1 publikasi ilmiah analisis putusan lepas dari tuntutan hukum

advertisement
PUBLIKASI ILMIAH
ANALISIS PUTUSAN LEPAS DARI TUNTUTAN HUKUM TERHADAP PELAKU
TINDAK PIDANA PENYEROBOTAN TANAH BERDASARKAN PUTUSAN
PENGADILAN NEGERI SINTANG NOMOR: 41/PID.B/2012/PN.STG.
Oleh:
R. DONI SUMARSONO, S.I.K.
A.21212074
Pembimbing I
Pembimbing II
Dr. Hermansyah,SH.,M.Hum
Sahata Simamora,SH.,MH
ABSTRACT
This thesis discusses the decision analysis problems apart from lawsuits against the
perpetrators of the crime of annexation of land based on the decision of the district
court Sintang number: 41 / Pid.B / 2012 / PN.STG .. That Based on Case Files BP / 61
/ VIII / 2011 / Reskrim Date August 8, 2011 Land grabs cases with suspect EDY
Kusnadi alias Mark Bin Kalit, clause applied by investigators and prosecutors Dakwan
umun is Article 385 of the Criminal Code. But by the judges Sintang District Court
Judge found the actions of the defendant is not a crime, but a civil action is therefore in
accordance with Article 191 paragraph (2) Criminal Procedure Code the accused must
be released from all charges .. Then the judges in the Decision states that Terdakw Edi
Kusnadi alias Mark Bin Kalit been proven to act against her, but the act is not a crime
or pelanggaran.Sungguhpun Thus, legally separated from the decision of lawsuits
Sintang District Court Decision No. 41 / Pid.B / 2012 / PN. STG, still contains
weaknesses. Because Application of Article 385 Paragraph 1 of the Criminal Code
Against Offenders grabs Land Rights. In the criminal case Number: BP / 6m / VIII /
2011 / Bareskrim jo Decision No. 41 / Pid.B / 2012 / PN.STG .. is a basic consideration
in deciding the case of criminal Judge rights on land owned by another person has
evidence so strong that the presence of such evidence would be damning for the
accused, or in other words the accused could not resist any longer would be the act of
doing, because the evidence that the accused committed perbuatanya / crime,
dilakukanya was actually carried out by the defendant itself, Recognition honest of selfdefendant for the mistake committed, it is intended by the frank admission or
recognition of the truth about what is indicted by the public prosecutor to the defendant,
it should be able to make it easier for judges to impose putusanya, What indicted by
prosecutors Public Prosecutions for acts of crime committed by the accused completely
in accordance with what they did, the defendant showed remorse for any perbuatanya
his alleged, in the case of criminal deprivation of the rights on land owned by another
person present, as where punishable by Article 385 Paragraph 1 of the Criminal Code.
1
ABSTRAK
Tesis ini membahas masalah analisis putusan lepas dari tuntutan hukum terhadap
pelaku tindak pidana penyerobotan tanah berdasarkan putusan pengadilan negeri
sintang nomor: 41/PID.B/2012/PN.STG.. Bahwa Berdasarkan berkas Perkara
BP/61/VIII/2011/Reskrim Tanggal 8 Agustus 2011 perkara Penyerobotan
Tanah dengan Tersangka EDY KUSNADI alias Markus Bin Kalit, pasal yang
diterapkan oleh Penyidik dan Dakwan Jaksa Penuntut Umun adalah Pasal 385
KUHP. Namun oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Sintang Majelis Hakim
berpendapat bahwa perbuatan terdakwa tersebut bukan merupakan perbuatan
pidana, melainkan perbuatan perdata oleh karenanya sesuai dengan Pasal 191
ayat (2) KUHAP terdakwa haruslah dilepaskan dari segala tuntutan hukum..
Kemudian Majelis Hakim dalam Putusan menyatakan, bahwa Terdakw Edi
Kusnadi alias Markus Bin Kalit telah terbukti melakukan perbuatan yang
didakwakan kepadanya, tetapi perbuatan tersebut bukan merupakan kejahatan
atau pelanggaran.Sungguhpun demikian, secara yuridis putusan lepas dari
tuntutan
hukum Putusan
Pengadilan Negeri Sintang
Nomor:
41/PID.B/2012/PN.STG tersebut, masih mengandung kelemahan-kelemahan.
Sebab Penerapan Pasal 385 Ayat 1 KUHP Terhadap Pelaku Kejahatan
Penyerobotan Hak Atas Tanah. Dalam perkara pidana Nomor :
BP/6/VIII/2011/Reskrim jo Putusan Nomor 41/Pid.B/2012/PN.STG.. adalah
dasar pertimbangan Hakim dalam memutus perkara pidana hak-hak atas tanah
milik orang lain memiliki bukti-bukti yang kuat sehingga dengan adanya buktibukti tersebut akan dapat memberatkan bagi terdakwa, atau dengan kata lain
terdakwa tidak dapat menolak lagi akan perbuatan yang dilakukannya, karena
dengan alat bukti itulah terdakwa melakukan perbuatanya / perbuatan pidana,
yang dilakukanya itu benar-benar dilakukan oleh terdakwa sendiri, Pengakuan
yang jujur dari diri terdakwa atas kesalahan yang diperbuatnya, hal ini
dimaksud dengan adanya pengakuan yang jujur atau pengakuan yang
sebenarnya mengenai apa yang didakwakan oleh penuntut umum kepada
terdakwa, seharusnya akan dapat mempermudah bagi hakim dalam
menjatuhkan putusanya, Apa yang didakwakan oleh Jaksa Penuntut Umum
atas perbuatan tindak kejahatan yang dilakukan oleh si terdakwa benar-benar
telah sesuai dengan apa yang diperbuatnya, Terdakwa menunjukan rasa
penyesalannya atas segala perbuatanya yang dituduhkan kepadanya, didalam
perkara tindak kejahatan perampasan terhadap hak-hak atas tanah milik orang
lain ini, sebagai mana yang diancam dengan Pasal 385 Ayat 1 KUHP.
Kata Kunci: Analisis putusan, lepas dari tuntutan hokum,
tindak pidana penyerobotan tanah
2
terhadap pelaku,
Latar Belakang
Salah satu identitas dari suatu negara hukum adalah memberikan jaminan
dan perlindungan hukum atas hak-hak warga negaranya. Sebagaimana diketahui
tujuan hukum ialah ketertiban, keadilan dan kepastian hukum termasuk di dalamnya
perlindungan hukum bagi pemegang hak atas tanah. Dalam kehidupan manusia,
keberadaan tanah tidak akan terlepas dari segala perbuatan manusia itu sendiri,
sebab tanah merupakan tempat manusia untuk menjalankan dan melanjutkan
kehidupannya.1
Tanah adalah karunia dari Tuhan Yang Maha Esa kepada umat manusia di
muka bumi2.Oleh dan sebab itu tanah menjadi kebutuhan dasar manusia, sejak lahir
sampai meninggal dunia. Bahwa manusia membutuhkan tanah untuk tempat tinggal
dan sumber kehidupan. Secara kosmologis, tanah adalah tempat manusia tinggal,
tempat bekerja dan hidup, tempat dari mana mereka berasal, dan akan kemana
pula mereka pergi. Dalam hal ini, tanah mempunyai dimensi ekonomi, sosial,
kultural, politik, dan ekologis.3
Dalam sejarah peradaban umat manusia, tanah merupakan faktor yang
paling utama dalam menentukan produksi setiap fase peradaban. Tanah tidak
hanya memiliki nilai ekonomis tinggi, tetapi juga nilai filosofis, politik, sosial, dan
kultural. Tak mengherankan jika tanah menjadi harta istimewa yang tak hentihentinya memicu berbagai masalah sosial yang kompleks dan rumit.
Menyadari pentingnya nilai dan arti penting tanah, para pendiri Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merumuskan tentang tanah dan sumber daya
alam secara ringkas tetapi sangat filosofis substantial di dalam konstitusi, pasal 33
ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945, sebagai berikut : “Bumi dan air dan kekayaan
alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk
sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.” 4
Kesadaran akan kedudukan istimewa tanah dalam alam pikiran bangsa
Indonesia juga tertuang dalam Undang-undang Pokok Agraria (UUPA) Nomor 5
tahun 1960, di mana dalam Undang-undang Pokok Agraria tersebut dinyatakan
1
Adrian Sutedi, Peralihan Hak Atas Tananh dan Pendaftarannya, Sinar Grafika, Jakarta, 2007, hal.31
Menurut pakar pertanahan Djuhaendah Hasan, tanah memiliki kedudukan istimewa dalam kehidupan
masyarakat adat di Indonesia sampai sekarang.Bernhard Limbong. “Konflik Pertanahan”. Pustaka
Margaretha, Jakarta, 2012, hal 1.
