9 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kanker 2.1.1 Pengertian Kanker

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kanker
2.1.1 Pengertian Kanker
Kanker merupakan suatu kondisi dimana sel telah mengalami kehilangan
pengendalian dan mekanisme normalnya sehingga mengalami pertumbuhan yang
tidak normal, cepat, dan tidak terkendali (LeMone, 2008 dalam Melia, 2013). Kanker
adalah proses penyakit yang bermula ketika sel abnormal menbentuk klon dan mulai
berploriferasi secara abnormal, mengabaikan sinyak pengatur pertumbuhan dalam
lingkungan sekitar sel tersebut (Smeltzer, 2002).
2.1.2 Etiologi Kanker
Smeltzer, 2002 menyatakan faktor-faktor tertentu telah memberikan implikasi
dalam proses karsinogenik. Faktor-faktor tersebut termasuk virus, agens fisik, agens
kimia, faktor genetik atau keturunan, makanan dan hormonal.
Virus sebagai penyebab kanker dianggap dapat menyatukan diri dalam
struktur genetik sel, sehingga mengganggu generasi mendatang dari populasi sel
tersebut. Sebagai contoh virus Epstein –Barr sangat dicurigai sebagai agens penyebab
9
10
limfoma Burkitt dan kanker Nasofaring. Virus herpes simpleks tipe II,
sitomegalovirus, dan human papilloma virus (HPV) tipe 16 dan 18, semuanya pernah
berkaitan dengan displasia dan malignansi serviks uteri.
Faktor fisik yang berkaitan dengan karsinogenesik mencakup pemajanan
terhadap sinar matahari atau radiasi, iritasi kronis atau inflamasi, dan penggunaan
tembakau. Pemajanan berlebih terhadap radiasi ultraviolet, terutama pada individu
yang berkulit terang dan bermata biru atau hijau, meningkatkan risiko kanker kulit.
Pemajanan terhadap medan elektromagnetik (EMF) dari kabel listrik, mikrowave, dan
telepon seluler juga meningkatkan risiko kanker. Sedangkan iritasi atau inflamasi
kronik diduga merusak sel-sel yang menyebabkan diferensiasi sel abnormal. Kanker
mulut berkaitan dengan penggunaan tembakau jangka panjang atau pemasangan gigi
palsu yang tidak pas. Melanoma berkaitan dengan mola yang mengiritasi secara
kronis, kanker kolorektal dengan kolitis ulserativa, dan kanker hepar dengan sirosis
(Smeltzer, 2002).
Beberapa kanker pada masa dewasa dan masa anak-anak menunjukkan
predisposisi keturunan. Kanker cenderung terjadi pada usia muda dan pada berbagai
tempat dalam satu organ atau sepasang organ. Pada kanker dengan predisposisi
herediter, umumnya saudara dekat (sedarah) mempunyai tipe kanker yang sama.
Kanker yang berkaitan dengan sifat yang diturunkan termasuk retinoblastoma,
nefroblastoma, leukimia, dan kanker payudara (Smeltzer, 2002).
Beberapa substansi makanan yang berkaitan dengan peningkatan risiko
kanker mencakup lemak, alkohol, daging diasinkan atau diasap, makanan yang
11
mengandung nitrat atau nitrit, dan masukan diet dengan kalori tinggi. Sedangkan
substansi makanan yang mengurangi risiko kanker yaitu makanan tinggi serat, dan
sayuran yang mengandung karotenoid (Smeltzer, 2002).
Pertumbuhan tumor mungkin dipercepat dengan adanya gangguan dalam
keseimbangan hormon baik oleh pembentukan hormon tubuh itu sendiri (endogenus)
atau pemberian hormon eksogenus. Kanker payudara, prostat, dan uterus dianggap
tergantung pada kadar hormon endogen untuk pertumbuhannya (Smeltzer, 2002).
2.1.3 Penatalaksanaan Kanker
Menurut Persatuan Ahli Bedah Onkologi Indonesia (2005) dalam Melia
(2013) penatalaksanaan atau pengobatan utama penyakit kanker meliputi empat
macam yaitu pembedahan, radioterapi, kemoterapi, dan terapi hormon.
Kemoterapi merupakan penggunaan preparat antineoplastik yang digunakan
sebagai upaya untuk membunuh sel-sel tumor dengan mengganggu fungsi dan
reproduksi selular. Setiap kali tumor terpajan terhadap agens kemoterapeutik,
persentase sel-sel tumor (20% sampai 99%, bergantung pada dosis) mengalami
kerusakan (Smeltzer, 2002).
Prinsip kerja dari kemoterapi yakni terapi sistemis yang ditambahkan pada
tubuh, dimana kemoterapi akan menyebar tanpa bergantung pada jalan masuknya dan
dapat mempengaruhi jaringan, organ bahkan sel tubuh, sehingga secara tidak
12
langsung setiap sel sehat dalam tubuh akan menerima racun dalam konsentrasi yang
sama. Adapun sel-sel yang rentan mengalami kerusakan akibat kemoterapi yaitu sel
dengan kecepatan pertumbuhan yang tinggi seperti epithelium, sumsum tulang,
folikel rambut dan sperma. Namun pada dasarnya kemoterapi akan mempengaruhi
berbagai sistem tubuh sebagai akibat penggunaan obat-obatan kemoterapi seperti
yang tercantum dalam jurnal Using Nursing Diagnoses in Prevention and
Management of Chemotherapy- Induced Alopecia in the Cancer Patient (2007).
Efek samping kemoterapi yang klien rasakan pada sistem pencernaan yaitu
mual dan muntah yang biasanya bersifat menetap hingga 24 jam setelah dilakukannya
kemoterapi. Selain itu klien dapat mengalami stomatitis dan anoreksia mengingat
epithelium merupakan salah satu sel yang berploriferasi cepat dan rentan terhadap
efek kemoterapi. Kemoterapi juga mendepresi fungsi sumsum tulang sehingga dapat
menurunkan produksi sel darah yang mengakibatkan klien rentan mengalami infeksi
ataupun anemia (Smeltzer, 2002). Kerusakan pada folikel rambut dapat
mengakibatkan kebotakan pada klien (alopesia). Menurut jurnal Using Nursing
Diagnoses in Prevention and Management of Chemotherapy- Induced Alopecia in the
Cancer Patient (2007) disebutkan bahwa alopesia akibat kemoterapi muncul karena
sitotoksik obat yang digunakan seperti doxorubicin dan paclitaxel. Dan pada sistem
reproduksi, kemoterapi dapat mengakibatkan azoospremia (tidak adanya sperma)
baik temporer atau permanen (Smeltzer, 2002).
Efek lain yang dapat dirasakan klien yaitu nyeri kronik dan rasa tidak nyaman
yang timbul sebagai akibat dari penyakit yang mendasarinya, prosedur pemeriksaan
13
diagnostik ataupun banyaknya pengobatan kanker yang harus digunakan. Nyeri
kronik merupakan penyebab utama ketidakmampuan fisik dan psikologis sehingga
memunculkan masalah seperti ketidakmampuan melakukan aktivitas sehari-hari yang
sederhana, disfungsi seksual, dan isolasi sosial dari keluarga dan teman-teman.
