Peranan Kecerdasan Kinestetik Jasmani Melalui Terapi Bermain

advertisement
BAB II
LANDASAN TEORITIS
2.1.Tentang Autis
Sejarah munculnya terminologi autistik pertama kali dicetuskan oleh Eugen
Bleuler seorang psikiotrik Swiss pada tahun 1911. Dimana terminology ini digunakan
pada penderita schizophrenia anak remaja.1Pada tahun 1943, Dr. Leo Kanner dari
Johns Hopkins University mendeskripsikan tentang autistik pada awal masa kanakkanak. Penemuannya didasarkan pada hasil observasi dari 11 anak-anak dari tahun
1938-1943. Penemuan Leo Kanner ini diyakini menjadi penemuan pertama tentang
apa itu autis.
Kata autis berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari kata ‘autos’ yang
berarti ‘Aku’.2 Dalam pengertian non-ilmiah dapat diinterpretasikan bahwa semua
anak yang mengarah pada dirinya sendiri disebut autistik. Berk dalam buku yang
sama menyebutkan autis dengan istilah “Absorbed in the self “.3 Dengan demikian
autism dapat didefinisikan sebagai kondisi seseorang yang luar biasa asyik dengan
dirinya sendiri. Pengertian ini menunjuk pada bagaimana anak-anak autis gagal
bertindak dengan minat pada orang lain, tetapi kehilangan beberapa penonjolan
1
Yuwono. Joko., (2012): Memahami Anak Autistik, Kajian Teoritik dan Empirik, Penerbit Alfabeta,
Bandung, hal. 8
2
Monks dkk 1998 dalam Yuwono. Joko., (2012): Memahami Anak Autistik, Kajian Teoritik dan
Empirik, Penerbit Alfabeta, Bandung, hal. 24
3
Ibid, hal. 24
perilaku mereka. Ini tidak membantu orang lain untuk memahami seperti apa dunia
mereka.Autis merupakan suatu gangguan perkembangan yang kompleks yang
berhubungan dengan komunikasi, interaksi sosial dan aktivitas imajinasi. Gejalanya
sudah terlihat sebelum usia tiga tahun. Bahkan apabila autis infantil, gejalanya sudah
ada sejak bayi. Autis juga merupakan suatu konsekuensi dalam kehidupan mental dari
kesulitan perkembangan otak yang kompleks yang mempengaruhi banyak fungsifungsi, antara lain persepsi (perceiving), intending, imajinasi (imagining) dan
perasaan (feeling).4
Autis juga dapat dinyatakan sebagai suatu kegagalan dalam penalaran
sistematis (sistematic reasoning). Dalam suatu analisis ‘microsociological’ tentang
logika pemikiran mereka dan interaksi dengan yang lain.Sunu mengatakan bahwa
anak autis selektif terhadap stimulasi rangsangan dari lingkungan sehingga seringkali
kesulitan menangkap informasi secara maksimal dari sekitarnya.5 Anak autis
memiliki kekurangan pada ‘creative induction’ atau membuat penalaran induksi yaitu
penalaran yang bergerak dari premis-premis khusus (minor) menuju kesimpulan
umum. Namun memiliki kelebihan di dalam deduksi, yaitu bergerak pada kesimpulan
khusus dari premis-premis (khusus) dan kuat di dalam abduksi yaitu peletakan
premis-premis umum pada kesimpulan khusus. Hal ini disebabkan oleh kurangnya
kemampuan kognitif anak autis. Sebagai informasi terdapat sekitar 40% anak autis
4
Aquirre.Blaise. MD., Anjaly Sastry., (2012) : Parenting Anak Dengan Autisme. Solusi, Strategi dan
Saran Praktis Untuk Membantu Keluarga Anda, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, hal. 24.
5
Sunu. Christoper.,( 2012) : Unlocking Autism,Panduan Memecahkan Masalah Autism, Griya Taman
Asri Blok c-335, Yogyakarta, hal. 8
dengan IQ dibawah 50 dan 30% dengan IQ di antara 70.6Namun lebih dari hal itu
kognitif yang dimaksud diatas adalah kemampuan yang mencakup aktifitas
mengamati, menafsirkan, memperkirakan, mengingat, menilai dan lain sebagainya.7
Diagnostic Statistical Manual (DSM IV) yang dikembangkan oleh para psikiater dari
Amerika8 mendefinisikan anak autis melalui keadaan yang ada pada diri seseorang
seperti di bawah ini.
Melalui konsep bahwa keadaan anak tersebut mewakili paling sedikit enam
pokok dari kelompok a, b dan c di bawah ini yang meliputi :
a.
Gangguan interaksi sosial yang meliputi (paling sedikit dua diantaranya) :
1. Memiliki kesulitan dalam mengunakan berbagai perilaku nonverbal seperti,
kontak mata, ekspresi muka, sikap tubuh dan bahasa tubuh lainnya yang
mengatur interaksi sosial.
2. Memiliki kesulitan dalam mengembangkan hubungan dengan teman sebaya
atau teman yang sesuai dengan tahap perkembangan mentalnya.
3. Ketidakmampuan untuk berbagi kesenangan, minat, atau keberhasilan secara
spontan dengan orang lain (seperti, kurang tampak adanya perilaku
memperlihatkan, membawa atau menunjuk objek yang menjadi minatnya).
6
Safaria. Triantoro., (2005) : Autisme, Pemahaman Baru untuk Hidup Bermakna bagi Orang Tua,
Penerbit Graha Ilmu, Yogyakarta, hal. 7
7
Yanuarita. Franc.Andri. S.Psi., (2014) :Rahasia Otak dan Kecerdasan Anak, Teranova Books,
Yogyakarta, hal. 66
8
Yuwono. Joko., (2012): Memahami Anak Autistik, Kajian Teoritik dan Empirik, Penerbit Alfabeta,
Bandung, hal. 149.
4. Ketidakmampuan dalam membina hubungan sosial atau emosi yang timbal
balik.
b.
Gangguan dalam berkomunikasi yang meliputi (paling sedikit satu diantaranya) :
1. Keterlambatan dalam perkembangan bicara atau sama sekali tidak mampu
(bukan disertai dengan mencoba untuk mengkompensasikannya melalui caracara komunikasi alternatif seperti gerakan tubuh atau lainnya).
2. Bagi individu yang mampu berbicara, kurang mampu untuk memulai
pembicaraan atau memelihara suatu percakapan dengan yang lain.
3. Pemakaian bahasa yang stereotip atau berulang-ulang atau bahasa yang aneh
(idiosyncantric).
4. Cara bermain kurang bervariatif, kurang mampu bermain pura-pura secara
spontan, kurang mampu meniru secara sosial sesuai dengan tahap
perkembangan mentalnya.
c.
Gangguan minat perilaku yang terbatas, repetatif, dan stereotip yang meliputi
(paling tidak satu diantaranya) :
1.
Keasyikan dengan satu atau lebih pola-pola minat yang terbatas dan stereotip
baik dalam intensitas maupun dalam fokusnya.
2.
Tampak tidak fleksibel atau kaku dengan rutinitas atau ritual yang khusus,
atau yang tidak memiliki manfaat.
3.
Perilaku motorik yang stereotip dan berulang-ulang (seperti, memukul-mukul
atau menggerak-gerakkan tangannya atau mengetuk-ngetukkan jarinya, atau
menggerakkan seluruh tubuhnya).
4.
Keasikan yang menetap dengan bagian-bagian dari benda tanpa menyenangi
bagian yang lain yang tidak dikenal.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa anak autis adalah anak-anak yang
mengalami kesulitan perkembangan otak yang kompleks yang mempengaruhi banyak
fungsi-fungsi otak. Keadaan ini terjadi sebelum mereka berusia tiga tahun dengan
dicirikan oleh adanya hambatan kualitatif dalam interaksi sosial, komunikasi dan
terobsesi pada satu kegiatan atau obyek yang mana mereka memerlukan layanan
pedidikan khusus untuk mengembangkan potensinya.
2.2. Faktor Penyebab Autis
2.2.1. Faktor Genetik
Berdasarkan
kompleksitas
dan
keragaman
serta
jumlah
gen
yang
bertanggungjawab atas pembentukannya, autis melibatkan banyak gen. Dari
perspektif genetika, jika seorang anak menderita autism maka anak yang lain yang
lahir dari ibu yang sama mempunyai risiko juga.9
Lebih kurang 20% dari kasus-kasus autisme disebabkan oleh faktor genetik.
Penyakit genetik yang sering dihubungkan dengan autisme adalah tuberous sclerosis
(17-58%) dan sindrom fragile-X(20-30%). Disebut fragile-X karena secara
sitogenetik penyakit ini ditandai oleh adanya kerapuhan (fragile) yang tampak seperti
patahan diujung akhir lengan panjang kromosom X 4. Sindrom fragile-X merupakan
9
Aquirre.Blaise. MD., Anjaly Sastry., (2012), op.cit., hal. 45
penyakit yang diwariskan secara X-linked (X terangkai) yaitu melalui kromosom X.
Pola penurunannya tidak umum, yaitu tidak seperti penyakit dengan pewarisan Xlinked lainnya, karena tidak bisa digolongkan sebagai dominan atau resesi, laki-laki
dan perempuan dapat menjadi penderita maupun pembawa sifat (carrier).10
2.2.2. Ganguan pada Sistem Syaraf
Banyak penelitian yang melaporkan bahwa anak autis memiliki kelainan pada
hampir semua struktur otak. Tetapi kelainan yang paling konsisten adalah pada otak
kecil. Hampir semua peneliti melaporkan berkurangnya sel purkinye diotak kecil pada
autisme. Berkurangnya sel purkinye diduga dapat merangsang pertumbuhan akson,
glia dan myelin sehingga terjadi pertumbuhan otak yang abnormal.
