pengaruh struktur kepemilikan saham terhadap pengungkapan

advertisement
1
PENGARUH STRUKTUR KEPEMILIKAN SAHAM TERHADAP
PENGUNGKAPAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY
(Studi pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar Bursa Efek Indonesia)
Ratnawati
Fakultas Ekonomi & Bisnis Universitas Wisnuwardhana Malang
[email protected]
Abstract: The purpose of this study was to examine the effect of managerial stock
ownership, institutional and foreign to the disclosure of CSR. The population of
this study is a manufacturing company that went public in the Indonesia Stock
Exchange for the year 2012 totaling 131 companies. The samples used purposive
sampling approach dengen Judgment Sampling generate a total sample of 55
companies. The results showed that managerial stock ownership negatively affect
the disclosure of corporate social responsibility. Institutional share ownership
has a positive effect on corporate social responsibility. Foreign ownership has no
effect on corporate social responsibility.
Keywords: managerial shareholding, institutional shareholding, foreign
ownership and corporate social responsibility disclosure
PENDAHULUAN
Di dalam akuntansi konvensional
(mainstream accounting), pusat perhatian
yang
dilayani
perusahaan
adalah
stockholders dan bondholders sedangkan
pihak yang lain sering diabaikan. Dewasa
ini tuntutan terhadap perusahaan semakin
besar. Tuntutan terhadap perusahaan untuk
memberikan informasi yang transparan,
organisasi yang akuntabel serta tata kelola
perusahaan yang semakin bagus (good
corporate governance) semakin memaksa
perusahaan untuk memberikan informasi
mengenai aktivitas sosialnya.
Masyarakat
membutuhkan
informasi
mengenai
sejauh
mana
perusahaan sudah melaksanakan aktivitas
sosialnya sehingga hak masyarakat untuk
hidup aman dan tentram, kesejahteraan
karyawan, dan keamanan mengkonsumsi
makanan dapat terpenuhi. Oleh karena itu
dalam perkembangan sekarang ini
akuntansi konvensional telah banyak
dikritik karena tidak dapat mengakomodir
kepentingan masyarakat secara luas,
sehingga kemudian muncul konsep
akuntansi baru yang disebut sebagai Social
Responsibility Accounting (SRA) atau
Akuntansi Pertanggungjawaban Sosial.
Pengungkapan corporate social
responsibility
merupakan
proses
komunikasi dampak sosial dan lingkungan
dari kegiatan ekonomi organisasi terhadap
kelompok khusus yang berkepentingan dan
terhadap masyarakat secara keseluruhan.
Hal tersebut memperluas tanggung jawab
organisasi (khususnya perusahaan) di luar
peran tradisionalnya untuk menyediakan
laporan keuangan kepada pemilik modal
khususnya pemegang saham. Perluasan
tersebut dibuat dengan asumsi bahwa
perusahaan mempunyai tanggung jawab
yang lebih luas dibanding hanya mencari
laba untuk pemegang saham (Gray et. al.,
1987).
2
Owen (2005) mengatakan bahwa
kasus
Enron
di
Amerika
telah
menyebabkan
perusahaan-perusahaan
lebih memberikan perhatian yang besar
terhadap pelaporan sustainabilitas dan
pertanggungjawaban sosial perusahaan.
Isu-isu yang berkaitan dengan reputasi,
manajemen risiko dan keunggulan
kompetitif nampak menjadi kekuatan yang
mendorong perusahaan untuk melakukan
pengungkapan informasi sosial. Dari hasil
studi literatur yang dilakukan oleh Finch
(2005) menunjukkan bahwa motivasi
perusahaan
untuk
melakukan
pengungkapan sosial lebih banyak
dipengaruhi
oleh
usaha
untuk
mengkomunikasikan kepada stakeholder
mengenai kinerja manajemen dalam
mencapai manfaat bagi perusahaan dalam
jangka panjang.
Pelaksanaan aktivitas CSR tidak
bisa terlepas dari penerapan good
corporate governance. Pedoman Umum
Good Corporate Governance Indonesia
menyatakan bahwa tujuan pelaksanaan
corporate governance adalah mendorong
timbulnya kesadaran dan tanggung jawab
perusahaan
pada
masyarakat
dan
lingkungan sekitarnya. Salah satu faktor
corporate governance yang berpengaruh
atas pelaksanaan CSR adalah struktur
kepemilikan manajerial, institusional dan
kemepilikan saham asing.
Kepemilikan manajerial adalah
kondisi yang menunjukkan bahwa manajer
memiliki saham dalam perusahaan atau
manajer tersebut sekaligus sebagai
pemegang saham perusahaan. Fama dan
Jensen (1983) menyatakan bahwa semakin
tinggi tingkat kepemilikan manajemen,
semakin tinggi pula motivasi untuk
mengungkapkan aktivitas perusahaan yang
dilakukan. Nasir dan Abdullah (2004)
menemukan bukti bahwa kepemilikan
saham manajerial berpengaruh terhadap
luas pengungkapan CSR. Anggraini (2006)
menyimpulkan bahwa semakin besar
kepemilikan manajer di dalam perusahaan,
maka perusahaan akan semakin banyak
mengungkapkan informasi sosial. Namun
ketidakkonsistenan hasil ditunjukkan oleh
penelitian Said et al. (2009) yang
menemukan bahwa kepemilikan saham
manajerial tidak berpengaruh terhadap
pengungkapan CSR.
Pemegang saham institusional
biasanya
berbentuk entitas
seperti
perbankan, asuransi, dana pensiun, reksa
dana, dan institusi lain. Investor
institusional
umumnya
merupakan
pemegang saham yang cukup besar karena
memiliki pendanaan yang besar. Tingkat
kepemilikan institusional yang tinggi
menimbulkan usaha pengawasan yang
lebih besar untuk menghalangi perilaku
opportunistic
manajer.
Penelitian
Anggraini (2006) menyimpulkan bahwa
semakin besar kepemilikan institusional
dalam perusahaan maka tekanan terhadap
manajemen
perusahaan
untuk
mengungkapkan tanggung jawab sosial
pun semakin besar. Begitu juga, Matoussi
dan Chakroun (2008) menyatakan bahwa
perusahaan
dengan
kepemilikan
institusional yang besar lebih mampu
untuk memonitor kinerja manajemen.
