Faktor Dampak Jurnal dan Pengindeksan

advertisement
Faktor Dampak Jurnal dan Pengindeksan
(Journal Impact Factor and Indexing)
Jonner Hasugian
1. Pendahuluan
Masalah publikasi ilmiah pada jurnal/majalah ilmiah menjadi perbincangan yang
hangat dalam kehidupan akademik di Perguruan Tinggi di Indonesia terutama dalam
kurun waktu sepuluh tahun terkahir ini. Akreditasi Program Studi maupun
Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi (AIPT) menuntut publikasi artikel jurnal yang
tinggi. Standar-7 Borang BAN PT meminta isian publikasi baik hasil penelitian
terutama jumlah publikasi artikel pada jurnal. Setiap publikasi artikel pada jurnal
internasional diberi bobot 4, publikasi pada jurnal terakreditasi Dikti diberi bobot 2
dan publikasi pada jurnal lokal diberi bobot 1, selanjutnya untuk mendapatkan skor
pada item boring, maka jumlah publikasi dikali dengan bobot tersebut lalu dibagi
dengan jumlah dosennya. Semakin banyak publikasi artikel ilmiah pada jurnal
internasional, maka semakin tinggi peluang memperoleh skor 4. Pada borang Prodi
S2 dan S3 serta Borang AIPT ditanya lagi, seberapa banyak dari artikel jurnal tersebut
yang terindeks pada lembaga sitasi internasional. Pengalaman sebagai asesor BAN
PT, pada umumnya program studi mengalami masalah dalam publikasi artikel pada
jurnal, terutama pada jurnal internasional.
Dirjen Dikti melalui Surat Edaran Nomor 152/E/T/2012 tentang Publikasi Karya
Ilmiah memberlakukan ketentuan untuk setiap jenjang program pendidikan lulusan
Perguruan Tinggi di Indonesia sebagai berikut:
(1) Untuk lulus program Sarjana harus menghasilkan makalah yang terbit pada
jurnal ilmiah.
(2) Untuk lulus program Magister harus telah menghasilkan makalah dan atau
artikel jurnal yang terbit pada jurnal ilmiah nasional diutamakan yang
terakreditasi Dikti.
(3) Untuk lulus program Doktor harus telah menghasilkan artikel jurnal yang
diterima untuk terbit pada jurnal internasional.
Dampak dari surat edaran di atas, maka banyak lulusan program doktor yang tidak
diperbolehkan mengikuti ujian tertutup dan ujian terbuka (promosi) karena
artikelnya belum diterima (accepted) untuk dipublikasikan pada salah satu judul
jurnal internasional. Untuk program studi sarjana dan Magister, pada uumnya
Universitas membangun repositori dan/atau e-journal dengan tujuan dapat
mengakomodasi publikasi ilmiah dari setiap lulusan.
Hal lain yang mengegerkan kalangan dosen adalah kebijakan atau ketentuan yang
mengatur kepangkatan dosen. Terbitnya instruksi yang menyatakan bahwa untuk
mencapai jabatan lektor kepala dan guru besar, seorang dosen harus menulis di jurnal
nasional terakreditasi dan/atau internasional dan khusus mencapai jabatan guru
1
besar publikasi dosen harus pada jurnal internasional yang terindeks scopus dan
berfaktor fampak (impact factor) (Permendikbud No. 92/2014).
Ketentuan ini dipandang oleh sebahagian kolega dosen “membakar” karena naik
pangkat dan jabatan semakin sulit, akan tetapi banyak pihak termasuk dosen yang
meresponnya dengan positip karena memacu lebih kreatif. Kelihatannya,
kecenderungan kenaikan pangkat/jabatan bagi dosen untuk jabatan lektor kepala
dan guru besar dominan ditentukan pada unsur penelitian dan publikasi dibanding
unsur pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat. Publikasi pada jurnal atau
majalah ilmiah semakin didorong dan diharuskan terutama pada jurnal internasional.
