BAB II LANDASAN TEORI A. Valuta Asing 1. Pengertian pasar

advertisement
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Valuta Asing
1. Pengertian pasar valuta asing secara umum
Pasar valuta asing atau sering disebut sebagai Foreign exchange market
merupakan pasar di mana transaksi valuta asing dilakukan baik antar Negara
maupun
dalam
suatu
Negara.
Transaksi
dapat
dilakukan
oleh
suatu
badan/perusahaan ataupun perorangan dengan berbagai tujuan. Dalam setiap kali
melakukan transaksi valuta asing maka digunakan kurs ( nilai tukar). Nilai tukar
ini dapat berubah-ubah sesuai kondisi dari waktu ke waktu yang disebabkan oleh
berbagai factor seperti factor ekonomi dan politik.
Transaksi Valuta Asing dapat diartikan sebagai kesepakatan atau perjanjian
antara dua pihak untuk mempertukarkan (jual/beli) mata uang yang dimilikinya.
Istilah yang lebih umum dalam pertukaran valuta tersebut adalah jual beli valuta
asing.
Menurut Exposure Draft Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang
diterbitkan oleh Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI) pada bulan Mei 1998 yang pada
dasarnya mengacu pada FASB Statement No. 52 bahwa mata uang asing adalah
semua mata uang selain mata uang fungsional dari suatu entitas.
Dalam perdagangan pasar valas internasional hanya mata uang yang tergolong
“convertible currencies” yang sering diperdagangkan, sedangkan yang tidak
termasuk dalam golongan tersebut jarang diperdagangkan. Yang menentukan
golongan “convertible currencies” adalah salah satunya volume perdagangan
suatu Negara baik secara kualitas maupun kuantitas disamping factor lainnya.
Yang termasuk ke dalam golongan mata uang yang kuat convertible
currencies seperti Dollar Amerika Serikat, Euro Eropa, Pounsterling England,
Yen Jepang, Dollar Singapura, Dollar Australia, Dollar Hongkong, sedangkan
golongan mata uang lemah (soft currencies), jarang diperjualbelikan dan biasanya
berasal dari Negara-negara berkembang seperti Rupe India, Peso philipina, dan
termasuk Rupiah kita bagi Negara lain.
Disamping dapat dilakukan antar Negara transaksi valas juga dapat dilakukan
antar bamk dengan nasabahnya seperti transaksi uang kertas asing (bank notes),
travelers cheque, giro valas, transfer ke luar negeri atau kegiatan mata uang asing
lainnya. Dalam transaksi ini bank menggunakan kurs jual dan kurs beli di mana
penggunaan kurs dapat dilakukan sebagai berikut :
 Kurs jual pada saat bank menjual dan nasabah membeli
 Kurs beli pada saat bank membeli dan nasabah menjual
Selisih antara kurs jual dan kurs beli yang disebut spread yang merupakan
keuntungan bank dan dalam praktiknya selalu kurs jual lebih tinggi dari kurs beli.
Penetuan kurs, pihak perbankan mengacu kepada kurs konversi yang dikeluarkan
oleh perbankan setiap hari, kemudian ditambah dengan keuntungan yang
diinginkan. Penentuan kurs dapat dilakukan secara direct rate dan indirect rate.
direct rate maksudnya adalah penentuan yang menempatkan mata uang domestic
di depen mata uang asing, contoh : Rp. 9.000,- = U$D 1, sedangkan perhitungan
dengan indirect rate adalah sebaliknya yaitu menempatkan mata uang di depan
mata uang domestic, contoh : U$D 0,000111 = Rp. 1,-.
2. Pengertian Valuta asing dalam syariah
Valuta asing dalam istilah bahasa Inggris dikenal dengan money changer atau
foreign exchange, sedangkan dalam istilah Arab disebut al-sharf. Dalam kamus
al-Munjid fi al-Lughah disebutkan bahwa al-sharf berarti menjual uang dengan
uang lainnya. Al-Sharf yang secara harfiyah berarti penambahan, penukaran,
penghindaran, atau transaksi jual beli. Dengan demikian al-Sharf menurut Sutan
Remy Sjahdiyni (1999 : 87) adalah perjanjian jual beli satu valuta dengan valuta
lainnya. Menurut Heli Charisma Berlianta (2005 : 4-5), Valas atau al-sharf secara
bebas diartikan sebagai mata uang yang dikeluarkan dan digunakan sebagai alat
pembayaran yang sah di negara lain.
Muhammad al-Adnani mendefinisikan al-sharf dengan tukar menukar uang.
Taqiyyudin an-Nabhani mendefinisikan al-sharf dengan pemerolehan harta
dengan harta lain, dalam bentuk emas dan perak, yang sejenis dengan saling
menyamakan antara emas yang satu dengan emas yang lain, atau antara perak
yang satu dengan perak yang lain atau berbeda jenisnya semisal emas dengan
perak, dengan menyamakan atau melebihkan antara jenis yang satu dengan jenis
yang lain. Taqiyyudin an-Nabhani (1996 : 187) juga menyatakan bahwa jual beli
mata uang merupakan transaksi jual beli dalam bentuk finansial yang menurutnya
mencakup beberapa hal sebagai berikut:
1. Pembelian mata uang dengan mata uang yang serupa seperti pertukaran uang
kertas dinar baru Irak dengan dinar lama.
2. Pertukaran mata uang dengan mata uang asing seperti pertukaran dolar dengan
pound Mesir
3. Pembelian barang dengan uang tertentu serta pembelian mata uang tersebut
dengan mata uang asing seperti membeli pesawat dengan dolar, serta
pertukaran dolar dengan dinar Irak dalam suatu kesepakatan.
4. Penjualan barang dengan mata uang, misalnya dolar Amerika dengan dolar
Australia.
5. Penjulan promis (surat perjanjian untuk membeayar sejumlah uang) dengan
mata uang tertentu.
6. Penjualan saham dalam perseroan tertentu dengan mata uang tertentu.
Masing-masing dari ke-enam bentuk kegiatan di atas dapat diklasifikasi
menjadi dua macam kegiatan, yaitu jual beli dan pertukaran. Sehingga untuk
masing-masing kegiatan tersebut dapat diberlakukan hukum jual beli dan
pertukaran. Penjualan mata uang dengan mata uang yang serupa atau penjualan
mata uang dengan mata uang asing dalam Islam inilah yang kemudian disebut
sebagai al-sharf.
3. Pelaku atau subjek dari kegiatan valuta asing
Menurut Heli Charisma Berlianta (2005 : 4-5) membedakan beberapa
golongan yang aktif melakukan transaksi jual beli valas, yang dapat digolongkan
kepada 7 golongan berikut contohnya, yaitu:
1. Perusahaan.
Perusahaan
menggunakan
pasar
valuta
asing
untuk
mempermudah pelaksanaan transfer investasi atau komersil. Kelompok ini
terdiri dari para importir, investor internasional dan perusahan-perusahaan
multinasional. Mereka menggunakan pasar valuta asing untuk tujuan
investasi.
2. Masyarakat atau Perorangan. Masyarakat dan perorangan dapat melakukan
transaksi valas untuk memenuhi kebutuhannya. Contohnya yaitu, Ayah
mengirimkan uang untuk anaknya yang sedang sekolah di Amerika, maka
terlebih dahulu Ayah harus membeli dolar atau menukar rupiah dengan dolar
Amerika.
3. Bank Umum dan Non Bank. Bank Umum dan non bank beroperasi di kedua
pasar antar bank dan nasabah. Mereka melayani nasabah yang ingin
bertransaksi valas. Mereka ini memperoleh keuntungan dengan membeli
valuta asing pada harga permintaan (bid) dan menjualnya kembali pada harga
yang sedikit lebih tinggi dari pada harga penawaran (offer).
4. Broker atau Perantara. Broker atau perantara adalah orang atau persahaan
yang tugasnya adalah menjadi perantara aktifitas transaksi valas.
5. Pemerintah. Pemerintah melakukan valas untuk berbagai tujuan antara lain
membayar cicilan hutang ke luar negeri, penerimaan hutang dari luar negeri
yang harus ditukar ke valuta sendiri.
6. Bank Sentral. Di banyak negara, Bank sentral tidak berada di bawah kendali
pemerintah, dia merupakan lembaga independen yang bertugas menstabilkan
perekonomian. Bank-bank sentral menggunakan pasar valas ini untuk
memperoleh cadangan devisa dan juga mempengaruhi harga di mana mata
uangnya diperdagangkan. Bank sentral mungkin melakukan langkah-langkah
yang semata-mata dimaksudkan untuk mendukung atau mendongkrak nilai
mata uang sendiri. Kebijakan atau strategi seperti ini banyak dilakukan oleh
bank-bank sentral.