Investor institusional memiliki power dan
experience serta bertanggungjawab dalam
menerapkan prinsip corporate governance
untuk melindungi hak dan kepentingan
seluruh pemegang saham sehingga mereka
menuntut perusahaan untuk melakukan
komunikasi secara transparan. Hasil yang
berbeda ditunjukan oleh Barnae dan Rubin
(2005)
bahwa
pemegang
saham
institusional tidak memiliki hubungan
terhadap CSR.
Kepemilikan saham asing adalah
jumlah saham yang dimiliki oleh pihak
asing (luar negeri) baik oleh individu
maupun
lembaga
terhadap
saham
perusahaan di Indonesia. Selama ini
kepemilikan asing merupakan pihak yang
dianggap concern terhadap pengungkapan
tanggung jawab sosial perusahaan.
Perusahaan dengan kepemilikan saham
3
asing biasanya lebih sering menghadapi
masalah asimetri informasi dikarenakan
alasan hambatan geografis dan bahasa.
Oleh karena itu, perusahaan dengan
kepemilikan saham asing yang besar akan
terdorong
untuk
melaporkan
atau
mengungkapkan informasinya secara
sukarela dan lebih luas (Huafang dan
Jianguo, 2007). Hasil yang berbeda
ditunjukan oleh Amran dan Devi (2008),
tidak menemukan pengaruh kepemilikan
saham asing terhadap pengungkapan CSR
Berdasarkan hasil kajian empiris
yang sudah diuraikan, menunjukan hasil
yang belum konsisten tentang pengaruh
kepemilikan
saham
manajerial,
institusional
dan
asing
terhadap
pengungkapan CSR. Atas dasar tersebut,
penelitian ini mencoba mengkaji kembali
tentang pengaruh kepemilikan saham
manajerial,
kepemilikan
saham
institusional dan kepemilikan saham asing
terhadap pengungkapan corporate social
responsibility pada perusahaan manufaktur
yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
TEORI
KEAGENAN
(AGENCY
THEORY)
Agency theory merupakan teori
yang menjelaskan tentang hubungan
kontraktual
antara
pihak
yang
mendelegasikan pengambilan keputusan
tertentu
(principal/pemilik/pemegang
saham) dengan pihak yang menerima
pendelegasian
tersebut
(agent/direksi/manajemen). Agency theory
memfokuskan pada penentuan kontrak
yang paling efisien yang mempengaruhi
hubungan prinsipal dan agen (Alijoyo,
Antonius dan Subarto Zaini: 2004)
Teori
agensi
memberikan
pandangan yang terbaru terhadap good
corporate governance (GCG), yaitu para
pendiri
perseroan
dapat
membuat
perjanjian yang seimbang antara principal
(pemegang saham) dengan agen (direksi).
Teori agensi menekankan pentingnya
pemilik perusahaan (pemegang saham)
menyerahkan pengelolaan perusahaan
kepada tenaga-tenaga profesional (disebut
agents) yang lebih mengerti dalam
menjalankan bisnis sehari-hari. Teori ini
muncul setelah fenomena terpisahnya
kepemilikan
perusahaan
dengan
pengelolaan, terutama pada perusahaanperusahaan besar yang modern.
Dalam
rangka
memahami
tanggung
jawab
perusahaan
maka
digunakanlah dasar perspektif hubungan
keagenan. Jensen dan Meckling (1976)
menyatakan bahwa hubungan keagenan
adalah sebuah kontrak antara manajer
(agent) dengan investor (principal).
Terjadinya konflik kepentingan antara
pemilik dan agen karena kemungkinan
agen bertindak tidak sesuai dengan
kepentingan principal, sehingga memicu
biayakeagenan (agency cost).
Penyebab timbulnya manajemen
laba akan dapat dijelaskan dengan
menggunakan teori agensi. Sebagai agen,
manajer bertanggung jawab secara moral
untuk mengoptimalkan keuntungan para
pemilik (principal) dengan memperoleh
kompensasi sesuai dengan kontrak.
Dengan
demikian
terdapat
dua
kepentingan yang berbeda di dalam
perusahaan dimana masing -masing pihak
berusaha
untuk
mencapai
atau
mempertahankan tingkat kemakmuran
yang dikehendaki (Ali, 2002).
Adanya
ketidakseimbangan
penguasaan informasi ini akan memicu
munculnya kondisi yang disebut sebagai
asimetri
informasi
(information
asymmetry). Dengan adanya asimetri
informasi antara manajemen (agent)
dengan pemilik (principal) akan memberi
kesempatan kepada manajer untuk
melakukan manajemen laba (earnings
management) sehingga akan menyesatkan
pemilik (pemegang saham) mengenai
kinerja ekonomi perusahaan.
4
CORPORATE SOCIAL
RESPONSIBILITY
Ebert
(2003)
mendefinisikan
corporate social responsibility sebagai
usaha perusahaan untuk menyeimbangkan
komitmen-komitmennya
terhadap
kelompok-kelompok
dan
individualindividual dalam lingkungan perusahaan
tersebut, termasuk didalamnya adalah
pelanggan, perusahaan-perusahaan lain,
para karyawan, dan investor. CSR
memberikan
perhatian
terhadap
lingkungan dan sosial ke dalam operasinya
dan interaksinya dengan stakeholders yang
melebihi tanggung jawab di bidang hukum
(Darwin, 2004).
Suojanen (1954) memformulasikan
teori perusahaan bahwa perusahaan
merupakan bagian dari bentuk komunitas
sosial sebagai suatu institusi keputusankeputusan yang dibuat berpengaruh
terhadap banyak pihak dari pada hanya
sekedar
kepada
pemegang
saham.
Manajemen bertanggung jawab terhadap
keputusan-keputusan,
pengaruh
dari
perusahaan sebagai bagian dari warga
Negara. Berdasarkan formulasi tersebut,
Raar (2004) menafsirkan pentingnya
pencantuman lingkungan dan nilai sosial
dalam kebijakan perusahaan dan sebagai
indikator kunci kinerja yang dapat
meningkatkan reputasi dan sekaligus
menciptakan kesejahteraan untuk para
investor dan perusahaan itu sendiri.
