kurs, inflasi dan tingkat imbalan sbis terhadap beta

advertisement
PENGARUH UANG YANG BEREDAR (M2), KURS, INFLASI DAN
TINGKAT IMBALAN SBIS TERHADAP BETA SAHAM SYARIAH
(JAKARTA ISLAMIC INDEX) DAN INDEKS HARGA SAHAM
GABUNGAN (IHSG)
Murtini, SE, M.Si, Ak
Rini Hidayah, SE, M.Si, Ak
Mardela Nurul Barotuttaqiyah,SE
ABSTRACT
The purpose of this research is to know and to analyze the impact of
revolving money (M2), exchange rate, inflation and SBIS return level on the beta
of syariah stock and Jakarta composite index. The technique that is used to take
samples is purposive sampling with criteria of companies that is constantly listed
in JIC since 2009 – 2013. The analysis in this research is using secondary data
that is classified in time series data and naturally quantitative.
The analyzing tool that is used in this research is path analysis, which the
analysis result is done after model filling the condition of normality test, outlier
data, multiocolinierity and singularity. This research is using path analysis
method, with using goodness fit test which is every single variable using 1%
significance level. The result of the research shows that revolving money variable
(M2), exchange rate and inflation have significant impact on SBIS return level.
Revolving money variable (M2) and SBIS return level don’t have significant
impact on beta of syariah stock (JII). Inflation variable and SBIS return level have
significant impact on Jakarta composite index, while beta of syariah stock
variable doesn’t have significant impact on Jakarta composite index.
Key words : Jakarta composite index, beta of syariah stock, SBIS return level,
revolving money, exchange rate, inflation.
PENDAHULUAN
Investasi
dalam
sudut
pandang islam adalah pengorbanan
sumber daya pada masa sekarang
untuk mendapatkan hasil yang pasti,
dengan harapan memperoleh hasil
yang lebih besar dimasa yang akan
datang, baik langsung maupun tidak
langsung yang berdasarkan prinsipprinsip syari’ah. Return investasi
dalam islam sesuai dengan besarnya
sumber daya yang dikorbankan
(Muhammad Nafik, 2009).
Direktur Utama CPAM
Fajar R Hidayat (2014) menyatakan
"Berinvestasi dalam portofolio yang
berprinsip
syariah
mempunyai
potensi kinerja yang relatif stabil,
terutama pada periode pasar yang
berfluktuasi”,
Selain
itu
ia
menambahkan
“Bahwa
produk
investasi berbasis syariah juga dapat
dijadikan
tujuan
diversifikasi
portofolio. Berdasarkan hasil survei
Global Islamic Asset Management
Report 2014, alasan utama investor
global memilih reksadana syariah
adalah
diversifikasi
portofolio.
Secara historis, Fajar menambahkan
bahwa dalam 10 tahun terakhir,
Indeks Harga Saham Gabungan
(IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI)
tercatat mengalami sembilan kali
penurunan cukup tajam diantaranya
pada tahun 2008, 2011 dan 2013.
Koreksi pasar terjadi sangat cepat
sehingga membuat investor sering
kali terlambat mengubah alokasi ke
aset yang berisiko rendah. Resiko itu
bisa dikurangi dengan berinvestasi
pada kelas aset syariah yang terbukti
pada
periode-periode
tersebut
membukukan performa lebih baik
dari
konvensional,"
(www.skalanews.com).
Muhammad Nafik (2009)
menyebutkan umat Islam merupakan
pasar
potensial
yang
dapat
mengembangkan investasi dalam
sektor keuangan syari’ah. Khususnya
di Pasar modal. Namun investasi
syari’ah
di
Indonesia
perkembangannya masih dibawah
Malaysia
yang
penduduknya
muslimnya sekitar 52%, bahkan
investasi syariah berkembang sejajar
dengan pasar investasi konvesional.
Perkembangan pasar modal syariah
di Indonesia meskipun masih di
bawah
Malaysia
menunjukkan
kemajuan yang signifikan seiring
dengan meningkatnya indeks yang di
tunjukkan dalam Jakarta Islamic
Index (JII). Indeks pada JII
mengalami peningkatan walaupun
nilainya tidak sebesar pada indeks
Harga saham Gabungan (IHSG)
tetapi secara prosentase indeks JII
lebih
besar
kenaikannya
dibandingkan dengan IHSG, hal ini
dikarenakan konsep halal, dan
berkah pada pasar modal syari’ah
yang
menggunakan
prinsip,
prosedur, asumsi, instrumentasi, dan
aplikasi bersumber dari nilai
epistemologi islam.
Adrian
Sutedi
(2011)
menyebutkan perbedaan mendasar
antara pasar modal konvensional
dengan pasar modal syari’ah dapat
dilihat
dari
instrumen
dan
mekanisme transaksinya, sedangkan
perbedaan nilai indeks saham
syari’ah dengan nilai indeks saham
konvensional terletak pada kriteria
saham emiten yang harus memenuhi
prinsip-prinsip dasar syari’ah. Secara
konsep pasar modal syari’ah dan
pasar modal konvensional tidak jauh
berbeda meskipun dalam konsep
pasar modal syari’ah disebutkan
bahwa saham yang diperdagangkan
harus berasal dari perusahaan yang
bergerak
dalam
sektor
yang
memenuhi kriteria syari’ah dan
terbebas dari unsur ribawi, serta
transaksi saham dilakukan dengan
menghindarkan berbagai praktik
spekulasi.
Ada dua aspek yang melekat
dalam suatu investasi yaitu return
yang diharapkan dan resiko tidak
tercapainya return yang diharapkan.
Return dan resiko secara teoritis
pada berbagai sekuritas memiliki
hubungan yang positif (Fitriawati,
2009). High Risk High return, Low
risk low return, artinya semakin
besar
resiko
semakin
besar
keuntungan yang di dapat dan
semakin kecil resiko semakin kecil
keuntungan yang di terima. Return
dan resiko selalu berubah setiap saat.
Dikarenakan oleh banyak faktor
yaitu faktor fundamental dan faktor
ekonomi.
Faktor
fundamental
merupakan faktor yang berasal dari
dalam
perusahaan
,
seperti
pemogokan kerja, tuntutan pihak
lain, kinerja perusahaan dan lain-lain.
Sedangkan
faktor
ekonomi
merupakan faktor yang berasal dari
luar perusahaan, misalnya tingkat
suku bunga SBI, tingkat inflasi,
perubahan nilai kurs terhadap mata
uang asing, perubahan
Gross
Domestic
Product
(GDP) dan lain-lain
Halim (2003) menyatakan
dalam konteks portofolio resiko
sekuritas dibedakan menjadi dua
yaitu resiko sistematik dan resiko
tidak sistematik. Resiko sistematik
adalah resiko yang tidak dapat
dihilangkan
dengan
melakukan
diversifikasi, karena fluktuasi resiko
ini dipengaruhi oleh faktor-faktor
makro yang dapat mempengaruhi
kondisi pasar secara keseluruhan,
seperti perubahan tingkat inflasi,
kurs, suku bunga, uang yang beredar,
kebijakan
pemerintah
dan
sebagainya. Hal ini bersifat umum
dan berlaku bagi semua saham dalam
bursa saham yang bersangkutan.