Keketaan persyaratan publikasi ini cenderung semakin berat. Semula untuk mencapai
jabatan akademik guru besar, seorang dosen cukup menulis pada dua jurnal
terkareditasi Dikti atau pada satu jurnal internasional. Sekarang, semakin diketatkan
lagi bahwa untuk mencapai jabatan guru besar, seorang dosen harus menulis pada
jurnal internasional terindeks oleh badan pencatat sitasi atau indexer terkemuka
seperti Scopus, Web of Science, Copernicus dan berfaktor dampak tinggi. Bahkan ada
bidang ilmu tertentu yang mempersyaratkan h-index (Hirsch- Index).
Terbitnnya kebijakan pemerintah mengenai hal-hal sebagaimana diuraikan di atas
dilatarbelakangi oleh kenyataan dan fakta bahwa jumlah publikasi ilmiah yang
dihasilkan Indonesia secara total masih sangat rendah dibanding dengan sejumlah
negara di Dunia, bahkan di Asia. Dalam konsideran Surat edaran Dirjen Dikti Nomor
152/E/T/2012 dinyatakan bahwa jumlah publikasi karya ilmiah dari Perguruan
Tinggi di Indonesia, secara total masih jauh di bawah Malaysia. Semula banyak pihak
yang meragukan hal ini, akan tetapi setelah melihat data yang akurat, bahwa banyak
orang yang kemudian diam dan merenungkannya. Sajian data dalam tabel berikut
akan memberikan informasi kepada kita tentang produksi publikasi Indonesia di Asia
Tenggara, Asia bahkan dunia.
2
Data di atas menunjukkan bahwa pertumbuhan publikasi ilmiah Indonesia pada
jurnal terindeks Scopus sangat jauh di bawah Malaysia, Singapura dan Thailand.
Pertumbuhan publikasi ilmiah Indonesia sedikit di atas Vietnam dan kelihatannya
sangat sulit untuk menyamai atau melampaui Malaysia, Singapura dan Thailand
dalam kurun waktu yang singkat.
Data menunjukkan bahwa dampak dari Surat edaran Dirjen Dikti Nomor
152/E/T/2012 sangat efektif mendongkrak kenaikan publikasi Indonesia. Gambar di
bawah ini menunjukkan pertumbuhan publikasi artikel jurnal Internasional di
Indonesia sejak tahun 1996 sampai dengan tahun 2014. Terlihat bahwa sejak tahun
2012 terjadi peningkatan pertumbuhan yang signifikan.
Pertumbuhan publikasi Indonesia dibanding dengan sejumlah Negara di Asia (33
Negara) berada pada peringkat 11 yaitu di bawah Pakistan dan di atas Banglades.
Terdapat kecenderungan peningkatan publikasi dalam kurun waktu lima tahun
terakhir baik pada jumlah maupun sitasi. Berikut peringkat Indonesia dalam
publikasi artikel jurnal internsional di Asia.
3
Data di atas menunjukkan bahwa ada 32.355 judul artikel pada jurnal internasional
terindeks Scopus yang dipublikasikan oleh penulis/peneliti dari Indonesia sejak
tahun 1996 sampai dengan tahun 2014 dimana 30.770 judul dari artikel tersebut dapat
disitir. Jumlah sistiran yang diterima (citations) adalah 2.306.610 kali atau rata-rata
12,72 kali sitiran per dokumen (citations per document) dalam kurun waktu 19 tahun
(1996-2014) atau sekitar 0,67 kali per tahun. Jika kita bandingkan dengan Malaysia,
ada hal yang menarik dimana Malaysia unggul dalam jumlah dokumen, akan tetapi
Indonesia unggul dalam jumlah sitiran per dokumen 12, 72 berbanding 9,43.
