PROFIL ELASTISITAS OTOT SETELAH MELAKUKAN SENAM

advertisement
Nursing News
Volume 2, Nomor 2, 2017
Profil Elastisitas Otot Setelah Melakukan Senam
Bugar Lansia di Kelurahan Tlogomas Kecamatan
Lowokwaru Kota Malang
PROFIL ELASTISITAS OTOT SETELAH MELAKUKAN
SENAM BUGAR LANSIA DI KELURAHAN TLOGOMAS
KECAMATAN LOWOKWARU KOTA MALANG
Getrudis Renda Dadi1), Susi Milwati2), Ragil Catur Adi W.3)
1)
Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang
2)
Dosen Program Studi Keperawatan Poltekkes Kemenkes Malang
3)
Dosen Program Studi Ilmu keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang
Email : getrudis [email protected]
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui profil elastisitas otot setelah melakukan
senam bugar lansia di Kelurahan Tlogomas Kecamatan Lowokwaru Kota Malang. Desain
penelitian deskriptif dengan pendekatan observational analitik. Populasi semua lanjut usia
sebanyak 45 orang. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 40 orang dan teknik sampling
yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik purposive sampling. Metode analisa
data peneliti ini menggunakan uji statistik spearman’s rank (Rho) dengan tingkat
signifikasi  = 0,05. Instrumen penelitian meliputi kuiseoner, observasi, dan dokumentasi.
Hasil penelitian profil elastisitas otot paralel atau komponen elastic parallel (PEC) lansia
setelah melakukan senam bugar lansia di Kelurahan Tlogomas Kecamatan Lowokwaru
Kota Malang dalam kondisi elastik berjumlah 14 orang (35%), yang cukup elastic ada 15
orang (37,5%) dan kurang elestis ada 11 orang (27,5%) sehingga tidak ada lansia yang
mempunyai kondisi elatisitas paralel (PEC) yang tidak elastis. Profil elastis seri atau
komponen elastik seri (SEC) sebanyak 13 orang (32,5%), yang cukup elastis ada 18 orang
(45%) dan yang kurang elastis ada 9 orang (22,5%), dengan demikian tidak ada lansia yang
mempunyai kondisi elastisitas seri (SEC) yang tidak elastis. Terdapat hubungan profil
elastisitas otot dan senam bugar lansia di Kelurahan Tlogomas Kecamatan Lowokwaru
Kota Malang yang dibuktikan dengan analisis statistik korelasi spearman rank ini
membuktikan bahwa nilai p-value sebesar 0,000 < (0,05) sehingga penelitian ini
membuktikan bahwa terdapat hubungan yang signifikan, kekuatan hubungan tersebut
sebesar 0,708 (70,8%) sehingga masuk dalam kategori hubungan yang kuat.
Kata Kunci : Elastisitas Otot, lansia, senam lansia.
619
Profil Elastisitas Otot Setelah Melakukan Senam
Bugar Lansia di Kelurahan Tlogomas Kecamatan
Lowokwaru Kota Malang
Nursing News
Volume 2, Nomor 2, 2017
THE PROFILE OF THE ELASTICITY OF A MUSCLE AFTER DO
GYMNASTICS TO BE FIT FOR THE ELDERLY IN TLOGOMAS,
LOWOKWARU, MALANG CITY
ABSTRAK
The purpose of this research is to find profile elasticity the muscles do gymnastics fit for
elderly at the tlogomas in lowokwaru the poor. Design research descriptive with the
approach observational analytic. The population all elderly people about 45.Included in
this study as many as 40 people and Sampling techniques used in this research is a
technique purposive sampling. A method of data analysis researchers it uses statistical
tests the spearmanʹs rank (rho) with extent of signification  = 0.05. Research instruments
covering kuiseoner, observation, and documentation. The results of the study profile
elasticity muscle parallel or components elastic parallel (PEC) elderly After do gymnastics
fit elderly in kelurahan tlogomas kecamatan lowokwaru city poor in a condition elastic
were 14 people (35%) Quite elastic is 15 people (37,5%) and less elestis is 11 people
(27.5%) that no seniors conditions parallel have elatisitas (PEC) not elastic. Elastic
profile series or components elastic series (SEC) as many as 13 people (32.5%), elastic
enough there are 18 people (45%) and that there is less elastic 9 people (22.5%), Thus
there is no elderly who have condition elasticity series (SEC) that not elastic. There is the
relationship the profile of the elasticity of muscle and gymnastics to be fit for the elderly in
kelurahan tlogomas kecamatan lowokwaru poor city As evidenced by statistical analysis
correlation spearman rank this proves that value Value p value of 0,000 & 0.05 so that
research this proves that there is a significant relation, The relations power of 0,708
(70,8% ) so that included in the category strong relationship .
Keywords : Elasticity muscle, elderly, gymnastics elderly.