Resiko tidak sistematik adalah resiko
yang dapat dihilangkan dengan
melakukan diversifikasi, karena
resiko ini hanya ada dalam suatu
perusahaan atau industri tertentu.
Karena itu investor perlu melakukan
analisis tentang resiko saham yang
akan dipilihnya. Untuk mengukur
resiko digunakan koefisien beta
saham .
Beta
saham
adalah
pengukur resiko sistematik dari suatu
sekuritas atau portofolio relatif
terhadap
resiko
pasar.
Beta
menggambarkan volatilitas return
suatu sekuritas terhadap
return
pasar. Mengetahui beta saham
sekuritas merupakan hal penting
untuk menganalisis sekuritas atau
portofolio. Halim (2003) menyatakan
bahwa
beta
suatu
sekuritas
menunjukan
kepekaan
tingkat
keuntungan suatu sekuritas terhadap
perubahan perubahan pasar.
Beberapa variabel yang
sering digunakan dalam melakukan
analisis ekonomi makro adalah suku
bunga SBI, tingkat inflasi, nilai tukar
mata uang asing, jumlah uang
beredar, dan lain- lain. Variabel
variabel tersebut mempengaruhi
resiko (beta) saham, sehingga
seorang
investor
dapat
mempertimbangkan keputusan dalam
memilih alternatif investasi nya yang
lebih
menguntungkan
dengan
meminimalisir resiko .
Di Indonesia penelitian
mengenai pasar modal syariah
sebelumnya telah dilakukan beberapa
penelitian dengan obyek pasar modal
syariah, tetapi penelitian mengenai
beta saham syariah masih belum
banyak
dilakukan.
Beberapa
penelitian yang pernah dilakukan
sebelumnya diantaranya Mukharis
Tohiri (2008) meneliti pengaruh
rasio keungan terhadap beta saham.
Adapun penelitian lain dengan
variabel ekonomi makro dilakukan
oleh Fidiana
(2010), Fitriawati
(2009), Nor Isnaini dan Nunung
Ghoniyah
(2013)
serta
Vina
Rahmatika (2013).
Hasil penelitian menunjukan
bahwa variabel Kurs berpengaruh
signifikan terhadap beta saham
syariah menurut penelitian Robiatul
Auliyah dan Ardi Hamza (2006),
serta Nor Isnaini dan Nunung
Ghoniyah
(2013)
dan
Vina
Rahmatika (2013), hal ini berbeda
pada penelitian Fitriawati (2009),
Suhadi (2009) dan Khotimatul
khusna (2009) yang memiliki hasil
penelitian bahwa variabel kurs tidak
berpengaruh signifikan terhadap beta
saham syariah.
Hasil penelitian dengan
Variabel Inflasi menunjukan bahwa
variabel
inflasi
berpengaruh
signifikan terhadap beta saham
syariah pada penelitian yang
dilakukan oleh Fitriawati (2009), Nor
Isnaini dan Nunung Ghoniyah
(2013), Suhadi (2009) dan Vina
Rahmatika (2013), Hal Ini berbeda
dengan hasil penelitian yang
dilakukan oleh Khotimatuk Khusna
(2009), Fidiana (2010) dan Ming
Chen (2014) yang menunjukan hasil
variabel inflasi tidak berpengaruh
signifikan terhadap beta saham
syariah.
Variabel suku bunga SBI
dari ketiga penelitian yang dilakukan
oleh Fitriawati (2009), Nor Isnaini
dan Nunung Ghoniyah (2013), dan
Khotimatul Khusna (2009) memiliki
hasil yang sama yaitu berpengaruh
signifikan terhadap beta saham
syariah, dan variabel uang yang
beredar (M2) dari dua penelitian
yang dilakukan oleh fitriawati (2009)
dan Ming chen (2014) memiliki hasil
yang sama yaitu tidak berpengaruh
signifikan terhadap beta saham
syariah.
Penelitian
mengenai
pengaruh variabel makro ekonomi
terhadap
IHSG
juga
banyak
dilakukan diantaranya oleh Aditya
Novianto (2011), Mohamad Ridwan
(2013),
Divianto
(2013)
dan
Musdalifah Aziz (2011). Hasil
menunjukan bahwa variabel Inflasi
Berpengaruh signifikan terhadap
IHSG menurut penelitian Divianto
(2013), hal ini berbeda pada
penelitian yang dilakukan oleh
Musdalifah Aziz(2011) dan Aditya
Novianto (2011) yang menunjukan
hasil
variabel
Inflasi
tidak
berpengaruh signifikan terhadap
IHSG.
Hasil penelitian menunjukan
bahwa variabel Kurs berpengaruh
signifikan terhadap IHSG menurut
penelitian Aditya Novianto (2011),
Mohamad Ridwan (2013), Divianto
(2013), hal ini berbeda pada
penelitian yang dilakukan oleh
Musdalifah Aziz (2011) yang
menunjukan hasil variabel Kurs tidak
berpengaruh signifikan terhadap
IHSG.
Hasil penelitian menunjukan
bahwa variabel tingkat suku bunga
SBI berpengaruh signifikan terhadap
IHSG menurut penelitian Musdalifah
Aziz (2011), hal ini berbeda pada
penelitian yang dilakukan oleh
Aditya Novianto (2011) dan Divianto
(2013) yang menunjukan hasil
variabel tingkat suku bunga SBI
tidak
berpengaruh
signifikan
terhadap
IHSG.
Sedangkan
penelitian yang mengunakan variabel
uang yang beredar dialkukan oleh
Mohamad
Ridwan
(2013)
menunjukan hasil bahwa variabel
uang yang beredar berpengaruh
signifikan terhadap IHSG.
TELAAH LITERATUR DAN
PENGEMBANGAN HIPOTESIS
Teori Portofolio
Teori portofolio dikembangkan oleh
Markowitz (1952), berhubungan
dengan pemilihan portofolio yang
dapat memaksimalkan pengembalian
yang diharapkan sesuai dengan
tingkat risiko yang dapat diterima.
Dengan
menggunakan
model
kuantitatif dan data historis, teori
portofolio
mendefinisikan
pengembalian
portofolio
yang
diharapkan dan tingkat risiko
portofolio yang dapat diterima serta
menunjukkan cara pembentukan
portofolio yang optimal.
Ada banyak model yang
digunakan
untuk
pengambilan
keputusan
investasi.
Dalam
melakukan investasi investor selalu
memper-timbangkan dua hal, yaitu
risk dan return. Untuk menghitung
retun, investor harus mengetahui
keberadaan
undervalued
atau
overvalued securities, dan untuk
tujuan itu banyak model yang
digunakan. Risk dan return analysis
dari Harry Markowitz (1952) yang
kemudian dikembangkan oleh Jack
Treynor (1965), William Sharpe
(1966), Michael Jensen (1968), dan
Treynor & Black (1973) merupakan
suatu cara yang objektif untuk
memprediksi harga atau return
sekuritas karena didasarkan pada
data riil masa sebelumnya yang
kemudian dirata-ratakan dan diolah.