Selanjutnya bila kita perhatikan angka sitiran per dokumen (citations per document)
untuk 4 besar negara di Asia, maka akan terlihat bahwa HongKong yang paling tinggi
(16,67), kemudian Singapura (15,78), Jepang (13,79) dan Indonesia (12,72). Data ini
menunjukkan bahwa artikel jurnal hasil karya penulis dari keempat negara yang
paling sering disitir/dikutip oleh penulis dari berbagai negara di dunia menurut data
sitiran versi Scopus. Data ini menggambarkan bahwa kualitas publikasi dan riset
penulis dari keempat negara sangat baik.
Jika dibandingkan dengan dunia, peringkat Indonesia akan terlihat semakin jauh dari
negara-negara lainnya. Indonesia berada pada peringkat 57, berada di bawah negara
Maroko dan di atas Lithuania. Sebelum tahun 2012, Indonesia berada pada peringkat
66 dunia (tahun 2010), selanjutnya terjadi peningkatan yang berarti. Diharapkan pada
tahun berikutnya peringkatnya akan semakin membaik, setara dengan negara-negara
maju lainnya. Data dalam tabel berikut menunjukkan peringkat Indonesia dalam hal
pubkikasi artikel pada jurnal internasional di tataran dunia (239 negara).
4
Jika dilihat data di atas bahwa artikel jurnal yang paling sering disitir (citations per
document) adalah dari Switzerland (26,1), Netherland (24,56), Amerika Serikat
5
(23,36), Sweden (23,21) dan United Kingdom (21,03), lainnya di bawah 20. Akan tetapi
bila dilihat h-index hanya ada 4 (empat) negara yang memperoleh angka di atas 800
yaitu United Stated (1.648), United Kingdom (1.015), Germany (887), dan Franc (811),
lainnya di bawah 800. Data ini mengindikasikan kualitas publikasi dan riset di kelima
negara tidak sangat bagus, bahkan sulit tertandingi oleh negara-negara dari Asia,
termasuk Indonesia. Penulis/peneliti dari keempat negara sangat produktif,
berpengaruh dan berkontribusi yang sangat tinggi kepada pertumbuhan dan
perkembangan ilmu pengetahuan.
2. Faktor Dampak Jurnal (Journal Impact Factor)
Salah satu kajian dalam matakuliah Bibliometrika dan Informetrika yang diajakarkan
pada setiap program studi ilmu perpustakaan dan informasi adalah faktor dampak
jurnal (journal impact factor). Studi ini pada umumnya mengkaji jurnal atau majalah
ilmiah yang diterbitkan oleh program studi atau fakultas tertentu di sejumlah
perguruan tingggi dan lembaga-lembaga riset (Scholarly and Research Journals).
Kajian impact factor (IF) pertama sekali dilakukan oleh Eugene Garfield pada tahun
1955. Selanjutnya, Ia mendirikan Institute for Scientific Information pada tahun 1975
yang salah satu tugas pokok dari lembaga tersebut adalah mengamati pertumbuhan
jurnal dan majalah ilmiah serta menganalisis faktor dampak dan pengaruhnya.
Sehingga sejak tahun 1975, IF dari berbagai jurnal dihitung dan diterbitkan
laporannya setiap tahunnya pada journal citation index reports.
Perhitungan IF dilakukan dengan menganalisis sitiran yang dilihat pada bibliografi
atau referensi setiap artikel jurnal. Ketika artikel sebuah jurnal A misalnya, disebut
atau ditulis dalam bibliografi artikel yang dimuat dalam jurnal C, maka jurnal A
disebut cited document atau jurnal yang disitir atau yang dikutip, sedangkan jurnal C
disebut citing document atau jurnal yang menyitir atau yang mengutip. Semakin
banyak sebuah jurnal disitir atau dikutip, maka semakin tinggi dampak dari jurnal
tersebut demikian sebaliknya, dan jika ada jurnal yang tidak pernah disitir atau
dikutip, maka IF-nya adalah nol.
