BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Aceh yang

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Aceh yang memiliki banyak pengalaman sejarah telah menjadi perhatian
pihak luar baik nasional maupun internasional. Fase demi fase konflik kekerasan
menjadi sejarah yang tidak pernah surut di Aceh. Sejak zaman pra-kolonial yaitu
abad ke-17 sampai terjadinya sebuah fenomena dimana masyarakat Aceh
mengalami ketidak adilan politik, ekonomi serta penerapan DOM tahun 19891998 yang banyak menimbulkan korban sipil.
Pada era orde baru, nyaris persoalan Aceh tidak pernah tersentuh oleh
upaya penyelesaian konflik secara damai kecuali melalui pendekatan militer yang
banyak memakan korban jiwa. Maka setelah masa orde baru berakhir, barulah
pemerintah Indonesia berusaha menyelesaikan permasalahan ini dengan mulai
dibuka dan melibatkan pihak ketiga yaitu melalui kesepakatan penghentian
permusuhan (Cesseation of Hostilities Agreement ) atau CoHA1 Pada 9 Desember
2002 lalu di Jenewa swiss, serta dibentuk Komisi keamanan bersama (Joint
Security Committee) atau JSC yang terdiri atas unsur TNI/POLRI. GAM dengan
Hendry Dunant Centre (HDC) sebagai fasilitator yang salah satu alternatif
penyelesaiannya adalah pemberian otonomi khusus dalam kerangka NKRI.
Namun dalam penyelesaian konflik didalamnya hanya menimbulkan krisis sosial,
budaya, dan politik yang serius bagi masyarakat Aceh serta berakhir dengan
kegagalan.
1
Persetujuan RI-GAM di Tokyo Gagal Capai Kesepakatan: Operasi Pemulihan Keamanan di
Mulai, Kompas, 19 Mei 2003
Universitas Sumatera Utara
Pada akhir tahun 2004 tepatnya Tanggal 26 Desember Aceh dilanda
musibah dalam skala besar yaitu bencana Tsunami yang menimpa bagian pesisir
Aceh, termasuk ibu kota Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) yang 802
persen infrastruktur hancur, akibat bencana ini. Penderitaan rakyat Aceh lengkap
sudah dan perdamaian menjadi harapan besar bagi masyarakat Aceh. Bersamaan
dengan keberadaan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau Non Goverment
Organization (NGO) baik lokal maupun asing dalam penyaluran bantuan pasca
bencana baik proses rehabilitasi, serta rekonstruksi dalam berbagai kegiatan sosial
lainnya, kata sepakat yang tertuang dalam Nota Kesepahaman ( Memorandum Of
Understanding atau MoU ) antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan
Aceh Merdeka, Pada tanggal 15 Agustus 2005 di Helsinki, Finlandia pun pada
akhirnya disepakati. MoU ini memiliki beberapa butir kesepakatan yaitu
diantaranya pasca MoU segera mungkin direalisasikan penyelenggaraan
pemerintahan Aceh dengan menyusun Undang-Undang pemerintahan Aceh (UU
PA), para pihak sangat yakin bahwa hanya dengan penyelesaian damai atas
konflik tersebut yang akan memungkinkan pembangunan kembali Aceh Pasca
tsunami dan dapat mencapai kemajuan dan keberhasilan. Bersamaan dengan hal
tersebut ratusan3 NGO asing maupun lokal masuk dan tumbuh di Aceh bak jamur
di musim hujan sebagai pendonor dalam membangun Aceh kembali, dengan
kondisi tersebut menarik simpati dan empati masyarakat luar Aceh dan
internasional untuk membantu meringankan beban masyarakat Aceh yang
menjadi korban tsunami. Pada dasarnya kedatangan masyarakat diluar Aceh
adalah untuk membantu korban tsunami dalam mengatasi berbagai penderitaan
2
3
www.modus.or.id tulisan Al-Mubarak.2006
http://www.acehinstitute.org. 2006
Universitas Sumatera Utara
ssyang didera korban. Bantuan kemanusiaaan yang didatangkan dan diprioritaskan
untuk mereka yang kehilangan tempat tinggal dan lahan usaha.