PENDAHULUAN
Usia manusia secara kronologis
akan terus bertambah seiring bergantinya
waktu. Bersamaan dengan meningkatnya
usia, beberapa fungsi vital dalam tubuh
ikut
mengalami
kemunduran.
Pendengaran mulai menurun, penglihatan
kabur, dan kekuatan fisiknya pun mulai
melemah. Kenyataan itulah yang dialami
oleh orang yang sudah lanjut usia
(lansia). Garis hidup alami yang harus
dilalui manusia itu merupakan suatu
keadaan komplek. Hal ini dikarenakan
manusia yang sudah usia lanjut banyak
mengalami berbagai masalah kehidupan
620
Nursing News
Volume 2, Nomor 2, 2017
bukannya hanya faktor bilogis tersebut
saja, tetapi juga faktor psikologis dan
sosial mempengaruhi gaya hidupnya.
Menjadi tidak akan bisa dihindari tetapi
harus dipersiapkan dengan baik agar
mampu mengarungi hidup semasa tua
tersebut dengan kondisi kesehatan yang
tetap terpelihara dengan baik.
Lansia merupakan bagian dari
anggota keluarga dan anggota masyarakat
yang semakin bertambah jumlahnya
sejalan dengan peningkatan usia harapan
hidup. Jumlah lansia meningkat diseluruh
Indonesia menjadi 15,1 juta jiwa pada
tahun 2000 atau 7,2% dari seluruh
penduduk dengan usia harapan hidup
64,05 tahun. Tahun 2006 usia harapan
hidup meningkat menjadi 66,2 tahun dan
jumlah lansia menjadi 19 juta orang, dan
diperkirakan pada tahun 2020 akan
menjadi 29 juta orang atau 11,4%. Hal ini
menunjukkan bahwa jumlah lansia
meningkat secara konsisten dari waktu ke
waktu, meningkatnya umur harapan
hidup
dipengaruhi
oleh
majunya
pelayanan kesehatan, menurunnya angka
kematian bayi dan anak, perbaikan gizi
dan
sanitasi,
serta
meningkatnya
pengawasan terhadap penyakit infeksi
(Bandiyah, 2009).
Menua senantiasa disertai dengan
perubahan disemua sistem didalam tubuh
manusia. Perubahan disemua sistem
didalam tubuh manusia tersebut salah
satu misalnya terdapat pada sistem saraf.
Perubahan tersebut dapat mengakibatkan
terjadinya penurunan dari fungsi kerja
otak. Berat otak pada lansia umumnya
Profil Elastisitas Otot Setelah Melakukan Senam
Bugar Lansia di Kelurahan Tlogomas Kecamatan
Lowokwaru Kota Malang
menurun 10-20%. Penurunan ini terjadi
pada usia 30-70 tahun (Fatmah, 2010).
Penelitian terkini menyebutkan bahwa
walaupun tanpa
adanya
penyakit
neurodegeneratif,
jelas
terdapat
perubahan struktur otak manusia seiring
bertambahnya usia. Serta, perubahan
patologis pada serebrovaskular juga
berhubungan dengan kemunduran fungsi
kognitif (Kuczynski, 2009). Hal tersebut
tentunya juga akan berpengaruh pada
aktivitas sehari-hari sehingga dapat
menurunkan kualitas hidup lansia yang
berimplikasi pada kemandirian dalam
melakukan aktivitas dasar sehari-hari
(Nugroho, 2008).
Menurut Jubaidi (2008) ada
beberapa perubahan fisik pada lansia
yang dapat menjadi suatu kondisi lansia
terserang penyakit, seperti perubahan
kardiovaskuler
yaitu
menurunnya
elastisitas pembuluh darah, perubahan
pada
respirasi
yaitu
menurunnya
kekuatan otot-otot pernafasan, serta
perubahan pada pendengaran dan
perubahan pada penglihatan. Adanya
keterbatasan
pergerakan
dan
berkurangnya pemakaian sendi dapat
memperparah kondisi tersebut (Ulliya
dkk., 2009). Penurunan kemampuan
muskuloskeletal
dapat
menurunkan
aktivitas fisik (physical activity),
sehingga akan mempengaruhi lansia
dalam melakukan aktifitas sehahi - hari
(Ulliya dkk., 2009).
Memelihara kesehatan untuk
hidup yang tidak bergantung dengan
orang lain besar kemungkinan harus
621
Nursing News
Volume 2, Nomor 2, 2017
memprioritaskan kekuatan otot (Broman
dkk., 2006). Pada lansia akan terjadi
proses
menghilangnya
kemampuan
jaringan untuk memperbaiki diri atau
mengganti dan mempertahankan fungsi
normalnya
secara
perlahan-lahan
sehingga tidak dapat bertahan terhadap
infeksi dan memperbaiki kerusakan yang
terjadi. Keadaan ini menyebabkan
munculnya penyakit degeneratif yang
merupakan
penumpukan
distorsimetabolik
dan
struktural
(Darmojo & Martono, 2009).
