika partisipasi stakeholder dalam penerapan
program
CSR,
beberapa
penelitian
merekomendasikan
sebuah
lembaga/forum pemangku kepentingan sebagai wadah dalam menampung
dan mengelola aspirasi pemangku kepentingan dalam CSR. Hadirnya forum
pemangku kepentingan tidak dapat dipisahkan dengan apa yang disebut
Freeman (1984) sebagai stakeholder democracy :
“every corporation of a certain size . . . must form a Board of
Directors comprised of representatives of five stakeholder groups,
including employees, customers, suppliers, stockholders, and members
of the local community” (Evan & Freeman, 1988, p. 104).”
Stakeholder democracy menyediakan sarana partisipasi dalam
membuat suatu keputusan melalui lembaga yang di dalamnya menghimpun
seluruh stakeholder yang terlibat. Maka dalam hal ini, pentingnya
membentuk sebuah lembaga independen dapat dibenarkan dalam hal
mengontrol dan mengurangi sifat dominasi oleh salah satu pemangku
kepentingan. Dapat dikatakan bahwa konsep stakeholder democracy turut
mendorong terciptanya kesamaan dan kesejajaran posisi dan hak suara
masing-masing stakeholder.
Sama halnya dengan kemitraan tiga aktor, Multi-stakeholder Process
(MSP) juga merupakan pendekatan baru untuk mendorong individu maupun
organisasi
bekerjasama
atau
memperbaharui
kerjasamanya
dalam
lingkungan sosial, ekonomi, dan politik yang telah berubah semakin rumit.
(Zakaria 2005). (Minu Hemmati 2002) pada tulisannya menempatkan
gagasan MSP sebagai faktor pendorong stakeholder menuju “…a new form
of
communication,
decision-finding
(and
possibly
decision-
making)…”Dimana, pada beberapa kasus di Indonesia, MSP banyak
10 digunakan untuk mencari solusi dalam isu lingkungan, pembangunan,
pengelolaan hutan, dan HAM.
Berdasarkan penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa forum multistakeholder dalam pengelolaan CSR merupakan sebuah wadah bertemunya
stakeholder dalam mengapresiasi hak suara dalam proses pembuatan
keputusan, dengan menekankan aspek kesetaraan bagi stakeholder dalam
pengelolaan CSR. Forum pemangku kepentingan dalam penelitian ini yang
dimaksud merupakan lembaga CCSR, sedangkan stakeholder yang
dimaksud pada penelitian ini terdiri dari Pemkot Cilegon, Perusahaan
anggota CCSR, dan masyarakat Kota Cilegon.
Namun daripada itu,
penelitian ini sebagian besar akan fokus terhadap lembaga CCSR sebagai
forum multi-stakeholder.
1.4.2
Good Governance/Tata Kelola Pemerintahan yang Baik
Dalam dinamika ilmu politik, kita mengenal adanya konsep
governance, dimana konsep ini menekankan pada proses pengelolaan
urusan publik secara bersama-sama antar tiga komponen, yaitu pemerintah,
bisnis dan masyarakat. Governance merupakan kritik terhadap konsep lama
government yang menempatkan Pemerintah sebagai satu-satunya aktor yang
memainkan peran penting dalam sebuah Negara. Konsep lama yang
digunakan dalam mengkerangkai hubungan ketiganya, yaitu konsep
distributif (kecenderungan negara untuk tidak membagi kekuasaanya
karena akan mengurangi power-nya sendiri), lambat laun berubah menjadi
konsep generatif (kecenderungan
negara untuk membagi kekuasaanya
dengan aktor swasta dan Civil Society dalam pembentukan legitimasi yang
akan memperkuat kekuasaan negara).
Pola Goverment lama bukan hanya menempatkan negara sebagai
“The one and only” aktor dalam sebuah segala urusan publik, namun juga
cenderung menguatkan sifat dominasi oleh negara. Beberapa ilmuwan
politik
seperti
Tocquiville
menyebutkan
praktek
demokrasi
yang
menempatkan negara sebagai aktor tunggal, sebenarnya menggambarkan
11 sebuah pola tirani halus dibalik makna “kebebasan” yang diusung oleh
demokrasi itu sendiri, sehingga Tocqueville dalam tulisannya menganggap
pentingnya eksistensi sebuah lembaga diluar negara yang juga turut andil
dalam mengurusi urusan publik.
Tata kelola pemerintahan/governance merupakan fenomena dimana
persoalan-persoalan publik bukan hanya merupakan urusan negara (peran
dominan Pemerintah) namun juga merupakan urusan bersama pemerintah
(negara), perusahaan dan masyarakat sipil sebagai tiga komponen pokok.
Sektor negara (pemerintah) dengan ciri utama monopoli dan penggunaan
alat paksa (coercion), sektor swasta (sektor pasar) yang bekerja melalui
mekanisme pasar untuk memperoleh laba (profit), dan sektor sukarela
(sektor masyarakat) yang bekerja tanpa menggunakan kekerasan atau alat
pemaksa (non-coersive) seperti sektor negara, serta tidak berorientasi
mencari keuntungan.
Ketika kesamaan derajat, kesejajaran, dan adanya saling kontrol antar
tiga komponen (pemerintah, bisnis, dan masyarakat) terjamin, maka hal
tersebut dapat dinamakan dengan pola good governance. (Thoha 2010)
Kesamaan derajat inilah yang pada akhirnya menempatkan masing-masing
aktor pada posisi idealnya masing-masing. Di satu sisi, ketika tataran
keseimbangan antar relasi yang terjalin cenderung tidak seimbang, maka hal
ini akan sangat berpengaruh terhadap pembiasan konsep good governance.