3
Bernhard Limbong. “Konflik Pertanahan”. Pustaka Margaretha, Jakarta, 2012, hal 1–2
4
Ibid.hal 3
2
3
adanya hubungan abadi antara Bangsa Indonesia dengan tanah. Reformasi agraria
yang telah dicanangkan dengan diterbitkannya Undang-undang Pokok Agraria
Nomor 5 tahun 1960, namun pada kenyataannya terasa masih sangat sulit
diterapkan di lapangan karena berbagai persoalan hukum dan non hukum.
Undang-undang Pokok Agraria pun makin sulit diterapkan pada era orde
baru hingga era reformasi hari ini sebagai akibat diterapkannya sistem ekonomi
liberalisme kapitalistik yang diawali dengan dikeluarkannya UU Penanaman Modal
Dalam Negeri (PMDN) tahun 1967 dan UU Penanaman Modal asing (PMA) tahun
1968. Dalam satu dasawarsa terakhir, sejumlah undang-undang yang diterbitkan
bahkan sebagian menabrak Undang-undang Pokok Agraria dan amanat UUD 1945.
Penyerobotan tanah bukanlah suatu hal yang baru dan terjadi di Indonesia.
Kata penyerobotan sendiri dapat diartikan dengan perbuatan mengambil hak atau
harta dengan sewenang-wenang atau dengan tidak mengindahkan hukum dan
aturan, seperti menempati tanah atau rumah orang lain, yang bukan merupakan
haknya. Tindakan penyerobotan tanah secara tidak sah merupakan perbuatan yang
melawan hukum, yang dapat digolongkan sebagai suatu tindak pidana.5
Seperti kita ketahui, tanah merupakan salah satu aset yang sangat berharga,
mengingat harga tanah yang sangat stabil dan terus naik seiring dengan
perkembangan zaman. Penyerobotan tanah yang tidak sah dapat merugikan
siapapun terlebih lagi apabila tanah tersebut dipergunakan untuk kepentingan
usaha. Terdapat bermacam-macam permasalahan penyerobotan tanah secara tidak
sah yang sering terjadi, seperti pendudukan tanah secara fisik, penggarapan tanah,
penjualan suatu hak atas tanah, dan lain-lain.
Adanya perbuatan yang disengaja yang dilakukan oleh orang yang
melakukan penyerobotan atas tanah milik orang, maka dikenakan pasal 167
KUHPidana. Sedangkan hukum perdata di dalam pasal 1365 dan pasal 1366
karena bisa dilihat dalam kasus penyerobotan tanah ada pihak yang dirugikan dan
memerlukan ganti rugi atas kerugian yang di alami pihak tersebut.
Didalam proses penyelidikan maupun penyidikan, selalu para Penyidik
menggunakan Pasal 167 ayat 1 KUHPidana yang menyatakan : Barang siapa
memaksa masuk ke dalam rumah, ruangan atau pekarangan tertutup yang dipakai
orang lain dengan melawan hukum atau berada disitu dengan melawan hukum, dan
5
Ivor Ignasio Pasaribu, SH. (2013). Penyerobotan Tanah Secara Tidak Sah Dalam Perspektif Pidana
http://www.hukumproperti.com diakses pada tanggal 21 Februari 2014.
4
atas permintaan yang berhak atau suruhannya tidak pergi dengan segera, diancam
dengan pidana penjara paling lama 9 (sembilan) bulan atau pidana denda paling
banyak Rp. 4.500,- (empat ribu lima ratus rupiah), sehingga Pasal 167 KUHPidana
dikategorikan sebagai pasal yang mengatur tentang Penyerobotan Tanah.
Selanjutnya, apabila dalam penyelidikan maupun penyidikan oleh penyidik
ditemukan adanya perbuatan yang disengaja yang dilakukan oleh orang yang
melakukan penyerobotan atas tanah milik orang, maka oleh Penyidik langsung
menetapkan orang tersebut sebagai tersangka sebagaimana dimaksud dari pasal
167 KUHPidana yang selanjutnya dibuatkan Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Dan
apabila ternyata penyerobotan tanah tersebut dilakukan oleh tersangka dengan
maksud menguasai kemudian menjual atau menukarkan, kepada pihak lain, maka
si Tersangka (penyerobot) oleh Penyidik dikenakan pasal 385 ayat (1) Kitab
Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), dengan ancaman pidana paling lama
empat tahun, dimana : dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau
orang lain secara melawan hukum, menjual, menukarkan atau membebani dengan
credietverband suatu hak tanah yang belum bersertifikat, padahal ia tahu bahwa
orang lain yang mempunyai hak atau turut mempunyai hak atasnya.
Sedangkan hukum perdata didalam pasal 1365 dan pasal 1366 bisa
menjerat orang-orang yang melakukan penyerobotan tanah, karena bisa dilihat
dalam kasus penyerobotan tanah ada pihak yang di rugikan dan memerlukan ganti
rugi atas kerugian yang di alami pihak tersebut, dan juga penyerobotan tanah
merupakan perbuatan melawan hukum yang mana seseorang secara tanpa hak
masuk ke tanah milik orang lain, atau menyebabkan seseorang, atau menyebabkan
orang lain atau benda lain masuk ke tanah milik orang lain, ataupun menyebabkan
seseorang atau orang lain atau benda tertentu tetap tinggal di tanah milik orang lain.
Akan tetapi banyaknya peraturan-peraturan yang mengatur tentang
penyerobotan tanah yang ada di negara kita, ternyata belum bisa juga membuat
kasus penyerobotan tanah bisa dengan mudah di selesaikan ditingkat peradilan,
bahkan stagnan ditingkat penyelidikan di kepolisian. Hal tersebut bisa terlihat ketika
adanya beberapa kasus yang di tangani oleh pihak Kepolisian dan ketika menjadi
keputusan pengadilan atas kasus pidana tentang penyerobotan tanah, belum bisa
digunakan untuk mengeksekusi lahan yang disengketakan atau yang diserobot,
karena keputusan pidana yaitu menghukum atas orang yang melakukan
5
penyerobotan tanah, sehingga hak penguasaan atas tanah tersebut pada umumnya
masih harus diselesaikan melalui gugatan secara perdata
Berkaitan dengan kasus penyerobotan tanah dalam pra penelitian (4) empat
kasus penyerobotan tanah yang belum terselesaikan, yakni berkas perkara No
LP/169/V/2012/Kal-Bar/Res/Stg, berkas perkara BP/No 80/XI/2012/Reskrim, Berkas
Perkara/
61/VIII/
2011/Reskrim,
berkas
perkara,
Berkas
Perkara
No
BP/01/X/2012/Reskrim.
Berdasarkan keempat berkas perkara semuanya mengacu pada Pasal 385
KUHP tentang penyerobotan tanah. Permasalahannya adalah dari empat berkas
perkara tersebut salah satunya telah memiliki kekuatan hukum tetap pada berkas
perkara No BP /61/VIII/2011/Reskrim, tanggal 18 Agustus 2011, yaitu Putusan
Pengadilan Negeri Sintang Nomor 41/Pid.B/2012/PN.STG dalam perkara Edy
Kusnadi als Markus Bin Kalit, dalam klasul putusannya menyatakan: “menyatakan
Terdakwa EDY KUSNADI alias Markus Bin Kalit telah terbukti melakukan yang
didakwakan kepadanya, akan tetapi perbuatan tersebut bukan merupakan
kejahatan atau pelanggaran: melepaskah terdakwa dari segala tuntutan hukum dan
memulihkan hak terdakwa dalam kemampuan, kedudukan dan harkat serta
martabatnya. Permasalahan ini menarik dari segi pertimbangan hakim dan asasasas hukum pidana khususnya tindak pidana penyerobotan tanah, karena secara
unsur memenuhi pasal 385 KUHP, tetapi terdakwa dibebaskan dari tuntutan hukum
sebagai pelaku tindak pidana penyerobotan tanah.
Atas dasar fakta hukum di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan
penelitian dalam bentuk tesis, dengan judul penelitian ANALISIS PUTUSAN
LEPAS DARI TUNTUTAN HUKUM
TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA
PENYEROBOTAN TANAH BERDASARKAN PUTUSAN PENGADILAN NEGERI
SINTANG NOMOR: 41/PID.B/2012/PN.STG.
Permasalahan
Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan permasalahan sebagai
berikut:
1. Bagaimana Pertimbangan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Sintang Nomor:
41/Pid.B/2012/PN.STG dalam memutus lepas tuntutan hukum terhadap pelaku
tindak pidana penyerobotan tanah ?
6
2. Apakah Putusan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Sintang dalam memutus lepas
dari tuntutan hukum terhadap tindak pelaku tindak pidana penyerobotan tanah
sudah tepat berdasarkan asas-asas hukum pidana ?