7. Spekulator dan arbitrase. Mereka ini melakukan transaksi dalam pasar valuta
asing untuk memperoleh keuntungan. Arbitrase pada prinsipnya merupakan
suatu bentuk spekulasi yang terdapat dalam valuta asing, di mana mereka
membeli suatu valuta asing di suatu pusat keuangan kemudian menjualnya
kembali di pusat keuangan lain untuk memperoleh keuntungan. Kegiatan
arbitrase ini dimungkinkan mudah dan cepat dilakukan transfer dengan
menggunakan alat telegrafik antara pusat keuangan satu dengan pusat
keuangan dunia lainnya. Motif mereka ini berbeda dengan dealer, karena
spekulator dan arbitrase beroperasi hanya untuk kepentingan mereka sediri
tanpa suatu kebutuhan atau kewajiban untuk melayani klien atau untuk
memastikan kontinuitas pasar. Sedangkan dealer mencari keuntungan dari
spread antara permintaan dan penawaran dan hanya secara insedentil mencari
keuntungan dari perubahan-perubahan harga. Sementara spekulator mencari
seluruh keuntungan dari perubahan-perubahan harga secara simultan.
Spekulasi dan arbitrase dalam jumlah besar biasanya dilakukan oleh trader.
Bank-bank dalam hal ini dapat bertindak sebagai dealer, spekulator dan
arbitrase.
4. Jenis-Jenis Valuta Asing
1. Transaksi spot
Transaksi spot adalah pembelian dan penjualan valuta asing untuk
penyerahan pada saat itu (over the counter) atau penyelesaiannya paling
lambat dalam jangka waktu dua hari. Misalnya kontrak jual beli suatu mata
uang spot dilakukan atau ditutup pada tanggal 12 juni 2002, penyerahan dan
penyelesaian kontrak tersebut dilakukan pada tanggal 14 juni 2002. Apabila
tanggal 14 juni 2002 tersebut kebetulan hari libur atau hari sabtu, maka
penyelesaiannya adalah pada hari kerja berikutnya. Tanggal penyelesaian
transaksi seperti ini disebut value date. Penyerahan dana dalam transaksi spot
pada dasarnya dapat dilakukan dalam beberapa cara berikut ini:
a) Value today, yaitu penyerahan dana dilakukan pada tanggal (hari) yang
sama dengan tanggal (hari) diadakannya transaksi (kontrak).
b) Value tomorrow, yaitu penyerahan dana dilakukan pada hari kerja
berikutnya atau hari keja setelah diadakannya kontrak.
c) Value spot, yaitu penyerahan dilakukan dua hari kerja setelah tanggal
transaksi.
2. Transaksi Forward
Transaksi forward disebut juga dengan transaksi berjangka yang pada
prinsipnya adalah transaksi sejumlah mata uang tertentu dengan sejumlah
mata uang lainnya dengan penyerahan pada waktu yang akan datang. Kurs
ditetapkan pada waktu kontrak dilakukan, tetapi pembayaran dan penyerahan
baru dilakukan pada saat kontrak jatuh tempo. Transaksi forward ini biasanya
sering digunakan untuk tujuan hedging dan spekulasi. Hedging atau
pemagaran resiko yaitu transaksi yang dilakukan semata-mata untuk
menghindari resiko kerugian akibat terjadinya perubahan kurs.
2. Transaksi Swap
Transaksi swap adalah transaksi pembelian dan penjualan bersamaan
sejumlah tertentu mata uang dengan 2 tanggal valuta (penyerahan) yang
berbeda. Pembelian dan penjualan mata uang tersebut dilakukan pada bank
lain yang sama. Jenis transaksi swap yang umum adalah spot terhadap
forward. Dealer membeli suatu mata uang dengan transaksi spot dan secara
simultan menjual kembali jumlah yang sama kepada bank lain yang sama
dengan kontrak forward. Karena itu dilakukan sebagai suatu transaksi
tunggal dengan bank lain yang sama, dealer tidak akan menghadapi resiko
valas yang tidak diperkirakan. Seperti dijelaskan di atas bahwa pada
prinsipnya transaksi swap merupakan transaksi tukar pakai suatu mata uang
untuk jangka waktu tertentu. Transaksi swap berbeda dengan transaksi spot
atau forward. Dalam mekanisme swap, terjadi dua transaksi sekaligus dalam
waktu yang bersamaan yaitu menjual dan membeli atau menjual dan
membeli suatu mata uang yang sama. Sementara pada spot dan forward,
transaksi terjadi hanya sekali saja yaitu membeli dan menjual. Penggunaan
transaksi swap sebanarnya dimaksudkan untuk menjaga kemungkinan
timbulnya kerugian yang disebabkan oleh perubahan kurs suatu mata uang.
Swap dapat dilakukan antara nasabah dengan banknya dan antara bank
dengan bank Indonesia (disebut reswap). Pemberian fasilitas reswap tersebut
dilakukan
atas
dasar
swap
point
yang
ditetapkan
oleh
Bank
Indonesia.Transaksi swap antara bank dengan BI :
a. Swap likuiditas, yaitu swap yang dilakukan atas inisiatif BI untuk dana
yang berasal dari pinjaman luar negeri. Posisi likuiditas ini untuk setiap
bank maksimum 20 % dari modal bank tersebut.
b. Swap investasi, yaitu swap yang dilakukan atas inisiatif bank berdasarkan
swap bank dengan nasabah yang dananya berasal dari pinjaman luar
negeri untuk keperluan ivestasi di Indonesia.
Sebelum disebutkan jenis valuta asing selanjutnya, maka perlu diketahui dulu
perbedaan dari ketiga jenis transaksi di atas, yaitu bahwa transaksi swap
terjadi dua transaksi pada saat yang sama (double transaction), yaitu jual beli
atau beli dan jual. Sedangkan pada spot dan forward hanya terjadi satu kali
transaksin saja (one single transaction), yaitu jual saja beli saja.
3. Transaksi Option
Transaksi option yaitu kontrak untuk memperoleh hak dalam rangka
membeli atau hak untuk menjual yang tidak harus dilakukan atas sejumlah
unit valuta asing pada harga dan jangka waktu atau tanggal akhir tertentu.
Dari beberapa macam jenis dari valuta asing di atas, tidak semua
dipandang sesuai dengan syari’at Islam, dalam arti ada jenis yang dihukumi
haram, dan ada pula yang hukumnya sah menurut Islam. Adapun hukumhukumnya bisa dilihat dalam fatwa yang dikeluarkan fatwa Dewan Syari’ah
yang dituliskan dalam pembahasan terakhir.
5. Peranan valuta asing dalam perbankan syariah
Pasar valuta asing adalah suatu pasar dimana diperdagangkan mata uang
asing, guna menjembatani perbedaan selisih nilai mata uang asing di setiap
negara. Dengan aktifnya instrumen pasar valuta asing yang berbasis syariah, maka
perbankan syariah dapat melaksanakan fungsinya secara penuh, tidak saja dalam
memfasilitasi kegiatan perdagangan jangka pendek tetapi juga dalam berperan
mendukung investasi jangka panjang.
Struktur keuangan atas produk-produk jual beli berbasis syariah akan
memperkaya piranti keuangan syariah dan membuka partisipasi lebih besar dari
seluruh pelaku pasar valuta asing, tidak terkecuali non-muslim, karena pasar
tersebut bersifat terbuka.
6. Tujuan transaksi valuta asing
Ada beberapa tujuan dalam melakukan transaksi valuta asing yang dilakukan
para pelaku pasar valuta asing (Kasmir, 2001 : 215-220) :
1. Untuk transaksi pembayaran
Contoh : PT. Asia, Importir di Indonesia melakukan pembelian sejumlah
barang berupa mesin-mesin dari PT. Forche di Jerman, pembayaran dilakukan
tergantung sales contrac yang telah disepakati dan ditandatangani kedua belah
pihak apakah dengan euro atau dengan rupiah.
