sumber daya ikan di perairan teluk jakarta dan alternatif

advertisement
SUMBER DAYA IKAN
DI PERAIRAN TELUK JAKARTA
DAN ALTERNATIF PENGELOLAANNYA
Editor:
Prof. Dr. Ali Suman
Prof. Dr. Wudianto
Drs. Bambang Sumiono, M.Si.
Kerja sama:
•
•
•
•
Balai Penelitian Perikanan Laut
Pusat Penelitian Pengelolaan Perikanan dan Konservasi Sumberdaya Ikan
Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan
Kementerian Kelautan dan Perikanan
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan
Alternatif Pengelolaannya
Editor:
Prof. Dr. Ali Suman
Prof. Dr. Wudianto
Drs. Bambang Sumiono, M.Si.
Copyright © 2011 Balai Penelitian Perikanan Laut
Pencetakan buku Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
dibiayai dari dana APBN Balai Penelitian Perikanan Laut TA. 2011
Editor Bahasa
Korektor
Desainer Sampul Penata Isi
: Elviana
: Putri Komalasari
: Sani Etyarsah
: Ardhya Pratama dan Sani Etyarsah
PT Penerbit IPB Press
Kampus IPB Taman Kencana Bogor
Cetakan Pertama: Desember 2011
Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT)
Hak cipta dilindungi oleh undang-undang
Dilarang memperbanyak buku ini tanpa izin tertulis dari Penerbit
ISBN: 000-000-000-000-0
Kata Pengantar
Puji syukur ke hadirat Allah Yang Mahakuasa, atas perkenan-Nya
buku dengan judul “Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan
Alternatif Pengelolaannya”, dapat diselesaikan. Buku ini merupakan
karya ilmiah para peneliti Balai Penelitian Perikanan Laut (BPPL), Pusat
Penelitian Pengelolaan Perikanan dan Konservasi Sumber Daya Ikan
(P4KSI), Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan.
Saya menyambut baik atas karya buku ini sebagai sumbangan ilmiah
dalam menguak status pemanfaatan sumber daya ikan di Teluk Jakarta,
sebagai salah satu daerah penangkapan ikan yang utama bagi nelayan ibu
kota Republik Indonesia. Buku ini sangat bermanfaat dalam memberikan
kontribusi terhadap pembangunan sektor kelautan dan perikanan terutama
sebagai bahan dasar pengelolaan sumber daya ikan di perairan ini yang
mengacu pada pilar strategi pembangunan nasional yaitu pro-poor, pro-job,
dan pro-growth serta pengembangan pilar pro-business.
Makalah yang dimuat dalam buku ini sudah dipresentasikan dalam
acara Forum Teluk Jakarta yang diadakan di Bogor pada tanggal 31
Oktober–1 Nopember 2011, dan telah dilakukan evaluasi oleh para
editor, untuk kemudian dilakukan perbaikan oleh penulis masingmasing. Atas usaha dan kerja keras dari para editor: Prof. Dr. Wudianto,
Prof. Dr. Ali Suman, Drs. Bambang Sumiono, M.Si, dan para penulis
dalam penyempurnaan makalah-makalah yang termuat dalam buku ini
diucapkan terima kasih.
Sebagai suatu karya ilmiah, saya mengharapkan buku ini dapat
dijadikan acuan dalam perumusan kebijakan pengelolaan sumber daya
ikan di Teluk Jakarta secara berkelanjutan. Semoga Allah Yang Maha Esa
Kata Pengantar
senantiasa melimpahkan rahmat-Nya bagi kita semua serta semoga buku
ini dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kesejahteraan
bangsa Indonesia, khususnya nelayan di sekitar Teluk Jakarta.
Jakarta, Desember 2011
Kepala Balai,
Prof. Dr. Ali Suman
iv
Daftar Isi
Kata Pengantar.......................................................................................iii
Daftar Isi................................................................................................. v
Daftar Tabel.......................................................................................... vii
Daftar Gambar..................................................................................... xiii
1. Keragaan Rehabilitasi Terumbu Karang, Kondisi Oseanografi
dan Sumber Daya Ikan Karang di Kepulauan Seribu - Teluk Jakarta
Oleh Sri Turni Hartati dan Amran Ronny Syam................................1
1. a. Kondisi Terumbu Karang dan Lingkungan Perairan sekitar
Daerah Perlindungan Laut (DPL) Kepulauan Seribu
serta Upaya Pelestariannya
Oleh Khairul Amri dan Samsul B. Agus...................................35
2. Kondisi Kesehatan Terumbu Karang di Perairan Gugus Pulau Pari,
Teluk Jakarta
Oleh Isa Nagib Idrus dan Sri Turni Hartati.....................................49
3. Status Perikanan Ikan Karang dan Demersal di Perairan
Kepulauan Seribu
Oleh Sri Turni Hartati, Isa Nagib Idrus, Amula Nurfiarini
dan Ina Juanita Indarsyah...............................................................65
4. Status Pemanfaatan dan Kekerangan di Perairan Teluk Jakarta
dan Sekitarnya
Oleh Siti Nuraini, Prihatiningsih, Wahyuningsih,
dan Wedjatmiko..............................................................................91
5. Aspek Penangkapan dan Biologi Rajungan (Portunus pelagicus linn)
di Perairan Teluk Jakarta
Oleh Bambang Sumiono, Karsono Wagiyo, Duranta D. Kembaren,
dan Prihatiningsih........................................................................107
Daftar Isi
6. Kajian Kawasan Konservasi Daerah Asuhan Udang di Teluk Jakarta
Oleh Adriani Nastiti, Masayu Rahmia A.P,
dan Sri Turni Hartati...................................................................127
6. a.Kondisi Lingkungan Perairan Teluk Jakarta
Oleh Suprapto, Duranta D. Kembaren, dan Pratiwi Lestari............147
7. Keragaan Sumber daya Ikan Pelagis Kecil di Perairan Teluk Jakarta
dan Kepulauan Seribu
Oleh M. Taufik, Tuti Hariati, dan M. Fauzi..................................179
8. Perkembangan Kapasitas Penangkapan di Perairan Jakarta
dan Sekitarnya
Oleh Hufiadi, Tri Wahyu Budiarti, Baihaqi, dan Mahiswara..........197
9. Upaya Menuju Pengelolaan Perikanan Berkelanjutan :
Framentasi Habitat Teluk Jakarta dan Kepulauan Seribu
Oleh Suherman Banon Atmaja......................................................211
10. Alternatif Pengelolaan Sumber daya Ikan di Teluk Jakarta
Oleh Ali Suman............................................................................231
Daftar Pustaka.....................................................................................241
vi
Daftar Tabel
Keragaan Rehabilitasi Terumbu Karang, Kondisi Oseanografi dan
Sumber Daya Ikan Karang di Kepulauan Seribu - Teluk Jakarta
Oleh Sri Turni Hartati dan Amran Ronny Syam
Tabel 1. Kondisi terumbu karang di perairan Gosong Pulau Pramuka,
Kepulauan Seribu...................................................................6
Tabel 2. Kondisi terumbu karang di perairan karang Wak Rom,
Pulau Kelapa, Kepulauan Seribu . ..........................................7
Tabel 3. Kondisi terumbu karang di perairan Kaliage Kecil,
Pulau Kelapa, Kepulauan Seribu . .........................................7
Tabel 4. Kondisi terumbu karang di perairan Pulau Harapan,
Kepulauan Seribu...................................................................8
Tabel 5. Kondisi terumbu karang di Pulau Opak kecil
Kepulauan Seribu .................................................................9
Tabel 6. Kondisi terumbu karang di area perlindungan laut utara
Pulau Tidung.......................................................................10
Tabel 7. Kondisi terumbu karang alami diperairan selatan
Pulau Payung.......................................................................11
Tabel 8. Kondisi terumbu karang di daerah perlindungan
laut selatan Pulau Pari..........................................................12
Tabel 9. Status kesehatan karang pada beberapa daerah
perlindungan laut di wilayah Kepulauan Seribu . .................14
Tabel 10. Karakteristik beberapa terumbu buatan di perairan
Kepulauan Seribu.................................................................15
Daftar Tabel
Tabel 11. Komposisi ikan hasil tangkapan bubu yang didaratkan
di Pulau Panggang bulan Maret 2007...................................23
Tabel 12. Komposisi ikan hasil tangkapan bubu yang didaratkan
di Pulau Kelapa, Maret 2007................................................24
Tabel 13. Komposisi ikan hasil tangkapan muroami di perairan
Kepulauan Seribu bulan Maret 2007....................................25
Tabel 14. Kelimpahan dan komposisi ikan hasil tangkapan muroami
yang dioperasikan secara babangan dan didaratkan
di Pulau Tidung ..................................................................25
Tabel 15. Kelimpahan ikan karang di perairan Kepulauan
Seribu utara pada bulan Maret 2008.....................................29
Kondisi Terumbu Karang dan Lingkungan Perairan sekitar
Daerah Perlindungan Laut (DPL) Kepulauan Seribu
serta Upaya Pelestariannya
Oleh Khairul Amri dan Samsul B. Agus
Tabel 1. Luasan daerah perlindungan luat di Kepulauan Seribu.........41
Kondisi Kesehatan Terumbu Karang di Perairan Gugus Pulau Pari,
Teluk Jakarta
Oleh Isa Nagib Idrus dan Sri Turni Hartati
Tabel 1. Posisi lokasi transek .............................................................52
Tabel 2. Jenis-jenis karang yang teridentifikasi di Gugusan
Pulau Pari, Teluk Jakarta......................................................54
Tabel 3. Persentase tutupan bentuk kehidupan karang
yang diperoleh dengan cara RRA..........................................56
Status Perikanan Ikan Karang dan Demersal di Perairan
Kepulauan Seribu
Oleh Sri Turni Hartati, Isa Nagib Idrus, Amula Nurfiarini, dan Ina
Juanita Indarsyah
Tabel 1. Komposisi hasil tangkapan jaring rampus di perairan
gugusan Pulau Pari pada tahun 2009....................................82
viii
Daftar Tabel
Tabel 2. Kelimpahan hasil tangkapan sero di Pulau Kongsi
bulan Maret 2008.................................................................82
Tabel 3. Hasil tangkapan ekor kuning, upaya penangkapan,
dan hasil tangkapan per unit upaya di Kepulauan Seribu,
tahun 1969–1977.................................................................84
Tabel 4. Hasil tangkapan ekor kuning, upaya penangkapan,
dan hasil tangkapan per unit upaya di Kepulauan Seribu,
tahun 2001–2007.................................................................84
Tabel 5. Nilai Investasi pada beberapa jenis alat tangkap
di Pulau Pari, November 2009.............................................87
Tabel 6. Kelayakan usaha penangkapan ikan pada beberapa
jenis alat tangkap di Pulau Pari, November 2009.................88
Status Pemanfaatan dan Kekerangan di Perairan Teluk Jakarta
dan Sekitarnya
Oleh Siti Nuraini, Prihatiningsih, Wahyuningsih, dan Wedjatmiko
Tabel 1. Hasil tangkapan (CPUE: kg/trip) nelayan garuk
harian di perairan Tanjung Kait pada bulan
Agustus–September 2011.....................................................99
Tabel 2. Lokasi pendaratan kerang, jumlah pengumpul dan
perkiraan jumlah armada garuk di perairan
Teluk Jakarta tahun 2011...................................................100
Tabel 3. Estimasi perkembangan produksi kerang Anadara
dan kerang tahu di perairan Teluk Jakarta
pada tahun 1995–2011......................................................100
Aspek Penangkapan dan Biologi Rajungan (Portunus pelagicus linn)
di Perairan Teluk Jakarta
Oleh Bambang Sumiono, Karsono Wagiyo, Duranta D. Kembaren, dan
Prihatiningsih
Tabel 1. Hasil tangkapan rajungan (Portunus Pelagicus) pada beberapa
alat tangkap di Teluk Jakarta, April–Mei 2007 .................120
ix
Daftar Tabel
Tabel 2. Data lebar karapas dan berat rajungan hasil tangkapan
jaring rajungan dan sero di perairan Teluk Jakarta,
Maret–Agustus 2008..........................................................121
Kajian Kawasan Konservasi Daerah Asuhan Udang di Teluk Jakarta
Oleh Adriani Nastiti, Masayu Rahmia A.P, dan Sri Turni Hartati
Tabel 1. Posisi geografis lokasi penelitian di Teluk Jakarta................130
Tabel 2. Parameter yang diukur selama pengamatan........................130
Tabel 3. Beberapa parameter sebagai kriteria pemilihan
kawasan konservasi (Salm et al. 2000) yang
dimodifikasi sesuai kondisi Teluk Jakarta............................132
Tabel 4. Klasifikasi calon kawasan konservasi asuhan udang.............134
Tabel 5. Nilai parameter perairan di lokasi penelitian
Teluk Jakarta......................................................................136
Tabel 6. Pengelompokan parameter dan skor berdasarkan
kriteria pemilihan kawasan konservasi (Salm et al. 2000)....137
Tabel 7. Estimasi luas kawasan asuhan juvenil udang.......................140
Keragaan Sumber daya Ikan Pelagis Kecil di Perairan Teluk Jakarta
dan Kepulauan Seribu
Oleh M. Taufik, Tuti Hariati, dan M. Fauzi
Tabel 1. Sumber daya ikan pelagis kecil utama yang tertangkap
di perairan Kepulauan Seribu tahun 2006–2008................183
Tabel 2. Komposisi gabungan hasil tangkapan payang sampel
(Agustus, Oktober, dan Desember 2006) dari
perairan Teluk Jakarta .......................................................189
Tabel 3. Laju tangkap ikan pelagis kecil dari payang
pada tahun 2006 ...............................................................190
Tabel 4. Komposisi jenis ikan hasil tangkapan payang yang
didaratkan di Pulau Kelapa pada bulan Maret 2007...........191
x
Tabel 5. Komposisi ikan campuran tertangkap jaring rampus
pada bulan Desember 2006................................................192
Tabel 6. Ukuran ikan yang dominan di dalam hasil tangkapan
jaring rampus di perairan Teluk Jakarta pada
bulan Desember 2006........................................................193
Tabel 7. Komposisi hasil tangkapan 4 kapal jaring kembung
sampel di perairan Kepulauan Seribu bulan Mei 2007........193
Upaya Menuju Pengelolaan Perikanan Berkelanjutan:
Framentasi Habitat Teluk Jakarta dan Kepulauan Seribu
Oleh Suherman Banon Atmaja
Tabel. 1. Persentase penutupan terumbu karang
untuk 2 pulau di Kepulauan Seribu....................................215
Tabel 2. Beberapa program intervensi/manipulasi lingkungan
dari Suku Dinas Perikanan dan Kelautan
di Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu...................222
Tabel 3. Jenis alat tangkap berdasarkan hierarki perikanan...............226
Alternatif Pengelolaan Sumber daya Ikan di Teluk Jakarta
Oleh Ali Suman
Tabel 1. Kebutuhan data dan informasi bagi pemanfaatan
secara berkelanjutan............................................................240
Daftar Gambar
Keragaan Rehabilitasi Terumbu Karang, Kondisi Oseanografi
dan Sumber Daya Ikan Karang di Kepulauan
Seribu - Teluk Jakarta
Oleh Sri Turni Hartati dan Amran Ronny Syam
Gambar 1. Jumlah jenis ikan karang pada 9 lokasi pengamatan
di Kepulauan Seribu, April 2007............................................ 29
Kondisi Terumbu Karang dan Lingkungan Perairan sekitar
Daerah Perlindungan Laut (DPL) Kepulauan Seribu
serta Upaya Pelestariannya
Oleh Khairul Amri dan Samsul B. Agus
Gambar 1. Lokasi daerah perlindungan laut di Kepulauan Seribu............ 40
Gambar 2. Persentase (%) penutupan kategori bentik terumbu karang
pada empat DPL di Kepulauan Seribu................................... 42
Gambar 3. Indeks Keanekaragaman (H`), Keseragaman (E), dan
Dominansi (C) pada empat DPL di Kepulauan Seribu.......... 44
Gambar 4. Kondisi potensi terumbu dan ikan karang di DPL
Kepulauan Seribu (Sumber: Anonim 2010)........................... 45
Kondisi Kesehatan Terumbu Karang di Perairan Gugus Pulau Pari,
Teluk Jakarta
Oleh Isa Nagib Idrus dan Sri Turni Hartati
Gambar 1. Peta gugus Pulau Pari yang menunjukkan lokasi penelitian 53
Gambar 2. Kondisi terumbu karang di perairan
Pulau Kudus bagian utara...................................................... 58
Daftar Gambar
Gambar 3. Kondisi terumbu karang di perairan
Pulau Tikus bagian barat....................................................... 59
Gambar 4. Kondisi terumbu karang diperairan
Pulau Pari Selatan-Timur....................................................... 60
Gambar 5. Status dan kondisi terumbu karang
di perairan Pulau Pari bagian timur-utara.............................. 61
Status Perikanan Ikan Karang dan Demersal di Perairan
Kepulauan Seribu
Oleh Sri Turni Hartati, Isa Nagib Idrus, Amula Nurfiarini, dan Ina
Juanita Indarsyah
Gambar 1. Kepadatan stok ikan karang di perairan
Kepulauan Seribu pada tahun 2007....................................... 68
Gambar 2. Komposisi jenis ikan karang di beberapa perairan
Kepulauan Seribu.................................................................. 69
Gambar 3. Kepadatan ikan karang di gugusan Pulau Pari
pada bulan Juni 2009............................................................. 70
Gambar 4. Komposisi kehadiran famili ikan karang konsumsi
di beberapa wilayah perairan gugusan
Pulau Pari pada bulan Juni 2009........................................... 71
Gambar 5. Komposisi jenis ikan karang hasil tangkapan bubu
di Kepulauan Seribu.............................................................. 73
Gambar 6. Komposisi jenis ikan karang hasil tangkapan
pancing ulur di Kepulauan Seribu . ......................................76
Gambar 7. Komposisi hasil tangkapan jaring muroami
pada bulan April 2009 di perairan gugusan Pulau Pari........... 79
Gambar 8. Kelimpahan dan komposisi hasil tangkapan jaring
gebur pada bulan Agustus 2009
di perairan gugusan Pulau Pari............................................... 81
Gambar 9. Komposisi hasil tangkapan jaring millenium
di Pulau Tikus bulan Maret 2008.......................................... 83
xiv
Daftar Gambar
Gambar 10. Produksi kerapu di Kepulauan Seribu
pada tahun 2008–2010.......................................................... 85
Gambar 11. Produksi kerapu di Kepulauan Seribu pada tahun 2010......... 86
Gambar 12. Produksi ikan kakatua di Kepulauan Seribu
pada tahun 2008–2010.......................................................... 86
Gambar 13. Rantai Pemasaran Hasil Perikanan Pulau Pari....................... 89
Status Pemanfaatan dan Kekerangan di Perairan Teluk Jakarta dan
Sekitarnya
Oleh Siti Nuraini, Prihatiningsih, Wahyuningsih,
dan Wedjatmiko
Gambar 1. Lokasi stasion pengamatan pemantauan perairan
Teluk Jakarta tahun 1995–2011............................................ 94
Gambar 2. Sebaran densitas Anadara spp. (ind/m2)
di perairan laut Teluk Jakarta pada 1995–1997 .................... 96
Gambar 3. Komposisi jenis kekerangan di perairan Kamal-Tanjung Kait,
Tangerang Banten pada bulan
Agustus–September 2011....................................................... 97
Gambar 4. Garuk alat tangkap kekerangan yang digunakan
di perairan Teluk Jakarta........................................................ 98
Gambar 5. Struktur ukuran dan % kumulatif sebaran frekuensi
panjang kerang bulu (Scaparca cornea) yang didaratkan
di Kamal pada bulan September 2011 (Lc50% = 28 mm)....... 102
Gambar 6. Struktur ukuran (a) dan % kumulatif sebaran frekuensi
panjang (b) kerang darah (Anadara nodifera) yang didaratkan
di Kamal pada bulan September 2011 (Lc50% = 24,33mm)... 103
Gambar 7. Struktur ukuran dan % kumulatif sebaran frekuensi
panjang kerang tahu, Phaphia undulata yang didaratkan
di Kamal pada bulan September 2011 (Lc50% = 43mm)........ 104
Gambar 8. Struktur ukuran dan % kumulatif sebaran frekuensi
panjang kerang batik (Meritrix lyrata) yang didaratkan
di Kamal pada bulan September 2011 (Lc50% = 33,9 mm).... 105
xv
Daftar Gambar
Aspek Penangkapan dan Biologi Rajungan (Portunus pelagicus linn)
di Perairan Teluk Jakarta
Oleh Bambang Sumiono, Karsono Wagiyo, Duranta D. Kembaren,
dan Prihatiningsih
Gambar 1. Daerah penangkapan rajungan dengan menggunakan
bubu dan gillnet rajungan
di perairan Teluk Jakarta...................................................... 112
Gambar 2. Daerah penangkapan rajungan dengan menggunakan sero
dan bagan di perairan Teluk Jakarta . .................................. 112
Gambar 3. Bubu rajungan yang digunakan perairan di Teluk Jakarta.... 114
Gambar 4. Rancang bangun 1 pis jaring kejer di daerah
Muara Angke (Jakarta Utara)............................................... 115
Gambar 5. Rancang bangun sero jaring di perairan Teluk Jakarta ........ 116
Gambar 6. Satu unit bagan tancap yang beroperasi
di perairan Pulau Lancang .................................................. 117
Gambar 7. Produksi daging rajungan menurut bagiannya dari
pedagang pengumpul di Teluk Jakarta, 2002–2008............. 119
Gambar 8. Estimasi produksi rajungan dari pedagang pengumpul
di Teluk Jakarta, 2002–2008............................................... 119
Gambar 9. Hubungan lebar karapas-berat rajungan hasil
tangkapan jaring rajungan di perairan
Teluk Jakarta, Maret – Agustus 2008................................... 122
Gambar 9. Hubungan lebar karapas-berat rajungan hasil tangkapan
jaring rajungan di perairan Teluk Jakarta,
Maret – Agustus 2008 (lanjutan)......................................... 123
Kajian Kawasan Konservasi Daerah Asuhan Udang di Teluk Jakarta
Oleh Adriani Nastiti, Masayu Rahmia A.P, dan Sri Turni Hartati....
