Gangguan Depresi pada Lanjut Usia

advertisement
TINJAUAN PUSTAKA
Gangguan Depresi pada Lanjut Usia
Hendry Irawan
Dokter Internship RSUD Datu Sanggul,
Tapin, Kalimantan Selatan, Indonesia
ABSTRAK
Angka harapan hidup yang makin meningkat menyebabkan peningkatan proporsi populasi lanjut usia dari sekitar 20% pada tahun 2005
menjadi diperkirakan 33% pada tahun 2050. Perubahan pada lanjut usia tidak hanya terjadi secara fisik, namun juga perubahan keadaan mental
yang sering diabaikan, seperti gangguan depresi. Pengetahuan gejala dan deteksi gangguan depresi perlu diketahui oleh keluarga, masyarakat,
praktisi kesehatan, dan penderita. Sekitar 80% lanjut usia depresi yang menjalani pengobatan dapat sembuh sempurna dan menikmati
kehidupan mereka.
Kata kunci: gangguan depresi, diagnosis, lanjut usia
ABSTRACT
Life expectancy improvement caused increasing elderly population proportion from about 20% in 2005 to estimated 33% in 2050. Changes in
the elderly is not only physical, but also mental, such as depressive disorders that are often neglected. Knowledge of symptoms and detection of
depressive disorders needs to be acquired by family, community, health professionals, and patients. Approximately 80% of elderly with depressive
disorder can recover completely and enjoy their lives after treatment. Hendry Irawan. Depression among Elderly.
Key words: depressive disorder, diagnosis, elderly
PENDAHULUAN
Ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini
sudah berkembang pesat, juga di bidang
kesehatan. Didukung oleh keadaan sosial
ekonomi yang baik, hal ini menyebabkan
peningkatan angka harapan hidup penduduk
di dunia; di tahun 2005 usia harapan hidup
laki-laki dan perempuan adalah 74,9 tahun
dan 79,9 tahun, sedangkan di tahun 2006
adalah 75,1 tahun dan 80,2 tahun.2 Di Amerika
Serikat pada tahun 2005 usia harapan hidup
mencapai 77,4 tahun dan di tahun 2006
mencapai 77,7 tahun.2
Saat ini Indonesia telah memasuki era
penduduk struktur lansia karena tahun 2009
jumlah penduduk berusia di atas 60 tahun
sekitar 7,18%. Provinsi yang mempunyai jumlah
penduduk lansia sekitar 7% adalah di Jawa
dan Bali. Jumlah penduduk lansia pada tahun
2006 sebesar kurang lebih 19 juta dengan
usia harapan hidup 66,2 tahun, sedangkan
pada tahun 2010 diperkirakan sebesar 23,9
juta (9,77%) dengan usia harapan hidup 67,4
tahun, pada tahun 2020 diperkirakan sebesar
28,8 juta (11,34%) dengan usia harapan hidup
71,1 tahun.3
Peningkatan
angka
harapan
hidup
menyebabkan jumlah penduduk golongan
lanjut usia (lansia) makin meningkat. Di
tahun 2005, populasi lansia (orang berusia
lebih dari 60 tahun) di negara maju sebesar
20% dibandingkan dengan populasi anakanak berusia kurang dari 15 tahun (17%).
