BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ada dua pilar dalam

advertisement
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ada dua pilar dalam membangun masyarakat. Pertama, melalui sistem
keyakinan. Sistem keyakinan ini adalah agama beserta sistem pendukungnya. Dalam
konteks Islam, aqidah beserta syariatnya. Secara umum, ideologi beserta perangkatperangkat struktural dan infrastruktural. Kedua melalui sistem keluarga. Sebuah unit
kemanusiaan bukanlah seorang laki-laki atau seorang perempuan, melainkan seorang
laki-laki dan seorang perempuan yang bersatu membentuk sebuah keluarga.1
Layaknya air, bagian terkecil dari air bukanlah oksigen atau hidrogen, melainkan
persatuan keduanya.
Dalam Islam pembentukan sebuah keluarga dengan menyatukan seorang lakilaki dan seorang perempuan diawali dengan suatu ikatan suci, yakni kontrak
perkawinan atau ikatan perkawinan. Ikatan ini mensyaratkan komitmen dari masingmasing pasangan serta perwujudan hak-hak dan kewajiban-kewajiban bersama.
Seperti yang tercantum dalam Pasal 1 Undang-Undang Perkawinan No. 1 Tahun
1974, yang berbunyi: “Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan
seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga, rumah
tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.”2
Keluarga merupakan kesatuan sosial terkecil yang dibentuk atas dasar ikatan
1
Mohammad Fauzil Adhim, Kupinang Engkau dengan Hamdalah, (Yogyakarta: Mitra
Pustaka, 2003), hal.5
2
Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, Bahan Penyuluhan Hukum,
(Jakarta: Departemen Agama RI, 2001), hal. 117
1
Universitas Sumatera Utara
2
perkawinan, yang unsur-unsurnya terdiri dari suami, isteri dan anak-anaknya yang
belum dewasa. Sedangkan sifat-sifat keluarga sebagai suatu kesatuan soaial meliputi
rasa cinta dan kasih sayang, ikatan perkawinan, pemilikan harta bersama maupun
tempat tinggal bagi seluruh anggota keluarganya.3
Allah memerintahkan kaum muslimin agar menikah, seperti yang tercantum
dalam al-Qur’an surat an-Nur ayat 32:
“Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan
juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lakilaki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan
kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya),
Maha Mengetahui.”4
Ini berarti bahwa pernikahan adalah suatu lembaga yang diperlukan dan suatu
keharusan. Al-Qur’an mengutuk pembujangan sebagai hasil perbuatan setan, dan
begitu juga Nabi saw. Menikah berarti memenuhi sunnah Nabi yang dianggap
penting.5
Bagi orang yang sudah sangat berkeinginan untuk menikah dan mempunyai
persiapan mustahab untuk melaksanakan nikah. Demikian menurut pendapat Imam
Maliki dan Imam Syafi’i, Imam Hambali berpendapat orang yang sangat
berkeinginan untuk menikah dan khawatir berbuat zina wajib menikah. Sedangkan
Imam Hanafi berpendapat bahwa dalam keadaan apapun nikah adalah mustahab, dan
menikah lebih utama dari pada tidak menikah untuk beribadah.6
3
Cholil Mansyur, Sosiologi Masyarakat Kota dan Desa, (Surabaya: Usaha Nasional, 1994), hal. 19
4
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Surabaya: Mekar, 2004), hal.494
Abul Fadl Mohsin Ebrahim, Aborsi Kontrasepsi dan Mengatasi Kemandulan, (Bandung:
Mizan, 1997), hal. 51
5
6
Syaikh al-Allamah Muhammad bin Abdurrahman ad-Dimasyqi, Fiqih Empat Mazhab,
(Bandung: Hasyimi, Cetakan 13, 2010), hal.338
Universitas Sumatera Utara
3
Dalam Islam, perkawinan memiliki dua fungsi, dan hanya perkawinanlah
sarana yang halal dalam mecapai tujuan-tujuan itu.7 Yang pertama adalah yang
memenuhi hasrat pasangan, baik yang bersifat fisikal maupun spiritual. Allah SWT
berfirman dalam surat ar-Ruum ayat 21:
Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan
pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan
merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan
sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda
(kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.8
Kedua adalah untuk prokreasi atau berketurunan. Allah SWT berfirman dalam
surat an-Nahl ayat 72:
“Dan Allah menjadikan bagimu pasangan (suami atau isteri) dari jenis kamu sendiri
dan menjadikan anak dan cucu bagimu dari pasanganmu, serta memberimu rezeki
dari yang baik. Mengapa mereka beriman kepada yang batil dan mengingkari nikmat
Allah?”9
Karena tujuan perkawinan adalah untuk membentuk keluarga yang bahagia,
kekal dan sejahtera, maka Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan
ini menganut prinsip untuk mempersukar terjadinya perceraian, untuk memungkinkan
perceraian, harus ada alasan tertentu serta harus dilakukan di depan sidang
Pengadilan.10
Oleh karena itu, pernikahan harus dapat dipertahankan oleh kedua belah pihak
7
Hassan Hathout, Panduan Seks Islami, (Jakarta: Pustaka Zahra, 2005), hal. 2
Departemen Agama RI, Op.Cit., hal. 572.
9
Ibid., hal.374.
10
Bimo Walgito, Bimbingan dan Konseling Perkawinan, (Yokyakarta: Andi, 2002), hal. 6
8
Universitas Sumatera Utara
4
agar dapat mencapai tujuan dari pernikahan tersebut. Dengan demikian, perlu adanya
kesiapan-kesiapan dari kedua belah pihak baik secara mental maupun material.