Pembahasan
1.Tugas Hakim Dalam Penyelesaian Tindak Pidana Penyerobotan Tanah
Tugas Hakim sangatlah berat, karena tidak hanya mempertimbangkan
kepentingan hukum saja dalam putusan perkara yang dihadapi melainkan juga
mempertimbangkan rasa keadilan masyarakat agar terwujud adanya kepastian
hukum. Putusan hakim memang tetap dituntut oleh masyarakat untukberlaku adil,
namun sebagai manusia juga hakim dalam putusannya tidaklah mungkin
memuaskan semua pihak, tetapi walaupun begitu hakim tetap diharapkan
menghasilkan putusan yang seadil-adilnya sesuai fakta-fakta hukum di dalam
persidangan yang didasari pada aturan dasar hukum yang jelas (azas legalitas) dan
disertai dengan hati nurani hakim.
Bahkan hakim juga disebut sebagai wakil Tuhan di dunia dalam arti harus
tercermin dalam putusan perkara yang sedang ditanganinya, maka sebagai seorang
hakim tidak perlu ragu, melainkan tetap tegak dalam garis kebenaran dan tidak
berpihak (imparsial), namun putusan hakim juga paling tidak dapat dilaksanakan
oleh pencari keadilan atau tidak hanya sekedar putusan yang tidak bisa
dilaksanakan.
Putusan hakim adalah merupakan hasil (output) dari kewenangan mengadili
setiap perkara yang ditangani dan didasari pada Surat Dakwaan dan fakta-fakta
yang terungkap dipersidangan dan dihubungkan dengan penerapan dasar hukum
yang jelas, termasuk didalamnya berat ringannya penerapan pidana penjara (pidana
perampasan kemerdekaan), hal ini sesuai asas hukum pidana yaitu asas legalitas
yang diatur pada pasal 1 ayat (1) KUHP yaitu Hukum Pidana harus bersumber pada
undang-undang artinya pemidanaan haruslah berdasarkan Undang-Undang.
Hakim dihadapkan dalam praktek peradilan dimana ada yang betul-betul
menerapkan aturan hukum sebagaimana adanya dengan alasan kepentingan
Undang-Undang dan ada juga sebagian hakim yang menerapkan / menafsirkan
Undang-Undang yang tertulis dengan cara memberikan putusan pidana (Straft
Macht) lebih rendah dari batas ancaman minimal dengan alas an demi keadilan
masyarakat.
7
Adapun jenis pidana yang dijatuhkan oleh seorang hakim terhadap pelaku
kejahatan diatur di dalam ketentuan pasal 10 KUHP yaitu :
1. Pidana Pokok
a. Pidana mati
b. Pidana penjara
c. Kurungan
d. Denda
2. Pidana tambahan
a. Pencabutan hak-hak tertentu
b. Perampasan barang-barang tertentu
c. Pengumuman putusan hakim
Apabila hakim menjatuhkan pidana berupa pidana penjara (perampasan
kemerdekaan), maka ketentuan-ketentuan di atas adalah menjadi dasar hukum
tentang jenis pemidanaan yang akan diterapkan terhadap pelaku kejahatan yang
menurut hukum telah terbukti secara sah dan menyakinkan serta hakim mendasari
pada hati nurani, tanpa ada kepentingan apapun. Hakim wajib memeriksa dan
mengadili perkara yang menjadi wewenangnya yang didasarkan pada ketentuanketentuan Undang-Undang yang berlaku yang pada akhirnya termuat dalam
putusan dimana apabila terdakwa telah terbukti secara sah dan menyakinkan
bersalah maka putusan hakim dapat berupa pemidanaan jenis pidana penjara dan
pidana denda. seorang hakim terikat dengan Undang-Undang yang secara normatif
mengatur ancaman pidana minimal baik pidana penjara maupun pidana denda,
walaupun dalam praktek ada juga hakim yang menerobos batas minimal ancaman
yang sudah diatur jelas tersebut dengan alasan rasa keadilan dan hati nurani.
Hakim tidak boleh menjatuhkan hukuman yang lebih rendah dari batas
minimal dan juga hakim tidak boleh menjatuhkan hukuman yang lebih tinggi dari
batas maksimal hukuman yang telah ditentukan Undang-Undang. Memang Putusan
hakim akan menjadi putusan majelis hakim dan kemudian akan menjadi putusan
pengadilan yang menyidangkan dan memutus perkara yang bersangkutan dalam
hal ini setelah dilakukan pemeriksaan selesai, maka hakim akan menjatuhkan vonis
berupa :
1. Penghukuman bila terbukti kesalahan terdakwa;
2. Pembebasan jika apa yang didakwakan tidak terbukti atau terbukti tetapi bukan
perbuatan pidana melainkan perdata;
8
3.Dilepaskan
dari
tuntutan
hukum
bila
terdakwa
ternyata
tidak
dapat
dipertanggungjawabkan secara rohaninya (ada gangguan jiwa) atau juga
ternyata pembelaan yang memaksa.
Putusan hakim juga berpedoman pada 3 (tiga) hal yaitu :
1. Unsur yuridis yang merupakan unsur pertama dan utama;
2. Unsur filosofis, berintikan kebenaran dan keadailan;
3. Unsur sosiologis yaitu mempertimbangkan tata nilai budaya yang hidup dan
berkembang dalam masyarakat.
Demikian juga halnya putusan pemidanaan yang berdasar pada yuridis formal
dalam hal ini putusan hakim yang menjatuhkan hukuman pemidanaan kepada
seseorang terdakwa yaitu berisi perintah untuk menghukum terdakwa sesuai
dengan ancaman pidana (Straft Mecht) yang tertuang dalam pasal pidana yang
didakwakan.
Diakui memang bahwa Undang-Undang memberikan kebebasan terhadap
hakim dalam menjatuhkan berat ringannya hukuman yaitu minimal atau maksimal
namun kebebasan yang dimaksud adalah haruslah sesuai dengan pasal 12 KUHP
yaitu :
(1) Pidana penjara ialah seumur hidup atau selama waktu tertentu.
(2) Pidana penjara selama waktu tertentu paling pendek satu hari dan paling lama
lima belas tahun berturut-turut.
(3) Pidana penjara selama waktu tertentu boleh dijatuhkan untuk dua puluh tahun
berturut-turut dalam hal kejahatan yang pidananya hakim boleh memilih antara
pidana mati, pidana seumur hidup, dan pidana penjara selama waktu tertentu,
atau antara pidana penjara seumur hidup dan pidana penjara selama waktu
tertentu; begitu juga dalam hal batas lima belas tahun dilampaui sebab
tambahan pidana karena perbarengan, pengulangan atau karena ditentukan
Pasal 52.
(4) Pidana penjara selama waktu tertentu sekali-kali tidak boleh melebihi dua puluh
tahun.
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dan berpedoman pada unsur-unsuryang
ada dalam setiap putusan, tentunya hakim dalam menjatuhkan putusan
pemidanaan adalah haruslah sesuai dengan bunyi pasal dakwaan dalam arti hakim
terikat dengan batas minimal dan batas maksimal sehingga hakim dinilai telah
menegakkan Undang-Undang dengan tepat dan benar.
9
Pada praktiknya ada hakim yang berani menerobos yaitu menjatuhkanpidana
di bawah batas minimal dan bahkan di bawah tuntutan jaksa penuntut umum
dengan alasan untuk memenuhi rasa keadilan dan hati nurani artinya hakim yang
bersangkutan tidak mengikuti bunyi Undang-Undang yang secara tegas tertulis hal
ini dapat saja terjadi karena hakim dalam putusannya harus berdasarkan pada
kerangka hukum yaitu penegakan hukum dan penegakan keadilan.
Atas putusan hakim tersebut yang melakukan penerobosan penjatuhan
pidana penjara dan pidana denda tidak sesuai ketentuan Undang- Undang, menurut
penulis harus juga dihargai, asal saja putusan yang menyimpangi aturan tersebut
berintikan pada rasa keadilan masyarakat, karena ada juga hakim yang
berpandangan bahwa hakim tidak dapat hanya berlindung di belakang UndangUndang, tetapi juga hakim bertolak pada hati nurani, lebih dari itu hakim boleh saja
menjatuhkan pidana di bawah ancaman minimal asal putusan tersebut tidak ada
kepentingan atau objektifitas dijunjung tinggi. Selanjutnya mengenai dasar
pertimbangan putusan hakim di bawah tuntutan jaksa penuntut umum dilakukan
berdasarkan hukum adat yakni apabila terjadi kekosongan hukum dalam peraturan
perundang-undangan formal (hukum positif) maka hakim akan diwajibkan untuk
berkreativitas, menggali, mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa
keadilan yang hidup dalam masyarakat sebagai dasar putusannya (Pasal 5 ayat (1))
Undang-Undang No.48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman. Dalam kondisi
seperti ini maka hakim memerankan fungsi rechtsvinding, terlebih lagi hakim tidak
boleh menolak untuk memeriksa, mengadili, dan memutus suatu perkara yang
diajukan dengan dalih bahwa hukum tidak ada atau kurang jelas, melainkan wajib
untuk memeriksa dan mengadilinya (asas ius curia novit, Pasal 10 ayat (1) UndangUndang No. 48 Tahun 2009).