Dalam berinvestasi di pasar
modal khususnya portofolio, seorang
investor selain menghitung return
yang
diharapkan,
juga
harus
memperhatikan risiko yang harus
ditanggungnya. APT (Arbitrage
Pricing Theory) dan CAPM (Capital
Asset Pricing Model) merupakan
model keseimbangan yang sering
digunakan untuk menentukan risiko
yang relevan terhadap suatu aset,
serta hubungan risiko dan return
yang
diharapkan.
CAPM
menggunakan volatilitas return suatu
sekuritas atau return portofolio
terhadap return pasar sebagai
pengukur risiko. Sedangkan APT
menggunakan
banyak
variabel
sebagai pengukurnya yang sering
disebut dengan model faktor.
Menurut Sharpe (1966),
CAPM adalah model penetapan
harga aktiva equilibrium yang
menyatakan bahwa expected return
atas sekuritas tertentu adalah fungsi
linier positif dari sensitifitas sekuritas
terhadap
perubahan
return
portofolio. CAPM menjelaskan
hubungan antara return dengan beta.
Beta
menunjukkan
hubungan
(gerakan) antara saham dan pasarnya
(saham secara keseluruhan). Dalam
keadaan equilibrium, required rate of
return investor untuk suatu saham
akan dipengaruhi oleh risiko saham
tersebut. Dalam hal ini risiko yang
diperhitungkan
hanyalah
risiko
sistimatis
atau
risiko
pasar.
Sedangkan risiko yang tidak
sistimatis dianggap tidak relevan
karena risiko ini dapat dihilangkan
melalui diversifikasi.
Tingkat Suku Bunga SBI/Tingkat
Imbalan SBIS, Inflasi, Kurs Dan
Uang Yang Beredar
Fluktuasi resiko sistematik
dipengaruhi oleh faktor faktor makro
yang dapat mempengaruhi kondisi
pasar secara keseluruhan, seperti
perubahan tingkat inflasi, kurs, suku
bunga, uang yang beredar, kebijakan
pemerintah dan sebagainya. Suku
bunga SBI maupun tingkat imbalan
SBIS merupakan instrumen moneter
yang penting dalam perekonomian
negara Indonesia yang berada
dibawah tanggung jawab bank
Indonesia melalui lelang SBI dan
SBIS, jumlah uang yang beredar
diatur agar tercapai target inflasi
yang ditetapkan dan dari proses
lelang yang mengikuti mekanisme
pasar inilah maka terbentuk suku
bunga SBI dan tingkat imbalan SBIS.
Tingkat suku bunga atau tingkat
imbalan akan berpengaruh terhadap
resiko (beta) saham, ketika tingkat
suku bunga atau tingkat imbalan
tinggi maka return saham akan
cenderung mengalami penurunan
begitu pula sebaliknya.
Perubahan nilai kurs timbul
ketika terdapat perubahan kurs antara
tanggal transaksi dan tanggal
penyelesaian pos moneter yang
timbul dari transaksi dalam mata
uang asing. Return yang di harapkan
dari investasi akan mengalami
penurunan dengan cepat jika nilai
kurs berubah tajam, sehingga bagi
pelaku ekonomi semakin rendah
tingkat perubahan nilai kurs adalah
semakin baik. Hal ini akan
berpengaruh terhadap keputusan
investor
dalam
berinvestasi,
permintaan terhadap saham menjadi
turun dan resiko saham semakin
meningkat.
Tingkat inflasi merupakan
variabel ekonomi makro yang paling
penting, hal ini disebabkan karena
inflasi dapat berpengaruh buruk pada
struktur biaya produksi dan tingkat
kesejahteraan. Laju kenaikan inflasi
ini di sebabkan oleh banyak faktor,
diantarnya yaitu peningkatan jumlah
uang yang beredar. Inflasi yang
semakin
meningkat
merupakan
sinyal negatif bagi para investor.
Investor akan cenderung melepas
sahamnya bila terjadi peningkatan
inflasi, terlebih pada saat inflasi yang
tak
terkendali.
Kecenderungan
investor melepas sahamnya akan
menyebabkan harga saham menurun,
dan hal ini akan menyebabkan resiko
(beta) saham naik
Variabel makro ekonomi
lainya yaitu jumlah uang yang
beredar, Menurut Sadono Sukirno
(1998) uang beredar adalah semua
jenis uang yang berada di
perekonomian, yaitu adalah jumlah
dari mata uang dalam peredaran
ditambah dengan uang giral dalam
bank-bank umum. Uang beredar
dalam artian sempit biasa dikenal
dengan istilah Broad Money (M2).
Jumlah uang yang beredar diawasi
secara ketat oleh para ekonom dan
bank
sentral
mengembangkan
kebijakan di sekitarnya. Jumlah uang
yang
beredar
juga
akan
mempengaruhi tingkat harga, inflasi
dan siklus bisnis. Peningkatan
jumlah uang beredar biasanya
menurunkan suku bunga, sehingga
akan menyebabkan
investasi
meningkat dan menempatkan lebih
banyak uang di tangan konsumen,
sehingga merangsang pengeluaran.
Return
Return merupakan salah
satu faktor yang memotivasi investor
berinvestasi dan merupakan imbalan
atas
keberanian
investor
menangggung resiko atas investasi
yang dilakukannya. Jogiyanto (2010)
menyatakan return dapat dibedakan
menjadi:
1. Return
Realisasi
(realized
return), Merupakan return yang
telah terjadi. Return dihitung
berdasarkan
data
histories.
Perhitungan return realisasi
disini menggunakan return total.
Return
total
merupakan
keseluruhan dari suatu investasi
dalam suatu periode tertentu.
2.
Return Ekspektasi (Expected
Return),
merupakan
return
yang digunakan
untuk
pengambilan
keputusan
investasi. Return ini penting
dibandingkan dengan return
historis karena return ekspektasi
merupakan
return
yang
diharapkan dari investasi yang
dilakukan.
Resiko
Tujuan
investor
menginvestasikan dananya adalah
untuk mendapatkan return dengan
konsekuensinya
harus
berani
menanggung
resiko.
Untuk
mengurangi resiko investasi, investor
harus mengenali jenis resiko
investasi. Jenis resiko investasi ini
dikelompokan
menjadi
dua
kelompok besar
yaitu resiko
sistematik
dan
resiko
tidak
sistematik.
Jogiyanto
(2007)
menyatakan bahwa beta merupakan
resiko sistematis dari suatu saham
atau portofolio relatif terhadap resiko
pasar. Beta saham berfungsi untuk
mengukur volatilitas return saham,
atau portofolio terhadap return
pasar.
Volatilitas
merupakan
fluktuasi return suatu saham atau
portofolio dalam suatu periode
tertentu, jika secara statistik fluktuasi
tersebut mengikuti fluktuasi dari
return-return pasar, maka dikatakan
beta dari sekuritas tersebut bernilai
satu. Fluktuasi tersebut menunjukkan
risiko sistematis dari saham tersebut,
semakin besar return suatu saham
berfluktuasi terhadap return pasar,
maka risiko sistematisnya akan lebih
besar, demikian pula sebaliknya,
semakin kecil fluktuasi return suatu
saham terhadap return pasar,
semakin kecil pula beta saham
tersebut. Beta suatu sekuritas juga
menunjukan
kepekaan
tingkat
keuntungan suatu sekuritas terhadap
perubahan perubahan pasar.
