Analisis Gender terhadap Pemberdayaan Perempuan dalam

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kemiskinan seperti masalah yang tanpa ujung pangkal.
Barangkali, peribahasa yang tepat untuk menggambarkan masalah
kemiskinan adalah mati satu tumbuh seribu. Kemiskinan merupakan
masalah yang kompleks. Kemiskinan ditandai dengan hilangnya hak
untuk mengakses kebutuhan dasar dan kelangkaan sumber daya.
Dalam kondisi miskin, perempuan menjadi pihak yang paling
menderita. Hal ini karena perempuan dihadapkan pada diskriminasi
dan subordinasi oleh laki-laki sehingga kurang memiliki akses dan
kontrol terhadap sumber daya.
Terkait dengan pelaksanaan pembangunan, peran ganda
perempuan selalu menjadi topik yang menarik untuk diperbincangkan,
khususnya keikutsertaannya dalam pembangunan. Meskipun
kenyataan di masyarakat menunjukkan bahwa potensi perempuan
yang jumlahnya cukup besar, belum dapat dimanfaatkan seluruhnya.
Hal tersebut disebabkan oleh berbagai hal, khususnya yang berkaitan
dengan faktor sosial budaya.
Penanggulangan masalah kesehatan dan kegawatdaruratan
melalui pemberdayaan perempuan dan keterlibatan perempuan dalam
kelembagaan masyarakat perlu mendapat perhatian agar kesejahteraan
masyarakat, khususnya berkaitan dengan kesehatan ibu, bayi/balita,
dan kesehatan lingkungan segera dapat diwujudkan. Pemberdayaan
perempuan untuk penanggulangan masalah kesehatan masyarakat dan
kegawatdaruratan diharapkan mampu menekan laju angka kematian
ibu, angka kematian bayi/balita maupun permasalahan kesehatan dan
1
Analisis Gender Terhadap Pemberdayaan Perempuan Dalam Kelurahan Siaga
lingkungan yang terus bertambah, terutama
melonjaknya kenaikan harga kebutuhan pangan.
dengan
dipicu
Program peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang
diimplementasikan melalui Program Desa/Kelurahan Siaga perlu
melibatkan perempuan melalui pemberdayaan dengan pemanfaatan
sumber daya yang ada. Upaya peningkatan kapasitas perempuan
dengan memperhatikan status perempuan dalam mewujudkan
peningkatan derajat kesehatan masyarakat merupakan hal yang sangat
penting dan mendesak.
Sesuai rekomendasi untuk pencapaian Millenium Development
Goals (MDGs) yakni meningkatkan peran perempuan dalam proses
pembangunan. Program pembangunan akan berhasil dengan
meningkatkan posisi perempuan dalam masyarakat sesuai salah satu
Tujuan Pembangunan MDGs dengan salah satu indikator pencapaian
pada tahun 2015 adalah mendorong kesetaraan gender dan
pemberdayaan perempuan.
Peningkatan derajat kesehatan masyarakat juga tidak terlepas
dari komitmen Indonesia sebagai warga masyarakat dunia untuk ikut
merealisasikan tercapainya MDGs. Dalam MDGs, kesehatan dapat
dikatakan sebagai unsur dominan. Dari delapan agenda MDGs, lima di
antaranya berkaitan langsung dengan kesehatan dan tiga yang lain
berkaitan secara tidak langsung. Lima tujuan/goal yang berkaitan
langsung dengan kesehatan itu adalah Goal 1 (Memberantas
kemiskinan dan kelaparan), Goal 4 (Menurunkan angka kematian
anak), Goal 5 (Meningkatkan kesehatan ibu), Goal 6 (Memerangi HIV
dan AIDS, Malaria, dan penyakit lainnya), serta Goal 7 (Melestarikan
lingkungan hidup). Dalam mencapai target kelima goal tersebut
diperlukan peran dan pemberdayaan perempuan. Hal tersebut selaras
dengan Goal 3 MDGs yaitu Pengarusutamaan Gender dan
Pemberdayaan Perempuan dalam Pembangunan.
