kajian identifik di kabupate kajian identifikasi lalat buah di

advertisement
KAJIAN IDENTIFIKASI LALAT BUAH
DI KABUPATEN SIMALUNGUN
OLEH :
Ir. Emmi Rosmaini
Ir. Elviansyah
Syawaluddin, SP
BALAI BESAR KARANTINA PERTANIAN BELAWAN
BADAN KARANTINA PERTANIAN
KEMENTERIAN PERTANIAN
2014
1
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat AllahSWT, karena hanya
dengan petunjuk dan ridhoNya, karya tulis yang berjudul
”Kajian Identifikasi
lalat Buah di Kabupaten Simalungun” di Balai Besar karantina Pertanian
Belawan tahun 2014.
Tulisan ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis lalat buah yang ada
di Wilayah Kabupaten Simalungun apakah hasil dari pemantauan daerah sebar
OPT/OPTK di Kabupaten Simalungun tahun 2014 merupakan Organisme
Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) ataukah Organisme Pengganggu
Tumbuhan (OPT) yang sudah ada di Indonesia .
Penulis menyadari bahwa tulisan ini belum sempurna, maka kritik dan
saran penulis harapkan demi kesempurnaan tulisan ini. Saya mengucapkan
terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu saya dalam penulisan
ini, semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Penulis
2
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.......................................................................
i
DAFTAR ISI....................................................................................
ii
DAFTAR GAMBAR ........................................................................
iv ..
I.
PENDAHULUAN
1.1. Sasaran ........................................................................
1.2. Tujuan ..........................................................................
1.3. Hipotesa .......................................................................
2
2
2
II. MORFOLOGI DAN PENGENDALIAN LALAT BUAH
2.1.
2.2.
2.3.
2.4.
2.5.
2.6.
Morfologi lalat buah ......................................................
Daur Hidup lalat Buah ..................................................
Gejala Serangan Lalat Buah ......................................
Akibat Serangan Lalat Buah.........................................
Peran Sebagai Hama ..................................................
Pengendalian ..............................................................
3
3
4
4
4
5
III. PELAKSANAAN KEGIATAN
3.1. Tempat dan Waktu .......................................................
3.2. Bahan dan Alat ............................................................
3.3. Metode Deteksi,Indentifikasi Lalat buah.......................
13
13
13
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................
14
V. KESIMPULAN DAN SARAN.................................................
22
VI. DAFTAR PUSTAKA .............................................................
23
3
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Pembungkusan buah............................................................. 6
Gambar 2. Tabung perangkap lalat buah .................................................10
Gambar 3. Perangkap Lalat Buah ............................................................11
Gambar 4. Bactrocera Umbrosa............................................................... 16
Gambar 5. Bactrocera albistrigata............................................................17
Gambar 6. Bactrocera cucurbitae............................................................. 18
Gambar 7. Bactrocera carambola ............................................................19
Gambat 8. Bactrocera papaye .................................................................20
4
KAJIAN
IDENTIFIKASI LALAT BUAH DI KABUPATEN SIMALUNGUN
Oleh :
Ir. Emmi Rosmaini *), Ir. Elviansyah**), Syawaluddin, SP***)
Abstrak :
Lalat Buah merupakan serangga perusak yang banyak
menyerang buah-buahan dan sayuran seperti mangga, jambu
biji, belimbing, melon, nangka, jambu air, tomat, Cabe dan lainlain. Serangga ini terdapat hampir di seluruh kawasan AsiaPasifik, dan terhitung menyerang lebih dari 26 jenis buahbuahan dan sayur-sayuran.
Kerusakan pada buah akibat serangan (larva) lalat buah
sebenarnya cukup hebat, karena kerusakan tersebut bersifat
permanen (tidak bisa balik), dan fatal dalam waktu yang
singkat. Buah yang sudah diteluri oleh lalat buah mula-mula
akan rusak ringan akibat aktivitas makan larva. Seiring dengan
waktu, kerusakan tersebut diperparah oleh aktivitas organisme
pembusuk sehingga benar-benar hancur. Dari sisi estetika,
buah yang busuk tentu akan diabaikan oleh konsumen
sehingga merugikan secara ekonomis (tidak laku dijual).
Berdasarkan Permentan No. 93 tahun 2011 terdapat
beberapa lalat buah yang merupakan Organisme Pengganggu
Tumbuhan Karantina (OPTK) A1 yang belum terdapat diwilayah
Indonesia. Dan sebagai salah satu UPT yang melaksanakan
tugas dan fungsi untuk mencegah masuk dan keluarnya OPTK
maka dilakukan pengawasan dan pemantauan terhadap
penyebaran lalat buah tersebut.
*)
POPT Ahli Madya BBKP Belawan
**) POPT Ahli Muda BBKP Belawan
***) POPT Ahli Pertama BBKP Belawan
5
I.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Lalat buah tephritid hama mempunyai beberapa sifat biologi yang
membuatnya mampu berkembang menjadi sosok hama yang hebat.
Pertama, kemampuan adaptasi lalat buah yang cukup hebat. Kedua,
kemampuan adaptasi lalat buah, ditambah dengan mobilitasnya yang tinggi
(karena lalat buah memiliki sayap) tersebut memungkinkannya mengarungi
jarak yang cukup jauh untuk menemukan habitat yang sesuai. Ketiga, banyak
spesies lalat buah tephritid adalah polifaga. Sifat ini tentu saja memberikan
keuntungan spesies-spesies tersebut untuk selalu mendapatkan pakan
(inang). Jika satu inang tidak tersedia, maka inang alternatif siap berperan
sebagai pakan.