Sebaliknya
pertumbuhan akson yang abnormal dapat menimbulkan sel purkinye mati.11 Otak
kecil berfungsi mengontrol fungsi luhur dan kegiatan motorik, juga sebagai sirkuit
yang mengatur perhatian dan penginderaan. Jika sirkuit ini rusak atau terganggu
maka akan mengganggu fungsi bagian lain dari sistem saraf pusat, seperti misalnya
sistem limbik yang mengatur emosi dan perilaku.
2.2.3. Ketidakseimbangan Kimiawi
Beberapa peneliti menemukan sejumlah kecil dari gejala autistik berhubungan
dengan makanan atau kekurangan kimiawi di badan. Alergi terhadap makanan
10
11
Faradz. MH., Sultana Dr. Ph.D, Jurnal Kesehatan Indonesia 2003
Dr. Hardiono D. Pusponegoro, SpA(K),2003
tertentu, seperti bahan-bahan yang mengandung susu, tepung gandum, daging, gula,
bahan pengawet, penyedap rasa, bahan pewarna, dan ragi. Untuk memastikan
pernyataan tersebut, selama tahun 2000 sampai 2001 telah dilakukan pemeriksaan
terhadap 120 orang anak yang memenuhi kriteria gangguan autisme menurut DSM
IV. Rentang umur antara 1-10 tahun, dari 120 orang itu 97 adalah anak laki-laki dan
23 orang adalah anak perempuan. Dari hasil pemeriksaan diperoleh bahwa anak- anak
ini mengalami gangguan metabolisme yang kompleks, dan setelah dilakukan
pemeriksaan untuk alergi, ternyata dari 120 orang anak yang diperiksa, 100 anak
(83,33%) menderita alergi susu sapi, gluten dan makanan lain, 18 anak (15%) alergi
terhadap susu dan makanan lain, 2 orang anak (1,66 %) alergi terhadap gluten dan
makanan lain.12
Penelitian lain menghubungkan autism dengan ketidakseimbangan hormonal,
peningkatan kadar dari bahan kimiawi tertentu di otak, seperti opioid, yang
menurunkan persepsi nyeri dan motivasi.
2.3. Perilaku dan Hambatan Anak Autis
2.3.1. Perilaku Sosial
Perilaku sosial memungkinkan seorang individu untuk berhubungan dan
berinteraksi dalam seting interaksi sosial. Anak-anak autis yang nonverbal telah
diketahui bahwa mereka mengabaikan (ignore) orang lain, memperlihatkan masalah
umum dalam bergaul dengan orang lain secara sosial. Hal ini senada dengan apa yang
12
Dr. Melly Budiman, SpKJ, 2003
disebut oleh Yuwono13 bahwa perilaku sosial anak autis yang muncul sering sekali
tidak sinkron dengan nilai-nilai sosial di lingkungannya. Ekspresi sosial mereka
terbatas pada ekspresi emosi-emosi yang ekstrim, seperti menjerit, menangis atau
tertawa yang sedalam-dalamnya. Anak-anak autis tidak menyukai perubahan sosial
atau gangguan dalam rutinitas sehari-hari dan lebih suka apabila dunia mereka tetap
sama. Apabila terjadi perubahan, mereka cenderung lebih mudah marah, contohnya
mereka akan marah apabila mengambil rute pulang dari sekolah yang berbeda dari
yang biasa dilewati, atau posisi furniture di dalam kelas berubah dari semula. Anakanak autis sering memperlihatkan perilaku yang merangsang dirinya sendiri (selfstimulating) seperti mengepak-ngepakkan tangan (hand flapping), mengayun-ayun
tangan ke depan dan kebelakang, membuat suara-suara yang tetap (ngoceh), atau
menyakiti diri sendiri (self-inflicting injuries) seperti menggaruk-garuk, kadang
sampai terluka dan menusuk-nusuk. Perilaku merangsang diri sendiri lebih sering
terjadi pada waktu yang berbeda dari kehidupan anak atau selama situasi sosial
berbeda. Safaria,14 menyebut ini sebagai perilaku ritualistik yang pada beberapa anak
memaksakan terlaksananya urutan peristiwa tertentu sebelum tidur.
13
Yuwono. Joko., (2012): Memahami Anak Autistik, Kajian Teoritik dan Empirik, Penerbit Alfabeta,
Bandung, hal. 53
14
Safaria. Triantoro., (2005) : Autisme, Pemahaman Baru untuk Hidup Bermakna bagi Orang Tua,
Penerbit Graha Ilmu, Yogyakarta, hal. 6.
2.3.2. Perilaku Komunikasi
Anak autis sangat berbeda dengan anak yang lain dalam berbahasa dan
berkomunikasi karena mereka kesulitan memproses dan memahami bahasa.15 Hal ini
menjadi perilaku komunikasi yang menghambat perkembangan anak autis. Dalam
meningkatkan perkembangan kecerdasan anak autis, peran bahasa atau komunikasi
itu sangatlah penting. Bahasa termasuk pembentukan kata-kata, belajar aturan-aturan
untuk merangkai
kata-kata menjadi kalimat dan mengetahui maksud atau suatu
alasan menggunakan bahasa. Bahasa merupakan sesuatu yang abstrak. Pemahaman
bahasa memerlukan fungsi pendengaran yang baik dan persepsi pendengaran yang
baik pula. Bahasa pragmatis yang merupakan penerjemahan (interpreting) dan
penggunaan bahasa dalam konteks sosial, fisik (physical) dan konteks linguistik.
Pragmatis dan komunikasi berhubungan erat, untuk menjadi seorang komunikator
yang berhasil, seorang anak
harus memiliki pengetahuan tentang bahasa yang
dipergunakannya sama baiknya dengan pemahaman tentang manusia dan dimensi
dunia yang bukan manusia. Bahasa meliputi ujaran, tulisan, symbol dan gesture tubuh
yang semuanya dilihat dalam konteks dan setting. Bagi anak yang sulit menyerap,
memproses dan mengintegrasikan informasi indra maka akan mengalami tantangan
bagaimana komunikasi nonverbal bisa cocok dengan kata-kata.16
15
Thompson. Jenny., (2012) : Memahami Anak Berkebutuhan Khusus, (terj), Esensi Erlangga
Indonesia, hal. 88.
16
Aquirre.Blaise. MD., Anjaly Sastry., (2012), op.cit., hal. 206.
Komunikasi adalah kemampuan untuk membiarkan orang lain mengetahui apa
yang diinginkan individu, menjelaskan tentang suatu kejadian kepada orang lain,
untuk menggambarkan tindakan dan untuk mengakui keberadaan atau kehadiran
orang lain. Komunikasi dapat dilakukan secara verbal dan nonverbal. Komunikasi
dapat dijalin melalui gerakan tubuh, melalui isyarat atau dengan menunjukkan
gambar atau kata-kata. Secara tidak langsung komunikasi menyatakan suatu situasi
sosial antara dua individu atau lebih. Dalam komunikasi, orang yang membawa pesan
disebut pemrakarsa (initiator) sedangkan orang yang mendengarkan pesan disebut
penerima pesan. Pesan bergantian antara pemrakarsa dan penerima pesan. Untuk
memenuhi kemampuan (competent) dalam keterampilan pragmatis anak harus
mengetahui, memahami dan mengerti kedua peran tersebut, sebagai pemrakarsa dan
sebagai penerima pesan. Seorang ahli bedah otak bernama Penfield17 berkesimpulan,
orang merasakan lagi emosi yang pada mulanya dihasilkan oleh keadaan dalam
dirinya. Dia sadar akan interpretasi yang sama, benar atau salah, yang dia berikan
terhadap pengalaman itu pada saat-saat pertama. Jadi, ingatan yang timbul bukanlah
reproduksi fotografis atau fonografis adegan atau peristiwa masa lampau. Tepatnya,
ingatan itu adalah reproduksi dari apa yang dilihat, didengar, dirasa dan dimengerti.18
Kegagalan menerima isi pesan secara cermat disebut kegagalan komunikasi primer,
dalam hal ini terutama anak autis mengalami kegagalan menerima isi pesan.
Komunikasi juga dimaksudkan untuk menimbulkan kesenangan dan kehangatan
17
Harris, (1987) hal. 21
Rakhmat.Jalaluddin., ( 2008 ) : Psikologi Komunikasi, Penerbit Remaja Rosdekarya,Yogyakarta, hal.
13.
18
hubungan, namun pada kasus anak autis, kesenangan terhadap benda maupun
manusia ditunjukkan dengan emosi yang mendalam.
Faisal Yatim19 mengatakan kualitas komunikasi pada anak autis sangat buruk,
mereka tidak mampu menganalisis dan memahami sistem komunikasi manusia.
Kemampuan bicara mengalami keterlambatan, bahasa yang tidak lazim selalu
diulang-ulang, dan tidak nampak usaha dari si anak untuk berkomunikasi dengan
lingkungan sekitar. Mereka juga tidak mampu berbagi rasa terhadap perasaan orang
sekitar dalam hubungan antar teman sepergaulan serta perilaku berkomunikasi.
Menurut Hovland dalam Blake Haroldsenkomunikasi antarpribadi sebagai
Interpersonalcommunication as interacting situation in whichan individual (the
comunicator) transmit stimuli (usually verbal symbols) to modify the behavior of
other individuals (communicates) in face to face setting.20 Hovland berpendapat
bahwa komunikasi antarpribadi sebagai suatu situasi interaksi, dimana individu
(komunikator) mengirim stimulus (perangsang) berupa simbol verbal untuk
mengubah perilaku individu-individu lain dalam situasi tatap muka.
Wood21, berpendapat bahwa, “Skill interpersonal communication is directly
linked to the quality of our lives. Interpersonal communication help us seek our
personal goals, the prosess of intrapersonal communication is the basis of our
relationships”.
19
Yatim. Faisal., (2003) : Autisme : Suatu Gangguan Jiwa Pada Anak-Anak, Pustaka Populer Obor,
Jakarta, hal. 24.