Pemberdayaan perempuan dilakukan agar perempuan mampu
berpartisipasi aktif dalam setiap kegiatan yang berkaitan dengan upaya
peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Terkait dengan
2
Pendahuluan
pemberdayaan perempuan, Hastuti dan Respati (2009) dalam
penelitiannya yang berjudul Model Pemberdayaan Perempuan Miskin
Berbasis Pemanfaatan Sumber daya Perdesaan Upaya Pengentasan
Kemiskinan di Perdesaan (Studi di Lereng Merapi Daerah Istimewa
Yogyakarta) menyatakan bahwa pemberdayaan atau penguatan
perempuan miskin merupakan inti pemberdayaan perempuan dan akan
optimal apabila perempuan diberi kesempatan setara dengan laki-laki
dalam pemanfaatan sumber daya di perdesaan.
Menurut Hastuti dan Respati (2009:9), pemberdayaan
perempuan berhadapan dengan sistem nilai tentang perempuan dan
laki-laki di masyarakat terkait distribusi kekuasaan. Budaya patriarkhi
yang mendominasi masyarakat Jawa menempatkan perempuan dengan
tugas utama sebagai istri didukung nilai yang dikembangkan melalui
agama, kepercayaan, dan kebijakan yang menaungi. Berkaitan dengan
distribusi kekuasaan, akses dan kontrol terhadap sumber daya berperan
penting dalam menentukan pendapatan.
Lebih lanjut, Hastuti dan Respati (2009:9) menyatakan bahwa
kenyataan yang dihadapi perempuan miskin adalah ketidakadilan
dalam akses dan kontrol terhadap sumber daya perdesaan sehingga
kesulitan ekonomi harus selalu dihadapi. Kemiskinan dan
ketidakberdayaan perempuan menjadi fokus kajian agar mampu
meningkatkan kesejahteraan di perdesaan. Model pemberdayaan
perempuan miskin berbasis pemanfaatan sumber daya perdesaan
sebagai upaya pengentasan kemiskinan.
Peningkatan posisi tawar, keterampilan dan pengetahuan, akses
terhadap sumber daya menjadi tujuan pemberdayaan perempuan.
Langkah yang dilakukan antara lain melalui diskusi kelompok di
perdesaan dengan berbagi informasi dan konsultasi untuk menggali
persoalan yang dihadapi dalam pemberdayaan perempuan miskin.
Melalui kelompok diharapkan dapat menjadi model pemberdayaan
perempuan miskin yang berwawasan gender dan menjadi model bagi
masyarakat luas (Hastuti dkk, 2009:9).
3
Analisis Gender Terhadap Pemberdayaan Perempuan Dalam Kelurahan Siaga
Pendekatan
partisipasi
merupakan
langkah
untuk
pemberdayaan perempuan miskin dalam pemanfaatan sumber daya
perdesaan. Pendekatan ini diharapkan mampu mengajak perempuan
miskin agar selalu dapat berpartisipasi untuk meningkatkan kualitas
diri. Selain itu, pendekatan ini diyakini sebagai cara yang luwes karena
tidak harus mengikuti prosedur baku namun lebih disesuaikan dengan
kondisi di lapangan dengan memperhatikan kondisi, potensi, distribusi
dari perempuan miskin maupun ketersediaan sumber daya (Hastuti
dkk, 2009:9).
Menurut Hastuti dan Respati (2009:14), pemberdayaan
perempuan miskin dilakukan dengan meningkatkan kemampuan dan
melibatkan perempuan miskin untuk dapat berpartisipasi aktif dalam
pemanfaatan sumber daya perdesaan. Berpartisipasi dalam
mengembangkan kegiatan produktif melalui peningkatan keterampilan
dan pengetahuan untuk pemanfaatan sumber daya perdesaan secara
optimal dan berkelanjutan. Pemberdayaan perempuan miskin dalam
penelitian ini dilakukan melalui kelompok-kelompok yang difasilitasi
ketua yang diambil dari masyarakat setempat melalui kesepakatan
bersama.
Terkait dengan potensi dan peran perempuan, Elizabeth
(2007:130) dalam penelitiannya yang berjudul Pemberdayaan Wanita
Mendukung Strategi Gender Mainstreaming dalam Kebijakan
Pembangunan Pertanian di Perdesaan, menyatakan bahwa
keterbatasan kesempatan kerja dan berusaha menunjukkan betapa
perlu dan pentingnya pemberdayaan kaum wanita agar mampu
menghasilkan SDM dalam rumah tangga sebagai tenaga kerja dan
generasi penerus yang berkualitas dan berdaya saing tinggi.