Keberadaan berbagai NGO sebagai lembaga pendonor dalam menyalurkan
bantuan diketahui bahwa tidak hanya memberikan bantuan dibidang sosial, tetapi
lebih terfokus dalam bidang pembangunan infrastruktur, penguatan pemerintah
dan penguatan masyarakat sipil ( civil society). Sepanjang penguatan lembagalembaga masyarakat tersebut diarahkan untuk membangun iklim demokrasi yang
lebih sehat dan dinamis di Aceh, hal itu bahkan menjadi suatu hal yang positif.
Untuk menjadi suatu sistem yang benar-benar menjamin terbentuknya wilayah
yang memberi keadilan, kesejahteraan dan tercapainya konsolidasi demokrasi
tidak terlepas dari kontribusi peran masyarakat sipil dan berbagai NGO yang
berada di Aceh. Berkaitan dengan hal itu Larry Diamond4 mencirikan pencapaian
program penguatan Civil society kedalam 5 tujuan yaitu : pertama, masyarakat
sipil lebih memusatkan perhatiannya pada tujuan-tujuan publik, dan bukannya
tujuan kelompok atau golongan. Kedua, masyarakat sipil dalam beberapa hal
berhubungan dengan Negara, tetapi diarahkan untuk tidak berusaha merebut
kekuasaan atas Negara atau mendapat posisi dalam Negara, posisinya tidak untuk
usaha mengendalikan politik secara menyeluruh. Ketiga, masyarakat sipil
mencakup pluralisme dan keberagaman artinya tidak sektarian atau memonopoli
ruang fungsional. Keempat, masyarakat sipil tidak berusaha menampilkan seluruh
kepentingan-kepentingan pribadi atau komunitas. Namun kelompok-kelompok
yang berbeda akan menampilkan atau mencakup kepentingan berbeda pula.
4
Indra J piliang dalam seminar Masa Depan Aceh pasca MoU Helsinki dalam kerangka keutuhan
NKRI. Di Universitas Indonesia, kamis 29 November 2007.
Universitas Sumatera Utara
Kelima, masyarakat sipil haruslah dibedakan dari fenomena civic community yang
lebih jelas meningkatkan demokrasi.5
Aceh yang semenjak pasca reformasi hingga sekarang telah mendapatkan
payung hukum, mulai dari UU No. 44 tahun 1999 tentang keistemewaan Aceh,
UU No. 18 tahun 2001 tentang otonomi daerah (Pelaksanaan syariat islam ), UU
No. 32 tahun 2004 tentang pemerintah daerah, dan yang terakhir UU No.11 tahun
2006 tentang pemerintahan Aceh. Pada rentang waktu tersebut politik dan kondisi
sosial di Aceh mengalami perubahan yang sangat cepat. Namun tsunami bukanlah
momentum yang lahir dari proses sosial, namun dampak bencana tsunami mampu
merubah sistem dan formasi sosial masyarakat dan pemerintahan. Tsunami turut
mendesain terwujudnya perjanjian politik Kesepahaman Perdamaian yang
membawa perubahan besar bagi kehidupan masyarakat Aceh. Secara keseluruhan
dari segi sosial, politik, ekonomi dan budaya, kedua momentum tersebut
mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi masyarakat Aceh, yaitu makin
terbukanya ruang-ruang publik dalam berbagai hal. Selain itu, tsunami juga telah
meninggalkan imbas dalam bentuk hancurnya infrastruktur dan sufrastruktur
masyarakat Aceh. Paska tsunami, berbagai negara dan organisasi-organisasi luar
negeri masuk ke Aceh untuk membantu masyarakat Aceh yang dilanda bencana.
Dua momentum tersebut jelas memberi ruang-ruang publik yang sangat besar bagi
proses perdamaian dan demokratisasi serta dinamika sosial di Aceh. Proses
dinamika sosial tersebut terus berjalan seiring perubahan bagi masyarakat itu
sendiri. Ruang demokrasi yang selama ini ditunggu-tunggu oleh masyarakat yang
sebelumnya terbungkam secara signifikan mulai muncul ditandai dengan
5
http://www.Acehrecovery forum.org
Universitas Sumatera Utara
tumbuhnya berbagai organisasi-organisasi sipil yang menuntut perubahanperubahan sosial, ekonomi, dan politik dari dalam komunitas masyarakat aceh
yang disebut dengan LSM/NGO lokal beberapa diantaranya yaitu Aceh Institute,
Aceh People Forum, Yayasan Bungoeng Jeumpa, Badan Reintegrasi Aceh, dan
Forum LSM Aceh.