Berbagai efek yang menyertai kemoterapi dapat menyebabkan stress pada klien,
dimana stress dapat memunculnya perasaan cemas dan depresi (Smeltzer, 2002).
Menurut Snyder (1993) dan Egan (1993), salah satu metode yang dapat
dilakukan untuk menghilangkan stress dan kecemasan yaitu dengan teknik relaksasi.
Teknik yang biasa digunakan adalah relaksasi otot, relaksasi dengan imajinasi
terbimbing, dan relaksasi benson. Teknik relaksasi memiliki tujuan untuk
menghasilkan respon yang dapat memerangi stress dan kecemasan dengan
mekanisme menurunkan aktivitas sistem saraf simpatis dan parasimpatis, sehingga
diharapkan stress dan kecemasan psikologis dapat berkurang.
2.2 Relaksasi Otot Progresif
2.2.1 Pengertian Relaksasi Otot Progresif
Relaksasi merupakan kebebasan mental dan fisik dari ketegangan dan stres,
dimana teknik relaksasi memberikan individu kontrol diri ketika terjadi rasa tidak
nyaman atau nyeri, stres fisik dan emosi pada nyeri (Potter & Perry, 2006). Relaksasi
adalah suatu bentuk latihan untuk mengurangi stres, yang menurut cara latihannya
14
dibagi menjadi beberapa kelompok, yaitu relaksasi otot, relaksasi dengan latihan
pernapasan, dengan hipnosis/autosugesti, dan cara lain (Hartono, LA (2007). Menurut
Richmond (2007) dalam Mashudi (2011), relaksasi otot progresif merupakan suatu
prosedur untuk mendapatkan relaksasi pada otot melalui dua langkah, yaitu dengan
memberikan tegangan pada suatu kelompok otot, dan menghentikan tegangan
tersebut kemudian memusatkan perhatian terhadap bagaimana otot tersebut menjadi
rileks, merasakan sensasi rileks, dan ketegangan menghilang.
Dalam jurnal yang berjudul Pengembangan Multimedia “Relaksasi” oleh
Neila Ramdhani dan Adhyos Aulia Putra (2008) dinyatakan bahwa relaksasi
merupakan salah satu teknik pengelolaan diri yang didasarkan pada cara kerja sistem
saraf simpatis dan parasimpatis. Teknik relaksasi semakin sering dilakukan karena
terbukti efektif mengurangi ketegangan dan kecemasan, membantu orang yang
mengalami insomnia, dan asma.
Relaksasi otot bertujuan agar badan bisa rileks. Relaksasi ini dilakukan dengan
mencoba merasakan otot-otot saat tegang dan kaku, dengan cara mengencangkan
otot-otot badan, serta mencoba merasakan otot kendor dengan cara mengendorkan
otot-otot. Latihan dimulai dengan mengepalkan otot tangan dan lengan, kemudian
mengendorkannya; lakukan pula pada otot bahu dan dada, terus berganti-ganti ke otot
betis, otot kaki kiri, kemudian otot kaki kanan. Harus diperhatikan latihan otot
sebaiknya dilaksanakan dalam posisi duduk atau terlentang santai, dengan bernapas
pelan. Lakukan selama 15 menit (Hartono, LA 2007).
15
Dari penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa relaksasi progresif
merupakan salah satu teknik relaksasi untuk mengurangi ketegangan dan kecemasan,
dengan
melakukan
gerakan-gerakan
sistematis
berupa
pengencangan
dan
pengenduran otot yang ada di seluruh tubuh.
2.2.2 Prinsip Kerja Relaksasi Otot Progresif
Ankrom (2008) dalam Mashudi (2011) menyatakan bahwa stres dan kecemasan
mencetuskan beberapa sensasi dan perubahan fisik, meliputi peningkatan aliran darah
menuju otot, ketegangan otot, mempercepat atau memperlambat pernapasan,
meningkatkan denyut jantung, dan menurunkan fungsi digesti. Jika stres dan
kecemasan yang dialami berlangsung terus menerus, maka respon psikofisiologikal
yang berulang dapat membahayakan tubuh.
Brown (1997) dalam Snyder dan Linquist (2002) menyebutkan bahwa respon
stres adalah bagian dari jalur umpan balik yang tertutup antara otot-otot dan pikiran.
Penilaian terhadap stresor mengakibatkan ketegangan otot yang mengirimkan
stimulus ke otak dan membuat jalur umpan balik. Relaksasi otot progresif akan
menghambat jalur tersebut dengan cara mengaktivasi kerja sistem saraf parasimpatis
dan memanipulasi hipotalamus melalui pemusatan pikiran untuk memperkuat sikap
positif sehingga rangsangan stres terhadap hipotalamus berkurang (Copstead &
Banasik, 2000).
16
Pemberian relaksasi otot progresif akan menimbulkan stress fisik pada tubuh
sehingga merangsang hipotalamus untuk melepaskan CRF (Faktor Pelepas
Kortokotropin) yang selanjutnya merangsang sekresi ACTH. Sewaktu terjadi sekresi
ACTH dalam jumlah yang tinggi, beberapa hormon yang memiliki sifat kimiawi sama
juga akan disekresikan secara bersamaan. Sintesis ACTH menyebabkan pembentukan
suatu molekul protein yang lebih besar disebut, POMC (Proopimelanokortin) yang
salah satunya termasuk endhorpin. Sekresi endorphine akan mengakibatkan tubuh
menjadi rileks. Hal tersebut menimbulkan perasaan tenang sehingga ketegangan pun
berkurang (Guyton, 2007).
Menurut Domin (2001) dalam Wulandari (2006), secara fisiologis, latihan
relaksasi akan membalikkan efek stres yang melibatkan bagian parasimpatetik dari
sistem saraf pusat. Relaksasi akan menghambat peningkatan saraf simpatetik,
sehingga hormon penyebab disregulasi tubuh dapat dikurangi jumlahnya. Sistem
saraf parasimpatetik, yang memiliki fungsi kerja yang berlawanan dengan saraf
simpatetik, akan memperlambat atau memperlemah kerja alat-alat internal tubuh.
Akibatnya, terjadi penurunan detak jantung, irama nafas, tekanan darah, ketegangan
otot, tingkat metabolisme, dan produksi hormon penyebab stres. Seiring dengan
penurunan tingkat hormon penyebab stres, maka seluruh badan mulai berfungsi pada
tingkat lebih sehat dengan lebih banyak energi untuk penyembuhan (healing),
penguatan (restoration), dan peremajaan (rejuvenation). Berdasarkan hasil penelitian
oleh Wulandari (2006), peregangan otot berdampak pada berkurangnya ketegangan
ibu hamil. Beberapa subjek penelitian ternyata mampu merasakan efek psikologis
17
terhadap keluhan yang dirasakan, seperti rasa kencang di perut atau pegal di
punggung. Zinbarg, dkk. (1993) menyatakan bahwa dengan melakukan relaksasi otot,
individu akan menjadi lebih mampu mendeteksi peningkatan ketegangan pada tubuh
selama aktivitas sehari-harinya, digunakan sebagai isyarat untuk menerapkan latihan
relaksasi. Stuart (2009) dalam Supriatin (2011) menjelaskan bahwa dengan latihan
ini, individu dapat melakukan kontrol terhadap emosi yang mempengaruhi proses
berfikir, dan ketegangan otot. Terapi relaksasi otot progresif merangsang pengeluaran
zat‐zat kimia endorphin dan ensephalin serta merangsang signal otak yang
menyebabkan otot rileks dan meningkatkan aliran darah ke otak.
