time pcr untuk analisis kehalalan - UIN Repository

advertisement
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
DETEKSI DNA GELATIN SAPI DAN GELATIN BABI PADA
SIMULASI GUMMY VITAMIN C MENGGUNAKAN
REAL -TIME PCR UNTUK ANALISIS KEHALALAN
SKRIPSI
YANTI PUSPITANINGRUM
NIM : 1110102000043
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI FARMASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
JANUARI 2015
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
DETEKSI DNA GELATIN SAPI DAN GELATIN BABI PADA
SIMULASI GUMMY VITAMIN C MENGGUNAKAN
REAL -TIME PCR UNTUK ANALISIS KEHALALAN
SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Farmasi
YANTI PUSPITANINGRUM
NIM : 1110102000043
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI FARMASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
JANUARI 2015
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS
Skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri,
dan semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk
telah saya nyatakan dengan benar
Nama
: Yanti Puspitaningrum
NIM
: 1110102000043
Tanda Tangan
:
Tanggal
: Januari 2015
iii
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
iv
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
v
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
KATA PENGANTAR
Puji Syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya
kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan penelitian dan penulisan skripsi
dengan judul Deteksi DNA Gelatin Sapi Dan Gelatin Babi Pada Simulasi
Gummy Vitamin C Menggunakan Real -Time PCR Untuk Analisis Kehalalan
Shalawat serta salam selalu tercurah kepada junjungan Nabi Muhammad SAW,
keluarga, para sahabat, dan pengikutnya yang senantiasa istiqomah mengikuti
sunnah-Nya.
Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana
Farmasi (S.Far) pada Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu
Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Keberhasilan
penelitian dan penyusunan skripsi ini tidak lepas dari bantuan dan dorongan semua
pihak. Untuk itu pada kesempatan ini, perkenankanlah penulis menyampaikan
ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Prof. DR. (hc) dr. M.K Tadjudin Sp.And, selaku Dekan Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Bapak Drs.Umar Mansur, M.Sc.,Apt selaku Ketua Program Studi Farmasi Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif
Hidayatullah Jakarta sekaligus sebagai pembimbing II.
3. Ibu Zilhadia, M.Si., Apt. sebagai Pembimbing I yang sangat baik telah memberikan
ilmu, nasehat, waktu, tenaga, pikiran, materi dan dukungan selama penelitian dan
penulisan skripsi.
4. Kedua orang tua, ayahanda tersayang Edi Winarko dan ibunda tercinta Siti
Rukmini yang selalu ikhlas memberikan dukungan moral, material, nasehatnasehat, serta doa yang tiada pernah putus hingga penulis dapat menyelesaikan
studi di jurusan Farmasi FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Juga kepada
adikku tercinta Koko Dwi Suryanto yang selalu memberikan dukungan dan
semangat. Tiada apapun di dunia ini yang dapat membalas semua kebaikan, cinta
dan kasih sayang yang telahkalian berikan.
5. Bapak dan Ibu staf pengajar, serta karyawan yang telah memberikan ilmu
pengetahuan, bimbingan dan bantuan selama penulis menempuh pendidikan di
farmasi, FKIK UIN Jakarta.
vi
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
6. Teman-teman Andalusia yang telah menjadi kepingan memori yang berharga.
Kebersamaan kita di dalam suka dan duka akan selalu terkenang didalam hati
7. Kak Rahmadi, Kak Liken, Kak Eris, Kak Lisna, Kak Rani, Kak Tiwi, Kak Lilis,
dan Kak Ayu yang sangat banyak membantu penulis melakukan penelitian di
laboratorium.
8. Teman-teman seperjuangan tim PCR: Afifah dan Kak Sulaiman yang selalu
meluangkan waktunya untuk bekerja sama, berdiskusi, memberikan masukan,
membantu penulis dalam melakukan peneltian, serta memberikan dukungan
doa dan semangat kepada penulis dalam penyelesaian skripsi ini. Terimakasih
atas kebersamaan yang indah ini, semoga balasan kebaikan selalu menaungi
kita.
9. Tim Roche Indonesia: Pak Deka, Pak Yos, dan Mbak Helen yang telah
memberikan masukan dan bantuan selama penulis melakukan penelitian.
10. Sahabat tersayang : Finti, Nurul, Rifa, Ninik, dan Luni. Terima kasih atas
dukungan, kasih sayang, perhatian, doa dan persahabatan yang indah ini.
11. Farida, Yusna, Fahrur, Yuni, Vicka, Salma, Chandra, Ipho, yang menginspirasi.
Terimakasih atas dukungan,bantuan dan semangatnya.
12. Dan kepada semua pihak yang telah membantu penulis selama ini yang tidak
dapat disebutkan namanya satu persatu.
Semoga semua bantuan yang telah diberikan mendapatkan balasan kebaikan dari
Allah SWT. Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu, saran dan kritik yang bersifat membangun akan
penulis nantikan. Dan semoga skripsi ini bisa bermanfaat bagi masyarakat umum
dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Jakarta, Januari 2015
Penulis
vii
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
ABSTRAK
Nama
: Yanti Puspitaningrum
Nim
: 1110102000043
Judul
: Deteksi DNA Gelatin Sapi Dan Gelatin Babi Pada Simulasi
Gummy Vitamin C Menggunakan
Real -Time PCR Untuk
Analisis Kehalalan
Salah satu produk food supplement yang disukai oleh kalangan anak-anak adalah
gummy vitamin C. Bahan basis gummy vitamin C salah satunya adalah gelatin.
Produksi gelatin di dunia sebanyak 46% masih berasal dari kulit babi, maka dari itu
perlu dilakukan penelitian tentang bahan asal gelatin. Sampel simulasi gummy yang
digunakan adalah gummy sapi, gummy babi, gummy pencampuran gelatin babi dan
gelatin sapi dengan konsentrasi 1%, 25%, 50%, dan 75%. Salah satu teknik analisis
untuk membedakan gelatin babi dan gelatin sapi adalah teknik amplifikasi DNA
dengan instrumen Real-Time PCR. Amplifikasi DNA membutuhkan sepasang
primer spesifik yang diambil dari DNA mitokondria daerah sitokrom B serta
hydrolysis probe sebagai pewarna fluoresensi. Proses ekstraksi dan isolasi DNA
pada gummy mengkombinasikan presipitasi DNA dan kit komersial. Isolat DNA
yang dianalisis dengan hydrolysis probe menggunakan suhu annealing 61ºC untuk
primer sapi dan suhu 60ºC untuk primer babi. Hasil kurva amplifikasi dengan
primer babi dari sampel simulasi gummy hanya muncul pada gummy babi, gummy
pencampuran babi dengan konsentrasi 25%, 50% dan 75%. Tetapi pada gummy
pencampuran babi konsentrasi 1% tidak muncul kurva amplifikasi.
Kata Kunci:
Real Time Polymerase Chain Reaction, Gelatin, Hydrolysis
Probe, Gummy
viii
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
ABSTRACT
Name
: Yanti Puspitaningrum
Major
: Pharmacy
Title
: Detection of DNA Bovine Gelatin and Porcine Gelatin in the
Gummy
Simulation Vitamin C Using
Real -Time PCR
Instruments for Halal Analysis
One of the food supplement products which are favored by the children is gummy
vitamin C. One of vitamin C gummy bases is gelatin. About 46 % of gelatin
production in the world still comes from pig skin, therefore the research of gelatin
bases is necessary. Gummy simulation samples consist of beef gummy, pig gummy
and the mixing gummy between porcine gelatin and bovine gelatin with the
concentration of 1 % , 25 % , 50 % , and 75 %. One of analysis technique which is
used to distinguish bovine gelatin and porcine gelatin is DNA amplification
technique using Real-Time PCR instrument. Amplification DNA needs a pair of
specific primary DNA taken from mitochondria cytochrome b and hydrolysis probe
as dye fluorescence. Extraction and isolation process of DNA in gummy combine
the precipitation of DNA and commercial kit. DNA isolates analyzed by hydrolysis
probe method using annealing temperature was 61ºC for bovine primer and using
annealing temperature was 60ºC for porcine primer. The results of the
amplification curves for sampel gummy simulation only showed the rising of
amplification curve for porcine gummy, mixing gummy with a concentration of
25%, 50% and 75% of porvine gelatin. However, mixing of porcine gummy
concentration of 1% does not show amplification curve.
Keyword : Real Time Polymerase Chain Reaction, Gelatin, Hydrolysis Probe,
Gummy
ix
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI
TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Sebagai sivitas akademika Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
Jakarta, saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama
: Yanti Puspitaningrum
Nim
: 1110102000043
Program Studi
: Strata-1 Farmasi
Fakultas
: Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Jenis Karya
: Skripsi
demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya menyetujui skripsi/karya ilmiah
saya, dengan judul :
Deteksi DNA Gelatin Sapi Dan Gelatin Babi Pada Simulasi Gummy Vitamin
C Menggunakan Real -Time PCR Untuk Analisis Kehalalan
untuk dipublikasikan atau ditampilkan di internet atau media lain yaitu Digital
Library Perpustakaan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta
untuk kepentingan akademik sebatas sesuai dengan Undang-Undang Hak Cipta.
Demikian pernyataan publikasi karya ilmiah ini saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di
: Jakarta
Pada Tanggal
: 18 Januari 2015
Yang Menyatakan
Yanti Puspitaningrum
x
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
DAFTAR ISI
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS…………………………..........
iii
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING..................................................
iv
LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI…………………………………………..
v
KATA PENGANTAR……………………………………………………………
vi
ABSTRAK………………………………………………………………………..
viii
ABSTRACT…………………………………………………………………........
ix
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI………………...
x
DAFTAR ISI...........................................................................................................
xi
DAFTAR TABEL...................................................................................................
xiii
DAFTAR GAMBAR..............................................................................................
xiv
DAFTAR LAMPIRAN..........................................................................................
xv
DAFTAR SINGAKATAN……………………………………………………….
xvi
BAB I PENDAHULUAN.....................................................................................
1
1.1
Latar Belakang.................................................................................
1
1.2
Rumusan Masalah............................................................................
3
1.3
Hipotesis...........................................................................................
3
1.4
Tujuan Penelitian..............................................................................
3
1.5
Manfaat Penelitian...........................................................................
5
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA.............................................................................
5
2.1
Gummy Candy ................................................................................
5
2.2
Vitamin C..........................................................................................
5
2.3
Gelatin...............................................................................................
6
2.3.1
Definisi Gelatin....................................................................
6
2.3.2
Sifat Kimia dan Fisika Gelatin..............................................
7
2.3.3
Sumber Gelatin.....................................................................
8
2.4
Sel.....................................................................................................
9
2.5
DNA..................................................................................................
12
2.5.1
Struktur DNA.......................................................................
12
2.5.2
Isolasi DNA..........................................................................
14
xi
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
2.5.3
2.6
2.7
DNA Mitokondria................................................................
16
PCR..................................................................................................
17
2.6.1
Komponen PCR....................................................................
18
2.6.2. Tahapan PCR........................................................................
21
Real Time PCR.................................................................................
22
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN................................................................ 24
3.1
Waktu dan Tempat............................................................................
24
3.2
Alat dan Bahan..................................................................................
24
3.2.1
Alat........................................................................................ 24
3.2.2
Bahan....................................................................................
24
3.3
Tahapan Penelitian............................................................................
25
3.4
Prosedur Kerja..................................................................................
25
3.4.1
Pembuatan Simulasi Gummy Vitamin C dari Gelatin Babi
dan gelatin Sapi................................................................
25
3.4.2
Isolasi DNA........................................................................
26
3.4.3
Pengujian Konsentrasi dan Kemurnian DNA dengan
spektrofotometer DNA........................................................
3.4.4
Amplifikasi
Real
Time
28
PCR...................................... 28
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN…………………………………………… 30
4.1. Pembuatan Simulasi Gummy Vitamin C……………………………. 30
4.2. Isolasi DNA………………………………………………………… 30
4.3. Analisa Konsentrasi Dan Kemurnian Isolat DNA dengan
Spektrofotometer DNA....................................................................... 33
4.4. Amplifikasi DNA Daging, Gelatin, dan Sampel Simulasi Gummy
Vitamin C pada Real Time PCR……………………………………
34
BAB 5 KESIMPULAN……………………………………………………...........
40
5.1. Kesimpulan……………………………………………………........
40
5.2. Saran………………………………………………………………..
40
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................
41
xii
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
DAFTAR TABEL
Tabel.1. Aplikasi Gelatin................................................................................
7
Tabel.2. Perbedaan sel eukariotik dan sel prokariotik...................................... 11
Tabel 3. Susunan basa primer dan probe untuk DNA sapi dan babi................. 25
Tabel.4. Komposisi Formula Gummy Vitamin C........................................... 26
Tabel.5. Konsentrasi dan Kemurnian Isolat DNA........................................... 33
Tabel.6. Komposisi Kit Ekstraksi DNA…………………………………….
46
Tabel.7. Campuran reaksi Hydrolysis Probe mastermix……………………
49
xiii
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
DAFTAR GAMBAR
Gambar.1. Gummy candy...............................................................................
5
Gambar.2. Sel Prokariotik dan Sel Eukariotik................................................ 10
Gambar.3. Struktur Nukleotida...................................................................... 13
Gambar.4. Struktur DNA................................................................................ 14
Gambar 5. Struktur DNA Mitokondria……………………………………
17
Gambar.6. Siklus PCR.................................................................................... 21
Gambar.7. Kurva Real Time PCR………………………………………….. 23
Gambar.8. Program Amplifikasi Real-Time PCR.......................................... 29
Gambar 9. Simulasi gummy vitamin C……………………………………
Gambar.10.Hasil
Amplifikasi
pada
Uji
Spesifitas
Primer
30
Sapi
Menggunakan Kontrol Positif Daging Sapi, Gelatin Sapi dan
Gummy Sapi…………………………………………………… 35
Gambar.11.Hasil Amplifikasi Sampel Simulasi Gummy dengan Primer
Sapi……………………………………………………………..