2. Mempertahankan daya beli
Kebijaksanaan
pemerintah
melakukan
devaluasi
bertujuan
untuk
meningkatkan ekspor sehingga barang-barang kita yang di luar negeri menjadi
lebih kompetitif. Dengan melakukan devaluasi, maka nilai tukar rupiah
diturunkan terhadap mata uang yang didevaluasikan. Akan tetapi bagi
pemegang rupiah di dalam negeri justru nilai tukar uangnya terhadap mata
uang asing malah menjadi turun akibatnya daya beli pun menurun jika
dibandingkan dengan valuta asing tersebut.
Contoh : Pemerintah melakukan devaluasi sebesar 50% terhadap nmata
uang U$D, sebelum devaluasi U$D 1,- setara dengan Rp. 9.000,-, maka nilai
setelah devaluasi adalah sebagai berikut :
Nilai sebelum devaluasi U$S 1,- = Rp. 9.000,Devaluasi 50% x Rp. 9.000,-
= Rp. 4.500,-
Nilai U$D 1,- setelah devalusi
= Rp.13.500,-
Jika sebelum devalusi anda memegang Rp. 90.000.000,- atau setara
dengan U$D 10.000,- maka setelah devaluasi menjadi :
Rp. 90.000.000,Rp. 13.500,-
= U$D 6.666,67,-
Jadi nilai uang tersebut turun jika tidak dibelikan valuta asing sebelum
devaluasi
3. Pengiriman uang ke luar negeri atau Multi Currency Remittance (Outward)
Pengiriman uang ke luar negeri atau Multi Currency Remittance
(Outward) merupakan jasa perbankan sebagai layanan transfer keluar valuta
asing dalam semua mata uang utama ke seluruh dunia
4. Mencari margin keuntungan
Yaitu dengan membeli valuta asing bank notes pada saat kurs turun
kemudian menjualnya kembali pada saat kurs naik, transaksi ini dilakukan
terhadap mata uang kuat yang cenderung naik terus serta lebih besar unsur
spekulasinya.
5. Kemudahan berbelanja
Biasanya digunakan bagi pelaku valuta asing yang suka berpergian ke luar
negeri sekedar traveling atau liburan.
7. Jual Beli Valuta Asing Dalam Perspektif Fiqh
Secara normative hukum Isalam, jual beli valuta asing yang dilakukan saat
sekarang tidaklah berubah fungsi uang dalam Islam. Karena al-sharf yang
dijadikan sebagai salah satu jasa perbankan tidaklah sama dengan perdagangan
uang atau memperjual belikan uang yang dalam banyak hal telah merugikan
masyarakat banyak, terutama dalam kasus Indonesia.
Perbedaan antara al-sharf dengan perdagangan uang atau jual beli uang,
terletak pada hukum yang diterapkan pada al-sharf. Walaupun al-sharf itu
merupakan salah satu variasi dari jual beli, akan tetapi ia tidak dihukumi dengan
konsep jual beli secara umum, karena dalam konsep jual beli boleh untuk di
tangguhkan. Sedangkan dalam variasi jual beli uang dengan uang memakai
hukum khusus yang tidak terdapat dalam bai’ mutlak (jual beli barang dengan
uang) dan bai’ muqayyadah (jual beli barang dengan barang) yaitu dalam hal time
settlement-nya. Artinya dalam aqad al-Sharf ini harus dilakukan secara tunai
(tidak boleh ditangguhkan).
Sebagaimana diketahui, bahwa jual beli itu bisa berupa ayn (goods dan
service) yang berarti barang dan jasa, atau juga berupa dayn (financial obligation).
Objek jual beli yang berupa dayn dengan dayn, hukumnya adalah tidak sah karena
hal tersebut telah menjadikan dayn sebagai ayn. Akan tetapi ketika kedua bentuk
dayn itu adalah berupa mata uang, maka ia adalah al-sharf yang hukumnya boleh
(mubah) dengan syarat kedua mata uang tersebut harus diserahkan secara
langsung (tunai) sebelum para pihak berpisah. Sehingga akad al-sharf ini bisa
disebut sebagai pengecualian dari aqad lain yang obyeknya berupa dayn.
Tujuan dari keharusan tunai dalam aqad al-sharf ini adalah untuk menghindari
adanya gharar yang terdapat dalam riba fadl. Gharar dalam aqad al-sharf ini akan
lenyap karena time of settlement-nya dilaksanakan secara tunai. Sedangkan dalam
aqad yang obyeknya berupa barang, maka selain masa penyerahannya yang harus
tunai, juga harus sama dalam hal kualitas dan kuantitasnya. Justru merupakan satu
hal yang tepat, ketika Ibn Taimiyah mensyaratkan harus dilakukan secara
simultan (taqabud) dalam transaksi perdagangan uang.
Sebagai salah satu variasi jual beli, al-sharf juga tentu saja harus memenuhi
persyaratan sebagaimana halnya variasi jual beli yang lain seperti bai’ mutlak dan
muqayyadah. Karena agar jual beli itu terbentuk dan sah diperlukan sejumlah
syarat, yaitu syarat adanya aqad jual beli dan syarat sahnya jual beli. Sehingga
aqad jual beli itu tidak saja ada dan terbentuk, akan tetapi juga sah secara hukum.
Dengan demikian hukum tentang al-sharf yang biasa diartikan dengan jual beli
valuta asing tidak diragukan lagi kebolehannya dari sudut fiqh Islam.
8. Dasar Hukum al-Sharf
Seperti yang telah diterangkan dalam pendahuluan bahwa setelah beberapa
jenis mata uang telah dibuat, maka mata uang kertas wajib menggantikan fungsi
emas dan perak, yang mana emas dan perak inilah yang dulu dipakai sebagai alat
tukar. Dengan demikian mata uang kertas menjadi satu-satunya satuan hitung dan
sarana perantara dalam tukar menukar. Mata uang kertas menjadi nilai harga
sebagaimana halnya emas dan perak. Oleh sebab itu hukum tukar menukar mata
uang kertas tunduk kepada peraturan al-sharf sebagaimana halnya emas dan
perak.
Praktek al-sharf hanya terjadi dalam transaksi jual beli, di mana praktek ini
diperbolehkan dalam Islam berdasarkan firman Allah QS. al-Baqarah ayat 275:
”Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan
seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila.
keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka Berkata
(berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah Telah
menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang Telah sampai
kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba),
Maka baginya apa yang Telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan
urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka
orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.”
Kemudian dalam hadis Rasulullah juga disebutkan bahwa:
‫ و ﺑﯿﻌﻮا اﻟﺬھﺐ ﺑﺎﻟﻔﻀﺔ‬,‫ اﻻ ﺳﻮاء ﺑﺴﻮاء‬,‫ واﻟﻔﻀﺔ ﺑﺎﻟﻔﻀﺔ‬,‫ﻻ ﺗﺒﯿﻌﻮا اﻟﺬھﺐ ﺑﺎﻟﺬھﺐ اﻻ ﺳﻮاء ﺑﺴﻮاء‬
(‫واﻟﻔﻀﺔ ﺑﺎﻟﺬھﺐ ﻛﯿﻒ ﺷﺌﺘﻢ )رواه ﺑﺨﺎري‬
“Janganlah engkau menjual emas dengan emas, kecuali seimbang,dan jangan
pula menjual perak dengan perak kecuali seimbang. Juallah emas dengan
perak atau perak dengan emas sesuka kalian.” (HR. Bukhari).
“Nabi melarang menjual perak dengan perak, emas dengan emas, kecuali
seimbang. Dan Nabi memerintahkan untuk menjual emas dengann perak
sesuka kami, dan menjual perak dengan emas sesuka kami”.
“Kami telah diperintahkan untuk membeli perak dengan emas sesuka kami
dan membeli emas dengan perak sesuka kami. Abu Bakrah berkata: beliau
(Rasulullah) ditanya oleh seorang laki-laki, lalu beliau menjawab, Harus tunai
(cash). Kemudian Abi Bakrah berkata, Demikianlah yang aku dengar.” (HR.
Abu Hurairah).
Dari beberapa Hadis di atas dipahami bahwa hadis pertama dan kedua
merupakan dalil tentang diperbolehkannya al-sharf serta tidak boleh adanya
penambahan antara suatu barang yang sejenis (emas dengan emas atau perak
dengan perak), karena kelebihan antara dua barang yang sejenis tersebut
merupakan riba fadl yang jelas-jelas dilarang oleh Islam. Sedangkan hadis
ketiga, selain bisa dijadikan dasar diperbolehkannya al-sharf, juga
mengisyaratkan bahwa kegiatan jual beli tersebut harus dalam bentuk tunai,
yaitu untuk menghindari terjadinya riba nasi’ah.
