MONOGRAF PERENCANAAN STRATEGIS

advertisement
MONOGRAF PERENCANAAN STRATEGIS RUMAH SAKIT
Oleh:
Nur Hidayah
PROGRAM STUDI MANAJEMEN RUMAH SAKIT
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
TAHUN 2017
DAFTAR ISI
Halaman
BAB I
BAB II
BAB III
PENDAHULUAN.............................................................................................................
1
Latar Belakang.......................................................................................................
1
KONSEP PERENCANAAN STRATEGIS............................................................................
9
A. Proses Penciptaan Nilai.........................................................................................
B. Proses Pengambilan Keputusan Untuk Menyusun Rencana Strategis..................
C. Analisis SWOT: Analisis Situasi..............................................................................
9
11
13
PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENSTRA RUMAH SAKIT.......................................
22
A.
B.
C.
D.
E.
22
24
26
32
Perencanaan Untuk Penyusunan Renstra.............................................................
Proses Penyusunan Rentra Rumah Sakit...............................................................
Sistematika Rencana Strategis Rumah Sakit..........................................................
Daftar Pustaka.......................................................................................................
Lampiran
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Formulasi strategy atau rencana strategis rumah sakit (Renstra) adalah rencana jangka
panjang, yang dihasilkan setelah organisasi/institusi rumah sakit melakukan analisis
lingkungan eksternal dan internal, untuk menangkap peluang dan mengatasi ancaman
eksternal dengan kekuatan yang dimiliki organisasi rumah sakit, serta memperbaiki
kelemahan internal rumah sakit, kemudian menyusun atau melakukan tinjauan terhadap visi,
dan misi rumah sakit.
Pada umumnya rumah sakit sudah menyusun Rencana Strategis (Renstra), namun
berdasarkan pengalaman para praktisi manajemen rumah sakit, Rencana Strategis tidak
diimplementasikan secara konsisten atau hanya sebagai dokumen untuk melengkapi
persyaratan akreditasi atau mengikuti trend bahwa sebuah rumah sakit harus mempunyai
Renstra. Namun demikian perlu penelitian lebih lanjut, berapa banyak rumah sakit,
khususnya rumah sakit swasta, yang sudah mengimplementasikan Renstranya secara
konsisten, sampai kepada kegiatan tahunan, tengah tahunan, triwulan, bulanan, bahkan
sampai kepada kegiatan harian semuanya bermuara ke arah pencapaian misi dan visi rumah
sakit tersebut. Kaplan and Norton (2004) mencatat dari Charan and Golvin dalam artikelnya
Why CEOs Fail? menyebutkan bahwa strategi yang gagal, bukan karena strateginya yang
jelek (bad strategy) tetapi implementasinya atau pelaksanaan strateginya yang jelek (bad
excecution).
Perancanaan strategik bukan obat segala penyakit. Perencanaan strategik hanya
serangkaian konsep, prosedur dan alat yang didisain untuk membantu pemimpin, manajer,
dan planner berpikir, bertindak, dan belajar secara strategis. Digunakan dengan cara-cara
yang bijak dengan keterampilan penuh dan koalisi sekelompok orang yang berkepentingan,
dapat membantu organisasi fokus untuk menghasilkan keputusan dan tindakan yang
menciptakan public values, untuk mencapai misi organisasi, memenuhi mandat organisasi,
dan memuaskan stakeholders kunci. Perencanaan strategik bukan pengganti pemikiran,
tindakan, dan pembelajaran strategis bukan juga pengganti kepemimpinan tetapi
meningkatkan pemikiran, tindakan dan pembelajaran strategis (Bryson, 2004: 15).
1
Penyusunan Rentra ini memerlukan keterlibatan semua pengambil keputusan, baik
pengambil keputusan di tingkat manajemen puncak, menejemen menengah, maupun
manajemen operasional. Selain itu juga perlu masukan dari stakeholders rumah sakit lainnya
seperti investor dan masyarakat pengguna jasa rumah sakit, sehingga Renstra yang
dihasilkan dapat tepat sasaran. Implementasi Renstra perlu pandangan yang sama dan
kesepakatan terhadap misi dan visi, serta tujuan rumah sakit, sehingga masing-masing dapat
menjalankan perannya dalam mencapai target-target yang telah ditetapkan yang semuanya
mengarah pada pencapaian misi dan visi rumah sakit.
Untuk dapat menyusun Renstra yang implementatif, mengacu pada misi dan visi
rumah sakit memang bukan hal mudah, karena memerlukan komitmen jangka panjang dari
pemilik dan badan
direktur serta manajemen puncak,
untuk
membentuk
dan
mengembangkan budaya organisasi yang mengutamakan kinerja, bukan saja kinerja jangka
pendek, tetapi juga kinerja jangka panjang. Kinerja organisasi diukur dengan
keberhasilannya menciptakan nilai bagi pemangku kepentingan utama, yaitu pelanggan,
orang-orang yang bekerja dalam organisasi itu (manajemen), dan pemilik. Nilai tersebut
saling terkait dan tidak dapat dipisahkan dalam penciptaannya.
Menurut Kaplan and Norton (2004), intangible assets sangat menentukan keberhasilan
dalam implementasi Renstra. Intangible assets terdiri dari Human Capital (skill, talents, and
knowledge), Infomation Capital (Databases, network, information system, and technologi
infrastructures), and Organization Capital (Cultural, Leadership, employee alignment, team
work, and knowledge management). Keselarasan dari intengible assets tersebut sangat
menentukan kesiapan organisasi dalam mengimplementasikan strategi-strateginya. Strategi
menjelaskan bagaimana sebuah perusahaan berkeinginan untuk menciptakan nilai bagi
pemilik, pelanggan, dan warga negara (citizens). Intangible assets organisasi mempunyai
nilai 75 persen atau lebih, maka formulasi strategi dan eksekusinya perlu dibahas secara
eksplisit bagaimana mobilisasi dan penyelerasan dari intangible assets tersebut. Dengan
demikian keberhasilan formulasi dan implementasi strategi tergantung kepada intangible
assets yang dimiliki organisasi.
Kebanyakan perusahaan tidak berhasil mengimplementasikan strategi mereka. Hasil
penelitian Bain & Company (Kaplan and Norton, 2004) yang mengkaji kinerja dari
perusahaan besar (pendapatannya di atas $500 million) di 7 negara maju: US, Australia, UK,
Perancis, German, Italy dan Jepang, 1988-1998), lebih dari 2/3 perusahaan mempunyai
2
Renstra dengan target pertumbuhan lebih dari 9 persen, kurang dari 10 persen yang
mencapai target. Kontras dengan catatan suram tersebut, organisasi yang menggunakan
Balance Scorecard sebagai batu loncatan untuk sistem manajemen mereka, mereka
mengimplementasikan strategi secara efektif dan cepat. Mereka menggunakan Balance
Scorecard untuk menjelaskan strategi mereka kemudian menghubungkan sistem
manajemen. Mereka mendemontrasikan sebuah prinsip yang fundamental yang mendasari
Balance Scorecard: “If you can measure, you can manage it”.
Balance Scorecard bukan saja untuk mengukur kinerja organisasi, tetapi dapat menjadi
sistem manajemen strategik yang efektif. Dalam penyusunan Renstra rumah sakit dengan
system manajemen Balance Scorecard, maka sejak dari analisis lingkungan sudah dikaitkan
dengan perspektif-perspektif Balance Scorcard, demikian juga ketika melakukan analisis
SWOT untuk menentukan alternatif-alternatif strategi, strategi yang dipilih, implementasi
strategi, sampai kepada evaluasi dan kontrolnya.
Sistem pelayanan kesehatan yang baik menurut World Health Organization- South
East Asia Regional Office (WHO-SEARO), yang juga dijadikan acuan oleh Kementerian
Kesehatan sebagai mana tercantum dalam latar belakang Laporan Kinerja Instansi
Pemerintah (LAKIP)- Kementerian Kesehatan Tahun 2014, sebagai berikut:“ A good health
system delivers QUALITY SERVICES to all people,when and where they need them. The
exact configuration of services varies from country to country, but in all cases requires a
robust financing mechanism; a well-trained and adequately paid workforce; reliable
information on which to base decisions and policies; well maintained facilities and
logistics
to
deliver
quality
medicines
and
technologies”
http://www.searo.who.int/topics/health_systems/en/ . Hal ini sejalan dengan prinsip Kaplan
and Norton (2004) tentang pentingnya intangible assets. Intangible assets menggerakkan
tata-kelola dan mekanisme keuangan yang kuat karena Sumber Daya Manusianya (SDM)
terlatih dengan baik sehingga menjadi human capital yang handal, mereka diberi
kompensasi yang cukup (adequately paid workforce), mempunyai informasi yang akurat
sebagai dasar pengambilan keputusan dan kebijakan, dan fasilitas serta logistiknya
terpelihara dengan baik untuk memberikan pelayanan pengobatan dengan teknologi yang
berkualitas.
3
B. Pengertian-Pengertian di Dalam Perencanaan Strategik (Renstra)
Dalam penyusunan pedoman ini digunakan referensi dari Wheelen and Hunger (2012) yang
disesuaikan dengan kebutuhan perencanaan strategik rumah sakit. Wheelen and Hunger
(2012) ini sangat populer dan cocok dengan manajemen strategik rumah sakit di Indonesia.
Gambar 1 menunjukkan Model manajemen Strategik menurut Wheelen and Hunger (2012).
Di bagian ini akan dijelaskan pengertian-pengertian di dalam menyusun perencanaan
strategik untuk menyamakan persepsi dari pengguna tentang apa yang dimaksud dengan
istilah-istilah tersebut berdasarkan gambar Model Manajemen Strategik di atas.
Rencana Strategik (Renstra) adalah bagian dari manajemen strategik yang
menempati urutan ke dua setelah analisis lingkungan. Perencanaan strategi sering disebut
dengan formulasi strategi, yaitu perencanaan jangka panjang yang meliputi menyusun alasan
keberadaan rumah sakit (misi), apa hasil yang akan dicapai dan kapan mencapainya
(sasaran), rencana untuk mencapai misi dan sasaran, panduan yang luas untuk pembuatan
keputusan sebelum perencanaan strategi diimplementasikan (kebijakan). Lebih lengkapnya
pengertian formulasi strategi menurut Wheelen and Hunger (2012) adalah membangun
rencana jangka panjang untuk mengelola secara efektif kesempatan dan ancaman dari
lingkungan eksternal, sesuai dengan kekuatan dan kelemahan korporasi (SWOT). Formulasi
Strategi atau perencanaan strategi merupakan bagian dari manajemen strategi sebagaimana
dapat dilihat pada Gambar 1.
Visi adalah impian dan harapan yang menggambarkan rumah sakit di masa yang
akan datang menjadi seperti apa. Visi harus teerukur, realistik, mungkin untuk dicapai, dan
relevan dengan tugas dan fungsi rumah sakit.
4
Memotret
Lingkungan
Formulasi Strategi
Implementasi Strategi
Formulasi
Strategi
Mengumpulkan
Informasi
Membangun Rencana Jangka
Panjang
Merealisasikan Strategi
dalam Tindakan
Memonitor
Kinerja
Eksternal
Peluang dan
Ancaman
Lingkungan Alam
Sumber Daya dan Iklim
Lingkungan Sosial
Tekanan Umum
Lingkungan Tugas
Analisis Industri
Lingkungan
Internal
Kekuatan dan
Kelemahan
Struktur:
Rantai Komando
Budaya:
Kepercayaan,
Harapan dan Nilai
Sumber Daya:
Aset, Keterampilan,
Kompetensi, dan
Pengetahuan
Misi
Alasan
Keberad
aan
Sasaran
Capaian, Strategi
Rencana Kebijak
waktu
an
untuk
mencapa Petunjuk
i misi dan Pengambi
lan
sasaran
Keputus
an secara
luas
Program
Aktivitas
sesuai
rencana
Prose
dur
Anggar Urutan
an
langkahBiaya
langkah
Program untuk
melaku
kan
pekerja
an
Hasil nyata
dari Kinerja
Umpan Balik/Pembelajaran: Membuat perbaikan sesuai kebutuhan
Gambar 1: Model Sistem Manajemen Strategik
Sumber: Wheelen and Hunger 2012.
Misi adalah tujuan atau alasan keberadaan organisasi yang menceritakan jasa apa
yang disediakan oleh rumah sakit untuk masyarakat. Pernyataan misi yang dikonsep dengan
baik mendefinisikan tujuan yang unik dan fundamental, yang membedakan rumah sakit
dalam hal jenis dan cakupan operasinya terkait dengan jasa yang ditawarkan dan pasar yang
dilayani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pernyataan misi yang secara eksplisit
mendeskripsikan pelanggan yang dilayanai dan teknologi yang digunakan menghasilkan
pertumbuhan yang signifikan dibandingkan dengan tanpa adanya pernyataan eksplisit
tersebut. Pernyataan misi juga meliputi nilai dan filosofi rumah sakit, bagaimana melakukan
5
usaha dan memperlakukan pegawainya. Semua disajikan dalam kata-kata bukan hanya
sebagai apa rumah sakit saat ini, tetapi juga akan menjadi apa - visi strategik dari
manajemen rumah sakit untuk masa yang akan datang. Pernyataan misi meningkatkan
harapan bersama bagi eksekutif dan staf rumah sakit, pengguna jasa rumah sakit serta
stakeholders penting lainnya terhadap image rumah sakit sebagai penyedia pelayanan jasa
untuk publik (Wheelen and Hunger, 2012, disesuaikan). Misi rumah sakit disesuaikan
dengan tugas pokok dan fungsi rumah sakit.
Sasaran adalah hasil akhir dari aktivitas perencanaan, dinyatakan dalam pernyataan
kata kerja aktif dan menyampaikan apa yang akan diselesaikan dan kapan serta
dikuantifikasikan jika mungkin. Pencapaian sasaran rumah sakit harus menghasilkan
pemenuhan misi rumah sakit. Konsekuensinya rumah sakit akan menerima imbalan dari
masyarakat ketika rumah sakit melakukan tugasnya dengan baik dalam menjalankan
misinya (Wheelen and Hunger, 2004, disesuaikan).
Istilah tujuan sering dipertukarkan dengan sasaran. Tujuan adalah pernyataan apa
yang akan dicapai organisasi tanpa menyebutkan jumlah dan waktu pencapaiannya,
sedangkan sasaran ditentukan jumlah dan waktu sebagai kriteria pencapaiannya. Sasaran
yang baik berorientasi pada tindakan dan dimulai dengan kata “to” (untuk)....Contohnya
untuk mencapai keuntungan 10% di tahun 2016, dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Beberapa area tujuan dan sasaran rumah sakit adalah (Wheelen and Hunger, 2012,
disesuaikan):
-
Produktifitas
-
profitabilitas (keuntungan bersih)
-
efisiensi (biaya rendah, dan sebagainya)
-
Pertumbuhan (peningkatan total asset, penjualan, dan sebagainya)
-
Sisa hasil usaha
-
Pemanfaatan sumber daya (ROE atau ROI)
-
Reputasi (sebagai “top” rumah sakit)
-
Kontribusi untuk pegawai (rasa aman dalam bekerja, gaji)
-
Kontribusi untuk masyarakat (pembayaran pajak, partisipasi di dalam kegiatan
sosial, penyediaan jasa)
-
kepemimpinan pasar (pangsa pasar)
-
Kepemimpinan teknologi (innovasi, kreativitas)
6
-
Keberlangsungan hidup (terhindar dari kebangkrutan)
Strategi adalah rencana induk yang komprehensif yang menyatakan bagaimana
rumah sakit akan mencapai misi dan sasaran-sasarannya. Strategi memaksimalkan
keunggulan bersaing dan meminimalkan kerugian rumah sakit.
Kebijakan adalah petunjuk secara luas untuk pengambilan keputusan yang
menghubungkan formulasi dari sebuah strategi dengan implementasinya. Rumah sakit
menggunakan kebijakan untuk memastikan bahwa semua pegawai rumah sakit membuat
keputusan dan melakukan tindakan yang mendukung misi, sasaran, dan strategi rumah sakit.
Implementasi strategi adalah sebuah proses untuk merealisasikan strategi dan kebijakan
dalam tindakan melalui penyusunan program, anggaran, dan prosedur. Proses ini mungkin
memerlukan perubahan seluruh budaya organisasi, struktur organisasi, dan atau sistem
manajemen rumah sakit. Implementasi strategi dilakukan oleh manajer tingkat menengah
dan bawah, direview oleh manajer puncak (top management). Implementasi strategi ini
merujuk pada perencanaan operasional, sering melibatkan keputusan dari hari ke hari dalam
penggunaan sumber daya.
Program adalah pernyataan aktivitas atau langkah-langkah yang dibutuhkan untuk
menyelesaikan sebuah rencana, berorientasi pada tindakan strategis yang mungkin
memerlukan restrukturusasi rumah sakit, perubahan budaya, atau mulai dengan sebuah
usaha riset baru.
Anggaran adalah program rumah sakit yang dinyatakan dengan rupiah digunakan
dalam perencanaan dan kontrol, anggaran berisi daftar biaya untuk setiap program. Banyak
perusahaan membutuhkan presentasi tingkat pengembalian modal/investasi sebelum
manajemen akan menyetujui sebuah program baru. Ini untuk memastikan bahwa program
baru tersebut akan menambah keuntungan perusahaan secara signifikan dan akan
menghasilkan nilai bagi pemilik. Anggaran tersebut bukan hanya sebuah perencanaan yang
detail dari sebuah implementasi strategi baru, tetapi juga merinci pro forma laporan
keuangan yang diharapkan berefek pada kinerja keuangan untuk masa yang akan datang.
Prosedur kadang-kadang disebut Standard Operating Procedures (SOP), adalah
sebuah sistem dari langkah-langkah yang berurutan atau teknik yang menjelaskan secara
detail bagaimana melaksanakan sebuah tugas atau pekerjaan tertentu. Berbagai aktivitas
7
yang harus dilaksanakan dijelaskan secara detail untuk menyelesaikan suatu program dari
rumah sakit.
Evaluasi dan kontrol adalah proses yang di dalamnya aktivitas dan hasil kinerja
rumah sakit dimonitor sehingga kinerja aktual dapat dibandingkan dengan kinerja yang
diinginkan. Manajer pada semua level menggunakan informasi yang dihasilkan untuk
membuat perbaikan dan menyelesaikan masalah. Meskipun evaluasi dan kontrol adalah
elemen terakhir dari manajemen strategik, ia juga menunjukkan lokasi yang tepat dari
kelemahan di dalam mengimplementasikan perencanaan strategi dan itu menstimulasi
seluruh proses untuk mulai lagi.
Kinerja adalah hasil akhir dari aktivitas. Kinerja meliputi outcomes yang aktual dari
proses manajemen strategi. Praktik manajemen strategik ditentukan dengan istilah
kemampuan untuk memperbaiki kinerja organisasi, khususnya diukur dengan keuntungan
dan tingkat pengembalian investasi. Para manajer harus menyediakan informasi yang tepat,
jelas, dan tidak bias dari para bawahan mereka dalam hirarkhi rumah sakit agar evaluasi dan
kontrol efektif. Indikator kinerja diperlukan agar kinerja dapat diukur secara lebih tepat
sesuai dengan ukuran yang digunakan dalam menilai kinerja.
8
BAB II
KONSEP PERENCANAAN STRATEGIK
A. Proses Penciptaan Nilai
Perencanaan Strategis Rumah Sakit adalah sebuah proses penciptaan nilai dari institusi
rumah sakit yang diukur dengan kinerja rumah sakit. Salah satu cara untuk menilai kinerja
rumah sakit adalah menggunakan Balance Scorcard. Awalnya Balance Scorcard adalah
sebuah alat untuk mengukur kinerja organisasi, tetapi kemudian berkembang menjadi
manajemen Balance Scorcard, sebuah manajemen berbasis kinerja. Untuk mencapai kinerja
berdasarkan Balance Scorecard, terlebih dahulu harus direncanakan dari awal, sehingga
memudahkan dalam mencapai kinerja organisasi yaitu menciptakan nilai untuk para
stakeholders. Model proses penciptaan nilai yang paling sederhana digambarkan sebagai
berikut.
Strategi
Perspektif
Keuangan
Ketika kita berhasil,
bagaimana kita melihat
pemilik rumah sakit
Untuk mencapai visi,
Perspektif
bagaimana harus melihat
Pelanggan
kepada pelanggan
Perspektif
Internal
Untuk memuaskan
pelanggan proses mana
yang harus unggul
Perspektif
Untuk mencapai visi kita,
Pembelajar
bagaimana harus belajar
an dan
dan melakukan
pertumbuh
perbaikan
an
Gambar 2 Model Sederhana Proses Penciptaan Nilai
Sumber: Kaplan and Norton 2004
9
Pada Gambar 2 Model Sederhana Proses Penciptaan Nilai, menunjukkan langkah yang
berurutan dari bawah ke atas. Wheelen and Hunger (2012) menjelaskan bahwa Kaplan and
Norton mengganti istilah internal business perspective menjadi process perspective, dan
mengganti learning and growth perspective menjadi inovation and learning (See R. S.
Norton and D. P. Norton, “How to Implement a New Strategy Without Disrupting Your
Organization,” Harvard Business Review, March 2006, pp. 100–109.). Jadi dengan istilah
yang baru tersebut apabila dikaitkan dengan Gambar 2 adalah setelah memenuhi perspekstif
inovasi dan pembelajaran, hasilnya digunakan oleh rumah sakit untuk melakukan proses
penciptaan nilai dengan memberikan pelayanan kepada pasien dan keluarganya yang datang
ke rumah sakit. Jika proses yang dijalani pasien dalam menerima pelayanan kesehatan
sesuai dengan harapan dan perspektif pasien sebagai pelanggan, maka pasien merasa puas.
Proses yang mana yang sebaiknya menjadi unggulan strategi Rumah sakit sesuai dengan
kompetensi inti yang dimiliki oleh unit-unit di rumah sakit itu. Langkah selanjutnya adalah
untuk mencapai visi rumah sakit, bagaimana kita seharusnya memandang pelanggan? Untuk
rumah sakit swasta yang belum mempunyai bisnis selain bisnis intinya yaitu rumah sakit,
maka pendapatan utama rumah sakit berasal dari pasien. Rumah sakit yang paling berhasil
merespon dengan sangat baik kebutuhan dan harapan pasien yang unggul di dalam
penciptaan nilai untuk pasien tersebut. Jika banyak pasien yang merasa puas terhadap
pelayanan rumah sakit dan menjadi pelanggan yang loyal maka selanjutnya rumah sakit juga
mendapatkan nilai yang unggul berupa keuntungan finansial dan tingkat pengembalian
investasi yang tinggi. Dari keuntungan rumah sakit tersebut dapat diinvestasikan kembali
untuk melakukan inovasi dan pembelajaran, demikian seterusnya siklus berlanjut pada fase
berikutnya.
Untuk Setiap perspekstif ada sasaran yang akan dicapai, ukuran untuk melihat
keberhasilan pencapaian sasaran, target yang perlu ditetapkan, kemudian inisiatif untuk
mencapai target tersebut. Untuk mencapai visi diperlukan strategi. Visi adalah harapan
jangka panjang akan menjadi seperti apa rumah sakit di masa yang akan datang. Visi
dijabarkan dalam misi rumah sakit, untuk mencapai misi tersebut ada tujuan yang harus
dicapai, yaitu tujuan jangka panjang (20 tahun, 10 tahun, 5 tahun) dan tujuan jangka pendek
(dalam 1 tahun). Tujuan 5 tahun dicapai secara bertahap, tahun pertama tujuan yang harus
dicapai sampai dimana, tahun kedua, sampai dimana, tahun ketika sampai dimana dan
10
seterusnya sampai misi dan visi tercapai. Renstra biasanya dibuat untuk 5 tahun, sedangkan
Rencana Bisnis dibuat setiap tahun.
