USUL PROGRAM PENELITIAN

advertisement
PDK
PROFIL KOMPONEN BIOAKTIF TANAMAN KAVA-KAVA (Piper
methysticum, Forst, f) Dari Berbagai Lokasi
Naskah Publikasi
Penanggung Jawab Program
Dra. Elly Purwanti, MP
LEMBAGA PENELITIAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
September 2010
HALAMAN PENGESAHAN
1. JUDUL
: PROFIL KOMPONEN BIOAKTIV TANAMAN
KAVA-KAVA (Piper methysticum Forst) Dari Berbagai
Lokasi
2. a. Ketua Peneliti Pengusul
: Dra. Elly Purwanti, MP
b. NIP UMM
: 104.8809.0093
c. Fakultas/Jurusan
: FKIP/ Jurusan Pendidikan Biologi
d. Bidang Ilmu diteliti
: Biologi
3. Jangka Waktu Penelitian
: 6 bulan
4. Lokasi Penelitian
: Laboratorium Kimia Univ. Muhammadiyah
Malang
5. Biaya penelitian
: Rp. 6.000.000,- (Enam Juta rupiah)
6. Sumber Biaya
: DPP UMM
Malang, September 2010
Mangetahui
Dekan FKIP
Peneliti
Drs. H. Fauzan, M.Pd
Dra. Elly Purwanti, MP
Menyetujui,
Ketua Lembaga Penelitian
Universitas Muhammadiyah Malang
DR. Ir. Maftucha ,MP
Profil Komponen Bioaktive Tanaman Kava-kava ( Piper methysticum,Forst) dari berbagai
Lokasi
Abstrak
Elly Purwanti
Berdasarkan keputusan Badan POM Nomor : HK 00.05.4.62647, tentang larangan peredaran
obat tradisional dan suplemen makanan yang mengandung kava-kava , dapat dijelaskan bahwa
pemerintah mempertimbangkan antara lain : a.Dalam rangka melindungi masyarakat dari bahaya
efek samping atau toksisistas penggunaan bahan atau sediaan jadi obat tradisional dan suplemen
makanan, maka di lakukan pemantauan keamanan penggunaannya di perederan secara terus
menerus; b. Akhir-akhir ini di berbagai negara telah dilaporkan terjadinya efek samping yang
dihubungkan dengan resiko hepatotoksis sebagai akibat penggunaan obat tradisional/suplemen
makanan yang mengandung tanaman kava-kava; c.Untuk meningkatkan perlindungan konsumen di
Indonesia dari kemungkinan resiko efek samping tersebut pada butir b, maka perlu dilakukan
pelarangan penggunaan kava-kava, baik sebagai bahan maupun dalam bentuk sediaan jadi obat
tradisional dan suplemen makanan.(www.pom.go.id/publik/hukum perundangan, 2005).
Dari penjelasan diatas maka perlu dikaji secara ilmiah tentang kava-kava dan keamanannya
bagi kesehatan, mengingat banyaknya pemanfaatan dari tanaman ini baik secara positif maupun
penggunaan secara negatif. Sehingga perlu diketahui kejelasan tentang bagian- bagaian tanaman
terutama akar dan daun kava-kava yang menghasilkan komponen bioaktif..
Adanya senyawa-senyawa kimia yang dihasilkan oleh tumbuhan melalui hasil metabolisme
sekunder dapat menyebabkan lingkungan sekitarnya mengalami perubahan. Hal ini karena senyawa
tersebut bersifat toksis terhadap tumbuhan yang berasosiasi atau terhadap mikroorganisme. Produksi
bahan organik sekunder tersebut memungkinkan suatu species dapat menekan pertumbahan species
lain ( Rice 1984, Mandava 1985, Heisey, 1996). Tetapi tidak semua metabolit sekunder akan
meracuni lingkungan disekitarnya. Sebagian besar tumbuhan penghasil metabolit sekunder tetap
menyimpan produknya didalam bagian selnya yaitu pada organela sel salah satunya adalah vakuola.
Produk metabolit sekunder tumbuhan banyak di ekstrak oleh manusia untuk bahan dasar obat-obat
tradisional, pestisida nabati, industri kosmetik maupun produk ekstrak tumbuhan untuk industri
makanan.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui profil kromatografi lapis tipis (KLT) fraksi
etanol bagian tanaman kava-kava ( daun dan akar) dari 2 lokasi yang berbeda ( wilayah Malang dan
Mojokerto) . Untuk mendapatkan komponon senyawa bioaktif, tanaman kava diekstrak dengan
menggunakan metode maserasi kemudian diekstrak dengan menggunakan pelarut Etanol , kemudian
juga dilakukan proses metode distilasi untuk mendapatkan minyak atsirinya.
