konsep pendidikan karakter dalam al-qur`an surat

advertisement
KONSEP PENDIDIKAN KARAKTER
DALAM AL-QUR’AN SURAT LUQMAN AYAT 12-19
(TELAAH ATAS KITAB TAFSIR AL-MISBAH)
SKRIPSI
Diajukan untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Pendidikan Islam
Oleh
NINIK HIMAWATI
NIM 11111127
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA
2016
2
KONSEP PENDIDIKAN KARAKTER
DALAM AL-QUR’AN SURAT LUQMAN AYAT 12-19
(TELAAH ATAS KITAB TAFSIR AL-MISBAH)
SKRIPSI
Diajukan untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Pendidikan Islam
Oleh
NINIK HIMAWATI
NIM 11111127
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA
2016
3
4
5
6
MOTTO
‫إِ َّن َم َع الْعُ ْس ِر يُ ْسًرا‬
Sesungguhnya Sesudah Kesulitan itu Ada Kemudahan
(QS. Al-Insyirah: [94]:6)
Jangan berdo’a untuk mendapatkan hidup yang mudah,
berdo’alah agar bisa bertahan dalam kehidupan yang sulit untuk
mencapai hidup yang lebih baik
(Bruce Lee)
7
PERSEMBAHAN
Atas rahmat dan ridho Allah SWT, skripsi ini aku persembahkan untuk:
1.
Kedua orang tuaku, Bapak Maftukhin dan Ibu Khumaidah yang menjadi
alasan terbesar untuk terselesaikannya skripsi ini, dan yang telah memberikan
kasih sayang, dorongan moral, spiritual dan material yang tidak dapat
tergantikan, semoga amal baik dari skripsi ini menjadi pahala untuk beliau
berdua.
2.
Kakakku M. Teguh Firman Syah dan Slamet Riyadi, serta adikku M. Rizqil
Awwal. Terimakasih atas do‟a dan supportnya.
3.
Semua Guru TK Pertiwi Tahunan, SDN Tahunan Kampus 03,04,05, MTsN
Bawu Jepara, SMAN 1 Jepara, serta seluruh Dosen IAIN Salatiga, khususnya
untuk pembimbingku Ibu Tri Wahyu Hidayati, M.Ag yang telah memberikan
bimbingan, arahan, kesabaran dan waktunya sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini.
4.
Bapak Supriyadi dan Ibu Nanik, selaku pemilik TPQ Al-Ikhlas Tegalrejo
Salatiga, yang sudah memberikan banyak bantuan, perhatian
dan
pengalaman.
5.
Teman-teman kos HFC Yeni, Riska, Titik, Ika, Farida, Etik, Ana, Mega serta
sahabatku RENIREF yang di Jepara.
6.
Rekan-rekan seperjuangan angkatan 2011 IAIN Salatiga
8
KATA PENGANTAR
Asslamu‟alaikum Wr. Wb
Alhamdulillah puji syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Allah
SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi dengan judul Konsep Pendidikan Karakter Dalam AlQur‟an Surat Luqman Ayat 12-19 (Telaah Atas Kitab Tafsir Al-Misbah).
Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada junjungan kita, Nabi
Muhammad Saw beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umat yang mencintainya.
Ucapan terima kasih tidak lupa penulis sampaikan kepada berbagai pihak
yang telah memberikan motivasi, bimbingan, arahan dan bantuan dalam
menyelesaikan skripsi ini, khususnya kepada:
1. Bapak Dr. Rahmat Haryadi, M. Pd. selaku Rektor IAIN Salatiga.
2. Bapak Suwardi, M.Pd. selaku Dekan FTIK IAIN Salatiga.
3. Ibu Siti Rukhayati, M. Ag., selaku Ketua Jurusan PAI.
4. Ibu Tri Wahyu Hidayati M.Ag.,
mengarahkan, membimbing,
selaku
memberikan
pembimbing
petunjuk
dan
yang
telah
meluangkan
waktunya dalam penulisan skripsi ini.
5. Ibu Eva Palupi S.Psi, selaku dosen pembimbing akademik yang membantu
penulis selama menuntut ilmu di IAIN Salatiga.
6. Bapak dan Ibu dosen IAIN Salatiga yang telah memberikan ilmu,
bagian akademik dan staf perpustakaan yang telah memberikan layanan serta
bantuan kepada penulis.
9
10
ABSTRAK
Himawati, Ninik. 2016. Konsep Pendidikan Karakter Dalam Al-Qur‟an Surat
Luqman Ayat 12-19 (Telaah Atas Kitab Tafsir Al-Misbah). Skripsi.
Jurusan Pendidikan Agama Islam. Fakultas Tarbiyah dan Ilmu
Keguruan. Institut Agama Islam Negeri Salatiga. Pembimbing: Tri
Wahyu Hidayati, M.Ag.
Kata Kunci: Pendidikan Karakter, Al-Qur‟an Surat Luqman Ayat 12-19. Kitab
Tafsir Al-Misbah.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep pendidikan karakter
dalam Al-Qur‟an Surat Luqman Ayat 12-19. Pertanyaan utama yang ingin
dijawab melalui penelitian ini adalah: 1. Bagaimanakah konsep pendidikan
karakter dalam Al-Qur‟an Surat Luqman Ayat 12-19 telaah atas kitab tafsir AlMisbah2. Bagaimana penerapan konsep pendidikan karakter dalam Al-Qur‟an
surat Luqman ayat 12-19 dalam konteks pendidikan karakter masa kini.
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kepustakaan (library
research), sedangkan metode yang digunakan adalah metode analisis (content
analysis). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan
deskriptif, yaitu menjelaskan dan menguraikan makna yang terkandung dalam
sumber utama yaitu kitab tafsir Al-Misbah yang menggunakan metode tahlili
dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur‟an, serta menganalisis dan menguraikan
makna yang terkandung dalam sumber-sumber sekunder kemudian diperoleh
suatu hasil interpretasi guna menjawab pertanyaa yang ada.
Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) konsep pendidikan
karakter yang terdapat dalam Al-Qur‟an surat Luqman ayat 12-19 hasil telaah
kitab tafsir Al-Misbah adalah pendidikan Tauhid, Pendidikan Ibadah, Dakwah
dan Pendidikan Akhlak (2) Penerapan konsep pendidikan karakter dalam AlQur‟an surat Luqman ayat 12-19 dalam konteks pendidikan karakter masa kini
adalah dengan cara penanaman nilai-nilai yang dilakukan setiap hari baik di
lingkungan keluarga maupun di lingkungan sekolah, sehingga diharapkan mampu
menjadikannya kebiasaan yang baik agar nilai-nilai tersebut dapat dijadikan
pondasi yang kokoh dalam karakter seseorang.
11
DAFTAR ISI
SAMPUL
LEMBAR BERLOGO…………………………………………………………. ii
HALAMAN JUDUL…………………………………………………………… iii
HALAMAN PERSETUJUAN………………………………………………… iv
HALAMAN PENGESAHAN KELULUSAN………………………………… v
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN……………………….. vi
HALAMAN MOTO……………………………………………………………. vii
HALAMAN PERSEMBAHAN……………………………………………….. viii
KATA PENGANTAR………………………………………………………….
ix
ABSTRAK……………………………………………………………………… xi
DAFTAR ISI…………………………………………………………………… xii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah………………………………….......... 1
B. Rumusan Masalah…………………………………………....... 5
C. Tujuan Penelitian………………………………………………. 5
D. Mafaat Penelitian………………………………………………. 6
E. Metode Penelitian………………………………………………. 7
F. Penegasan Istilah………………………………………………... 8
G. Sistematika Penulisan…………………………………………… 12
BAB II LANDASAN TEORI
A. Konsep Pendidikan Karakter…………..…………...…………..14
1. Pengertian Pendidikan Karakter…………………………...14
2. Dasar Pelaksanaan Pendidikan Karakter………………….15
12
3. Ciri-ciri Pendidikan Karakter………………………………16
4. Tujuan Pendidikan Karakter………………………………..17
5. Prinsip-prinsip Pendidikan Karakter………………………. 17
6. Komponen Pendidikan Karakter……………………………19
7. Nilai-nilai Pendidikan Karakter…………………………….19
B. Mengenal KitabTafsir Al-Misbah……………………………….21
1. Biografi M. Quraish Shihab………………………………… 21
2. Metode dan Corak Kitab Tafsir Al-Misbah………………….22
3. Karakteristik Kitab Tafsir Al-Misbah………………………..24
BAB III KAJIAN TAFSIR
A. Surat Luqman Ayat 12-13…………………………………….26
B. Surat Luqman Ayat 14-15…………………………………….29
C. Surat Luqman Ayat 16……………………….……………….35
D. Surat Luqman Ayat 17………………………………………..37
E. Surat Luqman Ayat 18-19…………………………………….40
BAB IV PEMBAHASAN
A. Konsep Pendidikan Karakter dalam Al-Qur‟an Surat Luqman
Ayat 12-19 Menurut Kitab Tafsir Al-Misbah ………………………… 44
1. Pendidikan Tauhid/Ketuhanan
………………………. 45
2. Berbakti Kepada Kedua Orang Tua..…..…………………46
3. Bersyukur……..……………………………….………….47
4. Kejujuran………………………………………………….48
5. Ibadah…………………………………………………….50
13
6. Amar Ma‟ruf Nahi Munkar (Dakwah)…….…………….51
7. Sabar……………………………………………………. 52
8. Pendidikan Akhlak………………………………………53
B. Aplikasi Konsep Pendidikan Karakter Dalam Pendidikan
Masa Kini…………………………………………………………...57
1. Pendidikan Karakter Dalam Keluarga……………….……...58
2. Pendidikan Karkter Dalam Sekolah………………………...60
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan………………………………………………………68
B. Saran……………………………………………………………..69
C. Penutup…………………………………………………………...70
DAFTAR PUSTAKA
14
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Suatu bangsa yang baik adalah bangsa yang memiliki akhlak yang
mulia, cerdas dan bermartabat. Hal ini akan menentukan peradaban suatu
bangsa. Sejak dahulu bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang
memiliki karakter taat beragama, ramah, suka bergotong-royong, dan
musyawarah untuk mencapai suatu mufakat.
Sejatinya, pendidikan karakter merupakan bagian esensial yang
menjadi
tugas
lembaga
pendidikan,
tetapi
selama
ini
kurang
diperhatikan.Akibat minimnya perhatian terhadap pendidikan karakter
dalam lembaga pendidikan menyebabkan berkembangnya berbagai
patologi sosial di masyarakat.
Di Indonesia pelaksanaan pendidikan karakter saat ini memang
dirasakan mendesak.Gambaran situasi masyarakat bahkan situasi dunia
pendidikan di Indonesia menjadi motivasi pokok pengarusutamaan
(mainstreaming)
implementasi
pendidikan
karakter
di
Indonesia.
Pendidikan karakter di Indonesia dirasakan amat perlu pengembangannya
bila mengingat makin meningkatnya tawuran antar pelajar, seks bebas,
serta bentuk-bentuk kenakalan remaja lainnya terutama di kota besar,
pemerasan/kekerasan (bullying), kecenderungan dominasi senior terhadap
15
yunior, fenomena supporter bonek, dan penggunaan narkoba (Tempo
Interaktif, 27/08/2009).
Salah satu usaha untuk meningkatkan karakter kejujuran adalah
dengan adanya program kantin kejujuran yang sudah disediakan di
beberapa sekolah, hal tersebut untuk melatih kejujuran dan mengukur
seberapa jujur anak-anak dalam bertransaksi di kantin kejujuran tersebut.
Sangat disayangkan banyak kantin kejujuran yang gagal dan bangkrut
karena belum tertanam sifat jujur pada diri anak-anak.
Disiplin dan tertib lalu lintas, budaya antre, budaya baca, sampai
budaya hidup bersih dan sehat, keinginan menghargai lingkungan masih
jauh di bawah standar. Di kota-kota besar lampu merah seolah-olah tidak
lagi berfungsi.Jika tidak ada petugas maka banyak yang meyerobot lampu
merah, hal tersebut merupakan pemandangan sehari-hari yang sudah tidak
asing (Samani, 2013: 2).
Tidak luput pula kasus korupsi yang merajalela di negara ini,
dimana penguasa yang seharusnya menjadi wakil rakyat justru memakan
uang rakyat demi memuaskan nafsu dan egonya. Sifat arif, jujur dan
amanah yang ada pada diri seorang koruptor sudah musnah dihapuskan
oleh kemewahanduniawi yang semu. Memang tidak mudah menjalankan
sifat jujur. Karakter yang baik haruslah ditanam sejak usia dini agar
menjadi kebiasaan yang baik dalam kehidupan seseorang. Kebohongan
dan kecurangan dalam ulangan atau ujian merupakan contoh kecil dan
nyata yang sukar dihilangkan dari kehidupan anak.
16
Maka dari itu, pendidikan karakter sangat diperlukan untuk
menghadapi
dan
mencegah
problema-problema
yang
sudah
ada.Pendidikan karakter sebenarnya sudah diterapkan di banyak sekolah,
seperti melalui mata pelajaran PPKN, Agama, Ilmu Pengetahuan Sosial,
dan Seni Budaya. Namun upaya tersebut masih belum berjalan maksimal.
Lembaga pendidikan tidak hanya berkewajiban meningkatkan
mutu akademis, tetapi juga bertanggung jawab dalam membentuk karakter
peserta didik. Mutu akademis dan pembentukan karakter yang baik
merupakan dua misi integral yang harus mendapat perhatian lembaga
pendidikan.
Namun
tuntutan
ekonomi
dan
politik
pendidikan
menyebabkan penekanan pada pencapaian akademis mengalahkan idealis
peran lembaga pendidikan dalam pembentukan karakter.
Namun demikian, banyak sekali hambatan yang dialami guru
dalam melaksanakan program ini. Hal ini bukan hanya karena
ketidakmampuan guru dalam memahami buku panduan pendidikan
karakter, tetapi juga dikarenakan buku panduan itu sendiri yang masih
bersifat teoritik bukan praktis. Disamping penanaman pendidikan karakter
melalui lembaga pendidikan, sebenarnya di dalam Al-Qur‟an sudah
banyak dijelaskan mengenai berbagai macam pendidikan.
Al-Qur‟an diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad agar
menjadi pedoman hidup bagi segenap manusia yang berfungsi sebagai
huuda (petunjuk) dan bayyinah (penjelas) atas petunjuk yang telah
diberikan, serta furqon (pembeda) antara yang haq (benar) dan yang bathil
17
(salah). Fungsi tersebut bertujuan agar manusia dapat hidup dengan
berlandaskan moral dan akhlak yang mulia. Disamping mengandung nilai
moral, Al-Qur‟an juga berisikan tentang asas atau fondasi kokoh bagi
kelangsungan hidup manusia.