Sementara Keraf (1997) lebih menekankan
pada upaya untuk menciptakan bisnis yang
lebih manusiawi dan sekaligus untuk
memperkecil aspek negatif dari aktivitas
bisnis tersebut. Selain itu Keraf (1997)
mengajukan argumentasi bahwa bisnis
(perusahaan)
adalah
bagian
dari
masyarakat
dan
dijalankan
oleh
masyarakat oleh karenanya sebagai bagian
dari integral dari masyarakat dituntut
untuk memiliki tanggung jawab sosial dan
kepedulian
terhadap
kehidupan
masyarakat.
Tanggung jawab sosial perusahaan
terkait dengan nilai dan standar yang
dilakukan berkenaan dengan beroperasinya
sebuah perusahaan (corporate), maka CSR
didefinisikan sebagai komitmen usaha
untuk bertindak secara etis, beroperasi
secara legal, dan berkontribusi untuk
meningkatkan
kualitas
hidup
dari
karyawan dan keluarganya, komunitas
lokal dan masyarakat secara lebih luas
(ACCA, 2004).
STRUKTUR KEPEMILIKAN SAHAM
Masalah pengungkapan corporate
social responsibility merupakan masalah
yang timbul sebagai akibat pihak-pihak
yang
terlibat
dalam
perusahaan
mempunyai kepentingan yang berbedabeda. Perbedaan tersebut antara lain karena
karakteristik
kepemilikan
dalam
perusahaan,
seperti
(1).Kepemilikan
menyebar
(dispersed
ownership).
Ditemukan bahwa perusahaan yang
kepemilikannya
lebih
menyebar
memberikan imbalan yang lebih besar
kepada pihak manajemen daripada
perusahaan yang kepemilikannya lebih
terkonsentrasi,
(2)
Kepemilikan
terkonsentrasi (closely held). Dalam tipe
kepemilikan seperti ini timbul dua
kelompok pemegang saham, yaitu
controlling interest dan minority interest
(shareholders).
Adanya agency problem dapat
dipengaruhi oleh struktur kepemilikan
(kepemilikan manajerial dan kepemilikan
institusional). Struktur kepemilikan oleh
beberapa peneliti dipercaya mampu
mempengaruhi jalannya perusahaan yang
pada akhirnya berpengaruh pada kinerja
perusahaan dalam mencapai tujuan
perusahaan yaitu maksimalisasi nilai
perusahaan. Hal ini disebabkan oleh
karena adanya kontrol yang mereka miliki.
Beberapa penelitian mengenai
struktur kepemilikan dilakukan oleh
Crutchley (1999) dengan membangun
sebuah model yang menunjukkan empat
5
keputusan yang saling terkait menyangkut
leverage, dividend, insider ownership, dan
institutional ownership ditentukan secara
simultan dalam kerangka agency cost.
Penelitian Crutchley (1999), memberikan
bukti bahwa ada keterkaitan antara
keputusan leverage, dividend payout ratio,
insider ownership, dan institutional
ownership yang ditentukan secara simultan
meskipun tidak menyeluruh. Pada
penelitiannya Crutchley (1999) juga
membuktikan
bahwa
kepemilikan
institusional
merupakan
subtitusi
kepemilikan manajerial. Classens et al.
(2000) menyatakan bahwa kepemilikan
oleh bank akan menurunkan kemungkinan
perusahaan
mengalami
kebangrutan.
Namun, apabila struktur kepemilikan
perusahaan dimiliki oleh dewan direksi
atau dewan komisarisnya maka dewan
tersebut justru akan cenderung melakukan
tindakan -tindakan ekspropriasi yang
menguntungkannya secara pribadi. Oleh
karena
itu
dengan
kepemilikan
perusahaaan dimiliki oleh direksi semakin
meningkat maka keputusan yang diambil
oleh direksi akan lebih cenderung untuk
menguntungkan dirinya dan secara
keseluruhan akan merugikan perusahaan
sehingga kemungkinan nilai perusahaan
akan cenderung mengalami penurunan.
KEPEMILIKAN
SAHAM
MANAJERIAL
Saham
merupakan
bentuk
pendanaan jangka panjang yang tidak
memiliki batas waktu pengembalian.
Saham menunjukkan bukti kepemilikan
atas suatu perusahaan yang berbentuk
Perseroan Terbatas (PT). Pemilik saham
suatu perusahaan adalah pemegang saham,
dan merupakan pemilik perusahaan.
Tanggung jawab pemilik perusahaan yang
berbentuk Perseroan Terbatas pada modal
yang disetorkan atau yang dimiliki
(Husnan, 1998).
Ada berbagai kebijakan yang
dapat diterapkan oleh para pemegang
saham
dalam
mengatur
distribusi
modalnya
atau
kebijakan
dalam
membentuk
struktur
kepemilikan
perusahaan yang mereka miliki. Ada
sebagian perusahaan yang mengambil
kebijakan kompensasi perusahaana bagi
para manajernya dengan cara memberikan
hak kepada para manajer untuk memiliki
sebagian saham perusahaan (Ratnaningsih
dan Hartono, 2001). Secara khusus
kepemilikan manajer terhadap perusahaan
atau yang biasa dikenal dengan istilah
Insider Ownership ini didefinisikan
sebagai persentase suara yang berkaitan
dengan saham dan option yang dimiliki
oleh manajer dan direksi suatu perusahaan
(Mathiesen, 2004).
Kepemilikan manajer (insider
ownership) tersebut dapat menyebabkan
munculnya benefit maupun cost bagi
perusahaan, karena insider ownership
tersebut kemudian memberikan dampak
pada perilaku pihak manajemen (Jensen,
1992). Berdasarkan teori keagenan,
diketahui bahwa kepentingan manajer
selaku pengelola perusahaan akan dapat
berbeda dengan kepentingan pemegang
saham
(Elloumi dan Gueyie, 2001).