Gambar.12.Hasil
Amplifikasi
Pada
Uji
Spesifitas
Primer
36
Babi
Menggunakan Kontrol Positif Daging Babi, Gelatin Babi, dan
Simulasi Gummy Babi…………………………………………
37
Gambar 13. Hasil Amplifikasi Sampel Simulasi Gummy dengan Primer
Babi…………………………………………………………….
xiv
38
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran.1 Kerangka Konsep........................................................................
45
Lampiran 2. Tabel Komposisi Kit Ekstraksi DNA Roche………………….. 46
Lampiran 3. Membuat Larutan Primer dan Probe dan Natrium Asetat…….. 47
Lampiran 4. Perhitungan Tm (Melting Temperature) Primer………………
48
Lampiran 5. Campuran Reaksi Mastermix untuk Amplifikasi DNA……….
49
Lampiran 6. Hasil BLAST Berdasarkan Informasi NCBI………………….
50
Lampiran 7. Gambar alat-alat dalam penelitian…………………………….
51
Lampiran 8. COA Gelatin Babi……………………………………………..
52
Lampiran 9. COA Gelatin Sapi……………………………………………..
53
xv
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
DAFTAR SINGKATAN
BHQ-1
: Black Hole Quencher-1
BLAST
: Basic Local Aligment Search Tool
CP
: Crossing Point
cyt b
: Cytochrome b
dATP
: Deoxyadenosine Triphosphate
dCTP
: Deoxycytidine Triphosphate
dGTP
: Deoxyguanosine Triphosphate
dNTP
: Deoxyribonucleaside Triphosphate
dTTP
: Deoxythymidine Triphosphate
DNA
: Deoxyribonucleic Acid
ELISA
: Enzyme-linked Immunosorbent Assay
FAM
: Fluorescein Amidite
HPLC
: High Performance Liquid Chromatography
mtDNA
: mitochondria DNA
NCBI
: National Center for Biotechnology Information
NTC
: No Template Control
PCR
: Polymerase Chain Reaction
pb
: Pasang Basa
qPCR
: Quantitative Polymerase Chain Reaction
RE
: Retikulum Endoplasma
RNA
: Ribonucleic Acid
SDS
: Sodium Dodesil Sulfat
SNI
: Standar Nasional Indonesia
Tm
: Temperature Melting
Ta
: Temperature Annealing
xvi
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
xvii
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Food supplement atau disebut sebagai makanan tambahan pada
aneka produk kesehatan yang mengandung satu atau lebih zat bersifat nutrisi
dan obat. Nutrisi yang terkandung dalam food supplement meliputi vitamin,
mineral dan asam amino, sedangkan food supplement yang bersifat obat
umumnya diambil dari tanaman atau jaringan tubuh hewan yang berkhasiat
sebagai obat (Yuliarti, 2009). Dalam pemenuhan nutrisi bagi anak-anak,
terutama pada pemberian vitamin, maka industri farmasi mulai memproduksi
sediaan vitamin dalam bentuk gummy. Alasan pemilihan bentuk gummy
tersebut, karena bentuk sediaan gummy seperti permen jelly dan mudah
dikunyah sehingga anak-anak lebih menyukai gummy daripada bentuk tablet.
Bahan-bahan untuk membuat gummy diantaranya adalah sukrosa, glukosa,
asam sitrat serta bahan basis gummy yaitu gelatin. (Lanelli, 2014).
Gelatin merupakan protein yang berasal dari hidrolisis kolagen
jaringan ikat dan tulang dengan perlakuan asam dan basa. Gelatin memiliki
sifat sebagai gelling agent, thickening agent, zat penstabil, dan emulsifier.
Oleh karena itu gelatin digunakan dalam produk makanan seperti
marshmallow, permen gummy, daging olahan, es krim. Selain itu, gelatin juga
digunakan dalam industri farmasi sebagai bahan untuk membuat kapsul keras
dan kapsul lunak, tablet, salep untuk mukosa membran mulut, dan suplemen
gummy (Hui et al.,2011; Nhari et al.,2012).
Globalisasi dalam semua aspek kehidupan telah membawa
konsekuensi banyak pada makanan produk lokal maupun produk impor, baik
produk yang halal atau produk yang haram. Hal ini jelas sangat
mengkhawatirkan karena sebagian besar penduduk Indonesia beragama
Islam. LPPOM MUI sudah meluncurkan sistem jaminan halal sebagai
pedoman yang diwujudkan dalam bentuk sertifikasi halal, tetapi masih banyak
kendala. Salah satu kendala yang dihadapi adalah belum terdapat metode yang
valid untuk menganalisa adanya zat non halal pada produk makanan. Salah
1
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
2
satu produk pangan yang masih diragukan kehalalannya yaitu produk
makanan yang berbasis gelatin. Gelatin diekstraksi dari kulit, jaringan ikat
putih dan tulang yang bersumber dari babi dan sapi. (Hermanto, Sumarlin,
and Fatimah, 2013). Presentase produksi gelatin di dunia pada tahun 2006,
masih didominasi oleh gelatin babi, dengan jumlah 45,8 % berasal dari kulit
babi dan 28,4% berasal dari kulit sapi ( Phillips & William, 2009). Sementara
itu, Al-Qur'an surat Al-Maidah: 3, menjelaskan bahwa umat Islam dilarang
untuk mengkonsumsi produk babi dan hewan yang tidak disembelih
berdasarkan hukum Islam. Hal ini jelas bahwa umat Islam dilarang untuk
mengkonsumsi makanan diklasifikasikan sebagai bangkai (maytah), darah,
daging babi dan daging yang didedikasikan untuk selain Allah (Raraswati et
al., 2009).
Banyak kajian yang telah dilakukan mengenai sifat, aplikasi dan
struktur gelatin, mengingat luasnya penggunaan gelatin itu sendiri. Namun
gelatin dari sumber yang berbeda bisa jadi sangat mirip ditinjau dari segi sifat
fisika dan kimianya. Hal ini membuat sulit untuk membedakan antara gelatin
yang haram dan gelatin halal (Nemati et al., 2004).
Pada penentuan spesies hewan dapat dilakukan dengan analisis
protein dan DNA. Pada analisis penentuan spesies hewan berbasis protein
sering digunakan metode ELISA, HPLC, dan Spektrofotometri massa.
Analisis penentuan spesies hewan berbasis DNA digunakan metode PCR atau
Real Time PCR. Metode penentuan spesies hewan berbasis protein memiliki
kekurangan yaitu protein terjadi denaturasi progresif yang disebabkan oleh
perubahan suhu dan pH sehingga kehilangan heterogenitas dan stabilitas
protein. Metode berbasis DNA memiliki kelebihan dibandingkan metode
berbasis protein yaitu metode real time PCR menggunakan primer spesifik
dengan jenis DNA hewan dan proses deteksi lebih sensitif dan cepat (Cai et
al., 2012).
Analisa kandungan babi dalam suatu produk dapat dilakukan
melalui amplifikasi DNA dengan metode Polymerase Chain Reaction (PCR).
Hal ini telah banyak dilakukan seperti pemeriksaan daging babi dalam produk
olahan (Walker et al, 2003) dan pengujian pencemaran daging babi pada
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
3
produk bakso (Ridwan dan Margawati, 2010). Selain pada produk makanan,
PCR dapat digunakan dalam identifikasi DNA babi dan sapi yang terkandung
dalam gelatin pada sediaan kapsul dan gummy seperti yang telah dilakukan
Demirhan et al. (2012) dan Cai et al. (2012).
Penelitian ini dilakukan berdasarkan beberapa permasalahan, di
antaranya adalah masih banyak obat-obatan di Indonesia yang belum
mencantumkan label halal atau mendapatkan sertifikat halal dari lembaga
yang berwenang. Sekitar 30 ribu obat dari 206 perusahaan hanya 34 produk
yang bersertifikat halal, dengan rincian, obat sebanyak 4 produk, jamu
sebanyak 17 produk dan suplemen sebanyak 13 produk. Sedangkan
pemasaran gelatin di dunia didominasi oleh gelatin yang bersumber dari babi
sehingga kemungkinan besar gelatin yang digunakan dalam pembuatan obat
bentuk sediaan gummy adalah gelatin yang tidak halal (LPPOM MUI, 2013).
Tujuan dari penelitian untuk membedakan amplifikasi DNA gelatin
sapi dan gelatin babi
pada sampel simulasi gummy vitamin C dengan
menggunakan instrumen real time PCR. Sampel simulasi gummy vitamin C
dibuat dengan campuran antara gelatin sapi dan gelatin babi dalam berbagai
konsentrasi.
1.2. Rumusan Masalah
1. Bagaimana kondisi optimal pada proses isolasi DNA sehingga
didapatkan isolat DNA ?
2. Apakah DNA gelatin babi dan gelatin sapi serta simulasi gummy vitamin
C dapat teramplifikasi dengan alat real-time PCR ?
1.3. Hipotesis
1. Isolasi DNA dapat dilakukan pada produk gelatin
2. Real-time PCR dapat mengamplifikasi DNA gelatin sapi dan gelatin babi
menggunakan primer spesifik babi dan sapi
1.4. Tujuan Penelitian
1. Menentukan kondisi optimal proses isolasi DNA dalam simulasi gummy
vitamin C
2. Mendeteksi DNA gelatin babi dan gelatin sapi pada simulasi gummy
vitamin C melalui amplifikasi DNA menggunakan real-time PCR
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
4
1.5. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah memberikan
informasi tentang metode deteksi DNA pada gelatin babi dan gelatin sapi
yang dibuat dalam simulasi gummy vitamin C dengan instrumen Real-Time
PCR sehingga dapat dijadikan dasar penelitian selanjutnya pada sampel
berbasis gelatin dalam produk obat di pasaran.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Gummy Candy
Gummy Candy yaitu permen lunak yang diproses dengan
penambahan komponen hidrokoloid seperti agar, gum, pektin, pati,
karagenan, gelatin, dan lain-lain digunakan untuk modifikasi tekstur sehingga
menghasilkan produk yang kenyal, harus dicetak dan diproses aging sebelum
pengemasan (SNI, 2008).
Gummy candy adalah permen unik berasal dari gelatin sebagai
gelling agent, dan terjadi penyerapan air pada saat pengunyahan di mulut.
Gelatin dalam industri gula tidak hanya digunakan untuk gel termoversibel,
tetapi juga untuk pembentukan busa, busa yang dihasilkan untuk
menstabilkan, mengikat, dan pengemulsi kualitas serta untuk mengontrol
kristalisasi. Bahan dasar dari gummy candy terdiri dari empat bahan dasar,
yaitu sirup glukosa, sukrosa, gelatin, dan air. (Schreiber, 2007).
Gambar.1. Gummy candy
(Sumber: GMIA, 2012)
2.2. Vitamin C
Vitamin adalah senyawa organik yang termasuk bahan makanan esensial
diperlukan oleh tubuh, tetapi tubuh sendiri mensintesis vitamin yang mana
5
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
6
laju sintesis vitaminnya kurang dari yang dibutuhkan oleh tubuh untuk tetap
sehat. Vitamin dalam tubuh berfungsi sebagai zat untuk pertumbuhan dan
pemeliharaan jaringan melalui peranannya. Vitamin dikenal sebagai
mikronutrien karena dibutuhkan pada manusia hanya dalam jumlah miligram
atau mikrogram per hari, jumlah vitamin yang sangat kecil sudah mencukupi
dari sekitar 0,01 mg hingga 100 mg per hari tergantung pada jenis vitamin
tetapi defisiensi vitamin dapat menyebabkan permasalahan berat. Kelebihan
salah satu vitamin pada tubuh dalam jumlah yang banyak dikenal dengan
istilah hipervitaminosis. Hiperavitaminosis vitamin yang larut dalam air tidak
dapat menimbulkan masalah karena vitamin ini pada umumnya dibuang
melalui urine, berbeda halnya dengan vitamin larut lemak dapat menimbulkan
masalah. Secara klasik vitamin diklasifikasikan atas dasar kelarutannya, yaitu
golongan vitamin yang larut dalam lemak (A,D,E,K) dan golongan vitamin
larut dalam air yaitu vitamin C dan B-kompleks. Vitamin yang larut dalam
lemak tidak diekskresikan tetapi didepositkan dalam lemak tubuh, sehingga
kelebihan dosis bisa mengakibatkan akumulasi senyawa hingga kadar
mencapai toksik (Sumardjo, 2006; Campbell, 2004 ).
Vitamin C merupakan suatu zat yang berbentuk serbuk kristal putih, tidak
berbau dan memiliki rasa asam. Kelarutan vitamin C yaitu mudah larut dalam
air, sedikit larut dalam etanol dan praktis tidak larut dalam dietil eter. Vitamin
C diperlukan dalam sintesis jaringan ikat.Vitamin E bersama dengan vitamin
C melindungi fosfolipid dalam membran dari oksidasi. Dosis harian untuk
dewasa yang digunakan yaitu 30-100 mg perhari (Japanese Pharmacopeia
edisi ke-15; Martindale edisi ke-36 ).