Hasil penelitian Profil kromatografi lapis tipis (TLC) ekstrak etanol bagian daun dan akar
kava-kava didapatkan komponen bioaktif yang sama , yang termasuk Flavokawain,Methysticin
dan yangonin .Profil kandungan asam organik dari bagian akar dan daun didapatkan senyawa
asam benzoat dan Cinnamic acid. Jenis tanah Malang di Malang adalah andosol, kambisol,
latosol, aluvial dan Wilayah Mojokrto Alluvial 62,7%, grumosol 37,16% ternyata berpengaruh
pada prosentase kandungan komponen bioaktiv kava-kava. Dari hasil ekstrasi dengan etanol dan
identifikasi TLC kandungan komponen bioaktif kava-kava didapatkan lebih tinggi yang tumbuh
di jenis tanah alluvial ( Mojokerto).
The Bioactive Component Profil Of Kava-kava Plant (Piper methysticum,Forst) From Two
defferent Region
Elly Purwanti, Biology Education Department Teacher and Training Educaion University of
Muhammadiyah Malang
Base on regulation POM no : Hk 005.4.62647 about prohibit rotation of tradisional herb
and food supplement when consist of kava-kava can explain that government considered that : a
). To Protect people from side effect or toxicity using substance as herb tradisional or food
supplement, so government monitoring using this material continued. b). recently in
somecountry has record sideeffect using kav-kava, especially to correlation with hepatotoksis
diseases. c).To increasing protection consumment in Indonesia from possibility risk sideeffect as
point b, so need to prohibit using kava-kava , as material or herb tradisional, and food
supplement (www.POM.go.id/publik/.perceci 2005).
From this explain then necessary to investigation with science method about kava-kava
and how save to healt. Really so many benefit from kava-kava plant as using positf or negative.
This research has two purpose, short term and long term. The short term is to
know the profil of bioactive component from root, stem, leaves of cava-cava and the information
of which part of plant that give the effect of locomatio effect and antidepressive by using
parameter of immobility duration with swimming method and sleeping duration. The Long term
is develop Bioprospeksi natural sources : to apply knowledge and technology to make use of
living sources of natural herbal medicine ( traditional medicine) and or modern medicine. It also
to support the healty by keeping Living Sources suited with ethics and justice.
Method used in evaluating quality and standart of plant that potentially as herbal
medicine that usually used and information is Thin layer Chromatography (TLC) and High
Speed Liquid Chromatography (HPLC) ( dashek 1997) Herbal plant that conatins some variuos
substances can support each other but it can possibly has antagonist effect. This the reason why it
is important to know which part of the plant is advantagous and which part of this plant as the
source ( root, stem, leaf, seed)
The extract result comparative between leaves organ and root organ and then to evaluation
base on thin layer chromatografi (TLC) each organ is dominant found Flavokawain, Methysticin
danYangonin. The profil organic acid from root and leaves found the same and equal organic
acid that is benzoate acid. Soil type Malang is andosol, kambisol, latosol, alluvial and Soil type
Mojokerto 62,7% is Alluvial, 37,16% grumosol with rich mineral. Base on etanol exctraction ,
result that content of bioactive component dominant from plant grow in type soil alluvial.
Key words
: vacuole, Secondary Metabolis, plant organ
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Tumbuhan dapat menghasilkan bahan organik sekunder atau bahan alami melalui reaksi
sekunder dari bahan organik primer (karbohidrat, lemak, protein). Bahan organik sekunder ini
umumnya merupakan hasil akhir suatu proses metabolisme, tetapi berperan juga pada proses
fisiologi. Bahan organik sekunder itu dapat dibagi menjadi tiga elompok besar yaitu : fenolik,
alkaloid dan terpenoid, tetapi pigmen dan porfirin juga termasuk di dalamnya ( Santosa, 1990,
Geismen dan Crout, 1969).
Adanya senyawa-senyawa kimia yang dihasilkan oleh tumbuhan melalui hasil metabolisme
sekunder dapat menyebabkan lingkungan sekitarnya mengalami perubahan. Hal ini karena senyawa
tersebut bersifat toksis terhadap tumbuhan yang berasosiasi atau terhadap mikroorganisme tanah.
Produksi bahan organik sekunder tersebut memungkinkan suatu species dapat menekan pertumbahan
species lain ( Rice 1984, Mandava 1985, Heisey, 1996).tetapi tidak semua metabolit sekunder akan
meracuni lingkungan disekitarnya. Sebagian besar tumbuhan penghasil metabolit sekunder tetap
menyimpan produknya didalam bagian selnya yaitu pada organela sel salah satunya adalah vakuola.
Produk metabolit sekunder tumbuhan banyak di ekstrak oleh manusia untuk bahan dasar obat-obat
tradisional atau untuk industri kosmetik maupun produk ekstrak tumbuhan.
Jaringan tanaman mengandung asam-asam fenolik sederhana meliputi p- hidroksi benzoat, asam
vanilat, asam siringat dan asam protokatekuat yang secara luas tersebar dalam tumbuhan
angiospermae. Beberapa angiospermae memiliki asam gentisat dan asam salisilat, sedang beberapa
species kayu mengandung asam galat ( Harbome, 1987).