Berapa ahli menggunakan istilah "kejahatan" untuk menyatakan tindak pidana
di bidang pertanahan. Menurut beliau, kejahatan di bidang pertanahan sebenarnya
bukanlah suatu istitah baru dalam hukum pidana tetapi mempakan istilah yang
sama dengan kejahatan pada umumnya sebagaimana diatur dalam Buku Ke II
KUHP. Hanya saja kejahatan di bidang pertanahan ini berhubungan dengan tanah
atau pertanahan sebagai objek atau salah satu unsur adanya kejahatan.
Pasal-pasal di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang
terkait dengan kejahatan atau tindak pidana di bidang pertanahan adalah sebagai
berikut: Kejahatan terhadap penyerobotan tanah diatur dalam Pasal 167 KUHP:
10
ayat (1) Barang siapa memaksa masuk ke dalam rumah, ruangan atau pekarangan
tertutup yang dipakai orang lain dengan melawan hukum, atau berada di situ
dengan melawan hukum, dan atas permintaan yang berhak atau suruhannya tidak
pergi dengan secara diancam dengan pidana pedana paling lama sembilan bulan
atau denda paling banyak tiga ratus rupiah.
Kejahatan penggelapan terhadap hak atas barang tidak bergerak, seperti
tanah, rumah sawah. Kejahatan ini biasa disebut dengan kejahatan stellionaat, yang
diatur dalam Pasal 385 KUHP.
Diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun:
(1) barang siapa dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain
secara melawan hukum, menjual, menukarkan atau membebani dengan crediet
verband sesuatu hak atas tanah Indonesia, sesuatu gedung, bangunan,
penanaman atau pembenihan, padahal diketahui bahwa yang mempunyai atau
turut mempunyai hak atasnya adalah orang lain.
(2) Barang siapa dengan maksud yang sama menjual, menukarkan, atau
membebani dengan crediet verband, sesuatu hak tanah lndonesia yang telah
dibebam crediet verband, atau sesuatu gedung, bangunan, penanaman atau
pembenihan di atas tanah yang juga telah dibebani demikian, tanpa
memberitahukan tentang adanya beban itu kepada pihak yang lain.
(3) Barang siapa dengan maksud yang sama mengadakan credieet verband
mengenai sesuatu hak tanah lndonesia, dengan menyembunyikan kepada
pihak lain bahwa tanah yang berhubungan dengan hak tadi sudah digadaikan;
(4) Barang siapa dengan maksud yang sama mengadaikan atau menyewakan
tanah dengan hak Indonesia, padahal diketahui bahwa orang lain yang
mempunyai atau turut mempunyai hak atas tanah itu;
(5) Barang siapa dengan maksud yang sama menjual atau menukarkan tanah
dengan hak Indonesia yang telah digadaikan, padahal tidak diberitahukan
kepada pihak yang lain, bahwa tanah itu telah digadaikan:
(6) Barang siapa dengan maksud yang sama, menjual atau menukarkan tanah
dengan hak Indonesia untuk suatu masa, padahal diketahui, bahwa tanah itu
telah disewakan kepada orang lain untuk masa itu juga.
Berkaitan dengan tindak pidana penyerobotan tanah, maka kerangka
analisis menggunakan batasan sebagai berikut:
11
a. Tindak Pidana adalah perbuatan yang oleh aturan hukum dilarang dan
diancam dengan pidana, barang siapa yang melanggar larangan tersebut6;
b. Penyerobotan adalah hal, cara, hasil, atau proses kerja menyerobot atau
mengambil.7
c. Penguasaan adalah orang yang menguasai.8
d. Tanah adalah lapisan bumi yang paling atas.9
Sanksi hukum terhadap tindak pidana penyerobotan tanah dapat
didasarkan pada ketentuan Pasal 2 Undang-Undang Nomor 51 PRP Tahun 1960
tentang Larangan Pemakaian Tanah Tanpa Izin Yang Berhak Atau Kuasanya (“UU
No 51 PRP 1960”) menyatakan bahwa pemakaian tanah tanpa izin dari yang
berhak maupun kuasanya yang sah adalah perbuatan yang dilarang, dan dapat
diancam dengan hukuman pidana kurungan selama-lamanya 3 (tiga) bulan, atau
denda sebanyak-banyaknya Rp 5.000 (lima ribu Rupiah) sebagaimana diatur
dalam Pasal 6 UU No 51 PRP 1960. Ketentuan Pasal 6 UU No 51 PRP 1960
adalah (i) barang siapa yang memakai tanah tanpa izin yang berhak atau
kuasanya yang sah, (ii) barang siapa yang menggangu pihak yang berhak atau
kuasanya yang sah di dalam menggunakan suatu bidang tanah, (iii) barang siapa
menyuruh, mengajak, membujuk atau menganjurkan dengan lisan maupun tulisan
untuk memakai tanah tanpa izin dari yang berhak atau kuasanya yang sah, atau
mengganggu yang berhak atau kuasanya dalam menggunakan suatu bidang
tanah, dan (iv) barang siapa memberi bantuan dengan cara apapun untuk
memakai tanah tanpa izin dari yang berhak atau kuasanya yang sah, atau
mengganggu pihak yang berhak atau kuasanya dalam menggunakan suatu bidang
tanah. Selain itu dapat pula diterapkan ketentuan Pasal 385 KUHP, di mana Pasal
tersebut merupakan satu-satunya pasal yang mengatur tentang kejahatan yang
berkaitan langsung dengan kepemilikan tanah, dan pasal tersebut menyatakan :
Diancam dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun terhadap barang
siapa dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan
hukum, menjual, menukarkan atau membebani dengan creditverband sesuatu hak
6
M. Sudrajat Bassar, Tindak-tindak Pidana Tertentu,Bandung : Remadja karya, 1984), hal.2.
7
.S Badudu dan Sutan Mohammad Zain, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta:Pustaka Sinar
Harapan, 1994, hal.1301
8
Ibid., hal. 726.
9
J.S Badudu dan Sutan Mohammad Zain, Op. Cit.,hal. 1417.
12
atas tanah indonesia sesuatu gedung bangunan, penanaman atau pembenihan di
atas tanah dengan hak indonesia, padahal diketahui bahwa yang mempunyai atau
turut mempunyai hak atasnya adalah orang lain.
Analisis yuridis terhadap penyelesaian perkara tindak pidana penyerobotan
tanah oleh penegak hukum cenderung menggunakan pasal 385 KUHP, namun
fakta yang diketemukan didalam praktek penyerobotan tanah didalamnya tidak
hanya terkait dengan aspek hukum pidana tetapi terdapat aspek hukum perdata,
bahkan aspek hukum administrasi negara, karena modus operandi dari tindak
pidana penyerobotan tanah dengan cara –cara melibatkan pihak-pihak pejabat
pemerintahan dalam hal ini pihak BPN selaku penerbit sertifikat. Oleh karena itu
proses penyelesaiannya atau penegakan hukumnya tidak hanya dari sisi hukum
pidana tetapi dari sisi peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan
tanah.
Sengketa tanah adalah sengketa yang timbul karena adanya konflik
kepentingan atas tanah. Sengketa tanah tidak dapat dihindari dizaman sekarang,
ini disebabkan karena berbagai kebutuhan tanah yang sangat tinggi di zaman
sekarang sementara jumlah bidang tanah terbatas.10
Hal tersebut menuntut perbaikan dalam bidang penataan dan penggunaan
tanah untuk kesejahteraan masyarakat dan terutama kepastian hukumnya. Untuk
itu berbagai usaha yang dilakukan pemerintah yaitu mengupayakan penyelesaian
sengketa tanah dengan cepat untuk menghindari penumpukan sengketa tanah,
yang dapat merugikan masyarakat misalnya tanah tidak dapat digunakan karena
tanah tersebut dalam sengketa.
Pada dasarnya pilihan penyelesaian sengketa dapat dilakukan dengan 2
(dua) proses. Proses penyelesaian sengketa melalui litigasi di dalam pengadilan,
kemudian berkembang proses penyelesaian sengketa melalui kerja sama
(kooperatif) di luar pengadilan.11 Proses litigasi menghasilkan kesepakatan yang
bersifat adversial yang belum mampu merangkul kepentingan bersama,
cenderung
menimbulkan
masalah
baru,
lambat
dalam
penyelesaiannya.