Selanjutnya, unsur manusia menjadi penyebab populasi lalat buah
cenderung selalu tinggi sehinga sulit dikendalikan. Pengetahuan tentang
biologi lalat buah tephritid hama masih cukup sedikit dipahami oleh
masyarakat
luas.
Akibatnya
mereka
tidak
memahami
dengan
baik
kemampuan berkembang biak lalat buah di alam. Misalnya, buah-buah busuk
yang jatuh ke tanah adalah merupakan salah satu media (penolong) larva
instar terakhir untuk masuk ke dalam tanah, berpupa di kegelapan tanah, dan
siap
muncul
menjadi
lalat
buah
baru
pada
waktunya
(https://lalatbuahhama.wordpress.com/).
Penelitian menunjukkan terdapat lebih kurang 4.500 spesies lalat buah
diseluruh dunia yang berasal dari famili Tephritidae yang menjadi perusak
tanaman. Namun begitu, dari jumlah tersebut, terdapat 20 spesies dari
gen Bactrocera adalah merupakan perusak utama pada buah-buahan dan
sayuran di Asia.Lalat buah bersimbiosis mutualisme dengan bakteria kerana
apa bila lalat buah meletakkan telur pada buah, biasanya akan turut disertai
dengan bakteria akan memungkinkan pembentukan kulat pada bagian yang
terkena serangan yang akhirnya akan meyebabkan buah menjadi busuk dan
daun sayuran rusak. Sebagian buah dan daun sayuran yang terkena
serangan lalat buah ini akan menjadi, berulat dan busuk.
6
Seekor lalat betina mampu meletakkan telur pada buah sebanyak 1-10
butir dalam sehari ia mampu meletakkan telur hingga 40 butir. Telur
kemudian menetas menjadi ulat dan akan merusakkan buah dan daun pada
sayuran. Sepanjang hidupnya seekor lalat betina mampu bertelur sampai 800
butir.Pengendalian Lalat Buah begitu sulit meski dengan penggunaan racun
serangga kerana ciri-ciri fisikalnya yang besar. Malahan penggunaan racun
insektisida
untuk
melindungi
buah
dan
sayuran
seringkali
tidak
mendatangkan hasil yang diharapkan.
Oleh karena itu, satu cara memerangi serangan lalat buah ini adalah
dengan mengurangi populasinya dan menghapuskan popolusi lalat buah di
kawasan kebun atau tanaman. Cara yang terbaik dan efektif adalah dengan
menghapus “lalat buah jantan”. Ini akan menyebabkan persenyawaan baru
tidak akan terjadi diantara lalat jantan dan lalat betina yang menghasilkan
telur,
seterusnya
larva
dan
anak
lalat
buah
(http://warasfarm.wordpress.com/2013/06/23/cara-menanggulangi-lalat-buahpada-tanaman-buah/)
B. Sasaran
Kajian Identifikasi Lalat Buah Di Kabupaten Simalungun dilaksanakan
untuk mengetahui ada tidaknya Organisme Pengganggu
Tumbuhan
Karantina (OPTK) khususnya penyakit yang menurut Permentan No. 93
tahun 2011, dilaporkan belum terdapat di wilayah Republik Indonesia.
C. Tujuan
Adapun tujuan dari kajian ini adalah untuk mengetahui lalat buah yang
terdapat di kabupaten Simalungun.
D. Hipotesa
Buah dan sayuran merupakan media pembawa lalat buah yang masuk
melalui Pelabuhan Belawan dapat menyebabkan tersebarnya lalat buah dari
daerah asal daerah tersebut ke wilayah Indonesia.
7
II.
MORFOLOGI DAN PENGENDALIAN LALAT BUAH
Lalat buah (Bactrocera sp.) adalah hama yang banyak menyerang
buah-buahan dan sayuran. Anggota ordo Diptera ini kerap menggagalkan
panen yang dinanti petani buah dan sayur. Sayuran seperti kubis dan
seledri pun menjadi target serangan. Bahkan saai ini serangan lalat buah
meluas ke tanaman hias adenium dan aglaonema.
Morfologi Lalat Buah
Lalat buah berukuran 1-6 mm, berkepala besar, berleher sangat
kecil. Warnanya sangat bervariasi, kuning cerah, oranye, hitam, cokelat,
atau kombinasinya dan bersayap datar. Pada tepi ujung sayap ada bercakbercak coklat kekuningan. Pada abdomennya terdapat pita-pita hitam,
sedangkan pada thoraxnya terdapat bercak-bercak kekuningan. Disebut
Tephtridae-berarti bor-karena terdapat ovipositor pada lalat betina. Bagian
tubuh itu berguna memasukkan telur ke dalam buah. Ovipositornya terdiri
dari tiga ruas dengan bahan seperti tanduk yang keras.