Perumusan Hipotesis
H1 : Uang Yang Beredar (M2)
berpengaruh
signifikan
terhadap tingkat imbalan
SBIS
H2 : Kurs berpengaruh signifikan
terhadap tingkat imbalan
SBIS
H3 : Tingkat inflasi berpengaruh
signifikan terhadap tingkat
imbalan SBIS
H4 : Uang yang beredar (M2)
berpengaruh
signifikan
terhadap beta saham syariah
(JII)
H5 : Tingkat
imbalan
SBIS
berpengaruh
signifikan
terhadap beta saham syariah
(JII)
H6 : Tingkat Inflasi berpengaruh
signifikan terhadap IHSG
melalui tingkat imblan SBIS
H7 : Tingkat
imbalan
SBIS
berpengaruh
signifikan
terhadap IHSG
H8 : Beta
saham
syariah
berpengaruh
signifikan
terhadap IHSG
METODE PENELITIAN
Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian
ini adalah saham perusahaan yang
terdaftar di jakarta islamic indeks
(JII). Sedangkan teknik pengambilan
sampel
dilakukan
dengan
menggunakan Purposive sampling
dengan kriteria sebagai berikut :
1. Perusahaan yang terdaftar di
Jakarta Islamic Index (JII)
2. Perusahaan yang konstan
terdaftar di Jakarta Islamic
Index (JII) selama periode
2009-2013
Variabel Penelitian dan Definisi
Operasional
Metode yang dipakai dalam
penelitian ini yaitu menggunakan
Path analisis (analisis jalur). Dalam
penelitian ini ada dua variabel
endogen yaitu beta saham JII dan
IHSG, sedangkan variabel eksogen
yaitu variabel yang diduga secara
bebas berpengaruh terhadap variabel
endogen, yaitu JII (Y1), dan IHSG
(Y2), Uang beredar dalam artian luas
(X1), kurs (X2), Inflasi (X3) dan
tingkat imbalan sertifikat bank
Indonesia syariah (X4). Adapun
penjelasan masing masing variabel
yaitu :
1. Uang Yang beredar/M2 (X1)
Dalam
penelitian
ini
menggunakan uang beredar
dalam artian luas (M2) yang
biasa disebut Broad Money (M2)
yaitu M1 ditambah dengan
deposito berjangka dan tabungan
milik masyarakat pada bankbank.
M2 = M1 + TD + SD
Dimana:
TD = Time
deposits
(deposito berjangka)
SD = Savings
Deposits
(Saldo Tabungan)
Sumber : Fitriawati (2009)
2. Nilai tukar terhadap dollar
amerika/Kurs (X2)
Nilai tukar antar mata uang
(Exchange Rate) adalah jumlah
dari suatu mata uang yang
diserahkan untuk mendapatkan
3.
mata uang yang lain. Kurs dalam
penelitian ini yang dimaksud
adalah pertumbuhan nilai kurs
dalam satuan persen, yang dapat
dihitung dengan rumus :
NK t –
X
NKt-1
100
NKt-1
Sumber : Fitriawati (2009)
Dimana
t
menunjukan
perubahan nilai kurs dalam
jangka waktu bulanan. Kurs
yang digunakan adalah kurs
tengah mata uang dollar (US$),
hal ini dikarenakan mata uang
US$ merupakan mata uang
dunia yang sering digunakan
dalam perdagangan.
Inflasi (X3)
Menurut sukirno inflasi adalah
suatu proses kenaikan hargaharga yang berlaku dalam suatu
perekonomian.
Untuk
menghitung besarnya inflasi
terlebih dahulu harus diketahui
indek
harga
konsumen
(IHK). Untuk menghitung IHK
digunakan rumus :
Harga sekarang
IHK = ----------------------- x 100%
Harga pada tahun dasar
untuk
adalah:
Sedangkan rumus
menghitung inflasi
IHKn – IHKn-1
Inflasi = -------------------- x 100%
IHKn-1
Sumber : Fitriawati (2009)
4.
Tingkat Imbalan Sertifikat
Bank Indonesia Syariah/SBIS
(X4)
Menurut
peraturan
Bank
Indonesia No.10/ 11 /PBI/2008
Sertifikat
Bank
Indonesia
Syariah yang selanjutnya disebut
SBIS adalah surat berharga
berdasarkan Prinsip Syariah
berjangka waktu pendek dalam
mata
uang
rupiah
yang
diterbitkan oleh Bank Indonesia
SBI. Dalam penelitian, tingkat
imbalan SBIS yang digunakan
adalah dalam periode bulanan
dengan rumus sebagai berikut:
Adapun perhitungan
IHSG
dilakukan dengan rumus sebagai
berikut :
IHSG = (Ht / H0) X 100%
Ht : Total harga semua saham
pada waktu yang berlaku
H0 : Total harga semua saham
pada waktu dasar
Sumber : www.idx.co.id
Analisis Jalur ( Path Analysis )
Rata-rata tingkat imbalan SBIS
= Jumlah tingkat imbalanSBIS periode harian selama 1 bulan Analisis jalur adalah suatu
jumlah periode waktu selama 1 bulan.
teknik pengembangan dari regresi
5.
Sumber : Fitriawati (2009)
Beta saham syariah Jakarta
islamic index (Y1)
Jones (2004) menyatakan bahwa
beta adalah ukuran resiko
sistematis dari sekuritas yang
merupakan bagian dari resiko
total dan tidak bisa dihilangkan
dengan diversifikasi.
Dalam penelitian ini pengukuran
beta
saham
menggunakan
CAPM.
Adapun
model
matematika CAPM yaitu ;
E(Ri) = Rf + β (Rm – Rf)
6.
Keterangan :
Ri = return
saham
perusahaan
Rf = Return investasi bebas
risiko (Risk Free)
Rm = return pasar (IHSG)
Β =Beta saham i (indikator
risiko sistematis)
Indeks Saham Gabungan/
IHSG (Y2)
Menurut Robert Ang (1997)
pengertian IHSG adalah Indeks
Harga Saham Gabungan (IHSG)
merupakan suatu nilai yang
digunakan untuk mengukur
kinerja saham yang tercatat
dalam suatu bursa efek.
linear berganda. Analisis jalur
dikembangkan oleh Sewal Wright
pada tahun 1934.
Abdurahman
(2007) menyatakan tujuan analisis
jalur untuk menjelaskan akibat
langsung dan tidak langsung
seperangkat
variabel,
sebagai
variabel penyebab terhadap variabel
lainnya yang merupakan variabel
akibat. Pengaruh langsung dilakukan
dengan cara melihat hubungan antara
variabel eksogen terhadap variabel
endogen tanpa melalui veriabel
ekogen lainnya, sedangkan untuk
pengaruh tidak langsung dilakukan
Kriteria Seleksi Sampel Sampel
Perusahaan yang
30
terdaftar di JII setiap
periode
Perusahan yang tidak
(20)
konstan terdafar di JII
Perusahaan yang konstan
10
terdaftar di JII dari tahun
2009-2013
melalui variabel eksogen lainnya.