Pemberdayaan (empowerment) merupakan serangkaian upaya untuk
meningkatkan kemampuan dan memperluas akses terhadap suatu
kondisi untuk mendorong kemandirian yang berkelanjutan (tanggap
dan kritis terhadap perubahan) serta mampu berperan aktif dalam
menentukan nasibnya sendiri, melalui penciptaan peluang yang seluasluasnya agar mampu berpartisipasi.
4
Pendahuluan
Terkait dengan pemberdayaan wanita, Elizabeth (2007:131)
menyatakan bahwa peran dan potensi mereka sangat dibutuhkan,
strategis kedudukannya, serta mulia nilainya dalam mengatur dan
mengurus sumber daya keluarga, terutama anak-anak, dan sumber
daya material rumah tangga lainnya. Anak-anak merupakan faktor
utama sumber daya manusia, sebagai calon generasi penerus. Selfreliance wanita, sebagai ibu rumah tangga, tercermin pada usaha
memaksimalkan kemampuan mereka mempersiapkan anak-anak untuk
mampu memperoleh pekerjaan yang lebih baik dari orangtuanya kelak,
melalui pembekalan pendidikan dan keterampilannya, di samping
pembinaan ahlak dan martabat mereka. Hal tersebut dapat dicapai
salah satunya melalui pemberdayaan (empowerment) mereka dalam
semua sektor. Oleh karena itu diperlukan inovasi dan adopsi teknologi
yang berkaitan dengan upaya peningkatan kemampuan dan potensi
wanita.
Pemberdayaan wanita juga merupakan upaya peningkatan dan
pengaktualisasian potensi diri mereka agar lebih mampu mandiri dan
berkarya, mengentaskan keterbatasan pendidikan dan keterampilan
mereka, dan mengentaskan mereka dari ketertindasan akibat perlakuan
yang diskriminatif dari berbagai pihak dan lingkungan sosial budaya
(Elizabeth, 2007:131).
Lebih lanjut, selain dalam konteks peran dan pemberdayaan
perempuan sebagai instrumen analisis gender, keberadaan dan
keberlangsungan program Kelurahan Siaga tidak terlepas dari aspek
kelembagaan Kelurahan Siaga tersebut. Kelembagaan Kelurahan Siaga
sebagai sebuah institusi mempunyai peran sangat strategis dalam
implementasi program pemberdayaan masyarakat khususnya berkaitan
dengan pembangunan kesehatan yang komprehensif.
Terkait dengan hal tersebut, analisis kelembagaan merupakan
hal yang sangat krusial untuk mengetahui proses pemberdayaan
perempuan dalam kelembagaan Kelurahan Siaga. Dalam konteks peran
dan pemberdayaan perempuan dalam kelembagaan pemberdayaan
masyarakat, Avillia (2006) dalam penelitiannya yang berjudul Analisis
Gender terhadap Kelembagaan Koperasi Bina Usaha Wanita (KBUW)
5
Analisis Gender Terhadap Pemberdayaan Perempuan Dalam Kelurahan Siaga
di Kelurahan Cipageran Kecamatan Cimahi Utara Kota Cimahi,
menyatakan bahwa Program Peningkatan Peranan Wanita Menuju
Keluarga Sehat Sejahtera (P2WKSS) merupakan salah satu program
pemerintah dalam pemberdayaan wanita untuk menanggulangi
masalah kemiskinan. KBUW menghadapi masalah yaitu wanita tidak
berdaya dalam mengikuti kegiatan KBUW. Dalam menganalisis
permasalahan tersebut, Avillia melakukan kajian dengan menggunakan
Analisis Harvard dan Analisis Pemberdayaan Longwe. Analisis
Pemberdayaan Longwe merupakan salah satu alat untuk melihat
pencapaian aspek pemberdayaan wanita yang menggunakan lima
dimensi, yaitu kesejahteraan, akses, kesadaran kritis, partisipasi, dan
kontrol. Sebelum itu terlebih dahulu dilakukan Analisis Harvard yang
bertujuan untuk menganalisis pembagian peran antara wanita dan lakilaki baik di dalam rumah tangga dan di dalam mengikuti kegiatan
KBUW (Avilia: 2006).