Manajer dapat mengambil tindakan yang
diperlukan
untuk
meningkatkan
kesejahteraan pribadinya, berlawanan
dengan upaya untuk memaksimalkan nilai
perusahaan. Konflik kepentingan yang
sangat
potensial
ini
menyebabkan
pentingnya suatu mekanisme yang
diterapkan guna melindungi kepentingan
pemegang saham (Jensen dan Meckling,
1976).
Tingkat asimetri informasi akan
cenderung relatif tinggi pada perusahaan
dengan tingkat kesempatan investasi yang
besar. Manajer atau pengelola perusahaan
memiliki informasi privat tentang nilai
proyek di masa akan datang dan tindakan
mereka tidaklah dapat diawasi dengan
detail oleh pemegang saham. Sehingga
biaya agensi antara manajer dengan
pemegang saham akan meningkat pada
6
perusahaan dengan kesempatan investasi
yang tinggi.
KEPEMILIKAN
SAHAM
INSTITUSIONAL
Kepemilikan
institusional
merupakan kepemilikan saham oleh
pemerintah, institusi keuangan, institusi
berbadan hukum, institusi luar negeri, dana
perwalian serta institusi lainnya pada akhir
tahun (Belkaoui and Philip:1989). Menurut
Gapensi, (1997), kepemilikan institusional
merupakan salah satu faktor yang dapat
mempengaruhi
kinerja
perusahaan.
Adanya kepemilikan oleh investor
institusional akan mendorong peningkatan
pengawasan yang lebih optimal terhadap
kinerja manajemen, karena kepemilikan
saham mewakili suatu sumber kekuasaan
yang dapat digunakan untuk mendukung
atau
sebaliknya
terhadap
kinerja
manajemen.
Navissi
and
Vic.
(2006)
menyatakan bahwa ketatnya pengawasan
yang dilakukan oleh investor institusional
sangat tergantung pada besarnya investasi
yang dilakukan. Bathala et al., (1994) juga
menemukan
bahwa
kepemilikan
institusional menggantikan kepemilikan
manajerial dalam mengontrol agency cost.
Semakin besar kepemilikan oleh institusi
keuangan maka akan semakin besar
kekuatan suara dan dorongan institusi
keuangan untuk mengawasi manajemen
dan akibatnya akan memberikan dorongan
yang lebih besar untuk mengoptimalkan
nilai
perusahaan
sehingga
kinerja
perusahaan juga akan meningkat.
Keberadaan investor institusional
dapat menunjukkan mekanisme corporate
governance yang kuat yang dapat
digunakan untuk memonitor manajemen
perusahaan.
Pengaruh
investor
institusional
terhadap
manajemen
perusahaan dapat menjadi sangat penting
serta
dapat
digunakan
untuk
menyelaraskan kepentingan manajemen
dengan para pemegang saham. Hal
tersebut
disebabkan
jika
tingkat
kepemilikan manajerial tinggi, dapat
berdampak buruk terhadap perusahaan
karena dapat menimbulkan masalah
pertahanan, yang berarti jika kepemilikan
manajerial tinggi, mereka memiliki posisi
yang kuat untuk melakukan kontrol
terhadap perusahaan dan pihak pemegang
saham eksternal akan mengalami kesulitan
untuk mengendalikan tindakan manajer.
Hal ini disebabkan tingginya hak voting
yang dimiliki manajer (Navissi, Farshid
and Naiker, Vic. 2006). Adanya
pengawasan yang optimal terhadap kinerja
manajer maka akan lebih berhati-hati
dalam mengambil keputusan.
KEPEMILIKAN SAHAM ASING
Kepemilikan saham asing adalah
jumlah saham yang dimiliki oleh pihak
asing (luar negeri) baik oleh individu
maupun
lembaga
terhadap
saham
perusahaan di Indonesia. Selama ini
kepemilikan asing merupakan pihak yang
dianggap concern terhadap pengungkapan
tanggung jawab sosial perusahaan. Seperti
diketahui, negara-negara di Eropa sangat
memperhatikan isu sosial misalnya hak
asasi manusia, pendidikan, tenaga kerja,
dan lingkungan seperti efek rumah kaca,
pembalakan liar, serta pencemaran air. Hal
ini menjadikan perusahaan multinasional
mulai mengubah perilaku mereka dalam
beroperasi demi menjaga legitimasi dan
reputasi perusahaan (Fauzi, 2008).
Perusahaan dengan kepemilikan
saham asing biasanya lebih sering
menghadapi masalah asimetri informasi
dikarenakan alasan hambatan geografis
dan bahasa. Oleh karena itu, perusahaan
dengan kepemilikan saham asing yang
besar akan terdorong untuk melaporkan
atau mengungkapkan informasinya secara
sukarela dan lebih luas (Huafang dan
Jianguo, 2007).
7
HIPOTESIS PENELITIAN
Fama
dan
Jensen
(1983)
menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat
kepemilikan manajemen, semakin tinggi
pula motivasi untuk mengungkapkan
aktivitas perusahaan yang dilakukan. Nasir
dan Abdullah (2004) menemukan bukti
bahwa kepemilikan saham manajerial
berpengaruh terhadap luas pengungkapan
CSR. Anggraini (2006) menyimpulkan
bahwa semakin besar kepemilikan manajer
di dalam perusahaan, maka perusahaan
akan semakin banyak mengungkapkan
informasi
sosial.
Namun
ketidakkonsistenan hasil ditunjukkan oleh
penelitian Said et al. (2009) yang
menemukan bahwa kepemilikan saham
manajerial tidak berpengaruh terhadap
pengungkapan CSR.
Berdasarkan hasil kajian empiris maka
hipotesis penelitian ini sebagai berikut:
H1 : Kepemilikan saham manajerial
berpengaruh signifikan terhadap
pengungkapan corporate social
responsibility
Tingkat kepemilikan institusional
yang
tinggi
menimbulkan
usaha
pengawasan yang lebih besar untuk
menghalangi
perilaku
opportunistic
manajer. Penelitian Anggraini (2006)
menunjukkan bahwa semakin besar
kepemilikan
institusional
dalam
perusahaan maka tekanan terhadap
manajemen
perusahaan
untuk
mengungkapkan tanggung jawab sosial
pun semakin besar. Begitu juga, Matoussi
dan Chakroun (2008) menyatakan bahwa
perusahaan
dengan
kepemilikan
institusional yang besar lebih mampu
untuk memonitor kinerja manajemen.
