2. tinjauan pustaka

advertisement
2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Biologi Ikan Patin (Pangasius hypopthalmus)
Klasifikasi ikan Patin (Pangasius hypopthalmus) menurut Saanin (1984)
adalah sebagai berikut :
Filum
: Chordata
Kelas
: Pisces
Ordo
: Ostariophysi
Famili
: Pangasidae
Genus
: Pangasius
Spesies
: Pangasius hypopthalmus
Ikan patin (Pangasius hypopthalmus) memiliki badan memanjang
berwarna putih seperti perak dengan punggung berwarna kebiru-biruan. Panjang
tubuhnya dapat mencapai 120 cm. Ikan patin tidak memiliki sisik, kepala relatif
kecil dengan mulut terletak di ujung kepala agak di sebelah bawah. Pada sudut
mulutnya terdapat dua pasang kumis pendek yang berfungsi sebagai peraba
(Susanto & Amri 2001).
Sirip punggung memiliki sebuah jari-jari keras yang berubah menjadi patil
yang bergerigi dan besar di sebelah belakangnya, jari-jari lunak sirip punggung
berjumlah 6-7 buah. Pada punggung terdapat sirip lemak yang berukuran kecil
sekali. Sirip ekornya membentuk cagak dan bentuknya simetris. Sirip duburnya
panjang, terdiri dari 30-33 jari-jari lunak, sedangkan sirip perutnya memiliki 1213 jari-jari lunak dan sebuah jari –jari keras yang berubah menjadi patil.
Gambar 1. Ikan Patin (Pangasius hypopthalmus)
Sumber : Dokumentasi Penelitian
Berbagai penelitian telah banyak dilakukan sehubungan dengan ikan patin.
Komposisi kima ikan patin oleh berbagai sumber dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Komposisi kimia ikan patin (Pangasius hypopthalmus)
Analisis
Jumlah (%)
(a)
(b)
(c)
Air
82,22
81,31
80,14
Protein
14,53
16,05
12,65
Lemak
1,09
1,09
1,11
Abu
0,74
1,10
1,03
Sumber : (a) Direktorat Jendral Perikanan (1990) dalam Sari (2009)
(b) Swasono (2007)
(c) Orban et. al. (2008)
Ikan patin merupakan salah satu komoditas perikanan bernilai ekonomis
tinggi. Pangasius hypopthalmus yang juga dikenal dengan nama Tra Catfish
adalah ikan budidaya komersial utama di Delta Mekong, Vietnam. Vietnam
merupakan negara pengekspor ikan patin dengan total ekspor sebesar 334.000 ton
pada delapan bulan pertama tahun 2009 yang bernilai sekitar 737 juta USD. Jenis
produk yang diekspor biasanya adalah dalam bentuk utuh beku, fillet beku dan
fillet segar (Globefish 2009). Jumlah impor ikan patin oleh Amerika Serikat
selama 5 tahun terakhir dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Impor ikan patin oleh Amerika Serikat pada tahun 2005-2009
(dalam 1000 ton)
Tahun Produksi (bulan Januari-Juni)
Negara pengekspor
2005
2006
2007
2008
2009
Vietnam
3,6
3,4
7,3
12,5
16,4
China
0,8
1,9
7,8
9,2
4,3
Thailand
0,0
1,5
2,9
3,5
3,5
Malaysia
0,0
1,4
0,5
0,5
0,1
Indonesia
0,0
0,0
0,4
0,4
0,2
Lainnya
0,7
0,6
0,3
0,7
0,9
Total
5,1
8,7
19,1
26,8
25,4
Sumber : Globefish (2009)
2.2 Kemunduran Mutu Ikan
Sesudah dipanen dan mati, secara keseluruhan ikan akan mengalami
proses penurunan mutu, baik disebabkan oleh faktor internal maupun oleh faktor
eksternal yang akhirnya mengarah pada proses pembusukan (Ilyas 1983). Proses
perubahan pada ikan setelah mati terjadi karena aktivitas enzim, mikroorganisme
dan kimiawi. Penurunan tingkat kesegaran ikan tersebut dapat terlihat dengan
adanya perubahan fisik, kimia dan organoleptik pada ikan. Urutan proses
perubahan yang terjadi pada ikan meliputi pre-rigor, rigor mortis, aktivitas enzim,
aktivitas mikroba dan oksidasi (Junianto 2003).