Pada proses menua biasanya
terjadi penurunan produksi cairan
sinovial pada persendian, tonus otot
menurun, kartilago sendi menjadi lebih
tipis dan ligamentum menjadi lebih kaku
serta terjadi penurunan kelenturan
(fleksibilitas), sehingga mengurangi
gerakan persendian. Senam bugar lansia
(SBL) termasuk senam aerobic low
impact (menghindari gerakan loncatloncat), senam lansia ini dikeluarkan oleh
Persatuan Wanita Olahraga Seluruh
Indonesia (Perwosi) khusus bagi lansia
dengan pelaksanaan durasi senam kurang
lebih 30 menit dengan 5 menit latihan
pemanasan, 20 menit latihan inti dan 5
menit pendinginan (Ulliya & Agustin,
2008). Senam lansia akan menambah
penguatan otot, daya tahan tubuh,
kelenturan tulang dan sendi, sehingga
sistem muskuloskeletal yang menurun
dapat diperbaiki. Selain itu senam lansia
bermanfaat untuk memelihara kebugaran
jantung dan paru (Herawati & Wahyuni,
2004). Elastisitas otot terdiri dari
Profil Elastisitas Otot Setelah Melakukan Senam
Bugar Lansia di Kelurahan Tlogomas Kecamatan
Lowokwaru Kota Malang
elastisitas
paralel
(PEC)
yang
memberikan tahanan pada saat otot
secara pasif terulur dan elastisitas seri
(SEC) sebagai pegas yang lentur untuk
menyimpan energi elastis ketika otot
yang tegang diulur.
Hasil penelitian sebelumnya yang
dilakukan,
senam
lansia
dapat
menyebabkan kemandirian melakukan
aktivitas dasar sehari-hari dalam kategori
mandiri (96,23%) (Ardiyanti, 2009).
Latihan ROM selama satu bulan sudah
dapat meningkatkan ROM fleksi sendi
lutut pada lansia yang mengalami
keterbatasan gerak. Latihan ROM adalah
latihan yang menggerakkan persendian
seoptimal dan seluas mungkin sesuai
kemampuan
seseorang
yang
menyebabkan
peningkatan
fungsi
muskuloskeletal sehingga berpengaruh
padaaktifitas. Latihan fisik tubuh bagian
atas dapat meningkatkan kekuatan lengan
(26%), fleksibilitas bahu (10%) sehingga
dapat meningkatkan elastisitas otot
(Venturelli dkk, 2010). Pengaruh SBL
terhadap aktifitas belum banyak diteliti.
Berdasarkan studi pendahuluan yang
dilakukan oleh peneliti di Kelurahan
Tlogomas didapatkan jumlah lansia 80
0rang dari hasil wawancara dengan 80
orang lansia terdapat 50 orang lansia
tidak mengikuti senam lansia yang
dilaksanakan setiap hari (Rabu dan
Jumat) dengan alasan memiliki banyak
kesibukan dan menderita penyakit,
sedangkan 30 orang lansia aktif dalam
mengikuti senam lansia.
622
Nursing News
Volume 2, Nomor 2, 2017
Kemampuan
fungsional
dan
kemandirian lansia dalam aktivitas
kehidupan sehari-hari merupakan susuatu
hal penting yang perlu dikaji secara
mendalam. Tujuan rehabilitasi pada
lansia adalah meningkatkan kemampuan
beraktivitas kehidupan sehari-hari lansia,
sehingga lansia masih tetap aktif dan
produktif serta dapat menikmati hari
tuanya
dengan
bahagia.
Upaya
meningkatkan kekuatan otot, fleksibilitas,
elastisitas dan keseimbangan pada lansia
dilakukan dalam berbagai program senam
seperti taichi, senam kesegaran jasmani
dan lain-lain. Program senam tersebut
memerlukan instruktur karena gerakan
cukup komplek, waktu yang terjadwal,
tempat yang cukup luas. Sehingga senam
bugar bagi lansia merupakan suatu hal
yang sangat penting untuk memberikan
daya tahan terhadap kemampuan otot
lansia. Tujuan Penelitian ini adalah untuk
mengetahui profil elastisitas otot setelah
melakukan senam bugar lansia di
Kelurahan
Tlogomas
Kecamatan
Lowokwaru Kota Malang.
METODE PENELITIAN
Desain penelitian ini merupakan
penelitian deskriptif dengan pendekatan
observational
analitik.
Penelitian
observational analitik dilakukan dengan
tujuan menjelaskan dan mendiskripsikan
hasil penelitian berdasarkan teori dan
fakta yang ada (Nursalam, 2002).