2.3. Gelatin
2.3.1.Definisi Gelatin
Gelatin berasal dari kata “gelatus” yang berarti pekat. Gelatin adalah
suatu zat yang diperoleh dari hidrolisa parsial kolagen berasal dari kulit,
jaringan ikat putih dan tulang hewan. Gelatin yang berasal dari prekusor yang
diasamkan dikenal dengan gelatin tipe A dan yang berasal dari prekusor yang
dibasakan dikenal sebagai gelatin tipe B (Farmakope IV,1995). Gelatin tipe
A berasal dari kulit babi dan gelatin tipe B berasal dari kulit sapi. Gelatin yang
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
7
berasal dari mamalia lebih banyak digunakan dalam produksi makanan karena
memiliki sifat-sifat yaitu titik leleh tinggi, gelling agent yang bagus serta
termo reversible (Hafidz, 2011).
Gelatin tersusun dari 18 asam amino yang saling terikat, terdiri dari
asam aspartat, asam glutamat, serin, valin, tirosin, lisin, treonin, arginin,
glisin, histidin, hidroksiprolin, isoleusin, leusin, hidroksilisin, fenilalanin,
prolin, alanin dan metionin. Susunan asam amino gelatin berupa triplet
peptida, yaitu Glisin-X-Y, dimana X umumnya adalah asam amino prolin dan
Y umumnya adalah asam amino hidroksiprolin. Senyawa gelatin merupakan
suatu polimer linier yang tersusun oleh satuan terulang asam amino glisinprolin-prolin dan glisin-prolin-hidroksiprolin yang bergabung membentuk
rangkaian polipeptida (Suryani, Sulistiawati,Fajriani, 2009).
Aplikasi gelatin dalam makanan maupun produk farmasi digunakan
untuk memproduksi permen berbasis gelatin seperti gummy, emulsifier,
thickener, dan aplikasi dalam farmasi seperti cangkang hard capsule dan soft
capsul, mikroenkapsulasi dan lain sebagainya (GMIA, 2012).
Tabel 1. Aplikasi Gelatin
(Sumber: GMIA, 2012)
2.3.2.Sifat Kimia dan Fisika Gelatin
Gelatin berbentuk serbuk kasar berwarna kuning samar tidak berbau
dan tidak berasa. Dengan kelarutan praktis tidak larut dalam aseton,
kloroform, etanol (95%), eter dan metanol. Larut dalam gliserin, larutan asam,
larutan basa, dan air pada suhu di atas 40°C. Gelatin kering stabil dengan
udara berbeda dengan larutan gelatin yang stabil dalam penyimpanan lama
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
8
pada kondisi dingin tetapi substansi gelatin terdegradasi oleh bakteri. Pada
suhu di atas 50°C larutan gelatin mengalami perlambatan proses
depolimerisasi dan penurunan kekuatan gellingnya, tetapi pada suhu di atas
65°C proses depolimerisasi menjadi lebih cepat daripada dibawah suhu 65°C.
Tingkat dan luasnya proses depolimerisasi gelatin tergantung pada berat
molekul. Pada berat molekul yang lebih rendah lebih cepat mengalami
penguraian dibandingkan dengan berat molekul yang tinggi. Pada
penyimpanan gelatin disimpan pada ruangan yang kering dalam wadah kedap
udara (Handbook of Pharmaceutical Excipient, edisi ke-6).
Gelatin bersifat amfoter, yaitu dapat stabil dalam asam dan basa.
Dalam larutan asam gelatin bermuatan positif dan bermigrasi sebagai kation
dalam medan listrik. Dalam larutan alkali gelatin bermuatan negtaif dan
bermigrasi sebagai anion dalam medan listrik. pH isoelektrik gelatin tipe A
yaitu pada pH 7 sampai pH 9, sedangkan pada tipe B memiliki pH isoelektrik
pada pH 4,7 hingga 5,4 (GMIA, 2012).
2.3.3.Sumber Gelatin
Gelatin merupakan produk yang diperoleh dari bahan baku kolagen,
sifat-sifat gelatin tergantung pada sumber dan jenis kolagen, biasanya kolagen
diproduksi dari kulit dan tulang sapi, babi dan ikan (Wangtueai and
Noomhorm, 2009). Gelatin diekstrak dari jaringan hewan kaya kolagen
seperti kulit, urat, dan tulang. Zat asing seperti mineral, lemak dan albuminoid
dipisahkan secara kimiawi atau fisika untuk mendapatkan kolagen yang murni
( GMIA, 2012). Pada proses pre treatment, jaringan hewan didihkan terlebih
dahulu dengan air yang mendidih selanjutnya akan dicampurkan asam atau
basa untuk memperoleh gelatin tipe A atau tipe B. Proses pembuatan gelatin
tipe A diperoleh dari tulang lunak ossein atau tulang tanpa mineral, otot, kulit
babi, kulit sapi dan kulit ikan. Hal yang dilakukan dalam pembuatan gelatin
yaitu pemotongan bahan-bahan dan pencucian dengan air dingin selama
beberapa jam untuk menghilangkan lemak, kemudian penambahan larutan
asam seperti HCl atau H2SO4 pada pH 1-3 dengan suhu 15- 20°C hingga
bahan tersebut terlihat membesar. Proses ini terjadi selama 24 jam, setelah
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
9
terlihat pembesaran atau pembengkakan bahan tersebut dicuci dengan air
untuk menghilangkan kelebihan asam. Dan pH disesuaikan menjadi pH 3,5-4
(kulit babi dan kulit ikan), pH 2-3,5 (semua jaringan) untuk konversi pada
proses ekstraksi gelatin dengan air panas. Ekstraksi hidrolitik dilakukan pada
suhu 50 0C - 75 0C selanjutnya larutan gelatin disaring dengan menggunakan
bantalan selulosa yang disterilkan, kemudian deionisasikan hingga mencapai
konstentrasi 20-25 % w/v kemudian disterilisasi dengan flashing pada suhu
1380C selama 4 detik. Dan kemudian gelatin kering akan terbentuk dengan
mendinginkan larutan gelatin untuk membentuk gel selanjutnya dipanaskan
pada oven dengan suhu terkontrol (Handbook of Pharmaceutical Excipient,
edisi ke-6).
Proses pembuatan gelatin tipe B atau disebut proses pengapuran,
bahan yang digunakan yaitu tulang demineralisasi atau kulit sapi. Proses
pembuatan gelatin tipe B diawali dengan mencampur bahan dengan kalium
hidroksida selama 2- 4 bulan pada suhu 140C-180C. Pada akhir proses
pengapuran, bahan dicuci dengan air dingin selama 24 jam untuk menghapus
larutan kapur yang masih ada di dalam bahan tersebut. kemudian bahan
dinetralkan dengan asam HCl, H2SO4, atau H3PO4. Dan proses ekstraksi
gelatin sama dengan cara ekstraksi gelatin tipe A (Handbook of
Pharmaceutical Excipient, edisi ke-6).
2.4. Sel
Sel adalah unit kehidupan struktural dan fungsional terkecil dari
tubuh. Sebagian besar reaksi kimia untuk mempertahankan kehidupan
berlangsung dalam sel. Sel dan zat intraseluler membentuk keseluruhan
jaringan tubuh. (Sloane Ethel, 1995).
Hampir semua sel memiliki empat karakter sebagai berikut :
1. Dikelilingi oleh membran
2. Sebuah cairan tebal berada di dalam membran bersama yang berisi
beberapa komponen sel (organel) disebut protoplasma
3. Organel, yang terletak di dalam protoplasma (eukariot) yang melakukan
fungsi seluler tertentu
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
10
4. Sebuah pusat pengontrol yang disebut inti atau nukleus (pada eukariot)
atau nukleoid (pada prokariot) yang berisi DNA materi herediter
(Alters,2000)
Berdasarkan sitologi, organisme dapat dikategorikan menjadi dua
kelompok, yaitu prokariotik dan eukariotik. Sel prokariotik merupakan suatu
jenis sel dengan inti yang tidak jelas hanya ada di dalam sitoplasma tampak
adanya bagian berwarna terang yang mengandung bahan DNA. Sel yang
termasuk jenis sel prokariotik yaitu jenis sel bakteri, virus, ganggang biru, dan
ganggang hijau. Sedangkan sel eukariotik berbeda dengan sel prokariotik,
yaitu sel eukariot memiliki inti sel yang jelas karena inti sel ini memiliki
dinding atau membran inti. Yang termasuk dari jenis eukariotik yaitu sel
manusia, sel hewan, dan sel tumbuhan ( Juwono dan Juniarto Zulfa Ahmad,
2000).
Sel Prokariotik
Sel Eukariotik
Gambar 2. Sel Prokariotik dan Sel Eukariotik
(Sumber: Alters,2000)
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
11
Tabel.2. Perbedaan sel eukariotik dan sel prokariotik (Sumber: Black, 2008)
Karakteristik
Prokariotik
Euokariotik
Struktur Genetik
DNA
Kromosom
sirkular Kromosom
tunggal
berpasangan
Lokasi informasi genetik
nukleoid
Membran nukleus
Nukleus
Tidak ada
Ada
Histon
Tidak ada
Ada
DNA ekstrakromosal
Di plasmid
Di organel sel seperti,
mitokondria,
kloroplas,dan plasmid
Struktur Intraseluler
Benang mitosis
Tidak ada
Terdapat
selama
pembelahan sel
Membran dalam
Hanya terdapat pada Terdapat pada organel
fotosintesis organisme
yang
tertutup
membran
Retikulum endoplasma
Tidak ada
Ada
Kloroplas
Tidak ada
Ada
Aparatus golgi
Tidak ada
Ada
Lisosom
Tidak ada
Ada
Peroksisom
Tidak ada
Ada
Ribosom
70s
80s
terdapat
sitoplasma
pada
dan
retikulum
endoplasma, dan 70s
terdapat pada organel
lainnya
Sitoskelesion
Tidak ada
Ada
Sel Ekstraseluler
Dinding sel
Peptidoglikan terdapat Selulosa, kitin. Atau
pada kebanyakan sel
keduanya
terdapat
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
12
pada
tanaman
dan
jamur
Pemukaan lapisan flagella
Kapsul atau lapisan Ketika terlihat seperti
yang berlendir ketika memiliki
mengandung
atau flagelin
kandungan
fibril membran
tertutup
yang
oleh
mikrotubuli
2.5. DNA
Asam nukleat berfungsi menyimpan dan mentransmisikan informasi
genetik dalam sel. Sel mempunyai dua jenis molekul asam nukleat yaitu DNA
(asam deoksiribonukleat) dan RNA (asam ribonukleat). DNA menyimpan
informasi genetik yang spesifik untuk setiap individu dan spesies tertentu,
yang akan diwariskan ke generasi berikutnya. (Ghaffar,2009).
DNA adalah polimer dari nukleotida-nukleotida. Nukleotidanukleotida dalam DNA dihubungkan satu dengan yang lainnya oleh ikatan
fosfodiester, yaitu ikatan yang terjadi antara Carbon katida dari satu
nukleotida terdiri dari sebuah gula pantosa (deoksiribosa), satu buah fosfat
dan satu basa nitrogen. Basa nitrogen tersebut berikatan dengan karbon
pertama dari gula deoksiribosa, sedangkan fosfat berikatan dengan karbon
kelima dari gula yang sama (Stryer, 1988).
2.5.1.Struktur DNA
DNA merupakan polimer linier (polinukleotida) yang tersusun dari
subunit atau monomer nukleotida. Komponen penyusun nukleotida terdiri
dari tiga jenis molekul, yaitu gula pentosa (deoksiribosa pada DNA atau
ribosa pada RNA), basa nitrogen, dan gugus fosfat (Gambar 2.1). Basa yang
ditemukan pada nukleotida adalah basa purin (adenin = A, guanin = G) dan
basa pirimidin (cytosin = C, tymin = T, urasil = U) (Gambar 3). Monomer
nukleotida mempunyai gugus hidroksil pada posisi karbon 3’, gugus fosfat
pada posisi karbon 5’ dan basa pada posisi karbon 1’ molekul gula.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
13
Nukleotida satu dengan yang lainnya berikatan melalui ikatan fosfodiester
antara gugus 5’fosfat dengan gugus 3’hidroksil (Ghaffar, 2007).
Gambar.3. Struktur nukleotida
(Sumber: Ghaffar, 2009)
Struktur molekul DNA merupakan rantai heliks ganda yang
memutar ke kanan. Kedua rantai polinukleotida memutar pada sumbu yang
sama dan bergabung satu dengan yang lainnya melalui ikatan hidrogen antara
basa-basanya. Basa guanin berpasangan dengan basa cytosin, sedangkan basa
adenin berpasangan dengan basa tymin. Antara basa guanin dan basa cytosin
terbentuk tiga ikatan hidrogen, sedang antara basa adenin dan tymin terbentuk
dua ikatan hidrogen. Sehingga dalam molekul DNA jumlah basa G akan
selalu sama dengan jumlah basa C, sedangkan jumlah basa A=T. Kemudian
jumlah basa purin (A + G) akan sama dengan jumlah basa pyrimidin (C + T).
Kedua untai DNA saling berkomplementasi melalui basa penyusunnya
dengan arah antiparalel (berlawanan 5’→ 3’ vs 3’→5’), ujung yang
mengandung gugus fosfat bebas disebut ujung 5’ sedangkan pada ujung
lainnya yang mengandung gugus hidroksil bebas disebut ujung 3’. Kedua
untai tersebut saling melilit satu sama lain membentuk struktur heliks ganda.