B. Proses Pengambilan Keputusan Untuk Menyusun Rencana Strategis
Menurut Wheelen and Hunger (2012), perencanaan strategik paling banyak menggunakan
model perencanaan yang meliputi elemen-elemen dasar dari proses manajemen strategik adalah
lebih rasional dan karenanya menjadi cara pembuatan keputusan strategik yang lebih baik. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa model perencanaan ini bukan hanya lebih analitis dan kurang
politis dari pada model lain, tetapi juga lebih sesuai dengan lingkungan yang terus berubah dan
kompleks. Oleh karena itu Wheelen and Hunger (2012) mengusulkan 8 langkah proses
pengambilan keputusan strategik untuk memperbaiki pembuatan keputusan strategik sebagai
berikut.
1. Melakukan evaluasi hasil kinerja saat ini yang terdiri dari: a. tingkat pengembalian investasi
(ROI), profitabilitas, dan sebagainya, b. misi, sasaran, strategi, dan kebijakan saat ini.
2.
Mereview corporate governance yaitu kinerja dari badan direktur dan top manajement.
3. Memotret dan menilai lingkungan eksternal untuk menentukan faktor-faktor strategis dan
mengidentifikasi kesempatan dan ancaman.
4. Memotret dan menilai lingkungan internal untuk menentukan faktor-faktor strategis yaitu
kekuatan (terutama kompetensi inti) dan kelemahan.
5. Melakukan analisis faktor-faktor strategis menggunakan analisis SWOT untuk area masalah
secara tepat, b. melakukan review dan memperbaiki misi dan sasaran rumah sakit jika
diperlukan.
6. Menghasilkan, mengevaluasi, dan memilih alternatif strategi sesuai dengan analisis yang
dilakukan pada langkah ke 5.
7. Mengimplementasikan strategi melalui program, anggaran, dan prosedur.
8. Melakukan evaluasi implementasi strategi melalui sistem umpan balik dan kontrol aktivitasaktivitas untuk memastikan penyimpangan sekecil mungkin dari perencanaan.
Pendekatan rasional pembuatan keputusan strategik ini telah berhasil digunakan oleh
perusahaan-perusahaan (corporations) seperti Warner-Lambert, Target, General Electric, IBM,
11
Avon Products, Bechtel Group, Inc., and Taisei Corporation (Wheelen and Hunger, 2012).
Meskipun model pengambilan tersebut sudah berhasil digunakan di perusahaan-perusahaan
besar non kesehatan, rumah sakit sebagai unit usaha di bidang pelayanan jasa kesehatan dapat
menggunakan model pengambilan keputusan tersebut untuk menyusun Renstra dengan
penyesuaian-penyesuaian tertentu sesuai dengan karakteristik rumah sakit. Untuk lebih jelasnya
model pengambilan keputusan ini dapat dilihat pada gambar berikut.
1a
1b
Evaluasi hasil
kinerja saat ini
Kaji dan
Evaluasi misi,
sasaran,
strategi dan
kebijakan saat
ini
3a
3b
Scan dan
Akses
Lingkungan
Eksternal
Sosial dan
Tugas
Menganalisis
Faktor
Eksternal:
Peluang dan
tantangan
2
5a
Review Tata
kelola: Badan
Direktur
Manajemen
Puncak
Pilih Faktor
Strategis
(SWOT)
sesuai dengan
situasi saat ini
4a
Scan dan
Akses
Lingkungan
Internal:
Struktur,
Budaya, dan
Sumber Daya
4b
Analisis
Lingkungan
Internal:
Kekuatan dan
Kelemahan
Formulasi Strategi: Langkah 1-6
5b
6a
Review dan
Perbaiki Misi
dan Sasaran
Jika perlu
Buat dan
evaluasi
Strategi
Alternatif
6b
Pilih dan
Rekomendasik
an Strategi
Terbaik
7
Implementasik
an Strategi:
Program
Anggaran dan
Prosedur
Implementasi
Strategi
Langkah 7
8
Evaluasi dan
Kontrol
Evaluasi dan
Kontrol
Langkah 8
Gambar 3. Proses Pengambilan Keputusan
12
Sumber: Wheelen and Hunger (2012)
C. Analisis SWOT: Analisis Situasi
Strengths,Weaknesses,Opportunities, and Threats disingkat dengan SWOT adalah
analisis faktor strategis saat ini untuk sebuah organisasi bisnis. Rumah sakit sebagai
organisasi amal usaha/bisnis perlu memotret atau menscan lingkungan eksternal dan
lingkungan internal. Semula pada tahun 1960-an sampai tahun 1970-an organisasi bisnis
masih melihat lingkungan dari dalam ke luar, artinya menganalisis kekuatan dan kelemahan
internal dulu, baru melihat lingkungan eksternal yang menyediakan peluang dan ada
kemungkinan ancaman terhadap organisasi. Mulai tahun 1980-an perspektifnya dibalik,
melihat lingkungan eksternal dulu untuk menganalisis peluang dan kemungkinan ancaman
yang dihadapi. Adapun perkembangan kerangka kerja, perspektif, pendekatan dan strategi
yang digunakan dapat dilihat pada Gambar 4.
Kerangka
Kerja
SWOT
(1960an)
Matriks
Perencana
an
Strategik
(1970-an)
Daya
Saing
(1980an)
Kompeten
si (1990an)
Hubunga
n
Strategik
(2000-an)
Perspektif
Dari
dalam-ke
luar,
sekarang
Dari dalamke
luar,
yang akan
datang
Dari
luar-ke
dalam,
sekarang
Dari dalamke
luar,
yang akan
datang
Dari luar
–ke
dalam,
yang akan
datang
Pendekatan
Manage
men
Manajeme
n
Riset
dan
Pengemba
ngan
Manajemen
Inovasi
Manajeme
n
Teknologi
Manajeme
n Berdasar
kan Nilai
Manajeme
n
Hubungan
Total
Strategi
Komparatif
Strategi
Kerjasa
ma
Strategi
Strategi
Berasing
Gambar 4: Kerangka Kerja Strategi Korporasi
Sumber: Sucherly, 2011.
13
Oleh karena itu SWOT dibalik menjadi TOWS (Threats, Opportunities, Weeknesses,
and Strengths) dalam mengidentifikasi strategi alternatif. Ancaman yang dapat
menyebabkan suatu organisasi bisnis hancur, sementara peluang jika tidak diambil
mengakibatkan bisnis tidak berkembang. Kelemahan yang ada di dalam atau internal
organisasi diperbaiki lebih dahulu, tidak dibiarkan, maka jika kelemahan sudah dapat diatasi
barulah organisasi bisnis mempunyai kekuatan yang dapat terus dikembangkan untuk
selanjutnya menghadapi ancaman yang lebih besar dan juga peluang yang lebih besar.
Bagaimana jika lebih dulu kekuatan yang ditingkatkan, sedangkan kelemahan diperbaiki
sambil proses berjalan?
Tabel 1 menunjukkan contoh hasil identifikasi isu-isu strategis dari lingkungan
eksternal yang dikelompokkan menjadi peluang dan ancaman terhadap rumah sakit. Isu-isu
strategis internal yang berupa kekuatan dan kelemahan internal organisasi, juga perlu
diidentifikasi secara cermat untuk dapat menangkap peluang dan menghadapi ancaman dari
lingkungan eksternal.
Tabel 1. Contoh Opportunities (Peluang) dan Threats (Ancaman)
Opportunities
Threats
1. Potensi Pasar yang besar
2. Meningkatnya kebutuhan
terhadap layanan kesehatan
3. Meningkatnya
profesional
1. Banyak RS dan Klinik baru
masyarakat
2. Rendahnya daya beli
besar masyarakat
sebagian
SDM
3. Banyak pengobatan
yang ditawarkan
alternatif
persediaan
4. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi
kedokteran
4. Pengetahuan sebagian besar
masyarakat
masih kurang
tentang kesehatan
5. Pemberdayaan pasien akibat kemajuan
teknologi informasi
5. Mahalnya peralatan
dengan teknologi tinggi
6. Perubahan gaya hidup masyarakat
6. Upah minimum regional yang
tinggi
medis
7. Meningkatnya peran RS untuk promotif,
preventif, kuratif dan rehabilitatif.
8. Tuntutan keunggulan mutu pelayanan
9. Longgarnya regulasi pemerintah tentang
pendirian rumah sakit
14
Faktor-faktor strategis internal yang dapat dilihat contohnya pada Tabel 2, berupa
kekuatan dan kelemahan jika ditinjau dari Balance Scorcard, maka untuk kekuatannnya
berupa kinerja keuangan (ditinjau dari perspektif keuangan) yang harus ditunjukkan kepada
pemilik (shareholders) rumah sakit, apa indikator keberhasilan rumah sakit dari segi
keuangannya, bagaimana capaian sasaran, ukuran, target dan inisiatif selanjutnya
Reputasi yang baik merupakan indikator keberhasilan di dalam melayani masyarakat,
terutama pasien dan keluarganya. Jika sebagian besar pasien dan keluarganya merasa puas
dalam menerima pelayanan kesehatan dari rumah sakit itu, maka rumah sakit mempunyai
kesempatan untuk membangun hubungan yang lebih baik sehingga mereka loyal kepada
rumah sakit. Hal ini adalah cara mencapai visi dan misi rumah sakit dilihat dari perspektif
pelenggan. Apakah indikator keberhasilan memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien
dan keluaragnya tersebut sudah mencapai sasaran, terukur dengan jelas, dalam target
kualitas, aman, waktu, biaya (efektif dan efisien) dan inisiatif lebih lanjut untuk
meningkatkan kepuasan dan loyalitas pelanggan? Perspektif proses bisnis internal yang
ditunjukkan dalam contoh Tabel 2, meliputi keunggulan kompetitif, budaya dan
keteladanan, lokasi yang strategis, kompetensi SDM yang profesional dalam hal palayanan
klinis, jaringan yang luas dan terakreditasi. hasil dari proses bisnis internal ini adalah
memberikan kepuasan kepada pelanggan dan menjalin hubungan kemitraan dengan
pelanggan sehingga untuk masa yang akan datang dapat memberikan pelayanan kesehatan
yang lebih baik sesuai atau melampaui harapan pelanggan. Dengan semakin banyaknya
pasien dan keluarganya yang merasakan kepuasan dan loyal kepada rumah sakit, maka dari
segi keuangan akan meningkat sesuai atau melampaui target pendapatan rumah sakit dari
core business (inti bisnis) yaitu memberikan pelayanan kesehatan. Perspektif pembelajaran
dan pertumbuhan merupakan dasar dari proses bisnis internal, maka kelemahan-kelemahan
dari rumah sakit diperbaiki terutama yang berupa kompetensi manajerial dan sistem
informasi manajemen sehingga proses manajemen internal dapat ditingkatkan, dan
menghasilkan inovasi-inovasi baru sehingga keunggulan bersaing yang sudah dimiliki dapat
dipertahankan menjadi keunggulan bersaing yang berkelanjutan.
Jadi, meskipun analisis SWOT ini sudah dikembangkan sejak tahun 1960-an masih
relevan sampai sekarang setelah dilakukan penyesuaian-penyesuaian dengan perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebagai contoh penggabungan dengan Balance Scorecard,
15
dengan pendekatan manajerial dan strategy yang digunakan sehingga dapat merubah
perspektif dari dalam - ke luar, untuk kondisi saat ini menjadi perspektif dari luar - ke dalam
untuk masa yang akan datang, dengan tetap memenfaatkan kekuatan yang dimiliki rumah
sakit saat ini dengan memingkatkan jaringan untuk tujuan pembelajaran dan meningkatkan
proses bisnis internal rumah sakit. Di era sistem teknologi informasi dan komunikasi
berbasis internet memberikan peluang kepada rumah sakit untuk membangun jaringan
kerjasama dengan berbagai pihak dengan menggunakan strategi kerjasama.
Tabel 2. Contoh Strengths (Kekuatan) dan Weeknesses (Kelemahan) Rumah sakit
Strengths (Kekuatan)
Weeknesses (Kelemahan)
1. Kinerja keuangan
1. Biaya relatif lebih mahal
2. Reputasi (Market leader)
2. Data pesaing kurang
3. Kompetensi SDM profesional
3. Sistem Informasi Manajemen
4. Budaya dan keteladanan
4. Kompetensi manajerial kurang
5 Lokasi Strategis
5. Area parkir kurang
6. Jaringan luas
6. Antri menunggu dokter lama
7. Keunggulan kompetitif
7. Ruang perawatan sering penuh
8. Loyalitas pelanggan
8. Jumlah SDM kurang
9. Terakreditasi
Setelah mengidentifikasi faktor-fator strategis baik eksternal maupun internal, maka
selanjutnya adalah membuat matrik untuk menentukan alternatif-alternatif strategi. Contoh
Matriks EFAS pada Tabel 3 di kolom paling kiri O1, O2, O3, dan O4 adalah hasil
perhitungan pemeringkatan Faktor Opportunities (Kesempatan) T1, T2, T3, dan T4 adalah
hasil perhitungan pemeringkatan Faktor Threats (Ancaman) Eksternal berdasarkan urutan
tingkat kepentingannya. Pada Tabel 1, ada 9 Kesempatan dan 6 Ancaman, masing-masing
diambil 4 berdasarkan rangking/urutan tingkat kepentingannya. Bobot dihitung berdasarkan
keputusan ekspert (ahli) dalam bidang yang mengetahui tentang peluang dan ancaman yang
dihadapi rumah sakit, dan kekuatan serta kelemahan rumah sakit dengan teknik pembobotan
tersendiri berdasarkan hasil wawancara dengan para ahli tersebut atau para ahli tersebut
yang mengisi data untuk perhitungan pembobotan.
16
5.0
4.0
4.5
Sangat Baik
3.0
3.5
Di atas RataRata
2.0
2.5
Di Bawah
Rata-rata
Rata-rata
1.0
1.5
Jelek
Gambar 5 Rating Kemampuan Rumah Sakit dalam Merespon O dan T
Sumber: Wheelen and Hunger, 2012, dimodifikasi
Gambar 5 menunjukkan Rating, yaitu tingkat responsivitas rumah sakit terhadap
peluang (O1, O2, O3, dan O4) dan ancaman (T1, T2, T3, dan T4). Skor pada Tabel 3 adalah
perkalian antara Bobot dan Rating. Kolom paling kanan adalah Keterangan yaitu catatan
yang menerangkan alasan memasukkan pelauang dan ancaman dalam Matrik EFAS.
Tabel 3 Matrik External Factors Analysis Summary (Rangkuman Hasil Analisis Faktor
Eksternal.
EFAS
Peluang
Perubahan Gaya
O.1
Hidup
Meningkatnya SDM
O.2
profesional
Meningkatnya Peran
O.3
RS
O.4
Potensi Pasar yang
besar
Sub Total Kekuatan
Bobot
Rating
0.23
4
0.92
0.14
3
0.42
0.16
3
0.48
0.06
3
0.18
0.58
Skor
Ket
Pola makan kurang serat, tinggi
kholesterol, kurang olah raga
Untuk pelayanan klinis
Tingkat kesadaran perlunya
pelayanan kesehatan meningkat
penyakit baru jenis tidak menular
akibat stress dan gaya hidup tidak
sehat
2.00
Ancaman
T.1
Banyak pengobatan
alternatif
0.17
4
0.68
Pengobatan alternatif gencar beriklan
di media massa
T.2
Mahalnya peralatan
medis
0.09
5
0.45
Kemajuan teknologi kedokteran
T.3
Banyak
baru
0.08
4
0.32
T.4
UMR tinggi
0.07
4
0.28
Mudah mendapatkan ijin
Tuntutan pegawai gaji melebihi
UMR
RS/Klinik
Sub Total Kelemahan
Total
0.42
1.78
1
3.78
17
Contoh Matriks IFAS (Internal Faactor Analysis Summary) pada Tabel 4 di kolom paling
kiri S1, S2, S3, dan S4 adalah hasil perhitungan pemeringkatan Faktor Strengths (Kekuatan)
W1, W2, W3, dan W4 adalah hasil perhitungan pemeringkatan Faktor Weeknesses
(Kelemahan) Internal berdasarkan urutan tingkat kepentingannya. Pada Tabel 1, ada 9
Kekauatan dan 8 Kelemahan, masing-masing diambil 4 berdasarkan rangking/urutan tingkat
kepentingannya. Bobot dihitung berdasarkan keputusan ekspert (ahli) dalam bidang yang
mengetahui tentang kekuatan dan kelemahan rumah sakit dengan teknik pembobotan
berdasarkan hasil wawancara dengan para ahli tersebut atau para ahli tersebut yang mengisi
data untuk perhitungan pembobotan.
Tabel 4 Matrik Internal Faktor Analysis Summary (Kekuatan dan Kelemahan)
IFAS
Kekuatan
Reputasi Rumah
S.1
Sakit
Budaya Kerja &
Keteladanan
S.2
S.3
Bobot
Rating
Skor
0.07
3
0.21
0.25
4
1.00
0.07
3
0.21
0.13
0.52
3
0.39
1.81
Lokasi Strategis
S.4
Differensiasi Produk
Sub Total Kekuatan
Keterangan
Rumah sakit terlengkap
fasilitasnya di wilayahnya
Tim kerja kompak dan
cepat menyelesaikan
masalah
Mudah dicapai
oleh pasien maupun
stakeholders lainnya
Spesialisnya
lengkap demikian juga
dengan peralatannya
Kelemahan
Biaya relatif lebih
mahal
W.1
W.2
W.3
Jumlah SDM
kurang
Kompetensi
manajerial kurang
Area parkir kurang
W.4
Sub Total Kelemahan
Total
0.22
4
0.88
0.08
4
0.32
0.12
4
0.48
0.06
0.48
1
3
0.18
1.86
3,67
tidak dapat dijangkau
semua masyarakat untuk
level bawah
SDM perawat masih
kurang
kurang koordinasi dan
sinergi dari unit-unit
banyak parkir dipinggir
jalan
18
Untuk menentukan besarnya Rating pada Tabel 4 dapat menggunakan Gambar 5 yang
menunjukkan tingkat responsivitas rumah sakit terhadap Kekuatan (S1, S2, S3, dan S4) dan
kelemahan (W1, W2, W3, dan W4) antara sangat baik (5.0), di atas rata-rata (4.0), rata-rata
(3.0), di bawah rata-rata (2), dan buruk (1.0). Skor pada Tabel 4 adalah perkalian antara
Bobot dan Rating. Kolom paling kanan adalah Keterangan yaitu catatan yang menerangkan
alasan memasukkan Kekuatan dan Kelemahan dalam Matrik IFAS.
Langkah selanjutnya setelah mengetahui hasil perhitungan EFAS dan IFAS
dimasukkan skor total EFAS dan IFAS pada diagram kartisius sebagai berikut:
Opportunity/Peluang
3.67
3.78
Weeknesses/Kelemahan
Strengths/Kekuatan
Threats/Ancaman
Gambar 6. Pemetaan Strategi Berdasarkan Total Skor EFAS dan IFAS
Strategi yang dipilih berdasarkan Total Skor EFAS dan IFAS adalah Offensif atau proaktif,
berada pada kwadran kanan atas (Sel 1). Selengkapnya strategi-strategi sesuai dengan
kwadran atau selnya ditunjukkan pada Gambar 7.
19
Opportunity/Peluang
Sel 3: Turn around/
Pembenahan
Sel 1: Offensive/Proaktif
Weeknesses/Kelemahan
Strengths/Kekuatan
Sel 4: Devensive/Reaktif
Sel 2:Difersifikasi/Mencari
Terobosan
Threats/Ancaman
Gambar 7. Pilihan Strategi Berdasarkan Total Skor EFAS dan IFAS
Untuk menyusun alternatif strategi, para manajer yang terkait perlu melakukan
brainstorming untuk menentukan strategi apa saja berdasarka TOWS, sebagai mana dapat
dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Metriks TOWS
IFAS
EFAS
Pilih 5-10 Kesempatan (O)
Pilih 5-10 Kekuatan Internal
(S)
Strategi SO: Gunakan
kekuatan internal untuk
menangkap peluang
Pilih 5-10 Ancaman (T)
Strategi ST: Gunakan
kekuatan internal untuk
menghadapi ancaman
Sumber: Wheelen and Hunger, 2012
Pilih 5-10 Kelemahan
Internal (W)
Strategi WO: Perbaiki
kelemahan internal untuk
dapat menangkap peluang
Strategi WT: Perbaiki
kelemahan internal untuk
menghadapi ancaman
Berdasarkan Gambar 6 dan Gambar 7, maka strategi yang dipilih adalah Strategi SO
(Lihat Tabel 5) yaitu; “Gunakan kekuatan internal untuk menangkap peluang. Dari Tabel 3
dan Tabel 4 Matrik EFAS dan IFAS, strategi alternatifnya adalah:
S1-O4 yaitu Reputasi/Market Leader untuk menangkap potensi pasar yang besar. Rumah
sakit dapat melakukan instensifikasi pemasaran hubungan dengan pelanggan
berdasarkan basis data pasien (pelanggan), untuk mengetahui harapan pelanggan
terhadap pelayanan kesehatan yang ditawarkan rumah sakit.
20
S4-O1 yaitu Diferensiasi Produk untuk menangkap peluang perubahan gaya hidup. Rumah
sakit menyediakan produk (jasa pelayanan kesehatan) yang dapat memberikan solusi
total bagi kebutuhan pelanggan terhadap pelayanan jasa kesehatan, dengan
menambah produk-produk baru sehingga, jasa pelayanan kesehatan yang disediakan
rumah sakit semakin lengkap. Dengan demikian pasien tidak perlu dirujuk ke rumah
sakit lain, semua kebutuhan pasien sudah tersedia.
S2-O2 yaitu Budaya Kerja & Keteladanan pada SDM internal Rumah Sakit untuk
menangkap peluang meningkatnya SDM profesional dalam pelayanan klinis (dokterdokter spesialis dan perawat-perawat spesialis, serta SDM penunjang yang
profesional). Budaya kerja dan keteladanan yang baik dapat menjadi daya tarik
tersendiri bagi SDM profesional yang akan bergabung menjadi SDM rumah sakit.
Hal ini terkait dengan bagaimana rumah sakit dapat memberikan kepuasan kepada
SDM profesional dan staf atau karyawan. Bagaimanapun SDM rumah sakit mempu
jaringan hubungan dengan teman-teman sejawatnya di luar rumah sakit. Mereka
dapat merekomendasikan rumah sakit tempatnya bekerja kepada SDM profesional
yang berada di luar rumah sakit untuk bergabung bekerja di rumah sakit itu.
Sebaliknya ketika rumah sakit mempunyai buadaya yang buruk dan tidak ada
keteladanan, akan mencegah SDM profesional untuk bergabung dan bekerja di
rumah sakit itu, bahkan SDM profesional rumah sakit dapat keluar atau pindah ke
rumah sakit lain yang mempunyai budaya kerja yang baik dan keteladanan.
S3-O3 yaitu lokasi yang strategis untuk menangkap peluang meningkatnya peran rumah
sakit. Lokasi strategis memungkinkan rumah sakit untuk meningkat perannya karena
memudahkan melakukan kegiatan utama dalam value chain management
(manajemen rantai nilai) dari inbond logistic (input), proses penyampaian layanan
kesehatan, outbond logistic (dari pasien masuk hingga pasien diijinkan pulang),
service setelah pasien keluar dari rumah sakit. Lokasi strategis mempunyai daya tarik
tersendiri bagi stakeholders rumah sakit, sayang sekali jika tidak dimanfaatkan untuk
meningkatkan peran rumah sakit itu.
Strategi alternatif lainnya yaitu ST, WO, dan WT (Lihat Tabeln 5) dapat diidentifikasi
berdasarkan hasil diskusi dari team Renstra dan stakeholders yang mempunyai kepakaran
dalam bidang itu.