Penelitian
ini
mendeskripsikan,
Profil Elastisitas Otot Setelah Melakukan Senam
Bugar Lansia di Kelurahan Tlogomas Kecamatan
Lowokwaru Kota Malang
Profil Elastisitas Otot Setelah
Melakukan senam bugar lansia di
Kelurahan
Tlogomas
Kecamatan
Lowokwaru Kota Malang. Populasi
semua lanjut usia di kelurahan Tlogomas
Kecamatan Lowokwaru Kota Malang
sebanyak 45 orang. Sampel semua lanjut
usia yang ikut senam di Kelurahan
Tlogomas Kecamatan Lowokwaru Kota
Malang sebanyak 40 orang. Teknik
samping
yang
digunakan
adalah
purposive
sampling
yaitu
teknik
penetapan sampel dengan memilih
sampel diantara populasi sesuai yang
dikehendaki peneliti sehingga sampel
tersebut dapat mewakili karakteristik
populasi yang telah dikenal sebelumnya.
Variabel independen (variabel
bebas), ini merupakan variabel yang
menjadi sebab perubahan atau timbulnya
variabel dependen (Alimul, 2009).
Variabel independen dalam penelitian ini
adalah elastisitas otot lansia (X). Variabel
dependen ini merupakan variabel yang
dipengaruhi atau menjadi akibat karena
variabel bebas (Alimul, 2009) Variabel
dependen dalam penelitian ini adalah
senam bugar lansia (Y). Kriteria inklusi
dalam penelitian ini adalah :
1. Lansia yang berumur 60 -74 tahun
2. Lansia yang bertempat tingagal di
kelurahan Tlogomas
3. Lansia yang mengikuti senam bugar
lansia
Kriteria eksklusi dalam penelitian
ini adalah:
1. Lansia
yang menggunakan alat
bantu
623
Nursing News
Volume 2, Nomor 2, 2017
2. Lansia yang tidak kooperatif
3. Lansia yang tidak berada ditempat
pada saat menjadi responden
4. Lansia yang tidak sehat
Sebelum
dilakukan
analisa
hubungan, maka dilakukan analisis
univariat untuk variabel senam lansia
dengan elastisitas otot menggunakan
rumus sebagai berikut ;
∑f × 100%
P = ──────────
N
Keterangan :
P
: Persentase
∑f
: Frekuensi responden
N
: Tatal sampel
Hasil pengolahan data dalam
bentuk
persentase
kemudian
diinterpretasikan
dengan
ketentuan
sebagai berikut ;
1% – 25% : sebagian kecil
26% – 49% : hampir setengahnya
50%
: setengahnya
51% – 75% : sebagian besar
76% – 99% : hampir seluruhnya
100%
: seluruhnya
Metode analisa data peneliti ini
menggunakan uji statistik spearman’s
rank (Rho) dengan tingkat signifikasi 
= 0,05 dengan sistem komputerisasi.
Interpretasi hasil uji hipotesis adalah
sebagai berikut ;
1. Jika p <  (0,05) artinya H0 di tolak
dan H1 diterima maka ada hubungan
yang signifikan antara senam bugar
lansia dengan elastisitas otot
Profil Elastisitas Otot Setelah Melakukan Senam
Bugar Lansia di Kelurahan Tlogomas Kecamatan
Lowokwaru Kota Malang
2. Jika p >  (0,05) artinya H0 di
terima dan H1 ditolak artinya tidak
ada hubungan yang signifikan antara
senam bugar lansia dengan elastisitas
otot
Analisa data yang digunakan dalam
penelitian
ini
adalah
(korelasi
Spearman’s Rank).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel 1. Data khusus kehadiran dalam
senam bugar lansia (X) di
Kelurahan
Tlogomas
kota
Malang, Tahun 2015.
Senam Bugar
f
(%)
Sangat rutin
Rutin
Jarang
Tidak pernah
Total
16
18
6
0
40
40,0
45,0
15,0
0
100
Berdasarkan Tabel. 1 dapatkan
diketahui bahwa responden yang sangat
rutin mengikuti sebanyak 6 orang (40%),
untuk yang rutin mengikuti senam ada 18
orang (45%), yang jarang mengikuti
senam ada 6 orang (15%).
Berdasarkan Tabel. 2 dapatkan
diketahui bahwa lansia yang menjadi
responden yang mempunyai elastisias
paraler (PEC) dalam kondisi elastis
berjumlah 14 orang (35%), yang cukup
elastis ada 15 orang (37,5%) dan kurang
elastis ada 11 orang (27,5%) sehingga
tidak ada lansia yang mempunyai kondisi
624
Profil Elastisitas Otot Setelah Melakukan Senam
Bugar Lansia di Kelurahan Tlogomas Kecamatan
Lowokwaru Kota Malang
Nursing News
Volume 2, Nomor 2, 2017
elastisitas paralel (PEC) yang tidak
elastis.
