Menentukan Prioritas Elemen Desain Dan Aplikasi

advertisement
Menentukan Prioritas Elemen Desain Dan Aplikasi Web Berdasarkan Standarisasi W3c Pada Taksonomi ELearning Assessment Questions And Tasks Menggunakan Ahp
Menentukan Prioritas Elemen Desain Dan Aplikasi Web Berdasarkan
Standarisasi W3c Pada Taksonomi E-Learning Assessment Questions And
Tasks Menggunakan Ahp
Migunani
Program Studi Sistem Informasi, STMIK ProVisi, Semarang
Migunani email : [email protected]
Abstract
ISO (International Organization for Standadization) sebagai organisasi international yang menetapkan
standar untuk industri dan komersial menetapkan standar yang berlaku secara international. World Wide
Web Consortium (W3C) adalah suatu konsorsium yang bekerja untuk mengembangkan standar-standar
untuk WWW (World Wide Web). Standar W3C menetapkan spesifikasi teknologi-teknologi utama yang
dipakai sebagai basis utama web, seperti URL (Uniform Resource Locator), HTTP (Hypertext Transfer
Protocol), HTML (HyperText Markup Language) dan standar-standar lainya dikembangkan dan diatur
oleh badan ini. Standar tersebut menjadi acuan bagi para pengembang dalam membangun web. Website
sendiri memiliki berbagai karakteristik yang dapat dibedakan berdasarkan konteks dan kontennya. Pada
web untuk kebutuhan assessment atau sering disebut dengan e-assessment dirancang untuk
mengakomodasi fungsi-fungsi assessment menggunakan teknologi web. E-Assessment atau dikenal dengan
istilah Computer Based Assessment merupakan sebuah metode dalam pengelolaan test dengan respon yang
direkam secara elektronik. Melalui proses hirarki analitik (analytical hierarchy process) dapat di tentukan
prioritas elemen desain dan aplikasi web menurut standarasi W3C pada taksonomy e-learning assessment
Questions and Task.
Keywords: E-assessment, Element Desain, Aplikasi Web, W3C, Analytical Hierarchy Process.
1.
1. Pendahuluan.
Standarisasi
merupakan
konsensus
masyarakat pengguna dibidang industri dan
komersial yang telah memiliki organisasi baik
ditingkat international maupun di setiap negara. ISO
(International Organization for Standadization)
sebagai organisasi international yang menetapkan
standar untuk industri dan komersial telah
menetapkan
standar
yang
berlaku
secara
international. World Wide Web Consortium (W3C)
adalah suatu konsorsium yang bekerja untuk
mengembangkan standar-standar untuk WWW
(World Wide Web). Standar W3C menetapkan
spesifikasi teknologi-teknologi utama yang dipakai
sebagai basis utama web, seperti URL (Uniform
Resource Locator), HTTP (Hypertext Transfer
Protocol), HTML (HyperText Markup Language)
dan standar-standar lainya dikembangkan dan diatur
oleh badan ini.
Menurut W3C, terdapat 9 (sembilan standar
untuk kajian mengenai web design and application.
Standarisasi tersebut terdiri dari :
2.
3.
4.
5.
HTML dan CSS, merupakan teknologi dasar
untuk membangun halaman web. Struktur
halaman web menggunakan tag HTML dan
XHTML, CSS digunakan untuk gaya dan layout
termasuk webfont (bentuk huruf pada web).
Scripting dan Ajax, sebagai standar API
(application
program
interface)
untuk
pengembangan aplikasi web sisi klien termasuk
geolocation. Sedangkan XMLHttp Request pada
Ajax, dan widget mobile.
Graphics, menetapkan standar grafik untuk web
dengan format raster berekstensi PNG,
sedangkan format vektor berekstensi SVG dan
Canvas API. WebCGM merupakan format
khusus
untuk
rekayasa
otomotif
dan
aeronautika.