Untuk menjembatani antara kebutuhan kodrati manusia dengan pencapaian
esensi dari suatu perkawinan, Undang-Undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974 telah
menetapkan dasar dan syarat yang harus dipenuhi dalam perkawinan. Salah satu di
antaranya adalah ketentuan dalam pasal 7 ayat (1) yang berbunyi: “Perkawinan hanya
diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak
wanita mencapai umur 16 (enam belas) tahun.”11
Akan tetapi walaupun batas umur di Indonesia relatif rendah, dalam
pelaksanaannya sering tidak dipatuhi sepenuhnya. Sebenarnya untuk mendorong agar
orang melangsungkan pernikahan di atas batas umur terendah, Undang-Undang No. 1
Tahun 1974 tentang Perkawinan Pasal 6 ayat (2) telah mengaturnya dengan bunyi:
“Untuk melangsungkan perkawinan seorang yang belum mencapai umur 21 (dua
puluh satu) tahun harus mendapat izin kedua orang tua.”12
Dalam Undang-Undang Perkawinan ditentukan prinsip-prinsip atau asas-asas
mengenai perkawinan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan perkembangan
dan tuntutan zaman. Salah satu asas atau prinsip yang tercantum adalah bahwa calon
suami isteri itu harus telah masak jiwa raganya untuk dapat melangsungkan
perkawinan, agar supaya dapat mewujudkan tujuan perkawinan secara baik tanpa
berakhir pada perceraian dan mendapat keturunan yang baik dan sehat. Untuk itu
11
12
Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, Op.Cit., hal.119
Ibid., hal.118
Universitas Sumatera Utara
5
harus dicegah adanya perkawinan antara calon suami isteri yang masih di bawah
umur.13
Di samping itu perkawinan mempunyai hubungan dengan masalah
kependudukan. Ternyata bahwa batas umur yang lebih rendah bagi seorang wanita
untuk kawin, mengakibatkan laju kelahiran yang lebih tinggi jika dibandingkan
dengan batas umur yang lebih tinggi.14
Adapun dalam Islam memang tidak pernah secara sepesifik membahas
tentang usia perkawinan. Begitu seseorang memasuki masa baligh, maka sebenarnya
ia sudah siap untuk menikah. Usia baligh ini berhubungan dengan penunaian tugastugas biologis seorang suami maupun seorang isteri.
Demikian juga dalam hukum adat tidak ada ketentuan batas umur untuk
melakukan pernikahan. Biasanya kedewasaan seseorang dalam hukum adat diukur
dengan tanda-tanda bangun tubuh, apabila anak wanita sudah haid (datang bulan),
buah dada sudah menonjol berarti ia sudah dewasa. Bagi laki-laki ukurannya dilihat
dari perubahan suara, postur tubuh dan sudah mengeluarkan air mani atau sudah
mempunyai nafsu seks.15
Dalam Pasal 15 ayat (1) Kompilasi Hukum Islam disebutkan bahwa untuk
kemaslahatan keluarga dan rumah tangga, perkawinan hanya boleh dilakukan calon
mempelai yang telah mencapai umur yang ditetapkan dalam Pasal 7 Undang-undang
13
Sudarsono, Hukum Perkawinan Nasional, (Jakarta: Rineka Cipta, 2005), hal. 7
Ibid., hal. 8
15
Hilman Hadikusuman, Hukum Perkawinan Indonesia Menurut Perundangan, Hukum Adat
dan Hukum Agama, (Bandung: Mandar Maju, 1990), hal. 53
14
Universitas Sumatera Utara
6
No 1 Tahun 1974 yakni calon suami sekurang-kurangnya berumur 19 tahun dan calon
isteri sekurang-kurangnya berumur 16 tahun. Hal ini sejalan dengan salah satu prinsip
yang dianut oleh Undang-undang Perkawinan Republik Indonesia yaitu kematangan
calon mempelai, agar dapat mewujudkan tujuan perkawinan secara baik tanpa
berakhir dengan perceraian dan mendapat keturunan yang baik dan sehat.
Apabila dalam keadaan yang sangat memaksa perkawinan di bawah umur
dapat dilakukan dengan mengajukan dispensasi ke pengadilan agama yang telah
ditunjuk oleh kedua orang tua dari pihak laki-laki atau perempuan, sebagaimana yang
tercantum dalam Undang-undang No 1 Tahun 1974 Pasal 7 ayat (2). Apabila
penetapan izin pernikahan sudah dikeluarkan oleh pengadilan agama, maka kedua
mempelai bisa melaksanakan perkawinan.
Dalam perkembangannya tidak ada sinkronisasi antara idealitas dan realitas,
pada kenyataannya peraturan tersebut memberikan peluang bagi masyarakat untuk
tidak mengikuti aturan tersebut dengan catatan adanya suatu alasan yang sangat kuat
untuk tidak mengikuti peraturan tersebut seperti terjadinya kehamilan sebelum
pernikahan.
Islam tidak mengenal dispensasi nikah, akan tetapi dalam mencapai tujuan
dilangsungkannya suatu perkawinan, ketentuan batas usia perkawinan dalam Undangundang perkawinan sejalan dengan ketentuan Maqasid asy-Syari’ah yaitu bertujuan
mendatangkan maslahah bagi calon suami isteri, dalam rangka memelihara agama,
jiwa dan keturunan.
Dewasa ini ketentuan-ketentuan yang mengatur tentang pemberian dispensasi
Universitas Sumatera Utara
7
terhadap perkawinan yang berlaku sejak disahkannya UU Perkawinan secara lengkap
diatur di dalam Peraturan Menteri Agama Nomor 3 tahun 1975, yaitu:
1.
Pasal 12 menitikberatkan kepada dispensasi bagi anak yang belum mencapai
umur minimum, yakni:
a. Pernikahan harus didasarkan persetujuan kedua calon mempelai.
b. Seorang calon mempelai yang akan melangsungkan pernikahan belum
mencapai umur 21 tahun harus mendapat izin sebagaimana dimaksud pasal 6
ayat 2, 3, 4, dan 5 undang-undang nomor 1 tahun 1974.
2.