Hasil analisis Harvard menunjukkan bahwa wanita lebih
banyak melakukan peran reproduktif. Keadaan ini sangat
mempengaruhi wanita dalam mengikuti kegiatan KBUW. Analisis
Pemberdayaan Longwe yang menggunakan lima dimensi
menunjukkan hasil yang bersifat negatif, artinya tingkat keberdayaan
wanita dalam mengikuti kegiatan KBUW belum tercapai. Hal ini
berarti wanita terlibat dalam kegiatan KBUW bukan atas kesadaran
dirinya dan wanita belum dilibatkan di dalam pengambilan keputusan
penggunaan pinjaman dan pengelolaan KBUW. Konsekuensinya,
wanita belum merasakan manfaat KBUW untuk meningkatkan
pengetahuan, meningkatkan pendapatan keluarga, dan memenuhi
kebutuhan dirinya sendiri (Avilia, 2006).
Selanjutnya Sari (2006) melalui penelitiannya yang berjudul
Hubungan Pelaksanaan Bina Ekonomi dengan Proses Pemberdayaan
Masyarakat Kelurahan (PPMK) dari Perspektif Gender: Studi terhadap
Pemanfaatan Bina Ekonomi Tahun Guliran 2005 di Kotamadya Jakarta
Selatan, menggunakan perspektif gender untuk menganalisis
pemanfaatan kegiatan ekonomi dalam Program Pemberdayaan
Masyarakat Kelurahan (PPMK). Hasil penelitian ini cukup
6
Pendahuluan
mengejutkan karena ditemukan bahwa pelaksanaan program Bina
Ekonomi–sebagai salah satu aspek Tribina dalam pelaksanaan PPMK—
tidak sama hasilnya antara pemanfaat laki-laki dan perempuan.
Temuan lapangan yang menonjol berkaitan dengan perbedaan tersebut
adalah preferensi pengelola bina ekonomi, yang mayoritas berjenis
kelamin laki-laki, ternyata memberikan pengaruh yang cenderung
merugikan perempuan.
Terkait dengan pemberdayaan masyarakat sebagai unsur utama
pembangunan, Subejo dan Supriyanto memaknai pemberdayaan
masyarakat sebagai upaya yang disengaja untuk memfasilitasi
masyarakat lokal dalam merencanakan, memutuskan, dan mengelola
sumber daya lokal yang dimiliki melalui collective action dan
networking sehingga pada akhirnya mereka memiliki kemampuan dan
kemandirian secara ekonomi, ekologi, dan sosial. Mengkaji perempuan
terkait nilai atau ketentuan yang membedakan identitas sosial laki-laki
dan perempuan dalam ekonomi, politik, sosial dan budaya baik dalam
kehidupan keluarga, masyarakat, dan bangsa (Budiman, 1985:228).
Dalam konteks pembangunan masyarakat di bidang kesehatan
masyarakat, Undang-Undang Republik Indonesia No. 36 Tahun 2009
tentang Kesehatan mengamanatkan bahwa pembangunan kesehatan
harus ditujukan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan
kemampuan hidup sehat masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai
investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif
secara sosial dan ekonomis. Setiap orang berhak atas kesehatan dan
setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh akses atas
sumber daya di bidang kesehatan.
Upaya pengembangan Kelurahan Siaga merupakan program
lanjutan dan akselerasi dari program Pengembangan Desa Siaga yang
sudah dimulai pada tahun 2006 melalui Keputusan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 564/Menkes/SK/VIII/2006 tentang
Pedoman Pelaksanaan Pengembangan Desa Siaga. Selanjutnya setelah
pada tahun 2010 diperbarui berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 1529/Menkes/SK/X/2010 Tahun 2010
Tentang Pedoman Umum Pengembangan Desa dan Kelurahan Siaga,
7
Analisis Gender Terhadap Pemberdayaan Perempuan Dalam Kelurahan Siaga
pengembangan Kelurahan Siaga dilakukan melalui pemberdayaan
masyarakat, yaitu upaya memfasilitasi proses belajar masyarakat desa
dan kelurahan dalam memecahkan masalah-masalah kesehatannya.
