BAB III ANALISA RANGKAIAN

advertisement
36
BAB III
ANALISA RANGKAIAN
3.1 Analisa Rangkaian
Analisa rangkaian dilakukan melalui analisa pada diagram blok, seperti terlihat
pada gambar 3.1.
PENERIMA
INPUT
BLOK I
PEMANCAR
MEDIA
TRANSMISI
BLOK II
BLOK III
BEBAN
OUTPUT
Gambar 3.1 Blok Diagram Rangkaian
3.1.1 Blok Input
Pada blok ini penulis nenggunakan blok input yang berupa pencatu daya
sederhana yang terbuat dari trasformator tenaga dengan empat buah silikon yang
dihubungkan secara jembatan. Saklar putar dapat dipasang pada rangkaian gambar
3.2 agar tegangan yang dibutuhkan dapat dipilih dengan memutar saklar putar .
37
0
T
0
110
D1 -D4
+ 9 Volt
+
Fuse 220
1A
6
9
12
1
Steker
C1
-
240
Gambar 3.2 Diagram Rangkaian Input (Catu Daya Sederhana)
3.1.2 Blok Rangkaian Pemancar
Radiasi infra merah yang dihasilkan oleh dua buah dioda lampu LED (Light
Emitting Diode) infra merah D2 dan D3. Ketika LED ini dihidupkan akan
memberikan kilatan cahaya yang sangat singkat, namun dengan intesitas cahaya yang
sangat tinggi. Ini akan lebih mudah dideteksi pada jangkauan yang lebih jauh.
Dasar rangkaian pemancar ini dengan menggunakan sebuah IC NE 555 yang
berfungsi sebagai astabil multivibrator. Pada kapasitor CI mengisi muatan melalui
resistor R. Output pada IC (pena 3) dihubungkan dengan kaki positif dioda D1.
Resistor R1 berfungsi sebagai pembatas arus, sehingga arus yang melewati D1 tidak
akan lebih dari 0,5 mA. Komsumsi arus seluruh rangkaian ini sekitar 0,5 mA yang
telah cukup untuk mengoperasikan IC dengan komponen sekitarnya. Kapasitor C2
digunakan sebagai penghemat sumber tegangan. Rangkaian pemancar ini
menggunakan sumber tegangan sebesar 8 Volt.
38
+ 9 Volt DC
C1
R
4
6
8
2
C2
5
3
D1
D2
1
D3
Gambar 3.3. Blok Diagram Rangkaian Pemancar
3.1.3 Blok Media Transmisi
Media transmisi adalah bagian fisik antara pemancar dan penerima didalam
sistem transmisi. Media transmisi dapat dibagi menjadi 2 yaitu
:
a. Guided Media
Merupakan media yang dapat mengendalikan gelombang melalui media fisik,
seperti kabel twisted pair, kabel coaxial dan kabel fiber optik.
b. Unguided Media
Merupakan media yang dapat mengendalikan gelombang melalui media atmosfer
(udara), seperti gelombang bunyi, spread spectrum, radio, gelombang infra merah
dan sebagainya.
39
Wireless Transmission adalah sebuah sistem dimana pemancaran dan penerimaan
data dibawa melalui media udara. Pada wireless transmission terdapat dua konfigurasi
dasar yaitu :
a. Directional
Bagian pemancar diarahkan pada sudut tertentu ke penerima untuk mengirim
signal gelombamg.
b. Omnidirectional
Bagian penerima dapat menerima gelombang dari arah mana saja yang
dipancarkan oleh pemancar.
Sebuah sistim trasmisi data dalam perancangannya lebih ditunjukkan kepada
kecepatan dan jarak pengiriman . Semakin cepat pengiriman data, semakin baik
sistem tersebut, begitu juga dengan jarak. Faktor yang menentukan kecepatan dan
jarak transmisi dalam suatu sistem adalah:
1. Bandwidth
Adalah jarak jalur pengiriman, sehingga semakin besar bandwidth maka semakin
cepat data yang diterima.
2. Transmission Impairments
Adalah pelemahan signal transmisi (atenuasi). Semakin kecil pelemahan signal ,
maka jarak pengiriman data akan semakin jauh .
3. Interference
Adalah gangguan yang terdapat pada media transmisi. Gangguan ini dapat berupa
noise pada unguided media.
40
4. Banyaknya penerima
Semakin banyak penerima, maka kemungkinan terjadi atenuasi semakin besar.
Hal ini dapat mempengaruhi kecepatan dan jarak pengiriman.
Pada blok media transmisi ini penulis menggunakan media transmisi unguided
media yang berupa gelombang infra merah. Gelombang infra merah ini banyak
digunakan untuk komunikasi jarak dekat. Remote control yang dipakai untuk televisi,
VCR dan peralatan stereo, yang semua peralatan tersebut menggunakan komunikasi
infra merah. Gelombang-gelombang ini relatif direksionai, murah, dan mudah
dibuatnya. Akan tetapi terdapat kekurangannya, antara lain tidak dapat menembus
benda padat (coba berdiri diantara remote control dan televisi).