Salah satu diantara NGO lokal yang terbentuk dari formasi sosial
masyarakat aceh yang menjadi pusat penelitian ini adalah Aceh People Forum
atau yang biasa disebut dengan APF, APF ini merupakan NGO lokal yang
bergerak dalam mendampingi masyarakat Aceh. Perubahan signifikan yang terjadi
di Aceh tentunya tidak terlepas dari peran masyarakat sipil dan organisasiorganisasi yang tumbuh dalam masyarakat Aceh sendiri. Meskipun sebenarnya
tidak ada pengalaman dinegeri ini membangun demokrasi pasca konflik dan
tsunami, namun ini merupakan tantangan yang begitu berat, karena sumber daya
manusia dan infrastruktur di beberapa daerah diwilayah Aceh hancur. Maka dalam
penelitian ini peneliti mencoba mengangkat bagaimana peranan NGO Lokal yaitu
Aceh
People
Forum
dalam
membangun
demokrasi
di
Aceh
pasca
penandatanganan perjanjian damai MoU Helsinki pada tahun 2006-2007.
Aceh People Forum ini adalah sebuah organisasi non pemerintahan yang
terbentuk ketika konflik terjadi di Aceh yaitu sekitar tahun 1999, namun ketika itu
APF ini masih berupa sebuah forum perkumpulan masyarakat yang terdiri dari
beberapa orang saja dalam mendampingi masyarakatnya sampai kemudian pada
Agustus 2005 pasca tsunami APF disahkan menjadi sebuah lembaga swadaya
masyarakat Aceh dan menjadi payung organisasi untuk NGO lokal lain seperti
mitranya yang menjadi partner kerja dalam menjalankan programnya yang berada
Universitas Sumatera Utara
di daerah-daerah di Nanggroe Aceh Darussalam untuk mendampingi masyarakat
Aceh yang korban konflik dan bencana tsunami, serta menumbuhkan rasa
kesadaran dalam masyarakat Aceh untuk membangun demokratisasi di Aceh
pasca konflik.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka peneliti membuat rumusan
permasalahan dalam hal ini adalah “Bagaimana Peranan Aceh People Forum
sebagai NGO Lokal Dalam Membangun Demokrasi di Aceh?”
1.3 Ruang Lingkup Penelitian
Dalam penelitian ini peneliti membatasi permasalahan guna menghindari
ruang lingkup permasalahan yang terlalu luas. Selain itu agar dapat menghasilkan
uraian yang sistematis. Maka ruang lingkup penelitian ini adalah :
1) NGO Lokal yaitu Aceh People Forum yang berperan dalam membangun
demokrasi di Aceh.
2) Penelitian ini juga menitik beratkan pada pengamatan terhadap
masyarakat di NAD pasca konflik dan tsunami antara tahun 2006-2007.
1.4 Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian
Adapun tujuan dan manfaat penelitian ini adalah :
1) Untuk mengetahui bagaimana kemajuan pertumbuhan demokrasi dalam
masyarakat Aceh pasca MoU.
2) Untuk mengetahui Bagaimana peran NGO Lokal Aceh People Forum
dalam membangun demokrasi pasca MoU di NAD.
Universitas Sumatera Utara
3) Bagi peneliti, untuk mengembangkan kemampuan berfikir peneliti melalui
karya ilmiah dan sebagai sarana mengasah kemampuan peneliti untuk
menggunakan teori-teori yang didapatkan selama masa perkuliahan.
4) Secara teoritis memberikan pemahaman tentang demokrasi Indonesia
khususnya di Aceh.
5) Penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan positif terhadap
NGO Lokal yang memiliki peranan penting sebagai kekuatan politik di
Indonesia khususnya di Aceh.
6) Diharapkan dapat menjadi tambahan referensi dan mampu memberikan
informasi tentang studi demokrasi, khususnya bagi mahasiswa yang
tertarik dalam hal itu bagi Fisip USU.