Diperkirakan pada tahun 2050 populasi lansia
menjadi dua kali dibanding anak-anak, yaitu
33% dan 15%. Pada tahun 2005, populasi
lansia berusia lebih dari 80 tahun sekitar 1,3%
di dunia dan diperkirakan meningkat menjadi
4,4% pada tahun 2050.1
Seiring bertambahnya usia, penuaan tidak
dapat dihindarkan dan terjadi perubahan
keadaan fisik; selain itu para lansia mulai
kehilangan pekerjaan, kehilangan tujuan
hidup, kehilangan teman, risiko terkena
penyakit, terisolasi dari lingkungan, dan
kesepian. Hal tersebut dapat memicu
terjadinya gangguan mental. Depresi
merupakan salah satu gangguan mental
yang banyak dijumpai pada lansia akibat
proses penuaan. Berdasarkan data di Canada,
5-10% lansia yang hidup dalam komunitas
mengalami depresi, sedangkan yang hidup
Alamat korespondensi
dalam lingkungan institusi 30-40% mengalami
depresi dan cemas.4
Depresi menurut WHO (World Health
Organization) merupakan suatu gangguan
mental umum yang ditandai dengan mood
tertekan, kehilangan kesenangan atau minat,
perasaan bersalah atau harga diri rendah,
gangguan makan atau tidur, kurang energi,
dan konsentrasi yang rendah.5,6 Masalah ini
dapat akut atau kronik dan menyebabkan
gangguan kemampuan individu untuk
beraktivitas sehari-hari. Pada kasus parah,
depresi dapat menyebabkan bunuh diri.
Sekitar 80% lansia depresi yang menjalani
pengobatan dapat sembuh sempurna dan
menikmati kehidupan mereka, akan tetapi
90% mereka yang depresi mengabaikan dan
menolak pengobatan gangguan mental
tersebut.4
Oleh karena itu para lansia perlu mendapat
perhatian dan dukungan dari lingkungan
dan keluarga agar dapat mengatasi
perubahan yang terjadi, selain perubahan
keadaan fisik dan keadaan mental yang
makin rentan.
email: [email protected]
CDK-210/ vol. 40 no. 11, th. 2013
815
TINJAUAN PUSTAKA
EPIDEMIOLOGI
Prevalensi depresi pada populasi lansia
diperkirakan 1-2%, prevalensi perempuan
1,4% dan laki-laki 0,4%. Suatu penelitian
menunjukkan variasi prevalensi depresi pada
lansia antara 0,4-35%, rata-rata prevalensi
depresi mayor 1,8%, depresi minor 9,8%, dan
gejala klinis depresi nyata 13,5%. Sekitar 15%
lansia tidak menunjukkan gejala depresi yang
jelas dan depresi terjadi lebih banyak pada
lansia yang memiliki penyakit medis.7
Beberapa kondisi lingkungan juga berkaitan
dengan tingkat depresi lebih besar, orang
yang tinggal di kota dua kali lebih depresi
dibanding di desa, orang yang tinggal
sendiri, orang yang bercerai, kondisi
ekonomi miskin, tidak punya tempat tinggal,
dan tidak bekerja selama enam bulan atau
lebih tiga kali lebih sering depresi dibanding
populasi umum.8
Gambar 1 Struktur otak yang berperan dalam depresi12
ETIOLOGI
Saat ini telah diketahui beberapa faktor
penyebab depresi, seperti faktor genetik,
biokimia, lingkungan, dan psikologis.5,6,8 Pada
beberapa kasus, depresi murni berasal dari
faktor genetik, orang yang memiliki keluarga
depresi lebih cenderung menderita depresi;
riwayat keluarga gangguan bipolar, pengguna
alkohol, skizofrenia, atau gangguan mental
lainnya juga meningkatkan risiko terjadinya
depresi. Kasus trauma, kematian orang yang
dicintai, keadaan yang sulit, atau kondisi stres
memicu terjadinya episode depresi, tetapi
terdapat pula kondisi tidak jelas yang dapat
memicu depresi.8
Secara umum ketiga neurotransmiter berperan
dalam mengatur emosi, reaksi terhadap stres,
tidur, dan nafsu makan. Jumlah serotonin
yang tinggi menyebabkan agresivitas dan
gangguan tidur, sedangkan jumlah rendah
menyebabkan iritabilitas, ansietas, letargi,
dan tindakan atau pemikiran bunuh diri. Pada
keadaan depresi, norepinefrin yang berperan
dalam regulasi respons “fight or flight”
terganggu. Fungsi dopamin untuk mengatur
emosi, pergerakan motor, pembelajaran,
berpikir, memori, dan perhatian. Jumlah
dopamin rendah akan mempengaruhi fungsi
tersebut yang dapat menyebabkan depresi.8
Saat ini penyebab depresi yang banyak diteliti
dan dijadikan dasar pengobatan adalah
abnormalitas monoamin yang merupakan
neurotransmiter otak.7-9 Sekitar tiga puluh
neurotransmiter telah diketahui dan tiga
di antaranya mempengaruhi terjadinya
depresi, yaitu serotonin, norepinefrin, dan
dopamin.7-9 Ketiga monoamin tersebut cepat
dimetabolisme sehingga pengukuran yang
dapat dilakukan pada penderita depresi
dengan mengukur metabolit utama di cairan
serebrospinal, yaitu 5-hydroxyindoleacetic
acid (5-HIAA) dari serotonin, 3-methoxy-4hydroxyphenyl glycol (MHPG) dari norepinefrin,
dan homovanillic acid (HVA) dari dopamin.7
Pada penderita depresi kadar metabolit
tersebut lebih rendah bermakna dibandingkan
yang tidak depresi.7,9
Hipotesis
terbanyak
etiologi
depresi
disebabkan oleh gangguan regulasi serotonin.
