komunikasi formal dan pengambilan keputusan

advertisement
KOMUNIKASI FORMAL DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN
(Studi Korelasional Mengenai Komunikasi Formal Dan Pengambilan Keputusan
Kerja Karyawan Di KPU Kota Pematang Siantar)
Suranta Sembiring
Abstrak
Penelitian ini berjudul Komunikasi Formal dan Pengambilan Keputusan (Studi
Korelasional Mengenai Komunikasi Formal Dan Pengambilan Keputusan Kerja
Karyawan Di KPU Kota Pematang Siantar). Metode yang digunakan dalam penelitian
ini adalah metode korelasional yang bertujuan untuk menemukan ada tidaknya
hubungan, berapa erat hubungan dan berarti tidaknya hubungan antara pengaruh
komunikasi formal pada kegiatan Rapat Pleno terhadap Pengambilan Keputusan kerja
karyawan di KPU Kota Pematang Siantar.
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis tabel tunggal,
analisis tabel silang, dan uji hopotesis melalui rumus Koefisien Korelasi Rank Order
oleh Spearman. Untuk melihat kuat lemahnya korelasi (hubungan) kedua variabel dalam
penelitian ini dugunakan skala Guilford. Berdasarkan hasil yang diperoleh
menunjukkan bahwa: “Terdapat hubungan yang tinggi dan kuat antara komunikasi
formal pada kegiatan Rapat Pleno dengan Pengambilan Keputusan kerja karyawan di
KPU Kota Pematang Siantar”.
Keywords: Komunikasi, Keputusan
PENDAHULUAN
Sebagai mahluk sosial manusia pasti akan berhubungan dengan manusia
lainnya. Setiap mahluk sosial juga pasti ingin mengetahui tentang dirinya sendiri
bahkan ingin juga mengetahui yang terjadi pada lingkungan sekitarnya, itu merupakan
sifat alami yang dimiliki setiap manusia oleh karena sifat inilah maka manusia dipaksa
untuk saling berkomunikasi antara satu dengan yang lainnya.
Komunikasi adalah kegiatan yang sangat mendasar dalam kehidupan umat
manusia. Apapun alasannya komunikasi sangatlah penting bagi manusia. Dalam
kehidupan berorganisasi komunikasi merupakan aspek yang sangat penting bagi setiap
anggota organisasi untuk dapat saling bekerja sama dalam melakukan tugas di
organisasi yaitu untuk mencapai tujuan organisasi tersebut. Organisasi adalah wadah
tempat untuk mencapai tujuan yang dilakukan oleh banyak orang. Organisasi
1
merupakan sekelompok manusia yang bekerja sama dengan satu perencanaan kerja dan
peraturan untuk mencapai suatu tujuan tertentu (Wahono, 2001). Tidak hanya
berkomunikasi tetapi Sumber Daya Manusia juga sangat menentukan dalam pencapaian
tujuan organisasi.
Setiap karyawan atau anggota suatu organisasi pastinya sudah mendapat imbalan
dari tempat mereka bekerja, tetapi itu tidak cukup menjamin untuk mencapai
pencapaian tujuan organisasi tersebut karena hubungan kerja memiliki banyak sisi dan
lingkup yang terjadi dalam berbagai bidang. Di lain sisi situasi kerja juga dapat
mempengaruhi sikap dan cara kerja karyawan atau pegawai, karena karyawan atau
pegawai dapat berasal dari berbagai latar belakang yang mempunyai motif dan tujuan
yang berbeda pula. Seringkali organisasi mempunyai masalah dalam mencapai tujuan,
padahal organisasi tersebut ditunjang sumberdaya yang dapat diandalkan dalam
bidangnya, hal ini dikarenakan banyak faktor antara lain kelancaran berkomunikasi.
Kelancaran berkomunikasi yang terjadi di dalam organisasi sangat berpengaruh
dalam pengambilan keputusan dari anggota organisasi ataupun karyawannya yang
terlibat di dalam organisasi tersebut. Pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan
yang sistematis terhadap hakekat suatu masalah dengan pengumpulan fakta dan data
serta menentukan alternatif yang matang untuk mengambil suatu tindakan yang tepat.
Banyak organisasi berkenyakinan bahwa gaji atau salary merupakan faktor
utama yang dapat memberikan hasil terbaik dari pengambilan keputusan setiap
karyawan sehingga ketika suatu organisasi merasa sudah memberikan gaji yang tinggi,
organisasi merasa bahwa karyawan sudah memberikan hasil yang terbaik. Banyak
faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan karyawan yaitu kewenangan
(authority), kesetiaan dan integritas (loyalitas), kepemimpinan (leadership), tanggung
jawab (responbility), dan disiplin.