Tabel 2. Data khusus Kondisi Elastisitas
Otot (Y) untuk Elastis Paralel
(PEC) di kelurahan Tlogomas
kota Malang, Tahun 2015
Elastisitas Paraler
(PEC)
Elastis
Cukup Elastis
Kurang Elastis
Tidak Elastis
Total
f
(%)
14
15
11
0
40
35,0
37,5
27,5
0
100
cukup elastis ada 18 orang (45%) dan
yang kurang elastis ada 9 orang (22,5%),
dengan demikian tidak ada lansia yang
mempunyai kondisi elastisitas seri (SEC)
yang tidak elastis.
Tabel 3. Data khusus kondisi elastisitas
otot (Y) untuk elastis seri
(SEC) di kelurahan Tlogomas
kota Malang, Tahun 2015
Elastis Seri (SEC)
Berdasarkan Tabel. 3 dapatkan
diketahui bahwa lansia yang menjadi
responden yang mempunyai elastis seri
(SEC) sebanyak 13 orang (32,5%), yang
f
(%)
Elastis
Cukup Elastis
Kurang Elastis
13
18
9
32,5
45,0
22,5
Tidak Elastis
Total
0
40
0
100
Tabel 4. Analisis tabulasi silang elastisitas otot paralel (PEC) lansia saat melakukan senam
bugar lansia di Kelurahan Tlogomas Kota Malang.
Jarang
PEC kurang jumlah
%
Cukup jumlah
%
Elastis jumlah
%
Total
%
Senam (x)
Rutin
Sangat Rutin
6
4
1
Total
11
15,0%
0
0%
0
0%
6
15,0%
10,0%
11
27,5%
3
7.5%
18
45,0%
2,5%
4
10,0%
11
27.5%
16
40,0%
27,5%
15
37,5%
14
35.0%
40
100,0%
Berdasarkan Tabel. 4 dapat
diketahui bahwa Elastisitas Otot Paralel
(PEC) pada lansia yang sangat rutin
mengikuti
senam
bugar
lansia
mempunyai profil elastis paralel yang
elastis yaitu 11 orang (27,5%). Lansia
yang sangat rutin mengikuti senam bugar
lansia mempunyai profil elastis paralel
yang cukup elastis ada 4 orang (10%).
Lansia yang sangat rutin mengikuti
senam bugar lansia mempunyai profil
625
Profil Elastisitas Otot Setelah Melakukan Senam
Bugar Lansia di Kelurahan Tlogomas Kecamatan
Lowokwaru Kota Malang
Nursing News
Volume 2, Nomor 2, 2017
elastis paralel yang kurang elastis hanya
ada 1 orang (2,5%).
Lansia yang rutin mengikuti
senam bugar lansia mempunyai profil
elastis paralel yang elastis ada 3 orang
(7,5%). Lansia yang rutin mengikuti
senam bugar lansia mempunyai profil
elastis paralel yang cukup elastis ada 11
orang (27,5%). Lansia yang rutin
mengikuti
senam
bugar
lansia
mempunyai profil elastis paralel yang
kurang elastis ada 4 orang (10%).
Lansia yang jarang mengikuti
senam bugar lansia mempunyai profil
elastis paralel yang kurang elastis ada 6
orang (15%), dan tidak ada lansia yang
jarang mengikuti senam bugar lansia
mempunyai profil elastis paralel yang
elastis maupun kurang elastis.
Tabel 5. Analisis Tabulasi Silang Elastisitas Otot Seri (SEC) Lansia Saat Melakukan
Senam Bugar Lansia di Kelurahan Tlogomas Kota Malang
Jarang
PEC kurang jumlah
%
Cukup jumlah
%
Elastis jumlah
%
Total Jumlah
%
Senam (x)
Rutin
Sangat Rutin
6
4
1
Total
11
15,0%
0
0%
0
0%
6
15,0%
10,0%
11
27,5%
3
7.5%
18
45,0%
2,5%
4
10,0%
11
27.5%
16
40,0%
27,5%
15
37,5%
14
35.0%
40
100,0%
Berdasarkan Tabel. 5 dapat
diketahui bahwa Elastisitas Otot Seri
(SEC) pada lansia yang sangat rutin
mengikuti
senam
bugar
lansia
mempunyai profil elastis paralel yang
elastis yaitu 11 orang (27,5%). Lansia
yang sangat rutin mengikuti senam bugar
lansia mempunyai profil elastis paralel
yang cukup elastis ada 4 orang (10%).
Lansia yang sangat rutin mengikuti
senam bugar lansia mempunyai profil
elastis paralel yang kurang elastis hanya
ada 1 orang (2,5%).
Lansia yang rutin mengikuti
senam bugar lansia mempunyai profil
elastis paralel yang elastis ada 2 orang
(5%). Lansia yang rutin mengikuti senam
bugar lansia mempunyai profil elastis
paralel yang cukup elastis ada 13 orang
(32,5%). Lansia yang rutin mengikuti
senam bugar lansia mempunyai profil
elastis paralel yang kurang elastis ada 3
orang (7,5%).