2.2.1 Fase Pre-Rigor
Fase ini merupakan perubahan yang pertama yang terjadi setelah ikan
mati. Pada fase pre-rigor, jaringan otot ikan lunak dan lentur, dan karakterisasi
biokimiawinya adalah rendahnya level ATP dan kreatin fosfat (Eskin et al. 1971).
Pada fase ini terjadi peristiwa terlepasnya lendir dari kelenjar di bawah permukaan
kulit. Lendir yang dikeluarkan ini sebagian besar terdiri dari glukoprotein dan
musin yang merupakan media ideal bagi pertumbuhan bakteri.
2.2.2 Fase Rigor Mortis
Kondisi yang kaku dan keras dikenal dengan fase rigor mortis. Ikan
biasanya memiliki periode fase rigor mortis yang lebih pendek sekitar 1-7 jam
setelah kematian, dengan banyak faktor yang mempengaruhi lamanya fase
tersebut (Eskin et al. 1971). Pada kondisi rigor mortis ini daging menjadi keras
dan kaku. Biasanya proses ini berlangsung selama lima jam. Selama berada dalam
fase ini, ikan masih dalam keadaan sangat segar. Ini berarti apabila rigor mortis
dapat dipertahankan lebih lama, maka proses pembusukan dapat ditekan. Nilai pH
ikan hidup bernilai sekitar 7,0. Pada fase rigor mortis, pH tubuh ikan menurun
menjadi 6,2-6,6 dari pH mula-mula 6,9-7,2 (Ilyas 1983).
2.2.3 Kerusakan secara biokimiawi
Kerusakan biokimiawi termasuk pada perubahan di fase post-rigor. Hal ini
disebabkan oleh adanya enzim-enzim dan reaksi-reaksi biokimiawi yang masih
berlangsung pada tubuh ikan. Kerusakan biokimiawi ini sering kali disebut
autolisis, artinya kerusakan yang disebabkan oleh dirinya sendiri (Hadiwiyoto
1993). Autolisis tidak dapat dihentikan walaupun dalam suhu yang sangat rendah.
Biasanya proses autolisis akan selalu diikuti dengan meningkatnya jumlah bakteri.
Pasalnya semua hasil penguraian enzim selama proses autolisis merupakan media
yang sangat cocok untuk pertumbuhan bakteri dan mikroba lainnya (Junianto
2003).
Pada waktu ikan masih hidup, enzim-enzim aktif bekerja dalam
metabolisme komponen-komponen organik seperti metabolisme protein dan
komponen-komponennya, metabolisme lemak, metabolisme karbohidrat dan
lainnya, yang kesemuanya merupakan rangkaian reaksi yang terjadi dalam
kehidupan. Enzim-enzim ini lebih bersifat membentuk, mengadakan sintesa, dan
membangun. Namun, segera setelah pemasokan oksigen pada darah berhenti
maka enzim-enzim tersebut kehilangan salah satu bahan untuk menjalankan
perannya.
Sehingga
enzim
tersebut
kemudian
membongkar
senyawa
makromolekul menjadi senyawa yang lebih sederhana sampai pada akhirnya
terjadi berbagai senyawa yang mudah menguap dan menghasilkan bau yang tidak
sedap (Hadiwiyoto 1993).
2.2.4 Kerusakan secara mikrobiologi
Kerusakan secara mikrobiologi termasuk pada fase post rigor. Diketahui
bahwa produk ikan segar sangat rentan dengan pertumbuhan mikroorganisme post
mortem. Karena rentannya ikan terhadap mikroorganisme, hanya sedikit yang
diperdagangkan dalam bentuk segar (Skinner & Reddy 2006). Pada waktu hidup,
bakteri tidak dapat menyerang daging ikan karena ikan mempunyai ketahanan.
Tetapi setelah ikan mati, daging ikan kehilangan ketahanannya sehingga
mikroorganisme dapat berkembang biak dengan memperoleh substrat dari daging
(Hadiwiyoto 1993).
Daging ikan merupakan substrat yang baik untuk bakteri karena dapat
menyediakan senyawa-senyawa yang dapat menjadi sumber nitrogen, karbon dan
kebutuhan nutrien lainnya. Meskipun senyawa pada ikan dalam bentuk
makromolekul seperti protein, lemak, karbohidrat, bakteri dapat menguraikannya
terlebih dahulu menjadi senyawa yang lebih sederhana. Terjadinya autolisa
membantu menyediakan kebutuhan bakteri (Hadiwiyoto 1993).