1.5 Kerangka Teori
Bagian ini merupakan unsur yang penting didalam penelitian, karena pada
bagian ini penelitian mencoba menjelaskan fenomena yang sedang diamati dengan
menggunakan teori-teori yang relevan dengan penelitiannya. Teori menurut Masri
Singarimbun dan Sopian Effendi dalam bukunya metode penelitian survei
mengatakan, teori adalah serangkaian asumsi, konsep, konstrak, defenisi dan
proposisi untuk menerangkan suatu fenomena sosial secara sistematis dengan cara
merumuskan merumuskan hubungan antar konsep.6
Oleh karenanya, dalam kerangka teori ini penulis akan menyampaikan
teori-teori yang menjadi landasan berfikir dalam menggambarkan masalah
penelitian yang menjadi objek di dalam penelitian ini.
6
Masri Singarimbun dan Sopian effendi, Metode Penelitian Survei (Jakarta : LP3ES, 1989) hal :
37
Universitas Sumatera Utara
1.5.1
Teori Peranan
Peranan merupakan serangkaian perilaku yang diharapkan oleh seseorang,
pengharapan semacam itu merupakan suatu norma yang dapat mengakibatkan
terjadinya suatu peranan. Pada tingkat organisasi berlaku bahwa semakin kita
dapat memahami tepatnya keselarasan atau integrasi antara tujuan dan misi
organisasi.7 Sementara menurut Soekanto peranan adalah aspek dinamis dari
kedudukan (status). Apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya
sesuai dengan kedudukannya, maka dia menjalankan suatu peran. Peranan diatur
oleh norma-norma yang berlaku, dimana peranan lebih banyak menunjuk pada
fungsi, penyelesuaian diri dan sebagai suatu proses.8 Adapun peranan seseorang
seperti yang dikatakan oleh Levinson meliputi 3 hal yaitu :9
1. Peranan meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi atau
tempat seseorang dalam masyarakat, peranan disini diartikan sebagai
rangkaian peraturan yang membimbing seseorang dalam kehidupan
bermasyarakat.
2. Peranan adalah suatu konsep tentang apa yang dapat dilakukan oleh
individu dalam masyarakat sebagai organisasi.
3. Peranan juga dapat dikatakan sebagai perilaku individu yang penting
sebagai struktur social masyarakat.
7
Thoha, Miftah, Kepemimpinan dan Manajemen Sutau Pendekatan Perilaku, Bandung, Sinar
Harapan, 1990. Hal : 80
8
Soejono, Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta, UII Press, 1990. Hal : 268
9
Op.Cit Hal : 204
Universitas Sumatera Utara
Konsep peranan selalu terkait dengan manusia, dimana pelaku-pelaku
peranan social itu adalah manusia. Setiap individu atau manusia di dalam ruang
social mempunyai beberapa status atau peran misalnya sebagai ketua organisasi,
sekretaris dan sebagainya. Tiap individu tersebut berperan sesuai dengan status
yang dimilikinya., dalam situasi tertentu status dengan peranan mempunyai
hubungan yang sangat erat sekali yaitu dimana status tidak akan ada tanpa adanya
peranan dan begitu juga peranan tidak akan ada tanpa adanya status. Dengan
demikian status dan peranan tidak dapat dipisahkan. Konsep peranan tidak bisa
dilepaskan dari konsep status. Peranan adalah pola perilaku yang diharapkan dari
seseorang yang memiliki status.10
1.5.2. Peranan Non Government Organitation (NGO)
NGO adalah organisasi yang paling mampu menjembatani berbagai
kesulitan yang dihadapi aktor-aktor lain dalam penyelesaian berbagai persoalan.
Maka dalam hal ini NGO/LSM memainkan berbagai macam peranan dalam
proses pembangunan sebuah negara, Noeleen Heyzer mengidentifikasikan tiga
jenis peranan yang dapat dimainkan oleh berbagai NGO yaitu :11
1. Mendukung dan memberdayakan masyarakat pada tingkat “grassroots”
yang sangat esensial dalam rangka menciptakan pembangunan yang
berkelanjutan.
10
Ibid.