2.2.3 Manfaat Relaksasi Otot Progresif
Menurut Potter dan Perry (2006) perubahan/manfaat yang terjadi akibat teknik
relaksasi yaitu:
a. Menurunkan tekanan darah (nilai dasar)
b. Menurunkan frekuensi jantung (nilai dasar)
c. Mengurangi disritmia jantung
d. Mengurangi kebutuhan oksigen dan konsumsi oksigen
e. Mengurangi ketegangan otot
Menurut Silbernagl (2009) dalam Wahyuni dan Farid Rahman, kontraksi
isometrik mengaktivasi golgi tendon organ sehingga relaksasi dapat dicapai (reverse
18
innervation) dan ketegangan otot menurun. Hal itu terjadi karena adanya pelepasan
adhesi yang terdapat di dalam intermiofibril dan tendon 2:3. Kontraksi isometrik yang
dilakukan selama 9 detik mampu memperoleh relaksasi maksimal karena mekanisme
reverse innervation tadi. Proses relaksasi yang diikuti ekspirasi maksimal akan
memudahkan perolehan pelemasan otot diperoleh pelepasan adhesi yang optimal
pada jaringan ikat otot (fascia dan tendo). Selain itu respon relaksasi didapatkan
melalui pelepasan analgesik endogenus opiat (Enkifalen, betaendorfin, dimorfin)
yang ada didalam tubuh setelah melaksanakan teknik relaksasi progresif.
f. Menurunkan laju metabolik
g. Meningkatkan gelombang alfa otak, yang terjadi ketika klien sadar, tidak
memfokuskan perhatian dan rileks.
Jeong Lee, Eun, dkk (2012) menyajikan jurnal yang berjudul Monochord
sounds and progressive muscle relaxationreduce anxiety and improve relaxation
duringchemotherapy: A pilot EEG study. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
menyelidiki efek relaksasi dari musik monochord terhadap pasien yang menjalani
kemoterapi dibandingkan dengan pemberian relaksasi otot progresif yang juga
merupakan teknik relaksasi. Metode penelitian yaitu dengan membagi sampel
menjadi dua grup secara acak untuk diobservasi selama menjalani kemoterapi. Satu
grup mendengarkan musik monochord (n=20) dan grup yang lain diberikan terapi
relaksasi otot progresif (n=20). Masing-masing sesi diamati respon pre dan post
dengan menggunakan Spielberger’s State Anxiety Inventory (SAI) dan kuisioner
mengenai status fisik dan psikologis pasien. Pasien pada masing-masing grup
19
menunjukkan peningkatan dari segi fisik dan psikologis serta tingkat kecemasan.
Hasil : data EEG menunjukkan bahwa musik monochord dan relaksasi otot progresif
memiliki hubungan dalam meningkatkan aktivitas posterior theta (3,5 – 7,5 Hz) dan
menurunkan midfrontal beta-2 band (20-29,5 Hz) selama tahap akhir dari terapi.
h. Meningkatkan rasa kebugaran
i. Meningkatkan konsentrasi
j. Memperbaiki kemampuan untuk mengatasi stresor
Sedangkan menurut Supriatin (2011) manfaat relaksasi otot progresif antara
lain sebagai berikut.
a. Mengurangi kecemasan klien
b. Mengurangi insomnia
Hasil penelitian oleh Erliana (2008) dalam Virgantari (2013) yang
menunjukkan hasil sebelum diberikan latihan relaksasi otot progresif tingkat
insomnia tertinggi adalah insomnia ringan yaitu sebanyak 16 lansia (55,17%),
sedangkan tingkat insomnia terendah adalah insomnia sangat berat yaitu sebanyak 3
lansia (10,34%). Setelah diberikan relaksasi otot progresif selama 7 hari didapatkan
hasil tingkat insomnia mengalami penurunan, yaitu sebanyak 19 lansia (65,52%),
berubah menjadi tidak ada keluhan insomnia dan 10 lansia (24,48%) mengalami
insomnia ringan.
c. Menurunkan tingkat stress
d. Menurunkan denyut jantung dan tekanan darah
e. Menurunkan ketegangan otot
20
f. Meningkatnya kontrol diri (misalnya pada perilaku kekerasan)
2.2.4 Kontra Indikasi Relaksasi Otot Progresif
Beberapa hal yang mungkin menjadi kontra indikasi latihan relaksasi otot
progresif antara lain cidera akut atau ketidaknyamanan muskuloskleletal, dan
penyakit jantung berat/akut (Fritz, 2005) dalam Mashudi, 2011.
2.2.5 Prosedur Relaksasi Otot Progresif
Relaksasi otot progresif merupakan suatu prosedur untuk mendapatkan
relaksasi pada otot melalui dua langkah, yaitu dengan memberikan tegangan pada
suatu kelompok otot, dan menghentikan tegangan tersebut menjadi rileks, merasakan
sensasi rileks, dan ketegangan menghilang. Sangat baik dilakukan bila pasien dalam
posisi berbaring pada bantalan yang lunak atau di lantai, di ruang yang tenang, dan
bernapas lega. Seseorang biasanya membacakan instruksi dengan nada rendah dengan
cara yang lambat dan relaks, atau dapat diputar kaset yang berisi instruksi tersebut.
Pasien diminta menegangkan otot di seluruh tubuhnya, menahan, merasakan
ketegangan tersebut dan kemudian melemaskannya. Kemudian pasien mulai
menegangkan kelompok otot individual, sedangkan bagian tubuh yang lainnya rilekstangan, kemudian lengan, lalu bahu, dan sebagainya-setiap kali merasakan
21
ketegangan dan relaksasi. Setelah semuanya selesai, seluruh tubuh harus rileks
(Benson, 1993); Scandrett-Hibdon & Uecker, 1992).
Dalam Mashudi (2011) dijelaskan untuk hasil yang maksimal dianjurkan
untuk melakukan relaksasi otot progresif pada jam yang sama 2 kali sehari selama 2530 menit. Latihan bisa dilakukan pagi atau sore hari, dilakukan 2 jam setelah makan
untuk mencegah rasa mengantuk setelah makan (Charleswarth & Nathan, 1996).
Jadwal latihan biasanya memerlukan waktu 1 minggu. Berstein & Borkovec
menganjurkan menggunakan 10 sesi untuk latihan. Greenberg (2002) mengatakan
relaksasi akan memberikan hasil setelah dilakukan sebanyak 3 kali latihan.
Dalam Modul Progressive Muscle Relaxation (PMR) Perilaku Kekerasan oleh
Supriatin (2011), strategi pelaksanaan relaksasi otot progresif dibagi menjadi 4
(empat) sesi modifikasi dari relaksasi otot progresif yang disusun oleh Supriatin
(2010), yaitu:
a. Sesi satu: pelaksanaan tehnik relaksasi, meliputi: dahi, mata, rahang, mulut, leher
belakang dan leher depan, masing‐masing gerakan dilakukan sebanyak 2 kali.