20
Psikologi, amarsuteja.blogspot.com
21
Wood., (1983) hal.6
Kemampuan komunikasi antar pribadi itu memberi pengaruh langsung
terhadap kualitas hidup seseorang, dan membantu dalam bentuk suatu kesamaan dan
menyesuaikan
dengan
yang
lain.
Kemampuan
komunikasi
antar
pribadi
memungkinkan seseorang mengatur perilaku sosial dalam usaha pencapaian dasar
dari hubungan yang dilakukannya. Dengan memahami perilaku yang ada pada anak
autis diatas maka anak autis sangat membutuhkan orang dewasa sebagai pemrakarsa.
Pemrakarsa memberikan kesempatan anak autis untuk memberi respon atas apa yang
diajukan oleh pemrakarsa tersebut. Respon yang dimaksud adalah baik itu melalui
kata-kata yang bisa diucapkan atau juga respon secara nonverbal. Kemungkinan yang
lebih biasa dengan keadaan anak autis adalah merespon dengan nonverbal. Yang
harus dikuatkan adalah bagaimana agar anak autis merespon secara nonverbal dan
mampu mengatakannya dengan gerakan. Memahami kesulitan diatas dan untuk
memberikan efek terbaik dalam program pengembangan kecerdasan kinestetik
jasmani anak autis sangat dibutuhkan peranan orang lain (orang dewasa, pekerja
sosial, guru dan orangtua). Sangat sulit diharapkan inisiatif dari anak autis itu sendiri.
Kalaupun ide itu ada namun sulit sekali mengkomunikasikannya. Dalam hal inilah
peranan orang dewasa sangat dibutuhkan untuk dapat mencapai peningkatan yang
maksimal.
2.3.3. Hambatan Anak Autis
Anak autis termasuk salah satu tipe anak yang mengalami gangguan
perkembangan kompleks yang berdampak pada perkembangan sosial, komunikasi
perilaku dan emosi yang tidak berkembang secara optimal. Akibat gangguan
perkembangan ini anak menjadi kurang memperhatikan lingkungannya dan asyik
dengan dunianya sendiri. Gangguan tersebut bersumber pada gangguan otak yang
terdapat pada bagian interaksi dan komunikasi sehingga para penyandang autism
mengalami kesulitan pada komunikasi verbal dan nonverbal, interaksi sosial, aktivitas
bermain. Kesulitan ini menyebabkan anak autis kesulitan melakukan interaksi dengan
orang lain dan dunia luar.
Kondisi anak autis tidak hanya mempengaruhi kehidupan anak itu sendiri
namun juga berdampak pada orang tua dan anggota keluarganya serta lingkungan
sosial dimana anak itu berada. Permasalahan yang utama yaitu ketidakmampuan anak
untuk memahami informasi dan komunikasi.
Dengan memperhatikan keterangan yang disebut diatas kita bisa melihat
beberapa hal yang dikategorikan menjadi hambatan anak-anak autis. Hal ini mungkin
belum mencakup keseluruhan secara sempurna namun cukup mewakili hambatan
yang pada umumnya dimiliki anak autis. Lorna Wing22 mengelompokkannya dalam
dua hal yaitu masalah dalam memahami lingkungan (problem in understanding the
world) dan masalah gangguan perilaku dan emosi (difficult behaviour and emotional
problems). Kalau kita jabarkan kedua hal tersebut, ada beberapa hal yang menjadi
perhatian kita tentang hambatan pada anak autis23 yakni,
22
Wing. Lorna., ( 1974) : Autistic Children a Guide For Parents and Proffesionals, The Citadel Press,
New Jersey, hal.
23
Konsep ini dipadu dengan data yang ada di id.wikipedia.org/wiki/Autisme dan
file.upi.edu/Hambatan-Perkembangan.
1.
Sulit dalam memahami pembicaraan (difficulties in understanding speech).
Anak autis tampak tidak menyadari bahwa pembicaraanmemiliki makna, tidak
dapat mengikuti perintah verbal, mendengar peringatan atau paham apabila
dirinya dimarahi (scolded). Menjelang usia lima tahun banyak anak autis yang
mengalami keterbatasan dalam memahami pembicaraan. Beberapa anak autis
tidak pernah berbicara, beberapa anak autis belajar untuk mengatakan sedikit
kata-kata, biasanya mereka mengulang kata-kata yang diucapkan orang lain.
Mereka memiliki kesulitan dalam mempergunakan kata sambung, tidak dapat
menggunakan kata-kata secara fleksibel atau mengungkapkan ide.
2.
Lemah dalam pengucapan dan kontrol suara (poor pronounciation and voice
control). Beberapa anak autis memiliki kesulitan untuk membedakan suara
tertentu yang mereka dengar. Mereka kebingungan dengan kata-kata yang
hampir sama, dan memiliki kesulitan untuk mengucapkan kata-kata yang sulit.
Mereka biasanya memiliki kesulitan dalam mengontrol kekerasan (loudness)
suara.
3.
Masalah dalam memahami benda yang dilihat (problems in understanding things
that are seen).Beberapa anak autis sangat sensitif terhadap cahaya yang sangat
terang, seperti cahaya lampu kamera (blitz).Anak autis mengenali orang atau
benda dengan gambaran mereka yang umum tanpa melihat detil yang tampak.
4.
Indra peraba, perasa dan pembau (the senses of touch, taste and smell).Anakanak autis menjelajahi lingkungannya melalui indera peraba, perasa dan pembau
mereka. Beberapa anak autis tidak sensitif terhadap dingin dan rasa sakit.
5.
Sikap menyendiri dan menarik diri (aloofness and withdrawal).Banyak anak
autis yang berperilaku seolah-olah orang lain tidak ada. Anak autis tidak
merespon ketika dipanggil atau seperti tidak mendengar ketika ada orang yang
berbicara padanya, hal itu terlihat dari ekspresi mukanya yang kosong.
6.
Menentang perubahan (resistance to change).Banyak anak autis yang menuntut
pengulangan rutinitas yang sama. Beberapa anak autis memiliki rutinitas mereka
sendiri, seperti mengetuk-ngetuk kursi sebelum duduk, atau menempatkan objek
dalam garis yang panjang.
7.
Ketakutan khusus (Special fears).Anak-anak autis tidak menyadari bahaya yang
sebenarnya,
mungkin
karena
mereka
tidak
memahami
kemungkinan
konsekuensinya.
8.
Ketidakmampuan untuk bermain (Inability to play).Banyak anak autis bermain
dengan air, pasir atau lumpur selam berjam-jam. Mereka tidak dapat bermain
pura-pura. Anak-anak autis kurang dalam bahasa dan imajinasi, mereka tidak
dapat melakukan permainan dengan anak-anak yang lain secara bersama-sama.
Hambatan-hambatan diatas harus mendapat perhatian dalam memberikan
pendidikan atau pelatihan agar hasil yang akandicapai dapat maksimal. Bentuk
hambatan yang telah disebut memberikan pengaruh besar dalam pembentukan
kecerdasan kinestetik anak autis. Tentu sangat sulit karena adanya hambatan
komunikasi dan hambatan berperan secara bersama. Kesulitan itu bukan berarti tidak
mungkin, karena dengan kesungguhan dan kesabaran, sebesar apapun tantangannya
tetap bisa diatasi.
2.4. Hasil Penelitian Terdahulu Tentang Terapi autis.
Untuk membantu anak autis menjadi lebih “normal” dibutuhkan bantuan
pengobatan dan terapi. Handojo dalam bukunya Autisma,24 menjelaskan metode
terapi mempunyai tujuan untuk membantu anak autis dalam hal (1) Komunikasi dua
arah yang efektif, (2) Sosialisasi ke dalam lingkungan
Menghilangkan atau meminimalkan
yang umum, (3)
perilaku yang tidak wajar,(4) Mengajarkan
materi akademik (5) Kemampuan Bantu/Bina Diri dan Ketrampilan lain. Ada
beberapa jenis terapi untuk membantu anak autis menjadi lebih baik, antara lain.
1.
Terapi wicara
Terapi wicara wajib diberikan kepada anak autis karena sebagian besar mereka
tidak dapat berbicara atau berbahasa. Kecenderungan mereka tidak dapat berbicara
bukan karena bisu, namun karena mereka tidak dapat merespon lingkungan sehingga
24
Handojo. Y., (2006) :Autisma, Intermasa Delphie Bandi, Jakarta, hal. 167.
tidak peduli dan tidak mau belajar apa-apa. Terapi ini perlu dilakukan secara intensif
dan kontinyu dalam ruang yang aman, tenang dan dapat meningkatkan perhatian anak
autis. Dalam berbagai artikel mengenai autisme, banyak dijelaskan bahwa gangguan
berbahasa dan bicara pada autisme mempunyai gradasi dari yang terparah, tidak bisa
bicara, hingga yang bisa bicara dengan baik. Hal ini juga tergantung dari
perkembangan kognitif si penyandang. Mulai dari intelegensia rendah hingga yang
tinggi.25 Latihan PECS (Picture Exchange Communication Sistem) dan Compic
(Computerized Pictograph) atau bahasa gambar dapat dimanfaatkan untuk anak autis.