Langkah pertama dalam
Path analysis
yaitu merancang
paradigma penelitian berdasarkan
teori , konsep dan fakta. Paradigma
penelitian ini kemudian dinyatakan
dalam bentuk persamaan sebagai
berikut:
Y=Pyx1X1 + Pyx2X2 + Pyx3X3 + PyƐ1
a. X4 = ρX4 X1 + ρX4 X2 + ρX4 X3
+ Ɛ1
b. Y1 = ρY1 X1 + ρY1 X4 + ρX4 X2
+ ρX4 X3 + Ɛ2
c. Y2 = ρY2 X3 + ρY2 X4 + ρX4 X2
+ ρY2 Y1 + ρY1 X1 + Ɛ3
Pada persamaan strtuktural
pertama X1, X2, X3 merupakan
variabel eksogen, dan Ɛ1 sebagai
variabl residu. Persamaan kedua X1,
X4, X2, X3 merupakan variabel
ksogen, Y1 sebagai variabel endogen,
dan Ɛ2 sebagai variabel residu.
Persamaan ketiga X3, X4, X2, X1
merupakan variabel eksogen, Y2 Y1
sebagai variabel endogen, dan Ɛ3
sebagai variabel residu. Nilai Ɛ
(epsilon) dalam persamaan struktural
tersebut adalah variabel residu atau
kesaahan pengganggu ( disturbance
eror).
HASIL PENELITIAN DAN
PEMBAHASAN
Deskripsi Objek Penelitian
Objek
penelitian
yang
digunakan dalam penelitan ini adalah
Perusahaan yang terdaftar di Jakarta
Islamic Index (JII) pada periode
tahun 2009 – 2013 (lima tahun). Ada
30 Perusahaan yang terdaftar di
Jakarta Islamic Indexs (JII) yang
telah memenuhi kriteria penyaringan
syariah.
Tabel 1
Seleksi Pemilihan Sampel
Berdasarkan tabel 1 dengan
menggunakan metode purposive
sampling, diperoleh 10 Sampel
perusahaan yang terdaftar di Jakarta
Islamic Indexs (JII) yang memenuhi
kriteria dan dijadikan sampel pada
penelitian ini. Data yang diambil
merupakan data bulanan, dengan
periode 5 tahun sehingga total data
berjumlah 12 x 5 x 10 = 600.
Analisis Statistik Deskriftif
Berdasarkan
hasil
pengolahan
statistik
deskriptif,
variabel Beta saham JII (Y1)
diperoleh rata-rata hitung (mean)
sebesar 0.35911 , standar deviasi
sebesar 0.19442 serta nilai minimum
sebesar -0.1132 (PT. Indocement
Tunggal Prakarsa Tbk.) dan nilai
maksimum sebesar 1.1532 (PT.
Unilever Indonesia Tbk). Variabel
IHSG (Y2) diperoleh rata-rata hitung
(mean) sebesar 3516.22 , standar
deviasi sebesar 953.80 serta nilai
minimum sebesar 1,285 dan nilai
maksimum sebesar 5,069.
Variabel jumlah uang yang
beredar (M2) (X1) diperoleh rata-rata
hitung (mean) sebesar 2,652,840.49,
standar deviasi sebesar 556,933.03.
Variabel Kurs (X2) diperoleh ratarata hitung (mean) sebesar 9,619.13,
standar deviasi sebesar 883.29.
Variabel
tingkat
inflasi
(X3)
diperoleh rata-rata hitung (mean)
sebesar 0.00444, standar deviasi
sebesar 0.00148. Variabel tingkat
imbalan SBIS (X4) diperoleh ratarata hitung (mean) sebesar 0.00508.
Uji Normalitas
Berdasarkan uji normalitas
terdapat nilai C.R. untuk skewnwss
yang berada di luar rentang ±2.58
(tingkat signifikansi 0.01), hal ini
menunjukan
asumsi
normalitas
secara univariate tidak terpenuhi,
sedangkan secara multivariat sebesar
-1.075 yang lebih kecil dari nilai
kritis yang di tetapkan ( ±2.58).
Asumsi normalitas secara multivariat
pada penelitian ini dapat dipenuhi.
Hal ini berarti data bisa dinyatakan
terdistribusi secara normal (Studi
Hair,et.al :1995)
Uji Goodness of Fit Index
Tabel 2
Uji Goodness of Fit Index
Berdasarkan hasil diatas jika
ada satu atau lebih parameter yang
telah fit maka model dinyatakan fit
(Samuel,2007).
Model Analisis Jalur (Path
Analysis)
Berdasarkan hasil analisis
menggunakan Amos, hubungan
kausalitas antar variabel maka
pengujian hipotesis dapat dijelaskan
pada Gambar 2 sebagai berikut:
Gambar 1
Model Analisis Jalur (Path Analysis)
variabel uang yang beredar, kurs, dan
tingkat inflasi sebesar 75.5%,
sedangkan 24.5% adalah variabel
lain yang tidak di teliti seperti BI
rate, suku bunga SBI, GNP, GDP
dan lain sebagainya. Jadi dapat
disimpulkan bahwa model cukup
baik.
Nilai Squared Multiple
Correlations (R2)
variabel Y1
sebesar 0.017 yang berarti variabel
beta saham JII yang dapat dijelaskan
oleh variabel uang yang beredar,
kurs, tingkat inflasi dan tingkat
imbalan SBIS sebesar 1.7%,
sedangkan 98.3% adalah variabel
lain yang tidak di teliti seperti ukuran
perusahaan, DER, EPS, ROE,
Profitabilitas dan lain sebagainya.
Jadi dapat disimpulkan bahwa model
kurang baik.
Nilai Squared Multiple
Correlations (R2)
variabel Y2
sebesar 0.633 yang berarti variabel
IHSG yang dapat dijelaskan oleh
variabel uang yang beredar, kurs,
tingkat inflasi, tingkat imbalan SBIS
dan beta saham JII sebesar 63.3%,
sedangkan 36.7% adalah variabel
lain yang tidak di teliti seperti Bi
rate, suku bunga SBI, GDP, GNP,
ukuran perusahaan, profitabilitas,
ROE, DER, EPS dan lain
sebagainya. Jadi dapat disimpulkan
bahwa model cukup baik
Pengujian
Pembahasan
Berdasarkan hasil pengujian
nilai Squared Multiple Correlations
(R2) variabel X4 sebesar 0.755 yang
berarti variabel tingkat suku bunga
SBIS yang dapat dijelaskan oleh
Hipotesis
dan
Berdasarkan tabel 5, maka
model regresi yang dapat diperoleh
adalah sebagai berikut:
a. SBIS = 0.005 + 0.000 M2 +
0.000 Kurs + 0.370 Inflasi + Ɛ1
b. Beta saham(JII) = 0.348 +0.000
M2 + 14.749 SBIS + 0.000 Kurs
+ 0.370 Inflasi + Ɛ2
c. IHSG
=
6253.3
+
318442.17 Inflasi – 825360.94
SBIS + 0.000 Kurs + 106.27
Beta JII + 0.000 M2 + Ɛ
3
Pengaruh Uang yang Beredar
terhadap Tingkat Imbalan SBIS
Berdasarkan uji Maximum
Likelihood estimates, didapatkan
bahwa kemampuan Tingkat imbalan
SBIS dipengaruhi uang yang beredar
(M2)
dengan
nilai
koefisien
standarized sebesar -0.751 dengan
angka signifikansi 0.000 pada taraf
signifikansi pada (α= 0.01). Hal ini
menunjukan bahwa uang yang
beredar
berpengaruh
signifikan
terhadap tingkat imbalan SBIS.
