SKRIPSI NUR LAILA - Fakultas Hukum UNSOED

advertisement
PEMBATALAN SURAT KEPUTUSAN KEPALA SUKU DINAS
PENGAWASAN DAN PENERTIBAN BANGUNAN (P2B)
KOTA ADMINISTRASI JAKARTA SELATAN
NOMOR 722/1.795.2/SPB/S/2011
TENTANG PELAKSANAAN PEMBONGKARAN BANGUNAN
(Tinjauan Yuridis Putusan Nomor: 214/G/2011/PTUN-Jakarta)
Diajukan Untuk memenuhi salah satu persyaratan
memperoleh gelar Sarjana Hukum
pada Fakultas Hukum
Universitas Jenderal Soedirman
SKRIPSI
Oleh :
NUR LAILA
E1A011283
KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS HUKUM
PURWOKERTO
2015
i
SKRIPSI
PEMBATALAN SURAT KEPUTUSAN KEPALA SUKU DINAS
PENGAWASAN DAN PENERTIBAN BANGUNAN (P2B)
KOTA ADMINISTRASI JAKARTA SELATAN
NOMOR 722/1.795.2/SPB/S/2011
TENTANG PELAKSANAAN PEMBONGKARAN BANGUNAN
(Tinjauan Yuridis Putusan Nomor: 214/G/2011/PTUN-Jakarta)
Oleh:
NUR LAILA
E1A011283
Untuk memenuhi salah satu persyaratan
memperoleh gelar Sarjana Hukum
pada Fakultas Hukum
Universitas Jenderal Soedirman
Diterima dan disahkan
Pada tanggal Februari 2015
Para Penguji/Pembimbing
Penguji I/
Pembimbing I
Weda Kupita, S.H., M.H.
NIP. 19651028199002 1001
Penguji II/
Pembimbing II
Penguji III
Sanyoto, S.H.,M.Hum.
H. Kadar Pamuji, S.H., M.H.
NIP. 19610123198601 1001 NIP. 196411151990021001
Mengetahui,
Dekan
Dr. Angkasa, S.H., M.Hum.
NIP. 19640923 198901 1 001
ii
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI
Saya yang bertandatangan di bawah ini:
Nama
:
NUR LAILA
NIM
:
E1A011283
Program Studi :
Ilmu Hukum
Judul Skripsi
PEMBATALAN SURAT KEPUTUSAN KEPALA
SUKU
DINAS
PENGAWASAN
DAN
PENERTIBAN
BANGUNAN
(P2B)
KOTA
ADMINISTRASI JAKARTA SELATAN NOMOR
722/1.795.2/SPB/S/2011
TENTANG
PELAKSANAAN
PEMBONGKARAN
BANGUNAN (Tinjauan Yuridis Putusan Nomor:
214/G/2011/PTUN-Jakarta)
:
Menyatakan dengan sebenarnya bahwa skripsi ini benar-benar merupakan hasil
karya saya, bukan merupakan pengambil alihan tulisan atau pikiran orang lain
yang saya aku sebagai tulisan atau pikiran saya, kecuali yang tersebut di dalam
daftar pustaka.
Apabila di kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan bahwa skripsi ini hasil
jiplakan, atas perbuatan tersebut maka saya bersedia menerima sanksi sesuai
dengan ketentuan yang berlaku.
Purwokerto, Februari 2015
Yang membuat pernyataan
NUR LAILA
NIM. E1A011283
iii
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirobbil’alamin....... Puji syukur penyusun panjatkan kepada allah
SWT atas limpahan karunia-Nya, sehinga peyusun dapat menyelesaikan skripsi
yang berjudul “PEMBATALAN SURAT KEPUTUSAN KEPALA SUKU
DINAS PENGAWASAN DAN PENERTIBAN BANGUNAN (P2B) KOTA
ADMINISTRASI JAKARTA SELATAN NOMOR 722/1.795.2/SPB/S/2011
TENTANG PELAKSANAAN PEMBONGKARAN BANGUNAN (Tinjauan
Yuridis Putusan Nomor: 214/G/2011/PTUN-Jakarta).” Skripsi ini disusun
sebagai persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Hukum pada Fakultas
Hukum Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto.
Proses penyusunan skripsi ini penyusun banyak menerima bantuan dan
dukungan dari berbagai pihak Untuk itu penyusun mengucapkan terima kasih dan
penghargaan yang tulus kepada:
1.
Dr. Angkasa, S.H., M.Hum., selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas
Jenderal Soedirman Purwokerto.
2.
Weda Kupita, S.H., M.H., selaku Dosen Pembimbing I/Penguji I, yang telah
memberikan ilmu yang sangat bermanfaat bagi terselesaikannya skripsi ini.
3.
Sanyoto, S.H.,M.Hum., selaku Dosen Pembimbing II/Penguji II, yang telah
meluangkan waktu beliau sehingga proses penyusunan dan pembimbingan
skripsi ini dapat diselesaikan.
4.
H. Kadar Pamuji, S.H., M.H., selaku Dosen Penguji III yang telah
memberikan revisi guna perbaikan.
iv
5.
Seluruh Dosen dan Staf Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman
Purwokerto.
6.
Orang tua tercinta yang telah memberikan dukungan serta motivasi hingga
studi untuk meraih gelar Sarjana Hukum tercapai.
7.
Semua pihak yang telah memberikan dukungan dan motivasi yang mampu
menumbuhkan semangat untuk menyelesaikan studi ini.
Penyusun menyadari bahwa skripsi ini mengandung banyak kelemahan, oleh
sebab itu penyusun dengan terbuka menerima segala bentuk kritik dari pembaca
dengan harapan skripsi ini dapat dijadikan bahan wacana dan kepustakaan bagi
pengembangan ilmu hukum, khususnya Hukum Administrasi Negara.
Purwokerto, Februari 2015
Penyusun
v
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN SAMPUL DEPAN .....................................................................
i
HALAMAN JUDUL .......................................................................................
ii
HALAMAN PENGESAHAN .........................................................................
iii
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI .........................................................
iv
KATA PENGANTAR .....................................................................................
v
DAFTAR ISI ....................................................................................................
vii
ABSTRAK .......................................................................................................
ix
ABSTRACT .....................................................................................................
x
BAB I.
PENDAHULUAN .........................................................................
1
A. Latar Belakang ........................................................................
1
B. Perumusan Masalah..................................................................
6
C. Kerangka Teori ........................................................................
7
D. Tujuan Penelitian .....................................................................
11
E. Kegunaan Penelitian ...................................................................
12
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ...............................................................
13
A. Negara Hukum ........................................................................
13
B. Peradilan Tata Usaha Negara ...................................................
19
1. Pengertian Peradilan Tata Usaha Negara ...............................
19
2. Pengertian Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara .......
23
3. Asas-asas Khusus Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara 27
4. Kompetensi Absolut ................................................................
vi
29
C. Keputusan Tata Usaha Negara ....................................................
33
1. Pengertian Keputusan Tata Usaha Negara .............................
33
2. Keabsahan Keputusan Tata Usaha Negara .............................
39
D. Asas-Asas Umum Pemerintahan Yang Baik ............................
45
E. Menara Telekomunikasi ..............................................................
52
1. Tata Cara Mendirikan Menara Telekomunikasi .....................
52
2. Izin Mendirikan Menara Telekomunikasi ..............................
55
3. Tata Cara Membongkar Menara Telekomunikasi .................
58
BAB III. METODE PENELITIAN ...............................................................
61
A. Metode Penelitian.....................................................................
61
B. Pendekatan Penelitian .................................................................
62
C. Spesifikasi Penelitian ...............................................................
63
D. Lokasi Penelitian ......................................................................
63
E. Sumber Bahan Hukum.................................................................
63
F. Metode Pengumpulan Bahan Hukum..........................................
65
G. Metode Penyajian Bahan Hukum................................................
66
H. Metode Analisis Bahan Hukum...................................................
66
BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ...............................
67
A. Hasil Penelitian .......................................................................
67
B. Pembahasan .............................................................................
90
BAB V. PENUTUP .................................................................................... 123
A. Kesimpulan .............................................................................. 123
B. Saran ........................................................................................ 124
DAFTAR PUSTAKA
vii
PEMBATALAN SURAT KEPUTUSAN KEPALA SUKU DINAS
PENGAWASAN DAN PENERTIBAN BANGUNAN (P2B)
KOTA ADMINISTRASI JAKARTA SELATAN
NOMOR 722/1.795.2/SPB/S/2011
TENTANG PELAKSANAAN PEMBONGKARAN BANGUNAN
(Tinjauan Yuridis Putusan Nomor: 214/G/2011/PTUN-Jakarta)
Oleh:
NUR LAILA
E1A011283
ABSTRAK
Penelitian ini bersumber pada putusan Pengadilan Tata Usaha Negara
Jakarta Nomor: 214/G/2011/PTUN-Jakarta, bertujuan untuk mengetahui dan
menganalisis pertimbangan hukum Hakim dalam Pelaksanaan Pembongkaran
Bangunan dan mengetahui serta menganalisis pertimbangan hukum Hakim
apakah telah sesuai atau tidak dengan Peraturan Perundang-undangan dan Asasasas Umum Pemerintahan yang Baik. Penelitian ini menggunakan metode
penelitian yuridis normatif, dengan pendekatan perundang-undangan dan
pendekatan kasus.
Penggugat dalam perkara a-quo yakni PT. Konsorsium Komet, Tergugatnya
Kepala Suku Dinas Pengawasan dan Penerbitan Bangunan (P2B) Kota
Administrasi Jakarta Selatan, objek gugatannya Surat Perintah Bongkar (SPB)
Nomor: 722/1.795.2/SPB/S/2011 terhadap Menara Telekomunikasi milik
Penggugat.
Pertimbangan hukum Hakim menyatakan bahwa Surat Keputusan Objek
Sengketa bertentangan dengan Peraturan Perundang-undangan dari segi
wewenang, karena Tergugat tidak berwenang menerbitkan Surat Keputusan Objek
Sengketa, seharusnya yang berwenang menerbitkan Surat Keputusan Objek
Sengketa adalah Walikota Jakarta Selatan. Pertimbangan hukum Hakim sudah
sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan yakni Keputusan Gubernur Kepala
Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 1068 Tahun 1997, dan sudah sesuai
dengan Asas-asas Umum Pemerintahan yang Baik yakni khususnya asas
kepastian hukum, asas keterbukaan dan asas akuntabilitas.
Kata Kunci : Pembatalan, Surat Keputusan, Pembongkaran dan Putusan PTUN.
viii
PEMBATALAN SURAT KEPUTUSAN KEPALA SUKU DINAS
PENGAWASAN DAN PENERTIBAN BANGUNAN (P2B)
KOTA ADMINISTRASI JAKARTA SELATAN
NOMOR 722/1.795.2/SPB/S/2011
TENTANG PELAKSANAAN PEMBONGKARAN BANGUNAN
(Tinjauan Yuridis Putusan Nomor: 214/G/2011/PTUN-Jakarta)
Oleh:
NUR LAILA
E1A011283
ABSTRACT
This research source in decision of state Administrative Court Number
214/G/2011/PTUN-Jakarta, purposed to recognize and analyze judge’s law
consideration wheter it is proper with the statute and principles of Good
Governance. The method that used this research is normative juridical with statute
approach and case approach.
Plaintiff in case a-quo that Konsorsium Komet Company, Defendants to
Chief of the Supervision ang Building Publishing Official (P2B) of South Jakarta,
the object lawsuit is Demolition Order Letter (SPB) Nomor
722/1.785.2/SPB/5/2011 against the Telecommunication Tower’s Plaintiff.
The consideration law Judge in this case a-quo council object of dispute that
the decree has ben in contracdition with the statute in term of authority, because
defendants is not authorized issue the object of dispute, authorities should issue
the object of dispute is the Mayor of South Jakarta. Judge law considerations are
in accordance with the statute that decree of the Governor of Jakarta Number 1068
of 1997, and is in conformity with the Principles of Good Governance in
particular the principles of legal security, principles of openness and principles of
accountability.
Key Word : Cancellation, decree, demolition and decision PTUN.
ix
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Indonesia dapat dikatakan sebagai negara hukum karena memenuhi
unsur-unsur konsep negara hukum rechstaat, salah satunya pada unsur yaitu
adanya peradilan administrasi.1 Sedangkan dalam prinsip negara hukum
demokrasi terdapat adanya pembagian kekuasaan dan salah satu kekuasaan
dalam pemerintahan adalah kekuasaan kehakiman (judicative). Peradilan Tata
Usaha Negara adalah salah satu pelaku kekuasaan kehakiman bagi rakyat
pencari keadilan terhadap sengketa Tata Usaha Negara, yang berada di bawah
Mahkamah Agung. Hal ini dapat dilihat dalam Pasal 24 Undang-Undang
Dasar 1945 hasil amandemen Jo Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009
tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman yang menyatakan
bahwa: kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan
badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum,
lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan
peradilan tata usaha negara, dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi.
Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Ketentuan-Ketentuan
Pokok Kekuasaan Kehakiman menentukan bahwa susunan, kekuasaan serta
hukum acara Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di
bawahnya diatur dalam undang-undang. Atas dasar ketentuan tersebut, untuk
1
Ridwan H.R, Hukum Administrasi Negara, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2008, hlm.
3.
2
badan peradilan yang ada di lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara telah
diatur di dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata
Usaha Negara, yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun
2004 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang
Peradilan Tata Usaha Negara, kemudian mengalami perubahan kedua dengan
Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara.
Peradilan Tata Usaha Negara adalah untuk melindungi kepentingan
rakyat dan memberikan perlindungan hukum sesuai dengan konsep dari
negara hukum. Selain itu Peradilan Tata Usaha Negara juga memiliki tugas
dan berwenang untuk memeriksa, memutus, dan menyelesaikan sengketa Tata
Usaha Negara sebagaimana yang diatur dalam Pasal 47 Undang-Undang
Nomor 5 Tahun 1986.2 Pengertian sengketa Tata Usaha Negara ditentukan
dalam Pasal 1 angka 10 Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009, yang
menyatakan sengketa Tata Usaha Negara adalah sengketa yang timbul dalam
bidang Tata Usaha Negara antara orang atau badan hukum perdata dengan
Badan atau pejabat Tata Usaha Negara baik di pusat maupun di daerah,
sebagai akibat dikeluarkannya Keputusan Tata Usaha Negara termasuk
sengketa kepegawaian berdasarkan Peraturan Perundang-undangan.
Berdasarkan ketentuan Pasal 1 angka 10 Undang-Undang Nomor 51
Tahun 2009 tersebut di atas, berarti terbitnya Keputusan Tata Usaha Negara
menjadi sebab terjadinya sengketa Tata Usaha Negara. Orang atau Badan
2
R. Wiyono, Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara Edisi Kedua, Jakarta, 2010, hlm.
6.
3
Hukum Perdata yang kepentingannya dirugikan oleh suatu Keputusan Tata
Usaha Negara dapat mengajukan gugatan ke Pengadilan, hal ini sesuai dengan
ketentuan hak gugat sebagaimana diatur dalam Pasal 53 ayat (1) UndangUndang Nomor 9 Tahun 2004.
Pasal 53 ayat (1) Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 yang
menyatakan bahwa orang atau badan hukum perdata yang merasa dirugikan
oleh suatu Keputusan Tata Usaha Negara dapat mengajukan gugatan tertulis
ke Pengadilan yang berwenang dengan tuntutan agar Keputusan Tata Usaha
Negara yang disengketakan dinyatakan batal atau tidak sah dengan atau tanpa
disertai tuntutan ganti rugi dan atau rehabilitasi. Dasar pengajuan gugatan di
Peradilan Tata Usaha Negara Indonesia adalah Pasal 53 ayat (2) UndangUndang No. 5 Tahun 1986 yang kini direvisi melalui UU Nomor 9 Tahun
2004. Pasal 53 tersebut menurut Philipus M. Hadjon mengandung asas
keabsahan dalam pemerintahan yang memiliki 3 (tiga) fungsi yaitu sebagai
berikut:
a) Bagi aparat pemerintahan, asas keabsahan berfungsi sebagai norma
pemerintahan (bestuursnormen);
b) bagi masyarakat, asas keabsahan berfungsi sebagai alasan mengajukan
gugatan terhadap tindak pemerintahan (beroepsgronden);
c) bagi hakim, asas keabsahan berfungsi sebagai dasar pengujian suatu tindak
pemerintahan (toetsingsgronden).3
Pengadilan yang berwenang, yang dimaksud dalam Pasal 53 ayat (1)
Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 sebagaimana tercantum dalam Pasal
Pasal 54 ayat (1) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 yang menyatakan
3
Riawan. Tjandra W. Perbandingan Sistem Peradilan Tata Usaha Negara dan Conseil d’eat
sebagai
Institusi
Pengawas
Tindakan
Hukum
Tata
Usaha
Negara.
law.uii.ac.id/images/stories/Jurnal%20Hukum/...3.../W-Riawan-Tj.pdf.
Diakses
pada
tanggal 31 Desember 2014
4
bahwa pengadilan yang berwenang untuk memeriksa, memutus dan
menyelesaikan sengketa Tata Usaha Negara yang daerah hukumnya ada pada
tempat kedudukan tergugat.
Alasan pengajuan gugatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat
(2) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 kemudian direvisi melalui Pasal 53
ayat (2) Undang-Undang No. 9 Tahun 2004 sehingga alasan pengajuan
gugatan di Peradilan Tata Usaha Negara terdiri dari:
a) Keputusan Tata Usaha Negara yang digugat itu bertentangan dengan
Peraturan Perundang-undangan yang berlaku;
b) Keputusan Tata Usaha Negara yang digugat itu bertentangan dengan Asasasas Umum Pemerintahan yang Baik.
Hak gugat yang dimiliki orang atau Badan Hukum Perdata
dimaksudkan untuk menggugat ke Pengadilan yang berwenang, guna
menuntut agar Keputusan Tata Usaha Negara yang merugikannya dinyatakan
batal atau tidak sah. Salah satu putusan Peradilan Tata Usaha Negara tentang
pembatalan suatu Keputusan Tata Usaha Negara dengan pertimbangan hukum
Hakim bahwa Tergugat tidak berwenang mengeluarkan Keputusan Tata Usaha
Negara terdapat dalam Putusan PTUN Jakarta dalam Perkara Nomor:
214/G/2011/Ptun-Jakarta. Para pihak dalam gugatan Tata Usaha Negara
tersebut yakni, PT. Konsorsium Komet sebagai Penggugat dan Kepala Suku
Dinas Pengawasan dan Penertiban Bangunan (P2B) Kota Administrasi Jakarta
Selatan sebagai Tergugat, sedangkan obyek sengketanya yaitu Surat
Keputusan Kepala Suku Dinas Pengawasan dan Penertiban Bangunan (P2B)
5
Kota Administrasi Jakarta Selatan Nomor 722/1.795.2/SPB/5/2011, tanggal 12
September 2011.
Sengketa Tata Usaha Negara tersebut di atas dapat digambarkan,
pertama: Penggugat telah membangun atau memiliki Menara Telekomunikasi
dengan ketinggian + 42 M, terletak di JL. Bunga Mayang III, Rt. 04, Rw. 01
Kel. Bintaro Kec. Pesanggrahan Jakarta Selatan sejak tahun 2003, tetapi
Pengggugat mendapat izin membangun berdasarkan Keputusan Kepala Suku
Dinas Penataan dan Pengawasan Bangunan Kodya Jakarta Selatan Nomor :
71/KM/S/2005 tanggal 6 Juni 2005, karenanya masa berlaku Menara tersebut
terhitung sejak tahun 2005. Kedua: dengan berakhirnya masa berlaku Menara
Telekomunikasi tersebut pada tahun 2008, maka Penggugat mengajukan
perpanjangan izin kepada Tergugat sesuai dengan persyaratan-persyaratan
yang telah ditentukan. Meskipun telah memenuhi persyaratan untuk
mengajukan perpanjangan Menara Telekomunikasi tersebut, Tergugat tidak
mengeluarkan izin perpanjangan karena salah satu alasan yaitu, penolakan dari
warga sekitar untuk perpanjangan Menara Telekomunikasi beroperasi lagi.
Ketiga:
Bukannya
menerbitkan
izin
perpanjangan,
Tergugat
justru
mengeluarkan Surat Perintah Bongkar (SPB) No. 722/1.785.2/SPB.S/2011,
tanggal 12 September 2011, sehingga dengan diterbitkannya SPB tersebut
Penggugat merasa dirugikan dan mengajukan gugatan ke PTUN Jakarta.
Hakim dalam Amar Putusannya mengabulkan seluruh gugatan Penggugat dan
menganggap bahwa Surat Keputusn Obyek Sengketa tidak sesuai dengan
Peraturan Perundang-undangan yang berlaku, yakni Keputusan Gubernur
6
Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 1068 Tahun 1997 Tentang
Petunjuk Pelaksanaan Penertiban Kegiatan Membangun Dan Menggunakan
Bangunan Di Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan tidak sesuai dengan Asasasas Umum Pemerintahan yang Baik.
Berdasarkan uraian masalah di atas dapat dideskripsikan adanya
persoalan hukum mengenai pembatalan suatu Keputusan Tata Usaha Negara
ditinjau dari aspek kewenangan Pejabat Tata Usaha Negara. Dari persoalan
tersebut maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian terhadap sengketa
tersebut, dan hendak menuangkannya dalam bentuk skripsi dengan judul
“Pembatalan Surat Keputusan Kepala Suku Dinas Pengawasan dan
Penerbitan Bangunan (P2B) Kota Administrasi Jakarta Selatan Nomor
722/1.795.2/SPB/5/2011 tentang Pelaksanaan Pembongkaran Bangunan
(Tinjauan Yuridis Putusan Nomor : 214/G/2011/Ptun-Jakarta).
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka penulis
mengambil pokok permasalahan sebagai berikut:
1.
Bagaimanakah pertimbangan hukum Hakim dalam membatalkan Surat
Keputusan Kepala Suku Dinas Pengawasan dan Penertiban Bangunan
(P2B) Kota Administrasi Jakarta Selatan yang mengeluarkan Surat
Keputusan
Nomor:
722/1.785.2/SPB.S/2011
Pembongkaran Bangunan?
tentang
pelaksanaan
7
2.
Apakah pertimbangan hukum Hakim dalam membatalkan Surat
Keputusan Kepala Suku Dinas Pengawasan dan Penertiban Bangunan
(P2B) Kota Administrasi Jakarta Selatan yang mengeluarkan Surat
Keputusan
Nomor:
722/1.785.2/SPB.S/2011
tentang
pelaksanaan
Pembongkaran Bangunan telah sesuai dengan Peraturan Perundangundangan dan Asas-asas Umum Pemerintahan yang Baik?
C. Kerangka Teori
Negara hukum menurut A. Hamid S. Attamimi, dengan mengutip
Burkens, mengatakan bahwa negara hukum secara sederhana adalah negara
yang
menempatkan
hukum
sebagai
dasar
kekuasaan
negara
dan
penyelenggaraan kekuasaan tersebut dalam segala bentuknya dilakukan di
bawah kekuasaan hukum.4 Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945,
menyatakan bahwa negara Indonesia merupakan negara hukum. Negara
hukum menentukan bahwa pemerintah harus tunduk pada hukum, bukannya
hukum yang harus tunduk pada pemerintah. Dalam negara hukum, eksistensi
hukum dijadikan sebagai instrumen dalam menata kehidupan kenegaraan,
pemerintahan dan kemasyarakatan.
Pemikiran manusia mengenai negara hukum lahir dan berkembang
dalam situasi kesejarahan. Oleh karena itu, meskipun konsep negara hukum di
anggap sebagai konsep universal, tetapi pada tataran implementasi ternyata
memiliki karakteristik beragam. Hal ini terjadi, karena pengaruh-pengaruh
4
Ridwan HR, Hukum Administrasi Negara Edisi Revisi, Jakarta: PT RajaGrafindo Cetakan
ke-7, 2011, hlm. 21.
8
situasi kesejarahan dan juga di samping itu baik secara historis dan praktis
konsep negara hukum muncul dalam berbagai model, seperti negara hukum
menurut konsep Eropa Kontinental yang dinamakan Rechstaat, negara hukum
menutup konsep Anglo Saxon Rule of Law), konsep Socialist Legality dan
konsep negara hukum Pancasila.
Berdasarkan
uraian
di
atas,
negara
hukum
bertujuan
untuk
mengendalikan negara atau pemerintah dari kemungkinan adanya tindakan
sewenang-wenang atau penyalahgunaan kekuasaan. Untuk menjamin agar
tidak terjadinya hal tersebut, maka diperlukan adanya suatu lembaga yang
dapat mewujudkan ketertiban dan keadilan dalam kehidupan bermasyarakat
dan bernegara. Dalam penegakan hukum ada 3 (tiga) unsur yang selalu harus
mendapat perhatian, yaitu keadilan, kemanfaatan, dan kepastian hukum.
Tujuan pokok dari hukum adalah ketertiban. Tujuan lain dari hukum adalah
tercapainya keadilan. Untuk mencapai ketertiban dibutuhkan adanya kepastian
hukum dalam pergaulan antar manusia dalam masyarakat.
Peradilan merupakan suatu lembaga yang memberi harapan bagi setiap
pencari keadilan untuk mendapatkan suatu keadilan dan kepastian hukum
yang memuaskan dalam suatu perkara. Di Indonesia terdapat 4 (empat)
lingkungan Peradilan, salah satunya Peradilan Tata Usaha Negara, yang
mengadili sengketa antara Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara dengan
orang atau badan hukum perdata dalam lapangan hukum publik. Sedangkan
menurut Pasal 1 angka 4 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 Jo UndangUndang Nomor 9 Tahun 2004 Jo. Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009,
9
sengketa Tata Usaha Negara adalah sengketa yang timbul dalam bidang tata
usaha negara antara orang atau badan hukum perdata dengan Badan atau
Pejabat Tata Usaha Negara, baik dipusat maupun di daerah sebagai akibat
dikeluarkannya suatu Keputusan Tata Usaha Negara, termasuk sengketa
kepegawaian berdasarkan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku.
Peradilan Tata Usaha Negara dalam menyelesaikan sengketa Tata
Usaha Negara, merupakan peradilan yang mencari kebenaran materiil
disamping kebenaran formilnya. Karena dalam Peradilan Tata Usaha Negara
terdapat hukum acara yang merupakan salah satu cara untuk mencari dan
mempertahankan hukum materiil. Hukum acara menurut Sjachran Basah
merupakan hukum formal, karena ia merupakan salah satu unsur dari
peradilan, demikian pula dengan hukum materialnya. Peradilan tanpa hukum
maka akan lumpuh, sebab tidak tahu apa yang akan dijelmakan, sebaliknya
peradilan tanpa hukum formal akan liar, sebab tidak ada batas-batas yang jelas
dalam melakukan wewenangnya.5
Sengketa dalam Peradilan Tata Usaha Negara merupakan akibat
dikeluarkannya suatu Keputusan Tata Usaha Negara yang melanggar
Peraturan Perundang-undangan yang berlaku, di samping itu juga melanggar
Asas-asas Umum Pemerintahan yang Baik. Permasalahan dalam sengketa ini
adalah Keputusan Tata Usaha Negara yang dikeluarkan Kepala Suku Dinas
Pengawasan dan Penertiban Bangunan Kota Administrasi Jakarta Selatan oleh
Penggugat dianggap tidak memenuhi kriteria untuk dikatakan sebagai
5
Zairin Harahap, Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara Edisi Revisi 5, PT
RajaGrafindo Persada, 2007, hlm. 21-22
10
Keputusan Tata Usaha Negara yang sah. Dalam hal ini Penggugat
menganggap bahwa Tergugat telah melanggar ketentuan dalam Peraturan
Perundang-undangan yang berlaku yaitu Surat Keputusan Bersama Menteri
Dalam Negeri, Menteri Pekerjaan Umum, Menteri Informasi dan Komunikasi,
dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Jo Peraturan Gubernur
Nomor 89 Tahun 2006 Jo Peraturan gubernur Nomor 138 Tahun 2007 dan
Peraturan Gurbernur Nomor 126 Tahun 2009 serta melanggar Asas-asas
Umum Pemerintahan yang Baik ketika mengeluarkan Surat Perintah Bongkar
kepada Penggugat.
Berdasarkan uraian di atas, Keputusan Tata Usaha Negara yang
dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara dapat dikatakan sah
menurut hukum (rechmatig), harus memenuhi syarat materiil dan syarat formil
dalam pembuatannya. Sebagaimana juga telah disebutkan oleh S.F. Marbun,
keabsahan suatu Keputusan Tata Usaha Negara mencakup syarat materiil dan
syarat formal seperti wewenang, substansi dan prosedur.6 Selain itu keabsahan
suatu Keputusan Tata Usaha Negara dapat dinilai dengan tolok ukur Asas-asas
Umum Pemerintahan yang Baik. Penjelasan Pasal 53 ayat (2) huruf b UndangUndang Nomor 9 Tahun 2004 menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan
Asas-asas Pemerintahan Umum yang Baik adalah meliputi asas: kepastian
hukum, tertib penyelenggaraan negara, keterbukaan, proporsionalitas,
profesionalitas dan akuntabilitas sebagaimana dimaksud dalam UndangUndang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih
dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme.
6
S.F. Marbun, Administrasi Negara dan Upaya Administratif Di Indonesia, cet 3,
Yogyakarta: FH. UII Press, 2011, hlm. 162
11
Berdasarkan sengketa di atas, dapat dilihat bahwa untuk mendirikan
bangunan Menara Telekomunikasi harus memenuhi syarat-syarat yang
berlaku sebagaimana diatur dalam Peraturan Perundang-undangan. Selain itu,
juga harus memiliki izin mendirikan bangunan yang dikeluarkan oleh
Walikota masing-masing daerah dimana Menara tersebut di bangun, kecuali
untuk Daerah Khusus Ibukota Jakarta harus mendapatkan izin dari Gubernur.