IF dari sebuah jurnal adalah ukuran yang mencerminkan jumlah rata-rata sitiran
atau kutipan yang diterima oleh artikel yang dipbulikasi sebuah jurnal dalam kurun
waktu atau periode tertentu dibagi dengan seluruh jumlah (total) artikel yang
publikasi oleh jurnal tersebut dalam periode atau kurun waktu yang sama. Untuk IF,
kurun waktu atau periode yang digunakan dalam penghitungan adalah 2 (dua)
tahun. Untuk memudahkan pemahaman kita akan pengertian IF di atas, berikut
diberikan contoh (Data bukan sebenarnya):
6
(1) American Journal of Ophthalmology. Jurnal ini terbit sejak tahun 1918 sampai
sekarang. Terbit 4 Nomor (Issu) per tahun. Untuk tahun 2014, setiap Nomor
menerbitkan 15 judul artikel. Sehingga total artikel yang diterbitkan (produksi)
selama tahun 2014 adalah 60 judul artikel. Tahun 2015, terbit dengan pola yang
sama. Sehingga jumlah seluruh (total) artikel yang dipublikasi oleh jurnal tersebut
selama periode atau kurun waktu 2 (dua) tahun (2014-2015) adalah 120 judul.
Selama kurun waktu 2014 – 2015 (dua tahun), artikel jurnal tersebut disitir atau
menerima sitiran sebanyak 182 kali.
(2) British Journal of Ophthalmology. Jurnal ini terbit sejak tahun 1945 sampai
sekarang. Terbit 4 Nomor (Issu) per tahun. Untuk tahun 2014, setiap Nomor
menerbitkan 20 judul artikel. Sehingga total artikel yang diterbitkan (produksi)
selama tahun 2014 adalah 80 judul artikel. Tahun 2015, terbit dengan pola yang
sama. Sehingga jumlah seluruh (total) artikel yang dipublikasi oleh jurnal tersebut
selama periode atau kurun waktu 2 (dua) tahun (2014-2015) adalah 160 judul.
Selama kurun waktu 2014-2015 (dua tahun), artikel jurnal itu disitir atau menerima
sitiran sebanyak 180 kali.
(3) JAMA Ophthalmology. Jurnal ini terbit sejak tahun 2013 sampai sekarang. Terbit
12 Nomor (Issu) per tahun. Untuk tahun 2014, setiap Nomor menerbitkan 15 judul
artikel. Sehingga total artikel yang diterbitkan (produksi) selama tahun 2014
adalah 180 judul artikel. Tahun 2015, terbit dengan pola yang sama. Sehingga
jumlah seluruh (total) artikel yang dipublikasi oleh jurnal tersebut selama periode
atau kurun waktu 2 (dua) tahun (2014-2015) adalah 360 judul. Selama kurun waktu
2014 – 2015 (2 tahun), artikel jurnal itu disitir atau menerima sitiran sebanyak 280
kali.
Pertanyaan: Berapakah IF dari ketiga jurnal tersebut?. Seandainya Pustakawan
diminta Prgram Studi melanggan satu dari ketiga judul tersebut, jurnal yang mana
yang akan di langgan?.
(1) IF dari American Journal of Ophthalmology pada tahun 2014-2015 adalah
Jumlah sitiran yang diterima jurnal tersebut (selama dua tahun) adalah 182
dibagi dengan jumlah total artikel yang diproduksi selama 2 (dua) tahun
adalah 120.
IF = 182 : 120 = 1,52. (Artinya rata-rata artikel dalam jurnal tersebut disitir
1, 52 kali selama kurun waktu 2 tahun, periode 2014-2015.
(2) IF dari British Journal of Ophthalmology pada tahun 2014-2015 adalah Jumlah
sitiran yang diterima jurnal tersebut (selama dua tahun) adalah 180 dibagi
dengan jumlah total artikel yang diproduksi selama 2 (dua) tahun adalah 160.