Gambar 1. Lokasi penelitian (KU1-KU7).............................................. 129
Gambar 2. Evaluasi per stasiun di Teluk Jakarta.................................... 139
xvi
Daftar Gambar
Gambar 3. Lokasi yang dijadikan sebagai calon konservasi
kawasan asuhan udang......................................................... 140
Gambar 4. Hubungan rekruitment juvenil terhadap estimasi luasan
konservasi kawasan asuhan udang........................................ 141
Kondisi Lingkungan Perairan Teluk Jakarta
Oleh Suprapto, Duranta D. Kembaren, dan Pratiwi Lestari
Gambar 1. Peta lokasi daerah pengamatan kualitas perairan
di Teluk Jakarta................................................................... 150
Gambar 2. Pola sebaran mendatar rata-rata suhu permukaan laut (SPL)
di perairan Teluk Jakarta pada musim angin yang
berbeda pada tahun 1996–2011........................................... 154
Gambar 3. Pola sebaran mendatar salinitas permukaan laut di perairan
Teluk Jakarta pada musim yang berbeda. . .......................... 157
Gambar 4. Pola sebaran mendatar rata-rata oksigen terlarut di Teluk
Jakarta pada musim yang berbeda tahun 1996–2011........... 160
Gambar 5. Pola sebaran mendatar rata-rata pH air di Teluk Jakarta
pada musim yang berbeda tahun 1996–2011....................... 163
Gambar 6. Variasi rata-rata indeks keanekaragam jenis bentos tiap
stasiun penelitian di Teluk Jakarta pada musim
yang berbeda tahun 1996–2011........................................... 165
Gambar 7. Variasi sebaran rata-rata kelimpahan fitoplankton
di perairan Teluk Jakarta pada tiga musim yang berbeda
pada tahun 1996–2011........................................................ 168
Keragaan Sumber daya Ikan Pelagis Kecil di Perairan Teluk Jakarta
dan Kepulauan Seribu
Oleh M. Taufik, Tuti Hariati, dan M. Fauzi
Gambar 1. Peta lokasi penelitian........................................................... 181
Gambar 2. Peta lokasi pengamatan aktivitas bagan tancap
di seluruh perairan Teluk Jakarta......................................... 184
xvii
Daftar Gambar
Gambar 3. Peta lokasi pengamatan aktivitas bagan tancap sampel
di perairan barat Teluk Jakarta, bulan Mei 2006
(1–7 = Posisi bagan tancap yang diamati).......................... 185
Gambar 4. Daerah penangkapan ikan dengan bagan tancap
di sekitar Pulau Lancang, Kepulauan Seribu
pada tahun 2007.................................................................. 186
Gambar 5. Komposisi ikan demersal, ikan pelagis, dan non ikan yang
tertangkap payang bulan Agustus, Oktober,
dan Desember 2006 di perairan Teluk Jakarta..................... 190
Perkembangan Kapasitas Penangkapan di Perairan Jakarta
dan Sekitarnya
Oleh Hufiadi, Tri Wahyu Budiarti, Baihaqi, dan Mahiswara
Gambar 1. Trajektori efisiensi payang di perairan Teluk Jakarta............ 202
Gambar 2. Produksi aktual dan produksi potensial perikanan payang
DKI Jakarta periode tahun 2001–2002................................ 203
Gambar 3. Trajektori efisiensi pancing di perairan Teluk Jakarta........... 204
Gambar 4. Produksi aktual dan produksi potensial perikanan pancing
DKI Jakarta periode tahun 2001–2002................................ 204
Gambar 5. Trajektori efisiensi bubu di perairan Teluk Jakarta............... 205
Gambar 6. Produksi aktual dan produsi potensial perikanan bubu
DKI Jakarta periode tahun 2001–2010 . ............................. 206
Gambar 7. Trajektori efisiensi muroami di perairan Teluk Jakarta......... 207
Gambar 8. Produksi aktual dan produksi potensial perikanan muroami
DKI Jakarta periode tahun 2001–2010................................ 208
xviii
Kata Pengantar
Upaya Menuju Pengelolaan Perikanan Berkelanjutan:
Framentasi Habitat Teluk Jakarta dan Kepulauan Seribu
Oleh Suherman Banon Atmaja
Gambar 1. Ekosistem Teluk Jakarta terdiri dari dua ekosistem pantai
(coastal ecosystems), yaitu Teluk Jakarta dan
Kepulauan Seribu atau Pulau Seribu Complex (sumber:
Williams et al. 2000 dalam Arifin 2004).............................. 213
Gambar 2. Hubungan antara tutupan karang hidup dan jarak
dari daratan (pengamatan 28 pulau di Kepulauan
Seribu) (Sumber: Hutomo 1987 dalam Cesar 1996)............ 216
Gambar 3.
Diagram illustrasi pergerakan ikan antara habitat mangrove,
padang lamun, dan terumbu karang pada perbedaan
tingkat daur hidup (adaptasi dari Mumby et al. 2003
dalam Unsworth 2007) ....................................................... 217
Gambar. 4. Dualistik kegiatan yang diperlukan untuk pengelolaan
sumber daya pesisir.............................................................. 219
xix
Keragaan Rehabilitasi Terumbu Karang,
Kondisi Oseanografi dan Sumber Daya
Ikan Karang di Kepulauan SeribuTeluk Jakarta
Sri Turni Hartati 1) dan Amran Ronny Syam 2)
Balai Penelitian Perikanan Laut dan
Balai Penelitian Pemulihan Konservasi Sumber Daya Ikan
1)
2)
Abstrak
Upaya untuk merehabilitasi kerusakan terumbu karang di Kepulauan
Seribu sudah banyak dilakukan, seperti penetapan daerah perlindungan
laut, transplantasi karang, dan pengembangan terumbu buatan.
Penelitian yang dilakukan adalah mengevaluasi kegiatan rehabilitasi
yang ada dan mengidentifikasi beberapa lokasi terumbu karang yang
dapat direkomendasikan untuk direhabilitasi. Data dan informasi yang
dikumpulkan adalah karakteristik kondisi biogeofisik, meliputi kondisi
kesehatan karang dan oseanografi perairan, stok sumber daya ikan dan
karakteristik sosial budaya, serta ekonomi dan kelembagaan masyarakat
yang terdapat di wilayah Kepulauan Seribu. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa nilai-nilai parameter oseanografi mendukung kehidupan ekosistem
terumbu karang. Kesehatan terumbu karang dan komunitas ikan pada
daerah perlindungan laut menunjukkan perkembangan yang signifikan,
yaitu pada ketegori baik dengan penutupan karang batu > 50%. Hal ini
terindikasi dengan ditemukannya kembali ikan konsumsi ekonomis ekor
kuning (Caesio cuning) dan ikan hias Amphiprion sp yang populasinya
sudah mulai menurun di perairan Kepulauan Seribu pada periode
sebelumnya. Tidak demikian halnya dengan kegiatan transplantasi karang
dan pengembangan terumbu buatan, terlihat perkembangannya tidak
signifikan. Sebagian besar transplan terlepas dari substratnya dan kehadiran
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
biota penempel relatif rendah. Hasil identifikasi habitat menunjukkan
bahwa perairan Pulau Kotok Kecil, Gosong Air, Pulau Genteng, dan
Pulau Harapan dapat direkomendasikan untuk direhabilitasi melalui
pengembangan terumbu buatan.
Kata kunci:Status pemulihan ekosistem terumbu karang, Kepulauan
Seribu, Teluk Jakarta
Pendahuluan
Perairan Kepulauan Seribu merupakan bagian dari Laut Jawa, pada
posisi paling selatan dari Paparan Sunda, yang terdiri dari beberapa
ekosistem, antara lain perairan pantai yang relatif dangkal, terumbu
karang, padang lamun, hutan bakau, dan perairan lepas pantai. Perairan
tersebut memiliki potensi beranekaragam ikan/biota dan beberapa jenis
bernilai tinggi karena merupakan komoditas ekspor. Secara administratif
kawasan Kepulauan Seribu merupakan kabupaten baru dari Provinsi
Daerah Khusus Ibukota Jakarta yang juga merupakan salah satu perwakilan
kawasan pelestarian alam bahari di Indonesia yakni sebagai Taman
Nasional Laut Kepulauan Seribu. Berdasarkan SK Menteri Kehutanan
No. 162/Kpts-II/1995, tanggal 23 Maret 1995, luas Taman Nasional
Kepulauan Seribu adalah 107.489 hektare, terletak pada posisi geografis
antara 106º 25’–106º 37’ BT dan 05º 23’–05º 40’ LS. Kepulauan Seribu
terdiri dari 106 pulau-pulau kecil, membentang dari utara Laut Jawa,
memiliki karakteristik perairan dangkal dengan dasar batu karang dan
tercatat sebanyak 11 pulau yang berpenghuni. Dalam rangka pengelolaan
cagar alam yang difungsikan sebagai kawasan Taman Nasional Laut,
Direktur Taman Nasional dan Hutan Wisata, Direktorat Jenderal
Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam, Departemen Kehutanan
menetapkan pembagian perairan kawasan Kepulauan Seribu ke dalam
empat zona, yaitu: Zona inti, Zona Perlindungan, Zona Pemanfaatan, dan
Daerah Penyangga, melalui Surat Keputusan No. 02/VI/TN-2/SK/1986,
yang pada tahun 1995 kemudian dikukuhkan dengan Surat Keputusan
Menteri Kehutanan Nasional.
Dari kondisi ekosistem kepulauan yang bertebaran itu diduga bahwa
sumber daya ikan yang cukup dominan adalah sumber daya ikan karang.
Terumbu karang yang ada tampaknya sudah mengalami kerusakan baik
2
Keragaan Rehabilitasi Terumbu Karang,
Kondisi Oseanografi dan Sumber Daya Ikan Karang di Kepulauan Seribu-Teluk Jakarta
yang disebabkan oleh pencemaran ataupun kegiatan penangkapan. Data
dan informasi yang diperoleh pada tahun-tahun sebelumnya, diduga sudah
sangat berubah. Perubahan kondisi terumbu karang akan berpengaruh
terhadap lingkungan, yang pada umumnya dapat menyebabkan kondisi
sumber daya ikan dan biota lainnya berubah pula. Lingkungan terumbu
karang merupakan salah satu ekosistem yang sangat produktif dan amat
rentan terhadap perubahan lingkungan.
Sejumlah hasil penelitian hidrologis yang menitikberatkan pada aspek
oseanografi yang bersifat fisik (Physical oceanography) kawasan Kepulauan
Seribu telah dilaporkan oleh Moosa et al. (1985). Data dan informasi
yang diperoleh antara lain: data sebaran dan rata-rata suhu permukaan
perairan (sea surface temperature), salinitas, oksigen, nitrat, fosfat dan
silikat. Data dan informasi tentang biota laut meliputi alga bentik, karang
batu, krustasea, moluska, dan ekhinodermata. Data dan informasi tentang
potensi sumber daya sampai saat ini masih bersifat kualitatif.
Penelitian kondisi terumbu karang di wilayah Kepulauan Seribu pada
tahun 1999 menunjukkan kategori buruk sampai bagus, dan kondisinya
didominasi buruk sampai sedang, dengan besara persentase penutupan
karang hidup hanya pada kisaran 0 sampai 49,9% (Suharsono 1996).
Upaya menanggulangi masalah kerusakan ekosistem terumbu karang
di Indonesia telah dilakukan melalui pengembangan terumbu buatan
yang dirintis oleh Dinas Perikanan DKI pada tahun 1980–1988 dengan
menenggelamkan bekas kerangka bis dan becak. Pada tahun 2002–2010
telah dilakukan rehabilitasi karang seluas 39.480 m2 atau sebanyak 6.241
buah modul terumbu buatan yang terbuat dari bahan beton berbagai
bentuk (Suku Dinas Kelautan dan Pertanian 2011). Ditjenkan pada
tahun 1990–1993 juga telah mengembangkan terumbu buatan dengan
bahan ban mobil di 6 provinsi, yaitu Sumatera Utara, Lampung, Jateng,
Jatim, Jabar, dan Bali. Demikian pula dengan Puslitbang Perikanan telah
mendukung pengembangan terumbu buatan tersebut dengan melakukan
Penelitian Teknis Rehabilitasi Terumbu Karang di perairan Kepulauan
Seribu, Bali, dan NTB. Pemasangan terumbu buatan menggunakan bahan
beton berbentuk kubus berongga yang disusun dalam formasi piramida
memberi dampak biologis dan ekologis yang lebih nyata, di antaranya
mampu menarik biota dan jenis-jenis ikan karang.
3
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Bahan dan Metode
Makalah ini merupakan himpunan beberapa hasil penelitian di sekitar
Teluk Jakarta dan Kepulauan Seribu dalam rangka kegiatan rehabilitasi
terumbu karang yang berdampak pada pemulihan stok sumber daya ikan
di perairan Teluk Jakarta dan Kepulauan Seribu.
Hasil dan Pembahasan
1. Kondisi Ekosistem Terumbu Karang
Kondisi ekosistem terumbu karang di wilayah Kepulauan Seribu
diamati pada beberapa lokasi, baik pada terumbu karang alami maupun
yang sudah direhabilitasi melalui penetapan daerah perlindungan laut
(DPL), transplantasi karang, dan pengembangan terumbu buatan. Beberapa
lokasi yang diamati berada di wilayah Kecamatan Kepulauan Seribu Utara
dan wilayah Kepulauan Seribu Selatan. Wilayah Kepulauan Seribu Utara
meliputi perairan Pulau Pramuka, Pulau Kelapa, Pulau Harapan, dan
Pulau Semak Daun. Wilayah Kepulauan Seribu Selatan meliputi perairan
Pulau Pari, Pulau Tikus, Pulau Tidung, dan Pulau Payung.
1.1 Perairan Pulau Pramuka
Pengamatan di perairan Pulau Pramuka dilakukan di 5 titik (stasiun),
4 titik berada di Gosong Pramuka yang terletak di sebelah barat laut dan
merupakan daerah perlindungan laut (DPL) dan 1 titik berada di perairan
sebelah barat daya.
Stasiun 1
Stasiun 1 (perairan Gosong Pramuka) berada pada posisi geografi
05o,44’11,2” LS–106o,36’32,0” BT. Terumbu karang terdapat pada
kedalaman 2–10 meter, terlihat kondisinya relatif baik pada lokasi dengan
tingkat kemiringan lebih dari 30%. Rataan karang relatif sempit dan
berada pada kedalaman 2 meter. Terumbu karang didominasi oleh jenis
karang masif (Porites lutea) dan Millepora sp atau karang api. Kesehatan
terumbu karang pada kategori sedang mendekati baik, dengan persentase
penutupan karang batu (hard coral) mendekati 50%.
4
Keragaan Rehabilitasi Terumbu Karang,
Kondisi Oseanografi dan Sumber Daya Ikan Karang di Kepulauan Seribu-Teluk Jakarta
Stasiun 2
Stasiun 2 (perairan Gosong Pramuka) berada pada posisi geografi
o
05 44’08,4” LS–106o36’35,1” BT. Rataan karang relatif sempit dan
pada saat surut terendah tidak digenangi air. Terumbu karang terdapat
pada kedalaman 1–12 meter, dengan tingkat kemiringan lebih dari 30%.
Terumbu karang didominasi oleh jenis karang submasif (Porites nigrescens),
karang foliosa (Montipora foliosa), dan karang bercabang (Acropora
hydnopora). Kesehatan terumbu karang pada kategori sedang mendekati
baik, dengan penutupan karang batu mendekati 50%. Pada kedalaman
15 meter, dasar perairan terdiri dari pasir berlumpur.
Stasiun 3
Stasiun 3 (perairan Gosong Pramuka) berada pada posisi geografi
o
05 ,44’,04,4” LS–106o, 36’,37,1” BT. Kesehatan terumbu karang pada
kategori sedang, dengan persentase penutupan karang batu 30%. Terumbu
karang didominasi oleh jenis karang masif (Porites sp., Favia sp., Goniopora
sp.), Millepora sp., dan karang folios (Montipora foliosa)
Stasiun 4
Stasiun 4 (perairan Gosong Pramuka) berada pada posisi geografi
05o 44’ 03,9” LS–106o 36’ 37,3” BT. Terdapat rataan karang relatif luas
pada kedalaman 5 meter. Terumbu karang pada kedalaman 5–8 meter
didominasi oleh jenis karang folios (Montipora foliosa), karang bercabang
(Acropora sp, Pocillopora sp, dan Seriatopora sp), dan karang masif (Porites
sp, Favia sp, Goniopora sp). Kesehatan terumbu karang pada kategori
baik, dengan persentase penutupan karang batu 75%. Melalui RRI dapat
terlihat bahwa keanekaragaman jenis karang relatif tinggi.
Perairan Gosong Pramuka selain ditetapkan sebagai Daerah
Perlindungan Laut (DPL) dalam upaya konservasi, juga merupakan
daerah yang direhabilitasi melalui pengembangan terumbu buatan dan
transplantasi karang. Terumbu buatan ditemukan pada stasiun 3 dan 4.
Pada stasiun 3 ditemukan sebanyak 4 unit, terbuat dari beton panjang
disusun 3 dan di atasnya adalah bentuk piramida. Pada stasiun 4 terumbu
buatan berbentuk beton kubus, berukuran relatif besar 120 x 120 meter,
dan hanya terlihat 1 unit. Terumbu buatan berada pada kedalaman perairan
15 m. Pada terumbu buatan tampak biota penempel dalam jumlah relatif
sedang, di antaranya juvenil Goniastrea sp. dan beberapa jenis karang
5
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
bercabang seperti Pocillopora sp. dan Acropora sp. Menurut informasi dari
nelayan setempat, terumbu buatan diturunkan pada tahun 2004 pada
kedalaman 15–25 meter. Kondisi terumbu karang pada beberapa stasiun
pengamatan di perairan Gosong Pramuka disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Kondisi terumbu karang di perairan Gosong Pulau Pramuka,
Kepulauan Seribu
Lifeform Benthic
Hard coral (Acropora)
Hard coral (Non-acropora)
Dead coral
Algae
Other fauna
Abiotik
Kategori
Stasiun 1 Stasiun 2
2,5%
2,4%
47,0%
46,5%
7,9%
8,8%
1,5%
1,5%
18,8%
18,8%
22,4%
21,9%
Sedang
Sedang
Stasiun 3
5,0%
25,0%
30,0%
5,0%
,08%
20,0%
Sedang
Stasiun 4
15,0%
60,0%
3,0%
5,0%
12,0%
5,0%
Baik
Stasiun 5
Stasiun 5 (perairan barat daya Pulau Pramuka) pada posisi geografi
o
05 45’ 00,3” LS dan 106o 36’ 31,6” BT. Terumbu karang terdapat pada
kedalaman 2–5 meter dengan kondisi buruk. Topografi dasar perairan
dengan tingkat kemiringan lebih dari 30%, dengan substrat pasir halus
berlumpur. Pada stasiun 5 terdapat terumbu buatan yang lokasinya
berdekatan dengan alur pelayaran kapal-kapal nelayan, dengan kedalaman
perairan hanya 5–10 meter. Terumbu buatan berbentuk piramid pada
bagian atasnya dan pada bagian bawahnya tersusun kubus panjang
bersusun 4 (empat). Jumlah terumbu buatan kurang lebih 20 unit,
sebagian susunannya pada kondisi berantakan. Kehadiran jenis-jenis biota
penempel pada terumbu buatan relatif banyak, di antaranya karang masif
(Porites sp) dan karang bercabang (Pocillopora sp., Seriatopora sp., dan
Acropora sp.). Ukuran biota penempel sebagian sudah relatif besar, yaitu
panjangnya mencapai kisaran 15–20 cm.
1.2. Perairan Pulau Kelapa
Pengamatan terumbu buatan dilakukan di wilayah yang ditetapkan
sebagai Daerah Perlindungan Laut (DPL), yaitu perairan karang Wak
Rom dan perairan Kaliage Kecil.
6
Keragaan Rehabilitasi Terumbu Karang,
Kondisi Oseanografi dan Sumber Daya Ikan Karang di Kepulauan Seribu-Teluk Jakarta
(1) Perairan Karang Wak Rom
Perairan karang Wak Rom sebagai Daerah Perlindungan Laut (DPL)
mempunyai rataan karang relatif luas, terletak pada posisi kekeringan
pada saat surut terendah. Pada kedalaman perairan 3–5 meter.
Kesehatan karang pada kategori sedang, dengan penutupan karang
batu lebih dari 35% (Tabel 2). Terumbu karang didominasi oleh jenis
karang masif (Favia sp., Goniastrea sp.), karang bercabang submasif
(Porites rus, Porites nigrescen), dan karang foliosa (Montipora sp.).
Tabel 2. Kondisi terumbu karang di perairan karang Wak Rom,
Pulau Kelapa, Kepulauan Seribu
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Lifeform Benthic
Hard coral (Acropora)
Hard coral (Non-Acropora)
Dead coral
Algae
Other fauna
Abiotik
Kategori
Kehadiran
4,7%
30,8%
9,3%
25,3%
9,6%
27,4%
Sedang
(2) Perairan Kaliage Kecil
Kondisi terumbu karang di perairan Kaliage Kecil pada kategori baik,
dengan penutupan karang batu lebih dari 50%. Rataan karang terdapat
pada kedalaman 1–3 meter, kemudian mulai 5 m tingkat kemiringan
topografi dasar perairan lebih dari 30%. Kondisi terumbu karang
pada 2 stasiun pengamatan di perairan Kaliage Kecil disajikan pada
Tabel 3. Terumbu karang didominasi oleh jenis karang bercabang
(Acropora sp.) dan karang folios (Montipora sp.).
Tabel 3. Kondisi terumbu karang di perairan Kaliage Kecil, Pulau
Kelapa, Kepulauan Seribu
No
Lifeform Benthic
1 Hard coral (Acropora)
2 Hard coral (Non-Acropora)
3 Dead coral
Stasiun 1
33,3%
32,0%
6,0%
Stasiun 2
22,0%
37,8%
13,0%
7
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Tabel 3. Kondisi terumbu karang di perairan Kaliage Kecil, Pulau
Kelapa, Kepulauan Seribu (lanjutan)
No
Lifeform Benthic
4 Algae
5 Other fauna
6 Abiotik
Kategori
Stasiun 1
17,7%
11,0%
0,0%
Baik
Stasiun 2
13,0%
7,7%
6,5%
Baik
1.3. Perairan Pulau Harapan
Pengamatan dilakukan pada lokasi yang telah ditetapkan sebagai
Daerah Perlindungan Laut (DPL). Seperti di perairan karang Wak Rom
(perairan Pulau Harapan) mempunyai rataan karang yang relatif luas
terletak pada lokasi kekeringan saat surut terendah. Pada kedalaman
2–5 meter topografi dasar perairan mempunyai tingkat kemiringan lebih
dari 30o. Kondisi terumbu karang pada kategori rusak dengan persentase
penutupan karang batu kurang dari 25%. Jenis karang yang ditemukan
berbentuk foliosa (Montipora foliosa) masif (Porites lutea) dan karang
bercabang (Porites rus dan Porites nigrescen). Kondisi terumbu karang
disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4. Kondisi terumbu karang di perairan Pulau Harapan, Kepulauan
Seribu
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Lifeform Benthic
Hard coral (Acropora)
Hard coral (Non-Acropora)
Dead coral
Algae
Other fauna
Abiotik
Kategori
Kehadiran
5%
19%
23%
5%
13%
34%
Rusak
1.4. Perairan Pulau Opak Kecil
Perairan Pulau Opak Kecil mempunyai rataan karang relatif sempit.
Terumbu karang terdapat pada kedalaman 3–12 m dengan tingkat
8
Keragaan Rehabilitasi Terumbu Karang,
Kondisi Oseanografi dan Sumber Daya Ikan Karang di Kepulauan Seribu-Teluk Jakarta
kemiringan topografi dasar perairan lebih dari 30o. Kondisi terumbu karang
pada kategori sedang dengan persentase penutupan karang batu 3950%.
Jenis-jenis karang yang ditemukan di antaranya adalah karang foliosa
(Montipora foliosa) karang bercabang (Porites nigrescen, Acropora sp., dan
millepora). Untuk jenis fauna lainnya ditemukan kelompok echinoidea
(bulu babi) dan kelompok lili laut. Daerah pengamatan mempunyai
dasar perairan berlumpur dan berarus deras. Kondisi terumbu karang di
perairan Pulau Opak Kecil disajikan pada Tabel 5.