Dengan demikian dapat disimpulkan menurut Ahmad Hasan (2005 : 241)
bahwa jual beli mata uang (valuta asing) dibatasi oleh beberapa syarat, dan
syarat-syarat itu telah disebutkan oleh para ulama dalam penukaran emas dan
perak yang mana berlaku juga dalam penukaran mata uang yang ada pada
zaman setelahnya.
9. Syarat-Syarat Dan Batasan-Batasan Al-sharf
1. Serah terima sebelum iftirak (berpisah)
Maksudnya yaitu transaksi tukar menukar dilakukan sebelum kedua
belah pihak berpisah. Hal ini berlaku pada penukaran mata uang yang
berjenis sama maupun yang berbeda, oleh karena itu kedua belah pihak
harus melakukan serah terima sebelum keduanya berpisah meninggalkan
tempat transaksi dan tidak boleh menunda pembayaran salah satu antara
keduanya. Apabila persyaratan ini tidak dipenuhi, maka jelas hukumnya
tidak sah.
Hal ini sesuai dengan dalil yang bersumber dari hadis nabi seperti
yang telah disebutkan terakhir di atas yang diriwayatkan oleh Abu
Hurairah. Begitu pula dengan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Sa’ad al-
Khudhri, bahwasannya Rasulullah bersabda: ”janganlah kalian menjual
emas dengan emas, kecuali sama rata, dan janganlah melebihkan salah
satu diantara keduanya. Dan janganlah kalian menjual perak dengan
perak, kecuali sama rata, dan janganlah kalian melebihkan salah satu
antara keduanya. Dan janganlah kalian menjual -emas dan perak- yang
telah ada dengan yang belum ada.”
Namun terdapat beberapa interpretasi yang berbeda di kalangan ulama
mengenai istilah iftirak (Ivan Susanto, 2007 : 2-3), yaitu:
a. Jumhur ulama seperti ulama Hanafi, Syafi’i dan Hambali sepakat
bahwa yang dimaksud iftirak adalah apabila kedua belah pihak telah
meninggalkan tempat transaksi. Apabila kedua belah pihak belum
beranjak dari tempat maka tidak dikatakan iftirak meski dalam waktu
yang lama. Pengertian ini didasari kepada Umar bin Khatab ketika
meriwayatkan sebuah hadis, lalu beliau berkata kepada thalhah: ”demi
Tuhan, jangna kamu tinggalkan orang itu sebelum menerima sesuatu
darinya.” dalil ini menunjukkan bahwa yang dijadikan standar iftirak
adalah pisah badan.
b. Ulama Maliki berpendapat bahwa iftirak badan bukan merupakan ukuran
sah atau tidaknya suatu transaksi. Yang jadi ukuran yaitu serah terima
harus dilakukan ketika pengucapan ijab dan kabul berlangsung.
Maksudnya, jika serah terima dilakukan setelah ijab kabul, maka transaksi
tersebut dianggap tidak sah, sekalipun kedua belah pihak belum berpisah
badan. Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah saw.: ” emas dengan
emas adalah riba, kecuali ha wa ha (ucapan ambil dan bayar).” hal ini
menunjukkan bahwa serah terima harus dilakukan seketika bersamaan
dengan ijab kabul.
2. Al-Tamatsul (sama rata)
Pertukaran uang yang nilainya tidak sama rata maka hukumnya haram,
syarat ini berlaku pada pertukaran uang yang satu atau sama jenis. Sedangkan
pertukaran uang yang jenisnya berbeda, maka dibolehkan al-tafadhul.
Misalnya yaitu menukar mata uang dolar Amerika dengan dolar Amerika,
maka nilainya harus sama. Namun apabila menukar mata uang dolar Amerika
dengan rupiah, maka tidak disyaratkan al-tamatsul. hal ini praktis
diperbolehkan mengingat nilai tukar mata uang dimasing-masing negara di
dunia ini berbeda. Dan apabila diteliti, hanya ada beberapa mata uang tertentu
yang populer dan menjadi mata uang penggerak di perekonomian dunia, dan
tentunya masing-masing nilai mata uang itu sangat tinggi nilainya.
3. Pembayaran Dengan Tunai
Tidak sah huukmnya apabila di dalam transaksi pertukaran uang terdapat
penundaan pembayaran, baik penundaan tersebut berasal dari satu pihak atau
disepakati oleh kedua belah pihak. Syarat ini terlepas dari apakah pertukaran
itu antara mata uang yang sejenis maupun mata uang yang berbeda.
4. Tidak Mengandung Akad Khiyar Syarat
Apabila terdapat khiyar syarat pada akad al-sharf baik syarat tersebut dari
sebelah pihak maupun dari kedua belah pihak, maka menurut jumhur ulama
hukumnya tidak sah. Sebab salah satu syarat sah transaksi adalah serah terima,
sementara khiyar syarat menjadi kendala untuk kepemilikan sempurna. Hal ini
tentunya dapat mengurangi makna kesempurnaan serah terima. Menurut
ulama Hambali, al-sharf dianggap tetap sah, sedangkan khiyar syaratnya
menjadi sia-sia.
Selain beberapa syarat di atas, disebutkan pula batasan-batasan pelaksanaan
valuta asing yang juga didasarkan dari hadis-hadis yang dijadikan dasar bolehnya
jual beli valuta asing. Batasan-batasan tersebut adalah:
1. Motif pertukaran adalah rangka mendukung transaksi komersil, yaitu
transaksi perdagangan barang dan jasa antar bangsa, bukan dalam rangka
spekulasi.
2. Transaksi berjangka harus dilakukan dengan pihak-pihak yang diyakini
mampu menyediakan valuta asing yang dipertukarkan.
3. Tidak dibenarkan menjual barang yang belum dikuasai, atau dengan kata lain
tidak dibenarkan jual beli tanpa hak kepemilikan (bai’ ainiah).
Seseorang yang melakukan perdagangan valuta asing wajib memperhatikan
batasan tersebut dan wajib menjauhkan diri dari pasar gelap. Tidaklah dibenarkan
pedagang valas berpendapat bahwa “agama membenarkan penukaran mata uang
dengan syarat dilakukan secara tunai, tetapi mereka mengabaikan kepentingan
masyarakat banyak.” Jika mereka melakukan penyimpangan karena melakukan
pemerasan, maka yang semula halal akan menjadi terlarang karena dapat
merugikan.
Dalam hal perdagangan mata uang asing ini, Imam al-Subki sebagaimana
dikutip Sura’i mengatakan bahwa pendapat yang populer pada mazhab Syafi’I
adalah boleh hukumnya melakukan transaksi dengan mata uang dirham yang
tengah berlaku walaupun ditukar dengan dirham biasa, sedangkan dirham sebagai
mata uang negara yang mempunyai cap, maka transaksi semacam ini dibolehkan.
Kemudian ia berkata berlakunya transaksi dengan mempertukarkan mata uang
yang tidak sejenis tidaklah ada halangannya, asalkan secara tunai, Namun
demikian apakah diperbolehkan mempertukarkan mata uang yang sama namanya
tetapi berbeda negara yang memilikinya seperti dinar Marokko dengan dinar
Maghribi. Dalam hal ini Imam al-Subki tidak menemukan adanya riwayat yang
melarang tetapi pendapat yang terkuat adalah membolehkannya.
Dari pernyataan di atas dapat dipahami bahwa tukar menukar uang yang satu
dengan uang yang lain diperbolehkan. Begitu pula memperdagangkan mata uang
asalkan nama dan mata uangnya berlainan atau nilainya saja yang berlainan,
namun harus dilakukan secara tunai.
Dalam hal memperjualbelikan mata valuta asing yang tidak dilakukan secara
tunai, Yusuf al-Qardhawi mengatakan tidak diperbolehkan. Oleh karena itu tidak
sah jual beli uang dengan sistem penangguhan, bahkan harus dilakukan secara
tunai ketika di tempat transaksi. Hanya saja yang menjadi kriteria tunainya
sesuatu itu menurut ukurannya sendiri-diri. Dalam hal ni menurut Yusuf alQardhawi syara’ telah menyerahkan ukuran tersebut kepada adat kebiasaan yang
berlaku di suatu masyarakat. Walaupun demikian, realita tunai ini juga mengikuti
hukum darurat yang diukur sesuai dengan ukurannya. Justru itu umat Islam tidak
diperkenankan untuk menjual apa yang dibelinya kecuali setelah diterimanya
terlebih dahulu barang itu menurut adat kebiasaan yang berlaku.