Senyawa fenol mencakup sejumlah senyawa-senyawa yang umumnya mempunyai sebuah
cincin aromatik dengan satu atau lebih gugus hidroksil, cenderung untuk larut dalam air karena
paling sering terdapat bergabung dengan gula glikosida dan biasanya terdapat di dalam vakuola (
Salisbury dan Ross 1992). Fenol dapat ditemukan dalam jumlah yang cukup besar pada hampir
semua tanaman dalam jumlah yang cukup besar pada hampir semua tanaman dan dihasilkan oleh
akar, batang,daun, buah, biji ataupun organ tumbuhan lainnya dan dikeluarkan dengan cara
penguapan, eksudasi akar, lindian dan dekomposisi organ tanaman. Bertambahnya senyawa fenol
yang sifatnya autoinhibitor meningkat sejalan dengan laju pertumbuhan tanaman tersebut ( Rice,
1984, Leather, 1983). Ada beberapa faktor yang mempengaruhi produk senyawa tersebut dalam
tubuh tanaman, antara lain: radiasi cahaya, sifat genetik dan adanya predator dan patogen ( Putnam
dan Tang 1986). Piper methysticum Forst termasuk tumbuhan C4. Tumbuhan ini mendahului siklus
Calvin dengan fiksasi karbon cara lain yang membentuk senyawa berkarbon – empat sebagai produk
pertamanya . Dalam tumbuhan C4 terdapat dua jenis sel fotosintetik yangt berbeda, yaitu sel
seludang-berkas pembuluh dan sel mesofil. Sel seludang berkas pembuluh disusun menjdi struktur
yang sangat padat di sekitar berkas pembuluh. Di antara seludang berkas pembuluh dan permukaan
daun terdapat sel mesofil yang disusun lebih longgar. Siklus Calvin sebenarnya terjadi di kloroplas
seludang berkas pembuluh. Akan tetapi, siklus ini didahului oleh masuknya C02 ke dalam senyawa
organik dalam mesofil. Batang kava-kava mengandung metistisin dan dihidrometistisin yang
ditemukan oleh Borsche dan Lewinsohn pada tahun 1933. Kedua zat itu bersifat sedatif,
menenangkan mental dan membuat otot jadi rileks, sampai orang bisa tidur nyenyak ( Anonymous,
2000)
1.2. Masalah Penelitian
Fokus masalah dalam penelitian untuk mengetahui :
Bagaimanakah profil kromatografi fraksi etanol tanaman kava-kava ( daun) dari 2 jenis
lokasi yang berbeda
Bagaimanakah profil kandungan asam organik kava-kava (akar, dan daun)
1.3. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui :
Mengetahui profil kromatografi fraksi etanol bagian tanaman kava – kava ( daun dan akar )
Mengetahui profil kandungan asan organik bagian tanaman kava-kava ( akar dan daun)
BAB.II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Tinjauan Tentang Kava-kava
Kava-kava (Piper methysticum Fors.f) banyak tumbuh di hutan-hutan pedalaman di Irian
Jaya selatan, di mana para penduduk sering menggunakan tanaman ini untuk dibuat minuman
pada perayaan atau pertemuan adat. Pembuatannya dilakukan dengan mengunyah batang itu
sampai menjadi serabut halus. Hasil kunyahannya berupa cairan yang ditempatkan dalam suatu
tempat kemudian dilarutkan dengan air dingin, setelah minum bisa membuat orang tenang dan
apabila minum terlalu banyak bisa membuat orang mabuk dan bisa tertidur sampai seharian
untuk bahkan sampai dua hari (Andria Agusta, 2001).
Tanaman kava-kava sejak zaman dahulu telah dikenal masyarakat Papua di daerah
Merauke, khususnya suku Marrind. Melihat efeknya yang dapat menyebabkan tidur dalam
jangka waktu yang lama, diperkirakan tanaman ini mengandung efek sedative. Kava-kava terdiri
dari 5 jenis, yaitu jenis Dikoy, Palima, Kumbilu, Sipul dan Bapin. Dari kelima jenis ini, yang
paling mematikan adalah jenis Bapin, tampilannya berwarna merah keunguan dan efeknya
sangat keras. Jika digunakan secara berlebihan maka bisa mematikan syaraf-syaraf seseorang
yang meminumnya (Indri Q, 1997).
Di Indonesia, sampai sekarang baru penduduk asli Merauke yang memakai tanaman Kavakava (Piper methysticum Fort.f) secara turun temurun. Padahal pada negara-negara seperti di
Fiji, Solomon dan Samoa, tanaman itu sangat populer di kalangan masyarakat jelata. Sari yang
diperoleh dari akarnya dikunyah secara tradisional oleh para wanita muda, tetapi pada zaman
modern sari akar kava-kava itu diolah secara komersial dalam pabrik menjadi minuman yang
beredar sebagai kava sesuai dengan nama bahasa mereka kava-kava.
Setelah seseorang meminum kava-kava, maka akan tidur karena mengantuk dan sulit
berpikir. Setelah nyenyak selama beberapa jam, badan menjadi segar bugar lagi. Tubuh
peminum cairan kava-kava terlihat lemas, tak mampu berjalan dan berbicara dengan suara yang
lemah karena seluruh saraf tubuh dipengaruhinya, namun akan segera segar setelah bangun
keesokan harinya (http://www.scielo.be/scielo.php,2007).