Sivertsvik et al. (2002) menginformasikan bahwa penyimpanan produk
dalam MAP tidak menaikkan resiko dari patogen seperti Salmonella,
Staphylococcus, Clostridium perfringens, Enterococcus bila dibandingkan dengan
produk dikemas dengan udara biasa. Patogen utama yang diperhatikan pada saat
pengemasan ikan dalam kondisi anaerobik adalah Clostridium botulinum.
Pengemasan atmosfer termodifikasi yang mengandung CO 2 tinggi efektif
menghambat pertumbuhan Aeromonas hydrophila pada suhu yang rendah
(Ingham 1990, Davies & Slade 1995, Devlieghere et al. 2000 dalam Sankar et al.
2008).
2.3 Modified Atmosphere Packaging (MAP)
Modified Atmosphere Packaging dapat didefenisikan sebagai proses
dimana produk yang mudah rusak (perishable food) ditempatkan pada suatu
kemasan/film dengan barrier, udaranya dikeluarkan dengan vakum atau
semburan, dan kemasan diisi dengan gas yang ditentukan atau komposisi gas yang
berbeda dengan udara biasa, diikuti dengan menutup kemasan (Kroft 2004, Rao &
Sachindra 2002 dalam Sebranek & Houser 2006). Ada dua metode pengemasan
dengan mengubah komposisi atmosfer, yaitu pengemasan atmosfer termodifikasi
(modified atmosphere packaging) dan pengemasan dengan kontrol atmosfer
terkendali (controlled atmosphere storage). Baik sistem MAP ataupun CAS,
komposisi udara sekeliling produk diatur sesuai yang diinginkan. Dalam CAS,
komposisi udara dikontrol atau dikendalikan setiap saat dalam penyimpanan,
pengontrolan demikian hanya mungkin dilakukan pada unit penyimpanan yang
besar (bulk) dan tidak bisa pada kemasan-kemasan yang kecil. Sedangkan pada
MAP, komposisi udara tidak dikendalikan selama penyimpanan, tetapi berubah
melalui permeabilitas kemasan (Cann 1988 dalam Norhayani 2003).
Modified Atmosphere Packaging juga sering disebut sebagai „gas
packaging’ (pengemasan gas) atau „gas exchange packaging’ (pengemasan
pertukaran gas), tetapi hal ini tidak direkomendasikan pada label pengemasan
karena konsumen sering mengasumsikan gas sebagai hal yang negatif.
Belakangan ini, MAP juga sering disebut juga sebagai protective atmosphere
packaging (pengemasan atmosfer terlindungi) atau apabila digunakan pada label,
‘Packaged in a protective atmosphere’ (dikemasan dalam atmosfer yang
terlindungi). Pengemasan vakum secara umum tidak termasuk MAP karena
atmosfernya tidak digunakan tetapi hanya dikeluarkan dari kemasan (Sivertsvik et
al. 2002).
Kelebihan MAP yang paling menonjol adalah dapat mencapai umur
simpan yang lebih lama, tetapi MAP juga mempunyai beberapa kelebihan dan
kekurangan yang disajikan pada Tabel 3. Efektivitas MAP dalam memperpanjang
umur simpan tergantung pada beberapa faktor, yaitu jenis makanan, kualitas dari
bahan makanan (raw material), komposisi gas, suhu penyimpanan, higiene selama
penanganan dan pengemasan, rasio antara volume gas dan produk, permeabilitas
dari kemasan.
Tabel 3. Kelebihan dan kekurangan Modified Atmosphere Packaging (MAP)
Kelebihan
1) Memperpanjang umur simpan sampai
sekitar 50-400%
2) Mengurangi kerugian ekonomi karena
umur simpan yang lebih panjang
3) Mengurangi biaya distribusi, jarak
distribusi yang lebih jauh
4) Menghasilkan produk dengan kualitas
tinggi
5) Pemisahan yang lebih mudah pada
produk yang diiris
6) Bagian-bagian dapat dikontrol
7) Presentasi produk yang lebih
terimprovisasi dan penampakan jelas
dari produk karena kemasan yang
transparan
8) Sedikit atau tidak membutuhkan bahan
tambahan pangan kimia
9) Kemasan yang tertutup, penghalang
untuk rekontaminasi produk
10) Tidak berbau dan merupakan kemasan
yang praktis
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)
Kekurangan
Penambahan biaya
Membutuhkan pengontrolan suhu
Formulasi gas yang berbeda untuk
setiap jenis produk
Menggunakan peralatan yang spesial
dan adanya latihan
Memerlukan keamanan pangan
Memperbesar volume kemasanmempengaruhi biaya transport dan
memperbesar tempat untuk display
Kerugian apabila kemasan telah
terbuka atau rusak
Penyerapan CO2 ke dalam makanan
dapat menyebabkan kemasan pecah.