Pasal 13 mengatur prosedur pemahaman dispensasi bagi anak yang belum
mencapai usia minimum, yaitu:
a. Apabila seorang calon suami belum mencapai umur 19 tahun dan calon istri
belum mencapai umur 16 tahun hendak melansungkan pernikahan harus
mendapat dispensasi dari Pengadilan Agama.
b. Pemohonan dispensasi nikah bagi mereka tersebut pada ayat (1) pasal ini,
diajukan oleh kedua orang tua pria ataupun wanita kepada Pengadilan Agama
yang mewilayahi tempat tinggalnya.
c. Pengadilan agama setelah memeriksa dalam pesidangan dan berkeyakinan
bahwa terdapat hal-hal yang memungkinkan untuk memberikan dispensasi
tersebut, maka Pengadilan Agama memberikan dispensasi nikah dengan suatu
penetapan
d. Salinan penetapan itu dibuat dan diberikan kepada pemohon untuk memenuhi
persyaratan melangsungkan pernikahan.
Universitas Sumatera Utara
8
3.
Demikian pula halnya dispensasi bagi anak yang belum mencapai umur
minimum, pasal 14 mengatur pula dispensasi yang berlaku bagi suami yang ingin
beristri lebih dari satu. Ketentuan tersebut sebagai berikut:
a. Apabila seorang suami bermaksud untuk beristri lebih dari seorang, maka ia
wajib mangajukan permohonan secara tertulis disertai alasan-alasannya
kepada pengadilan Agama yang mewilayahi tempat tinggalnya dengan
membawa Kutipan Akta Nikah yang terdahulu dan surat-surat lain yang
diperlukan.
b. Pengadilan Agama kemudian memeriksa hal-hal sebagaimana yang diatur
dalam pasal 41 Peraturan Pemeritah No. 9 tahun 1975.
c. Pengadilan agama dalam melakukan pemeriksaan harus memanggil dan
mendengar keterangan istri yang bersangkutan sebagaimana diatur dalam
pasal 42 ayat (1) Peraturan Pemerintah No. 9 tahun 1975.
d. Apabila pengadilan agama berpendapat bahwa cukup alasan bagi pemohon
untuk beristri lebih dari seorang, maka Pengadilan Agama memberikan
penetapan yang berupa izin untuk beristri lebih dari seorang kepada yang
bersangkutan.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, kajian dalam bentuk tesis mengambil
judul “Dispensasi Nikah Dalam Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 (Studi
Penetapan Pengadilan Agama Medan Nomor: 110/Pdt.P/2011/PA-Mdn)”.
B. Perumusan Masalah
Dari uraian diatas, dapat dirumuskan pokok permasalahan yang akan dibahas
Universitas Sumatera Utara
9
secara lebih mendalam adalah sebagai berikut:
1.
Alasan apa yang membenarkan dispensasi nikah dapat dilakukan bagi anak yang
masih dibawah umur?
2.
Bagaimana prosedur pengajuan dispensasi nikah di Pengadilan Agama?
3.
Bagaimanakah Pertimbangan Hukum Hakim dalam Penetapan Pengadilan
Agama Nomor: 110/Pdt.P/2011/PA-Mdn tentang dispensasi nikah?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan tersebut di atas, maka tujuan yang hendak dicapai
dalam penelitian ini adalah :
1.
Untuk mengetahui dan menganalisis alasan yang membenarkan dispensasi nikah
dapat dilakukan bagi anak yang masih dibawah umur.
2.
Untuk mengetahui dan menganalisis prosedur pengajuan dispensasi nikah di
Pengadilan Agama
3.
Untuk mengetahui dan menganalisis Pertimbangan Hukum Hakim dalam
Penetapan
Pengadilan
Agama
Nomor:
110/Pdt.P/2011/PA-Mdn
tentang
dispensasi nikah.
D. Manfaat Penelitian
Kegiatan penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat baik secara teoritis
maupun secara praktis, seperti yang dijabarkan lebih lanjut sebagai berikut:
1.
Secara Teoritis
Hasil penelitian ini, akan menguatkan teori bahwa suatu norma hukum wajib
ditaati karena norma hukum itu sendiri dibentuk untuk kepentingan manusia.
Universitas Sumatera Utara
10
Namun norma hukum itu akan menjadi bermanfaat apabila benar-benar
diterapkan atau dilaksanakan.
2.
Secara Praktis
Hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat dan masukan kepada masyarakat,
para praktisi hukum, dan pemerintah dalam mengembangkan pengetahuan
Hukum Perkawinan, khususnya tentang pemberian dispensasi nikah akibat
hubungan di luar nikah menurut Hukum Islam.
E. Keaslian Penelitian
Berdasarkan hasil penelusuran kepustakaan dan pemeriksaan yang telah
dilakukan, baik di kepustakaan penulisan karya ilmiah Magister Hukum, maupun di
Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara (USU) Medan, maka tidak
ditemukan penelitian tesis yang berjudul “Dispensasi Nikah Dalam Undang-undang
Nomor 1 Tahun 1974 (Studi Penetapan Pengadilan Agama Medan Nomor:
110/Pdt.P/2011/PA-Mdn)”.
Adapun
penelitian
terkait
dengan
dispensasi
nikah/perkawinan antara lain:
1. Fitri Zakiyah, Nim 087011044, Mahasiswa Program Studi Kenotariatan,
Program Pascasarjana Universitas Sumatera Utara Medan, dengan judul:
“Perbandingan Status Hak Waris Anak Luar Nikah Antara Kompilasi Hukum
Islam Dengan Hukum Perdata BW)”.
2. Ayu Yulia Sari, Nim 097011052, Mahasiswa Program Studi Kenotariatan,
Program Pascasarjana Universitas Sumatera Utara Medan, dengan judul:
“Analisis Yuridis Kedudukan Anak Luar Nikah Berdasarkan Kompilasi
Universitas Sumatera Utara
11
Hukum Islam dan KUHPerdata)”.
3. Netti, Nim 097011068, Mahasiswa Program Studi Kenotariatan, Program
Pascasarjana Universitas Sumatera Utara Medan, dengan judul: “Tinjauan
Yuridis Pernikahan Siri ditinjau dari Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974
Tentang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam)”.
4. Panji Aulia Ramadhan, Nim 107011066, Mahasiswa Program Studi
Kenotariatan, Program Pascasarjana Universitas Sumatera Utara Medan,
dengan judul: “Analisis Yuridis Mengenai Kedudukan Isteri Atas Harta
Bersama Bagi Isteri yang Dicerai dari Pernikahan Siri Berdasarkan Kompilasi
Hukum Islam)”.