Menurut Geurtjens (het Indische Leven van 23 Mei 1952, hlm 1094), setelah menikmati
minuman tersebut, kemudian akan merasa susah berfikir dan mulai mengantuk. Setelah
beristirahat beberapa jam akan kembali normal. Kadang-kadang peminum akan merasa terbius
tanpa kehilangan kesadaran dan ingatan, diikuti banyak muntah, sukar bernafas dan merasa sakit.
Piper methysticum Forst.f termasuk tumbuhan C4. Tumbuhan ini mendahului siklus Calvin
dengan fiksasi karbon cara lain yang membentuk senyawa berkarbon-empat sebagai produk
pertamanya. Dalam tumbuhan C4, terdapat dua jenis sel fotosintetik yang berbeda, yaitu : sel
seludang-berkas pembuluh dan sel mesofil. Sel seludang-berkas pembuluh disusun menjadi
struktur yang sangat padat di sekitar berkas pembuluh. Di antara seludang-berkas pembuluh dan
permukaan daun terdapat sel mesofil yang disusun lebih longgar. Siklus Calvin sebenarnya
terjadi di kloroplast seludang-berkas pembuluh. Akan tetapi, siklus ini didahului oleh masuknya
CO2 ke dalam senyawa organik dalam mesofil. Batang kava-kava mengandung metistisin dan
dihidrometistisin yang ditemukan oleh Borsche dan Lewinsohn pada tahun 1933. Kedua zat itu
bersifat sedatif, memenangkan mental, dan membuat otot jadi releks, sampai orang bisa tidur
nyenyak (Anonymous, 2000).
2.1.1. Klasifikasi Tanaman Kava-kava (Piper methysticum Forst.f)
Klasifikasi Piper methysticum Forst.f menurut Anonimous (2007) adalah sebagai berikut :
Kingdom
: Plantae
Sub-kingdom
: Tracheobionta
Divisi
: Spermatophyta
Sub divisi
: Magnoliopsida
Sub-kelas
: Magnoliidae
Ordo
: Piperales
Famili
: Piperaceae
Genus
: Piper
Spesies
: Piper methysticum Forst.f
2.1.2. Deskripsi Tanaman Kava-kava (Piper methysticum Forst.f)
Pertumbuhan tanaman ini lambat; perdu berbunga setelah 2,5 – 3 tahun dan akar baru
dewasa setelah 6 tahun. Samoa Preus (1997) menganjurkan untuk menanam kava bersama
coklat, tetapi ia memperingatkan kemungkinan adanya produksi yang berlebihan. Jerman
memerlukan akar kava sekitar 50 ton/tahun untuk digunakan sebagai
bahan pengolahan gonosan. Tumbuhan semak yang dapat tumbuh hingga setinggi antara ± 3m.
Gambar 1. Daun Kava-kava
Gambar 2. Morfologi Kava-kava
Gambar 3. Akar Kava-kava (Anonymous, 1997)
Tumbuh subur pada lahan kering di daerah pegunungan dan dapat tumbuh tanpa matahari
pada awal pertumbuhan (intensitas cahaya matahari yang trlalu besar pada awal pertumbuhan
akan bersifat merusak tanaman), sedangkan pada masa dewasa membutuhkan intensitas cahaya
matahari yang besar. Biasanya tumbuh di tempat yang teduh, dan daerahnya lembab. Tanaman
ini dapat tumbuh dengan baik pada dataran rendah dimana terdapat kelembabab konstan, tetapi
terdapat matahari yang bersinar sepanjang tahun. Tumbuh dengan alami memasuki musim
penghujan (curah hujan lebih dari 2.000 mm/tahun). Keadaan pertumbuhan paling baik pada
batas 20 – 30°C, dan dengan kelembaban relatif sekitar 70 – 100 %. Tanah tempat tumbuhnya
Kava harus tepat, untuk menjamin agar suplai udara yang cukup dapat mencapai akar. Tumbuh
paling banyak di Pegunungan di daerah Pohnpei dan pada kebun multi-pertanian di daerah
Melanesian (Campbell, 2002).
2.1.3. Morfologi Tanaman Kava-kava (Piper methysticum Forst.f)
Akarnya tebal, berkayu lunak ketika basah dan mengeras ketika kering. Akar utamanya
tumbuh secara horizontal di bawah permukaan tanah, dan menumbuhkan tangkai-tangkai dengan
jarak antara 2 – 4 ubcu. Setiap tangainya berongga, dan berdiameter 0,5 – 3 inci pada
pangkalnya. Rongga tersebut terdapat di seluruh akar utama, dengan demikian memberikan
kesempatan kepada akar pada daerah yang membujur untuk tumbuh bersamaan. Dari tampilan
luarnya, akar utama berwarna coklat dan terbungkus dengan kulit kayu yang tipis. Pada sisi
bagian dalam akar, terdapat akar sekunder yang berdiameter sekitar 0,5 – 0,75 inci. Akar ini
tersusun pada pangkal batang : sehingga mulai menumbuhkan akar pada jarak antara ± 2 m dari
akar utama. Pada permukaan dalam, akar yang berukuran besar terbungkus oleh suatu jaringan
serabut serat dibawah kulit kayu. Cahaya medullary kasar menyusun tubuh akar. Terurainya akar
menjadi serabut sehat yang terpatah-patah, lebih sering disebabkan oleh hama cacing yang
memakan bagian dalam akar. Akar Kava digunakan sebagai alat perkembangan dengan cara
membelah bagian akar tersebut (Campbell, 2002).