IF = 180 : 160 = 1,13. (Artinya rata-rata artikel dalam jurnal tersebut disitir
1, 13 kali selama kurun waktu 2 tahun, periode 2014-2015.
7
(3) IF dari JAMA Ophthalmology pada tahun 2014-2015 adalah Jumlah sitiran
yang diterima jurnal tersebut (selama dua tahun) adalah 280 dibagi dengan
jumlah total artikel yang diproduksi selama 2 (dua) tahun adalah 360.
IF = 280 : 360 = 0,78. (Artinya rata-rata artikel dalam jurnal tersebut disitir
0,78 kali selama kurun waktu 2 tahun, periode 2014-2015).
Dari contoh di atas terlihat bahwa American Journal of Ophthalmology memiliki IF
yang paling tinggi yaitu 1,52, kemudian British Journal of Ophthalmology 1,13 dan
JAMA Ophthalmology 0,78. Kalau Pustakawan ditugaskan melanggan salah satu dari
ketiga jurnal tersebut, yang mana yang akan dilanggan?.
Ada juga institusi yang meminta data IF tetapi untuk periode hanya 1 (satu) tahun.
Perhitungannya sama dengan yang diuraikan di atas, hanya periode perhitungannya
satu tahun tertentu. Hasil perhitungan dengan cara itu disebut Immediacy index atau
indeks kesegaran yaitu ukuran yang menunjukkan seberapa cepat artikel dalam
sebuah jurnal memperoleh sitiran.
Sekarang ini perhitungan IF dinilai oleh kalangan akademis tertentu tidak cukup,
akan tetapi perlu dilihat h-index (baca indeks h) singkatan dari Hirsch- Index. H-index
ini pertama sekali disarankan oleh Jorge E. Hirsch, seorang ahli fisika di Universitas
California San Diego pada tahun 2005, sebagai indeks untuk mengukur kualitas
fisikawan teoretis.
Indeks-h (h-index) merupakan indeks yang mencoba mengukur baik produktivitas
maupun dampak dari karya yang diterbitkan seorang ilmuwan atau peneliti. Indeks ini
didasarkan pada jumlah karya ilmiah yang dihasilkan oleh seorang ilmuwan/peneliti
dan jumlah sitasi (kutipan) yang diterima dari publikasi lain. Indeks ini juga dapat
diterapkan untuk menggambarkan produktivitas dan dampak dari sekelompok
ilmuwan atau peneliti, baik dari program studi/departemen, atau dari sebuah
perguruan tinggi/universitas atau dari sebuah negara. Dikti sekarang ini menjadikan
h-index scopus sebagai salah satu syarat untuk mengusulkan proposal penelitian. Bagi
peneliti yang mempunyai h-index scopus 2 dapat mengajukan lebih dari satu proposal
penelitian sebagai ketua, dan jumlah proposal yang bisa diajukan proposional dengan
nilai h-index scopus tersebut.
3. Pengindeksan (Indexing).
Dalam pengertian yang sederhana indeks (index) adalah kata atau istilah (terms) yang
menjadi representasi atau wakil dokumen pada sebuah file atau simpanan data.
Fungsinya sebagai alat temu kembali informasi dari sebuah file atau simpanan data.
Ketika suatu kata atau istilah diinput ke sebuah sistem, maka akan memunculkan
8
sejumlah dokumen yang diwakilinya. Proses pembuatan indeks disebut dengan
pengindeksan (indexing). Proses pembuatan indeks dapat dilakukan oleh orang
(human indexer) dan dapat juga dilakukan secara otomatis melalui mesin (machine
indexer).