Daur Hidup Lalat Buah
Dengan ovipositornya, lalat buah betina menusuk kulit buah atau
sayur untuk meletakkan telurnya. Jumlah telur sekitar 50-100 butir. Setelah
2-5 hari, telur akan menetas dan menjadi larva. Larva tersebut akan
membuat terowongan di dalam buah dan memakan dagingnya selama lebih
kurang 4-7 hari. Larva yang telah dewasa meninggalkan buah dan jatuh di
atas tanah, kemudian membuat terowongan sedalam 2-5 cm dan berubah
menjadi pupa. Lama masa pupa 3-5 hari. Lalat dewasa keluar dari dalam
pupa, dan kurang dari satu menit langsung bisa terbang. Total daur
hidupnya antara 23-34 hari, tergantung cuaca. Dalam waktu satu tahun lalat
ini diperkirakan menghasilkan 8-10 generasi. Lalat buah sering menyerang
dan menghancurkan tanaman saat musim penghujan karena kelembapan
memicu pupa untuk keluar menjadi lalat dewasa.
8
Klasifikasi Lalat Buah
Kingdom
Phylum
Class
Order
Family
Genus
Subgenus
: Animalia
: Arthropoda
: Insecta
: Diptera
: Tephritidae
: Bactrocera
: Bactrocera
Gejala Serangan Lalat Buah
Lalat betina menusuk buah atau sayur mengunakan ovipositornya
untuk meletakkan telurnya dalam lapisan epidermis. Setelah telur menetas,
larva akan menggerek buah dan menyebabkan buah membusuk di bagian
dalam. Bila diamati, pada buah yang terserang akan tampak lubang kecil
kehitaman bekas tusukan. Buah menjadi rusak, lembek, busuk dan akhirnya
rontok. Lalat buah juga meletakkan telurnya tidak hanya di dalam buah,
tetapi juga pada bunga dan batang. Batang yang terserang menjadi
benjolan seperti bisul sehingga buah yang dihasilkan kecil-kecil dan
menguning.
Akibat Serangan Lalat Buah
Sebagai contoh akan kita bahas serangan lalat buah pada tanaman
cabai. Pada buah cabai terserang terdapat luka tusukan dalam ukuran kecil,
seperti tertusuk jarum. Buah menjadi busuk lunak dan menghitam. Luka
akibat tusukan menimbulkan infeksi sekunder berupa busuk buah, baik
yang disebabkan oleh cendawan maupun bakteri. Buah cabai yang terkena
tusukan lalat buah ini akan rontok. Jika buah dibelah akan terlihat biji-biji
berwarna hitam dan terdapat belatung yang merupakan larva lalat buah.
Peran Sebagai Hama
LBT dapat mengakibatkan kerusakan kualitatif dan kuantitatif. Jika
larva LBT yang disebut singgat meliang dan makan di dalam buah yang
Anda beli, maka saya yakin, Anda akan segera membuang buah tersebut
ke tong sampah. Itulah yang dinamakan dampak kerusakan kualitatif dari
LBT. Artinya, kualitas buah yang terserang akan turun sehingga menjadi
tidak disukai oleh konsumen.
9
Sementara itu, yang dinamakan kerusakan kuantitatif oleh LBT adalah
ketika volume panen buah per luasan per musim tanam turun akibat rusak
atau hancur terserang LBT.
Meskipun sering menimbulkan kerugian ekonomi yang cukup besar, peran
penting LBT sebagai hama masih sering diabaikan. Perilaku masyarakat
yang tidak memahami bioekologi LBT dengan baik merupakan penyebab
pengabaian ini. Misalnya, masyarakat belum memahami bahwa buah busuk
yang jatuh ke atas tanah harus dimusnahkan karena merupakan “jalur”
larva lalat buah untuk berubah dan berkembang menjadi pupa yang tinggal
di dalam tanah. Jadi, ketika Anda hanya menimbun buah-buah busuk
tersebut, maka ibaratnya memberi kesempatan kepada larva-larva tersebut
untuk berkembang menjadi individu LBT yang baru. Sebagian orang juga
menganggap
bahwa
lalat
buah
bisa
dibunuh
dengan
pestisida.
Pertanyaannya, jenis pestisida apa yang efektif untuk mengendalikan
populasi mereka? Pestisida yang cukup banyak jenisnya tidak semuanya
bisa digunakan untuk membunuh LBT mengingat dua alasan, yaitu
efektivitas dan efisiensi, serta dampak buruknya terhadap musuh alami
LBT.
Pengendalian
Sejauh ini, lalat buah termasuk hama yang sulit dikendalikan.
Beberapa teknik pengendalian. baik secara tradisioanal maupun modern
telah banyak diaplikasikan namun hasilnya belumlah optimal. Walaupun
demikian, usaha-usaha pengendalian tetap harus kita upayakan sebisa
mungkin agar dampak dari serangan tidak terlalu merugikan.
Beberapa cara pengendalian hama lalat buah yang bisa diupayakan di
antaranya:
Hal pertama adalah melalui penetapan peraturan yang dikeluarkan
oleh pemerintah, yakni peraturan karantina antar area/wilayah/negara untuk
tidak memasukkan buah yang terserang dari daerah endemis. Sebagai
contoh, pemerintah melarang impor buah-buahan dan sayuran dari negara
di mana merupakan daerah endemis lalat buah.
10
Secara Kultur Teknis

Pemeliharaan Tanah
Memelihara tanaman dengan baik di antaranya melakukan mengolah dan
merawat tanah secara berkala. Pencacahan tanah di bawah tajuk pohon
dapat menyebabkan pupa lalat buah yang terdapat di dalam tanah terkena
sinar matahari dan akhirnya mati.