UNDP menganggap tata kelola pemerintahan/Governance bukan
hanya untuk membatasi peran dominan negara (kritik terhadap konsep
Governance yang menganggap negara sebagai aktor negatif), namun
merupakan semacam
pengelolaan urusan bersama (publik) dimana
kelompok (semua level lembaga) dapat mengartikulasikan kepentingan
mereka diatas perbedaan dalam mengelola urusan sebuah negara.
“Governance is the exercise of economic, political, and administrative
authority to manage a country’s affairs at all levels (which) comprises
mechanisms, processes, and institutions trough which citizens and
groups articulate their interests, exercise their legal rights, meet their
obligations and mediate their differences” (UNDP)
12 Dalam penerapan good governance, tiga pilar utama Governance
(Pemerintah, Perusahaan, dan Masyarakat) harus saling bersinergi dan
saling melengkapi untuk terciptanya check and balance antar ketiganya. Hal
ini menuntut adanya pemenuhan nilai-nilai ideal terbentuknya tata kelola
pemerintah yang baik atau sering dikenal dengan sebutan good governance.
Beberapa karakteristik dan nilai yang melekat dalam
tata kelola
pemerintahan yang baik diantaranya, pertama, pemberian ruang kepada
aktor non-pemerintah untuk berperan serta secara optimal dalam kegiatan
pemerintahan sehingga memungkinkan adanya sinergi diantara aktor dan
lembaga pemerintah dengan non-pemerintah seperti masyarakat sipil dan
mekanisme pasar. Kedua, praktik tata kelola pemerintahan yang baik harus
memenuhi nilai-nilai yang membuat pemerintah dapat lebih efektif bekerja
untuk mewujudkan kesejahteraan bersama (nilai efisiensi, keadilan, dan
daya tanggap). Ketiga, praktik pemerintahan yang bebas dari KKN serta
berorientasi pada kepentingan publik.hal ini yang menjadi indikator untuk
mewujudkan transparansi, penegakan hukum, dan akuntabilitas dalam tata
kelola pemerintahan yang baik. (Dwiyanto, Agus dkk 2005).
UNDP
dalam
menjelaskan
praktik
good
governance
merekomendasikan beberapa karakteristik yang harus dipenuhi, yaitu
partisipasi, transparansi, akuntabel, efektifitas dan efisiensi, kepatuhan pada
hukum yang berlaku, responsive/daya tanggap, orientasi bersama, dan
kesetaraan. (Jurnal Transformasi Vol 1, No.1 Februari 2005).
Namun dalam penelitian ini, untuk mengukur kapasitas dari lembaga
CCSR sebagai rumusan masalah penelitian, prinsip good governance yang
digunakan adalah pada aspek akuntabilitas dan transparansi lembaga CCSR.
1.4.3 Transparansi
Transparansi
merupakan
mekanisme
yang
menjamin
sistem
keterbukaan dan standarisasi dari semua proses pelayanan publik,
transparansi memfasilitasi pertanyaan-pertanyaan publik tentang berbagai
kebijakan dan pelayanan publik, maupun proses-proses didalam sektor
13 publik.
Transparansi
menurut
Krina
dalam
tulisannya
merupakan
mekanisme yang memfasilitasi pelaporan maupun penyebaran informasi
maupun penyimpangan tindakan aparat publik didalam kegiatan melayani.
(Krina, 2003 hal 15)
Dwiyanto (2005) dalam tulisannya menjelaskan tiga indikator yang
dapat digunakan untuk mengukur tingkat transparansi. Indikator pertama
adalah mengukur tingkat keterbukaan proses penyelenggaraan pelayanan
publik. Penilaian terhadap keterbukaan disini meliputi seluruh proses
pelayanan publik, termasuk didalamnya adalah persyaraatan waktu yang
dibutuhkan serta mekanisme atau prosedur pelayanan yang harus dipenuhi.
Indikator kedua dari transparansi adalah menunjuk pada seberapa mudah
peraturan dan prosedur pelayanan dapat dipahami oleh pengguna dan
stakeholders lainnya. Indikator ketiga dari transparansi adalah kemudahan
untuk memperoleh informasi mengenai berbagai aspek penyelenggaraan
pelayanan publik.
Dalam rangka menciptakan transparansi, maka hal ini berkaitan pula
dengan peran penting media. Media publik tidak hanya memiliki peran
dalam menyampaikan informasi relevan terkait penyelenggaraan pelayanan
oleh lembaga publik, namun juga berperan dalam menyampaikan perilakuperilaku meyimpang dari dari aparat lembaga publik. Di satu sisi,
transparansi juga memiliki korelasi negatif ketika publik menunjukan
respon dan kontrol berlebih terhadap keterbukaan informasi yang
disediakan.
Untuk itu penting untuk mengukur sejauh mana ukuran dari prinsip
transparansi. Antara lain:
1. Mekanisme yang menjamin sistem keterbukaan dan standarisasi
dari semua proses pelayanan publik.
2. Mekanisme yang memfasilitasi pertanyaan publik tentang berbagai
kebijakan dan pelayanan publik, maupun proses-proses dalam
sektor publik.