21
BAB III
PEDOMAN TEKNIS PENYUSUNAN RENSTRA RUMAH SAKIT
A. Perencanaan Untuk Penyusunan Renstra
Penyusunan Renstra yang dapat diimplementasikan secara efektif dan efisien bukan hal
yang mudah. Hal ini perlu dukungan dan komitmen yang kuat dari pengambil keputusan kunci
(key decision makers) di rumah sakit, karena mereka yang memiliki informasi dan sumber daya
yang dibutuhkan untuk menyusun Rentra itu, memantau pengimplementasiannya, dan
mengevaluasi serta mengontrol hasil implementasi Renstra. Perlu kepercayaan terhadap
pentingnya Renstra dan kebutuhan penyusunan Renstra untuk keberhasilan rumah sakit dimasa
yang akan datang. Selain itu manajemen puncak perlu pandangan yang sama ke arah mana
tujuan organisasi rumah sakit ini, sehingga mereka tidak mempunyai persepsi yang berbedabeda terhadap Renstra yang akan menyulitkan ketika ketika akan mengimplementasikan Renstra
tersebut.
Untuk meyakinkan pengambil keputusan kunci dan top manajemen, perlu bukti misalnya
dengan mengadakan diskusi mengundang para pakar dan institusi rumah sakit lain yang sudah
berhasil mengimplementasikan Renstranya dengan baik. Acara ini untuk membuka wawasan
berpikir strategis dan pembelajaran serta penyamaan persepsi bagi Top manajemen sebelum
penyusunan Renstra.
Langkah-langkah perencanaan untuk penyusunan Renstra (plan to plan) adalah sebagai
berikut.
1. Inisiatif penyusunan Renstra dari Badan Direktur/Top Manajemen/Pengambil Keputusan
Kunci/Ahli strategi.
2. Rapat persiapan untuk untuk mendapatkan persetujuan tentang:
a. Tujuan dan manfaat dari usaha penyusunan Renstra
b. Siapa saja yang terlibat pada penyusunan Renstra, dan cara mereka memberikan
partisipasinya.
c. Langkah persiapan penyusunan Renstra
d. Membentuk Tim Koordinator Renstra dan Tim Penyusun Renstra beserta anggaran
biayanya.
e. Sumber daya yang diperlukan untuk persiapan penyusunan Renstra.
f. Bentuk dan waktu pelaporan persiapan penyusunan Renstra.
Tabel 6. Outline Perencanaan Strategis Rumah Sakit
Langkah
1. Mendapatkan persetujuan tentang
langkah-langkah
perencanaan,
tanggungjawab, target waktu. Meninjau
proses perencanaan dengan Badan
Penanggungjawab
Direktur eksekutif
dan
pimpinan
Badan Direktur
Waktu
22
2.
3.
(1)
4.
5.
6.
7.
Direktur dan Staf.
Bertemu secara informal dengan para
pemangku kepentingan rumah sakit
(rumah sakit lain dalam wilayah yang
sama, perwakilan masyarakat pengguna
jasa rumah sakit, perwakilan dari
pemerintah setempat, para pemasok
barang-barang kebutuhan rumah sakit,
pendiri rumah sakit dan sebagainya
untuk mematangkan ide-ide bagaimana
rumah sakit dapat memberikan
pelayanan yang terbaik untuk para
stakeholder ini. Buatlah rangkuman
dari informasi yang diperoleh dari para
stakeholders tersebut.
Melakukan persiapan untuk pertemuan
dengan
Badan
Direktur
dan
Manajemen (di dalam atau di luar
rumah
sakit/retreat),
buatlah
rangkuman informasi mengenai:
Misi organisasi, keberhasilan dan
keterbatasan rumah sakit di masa lalu,
(2) trend pelayanan kesehatan saat ini,
(3) beberapa pilihan dan skenario
bagaimana organisasi menghadapi isuisu strategis tersebut masa yang akan
datang.
Pada pertemuan tersebut no. 3, review
dan diskusikan informasi di atas dan
tentukan fokus masa depan rumah sakit
serta
penekanannya.
Gunakan
pendekatan skenario. Undang dua
orang nara sumber dengan kepakaran
Renstra pada pertemuan tersebut.
Buatlah rangkuman dari pertemuan
tersebut, susunlah proposal tentang
fokus masa depan rumah sakit dan
diskusikan implikasinya dengan staf.
Meriview implikasi dan meminta
persetujuan fokus masa depan rumah
sakit tersebut.
Buatlah Draft Renstra untuk setiap unit
kerja, jelaskan bagaimana mereka akan
mengimplementasikan fokus masa
depan rumah sakit itu untuk 5 tahun ke
depan. Libatkan kelompok partner
yang potensial dari unit-unit kerja
untuk mengembangkan Renstra ini
Direktur eksekutif
dan
staf
yang
ditugaskan
Direktur Eksekutif
dan
Staf
Pendukung
Peserta,
Fasilitator
tamu
Direktur Eksekutif
dan
staf
manajemen
Badan Direktur
Direktur Eksekutif
dan
Staf
manajemen
23
8. Review Rentra unit-unit. Catat
perubahan yang direkomendasikan
yang memerlukan koordinasi dari lintas
unit dan implikasinya pada pelayanan
pendukung adminstratif.
9. Buatlah draft Rentra rumah sakit
10. Review draft Renstra dengan Badan
Direktur dan 6-7 perwakilan dari dari
para stakeholders. Membuat revisi
berdasrakan pada hasil review itu.
11. Minta persetujuan Rentra rumah sakit
12. Implementasikan
renstra,
review
kemajuannya dan update Renstra setiap
tahun
Sumber: Bryson (2004), dimodifikasi.
Direktur Eksekutif
dan
Staf
manajemen
Direktur Eksekutif
Badan Direktur
Badan Direktur
Direktur eksekuti
dan team yang
ditugaskan.
B. Proses Penyusunan Rentra Rumah Sakit
Langkah-Langkah Menyusun Renstra
Untuk rumah sakit yang baru dan belum mempunyai Renstra maka terlebih dahulu
sebaiknya menyusun Renstra. Penyusunan Renstra ini dapat dilakukan sendiri oleh rumah sakit
atau bersama dengan konsultan. Untuk rumah sakit yang sudah mempunyai Renstra
menggunakan analisis SWOT, ketika lingkungan eksternal dan internal mengalami perubahan
secara signifikan, perlu meninjau kembali Renstra yang sudah ada. Hal ini karena ketika
menyusun renstra, kondisi lingkungan eksternal dan internal diasumsikan dalam keadaan stabil,
sehingga dengan peluang yang ada dan resiko yang mungkin muncul, rumah sakit dapat
menangkap peluang tersebut dengan menggunakan kekuatan yang dimilikinya, sambil
memperbaiki kelemahan yang ada, dan membuat rencana untuk menghadapi resiko jika terjadi.
Setelah melakukan persiapan penyusunan Renstra, langkah-langkah selanjutnya dalam
menyusun Renstra adalah sebagai berikut.
1. a. Melakukan evaluasi kinerja saat ini yang terdiri dari:
1) Dari segi keuangan: profit dan pertumbuhan pendapatan, tingkat pengembalian
investasi
2) Dari segi Pelanggan: Harga, kualitas, waktu, fungsi, kemitraan, dan merek/brand
3) Dari segi proses internal: Manajemen pelayanan, Manajemen Pelanggan, Manajemen
inovasi, manajemen proses sosial dan regulasi.
4) Dari segi pembelajaran dan pertumbuhan: Aset SDM, Aset informasi, dan aset
organisasi
24
1. b. Kaji dan Evaluasi misi, sasaran, strategi dan kebijakan saat ini
2. Mereview corporate governance yaitu kinerja dari badan direktur dan top manajement.
3.a. Memotret dan mencari akses lingkungan eksternal
3.b. Menilai lingkungan eksternal untuk menentukan isu-isu strategis dan mengidentifikasi
kesempatan dan ancaman.
4. a Memotret lingkungan internal
4. b. Menilai lingkungan internal untuk menentukan isu-isu strategis yaitu kekuatan
(terutama kompetensi inti) dan kelemahan.
5. a. Melakukan analisis isu-isu strategis menggunakan analisis SWOT untuk area masalah
secara tepat, melakukan review
5. b. Memperbaiki misi dan sasaran rumah sakit jika diperlukan (Lihat Lampiran 1, untuk
menilai misi).
6. a. Menghasilkan, mengevaluasi, dan memilih alternatif strategi sesuai dengan analisis yang
dilakukan pada langkah ke 5.
6. b. Mengevaluasi dan memilih alternatif strategi sesuai dengan analisis yang dilakukan pada
langkah ke 5.
Langkah ke 7 dan ke 8 tidak termasuk dalam Renstra.
7. Mengimplementasikan strategi melalui program, anggaran, dan prosedur.
8. Melakukan evaluasi implementasi strategi melalui sistem umpan balik dan kontrol aktivitasaktivitas untuk memastikan penyimpangan sekecil mungkin dari perencanaan.
25
Persiapan Penyusunan Renstra
1a
1b
Evaluasi hasil
kinerja saat ini
Kaji dan
Evaluasi misi,
sasaran,
strategi dan
kebijakan saat
ini
2
3a
3b
Scan dan
Akses
Lingkungan
Eksternal
Sosial dan
Tugas
Menganalisis
Faktor
Eksternal:
Peluang dan
tantangan
5a
Review Tata
kelola: Badan
Direktur
Manajemen
Puncak
Pilih Faktor
Strategis
(SWOT)
sesuai dengan
situasi saat ini
4a
Scan dan
Akses
Lingkungan
Internal:
Struktur,
Budaya, dan
Sumber Daya
4b
Analisis
Lingkungan
Internal:
Kekuatan dan
Kelemahan
Formulasi Strategi: Langkah 1-6
5b
6a
Review dan
Perbaiki Misi
dan Sasaran
Jika perlu
Buat dan
evaluasi
Strategi
Alternatif
6b
Pilih dan
Rekomendasik
an Strategi
Terbaik
7
Implementasik
an Strategi:
Program
Anggaran dan
Prosedur
Implementasi
Strategi
Langkah 7
8
Evaluasi dan
Kontrol
Evaluasi dan
Kontrol
Langkah 8
Gambar 8. Langkah-Langkah Perencanaan Strategis
(Sumber: Wheelen and Hunger, 2012)
C. Sistematika Rencana Strategis Rumah Sakit
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari langkah-langkah penyusunan rancangan Renstra
(Plan to Plan) diperoleh gambaran perjalanan Penyusunan Renstra Rumah Sakit, yang
26
selanjutnya digambarkan peta perjalanan Rumah Sakit dalam mencapai Misi dan Visinya. Tabel
Peta perjalanan ini disampaikan di bagian depan untuk memudahkan stakeholders utama rumah
sakit dalam menyusuri perjalanan yang akan dilaluinya.
Peta perjalanan Rumah Sakit ini berisi Visi, Misi, Nilai Bersama, Key Performance
Indikators (KPI), dan Tantangan yang dihadapi Rumah Sakit dalam mencapai Misi dan Visinya
setelah melakukan kajian terhadap peluang dan ancaman, kekuatan dan kelemahan rumah sakit
dalam merespon peluang dan ancaman.
Adapun sistematika Renstra Rumah Sakit adalah sebagai berikut.
I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Latar belakang berisi penjelasan secara ringkas tentang alasan pentingnya penyusunan
Renstra dalam pengembangan rumah sakit ke depan, kaitan Renstra Rumah Sakit dengan
Renstra Kementerian Kesehatan, dan proses penyusunan Renstra.
1.2 Tujuan Penyusunan Renstra
1.3 Metode Penyusunan Renstra
II KEADAAN RUMAH SAKIT SAAT INI
2.1 Struktur Organisasi,Tugas dan Fungsi Rumah Sakit
2.1.1 Struktur Organisasi
2.1.2 Tugas dan Fungsi Rumah Sakit
2.2 Budaya Kerja Rumah Sakit
2.2.1 Nilai Bersama
2.2.2 Membangun Budaya Kerja Produktif dan Islami
2.3 Sumber Daya Rumah Sakit
2.3.1 Sumber Daya Manusia
2.3.2 Unit-Unit Pelayanan Rumah Sakit
2.3.3 Fasilitas Yang Dimiliki Rumah Sakit
2.3.4 Keuangan Rumah Sakit
2.3.5 Modal/Aset Rumah Sakit
27
2.4 Kinerja Rumah Sakit
Penyusunan kinerja rumah sakit sesuai dengan Balance Scorcard berdasarkan pada standar
pelayanan minimal (SPM) rumah sakit.
A. Produktivitas Rumah Sakit
1. Pelayanan Gawat Darurat
2. Pelayanan Rawat Jalan
3. Pelayanan Rawat Inap
4. Pelayanan Penunjang (Farmasi, Laboratorium, Radiologi, Gizi, Laundry)
B. Efektivitas Pelayanan Rumah Sakit
1. BOR (Bed Occupancy Rate)
2. TOI (Turn Over Interval)
3. BTR (Bed Turn Over Rate)
4. ALS (Average Long of Stay)
C. Mutu Pelayanan Kesehatan
1. Rata-rata Respon time Emergency
2. Rata-rata waktu tunggu pasien rawat jalan
3. Rata-rata waktu tunggu sebelum operasi
4. Rata-rata waktu tunggu hasil laboratorium
5. Rata-rata waktu tunggu hasil radiologi
6. Rata-rata waktu tunggu pelayanan resep obat jadi.
D. Mutu Klinis
1. Angka kematian di ruang gawat darurat
2. Angka kematian >48 jam
3. Angka kematian setelah operasi
4. Angka infeksi setelah operasi
5. Angka infeksi jarum infus (plebitis)
6. Angka infeksi saluran kemih
7. Angka Ventilator Associated Pneumonia
8. Angka infeksi aliran darah
E. Kepuasan Pelanggan
1. Komplein Pelanggan
2. Indek Kepuasan Pelanggan (IKM) KEP / 25 / M.PAN / 2 / 2004.
F. Kinerja Keuangan
1. Rasio Keuangan
1) Return On Invesments
2) Cash Ratio (CR)
3) Current Ratio (CAR)
28
4)
5)
6)
7)
8)
9)
Collection Period (CP)
Perputaran Persediaan
Perputaran Total Aset
Rasio Modal Sendiri dan Total Aktiva
Return on Equity
Rasio Pendapatan dengan Biaya operasional
2. Kepatuhan Tatakelola Keuangan
1) Rencana Bisnis dan Anggaran
2) Laporan Keuangan Berdasarkan Standar Akutansi Keuangan
3) Surat Perintah Pengesahan Pendapatan dan Belanja
4) Tarif Layanan
5) Sistem Akutansi
6) Persetujuan Rekening
7) SOP Pengelolaan Kas
8) SOP Pengelolaan Utang
9) SOP pengelolaan Piutang
10) SOP Pengadaan Barang dan Jasa
11) SOP Pengadaan barang Inventaris
G. Budaya Kerja dan Kinerja SDM Rumah Sakit
1. Budaya Kerja
2. Kinerja SDM Rumah Sakit
a.
b.
c.
d.
e.
f.
Rata-rata jam pelatihan karyawan
Rata-rata dokter yang mendapatkan pelatihan yang dipersyaratkan
Rata-rata karyawan yang melanjutkan pendidikan
Rata-rata dokter yang melanjutkan pendidikan
Rata-rata penelitian yang dipublikasikan
Program Reward and Punishment
H. Kinerja Sistem Informasi Rumah Sakit
1. Sistem Informasi SDM
2. Sistem Informasi Pelanggan
3. Sistem Informasi Pelayanan
4. Sistem Informasi Logistik
I. Kinerja Litbang Rumah Sakit
1. Penelitian
2. Pengembangan
29
III RENCANA STRATEGIS RUMAH SAKIT LIMA TAHUN KE DEPAN
3.1 Isu-isu Strategis Berdasarkan Analisis Lingkungan Eksternal Rumah Sakit
3.1.1 Peluang
Peluang ini adalah suatu keadaan yang mungkin dimanfaatkan oleh rumah sakit di masa
yang akan datang sebagai hasil dari kejelian rumah sakit memotret dan menganalisis
faktor-faktor eksternal yang berpengaruh terhadap kelangsungan hidup rumah sakit,
tetapi tidak dapat dikendalikan oleh rumah sakit.
3.1.2 Ancaman
Ancaman adalah keadaan yang mungkin merugikan rumah sakit di masa yang akan
datang yang tidak bisa dikendalikan oleh rumah sakit. Rumah sakit dapat
mengantisipasinya sehingga tidak mengalami kerugian, jika mengalami kerugian, maka
kerugiannya
seminimal
mungkin
sedangkan
manfaatnya
lebih
besar
dengan
memanfaatkan peluang yang ada.
3.2 Isu-isu Strategis Berdasarkan Analisis Lingkungan Internal Rumah Sakit
3.2.1 Kekuatan Internal Rumah Sakit
Kekuatan internal rumah sakit adalah sumber daya yang dimiliki oleh rumah sakit,
baik sumber daya manusia maupun sumber daya lainnya yang memungkinkan rumah
sakit untuk menangkap peluang dan menghadapi ancaman atau mengantisipasinya.
Selain itu, kekuatan yang dimiliki rumah sakit dapat digunakan untuk memperbaiki
kelemahan rumah sakit secara bertahap dan berkelanjutan.
3.2.2 Kelemahan Internal Rumah
Sebaik apapun rumah sakit, tidak mungkin memiliki sumber daya secara sempurna.
Kekurangan sumber daya baik sumber daya manusia, sumber daya informasi,
kapabilitas organisasi, dan sumber daya lainnya menjadi kelemahan rumah sakit.
Kekuatan dan kelemahan merupakan dua sisi yang berlawanan. Kelemahan ini dapat
menjadi hambatan dalam meraih peluang dan menghadapi ancaman.
3.3 Peninjauan dan Perbaikan Visi dan Misi Jika Perlu
3.3.1 Peninjauan Visi
3.3.2 Perbaikan Visi Jika diperlukan
3.3.3 Peninjauan Misi
30
3.3.4 Perbaikan Misi Jika Diperlukan
3.4 Pemilihan Alternatif Strategi Dengan Analisis SWOT
3.4.1 Penentuan Rangking Isu Strategis, Bobot, Reting dan Skor Faktor Eksternal
3.4.2 Penentuan Rangking Isu Strategis, Bobot, Reting dan Skor Faktor Internal
3.4.3 Penyusunan Alternatif-alternatif Strategi
3.4.5 Pilihan Strategi Terbaik Yang Direkomendasikan
4.1 Kebijakan Umum Rumah Sakit
4.1.1 Kebijakan tentang Arah Pengembangan Rumah Sakit
4.1.2 Kebijakan Tentang Budaya dan Tata-Nilai Rumah Sakit
4.1.3 Kebijakan Tentang Program, Anggaran dan Prosedur
4.2 Penyusunan Program, Anggaran Rumah Sakit
4.2.1 Program dan Anggaran Unit-Unit Fungsional Rumah Sakit
4.2.1.1 Program Perbaikan dan Pengembangan SDM Rumah Sakit
4.2.1.2 Program Perbaikan dan Pengembangan Pelayanan Rumah Sakit
4.2.1.3 Program Perbaikan dan Pengembangan Pemasaran Rumah Sakit
4.2.1.4 Program Perbaikan dan Pengembangan Sistem Informasi Rumah Sakit
4.2.1.5 Program Perbaikan dan Pengembangan Penelitian dan Pengembangan Rumah Sakit
4.2.1.6 Program Perbaikan dan Pengembangan Keuangan Rumah Sakit
4.3 Analisis Investasi dan Proyeksi Keuangan Rumah Sakit
4.2.1 Analisis Investasi
4.2.1 Proyeksi Keuangan dan Asumsi-asumsi
31
DAFTAR PUSTAKA
Health Information and Quality Authority.2013. Guidance on Developing Key Performance,
Indicators and Minimum Data Sets to Monitor Healthcare Quality: February 2013 (Version 1.1).
Dublin: Health Information and Quality Authority
Bryson, John Moore. 2004. Strategic Planning For Public and Nonprofit Organization: A Guide for
Strengthening and Sustaining Organization Achievment, Third Edition, San Francisco: John Wiley
& Son, Inc.
Kaplan, Robert S. and David P. Norton. 2004. Strategy Maps: Converting Intengibel Assets Into
Tangible Outcomes, US: harvard Business School Publishing Corporation.
Wheelen, Thomas L J. and David Hunger. 2012. Strategic management and business policy :
toward global sustainability, New Jersey:Pearson Education, Inc
32
Lampiran 1
Sepuluh Pertanyaan Untuk Mengevaluasi Misi Perusahaan:
Jawaban
No.
Pertanyaan
0
1
2
Tidak antara Ya
1.
Apakah pernyataan misi rumah sakit menjelaskan sebuah tujuan yang
menginpirasi stakeholders, bukan untuk kepentingan dari
stakeholders?
2.
Apakah pernyataan misi rumah sakit menjelaskan tanggungjawab
rumah sakit terhadap stakeholders-nya?
3.
Apakah pernyataan misi rumah sakit mendefinisikan cakupan bisnis
dan menjelaskan mengapa hal itu menarik?
4.
Apakah pernyataan misi rumah sakit menjelaskan positioning strategis
rumah sakit yang membantu mengidentifikasi keunggulan bersaing
yang dicari?
5.
Apakah pernyataan misi rumah sakit menunjukkan nilai yang
berhubungan dengan tujuan dan tindakan organisasi serta menjadi
kepercayaan (beliefs) yang membuat karyawan merasa bangga?
6.
Apakah nilai-nilai itu bergema dan memperkuat strategi organisasi?
7.
Apakah pernyataan misi itu menjelaskan standar perilaku yang
penting sebagai mercusuar (putunjuk arah) dari strategi dan nilainilai?
8.
Apakah standar-standar perilaku itu menjelaskan cara yang
memungkinkan setiap individu karyawan menilai apakah mereka
berperilaku secara benar?
9.
Apakah pernyataan misi tersebut memberikan sebuah potrait rumah
sakit yang mencerminkan budaya organisasi?
10. Apakah pernyataan misi itu mudah dibaca?
Sumber: Campbell in Wheelen and Hunger (2012: 18)
33
Untuk mengevaluasi apakah misi sebuah perusahaan sudah baik perlu dievaluasi
menggunakan tes dengan 10 pertanyaan di atas. Jawabannya Ya dan Tidak, Jika Ya skornya
2, dan jika tidak score nya 0, Antara Ya dan Tidak scorenya 1. Menurut Campbell, jika
nilainya 15 berarti luar biasa, jika nilainya kurang dari 10 berarti banyak hal yang harus
diperbaiki.
34
Lampiran 2
AUDIT STRATEGIS
(Wheelen and Hunger, 2012)
I. Situasi Saat Ini
A. Kinerja Saat Ini
Bagaimana kinerja rumah sakit tahun lalu dilihat dari perspektif keuangan, pelanggan,
internal dan pembelajaran dan pertumbuhan?
Dari perspektif keuangan? Return on investment, market share, and profitability,
produktivitas: perbaikan struktur biaya? peningkatan pemanfaatan aset? Strategi
pertumbuhan: perluasan kesempatan memperoleh pendapatan? Meningkatkan nilai
pelanggan?
Dari perspektif pelanggan? Atribut pelayanan: harga, kualitas, ketersediaan, pilihan, dan
fungsional? Hubungan dengan pelanggan: pelayanan, partnership. Brand image?
Dari perspektif internal? Proses manajemen operasi: supply, produksi jasa, penyampaian
jasa, manajemen resiko? Proses manajemen pelanggan: memilih, akuisisi, retensi,
pertumbuhan pelanggan, Proses inovasi: kesempatan pengembangan inovasi, R&D
portofolio, desain/develop, launch. Proses regulatori dan Sosial: lingkungan, kesehatan dan
keselamatan, employment, masyarakat.
Dari perspektif pembelajaran dan pertumbuhan? Buadaya? Kepemimpinan? Keselarasan
(alignment)? dan Kelompok kerja (team work)?
B. Strategic Posture
Apa misi rumah sakit, sasaran, strategi, dan kebijakan rumah sakit?
1. Apakah misi dinyatakan secara jelas? atau semata implikasi dari kinerja?
2. Misi: Apa usaha/bisnis dari rumah sakit? Mengapa?
3. Sasaran: Apa sasaran corporasi, bisnis, dan fungsional rumah sakit? Apakah semua
sasaran tersebut konsisten dengan misi, dan lingkungan internal dan eksternal?