Berdasarkan beberapa pendapat para ahli hukum Islam di atas, dapatlah
disimpulkan bahwa pada dasarnya mereka sepakat tentang bolehnya memperjual
belikan valuta asing dari jenis mata uang apapun dan dari negara manapun. Tetapi
juga mereka sepakat bahwa transaksi valuta asing harus dilakukan secara tunai
dan bertangguh. Hal ini didasarkan pada ketentuan syari’ah seperti yang
dijelaskan oleh hadis hadis Nabi di atas.
Ada hal penting yang tersirat dari hadis hadis Nabi maupun penafsiran para
ahli hukum Islam tentang perdagangan valuta asing ini, yaitu bertujuan agar tidak
ada pihak-pihak yang di rugikan dan dizalimi, dan tidak mendatangkan mudharat
bagi masyarakat banyak. Persoalan yang merupakan masalah yang berkaitan
dengan hajat orang banyak terhadap kebutuhan ekonomi. Oleh sebab itu, dapat
dimengerti mafhum mukhalafah dari hikmah yang terkandung dari ketentuan di
atas. Di satu sisi pertukaran dan perdagangan valuta asing merupakan suatu
kebutuhan untuk perdagangan internasional dan kegiatan ekonomi yang
berhubungan dengan negara lain. Akan tetapi di sisi lain, harus dapat pula
menghindarkan diri dari hal-hal yang dilarang syari’ah dan perilaku yang
mendatangkan kemudharatan.
Sesuai dengan maqashid syari’ah yang salah satu prinsipnya mengenai aspek
hajjiyah dalam pengertian segala yang menyulitkan dan menjadi beban bagi
kehidupan harus dihindari, maka sesungguhnya elastisitas hukum Islam mengenai
perdagangan valuta asing dapat dilihat dari sisi lain. Pada kasus perdagangan
valuta asing saat sekarang, yang notabene tidak secara tunai dan tidak simultan
penyerahan dana ketika transaksi disepakati, merupakan fenomena yang tidak
sesuai dengan ketentuan syari’ah. Ada baiknya ketentuan harus tunai dan
simultan itu untuk ditinjau kembali secara mendalam, karena perkembangan
dunia modern saat ini dengan kemajuan teknologi yang sudah sedemikian
pesatnya, yang seandainya ketentuan tersebut tidak memiliki sifat elastisitas
sesuai dengan perubahan waktu, tempat, situasi dan kondisi, maka justru akan
mendatangkankesulitan, sedangkan nafyul haraj dalam istilah ushul fiqh
merupakan suatu keniscayaan.
Persoalan perdagangan valuta asing telah menjadi sangat populer, umum dan
hampir dilakukan serta diterima sebagai suatu transaksi yang dipraktekkan di
seluruh dunia. Tidak ada sistem ekonomi suatu negara mengalami kemajuan
tanpa behubungan dengan perdagangan valuta asing. Oleh sebab itu selayaknya
perdagangan valuta asing diterima dan diadopsi sebagai suatu kebutuhan di
bidang akonomi dan bermanfaat serta sulit sekali dipisahkan dari dunia modern.
Afzalur Rahman mengutip pendapat Imam Hanafi, bahwa jika suatu bisnis secara
umum diterima dan dilakukan oleh orang banyak, maka bisnis tersebut menjadi
halal, karena merupakan kebutuhan. Akan tetapi jika perdagangan valuta asing
tersebut dilakukan dengan tujuan untuk spekulasi, dan merusak sistem
prekonomian suatu negara, maka hal inilah yang sangat bertentangan dengan
tujuan syari’ah. Solusi yang terbaik untuk hal itu adalah mengadopsi dan
menyesuaikan sistem perdagangan valuta asing yang ada dengan prinsip-prinsip
yuridis syar’i (hukum Islam), dan penulis sepakat dengan pendapat Yusuf alQardhawi dan Imam Malik batasan tunai dan tangguh diserahkan kepada adat
kebiasaan masyarakat sesuai dengan kaedah ushul fiqh al adatu muhakamah.
10. Contoh-Contoh Pelaksanaan Valuta Asing
Berikut ini adalah contoh-contoh yang diambil dari salah satu literatur yang
khusus membahas masalah-masalah jual beli yang dipertanyakan oleh orangorang yang ingin mendapatkan hukum yang benar sesuai dengan syari’at Islam,
dan jawaban yang diberikan merupakan hasil dari musyawarah yang dilakukan
oleh kelompok bahstul masail terkenal.
1. Seorang dokter berkebangsaan Mesir bekerja si Saudi menabung sebagian
uang dari gajinya disalah satu Bank di Saudi. Saat dia akan pulang, dia berniat
untuk menukar mata uang Saudi ke pound Mesir. Di mesir dia akan mendapat
dua hal yaitu menukarkannya di bank atau di money changer. Di Mesir nilai
tukar satu dolar mencapai 80 qirsy mesir. Jika dia menukarkannya kepada
pedagang mata uang maka harga satu dolar bisa mencapai 120 qirasy mesir.
Apakah hal tersebut haram?. Jawabannya adalah apabila dia menukarkan uang
kepada pedagang valas dengan harga 120 qirsy dari jenis yang berlainan,
maka hukumnya halal.
2. Ada beberapa orang al-Jazair yang pergi ke prancis. Lalu mereka mengambil
mata uang Perancis dari para pekerja al-Jazair di sana, 1000 franc Prancis
ditukar dengan 2000 dinar aljazair dan terkadang bisa lebih. Ketika mereka
kembali ke aljazair, mereka menyerahkan uang tersebut kepada keluarga para
pekerja dengan mata uang aljazair. Artinya penukaran matauang tersebut tidak
berlangsung secara tunai. Dan perlu diketahui bahwa mata uang aljazair lebih
mahal daripada prancis. Jika masalahnya seperti ini maka hukumnya tidak
diperbolehkan menjual sebagiannya dengan sebagian lainnya kecuali secara
tunai (Ahmad bin ’abdurrazzaq Ad-Duwaisy, 2005 : 455-456).
3. Sesorang menerima gaji dengan riyal Saudi, lalu dia menukarnya dengan riyal
Sudan. Sedangkan satu riyal Saudi sama dengan 3 riyal Sudan. Maka hal ini
dinilai boleh yaitu menukar uang kertas suatu Negara ke uang kertas Negara
lain meskipun objek penukaran berbeda nilainya. Namun dengan syarat bahwa
serah terima dilaksanakan di tempat transaksi.
B. Bank Syariah
1. Pengertian Bank Syariah
Bank syariah adalah bank yang dalam menjalankan operasinya dengan system
hukum islam atau bank yang menjalankan usahanya mengacu kepada ketentuanketentuan Al-qur’an dan Hadist. Fungsinya sama dengan bank konvensional yaitu
menerima simpanan uang, meminjamkan uang dan jasa keuangan lainnya, tetapi
yang membedakan adalah cara operasi, produk, kesepakatan dan sistemnya.
Bank syariah menggunakan prinsip-prinsip islami dalam operasionalnya, yaitu
dengan menggunakan prinsip yang menerapkan saling membantu dan bekerja
sama antara anggota masyarakat dalam kebaikan dan prinsip menghindari
membiarkan uang menganggur dan tidak berputar dalam transaksi yang
bermanfaat bagi masyarakat umum.
Bank syariah juga tidak menerapkan hal-hal yang melanggar hukum islam, hal
ini menyebabkan perbedaan yang mencolok dengan bank konvensional dimana
pada bank tersebut, unsur riba sangat kelihatan dengan menetapkan besarnya
bunga, baik bunga pinjaman maupun bunga tabungan yang akan menyebabkan
ketidakadilan antara nasabah dengan bank. Sehingga jika digunakan hitungan
secara kasar atas hasil yang diperoleh antara bank konvensional dengan bank
syariah, akan terlihat perbedaan yang mencolok.
Menabung adalah tindakan yang dianjurkan oleh islam, karena dengan
menabung, berarti seorang muslim telah mempersiapkan diri untuk pelaksanaan
perencanaan masa depan sekaligus menghadapi hal-hal yang tidak diinginkan
(Muhammad, 2001 : 153).
Hal tersebut didasarkan pada firman Allah SWT dalam Al-qur’an sebagai
berikut :
Artinya : “Dan, hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya
meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir
terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa
kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (annisaa’:9)
Adapun pendapat lain yang berasal dari Amin Aziz, Bank berdasarkan syariah
Islam yang berarti operasi perbankan mengikuti tata cara berusaha dan perjanjian
berusaha berdasarkan Al-qur’an dan Sunnah Rasulallah Muhammad SAW.