Selain bahasa gambar dapat dipakai bahasa isyarat dan bahasa tulisan atau ketika
dengan mesin ketik atau komputer. Gangguan bahasa merupakan salah satu jenis
kelainan atau gangguan dalam komunikasi dengan indikasi seseorang mengalami
kesulitan atau gangguan dalam proses simbolis. Kesulitan atau gangguan simbolis
mengakibatkan seseorang tidak mampu mengubah konsep pengertian menjadi
simbol-simbol atau lambang-lambang yang dapat dimengerti oleh orang lain. Terapi
wicara (speech therapy) adalah pengobatan atau penyembuhan kekurangan atau
kesalahan yang berhubungan dengan pengekspresian ide-ide atau pikiran,
mengucapkan bunyi atau suara yang mempunyai arti sebagai hasil penglihatan,
pendengaran, pengalaman melalui gerakan-gerakan mulut, bibir serta organ bicara
lain yang merupakan obyek belajar serta menarik perhatian. Tujuan yang hendak
dicapai dalam terapi wicara (speech therapy) agar supaya anak dapat diajak bicara,
25
Van Tiel, Julia Maria (2008), Anakku Terlambat Bicara, http://Katulistiwa.net, tanggal 24
November 2014, hal. 205
dapat mengembangkan kemampuan bicara/bahasanya secara baik sesuai dengan
normabahasa yang berada dalam lingkungannya, serta dapat diterima oleh
masyarakat. Demikian juga supaya anak dapat mengekspresikan perasaan serta
kemauannya secara baik, dapat berkomunikasi dengan lingkungannya, baik secara
lisan maupun tertulis.
2.
Terapi Okupasi
Terapi ini diberikan kepada anak autis yang mengalami gangguan pada sensori
halusnya untuk memperbaiki kekuatan koordinasi dan ketrampilannya. Hal ini
memberi pengaruh amat besar bagi otot halus jari tangan agar dapat menulis. Terapi
okupasi berguna untuk melatih otot-otot halus anak. Menurut penelitian, hampir
semua kasus anak autis mempunyai keterlambatan dalam perkembangan motorik
halus. Gerak-geriknya sangat kaku dan kasar, mereka kesulitan untuk memegang
benda dengan cara yang benar, kesulitan untuk memegang sendok dan menyuapkan
makanan ke dalam mulutnya, dsb. Dengan terapi ini anak dilatih untuk membuat
semua otot dalam tubuhnya berfungsi dengan tepat.
3.
Terapi Sosialisasi.
Terapi sosialisasi dilakukan dengan menghilangkan perilaku yang tidak wajar,
dimulai dari kepatuhan dan kontak mata, tata krama,dsb. Banyak anak autis
memerlukan bantuan supaya dapat mempertahankan percakapan, berhubungan
dengan teman yang baru dan bahkan mengenali tempat bermainnya. Terapi
kemampuan sosial ini membantu anak menciptakan atau memfasilitasi terjadinya
interaksi sosial.
4.
Terapi Biomedik
Terapi ini menggunakan obat-obatan, vitamin, mineral dan food supplements.
Setiap individu membutuhkan terapi medis yang berbeda. Dasar pemikirannya yaitu
gangguan dalam tubuh akan memunculkan gangguan perilaku sehingga bila
gangguan dalam tubuh dapat diatasi maka gangguan perilaku yang ditampilkannya
pun akan berkurang.
5.
Terapi Applied Behavior Analysis (ABA)
ABA sering digunakan untuk penanganan anak autistik. Terapi ini sangat
representatif bagi penanggulangan anak spesial dengan gejala autisme. Terapi ABA
memiliki prinsip yang terukur, terarah dan sistematis,termasuk variasi yang diajarkan
sangat luas sehingga dapat meningkatkan keterampilan komunikasi, sosial dan
motorik halus maupun kasar. Terapi ABA adalah metode tatalaksana perilaku yang
berkembang sejak puluhan tahun yang ditemukan oleh psikolog Amerika yang
bernama Ivar. O. Lovaas dari Universitas California Los Angeles, Amerika
Serikat.26Secara prinsip, terapi ABA meliputi 3 langkah yaitu memecah keterampilan
anak autistik menjadi beberapa bagian atau langkah-langkah kecil. Pertama,
terstruktur, yakni pengajaran menggunakan teknik yang jelas. Kedua, terarah, yakni
ada kurikulum yang jelas untuk membantu mengarahkan terapi. Ketiga, terukur,
yakni keberhasilan dan kegagalan menghasilkan perilaku yang diharapkan, diukur
dengan berbagai cara, tergantung pada kebutuhan. Pada tataran praktis, menurut Ing
26
Handojo. Y., (2006) :Autisma, op.cit., hal. 50.
Darta R Wijaya, dalam makalah Kesimpulan Mengenai ABA27, terapi Applied
Behavior Analysis (ABA) menggunakan teknik “discrete trials”, yaitu seluruh tugas
(target-target perilaku) dipecah dalam tahap kecil. Belajar “diskret” berarti memerinci
keterampilan ke dalam komponen kecil, mengajarnya sampai terkuasai, memberi
pengulangan, menyediakan prompt (bantuan), menghilangkan ketergantungan dan
pemberian pujian (reinforcerment).
6.
Terapi Sensori Integrasi
Terapi ini diberikan kepada anak autis yang mengalami gangguan dalam
memproses impuls yang diterima dari berbagai indera secara simultan. Terapi ini
bertujuan untuk meningkatkan kesadaran sensoris dan kemampuan merespon
terhadap stimulus sensori tersebut. Untuk itu digunakan stimulus yang bervariasi
antara lain ayunan, bola trampolin, sikat dan baju yang lembut, parfum, lampu
berwarna-warni, pemijatan dan tekstur bervariasi.
7.
Terapi Bermain
Merupakan usaha penyembuhan untuk mencapai perkembangan fisik, intelektual,
emosi dan sosial anak secara optimal. Suasana untuk terapi bermain suasana yang
tidak membuat anak merasa tertekan, takut atau terpaksa bermain. Catron dan
Allen28berpendapat bahwa tujuan bermain yang utama adalah untuk mengoptimalkan
perkembangan anak secara menyeluruh serta terjadinya komunikasi interaktif.
27
Wijaya. Ing Darta R., (2005) : di dalam makalah Kesimpulan Mengenai ABA , hal. 57
Catron. Carrol. E & Allen. Jan., (1999) :Early Childhood Curriculum : A Creative Play Model,
Merill Prentice Hall, New Jersey, hal. 30.
28
Dalam tulisan ini akan diteliti bagaimana melalui terapi bermain kecerdasan
kinestetik anak autis meningkat. Dengan meningkatnya kecerdasan kinestetik jasmani
anak autis diyakini mampu menyelaraskan pikiran dan perilaku mereka.
2.5. Kecerdasan Kinestetik Jasmani
2.5.1. Pengertian Kecerdasan Majemuk
Pembahasan tentang kecerdasan telah banyak dikemukakan oleh pakarpsikologi
dan kesehatan. Menurut Gunawan, diantaranya adalah Charles Spearman dengan teori
General Intelligence, Raymond Cattel dan John Horn dengan teori Fluidand
Crystalized
Intelligence,
dan
Stenberg
dengan
teori
TriarchicIntelligence.29Berikutnya Gardner dengan teori Multiple Intelligence,
sedangkan Armstrong menyebutkan dengan Kinds of Smart, Multiple Intelligence.30
Pada perkembangan selanjutnya muncul pakar kecerdasan, antara lain Goleman
dengan teori Emotional Intelligence.31 Masing-masing pakar mengemukakan definisi
kecerdasan. Dari definisi yang dikemukakan para pakar tersebut diketahui bahwa
kecerdasan dinyatakan sebagai potensi yang perlu dikembangkan. Seiring dengan
perkembangan teori kecerdasaan, perhatian orang terhadap pengertian kecerdasan
telah bergeser dari kecerdasan sebagai kemampuan umum (g faktor) beralih kepada
kecerdasan beberapa dan bahkan banyak domain. Peralihan perhatian tersebut juga
29
Gunawan. Adi. W., (2003) :Genius Learning Strategy, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, hal. 218-
222.
30
Amstrong. Thomas Ph.D., (2002) :Kinds Of Smart, Menemukan dan Meningkatkan Kecerdasan
Anda Berdasarkan Teori Multiple Intelligence, Gramedia, Jakarta, hal. 3
31
Gunawan. Adi. W., (2003)., op.cit, hal. 222.
menurut Semiawan terlihat dalam pengembangan individu yang mengacu kepada
pendapat yang menunjukkan bahwa perkembangan manusia diwujudkan melalui
beragam aspek yang berbeda.32 Hal tersebut merupakan pertanda bahwa teori
kecerdasan majemuk (multiple intelligences) mulai mendapat perhatian untuk
digunakan sebagai acuan dalam berbagai aktivitas untuk memacu perkembangan
manusia termasuk aktivitas pembelajaran di sekolah-sekolah.
Teori kecerdasan majemuk pertama kali dikemukakan oleh Howard Gardner
dalam bukunya Frames of Mind.33 Gardner mengembangkan teori kecerdasan
majemuk berdasarkan kriteria yang terdiri dari delapan faktor, yaitu,
1. Adanya pembagian wilayah kecerdasan pada struktur otak, seperti central
core, sistem limbik dan hemisfer serebral
2. Terdapat kecerdasan yang menonjol pada orang tertentu (savant dan genius)
3. Kecerdasan berkaitan dengan kebudayaan dan berkembang mengikuti pola
perkembangan tertentu
4. Memiliki konteks historis
5. Memiliki hubungan dengan temuan psikometrik
6. Memiliki hubungan dengan hasil penelitian psikologi eksperimental
Semiawan. Conny. R., (2004) :“Perkembangan Anak Usia Dini”, makalah disampaikan pada
Seminar dan Lokakarya Nasional Pendidikan Anak Usia Dini, Kerjasama Dirjen PLSP Depdiknas
dengan UNJ, 9 – 11 Oktober 2004, Jakarta, hal. 9.