4. Strategi: Apa strategi atau campuran yang digunakan oleh corporasi? Apakah semua
sasaran tersebut konsisten dengan misi, dan lingkungan internal dan eksternal?
5. Kebijakan: Apa kebijakan corporasi? Apakah semua kebijakan tersebut konsisten
dengan misi, dan lingkungan internal dan eksternal?
6. Apakah misi, sasaran, strategi, dan kebijakan saat ini mencerminkan operasi secara
nasional atau lokal dari corporasi?
35
II. Corporate Governance
A. Board of Directors
1.Siapa yang menjabat di badan direktur? Apakah mereka dari internal atau dari eksternal
organisasi RS?
2. Apa kontribusi anggota badan direktur terhadap corporasi dalam hal pengetahuan,
keterampilan, latar belakang dan hubungan?
3. Apakah anggota badan direktur sudah mempunyai pengalaman dalam mengoperasikan
organisasi rumah sakit? Apakah anggota badan direktur peduli terhadap kelestarian
lingkungan?
4. Berapa lama menjadi anggota badan direktur?
5. Bagaimana tingkat keterlibatan mereka di dalam manajemen strategik? Apakah mereka
semata-mata hanya menyetujui (tukang stempel) proposal manajemen puncak? atau mereka
aktif berpartisipasi dan memberikan saran-saran arah masa depan?
6. Apakah mereka melakukan evaluasi proposal manajemen terkait dengan kelestarian
lingkungan?
A. Top Management
1. Siapakah yang menjadi top manajemen?
2. Apa karakteristik dari Ketua top manajemen dalam kaitannya dengan pengetahuan,
keterampilan, latar belakang, pengalaman dan gayanya? Apakah eksekutif dari
perusahaan lain diperlukan/dipertimbangkan sebagai bagian dari team top management?
3. Sudahkan top manajemen mempertanggungjawabkan kinerja korporasi beberapa tahun
terakhir ini? Berapa manajer dalam posisi saat ini kurang dari 3 tahun? Apakah mereka
dipromosikan secara internal atau mengambil dari eksternal?
4. Sudahkan top management menetapkan sebuah pendekatan yang sistematis untuk
manajemen strategik?
5. Apakah keterlibatan level top management di dalam proses manajemen strategik?
6. Seberapa baik interaksi top management dengan manajer tingkah di bawahnya dan
dengan badan direktur?
7. Apakah keputusan strategik dibuat secara etis dengan memperhatikan tanggungjawab
sosial?
8. Apakah keputusan strategik dibuat dengan memperhatikan kelestarian lingkungan?
9. Apkah keterampilan top management cukup untuk mencakup kemungkinan tantangan
masa depan?
III. External Environment:
Opportunities and Threats (SWOT)
A. Lingkungan Fisik dari Alam: Isu Keberlangsungan
Apakah ada kekuatan lingkungan fisik dari alam yang saat ini mempengaruhi rumah sakit
dan industri rumah sakit (tempat persaingan) yang menunjukkan ancaman dan kesempatan
36
saat ini atau masa yang akan datang? (Iklim, temperatur global, tingkat ketinggian air laut,
ketersediaan air bersih, kejadian terkait dengan cuaca seperti badai, banjir, atau kekeringan).
B. Lingkungan Sosial
Apakah kekuatan lingkungan umum yang mempengaruhi rumah sakit dan industri rumah
sakit tempat persaingan? apakah ancaman dan kesempatan untuk saat ini atau masa depan?
dari lingkungan ekonomi, teknologi, Politik, hukum, dan budaya sosial?
C. Lingkungan Tugas
1. Kekuatan apa yang menggerakkan persaingan industri? Apakah kekuatan ini sama di
tingkat global atau bervariasi dari negara ke negara lainnya? Buatlah setiap kekuatan
ratingnya (tinggi, sedang, atau rendah).
a. Ancaman pendatang baru
b. Kekuatan tawar pembeli
c. kekuatan tawar supplier
d. Ancaman dari produk atau jasa subtitusi
e. Persaingan di dalam industri rumah sakit.
f. Kekuatan dari sarikat pekerja, pemerintah, kelompok kepentingan tertentu, dst.
Apakah faktor kunci di dalam lingkungan terdekat (pelanggan, pesaing, suppliers,
kreditors, serikat pekerja, asosiasi perdagangan, kelompok yang berkepentingan,
masyarakat lokal, dan pemilik) yang saat ini mempengaruhi rumah sakit? apakah
ancaman dan kesempatan saat ini atau masa depan?
D. Rangkuman Faktor Eksternal (Summary of External Factors)
Rangkuman dari Analisis Faktor Eksternal
Kekuatan dan faktor yang mana dari faktor-faktor yang telah di sebutkan di atas yang
paling penting untuk rumah sakit dan untuk persaingan saat ini maupun yang akan datang.
IV. Lingkungan Internal
Strengths and Weaknesses (SWOT)
A. Struktur Rumah Sakit
1. Bagaimana struktur rumah sakit saat ini?
a. Apakah otoritas pengambilan keputusan sentralistik atau desentralistik?
b. Apakah organisasi rumah sakit diorganisir berdasarkan fungsi, kebijakan, program,
proyek, atau kombinasi?
2. Apakah struktur ini difahami oleh setiap orang di rumah sakit?
3. Apakah struktur saat ini konsisten dengan sasaran, strategi, kebijakan, dan program
rumah sakit?
4. Bagaimana struktur rumah sakit dibandingkan dengan rumah sakit lain yang sejenis?
B. Budaya Organisasi
1. Adakah budaya organisasi yang terdiri dari kepercayaan, harapan, dan nilai-nilai
bersama telah didefinisikan dengan baik.
37
2. Apakah budaya organisasi konsisten dengan sasaran, strategi, kebijakan, dan program
rumah sakit?
3. Apakah posisi budaya organisasi mendukung pelestarian lingkungan?
4. Apakah posisi budaya organisasi terhadap issue-issue penting yang dihadapi rumah sakit
(produktivitas, kualitas kinerja, adaptasi terhadap kondisi lingkungan)?
5. Apakah budaya oganisasi sesuai dengan latar belakang dan keanekaragaman staf rumah
sakit?
C. Sumber Daya Rumah Sakit
1. Pemasaran
a. Apa sasaran, strategi, kebijakan dan program pemasaran saat ini?
i. Apakah hal tersebut dinyatakan secara jelas atau hanya implikasi dari kinerja
dan atau anggaran?
ii. Apakah pemasaran rumah sakit konsisten dengan misi, sasaran, strategi dan
kebijakan dan dengan lingkungan internal dan eksternal rumah sakit?
b. Seberapa baik kinerja rumah sakit terkait dengan analisis posisi pasar, bauran
pemasaran (marketing mix)? Seberapa tergantungnya rumah sakit terhadap pasien
atau sekelompok pasien? Seberapa besar pangsa pasar rumah sakit? Dimana
bertambah atau kehilangan pangsa pasar? Berapa presentasi pasien yang datang dari
daerah yang sudah dikembangkan dibanding daerah yang sedang dikembangkan.
Dimana posisi produk saat ini di dalam siklus produk/Jasa?
i. Apa trend yang muncul dari analisis ini?
ii. Apakah dampak trend ini terhadap kinerja masa lalu dan kinerja yang akan
datang?
iii. Apakah analisis ini mendukung rumah sakit dimasa lalu dan menunda
keputusan strategik?
iv.
Apakah pemasaran memberikan sebuah keunggulan bersaing rumah sakit?
c. Seberapa baik kinerja pemasaran rumah sakit dibandingkan dengan rumah sakit lain
yang sejenis?
d. Apakah manajer pemasaran menggunakan konsep dan teknik pemasaran yang
diterima untuk mengevaluasi dan memperbaiki kinerja produk (siklus hidup produk,
segmentasi pasar, riset pemasaran, dan portofolio produk).
e. Apakah pemasaran memperhitungkan pelestarian lingkungan ketika membuat
keputusan
f. Apakah peran manajer pemasaran di dalam proses manajemen strategik?
2. Keuangan
a. Apakah sasaran, strategi, kebijakan, dan program keuangan saat ini?
i.
Apakah sasaran, strategi, kebijakan, dan program keuangan saat ini telah
dinyatakan dengan jelas atau hanya implikasi dari kinerja dan atau anggaran?
ii.
Apakah hal itu konsisten dengan misi, sasaran, strategi dan kebijakan dan
dengan lingkungan internal dan eksternal rumah sakit?
iii. Seberapa baik kinerja rumah sakit dalam hal analisis finansial (analisis rasio,
pernyataan-pernyataan common size, struktur modal). Bagaimana
keseimbangan cash flow, portofolio produk dan bisnis rumah sakit).
38
iv.
Apakah trend yang muncul dari analisis ini? Apakah ada perbedaan signifikan
perhitungan berdasarkan nilai tukar rupiah dibanding dengan dolar?
v. Apakah pengaruh trend tersebut pada kinerja yang lalu dan bagaimana
kemungkinan trend ini berdampak pada kinerja yang akan datang?
vi.
Apakah analisis ini mendukung rumah sakit dimasa lalu dan menunda keputusan
strategik?
vii.
Apakah finansial memberikan sebuah keunggulan bersaing rumah sakit?
c. Seberapa baik kinerja keuangan rumah sakit dibandingkan dengan rumah sakit lain
yang sejenis?
d. Apakah manajer keuangan menggunkan konsep dan teknik yang dapat diterima
untuk mengevaluasi dan memperbaiki kinerja rumah sakit saat ini (financial
leverage, capital budgeting, ratio analysis, managing valuta asing).
e. Apakah finansial rumah sakit terkait dengan isu-isu finansial global?
f. Apakah peran dari manajer finansial di dalam proses manajemen strategik?
3. Penelitian dan Pengembangan
a. Apakah sasaran, strategi, kebijakan, dan program penelitian dan pengembangan saat
ini?
i. Apakah sasaran, strategi, kebijakan, dan program penelitian dan pengembangan
saat ini telah dinyatakan dengan jelas atau hanya implikasi dari kinerja dan atau
anggaran?
ii. Apakah hal itu konsisten dengan misi, sasaran, strategi dan kebijakan dan dengan
lingkungan internal dan eksternal rumah sakit?
iii. Apakah peran penelitian dan pengembangan di dalam meningkatkan kinerja
rumah sakit?
iv. Apakah campuran riset dasar, terapan, dan engineering yang tepat memberikan
misi dan strategi rumah sakit?
v. Apakah pengaruh trend tersebut pada kinerja yang lalu dan bagaimana
kemungkinan trend ini berdampak pada kinerja yang akan datang?
b. Apakah hasil yang diterima rumah sakit (return) dari investasi di bidang
penelitian dan pengembangan?
c. Apakah rumah sakit kompeten di bidang transfer teknologi? Apakah rumah sakit
menggunakan teknologi rekayasa yang sesuai dan lintas kelompok kerja
fungsional di dalam desain produk dan proses?
d. Apakah penelitian dan pengembangan memberikan sebuah keunggulan bersaing
rumah sakit?
e. Seberapa baik invesatsi rumah sakit di bidang penelitian dan pengembangan
dibandingkan dengan rumah sakit yang sejenis? Seberapa banyak yang di
outsourcing kan? Apakah rumah sakit menggunakan kerjasama aliansi rantai
nilai yang tepat untuk inovasi dan keunggulan bersaing?
f. Apakah manajer penelitian dan pengembangan menggunkan konsep dan teknik
yang dapat diterima untuk mengevaluasi dan memperbaiki kinerja rumah sakit
saat ini.
g. Apakah penelitian dan pengembangan rumah sakit terkait dengan isu-isu
penelitian dan pengembangan global?
h. Apakah penelitian dan pengembangan mempertimbangkan pelestarian
lingkungan di dalam pengembangan produk dan kemasan?
39
i. Apakah peran dari manajer penelitian dan pengembangan di dalam proses
manajemen strategik?
4. Operasi dan Logistik
a. Apakah sasaran, strategi, kebijakan, dan program operasi dan logistik saat ini?
i. Apakah sasaran, strategi, kebijakan, dan program operasi dan logistik saat ini
telah dinyatakan dengan jelas atau hanya implikasi dari kinerja dan atau
anggaran?
ii. Apakah hal itu konsisten dengan misi, sasaran, strategi dan kebijakan dan dengan
lingkungan internal dan eksternal rumah sakit?
b. Apakah jenis dan tingkat kapabilitas operasi rumah sakit. Jumlah outsourcing yang
tepat untuk keunggulan bersaing? Apakah pembelian ditangani dengan tepat?
Apakah suplier beroperasi dengan memperhatikan pelestarian lingkungan? Produk
mana yang memperoleh margin tertinggi dan mana yang marginnya terendah?
c. Apakah rumah sakit mempertimbangkan fasilitas jasa, jenis sistem operasi (rawat
inap, rawat jalan), umur dan jenis peralatan pendukung, tingkat dan peran
otomatisasi, dan menggukan alat komunikasi massa, tingkat kapasitas fasilitas dan
pemanfatan (tempat tidur, peralatan medis), tingkat efisiensi profesional dan
pelayanan personal, serta ketersediaan dan jenis transportasi untuk mobilisasi staf
maupun pasien.
d. Apakah fasilitas pelayanan tahan terhadap bencana alam, tekanan lokal atau
nasional, pengurangan atau keterbatasan sumber daya dari suppliers, peningkatan
biaya yang substansial dari material atau nasionalisasi oleh pemerintah?
e. Apakah tersedia kombinasi yang tepat staf pendukung untuk tenaga profesional.
f. Seberapa baik kinerja rumah sakit relatif di dalam persaingan? Apakah terdapat
keseimbangan biaya inventory dengan biaya logistik mempertimbangakan biaya per
staf, material, overhead, downtime, manajemen kontrol persediaan dan penjadualan
staf pelayanan, tingkat produksi, presentasi pemanfaatan fasilitas, jumlah clients
yang berhasil ditangani berdasarkan category.
i. Apakah trend yang muncul dari analisis ini? Apakah ada perbedaan signifikan
perhitungan berdasarkan nilai tukar rupiah dibanding dengan dolar?
ii. Apakah pengaruh trend tersebut pada kinerja yang lalu dan bagaimana kemungkinan
trend ini berdampak pada kinerja yang akan datang?
iii. Apakah analisis ini mendukung rumah sakit dimasa lalu dan mempengaruhi keputusan
strategik?
iv.
Apakah operasi rumah sakit menghasilkan keunggulan bersaing
g. Apakah manajer operasi menggunkan konsep dan teknik yang dapat diterima untuk
mengevaluasi dan memperbaiki kinerja rumah sakit saat ini, mempertimbangkan sistem
kontrol kualitas dan reliabilitas, manajemen persediaan, penjadualan personil, TQM,
kurva pembelajaran, program keselamatan dan rekayaa yang dapat memperbaiki efisiensi
dari jasa.
h. Apakah operasi rumah sakit mempertimbangkan pelestarian lingkungan ketika membuat
keputusan?
i. Apakah peran dari manajer operasi di dalam proses manajemen strategik?
5. Manajemen Sumber Daya manusia (MSDM)
a. Apakah sasaran, strategi, kebijakan, dan program MSDM saat ini?
40
i.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
Apakah sasaran, strategi, kebijakan, dan program MSDM saat ini telah dinyatakan
dengan jelas atau hanya implikasi dari kinerja dan atau anggaran?
ii.
Apakah hal itu konsisten dengan misi, sasaran, strategi dan kebijakan dengan
lingkungan internal dan eksternal rumah sakit?
Seberapa baik kinerja SDM rumah sakit dalam hal memperbaiki kesesuaian staf secara
individual dan pekerjaan? mempertimbangkan turnover, keluhan, pemogokan, ketika staf
tidak bekerja karena alasan tertentu, pelatihan staf, kualitas kehidupan kerja.
i.
Apakah trend yang muncul dari analisis ini?
ii.
Apakah pengaruh trend tersebut pada kinerja yang lalu dan bagaimana
kemungkinan trend ini berdampak pada kinerja yang akan datang?
iii. Apakah analisis ini mendukung rumah sakit dimasa lalu dan mempengaruhi
keputusan strategik?
iv.
Apakah sumber daya manusia rumah sakit menghasilkan keunggulan bersaing
Apakah manajer SDM menggunkan konsep dan teknik yang dapat diterima untuk
mengevaluasi dan memperbaiki kinerja rumah sakit saat ini, mempertimbangkan program
analisis jabatan, deskripsi pekerjaan yang up to date, program pelatihan dan
pengembangan, survey sikap, program desain pekerjaan, kualitas hubungan dengan
serikat pekerja, menggunakan team kerja otonom.
Seberapa baik rumah sakit mengelola perbedaan staf/tenaga kerja? bagaimana track
record rumah sakit dalam hal hak-hak asasi manusia? Apakah rumah sakit memonitor
track record hak-hak asasi manusia dari supplier kunci?
Apakah rumah sakit mempunyai code of Conduct untuk MSDM?
Apakah peran outsourcing di dalam perencanaan MSDM?
Apakah peran Manajer SDM dalam proses manajemen strategik?
6. Teknologi Informasi
a. Apakah sasaran, strategi, kebijakan, dan program TI saat ini?
i. Apakah sasaran, strategi, kebijakan, dan program TI saat ini telah dinyatakan dengan
jelas atau hanya implikasi dari kinerja dan atau anggaran?
ii. Apakah hal itu konsisten dengan misi, sasaran, strategi dan kebijakan dengan
lingkungan internal dan eksternal rumah sakit?
b. Seberapa baik kinerja TI rumah sakit dalam hal menyediakan data base yang
bermanfaat, operasi clerical routine secara otomatis, membantu manajer dalam
pengambilan keputusan rutin, menyediakan informasi yang diperlukan untuk
keputusan strategik.
i.
Apakah trend yang muncul dari analisis ini?
ii.
Apakah pengaruh trend tersebut pada kinerja yang lalu dan bagaimana
kemungkinan trend ini berdampak pada kinerja yang akan datang?
iii. Apakah analisis ini mendukung rumah sakit dimasa lalu dan mempengaruhi
keputusan strategik?
iv.
Apakah TI rumah sakit menghasilkan keunggulan bersaing
c. Bagaimana kinerja TI rumah sakit dan tingkat pengembangannya dibandingnya
rumah sakit sejenis? Apakah penggunaan internet, intranet, dan extranet secara
tepat?
d. Apakah manajer TI menggunakan konsep dan teknik yang dapat diterima untuk
mengevaluasi dan memperbaiki kinerja rumah sakit saat ini. Apakah mereka
mengetahui bagaimana membangun dan mengelola sebuah database yang kompleks,
membuat Web sites dengan perlindungan firewall dan anti virus, melakukan analisis
41
sistem, dan mengimplemantasikan sistem pendukung pengambilan keputusan secara
interaktif?
e. Apakah peran manajer TI di dalam proses manajemen strategik?
D. Summary of Internal Factors
Faktor mana yang menjadi kompetensi inti? Jika ada, yang mana kompetensi khusus yang
membedakan dengan pesaing?Faktor yang mana yang paling penting untuk rumah sakit dan industri
persaingan rumah sakit pada saat ini, dan faktor yang mana yang penting untuk masa yang akan
datang? Fungsi atau aktivitas yang mana yang menjadi kandidat untuk outsourcing.
V. Analisis Faktor Startegik (SWOT)
A. Analisis Situational Analysis Strategic Factors Analysis Summary (SFAS) Matrix dari
faktor external (EFAS) dan internal (IFAS) yang paling strategis (paling penting) yang
sangat berpengaruh terhadap kinerja rumah sakit saat ini dan di masa yang akan datang
(Wheelen and Hunger, 2012: 182)
C. Review Misi dan sasaran
1. Apakah misi dan sasaran saat ini sudah tepat dalam kaitannya dengan faktor strategik dan
masalahnya?
2. Haruskah misi dan sasaran diubah? Jika ya, bagaimana caranya?
3. Jika misi dan sasaran berubah, apa yang akan dipengaruhi di rumah sakit?
VI. Alternatif Strategi dan Strategi yang direkomendasikan
A. Strategi Alternatif
1. Dapatkan sasaran saat ini atau yang sudah diperbaiki dicapai dengan implementasi yang
lebih hati-hati dari strategi-strategi yang saat ini digunakan?
42
2. Apakah strategi alternatif utama yang layak tersedia untuk rumah sakit? Apakah ada pro
dan kontras dari setiap alternatif strategi? Dapatkah rumah sakit membuat skenario dan
menyetujuinya? (Alternatif harus cocok dengan lingkungan fisik, sosial, industri dan
rumah sakit untuk 3 sampai 5 tahun ke depan).
a. Mempertimbangkan strategi kepemimpinan biaya dan deferensiasi
b. Mempertimbangkan alternatif strategi fungsional yang mungkin diperlukan untuk
memperkuat kembali strategi alternatif rumah sakit yang penting?
B. Strategi yang Direkomendasikan
1. Menetapkan strategi alternatif untuk tingkat corporasi, bisnis, dan fungsional. Apakah
anda merekomendasikan strategi bisnis dan fungsional yang berbeda untuk unit yang
berbeda?
2. Berilah alasan rekomendasi anda terkait dengan kemampuannya mengatasi masalah
jangka pendek maupun jangka panjang dan sesuai secara efektif dengan faktor-faktor
strategis.
3. Kebijakan apa yang harus dibangun atau direvisi untuk memandu implementasi yang
efektif?
4. Apakah dampak dari strategi yang anda rekomendasikan pada kompetensi inti dan
berbeda dari rumah sakit dibanding rumah sakit sejenis.
VII. Implementasi
A. Program macam apa (contohnya: menyusun struktur organisasi rumah sakit atau
menginstitusionalisasikan TQM) yang sebaiknya dikembangkan untuk
mengimplementasikan strategi yang direkomendasikan.
1. Siapa yang harus mengembangkan program ini?
2. Siapa yang ditugaskan untuk melaksanakan program ini?
B. Apakah program itu secara finansial layak? Apakah usulan anggarannya sudah disusun dan
disetujui? Apakah prioritas dan waktuhya sudah tepat untuk setiap program?
C. Apakah perlu disusun SOP baru?
VIII. Evaluasi dan Kontrol
A. Apakah sistem informasi mampu memberikan umpan balik yang memadai mengenai
implementasi aktivitas dan kinerja? Dapatkah SI mengukur faktor-faktor strategik?
1. Dapatkah hasil kinerja ditunjukkan oleh area, unit, proyek atau fungsi?
2. Apakah informasi tepat waktu?
3. Apakah rumah sakit menggunakan bencmarking untuk mengevaluasi fungsi dan
aktivitasnya?
B. Apakah ukuran-ukuran untuk mengontrol sesuai dengan tempatnya untuk memastikan
kesesuaian dengan rencana strategik yang direkomendasikan.
1. Apakah digunakn standar dan ukuran yang tepat?
2. Pertimbangkan suatu alternatif strategi fungsional yang mungkin dibutuhkan untuk
memperkuat kembali alternatif strategi korporasi dan bisnis rumah sakit?
3. Apakah sistem penghargaan mampu mengenal dan menghargai kinerja yang bagus?
43
44
PANDUAN PRAKTIKUM
PERENCANAAN STRATEGIS RUMAH SAKIT
A. Pendahuluan
1. Latar Belakang
Tugas dan fungsi rumah sakit sebagaimana tercantum dalam undang-undang
tentang kesehatan (UU No. 44 Tahun 2009) dapat diinteprestasikan bahwa bahwa
tugas rumah sakit adalah memberikan pelayanan kesehatan secara paripurna.
Pelayanan kesehatan yang diberikan oleh rumah sakit bersifat perorangan. Dalam
menjalankan tugas tersebut rumah sakit berfungsi sebagai pemberi pelayanan
kesehatan tingkat kedua atau ketiga. Cakupan pelayanan yang diberikan rumah sakit
mulai dari pengobatan, pemulihan, pencegahan, dan pemeliharaan kesehatan secara
paripurna (fisik, mental, sosial dan spiritual), sesuai dengan indikasi medis
berdasarkan standar pelayanan rumah sakit. Agar rumah sakit mampu meningkatkan
pelayanan kesehatan yang lebih baik, rumah sakit memberikan pendidikan dan
pelatihan untuk sumber daya manusia dalam rangka meningkatkan kompetensinya,
melakukan penelitian dan pengembangan serta penapisan teknologi.