Islam mengharuskan pemeluknya supaya menjadi umat yang
berpendidikan. Oleh sebab itu, ilmu merupakan sarana utama untuk
membangun kepribadian seorang muslim. Dalam hal ini, kita menjumpai
Islam mengatur semua hal yang bisa mengantarkan umat Islam untuk
belajar dan mengajar. Ayat Al-Qur‟an yang pertama kali turun adalah
firman Allah SWT:
          
Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.” (QS. AlAlaq [96]: 1-2).
Meskipun demikian, sudah selayaknya disampaikan bahwa dalam
pandangan Islam, ilmu tidak memiliki nilai positif jika tidak bisa
menunjukkan pada hakikat yang utama, yaitu ma‟rifatullah. Tidak
diragukan lagi bahwa jalan untuk sampai kepada ma‟rifatullah adalah
mempraktikkan akhlak, prinsip-prinsip, dan dasar-dasar yang dianjurkan
oleh agama Islam. Oleh karenanya, Islam mengajarkan bahwa ilmu
pengetahuan harus diimbangi dengan pengamalan.
Pembentukan akhlak dan spiritualitas manusia, serta terjalinnya
hubungan sosial kemasyarakatan di antara mereka tidak bisa dilakukan
18
hanya dengan pemberian nasehat dan hafalan.Akan tetapi, membutuhkan
tindakan-tindakan yang harus dipraktikkan (Khalid, 2012: 249).
Dari uraian latar belakang di atas, maka penulis ingin meneliti
lebih jauh bagaimana konsep pendidikan karakter dalam Al-Qur‟an
kepada para pembaca melalui penyusunan skripsi yang berjudul
“KONSEP PENDIDIKAN KARAKTER DALAM AL-QUR’AN
SURAT LUQMAN AYAT 12-19 (TELAAH ATAS KITAB TAFSIR
AL-MISBAH)”.
B. Rumusan Masalah
Mengacu pada uraian di atas, maka penulis merumuskan pokok
permasalahan yang akan dibahas sebagai berikut:
1. Bagaimanakah konsep pendidikan karakter yang terdapat dalam AlQur‟an surat Luqman ayat 12-19?
2. Bagaimanakah penerapan konsep pendidikan karakter dalam AlQur‟an surat Luqman ayat 12-19 dengan konteks pendidikan karakter
masa kini?
C. Tujuan Penelitian
Berangkat dari latar belakang dan rumusan masalah di atas, maka
dapat ditetapkan beberapa tujuan penelitian sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui konsep pendidikan karakter yang terdapat dalam
Al-Qur‟an surat Luqman ayat 12-19 menurut kitab tafsir Al-Misbah.
19
2. Untuk mengetahui penerapan konsep pendidikan karakter dalam AlQur‟an surat Luqman ayat 12-19 dalam konteks pendidikan karakter
masa kini.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
a. Memberikan pengetahuan dan sumbangan pemikiran ilmu tentang
pendidikan, terutama pendidikan karakter yang terkandung dalam
Al-Qur‟an surat Luqman ayat 12-19.
b. Penelitian ini semoga dapat memberikan kontribusi positif
(memperbaiki dan mengembangkan) bagi individu agar memiliki
karakter yang positif.
2. Manfaat Praktis
Memberikan kontribusi positif untuk dijadikan pertimbangan
berfikir
dan
bertindak.
Secara
khusus
penelitian
ini
dapat
dipergunakan sebagai berikut:
a. Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat menjadi motivasi
bagi
individu
agar
memiliki
karakter
yang
baik
dalam
kehidupannya.
b. Dengan adanya penelitian ini, juga diharapkan dapat bermanfaat
bagi para pembaca pada umumnya dan khususnya bagi penulis
sendiri agar dapat menajalankan dan menerpakan pendidikan
karakter yang baik dalam kehidupan sehari-hari.
E. Metode Penelitian
20
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini termasuk jenis penelitian kepustakaan (library
research)
dengan
menjelaskan
semua
menggunakan
yang
telah
pendekatan
digali
yang
deskripstif,
bersumber
yaitu
dari
pustaka.Berkaitan dengan jenis penelitian literatur, pengumpulan data
pada penulisan ini menggunakan metode studi kepustakaan dari bukubuku yang berkaitan langsung dengan pokok permasalahan dimulai
dengan mengumpulkan kepustakaan, pertama-tama dicari segala buku
yang ada mengenai tokoh dan topik yang bersangkutan (Bekker, 1990:
63). Adapun sumber data yang digunakan penulis dalam penelitian ini
adalah:
a. Sumber Data Primer
Yaitu sumber data yang langsung berkaitan dengan
penelitian yaitu Al – Qur‟an surat Luqman ayat 12 - 19 beserta
tafsirnya, sebagai sumber utama berupa Tafsir Al-Misbah karya
Prof. Dr. Quraisy Shihab.
b. Sumber Data Sekunder
Yaitu sumber data yang mengandung dan melengkapi
sumber-sumber data primer. Adapun sumber data sekunder berupa
buku-buku pendidikan karakter, internet, dan informasi lainnya
yang berhubungan dengan judul skripsi ini.
c. Metode Analisis Data
21
Analisis non-statistik sesuai untuk deskriptif atau data
textular. Data deskriptif sering hanya dianalisis menurut isinya,
dan karena itu analisi semacam ini juga disebut analisis isi (content
analysis) (Suryabrata, 1995: 85). Disini peneliti menggunakan
metode content analysis dalam menguraikan makna yang
terkandung dalam sumber-sumber data, setelah itu dari hasil
interpretasi tersebut dilakukan pengkajian guna menjawab dari
rumusan masalah yang telah dipaparkan oleh penulis.
F. Penegasan Istilah
Untuk menghindari kesalahan dan kekeliruan judul penelitian ini,
maka penulis perlu untuk menjelaskan istilah-istilah yang terdapat dalam
judul ini antara lain:
1. Konsep
Konsep merupakan rancangan, ide atau pengertian yang
diabstrakkan dari peristiwa konkret (Kamus Besar Bahasa Indonesia,
2007: 558).
2. Pendidikan
Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan perilaku
seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia
melalui upaya pengajaran dan pelatihan (Kamus Besar Bahasa
Indonesia, 2007: 263).
Pendidikan dalam bahasa Inggris “Education”, berakar dari
bahasa
latin
“educare”
yang
22
dapat
diartikan
pembimbingan
berkelanjutan (to lead forth). Sedangkan dalam arti luas pendidikan
adalah segala kegiatan pembelajaran yang berlangsung sepanjang
zaman dalam segala situasi kegiatan kehidupan, yang kemudian
mendorong segala potensi yang ada di dalam diri individu (Suhartono,
2006: 79).
3. Karakter
Karakter menurut Scerenko sebagai atribut atau ciri-ciri yang
membentuk dan membedakan ciri pribadi, ciri etis dan kompleksitas
mental dan seseorang, atau kelompok atau suatu benda dengan yang
lain (Samani, 2013: 42).
4. Pendidikan Karakter
Menurut Megawangi pendidikan karakter merupakan sebuah
usaha untuk mendidik anak-anak agar dapat mengambil keputusan
dengan bijak dan mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari,
sehingga mereka dapat memberikan kontribusi yang positif kepada
lingkungannya (Kesuma, 2012: 2).
Sedangkan pendidikan karakter menurut Lickona didefinisikan
sebagai upaya yang sungguh-sungguh untuk membantu seseorang
memahami, peduli dan bertindak dengan landasan inti nilai-nilai etis
(Samani, 2013: 44).
5. Al-Qur‟an Surat Luqman Ayat 12-19
23
Menurut bahasa kata Al-Qur‟an merupakan bentuk mashdar
yang maknanya sama dengan kata qira‟ah yaitu bacaan. Bentuk
mashdar ini berasal dari fi‟il madhi qara‟a yang artinya membaca.
Sedangkan menurut istilah Al-Qur‟an adalah firman Allah yang
bersifat mu‟jizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad yang
tertulis dalam mushaf-mushaf, yang dinukilkan dengana jalan
mutawatir dan yang membacanya merupakan ibadah (Ramli, 2002:
19).
Al-Qur‟an secara harfiah berarti “bacaan yang mencapai
kesempurnaan”Al-Qur‟an
mahasempurna
dan
Al-Kariim
mahamulia”.
artinya
“bacaan
Kemahasempurnaan
yang
dan
kemahamuliaan “bacaan” ini agaknya tidak hanya dapat dipahami oleh
pakar, tetapi juga oleh semua orang yang menggunakan „sedikit‟
pikirannya (Shihab, 1994: 24).
Surat Luqman tergolong surat Makkiyah, yang terdiri dari 34
ayat, diturunkan sebelum Nabi Muhammad saw berhijrah ke Madinah.
Surat Luqman terambil dari kisah Luqman seorang ahli hikmat dan
ahli didik yang bijaksana, sehingga dia mendapat gelar “Al-Hakim”
Luqman Hakim atau Luqman yang bijaksana, dan Luqman bukan
seorang Nabi ataupun Rasul (Tatapangarsa, 1980: 100).
6. Profil Luqman
Menurut Ibnu Katsir, Luqman al-Hakim bernama Luqman bin
„Anqa bin Sadwan, dan anak laki-lakinya bernama Tsaran. Luqman
24
hidup kurang lebih selama seribu tahun, dan Nabi Daud bertemu serta
belajar kepadanya.Sebelum Daud menjadi Nabi, Luqman yang yang
memberikan fatwa, dan ketika Daud telah menjadi Nabi maka Luqman
berhenti memberi fatwa (Al Ghamidi, 2011: 23).
Ibnu Katsir mengutip Qatadah, dari Abdullah bin Zubair, aku
berkata kepada Jabir bin Abdullah, “apa yang kau ketahui tentang
Luqman?” dia menjawab “Luqman adalah orang yang pendek
tubuhnya dan rata hidungnya”. Beberapa riwayat lain mengatakan
bahwa Luqman adalah orang yang berkulit hitam, tubuhnya pendek,
berbibir tebal dan kakinya bengkok. Luqman adalah seorang budak
atau hamba berkebangsaan Habsyi (Ethiopia) yang bekerja sebagai
tukang kayu, penggembala kambing, dan tukang jahit.Keberadaanya
sebagai orang berkulit hitam tidak menurunkan nilai dirinya. Karena
Allah telah memberikan hikmah kepadanya, seorang yang bijaksana,
memiliki keyakinan atau akidah yang benar, pemahaman agama,
kemampuan akal, kebenaran ucapan, namun tidak memiliki derajat
kenabian (Al Ghamidi, 2011: 48).
Seperti halnya yang terkandung dalam surat Luqman ayat 1219 yang menjelaskan hikmah Luqman berupa fatwa dan nasehat
kepada anaknya tentang pendidikan Tauhid (ketuhanan/larangan
mempersekutukan Allah), Birrul Walidain atau berbakti kepada kedua
orang tua, bersyukur, pendidikan kejujuran, pendidikan ibadah dan
amar ma‟ruf nahi munkar (dakwah), serta pendidikan akhlak.
25
G. Sistematika Penulisan
Untuk memudahkan pembahasan dan penelaah yang jelas dalam
membaca skripsi ini, maka disusunlah sistematika penulisan skripsi ini
secara garis besarsebagai berikut:
Bab I
Pendahuluan. Pada Bab ini akan dikemukakan tentang latar
belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian,manfaat
penelitian, metode penelitian, penegasan istilah dan sistematika
penulisan skripsi.
Bab II
Landasan Teori. Pada Bab ini akan dikemukakan tentang
konsep pendidikan karakter (pengertian pendidikan karakter,
dasar pelaksanaan pendidikan karakter, ciri-ciri pendidikan
karakter, tujuan pendidikan karakter, prinsip-prinsip pendidikan
karakter, komponen pendidikan karakter, dan nilai-nilai
pendidikan karkter) dan mengenal lebih dekat Tafsir Al-Misbah
yang menjelaskan tentang biografi M.Quraish Shihab, metode
dan corak tafsir Al-Misbah, serta karakteristik kitab tafsir AlMisbah.
Bab III
Kajian Tafsir, berisi hasil pengkajian surat Luqman ayat 12-19
dalam kitab tafsir Al-Misbah karya Prof. Dr. Quraisy Shihab.
Bab IV
Pembahasan, berisi penerapan konsep pendidikan karakter
dalam Al-Qur‟an surat Luqman ayat 12-19 dalam kitab tafsir
Al-Misbah dan penerapan konsep pendidikan karakter masa
kini.
26
Bab V
Penutup.Kesimpulan
dan
Saran.
Bab
Penutup
memuat
kesimpulan penulis dari pembahasan skripsi ini, saran-saran dan
kalimat penutup yang sekiranya dianggap penting dan daftar
pustaka.
BAB II
LANDASAN TEORI
27
A. Konsep Pendidikan Karakter
1. Pengertian Pendidikan Karakter
Menurut Megawangi pendidikan karakter adalah sebuah usaha
untuk mendidik anak-anak agar dapat mengambil keputusan dengan
bijak dan mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga
mereka
dapat
memberikan
kontribusi
yang
positif
kepada
lingkungannya (Kesuma, 2012: 2).
Scerenko beranggapan bahwa pendidikan karakter dapat
dimaknai sebagai upaya yang sungguh-sungguh dengan cara mana
ciri kepribadian positif dikembangkan, didorong, dan diberdayakan
melalui keteladanan, kajian (sejarah, dan biografi para bijak dan
pemikir besar), serta praktik emulasi yaitu usaha yang maksimal
untuk mewujudkan hikmah dari apa-apa yang diamati dan dipelajari
(Samani, 2013: 44).
Pendidikan karakter akan meningkatkan kognitif, afektif, dan
perilaku manusia yang lebih bermoral. Lickona menyatakan bahawa
pendidikan karakter yaitu perilaku, perbuatan, sikap yang lahir yang
didasari oleh nalar dan pemikiran (yang tepat). Pendidikan karakter
yang baik, ideal disebut sebagai pendidikan karakter luhur. Konsep ini
mencakup makna etik dan etiket sekaligus. Artinya, pendidikan
karakter adalah nilai, aturan baik buruk yang harus diaplikasikan
dalam perilaku sehari-hari.Dalam konsep spritualisme Islam makna
28
ini sejajar dengan ahlaqul karimah (akhlak mulia) (Endraswara, 2013:
3).