Affan, Gafar, Politik Indonesia Transisi Menuju Demokrasi, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2005
dalam Noeleen Heyzer, James V. Rayker and Antonio, Government NGO Relation in Asia (kuala
Lumpur, APDC), 1995 hal : 8
11
Universitas Sumatera Utara
2. Meningkatkan pengaruh politik secara meluas, melalui jaringan kerja
sama, baik dalam suatu negara ataupun dengan lembaga-lembaga
international lainnya.
3. Ikut
mengambil
bagian
dalam
menentukan
arah
dan
agenda
pembangunan.
Dari hal diatas kita dapat mengetahui target yang ingin dicapai LSM atau
NGO yaitu target tersebut dapat kita lihat dari peranan yang dilakukan oleh NGO
yang digolongkan kedalam dua kelompok besar yaitu : partama, peranan dalam
bidang non politik yaitu memberdayakan masyarakat dalam bidang sosial
ekonomi. dan kedua, peranannya yang dalam bidang politik yaitu sebagai wahana
menjembatani warga masyarakat dengan negara atau pemerintah. Selain itu, NGO
juga memiliki peranan signifikan dalam bidang pendidikan dan advokasi, dan
tidak diragukan lagi mempengaruhi respon internasional terhadap konflik internal
yang disebabkan oleh fleksibilitas dan bentuk organisasi yang tidak begitu ketat.12
Organisasi non-pemerintahan ( Non Goverment Organitation / NGO )
lahir untuk membantu rakyat miskin yang tak tersentuh “tangan” pembangunan
dan dirugikan oleh kebijakan pemerintah atas pembangunan.13
Ryker juga mengkategorikan NGO kedalam empat kelompok besar yaitu
:14
12
Thomas G. Weiss. “Nongovernmental Organizations and Internal Conflict”, dalam Michael E.
Brown (ed.). The International Dimensions of Internal Conflict, Cambridge: MIT Press, 1996,
hlm.444
13
ibid
14
Ibid hal : 203-205
Universitas Sumatera Utara
1. Government organized NGOs or GONGOs, yaitu NGO yang muncul
karena mendapat dukungan dari pemerintah, baik berupa dana ataupun
fasilitas. Biasanya NGO seperti ini berperan mensukseskan programprogram pemerintah. di Indonesia, NGO seperti ini disebut sebagai NGO
flat merah.
2. Donor organized NGOs or DONGOs, yaitu NGO yang dibentuk oleh
kalangan lembaga-lembaga donor baik yang bersifat multilateral maupun
unilateral. NGO seperti ini biasanya dibentuk untuk mewujudkan program
lembaga donor tersebut.
3. Autonomous or independent NGOs yaitu NGO yang dibentuk, tumbuh dan
berkembang dalam masyarakat. NGO seperti ini sifatnya independent
secara financial dan memiliki kepedulian yang sangat luas tentang
berbagai hal dalam kehidupan sehari-hari.
4. Foreign NGOs, NGO seperti ini muncul sebagai perwakilan dari NGO
yang ada diluar negeri. Kehadirannya, tentu saja harus setahu atau
mendapat izin dari negara tempat NGO tersebut beroperasi.
Dengan berbagai macam bentuk peranan tersebutlah sehingga membuat
NGO memiliki fleksibiltas dalam melakukan pendekatan dengan setiap pihak
yang tidak mampu ditembus oleh lembaga resmi negara. Fleksibilitas ini pada
akhirnya mampu menyelesaikan berbagai hal yang tidak mungkin dilakukan oleh
institusi pemerintahan yaitu; keintiman dengan masyarakat, para pemimpin,
kultur, nilai dan sensitivitas.
1.6 Definisi Konsep
Universitas Sumatera Utara
Menurut pandangan dari James Petras NGO adalah sebuah kumpulan
intelektual kelas menengah yang mengangkat isu-isu kelas bawah untuk
diperjuangkan, khususnya permasalahan membuat diskriminasi hak-hak bagi
masyarakat di suatu negara.15 Secara Umum NGO didefinisikan sebagai lembaga
private, voluntary, non-prifit; dimana anggota-anggotanya mengkombinasikan
kemampuan, cara dan energi mereka dalam mencapai tujuan dan idealita.16NGO
adalah organisasi yang paling mampu menjembatani berbagai kesulitan yang
dihadapi aktor-aktor lain dalam penyelesaian konflik. Ketiadaan kedaulatan yang
dimiliki organisasi non-pemerintah menjadi senjata kuat baginya untuk memasuki
wilayah-wilayah terlarang tanpa kekhawatiran penolakan pengakuan resmi.
