Gereja Lintas Agama : Pemikiran-Pemikiran Bagi Pembaharuan

advertisement
PENUTUP
Sebelum naik ke sorga Yesus memberikan
perintah berikut kepada para muridNya: “Pergilah,
jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah
mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,
dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang
telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku
menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir
zaman" (Mt. 28:19-20).
Kita biasa berpikir bahwa memuridkan
bangsa-bangsa adalah hasil dari kerja keras gereja. Para
penginjil, pendeta, penatua, diaken, aktivis doalah
yang berjasa besar dalam memuridkan seseorang dan
menjadikan dia sebagai milik Kristus. Pikiran ini
keliru, kata Karl Barth. Jauh hari sebelum para pekabar
Injil datang ke ujung-ujung bumi, bangsa-bangsa telah
menjadi milik Tuhan dan berstatus murid. Hanya saja
status itu belum mereka ketahui. Tugas gereja adalah
pergi menjumpai mereka untuk memberitahukan
mereka status itu. Barth katakan begitu karena
perintah Yesus itu didahului dengan pernyataan:
“KepadaKu telah diberikan segala kuasa di sorga dan di
bumi.” Tentang penegasan terakhir ini Matthew
Henry menulis: “Sekarang Kristuslah satu-satunya raja
segenap alam, Dia adalah Tuhan atas semua. Tak satu
Gereja Lintas Agama
327
pun, kecuali Dia yang berkuasa atas semua yang
bernafas.”1
Pernyataan di atas hendak mengingatkan kita
bahwa misio dei, misio Christi mendahului misio
ecclesia. Mendahului pengutusan gereja, Allah lebih
duluan mengutus diriNya. Ini mengandaikan bahwa
memuridkan manusia dan bangsa-bangsa bagi Kristus
bukanlah prestasi dan jasa para pewarta Injil maupun
gereja. Meskipun begitu tugas gereja dalam
mewartakan Injil tidak boleh disepelehkan. Tuhan
membutuhkan Gereja untuk memberitahukan kepada
dunia dan bangsa-bangsa akan keberadaan mereka
sebagai milik Kristus. Tugas itu harus dikerjakan terusmenerus sebab oleh pengaruh padatnya agenda
kehidupan manusia seringkali lupa akan status mereka
sebagai milik Kristus.
Murid-murid disuruh Kristus pergi kepada
bangsa-bangsa bukan untuk membuat mereka menjadi
orang beragama Kristen tetapi untuk memuridkan
mereka demi Kristus. Kalau semua bangsa dan seluruh
dunia telah menjadi milik Kristus sebelum datang para
pewarta Injil, maka tentulah pekerjaan pewartaan Injil
tidak bisa dilakukan dengan metode monolog, one way
traffic, gereja datang untuk mengajar dunia. Metode
dialog, two ways traffic, sambil belajar gereja mengajar
Matthew Henry. Commentary on the Whole Bible.
Complete and Unabridged in One Volume. Massachusetts:
Hendrickson Publishers. 1991. hlm. 1775.
1
328
Pdt. Dr. Ebanhaizer I Nuban Timo
dunia adalah model pewartaan Injil yang patut
diperhitungkan secara serius oleh gereja.
Erat berkaitan dengan hal ini, kita sedang
hidup dalam satu periode menentukan dari sejarah
kekristenan. Raimundo Panikkar menyebut priode ini
sebagai kairos bagi gereja, bukan sekedar kronos.
Momentum menentukan (kairos) ini dia namakan
periode dialog.2 Itu bukan sekedar berarti studi,
konsultasi, pemeriksaan, pengajaran, pernyataan,
belajar, dst… Dialog artinya mendengarkan dan
mengobservasi, tetapi juga berbicara, mengoreksi dan
dikoreksi; tujuannya adalah saling pengertian.”3
Kami mengakhiri seluruh pembahasan kita
dalam buku ini dengan dua kutipan di atas sekedar
untuk menegaskan bahwa tokoh-tokoh yang
pemikirannya sudah kita telaah menyadari secara
penuh kairological moments ini. Mereka tidak
membela agama Kristen, berusaha mempertahankan
gereja dari berbagai kritikan atau keberatan. Ini tidak
berarti bahwa mereka meremehkan gereja dan
merendahkan agama Kristen.