Rumah sakit dalam menjalankan tugas dan fungsinya perlu memperhatikan
faktor eksternal dan internal yang dinamis, sehingga rumah sakit dapat menangkap
peluang, mengantisipasi ancaman, dengan kekuatan yang dimilikinya. Selain
mempunyai kekuatan, rumah sakit sebagai organisasi tidak ada yang sempurna (tidak
mempunyai semua sumber daya yang dibutuhkan untuk menciptakan nilai bagi semua
stakeholders-nya). Artinya, rumah sakit mempunyai kelemahan yang dapat diperbaiki
dengan kekuatan yang dimilikinya. Dengan demikian, maka kelemahan tersebut tidak
menjadi hambatan dalam menangkap peluang. Hasil analisis terhadap lingkungan
eksternal dan internal tersebut menjadi dasar dalam menyusun perencanaan strategis
rumah sakit.
Perencanaan strategik rumah sakit adalah sebuah proses pengambilan keputusan
untuk menciptakan strategi dalam rangka mencapai misi dan sasaran rumah sakit.
Perencanaan strategik hanya dapat diimplementasikan dengan efektif, dan efisien
apabila ada komitmen yang kuat dari top manajemen. Oleh karena itu, sebelum
menyusun rencana strategis, top manajemen perlu memahami dulu filosofi dari
perencanaan strategik. Rencana strategik mencerminkan cara berpikir, bersikap dan
bertindak top manajemen, yang diikuti oleh manajemen level menengah dan
manajemen operasional. Perencanaan strategik rumah sakit menjadi alat untuk
mencapai misi dan sasaran rumah sakit.
Banyak rumah sakit, khususnya rumah sakit sudah mempunyai Rencana Strategi,
tetapi hanya sebatas dokumen, belum diimplementasikan secara efektif dan efisien
dalam rangka mencapai misi dan sasaran rumah sakit. Menyusun rencana strategis
dapat diserahkan kepada tim rencana strategis rumah sakit atau konsultan, tetapi
keterlibatan top manajemen dan stakeholders lainnya untuk memberikan jiwa kepada
rencana strategis tersebut masih sangat sedikit, sehingga jiwa dari rencana strategis
tersebut sangat lemah untuk dapat menggerakkan implementasinya. Berdasarkan fakta
tersebut, maka perlu dilakukan pelatihan penyusunan rencana strategis rumah sakit.
45
Panduan ini dapat digunakan untuk pelatihan penyusunan rencana strategis rumah
sakit, sehingga rencana strategis yang disusun mempunyai jiwa yang kuat untuk
menggerakkan perubahan cara berpikir jangka pendek, ke cara berpikir strategis
(jangka panjang) dalam pengambilan keputusan, dan melakukan tindakan sehari-hari.
Rencana strategis ini menjadi acuan dalam penyusunan Tata-kelola Keuangan Rumah
Sakit, Rencana Bisnis tahunan, Program, Kegiatan, dan Anggaran rumah sakit.
Rencana strategis rumah sakit juga menjadi acuan bagi Sistem Pengawasan Internal.
2. Dasar Pemikiran
Rumah sakit yang berada di wilayah Indonesia perlu memperhatikan dan
memperhitungkan kondisi eksternal rumah sakit, terutama terkait dengan sistem
pelayanan kesehatan. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia
telah
mengeluarkan
Keputusan
Menteri
Kesehatan
NOMOR
HK.02.02/MENKES/52/2015 Tentang Rencana Strategis Kementerian Kesehatan tahun
2015-2019. Rumah sakit-rumah sakit yang berbentuk Badan Layanan Umum (BLU) dan
rumah sakit yang berada di bawah pemerintah daerah sebagai Satuan Kerja Pemerintah
Daerah (SKPD) diwajibkan untuk menyusun rencana strategis bisnis (SSB) dan RSB
tersebut di upload di internet sehingga semua stakeholders dapat mempelajari dan
mencermatinya. Ketentuan tentang penyelenggaran rumah sakit telah diatur dalam UU
No 44/2009. Ketentuan pasal 33 ayat 1 disebutkan bahwa setiap rumah sakit harus
memiliki organisasi yang efektif, efisien dan akuntabel.
Berdasarkan fakta di lingkungan eksternal terkait dengan penyusunan rencana
strategis tersebut, rumah sakit perlu juga untuk menyusun rencana strategis yang dapat
diimplementasikan secara efektif dan efisien. Prinsip pada penyusunan rencana strategis
adalah komitmen dari manajemen puncak dan manajemen level di bawahnya untuk
menyatukan pandangan ke arah pencapaian visi dan misi rumah sakit. Semua program
dan kegiatan dalam rangka mencapai sasaran strategis yang telah ditetapkan mengacu
pada misi rumah sakit, berdasarkan tugas dan fungsi rumah sakit. Berpikir, bersikap dan
bertindak strategis menjadi dasar dalam penyusunan rencana strategis. Untuk
mengimplementasikan rencana strategis ada kemungkinan perlu perubahan struktur
organisasi dan budaya kerja yang mendukung.
2. Pengertian
Rencana Strategis rumah sakit adalah proses pengambilan keputusan dan tindakan dalam
rangka mencapai visi dan misi rumah sakit dengan memperhatikan dan memperhitungkan
peluang, ancaman, kekuatan dan kelemahan organisasi rumah sakit.
3. Paket Pelatihan
Paket pelatihan ini terdiri dari penjelasan konsep dan praktik untuk penyusunan rencana
strategis rumah sakit.
46
B. Tujuan
Tujuan Umum
Memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap terkait penyusunan rencana strategis
rumah sakit yang implementatif.
Tujuan Khusus
1. Memahami konsep dan pola pikir penyusunan rencana strategis
2. Menyusun rancangan untuk penyusunan rencana strategis (plan to plan)
3. Menjelaskan kondisi saat ini dan menilai kinerja rumah sakit
4. Mengidentifikasi isu-isu strategis dari lingkungan eksternal (peluang dan
ancaman)
5. Mengidentifikasi isu-isu strategis dari lingkungan internal (kekuatan dan
kelemahan)
6. Melakukan analisis SWOT
7. Mereview Visi dan Misi Rumah Sakit.
8. Mengidentifikasi alternatif-alternatif strategi.
9. Memilih strategi yang paling dominan
10. Untuk Top manajemen menyusun kebijakan untuk mengimplementasikan rencana
strategis.
11. Menentukan Indikator Kinerja 5 Tahun Yang Akan Datang
12. Menyusun program, kegiatan, sasaran, dan anggaran
13. Menyusun Draft Rencana Strategis Rumah Sakit
C. Peserta Pelatihan Dan Peran Pelatih
Peserta Direktur
1. Direktur utama
2. Direktur Keuangan
3. Direktur SDI
4. Direktur Operasional
Peran :
1. Memberikan gambaran tentang penyusunan renstra rumah sakit yang telah
dilakukan
2. Memberikan informasi dan masukan terkait dengan penyusunan rencana strategis
rumah sakit.
3. Memberikan sumbang pikiran dan saran-saran untuk penyusunan renstra lima
tahun ke depan
4. Menyampaikan permasalahan penyusuanan, implementasi, evaluasi dan kontrol
terhadap renstra sebelumnya sebagai bahan diskusi kelas dan memperkaya
pemahaman dari peserta yang lain.
47
Peserta Manager dan Pelaksana
Semua manajer dan staf pelaksana
Peran:
1. Melakukan simulasi konsep-konsep yang disampaikan sehingga bisa dipraktekkan
di masing-masing rumah sakit dan rumah.
2. Memberikan masukan tips-tips atau teknik-teknik dalam penyusunan renstra unit
kerjanya untuk memperkaya referensi
3. Menyampaikan permasalahan yang dihadapi di unit kerja terkait dengan rentra
rumah sakit untuk dijadikan bahan diskusi di kelas.
Fasilitator
Tim
Peran
1. Mengulang kembali poin-poin kunci dalam penyusunan renstra
2. Memfasilitasi diskusi sehingga terjadi sharing informasi antar peserta
3. Menjadi narasumber dengan menyampaikan dasar hukum, teori, best practice
sehingga peserta memiliki referensi yang cukup
4. Memfasilitasi penyelesaian soal kasus dengan memberikan contoh-contoh dan
penjelasan langkah-langkah
Asisten
Tim
Peran
1. Membantu fasilitator dalam menjalankan program pelatihan
2. Membantu peserta apabila ada kesulitan teknis atau memerlukan bantuan terkait
dengan perlengkapan dan peralatan.
D. Dasar Hukum
1. UU No 44/2009 tentang rumah sakit
2. Peraturan Presiden No 77/2015 tentang Pedoman Organisasi Rumah Sakit
3. Rencana Strategis Kementerian Kesehatan
4. Rencana Strategis Rumah Sakit
E. Materi Pembelajaran
Tabel 1
Materi Pembelajaran
No
Pokok Bahasan/ Materi
1
PB.1 Memahami Alur Penyusunan
Jam
Pelajaran
20 menit
Keterangan
48
Rencana Strategis
1.1 Perkenalan dan harapan peserta
1.2 Tujuan pelatihan dan kontrak belajar
1.3 Memahami alur penyusunan renstra
1.4 Memahami alur pembahasan dan
pengesahan
1.5 Memahami alur perubahan
2
3
4
5
6
7
PB 2. Merancang Perencanaan
Penyusunan Renstra
2.1 Menyiapkan komitment dari manajemen
puncak dan stakeholders untuk
penyusunan Rentra.
2.2 Mengumpulkan informasi tentang
harapan stakeholders
2.3 Menyiapkan profil RS dan data untuk
penilaian kinerja selama 5 tahun yang
lalu.
PB.3 Mengidentifikasi Isu-isu Strategis
3.1 Mengidentifikasi Peluang
3.2 Mengidentifikasi Ancaman
3.3 Mengidentifikasi Kekuatan
3.4 Mengidentifiksi Ancaman
20 menit
PB.4 Melakukan Analisis SWOT
4.1 Menentukan prioritas SWOT
4.2 Menentukan Bobot dan Rating SWOT
4.3 Menentukan Posisi Strategi
4.4 Menentukan Alternatif Strategi dan
Strategi terpilih
PB.5 Mereview Visi, Misi, dan Strategi
5.1 Mereview Visi
5.2 Mereview Misi
PB.6 Menentukan Indikator Kinerja
Rumah Sakit
6.1 Menentukan indikator kinerja pelayanan
kesehatan rumah sakit
6.2 Menentukan indikator kepuasan
pelanggan dan citra rumah sakit
6.3 Menentukan indikator kinerja keuangan
6.4 Menentukan indikator kinerja SDI
6.5 Menentukan indikator kinerja
6.6 Menentukan 48ndicator kinerja Sistem
Informasi
6.7 Menentukan indikator kinerja Penelitian
dan Pengembangan
20 menit
PB.7 Menetukan Kebijakan, Program,
Anggaran, dan Prosedur
20 menit
20 menit
10 menit
49
7.1 Menentukan Kebijakan
7.2 Menentukan Program Kegiatan, Sasaran,
dan Target
7.3 Menyusun SOP
8
PB.8 Menyusun Draft Renstra dan
Pengesahan Renstra
8.1 Menyusun Sistematika Renstra
8.2 Menyusun isi Renstra
8.3 Mereview Draft Renstra
8.4 Mengesahkan Renstra
Total Waktu
20 menit
150 menit
50
PB. 1 Memahami Alur Penyusunan Rencana Strategis Bisnis
Pendahuluan
Peserta dalam pelatihan ini adalah subyek yang masing-masing mampu belajar dari
pengalaman sendiri maupun pengalaman orang lain. Oleh karena itu pendekatan yang
digunakan dalam pelatihan ini adalah model pembelajaran untuk orang dewasa. Model
pelatihan ini akan lebih berhasil jika para peserta saling mengenal dan berbagi
pengalamannya terkait dengan perencanaan strategis bisnis. Untuk itu setiap peserta
diminta untuk memperkenalkan diri dan menyampaikan pengalamannya dalam forum ini.
1.1 Perkenalan, Sharing dan Harapan Peserta
1. Peserta diminta untuk memperkenalkan diri dengan menyebutkan nama, rumah
sakit tempat bekerja dan jabatannya saat ini. Fasilitator mengatur waktu dan
mengarahkan jalannya perkenalan ini.
2. Selanjutnya fasilitator meminta kepada peserta untuk menyampaikan apa saja
yang menjadi harapan setelah mengikuti pelatihan ini. Fasilitator mencatat hal-hal
penting yang disampaikan oleh peserta terkait dengan harapannya.
3. Untuk mencairkan suasana, fasilitator dapat memberikan permainan sebagai ice
breaking, misalnya peserta diminta untuk membuat kelompok kecil yang terdiri
dari 2-3 orang, anggota kelompok menyampaikan hal-hal unik tentang karakter
dirinya, kemudian anggota lainnya menceritakan kepada forum untuk
menceritakan kembali apa yang telah diketahuinya dari anggota kelompoknya.
1.2 Kontrak Belajar
1. Dalam pelatihan ini perlu adanya persamaan persepsi mengenai harapan peserta
setelah pelatihan. Untuk itu fasilitator menjelaskan susunan acara dalam pelatihan
dikaitkan dengan harapan-harapan peserta.
2. Fasilitator meminta persetujuan peserta tentang jadual waktu dan acara dalam
pelatihan ini. Jika diperlukan jadual acara dan waktunya dapat disesuaikan dengan
kebutuhan peserta.
3. Sebelum mengikuti pelatihan, peserta sudah diminta untuk mempersiapkan
perlengkapan yang diperlukan dalam pelatihan. Panitia juga sudah diminta untuk
mempersiapkan ruangan dan perlengkapan untuk pelatihan. Namun demikian,
pada kesempatan ini fasilitator perlu melakukan konfirmasi tentang untuk
kesiapan perlengkapan dan peralatan yang diperlukan agar jalannya pelatihan
berjalan lancar dan nyaman.
4. Selanjutnya, peserta dipersilahkan menyampaikan pertanyaan atau permintaan
kepada fasilitator terkait dengan pelatihan ini sebelum masuk pada acara inti.
51
1.3 Memahami Alur Penyusunan Renstra
Lembar Bacaan
1. Pola penyusunan Renstra jika tidak terjadi perubahan lingkungan yang sangat
signifikan dilakukan setiap 5 tahun atau sesuai dengan kesepakatan stakeholders
rumah sakit.
2. Sebelum memulai penyusunan Renstra perlu komitment dari stakeholders,
terutama Manajemen Puncak, karena penyusunan Rentra, implementasi dan
evaluasi serta kontrolnya memerlukan sumber daya yang besar, baik sumber daya
waktu, tenaga, pemikiran, maupun dana agar Renstra dapat diimplementasikan
dengan efektif dan efisien.
3. Setelah stakeholders siap dan mempunyai komitmen untuk menyusun Rentra,
langkah selanjutnya dibentuk tim penggerak dan koordinator penyusunan Renstra
yang dipimpin oleh Direktur Operasional atau sesuai struktur organisasi rumah
sakit dan kesepakatan manajemen puncak.
4. Penyusunan Renstra didahului dengan mengumpulkan data dan informasi dari
para stakeholders tentang kondisi lingkungan eksternal dan internal serta harapanharapan saat ini sampai lima tahun yang akan datang untuk menentukan prioritas
peluang perlu ditangkap dan ancaman yang perlu diatasi dan diantisipasi dengan
kekuatan yang dimiliki RS dengan mempertimbangkan kelemahan yang ada.
5. Data dan informasi yang terkumpul diolah, dianalisis dan dievaluasi untuk dapat
menyajikan profil rumah sakit, sejarah singkat, visi, misi, tujuan, nilai-nilai, dan
kinerja selama lima tahun yang lalu berdasarkan Balance Scorcard mengacu pada
Standar Pelayanan Minimal dan indikator-indikator kunci kinerja (Key
Performance Indikators/KPI).
6. Selanjutnya dianalisis peluang, ancaman, kekuatan dan kelemahan dengan
Analisis SWOT untuk:
a. Menentukan isu-isu strategis antara 8 – 10 isu dari peluang, ancaman,
kekuatan, dan kelemahan
b. Meminta kepada Direktur dan Para Manajer RS yang terkait (paling tidak
empat orang) untuk menilai tingkat kepentingan (mana yang lebih penting)
dari peluang, ancaman, kekuatan, dan kelemahan untuk menentukan skala
prioritas.
c. Hasil penilaian Direktur dan para Manajer RS yang terkait diolah untuk
menentukan prioritas urutan isu-isu strategis ke1 sampai dengan ke 5.
d. Hasil olahan data isu strategis tersebut dimasukkan dalam tabel, tabel peluang
dan ancaman berpasangan, dengan tabel kekuatan dan kelemahan berpasangan
untuk menentukan bobot dari setiap isu strategis tersebut.Setiap pasangan
jumlah total bobot adalah satu. Berarti masing-masing isu strategis adalah
antara nol dengan satu. Perhitungannya menggunakan perkalian matrik tingkat
kepentingan pada pasangan isu strategis.
e. Tentukan rating dari setiap isu strategis baik peluang, ancaman, kekuatan
maupun kelemahan berdasarkan kesiapan rumah sakit untuk menghadapinya.
Pilihan rating antara 1 sangat lemah, 2 lemah, 3 di tengah-tengan antara lemah
dengan kuat, 4 kuat, dan 5 sangat kuat.
f. Bobot dikalikan dengan rating dari setiap isu strategis berpasangan tersebut
untuk menghasilkan skor dan total skor.
g. Total skor pasangan peluang dan ancaman, dengan kekuatan dan kelemahan
menunjukkan sebuah titik apabila digambarkan pada diagram kartesius. Dari
52
titik tersebut ditarik garis sejajar vertikal dan horizontal sehingga bertemu
pada sebuah titik yang letaknya di salah satu kwadran diagram kartesius.
h. Letak titik pertemuan pada salah satu kwadran dari empat kwadran diagram
kartesius menunjukkan strategi utama yang menjadi pilihan pertama (prioritas
tertinggi) dalam menyusun strategi rumah sakit.
i. Buat strategi berdasarkan titik temu kekuatan dengan peluang (S-O), kekuatan
dengan ancaman (S-T), kelemahan dengan peluang (W-O), dan Kelemahan
dengan ancaman (W-T).
7. Melakukan review terhadap Visi, Misi, dan Tujuan Rumah Sakit, jika perlu
diadakan penyesuaian berdasarkan perubahan lingkungan baik lingkungan
eksternal dan lingkungan internal yang telah dianalisis menggunakan SWOT
tersebut.
8. Menyusun Draft Renstra Rumah Sakit
1.4 Memahami Alur Pembahasan Dan Pengesahan
1. Draft Renstra yang sudah disusun disampaikan kepada unit-unit yang ada di
rumah sakit agar unit-unit juga mereview Renstra Rumah Sakit terutama yang
terkait dengan peluang, ancaman, kekuatan dan kelemahan serta kinerja yang
berkaitan langsung dengan unitnya, selanjutnya setiap unit juga menyusun draft
Renstra berdasarkan unitnya masing-masing.
2. Pertemuan dengan para pimpinan unit dan tim renstra unit untuk menyampaikan
masukan atau koreksi Renstra Rumah Sakit yang terkait dengan unitnya, dan
menyampaikan Renstra Unitnya.
3. Mengintegrasikan Renstra Unit-Unit dengan Renstra Rumah Sakit.
4. Pembahasan Draft Renstra dengan semua stakeholders Rumah Sakit.
5. Apabila Draft Renstra sudah disetujui oleh semua stakeholders, maka disusun
Renstra yang sudah siap untuk disyahkan oleh pimpinan tertinggi rumah sakit dan
pemilik rumah sakit atau shareholders.
6. Pengesahan Renstra Rumah sakit.
1.5 Memahami alur perubahan
Rumah Sakit melalui Tim Renstra dan Direktur Operasional melakukan pertemuan
secara periodik untuk melakukan evaluasi dan kontrol terhadap proses manajemen
strategik yang terdiri dari analisis lingkungan eksternal dan internal, formulasi strategi
(perencanaan strategi), dan implementasi strategi.
Sebagai contoh, ketika Renstra Rumah sakit tidak diimplementasikan dengan baik,
atau sasaran kinerja dari unit tertentu tidak tercapai, maka Tim Renstra melakukan
analisis, dimana letak kekuarangannya? Apakah pada analisis lingkungan, pada
Renstranya atau pada implementasinya, atau pada komitmen stakeholders terutama
komitmen dari manajemen puncak? Hasil analisis yang merupakan evaluasi terhadap
proses manajemen strategik untuk melakukan kontrol dalam rangka melakukan
perbaikan secara terus menerus terhadap input, proses, output dan outcomes
manajemen strategik.
53
Lembar Refleksi dan Diskusi
1. Isikan masing-masing pejabat yang bertanggungjawab dalam Memahami Alur
Penyusunan Rencana Strategis Bisnis
Tabel 2
Memahami Alur Penyusunan Rencana Strategis Bisnis
No Aktivitas
Penanggungjawab
1
Pembentukan pola pikir sampai
Direktur Utama
kepada mendapatkan komitmen
dari top manajemen dan
manajemen di bawahnya serta
stakeholders lainnya untuk
menyusun Renstra.
2
Pembentukan Tim Penggerak dan
Koordinator Renstra
3
Penyusunan arah kebijakan dan
indikator kinerja utama/target
rumah sakit
4
Penyusunan tema atau sasaran
strategis
5
Pengumpulan data dan informasi
dari lingkungan eksternal dan
internal kondisi saat ini dan
harapan 5 tahun ke depan
6
Pengolahan data dan informasi
dilanjutkan dengan analisis data
dan informasi 5 tahun yang lalu
hingga saat ini.
7
Membandingkan indikator kinerja
dengan realisasi kinerja 5 tahun
yang lalu hingga saat ini.
8
Penyajian hasil pengolahan data
dan informasi termasuk
pencapaian sasaran/kinerja dalam
draft Renstra
9
Melakukan analisis SWOT untuk
menentukan alternatif strategi
berdasarkan peluang ancaman,
kekuatan dan kelemahan Rumah
Sakit
10 Menentukan indikator kinerja
untuk lima tahun ke depan, dan
tahapannya (Tahun pertama,
Kedua, Ketiga, Keempat dan
Kelima) dengan memperhatikan
gap kinerja saat ini.
11 Mereview Visi, Misi, dan Sasaran
Output
Pernyataan
komitmen
mendukung
penyusunan
Renstra
54
12
13
14
15
16
17
Rumah Sakit
Melengkapi Draft Renstra dengan
Rencana 5 tahun ke depan.
Menyampaikan Draft Renstra ke
unit-unit untuk di review dan unitunit juga menyusun Draft Renstra
unitnya masing-masing.
Pembahasan Draft Renstra dengan
semua stakeholders.
Jika ada revisi segera dilakukan
revisi hingga menjadi Draft
Renstra Final.
Persetujuan Draft Renstra untuk
disyahkan oleh pihak yang
berwenang.
Pengesahan Renstra lima tahun ke
depan.
55
PB. 2 Merancang Perencanaan Penyusunan Renstra
Pendahuluan
Penyusunan Renstra yang implementatif secara efektif dan efisien perlu rencana
untuk merencanakan penyusunan Renstra (Plan to plan). Sering terjadi Renstra
tidak/tidak dapat diimplementasikan karena kurangnya komitmen dari top manajemen
atau manajemen menengah atau manajemen operasional. Oleh karena itu perlu adanya
komitmen yang kuat dari pihak manajemen dan dukungan yang kuat juga dari
stakeholders lainnya, terutama shareholders (pemilik rumah sakit). Kebiasaan lama
berpikir jangka pendek saat ini sampai satu tahun ke depan, perlu diarahkan kepada
berpikir jangka panjang, minimal lima tahun ke depan.