Tabel 5. Kondisi terumbu karang di Pulau Opak kecil Kepulauan Seribu
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Lifeform Benthic
Hard coral (Acropora)
Hard coral (Non-Acropora)
Dead coral
Algae
Other fauna
Abiotik
Kategori
Kehadiran
0,0%
39,5%
11,5%
1,0%
14,5%
16,5%
Sedang
1.5. Pulau Semak Daun
Perairan Pulau Semak Daun mempunyai rataan karang relatif luas dan
tidak tergenang air pada saat surut terendah. Terumbu karang terdapat
pada kedalaman 2–10 m dengan tingkat kemiringan topografi dasar
perairan lebih 30o. Kondisi terumbu karang pada kategori rusak, jenis
karang didominasi oleh jenis foliosa (Montipora sp.) dan masif (Porites
sp., Favia sp., dan Goniastrea sp.). Hasil pengamatan menunjukkan
bahwa di perairan Pulau Semak Daun terlihat adanya terumbu buatan
pada kedalaman 25 meter. Terumbu buatan terbuat dari bahan beton
berbentuk kubah dengan ketinggian 50 cm dan panjang lingkaran 1
meter. Kondisi perairan lokasi terumbu buatan sangat keruh dengan
dasar perairan berlumpur. Terumbu buatan tampak tidak berkembang,
keseluruhan modul tertutup lumpur sehingga tidak terlihat adanya biota
penempel.
9
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
1.6. Perairan Utara Pulau Tidung
Perairan Pulau Tidung mempunyai luasan rataan karang yang
memanjang dari barat sampai ke timur. Kondisi terumbu karang masih
bagus dan merupakan area perlindungan laut yang luasnya mencapai 10
ha dan berjarak kurang lebih 200 m dari pantai. Rataan karang berada
pada kedalaman 1–5 meter kemudian mulai kedalaman 7 meter tingkat
kemiringan topografi dasar perairan lebih dari 30o. Pada kedalaman 20 m
terlihat kembali rataan dengan substrat dasar pasir berlumpur dan sedikit
karang yang hidup. Berdasarkan hasil analisis dari pengamatan LIT,
kondisi terumbu karang pada kategori baik dan sangat baik dengan tutupan
karang hidup 67,5% dan 81,0% (Tabel 6). Terumbu karang didominasi
oleh jenis karang Montipora foliosa kemudian diikuti kelompok Acropora
sp dengan berbagai bentuknya Pocillopora hysterik, Porites nigrescen, dan
Seriatopora sp.
Tabel 6. Kondisi terumbu karang di area perlindungan laut utara Pulau
Tidung
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Lifeform Benthic
Hard coral (Acropora)
Hard coral (Non-Acropora)
Dead coral
Algae
Other fauna
Abiotik
Kategori
Stasiun 1
1,0%
67,5%
9,0%
0,0%
2,0%
36,4%
Baik
Stasiun 2
0,0%
81,0%
0,0%
8,0%
0,0%
11,0%
Baik sekali
Berdasarkan data dari Dinas Perikanan DKI, di bagian utara Pulau
Tidung terdapat dua kelompok terumbu buatan dari bahan beton yaitu
pada posisi 05°47’37,8” LS dan 106°29’34,7” BT pada kedalaman 50
meter dan pada posisi 05°47’42,2” LS 106°30’8,5” BT pada kedalaman
40 meter. Kedua posisi tersebut merupakan daerah alur kapal kecil dan
daerah pemancingan nelayan di sekitarnya. Penempatan kedua terumbu
buatan tersebut dirasa kurang tepat karena tidak mengindahkan kajian
pengembangan terumbu buatan yang sudah ada. Pada kedalaman 20
meter, kondisi perairan sudah terlihat gelap, pertumbuhan karang tidak
10
Keragaan Rehabilitasi Terumbu Karang,
Kondisi Oseanografi dan Sumber Daya Ikan Karang di Kepulauan Seribu-Teluk Jakarta
maksimal bahkan tidak tumbuh dan hanya jenis-jenis tertentu yang bisa
hidup seperti kelompok alga jelatang dan beberapa jenis karang lunak (soft
coral).
Kegiatan transplantasi karang juga dilakukan di Daerah Perlindungan
Laut (DPL) utara Pulau Tidung dengan substrat dari beton bentuk kubus
bertangkai besi sebanyak 10 buah. Dari hasil pengamatan terlihat tidak
berhasil. Hal ini ditunjukkan dengan masih tersisanya 2 koloni karang
dari jenis Acropora sp.
1.7. Perairan Pulau Payung
Selatan Pulau Payung dengan garis pantai sepanjang kurang lebih
1 km mempunyai rataan karang relatif luas pada kedalaman 2–5 meter.
Kondisi terumbu karang pada kategori rendah sampai sedang dengan
tutupan karang 21,3%–39,1% (Tabel 7). Pada kedalaman 6–10 m tingkat
kemiringan dasar perairan mulai tajam yaitu lebih dari 30o. Berdasarkan
informasi dari Dinas Perikanan DKI pada perairan ini terdapat terumbu
buatan dari beton kubus pada posisi 05o 49’19,4” BT dan 106o 32’ 46,6”
LS. Hasil pemeruman pada lokasi ini menunjukkan kedalaman lebih dari
50 m sehingga pengamatan kondisi terumbu buatan tidak perlu dilakukan
karena alasan keselamatan. Penempatan terumbu karang buatan di lokasi
ini tidak sesuai dengan kajian pengembangan terumbu buatan yang sudah
ada. Jenis karang didominasi oleh Acropora hystrik, A. Formosa, A. Nobilis,
Montipora hispida, Palauastrea sp., Porites lobata dan Galaxea sp. Fauna
lain yang terlihat adalah bulu babi, bintang laut (Linkia sp.), teripang dan
moluska.
Tabel 7. Kondisi terumbu karang alami diperairan selatan Pulau Payung
Lifeform Bentic
Hard coral (Acropora)
Hard coral (Non-Acropora)
Dead coral
Algae
Other fauna
Abiotik
Kategori
Titik 1
1,0%
38,1%
0%
12,5%
15,5%
33,9%
Sedang
Titik 2
1,0 %
21,4%
0,0 %
15,1 %
19,0 %
34,5 %
Buruk
Titik 3
8,6%
12,7%
0,0
5,6%
55,2%
18,0%
Buruk
11
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
1.8. Perairan Pulau Pari
Berdasarkan hasil pengamatan, di selatan Pulau Pari terdapat Daerah
Perlindungan Laut (DPL) dengan luas 12 ha. Menurut informasi dari
Dinas Perikanan DKI, di daerah ini terdapat terumbu buatan berbentuk
kubus pada kedalaman 30 meter. Dengan penyelaman, keberadaan
terumbu buatan tersebut tidak ditemukan. Hasil pengamatan terumbu
karang dengan metode LIT (English et al. 1994) di bagian selatan Pulau
Pari ditemukan tutupan karang hidup cukup baik yaitu 51% (Tabel 8).
Tutupan karang hidup didominasi oleh jenis Montipora foliosa, Seriatopora
hystrik, Pocillopora sp., Acropora sp., dan Fungia sp. Biota lain di antaranya
sponge, Xestospongia sp., Petrosia sp., Liosina paradoxa, Calispongia sp.,
dan aaptos aaptos yang mempunyai kandungan zat bioaktif untuk obatobatan kanker.
Tabel 8. Kondisi terumbu karang di daerah perlindungan laut selatan
Pulau Pari
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Lifeform Benthic
Hard coral (Acropora)
Hard coral (Non-Acropora)
Dead coral
Algae
Other fauna
Abiotik
Kategori
Kehadiran
0,5%
50,5%
0,0%
46,0%
3,0%
0,0%
Baik
1.9. Perairan Pulau Tikus
Pulau Tikus memiliki luas daratan yang relatif lebih sempit
dibandingkan dengan pulau-pulau lainnya di gugusan Pulau Pari yaitu
kurang lebih 12 ha. Perairan selatan Pulau Tikus mempunyai goba dengan
kedalaman 10 m dengan dasar perairan terdiri dari pasir sedikit berlumpur.
Tidak ditemukan modul terumbu buatan dari ban berbentuk piramida
yang dipasang oleh Puslitbang perikanan pada tahun 1992. Hasil dari LIT
(Line Intercept Transect) menunjukkan bawa persentase penutupan karang
12
Keragaan Rehabilitasi Terumbu Karang,
Kondisi Oseanografi dan Sumber Daya Ikan Karang di Kepulauan Seribu-Teluk Jakarta
hidup rendah (di bawah 25%). Jenis karang didominasi jenis Palauastrea
ramosa, Porites lobata, dan Goniopora sp. Kelompok lain yang hadir adalah
makro algae, turf algae, coralin algae, dan Ascidian.
2. Transplantasi Karang
Untuk memulihkan kembali kondisi terumbu karang juga dilakukan
penanaman biota karang yang sering dikenal dengan transplantasi.
Transplantasi ini umumnya dilakukan di daerah dengan kondisi terumbu
karang yang tidak mengalami kerusakan berat.
3. Pengembangan Terumbu Buatan
Selain berfungsi sebagai media penempelan biota sesil, penempatan
terumbu buatan di suatu perairan juga berfungsi sebagai fish shelter rumpon
atau tempat berlindung ikan. Dengan adanya terumbu buatan, diharapkan
bisa terbentuk habitat baru yang menyerupai terumbu karang alami.
Di seluruh dunia telah terpasang kurang lebih 500.000 bola beton
berbagai ukuran sebagai terumbu buatan. Dana yang dibutuhkan mencapai
puluhan juta dolar Amerika, tetapi hanya menghasilkan 2 km terumbu
buatan padahal terdapat sekitar 300.000 km2 terumbu karang di dunia
yang dapat menjadi sumber substrat. Masalahnya adalah sebagian besar
terumbu tersebut tidak dikelola dengan baik atau telah rusak (Edwards
dan Gomez 2007).
Dalam rangka memperoleh informasi sejauh mana hasil kegiatan
rehabilitasi terumbu karang di wilayah perairan Kepulauan Seribu melalui
Loka Riset Pemacuan Stok Ikan Jatiluhur selama tahun 2007 telah dilakukan
kegiatan penelitian di beberapa lokasi rehabilitasi. Kegiatan tersebut
bertujuan menetapkan lokasi yang tepat untuk direhabilitasi melalui
pengembangan terumbu buatan. Kegiatan riset tersebut mengidentifikasi
habitat di berbagai wilayah perairan karang Kepulauan Seribu.
Hasil pemantauan pada beberapa wilayah perairan yang ditetapkan
sebagai Daerah Perlindungan Laut (DPL) menunjukkan keberhasilan
yang relatif signifikan. Status kesehatan karang pada beberapa wilayah
daerah perlindungan laut tersebut disajikan pada Tabel 9.
13
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Tabel 9. Status kesehatan karang pada beberapa daerah perlindungan
laut di wilayah Kepulauan Seribu
No
Lokasi DPL
Tutupan karang batu (%) Status kesehatan karang
1.
Gosong Pramuka
30–75
Sedang–Baik sekali
2.
Karang Wak Rom
> 35
Sedang
3.
Kaliage Kecil
4.
Pulau Harapan
5.
Utara Pulau Tidung
6.
Selatan Pulau Pari
60–65
Baik
< 25
Rusak
68–81
Baik–Baik sekali
> 50
Baik
Pengamatan pada 6 lokasi yang ditetapkan sebagai daerah
perlindungan laut menunjukkan penetapan DPL Pulau Harapan
kurang tepat. Dengan kondisi terumbu karang yang rusak, lebih tepat
jika dilakukan rehabilitasi melalui rekayasa habitat terumbu buatan,
tentunya dengan mempertimbangkan persyaratan-persyaratan lainnya.
Penetapan kelima daerah perlindungan laut lainnya berdampak positif
terhadap perkembangan komunitas ikan. Melimpahnya kembali ikan
ekor kuning berdasarkan sensus visual pada LIT di daerah perlindungan
laut. Teridentifikasinya kembali jenis-jenis Amphiprion yang pada saat
ini sudah mulai langka. Jenis ikan tersebut mempunyai nilai ekonomis
tinggi. Demikian pula dari pengamatan hasil tangkapan nelayan dengan
menggunakan alat tangkap bubu dan muroami didominasi oleh jenis ekor
kuning yang beberapa tahun terakhir menghilang dari Kepulauan Seribu.
Evaluasi rehabilitasi kerusakan terumbu karang melalui rekayasa
habitat dengan terumbu buatan dilakukan pada beberapa wilayah perairan
di Kepulauan Seribu Utara dan Selatan. Dengan pertimbangan keselamatan
dari 7 lokasi yang direncanakan, hanya 3 lokasi yang dapat teramati karena
4 lokasi lainnya berada pada kedalaman > dari 30 m. Kedalaman yang
dipersyaratkan untuk lokasi terumbu buatan adalah pada kisaran 10–20
meter sehingga masih tertembus cahaya matahari serta tidak mengganggu
alur pelayaran kapal nelayan dan mudah untuk diamati. Dari 3 lokasi yang
teramati, hanya 1 lokasi yang menunjukkan tingkat keberhasilan tinggi
yaitu terumbu buatan di barat daya Pulau Pramuka. Spesifikasi beberapa
terumbu buatan di wilayah Kepulauan Seribu dan karakteristik lainnya
disajikan pada Tabel 10.
14
Keragaan Rehabilitasi Terumbu Karang,
Kondisi Oseanografi dan Sumber Daya Ikan Karang di Kepulauan Seribu-Teluk Jakarta
Tabel 10. Karakteristik beberapa terumbu buatan di perairan Kepulauan
Seribu
No
Lokasi
1. Utara Gosong Pramuka
2. Barat Daya Pulau Pramuka
3.
4.
5.
6
7.
Pulau Semak Daun
Utara Pulau Tidung
Selatan Pulau Pari
Selatan Pulau Payung
Goba Pulau Tikus
Kedalaman
Perairan (m)
15–25
5–10
25
> 30
> 30
> 50
ttd
Bentuk
Terumbu
Kubus
KubusPiramida
Kubah
ttd
ttd
ttd
ttd
Biota
penempel
Sedang
Tinggi
Rendah
-
Keterangan: ttd = tidak terdeteksi
4. Identifikasi Habitat untuk Pengembangan Terumbu
Buatan
Melihat keberhasilan rehabilitasi kerusakan terumbu karang melalui
rekayasa habitat dengan pengembangan terumbu buatan di Kepulauan
Seribu relatif rendah, telah dilakukan identifikasi untuk alternatif lokasi
perairan karang yang tepat untuk direhabilitasi.
4.1. Persyaratan Kondisi Oseanografi
Pemilihan lokasi bagi penempatan terumbu buatan sebaiknya
didasarkan pada pertimbangan ekologis, antara lain suhu, salinitas,
oksigen, kecerahan, pH, dan arus. Pengamatan kondisi oseanografi yang
dilakukan di perairan Kepulauan Seribu pada lokasi yang akan disarankan
untuk direhabilitasi adalah sebagai berikut.
1. Suhu air
Suhu air permukaan pada lokasi yang akan disarankan untuk
direhabilitasi melalui pengembangan terumbu buatan berkisar
29,03 oC–29,95oC dan di dasar perairan berkisar 28,12 oC–29,16oC.
Perbedaan antara suhu air di permukaan dengan suhu air di dasar
tidak berbeda jauh, hal ini disebabkan air laut memiliki panas jenis
15
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
yang tinggi sehingga diperlukan panas yang tinggi untuk mengubah
suhu air sebesar 1oC. Fluktuasi suhu di perairan Kepulauan Seribu <
1oC. Suhu air tertinggi terjadi pada musim peralihan dan terendah
terjadi pada musim barat dan timur. Suhu tersebut sangat mendukung
untuk pertumbuhan terumbu karang karena biota tersebut dapat
tumbuh dengan baik pada suhu 25oC–30oC. Suhu yang baik untuk
terumbu buatan adalah 28oC–30oC karena pada kisaran suhu tersebut
memungkinkan organisme untuk melakukan metabolisme secara
normal.
2. Salinitas
Salinitas di permukaan dan dasar perairan berkisar 33,0 o/oo–33,5 o/
. Kondisi ini akan menunjang tumbuhnya biota terumbu karang
oo
dengan baik di perairan tersebut. Baku mutu salinitas untuk kehidupan
karang berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup
No. 51 Tahun 2004 adalah 33 o/oo–34 o/oo. Biota lainnya seperti
fitoplankton dapat berkembang pada perairan dengan salinitas lebih
dari 15 o/oo dan optimum pada salinitas 35 o/oo. Bagi fitoplankton,
perubahan salinitas sekecil apapun dapat memengaruhi daya melayang
fitoplankton (Anonim 2004). Fluktuasi salinitas di kepulauan seribu
pada permukaan berkisar 30,5 o/oo–32,75o/oo dan di dasar berkisar
32,0 o/oo–33,5o/oo.
3. Oksigen terlarut
16
Konsentrasi oksigen terlarut pada lapisan permukaan perairan
masing-masing lokasi berkisar 2,71–4,45 ml/l dan di dasar perairan
2,29–5,50 ml/l. Konsentrasi oksigen terlarut yang rendah terdapat di
lokasi Pulau Panjang. Sedangkan di tiga lokasi lainnya, yaitu Pulau
Genteng, Pulau Kotok Kecil, dan Pulau Gosong, air mempunyai
konsentrasi oksigen yang dapat mendukung kehidupan terumbu
karang. Tingginya konsentrasi oksigen terlarut ini disebabkan oleh
proses fotosintesis yang berjalan dengan baik. Hal ini didukung oleh
kecerahan yang hampir mencapai dasar perairan. Konsentrasi oksigen
terlarut ini masih memenuhi baku mutu untuk kehidupan biota
air. Nilai konsentrasi oksigen terlarut di dasar perairan umumnya
lebih rendah. Hal ini mungkin disebabkan oleh dekomposisi bahan
organik.
Keragaan Rehabilitasi Terumbu Karang,
Kondisi Oseanografi dan Sumber Daya Ikan Karang di Kepulauan Seribu-Teluk Jakarta
4. Kecerahan
Kecerahan di setiap lokasi penelitian umumnya mencapai dasar
perairan yaitu berkisar 7,52–11,0 m. Kecerahan yang baik dapat
mendukung terjadinya proses fotosintesis karena penetrasi cahaya
matahari dapat mencapai perairan yang dalam. Cahaya yang masuk
ke perairan dapat digunakan oleh alga sebagai sumber energi untuk
fotosintesis. Berdasarkan PP N. 51 Tahun 2004, kecerahan untuk
biota laut khususnya terumbu berkisar lebih dari 5% dan kurang dari
10% dari perubahan kedalaman eufotik (Kementerian Lingkungan
Hidup 2004). Untuk lokasi penempatan modul terumbu buatan
tidak kurang dari 0,5 m. Kecerahan ini berperan untuk penetrasi
cahaya dan menjaga jangkauan indra organisme.
5. Kedalaman
Kedalaman di calon lokasi penempatan modul terumbu buatan berkisar
10–21 m. Letak kedalaman yang optimum untuk terumbu buatan
berkisar 15–20 m. Kedalaman ini berhubungan dengan kemudahan
peletakkan dan pemanfaatan terumbu buatan serta pertumbuhan
biota penempel. Terumbu buatan masih dapat tumbuh dengan baik
pada kedalaman 10 m.
6. Arus
Arus berperan sangat penting dalam transportasi zat-zat hara untuk
kebutuhan pertumbuhan fitoplankton. Selain itu juga sebagai media
transportasi bagi larva dan sebagian biota di antaranya adalah biota
yang hidupnya menempel pada substrat. Batas kecepatan arus
maksimum untuk kehidupan biota di laut adalah 3 km/jam dengan
arah yang bervariasi mengikuti pola pasang surut. Hasil pengamatan
arus pada lokasi tersebut berkisar 5,7–15,1 cm/det dengan arah yang
bervariasi. Persyaratan untuk penempatan terumbu buatan sebaiknya
tidak lebih dari 50 cm/detik. Pengamatan pada perairan Gosong Air,
kondisi arus tidak terdeteksi.
7. pH
Calon lokasi penempatan modul terumbu memiliki nilai pH yang
cenderung netral berkisar 7,34 –7,54. Nilai pH yang baik untuk
17
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
kehidupan biota air berkisar 6–9 (Effendi 2003) dan berdasarkan
peraturan kementerian lingkungan Hidup No. 51 Tahun 2004, baku
mutu untuk kehidupan biota laut adalah 7– 8,5.
5. Kondisi Dasar dan Luasan Paparan.
Berdasarkan kajian yang ada sebelumnya, ukuran volume terumbu
yang ekonomis adalah 400 m3. Untuk memperoleh terumbu buatan
sebesar 400 m3 tersebut dengan tiap 1 modul terumbu buatan yang
berbentuk piramida 21,96 m2 membutuhkan luasan dasar perairan 11.600
m2. Berdasarkan pengamatan kondisi oseanografi, topografi dasar perairan
dan luas paparan lokasi yang direkomendasikan untuk pengembangan
terumbu buatan adalah perairan Pulau Kotok Kecil, Pulau Genteng, Pulau
Gosong Air, dan bagian barat Pulau Harapan.
Posisi geografi untuk lokasi pengembangan terumbu buatan di
perairan Pulau Kotok Kecil adalah 5o 41’ 24”–5o 41’ 15” LS dan 106o
31’ 46,8”–106o 31’ 59,7” BT dengan luas rataan karang (reef flat) adalah
± 8 ha atau 80.000 m2 pada kedalaman 10–12 m. Posisi geografi lokasi
pengembangan terumbu buatan di perairan Gosong Air adalah 5o 39’ 12”
–5o 39’ 12,8 LS dan 106o 33’ 42”–106o 33’ 45,5” BT dengan luas rataan
karang ± 12 ha atau 12.000 m2 pada kedalaman 17–21 m. Posisi geografi
lokasi pengembangan terumbu buatan di perairan Pulau Genteng adalah
5o 36’ 42,5” –5o 36’ 50,6 LS dan 106o 32’ 2,8”–106o 32’ 57,4” BT dengan
luas rataan karang ± 12 ha atau 12.000 m2 pada kedalaman 17–21 m dan
untuk perairan Pulau Harapan terletak pada posisi 5o 39’ 23,9”–5o 39’
30,8 LS dan 106o 33’ 21”–106o 33’ 22,8” BT dengan luas rataan karang
± 8 ha atau 80.000 m2 pada kedalaman 10–14 m. Berdasarkan luas rataan
dasar perairannya yang lebih dari 8 ha pada kedalaman antara 10–20
meter, keempat wilayah tersebut secara ekonomis bisa dimanfaatkan untuk
pengembangan terumbu buatan. Sebagian wilayah perairan Kepulauan
Seribu merupakan perairan karang. Oleh karena itu, dasarnya terdiri dari
pasir bercampur pecahan karang. Keadaan tersebut terdapat pada keempat
lokasi pengamatan dengan dasar perairan terdiri dari pasir halus pasir
kasar dan pecahan karang. Adanya pecahan karang menunjukkan bahwa
pada lokasi pengamatan pernah terjadi penangkapan ikan dengan bahan
18
Keragaan Rehabilitasi Terumbu Karang,
Kondisi Oseanografi dan Sumber Daya Ikan Karang di Kepulauan Seribu-Teluk Jakarta
peledak. Dengan demikian, lokasi pengembangan terumbu buatan secara
ekonomis layak dilakukan di perairan Pulau Kotok Kecil, Gosong Air,
Pulau Genteng, dan Pulau Harapan.