2
Raymundo Panikkar. “The Jordan, The Tiber, and The
Ganges. Three Kairological Moments of Christic SelfConsciousness.” Dalam: John Hick & Paul F. Knitter
(Editors). The Myth of Christian Uniqueness. Toward a
Pluralistic Theology of Religions. Maryknoll: Orbis Books.
1987. hlm. 95.
3
Raimundo Panikkar. Dialog Intra Religius. hlm 92.
Gereja Lintas Agama
329
Masing-masing pemikir dengan caranya
sendiri memperlihatkan kepada kita betapa penting
orang Kristen membuka diri untuk melihat dan
menemukan Allah yang aktif bekerja dalam orangorang yang lain kepercayaan atau agamanya, sebab
dengan cara itu kita tidak hanya memperoleh
pemahaman baru tentang Injil dan Yesus Kristus.
Serentak dengan itu paham-paham kita tentang
Kristus, Injil, Gereja dan agama Kristen yang telah
berabad-abad kita kembangkan dikoreksi untuk terus
terbuka kepada rakhmat Allah yang selalu baru setiap
pagi.
Para pemikir kita bukanlah musuh Injil, gereja
dan kekristenan. Pengajaran mereka kedengarannya
mengejutkan bahkan di beberapa tempat justru
menyakitkan. Tapi saya yakin mereka melakukan
karena mengingat pernyataan berikut: “Lebih baik
teguran yang nyata-nyata dari pada kasih yang
tersembunyi. Seorang kawan memukul dengan
maksud baik, tetapi seorang lawan mencium secara
berlimpah-limpah (Ams. 27:5-6). Buah pikiran dan
juga pemberitaan yang tertuangkan dalam karya-karya
mereka justru berbeda jauh dari pemberitaan yang
disampaikan oleh tokoh-tokoh seperti Essek William
Kenyon, Kenneth E. Hagin, Kenneth Copeland, dkk
yang menyatu dalam faith movement dan juga
prosperity Gospel.
Nama-nama yan baru saja kami tunjukkan
menyebut secara berlimpah-limpah keutamaan nama
Yesus, keunggulan gereja dan kesempurnaan agama
330
Pdt. Dr. Ebanhaizer I Nuban Timo
Kristen. Tetapi merekalah yang justru diam-diam
melakukan apa yang disebut oleh Hank Hanegraaff
sebagai merendahkan Kristus dan meremehkan gereja
yang telah dikuduskan Kristus dengan darahNya.4
Mereka ini mengkarikaturkan Allah yang adalah dasar
dan tujuan kehidupan menjadi alat untuk mencapai
tujuan pribadi dan kelompok, yakni keuntungan,
kenyamanan dan kelimpahan materi.5
Kembali kepada pokok semula. Para tokoh
yang pemikirannya sudah kami bedah menyadari
bahwa masa ini adalah masa dialog. Mereka karena itu
bekerja dalam kesetiaan kepada Kristus untuk terus
memberitakan Injil dalam situasi baru tadi. Injil adalah
berita yang tidak berubah. Yesus Kristus tetap sama,
baik kemarin maupun hari ini dan sampai selamalamanya (Ibr. 13:8), tetapi pemberitaan gereja akan
Injil dan kesaksian terhadap Kristus harus terusmenerus diperbaharui dalam situasi dan masa yang
selalu berubah. Inilah jiwa dari buah karya para
pemikir kita.
Untuk menolong pembaca memperoleh
pengetahuan yang utuh, tidak sepenggal-sepenggal
Hank Hanegraaff. Christianity in Crisis. Eugene – Oregon:
Haverst House Publishers. 1992. hlm. 13.
5
Bandingkan ulasan serupa yang dilakukan oleh Stephen
Suleeman. “Megachurch dan Globalisasi.” Dalam: Penuntun.
4
Jurnal Teologi dan Gereja. Beberapa Catatan Reflektif
Dalam Dunia Yang Bergerak Cepat. Vol. 14. No. 25. 2013.
hlm. 1-15.
Gereja Lintas Agama
331
terhadap moment-moment penting dalam sejarah
gereja pada bagian penutup ini perkenankan kami
menyajikan secara ringkas kepelbagaian kairological
moments dalam permenungan gereja akan identitas
diri dan panggilannya.