33
Gardner. Howard.,(1993) : Frames Of Mind The Theory of Multiple Intelligences, TenthAnniversary Edition, Basic Books A Member of The Perseus Books Group, New York, hal. 63-69
32
7. Cara kerja atau rangkaian cara kerja dasar dapat diidentifikasi
8. Memiliki sistem penandaan atau simbol khas sendiri.
Kriteria yang dikemukakan Gardner tersebut sebagai bukti bahwa teori
kecerdasan majemuk tidak hanya dikembangkan berdasarkan hasil kajiannya sendiri,
tetapi juga menggunakan dasar dan hasil kerja para pakar teori perkembangan dan
kecerdasan yang muncul lebih dahulu. Gardner mengemukakan bahwa kecerdasan
adalah kemampuan yang berkaitan dengan tiga hal, yaitu kemampuan untuk,
1. Memecahkan masalah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
2. Menghasilkan persoalan-persoalan baru untuk diselesaikan.
3. Menciptakan sesuatu atau menawarkan jasa yang akan memberikan
penghargaan dalam budaya setempat.34
Dalam bukunya yang lain Gardner mendefinisikan kecerdasan sebagai potensi
biopsikologi yang digunakan sebagai pengolah informasi yang dapat dikembangkan
sesuai
dengan lingkungan budaya
untuk
memecahkan permasalahan
atau
menciptakan sesuatu (karya) yang bermanfaat bagi lingkungannya.35 Amstrong
mengatakan bahwa kecerdasan itu merupakan kemampuan untuk menangkap situasi
baru serta kemampuan untuk belajar dari pengalaman masa lalu seseorang.36
34
Ibid., hal. 66.
Ibid., Hal. 45.
36
Amstrong. Thomas Ph.D., (2002), op.cit., hal. 2.
35
Sebagai
potensi
biologis
kecerdasan
akanmeningkat
sesuai
dengan
pertambahan usia dan mencapai puncaknya pada saat dewasa dan menurun pada saat
tua, sedang kecerdasan sebagai potensi psikologis, kecerdasan akan berkembang
akibat terjadinya proses belajar dan terbentuknya pengalaman hidup pada diri
individu.
Berdasarkan penjelasan diatas dapat dinyatakan bahwa kecerdasan sebagai
suatu kemampuan yang dimiliki individu yang dapat berkembang secara alami dan
dapat pula dikembangkan melalui pembelajaran dan pengalaman. Ini berarti
lingkungan dapat berperan dalam membantu individu untuk mengembangkan
kemampuannya. Samples mengemukakan bahwa kecerdasan merupakan kemampuan
melakukan sesuatu yang bermanfaat dalam masyarakat di lingkungan sekitar.37
Sedangkan Gottfredson yang dikutip Elliott, dkk mengemukakan bahwa kecerdasan
merupakan kemampuan mental yang bersifat umum, yang diantaranya sebagai
kemampuan untuk menelaah (toreason),merencanakan, memecahkan masalah,
berpikir abstrak, mengemukakan ide-ide, belajar cepat dan belajar dari pengalaman.38
Dua pendapat tersebut menegaskan bahwa kecerdasan sebagai suatu
kemampuan. Kemampuan tersebut berfungsi untuk menelaah, merencanakan,
memecahkan masalah, berpikir abstrak, mengemukakan ide ide serta yang terpenting
adalah kemampuan tersebut berkaitan dengan belajar.
37
Bob. Sampels.,(2002) : Revolusi Belajar untuk Anak Panduan Belajar Sambil Bermain untuk
Membuka Pikiran Anak-Anak Anda, alih bahasa Rahmani Astuti, Penerbit Kaifa, Bandung, hal. 149.
38
Elliott. Stephen. N., dkk., (2000) : Educational Psychology Effective Learning Third Editor,
McGraw Hill, New York, hal. 489.
Pendapat lain tentang kecerdasan dikemukakan oleh Lazear yang menyatakan
bahwa seseorang yang cerdas adalah :
1.
Mereka yang dapat memecahkan permasalahan yang mereka hadapi dalam
hidupnya
2.
Mereka yang dapat menghadapi berbagai tantangan hidup dengan kreatif
3.
Mereka yang dapat menghasilkan berbagai hal bermanfaat bagi dirinya dan
orang lain.39
Pendapat ini menunjukkan bahwa kecerdasan berkaitan dengan kemampuan untuk
mengupayakan sesuatu, yaitu memecahkan masalah, menghadapi tantangan, dan
menghasilkan sesuatu. Selanjutnya Lazear menambahkan dari definisi awal Gardner,
bahwa kecerdasan itu adalah jalan atau cara yang dapat digunakan untuk mengetahui
hal-hal apa yang kita ketahui, pahami, pelajari, bagaimana memproses informasi, dan
memperoleh knowledge.40 Pendapat ini lebih memerinci bahwa kecerdasan berkaitan
dengan kemampuan untuk mengetahui hal-hal apa yang sudah dimiliki individu
sebagai suatu bentuk kemampuan.
Berkaitan dengan kemampuan, Gagne, Leslie dan Wager menyatakan bahwa
kemampuan merupakan suatu daya atau kekuatan sebagai hasil belajar yang dapat
diketahui.41 Kemampuan dapat diperoleh setelah seseorang menyelesaikan kegiatan
belajar. Kemampuan tersebut sebagai bentuk hasil belajar yang dapat ditingkatkan
39
Lazear. David., ( 2000) : Pathways of Learning Teaching Students and Parents About Multiple
Intelligences, Zephyr Press, Arizona, Tucson, hal. 18
40
Ibid., hal. 18.
41
Wager. William.W.,dkk., ( 1992 ) : Principles of Instructional Design, Harcourt Brace Jovanovich,
For Worth, hal. 43.
dan diketahui. Ini berarti, ada proses yang dapat dilakukan untuk meningkatkan dan
menentukan kemampuan yang dimiliki seseorang. Berdasarkan uraian yang telah
dikemukakan di atas, maka dapat dinyatakan bahwa pengertian kecerdasan majemuk
dalam penelitian ini dibatasi pada kemampuan yang dikembangkan melalui kegiatan
pembelajaran. Pembatasan ini dilakukan dengan mengacu kepada Armstrong yang
mengemukakan
bahwa
berbagai
kegiatan
dapat
membantu
anak
untuk
mengembangkan kecerdasan majemuk42 dan Gardner menegaskan bahwa kecerdasan
majemuk
dapat
digunakan sebagai
pendekatan dan tujuan
(goal) dalam
pembelajaran.43 Selanjutnya Gogri dkk mengemukakan bahwa kecerdasan majemuk
dapat digunakan untuk membantu anak belajar dengan lebih baik.44 Dengan
demikian, rancangan kegiatan belajar di Rumah Pintar Autis yang memperhatikan
indikator setiap aspek kecerdasan majemuk dapat mengembangkan kemampuan anak
sesuai dengan indikator pada setiap aspek kecerdasan majemuk. Gardner
berkeyakinan bahwa semua manusia memiliki bukan hanya satu kecerdasan
(inteligensi) melainkan groupabilities.45 Salah satu bentuk kecerdasan majemuk yang
dimaksud diatas adalah kecerdasan kinestetik jasmani. Yaitu kecerdasan yang
mengacu kepada kecerdasan olah tubuh manusia.
42
Amstrong. Thomas., (2004 ) : Menerapkan Multiple Intelligences Di Sekolah, alih bahasa Yudhi,
hal. 46.
43
Gardner. Howard.,(1993) : Frames Of Mind The Theory of Multiple Intelligences, TenthAnniversary Edition, Basic Books A Member of The Perseus Books Group, New York, hal. 188
44
Gogri.Purvi, Reeta Sonawat., (2008) :Multiple Intelligences for Preschool Children, Multi-tech
Publishing Co, Mumbai, hal. 5.
45
Gardner. Howard.,(1999) : Intelligence Reframed, hal. 8
2.5.2. Kecerdasan Kinestetik Jasmani
Menurut Gardner kecerdasan kinestetik merupakan kecerdasan yang
berhubungan dengan kemampuan dalam menggunakan tubuh secara terampil untuk
mengungkapkan suatu ide, pemikiran dan perasaan, mampu bekerja sama dengan
baik dalam menangani dan memanipulasi objek.46 Kecerdasan ini juga meliputi
keterampilan fisik dalam bidang koordinasi, keseimbangan, daya tahan, kekuatan,
kelenturan dan kecepatan. Kecerdasan ini sangat menonjol pada diri seorang penari,
atlet, pematung, pemusik, aktor, mekanik atau dokter bedah.
Kecerdasan kinestetik jasmani berkaitan dengan kemampuan menggunakan
gerak seluruh tubuh untuk mengekspresikan ide dan perasaannya serta keterampilan
menggunakan tangan untuk mencipta atau mengubah sesuatu.47 Hal ini sebenarnya
senada dengan apa yang diutarakan oleh Gardner bahwa kecerdasan ini meliputi
kemampuan fisik yang spesifik, seperti koordinasi, keseimbangan, keterampilan,
kekuatan, kelenturan, kecepatan dan keakuratan menerima rangsang, sentuhan, dan
tekstur. Kecerdasan kinestetikJasmani artinya kecerdasan melakukan gerakan tubuh
dan atau anggota badan termasuk menggunakan gerakan tubuh sebagai ekspresi
emosi. Kecerdasan ini menggunakan keahlian seluruh tubuh untuk mengekspresikan
ide dan perasaan serta keterampilan menggunakan tangan untuk menciptakan atau
mengubah sesuatu.
46
Gardner (1999), op.cit., hal. 16.
Musfiroh.Tadkiroatun., (2008) : Cerdas Melalui Bermain, Cara Pengasuh Multiple Intellegences
Pada Anak Usia Dini, Tiara Wacana, Yogyakarta, hal. 50.
47
Pergerakan tubuh kita banyak terkait dengan sistem saraf dan struktur tubuh
kita. Pada dasarnya terdapat dua macam pergerakan dalam tubuh kita yaitu
pergerakan tidak sadar dan pergerakan sadar. Pergerakan tidak sadar adalah
pergerakan yang dilakukan di luar kesadaran atau dengan kata lain kita tidak dapat
mengatur pergerakan tersebut sesuai keinginan kita. Sebaliknya, pada pergerakan
sadar kita dapat mengatur dan mengoordinasikan gerakan kita, seperti saat kita berlari
atau saat menulis. Pada kecerdasan kinestetik pergerakannnya adalah sadar karena
berkaitan dengan kemampuan fisik untuk mengkoordinasikan gerakan tubuh serta
kemampuan menerima rangsangan.