1.7 Metodologi Penelitian
Dalam melakukan sesuatu penelitian di bidang ilmu-ilmu sosial dan
politik ketepatan metodologi sangat mutlak diperlukan. Metodologi merupakan
pengetahuan tentang cara mengkonstruksi bentuk dan instrumen penelitian.
Konstruksi teknik dan instrumen yang baik dan benar akan mampu untuk
menghimpun data yang ada secara obyektif. Lengkap dan dapat dianalisis guna
memecahkan suatu masalah. Menurut Antonius Birowo, metodologi mengkaji
tentang proses penelitian yaitu bagaimana peneliti berusaha menjelaskan apa yang
diyakini dapat di ketahui.17
1.7.1
Metode Penelitian
Berdasarkan uraian-uraian diatas maka, untuk penelitian ini penulis
menggunakan metode penelitian deskriptif. Deskripsi (deskription) adalah
15
http://www.acehkita.co.id,searh 23 Desember 2007
Farouk Mawlawi, “New Conflicts, New Challenges: The Evolving Role for Non-Governmental
Actors”, Journal of International Affairs, Vol.46, No.2, (Winter 1993), hlm.392
17
Antonius Birowo, Metode Penelitian komunikasi, (Yokyakarta : Gitanyali, 2004) hal : 71-72
16
Universitas Sumatera Utara
pernyataan mengenai bagian-bagian atau hubungan-hubungan dari sesuatu hal,
yang bisa dirumuskan melalui, identifikasi, dan spesifikasi.18
Penelitian deskriptif memiliki dua tujuan yakni : 1) untuk mengetahui
perkembangan sarana fisik tertentu atau frekuensi terjadinya sesuatu aspek
fenomena sosial tertentu. Hasilnya kemudian dicantumkan kedalam tabel-tabel
frekuensi. 2) untuk menggambarkan secara terperinci fenomena sosial tertentu,
umpamanya interaksi sosial, sistem kekerabatan. Penelitian ini tidak untuk
menguji hipotesa melainkan hanya mendeskripsikan secara sistematik faktual dan
akurat. Adapun ciri-ciri pokok penelitian yang menggunakan metode deskriptif
adalah sebagai berikut ;
1. Memusatkan perhatian pada masalah-masalah yang ada pada saat
penelitian dilakukan, atau masalah-masalah yang bersifat faktual.
2.
Menggambarkan
fakta-fakta
tentang
masalah
yang
diselidiki
sebagaimana adanya, diiringi dengan interpretasi nasional yang memadai.
Selanjutnya Mohammad Nasir mengatakan dalam studi ini analisanya
dikerjakan berdasarkan ”ekspost fakto” artinya data dikumpulkan setelah semua
kejadian berlangsung19
1.7.2
Objek Penelitian
Objek penelitian ini adalah NGO Lokal Yaitu Aceh People Forum yang
berada di Nanggroe Aceh Darussalam khususnya kota Banda Aceh.
1.7.3
Jenis Penelitian
Dengan menggunakan metode deskriptif maka jenis penelitian ini adalah
penelitian kualitatif. Penelitian ini sebagai konsekuensi dari pengguna metode
18
Ronald H.Chilcote, Teori Perbandingan Politik “Penelusuran Paradigma”, (Jakarta,
PT.Grafindo, 2003) hal : 21
19
Moh.Nasir, Metode Penelitian, (Jakarta : Ghalia Indonesia, 1983), hal : 105.
Universitas Sumatera Utara
deskriptif.
“
Metodologi
kualitatif”
sebagai
prosedur
penelitian
yang
menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang
dan prilaku yang dapat diamati.20 Penelitian kualitatif ini, dimulai dengan
mengumpulkan informasi untuk dirumuskan menjadi sutau generalisasi yang
dapat diterima akal. Masalah yang akan diungkapkan dapat disiapkan sebelum
mengumpulkan data atau informasi, akan tetapi mungkin saja berkembang selam
kegiatan penelitian berlangsung.