Pengaturan jumlah uang
yang beredar pada masyarakat diatur
dengan cara menambah atau
mengurangi jumlah uang yang
beredar, hal ini dilakukan dengan
cara
menjalankan
instrumen
kebijakan moneter,
salah satu
kebijakan itu yaitu Operasi Pasar
Terbuka (Open Market Operation).
Operasi pasar terbuka merupakan
cara mengendalikan uang yang
beredar dengan cara menjual atau
membeli surat berharga pemerintah
(government securities) yang salah
satunya berupa Sertifikat Bank
Indonesia
syariah.
Apabila
pemerintah akan menambah jumlah
uang yang beredar, pemerintah akan
menurunkan suku bunga SBI dan
tingkat imbalan SBIS sehingga
masyarakat akan cenderung lebih
memilih menyimpan uang tunai
karena semakin rendah tingkat suku
bunga akan semakin rendah ongkos
memegang uang dan pemerintah
dapat membeli surat berharga yang
salah satunya yaitu SBI dan SBIS,
begitu pula sebaliknya Apabila
pemerintah akan mengurangi jumlah
uang yang beredar, pemerintah akan
menaikan suku bunga SBI dan
tingkat imbalan SBIS sehingga
masyarakat akan cenderung lebih
memilih membelanjakan uang tunai
dengan membeli surat berharga
karena semakin tinggi tingkat suku
bunga atau tingkat imbalan akan
semakin tinggi ongkos memegang
uang tunai dan pemerintah dapat
menjual surat berharga yang salah
satunya yaitu SBI dan SBIS.
Hasil tersebut konsisten
dengan hasil penelitian yang
dilakukan oleh Fitriawati (2009),
yang menunjukan hasil bahwa uang
yang beredar berpengaruh terhadap
suku bunga SBI.
Pengaruh Kurs terhadap Tingkat
Imbalan SBIS
Berdasarkan uji Maximum
Likelihood estimates, didapatkan
bahwa kemampuan Tingkat imbalan
SBIS dipengaruhi kurs dengan nilai
koefisien standarized sebesar 0.231
dengan angka signifikansi 0.000
pada taraf signifikansi pada (α=
0.01). Hal ini menunjukan bahwa
kurs berpengaruh signifikan terhadap
tingkat imbalan SBIS.
Implementasi
kebijakan
moneter salah satunya dilakukan
dengan kebijakan nilai tukar yang
sering di sebut kurs, hal ini memiliki
peran yang sangat penting agar
tercapai stabilitas moneter dan
mendukung kegiatan ekonomi di
Indonesia sebab nilai tukar yang
stabil
diperlukan
agar
dapat
menciptakan iklim yang kondusif
bagi kegiatan usaha. Salah satu
langkah kebijakan jangka pendek di
bidang moneter yang dilakukan BI
untuk mengatasi melemahnya nilai
tukar rupiah yaitu dengan cara
melakukan pelelangan misalnya
lelang suku bunga Sertifikat bank
Indonesia dan SBIS yang hal ini
bertujuan untuk menyerap likuiditas
dengan instrumen fine tune kontraksi
dengan
variabel
rate
tender,
pemerintah akan menaikan suku
bunga Sertifikat Bank Indonesia
(SBI) dan tingkat imbalan SBIS
secara signifikan.
Hasil
tersebut
tidak
konsisten dengan hasil penelitian
yang dilakukan oleh Fitriawati
(2009), menyatakan bahwa kurs
tidak berpengaruh terhadap suku
bunga SBI.
Pengaruh Tingkat Inflasi terhadap
Tingkat Imbalan SBIS
Berdasarkan uji Maximum
Likelihood estimates, didapatkan
bahwa kemampuan Tingkat imbalan
SBIS dipengaruhi inflasi dengan nilai
koefisien standarized sebesar 0.532
dengan angka signifikansi 0.000
pada taraf signifikansi pada (α=
0.01). Hal ini menunjukan bahwa
inflasi
berpengaruh
signifikan
terhadap tingkat imbalan SBIS.
SBIS merupakan instrumen
moneter yang dipergunakan oleh
Bank
Indonesia
untuk
mengendalikan
inflasi.
Apabila
terjadi kenaikan inflasi Bank
Indonesia akan berusaha untuk
menarik dana di masyarakat lebih
besar melalui lelang SBIS. Agar dana
masyarakat yang beredar dapat lebih
banyak di tarik oleh Bank Indonesia
maka Bank Indonesia menaikan
tingkat imbalan SBIS sebaliknya
Apabila laju inflasi menurun untuk
meningkatkan jumlah uang yang
beredar bank Indonesia akan
menurunkan tingkat imbalan SBIS
sehingga masyarakat tidak tertarik
untuk membeli SBI dan SBIS.
Hasil tersebut konsisten
dengan hasil penelitian yang
dilakukan oleh Fitriawati (2009),
menyatakan
bahwa
inflasi
berpengaruh terhadap suku bunga
SBI
Pengaruh Uang Yang Beredar
(M2) terhadap Beta saham Syariah
(JII).
Berdasarkan uji Maximum
Likelihood estimates, didapatkan
bahwa kemampuan beta saham
syariah (JII) dipengaruhi jumlah
uang yang beredar (M2) dengan nilai
koefisien standarized sebesar -0.069
dengan angka signifikansi 0.158
pada taraf signifikansi pada (α=
0.01). Hal ini menunjukan bahwa
kurs tidak berpengaruh signifikan
terhadap beta saham syariah (JII).
Hal tersebut dikarenakan
uang yang beredar bukan satusatunya hal yang mempengaruhi beta
saham syariah (JII), beta dipengaruhi
oleh banyak hal, tidak hanya faktor
eksternal seperti kondisi makro
ekonomi tetapi juga dipengaruhi oleh
faktor internal perusahaan, besarnya
beta saham juga dipengaruhi oleh
masing masing kondisi perusahaan.
Hasil tersebut konsisten
dengan hasil penelitian yang
dilakukan oleh Fitriawati (2009) dan
Ming Chen (2014), menyatakan
bahwa uang yang beredar tidak
berpengaruh signifikan terhadap beta
saham syariah (JII).
Pengaruh Tingkat Imbalan SBIS
terhadap Beta saham Syariah (JII)
Berdasarkan uji Maximum
Likelihood estimates, didapatkan
bahwa kemampuan beta saham
syariah (JII) dipengaruhi tingkat
imbalan SBIS dengan nilai koefisien
standarized sebesar 0.078 dengan
angka signifikansi 0.111 pada taraf
signifikansi pada (α= 0.01). Hal ini
menunjukan bahwa tingkat imbalan
SBIS tidak berpengaruh signifikan
terhadap beta saham JII.