Sebaliknya, melalui proses di luar pengadilan menghasilkan kesepakatan
10
Gunawan Wiradi, Masalah Pembaruan Agraria: Dampak Land Reform terhadap Perekonomian
Negara, Makalah yang disampaikan dalam rangkaian diskusi peringatan “Satu Abad Bung Karno” di
Bogor, tanggal 4 Mei 2001, Hal. 4
11
Badan Pertanahan Nasional, Reforma Agraria: Mandat Politik, Konstitusi, dan Hukum Dalam Rangka
Mewujudkan “Tanah untuk Keadilan dan Kesejahteraan Rakyat”, Jakarta, 2007. Hal. 23
13
kesepakatan yang bersifat “win-win solution”,12 dihindari dari kelambatan proses
penyelesaian
yang
diakibatkan
karena
hal
prosedural
dan
administratif,
menyelesaikan komprehensif dalam kebersamaan dan tetap menjaga hubungan
baik.
Penggunaan pasal dalam KUHP oleh Hakim, yakni pasal 385 KUHP
sebenarnya terdapat kelemahan. Lemahnya hukum tindak pidana penyerobotan
lahan setidaknya terlihat dalam dua hal. Pertama, logika hukum dari pasalpasalnya tidak konsisten satu sama lain dan, kedua, ancaman pasal dari tindak
pidana bersangkutan sangat rendah dan nyaris tak masuk akal. Jadi jangan heran
jika masyarakat malas membawa kasus demikian ke proses hukum.
Kalaupun penyerobotan lahan demikian dilaporkan ke kepolisian maka
akan sangat merepotkan. Ilustrasinya begini. Penyerobotan lahan akan terkait
dengan batas-batas tertentu yang pasti ukurannya. Untuk memastikan batas-batas
demikian diperlukan pengukuran oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN). Dalam
praktik, untuk meminta pengukuran ini ada pula prosedur dan biaya-biayanya di
BPN, meliputi biaya administrasi dan biaya penggantian ongkos transpor dari juru
ukur. Proses di BPN ini sudah tentu memakan waktu.Belum lagi proses
pengukuran di lapangan yang rawan konflik. Karena itu, biasanya, akan diminta
pengamanan dari pihak aparat kepolisian. Bayangkan, betapa merepotkan
pengurusannya, sedangkan ancaman pasalnya cuma tiga bulan.
Kemudian secara empirik tanah yang di serobot secara diam-diam
sudah bersertifikat dan dalam realita praktik hukum di lapangan tindak pidana
penyerobotan lahan demikian tergolong sebagai tindak pidana ringan (tipiring).
Berhadapan dengan tipiring demikian para penyidik biasanya enggan dan tidak
semangat memprosesnya. Hal ini tak terlepas bahwa yang akan menghadapkan
perkara tipiring demikian ke persidangan adalah penyidik sendiri selaku kuasa
penuntut umum, tanpa melalui perantara jaksa penuntut umum. Prosedurnya,
penyidik atas kuasa penuntut umum, dalam waktu 3 (tiga) hari sejak Berita Acara
Pemeriksaan (BAP) selesai dibuat, menghadapkan Terdakwa berserta barang
bukti, saksi, ahli dan atau juru bahasa ke sidang pengadilan. Barulah kemudian
perkaranya diperiksa oleh hakim tunggal. Dalam situasi persidangan tipiring
demikian penyidik acap enggan berjibaku karena tak biasa beracara di
12
Felix MT. Sitorus, Lingkup Agraria dalam Menuju Keadilan Agraria : 70 Tahun, 2002. Hal. 11
14
persidangan selayaknya jaksa penuntut umum atau pengacara Tidak heran jika
penyidik kerap meminta “permakluman” dari para pelapor perkara tipiring
demikian. Sebagai catatan, bahwa permakluman di sini sengaja dalam tanda petik,
karena bermakna macam-macam. Jangan heran jika penyidik minta uang transpor
untuk itu, karena dirinya merasa mewakili kepentingan dan pengurusan hak-hak
(baca: uang) pelapor, jadi “wajar” meminta imbalan. Kelemahan hukum dari pidana
penyerobotan lahan/tanah ini perlu mendapat perhatian serius dari lembaga
pembentuk hukum di DPR RI. Sudah saatnya ketentuan pidana demikian direvisi,
dijadikan pidana biasa yang lebih berat, bukan tipiring seperti saat ini.
Perkara Penyerobotan tanah sebagaimana diatur dalam UU No. 1/Prp.
Thn 1960 termasuk perkara TIPIRING. Hendaknya berhati-hati dalam memeriksa
dan memutuskan perkara ini karena banyak menyangkut aspek perdata. Hakim
pidana tidak dibenarkan memutuskan status kepemilikan tanah maupun
memerintahkan penyerahannya kepada seseorang di dalam amar putusan pidana
.
Adapun perkara yang termasuk Tipiring (Pasal 205 Ayat (1)KUHAP):
(1) Perkara yang diancam dengan pidana penjara atau kurungan paling lama 3
(tiga) bulan dan atau denda sebanyak-banyaknya Rp. 7500 (tujuh ribu lima ratus
rupiah);dan (2) Penghinaan ringan, kecuali yang ditentukan dalam paragraf 2
Bagian ini (Acara Pemeriksaan Perkara Pelanggaran lalu lintas) (Pasal 205 Ayat
(1)KUHAP) (3) Terhadap perkara yang diancam pidana kurungan paling lama 3
(tiga) bulan atau denda lebih dari Rp 7500, juga termasuk wewenang pemeriksaan
Tipiring (SEMA No. 18 Tahun 1983.
Adapun dasar hukum dikatagorikan perkara tipiring,yakni:
a.
Dasar Hukum diatur dalam Bab Keenam Paragraf 1 Pasal 205-210 KUHAP;
b.
Bagian Kesatu (Panggilan dan dakwaan), Bagian Kedua (Memutus sengketa
wewenang mengadili), dan Bagian Ketiga (Acara Pemeriksaan Biasa)Bab
XVI sepanjang tidak bertentangan dengan paragraf 1 diatas;
c.
Pasal-pasal dalam KUHP yang memuat ancaman pidana penjara atau
kurungan paling lama 3 (tiga) bulan dan atau denda sebanyak-banyaknya
Rp. 7500 (tujuh ribu lima ratus rupiah), Pasal 205 Ayat (1) KUHP;
d.
Peraturan daerah atau peraturan perundang-undangan lainnya yang
termasuk wewenang tipiring berdasarkan KUHAP jo SEMA No 18 Tahun
1983;
15
e.
Prosedur Pemeriksaan perkara Tipiring: 13
1. Penyidik atas kuasa Penuntut Umum, dalam waktu 3 (tiga) hari sejak
Berita Acara Pemeriksaan selesai dibuat, menghadapkan Terdakwa
beserta barang bukti, saksi, ahli, dan atau juru bahasa ke Sidang
pengadilan (Pasal 295 Ayat (2) KUHAP);
2. Jaksa Penuntut Umum dapat hadir di persidangan dengan sebelumnya
menyatakan
keingiannya
untuk
hadir
pada
sidang
(Pedoman
Pelaksanaan Tugas Administrasi Pengadilan Buku II, Cetakan Ke-5, MA
RI,2004);
3. Pengadilan mengadili dengan Hakim Tunggal, pada tingkat pertama dan
terakhir, kecuali dalam hal dijatuhkan pidana perampasan kemerdekaan
terdakwa dapat banding (Pasal 296 Ayat (3) KUHAP);
4. Pengadilan menetapkan hari tertentu dalam tujuh hari untuk mengadili
perkara dengan acara pemeriksaan Tipiring (Pasal 206 KUHAP);-cat: Jadi
ditetapkan oleh KPN, salah satu hari yang khusus ditunjuk sebagai hari
dilaksanakannya pemeriksaan Tipiring.