Sanitasi yang Baik
Kebersihan kebun menentukan tingkat serangan lalat buah. Tujuan
dari sanitasi (memberishkan) kebun adalah memutus siklus perkembangan
lalat buah. Lantai kebun harus terbebas dari buah-buah yang terserang lalat
buah yang jatuh atau yang masih di pohon. Buah yang berisi telur dan larva
lalat buah dikumpulkan kemudian dimusnahkan dengan dibakar atau
dibenamkan ke dalam tanah. Buah-buah yang gugur di bawah pohon
berpeluang dijadikan tempat bertelur lalat buah.
Semak-semak dan gulma juga dapat digunakan lalat buah sebagai inang
alternatif ketika tidak musim buah. Sanitasi kebun akan efektif jika dilakukan
oleh seluruh petani secara serempak.
Gambar 1. Pembungkusan Buah
Sumber: http:warasfarm.files.wordpress.com.2013/06/jambu-chincallo.png
Membungkus buah untuk menghindari serangan lalat buah cukup efektif
untuk melindungi komoditas buah yang lebih besar
11
Pembungkusan buah saat masih muda dapat membantu menangkal
serangan hama lalat buah. Petani bisa menggunakan kertas, kertas karbon,
plastik hitam, daun pisang, daun jati, atau kain untuk membungkus buah
yang tidak terlalu besar seperti belimbing dan jambu. Untuk buah yang
berukuran besar, seperti nangka, petani biasa menggunakan anyaman daun
kelapa, karung plastik, atau kertas semen. Setiap jenis pembungkus tentu
memiliki kelebihan dan kekurangan.
Kapan buah harus dibungkus bergantung dari jenis buahnya. Misalnya, buah
belimbing harus sedini mungkin dibungkus. Buah mangga dibungkus
sebelum buah memasuki stadium pemasakan. Lalat buah tertarik pada
warna kuning dan aroma buah yang masak atau aroma amonia yang
dikeluarkan oleh beberapa jenis bunga dan buah, jadi membungkus buah
sedini mungkin bisa efektif mengurangi serangan lalat buah.
Upaya membungkus buah untuk menghindari serangan lalat buah akan
semakin efektif jika dibarengi dengan pengasapan (dijelaskan di bawah).
Di antara keuntungan menggunakan pembungkus untuk menghindari
serangan lalat buah adalah buah tetap mulus dan tidak terkontaminasi
pestisida. Sayangnya pembungkusan buah kurang praktis jika kebun buah
sangat luas dan pohon buah tinggi. Cukup praktis dan efisien jika di lokasi
kebun tersedia tenaga kerja yang cukup dan murah. Metode pembukusan
juga menjadi hal yang sulit diterapkan pada tanaman buah hortikultura dan
sayuran seperti tomat dan cabai. Kesulitan terutama karena terlalu banyak
bungkus plastik dan tenaga kerja yang diperlukan untuk membungkus. Jadi,
petani mungkin harus mencari solusi lain daripada solusi pembungkusan.
Pengendalian Secara Mekanis

Pengasapan
Pengasapan di sekitar pohon dengan membakar serasah/jerami
sampai menjadi bara yang cukup besar bisa pula mengusir lalat.
Pengasapan dilakukan 3 – 4 hari sekali dimulai pada saat pembentukan buah
dan diakhiri 1 –2 minggu sebelum panen
Tujuan
pengasapan
adalah
mengusir
lalat
buah
dari
kebun.
Pengasapan dilakukan dengan membakar serasah atau jerami sampai
12
menjadi bara yang cukup besar. Kemudian bara dimatikan dan di atas bara
ditaruh dahan kayu yang masih lembab. Pengasapan di sekitar pohon dapat
mengusir lalat buah dan efektif selama tiga hari. Pengasapan selama 13 jam
bisa membunuh lalat buah yang tidak sempat menghindar. Namun, cara ini
juga menjadi kurang efisien jika diterapkan di kebun yang luas. Cara ini
hanya efisien jika diterapkan di pohon-pohon milik perseorangan yang
jumlahnya terbatas atau tidak terlampau banyak. Kelemahan lain pada
pengendalian pengasapan adalah sulitnya diterapkan pada komoditas
sayuran.

Penggunaan Tanaman Perangkap
Penelitian mengenai preferensi lalat buah terhadap tanaman buah
dan sayuran, ternyata yang paling disukai oleh lalat buah berturut-turut
sebagai berikut: jambu air, belimbing, mangga, dan jambu biji. Tanaman
yang lebih rendah dapat digunakan sebagai tanaman perangkap, misalnya
bila Anda mengutamakan budidaya tanaman mangga maka disekeliling
kebun mangga dapat ditanami jambu air atau belimbing.
Tanaman aromatik atau tanaman yang mampu mengeluarkan aroma,
bisa juga digunakan untuk mengendalikan lalat buah. Di antaranya jenis
selasih/kemangi (Ocimum) yaitu O.minimum, O.tenuiflorum, O.sanctum dan
lainnya. Selain tanaman selasih ada juga tanaman kayu putih (Melaleuca
bracteata) dan tanaman yang bersifat sinergis (meningkatkan efektifitas
atraktan), seperti pala (Myristica fragans). Semua tanaman ini mengandung
bahan aktif yang disukai lalat buah, yaitu Methyl eugenol, dengan kadar yang
berbeda.