Gugus fosfat dan gula yang tersusun bergantian menjadi tulang punggung
(backbone) molekul DNA sementara pada bagian dalam terdapat basa yang
melekat pada molekul gula.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
14
Gambar.4. Struktur DNA
(Sumber: Black, 2008)
Untai heliks DNA dapat memisah menjadi struktur untai tunggal
dengan adanya pemanasan dengan suhu tinggi (> 90°C), peristiwa ini sering
dikenal dengan denaturasi. Denaturasi DNA bersifat reversible. Proses
pembentukan kembali struktur untai ganda dari keadaan terdenaturasi
disebut renaturasi. Proses renaturasi dapat berjalan jika suhu mendekati suhu
subdenaturasi (mendekati 60°C) (Yuwono, 2009). Selain itu derajat
keasaman pH yang ekstrim (pH <3 atau pH >10) dapat menyebabkan DNA
terdenaturasi (Fatiyach et al, 2011).
2.5.2.Isolasi DNA
Pada proses analisis atau proses yang berkaitan dengan DNA
dibutuhkan proses isolasi dan purifikasi DNA yang mana DNA terbungkus
di dalam sel. Sebuah teknik yang ideal harus mengoptimalkan hasil DNA,
meminimalkan degradasi DNA, dan efisiensi dalam biaya, waktu dan tenaga
(Cheng Hon et al., 2010 ). Prinsip isolasi DNA adalah memisahkan DNA
kromosom atau DNA genom dari komponen-komponen sel lain. Ada tiga
langkah utama dalam ekstraksi DNA, yaitu perusakan dinding sel (lisis),
pemisahan DNA dari bahan padat seperti selulosa dan protein, serta
pemurnian DNA. Sumber DNA bisa dari tanaman, kultur mikroorganise,
atau sel manusia. Membran sel dilisis dengan menambahkan detergen untuk
membebaskan isinya, kemudian pada ekstrak sel tersebut ditambahkan
protease (yang berfungsi mendegradasi protein) dan RNase (yang berfungsi
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
15
untuk mendegradasi RNA), sehingga yang tinggal adalah DNA. Selanjutnya
ekstrak tersebut dipanaskan sampai suhu 90°C untuk menginaktifasi enzim
yang mendegradasi DNA (DNase). Larutan DNA kemudian di presipitasi
dengan etanol dan bisa dilarutkan lagi dengan air (Ghaffar, 2007; Ardiana,
2009). Salah satu cara untuk memecahkan sel dan mengisolasi DNA dengan
menggunakan larutan EDTA, larutan tersebut mengandung ion pengkelat
Mg2+ dikombinasi dengan enzim pendegradasi membran sel yaitu enzim
lisozim. Setelah DNA terlepas dari sel maka selanjutnya dilakukan eliminasi
RNA dengan enzim Rnase. (Rapley dan Walker, 2000). RNAse merupakan
endoribonuklease yang secara khusus mendegradasi C dan U pada untai
tunggal RNA. RNase memotong rantai fosfodiester antara 5’-ribosa pada
nukleotida dan kelompok fosfat pada 3’- ribosa pirimidin yang saling
berdekatan (Blackburn & Moore, 1982; Raines, 1998). Adanya garam
(NaCl) dengan konsentrasi tinggi dapat mengendapkan protein karena
adanya fenomena salting-out (Kurniati, 2009).
Purifikasi DNA bertujuan untuk menghilangkan kontaminan
(protein) selain DNA. Salah satu metode purifikasi DNA hasil ekstraksi
adalah metode ekstraksi fenol-kloroform. Campuran fenol dan kloroform
merupakan campuran yang homogen (Sambrook dan Russell, 2001).
Cara ini menghilangkan protein dengan penambahan fenol atau campuran
fenol: kloroform : isoamil alkohol (50:49:1). Larutan organik ini
mengendapkan protein yang akan menggumpal pada batas antara fase air dan
fase organik. Fungsi isoamil alkohol untuk mencegah terjadinya emulsi
(Sudjadi, 2008).
Metode pengendapan DNA paling banyak dilakukan dengan etanol
yang mengandung natrium klorida pada suhu -200C. Pada preparasi sampel
DNA, setelah pengendapan dengan etanol, DNA disentrifugasi kemudian
dilarutkan kembali dalam buffer TE. DNA plasmid dapat dimurnikan lebih
lanjut dengan sesium klorida. Sedangkan preparasi DNA kromosom,
endapan DNA akan berbentuk kabut putih berisi molekul DNA dalam bentuk
benang panjang yang dapat diambil dengan batang pengaduk (Sudjadi,
2008).
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
16
Pada zaman modern ini, telah dilakukan pengembangan dan
modifikasi proses ekstraksi DNA, salah satunya menggunakan spin coloumn
yang mengandung silicon dioxide. Prinsip dari metode ini adalah
berdasarkan tingginya afinitas muatan negatif dari rantai utama DNA
terhadap partikel silika yang bermuatan positif. DNA dapat terikat dengan
kuat pada silika dibawah kondisi garam chaotropic seperti Guanidine-HCl.
Garam ini dapat memecah ikatan hidrogen antara ion oksigen pada DNA
dengan ion hidrogen pada air. DNA yang terabsorpsi oleh silika dapat
dipisahkan dari protein dan sel debris dengan pencucian. DNA murni
kemudian dapat dielusi dari silika dengan buffer Tris-EDTA atau Aquabidest
(Chee Tan dan Chin Yiap, 2009).
Untuk mengukur DNA, dapat dilakukan pengukuran konsentrasi
DNA dengan spektrofotometri UV. Kemurnian larutan DNA murni memiliki
rasio A260/A280 adalah 1,8. Jika rasio kurang dari 1,8 menunujukkan
adanya pengotor protein atau fenol, sedangkan jika rasio lebih dari 1,8
menunjukkan adanya RNA (Sudjadi, 2008).
2.5.3.DNA Mitokondria
Mitokondria merupakan organel intraseluler dengan ukuran 0,2 µm
sampai 0,5 µm, berbentuk bulat atau berbentuk tongkat. Mitokondria
diselubungi oleh dua membran
yaitu membran luar bersifat licin dan
berhubungan dengan sitoplasma, sedangkan membran dalam berbentuk
lekukan dan lipatan ke dalam disebut dengan krista. Fungsi mitokondria
sebagai tempat respirasi sel, yaitu proses katabolik yang membutuhkan
oksigen dalam produksi adenosin trifosfat (ATP). Di dalam mitokondria
mengandung DNA dan ribosom yang berfungsi melaksanakan proses sintesis
protein (Brensick, 1996).
Ukuran DNA mitokondria pada hewan 15 sampai 20 kb dan
mengandung 37 gen (Boore, 1999). Penggunaan MtDNA dalam analisis
karena memiliki jumlah kopi tinggi menjadikannya mudah diisolasi dan
dipurifikasi untuk keperluan analisis genom (Sholihin, 1994).
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
17
Gambar 5. Struktur DNA Mitokondria
(Sumber : Moraes et al, 2002)
2.6. PCR
Polymerase Chain Reaction (PCR) adalah suatu teknik sintesis dan
amplifikasi DNA secara in vitro, dimana setiap fragmen DNA dapat
diamplifikasi dengan cepat tanpa menggunakan sel. DNA diinkubasi dalam
tabung reaksi dengan DNA polimerase jenis khusus, suatu pasokan
nukleotida, dan potongan pendek DNA untai tunggal sintetik yang berfungsi
sebagai primer. (Campbell, Reece Nail, Jane B., Mitchell, Lawrence G.
2002).
PCR memungkinkan adanya perbanyakan DNA antara dua primer,
hanya di dalam tabung reaksi, tanpa perlu memasukkannya ke dalam sel (in
vivo). Pada proses PCR dibutuhkan DNA untai ganda yang berfungsi sebagai
cetakan (templat) yang mengandung DNA-target (yang akan di amplifikasi)
untuk pembentukan molekul DNA baru, enzim DNA polimerase,
deoksinukleosida trifosfat (dNTP), dan sepasang primer oligonukleotida.
Pada kondisi tertentu, kedua primer akan mengenali dan berikatan dengan
untaian DNA komplemennya yang terletak pada awal dan akhir fragmen
DNA target, sehingga kedua primer tersebut akan menyediakan gugus
hidroksil bebas pada karbon 3’. Setelah kedua primer menempel pada DNA
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
18
templat, DNA polimerase mengkatalisis proses pemanjangan kedua primer
dengan menambahkan nukleotida yang komplemen dengan urutan
nukleotida templat. DNA polimerase mengkatalisis pembentukan ikatan
fosfodiester antara OH pada karbon 3’ dengan gugus 5’ fosfat dNTP yang
ditambahkan. Sehingga proses penambahan dNTP yang dikatalisis oleh
enzim DNA polimerase ini berlangsung dengan arah 5’→3’ dan disebut
reaksi polimerisasi. Enzim DNA polimerase hanya akan menambahkan
dNTP yang komplemen dengan nukleotida yang terdapat pada rantai DNA
templat (Ghaffar, 2007).
PCR melibatkan banyak siklus yang masing-masing terdiri dari tiga
tahap berurutan, yaitu pemisahan (denaturasi) rantai DNA templat,
penempelan (annealing) pasangan primer pada DNA target dan
pemanjangan (extension) primer atau reaksi polimerisasi yang dikaalisis oleh
DNA polimerase. (Ghaffar, 2007).
2.6.1.Komponen PCR
Komponen-komponen yang diperlukan pada proses PCR adalah
fragmen DNA yang akan diamplifikasi (template DNA), sepasang primer,
yaitu suatu oligonukleotida pendek yang mempunyai urutan nukleotida yang
komplementer
dengan
urutan
nukleotida
DNA
template,
dNTPs
(Deoxynucleotide triphosphates), buffer PCR, magnesium klorida (MgCl 2)
dan enzim polimerase DNA yang tahan panas (Taq polymerase). Semua
komponen PCR dicampur dalam total volume 10 – 50 μL (Muladno, 2010;
Handoyo dan Rudiretna, 2001; Sulistyaningsih, 2007).
1. Taq DNA Polymerase
Enzim ini bersifat termostabil dan diisolasi dari Thermus aquaticus.
Akitivitas polimerisasi DNA dari ujung-‘5 ke ujunug-‘3, dan aktivitas
enzimatik ini memiliki waktu paruh sekitar 40 menit pada suhu 95 º C.
Biasanya untuk setiap 100 uL volume reaksi, ditambahkan 2,0-2,5 unit
Taq polymerase. Penggunaan enzim ini harus memperhatikan proses
penyimpanan (selalu di freezer pada suhu -20ºC), dan pada saat
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
19
pengambilan tidak boleh terlalu lama di suhu ruang. Hal ini dilakukan
untuk meminimalkan kerusakan enzim akibat pengaruh suhu.
2. Primer
Merupakan oligonukleotida pendek rantai tunggal yang mempunyai
urutan komplemen dengan DNA templat yang akan diperbanyak. Panjang
primer berkisar antara 20-30 basa. Untuk merancang urutan primer, perlu
diketahui urutan 55 nukleotida pada awal dan akhir DNA target. Primer
oligonukleotida di sintesis menggunakan suatu alat yang disebut DNA
synthesizer.
Pasangan primer terdiri dari 2 oligonukleotida yang mengandung 16
– 30 nukleotida dan mempunyai 40 – 60 % GC content. Sekuen primer
kurang dari 16 basa dapat memicu amplifikasi produk PCR non spesifik.
Untuk ukuran primer yang pendek kemungkinan terjadinya mispriming
(penempelan primer pada situs non-target) tinggi, ini akan menyebabkan
berkurangnya spesifisitas dari primer tersebut yang nantinya akan
berpengaruh pada efektifitas dan efisiensi proses PCR. Sedangkan untuk
panjang primer lebih dari 30 basa tidak akan meningkatkan spesifisitas
primer secara bermakna dan ini akan menyebabkan biaya yang lebih
mahal.
Interaksi primer-primer seperti self-homology dan crosshomology
harus dihindari. Demikian juga dengan terjadinya mispriming pada daerah
lain yang tidak dikehendaki, ini semua dapat menyebabkan spesifisitas
primer menjadi rendah di samping itu konsentrasi primer menjadi
berkurang.
Melting temperatur (Tm) adalah temperatur di mana 50 % untai
ganda DNA terpisah. Pemilihan Tm suatu primer sangat penting karena
Tm primer sangat berpengaruh di dalam pemilihan suhu annealing proses
PCR. Tm berkaitan dengan komposisi primer dan panjang primer. Secara
teoritis Tm primer dapat dihitung dengan menggunakan rumus [2(A+T) +
4(C+G)]. Sebaiknya Tm primer berkisar antara 50° – 65°C.
3. dNTPs (Deoxynucleotide Triphosphates)
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
20
dNTPs merupakan suatu campuran yang terdiri atas dATP
(deoksiadenosin trifosfat), dTTP (deoksitimidin trifosfat), dCTP
(deoksisitidin trifosfat) dan dGTP (deoksiguanosin trifosfat). Dalam
proses PCR dNTPs bertindak sebagai building block DNA yang
diperlukan dalam proses ekstensi DNA. dNTP akan menempel pada gugus
–OH pada ujung 3’ dari primer membentuk untai baru yang komplementer
dengan untai DNA template. Konsentrasi dNTP harus seimbang untuk
meminimalkan kesalahan penggabungan. Konsentrasi dNTP yang rendah
akan mengurangi terjadinya mispriming pada daerah non target dan
menurunkan kemungkinan perpanjangan nukleotida yang salah, oleh
karena itu spesifitas dan ketepatan PCR meningkat pada konsentrasi
dNTP yang lebih rendah.
4. Buffer PCR dan MgCl2
Reaksi PCR hanya akan berlangsung pada kondisi pH tertentu. Oleh
karena itu untuk melakukan proses PCR diperlukan buffer PCR. Fungsi
buffer di sini adalah untuk menjamin pH medium. Selain buffer PCR
diperlukan juga adanya ion Mg2+, ion tersebut berasal dari berasal MgCl2.