Jasmine mengemukakan bahwa kecerdasan kinestetik sangat berhubungan
dengan tubuh anak.48 Tubuh anak akan terlihat kelenturannya apabila sering
melakukan gerak tubuh. Hal tersebut sangatlah diperlukan oleh manusia pada
umumnya supaya gerak tubuhnya tidak terlihat kaku. Perkembangan pada tubuh
manusia pada dasarnya akanmengembangkan kecerdasan kinestetik. Latihan-latihan
anggota tubuh perlu dilakukan sejak usia dini, baik kekuatannya maupun
kelenturannya yang akan terwujud melalui latihan dan kebiasaan sejak usia
dini.Kebiasaan diperoleh melalui latihan-latihan menirukan dan melakukan
pengulangan, peniruan dan segalanya akan berlangsung secara otomatis.
48
Jasmine. Julia., (2007) : Mengajar dengan Kecerdasan Majemuk, Nuansa, Jakarta, hal. 127
Einon menyatakan bentuk kecerdasan kinestetik memungkinkan terjadinya
kecerdasan antara pikiran dan tubuh yang diperlukan dalam aktifitas seperti menari,
olah raga dan drama.49 Kecerdasan kinestetik adalah kemampuan untuk mengolah
tubuh serta melakukan pekerjaan yang membutuhkan keterampilan anggota tubuh
tertentu. Pada hakikatnya sejak lahir seorang anak telah mempunyai kemampuan
untuk bergerak, oleh sebab itu pendidik haruslah memberi kebebasan pada anak
untuk bergerak. Perlu adanya suatu pembelajaran yang khusus untuk mengatasi
ketidakaturan dalam proses gerak anak sehingga bisa mengarahkan anak untuk
mengembangkan kecerdasan kinestetiknya.
Anak yang memiliki kecerdasan kinestetik memiliki koordinasi tubuh yang
baik. Gerakan-gerakan mereka terlihat seimbang, luwes, dan cekatan. Mereka cepat
menguasai tugas-tugas motorik halus seperti menggunting, melipat, menjahit,
menempel, merajut, menyambung, mengecat dan menulis. Secara artistik mereka
mempunyai kemampuan menari dan menggerakan tubuh mereka dengan luwes dan
lentur. Mereka memerlukan kegiatan belajar yang bersifat kinestetik dan dinamis.
Menurut Gardner, kecerdasan gerak kinestetik mempunyai lokasi di otak
serebeum (otak kecil), basal ganglia (otak keseimbangan) dan motor korteks.
Kecerdasan ini memiliki wujud relatif bervariasi, bergantung pada komponenkomponen kekuatan dan fleksibilitas serta dominan seperti tari dan olahraga.
49
Einon. Dorothy. Dr., (2010): Permainan Cerdas Jilid I Untuk Anak Usia 2-6 Tahun, Erlangga,
Jakarta, hal. 12.
Lebih lanjut Gardner mengemukakan bahwa kecerdasan kinestetik jasmani
adalah kemampuan menggunakan seluruh tubuh dan komponennya untuk
memecahkan permasalahan, membuat sesuatu atau menggunakan beberapa macam
produksi, dan koordinasi anggota tubuh dan pikiran untuk menyempurnakan
penampilan fisik.50
Sedangkan Lazear menjelaskan bahwa kecerdasan kinestetik jasmani
berkaitan dengan aktivitas fisik dan dapat dilihat seperti dalam kegiatan mengenderai
sepeda, memarkir mobil, menangkap sesuatu benda yang dilemparkan, dan mengatur
keseimbangan tubuh saat bergerak atau berjalan.51 Dua pendapat tersebut
menunjukkan bahwa kecerdasan kinestetik jasmani terdiri dari beberapa kemampuan
yang berkaitan dengan jasmani dan gerak.
Penjelasan lain tentang kecerdasan kinestetik jasmani dikemukakan oleh
Armstrong yang menyatakan bahwa kecerdasan kinestetik jasmani berkaitan dengan
keahlian menggunakan seluruh tubuh untuk mengekspresikan ide dan perasaan serta
keterampilan menggunakan tangan untuk menciptakan atau mengubah sesuatu.52
Pendapat tersebut menekankan bahwa kecerdasan kinestetik jasmani meliputi
kemampuan yang berkaitan dengan gerakan-gerakan tubuh yang spesifik,
kesanggupan memanipulasi objek dan memiliki keterampilan fisik seperti koordinasi,
keseimbangan, kekuatan, kelenturan dan keterampilan. Anak-anak yang memiliki
kecerdasan ini sering tidak mau diam saat sedang duduk, belajar atau atau sedang
50
Gardner, (1999), op.cit., hal. 206.
Lazear. David., ( 2000), op.cit., hal. 2
52
Amstrong. Thomas Ph.D., (2002) , op.cit., hal. 33.
51
makan, dan biasanya merekalah yang nomor satu minta izin ke luar untuk bermain.
Mereka memproses pengetahuan melalui sensasi tubuh. Mereka butuh kesempatan
untuk belajar dengan bergerak atau memperagakan sesuatu.
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan di atas dapat dinyatakan bahwa
kecerdasan kinestetik jasmani adalah kemampuan yang berkaitan dengan fisik dan
gerak yang dapat digambarkan melalui ciri-ciri antara lain :
1. Mudah bergerak dengan daya kontrol tubuh yang baik, seperti berjalan, lari,
lompat, menangkap, melempar
2. Menyentuh objek disekitarnya
3. Memanipulasi benda, seperti kursi digunakan sebagai mobil
4. Responsif terhadap lingkungan, misalnya menggerakkan tubuh atau tangan
saat merasakan angin bertiup
5. Berpikir mekanis
6. Mengingat apa yang dilakukan
7. Membuat kerajinan tangan
8. Berolah raga.
Dengan delapan gambaran yang dikemukakan diatas sebagai ciri-ciri berjalannya
kecerdasan kinestetik dengan baik begitu besar harapan keselarasan pikiran dan
perilaku anak autis dapat terwujud. Banyak hal yang ada pada diri anak autis akan
berubah menjadi lebih baik dengan terciptanya peningkatan kecerdasan kinestetik
yang dimaksud. Hal ini jugalah yang mendasari pemikiran peneliti dalam melakukan
penelitian ini.
2.5.3. Pengenalan Tentang Otak
Sejak lahir semua kecerdasan telah ada di otak manusia. Meskipun demikian,
bagaimanakah kecerdasan manusia itu dapat dikembangkan? Setiap otak manusia
terbagi atas tiga bagian, yang disebut sebagai otak triune. Tiap-tiap bagian otak
berkembang pada waktu yang berbeda, mempunyai syaraf tertentu, dan mengatur
tugas tertentu pula. Yang pertama, Otak reptil atau batang otak merupakan bagian
otak yang bertanggung jawab atas fungsi-fungsi motor-sensor, yakni pengetahuan
tentang realitas fisik yang berasal dari panca indera. Disebut otak reptil karena otak
ini berkaitan dengan insting mempertahankan hidup.53 Jika anak merasa tidak aman,
otak reptil ini spontan bangkit dan bersiaga.Yang kedua adalah sistem limbik, yang
terletak dibagian tengah otak. Bagian otak ini mempunyai fungsi emosi dan kognitif.
Bagian ini disebut otak mamalia, karena sistem limbik yang sangat canggih ini juga
merupakan bagian otak yang dimiliki mamalia. Otak ini menyimpan perasaan
manusia, pengalaman yang menyenangkan, memori, dan kemampuan belajar.54Yang
ketiga adalah neokorteks, merupakan materi otak terbesar (80% dari seluruh materi
otak). Pada otak neokorteks inilah kecerdasan-kecerdasan manusia berada.
Neokorteks mengatur proses bernalar, berfikir intelektual, membuat keputusan,
bahasa, kendali motorik sadar, dan ciptakan gagasan nonverbal.55
53
Yanuarita. Franc.Andri. S.Psi., (2014) :Rahasia Otak dan Kecerdasan Anak, Teranova Books,
Yogyakarta, hal. 39.
54
Ibid., hal. 39.
55
Ibid., hal. 32.
Ketika anak berusia 4-6 tahun, otak reptil dan otak mamalianya telah
berkembang sekitar 80%. Pada saat itulah berbagai kecerdasan anak terbuka. Jika
hingga usia 4-6 tahun anak diperlakukan dengan baik, terstimulasi dengan berbagai
aktivitas jasmani yang menyenangkan dan berolah pikir, maka ketiga bagian otak
akan berkembang dengan baik. Nutrisi yang baik, derajat kesehatan yang baik dan
stimulasi yang memadai melaui aktivitas pendidikan jasmani yang baik membantu
perkembangan otak reptil dan otak mamalia. Bahkan, karena aktivitas pendidikan
jasmani mampu menggerakkan gagasan, memecahkan masalah, mendatangkan
kegembiraan sekaligus, maka neokorteks anak pun semakin terangsang. Semakin
terangsang otak anak dengan aktivitas intelektual dan interaksi lingkungan, semakin
banyak jalinan yang terbentuk antarsel di dalam neokorteks.
Selain teori otak triune di atas, otak manusia juga dibagi berdasarkan teori
belahan otak, yakni otak kanan dan otak kiri. Cara berpikir otak kanan adalah acak,
tidak teratur, holistik, dan intuitif. Otak kanan berkaitan dengan aspek perasaan,
emosi, spasial, pengenalan bentuk dan pola, musik, humor, warna, imajinasi, dan
kreativitas. Otak kiri bercara pikir logis, urut, sistematis, dan rasional. Otak kiri
berkaitan dengan ekspresi bahasa, dan berpikir simbolis. Walaupun otak memiliki
bagian-bagian yang diidentifikasi dari sudut bentuk dan fungsinya, kesemuanya
merupakan satu kesatuan yang saling mempengaruhi. Oleh karena itu, kesemuanya
harus dipelihara dengan baik, melalui perawatan, stimulasi yang terus menerus, dan
pemberian kesempatan yang memadai.