Dengan menanam salah satu tanaman tersebut disekitar lahan, maka
diharapkan dapat mengurangi serangan lalat buah secara signifikan. Minyak
kayu putih dan minyak selasih berpeluang menjadi atraktan karena
mengandung metil eugenol yang cukup tinggi. Sesuai dengan fungsinya
sebagai atraktan, minyak tersebut hanya bersifat menarik lalat buah tetapi
tidak membunuhnya. Jadi tujuan sebenarnya hanya untuk mengalihkan
perhatian lalat buah dari tanaman budidaya utama. Oleh karena itu,
penggunaan minyak tersebut akan lebih optimal bila dilengkapi dengan alat
yang dapat menjebak atau menangkap lalat buah.
13
Pemanfaatan Musuh Alami dan Agens Hayati
Selanjutnya kita juga bisa memanfaatkan musuh alami (natural
enemy) untuk menekan populasi lalat buah, baik berupa prasitoid maupun
predator. Yang termasuk parasitoid untuk lalat buah di antaranya Biosteres
sp dan Opius sp, dari famili Braconidae. Adapun predator yang bisa
memangsa lalat buah antara lain semut/lebah (hymenoptera), laba-laba
(arachnida), kumbang tanah carabid dan staphylinid (coleoptera), cocopet
(dermaptera), sayap jala chrysopid (ordo neuroptera) dan kepik penratomid
(hemiptera).
Secara Biologi
Pengendalian lalat buah secara biologi bisa dilakukan dengan cara
menghasilkan lalat buah jantan yang mandul. Teknik ini memang masih
dalam penelitian oleh para ilmuwan, tetapi dianggap kurang praktis karena
untuk membuat
lalat
jantan mandul diperlukan alat
dan teknologi
khusus.Untuk menghasilkan serangga jantan mandul biasanya diperlukan
sejumlah jenis lalat buah jantan yang disinari dengan sinar gamma (biasanya
cobalt 60 atau phosphor 132). Secara teori, cara ini memang cukup ampuh
karena populasi lalat di alam secara perlahan-lahan dapat ditekan.
Dengan melepaskan lalat jantan yang sudah dibuat mandul, telur yang
dihasilkan dari perkawinan dengan lalat betina menjadi steril alias tidak bisa
menghasilkan keturunan. Jika sudah mencapai umur maksimal (1-2 bulan),
lalat betina akan mati dengan sendirinya, begitu pula dengan lalat jantan
mandul yang dilepas.
Meskipun demikian, masih perlu diperhitungkan populasi lalat jantan
fertil yang berada di alam sehingga lalat jantan mandul dapat berkompetisi
untuk memperoleh betina. Menurut beberapa penelitian, gerakan lalat jantan
yang telah dimandulkan menjadi lebih lamban dibandingkan dengan lalat
jantan
yang
ada
di
alam
sehingga
sering
kalah
bersaing
dalam
memperebutkan lalat betina. Sekali lalat betina dikawini oleh lalat jantan,
sperma yang diperoleh akan disimpan di dalam spermateka atau kantung
sperma, selanjutnya lalat betina tidak memerlukan sperma lagi. Karena itu,
jika lalat jantan mandul yang dilepas berhasil mengawini lalat betina terlebih
dahulu, hasil yang diharapkan akan tercapai. Namun, kenyataan yang terjadi
14
di lapangan, lalat jantan mandul lebih banyak kalah bersaing dengan lalat
jantan fertil untuk menjadi pejantan pertama yang dapat mengawini lalat
betina.
Aplikasi Umpan Protein
Metode lainnya untuk mengendalikan lalat buah adalah penerapan
umpan protein, yang mana dapat menarik lalat buah baik jantan maupun
betina. Metode ini aman bagi manusia, namun mungkin diperlukan
pengetahuan tentang bahan-bahan yang harus digunakan. Aplikasi umpan
protein dapat dilakukan dengan cara memasang tabung/botol umpan protein.
1 liter umpan protein dicampur dengan 9 liter air kemudian ditambah 100
gram sodium benzoate ditambah dengan ME atau Cue lure (bergantung jenis
tanamannya) dan 16 ml fipronil atau 10 ml luvinuron. Bahan-bahan umpan
protein ini bisa Anda beli di toko-toko bahan kimia atau toko obat pertanian
skala menengah-besar. Setiap 2 minggu sekali tabung diisi ulang dengan
250 ml campuran tersebut. Untuk hamparan tanaman yang luas cukup
dipasang 4 buah tabung umpan protein per hektarnya.
Gambar 2. Tabung perangkap lalat buah dokumen BBKP-Belawan
Salah satu cara yang dianggap paling efektif, mudah dan ramah
lingkungan untuk mengendalikan lalat buah adalah penggunaan perangkap
atraktan (pemikat) lalat buah. Cara ini dianggap aman karena tidak
meninggalkan residu pada komoditas yang ditanam. Bahan pemikat ini
biasanya ditempatkan di dalam perangkap berupa botol plastik atau tabung
silinder sehingga lalat buah akan masuk dan terperangkap di dalam.
Atraktan dapat digunakan untuk tiga fungsi utama, yakni:
1. mendeteksi atau memonitor populasi lalat buah di sekitar lahan budidaya;
2. menarik lalat buah kemudian membunuhnya dengan menggunakan
perangkap;
15
3. mengacaukan perilaku kawin, berkumpul, dan perilaku makan lalat buah.