14 3. Mekanisme yang memfasilitasi pelaporan maupun penyebaran
informasi maupun penyimpangan tindakan aparat publik di dalam
kegiatan melayani. (Krina 2003)
Dalam pelaksanaan pelayanan publik, maupun kebijakan yang
bersentuhan terhadap masyarakat, bukan hanya keberhasilan penerapan
program yang diperlukan. Karena peran dan posisi masyarakat bukan hanya
sebagai penerima, namun harus juga memiliki hak dalam menyampaikan
aspirasi. Sehingga, transparansi merupakan hal mutlak yang diperlukan
dalam penyelenggaraan pemerintahan yang partisipatif. Hal lain yang
muncul kemudian adalah seberapa besar keterbukaan informasi yang
disediakan, dan seberapa luas akses yang dimiliki masyarakat terhadap
informasi tersebut.
Dardias dkk dalam tulisannya menjelaskan terkait dua unsur utama
dalam penerapan transparansi, diantaranya tersedianya aksesibilitas dan
akurasi informasi atas aktivitas pemerintahan. (dardias dkk 2009) Pada
penerapannya, ketika salah satu unsur cenderung tidak muncul, maka hal ini
akan berdampak terhadap derajat dari transparansi penyelengaaraan
pemerintahan. Terdapat sebanyak 4 derajat transparansi, diantaranya
tertutup, manipulatif, isolatif, dan transparan (dardias dkk 2009). Berikut
merupakan kombinasi dari unsur aksesibilitas dan akurasi yang membentuk
derajat dari transparansi, antara lain :
1.
Tertutup
Merupakan derajat transparansi paling rendah. Ciri utamanya adalah
aksesibilitas
publik
terhadap
aktivitas
dan
dokumen-dokumen
pemerintah sangat rendah dan akurasi informasi yang disampaikan oelh
pemerintah sangat diragukan.Pemerintah dijalankan secara tertutup.
2.
Manipulatif
Pada derajat ini publik memiliki aksesibilitas tinggi terhadap aktivitas
pemerintahan, tetapi akurasi informasi yang disampaikan diragukan
validitasnya. Boleh jadi informasi yang disampaikan adalah ditambah,
dikurangi atau dimanipulasi sedemikian rupa.
15 3.
Isolatif
Berkebalikan dengan derajat manipulati. Pada derajat ini aksesibilitas
publik terhadap aktivitas dan dokumen pemerintah adalah rendah tetapi
informasi yang dimiliki oleh pemerintah sesungguhnya sangat akurat.
Atas nama rahasia negara derajat ini biasanya terjadi.
4.
Transparan
Adalah derajat paling tinggi dari transparansi. Derajat ini merupakan
hakekat dari transparansi itu sendiri. Pada derajat ini aksesibilitas publik
dan
akurasi
informasi
dari
aktivitas
dan
dokumen-dokumen
pemerintahan sangat tinggi. Merupakan kondisi ideal dari transparansi
yang hendak dituju dari penyelenggaraan pemerintahan.
Gambar di dibawah secara sederhana menjelaskan keterkaitan antara
aksesibilitas dan tingkat akurasi terhadap derajat transparansi :
Gambar 1.1 Derajat Transparansi
Aksesibilitas Tinggi Manipulatif Transparan Akurasi Rendah Akurasi Tinggi Tertutup Isolatif Aksesibilitas Rendah
(Sumber : Bayu Dardias, dkk 2009)
Sebagai tambahan terkait transparansi, ada beberapa hal penting
yang turut menjadi ukuran tingkat transparansi kegiatan pemerintahan,
diantaranya:
Dokumen-dokumen
publik.
Seperti
APBD,
SK
Bupati/Walikota, Perda, dsb. Aktivitas-aktivitas birokrasi, khususnya yang
terkait dengan proses pembuatan kebijakan, mulai dari agenda setting,
16 perumusan masalah, penentuan kebijakan, sampai pada tahap implementasi
dan evaluasi. Terakhir, aktivitas-aktivitas birokrasi terkait dengan anggaran
yang menjadi titik sensitif dalam penegakan transparansi. (Dardias dkk
2009)
Jika dilihat berdasarkan transparansinya sebagai sebuah lembaga
publik, forum multi-stakeholder CCSR setidaknya harus memenuhi tiga
indikator. Pertama, terjaminnya ketersediaan informasi terkait pengelolaan
CSR, dimana stakeholder terutama masyarakat memiliki hak untuk
mengakses informasi mengenai prosedur pengajuan proposal program CSR
oleh masyarakat, jumlah alokasi anggaran, data capaian program CSR
maupun transparansi laporan pertanggungjawaban lembaga CCSR terhadap
publik. Dengan memiliki akses terhadap informasi tersebut, publik dapat
menilai seberapa banyak dana anggaran yang telah digunakan dalam
penerapan program CSR maupun penilaian terhadap kinerja forum multistakeholder.
Pentingnya ketersediaan informasi bagi stakeholder maupun
masyarakat, dinilai perlu untuk mengetahui apakah program CSR beserta
sejumlah biaya anggaran pendukung telah benar-benar merupakan capaian
program CSR yang sesuai dengan kepentingan masyarakat. Karena
transparansi dalam pengelolaan CSR memiliki peran penting bagi
masyarakat untuk memahami dengan mudah proses pengelolaan CSR, serta
menguatkan kapasitas masyarakat dalam menentukan program CSR yang
layak untuk diajukan sebagai program CSR.