MgCl2 bertindak sebagai kofaktor yang berfungsi menstimulasi aktivitas
DNA polimerase. Adanya MgCl2 akan meningkatkan interaksi primer
dengan template DNA.
5. DNA Template
Fungsi DNA template di dalam proses PCR adalah sebagai cetakan
untuk pembentukan molekul DNA baru yang sama atau molekul DNA
yang menjadi sekuen target yang akan diamplifikasi. Template DNA
dapat berupa DNA kromosom, DNA plasmid ataupun fragmen DNA
apapun asal di dalam DNA template tersebut mengandung fragmen DNA
target yang dituju. Ukuran DNA bukan merupakan faktor utama
keberhasilan PCR, berapapun panjangnya asal mengandung sekuen yang
diinginkan.
Konsentrasi
DNA
template
harus
dioptimasi.
Jika
konsentrasinya terlalu rendah maka primer mungkin tidak dapat
menemukan target, sebaliknya bila terlalu tinggi akan meningkatkan
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
21
kemungkinan mispriming. Disamping itu perlu diperhatikan kemurnian
template karena dapat mempengaruhi hasil reaksi.
2.6.2. Tahapan PCR
1.Denaturasi
Selama proses denaturasi, DNA untai ganda akan membuka menjadi
dua untai tunggal. Hal ini disebabkan karena suhu denaturasi yang tinggi
menyebabkan putusnya ikatan hidrogen diantara basa-basa yang
komplemen. Pada tahap ini, seluruh reaksi 53 enzim tidak berjalan,
misalnya reaksi polimerisasi pada siklus yang sebelumnya. Denaturasi
biasanya dilakukan antara suhu 90°C – 95°C.
2.Penempelan Primer
Pada tahap penempelan primer (annealing), primer akan menuju
daerah yang spesifik yang komplemen dengan urutan primer. Pada proses
annealing ini, ikatan hidrogen akan terbentuk antara primer dengan urutan
komplemen pada templat. Proses ini biasanya dilakukan pada suhu 50°C
– 60°C. Selanjutnya, DNA polymerase akan berikatan sehingga ikatan
hidrogen tersebut akan menjadi sangat kuat dan tidak akan putus kembali
apabila dilakukan reaksi polimerisasi selanjutnya, misalnya pada 72 °C.
3.Reaksi Polimerisasi
Umumnya, reaksi polimerisasi atau perpanjangan rantai ini, terjadi
pada suhu 72 °C. Primer yang telah menempel tadi akan mengalami
perpanjangan pada sisi 3’nya dengan penambahan dNTP yang
komplemen dengan templat oleh DNA polimerase.
Gambar.6. Siklus PCR, yang terdiri dari denaturasi,
penempelan primer (annealing) dan polimerisasinya
(Sumber: Ghaffar, 2007)
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
22
Jika siklus dilakukan berulang-ulang maka daerah yang dibatasi oleh
dua primer akan di amplifikasi secara eksponensial (disebut amplikon
yang berupa untai ganda), sehingga mencapai jumlah copy yang dapat
dirumuskan dengan (2n)x. Dimana n adalah jumlah siklus dan x adalah
jumlah awal molekul DNA. Jadi, seandainya ada 1 copy DNA sebelum
siklus berlangsung, setelah satu siklus, akan menjadi 2 copy, sesudah 2
siklus akan menjadi 4, sesudah 3 siklus akan menjadi 8 kopi dan
seterusnya.
Sehingga
perubahan
ini
akan
berlangsung
secara
eksponensial. PCR dengan menggunakan enzim Taq DNA polimerase
pada akhir dari setiap siklus akan menyebabkan penambahan satu
nukleotida A pada ujung 3’ dari potongan DNA yang dihasilkan. Sehingga
nantinya produk PCR ini dapat di kloning dengan menggunakan vektor
yang ditambahkan nukleotida T pada ujung-ujung 5’-nya. Proses PCR
dilakukan menggunakan suatu alat yang disebut thermocycler (Ghaffar,
2007).
2.7. Real-Time PCR
Real-time PCR adalah suatu metode untuk mendeteksi dan
penghitungan sinyal fluoresensi sebanding dengan dihasilkannya produk
PCR setiap siklus amplifikasi PCR (Dennis Lo et al., 2006). Kuantifikasi
level ekspresi gen dapat menghasilkan petunjuk tentang fungsi gen, sebagai
contoh yaitu pengukuran ekspresi gen dapat membantu mengidentifikasi
jenis sel atau jaringan dimana gen tersebut diekspresikan, selain itu juga
menunjukkan tingkat ekspresi gen keadaan biologis individu seperti jenis
penyakit yang terdapat pada individu tersebut (Fraga et al., 2008).
Penggunaan Real-time PCR memiliki beberapa keunggulan yaitu mampu
menganalisis sampel dengan jumlah relatif sedikit, memiliki kemampuan
untuk menghasilkan data cepat dan akurat, dan mampu menganalisis lebih
dari satu gen dalam satu waktu (Fraga et al., 2008).
Dalam penggunaan alat real-time PCR memiliki dua jenis
komponen bahan kimia untuk mendeteksi sampel selama siklus PCR yaitu
pewarna fluoresensi SYBR green dan probe DNA. Pewarna berfluoresensi
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
23
menginterkalasi DNA beruntai ganda, sedangkan probe DNA terdiri dari
oligonuklotida yang dihubungkan dengan pewarna fluoresensi dan quencher.
Pada proses pendegradasian melepaskan pewarna fluoresensi dari komponen
yang berfungsi untuk pendegradasi sehingga menghasilkan emisi fluoresensi
yang sebanding dengan jumlah template DNA. Sinyal fluoresensi yang
terbentuk diukur dan digunakan untuk kuantisasi DNA (Hui Chai et al.,
2011).
Instrumen real-time PCR mendeteksi amplikon dan mengukur
peningkatan fluoresensi yang dihasilkan dari sintesis DNA. Fluoresensi ini
dihasilkan ketika terjadi peningkatan ikatan double strand DNA dengan
pewarna atau probe fluorogenic pada pencampuran amplifikasi. Peningkatan
fluoresensi digambarkan dengan kurva yang terdiri dari tiga buah fasa yaitu
fasa awal atau fasa inisiasi yaitu fase terjadi pada siklus pertama PCR dimana
pancaran fluoresensi belum dapat dibedakan dari baseline, fasa eksponensial
atau fasa puncak merupakan fase peningkatan eksponensial dalam
fluoresensi sebelum fase plateau tercapai, dan fasa plateau atau fasa stabil
yaitu tidak terjadi peningkatan fluoresensi yang diamati (Vaerman, 2004;
Rodriguez, 2013).
Instrumen Real-time PCR memiliki tiga komponen utama yaitu
thermal block cycler sebagai akurasi data, optical system sebagai deteksi
data, dan software sebagai analisa data. Real-time PCR dapat menganalisa
banyak sampel hingga 96 sampel menggunakan multiwell plates (Rochec,
2008).
Gambar 7. Bentuk Kurva Real- Time PCR
(Sumber :Rodriguez, 2013)
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Halal Food and Drug
Analysis, Laboratorium Penelitian II, dan Laboratorium MPR Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah, Jakarta. Waktu pelaksanaan dari bulan Januari 2014 hingga
Desember 2014.
3.2. Alat dan Bahan
3.2.1. Alat
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah pisau steril,
mikropipet ukuran 10 μL, 200 μL, 1000 μL [BIO RAD], tips 10 μL, 100
μL, 1000 μL, tube dan mikro tube, high pure filtrationn tube [Roche],
collection tube [Roche], Spektrofotometer Nano Drop [BioDrop], dan mesin
real-time PCR [LightCycler® 480.0-Roche]. Alat gelas yang digunakan
adalah gelas ukur, gelas beaker [Pyrex], batang pengaduk dan cawan
penguap.
3.2.2. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah daging
sapi, daging babi, standar gelatin babi dan gelatin sapi pro analisa [Sigma
Aldrich], sukrosa, sirup glukosa, asam sitrat, tartrazine [Sigma Aldrich],
aquadest, aquabidest, gelatin sapi teknis [EMS], Natrium Asetat 3M
[Merck], Isopropanol [Merck] satu set High Pure PCR Template
Preparation Kit® Roche (meliputi: Tissue Lysis Buffer, Binding Buffer,
Proteinase K, Inhibitor Removal Buffer, Wash Buffer, dan Elution
Buffer),etanol absolut [Merck],isopropanol [Merck], ddH2O [Roche], LC
TaqMan Probe Master [Roche] yang terdiri: FastStart Taq DNA
Polymerase, buffer, dNTP mix, MgCl2 6,4 mM. Dan primer-probe seperti
pada tabel berikut.
24
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
25
Tabel. 3. Susunan basa primer dan probe untuk DNA sapi dan babi (Sumber
: Tanabe et al., 2007 dengan modifikasi)
Babi Forward 5'-ATCTTGCAAATCCTAACAGGCCTG-3'
Sapi
Reverse
5'-CGTTTGCATGTAGATAGCGAATAAC-3'
Probe
5'-(FAM)-CACAACAACAGCTTTCTCATCAGTTAC-(BHQ1)-3'
Forward
5'-CCCGATTCTTCGCTTTCCAT-3'
Reverse
5'-AATGGGATTTTGCTACGTCTGAGG-3'
Probe
5'-(FAM)-CCACCTACTATTCCTCCACGAAACA-(BHQ1)-3'
3.3. Tahapan Penelitian
1. Pembuatan Gummy Simulasi Vitamin C Dari Gelatin Babi Dan Gelatin
Sapi
2. Isolasi DNA dari Daging, Gelatin, dan Gummy Simulasi
3. Analisis
Konsentrasi
dan
Kemurnian
Isolat
DNA
dengan
Spektrofotometri DNA
4. Amplifikasi Isolat DNA dengan Real-Time PCR
5. Analisis Hasil Amplifikasi
3.4. Prosedur Kerja
3.4.1.Pembuatan Simulasi Gummy Vitamin C dari Gelatin Babi dan Gelatin
Sapi
Sebanyak 0,95 gr sukrosa, 0,9 gr glukosa dan 0,05 gr asam sitrat
dilarutkan dengan 1,4 mL aquadest diatas penangas air pada suhu 65 ºC
(larutan A). Pada wadah lain 0,5 gr gelatin dilarutkan dengan 1 mL aquadest
di atas penangas air dengan suhu 60º C (Larutan B). Sebanyak 0,075 gr
vitamin C dilarutkan dengan 0,1 ml aquadest diaduk hingga melarut (Larutan
C). Kemudian larutan A dan larutan C dicampur pada larutan B, diaduk
hingga homogen. Sebanyak 0,025 ml tartrazine dicampurkan ke larutan B
diaduk hingga terlihat warna yang homogen. Massa yang terbentuk disimpan
di dalam refigrator selama 24 jam. Untuk pembuatan sampel simulasi gummy
dengan berbagai presentase campuran babi sama perlakuan dengan prosedur
di atas (Schrieber and Gareis, 2007 dengan modifikasi).
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
26
Tabel.4. Komposisi Formula Simulasi Gummy Vitamin C
Penimbangan Bahan
Konsentrasi
Bahan
%
Gummy
Gummy
Simulasi
Simulasi
Sapi
1% Babi
Gummy
Gummy
Gummy
Simulasi
Simulasi
Simulasi
25%
50%
75%
Babi
Babi
Babi
Gummy
Simulasi
Babi
Sukrosa
19 %
0,95 gr
0,95 gr
0,95 gr
0,95 gr
0,95 gr
0,95 gr
Glukosa
18 %
0,9 gr
0,9 gr
0,9 gr
0,9 gr
0,9 gr
0,9 gr
10 %
0,5 gr
0,495 gr
0,375 gr
0,25 gr
0,375 gr
-
-
0,005 gr
0,125 gr
0.25 gr
0,125 gr
0,5 gr
Gelatin
*) Gelatin Sapi
*) Gelatin Babi
Asam sitrat
1%
0,05 gr
0,05 gr
0,05 gr
0,05 gr
0,05 gr
0,05 gr
Vitamin C
1,5 %
0,075 gr
0,075 gr
0,075 gr
0,075 gr
0,075 gr
0,075 gr
Tartazine
0,5 %
0,025 ml
0,025 ml
0,025 ml
0,025 ml
0,025 ml
0,025 ml
Aquadest
50 %
2,5 ml
2,5 ml
2,5 ml
2,5 ml
2,5 ml
2,5 ml
Total
100 %
5 gr
5 gr
5 gr
5 gr
5 gr
5 gr
3.4.2. Isolasi DNA
Proses isolasi DNA dilakukan dengan menggunakan High Pure
PCR Template Preparation Kit dari Roche.
1.Preparasi sampel
a. Daging Segar (Rochea, 2012; Erwanto et al., 2012)
Sebanyak 50 mg masing-masing daging sapi dan daging babi
dipotong halus dengan pisau steril. Masing masing daging tersebut
dimasukkan ke dalam microsentrifuge tube. Kemudian ke dalam tube
tersebut masing-masing ditambahkan 200 μl Tissue Lysis Buffer dan 40
μl larutan Proteinase K. Campuran divortex selama 1 menit dan
diinkubasi pada suhu 55ºC selama 24 jam dalam waterbath.
b.Gelatin dan Sampel Simulasi Gummy Vitamin C (Rochea, 2012; Erwanto
et al., 2012;Sambrook et al, 2001 dengan modifikasi)
Sebanyak 500 mg masing-masing gelatin sapi, gelatin babi dan
sampel
simulasi
gummy
vitamin
C
dimasukkan
ke
dalam
microtube,sampel simulasi gummy vitamin C dileburkan diatas penangas
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
27
dengan suhu 60ºC. Kemudian ditambahkan 500 µL natrium asetat 3M
dan 500 µL isopropanol (equal volume). Sampel dikocok dengan
membalikkan tube tiga kali hingga homogen.