Investor institusional memiliki power dan
experience serta bertanggungjawab dalam
menerapkan prinsip corporate governance
untuk melindungi hak dan kepentingan
seluruh pemegang saham sehingga mereka
menuntut perusahaan untuk melakukan
komunikasi secara transparan.
Berdasarkan hasil kajian empiris
maka hipotesis penelitian ini sebagai
berikut:
H2 : Kepemilikan saham institusional
berpengaruh signifikan terhadap
pengungkapan corporate social
responsibility
Kepemilikan saham asing adalah
jumlah saham yang dimiliki oleh pihak
asing (luar negeri) baik oleh individu
maupun
lembaga
terhadap
saham
perusahaan di Indonesia. Perusahaan
dengan kepemilikan saham asing biasanya
lebih sering menghadapi masalah asimetri
informasi dikarenakan alasan hambatan
geografis dan bahasa. Oleh karena itu,
perusahaan dengan kepemilikan saham
asing yang besar akan terdorong untuk
melaporkan
atau
mengungkapkan
informasinya secara sukarela dan lebih
luas (Huafang dan Jianguo, 2007).
Menurut Haniffa dan Cooke (2005) dan
Puspitasari (2009), perusahaan yang
memiliki kepemilikan saham asing
cenderung memberikan pengungkapan
yang lebih luas Berdasarkan hasil kajian
empiris maka hipotesis penelitian ini
sebagai berikut:
H3 : Kepemilikan
saham
asing
berpengaruh signifikan terhadap
pengungkapan corporate social
responsibility
METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian
Sesuai dengan pokok masalah dan
tujuan
penelitian,
penelitian
ini
menggunakan pola explanatory research
(penelitian
penjelasan).
Penelitian
explanatory research adalah adalah
penelitian yang bermaksud menjelaskan
pengaruh antar dua variabel atau lebih,
yang bersifat simetris, kausal dan timbal
balik (Sugiyono, 2012). Pola pengaruh
yang akan diungkap dalam penelitian ini
adalah pengaruh kepemilikan saham
manajerial, institusional dan asing
terhadap pengungkapan CSR
8
Populasi Dan Sampel Penelitian
Populasi dalam penelitian ini
adalah perusahaan manufaktur yang go
public di Bursa Efek Indonesia untuk
tahun 2012 yang berjumlah 131
perusahaan. Alasan dilakukan pada
perusahaan manufaktur karena merupakan
perusahaan yang relatif lebih banyak
memiliki dampak pada lingkungan
dibandingkan dengan perusahaan jasa atau
dagang. Penentuan sampel digunakan
dengan metode purposive sampling dengen
pendekatan Judgment Sampling, yaitu
sampel yang dipilih berdasarkan penilaian
peneliti bahwa perusahaan manufaktur
tersebut adalah perusahaan yang paling
sesuai untuk dijadikan sampel penelitian
berdasarkan kriteria, yaitu sebagai berikut:
(1)
Perusahaan
manufaktur
yang
memublikasikan laporan tahunan atau
annual report periode 2012 secara
lengkap.
(2)
Perusahaan
tersebut
menerbitkan
data
tentang
CSR.
Berdasarkan kriteria sampel, maka jumlah
sampel dalam penelitian ini sebanyak 55
perusahaan.
Definisi Operasional Variabel
1. Kepemilikan saham manajerial diukur
dengan menghitung prosentase (%)
jumlah lembar saham yang dimiliki
manajemen yaitu manajer, komisaris
terafiliasi
(diluar
komisaris
independent) dan direksi dibagi
lembar saham yang beredar.
KSM
=
Jumlah Saham yang dim iliki manajer, direksi dan komisaris
Jumlah lembar saham beredar
2.
Kepemilikan saham institusional
diukur dengan menghitung prosentase
(%) jumlah lembar saham yang
dimiliki oleh investor institusional
dibagi lembar saham yang beredar
KSI
=
Jumlah Saham yang dim iliki investor institusio nal
Jumlah lembar saham beredar
3.
Kepemilikan saham asing diukur dari
rasio
prosentase
(%)
jumlah
kepemilikan saham yang dimiliki
pihak asing terhadap total lembar
saham yang beredar.
KS
=
Jumlah Saham yang dim iliki investor a sin g
Jumlah lembar saham beredar
4.
Pengungkapan
corporate
social
responsibility diukur menggunakan
Corporate Social Responsibility Index
(CSRI) yang akan dinilai dengan
membandingkan
jumlah
pengungkapan yang dilakukan oleh
perusahaan
dengan
jumlah
pengungkapan yang diisyaratkan.
Berdasarkan peraturan BAPEPAM
No.VIII.G.2 tentang laporan tahunan
dan
kesesuaian
item
untuk
diaplikasikan di Indonesia, terdapat
78 item pengungkapan yang sesuai
untuk diterapkan di Indonesia
(Hackston dan Milne :1996 dan
Sembiring
:2005)..
Perhitungan
Indeks Luas Pengungkapan CSR
dirumuskan sebagai berikut:
CSRI
=
t
Jumlah item yang diungkapkan
78
Metode Analisis Data
Metode analisis yang digunakan
dalam penelitian ini adalah regresi
berganda. Metode ini digunakan untuk
melihat pengaruh kepemilikan saham
manajerial, institusional dan asing
terhadap pengungkapan CSR.
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Metode analisis regresi berganda
digunakan untuk melihat ada tidaknya
pengaruh kepemilikan saham manajerial,
institusional
dan
asing
terhadap
pengungkapan CSR. Hasil perhitungan
analisis regresi linier berganda dilakukan
9
dengan bantuan Statistical Package for
Social Science (SPSS) 17.0 for windows,
seperti yang ditampilkan pada Tabel 1
berikut :
Tabel 1 Rekapitulasi Hasil analisis Regresi Linier Berganda
Variabel
Standardized
Penelitian
Coefficients Beta
t
X1
-0,450
-3,149
X2
0,335
2,284
X3
0,037
0,281
Adj R Square
: 0.127
F hitung
: 3,621
Prob. F
: 0.019
*). Signifikan secara statistik pada tingkat α = 5%
Sumber : Data primer Diolah
Berdasarkan Tabel 1 dapat
dijelaskan bahwa besarnya nilai t hitung
untuk variabel kepemilikan saham
manajerial (X1) sebesar -3,149 dengan
signifikansi sebesar 0.003 lebih kecil dari
signifikan statistik pada α = 5%, sehingga
menolak H0 yang artinya bahwa
kepemilikan
saham
manajerial
berpengaruh negatif dan signifikan
terhadap pengungkapan CSR.