Mekanisme kerja perangkap adalah memancing lalat buah masuk ke
dalam perangkap dengan menggunakan methyl eugenol yang ditempatkan di
dalam botol perangkap. Di dasar botol perangkap bisa diisi air sehingga
sayap lalat buah akan lengket jika menyentuh air tersebut dan akhirnya lalat
buah akan mati tenggelam.
Gambar 3. Perangkap lalat buah
Sumber: http://warasfarm.files.wordpress.com.2013/06.perangkap.lalat-
Pemasangan
perangkap
petroganol
lalat
buah
dengan
menggunakan bekas botol air minum kemasan. Perangkap lalat buah itu
sendiri bisa dibuat dari bahan sederhana, pada umumnya adalah bekas
botol plastik minuman. Botol ini dimodifikasi sedemikian rupa dan diisi
dengan zat pemikat lalat buah yaitu methyl eugenol. Zat pemikat atau
atraktan ini bisa kita beli di toko-toko obat pertanian. Walaupun begitu, kita
pun bisa menggunakan bahan alami lainnya yang mudah diperoleh dan
murah seperti ekstrak daun selasih/kemangi dan daun melaleuca. Bisa pula
berupa cue lure atau umpan protein seperti yang sudah dijelaskan
sebelumnya. Jika mau, atraktan dapat dicampur dengan insektisida dan
diteteskan pada kapas, namun hal ini tidak disarankan. Perangkap
dipasang pada tiang atau ranting pohon setinggi 2-3 meter dari permukaan
tanah. Untuk area lahan 1 hektar, dibutuhkan kurang lebih 16 buah
perangkap. Dipasangkan terus menerus selama tanaman berbuah dan zat
pemikat harus diisi ulang jika menunjukkan tidak lagi berfungsi.
16
Pengelolaan populasi
Populasi LBT sebenarnya dapat dikendalikan secara optimal dengan
memadukan beberapa teknik dan strategi pengendalian. Pada skala kebun
buah
yang
sempit,
pembungkusan
buah
dapat
menjadi
alternatif
pengendalian yang cukup efektif dan murah. Pada skala kebun yang lebih
luas,
penggunaan
kombinasi
perangkap
dengan
senyawa
pemikat
(atraktan) merupakan teknik pengendalian yang cukup banyak dipilih.
Sementara itu, jika lalat buah menjadi hama yang bersifat endemik, maka
teknik serangga mandul (TSM) menjadi pilihan yang realistik untuk
menurunkan populasi lalat buah di lapangan, meskipun teknik ini
membutuhkan dana dan persiapan yang cukup mahal dan rumit.
Mengandalkan musuh alami
Pemanfaatan musuh alami merupakan salah satu pilihan yang paling
murah. Sejatinya, LBT mempunyai banyak jenis musuh alami. Parasitoid
(tawon kecil) dan semut rangrang (Oecophylla smaragdina) adalah contoh
musuh alami LBT yang cukup efektif.
Kunci keberhasilan pemanfaatan pasukan musuh alami terletak pada
konservasi, yaitu menyediakan tempat hidup dan berkembang biak yang
nyaman untuk mereka sekaligus meminimalkan pemakaian bahan-bahan
kimia beracun, termasuk pestisida, yang berbahaya untuk mereka.
Penanaman tumbuhan berbunga di sekitar tanaman buah merupakan salah
satu upaya untuk membuat musuh alami LBT betah tinggal dan mungkin
berkembang biak. Jadi, ketika LBT mulai mengancam, pasukan musuh
alami tersebut akan secara alamiah membunuh dan mengendalikannya.
Mudah dan murah.
17
III.
A.
PELAKSANAAN KEGIATAN
Tempat dan Waktu
Pelaksanaan kajian identifikasi lalat buah di kabupaten Simalungun ini
merupakan tindak lanjut dari hasil pemeriksaan laboratorium terhadap hasil
pemantauan daerah sebar di Kabupaten Simalungun yang dilaksanakan di
Laboratorium Balai Karantina Pertanian Belawan dari bulan Mei 2014 sampai
September 2014.
B. Bahan dan Alat
Adapun bahan dan alat yang digunakan untuk kajian ini adalah :
Mikroskop Stereo, Trinokuler Leica M80, Cawan Petri, Dissection set, Gabus,
Kunci identifikasi, dan Alkohol
C. Metode Deteksi, Identifikasi Lalat Buah
-
Siapkan cawan petri yang telah diletakkan gabus
-
Letakkan spesimen contoh uji lalat buah satu persatu di atas gabus pada
cawan petri dan diposisikan bagian yang akan diamati dibawah mikroskop.
-
Fokuskan mikroskop dan diatur penyinaran sehingga bagian-bagian atau
ciri-ciri spesifik morfologi dari lalat buah (Caput, Toraks, Sayap, Tungkai,
dan Abdomen) yang diamati tampak jelas.
-
Identifikasi lalat buah dengan menggunakan kunci identifikasi atau CD)
atau membandingkannya dengan koleksi baku.
-
Contoh specimen lalat buah yang telah diidentifikasi difoto dan dilengkapi
dengan deskripsi atau disertai keterangan.
-
Contoh specimen contoh uji lalat buah yang telah selesai diidentifikasi
ditata kembali pada kotak semula.