Biasanya karyawan yang mendapat dan memiliki kewenangan (authority),
kesetiaan dan integritas (loyalitas), kepemimpinan (leadership), tanggung jawab
(responbility), dan disiplin yang baik di organisasinya dapat memberikan pengambilan
keputusan yang berarti bagi organisasi terlebih lagi dapat memberikan lebih dari apa
yang diharapkan oleh organisasi tersebut. Sebaliknya karyawan yang tidak mendapat
2
dan tidak memiliki kewenangan (authority), kesetiaan dan integritas (loyalitas),
kepemimpinan (leadership), tanggung jawab (responbility), dan disiplin yang baik akan
menyebabkan pengambilan keputusan yang buruk bagi organisasi serta dapat
menimbulkan rasa ketidaknyamanan, kebosanan dan melihat pekerjaan sebagai hal yang
menjemukan dan pada akhirnya merugikan organisasi tersebut. Dengan tercapainya
pengambilan keputusan yang baik dari setiap anggota organisasi, produktivitas
meningkat, kinerja lebih baik, dan suasana lingkungan akan lebih baik. Suasana
lingkungan kerja yang menyenangkan akan menciptakan komunikasi yang baik antar
anggota organisasi sehingga tujuan dan target organisasi dapat tercapai.
Komisi Pemilihan Umum atau yang disingkat KPU adalah lembaga negara yang
menyelenggarakan pemilihan umum di Indonesia, yakni meliputi Pemilihan Umum
Anggota DPR/DPD/DPRD, Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden, serta
Pemilihan
Umum
Kepala
Daerah
dan
Wakil
Kepala
Daerah
(http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20110503013922AAwMJyW). Sejak
tahun 1999- sampai sekarang Komisi Pemilihan Umum sudah dipercaya oleh
pemerintah untuk memfasilitasi penyelenggaraan pemilihan umum secara jujur dan adil.
Terlaksananya Pemilu yang jujur dan adil tersebut merupakan faktor penting bagi
terpilihnya wakil rakyat yang lebih berkualitas dan mampu menyuarakan aspirasi
rakyat. Dalam pengambilan keputusan Komisi Pemilihan Umum mengadakan suatu
rapat yang disebut Rapat Pleno. Rapat Pleno adalah rapat yang diadakan oleh pengurus
yang diikuti oleh seluruh perangkatnya termasuk Dewan pertimbangan dan badan-badan
kelengkapan dengan maksud menghasilkan rekomendasi untuk Ketua 1 untuk membuat
keputusan.(http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20101216011841AAxhM
H6).
Layaknya suatu lembaga yang dibentuk oleh pemerintahan, komunikasi yang
terjadi dalam lingkungan kerja KPU khusunya para anggota KPU dengan karyawan
yang ditempatkan di bagian staf keseketariatan meliputi komunikasi vertikal dan
komunikasi horizontal yang terjadi di setiap Rapat Pleno yang pelaksanaannya sesuai
dengan kebutuhan. Dalam Rapat Pleno ketua KPU melakukan komunikasi vertikal ke
bawah kepada anggota KPU dan staf keseketariatan .
3
Komunikasi vertikal ke atas yang terjadi dalam Rapat Pleno dilakukan oleh staf
keseketariatan baik itu kepada Sekretaris KPU, anggota KPU beserta Ketua KPU.
Dalam Rapat Pleno tersebut juga terjadi komunikasi horizontal antara Kasubbag umum
dengan kasubbag lainnya seperti Kasubbag Hukum, Teknis, ataupun Program Data.
Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk meneliti tentang bagaimana
pengaruh komunikasi formal, baik komunikasi vertikal maupun horizontal pada
kegiatan Rapat Pleno dalam pengambilan keputusan karyawan di Komisi Pemilihan
Umum Kota Pematang Siantar.
Kerangka Teori
Sebelum melakukan penelitian, seorang peneliti perlu menyusun suatu kerangka
teori. Kerangka teori disusun sebagai landasan berpikir yang menunjukkan dari sudut
mana peneliti menyoroti masalah yang akan diteliti (Nawawi, 1997:40). Teori
merupakan himpunan konstruk (konsep), definisi, dan preposisi yang mengemukakan
pandangan sistematis tentang gejala yang menjabarkan relasi di antara variabel, untuk
menjelaskan dan meramalkan gejala tersebut. Dengan adanya kerangka teori peneliti
akan meneliti landasan dalam menentukan tujuan arah penelitiannya (Rakhmat, 1997:6).