5. Penyidik memberitahukan secara tertulis kepada Terdakwa tentang hari,
tanggal, jam, dan tempat ia harus menghadap sidang pengadilan dan hal
tersebut dicatat dengan baik oleh penyidik, selanjutnya catatan bersama
berkas dikirim ke Pengadilan (Pasal 207 Ayat (1) poin a KUHAP); Perkara
Tipiring yang diterima harus disidangkan pada hari sidang itu juga (Pasal
207 Ayat (1) poin b KUHAP);
6. Hakim yang bersangkutan memerintahkan panitera mencatat dalam buku
register semua perkara yang diterimanya, dengan memuat nama lengkap,
tempat lahir, umur/tanggal lahir, jenis kelamin, kebangsaan, termpat
tinggal, agama dan pekerjaan terdakwa serta apa yang didakwakan
kepadanya (Pasal 207 ayat (2) poin a dan b KUHAP);
7. Perkara Tipiring dicatat dalam Register Induk khusus untuk itu- Pasal 61
UU No.2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum, Register Perkara Cepat
terdiri dari Tipiring dan Lantas. Saksi tidak disumpah/janji, kecuali hakim
menganggap perlu (Pasal 208 KUHAP);
13
Hasil Penelitian beberapa kasus Penyerobotan tanah yang dianalisis diberbagai daerah, yang diakses
melalui google
16
8. Putusan Perkara Tipiring Tidak dibuatkan Surat Putusan secara
tersendiri, melainkan dicatat dalam daftar catatan perkara kemudian
panitera mencatat dalam buku register serta ditandatangani oleh hakim
dan panitera ybs. (Pasal 209 Ayat (1) KUHAP);
9. Putusan dijatuhkan pada hari yang sama dengan hari diperiksanya
perkara itu juga, toleransi penundaan dapat dilakukan apabila ada
permohonan dari Terdakwa; Putusan pemidanaan dapat dijatuhkan cukup
dengan keyakinan hakim yang didukung satu alat bukti yang sah
(Penjelasan Pasal 184 KUHAP). SEMA No. 9 Tahun 1983: sifat “cepat” itu
menghendaki agar perkara tidak sampai tertunggak, di samping itu situasi
serta kondisi masyarakat belum memungkinkan apabila untuk semua
perkara Tipiring terdakwa diwajibkan hadir pada waktu putusan
diucapkan, maka perkara-perkara cepat (baik Tipiring maupun Lantas)
dapat diputus diluar hadirnya Terdakwa (verstek) dan “pasal 214
KUHAP” berlaku untuk semua perkara yang diperiksa dengan Acara
Cepat. Terhadap Putusan Verstek sebagaimana tersebut dalam poin
diatas, yang berupa pidana perampasan kemerdekaan, terpidana dapat
mengajukan perlawanan (verzet) ke Pengadilan Negeri yang memutuskan
perkara
tersebut
dengan
tata
cara
sebagai
berikut:
Panitera
memberitahukan penyidik adanya perlawanan/verzet;
2. Posisi Kasus
Berdasarkan berkas Perkara BP/61/VIII/2011/Reskrim Tanggal 8 Agustus
2011 perkara Penyerobotan Tanah dengan Tersangka EDY KUSNADI alias
Markus Bin Kalit, pasal yang diterapkan oleh Penyidik dan Dakwan Jaksa
Penuntut Umun adalah Pasal 385 KUHP. Adapun duduk perkaranya adalah
sebagai berikut, bahwa dengan sengaja telah melakukan tindak pidana
penyerobotan tanah yang dilakaukan oleh tersangka Edy Kusnadi Alias Markus
bin Kalit dengan cara menjual tanah milik korban Khou Tan Po Alias Sutopo yang
memiliki sertifikat Nomor 335bTahun 1995 Desa Sungai Ukoi atas nama Popo
Sutopo, tanah tersebut dijual kepada saudari Helyanah dengan
harga Rp
52.500.000 (lima puluh dua juta lima ratus ribu rupiah) dan dibuatkan kwitansi
tanda bukti penerimaan pada tanggal 20 Mei 2006, pada saat menjual tanah
kepada sdri Helyanah, sdr Edy Kusnadi Alias Markus Bin Kalit memiliki dokumen
17
tamah berupa surat pernyataan kepemilikan tanah dan sketsa tanh yang dibuat
pada saat penjualan tanah tersebut yaitu diketahui pada hari Kamis tanggal 24
Februari 2011 di jln Sintang Pontianak KM 10 Dusun Nenak Desa Sungai Ukoi
Kecamatan Sungai Tebelian Kanupaten Sintang.
Berdasar Berita Acara Pendapat (Resume) Kepolisian Negara Republik
Indonesia Resort Sintang yang dibuat tanggak 9 Agustus 2000 Analisis Kasus
yang digunakan adalah Pasal 385 KUHP, namun dalam Berita Acara analisis
Penyidik menggunakan Pasal 406 KUHP yang unsur-unsurnya serbagai berikut:
1. Barang siapa
2. Dengan Hendak untuk menguntungkan diri sendiri
3. Dengan melawan hak menjual sesuatu hak rakyat dalam memakai
tanah pemerintah
4. Sendang diketahuinya bahwa orang lain yang berhak atas tanah
tersebut.
Berkaitan dengan asal muasal tanah tersebut dijelaskan bahwa tanah dalam
perkara ini berasal dari orang tua terdakwa bernama Kalit seorang matan Kepala
Adat yang telah meninggal dunia tahun 1981 dan mempunyai anak empat orang
anak yang bernama Abdullah (alm), Ayang, Duri dan Edy Kusnadi (terdakwa) dan
telah mendapat pembagian harta berupa tanah. Terdakwa mengaku mendapatkan
pembagian tanah dari orang tuanya yang terletak di Jln Sintang Pontianak KM 10,
Dusun Nenak, Desa Sungai Koi, Kecamatan Sungai Tebelian, Kabupaten Sintang.
Dan Tanah tersebut pada tahun 2006 telah dijual oleh terdakwa kepada saksi
Helyanah, sedangkan saudara-saudara dari terdakwa yang Abdulllah, Ayang dan
Duri, juga mendapatkan pembagian tanah dari orang tuanya ditempat lain yang
juga masih di dusun Nenak sesuai dengan saksi-saksi dari penuntut umum yang
bernama Muhammad Yusuf, Slamet dan sesuai pula saksi yang diajukan terdakwa
bernama saksi Abdullah, saksi Ayang, Kristina saksi Kasim, saksi Wahono dan
saksi Arabai. Setelah meninggalkan pembagian tanah tersebut terdakwa
meninggalkan rumah dengan tujuan ke Pontianak dan tidak mengurus tanah
tersebut, kemudian tahun 2006 kembali ke Desa selanjutnya menjual tanah
tersebut ke Helyanah.
Ternyata tanah tersebut sudah bersertifikat atas nama hak milik orang lain,
yakni saksi Tajuin dan beralih menjadi nama
saksi Popo Sutopo. Dalam
Persidangan Popo Sutopo menerangkan bahwa ia mendapatkan tanah tersebut
18
membeli dari orang yang bernama Tajuin tahun 1995, sedangkan Tajuin
mendapatkan tanah tersebut membeli dari M.Saini, sedangkan M .Saini
memp[eroleh tanah tersebut memberi dari Abdullak (Kakak terdakwa) yang saat
itu Abdullah mengaku sebagai pemilik tanah tersebut hasil pembagian orang
tuanya bernama Kalit.
Penuntut Hukum dengan dakwan berbentuk Tunggal, yakni dengan maksud
hendak menguntungkan diri sendiri, atau orang lain, dengan melawan hukum,
menjual, menukarkan, atau menjadikan tanggungan ikatan kredit hak milik atas
tanah negeri atau tanah partikulir atau gedung, bangunan, tanaman, atau benih
ditanah dengan hak milik, sedang ia tahu bahwa orang lain yang berhak atau turut
berhaj atas tanah itu, melanggar pasal 385 ayat (1) KUHP., namun Penasehat
Hukumn Terdakwa dalam pembelaan/ pledoinya bahwa terdakwa tidak terbukti
melakukan tindak pidana penyerobotan tanah pasal 385 KUHP. Majelis Hakim
dalam pertimbangan berkeyakinan bahwa Terdakwa telah melakukan perbuatan
hukum yakni menjual tanah terletak di jalan Sintang Pontianakj KM 10 Dusun
Nenak, Desa Sungai Ukoi, Kecamatan Sungai Tebelian, Kabupaten Sintang,
namun Majelis Hakim berpendapat bahwa perbuatan terdakwa tersebut bukan
merupakan perbuatan pidana, melainkan perbuatan perdata oleh karenanya
sesuai dengan Pasal 191 ayat (2) KUHAP terdakwa haruslah dilepaskan dari
segala tuntutan hukum.. Kemudian Majelis Hakim dalam Putusan menyatakan,
bahwa Terdakw Edi Kusnadi alias Markus Bin Kalit telah terbukti melakukan
perbuatan yang didakwakan kepadanya, tetapi perbuatan tersebut bukan
merupakan kejahatan atau pelanggaran.