Sumber : Farber (1991); Davies (1995); Sivertsvik (1995) dalam Sivertsvik et al. (2002)
2.4 Gas dalam Modified Atmosphere Packaging (MAP)
Ada tiga gas utama yang yang digunakan pada MAP yaitu oksigen (O 2),
nitrogen (N2) dan karbondioksida (CO2). Untuk hampir semua jenis produk,
kombinasi dari dua atau tiga jenis gas ini digunakan, dipilih berdasarkan
kebutuhan dari spesifik produk. Biasanya untuk produk yang tidak berespirasi,
dimana pertumbuhan mikroba adalah parameter perusak utama, penggunaan 3060% CO2 digunakan, sisanya adalah N2 (untuk produk yang sensitif dengan O2)
atau kombinasi dari N2 dan O2 (Sivertsvik et al. 2002).
Selain itu, gas seperti CO dan Ar (karbon monoksida dan argon) dapat
menjadi pilihan. Penggunaan gas Ar sama seperti N2 yang merupakan gas inert.
Perannya adalah sebagai pengisi dalam total volume gas sehingga tidak diisi oleh
gas aktif seperti O2. Juga, gas ini dapat digunakan untuk menciptakan kondisi
anaerobik, memang dalam kenyataanya bukan kondisi anaerobik sempurna tapi
kondisi mikroaerofilik yang tercipta dapat menekan pertumbuhan mikroorganisme
aerobik. Tetapi, penggunaan gas Ar ini membutuhkan biaya yang lebih besar.
Karbon monoksida (CO) juga kadang digunakan pada MAP. Molekul CO
“memperbaiki” warna pigmen darah hemoglobin dan pigmen otot mioglobin.
Namun, penggunaannya secara langsung pada ikan segar merupakan kontroversi
walaupun CO merupakan komponen aktif pada pengasapan cair yang
dipergunakan untuk memperbaiki warna ikan tuna dan tilapia (Regenstein 2006).
Pada pengemasan vakum, jumlah gas yang berada dalam kemasan sangat
rendah yang menyebabkan perubahan lebih cepat, baik negatif ataupun positif.
Pada MAP, gas yang terdapat dalam kemasan dapat menjadi lapisan pelindung
(insulating layer) yang mempersulit perubahan suhu. Apabila terjadi perubahan
suhu ekstrim, menyimpan produk dalam kemasan vakum pada suhu yang dingin
lebih mudah, tetapi suhu produk juga akan cepat naik. Maka untuk MAP, perlu
untuk menggunakan ikan yang dingin sebelum dikemas (Regenstein 2006).
2.4.1 Karbondioksida (CO2)
Karbondioksida merupakan gas yang paling penting pada MAP, karena
sifat bakteriostatik dan fungistatiknya. Karbondioksida (CO2) menghambat
pertumbuhan banyak jenis dari bakteri perusak dan tingkat penghambatannya
semakin tinggi sejalan dengan konsentrasi CO 2 yang semakin besar dalam
kemasan. Karbondioksida (CO2) dapat larut dalam air dan lemak, dan
kelarutannya semakin meningkat dengan menurunnya suhu (Sivertsvik et al.
2002). Kelarutan CO2 dalam air pada 0oC dan 1 atm adalah 3,38g CO2/kg H2O,
tetapi pada 20oC kelarutannya menurun menjadi 1,73g CO2/kg H2O (Knoche 1980
dalam Sivertsvik et al. 2002).