Besarnya nilai t hitung untuk
variabel kepemilikan saham institusional
(X2) adalah 2,284 dengan signifikansi
sebesar 0.027 lebih kecil dari signifikan
statistik pada α = 5%, sehingga menolak
H0 yang artinya bahwa kepemilikan saham
institusional berpengaruh positif dan
signifikan terhadap pengungkapan CSR.
Besarnya nilai t hitung untuk
variabel kepemilikan saham asing (X3)
adalah 0,281 dengan signifikansi sebesar
0.778 lebih besar dari signifikan statistik
pada α = 5%, sehingga menerima H0 yang
artinya bahwa kepemilikan saham asing
tidak berpengaruh signifikan terhadap
pengungkapan CSR.
Uji F dalam penelitian ini
digunakan untuk menguji ketepatan atau
keberartian model penelitian. Berdasarkan
hasil penelitian diperoleh nilai F sebesar
Prob.
0.003*
0.027*
0.778
Keterangan
Signifikan
Signifikan
Tidak Signifikan
3,621 dengan nilai probabilitas sebesar
0.019 dan signifikan pada alpha (α)
sebesar 5% (0,05). Hal ini mempunyai
makna
bahwa
kepemilikan saham
manajerial, institusional dan asing layak
untuk menjelaskan pengungkapan CSR.
Sedangkan daya prediksi dari model
regresi (Adj. R-square) yang dibentuk
dalam pengujian ini sebesar 0.127. Hasil
ini mengindikasikan bahwa kepemilikan
saham manajerial, institusional dan asing
mempunyai
kontribusi
terhadap
pengungkapan CSR sebesar 12,7%,
sedangkan sisanya 87,3% dipengaruhi oleh
variabel lain di luar model.
Pengaruh
kepemilikan
saham
manajerial terhadap pengungkapan
corporate social responsibility
Berdasarkan hasil analisis statistik
inferensial ditemukan bukti bahwa
kepemilikan
saham
manajerial
berpengaruh
negatif
terhadap
pengungkapan
corporate
social
responsibility. Hasil ini dapat dijelaskan
bahwa semakin tinggi tingkat kepemilikan
manajemen, semakin rendah perusahaan
mengeluarkan program CSR. Hal ini
karena semakain banyak manajemen
memiliki saham pada perusahaan bisa
menimbulkan
adanya
perbedaan
10
kepentingan antara pemegang saham
(sebagai
prinsipal)
dengan
pihak
manajemen sebagai agen. Pertentangan
dan tarik menarik kepentingan antara
prinsipal dan agen dapat menimbulkan
permasalahan yang dalam Agency Theory
dikenal sebagai Asymmetric Information
(AI) yaitu informasi yang tidak seimbang
yang disebabkan karena adanya distribusi
informasi yang tidak sama antara prinsipal
dan agen. Ketergantungan pihak eksternal
pada angka akuntansi, kecenderungan
manajer untuk mencari keuntungan sendiri
dan tingkat Asymmetric Information yang
tinggi menyebabkan keinginan besar bagi
manajer untuk memanipulasi kerja yang
dilaporkan untuk kepentingan diri sendiri.
Hasil kajian ini mendukung kajian
yang dilakukan oleh Barnea and Rubin
(2006)
yang
menemukan
bahwa
kepemilikan manajemen berhubungan
negatif terhadap CSR. Hasil ini
bertentangan
dengan
kajian
yang
dikemukakan oleh Fama dan Jensen
(1983) menyatakan bahwa semakin tinggi
tingkat kepemilikan manajemen, semakin
tinggi
pula
motivasi
untuk
mengungkapkan aktivitas perusahaan yang
dilakukan.
Kepemilikan
manajemen
berpengaruh positif terhadap pengeluaran
program CSR. Penelitian Nasir dan
Abdullah (2004) menunjukkan bahwa
kepemilikan
manajerial
berpengaruh
positif dalam hubungan antara kepemilikan
saham
manajerial
terhadap
luas
pengungkapan CSR. Hal senada juga
disampaikan Rosmasita (2007) yang
menemukan bahwa kepemilikan saham
manajerial berpengaruh terhadap luas
pengungkapan CSR di Indonesia.
Pengaruh
kepemilikan
saham
institusional terhadap pengungkapan
corporate social responsibility
Berdasarkan hasil analisis statistik
inferensial ditemukan bukti bahwa
kepemilikan
saham
institusional
berpengaruh
positif
terhadap
pengungkapan
corporate
social
responsibility.
Pemegang
saham
institusional biasanya berbentuk entitas
seperti perbankan, asuransi, dana pensiun,
reksa dana, dan institusi lain. Investor
institusional
umumnya
merupakan
pemegang saham yang cukup besar karena
memiliki pendanaan yang besar. Tingkat
kepemilikan institusional yang tinggi
menimbulkan usaha pengawasan yang
lebih besar untuk menghalangi perilaku
opportunistic manajer. Dengan demikian,
kepemilikan
institusional
dapat
meningkatkan kualitas dan kuantitas
pengungkapan sukarela. Hal ini berarti
kepemilikan institusional dapat mendorong
perusahaan
untuk
meningkatkan
pengungkapan CSR.
Hasil kajian ini memeperluas
kajian yang dilakukan oleh Mursalim
(2007), bahwa kepemilikan institusional
dapat dijadikan sebagai upaya untuk
mengurangi masalah keagenan dengan
meningkatkan
proses
monitoring.
Pemegang saham institusional juga
memiliki opportunity, resources, dan
expertise untuk menganalisis kinerja dan
tindakan manajemen. Investor institusional
sebagai pemilik sangat berkepentingan
untuk membangun reputasi perusahaan.