Berdasarkan peraturan Bank Indonesia, Bank umum syariah wajib memiliki
Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang ditempatkan dikantor pusat bank tersebut.
Anggota DPS harus terdiri dari anggota pakar dibidang syariah muamalah yang
ditunjukkan oleh Dewan Syariah Nasional (DSN). Kedudukan Dewan Pengawas
Syariah dalam organisasi baik berdasarkan prinsip bagi hasil bersifat independen
dan terpisah dari kepengurusan bank sehingga tidak mempunyai akses terhadap
operasional bank. Anggota DPS harus terdiri dari para pakar dibidang syariah
muamalah yang juga memiliki pengetahuan umum dibidang perbankan.
Persyaratan anggota DPS diatur dan ditetapkan oleh DSN.
Dalam kegiatan sehari-hari, Bank syariah juga wajib mengukuti semua fatwa
Dewan Syariah Nasional (DSN), yakni satu-satuya dewan yang mempunyai
kewenangan mengeluarkan fatwa atau jenis-jenis kegiatan, produk dan jasa
keuangan syariah, serta mengawasi penerapan fatwa dimaksud oleh lembagalembaga keuangan syariah di Indonesia. Sampai saat ini DSN telah memfatwakan
sebanyak 43 fatwa, melingkupi fatwa mengenai produk perbankan syariah,
lembaga keuangan non-bank seperti asuransi, pasar modal, gadai serta berbagai
fatwa penunjang transaksi dan akad lembaga keuangan syariah.
2. Tujuan bank syariah
Pada dasarnya operasi Bank Syariah (Bank Islam) tidak jauh berbeda dengan
bank konvensional (bank komersil/umum) yaitu sebagai lembaga perantara. Bank
Syariah berperan sebagai lembaga perantara antara satuan-satuan kelompok
masyarakat atau unit-unit ekonomi yang mengalami kelebihan dana dengan unitunit lain yang mengalami kekurangan dana. Melalui bank kelebihan dana tersebut
dapat disalurkan kepada pihak yang memerlukan dan memberikan manfaat
kepada kedua belah pihak.
Bank berbasis bunga melaksanakan peran tersebut melalui kegiatannya
sebagai peminjam dan pemberi pinjaman. Para pemilik dana tertarik untuk
menyimpan dana di bank berdasarkan tingkat bunga yang dijanjikan. Demikian
pula bank memberikan pinjaman kepada pihak-pihak yang memerlukan dana
berdasarkan kemampuan mereka membayar tingkat bunga tertentu. Hubungan
antara bank dengan nasabahnya adalah hubungan antara kreditur dengan debitur.
Berbeda dengan bank konvensional, hubungan antara bank syariah dengan
nasabahnya bukan hubungan antara debitur dengan kreditur, melainkan hubungan
kemitraan penyandang dana dengan pengelola dana. Oleh karena itu, tingkat laba
bank syariah bukan saja berpengaruh terhadap tingkat bagi hasil untuk para
pemegang saham, tetapi juga berpengaruh terhadap bagi hasil yang dapat
diberikan kepada nasabah penyimpan dana. Dengan demikian kemampuan
manajemen untuk melaksanakan fungsinya sebagai penyimpan harta, pengusaha
dan pengelola investasi yang baik akan sangat menentukan kualitas usahanya
sebagai lembaga perantara dan kemampuannya menghasilkan laba.
3. Prinsip-Prinsip Dasar Operasional Bank Syariah
Adapun prinsip-prinsip pokok yang menyebabkan antara bank umum dan
syariah tidak sama adalah bahwa pemasukan bank syariah tidak berasal dari
selisih tingkat bunga dari pembiayaan (kredit) yang disalurkan. Namun
pemasukan itu tergantung dari usaha peminjaman (debitur).
Aktivitas keuangan dan perbankan dapat dipandang sebagai wahana bagi
masyarakat modern untuk membawa mereka kepada, paling tidak, pelaksanaan
dua ajaran Al Qur’an yaitu :

Prinsip At Ta’awun, yaitu saling membantu dan saling bekerja sama di antara
anggota masyarakat untuk kebaikan, sebagaimana dinyatakan dalam Al
Qur’an :
“….dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan
ketaqwaan, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan
pelanggaran…” (QS 5:2).

Prinsip
menghindari
Al Iktinaz,
yaitu
menahan uang (dana)
dan
membiarkannya menganggur yang tidak berputar dalam transaksi yang
bermanfaat bagi masyarakat umum, sebagaimana yang dinyatakan dalam Al
Qur’an :
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta
sesamamu dengan jalan batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku
dengan suka sama suka diantara kamu…” (QS 4:29).
Oleh karena itu mekanisme operasional perbankan syariah dijalankan dengan
menggunakan dengan piranti-piranti keuangan yang mendasarkan pada prinsipprinsip berikut ini :
a. Prinsip titipan atau pinjaman
Prinsip ini terdiri dari : Al-Wadiah maksudnya adalah titipan murni dari satu
pihak ke pihak lain, baik individu maupun badan hukum, yang harus dijaga
dan dikembalikan kapan saja.
b. Prinsip bagi hasil
1. Mudharabah
Yaitu bank memberikan modal, para nasabah bank memberikan
keahlian mereka, sedangkan keuntungan dibagi menurut rasio yang
disetujui. Ada dua tipe mudharabah, yaitu mutlaqah (tidak terikat) dan
muqayyadah (terikat).

Mudharabah mutlaqah: pemilik dana memberikan keleluasaan penuh
kepada pengelola untuk menggunakan dana tersebut dalam usaha yang
dianggapnya baik dan menguntungkan pengelola bertanggung jawab
untuk mengelola usaha sesuai dengan praktek kebiasaan usaha normal
yang sehat (uruf).

Mudharabah muqayyadah: pemilik dana menentukan syarat dan
pembatasan kepada pengelola dalam penggunaan dana tersebut dengan
jangka waktu, tempat, jenis usaha dan sebagainya. Pengelola
menggunakan modal tersebut dengan tujuan yang dinyatakan secara
khusus, yaitu untuk menghasilkan keuntungan.
2. Murabahah
Dengan operasi murabahah, para klien bank membeli satu komoditi
menurut rincian tertentu dan menghendaki agar bank mengirimkannya
pada mereka berdasarkan imbuhan harga teretentu menurut persetujuan
mula antara kedua pihak.
3. Musharakah
Dengan musyarakah, baik bank maupun klien menjadi mitra usaha
dengan menyumbang modal dalam berbagai tingkatan dan mencapai kata
sepakat atas rasio laba dimuka untuk sesuatu waktu tertentu.
c. Prinsip Jual Beli (Al Bai’)
Pengertian jual beli meliputi berbagai akad pertukaran antara suatu barang
dan jasa dalam jumlah tertentu atas barang dan jasa lainnya. Penyerahan
jumlah atau harga barang dan jasa tersebut dapat dilakukan dengan segera
ataupun secara tangguh. Oleh karenanya, untuk memenuhi kebutuhan
pembiayaan syarat-syarat Al Bai’ menyangkut berbagai tipe jual beli tangguh.
Dalam fiqh muamalah, telah diidentifikasi dam diuraikan macam-macam
jual beli, termasuk jenis jual beli yang dilarang umat islam. Macam atau jenis
jual beli itu antara lain:
1. Bai’ al mutlaqah yaitu pertukaran barang atau jasa dengan uang. Uang
berperan sebagai alat tukar. Jual beli semacam ini menjiwai semua
produk-produk lembaga keuangan yang didasarkan atas prinsip jual beli.
2. Bai’ al muqayyadah yaitu jual beli dimana pertukaran terjadi antara barang
dengan barang (barter). Aplikasi jual beli semacam ini dapat dilakukan
sebagai jaln keluar bagi transaksi eksport yang tidak dapat menghasilkan
valuta asing (devisa). Karena itu dilakukan pertukaran barang dengan
barang yang dinilai dalam valuta asing. Transaksi semacam ini lazim
disebut counter trade.
3. Bai’ al sharf yaitu jual beli atau pertukaran antara satu mata uang asing
dengan mata uang asing lain, seperti antara rupiah denga dolar, dolar
dengan yen dan sebagaimya. Mata uang asing yang diperjual belikan itu
dapat berupa uang kartal (bank notes) atau berupa uang giral (telegrafic
transfer atau mail transfer).