Teori–teori yang relevan dengan penelitian ini adalah komunikasi antar pribadi,
komunikasi kelompok, komunikasi organisasi formal baik itu komunikasi vertikal
ataupun komunikasi horizontal, serta pengambilan keputusan.
Komunikasi Antarpribadi
Pada hakikatnya komunikasi antarpribadi adalah komunikasi antara komunikator
dengan seorang komunikan (Liliweri, 2001:12). Komunikasi jenis ini dianggap paling
efektif dalam hal upaya mengubah sikap, pendapat, atau perilaku seseorang, karena
sifatnya dialogis berupa percakapan. Arus balik bersifat langsung, komunikator
mengetahui tanggapan komunikan ketika itu juga pada saat komunikasi dilancarkan.
Komunikator mengetahui pasti apakah komunikasinya itu positif atau negatif, berhasil
atau tidak, ia dapat memberi kesempatan kepada komunikan untuk bertanya seluasluasnya.
4
Komunikasi Formal
Menurut dua ahli psikologi sosial yaitu Katz dan Robert Khan mendefenisikan
komunikasi adalah pertukaran informasi dan penyampaian makna yang merupakan hal
utama dari suatu sistem sosial atau organisasi (Ruslan, 2003:83). Jadi komunikasi
sebagai proses penyampaian informasi dan pengertian dari satu orang ke orang lain, dan
satu-satunya cara mengelola aktivitas dalam suatu organisasi adalah melalui proses
komunikasi.
Komunikasi Vertikal
Komunikasi vertikal adalah komunikasi dari atas ke bawah dan dari bawah ke
atas atau komunikasi dari pimpinan ke bawahan dan dari bawahan ke pimpinan secara
timbal balik. Tipe komunikasi ini biasanya digunakan dalam kehidupan berorganisasi
demi menunjang tercapainya tujuan organisasi tersebut. Adapun komunikasi vertikal
dapat dibagi dalam 2 dimensi, yaitu: Komunikasi vertikal ke bawah adalah komunikasi
yang mengalir dari satu tingkat dalam suatu kelompok atau organisasi ke suatu tingkat
yang lebih bawah (Muhammad, 1995:101). Kegunaan dari komunikasi ini memberikan
penetapan tujuan, memberikan instruksi pekerjaan, menginformasikan kebijakan dan
prosedur pada bawahan, menunjukkan masalah yang memerlukan perhatian dan
mengemukakan umpan balik terhadap kinerja.
Pengambilan Keputusan
Menurut Prajudi Atmosudirdjo pengambilan keputusan merupakan INTI
daripada Kepemimpinan (Leadership), baik kepemimpinan terhadap dirinya sendiri
(Self Control) maupun terhadap orang-orang lain (para pengikut) atau terhadap
Organisasi (Atmosudirdjo, 1979:1). Mengambil keputusan itu bersifat memilih, yakni
memilih di antara berbagai alternatif. Suatu alternatif merupakan suatu tata hubungan
(relationship) antara
suatu langkah (perbuatan, tindakan) dan akibatnya (efeknya,
hasilnya, konsekuensinya).
METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
korelasional yang berusaha menjelaskan suatu permasalahan atau gejala yang lebih
khusus dalam penjelasan antara dua objek. Metode penelitian ini bertujuan untuk
5
menentukan ada tidaknya hubungan, dan apabila ada, seberapa erat hubungannya dan
berarti atau tidaknya hubungan tersebut (Arikunto,1998:251). Penelitian korelasional ini
bertujuan untuk melihat sejauhmanakah komunikasi formal berpengaruh terhadap
pengambilan keputusan karyawan di KPU Kota Pematang Siantar.
Populasi
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang terdiri dari manusia, bendabenda, hewan, tumbuhan, gejala-gejala, nilai test atau peristiwa-peristiwa sebagai
sumber data yang memiliki karakteristik tertentu di dalam suatu penelitian (Nawawi,
1995:141). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan KPU Kota Pematang
Siantar yang berjumlah 25 orang.