Untuk merancang perencanaan dalam penyusunan Renstra meliputi langkahlangkah yang perlu difahami, yaitu: Menyiapkan komitment dari manajemen puncak
dan stakeholders untuk penyusunan Rentra; Mengumpulkan informasi tentang
harapan dan kekhawatiran stakeholders; Menyiapkan profil RS dan data untuk
penilaian kinerja selama 5 tahun yang lalu.
Bahan Bacaan
2.1 Menyiapkan Komitment Dari Manajemen Puncak Dan Stakeholders Untuk
Penyusunan Rentra
1. Untuk menyiapkan komitmen dari manajemen puncak, perlu ada inisiator yang
mengajak manajemen puncak untuk mengadakan pertemuan awal membahas
tentang Renstra.
2. Pertemuan awal tersebut dapat dilakukan di dalam lingkungan rumah sakit atau di
luar lingkungan rumah sakit. Pertemuan dapat berbentuk seminar yang membahas
best practice dengan mengundang pakar-pakar Renstra baik dari segi akademisi
maupun praktisi.
3. Dari hasil pertemuan diharapkan memberikan semangat perubahan pola pikir dan
budaya untuk keberhasilan rumah sakit dalam lima tahun ke depan dalam
lingkungan rumah sakit yang semakin dinamis, terutama akibat perubahan
kebijakan ke arah universal coverage.
4. Rumah sakit berada dalam industri pelayanan jasa kesehatan yang berprinsip
untuk meningkatkan mutu pelayanan dan keselamatan pasien.
5. Manajemen rumah sakit perlu mengkoordinir, mengintegrasikan, mensinergikan,
dan menselaraskan sumber daya rumah sakit, terutama sumber daya manusianya
yang berasal dari berbagai profesi yang masing-masing mempunyai kebijakan
sendiri-sendiri dari organisasi profesinya.
6. Stakeholders dari luar rumah sakit juga mempunyai persepsi dan harapan terhadap
rumah sakit dalam jangka panjang terkait dengan kepentingannya sendiri maupun
kepentingan bersama dalam sebuah sistem pelayanan kesehatan rumah sakit.
7. Setelah ada komitmen yang kuat dari stakeholders, perlu dibentuk tim Renstra
yang bertugas untuk menggerakkan dan mengoordinasikan penyusunan Renstra.
8. Pimpinan dan anggota tim dipilih orang-orang yang aktif dan kreatif yang dapat
menggerakkan partisipasi dari semua stakeholders dari sejak komitmen untuk
menyusun Renstra hingga pengesahan Renstra yang sudah disusun.
2.2 Mengumpulkan Informasi Tentang Harapan Dan Kekhawatiran Stakeholders.
56
1. Tim Renstra dibantu oleh orang-orang yang kompeten yang ditugaskan untuk
mengumpulkan data dan informasi, mengatur strategi pengumpulan data dan
menyiapkan instrumen yang diperlukan untuk pengumpulan data dan informasi.
Anggota tim terdiri dari misalnya perwakilan dari unit-unit yang ada di rumah
sakit.
2. Tim Renstra menyusun data dan informasi apa yang diperlukan dari para
stakeholders, instrument yang digunakan untuk pengumpulan data, siapa yang
diberi tugas untuk mengumpulkan data dan informasi, berapa lama batas waktu
data dan informasi harus dikumpulkan, diolah, dianalisis, dan disajikan menjadi
informasi yang lengkap sesuai dengan kebutuhan penyusunan Renstra.
3. Data dan informasi yang dikumpulkan berupa fakta baik data primer dan data
sekunder. Selain fakta lima tahun terakhir, juga harapan dan kendala dalam
mencapai harapan (kekhawatiran) lima tahun ke depan apa dari stakeholders.
4. Sakteholders rumah sakit terdiri dari stakeholders internal dan eksternal.
Stakeholders internal yaitu shareholders (pemilik, dan SDM rumah sakit).
Stakeholders eksternal rumah sakit terdiri dari pasien dan keluarganya,
masyarakat di sekitar rumah sakit, pemasok sumber daya kebutuhan rumah sakit,
rumah sakit lain, FKTP, pemerintah daerah, pemerintah pusat, investor, bank
rekanan rumah sakit, penyedia jasa kesehatan alternative dan sebagainya. Semakin
lengkap masukan dari berbagai stakeholders tersebut semakin baik, tergantung
pada kebutuhan data dan informasi.
2.3 Menyiapkan Profil RS Dan Data Untuk Penilaian Kinerja
1. Informasi tentang sejarah perkembangan rumah sakit secara singkat.
2. Data Kinerja Rumah Sakit:
a. Kinerja Aspek Pelayanan
1) Produktivitas
a) Kunjungan Gawat Darurat
b) Kunjungan Rawat Jalan
c) Kunjungan Rawat Jalan Rehabilitasi Medik
d) Kunjungan Rawat Inap
e) Hari Perawatan Rawat Inap
f) Cakupan kamar operasi (elektif, besar, kecil, one day care)
g) Kegiatan Laboratorium
h) Kegiatan Patologi Anatomi
i) Kegiatan Radiologi
j) Kegiatan Pemeriksaan Khusus: EEG, EMG, EKHO, FFT, Treadmill,
Audiometri, Timpanometri, Spirometri, BERA, Doppler, TCD, TTB,
Endoscopy, Bronkoskopi, Holter Monitoring, Fibroscan, Bone Marrow
Puncture, Spasmofilia, Harvey Maslan Test, dan Fungsi Asites.
k) Kegiatan Hemodialisa
l) Kegiatan Kemoterapi
m) Kegiatan Pelayanan Tallasemia
n) Jumlah Resep Farmasi
2) Efektivitas Pelayanan
a) BOR
57
b)
c)
d)
e)
f)
Turn Over Interval
Bed Turn Over
Everage Long of Stay
Kelengkapan Rekam Medis
Ketepatan waktu pengembalian Rekam Medis
b. Pendidikan dan Pelatihan
1) Rata-rata jam pelatihan karyawan
2) Jumlah penelitian
3) Jumlah hasil penelitian yang dipublikasikan
4) Program Reward and Punishment
c. Mutu Pelayanan
1) Emergency Respon Time Rate
2) Waktu Tunggu Pelayanan Rawat Jalan
3) Waktu Tunggu
4) Waktu tunggu pelayanan resep obat jadi
5) Waktu tunggu sebelum operasi elektif
6) Waktu tunggu hasil laboratorium
7) Waktu tunggu hasil radiologi
d. Mutu Klinik
1) Angka Kematian Gawat Darurat
2) Angka Kematian > 48 jam
3) Angka kematian setelah operasi
4) Angka infeksi luka operasi
5) Angka infeksi jarum suntik (phlebitis)
6) Angka infeksi saluran kemih
7) Angka Ventilator Associated Pneumonia
8) Angka infeksi aliran darah
e. Kepuasan Pelanggan
1) Penanganan Komplain
2) Indek Kepuasan Pelanggan
f. Kepedulian Kepada Masyarakat
Indikator Kepedulian kepada Masyarakat meliputi pembinaan kepada
Puskesmas dan sarana kesehatan lain, penyuluhan kesehatan (PKMRS), rasio
tempat tidur kelas III.
g. Kinerja Aspek Keuangan
1) Return On Invesment
2) Cash Ratio
3) Current Ratio
4) Collection Perion
5) Perputaran Persediaan
6) Perputaran Total Aset
7) Rasio Modal Sendiri Terhadap Total Aktiva
8) Kepatuhan Tatakelola Keungan
58
h. Gambaran dan Kinerja Sumber Daya Manusia
1) Status Kepegawaian
2) Menurut Jenis Tenaga
3) Lamanya Kerja
i. Kinerja Sistem Informasi
1) Sistem Informasi Pelayanan Kesehatan
2) Sistem Informasi Keuangan
3) Sistem Informasi SDM
4) Sistem Informasi Logistik
Lembar Refleksi/Diskusi
Tabel 3
Bahan Refleksi dan Diskusi Tentang Merancang Perencanaan Renstra
No Sumber Dana
1
Komitmen untuk menyusun
Renstra di dukung dana yang
memadai
2
Tim Penyusunan Renstra yang
kompeten dan Solid
3
Kesediaan Stakeholders untuk
memberikan data dan informasi
4
Data dan informasi yang
dibutuhkan Tentang
Fakta/Realitas:
Aspek Pelayanan (produktivitas
dan Efektifitas)
Aspek Mutu Pelayanan
Aspek Mutu Klinis
Aspek Pendidikan dan Pelatihan
Kepuasan Pelanggan
Kinerja Keuangan
5
Data dan informasi yang
dibutuhkan Tentang Harapan dan
Kekhawatiran
6
Kinerja Sumber Daya Manusia
Status Kepegawaian
Jenis Tenaga
Lamanya kerja
Ada/Tidak
Keterangan
59
PB. 3 Mengidentifikasi Isu-isu Strategis
Pendahuluan
Setelah kita mendapatkan komitmen untuk menyusun renstra, termasuk komitmen terkait
dengan pendanaannya, kemudian data dan informasi tentang profil, perkembangan rumah
sakit, dan kinerja rumah sakit sudah terkumpul, diolah dan dianalisis serta disajikan
dalam draft Renstra. Langkah selanjutnya adalah menyusun perencanaan strategis 5
tahun ke depan yang diawali dengan menganalisis lingkungan eksternal untuk
mengidentifikasi peluang dan ancaman, serta menganalisis lingkungan internal untuk
mengidentifikasi kekuatan untuk menangkap peluang dan menghadapi ancaman serta
memperbaiki kelemahan rumah sakit.
3.1 Mengidentifikasi Peluang
Perubahan lingkungan eksternal yang terdiri dari lingkungan jauh, yaitu
lingkungan alam dan lingkungan sosial yang meliputi lingkungan politik, ekonomi,
hukum, sosial, dan budaya. Lingkungan dekat yang terdiri dari pelanggan (pasien dan
keluarganya), pesaing (rumah sakit lain), pemasok (pemasok barang-barang keperluan
rumah sakit baik medis maupun non medis), dan penyedia jasa penunjang kesehatan
(complementer), seperti laboratorium klinik, Apotek, Klinik Fisioterapi, dan
sebagainya (diadaptasi dari Wheelen and Hunger, 2012). Perubahan lingkungan yang
paling menonjol dari lingkungan jauh adalah adanya kebijakan pemerintah tentang
Sistem Jaminan Sosial Nasional yang termasuk di antaranya Sistem Jaminan
Kesehatan Nasional yang mulai berlaku 1 Januari 2014. Rencananya tahun 2019
semua penduduk Indonesia harus menjadi peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)
– Universal Health Coverage. Untuk meleksanakan Sistem JKN, pemerintah
membentuk Badan Penyelenggaran Jaminan Sosisal (BPJS), Untuk masyarakat yang
tidak mampu membayar diberi bantuan oleh pemerintah dan menjadi peserta jaminan
kesehatan Penerima Bantuan Iuran (PBI).
Dalam perjalanan pelaksanaan JKN ini, banyak sekali peraturan baru yang
dikeluarkan oleh pemerintah yang bermaksud untuk mencari solusi terhadap
permasalahan yang timbul di lapangan karena banyak hal yang belum diatur dan
terkadang aturan yang ada menimbulkan pro kontra dalam implementasinya. Tidak
semua stakeholders rumah sakit dapat dengan cepat melakukan penyesuaian terhadap
perubahan yang ada, termasuk masyarakat sebagai pengguna jasa kesehatan banyak
yang belum faham, dan/atau tidak bisa menerima perubahan terkait dengan kewajiban
membayar iuran BPJS setiap bulan untuk seluruh anggota keluarga. BPJS juga
membuat peraturan-peraturan baru yang semakin ketat terhadap aturan kepesertaan
dan klaim pembayaran.
Rumah sakit sebagai penyedia jasa pelayanan kesehatan (fasilitas kesehatan
tingkat lanjut), yang memberikan pelayanan kesehatan kepada peserta JKN/BPJS,
banyak yang melihatnya sebagai peluang ketika mempunyai SDM yang cepat tanggap
(responsif) dan menyesuaikan dengan perubahan, bahkan mengantisipasi perubahan
yang akan datang.
Contoh Identifikasi Peluang:
No.
Tabel 4
Isu Strategis Sebagai Peluang
Peluang (Opportunities)
Keterangan
60
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Berpartisipasi dalam memenuhi
hak setiap orang untuk
memperoleh pelayanan kesehatan
Berpartisipasi dalam
meningkatkan kesejahteraan
masyarakat melalui pelayanan
kesehatan
Membangun citra positif
UUD 1945 Pasal 28, Ayat 1, 2, 3: hak
memperoleh pelayanan kesehatan, hal
memperoleh kesempatan, kemudahan,
persamaan, keadilan, jaminan sosial.
Sila ke 5 dari Pancasila. Deklarasi PBB
1948 ttg HAM
Pasal 25, Ayat (1
Untuk meningkatkan pangsa pasar
3.2 Mengidentifikasi Ancaman
Peluang yang tersedia di lingkungan eksternal jika berhasil ditangkap oleh
pesaing (rumah sakit lain) dengan kekuatan yang lebih besar, dapat berubah menjadi
ancaman bagi rumah sakit, misalnya citra positif rumah sakit lain lebih tinggi, mereka
berhasil meraih pangsa pasar lebih besar, artinya pangsa pasar yang seharusnya dapat
kita raih berkurang, sehingga pendapatanpun menurun. Apalagi jika pesaing dapat
memberikan kepuasan yang lebih tinggi kepada pasien, dapat menjalin kemitraan
yang lebih menguntungkan, maka ancamanpun menjadi semakin besar.
Selian itu dengan adanya berbagai aturan baru atau aturan perubahan membuat
rumah sakit dan stakeholdersnya belum siap untuk melakukan perubahan, karena
perubahan terkait dengan kebiasaan yang sudah mendarah-daging (sudah
terinternalisasi dengan kuat) bukan sesuatu yang mudah dan perlu waktu dalam
prosesnya. Di antara aturan itu adalah aturan regionalisasi, aturan rujukan berjenjang,
aturan bahwa masalah kesehatan yang dapat ditangani oleh FKTP tidak boleh dirujuk
ke rumah sakit, sedapat mungkin FKTP berupaya maksimal untuk menangani
masalah kesehatan pasien, pasien yang dirujuk hanya pasien yang tidak tertangani
oleh FKTP, misalnya karena tidak ada dokter spesialis yang dibutuhkan untuk
menangani pasien, atau tidak mempunyai peralatan untuk pemeriksaan yang lebih
detail tentang penyakit pasien. Sosialisasi aturan-aturan baru dan aturan-aturan
perubahan kepada masyarakat juga masih kurang, sehingga masyarakat yang tidak
mematuhi aturan mendapatkan sangsi pengehentian sementara kepesertaannya atau
mendapatkan denda yang besar ketika mengalami sakit. Bagi petugas pelayanan
kesehatan juga tidak serta-merta mengetahui batas-batas pelayanan mana yang tidak
mendapatkan penggantian pada klaim kepada BPJS, sehingga mengakibatkan klaim
pembayaran tertunda atau ditolak. Kinerja verifikator BPJS juga masih banyak
mendapatkan sorotan, kurang dapat bekerjasama dengan rumah sakit dengan baik
sehingga banyak keluhan dari pihak rumah sakit.
Berbagai permasalahan tersebut ketika rumah sakit tidak siap menghadapinya
menjadi ancaman bagi kinerja keuangan rumah sakit, dan kinerja dari perspektif
pasien dan keluarganya sebagai pelanggan, serta kinerja proses internal pelayanan
rumah sakit. Selain itu dari persepsi pertumbuhan dan pembelajaran juga memerlukan
biaya yang besar akibat harus melakukan sosialisasi dan pelatihan-pelatihan sebagai
akibat dari adanya peraturan baru, perubahan peraturan, dan perubahan sistem
pelayanan kesehatan secara keseluruhan dalam tingkat nasional. Secara internasional,
61
rumah sakit yang tidak siap dengan arus globalisasi juga terancam. Dengan
pemberlakukan pasar bebas ASEAN atau MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) tahun
2015, pasar bebas, investasi bebas, tenaga kerja terampil bebas, sehingga banyak
rumah sakit dari luar negeri yang mendirikan cabangnya di Indonesia, banyak rumah
sakit yang selain sudah mendapatkan akreditasi nasional juga mencari akreditasi
internasional.
Tabel 5
Isu Strategis Sebagai Ancaman
No.
Ancaman (Treaths)
Keterangan
1
Menurunnya pangsa pasar
Efek MEA dan tuntutan akreditasi
baik nasional maupun internasional
2
Tuntutan akreditasi nasional
3
Tuntutan akreditasi internasional
4
Sistem tarif yang baru dengan
Komitmen untuk mencapai
INA-CBGs vs Tarif Rumah Sakit
Universal Health Coverage tahun
2019
5
Tututan ketepatan klaim
pembayaran dari BPJS,
6
7
8
9
3.3 Mengidentifikasi Kekuatan
Setelah melakukan identifikasi dari peluang dan ancaman, selanjutnya
mengidentifikasi kekuatan internal untuk menangkap peluang dan mengatasi ancama
dari lingkungan eksternal. Kekuatan ini meliputi sumber daya, Hitt, Ireland, and
Hoskisson (2011), Dess, Lumpkin, and Eisner (2008) mengelompokkan sumber daya
ke dalam 3 kategori, yaitu sumber daya fisik, sumber daya manusia dan kapabilitas
organisasi. Sumber daya merupakan input dari proses produksi. Berdasarkan sifatnya,
sumber daya dikelompokkan menjadi dua kategori yaitu sumber daya berwujud dan
sumber daya tidak berwujud.
Sumber daya tidak berwujud sangat menentukan keberhasilan organisasi,
bahkan mencapai 75 persen keberhasilan organisasi ditentukan oleh sumber daya
tidak berwujudnya yang meliputi sumber daya insani (pengetahuan, keterampilan,
sikap, pengalaman, kreatifitas) sumber daya informasi (sistem informasi, jaringan
informasi dan teknologi informasi), maupun sumber daya organisasi (struktur,
budaya, kepemimpinan tim, dan kemitraan (Kaplan and Norton, 2004).
Contoh identifikasi kekuatan rumah sakit:
Tabel 6
Mengidentifikasi Kekuatan Rumah Sakit
No.
1
2
3
Kekuatan (Strengths)
Kinerja keuangan sangat baik
Memiliki SDI yang kompeten dan
profesional dalam jumlah memadai
Keterangan
Perspektif keuangan
Perspektif pertumbuhan dan
pembelajaran
62
4
5
6
7
8
9
3.4 Mengidentifikasi Kelemahan Rumah Sakit
Tidak ada gading yang tak retak. Sebagus apapun rumah sakit pasti ada
kelemahannya, karena rumah sakit tidak mungkin dapat memenuhi semua kebutuhan
sumber dayanya sendiri, dan tidak mungkin untuk menangkap semua peluang yang
tersedia di lingkungan eksternalnya. Kebalikan dari kekuatan adalah kelemahan.
Kelemahan ini apabila tidak diatasi dengan serius dan baik mempunyai
kecenderungan merugikan rumah sakit dan stakeholdersnya. Selain itu juga dapat
merongrong kekuatan yang sudah berhasil dibangun dengan susah payah. Kelemahan
ini dapat dikendalikan sepenuhnya oleh rumah sakit karena merupakan faktor internal
rumah sakit. Oleh karena itu rumah sakit harus berupaya untuk melakukan perbaikan
terus-menerus baik dari segi inputs, proses, outputs, maupun outcomes. Sebagaimana
kekuatan, kelemahan juga tentang sumber daya yang dimiliki rumah sakit (lihat
penjelasan tentang sumber daya pada identifikasi kekuatan).
Contoh identifikasi kelemahan:
Tabel 7
Mengidentifikasi Kelemahan Rumah Sakit
No.
1
2
Kekuatan (Strengths)
Kinerja keuangan sangat baik
Memiliki SDI yang kompeten
dan profesional dalam jumlah
memadai
Keterangan
Perspektif keuangan
Perspektif pertumbuhan
pembelajaran
dan
3
4
5
6
7
8
9
PB. 4 Melakukan Analisis SWOT
Pendahuluan
Setelah mengidentifikasi isu-isu strategis yaitu peluang, ancaman, kekuatan dan
kelemahan organisasi rumah sakit, maka selanjutnya dilakukan analisis SWOT
dengan cara memilih kira-kira 8-10 isu strategis yang teridentifikasi yang kemudian
dibuat urutan prioritas dengan perhitungan tingkat kepentingan (lebih penting
63
mana?) dari isu-isu strategis tersebut, dinilai tingkat kepentingannya. Penentuan
pilihan ini diperlukan 4 responden yang paling ahli dalam bidang yang dinilai itu
misalnya manajer puncak dan atau manajer madya. Cara yang digunakan adalah
wawancara terstruktur dan responden diminta untuk memilih isu-isu strategis
berdasarkan mana yang lebih penting menggunakan form seperti pada Tabel 8, 9, 10,
dan 11. Hasilnya dimasukkan di dalam matrik seperti pada tabel 12 (Isu peluang dan
ancaman, dengan cara yang sama dibuat matrik kekuatan dan kelemahan), untuk
dibuat urutan rangking berdasarkan nilai yang terbesar secara berurutan, dipilih isu
dengan urutan dari yang tertinggi sampai urutan keempat atau kelima yang terendah.
Isu yang terpilih dimasukkan dalam matrik seperti Tabel 13 untuk peluang dan
ancaman. Untuk kekuatan dan kelemahan organisasi rumah sakit dibuat tabel
tersendiri dengan cara yang sama dengan Tabel 13. Untuk mengisi Tabel 13 tersebut
diperlukan responden yang paling ahli dalam bidangnya untuk mengambil
kepeutusan (expert judgment). Dari hasil perhitungan Tabel 13 dibuat perkalian
matrik seperti pada Tabel 14. Dari hasil perkalian matrik tersebut dijumlah secara
horizontal, kemudian dari jumlah tersebut dijumlah lagi secara vertikal (sebagai
pembagi) untuk menentukan bobot isu-isu strategis. Dengan demikian isu strategis
peluang dan ancaman total score atau nilainya 1.00 seperti pada Tabel 15. Cara yang
sama digunakan untuk menghitung bobot kekuatan dan kelemahan. Setelah bobot
diketahui, selanjutnya dilihat ratingnya, yaitu kesiapan rumah sakit untuk menangkap
peluang, menghindari atau mengatasi ancaman, menggunakan kekuatannya dan
memperbaiki kelemahannya. Gambar 1 menunjukkan kontinum nilai rating. Bobot
dikalikan rating menghasilkan nilai tertimbang (Tabel 16 dan 17) yang kemudian
dijumlahkan menghasilkan nilai akhir yang digambarkan pada diagram kartisius
(Gambar 2). Dari diagram kartesius, letak kwadran menunjukkan strategi yang
paling tepat atau strategi terpilih (Gambar 3). Adapun penjabaran strategi yang harus
dipilih dan strategi alternatifnya dapat dilihat pada Tabel 17.
4.1 Menentukan Prioritas SWOT
Contoh:
Teknik Analisis Pengambilan Keputusan Area Strategis
Faktor Strategi dan Pembobotan
Peluang
Dari 9 Faktor Kunci Sukses, akan di pilih 4 faktor sebagai faktor strategis eksternal
dengan menggunakan Teknik Analisis Pengambilan Keputusan Area Strategi, yaitu
Jika Faktor A lebih penting dari faktor B, diberi tanda (X)
Jika faktor A tidak lebih penting dari faktor B, diberi tanda (O)
Tabel 8
Penentuan Rangking Peluang
Responden: ........................................