Jadi, pendidikan karakter adalah proses pemberian tuntunan
kepada peserta didik untuk menjadi manusia seutuhnya yang
berkarakter dalam dimensi hati, pikir, raga, serta rasa dan karsa.
Pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai pendidikan nilai,
pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak, yang
bertujuan
mengembangkan
kemampuan
peserta
didik
untuk
memberikan keputusan baik-buruk, memelihara apa yang baik, dan
mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan
sepenuh hati.
2. Dasar Pelaksanaan Pendidikan Karakter
Undang-Undang RI No. 20 tahun 2003 tentang sistem
Pendidikan Nasional (UU Sistem Pendidikan Nasional) merumuskan
fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang harus digunakan dalam
mengembangkan
kemampuan
dan
membentuk
karakter
serta
peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa.
Pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,
cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis
serta bertanggung jawab (Muslich, 2011: 83).
29
3. Ciri-Ciri Pendidikan Karakter
Menurut Foerster, pencetus pendidikan karakter dan pedagog
Jerman, ada empat ciri dasar dalam pendidikan karakter:
a. Keteraturan interior, dimana setiap tindakan diukur berdasar
hierarki nilai. Nilai menjadi pedoman normatif setiap tindakan.
b. Koherensi yang memberi keberanian, membuat seseorang teguh
pada prinsip, tidak mudah terombang-ambing pada situasi baru
atau takut resiko. Koherensi merupakan dasar yang membangun
rasa percaya satu sama lain, dengan tidak adanya koherensi dapat
meruntuhkan kredibilitas seseorang.
c. Otonomi. Disitu seseorang menginternalisasikan aturan dari luar
sampai menjadi nilai-nilai bagi pribadi. Ini dapat dilihat lewat
penilaian atas keputusan pribadi tanpa terpengaruh atau desakan
pihak lain.
d. Keteguhan dan Kesetiaan. Keteguhan merupakan daya tahan
seseorang guna mengingini apa yang dipandang baik, dan
kesetiaan merupakan dasar bagi penghormatan atas komitmen
yang dipilih.
Kematangan keempat karakter ini, memungkinkan manusia
melewati tahap individualitas menuju personalitas, “orang-orang
modern sering mencampurpadukan antara individualitas dan
personalitas, antara aku alami dan aku rohani, antara independensi
30
eksterior dan interior.”Karakter inilah yang menentukan performa
seorang pribadi dalam segala tindakannya (Muslich, 2011: 127).
4. Tujuan Pendidikan Karakter
Secara umum pendidikan karakter memiliki tujuan sebagai
berikut;
a. Mencapai tujuan penguatan dan pengembangan karakter, dengan
kata lain sebagai tujuan perantara untuk terwujudnya suatu
karakter.
b. Mengkoreksi perilaku yang tidak bersesuaian dengan nilai dan
moral yang telah ada di sekolah dan masyarakat.
Tujuan ini memiliki makna bahwa pendidikan karakter
memiliki sasaran untuk meluruskan berbagai perilaku individu yang
negatif menjadi positif. Proses pelurusan yang dimaknai sebagai
pengkoreksian perilaku dipahami sebagai proses yang pedagogis,
bukan suatu pemaksaan atau pengkondisian yang tidak mendidik.
Proses pedagogis dalam pengkoreksian perilaku negatif diarahkan
pada pola pikir anak atau individu, kemudian dibarengi dengan
keteladanan lingkungan rumah, sekolah dan masyarakat (Kesuma,
2012: 3).
5. Prinsip-Prinsip Pendidikan Karakter
Agarpelaksanaan
pendidikan
karakter
berjalan
efektif
Lickona, Schaps dan Lewis (2010) telah mengembangkan 11 prinsip
31
untuk pendidikan karakter yang efektif. Schwartz (2008) menguraikan
kesebelas prinsip tersebut sebagai berikut,
a. Pendidikan karakter harus mempromosikan nilai-nilai etik inti
(ethical core values) sebagai landasan bagi pembentukan karakter
yang baik.
b. Karakter harus dipahami secara komprehensiftermasuk dalam
pemikiran, perasaan, dan perilaku.
c. Pendidikan karakter yang efektif memerlukan pendekatan yang
sungguh-sungguh dan proaktif serta mempromosikan nilai-nilai
inti pada semua fase kehidupan sekolah.
d. Sekolah harus menjadi komunitas yang peduli.
e. Menyediakan peluang bagi para siswa untuk melakukan tindakan
bermoral.
f. Pendidikan karakter yang efektif harus dilengkapi dengan
kurikulum akademis yang bermakna dan menantang, yang
menghargai semua pembelajar dan membantu mereka untuk
mencapai sukses.
g. Pendidikan karakter harus secara nyata berupaya mengembangkan
motivasi pribadi siswa.
h. Seluruh staf sekolah harus menjadi komunitas belajar dan
komunitas moral yang semuanya saling berbagi tanggung jawab
bagi
berlangsungnya
pendidikan
32
karakter,
dan
berupaya
untukmengembangkan nilai-nilai inti yang sama menjadi panduan
pendidikan karakter bagi para siswa.
i. Implementasi pendidikan karakter membutuhkan kepemimpinan
moral yang diperlukan bagi staf sekolah maupun para siswa.
j. Sekolah harus merekrut orang tua dan anggota masyarakat sebagai
partner penuh dalam upaya pembangunan karakter.
k. Evaluasi terhadap pendidikan karakter harus juga menilai karakter
sekolah, menilai fungsi staf sekolah sebagai pendidik karakter,
sampai pada penilaian terhadap bagaimana cara para siswa
memanifestasikan karakter yang baik (Samani, 2013: 168).
6. Komponen Pendidikan Karakter
Menurut Hurlock komponen-komponen yang harus ada dalam
diri seseorang agar terbentuk karakter yang baik mencakup hal-hal di
bawah ini (kesuma, 2012: 22):
1. Aspek kepribadian
2. Standar moral dan ajaran moral
3. Pertimbangan nilai
4. Upaya dan keinginan individu
5. Hati nurani
6. Pola-pola kelompok
7. Tingkah laku individu dan kelompok
7. Nilai-Nilai Pendidikan Krakter
33
Pendidikan karakter memuat nilai-nilai yang perlu ditanamkan,
ditumbuhkan dan dikembangkan kepada individu. Nilai-nilai yang
dikembangkan tersebut tidak terlepas dari budaya bangsa. Budaya bangsa
merupakan sistem nilai yang dihayati, diartikan sebagai keseluruhan
sistem berpikir tentang tata nilai, moral, norma, dan keyakinan manusia
yang dihasilkan masyarakat (Damayanti, 2014: 42).
Dengan membiasakan berbuat sesuatu sesuai dengan tata nilai atau
norma moral yang ada dan telah disepakati, maka nilai-nilai tersebut lama
kelamaan akan menjadi bagian dari individu. Adapun nilai-nilai
pendidikan karakter secara umum adalah sebgai berikut:
a.
Nilai Keagamaan / Religius
Nilai yang berakar pada agama dan kepercayaan seseorang.
Nilai yang paling fundamental dalam penghayatan kehidupan manusia
di hadapan sang Pencipta.
b.
Nilai Dasar
Nilai yang terkandung dalam dasar falsafah Negara, Pancasila
dan UUD 1945.Sikap, perilaku, dan tindakan peserta didik dijiwai
oleh nilai-nilai yang terdapat pada sila-sila dalam Pancasila dan
UUD1945.
c.
Nilai Kemasyarakatan
Nilai moral, etika, dan etiket yang berlaku dalam masyarakat
setempat. Bila nilai-nilai masayarakat ini telah terinternalisasi dalam
34
diri anak, mereka akan memilih adab, budaya, dan susila yang baik
sebagai anak yang berkepribadian luhur.
d.
Nilai Kenegaraan
Nilai yang menyangkut kecintaan terhadap tanah air dan
bangsanya. Nilai-nilai ini dapat dikembangkan melalui berbagai
kegiatan yang mampu menggugah rasa kebangsaan dan nasionalisme
pada diri seseorang, sehingga tumbuh kebanggaan, mencintai, dan
menghargai tanah air dan budaya bangsanya, tanpa meremehkan
budaya bangsa lain.
B. Mengenal Kitab Tafsir Al-Misbah
1. Biografi M. Quraish Shihab
Nama lengkapnya adalah Muhammad Quraish Shihab, lahir di
Rapang Sulawesi Selatan pada tanggal 16 Februari 1944, beliau adalah
putra keempat dari ulama besar almarhum Prof. H. Abd Rahman Shihab,
guru besar ilmu tafsir dan mantan rektor UMI (Universitas Muslim
Indonesia) dan IAIN Alaudin Ujung Pandang, bahkan sebagai pendiri kedua
Perguruan Tinggi tersebut. Quraish Shihab menyelesaikan pendidikan
dasarnya
di
Ujung
Pandang,
kemudian
melanjutkan
pendidikan
menengahnya di Malang sambil nyantri di pesantren Dar al-Hadist alFiqhiyah pada 1958. Selanjutnya beliau berangkat ke Kairo Mesir dan
Meraih gelar Lc (S1) pada Fakultas Ushuluddin jurusan Tafsir Hadist
Universitas al-Azhar. Kemudian melanjutkan pendidikan Strata 2 (S2) di
fakultas yang sama dan meraih gelar M.A pada tahun 1969 untuk spesialis
bidang tafsir Al-Qur‟an.
35
Sekembalinya ke Ujung Pandang Quraish Shihab dipercaya untuk
menjabat wakil Rektor bidak Akademik Kemahasiswaan pada IAIN
Alaudin. Tahun 1984 merupakan babak baru karir Quraish Shihab dimulai,
saat pindah tugas dari Ujung Pandang ke IAIN Jakarta, beliau aktif
mengajar bidang tafsir dan „Ulumul Qur‟an di program S1,S2, dan S3
sampai tahun 1998. Selain menjadi Rektor IAIN Jakarta selama dua periode
(1992-1996 dan 1997-1998), beliau juga dipercaya menjadi Menteri Agama
kurang lebih dua bulan di awal tahun 1998 pada kabinet terakhir
pemerintahan Soeharto. Sejak tahun 1999 beliau diangkat menjadi Duta
Besar Luar Biasa dan berkuasa penuh Republik Indonesia untuk Negara
Republik Arab Mesir dan merangkap Negara Djibauti berkedudukan di
Kairo sampai tahun 2002. Sejak itu beliau kembali ke tanah air, dan konsen
menyelesaikan karya tafsir 30 juz “Tafsir Al- Misbah” yang terdiri dari 15
volume buku, kitab tafsir Al-Misbah merupakan tafsir Al-Qur‟an terlengkap
pertama
dalam
kurun
waktu
30
tahun
terakhir
http://theprotectorofislam.blogspot.co.id/ (senin, 29 Februari 2016, 15:00).
2. Metode dan Corak Kitab Tafsir Al-Misbah
a. Metode Kitab Tafsir Al-Misbah
Dalam tafsirnya M. Quraish Shihab menggunakan metode tahlili,
sebuah bentuk karya tafsir yang berusaha mengungkap suatu kandungan
Al-Qur‟an dari berbagai aspeknya.Dari segi teknis kitab tafsir Al-Misbah
disusun berdasarkan urutan ayat-ayat di dalam Al-Qur‟an.Selanjutnya
memberikan penjelasan-penjelasan tentang kosa kata makna global ayat
36
dan korelasi Asbab al-nuzul serta hal-hal lain yang dianggap dapat
membantu untuk memahami ayat-ayat Al-Qur‟an.
Pemilihan metode tahlili yang digunakan dalam tafsir Al-Misbah
didasarkan pada kesadaran M.Quraish Shihab bahwa metode maudhu‟i
yang sering digunakan pada karyanya yang berjudul “Membumikan AlQur‟an” dan “Wawasan Al-Qur‟an” selain mempunyai keunggulan
dalam memperkenalkan konsep Al-Qur‟an tentang tema-tema yang tidak
terbatas. Jadi dengan ditetapkan judul pembahsan yang akan dikaji hanya
satu sudut dari permasalahan tersebut. Dengan demikian kendala untuk
memahami Al-Qur‟an secara lebih komprehensif tetap masih ada
http://rumahbangsa.net/2015/02/metode-dan-coraktafsir-al-misbah.html
(Senin, 29 Februari, 15:00).
b. Corak Tafsir Al-Misbah
Tafsir Al-Misbah cenderung bercorak sastra budaya dan
kemasyarakatan “adabi al-ijtima‟i” yaitu corak tafsir Al-Qur‟an yang
berusaha memahami nash-nash Al-Qur‟an dengan cara mengemukakan
ungkapan-ungkapan Al-Qur‟an secara teliti. Kemudian menjelaskan
makna-makna yang dimaksud Al-Qur‟an tersebut dengan bahasa yang
indah dan menarik, dan seorang mufassir berusaha menghubungkan
nash-nash Al-Qur‟an yang dikaji dengan kenyataan sosial dengan sistem
budaya yang ada.
Corak tafsir penafsiran kitab Al-Misbah ini ditekankan bukan
hanya kepada tafsir lughawi, tafsir fiqh, tafsir ilmi dan tafsir isy‟ari. Akan
37
tetapi arah penafsirannya ditekankan pada kebutuhan masyarakat yang
kemudian disebut corak tafsir Adabi al-Ijtima‟i. Corak tafsir Al-Misbah
merupakan salah satu yang menarik pembaca dan menumbuhkan
kecintaan kepada Al-Qur‟an serta memotivasi untuk menggali maknamakna
dan
rahasia-rahasia
Al-Qur‟an
http://rumahbangsa.net/2015/02/metode-dan-coraktafsir-al-misbah.html
(Senin, 29 Februari, 15:00).
3. Karakter Kitab Tafsir Al-Misbah
Ada tiga karakter yang harus dimiliki oleh sebuah karya tafsir
bercorak sastra budaya dan kemsyarakatan. Pertama menjelaskan petunjuk
ayat Al-Qur‟an yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan
menjelaskan bahwa Al-Qur‟an itu kitab suci yang kekal sepanjang zaman.
Kedua penjelasan-penjelasannya lebih tertuju pada penanggulangan
penyakit dan masalah-masalah yang sedang mengemuka dalam masyarakat,
dan ketiga disajikan dalam bahasa yang mudah dipahami dan indah
didengar.