Audio dan Video, merupakan format standar
W3C yang memungkinkan authoring presentasi
audio dan video termasuk didalamnya HTML,
SVG, dan SMIL (untuk sinkroisasi).
Accessbility, W3C Web Accessibility Initiative
(WAI) telah menerbitkan pedoman aksesibilitas
konten web (WCAG) untuk membantu penulis
membuat konten yang dapat diakses oleh
23
Jurnal Teknologi Informasi dan Komunikasi Vol. 3 No.1 Maret 2012
penyandang cacat. WAI-ARIA memberikan
kepada author berupa alat yang lebih untuk
membuat Aplikasi Web diakses dengan
menyediakan tambahan semantik tentang
widget dan perilaku.
6. Internationalization, merupakan misi W3C
untuk merancang teknologi yang dapat bekerja
lintas budaya dan bahasa.
7. Mobile Web, merupakan standar Web yang
tersedia untuk perangkat, konteks dan lokasi.
8. Privacy,
pentingnya
mempertimbangkan
implikasi dan keamanan web sebagai bagian
dari teknologi.
9. Math
on
the
web,
W3C
MathML
memungkinkan matematika dapat di layani,
diterima, dan diproses di World Wide Web.
Matematika dan formulanya dapat digunakan di
Web untuk keperluan laporan bisnis, bahan
pendidikan dan penelitian ilmiah.
Standar tersebut menjadi acuan bagi para
pengembang dalam membangun sebuah web.
Website sendiri memiliki berbagai karakteristik yang
dapat dibedakan berdasarkan konteks dan
kontennya. Diantaranya dapat berupa web portal,
web mail, web blog, web forum, web leaening, web
commerce, web base testing (web base assessment)
menunjukkan karakteristik yang berbeda satu sama
lain. Pada web untuk assessment atau sering disebut
dengan
e-assessment
dirancang
untuk
mengakomodasi
fungsi-fungsi
assessment
menggunakan teknologi web.
E-Assessment atau dikenal dengan istilah
Computer Based Assessment, Computer Based
Testing, atau Computerized Testing merupakan
sebuah metode dalam pengelolaan test dengan
respon yang direkam secara elektronik. Offline
Assessment maupun Online Assesment masingmasing menggunakan bentuk atau format soal
tertentu dalam penyajianya.
2. Pembahasan
2.1. Format Soal Assessment.
Scalish and Giford (2006), menguraikan 28
macam format item soal yang dikategorikan
kedalam suatu taksonomi (pengelompokan sesuatu
berdasarkan hirarki tertentu) yang berbasis pada
tingkat keterkaitan dalam format item soal tersebut
yang dibedakan menjadi tiga kelompok soal.
Kelompok yang pertama sepenuhnya menggunakan
24
format item soal berupa pilihan (multiple choice),
kelompok kedua sepenuhnya menggunakan format
item soal berupa presentasi (presentation), dan
kelompok yang berada diantara format pilihan dan
format peresentasi/portofolio.
Kelompok format soal menurut garis vertikal
memberikan gambaran tentang kompleksitas format
item soal tersebut, semakin kebawah semakin
kompleks atau rumit, sedangkan menurut garis
horisontal menggambarkan batasan format item soal
semakin ke kanan semakin tidak terbatas pada
format tertentu. Taksonomi format soal dalam eAssessment dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Taxonomy for E-Learning Assessment
Questions and Tasks (Scalish & Giford,
2006)
Berdasarkan
taksonomi
format
soal
assessment dapat didiskripsikan sebagai berikut.
A. Pilihan ganda (mulituple choice).
Format soal dengan memilih jawaban yang
benar dari satu set jawaban. Kategori ini dibedakan
menjadi empat macam format yang berbeda. Itemitem jawaban akan diuji untuk menentukan jawaban
yang benar dari satu set jawaban yang disediakan.
Kategori pilihan ganda dibedakan menjadi empat
macam format yaitu :
1) Benar/Salah (true/false).