Faktor Kunci Sukses
A1
Berpartisipasi dalam pencapaian
Universal Healt Coverage
A2
Memenuhi hak setiap orang untuk
A
A1
A2
A3
A4
B
A5
A6
A7
A8
A9
O
O
X
X
O
O
O
O
2
X
X
X
O
X
X
X
6
64
memperoleh yankes
A3
A4
A5
A6
A7
A8
A9
Memenuhi hak atas jaminan sosial bagi
setiap orang
Mendapatkan keuntungan dari UHC
tahun 2019
Banyak investor yang tertarik
menanamkan modal di RS
X
X
O
X
X
X
5
X
O
O
X
O
2
O
O
O
O
0
O
X
O
1
X
O
1
O
0
Perubahan gaya hidup masyarakat
Membangun citra positif untuk rumah
sakit
Meningkatkan jumlah pasien rumah
sakit
Meningkatkan kesejahteraan
masyarakat melalui Yankes
Vertical Blank
Horizontal Cross
Total
0
0
2
2
1
6
7
1
5
6
0
2
2
0
0
0
5
1
6
4
1
5
2
0
2
6
0
6
Tabel 8 menunjukkan contoh cara perhitungan tingkat kepentingan untuk menentukan
rangking atau urutan tingkat prioritas peluang dari yang paling besar sampai yang
paling kecil. Dalam contoh tersebut ada 9 faktor kunci sukses yang belum diurutkan
berdasarkan rangking. Dari 9 kunci sukses tersebut akan diambil 4 atau 5 lima saja
yang rangkingnya lebih tinggi berdasarkan hasil perhitungan. Responden terdiri 4 atau
5 orang yang sudah ahli (expert) dalam bidang yang akan ditanyakan. Peneliti
mengisi pilihan jawaban berdasarkan masukan dari expert tersebut.
Faktor Strategis dan Pembobotan
Ancaman
Dari 6 Faktor Kunci Sukses, akan di pilih 4 faktor sebagai faktor strategis eksternal
dengan menggunakan Teknik Analisis Pengambilan Keputusan Area Strategi, yaitu
Jika Faktor A lebih penting dari faktor B, diberi tanda (x)
Jika faktor A tidak lebih penting dari faktor B, diberi tanda (O)
Tabel 9
Perhitungan Rangkin Ancaman
Faktor Kunci Sukses
B1
B2
A
B3
B4
B5
B6
B7
Banyak rumah sakit di
Yogyakarta yang kerjasama dg
BPJS
Pengetahuan masyarakat tentang
JKN masih rendah
Menurunnya pangsa pasar
Masyarakat bukan pekerja belum
banyak mjd peserta BPJS
Tuntutan ketepatan klaim BPJS
Peraturan BPJS sering berubahubah
Banyak peserta bukan pekerja
B
B1 B2 B3 B4 B5 B6 B7 B8
X
X
X
O
O
X
O
4
X
O
O
O
O
O
X
O
O
X
O
O
O
X
O
O
X
X
X
X
O
1
2
1
2
2
0
65
tidak teratur membayar iuran
B8
Banyak klaim BPJS yang tertuda
pembayarannya
0
0
4
4
Vertical Blank
Horizontal Cross
Total
0
1
1
0
2
2
1
1
2
4
2
6
5
2
7
1
0
1
5
0
5
28
Tabel 9 menunjukkan contoh cara perhitungan tingkat kepentingan untuk menentukan
rangking atau urutan tingkat prioritas ancaman dari yang paling besar sampai yang
paling kecil. Dalam contoh tersebut ada 9 faktor kunci sukses yang belum diurutkan
berdasarkan rangking. Dari 9 kunci sukses tersebut akan diambil 4 atau 5 lima saja
yang rangkingnya lebih tinggi berdasarkan hasil perhitungan. Responden terdiri 4 atau
5 orang yang sudah ahli (expert) dalam bidang yang akan ditanyakan. Peneliti
mengisi pilihan jawaban berdasarkan masukan dari expert tersebut.
Faktor Strategi dan Pembobotan
Kekuatan
Dari 9 Faktor Kunci Sukses, akan di pilih 4 faktor sebagai faktor
strategis internal dengan menggunakan Teknik Analisis Pengambilan
Keputusan Area Strategi, yaitu
Jika Faktor A lebih penting dari faktor B, diberi tanda (x)
Jika faktor A tidak lebih penting dari faktor B, diberi tanda (O)
Tabel 10
Perhitungan Rangking Kekuatan
Responden ...........................
Faktor Kunci Sukses
A
C1
C2
C3
C4
C5
C6
C7
C8
C9
B
C1 C2 C3 C4 C5 C6 C7 C8 C9
Kinerja Keuangan Tinggi
O
O
O
O
O
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
O
X
X
X
O
O
O
O
O
X
O
O
O
O
X
X
X
O
O
X
X
1
4
5
2
5
7
2
5
7
0
1
1
0
0
0
3
1
4
6
1
7
3
0
3
Reputasi Rumah Sakit
Kompetensi SDM profesional
Budaya Kerja & Keteladanan
Lokasi Strategis
Jaringan luas
Sistem Informasi Pelayanan
Loyalitas Pelanggan
Fasilitas memadai
Vertical Blank
Horizontal Cross
Total
0
2
2
2
4
5
5
1
0
1
1
0
36
Tabel 10 menunjukkan contoh cara perhitungan tingkat kepentingan untuk
menentukan rangking atau urutan tingkat prioritas kekuatan dari yang paling besar
66
sampai yang paling kecil. Dalam contoh tersebut ada 9 faktor kunci sukses yang
belum diurutkan berdasarkan rangking. Dari 9 kunci sukses tersebut akan diambil 4
atau 5 lima saja yang rangkingnya lebih tinggi berdasarkan hasil perhitungan.
Responden terdiri 4 atau 5 orang yang sudah ahli (expert) dalam bidang yang akan
ditanyakan. Peneliti mengisi pilihan jawaban berdasarkan masukan dari expert
tersebut.
Faktor Strategi dan Pembobotan
Kelemahan
Dari 9 Faktor Kunci Sukses, akan di pilih 4 faktor sebagai faktor strategis internal
dengan menggunakan Teknik Analisis Pengambilan Keputusan Area Strategi,
yaitu:
Jika Faktor A lebih penting dari faktor B, diberi tanda (X)
Jika faktor A tidak lebih penting dari faktor B, diberi tanda (O)
Responden ..............................
Tabel 11
Perhitungan Rangking Kelemahan
Faktor Kunci Sukses
D1
D2
D3
D4
A
D5
D6
D7
D8
D9
B
D2 D3 D4 D5 D6 D7 D8 D9
X
O
X
O O O O O
D1
Dokter spesialis kurang
SIM HRD, Keuangan, dan
Logistik belum optimal
Kompetensi manajerial
kurang
Sulit merubah budaya fee for
service
Belum terakreditasi
paripurna
Belum terakreditasi
internasional
O
O
O
O
O
O
O
0
X
O
O
O
X
X
3
X
O
O
X
X
3
O
O
X
X
2
X
X
X
3
X
X
O
2
0
Jumlah SDM kurang
Kerjasama tim belum solid
Pelatihan SDM belum
memenuhi standar
Vertical Blank
Horizontal Cross
Total
2
0
0
2
2
0
0
0
2
3
5
1
3
4
3
2
5
5
3
8
5
2
7
2
0
2
3
0
3
36
Tabel 11 menunjukkan contoh cara perhitungan tingkat kepentingan untuk menentukan
rangking atau urutan tingkat prioritas kelemahan dari yang paling besar sampai yang
paling kecil. Dalam contoh tersebut ada 9 faktor kunci sukses yang belum diurutkan
berdasarkan rangking. Dari 9 kunci sukses tersebut akan diambil 4 atau 5 lima saja yang
rangkingnya lebih tinggi berdasarkan hasil perhitungan. Responden terdiri 4 atau 5 orang
yang sudah ahli (expert) dalam bidang yang akan ditanyakan. Peneliti mengisi pilihan
jawaban berdasarkan masukan dari expert tersebut.
67
4.2 Menentukan Bobot dan Rating
Setelah data terisi semua, data diolah sehingga menghasilkan Tabel sebagai berikut.
Tabel 12
Tabulasi Hasil Keputusan Melalui Angket
Faktor Eksternal
Direktur dan Para Manajer
Responden
1
2 3
4 2
Berpartisipasi dalam pencapaian Universal Healt Coverage 2
Memenuhi hak setiap orang untuk memperoleh yankes
7
5 8
Memenuhi hak atas jaminan sosial bagi setiap orang
6
7 6
Mendapatkan keuntungan dari UHC tahun 2019
2
0 4
Banyak investor yang tertarik menanamkan modal di RS
0
1 0
Perubahan gaya hidup masyarakat
6
8 1
Membangun citra positif untuk rumah sakit
5
2 6
Meningkatkan jumlah pasien rumah sakit
2
3 6
Meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui Yankes
6
6 3
36 36 36
Faktor Strategis Peluang
A1
A2
A3
A4
A5
A6
A7
A8
A9
4
1
3
3
3
1
5
5
7
8
36
Total Ranking
9
23
22
9
2
20
18
18
23
144
VII
I
III
VIII
IX
IV
V
VI
II
Faktor Strategis Eksternal yang dipilih sebagai Peluang adalah:
1 Memenuhi hak setiap orang untuk memperoleh yankes
2 Meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui Yankes
3 Memenuhi hak atas jaminan sosial bagi setiap orang
4 Perubahan gaya hidup masyarakat
5 Membangun citra positif untuk rumah sakit
Dari contoh perhitungan Faktor Strategis Peluang berdasarkan rangking tertinggi
(pertama) sampai urutan yang ke lima dari 4 responden sebagaimana dijelaskan pada
Tabel 12, dapat dijadikan sebagai acuan cara menghitung rangking untuk ancaman,
kekuatan, dan kelemahannya.
Tabel 13
Cara Menghitung Bobot
Nilai
1
3
5
2,4
Keterangan
Kriteria Faktor A sama penting dengan kriteria /alternatif Faktor B
Faktor A lebih penting dari pada Faktor B
Faktor A sangat lebih penting dari Faktor B
Apabila ragu-ragu diantara nilai1 dengan 3 atau 3 dengan 5
Perbandingan Berpasangan
B
EFAS
O.1
Peluang
A
O.1
O.2
Meningkatkan
kesejahteraan pegawai
Fee for position,
performance, for people
O.2
O.3
O.4
T.1
T.2
T.3
T.4
68
O.3
O.4
T.1
Ancaman
T.2
T.3
T.4
Kompensasi finansial lebih
kompetitif
Motivasi untuk
meningkatkan kinerja
Tarif INA CBGs cenderung
lebih rendah
Tuntutan standar akreditasi
eksternal
Kebijakan pajak
penghasilan
Meningkatnya turn over
Seperti contoh pada Tabel 13, selanjut dibuat tabel matrik pembobot 8 x 8, kemudian
dibuat perkalian matrik seperti contoh berikut:
Tabel 14
Perkalian Matrik Peluang dan Ancaman
O.1
1.00
0.25
1.00
0.33
0.50
0.50
0.50
0.50
O.2
4.00
1.00
1.00
0.33
1.00
1.00
0.33
0.50
O.3
1.00
1.00
1.00
0.33
1.00
1.00
0.50
0.33
O.4
3.00
3.00
3.00
1.00
2.00
1.00
2.00
2.00
T.1
2.00
1.00
1.00
0.50
1.00
0.25
0.33
0.50
T.2
2.00
1.00
1.00
1.00
4.00
1.00
1.00
1.00
T.3
2.00
3.00
2.00
0.50
3.00
1.00
1.00
0.50
T.4
2.00
2.00
3.00
0.50
2.00
1.00
2.00
1.00
x
O.1
1.00
0.25
1.00
0.33
0.50
0.50
0.50
0.50
O.2
4.00
1.00
1.00
0.33
1.00
1.00
0.33
0.50
O.3
1.00
1.00
1.00
0.33
1.00
1.00
0.50
0.33
O.4
3.00
3.00
3.00
1.00
2.00
1.00
2.00
2.00
T.1
2.00
1.00
1.00
0.50
1.00
0.25
0.33
0.50
T.2
2.00
1.00
1.00
1.00
4.00
1.00
1.00
1.00
T.3
2.00
3.00
2.00
0.50
3.00
1.00
1.00
0.50
T.4
2.00
2.00
3.00
0.50
2.00
1.00
2.00
1.00
Tabel 15
Hasil Perkalian Matrik Untuk Menghitung Bobot
8.00
6.00
6.75
2.33
7.42
3.71
3.92
3.13
15.67
8.00
11.17
4.25
11.67
6.42
6.17
5.67
Hasil Perkalian Matrik
12.67 35.00 12.67 24.00
7.42 22.75 7.25 15.50
8.00 25.00 8.92 17.00
3.25 8.00 3.00 6.33
10.33 25.50 8.00 18.00
4.92 14.00 4.83 8.00
4.50 13.67 4.75 9.17
4.08 11.00 4.25 8.33
28.50
15.00
16.00
6.08
18.00
9.75
8.00
7.67
26.50
18.00
18.50
6.33
21.00
11.00
9.83
8.00
Jumlah
163.00
99.92
111.33
39.58
119.92
62.63
60.00
52.13
708.50
O/T
O.1
O.2
O.3
O.4
T.1
T.2
T.3
T.4
Bobot
0.23
0.14
0.16
0.06
0.17
0.09
0.08
0.07
1.00
Setelah menghitung bobot, selanjutnya setiap isi strategis yang terpilih dinilai
ratingnya. Rating dinilai berdasarkan kemampuan rumah sakit dalam merespon isu
strategis tersebut baik itu peluang, ancaman, kekuatan, dan kelemahan. Nilai rating
terdiri dari 1 sampai 5, sebagai mana gambar.
69
5.0
4.0
3.0
4.5
2.5
Di atas RataRata
Sangat Baik
2.0
3.5
1.0
1.5
Di Bawah
Rata-rata
Rata-rata
Jelek
Gambar 1. Nilai Rating Isu strategis
Sumber: Wheleen and Hunger, 2012.
Bobot dan rating selanjutnya dimasukkan dalam tabel EFAS (External Factor
Analysis Summary) atau Rangkuman Analisis Faktor Eksternal, seperti contoh pada
Tabel 16
Tabel 16
Matrik External Factors Analysis Summary (Rangkuman Hasil Analisis Faktor Eksternal.
EFAS
Peluang
Perubahan Gaya
O.1
Hidup
Meningkatnya SDM
O.2
profesional
Meningkatnya Peran
O.3
RS
O.4
Potensi Pasar yang
besar
Sub Total Kekuatan
Bobot
Rating
0.23
4
0.92
0.14
3
0.42
0.16
3
0.48
0.06
3
0.18
0.58
Skor
Ket
Pola makan kurang serat, tinggi
kholesterol, kurang olah raga
Untuk pelayanan klinis
Tingkat kesadaran perlunya
pelayanan kesehatan meningkat
penyakit baru jenis tidak menular
akibat stress dan gaya hidup tidak
sehat
2.00
Ancaman
T.1
Banyak pengobatan
alternatif
0.17
4
0.68
Pengobatan alternatif gencar beriklan
di media massa
T.2
Mahalnya peralatan
medis
0.09
5
0.45
Kemajuan teknologi kedokteran
T.3
Banyak
baru
0.08
4
0.32
T.4
UMR tinggi
0.07
4
0.28
Mudah mendapatkan ijin
Tuntutan pegawai gaji melebihi
UMR
RS/Klinik
Sub Total Kelemahan
Total
0.42
1.78
1
3.78
Contoh Matriks IFAS (Internal Faactor Analysis Summary) pada Tabel 4 di
kolom paling kiri S1, S2, S3, dan S4 adalah hasil perhitungan pemeringkatan
Faktor Strengths (Kekuatan) W1, W2, W3, dan W4 adalah hasil perhitungan
70
pemeringkatan Faktor Weeknesses (Kelemahan) Internal berdasarkan urutan
tingkat kepentingannya. Pada Tabel 1, ada 9 Kekauatan dan 8 Kelemahan,
masing-masing diambil 4 berdasarkan rangking/urutan tingkat kepentingannya.
Bobot dihitung berdasarkan keputusan ekspert (ahli) dalam bidang yang
mengetahui tentang kekuatan dan kelemahan rumah sakit dengan teknik
pembobotan berdasarkan hasil wawancara dengan para ahli tersebut atau para ahli
tersebut yang mengisi data untuk perhitungan pembobotan.
Tabel 17
Matrik Internal Faktor Analysis Summary (Kekuatan dan Kelemahan)
IFAS
Kekuatan
Reputasi Rumah
S.1
Sakit
Budaya Kerja &
Keteladanan
S.2
S.3
Bobot
Rating
Skor
0.07
3
0.21
0.25
4
1.00
0.07
3
0.21
0.13
0.52
3
0.39
1.81
Lokasi Strategis
S.4
Differensiasi Produk
Sub Total Kekuatan
Keterangan
Rumah sakit terlengkap
fasilitasnya di wilayahnya
Tim kerja kompak dan
cepat menyelesaikan
masalah
Mudah dicapai
oleh pasien maupun
stakeholders lainnya
Spesialisnya
lengkap demikian juga
dengan peralatannya
Kelemahan
Biaya relatif lebih
mahal
W.1
W.2
W.3
Jumlah SDM
kurang
Kompetensi
manajerial kurang
Area parkir kurang
W.4
Sub Total Kelemahan
Total
0.22
4
0.88
0.08
4
0.32
0.12
4
0.48
0.06
0.48
1
3
0.18
1.86
3,67
tidak dapat dijangkau
semua masyarakat untuk
level bawah
SDM perawat masih
kurang
kurang koordinasi dan
sinergi dari unit-unit
banyak parkir dipinggir
jalan
Untuk menentukan besarnya Rating pada Tabel 4 dapat menggunakan
Gambar 5 yang menunjukkan tingkat responsivitas rumah sakit terhadap Kekuatan
(S1, S2, S3, dan S4) dan kelemahan (W1, W2, W3, dan W4) antara sangat baik
(5.0), di atas rata-rata (4.0), rata-rata (3.0), di bawah rata-rata (2), dan buruk (1.0).
71
Skor pada Tabel 4 adalah perkalian antara Bobot dan Rating. Kolom paling kanan
adalah Keterangan yaitu catatan yang menerangkan alasan memasukkan Kekuatan
dan Kelemahan dalam Matrik IFAS.
4.3 Menentukan Posisi Strategi
Langkah selanjutnya setelah mengetahui hasil perhitungan EFAS dan IFAS
dimasukkan skor total EFAS dan IFAS pada diagram kartisius Gambar 2.
Opportunity/Peluang
3.67
3.78
Weeknesses/Kelemahan
Strengths/Kekuatan
Threats/Ancaman
Gambar 2. Pemetaan Strategi Berdasarkan Total Skor EFAS dan IFAS
Strategi yang dipilih berdasarkan Total Skor EFAS dan IFAS adalah Offensif atau
proaktif, berada pada kwadran kanan atas (Sel 1). Selengkapnya strategi-strategi
sesuai dengan kwadran atau selnya ditunjukkan pada Gambar 3.
72
Opportunity/Peluang
Sel 3: Turn around/
Pembenahan
Sel 1: Offensive/Proaktif
Weeknesses/Kelemahan
Strengths/Kekuatan
Sel 4: Devensive/Reaktif
Sel 2:Difersifikasi/Mencari
Terobosan
Threats/Ancaman
Gambar 3. Pilihan Strategi Berdasarkan Total Skor EFAS dan IFAS
4.4 Menentukan Alternatif Strategi dan Strategi Terpilih
Untuk menyusun alternatif strategi, para manajer yang terkait perlu melakukan
brainstorming untuk menentukan strategi apa saja berdasarka TOWS, sebagai
mana dapat dilihat pada Tabel 17.
Tabel 17. Metriks TOWS
IFAS
EFAS
Pilih 5-10 Kesempatan (O)
Pilih 5-10 Ancaman (T)
Pilih 5-10 Kekuatan
Internal (S)
Pilih 5-10 Kelemahan
Internal (W)
Strategi SO: Gunakan
kekuatan internal untuk
menangkap peluang
Strategi ST: Gunakan
kekuatan internal untuk
menghadapi ancaman
Strategi WO: Perbaiki
kelemahan internal untuk
dapat menangkap peluang
Strategi WT: Perbaiki
kelemahan internal untuk
menghadapi ancaman
Sumber: Wheelen and Hunger, 2012
Berdasarkan Gambar 6 dan Gambar 7, maka strategi yang dipilih adalah
Strategi SO (Lihat Tabel 5) yaitu; “Gunakan kekuatan internal untuk menangkap
peluang. Dari Tabel 3 dan Tabel 4 Matrik EFAS dan IFAS, strategi alternatifnya
adalah:
S1-O4 yaitu Reputasi/Market Leader untuk menangkap potensi pasar yang besar.
Rumah sakit dapat melakukan instensifikasi pemasaran hubungan dengan
pelanggan berdasarkan basis data pasien (pelanggan), untuk mengetahui
73
harapan pelanggan terhadap pelayanan kesehatan yang ditawarkan rumah
sakit.
S4-O1 yaitu Diferensiasi Produk untuk menangkap peluang perubahan gaya
hidup. Rumah sakit menyediakan produk (jasa pelayanan kesehatan) yang
dapat memberikan solusi total bagi kebutuhan pelanggan terhadap
pelayanan jasa kesehatan, dengan menambah produk-produk baru
sehingga, jasa pelayanan kesehatan yang disediakan rumah sakit semakin
lengkap. Dengan demikian pasien tidak perlu dirujuk ke rumah sakit lain,
semua kebutuhan pasien sudah tersedia.
S2-O2 yaitu Budaya Kerja & Keteladanan pada SDM internal Rumah Sakit untuk
menangkap peluang meningkatnya SDM profesional dalam pelayanan
klinis (dokter-dokter spesialis dan perawat-perawat spesialis, serta SDM
penunjang yang profesional). Budaya kerja dan keteladanan yang baik
dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi SDM profesional yang akan
bergabung menjadi SDM rumah sakit. Hal ini terkait dengan bagaimana
rumah sakit dapat memberikan kepuasan kepada SDM profesional dan staf
atau karyawan. Bagaimanapun SDM rumah sakit mempu jaringan
hubungan dengan teman-teman sejawatnya di luar rumah sakit. Mereka
dapat merekomendasikan rumah sakit tempatnya bekerja kepada SDM
profesional yang berada di luar rumah sakit untuk bergabung bekerja di
rumah sakit itu. Sebaliknya ketika rumah sakit mempunyai buadaya yang
buruk dan tidak ada keteladanan, akan mencegah SDM profesional untuk
bergabung dan bekerja di rumah sakit itu, bahkan SDM profesional rumah
sakit dapat keluar atau pindah ke rumah sakit lain yang mempunyai
budaya kerja yang baik dan keteladanan.
S3-O3 yaitu lokasi yang strategis untuk menangkap peluang meningkatnya peran
rumah sakit. Lokasi strategis memungkinkan rumah sakit untuk meningkat
perannya karena memudahkan melakukan kegiatan utama dalam value
chain management (manajemen rantai nilai) dari inbond logistic (input),
proses penyampaian layanan kesehatan, outbond logistic (dari pasien
masuk hingga pasien diijinkan pulang), service setelah pasien keluar dari
rumah sakit. Lokasi strategis mempunyai daya tarik tersendiri bagi
stakeholders rumah sakit, sayang sekali jika tidak dimanfaatkan untuk
meningkatkan peran rumah sakit itu.
74
Strategi alternatif lainnya yaitu ST, WO, dan WT (Lihat Tabel 5) dapat
diidentifikasi berdasarkan hasil diskusi dari team Renstra dan stakeholders yang
mempunyai kepakaran dalam bidang itu.
PB. 5 Mereview Visi dan Misi
Pendahuluan
Setelah menentukan strategi yang dipilih berdasarkan isu-isu strategis dari peluang,
ancaman, kekuatan, dan kelemahan rumah sakit, selanjutnya Visi dan Misi rumah sakit
direview, apakah masih relevan dan realistis. Apakah strategi yang terpilih memadai
untuk mencapai visi dan misi rumah sakit?
5.1 Mereview Visi Rumah Sakit
Visi suatu rumah sakit ditentukan berdasarkan kekuatan yang dimiliki rumah sakit
untuk menangkap peluang dan menghadapi ancaman dalam jangka panjang. Ketika
lingkungan eksternal maupun lingkungan internal berubah, maka rumah sakit perlu
meriview visinya, apakah visi rumah sakit yang lama masih dapat dipertahankan, atau
perlu ditambah, atau diganti yang baru.