Tafsir Al-Misbah karya M.Quraish Shihab memenuhi ketiga
persyaratan tersebut. Kaitannya dengan karakter yang pertama, tafsir AlMisbah
selalu
menghadirkan
penjelasan
akan
petunjuk
dengan
menghubungkan kehidupan masyarakat dan menjelaskan bahwa Al-Qur‟an
itu kitab suci yang kekal sepanjang zaman. Kemudian karakter yang kedua,
Quraish Shihab selalu mengakomodasi hal-hal yang dianggap sebagai
problem di dalam masyarakat.Kemudian yang ketiga dalam penyajiannya
38
beliau menggunakan bahasa yang membumi.M.Quraish Shihab lebih
mengedepankan kemudahan pembaca yang tingkat intelektualitasnya
relative lebih beragam. Hal ini dapat dilihat pada karya-karyanya yang
mudah dicerna dan dimengerti oleh semua lapisan khususnya di Indonesia,
sehingga jika dibandingkan denga tulisan-tulisan cendikiawan muslim
Indonesia lainnya, karya-karya M. Quraish Shihab pada umumnya dan
kitab tafsir Al-Misbah pada khususnya tampil sebagai karya tulis yang khas
dan
mudah
dipahami
http://rumahbangsa.net/2015/02/metode-dan-
coraktafsir-al-misbah.html(Senin, 29 Februari, 15:00).
39
BAB III
KAJIAN TAFSIR
A. Surat Luqman Ayat 12-13
            
             
         
Artinya:Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Lukman,
yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa yang
bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur
untuk dirinya sendiri; dan barang siapa yang tidak bersyukur,
maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji"(QS.
Luqman [31]:12).
Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu
ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu
mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan
(Allah) adalah benar-benar kelaliman yang besar"(QS. Luqman
[31]:13).
Ayat 12 menguraikan tentang salah seorang yang bernama
Luqman yang dianugerahkan oleh Allah berupa hikmah, sambil
menjelaskan beberapa butir hikmah yang pernah beliau sampaikan kepada
anaknya. Menurut Imam Al-Ghazali memahami kata hikmah dalam arti
40
pengetahuan tentang sesuatu yang utama – ilmu yang paling utama dan
wujud yang paling agung – yakni Allah SWT (Shihab, 2002: 120).
Hikmah berarti “Mengetahui yang paling utama dari segala
sesuatu, baik pengetahuan, maupun perbuatan. Hikmah adalah ilmu
amaliah dan amal ilmiah, dengan maksud ilmu yang didukung oleh amal,
dan amal yang tepat dan didukung oleh ilmu. Bahwa hikmah adalah
syukur, karena dengan bersyukur seseorang lebih mengenal Allah dan
anugerah-Nya.
Kata hikmah ditarik dari kata hakamah, yang berarti kendali.
Kendali menghalangi hewan/kendaraan mengarah ke arah yang tidak
diinginkan atau menjadi liar. Memilih perbuatan yang terbaik dan sesuai
adalah perwujudan dari hikmah. Memilih yang terbaik dan sesuai dari dua
hal yang buruk pun, dinamai hikmah dan pelakunya dinamai hakim.
Adapun hikmah yang diberikan oleh Allah kepada Luqman al-Hakim
meliputi keahlian dalam mengontrol pandangan, menjaga lidah, menjaga
kesucian makanan, memelihara kemaluan, berkata jujur, memenuhi janji,
menghormati tamu, memelihara hubungan baik dan meninggalkan perkara
yang tidak baik (Ar-Rifa‟i, 2000: 788).
Kata ‫ غين‬Ghaniyyun/Maha Kaya terambil dari huruf-huruf )‫(غ‬
ghain, )‫ (ن‬nun, (‫ (ي‬ya‟ yang merupakan maknanya berkisar pada dua hal,
yaitu kecukupan, baik yang menyangkut harta maupun selainnya. Dari sini
lahir kata ghaniyyah, yaitu wanita yang tidak kawin dan merasa
41
berkecukupan hidup di rumah orang tuanya, atau merasa cukup hidup
sendirian tanpa suami (Shihab, 2002: 123).
Kata (‫ )محيد‬hamid/maha terpuji, terambil dari akar kata yang
terdiri dari huruf-huruf (‫)ح‬haa‟, (‫ )م‬miim, (‫ )د‬dal yang bermakna pujian,
yang digunakan untuk memuji yang diperoleh seseorang. Kata Ghaniyy
yang merupakan sifat Allah pada umumnya – di dalam Al Qur‟an –
dirangkaikan dengan kata Hamid, ini untuk mengisyaratkan bahwa bukan
apa saja pada sifat-Nya yang terpuji, tetapi juga jenis dan kadar
bantuan/anugerah kekayaan-Nya (Shihab, 2002: 124).
Luqman memulai nasehatnya dengan menekankan perlunya
menghindari syirik/mempersekutukan Allah. larangan ini sekaligus
mengandung pengajaran tentang wujud dan ke-Esaan Tuhan. Bahwa
redaksinya berbentuk larangan, jangan mempersekutukan Allah untuk
menekan
perlunya
meninggalkan
sesuatu
yang
buruk
sebelum
melaksanakan yang baik.
Kata (‫ )يعظه‬ya‟izhuhuu terambil dari kata (‫)وعظ‬wa‟zh yaitu
nasihatmenyangkut berbagai kebajikan dengan cara yang menyentuh hati.
Adapun juga yang mengartikan sebagai ucapan yang mengandung
peringatan dan ancaman. Penyebutan kata ini sesudah kata dia berkata
untuk memberi gambaran tentang bagaimana perkataan itu beliau
sampaikan, yakni tidak membentak, tetapi penuh kasih sayang
sebagaimana dipahami dari panggilan mesranya dari saat ke saat,
42
sebagaimana dipahami dari bentuk kata kerja masa kini dan yang akan
datang.
Kata
(‫) ين‬
ّ
bunayya adalah patron yang menggambarkan
kemungilan. Berasal dari kata (‫ )ا ين‬ibny, dari kata (‫ )ا ن‬ibn yakni anak
lelaki. Pemungilan tersebut mengisyaratkan kasih sayang. Dengan kata
lain kata tersebut memberi isyarat bahwa mendidik anak hendaknya
didasari oleh rasa kasih sayang terhadap peserta didik (Shihab, 2002:
125).
Jadi pada ayat ke 12 menjelaskan tentang hikmah Luqman yang
diberikan oleh Allah SWT, dan dalam ayat 13 menjelaskan tentang
larangan mempersekutukan Allah.
B. Surat Luqman Ayat 14-15
           
           
             
            
Artinya: Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada
dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam
keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya
dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua
orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu” (QS.
Luqman [31]: 14).
43
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan
dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu,
maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah
keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang
kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu,
maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”
(QS. Luqman [31]: 15).
1. Asbab an Nuzul
Asbabun nuzul artinya sebab-sebab turunnya ayat Al-Qur‟an. Ilmu
ini sangat bermanfaat dalam memahami ayat. Itulah sebabnya banyak
ulama yang sangat memperhatikan ilmu asbabun nuzul. Bahkan, ada
sebagian ulama yang menyususnnya secara khusus. Mereka adalah Ali
Ibnu Al-Madini, guru Imam Bukhari serta ulama-ulama lain (Ashshabuni, 1999: 39). Ada banyak manfaat yang dapat diraih dari
pengetahuan tentang asbabun nuzul, diantaranya adalah (Al-Hasni, 1999:
27):
a.
Mengetahui hikmah yang menjadi dasar penetapan hukum-hukum
syara‟.
b.
Asbabun nuzul merupakan cara yang paling kuat untuk memahami
makna-makna al-Qur‟an.
Dalam hal ini At-Thabari menyatakan bahwa pada ayat 14 dan 15
diturunkan dalam kasus Sa‟ad bin Abi Waqas ketika dia masuk Islam.
Ibunya tidak rela dengan keislaman Sa‟ad dan bersumpah untuk tidak
makan dan tidak minum sampai mati atau jika dia menghendaki ibunya
tidak mati, maka dia harus meninggalkan Islam.Sa‟ad mengabaikan
perlawanan ibunya
yang terus
44
demikian,
bahkan
ketika
Sa‟ad
mengunjungi dan memberinya minum. Ketika ibunya meninggal ,
turunlah kedua ayat ini (Al Ghamidi,2011: 118).
2. Kajian Tafsir
Pesan pada ayat 14 disebabkan karena seorang ibu telah
mengandungnya dalam keadaan kelemahan di atas kelemahan, yakni
kelemahan berganda dan dari saat ke saat bertambah-tambah. Lalu dia
melahirkannya
dengan
susah
payah,
kemudian
memelihara
dan
menyusukannya setiap saat, bahkan di tengah malam, ketika saat manusia
lain tertidur nyenyak. Demikian hingga tiba masa penyapiannya di dalam
dua tahun terhitung sejak kelahiran sang anak.
Kata (‫ )وهنا‬wahnan berarti kelemahan atau kerapuhan. Yang
dimaksud di sini kurangnya kemampuan memikul beban kehamilan,
penyusuan dan pemeliharaan anak. Patronkata yang digunakan ayat inilah
yang mengisyaratkan betapa lemahnya sang ibu sampai-sampai dilukiskan
bagaikan kelemahan itu sendiri, yakni segala sesuatu yang berkaitan
dengan kelemahan telah menyatu pada dirinya dan dipikulnya (Shihab,
2002: 130).
Al-Qur‟an hampir tidak berpesan kepada ibu bapaknya untuk
berbuat baik kepada anaknya kecuali sangat terbatas, yaitu pada larangan
membunuh anak.Ini karena seperti riwayat yang dinisbahkan Ibn Asyur
kepada Luqman diatas, Allah telah menjadikan orang tua secara naluriah
rela kepada anaknya. Kedua orang tua bersedia mengorbankan apa saja
demi anaknya tanpa keluhan. Bahkan mereka “memberi kepada anak”
45
namun dalam pemberian itu sang ayah dan ibu justru merasa “menerima
dari anaknya”. Ini berbeda dengan anak, yang tidak jarang melupakan
sedikit atau banyak jasa-jasa bapaknya.
Terkadang manusia melupakan sebagian nikmat yang telah
dianugerahkan kepadanya atau pura-pura lupa. Maka, Al-Qur‟an
mengingatkan manusia dengan sesuatu yang tidak mungkin dibantah oleh
manusia betapa pun ia sangat jauh tersesat atau terlena. Ibunya telah
mengandung, melahirkan dan menyusuinya dalam kondisi yang lemah.
Kenyataan ini semakin menegaskan betapa pun lemahnya kondisi ibu, dia
rela berkorban dan menanggung penderitaan saat mengandung. Oleh
karena itu, ia layak mendapatkan penghormatan, balasan, dan rasa syukur.
Selanjutnya, Al-Qur‟an membahas kelemahan manusia ini di mana
sering kali mereka lupa bahwa dia dalam keadaan lemah yang
dikarenakan sifat sombongnya di masa lalu. Oleh karena itu, Al-Qur‟an
mengingatkan bahwa sebelum menjadi kuat sesungguhnya manusia
lemah. Setelah kuat, ia akan kembali menjadi lemah. Manusia hendaknya
mengingat hakikat ini karena suatu saat ia juga akan menjadi orang tua
yang lemah (Al-Ghamidi, 2011: 147).
Pesan pada ayat ke 15 menegaskan tanggung jawab orang tua
terhadap pendidikan anak diisyaratkan dengan kewajiban anak untuk
berbakti kepada kedua orang tuanya, sebagai balas jasa atas jerih payah
dalam mendidiknya semenjak dalam kandungan. Maka kini diuraikan
kasus yang merupakan pengecualian menaati perintah kedua orang tua,
46
sekaligus menggaris bawahi wasiatLuqman kepada anaknya tentang
keharusan meninggalkan kemusyrikan dalam bentuk serta kapan dan
dimana pun.
Ayat di atas menyatakan: Dan jika keduanya – apalagi kalau hanya
salah satunya, lebih – lebih kalau orang lain – bersungguh – sungguh
memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada
pengetahuanmu tentang itu, apalagi setelah aku dan rasul-rasul
menjelaskan kebatilan mempersekutukan Allah, dan setelah engkau
mengetahui bila menggunakan nalarmu, maka janganlah engkau
mematuhi keduanya. Namun demikian jangan memutuskan hubungan
denganya atau tidak menghormatinya. Tetapi tetaplah berbakti kepada
keduanya selama tidak bertentangan dengan ajaran agamamu, dan
pergaulilah keduanya di dunia yakni selama mereka hidup dan dalam
urusan keduniaan – bukan aqidah – dengan cara pergaulan yang baik,
tetapi jangan sampai hal ini mengorbankan prinsip agamamu, karena itu
perhatikan tuntunan agama dan ikutilah jalan orang yang selalu kembali
kepada-Ku dalam segala urusanmu, karena semua urusan dunia kembali
kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Ku lah juga di akhirat nanti – bukan
kepada siapa pun selain-Ku – kembali kamu semua, maka Ku beritakan
kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan dari kebaikan dan keburukan,
lalu masing-masing Ku beri balasan dan ganjaran(Shihab, 2002: 129).
Kata (‫ )جاهداك‬jaahadaaka terambil dari kata (‫ )جهد‬juhd yakni
kemampuan. Patron kata yang digunakan ayat ini menggambarkan adanya
47
upaya sungguh-sungguh. Kalau upaya sungguh-sungguh pun dilarangnya,
yang dalam hal ini bisa dalam bentuk ancaman, maka tentu lebih-lebih
lagi bila sekedar himbauanatau peringatan (Shihab, 2002: 132).
Yang dimaksud dengan ( ‫ )ما ليس لك ه علم‬maa laisa laka bihi „ilm
adalah tidak ada pengetahuan tentang kemungkinan terjadinya. Tiadanya
pengetahuan berarti tidak adanya obyek yang diketahui. Ini berarti tidak
wujudnya sesuatu yang dapat dipersekutukan oleh Allah SWT. Di sisi
lain, kalau sesuatu yang tidak diketahui duduk soalnya–bolehatau tidak –
telah dilarang, maka tentu lebih terlarang lagi apabila telah terbukti
adanya larangan atasnya. Bukti-bukti tentang ke-Esaan Allah dan tiadanya
sekutu bagi-Nya terlalu banyak, sehingga penggalan ayat ini merupakan
penegasan tentang larangan mengikuti siapa pun–walaukedua orang tua –
dan walau dengan memaksa anaknya mempersekutukan Allah (Shihab,
2002: 132).
Kata (‫ )معروفا‬ma‟rufan mencakup segala hal yang dinilai oleh
masyarakat baik, selama tidak bertentangan dengan akidah Islamiah.