Kedua, merupakan aksesibilitas publik terhadap informasi terkait
pengelolaan CSR melalui forum multi-stakeholder CCSR. Dengan
membuka akses publik terhadap informasi, diharapkan dapat membentuk
forum
multi-stakeholder
yang
responsif
terhadap
perubahan
dan
kepentingan masyarakat, maupun proses pengelolaan CSR partisipatif bagi
stakeholder. Terakhir, merupakan akurasi informasi yang disediakan oleh
lembaga CCSR yang turut mendorong penyelenggaraan pengelolaan CSR
17 oleh
forum
multi-stakeholder
yang
akuntabel
dan
dapat
dipertanggungjawabkan.
Jika seluruh aspek proses pengelolaan CSR seperti proses pengajuan
proposal program, data alokasi anggaran, data capaian, dan laporan
pertanggungjawaban telah dipublikasikan secara terbuka, dan informasi
yang dipublikasikan oleh forum multi-stakeholder bernilai akurat, maka
praktik pengelolaan CSR dapat dinilai memiliki derajat transparansi yang
transparan. Begitupun sebaliknya, ketika aspek dari proses pengelolaan CSR
cenderung tertutup, aksesbilitas publik rendah, dan keaakuratan informasi
cenderung rendah, maka praktik pengelolaan CSR dapat dikatakan tidak
transparan atau tertutup.
Kemudian masih terkait dengan derajat transparansi, jika proses
pengelolaan CSR melalui forum multi-stakeholder telah menjamin tingkat
partisipasi dan aksesibilitas publik terhadap informasi yang tinggi, namun di
satu sisi informasi yang dipublikasikan cenderung diragukan validitasnya,
maka dapat dikatakan bahwa praktik pengelolaan CSR memiliki derajat
transparansi yang manipulatif. Namun sebaliknya, ketika proses pengelolaan
CSR telah menyediakan informasi, data capaian, maupun laporan
pertanggungjawaban yang akurat dan valid, namun ketersediaan informasi
dan aksesibilitas publik cenderung tertutup, maka dapat dikatakan bahwa
derajat
transparansi
forum
multi-stakeholder
berada
pada
derajat
tanasparansi yang isolatif.
Dalam kinerja lembaga CCSR, transparansi publik merupakan hal
yang mutlak disediakan, karena erat kaitannya terhadap partisipasi publik
sebagai salah satu stakeholder yang terlibat dalam pengelolaan CSR di Kota
Cilegon. Untuk itu dalam penelitian ini, penting untuk melihat sejauh mana
derajat transparansi yang telah dilakukan lembaga CCSR sebagai forum
multistakeholder.
1.4.4 Akuntabilitas
18 Akuntabilitas menurut miriam budiarjo dalam (krina : 2003)
mendefinisikan sebagai “pertanggungjawaban pihak yang diberi mandat
untuk memerintah kepada mereka yang memberi mandat”. Akuntabilitas
bermakna pertanggungjawaban dengan menciptakan pengawasan melalui
distribusi
kekuasaan
pada
berbagai
lembaga
pemerintah
sehingga
mengurangi penumpukan kekuasaan sekaligus menciptakan kondisi saling
mengawasi (check and balance sistem).
Akuntabilitas dalam rangka check and balances merupakan ukuran
yang menunjukan apakah aktivitas birokrasi publik atau pelayanan yang
dilakukan oleh pemerintah sudah sesuai dengan norma dan nilai-nilai yang
dianut oleh rakyat dan apakah pelayanan publik tersebut mampu
mengartikulasikan kebutuhan rakyat yang sesungguhnya. Kumorotomo
(2008:3)
Terkait penyelenggaraan efisiensi dan efektifitas, hal ini dapat dilihat
melalui tingkat kesesuaian penyelenggaraan pelayanan dengan ukuran nilainilai atau norma eksternal yang ada di masyarakat. (Dwiyanto dkk, 2006).
Selain itu, daya tanggap tinggi lembaga terhadap kebutuhan dan
kepentingan masyarakat atau yang sering disebut dengan responsiveness
merupakan hal yang turut memengaruhi akuntabilitas sebuah lembaga
publik.
Akuntabilitas
lembaga
tidak
hanya
dilihat
berdasarkan
penyelenggaraan mekanisme legal-formal saja, namun akuntabilitas juga
mensyaratkan
adanya
keterlibatan
publik
dalam
penyelenggaraan
pemerintahan. Dalam kasus di Cilegon, dimana forum multi-stakeholder
CCSR memiliki fungsi dalam kordinasi antar stakeholder, maka sudah
dapat dipastikan, bahwa partisipasi publik adalah hal yang tidak terlepas
dari aktivitas lembaga CCSR. Karena masyarakat merupakan salah satu
stakeholder yang ikut dilibatkan dalam pengelolaan CSR di Kota Cilegon
Prinsip akuntabilitas menempatkan sebuah lembaga publik sebagai
lembaga yang bertanggung jawab atas kewajiban yang dibebankan serta
menginformasikannya kepada publik, dan terakhir tersedianya kapasitas
19 pemberian sanksi kepada para pemegang otoritas jika tidak berkesesuaian
dengan hukum yang berlaku. (Ikhsanto & Bayo 2009) Hal diatas yang pada
gilirannya menempatkan sebuah lembaga publik dapat dikatakan akuntabel
atau tidak akuntabel.