6. Kondisi Oseanografi
Pengamatan oseanografi bertujuan untuk mengetahui sejauh mana
faktor-faktor oseanografi mendukung perkembangan Daerah Pelindungan
Laut (DPL) melalui pengembangan terumbu buatan dan transplantasi
karang di perairan Kepulauan Seribu. Parameter oseanografi yang diamati
meliputi suhu, salinitas, oksigen terlarut, pH, senyawa nitrat, nitrit, fosfat,
bahan organik, total arus, dan kecerahan air. Selain di daerah terumbu
karang, sampling oseanografi dilakukan juga pada lokasi yang pernah
dilakukan restoking teripang.
6.1. Oksigen Terlarut
Berdasarkan Pengamatan yang dilakukan April 2007 di perairan
Kepulauan Seribu Utara menyatakan bahwa konsentrasi oksigen terlarut
di permukaan perairan berkisar 2,55 – 4,25 ml/l dan di dasar perairan
berkisar 3,64–4,19 ml/l. Konsentrasi oksigen terlarut tertinggi terdapat
di stasiun pengamatan Pulau Pamegaran yang merupakan lokasi restoking
teripang, sedangkan konsentrasi oksigen terlarut terendah terdapat pada
lokasi pengamatan barat daya Pulau Pramuka yang merupakan daerah
padat penduduk. Konsentrasi oksigen terlarut di dalam air laut tergantung
pada kedalaman dan temperatur. Pada temperatur yang tinggi, kelarutan
oksigen di dalam air laut menjadi rendah. Penurunan konsentrasi oksigen
terlarut mungkin juga disebabkan penguraian bahan organik oleh
mikroorganisme. Pada umumnya konsentrasi oksigen lebih rendah pada
perairan yang lebih tercemar.
Pengamatan pada Juli 2007 di perairan Kepulauan Seribu bagian
selatan menyatakan bahwa konsentrasi oksigen terlarut berkisar 3,57–
5,78 ml/l, konsentrasi tertinggi di perairan Pulau Tidung dan terendah
di perairan Goba Pulau Tikus. Konsentrasi oksigen terlarut di perairan
Kepulauan Seribu utara dan Kepulauan Seribu Selatan masih dapat
mendukung untuk kehidupan biota karang.
19
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
6.2. Salinitas
Salinitas di perairan Kepulauan Seribu utara pada bulan April 2007
berkisar 32 o/oo–32,5o/oo di permukaan dan dasar perairan pada kisaran 32o/
. Perbedaan nilai salinitas tersebut relatif rendah sehingga bisa dikatakan
oo
homogen. Kondisi ini disebabkan oleh semua daerah pengamatan jauh
dari sumber air tawar (tidak ada muara sungai). Suhu air yang hampir
sama juga menyebabkan laju evaporasi relatif sama. Demikian juga dengan
nilai salinitas di perairan Kepulauan Seribu Selatan yang diamati pada
bulan Juli 2007 berada pada kisaran yang hampir sama yaitu antara 32,5o/
–33,0o/oo.
oo
6.3. Suhu
Suhu sangat berperan dalam mengendalikan ekosistem akuatik karena
perubahan suhu sangat berpengaruh terhadap proses fisika kimia maupun
biologi perairan (Effendi 2003). Suhu permukaan di perairan Kepulauan
Seribu utara pada bulan April 2007 berkisar 29,5oC–30oC dan di dasar
perairan berkisar 30oC. Seperti kondisi salinitas perairan, perbedaaan suhu
juga relatif kecil sehingga dapat dikatakan homogen. Suhu di perairan
Kepulauan Seribu selatan pada bulan Juli 2007 berkisar 29oC–30oC.
6.4. Kecerahan
Kecerahan perairan di Kepulauan Seribu utara pada kedalaman 18–
45 m mencapai dasar perairan, sedangkan pada kedalaman 8,8–20,4 m
berkisar 2–10 m. Kecerahan terendah terdapat di perairan Pulau Pamegaran
yang disebabkan tingginya partikel terlarut. Daerah ini merupakan daerah
yang dangkal dengan dasar pasir berlumpur sehingga sangat mudah terjadi
pengadukan. Perairan ini sangat cocok untuk kehidupan biota teripang.
Sedangkan untuk kehidupan biota karang membutuhkan perairan yang
relatif cerah untuk proses fotosintesa. Kecerahan di perairan Kepulauan
Seribu Selatan berkisar 7,5–13,5 m untuk kedalaman perairan 10–40 m.
6.5. pH
pH perairan Kepulauan Seribu utara pada umumnya bersifat netralbasa yaitu pada kisaran 7,8–8,0 sehingga bisa dikatakan homogen.
Pengamatan di perairan Kepulauan Seribu selatan mempunyai kisaran
hampir sama yaitu antara 7,58–7,77. Biota air umumnya sensitif terhadap
perubahan pH dan lebih menyukai perairan dengan pH antara 7– 8,5.
20
Keragaan Rehabilitasi Terumbu Karang,
Kondisi Oseanografi dan Sumber Daya Ikan Karang di Kepulauan Seribu-Teluk Jakarta
6.6. Konduktivitas
Konduktivitas di lokasi penelitian berkisar 3,12–5,05 dengan
nilai tertinggi terdapat di perairan Gosong Pramuka. Hal ini mungkin
disebabkan oleh banyaknya garam-garam terlarut yang terionisasi, yang
ditandai oleh nilai salinitas yang mencapai 32o/oo. Ion Cl- merupakan
penyusun utama dari salinitas yaitu 55,25% sehingga semakin tinggi nilai
salinitas, semakin tinggi pula nilai konduktivitasnya.
6.7. Nitrat (N-NO3)
Nitrat merupakan bentuk utama dari nitrogen di perairan alami
dan merupakan nutrien utama bagi pertumbuhan alga dan tanaman.
Nitrat mempunyai sifat mudah larut dalam air dan stabil. Senyawa ini
dihasilkan oleh proses oksidasi sempurna nitrogen. Konsentrasi nitrat di
lokasi penelitian di Kepulauan Seribu utara berkisar 0,198–0,846 mg/l.
Konsentrasi nitrat tertinggi terdapat di perairan Wak Rom yang mungkin
berasal dari dekomposisi bahan organik dari karang yang telah mati.
Konsentrasi nitrat sangat tinggi di perairan Kepulauan Seribu selatan
yang relatif lebih dekat dengan Teluk Jakarta yaitu berkisar 0,4–2,4 mg/l.
Tingginya konsentrasi nitrat tersebut sangat berpengaruh untuk terjadinya
ledakan (blooming) plankton.
6.8. Nitrit (N-NO2)
Nitrit di perairan alami ditemukan dalam jumlah yang sangat sedikit
dibandingkan dengan nitrat. Hal ini dikarenakan nitrit merupakan bentuk
peralihan antara nitrat dan ammonia sehingga mempunyai sifat yang tidak
stabil dengan adanya oksigen. Konsentrasi nitrit yang lebih dari 0,05 mg/l
dapat bersifat toksin bagi biota air. Konsentrasi nitrit di perairan Kepulauan
Seribu utara berkisar 0,001–0,018 mg/l dengan rata- rata 0,007 mg/l dan
tertinggi terdapat pada perairan Opak Kecil dan barat daya Pulau Pramuka
yang mungkin berasal dari dekomposisi bahan organik dari karang yang
telah mati. Konsentrasi nitrit di perairan Kepulauan Seribu selatan relatif
lebih tinggi yaitu berkisar 0,006–0,039 mg/l.
6.9. Fosfat (P-PO4)
Konsentrasi P-PO4 di Kepulauan Seribu utara berkisar 0,036–0,778
mg/l dengan rata-rata 0,148 mg/l dan tertinggi terdapat di stasiun Kaliage
Kecil. Konsentrasi fosfat di perairan Kepulauan Seribu selatan relatif
21
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
lebih rendah yaitu pada kisaran 0,03–0,17 mg/l. Senyawa fosfor mungkin
berasal dari perombakan enzimatik berbagai senyawa fosfat dalam sel- sel
fitoplankton dan bakteri.
6.10. Bahan Organik Total
Keberadaan bahan organik dapat berasal dari alam, yaitu dari
pembusukan tanaman dan hewan ataupun dari aktivitas manusia, misalnya
dari aktivitas pemeliharaan ikan di Keramba Jaring Apung. Konsentrasi
bahan organik di perairan Kepulauan Seribu berkisar 3,037–5,182 mg/l
dan tertinggi terdapat di daerah barat daya Pulau Pramuka. Hal ini
mungkin disebabkan oleh pembusukan hewan-hewan yang telah mati.
6.11. Arus
Kecepatan dan arah arus akan sangat berpengaruh terhadap pemilihan
lokasi, baik untuk pengembangan terumbu buatan maupun transplantasi
karang dalam upaya rehabilitasi habitat. Kecepatan arus yang disyaratkan
adalah tidak lebih dari 30 cm/detik. Pada waktu pengamatan, kecepatan
arus di perairan Kepulauan Seribu berkisar 1,6–8 cm/detik.
6.12. Plankton
Kelimpahan plankton dan komposisi genera di perairan Kepulauan
Seribu terdiri dari 10 kelas yaitu: Bacillariophyceae (17 genera),
Chloropeceae (1 genera), Dinophyceae (3 genera), Rotatoria (1 genera),
Crustacea (8 genera), Ciliata (1 genera), Sarcodina (3 genera), Sagittoidea
(1 genera), Hydrozoa (1 genera), dan Bivalvia (1 genera). Jumlah individu
tertinggi di jumpai pada perairan Pulau Tidung dengan kelimpahan
41 x104 indv/m3. Kelimpahan tertinggi ini di dominasi oleh genera
bacillariopecheae. Bacillariophyceae adalah salah satu jenis genus yang
sering di jumpai melimpah baik secara kualitatif maupun kuantitatif pada
berbagai tipe perairan sungai, baik sebagai plankton maupun sebagai
perifiton. Menurut Sachlan (1982), Bacillariophyceae adalah salah satu
genus yang mempunyai ketahanan tinggi terhadap kondisi ekstrem,
mudah beradaptasi, dan mempunyai daya reproduksi yang tinggi sehingga
rekruitmentnya juga tinggi. Sedangkan kelimpahan terendah terdapat
pada perairan Pulau Pari dengan kelimpahan 2,3 x 104 indv/m3.
22
Keragaan Rehabilitasi Terumbu Karang,
Kondisi Oseanografi dan Sumber Daya Ikan Karang di Kepulauan Seribu-Teluk Jakarta
7. Kelimpahan Stok Ikan Karang
Data sampling hasil tangkapan dapat ditafsirkan sebagai salah satu
bentuk indeks kelimpahan stok atau hasil tangkapan per unit upaya.
Data yang diperoleh tersebut baru merupakan satu titik. Dengan
menggabungkan data dari sumber lain diharapkan dapat diperoleh
gambaran dan perbandingan tentang besarnya indeks kelimpahan stok
pada saat ini. Untuk melengkapi data indeks kelimpahan stok juga
dilakukan pengamatan komunitas ikan karang secara langsung (sensus
visual) dengan metode transek garis pada wilayah perairan terumbu karang
dan terumbu buatan.
7.1. Kelimpahan Hasil Tangkapan
Data hasil tangkapan nelayan diperoleh dari Balai Riset Perikanan
Laut yang secara bersamaan mempunyai kegiatan riset di perairan
Kepulauan Seribu. Data yang diacu adalah data hasil tangkapan dengan
bubu dan Muroami yang penangkapannya dilakukan di perairan karang.
Kelimpahan dan komposisi hasil tangkapan bubu yang didaratkan di
Pulau Panggang dan Pulau Kelapa disajikan pada Tabel 11 dan 12. Hasil
tangkapan per unit upaya bubu yang didaratkan di Pulau Panggang adalah
13,3 kg/kapal/trip/hari didominasi oleh ikan nuri (Choerodon anchorago).
Hasil tangkapan yang didaratkan di Pulau Kelapa relatif sedikit yaitu 38
kg/kapal/trip/hari didominasi oleh ikan kerapu sunu halus (Plectropomus
leopardus) yang bernilai ekonomis tinggi.
Tabel 11.Komposisi ikan hasil tangkapan bubu yang didaratkan di Pulau
Panggang bulan Maret 2007
No
Jenis Ikan
Jumlah
(Ekor)
(%)
Berat
(kg)
(%)
1
Ekor kuning (Caesio cuning)
14
8,48
1.260
9,47
2
Nuri (Choerodon anchorago)
130
78,79
9.100
68,42
3
Pasir-pasir (Scolopsis margaritifer)
15
9,09
2.400
18,05
4
Kerapu minyak (Epinephelus ongus)
2
1,21
165
1,24
5
Kakatua (Scarus ghobban)
1
0,61
145
1,09
6
Kakatua (Scarus sp.)
2
1,21
140
1,05
7
Kurisi (Pentapodus sp.)
Jumlah
1
0,61
90
0,68
165
100,00
13.300
100,00
23
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Tabel 12.Komposisi ikan hasil tangkapan bubu yang didaratkan di Pulau
Kelapa, Maret 2007
No
1
2
Jenis Ikan
Kerapu sunu halus
(Plectopomus Leopardus)
Kerapu minyak
(Epinephelus ongus)
Jumlah
Jumlah
(Ekor)
(%)
Berat
(kg)
(%)
11
64,71
2.300
60,53
6
35,29
1.500
39,47
17
100,00
3.800
100,00
Muroami merupakan alat tangkap yang produktif untuk ikan karang
sehingga dapat menggambarkan kelimpahan stok ikan karang lebih akurat.
Hasil tangkapan muroami di perairan Kepulauan Seribu relatif lebih tinggi
daripada alat tangkap lainnya. Hasil tangkapan kapal muroami dengan 3
kali setting pada bulan Maret 2007 sebesar 100 kg/kapal/hari. Komposisi
jenis ikan dari sampel sebanyak 70% seluruh hasil tangkapan berdasarkan
jumlah dan beratnya didominasi oleh ikan ekor kuning (Caesio cuning)
sebesar 45,7% dan 76,9% serta pisang-pisang (Pterocaesio digramma)
masing-masing 36,7% dan 13,7%. Data komposisi ikan hasil tangkapan
kapal muroami yang didaratkan di Pulau Pramuka disajikan pada Tabel
13. Hasil tangkapan yang diperoleh dari trip babangan (hari) pada bulan
Januari–Maret rata-rata mencapai 500 kg/kapal/trip/minggu. Demikian
juga dengan yang didaratkan di Pulau Tidung, hasil tangkapan diperoleh
pada kisaran 100–700 kg/kapal/trip/minggu. Kelimpahan dan komposisi
hasil tangkapan muroami yang dilakukan secara babangan dan didaratkan
di Pulau Tidung pada bulan Mei 2007 disajikan pada Tabel 14. Dari Tabel
13 dan 14 terlihat bahwa ekor kuning adalah jenis yang mendominasi
hasil tangkapan muroami di perairan Kepulauan Seribu. Informasi yang
diperoleh menyebutkan bahwa beberapa tahun terakhir jenis ekor kuning
sempat menghilang atau over fishing dari perairan Kepulauan Seribu.
Dengan demikian, upaya rehabilitasi yang dilakukan sementara ini
berdampak nyata terhadap pemulihan stok sumber daya ikan.
24
Keragaan Rehabilitasi Terumbu Karang,
Kondisi Oseanografi dan Sumber Daya Ikan Karang di Kepulauan Seribu-Teluk Jakarta
Tabel 13.Komposisi ikan hasil tangkapan muroami di perairan Kepulauan
Seribu bulan Maret 2007.
No
Jenis Ikan
1
2
Ekor kuning (Caesio cuning)
Pisang-pisang
(Pterocaesio diagramma)
Beronang susu
(Siganus canaliculatus)
Alu-alu (Sphyraena forsteri)
Kakap batu
Kakatua (Scarus sp.)
Romon-romon
Cumi-cumi (Loligo sp.)
Jumlah
3
4
5
6
7
8
Jumlah
(Ekor)
623
500
45,7
36,7
Berat
(kg)
56.000
10.000
76,9
13,7
2
0,2
150
0,2
112
1
5
7
112
1362
8,2
0,1
0,4
0,5
8,2
100,00
5.000
265
600
395
400
72.810
6,8
0,4
0,8
0,5
0,5
100,00
(%)
(%)
Tabel 14.Kelimpahan dan komposisi ikan hasil tangkapan muroami yang
dioperasikan secara babangan dan didaratkan di Pulau Tidung
No
Tanggal
1
08/01/2007
2
10/01/2007
3
4
5
Komoditas ikan
Hasil
tangkapan
(kg)
Total Hasil
Tangkapan
(kg)
Ekor kuning (Caesio cuning)
210
Gebel (Platax batavianus)
172
Ekor kuning (Caesio cuning)
367
Kerapu lodi (Plectopomuleopardus)
30
16/01/2007
Ekor kuning (Caesio cuning)
219
219
17/01/2007
Ekor kuning (Caesio cuning)
100
100
Ekor kuning (Caesio cuning)
245
Kuwe
25
Kerapu lodi (Plectopomuleopardus)
12
20/01/2007
382
397
282
25
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Tabel 14.Kelimpahan dan komposisi ikan hasil tangkapan muroami yang
dioperasikan secara babangan dan didaratkan di Pulau Tidung
(lanjutan)
No
Tanggal
6
29/01/2007
7
04/02/2007
8
07/02/2007
Komoditas ikan
Hasil
tangkapan
(kg)
Ekor kuning (Caesio cuning)
93
Kerapu lodi (Plectopomuleopardus)
53
Ekor kuning (Caesio cuning)
149
Kerapu lodi (Plectopomuleopardus)
09
Ekor kuning (Caesio cuning)
242
Kerapu lodi (Plectopomuleopardus)
11
Bulat (Carangoides bajad)
12
Total Hasil
Tangkapan
(kg)
146
158
265
9
08/02/2007
Ekor kuning (Caesio cuning)
203
203
10
12/02/2007
Ekor kuning (Caesio cuning)
282
282
11
20/02/2007
Ekor kuning (Caesio cuning)
750
Kerapu lodi (Plectopomuleopardus)
76
12
25/02/2007
Ekor kuning (Caesio cuning)
208
826
208
Total
3.468
Rata-rata
289
7.2. Komunitas Ikan Karang
Secara keseluruhan ikan karang yang teramati dari 9 stasiun (titik
penyelaman) di perairan Kepulauan Seribu utara terdiri dari 18 Famili.
Famili-famili ikan karang untuk kelompok ikan mayor yang ditemukan
berjumlah 8 famili yaitu Apogonidae, Malacanthidae, Pomacanthidae,
Synodontidae, Gobiidae, Labridae, Pinguipedidae, dan Pomacentridae.
Ikan target yang ditemukan sebanyak 9 famili yaitu Caesionidae,
Lethrinidae, Lutjanidae, Mullidae, Nemipteridae, Scaridae, Serranidae,
Dasyatididae, dan Ephippidae. Sedangkan ikan indikator dari famili
Chaetodontidae ditemukan sebanyak 6 spesies yaitu Chaetodon kleinii,
Chaetodon oxycephalus, Coradion melanopus, Heniochus diphreutes,
Parachaetodon ocellatus, dan Heniochus monoceros. Famili Chaetodontidae
yang mengindikasikan kesehatan karang banyak dijumpai di perairan
26
Keragaan Rehabilitasi Terumbu Karang,
Kondisi Oseanografi dan Sumber Daya Ikan Karang di Kepulauan Seribu-Teluk Jakarta
timur Gosong Pramuka, selatan Gosong Pramuka, terumbu buatan di
barat daya Pulau Pramuka, dan DPL Kaliage Kecil Pulau Kelapa. Hasil
pengamatan kondisi terumbu karang juga menunjukkan bahwa persentase
penutupan karang batu keempat perairan tersebut pada kategori baik.
Ikan target dominan dan bernilai ekonomis adalah ekor kuning (Caesio
cuning). Beberapa ikan target yang teridentifikasi juga bernilai ekonomis
tinggi yaitu kelompok ikan kerapu (Famili Serranidae) seperti Chromileptes
altivelis, Ephinephelus fasciatus, dan Ephinephelus fuscogutatus. Jumlah ikan
terbanyak yang ditemukan selama pengamatan yaitu famili Pomacentridae
(45%) dan Labridae (14%) dari kelompok ikan mayor dan famili
Nemipteridae (10%) dari kelompok ikan target.
Jumlah jenis ikan terbanyak ditemukan di ekosistem terumbu buatan
barat daya Pulau Pramuka. Hal ini mungkin disebabkan oleh struktur
terumbu buatan yang berbentuk piramida dan terdapat banyak rongga
serta sudah tumbuhnya biota penempel sehingga dapat digunakan sebagai
tempat berlindung dan mencari makan. Berbeda dengan kondisi terumbu
buatan di Pulau Semak Daun yang berbentuk kubah dengan rongga
yang berdiameter kecil dan kehadiran biota penempel sangat rendah
menyebabkan jumlah jenis ikan karang yang ditemukan sangat sedikit.
Faktor kedalaman lokasi penempatan terumbu buatan (antara 20–25 m)
dan tipe substrat dasar perairan pasir berlumpur menyebabkan ekosistem
terumbu buatan tidak berkembang.
Kegiatan monitoring juga dilakukan di utara Gosong Pulau Pramuka
untuk memantau kondisi biota karang dan ikan karang pada ekosistem
terumbu buatan dan daerah transplantasi karang yang sudah berumur 2
tahun. Terlihat bahwa biota karang pada transplantasi yang teramati belum
dapat tumbuh secara optimal. Begitu pula dengan keberadaan ikan karang
yang terpantau dalam jumlah yang sedikit. Sangat berbeda dengan kondisi
kelimpahan ikan karang pada terumbu karang alami di timur dan selatan
Gosong Pramuka yang berada tidak jauh dari lokasi terumbu buatan
dan transplantasi karang relatif lebih banyak. Penetapan Gosong Pulau
Pramuka sebagai Daerah Perlindungan Laut (DPL) berdampak positif,
di mana aktivitas penangkapan yang dapat merusak ekosistem terumbu
karang alami dapat dicegah. Minimnya ikan karang pada lokasi terumbu
buatan disebabkan oleh ketidaktepatan pemilihan lokasi.
27
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Jenis ikan yang teridentfikasi pada seluruh lokasi pengamatan adalah
61 jenis. Jumlah jenis terbanyak ditemukan di barat daya Pulau Pramuka
yaitu sebanyak 39 jenis. Kemudian untuk DPL Kaliage Kecil, selatan
Gosong Pramuka, dan DPL Karang Wak Rom berturut-turut memiliki
jumlah jenis 27,26, dan 24. Jenis ikan relatif sedikit di perairan lainnya,
seperti di timur Gosong Pramuka dan Pulau Opak Kecil masing-masing
sebanyak 17 jenis. Famili Pomacentridae sebagai populasi terbanyak dan
terdiri dari jumlah jenis yang paling banyak yaitu 13 jenis, hampir 25%
dari seluruh jenis yang teridentifikasi. Keberadaan famili Pomacentridae
sebagai ikan herbivor grazer pemakan alga tentunya menguntungkan
dari segi ekologis. Ikan herbivor berperan dalam tiga proses penting
di terumbu karang yaitu: (1) sebagai penyambung aliran energi dari
produsen ke konsumen lainnya, (2) menentukan distribusi dan komposisi
kelompok tumbuhan dalam lingkungan terumbu karang dengan proses
grazing, tidak hanya pola distribusi dan ukurannya, tetapi juga rerata
produksi dan komposisi internalnya sehingga membantu karang dalam
persaingan mempertahankan ruangnya, dan (3) adalah interaksi antarikan
herbivor sendiri dalam hal teritori yang telah digunakan sebagai dasar
dalam penelitian mengenai demografi dan tingkah laku ikan karang secara
umum (Sale 1980 dan Choat 1991). Kelimpahan jenis ikan karang di
setiap lokasi pengamatan disajikan pada Gambar 1.