Format benar/salah memberikan alternatif
pilihan yang sama untuk setiap soal berupa jawaban
benar atau salah. Pertanyaan-pertanyaan yang
disajikan berupa uraian yang mengandung suatu
pernyataan yang benar atau pernyataan yang salah.
Menentukan Prioritas Elemen Desain Dan Aplikasi Web Berdasarkan Standarisasi W3c Pada Taksonomi ELearning Assessment Questions And Tasks Menggunakan Ahp
Gambar 2. Format Soal True/False
2) Pilihan alternatif (alternate choice).
Berbeda dengan format benar/salah yang
hanya memiliki sebuah peryataan, format pilihan
alternatif memiliki dua pernyataan untuk
dintanyakan kepada responden agar responden
memilih jawaban yang lebih tepat.
Gambar 5. Format Soal multiple choice with new
media distractor
B. Seleksi / Identifikasi (selection/identification)
Format ini menyediakan pilihan jawaban
dengan pilihan ganda yang dapat diklasifikasikan
sebagai pendekatan seleksi atau identifikasi dalam
assessment.
1) Benar/salah ganda (multiple true/false)
Format ini memiliki lebih dari satu set item
jawaban benar atau salah yang digunakan untuk
menjawab sebuah pertanyaan. Dengan memberikan
jawaban benar dan jawaban salah pada item pilihan
jawaban yang disajikan.
Gambar 3. Format Soal alternate choice
3) Konvensional atau standar pilihan ganda
(convensional or standar multiple choice).
Format pilihan ganda konvensional telah
banyak digunakan dalam pelaksanaan assessment.
Pada format ini soal memiliki empat/lima jawaban
dengan satu jawaban benar dan responden memilih
satu jawaban benar.
Gambar 6. Format Soal multiple choice with new
media distractor
2) Benar/salah dengan penjelasan (true/false with
explanation)
Format ini memiliki lebih dari satu set item
jawaban benar atau salah dengan menambahkan
penjelasan pada setiap item jawaban. Responden
memilih jawaban benar disertai alasan mengapa
jawaban tersebut benar, atau responden memilih
jawaban yang salah disertai alasan mengapa jawaban
salah.
Gambar 4. Format Soal Standart multiplechoice
4) Pilihan ganda dengan media baru (multiple
choice with new media distractor).
Format pilihan ganda hasil inovasi dengan
respon jawaban yang secara umum tidak
menggunakan seting kertas dan pensil, namun
pemilihan jawaban dilakukan dengan menekan
tombol mouse pada area gambar grafis atau
multimedia.
Gambar 7. Format Soal multiple choice with new
media distractor
25
Jurnal Teknologi Informasi dan Komunikasi Vol. 3 No.1 Maret 2012
3) Banyak jawaban (multiple answer)
Format ini memiliki satu set item jawaban
yang tersedia, responden memilih lebih dari satu
jawaban benar yang disediakan.
Gambar 9. Format Soal Mencocokkan
Gambar 7. Format Soal multiple answer
4) Pilihan ganda kompleks (complex multiple
choice)
Format ini memiliki satu set item jawaban
yang tersedia, responden memilih satu jawaban
benar yang bersifat komplek.
2) Mengkatagorikan (categorizing)
Format soal yang menyediakan satu set
jawaban, responden mengkatagorikan jawabanjawaban yang disediakan dengan jawaban yang telah
disediakan pula.
Gambar 10. Format Soal Categorizing
Gambar 8. Format Soal complex multiple choice
C. Mengurutkan ulang/menata ulang (reordering
/rearrangement).
Format soal yang menyediakan satu set itemitem jawaban, responden memilih jawaban dengan
cara mengurutkan ulang atau dengan menata ulang
jawaban sehingga diperoleh jawaban yang benar dan
berurutan.
1) Mencocokkan (matching)
Format soal yang memiliki satu set pasangan
jawaban yang di letakkan bersebelahan yaitu kiri dan
kanan. Responden memilih jawaban dengan
mencocokkan jawaban yang berada pada lajur kiri
dengan jawaban yang berada pada lajur kanan.