Begitu pula mempunyai izin mendirikan bangunan dari masyarakat sekitar.
Berbicara mengenai pembangunan suatu bangunan, juga berbicara persoalan
mengenai pembongkaran bangunan, begitu pula dengan pembangunan Menara
telekomunikasi. Untuk melakukan pembongkaran Menara harus mengikuti
Peraturan
Perundang-undangan
yang
berlaku,
sehingga
tidak
akan
menimbulkan sengketa yang berujung pada pengadilan.
D. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini yaitu sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui pertimbangan hukum Hakim dalam membatalkan Surat
Keputusan Kepala Suku Dinas Pengawasan dan Penertiban Bangunan
(P2B) Kota Administrasi Jakarta Selatan yang mengeluarkan Surat
Keputusan
Nomor:
722/1.785.2/SPB.S/2011
tentang
pelaksanaan
Pembongkaran Bangunan.
2. Untuk mengetahui dan menganalisis pertimbangan hukum Hakim dalam
membatalkan Surat Keputusan Kepala Suku Dinas Pengawasan dan
Penertiban Bangunan (P2B) Kota Administrasi Jakarta Selatan yang
12
mengeluarkan Surat Keputusan Nomor: 722/1.785.2/SPB.S/2011 tentang
pelaksanaan Pembongkaran Bangunan dengan Peraturan Perundangundangan dan Asas-asas Umum Pemerintahan yang Baik.
E. Kegunaan Penelitian
1. Secara Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan
kepustakaan di bidang Hukum Administrasi Negara yang lebih khususnya
mengenai Hukum Peradilan Tata Usaha Negara.
2. Secara Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan memberikan pengetahuan bagi penulis
sekaligus untuk menjadi pedoman dan acuan bagi mereka yang akan
melakukan penelitian serupa, serta para praktisi Hukum Acara Peradilan
Tata Usaha Negara.
13
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Negara Hukum
Negara hukum berasal dari istilah bahasa Jerman “Rechsstaat”,
bahasa Perancis “Etat de Droit”, dalam bahasa Italia “Stato di Diritto” dan
masuk
ke
dalam
kepustakaan
Indonesia
melalui
bahasa
Belanda
“Rechtsstaat”. Istilah Rechtsstaat berasal dari Robert von Mohl dan
merupakan ciptaan golongan borjuis yang ketika itu kehidupan ekonominya
sedang meningkat, sekalipun kehidupan politiknya sebagai suatu kelas sedang
menurun.7 Indonesia beberapa kali mengalami perubahan Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia. Dalam perubahan ke-empat UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 pada tahun 2002,
konsepsi Negara Hukum atau “Rechtsstaat” yang sebelumnya hanya
tercantum dalam Penjelasan UUD 1945, dirumuskan dengan tegas dalam
Pasal 1 ayat (3) yang menyatakan, “Negara Indonesia adalah Negara
Hukum.” Dalam konsep Negara Hukum itu, diidealkan bahwa yang harus
dijadikan panglima dalam dinamika kehidupan kenegaraan adalah hukum,
bukan politik ataupun ekonomi. Karena itu, jargon yang biasa digunakan
dalam bahasa Inggris untuk menyebut prinsip Negara Hukum adalah “the
rule of law, not of man.” Yang disebut pemerintahan pada pokoknya adalah
7
Hotma P. Sibuea, Asas Negara Hukum. Peraturan Kebijakan, Asas-Asas Umum
Pemerintahan yang Baik, PT. Gelora Aksara Pratama, Erlangga, 2010, hlm. 47
14
hukum sebagai sistem, bukan orang per orang yang hanya bertindak sebagai
“wayang” dari skenario sistem yang mengaturnya.8
Hukum merupakan sebagai suatu sistem, menurut Lon Fuller di dalam suatu
negara hukum terdapat sistem-sistem hukum sebagai berikut:
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)
Hukum harus dituruti oleh semua orang, termasuk oleh penguasa negara.
Hukum harus dipublikasikan.
Hukum harus berlaku kedepan
Kaedah hukum harus ditulis secara jelas, sehingga dapat diketahui dan
diterapkan secara benar.
Hukum harus menghindari diri dari kontradiksi-kontradiksi.
Hukum jangan mewajibkan sesuatu yang tidak mungkin dipenuhi.
Hukum harus bersifat konstan sehingga ada kepastian hukum. Tetapi
hukum harus juga diubah jika situasi politik dan sosial telah berubah.
Tindakan para aparat pemerintah dan penegak hukum haruslah konsisten
dengan hukum yang berlaku.9
Negara hukum (rechtsstaat) bertujuan untuk menyelenggarakan
ketertiban umum, yakni tata tertib yang umumnya berdasarkan hukum
terdapat pada rakyat. Negara hukum menjaga ketertiban hukum supaya
jangan terganggu dan agar semuanya berjalan menurut hukum. Negara
hukum menurut F.R. Bothlingk adalah “De staat, waarin de wilsvrijheid van
gezagdsdragers is beperkt door grezen van recht” (negara, di mana
kebebasan kehendak pemegang kekuasaan dibatasi oleh ketentuan hukum).
Lebih lanjut disebutkan bahwa dalam rangka merealisasi pembatasan
pemegang kekuasaan tersebut, maka diwujudkan dengan cara, “Enerzijds in
een binding van rechter en administratie aan de wet, anderjizds in een
begrenzing van de bevoegdheden van de wetgever”, (di satu sisi keterikatan
8
Jimly
Asshiddiqie.
Konsep
Negara
Hukum
Di
Indonesia.
www.jimly.com/makalah/.../135/Konsep_Negara_Hukum_Indonesia.pdf. Diakses pada
tanggal 29 Oktober 2014.
9
Munir Fuady, Teori Negara Hukum Modern, Bandung PT. Refica Aditama, 2009, hlm. 9.
15
Hakim dan pemerintah terhadap undang-undang, dan di sisi lain pembatasan
kewenangan oleh pembuat undang-undang). A. Hamid S. Attamimi, dengan
mengutip Burkens, mengatakan bahwa negara hukum secara sederhana
adalah negara yang menempatkan hukum sebagai dasar kekuasaan negara dan
penyelenggaraan kekuasaan tersebut dalam segala bentuknya dilakukan di
bawah kekuasaan hukum.10
Menurut Aristoteles, suatu negara yang baik ialah negara yang
diperintah dengan konstitusi dan berkedaulatan hukum. Menurutnya ada tiga
unsur pemerintahan yang berkonstitusi, yaitu: pertama, pemerintahan
dilaksanakan untuk kepentingan umum; kedua, pemerintahan dilaksanakan
menurut hukum yang berdasarkan pada ketentuan-ketentuan umum, bukan
hukum yang dibuat secara sewenang-wenang yang menyampingkan konvensi
dan konstitusi; ketiga, pemerintahan berkonstitusi berarti pemerintahan yang
dilaksanakan atas kehendak rakyat, bukan berupa paksaan-tekanan yang
dilaksanakan pemerintahan despotik. Dalam kaitannya dengan konstitusi,
Aristoteles mengatakan, konstitusi merupakan penyusunan jabatan dalam
suatu negara dan menentukan apa yang dimaksudkan dengan badan
pemerintahan dan apa akhir dari setiap masyarakat, konstitusi merupakan
aturan-aturan dan penguasa harus mengatur negara menurut aturan-aturan
tersebut.11 Philipus M. Hadjon mengemukakan 3 (tiga) macam konsep negara
hukum, yaitu; rechtsstaat, the rule of law, dan negara hukum pancasila.12
10
Loc. Cit., hlm. 21.
Ibid., hlm. 2
12
Zairin Harahap, Op. Cit., hlm. 3
11
16
Negara hukum rechtsstaat pada dasarnya bertumpu pada sistem
hukum kontinental Romawi-Jerman yang disebut civil law system. Salah satu
ciri utama dari sistem hukum ini adalah melakukan pembagian dasar ke
dalam hukum perdata dan hukum publik. Munculnya konsep rechtsstaat dari
Freidrich Julius Stahl, yang diilhami oleh pemikiran Immanuel Kant, unsurunsur negara hukum menurut Stahl adalah sebagai berikut:
1) Perlindungan hak-hak asasi manusia;
2) Pemisahan atau pembagian kekuasaan untuk menjamin hak-hak itu;
3) Pemerintahan berdasarkan Peraturan Perundang-undangan; dan
4) Peradilan administrasi dalam perselisihan.13
Gagasan negara hukum yang berasal dari Stahl ini dinamakan negara
hukum formil, karena lebih menekankan pada suatu pemerintahan yang
berdasarkan pada undang-undang.
Konsep Rechsstaat di Eropa Kontinental sejak semula didasarkan
pada filsafat liberal yang individualistik, maka ciri individualistik itu sangat
menonjol dalam pemikiran negara hukum Eropa Kontinental itu. Dalam
sejarah modern, Perancis dapat disebut sebagai negara yang terdahulu
mengembangkan
sistem
hukum
ini.
Sistem
hukum
Kontinental
mengutamakan hukum tertulis yaitu Peraturan Perundang-undangan sebagai
sendi utama sistem hukum kontinental, selalu berusaha untuk menyusun
hukum-hukumnya dalam bentuk tertulis. Bahkan dalam satu sistematika yang
diupayakan selengkapnya mungkin dalam sebuah kitab undang-undang,
13
Ridwan HR, Op. Cit., hlm. 3
17
penyusunan ini disebut kodifikasi. Sistem hukum kontinental sering pula
disebut sistem hukum kodifikasi (codified law).14
Negara hukum Rule of Law dipelopori oleh Dicey yang berasal dari
Inggris yang berkembang di negara-negara Anglo Saxon. Konsep ini
menekankan pada tiga tolak ukur atau unsur utama yaitu:
1) Supremasi hukum (supremacy of law), dalam arti tidak boleh ada
kesewenang-wenangan (absence of arbitrary power), sehingga seseorang
hanya boleh dihukum jika melanggar hukum.
2) Kedudukan yang sama di depan hukum (equality before the law), baik bagi
rakyat biasa maupun bagi pejabat.
3) Terjaminya hak-hak asasi manusia dalam undang-undang atau keputusan
pengadilan.15
Sistem Anglo Saxon tidak menjadikan Peraturan Perundang-undangan
sebagai sendi utama sistemnya. Sendi utamanya adalah yurisprudensi. Sistem
hukum Anglo Saxon berkembang dari kasus-kasus konkret dan dari kasus
konkret tersebut lahir sebagai kaidah dan asas hukum, karena itu sistem
hukum ini disebut sebagai sistem hukum yang berdasar kasus (case law
system).16
Perkembangan unsur-unsur negara hukum di atas, menjadikan
pemerintah dalam melaksanakan tugas dan kewajibanya harus sesuai dengan
Peraturan Perundang-undangan yang berlaku. Terdapat korelasi yang jelas
antara negara hukum, yang bertumpu pada konstitusi dan Peraturan
Perundang-undangan, dengan kedaulatan rakyat. Korelasi ini tampak dari
kemunculan istilah demokrasi kontitusional, sebagaimana disebutkan
disebutkan di atas. Dalam sistem demokrasi, penyelenggaraan negara itu
14
Ibid., hlm. 6-8
Ibid., hlm. 3
16
Ibid., hlm. 7
15
18
harus bertumpu pada partisipasi dan kepentingan rakyat. Demokrasi
merupakan cara paling aman untuk mempertahankan kontrol atas negara
hukum. Dengan demikian, negara hukum yang bertopang pada sistem
demokrasi dapat disebut sebagai negara hukum demokratis (democratische
rechtsstaat). Disebut negara hukum demokratis, karena di dalamnya
mengakomodir prinsip-prinsip negara hukum dan prinsip-prinsip demokrasi.
J.B.J.M. ten Berge menyebutkan prinsip-prinsip negara hukum dan prinsipprinsip demokrasi tersebut sebagai berikut:
1. Prinsip-prinsip negara hukum;
a. Asas legalitas. Pembatasan kebebasan warga negara (oleh pemerintah)
harus ditemukan dasarnya dalam undang-undang yang merupakan
peraturan umum. Undang-undang secara umum harus memberikan
jaminan (terhadap warga negara) dari tindakan (pemerintah) yang
sewenang-wenang, kolusi, dan berbagai jenis tindakan yang tidak
benar. Pelaksanaan wewenang oleh pemerintahan harus ditemukan
dasarnya pada undang-undang tertulis (undang-undang formal).
b. Perlindungan hak-hak asasi.
c. Pemerintah terikat pada hukum.
d. Monopoli paksaan pemerintah untuk menjamin penegakan hukum.
Hukum harus dapat ditegakkan, ketika hukum itu dilanggar. Pemerintah
harus menjamin bahwa di tengah masyarakat terdapat instrumen yuridis
penegakan hukum. Pemerintah dapat memaksa seseorang yang
melanggar hukum melalui sistem peradilan negara. Memaksakan
hukum publik secara prinsip merupakan tugas pemerintah.
e. Pengawasan oleh Hakim yang merdeka. Superioritas hukum tidak dapat
ditampilkan, jika aturan-aturan hukum hanya dilaksanakan organ
pemerintahan. Oleh karena itu, dalam setiap negara hukum diperlukan
pengawasan oleh Hakim yang merdeka.
2. Prinsip-prinsip demokrasi;
a. Perwakilan politik. Kekuasaan politik tertinggi dalam suatu negara dan
dalam masyarakat diputuskan oleh badan perwakilan, yang dipilih
melalui pemilihan umum.
b. Pertanggungjawaban politik. Organ-organ pemerintahan dalam
menjalankan fungsinya sedikit banyak tergantung secara politik, yaitu
kepada lembaga perwakilan.
c. Pemencaran kewenangan. Konsentrasi kekuasaan dalam masyarakat
pada satu organ pemerintahan adalah kesewenang-wenangan.Oleh
19
karena itu, kewenangan badan-badan publik itu harus dipencarkan pada
organ-organ yang berbeda.
d. Pengawasan dan kontrol. Penyelenggaraan pemerintahan harus dapat
dikontrol.
e. Kejujuran dan keterbukaan pemerintahan untuk umum.
f. Rakyat diberi kemungkinan untuk mengajukan keberatan.17
Negara hukum menentukan bahwa pemerintah harus tunduk pada
hukum, bukannya hukum yang harus tunduk pada pemerintah. Negara hukum
dijadikan
sebagai
pemerintahan
dan
instrumen
dalam
kemasyarakatan.
menata
kehidupan
Penyelenggaraan
kenegaraan,
tugas-tugas
pemerintahan dan kenegaraan dalam suatu negara hukum itu terdapat aturanaturan hukum yang tertulis dalam konstitusi atau peraturan-peraturan yang
terhimpun dalam konstitusi atau peraturan-peraturan yang terhimpun dalam
hukum tata negara serta penyelenggaraan negara itu harus bertumpu pada
partisipasi dan kepentingan rakyat.
B. Peradilan Tata Usaha Negara
1. Pengertian Peradilan Tata Usaha Negara
Peradilan Tata Usaha Negara adalah salah satu pelaksana
kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan terhadap sengketa Tata
Usaha Negara, yang berada di bawah Mahkamah Agung. Pentingnya
Peradilan Tata Usaha Negara adalah untuk mengantisipasi kemungkinan
timbulnya sengketa antara pemerintah dengan warga Negara akibat adanya
kegiatan pemerintah dalam melaksanakan tugas-tugasnya.
17
Ibid., hlm. 9-10
20
Mengenai apa yang dimaksud dengan Tata Usaha Negara, Pasal 1
angka 1 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata
Usaha Negara menentukan bahwa Tata Usaha Negara adalah Administrasi
Negara yang melaksanakan fungsi untuk menyelenggarakan urusan
pemerintahan baik di pusat maupun di daerah. Dalam praktik, Tata Usaha
Negara tidak hanya melaksanakan fungsi untuk menyelenggarakan
kegiatan yang bersifat pelaksanaan Peraturan Perundang-undangan, tetapi
juga melaksanakan fungsi untuk menyelesaikan urusan pemerintahan yang
penting dan mendesak yang belum diatur dalam Peraturan Perundangundangan.
Menurut Philipus M. Hadjon dkk, mengemukakan Penjelasan Pasal
1 angka 1 menyatakan apa yang dimaksud dengan urusan pemerintahan
adalah kegiatan yang bersifat eksekutif. Pada dasarnya pemerintah tidak
hanya melaksanakan undang-undang, tetapi atas dasar “Freis Ermessen”
dapat melakukan perbuatan lainnya meskipun belum diatur secara tegas
oleh undang-undang.18
Menurut Indroharto arti pada urusan pemerintahan dalam Pasal 1
angka 1 yaitu semua kegiatan penguasa dalam negara yang tidak
merupakan kegiatan atau aktivitas pembuatan peraturan perundangundangan (legislasi) dan bukan pula kegiatan atau aktivitas mengadili
(yudikatif) yang dilakukan oleh badan-badan pengadilan yang bebas.19
Pemahaman terhadap Peradilan Adminstrasi akan lebih mudah jika
terlebih dahulu dimengerti unsur-unsur yang melengkapinya. Menurut S.F.
Marbun, setidaknya terdapat lima unsur dalam Peradilan Adminstrasi,
yaitu:
1. Adanya suatu instansi atau badan yang netral dan dibentuk berdasarkan
peraturan perundang-undangan, sehingga mempunyai kewenangan
untuk memberikan putusan. Dalam hal ini adalah adanya Pengadilan
18
19
R. Wiyono, Op. Cit., hlm. 8
Indroharto, Usaha Memahami Undang-Undang tentang Peradilan Tata Usaha Negara,
Buku I, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, Cetakan IV, 1993, hlm. 78
21
2.
3.
4.
5.
Tata Usaha Negara, Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara, dan
berpuncak pada Mahkamah Agung.
Terdapatnya suatu peristiwa hukum konkret yang memerlukan
kepastian hukum. Peristiwa hukum konkret disini adalah adanya
Sengketa Tata Usaha Negara akibat dikeluarkannya Keputusan Tata
Usaha Negara oleh pejabat TUN.
Terdapatnya suatu peristiwa hukum yang abstrak dan mengikat umum.
Aturan hukum tersebut terletak di lingkungan Hukum Administrasi
Negara.
Adanya sekurang-kurangnya dua pihak. Sesuai dengan ketentuan
hukum positif, yakni Pasal 1 angka 4 UU PTUN, dua pihak disini
adalah Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang selalu sebagai
Tergugat dan rakyat pencari keadilan (orang perorang atau badan
hukum privat).
Adanya hukum formal. Hukum formal disini adalah Undang-Undang
Nomor 5 Tahun 1986 Jo Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 tentang
Peradilan Tata Usaha Negara dan peraturan-peraturan lainnya.20
Pengadilan Tata Usaha Negara berdasarkan Pasal 47 Undang-
Undang Nomor 5 Tahun 1986 memiliki tugas dan wewenang untuk
memeriksa , memutus dan menyelesaikan sengketa Tata Usaha Negara.
Pengadilan tata usaha negara merupakan pengadilan tingkat pertama untuk
memeriksa, memutus dan menyelesaikan sengketa tata usaha negara bagi
rakyat pencari keadilan, sedang pengadilan tinggi tata usaha negara
merupakan pengadilan tingkat banding terhadap sengketa yang telah
diputus oleh pengadilan tata usaha negara, kecuali beberapa hal berikut ini:
a. Sengketa kewenangan mengadili antar pengadilan tata usaha negara di
daerah hukumnya; dalam hal ini pengadilan tinggi tata usaha negara
bertindak sebagai pengadilan tingkat pertama dan terakhir.
b. Sengketa yang terhadapnya telah digunakan upaya administrasi;
dalam hal ini pengadilan tinggi tata usaha negara bertindak sebagai
pengadilan tingkat pertama.21
20
Riki
Septiawan.
Pengertian-Pengartian
dalam
Hukum
Acara
PTUN
.http://rikiseptiawan180991.blogspot.com/2012/12/pengertian-pengartian-dalam-hukum
acara.html. Diakses pada tanggal 05 September 2014
21
Mr. Martiman Prodjohamidjojo, Hukum Acara Pengadilan Tata Usaha Negara dan UU
PTUN 2004, Bogor: Ghalia Indonesia Cetakan 1, 2004, hlm. 5.
22
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata
Usaha Negara disamping memiliki tugas dan wewenang untuk memeriksa
, memutus dan menyelesaikan sengketa Tata Usaha Negara, mengatur
mengenai susunan dan kekuasaan dari lingkungan Peradilan Tata Usaha
Negara, juga diatur mengenai tata acara dari pengadilan di lingkungan
Peradilan Tata Usaha Negara. Mengenai susunan dari pengadilan di
lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara, oleh Pasal 8 ditentukan bahwa
pengadilan di lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara terdiri dari:
1) Pengadilan Tata Usaha Negara yang merupakan Pengadilan Tingkat
Pertama;
2) Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara yang merupakan Pengadilan
Tingkat Banding.
Adapun kekuasaan dari pengadilan di lingkungan Peradilan Tata Usaha
Negara adalah sebagai berikut:
a. Pasal 50 menentukan bahwa: Pengadilan Tata Usaha Negara bertugas
dan berwenang memeriksa, memutus, dan menyelesaikan sengketa Tata
Usaha Negara di tingkat pertama;
b. Pasal 51 menentukan: (1) Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara
bertugas dan berwenang memeriksa dan memutus sengketa Tata Usaha
Negara ditingkat banding. (2) Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara
juga bertugas dan berwenang memeriksa dan memutus di tingkat
pertama dan terakhir sengketa kewenangan mengadili antara Pengadilan
Tata Usaha Negara di dalam daerah hukumnya. (3) Pengadilan Tinggi
Tata Usaha Negara bertugas dan berwenang memeriksa, memutus, dan
menyelesaikan di tingkat pertama sengketa Tata Usaha Negara
sebagaimana dimaksud dala Pasal 48. (4) Terhadap putusan Pengadilan
tinggi Tata Usaha Negara sebagaimana dimaksudkan dalam ayat (3)
dapat diajukan permohonan kasasi.
Hukum Peradilan Tata Usaha Negara dapat disimpulkan sebagai
hukum yang mengatur urusan pemerintahan yang bersifat eksekutif dan
23
memiliki kebebasan bertindak dalam memutus suatu perkara yang menjadi
wewenang dari badan atau Pejabat Tata Usaha Negara.
2. Pengertian Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara
Hukum materiil dapat ditegakkan dengan adanya hukum acara atau
sering juga disebut hukum formil. Hukum acara merupakan ketentuan
yang mengatur bagaimana cara dan siapa yang berwenang menegakkan
hukum materiil dalam hal terjadi pelanggaran terhadap hukum materiil.
Tanpa hukum acara yang jelas dan memadai, maka pihak yang berwenang
menegakkan hukum materiil akan mengalami kesulitan menegakkan
hukum materiil. Untuk menegakkan ketentuan hukum materiil Tata Usaha
Negara, maka digunakan hukum acara Tata Usaha Negara. Secara
sederhana Hukum Acara diartikan sebagai Hukum Formil yang bertujuan
untuk mempertahankan Hukum Materiil.
Hukum acara menurut Sjachran Basah merupakan hukum formal,
karena ia merupakan salah satu unsur dari peradilan, demikian pula dengan
hukum materialnya. Peradilan tanpa hukum maka akan lumpuh, sebab
tidak tahu apa yang akan dijelmakan, sebaliknya peradilan tanpa hukum
formal akan liar, sebab tidak ada batas- batas yang jelas dalam melakukan
wewenangnya.22 Pada umumnya secara teoretis cara pengaturan terhadap
hukum formal dapat digolongkan menjadi dua bagian, yaitu:
a. ketentuan prosedur berperkara diatur bersama-sama dengan hukum
materiilnya atau dengan susunan, kompetensi dari badan yang
22
Zairin Harahap, Op. Cit., hlm. 21-22
24
melakukan peradilan dalam bentuk undang-undang atau peraturan
lainnya.
b. ketentuan prosedur berperkara diatur tersendiri masing-masing dalam
bentuk undang-undang atau bentuk peraturan lainnya.
Apabila mengikuti penggolongan tersebut di atas, maka UndangUndang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara,
mengikuti kelompok yang pertama, karena dalam Undang-Undang
Peradilan Tata Usaha Negara tersebut memuat hukum materiil sekaligus
hukum formilnya. Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara dimuat
dalam Pasal 53 sampai Pasal 141. Undang-Undang Peradilan Tata Usaha
Negara terdiri atas 145 Pasal, dengan hukum materiil sebanyak 56 Pasal,
sedangkan hukum materiil sebanyak 89 Pasal.23
Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara merupakan rangkaian
peraturan-peraturan yang memuat cara bagaimana orang harus bertindak,
satu sama lain untuk melaksanakan berjalannya peraturan Hukum Tata
Usaha Negara (Hukum Administrasi Negara). Dengan kata lain hukum
yang mengatur tentang cara-cara bersengketa di Peradilan Tata Usaha
Negara serta mengatur hak dan kewajiban pihak-pihak yang terkait dalam
proses penyelesaian sengketa tersebut. Hukum
Acara Peradilan Tata
Usaha Negara diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986
tentang
Peradilan Tata Usaha Negara. Undang-undang tersebut dapat
dikatakan sebagai suatu hukum acara dalam arti luas, karena undang-
23
Ibid., hlm. 22-23
25
undang ini tidak saja mengatur tentang cara-cara berperkara di Pengadilan
Tata Usaha Negara, tetapi juga sekaligus mengatur tentang kedudukan,
susunan dan kekuasaan dari Pengadilan Tata Usaha Negara. Untuk hukum
acara yang berlaku di Peradilan Tata Usaha Negara tidak dapat digunakan
Hukum Acara Tata Usaha Negara seperti halnya Hukum Acara Pidana
atau Hukum Acara Perdata, hal ini disebabkan karena Hukum Acara Tata
Usaha Negara mempunyai arti sendiri, yaitu peraturan yang mengatur
tentang tata cara pembuatan suatu ketetapan atau Keputusan Tata Usaha
Negara. Aturan ini biasanya secara inklusif ada dalam Peraturan
Perundang-undangan yang menjadi dasar pembuatan ketetapan atau
Keputusan Tata Usaha Negara tersebut.
Ada beberapa ciri khusus yang membedakan antara Hukum Acara
Peradilan Tata Usaha Negara dengan Hukum Acara peradilan lainnya,
yaitu sebagai berikut:
1) Peranan Hakim yang aktif karena ia dibebani tugas untuk mencari
kebenaran materiil (Pasal 63 ayat (2) huruf a dan hurf b, pasal 80 ayat
(1), pasal 85, pasal 95 ayat (1), pasal 103 ayat (1) Undang-Undang
Nomor 5 Tahun 1986).
2) Adanya ketidakseimbangan antara kedudukan Penggugat dan Tergugat.
Dengan mengingat hal ini maka perlu diatur adanya kompensasi, karena
diasumsikan bahwa kedudukan Penggugat adalah dalam posisi yang
lebih lemah dibandingkanTergugat selaku pemegang kekuasaan publik.
3) Sistem pembuktian yang mengarah kepada pembuktian bebas.
26
4) Gugatan di Pengadilan tidak mutlak bersifat menunda pelaksanaan
Keputusan Tata Usaha Negara yang digugat (Pasal 67 Undang-Undang
Nomor 5 Tahun 1986).
5) Putusan Hakim tidak boleh melebihi tuntutan Penggugat, tetapi
dimungkinkan membawa Penggugat ke dalam keadaan yang lebih
buruk sepanjang hal ini diatur dalam undang-undang.
6) Putusan Hakim tidak hanya berlaku bagi para pihak yang bersengketa,
tetapi juga berlaku bagi pihak-pihak yang terkait.
7) Para pihak yang terlibat dalam sengketa harus didengar penjelasannya
sebelum Hakim membuat putusannya.
8) Dalam mengajukan gugatan harus ada kepentingan dari sang
Penggugat.
9) Kebenaran yang dicapai adalah kebenaran materiil dengan tujuan
menyelaraskan,
menyerasikan,
menyeimbangkan
kepentingan
perseorangan dengan kepentingan umum.
Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara tidak dapat terlepas
dari hukum Peradilan Tata Usaha Negara. Karena hukum acara merupakan
hukum formil yang bertujuan untuk mempertahankan hukum materiilya.
Dalam hal ini hukum acara Peradilan Tata Usaha Negara akan
mempertahankan hukum Peradilan Tata Usaha Negara. Dimana hukum
Peradilan Tata Usaha Negara mengatur cara bagaimana bersengketa di
Peradilan Tata Usaha Negara serta mengatur hak dan kewajiban pihakpihak yang terkait dalam proses penyelesaian sengketa tersebut. Sehingga
27
hukum acara Peradilan Tata Usaha Negara sangat penting adanya berada
di Peradilan Administrasi.