Pada awalnya ada 4 jenis indeks yang umum digunakan dalam pembuatan indeks
yaitu indeks pengarang (author index), indeks subjek (subject index), permuterm
index dan indeks sitasi (citation index), akan tetapi sekarang ini yang paling banyak
dihasilkan terutama dalam pengindeksan e-journal adalah indeks subjek dan indeks
sitasi. Dalam perkembangan selanjutnya, muncul sejumlah lembaga sitasi yang
mengindeks publikasi artikel dalam jurnal dan ada juga yang mengindeks proceeding
seminar bahkan books chapter. Ada 3 (tiga) lembaga sistasi yang terkenal dewasa ini
adalah Scopus, Web of Sicence, Copernicus, semula ada google scholer dan sebagainya.
Tulisan ini tidak membahas seluruhnya dan uraian lebih dominan kepada Scopus,
sedangkan uraian tentang web of science dan Copernicus hanya sekilas saja.
Salah satu entitas yang paling dikenal oleh para peneliti dunia adalah Scopus. Scopus
dimiliki oleh penerbit Elsevier, yaitu salah satu penerbit terkemuka dan utama di
dunia. Scopus adalah sebuah pusat data terbesar di dunia yang mencakup puluhan
juta literatur ilmiah yang terbit sejak puluhan tahun yang lalu sampai saat ini. Fungsi
utama Scopus adalah membuat indeks literatur ilmiah untuk memberikan informasi
yang akurat mengenai metadata masing-masing artikel ilmiah secara individual,
termasuk di dalamnya adalah data publikasi, abstrak, referensi, dll.
Scopus merupakan database bibliografis yang berisikan abstrak dan sitasi untuk
artikel jurnal akademik (ilmiah) dan juga berbagi literatur dari berbagai sumber web
penting lainnya, yang melakukan peer-reviewed. Sebagai database yang terbesar di
dunia saat ini, Scopus memiliki sumber dari berbagai publisher di seluruh dunia
(tidak hanya Elsevier saja) dan mencakup juga jurnal-jurnal non English (abstrak
dalam bahasa Inggris).
Scopus sebagai salah lembaga sitasi yang paling besar sekarang ini dan paling banyak
diperbincangkan di Indonesia, karena data sitasinya digunakan dalam berbagai
kegiatan akademik termasuk menilai kepangkatan dosen untuk mencapai lektor
kepala dan guru besar.
Scopus mengcover lebih dari 22,000 judul dari lebih 5.000 penerbit terkemuka, yang
mecakup 20,000 judul jurnal yang memiliki reviewer ahli di bidangnya (peerreviewed) dalam berbagai bidang seperti sains, teknik, kedokteran, ilmu-ilmu sosial dan
humanitis, termasuk ke database patent.
Tidak semua jurnal ilmiah yang diindeks oleh Scopus. Jurnal yang diindeks oleh
Scopus adalah yang telah memenuhi persyaratan yang ditentukan oleh Scopus.
Persyaratan itu ada yang menyangkut persyaratan (lay out) atau fisik, redaksional
Bahasa, terutama persyaratan peer-reviewed. Oleh karena itu, perlu kerja keras
9
pengelola jurnal agar dapat terindeks di Scopus. Pengalaman teman pengelola jurnal
“Al-Jami'ah” yang sejak tahun 2014 terindeks di Scopus, menyatakan “berdarahdarah” mempersiapkannya selama hampir 3 (tiga) tahun untuk memenuhi
persyaratan yang diminta. Berikut ini disampaikan data daftar judul jurnal terbitan
Indonesia yang terindeks di Scopus seperti pada Tabel berikut.
Tabel-4: Daftar Jurnal Terbitan Indonesia Terindeks Scopus per Mei 2016
Rank
Total
Docs.