Dalam konteks ini diriwayatkan bahwa Asma‟ putri Sayyidina Abu Bakar
ra pernah didatangi oleh ibunya yang ketika itu masih musyrikah. Asma‟
bertanya kepada Nabi bagaimana seharusnya ia bersikap, maka Rasulullah
menjawab untuk tetap menjalin hubungan baik, menerima dan
memberinya
hadiah
serta
tetap
kunjungannya (Shihab, 2002: 132).
48
mengunjungi
dan
menyambut
Jadi, ayat 14 menjelaskan tentang perintah berbakti dan bersyukur
kepada ibu dan bapak, mengenai perjuangan ibu ketika mengandung dan
memelihara menyusui anak, serta bersyukur kepada Allah. dan ayat ke 15
menjelaskan tentang tidak ada ketaatan kepada syirik, perintah untuk
mengikuti jalan orang yang rujuk kembali kepada Allah, dan peringatan
bahwa manusia akan kembali kepada Allah.
C. Surat Luqman Ayat 16
              
          
Artinya: (Lukman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada
(sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam
batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah
akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya
Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui”. (QS. Luqman
[31]: 16)
Ketika menafsirkan kata (‫ )خردل‬khardal pada QS. Al – Anbiya‟
[21]:47, mengutip penjelasan Tafsir Al – Muntakhab menyatakan bahwa
satu kilogram biji khirdal/moster terdiri atas 913.000 butir. Dengan
demikian, berat sebutir biji moster hanya sekitar satu per seribu gram, atau
kurang lebih 1mg, dan merupakan biji-bijian teringan yang diketahui umat
manusia sampai sekarang. Oleh karena itu, biji ini sering digunakan oleh
Al-Qur‟an untuk menunjuk sesuatu yang sangat kecil dan halus (Shihab,
2002: 134).
49
Kata (‫ )لطيف‬lathif terambil dari kata (‫ )لطف‬lathafa yang hurufhurufnya terdiri dari (‫ )ل‬lam, (‫ )ط‬tha, (‫ )ف‬fa. Kata ini mengandung makna
lembut, halus atau kecil. Dari makna ini kemudian lahir makna
ketersembunyian dan ketelitian (Shihab, 2002: 134).
Imam Al – Ghazali menjelaskan bahwa yang berhak menyandang
sifat ini adalah yang mengetahui perincian kemashlahatan dan seluk beluk
rahasianya, yang kecil dan yang halus, kemudian menempuh jalan untuk
menyampaikannya kepada yang berhak secara lemah lembut bukan
kekerasan (Shihab, 2002: 134).
Wasiat Luqman pada ayat 16 ini adalah berkaitan dengan masalah
akhirat, dimana di dalamnya terdapat pahala yang adil dan perhitungan
yang cermat atas amal perbuatan manusia yang digambarkan oleh AlQur‟an dengan kata-kata indah dan menyentuh, yang membangkitkan
semangat, suatu gambaranyang menunjukkan atas ilmu Allah yang
meliput, yang tidak sebiji sawi pun yang luput dari pengetahuan-Nya,
walaupun biji itu tersembunyi di dalam perut bumi, di dalam batu yang
keras, atau di atas langit Allah yang luas, apalagi amal perbuatan manusia
mudah sekali diketahui-Nya. Karena pengetahuan Allah meliputi seluruh
langit dan bumi (Ash-Shabuni, 2002: 391).
Jadi, ayat ke 16 menegaskan tentang semua perkara diketahui dan
akan dibalas oleh Allah yang Maha Halus Pengetahuan-Nya, dan secara
50
tidak langsung menjelaskan tentang nasehat untuk berperilaku jujur dalam
segala hal.
D. Surat Luqman Ayat 17
            
     
Artinya:
Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah (manusia)
mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan
yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa
kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang
diwajibkan (oleh Allah)
(QS. Luqman [31]: 17).
Nasehat Luqman pada ayat 17 berkaitan dengan amal-amal shaleh
yang puncaknya adalah shalat, serta amal-amal kebajikan yang tercermin
dalam amar ma‟ruf dan nahi munkar, juga nasehat berupa perisai yang
membentengi seseorang dari kegagalan yaitu sabar dan tabah.
Menyuruh mengerjakan ma‟ruf, mengandung pesan untuk
mengerjakannya, karena tidaklah wajar menyuruh sebelum diri sendiri
mengerjakannya. Demikian juga melarang kemungkaran, menuntut agar
yang melarang terlebih dahulu mencegah dirinya. Itu agaknya yang
menjadi sebab mengapa
Luqman tidak memerintahkan anaknya
melaksanakan ma‟ruf dan menjauhi munkar, tetapi memerintahkan,
menyuruh dan mencegah. Di sisi lain membiasakan anak melaksanakan
tuntuan ini menimbulkan dalam dirinya jiwa kepemimpinan serta
kepedulian sosial (Shihab, 2002: 137).
51
Kata (‫ )صرب‬shabr terambil dari akar kata yang terdiri dari hurufhuruf (‫ )ص‬shaad, (‫ )ب‬baa‟, (‫ )ر‬raa‟. Maknanya berkisar pada tiga hal: 1)
menahan, 2) ketinggian sesuatu dan 3) sejenis batu. Dari makna menahan,
lahir makna konsisten / bertahan, karena yang bersbar bertahan menahan
diri pada satu sikap. Seseorang yang menahan gejolak hatinya, dinamai
bersabar. Dari makna kedua, lahir kata shubr yang berarti puncak sesuatu.
Dan dari makna ketiga, muncul kata ash-shubrah, yakni batu yang kukuh
lagi kasar, atau potongan besi (Shihab, 2002: 137).
Ketiga makna tersebut dapat kait-berkait, apalagi pelakunya
mansuia. Seorang yang sabar, akan menhan diri, dan untuk itu ia
memerlukan kekukuhan jiwa, dan mental baja, agar dapat mencapai
ketinggian yang diharapkannya. Sabar adalah menahan gejolak nafsu demi
mencapai yang baik atau yang tebaik.
Kata (‫„ )عزم‬azm dari bahasa berarti keteguhan hati dan tekad untuk
melakukan sesuatu. Kata ini berpatron mashdar, tetapi maksudnya adalah
objek sehingga makna penggalan ayat itu adalah shalat, amar ma‟ruf dan
nahi munkar – serta kesabaran – merupakan hal-hal yang telah diwajibkan
oleh Allah untuk dibulatkan atasnya tekad manusia(Shihab, 2002: 138).
Shalat hukumya wajib bagi setiap mukallaf, kewajiban untuk
shalat sudah terurai dalam firman Allah sebagai berikut,
52
           
     
Artinya:
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah
dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan)
agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan
menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang
lurus(QS. Al-Bayyinah [98]:5).
Ketika mendirikan shalat terdapat tindakan penegakan yang
sesungguhnya, dengan melakukan penolakan secara eksternal, menjaga
diri untuk mewujudkan nilai-nilainya, melakukan kebaikan, menjauhi
keburukan dan kemunkaran, melawan segala kecemasan bila datang
bencana, dan ridla, serta tenang hati menerima ketentuan Allah.
Shalat menanamkan rasa dalam hati selalu diawasi oleh Allah dan
menaati batas-batas yang ditetapkan Allah dalam segala urusan hidup.
Seperti halnya ia menanamkan semangat untuk menjaga waktu,
mengesampingkan godaan bersikap malas dan mengikuti hawa nafsu, dan
aspek-aspek buruk lainnya (Al-Ghamidi,2011: 193).
Jadi, ayat ke 17 membahas tentang mendirikan sholat, perintah
berbuat kebaikan dan larangan berbuat jahat (dakwah), dan bersabar.
E. Surat Luqman Ayat 18 dan 19
53
              
        
  
   
Artinya:
Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia
(karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi
dengan angkuh.Sesungguhnya Allah tidak menyukai orangorang yang sombong lagi membanggakan diri.
Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah
suaramu.Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara
keledai.
Luqman menasihati anaknya dengan berkata janganlah engkau
berkeras memalingkan pipimu yakni mukamu dari manusia – siapa pun
dia – didorong oleh penghinaan dan kesombongan. Tetapi tampillah
kepada setiap orang dengan wajah berseri penuh rendah hati. Dan bila
engkau melangkah, janganlah berjalan di muka bumi dengan angkuh,
tetapi berjalanlah dengan lemah lembut penuh wibawa. Sesungguhnya
Allah tidak menyukai yakni tidak melimpahkan anugerah kasih
sayangNya kepada orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
Dan bersikap sederhanalah dalam berjalanmu, yakni jangan
membusungkan dada dan ajangan juga merunduk bagaikan orang sakit,
jangan berlari tergesa-gesa dan jangan sangat perlahan menghabiskan
waktu. Dan lunakkanlah suaramu sehingga tidak terdengar kasar bagaikan
teriakan keledai. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai
54
karena awalnya siulan yang tidak menarik dan akhirnya tarikan nafas yang
buruk (Shihab, 2002: 139).
Kata (‫تصعر‬
ّ ( ash-sha‟ar yaitu
ّ ) thusha‟ir terambil dari kata )‫الصعر‬
penyakit yang menimpa unta dan menjadikan lehernya kesleo, sehingga ia
memaksakan dia dan berupaya keras agar berpaling sehingga tekanan
tidak tertuju kepada syaraf lehernya yang mengakibatkan rasa sakit. Dari
kata inilah ayat diatas menggambarkan upaya keras dari seseorang untuk
bersikap angkuh dan menghina orang lain. Memang sering kali
penghinaan tercermin pada keengganan melihat siapa yang dihina
(Shihab, 2002: 139).
Kata ( ‫ )ىف اآلرض‬fi al-ardh/di bumi disebut oleh ayat di atas, untuk
mengisyaratkan bahwa asal kejadian manusia dari tanah, sehingga dia
hendaknya jangan menyombongkan diri dan melangkah angkuh di tempat
itu. Demikian kesan Al-Biqa‟i sedang Ibn„Asyur memperoleh kesan
bahwa bumi adalah tempat berjalan semua orang, yang kuat dan yang
lemah, yang kaya dan yang miskin, pengusaha dan rakyat jelata. Mereka
semua
sama
sehingga
tidak
wajar
bagi
pejalan
yang
sama,
menyombongkan diri dan merasa melebihi orang lain (Shihab, 2002: 139).
Kata (‫ )خمتاال‬mukhtaalan terambil dari akar kata yang sama
dengan(‫)خليا‬khayaala/khayal. Karenanya kaya ini pada mulanya berarti
orang yang tingkah lakunya diarahkan oleh khayalannya, bukan oleh
55
kenyataan yang ada pada dirinya. Biasanya orang semacam ini berjalan
angkuh dan merasa dirinya memiliki kelebihan dibanding dengan orang
lain. Dengan demikian, keangkuhan tampak secara nyata dalam
kesehariannya(Shihab, 2002: 140).
Kuda dinamai (‫ )خيل‬khail karena cara jalannya mengesankan
keangkuhan.
Seorang
yang
mukhtaal
membanggakan
apa
yang
dimilikinya, bahkan tidak jarang membanggakan apa yang pada
hakikatnya tidak ia miliki. Dan ini lah yang ditunjukkan oleh kata (‫)فخورا‬
fakhuuran, yakni seringkali membanggakan diri. Memang kedua kata ini
mukhtaal dan fakhuur mengandung makna kesombongan, kata yang
pertama bermakna kesombongan yang terlihat dalam tingkah laku, sedang
yang kedua adalah kesombongan yang terdengar dari ucapan-ucapan
(Shihab, 2002: 140).
Kata (‫ )اغضض‬ughdhudh termabil dari kata (‫غض‬
ّ )ghadhdh dalam arti
penggunaan sesuatu tidak dalam potensinya yang sempurna. Mata dapat
memandang ke kiri dan ke kanan secara bebass. Perintah ghadhdh jika
ditujukkan kepada mata maka kemampuan itu hendaknya dibatasi
dantidak digunakan secara maksimal. Demikian juga suara. Dengan
perintah di atas seseorang diminta untuk tidak berteriak sekuat
kemampuannya, tetapi dengan suara perlahan namun tidak harus berbisik
(Shihab, 2002: 140).
56
Mengenai akhlakul karimah yang patut dijadikan suri tauladan
adalah Nabi Muhammad saw, perintah untuk memiliki ahlak yang mulia
selain dalam Al – Qur‟an juga seperti yang sudah dijelaskan dalam hadist
riwayat Abu Hurairah sebagai berikut,
َِّ ‫ تَ ْقو‬: ‫سئِل رسو ُل اّلل عن آ ْكث ِر ما ي ْد ِخل النَّا س ا ْْلنَّ َة فَ َقل‬
ِ ُ‫اخلُل‬
ْ ‫اّلل َو ُ ْس ُن‬
َ َ َ َ
ُ ُ َ َ ْ َ ّ ُْ َ َ ُ
Rasulullah saw ditanya tentang apa yang paling banyak
memasukkan manusia ke dalam surga. Beliau menjawab, „ketakwaan
kepada Allah dan ahlak yang mulia‟. Beliau ditanya tentang amal yang
paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka. Maka beliau
menjawab, „yaitu dua lubang; mulut dan kemaluan‟ - HR. Abu Hurairah
(Ar - Rifa‟i, 2000: 797).
Jadi, ayat ke 18 dan 19 menjelaskan tentang pendidikan akhlak,
berperilaku
santun,
dan
tidak
berbuat
sombong
(hidup
sederhana).Demikian Luqman al-Hakim mengakhiri nasehat yang
mencakup pokok-pokok tuntunan agama. Di sana ada akidah, syariat dan
akhlak (tiga unsur ajaran Al-Qur‟an). Memuat akhlak kepada Allah,
kepada pihak lain dan kepada diri sendiri. Ada juga perintah moderasi
yang merupakan ciri dari segala macam kebijakan, serta perintah bersabar,
yang merupakan syarat mutlak meraih sukses, duniawi dan ukhrawi.
Demikian Luqman al-Hakim mendidik anaknya, bahkan memberi
tuntunan kepada siapa pun yang ingin menulusuri jalan kebajikan.
BAB IV
PEMBAHASAN
57
A. Konsep Pendidikan dalam Al-Qur’an Surat Luqman Ayat 12-19
Menurut Kitab Tafsir Al-Misbah
Al-Qur‟an memberi pengaruh yang cukup besar bagi kejiwaan
manusia secara umum.Al-Qur‟an dapat menyentuh, menarik dan
menggetarkan jiwa.Semakin dalam tingkat kebersihan jiwa, maka semakin
besar peluang untuk menerima ajaran-ajaran Al-Qur‟an.Anak masih
memiliki jiwa yang bersih serta fitrah yang dibawanya sejak lahir masih
belum tercemar oleh apapun.