Oleh karena merupakan upaya pembangunan desa dan kelurahan,
maka program ini memerlukan peran aktif dari berbagai pihak yang
terkait, mulai dari pusat, provinsi, kabupaten, kota, kecamatan, sampai
ke desa dan kelurahan.
Pengembangan Desa dan Kelurahan Siaga merupakan program
pemberdayaan masyarakat, sehingga dalam pelaksanaan kegiatannya
terintegrasi dengan program-program pemberdayaan masyarakat lain,
baik yang bersifat nasional, sektoral, maupun daerah. Salah satu
contohnya adalah Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat
(PNPM) Mandiri. Integrasi pengembangan Desa dan Kelurahan Siaga
ke dalam PNPM Mandiri merupakan sesuatu yang sangat penting,
karena tujuan dari PNPM Mandiri memang sejalan dengan tujuan dari
pengembangan Desa dan Kelurahan Siaga. Pada tingkat
pelaksanaannya, pengembangan Desa dan Kelurahan Siaga dapat
bersinergi dengan program PNPM Mandiri yang ada untuk kegiatankegiatan di bidang kesehatan masyarakat.
Selain itu, dalam konteks yang lebih luas, Desa dan Kelurahan
Siaga pada dasarnya mempunyai tujuan akhir peningkatan kualitas
hidup dan derajat kesehatan sebagai salah satu aspek dalam
penanggulangan
kemiskinan.
Kemiskinan
sebagai
masalah
multidimensi dan tidak hanya diukur dari pendapatan, tetapi juga
mencakup kerentanan dan kerawanan orang atau sekelompok orang
baik laki-laki maupun perempuan untuk menjadi miskin, dan
keterbatasan akses masyarakat miskin dalam penentuan kebijakan
publik yang berdampak pada kehidupan mereka. Sejalan dengan
definisi yang berbasis hak, permasalahan kemiskinan dilihat dari aspek
pemenuhan hak-hak dasar yang wajib dipenuhi oleh Negara, selain
Kecukupan dan Mutu Pangan, Mutu dan Layanan Pendidikan,
termasuk juga Mutu dan Layanan Kesehatan (Royat, 2010).
Rendahnya kualitas hidup di negara berkembang selain karena
rendahnya kualitas kesehatan juga karena kualitas pendidikan yang
8
Pendahuluan
masih belum memadai. Hal ini disebabkan karena berbagai faktor
seperti kemiskinan, kurang gizi, penyakit menular dan rendahnya
pengetahuan, keterampilan masyarakat dalam berperilaku hidup bersih
dan sehat, serta kemampuan untuk mengenali permasalahan yang
terjadi dan mampu memanfaatkan sumber daya yang ada sebagai upaya
untuk mengatasinya.
Dalam konteks Kota Salatiga, Kelurahan Kalibening sebagai
salah satu Kelurahan Siaga yang ada di Kota Salatiga telah memasuki
tahapan ketiga dari empat tahapan Kelurahan Siaga, yaitu Kelurahan
Siaga Purnama. Di bidang kesehatan, semangat masyarakat untuk
berperan aktif dalam pembangunan kesehatan sangat tinggi. Hal ini
tampak dari antusiasme penduduk Kelurahan Kalibening yang cukup
aktif mengikuti kegiatan posyandu dan mengikuti penyuluhan
kesehatan yang disampaikan melalui pertemuan PKK RW dan RT,
bahkan dalam kegiatan pengajian. Selain itu, masyarakat juga antusias
untuk membentuk lembaga lokal yang bergerak di bidang kesehatan,
seperti Kelurahan Siaga.