18
IV.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari Hasil Pengujian terhadap lalat Buah hasil dari trapping dengan
menggunakan media Metrhyl eugenol, Cu lure, dan tri medcule diperoleh
hasil temuan lalat buah yang paling banyak diperangkap adalah Bactrocera
carambola sebanyak 10 species dan diikuti oleh Bactrocera cucurbitae
sebanyak 7 species di Kabupaten Simalungun dan sejauh ini masih sangat
sulit dikendalikan. Oleh karena itu, satu cara memerangi serangan lalat
buah ini adalah dengan mengurangi populasinya dan menghapuskan
popolusi lalat buah di kawasan kebun atau tanaman terutama tanaman
jeruk unggulan untuk wilayah Kabupaten Simalungun. Untuk lebih jelasnya
dapat dilihat pada tabel 1 dan lampiran 1.
Tabel 1. Hasil Identifikasi lalat Buah di Kabupaten Simalungun
N0
Hasil Identifikasi
Jumlah
Ciri Spesifik/Deskripsi/Ket.
1.
Bactrocera umbrosa
3
- Sayap dengan variasi spesifik yaitu
terdapat 3 garis melintang pada sayap
- Scutum hitam, terdapat pita
kuning
pada sisi lateral.
2.
Bactrocera albistrigata
2
- Sayap dengan pita hitammencapai r-m
dandm-cu.
Padasayapterdapat
pita
hitampadagarisanal .
- Skutumdengan pita kuningdisisi lateral.
Pospronotal
lobe
berwarnakuning.
Padaskutumterdapatgaris
longitudinal
berwarnaabu-abu.
Terdapatrambut
anterior supra alar danscutelum.
- Abdomen terga III-IV coklat orange
dengan medial longitudinal yang hitam
dan pola hitam yang lebar disisi lateral.
3.
Bactrocera cucurbitae
7
- Sayap transparan dengan pita coklat
pada garis kosta hingga ujung apeks
dan pada cubitus streak. Ujung pola
costa sayap posterior membulat.
- Scutum cokelat kemerahan, terdapat
pita kuning pada sisi lateral dan medial
longitudinal kecil. Panjang pita kuning
disisi lateral mencapai seta intra-alar
danterdapat 4 seta padaskutellum.
- Abdomen pada umumnya berwarna
coklat kemerahan, terdapat garis medial
longitudinal padaterga III-V.
19
4.
Bactrocera carambolae
10
5.
Bactrocera papaye
1
- Sayap dengan pita hitam pada garis
anal, pola sayap bagian ujung (apex)
ada seperti pancing dan melebar
melewati R2+3
- Skutum kebanyakan berwarna hitam
suramdengan pita berwarna kuning disisi
lateral (Lateral post sutural vittae)
berukuran
sedang
dan
paralel,
panjangnya melewati intra alar bristle.
Postpronotal berwarna kuning atau orange.
Tidak terdapat pita kuning dibagian
medial.
- Abdomen terga III-V berwarna coklat
(pola T). Antero lateral corner pada
abdomen
terga
IV
berbentuk
rectangular. Antero lateral corner pada
abdomen terga V dengan sepasang
ceromata (spot) berwarnacoklat terang.
- Torax : warna hitam dominan pada
skutum dan mempunyai rambut supraalar di sisi anterior.
- Skutum dengan pita/band berwarna
kuning/oranye di sisi lateral (lateral
postsuturalvittae.
- Scutellum kuning dengan 2 scutellar
bristl
- Sayap membran, pita hitam pada garis
costa dan garis anal.
- Sel bc sangat jelas
- Pita hitam pada costa confluent dengan
R2 + 3 sedangkan pola sayap bagian
ujung (apeks) tidak melebar
- Abdomen berwarna coklat kemerahan
- Terdapat pola berbentuk “T” pada
tergum III-V dan pola segitiga pada sisisisi tergum IV.
20
Gambar 4. Bactrocera umbrosa (Fabricius)
Bactrocera umbrosa (Fabricius)
(ORDO : DIPTERA ; FAMILI : TEPHRITIDAE)
(foto dokumentasi BBKP-Belawan)
Sayap dengan variasi spesifik yaitu terdapat
3 garis melintang pada sayap
Scutum hitam, terdapat pita kuning
pada sisi lateral.
Abdomen bervariasi kadang-kadang
Berwarna hitam melebar pada sisi lateral.
21
Gambar 5. Bactrocera albistrigata (de Meijere)
Bactrocera albistrigata (de Meijere)
(ORDO : DIPTERA ; FAMILI:TEPHRITIDAE)
(foto dokumentasi BBKP-Belawan)
Sayap dengan pita hitam mencapai r-m dan
dm-cu. Pada sayap terdapat pita hitam pada
garis anal.
Pospronotal lobe berwarnakuning.
Pada skutum terdapat garis longitudinal
berwarna abu-abu.
Skutum dengan pita kuning disisi lateral
dan berakhir sebelum intra alar
Terdapat rambut anterior supra alar
dan scutelum.
Abdomen terga III-IV coklat orange
dengan medial longitudinal yang
hitam.
Pola hitam yang lebar di sisi lateral.