3. Asas-asas Khusus Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara
Satjipto Rahardjo berpendapat bahwa barangkali tidak berlebihan
apabila dikatakan bahwa asas hukum merupakan jantungnya peraturan
hukum. Bahwa dengan adanya asas hukum, hukum itu bukan sekedar
kumpulan peraturan-peraturan, oleh karena itu asas mengandung nilai-nilai
dan tuntutan-tuntutan etis. Paul Scholten sebagaimana dikutip oleh
Bruggink memberikan definisi asas hukum adalah pikiran-pikiran dasar
yang terdapat di dalam dan di belakang sistem hukum masing-masing
dirumuskan dalam aturan-aturan perundang-undangan dan putusanputusan Hakim, yang berkenaan dengannya ketentuan-ketentuan dan
keputusan-keputusan individual dapat dipandang sebagai penjabarannya.24
Berdasarkan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku, maka
secara garis besarnya dapat menggali beberapa asas hukum yang terdapat
dalam Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara. Asas hukum dalam
acara peradilan tata usaha negara, bukanlah asas-asas umum yang sering
digunakan dalam hukum-hukum lainnya. Hukum acara peradilan tata
usaha negara memiliki ciri khas pada asas-asas hukum yang melandasinya,
yaitu:
a. Asas praduga rechmatig (vermoeden van rechmatigheid = praesumptio
iustae causa). Asas ini mengandung makna bahwa setiap tindakan
24
Zairin Harahap, Loc Cit.
28
penguasa selalu harus dianggap rechmatig sampai ada pembatalannya.
Dengan asas ini, gugatan tidak menunda pelaksanaan Keputusan Tata
Usaha Negara yang digugat (Pasal 67 ayat (1) Undang-Undang Nomor
5 Tahun 1986). Keputusan Tata Usaha Negara yang digugat hanya
dapat dibatalkan dan bukan batal demi hukum.
b. Asas pembuktian bebas. Dengan asas ini Hakim dalam melakukan
pembuktian, tidak tergantung pada fakta yang dikemukakan para pihak.
Hakim yang menetapkan beban pembuktian dan juga penilaian
pembuktian sepenuhnya diserahkan kepada Hakim. Hal ini berbeda
dengan ketentuan Pasal 1865 BW. Asas ini dianut Pasal 107 UndangUndang Nomor 5 Tahun 1986 hanya saja masih dibatasi ketentuan
Pasal 100.
c. Asas keaktifan Hakim (dominus litis). Keaktifan Hakim dimaksudkan
untuk mengimbangi kedudukan para pihak karena tergugat adalah
pejabat tata usaha negara sedangkan penggugat adalah orang atau badan
hukum peradata. Dengan asas ini pula Hakim berwenang mengadakan
pemeriksaan persiapan untuk mengetahui kelengkapan gugatan,
sehingga pemeriksaan di persidangan harus dianggap bahwa gugatan
telah sempurna. Ultra petita dalam hal ini tidak di larang, sehingga
terdapat reformatio in peius menjadi dimungkinkan. Dalam hal
melakukan pengujian, Hakim tidak terikat pada alasan mengajukan
gugatan yang diajukan oleh Penggugat. Penerapan asas ini antara lain
terdapat dalam ketentuan Pasal 58, 63 ayat (1, 2, 80) dan ayat (85).
29
d. Asas putusan pengadilan mempunyai kekuatan mengikat “erga
omnes”. Sengketa Tata Usaha Negara adalah sengketa hukum publik.
Dengan demikian putusan pengadilan Tata Usaha Negara berlaku bagi
siapa saja, tidak hanya bagi para pihak yang bersengketa. Dalam rangka
ini kiranya ketentuan Pasal 83 tentang intervensi bertentangan dengan
asas erga omnes.25
4. Kompetensi Absolut
Pembahasan mengenai kompetensi berkaitan dengan peradilan.
Adapun pengertian peradilan adalah segala sesuatu yang bertalian dengan
tugas memutus perkara dengan menerapkan hukum “in concreto” dalam
mempertahankan dan menjamin ditaatinya hukum materiil, dengan
menggunakan cara prosedural yang ditetapkan oleh hukum formal.26
Unsur-unsur peradilan, berupa: a). Adanya suatu aturan hukum
yang abstrak yang mengikat umum, yang dapat diterapkan pada suatu
persoalan, b). Adanya suatu perselisihan hukum yang konkrit, c). Ada
sekurang-kurangnya dua pihak, d). Adanya suatu aparatur peradilan yang
berwenang memutuskan perselisihan.27
Unsur-unsur tersebut berhubungan terhadap mengajukan gugatan,
karena gugatan tersebut akan ditentukan Pengadilan mana yang berwenang
untuk
memeriksa,
memutus
dan
menyelesaikan
suatu
perkara.
Kewenangan yang dimilki oleh peradilan yang diberikan oleh undang25
Philiphus M. Hadjon dkk., Pengantar Hukum Administrasi Indonesia, Jogyakarta: Gadjah
Mada University Press, 2002, hlm. 313
26
Sjachran Basah., Eksistensi dan Tolok Ukur Badan Peradilan Administrasi Di Indonesia,
Alumni Bandung, 1989, hlm. 29
27
Sjachran Basah, Op. Cit., hlm. 28
30
undang, dapat disebut dengan istilah kompetensi. Kompetensi berasal dari
bahasa Latin, yaitu competentia yang berarti hetgeen aan iemand toekomt
(apa yang menjadi wewenang seseorang).28
diartikan
sebagai
kewenangan
Selanjutnya kompetensi
(kekuasaan)
untuk
menentukan
(memutuskan sesuatu).29
Kompetensi yang dimiliki oleh badan peradilan diperoleh 2 (dua)
cara. Pertama, kompetensi kehakiman atribusi adalah kewenangan mutlak.
Kompetensi absolut adalah kompetensi badan peradilan dalam memeriksa
jenis perkara tertentu dan secara mutlak tidak dapat diperiksa oleh badan
peradilan lain. Kedua, kompetensi kehakiman distribusi atau sering disebut
kompetensi relatif ialah sesuai dengan asas actor seguitur forum rei (yang
berwenang adalah pengadilan tempat kedudukan tergugat).30
Kompetensi absolut berhubungan dengan kompetensi Peradilan
Tata Usaha Negara untuk mengadili suatu sengketa menurut obyek atau
materi atau pokok sengketa.31 Sejalan dengan pendapat itu, ada yang
mengatakan bahwa berkaitan dengan kompetensi absolut, maka yang
menjadi obyek sengketa Peradilan Tata Usaha Negara adalah perbuatan
pemerintah yang mengeluarkan keputusan (beschikking).32 Penting
dipahami, kompetensi absolut yaitu sengketa Tata Usaha Negara, menurut
28
Victor Vayed Neno, Implikasi Pembatasan Kompetensi Absolut Peradilan Tata usaha
Negara, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2006, hlm. 29. Sebagaimana dikutip oleh Sjachran
Basah, Eksistensi dan Tolok Ukur Badan Peradilan Administrasi Di Indonesia, Alumni
Bandung, 1989, hlm. 65
29
Ibid., hlm 29-30
30
Victor Vayed Neno, Op. Cit., hlm. 32-33
31
Loc. Cit., 32
32
S.F. Marbun, Peradilan Tata Usaha Negara, Yogyakarta: Liberty, 1988, hlm. 61
31
Pasal 47 adalah Pengadilan bertugas dan berwenang memeriksa, memutus
dan menyelesaikan sengketa Tata Usaha Negara. Selanjutnya Pasal 1
angka 10 diatur bahwa, Sengketa Tata Usaha Negara adalah sengketa yang
timbul dalam bidang Tata Usaha Negara antara orang atau Badan Hukum
Perdata dengan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara, baik di pusat
maupun di daerah, sebagai akibat dikeluarkannya Keputusan Tata Usaha
Negara,
termasuk
sengketa
Kepegawaian
berdasarkan
Peraturan
Perundangan-Undang yang berlaku.
Adapun ciri-ciri kompetensi absolut Peradilan Tata Usaha Negara yaitu:
1. Pihak-pihak yang bersengketa adalah orang atau badan hukum perdata
dengan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara.
2. Obyek yang disengketakan adalah Keputusan Tata Usaha Negara yakni
penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha
Negara.
3. Keputusan yang dijadikan obyek sengketa itu berisi tindakan hukum
Tata Usaha Negara.
4. Keputusan yang dijadikan obyek sengketa itu bersifat konkrit,
individual dan final yang menimbulkan akibat hukum bagi seseorang
atau badan hukum perdata.33
Ciri-ciri tersebut lebih kepada menunjukkan unsur-unsur dari sengketa
Tata Usaha Negara dari subyek dan obyek sengketanya.34 Kedua unsur ini
penting dalam penentuan kompetensi absolut Peradilan Tata Usaha
Negara. Menurut Pasal 1 angka 10 UU No. 5 Tahun 1986, maka yang
menjadi subyek yang bersengketa adalah orang atau badan hukum Perdata
dan badan atau Pejabat Tata Usaha Negara
33
S.F. Marbun dan Moh. Mahmud MD, Pokok-Pokok Hukum Administrasi Negara,
Yogyakarta: Liberty, 1987, hlm. 186
34
Victor Vayed Neno, Op. Cit., hlm. 47
32
Subyek adalah orang atau badan hukum Perdata secara absolut
pasti selalu menjadi Penggugat. Hal ini berbeda dengan apa yang
dikatakan oleh Indroharto, bahwa orang atau badan hukum perdata yang
dirugikan oleh keluarnya suatu Keputusan Tata Usaha Negara dapat
dikelompokkan menjadi tiga kelompok yaitu:
1. Orang-orang atau badan hukum perdata sebagai alamat yang dituju oleh
suatu KTUN. Di sini orang atau badan hukum perdata tersebut secara
langsung terkena kepentingannya oleh keluarnnya Keputusan Tata
Usaha Negara yang di alamatkan kepadanya karena itu jelaslah ia
berhak mengajukan gugatan.
2. Orang-orang atau badan hukum perdata yang dapat disebut sebagai
pihak ketiga yang berkepentingan, meliputi:
a. individu-individu
yang
merupakan
pihak
ketiga
yang
berkepentingan. Kelompok ini merasa terkena kepentingannya
secara tidak langsung dengan dikeluarkannya suatu Keputusan Tata
Usaha Negara yang sebenarnya di alamatkan kepada orang lain.
b. Organisasi-organisasi kemasyarakatan sebagai pihak ketiga dapat
merasa kepentingannya karena keluarnya suatu Keputusan Tata
Usaha Negara itu dianggapnya bertentangan dengan tujuan-tujuan
mereka perjuangkan sesuai dengan anggaran dasarnya.
3. Badan atau jawatan Tata Usaha Negara yang lain, namun undangundang Peradilan Tata Usaha Negara tidak memberi hak kepada Badan
atau jabatan Tata Usaha Negara untuk menggugat. Sebab subyek
sebagaimana Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara secara absolut
hanya akan menjadi Tergugat.35
Selanjutnya yang menjadi obyek sengketa Tata Usaha Negara
adalah Keputusan Tata Usaha Negara itu sendiri, sebagaimana yang
terdapat pada Pasal 1 angka 9 Undang-Undang Nomor 51 tahun 2009
tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986
tentang Peradilan Tata Usaha Negara. Termasuk ke dalam Kompetensi
Peradilan Tata Usaha Negara adalah ketentuan yang terdapat pada Pasal 3.
35
Ibid., hlm. 49
33
Para sarjana hukum menyebut hal ini dengan Keputusan Tata Usaha
Negara Fiktif-Negatif yaitu sebagai berikut:
1) Apabila Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara tidak mengeluarkan
keputusan, sedangkan hal itu menjadi kewajibannya, maka hal tersebut
disamakan dengan Keputusan Tata Usaha Negara.
2) Jika suatu Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara tidak mengeluarkan
keputusan yang dimohon, sedangkan jangka waktu sebagaimana
ditentukan dalam peraturan perundang-undangan dimaksud telah lewat,
maka Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara tersebut dianggap telah
menolak mengeluarkan keputusan yang dimaksud.
3) Dalam hal peraturan perundang-undangan yang bersangkutan tidak
menentukan jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), maka
setelah lewat jangka waktu empat bulan sejak diterimanya permohonan,
Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang bersangkutan dianggap
telah mengeluarkan keputusan penolakan.36
C. Keputusan Tata Usaha Negara
1. Pengertian Keputusan Tata Usaha Negara
Sengketa Tata Usaha Negara menurut Pasal 1 angka 10 UndangUndang Nomor 51 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas UndangUndang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara adalah
sengketa yang timbul dalam bidang Tata Usaha Negara antara orang atau
badan hukum perdata dengan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara, baik
di pusat maupun di daerah, sebagai akibat dikeluarkannya Keputusan Tata
Usaha Negara, termasuk sengketa kepegawaian berdasarkan Peraturan
Perundang-undangan yang berlaku.
Unsur-unsur sengketa Tata Usaha Negara berdasarkan ketentuan
pengertian sengketa Tata Usaha Negara adalah sebagai berikut:
36
Indroharto, Op. Cit., hlm. 35-35
34
1) sengketa yang timbul dalam bidang Tata Usaha Negara
2) sengketa tersebut antara orang atau badan hukum perdata dengan
Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara.
3) sengketa yang dimaksud sebagai akibat dikeluarkannya Keputusan Tata
Usaha Negara.37
Sengketa Tata
Usaha
Negara selalu sebagai
akibat dari
dikeluarkannya Keputusan Tata Usaha Negara. Antara sengketa Tata
Usaha Negara dengan dikeluarkannya Keputusan Tata Usaha Negara
selalu harus ada hubungan sebab akibat. Tanpa dikeluarkannya Keputusan
Tata Usaha Negara, tidak mungkin sampai terjadi adanya sengketa Tata
Usaha Negara. Mengenai apa yang dimaksud dengan Keputusan Tata
Usaha Negara tertuang dalam Pasal 1 angka 9 Undang-Undang Nomor 51
Tahun 2009, Keputusan Tata Usaha Negara adalah suatu penetapan tertulis
yang dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang berisi
tindakan hukum Tata Usaha Negara yang berdasarkan Peraturan
Perundang-undangan yang berlaku, yang bersifat konkrit, individual, dan
final, yang menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum
perdata.
Uraian dari maksud Keputusan Tata Usaha Negara tersebut, akan
ditemukan unsur-unsurnya sebagai berikut:
a. Penetapan tertulis
Penjelasan Pasal 1 angka 9 Undang-Undang Nomor 51 Tahun
2009 menyebutkan bahwa, istilah penetapan tertulis terutama menunjuk
37
R. Wiyono, Op. Cit., hlm. 6.
35
kepada isi bukan kepada bentuk keputusan yang dikeluarkan oleh
Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara. Keputusan Tata Usaha Negara
itu memang diharuskan tertulis, namun yang disyaratkan tertulis
bukanlah bentuk formalnya seperti surat keputusan pengangkatan dan
sebagainya. Persyaratan tertulis itu diharuskan untuk kemudahan segi
pembuktian. Oleh karena itu, sebuah memo atau nota dapat memenuhi
syarat tertulis tersebut dan akan merupakan Keputusan Badan atau
Pejabat Tata Usaha Negara menurut undang-undang ini apabila sudah
jelas:
1) Badan atau Pejabat TUN mana yang mengeluarkannya;
2) maksud serta mengenai hal apa isi tulisan itu;
3) kepada siapa tulisan itu ditujukan dan apa yang ditetapkan di
dalamnya.38
Unsur penetapan tertulis ini ada pula pengecualiannya, yaitu
Pasal 3 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986, yang dikenal dengan
Keputusan Tata Usaha Negara fiktif atau negatif. Sedangkan dalam
penjelasan Pasal 3 ayat (2) disebutkan bahwa: Badan atau Pejabat Tata
Usaha
Negara
yang
menerima
permohonan
dianggap
telah
mengeluarkan keputusan yang berisi penolakan permohonan tersebut
apabila tenggang waktu yang ditetapkan telah lewat dan Badan atau
Pejabat Tata Usaha Negara itu bersikap diam, tidak melayani
permohonan yang diterimanya.
38
Ibid., hlm. 18-19
36
b. Dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara
Menurut Pasal 1 angka 8 Undang-Undang Nomor 51 Tahun
2009 yang dimaksud dengan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara
adalah Badan atau Pejabat yang melaksanakan urusan pemerintahan
berdasarkan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku. Atau dengan
perkataan lain, Badan atau Pejabat Tata Usaha negara adalah Badan
atau
Pejabat
yang
berdasarkan
Peraturan
Perundang-undangan
mempunyai wewenang untuk melaksanakan urusan pemerintahan.
Urusan pemerintahan dalam hal ini dapat dilihat dalam penjelasan Pasal
1 angka 1 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986, yang dimaksud
urusan pemerintahan ialah kegiatan yang bersifat eksekutif. Indroharto
menyatakan bahwa apa yang dimaksud dengan kegiatan yang bersifat
eksekutif adalah kegiatan yang bukan kegiatan legislatif atau yudikatif.
c. Berisi tindakan hukum Tata Usaha Negara berdasarkan Peraturan
Perundang-undangan
Dalam negara hukum, setiap tindakan hukum pemerintah harus
berdasarkan pada asas legalitas, yang berarti bahwa pemerintah tunduk
pada undang-undang. Esensi dari asas legalitas adalah wewenang, yaitu
kemampuan untuk melakukan tindakan-tindakan hukum tertentu.
Tindakan hukum tata usaha negara dapat diartikan sebagai perbuatan
hukum Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang bersumber pada
ketentuan hukum Tata Usaha Negara yang dapat menimbulkan hak atau
kewajiban pada orang lain. Dapat dilihat bahwa tindakan Badan atau
37
Pejabat Tata Usaha Negara ini dilakukan atas dasar Peraturan
Perundang-undangan yang berlaku, yang menimbulkan akibat hukum
mengenai urusan pemerintahan terhadap seseorang atau badan hukum
perdata.
d. Bersifat konkret, individual dan final
1) Bersifat konkret, artinya obyek yang diputuskan dalam Keputusan
Tata Usaha Negara itu tidak abstrak, tetapi berwujud, tertentu atau
dapat ditentukan.
2) Bersifat individual, artinya Keputusan Tata Usaha negara itu tidak
ditujukan untuk umum, tetapi tertentu, baik alamat maupun hal yang
dituju.
3) Bersifat final, artinya sudah definitif dan karenanya dapat
menimbulkan akibat hukum. Keputusan yang masih memerlukan
persetujuan instansi atasan atau instansi lain belum bersifat final,
karenanya belum dapat menimbulkan suatu hak atau kewajiban pada
pihak yang bersangkutan.
e. Menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum perdata
Keputusan merupakan wujud konkret dari tindakan hukum
pemerintahan. Secara teoritis, tindakan hukum berarti, tindakan-tidakan
yang berdasarkan sifatnya dapat menimbulkan akibat hukum tertentu.
Tindakan
hukum
menciptakan
hak
adalah
dan
tindakan
kewajiban.
yang
dimaksudkan
Sehingga,
tindakan
untuk
hukum
pemerintahan adalah tindakan hukum yang dilakukan oleh organ
38
pemerintahan untuk menimbulkan akibat-akibat hukum tertentu
khususnya di bidang pemerintahan atau administrasi negara. Yang
dimaksud dengan menimbulkan akibat hukum adalah menimbulkan
akibat hukum Tata Usaha Negara, karena penetapan tertulis yang
dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha yang menimbulkan
akibat hukum tersebut adalah berisi tindakan hukum Tata Usaha
Negara.
Akibat hukum Tata Usaha Negara tersebut dapat berupa:
1) menguatkan suatu hubungan hukum atau keadaan hukum yang telah
ada (declaratoir), misalnya surat keterangan dari Pejabat Pembuat
Akta Tanah yang isinya menyebutkan antara A dan B memang telah
terjadi jual beli tanah atau surat keterangan dari Kepala Desa yang
isinya menyebutkan tentang asal-usul anak yang akan nikah;
2) menimbulkan suatu hubungan hukum atau keadaan hukum yang
baru (constitutief), misalnya Keputusan Jaksa Agung tentang
pengangkatan calon Pegawai Negeri Sipil atau Keputusan Menteri
Perindustrian dan Perdagangan yang isinya menyebutkan suatu
Perseroan Terbatas diberikan izin mengimpor suatu jenis barang.39
Lalu lintas pergaulan hukum khususnya dalam bidang
keperdataan, dikenal istilah subyek hukum, yaitu ”dedrager van de
rechten en plichten” atau pendukung hak-hak dan kewajibankewajiban. Subyek hukum ini terdiri dari manusia (natuurlijke persoon)
39
Ibid., hlm. 18-29
39
dan badan hukum (rechtpersoon). Kualifikasi untuk menentukan
subyek hukum adalah mampu (bekwaam) atau tidak mampu
(ombekwaam) untuk mendukung atau memikul hak dan kewajiban
hukum. Berdasarkan hukum keperdataan, seseorang atau badan hukum
yang dinyatakan tidak mampu seperti orang yang berada dalam
pengampuan dan perusahaan yang dinyatakan pailit tidak dapat
dikualifikasi sebagai subjek hukum.40
Menurut Chidir Ali yang dimaksud dengan badan hukum
perdata adalah badan hukum yang terjadi atau didirikan atas pernyataan
kehendak dari orang perseorangan. Indroharto menyatakan badan
hukum perdata adalah badan atau perkumpulan atau organisasi atau
korporasi dan sebagainya yang didirikan menurut ketentuan hukum
perdata yang merupakan badan hukum (rechtspersoon) murni dan tidak
memiliki dual function seperti misalnya, Provinsi, Kabupaten, Bank
Indonesia, Dewan Pers dan sebagainya, yang di samping merupakan
badan hukum perdata, juga merupakan badan hukum publik.41
2. Keabsahan Keputusan Tata Usaha Negara
Kedudukan suatu Keputusan Tata Usaha Negara erat kaitannya
dengan proses pembuatannya. Pembuatan Keputusan Tata Usaha Negara
harus memperhatikan beberapa persyaratan agar keputusan tersebut
menjadi sah menurut hukum (rechmatig). Berbicara mengenai Keputusan
Tata Usaha Negara, terdapat suatu permasalahan dalam Keputusan Tata
40
41
Ridwan HR, Op. Cit., hlm. 156
R. Wiyono, Op. Cit., hlm. 30
40
Usaha Negara yang dikeluarkan Kepala Suku Dinas Pengawasan dan
Penertiban Bangunan Kota Administrasi Jakarta Selatan oleh Penggugat
dianggap tidak memenuhi kriteria untuk dikatakan sebagai Keputusan Tata
Usaha Negara yang sah. Dalam hal ini Penggugat menganggap bahwa
Tergugat telah melanggar ketentuan dalam Peraturan Perundang-undangan
yang berlaku yaitu Surat Keputusan Bersama Menteri Dalam Negeri,
Menteri Pekerjaan Umum, Menteri Informasi dan Komunikasi, dan Badan
Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Jo Peraturan Gubernur Nomor 89
Tahun 2006 Jo Peraturan gubernur Nomor 138 Tahun 2007 dan Peraturan
Gurbernur Nomor 126 Tahun 2009 serta melanggar Asas-asas Umum
Pemerintahan yang Baik dalam mengeluarkan Surat Peritah Bongkar.
Sehingga agar tidak terjadi suatu permasalahan seperti di atas,
Keputusan Tata Usaha Negara dalam pembuatannya harus memperhatikan
syarat-syarat yang telah ditentukan. Syarat-syarat yang harus diperhatikan
dalam pembuatan beschiking ini mencakup syarat materiil dan syarat
formil.
a. Syarat materiil:
1) Organ pemerintahan yang membuat keputusan harus pejabat yang
berwenang;
2) Karena keputusan merupakan suatu pernyataan kehendak, maka
keputusan tidak boleh mengandung kekurangan-kekurangan yuridis,
seperti penipuan, paksaan atau suap (omkoping) maupun kesesatan
(dwaling);
3) Keputusan harus berdasarkan suatu keadaan (situasi) tertentu;
4) Keputusan harus dapat dilaksanakan dan tanpa melanggar peraturanperaturan lain, serta isi dan tujuan keputusan itu harus sesuai dengan
isi dan tujuan peraturan dasarnya.
b. Syarat formil:
1) Syarat-syarat yang ditentukan berhubung dengan persiapan
dibuatnya keputusan dan berhubung dengan cara dibuatnya
keputusan harus dipenuhi;
41
2) Keputusan harus diberi bentuk yang telah ditentukan dalam
peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar dikeluarkannya
keputusan itu;
3) Syarat-syarat berhubung dengan pelaksanaan ketetapan itu harus
dipenuhi;
4) Jangka waktu harus ditentukan antara timbulnya hal-hal yang
menyebabkan dibuatnya dan diumumkan keputusan itu harus
diperhatikan.42
S.F. Marbun menyatakan, suatu Keputusan Tata Usaha Negara
dianggap sah harus mencakup syarat materiil dan syarat formal yaitu:
1. Wewenang, ditinjau dari segi wewenang terdapat beberapa ketentuan
mengenai keabsahan surat keputusan obyek sengketa, antara lain:
a. Organ pemerintahan yang membuat keputusan harus berwenang
b. Karena keputusan merupakan suatu pernyataan kehendak
(wilsverklaring), maka keputusan tidak boleh mengandung
kekurangan-kekurangan yang bersifat yuridis (geen jurisdische
gebreken in de wilsvorming), seperti penipuan (bedrog), paksaan
(dwang), atau suapa (omkoping), kesesatan (dwaling),
c. Keputusan harus berdasarkan suatu keadaan (situasi) tertentu
d. Keputusan harus dapat dilaksanakan dan tanpa melanggar peraturanperaturan lain, serta isi dan tujuan keputusan itu harus sesuai dengan
isi dan tujuan peraturan dasarnya.
2. Substansi, mengenai isi pokok perkara yang terdapat dalam perkara di
persidangan
3. Prosedur, ditinjau dari segi prosedur terdapat beberapa ketentuan
mengenai keabsahan surat keputusan objek sengketa, antara lain:
a. Syarat-syarat yang ditentukan berhubungan dengan persiapan
dibuatnya keputusan dan berhubungan dengan cara dibuatnya
keputusan harus dipenuhi.
b. Keputusan harus diberi bentuk yang telah ditentukan dalam
peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar dikeluarkannya
keputusan ini
c. Syarat-syarat berhubungan dengan pelaksanaan keputusan itu harus
dipenuhi
d. Jangka waktu harus ditentukan antara timbulnya hal-hal yang
menyebabkan dibuatnya dan diumumkannya keputusan itu harus
diperhatikan.43
42
43
SF. Marbun dan Moh.Mahfud MD, Op. Cit., hlm. 49
SF. Marbun, Op. Cit., hlm. 162
42
Keputusan sah menurut hukum (rechtsgelding) apabila syarat
materiil dan syarat formil di atas telah terpenuhi, artinya keputusan dapat
diterima sebagai suatu bagian dari tertib hukum atau sejalan dengan
ketentuan hukum yang ada baik secara prosedural atau formil maupun
materiil. Sebaliknya, bila satu atau beberapa persyaratan tersebut tidak
terpenuhi, maka keputusan itu mengandung kekurangan dan menjadi tidak
sah. F.H. van der Burg dan kawan-kawan menyebutkan bahwa keputusan
dianggap tidak sah jika dibuat oleh organ yang tidak berwenang
(onbevoegdheid), mengandung cacat bentuk (vormgebreken), cacat isi
(inhoudsgebreken), dan cacat kehendak (wilsgebreken). A.M. donner
mengemukakan akibat-akibat dari keputusan yang tidak sah yaitu sebagai
berikut:
a. Keputusan itu harus dianggap batal sama sekali;
b. Berlakunya keputusan itu dapat digugat:
1) dalam banding (beroep)
2) dalam pembatalan oleh jabatan (amtshalve vernietiging) karena
bertentangan dengan undang-undang.
3) Dalam penarikan kembali (interkking) oleh kekuasaan yang berhak
(competent) mengeluarkan keputusan itu.
c. Dalam hal keputusan tersebut, sebelum dapat berlaku, memerlukan
persetujuan (peneguhan) suatu badan kenegaraan yang lebih tinggi,
maka persetujuan itu tidak diberi.
d. Keputusan itu diberi tujuan lain daripada tujuan permulaannya
(conversie)44.
W. Riawan Tjandra memberikan penegasan bahwa Keputusan Tata
Usaha Negara yang dikeluarkan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara
yang tidak berwenang (onvoegdheid) disebut keputusan yang cacat
mengenai kewenangan (bevoegdheidsgebreken), yang meliputi:
44
Ridwan HR, Op. Cit., hlm. 163
43
a. Onbevoegdheid riatione materiae, yaitu apabila suatu keputusan tidak
ada dasarnya dalam peraturan perundang-undangan atau apabila
keputusan itu dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara
yang tidak berwenang mengeluarkannya.
b. Onbevoegdheid riatione loci, yaitu keputusan yang diambil oleh Badan
atau Pejabat Tata Usaha Negara tersebut menyangkut hal yang berada
di luar batas wilayahnya (geografis).
c. Onbevoegdheid riatione temporis, yaitu Badan atau Pejabat Tata Usaha
Negara belum berwenang atau tidak berwenang lagi untuk
mengeluarkan Keputusan Tata Usaha Negara, misalnya karena jangka
waktunya sudah lampau atau menerapkan peraturan lain sementara itu
sudah berlaku peraturan baru.45
Van der Wel menyebutkan enam macam akibat suatu keputusan yang
mengandung kekurangan, yaitu sebagai berikut:
a. Batal karena hukum.
b. Kekurangan itu sebab atau menimbulkan kewajiban untuk membatalkan
keputusan itu untuk sebagiannya atau seluruhnya.
c. Kekurangan itu menyebabkan bahwa alat pemerintah yang lebih tinggi
dan yang berkompeten untuk menyetujui atau meneguhkannya, tidak
sanggup memberi persetujuan atau peneguhan itu.
d. Kekurangan itu tidak mempengaruhi berlakunya keputusan.
e. Karena kekurangan itu, keputusan yang bersangkutan dikonversi ke
dalam keputusan lain.
f. Hakim sipil (biasa) menganggap keputusan yang bersangkutan tidak
mengikat.46
Keputusan Tata Usaha Negara (beschikking) yang tidak memenuhi
persyaratan di atas dapat dinyatakan batal. Batal menurut Muchsan ada 3
(tiga), yaitu:
a. Batal mutlak.