Gerakan pertama ditujukan untuk otot dahi yang dilakukan dengan cara
mengerutkan dahi dan alis sekeras‐kerasnya hingga kulit terasa mengerut.
Lemaskan dahi dan alis secara perlahan hingga 10 detik lakukan kembali sekali
lagi.
Gerakan kedua merupakan gerakan yang ditujukan untuk mengendurkan otot‐otot
mata diawali dengan memejamkan sekuat‐kuatnya sehingga dapat dirasakan
22
ketegangan di sekitar mata dan otot‐otot yang mengendalikan gerakan mata.
Lemaskan kedua mata secara perlahan hingga 10 detik, lakukan kembali sekali
lagi.
Gerakan ketiga bertujuan untuk mengendurkan ketegangan yang dialami oleh
otot‐otot rahang dengan cara mengatupkan mulut sambil menggigit gigi
sekuat‐kuatnya, sehingga terasa ketegangan di sekitar otot‐otot rahang. Lemaskan
mulut secara perlahan hingga 10 detik lakukan kembali sekali lagi.
Gerakan keempat ini dilakukan untuk mengendurkan otot‐otot sekitar mulut.
Moncongkan bibir ke depan sekeras‐kerasnya hingga terasa tegang di mulut.
Lemaskan mulut dan bibir secara perlahan hingga 10 detik lakukan kembali sekali
lagi.
Gerakan kelima ditujukan untuk otot‐otot leher belakang. Klien dipandu untuk
menekankan kepala kearah punggung sedemikian rupa sehingga terasa tegang
pada otot leher bagian belakang. Lemaskan leher secara perlahan hingga 10 detik
lakukan kembali sekali lagi.
Gerakan keenam bertujuan untuk melatih otot leher bagian depan. Gerakan ini
dilakukan dengan cara tekuk atau turunkan dagu hingga menyentuh dada,
kemudian pasien diminta untuk membenamkan dagu ke dadanya sehingga dapat
merasakan ketegangan di daerah leher bagian depan. Lemaskan dan angkat dagu
secara perlahan hingga 10 detik lakukan kembali sekali lagi.
23
b. Sesi dua: pelaksanaan tehnik relaksasi, meliputi: tangan, tangan bagian belakang,
lengan dan bahu, masing‐masing gerakan dilakukan sebanyak 2 kali.
Gerakan ketujuh ditujukan untuk melatih otot tangan yang dilakukan dengan cara
menggenggam tangan kiri sambil membuat suatu kepalan. Selanjutnya pasien
diminta membuat kepalan ini semakin kuat sambil merasakan sensasi ketegangan
yang terjadi. Pada saat kepalan dilepaskan, pasien dipandu untuk merasakan rileks
selama 10 detik. Gerakan pada tangan kiri dilakukan dua kali sehingga pasien
dapat membedakan perbedaan antara ketegangan otot dan keadaan rileks yang
dialami. Prosedur serupa juga dilatihkan pada tangan kanan.
Gerakan kedelapan adalah gerakan untuk melatih otot tangan bagian belakang.
Gerakan ini dilakukan dengan cara menekuk kedua pergelangan tangan ke
belakang secara perlahan hingga otot‐otot tangan bagian belakang dan lengan
bawah menegang, jari‐jari menghadap ke langit‐langit. Lemaskan atau turunkan
kedua tangan secara perlahan hingga 10 detik lakukan kembali sekali.
Gerakan kesembilan adalah untuk melatih otot‐otot lengan atau biseps. Otot biseps
adalah otot besar yang terdapat di bagian atas pangkal lengan. Gerakan ini diawali
dengan menggenggam kedua tangan sehingga menjadi kepalan kemudian
membawa kedua kepalan ke pundak sehingga otot‐otot lengan bagian dalam
menegang. Lemaskan atau turunkan kedua tangan secara perlahan hingga 10 detik
lakukan kembali sekali lagi.
24
Gerakan kesepuluh ditujukan untuk melatih otot‐otot bahu. Relaksasi untuk
mengendurkan bagian otot‐otot bahu dapat dilakukan dengan cara mengangkat
kedua bahu kearah telinga. Lemaskan atau turunkan kedua bahu secara perlahan
hingga 10 detik lakukan kembali sekali lagi. Fokus perhatian gerakan ini adalah
kontras ketegangan yang terjadi di bahu, punggung atas dan leher.
c. Sesi tiga: pelaksanaan tehnik relaksasi, meliputi: punggung, dada, perut, tungkai
dan kaki, masing‐masing gerakan dilakukan sebanyak 2 kali.
Gerakan sebelas bertujuan untuk melatih otot‐otot punggung. Gerakan ini dapat
dilakukan dengan cara mengangkat tubuh dari sandaran kursi, lalu busungkan dada
dan dipertahankan selama 10 detik. Lemaskan punggung hingga 10 detik lakukan
kembali sekali lagi. Pada saat rileks, letakkan tubuh kembali ke kursi, sambil
membiarkan otot‐otot menjadi lemas.
Gerakan dua belas ditujukan untuk melatih otot‐otot dada. Gerakan ini dilakukan
dengan cara menarik nafas dalam sekuat‐kuatnya dan tahan beberapa saat sambil
merasakan ketegangan di bagian dada kemudian turun ke perut. Hembuskan nafas
secara perlahan. Sebagaimana dengan gerakan yang lain, gerakan ini diulangi
sekali lagi sehingga dapat dirasakan perbedaan antara kondisi tegang dan rileks.
Gerakan tiga belas bertujuan untuk melatih otot‐otot perut. Gerakan ini dilakukan
dengan cara menarik perut kearah dalam sekuat‐kuatnya. Tahan selama 10 detik
hingga perut terasa kencang dan tegang. Lemaskan perut secara perlahan hingga
10 detik, lakukan kembali sekali lagi.
25
Gerakan empat belas dan lima belas adalah gerakan gerakan untuk otot-otot kaki.
Gerakan ini dilakukan secara berurutan. Gerakan 14 bertujuan untuk melatih
otot‐otot paha, dilakukan dengan cara meluruskan kedua belah telapak kaki selama
10 detik hingga terasa tegang di kedua paha. Lemaskan kedua kaki secara perlahan
hingga 10 detik, lakukan kembali sekali lagi.
Gerakan kelima belas ditujukan untuk otot‐otot betis. Gerakan ini dilakukan
dengan cara menarik kedua telapak kaki kearah dalam sekuat‐kuatnya hingga
terasa tegang di kedua betis selama 10 detik. Lemaskan kedua kaki secara perlahan
hingga 10 detik, lakukan kembali sekali lagi.
d. Sesi empat: evaluasi kemampuan klien melakukan latihan relaksasi progresif.
2.2.6 Posisi Tubuh untuk Relaksasi
Posisi tubuh untuk relaksasi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu duduk atau
berbaring. Posisi duduk dilakukan dengan seluruh tubuh bersandar pada kursi,
meletakkan kaki datar pada lantai, terpisah antara kaki yang satu dengan yang lain,
menggantungkan lengan pada sisi atau meletakkan pada lengan kursi, dan
mempertahankan kepala sejajar dengan tulang belakang. Pada posisi berbaring, kaki
diletakkan terpisah satu sama lain dengan jari-jari kaki agak meregang lurus ke arah
luar, lengan diletakkan pada sisi tanpa menyentuh sisi tubuh, mempertahankan kepala
26
sejajar dengan tulang belakang dan menggunakan bantal yang tipis dan kecil di
bawah kepala (Potter & Perry, 2006).