2. Proses isolasi DNA (Roche a, 2012; Erwanto et al., 2012)
Sebanyak 600 µL sampel yang diambil dari campuran natrium asetat dan
isopropanol dilarutkan dalam 200 uL Tissue Lysis Buffer dan 40 uL
proteinase K kemudian diinkubasi pada suhu 55 °C selama 24 jam.
Setelah sampel melebur, ditambahkan 200 uL binding buffer divortex
selama 2 menit lalu diinkubasi pada suhu 70 °C selama 10 menit. Lalu
ditambahkan 200 μl isopropanol dan dihomogenkan dengan vortex
selama 2 menit. Campuran sampel dipipet ke atas High Pure Filter Tube
yang telah dipasangkan Collection Tube, kemudian tube ditutup dan
dilakukan sentrifugasi dengan kecepatan 8700 rpm selama 1 menit. Filter
tube dilepaskan dari collection tube dan cairan yang melewati filter
dibuang bersamaan collection tube. Filter tube dipasangkan kembali
dengan collection tube yang baru. Ditambahkan 500 μl Inhibitor
Removal Buffer melalui penyangga atas Filter Tube dan disentrifugasi
kembali dengan kecepatan 8700 rpm selama 1 menit. Filter tube
dilepaskan dari collection tube dan cairan yang melewati filter dibuang
bersamaan collection tube. Filter tube dipasangkan kembali dengan
collection tube yang baru. Ditambahkan 500 μl Wash Buffer kemudian
sentrifugasi kembali dengan kecepatan 8700 rpm selama 1 menit. Filter
tube dilepaskan dari collection tube dan cairan yang melewati filter
dibuang bersamaan collection tube. Filter tube dipasangkan kembali
dengan collection tube yang baru. Ditambahkan 500 μl Wash Buffer
kemudian sentrifugasi kembali dengan kecepatan 8700 rpm selama 1
menit. Filter tube dilepaskan dari collection tube dan cairan yang
melewati filter dibuang. Filter tube dipasang kembali dengan collection
tube dan dilakukan sentrifugasi selama 10 detik dengan kecepatan
maksimum. Hal ini dilakukan agar semua wash buffer tidak tertinggal
pada filter. Collection tube dilepaskan dari Filter tube dan dibuang.
Untuk mengelusi DNA yang terdapat pada filter, pasang Filter tube
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
28
tersebut pada 1.5 ml Microsentrifuge tube yang bersih dan steril. Elution
Bufffer dihangatkan dengan Penangas Air pada suhu ±70oC terlebih
dahulu. Kemudian ditambahkan 150 μl Elution Buffer yang telah
dihangatkan sebelumnya dan penambahan elution buffer dibagi menjadi
tiga kali dengan volume 50 uL. Sentrifugasi kembali selama 1 menit
dengan
kecepatan
8000
rpm.
Filter
tube
dilepaskan.
Pada
Microsentrifuge tube telah mengandung DNA terpurifikasi yang dapat
disimpan pada suhu 2oC, 8o C, 15o C, dan 25oC untuk dianalisa
selanjutnya.
3.4.3.Pengujian
Konsentrasi
dan
Kemurnian
Isolat
DNA
dengan
Spektrofotometer DNA
Alat spektrofotometer Biodrop dinyalakan, bagian ‘’nucleic
acid’’ditekan. Dipilih pathlength 0.5mm. Pedestal dibersihkan terlebih
dahulu dengan tissu kemudian dipipet sebanyak 1 μL blanko elution buffer
dan diteteskan pada pedestal. Bagian‘’BLANK’’pada layar ditekan untuk
pengukuran blanko, setelah selesai pedestal dibersihkan dengan tissue.
Larutan isolat DNA sebanyak 1μL dipipet dan dimasukkan ke dalam
pedestal, kemudian klik tombol ‘’ Measure’’ sehingga layar akan
menampilkan spektrum dan jumlah konsentrasi yang dihitung (Biodrop,
2012).
3.4.4.Amplifikasi Real-Time PCR
Proses yang dilakukan pada amplifikasi DNA dengan Real Time
PCR adalah sebagai berikut:
Larutan induk primer dan probe dengan konsentrasi 100 μM dibuat
dan dimasukkan ke dalam tube.Primer dan probe konsentrasi 10 μM yang
dibuat dari larutan induk 100 μM dan disimpan ke dalam tube yang lain.
Kemudian Master Mix dibuat dengan volume total 20 μL yang terdiri dari 5
μL template DNA, 1.4 μL Aquabidest, 1.6 μL primer forward konsentrasi
0,8 μM, 1.6 μL primer reverse konsentrasi 0,8 μM, 0.4 μL probe konsentrasi
0,2 μM, dan 10 μL LightCycler® 480 probe master (enzim FastStart Taq
DNA Polymerase, dNTP mix, dan 6.4 mM MgCl2). Masing-masing DNA
template dimasukkan ke well terlebih dahulu kemudian master mix
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
29
dimasukkan ke dalam multiwell plate pada well yang diinginkan dan ditutup
dengan sealing foil. Dilakukan proses pengaturan program LightCycler® 480
Real-Time PCR yang akan digunakan untuk proses amplifikasi. Setelah
campuran reaksi total PCR dan program amplifikasi telah siap, campuran
reaksi total PCR diletakkan pada multiwell plate yang ditutup menggunakan
sealing foil, kemudian diletakkan pada mesin real-time PCR. Instrumen
Real-Time PCR akan mengamplifikasi DNA secara otomatis dan langsung
memberikan hasil amplifikasi melalui monitor dalam bentuk kurva (Rochec,
2008).
Gambar.8. Program Amplifikasi Real-Time PCR
(Sumber : Rochec,2008)
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Pembuatan Simulasi Gummy Vitamin C
Gambar 9. Simulasi gummy vitamin C
Pada penelitian ini dilakukan pembuatan simulasi gummy vitamin C
yang terdiri dari simulasi gummy vitamin C sapi, simulasi gummy vitamin
C babi, serta simulasi gummy vitamin C campuran sapi dan babi dengan
persentase 1% babi, 25% babi, 50% babi, dan 75% babi. Formulasi simulasi
gummy vitamin c yang digunakan adalah sukrosa dan glukosa sebagai
pemanis, gelatin sebagai basis gummy, asam sitrat sebagai agen pengasam
dan tartrazin sebagai pewarna. Formulasi gummy simulasi vitamin C
merupakan modifikasi dari formulasi gummy yang terdapat pada Gelatine
Handbook : Theory and Industrial Practice (Schriber & Gareis, 2007).
Simulasi Gummy vitamin C yang dihasilkan pada penelitian ini
memiliki sifat organoleptis yaitu berwarna oranye, memiliki rasa asam,
kenyal, dan meleleh dalam mulut saat dikunyah. Berat sediaan gummy ratarata 3,8 gr. Berat sediaan tersebut masih belum memenuhi standar berat
sebenarnya yaitu 5 gr. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh beberapa hal
diantaranya sisa larutan gummy masih ada yang menempel pada dinding
cawan sehingga tidak tertuang keseluruhan.
4.2. Isolasi DNA
Proses isolasi DNA merupakan tahap awal sebelum dilakukannya
analisis sumber DNA pada sediaan gummy simulasi vitamin C. Isolasi DNA
dilakukan untuk mendapatkan DNA genom dari daging sapi, daging babi,
30
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
31
gelatin sapi, gelatin babi, simulasi gummy vitamin C sapi, simulasi gummy
vitamin C babi, serta simulasi gummy vitamin C campuran sapi dan babi
dengan berbagai konsentrasi. Ada tiga tahap umum dalam proses isolasi
DNA yaitu perusakan dinding sel (lisis), pemisahan DNA dari bahan padat
seperti selulosa dan protein, serta pemurnian DNA (Ardiana, 2009). Pada
penelitian ini isolasi DNA dilakukan dengan metode ekstraksi fase solid
menggunakan matriks silika dari kit komersial High Pure PCR Template
Preparation Roche. Alasan pemilihan metode ekstraksi dengan kit
komersial ini dibandingkan dengan metode konvensial dikarenakan metode
konvensional membutuhkan proses yang lama, jumlah sampel yang cukup
banyak dalam mengekstraksi serta jumlah reagen yang begitu besar. Kit
komersial yang digunakan pada penelitian ini menggunakan teknologi filter
matriks silika untuk mengisolasi DNA dari sampel. Prinsipnya yaitu asam
nukleat akan teradsorbsi oleh matriks silika pada filter dengan adanya garam
chaotropic seperti natrium asetat, guanidin tiosianat atau guanidin
hidroklorida. Adsorbsi asam nukleat dengan matriks silika disebabkan
adanya afinitas tinggi antara rantai asam nukleat yang bermuatan negatif
terhadap partikel silika bermuatan positif. Kekuatan adsorbsi silika terhadap
asam nukleat bergantung pada kekuatan ion dan pH lingkungan. Asam
nukleat yang teradsorbsi oleh silika akan mudah dibersihkan dari pengotor
lainnya dibawah tekanan gaya sentrifugal. Asam nukleat yang teradsorbsi
pada matriks silika dapat dielusi dengan menambahkan larutan rendah
garam (Tan C,S & Yiap CB.,2009; Jaiprakash, 2014; Chacon & Griffiths,
2014). Pada penelitian ini dilakukan beberapa modifikasi diantaranya pada
berat sampel yang digunakan, penambahan volume pereaksi, kecepatan
sentrifugasi, lama inkubasi, dan urutan langkah kerja.
Sebelum memulai proses isolasi, DNA sampel dipresipitasi terlebih
dahulu menggunakan isopropanol dan garam natrium asetat dengan volume
yang sama. Adanya isopropanol dapat mengurangi kelarutan DNA pada air
serta adanya garam natrium asetat berfungsi untuk mengikatkan muatan
negatif pada gugus fosfat DNA dengan kation natrium asetat (Greene,
1998). Langkah selanjutnya dalam isolasi DNA ini sampel dilisiskan
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
32
terlebih dahulu dengan 200 µL tissue lysis buffer. Larutan tissue lysis buffer
mengandung EDTA yang merupakan zat yang mengikat ion magnesium
pada dinding sel sehingga memudahkan proses pelisisan dinding sel
(Sudjadi, 2008). Urea 4M merupakan zat kaotropik yang mendenaturasi
protein pada sel. Tris 200 mM sebagai buffer yang menjaga kestabilan pH
DNA efektif pada pH 7-9 (Tan Alex, 2014).
Langkah selanjutnya sampel ditambahkan proteinase K lalu
diinkubasi pada suhu 55ºC selama 24 jam. Proteinase K berfungsi sebagai
pendegradasi protein yang terikat pada DNA. Proses degradasi protein
diperlukan kondisi yang optimal pada suhu 50-55º C dengan pH 7.5 sampai
8 (Kieleczawa, 2006).
Selanjutnya ditambahkan 200 µL binding buffer diinkubasi 10 menit
pada suhu 70 ºC dan ditambahkan 250 µL isopropanol untuk mengikat
DNA pada membran. Larutan sampel kemudian dimasukkan pada filter tube
yang telah terpasang pada collection tube kemudian disentrifugasi. Filter
tube yang telah digunakan sebelumnya, dipasangkan collection tube baru
dan ditambahkan inhibitor removal buffer.Tujuan dari penambahan
inhibitor removal buffer ini adalah untuk menghilangkan zat-zat pengotor
seperti protein yang menghambat pada amplifikasi PCR. Filter tube
kemudian dipasangkan dengan collection tube baru dan ditambahkan wash
buffer. Larutan wash buffer berfungsi menghilangkan sisa kotoran protein
dan garam kaotropik yang terikat pada DNA. Setelah dilakukan pencucian,
DNA yang terikat pada matriks silika kemudian dielusi dengan Elution
Buffer yang telah dipanaskan pada suhu 70 °C, tujuan pemanasan untuk
pengelusian isolat DNA secara optimal. (Roche, 2012; Kennedy, 2010).