Pada percobaan hewan dan pemeriksaan
jaringan otak setelah kematian menunjukkan
bahwa pada keadaan depresi terjadi gangguan
serotonergik termasuk jumlah metabolit,
jumlah reseptor, dan respons neuroendokrin.10
Selain itu, pada lansia depresi terjadi
perubahan struktur otak seperti abnormalitas
jalur frontostriatal yang menyebabkan
gangguan fungsi eksekutif, psikomotor,
perasaan apatis; volume struktur frontostriatal
yang rendah; hiperintensitas struktur
subkortikal; abnormalitas makromolekular di
korpus kalosum genu dan splenium, nukleus
kaudatus, dan putamen; penurunan jumlah
glia di korteks singulata anterior subgenual;
abnormalitas neuron di korteks dorsolateral;
816
atrofi
kortikal;
gangguan
substansia
alba; abnormalitas struktur subkortikal;
peningkatan aktivitas dan perubahan volume
amigdala yang berperan dalam emosi negatif
dan gangguan mekanisme koping; dan
penurunan volume hipokampus dan striatum
ventral.10-12 Perubahan tersebut berdampak
pada perubahan neurotransmiter yang
menyebabkan lansia depresi.
GAMBARAN KLINIS
Pada umumnya lansia mengalami depresi
ditandai oleh mood depresi menetap yang
tidak naik, gangguan nyata fungsi atau
aktivitas sehari-hari, dan dapat berpikiran atau
melakukan percobaan bunuh diri.5-7,9,11,13 Pada
lansia gejala depresi lebih banyak terjadi pada
orang dengan penyakit kronik, gangguan
kognitif, dan disabilitas.11 Kesulitan konsentrasi
dan fungsi eksekutif lansia depresi akan
membaik setelah depresi teratasi.11 Gangguan
depresi lansia dapat menyerupai gangguan
kognitif seperti demensia, sehingga dua hal
tersebut perlu dibedakan (Tabel 1).5,6
Para lansia depresi sering menunjukkan
keluhan nyeri fisik tersamar yang bervariasi,
kecemasan, dan perlambatan berpikir.4,9
Perubahan pada lansia depresi dapat
dikategorikan menjadi perubahan fisik,
perubahan dalam pemikiran, perubahan
dalam perasaan, dan perubahan perilaku
(Tabel 2).4
CDK-210/ vol. 40 no. 11, th. 2013
TINJAUAN PUSTAKA
Tabel 1 Perbedaan depresi dan demensia6
Depresi
Demensia
•
Onset tiba-tiba
•
Onset bertahap
•
Kejadian berulang
•
Kejadian progresif
•
Penurunan memori minimal
•
Penurunan memori jelas
•
Mood sedih dan depresi
•
Mood labil, kadang depresi
•
Kecerdasan tidak terganggu
•
Kecerdasan sangat terganggu
•
Pemahaman baik
•
Pemahaman buruk
•
Abstraksi baik
•
Abstraksi buruk
•
Jarang bingung
•
Sering bingung, terutama malam hari
•
Delusi konsisten dengan afek
•
Delusi paranoid (tersering) menetap
•
Halusinasi jarang, dapat auditorik
•
Halusinasi sewaktu-waktu (auditorik)
•
Bicara lambat
•
Bicara kacau, inkoheren, terlambat
•
Kemunduran psikomotor
•
Psikomotor tremor dan rigiditas
•
Kemunduran personalitas sementara
•
Kemunduran personalitas menetap
•
Daya nilai sosial sedang-baik
•
Daya nilai sosial buruk
•
Tilikan (insight) sedang-baik
•
Tilikan (insight) buruk
•
Prognosis baik
•
Prognosis sangat buruk