Lansia yang jarangmengikuti
senam bugar lansia mempunyai profil
elastis paralel yang kurang elastisada 4
626
Nursing News
Volume 2, Nomor 2, 2017
orang (10%), dan tidak ada lansia yang
jarangmengikuti senam bugar lansia
mempunyai profil elastis paralel yang
elastis.
Berdasarkan
hasil
penelitian
dapatkan diketahui bahwa nilai p value
sebesar 0,000 < 0,05 sehingga penelitian
ini membuktikan bahwa terdapat
hubungan yang signifikan, kekuatan
hubungan tersebut sebesar 0,708 (70,8%)
sehingga masuk dalam katagori hubungan
yang kuat.
Senam Bugar Lansia
Lanjut usia bukan berarti tidak
mampu lagi untuk melakukan kegiatan
rutin dalam kehidupan sehari-hari, namun
pada lanjut usia seseorang mempunyai
kemampuan
yang
terbatas
untuk
melaksanakan aktivitas. Untuk menjaga
kondisi tubuh salah satu kegiatan yang
dapat dilakukan pada usia lanjut adalah
dengan mengikuti atau melaksanakan
senam lanjut usia, sebagai mana yang
dilakukan oleh lansia di kelurahan
Tlogomas kota Malang.
Pada penelitian ini didapatkan
bahwa lansia yang sangat rutin mengikuti
sebanyak 6 orang (40%), untuk lansia
yang rutin mengikuti senam ada 18 orang
(45%), dan lansia yang jarang mengikuti
senam ada 6 orang (15%). Senam yang
dilaksanakan oleh lansia ini merupakan
suatu bentuk latihan fisik yang
memberikan pengaruh baik terhadap
tingkat kemampuan fisik manusia, bila
dilaksanakan dengan baik dan benar.
Senam atau latihan fisik sering
Profil Elastisitas Otot Setelah Melakukan Senam
Bugar Lansia di Kelurahan Tlogomas Kecamatan
Lowokwaru Kota Malang
diidentifikasi sebagai suatu kegiatan yang
meliputi aktifitas fisik yang teratur dalam
jangka waktu dan intensitas tertentu.
Senam merupakan bagian dari usaha
menjaga kebugaran termasuk kesehatan
jantung dan pembuluh darah, dan sebagai
bagian dari program retabilitas bagi
mereka yang telah menderita.
Senam tersebut merupakan upaya
untuk manjaga kebugaran jasmani pada
lansia, sebagaimana yang dikatakan
(Hilmy, 1994), bahwa kebugaran jasmani
adalah kebugaran fisik (physican fittnes),
yakni kemampuan seseorang melakukan
kerja sehari-hari secara efisien tampa
timbul kelelahan yang berlebihan
sehingga masih dapat menikmati waktu
luangnya. Kebugaran jasmani dipandang
dari aspek fisiologis adalah kapasitas
fungsional untuk memperbaiki kualitas
hidup. Bagi lansia, untuk dapat mencapai
kondisi kebugaran jasmani yang prima
seseorang perlu melakukan latiahan fisik
yang melibatkan komponen kebugaran
jasmani dengan metode latihan yang
benar.
Elastisitas Otot
Senam
bugar
lansia
yang
dilaksanakan oleh lansia di kelurahan
tlogomas mempuyai manfaat yang cukup
besar dalam menjaga kondisi kesehatan
tubuh, fungsi otot dan organ tubuh
termasuk elastisitas otot. Pada penelitian
ini diketahui bahwa lansia yang
mempunyai otot masih elastis berjumlah
13 orang (32,5%), kondisi otot yang
cukup elastis sebanyak 15 orang (37,5%),
627
Nursing News
Volume 2, Nomor 2, 2017
dan kondisi otot kurang elastis ada 12
orang (30%).
Elastisitas otot lansia tersebut
meliputi elastisitas otot paraler (PEC) dan
elastisitas otot seri (SEC). Menurut
Tortora dan Grobowski (2003) sifat
elastis otot digambarkan sebagai 2
komponen utama. Komponen elastis
paralel (PEC) dan elastis seri (SEC).
Komponen elastis paralel (PEC) lansia
pada penelitian dapat dikatagorikan
elastis dan cukup elastis, sehingga
membran otot lansia dapat memberikan
tahanan pada saat otot secara pasif terulur
(stretch). Komponen elastis seri (SEC)
lansia pada penelitian dapat dikatagorikan
elastis dan cukup elastis, sehingga tendon
lansia bekerja sebagai pegas yang lentur
untuk menyimpan energi elastis ketika
otot yang tegang diulur (distretch).
Kondisi elastisitas otot lansia ini
secara umum elastis sehingga memiliki
sifat merekat yang memungkinkan otot
terulur dan kembali ke dalam bentuk
semula. Dengan demikian ketika
penguluran statik pada group otot seperti
hamstring dipertahankan selama jangka
waktu tertentu, maka secara progresif otot
akan memanjang, dan meningkatkan
ROM sendi. Demikian pula, setelah
group otot tertentu diulur (distretch),
maka tidak akan kembali dengan segera
ke posisi pemanjangan istirahat (resting
length), tetapi secara bertahap akan
memendek selama jangka waktu tertentu.