1.7.4
Teknik Pengumpulan Data
Dalam sebuah penelitian terdapat beberapa metode yang biasa digunakan
untuk mengumpulkan data antara lain wawancara (interview), observasi
(observation), dan dokumentasi (documentary). Pada penelitian ini penulis
menggunakan metode dokumentasi dan wawancara. Metode dokumentasi adalah
mengumpulkan berbagai bahan, data, literature dan tulisan tersebar lainnya yang
berhubungan dengan penelitian ini. Metode pengumpulan data yang digunakan
adalah studi dokumenter yaitu pengamatan terhadap gejala-gejala obyek yang
diteliti dengan meneliti dokumen-dokumen yang tersedia.
Sedangkan wawancara yang dimaksud dalam penelitian ini adalah metode
pengumpulan data dengan cara berkomunikasi melalui kontak/hubungan pribadi
antara pewawancara (interviewer) dan yang diwawancara ( interviewe).
Wawancara adalah bentuk menanyakan dengan karakteristik menggunakan
pernyataaan verbal untuk menghindari bias dan distorsi serta dihubungkan pada
pertanyaan peneliti yang spesifik serta tujuan yang spesifik pula. Pada penelitian
ini digunakan wawancara yang tidak terstruktur. Informasi dan penjelasan
20
Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 1994), hal :
3
Universitas Sumatera Utara
mengenai Peranan Aceh People Forum dalam Membangun demokrasi di Aceh
akan diperoleh melalui wawancara langsung dengan pihak-pihak yang terkait.
misalnya : Ketua organisasi, Sekretaris, dan pihak-pihak lain yang berhubungan
dengan penelitian ini.
1.7.5
Teknik Analisa Data
Analisa data adalah menyusun data agar dapat ditafsirkan. Teknik analisa
data yang akan digunakan dalam penelitian ini mengacu pada langkah-langkah
yang ditempuh dalam suatu penelitian kualitatif. Langkah-langkah yang ditempuh
sebagai berikut :
1. Pengumpulan data
2. Penelitian atau analisis data
3.
Penyimpulan data.
Mengacu pada langkah-langkah tersebut maka langkah pertama yang
dilakukan adalah mengumpulkan data dari berbagai sumber. Data yang telah
dikumpulkan kemudian disususn terlebih dahulu sebelum diolah. Ini bertujuan
untuk memeperoleh data yang komprehensif sesuai dengan tujuan penelitian.
Langkah selanjutnya melakukan penilaian terhadap keabsahan data tersebut.
Untuk mengatakan keabsahan teknik pemeriksaan didasarkan atas sejumlah
kriteria tertentu sebagai berikut :
1. Derajat kepercayaan (credibility)
2. Keteralihan (transibility)
3.
Kebergantungan (dependability)
4. Kepastian (confirmability)
Universitas Sumatera Utara
Selain melaksanakan penilaian maka langkah terakhir adalah membuat
suatu kesimpulan terhadap data yang telah dianalisis. Perlu diperhatikan apabila
kegiatan analisisnya menggunakan analisis kuantitatif seorang peneliti dituntut :
1. Kecermatan
2.
Ketelitian
3.
Keuletan
4.
Selektif.
Dalam penelitian data satu hal yang perlu mendapatkan pertimbangan
adalah memeperhatikan secara sungguh-sungguh jumlah maupun banyaknya data
yang terkumpul, juga dalam pelaksanaan pengolahannya tidak dapat diabaikan
akurasinya.
Universitas Sumatera Utara
1.7.6
Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini berisi latar belakang masalah, perumusan masalah, Ruang lingkup
penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kerangka teori, defenisi konsep,
dan metode penelitian, serta sistematika penulisan.
BAB II DESKRIPSI OBJEK PENELITIAN
Dalam bab ini akan diuraikan gambaran umum dari NGO Lokal yaitu Aceh
People Forum.
BAB III PENYAJIAN DAN ANALISA DATA
Bab ini berisikan penyajian dan analisis data yang diperoleh dari penelitian.
BAB IV PENUTUP
Bab ini berisikan kesimpulan dan saran-saran yang diperoleh dari hasil penelitian.
Universitas Sumatera Utara
Download