Di lain pihak, kenyataan bahwa sistem infra merah tidak dapat menembus dinding
merupakan keuntungan juga. Ini berarti bahwa sistim infra merah di sebuah ruangan
tidak akan mengganggu sistem infra merah yang ada di ruang sekitarnya. Di samping
itu, keamanan infra merah terhadap para penyadap lebih baik dibandingkan dengan
sistem radio. Dengan alasan ini, tidak diperlukan izin pemerintah untuk
mengoperasikan sistem infra merah. Kebalikannya dengan sistem radio memerlukan
izin pemerintah.
41
3.1.4 Blok Rangkaian Penerima
3.1.4.1 Blok Fototransistor
Pada blok ini ketika berkas cahaya infra merah difokuskan ke kaki basis pada
fototransistor dengan intensitas yang cukup. Ini berarti arus yang dapat mengalir dari
sumber tegangan adalah 8 Volt yang melalui resistor dan kemudian melalui kaki
kolektor menuju kaki emitor yang diteruskan menuju ground atau sumber tegangan
negatif.
Jika berkas cahaya infra merah tidak difokuskan ke kaki basis atau berkas cahaya
infra merah terhalang oleh suatu benda, maka arus tidak dapat mengalir dari kaki
kolektor fototransistor ke kaki emitor fototransistor. Ketika berkas cahaya infra merah
jatuh pada kaki basis, akan men-switch “ON” (transistor dalam keadaan jenuh).
Arus mengalir dari kolektor ke emitor dan tegangan pada kaki kolektor akan
terdorong jauh mendekati 0 volt. Ketika berkas cahaya dari infra merah dipotong atau
terhalang oleh benda yang berada diantaranya, maka masukan kaki basis
fototransistor akan “OFF” (transistor dalam keadaan menyumbat). Tegangan pada
kolektor akan naik, ketika tidak ada arus yang melewati kaki kolektor ke kaki emitor.
Tegangan akan sama seperti sumber tegangan yaitu 8 Volt.
42
+ 9 Volt
R1
C1
SPT
Gambar 3.4 Blok Diagram Rangkaian Fototransistor
3.1.4.2 Blok Penguat
Penguat adalah suatu rangkaian elektronik yang dapat dipakai untuk menguatkan
daya, tegangan dan arus listrik. Pada blok penguat ini terdapat, transistor TR1, TR2,
TR3, TR4, resistor R2, R3, R4, R5, R6, R7, R8, R9, dan kondesator C2, C3, C4 yang
digunakan sebagai komponen-komponen dasar dari rangkaian ini. Jika pada transistor
TR1 menjadi panas, maka arus pada kaki kolektor akan condong naik. Arus pada kaki
kolektor tersebut akan menaikkan tegangan diantara terminal-terminal resistor R3,
karena tegangan diterminal-terminal transistor R3 naik, maka turunlah tegangan pada
kolektor- emitor (Vce), maka tegangan pada kaki basis akan ikut menjadi turun
(karena tegangan untuk kaki basis disadap dari kaki kolektor oleh sebuah resistor R2).
Pada transistor TR2 terjadi penguatan tunggal emitor tanpa menggunakan
stabilisasi. Dalam rangkaian TR2 ini harus mengalir arus yang rendah, karena itu
43
penguat pada transistor TR2 ini hanya dapat dipakai sebagai penguat arus yang sangat
rendah atau kecil saja.
Pada transistor TR3 arus yang berasal dari kaki kolektor transistor TR2 akan
dihubungkan kekaki basis transistor TR3 oleh sebuah kondesator C3. Selama terdapat
denyut-denyut masukan pada transistor TR3, kaki basis dan emitor terukur adanya
tegangan –tegangan terbalik. Tegangan yang dihasilkan pada kaki emitor transistor
TR3 akan diteruskan menuju kaki basis transistor TR4 yang melalui resistor R8 yang
akan menghambat atau menahan tegangan yang akan masuk kekaki basis transistor
TR4. Arus negatif yang dihasilkan oleh kaki kolektor TR4 akan segera diteruskan ke
dioda LED D1, sehingga dioda LED D1 akan diberi tegangan muka maju yang akan
dapat mengaktifkan dioda LED D1 (menyala terang).
+ 9 Volt
R4
R3
+
R6
-
C6
R10
C2
GND
TR3
C3
R2
TR2
TR1
TR4
R8
+
R5
R7
-
C4
R9
Gambar 3.5.Blok Diagram Rangkaian Penguat
44
3.1.4.3 Blok Penyearah
Pada rangkaian ini terdapat komponen resistor R10, dioda D2, D3, D4, D5, serta
sebuah kondesator C5 sebagai komponen dasar rangkaian penyearah. Pada blok
penyearah ini mendapatkan arus keluaran yang berasal dari blok penguat. Pada
rangkaian ini dapat mengalirkan arus listrik yang besar hanya satu arah saja dan tidak
dapat mengalirkan arus sebaliknya. Dioda D2, D3, D4, D5, ini berkapasitas besar
yang dinyatakan dengan Ampere dan mempunyai daya tahan terhadap tegangan yang
dinyatakan dengan Volt. Dioda ini berkapasitas besar mulai dari 1 A dengan daya
tahan terhadap tegangan 25 Volt hingga ribuan Volt.