26
3) Merangking dan mengurutkan (ranking and
sequencing)
Format soal yang menyediakan satu set
jawaban, responden merangking dan mengurutkan
jawaban yang tersedia.
Gambar 11. Format Soal Rangking
4) Menyusun kebenaran (assembling proof)
Format soal yang menyediakan satu set
jawaban, responden memilih beberapa jawaban
untuk disusun menjadi sebuah statemen atau kalimat
yang benar.
Menentukan Prioritas Elemen Desain Dan Aplikasi Web Berdasarkan Standarisasi W3c Pada Taksonomi ELearning Assessment Questions And Tasks Menggunakan Ahp
3) Gambar figur terbatas (limited figural drawing)
Format soal yang terbentuk dari sebuah gambar,
responden melakukan penyesuaian atau
mengoreksi
gambar
dengan
mengatur
sedemikian rupa agar jawaban sesuai dengan
pertanyaan yang disediakan.
Gambar 12. Format Soal Assembling Proof
D. Penggantian/mengoreksi
(subtitution/correction)
Format soal yang menyediakan pertanyaan
dengan jawaban yang dapat diganti atau di koreksi
sehingga pertanyaan dan jawaban membentuk
sebuah pernyataan atau kalimat yang benar.
1) Interlinier
Format soal yang terbentuk dari sebuah kalimat
pertanyaan, responden memilih beberapa
jawaban yang telah disediakan diantara kalimat
pertanyaan tersebut untuk melengkapi sebuah
kalimat pertanyaan sehingga menjadi sebuah
kalimat yang benar.
Gambar 13. Format Soal Subtitution
Gambar 15. Format Soal Limited Figural
Drawing
4) Mengoreksi kesalahan (bug/fault correction)
Format soal yang terbentuk dari sebuah gambar,
responden mengoreksi bagian dari gambar
untuk memberikan jawaban yang benar.
2) Sore finger
Format soal yang terbentuk dari beberapa
kalimat, responden memilih jawaban yang telah
disediakan diantara kalimat-kalimat soal dengan
jawaban yang ditandai menggunakan garis
bawah.
Gambar 16. Format Soal Fault Correction
Gambar 14. Format Soal Sore Finger
2.2. Analisis Menggunakan Analytical Hierarchy
Process.
Metode AHP memiliki tahapan-tahapan
dalam analisis berbasiskan nilai angka antara 1
(satu) sampai angka 9 (sembilan) yang menunjukkan
nilai bobot perbandingan berpasangan. Kriteriakriteria dalam penilaian dan alternatif-alternatif
solusi yang dapat digunakan masing-masing
27
Jurnal Teknologi Informasi dan Komunikasi Vol. 3 No.1 Maret 2012
dibandingkan secara berpasangan. Tahapan analisis
menggunakan metode AHP diawali dengan
menetapkan tujuan yang hendak dicapai,
menetapkan kriteria-kriteria dalam penilaian dan
menetapkan alternatif-alternatif dalam penilaian
peserta didik. Terdapat tiga prinsip dasar AHP
menurut Saaty (1994), yaitu :
1. Dekomposisi (Decomposition)
Setelah persoalan didefinisikan, maka perlu
dilakukan decomposition, yaitu memecah
persoalan yang utuh menjadi unsur-unsurnya.
Jika ingin mendapatkan hasil yang akurat, maka
pemecahan terhadap unsur-unsurnya dilakukan
hingga
tidak
memungkinkan
dilakukan
pemecahan lebih lanjut. Pemecahan tersebut
akan menghasilkan beberapa tingkatan dari suatu
persoalan. Oleh karena itu, proses analisis ini
dinamakan hierarki (hierachy).