3. Analisis Pertimbangan Hakim
Sebelum menganalisa pertimbangan hakim terlebih dahulu dipaparkan Pasalpasal di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang terkait dengan
kejahatan atau tindak pidana di bidang pertanahan adalah sebagai berikut:
1 Kejahatan terhadap penyerobotan tanah diatur dalam Pasal 167 KUHP:
(1) Barang siapa memaksa masuk ke dalam rumah, ruangan atau pekarangan
tertutup yang dipakai orang lain dengan melawan hukum, atau berada di situ
dengan melawan hukum, dan atas permintaan yang berhak atau suruhannya
tidak pergi dengan secara diancam dengan pidana pedana paling lama
sembilan bulan atau denda paling banyak tiga ratus rupiah.
19
(2) (2)Barang
siapa
masuk
dengan
merusak
atau
memanjat,
dengan
menggunakan anak kunci palsu perintah palsu atau pakaian jabatan palsu
atau barang siapa tidak setahu yang berhak lebih dahulu serta bukan karena
kehkilafan masuk dan kedapatan di situ pada waktu malam, dianggap
memaksa masuk;
(3) Jika mengeluarkan ancaman atau menggunakan sarana yang dapat
menakutkan orang pidana menjadi paling lama satu tahun empat bulan;
(4) Pidana tersebut dalam ayat I dan 3 dapat ditambah sepertiga jika yang
melakukan kejahatan dua orang atau lebih dengan bersekutu.
2.
Kejahatan
terhadap
pernberian
sumpah
palsu
dan
keterangan
palsu
sebagaimana diatur dalam Pasal 242 KUHP.
(1). Barang siapa dalam hal dimana undang-undang menentukan supaya
memberi keterangan di atas sumpah, atau mengadalian akibat hukum
kepada keterangan yang demikian, dengan sengaja memberi keterangan
palsu di atas sumpah, baik dengan dasar, atau tulisan, olehnya sendiri
maupun oleh kuasanya yang khusus ditunjuk untuk itu, diancam dengan
pidana penjara paling lama tujuh tahun.
(2). Jika keterangan palsu di atas sumpah diberikan dalam perkara pidana dan
merugikan terdakwa atau tersangka, yang bersalah dikenakan pidana
penjara paling lama sembilan tahun.
(3). Disamakan dengan sumpah palsu adalah janji atau pengikatan, .yang
diharuskan menurut aturan-aturan umum atau yang menjadi pengganti
sumpah;
3. Kejahatan terhadap pemalsuan surat-surat masing-masing diatur dalam Pasal
263, 264, 266, dan 274 KUHP: PasaI263 KUHP:
(1). Barang siapa membuat seeara tidak benar atau memalsu surat yang dapat
menimbulkan sesuatu hak, perikatan atau pembebasan hutang, atau yang
diperuntukan sebagai bukti dari pada sesuatu hal, dengan maksud untuk
memakai atau menyuruh orang lain pakai surat tersebut seolah-olah isinya
benar dan tidak palsu, diancam jika pemakaian tersebut dapat menimbulkan
kerugian, karena pemalsuan surat dengan pidana penjara paling lama enam
tahun.
20
(2). Diancam dengan pidana yang sama barang siapa dengan sengaja memakai
surat yang isinya tidak benar atau yang dipalsu seolah-olah benar atau tidak
palsu, jika pemakaian surat itu dapat menimbulkan kerugian.
Pasal 264 KUHP:
(1) Pemalsuan surat diancam dengan pidana penjara paling lama delapan tahun,
jika dilakukan terhadap:
a. Akta-alda Otentik;
b. Surat hutang dan sertipikat hutang dari sesuatu negara atau bagiannya
ataupun dari suatu lembaga umum;
c. Surat sero atau hutang atau sertipikat sero atau hutang dari suatu
perkumpulan yayasan, perseroan atau maskapai;
d. Talon, tanda bukti dividen atau dengan dari salah satu surat yang
diterangkan dalam 2 dan 3, atau tanda bukti yang dikeluarkan sebagai
pengagnti surat-surat itu
e. Surat kredit atau surat dagang yang diperuntukan untuk diedarkan.
(2) Diancam dengan pidana yang sama barang siapa dengan sengaja mekakai
surat tersebut dalam alat pertama yang isinya tidak benar atau yang dipalsu
seolah-olah benar dan tidak palsu, jika pemakaian surat itu dapat
menimbulkan kerugian.
Pasal266 KUHP:
(1) Barangsiapa menyuruh masukan keterangan palsu ke dalam suatu akta otekrik
mengenai sesuatu hal yang kebenarannya harus dinyatakan oleh akta itu,
dengan maksud untuk memakai atau menyuruh orang lain pakai akta itu
seolah-olah keterangannya sesuai dengan kebenaran, diancam, jika
pemakaian itu dapat menimbulkan kerugian, dengan pidana penjara paling
lama tujuh tahun;
(2) Diancam dengan pidana yang sama, barang siapa dengan sengaja memakai
akta tersebut seolah-olah isinya sesuai dengan kebenaran, jika karena
pemakaian tersebut dapat menimbulkan kerugian.
Pasal274 KUHP:
(1) Barang siapa membuat secara tidak benar atau memalsu surat keterangan
seorang pejabat selaku penguasa yang syah, tentang hak milik atau hak
lainnya atas sesuatu barang, dengan maksud untuk memudahkan penjualan
21
atau pengadannya atau untuk menyesaikan pejabat kehakiman atau
kepolisian tentang asalnya, diancam dengan pidana penjara paling lama dua
tahun;
(2) Diancam dengan pidana yang sama, barang siapa dengan maksud tersebut.
memakai surat keterangan itu seolah-olah benar dan tidak palsu.
4. Kejahatan penggelapan terhadap hak atas barang tidak bergerak, seperti tanah,
rumah sawah. Kejahatan ini biasa disebut dengan kejahatan stellionaat, yang
diatur dalam Pasal 385 KUHP.
Diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun:
(1) barang siapa dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain
secara melawan hukum, menjual, menukarkan atau membebani dengan
crediet verband sesuatu hak atas tanah Indonesia, sesuatu gedung,
bangunan, penanaman atau pembenihan, padahal diketahui bahwa yang
mempunyai atau turut mempunyai hak atasnya adalah orang lain.
(2) Barang siapa dengan maksud yang sama menjual, menukarkan, atau
membebani dengan crediet verband, sesuatu hak tanah lndonesia yang
telah
dibebam
crediet
verband,
atau
sesuatu
gedung,
bangunan,
penanaman atau pembenihan di atas tanah yang juga telah dibebani
demikian, tanpa memberitahukan tentang adanya beban itu kepada pihak
yang lain.
(3) Barang siapa dengan maksud yang sama mengadakan credieet verband
mengenai sesuatu hak tanah lndonesia, dengan menyembunyikan kepada
pihak lain bahwa tanah yang berhubungan dengan hak tadi sudah
digadaikan;
(4) Birang siapa dengan maksud yang sama mengadaikan atau menyewakan
tanah dengan hak Indonesia, padahal diketahui bahwa orang lain yang
mempunyai atau turut mempunyai hak atas tanah itu;
(5) Barang siapa dengan maksud yang sama menjual atau menukarkan tanah
dengan hak Indonesia yang telah digadaikan, padahal tidak diberitahukan
kepada pihak yang lain, bahwa tanah itu telah digadaikan:
(6) Barang siapa dengan maksud yang sama, menjual atau menukarkan tanah
dengan hak Indonesia untuk suatu masa, padahal diketahui, bahwa tanah itu
telah disewakan kepada orang lain untuk masa itu juga.
22
Dari Pasal-Pasal di Dalam KUHP tersebut di atas, jika disajikan dalam
bentuk tabel akan nampak sebagai berikut:
Tabel 1 : Pasal-Pasal Tindak Pidana Di Bidang Pertanahan
Yang Diatur dalam KUHP
No
Pengaturan
Perihal
Pasal
Penyerobotan
167 KUHP
Tanah
Ancamana Pidana
Keterangan
Paling lama 9 bulan Kejahatan
dan/atau denda Rp.