2.2.7 Pengaruh Relaksasi Otot Progresif terhadap Tingkat Kecemasan
Ansietas menyebabkan respons kognitif, psikomotor, dan fisiologis yang tidak
nyaman, misalnya kesulitan berpikir logis, peningkatan aktivitas motorik agitasi, dan
peningkatan tanda-tanda vital. Untuk mengurangi perasaan tidak nyaman ini, individu
mencoba mengurangi tingkat ketidaknyamanan tersebut dengan melakukan perilaku
adaptif yang baru atau mekanisme pertahanan. Perilaku adaptif dapat menjadi hal
yang positif dan membantu individu beradaptasi dan belajar-misalnya, menggunakan
teknik imajinasi untuk memfokuskan kembali perhatian pada pemandangan yang
indah, relaksasi tubuh secara berurutan dari kepala sampai jari kaki, dan pernapasan
yang lambat dan teratur untuk mengurangi ketegangan otot dan tanda-tanda vital.
Respons negatif terhadap ansietas dapat menimbulkan perilaku maladaptif, seperti
sakit kepala akibat ketegangan, sindrom nyeri, dan respons terkait stres yang
mengurangi efisiensi sistem imun (Potter & Perry, 2006).
Menurut Domin (2001) dalam Wulandari (2006), secara fisiologis, latihan
relaksasi akan membalikkan efek stres yang melibatkan bagian parasimpatetik dari
sistem saraf pusat. Relaksasi akan menghambat peningkatan saraf simpatetik,
sehingga hormon penyebab disregulasi tubuh dapat dikurangi jumlahnya. Sistem
27
saraf parasimpatetik, yang memiliki fungsi kerja yang berlawanan dengan saraf
simpatetik, akan memperlambat atau memperlemah kerja alat-alat internal tubuh.
Akibatnya, terjadi penurunan detak jantung, irama nafas, tekanan darah, ketegangan
otot, tingkat metabolisme, dan produksi hormon penyebab stres. Seiring dengan
penurunan tingkat hormon penyebab stres, maka seluruh badan mulai berfungsi pada
tingkat lebih sehat dengan lebih banyak energi untuk penyembuhan (healing),
penguatan (restoration), dan peremajaan (rejuvenation).
2.3 Ansietas
2.3.1 Definisi Ansietas
Ansietas adalah perasaan takut yang tidak jelas dan tidak didukung oleh
situasi. Ketika merasa cemas, individu merasa tidak nyaman atau takut atau mungkin
memiliki firasat akan ditimpa malapetaka padahal ia tidak mengerti mengapa emosi
yang mengancam tersebut terjadi. Tidak ada objek yang dapat diidentifikasi sebagai
stimulus ansietas (Comer, 1992). Ansietas merupakan alat peringatan internal yang
memberikan tanda bahaya kepada individu.
Ansietas mencakup perasaan samar tentang ketakutan dan kekhawatiran dalam
merespons ancaman terhadap sistem nilai atau pola keamanan seseorang (May,
1977). Ansietas dan ketakutan menghasilkan respons simpatis yang mirip, mencakup
28
eksitasi kardiovaskuler, dilatasi pupil, berkeringat, tremor dan mulut kering. Ansietas
juga mencakup respons parasimpatis peningkatan aktivitas gastrointestinal (GI);
orang yang ansietas mengalami peningkatan ketegangan, kegelisahan umum,
insomnia, kekhawatiran dan perasaan tidak berdaya, serta kerisauan yang tidak jelas
mengenai situasi yang tidak dapat dihindari atau dipecahkan dengan mudah (May,
1977).
Ansietas merujuk pada perasaan yang ditimbulkan oleh ancaman nonspesifik
terhadap konsep diri seseorang yang menyangkut kesehatan, aset, nilai, lingkungan,
peran fungsi, pemenuhan kebutuhan, pencapaian tujuan, hubungan personal, serta
perasaan aman (Miller, 1999). Intensitas ansietas bervariasi bergantung pada beratnya
ancaman yang dirasakan dan kesuksesan atau kegagalan usaha mengatasi perasaan.
Dalam NANDA 2012-2014, ansietas didefinisikan sebagai perasaan tidak
nyaman atau kekhawatiran yang samar disertai respon autonom (sumber sering kali
tidak spesifik/ tidak diketahui oleh individu); perasaan takut yang disebabkan oleh
antisipasi terhadap bahaya. Hal ini merupakan isyarat kewaspadaan yang
memperingatkan individu akan adanya bahaya dan memampukan individu untuk
bertindak menghadapi ancaman.
Jadi dapat disimpulkan bahwa ansietas adalah perasaan yang muncul akibat
ketakutan dan kehawatiran yang dapat menimbulkan respon fisik ataupun psikologis
seperti berkeringat, tremor, insomnia, kegelisahan dan lain-lain sebagai respon
kewaspadaan dalam menghadapi ancaman atau bahaya.
29
2.3.2 Etiologi
Ansietas terjadi ketika seseorang mengalami kesulitan menghadapi situasi,
masalah, dan tujuan hidup. Apabila individu beradaptasi terhadap stres, tubuh
berespon dengan rileks dan kelenjar, organ serta respon sistemik menurun. Tahap
kelelahan terjadi ketika individu berespon negatif terhadap ansietas dan stres:
cadangan tubuh berkurang atau komponen emosional berubah sehingga timbul respon
fisiologis yang kontinyu dan kapasitas menjadi sedikit.
a. Teori biologi
Penelitian terkini berfokus pada penyebab biologis terjadinya ansietas yang
berlawanan dengan penyebab psikologis. Penelitian ini dimulai setelah tampak jelas
bahwa benzodiazepin yang ditemukan pada tahun 1950-an, mengurangi ansietas.
Liberthson et al. (1986) mempelajari hubungan antara prolaps katup mitral dengan
gangguan panik. Beberapa individu yang mengalami episode sikap bermusuhan,
iritabilitas, perilaku asosial, dan perasaan mendadak bahwa segala sesuatu tidak
nyata, dapat menunjukkan gangguan panik atipikal. Mereka mengalami abnormalitas
elektroensefalografik pada lobus temporal yang biasanya berespons terhadap
karbamazepin (suatu antionvulsan) atau obat-obatan lain dalam kategori ini (Sullivan
& Coplan, 2000).
b. Teori Genetik
Ansietas dapat memiliki komponen yang diwariskan karena kerabat tingkat
pertama individu yang mengalami peningkatan ansietas memiliki kemungkinan lebih
30
tinggi mengalami ansietas. Insiden gangguan panik mencapai 25 % pada kerabat
tingkat pertama, dengan wanita beresiko dua kali lipas lebih besar daripada pria.