Batal mutlak adalah semua perbuatan yang pernah dilakukan dianggap
belum pernah ada. Aparat yang berhak menyatakan adalah Hakim
melalui putusannya.
b. Batal demi Hukum. Terdapat 2 (dua) alternatif batal demi hukum, yaitu:
1) Semua perbuatan yang pernah dilakukan dianggap belum pernah
ada.
45
W. Riawan. Tjandra, Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara. Jogyakarta: Universitas
Atma Jaya, 2005, hlm. 73
46
Ibid., hlm. 164
44
2) Sebagian perbuatan dianggap sah, yang batal hanya sebagiannya
saja. Aparat yang berhak menyatakan adalah yudikatif dan eksekutif.
c. Dapat dibatalkan.
Dapat dibatalkan adalah semua perbuatan yang dilakukan dianggap
sah, pembatalan berlaku semenjak dinyatakan batal. Aparat yang berhak
menyatakan adalah umum (eksekutif, legislatif dan lain-lain).47
Menurut teori functionare de faite, suatu Keputusan Tata Usaha
Negara tetap dianggap berlaku walaupun tidak memenuhi syarat di atas,
apabila memenuhi 2 (dua) syarat yang bersifat komulatif, yaitu:
1. Tidak absahnya keputusan itu karena kabur, terutama bagi penerima
keputusan.
2. Akibat dari keputusan itu berguna bagi kepentingan masyarakat.48
Indroharto menyatakan, penilaian mengenai kriteria keabsahan
suatu Keputusan Tata Usaha Negara dapat dilakukan dengan cara:
a. Menguji Keputusan Tata Usaha Negara tersebut terhadap peraturan
perundang-undangan yang mendasari dikeluarkannya Keputusan Tata
Usaha Negara tersebut, dan;
b. Pengujian suatu Keputusan Tata Usaha Negara terhadap peraturan
dasarnya dilakukan hanya terhadap peraturan perundang-undangan
yang dipergunakan sebagai dasar menetapkan Keputusan Tata Usaha
Negara tersebut walaupun barangkali setelah Keputusan Tata Usaha
Negara itu ditetapkan terjadi perubahan peraturan perundangundangan.49
Keabsahan suatu Keputusan Tata Usaha Negara dapat dinilai dengan tolok
ukur Asas-asas Umum Pemerintahan yang Baik. Penjelasan Pasal 53 ayat
(2) huruf b Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 menyebutkan bahwa
47
Ikhwan, Muhamad., 2010., Studi Hukum Keputusan Tata Usaha Negara (Syarat Sah,
Batal,
Hapus,
Kekuatan
Hukum
serta
Metode
Pembentukan).
http://studihukum.blogspot.com/2010/11/keputusan-tata-usaha-negara-2-syarat_20.html.
Diakses pada Senin, 10 November 2014. Pukul 12.05 WIB
48
Menurut Van Der Pot yang dikutip oleh W. Riawan Tjandra, Teori dan Praktek Peradilan
Tata Usaha Negara, Yogyakarta: Universitas Atma Jaya, 2002, hlm. 33
49
W. Riawan Tjandra, Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara, Jogyakarta: Universitas
Atma Jaya, 2002, hlm. 13
45
yang dimaksud dengan Asas-asas Pemerintahan Umum yang Baik adalah
meliputi asas kepastian hukum, asas tertib penyelenggaraan negara, asas
keterbukaan, asas proporsionalitas, asas profesionalitas dan asas
akuntabilitas, sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 28
Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari
Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme.
D. Asas-asas Umum Pemerintahan yang Baik
Asas mengandung beberapa arti. Asas dapat mengandung arti sebagai
dasar (sesuatu yang menjadi tumpuan berikir atau berpendapat), dasar citacita (perkumpulan atau organisasi) dan hukum dasar.50 Jika bertitik tolak
secara harfiah asas yang dikemukakan di atas, Asas-asas Umum
Pemerintahan yang Baik dapat dipahami sebagai dasar umum dalam
penyelenggaraan pemerintahan yang baik. Berdasarkan hasil penelitiannya,
Jazim Hamidi menemukan pengertian Asas-asas Umum Pemerintahan yang
Baik (AAUPB) sebagai berikut:
1. AAUPB merupakan nilai-nilai etnik yang hidup dan berkembang dalam
lingkungan Hukum Administrasi Negara;
2. AAUPB berfungsi sebagai pegangan bagi pejabat administrasi negara
dalam menjalankan fungsinya, merupakan alat uji bagi hakim administrasi
dalam menilai tindakan administrasi negara (yang berwujud
penetapan/beschikking), dan sebagai dasar pengajuan gugatan bagi pihak
penggugat;
3. Sebagian besar dari AAUPB masih merupakan asas-asas yang tidak
tertulis, masih abstrak, dan dapat digali dalam praktik kehidupan di
masyarakat;
50
Tim Penulis Kamus Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka,
1991, hlm. 60 dan 221.
46
4. Sebagian asas yang lain sudah menjadi kaidah hukum tertulis dan
terpencar dalam berbagai peraturan hukum positif. Meskipun sebagian dari
asas itu berubah menjadi Hakim kaidah hukum tertulis, namun sifatnya
tetap sebagai asas hukum.51
Asas-asas umum pemerintahan yang baik lahir dari praktik
penyelenggaraan negara dan pemerintahan sehingga bukan produk formal
suatu lembaga negara seperti undang-undang. Asas-asas Umum Pemerintahan
yang Baik lahir sesuai dengan perkembangan zaman untuk meningkatkan
perlindungan
terhadap
hak-hak
individu.
Fungsi
Asas-asas
Umum
Pemerintahan yang Baik dalam penyelenggaraan pemerintahan adalah
sebagai pedoman atau penuntun bagi pemerintah atau pejabat administrasi
negara dalam rangka pemerintahan yang baik (good governence). Dalam
hubungan ini, Muin Fahmal52 mengemukakan, “Asas umum pemerintahan
yang layak sesungguhnya adalah rambu-rambu bagi penyelenggara negara
dalam menjalankan tugasnya. Rambu-rambu tersebut diperlukan agar
tindakan-tindakannya tetap sesuai dengan tujuan hukum yang sesungguhnya.”
Asas-asas umum pemerintahan yang baik pada awalnya bukan
merupakan sekumpulan norma-norma hukum, tetapi seluruhnya prinsip yang
bertendensi (bermuatan etis). Dengan perkataan lain pada awalnya Asas-asas
Umum Pemerintahan yang Baik hanya merupakan etika penyelenggaraan
pemerintahan. Meskipun Asas-asas Umum Pemerintahan yang Baik hanyalah
etika, asas-asas tersebut tetap dapat berfungsi sebagai pedoman yang penting
bagi pemerintah dan para pejabat administrasi negara dalam menetapkan
51
Ridwan HR, Op. Cit., hlm. 234-235
Fahmal Muin, Peran Asas-asas Pemerintahan yang Layak dalam mewujudkan
Pemerintahan yang Bersih, Yogyakarta: UII Press, 2008, hlm. 60
52
47
suatu kebijakan. Asas-asas Umum Pemerintahan yang Baik selanjutnya
dijadikan sebagai dasar penilaian dalam peradilan dan upaya administrasi, di
samping sebagai norma hukum tidak tertulis bagi tindakan pemerintahan.53
Menurut SF. Marbun, asas-asas pemerintahan yang baik memiliki arti penting
dan fungsi sebagai berikut:
1. Bagi administrasi negara, bermanfaat sebagai pedoman dalam melakukan
penafsiran dan penerapan terhadap ketentuan-ketentuan perundangundangan yang bersifat samar atau tidak jelas.
2. Bagi warga masyarakat, sebagai pencari keadilan. AAUPB dapat
dipergunakan sebagai dasar gugatan sebagaimana disebutkan dalam pasal
53 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986.
3. Bagi hakim Tata Usaha Negara, dapat dipergunakan sebagai alat menguji
dan membatalkan keputusan yang dikeluarkan badan atau pejabat Tata
Usaha Negara.
4. Selain itu, AAUPB tersebut juga berguna bagi badan legislatif dalam
merancang suatu undang-undang.54
Perkembangan Asas-asas Umum Pemerintahan yang Baik dari
sekedar tendensi etis menjadi hukum tidak tertulis dan dijadikan dasar
penilaian dalam peradilan upaya administrasi dalam dapat disebut sebagai
positivisasi Asas-asas Umum Pemerintahan yang Baik. Perkembangan Asasasas Umum Pemerintahan yang Baik ke arah yang lebih positif semakin
memperkokoh kehadiran Asas-asas Umum Pemerintahan yang Baik dalam
lingkungan tata hukum nasional dan praktik penyelenggaraan pemerintahan.
Dalam perkembangan yang terakhir, Asas-asas Umum Pemerintahan yang
Baik berkembang menjadi hukum positif tertulis sebab bagian dari Asas-asas
Umum Pemerintahan yang Baik kemudian dituangkan secara formal dalam
undang-undang ataupun hukum yang tertulis seperti di Jerman.
53
54
Ridwan HR, Hukum administrasi Negara, Jakarta: Rajawali Pers, 2008, hlm. 251
Nomensen Sinamo, Hukum Administrasi Negara, Jakarta: Jala Permata Aksara, 2010, hlm.
142-143
48
Pada masa sekarang Asas-asas Umum Pemerintahan yang Baik
dipandang sebagai bagian dari hukum positif, baik sebagai hukum positif
tidak tertulis. Dalam hubungan dengan perkembangan Asas-asas Umum
Pemerintahan yang Baik dari hukum tidak tertulis menjadi hukum, Indroharto
mengemukakan, “Dasar-dasar umum yang baik ini semula merupakan normanorma yang tidak tertulis, beberapa di antara norma-norma tersebut seperti
larangan willekeur dan larangan de tournement de pouvoir.” Indroharto lebih
lanjut mengemukakan, di Jerman misalnya, norma-norma tersebut sebagian
dimuat dalam perundang-undangan umum (Verwaltungsverfahrensgesetz)
dan sebagian tetap tidak tertulis.
Pemerintah sangat sentral tugasnya yakni mensejahterakan kehidupan
masyarakat. Dalam menjalankan tugasnya pemerintah harus turut campur
tangan dalam kehidupan sosial masyarakat. Pada dasarnya, setiap campur
tangan pemerintah dalam kehidupan sosial harus berpedoman pada Peraturan
Perundang-undangan sesuai dengan asas legalitas sebagai konsekuensi dari
asas
negara
hukum.
Akan tetapi,
kelemahan
asas
legalitas
yang
mengutamakan hukum, mengakibatkan pemerintah bertindak lamban. Oleh
karena itu, pemerintah diberi kebebasan dalam menjalankan urusannya baik
yang sudah ada aturannya maupun yang belum ada aturannya.55
Pejabat administrasi negara dalam bertindak tidak terikat sepenuhnya
kepada undang-undang, ini menjadi peluang bagi pemerintah untuk
melakukan penyalahgunaan wewenang. Untuk menilai apakah tindakan
55
Hotma P. Sibue, Op. Cit., hlm. 150-154
49
pemerintah sesuai dengan asas negara hukum atau tidak, dapat menggunakan
Asas-asas Umum Pemerintahan yang Baik. Penjelasan Pasal 53 ayat (2) huruf
(b) Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 tentang Peradilan Tata Usaha
Negara menyatakan yang dimaksud Asas-asas Umum Pemerintahan yang
Baik sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999
tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi,
Kolusi, dan Nepotisme adalah meliputi asas:
1. Kepastian hukum adalah asas dalam negara hukum yang mengutamakan
landasan peraturan perundang-undangan, kepatutan, dan keadilan dalam
setiap kebijakan penyelenggara negara.
2. Tertib penyelenggaraan negara adalah asas yang menjadi landasan
keteraturan, keserasian, dan keseimbangan dalam pengendalian
penyelenggaraan negara.
3. Keterbukaan adalah asas yang membuka diri terhadap hak masyarakat
untuk memperoleh informasi yang benar, jujur, dan tidak diskriminatif
tentang penyelenggaraan negaradengan tetap memperhatikan perlindungan
atas hak asasi pribadi, golongan dan rahasia negara.
4. Proporsionalitas adalah asas yang mengutamakan keseimbangan antara
hak adan kewajiban penyelenggaraan negara.
5. Profesionalitas adalah asas yang mengutamakan keahlian yang
berlandaskan kode etik dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
6. Akuntabilitas adalah asas yang menentukan bahwa setiap kegiatan dan
hasil akhir dari kegiatan penyelenggara negara harus dapat
dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai pemegang
kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku.56
Crince le Roy menyatakan terdapat sebelas asas umum pemerintahan
yang baik dalam lapangan hukum administrasi dan praktik penyelenggaraan
pemerintahan di Belanda. Asas-asas Umum Pemerintahan yang Baik yang
dikemukakan oleh Crince Le Roy tersebut meliputi:
56
Mr. Martiman Prodjohamidjojo, Op. Cit., hlm. 34-35
50
1. Asas kepastian hukum (princple of legal security) adalah asas yang
bertujuan untuk menghormati hak-hak yang telah dimiliki seseorang
berdasarkan keputusan badan atau pejabat administrasi negara.
2. Asas keseimbangan (principle of proporsionality), berkenaan dengan
keseimbangan antara hukuman yang dapat dikenakan terhadap seorang
pegawai dengan kelalaian pegawai yang bersangkutan.
3. Asas kesamaan dalam mengambil keputusan (principle of equality)
mengandung arti bahwa pejabat administrasi negara pada hakikatnya harus
mengambil tindakan yang sama atas kasus-kasus yang faktanya sama.
4. Asas bertindak cermat (principle of carefulness), menghendaki supaya
badan atau pejabat administrasi negara senantiasa bertindak secara hatihati agar tidak menimbulkan kerugian warga masyarakat.
5. Asas motivasi dalam setiap keputusan (principle of motivation)
mengandung arti bahwa setiap keputusan badan atau pejabat administrasi
negara harus didasari oleh suatu alasan atau motivasi yang cukup, yakni
adil dan jelas.
6. Asas larangan mencampuradukan kewenangan (principleof non-misuse of
competence), berkaitan dengan larangan bagi badan atau pejabat
administrasi negara untuk menggunakan kewenangannya untuk tujuan lain
selain daripada tujuan yang telah ditetapkan untuk kewenangan tersebut.
7. Asas permainan yang layak (principle of fair play), berkenaan dengan
prinsip bahwa badan atau pejabat administrasi negara harus memberikan
kesempatan yang seluas-luasnya kepada setiap warga negara untuk
mencari kebenaran dan keadilan.
8. Asas keadilan atau kewajaran (principle of reasonable or prohibition of
arbitrariness), menghendaki supaya pejabat administrasi negara dalam
mengambil suatu keputusan atau tindakan perlu selalu memperhatikan
keadilan dan kewajaran. Aspek keadilan dalam setiap tindakan atau
keputusan pejabat administrasi negara mengandung arti bahwa setiap
tindakan pejabat administarsi negara hendaklah dilakukan secara
proporsional, sesuai, dan selaras dengan hak setiap orang. Aspek
kewajaran dalam setiap keputusan atau tindakan pejabat adminstrasi
negara menghendaki supaya setiap tindakan pejabat administrasi negara
harus memperhatikan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat seperti
nilai-nilai agama, budaya, ekonomi, sosial, dan juga dapat diterima akal
sehat.
9. Asas menanggapi penghargaan yang wajar (principle of meeting raised
expectation), menghendaki agar setiap tindakan yang dilakukan oleh
pemerintah harus menimbulkan harapan bagi warga negara. Sebagai
konsekuensinya, pemerintah atau pejabat administrasi negara tidak boleh
menarik kembali sesuatu harapan yang sudah terlanjur diberikan kepada
seseorang, meskipun bagi pemerintah tindakan pemberian harapan tersebut
merupakan sesuatu hal yang merugikan.
10. Asas meniadakan akibat keputusan yang batal (principle of undoingthe
consequenceof unnulled decision), menghendaki supaya pejabat
51
administrasi negara meniadakan semua akibat yang timbul dari suatu
keputusan yang kemudian dinyatakan batal.
11. Asas perlindungan atas pandangan (cara) hidup pribadi (principle of
protecting the personal way of life), menghendaki supaya pemerintah atau
pejabat administrasi negara memberikan perlindungan terhadap setiap
warga negara.57
Kuntjoro Purbopranoto, melengkapi Asas-asas Umum Pemerintahan
yang Baik yang dikemukakan di atas dengan menambah asas lain dalam
rangka mengadaptasi Asas-asas Umum Pemerintahan yang Baik itu dalam
konteks Indonesia. Kedua asas tambahan itu adalah sebagai berikut:
1. Asas kebijaksanaan (principle of sapiently) menghendaki supaya
pemerintah dalam melaksanakan tugas dan pekerjaannya sebaiknya
diberikan kebebasan dan keleluasaan untuk menerapkan kebijaksanaan
tanpa harus terpaku pada peraturan perundang-undangan sebab peraturan
perundang-undangan selalu mengandung cacat bawaan, yakni tidak selalu
dapat menampung segenap persoalan.
2. Asas penyelenggaraan kepentingan umum (principle of legal security)
menghendaki supaya pemerintah dalam menyelenggarakan tugasnya selalu
mengedepankan kepentingan umum sebagai kepentingan segenap orang.58
Berdasarkan uraian mengenai asas di atas, dapat diketahui bahwa
keberadaan asas-asas dalam hukum sangat penting. Asas-asas dalam hukum
tidak pernah terlepas dari tindakan administrasi pemerintah dan mengatur
bagaimana cara pemerintah harus bertindak. Begitupula dengan adanya Asasasas Umum Pemerintahan yang Baik, asas ini mengatur bagaimana cara
bertindak Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang biasanya disebut
dengan pemerintah. Dengan adanya asas-asas ini, maka tindakan Pemerintah
dan atau Badan atau Pejabat Tata Usaha dapat dikendalikan, sehingga tidak
terjadi tindakan yang sewenang-wenang.
57
Hotma P. Sibuea, Op. Cit., hlm. 158-163
Lutfi Effendi, Pokok-Pokok Hukum Administrasi, Malang: Bayumedia Publishing, 2004,
hlm. 84
58
52
E. Menara Telekomunikasi
1. Tata Cara Membangun Menara Telekomunikasi
Peraturan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta
Nomor 89 Tahun 2006 tentang Pembangunan dan Penataan Menara
Telekomunikasi Di Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Menara
Telekomunikasi adalah bangunan yang berfungsi sebagai penunjang
jaringan telekomunikasi yang desain/bentuk konstruksinya disesuaikan
dengan keperluan jaringan telekomunikasi. Menara telekomunikasi
bersama adalah Menara Telekomunikasi yang dapat digunakan oleh lebih
dari satu operator.
Menurut Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 138
Tahun 2007 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pembangunan dan Penataan
Menara Telekomunikasi di Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta,
Menara Telekomunikasi adalah bangunan yang berfungsi sebagai
penunjang jaringan telekomunikasi yang desain/bentuk konstruksinya
disesuaikan dengan keperluan jaringan telekomunikasi. Sedangkan Menara
Telekomunikasi bersama adalah Menara Telekomunikasi yang dapat
digunakan oleh lebih dari satu operator.
Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 126 Tahun 2009
tentang Peta Arahan Persebaran Menara Telekomunikasi Bersama Untuk
Penempatan Makro Seluler (Microcell), Menara Telekomunikasi adalah
bangunan khusus yang berfungsi sebagai sarana penunjang untuk
menempatkan peralatan telekomunikasi yang desain atau bentuk
53
konstruksinya
disesuaikan
telekomunikasi.
Menara
dengan
keperluan
telekomunikasi
bersama
penyelenggaraan
adalah
Menara
Telekomukasi yang pemanfaatannya digunakan oleh lebih dari 2 (dua)
operator. Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri, Menteri Pekerjaan
Umum, Menteri Komunikasi dan Informatika dan Kepala Badan
Koordinasi Penanaman Modal Nomor: 18 Tahun 2009, Nomor:
07/PRT/M/2009,
Nomor:
19/PER/M.KOMINFO/03/2009,
Nomor:
3/P/2009 tentang Pedoman Pembangunan dan Penggunaan Bersama
Menara Telekomunikasi, yang disebut Menara Telekomunikasi adalah:
Bangun-bangun untuk kepentingan umum yang didirikan di atas
tanah, atau bangunan yang merupakan satu kesatuan konstruksi dengan
bangunan gedung yang dipergunakan untuk kepentingan umum yang
struktur fisiknya dapat berupa rangka baja yang diikat oleh berbagai
simpul atau berupa bentuk tunggal tanpa simpul, di mana fungsi, desain
dan kontruksinya disesuaikan sebagai sarana penunjang menempatkan
penunjang telekomunikasi.
Penyelenggaraan bangunan gedung adalah kegiatan pembangunan
yang meliputi proses perencanaan teknis dan pelaksanaan konstruksi, serta
kegiatan pemanfaatan, pelestarian, dan pembongkaran. Berdasarkan
Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri, Menteri Pekerjaan Umum,
Menteri Komunikasi dan Informatika dan Kepala Badan Koordinasi
Penanaman
Modal
menyatakan
bahwa
pembangunan
Menara
Telekomunikasi harus memenuhi hal-hal sebagai berikut:
Pasal 5
1) Menara disediakan oleh penyedia menara.
2) Penyedia menara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan:
a. penyelenggara telekomunikasi; atau
b. bukan penyelenggara telekomunikasi.
54
3) Penyediaan menara sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
pembangunannya dilaksanakan oleh penyedia jasa konstruksi.
4) Penyedia menara yang bukan penyelenggara telekomunikasi,
pengelola menara atau penyedia jasa konstruksi untuk membangun
menara merupakan perusahaan nasional.
Pasal 6
1) Lokasi pembangunan menara wajib mengikuti:
a. rencana tata ruang wilayah kabupaten/kota, dan khusus untuk DKI
Jakarta wajib mengikuti rencana tata ruang wilayah provinsi;
b. rencana detail tata ruang wilayah kabupaten/kota, dan khusus untuk
DKI Jakarta wajib mengikuti rencana detail tata ruang provinsi;
dan/atau rencana tata bangunan dan lingkungan.
2) Pembangunan menara wajib mengacu kepada SNI dan standar
baku tertentu untuk menjamin keselamatan bangunan dan lingkungan
dengan memperhitungkan faktor-faktor yang menentukan kekuatan dan
kestabilan konstruksi menara dengan mempertimbangkan persyaratan
struktur bangunan menara sebagaimana dimaksud dalam Lampiran
Peraturan Bersama ini.
Pasal 7
1) Menara yang dibangun wajib dilengkapi dengan sarana pendukung
dan identitas hukum yang jelas sesuai ketentuan perundang-undangan
yang berlaku.
2) Sarana pendukung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari
a. pentanahan (grounding);
b. penangkal petir;
c. catu daya;
d. lampu halangan penerbangan (aviation obstruction light);
e. marka halangan penerbangan (aviation obstruction marking); dan
f. pagar pengaman
3) Identitas hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari:
a. nama pemilik menara;
b. lokasi dan koordinat menara;
c. tinggi menara;
d. tahun pembuatan/pemasangan menara;
e. penyedia jasa konstruksi; dan
f. beban maksimum menara.
Berbeda dengan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika
Nomor: 02/PER/M.KOMINFO/03/2008 tentang Pedoman Pembangunan
dan Penggunaan Menara Bersama Telekomunikasi, pembangunan Menara
Telekomunikasi harus memenuhi hal-hal sebagai berikut yang termuat
dalam:
55
Pasal 2
Demi efesiensi dan efektivitas penggunaan ruang, maka Menara harus
digunakan secara bersama dengan tetap memperhatikan kesinambungan
pertumbuhan industri telekomunikasi.
Pasal 3
1) Pembangunan Menara dapat dilaksanakan oleh:
a. Penyelenggara telekomunikasi;
b. Penyedia Menara; dan/atau
c. Kontraktor Menara
2) Pembangunan Menara harus memiliki Izin Mendirikan Menara dari
intansi yang berwenang sesuai ketentuan perundang-undangan yang
berlaku.
3) Pemberian Izin Menara sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib
memperhatikan ketentuan tentang penataan ruang sesuai ketentuan
perundang-undangan yang berlaku.
4) Penyelenggara telekomunikasi, Penyedia Menara, dan atau Kontraktor
Menara dalam mengajukan Izin Mendirikan Menara wajib
menyampaikan informasi rencana pembangunan Menara Bersama.
5) Informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (4) harus dilakukan dengan
perjanjian tertulis antara Penyelenggara Telekomunikasi.
2. Izin Mendirikan Menara Telekomunikasi
Izin Mendirikan Bangunan atau biasa dikenal dengan IMB adalah
perizinan yang diberikan oleh Kepala Daerah kepada pemilik bangunan
untuk membangun baru, mengubah, memperluas, mengurangi, dan atau
merawat
bangunan
sesuai
dengan
persyaratan
administratif
dan
persyaratan teknis yang berlaku. IMB merupakan salah satu produk hukum
untuk mewujudkan tatanan tertentu sehingga tercipta ketertiban,
keamanan, keselamatan, kenyamanan, sekaligus kepastian hukum.
Kewajiban setiap orang atau badan yang akan mendirikan bangunan untuk
memiliki Izin Mendirikan Bangunan diatur pada Pasal 5 ayat (1) Peraturan
Daerah Nomor 7 Tahun 2009 tentang Bangunan. IMB akan melegalkan
suatu bangunan yang direncanakan sesuai dengan Tata Ruang yang telah
ditentukan. Selain itu, adanya IMB menunjukkan bahwa rencana kostruksi
56
bangunan tersebut juga dapat dipertanggungjawabkan dengan maksud
untuk kepentingan bersama.
Mendirikan Menara Telekomunikasi juga harus memiliki IMB.
Pengaturan mengenai izin mendirikan Menara Telekomunikasi terdapat
dalam Pasal 12 Peraturan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota
Jakarta Nomor 89 Tahun 2006 tentang Pembangunan dan Penataan
Menara Telekomunikasi Di Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta yang
menyatakan bahwa:
1) Setiap pembangunan menara telekomunikasi wajib memiliki:
a) Surat Keterangan Penempatan Titik Lokasi Rencana Pembangunan
Menara Telekomunikasi dari Kepala Dinas Tata Kota Provinsi DKI
Jakarta.
b) Surat Keterangan Membangun yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas
Penataan dan Pengawasan Bangunan Provinsi Daerah Khusus
Ibukota Jakarta.
c) Izin Penempatan Jaringan Utilitas dan Bangunan Pelengkap yang
dikeluarkan oleh Kepala Dinas Penerangan Jalan Umum dan Sarana
Jaringan Utilitas Provinsi DKI Jakarta, apabila jaringan instalasi
yang berada pada menara terhubung dengan jaringan utilitas pada
ruang publik,
2) Permohonan awal rencana pembangunan menara telekomunikasi harus
diajukan secara tertulis kepada Kepala Dinas Tata Kota untuk
memperoleh kepastian tentang boleh atau tidaknya penempatan titik
lokasi rencana pembangunan menara telekomunikasi sesuai dengan
peruntukan ruang kota.
3) Untuk memperoleh Surat Keterangan Membangun sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf a, terlebih dahulu harus mengajukan
permohonan tertulis kepada Gubernur c.q. Kepala Dinas Penataan dan
Pengawasan Bangunan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta
4) Surat Keterangan Membangun Menara Telekomunikasi sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) berlaku selama 3 (tiga) tahun untuk menara
telekomunikasi bersama, maximum 5 (lima) tahun untuk menara
telekomunikasi khusus;
5) Masa berlaku Surat Keterangan Membangun Menara Telekomunikasi
sebagaimana dimaksud pada ayat (3) terhitung sejak tanggal diterbitkan
dan setelah habis masa berlaku, dapat diperpanjang.
57
6) Untuk memperoleh izin Penempatan Jaringan Utilitas dan Bangunan
Pelengkap sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, harus
dilampirkan :
a) Surat Keterangan Membangun dari Kepala Dinas Penataan dan
Pengawasan Bangunan Provinsi DKI Jakarta.
b) Membayar Retribusi Izin Penempatan Jaringan Utilitas dan
Bangunan Pelengkap sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 138 Tahun 2007
tentang Petunjuk Pelaksanaan Pembangunan dan Penataan Menara
Telekomunikasi di Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta tata cara
memperoleh perizinan Menara Telekomunikasi terdapat dalam Pasal 11
yang menyatakan bahwa:
1) Setiap
bangunan
menara
telekomunikasi
eksisting
yang
pembangunannya dilakukan sebelum berlakunya Peraturan Gubernur
Nomor 89 Tahun 2006 wajib memiliki Surat Keterangan Membangun
(SKM).
2) Setiap pembangunan menara telekomunikasi yang dilakukan setelah
berlakunya Peraturan Gubernur Nomor 89 Tahun 2006 wajib memiliki
Izin Mendirikan Membangun (IMB).
3) Untuk memperoleh Surat Keterangan membangun (SKM) sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dan Izin Mendirikan Bangunan (IMB)
sebagaimana dimaksud pada ayat (2), pemohon mengajukan surat
permohonan kepada Kepala Suku Dinas Penataan dan Pengawasan
Bangunan Kota Administrasi di Provinsi Daerah Khusus Ibukota
Jakarta.
Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri, Menteri Pekerjaan
Umum, Menteri Komunikasi dan Informatika dan Kepala Badan
Koordinasi Penanaman Modal Nomor: 18 Tahun 2009, Nomor:
07/PRT/M/2009,
Nomor:
19/PER/M.KOMINFO/03/2009,
Nomor:
3/P/2009 tentang Pedoman Pembangunan dan Penggunaan Bersama
Menara Telekomunikasi tata cara perizinan pembangunan Menara dapat
dilihat dalam Pasal 10 yang menyatakan Permohonan IMB diajukan oleh
58
penyedia Menara kepada Bupati/Walikota, dan khusus untuk provinsi DKI
Jakarta permohonan izin diajukan kepada Gubernur. Begitu pula dalam
Pasal 11 mengatur mengenai permohonan IMB yang berbunyi:
4) Permohonan Izin Mendirikan Bangunan Menara sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 10 melampirkan persyaratan sebagai berikut:
d. persyaratan administratif; dan
e. persyaratan teknis.
5) Persyaratan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a,
terdiri dari:
a. status kepemilikan tanah dan bangunan;
b. surat keterangan rencana kota;
c. rekomendasi dari instansi terkait khusus untuk kawasan yang sifat
dan peruntukannya memiliki karakteristik tertentu
sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 9;
d. akta pendirian perusahaan beserta perubahannya yang telah
disahkan oleh Departemen Hukum dan HAM.
e. surat bukti pencatatan dari Bursa Efek Indonesia (BEJ) bagi
penyedia menara yang berstatus perusahaan terbuka;
f. informasi rencana penggunaan bersama menara;
g. persetujuan dari warga sekitar dalam radius sesuai dengan ketinggian
menara;
h. dalam hal menggunakan genset sebagai catu daya dipersyaratkan
izin gangguan dan izin genset
6) Persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b,
mengacu pada SNI atau standar baku yang berlaku secara internasional
serta tertuang dalam bentuk dokumen teknis sebagai berikut:
a. gambar rencana teknis bangunan menara meliputi: situasi, denah,
tampak, potongan dan detail serta perhitungan struktur;
b. spesifikasi teknis pondasi menara meliputi data penyelidikan tanah,
jenis pondasi, jumlah titik pondasi, termasuk geoteknik tanah
sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Peraturan Bersama ini; dan
c. spesifikasi teknis struktur atas menara,meliputi beban tetap (beban
sendiri dan beban tambahan) beban sementara (angin dan
gempa),beban khusus,beban maksimum menara yang diizinkan,
sistem konstruksi, ketinggian menara, dan proteksi terhadap petir.
3. Tata cara Membongkar Menara Telekomunikasi
Menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang
Bangunan Gedung, pembongkaran adalah kegiatan membongkar atau
merobohkan seluruh atau sebagian bangunan gedung, komponen, bahan
59
bangunan, dan/atau prasarana dan sarananya. Keputusan Gubernur Kepala
Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 1068 Tahun 1997 tentang Petunjuk
Pelaksanaan
Penertiban
Kegiatan
Membangun
dan
Menggunakan
Bangunan di Daerah Khusus Ibukota Jakarta, mengatur perihal
pembongkaran Menara Telekomunikasi yang menyatakan bahwa:
Pasal 12
Tindakan Penertiban bangunan dikenakan terhadap kegiatan-kegiatan
sebagai berikut :
a. Pembangunan yang dilaksanakan tanpa izin;
b. Pembangunan dengan izin, tetapi tidak dilaksanakan oleh pemborong
dan atau tidak diawasi oleh Direksi Pengawas yang diisyaratkan;
c. Pembangunan yang dilaksanakan dengan izin, tetapi terdapat
penyimpangan dalam pelaksanaan;
d. Bangunan yang digunakan tanpa IPB dan atau IPPB;
e. Bangunan yang penggunaannya tidak sesuai IPB dan atau IPPB;
f. Bangunan/pekarangan yang tidak terpelihara.
Pasal 17
1) Terhadap SP4 yang telah dikeluarkan sebagaimana dimaksud dalam
pasal 16 apabila tidak dipatuhi akan dilanjutkan dengan tindakan
penyegelan.
2) Penyegelan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini tidak
dilaksanakan/dapat ditunda apabila :
a. telah mendapat Izin Pendahuluan atau;
b. berkas permohonannya telah memenuhi syarat dan dapat diproses
menjadi PIMB.
3) Surat Penyegelan disiapkan oleh Seksi Penertiban dan ditandatangi
Kepala Suku Dinas Pengawasan Pembangunan Kota.
4) Penyegelan dilaksanakan oleh Suku Dinas Pengawasan Pembangunan
Kota cq. Seksi Penertiban.
5) Cara pelaksanaan penyegelan sebagaimana dimaksud pada ayat (4)
Pasal ini sebagai berikut :
a. memasang papan segel pada lokasi kegiatan membangun yang jelas
terlihat;
b. Menempelkan surat segel di pintu masuk lokasi atau bedeng
kerja;Papan segel dapat dipasang kembali apabila papan segel
terdahulu hilang.
6) Batas waktu penyegelan apabila dilanjutkan ke tindakan penertiban
berikutnya (SPB) maksimal 7x24 jam.
Pasal 18
1) Terhadap tindakan penyegelan sebagaimana dimaksud dalam pasal 17
apabila tidak dipatuhi dapt dilanjutkan dengan SPB.
60
2) SPB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini dilaksanakan
apabila :
a) bangunan tersebut dari segi teknis, planalogis, administratif tidak
mungkin diberi izin atau;
b) bangunan dari segi keamanan bangunan dan lingkungan harus
dibongkar atau;
c) berdasarkan pertimbangan Kepala Suku Dinas Pengawasan
Pembangunan Kota, bangunan atau bagian bangunan yang
melanggar dari segi teknis dan atau planalogis dan atau administratif
serta tertib bangunan perlu dibongkar.
3) Pelaksanaan SPB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini dapat
ditunda/tidak dilaksanakan apabila:
a) telah mendapat izin pendahuluan atau;
b) berkas permohonan telah memenuhi syarat dan dapat diproses
menjadi PIMB.
4) SPB disiapkan oleh Suku Dinas Pengawasan Pembangunan Kota cq.
Seksi Penertiban untuk ditandatangani oleh Kepala Suku Dinas
Pengawasan Pembangunan Kota/Walikotamadya.
5) SPB yang ditandatangani oleh Kepala Suku Dinas Pengawasan
Pembangunan Kota sebagaimana dimaksud pada ayat (4) pasal ini
terhadap kegiatan membangun tanpa izin yang belum dihuni dan tidak
dalam sengketa, tidak termasuk bangunan Pemerintah dan atau
bangunan sosial ibadah dan atau bangunan pada lingkungan dengan
persyaratan khusus (antara lain lingkungan KDB rendah,cagar budaya,
Kepulauan Seribu, Daerah Militer).
6) SPB yang ditandatangani Walikotamadya (setelah diparaf oleh Kepala
Suku Dinas Pengawasan Pembangunan Kota sebagaimana dimaksud
pada ayat (4) pasal ini adalah terhadap kegiatan:
a) membangun tanpa izin yang belum dihuni dan dalam sengketa dan
atau bangunan Pemerintah dan atau bangunan sosial ibadah dan atau
bangunan pada lingkungan dengan persyaratan khusus (antara lain
lengkungan KDB rendah, cagar budaya, Kepulauan Seribu, Daerah
Militer) atau;
b) membangun tanpa izin dan sudah dihuni atau;
c) berdasarkan pertimbangan Kepala Suku Dinas Pengawasan
Pembangunan Kota atas Pelanggaran tersebut perlu SPB atau SPB
ulang dari Walikotamadya.
7) SPB yang sudah ditandatangani oleh Walikotamadya/Kepala Suku
Dinas Pengawasan Pembangunan Kota disampaikan oleh Seksi PPK
Kecamatan kepada yang bersangkutan sesegera mungkin maksimal
3x24 jam setelah diterima.
8) Pemilik/Pelaksana Bangunan diwajibkan untuk melaksanakan
pembongkaran sendiri selambat-lambatnya 7x24 jam setelah SPB
diterima.
61
BAB III
METODE PENELITIAN
1. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian Yuridis Normatif, yaitu
suatu penelitian yang menggunakan konsepsi legis-positivis. Konsepsi legispositivis merupakan suatu konsep yang memandang hukum identik dengan
norma-norma tertulis yang dibuat dan diundangkan oleh lembaga atau pejabat
yang berwenang. Konsep ini memandang hukum sebagai sistem normatif yang
mandiri bersifat tertutup dari kehidupan masyarakat yang nyata. Menurut
Jhonny Ibrahim, tipe penelitian yuridis normatif salah satunya menggunakan
pendekatan perundang-undangan.59
Soerjono Soekanto, dipihak lain mengemukakan pendapatnya mengenai
penelitian hukum normatif sebagai berikut:
Penelitian hukum normatif (di samping adaya penelitian hukum sosiologis atau
empiris yang terutama meneliti bahan hukum primer) adalah penelitian hukum
yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka atau bahan hukum
sekunder belaka. Penelitian hukum normatif atau kepustakaan tersebut
mencakup:
a. Penelitian terhadap asas-asas hokum
b. Penelitian terhadap sistematika hokum
c. Penelitian terhadap taraf sinkronisasi vertikal dan horizontal
d. Perbandingan hokum
e. Sejarah hukum.60
59
Ronny Hanitjo Soemitro, Metode Penelitian Hukum, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1983, hlm.
11
60
Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif: Suatu Tinjauan Singkat,
Jakarta: Rajawali Pers, 2011, hlm. 14.
62
2. Pendekatan Penelitian
a. Pendekatan Perundang-undangan
Pendekatan perundang-undangan dilakukan dengan menelaah semua
Peraturan Perundang-undangan dan regulasi yang bersangkut paut dengan
isu hukum yang sedang ditangani.61 Metode pendekatan perundangundangan digunakan untuk meneliti suatu permasalahan hukum, memiliki
kesesuaian dengan Peraturan Perundang-undangan.
b. Pendekatan Kasus
Kajian pokok dalam pendekatan kasus adalah ratio decidendi atau
reasoning yaitu pertimbangan pengadilan untuk sampai pada suatu putusan.
Baik keperluan praktik maupun kajian akademis, ratio decidendi atau
reasoning tersebut merupakan referensi bagi penyusunan argumentasi dalam
pemecahan isu hukum.62
Pendekatan kasus digunakan mengingat yang menjadi titik utama
dalam penelitian ini yaitu mengenai keabsahan suatu Keputusan Tata Usaha
Negara yang dikeluarkan oleh Kepala Suku Dinas Pengawasan dan
Penerbitan Bangunan (P2B) Kota Administrasi Jakarta Selatan tentang
Pelaksanaan Pembongkaran Bangunan. Kajian pokok dalam penelitian ini
adalah argumentasi Hakim dalam pertimbangan hukumnya sehingga
menyatakan bahwa Keputusan Tata Usaha Negara yang dikeluarkan oleh
Kepala Suku Dinas Pengawasan dan Penerbitan Bangunan (P2B) Kota
Administrasi Jakarta Selatan merupakan Keputusan Tata Usaha Negara
yang tidak sah menurut hukum.
61
62
Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Jakarta: Prenada Media, 2005, hlm. 93
Ibid., hlm. 94
63
3. Spesifikasi Penelitian
Spesifikasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah spesifikasi
penelitian deskriptif. Spesifikasi penelitian deskriptif menurut Soerjono
Soekanto dalam bukunya Pengantar penelitian Hukum dijelaskan bahwa
penelitian deskriptif adalah suatu penelitian yang dimaksudkan untuk
memberikan data yang seteliti mungkin dengan manusia, keadaan atau gejalagejala lainnya, serta hanya menjelaskan keadaan objek masalahnya tanpa
bermaksud mengambil kesimpulan yang berlaku umum.63
4. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta,
Unit Pelaksana teknis Universitas Jenderal Soedirman, Pusat Informasi Ilmiah
Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman.
4. Sumber Bahan Hukum
Sumber bahan penulisan karya ilmiah ini adalah data sekunder, yaitu
bahan hukum yang diperoleh peneliti dari penelitian kepustakaan dan
dokumentasi, yang merupakan hasil penelitian dan pengolahan orang lain, yang
sudah tersedia dalam bentuk buku-buku atau dokumentasi yang biasanya
disediakan di perpustakaan atau milik pribadi peneliti.64 Dari bahan hukum
kepustakaan tersebut dideskripsikan tentang teori, pandangan pandapat para
ahli dan sebagainya, yang merupakan bahan berfikir dan berprilaku dalam
pengumpulan bahan hukum. Hal tersebut bertujuan untuk mendapatkan hasil
63
64
Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta: UI Press, 1986, hlm. 32.
Hilman Hadikusuma, Metode Pembuatan Kertas Kerja atau Skripsi Ilmu Hukum, Bandung
: Mandar Maju, 1998, hlm. 65.
64
yang obyektif dari penelitian ini dari data sekunder tersebut akan dibagi dan
diuraikan ke dalam tiga bagian yaitu:
a. Bahan Hukum Primer
Bahan hukum primer yaitu bahan-bahan yang bersumber dari
Peraturan Perundang-undangan yang ada kaitannya dengan hukum
Administrasi Negara, khususnya hukum Peradilan Tata Usaha Negara yaitu:
1. Undang-Undang Dasar 1945;
2. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha
Negara kemudian mengalami perubahan menjadi Undang-Undang
Nomor 9 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 5
Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, kemudian mengalami
perubahan kembali menjadi Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009
tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986
tentang Peradilan Tata Usaha Negara.
3. Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Ketentuan-Ketentuan
Pokok Kekuasaan Kehakiman
4. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung
5. Peraturan
Menteri
Komunikasi
dan
Informatika
Nomor:
02/PER/M.KOMINFO/03/2008 tentang Pedoman Pembangunan dan
Penggunaan Menara Bersama Telekomunikasi
6. Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri, Menteri Pekerjaan Umum,
Menteri Komunikasi dan Informatika dan Kepala Badan Koordinasi
Penanaman Modal Nomor: 18 Tahun 2009, Nomor: 07/PRT/M/2009,
Nomor: 19/PER/M.KOMINFO/03/2009, Nomor:
3/P/2009 tentang
Pedoman Pembangunan dan Penggunaan Bersama Menara
Telekomunikasi
7. Peraturan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 89
Tahun 2006 tentang Pembangunan dan Penataan Menara Telekomunikasi
Di Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta
8. Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 138 Tahun 2007
tentang Petunjuk Pelaksanaan Pembangunan dan Penataan Menara
Telekomunikasi di Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta
9. Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 126 Tahun 2009
tentang Peta Arahan Persebaran Menara Telekomunikasi Bersama Untuk
Penempatan Makro Seluler (Microcell).
10. Keputusan Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor
1068 Tahun 1997 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penertiban Kegiatan
Membangun dan Menggunakan Bangunan di Daerah Khusus Ibukota
Jakarta
65
b. Bahan Hukum Sekunder
Bahan Hukum Sekunder, yaitu bahan-bahan hukum yang
memberikan penjelasan terhadap bahan hukum primer, terdiri dari:
1) Pustaka di bidang ilmu hukum,
2) Hasil penelitian di bidang hukum,
a) Artikel-artikel ilmiah, baik dari Koran maupun internet,
b) E-book (buku digital),
c. Bahan Hukum Tersier
Bahan hukum tersier adalah bahan yang memberikan petunjuk
terhadap bahan hukum primer dan sekunder, terdiri dari:
1) Kamus Hukum
2) Ensiklopedia65
5. Metode Pengumpulan Bahan Hukum
Pengumpulan
bahan
hukum
primer
dilakukan
dengan
menginventarisasi bahan hukum primer seperti Peraturan Perundang-undangan,
Putusan Hakim di PTUN Jakarta, dan Yurisprudensi yang relevan, serta
Peraturan Perundang-undangan yang berkaitan dengan obyek penelitian.
Pengumpulan bahan hukum sekunder dilakukan dengan cara studi
pustaka terhadap Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata
Usaha Negara, yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun
2004 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang
Peradilan Tata Usaha Negara dan Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009
tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang
Peradilan Tata Usaha Negara, hasil-hasil penelitian, literatur-literatur, makalahmakalah dalam seminar, artikel-artikel, risalah-risalah sidang di PTUN Jakarta
dan Petunjuk Teknis maupun Petunjuk pelaksanaan yang dikeluarkan oleh
Mahkamah Agung, Peraturan Menteri maupun Peraturan Gubernur daerah
Jakarta Selatan yang relevan dengan obyek penelitian.
65
Op. Cit., hlm. 12-13.
66
6. Metode Penyajian Bahan Hukum
Hasil penelitian akan disajikan dalam bentuk teks naratif yang disusun
secara sistematis.66 Sistematis di sini maksudnya adalah keseluruhan bahan
hukum sekunder dan bahan hukum primer yang diperoleh sebagai hasil
penelitian akan dihubungkan satu dengan yang lainnya sesuai dengan pokok
permasalahan yang diteliti, sehingga merupakan satu kesatuan yang utuh
sehingga penyusunan data dapat dipahami dan mudah dipelajari.
7. Metode Analisis Bahan Hukum
Bahan hukum yang diperoleh dari hasil penelitian akan dianalisis
menggunakan metode analisis normatif kualitatif, yaitu dalam bentuk kalimat
yang teratur, runtut, logis, tidak tumpang tindih dan efektif, kemudian
dilakukan pembahasan. Berdasarkan hasil pembahasan diambil kesimpulan
secara induktif sebagai jawaban terrhadap permasalahan yang diteliti.
Soerjono Soekanto dalam hal ini memberikan pendapatnya bahwa
normatif kualitatif yaitu dilakukan dengan cara menjabarkan bahan hokumbahan hukum yang diperoleh berdasarkan norma-norma hukum, teori-teori,
serta doktrin hukum dan kaidah yang relevan dengan pokok permasalahan.67
Sedangkan Roni Hanitijo Soemitro berpendapat bahwa penelitian
normatif adalah penelitian yang bertitik tolak dari peraturan-peraturan yang ada
sebagai norma hukum positif, sedangkan kualitatif dimaksudkan analisis bahan
hukum bertitik tolak pada usaha-usaha penemuan asas-asas dan informasi informasi yang bersifat ungkapan monografis.68
66
M. Syamsudin, Operasionalisasi Penelitian Hukum, PT. RajaGrafindo Persada, 2007, hlm.
119
67
Soerjono Soekanto dan Sri Mamuji, Ibid., hlm. 98.
68
Ronny Hanitijo Soemitro, Op. Cit., hlm. 98.
67
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Hasil penelitian yang berbentuk data sekunder bersumber dari
putusan Peradilan Tata Usaha Negara Jakarta dalam Perkara Nomor:
214/G/2011/Ptun-Jakarta yang diuraikan secara singkat sistematis sebagai
berikut:
1. Para Pihak yang berperkara
1.1 Identitas Penggugat
Nama
: PT. Konsorsium Komet
Alamat
: Jalan Kebagusan I, No.8, Pasar Minggu,
Jakarta Selatan
1.2 Identitas Tergugat
Nama Jabatan
: Kepala Suku Dinas Pengawasan dan
Penertiban Bangunan Kota Administrasi
Jakarta Selatan.
Tempat Kedudukan
: Jalan Prapanca Raya No. 9, Jakarta Selatan
2. Obyek Gugatan
Surat Keputusan Kepala Suku Dinas Pengawasan dan Penerbitan
Bangunan
(P2B)
Kota
722/1.795.2/SPB/S/2011,
Pelaksanaan
Administrasi
tanggal
Pembongkaran
Keputusan Obyek Sengketa).
12
Bangunan
Jakarta
September
(selanjutnya
Selatan
2011,
No.
Tentang
disebut
Surat
68
3. Kasus Posisi Menurut Penggugat
3.1
Penggugat
adalah
pemilik
Menara
Telekomunikasi
dengan
ketinggian + 42 M, terletak di Jl. Bunga Mayang III, Rt. 04, Rw. 01
Kel. Bintaro Kec. Pesanggarahan Jakarta Selatan.
3.2
Bangunan Menara Telekomunikasi milik Penggugat dibangun sejak
Tahun 2003, tetapi Penggugat mendapat izin membangun/keterangan
membangun berdasarkan Keputusan Kepala Suku Dinas Penataan
dan Pengawasan Bangungan Kodya Jakarta Selatan Nomor :
71/KM/S/2005 tanggal 6 Juni 2005, karenanya masa berlaku Menara
tersebut terhitung sejak Tahun 2005 s/d 2008;
3.3
Dengan berakhirnya masa berlaku Menara Telekomunikasi tersebut
pada tahun 2008, maka Penggugat mengajukan izin perpanjangan
kepada Tergugat sesuai dengan persyaratan-persyaratan yang
ditentukan. Tetapi Tergugat
tidak mengeluarkan surat
izin
perpanjangan tersebut, Tergugat secara tiba-tiba mengeluarkan Surat
Perintah Bongkar (SPB) No. 722/1.785.2/SPB.S/2011, tgl 12
September 2011, sehingga dengan di terbitkannya SPB tersebut
Penggugat sangat dirugikan;
3.4
Tindakan Tergugat dalam mengeluarkan Surat Perintah Bongkar
tersebut, selain tidak memenuhi syarat sebagaimana diatur dalam
Surat Keputusan Bersama Menteri Dalam Negeri, Menteri Pekerjaan
Umum, Menteri Informasi Komunikasi dan Badan Penanaman
Modal Dalam ( BKPM) dan Peraturan- Peraturan Gubernur di atas,
69
juga bertentangan dengan Asas-asas Umum Pemerintahan yang
Baik;
3.5
Tindakan Tergugat yang mengeluarkan Surat Keputusan, selaku
Kepala Suku Dinas Pengawasan dan Penertiban bangunan (P2B)
Kota Administrasi Jakarta Selatan No. 722 / 1 .795.2 / SPB.S / 2011,
tanggal 12 September 2011, Tentang Pelaksanaan Pembongkaran
sebagaimana tersebut di atas, karena bertentangan dengan Pasal 53
ayat 2 huruf a Undang-Undang-Undang No.9 Tahun 2004, dan
Peraturan Perundang-undangan yang berlaku yaitu Surat Keputusan
Bersama Menteri Dalam Negeri, Menteri Pekerjaan Umum, Mentri
Informasi dan Komunikasi, dan Badan Koordinasi Penanaman
Modal (BKPM) Jo.Peraturan Gubernur No. 89 Tahun 2006 Jo.
Pergub No. 138 Tahun 2007 dan Pergub No. 126 Tahun 2009, oleh
karenanya Surat Perintah Bongkar tersebut harus dinyatakan TIDAK
SAH atau BATAL;
3.6
Sesuai dengan pasal 11 Surat Keputusan Bersama Empat
Kementrian tersebut pada poin 12 di atas, menyebutkan bahwa:
- Ayat (1) “Permohonan Izin Mendirikan Bangunan Menara
sebagaimana dimasud dalam pasal 10 melampirkan persyaratan
sebagai berikut:
a. Persyaratan administrasi, dan;
b. Persyaratan tehnis;
70
- Ayat (2) Persyaratan administratif sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) huruf a terdiri dari:
a. Status kepemilikan tanah dan bangunan;
b. Surat keterangan rencana kota;
c. Rekomendasi dari instansi terkait khusus untuk kawasan yang
sifat
dan
peruntukannya
memiliki
karateristik
tertentu
sebagaimana dimaksud dalam pasal 9;
d. Akta Pendirian perusahan beserta perubahan yang telah
disahkan oleh Departemen Hukum dan HAM;
e. Surat bukti pencatatan dari Bursa Efek Indonesia (BEJ) bagi
penyedia menara yang berstatus perusahan terbuka;
f. Informasi rencana penggunaan bersama menara;
g. Persetujuan dari warga sekitar alam radius sesuai dengan
ketinggian menara;
h. Dalam
hal
menggunakan
genset
sebagai
catu
daya
dipersyaratkan izin gangguan dan izin genset;
- Ayat (3) “Persyaratan tehnis sebagaimana dimaksud pada ayat ()
huruf b, mengacu pada SNI atau standard baku yang berlaku
secara internasional serta tertuang dalam bentuk dokumen tehnis
sebagai berikut:
a. Gambar rencana tehnis bangunan menara meliputi: situasi,
denah, tampak, potongan dan serta perhitungan struktur;
71
b. Spesifikasi tehnis pondasi menara meliputi data penyelidikan
tanah, jenis pondasi, jumlah titik pondasi, termasuk geotehnik
tanah sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Peraturan
Bersama ini dan;
c. Spesifikasi tehnis struktur atas menara, meliputi baban tetap
(beban sendiri dan beban tambahan) beban sementara (angin
dan gempa), beban khusus, beban maksimum menara yang
dizinkan, system konstruksi ketinggian menara, dan proteksi
terhadap petir;
Persyaratan-persyaratan tersebut di atas, telah dirumuskan dan
dijabarkan secara operasional dalam Peraturan Peraturan Gubernur
No. 89 Tahun 2006 Jo. Pergub No. 138 Tahun 2007 dan Pergub No.
126 Tahun 2009;
Dikeluarkannya
Surat
Perintah
Bongkar
No.
722/1.795.2/SPB/S/2011 Kepala Suku Dinas Pengawasan dan
Penerbitan Bangunan (P2B) Kota Administrasi Jakarta Selatan
tanggal 12 September 2011, selain telah melanggar Peraturan
Perundangan-undangan yang berlaku, juga telah melanggar Asasasas Umum Pemerintahan yang Baik sebagaimana tersebut dalam
pasal 53 Ayat 2 huruf b UU No. 9 Tahun 2004 Jo. UU No. 51 Tahun
2009, yaitu:
a. Kepastian Hukum, yaitu asas yang mengutamakan landasan
Peraturan Perundang-undangan, kepatutan dan keadilan dalam
72
setiap kebijakan penyelenggara Negara. Sedangkan, kepentingan
Penggugat dalam perkara a quo merasakan suatu ketidak adilan
dan ketidakpatutan;
b. Asas Keterbukaan, yaitu asas yang membuka diri terhadap hak
masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar, jujur dan
tidak diskriminatif tentang penyelenggaraan Negara dengan tetap
memperhatikan perlindungan atas hak asasi pribadi, golongan dan
rahasia Negara;
c. Asas Akuntabilitas, yaitu asas yang menentukan bahwa setiap
kegiatan dan hasil akhir dari kegiatan penyelenggara Negara
harus dapat di pertanggungjawabkan kepada masyarakat atau
rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi Negara sesuai
ketentuan perundang- undangan yang berlaku;
3.7
Menurut pasal 53 ayat (2) huruf b, dinyatakan, "Badan atau Pejabat
Tata Usaha Negara pada waktu mengeluarkan atau tidak
mengeluarkan keputusan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
setelah mempertimbangkan semua kepentingan yang tersangkut
dengan keputusan itu seharusnya tidak sampai pada pengambilan
atau tidak pengambilan keputusan tersebut, karena Penggugat dalam
pengurusan perpanjangan izin penggunaan menara telah dilakukan
dan telah memenuhi persyaratan yang diperlukan sebagaimana
semestinya, sehingga kewenangan yang dimiliki oleh Tergugat, telah
menyimpang dan melanggar prosedural yang ditetapkan juga
73
seharusnya
secara
substansial
tentang
pemahaman
persepsi
masyarakat yang keliru. Bahkan, Tergugat selaku pelayan publik
dengan telah berbuat sewenang-wenangnya terhadap Penggugat juga
telah menyimpang dari nalar sehat ( Abus de droit );
3.8
Tergugat juga telah melakukan atas Menara milik Penggugat,
karenanya dengan adanya penyegelan atas Menara Telekomunikasi
milik Penggugat, sangat merugikan, baik dari aspek pelayanan
pengguna
bersama
Menara
(TELKOMSEL-SMART-ESIA),
disamping itu sangat menghambat Penggugat untuk melakukan
pekerjaan
pemeliharaan
Menara
secara
rutin
untuk
mencegah/memperbaiki peralatan yang rusak;
3.9
Penggugat dalam Petitumya memohon agar Ketua Pengadilan Tata
Usaha Negara Jakarta, berkenan memberikan putusan sebagai
berikut:
1. Mengabulkan Gugatan Penggugat seluruhnya;
2. Menyatakan batal atau tidak sah Surat Keputusan Kepala Suku
Dinas Pengawasan dan Penertiban Bangunan (P2B) Kota
Adminstrasi Jakarta Selatan No. 722/1.785.2/ SPB.S/2011 tgl 12
September
2011,
Tentang
Surat
Perintah
Pelaksanaan
Pembongkaran Bangunan;
3. Mewajibkan Tergugat mencabut Surat Keputusan Kepala Suku
Dinas Pengawasan dan Penertiban Bangunan (P2B) Kota
Adminstrasi Jakarta Selatan No.722/1.785.2/ SPB.S/2011 tgl 12
74
September 2011, Tentang Pelaksanaan Perintah Pembongkaran
Bangunan;
4. Menghukum Tergugat membayar biaya yang timbul dalam
perkara ini.
4. Kasus Posisi Menurut Tergugat
4.1
Dalam Eksepsi
4.1.1 Gugatan Penggugat tidak diajukan dalam dalam jangka waktu
sembilan puluh hari seperti ketentuan Pasal 55 UndangUndang Nomor 5 tahun 1986 Jo Undang-Undang Nomor 9
Tahun 2004 Jo Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009;
4.1.2 Gugatan Penggugat tidak sesuai dengan Fakta Hukum dan
tidak berdasarkan hukum. Penggugat menyatakan bahwa
dalam
penerbitan
Surat
722/1.79.2/SPB/S/2011,
Perintah
tanggal
12
Bongkar
September
Nomor:
2011,
bertentangan dengan ketentuan yang berlaku dan Asas-asas
Umum Pemerintahan yang Baik;
4.1.3 Bahwa gugatan Penggugat kurang pihak (Plurium Litis
Consortium), seharusnya Penggugat juga menggugat Kepala
Dinas Tata Ruang Provinsi DKI Jakarta.