Hasil sensus visual menunjukkan kelimpahan ikan di perairan karang
Kepulauan Seribu utara berkisar 1–3 ind/m2. Kelimpahan yang relatif tinggi
terdapat di perairan DPL Wak Rom, Pulau Kelapa, dan terumbu buatan
barat daya Pulau Pramuka yaitu 3 ind/m2. Kelimpahan yang relatif rendah
terdapat di perairan terumbu buatan Semak Daun, terumbu buatan utara
Gosong Pramuka, dan transplatasi karang utara Gosong Pramuka yaitu 0–1
ind/m2. Kondisi tersebut disebabkan jumlah biota karang/penempel pada
ketiga perairan sangat rendah. Untuk itu harus dipertimbangkan secara
matang lokasi yang akan digunakan sebagai rekayasa habitat. Kelimpahan
ikan karang pada setiap stasiun pengamatan di Kepulauan Seribu utara
disajikan pada Tabel 15.
28
Keragaan Rehabilitasi Terumbu Karang,
Kondisi Oseanografi dan Sumber Daya Ikan Karang di Kepulauan Seribu-Teluk Jakarta
40
1.Timur Gosong Pramuka
2. Selatan Gosong Pramuka
3. APL Karang Wak Rom
4. APL Kaliage Kecil
5. Pulau Opak Kecil
6. Pulau Semak Daun
7. Barat Daya Pulau Pramuka
(terumbu buatan)
8. Utara Gosong Pramuka
(terumbu karang buatan)
9. Utara Gosong Pramuka
(karang transplantasi)
35
Ju m lah Jen is
30
25
20
15
10
5
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Gambar 1.Jumlah jenis ikan karang pada 9 lokasi pengamatan di
Kepulauan Seribu, April 2007
Tabel 15.Kelimpahan ikan karang di perairan Kepulauan Seribu utara
pada bulan Maret 2008.
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
Stasiun Pengamatan
DPL Timur Gosong Pramuka
DPL Selatan Gosong Pramuka
DPL Karang Wak Rom
DPL Kaliage Kecil
Pulau Opak Kecil
Pulau Semak Daun (TB)
Barat Daya P. Pramuka (TB)
Utara Gosong Pramuka (TB)
Utara Gosong Pramuka (TK)
Kelimpahan (ind/m2)
1,51
1,95
2,92
2,17
1,03
0,28
3,24
0,23
0,19
Analisis komunitas ikan karang menunjukkan nilai indeks
keanekaragaman berkisar 1,9 hingga 3,2. Nilai tertinggi berada pada
ekosistem terumbu buatan barat daya Pulau Pramuka dengan kondisi
terumbu buatan tidak beraturan. Susunan teratas piramida banyak yang
sudah terpisah, namun menguntungkan karena jumlah terumbu buatan
relatif banyak. Keanekaragaman terendah terdapat di stasiun transplantasi
29
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
karang utara Gosong Pramuka. Terlihat bahwa perkembangan ekosistem
pada transplantasi karang kurang optimal sehingga kurang berfungsi secara
ekologis bagi ikan karang. Stasiun pengamatan lainnya menunjukkan
indeks keanekaragaman nilai lebih dari 2 bahkan pada beberapa lokasi
mendekati 3. Nilai indeks keseragaman menunjukkan kisaran yang relatif
sempit yaitu antara 0,858 hingga 0,958. Nilai indeks keseragaman yang
mendekati 1 mengindikasikan komunitas ikan karang dalam kondisi
stabil. Tingginya indeks keseragaman juga ditunjukkan dengan rendahnya
indeks dominansi antarspesies sangat rendah yaitu berkisar 0,055 hingga
0,163.
Pengamatan di perairan Kepulauan Seribu selatan dilakukan pada 4
stasiun pengamatan yaitu DPL utara Pulau Tidung, perairan selatan Pulau
Payung, DPL selatan Pulau Pari, dan Goba Pulau Tikus. Hasil pengamatan
menunjukkan ikan karang yang teridentifikasi terdiri dari 14 famili.
Kelompok ikan mayor sebanyak 6 famili yaitu Apogonidae, Malacanthidae,
Pomacanthidae Synodontidae, Labridae, dan Pomacentridae. Kelompok
ikan target sebanyak 7 famili yaitu Caesionidae, Lethrinidae, Lutjanidae,
Mullidae, Nemipteridae, Scaridae, dan Serranidae. Kemudian kelompok
ikan indikator yaitu famili Chaetodontidae ditemukan sebanyak 3
jenis yaitu Chaetodon kleinii, Chaetodon octofasciatus, dan Chaetodon
ornatissimus. Jumlah ikan terbanyak yang ditemukan selama pengamatan
yaitu dari famili Labridae, Pomacentridae, dan Caesionidae. Ikan yang
teridentifikasi dari keseluruhan pengamatan terdiri dari 44 jenis. Jenis
ikan terbanyak ditemukan di DPL selatan Pulau Pari (35) dan terendah
di perairan Goba Pulau Tikus (15). Kelimpahan ikan berada pada kisaran
0,43 ind/m2–2,65 ind/m2 . Sesuai dengan dengan kelimpahan jenisnya,
jumlah individu ikan terbanyak dijumpai di DPL selatan Pulau Pari dan
terendah di Goba Pulau Tikus.
(1) Utara Pulau Tidung
30
Berdasarkan hasil sensus visual pada terumbu karang di daerah
perlindungan laut utara Pulau Tidung dengan kedalaman 5–7
meter teridentifikasi 17 jenis ikan, 8 jenis di antaranya merupakan
famili Pomacentridae, 4 jenis dari famili Labridae, dan 5 jenis
lainnya merupakan famili Malacanthidae, Caesionidae, Lutjanidae,
Nemipteridae, dan Chaetodontidae. Pomacentridae dan Labridae
Keragaan Rehabilitasi Terumbu Karang,
Kondisi Oseanografi dan Sumber Daya Ikan Karang di Kepulauan Seribu-Teluk Jakarta
sebagai famili dengan jumlah populasi paling banyak dan termasuk
dalam katagori ikan mayor. Katagori ikan mayor dijumpai
sebanyak 69,29%, ikan target 25,98%, dan ikan indikator sebanyak
4,72%. Kelimpahan total diperoleh sebesar 0,85 ekor/m2. Indeks
keanekaragaman sebesar 2,69, indeks keseragaman sebesar 0,95,
dan indeks dominansi spesies sebesar 0,08. Dengan demikian dapat
dikatakan bahwa komunitas ikan karang di perairan utara Pulau
Tidung berada dalam kondisi mendekati stabil. Hal ini juga didukung
oleh persentase tutupan karang hidup sebesar 68,5 % dengan katagori
baik sehingga dapat memberikan fungsi ekologis bagi ikan karang.
(2) Selatan Pulau Payung
Pengamatan komunitas ikan di terumbu karang selatan Pulau Payung
teridentifikasi 18 jenis dengan kelimpahan total sebesar 2,29 individu/
m2. Famili Labridae termasuk dalam kelompoki ikan mayor ditemukan
dengan populasi terbesar. Kelompok ikan mayor dijumpai sebanyak
76,45%, kelompok ikan target 17,73%, dan kelompok ikan indikator
sebanyak 5,81%. Spesies Halichoeres, purpurescens, Halichoeres,
melapterus, Apogon victoriae, dan Caesio cuning merupakan jenis yang
banyak dijumpai. Hasil analisis struktur komunitas ikan menunjukkan
bahwa indeks keanekaragaman 2,52, indeks keseragaman 0,87, dan
indeks dominansi 0,10. Telah disampaikan pada subbab sebelumnya
bahwa persentase tutupan karang batu di selatan Pulau Payung pada
kategori sedang mendekati baik, yaitu pada kisaran nilai 40%.
(3) Selatan Pulau Pari
Hasil pengamatan di Selatan Pulau Pari teridentifikasi 35 jenis dengan
kelimpahan 2,65 individu/m2. Indeks keanekaragaman 2,69, indeks
keseragaman 0,75, dan indeks dominansi 0,12. Gugusan Pulau Pari
merupakan daerah perlindungan laut, meliputi Pulau Pari, Pulau
Kongsi, Pulau Tengah, Pulau Tikus, dan Pulau Dua sehingga jalur
migrasi ikan umumnya tidak terlalu jauh dan akan lebih memilih
untuk menetap pada habitatnya. Persentase tutupan karang batu pada
kategori baik atau lebih dari 50%. Dari data tersebut diketahui bahwa
Pomacentridae dan Labridae adalah famili dengan populasi terbesar.
Sedangkan Caesio cuning merupakan jenis ikan target yang dominan.
31
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Ikan mayor dijumpai sebanyak 75,57%, ikan target 19,40%, dan
ikan indikator sebanyak 5,04%. Spesies Amphiprion ocellaris dan
Amphiprion perideraion termasuk dalam kategori ikan mayor. Spesies
ini merupakan ikan hias yang sangat menyukai anemon laut sebagai
habitatnya, namun akhir-akhir ini populasinya semakin menurun. Di
antara ikan target yang teridentifikasi di selatan Pulau Pari terdapat
jenis yang bernilai ekonomis dan dominan yaitu ikan ekor kuning
(Caesio cuning) dan ekonomis tinggi seperti kelompok ikan kerapu
(Famili Serranidae) antara lain Cephalopolis boenack dan Ephinephelus
fuscogutatus. Kelompok ikan kerapu tersebut hanya ditemukan dalam
jumlah yang relatif rendah. Biota non ikan yang dijumpai di antaranya
adalah sotong atau Sephia sp.
Daerah perlindungan laut yang dimaksud adalah daerah yang ditutup
secara permanen di mana semua kegiatan ekstraktif manusia dilarang
terutama menangkap ikan dengan tujuan akhir untuk melestarikan
sumber daya pesisir dan laut. Daerah perlindungan laut tersebut sudah
diterapkan di beberapa wilayah perairan dan direncanakan akan ada
di setiap kelurahan.
Kesimpulan
Rehablitasi habitat dalam upaya memulihkan ekosistem terumbu
karang di perairan Kepulauan Seribu dilakukan melalui kegiatan
pengembangan terumbu buatan, transplantasi karang, dan penetapan
daerah perlindungan laut. Penetapan daerah perlindungan laut berdampak
terhadap kondisi kesehatan terumbu karang pada kategori baik dan
peningkatan stok ikan seperti pulihnya jenis ikan hias ekonomis tinggi
yang populasinya sudah mulai menurun di Kepulauan Seribu (seperti
Amphiprion sp.). Selain itu, kembali melimpahnya ikan konsumsi ekonomis
penting seperti ekor kuning (Caesio cuning). Tidak demikian halnya dari
hasil evaluasi kegiatan rehabilitasi habitat melalui pengambangan terumbu
buatan dan transplantasi karang menunjukkan perkembangan yang tidak
signifikan. Pengamatan pada lokasi transplantasi karang menunjukkan
bahwa sebagian besar transplan terlepas dari substratnya dan tidak
berkembang. Demikian juga dengan pengembangan terumbu buatan dari
beberapa lokasi yang diamati hanya di perairan barat daya Pulau Pramuka
32
Keragaan Rehabilitasi Terumbu Karang,
Kondisi Oseanografi dan Sumber Daya Ikan Karang di Kepulauan Seribu-Teluk Jakarta
yang dapat berkembang dengan baik. Dari identifikasi habitat dapat
direkomendasikan bahwa rehabilitasi kerusakan karang dengan rekayasa
habitat melalui pengembangan terumbu buatan dapat dilakukan di
perairan Pulau Kotok Kecil, Gosong Air, Genteng, dan Pulau Harapan.
Rekomendasi
Berdasarkan evaluasi terhadap rehabilitasi habitat yang sudah
dilakukan di perairan kepulauan Seribu dan identifikasi habitat yang
dilakukan pada beberapa wilayah perairan, dapat direkomendasikan
bahwa rehabilitasi kerusakan terumbu karang untuk meningkatkan daya
dukung perairan dapat dilakukan di perairan Pulau Kotok Kecil, Gosong
Air, Pulau Genteng, dan Pulau Harapan melalui rekayasa habitat dengan
pengembangan terumbu buatan.
Daftar Pustaka
English SC Wilkinson and V Baker. 1994. Survey Manual for Tropical
Marine Resources. Australian Institute of Marine Science. Townsville.
Australia.
Kuiter RH. 1992. Tropical reef-fishes of the Western Pacific Inonesa and
Adjacent Waters. Jakarta: Gramedia.
KPP-COREMAP. 2001. Buku panduan pengelolaan berbasis masyarakat
(PBM)-COREMAP. COREMAP- Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia Jakarta.
Lieske E and R Myers. 1997. Reef fishes of the World. Jakarta Indonesia:
Periplus Edition.
Ludwig JA and JF Reynolds. 1988. Statistical ecology. A primer on
methods and computing. New York: Jhon Wiley and Son.
Nontji A. 2000. Coral reefs of Indonesia. Prosiding Lokakarya Pengelolaan
dan Iptek Terumbu Karang Indonesia. LIPI- COREMAP. Jakarta.
Rahmat dan Yosephine. 2001. Software Percent Cover Benthic Lifeform
Versi 5.1. Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi. LIPI.
Jakarta.
33
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Romimohtarto K dan S Juwana. 2005. Biologi Laut. Ilmu Pengetahuan
tentang biologi laut. Cetakan ke 2. Jakarta: Djambatan.
Suharsono. 1996. Jenis-jenis karang yang umum dijumpai di Perairan
Indonesia. Laporan Penelitian. Proyek Penelitian dan Pengembangan
Daerah Pantai LIPI.
Sukarno Hutomo M. Moosa M.K. & DarsonoP. 1983. Terumbu Karang
di Indonesia; Sumber daya
Veron JEN. 1986. Corals of Australia and The Indo-Pasific. Honolulu:
Univ. of Hawaii Press.
Wasilun K dan Suprapto. 1991. Study on coral rehabilitation techniques.
The Project Report CRIFI Jakarta.
Sachlan M. 1982. Planktonologi. Fakultas Peternakan dan Perikanan.
Edwards A dan E Gomez. 2007. Konsep & Panduan Restorasi Terumbu:
Memilih pilihan bijak di antara ketidakpastian. Coral Reef. Targeted
Research & Capacity Building for Management.
Suku Dinas Kelautan dan Pertanian. 2011. Program Budidaya dan
Rehabilitasi Ekosistem Laut Kepulauan Seribu – DKI Jakarta.
34
Kondisi Terumbu Karang
dan Lingkungan Perairan Sekitar Daerah
Perlindungan Laut (DPL) Kepulauan
Seribu serta Upaya Pelestariannya *)
Khairul Amri1) dan Samsul B. Agus2)
Peneliti pada Pusat Penelitian Pengembangan Perikanan dan Konservasi Sumber
Daya Ikan, Ancol
2)
Pengajar pada Dept. Ilmu dan Teknologi Kelautan, Fak. Perikanan dan Ilmu
Kelautan IPB, Bogor
*) Bagian dari Penelitian Kajian Potensi Sumber Daya Pertanian dan Kelautan,
Dinas Kelautan dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta, 2010
1)
Abstrak
Sebagian besar masyarakat Kepulauan Seribu yang berprofesi sebagai
nelayan, secara langsung maupun tidak langsung, menggantungkan
hidupnya pada keberadaan ekosistem terumbu karang. Ekosistem terumbu
karang memiliki peran penting mengingat fungsi ekologisnya sebagai
habitat berbagai jenis biota benthic yang memiliki keterkaitan terhadap
keberlangsungan hidup berbagai spesies ikan demersal, khususnya ikan
karang, yang menjadi target penangkapan nelayan. Saat ini berbagai
tekanan terkait aktivitas manusia seperti penambangan karang dan
pasir untuk kebutuhan bahan bangunan serta penangkapan ikan karang
menggunakan potas dan bahan peledak, telah merusak sebagian besar dari
ekosistem terumbu karang yang ada di perairan ini. Untuk memulihkan
kembali kondisi terumbu karang yang sudah terlanjur rusak dan
memberikan perlindungan bagi ekosistem terumbu karang yang masih
baik, telah dilakukan inisiasi pembentukan Daerah Perlindungan Laut
(DPL). Pola DPL yang dikembangkan di Kepulauan Seribu merupakan
pola pengembangan berbasis masyarakat. Penelitian yang dilakukan
melalui survei langsung ke beberapa lokasi sampel DPL, menunjukkan
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
tingkat keberhasilan yang berbeda-beda, bergantung pada faktor internal
maupun eksternal yang memengaruhinya. Dukungan program lain seperti
transplantasi terumbu karang dan penanaman fish shelter dapat memberikan
dukungan bagi keberhasilan upaya pemulihan kondisi terumbu karang di
perairan ini.
Kata Kunci: terumbu karang, Daerah Perlindungan Laut (DPL),
Kepulauan Seribu
Pendahuluan
Kepulauan Seribu merupakan perairan laut di wilayah Daerah Khusus
Ibukota (DKI) Jakarta yang memiliki sumber daya perikanan yang cukup
potensial. Perairan ini mencakup area seluas 6.997,5 km2, memiliki 110
pulau dan gosong terumbu karang yang berukuran relatif sangat kecil,
70% di antaranya memiliki luas kurang dari 10 ha. Kehadiran terumbu
karang di perairan ini memiliki arti penting bagi masyarakat Kepulauan
Seribu yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan, karena merupakan
daerah penangkapan ikan demersal. Selain itu, daerah tersebut merupakan
lokasi aktivitas penambangan karang dan pasir untuk kebutuhan bahan
bangunan.
Kajian yang dilakukan Terangi (2007) mencatat sebanyak 72%
masyarakat Kepulauan Seribu menggantungkan penghidupannya pada
ekosistem terumbu karang. Namun di sisi lain, kerusakan ekosistem
terumbu karang yang terjadi di perairan ini, melalui aktivitas penambangan
karang dan pasir serta kegiatan penangkapan ikan menggunakan potas
dan bahan peledak, telah merusak sebagian besar dari ekosistem terumbu
karang yang ada (Suharsono 1998). Berdasarkan inventarisasi Terangi
(2007), diketahui bahwa penutupan terumbu karang di Kepulauan Seribu
pada tahun 2007 adalah 29%, menurun dari tutupan tahun 2005 yaitu
33,2%. Perusakan terumbu karang ini sudah berlangsung sejak lama,
meskipun sebagian besar perairan di kawasan ini sudah dijadikan sebagai
kawasan cagar alam di tahun 1970-an hingga kemudian ditetapkan sebagai
Taman Nasional Laut di tahun 1980-an.
Dampak dari rusaknya ekosistem terumbu karang terlihat pada
menurunnya hasil tangkapan nelayan. Penurunan hasil tangkapan tidak
36
Kondisi Terumbu Karang dan Lingkungan Perairan Sekitar Daerah Perlindungan Laut (DPL)
Kepulauan Seribu serta Upaya Pelestariannya
hanya terjadi pada ikan karang (demersal) terutama jenis-jenis kerapu,
tetapi juga berpengaruh secara tidak langsung terhadap hasil tangkapan
ikan pelagis. Selain terjadinya penurunan jumlah hasil tangkapan, juga
terjadi penurunan ukuran ikan hasil tangkapan. Secara ekonomi, hal ini
berpengaruh langsung terhadap tingkat pendapatan masyarakat karena
sebagian besar masyarakat di wilayah ini sepenuhnya menggantungkan
penghidupannya dari produksi perikanan tangkap yang lokasi penangkapan
(fishing ground) utamanya berada di perairan sekitar ekosistem terumbu
karang.
Menyadari pentingnya kelestarian terumbu karang, pendekatan
pengelolaan sumber daya perikanan diyakini tidak bisa hanya didekati dari
aspek ekonomi saja. Pengalaman telah membuktikan bahwa pendekatan
pengelolaan sumber daya perikanan yang hanya dilihat dari aspek
ekonomi menimbulkan kerusakan ekosistem yang pada gilirannya telah
menyebabkan degradasi sumber daya perikanan yang ditandai dengan
menurunnya hasil tangkapan nelayan.
Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah, dalam hal ini Dinas
Kehutanan, Kelautan, dan Perikanan DKI Jakarta adalah pengembangan
pengelolaan sumber daya perikanan dengan pendekatan ekosistem yang
berbasis masyarakat melalui pencanangan Daerah Perlindungan Laut
(DPL) untuk melindungi ekosistem terumbu karang. Tujuan utama dari
pengembangan DPL ini adalah untuk melindungi suatu ekosistem yang
pada akhirnya juga sekaligus untuk sumber daya perikanan yang berasosiasi
dengan ekosistem tersebut, seperti sumber daya ikan kerapu, khususnya
pada saat mereka melakukan pemijahan hingga pengasuhan. Untuk
mengatasi dan mencegah kerusakan lebih jauh terhadap kondisi ekosistem
terumbu karang di perairan Kepulauan Seribu, Pemerintah Daerah dalam
hal ini Suku Dinas Pertanian, Kelautan dan Perikanan Kepulauan Seribu
sejak tahun 2004 telah menginisiasi program rehabilitasi sumber daya laut
di Kepulauan Seribu melalui aktivitas penenggelaman terumbu buatan
(fish shelter).
Tulisan ini memaparkan hasil penelitian mengenai daerah perlindungan
laut di Kepulauan Seribu sebagai upaya melestarikan ekosistem terumbu
karang yang memiliki arti penting bagi keberlangsungan dan kelestarian
sumber daya ikan.
37
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Metodologi
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan
sekunder. Data primer merupakan data hasil survei lapangan di lokasi
penelitian. Sementara data sekunder merupakan data pendukung terdiri
dari peta dan citra satelit serta data pendukung terkait lainnya. Survei
lapangan di lakukan pada bulan Maret–April (mewakili musim peralihan)
dan Mei (mewakili musim timur) tahun 2010. Analisa data hasil penelitian
dilakukan secara deskriptif untuk menggambarkan kondisi ekosistem
terumbu karang dan perairan sekitar DPL.
Perolehan data kondisi ekosistem terumbu karang dan substrat
lain melalui survei lapangan di ekosistem terumbu karang, dilakukan
dengan metode transek garis menyinggung (Line Intercept Transect), yang
dimodifikasi dari English et al. (1997). Metode ini digunakan untuk
mengestimasi penutupan karang hidup ataupun mati. Pada tiap stasiun,
transek garis dengan menggunakan roll meter dibentangkan sepanjang
3x10 m yang diletakkan sejajar garis pantai mengikuti kontur kedalaman.
Pengamatan dilakukan pada kedalaman antara 3 meter sampai 10 meter,
sebagai perwakilan kondisi ekosistem terumbu karang dangkal sampai
yang lebih dalam.