Sampel
Sampel secara sederhana diartikan sebagai bagian dari populasi yang menjadi
sumber data sebenarnya dalam satu penelitian. Sampel juga dapat dijadikan sebagai
bagian dari populasi yang diambil dengan menggunakan cara-cara tertentu. Syaratnya
sampel harus memenuhi unsur reprensentatif atau mewakili dari seluruh sifat-sifat
populasi yang akan diteliti
Sampel secara reprensentatif merupakan sampel yang mencerminkan semua
unsur dalam populasi secara proporsional atau memberikan kesempatan yang sama pada
semua unsur populasi untuk dipilih sehingga dapat mewakili keadaan sebenarnya dalam
keseluruhan populasi (Kriyantono, 2007:150). Dalam buku yang berjudul prosedur
penelitian suatu pendekatan praktek Arikunto mengatakan jika jumlah populasi hanya
berkisar 100 ke bawah maka sebaiknya jumlah sampel adalah jumlah keseluruhan
populasi (total sampling), sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi,
namun jika subjeknya besar, maka di ambil antara 10-15% atau 20-25% dari jumlah
keseluruhan populasi (Arikunto, 1998:120). Dari pendapat Arikunto di atas, maka
peneliti mengambil keseluruhan populasi (total sampling) yaitu sebanyak 25 orang.
Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian
Lapangan (Field Research) yaitu pengumpulan data yang dilakukan dilapangan meliputi
kegiatan survey di lokasi penelitian dan pengumpulan data dari responden melalui
6
kuesioner. Kuesioner adalah kumpulan pertanyaan yang diajukan secara tertulis kepada
seseorang (yang dalam hal ini disebut responden) dan cara menjawabnya juga dilakukan
dengan tertulis (Arikunto, 2002:135). Jenis kuesioner yang digunakan adalah kuesioner
tertutup yaitu sejumlah pertanyaan yang telah disediakan jawabannya, sehingga
responden hanya perlu memilih salah satu jawaban.
Teknik Analisis Data
Analisis data adalah proses penyederhanaan data ke dalam bentuk yang lebih
mudah dibaca dan dipresentasikan. Menurut Bogdan dan Biklen analisis data adalah
upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data,
memilih-milihnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensistemasikannya, mencari
dan menentukan pola, menentukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan
memutuskan apa yang diceritakan orang lain (Singarimbun, 1995:263).
Uji Hipotesis
Uji hipotesis adalah salah satu fungsi untuk menyederhanakan data sehingga mudah
dibaca dan diinterpretasikan, juga dipakai untuk menguji hipotesis. Analisis hubungan
adalah analisis yang menggunakan uji statistik inferensial dengan tujuan untuk melihat
derajat hubungan diantara dua variabel. Kekuatan hubungan yang menunjukkan derajat
hubungan ini disebut koefisien asosiasi (korelasi). Dalam penelitian ini, variabel variabel yang diukur terdapat dalam skala ordinal. Sesuai dengan pedoman penggunaan
test statistik yang berlaku, pengujian hipotesis yang bersekala ordinal dapat dilakukan
dengan test statistik Spearman (Spearman’s Rho-Order Correlation).
Untuk menguji tingkat signiftikan korelasi, maka digunakan rumus ttest pada tingkat
signifikan 0,05 (Kriyantono, 2008:170) :
Dalam konteks organisasi, arus komunikasi mengalir secara formal mengikuti
saluran sesuai desain struktur organisasi dimaksud. Salah satu jaringan komunikasi
formal dalam organisasi adalah arus komunikasi vertikal yang mencakup komunikasi ke
atas (upward commucation) dan komunikasi ke bawah (downward communication).
Komunikasi vertikal melibatkan interaksi komunikasi antara pimpinan dan
karyawan dalam suatu organisasi. Agar pimpinan dan karyawan dapat bekerja sama
secara harmonis, dapat menempatkan diri secara tepat menurut peranan dan tanggung
7
jawabnya masing-masing, maka kesadaran dan tingkat kepemahaman yang benar akan
peran masing-masing dengan terus meningkatkan kualitas penghayatan hingga titik
tertinggi adalah sangat penting.
Peranan komunikasi vertikal antara manajemen dan para karyawannya dan antara
pimpinan manajemen dengan pemilik perusahaan dan sebaliknya menjadi hal yang
sangat penting. Satu tanggapan penting manajemen dan kepemimpinan terhadap
tuntutan perubahan dalam dunia bisnis adalah semakin diterima secara luas dan popular
penerapan konsep partisipasi. Fungsi-fungsi manajemen yang dapat dilakukan oleh para
karyawan maupun pimpinan dalam organisasi seperti perencanaan (planning),
pengorganisasian (organizing), mengkomunikasikan (communicating), pengawasan
(controlling), dan penilaian (evaluating).