5. Syafitri Yanti, Nim 087011120, Mahasiswa Program Studi Kenotariatan,
Program Pascasarjana Universitas Sumatera Utara Medan, dengan judul:
“Itsbat Nikah dan Kaitannya dengan Status Anak yang Lahir Sebelumnya
(Studi pada Pengadilan Agama Kelas IA Medan))”.
F. Kerangka Teori dan Konsepsi
1.
Kerangka Teori
Teori adalah untuk menerangkan atau menjelaskan mengapa gejala spesifik
atau proses tertentu terjadi,16 dan satu teori harus diuji dengan menghadapkannya
pada fakta-fakta yang dapat menunjukkan ketidakbenarannya.17 Kerangka teori
adalah kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, teori, tesis mengenai sesuatu
kasus atau permasalahan (problem) yang menjadi bahan perbandingan, pegangan
16
J.J. M. Wuisman, dengan penyunting M. Hisyam, Penelitian Ilmu-ilmu Sosial, (Jakarta: FEUI, Jakarta, 1996), hal. 203.
17
Ibid., hal. 16.
Universitas Sumatera Utara
12
teoritis.18
Teori merupakan keseluruhan pernyataan yang saling berkaitan, yang
dikemukakan untuk menjelaskan tentang adanya sesuatu, maka teori hukum dapat
ditentukan dengan lebih jauh sebagai suatu keseluruhan pernyatan-pernyataan yang
saling berkaitan dan berkenaan dengan hukum. Dengan ini harus cukup menguraikan
tentang apa yang diartikan dengan unsur teori dan harus mengarahkan diri kepada
unsur hukum. Teori juga merupakan sebuah desain langkah-langkah penelitian yang
berhubungan dengan kepustakaan, isu kebijakan maupun narasumber penting lainnya.
Sebuah teori harus diuji dengan menghadapkannya kepada fakta-fakta yang kemudian
harus dapat menunjukkan kebenarannya.
Fungsi teori dalam penelitian ini adalah untuk memberikan pedoman/petunjuk
dan meramalkan serta menjelaskan gejala yang diamati.19 Dalam menjawab rumusan
permasalahan yang ada, adapun teori yang akan digunakan sebagai pisau analisis
dalam penelitian ini adalah Teori Kepastian Hukum. Teori kepastian hukum
mengandung 2 (dua) pengertian, yaitu pertama adanya aturan yang bersifat umum
membuat individu mengetahui perbuatan apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan,
dan kedua berupa keamanan hukum bagi individu dari kesewenangan pemerintah
karena dengan adanya aturan hukum yang bersifat umum itu, individu dapat
mengetahui apa saja yang boleh dibebankan atau dilakukan oleh negara terhadap
individu.
Menurut Satjipto Rahardjo, kepastian hukum merupakan fenomena psikologi
18
19
M. Solly Lubis, Filsafat Ilmu dan Penelitian, (Bandung: Mandar Maju, 1994), hal. 80.
Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002),
hal. 35.
Universitas Sumatera Utara
13
daripada hukum. Kepastian hukum bukan hanya berupa pasal-pasal dalam UndangUndang melainkan juga adanya konsistensi dalam putusan hakim yang satu dengan
yang lainnya untuk kasus yang serupa yang telah diputuskan.20 Kepastian hukum
adalah tujuan utama dari hukum. 21
Tujuan
hukum
adalah
mewujudkan
keadilan
(rechtgerechtigheid),
kemanfaatan (rechtsutiliteit) dan kepastian hukum (rechtszekerheid)22. Dalam hal
mewujudkan keadilan, menurut W. Friedman, suatu Undang-Undang haruslah
memberikan keadilan yang sama kepada semua walaupun terdapat perbedaanperbedaan diantara pribadi-pribadi tersebut.23
Roscoe Pond dalam bukunya Scope and Purpose of Sociological
Jurisprudence,24 menyebutkan ada beberapa kepentingan yang harus mendapat
perlindungan atau dilindungi oleh hukum, yaitu Pertama, kepentingan terhadap
negara sebagai suatu badan yuridis; Kedua, kepentingan negara sebagai penjaga
kepentingan sosial; Ketiga, kepentingan terhadap perseorangan terdiri dari pribadi,
hubungan-hubungan domestik, kepentingan substansi.
Dari pendapat Roscoe Pond tersebut, dapat dilihat bahwa sangat
20
Peter Mahmud Marzuki, Pengantar Ilmu Hukum, (Jakarta: Kencana Pranada Media Group,
2008), hal. 158.
21
J.B. Daiyo, Pengantar Ilmu Hukum, Buku Panduan Mahasiswa, (Jakarta: PT.
Prennahlindo, 2001), hal. 120.
22
Achmad Ali, Menguak Tabir Hukum (Suatu Kajian Filosofis dan Sosiologis), (Jakarta:
PT. Gunung Agung Tbk, 2002), hal. 85.
23
W.Friedman, Teori dan Filsafat Hukum Dalam Buku Telaah Kritis Atas Teori-Teori
Hukum, diterjemahkan dari buku aslinya Legal Theory oleh Muhammad Arifin, (Jakarta: Raja
Grafindo Persada, 1993), hal. 7.
24
Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, (Bandung: PT.Citra Aditya Bakti, 2000), hal.298.
Universitas Sumatera Utara
14
diperlukannya suatu perlindungan hukum terhadap kepentingan perseorangan, karena
dengan adanya perlindungan hukum akan tercipta suatu keadilan.
Agar terjaminnya ketertiban pranata pernikahan dalam masyarakat, maka
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan juncto Peraturan
Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1
Tahun 1974 tentang Perkawinan, menghendaki setiap perkawinan dicatat oleh
petugas yang berwenang menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Namun kenyataan memperlihatkan fenomena yang berbeda. Hal ini tampak dari
maraknya pernikahan siri atau pernikahan dibawah tangan yang terjadi di tengah
masyarakat.