Sama halnya dengan uang
yang
berdar,
Hal
tersebut
dikarenakan tingkat imbalan SBIS
bukan satu- satunya hal yang
mempengaruhi beta saham syariah
(JII), beta dipengaruhi oleh banyak
hal, tidak hanya faktor eksternal
seperti kondisi makro ekonomi tetapi
juga dipengaruhi oleh faktor internal
perusahaan, besarnya beta saham
dipengaruhi oleh masing masing
kondisi perusahaan.
Hasil
tersebut
tidak
konsisten dengan hasil penelitian
yang dilakukan oleh Fitriawati
(2009), Khotimatul Khusna (2009),
serta Nor Isnaini dan Nunung
Ghoniyah (2013) yang menyatakan
Suku bunga SBI berpengaruh
signifikan terhadap beta saham
syariah (JII).
Pengaruh
Tingkat
Inflasi
Terhadap IHSG
Berdasarkan uji Maximum
Likelihood estimates, didapatkan
bahwa
kemampuan
IHSG
dipengaruhi inflasi dengan nilai
koefisien standarized sebesar 0.495
dengan angka signifikansi 0.000
pada taraf signifikansi pada (α=
0.01). Hal ini menunjukan bahwa
Tingkat
inflasi
berpengaruh
signifikan terhadap IHSG.
Mohamad Ridwan (2013)
menyatakan tingkat inflasi yang
tinggi biasanya dikaitkan dengan
kondisi ekonomi yang terlalu panas
(overheated).
Artinya,
kondisi
ekonomi mengalami permintaan atas
produk yang melebihi kapasitas
penawaran produknya, sehingga
harga‐harga cenderung mengalami
kenaikan.
Inflasi yang terlalu tinggi
juga akan menyebabkan penurunan
daya beli uang (purchasing power of
money). Disamping itu, inflasi yang
tinggi juga bisa mengurangi tingkat
pendapatan riil yang diperoleh
investor dari investasinya, sehingga
minat investor terhadap saham
menjadi berkurang akibatnya harga
saham akan menurun dan apabila
penurunan harga saham ini dialami
oleh
banyak
emiten
akan
menyebabkan IHSG menurun
Hasil tersebut konsisten
dengan hasil penelitian yang
dilakukan oleh Fitriawati (2009), Nor
Isnaini dan Nunung Ghoniyah (2013)
dan Suhadi (2009) yang menyatakan
inflasi
berpengaruh
signifikan
terhadap IHSG.
Pengaruh Tingkat Imbalan SBIS
Terhadap IHSG
Berdasarkan uji Maximum
Likelihood estimates, didapatkan
bahwa
kemampuan
IHSG
dipengaruhi tingkat imbalan SBIS
dengan nilai koefisien standarized
sebesar -0.892 dengan angka
signifikansi 0.000 pada taraf
signifikansi pada (α= 0.01). Hal ini
menunjukan bahwa Tingkat imbalan
SBIS
berpengaruh
signifikan
terhadap IHSG.
Ketika
tingkat imbalan
SBIS mengalami kenaikan maka
harga saham
akan mengalami
penurunan hal ini dikarenakan ketika
tingkat
imbalan
SBIS
yang
merupakan salah satu instrumen
investasi bebas resiko naik, orang
akan
lebih
memilih
menginvestasikan dananya pada
investasi bebas resiko dari pada
untuk membeli saham, sehingga
menyebabkan harga saham turun.
Karvof (2004) menyatakan
bahwa secara teoritis hubungan
antara tingkat suku bunga dan kinerja
pasar modal adalah berbanding
terbalik. Kenaikan suku bunga pada
umumnya akan menyebabkan harga
saham turun karena akan memotong
laba perusahaan. Hal ini terjadi
dengan 2 (dua) cara. Pertama,
kenaikan
suku
bunga
akan
meningkatkan biaya modal (cost of
capital) dalam bentuk beban bunga
yang harus ditanggung perusahaan,
sehingga labanya bisa terpangkas,
kedua, ketika suku bunga tinggi,
biaya produksi akan meningkat dan
harga produk akan semakin mahal
sehingga
konsumen
mungkin
menunda
pembeliannya
dan
menyimpan dananya di bank. Akibat
selanjutnya penjualan perusahaan
menurun dan penurunan penjualan
mengakibatkan laba juga menurun
dan akan menekan harga sahamnya
yang listing di bursa sehingga IHSG
juga
akan
ikut
mengalami
penurunan.
Hasil tersebut konsisten
dengan hasil penelitian yang
dilakukan oleh Aditya Novianto
(2011), dan Divianto (2013) yang
menunjukan hasil suku bunga SBI
berpengaruh signifikan terhadap
IHSG.
Pengaruh Beta Saham Syariah
(JII) terhadap IHSG
Berdasarkan uji Maximum
Likelihood estimates, didapatkan
bahwa
kemampuan
IHSG
dipengaruhi beta saham syariah (JII)
dengan nilai koefisien standarized
sebesar
0.022
dengan
angka
signifikansi 0.386 pada taraf
signifikansi pada (α= 0.01). Hal ini
menunjukan bahwa beta saham
syariah (JII) tidak berpengaruh
signifikan terhadap IHSG.
Hal tersebut dikarenakan
beta saham bukan satu- satunya
aspek yang mempengaruhi IHSG,
meskipun beta saham digunakan
investor untuk melakukan bahan
pertimbangan dalam menempatkan
investasinya, namun banyak investor
yang melakukan investasi tanpa
mempertimbangkan beta sahamnya,
selain itu IHSG juga banyak
dipengaruhi oleh faktor lain seperti
kondisi makro ekonomi.
Hasil tersebut konsisten
dengan hasil penelitian yang
dilakukan oleh Fitriawati (2009),
yang menunjukan hasil beta saham
syariah (JII) tidak berpengaruh
signifikan terhadap IHSG.
Simpulan
Penelitian ini dilakukan
untuk menguji secara empiris
mengenai apakah terdapat pengaruh
antara uang yang beredar (M2), kurs,
inflasi, dan tingkat imbalan SBIS
terhadap beta saham syariah (JII) dan
IHSG. Berdasarkan hasil penelitian
yang telah dilakukan maka dapat
ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Berdasarkan Uji analisis jalur
menunjukan
bahwa
pada
struktur koefisien jalur I
menunjukan bahwa masing
masing variabel eksogen uang
yang beredar (M2), kurs, dan
inflasi berpengaruh signifikan
terhadap tingkat imbalan SBIS
dengan tingkat signifikansi 0.01.
2. Pada Struktur koefisien jalur II
uji analisis jalur menunjukan
bahwa hanya variabel uang yang
beredar (M2), dan tingkat bunga
SBIS
tidak
berpengaruh
signifikan
terhadap
tingkat
imbalan SBIS dengan tingkat
signifikansi 0.01.
3. Pada Struktur koefisien jalur III
uji analisis jalur menunjukan
hasil
bahwa hanya variabel
tingkat inflasi dan tingkat bunga
SBIS berpengaruh signifikan
terhadap tingkat imbalan SBIS
dengan tingkat signifikansi 0.01,
sedangkan variabel beta saham
syariah (JII) tidak berpengaruh
signifikan
terhadap
IHSG
dengan tingkat signifikansi 0.01.