Contoh Visi Rumah Sakit Fatmawati:
“ Menjadi RS Rujukan Nasional dengan layanan ekselen terpadu 2019”
Di dalam visi RS Fatmawati tersebut sudah ada cakupan wilayahnya, jangka
waktunya dan keunggulan layanan yang diharapkan.
Untuk mengukur pencapaian visi tersebut perlu dibuat indikatornya. Apa saja
indikator “Rujukan Nasional”, “Layanan Ekselen” dan “Layanan Terpadu”. Indikatorindikator tersebut dibuat melalui hasil diskusi dari Focus group Discussion (FGD) untuk
pencapaian target setiap tahunnya hingga 2019 atau tahun yang dicantumkan pada
pernyataan visi. Jika misi tidak menetapkan waktunya sulit untuk diukur kapan visi
tersebut akan dicapai dan bagaimana pentahapan dalam pencapaiannya baik dari segi
indikator maupun waktunya.
Tabel 18
Indikator Pencapaian Visi
No. Pernyataan Visi
1
2
3
Rujukan
Nasional
Layanan
Ekselen
Layanan
Terpadu
Indikator
Tahun Berjalan 2017
(2016)
2018
2019
Keterangan
75
5.2 Mereview Misi Rumah Sakit
Tabel 19
Sepuluh Pertanyaan Untuk Mengevaluasi Misi Rumah Sakit
Jawaban
No.
1.
Pertanyaan
0
1
2
Tidak
antara
Ya
Apakah pernyataan misi rumah sakit menjelaskan sebuah tujuan yang
menginpirasi stakeholders, bukan untuk kepentingan dari stakeholders?
2.
Apakah pernyataan misi rumah sakit menjelaskan tanggungjawab rumah
sakit terhadap stakeholders-nya?
3.
Apakah pernyataan misi rumah sakit mendefinisikan cakupan bisnis dan
menjelaskan mengapa hal itu menarik?
4.
Apakah pernyataan misi rumah sakit menjelaskan positioning strategis
rumah sakit yang membantu mengidentifikasi keunggulan bersaing yang
dicari?
5.
Apakah pernyataan misi rumah sakit menunjukkan nilai yang berhubungan
dengan tujuan dan tindakan organisasi serta menjadi kepercayaan (beliefs)
yang membuat karyawan merasa bangga?
6.
Apakah nilai-nilai itu bergema dan memperkuat strategi organisasi?
7.
Apakah pernyataan misi itu menjelaskan standar perilaku yang penting
sebagai mercusuar (putunjuk arah) dari strategi dan nilai-nilai?
8.
Apakah standar-standar perilaku itu menjelaskan cara yang memungkinkan
setiap individu karyawan menilai apakah mereka berperilaku secara benar?
9.
Apakah pernyataan misi tersebut memberikan sebuah potrait rumah sakit
yang mencerminkan budaya organisasi?
10. Apakah pernyataan misi itu mudah dibaca?
Sumber: dimodifikasi dari Campbell in Wheelen and Hunger (2012: 18)
Untuk mengevaluasi apakah misi sebuah rumah sakit sudah baik, perlu dievaluasi
menggunakan tes dengan 10 pertanyaan di atas. Jawabannya Ya dan Tidak, Jika
Ya skornya 2, dan jika tidak score nya 0, Antara Ya dan Tidak scorenya 1.
Menurut Campbell, jika nilainya 15 berarti luar biasa, jika nilainya kurang dari 10
berarti banyak hal yang harus diperbaiki.
76
Untuk mengetahui tingkat pencapaian misi juga diperlukan indikator, misalnya
Misi RS:
77
PB. 6 Menentukan Indikator Kinerja Rumah Sakit
Pendahuluan
Indikator kinerja rumah sakit perlu ditetapkan terlebih dahulu apakah akan menggunakan
Standar Pelayanan Minimal berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan (Kepmenkes)
Nomor 129/Menkes/SK/II/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit, atau
menggunakan standar lain, atau menyusun standar sendiri. Indikator Kinerja dibuat untuk
setiap kegiatan pada baik kegiatan utama maupun kegiatan penunjang. Kegiatan utama
rumah sakit adalah pelayanan kesehatan, sedangkan kegiatan penunjangnya adalah
kegiatan manajemen, dan kegiatan penunjang lainnya.
Jenis pelayanan rumah sakit yang minimal
129/Menkes/SK/II/2008 adalah sebagai berikut.
1. Pelayanan Gawat Darurat
2. Pelayanan Rawat Jalan
3. Pelayanan Rawat Inap
4. Pelayanan Bedah
5. Pelayanan Persalinan dan Perinatology
6. Pelayanan Intensif
7. Pelayanan Radiologi
8. Pelayanan Laboratorium Pathologi Klinik
9. Pelayanan Rehabilitasi Medik
10. Pelayanan Farmasi
11. Pelayanan Gizi
12. Pelayanan Transfusi Darah
13. Pelayanan Rekam Medis
14. Pelayanan Limbah
15. Pelayanan Admininstrasi dan manajemen
16. Pelayanan Ambulan
17. Pelayanan Pemulasaran Jenazah
18. Pelayanan Loundry
19. Pelayanan Sarana Rumah sakit
20. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi
21. Pelayanan pada pasien Miskin (BPJS)
menurut
Kepmenkes
Nomor
Setiap pelayanan sudah ditetapkan indikator kinerja standar pelayanan minimal. Indikator
adalah tanda atau alat untuk mengukur suatu variabel termasuk kinerja. Indikator harus
dapat diukur, valid, handal, spesifik, dan relevan. Variabel yang akan diukur mempunyai
nilai bervariasi. Indikator terkait dengan proses produksi jasa meliputi input, proses,
output, outcomes, dan implikasinya.
Jika menggunakan Balance Scorcard, maka indikator kinerjanya berdasarkan perspektif
keuangan, pelanggan, proses internal, dan pertumbuhan. Setiap perspektif ditentukan
sasaran, ukuran, target, dan inisiatif.
Indikator kinerja utama:
78
No. Indikator Kinerja Utama
Tahun
Tahun Tahun Tahun Tahun
Berjalan Ke 1
Ke 2
Ke 3
Ke 4
Manajemen Pelayanan Medik
1. Tingkat Kesehatan RS
2. Tingkat Kepuasan Pasien
3. BOR Rawat Inap
4. Kelengkapan Rekam Medik
5. Kunjungan Gawat Darurat
6. Kunjungan Rawat Jalan
Mutu Pelayanan Medik
1. Angka Plebitis
2. Angka infeksi luka operasi
3. Angka infeksi Kandung Kemih
Indikator Kinerja Rumah Sakit meliputi
A. Produktifitas Rumah Sakit
1. Pelayanan Gawat Darurat
2. Pelayanan Rawat Jalan
3. Pelayanan Rawat Inap
4. Pelayanan Penunjang (Farmasi, Laboratorium, Radiologi, Gizi, Laundry)
B. Efektivitas Pelayanan Rumah Sakit
1. BOR (Bed Occupancy Rate)
2. TOI (Turn Over Interval)
3. BTR (Bed Turn Over Rate)
4. ALS (Average Long of Stay)
C. Mutu Pelayanan Kesehatan
1. Rata-rata Respon time Emergency
2. Rata-rata waktu tunggu pasien rawat jalan
3. Rata-rata waktu tunggu sebelum operasi
4. Rata-rata waktu tunggu hasil laboratorium
5. Rata-rata waktu tunggu hasil radiologi
6. Rata-rata waktu tunggu pelayanan resep obat jadi.
D. Mutu Klinis
1. Angka kematian di ruang gawat darurat
2. Angka kematian >48 jam
3. Angka kematian setelah operasi
4. Angka infeksi setelah operasi
5. Angka infeksi jarum infus (plebitis)
6. Angka infeksi saluran kemih
7. Angka Ventilator Associated Pneumonia
79
8. Angka infeksi aliran darah
E. Kepuasan Pelanggan
1. Komplein Pelanggan
2. Indek Kepuasan Pelanggan (IKM) KEP / 25 / M.PAN / 2 / 2004.
F. Kinerja Keuangan
1. Rasio Keuangan
1) Return On Invesments
2) Cash Ratio (CR)
3) Current Ratio (CAR)
4) Collection Period (CP)
5) Perputaran Persediaan
6) Perputaran Total Aset
7) Rasio Modal Sendiri dan Total Aktiva
8) Return on Equity
9) Rasio Pendapatan dengan Biaya operasional
2. Kepatuhan Tatakelola Keuangan
1) Rencana Bisnis dan Anggaran
2) Laporan Keuangan Berdasarkan Standar Akutansi Keuangan
3) Surat Perintah Pengesahan Pendapatan dan Belanja
4) Tarif Layanan
5) Sistem Akutansi
6) Persetujuan Rekening
7) SOP Pengelolaan Kas
8) SOP Pengelolaan Utang
9) SOP pengelolaan Piutang
10) SOP Pengadaan Barang dan Jasa
11) SOP Pengadaan barang Inventaris
G. Budaya Kerja dan Kinerja SDM Rumah Sakit
1. Budaya Kerja
2. Kinerja SDM Rumah Sakit
a. Rata-rata jam pelatihan karyawan
b. Rata-rata dokter yang mendapatkan pelatihan yang dipersyaratkan
c. Rata-rata karyawan yang melanjutkan pendidikan
d. Rata-rata dokter yang melanjutkan pendidikan
e. Rata-rata penelitian yang dipublikasikan
f. Program Reward and Punishment
PB. 7 Menentukan Kebijakan, Program, Anggaran, dan Prosedur
Pendahuluan
80
Setelah menentukan strategi dan Indikator Kinerja, selanjutnya menentukan kebijakan
untuk melaksanakan strategi untuk mencapai kinerja secara bertahap hingga visi dan
misi rumah sakit tercapai. Selanjutnya tujuan rumah sakit yang merupakan
pengkongkritan dari misi rumah sakit dijabarkan ke dalam program, anggaran, dan
prosedur pelaksanaan program dan anggaran tersebut.
7.1 Menentukan Kebijakan
Kebijakan ini terkait dengan pelaksaan Rencana Strategis Rumah Sakit yang sudah
disetujui dan disyahkan. Setiap program kegiatan yang dilakukan oleh individu
pegawai dalam rangka melaksanakan tugas dan fungsinya mengacu kepada peraturanperaturan yang dikeluarkan oleh organisasi rumah sakit dalam rangka mencapai
tujuan organisasi. Peraturan-peraturan berpedoman pada kebijakan yang dibuat top
manajemen dan ditetapkan oleh direktur atau direktur utama rumah sakit melalui surat
keputusan-surat keputusan direktur. Unit-unit membuat prosedur operasional yang
standar (SOP) sesuai dengan bidangnya masing-masing untuk memudahkan
pegawainya dalam melaksanakan tugas pekerjaannya. Terkait dengan strategi yang
dipilih organisasi yang akan dilaksanakan oleh unit-unit, tanpa kebijakan pelaksanaan
strategi tersebut, maka strategi tidak dapat dilaksanakan secara baik dan terarah
karena tidak ada legalitas yang pasti. Jadi kebijakan adalah sarana yang mengantarkan
strategi yang masih bersifat abstrak pada pelaksanaannya yang bersifat kongkrit
dalam bentuk program, kegiatan, dan anggaran menggunakan prosedur yang telah
ditetapkan.
Kebijakan rumah sakit di antaranya adalah:
1. Kebijakan tentang Arah Pengembangan Rumah Sakit
2. Kebijakan Tentang Budaya dan Tata-Nilai Rumah Sakit
3. Kebijakan Tentang Program, Anggaran dan Prosedur
7.2 Menentukan Program, Kegiatan, Sasaran dan Target
Dalam Rencana Strategis secara garis besar juga dijabarkan tentang Rencana
Program, Kegiatan, Anggaran, Sasaran dan Target-nya pada tahap-tahap berikutnya,
tahun pertama, ke dua, ke tiga dan seterusnya sesuai dengan kapan target waktu
pencapaian visi dan misi rumah sakit dalam jangka panjangnya.
7.3 Penyusunan SOP
Agar SOP betul-betul dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien serta aman, maka
SOP tersebut disusun oleh unit-unit kerja terkait yang paling tahu kondisi di lapangan.
Perlu orang yang berpengalaman dalam bidangnya dalam menyusun SOP, untuk
kegiatan yang bersifat rutin dan sudah pernah dilakukan dan perlu pula masukan dari
akademisi agar SOP tersebut dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Ilmu terkait
dengan manajemen terus dikembangkan berdasarkan teori-teori yang dihasilkan
secara empiris (berdasarkan fakta dan data dari lapangan). Untuk kegiatan baru, SOP
tetap dibuat berdasarkan kajian pustaka dan logika berpikir praktis yang kemudian
diujicobakan dan diperbaiki secara terus menerus sampai ditemukan SOP yang efektif
81
dan efisien serta aman. Untuk pelayanan dibuat Standar Pelayanan Minimal sebagai
dasar menetapkan target yang akan dicapai dalam proses pelayanan. Standar
Pelayanan Minimal Rumah Sakit telah ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri
Kesehatan (Kepmenkes) Nomor 129/Menkes/SK/II/2008.
PB.8 Menyusun Draft Renstra dan Pengesahan Renstra
Pendahuluan
Berdasarkan pedoman Renstra dibuat dokumen Renstra yang meliputi Sistematika
Renstra, Isi Renstra, Mereview Draft Renstra, kemudian setelah disetujui oleh para
stakeholders, terutama manajemen puncak dan menengah serta pemilik rumah sakit,
maka Draft Renstra tersebut disahkan menjadi Renstra rumah sakit.
8.1 Menyusun Sistematika Renstra
Sistematika Renstra adalah susunan dokumen Renstra yang berurutan sejak dari
awal hingga akhir yang diatur tata letaknya secara logis, praktis dan ilmiah yang
memudahkan pembaca dalam memahami alur pemikiran yang ada dalam Renstra
tersebut. Semtematika Renstra ini dapat digunakan sebagai outline dalam
menyusun Draft Renstra, kemudian diisi dengan konten Renstra satu-persatu. Ada
juga yang menyusun isi dokumen Renstra terlebih dahulu, lengkap dengan judul
dan subjudulnya, baru terakhir menyusun daftar isi. Susunan sistematika Renstra
urutannya sama dengan daftar isi, bedanya sistematika renstra sering ditambah
dengan penjelasan singkat pada bagian-bagian tertentu.
Contoh sistematika Renstra Rumah Sakit adalah sebagai berikut.
I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Latar belakang berisi penjelasan secara ringkas tentang alasan pentingnya
penyusunan Renstra dalam pengembangan rumah sakit ke depan, kaitan Renstra
Rumah Sakit, Renstra Kementerian Kesehatan, dan proses penyusunan Renstra.
1.2 Tujuan Penyusunan Renstra
1.3 Metode Penyusunan Renstra
II KEADAAN RUMAH SAKIT SAAT INI
1.1 Struktur Organisasi,Tugas dan Fungsi Rumah Sakit
1.1.1
Struktur Organisasi
1.1.2
Tugas dan Fungsi Rumah Sakit
1.2 Budaya Kerja Rumah Sakit
1.2.1
Nilai Bersama
1.2.2
Membangun Budaya Kerja Produktif dan Islami
82
1.3 Sumber Daya Rumah Sakit
1.3.1 Sumber Daya Manusia
1.3.2 Unit-Unit Pelayanan Rumah Sakit
1.3.3 Fasilitas Yang Dimiliki Rumah Sakit
1.3.4 Keuangan Rumah Sakit
1.3.5 Modal/Aset Rumah Sakit
1.4 Kinerja Rumah Sakit
Penyusunan kinerja rumah sakit sesuai dengan Balance Scorcard berdasarkan pada
standar pelayanan minimal (SPM) rumah sakit.
H. Produktifitas Rumah Sakit
5. Pelayanan Gawat Darurat
6. Pelayanan Rawat Jalan
7. Pelayanan Rawat Inap
8. Pelayanan Penunjang (Farmasi, Laboratorium, Radiologi, Gizi, Laundry)
I. Efektivitas Pelayanan Rumah Sakit
5. BOR (Bed Occupancy Rate)
6. TOI (Turn Over Interval)
7. BTR (Bed Turn Over Rate)
8. ALS (Average Long of Stay)
J. Mutu Pelayanan Kesehatan
7. Rata-rata Respon time Emergency
8. Rata-rata waktu tunggu pasien rawat jalan
9. Rata-rata waktu tunggu sebelum operasi
10. Rata-rata waktu tunggu hasil laboratorium
11. Rata-rata waktu tunggu hasil radiologi
12. Rata-rata waktu tunggu pelayanan resep obat jadi.
K. Mutu Klinis
9. Angka kematian di ruang gawat darurat
10. Angka kematian >48 jam
11. Angka kematian setelah operasi
12. Angka infeksi setelah operasi
13. Angka infeksi jarum infus (plebitis)
14. Angka infeksi saluran kemih
15. Angka Ventilator Associated Pneumonia
16. Angka infeksi aliran darah
83
L. Kepuasan Pelanggan
3. Komplein Pelanggan
4. Indek Kepuasan Pelanggan (IKM) KEP / 25 / M.PAN / 2 / 2004.
M. Kinerja Keuangan
3. Rasio Keuangan
10) Return On Invesments
11) Cash Ratio (CR)
12) Current Ratio (CAR)
13) Collection Period (CP)
14) Perputaran Persediaan
15) Perputaran Total Aset
16) Rasio Modal Sendiri dan Total Aktiva
17) Return on Equity
18) Rasio Pendapatan dengan Biaya operasional
4. Kepatuhan Tatakelola Keuangan
12) Rencana Bisnis dan Anggaran
13) Laporan Keuangan Berdasarkan Standar Akutansi Keuangan
14) Surat Perintah Pengesahan Pendapatan dan Belanja
15) Tarif Layanan
16) Sistem Akutansi
17) Persetujuan Rekening
18) SOP Pengelolaan Kas
19) SOP Pengelolaan Utang
20) SOP pengelolaan Piutang
21) SOP Pengadaan Barang dan Jasa
22) SOP Pengadaan barang Inventaris
N. Budaya Kerja dan Kinerja SDM Rumah Sakit
3. Budaya Kerja
4. Kinerja SDM Rumah Sakit
g.
h.
i.
j.
k.
l.
Rata-rata jam pelatihan karyawan
Rata-rata dokter yang mendapatkan pelatihan yang dipersyaratkan
Rata-rata karyawan yang melanjutkan pendidikan
Rata-rata dokter yang melanjutkan pendidikan
Rata-rata penelitian yang dipublikasikan
Program Reward and Punishment
O. Kinerja Sistem Informasi Rumah Sakit
1. Sistem Informasi SDM
2. Sistem Informasi Pelanggan
84
3. Sistem Informasi Pelayanan
4. Sistem Informasi Logistik
P. Kinerja Litbang Rumah Sakit
1. Penelitian
2. Pengembangan
III RENCANA STRATEGIS RUMAH SAKIT LIMA TAHUN KE DEPAN
3.1 Isu-isu Strategis Berdasarkan Analisis Lingkungan Eksternal Rumah Sakit
3.1.1
Peluang
Peluang ini adalah suatu keadaan yang mungkin dimanfaatkan oleh rumah
sakit di masa yang akan datang sebagai hasil dari kejelian rumah sakit
memotret dan menganalisis faktor-faktor eksternal yang berpengaruh terhadap
kelangsungan hidup rumah sakit, tetapi tidak dapat dikendalikan oleh rumah
sakit.
3.1.2
Ancaman
Ancaman adalah keadaan yang mungkin merugikan rumah sakit di masa yang
akan datang yang tidak bisa dikendalikan oleh rumah sakit. Rumah sakit dapat
mengantisipasinya sehingga tidak mengalami kerugian, jika mengalami
kerugian, maka kerugiannya seminimal mungkin sedangkan manfaatnya lebih
besar dengan memanfaatkan peluang yang ada.
3.2 Isu-isu Strategis Berdasarkan Analisis Lingkungan Internal Rumah Sakit
3.2.1
Kekuatan Internal Rumah Sakit
3.2.2
Kelemahan Internal Rumah
3.3 Peninjauan dan Perbaikan Visi dan Misi Jika Perlu
3.3.1 Peninjauan Visi
3.3.2 Perbaikan Visi Jika diperlukan
3.3.3 Peninjauan Misi
3.3.4 Perbaikan Misi Jika Diperlukan
3.4 Pemilihan Alternatif Strategi Dengan Analisis SWOT
3.4.1
Penentuan Rangking Isu Strategis, Bobot, Reting dan Skor Faktor Eksternal
3.4.2
Penentuan Rangking Isu Strategis, Bobot, Reting dan Skor Faktor Internal
3.4.3
Penyusunan Alternatif-alternatif Strategi
3.4.5
Pilihan Strategi Terbaik Yang Direkomendasikan
85
4.1 Kebijakan Umum Rumah Sakit
4.1.1 Kebijakan tentang Arah Pengembangan Rumah Sakit
4.1.2 Kebijakan Tentang Budaya dan Tata-Nilai Rumah Sakit
4.1.3 Kebijakan Tentang Program, Anggaran dan Prosedur
4.2 Penyusunan Program, Anggaran Rumah Sakit
4.2.1 Program dan Anggaran Unit-Unit Fungsional Rumah Sakit
4.2.1.1 Program Perbaikan dan Pengembangan SDM Rumah Sakit
4.2.1.2 Program Perbaikan dan Pengembangan Pelayanan Rumah Sakit
4.2.1.3 Program Perbaikan dan Pengembangan Pemasaran Rumah Sakit
4.2.1.4 Program Perbaikan dan Pengembangan Sistem Informasi Rumah Sakit
4.2.1.5 Program Perbaikan dan Pengembangan Penelitian dan Pengembangan Rumah
Sakit
4.2.1.6 Program Perbaikan dan Pengembangan Keuangan Rumah Sakit
4.3 Analisis Investasi dan Proyeksi Keuangan Rumah Sakit
4.2.1 Analisis Investasi
4.2.1 Proyeksi Keuangan dan Asumsi-asumsi
8.2 Menyusun isi Renstra
Setelah sistematika Renstra, maka dokumen draf Renstra diisi dengan teks
deskriptif, gambar dan tabel yang relevan sesuai dengan Judul dan Subjudul yang
telah ditetapkan. Ada dua cara menyusun isi Renstra. Cara pertama adalah cara
langsung, yaitu ketika informasi dan atau hasil pengolahan data terkumpul dan
dapat ditulis langsung ditulis tidak menunggu sampai semua informasi dari isi
Renstra terkumpul semuanya dari awal sampai akhir. Cara mengumpulkan
informasi dan data secara bertahap kemudian ditulis dalam dokumen draft
Renstra. Cara kedua adalah mengumpulkan informasi dan hasil pengolahan data
secara keseluruhan dari awal proses penyusunan Renstra hingga akhir, kemudian
baru ditulis secara sistematis dalam dokumen renstra.
8.3 Mereview Draft Renstra
Setelah draft Renstra tersusun secara lengkap secara sistematis, selanjutnya
dilakukan review. Draft Renstra tersebut dibagikan kepada unit-unit kerja dan
pejabat-pejabat terkait untuk diberi masukan atau dilakukan koreksi jika
ditemukan kekurangan atau kesalahan. Waktu untuk memberikan masukan
ditetapkan misalnya dua minggu atau satu bulan, setelah itu diadakan pertemuan
untuk membahas Draft Renstra yang dihadiri para stakeholders rumah sakit.
86
Setelah kekuarang dan kesalahan dari Draft Renstra diperbaiki, kemudian
dimintakan persetujuan dari para stakeholders.
8.4 Mengesahkan Renstra
Renstra yang sudah disetujui oleh para stakeholders rumah sakit, selanjutnya
disyahkan oleh pihak yang berwenang. Sebelum diimplementasikan Renstra terlebih
dahulu disosialisasikan dan diinternalisasikan kepada semua pihak yang terkait yang
akan melaksanakan Renstra tersebut, yaitu seluruh pejabat dan pegawai rumah sakit
dengan berbagai cara yang dipilih rumah sakit.
Download