(3years)
Total
Cites
(3years)
0,313
15
170
139
0,243
6
182
168
0,219
9
144
65
0,211
8
325
116
0,192
6
81
42
0,173
2
37
9
0,169
3
40
11
0,164
2
108
38
0,157
3
131
42
0,154
2
34
6
0,149
2
35
11
0,139
3
88
14
0,126
1
70
7
0,119
1
72
6
0,117
4
78
10
0,116
2
35
7
Acta medica Indonesiana
International Journal of Power
Electronics and Drive Systems
International Journal on Electrical
Engineering and Informatics
journal
Telkomnika
Bulletin of Chemical Reaction
Engineering and Catalysis
journal
journal
8
Biodiversitas
Journal of ICT Research and
Applications
International Journal of Electrical
and Computer Engineering
9
Indonesian Journal of Chemistry
journal
Kukila
Gadjah Mada International Journal
of Business
International Journal of
Technology
Indonesian Journal of Applied
Linguistics
journal
journal
15
Agrivita
Journal of Engineering and
Technological Sciences
16
Biotropia
journal
17
Proceedings of the 26th Pacific Asia
Conference on Language,
Information and Computation,
PACLIC 2012
confere
nce and
procee
ding
-
0,112
3
73
10
confere
nce and
procee
ding
ISSN
23375760
0,112
3
169
13
19
Proceedings of the 21st
International Conference on
Computers in Education, ICCE
2013
Journal of Mathematical and
Fundamental Sciences
0,109
4
81
12
20
Doctoral Student Consortia Proceedings of the 21st
International Conference on
-
0,105
1
7
1
2
3
4
5
6
7
10
11
12
13
14
18
Type
H
index
Issn
ISSN
01259326
ISSN
20888694
ISSN
20856830
ISSN
16936930,
ISSN
19782993
ISSN
20854722,
ISSN
23375787
ISSN
20888708
ISSN
14119420
ISSN
02169223
ISSN
14111128
ISSN
20869614
ISSN
23019468
ISSN
01260537
ISSN
23375779
ISSN
02156334
1
Title
SJR;
Impac
factor
journal
journal
journal
journal
journal
journal
journal
journal
journal
journal
confere
nce and
procee
ding
10
21
Computers in Education, ICCE
2013
Work-in-Progress Poster (WIPP)
Proceedings of the 21st
International Conference on
Computers in Education, ICCE
2013
confere
nce and
procee
ding
22
Critical Care and Shock
journal
23
Al-Jami'ah
journal
ISSN
14107767
ISSN
0126012X
24
Workshop Proceedings of the 21st
International Conference on
Computers in Education, ICCE
2013
confere
nce and
procee
ding
-
0,102
1
12
0
0,101
7
33
3
0,101
0
34
0
0,1
2
80
1
Data di atas menunjukkan bahwa ada 19 judul jurnal terbitan Indonesia dan 5
conference proceeding yang diindeks Scopus, sebelumnya sampai dengan tahun 2014
hanya ada 16 judul jurnal terbitan Indonesia yang terindeks Scopus. Ke-19 jurnal
tersebut berasal dari 5 Perguruan Tinggi Negeri yang bernaung di Kemenristek Dikti
(ITB, UGM, UI, Univ Brawijaya, UNDIP dan 1 (satu) dari Perguruan tinggi Swasta
Prodi Teknik Elektro Fak.Teknologi Industri Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta,
serta 1 (satu) dari UIN Sunan Kalijaga (Yogyakarta) dan selebihnya dari asosiasi
profesi. Data menunjukkan bahwa IF dari ke 24 publikasi tersebut masih rendah
belum ada yang mencapai 1 dan h-index nya pada umumnya di bawah 10 terkecuali
jurnal Acta medica Indonesiana.
Selain Scopus, ada Web of Science (yang sebelumnya dikenal sebagai Web of
Knowledge) yang juga berperan sabagai lembaga sistasi. Web of Science adalah
berbasis data ilmiah online yang juga melakukan pengindeksan terhdap sejumlah
publikasi ilmiah dan perhitungan sitasinya termasuk IF. Database ini dikelola oleh
Thomson Reuters. Pada umumnya publikasi yang banyak diindeks dalam database
ini adalah penerbit yang merupakan kelompok Thomson. Database ini terkenal
sangat kuat dalam Ilmu-ilmu sosial, seni, humaniora, terutama bidang hukum.