Pembentukan
kepribadian
Islami
adalah
menjadikan
anak
memiliki kemampuan berpikir, bertutur kata, bertindak, berakhlak, dan
berperangai layaknya seorang muslim. Selain itu anak juga memiliki
semangat juang yang tinggi dalam menyebarkan ajaran Islam, membela
kebenaran, menumpas kebatilan, serta berpegang pada nilai-nilai ajaran
agama Islam dan memiliki jiwa yang shalih serta memberi manfaat bagi
sesama (Khalid, 2012: 66).
Adapun pendidikan karakter oleh Luqman yang diajarkan dalam
Al-Qur‟an Surat Luqman ayat 12-19 tersebut meliputi;
1. Pendidikan Tauhid (Ketuhanan/Larangan Mempersekutukan Allah)
Syirik memiliki berbagai macam bentuk yang bertentangan
dengan akal dan merusak kehidupan. Syirik adalah kedzaliman karena
menyembah sesuatu lain yang hina, yakni selain kepada Allah, dan
58
atau meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya, bahkan seolah
menyamakan antara sesuatu yang tidak bisa memberi nikmat kepada
manusia dengan Dzat yang menjadi satu-satunya sumber nikmat.
Islam diturunkan untuk memerangi segala bentuk kesyirikan.
Seperti yang dikemukakan oleh Syekh Muhammad Abduh bahwa
syirik adalah keyakinan bahwa ada sesuatu selain Allah yang memiliki
pengaruh di atas sebab-sebab nyata yang ditetapkan oleh Allah dan
segala sesuatu ada penguasanya yang memiiki kekuatan di atas
kekuatan mahluk (Al-Ghamidi: 115).
Allah pun telah memberi ancaman dalam firman-Nya:
ِ
ِ
ِ
‫ك لِ َم ْن يَ َشاءُ َوَم ْن يُ ْش ِرْك‬
َّ ‫إِ َّن‬
َ ‫اّللَ ال يَ ْغف ُر أَ ْن يُ ْشَرَك ِِه َويَ ْغف ُر َما ُدو َن ذَل‬
َِّ ‫ِِب‬
‫ّلل فَ َق ِد افْ تَ َر إِْْثًا َع ِظ ًيما‬
Artinya, “sesungguhnya, Allah tidak akan mengampuni dosa syirik,
dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari syirik itu,
bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang
mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat
dosa yang besar”. (QS. An – Nisa: 48).
Dalam hal ini, Luqman mengajarkan kepada anaknya berupa
nasehat dan peringatan disertai konsekuensinya.Nasehat serta kasih
sayang dengan mendorong kepada semangat, motivasi, dan dorongan
untuk
melakukan
kebaikan,
sementara
penyebutan
tentang
konsekuensi itu menunjukkan peringatan sebuah akibat buruk. Ibnu
Sayidah juga mengungkapkan bahwa al – wa‟dzu adalah peringatan
kepada manusia tentang pahala dan siksa.
2. Birrul Walidain (Berbakti Kepada Kedua Orang Tua)
59
Islam
adalah
agama
yang
sangat
menjunjung
tinggi
penghormatan dan pemuliaan kepada kedua orang tua. Apapun bentuk
pelecehan dan sikap merendahkan orang tua, maka Islam lewat pesanpesan moralnya telah melarang dan mengharamkannya. Bahkan
durhaka kepada kedua orang tua termasuk diantara dosa-dosa besar
yang dilarang keras.
Berbuat baik kepada kedua orang tua dan menaati keduanya
selain dalam kemaksiatan kepada Allah termasuk hal-hal yang
dituntunkan syariah. Dalam hal ini Luqman memerintah dan
mengajarkan untuk berbakti dan bersyukur kepada ibu dan bapak,
mengenai perjuangan ibu ketika mengandung dan memelihara
menyusui anak, serta segala bentuk perjuangan dan pengorbanan
kepada anaknya yang secara tulus dan ikhlas.
Hal tersebut senada dengan firman Allah dalam QS. AlAnkabuut ayat 8 yang berbunyi sebagai berikut:
ِ
ِ ِ
‫ك ِِه‬
َّ ‫َوَو‬
َ َ‫اه َد َاك لتُ ْش ِرَك ِِب َما لَْي َسل‬
َ ‫صْي نَا اإلنْ َسا َن َِوال َديْه ُ ْسنًا َوإِ ْن َج‬
‫ِع ْل ٌمم فَ تُ ِط ْع ُه َما إِ َ َّ َم ْرِجعُ ُ ْم فَ ُنَِّئُ ُ ْم ِ َا ُكْن تُ ْم تَ ْع َملُو َن‬
Artinya: Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua
orang ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk
mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada
pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti
keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku
kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan(QS. AlAnkabuut: [29]:8).
Ketaatan seorang hamba kepada Allah adalah ketaatan mutlak,
tanpa pengecualian.Sementara ketaatan kepada kedua orang tua
dengan pengecualian, selama keduanya tidak meminta untuk
60
mempersekutukan Allah.Dan tetap memuliakan serta melakukan
hubungan baik terhadap keduanya.
3. Bersyukur
Bersyukur merupakan suatu perbuatan, ucapan dan sikap
terimakasih kepada Allah dan pengakuan yang tulus atas nikmat dan
kurnia yang diberikan-Nya. Bersyukur merupakan kewajiban bagi
manusia, dimana apabila manusia bersyukur maka Allah akan
menambah kenikmatan kepada hamba-Nya yang mau bersyukur.
Perintah bersyukur salah satunya terdapat dalam Al-Qur‟an
Surat Al-Baqarah ayat 152 yang berbunyi:
ِ ‫فَاذْ ُكر ِوو أَذْ ُكرُكم وا ْا ُ روا ِ وال تَ ْ ُفر‬
‫ون‬
َ ُ َْْ
ُ
ُ
Artinya: Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku
ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku,
dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.
Dalam kaitan ini, M. Quarais Shihab mengatakan bahwa
syukur mencakup tiga sisi sebagai berikut:
a. Bersyukur dengan hati, yaitu mengakui dan menyadari sepenuhnya
bahwa segala nikmat yang diperoleh berasal dari Allah dan tiada
seseorang pun selain Allah yang dapat memberikan nikmat itu.
b. Bersyukur dengan lidah. Yaitu mengucapkan secara jelas
ungkapan rasa syukur itu dengan kalimat Alhamdulillah (segala
puji bagi Allah).
c. Bersyukur dengan amal perbuatan, yaitu mengamalkan anggota
tubuh untuk hal-hal yang baik dan memanfaatkan nikmat itu sesuai
61
dengan ajaran agama. Yang dimaksud mengamalkan anggota
tubuh itu untuk melakukan hal-hal yang positif dan diridlai Allah,
sebagai wujud rasa syukur.
Luqman mengajarkan kepada anaknya tentang bersyukur
kepada Allah dan kepada kedua orang tua-Nya. Di mana rasa syukur
tersebut akan dibalas dan dilipatgandakan oleh Allah, bersyukur
kepada Allah maka Allah akan memberikan rahmat yang lebih kepada
hamba-Nya yang mau bersyukur, dan memberikan nikmat dan
anugerah kepada orang tuanya.
4. Kejujuran
Sifat jujur merupakan fondasi akhlak yang penting dalam
Islam.Butuh upaya keras untuk menanamkan dan membentuk sifat
ini.Rasulullah menekankan arti pentingnya penanaman sifat jujur
dalam diri anak, maksudnya adalah agar orang tua tidak terjebak
dalam kehinaan, karena berdusta kepada anak. Beliau juga
menetapkan aturan umum bahwasannya anak merupkan manusia yang
memiliki hak dalam berinteraksi dengan sesama. Oleh sebab itu, orang
tua tidak diperbolehkan memperdayai anak dengan cara apapun,
maupun bersikap acuh tak acuh ketika berinteraksi dengan anak
(Khalid, 2012: 209).
Seperti yang sudah dijelaskan diatas, maka nasehat Luqman
mengenai pendidikan kejujuran tidak hanya untuk anak tetapi juga
untuk orang tua. Sebesar dan sekecil apapun hal yang kita perbuat dan
62
yang kita sembunyikan, baik dan buruknya di ketahui oleh Allah dan
akan diganjar dengan balasan yang setimpal.
Setelah menyerukan ajaran untuk senantiasa bersikap jujur
dalam segala hal dan tindakan, Islam mengecam sikap bohong.
Kebohongan merupakan sifat yang hina yang memiliki banyak
mudharat dan akibat negatif bagi kehidupan masyarakat. Sayyidah
Aisyah Ra berkata, “Tidak ada akhlak yang paling dibenci Rasulullah
Saw, melibihi kebencian beliau terhadap sikap bohong” (HR.
Tirmidzi).
ِ
‫ورُه ْم َوَما يُ ْعلِنُو َن‬
َ ‫َوَرُّب‬
ُ ‫ك يَ ْعلَ ُم َما تُ ُّبن‬
ُ ‫ص ُد‬
Artinya: Dan Tuhanmu mengetahui apa yang disembunyikan (dalam)
dada mereka dan apa yang mereka nyatakan (QS. AlQashash: 69).
Selain hadist, ayat di atas secara eksplisit menjelaskan ke –
Maha Kuasa – an Allah. Allah maha mengetahui, baik yang terang
maupun yang tersembunyi. Dan ajaran untuk selalu bertakwa kepada
Allah SWT, “amar ma‟ruf nahi mungkar” dan memperbaiki hubungan
dengan sesama dan alam, serta tidak menyekutukan Allah juga tidak
berpaling dari Allah, karena Allah maha mengetahui segala apa yang
kita perbuat dan kita ucapkan baik terang maupun tersembunyi
(Syaifullah, 2010: 26).
5. Pendidikan Ibadah
Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap
masalah shalat dan memerintahkan agar pemeluknya sungguh-
63
sungguh mendirikannya. Sebaliknya, Islam memberikan peringatan
keras kepada mereka yang meninggalkan shalat. Demikian tegasnya
perintah ini, karena shalat memiliki urgensi yang sangat tinggi dan
mulia karena ia adalah rukun Islam setelah Syahadat.
Setalah Luqman memerintahkan anaknya mengesakan Allah,
yang juga mengandung larangan berbuat syirik dan mengingatkan
akan kesempurnaan ilmu dan kekuasaan Allah, dimana tiada sesuatu
pun di dunia ini yang tersembunyi bagi-Nya, kemudian Luqman
memerintahkan anaknya agar mendirikan shalat sebagai ibadah yang
paling sempurna (Al-Ghamidi, 2011: 211).
Sesungguhnya semua riwayat langit menetapkan kewajiban
shalat sejak awal mula rasul dan nabi. Nabi Ibrahim sebagaimana
disebutkan dalam suratIbrahim ayat 40 sebagai berikut:
‫الص ِة َوِم ْن ذُِّريَِّ َرَّنَا َوتَ َقَّ ْل ُد َع ِاء‬
َّ ‫اج َعلْ ِين ُم ِق َيم‬
ْ ‫ب‬
ِّ ‫َر‬
Artinya: Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang
yang tetap mendirikan salat, ya Tuhan kami, perkenankanlah
doaku (QS. Ibrahim [14]: 40).
6. Amar Ma‟ruf Nahi Munkar (Dakwah)
Amar Ma‟ruf adalah pernyataan yang menuntut seseorang agar
meninggalkan sesuatu perbuatan, yang mencakup semua bentuk
ketaatan dan pendekatan diri kepada Allah dan memberikan kebaikan
kepada sesama manusia. Sedangkan Nahi Munkar adalah pernyataan
yang menuntut seseorang agar meninggalkan semua yang dipandang
buruk oleh syara‟, diharamkan, atau dimakruhkan.
64
Dalam hal ini Luqman memberi ajaran kepada anaknya,
berupa hikmah bukan dengan kekerasan, yakni dengan cara ajakan
atau berupa dakwah dengan mau‟idzah hasanah (melalui cara yang
dapat menaklukan hati) dan mujadalah yang dapat mencerahkan
akal.Sedangkan, cara nahi munkar seperti yang ditetapkan Rasulullah
dalam hadist yang diriwayatkan oleh Abu Sa‟id, ia berkata “Barang
siapa
di
antara
kalian
melihat
kemunkaran,
hendaklah
ia
mengubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan
lisannya, jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan itu adalah
selemah-lemah iman” (Al-Ghamidi, 2011: 216)
Menurut ajaran agama, menuntut agar nahi munkar lebih
didahulukan karena kemunkaran menyebabkan kerusakan dan
kebaikan
membawa
kemashlahatan.Menghindari
dan
melawan
kerusakan itu lebih baik didahulukan daripada mendapatkan
manfaat(Al-Ghamidi, 2011: 226).
7. Sabar
Kata sabar diartikan mencegah, dan diindikasikan pada
ketahanan yang didasarkan pada dinamika jiwa. Dinamika tersebut
mengacu pada dua hal; yaitu untuk berbuat yang menuju kepada
sesuatu yang positif, dan untuk menahan dari sesuatu yang negatif
(Munir, 2008: 210).
65
Sabar mencakup menahan diri, lisan dan anggota badan.
Menahan
diri
berarti
menahan
dari
keputusasaan
dan
kemarahan.Menahan lisan berarti menahan dari mengeluh dan
menggerutu. Menahan anggota badan adalah menahan dari sikap
menggoda atau mengganggu (Al-Ghamidi, 2011: 234).
Luqman
menasehati
dan
memerintah
anaknya
untukbersabarterhadap apa yang menimpanya, karena sesungguhnya
yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan oleh Allah.
Dalam hal ini, manusia hendaknya bersabar terhadap cobaan dan rasa
berat dalam melaksanakan apa yang diperintahkan, khususnya dalam
mendirikan shalat dan berbuat amar ma‟ruf nahi munkar (Al –
Ghamidi: 2011, 249).
Senada dengan hal tersebut, berikut firman Allah yang
mengingatkan dan memerintahkan untuk bersabar jugaterdapat dalam
QS. Al-Mudatsir ayat 7 yang berbunyi sebagai berikut:
ِ
‫اصِ ْرب‬
َ ِّ‫َولَر‬
ْ َ‫ك ف‬
Artinya:Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah
Ayat ini secara global adalah perintah untuk bersabar dalam
memenuhi perintah Allah SWT, seperti shalat, puasa, zakat, berhaji,
amar ma‟ruf dan nahi munkar. Karena setiap perintah Allah erat
dengan rintangan – rintangan yang menghadang (Syaifullah, 2010:
155).