Masalah utama mengapa anak harus dirangsang melalui permainan yang
mengasah semua kecerdasannya adalah karena tidak satu pun bagian otak yang
bekerja secara sempurna tanpa adanya rangsang dari bagian yang lain. Howard
Gardner melalui teori multiple intelligences menyatakan bahwa sembilan kecerdasan
manusia berkaitan dengan semua bagian otak, terutama otak bagian kanan dan otak
kiri.56
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kecerdasan dapat berkembang
dengan baik apabila terpenuhi syarat berikut, struktur saraf bagian bawah harus
cukup berkembang agar energi dapat mengalir ke tingkat yang lebih tinggi, anak
harus merasa aman secara fisik dan emosional, harus ada model pemberian
rangsangan yang wajar.
2.5.4. Stimulasi Terhadap Kecerdasan Kinestetik
Bermain merupakan suatu kegiatan yang menyenangkan dan spontan sehingga
hal ini memberikan rasa aman secara psikologis pada anak. Begitu juga dalam
suasana bermain aktif, dimana anak memperoleh kesempatan yang luas untuk
melakukan
eksplorasi
guna
memenuhi
rasa
ingin
tahunya.
Anak
bebas
mengekspresikan gagasannya melalui khayalan, drama, bermain konstruktif dan
sebagainya.57 Dalam hal ini anak dimungkinkan untuk mengembangkan perasaan
56
Gardner. Howard.,(1993) : Frames Of Mind The Theory of Multiple Intelligences, TenthAnniversary Edition, Basic Books A Member of The Perseus Books Group, New York, hal.
57
Yanuarita. Franc.Andri. S.Psi., (2014), op.cit., hal. 111.
bebas secara psikologis. Bermain dapat digunakan sebagai media untuk
meningkatkan keterampilan dan kecerdasan tertentu pada anak.
Stimulasi kecerdasan kinestetik terjadi pada saat bermain. Pada saat bermain
itulah anak berusaha melatih koordinasi otot dan gerak. Pada saat kegiatan bermain
berlangsung hampir semua aspek perkembangan anak dapat terstimulasi dan
berkembang dengan baik termasuk didalamnya perkembangan kreativitas. Hal senada
sejalan dengan apa yang disebut oleh Catron dan Allen yang mengemukakan bahwa
bermain dapat memberikan pengaruh secara langsung terhadap semua area
perkembangan.58 Anak-anak dapat belajar tentang dirinya sendiri dan lingkungan,
serta kebebasan untuk berimajinasi, bereksplorasi dan menciptakan suatu bentuk
kreativitas.
Dalam hal yang dimaksud diatas stimulasi kinestetik terjadi dalam wilayahwilayah berikut:
1. koordinasi mata-tangan dan mata-kaki, seperti menggambar, menulis,
memanipulasi objek, menaksir secara visual, melempar, menendang,
menangkap
2. keterampilan lokomotor, seperti berjalan, berlari, melompat, berbaris,
meloncat, mencongklak, merayap, berguling, dan merangkak
3. keterampilan nonlokomotor, seperti membungkuk, menjangkau, memutar
tubuh, merentang, mengayun, berjongkok, duduk, berdiri
58
Catron. Carrol. E & Allen. Jan., (1999) :Early Childhood Curriculum : A Creative Play Model,
Merill Prentice Hall, New Jersey, hal. 21
4. kemampuan mengontrol dan mengatur tubuh seperti menunjukkan
kesadaran tubuh, kesadaran ruang, kesadaran ritmik, keseimbangan,
kemampuan untuk mengambil start, kemampuan menghentikan gerak,
dan mengubah arah.
Dunia anak adalah dunia bermain, karena selama rentang perkembangan usia
dini, anak melakukan kegiatan dengan bermain, mulai dari bayi, balita hingga masa
kanak-kanak. Bermain merupakan suatu kegiatan yang dilakukan anak dengan atau
tanpa mempergunakan alat. Bermain menghasilkan pengertian dan memberikan
informasi, memberi kesenangan dan mengembangkan imajinasi spontan anak dan
tanpa beban. Kebutuhan atau dorongan internal (terutama tumbuhnya sel saraf di
otak) sangat memungkinkan anak melakukan berbagai aktivitas bermain tanpa
mengenal lelah. Selama ini jika anak sudah bersekolah, orangtua kebanyakan
membebani anak dengan tuntutan yang berat. Seperti anak harus pandai menulis,
berhitung dan membaca. Padahal anak masih dalam usia dini yaitu 0-6 tahun. Begitu
juga dengan pihak sekolah, ada sebagian sekolah yang dalam kegiatan
pembelajarannya tidak menggunakan konsep bermain dengan tepat, sehingga tujuan
bermain bagi anak tidak tercapai. Seharusnya dalam aktivitas belajar benar-benar
diterapkan konsep "bermain sambil belajar". Dengan demikian, anak benar-benar
merasakan dunianya dengan sempurna, berkesempatan mengembangkan segala aspek
kecerdasan yang ada pada dirinya. Ketika bermain, secara fisik anak juga belajar
memahami bagaimana kerja tubuhnya, memperkuat dan mengembangkan otot dan
koordinasinya melalui gerak, melatih motorik halusnya dengan cara berlatih
menggunting kertas, menggambar, mengutak-atik benda, dan lain sebagainya. Begitu
juga dengan motorik kasar dan keseimbangannya, seperti memanjat, berlari,
melompat, berjalan dan lain-lain. Kegiatan tersebut mungkin saja akan tercipta pada
anak apabila adanya suatu rangsangan atau pembelajaran khusus yang mengacu ke
arah pengembangan kecerdasan kinestetik.
Cara mendidik dan mengajar anak-anak, baik di rumah, maupun di sekolah
masih kurang efektif. Pada dasarnya kemauan dan perasaan anak berbeda dengan
orang dewasa. Oleh sebab itu, seorang anak harus dilatih dan dibiasakan melakukan
segala sesuatu yang nantinya dapat dipergunakan sebagai bekal hidup di masa yang
akan datang. Dengan demikian, pendidikan bagi anak usia dini harus dimulai dari
dalam pikiran dan jiwa anak, dan harus berdasarkan kegiatan anak itu sendiri. Untuk
itu, perlu motivasi bagi anak untuk berbuat sendiri dan bukan hanya menerima saja.
Berdasarkan
studi
pendahuluan
yang
dilakukan
peneliti,
walaupun
pengembangan kecerdasan kinestetik khususnya dalam gerak tubuh sudah
dilaksanakan disekolah, akan tetapi dalam pelaksanaannya kurang optimal.
Permainan hanya sekedar bermain, tanpa melakukan tindak lanjut pada olah gerak
anak yang perlu untuk dikembangkan lagi seperti keterampilan tangan dan
pembelajaran gerak tubuh. Dengan demikian aspek psikomotorik anak berkembang
dengan optimaldan dapat merangsang kreativitas, imajinasi, dan olah pikir anak yang
nantinya akan diungkapkan dalam bentuk gerak.
Anak yang memiliki kecerdasan gerak-kinestetik memiliki koordinasi tubuh
yang baik dan mampu atau terampil menggunakan anggota tubuhnya.59 Gerakangerakan mereka terlihat seimbang, luwes, dan cekatan. Mereka cepat menguasai
tugas-tugas motorik halus dan secara artistik kemampuan menari dan menggerakkan
tubuh mereka luwes dan lentur.
Guru dapat memfasilitasi anak-anak yang memiliki kecerdasan ini dengan
memberi kesempatan pada mereka untuk bergerak. Pembelajaran dirancang
sedemikian rupa sehingga anak-anak leluasa bergerak dan memiliki peluang untuk
mengaktualisasikan dirinya secara bebas. Pembelajaran dapat dilakukan di luar
ruangan seperti di ataspapan titian, berjalan satu kaki, senam irama, merayap, dan
lari jarak pendek.60 Permainan yang bermuatan akademis sangat membantu anakanak menyalurkan kebutuhan mereka untuk bergerak. Rangsangan terhadap
kecerdasan kinestetik membantu perkembangan dan pertumbuhan anak. Sesuai
dengan sifat anak, yakni suka bergerak, proses belajar hendaklah memperhatikan
kecenderungan ini. Anak-anak dengan kecenderungan kecerdasan ini belajar dengan
menyentuh, memanipulasi, dan bergerak. Mereka memerlukan kegiatan belajar yang
bersifat kinestetik dan dinamis. Mereka membutuhkan akses ke lapangan bermain,
lapangan rintangan, kolam renang, dan ruang olah raga. Oleh karena itu, proses
59
Amstrong. Thomas Ph.D., (2002) , op.cit., hal. 4.
Sujiono. Yuliani .M & Bambang Sujiono., (2010) :Bermain Kreatif Berbasis Kecerdasan Jamak, PT
Indeks, Jakarta, hal. 59.
60
pembelajaran yang menuntut konsentrasi anak dalam konteks pasif (duduk tenang di
kelas) hendaklah dikurangi.
Kecerdasan kinestetik dapat dirangsang melalui permainan-permainan yang
memungkinkan anak dapat memperkuat dan mengembangkan otot dan koordinasinya
melalui gerak, melatih motorik halus, motorik kasar, dan keseimbangan karena ketika
bermain fisik anak juga belajar memahami bagaimana kerja tubuhnya.61
Dengan meningkatnya kecerdasan kinestetik maka akan semakin memberi
kemungkinan untuk terjadinya koordinasi antara kognitif dan tindakan gerak.
Semakin sering ini dilakukan dengan pola yang terarah maka koordinasi tadi menjadi
keselarasan antara pikiran dan perilaku anak itu sendiri.