Karbondioksida berfungsi mempertahankan oxyomyoglobin (warna merah)
pada daging segar. Karbondioksida menghambat aktivitas mikroorganisme
dengan 2 cara yaitu (a) larut dalam air dan minyak yang terkandung dalam
makanan kemudian membentuk asam karbonat sehingga menurunkan pH, dan (b)
mempunyai pengaruh negatif terhadap enzim dan aktivitas biokimia dalam sel,
baik pada mikroorganisme maupun makanan.
2.4.2 Nitrogen (N2)
Nitrogen merupakan gas yang digunakan dalam MAP sebagai gas pengisi
karena kelarutannya yang rendah. Nitrogen tidak larut dalam air dan lemak dan
tidak terserap dalam produk. Nitrogen digunakan untuk menggantikan O 2 dalam
kemasan yang produknya sensitif terhadap O2, menunda ketengikan, sebagai
alternatif kemasan vakum dan menghambat pertumbuhan bakteri aerobik
(Sivertsvik et al. 2002).
Menurut Fey & Regenstein (1982) dalam Norhayani (2003), gas N2
pengaruhnya tidak berarti terhadap pertumbuhan bakteri dan daya awet makanan
dari daging. Gas ini hanya berfungsi sebagai pengisi udara bagian dalam kemasan
untuk mencapai kesetimbangan campuran gas (Cann 1988; Steck 1991 dalam
Norhayani 2003).
2.4.3 Oksigen (O2)
Umur simpan dari produk yang mudah rusak seperti daging, telur, ikan,
daging unggas, buah-buahan, sayur-sayuran dan makanan yang telah dimasak,
dipengaruhi oleh adanya oksigen dan dikondisikan pada tiga faktor yang penting :
i) reaksi dengan oksigen, ii) pertumbuhan mikroorganisme aerobik perusak, iii)
serangan serangga. Setiap faktor ini, atau kombinasi dari faktor ini, mengarah
pada penurunan mutu dalam warna, rasa dan aroma dari makanan (Smith et al.
1987 dalam Soccol 2003).
Sebenarnya, O2 diperkenalkan dalam pengemasan atmosfer dari beberapa
jenis produk adalah untuk mengurangi resiko dari pertumbuhan bakteri patogen,
tetapi saat ini proses ini telah diragukan (ACMSF 1992 dalam Sivertsvik et al.
2002).
2.5 Komposisi Gas dalam Modified Atmosphere Packaging (MAP)
Ikan dan kerang-kerangan adalah produk yang mudah rusak, karena a w
yang tinggi, pH netral dan adanya enzim autolitik yang menyebabkan
perkembangan yang cepat pada rasa dan bau yang tidak diinginkan. Ikan secara
normal mengandung banyak jenis mikroba karena metode penangkapannya,
transportasi, metode pemotongan, pemisahan dengan kulitnya selama pada
pengemasan retail.
Komposisi gas yang mengandung 40-60% CO2, 40-60% N2 dan tidak ada
O2 direkomendasikan untuk produk ikan yang berlemak, karena ketengikan dari
lemak tak jenuh pada ikan berlemak menyerang bau dan rasa, selain dari
kerusakan akibat mikroba. Pengemasan vakum juga bisa menjadi alternatif selain
MAP untuk ikan berlemak seperti salmon, menghasilkan hasil sensori umur
simpan yang mirip dimana parameter perusak sensori yang utama adalah
ketengikan (Rosnes et al. 1997; Randell et al. 1999 dalam Sivertsvik et al. 2002).
Tetapi untuk kualitas mikrobiologi masih lebih baik menggunakan MAP
dibandingkan dengan pengemasan vakum.
Karuniawati (2003) berdasarkan hasil penelitiannya pada fillet ikan Mas
mendapatkan konsentrasi 60% CO2 memberikan hasil yang baik khususnya pada
tekstur fillet. Menurut Cann 1988 dalam Norhayani 2003, ikan berlemak tinggi
disarankan penggunaan campuran gas dengan proporsi 60% CO 2 dan 40% N2.
Reddy et al. (1994) dalam penelitiannya, menyatakan bahwa fillet ikan Nila yang
dikemas dengan komposisi gas 75% CO2 dan 25% N2 dan disimpan dalam suhu
pendinginan dapat memperpanjang umur simpannya sampai 25 hari, memberikan
hasil yang lebih baik daripada komposisi gas yang lain. Sedangkan menurut
Venugopal (2006), umur simpan dari fillet catfish pada suhu penyimpanan 4 oC
dan komposisi gas 75% CO2: 25% N2 mencapai 38-40 hari, lalu umur simpan
untuk fillet channel catfish pada suhu penyimpanan 0-2oC dan komposisi gas 80%
CO2: 20% udara mencapai 28 hari.