Akuntabilitas berhubungan erat dengan bagaimana dan untuk siapa
sebuah lembaga harus menerapkan prinsip akuntabilitas. Terdapat
setidaknya tiga jenis akuntabilitas dilihat kepada siapa akuntabilitas
ditujukan. Antara lain : 1) Akuntabilitas horizontal yang merupakan
akuntabilitas terhadap sesama lembaga lainnya yang tidak memiliki
hubungan atasan dan bawahan, dan merupakan bagian dari fungsi check
and balances yang berada di dalam pemerintahan. 2) akuntabilitas vertikal
merupakan pertanggungjawaban pemerintah atas segala aktivitasnya kepada
publik yang merupakan bentuk akuntabilitas yang bertumpu pada perlibatan
masyarakat. 3) dan terakhir merupakan akuntabilitas diagonal yaitu
merupakan
perlibatan
partisipasi
vertical
aktor
dalam
mekanisme
akuntabilitas horisontal. (Ikhsanto & Bayo 2009)
Jenis akuntabilitas yang telah dijelaskan di atas akan merujuk pada
derajat akuntabilitas sebuah lembaga publik. (lihat gambar 1.2) Diantaranya:
1) pertanggungajawaban yang tinggi, yaitu suatu bentuk pemerintahan yang
ideal dari aspek akuntabilitas. Pada titik ini, derajat akuntabilitas horizontal
dan akuntabilitas vertikal mencapai titik yang tertinggi. 2) tidak dapat
dipertanggungjawaban. Merupakan kebalikan dari konsep pertama, dimana
akuntabilitas
horizontal
dan
vertikal
mencapat
titik
terendah.
3)
Pertanggungjawaban teknokratis. dimana kapasitas teknokratis dan derajat
akuntabilitas horizontal mencapai titik tertinggi, tetapi di sisi lain,
akuntabilitas vertikal berada pada titik nol. 4) pertanggungjawaban
partisipatoris, diamana derajat akuntabilitas horizontal berada pada titik
terendah, tetapi di sisi lain akuntabilitas vertikal mencapat titik tertinggi.
(Ikhsanto & Bayo 2009)
Sebuah forum multi-stakeholder dapat dikatakan akuntabel apabila
dapat mempertanggungjawabkan seluruh kinerja, dan capaian lembaga
20 dalam praktik pengelolaan CSR kepada pihak mana kekuasaan dan
kewenangannya itu dimiliki berasal. Pentingnya akuntabilitas bagi forum
multi-stakeholder CCSR, dikarenakan forum multi-stakeholder melibatkan
banyak stakeholder, antara lain pemerintah, perusahaan, dan masyarakat.
Sehingga, lembaga CCSR harus mampu menunjukan kredibilitas kinerja
lembaganya yang dapat dipertanggungjawabkan.
Akuntabilitas seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, tidak hanya
mendorong pada tersedianya mekanisme legal-formal dalam perwujudan
pertanggungjawaban lembaga, namun juga harus mendorong pada
keterlibatan publik di dalamnya. Hal ini yang disebut sebagai akuntabilitas
sosial yang merupakan perwujudan dari akuntabilitas vertikal lembaga.
(Ikhsanto & Bayo 2009). Dimana dalam hal ini, terdapat beberapa faktor
yang turut memengaruhi akuntabilitas sosial sebuah lembaga. Pertama,
adalah keberadaan mekanisme yang menjembatani hubungan antara negara
dan masyarakat. Di dalam mekanisme ini, dapat dikatakan bahwa lembaga
CCSR harus mampu menjalankan fungsi kordinasinya sebagai forum multistakeholer dalam mengelola kepentingan stakeholder yang terlibat dalam
pengelolaan CSR. Sehingga dapat dikatakan, bahwa forum multistakeholder memiliki pengaruh yang besar terhadap intensitas keterlibatan
publik dalam penuangan aspirasi masyarakat pada perencanaan program
CSR.
Faktor kedua, bahwa adanya keinginan dan kapasitas dari warga
negara dan aktor-aktor civil society yang kuat untuk secara aktif terlibat
dalam proses akuntabilitas pemerintah. Dalam hal ini, masyarakat Kota
Cilegon sebagai sasaran program maupun stakeholder yang memiliki hak
dalam menuangkan pendapat pada proses perencanaan program CSR, harus
memiliki kapasitas yang cukup terutama dalam menentukan program apa
yang layak untuk diajukan sebagai program CSR. Serta memiliki kapasitas
dalam menentukan program CSR yang tidak hanya berisi terkait perbaikan
infrastruktur pembangunan maupun bentuk sumbangan saja, namun lebih
21 kepada program CSR yang turut menguatkan pemberdayaan masyarakat
seperti program kesehatan dan pendidikan.
Faktor ketiga merupakan keinginan dan kapasitas dari politisi dan
birokrat untuk mempertimbangkan masyarakat, dan keempat, adalah
lingkungan yang memungkinkan dan memadai. Sama halnya dengan faktor
pertama, lembaga CCSR setidaknya harus menyediakan mekanisme yang
mengikutsertakan masyarakat dalam proses pengelolaan CSR, serta
kapasitas pegawai yang baik dalam mengadvokasi dan memberdayakan
masyarakat, terutama dalam keikutsertaan masyarakat dalam pengelolaan
CSR, seperti pendampingan terhadap masyarakat dalam penyusunan
program CSR. Sehingga capaian akuntabilitas sosial lembaga CCSR dapat
tercapai.