Kembar monozigot memiliki concordance lima kali lebih besar daripada kembar
dizigot (DSM-IV-Tr, 2000). Horwath dan Weissman (2000) menjelaskan suatu
kemungkinan “sindrom kromosom 13”. Kromosom ini dikatakan terlibat dalam
hubungan genetik yang mungkin pada gangguan panik, sakit kepala hebat, dan
masalah ginjal, kandung kemih, atau tiroid (kebanyakan hipotiroid) atau prolaps
katup mitral.
c. Teori Neurokimia
GABA, suatu neurotransmiter inhibitor, berfungsi sebagai agens antiansietas
alami tubuh dengan mengurangi eksitabilitas sel sehingga mengurangi frekuensi
bangkitan neuron. GABA tersedia pada sepertiga sinaps saraf, terutama sinaps di
sistem limbik dan lokus seruleus, tempat neurotransmiter norepinefrin diproduksi,
yang menstimulasi fungsi sel. Karena GABA mengurangi ansietas dan norepinefrin
meningkatkan ansietas, diperkirakan bahwa masalah pengaturan neurotransmiter ini
menimbulkan gangguan ansietas.
Benzodiazepin, suatu kelas obat-obatan ansiolitik terikat pada tempat reseptor
yang sama seperti GABA Benzodiazepin membantu reseptor pascasinaps untuk lebih
reseptif terhadap efek GABA, yang lebih lanjut mengurangi frekuensi bangkitan sel
dan
mengurangi
ansietas.
Ansiolitik
mengurangi
ansietas
prabedah
dan
mengendalikan reaksi ansietas akut, tetapi agens ini harus digunakan dengan
bijaksana karena bersifat adiktif (Sullivan & Coplan, 2000).
31
Serotonin (5-HT), neurotransmiter indolamin yang biasanya terlibat dalam
psikosis dan gangguan mood, memiliki banyak subtipe. 5-HT1a berperan dalam
terjadinya ansietas, juga memengaruhi agresi dan mood. Serotonin diyakini
memainkan peran yang berbeda dalam OCD, gangguan panik, dan gangguan ansietas
umum, dan gangguan stres pascatrauma (Sullivan & Coplan, 2000).
d. Teori Psikodinamik (Intrapsikis/Psikoanalitik)
Freud (1936) memandang ansietas alamiah seseorang sebagai stimulus untuk
perilaku. Ia menjelaskan mekanisme pertahanan sebagai upaya manusia untuk
mengendalikan kesadaran terhadap ansietas. Misalnya, jika seseorang memiliki
pikiran dan perasaan yang tidak tepat sehingga meningkatkan ansietas, ia merepresi
pikiran dan perasaan tersebut. Represi adalah proses menyimpan impuls yang tidak
tepat ke dalam alam bawah sadar sehingga impuls tersebut tidak dapat diingat
kembali.
e. Teori Interpersonal
Harry Stack Sullivan (1952) berpendapat bahwa ansietas timbul dari masalahdalam hubungan interpersonal. Pada individu dewasa, ansietas muncul dari
kebutuhan individu tersebut untuk menyesuaikan diri dengan norma dan nilai
kelompok budayanya. Semakin tinggi tingkat ansietas, semakin rendah kemampuan
untuk mengomunikasikan dan menyelesaikan masalah dan semakin besar pula
kesempatan untuk terjadi gangguan ansietas.
32
2.3.3 Tingkat Respon Ansietas
Tabel 1 Tingkat Respon Ansietas
Tingkat
Ansietas
Ringan
(1+)
Sedang
(2+)
Berat
(3+)
Panik
(4+)
Respon fisik
Respon Kognitif
Respon Emosional
 Ketegangan
otot
ringan,sadar
akan
lingkungan
 Rileks atau sedikit gelisah
 Penuh perhatian
 Rajin
 Lapang persepsi luas,terlihat
tenang, percaya diri
 Perasaan gagal sedikit
 Waspada dan memerhatikan
banyak hal
 Mempertimbangkan informasi
 Tingkat pembelajaran optimal
 Lapang persepsi menurun
 Tidak perhatian secara selektif
 Fokus
terhadap
stimulus
meningkat
 Rentang perhatian menurun
 Penyelesaian masalah menurun
 Pembelajaran terjadi dengan
memfokuskan
 Perilaku otomatis
 Sedikit tidak sabar
 Aktivitas
menyendiri
 Terstimulasi
 Tenang





Lapang persepsi terbatas
Proses berfikir terpecah pecah
Sulit berpikir
Penyelesaian masalah buruk
Tidak
mampu
mempertimbangkan informasi
 Hanya
memperhatikan
ancaman
 Preokupasi dengan pikiran
sendiri
 Egosentris









 Merasa terbebani
 Merasa
tidak
mampu,
tidak
percaya
 Lepas kendali
 Mengamuk, putus
asa
 Marah,
sangat
 Ketegangan otot sedang
 Tanda-tanda vital meningkat
 Pupil
dilatasi
mulai
berkeringat
 Sering mondar mandir,
memukulkan tangan
 Suara berubah bergetar,
nada suara tinggi
 Kewaspadaan
dan
ketegangan meningkat
 Sering
berkemih,
sakit
kepala, pola tidur berubah,
nyeri punggung
 Ketegangan otot berat
 Hiperventilasi
 Kontak mata buruk
 Pengeluaran
keringat
meningkat
 Bicara cepat, nada suara
tinggi
 Tindakan tanpa tujuan dan
serampangan
 Rahang
menegang,
menggertakangigi
 Kebutuhanruanggerakmenin
gkat
 Mondar-mandir, berteriak
 Meremas tangan, gemetar
 Flight, fight atau freeze
ketegangan otot sangat berat
 Agitasimotorikkasar
 Pupil dilatasi
 Tanda-tanda vital meningkat
kemudian menurun.
 Tidak dapat tidur
 Hormon
stress
dan
Persepsi sangat sempit
Pikiran tidak logis, terganggu
Kepribadian kacau
Tidak dapat menyelesaikan
masalah
 Focus pada pikiran sendiri.
 Tidak rasional
 Sulit memahami stimulus
 Tidak nyaman
 Mudah tersinggung
 Kepercayaan diri
goyah
 Tidak sabar
 Gembira
Sangat cemas
Agitasi
Takut
Bingung
Merasa
tidak
adekuat
 Menarik diri
 Menyangkal
 Ingin bebas
33
neurotransmitter berkurang
 Wajah menyeringai, mulut
menganga
eksternal
 Halusinasi,
waham,
mungkin terjadi
takut
 Mengharapkan
hasil yang buruk
 Kaget, takut
 Lelah
Diadaptasi dari : Beck, A.T. & Emery,C. (1985). Anxiety disorders and phobia: a cognitive perpective.
New York: Basic Books; Peplau,H. (1952). Interpersonal relations in nursing. New York: GP
Putnam’s Sons; Selye,H. (1956). The stress of life. New York: McGraw-Hill; Sullivan,H.S. (1954).