Tabel 2 Perubahan pada lansia depresi4,9
Perubahan fisik
•
Perubahan nafsu makan sehingga berat badan turun (lebih dari 5% dari berat badan bulan terakhir)
•
Gangguan tidur berupa gangguan untuk memulai tidur, tetap tertidur, atau tidur terlalu lama
•
Jika tidur, merasa tidak segar dan lebih buruk di pagi hari
•
Penurunan energi dengan perasaaan lemah dan kelelahan fisik
•
Beberapa orang mengalami agitasi dengan kegelisahan dan bergerak terus
•
Nyeri, nyeri kepala, dan nyeri otot dengan penyebab fisik yang tidak diketahui
•
Gangguan perut, konstipasi
Perubahan pemikiran
•
Pikiran kacau, melambat dalam berpikir, berkonsentrasi, atau sulit mengingat informasi
•
Sulit dan sering menghindari mengambil keputusan
•
Pemikiran obsesif akan terjadi bencana atau malapetaka
•
Preokupasi atas kegagalan atau kekurangan diri menyebabkan kehilangan kepercayaan diri
•
Menjadi tidak adil dalam mengambil keputusan
•
Hilang kontak dengan realitas, dapat menjadi halusinasi (auditorik) atau delusi
•
Pikiran menetap tentang kematian, bunuh diri, atau mencoba melukai diri sendiri
Perubahan perasaan
•
Kehilangan minat dalam kegiatan yang dulu merupakan sumber kesenangan
•
Penurunan minat dan kesenangan seks
•
Perasaan tidak berguna, putus asa, dan perasaan bersalah yang besar
•
Tidak ada perasaan
•
Perasaan akan terjadi malapetaka
•
Kehilangan percaya diri
•
Perasaan sedih dan murung yang lebih buruk di pagi hari
•
Menangis tiba-tiba, tanpa alasan jelas
•
Iritabel, tidak sabar, marah, dan perasaan agresif
Perubahan perilaku
•
Menarik diri dari lingkungan sosial, kerja, atau kegiatan santai
•
Menghindari mengambil keputusan
•
Mengabaikan kewajiban seperti pekerjaan rumah, berkebun, atau membayar tagihan
•
Penurunan aktivitas fisik dan olahraga
•
Pengurangan perawatan diri seperti perawatan diri dan makan
•
Peningkatan penggunaan alkohol atau obat-obatan
CDK-210/ vol. 40 no. 11, th. 2013
KRITERIA DIAGNOSIS
Menurut PPDGJ-III (Pedoman Penggolongan
Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia),
DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual),
dan ICD-10 (International Classification of
Diseases) individu depresi sering mengalami
suasana perasaan (mood) depresif, kehilangan
minat dan kegembiraan, berkurangnya
energi, mudah lelah, dan berkurangnya
aktivitas.7,9,11,13
Depresi pada lansia sering tidak terdeteksi,
dalam populasi lansia depresi bervariasi
sekitar 19-94%, tergantung kemampuan
diagnosis dokter.9 Klasifikasi dan diagnosis
gangguan depresi pada lansia berdasarkan
diagnosis depresi pada populasi umum dan
lebih difokuskan pada kriteria yang sesuai
dengan populasi lansia (Tabel 3).7,11
Gangguan depresi sering terdapat pada
lansia dengan penyakit medis atau
neurologis. Komorbiditas ini perlu mendapat
perhatian karena depresi akan memperburuk
morbiditas dan meningkatkan mortalitas.
Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa
lansia dengan penyakit medis dua kali lebih
berisiko depresi dibandingkan yang tanpa
penyakit medis.7 Diagnosis depresi dengan
komorbid penyakit medis atau neurologis
ditegakkan apabila penyakit tersebut telah
terjadi sebelum munculnya gejala depresi.11
Pada tabel 4, tercantum beberapa kondisi
medis yang berkaitan dengan mood depresi.
Gejala depresi sering bersamaan dengan
penurunan kognitif dan demensia, selain itu
depresi mayor dan gangguan kognitif pada
lansia dapat berkembang menjadi demensia
dalam beberapa tahun setelah onset
depresi. Hal tersebut dapat meningkatkan
risiko terjadinya penyakit Alzheimer (Tabel
5). Prevalensi depresi mayor pada penderita
penyakit Alzheimer sekitar 17%.11
TATA LAKSANA
Tata laksana depresi pada lansia dipengaruhi
tingkat keparahan dan kepribadian masingmasing. Pada depresi ringan dan sedang,
psikoterapi merupakan tata laksana yang
sering dilakukan dan berhasil. Akan tetapi,
pada kasus tertentu atau pada depresi berat,
psikoterapi saja tidak cukup, diperlukan
farmakoterapi.6
Banyak orang membutuhkan dukungan dari
817
TINJAUAN PUSTAKA
Tabel 3 Klasifikasi dan diagnosis gangguan depresi pada lansia7,11
Gangguan depresi mayor
•
Harus terdapat lima dari gejala berikut, yaitu mood depresi, kehilangan minat, kehilangan kesenangan dalam
semua atau sebagian besar kegiatan, berat badan berkurang atau bertambah (lebih dari 5%), insomnia atau
hipersomnia, retardasi atau agitasi psikomotor, lelah, perasaan tidak berharga atau bersalah yang tidak jelas,
penurunan kemampuan berkonsentrasi, pemikiran kematian atau bunuh diri yang berulang
•
Harus terdapat satu dari gejala utama, yaitu mood depresi atau kehilangan minat atau kehilangan kesenangan
•
Gejala tersebut setidaknya terjadi selama dua minggu, yang menyebabkan gangguan fungsi, dan tidak
merupakan pengaruh penggunaan zat, kondisi medis, atau kehilangan (kematian)
Gangguan depresi minor
•
Harus terdapat dua gejala, namun kurang dari lima gejala gangguan depresi mayor
•
Gejala tersebut setidaknya terjadi selama dua minggu, yang menyebabkan gangguan fungsi, dan tidak
merupakan pengaruh dari penggunaan zat, kondisi medis, atau kehilangan (kematian)
•
Diagnosis ini hanya untuk penderita tanpa riwayat gangguan depresi mayor, distimik, bipolar, atau psikotik
Gangguan distimik
•
Mood sedih yang menetap yang terdapat dua atau lebih gejala seperti peningkatan atau penurunan nafsu
makan, peningkatan atau penurunan tidur, lelah atau kehilangan energi, penurunan kepercayaan diri, penurunan
konsentrasi atau kesulitan memutuskan sesuatu, dan perasaan tidak ada harapan.
•
Mood sedih dan dua gejala tersebut tidak hilang selama dua bulan atau lebih dalam dua tahun
•
Tidak ada episode depresi mayor selama dua tahun pertama
Gangguan bipolar 1 (paling banyak episode depresi)
•
Terdapat kriteria gangguan depresi mayor dan terdapat riwayat setidaknya satu kali episode manik
penting dalam penyembuhan dan dapat
mencegah episode kekambuhan penyakit.
Banyak penelitian menunjukkan bahwa aktif
dalam kegiatan kelompok di lingkungan
merupakan bagian penting dalam kesehatan
dan dapat meningkatkan kualitas hidup.4
Pada umumnya, tata laksana terapi hanya
menggunakan obat antidepresan, tanpa
merujuk pasien untuk psikoterapi, tetapi
obat hanya mengurangi gejala, dan tidak
menyembuhkan.