4.2
Dalam Pokok Perkara
4.2.1 Tergugat dalam mengeluarkan Surat Perintah Bogkar tersebut,
karena
status
perizinan
Menara
Telekomunikasi
milik
Penggugat tidak mempunyai Izin Mendirikan Bangunan
75
sebagaimana dipersyaratkan Pasal 11 ayat (2) Peraturan
Gubernur DKI Jakarta Nomor 138 Tahun 2007 Tentang
Petunjuk Pelaksanaan Pembangunan Dan Penataan Menara
Telekomunikasi Di Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta
menyatakan ”Setiap Pembangunan Menara Telekomunikasi
yang dilakukan setelah berlakunya Peraturan Gubernur Nomor
89 Tahun 2006 wajib memiliki Izin Mendirikan Bangunan
(IMB);
4.2.2 Oleh karena, Menara Telekomunikasi milik Penggugat tersebut
tanpa IMB, maka sesuai sesuai ketentuan yang diatur dalam
Keputusan Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta
Nomor 1068 Tahun 1997 tentang Petunjuk Pelaksanaan
Penertiban
Kegiatan
Membangun
Dan
Menggunakan
Bangunan Di Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Tergugat
melaksanakan tindakan-tindakan proses penegakan aturan
secara bertahap sebagai berikut :
- SP- 4 Nomor 817/1.785.2/SP4/S/2011, tanggal 16 Agustus
2011;
- Surat Segel Nomor 817/1.785.2/SP/S/2011, tanggal 18
Agustus 2011;
- Surat Perintah Bongkar Nomor 722/1.785.2/SPB/S/2011,
tanggal 12 September 2011;
76
- Selanjutnya atas Surat Perintah Bongkar dimaksud, Sesuai
ketentuan Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 61
Tahun 2008 Tentang Pembentukan Tim Penertiban Menara
Telekomunikasi
Di
Provinsi
DKI
Jakarta
Menara
Telekokomunikasi tersebut harus segera dibongkar karena
beroperasi tanpa izin;
4.2.3 Tergugat menyatakan Menara Telekomunikasi yang dibangun
oleh Penggugat tidak mendapat izin dari warga sekitar.
Penggugat diduga melakukan pemalsuan terhadap perizinan
dari warga sekitar. Terdapat Bukti Penerimaan Pemberitahuan
Pernyataan Ijin Warga/ Tetangga atau Persetujuan Warga
memakai Kop Surat Komet Consortium tertulis tahun 2002,
terdapat pemalsuan tandatangan dan terdapat warga yang
bertandatangan yang bukan warga setempat. Terdapat juga
persetujuan warga bertahun 2001 yang diduga palsu yang
ditandatangani
oleh
Lurah
Bintaro
bernama
ALIF
MUBARAK, namun setelah diteliti di Kelurahan Bintaro nama
Lurah tersebut tidak pernah menjabat dan tidak pernah ada
dalam
susunan
pejabat
pemerintahan
di
lingkungan
Pemerintahan Kota Administrasi Jakarta Selatan; Warga Rt
02/01, Kelurahan Bintaro, tidak pernah menandatangani
persetujuan terhadap berdirinya Menara Telekomunikasi milik
Penggugat.
77
4.2.4 Perlu dijelaskan kepada Penggugat bahwa, Persetujuan Warga
merupakan persyaratan yang utama yang mutlak harus
dipenuhi oleh seorang pemohon untuk mendirikan bangunan
Menara Telekomunikasi. Sebagaimana dimaksud Peraturan
Gubernur Nomor 89 Tahun 2006 Tentang Pembangunan Dan
Penataan Menara Telekomunikasi Di Provinsi DKI Jakarta,
sehingga bila persetujuan warga tersebut Penggugat tidak
penuhi meskipun segala izin atau rekomendasi apapun yang
sudah dkeluarkan sebagai pelengkap atau izin telah dipenuhi
IMB tidak akan diterbitkan;
4.2.5 Penggugat telah mengada-ada karena tidak pernah Tergugat
menerbitkan Surat Perintah Bongkar tanpa sebab dan tanpa
didahului oleh Surat pendahulunya yakni Surat SP- 4 Nomor :
817/1.785.2/SP4/S/2011, tanggal 16 Agustus 2011, dan Surat
Segel Nomor : 817/1.785.2/SP/S/2011, tanggal 18 Agustus
2011, sehingga dalil gugatan Penggugat ini harus ditolak;
4.2.6 Tergugat mengatakan bahwa Surat Perintah Bongkar a quo
dikeluarkan karena memenuhi persyaratan sehingga sekaligus
melaksanakan perintah dari ketentuan peraturan bersama dan
ketentuan yang lainnya antara lain :
- Bahwa, ketentuan Pasal 30 Peraturan Bersama Menteri
Dalam
Negeri,
Komunikasi
Dan
Menteri
Pekerjaan
Informatika
Dan
Umum,
Kepala
Menteri
Badan
78
Koordinasi Penanaman Modal Nomor 19 Tahun 2009,
Nomor
:
07/PRT/M/2009,
Nomor
19/PER/M.KOMINFO/03/2009 dan Nomor : 3/P/2009,
Tentang Pedoman Pembangunan Dan Penggunaan Bersama
Menara Telekomunikasi menyatakan “Dengan berlakunya
Peraturan Bersama ini, semua ketentuan perundangundangan yang terkait dengan Menara Telekomunikasi
tetap
berlaku
sepanjang
tidak
bertentangan
dengan
Peraturan Bersama ini";
- Peraturan Bersama bukanlah hanya satu-satunya peraturan
atau
ketentuan
yang
mengatur
tentang
Menara
Telekomunikasi, dan memperhatikan Pasal 4 ayat (1)
Peraturan Bersama menyatakan “ Pembangunan Menara
wajib memiliki IMB Menara dari Bupati/Walikota, kecuali
untuk Provinsi DKI Jakarta wajib memiliki IMB Menara
dari
Gubernur”.
Memperhatikan
hal
tersebut
serta
ketentuan-ketentuan Menara Telekomunikasi yang ada pada
Provinsi DKI Jakarta tetap masih berlaku dan merupakan
dasar bagi Tergugat untuk melakukan suatu penertiban
terhadap Menara Penggugat yang tidak mempunyai izin
antara lain menyatakan;
- Diktum Kedua Keputusan Gubernur Nomor 61 Tahun
2008 Tentang Pembentukan Tim Penertiban Menara
79
Telekomunikasi
Di
Provinsi
DKI
Jakarta
yang
menyatakan “Melakukan penertiban terhadap Menara
Telekomunikasi yang tidak mempunyai izin sesuai
dengan ketentuan yang berlaku”.
- Pasal 23 Pergub Nomor 138 Tahun 2007 Tentang
Petunjuk Pelaksanaan Pembangunan dan Penataan
Menara Telekomunkasi Di Provinsi DKI Jakarta yang
menyatakan “Penertiban Menara Telekomunikasi yang
tidak dilengkapi izin dan/atau yang sudah habis masa
berlakunya
izin
sesuai
ketentuan
peraturan
ini
dilaksanakan dibawah koordinasi Walikota Administrasi,
Dinas Penataaan dan Pengawasan Bangunan, Dinas
Perhubungan, Dinas Penerangan Jalan Umum dan Sarana
Jaringan Utilitas Provinsi DKI Jakarta";
- Pasal 37 Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2007
menyatakan “. Setiap orang atau Badan dilarang
membangun
Menara/Tower
komunikasi
kecuali
mendapat izin dari Gubernur atau Pejabat yang ditunjuk
- Bahwa, sesuai ketentuan Pasal 5 ayat 1 Peraturan Daerah
No.7 Tahun 1991 Tentang Bangunan Dalam Wilayah
DKI Jakarta menyatakan “Setiap kegiatan membangun
dan atau menggunakan dan atau kelayakan menggunakan
80
bangunan dalam wilayah DKI Jakarta harus memiliki
izin dari Gubernur Kepala Daerah DKI Jakarta’
4.2.7 Berdasarkan uraian ketentuan-ketentuan di atas tidaklah
berdasar
hukum
bila
Penggugat
menyatakan
adanya
pelanggaran ketentuan yang berlaku yang dilakukan oleh
Tergugat atau Tergugat dinyatakan tidak melaksanakan Asasasas Umum Pemerintahan yang Baik sebagaimana dimaksud
Pasal 53 ayat 2 UU No.9 Tahun 2004 Tentang Peradilan Tata
Usaha Negara. Berdasarkan hal tersebut Tergugat mohon agar
Majelis Hakim memutuskan:
1. Menerima semua Eksepsi yang diajukan Tergugat;
2. Menerima seluruh dalil-dalil Tergugat Dalam Pokok
Perkara;
3. Menolak seluruh dalil-dalil gugatan Penggugat atau setidaktidaknya menyatakan gugatan tidak dapat diterima (Niet
Onvanklijke Verklaard);
4. Menyatakan
Surat
Perintah
Bongkar
Nomor
722/1.785.2/SPB/S/2011, tanggal 12 September 2011
diterbitkan telah sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan
tidak melanggar Asas-asas Pemerintahan yang Baik;
5. Menghukum Penggugat untuk membayar biaya perkara ini
untuk keseluruhan;
81
5. Pertimbangan Hukum Hakim
5.1 Dalam Eksepsi
5.1.1 Mengenai Eksepsi tenggang waktu, Tergugat menyatakan
bahwa Surat Perintah Bongkar diterima Penggugat pada
tanggal 12 September 2011 dan Penggugat mengajukan
gugatannya pada tanggal 13 Desember 2011 (91 hari). Tetapi
Penggugat baru menerima Surat Perintah Bongkar pada
tanggal 14 September 2011 di Kantor Kecamatan. Menimbang,
bahwa dari Persidangan a-quo, pada Bukti T-5 dan T-6 yaitu,
masing-masing lembar pengantar surat dari Tergugat kepada
Penggugat, meskipun benar terdapat tanda-tangan penerima
surat
serta
tanda-tangan pengirim
surat
serta tanggal
dikirimnya surat yaitu, dikirim tanggal 9 September 2011
(Bukti T-5) dan dikirim tanggal 12 September 2011 (Bukti T6)
namun,
ternyata
diterimanya Surat
tidak
dilengkapi
dengan
tanggal
Keputusan Objek Sengketa, dengan
demikian melalui Alat Bukti T-5 maupun Bukti T-6 tersebut
tidak dapat membuktikan bahwa, Penggugat telah menerima
Surat Keputusan Objek Sengketa sejak tanggal 12 September
2011. Menimbang, bahwa selanjutnya dalam Persidangan aquo, tidak terdapat bukti lain yang menunjukkan Penggugat
telah mengetahui Surat Keputusan Objek Sengketa melebihi
tenggang waktu 90 (sembilan puluh) hari sebagaimana
82
ditentukan Pasal 55 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986,
oleh karenanya Majelis Hakim berpendapat dalil gugatan
Penggugat yang menyatakan baru mengetahui Surat Keputusan
Objek Sengketa pada tanggal 14 September 2011, dan gugatan
diajukan tanggal 13 Desember 2011, masih dalam tenggang
waktu sebagaimana ditentukan Pasal 55 di atas, maka Eksepsi
Tergugat tentang hal tersebut harus ditolak;
5.1.2 Mengenai Eksepsi gugatan Penggugat tidak berdasarkan fakta
hukum dan tidak berdasarkan hukum. Majelis Hakim
menyatakan bahwa untuk menguji eksepsi Tergugat di atas
berkaitan dengan pengujian apakah Surat Keputusan Objek
Sengketa diterbitkan bertentangan atau tidak bertentangan
dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku maupun
Asas-asas Umum Pemerintahan yang Baik, dan pengujian
tersebut berkaitan dengan pengujian dalam pokok sengketa
karenanya Eksepsi tersebut bukanlah bersifat Ekseptief ;
Menimbang, bahwa karena Eksepsi Tergugat pada angka 2,
tidak bersifat Ekseptief karena berkaitan dengan pengujian
dalam pokok sengketa maka Eksepsi Tergugat pada angka 2
harus ditolak;
5.1.3 Mengenai Eksepsi gugatan Penggugat kurang pihak. Majelis
Hakim mempertimbangkan bahwa, Menimbang, bahwa dalam
gugatan a-quo, keputusan Tata Usaha Negara yang menjadi
83
objek
sengketa
adalah
Surat
Keputusan
Nomor
:
722/1.795.2/SPB/S/2011, tanggal 12 September 2011, Tentang
Pelaksanaan Pembongkaran Bangunan yang diterbitkan oleh
Kepala Suku Dinas Pengawasan Dan Penertiban Bangunan
Kota Administrasi Jakarta Selatan.
Menimbang, bahwa
dengan demikian karena keputusan yang menjadi objek
sengketa gugatan hanyalah keputusan Kepala Suku Dinas
Pengawasan Dan Penertiban Bangunan Kota Administrasi
Jakarta
Selatan
maka,
tidak
beralasan
hukum
untuk
menyertakan instansi lain sebagai subjek Tergugat dalam
gugatan a-quo, karenanya Eksepsi Tergugat pada angka 3 di
atas yang menyatakan gugatan Penggugat kurang pihak harus
ditolak.
5.2 Dalam Pokok Perkara
5.2.1 Menimbang, bahwa dalam Jawabannya, Tergugat mendalilkan
kewenangannya menerbitkan Surat Keputusan objek sengketa
berdasarkan Keputusan Gubernur Kepala Daerah Khusus
Ibukota Jakarta Nomor 1068 Tahun 1997 Tentang Petunjuk
Pelaksanaan
Penertiban
Kegiatan
Membangun
Dan
Menggunakan Bangunan Di Daerah Khusus Ibukota Jakarta;
5.2.2 Menimbang, bahwa untuk membuktikan adanya kewenangan,
Tergugat mengajukan Bukti T-38 yaitu, Keputusan Gubernur
Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 1068 Tahun
84
1997 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Penertiban Kegiatan
Membangun Dan Menggunakan Bangunan Di Daerah Khusus
Ibukota Jakarta;
5.2.3 Menimbang, bahwa mencermati isi yang dimuat dalam
keputusan Objek Sengketa, terkait dengan kewenangan
Tergugat pada Keputusan Gubernur Kepala Daerah Khusus
Ibukota Jakarta Nomor 1068 Tahun 1997, terdapat pada Pasal
18 ayat (5), bahwa pada pokoknya Surat Perintah Bongkar
yang ditanda tangani Tergugat adalah terhadap kegiatan
membangun tanpa izin yang belum dihuni dan tidak dalam
sengketa;
5.2.4 Menimbang,
bahwa
dengan
demikian
Majelis
Hakim
menyimpulkan dalam pemberian kewenangan kepada Tergugat
digantungkan pada syarat kumulatif, dimana apabila salah satu
syarat
tidak terpenuhi
maka, Tergugat
menjadi
tidak
berwenang dalam menerbitkan Surat Keputusan Objek
Sengketa, karenanya yang perlu diteliti lebih lanjut, apakah
bangunan Penggugat a-quo yang akan dibongkar Tergugat
merupakan bangunan tanpa izin yang belum dihuni dan tidak
dalam sengketa;
5.2.5 Menimbang, bahwa dari Bukti P-30=T-13 yaitu, Surat
keputusan Kepala Suku Dinas Penataan dan Pengawasan
Bangunan Kodya Jakarta Selatan Nomor : 71/KM/S/2005,
85
tanggal 6 Juni 2005, berlaku sampai dengan 3 tahun atau
sampai dengan tanggal 6 Juni 2008, untuk bangunan Menara
Telekomunikasi yang terletak di Jl Bunga Mayang III, RT.
004/01, Kel. Bintaro, Kec. Pesanggrahan, Jakarta Selatan;
5.2.6 Menimbang, bahwa dari isi yang dimuat dalam keputusan
objek sengketa pada Bukti P-1=T-4 yaitu, pelaksanaan
pembongkaran terhadap bangunan yang terletak di Jl. Bunga
Mayang III, RT. 004, RW. 01, Kel. Bintaro, Kec.
Pesanggrahan, Jakarta Selatan;
5.2.7 Menimbang, bahwa dari Persidangan a-quo, tidak terdapat alat
bukti lain yang menunjukkan bahwa, bangunan Menara
Penggugat yang terletak di Jl. Bunga Mayang III, RT. 004,
RW. 01, Kel. Bintaro, Kec. Pesanggrahan, Jakarta Selatan,
telah diterbitkan izin perpanjangannya;
5.2.8 Menimbang,
bahwa
dengan
demikian,
Majelis
Hakim
menyimpulkan bahwa benar bangunan Menara Penggugat aquo yang terletak di Jl. Bunga Mayang III, RT. 004, RW. 01,
Kel. Bintaro, Kec. Pesanggrahan, Jakarta Selatan adalah tanpa
izin, karena izin yang lalu telah berakhir dan belum diterbitkan
izin perpanjangannya;
5.2.9 Menimbang, bahwa dari keterangan Saksi-Saksi tersebut, yang
menyatakan bahwa, bangunan Menara Penggugat a-quo masih
beroperasi maka, membuktikan adanya kegiatan dalam
86
bangunan Menara tersebut dan karenanya dapat disimpulkan
bangunan Menara Penggugat dalam keadaan dihuni;
5.2.10 Menimbang, bahwa sesuai Keputusan Gubernur Kepala
Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 1068 Tahun 1997,
Pasal 18 ayat (5), bahwa pada pokoknya Surat Perintah
Bongkar yang ditandatangani Tergugat adalah, terhadap
kegiatan membangun tanpa izin yang belum dihuni dan tidak
dalam sengketa;
5.2.11 Menimbang, bahwa dengan demikian, karena salah satu syarat
pemberian kewenangan tidak terpenuhi maka Majelis Hakim
berpendapat
bahwa,
Tergugat
tidak
berwenang
untuk
menerbitkan Surat Perintah Bongkar (SPB) Objek Sengketa aquo, karena bangunan yang akan dibongkar masih dalam
keadaan beroperasi atau dihuni;
5.2.12 Menimbang, bahwa seharusnya kewenangan menerbitkan
Surat Perintah Bongkar terhadap bangunan tanpa izin yang
dihuni
merupakan
kewenangan
Walikota
sebagaimana
ditentukan dalam Keputusan Gubernur Kepala Daerah Khusus
Ibukota Jakarta Nomor 1068 Tahun 1997, Pasal 18 ayat (6)
butir b, yaitu “membangun tanpa izin dan sudah dihuni”;
5.2.13 Menimbang,
bahwa
dengan
demikian,
terbukti
dalam
Persidangan a-quo, Tergugat tidak dapat membuktikan sumber
kewenangannya dalam menerbitkan Surat Keputusan Objek
87
Sengketa karenanya sesuai ketentuan Pasal 53 ayat (2) a
Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 maka, tindakan
Tergugat dalam menerbitkan Surat Keputusan Objek Sengketa
yaitu,
surat
keputusan
Tergugat
Nomor
:
722/1.795.2/SPB/S/2011 tanggal 12 September 2011, Tentang
Pelaksanaan Pembongkaran Bangunan harus dinyatakan tidak
sah;
5.2.14 Menimbang bahwa, karena Surat Keputusan Objek Sengketa
telah dinyatakan tidak sah maka diwajibkan kepada Tergugat
untuk mencabutnya;
5.2.15 Menimbang,
dikabulkan
bahwa
dan
oleh
Objek
karena
gugatan
Penggugat
adalah
mengenai
Sengketa
pembongkaran bangunan maka, untuk mencegah agar pokok
gugatan Penggugat tidak sia-sia (illusoir) maka tuntutan
Penggugat untuk menunda Pelaksanaan Surat Keputusan
Objek Sengketa harus dikabulkan dan oleh karena itu memiliki
konsekwensi yuridis yaitu, ditundanya pelaksanaan Surat
Keputusan Tergugat Nomor : 722/1.795.2/SPB/S/2011, tanggal
12 September 2011, Tentang Pelaksanaan Pembongkaran
Bangunan yang terletak di Jl. Bunga Mayang III, RT. 004,
RW. 01, Kelurahan Bintaro, Kecamatan Pesanggrahan, Kota
Administrasi Jakarta Selatan, sampai ada Putusan Pengadilan
yang memperoleh Kekuatan Hukum Tetap;
88
5.2.16 Menimbang, bahwa berdasarkan keseluruhan pertimbangan di
atas, maka seluruh tuntutan Penggugat telah dipertimbangkan
dan telah dikabulkan seluruhnya;
5.2.17 Menimbang, bahwa sesuai ketentuan Pasal 110 UndangUndang Nomor 5 Tahun 1986 berbunyi, “Pihak yang
dikalahkan
untuk
seluruhnya
atau
sebagian
dihukum
membayar biaya perkara”;
5.2.18 Menimbang, bahwa oleh karena gugatan Penggugat telah
dikabulkan seluruhnya, maka, Tergugat harus dinyatakan
sebagai pihak yang kalah dan dihukum untuk membayar biaya
perkara yang jumlahnya akan ditentukan dalam Amar Putusan
ini;
6. Amar Putusan
6.1 Dalam Eksepsi
Menolak Eksepsi Tergugat ;
6.2 Dalam Pokok Sengketa
1. Mengabulkan gugatan Penggugat seluruhnya;
2. Menyatakan tidak sah Surat Keputusan Tergugat Nomor:
722/1.795.2/SPB/S/2011, tanggal 12 September 2011, Tentang
Pelaksanaan Pembongkaran Bangunan yang terletak di Jl. Bunga
Mayang III, RT. 004, RW. 01, Kelurahan Bintaro, Kecamatan
Pesanggrahan, Kota Administrasi Jakarta Selatan;
89
3. Mewajibkan Tergugat untuk mencabut Surat Keputusan Nomor:
722/1.795.2/SPB/S/2011, tanggal 12 September 2011, Tentang
Pelaksanaan Pembongkaran Bangunan yang terletak di Jl. Bunga
Mayang III, RT. 004, RW. 01, Kelurahan Bintaro, Kecamatan
Pesanggrahan, Kota Administrasi Jakarta Selatan;
4. Menghukum Tergugat untuk Membayar Biaya Perkara sejumlah
Rp.354.000.- (Tiga ratus lima puluh empat ribu rupiah);
90
B. Pembahasan
1. Pertimbangan hukum Hakim dalam membatalkan Surat Keputusan
Kepala Suku Dinas Pengawasan dan Penertiban Bangunan (P2B)
Kota Administrasi Jakarta Selatan yang mengeluarkan Surat
Keputusan Nomor: 722/1.785.2/SPB.S/2011 tentang pelaksanaan
Pembongkaran Bangunan.
Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945, menyatakan bahwa
negara Indonesia merupakan negara hukum. Negara hukum menentukan
bahwa pemerintah harus tunduk pada hukum, bukannya hukum yang harus
tunduk pada pemerintah. Dalam negara hukum, eksistensi hukum
dijadikan sebagai instrumen dalam menata kehidupan kenegaraan,
pemerintahan dan kemasyarakatan. Dianutnya negara hukum mengandung
makna bahwa hukum ditempatkan sebagai panglima dalam menyelesaikan
suatu permasalahan dalam pemerintahan. Perwujudan negara hukum salah
satunya dengan dibentuknya Kekuasaan Kehakiman. Hal ini dapat dilihat
dalam Pasal 24 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 yang menyatakan
bahwa: Kekuasaan Kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk
menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan.
Begitupula dengan Pasal 24 ayat (2) menyatakan bahwa: Kekuasaan
Kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan
yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan
peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata
usaha negara, dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi. Berdasarkan pasal
91
tersebut, Hakim memiliki kebebasan dan mandiri dalam memutus dan
menyelesaikan
suatu
perkara
yang
bertujuan
untuk
memperkuat
penyelenggaraan kekuasaan kehakiman yang merdeka dan mewujudkan
sistem peradilan terpadu (Integrated Justice System).
Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang KetentuanKetentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman juga menentukan bahwa susunan,
kekuasaan serta hukum acara Mahkamah Agung dan badan peradilan yang
berada di bawahnya diatur dalam undang-undang. Atas dasar ketentuan
tersebut, untuk badan peradilan yang ada di lingkungan Peradilan Tata
Usaha Negara telah diatur di dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986
tentang Peradilan Tata Usaha Negara, yang telah diubah dengan UndangUndang Nomor 9 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-Undang
Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, kemudian
mengalami perubahan kedua dengan Undang-Undang Nomor 51 Tahun
2009 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun
1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara.
Peradilan Tata Usaha Negara bertujuan untuk melindungi
kepentingan rakyat dan memberikan perlindungan hukum sesuai dengan
konsep dari negara hukum. Dengan adanya Peradilan Tata Usaha Negara
diharapkan perbuatan atau tindakan yang dilakukan oleh pemerintah
(Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara) harus berdasarkan Peraturan
Perundang-undangan yang berlaku dan Asas-asas Umum Pemerintahan
yang Baik, sehingga setiap keputusan yang dikeluarkan oleh pemerintah
92
itu tidak bertentangan dengan Peraturan Perundang-undangan dan Asasasas Umum Pemerintahan yang Baik.
Wewenang peradilan tata usaha negara terdapat dalam Pasal 47
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 yang menentukan bahwa
wewenang peradilan tata usaha negara adalah memeriksa, memutus, dan
menyelesaikan sengketa tata usaha negara. Sedangkan pengertian sengketa
tata usaha negara itu sendiri terdapat dalam Pasal 1 angka 10 UndangUndang Nomor 51 Tahun 2009, yang berbunyi:
”Sengketa tata usaha negara adalah sengketa yang timbul dalam
bidang Tata Usaha Negara antara orang atau badan hukum perdata
dengan Badan atau pejabat Tata Usaha Negara baik di pusat maupun
di daerah, sebagai akibat dikeluarkannya Keputusan Tata Usaha
Negara termasuk sengketa kepegawaian berdasarkan peraturan
perundang-undangan.”
Berdasarkan penjelasan di atas dapat diketahui bahwa pihak-pihak yang
menjadi obyek sengketa tata usaha negara adalah orang (individu) atau
badan hukum perdata dengan badan atau pejabat tata usaha negara.
Sengketa Tata
Usaha
Negara selalu sebagai
akibat dari
dikeluarkannya Keputusan Tata Usaha Negara. Antara sengketa Tata
Usaha Negara dengan dikeluarkannya Keputusan Tata Usaha Negara
selalu harus ada hubungan sebab akibat. Tanpa dikeluarkannya Keputusan
Tata Usaha Negara, tidak mungkin sampai terjadi adanya sengketa Tata
Usaha Negara. Mengenai apa yang dimaksud dengan Keputusan Tata
Usaha Negara tertuang dalam Pasal 1 angka 9 Undang-Undang Nomor 51
Tahun 2009 yang berbunyi Keputusan Tata Usaha Negara adalah:
93
“Suatu penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat
Tata Usaha Negara yang berisi tindakan hukum Tata Usaha Negara
yang berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang
bersifat konkrit, individual, dan final, yang menimbulkan akibat
hukum bagi seseorang atau badan hukum perdata.”
Keputusan Tata Usaha Negara yang dikeluarkan oleh Badan atau
Pejabat Tata Usaha Negara, pada dasarnya badan atau pejabat tata usaha
negara tersebut dalam mengambil keputusan mengemban kepentingan
umum atau kepentingan masyarakat, tetapi dalam hal atau kasus tertentu
kemungkinan keputusan itu dapat menimbulkan kerugian bagi seseorang
atau badan hukum perdata, sehingga pihak yang dirugikan itu diberi
kesempatan untuk mengajukan gugatan ke peradilan tata usaha negara.
Hak gugat diatur dalam Pasal 53 ayat (1) Undang-Undang Nomor 9 Tahun
2004, yang menyatakan:
“Orang atau badan hukum perdata yang merasa dirugikan oleh suatu
Keputusan Tata Usaha Negara dapat mengajukan gugatan tertulis ke
pengadilan yang berwenang dengan tuntutan agar Keputusan Tata
Usaha Negara yang disengketakan dinyatakan batal atau tidak sah
dengan atau tanpa disertai tuntutan ganti rugi dan atau rehabilitasi.”
Berdasarkan penjelasan dalam Pasal 53 ayat (1) Undang-Undang
Nomor 9 Tahun 2004, seseorang yang mengajukan gugatan di peradilan
tata usaha negara, harus gugatan itu mempunyai suatu kepentingan yang
dirugikan oleh Keputusan Tata Usaha Negara yang dikeluarkan oleh badan
atau pejabat tata usaha negara. S.F. Marbun, mengemukakan bahwa
kepentingan penggugat yang dirugikan harus bersifat “langsung terkena”,
artinya kepentingan tersebut tidak boleh terselubung dibalik kepentingan
orang lain (rechtstreeks belang) sesuai dengan adagium yang menyatakan
94
Point d’interest, Point d’action. Th. Ketut Suraputra, mengemukakan
bahwa pengertian “merasa” pada perumusan dari ketentuan yang terdapat
dalam Pasal 53 ayat (1) dapat diartikan sebagai: kepentingan tersebut
belum perlu sudah nyata-nyata terjadi, sebagaimana umpamanya apabila
seseorang mendapat izin bangunan, maka tetangganya sudah dapat
mengajukan gugatan terhadap Keputusan Tata Usaha Negara tersebut
bilamana ia merasa kepentingannya dirugikan. Berbeda dengan Indroharto
yang dapat menggugat ke Pengadilan tidak terbatas hanya pada Penggugat
yang langsung kepentingannya telah dirugikan, tetapi juga individuindividu yang merupakan pihak ketiga yang berkepentingan. Kelompok ini
Keputusan Tata Usaha Negara merasa terkena kepentingannya secara tidak
langsung dengan dikeluarkannya suatu Keputusan Tata Usaha Negara
yang sebenarnya di alamatkan kepada orang lain dan juga organisasiorganisasi
kemasyarakatan
sebagai
pihak
ketiga
dapat
merasa
kepentingannya karena keluarnya suatu Keputusan Tata Usaha Negara itu
dianggapnya bertentangan dengan tujuan-tujuan mereka perjuangkan
sesuai dengan anggaran dasarnya.