Raimundo Panikkar
menyebutkan sekurang-kurangnya lima pemahaman
gereja akan diri dan panggilannya.6
Pertama,
gereja memahami diri dan
keberadaannya dalam dunia sebagai persekutuan yang
bersaksi. Tekanan pada aspek kesaksian ini menguasai
kesadaran diri gereja pada abad-abad pertama sampai
dengan kejatuhan kerajaan Roma (thn. 410 atau 430).
Orang-orang percaya pada masa ini tidak berpikir
untuk membentuk sebuah agama baru. Hanya ada satu
cita-cita mereka, yakni berita tentang Kristus yang
mati dan bangkit harus diberitakan kepada segala
makhluk (Mk. 16:15), karena Kristus yang naik ke
sorga itu akan segera kembali dalam waktu yang
singkat. Untuk tugas yang satu ini apapun juga berani
mereka pertaruhkan. Mereka rela meninggalkan
keluarga, menjual harta, menjauhkan diri dari
kesenangan dunia, bahkan mau mati demi kesaksian
akan Kristus. Orang Kristen sejati adalah orang yang
siap menjadi martir.
Kedua, dengan naiknya Konstantinopel ke
tahta Kerajaan Roma, gereja berubah status. Ia tidak
lagi ada sebagai ekklesia tersembunyi, tetapi menjadi
6
Raymundo Panikkar. “The Jordan, The Tiber, and The
Ganges. hlm. 93-5.
332
Pdt. Dr. Ebanhaizer I Nuban Timo
gereja kasat mata menurut penjelasan Nabeel Jabbour.
Orang-orang yang percaya kepada Kristus, atau yang
menjadi pemeluk agama Kristen mendapat perlakuan
istimewa dari negara. Pada periode ini, di mana-mana
di seluruh wilayah Kerajaan Roma terjadi pertobatan
besar-besaran ke dalam kekristenan. Menjadi orang
Kristen artinya dipertobatkan kepada Kristus. Para
pengikut Kristus mulai membentuk agama baru, yakni
agama Kristen. Pada periode ini ditetapkanlah berbagai
dogma dan ajaran, ketentuan dan aturan kekristenan.
Periode ini berlangsung selama abad pertengahan (thn.
500-1500).
Ketiga, menyusul periode ini adalah masa
perang salib (crusade). Agama Kristen yang baru
terbentuk itu mulai melembaga sebagai agama yang
kuat dan dominan. Tetapi di dunia kekristenan itu
tiba-tiba muncul kekuatan baru, yakni Islam yang
bertumbuh dengan pesat dan berhasil menalukkan
berbagai wilayah kekristenan, bahkan merebut banyak
pengikut. Perang Salib muncul sebagai upaya untuk
merebut kembali wilayah-wilayah kekristenan yang
telah ditaklukan oleh Islam dan menjaga superioritas
kekristenan.
Pada masa ini muncul istilah militia Christi
(tentara bagi Kristus). Orang Kristen sejati adalah
orang-orang yang siap berperang membela agama
Kristen dan menegakkan kedaulatan Kristus dalam
dunia, berhadapan dengan agama baru, Islam. Kalau
pada dua periode pertama, orang Kristen sejati adalah
saksi-saksi atau martir, maka pada masa ini orang
Gereja Lintas Agama
333
Kristen sejati adalah tentara kristus bahkan panglima
dan jendral-jendral yang membunuh orang-orang yang
dianggap kafir.
Periode misi atau pekabaran ini, adalah masa
baru dari kesadaran diri gereja dan kehadirannya di
dalam dunia. Ini periode keempat yang dimulai pada
sejak tahun 1600- pertengahan abad ke-21. Orang
Kristen yang sejati adalah misionaris atau mereka yang
mendukung pekerjaan para misionaris. Mereka siap
diutus ke berbagai belahan bumi untuk memberitakan
Injil kepada orang-orang kafir dan mentobatkan
mereka, bukan hanya bagi Kristus tetapi juga ke dalam
agama Kristen.
Dalam kontak dengan orang-orang yang
disebut kafir itu para misionaris ini menemukan
bahwa agama-agama baru itu juga memiliki kekayaan
nilai-nilai spiritualitas yang mengagumkan. Meskipun
begitu, mereka ini tetap diminta untuk menyeberang
dari agama semula dan meninggalkan semua kekayaan
spiritual itu untuk bergabung dalam kekristenan. Dua
perang dunia yang berlangsung di benua Eropa yang
menyebut dirinya dunia Kristen dan mengenal
peradaban yang unggul, membuka mata orang Kristen
Eropa bahwa juga ada masalah dalam kekristenan dan
semua perangkat budaya yang berkaitan dengannya.