300
Sumpah Palsu dan 242 KUHP
Paling lama 7 tahun Kejahatan
Keterangan Palsu
Pemalsuan Surat
263 KUHP
Paling lama 6 tahun Kejahatan
Pemalsuan Surat
264 KUHP
Paling lama 8 tahun Kejahatan
Menyuruh
266 KUHP
Paling lama 7 tahun Kejahatan
Surat 274 KUHP
Paling lama 2 tahun Kejahatan
385 KUHP
Paling lama 4 tahun Kejahatan
memasukkan
keterangan palsu ke
dalam akta otentik
Pemalsuan
Keterangan
Penggelapan
terhadap hak atas
barang
tidak
bergerak
Sumber: Moeljatno, KUHP, Jakarta, Bina Aksar
Berdasarkan Pasal-Pasal di atas, pasal 385 KUHP adalah merupakan
satu-satunya Pasal dalam yang sering digunakan oleh pihak penyidik (Polisi) dan
penuntut umum (Jaksa) untuk mendakwa “penyerobotan tanah” dan dikatagorikan
sebagai tindak pidana kejahatan. Khususnya Pasal 385 ayat (1) KUHP yang
berbunyi :
“barang siapa dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain
secara melawan hukum, menjual, menukarkan atau membebani dengan crediet
verband sesuatu hak atas tanah Indonesia, sesuatu gedung, bangunan,
23
penanaman atau pembenihan, padahal diketahui bahwa yang mempunyai atau
turut mempunyai hak atasnya adalah orang lain”
Kesimpulan
1. Berdasarkan berkas Perkara BP/61/VIII/2011/Reskrim Tanggal 8 Agustus 2011
perkara Penyerobotan Tanah dengan Tersangka EDY KUSNADI alias Markus Bin
Kalit, pasal yang diterapkan oleh Penyidik dan Dakwan Jaksa Penuntut Umun
adalah Pasal 385 KUHP. Namun oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Sintang
Majelis Hakim berpendapat bahwa perbuatan terdakwa tersebut bukan merupakan
perbuatan pidana, melainkan perbuatan perdata oleh karenanya sesuai dengan
Pasal 191 ayat (2) KUHAP terdakwa haruslah dilepaskan dari segala tuntutan
hukum.. Kemudian Majelis Hakim dalam Putusan menyatakan, bahwa Terdakw
Edi Kusnadi alias Markus Bin Kalit telah terbukti melakukan perbuatan yang
didakwakan kepadanya, tetapi perbuatan tersebut bukan merupakan kejahatan
atau pelanggaran.
2. Sungguhpun demikian, secara yuridis putusan lepas dari tuntutan hukum Putusan
Pengadilan Negeri Sintang
Nomor: 41/PID.B/2012/PN.STG tersebut, masih
mengandung kelemahan-kelemahan. Sebab Penerapan Pasal 385 Ayat 1 KUHP
Terhadap Pelaku Kejahatan Penyerobotan Hak Atas Tanah. Dalam perkara
pidana
Nomor
:
BP/6/VIII/2011/Reskrim
jo
Putusan
Nomor
41/Pid.B/2012/PN.STG.. adalah dasar pertimbangan Hakim dalam memutus
perkara pidana hak-hak atas tanah milik orang lain memiliki bukti-bukti yang kuat
sehingga dengan adanya bukti-bukti tersebut akan dapat memberatkan bagi
terdakwa, atau dengan kata lain terdakwa tidak dapat menolak lagi akan
perbuatan yang dilakukannya, karena dengan alat bukti itulah terdakwa melakukan
perbuatanya / perbuatan pidana, yang dilakukanya itu benar-benar dilakukan oleh
terdakwa sendiri, Pengakuan yang jujur dari diri terdakwa atas kesalahan yang
diperbuatnya, hal ini dimaksud dengan adanya pengakuan yang jujur atau
pengakuan yang sebenarnya mengenai apa yang didakwakan oleh penuntut
umum kepada terdakwa, seharusnya akan dapat mempermudah bagi hakim
dalam menjatuhkan putusanya, Apa yang didakwakan oleh Jaksa Penuntut Umum
atas perbuatan tindak kejahatan yang dilakukan oleh si terdakwa benar-benar
telah sesuai dengan apa yang diperbuatnya, Terdakwa menunjukan rasa
penyesalannya atas segala perbuatanya yang dituduhkan kepadanya, didalam
24
perkara tindak kejahatan perampasan terhadap hak-hak atas tanah milik orang
lain ini, sebagai mana yang diancam dengan Pasal 385 Ayat 1 KUHP.
25
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Mustafa dan Ruben Achmad, Intisari Hukum Pidana, Jakarta: Ghalian
Indonesia, 1983.
Badudu J.S. dan Sutan Mohammad Zain, Kamus Umum Bahasa Indonesia,
Jakarta:Pustaka Sinar Harapan, 1994).
Bassar, M Sudrajat, Tindak-tindak Pidana Tertentu, Bandung : Remadja karya, 1984
Bosu, B. Sendi-Sendi Krimonologi, (Surabaya : Usaha Nasional, 1982),
Farid, A. Zainal Abidin, Hukum Pidana I, (Jakarta : Sinar Grafiti,1995)
Harsono, Boedi, Hukum Agraria Indonesia Himpunan Peraturan-peraturan Hukum
Tanah, Jakarta : Jembatan,
-------------,Hukum Agraria Indonesia,
Sejarah Pembentukan Undang- Undang Pokok Agraria.Isi dan
Jakarta : Djambatan,2003.
Pelaksanaanya.
BPN . Nomor 5 PRP Tahun 1960 Tentang Larangan Pemakaian Tanah Tanpa Izin
Yang Berhak Atau Kuasanya., Pasal 3 dan Pasal 4.
Kansil , C. S. T. dan Christine S. T. Kansil, Latihan Ujian Hukum Pidana,
Jakarta: Sinar Grafika, 1995.
Lamintang, P.A.F. Dasar-dasar Hukum Pidana Indonesia, (Citra Aditya Bhakti :
Bandung, 1997.
…………, Hukum Pidana Indonesia, Bandung : Sinar Baru : 1980)
Pasaribu, Ivor Ignasio” Masalah Penyerobotan Tanah Dalam Perspektif Pidana, hukum
on line
.Prodjodikoro, Wirjono, Hukum Acara Pidana di Indonesia, Bandung : Sumur, 1962.
…………., Tindak-Tindak Pidana Tertentu di Indonesia ,Jakarta:Eresco, 1980.
Ruchiyat, Edy, Politik Pertanahan Sebelum dan Sesudah Berlakunya UUPA, Bandung
: Alumni, 1984.
Sahetapy,.J.E. Paradoks Kriminologi ,Jakarta: Rajawali; 1982.
Saleh, Roeslan, Perbuatan Pidana dan Pertanggungjawaban Pidana;Dua Pengertian
Dasar dalam Hukum Pidana, Jakarta : Aksara Baru, 1983.
Soekanto, Soerjono dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan
Singkat, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003.
26
………….., Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, Raja Grafindo
Persada, Jakarta, 1993.
Soemitro, Romy Hanitijo, Metodologi Penelitian Hukum, Jakarta: Ghalia Indonesia,
1985
Soesilo, R. Kitab Undang-undang Hukum Pidana, Bogor : Politea, 1988.
…………, Pokok-pokok Hukum Pidana Peraturan Umum dan Delik Khusus, Bogor :
Politea, 1984.
Sudarto, Hukum Pidana Jilid IA-B, Alumni: Bandung, 1982.
Santoso, Urip. Hukum Agraria dan Hak-hak atas Tanah. Jakarta: Prenada Media
Group, 2008.
Sihombing, B. F dalam Supriadi. Hukum Agraria. Jakarta: Sinar Grafika, 2010.
Simarmata, Rikardo. Pengakuan Hukum terhadap Masyarakat Adat di Indonesia.
UNDP Regional Center in Bangkok, 2006.
Soeprapto. Undang-Undang Agraria dalam Praktek. Jakarta: Universitas Indonesia
Pres, 1986.
Soesanto, J. B. Hukum Agraria I. Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945,
Semarang.
Sudiyat, Iman. Hukum Adat Sketsa Adat. Cetakan Ketujuh, Yogyakarta: Liberty, 2012.
Sumardjono, Maria S.W. Tanah dalam Perspektif Hak Ekonomi Sosial dan Budaya.
Cet. 2. Jakarta: PT. Kompas Media Nusantara, 2009.
Supriadi. Hukum Agraria. Ed. 1, Cet. 4. Jakarta: Sinar Grafika.
Sumardjono, Maria S.W. Tanah dalam Perspektif Hak Ekonomi Sosial dan Budaya.
Cet. 2. Jakarta: PT. Kompas Media Nusantara, 2009.
Sutiknjo, Imam. Politik Agraria Nasional. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press,
1994.
Tom, Camphell, Tujuh Teori Sosial (Sketsa, Penelitian, Perbandingan). Terjemahan
“seven Theories of Human Society”. Oleh : F. Budi Hardiman.
Tongat, Dasar-dasar Hukum Pidana Indonesia dalam Perspektif Pembaharuan,
Universitas
Muhammadiyah : Malang, 2008.
Wisnubroto, Al. Teknis Persidangan Pidana ,Yogyakarta: Penerbit Universitas
Atmajaya Yogyakarta, 2009)
Yamin Lubis, Muhammad dan Abd. Rahim Lubis. Hukum Pendaftaran Tanah.
Bandung: Mandar Maju, 2008.
27
28
Download