Pada prinsipnya, Kelurahan Siaga Kalibening merupakan wujud
partisipasi masyarakat dalam pembangunan kesehatan yang berbasis
pemberdayaan perempuan. Hal tersebut tampak dari susunan
keanggotaan dan kepengurusan Kelurahan Siaga di Kelurahan
Kalibening, di mana dari 18 anggota/pengurus, 14 orang di antaranya
perempuan (78 persen). Partisipasi kaum perempuan dalam Kelurahan
Siaga di Kelurahan Kalibening ternyata membuahkan hasil, di mana
pada tahun 2012, Kelurahan Siaga Kalibening mampu menjadi Juara I
Lomba Kelurahan Siaga Tingkat Kota Salatiga. Fenomena tersebut
sangat menarik untuk dicermati, mengingat kondisi sosial kultural di
Kelurahan Kalibening sebagai wilayah eks Kabupaten Semarang masih
menunjukkan ciri masyarakat perdesaan. Meskipun demikian, perlu
dikaji apakah partisipasi perempuan dalam Kelurahan Siaga Kalibening
merupakan wujud dari pemberdayaan atau justru sebaliknya. Hal ini
karena di dalam pemberdayaan selalu ada partisipasi tetapi tidak
sebaliknya.
9
Analisis Gender Terhadap Pemberdayaan Perempuan Dalam Kelurahan Siaga
Penelitian ini berusaha mengungkapkan sejauh mana
partisipasi masyarakat berbasis pemberdayaan perempuan dalam
pelaksanaan Kelurahan Siaga di Kelurahan Kalibening. Atas dasar
pernyataan tersebut penulis mencoba untuk mengetahui jawabannya
melalui suatu penelitian yang berjudul Analisis Gender terhadap
Pemberdayaan Perempuan dalam Kelurahan Siaga (Studi Kasus di
Kelurahan Siaga Kalibening, Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga).
Penelitian ini menjadi penting mengingat isu perempuan terkait
dengan pembangunan menjadi salah satu Goal dalam MDGs sedangkan
isu kesehatan berkaitan langsung dengan lima Goal dalam MDGs.
Masalah Penelitian
Upaya pengembangan Kelurahan Siaga merupakan program
lanjutan dan akselerasi dari program Pengembangan Desa Siaga yang
sudah dimulai pada tahun 2006. Berdasarkan Keputusan Menteri
Kesehatan RI No. 1529/Menkes/SK/X/2010 Tahun 2010 tentang
Pedoman Umum Pengembangan Desa dan Kelurahan Siaga,
pengembangan Kelurahan Siaga dilakukan melalui pemberdayaan
masyarakat, termasuk di dalamnya adalah pemberdayaan perempuan,
yaitu upaya memfasilitasi proses belajar masyarakat desa dan kelurahan
dalam memecahkan masalah-masalah kesehatannya. Oleh karena
merupakan upaya pembangunan desa dan kelurahan, maka program ini
memerlukan peran aktif dari berbagai pihak yang terkait, mulai dari
pusat, provinsi, kabupaten, kota, kecamatan, sampai ke desa dan
kelurahan.
Program peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang
diimplementasikan melalui Program Desa/Kelurahan Siaga perlu
melibatkan perempuan melalui pemberdayaan dengan pemanfaatan
sumber daya yang ada. Upaya peningkatan kapasitas perempuan
dengan memperhatikan status perempuan dalam mewujudkan
peningkatan derajat kesehatan masyarakat merupakan hal yang sangat
penting dan mendesak terutama dalam mendukung upaya peningkatan
derajat kesehatan masyarakat.
10
Pendahuluan
Kelurahan Kalibening sebagai salah satu Kelurahan Siaga yang
ada di Kota Salatiga telah memasuki tahapan ketiga dari empat
tahapan1 Kelurahan Siaga, yaitu Kelurahan Siaga Purnama, selain itu
pelaksanaan Kelurahan Siaga Kalibening merupakan wujud partisipasi
masyarakat dalam pembangunan kesehatan yang berbasis
pemberdayaan perempuan. Hal tersebut nampak dari susunan
keanggotaan dan kepengurusan Kelurahan Siaga Aktif di Kelurahan
Kalibening, di mana dari 18 anggota/pengurus, 14 orang di antaranya
perempuan (78 persen).
Berkaitan dengan hal tersebut, maka problematika yang diteliti
adalah bagaimana pemberdayaan perempuan dalam pelaksanaan
Kelurahan Siaga di Kelurahan Kalibening Kecamatan Tingkir Kota
Salatiga? Berdasarkan problematika tersebut dapat dirumuskan
pertanyaan penelitian sebagai berikut.