Praktek manajemen partisipasi yang sukses ada efektif akan tercermin terutama
pada kondisi komunikasi organisasi yang efektif dan efisien. Kesempatan yang tersedia
bagi setiap karyawan relatif luas untuk mendiskusikan berbagai persoalan pekerjaan dan
perusahaan. Juga manajemen mengembangkan sikap terbuka dengan memberikan
informasi relevan, aktual, dan berharga mengenai posisi keuangan, operasi, kebijakan,
dan rencana-rencana perusahaan.
Di dalam sebuah organisasi, komunikasi merupakan dasar yang menyatukan
semua fungsi yang terwujud. Dengan adanya saluran komunikasi di dalam organisasi
tersebut, setiap individu atau kelompok bukan saja dapat berinteraksi, memahami dan
bertukar-tukar pesan antar satu dengan yang lain, tetapi juga dapat mewujudkan kerja
sama yang berkesinambungan di kalangan anggota kelompok. Di dalam Kantor Komisi
Pemilihan Umum Kota Pematang Siantar juga menerapkan bentuk komunkasi
kelompok yang bersifat formal yakni kegiatan Rapat Pleno. Dalam kegiatan Rapat
Pleno tersebut setiap karyawan diberikan kesempatan yang sama untuk menyampaikan
berbagai jalan pikirannya masing-masing. Selain itu karyawan juga membahas berbagai
masalah pekerjaan, menyampaikan keluhan, memberikan saran dan pendapat, dan
menyelesaikan konflik.
Suatu organisasi akan berhasil mencapai tujuan organisasinya apabila terdapat
pengambilan keputusan yang tepat. Tanpa adanya pengambilan keputusan yang tepat
maka kondisi kerja tidak akan terasa baik yang akan selanjutnya mengakibatkan
kegagalan dalam pencapaian tujuan organisasi tersebut. Pengambilan keputusan
8
diperlukan dalam setiap aktivitas kantor bila ingin mencapai tingkat produktivitas yang
dapat menciptakan efektivitas dan efisiensi. Berdasarkan hal tersebutlah, komunikasi
formal ini sangat perlu sebagai salah satu jembatan penghubung komunikasi yang
efektif antara pimpinan dan karyawannya dalam menyampaikan pengambilan keputusan
kerja.
Kesimpulan
Berdasarkan keseluruhan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti, maka
diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Kegiatan Operasional yang terjadi di KPU Kota Pematang Siantar meliputi
komunikasi vertikal dan komunikasi horizontal yang terjadi dalam setiap kegiatan
Rapat Pleno yang pelaksanaannya sesuai dengan kebutuhan. Dalam kegiatan Rapat
Pleno setiap karyawan diberikan kesempatan yang sama untuk menyampaikan
berbagai informasi seputar pekerjaan baik yang sudah ataupun yang akan dilakukan.
Selain itu mereka juga membahas berbagai masalah pekerjaan, menyampaikan
keluhan, memberikan saran dan pendapat, menyelesaikan konflik, serta pemberian
hadiah/sanksi sesuai dengan kinerja karyawan. Kegiatan ini bertujuan untuk menilai
kinerja seluruh staff, jajaran dan karyawan.
2. Sebagai sebuah lembaga negara yang menyelenggarakan pemilihan umum di
Indonesia, yakni meliputi Pemilihan Umum Anggota DPR/DPD/DPRD, Pemilihan
Umum Presiden dan Wakil Presiden, serta Pemilihan Umum Kepala Daerah dan
Wakil Kepala Daerah. Terlaksananya pemilu yang jujur dan adil tersebut merupakan
faktor penting bagi terpilihnya wakil rakyat yang lebih berkualitas dan mampu
menyuarakan aspirasi rakyat. Oleh sebab itu, pengambilan keputusan kerja
karyawan yang tepat menjadi hal yang mutlak demi tercapainya visi dan misi KPU.
Pengambilan keputusan berhubungan dengan kewenangan (authority), Kesetian dan
integritas (loyalitas), kepemimpinan (leadership), tanggung jawab (responbility),
dan disiplin.