8. Pendidikan Akhlak
66
Pendidikan mengenai dasar-dasar akhlak dan keutamaan
perangai, tabiat yang harus dimiliki dan dijadikan kebiasaan oleh anak
sejak masa analisa sampai anak menjadi seorang mukallaf, seseorang
yang telah siap mengarungi lautan kehidupan. Anak tumbuh dan
berkembang dengan berpijak pada landasan iman kepada Allah dan
terdidik untuk selalu kuat iman dan takwanya.
Islam datang untuk memberi kebahagiaan kepada manusia
selama berpegang dan mengikuti ajaran-ajaran dan tuntutan-Nya, serta
mengikuti petunjuk-petunjuk-Nya. Diantara ajaran Islam adalah
akhlak yang mulia yang mengandung manfaat dan kemuliaan yang
agung.Islam tidak hanya menganjurkan pada akhlak mulia, tetapi juga
melarang akhlak yang tercela, memperingatkan jangan sampai
terjerumus ke dalamnya dan memerintahkan menjauhinya.
Dalam hal ini, Luqman mengajarkan kepada anaknya untuk
tidak
sombong,
angkuh,
membanggakan
diri,
takabbur
dan
merendahkan hamba Allah lain, serta larangan bahagia yang sangat
berlebihan. Luqman juga mengajarkan pendidikan akhlak tentang
untuk hidup sederhana, ramah, tidak kikir, lurus dan istiqamah dalam
menjalan hidup sesuai syariat yang benar, serta peringatan dan nasehat
untuk
dapat
mengendalikan
keseimbangan
emosional
dan
rasional.Seperti larangan untuk merendahkan suara.
Dari penjelasan penerapan pendidikan karakter dalam AlQur‟an surat Luqman ayat 12-19 menurut kitab tafsir Al-Misbah,
67
maka dapat dapat dikaitkan dengan nilai-nilai pendidikan karakter
yang disusun Diknasmulai tahun 2011 yang mana seluruh tingkat
pendidikan di Indonesia harus menyisipkan pendidikan berkarakter
dalam proses pendidikan, adapun 18 nilai tersebut adalah sebagai
berikut:
Table 4.1
Nilai-nilai Pendidikan Karakter
No.
1.
Nilai
Religius
Deskripsi
Sikap
dan perilaku
melaksanakan
ajaran
yang patuh
agama
Islam
dalam
dan
toleransi terhadap agama lain (larangan
mempersekutukan Allah/ibadah).
2.
Semangat
Cara berfikir, bertindak dan berwawasan yang
Kebangsaan
menempatkan kepentingan bangsa dan negara
di atas kepentingan diri dan kelompoknya
(karakter/akhlak).
3.
Jujur
Perilaku
yang
didasarkan
pada
upaya
menjadikan dirinya sebagai orang yang dapat
dipercaya dalam perkataan, tindakan dan
pekerjaan (karakter/akhlak/ibadah)
4.
Disiplin
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib
dan patuh terhadap peraturan (Amar Ma‟ruf
Nahi Munkar).
5.
Kerja Keras
Perilaku yang menunjukkan upaya sungguhsungguh dalam mengatasi dan menyelesaikan
tugas (usaha untuk mencapai tujuan hidup
yang lebih baik yaitu sukses dunia maupun
akhirat/ibadah).
6.
Mandiri
Sikap dan perilaku yang tidak bergantung
68
pada orang lain (pertanggung jawaban atas
apa yang diperbuat/karakter/akhlak/ibadah).
7.
Demokratis
Cara berfikir, bersikap dan bertindak dalam
menilai hak dan kewajiban diri sendiri dan
orang lain (karakter/akhlak)
8.
Tanggung
Sikap
dan
perilaku
seseorang
untuk
Jawab
melaksanakan tugas dan kewajiban dengan
sebaik-baiknya (tanggung jawab kepada diri
sendiri, orang lain dan Allah).
9.
Toleransi
Sikap dan tindakan yang menghargai orang
lain dan perbedaan yang ada (karakter/akhlak)
10.
Komunikatif
Tindakan yang memperlihatkan rasa senang
bergaul dan bekerjasama dengan orang lain
(karakter/akhlak)
11.
Cinta Damai
Sikap dan tindakan yang menyebabkan orang
lain
merasa
senang
dan
aman
atas
kehadirannya (karakter/akhlak)
12.
Peduli
Sikap dan tindakan berupaya mencegah
Lingkungan
kerusakan lingkungan alam skitarnya dan
menjaga kelestarian alam (ibadah)
13.
Peduli Sosial
Sikap dan tidakan yang selalu ingin memberi
bantuan kepada lingkungan sekitar dan orang
lain (karakter/akhlak/ibadah)
14.
Gemar
Kebiasaan
menyediakan
waktu
untuk
Membaca
membaca berbagai bacaan yang memberikan
kebajikan bagi dirinya (belajar/ibadah).
15.
Kreatif
Berfikir
dan
melakukan
sesuatu
untuk
menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu
yang telah dimiliki (belajar/ibadah).
16.
Rasa Ingin Tahu
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya
69
untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas
dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan
didengar (belajar/ibadah).
17.
Menghargai
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya
Prestasi
untuk menghasilkan sesuatu yang berguna
bagi masyarakat,
menghormati
dan mengakui serta
keberhasilan
orang
lain
(belajar/ibadah/karakter/akhlak).
18.
Cinta Tanah Air
Cara berfikir, bertindak dan berwawasan yang
menempatkan kepentingan bangsa dan negara
di atas kepentingan diri dan kelompoknya
(karakter/akhlak).
B. Aplikasi Konsep Pendidikan Karakter dalam Pendidikan Masa Kini
Bagi
Indonesia
sekarang ini, pendidikan karakter berarti
melakukan usaha sungguh-sungguh, sistematik, dan berkelanjutan untuk
membangkitkan dan menguatkan kesadaran serta keyakinan semua orang
Indonesia bahwa tidak akan ada masa depan yang lebih baik yang bisa
diwujudkan tanpa kejujuran, tanpa meningkatkan karakter disiplin diri,
tanpa
kegigihan,
tanpa
semangat
belajar
yang
tinggi,
tanpa
mengembangkan rasa tanggung jawab, tanpa memupuk persatuan di
tengah-tengah kebinekaan, tanpa semangat berkontribusi bagi kemajuan
bersama, serta tanpa rasa percaya diri dan optimisme.
70
Oleh sebab itu, penanaman karakter yang baik harus dilaksanakan
sedini mungkin. Diantaranya melalui pendidikan karakter dalam keluarga,
sekolah, dan lingkungan. Lingkungan merupakan salah satu faktor penting
dalam proses pembentukan karakter, namun faktor keluarga dan sekolah
merupakan faktor terpenting dalam pembetukan karakter, yang berupa
internalisasi nilai-nilai dan moral dalam diri seorang individu. Sedangkan
lingkungan merupakan faktor yang mempengaruhi suatu karakter
seseorang. Di mana lingkungan bisa menjadikan seseorang baik atau
buruk, tergantung seberapa besar nilai mana yang ada dalam diri individu
tersebut. Secara lebih jelasnya,mengenai penerapan pendidikan karakter
dalam keluarga dan di sekolah akan di bahas lebih jelas sebagai berikut:
1.
Pendidikan Karakter dalam Keluarga
Al-Qur‟an melalui salah satu ayatnya menegaskan bahwa,
pendidikan yang dijadikan sebagai proses penyemaian nilai-nilai
dalam diri manusia harus diawali dari lembaga yang terkecil. Mulai
dari diri sendiri, berkembang kepada keluarga dan baru kepada
masyarakat secara luas.
ِ
ِ َّ
ْ ‫َّاس َو‬
ُ‫اْلِ َج َارة‬
ُ ُ‫ين َآمنُوا قُوا أَنْ ُف َس ُ ْم َوأ َْهلي ُ ْم ََن ًرا َوق‬
َ ‫ََي أَيُّب َها الذ‬
ُ ‫ود َها الن‬
ِ ‫علَي ها م الِ َ ةٌم ِغ ٌم‬
‫اّللَ َما أ ََمَرُه ْم َويَ ْف َعلُو َن َما يُ ْ َم ُرو َن‬
َّ ‫صو َن‬
ُ ‫ظ ا َد ٌماد ال يَ ْع‬
َ َْ َ
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan
keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya
adalah manusia dan batu; penjaganya malaikatmalaikat yang kasar, yang keras, yang tidak
mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-
71
Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang
diperintahkan (QS. At-Tahriim: 6).
Rumah
adalah
tempat
belajar
pertama
bagi
anak-
anak.Sementara ibu adalah guru pertama dan guru terbaik.Di tempat
tersebut, anak akanbelajar apapun dari personil yang ada di rumah,
entah itu ayah, ibu, kakek, nenek, kakak, adik dan para tetangganya.
Pendidikan anak dalam keluarga untuk mengajarkan kasih sayang,
pengertian, komunikasi, rasa percaya diri, dan lain sebagainya harus
diajarkan oleh orang tua melalui contoh perilaku kehidupannya. Baik
dan buruk perilaku anak merupakan hasil contoh dan didikan dari
orang tuanya.Otak anak ibarat spon yang memiliki daya serap yang
tinggi. Dia bisa menyerap semua informasi yang didapatkan melalui
apa yang dia lihat, dia dengar, dan dia rasakan saat di rumah
(Damayanti, 2014: 167).
Masalah degradasi moral dalam keluarga perlu segera
mendapat penanganan khusus.Hal ini berhubungan dengan masalah
kesiapan kita dalam menyongsong era globalisasi.Salah satu upaya
penanganan khusus tersebut melalui pendidikan budi pekerti.Karena
pendidikan budi pekerti merupakan pendidikan nilai, pihak pertama
yang paling cocok memberikan budi pekerti adalah keluaga (Muslich,
2011: 92).
Terkait dengan itu, setidaknya ada empat nilai yang dapat
ditanamkan dalam keluarga:
a. Nilai Kerukunan
72
Kerukunan merupakan salah satu perwujudan budi
pekerti.Orang yang memiliki budi pekerti luhur tentu lebih
menghargai kerukunan dan kebersamaan daripada perpecahan.
Jika dalam keluarga sudah sejak dini ditanamkan nilai – nilai
kerukunan itu dan anak dibiasakan menyelesaikan masalah dengan
musyawarah maka dalam kehidupan di luar keluarga mereka juga
akan terbiasa menyelesaikan masalah berdasarkan musyawarah.
b. Nilai Ketakwaan dan Keimanan
Ketakwaan dan keimanan merupakan pengendali utama
budi pekerti. Seseorang meiliki ketakwaan dan keimanan yang
benar dan mendasar terlepas dari apa agamanya tentu akan
mewujudkannya dalam perilaku dirinya. Dengan demikian sangat
tidak mungkin jika seseorang memiliki kadar ketakwaan dan
keimanan yang mendalam melakukan tindakan-tindakan yang
menunjukkan bahwa dirinya itu memiliki budi pekerti yang sangat
hina.
c. Nilai Toleransi
Yang dimaksud toleransi disini terutama adalah mau
memperhatikan sesamanya. Dalam keluarga nilai toleransi ini
dapat ditanamkan melalui proses saling memperhatikan dan saling
memahami antar anggota keluarga. Jika berhasil, tentu itu akan
terbawa dalam pergaulannya.
d. Nilai Kebiasaan Sehat
73
Yang dimaksud kebiasaan sehat di sini adalah kebiasaankebiasaan hidup yang sehat dan mengarah pada pembangun diri
lebih baik dari sekarang. Penanaman kebiasaan pergaulan sehat ini
tentu saja akan memberikan dasar yang kuat bagi anak dalam
bergaul dengan lingkungan sekitarnya.
2.
Pendidikan Karakter di Sekolah
Menurut UU NO. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan
Nasional pada Ayat 13 dan ayat 1 menyebutkan bahwa jalur
pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal
yang dapat saling melengkapi dan memperkaya. Pendidikan informal
adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan.Pendidikan informal
sesungguhnya memiliki peran dan kontribusi yang sangat besar dalam
keberhasilan pendidikan (Muslich, 2011: 85).
a. Bentuk Pembelajaran Dalam Pendidikan Karakter
Pusat pengkajian pedagogik UPI (Universitas Pendidikan
Indonesia) mengembangkan teori dan praktik pendidikan menuju
pendidikan yang lebih baik yang mengarah pada pendidikan
karakter. Dengan dua bentuk pembelajaran ini dapat dibedakan
apakah suatu pembelajaran dikategorikan sebagai pendidikan
karakter atau pengajaran semata. Dua bentuk yang dimaksud
adalah Pembelajaran Substantif dan Pembelajaran Reflektif. Harus
diakui bahwa pendidikan karakter bukan semata-mata tugas dari
guru agama, PKn, atau guru BP semata, tetapi tanggung jawab
74
semua guru, bahkan kepala sekolah, semua warga sekolah dan
orang tua, serta masyarakat.
Pertama, pembelajaran substantif. Pembelajaran substantif
adalah pembelajaran yang substansi materinya terkait langsung
dengan suatu nilai. Seperti pada mata pelajaran agama dan PKn.
Proses pembelajaran substantif dilakukan dengan mengkaji suatu
nilai yang dibahas, mengkaitkannya dengan kemaslahatan (untuk
kebaikan) kehidupan anak dan kehidupan manusia, baik di dunia
(saat ini) maupun di akhirat (setelah meninggal).
Kedua, pembelajaran reflektif.Pembelajaran reflektif adalah
pendidikan karakter yang terintegrasi/melekat pada semua mata
pelajaran/bidang studi di semua jenjang dan jenis pendidikan.
Proses
pembelajaran
dilakukan
oleh
semua
guru
mata
pelajaran/bidang studi, seperti guru Matematika, IPS, IPA, Bahasa
Indonesia, dan mata pelajaran lainnya. Proses pembelajaran
reflektif dilakukan melalui pengaitan lainnya. Proses pembelajaran
reflektif dilakukan melalui pengaitan materi – materi yang dibahas
dalam pembelajaran dengan makna di belakang materi tersebut.