Gbr :6 Dokumentasi BBKP-Belawan
22
Gambar 6. Bactrocera cucurbitae (Coquilett)
Bactrocera cucurbitae (Coquilett)
(ORDO : DIPTERA ; FAMILI : TEPHRITIDAE)
Sayap transparan dengan pita coklat pada garis
kosta hingga ujung apeks dan pada cubitus streak.
ujung pola costa sayap posterior membulat.
kecil.
Scutum cokelat kemerahan,
Terdapat pita kuning pada sisi
lateral dan medial longitudinal
Panjang pita kuning disisi lateral
mencapai seta intra-alar dan
terdapat 4 seta pada skutellum.
Abdomen pada umumnya berwarna coklat
kemerahan, terdapat garis medial
longitudinal pada terga III-V.
23
Gambar 7. Bactrocera carambolae Drew & Hancock
Bactrocera carambolae Drew & Hancock
(ORDO : DIPTERA ; FAMILI : TEPHRITIDAE)
(foto dokumentasi BBKP-Belawan)
Sayap dengan pita hitam pada garis anal,
pola sayap bagian ujung (apex) ada seperti
Pancing dan melebar melewati R2+3.
Postpronotal berwarna kuning
atau orange.
Skutum kebanyakan berwarna
hitam suram dengan pita
berwarna kuning disisi lateral
(Lateral postsutural vittae)
berukuran sedang dan paralel,
panjangnya melewati intra alar
bristle.
Tidak terdapat pita kuning
dibagian medial.
Abdomen terga III-V berwarna
coklat
(pola T).
Antero lateral corner pada abdomen
terga IV berbentuk rectangular.
Antero lateral corner pada abdomen
terga V dengan Sepasang ceromata
(spot) berwarna coklat terang.
24
Gambar 8. Bactrocera papaye
Bactrocera papaye
(ORDO : DIPTERA ; FAMILI : TEPHRITIDAE)
(foto dokumentasi BBKP-Belawan)
Sayap dengan pita hitam pada garis costa
dan garis anal
Pita hitam pada costa confluent dengan
R2+3 sedangkan sayap bagian ujung
(apeks) tidak melebar
Skutum berwarna hitam dominan, mempunyai rambut
supra alar disisi anterior
Terdapat pita kuning pada sisi lateral parallel, dan lebar
berhenti tepat dibelakang rambut intra alar
Abdomen Terga III-V berwarna coklat orange dengan
pola ‘T”
Sepasang ceromata oval berwarna kuning coklat pada
terga V
25
Berbeda dengan lalat betina, lalat jantan tidak secara langsung
menimbulkan kerugian,tetapi perananya sebagai pejantan yang membuahi
lalat betina sangat berpengaruh terhadap populasi lalat buah di alam
(Kardinan, 2003). Yaitu telur, larva (belatung), pupa dan akhirnyamenjadi
seranga dewasa dalam waktu kurang lebih 1 bulan (Kardinan, 2003). Hal
pertama adalah melalui penetapan peraturan yang dikeluarkan oleh
pemerintah,
yakni
Peraturan
Karantina
93
Tahun
2011
antar
area/wilayah/negara untuk tidak memasukkan buah yang terserang dari
daerah endemis. Sebagai contoh, pemerintah melarang impor buah-buahan
dan sayuran dari negara di mana merupakan daerah endemis.
26
V.
KESIMPULAN DAN SARAN
KESIMPULAN
Dari hasil pemeriksaan di laboratorium serangga di Balai Besar
Karantina Pertanian Belawan ditemukan lima jenis lalat buah yang di dapat
dari hasil pemeriksaan wilayah Simalungun yaiu jenis lalat buah Bactrocera
umbrosa, Bactrocera albistrigata, Bactrocera cucurbitae, Bactrocera carambolae
dan Bactrocera papaye yaitu jenis lalat buah kosmopolit, dimana jenis lalat
buah yang ada
di Kabupaten Simalungun ini memang sudah ada di
Indonesia dan tidak ditemukan Organisme Pengganggu Tumbuhan
Karantina
yang
merupakan
target
Pest
dari
Permentan
No.
93/OT.140/12/2011 tentang Jenis Organisme PenggangguTumbuhan
Karantina.
SARAN
Harus tetap dilakukan pemantauan secara intensive secara berkala
di wilayah Simalungun di Balai Besar Karantina Pertanian Belawan
walaupun tidak ditemukan Organisme Pengganggu Tumbuhan Kiarantina.
27
VI.
DAFTAR PUSTAKA
(http://warasfarm.wordpress.com/2013/06/23/cara-menanggulangi-lalatbuah-pada- tanaman-buah
[CABI] Centre in Agricultural and Biological Institute. 2007. Crop Protection
Compendium [cd-rom]. London: CABI Publish.
Boror, Donald.J.d
kk.1996.pengendalian
Pelajaran
Serangga,
Terjemahan Soetiyono,partosoejono,yokyakarta.Gajah Mada University
Press.
Hamdani, A.2006. Jenis lalat Buah yang Berperan Sebagai Organisme
Pengganggu Tumbuhan (OPT) Laporan PKL.PS. Biologi. Universitas
Mataram. Mataram
Nugroho,SP.1997.HamaLalat
Buah
dan
Pengendaliannya.
Yogjakarta,
Kanisius. http:// agustinaajeng.wordpress.com/.(23 februari 2011)
Kalie.MB.1992. Mengatasi Buah Rontok,Busuk dan Berulat Penebar Swadaya
Jakarta
28
Download