The psychiatric interview. New York: W.W. Norton.
ilusi
2.3.4 Kategori Gangguan Ansietas
Gangguan ansietas memiliki banyak menifestasi, tetapi ansietas adalah
gambaran utama pada gangguan berikut ini (DSM-IV-TR,200) :
a. Gangguan panik dengan atau tanpa agorafobia
b. Gangguan fobia: sosial atau spesifik
c. Agorafobia tanpa gangguan panik
d. Gangguan obsesif-kompulsif (OCD)
e. Gangguan stres pascatrauma
f. Gangguan stres akut
g. Gangguan ansietas umum
h. Gangguan ansietas akibat kondisi medis
i. Gangguan ansietas akibat zat
34
2.3.5 Respon Fisiologis Dan Psikologis Terhadap Ansietas
Respons sistem saraf otonom terhadap rasa takut dan ansietas menimbulkan
aktivitas involunter pada tubuh yang termasuk dalam pertahanan diri. Serabut saraf
simpatis “mengaktifkan” tanda-tanda vital pada setiap tanda bahaya untuk
mempersiapkan pertahanan tubuh. Kelenjar adrenal melepas adrenalin (epinefrin),
yang menyebabkan tubuh mengambil lebih banyak oksigen, mendilatasi pupil, dan
meningkatkan tekanan arteri serta frekuensi jantung sambil membuat konstriksi
pembuluh darah perifer dan memirau darah dari sistem gastrointestinal dan
reproduksi serta meningkatkan glikogenolisis menjadi glukosa bebas guna
menyokong jantung, otot dan sistem saraf pusat. Ketika bahaya telah berakhir,
serabut saraf parasimpatis membalik proses ini dan mengembalikan tubuh ke kondisi
normal sampai tanda ancaman berikutnya mengaktifkan kembali respon simpatis
(Guyton, 2008).
Ansietas menyebabkan respons kognitif, psikomotor, dan fisiologis yang tidak
nyaman, misalnya kesulitan berpikir logis, peningkatan aktivitas motorik agitasi, dan
peningkatan tanda-tanda vital. Untuk mengurangi perasaan tidak nyaman ini, individu
mencoba mengurangi tingkat ketidaknyamanan tersebut dengan melakukan perilaku
adaptif yang baru atau mekanisme pertahanan. Perilaku adaptif dapat menjadi hal
yang positif dan membantu individu beradaptasi dan belajar-misalnya, menggunakan
teknik imajinasi untuk memfokuskan kembali perhatian pada pemandangan yang
indah, relaksasi tubuh secara berurutan dari kepala sampai jari kaki, dan pernapasan
35
yang lambat dan teratur untuk mengurangi ketegangan otot dan tanda-tanda vital.
Respons negatif terhadap ansietas dapat menimbulkan perilaku maladaptif, seperti
sakit kepala akibat ketegangan, sindrom nyeri, dan respons terkait stres yang
mengurangi efisiensi sistem imun (Potter & Perry, 2006).
2.3.6 Faktor Yang Mempengaruhi Kecemasan Pasien Kanker yang Menjalani
Kemoterapi
Menurut Kaplan dan Sadock (1997) dalam Lutfa, Umi dan Arina Maliya
(2008), terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kecemasan, yaitu:
a. Faktor-faktor intrinsik, antara lain:
(a) Usia pasien
Menurut Kaplan dan Sadock (1997) gangguan kecemasan dapat terjadi pada
semua usia, lebih sering pada usia dewasa dan lebih banyak pada wanita. Untari
(2013) menyatakan wanita cenderung memiliki sikap cemas karena wanita lebih
banyak menggunakan perasaan dalam menyikapi segala bentuk perubahan yang
terjadi, dikarenakan perempuan lebih peka terhadap emosi. Sebagian besar
kecemasan terjadi pada umur 21-45 tahun. Namun menurut Sarwono (2003) dalam
Lutfa dan Arina (2008) semakin bertambah usia seseorang tidak menjamin bahwa
kepribadiannya akan semakin baik. Ada beberapa variabel luar yang dapat
mempengaruhi seperti faktor pengalaman.
36
(b) Pengalaman pasien menjalani pengobatan
Kaplan dan Sadock (1997) dalam Lutfa dan Arina (2008) mengatakan
pengalaman awal pasien dalam pengobatan merupakan pengalaman-pengalaman
yang sangat berharga yang terjadi pada individu terutama untuk masa-masa yang
akan datang. Pengalaman awal ini sebagai bagian penting dan bahkan sangat
menentukan bagi kondisi mental individu di kemudian hari. Apabila pengalaman
individu tentang kemoterapi kurang, maka cenderung mempengaruhi peningkatan
kecemasan saat menghadapi tindakan kemoterapi.
(c) Konsep diri dan peran
Konsep diri adalah semua ide, pikiran, kepercayaan dan pendirian yang
diketahui individu terhadap dirinya dan mempengaruhi individu berhubungan
dengan orang lain. Menurut Stuart dan Sundeen (1991) peran adalah pola sikap
perilaku dan tujuan yang diharapkan dari seseorang berdasarkan posisinya di
masyarakat. Banyak faktor yang mempengaruhi peran seperti kejelasan perilaku
dan pengetahuan yang sesuai dengan peran, konsistensi respon orang yang berarti
terhadap peran, kesesuaian dan keseimbangan antara peran yang dijalaninya. Juga
keselarasan budaya dan harapan individu terhadap perilaku peran. Disamping itu
pemisahan situasi yang akan menciptakan ketidaksesuaian perilaku peran, jadi
setiap orang disibukkan oleh beberapa peran yang berhubungan dengan posisinya
pada setiap waktu. Pasien yang mempunyai peran ganda baik di dalam keluarga
atau di masyarakat ada kecenderungan mengalami kecemasan yang berlebih
disebabkan konsentrasi terganggu.
37
b. Faktor-faktor ekstrinsik, antara lain:
(a) Kondisi medis (diagnosis penyakit)
Terjadinya gejala kecemasan yang berhubungan dengan kondisi medis
sering ditemukan walaupun insidensi gangguan bervariasi untuk masing-masing
kondisi medis, misalnya: pada pasien sesuai hasil pemeriksaan akan mendapatkan
diagnosa pembedahan, hal ini akan mempengaruhi tingkat kecemasan klien.
Sebaliknya pada pasien yang dengan diagnosa baik tidak terlalu mempengaruhi
tingkat kecemasan.
(b) Tingkat pendidikan
Pendidikan bagi setiap orang memiliki arti masing-masing. Pendidikan
pada umumnya berguna dalam merubah pola pikir, pola bertingkah laku dan pola
pengambilan keputusan (Notoatmodjo, 2000). Tingkat pendidikan yang cukup
akan lebih mudah dalam mengidentifikasi stresor dalam diri sendiri maupun dari
luar dirinya. Tingkat pendidikan juga mempengaruhi kesadaran dan pemahaman
terhadap stimulus (Jatman, 2000). Yunitasari (2012) menunjukkan bahwa semakin
tinggi tingkat pendidikan seseorang semakin rendah pula kemungkinan mengalami
kecemasan. Hal ini dikarenakan pendidikan menjadikan individu lebih mudah
memahami fenomena yang terjadi pada dirinya.
(c) Akses informasi
Adalah pemberitahuan tentang sesuatu agar orang membentuk pendapatnya
berdasarkan sesuatu yang diketahuinya. Informasi adalah segala penjelasan yang
didapatkan pasien sebelum pelaksanaan tindakan kemoterapi terdiri dari tujuan
38
kemoterapi, proses kemoterapi, resiko dan komplikasi serta alternatif tindakan
yang tersedia, serta proses administrasi (Smeltzer & Bare, 2001).