4. Bai’ al murabahah adalah akad jual beli barang tertentu dalam transaksi
jual beli tersebut penjual menyebutkan dengan jelas barang yang diperjual
belikan, ternasuk harga pembelian dan keuntungan yang diambil.
5. Bai’ al musawamah adalah jual beli biasa, dimana penjual tidak memberi
tahukan harga pokok dan keuntungan yang didapatnya.
6. Bai’ al muwadha’ah yaitu jual beli dimana penjual melakukan penjualan
dengan harga yang lebih rendah daripada harga pasar atau dengan
potongan (discount). Penjualan semacam ini biasanya hanya dilakukan
untuk barang-narang atau aktifa tetap yang nilai bukunya sudah sangat
rendah.
7. Bai’ as salam adalah akad jual beli dimana pembeli membayar uang
(sebesar harga) atas barang yang telah disebutkan spesifikasinya,
sedangkan barang yang diperjual belikan itu akan diserahkan kemudian,
yaitu pada tanggal yang disepakati. Bai’ as salam biasanya dilakukan
untuk produk-produk pertanian jangka pendek.
8. Bai’ al istishna’ hampir sama dengan bai’ as salam yaitu kontrak jual beli
dimana harga atas barang tersebut dibayar lebih dulu tetapi dapat diangsur
sesuai dengan jadwal dan syarat-syarat yang disepakati bersama,
sedangkan barang yang dibeli diproduksi dan diserahkan kemudian.
d. Prinsip Sewa dan Sewa-Beli
Sewa (ijarah) dan sewa-beli (ijarah wa iqtina’ atau disebut juga ijarah
muntahiyah bi tamlik) oleh para ulama dianggap sebagai model pembiayaan
yang dibenarkan oleh syariah islam. Al ijarah atau sewa adalah kontrak yang
melibatkan suatu barang (sebagai harga) dengan jasa atau manfaat atas barang
lainnya.
e. Prinsip Jasa
1. Al-Wakalah adalah penyerahan, pendelegasian atau pemberian mandat.
2.
Al-Kafalah adalah jaminan yang diberikan oleh penanggung kepada pihak
ketiga untuk memenuhi kewajiban pihak kedua atau yang ditanggung atau
dalam pengertian lain adalah mengalihkan tanggung jawab seseorang yang
dijamin dengan berpegang pada tanggung jawab orang lain sebagai
penjamin.
3.
Al-Hawalah adalah pengalihan hutang dari orang yang berutang kepada
orang lain yang wajib menanggungnya.
4.
Ar-rahn adalah menahan salah satu harta milik si peminjam sebagai
jaminan atas pinjaman yang diterimanya, barang yang ditahan tersebut
memiliki nilai ekonomis. Dengan demikian pihak yang menahan
memperoleh jaminan untuk dapat mengambil kembali seluruh atau
sebagian piutangnya.
5. Al-Qordh adalah pemberian harta kepada orang lain yang dapat ditagih
atau diminta kembali atau dengan kata lain meminjamkan
C. Laba
1. Pengertian laba
Laba adalah kenaikan modal (aktiva bersih) yang berasal dari transaksi
sampingan atau transaksi yang jarang terjadi dari suatu badan usaha, dan dari
semua transaksi atau kejadian lain yang mempunyai badan usaha selama satu
periode, kecuali yang timbul dari pendapatan (revenue) atau investasi pemilik
(Baridwan, 1992: 55).
Pengertian laba secara umum adalah selisih dari pendapatan di atas biayabiayanya dalam jangka waktu (perioda) tertentu. Laba sering digunakan sebagai
suatu dasar untuk pengenaan pajak, kebijakan deviden, pedoman investasi serta
pengambilan keputusan dan unsur prediksi (Harnanto, 2003: 444).
Dalam teori ekonomi juga dikenal adanya istilah laba, akan tetapi pengertian
laba di dalam teori ekonomi berbeda dengan pengertian laba menurut akuntansi.
Dalam teori ekonomi, para ekonom mengartikan laba sebagai suatu kenaikan
dalam kekayaan perusahaan, sedangkan dalam akuntansi, laba adalah perbedaan
pendapatan yang direalisasi dari transaksi yang terjadi pada waktu dibandingkan
dengan biaya-biaya yang dikeluarkan pada periode tertentu (Harahap, 1997).
2. Jenis-jenis laba
a. Laba kotor (gross profit)
Laba kotor menurut Marianus (2000 : 107 ) adalah : “ Kelebihan
pendapatan atas penjualan individualnya sama dengan harga jual dikurangi
biaya untuk mendapatkan dan mempersiapkan barang untuk dijual tetapi
sebelum dikurangi dengan beban penjualan dan administrasi”.
b. Laba usaha (income from operation)
Menurut Waren (2000 : 250) jilid 1, laba usaha adalah : “Kelebihan laba
kotor terhadap total beban operasi disebut laba usaha atau laba dari operasi.
Rasio atau perbandingan laba operasi terhadap total aktiva dan terhadap
penjualan bersih merupakan faktor penting dalam menilai efisiensi dan
profitabilitas operasi”.
c. Laba bersih sebelum pajak (net income before tax)
“Laba bersih sebelum pajak adalah kelebihan seluruh pendapatan atas
seluruh biaya untuk suatu periode tertentu sebelum dikurangi pajak
penghasilan yang disajikan dalam laporan laba rugi”.
d.
Laba bersih setelah pajak (net income after tax)
“Laba bersih setelah pajak atau Earning after tax (EAT) adalah kelebihan
seluruh pendapatan atas seluruh biaya untuk suatu periode tertentu. Jumlah
tersebut kemudian dikurangi pajak penghasilan yang harus disetorkan ke kas
Negara”.
e. Laba perlembar saham (Earning Per Share /EPS)
Menurut Marianus (2000 : 46), Laba per lembar saham aadalah : “Laba
bersih untuk satu tahun dibagi dengan jumlah rata-rata lembar saham yang
beredar selama setahun itu”.
f. Laba ditahan (retaired earnings)
Menurut Marianus (2000 : 118), Laba ditahan adalah : “Jumlah laba yang
ditahan dalam perusahaan dan tidak didistribusikan kepada para pemegang
saham dalam bentuk deviden”.
3. Konsep Laba bersih
Konsep laba bersih menurut Ahmed Belkoui (2000:250) terdiri dari :
a. Konsep laba bersih pada tingkat sintaksis
Isitlah sintaksis berkaitan dengan peraturan kelogisan dan konsistensi
hubungan di antara bagian-bagian dalam informasi keuangan. Dalam konteks
laba adalah peraturan tentang kelogisan dan konsistensinya penentuan laba.
Ada dua pendekatan yang dipakai dalam mengukur laba bersih yakni :
1. Pendekatan transaksi (transaction approach), yang melibatkan pencatatan
perubahan penilaian aktiva dan kewajiban yang hanya dihasilkan
transaksi, baik yang bersifat eksternal maupun internal.
2. Pendekatan kegiatan (activities approach) yang memusatkan perhatian
pada penjelasan aktivitas suatu perusahaan bukan pada pelaporan
transaksi. Diandaikan laba timbul apabila transaksi atau peristiwa tertentu
terjadi. Contohnya , laba aktivtitas dicatat selana proses perencanaan,
pembelian, produksi, penjualan, penagihan.
b. Konsep laba bersih pada tingkat sematik
Istilah semantis merujuk kepada makna suatu konsep yang digunakan
dalam informasi keuangan dan memberikan interpretatif (penilaian) mengenai
laba bersih dan alternative-alternatif bagi pengukurannya juga akan
disinggung batasan-batasan praktis
c. Konsep laba bersih pada tingkat pragmatis
Pragmatis mengacu pada dampak suatu konsep terhadap pemakainya. Konsep
pragmatis laba berkaitan dengan proses keputusan investor dan kreditor,
reaksi harga saham dalam pasar modal terhadap pelaporan laba, keputusan
manajemen tentang pengeluaran modal, dan reaksi umpan balik manajemen
dan akuntan.
Dari penjelasan diatas terlihat bahwa laba pada akhirnya akan menambah
modal perusahaan. Tetapi tidak jarang perusahaan menahan atau menyisihkan
laba untuk tujuan pengembangan. Laba secara operasional membuat pengukuran
aktiva dan kewajiban yang dikenal sebagai aktiva bersih atau ekuitas, yang akan
meningkat setelah semua investasi atau distribusi ekuitas yang baru dieleminasi,
maka laba dapat dihasilkan. Tetapi apabila tidak ada perubahan maka tidak ada
laba, jika bagian ekuitas menurun akan terjadi laba yang negatif atau rugi.