Pasal 53 ayat (2) Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 Tentang
Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 Tentang Peradilan
Tata Usaha Negara mengatur Keputusan Tata Usaha Negara yang
berpotensi untuk diajukan ke pengadilan tata usaha negara yakni apabila
tersebut bertentangan dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku
dan bertentangan dengan Asas-asas Umum Pemerintahan yang Baik.
95
Penjelasan Pasal 53 ayat (2) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986,
keabsahan suatu Keputusan Tata Usaha Negara dapat ditinjau dari 3 (tiga)
aspek, yaitu: Kewenangan, Substansi dan Prosedur. Apabila Keputusan
Tata Usaha Negara itu dikeluarkan oleh badan atau pejabat yang tidak
berwenang, dan substansi serta prosedur tidak berdasarkan Peraturan
Perundang-undangan yang berlaku dan bertentangan dengan Asas-asas
Umum Pemerintahan yang Baik, maka Keputusan Tata Usaha Negara
tersebut dikategorikan sebagai Keputusan Tata Usaha Negara yang
bertentangan dengan hukum. Begitupula Philipus M. Hadjon dalam
menyimpulkan penjelasan pasal 53 ayat (2), yang berkaitan dengan alasan
dasar menggugat yakni:
1. bertentangan dengan ketentuan-ketentuan dalam peraturan perundangundangan yang bersifat prosedural/formal;
2. bertentangan dengan ketentuan-ketentuan dalam peraturan perundangundangan yang bersifat materiel/substansial;
3. dikeluarkan oleh badan atau pejabat tata usaha negara yang tidak
berwenang.69
Tiga hal tersebut diukur dengan peraturan tertulis dan atau Asasasas Umum Pemerintahan yang Baik. Dengan demikian sebetulnya alasan
menggugat cukup dua, secara alternative dan komulatif, yaitu:
a. Keputusan Tata Usaha Negara tersebut bertentangan dengan Peraturan
Perundang-undangan.
b. Keputusan Tata Usaha Negara tersebut bertentangan dengan Asas-asas
Umum Pemerintahan yang Baik.
69
Philiphus M. Hadjon, Op. Cit., hlm. 326-327
96
Berdasarkan
hasil
penelitian
mengenai
para
pihak
dalam
hubungannya dengan ketentuan Pasal 53 ayat (1) Undang-Undang Nomor
9 Tahun 2004, Penggugat telah memenuhi persyaratan sebagai subyek
hukum. Penggugat berupa “badan hukum perdata” berkaitan dengan
kepentingannya sebagai pihak yang dirugikan karena terbitnya Surat
Keputusan Kepala Suku Dinas Pengawasan dan Penertiban Bangunan
(P2B) Kota Administrasi Jakarta Selatan yang mengeluarkan Surat
Perintah Bongkar terhadap bangunan Menara milik penggugat.
Pasal 53 ayat (1) Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 terdapat
makna bahwa peradilan tata usaha negara hanya terbatas pada 1 (satu)
macam tuntutan pokok yakni tuntutan agar Keputusan Tata Usaha Negara
yang menjadi obyek sengketa untuk dinyatakan batal atau tidak sah. Isi
petitum atau tuntutan yang diajukan penggugat juga menghendaki bahwa
Majelis Hakim menyatakan batal atau tidak sah Keputusan Tata Usaha
Negara yang dikeluarkan oleh Kepala Suku Dinas Pengawasan dan
Penertiban Bangunan (P2B) Kota Administrasi Jakarta Selatan. Isi petitum
atau gugatan yang diajukan penggugat dikategorikan sebagai tuntutan yang
diatur dalam Pasal 53 ayat (1) Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004.
Mengenai petitum atau tuntutan penggugat yang menghendaki bahwa
Majelis Hakim agar mencabut surat keputusan obyek sengketa, ini
merupakan salah satu konsekuensi yuridis mengenai kewajiban tergugat
sebagai badan atau pejabat tata usaha negara apabila nantinya tergugat
dinyatakan kalah dalam amar putusan Majelis Hakim, hal ini sesuai
97
dengan Pasal 97 ayat (9) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986. Kasus
posisi secara singkat dapat dideskripsikan sebagai berikut:
1. Bangunan Menara Telekomunikasi milik Penggugat dibangun sejak
Tahun 2003, tetapi Penggugat mendapat izin membangun/keterangan
membangun berdasarkan Keputusan Kepala Suku Dinas Penataan dan
Pengawasan Bangungan Kodya Jakarta Selatan Nomor : 71/KM/S/2005
tanggal 6 Juni 2005, karenanya masa berlaku Menara tersebut terhitung
sejak Tahun 2005 s/d 2008;
2. Dengan berakhirnya masa berlaku Menara Telekomunikasi tersebut
pada tahun 2008, maka Penggugat mengajukan izin perpanjangan
kepada
Tergugat
sesuai
dengan
persyaratan-persyaratan
yang
ditentukan.
3. Penggugat tidak mengetahui mengapa tergugat mengeluarkan Surat
Perintah Bongkar, bukannya surat perpanjangan izin Menara yang
diajukan oleh penggugat.
4. Ternyata Tergugat dalam mengeluarkan Surat Perintah Bongkar ini
mendasarkan pada alasan bahwa para warga sekitar tidak menghendaki
adanya perpanjangan Menara tersebut unuk beroperasi lagi, karena
merugikan masyarakat.
5. Hal ini disangkal penggugat, karena selama ini warga tidak keberatan
dengan berdirinya Menara tersebut dari tahun 2005 hingga tahun 2008,
tetapi warga malah medapatkan manfaat.
98
6. Menurut Penggugat, Tergugat dalam mengeluarkan Surat Perintah
Bongkar menyalahi aturan yang ada yaitu bertentangan dengan
Peraturan Perundang-undangan yang berlaku dan tidak sesuai dengan
Asas-asas Umum Pemerintahan yang Baik.
7. Tergugat dalam hal ini melanggar kewenangan yang ada padanya,
sehingga Penggugat mohon kepada Majelis Hakim untuk menyatakan
batal atau tidak sah terhadap obyek sengketa tersebut.
Pertimbangan hukum dalam sengketa a-quo adalah sebagai berikut:
1. Pokok permasalahan dalam Gugatan yang diajukan oleh Penggugat
adalah apakah obyek sengketa yang dikeluarkan oleh Tergugat tidak
sesuai dengan kewenangan Tergugat yakni bertentangan dengan
Peraturan Perundang-undangan yang berlaku serta bertentangan dengan
Asas-asas Umum Pemerintahan yang Baik ataukah tidak.
2. Kewenangan Tergugat menerbitkan Surat Perintah Bongkar hanyalah
pada ketentuan Pasal 18 ayat (5) Keputusan Gubernur Kepala Daerah
Khusus Ibukota Jakarta Nomor 1068 Tahun 1997 Tentang Petunjuk
Pelaksanaan Penertiban Kegiatan Membangun Dan Menggunakan
Bangunan Di Daerah Khusus Ibukota Jakarta yang intinya terhadap
kegiatan membangun tanpa izin yang belum dihuni dan tidak dalam
sengketa.
3. Kewenangan Walikota Jakarta Selatan dalam menerbitkan Surat
Perintah Bongkar ditentukan pada Pasal 18 ayat (6) butir b Keputusan
Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 1068 Tahun
99
1997 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Penertiban Kegiatan Membangun
Dan Menggunakan Bangunan Di Daerah Khusus Ibukota Jakarta yang
intinya membangun tanpa izin dan sudah dihuni.
4. Menurut keterangan saksi Drs. Achmad Hilman, Poerwono Arifin, S.H.
dan Arie Kusumastuti M, S.H., Mkn, Majelis Hakim menyimpulkan
bahwa bangunan Menara Telekomunikasi itu berpenghuni, oleh
karenanya ketentuan yang lebih tepat diterapkan dalam sengketa a-quo
adalah Pasal 18 ayat (6) huruf b Keputusan Gubernur Kepala Daerah
Khusus Ibukota Jakarta Nomor 1068 Tahun 1997 Tentang Petunjuk
Pelaksanaan Penertiban Kegiatan Membangun Dan Menggunakan
Bangunan Di Daerah Khusus Ibukota Jakarta.
5. Berdasarkan Pasal 18 ayat (6) huruf b, yang berwenang menerbitkan
Surat Perintah Bongkar terhadap bangunan Menara Telekomunikasi
yang berpenghuni adalah Walikota Jakarta Selatan, dengan demikian
Tegugat (Kepala Suku Dinas Pengawasan dan Penertiban Bangunan
(P2B)
Kota
Administrasi
Jakarta
Selatan)
tidak
berwenang
mengeluarkan Surat Keputusan Obyek Sengketa.
6. Berdasarkan hal tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa tindakan
Tergugat menerbitkan Surat Keputusan Obyek Sengketa tidak
berdasarkan kewenangannya dan di luar batas kewajaran, sehingga
Surat Keputusan Obyek Sengketa yang dikeluarkan Tergugat harus
dibatalkan.
100
Sesuai dengan kronologi kasus posisi dan pertimbangan hukum
Majelis Hakim di atas, dapat dikemukakan adanya Penerapan Peraturan
Perundang-undangan
sebagai
dasar
pertimbangan
hukum
dalam
membatalkan Surat Keputusan Obyek Sengketa. Peraturan perundangundangan yang dimaksud adalah Keputusan Gubernur Kepala Daerah
Khusus Ibukota Jakarta Nomor 1068 Tahun 1997 Tentang Petunjuk
Pelaksanaan Penertiban Kegiatan Membangun Dan Menggunakan
Bangunan Di Daerah Khusus Ibukota Jakarta.
Keputusan Tata Usaha Negara dianggap sah menurut hukum
(rechtsgelding) apabila syarat materiil dan syarat formil dari pembuatan
Keputusan Tata Usaha Negara terpenuhi, artinya keputusan dapat diterima
sebagai suatu bagian dari tertib hukum atau sejalan dengan ketentuan
hukum yang ada. Sebaliknya Suatu Keputusan Tata Usaha Negara apabila
dalam pembuatannya tidak memenuhi syarat materiil dan formil,
Keputusan Tata Usaha Negara tersebut mengandung cacat hukum yang
berakibat Keputusan Tata Usaha Negara dapat dibatalkan. Dalam Pasal 53
ayat (2) Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004, mengatur juga mengenai
keabsahan suatu Keputusan Tata Usaha Negara yang menjelaskan
Keputusan Tata Usaha Negara dinyatakan batal atau tidak sah, jika:
a. Keputusan Tata Usaha Negara yang digugat bertentangan dengan
Peraturan Perundang-undangan yang berlaku.
b. Keputusan Tata Usah Negara yang digugat bertentangan dengan Asasasas Umum Pemerintahan yang Baik.
101
Adapun pengertian Peraturan Perundang-undangan terdapat dalam
beberapa ketentuan yaitu:
1. Pasal 1 angka 2 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang
Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Peraturan perundangundangan adalah peraturan tertulis yang memuat norma hukum yang
mengikat secara umum dan dibentuk atau ditetapkan oleh lembaga
negara atau pejabat yang berwenang melalui prosedur yang ditetapkan
dalam Peraturan Perundang-undangan.
2. Pasal 8 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan
Peraturan Perundang-undangan, menyatakan bahwa:
(1) Jenis Peraturan Perundang-undangan selain sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 7 ayat (1) mencakup peraturan yang ditetapkan oleh
Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat,
Dewan Perwakilan Daerah, Mahkamah Agung, Mahkamah
Konstitusi, Badan Pemeriksa Keuangan, Komisi Yudisial, Bank
Indonesia, Menteri, badan, lembaga, atau komisi yang setingkat
yang dibentuk dengan Undang-Undnag atau Pemerintah atas
perintah Undang-Undnag, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
Provinsi, Gubernur, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
Kabupaten/Kota, Bupati/Walikota, Kepala Desa atau yag setingkat.
(2) Peraturan Perundang-undangan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) diakui keberadaannya dan mempunyai kekuatan hukum
mengikat sepanjang diperintahkan oleh Peraturan Perundangundangan yang lebih tinggi atau dibentuk berdasarkan kewenangan.
3. Pasal
100
Undang-Undang
Nomor
12
Tahun
2011
tentang
Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, menyatakan bahwa:
“Semua Keputusan Presiden, Keputusan Menteri, Keputusan
Gubernur, Keputusan Bupati/Walikota, atau keputusan pejabat
lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 97 yang sifatnya
mengatur, yang suda ada sebelum Undang-Undang ini berlaku,
harus dimaknai sebagai peraturan, sepanjang tidak bertentangan
dengan Undang-Undang ini.”
102
4. Penjelasan Pasal 1 angka 2 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986
tentang Peradilan Tata Usaha Negara, menyatakan bahwa yang
dimaksud peraturan perundang-undangan adalah semua peraturan yang
bersifat mengikat secara umum yang dikeluarkan oleh Badan
Perwakilan Rakyat bersama Pemerintah baik di tingkat pusat maupun di
tingkat daerah, serta semua Keputusan Badan atau Pejabat Tata Usaha
Negara, baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah, yang juga
bersifat mengikat secara umum.
Berdasarkan pengertian Peraturan Perundang-undangan yang
dijelaskan di atas, suatu produk hukum yang dikatakan sebagai Peraturan
Perundang-undangan, apabila di keluarkan oleh Badan atau Pejabat Tata
Usaha Negara yang berwenang, mengatur hal-hal yang umum dan abstrak
(bersifat umum) dan dibuat berdasarkan prosedur yang berlaku. Dengan
demikian pengertian Peraturan Perundang-undangan tidak mengacu
kepada nama produknya hukum itu, tetapi siapa yang mengeluarkannya
dan mengatur hal apa yang diatur.
Berikutnya
adalah
berdasarkan
doktrin
tindakan
hukum
pemerintahan, yang dimaksud Peraturan Perundang-undangan adalah
merupakan contoh dari besluit atau regeling, menurut tindakan hukum
pemerintahan regeling adalah suatu tindakan hukum pemerintah dalam
hukum publik yang ditujukan untuk umum dan bersifat sepihak.
Berdasarkan Peraturan Perundang-undangan dan doktrin di atas, maka
Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) termasuk pengertian Peraturan Perundangundangan. Adapun Keputusan Tata Usaha Negara yang dikeluarkannya
103
oleh Keputusan Tata Usaha Negara tersebut berdasarkan Peraturan
Perundang-undangan dan dokrinal dikategorikan sebagai Peraturan
Perundang-undangan, begitupula Juklak mengenai Keputusan Gubernur
Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 1068 Tahun 1997 Tentang
Petunjuk
Pelaksanaan
Penertiban
Kegiatan
Membangun
Dan
Menggunakan Bangunan Di Daerah Khusus Ibukota Jakarta termasuk
dalam kategori Peraturan Perundang-undangan, sehingga digunakan
sebagai dasar pertimbangan hukum dalam membatalkan Surat Keputusan
Obyek Sengketa.
Penjelasan Pasal 53 ayat (2) Undang-Undang Nomor 9 Tahun
2004, suatu Keputusan Tata Usaha Negara bertentangan dengan Peraturan
Perundang-undangan apabila dalam pembuatannya Keputusan Tata Usaha
Negara tersebut melanggar aspek kewenangan, substansi dan prosedur.
Keputusan
Tata
Usaha
Negara
yang
mengesampingkan
aspek
kewenangan, substansi dan prosedur dinilai bertentangan dengan hukum
(onrehmatig). Keputusan Tata Usaha Negara yang bertentangan dengan
Peraturan Perundang-undangan yang berlaku, apabila keputusan yang
bersangkutan:
a. Bertentangan dengan ketentuan dalam peraturan perundang-undangan
yang bersifat prosedural/formil, keputusan tersebut dikeluarkan
berdasarkan peraturan dasarnya dan dalam pembuatannya juga harus
memperhatikan cara membuat keputusan yang dimaksud.
b. Bertentangan dengan ketentuan dalam peraturan perundang-undangan
yang bersifat materiil/substansial, meliputi pelaksanaan dan
penggunaan kewenangan apakah secara materiil telah memenuhi
peraturan perundang-undangan.70
70
Philipus M. Hadjon dkk., Op. Cit., hlm. 330
104
Berdasarkan uraian di atas Keputusan Tata Usaha Negara dalam
perkara ini tidak memenuhi persyaratan untuk dikatakan sebagai
Keputusan Tata Usaha Negara yang sah, karena bertentangan dengan
Peraturan Perundang-undangan yaitu ditinjau dari aspek kewenangan.
Lebih lanjut mengenai keabsahan Keputusan Tata Usaha Negara ditinjau
dari aspek kewenangan, W. Riawan Tjandra memberikan penegasan
bahwa Keputusan Tata Usaha Negara yang dikeluarkan Badan atau
Pejabat Tata Usaha Negara yang tidak berwenang (onvoegdheid) disebut
keputusan yang cacat mengenai kewenangan (bevoegdheidsgebreken),
yang meliputi:
b. Onbevoegdheid riatione materiae, yaitu apabila suatu keputusan tidak
ada dasarnya dalam peraturan perundang-undangan atau apabila
keputusan itu dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara
yang tidak berwenang mengeluarkannya.
c. Onbevoegdheid riatione loci, yaitu keputusan yang diambil oleh Badan
atau Pejabat Tata Usaha Negara tersebut menyangkut hal yang berada
di luar batas wilayahnya (geografis).
d. Onbevoegdheid riatione temporis, yaitu Badan atau Pejabat Tata Usaha
Negara belum berwenang atau tidak berwenang lagi untuk
mengeluarkan Keputusan Tata Usaha Negara, misalnya karena jangka
waktunya sudah lampau atau menerapkan peraturan lain sementara itu
sudah berlaku peraturan baru.71
Berdasarkan penjelasan di atas dapat diketahui bahwa Surat
Keputusan Obyek Sengketa cacat hukum ditinjau dari aspek kewenangan
yang biasa disebut Onbevoegdheid riatione materiae. Dikarenakan Surat
Keputusan Obyek Sengketa dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat Tata
Usaha Negara yang tidak berwenang. Hal ini dapat dilihat ketika Kepala
Suku Dinas Pengawasan dan Penertiban Bangunan (P2B) Kota
71
Riawan Tjandra, Op. Cit., hlm. 73
105
Administrasi Jakarta Selatan mengeluarkan Surat Perintah Bongkar yang
bukan kewenangannya, melainkan kewenangan Walikota Jakarta Selatan.
Terkait dengan kewenangan, S.F. MARBUN72 mengemukakan
pengertian “kewenangan” (authority, gezag) adalah kekuasaan yang
diformalkan, baik terhadap suatu bidang pemerintahan tertentu yang
berasal dari kekuasaan legislatif atau dari kekuasaan pemerintah,
sedangkan pengertian “wewenang” (competence, bevoegdheid), hanyalah
mengenai onderdil tertentu atau bidang tertentu saja. Begitupula Bagir
Manan mengatakan bahwa wewenang dalam bahasa hukum tidak sama
dengan kekuasaan (macht). Kekuasaan hanya menggambarkan hak untuk
berbuat atau tidak berbuat. Dalam hukum, wewenang sekaligus berarti hak
dan kewajiban (rechten en plichten). Dalam kaitan dengan otonomi
daerah, hak mengandung pengertian kekuasaan untuk mengatur sendiri
(zelfregelen) dan mengelola sendiri (zelfbesturen), sedangkan kewajiban
secara horizontal berarti kekuasaan untuk menyelenggarakan pemerintahan
sebagaimana mestinya. Sedangkan secara vertikal berarti kekuasaan untuk
menjalankan pemerintahan dalam satu tertib ikatan pemerintahan negara
secara keseluruhan.73
Pertimbangan hukum Hakim dalam perkara a-quo pada intinya
mempersoalkan kewenangan Tergugat dalam mengeluarkan
Surat
Keputusan Obyek Sengketa. Sesuai dengan Peraturan Perundangundangan yang berlaku, tata cara dikeluarkannya Keputusan Tata Usaha
72
R. Wiyono, Op. Cit., hlm. 64
Bagir Manan, Wewenang Provinsi, Kabupaten, dan Kota dalam Rangka Otonomi Daerah,
Bandung: Fakultas Hukum Unpad, 2000, hlm. 100
73
106
Negara memiliki beberapa tahapan, yang apabila salah satu syarat dalam
tahapan tersebut tidak terpenuhi maka Keputusan Tata Usaha Negara itu
dapat dibatalkan. Dalam perkara ini Tergugat telah melakukan kesalahan
yaitu mengeluarkan Surat Keputusan Obyek Sengketa yang bukan
kewenangannya melainkan kewenangan Walikota Jakarta Selatan,
sehingga Surat Keputusan Obyek Sengketa harus dinyatakan batal.
2. Kesesuaian antara pertimbangan hukum Hakim dalam membatalkan
Surat Keputusan Kepala Suku Dinas Pengawasan dan Penertiban
Bangunan
(P2B)
Kota
Administrasi
Jakarta
Selatan
yang
mengeluarkan Surat Keputusan Nomor: 722/1.785.2/SPB.S/2011
tentang pelaksanaan Pembongkaran Bangunan, dengan Peraturan
Perundang-undangan dan Asas-asas Umum Pemerintahan yang Baik.
Peradilan Tata Usaha Negara merupakan peradilan bagi pencari
keadilan untuk menyelesaikan sengketa Tata Usaha Negara sebagaimana
yang diatur dalam Pasal 47 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986.
Pengertian sengketa Tata Usaha Negara ditentukan dalam Pasal 1 angka 10
Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009, yang menyatakan sengketa Tata
Usaha Negara adalah sengketa yang timbul dalam bidang Tata Usaha
Negara antara orang atau badan hukum perdata dengan Badan atau Pejabat
Tata Usaha Negara baik di pusat maupun di daerah, sebagai akibat
dikeluarkannya Keputusan Tata Usaha Negara termasuk sengketa
kepegawaian berdasarkan Peraturan Perundang-undangan.
107
Adanya
kewenangan
Peradilan
Tata
Usaha
Negara
yang
memeriksa, memutus dan menyelesaikan Sengketa Tata Usaha Negara,
serta diaturnya hak gugat yang terdapat dalam Pasal 53 ayat (1) UndangUndang Nomor 9 Tahun 2004, sehingga apabila ada orang atau Badan
Hukum Perdata yang merasa dirugikan dengan terbitnya Keputusan Tata
Usaha Negara yang merugikan dirinya, maka ia dapat mempunyai hak
gugat untuk mengajukan gugatan ke Peradilan Tata Usaha Negara.
Gugatan kepada Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara diajukan
secara tertulis dengan permintaan agar Majelis Hakim memutus Keputusan
Tata Usaha Negara itu dinyatakan batal atau tidak sah. Putusan dalam
Peradilan Tata Usaha Negara harus mencerminkan 4 (empat) kriteria
pokok dari asas-asas peradilan yang baik sebagaimana diutarakan oleh de
Waard sebagai berikut:
a. Decisie bentrisel (right to a decision), asas bahwa seorang hakim harus
menjatuhkan putusan dan di dalam tenggang waktu yang pantas.
Termasuk disini hak setiap orang untuk mengajukan gugatan (perkara),
dan larangan bagi hakim untuk menolak mengadili/memeriksa perkara,
kecuali ditentukan lain oleh undang-undang.
b. Verdidigings beginsel (a fair hearing), asas bahwa setiap pihak
yang berperkara berhak atas kesempatan membela diri dan bahwa
kedua belah pihak juga.harus mendapat kesempatan dan perlakuan yang
sama dalam mengetahui, mengajukan berkas-berkas pembuktian dan
memperoleh informasi.
c. Onpgrtijdigheids beginsel (tidak bias), asas bahwa putusan dijatuhkan
secara obyektif, tidak dipengaruhi oleh kepentingan-kepentingan
pribadi atau anggota-anggota instansi peradilan, ataupun didasarkan
atas motif-motif yang tidak bersifat zakeiijk, ataupun adanya kontak
(hubungan) secara tersembunyi dari salah satu pihak atau di luar
perkara dengan hakim, sehingga menyimpang dari prosedur semestinya.
d. Motiverings beginsel (reasons and argumentations of decision), .asas
bahwa putusan hakim harus memuat.alasan-alasan hukum yang jelas
dan dapat dimengerti, serta bersifat konsisten dengan penalaran hukum
yang runtut. Sekalipun bagi hakim ada kebebasan dan diskresi untuk
108
menentukan dan menjatuhkan putusannya, namun kesemuanya itu
harus didasarkan pada argumen-argumen yang dapat diawasi dan
diikuti (controleerbaarheid).74
Metode yang dipergunakan dalam musyawarah Majelis Hakim
untuk menghasilkan putusan tersebut terdapat dalam Pasal 97 ayat (3), (4),
dan (5) yang pada intinya menyatakan:
a. Prinsipnya adalah bahwa putusan yang dalam musyawarah majelis yang
dipimpin oleh Hakim Ketua Majelis merupakan hasil permufakatan
bulat, dengan perkecualian, jika setelah diusahakan dengan sungguhsungguh tidak dapat dicapai permufakatan bulat putusan diambil
dengan suara terbanyak.
b. Apabila musyawarah majelis tersebut tidak dapat menghasilkan
putusan, maka permusyawaratan ditunda sampai musyawarah majelis
berikutnya.
c. Apabila musyawarah majelis berikutnya tidak dapat diambil suara
terakhir Hakim Ketua Majelis yang menentukan.
Putusan yang harus dihasilkan melalui musyawarah dengan prinsip
permufakatan bulat berkaitan dengan segi objektivitas putusan. Sudikno
berpendapat bahwa apabila putusan dilihat sebagai penetapan kaidah
hukum, maka yang secara langsung mengikat adalah pertimbangan atau
alasan yang secara langsung mengenai pokok perkara, yaitu kaidah hukum
yang merupakan dasar putusan (ratio decidendi).75
74
75
W. Riawan Tjandra, Op. Cit., hlm. 119
Sudikno Mertokusumo, 1998, Hukum Acara Perdata Indonesia, Liberty, Yogyakarta, hlm.
45
109
Mengenai pertimbangan hukum dalam Peradilan Tata Usaha Negara
terdapat dalam Pasal 109 ayat (1) huruf e Undang-Undang Nomor 5 Tahun
1986 yang menyatakan sebagai berikut:
a. Kepala putusan berbunyi: DEMI KEADILAN BERDASARKAN
KETUHANAN YANG MAHA ESA.
b. Nama, jabatan, kewarganegaraan, tempat kediaman, atau tempat
kedudukan para pihak yang bersengketa.
c. Ringkasan gugatan dan jawaban tergugat harus jelas.
d. Pertimbangan dan penilaian setiap bukti yang diajukan dalam hal yang
terjadi dalam persidangan selama sengketa itu diperiksa.
e. Alasan hukum yang menjadi dasar Putusan.
f. Amar putusan tentang sengketa dan biaya perkara.
g. Hari, tanggal putusan, nama Majelis Hakim yang memutus, nama
Panitera serta keterangan tentang hadir atau tidaknya para pihak.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat diketahui bahwa suatu putusan
harus memuat alasan hukum yang menjadi dasar putusan atau sering
dikenal dengan pertimbangan hukum Hakim. Pertimbangan hukum adalah
suatu tahapan dimana Majelis Hakim mempertimbangkan fakta yang
terungkap selama persidangan berlangsung, mulai dari gugatan, jawaban,
eksepsi dari tergugat yang dihubungkan dengan alat bukti yang memenuhi
syarat formil dan syarat materil, yang mencapai batas minimal
pembuktian. Adapun pengertian pertimbangan hukum Hakim yakni
alasan-alasan
yang bersifat
yuridis dan menjadi dasar putusan.
Berdasarkan Pasal 50 ayat (1) Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009,
maka dalam putusan pengadilan selain harus memuat alasan dan dasar
putusan, juga memuat pasal tertentu dari Peraturan Perundang-undangan
yang bersangkutan atau sumber hukum tak tertulis yang dijadikan dasar
110
untuk mengadili. Bilamana sebaliknya, maka dapat menyebabkan putusan
batal.76
Pada putusan Perkara Nomor: 214/G/2011/Ptun-Jakarta terdapat
pertimbangan hukum Hakim dalam membatalkan Surat Keputusan Obyek
Sengketa. Pembahasan ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah
pertimbangan hukum dalam membatalkan Surat Keputusan Obyek
Sengketa telah sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan dan Asasasas Umum Pemerintahan yang Baik.
Pertimbangan hukum Hakim dalam perkara a-quo yaitu bahwa
Tergugat melanggar peraturan Peraturan Perundang-undangan ditinjau dari
aspek kewenangan. Tergugat mengeluarkan Surat Keputusan Obyek
Sengketa yang bukan kewenangannya, melainkan kewenangan Walikota
Jakarta Selatan. Untuk mengetahui apakah benar pertimbangan hukum
Hakim dalam membatalkan Surat Keputusan Obyek Sengketa berdasarkan
Peraturan Perundang-undangan yang berlaku, maka Majelis Hakim
melakukan pengujian terhadap Surat Keputusan Obyek Sengketa tersebut.
Peraturan perundang-undangan yang dijadikan dasar terbitnya Surat
Keputusan Obyek Sengketa oleh Tergugat adalah Pasal 18 ayat (5)
Keputusan Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 1068
Tahun 1997 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Penertiban Kegiatan
Membangun Dan Menggunakan Bangunan Di Daerah Khusus Ibukota
Jakarta.