Pengamatan dilakukan dengan cara mencatat dan mengukur kisaran
penutupan bentuk pertumbuhan (lifeform) karang hidup, karang mati,
biota lain, dan komponen abiotik lain yang ditentukan menyinggung di
sepanjang transek garis. Pencatatan dilakukan dengan “sabak” bawah air
dan pensil. Komposisi habitat terumbu karang yang diamati digolongkan
berdasarkan komponen dasar penyusun ekosistem terumbu karang
berdasarkan lifeform karang dan kode yang digunakan (English et al.
1997).
Metode Rapid Reef Assessment (RRA) digunakan untuk mengetahui
kelimpahan dan jenis ikan serta persentase tutupan karang hidup, karang
mati, dan habitat lainnya seperti pasir, pecahan karang, alga, lamun
dan lain-lain. Teknik ini dinilai cukup baik untuk dapat mengestimasi
persentase masing-masing kategori bentik dan habitat dalam waktu yang
relatif singkat. Waktu pengamatan RRA dibatasi selama 5–10 menit. Di
tiap lokasi, 2 orang pengamat akan mengestimasi persen penutupan habitat
dan kelimpahan tiap jenis ikan dalam satu ruang imajiner berukuran
10x10 m2.
38
Kondisi Terumbu Karang dan Lingkungan Perairan Sekitar Daerah Perlindungan Laut (DPL)
Kepulauan Seribu serta Upaya Pelestariannya
Hasil dan Pembahasan
1. Lokasi dan Luas Daerah Perlindungan Laut (DPL)
Daerah perlindungan laut (DPL) yang dikembangkan untuk tujuan
perbaikan dan perlindungan kondisi ekosistem terumbu karang di
perairan Kepulauan Seribu merupakan daerah perlindungan laut berbasis
masyarakat. Kegiatan ini diinisiasi oleh pemerintah daerah yang berupaya
mendorong masyarakat untuk mempertahankan dan memperbaiki kualitas
ekosistem terumbu karang secara bersama-sama, Upaya ini selain diharapkan
dapat memperbaiki dan melestraikan kondisi ekosistem terumbu karang,
sekaligus juga bertujuan meningkatkan kualitas sumber daya perikanan
lainnya yang berasosiasi dengan terumbu karang. Secara lebih spesifik,
area/daerah perlindungan laut memberi manfaat: (1) memelihara fungsi
ekologis dengan melindungi habitat tempat hidup, bertelur, dan memijah
biota-biota laut, dan (2) memelihara fungsi ekonomis kawasan pesisir bagi
masyarakat sekitarnya, sehingga terjadi keberlanjutan dan meningkatkan
produksi perikanan yang pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan,
baik dari hasil produksi perikanan maupun dari sektor pariwisata bahari.
Daerah Perlindungan Laut (DPL) ini tidak hanya sebagai alat untuk
mengupayakan konservasi terhadap sumber daya yang ada, tetapi juga dapat
dikaitkan dengan pengelolaan sumber daya itu sendiri yang diintegrasikan
ke dalam pengelolaan wilayah pesisir secara terpadu. Dengan ditetapkannya
DPL, akan terjadi pembatasan pemanfaatan terhadap sumber daya yang
ada. Salah satu yang dapat dikembangkan yaitu dengan membuat zonasi
pemanfaatan sumber daya.
Terdapat pada tujuh (7) lokasi yang ditetapkan sebagai DPL di
perairan Kepulauan Seribu yang terdata dan teridentifikasi sampai tahun
2010, yaitu DPL Gosong Pramuka (Kelurahan Pulau Panggang), DPL
Karang Waroh (Kelurahan Pulau Kelapa), DPL Kaliage Kecil (Kelurahan
Pulau Kelapa), DPL Pulau Harapan (Kelurahan Pulau Harapan), DPL
Pulau Tidung (Kelurahan Pulau Tidung), serta terdapat 2 site DPL di
Pulau Payung (Kelurahan Pulau Pari). Gambar 1 menunjukkan lima
lokasi utama DPL dengan total luasan mencapai 122,1 hektare (Tabel 1).
39
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
05.25
05.30
05.35
05.40
05.45
U
05.50
106.25
106.30
106.35
106.40
106.40
106.45BT
Gambar 1. Lokasi daerah perlindungan laut di Kepulauan Seribu
Daerah perlindungan laut yang melibatkan masyarakat di Kepulauan
Seribu pertama kali terbentuk tahun 2004. Dari citra satelit pada Gambar
1 terlihat wilayah DPL ini mencakup area paling selatan, yang terletak
di Pulau Pari. Selanjutnya secara berurutan lokasi DPL lainnya yang
berada ke arah utara meliputi ekosistem terumbu karang di perairan Pulau
Tidung, Pulau Panggang, Pulau Karang Waroh, dan Pulau Harapan.
Secara spesifik, luasan DPL pada masing-masing lokasi tersebut tertera
pada Tabel 1.
40
Kondisi Terumbu Karang dan Lingkungan Perairan Sekitar Daerah Perlindungan Laut (DPL)
Kepulauan Seribu serta Upaya Pelestariannya
Tabel 1. Luasan daerah perlindungan luat di Kepulauan Seribu
No
DPL-BM
Luas
(ha)
Tahun
Terbentuk
1
Gosong Pramuka, Kelurahan Pulau Panggang
16
2004
2
Pulau Harapan, Kelurahan Pulau Harapan
12
2005
3
Pulau Pari, Kelurahan Pulau Pari
12
2005
4
Tidung Besar bagian utara, Kelurahan Pulau Tidung
10
2005
5
Karang Waroh, Kelurahan Pulau Kelapa
7
2006
6
Pulau Kaliage Kecil, Kelurahan Pulau Kelapa
60
2007
7
Pulau Payung, Kelurahan Pulau Tidung
5,1
2007
Total
122, 1
Seperti tertera pada Tabel 1, DPL yang berada di sekitar Pulau
Kaliageh Kecil di Kelurahan Pulau Kelapa merupakan yang terbesar
dengan luas area mencapai 60 ha. Sementara itu, DPL di perairan Pulau
Payung yang berada di Keluruhan Pulau Tidung merupakan yang terkecil
dengan luasan hanya sekitar 5 ha.
2. Kondisi DPL
Berdasarkan data hasil pemantauan kondisi tutupan karang hidup
dan biota benthic yang lakukan pada bulan Mei 2010 di empat lokasi
DPL yaitu: DPL Pulau Harapan, Pulau Kelapa (Karang Waroh), Pulau
Tidung dan Pulau Pramuka diperoleh kondisi terkini ekosistem terumbu
karang dan lingkungan perairan sekitarnya di perairan ini. Pengamatan
yang dilakukan pada bulan Mei (permulaan musim timur) menunjukkan
tingkat sedimentasi perairan yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan
musim peralihan (Maret dan April). Adanya sedimentasi yang tinggi
ditandai dengan tingkat kekeruhan perairan yang tinggi, diduga sebagai
akibat pergerakan massa air dari arah timur yang membawa material
terlarut yang cukup pekat dari biasanya. Pada saat monitoring, kondisi
perairan (dalam hal ini gelombang laut) relatif tenang. Namun, arus massa
air yang membawa material terlarut (sedimen) yang tinggi dari arah timur,
menjadikan visibilitas yang rendah (< 20 m).
41
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Prosentase Luasan(%)
Hasil pengamatan biota benthic dikelompokkan berdasarkan
kondisinya, yaitu berupa kelompok karang keras hidup (HCL/hard coral
live), karang lunak (SC/soft coral), dan Others (OT/others), serta abiotik
dan alga. Hasil pengamatan ditampilkan pada Gambar 2, yang merupakan
persentase penutupan kategori bentik pada ekosistem terumbu karang
di DPL yang diamati. Hasilnya pengamatan menunjukkan persentase
penutupan karang hidup di keempat DPL yang diamati berada dalam
kisaran sedang sampai dengan sangat baik berdasarkan kriteria yang
ditetapkan Gomez dan Yap (1988). Dari pengamatan tersebut diketahui
tutupan karang hidup tertinggi berada pada DPL Pulau Pramuka dan
terendah berada di DPL Pulau Harapan . Sementara itu, penutupan alga
justru menunjukkan kondisi sebaliknya, yaitu yang tertinggi ditemukan
DPL Pulau Harapan dengan persentase tutupan alga mencapai 40%,
sementara penututupan alga yang terendah ditemukan di DPL Pulau
Pramuka. Diduga kondisi fisik, kimia, dan biologi perairan di Pulau
Harapan lebih mendukung bagi kehidupan alga di perairan tersebut.
Persentase penutupan soft coral, lebih tinggi di DPL yang berada di
Pulau Pramuka dan yang terendah ditemukan di DPL Pulau Harapan.
Sebaliknya, persentase penutupan akuatik di Pulau Harapan justru lebih
tinggi dibandingkan dengan DPL di Pulau Pramuka.
Gambar 2. Persentase (%) penutupan kategori bentik terumbu karang
pada empat DPL di Kepulauan Seribu
42
Kondisi Terumbu Karang dan Lingkungan Perairan Sekitar Daerah Perlindungan Laut (DPL)
Kepulauan Seribu serta Upaya Pelestariannya
Variabilitas penutupan karang di setiap daerah perlindungan laut
selain dipengaruhi oleh kondisi perairan yang berbeda, juga dipengaruhi
oleh perbedaan jarak DPL dengan pemukiman pendududuk serta tingkat
penjagaan yang dilakukan masyarakat. Dari penelitian ini terlihat, DPL
yang lokasinya berada relatif lebih dekat dengan pemukiman penduduk,
memiliki tutupan alga yang lebih tinggi di bandingkan dengan DPL yang
berada lebih jauh dari pemukiman penduduk. Hal ini menunjukkan
bahwa DPL yang lebih dekat dengan pemukiman lebih terlindungi dari
perusakan secara fisik oleh pihak luar.
Tingkat penjagaan yang lebih baik akibat kesadaran masyarakat yang
tinggi bagi kelestarian ekosistem DPL seperti dibangunnya floating buoy
untuk bersandar kapal di Pulau Pramuka, sehingga kapal yang bersandar dan
membuang sauh tidak merusak terumbu karang di bawahnya, menjadikan
DPL di sekitar pulau tersebut memiliki penutupan karang hidup lebih
tinggi dibandingkan dengan DPL di lokasi lainnya. Masyarakat yang secara
langsung bersentuhan dengan ekosistem yang ada merupakan pelaku yang
sangat penting untuk ikut melestarikan sumber daya tersebut.
Tingginya penutupan alga di DPL Pulau Harapan diduga berpotensi
mengurangi ketersediaan settlement place untuk juvenile karang sehingga
jenis dan persentase tutupan akan cenderung stabil untuk beberapa
periode waktu mendatang. Walaupun kondisi penutupan karang karena
sedimentasi sepenuhnya bergantung pada keadaan alam dan pergerakan
gelombang. Manajemen DPL sangat berperan dalam menjaga dan
mengurangi tekanan manusia terhadap DPL. Pada saat keadaan tekanan
lingkungan meningkat, terumbu karang sebagai sebuah ekosistem dapat
merestorasi sistem dan mengembalikannya ke keadaan semula.
43
IndekKeanekaragaman
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Gambar 3. Indeks Keanekaragaman (H`), Keseragaman (E), dan
Dominansi (C) pada empat DPL di Kepulauan Seribu
Nilai Indeks keanekaragaman berkisar 1,53–2,22 dengan nilai
tertinggi berada di daerah DPL Pulau Kelapa, dan nilai terendah berada
di DPL Pulau Harapan. Nilai Indeks keseragaman relatif merata di semua
daerah pengamatan dengan kisaran nilai 0,66–0,83. Pada kisaran nilai ini,
semua daerah termasuk memiliki ekosistem yang stabil. Sementara itu,
nilai indeks dominansi berada pada kisaran 0,13–0,37. Nilai terendah
berada di DPL Pulau Kelapa dengan nilai tertinggi berada di DPL Pulau
Harapan. Menurut Simpson (1949) dalam Magurran (1988), pada kondisi
ini tidak terdapat spesies yang mendominasi spesies lainnya.
Nilai indeks keseragaman dan nilai indeks keanekaragaman yang kecil
biasanya menandakan adanya dominasi suatu spesies terhadap spesiesspesies lain. Dominasi suatu spesies yang cukup besar akan mengarah
pada kondisi ekosistem atau komunitas yang labil atau tertekan (Odum
1971; Simpson 1949 dalam Magurran 1988). Gambar 4 merupakan
salah satu contoh kondisi ekosistem terumbu karang di salah satu DPL di
Kepualauan Seribu yang kondisinya terlihat baik dan terdapat beberapa
spesies ikan karang.
44
Kondisi Terumbu Karang dan Lingkungan Perairan Sekitar Daerah Perlindungan Laut (DPL)
Kepulauan Seribu serta Upaya Pelestariannya
Gambar 4.Kondisi potensi terumbu dan ikan karang di DPL Kepulauan
Seribu (Sumber: Anonim 2010)
3. Upaya Pendukung Lainnya
Mekanisme konservasi lain yang juga diharapkan mendukung
kelestarian ekosistem terumbu karang di Kepulauan Seribu adalah
kegiatan transplantasi karang. Transplantasi karang merupakan salah
satu pendekatan untuk memperbaiki kondisi terumbu karang dengan
menumbuhkan terumbu karang jenis-jenis tertentu secara buatan di
dalam laut. Transplantasi terumbu dilakukan dengan metode penanaman
dan penumbuhan koloni suatu jenis karang secara fragmentasi. Umumnya
koloni transplantasi diambil dari satu induk koloni yang berukuran lebih
besar dan terdapat di sekitar lokasi transplantasi berlangsung, dengan
tujuan untuk mempercepat regenerasi dari komunitas karang yang telah
mengalami kerusakan (Harriot dan Fisk 1988).
Selain transplantasi karang, program rehabilitasi sumber daya laut
lain yang telah berjalan adalah penenggelaman fish shelter. Fish shelter atau
rumpon adalah struktur benda padat buatan manusia yang ditenggelamkan
di perairan dengan tujuan menjadi tempat perlindungan dan berkumpulnya
ikan di dalam atau di sekitar struktur tersebut. Fish shelter sering juga disebut
sebagai terumbu buatan (artificial reef), merupakan suatu kerangka buatan
manusia yang ditenggelamkan di dasar perairan untuk memengaruhi
proses-proses fisik, biologi, atau sosioekonomi yang berhubungan dengan
sumber daya hayati laut (Seaman 2000).
45
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Penenggelaman fish shelter di sejumlah lokasi di Kepulauan Seribu
bertujuan untuk menyediakan “rumah baru” bagi ikan-ikan yang
kehilangan habitat aslinya. Oleh karena itu, umumnya penenggelaman fish
shelter dilakukan di sekitar lokasi terumbu karang yang telah terdegradasi
atau rusak. Selain itu, modul fish shelter juga secara alami akan ditempeli
oleh organisme bentik (misalnya larva karang, sponge, dan lain-lain) yang
bisa ditemukan di ekosistem terumbu karang alami. Diharapkan setelah
bertahun-tahun penenggelamannya, modul fish shelter dapat membentuk
suatu habitat kompleks yang mendukung program rehabilitasi terumbu
karang dan bisa dijadikan tempat tujuan wisata..
Berdasarkan data dari Suku Dinas Pertanian, Kelautan dan Perikanan
Kepulauan Seribu (Anonim 2010), program transplantasi karang di
sejumlah lokasi DPL telah berlangsung lebih dari lima tahun dan secara
umum kegiatan tersebut dapat dikatakan berhasil karena survival rate-nya
mencapai 80% untuk semua lokasi. Penggunaan modul mini fish shelter
merupakan hal yang baik karena bisa menyediakan landasan bagi larva
karang untuk menempel dan tumbuh berkembang jadi polip-koloni
karang baru secara alami, selain meminimalkan perturbasi pesaing polip
karang seperti alga dan sedimen. Lebih jauh lagi, modul tersebut juga
berfungsi secara ekologis sebagai habitat perlindungan bagi ikan-ikan yang
ada di area tersebut.
Kesimpulan
Peran penting ekologis terumbu karang sebagai habitat berbagai
jenis biota benthic yang memiliki keterkaitan terhadap keberlangsungan
hidup berbagai spesies ikan demersal, menjadi prioritas utama yang
harus diperhatikan di perairan Kepulauan Seribu. Apalagi sebagian besar
masyarakat nelayan di perairan ini mengantungkan hidupnya dari hasil
tangkapan ikan karang. Upaya perlindungan seperti penetapan Daerah
Perlindungan Laut (DPL) berbasis masyarakat tampak lebih efektif dan
menunjukkan hasil yang nyata bagi pemulihan kondisi ekosistem terumbu
karang yang rusak. Sampai tahun 2010, terdapat tujuh (7) lokasi DPL di
Kepulauan Seribu. Berdasarkan pengamatan terhadap biota benthic yang
terdapat di sana, menunjukkan terjadinya perbaikan kondisi ekosistem
terumbu karang yang dijadikan sebagai DPL dalam persentase penutupan
kategori kisaran sedang sampai dengan sangat baik. Indeks keanekaragaman
46
Kondisi Terumbu Karang dan Lingkungan Perairan Sekitar Daerah Perlindungan Laut (DPL)
Kepulauan Seribu serta Upaya Pelestariannya
penutupan karang relatif merata di semua daerah pengamatan, yang berarti
memiliki ekosistem yang stabil. Sementara itu, nilai indeks dominansi
menunjukkan tidak terdapat spesies yang mendominasi terhadap spesies
lainnya di semua DPL yang disurvei sebagai sampel. Selain itu, upaya
transplantasi karang serta penenggelaman fish shelter, terbukti mampu
mendukung pemulihan sumber daya perikanan.
Pustaka
Anonim. 2010. Laporan Kajian Potensi Sumber daya Pertanian dan
Kelautan, Dinas Kelautan dan Pertanian Provinsi Daerah Khusus
Ibukota (DKI) Jakarta.
English S, Wilkinson C, and Baker V. 1997. Survey Manual for Tropical
Marine Resources, 2nd Edition. (Townsville: Australian Institute of
Marine Science).
Gomez ED dan HT Yap. 1988. Monitoring Reef Conditions. In :
Kenchington, R. A and B. E. T. Hudson (eds). h. 187 – 196. Coral
Reef Management Handbook. UNESCO Regional Office for Science
and Technology for South-East Asia. Jakarta.
Harriot VJ, Fisk DA (1988a) Accelerated regeneration of hard corals: a
manual for coral reef users and managers. G.B.R.M.P.A.. Technical
Memorandum 16.
Magurran AE. 1988. Ecological Diversity and Its Measurement. Princeton
University Press. 192 p. Princeton, N.J.
Odum EP. 1971. Fundamentals of ecology. 3rd ed. Saunders, Philadelphia
and London.
Seaman W. Jr 2000. Artificial reef evaluation – with applicationto related
marine habitats. CRC Press/Springer-Verlag.246 pp.
Simpson EH. 1949. Measurement of Diversity.Editor Charles H. Smith’s
Note: This short but important paper is reprinted by permission from
Nature 163 (1949): 688, Macmillan Publishers Ltd.
Terangi. 2007. Buku Terumbu Karang Jakarta. Pengamatan Terumbu
Karang Kepulauan Seribu Tahun 2003–2007. Yayasan Terangi.
Jakarta
47
Kondisi Kesehatan Terumbu Karang
di Perairan Gugus Pulau Pari, Teluk Jakarta
Isa Nagib Edrus dan Sri Turni Hartati∗)
Balai Penelitian Perikanan laut
Abstrak
Penelitian kesehatan terumbu karang dilakukan di beberapa wilayah
perairan Gugusan Pulau Pari, yaitu wilayah perairan dengan ekosistem
terumbu karang yang sudah terdegradasi. Secara geografis letak Gugusan
Pulau Pari yang berdekatan dengan Kota Jakarta dan Tanggerang
memengaruhimenyebabkan kawasan tersebut relatif rentan terhadap
dampak buruk pembangunan. Penelitian dilakukan pada bulan Maret
dan November 2008 dengan menggunakan metode RRA dan LIT.
Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi keragaman dan kondisi
kesehatan karang. Hasil penelitian menunjukan bahwa jumlah jenis karang
batu yang ditemukan sebanyak 56 spesies dan 4 suku. Status kesehatan
terumbu karang di Gugusan Pulau Pari masuk pada kategori sedang.
Kata kunci: Terumbu karang, Pulau Pari, Teluk Jakarta
* Peneliti pada Balai Penelitian Perikanan Laut
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Pendahuluan
Peningkatan kegiatan pembangunan di pesisir menyebabkan
meluasnya kehilangan dan kerugian, mulai dari sisi produksi, genetik,
sampai nilai-nilai konservasi. Untuk alasan tersebut pemerintah menaruh
perhatian yang serius pada program perlindungan laut di wilayah-wilayah
yang mengalami tekanan. Sementara itu, cara-cara penangkapan yang
merusak seperti pengeboman dan peracunan terus berlangsung.
Pengeboman dan peracunan ikan sudah menjadi hal biasa. Kebiasaan
tersebut semakin meluas terjadi di wilayah perairan karang tanpa dapat
dipantau dan dilarang (Pet-Saode et al. 1996; Hopley dan Suharsono 2000).
Ancaman kerusakan karang di Asia Tenggara diperkirakan sebesar 64%
berasal dari penangkapan berlebih dan 56 % dari kegiatan penangkapan
yang merusak (Burke et al. 2002).
Laporan WWF menyebutkan bahwa lebih dari 6.000 penangkap
ikan hidup telah menggunakan 150.000 kg potas dalam bentuk larutan
disemprotkan ke-33 juta onggok karang setiap tahun. Jika praktik
peracunan tersebut terus berlangsung, diperkirakan tahun 2020 semua
terumbu karang akan rusak (Michael 2011).
Beragam fungsi atau manfaat dapat diperoleh dari terumbu karang.
Sekitar 25% GDP nasional berasal dari industri laut dan pantai, transportasi,
perikanan dan pariwisata (Dahuri dan Dutton 2000). Terumbu karang di
Indonesia menyediakan keuntungan ekonomi tahunan sebesar US$ 1,6
juta (Burke et al. 2002), tetapi tidak sedikit pula kerugian yang ditanggung
oleh ekosistem tersebut. Usaha individual perikanan yang menggunakan
racun (cyanide fishing) memperoleh keuntungan bersih 33.000 US$ per
km2 dalam periode 20 tahun, tetapi total kerugian yang ditimbulkannya
bagi usaha masyarakat dalam perikanan tangkap yang berkelanjutan dan
usaha pariwisata mencapai 40.000 sampai 446.000 US$ per km2 dalam
periode yang sama. Nilai tersebut belum terhitung kerugian dari sisi
kehilangan biodiversity dan proteksi lingkungan (Cesar 1996; Burke et al.
2002).
Berkaitan dengan kepentingan manusia pada terumbu karang,
pemahaman fungsi dan peran biologi, ekologi, serta sosial ekonomi
terumbu karang perlu ditingkatkan untuk memperbesar manfaatnya bagi
50
Kondisi Kesehatan Terumbu Karang di Perairan Gugus Pulau Pari, Teluk Jakarta
kesejahteraan manusia dan memperkecil risiko kerusakannya. Riset-riset
biologi dan ekologi perlu dilakukan untuk memahami hidup karang
dan hubungan timbal balik antara karang sebagai mahluk hidup dengan
lingkungannya.