Respon viskoelastik ini pada otot tidak
bergantung
pada
jenis
kelamin
(independent). Elastisitas otot lansia yang
Profil Elastisitas Otot Setelah Melakukan Senam
Bugar Lansia di Kelurahan Tlogomas Kecamatan
Lowokwaru Kota Malang
masih cukup elastis ini membuktikan
bahwa lansia tersebut rutin mengikuti
kegiatan senam bugar yang dilakukan
setiap minggu.
Profil Elastisitas Otot Saat Melakukan
Senam Bugar Lansia
Setiap orang yang bertambah usia
maka wajar apabila kondisi dan fungsi
tubuhnya juga akan menurun. Tak heran
bila pada usia lanjut, semakin banyak
keluhan yang dilontarkan karena tubuh
tak lagi mau bekerjasama dengan baik
seperti kala muda dulu. Hasil penelitian
yang didukung oleh analisis statistic
korelasi spearman rank ini membuktikan
bahwa nilai p-value sebesar 0,000 < 0,05
sehingga penelitian ini membuktikan
bahwa
terdapat
hubungan
yang
signifikan, kekuatan hubungan tersebut
sebesar 0,708 (70,8%) sehingga masuk
dalam katagori hubungan yang kuat.
Sebagaimana
yang
dikatakan
Hartono (2012) bahwa elastisitas adalah
kemampuan dan kepekaan untuk
merespon, sedangkan elastisitas otot
mempunyai arti kemampuan otot untuk
kembali ke panjang normal setelah diulur
(distretch).
Elastisitas
otot
akan
mengembalikan
otot
ke
posisi
pemanjangan istirahat normal (normal
resting) setelah mengalami penguluran
dan memberikan transmisi ke tegangan
yang halus dari otot ke tulang.
Sehubungan dengan apa yang telah
didapatkan dalam penelitian ini, maka
pada usia lanjut kegiatan senam bugar
lansia sebaiknya menjadi kegiatan rutin
628
Nursing News
Volume 2, Nomor 2, 2017
bagi lansia yang bermanfaat dalam
menjaga kondisi elestisitas ototnya. Hal
ini sesuai dengan pendapat (Darmajo,
1999) bahwa senam lanjut usia
mempunyai manfaat untuk memperlancar
proses degenerasi karena perubahan usia,
mempermudah untuk menyesuaikan
kesehatan jasmani dalam kehidupan
(adaptasi) dan memperbaiki tenaga
cadangan dalam fungsinya terhadap
bertambahnya tuntutan, misalnya sakit.
Lansia dikelurahan Tlogomas kota
Malang yang rutin mengikuti kegiatan
senam kebugaran pada umumnya
mempunyai kondisi elastisitas otot yang
elastis, dan untuk lansia yang jarang
mengikuti kegiatan senam tersebut
kondisi ototnya juga kurang elastis.
Kondisi elastisitias otot ini diketahui pada
saat penelitian yaitu dengan melakukan
gerakan-gerakan
pada
bagian
pergelangan tangan, siku, bahu, leher,
pinggang dan lutut.
Terlihat bahwa beberapa orang
lansia yaitu sebanyak 13 orang (32,5%)
mempunyai elastisitas otot yang elastic
ketika melakukan gerakan pada bagianbagian pergelangan tangan, siku, bahu,
leher, pinggang dan lutut yaitu elastisitas
seri elastic paralel (PEC) dan elastic seri
(SEC). artinya pada lansia tersebut
membran otot tetap memberikan tahanan
pada saat otot secara pasif terulur
(stretch). Pada lansia tersebut tendon juga
bekerja cukup baik sebagai pegas yang
lentur untuk menyimpan energi elastic
ketika otot yang tegang diulur (distretch).
Profil Elastisitas Otot Setelah Melakukan Senam
Bugar Lansia di Kelurahan Tlogomas Kecamatan
Lowokwaru Kota Malang
Oleh karena itu, sebagai upaya
untuk menjaga kondisi elastisitas otot
yang terdiri dari elastic paralel (PEC) dan
elastic seri (SEC), kegiatan senam lansia
menjadi salah satu hal yang mempunyai
kontribusi
tinggi
untuk
menjaga
elastisitas otot lansia. Dengan demikian
apabila lansia mempunyai waktu yang
luang dan tidak berhalangan, sebaiknya
berusaha untuk rutin mengikuti kegiatan
senam lansia.
KESIMPULAN
1) Profil elastisitas otot paraler (PEC)
lansia saat melakukan senam bugar
lansia di
Kelurahan Tlogomas
Kecamatan Lowokwaru Kota Malang
dalam kondisi elastis berjumlah 14
orang (35%), yang cukup elastis ada
15 orang (37,5%) dan kurang elastis
ada 11 orang (27,5%) sehingga tidak
ada lansia yang mempunyai kondisi
elastisitas paraler (PEC) yang tidak
elastis.