3. Terdapat hubungan/korelasi antara pengaruh komunikasi formal dalam kegiatan
Rapat Pleno dengan pengambilan keputusan kerja karyawan di KPU Kota Pematang
Siantar. Berdasarkan hasil uji hipotesis, dapat dinyatakan bahwa terdapat hubungan
yang tinggi dan kuat antara pengaruh komunikasi formal dalam kegiatan Rapat
9
Pleno dengan pengambilan keputusan di KPU Kota Pematang Siantar. Hal ini
berarti bahwa kegiatan Rapat Pleno sebagai salah satu bentuk komunikasi formal
memiliki hubungan yang tinggi dan kuat dalam memberikan pengaruh terhadap
pengambilan keputusan kerja karyawan di KPU Kota Pematang Siantar.
Saran Responden Penelitian
Berdasarkan hasil penelitian, ada beberapa responden yang menyarankan agar
dalam setiap pelaksanaan Rapat Pleno akan lebih baik jika diadakan briefing sebelum
karyawan mulai bekerja dan juga diadakan debriefing setelah karyawan selesai bekerja.
Hal ini bertujuan agar seluruh informasi yang diperlukan dalam hasil pekerjaan pada
hari itu dapat langsung dievaluasi, sehingga segala permasalahan kantor dapat
diselesaikan dengan segera mungkin dan juga dapat menghindari terjadinya kekeliruan
dan kesalahan dalam menjalankan aktivitas untuk hari-hari berikutnya.
Saran Dalam Kaitan Akademis
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauhmana hubungan antara
pengaruh komunikasi formal pada kegiatan Rapat Pleno terhadap pengambilan
keputusan kerja karyawan di KPU Kota Pematang Siantar. Secara akademis, penelitian
ini dapat memberikan masukan atau pertimbangan terhadap penelitian yang akan
dilakukan selanjutnya khususnya di lingkungan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Sumatera Utara.
Saran Dalam Kaitan Praktis
Penelitian bersifat korelasional dengan pendekatan kuantitatif yang bertujuan
untuk menemukan ada tidaknya hubungan, berapa erat hubungan dan berarti tidaknya
hubungan antara pengaruh komunikasi formal pada kegiatan Rapar Pleno terhadap
pengambilan keputusan kerja karyawan di KPU Kota Pematang Siantar dari hasil
jawaban responden melalui kuesioner. Jika dikemudian hari dilakukan penelitian ulang
atau masih mengangkat kajian judul seperti ini, peneliti menyarankan untuk melakukan
penelitian dengan menggunakan pendekatan kualitatif agar dapat menggambarkan
secara luas sehingga peneliti dapat mewawancarai responden secara mendalam.
10
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Anwar. 1984. Strategi Komunikasi. Bandung : PT Armico
Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta :
Rineka Cipta.
Atmosudirdjo, Prof. Dr. Prajudi, S.H. 1979. Pengambilan Keputusan (Decision
Making). Jakarta.
Kriyantono, Rachmat. 2007. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana
Prenada Media Group.
Liliweri, Alo. 2001. Komunikasi Antar Pribadi. Bandung : CV Mandar Maju.
Lubis, Suwardi. 2007. Sistem Komunikasi Indonesia. Medan : Bartong Jaya.
Muhammad, Arni. 1995. Komunikasi Organisasi. Jakarta : PT Bumi Aksara.
Mulyana, Deddy. 2005. Komunikasi Kelompok. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Nawawi, Hadari. 1997. Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta: UGM Press.
Pohan, Syafruddin. 2005. Komunikasi Organisasi. Medan : FISIP USU.
Rakhmat, Jalaluddin. 1997. Metode Penelitian Komunikasi. Bandung : PT Remaja
Rosdakarya.
Reksihadiprodjo, Soekanto & T. Hani Handoko. 1991. Organisasi Perusahaan Teori,
Struktur, dan Perilaku. Yogyakarta : BPFE
Ruslan, Rosady. 2003. Manajemen Humas dan Manajemen Komunikasi. Jakarta : PT
Raja Grafindo Persada.
Singarimbun, Masri. 1995. Metode Penelitian Survey. Jakarta: LP3ES.
Suprapto, Tommy. 2006. Pengantar Teori Komunikasi. Yogyakarta : Media
Pressindo
Wahono, R.S. (2001). Pengantar Manajemen Organisasi.
Wayne R Pace dan Don F. Faules. 2005. Komunikasi Organisasi. Bandung : PT
Remaja Rosdakarya.
Wiryanto. 2005. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta : PT. Gramedia Widiasarana
Indonesia.
11
Download