Kesadaran ini membuka pintu bagi dimulainya
babakan pemahaman diri yang baru yang sedang kita
masuki saat ini.
334
Pdt. Dr. Ebanhaizer I Nuban Timo
Dialog. Inilah babak baru dari permenungan
diri dan keberadaan gereja dan orang Kristen di dalam
sejarah. Mewarnai babak ini ada kecenderungan yang
kuat dari gereja untuk melakukan apa yang disebut
inkulturasi dalam gereja Katholik Roma atau
kontekstualisasi dalam kalangan Protestantisme.
Semangat untuk menaklukan, mentobatkan orangorang yang berbeda keyakinannya tidak lagi mengebugebu seperti pada babak yang lalu. Yang ada ialah
kerinduan untuk melayani dan belajar dari mereka.
Orang-orang Kristen mengabdikan dirinya dalam
dialog yang jujur dan terbuka dengan sesama yang
berbeda dengan mereka.
Demikianlah gambaran singkat tentang
momen-momen penting dalam pembabakan kesadaran
diri gereja dan arti kehadirannya di dalam sejarah.
Kiranya seluruh pembahasan yang kami tunjukkan
sepanjang anjangsana kita memberikan kita bekal
untuk kehadiran Kristen dan kesaksian akan Injil
secara lebih bermakna.
Gereja Lintas Agama
335
DAFTAR PUSTAKA
A.A. Yewangoe. Teologi Salib di Asia. Jakarta: BPK
Gunung Mulia. 1996.
A.A. Yewangoe. Agama dan Kerukunan. Jakarta: BPK
Gunung Mulia 2006.
Aloysius Pieris. “Menuju Teologi Pembebasan Asia:
Beberapa Pedoman Religo-Kultural.” Dalam:
Douglas J. Elwood. Teologi Kristen Asia. Jakarta:
BPK Gunung Mulia. 1992.
Andreas Yewangoe. Tidak Ada Penumpang Gelap.
Jakarta: BPK Gunung Mulia. 2009.
Andreas A. Yewangoe. Tidak Ada Ghetto. Gereja di
Dalam dunia. Jakarta: BPK. Gunung Mulia. 2009.
Albert Nolan, Op. Yesus bukan Orang Kristen?
Yogyakarta: Penerbit Kanisius. 2005.
Alister McGrath. Bersaksi Tanpa Kehilangan Teman.
Bandung: Lembaga Literatur Baptis. 1991.
Avery Dulles. Model-Model Gereja. Ende: Penerbit
Nusa Indah. 1990.
Bert Altena. Wolken gaan voorbij. Een homiletisch
onderzoek naar mogelijkheden voor de preek in
een
postmodern
klimaat.
Zoetemeer:
Boekencentrum. 2003.
Choan-seng Song. Sebutkanlah Nama-Nama Kami.
Teologi Cerita dari perspektif Asia. Jakarta: BPK
Gunung Mulia. 1989.
Choan-seng Song. Allah Yang Turut Menderita.
Jakarta: BPK Gunung Mulia. 1995.
336
Pdt. Dr. Ebanhaizer I Nuban Timo
Christian
Mission
in
Reconstruction: An Asian Analysis. Maryknoll:
Choan-seng
Song.
Orbis Book. 1977.
Chris Wright. Tuhan Yesus Memang Khas Unik. Jalan
Keselamatan Satu-satunya. Jakarta: Yayasan
Komunikasi Bina Kasih /OMF. 2003.
Don Richardson. Anak Perdamaian. Bandung: Kalam
Hidup. 1974.
Douglas J. Elwood. What Asian Christians Are
Thinking. Philippines: 1976.
E. Armada Riyanto CM. Dialog Interreligius.
Historisitas,
Tesis,
Pergumulan,
Wajah.
Yogyakarta: Penerbit Kanisus. 2010.
E.G. Singgih. Dari Israel ke Asia. Jakarta: BPK Gunung
Mulia. 1982.
Eben Nuban Timo. Anak Matahari. Teologi Rakyat
Bolelebo Tentang Pembangunan. Maumere:
Penerbit Ledalero. 1994.