Data kondisi kesehatan dan keanekaragaman sumber daya terumbu
karang sangat dibutuhkan untuk pengaturan pengelolaan, ekploitasi, dan
konservasinya. Jika perubahan-perubahan kondisi tersebut terukur sercara
periodik, diakui mampu memprediksi adanya perubahan-perubahan
lingkungan akibat tekanan pembangunan terhadap sumber daya terumbu
karang.
Kepuluan seribu tercatat sebagai salah satu kawasan yang mempunyai
potensi kelautan cukup besar. Empat aspek potensi kelautan yang
dimilikinya mencakup ekonomi, ekologi, pertahanan keamanan,
pendidikan, dan riset. Pemenuhan kebutuhan DKI Jakarta terhadap
aspek perikanan, pariwisata, pendidikan, dan riset sangat bergantung pada
wilayah tersebut.
Salah satu alternatif untuk mendukung pemerintah dalam usaha
pengelolaan potensi itu adalah dengan menggali dan menyajikan informasi
yang tepat mengenai potensi tersebut. Gugus Pulau Pari merupakan
wilayah yang secara langsung memiliki risiko tinggi terhadap pencemaran
di sekitar teluk Jakarta. Monitoring kondisi karang sangat bermanfaat
untuk kepentingan perbaikan manajemen dan pencegahan kerusakan
lebih lanjut.
Tujuan kegiatan penelitian ini adalah untuk mendapatkan data
keragaman bentuk kehidupan bentik terumbu dan status kesehatan.
Kesehatan karang dapat terukur dari persen tutupan masing-masing
komponen bentuk kehidupan tersebut.
Bahan dan Metode
Penelitian dilakukan pada bulan Maret dan November 2008 di
perairan Gugusan Pulau Pari (Tabel 1; Gambar 1). Pendekatan dalam
pengambilan data dilakukan dengan RRA (Rapid Reef Assesment) dan LIT
(Line Intercept Transek) (English et al. 1994; Gomez dan Yap 1984). RRA
digunakan untuk menilai secara cepat, yaitu dengan cara time swimming
51
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
(per 15 menit). LIT digunakan untuk melihat kondisi secara lebih detail
dengan menggunakan roll meter, di mana penyelam mencatat intercept
lifeform karang yang di lewati pita ukur (roll meter). Setiap lokasi transek
ditentukan posisi geografisnya (Tabel 1).
Persen tutupan benthic lifeform terumbu karang dianalisis dengan
menggunakan Lifeform Software Program berdasarkan standar UNEP yang
berlaku untuk ASEAN-Australia (Rahmat dan Yosephine 2001). Penetapan
kondisi karang batu (hard coral) mengacu pada kriteria kesehatan karang
yang diukur menurut kategori persentase tutupan karang seperti sangat
baik (excellent) >75%; baik (good) <75%–>50%; sedang (fair) <50–>25%;
dan buruk (poor) <25% (Chou 1998).
Tabel 1. Posisi lokasi transek
Lokasi
RRA 1 (Pulau Pari)
RRA 2 (Pulau Pari)
RRA 3 (Pulau Kudus)
RRA 4 (Pulau Kogsi)
RRA 5 (Pulau Tikus)
RRA 6 (Pulau Tikus)
RRA 7 (Pulau Pari)
Lokasi (Locations)
LIT 1 (Pulau Kudus)
LIT 2 (Pulau Tikus)
LIT 3 (Pulau Pari)
LIT 4 (Pulau Pari)
52
Posisi Transek RRA
Bujur Timur (BT) Lintang Selatan (LS)
05° 51,254’
106° 38,333’
05° 50,987’
106° 37,696’
05° 50,962’
106° 35,905’
05° 50,802’
106° 35,849’
05° 51,168’
106°34,795’
05° 51,539’
106° 34,199’
05° 51,902’
106° 35,114’
Posisi Transek LIT
05° 50,962’
106° 35,905’
05° 51,539’
106° 34,199’
05° 51,902’
106° 35,114’
05° 51,186’
106° 38,127’
Tikus
Burung
Tengah
Kongsi
Kudus
RRA 3
/ LIT 1
Pari
RRA 7
/ LIT 3
RRA 2
Gambar 1. Peta gugus Pulau Pari yang menunjukkan lokasi penelitian
RRA / LIT = Lokasi Transek
Keterangan :
RRA 6
/ LIT 2
RRA 5
RRA 4
RRA 1
LIT 4
Kondisi Kesehatan Terumbu Karang di Perairan Gugus Pulau Pari, Teluk Jakarta
53
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Hasil dan Pembahasan
1. Keanekaragaman Karang Batu
Jumlah jenis karang yang teridentifikasi di area penelitian dengan
metode RRA dan LIT sebanyak 56 spesies dari 4 suku (Tabel 2). Karang
keras didominasi oleh suku Acroporidae. Variasi bentik lifeforms cukup
beragam, di antaranya ditemukan banyak karang bercabang (branching),
karang meja (Tabulate), karang daun (foliose), karang otak (massive), karang
merayap (encrusting), karang piring (mushroom), karang api (millepora),
dan karang lunak (soft corals).
Tabel 2. Jenis-jenis karang yang teridentifikasi di Gugusan Pulau Pari,
Teluk Jakarta
NO
I
SUKU dan JENIS
ACROPORIDAE
NO
II
SUKU dan JENIS
AGARIICIDAE
1 Acropora aspera
39 Coeloseris mayeri
2 A. austera
40 Pavona decusata
3 A. brueggemanni
41 P. cactus
4 A. carduus
42 P. varians
5 A. microclados
43 P. venosa
6 A. diversa
44 Pachyseris speciosa
7 A. formosa
8 A. grandis
9 A. humilis
10 A. hyacinthus
III
CARYOPHYLLIIDAE
45 Euphyllia glabrescens
46 Physogyra lichtensteini
11 A. hebes
12 A. intermedia
54
IV
FAVIIDAE
13 A. latistella
47 Caulastrea tumida
14 A. micropthalma
48 Echinopora gemmacea
15 A. nasuta
49 E. lamellosa
16 A. palifera
50 Favia pallida
17 A. pulchra
51 Favites aboita
18 Acropora sp
52 F. chinensis
Kondisi Kesehatan Terumbu Karang di Perairan Gugus Pulau Pari, Teluk Jakarta
Tabel 2. Jenis-jenis karang yang teridentifikasi di Gugusan Pulau Pari,
Teluk Jakarta (lanjutan)
NO
I
SUKU dan JENIS
ACROPORIDAE
NO
II
SUKU dan JENIS
AGARIICIDAE
19 A. splendida
53 F. rotundata
20 A. tenuis
54 Goniastrea pectinata
21 A. subulata
55 G. retiformis
22 A. listeri
56 Hydnopora exesa
23 A. valida
24 A. vanderhorsti
25 Montipora ehrenbergii
26 M. punctata
27 M. divaricata
28 M. foliosa
29 M. fructicosa
30 M. informis
31 M. levis
32 M. monasteriata
33 M. digitata
34 M. striata
35 Montipora sp
36 M. trabeculata
37 M. verrilli
38 M. verucosa
Jumlah jenis hard coral yang ditemukan di Gugus Pulau Pari tersebut
tergolong rendah jika dibandingkan dengan wilayah terumbu yang sehat.
Di perairan Halmahera yang kondisi perairannya relatif lebih baik,
ditemukan sebanyak 84 spesies karang dari 16 suku (Anonimous 2006).
2. Kondisi umum kesehatan terumbu karang
Hasil penilaian kondisi kesehatan terumbu karang diperoleh dengan
metode RRA pada 7 lokasi transek. Kondisi kesehatan terumbu karang
55
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
diperlihatkan oleh besaran persen tutupan komponen karang batu yang
diwakili oleh kelompok acropora dan non acropora (Tabel 3). Berdasarkan
kriteria Chou (1998), semua lokasi metode RRA memiliki kondisi kesehatan
dengan kategori “sedang”, kecuali lokasi transek 4 dalam kondisi “rusak”.
Tabel 3 menunjukkan bahwa komponen karang mati yang ditutupi alga
(Death Coral with Algae-DCA) cukup tinggi pada semua lokasi, sama
kondisinya seperti komponen pecahan karang (rubbles). Banyaknya DCA
ini menunjukkan bahwa kerusakan karang sudah cukup lama terjadi dan
kontinu, seperti ditunjukkan oleh banyaknya fragmen patahan karang
(rubbles).
Tabel 3. Persentase tutupan bentuk kehidupan karang yang diperoleh
dengan cara RRA
NO BENTHIC LIFEFORMS
I
Lokasi Transek RRA
1
2
3
4
5
6
7
RATARATA
Kelompok Biotik
1 Acropora
2 Non acropora
15 20
10
15
15
10
12,8
25
20 20
10
35
30
30
24,3
3 Soft Coral
5
5
5
5
10
5
7
6
4 Sponge
5
3
2
2
3
3
2
2,8
5 Makro Algae
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
20 15
50
20
30
30
28,3
6 Seagrass
7 Death Coral With Algae (DCA)
II
5
0
33
8 Death Coral
0
0
1
0
1
0
0
0,3
9 Other fauna
2
2
2
3
1
2
1
1,8
30 30
Kelompok Abiotik
10 Rubble
15
15
10
10
17
18,1
12 Sand
10
5
5
5
5
5
3
5,4
13 Rock
0
0
0
0
0
0
0
0
2. Kondisi rinci terumbu karang
Penilaian status dan kondisi terumbu karang dengan cara LIT
dilakukan pada empat stasiun yang mewakali sisi Utara-Barat dan SelatanTimur gugus Pulau Pari. Stasiun-stasiun tersebut terdiri dari perairan
56
Kondisi Kesehatan Terumbu Karang di Perairan Gugus Pulau Pari, Teluk Jakarta
Pulau Kudus bagian utara (LIT 1) dan Pulau Tikus bagian barat (LIT 2)
yang mewakili sisi selatan-barat gugusan Pulau Pari. Kedua stasiun berada
pada perairan yang sangat terbuka dengan gelombang dan arus cukup kuat
serta dipengaruhi oleh musim barat. Stasiun Pulau Pari-Selatan-Timur
(LIT 3) dan Stasiun Pulau Pari-Timur-Utara (LIT 4) merupakan stasiunstasiun yang mewakili sisi selatan-timur Gugus Pulau Pari dengan perairan
yang relatif terlindung dan lebih dipengaruhi oleh musim timur.
3.1 Stasiun LIT 1
(Pulau Kudus bagian utara; 05° 50,987’ LS ; 106° 35,905’ BT )
Pulau Kudus terletak pada bagian sisi utara gugusan Pulau Pari,
mempunyai rataan terumbu (fringing reef) dan lereng terumbu atau tubir
(reef slope and cresh) yang merupakan ciri dari perairan karang yang ada
di Gugusan Pulau Pari. Rataan terumbu pendek dengan jarak dari pantai
lebih kurang 300 meter, didominasi oleh dasar berpasir dan patahan
karang mati (rubbles) dengan ditumbuhi lamun dan makro alga. Lereng
terumbu cukup landai dengan kedalaman mencapai 15–20 meter. Koloni
karang ditemukan pada daerah tubir dan berkembang pada kedalaman
antara 5 meter sampai 10 meter. Kelompok Acropora dengan area
tutupan 5% berbentuk karang bercabang atau karang meja. Kelompok
non Acropora dengan area tutupan 36%, berbentuk massive, sub masssive,
dan encrusting. Fauna karang lain (other fauna) seperti lili laut (crinoid),
tridacna, karang lunak (soft corals) dijumpai dengan area tutupan 2%.
Karang yang masuk kategori baru mati (masih kelihatan putih) ditemukan
sebesar 3%, sementara karang mati yang sudah cukup lama dan tergolong
turf algae mendominasi persen tutupan terumbu (54%). Persen tutupan
secara keseluruhannya diilustrasikan pada Gambar 2.
Kondisi kesehatan karang ditentukan oleh Acropora 5% dan Non
Acropora 36%, di mana jumlahnya 41%. Dengan demikian kesehatanan
terumbu karang Pulau Kudus, menurut kriteria Chou (1998) berada
dalam kondisi sedang.
57
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
36%
Acrop
pora
2%0%
5%
Non Acropora
A
Dead Scleractinian
54%
Algae
3%
Others
rs
Abiotic
Gambar 2. Kondisi terumbu karang di perairan Pulau Kudus bagian utara
3.2 Stasiun LIT 2
(Pulau Tikus bagian Barat: 05° 51,539’ LS ; 106° 34,199’ BT)
f
Stasiun LIT 2 berada pada sisi barat Pulau Tikus yang merupakan
rataan terumbu (reef plate) dan lereng terumbu (reef slope). Perairan pada
sisi timur dan selatan Pulau Tikus merupakan goba dan sedikit rataan
terumbu yang dimanfaatkan sebagai lahan budi daya rumput laut dan
perikanan tangkap, terutama dari alat tangkap sero dan bagan tancap.
Rataan terumbu Pulau Tikus bagian barat sampai dengan utara cukup
luas, panjangnya dari pantai antara 600–800 meter, memiliki dasar
berpasir halus dan substrat keras dari karang mati. Antara pulau dengan
rataan terumbu luar terdapat goba dengan kedalaman 10–15 meter.
Lereng terumbu berakhir pada tubir yang dalamnya mencapai 20 meter,
di mana terumbu berkembang pada kedalaman mulai dari 5 meter sampai
10 meter.
Bentuk kehidupan terumbu didominasi oleh pertumbuhan alga
(turf algae) dengan tutupan mencapai 39% (Gambar 3). Persen tutupan
karang mati dalam terumbu sebesar 2% yang disebabkan oleh serangan
bintang laut dan pemutihan karang (bleaching). Persen tutupan dari
kelompok abiotik (pasir dan rubbles) sebesar 25%, hal ini menunjukkan
adanya terumbu yang terpisah-pisah berupa bongkahan-bongkahan (path
reefs). Biota lain yang berasosiasi dengan terumbu, seperti karang lunak
dan makro bentos, jarang dijumpai dan tutupannya hanya mencapai 2%.
Kelompok karang hidup yang menunjukkan kesehatan karang diwakili
oleh adanya Acropora (2%) dan non acropora (30%), di mana jumlah
58
Kondisi Kesehatan Terumbu Karang di Perairan Gugus Pulau Pari, Teluk Jakarta
keduanya adalah 32%. Menurut kriteria kesehatan karang Chou (1998),
persen tutupan karang batu sebesar 32% menunjukkan kondisi kesehatan
sedang.
Acropora
Non Acropora
a
2
2%
25%
30%
%
2%
2%
39%
Dead Scleracctinian
Algae
Others
Abiotic
Gambar 3. Kondisi terumbu karang di perairan Pulau Tikus bagian barat
3.3 Stasiun LIT 3
(Pulau Pari bagian selatan timur: 05° 51,902’ LS ; 106° 35,114’ BT)
Pulau Pari merupakan pulau terbesar di antara pulau-pulau yang
berada dalam gugusan Pulau Pari, dengan luas mencapai 41,2 ha. Perairan
sekitar Pulau Pari digunakan sebagai lahan budi daya rumput laut, lahan
konservasi mangrove, Daerah Perlindungan Laut (DPL), serta lokasi
perikanan tangkap (fishing ground). Stasiun pengamatan berada pada
sisi selatan Pulau Pari dan merupakan area perlindungan laut. Area ini
merupakan perairan karang terbaik dengan tutupan karang batu tertinggi,
walaupun badan air mengalami kekeruhan pada waktu-waktu tertentu.
Rataan terumbu cukup luas, kurang lebih 300 x 700 m2 dan memiliki
dasar berpasir dan patahan karang mati yang ditumbuhi lamun dan makro
alga. Dasar perairan di belakang tubir lebih didominasi oleh substrat keras
dari bongkahan karang mati serta terdapat patahan karang yang mengeras
dan menempel satu sama lain. Lereng terumbu landai sampai ke tubir
dengan kedalaman 15 meter. Terumbu karang didominasi oleh kelompok
non Acropora (50 %). Bentuk kehidupan bentik lainnya yang tergolong
dominasi kedua adalah algae atau turf algae, di mana tutupan komponen
ini mencapai 38%. Tutupan biota lain yang termasuk kelompok spon
(other fauna) sangat rendah, yaitu hanya 1%. Tutupan karang mati
dan abiotik masing-masing 6% dan 5%. Tutupan karang hidup (hard
corals) yang dijumpai di area transek hanya diwakili oleh kelompok non
59
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Acropora (50%), sedangkan kelompok Acropora nihil (Gambar 4). Semua
jenis bentuk karang bercabang di area ini tergolong non Acropora dan
Millepora. Dengan demikian, kondisi kesehatan menurut kriteria Chou
masuk dalam kondisi sedang mendekati baik.
Acropora
1% 5%
0%
Non Acropo
ora
4
49%
39%
%
Dead Sclerractinian
Algae
6%
Others
Abiotic
Gambar 4. Kondisi terumbu karang diperairan Pulau Pari Selatan-Timur
3.5 Stasiun LIT 4
(Pulau Pari bagianTimur-Utara: 05° 51,186’ LS ; 106° 38,127’ BT)
Stasiun pengamatan 4 berada pada sisi timur Pulau Pari dan
merupakan Daerah Perlindungan Laut (DPL). Rataan terumbu tidak
terlalu luas, lebarnya dari pantai berkisar 300 sampai 400 meter. Dasar
perairan dari rataan terumbu didominasi oleh pasir dan patahan karang
mati yang ditumbuhi lamun dan makro alga. Tubir karang tidak terjal
tetapi berangsur-angsur curam sampai kedalaman 20–25 meter. Bentuk
kehidupan terumbu didominasi oleh tutupan karang keras (Gambar
5), yaitu kelompok Acropora (15%) dan non Acropora (40%). Hal ini
menunjukkan bahwa kesehatan terumbu karang di area ini tergolong
dalam kondisi sedang. Tutupan alga golongan turf algae dan biota lain
yang tergolong spon dan karang lunak masing-masing 6% dan 2%. Karang
mati dijumpai cukup tinggi dengan tutupan sebesar 17%. Kelompok
abiotik juga cukup tinggi (20%) yang menandakan bahwa rataan terumbu
berupa gunduk-gundukan terpisah (path reef).
60
Kondisi Kesehatan Terumbu Karang di Perairan Gugus Pulau Pari, Teluk Jakarta
Acropora
2%
20%
15%
Dead Sclera
actinian
6%
17%
Non Acropora
4
40%
Algae
Others
Abiotic
Gambar 5. Status dan kondisi terumbu karang di perairan Pulau Pari
bagian timur-utara
Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan
1. Jumlah jenis karang yang teridentifikasi di gugusan Pulau Pari
sebanyak 56 jenis dari 4 suku, di mana jumlah jenis tersebut relatif
rendah.
2. Kesehatan terumbu karang pada semua stasiun pengamatan masuk
pada kategori sedang, di mana persen tutupan karang batu berada
pada kisaran nilai di bawah 50% dan di atas 25%.
Saran
1. Melakukan perlindungan yang ketat pada perairan karang di semua
lokasi gugus Pulau Pari dengan menetapkan DPL-DPL baru.
2. Melarang secara ketat cara-cara penangkapan yang merusak.
3. Melibatkan masyarakat dalam pengawasan dan monitoring kondisi
perairan karang.
4. Menetapkan kawasan penangkapan dan juga zona larangan
penangkapan.
61
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Daftar Pustaka
Anonimous. 2006. Kajian Analisis dan Data Revitalisasi Pertanian,
Perikanan, dan Kehutanan: Penyusunan dan Pemetaan Perwilayahan
Ekosistem Pesisir. Bappeda Maluku Utara dan BPTP Maluku Utara,
Ternate, 169 hal.
Burke L, E Selig and M Spalding. 2002. Reefs at Risk in Southeast Asia.
World Resources Institute, Washington DC. 76 p.
Cesar H. 1996. “Economic Analysis of Indonesian Coral Reefs,” Working
Paper Series ‘Work in Progress’, Washington, DC: World Bank.
Chou LM. 1998. Status of Southeast Asian Coral Reefs. In: Status of Coral
Reefs of the World: 1998. C. Wilkinson (Ed). Sida – Australian Institute
of Marine Science – ICLARM Publ., Quensland, Australia.
Dahuri R and IM Dutton, “Integrated Coastal and Marine Management
Enters a New Era in Indonesia,” Integrated Coastal Zone Management
(2000): 1, 11–16.
English S, C Wilkinson and V Baker. 1994. Survei manual for
Tropical marine Resources. Australian Institute of Marine Science,
Townsville. Australia.
Gomez ED and HT Yap. 1984. Monitoring Reef Condition. In: Coral
Reef Management Handbook. R.A. Kenchingt6on and B.E.T.
Hudson (Eds). Unesco Publisher, Jakarta, p. 171.
Hopley D and Suharsono. 2000. The status and management of coral reefs
in eastern Indonesia. The Australian Institute of Marine Science for
the David & Lucile Packard Foundation, USA. 145 pp.
Michael AW. 2011. Cyanide and Dynamite Fishing, Who’s really
Responsible? Ocean N Environment Ltd. P.O. Box 2138, Carlingford
Court Post Office Carlingford NSW 2118, Australia. email:
[email protected] http://www. Ocean Environment.com.
au. Diunduh dari http://www.eepsea.org. Juli 2011.
Pet-Soede L, H Cesar, and J Pet. 1996. “Blasting Away: The Economics of
Blast Fishing on Indonesian Coral Reefs,” in H. Cesar, ed., Collected
Essays on the Economics of Coral Reefs, pp. 77–84.
62
Kondisi Kesehatan Terumbu Karang di Perairan Gugus Pulau Pari, Teluk Jakarta
Rahmat dan Yosephine. 2001. Software Percent Cover Benthic Lifeform
versi 5.1. Pusat Penelitiaan dan Pengembangan Oseanologi LIPI.
Jakarta.
Lampiran
Bentuk pertumbuhan bentik di gugusan Pulau Pari
63
Status Perikanan Ikan Karang
dan Demersal di Perairan Kepulauan Seribu
Sri Turni Hartati, Isa Nagib Edrus, Amula Nurfiarini, dan Ina Juanita
Abstrak
Tulisan ini menyajikan hasil kajian status perikanan ikan karang
dan demersal di perairan Kepulauan Seribu, yang diharapkan dapat
digunakan sebagai bahan kebijakan pengelolaan sumber daya ikan yang
berkesinambungan. Data dan informasi yang digunakan berasal dari kegiatan
penelitian tahun 2007–2009 di perairan Kepulauan Seribu. Kepadatan
stok ikan diperoleh melalui sensus visual pada transek garis dengan cara
menyelam sepanjang 50 meter, dengan luas area jelajah dan pandang 50 x
5 m. Kelimpahan dan komposisi hasil tangkapan alat tangkap ikan karang
diperoleh melalui observasi dengan mengikuti kegiatan nelayan. Produksi
dan upaya penangkapan beberapa jenis ikan dominan dan ekonomis
penting diperoleh dengan mengompilasi data statistik perikanan dari Suku
Dinas Kelautan dan Pertanian Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu
Provinsi DKI Jakarta. Data tentang nilai investasi dan pendapatan yang
digunakan untuk analisis kelayakan usaha diperoleh dari hasil wawancara
dengan nelayan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepadatan ikan
demersal dan karang di perairan Kepulauan Seribu pada tahun 2007
pada kisaran 42 ekor/250 m2 sampai 536 ekor/250m2, didominasi oleh
Caesionidae, Nemipteridae, Pomacentridae, Labridae, dan Lethrinidae.