Menurut Pandazi et al. (2008), umur simpan dari Xiphias gladius
(Mediteranian swordfish) yang telah didinginkan dan disimpan dalam suhu 4 oC
dengan komposisi gas 40%:30%:30%(CO2:N2:O2) bila dibandingkan dengan
kemasan dalam udara ataupun vakum memiliki kualitas organoleptik terbaik dan
mempunyai umur simpan sampai dengan 12 hari. Penelitian yang dilakukan Erkan
(2007) terhadap chub mackarel dalam kemasan vakum dan atmosfer termodifikasi
menunjukkan bahwa pengemasan atmosfer termodifikasi mempunyai umur
simpan yang lebih lama 2 hari terhadap vakum yaitu 12 hari. Pengemasan
atmosfer termodifikasi yang dilakukan pada chub mackarel ini menggunakan
komposisi gas 5%:70%:25% (O2:CO2:N2) pada suhu 4oC. Menurut Syarief
(1990), penyimpanan ikan dengan 100% CO2 menaikkan kecepatan dan jumlah
produksi drip, sehingga pentingnya menurunkan tingkat CO2 di bawah 60%.
2.6 Wadah Kemasan
Pengemasan disebut juga pembungkusan, pewadahan atau pengepakan,
dan merupakan salah satu cara pengawetan bahan hasil pertanian, karena
pengemasan dapat memperpanjang umur simpan bahan. Pengemasan adalah
wadah atau pembungkus yang dapat membantu mencegah atau mengurangi
terjadinya kerusakan-kerusakan pada bahan yang dikemas/dibungkusnya (Julianti
& Nurminah 2006).
Saat ini, pengemasan dengan material plastik telah secara luas dipakai
dalam industri pengemasan pangan karena biayanya yang rendah dan
fleksibilitasnya yang tinggi. Wadah plastik lebih ringan dibandingkan dengan
wadah logam dan kaca, dan hanya membutuhkan energi yang rendah untuk
dibuat, diubah atau ditransportasikan (Hernandez & Giacin 1998).
Saat pengemas memberikan batasan antara produk dan lingkungan,
tingkatan perlindungannya beragam. Variasi ini penting hubungannya dengan
transportasi dari gas, uap air, atau komponen molekul-molekul antara lingkungan
eksternal dan lingkungan internal pengemasan, yang dikontrol oleh bahan
pengemas. Tidak seperti kaca, logam atau keramik, bahan pengemas plastik secara
relatif dapat ditembus (permeabel) oleh molekul kecil seperti gas (CO 2, O2, atau
jenis gas lainnya), uap air, bahan organik, dan cairan (Hernandez & Giacin 1998).
Penyimpanan sistem MAP memerlukan bahan kemasan yang spesifik
untuk menjaga agar komposisi udara dalam kemasan yang telah diatur pada
awalnya tidak banyak mengalami perubahan selama penyimpanan. Untuk maksud
ini hendaknya digunakan bahan kemasan yang mempunyai permeabilitas rendah
(high barrier film). Nilai pemeabilitas beberapa kemasan terhadap laju
perembesan beberapa jenis gas dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Permeabilitas Beberapa Film Plastik Kemasan
Jenis Film
Polypropilene (PP)
Low Density Poly Ethylene
(LDPE)
Medium Density Poly Ethylene
(MDPE)
High Density Poly Ethylene
(HDPE)
CO2
Permeabilitas
H2
N2
O2
500-800
1700
40-48
150-240
2700
1950
180
500
1000-2500
1950
85-315
250-535
580
-
42
185
Nilai permeabilitas berdasarkan hasil tes ASTM D-1434: cc-mil/100 sq.in-24hr-atm.at 25 0C
Sumber : Smoluk & Sneiler (1985)
Berdasarkan Tabel 4 di atas, jika dibandingkan, maka kemasan yang
mempunyai permeabilitas paling rendah terhadap CO2 adalah Polypropilene (PP),
sehingga kemasan ini paling baik untuk dipakai pada pengemasan atmosfer
termodifikasi karena dapat menjadi barrier yang baik terhadap perembesan CO2
keluar dari kemasan.
Download