Batang Kava mengandung air, tegak, dan sangat kuat, memiliki bercak-bercak
(gelembung-gelembung) berwarna hijau sampai hitam dan dapat tumbuh hingga setinggi 12 kaki
(antara ± 3,6 m). daunnya berbentuk hati, berukuran cukup besar dengan panjang dapat mencapai
30 cm. Tekstur lembut, dengan batang hijau atau hitam yang menyatu dan bergelombang pada
titik penyatuannya. Urat daunnya mencolok, berkisar antara 10 – 13 buah, melintang dari
pangkalnya sampai tepi daun, dan dapat mencapai panjang 30
cm. Urat daun tegak lurus dengan tulang pangkal daun. Memiliki tipe berselang, dengan bagian
tepi yang bergelombang, dan sudut-sudut daun yang kasar dan tajam.
Bunga Kava secara umum berukuran kecil, berkelopak, berwarna hijau-kuning, tersusun
pada duri-duri halus. Bunga jantan tersusun pad duri-duri halus putih kejijauan yang tersendiri,
yang dapat tumbuh hingga 6 cm. Bunga betina jarang ditemukan dan tidak dapat menghasilkan
buah meskipun diserbukkan dengan cara penyerbukan buatan oleh manusia. Bunga betina
memiliki banyak duri halus. Kava tidak dapat melakukan perkembangbiakan secara seksual.
Perambatannya hanya dapat dilakukan dengan bantuan manusia dan biasanya menggunakan
metode striking (Campbell, 2002).
2.1.4. Anatomi Tanaman Kava-kava (Piper methysticum Forst.f)
Epidemis atas terdiri dari satu lapis sel, bentuk persegi empat, kutikula tebal licin, pada
pengamatan tangensial tampak bentuk poligonal dengan dinding samping lurus. Epidermis
bawah serupa dengan epidermis atas, pada pengamatan tangensial tampak berbentuk poligonal
dengan dinding sampai agak berombak. Pada kedua permukaan daun terdapat rambut penutup
dan rambut kelenjar. Rambut pada epidermis atas lebih sedikit daripada epidermis bawah.
Rambut penutup terdiri dari satu sel, bentuk kerucut pendek, ujung runcing, panjang 18 – 25
mikrometer, dinding tebal kutikula licin. Rambut kelenjar mempunyai kepala kelenjar bersel
satu, bentuk bulat. Stomata tipe anomositik, panjang 25 – 35 mikrometer, terdapat banyak
epidermis bawah, pada epidermis atas tidak terdapat stomata. Hipodermis terdapat pada dua
permukaan daun, hipodermis atas umumnya terdiri dari dua lapis sel, hipodermis atas umumnya
satu lapis sel, sel hipodermis berbentuk persegi empat, besar, jernih, tersusun rapat; pada
hipodermis terdapat sel minyak berisi minyak atsiri berwarna kekuningan.
Jaringan palisade terdiri dari satu lapis sel, terletak dibawah hipodermis atas, mengandung
banyak butir hijau daun, juga terdapat sel minyak seperti sel minyak pada hipodermis. Jaringan
bunga karang terdiri dari beberapa lapis sel, bentuk sel tidak beraturan, tersusun agak mendatar;
sel minyak seperti pada palisade. Berkas pembuluh tipe kolateral, diantara jaringan floem
terdapat sel minyak. Diatas berkas pembuluh pada tulang daun utama umumnya terdapat saluran
sizogen; pada parenkim yang sederet dengan palisade terdapat banyak butir hijau daun; terdapat
juga sel yang berisi hablur bentuk prisme yang tidak larut pada penambahan asam klorida pekat
P. Serbuk warna hijau kecoklatan (Campbell, 2002).
2.2. Kandungan Tanaman Kava-kava
Tabel 1.Kandungan tanaman kava-kava (Piper methysticum Forst.f)
Parameter – Satuan
Kandungan (%)
Air
80
Protein
3,6
Karbohidrat
43
Serat
20
Kavalaktones
70
Gula
3,2
Mineral
3,2
Sumber : (Herman. M, 1996)
Orang yang meminum Kava secara berlebihan, maka seseorang akan menderita sakit
selama 8 bulan lamanya. Begitu kuatnya efek meminum Wati sehingga dapat menghilangkan
stres dan menyehatkan badan, minum berlebihan dapat menyebabkan kematian (Indri Q, 2007).