Forum
multi-stakeholder
CCSR
sebagai
pengelola
dalam
penyelenggaraan CSR setidaknya harus mampu mempertanggungjawabkan
kinerjanya terhadap Pemerintah Kota Cilegon maupun perusahaan sebagai
institusi yang memberikan dana terhadap lembaga CCSR, maupun terhadap
publik. Dalam hal ini, akuntabilitas finansial dan akuntabilitas program
merupakan salah satu bentuk dimensi akuntabilitas yang harus dipenuhi oleh
lembaga CCSR.(Hopwood dan Thomkins 1984 : Elwood 1993). Jika forum
multi-stakeholder CCSR dapat mempertanggungjawabkan kinerjanya
terhadap institusi Pemerintah Kota Cilegon, maupun perusahaan sebagai
institusi
mitra,
serta
dapat
menunjukan
akuntabilitasnya
terhadap
masyarakat, maka dapat dikatakan bahwa derajat akuntabilitas lembaga
CCSR tinggi. Jika yang terjadi adalah sebaliknya, maka dapat dikatakan
bahwa lembaga CCSR adalah tidak akuntabel.
Masih berbicara terkait derajat akuntabilitas lembaga, ketika
lembaga CCSR cenderung menunjukan kecenderungan dalam aktualisasi
akuntabilitas
vertical,
dalam
arti,
bahwa
lembaga
CCSR
hanya
mengutamakan proses informal yang mengikutsertakan publik, namun
dalam aktualisasi akuntabilitas terhadap pemkot dan perusahaan cenderung
lemah, dapat dikatakan bahwa akuntabilitas lembaga CCSR berada pada
22 derajat partisipatoris. Dan sebaliknya, jika keterlibatan publik cenderung
rendah dan hanya mengutamakan proses teknokratis formal, dalam arti,
lembaga CCSR hanya mengutamakan akuntabilitas lembaganya terhadap
pemkot dan perusahaan sebagai mitra kerja, maka dapat dikatakan bahwa
derajat akuntabilitas lembaga CCSR berada pada derajat teknokratis.
Berikut merupakan gambaraan derajat akuntabilitas berdasarkan dari
jenis akuntabilitasnya:
Gambar 1.2
Derajat Akuntabilitas
Civil Society
3. Participatoris-Accountability
4. High-Accountability
Vertikal
Prasyarat:tingkatkan
Diagonal
Social Accountability
Horisontal
1. Not-Accountable
Agencies
of accountability
(Ikhsanto, Adhi & Bayo 2009)
2.Technocratic-Accountability
Rule of Law
Dalam penelitian ini, lembaga CCSR akan dianalisa berdasarkan
jenis akuntabilitas yang melekat pada lembaga CCSR, sehingga sesuai
dengan tujuan penelitian yaitu seberapa akuntabel derajat akuntabilitas
lembaga CCSR sebagai forum multi-stakeholder.
23 1.5
DEFINISI KONSEPTUAL
Penyederhaan teori guna memahami fokus teori dalam sebuah penelitian
adalah penting, hal ini dimaksudkan untuk memberikan batasan teori yang
digunakan penulis dalam penelitiannya.
1.5.1 Forum Multi-Stakeholder dalam Pengelolaa CSR
Forum Multi-stakeholder merupakan sebagai wadah bagi stakeholder
dalam menegosiasikan maupun mengapresiasikan kepentingnnya,
serta secara tidak langsung memposisikan stakeholder dalam posisi
seimbang dalam rangka memengaruhi kebijakan, serta menyediakan
akses terhadap stakeholder dalam mengawasi proses penerapan CSR.
Dalam penelitian ini, lembaga CCSR dilihat berdasarkan urgensi
forum multi-stakeholder dalam pengelolaan CSR di Kota Cilegon.
1.5.2 Transparansi
Transparansi
merupakan penyelenggaraan pemerintahan yang
terbuka dan menyediakan informasi yang luas bagi stakeholder
dalam
mengakses
setiap
informasi
maupun
aktivitas
penyelenggaraan pemerintahan. Penelitian ini menganalisa aktivitas
lembaga CCSR dalam aspek transparansi pengelolaan CSR terhadap
publik.
1.5.3 Akuntabilitas
Akuntabilitas merupakan tolak ukur sejauh mana lembaga publik
dapat mempertanggungjawabkan kinerjanya, dan bagaimana sebuah
lembaga publik dapat menunjukan sikap responsif terhadap publik.
Sehingga hal ini akan memengaruhi derajat akuntabilitas lembaga
publik.
1.6
Definisi Operasional
Penulis menggunakan beberapa indikator dalam merumuskan teori-teori
yang diterapkan pada penelitian ini. Berdasarkan dari proses abstraksi teori
peneliti, maka didapatkan beberapa indikator inti penelitian, diantaranya:
24 1.6.1 Forum multi-stakeholder dalam Pengelolaan CSR
forum multistakeholder CCSR akan dilihat berdasarkan perannya
sebagai lembaga fasilitator , guna fungsi kordinasi antar stakeholder.
1.6.2 Transparansi
Transparansi dalam penelitian ini dilihat dari :
1. Ketersediaan informasi terkait Pengelolaan CSR
2. Aksesibilitas publik terhadap informasi terkait Pengelolaan CSR
forum multi-stakeholder CCSR
3. Akurasi informasi yang disediakan oleh lembaga CCSR.
1.6.3 Akuntabilitas
Derajat akuntabilitas forum multi-stakeholder CCSR dalam penelitian
ini dilihat berdasarkan:
1. Akuntabilitas horizontal, dilihat dari pertanggungjawaban
lembaga
CCSR
terhadap
institusi
pemerintah
maupun
perusahaan selaku institusi mitra.