Antidepresan
bekerja
dengan cara menormalkan neurotransmiter
di otak yang memengaruhi mood, seperti
serotonin, norepinefrin, dan dopamin.8,9
Antidepresan harus digunakan pada lansia
dengan depresi mayor dan selective serotonin
reuptake inhibitors (SSRIs) merupakan obat
pilihan pertama.9 Beberapa obat antidepresan
yang dapat digunakan pada lansia dengan
kelebihan dan kekurangan tiap golongan
ada pada tabel 6. Pemilihan obat tersebut per
individu dengan pertimbangan efek samping
dari tiap golongan.
Gangguan penyesuaian dengan mood depresi
•
Terdapat mood depresi, rasa takut, atau tidak ada harapan dalam tiga bulan setelah ada stresor
•
Gejala tersebut menimbulkan gangguan atau disabilitas berat dan akan menghilang dalam enam bulan setelah
hilangnya stresor
•
Kehilangan (kematian) tidak dimasukan sebagai stresor dalam gangguan penyesuaian
Tabel 4 Kondisi medis yang dapat menyebabkan depresi11
•
Infeksi virus
•
Endokrinopati – hipotiroid, hipertiroid, hipoparatiroid, hiperparatiroid, hipoadrenokortikoid, hiperadrenokortikoid
•
Penyakit maligna – leukemia, limfoma, kanker pankreas
•
Penyakit serebrovaskular – infark lakunar, stroke, demensia vaskular
•
Infark miokard
•
Penyakit metabolik – defisiensi B12, malnutrisi
Tabel 5 Kriteria diagnosis depresi pada penderita penyakit Alzheimer7,11
•
Gejala depresi yang jelas secara klinis
•
Terdapat tiga atau lebih gejala depresi selama dua minggu dengan terjadi perubahan fungsi dari sebelumnya
•
Harus terdapat satu gejala berikut, yaitu mood depresi atau penurunan afek positif atau penurunan kesenangan
•
Gejala lain berupa gambaran klinis depresi (tertekan, sedih, tidak ada harapan, tidak bersemangat, dan menangis),
penurunan afek positif atau kesenangan dalam lingkungan sosial dan aktivitas sehari-hari, penarikan diri atau
isolasi dari lingkungan sosial, gangguan nafsu makan, gangguan tidur, agitasi atau retardasi psikomotor, iritabilitas,
lelah atau kehilangan energi, perasaan tidak berharga atau tidak ada harapan, perasaan bersalah yang berlebihan
atau tidak tepat, pemikiran kematian atau ide atau rencana atau percobaan bunuh diri yang berulang
•
Gejala yang tidak termasuk dalam gejala demensia seperti kehilangan berat badan karena sulit makan.
•
Depresi tidak merupakan bagian dari depresi idiopatik, gangguan mental lain, kondisi medis, atau pengaruh
penggunaan obat
orang-orang terdekat terutama keluarga
dan teman, keikutsertaan dalam kegiatan
kelompok, atau berkonsultasi dengan tenaga
818
profesional untuk mengatasi depresi. Selain itu,
mengatasi masalah terisolasi ketika memasuki
usia lanjut merupakan salah satu bagian
Pengobatan monoterapi dengan dosis
minimal digunakan pada awal terapi,
dievaluasi apabila tidak ada perubahan
bermakna dalam 6-12 minggu. Lansia yang
tidak berespons pada pengobatan awal perlu
mendapatkan obat antidepresan golongan
lain dan dapat dipertimbangkan penggunaan
dua golongan antidepresan. Pada lansia yang
responsif dengan obat antidepresan, obat
harus digunakan dengan dosis penuh (full
dose maintenance therapy) selama 6-9 bulan
sejak pertama kali hilangnya gejala depresi.