2) Profil elastisitas otot seri (SEC)
lansia saat melakukan senam bugar
lansia di
Kelurahan Tlogomas
Kecamatan Lowokwaru Kota Malang
yang mempunyai elastis seri (SEC)
sebanyak 13 orang (32,5%), yang
cukup elastis ada 18 orang (45%) dan
yang kurang elastis ada 9 orang
(22,5%), dengan demikian tidak ada
lansia yang mempunyai kondisi
629
Nursing News
Volume 2, Nomor 2, 2017
elastisitas seri (SEC) yang tidak
elastis.
3) Terdapat hubungan profil elastisitas
otot dan senam bugar lansia di
Kelurahan Tlogomas Kecamatan
Lowokwaru Kota Malang yang
dibuktikan dengan analisis statistik
korelasi
spearman
rank
ini
membuktikan bahwa nilai p value
sebesar 0,000 <∑(0,05) sehingga
penelitian ini membuktikan bahwa
terdapat hubungan yang signifikan,
kekuatan hubungan tersebut sebesar
0,708 (70,8%) sehingga masuk dalam
katagori hubungan yang kuat.
SARAN
Dapat digunakan sebagai kajian
awal atau bahan pertimbangan untuk
melakukan penelitian serupa secara lebih
cermat, melakukan penelitian dengan
pengembangan berbagai aspek baik dari
sisi konsep maupun variabel penelitian
dan menggunakan unit analisis yang lebih
tajam seperti analisis regresi atau analisis
ragam serta pengujian hipotesis.
DAFTAR PUSTAKA
Alimul. A. 2009. Metode Penelitian
Keperawatan dan Teknik Analisa
Data. Jakarta: Salemba Medika.
Profil Elastisitas Otot Setelah Melakukan Senam
Bugar Lansia di Kelurahan Tlogomas Kecamatan
Lowokwaru Kota Malang
Azis
dan Hidayat. 2007. Pedoman
Kesehatan Dasar Bagi Usia Lanjut.
Jakarta: Dinas Kesehatan Republik
Indonesia.
Bandiyah.
2009.
Cara
Menjaga
Kesehatan Pada Usia Lanjut.
Fakultas
Ilmu
Kesehatan,
Universitas Diponogoro. Semarang.
Broman, dkk.
Kesehatan
Fakultas
Masyarakat.
Indonesia.
2006. Memelihara
Pada Usia Lanjut.
Ilmu
Kesehatan
Jakarta: Universitas
Darmojo dan Martono. 2009. Buku Ajar
Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia
Lanjut). Jakarta : Balai Penerbit
FKUI.
Darmojo. 2006. Aktifitas Fisik Usia
Lanjut.Jakarta:
Balai
Penerbit
Fakultas
Ilmu
Kesehatan
Universitas Indoensia.
Darmojo. 1999. Aktifitas Fisik Usia
Lanjut.Jakarta:
Balai
Penerbit
Fakultas
Ilmu
Kesehatan
Universitas Indoensia.
Hartono. 2012. Fisioterapi Pada Usia
Lanjut. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
Jubaidi, Siti. 2008. Perubahan Fisik dan
Penyakit Pada Usia Lanjut.
Jakarta: Ikatan Dokter Indonesia.
630
Nursing News
Volume 2, Nomor 2, 2017
Profil Elastisitas Otot Setelah Melakukan Senam
Bugar Lansia di Kelurahan Tlogomas Kecamatan
Lowokwaru Kota Malang
Nugroho, Wahjudi. 2008. Komunikasi
Dalam Keperawatan Gerontik .
Jakarta: EGC.
Nursalam. 2002. Konsep dan Penerapan
Metodologi
Penelitian
Ilmu
Keperawatan : Pedoman Skripsi,
Tesis, dan Instrumen Penelitian.
Jakarta: Salemba Medika.
Nursalam. 2008. Konsep dan Penerapan
Metodologi
Penelitian
Ilmu
Keperawatan : Pedoman Skripsi,
Tesis, dan Instrumen Penelitian.
Jakarta: Salemba Medika.
Ulliya, dkk. 2008. Perubahan Kondisi
dan Kemampuan Fisik Pada
Lansia. Ikatan Dokter Indonesia.
Jakarata.
Ulliya, dkk. 2009. Perubahan Kondisi
dan Kemampuan Fisik Pada
Lansia. Jakarata: Ikatan Dokter
Indonesia.
Venturelli, dkk. 2010. Elastisitas Otot
Paraler dan Elastisitas Otot Seri
Lansia.
www.kesehatan_lansia.com.jurnal_
elastisitas_otot.html. di akses pada
tanggan 5 Oktober 2015.
631
Download