Fungsi dan kedudukan pencatatan perkawinan menurut Bagir Manan adalah
untuk menjamin ketertiban hukum (legal order) yang berfungsi sebagai instrumen
kepastian hukum, kemudahan hukum, disamping sebagai salah satu alat bukti
perkawinan.
Pencatatan
perkawinan
bertujuan
untuk
menjadikan
peristiwa
perkawinan itu menjadi jelas bagi yang bersangkutan, keluarga maupun bagi
masyarakat, misalnya kapan pihak yang satu menjadi ahli waris pihak yang lain,
kapan harta bersama dianggap mulai ada yang dapat dipertanggungjawabkan terhadap
hubungan perjanjian yang diadakan oleh mereka atau salah satu dari mereka.25
Adapun akibat hukum dari tidak dicatatnya perkawinan adalah :
a.
Perkawinan Dianggap tidak Sah menurut dan Undang-Undang No. 1 Tahun
25
Saidus Syahar, Undang-Undang Perkawinan dan Masalah Pelaksanaannya Ditinjau dari
Segi Hukum Islam, (Bandung: Alumni, 1976), hal. 27.
Universitas Sumatera Utara
15
1974.
Meski perkawinan dilakukan menurut agama dan kepercayaan, namun di mata
negara perkawinan dianggap tidak sah jika belum dicatat oleh Kantor Urusan
Agama atau Kantor Catatan Sipil.
b.
Anak Hanya Mempunyai Hubungan Perdata dengan Ibu dan Keluarga Ibu.
Anak-anak yang dilahirkan di luar perkawinan atau perkawinan yang tidak
tercatat, selain dianggap anak tidak sah, juga hanya mempunyai hubungan
perdata dengan ibu atau keluarga ibu (Pasal 42 dan 43 Undang-Undang Nomor 1
Tahun 1974 tentang Perkawinan). Sedangkan hubungan perdata antara si anak
dengan ayahnya tidak ada.
c.
Anak dan Ibunya Tidak Berhak Mendapatkan Waris dan Nafkah.
Akibat lebih jauh dari perkawinan yang tidak tercatat adalah, baik isteri maupun
anak-anak yang dilahirkan dari perkawinan tersebut tidak berhak menuntut
nafkah ataupun warisan dari ayahnya.
Berhubungan dengan akibat yang sangat penting dari perkawinan inilah, maka
masyarakat membutuhkan suatu peraturan untuk mengatur perkawinan yaitu: syaratsyarat perkawinan, pencatatan perkawinan, pelaksanaan perkawinan, kelanjutan dan
terhentinya perkawinan.
Suatu hal yang dapat dimaklumi dalam kaitannya dengan dispensasi nikah
akibat hubungan di Luar Nikah dalam kajian ini adalah dengan adanya dispensasi
maka perkawinan tersebut dapat dilangsungkan sesuai dengan ketentuan hukum, dan
para pihak yang melangsungkan perkawinan tersebut meskipun didahului adanya
Universitas Sumatera Utara
16
hubungan di luar nikah memiliki kepastian hukum.
Berdasarkan Pasal 2 ayat (1) UU No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan adalah
sahnya perkawinan apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan
kepercayaannya itu. Jadi perkawinan yang sah menurut hukum perkawinan nasional
adalah perkawinan yang dilaksanakan menurut tata tertib aturan hukum yang berlaku
dalam agama Islam, Kristen/Katolik, Hindu/Budha. Kata “hukum masing-masing
agamanya” berarti hukum dari salah satu agama itu masing-masing, bukan berarti
“hukum agamanya masing-masing” yaitu hukum agama yang dianut oleh kedua
mempelai atau keluarganya.
Undang-undang secara lengkap mengatur syarat-syarat perkawinan baik yang
menyangkut orangnya, kelengkapan administrasi, prosedur pelaksanaannya dan
mekanismenya. Adapun syarat-syarat yang lebih dititikberatkan kepada orangnya
diatur dalam undang-undang sebagai berikut :
1.
Perkawinan harus didasarkan atas persetujuan kedua calon mempelai.
2.
Untuk melangsungkan perkawinan seorang yang belum mencapai umur 21 (dua
puluh satu) tahun harus mendapat izin dari kedua orang tuanya.
3.
Dalam hal salah satu dari kedua orang tua telah meninggal dunia atau dalam
keadaan tidak mampu menyatakan kehendaknya maka izin dimaksud cukup
diperoleh dari orang tua yang masih hidup atau dari orang tua yang mampu
menyatakan kehendaknya.
4.
Dalam hal kedua orang tua telah meninggal dunia atau dalam keadaan tidak
mampu menyatakan kehendaknya, maka izin diperoleh dari wali, orang yang
Universitas Sumatera Utara
17
memelihara atau keluarga yang mempunyai hubungan darah dalam garis
keturunan lurus ke atas selama mereka masih hidup dan dalam keadaan dapat
menyatakan kehendaknya.
Dalam hukum Islam syarat sahnya suatu pernikahan adalah dengan adanya
wali dan dua orang saksi, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam, yang “Artinya, tidak sah nikah seseorang kecuali dengan dihadiri wali dan
dua orang saksi yang adil”.26
Untuk melaksanakan suatu pernikahan maka harus dipenuhi rukun nikah yang
terdiri dari :
1.
Sighat (akad) ijab-qabul
2.
Wali
3.
Dua orang saksi27
Pernikahan atau perkawinan diawali dengan adanya ijab dan qabul. Ijab
adalah pernyataan dari calon pengantin perempuan yang diwakili oleh wali yaitu
suatu pernyataan dari perempuan sebagai kehendak untuk mengikatkan diri dengan
seorang laki-laki sebagai suami sah. Sedangkan qabul adalah penyataan penerimaan
dari calon pengantin laki-laki.
Pihak yang menjadi orang yang memberikan ijin berlangsungnya akad nikah
disebut wali. Wali nikah hanya ditetapkan bagi pihak perempuan. Adapun syarat
menjadi wali adalah sebagai berikut:
26
27
Ibid., hal. 31.