2. Akuntabilitas vertikal/sosial, dilihat dari faktor: mekanisme
yang prosedural sebagai bentuk kinerja dan fungsi kordinasi
lembaga,
mekanisme
pertanggungjawaban
lembaga,
dan
mekanisme yang melibatkan masyarakat dalam pengelolaan
CSR.
1.7
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dalam melihat dan
menggambarkan data-data temuan lapangan. Sesuai dengan tujuan
penelitian
yang ingin melihat dan menganalisa prinsip akuntabilitas dan transparansi dalam
pengelolaan CSR melalui forum multi-stakeholder, data dan informasi mendalam
diperlukan untuk mendukung hasil penelitian. Metode kualitatif ini digunakan
selain untuk melihat secara mendalam mengenai data-data lapangan, juga dapat
menjelaskan secara luas mengenai data-data spesifik yang ditemukan di lapangan.
25 Proses penelitian dimulai dari penyusunan desain penelitian sebagai kaidah
penelitian pada saat melakukan riset. Proses selanjutnya adalah proses
pengambilan data di lapangan yang didahulukan dengan mengumpulkan data-data
terkait penelitian dengan membaca sumber-sumber referensi terkait, dan melihat
perkembangan praktek CSR melalui media internet. Proses pencarian data yang
digunakan peneliti adalah dengan mencari sumber informasi dari narasumbernarasumber terkait pelaksanaan program CSR perusahaan. Pencarian data
dilakukan dengan bertemu secara “face to face” dengan narasumber, maupun
pertemuan via media lain.
Proses penelitian menggunakan wawancara dengan narasumber terkait,
diantaranya Pemerintah Kota Cilegon, Lembaga CCSR, perusahaan, dan
masyarakat akan secara berkesinambungan dilakukan peneliti. Seluruh hasil data
temuan lapangan, maupun data-data pendukung terkait riset kemudian diolah, dan
juga dianalisis, kemudian diklasifikasikan berdasarkan sistematika penulisan.
kemudian dituangkan dalam bentuk tulisan skripsi.
1.6.1 Metode Studi Kasus
Metode studi kasus merupakan metode yang relevan bagi penulis
untuk menjelaskan secara detail dan terperinci mengenai satu kasus tertentu.
Studi kasus dalam penelitian ini dianggap lebih baik dari metode lain,
dimana peneliti dituntut harus mampu menganalisa, memahami, berbagai
hal-hal penting yang terkait dalam penelitian, dan bagaimana satu hal lain
dapat memberikan dampak terhadap hal lainnnya.
Alasan pemilihan metode studi kasus adalah karena dalam proses
penelitian, peneliti masuk dalam sebuah situasi alamiah, dimana setiap hal
maupun fenomena yang terjadi benar-benar merupakan fenomena alamiah,
bukan artifisial, sehingga fenomena tersebut tetap ada, bahkan setelah
penelitian dilakukan. (Yin : 2009).
Metode studi kasus dapat diterapkan pada kondisi-kondisi alamiah,
menjelaskan sebuah interaksi dan proses, dan juga studi mendalam. Metode
ini juga merupakan tolak ukur yang efisien bagi penulis untuk melihat dan
26 menganalisa secara mendalam mengenai lembaga CCSR, dan melihat
kontribusi maupun pengaruh pemangku kepentingan dalam tata kelola CSR
di Kota Cilegon.
Penelitian
ini
menggambarkan
sebuah
fenomena
hubungan
berkesinambungan antara aktor pemerintah, swasta, dan masyarakat dalam
proses penerapan CSR melalui lembaga independen CCSR. Fenomena ini
bahkan jarang ditemukan dalam proses penerapan CSR di daerah-daerah
lain dimana program CSR biasanya dilakukan secara independen oleh
perusahaan. Dalam kasus ini pun, peneliti tidak sama sekali melakukan
intervensi atau memiliki kontrol terhadap situasi yang terjadi.
Studi Kasus juga menjawab pertanyaan “How”, sesuai dengan
pertanyaan penelitian mengenai “Bagaimana hubungan antara tipologi
pemangku kepentingan dengan prinsip good governance dalam Pengelolaan
CSR .”
Dalam penelitian ini, strategi “cross check” dalam melakukan
wawancara meruapakan metode yang tepat untuk menanggulangi masalah
pada metode studi kasus ini. Wawancara dengan pihak yang saling berbeda
kepentingan, dan perspektif sangat penting untuk meminimalisir bias data
yang mungkin terjadi.
Dalam penelitian ini akan membutuhkan proses yang cukup lama, dan
juga cakupan kasus yang tidak dapat diterapkan secara universal di settingan
atau objek penelitian lain. Model sinergi antara pemerintah, perusahaan, dan
masyarakat dalam penerapan CSR melalui lembaga multi-stakeholder
memang hanya terjadi pada beberapa daerah di Indonesia saja.
1.6.2 Unit Analisis Penelitian
Fokus penelitian adalah pada good governance dalam Pengelolaan
CSR. Penelitian dilakukan pada Lembaga CCSR, terutama pada level
pengurus harian Lembaga CCSR (Direktur Eksekutif, Sekretaris Eksekutif,
dan Bendahara Eksekutif). PT Krakatau Steel yang memiliki andil cukup
signifikan dalam penerapan CSR di Kota Cilegon dan merupakan anggota
27 aktif lembaga CCSR. Pemerintah Kota Cilegon yaitu BPMKP (Badan
Pemberdayaan Masyarakat dan Ketahanan Pangan) Kota Cilegon, selaku
pendamping lembaga CCSR.