Anggraini (2006) menunjukkan bahwa
semakin besar kepemilikan institusional
dalam perusahaan maka tekanan terhadap
manajemen
perusahaan
untuk
mengungkapkan tanggung jawab sosial
pun semakin besar. Matoussi dan
Chakroun (2008) menyatakan bahwa
perusahaan
dengan
kepemilikan
institusional yang besar lebih mampu
untuk memonitor kinerja manajemen.
Pengaruh kepemilikan saham asing
terhadap pengungkapan corporate social
responsibility
Berdasarkan hasil analisis statistik
inferensial ditemukan bukti bahwa
kepemilikan asing tidak berpengaruh
terhadap pengungkapan corporate social
11
responsibility. Hasil ini dapat dijelaskan
bahwa
kepemilikan
asing
dalam
perusahaan
di
Indonesia
tidak
menggambarkan tingginya indeks GRI
sebagai ukuran pengungkapan CSR.
Kemungkinan yang mendasari perusahaan
dengan kepemilikan asing terutama Eropa
dan Amerika ini memiliki pengungkapan
yang relatif kecil karena jika kepemilikan
mereka pada perusahaan di Indonesia
dikonsolidasikan dengan perusahaan induk
di negara asal maka kemungkinan
persentase kepemilikan tersebut sangat
kecil, sehingga mereka menjadi kurang
memperhatikan
pengungkapan
CSR
sebagai suatu hal yang penting untuk
diungkapkan kepada publik dan lebih
banyak perusahaan unregulated company
sehingga pengungkapan CSR cenderung
tidak menjadi fokus utama perusahaan
dalam menyajikan laporan tahunan. Selain
itu, Hal ini terjadi karena kepemilikan
asing dalam perusahaan di Indonesia
persentase kepemilikannya relatif kecil,
selain itu, investor asing lebih menekankan
pada trading yang mengharapkan return
saham bukan deviden, sehingga mereka
menjadi
kurang
memperhatikan
pengungkapan CSR. Hasil penelitian ini
mendukung penelitian yang dilakukan oleh
Marwata (2006), Amran dan Devi (2008),
Machmud dan Chaerul (2008), dan Said et
al. (2009) yang tidak menemukan
pengaruh kepemilikan saham asing
terhadap pengungkapan CSR.
KESIMPULAN
Kepemilikan saham manajerial
berpengaruh negatif terhadap corporate
social responsibility. Hasil ini menunjukan
bahwa semakain banyak manajemen
memiliki saham pada perusahaan bisa
menimbulkan
adanya
perbedaan
kepentingan antara pemegang saham
(sebagai
prinsipal)
dengan
pihak
manajemen sebagai agen, sehingga
memunculkan Asymmetric Information
dan tingkat Asymmetric Information yang
tinggi
menyebabkan
pengungkapan
laporan CSR semakin kecil. Kepemilikan
saham institusional berpengaruh positif
terhadap corporate social responsibility.
Hasil ini menunjukan bahwa tingkat
kepemilikan institusional yang tinggi
menimbulkan usaha pengawasan yang
lebih
besar
untuk
meningkatkan
pengungkapan CSR. Kepemilikan asing
tidak berpengaruh terhadap corporate
social responsibility. Hal ini terjadi karena
kepemilikan asing dalam perusahaan di
Indonesia persentase kepemilikannya
relatif kecil, selain itu, investor asing lebih
menekankan
pada
trading
yang
mengharapkan return saham bukan
deviden, sehingga mereka menjadi kurang
memperhatikan pengungkapan CSR.
Hasil
temuan
ini
dapat
memberikan manfaat, dimana perusahaan
perlu menyeimbangkan antara jumlah
kepemilikan saham, hal ini dilakukan agar
efektif menjalankan fungsinya dalam hal
komunikasi, koordinasi serta pembuatan
keputusan berkaitan dengan corporate
social responsibility.
Penelitian
ini
memiliki
keterbatasan-keterbatasan. Pertama, data
CSR yang digunakan dalam penelitian ini
sebagian besar berasal dari laporan
tahunan perusahaan sehingga tidak semua
item
diungkapkan
secara
jelas.
Berdasarkan keterbatasan diatas, peneliti
selanjutnya diharapkan untuk menganalisis
aktivitas CSR perusahaan secara lebih
mendalam pada laporan tanggung jawab
sosial terpisah serta memperbaharui item
pengungkapan sesuai kondisi masyarakat
saat ini.
DAFTAR PUSTAKA
Ali Irfan. 2002. Pelaporan Keuangan dan
Asimetri
Informasi
dalam
Hubungan
Agensi.
Lintasan
Ekonomi Vol. XIX. No.2. Juli
2002.
Alijoyo, Antonius dan Subarto Zaini.
2004.
Komisaris Independen,
12
Penggerak Praktik GCG di
Perusahaan, Penerbit PT Indeks,
Jakarta.
Amran, Azlan dan Susela Devi. 2008. The
Impact of Government and
Foreign Affiliate Influence on
Corporate Social Reporting in
Malaysia. Accounting, Auditing
and Accountability Journal. Vol.
23, No. 4, hal 386-404.
Anggraini, R. Retno. 2006. Pengungkapan
Informasi Sosial dan FaktorFaktor
yang
Mempengaruhi
Pengungkapan Informasi Sosial
dalam
Laporan
Keuangan
Tahunan (Studi Empiris pada
Perusahaan-Perusahaan
yang
terdaftar Bursa Efek Jakarta).
Simposium Nasional Akuntansi 9
Padang
Belkaoui, Ahmed and Philip G. Karpik.
1989. Determinants of the
Corporate Decision to Disclose
Sosial Information. Accounting,
Auditing
and
Accountabilit
Journal. Vol. 2, No. 1, p. 36- 51
Barnea, Amir and Amir Rubin. 2005.
Corporate Social Responsibility
As A Conflict Between Owners .
CIBC Centre for Corporate
Governance
and
Risk
Management Working Paper
Series.
Bathala, C.T et al. 1994, Managerial
ownership, debt policy and the
impact of institutional holdings: an
agency perspective. Financial
Management,
vol.23,
no.3,
Autumn.