2.6. Manfaat Bermain Dalam Mengembangkan Kecerdasan Kinestetik
2.6.1. Bermain dan Manfaatnya
Menurut Solehuddin bermain dapat dipandang sebagai suatu kegiatan yang
bersifat volunteer, spontan, terfokus pada proses, memberi ganjaran secara instrinsik,
menyenangkan, aktif dan fleksibel.62 Semakin kuat ciri-ciri tersebut muncul dalam
sebuah kegiatan maka semakin jelas bahwa kegiatan tersebut adalah kegiatan
bermain.
Hal yang tidak dipungkiri bahwa bermain merupakan kegiatan yang tidak
terpisahkan pada kehidupan anak. Bermain merupakan aktivitas utama anak ketika ia
61
62
Ibid, hal. 36.
Solehuddin. M., (1997) :Konsep Dasar Pendidikan Prasekolah, IKIP, Bandung, hal. 77.
dalam keadaan terjaga, sebab melalui bermainlah anak belajar berbagai hal,
memahami kehidupan dan mengumpulan informasi mengenai sesuatu. Sehingga
dalam pendidikan anak, bermain merupakan alat belajar utama dalam mencapai
tujuan pendidikan anak. Selain itu, bermain mempunyai multi fungsi dalam
perkembangan dan pertumbuhan anak. Salah satu tujuan bermain seperti diuraikan
Solehuddin adalah mengembangkan keterampilan-keterampilan motoriknya. Sebab
dalam bermain biasanya mendorong anak untuk bergerak, seperti melompat, berlari,
menari, berputar, dan gerakan-gerakan lainnya. Wiyani menyebut bahwa bentuk
permainan itu ada seperti bentuk permainan fungsional yang merupakan dasar
kecerdasan kinestetik dengan melakukan gerakan otot berulang-ulang.63 Kemudian
permainan konstruktif yang melatih keterampilan motorik halus dengan kegiatan
menggambar atau melukis. Syamsuddin lebih tegas mengatakan bahwa ketika
bermain seorang anak sedang belajar atau mengeksplorasi sesuatu, baik itu
mengeksplorasi dirinya maupun sesuatu.64 Oleh karena itu bermain pada masa anakanak merupakan sesuatu hal yang menyenangkan dan sekaligus saat yang bagus
sekali untuk belajar. Tujuan kegiatan bermain adalah membantu meletakkan dasar ke
arah perkembangan sikap pengetahuan, ketrampilan dan kreativitas yang diperlukan
63
Wiyani. Novan., (2002) : Acuan Menu Pembelajaran Pada Kelompok Bermain,Direktorat
Pendidikan Anak Usia Dini, Jakarta, hal. 56.
64
Syamsudin. Haeriah., (2014) : Brain Game untuk Balita, Penerbit Media Pressindo, Yogyakarta,
hal. 4.
oleh anak untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan dan untuk pertumbuhan
dan perkembangan pada tahapberikutnya.65
Landreth, mendefinisikan terapi bermain sebagai hubungan interpersonal yang
dinamis antara anak dengan terapis. Hubungan itu terlatih dalam prosedur terapi
bermain yang menyediakan materi permainan yang dipilih dan memfasilitasi
perkembangan suatu hubungan yang aman bagi anak untuk sepenuhnya
mengekspresikan dan eksplorasi dirinya (perasaan, pikiran, pengalaman, dan
perilakunya) melalui media bermain.66
Gheart & Leovitt berpendapat bahwa bermain juga memegang peranan untuk
mengembangkan kemampuan intelektual, khususnya merangsang perkembangan
kognitif, membangun struktur kognitif, belajar memecahkan masalah, rasa kompetisi
dan percaya diri, menetralisir emosi negatif, menyelesaikan konflik, menyalurkan
agresivitas secara aman dan mengembangkan konsep diri secara realistik.67 Secara
fisik, bermain juga mematangkan kecakapan motorik kasar dan halus, keterampilan
jari jemari, serta koordinasi mata dan tangan. Kepekaan penginderaan juga
berkembang, menguasai keterampilan motorik dan menyalurkan energi fisik.
Pengembangan imajinasi dan kreativitas juga berkembang melalui aktivitas bermain.
65
Sujiono. Yuliani .M & Bambang Sujiono., (2010) , op.cit., hal. 19
Academia : Terapi Bermain Anak, www.academia.edu/6573544/TerapiBermainAnak
67
Gheart & Leovitt, (1985), Bermain Aktif, Jurna Psikologi Unair hal. 99.
66
Dari beberapa pendapat para ahli diatas bisa disimpulkan bahwa kegiatan
bermain berperan untuk mengembangkan kemampuan fisik, intelektual, sosial dan
emosional. Kegiatan ini sangat membantu dalam mengembangkan kemampuan anak
autis. Dengan bermain kemampuan fisik anak autis diharapkan dapat dicapai secara
maksimal.Bermain merupakan metode yang paling efektif untuk mematangkan
perkembangan anak.68 Bermain merupakan faktor yang paling berpengaruh dalam
periode perkembangan diri anak. Kegiatan bermain mempengaruhi perkembangan
keenam aspek perkembangan anak, yaitu aspek kesadaran diri, emosional, sosial,
komunikasi, kognisi dan keterampilan motorik.69
Aktivitas-aktivitas di kelas yang diprakarsai dan dirancang guru dapat
dikatakan menggunakan metode bermain apabila menyediakan berbagai pilihan bagi
anak, menyenangkan, dan ada interaksi di antara anak. Sementara bagi guru, suatu
kegiatan
dapat
dikatakan
bermain
apabila
mengandung
unsur
eksplorasi,
eksperimentasi, penemuan dan evaluasi.
2.6.2. Bentuk-bentuk Permainan Yang Mendorong Kecerdasan Kinestetik
Dalam dunia anak, proses pembelajaran merupakan kegiatan yang terpadu
dengan tujuan yang integral pula. Artinya, guru tidak akan dapat memisahkan
kegiatan-kegiatan secara spesifik, sebab tujuan-tujuan dalam satu kegiatan pun sangat
68
Indriana, Yeniar, (2008)Gorontologi & Progeria, Yogyakarata Pustaka Pelajar, hal.23.
Catron. Carrol. E & Allen. Jan., (1999) :Early Childhood Curriculum : A Creative Play Model,
Merill Prentice Hall, New Jersey, hal. 76.
69
beragam,
baik
untuk
mendorong
perkembangan
kognitif,
emosi,
maupun
perkembangan motoriknya. Oleh karena itu, spesifikasi yang dilakukan dalam tesis
ini hanyalah untuk memberi fokus yang lebih jelas terhadap masalah yang dikaji,
sehingga pada hakikatnya satu permainan tidaklah hanya mempunyai satu tujuan
perkembangan tetapi dapat pula mencakup tujuan perkembangan anak lainnya.
Berikut beberapa bentuk permainan yang mampu meningkatkan keterampilan
motorik anak, sehingga secara langsung maupun tidak langsung mampu merangsang
kecerdasan kinestetik (tubuh) sebagaimana yang diungkapkan dalam teori Howard
Gardner mengenai kecerdasan ganda.70
1.
Bermain Basket
Tujuan permainan ini adalah memberikan kesempatan bagi anak-anak berlatih
koordinasi mata dengan tangan. Dalam permainan ini anak dan tutor sama-sama
aktif.
Cara permainan:

Hamparkan selembar kertas Koran di atas lantai sebagai titik pinalti atau
pijakan anak dalam melempar. Dorong anak untuk melempar bola ke
dalam “ring” dari titik pinalti tersebut.

Buatlah bulatan dengan tangan (tutor) sebagai “ring”nya, kemudian
tutor boleh bergerak, misalnya memutari anak, untuk melatih anak
mengkoordinasikan pengamatannya.
70
Gardner. Howard.,(1993) : Frames Of Mind The Theory of Multiple Intelligences, Tenth-
Anniversary Edition, Basic Books A Member of The Perseus Books Group, New York, hal.

Apabila anak merasakan kesulitan dalam memasukan bola ke dalam
“ring”, gerakkan “ring” ke arah bola dengan sengaja sehingga bola
masuk dan anak tidak menjadi frustasi.
2.
Bisbol Bola
Tujuan permainan ini adalah supaya anak belajar tentang proses di dalam
melakukan suatu gerakan. Dimulai dengan mata yang menatap kearah obyek,
otak memerintahkan tangan untuk memukul, sampai tangan melaksanakan
perintah tersebut.
Cara permainan:

Buatlah pemukul dari kertas koran yang digulung, atau benda lain yang
tidak berbahaya.
Jangan gunakan pemukul dari bahan-bahan keras
seperti kayu, besi atau jenis lainnya.

Berikan alat pemukul tersebut kepada anak yang harus digunakan untuk
memukul balon yang terbang bergerak pelan.

Jumlah balon disesuaikan dengan jumlah anak, dalam satu kali
permainan, jumlah pemain jangan terlalu banyak supaya anak dapat
bergerak dengan lebih bebas.
3.
Balapan unik
Tujuan dari bentuk permainan fisik ini adalah agar anak-anak belajar
mengendalikan tubuhnya untuk melakukan gerakan dengan cara tertentu. Selain
itu, mereka juga belajar mengatur dan memperkuat keseimbangannya dalam
melakukan gerakan yang tidak biasa.
Cara permainan:

Diharapkan
beberapa anak (misalnya 3-5 orang) untuk melakukan
balapan dengan berjalan menggunakan bagian telapak kaki kaki bagian
belakang sampai ke garis finish.

Balapan juga dapat menggunakan alat tubuh lainnya, seperti berjalan
memakai tumit, jongkok, balapan mundur, berjalan kepiting (berjalan
menyamping) melompat satu kaki, melompat mundur, atau berjalan
sambil berpegangan tangan.
Download