Menghilangkan-anxiety yang sepadan dengan benzodiazepin, tetapi kava belum banyak
dikenal dan dapat menimbulkan efek kecanduan apabila dikonsumsi secara berlebihan. Kava
sangat efektif apabila tekanan individual yang dirasakan berhubungan dengan keinginan pribadi
(www.physiciansselect/com,2007)
2.3. Tinjauan Umum Aspek Keamanan Bahan Obat
Setiap zat kimia, bila diberikan dengan dosis yang cukup besar menimbulkan gejala-gejala
toksik. Gejala-gejala ini pertama-tama harus ditentukan pada hewan coba melalui penelitian
toksisitas akut dan subkronik guna memperoleh kesan pertama tentang kelainan yang dapat
ditimbulkan. Hal ini diperlukan untuk meramalkan kemungkinan yang dapat terjadi pada
manusia dengan dosis yang lebih kecil. Selanjutnya, perlu ditentukan suatu dosis yang terbesar,
dinyatakan dalam mg/kgBB/hari, yang tidak menimbulkan efek merugikan pada hewan coba,
yang disebut No Effect Level (NEL) atau No Observed Effect Level (NOEL) yang didefinisikan
sebagai jumlah atau konsentrasi suatu zat kimia yang ditemukan melalui penelitian atau
observasi, yang tidak menimbulkan kelainan buruk, perubahan morfologi atau fungsi organ,
pertumbuhan, perkembangan, maupun mengurangi lama hidup hewan coba. Hal ini dilakukan
dengan mencobakan berbagai tingkat dosis sampai ditemukan dosis yang tidak menimbulkan
efek buruk pada hewan coba.
Suatu faktor keamanan kemudian diterapkan untuk memperhitungkan perbedaan antar
tikus dan manusia, yang secara konsensus telah ditentukan sebesar 100 lagi untuk perbedaan
antar manusia. Bila NEL dibagi 100 maka diperoleh suatu batas keamanan yang disebut
Acceptable Daily Intake (ADI), yang didefinisikan sebagai dosis suatu zat kimia yang terbesar,
yang dinyatakan dalam satuan mg/kgBB/hari, yang dapat diberikan setiap hari seumur hidup, dan
diperkirakan tidak menimbulkan efek kesehatan yang buruk pada manusia, berdasarkan
pengetahuan yang ada pada waktu itu. ADI meskipun hanya merupakan suatu perkiraan tapi
cukup menjamin bahwa bila angka tersebut tidak dilampaui dalam konsumsi sehari-hari, maka
zat kimia yang bersangkutan cukup aman. ADI dimaksudkan sebagai batas atas konsumsi harian
sehingga makin kecil tentu akan lebih menjamin keamanannya. (Anonymous, 1995).
2.4. Studi Yang Sudah Dilakukan
Penelitian yang sudah dilakukan adalah pengaruh pemberian dekok bagian akar dan dekok
bagain daun tanaman kava terhadap pola durasi tidur hewan coba yaitu tikus putih jenis Rattus
norvegicus . Hasil penelitan menunjukkan bahwa pemberian dekok bagian tanaman kava dapat
mempengaruhi durasi tidur hewan coba. Makin tinggi konsentrasi cairan yang diberikan maka durasi
tidur makin lama. Pemberian dekok akar lebih memberi pengaruh yang lebih significant dibanding
daun terhadap durasi tidur hewan coba.(Elly, 2008)
Desain dan Metode Penelitian
Rangkaian penelitian seluruhnya dilakukan di laboratorium Kimia dan Laboratorium Biologi
,Universitas Muhammadiyah Malang.
1. Bahan
1.Bahan Utama : Bagian Batang dan Daun, akar tanaman kava-kava dipilih yang tua,
batang dan daun, akar dipisahkan
2. Plat
: Silika F254
3. Pengembang : BEA, BAA dan Forestal
4. BEA : n butanol : Etanol : air (4:1:2,2)
5. BAA : n butanol : Asam asetat : Air (4:1: 5)
6. Forestal : asam asetat : Hcl pekat : air ( 30:3:1)
7. Forestal : asam astata : Hcl pekat : air ( 30 : 3 : 1)
8. Waktu pengembangan : 4 jam
9. Referensi : Harborne
2. Cara Kerja
1. Sterilisasi, pengeringan dan pembuatan serbuk batang dan daun, akar kava
Dua ratus gram sampel segar dibersihkan dari kotoran dengan mencuci berkali-kali
menggunakan air. Pengeringan dilakukan menggunakan oven suhu 70 C selama kurang lebih 2
hari. Setelah kering sampel diserbuk menggunakan blander.
2. Ekstraksi serbuk tanaman dengan metode maserasi
Ekstrasi dilakukan secara bertahap dari raw material. Ekstrasi tahap pertama menggunakan
pelarut polar yaitu heksana kemudian berturut-turut menggunakan etanol, metanol dan aquades.
Sehingga diperoleh 4 ekstrak yaitu ekstrak heksana, esktrak etanol, ekstrak metanol dan akstrak
air. Tahap kerja ekstraksi dapat dilihat pada gambar sbb:
Cava-cava ( stem, leave, seed, root)
Dried in an oven 70º C around 2 days
Dried material is shattered with a
blender
Extraction with maserasi method using
nonpolar hexane solven
Filtrat hexana
Following extraction using
etanol from remain that has been
dried off
Evaporation using rotary evaporator to get
cangeal extract
Diekstrasi berlanjut degan metanol
dari residu atau ampas yang telah
dikeringkan lagi
Filtrat etanol
Evaporation using rotary evaporator to get
congeal extract
Filtrat metanol
Extraction extended using
aquadest from the remain that has
been dried off
Evaporation using rotary evaporator to get
a congeal extract
Filtrat air
Remain is thrown a way
Evaporation using rotary evaporator to get
congeal extract
Examination on
immobility an sleeping
duration
Resulted etract from part of
root, stem, leave, seed.