Dengan kata lain, dalam proses pembelajaran guru menjawab
pertanyaan mengapa suatu materi itu ada dan dibuthkan dalam
kehidupan (Kesuma, 2012: 28).
b. Tiga Basis Desain Pendidikan Karakter
75
Jika ingin efektif dan utuh, pendidikan karakter mesti
menyertakan tiga basis desain dalam pemogramannya. Tanpa tiga
basis itu, program pendidikan karakter di sekolah hanya menjadi
wacana semata. Adapun tiga desain basis pendidikan karakter
secara jelasnya sebagai berikut:
Pertama, desain pendidikan karakter berbasis kelas.Desain
ini berbasis pada relasi guru sebagai pendidik dan siswa sebagai
pembelajar di dalam kelas. Konteks pendidikan karakter adalah
proses relasional komuntias kelas dalam konteks pembelajaran.
Relasi guru – pembelajar bukan monolog. Melainkan dialog
dengan banyak arah sebab komunitas kelas terdiri dari guru dan
siswa yang sam-sama berinteraksi dengan materi. Memberikan
pemahaman dan pengertian akan keutamaan yang benar terjadi
dalam konteks pengajaran ini, termasuk didalamnya pula adalah
ranah non instruksional, seperti menejemen kelas, konsensus kelas,
dan lain-lain, yang membantu terciptanya suasana belajar yang
nyaman.
Kedua, desain pendidikan karakter berbasis kultur sekolah.
Desain ini mencoba membangun kultur sekolah yang mampu
membentuk karakter anak didik dengan bantuan pranata sosial
sekolah agar nilai tertentu terbentuk dan terbatinkan dalam diri
siswa. Untuk menanamkan nilai kejujuran tidak cukup hanya
dengan memberikan pesan-pesan moral kepada anak didik. Pesan
76
moral ini mesti di perkuat dengan penciptaan kultur kejujuran
melalui pembuatan tata peraturan sekolah yang tegas dan konsisten
terhadap setiap perilaku ketidakjujuran.
Ketiga,
desain
karakter
berbasis
komunitas.Dalam
mendidik, komunitas sekolah tidak berjuang sendirian.Masyarakat
diluar lembaga pendidikan, seperti keluarga, masyarakat umum
dan negara, juga memiliki tanggung jawab moral untuk
mengintegrasikan pembentukan karakter dalam konteks kehidupan
mereka.Ketika lembaga negara lemah dalam penegakan hukum,
ketika mereka yang bersalah tidak pernah mendapatkan sanksi
yang setimpal, Negara telah mendidik masyarakatnya untuk
menjadi manusia yang tidak menghargai makna tatanan sosial
bersama.
Pendidikan karakter hanya akan bisa efektif jika tiga desain
pendidikan karakter ini dilaksnakan secara simultan dan sinergis.
Mengabaikan ketiga desain tersebut, pendidikan kita hanya akan
bersifat parsial, inkonsisten, dan tidak efektif (Muslich, 2011: 160).
c. Strategi Pengintegrasian Pendidikan Karakter
Penerapan pendidikan budi pekerti dapat dilakukan dengan
berbagai strategi pengintegrasian.Strategi yang dapat dilakukan
adalah (1) pengintegrasian dalam kegiatan sehari – hari, dan (2)
pengintegrasian dalam kegiatan yang di programkan (Muslich,
2011: 175).
77
1) Pengintegrasian Dalam Kegiatan Sehari-hari
Pelaksanaan strategi ini dapat dilakukan melalui cara
berikut:
a) Keteladanan/Contoh
Kegiatan pemberian contoh/teladan ini bisa dilakukan
oleh pengawas, kepala sekolah, staf adminstrasi di sekolah
yang dapat dijadikan model bagi peserta didik.
b) Kegiatan Spontan
Kegiatan spontan adalah kegiatan yang dilaksanakan
secara spontan pada saat itu juga. Kegiatan ini biasanya
dilakukan pada saat guru mengetahui sikap/tingkah laku
peserta didik yang kurang baik, seperti meminta sesuatu
dengan berteriak, mencoret dinding.
c) Teguran
Guru perlu mengatur peserta didik yang melakukan
perilaku buruk dan mengingatkannya agar mengamalkan
nilai-nilai yang baik sehingga guru dapat membantu
mengubah tingkah laku mereka.
d) Pengkondisian Lingkungan
Suasana sekolah dikondisikan sedemikian rupa
dengan penyediaan sarana fisik. Contoh: penyediaan tempat
sampah, jam dinding, slogan-slogan mengenai budi pekerti
yang mudah dibaca oleh peserta didik, aturan/tata tertib
78
sekolah yang ditempelkan pada tempat yang
strategis
sehingga setiap peserta didik mudah membacanya.
e) Kegiatan Rutin
Kegiatan rutin merupakan kegiatan yang dilakukan
peserta didik secara terus-menerus dan konsisten setiap saat.
Contoh kegiatan ini adalah berbaris masuk ruang kelas,
berdoa sebelum dan sesudah kegiatan, mengucapkan salam
bila bertemu dengan orang lain, membersihkan kelas/belajar.
2) Pengintegrasian Dalam Kegiatan yang Diprogramkan
Strategi ini dilaksanakan setelah terlebih dahulu guru
membuai perencanaan atas nilai-nilai yang akan diintegrasikan
dalam kegiatan tertentu. Hal ini dilakukan jika guru
menganggap perlu memberikan pemahaman atau prinsip-prinsip
moral yang diperlukan. Lebih jelasnya, berikut bentuk
pengintegrasian nilai yang dapat dilakukan dengaan cara
sebagai berikut:
Table 4.2
Nilai-nilai yang Diprogramkan
Nilai yang Diintegrasikan
Taat kepada ajaran agama
Kegiatan Sasaran Integrasi
Diintegrasikan
kepada
kegiatan
peringatan sehari-hari besar keagamaan
Toleransi
Diintegrasikan pada saat kegiatan yang
menggunakan
79
metode
tanya
jawab,
diskusi kelompok.
Disiplin
Diintegrasikan pada saat kegiatan olah
raga,
upacara
bendera,
dan
menyelesaikan tugas yang diberikan
guru.
Tanggung jawab
Diintegrasikan pada saat tugas piket
kebersihankelas
dan
dalam
menyelesaikan tugas yang diberikan
guru.
Kasih sayang
Diintegrasikan pada saat melakukan
kegiatan
sosial
dan
kegiatan
melestarikan lingkungan.
Gotong royong
Diintegrasikan
pada
saat
kegiatan
bercerita/diskusi tentang gotong royong,
menyelesaikan tugas-tugas keterampilan.
Kesetiakawanan
Diintegrasikan
pada
bercerita/diskusi
kegiatan
saat
kegiatan
misalnya
koperasi,
mengenai
pemberian
sumbangan.
Hormat-menghormati
Diintegrasikan pada saat menyanyikan
lagu-lagu tentang hormat-menghormati,
saat kegiatan bermain drama
Sopan santun
Diintegrasikan pada kegiatan bermain
drama, berlatih membuat surat.
Jujur
Diintegrasikan pada saat melakukan
percobaan,
bertanding.
80
menghitung,
bermain,
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penlitian, pengkajian dan pembahasan pada bab
sebelumnya, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Konsep Pendidikan Karakter di dalam Al-Qur‟an surat Luqman ayat
12-19 menurut kitab tafsir Al-Misbah secara garis besar meliputi
pendidikan Tuahid/Ketuhanan, pendidikan Ibadah, Dakwah dan
pendidikan akhlak/karakter. Dan secara khusus meliputi pendidikan
Ketuhanan/Larangan mempersekutukan Allah, berbakti kepada orang
tua, bersyukur, kejujuran, pendidikan ibadah, amar ma‟ruf nahi
munkar (dakwah), sabar, dan pendidikan akhlak/karakter. Pendidikan
81
karakter dilakukan dengan cara penanama nilai-nilai secara halus,
penuh kasih sayang layaknya orang tua terhadap anak, dan dengan
cara yang dapat menaklukan hati,bukan dengan kekerasan dan karena
Islam adalah agama yang indah dan damai.
2. Pengaplikasian pendidikan karakter dalam pendidikan karakter masa
kini (keluarga dan sekolah) dilakukan dengan cara penanaman nilainilai yang dilakukan setiap hari, sehingga diharapkan mampu
menjadikannya kebiasaan yang baik, agar nilai-nilai tersebut dapat
dijadikan pondasi yang kokoh dalam karakter seseorang. Di
lingkungan keluarga, dapat dilakukan dengan penanaman nilai-nilai
kerukunan, ketakwaan, keimanan, toleransi, dan pola hidup sehat.
Sedangkan penanaman nilai-nilai pendidikan karakter di sekolah dapat
dilakukan dengan dua cara, yang pertama adalah pengintegrasian nilai
dalam kegiatan sehari-hari meliputi keteladanan, kegiatan spontan,
teguran, pengondisian lingkungan dan kegiatan rutin. Dan yang kedua
adalah dengan pengintegrasian nilai-nilai yang diprogramkan,
maksudnya adalah guru menyusun dan menerapkan nilai-nilai positif
yang dianggap penting dalam aspek kehidupan di sekolah yang
mampu meningkatkan budi perkerti yang luhur ke dalam diri siswa.
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas maka, penulis memberikan saran sebagai
berikut:
1. Untuk Diri Sendiri dan Orang Lain
82
Penanaman nilai-nilai yang baik harus dimulai dari sendiri, dan
tidak mengabaikan hal-hal yang kecil, karena setiap hal besar dimulai
dari hal-hal kecil yang disepelekan. Setiap individu diharapkan bisa
menjalankan amar ma‟ruf nahi munkar, dimana pelaksanannya
menjalankan nahi munkar terlebih dahulu. Dengan cara membentengi
diri dari segala sifat buruk yang dapat meruntuhkan pondasi karakter
yang baik, supaya bisa menjadi sumber daya manusia yang berkualitas
dan Islami.
2. Untuk Orang Tua dan Guru
Hendaknya orang tua menjadi suri tauladan yang baik, dan
guru dapat mengayomi dan memberikan rasa aman terhadap siswa
agar proses pengintegrasian nilai-nilai pendidikan karakter berjalan
secara efektif
3. Untuk Pemerintah
Pemerintah harus selalu memantau dunia pendidikan, agar
pendidikan tidak disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak
bertanggung jawabyang dapat merusak karakter siswa, serta dapat
menindaklanjutinya sesuai kebutuhan. Dan pemerintah diharapkan
dapat memberikan perhatian ekstra kepada masyarakat yang kurang
mampu,
dan
memberikan
bantuan
agar
masyarakat
tersebut
mendapatkan hak pendidikannya dan mengejar ketertinggalan
pendidikan.
83
C. Penutup
Demikianlah skripsi yang dapat penulis sampaikan.Tentunya
skripsi ini tidak lepas dari kesalahan dan kekurangan. Oleh karena itu,
penulis meminta maaf yang sebesar-besarnya jika terdapat kesalahan
dalam penyampaian maupun penulisan skripsi ini.Penulis juga menerima
kritik dan saran dari pembaca sehingga skripsi ini menjadi lebih baik dan
mendekati kebenaran sebuah karya ilmiah.Semoga dengan adanya skripsi
ini bisa bermanfaat dan menambah wawasan bagi para pembaca.
84
DAFTAR PUSTAKA
Al-Ghamidi, Abdullah.2011. Cara MengajarAnak/MuridalaLuqman alHakim. Yogyakarta: Sabil.
Al-Hasni, Muhammad bin Alawi al-Maliki. 1999. MutiaraIlmu-ilmu AlQur‟an. Bandung: CV. PustakaSetia.
Al-Qur‟an dan Kumpulan Hadist Digital
Ar-Rifa‟I,
Muhammad Nasib.2000. Kemudahan Dari Allah
RingkasanTafsirIbnuKatsirJilid 3. Jakarta: GemaInsani.
Ash-Shaabuuniy, Muhammad Ali. 1999. StudiIlmu Al-Qur‟an. Bandung:
CV. PustakaSetia.
Bekker, Anton. 1990. MetodologiPenelitianfilsafat. Yogyakarta: Kanisius
Damayanti, Dewi. 2014. PanduanImplementasiPendidikanKarakter di
SekolahTeoridanPrkatisInternasional. Yogyakarta: Araska.
Endraswara, Suwardi. 2013. PendidikanKarakterDalamFoklorKonsep,
Bentukdan Model. Yogyakarta: PustakaRumahSuluh.
KamusBesarBahasa
Indonesia.2007.
DepartemenPendidikanNasional.BalaiPustaka.
Kesuma, Dharma. CepiTriatna, JoharPermana. 2012. PendidikanKarakter,
KajianTeoridanPraktik
di
Sekolah.
Bandung:
PT.
RemajaRosdakarya.
Khalid, Syekh. 2012. KitabFiqhMendidikAnak. Yogyakarta: Diva Press.
Maslikhah,
2013.MelejitkanKemahiranMenulisKaryaIlmiahbagiMahasisw
a.Yogyakarta: Trust Media
Munir,
Ahmad. 2008. TafsirTarbawiMengungkapPesan
TentangPendidikan. Yogyakarta: Teras.
Al-Qur‟an
Muslich, Masnur. 2011. Pendidikankaraktermenjawabtantangankrisis
multidimensional. Jakarta: BumiAksara.
PedomanPenulisanSkripsidanTugasAkhir STAIN. 2008.
Ramli,
Abdul Wahid. 2002.
GrafindoPersada.
Ulumul
Qur‟an.
Jakarta:
Raja
Samani, Muchlas. Hariyanto. 2013. Konsep& Model PendidikanKarakter.
Bandung: PT. RemajaRosdakarya.
85
Shihab, M. Quraish. 1994. KisahdanHikmahKehidupanLenteraHati.
Bandung: Mizan.
Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir Al-MisbahPesan, KesandanKeserasian
Al-Qur‟an. Jakarta: LenteraHati.
Suhartono, Suparlan. 2006. FilsafatPendidikan. Yogyakarta: ArRuzz.
Suryabrata, Sumadi. 1995. MetodePenelitian. Jakarta: Raja Grafindo.
Syaifullah, Achmad. 2010. Ayat-ayatMotivasiBerdayaLedakan Super
Dahsyat. Yogyakarta: Diva press.
Tatapangarsa, Humaidi. 1980. Ahlak Yang Mulia. Surabaya: PT.
BinaIlmu.
UU RI No. 20 Tahun 2003, 2009. Jakarta: SinarGrafika.
http://theprotectorofislam.blogspot.co.id (Senin, 29 Februari 2016, 15:00)
http://www.rumahbangsa.net/2015/02/metode-dan-corak-tafsir-almisbah.html (Senin, 29 Februari 2016, 15:00)
86
87
88
89
90
91
92
93
Download