Isolat DNA kemudian dianalisis konsentrasi dan kemurniannya dengan
spektrofotometer DNA.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
33
4.3. Analisa
Konsentrasi
dan
Kemurnian
Isolat
DNA
dengan
Spektrofotometer DNA
Tabel .5. Konsentrasi dan kemurnian Isolat DNA
NO
SAMPEL
KONSENTRASI
KEMURNIAN
( ng/µL)
(A260/A280)
1
Daging sapi
36,54
1,923
2
Daging babi
46
1,804
3
Gelatin sapi
29,44
1,597
4
Gelatin babi
10,36
1,610
5
Gummy sapi
17,18
1,606
6
Gummy babi
18
1,645
7
Gummy campuran babi 1%
13,85
1,565
8
Gummy campuran babi 25%
10,23
1,588
9
Gummy campuran babi 50%
12,06
1,504
10
Gummy campuran babi 75%
30,13
1,638
Analisa konsentrasi dan kemurnian DNA dilakukan dengan
menggunakan spektrofotometer DNA. Prinsip kerja spektrofotometer DNA
sesuai dengan spektrofotometer UV tetapi pengukuran dilakukan pada
panjang gelombang 260 nm dan 280 nm. Kemurnian isolat DNA dilihat
dengan rasio A260/A280 adalah 1,8-2 (Sambrook et al, 2001 ; Sudjadi,
2008;Conn, 2012). Konsentrasi DNA yang didapatkan pada daging sapi
sebesar 36,45 ng/µL dan daging babi sebesar 46 ng/µL. Sedangkan gelatin
sapi sebesar 29,44 ng/µL, gelatin babi sebesar 10,36 ng/µL, serta gummy
1% babi
sebesar13,85 ng/µL, gummy 25% babi sebesar 10,23ng/µL,
gummy 50% babi sebesar 12,06 ng/µL, dan gummy 75% babi sebesar 30,13
ng/µL. Konsentrasi isolat DNA daging yang didapatkan jauh lebih besar
dibandingkan DNA gelatin dan DNA sampel gummy. Hal ini dikarenakan
pada daging memiliki jumlah sel yang banyak dan belum mengalami proses
pengolahan sedangkan gelatin merupakan produk hasil hidrolisis dari
kolagen yang menyebabkan denaturasi DNA sehingga DNA yang
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
34
didapatkan sedikit. Kemurnian DNA daging kisaran 1,9-1,8. Sedangkan
kemurnian gelatin berada pada kisaran 1,6-1,5. Sampel gummy vitamin C
memiliki kemurnian pada kisaran 1,5-1,6. Nilai kemurnian DNA pada
daging termasuk dalam kategori murni karena memenuhi rasio antara 1,82,0. Adapun nilai kemurnian DNA pada gelatin maupun sampel simulasi
gummy vitamin C termasuk dalam kategori belum murni, karena nilai
kemurnian dibawah 1,8. Nilai kemurnian DNA pada sampel gelatin sapi,
gelatin babi, dan simulasi gummy vitamin C rendah disebabkan terdapat
kontaminan protein dimana nilai kemurnian 1,5 memiliki perbandingan
persentase protein dan asam nukleat yaitu sekitar 80% dan 20% selain hal
tersebut sebanyak 92% komposisi gelatin adalah protein maka dari itu
dengan presentase protein yang besar memungkinkan terdapat sisa protein
yang tertinggal dalam isolat DNA (Sambrook et al, 2001; Schrieber, 2007).
4.4. Amplifikasi DNA Daging, Gelatin, dan Sampel Simulasi Gummy
Vitamin C pada Real Time PCR
DNA yang berhasil diisolasi kemudian diamplifikasi dengan
menggunakan alat Real-Time PCR. Komponen yang digunakan pada proses
amplifikasi Real Time PCR adalah DNA template, satu pasang primer
spesifik sapi dan babi, hydrolysis probe, dan LC 480 probe master.
Proses deteksi dengan alat Real Time PCR membutuhkan sepasang
primer spesifik dengan spesies DNA sapi dan DNA babi yang diidentifikasi
secara in silico dengan website BLAST NCBI. Region DNA yang dipakai
terletak pada mitokondria cytB. Selain sepasang primer spesifik, dibutuhkan
juga
pewarna
fluoresensi
probe.
Hydrolysis
probe
merupakan
oligonuklotida probe yang dilabel dengan pemancar atau reporter dye pada
bagian ‘5 eksonuklease dan peredam atau quencher dye pada bagian ‘3
eksonuklease. Probe pada Real-Time PCR digunakan sebagai pewarna
pendeteksi adanya sinar fluoresen yang ditangkap. Pada proses annealing
setiap siklus, reporter probe akan dipisah dari quencher probe melalui
hibridisasi atau aktifitas nuklease Taq Polimerase (Johansson, 2006).
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
35
Campuran reaksi total PCR (Lampiran 5) dibuat dalam volume 20 μL
dengan konsentrasi tiap primer forward dan reverse 0,8 μM serta untuk
konsentrasi probe adalah 0,2 μM. Konsentrasi primer dan probe dibuat dari
larutan induk 10 μM (Lampiran 3). Konsentrasi primer untuk PCR
sebaiknya berkisar antara 0,3-1 μM dan untuk konsentrasi hydrolysis probe
berkisar antara 0,05-0,2 μM (Rocheb, 2008). Konsentrasi primer yang
optimal adalah konsentrasi terendah yang dapat menghasilkan nilai CP awal
dan kurva fluoresensi yang baik, begitu juga dengan probe. Analisa kurva
amplifikasi pada Real Time PCR dapat dilihat pada kenaikan kurva
amplifikasi dan nilai CP (crossing point). Nilai crossing point (CP) yaitu
siklus dimana fluoresensi mencapai ambang batas atau threshold sehingga
terjadi peningkatan signifikan saat pertama kali terdeteksi (Rodriguez,
2013).
Gambar 10. Hasil Amplifikasi pada Uji Spesifitas Primer Sapi
Menggunakan Kontrol Positif Daging Sapi, Gelatin Sapi
dan Simulasi Gummy Vitamin C Sapi
* Keterangan :DS = Daging sapi; GS = Gelatin Sapi; GB = Gelatin Babi;
DB = Daging Babi; GMS = Gummy Sapi; GMB =
Gummy babi; NTC = No Template Control; dan CP =
Crossing Point
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
36
Gambar 11. Hasil Amplifikasi Sampel Simulasi Gummy Vitamin
C dengan Primer Sapi
* Keterangan:DS = Da ging sapi; GS = Gelatin Sapi; GB = Gelatin
Babi; DB = Daging Babi; GMS = Gummy Sapi; GMB
= Gummy babi; NTC = No Template Control; dan CP
= Crossing Point
Sebelum pengujian sampel simulasi gummy, dilakukan pengecekan
spesifitas primer sapi dan babi. Pada uji spesifitas primer sapi dilakukan
dengan 40 siklus dengan suhu annealing 61º C. Hasil dari uji terlihat pada
gambar 8 primer dan probe sapi hanya mengamplifikasi daging sapi dengan
nilai CP 18,89, gelatin sapi dengan nilai CP 25,88, dan gummy sapi dengan
nilai CP 26,19.
Seluruh sampel simulasi gummy vitamin C diuji dengan menggunakan
primer sapi dan primer babi. Pada uji ini dilakukan dengan suhu annealing
61º C dan dilakukan sebanyak 40 siklus. Hasil kurva amplifikasi primer sapi
pada gambar 9 terlihat adanya perbedaan kenaikan kurva amplifikasi.
Kontrol positif daging sapi terlihat kenaikan kurva amplifikasi pertama kali
yaitu pada siklus 18,27 dengan konsentrasi DNA 36,54 ng/µL. Kurva
amplifikasi yang kedua yaitu pada gummy konsentrasi 75% babi pada siklus
24,91 dengan konsentrasi DNA 30,13 ng/µL. Kurva ketiga yang muncul
yaitu kontrol positif gelatin sapi pada siklus 25,31 dengan konsentrasi DNA
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
37
29,44 ng/µL. Kurva keempat yang muncul yakni gummy sapi pada siklus
25,49 dengan konsentrasi DNA 17,18 ng/µL. Adapun kurva kelima yaitu
gummy babi 50% pada siklus 26,06 dengan konsentrasi 12,06 ng/µL. Kurva
keenam muncul gummy babi 25% pada siklus 26,36 dengan konsentrasi
DNA 10,23 ng/µL. Secara teoritis, konsentrasi DNA yang tinggi
membutuhkan siklus amplifikasi lebih sedikit untuk mencapai CP, begitu
juga dengan konsentrasi DNA yang rendah membutuhkan siklus amplifikasi
lebih panjang untuk mencapai CP. Data di atas menunjukkan bahwa
semakin besar konsentrasi DNA maka semakin kecil nilai CP, dan
sebaliknya semakin sedikit konsentrasi DNA semakin besar nilai CP
(Rochec, 2008).
Gambar 12. Hasil Amplifikasi Pada Uji Spesifitas Primer Babi
Menggunakan Kontrol Positif Daging Babi, Gelatin Babi, dan
Simulasi Gummy Vitamin C Babi
*Keterangan :DS = Daging sapi; GS = Gelatin Sapi; GB = Gelatin Babi; DB
= Daging Babi; GMS = Gummy Sapi; GMB = Gummy babi;
NTC = No Template Control; dan CP = Crossing Point
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
38
Gambar 13. Hasil Amplifikasi Sampel Simulasi Gummy Vitamin
C dengan Primer Babi
*Keterangan:DS = Daging sapi; GS = Gelatin Sapi; GB = Gelatin
Babi; DB = Daging Babi; GMS = Gummy Sapi; GMB
= Gummy babi; NTC = No Template Control; dan CP
= Crossing Point
Pada uji spesifitas primer babi dilakukan dengan 50 siklus lebih
panjang dari siklus uji spesifitas primer sapi dengan suhu annealing 60º C.
Hasil pada pengujian ini terlihat pada gambar 10 adapun primer dan probe
babi hanya mengamplifikasi daging babi dengan nilai CP 20,77, gelatin
babi dengan nilai CP 38,40 dan gummy babi dengan nilai CP 37,01. Dan
kontrol negatif tidak terjadi kenaikan kurva amplifikasi.
Pada pengujian sampel simulasi gummy dilakukan sebanyak 50
siklus dengan suhu annealing 60º C. Hasil kurva amplifikasi dengan primer
babi ditunjukkan pada gambar 11. Berdasarkan hasil tersebut terlihat
kenaikan kurva pertama kali pada kontrol positif daging babi, pada siklus
ke 18,81 dengan konsentrasi DNA 46 ng/µL. Kemudian pada kurva
amplifikasi kedua muncul sampel babi konsentrasi 75% pada siklus 37,20
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
39
dengan konsentrasi DNA 30,13 ng/µL. Pada kurva amplifikasi ketiga
muncul gummy babi pada siklus 37,63 dengan nilai konsentrasi DNA 18
ng/µL. Adapun pada kurva amplifikasi keempat muncul gelatin babi pada
siklus 41,62 dengan konsentrasi DNA 10,36 ng/µL. Sedangkan pada kurva
kelima muncul sampel gummy 50% babi pada siklus 41,95 dengan nilai
konsentrasi DNA 12,06 ng/µL. Pada kurva keenam muncul sampel simulasi
gummy 25% babi pada siklus 42,08 dengan konsentrasi DNA 10,23 ng/µL.
Sedangkan pada sampel gummy 1% babi tidak terlihat kenaikan kurva
amplifikasi yang disebabkan konsentrasi gelatin dalam sediaan yang relatif
kecil sehingga pada proses ekstraksi tidak didapatkan isolat DNA. Secara
teoritis, konsentrasi DNA yang tinggi membutuhkan siklus amplifikasi
lebih sedikit untuk mencapai CP, begitu juga dengan konsentrasi DNA yang
rendah membutuhkan siklus amplifikasi lebih panjang untuk mencapai CP.
Data di atas menunjukkan bahwa semakin besar konsentrasi DNA maka
semakin kecil nilai CP, dan sebaliknya semakin sedikit konsentrasi DNA
semakin besar nilai CP (Rochec, 2008).
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
BAB 5
KESIMPULAN
5.1. Kesimpulan
1. Kondisi optimal proses isolasi DNA dari gummy dan gelatin diperoleh
melalui metode presipitasi DNA kombinasi natrium asetat dan isopropanol
dengan perbandingan volume 1:1.
2. Amplifikasi DNA dengan primer spesifik sapi dilakukan sebanyak 40
siklus dan kondisi annealing pada suhu 61ºC. Sedangkan amplifikasi DNA
dengan primer spesifik babi dilakukan sebanyak 50 siklus dengan kondisi
annealing pada suhu 60ºC.
3. Kurva amplifikasi real-time PCR menggunakan primer spesifik sapi
menunjukkan bahwa kontrol positif daging sapi, gelatin sapi dan simulasi
gummy sapi teramplifikasi dengan nilai CP 18,27, 25,31, dan 25,49
sedangkan kontrol negatif tidak menunjukkan kurva amplifikasi.
4. Kurva amplifikasi real-time PCR menggunakan primer spesifik babi
menunjukkan bahwa hanya kontrol positif yang teramplifikasi yaitu pada
daging babi, gelatin babi, dan gummy babi dengan nilai CP 18,81, 41,62,
37,63.
5.2. Saran
1. Sebaiknya dilakukan optimasi dan validasi metode isolasi DNA agar
mendapatkan isolat DNA dengan kemurnian 1,8-2,0.
2. Sebaiknya dilakukan uji kuantifikasi pada simulasi gummy untuk
mengetahui konsentrasi DNA setelah teramplifikasi.
40
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
41
DAFTAR PUSTAKA
Anonim (2006 ). Japanense Pharmacopoeia, Fifteen Edition. Electronic Version.
hal.333.
Ardiana, DW.(2009). Teknik Isolasi DNA Genom Tanaman Pepaya Dan Jeruk Dengan
Menggunakan Modifikasi Bufer CTAB, Buletin Teknik Pertanian Vol. 14 No. 1,
2009: 12-16.
BioDrop. (2012). Quick Start Guide. http://www.biodrop.co.uk. Diakses pada tanggal
30 November 2014 pukul 20.30.
Boran, G., & Regenstein, J. M. (2010). Chapter 5. Fish gelatin. Advances in Food and
Nutrition Research, 60, 119–143.
Boore.L.Jeffrey, Survey And Summary Animal mitochondrial genomes, Nucleic Acids
Research, (1999), Vol. 27, No. 8.
Brenstick Stephen.(1996).Intisari Biologi. Jakarta: Hipokrates.
Campbell, Nail A., Reece, Jane B., Mitchell, Lawrence G. (2002). BIOLOGI Edisi Kelima
Jilid 1, alih bahasa Rahayu Lestari. Jakarta: Erlangga.