2. Penentuan Komparasi (Comparative Judgment)
Prinsip ini membuat penilaian tentang
kepentingan relatif dua elemen pada suatu
tingkat tertentu yang berkaitan dengan tingkat di
atasnya. Penilaian ini merupakan inti dari AHP
karena berpengaruh terhadap prioritas elemenelemen. Hasil penilaian ini tampak lebih baik
bila
disajikan
dalam
bentuk
matriks
perbandingan
berpasangan
(pairwise
comparison).
3. Sintesis Prioritas (Synthesis of Priority)
Dari setiap matriks pairwise comparison
dapat
ditentukan
nilai
eigenvector
untuk
mendapatkan prioritas daerah (local priority). Oleh
karena matriks pairwise comparison terdapat pada
setiap tingkat, maka global priority dapat diperoleh
dengan melakukan sintesa di antara prioritas daerah.
Prosedur melakukan sintesa berbeda menurut
hierarki. Pengurutan elemen-elemen menurut
kepentingan relatif melalui prosedur sintesa
dinamakan priority setting.
Tahapan-tahapan dalam AHP untuk memperoleh
prioritas kriteria dan prioritas alternatif dan peringat
alternatif adalah sebagai berikut :
1. Menentukan tujuan yang hendak dicapai yaitu
Menentukan Prioritas Elemen Desain dan
Aplikasi Web e-Assessment Berdasar Standar
W3C.
28
2.
3.
4.
Menentukan kriteria yang akan digunakan untuk
mencapai tujuan yang terdiri dari Multiple
Choice, Selection (Identification), Reordering
(Rearrange- ment), Subtitution (Correction).
Menentukan alternatif yang akan dipilih
berdasarkan kriteria diatas yang terdiri dari
HTML/CSS, Scripting/Ajax, Graphic, Audio dan
Video, Access bility, Internationalization,
Mobile Web, Privacy, Math On The web.
Membuat pohon hierarchy untuk berbagai
kriteria dan alternatif keputusan yang
ditentukan. Gambar pohon hirarki ditunjukkan
pada gambar berikut :
Menentukan Prioritas Elemen Desain Dan Aplikasi Web Berdasarkan Standarisasi W3c Pada Taksonomi ELearning Assessment Questions And Tasks Menggunakan Ahp
Gambar 17. Pohon hirarki
5.
Membuat matrik perbandingan berpasangan
(pairwise comparison)
Membuat Matriks perbandingan berpasangan
digunakan untuk memperoleh prioritas seluruh
alternatif yang ada. Melalui metode AHP, prioritas
dari sederetan kriteria atau alternatif ditentukan
dengan membandingkan masing-masing kriteria
yang diberi bobot dari skala terendah hingga
tertinggi yaitu dari nilai 1 hingga nilai 9. Secara
relatif persepsi bahwa perbandingan antara alternatif
satu dengan lainnya, dipilih manakah yang paling
penting dan berapakah bobot untuk tingkat
kepentinganya? Sehingga akan diperoleh nilai
pembobotan dari setiap kriteria. Nilai bobot
perbandingan pada metode AHP digambarkan
seperti pada tabel berikut :
Bobot
1
Definisi
Sama
pentingnya
3
Sedikit
penting
lebih
5
Lebih penting
Keterangan
Dua aktivitas
memberikan kontribusi
yang sama kepada
tujuan.
Pengalaman dan selera
sedikit menyebabkan
yang satu sedikit lebih
penting.
Pengalaman dan selera
sangat menyebabkan
penilaian yang satu
Gambar 17. Pohon
hirarki lebih penting
dari pada yang lain.
7
Sangat lebih Aktivitas yang satu
penting
sangat disukai
dibandingkan yang
lain, dominasinya
tampak dalam
kenyataan.
9
Mutlak lebih Bukti bahwa antara
penting
yang satu lebih disukai
dari yang lain
menunjukkan
kepastian tingkat
tertinggi yang dapat
dicapai.
2, 4, 6, Nilai
antara Diperlukan
8
angka ganjil
kesepakatan nilai di
atas/dibawah
(berdasarkan
kompromi).