1)
Mengapa di kelurahan yang tertinggal dibandingkan kelurahan
lain di Kota Salatiga terdapat kemauan untuk mengembangkan
Kelurahan Siaga?
2)
Bagaimana pembagian peran antara perempuan dan laki-laki
dalam kelembagaan dan kegiatan Kelurahan Siaga?
3)
Sejauh mana partisipasi perempuan dalam Kelurahan Siaga
Kalibening?
4)
Bagaimana aspek pemberdayaan perempuan dalam Kelurahan
Siaga di Kelurahan Kalibening ?
5)
Faktor apa saja yang menjadi pendukung dan penghambat dalam
pemberdayaan perempuan pada Kelurahan Siaga di Kelurahan
Kalibening?
6)
Bagaimana peran modal sosial dalam pemberdayaan perempuan di
Kelurahan Siaga Kalibening?
Dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 564/Menkes/SK/VIII?2006 tentang
Pedoman Pelaksanaan Pengembangan Desa Siaga disebutkan bahwa empat tahapan
Desa Siaga adalah Desa Siaga Pratama (tahap terendah), Desa Siaga Madya, Desa Siaga
Purnama, dan Desa Siaga Mandiri (tahap tertinggi).
1
11
Analisis Gender Terhadap Pemberdayaan Perempuan Dalam Kelurahan Siaga
7)
Apa strategi yang perlu dirumuskan untuk menunjang
pemberdayaan perempuan berbasis gender dalam pelaksanaan
Kelurahan Siaga Kalibening?
Tujuan Penelitian
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk menganalisis
setiap tahapan kegiatan Kelurahan Siaga dengan menggunakan lima
dimensi Analisis Pemberdayaan Longwe yaitu Kesejahteraan, Akses,
Kesadaran Kritis, Partisipasi, dan Kontrol. Tujuan khusus yang ingin
dicapai dalam penelitian ini yaitu:
1.
mengetahui latar belakang pengembangan Kelurahan Siaga
Kalibening;
2.
menganalisis pembagian peran antara perempuan dan laki-laki
dalam kelembagaan dan kegiatan Kelurahan Siaga Kalibening;
3.
menganalisis partisipasi perempuan dalam Kelurahan Siaga
Kalibening;
4.
menganalisis bagaimana aspek pemberdayaan perempuan dalam
Kelurahan Siaga Kalibening;
5.
mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan
Kelurahan Siaga Kalibening;
6.
mengetahui peran modal sosial dalam pemberdayaan perempuan
di Kelurahan Siaga Kalibening; dan
7.
menyusun strategi berdasarkan Analisis Harvard dan Analisis
Pemberdayaan Longwe sehingga dapat menunjang kegiatan
Kelurahan Siaga dalam pemberdayaan perempuan.
Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat terhadap dua
hal, yaitu manfaat teoritis dan manfaat praktis.
12
Pendahuluan
1.
Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat terhadap
pengembangan ilmu terutama berkaitan dengan konsep dan isuisu gender dan pemberdayaan perempuan dalam program
pembangunan, khususnya dalam pelaksanaan Kelurahan Siaga.
2.
Manfaat Praktis
Manfaat praktis dari penelitian ini adalah sebagai berikut.
a.
Penelitian ini diharapkan dapat menggali lebih jauh mengenai
Kelurahan Siaga sebagai wujud dari program pemberdayaan
masyarakat di bidang kesehatan dan sebagai bahan kajian bagi
praktisi lapangan dalam mengambil kebijakan pemberdayaan
perempuan dalam upaya peningkatan derajat kesehatan
masyarakat. Bagi penelitian lebih lanjut, hasil penelitian ini
diharapkan dapat bermanfaat sebagai sumber inspirasi untuk
melakukan penelitian sejenis yang lebih mendalam dengan
konsep pendekatan yang berbeda.
b.
Sebagai masukan bagi institusi terkait, terutama dalam
pemberdayaan perempuan dalam pelaksanaan Kelurahan
Siaga.
c.
Bagi peneliti, penelitian ini diharapkan dapat memberikan
manfaat
berkaitan
dengan
pengalaman
dalam
mengimplementasikan konsep dan metodologi penelitian.
13
Download