Sudarsono, Op.Cit, hal. 49
Universitas Sumatera Utara
18
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Islam
Baligh
Berakal
Merdeka
Laki-laki
Adil
Tidak sedang ihram/umrah28
Ketentuan saksi dalam pernikahan harus ada dua orang dengan beberapa
syarat yang harus dipenuhi secara kumulatif, yaitu: 29
1. Baligh
2. Berakal
3. Merdeka
4. Laki-laki
5. Islam
6. Adil
7. Medengar dan melihat
8. Mengerti maksud ijab qabul
9. Kuat ingatannya
10. Berakhlak baik
11. Tidak sedang menjadi wali.
Menurut Syekh Jaad Al-Haq ‘Ali Jaad al-Haq, membagi ketentuan yang
mengatur pernikahan pada 2 (dua) kategori yaitu: 30
1. Peraturan Syara’, yaitu peraturan yang menentukan sah atau tidak sahnya
sebuah pernikahan. Peraturan ini adalah peraturan yang ditetapkan oleh
syari’at Islam yaitu adanya ijab kabul dari masing-masing dua orang yang
berakad (wali dan calon suami) yang diucapkan pada majelis yang sama,
dengan menggunakan lafal yang yang menunjukkan telah terjadinya ijab
dan kabul yang diucapkan oleh masing-masing dari dua orang yang
mempunyai kecapakan untuk melakukan akad menurut hukum syara’,
serta dihadiri oleh dua orang saksi yang telah baliq.
2. Peraturan yang bersifat tawsiqy, yaitu peraturan tambahan yang
bermaksud agar pernikahan di kalangan umat Islam tidak liar, tetapi
28
Ibid, hal. 50
29
Ibid, hal. 51.
Satria Effendi M. Zein, Problematika Hukum Keluarga Islam Kontemporer : Analisis
Yurisprudensi Dengan Pendekatan Ushuliyah, (Jakarta: Fakultas Syariah dan Hukum UIN dan
Balitbang DEPAG RI, 2002), hal. 33-34
30
Universitas Sumatera Utara
19
tercatat dengan memakai surat akad nikah secara resmi yang dikeluarkan
oleh pihak yang berwenang. Secara administratif ada peraturan yang
mengharuskan agar suatu pernikahan dicatat menurut peraturan
perundang-undangan yang berlaku. Kegunaannya agar sebuah lembaga
perkawinan yang mempunyai tempat yang sangat penting dan strategis
dalam masyarakat Islam, dapat dilindungi dari adanya upaya-upaya
negatif dari pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.
Perkawinan yang telah melalui pencatatan adanya kemaslahatan bagi umum,
artinya kaum wanita terlindungi hak asasinya, tidak dilecehkan. Sebab menurut
hukum positif Indonesia, perkawinan dibawah tangan itu tidak diakui sama sekali.
Ikatan perkawinan diakui secara hukum hanya jika dicatat oleh petugas yang ditunjuk
oleh kantor urusan agama (KUA).
Dari penjelasan-penjelasan tersebut jelaslah bahwa sistem hukum Indonesia
tidak mengenal istilah "perkawinan yang tidak dicatatkan atau kawin di bawah
tangan" dan semacamnya dan tidak mengatur secara khusus dalam sebuah peraturan.
Namun, secara sosiologis istilah ini diberikan bagi perkawinan yang tidak dicatatkan
dan dianggap dilakukan tanpa memenuhi ketentuan Undang-undang yang berlaku,
khususnya tentang pencatatan perkawinan yang diatur dalam Undang-undang
perkawinan Pasal 2 ayat 2 yang berbunyi: "Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut
peraturan perundang-undangan yang berlaku”.
Istilah perkawinan yang tidak dicatatkan atau nikah yang dirahasiakan
memang sudah dikenal di kalangan para ulama. Hanya saja perkawinan yang
tidak dicatatkan yang dikenal pada masa dahulu berbeda pengertiannya
dengan perkawinan yang tidak dicatatkan pada saat ini. Dahulu yang
dimaksud dengan perkawinan yang tidak dicatatkan yaitu pernikahan sesuai
dengan rukun-rukun perkawinan dan syaratnya menurut syari’at, hanya saja
saksi diminta tidak memberitahukan terjadinya pernikahan tersebut kepada
khalayak ramai, kepada masyarakat, dan dengan sendirinya tidak ada
walimatul-’ursy. Adapun perkawinan yang tidak dicatatkan yang dikenal oleh
Universitas Sumatera Utara
20
masyarakat Indonesia sekarang ini adalah pernikahan yang dilakukan oleh
wali atau wakil wali dan disaksikan oleh para saksi, tetapi tidak dilakukan di
hadapan Petugas Pencatat Nikah sebagai aparat resmi pemerintah atau tidak
dicatatkan di Kantor Urusan Agama bagi yang beragama Islam atau di Kantor
Catatan Sipil bagi yang tidak beragama Islam.31
Pada dasarnya, fungsi pencatatan pernikahan pada lembaga pencatatan sipil
adalah agar seseorang memiliki alat bukti (bayyinah) untuk membuktikan bahwa
dirinya benar-benar telah melakukan pernikahan dengan orang lain. Sebab, salah satu
bukti yang dianggap absah sebagai bukti syar’iy (bayyinah syar’iyyah) adalah
dokumen resmi yang dikeluarkan oleh negara.
Ketika pernikahan dicatatkan pada lembaga pencatatan sipil, tentunya
seseorang telah memiliki sebuah dokumen resmi yang bisa ia jadikan sebagai alat
bukti (bayyinah) di hadapan majelis peradilan, ketika ada sengketa yang berkaitan
dengan pernikahan, maupun sengketa yang lahir akibat pernikahan, seperti waris, hak
asuh anak, perceraian, nafkah, dan lain sebagainya. Hanya saja, dokumen resmi yang
dikeluarkan oleh negara, bukanlah satu-satunya alat bukti syar’iy.
Kesaksian dari saksi-saksi pernikahan atau orang-orang yang menyaksikan
pernikahan, juga absah dan harus diakui oleh negara sebagai alat bukti syar’iy.