Cai, H., X. Gu, M.S. Scanlan, D.H. Ramatlapeng and C.R. Lively, (2012), Realtime PCR
assays for detection and quantitation of porcine and bovine DNA in gelatin
mixtures and gelatin capsules, J. Food Compos. Anal., 25, 83-87.
Chacon & Griffiths.( 2014). Methods for extracting genomic DNA from whole blood
samples: current perspectives, Journal of Biorepository Science for Applied
Medicine 2014:2.
Cheng Hon, Rangasamy Murugesan, Tan Yee Sek, Wang Haichuan, Siegfried Blair D.
Evaluation of Five Methods for Total DNA Extraction from Western Corn
Rootworm Beetles. Journal Pone; e11963.
Conn, P. (2012). Laboratory Methods in Cell Biology: Biochemistry and Cell Culture
Volume 112. UK: Academic Press.
Dennis Lo, Chiu Rossa, Chan Allen.(2006). Clinical Application Of PCR Second Edition.
New Jersey. Humana Press.
Dean Fraga, Tea Meulia, and Steven Fenster.(2008). Current Protocols Essential
Laboratory Techniques 10.3.1-10.3.33.
Dirjen POM Departemen Kesehatan Republik Indonesi, (1995), Farmakope Indonesia,
Edisi IV, Jakarta.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
42
Erwanto, Y., Abidin, M.Z., Sismindari, dan Rohman, A. (2012). Pig Species
Identification in Meatballs Using Polymerase Chain Reaction- Restriction
Fragment Length Polymorphism for Halal Authentication. International Food
Research Journal 19 (3): 901-906.
Ethel sloane.(1995). Anatomi dan Fisiologi Pemula.Jakarta: EGC.
Fatchiyah, Arumingtyas L,Widyarti, Rahayu S. (2011). Biologi Molekular. Jakarta :
Erlangga.
Gaffar, Shabrani, M.Si. (2007). Buku Ajar Bioteknologi Molekul. Bandung :Universitas
Padjajaran.
Greene, J. (1998). Recombinant DNA Principles and Methodologies. United States:
Marcel Dekker Inc.
http://www.halalmui.org. Diakses pada tanggal 8 April 2014, pukul 09.38 WIB.
Handbook of Pharmaceutical Excipients edisi ke-6.pdf.
Hermanto,S., Sumarlin, L., Fatimah, W., (2013). Differentiation of Bovine and Porcine
Gelatin Based on Spectroscopic and Electrophoretic Analysis, J.Food Pharm.Sci. 1
(2013) 68-73.
Johansson, Mary Katherine. (2006). Choosing Reporter-Quencher Pairs for Efficient
Quenching Through Formation of Intramolecular Dimers. From: Methods in
Molecular Biology, vol. 335: Fluorescent Energy Transfer Nucleic Acid Probe:
Design and protocols. Edited by: V.V. Didenko. Humana Press Inc., Totowa, NJ.
Juwono dan Juniarto Zulfa Ahmad,(2000). Biologi Sel. Jakarta. EGC.
Kieleczawa, (2006). DNA Sequencing II: Optimizing Preparation and Cleanup. Canada.
Jonet and Barllet Publisher.
Kurniati, Elly.(2009). Pembuatan Konsentrat Protein dari Biji Kecipir dengan
Penambahan HCl. Jurnal Penelitian Ilmu Teknik 9(2) : 115 – 122.
Marks, BD. Marks, Allan. Smith, MC.1996.Biokimia Kedokteran Dasar. Jakarta.EGC.
Lanelli. (2014). Gummy Vitamins - Gummy Bear Vitamins for Kids. Diambil di
http://pediatrics.about.com/od/vitamins/a/810_gummy_vitamins.htm. Diakses 12
Desember 2014 pukul 21.00.
Muladno.(2010). Teknologi Rekayasa Genetik Edisi Kedua. Bogor : IPB Press.
M. Nemati, M. R. Oveisi, H. Abdollahi and O. Sabzevari, Differentiation of Bovine and
Porcine Gelatins Using Principal Component Analysis, Journal of Pharmaceutical
and Biomedical Analysis, vol. 34, 2004, 485-492.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
43
Moraes,TC., Srivastava, Kirkinezos, (2002). Mitochondrial DNA Structure And Function.
International Review Of Neurobiology, Vol 53.
Nhari, R.M.H.R., A. Ismail and Y.B. Che Man, (2012), Analytical methods for gelatin
differentiation from bovine and porcine origins and food products, J. Food Sci., 71,
R42-R46.
Phillips, Williams. (2009). Handbook of Hydrocolloid Second Edition. Cambridge:
Woodhead publishing limited UK.
Raja Mohd Hafidz, R. N., *Yaakob, C. M., Amin, I. and Noorfaizan, A, Chemical and
functional properties of bovine and porcine skin gelatin, International Food
Research Journal 18: 813-817 (2011).
Rapley Ralph, Walker John.(2000).Molecular Biology and Biotechnology Fifth
Edition.RSC. United Kingdom.
Sambrook, J., & Russell, D. W. (2001). Molecular Cloning, A Laboratory Manual 3rd
Edition. New York : Cold Spring Harbor Laboratory Press.
Raraswati, A.,Triyana, K., Triwahyudi., Rahman, A. (2012). Differentiation of Bovine
and Porcine Gelatins in Soft Candy Based on Amino Acid Profiles and Chemometric.
J. Food Pharm. Sci. 2 (2014) 1-6.
Rochea. (2012). High Pure PCR Template Preparation Kit. http://www.roche-appliedscience.com. Diakses pada 13 November 2014 pukul 17.05
Rocheb.(2008). LightCycler® 480 Probes Master. www.rocheapplied-science.com.
Diakses pada 15 November 2014 pukul 12.30
Rochec.(2008). The LightCycler® 480 Instrument Operator’s Manual.
www.rocheapplied-science.com Diakses pada 20 November 2014 pukul 12.50
Rodriguez, D.,&Lazaro.(2013). Real-time PCR in Food Science Current Technology and
Applications. Spanyol: Caister Academia Press.
Schreiber, R., & Gareis, H. (2007). Gelatine Handbook : Theory and Industrial Practice.
Jerman : Wiley Vch Verlag Gmbh dan Co. KgaA.
Solihin, Dedy Duryadi. (1994). Ulas balik Peran DNA Mitokondria (mtDNA) dalam Studi
Keragaman Genetik dan Biologi Populasi pada Hewan. Bogor : FMIPA IPB. ISSN
0854-8587.
Sudjadi.(2008).Bioteknologi Kesehatan. Yogyakarta. Kanisius.
Sumardjo, Damin.(2006).Pengantar Kimia : Buku Panduan Kuliah Mahasiswa
Kedokteran dan Program Strata I Fakultas Bioeksakta. Jakarta. EGC.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
44
Suryani,N.,Sulistiawati, F.,Fajriani,A. (2009). Kekuatan Gel Gelatin Tipe B Dalam
Formulasi Granul Terhadap Kemampuan Mukoadhesif. Makara, Kesehatan, Vol.
13, No. 1, Juni 2009: 1-4.
Sweetman, S.C. (2009). Martindale 36 The Complete Drug Reference. London: The
Pharmaceutical Press.
Tanabe, Soichi., Makiko Hase., Takeo Yano., Masahiko Sato., Tasuya Fujimura., and
Hiroshi Akiyama. (2007). A Real-Time Quantitative PCR Detection Method for
Pork, Chicken, Beef, Mutton, and Horseflesh in Foods. Japan : Setagaya-ku, Tokyo.
71 (12). 3131-3135.2007.
Tan Alex, (2014). Diambil di http://www.ehow.com/about_6370973_function-trisbuffer-dna- extraction_.html. Diakses 13 Desember 2014 pukul 13.34 WIB.
Tan, CS., Yiap, BC, (2009). DNA, RNA, and Protein Extraction: The Past and The
Present. Journal of Biomedicine and Biotechnology Volume 2009, Article ID
574398, 10 pages doi:10.1155/2009/574398.
Wangtueai,S.,Noomhorm,A.(2009). Processing optimization and characterization of
gelatin from lizardfish (Saurida spp.) scales, LWT - Food Science and Technology
42 (2009) 825–834.
Y.H.Hui.(2005). Handbook Of Food Science Technology And Engineering third Volume.
Crc Pr I Llc: China
Yuliarti, N. (2009). A To Z Food Supplement First Edition. Yogyakarta : CV Andi Offset.
Yuwono, Triwibowo. (2009). Biologi Molekular. Jakarta : Erlangga.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
45
Lampiran I. Kerangka Konsep
Pembuatan sampel gummy simulasi vitamin C dari gelatin babi dan
gelatin sapi dan berbagai konsentrasi campuran gelatin babi
1%,25%,50%,75%
Isolasi DNA dari daging sapi,daging babi, gelatin babi, gelatin sapi,
sampel simulasi gummy vitamin C
Isolat DNA
Mengecek konsentrasi dan Kemurnian DNA dengan
Spektrofotometer biodrop
DNA tidak
murni
DNA murni
Amplifikasi DNA dengan
Real- Time PCR
Analisa data kurva amplifikasi
Real Time PCR
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
46
Lampiran 2. Tabel Komposisi Kit Ekstraksi DNA Roche
Tabel.6. Komposisi Kit Ekstraksi DNA
NO
1
NAMA REAGEN
Tissue Lysis Buffer
KOMPOSISI
4M urea, 200mM Tris, 20 mM NaCl,200 mM
EDTA,pH 7,4
2
Binding Buffer
6 M guanidine HCl, 10 mM urea, 10 mM TrisHCl, 20% Triton X-100 (v/v),pH 4,4
3
4
Proteinase K
Inhibitor Removal Buffer
5
Wash Buffer
6
7
Elution Buffer
High Pure Filter Tube
8
Collection Tube
Enzim proteinase PCR grade
5 M guanidine-HCl, 20 mM Tris-HCl pH 6,6
20 mM NaCl, 2mM Tris-HCl pH 7,5
10 mM Tris-HCl pH 8,5
Berasal dari bahan polipropilen yang terdiri dari
dua lapisan serat kaca
Berasal dari bahan polipropilen
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
47
Lampiran 3. Membuat Larutan Primer dan Probe dan Natrium Asetat
1. Membuat larutan primer dan probe konsentrasi 10 µM dari larutan induk
100 µM
V1 . M1
= V2
. M2
X . 100 µM = 100 µL. 10 µM
1000
X
=
100
= 10 µL
Maka, 10 μL diambil dari masing-masing primer dan probe 100 μM dan
di add 90 μL PCR water grade
2. Rekomendasi konsentrasi untuk primer (LightCycler ® 480) adalah 0.3-1
µM, dipilih konsentrasi 0.8 µM untuk tiap primer
V1 . M1
= V2 . M2
X . 10 µM = 20 µL . 0.8 µM
16
X
=
10
= 1.6 µL
Maka, diambil 1,6 μL dari larutan primer konsentrasi 10 μM
3. Rekomendasi konsentrasi untuk probe (LightCycler ® 480) adalah 0.05-1
µM, dipilih konsentrasi 0.2 µM untuk tiap probe
V1 . M1
= V2 . M2
X . 10 µM = 20 µL . 0.2 µM
4
X
=
10
= 0.4 µL
Maka, diambil 0,4 μL dari larutan probe konsentrasi 10 μM
4. Membuat larutan natrium asetat konsentrasi 3M
3M =
𝑔𝑟
𝑀𝑅
𝑔𝑟
82,03
gr =
x
1000
𝑣
1000
x 100 𝑚𝐿
3𝑥82,03
100 𝑚𝐿
= 24,609 gr
Maka 24,609 gr Natrium Asetat dilarutkan dalam 100 mL aquadest
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
48
Lampiran 4. Perhitungan Tm (Melting Temperature) Primer
Rumus Tm = 2ºC (A+T) + 4ºC (G+C)
1.
Primer Sapi
 Primer sapi forward
Tm = 2ºC (2+8) + 4ºC (2+8)
= 60
 Primer sapi reverse
Tm = 2ºC (5+8) + 4ºC (8+3)
= 70
 Probe sapi
Tm = 2ºC (8+5) + 4ºC (1+11)
= 74
2.
Primer babi
 Primer babi forward
Tm = 2ºC (7+6) + 4ºC (4+7)
= 70
 Primer babi reverse
Tm = 2ºC (8+7) + 4ºC (6+3)
= 66ºC
 Probe babi
Tm = 2ºC (9+7) + 4ºC (2+9)
= 76ºC
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
49
Lampiran 5. Campuran Reaksi Mastermix untuk Amplifikasi DNA
Tabel .7. Campuran reaksi Hydrolysis Probe mastermix
Primer Forward
Primer Reverse
Probe
LightCycler® 480
Probe Master
ddH2O
DNA template
Konsentrasi
Larutan Induk
Jumlah yang digunakan
0.8 μM
0.8 μM
0.2 μM
-
10 μM
10 μM
10 μM
-
1.6 μL
1.6 μL
0.4 μL
10 μL
-
-
1,4 μL
-
-
5 μL
Total volume reaksi
20 μL
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
50
Lampiran 6. Hasil BLAST Berdasarkan Informasi NCBI
a.PRIMER BABI
*keterangan
Primer forward
Probe Babi
Primer Reverse
b.PRIMER SAPI
*keterangan
Primer Forward
probe sapi
Primer Reverse
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
51
Lampiran 7. Gambar Alat-Alat Dalam Penelitian
Gambar 1. Kit Isolasi DNA Roche
Gambar 2. Spektrofotometer DNA
Gambar 3. Instrumen Real-Time PCR
(ROCHE)
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
52
Lampiran 8. COA Gelatin Babi
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
53
Lampiran 9. COA Gelatin Sapi
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Download