Keterbatasan Penelitian
Dalam
penelitian
ini
terdapat beberapa keterbatasan, yaitu
sebagai berikut :
1. Variabel dalam pengamatan
yang digunakan yaitu Uang yang
2.
beredar, kurs, tingkat inflasi dan
Tingkat
Imbalan
SBIS
sedangkan variabel lain yang
juga diperkirakan mempengaruhi
beta saham dan IHSG tidak
diteliti dalam penelitian ini
Jika dilihat dari hasil squared
multiple correlations variabel
eksogen mampu menjelaskan
variabel endogennya dengan baik
namun jika melihat parameter
Goodness of-fit
masih ada
beberapa
parameter
yang
menunjukan Marginal FIT dan
kurang baik dan nilai Chi square
yang masih terlalu tinggi sehingga
model belum sepenuhnya FIT.
Daftar Pustaka
HR, Muhammad Nafik. 2009. Bursa
Efek dan Investasi Syariah.
Jakarta: Serambi.
Samsul, Mohamad. 2006. Pasar
Modal dan Manajemen
Portofolio. Jakarta: Penerbit
Erlangga.
Hartono, Jogiyanto. 2007. Teori
Portofolio dan Analisis
Investasi.
Yogyakarta:
PT.BPFE.
Karim, Adiwarman A. 2010.
Ekonomi Makro Islam. Edisi
Kedua.
Jakarta:
PT.
Rajagrafindo Persada.
Zubir, Zalmi. 2011. Manajemen
Portofolio Penerapan dalam
Investasi Saham. Jakarta:
Salemba Empat.
Sutedi, Adrian. 2011. Pasar Modal
Syariah Sarana Investasi
Keuangan
Berdasarkan
Prinsip Syariah. Jakarta:
Sinar Grafika
Sharpe,
William
F,
Gordon,
J.Alexander dan Jeffery V.
Bailey. 1997. Investas. Edisi
terjemahan.
Jakarta:
Prenhallindo
Tandelin, Eduardus. 2001. Analisis
Investasi dan Manajemen
Portofolio. Edisi pertama.
Yogyakarta: PT BPFE.
Fitriawati. 2009. Pengaruh Uang
yang Beredar (M2), Kurs,
Inflasi, dan Tingkat Suku
Bunga SBI terhadap Beta
Saham Syariah. Jakarta,
Universitas Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta
Hamzah Ardi. 2005.
Analisis
Ekonomi Makro, Industri
dan
Karakteristik
Perusahaan terhadap Beta
Saham Syariah. Universitas
Gajah Mada.
Auliyah Robiatul, Hamzah Ardi.
2006. Analisis Karakteristik
Perusahaan Industri dan
Ekonomi Makro terhadap
Return dan Beta Saham
Syariah di BEI. Universitas
Trunojoyo
Isnaini Nor, Ghoniyah Nunung.
2013.
Analisis Risiko
Investasi
Saham
pada
Perusahaan yang Go Publik
di
JII.
Semarang,
Universitas Sultan Agung
Semarang.
Suhadi. 2009. Analisis Pengaruh
Tingkat Suku Bunga, Inflasi
dan Kurs terhadap Beta
Saham
Syariah
pada
Perusahaan yang masuk di
Jakarta Islamic Index (JII)
Tahun
2005-2007.
Universitas Islam Negeri
Sunan Kalijogo Yogyakarta.
Rahmatika, Vina Coryaina. 2013.
Pengaruh
Faktor
Fundamental Perusahaan
Ekonomi Makro terhadap
Risiko Investasi Saham
Syariah. Universitas Islam
Negeri Sunan Kalijogo
Yogyakarta.
Khusna,
Khotimatul.
2009.
Pengaruh Suku Bunga SBI,
Nilai Kurs, dan Inflasi
terhadap Risiko Sistematik
Saham Perusahaan yang
Tergabung dalam JII Tahun
2004-2008.
Universitas
Islam
Negeri
Sunan
Kalijogo Yogyakarta.
Chen, Ming. 2014.
Analisis
Pengaruh
Perekonomian
Makro dan Mikro yang
Berpengaruh pada Resiko
Sistematis Saham.
STIE
Musi Palembang.
Fidiana. 2010. Pengaruh Tingkat
Suku Bunga, Tingkat Inflasi,
dan
Rasui
Keuangan
terhadap
Beta
saham.
Sekolah
Tinng
Ilmu
Ekonomi
Indonesia
Surabaya.
Tohiri, Mukharis. 2008. Analisis
Pengaruh Rasio Keuangan
terrhadap Beta Saham
Perusahaan di Jakarta
Islamic
Index
(JII).Universitas
Negeri
Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Novianto, Aditya. 2011. Analisis
Pengaruh
Nilai
Tukar
(Kurs) Dollar Amerika /
Rupiah, Tingkat Suku Bunga
SBI, Inflasi, dan Jumlah
Uang Yang Beredar (M2)
terhadap
IHSG
di
BEI.Universitas Diponegoro
Semarang.
Ridwan, Mohamad. 2013. Analisis
Makro Ekonomi Terhadap
Return
LQ
45
dan
Dampaknya terhadap IHSG.
Universitas Islam Negeri
Syarif Hidayatullah Jakarta.
Divianto. 2013. Analisis Pengaruh
Tingkat Inflasi, Tingkat suku
Bunga SBI, dan Nilai Kurs
Dollar AS (USD) terhadap
IHSG di Bursa Efek
Indonesia.
Politeknik
Sriwijaya.
Ghozali, Imam. 2013. Konsep dan
Aplikasi dengan Program
Amos
21.0.
Semarang:
Badan Penerbit Universitas
Diponegoro.
Sumantoro. 1990. Pengantar tentang
Pasar Modal Indonesia.
Jakarta: Ghalia Indonesia
Sukirno, Sadino. 1998. Pengantar
Teori Makro ekonomi. Edisi
ke-2. Jakarta:
PT Raja
Grafindo Persada
Qordhawi, Yusuf. 1995. Peran Nilai
dalam Perekonomian Islam.
Cetakan Pertama. Jakarta:
Robbani Press
Sarwono, Jonathan, Suhayati, Ely.
2010.
Riset
Akuntansi
,menggunakan
SPSS.
Cetakan
Pertama.
Yogyakarta. Graha Ilmu
Hidayat, Fajar, 2014. CPAM : Produk
Syariah
Seimbangkan
Portofolio Investasi. Selasa 20
Mei
2014.
www
skalanews.com/berita/detail/
178089/CPAM-ProdukSyariah-SeimbangkanPortofolio-Investasi.
Haryajid Ramelan, 2015. AAEI
Serukan
Sosialisasi
Terintegrasi, Kembangkan
Pasar Modal Syariah. Senin
19
Januari
2015.
www.neraca.co.id/bursasaham/49704/AAEI-
Serukan-Sosialisasi
Terintegrasi
Sulisyanto, Dr. 2011. Ekonometrika
Terapan Teori dan Aplikasi
dengan SPSS. Yogyakarta.
CV Andi Ofset.
Download