Tabel 1. Nilai Bobot Pairwise Comparison Matrix
6. Menghitung peringkat alternatif dari matrik
perbandingan
berpasangan
masing-masing
alternatif dengan menentukan nilai eigenvector
dari setiap alternatif dengan menyusun matriks
perbandingan berpasangan setiap alternatif
berdasarkan kriteria yang telah ditentukan yaitu
mutiplechoice, selection, reordering, subtitution.
29
Jurnal Teknologi Informasi dan Komunikasi Vol. 3 No.1 Maret 2012
7. Menghitung peringkat alternatif ditentukan
dengan mengalikan nilai eigenvector alternatif
dengan nilai eigenvector kriteria.
8. Menentukan
rasio
konsistensi
dengan
menentukan terlebih dahulu nilai weighted sum
vector (WSV) yang diperoleh dengan mengalikan
nilai faktor evaluasi (eigenvector) dengan
matriks
perbandingan
berpasangan
awal
kemudian
dijumlahkan
setiap
barisnya.
Selanjutnya untuk consistency vector (CV)
diperoleh dengan membagi nilai weighted sum
vector dengan nilai faktor evaluasi yang
diperoleh sebelumnya.
9.
Menghitung nilai lambda (λ), consistency index
(CI) dan consistency ratio (CR) dengan
formula :
λ=
∑ CV
∑n
CI =
..................................................... (1)
λ −n
n −1
.....................................................
(2)
CR =
CI
................................................... (3)
RI
Dimana :
λ
= Nilai Rata-rata Consistency Vector
CV = Consistency Vector
n
= Jumlah faktor yang sedang dibandingkan
CI = Consistency Index
RI = Random Index
CR = Consistency Ratio
Setiap keputusan selalu diharapkan keputusan
yang konsisten. Meskipun demikian banyak kasus
dimana kita tidak dapat mengambil keputusan yang
perfectly consistent. Dalam penggunaan AHP,
terdapat beberapa faktor yang dapat menyebabkan
responden memberikan jawaban yang tidak
konsisten, yang dapat disebabkan karena beberapa
sebab, diantaranya :
a) Keterbatasan informasi
Apabila subjek yang melakukan perbandingan
dalam AHP memiliki keterbatasan informasi
mengenai faktor-faktor yang diperbandingkan,
maka penilaian yang mereka berikan cenderung
akan bersifat acak (random) sehingga
memberikan rasio inkonsistensi yang tinggi.
Oleh karena itu, pihak yang memberikan
30
penilaian perlu memiliki pengetahuan yang
cukup terhadap topik yang dianalisis.
b) Kurang konsentrasi
Kurang konsentrasi pada saat memberikan
penilaian atau tidak tertarik pada topik analisis
juga dapat menyebabkan hasil penilaian yang
tidak konsisten.
c) Ketidak konsistenan dalam dunia nyata
Dalam dunia nyata, banyak kasus yang
menunjukkan adanya ketidakkonsistenan dalam
kejadian-kejadian tertentu.
d) Struktur model yang kurang memadai.
Secara ideal, keputusan yang kompleks disusun
secara hirarkis sehingga faktor yang
diperbandingkan tersebut merupakan pilihan
yang berada pada level yang sama atau
memiliki elemen yang setara (comparable).
Namun
pada
praktiknya
seringkali
membandingkan suatu faktor dengan faktor lain
yang levelnya berbeda atau bukan merupakan
pilihan yang comparable. Salah satu hal yang
perlu dicatat menyangkut inkonsistensi adalah
bahwa tujuan utama proses pengambilan
keputusan bukanlah derajat inkonsistensi yang
rendah. Inkonsistensi rasio yang rendah bersifat
perlu (necessary) namun belum cukup
(sufficient) untuk sebuah keputusan yang baik.
Dibandingkan dengan konsistensi, lebih baik
mengutamakan akurasi.