Negara tidak boleh menetapkan bahwa satu-satunya alat bukti untuk membuktikan
keabsahan pernikahan seseorang adalah dokumen tertulis. Pasalnya, syariat telah
menetapkan keabsahan alat bukti lain selain dokumen tertulis, seperti kesaksian saksi,
31
Devita,
“Akibat
Perkawinan
yang
tidak
dicatatkan”,
http://irmadevita.com/2009/akibathukum-dari-nikah-siri, dikutip tanggal 27 Februari 2013.
Universitas Sumatera Utara
21
sumpah, pengakuan (iqrar), dan lain sebagainya.
Berdasarkan penjelasan maka orang yang meperkawinan yang tidak
dicatatkan tetap memiliki hubungan pewarisan yang sah, dan hubungan-hubungan
lain yang lahir dari pernikahan. Selain itu, kesaksian dari saksi-saksi yang menghadiri
pernikahan yang tidak dicatatkan tersebut sah dan harus diakui sebagai alat bukti
syar’i. Negara tidak boleh menolak kesaksian mereka hanya karena pernikahan
tersebut tidak dicatatkan pada lembaga pencatatan sipil; atau tidak mengakui
hubungan pewarisan, nasab, dan hubungan-hubungan lain yang lahir dari pernikahan
yang tidak dicatatkan tersebut.
Akibat hukum dari perkawinan yang tidak dicatatkan, meski secara agama
atau kepercayaan dianggap sah, namun perkawinan yang dilakukan di luar
pengetahuan dan pengawasan pegawai pencatat nikah tidak memiliki kekuatan
hukurn yang tetap dan dianggap tidak sah di mata hukum negara. Akibat hukum
perkawinan tersebut berdampak sangat merugikan bagi isteri dan perempuan pada
umumnya, baik secara hukum maupun sosial, serta bagi anak yang dilahirkan.
Perkawinan yang tidak dicatatkan dari segi hak-hak dan kewajiban-kewajiban
yang diperoleh oleh suami atau istri sangat berbeda cenderung banyak
merugikan pihak si istri, terutama jika terjadi perceraian. Apabila
dibandingkan dengan perkawinan yang tercatat, maka jika terjadi perceraian
kedua belah pihak memperoleh hak dan kewajiban yang sama. Perbedaan
utama dalam kedua macam perkawinan ini adalah soal pencatatan. Pada
perkawinan yang tidak dicatatkan karena perkawinan itu tidak tercatat, maka
kalau terjadi perceraian pun hanya dilakukan menurut tata cara agama, yaitu
pengucapan talak yang disaksikan oleh dua saksi. Jadi tidak perlu melalui
proses pengadilan sebagaimana perkawinan yang tercatat.32
32
http://www.asiamaya.com/konsultasi_hukum/perkawinan/perk_dibawahtangan.htm,
“Perkawinan di Bawah Tangan”, dikutip tanggal 21 Pebruari 2013.
Universitas Sumatera Utara
22
Namun tidak demikian halnya dengan perkawinan yang tidak dicatatkan. Jika
terjadi perceraian maka akan sangat merugikan pihak isteri.
Oleh karena perkawinan yang tidak dicatatkan, maka dari perceraian itu si
istri tidak akan mendapatkan hak apapun. Menurut pasal 6 Kompilasi Hukum
Islam, perkawinan yang tidak tercatat atau yang tidak dapat dibuktikan dengan
surat nikah, tidak mempunyai akibat hukum apapun. Artinya jika suami atau
istri tidak memenuhi kewajibanya, maka salah satu pihak tidak dapat
menuntut apapun ke pengadilan, baik mengenai nafkah termasuk anak yang
lahir atau harta bersama yang mereka peroleh selama perkawinan
berlangsung. Bahkan jika salah satu pihak meninggal dunia (suami/istri) maka
ia tidak dapat mewaris dari si istri atau suaminya itu. Perkawinan yang tidak
dicatatkan ini risiko hukumnya sangat tinggi dan sangat merugikan kaum
perempuan terutama pada anak-anak yang telah dilahirkan. Undang-undang
perkawinan mengatur hak dan kewajiban antara orang tua dan anak yang
menyangkut beberapa hal. Anak dalam bahasa Arab disebut “walad” yang
merupakan satu kata yang mengandung penghormatan, sebagai makhluk
Allah SWT yang sedang menempuh perkembangan ke arah abdi Allah yang
saleh.33
2.
Konsepsi
Konsep adalah satu bagian terpenting dari teori. Konsepsi diartikan sebagai
“kata yang menyatukan abstraksi yang digeneralisasikan dari hal-hal yang khusus
yang disebut definisi operasional”.34 Pentingnya definisi operasional adalah untuk
menghindarkan perbedaan pengertian atau penafsiran mendua (dubius) dari suatu
istilah yang dipakai.35
Dalam penelitian ini, dirumuskan serangkaian kerangka konsepsi atau
33
Iman Jauhari, Perlindungan Hukum Terhadap Anak Dalam Keluarga Poligami, (Jakarta:
Pustaka Bangsa, 2003), hal. 81.
34
Masri Singarimbun, Metode Penelitian Survey, (Jakarta: LP3ES, 1999), hal. 34
35
Tan Kamelo, Perkembangan Lembaga Jaminan Fiducia : Suatu Tinjauan Putusan
Pengadilan dan Perjanjian di Sumatera Utara, (Medan: PPs-USU, 2002), hal.35.
Universitas Sumatera Utara
23
definisi operasional sebagai berikut :
1.
Hukum yaitu norma atau kaedah, yaitu tolak ukur, patokan pedoman yang
digunakan untuk menilai tingkah laku atau perbuatan manusia dan benda.
2.
Dispensasi pernikahan adalah penyimpangan atau pengecualian terhadap
ketentuan-ketentuan yang telah dinyatakan dalam Undang-undang Nomor 1
Tahun 1974.36
3.
Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita
sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga atau rumah tangga yang
bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.37
4.