Ebenhaizer Nuban Timo. Apa dan Bagaimana
Berteologi. Orasi Ilmiah di HUT ke-5 Sekolah
Tinggi Agama Kristen Negeri Kupang. 2011.
Ebenhaizer I Nuban Timo. Aku Memahami Yang Aku
Imani. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 2009.
Eka Darmaputera. Tuhan Dari Poci dan Panci. Jakarta:
BPK Gunung Mulia. 1979.
Emanuel Gerrit Singgih. Menguak Isolasi, Menjalin
Relasi. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 2009.
Emanuel Gerrit Singgih. Mengantisipasi Masa Depan.
Jakarta: BPK Gunung Mulia. 2004.
Emanuel Gerrit Singgih. Dua Konteks. Tafsir-Tafsir
Perjanjian Lama sebagai Respons atas Perjalanan
Gereja Lintas Agama
337
Reformasi di Indonesia. Jakarta: BPK Gunung
Mulia. 2009.
Emanuel Gerrit Singgih. Iman dan Politik dalam Era
Reformasi di Indonesia. Jakarta: BPK Gunung
Mulia. 2000,
Emanuel Gerrit Singgih. Berteologi dalam Konteks.
Pemikiran-pemikiran mengenai Kontekstualisasi
di Indonesia Jakarta/ Yogyakarta: BPK Gunung
Mulia/Kanisua. 2000.
Emmanuel Gerrit Singgih. Dunia yang Bermakna.
Kumpulan Karangan Tafsir Perjanjian Lama.
Jakarta: BPK Gunung Mulia. 1999.
G.C van Niftrik & B.J. Boland. Dogmatika Masa Kini.
Jakarta: BPK Gunung Mulia. 1958.
Georg Kirchberger & John Mansford Prior. Hidup
Menggereja Secara Baru di Asia. Ende: Nusa
Indah. 2001.
Hank Hanegraaff. Christianity in Crisis. Eugene –
Oregon: Haverst House Publishers. 1992.
Julianus Mojau. Meniadakan atau Merangkul?
Pergulatan Teologis Protestan Dengan Islam
Politik di Indonesia. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
2012.
Jurgen Moltmann. The Church in the Power of the
Spirit. A Contribution to Messianic Ecclesiology.
London: SCM Press LTD. 1977.
Keith Ward. Religion and Revelation. A Theology of
Revelation in the World’s Religions. Oxford:
Clarendon Press. 1994.
Kosuke Koyama. Tidak Ada Gagang Pada Salib.
Jakarta: BPK Gunung Mulia. 1989.
338
Pdt. Dr. Ebanhaizer I Nuban Timo
L.Z. Raprap. Ada Waktu Mengelus Ada Waktu
Menampar. Kumpulan Khotbah Jenaka. Jakarta:
BPK Gunung Mulia. 2008.
Nabeel T. Jabbour. Memandang Sabit Melalui Mata
Salib. Pengalaman-Pengalaman Mendalam dari
Seorang Kristen Arab. Jakarta: Pioner Jawa. 2010.
Olaf Schumann. Dialog Antar Umat Beragama. Di
Manakah Kita Berada Kini. Jakarta: Lembaga
Penelitian dan Studi DGI. 1980.
Olaf Schumann. Agama-Agama Kekerasan dan
Perdamaian. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 2011.
Paul Borthwick. Six Dangerous Questions To
Transform your View of the World. Illinois: Inter
Varsity Press. 1996.
Paul F. Knitter. No Other Name?A Critical Survey of
Christian Attitude toward World Religions.
Maryknoll: Orbis Book. 1985.
Paul F. Knitter. Satu Bumi Banyak Agama. Dialog
Multi-agama dan Tanggung Jawab Global. Jakarta:
BPK Gunung Mulia.2008.
PGI. Usul Perubahan Lima Dokumen Keesaan Gereja.
Jakarta: Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia.
1988.
Raymondo Panikkar. The Unknown Christ of
Hinduisme. Completely Revised and Enlarge
Edition. New York: Orbis Book. 1981.
Raymondo Panikkar. The Intrareligious Dialogue.
New York: Paulist Press. 1978.
Raymondo Panikkar.
Dialog Intra
Yogyakarta: Penerbit Kanisius. 1994.
Religius.
Gereja Lintas Agama
339
Simon Schoon. De weg van Jezus. Een christologische
herorientatie vanuit de joodse-christelijke
ontmoeting. Kampen: J.H. Kok. 1991.