AHP mentoleransi adanya inkonsistensi dengan
menyediakan ukuran inkonsistensi penilaian. Ukuran
ini merupakan salah satu elemen penting dalam
proses penentuan prioritas berdasarkan pairwise
comparison. Semakin besar rasio konsistensi,
semakin tidak konsisten Rasio konsistensi yang
acceptable adalah kurang dari atau sama dengan 10
persen, meskipun dalam kasus tertentu rasio
konsistensi yang lebih besar dari 10 persen dapat
dianggap acceptable (Forman dan Selly, 2001).
Menentukan Prioritas Elemen Desain Dan Aplikasi Web Berdasarkan Standarisasi W3c Pada Taksonomi ELearning Assessment Questions And Tasks Menggunakan Ahp
2.3. Proses Sintesa Menggunakan Expertchoice.
a. Menetapkan tujuan sintesa, kriteria dan
subkriteria dalam aplikasi.
e. Pembobotan pada subkriteria Selection.
Gambar 22. Matrik Perbandingan Kriteria Selection
f. Pembobotan pada subkriteria Reordering.
Gambar 23. Matrik Perbandingan Kriteria
Reordering
g. Pembobotan pada subkriteria Subtitution.
Gambar 18. Tujuan, Kriteria dan Subkriteria
b. Pembobotan Alternatif.
Gambar 24. Matrik Perbandingan Kriteria
Subtitution
Gambar 19. Tujuan, Kriteria dan Subkriteria
c. Pembobotan pada setiap kriteria.
h. Hasil sintesa prioritas untuk setiap alternatif
berdasarkan kriteria dan subkriteria.
Tahapan akhir setelah tahapan pembobotan
kriteria dan sub kriteria selanjutnya
diperoleh hasil sintesa yang menghasilkan
prioritas elemen desain dan aplikasi web
menurut standarisasi W3C pada taksonomi
e-learning assessment questions and tasks.
Gambar 20. Matrik Perbandingan Kriteria
d. Pembobotan pada subkriteria
Multiplechoice.
Gambar 21. Matrik Perbandingan Kriteria
Multiplechoice
31
Jurnal Teknologi Informasi dan Komunikasi Vol. 3 No.1 Maret 2012
3. Kesimpulan
Analytic Hierarchy Process pada akhirnya dapat
membantu menentukan Prioritas Elemen Desain dan
Aplikasi Web Menurut Standarisasi World Wide
Web Consortium (W3C) pada e-Assessment
berdasarkan taksonomi format soal. Dapat
disimpulkan bahwa setelah melalui proses
pembobotan setiap komponen-komponenya dengan
nilai inconsistency secara keseluruhan (overall)
sebesar 0,0685 (6,85%).
Hasil analisis menunjukkan bahwa komponen
scripting/ajax yang merupakan komponen utama
math on the web dan graphic, masing-masing
menjadi prioritas kedua dan ketiga dalam
pengembangan
assessment
berbasis
web.
Komponen-komponen berikutnya secara berurutan
yaitu html/CSS, internationalization, privacy,
accessbility, mobile web dan audio dan video
sebagai komponen-komponen lain yang dapat
diimplementasikan.
Daftar Pustaka
Forman, Ernest H. and Mary Ann Selly, 2001,
Decision by Objectives, World Scientific Publishing
Co. Pte. Ltd
Gifford, Scalise, 2006. Computer Based Assessment
In Learning : A Framework For Constructing
“Intermediete Constraint” Question and Task For
Technology Platform, The Journal Of Technology,
Learning and Assessment, Vol. 4, No. 6.
Saaty, T.L., 1994, Fundamentals of Decision
Making and Priority Theory with the Analytic
Hierarchy Process, RWS Publications, Pittsburgh
___________, Modul 6 : Proses Hirarki Analitik,
http://www.scribd.com/doc/59849154/2908406Modul-6-Analytic-Hierarchy-Process, Diakses 12
April 2010
____________, 2011,Web Design and Application
Standard, http://www.w3.org/standards/webdesign,
Diakses 12 April 2011
32
Download