(d) Proses adaptasi
Kozier and Oliveri (1991) mengatakan bahwa tingkat adaptasi manusia
dipengaruhi oleh stimulus internal dan eksternal yang dihadapi individu dan
membutuhkan respon perilaku yang terus menerus. Proses adaptasi sering
menstimulasi individu untuk mendapatkan bantuan dari sumber-sumber di
lingkungan dimana dia berada. Perawat merupakan sumber daya yang tersedia di
lingkungan rumah sakit yang mempunyai pengetahuan dan ketrampilan untuk
membantu pasien mengembalikan atau mencapai keseimbangan diri dalam
menghadapi lingkungan yang baru.
(e) Tingkat sosial ekonomi
Status sosial ekonomi juga berkaitan dengan pola gangguan psikiatrik.
Berdasarkan hasil penelitian Durham diketahui bahwa masyarakat kelas sosial
ekonomi rendah prevalensi psikiatriknya lebih banyak. Jadi keadaan ekonomi yang
rendah atau tidak memadai dapat mempengaruhi peningkatan kecemasan pada
klien menghadapi tindakan kemoterapi.
(f) Jenis tindakan kemoterapi
Adalah klasifikasi suatu tindakan terapi medis yang dapat mendatangkan
kecemasan karena terdapat ancaman pada integritas tubuh dan jiwa seseorang
(Long, 1996). Semakin mengetahui tentang tindakan kemoterapi, akan
mempengaruhi tingkat kecemasan pasien kemoterapi.
39
(g) Komunikasi terapeutik
Komunikasi sangat dibutuhkan baik bagi perawat maupun pasien. Terlebih
bagi pasien yang akan menjalani proses kemoterapi. Hampir sebagian besar pasien
yang menjalani kemoterapi mengalami kecemasan. Pasien sangat membutuhkan
penjelasan yang baik dari perawat. Komunikasi yang baik diantara mereka akan
menentukan tahap kemoterapi selanjutnya. Pasien yang cemas saat akan menjalani
kemoterapi kemungkinan mengalami efek yang tidak menyenangkan bahkan akan
membahayakan.
Faktor lain yang juga mempengaruhi tingkat kecemasan adalah dukungan
keluarga. Dukungan keluarga adalah sikap, tindakan dan penerimaan keluarga
terhadap penderita yang sakit. Dengan adanya dukungan keluarga yang tinggi, maka
pasien akan merasa lebih tenang dan nyaman dalam menjalani masa kemoterapi, hal
ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Friedman (1998:196) (dalam
Utami,2013). Penelitian oleh Utami (2013) yang meneliti hubungan dukungan
keluarga terhadap tingkat kecemasan kemoterapi pasien kanker serviks. Hasil analisis
data korelasi menunjukkan bahwa terdapat hubungan dukungan keluarga terhadap
tingkat kecemasan kemoterapi pasien kanker serviks. Semakin tinggi dukungan yang
diberikan keluarga terhadap pasien yang akan menjalani kemoterapi kanker serviks
maka akan semakin rendah tingkat kecemasan yang dialami pasien yang akan
menjalani kemoterapi kanker serviks.
40
2.3.7 Skala Ukur Tingkat Kecemasan
Salah satu skala penilaian untuk mengukur tingkat kecemasan yaitu Hamilton
Anxiety Rating Scale (HARS). HARS digunakan untuk melihat tingkat keparahan
terhadap gangguan kecemasan seorang pasien yang terdiri 14 item penilaian
(Norman, 2005) yang dijelaskan dalam (Kusumadewi, 2008) yaitu:
a.
Anxious mood: pada bagian ini akan melihat kondisi emosi pasien yang
menunjukkan ketakutan yang luar biasa terhadap ketidakpastian masa depan,
merasa khawatir, merasa tidak aman, mudah tersinggung, dan kecemasan.
b.
Ketegangan (tension): pada bagian ini akan melihat ketidakmampuan pasien
untuk bersikap relaks,tidak nervous, ketegangan, gemetaran, dankepenatan.
c.
Ketakutan (fear): pada bagian ini akan melihat ketakutan pasien di keramaian,
terhadap binatang, di tempat umum, sendirian, lalu lintas,orang asing, kegelapan,
dll.
d.
Sulit tidur (insomnia): pada bagian ini akan melihat pengalaman pasien terhadap
durasi tidur dan kepulasan tidur selama 3 malam sebelumnya. (Catatan: tanpa
penggunaan obat penenang)
e.
Sulit konsentrasi dan daya ingat: pada bagian ini akan melihat ketidakmampuan
pasien untuk berkonsentrasi, mengambil keputusan terhadap kejadian sehari-hari,
dan lemahnya daya ingat.
41
f.
Depressed mood: pada bagian ini akan melihat komunikasi pasien baik secara
verbal maupun non-verbal tentang kesedihan, depresi, tanpa harapan,
kemurungan, dan ketakberdayaan.
g.
Gejala-gejala somatik umum (muscular): pasien merasa lemah, sakit, ketegangan
otot seperti pada bagian leher dan rahang.
h.
Gejala-gejala somatik umum (sensory): pasien merasa penat dan lemah, atau
mengalami gangguan fungsi perasa seperti: tinnitus, matakabur, sensasi panasdingin dan keringat buntat.
i.
Gejala-gejala yang berhubungan dengan jantung (cardiovascular): termasuk
tachycardia, jantung berdebar, tekanan pada bagian dada, dentaman pada
pembuluh darah, dan perasaan seakan-akan ingin pingsan.
j.
Gejala-gejala yang berhubungan dengan pernafasan: seperti merasa sesak nafas
atau kontraksi pada tenggorokan atau dada, atau rasa seperti tercekik.
k.
Gejala-gejala yang berkaitan dengan usus (gastrointestinal); seperti sulit
menelan, merasa ada tekanan pada bagian perut, gangguan pencernaan (rasa
panas pada bagian perut, sakit perut berhubungan dengan makanan, mual dan
muntah), perut terasa keroncongan dan diare.
l.
Gejala-gejala yang berhubungan dengan saluran kencing (genito-urinary);
termasuk gejala-gejala non-organik atau psikis, seperti: sering atau susah buang
air kecil, menstruasi tidak teratur, anorgasmia, ejakulasi dini.
m. Gejala-gejala otonomik lainnya, seperti mulut terasa kering, pucat, sering keluar
keringat dingin dan pusing,
42
n.
Sikap pada saat wawancara: seperti pasien kelihatan tertekan, nervous, gelisah,
tegang, suara gemetar, pucat, keluar keringat.
Setiap item bernilai 0, 1, 2, 3 atau 4. Nilai 0 menunjukkan tidak ada gejala-
gejala yang tampak, dan nilai 4 menunjukkan gejala-gejala dominan dan sangat
mengganggu.
Penentuan derajat kecemasan yaitu dengan cara menjumlahkan nilai skor pada
masing-masing item dengan total skor (Saseno, 2013) :
a.
Skor < 14
: tidak ada kecemasan
b.
Skor 14 – 20
: kecemasan ringan
c.
Skor 21 – 27
: kecemasan sedang
d.
Skor 28 – 41
: kecemasan berat
e.
Skor 42 – 56
: kecemasan sangat berat (panik)
Download