76
Philipus M. Hadjon, Op. Cit., hlm. 356
111
Pasal 18 ayat (5), menyatakan bahwa:
“SPB yang ditandatangani oleh Kepala Suku Dinas Pengawasan
Pembangunan Kota sebagaimana dimaksud pada ayat (4) pasal ini
terhadap kegiatan membangun tanpa izin yang belum dihuni dan tidak
dalam sengketa, tidak termasuk bangunan Pemerintah dan atau
bangunan sosial ibadah dan atau bangunan pada lingkungan dengan
persyaratan khusus (antara lain lingkungan KDB rendah,cagar budaya,
Kepulauan Seribu, Daerah Militer).”
Ketentuan Pasal 18 ayat (5) Keputusan Gubernur Kepala Daerah
Khusus Ibukota Jakarta Nomor 1068 Tahun 1997 Tentang Petunjuk
Pelaksanaan Penertiban Kegiatan Membangun Dan Menggunakan
Bangunan Di Daerah Khusus Ibukota Jakarta tersebut dipergunakan untuk
menguji keabsahan Surat Keputusan Obyek Sengketa ditinjau dari aspek
kewenangan, seperti telah dijelaskan di atas apabila Tergugat menerbitkan
Surat Keputusan Obyek Sengketa tidak sesuai dengan kewenangannya
sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 18 ayat (5) tersebut, maka Surat
Keputusan Obyek Sengketa yang dikeluarkan oleh Tergugat harus
dinyatakan bertentangan dengan Peraturan Perundang-undangan dalam hal
tidak memenuhi kewenangan yang berlaku. Suatu Keputusan Tata Usaha
Negara yang bertentangan dengan Peraturan Perundang-undangan yaitu
tidak sesuai dengan kewenangannya, maka Keputusan Tata Usaha Negara
tersebut dinyatakan tidak sah yang akibat hukumnya bahwa Keputusan
Tata Usaha Negara harus dibatalkan.
Berdasarkan bukti Tergugat, Majelis Hakim menyatakan bahwa
tindakan Tergugat dalam mengeluarkan keputusan obyek sengketa tidak
berdasarkan kewenangannya. Dalam Bukti T-38 mengenai Keputusan
112
Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 1068 tahun 1997
Tentang Petunjuk Pelaksana Penertiban Kegiatan Membangun Dan
Menggunakan Bangunan Di Daerah Khusus Ibukota Jakarta, terdapat
Pasal 18 ayat (5), bahwa pada pokoknya Surat Perintah Bongkar yang
ditandatangani Tergugat adalah terhadap kegiatan membangun tanpa izin
yang belum dihuni dan tidak dalam sengketa.
Untuk membuktikan apakah benar kewenangan Tergugat dalam
mengeluarkan surat keputusan obyek sengketa sesuai dengan Pasal 18 ayat
(5) Keputusan Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor
1068 tahun 1997 Tentang Petunjuk Pelaksana Penertiban Kegiatan
Membangun Dan Menggunakan Bangunan Di Daerah Khusus Ibukota
Jakarta, maka penulis akan melakukan pembuktian dengan mendasarkan
hasil penelitian di atas. Berdasarkan hasil penelitian Majelis Hakim
selanjutnya yakni P-30=T-13 yang merupakan Surat Keputusan Kepala
Suku Dinas Penataan Dan Pengawasan Bangunan Kodya Jakarta Selatan
Nomor:
71/KM/S/2005,
tanggal
6-6-2005,
Tentang
Keterangan
Membangun Menara, yang berlaku selama 3 tahun dari tanggal 6 Juni
2005 hingga tanggal 6 Juni 2008 yang terletak di Jl Bunga Mayang III, RT
004/01, Kel Bintaro, Kec. Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Setelah
dicermati oleh Majelis Hakim tidak terdapat alat bukti lain yang
menunjukkan bahwa bangunan Menara milik Penggugat yang terletak di
Jl. Bunga Mayang III, RT 004, RW 01, Kel Bintaro, Kec. Pesanggrahan,
Jakarta Selatan telah diterbitkan izin perpanjangannya. Sehingga, Majelis
113
Hakim menyimpulkan bahwa bangunan Menara milik Penggugat tidak
memiliki izin, karena izin yang lalu telah berakhir dan belum diterbitkan
izin perpanjangannya. Padahal untuk mendirikan suatu bangunan harus
memiliki IMB, begitupula dengan mendirikan bangunan Menara
Telekomunikasi harus memiliki IMB.
Izin Mendirikan Bangunan diatur pada Pasal 5 ayat 1 Peraturan
Daerah Nomor 7 Tahun 2009 tentang Bangunan. IMB akan melegalkan
suatu bangunan yang direncanakan sesuai dengan Tata Ruang yang telah
ditentukan. Selain itu, adanya IMB menunjukkan bahwa rencana kostruksi
bangunan tersebut juga dapat dipertanggungjawabkan dengan maksud
untuk kepentingan bersama. Mendirikan Menara Telekomunikasi juga
harus memiliki IMB. Pengaturan mengenai izin mendirikan Menara
Telekomunikasi terdapat dalam Pasal 12 Peraturan Gubernur Provinsi
Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 89 Tahun 2006 tentang
Pembangunan dan Penataan Menara Telekomunikasi Di Provinsi Daerah
Khusus Ibukota Jakarta.
Selanjutnya, Majelis Hakim berpendapat bahwa, apakah bangunan
tanpa izin merupakan bangunan yang tidak berpenghuni. Setelah
mendengarkan keterangan para saksi Tergugat yaitu Drs. Achmad Hilman,
Poerwono Arifin, S.H. dan Arie Kusumastuti M, S.H., Mkn yang pada
pokoknya menyatakan keberatan dengan masih beroperasinya bangunan
Menara Penggugat. Dari keterangan saksi-saksi tersebut, yang menyatakan
bahwa bangunan Menara Penggugat masih beroperasi maka, membuktikan
114
adanya kegiatan dalam bangunan Menara tersebut dan karenanya dapat
disimpulkan bangunan Menara milik Penggugat dalam keadaan dihuni.
Berdasarkan Pasal 18 ayat (5) Keputusan Gubernur Kepala Daerah Khusus
Ibukota Jakarta Nomor 1068 Tahun 1997 Tentang Petunjuk Pelaksanaan
Penertiban Kegiatan Membangun Dan Menggunakan Bangunan Di Daerah
Khusus Ibukota Jakarta yang dipergunakan untuk menguji obyek sengketa
ini, menyatakan bahwa Surat Perintah Bongkar yang ditandatangani oleh
Kepala Suku Dinas Pengawasan dan Penertiban Bangunan (P2B) Kota
Administrasi Jakarta Selatan terhadap kegiatan membangun tanpa izin
belum dihuni dan tidak dalam sengketa.
Majelis Hakim menyimpulkan bahwa pemberian kewenangan
Tergugat digantungkan pada syarat kumulatif, dimana apabila salah satu
syarat tidak terpenuhi maka, Tergugat menjadi tidak berwenang dalam
menerbitkan Surat Keputusan Obyek Sengketa. Dapat diketahui bahwa,
bangunan Menara Penggugat merupakan bangunan yang sudah dihuni.
Sehingga, Menara milik Penggugat tidak sesuai dengan ketentuan Pasal 18
ayat (5) yang menyebutkan bahwa Surat Perintah Bongkar ditandatangani
oleh Kepala Suku Dinas Pengawasan dan Penertiban Bangunan (P2B)
Kota Administrasi Jakarta Selatan, terhadap bangunan Menara yang tanpa
izin belum dihuni dan tidak dalam sengketa. Disimpulkan bahwa, Tergugat
tidak memenuhi salah satu syarat untuk melakukan penerbitan Surat
Perintah Bongkar, karena bangunan menara milik Penggugat dalam
keadaan sudah dihuni.
115
Bangunan Menara yang tanpa izin dan sudah dihuni, untuk
melakukan penerbitan Surat Perintah Bongkar kewenangannya berada
pada Walikota Jakarta Selatan, sebagaimana yang disebutkan dalam Pasal
18 ayat (6) huruf b yakni:
“SPB yang ditandatangani Walikotamadya (setelah diparaf oleh
Kepala Suku Dinas Pengawasan Pembangunan Kota sebagaimana
dimaksud pada ayat (4) pasal ini adalah terhadap kegiatan:
a) membangun tanpa izin yang belum dihuni dan dalam sengketa dan
atau bangunan Pemerintah dan atau bangunan sosial ibadah dan
atau bangunan pada lingkungan dengan persyaratan khusus (antara
lain lengkungan KDB rendah, cagar budaya, Kepulauan Seribu,
Daerah Militer) atau;
b) membangun tanpa izin dan sudah dihuni atau;
c) berdasarkan pertimbangan Kepala Suku Dinas Pengawasan
Pembangunan Kota atas Pelanggaran tersebut perlu SPB atau SPB
ulang dari Walikotamadya.”
Berdasarkan materi isi ketentuan yang terdapat dalam pasal 18 ayat
(5) dan Pasal 18 ayat (6) huruf b, terdapat perbedaan yang mendasar yang
menyangkut kewenangan yang dimiliki oleh Kepala Suku Dinas
Pengawasan dan Penertiban Bangunan (P2B) Kota Administrasi Jakarta
Selatan dan kewenangan yang dimiliki Walikota Jakarta Selatan.
Kewenangan yang dimiliki oleh kedua Pejabat Tata Usaha Negara tersebut
dapat dideskripsikan sebagai berikut:
1. Kewenangan Kepala Suku Dinas Pengawasan dan Penertiban Bangunan
(P2B) Kota Administrasi Jakarta Selatan dalam menerbitkan Surat
Perintah Bongkar yaitu:
a. Pada dasarnya mempunyai kewenangan menerbitkan Surat Perintah
Bongkar (Pasal 18 ayat (4)).
116
b. Kewenangan menerbitkan Surat Perintah Bongkar hanya terhadap
kegiatan membangun tanpa izin, yang beum dihuni dan tidak dalam
sengketa.
c. Tidak berwenang menerbitkan Surat Perintah Bongkar terhadap
bangunan yang sudah dihuni.
2. Kewenangan Walikota Jakarta Selatan dalam menerbitkan Surat
Perintah Bongkar yaitu:
a. Pada dasarnya mempunyai kewenangan menerbitkan Surat Perintah
Bongkar (Pasal 18 ayat (4)).
b. Kewenangan menerbitkan Surat Perintah Bongkar termasuk
terhadap kegiatan bangunan yang tanpa izin dan sudah dihuni.
c. Kewenangan menerbitkan Surat Perintah Bongkar terhadap
bangunan yang belum dihuni didelegasikan kepada Kepala Suku
Dinas
Pengawasan
dan
Penertiban
Bangunan
(P2B)
Kota
Administrasi Jakarta Selatan.
Berdasarkan deskripsi kewenangan menerbitkan Surat Perintah
Bongkar yang dimiliki Kepala Suku Dinas Pengawasan dan Penertiban
Bangunan (P2B) Kota Administrasi Jakarta Selatan dan Walikota Jakarta
Selatan, dapat dideskripsikan bahwa oleh karena dalam sengketa a-quo
bangunan Menara Telekomunikasi milik Penggugat sudah dalam keadaan
dihuni, maka ketentuan pasal yang tepat diterapkan terhadap Surat
Keputusan Obyek Sengketa adalah Pasal 18 ayat (6) huruf b, dengan
demikian a contrario Pasal 18 ayat (5) tidak tepat diterapkan terhadap
Surat Keputusan Obyek Sengketa.
117
Berdasarkan penjelasan di atas, Majelis Hakim menyatakan bahwa
Tergugat telah melakukan kesalahan, yaitu menerbitkan Surat Keputusan
Obyek Sengketa yang bukan kewenangannya melainkan kewenangan
Walikota Jakarta Selatan. Karena tindakan administratif Tergugat dalam
menerbitkan Surat Keputusan Obyek sengketa telah dinyatakan tidak sah
akibat tidak didasarkan kewenangannya yang sah maka, mengenai
prosedur dan substansi tidak perlu dibuktikan. Karena Surat Keputusan
Obyek Sengketa telah dinyatakan tidak sah maka diwajibkan Tergugat
untuk mencabutnya.
Salah satu tolok ukur keabsahan Keputusan Tata Usaha Negara
berdasarkan Pasal 53 ayat (2) huruf a adalah bertentangan atau tidaknya
suatu Keputusan Tata Usaha Negara dengan Peraturan Perundangundangan,
Peraturan
Perundang-undangan
yang
menjadi
dasar
diterbitkannya Surat Keputusan Obyek Sengketa yaitu Pasal 18 ayat (6)
huruf b. Ketentuan mengenai Surat Perintah Bongkar terhadap bangunan
yang sudah dihuni secara eksplisit ditentukan dalam Pasal 18 ayat (6)
huruf b sehingga, apabila Majelis Hakim sudah menerapkan ketentuan
Pasal 18 ayat (6) huruf b, maka dapat disimpulkan bahwa pertimbangan
hukum Hakim sudah sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundangundangan yang menjadi dasar terbitnya Surat Keputusan Obyek Sengketa.
Majelis Hakim dalam sengketa ini sudah menerapkan ketentuan Pasal 18
ayat (6) huruf b, sehingga pertimbangan hukum Hakim sudah sesuai
dengan Peraturan Perundang-undangan.
118
Mengenai pertimbangan hukum Hakim dalam pembatalan Surat
Keputusan Obyek Sengketa terhadap pelanggaran Asas-asas Umum
Pemerintahan yang Baik, sekalipun Penggugat mempermasalahkan bahwa
Tergugat telah melanggar Asas-asas Umum Pemerintahan yang Baik
khususnya asas kepastian hukum, asas keterbukaan dan asas akuntabilitas,
namun
dalam
pertimbangan
hukum
Majelis
Hakim
tidak
mempertimbangkan adanya pelanggaran terhadap Asas-asas Umum
Pemerintahan yang Baik. Mengingat bahwa berbicara Keputusan Tata
Usaha Negara merupakan sesuatu yang sangat komprehensif, maka
seharusnya
mengenai
pelanggaran
terhadap
Asas-asas
Umum
Pemerintahan yang Baik perlu untuk dibahas dalam pertimbangan hukum
Majelis Hakim.
Asas-asas Umum Pemerintahan yang Baik juga merupakan salah
satu tolak ukur yang digunakan untuk menguji Keabsahan suatu
Keputusan Tata Usaha Negara. Penjelasan Pasal 53 ayat (2) huruf b
Undang-Undang Nomor
9 Tahun 2004 menyebutkan bahwa yang
dimaksud dengan Asas-asas Umum Pemerintahan yang Baik adalah
meliputi:
- Asas Kepastian hukum;
- Asas Tertib penyelenggaraan negara;
- Asas Keterbukaan;
- Asas Proporsionalitas;
- Asas Profesionalitas;
- Asas Akuntabilitas
119
sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999
tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi,
Kolusi, dan Nepotisme.
Adapun penjelasan mengenai Asas-asas Umum Pemerintahan yang Baik
sebagai berikut:
1. Kepastian hukum adalah asas dalam negara hukum yang
mengutamakan landasan peraturan perundang-undangan, kepatutan, dan
keadilan dalam setiap kebijakan penyelenggara negara.
2. Tertib penyelenggaraan negara adalah asas yang menjadi landasan
keteraturan, keserasian, dan keseimbangan dalam pengendalian
penyelenggaraan negara.
3. Keterbukaan adalah asas yang membuka diri terhadap hak masyarakat
untuk memperoleh informasi yang benar, jujur, dan tidak diskriminatif
tentang penyelenggaraan negaradengan tetap memperhatikan
perlindungan atas hak asasi pribadi, golongan dan rahasia negara.
4. Proporsionalitas adalah asas yang mengutamakan keseimbangan antara
hak adan kewajiban penyelenggaraan negara.
5. Profesionalitas adalah asas yang mengutamakan keahlian yang
berlandaskan kode etik dan ketentuan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.
6. Akuntabilitas adalah asas yang menentukan bahwa setiap kegiatan dan
hasil akhir dari kegiatan penyelenggara negara harus dapat
dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai
pemegang kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.77
Berdasarkan penjelasan di atas diketahui bahwa Tergugat dalam
mengeluarkan Surat Keputusan Obyek Sengketa bertentangan dengan
Asas-asas Umum Pemerintahan yang Baik, khususnya asas kepastian
hukum, asas keterbukaan dan asas akuntabilitas.
Asas kepastian hukum adalah asas dalam negara hukum yang
mengutamakan landasan Peraturan Perundang-undangan, kepatutan, dan
keadilan dalam setiap kebijakan penyelenggara negara. Perlu diketahui
77
Mr. Martiman Prodjohamidjojo, Op. Cit., hlm. 34-35
120
bahwa asas ini menghendaki agar pemerintah atau badan atau pejabat tata
usaha negara lebih mengutamakan landasan Peraturan Perundangundangan, kepatutan, dan keadilan dalam setiap kebijakan pengambilan
keputusan. Maksudnya asas ini menghendaki dihormatinya hak yang telah
diperoleh seseorang atau badan hukum perdata berdasarkan suatu
keputusan badan atau pejabat administrasi negara. Sehingga, dalam hal ini
Penggugat merasa adanya ketidakadilan dengan dikeluarkannya obyek
sengketa yang tidak sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan.
Tergugat terlihat jelas telah melanggar asas kepastian hukum yaitu
telah
mengabaikan
landasan
Peraturan
Perundang-undangan
yang
mendasari untuk dikeluarkannya Surat Keputusan Obyek Sengketa.
Tergugat dalam perkara ini tidak berdasarkan kewenangannya dalam
mengeluarkan Surat Perintah Bongkar sebagaimana yang telah diatur
dalam Pasal 18 ayat (5) Keputusan Gubernur Kepala Daerah Khusus
Ibukota Jakarta Nomor 1068 tahun 1997 Tentang Petunjuk Pelaksana
Penertiban Kegiatan Membangun Dan Menggunakan Bangunan Di Daerah
Khusus Ibukota Jakarta, bahwa pada pokoknya Surat Perintah Bongkar
yang ditandatangani Tergugat adalah terhadap kegiatan membangun tanpa
izin yang belum dihuni dan tidak dalam sengketa. Tetapi Tergugat
mengeluarkan Surat Perintah Bongkar yang merupakan kewenangan
Walikota Jakarta Selatan sebagaimana telah diatur dalam Pasal 18 ayat (6)
huruf b Keputusan Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta
Nomor 1068 tahun 1997 Tentang Petunjuk Pelaksana Penertiban Kegiatan
121
Membangun Dan Menggunakan Bangunan Di Daerah Khusus Ibukota
Jakarta, bahwa terhadap kegiatan membangun tanpa izin sudah dihuni dan
tidak dalam sengketa.
Asas keterbukaan adalah asas yang membuka diri terhadap hak
masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar, jujur, dan tidak
diskriminatif tentang penyelenggaraan negara dengan tetap memerhatikan
perlindungan atas hak asasi pribadi, golongan, dan rahasia negara. Maksud
dari asas keterbukaan ini yaitu lebih mengutamakan bahwa kegiatan
pemerintah dalam penyelenggaraan negara harus bertindak lebih terbuka
dan tidak membeda-bedakan. Mengenai pelanggaran terhadap asas
keterbukaan berdasarkan fakta yang terjadi Tergugat tidak terlebih dahulu
memberikan Surat Pemberitahuan kepada Penggugat saat melakukan
penyegelan Menara Telekomunikasi. Tergugat dalam hal ini diwakilkan
oleh Petugas Kecamatan baru menyerahkan Surat Pelaksanaan Penyegelan
Menara/Tower, dan Surat Perintah Bongkar kepada Penggugat, pada saat
Pengggugat datang ke Kantor Kecamatan. Terlihat jelas bahwa Tergugat
telah melanggar asas keterbukaan, karena Tergugat dalam melakukan
penyegelan Menara milik Penggugat dilakukan secara diam-diam dan
tidak terbuka.
Asas akuntabilitas adalah asas yang menentukan bahwa setiap
kegiatan dan hasil akhir dari kegiatan penyelenggara negara harus dapat
dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai pemegang
kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundangundangan yang berlaku. Mengenai pelanggaran yang dilakukan oleh
122
Tergugat dalam asas akuntabilitas adalah Tergugat melakukan penyegelan
Menara dan menerbitkan Surat Perintah Bongkar kepada Penggugat.
Menara Penggugat masih beroperasi dan memberi manfaat bagi
masyarakat, apabila Menara tersebut harus di bongkar akan menimbulkan
kerugian bagi Penggugat dan masyarakat. Perlu diketahui oleh Tergugat
bahwa dengan berdirinya Menara Telekomunikasi tersebut banyak
memberikan keuntungan dan manfaaat bagi masyarakat. Sehingga apabila
Menara Telekomunikasi tersebut dibongkar, Tergugat harus dapat
mempertanggungjawabkan perbuatannya dihadapan masyarakat.
123
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Pertimbangan hukum Hakim dalam membatalkan Surat Keputusan Kepala
Suku Dinas Pengawasan dan Penertiban Bangunan (P2B) Kota
Administrasi Jakarta Selatan yang mengeluarkan Surat Keputusan Nomor:
722/1.785.2/SPB.S/2011 tentang pelaksanaan Pembongkaran Bangunan
yaitu bahwa Tergugat tidak berwenang menerbitkan Surat Perintah
Bongkar terhadap bangunan yang sudah berpenghuni, dengan demikian
Surat Keputusan Obyek Sengketa dinyatakan bertentangan dengan
Peraturan Perundang-undangan ditinjau dari aspek kewenangan.
2. Pertimbangan hukum Hakim dalam membatalkan Surat Keputusan Kepala
Suku Dinas Pengawasan dan Penertiban Bangunan (P2B) Kota
Administrasi Jakarta Selatan yang mengeluarkan Surat Keputusan Nomor:
722/1.785.2/SPB.S/2011 tentang pelaksanaan Pembongkaran Bangunan
telah sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan dan Asasasas Umum Pemerintahan yang Baik. Kesesuaian ini dapat dilihat dari:
a. Sesuai dengan ketentuan Pasal 18 ayat (6) huruf b, yang pada intinya
menyatakan yang berwenang menerbitkan Surat Perintah Bongkar
terhadap bangunan Menara Telekomunikasi yang sudah berpenghuni
adalah Walikota Jakarta Selatan.
b. Sesuai dengan Asas-asas Umum Pemerintahan yang Baik, khususnya
asas kepastian hukum, asas keterbukaan dan asas akuntabilitas.
124
B. Saran
Berdasarkan uraian kesimpulan tersebut, dapat dikemukakan saran sebagai
berikut:
1. Dengan dibatalkannya Surat Keputusan Obyek Sengketa, maka disarankan
agar Walikota Jakarta Selatan untuk menerbitkan Surat Keputusan tentang
Pelaksanaan Pembongkaran Bangunan terhadap bangunan Menara
Telekomunikasi milik Penggugat.
2. Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara dalam mengeluarkan suatu
keputusan untuk lebih memperhatikan batas-batas kewenangannya
sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Perundang-undangan.
3. Hakim di Peradilan Tata Usaha Negara dalam memutus suatu perkara
seharusnya tidak hanya mendasarkan pada Peraturan Perundang-undangan
saja, tetapi juga harus menggunakan dasar Asas-asas Umum Pemerintahan
yang Baik.
DAFTAR PUSTAKA
Literatur
Basah, Sjachran. 1989. Eksistensi dan Tolok Ukur Badan Peradilan Administrasi
Di Indonesia. Alumni Bandung.
Effendi, Lutfi. 2004. Pokok-Pokok Hukum Administrasi. Bandung: Bayumedia
Publishing.
Hadikusuma, Hilman. 1995. Metode Pembuatan Kertas Kerja atau Skripsi Ilmu
Hukum. Bandung: Mandar Maju.
Hadjon, Philiphus M. dkk. 2002. Pengantar Hukum Administrasi Indonesia.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Hanitijo Soemitro, Ronny. 1990. Metodologi Penelitian dan Jurimetri. Jakarta:
Ghalia Indonesia.
Harahap, Zairin. 2007. Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara Edisi Revisi
5. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
H.R., Ridwan. 2008. Hukum Administrasi Negara. Jakarta: PT. RajaGrafindo
Persada.
H.R., Ridwan. 2011. Hukum Administrasi Negara Edisi Revisi. Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada.
Indroharto. 1993. Usaha Memahami Undang-Undang tentang Peradilan Tata
Usaha Negara. Buku I. Cetakan IV. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Indroharto. 1996. Usaha Memahami Undang-Undang tentang Peradilan Tata
Usaha Negara. Buku II. Cetakan Keenam. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Marbun S.F. 1988. Peradilan Tata Usaha Negara. Yogyakarta: Liberty.
Marbun S.F. dan Moh. Mahmud MD. 1987. Pokok-Pokok Hukum Administrasi
Negara. Yogyakarta: Liberty.
Marbun S. F. 2011. Administrasi Negara dan Upaya Administratif Di Indonesia.
cet. 3. Yogyakarta: FH. UII Press.
Marzuki, Peter Mahmud. 2005. Penelitian Hukum. Jakarta: Prenada Media
Mertokusumo, Sudikno. 1998. Hukum Acara Perdata Indonesia. Yogyakarta:
Liberty
Fuady, Munir. 2009. Teori Negara Hukum Modern. Bandung: PT. Refica
Aditama.
Muin Fahmal. 2008. Peran Asas-asas Pemerintahan yang Layak dalam
mewujudkan Pemerintahan yang Bersih. Yogyakarta: UII Press
Neno, Victor Vayed. 2006. Implikasi Pembatasan Kompetensi Absolut Peradilan
Tata usaha Negara. Bandung: Citra Aditya Bakti.
Prodjohamidjojo, Mr. Martiman , 2005. Hukum Acara Pengadilan Tata Usaha
Negara dan UU PTUN 2004. Cetakan I. Bogor: Ghalia Indonesia.
Sibuea, Hotma P. 2010. Asas Negara Hukum. Peraturan Kebijakan, Asas-Asas
Umum Pemerintahan yang Baik. PT. Gelora Aksara Pratama: Erlangga.
Sinamo, Nomensen. 2010. Hukum Administrasi Negara. Jakarta: Jala
Permata Aksara.
Soekanto, Soerjono dan Mamudji, Sri. 2011. Penelitian Hukum Normatif. Suatu
Tinjauan Singkat. Jakarta: Rajawali Pers.
Syamsudin M. 2007. Operasionalisasi Penelitian Hukum. Jakarta: PT.
RajaGrafindo Persada
Tjandra, W. Riawan. 2002. Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara. Jogja:
Universitas Atma Jaya
Tjandra, W. Riawan. 2005. Teori dan Praktek Peradilan Tata Usaha Negara,
Yogyakarta: Universitas Atma Jaya
Wiyono, R. 2008. Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara Edisi Revisi, Cet
I. Jakarta: Sinar Grafika.
Wiyono, R. 2010. Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara Edisi.
Kedua. Jakarta: Sinar Grafika Offset.
Undang-Undang
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok
Kekuasaan Kehakiman
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan
Perundang-undangan.
Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas UndangUndang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara.
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung
Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor:
02/PER/M.KOMINFO/03/2008 tentang Pedoman Pembangunan dan
Penggunaan Menara Bersama Telekomunikasi
Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri, Menteri Pekerjaan Umum, Menteri
Komunikasi dan Informatika dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman
Modal Nomor: 18 Tahun 2009, Nomor: 07/PRT/M/2009, Nomor:
19/PER/M.KOMINFO/03/2009, Nomor: 3/P/2009 tentang Pedoman
Pembangunan dan Penggunaan Bersama Menara Telekomunikasi
Peraturan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 89 Tahun
2006 tentang Pembangunan dan Penataan Menara Telekomunikasi Di
Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta
Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 138 Tahun 2007 tentang
Petunjuk Pelaksanaan Pembangunan dan Penataan Menara
Telekomunikasi di Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta
Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 126 Tahun 2009 tentang Peta
Arahan Persebaran Menara Telekomunikasi Bersama Untuk Penempatan
Makro Seluler (Microcell)
Keputusan Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 1068 Tahun
1997 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penertiban Kegiatan Membangun dan
Menggunakan Bangunan di Daerah Khusus Ibukota Jakarta
Keputusan Gubernur Nomor 61 Tahun 2008 tentang Pembentukan Tim
Penertiban Menara Telekomunikasi Di Provinsi DKI Jakarta
Jurnal
Riawan. Tjandra W. Perbandingan Sistem Peradilan Tata Usaha Negara dan
Conseil d’eat sebagai Institusi Pengawas Tindakan Hukum Tata Usaha
Negara. law.uii.ac.id/images/stories/Jurnal%20Hukum/...3.../W-RiawanTj.pdf. Diakses pada tanggal 31 Desember 2014.
Sumber Lain
Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta Nomor: 214/G/2011/PTUNJakarta
Asshiddiqie, Jimly. Konsep Negara Hukum Di Indonesia.
www.jimly.com/makalah/.../135/Konsep_Negara_Hukum_Indonesia.pdf.
Diakses pada tanggal 29 Oktober 2014.
Ikhwan, Muhamad. 2010. Studi Hukum Keputusan Tata Usaha Negara (Syarat
Sah, Batal, Hapus, Kekuatan Hukum serta Metode Pembentukan).
http://studihukum.blogspot.com/2010/11/keputusan-tata-usaha-negara-2
syarat_20.html. Diakses pada Senin, 10 November 2014. Pukul 12.05 WIB
Riki Septiawan. 2012. Pengertian-Pengartian dalam Hukum Acara PTUN
.http://rikiseptiawan180991.blogspot.com/2012/12/pengertian-pengartiandalam-hukum-acara.html. Diakses pada tanggal 05 September 2014
Download