Dengan mengenakan suatu tingkat target laba yang diperoleh dari
pengalaman, pengharapan, atau perbandingan maka akan dapat ditetapkan standar
laba relatif yang dianggap memadai bagi perusahaan. Dalam menghitung
besarnya kenaikan laba dapat dilihat dari nilai laba bersih. Oleh karena itu untuk
memungkinkan analisa yang baik terhadap laporan keuangan tersebut serta agar
bersifat komunikatif, terutama tentang laba maka dalam penyusunan laporan
keuangan konsep laba yang disajikan harus jelas.
D. Pengaruh Valuta asing terhadap Laba bersih
1. Manajemen Resiko Keuangan
Tujuan utama manajemen risiko keuangan adalah untuk meminimalkan
potensi kerugian yang timbul dari perubahan tak terduga dalam harga mata uang,
kredit, komoditas, dan ekuitas. Resiko volatilitas harga yang dihadapi ini disebut
dengan resiko pasar. Risiko pasar terdapat dalam berbagai bentuk.
2. Peranan Akuntansi
Akuntansi manajemen memainkan peran yang penting dalam proses risiko
manajemen. Mereka membantu dalam mengidentifikasikan eksposur pasar,
mengkuantifikasi keseimbangan yang terkait dengan strategi respons risiko
alternative, mengukur potensi yang dihadapi perusahaan terhadap risiko tertentu,
mencatat produk lindung nilai tertentu dan mengevalusi program lindung nilai.
Kerangka dasar yang bermanfaat untuk mengidentifikasi berbagai jenis risiko
market berpotensi dapat disebut sebagai pemetaan risiko. Kerangka ini diawali
dengan pengamatan atas hubungan berbagai risiko pasar terhadap pemicu nilai
suatu perusahaan dan pesaingnya. Pemicu nilai mengacu pada kondisi keuangan
dan pos-pos kinerja operasi keuangan utama yang mempengaruhi nilai suatu
perusahaan. Risiko pasar mencakup risiko kurs valuta asing dan suku bunga, serta
risiko harga komoditas dan ekuitas. Mata uang Negara sumber pembelian
mengalami penurunan nilai relative terhadap mata uang Negara domnestik, maka
perubahan ini dapat menyebabkan pesaing domestic mampu menjual dengan
harga yang lebih rendah, ini disebut sebagai risiko kompetitif mata uang yang
dihadapi. Akuntan manajemen harus memasukkan suatu fungsi demikian
probabilitas yang terkait dengan serangkaian hasil keluaran masing-masing
pemicu nilai. Peran lain yang dimainkan oleh para akuntan dalam proses
manajemen resiko meliputi proses kuantifikasi penyeimbangan yang berkaitan
dengan alternative strategi respon risiko. Risiko kurs valuta asing adalah salah
satu bentuk risiko yang paling umum dan akan dihadapi oleh perusahaan
multinasional. Di dalam dunia kurs mengambang, manajemen risiko mencakup:
(1) antisipasi pergerakan kurs, (2) pengukuran risiko kurs valuta asing yang
dihadapi perusahaan, (3) perancangan strategi perlindungan yang memadai, dan
(4) pembuatan pengendalian manajemen risiko internal. Manajer keuangan harus
memiliki informasi mengenai kemungkinan arah, waktu, dan magnitude
perubahan kurs dan dapat menyusun ukuran-ukuran defensive memadai dengan
lebih efisien dan efektif.
Potensi terhadap risiko valas timbul apabila perubahan kurs valas juga
mengubah nilai aktiva bersih, laba, dan arus kas suatu perusahaan. Pengukuran
akuntansi tradisional terhadap potensi risiko valas ini berpusat pada dua jenis
potensi risiko: translasi dan transaksi.
Potensi risiko translasi mengukur pengaruh perubahan kurs valas terhadap
nilai ekuivalen mata uang domestik atas aktiva dan kewajiban dalam mata uang
asing yang dimiliki oleh perusahaan. Karena jumlah dalam mata uang asing
umumnya ditranslasikan ke dalam nilai ekuivalen mata uang domestik untuk
tujuan pengawasan manajemen atau pelaporan keuangan eksternal, pengaruh
translasi itu menimbulkan dampak langsung terhadap laba yang diinginkan.
Kelebihan antara aktiva terpapar resiko dengan kewajiban terpapar (yaitu pos-pos
dalam mata uang asing yang ditranslasikan berdasarkan kurs kini) menyebabkan
timbulnya posisi aktiva terpapar bersih. Posisi ini sering disebut potensi risiko
positif. Devaluasi mata uang asing relatif terhadap mata uang pelaporan
menimbulkan kerugian translasi. Revaluasi mata uang asing menghasilkan
keuntungan translasi. Sebaliknya, jika perusahaan memiliki posisi kewajiban
terpapar bersih atau potensi risiko negatif apabila kewajiban terpapar melebihi
aktiva terpapar. Dalam kasus ini, devaluasi mata uang asing menyebabkan
timbulnya keuntungan translasi. Revalusi mata uang asing menyebabkan kerugian
translasi.
Potensi risiko transaksi, berkaitan dengan keuntungan dan kerugian nilai tukar
valuta asing yang timbul dari penyelesaian transaksi yang berdenominasi dalam
mata uang asing. Keuntungan dan kerugian transaksi memiliki dampak langsung
terhadap arus kas. Laporan potensi risiko transaksi berisi pos-pos yang umumnya
tidak muncul dalam laporan keuangan konvensional, tetapi menimbulkan
keuntungan dan kerugian transaksi seperti kontrak forward mata uang asing,
komitmen pembelian dan penjualan masa depan dan sewa guna usaha jangka
panjang.
Untuk meminimalkan atau menghilangkan potensi risiko tersebut, dibutuhkan
strategi yang mencakup lindung nilai neraca, operasional, dan kontraktual.
Lindung nilai neraca dapat mengurangi potensi risiko yang dihadapi perusahaan
dengan menyesuaikan tingkatan dan nilai denominasi moneter aktiva dan
kewajiban perusahaan yang terpapar. Lindung nilai operasional berfokus pada
variabel-variabel yang mempengaruhi pendapatan dan beban dalam mata uang
asing. Lindung nilai structural mencakup relokasi tempat manufaktur untuk
mengurangi potensi risiko yang dihadapi perusahaan atau mengubah Negara yang
menjadi sumber bahan mentah dan komponen manufaktur. Lindung nilai
kontraktual dikembangkan untuk memberikan fleksibilitas yang lebih besar
kepada para manajer dalam mengelola potensi risiko valas yang dihadapi.
3. Perlakuan Akuntasi
FASB menerbitkan FAS No 133, yang diklarifikasi melalui FAS 149 pada
bulan April 2003, untuk memberikan pendekatan tunggal yang komprehensif atas
akuntansi untuk transaksi derivative dan lindung nilai. Provisi dasar standar ini
adalah:
- seluruh instrument derivative dicatat pada neraca sebagai aktiva dan kewajiban
- keuntungan dan kerugian dari perubahan dalam nilai wajar instrument derivative
bukankan aktiva atau kewajiban
- lindung nilai haruslah sangat efektif agar layak mendapatkan perlakuan
akuntansi khusus, yaitu keuntungan atau kerugian atas instrument lindung niai
secara tepat harus mengimbangi keuntungan dan kerugian sesuatu yang
dilindungi nilai
- hubungan lindung nilai haruslah terdokumentasi secara lengkap demi manfaat
pemvaca laporan
- keuntungan atau keruhian dari investasi bersih dalam mata uang asing pada
awalnya dicatat dalam laba komprehensif lainnya
- keuntungan atau kerugian lindung nilai terhadap arus kas masa depan yang
belum pasti, seperti perkiraan penjualan ekspor, pada awalnya diakui sebagai
bagian dari laba komprehensif.
Meskipun aturan penuntun yang dikeluarkan FASB dan IASB telah banyak
mengklarifikasi pengakuan dan pengukuan derivative, masih saja terdapat
beberapa masalah. Yang pertama berkaitan dengan nilai wajar. Kompleksitas
pelaporan keuangan juga semakin meningkat jika lindung nilai dianggap
sangatlah tidak efektif untuk mengimbangi risiko valas.
Download