+ 9 Volt
R10
D2
D3
D4
D5
+
-
C5
Gambar 3.6 Blok Rangkaian Penyearah
3.1.5 Blok Output
Pada rangkaian ini terdapat komponen transistor TR5 type CS 9013 jenis NPN,
dioda D6, resistor R11 dan trimpot VR serta sebuah relay R1 sebagai komponen
45
dasar. Keluaran dari hasil penyearahan dioda, D2, D3, D4, D5, pada blok
penyearahan dapat mengaktifkan trnsistor TR5. Arus yang masuk ke basis lebih
positif dari emitornya yang di ground-kan dan memicu kolektor ke emitor sehingga
TR5 disini menghantar (aktif) dan dapat berfungsi sebagai saklar (switch). Hal ini
mengakibatkan dioda D6 dalam keadaan bias revers.
Signal output yang tersedia untuk menggerakkan alat apa saja yang nanti
terhubung kerangkaian sehingga rangkaian ini akan secara lansung bekerja ketika ada
yang memotong berkas cahaya yang dipancarkan pada rangkaian penerima.
+6V - +9V
SW
D6
RL
VR
TR5
R11
GND
Gambar 3.7. Blok Rangkaian Output
46
3.1.6 Blok Beban
Pada blok ini penulis memberikan rangkaian berupa rangkaian sirene polisi yang
dihubungkan ke relay. Disini penulis tidak membahas bagaimana cara kerja dari
rangkaian sirene polisi ini.
3.2. Analisa Rangkaian Secara detail
Pendeteksian pulsa-pulsa infra merah dari rangkaian pemancar dengan
menggunakan fototransistor SPT. Dengan perantara gelombang infra merah
menjadikan pendeteksian SPT ini boleh dikatakan sangat sensitive, asalkan masih
dalam batas jangkauannya. Resistor R1 merupankan sebagai pembatas tegangan
terhadap SPT yang akan memberikan “ bias revers ”pulsa-pulsa infra merah dari
rangkaian pemancar untuk kemudian diperkuat oleh rangkaian berikutnya.
Kondesator C1 sebagai kople (penggabung siyal dari sumber sinyal kepada penguat)
output SPT sebelum masuk menuju kaki basis TR1. Setelah mengalami penguatan
sinyal masukan dari TR1, sinyal-sinyal rendah atau kecil yang diberikan oleh
transistor TR1 akan diperkuat oleh transistor TR2, transistor TR2 ini hanya dapat di
pakai pada arus yang rendah dengan kondesator C3 sebagai penggabung sinyal dari
sumber siyal (dari kolektor TR2) kepada penguat dan menuju kaki basis transistor
TR3. Arus yang mengalir dari kaki emitor TR3 terukur adanya tegangan –tegangan
terbalik yang akan ditahan oleh sebuah resistor R8 yang kemudian akan diteruskan
menuju basis TR4. Arus negatif yang dihasilkan pada kaki kolektor TR4 akan
47
menghidupkan atau mengaktifkan dioda D1 (LED) yang digunakan sebagai indikator,
lalu diteruskan dan searahkan oleh D2, D3, D4, dan D5. Tegangan positif yang
dihasilkan dari penyearah dioda ini selanjutnya dipergunakan pada kaki basis TR5.
Sebelum arus positif memasuki TR5 arus positif tersebut akan melewati sebuah
potensiometer, yang kegunaanya sebagai pengatur naik atau turunnya tegangan pada
kaki basis dan kaki emitor pada TR5
Berhubung potensiometer tersebut tidak tahan terhadap arus yang besar, maka
rangkaian ini diberi tahanan muka yaitu pada resistor R10. Pemberian tegangan
positif pada basis TR5 dan memberikan tegangan arus negatif pada emitor TR5 yang
disebut juga dengan pemberian tegangan muka maju dengan ukuran tertentu akan
bertingkah sebagai saklar yang menutup dan membuka secara bergantian (berulangulang) tanpa henti, jika kaki basis TR5 tersebut tetap dialiri arus positif. Transistor
TR5 berfungsi sebagai pengerak relay RL, pada saat TR5 dalam keadaan “ON”, maka
relay yang bersifat “normally open” dalam keadaan tertutup akan menghidupkan
beban dengan dioda D6 berfungsi sebagai pengaman gulungan (coil) pada relay RL
dan juga digunakan sebagai penghubung singkat tegangan induksi yang terjadi pada
saat saklar berguling ke “OFF”. C4, C5, dan C6 merupakan komponen yang
berfungsi sebagai penghemat pemakaian arus dari catu daya atau sumber tegangan.
Download