Masyarakat
Kota
Cilegon,
diantaranya
pegawai
perusahaan
anggota/non anggota CCSR, kalangan akademisi (mahasiswa), salah
seorang tokoh masyarakat/agama di daerah Kota Cilegon untuk melihat
tingkat transparansi dan diseminasi lembaga CCSR. Program CSR yang
dijadikan rujukan dalam penelitian merupakan seluruh program prioritas
maupun program CSR tambahan CCSR. Namun penulis menggunakan
program jambanisasi dalam menjelaskan perihal/bahasan program CSR
yang lebih spesifik.
1.6.3 Pengumpulan Data dengan Teknik Multisumber Bukti
Multi Sumber bukti dari penelitian yang dilakukan adalah melalui
data-data sekunder dan data-data primer yang ditemui dalam penelitian.
Dalam data-data primer atau data yang didapatkan dari hasil wawancara
terhadap narasumber, peneliti melakukan wawancara secara mendalam
dengan narasumber penelitian. Untuk mengurangi bias dan ketergantungan
dengan satu narasumber saja, peneliti juga melakukan “cross check” dengan
melakukan wawancara dengan narasumber lain.
Wawancara dilakukan dengan narasumber yang berasal dari empat
aktor. Pertama, narasumber dari pihak perusahaan terkait program CSR
yang dibebankan terhadap perusahaan. Dalam hal ini, narasumber yang
diwawancarai adalah Specialist Community Development departemen PKBL
PT. KS. Kedua, dari pihak pemerintah Kota Cilegon. Pemerintah Kota
Cilegon dalam hal ini diwakili pimpinan Badan Pemberdayaan Masyarakat
dan Ketahanan Pangan (BPMKP), selaku aktor badan pendamping lembaga
non pemerintah CCSR. Ketiga, dari pihak masyarakat, narasumber yang
dijadikan rujukan antara lain pegawai perusahaan anggota/bukan anggota
dan akademisi. Hal ini dilakukan dalam rangka menganalisa terkait
diseminasi lembaga CCSR. Terakhir, pengurus harian CCSR (Cilegon
28 Corporate Social Responsibility). Alasan pemilihan keempat aktor tersebut
adalah untuk melakukan metode cross check sehingga hasil data yang
didapatkan merupakan hasil data yang valid, dan mengurangi resiko bias
dan keberpihakan peneliti.
Data sekunder yang menjadi pendukung dari penelitian ini antara lain
dokumen-dokumen pelaksanaan CSR perusahaan krakatau steel yang di
cetak dalam bentuk buku maupun dipublish melalui media internet,
kebijakan pemerintah terkait CSR maupun peraturan Walikota mengenai
pembentukan lembaga CCSR, RPJMD Kota Cilegon, berita-berita di
internet, pemberitaan media massa terkait impelementasi CSR Perusahaan,
dan literatur akademis maupun artikel-artikel terkait lainnya.
1.6.4 Teknik Analisa Data
Dalam menganalisa data yang didapat dari hasil wawancara maupun
data-data sekunder, peneliti harus mampu mensinergikan antara hasil data
wawancara dengan narasumber dan diintegrasikan dengan data-data
sekunder yang didapat. Sehingga data informasi tersebut sesuai dan valid.
Setelah mengumpulkan data-data dan informasi sekunder, wawancara
merupakan data informasi primer yang juga krusial. Peneliti bukan hanya
dituntut untuk jeli dalam observasi situasi dan lingkungan penelitian, namun
peneliti juga harus mampu secara cermat membawa situasi wawancara agar
tidak keluar dari topik penelitian. Hasil wawancara secara langsung
ditranskrip dan di klasifikasikan berdasarkan “interview guide” yang telah
dibuat.
Langkah terakhir, setelah semua input data didapatkan, peneliti
menganalisa data temuan lapangan tersebut, dan disinergikan dengan
kerangka teori yang telah dibuat dalam konstruksi awal penelitian, dari situ,
peneliti akan dapat menarik kesimpulan berdasarkan data-data temuan
lapangan dan analisis peneliti.
1.8
Sistematika Penulisan
29 Penulisan penelitian ini akan dibagi kedalam Lima Bab utama yang
didalamnya mencakup: Pertama, Bab I mengenai pendahuluan. Kedua, Forum
Multi-stakeholder dalam Lingkup CSR Kota Cilegon. Bab III, Transparansi
Pengelolaan CSR di Kota Cilegon. Bab IV Akuntabilitas Forum Multi-stakeholder
CCSR. Bab V Saran dan Kesimpulan.
BAB I merupakan bab pendahuluan, yang secara garis besar mengkerangkai
penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti. BAB II akan menjelaskan secara
rinci mengenai konteks ekonomi Kota Cilegon dan urgensi lembaga independen
dalam penerapan tata kelola CSR, diterakan pula profil lembaga CCSR dalam
penerapan CSR di Kota Cilegon. Bab III akan menjelaskan terkait transparansi
dalam tata kelola CSR melalui lembaga CCSR di Kota Cilegon. BAB IV secara
garis besar membahas mengenai akuntabilitas lembaga CCSR dalam pengelolaan
CSR perusahaan di Kota Cilegon. Tata kelola CSR dilihat menggunakan indikator
good governance, yang secara garis besar mengkerangkai pola transparansi dan
akuntabilitas lembaga CCSR. BAB V Saran dan Kesimpulan.
30 
Download