Giving treatment via oral on mencit
dws (jantan, betina) 0.1 ml; 02ml;
0,3ml; 0,4ml;0,5ml
1 spoon full a day
3. Uji asam organik
Penyediaan bahan penelitian
Tanaman kava yang telah dilaukan kemudian dirajang untuk mengurangi sifat kamba
tanaman kava yang telah dirajang di masukan kedalam alat pemyuling sebanyak 300 gram,
kemudiam di isi air sebanyak 2.250 ml. Alat penyuling dihubungkan dengan kondensor
yang dilengkapi dengan sirkulasi air, hidupkan air pet dan disuling sesuai perlakukan.
Pengamatan dan pengukuran Data Pengamatan dan Pengukuran data didasarkan pada
hasil analisa yang meliputi:
Rendemen (%)
Destilasi yang dihasilkan ditampung dengan erlenmeyer 500 ml, kemudian dipindahkan
ke buret untuk memisahkan minyak dengan air. Minyak yang diperoleh ditimbang beratnya
dengan neraca analitik
Rendemen (%) =
BeratMinya k
100%
Beratdauns ebelumdisu ling 100%
Identifikasi lebih lanjut senyawa pada larutan dengan menggunakan kromatografi kertas.
Senyawa dipisahkan dengan menggunakan pengembang benzena, campuran benzena dan
kloroform (10%) atau bisa juga dengan vanilin – H SO 1 M (2 g vanillin, 1 g H SO
2
4
2
4
diencerkan dengan etanol 96% menjadi 100 ml) atau dengan pereaksi Gibbs, ( Forest dkk,
1972) maka akan tampak bercak berwarna
IV. Hasil dan Pembahasan
4.1. Hasil ekstraksi
Hasil ekstraksi 100 gram bahan daun kava dengan pelarut metanol menghasilkan vol
ekstrak rata – rata 24 ml, demikian juga ekstraksi bagian akar dengan pelarut metanol akan
menghasilkan vol ekstrak rata-rata sama dengan hasil ekstraksi bagaian daun ( Tabel 1).
Metanol termasuk dalam mesntrum (agen ekstraksi ) golongan alkohol. Alkohol yang
biasanya digunakan sebagai menstrum dalam ekstraksi adalah golongan alkohol rendah atau
yang memiliki rantai atom C pendek seperti metanol, etanol, propanol dan butanol. Metanol
lebih polar dibandingkan dengan etanol karena memiliki jumlah atom C yang lebih sedikit ,
sehingga senyawa yang terikat oleh kedua pelarut tersebut memiliki tingkat kepolaran yang
berbeda. Akan tetapi kedua pelarut tersebut termasuk golongan alkohol yang pada umumnya
bersifat nonpolar. Senyawa yang diikat oleh etanol lebih bersifat nonpolar dibandingkan senyawa
yang terikat oleh metanol. Pada pelarut alkohol ini senyawa yang berkhasiat obat banyak tertarik
atau terlarut. (List & Schmidt, 1989).
Proses ekstraksi pada penelitian ini dilakukan secara bertahap dimana masing-masing
tahap ekstraksi menggunakan bahan baku (raw material). Hal ini dilakukan agar semua senyawa
yang terkandung dalam simplisia yang memiliki tingkat kelarutan atau kepolaran berbeda-beda
dapat dengan baik tertarik atau terekstrak pada pelarutnya masing-masing. Meskipun dalam
kenyataannya pemisah kandungan secara sempurna sangat sulit untuk dicapai. Senyawa yang
sama mungkin terdapat dalam beberapa fraksi dengan perbandingan jumlah yang
berbeda.(Harborne, 1987).
4.2. Penentuan jenis senyawa
Preparasi kromatografi lapis tipis (TLC = silika F254) yang dilakukan pada ekstrak
etanol untuk mengetahui kandungan komponen bioaktifnya. Pada proses ini menggunakan
larutan pengembang Forestal, BEA dan BAA.
Hasil preparasi kromatografi lapis tipis (TLC) ekstrak metanol dari bagian daun dan akar
kava didapatkan harga – harga Rf dan deteksi dengan menggunakan sinar UV seperti yang
terlihat pada Tabel 2. Dari Tabel dapat dibaca bahwa berdasarkan harga Rf dan hasil deteksi
sinar UV maka komponen bioaktif yang terdapat pada akar dan daun sama. Pada daun dengan
harga Rf 39 dengan pengembang BEA,UV terdekteksi kandungan flavokawain dengan pendaran
warna kebiruan, kemudian pada pengembang BAA didapatkan harga Rf 94, terdeteksi sinar UV
warna oranye menunjukkan kandungan Methysticin, dan pengembang forestal, harga Rf 60
terdekteksi warna kuning dengan UV termasuk senyawa yangonin. Pada akar harga Rf 41,
warna biru terdektesi flavokawain, kemudian pengembang BAA didapatkan warna oranye
termasuk methysticin, dan
pengembang Forestal , terdeteksi sinar UV warna kuning yang
termasuk senyawa yangonin. Hasil analisis kromatografi lapis tipis pada plat silica F254 pada
bagian akar dan daun terdeteksi kandungan komponen bioaktif yang sama yaitu flavokawain,
methysticin dan yangonin..