Claessens, S., S. Djankov, J. P. Han, dan
Larry H. P. 2000. Expropriation of
Minority Shareholders: Evidence
from East Asia. Policy Research.
Working Paper 2088 The World
Bank
Crutchley, Claire E., Marlin R.H Jensen,
Jhon S. Jahera, Jr dan Jennie E.
Raymeond.
1999.
Agency
Problem and The Simultaneity of
Financial Decision Making, The
Role of Institutional Ownership,
International Review of Financial
Analysis 8:2.
Darwin,
Ali.
2004.
Penerapan
Sustainability
Reporting
di
Indonesia. Konvensi Nasional
Akuntansi V, Program Profesi
Lanjutan. Yogyakarta, 13-15
Desember.
Ebert, Ronald J dan Ricky W. Griffin.
2003,
Bisnis,
edisi
6,
Jakarta:Prenhallindo.
Fama, E. F. dan Jensen Meckling. 1983.
Separation of Ownership and
Control. Journal of Law and
Economics. 26, 301-325.
Fauzi, Hasan. 2008. Corporate Social and
Environment
Perfomance:
A
Comparative
Study
Between
Indonesian
Companies
and
Multinational Companies (MNCs)
Operating In Indonesia. Journal of
Knowledge Globalization, Vol. I,
No 1, Spring 2008
Finch, Nigel. 2005. The Motivations for
Adopting
Sustainability
Disclosure. Macquaarie Graduate
School of Management. Social
Science Research Network
Gapensi, B. 1997. Intermediate Financial
Management, Fifth Edition, The
Dryden Press, New York
Gray, Rob; Dave Owen and Keith
Maunders. 1987. Corporate Social
Reporting: Emerging Trends in
Accountability and the Social
Contract. Accounting, Auditing
and Accountability Journal. Vol.
1, No. 1, p. 6- 20
Hackston, David and Markus J. Milne.
1996. Some Determinants of
Social
and
Environmental
Disclosure in New Zealand
Companies. Accounting, Auditing
and Accountability Journal. Vol.
9, No. 1, p. 77-108
13
Haniffa, R.M., dan T.E. Cooke. 2005.
“The Impact of Culture and
Governance on Corporate Social
Reporting”. Journal of Accounting
and Public Policy 24, pp. 391-430.
Huafang, Xiao dan Jianguo, Yuan. 2007.
Ownership
Structure,
Board
Composition
and
Corporate
Voluntary Disclosure: Evidence
from Listed Companies in China.
Managerial Auditing Journal Vol.
22 No. 6.
Husnan,
Suad.
1998.
Manajemen
Keuangan Teori dan Penerapan
(Keputusan Jangka Panjang).
Yogyakarta : BPFE
Jensen, M.C. and Meckling. 1976. Theory
of the Firm: Managerial Behavior,
Agency Costs, dan Ownership
Structure. Journal of Financial
Economics. Vol 3, p. 305-360.
Jensen, G.R; Solberg dan T.S.Zorn.1992.
Simultaneous Determinant of
Insider ownership, debt and
devident policies. Journal of
financial
and
quantitative
analysis.
Keraf,A.Sony.1997.
Etika
Lingkungan,Penerbit
Buku
Kompas, Jakarta.
Matoussi, Hamadi, dan Chakroun, Raida.
2008.
“Board
Composition,
ownership Structure and Voluntary
Disclosure in Annual Reports:
Evidence
from
Tunisia”.
Laboratoire Interdisciplinaire de
Gestion
Universite-Enterprise
(LIGUE).
Mathiesen, H.2004. Empirical studies on
ownership
structure
and
performance.
http://www.encycogov.com
Nasir, Moch. N.A dan Abdullah, S.N.
2004. Voluntary Disclosure and
Corporate Governance among
Financially Distressed Firms in
Malaysia. Financial Reporting,
Regulation and Governance. Vol.
3 No. 1.
Navissi, Farshid and Naiker, Vic. 2006.
Institutional
ownership
and
Corporate Value. Journal of
Managerial Finance, Vol. 32,
No.1, pp.247-256.
Owen, David. 2005. CSR After Enron: A
Role for the Academic Accounting
Profession?.
Working
Paper.
Sosial Science Research Network.
Puspitasari, Apriani Daning. 2009. FaktorFaktor
yang
mempengaruhi
Pengungkapan Corporate Social
Responsibility
(CSR)
Pada
Laporan Tahunan Perusahaan
DiIndonesia.
Skripsi
tidak
dipublikasikan.
Universitas
Diponegoro
Raar, Jean. 2004. Environmental and
Social
Responsibillity:
A
Normative Financial Reporting
Concept. The Fouth Asia Pasific
Interdiciplinary
Research
in
Accounting (Apira), Conference,
Singapore.
Ratnaningsih, Dewi dan Jogiyanto
Hartono.2001. Conclict of interest
problem in the management –
controlled Firms. Jurnal ekonomi
dan Bisnis Indonesia. Vol.243.
Said, Roshima, Yuserrie Hj. Zainuddin,
dan Hasnah Haron. 2009. The
Relatinship between Corporate
Social
Responsibility
and
Corporate
Governance
Characteristic in Malaysian Public
Listed
Companies.
Social
Responsibility Journal. Vol. 5, No.
2, hal 212-226.
Sembiring, Eddy Rismanda. 2005.
Karakteristik Perusahaan dan
Pengungkapan Tanggung Jawab
Sosial: Studi Empiris pada
Perusahaan yang Tercatat di Bursa
Efek Jakarta. Simposium Nasional
14
Akuntansi VIII.
September.
Solo
15-16
Sugiyono, 2012. Metode Penelitian Bisnis.
CV. Bandung. Alfabeta.
Suojanen, W., 1954. Accounting Theory
and the Large Corporation,
Accounting Review, July, dalam
Raar, Jean. 2004. Environmental
Accounting Responsibility: A
Normative Financial Reporting
Concept. The Fourth Asia Pasific
Interdiciplinary
Research
in
Accounting
(Apira)
2004
Conference, Singapore.
The Association of Chartered Certified
Accountants (ACCA). 2004. An
Introduction to Sustainability
Reporting for Organisations in
Indonesia.
Download