Lembaga sitasi lainnya adalah Copernicus. Nama ini mengingat seorang ahli
matematika dan astronomi yang merumuskan model dari alam semesta yang
bernama Nicolaus Copernicus yang berasal dari Polandia. Indeks Copernicus (IC)
adalah sebuah database online yang yang membeiri informasi mengenai publikasi
ilmiah baik yang dihasilkan perorangan, lembaga/institusi maupun negara. IC
didirikan di Polandia tahun 1999. IC menawarkan alternatif untuk dominasi bahasa
Inggris pada sistem publikasi pengindeksan. Perusahaan atau lembaga ini dibiayai
oleh Dana Pembangunan Daerah Eropa yaitu, "Electronic Publishing House of
Scientific Journals system of Index Copernicus Ltd. Database ini memiliki beberapa
alat penilaian yang dapat melacak dan melihat dampak publikasi karya ilmiah dalam
jurnal dari berbagai ilmuwan baik sebagai individu, maupun yang berasal dari
lembaga penelitian. Selain aspek produktivitas, IC juga menawarkan abstrak dan
pengindeksan publikasi ilmiah. Indeks ini lebih dominan pada bidang science.
11
4. Penutup
Apa yang dapat dilakukan berkaitan dengan Scopus?
Scopus memberikan data agregat untuk menunjukkan tingkat pengaruh suatu jurnal
(journal impact) atau institusi (institutional impact) dalam dunia publikasi ilmiah
berdasarkan hubungan sitasi dari dan ke artikel-artikel yang diterbitkan oleh sebuah
jurnal atau dipublikasikan oleh peneliti-peneliti dari suatu institusi. Maka, pengguna
Scopus dengan mudah mendapatkan informasi mengenai apa yang sudah
dipublikasikan oleh penerbit-penerbit atau lembaga-lembaga riset dari seluruh dunia.
Pustakawan dapat menunjukkan jurnal-jurnal terkemuka dan berimpact faktor tinggi
yang relevan dengan kebutuhan Program Studi, Departemen atau unit kerja yang ada
pada lembaga induk yang menaungi Perpustakaan. Bagi dosen, akan memperoleh
informasi yang pasti kemana sebaiknya kita mempublikasikan karya ilmiahnya.
Untuk dapat melakukan hal itu, sekarang ini telah tersedia tools yang dapat
digunakan oleh pustakawan, dosen dan pengguna lainnya yaitu “Scimago Journal &
Country Rank”dengan alamat http://www.scimagojr.com/index.php. Melalui web
ini kita dapat mengetahui peringkat jurnal (journal rankings) berdasarkan bidang
ilmu dan kategorinya, baik menurut negara, regional maupun dunia.
Biblografi:
Cox, Linda and David Ellis (2015),"The impact factor: a case study of medical
journals", Library Review, Vol. 64 Iss 6/7 pp. 413 - 427
Jacsó, Péter (2009),"Five-year impact factor data in the Journal Citation Reports",
Online Information Review, Vol. 33 Iss 3 pp. 603 – 614.
Mu-Hsuan Huang and Wen-Yau Cathy Lin, (2012),"The influence of journal selfcitations on journal impactfactor and immediacy index", Online Information
Review, Vol. 36 Iss 5 pp. 639 - 654
Reedijk, Jan and Henk F. Moed, (2008),"Is the impact of journal impact factors
decreasing?", Journal of Documentation, Vol. 64 Iss 2 pp. 183 - 192
Rosenstreich, Daniela and Ben Wooliscroft, (2012),"Assessing international
journalimpact: the case of marketing", European Business Review, Vol. 24 Iss 1
pp. 58 – 87
12
Download