4.3. Kandungan asam organik
Selain senyawa bioaktif, hasil pengujian kandungan senyawa lain pada bagian akar dan
daun . dengan menggunakan metode Vogel spot test, terdeteksi senyawa yang termasuk asam
benzoat dan senyawa Cinnamic acid (pada akar maupun pada daun).
Metabolisme tumbuhan, bila dibandingkan dengan metaboilsme hewan dan mikroorganisme
ialah kemampuannya menimbun asam organik dalam vakuola sel, kadang-kadang dalam jumlah
sangat besar. Hasil metabolisme sekunder pada tanaman kava-kava selain alkaloid, flavonoid
ternyata didapatkan kandungan asam organik
V. Kesimpulan
Profil kromatografi lapis tipis (TLC) ekstrak metano bagian daun dan akar kava-kava
didapatkan komponen bioaktif yang sama , yang termasuk Flavokawain,Methysticin dan
yangonin
Profil kandungan asam organik dari bagian akar dan daun didapatkan senyawa asam
benzoat dan Cinnamic acid
Dari hasil ekstrasi dengan etanol dan identifikasi TLC kandungan komponen bioaktif
kava-kava didapatkan lebih tinggi yang tumbuh di jenis tanah alluvial ( Mojokerto)
VI. Kepustakaan
1. Ansel,H,C. 1989.Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, diterjemahkan oleh Farida
Ibarahim Edisi IV UI Press Jakarta
2.Campbell, Reece, Mitchell. 2002. Biologi. Erlangga, Jakarta.
3.Geisman TA dan DHG. Crout 1969. Organic Chemistry of Secondary Plant .
Metabolisme .Freeman Cooper and Co, California.
4. Guenther, E. 1949. The Essential Oils Volume II, Van Nostran Reinhold
Company New York.
5.Harborne JB. 1987. Metode Fitokimia. ITB Bandung
6.Heisey,Rod M 1996.Identification of an Allelopathy Compound from
Cympopogon sp and characteriastic of its herbicide activity. J Bot 192- 200
7.Putnam AR dan CS Tang. 1986. The Science of allelophaty John Wiley &
Son New York.
8. Stahl,E 1969.A Laboratory Handbook Thin Layer Chromatography.
Spinger Verlag, New York
Lampiran Hasil penelitian
Tabel 1 : Hasil ekstraksi bagian organ akar dan daun kava-kava ( Jenis tanah Alluvial 62,7%,
Gromosol 37,16)
Sampel
ul
m smpl
Daun
Akar
vol
ekstrak
(ml)
vol etanol (ml)
1
100
500
25
2
100
500
23
1
50
250
11
2
50
250
11
Tabel 2 : Hasil identifikasi dengan menggunakan metode TLC ( Dominant Alluvial, grumosol)
Sampel
D
Daun
L
22
45
30
23
42
32
Akar
56
48
60
56
48
60
warna
biru
oranye
Kuning
biru
oranye
Kuning
Rf
39
94
50
41
88
53
Jenis
Flavokawain
Methysticin
Yangonin
Flavokawain
Methysticin
Yangonin
Pengembang
BEA
BAA
Forestal
BEA
BAA
Forestal
Deteksi
Sinar uv
Sinar uv
Sinar uv
Sinar uv
Sinar uv
Sinar uv
Tabel 3 : Hasil ekstraksi bagian organ akar dan daun kava – kava ( Jenis tanah andosol,
kambisol, latosol, alluvial)
Sampel
ul
m smpl
Daun
Akar
vol
ekstrak
(ml)
vol etanol (ml)
1
25.113
200
8.4
2
25
500
23
1
50
250
11
2
50
250
11
Tabel 4 : Hasil identifikasi dengan menggunakan metode TLC ( andosol, kambisol, latosol,
alluvial)
Sampel
Daun
Akar
D
L
21
43
28
24
42
30
56
48
60
56
48
60
warna
biru
oranye
Kuning
biru
oranye
Kuning
Rf
38
90
47
42
86
51
Jenis
Flavokawain
Methysticin
Yangonin
Flavokawain
Methysticin
Yangonin
Pengembang
BEA
BAA
Forestal
BEA
BAA
Forestal
Deteksi
Sinar uv
Sinar uv
Sinar uv
Sinar uv
Sinar uv
Sinar uv
Tabel 5 : Hasil uji kandungan asam organic bagaian akar dan daun kava-kava
Sampel
Daun
Akar
Hasil uji
Oranye
Merah
Oranye
Merah
Kesimpulan
Asam benzoat
Cinnamic acid
Asam benzoat
Cinnamic acid
Metode
Vogel Spot test
Vogel Spot test
Vogel Spot test
Vogel Spot test
Download