Verne H. Fletcher. Lihatlah Sang Manusia. Suatu
Pendelatan pada Etika Kristen Dasar. Jakarta: BPK
Gunung Mulia. 2007.
Widi Artanto. Menjadi Gereja Misioner Dalam
Konteks Indonesia. Yogya: Taman Pustaka
Kristen. 2008.
William Hendriksen. New Testament Commentary:
The Gospel of John. Grand Rapids - Michigan:
Baker Book House. 1988.
Artikel Jurnal
A.A. Yewangoe. “Pokok-Pokok Pikiran Aloysius
Pieris.” Dalam: Perhimpunan Sekolah-Sekolah
Theologia di Indonesia (PERSETIA): Bahan Study
Institute tentang Dogmatika tanggal 9-22 Juni
1989 di Kaliurang – Yogyakarta. 1989.
A.A. Yewangoe. “Kecenderungan-Kecenderungan
dalam Teologi di Asia Dewasa Ini.” Dalam:
Perhimpunan Sekolah-Sekolah Theologia di
Indonesia (PERSETIA): Bahan Study Institute
tentang Dogmatika tanggal 9-22 Juni 1989 di
Kaliurang – Yogyakarta. 1989.
A.A. Yewangoe. “Keprihatinan Mastra Terhadap Relasi
Umat Beragama.” Dalam K. Suyaga Ayub. Gereja
Memasuki Millenium III. Malang: Yayasan
Persekutuan pekabaran Injil Indonesia. 2001.
340
Pdt. Dr. Ebanhaizer I Nuban Timo
Andreas Yewangoe. “Tuhan Itu Baik Kepada Semua
Orang.” Dalam: Jan Sihar Aritonang & Gomar
Gultom. Tuhan Itu Baik Kepada Semua Orang.
Jakarta: Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia.
2008.
Choan-seng Song. Dalam: Douglas Elwood. Teologi
Kristen Asia. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Choan-seng Song. “Oh, Yesus, Sini Bersama Kami.”
Dalam: R.S. Sugirtharajah. Wajah Yesus di Asia.
Jakarta: BPK Gunung Mulia. 1996.
E. Armada Riyanto CM. Dialog Interreligius.
Historisitas,
Tesis,
Pergumulan,
Wajah.
Yogyakarta: Penerbit Kanisus. 20102.
Ketut Waspada. “Kebebasan Beragama dalam
Pengalaman Gereja Bali.” Dalam: Erick Barus.
(2009). Kebebasan Beragama, HAM dan
Komitmen Kebangsaan. Jakarta: Bidang Marturia
PGI.
Paul Löffler. “The Biblical Concept of Conversion.”
Dalam Gerald H. Anderson & Thomas F.
Stransky. Mission Trends No. 2. Evangelization.
New York: Paulist Press.
Raymondo Panikkar. “The Jordan, The Tiber, and The
Ganges. Three Kairological Moments of Christic
Self-Consciousness.” Dalam: John Hick & Paul F.
Knitter (Editors). The Myth of Christian
Uniqueness. Toward a Pluralistic Theology of
Religions. Maryknoll: Orbis Books. 1987.
Rikard Kristian Sarang. “Dialog Antaragama Sebagai
Model Penerimaan, Pengakuan Terhadap
Keberagaman Dalam Terang Pemikiran Paul F.
Gereja Lintas Agama
341
BERBAGI: Jurnal Asosiasi
Perguruan Tinggi Agama Katolik (APTAK).
Knitter.
Dalam:
Volume 2 No. 1, Januari 2013.
Simeon Plusegun Ilesanmi. “A Historical Study of the
Concept of Dharma and its Ethical Value in
Hindu Religion.” Dalam: Asia Journal of
Theology. Volume 4 Number 2 October 1990.
Stephen Kim. Evangelization in the Asian Contex.
Dalam: Mission Trends. No. 2. Evangelization.
New York/ Grand Rapids: Wm.B. Eerdmans
Publishing 1978.
Stephen Suleeman. “Megachurch dan Globalisasi.”
Dalam: Penuntun. Jurnal Teologi dan Gereja.
Beberapa Catatan Reflektif Dalam Dunia Yang
Bergerak Cepat. Vol. 14. No. 25. 2013. hlm. 1-15.
342
Pdt. Dr. Ebanhaizer I Nuban Timo
Download