Apabila kambuh, pengobatan dilanjutkan
sampai satu tahun. Strategi pengobatan
tersebut telah berhasil menurunkan risiko
kekambuhan hingga 80%. Penghentian
antidepresan harus dilakukan secara bertahap
agar tidak menimbulkan gejala withdrawal
seperti ansietas, nyeri kepala, mialgia, dan
gejala mirip flu (flu-like symptoms). Lansia yang
sering kambuh memerlukan terapi perawatan
dosis penuh terapi selama hidupnya.9
Selain
farmakoterapi
dengan
obat
antidepresan, psikoterapi (talk therapy)
memiliki peranan penting dalam mengobati
berbagai jenis depresi. Psikoterapi dilakukan
oleh psikiater, psikolog terlatih, pekerja sosial,
atau konselor. Pendekatan psikoterapi dibagi
dua, yaitu cognitive-behavioral therapy (CBT)
dan interpersonal therapy. CBT terfokus pada
CDK-210/ vol. 40 no. 11, th. 2013
TINJAUAN PUSTAKA
Tabel 6 Perbandingan golongan obat antidepresan bagi lansia9
cara baru berpikir untuk mengubah perilaku,
terapis membantu penderita mengubah
pola negatif atau pola tidak produktif
yang mungkin berperan dalam terjadinya
depresi. Interpersonal therapy membantu
penderita mengerti dan dapat menghadapi
keadaan dan hubungan sulit yang mungkin
berperan menyebabkan depresi.4,8 Banyak
penderita mendapat manfaat psikoterapi
untuk membantu mengerti dan memahami
cara menangani faktor penyebab depresi,
terutama pada depresi ringan; jika depresi
berat, psikoterapi saja tidak cukup, karena
akan menimbulkan depresi berulang.
SIMPULAN
Depresi merupakan gangguan psikiatri
umum pada lansia. Diagnosis terlambat dan
pengobatan yang tidak tepat menghambat
hasil pengobatan yang maksimal. Tenaga
kesehatan
perlu
membuat
strategi
pengobatan yang komprehensif untuk
mengatasi depresi pada lansia, termasuk
metode penapisan depresi, intervensi
psikologis, dan farmakoterapi yang tepat.
DAFTAR PUSTAKA
1.
United Nations, Department of Economic and Social Affairs Population Division. World population prospects: The 2006 revision, highlights. New York: United Nation; 2007.
2.
Heron MP, Hoyert DL, Murphy SL, Xu JQ, Kochanek KD, Tejada-Vera B. Deaths: Final data for 2006. National Vital Statistics Reports. 2009;57:1-136.
3.
Menkokesra. Lansia masa kini dan mendatang. Kementrian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat. 2009.
4.
Mood Disorders Society of Canada. Depression in elderly. Consumer and Family Support. 2010.
5.
WHO. Depression. World Health Organization. 2010.
6.
Traywick L. Depression in the elderly. University of Arkansas Division of Agriculture. 2007.
7.
Licinio J, Wong M. Biology Depression: From novel insights to therapeutic strategies. Volume 1. Weinheim: Wiley-VCH; 2005.
8.
Bjornlund L. Depression (disease & disorder). Farmington Hills: Lucent books; 2010.
9.
Lunenfeld B, Gooren LJG, Morales A, Morley JE. Textbook of men’s health and aging, 2nd ed. United Kingdom: Informa Healthcare; 2007.
10. Meltzer CC, Smith G, DeKosky ST, Pollock BG, Mathis CA, Moore RY, Kupfer DJ, Reynolds III CF. Serotonin in aging, late-life depression, and Alzheimer’s disease: The emerging role of
functional imaging. Neuropsychopharmacology. 1998;18:407-30.
11. Alexopoulos GS. Depression in the elderly. Lancet. 2005;365:1961-70.
12. aan het Rot M, Mathew SJ, Charney DS. Neurobiological Mechanisms in major depressive disorder. CMAJ. 2009;180:305-13.
13. Direktorat Jenderal Pelayanan Medik. Pedoman penggolongan dan diagnosis gangguan jiwa di Indonesia III. Jakarta: Departemen Kesehatan; 1993.
CDK-210/ vol. 40 no. 11, th. 2013
819
Download