Pencatatan Perkawinan adalah suatu tindakan dari instansi yang diberikan tugas
untuk mencatat perkawinan dan perceraian dalam buku register dan dilakukan
menurut ketentuan yang berlaku.38
5.
Hubungan Luar Nikah adalah suatu hubungan antara perempuan dan laki-laki
yang dilakukan tanpa ada perkawinan yang mengikatnya.
6.
Hukum Islam yaitu kaidah yang dijadikan patokan perbuatan manusia, baik
beribadah dan bermuamalah. Dalam hukum Islam dibagi kedalam lima kaidah
wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram.39
7.
Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 adalah undang-undang yang mengatur
perihal perkawinan secara nasional.
36
Sudarsono, Op. Cit., hal.26.
Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
38
Arso Sastroatmodjo dan H.A. Wasit Aulawi, Hukum Perkawinan di Indonesia, (Jakarta:
Bulan Bintang, 1974), hal. 31.
39
Muchsin, Masa depan hukum Islam di Indonesia, (Jakarta: BP Iblam, 2004). Hal. 11.
37
Universitas Sumatera Utara
24
G. Metode Penelitian
1.
Sifat dan Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian normatif, yang dalam hal ini mengkaji
kaedah hukum yang berlaku. Hasil dari kajian ini bersifat deskriptif analisis. Seperti
yang dikemukakan oleh Soerjono Soekanto, bahwa penelitian deskriptif analisis
adalah penelitian yang bertujuan untuk membuat gambaran atau lukisan secara
sistematik, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan
fenomena yang diselidiki.40
Metode pendekatan yang digunakan adalah pendekatan yuridis normatif
(penelitian hukum normatif), yaitu penelitian yang mengacu kepada norma-norma
hukum, yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku sebagai
pijakan normatif, yang berawal dari premis umum kemudian berakhir pada suatu
kesimpulan khusus. Hal ini dimaksudkan untuk menemukan kebenaran-kebenaran
baru (suatu tesis) dan kebenaran-kebenaran induk (teoritis).
Pendekatan yuridis normatif disebut demikian karena penelitian ini
merupakan penelitian kepustakaan atau penelitian dokumen yang ditujukan atau
dilakukan hanya pada peraturan perundang-undangan yang relevan dengan
permasalahan yang diteliti atau dengan perkataan lain melihat hukum dari aspek
normatif.
2.
Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah melalui
40
Soerjono Soekanto, Metodologi Research, (Yogyakarta: Andi Offset, 1998), hal 3.
Universitas Sumatera Utara
25
penelitian kepustakaan (library research) untuk mendapatkan konsepsi teori atau
doktrin, pendapat atau pemikiran konseptual dan penelitian pendahulu yang
berhubungan dengan objek telaah penelitian ini, yang dapat berupa peraturan
perundang-undangan, dan karya ilmiah lainnya.
3.
Sumber Data
Data dalam yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder
yang diambil dari sumber data sebagai berikut:
a.
Bahan hukum primer, yaitu bahan hukum yang mengikat, antara lain berupa
peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan Perkawinan, Hukum
Perkawinan, Pencatatan Perkawinan dan sebagainya.
b.
Bahan hukum sekunder, yaitu bahan yang memberikan penjelasan tentang bahan
hukum primer, antara lain berupa buku atau literatur, tulisan atau pendapat para
pakar yang dituangkan dalam makalah-makalah (artikel) tentang Hukum
Perkawinan, Penetapan Pengadilan Pengesahan Perkawinan Adat, dan dokumendokumen lain yang terkait dengan pembahasan yang akan ditulis, yang diperoleh
dari instansi-instansi atau lembaga-lembaga terkait baik secara langsung ke
instansi atau lembaga tersebut, maupun melalui website atau internet.
c.
Bahan hukum tersier atau bahan hukum penunjang yang mencakup bahan yang
memberi petunjuk maupun penjelasan terhadap hukum primer dan sekunder,
seperti kamus umum dan kamus hukum.
4.
Alat Pengumpulan Data
Berdasarkan metode pendekatan penelitian ini, maka alat pengumpulan data
Universitas Sumatera Utara
26
yang digunakan adalah sebagai berikut :
a.
Studi dokumen/kepustakaan yang terdiri dari bahan hukum primer dan bahan
hukum sekunder. Bahan hukum primer meliputi segala jenis peraturan
perundang-undangan (hukum normatif) yang terkait dengan masalah yang
sedang diteliti. Bahan hukum sekunder meliputi pendapat para pakar hukum yang
bersumber pada buku-buku berisi teori yang ditulis oleh pakar hukum.
b.
Wawancara (interview), yang dibantu dengan pedoman wawancara, yaitu dengan
mengadakan wawancara dengan narasumber atau informan yang berhubungan
dengan materi penelitian ini, seperti Pejabat/Staff Pengadilan, dan lain
sebagainya untuk mengetahui lebih mendalam dan rinci tentang hal-hal yang
tidak mungkin dijelaskan dan ditemukan jawaban nantinya. Sehingga dengan
adanya wawancara diharapkan diperoleh dapat mendukung data sekunder.
5.
Analisis Data
Analisis data merupakan suatu proses mengorganisasikan dan mengurutkan
data ke dalam pola, kategori dan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan
dapat dirumuskan suatu hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data.41
Setelah diperoleh data sekunder yakni berupa bahan hukum primer, bahan
hukum sekunder, maka dilakukan inventarisir dan penyusunan secara sistematik,
kemudian diolah dianalisa dengan menggunakan metode kualitatif, sehingga dapat
ditarik kesimpulan dengan menggunakan logika berpikir deduktif. Kegiatan analisis
41
Lexy J. Moleong, Op.Cit., hal. 101.
Universitas Sumatera Utara
27
dimulai dengan dilakukan pemeriksaan terhadap data yang terkumpul baik melalui
wawancara yang dilakukan, inventarisasi karya ilmiah, peraturan perundangundangan, yang berkaitan dengan judul penelitian baik media cetak dan laporanlaporan hasil penelitian lainnya untuk mendukung studi kepustakaan.
Universitas Sumatera Utara
Download