Kepadatan ikan dalam kriteria sangat jarang berada pada kisaran 1–5
ekor/m2. Status pemanfaatan sumber daya ikan demersal dan karang di
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
perairan Kepulauan Seribu sudah menunjukkan tingkat kejenuhan (over
fishing), yang terindikasi dari menurunnya terus indeks kelimpahan stok
ikan tersebut. Usaha penangkapan ikan cukup menguntungkan dan layak
untuk diusahakan, dengan tingkat kelayakan usaha bervariasi antara 1,31–
9,95.
Kata Kunci: Perikanan, ikan karang, ikan demersal, Kepulauan Seribu,
Teluk Jakarta
Pendahuluan
Beberapa wilayah terumbu karang di perairan Kepulauan Seribu
tampaknya sudah mengalami kerusakan baik yang diakibatkan oleh
pencemaran ataupun kegiatan penangkapan ikan. Kesehatan terumbu
karang di perairan Pulau Kelapa pada tahun 1999 menunjukkan kategori
buruk sampai sedang, penutupan karang hidup pada kisaran 0% sampai
49,9% (Lazuardi dan Wijoyo 2000). Menurut Warsa dan Purnawati
(2010), terumbu karang di Kepulauan Seribu yang ditetapkan sebagai
daerah perlindungan laut, penutupan karang hidup berkisar 30%–75%
. Kesehatan terumbu karang di gugusan Pulau Pari pada kategori sedang
sampai baik, penutupan karang hidup berkisar 41%–55% (Hartati dan
Edrus 2010)
Beberapa kelompok ikan karang dominan dan bernilai ekonomis,
bahkan di antaranya merupakan “icon” dari Kepulauan Seribu (seperti
ikan ekor kuning, kerapu, lencam, beronang, kakap, dan kakaktua).
Pengusahaan ikan karang di Kepulauan Seribu dimulai sejak tahun 60-an,
dan mencapai puncaknya pada tahun 70-an, dengan produksi per tahun
setiap jenisnya mencapai lebih dari 1.000 ton. Hasil penelitian Subani
(1978), produksi ekor kuning pada tahun 1969–1977 mencapai kisaran
800–1.400 ton/tahun, sebaliknya pada tahun 2001–2007 hasil tangkapan
hanya pada kisaran 1–34 ton per tahun (Anonim 2007).
Wacana ikan kakaktua yang jenisnya relatif banyak dan melimpah di
perairan Kepulauan Seribu dan bukan merupakan target utama penangkapan,
akan dimasukan dalam daftar appendix CITES, harus diluruskan melalui
rekomendasi dari hasil-hasil penelitian. Menurut Hartati et al. (2004),
66
Status Perikanan Ikan Karang dan Demersal di Perairan Kepulauan Seribu
hasil tangkapan bubu di perairan gugusan Pulau Kelapa dan sekitarnya
didominasi oleh kelompok ikan kakaktua dan kerapu. Hasil sensus visual
melalui transek garis di beberapa wilayah terumbu karang gugusan Pulau
Pari, jenis ikan karang konsumsi yang dominan di antaranya kakaktua
dan kerapu (Hartati dan Edrus 2010) . Tujuan penulisan adalah mengkaji
status perikanan ikan karang dan demersal di perairan Kepulauan Seribu,
yang diharapkan dapat digunakan sebagai bahan kebijakan pengelolaan
sumber daya ikan yang berkesinambungan.
Bahan dan Metode
Data dan informasi yang digunakan dalam penyajian makalah ini
berasal dari kegiatan penelitian tahun 2007–2009 di perairan Kepulauan
Seribu serta data statistik perikanan dari Suku Dinas Kelautan dan
Pertanian Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu Provinsi DKI
Jakarta. Kegiatan penelitian yang dilakukan meliputi:
• Observasi dengan mengikuti kegiatan nelayan menggunakan beberapa
alat tangkap sebagai alat tangkap utama ikan karang dan demersal
untuk mengetahui kelimpahan dan komposisi hasil tangkapan. Seluruh
hasil tangkapan ditimbang kemudian disortir dan ditimbang kembali
menurut jenis ikan. Identifikasi jenis ikan mengacu pada Thomas dan
Kailola (1984), Lieske dan Myers (1994), dan Kuiter RH (1992).
• Sensus visual pada garis transek (English et al. 1994), untuk mengetahui
kondisi populasi ikan karang. Sensus visual dilakukan dengan cara
menyelam pada garis transek sepanjang 50 meter, dengan luas area
jelajah dan pandang 50 x 5 m. Jenis dan perkiraan jumlah ikan dicatat
dalam data sheet kedap air. Identifikasi jenis ikan menggunakan buku
petunjuk bergambar (Kuiter 1992; Lieske dan Myers 1994).
• Kompilasi data perikanan melalui Suku Dinas Kelautan dan Pertanian
Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu Provinsi DKI Jakarta.
• Wawancara dengan nelayanuntuk
penangkapan
mengetahui
kelayakan
usaha
67
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Hasil dan Pembahasan
1. Kepadatan Stok
Kepadatan jenis-jenis ikan karang di perairan Kepulauan Seribu pada
tahun 2007 berdasarkan sensus visual melalui transek garis berkisar 42
ekor/250 m2–536 ekor/250 m2. Kepadatan stok ikan karang tertinggi
berada di perairan Pulau Genteng dan terendah di perairan Pulau Semak
Daun (Gambar 1). Komposisi jenis ikan pada beberapa wilayah perairan
menunjukkan bahwa kelompok ikan ekor kuning (Caesionidae) dan kurisi
(Nemipteridae) adalah dominan. Jenis-jenis ikan lainnya dengan kehadiran
relatif rendah adalah kerapu (Serranidae), kakaktua (Scaridae), kakap
(Lutjanidae), lencam (Lethrinidae), dan kuniran (Mullidae). Komposisi
jenis ikan pada beberapa wilayah perairan di Kepulauan Seribu disajikan
pada Gambar 2.
KepadatanIkan(ekor/250m2)
600
500
400
300
200
100
0
Stasiunpengamatan
Gambar 1. Kepadatan stok ikan karang di perairan Kepulauan Seribu pada
tahun 2007
68
3%
8%
27%
85%
Nemipteridae
Lutjanidae
Caesionidae
Mullidae
Lethrinidae
Lutjanidae
Scaridae
Caesionidae
Serranidae
Lethrinidae
Nemipteridae
Caesionidae
Serranidae
76%
Caesionidae
Scaridae
Lutjanidae
Nemipteridae
Lethrinidae
Mullidae
DPLP.Pari
Serranidae
3% 3%
3%
8%
4%
3%
88%
1%
DPLWakrom
4% 7%
1%
Nemipteridae
Lutjanidae
Scaridae
Caesionidae
Serranidae
95%
Nemipteridae
Lutjanidae
Caesionidae
Serranidae
PulauGenteng
3% 1%
75%
18%
3%
DPLKaliage
2% 2%
Gambar 2. Komposisi jenis ikan karang di beberapa perairan Kepulauan Seribu
PulauPayung
12%
56%
2%
DPLPramuka
4% 3%
Status Perikanan Ikan Karang dan Demersal di Perairan Kepulauan Seribu
69
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Beberapa wilayah perairan menunjukkan bahwa kelompok ekor
kuning (Caesionidae) hadir dengan persentase relatif tinggi, seperti DPL
Pulau Payung, DPL Pulau Pari, dan Pulau Genteng, dengan persentase
kehadiran 76%–95%. Kondisi ini menunjukkan bahwa populasi ekor
kuning sebagai “Icon” dari Kepulauan Seribu masih tinggi. Berbeda
dengan kelompok ikan kerapu (Serranidae), yang kehadirannya relatif
rendah (1%–7%).
Hasil pengamatan yang dilakukan di beberapa perairan gugusan
Pulau Pari pada tahun 2009, teridentifikasi 28 famili dan 125 jenis ikan
karang. Kepadatan ikan pada kisaran 200 ekor/250m2–507/250m2,
tertinggi di perairan selatan Pulau Pari dan terendah di barat Pulau Tikus
(Gambar 3). Mengacu pada kriteria Ranks of Square Density (Djamali dan
Darsono 2005), kepadatan ikan karang di perairan gugusan Pulau Pari
dan Kepulauan Seribu pada umumnya dalam kriteria sangat jarang, yaitu
pada kisaran 1–5 ekor/m2.
Kepadatanikan(ekor/250m2)
Jenis-jenis ikan yang kehadirannya melimpah di gugusan Pulau Pari
adalah dari famili Pomacentridae dan Labridae, yaitu pada kisaran 39%–
50%, dan 13%–30%. Kepadatan jenis-jenis ikan kerapu (Serranidae)
berkisar 1%–2%, ekor kuning (Caesionidae) 4%– 11%, dan kakaktua
(Scaridae) 5%–13%. Beberapa famili ikan lainnya yang hadir adalah
Apogonidae, Lutjanidae, Nemipteridae, Chaetodontidae, Siganidae, dan
Carangidae (Gambar 4).
600
500
400
300
200
100
0
SelatanP.SelatanP.TTenggara TimurP. UtaaraP. BaratP. SelataanP.
Burung
Pari
P.Pari
Pari
Ku
udus
Tikus
Tiku
us
Stasiun
nPengamatan
Gambar 3. Kepadatan ikan karang di gugusan Pulau Pari pada bulan Juni
2009
70
Status Perikanan Ikan Karang dan Demersal di Perairan Kepulauan Seribu
Scaridae
6%
Apogoniidae
4%
Serranidae
2%
Caesiionidae
8%
8
Pomacen
ntridae
44%
%
Labridae
30%
lainnya
6%
Nemipteridae
3%
Lainnya
7%
Serranidae
1%
Lutjanidae
5%
Caesionidae
5%
nidae
Sigan
7%
%
Scaridae
e
7%
Labridae
18%
Pomacentridae
44%
Lainnya
10%
Serranidaae
1%
Chaetodontidae
3%
Scaridae
10%
ae
Caesionida
11%
Pomacentridae
50%
Labridae
13%
Chaetod
dontidae
5%
5
Serranidae
1%
Apogoidae
4%
Chaetodontidae
5%
Carangidae
C
5%
Nemipteridae
7%
Lainnyya
9%
Pomacentridae
39%
Labridae
17%
Scaridae
13%
St.4.Timu
urPulauPari
Gambar 4. Komposisi kehadiran famili ikan karang konsumsi di beberapa
wilayah perairan gugusan Pulau Pari pada bulan Juni 2009
71
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Serranidae
1%
haetodontidae
Ch
3%
Caessionidae
4%
Apogonidae
4%
Lainnyya
13%
%
Labrid
dae
18%
%
Pomacentridae
48%
Serraanidae
11%
Scaridae
9%
Caesionidae
7%
Nemipteridae
8%
Lainnya
5%
Pomacentridae
48%
Labridae
21%
Scaridae
10%
Gambar 4. Komposisi kehadiran famili ikan karang konsumsi di beberapa
wilayah perairan gugusan Pulau Pari pada bulan Juni 2009
(lanjutan)
2. Alat Tangkap Ikan Karang
Dari observasi mengikuti kegiatan nelayan, disajikan beberapa aspek
alat tangkap utama ikan karang dan demersal, seperti bubu ikan, pancing
ulur, jaring muroami, jaring rampus, jaring gebur, jaring millenium, dan
sero
• Bubu Ikan
72
Hasil tangkapan bubu ikan pada bulan Februari, April, dan Juli 2009
di gugusan Pulau Pari pada kisaran 3–4 kg/ hari. Pada bulan Februari
tertangkap 11 jenis ikan sebanyak 21 ekor, didominasi oleh kelompok
ikan lencam (Lethrinidae) dan pasir-pasir (Scolopsis ciliatus). Hasil
tangkapan pada bulan April sebanyak 42 ekor terdiri dari 9 jenis ikan,
Status Perikanan Ikan Karang dan Demersal di Perairan Kepulauan Seribu
didominasi oleh Dischitodus perspicillatus (Pomacentridae). Pada
pengamatan bulan Juli teridentifikasi sebanyak 16 jenis ikan dari 42
ekor yang tertangkap, didominasi oleh kakak tua (Scarus gobhan).
Komposisi jenis ikan hasil tangkapan bubu di gugusan Pulau Pari
berdasarkan bulan pengamatan disajikan pada Gambar 5.
Komposisibubu(N)
Februari2009
5%
10%
5%
Lethrinusharax
Lethrinusmicrodon
Lethrinusornatus
20%
Lethrinusminiatus
5%
10%
Scolopsisciliate
Pentapodustrivitatus
10%
5%
25%
Lethrinuslentjam
Choerodonanchorago
5%
Epinephelusmelanostigma
Lutjanusboutton
Komposisibubu(W)
Februari2009
Lethrinuslentjam
Lethrinusharax
Lethrinusmicrodon
3% 11%
5%
Lethrinusornatus
Lethrinusminiatus
21%
6%
6%
19%
20%
6%
3%
Scolopsisciliate
Pentapodustrivitatus
Choerodonanchorago
Epinephelusmelanostigma
Lutjanusboutton
Gambar 5.Komposisi jenis ikan karang hasil tangkapan bubu di
Kepulauan Seribu
73
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Komposisibubu(N)
April2009
3% 2%
5% 3%
2%
2%
5%
Lethrinusornatus
Ephinephelusmerra
Plectropomusmaculatus
Chephalopholisboenack
Dischistodusperspicillatus
14%
Scarusgobban
Siganusvirgatus
64%
Cheilinustrilobatus
Hemigyhinusmelapterus
Komposisibubu(W)
April2009
5%
3%
3%
Lethrinusornatus
Ephinephelusmerra
6%
Plectropomusmaculatus
Chephalopholisboenack
3%
Dischistodusperspicillatus
55%
21%
Scarusgobban
Siganusvirgatus
2%
2%
Cheilinustrilobatus
Hemigyhinusmelapterus
Gambar 5.Komposisi jenis ikan karang hasil tangkapan bubu di
Kepulauan Seribu (lanjutan)
74
Status Perikanan Ikan Karang dan Demersal di Perairan Kepulauan Seribu
Komposisibubu(N)
Juli2009
Siganuspunctatus
Scarusgoban
Cheilinustrilobatus
6%
9%
23%
9%
Scolopsisciliatus
Plectropomusquoyqnus
9%
Siganusvirgatus
29%
6%
9%
Balistocensidesvirides
Abudedufsp
Komposisibubu(W)
Juli2009
Siganuspunctatus
Scarusgoban
Cheilinustrilobatus
11% 10%
Plectropomusquoyanus
9%
6%
5%
4%
7%
Scolopsisciliate
29%
Siganusvirgatus
Epibulusinsidiator
Balistoidesviridescens
10% 9%
Abudedufsp
Cephalopholissexmaculata
Gambar 5.Komposisi jenis ikan karang hasil tangkapan bubu di
Kepulauan Seribu (lanjutan)
Hasil tangkapan bubu di Kepulauan Seribu pada tahun 2003 pada
kisaran 10 sampai 15 kg/5 bubu, didominasi oleh pasir-pasir (Scolopsis
sp.), swangi (Sargocentron sp.), kerapu (Cephalopholis sp., Plectropomus
sp., Epinephelus sp.), dan ekor kuning (Caesio sp.) masing-masing
sebesar 22%, 13%, 12%, dan 11% (Hartati et al. 2004). Hasil
tangkapan pada tahun 2007 berkisar 4 sampai 14 kg/5 bubu, rata-rata
2 kg/5 bubu. Komposisi jenis ikan hasil tangkapan bubu didominasi
oleh ikan nuri (Choerodon anchorago). Hasil tangkapan tahun 2008
relatif lebih rendah, yaitu rata-rata 3 kg/5 bubu, didominasi oleh
beronang (Siganus sp.) dan kakaktua (Scarus sp.).
75
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
• Pancing Ulur
Kelimpahan hasil tangkapan pancing ulur pada bulan Februari, April,
dan Juli 2009 di gugusan Pulau Pari berkisar 1–5 kg/perahu. Melihat
hasil tangkapan pancing ulur pada bulan Februari dan April, dominasi
jenis ikan hasil tangkapan tidak berbeda dengan hasil tangkapan bubu
ikan, yaitu didominasi oleh kelompok lencam (Lethrinidae), dengan
persentase mencapai 75%–80%. Hasil tangkapan pancing ulur dan
bubu pada bulan Februari dan April menunjukkan bahwa keberadaan
ikan lencam di gugusan Pulau Pari masih cukup melimpah. Berbeda
dengan hasil tangkapan pancing ulur pada bulan Juli, selain kelompok
ikan lencam, jenis ikan ekor kuning juga mendominasi hasil tangkapan.
Komposisi hasil tangkapan pancing ulur disajikan pada Gambar 6.
Komposisipancing(N)
Februari2009
Lethrinusminiatus
Lethrinuslentjam
10%
Lethrinusharax
10%
10%
50%
10%
Lethrinusornatus
Epinephelussp.
10%
Pentapodussp.
Komposisipancing (W)
Februari2009
Lethrinusminiatus
Lethrinuslentjam
6% 4%
17%
Lethrinusharax
49%
Lethrinusornatus
Epinephelussp.
17%
7%
Pentapodussp.
Gambar 6. Komposisi jenis ikan karang hasil tangkapan pancing ulur
di Kepulauan Seribu
76
Status Perikanan Ikan Karang dan Demersal di Perairan Kepulauan Seribu
Komposisipancing(N)
April2009
Lethrinushypscloptinus
Lethrinusornatus
13%
25%
Lethrinusharax
13%
25%
Lethrinusminiatus
12%
12%
Epinephelus.ongus
Choerodonanchorago
Komposisipancing(W)
April2009
Lethrinushypscloptinus
Lethrinusornatus
4% 6%
Lethrinusharax
28%
Lethrinusminiatus
7%
44%
11%
Epinephelus.ongus
Choerodonanchorago
Gambar 6. Komposisi jenis ikan karang hasil tangkapan pancing ulur
di Kepulauan Seribu (lanjutan)
77
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Komposisipancing(N)
Juli 2009
Lethrinushypscloptinus
Lethrinusornatus
4%
6%
28%
Lethrinusharax
Lethrinusminiatus
7%
44%
11%
Epinephelus.ongus
Choerodonanchorago
Komposisipancing(W)
Juli2009
Caesiocuning
5%
3%2%
Caesiocaerulaurea
25%
Selaroidesleptolepis
65%
Lethrinussp
Nemipterussp
Gambar 6. Komposisi jenis ikan karang hasil tangkapan pancing ulur
di Kepulauan Seribu (lanjutan)
78
Kelimpahan hasil tangkapan pancing ulur yang didaratkan di Pulau
Tidung pada bulan Maret 2007 berkisar 1 sampai 78 kg/perahu,
dengan rata-rata 7 kg/perahu. Pada bulan April 2007 berkisar 1
sampai 101 kg/perahu dan rata-rata 7 kg/perahu, dan pada bulan
Mei 2007 berkisar 1 sampai 87 kg/perahu, dengan rata-rata 11 kg/
perahu. Sampling pada bulan Mei 2007 teridentifikasi 13 jenis ikan.
Berdasarkan jumlah individu dan berat, hasil tangkapan pancing
didominasi oleh ikan kurisi (Nemipterus fruscosus) dengan persentase
masing-masing 44,63% dan 38,01%. Hasil tangkapan pancing ulur
di gugusan Pulau Pari pada tahun 2008 pada kisaran 6 sampai 50 kg/
perahu. Sampling pada bulan Mei didominasi oleh ekor kuning (Caesio
cuning) sebesar 76%, jenis-jenis lainnya adalah Caesio caerulaurea,
Selaroides leptolepis, Lethrinus sp., dan Scolopsis sp.
Status Perikanan Ikan Karang dan Demersal di Perairan Kepulauan Seribu
• Jaring Muroami
Komposisi hasil tangkapan muroami dengan daerah penangkapan di
sekitar perairan gugusan Pulau Pari pada bulan April dan Juli 2009
tersaji pada Gambar 7.
KomposisiMuroami(W)
April2009
Pterocaesiopisang
21%
Caesiocuning
17%
62%
Lainnya
Komposisilainnya
April2009
1% 1%
2%
2%
4%
4%
21%
5%
7%
17%
8%
11%
14%
Scarusgobban
Lutjanuscarponotatus
Scarusniger
Scarusfasciatus
Cheilinusfasciatus
Pterocaesiocaerulaurea
Scolopsisfosmeri
Sphyraenasp.
Abudefdufsexfaciatus
Amblyglyphidodonleucogaster
Pentapodusemeryii
Hemigenusmelapterus
Amblyphlypidodonaureus
Lutjanusbiqulatus
Selaroidesleptolepis
Gambar 7. Komposisi hasil tangkapan jaring muroami pada bulan
April 2009 di perairan gugusan Pulau Pari
79
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
KomposisiMuroami(W)
Juli2009
6% 4%
8%
Caesiocuning
Pterocaesiodigrama
Caesiocaerulaurea
21%
61%
Siganusvirgatus
Lainnya
KomposisilainnyaJuli2009
Selaroidesleptolepis
12%
4%
26%
18%
Herklotsrchthyssp.
Scarussp.
Sphyraenaforsterii
17%
18%
5%
Lethrinusvariegatis
R.kanagurta
Pentapodusemeryii
Gambar 7. Komposisi hasil tangkapan jaring muroami pada bulan
Juli 2009 di perairan gugusan Pulau Pari (lanjutan)
80
Hasil tangkapan muroami pada bulan April terdiri dari 19 jenis ikan,
546 ekor, dan total berat 11 kg. Jenis ikan yang mendominasi hasil
tangkapan adalah pisang-pisang (Pterocaesio pisang) sebanyak 366
ekor (62%), ikan ekor kuning (Caesio cuning) sebanyak 139 ekor
(17%), dan jenis lainnya 21%, di antaranya juga terdapat kelompok
kakaktua dan kekakapan dalam jumlah yang kecil. Hasil tangkapan
muroami pada bulan Juli teridentifikasi sebanyak 11 jenis, 415 ekor,
dan total berat 20 kg. Ekor kuning (Caesio cuning) mendominasi
hasil tangkapan muroami (61%), kemudian diikuti pisang-pisang
(Pterocaesio digrama) sebesar 21%, Caesio caerulaurea sebesar 8%,
Siganus virgatus sebesar 6%, dan jenis lain sebesar 4%, di antaranya
Selaroides leptolepis.
Status Perikanan Ikan Karang dan Demersal di Perairan Kepulauan Seribu
Hasil tangkapan rata-rata kapal muroami harian yang di daratkan
di Pulau Pramuka pada bulan Maret 2007 sebesar 73 kg/kapal.
Berdasarkan jumlah individu (n) dan berat (w), hasil tangkapan
didominasi oleh ekor kuning (Caesio cuning) sebesar 45,74%(n) dan
76,91% (w), kemudian diikuti oleh ikan pisang-pisang (Pterocaesio
digramma), sebesar 36,71% (n) dan 13,73% (w). Hasil tangkapan pada
bulan Agustus relatif rendah yaitu 5 kg/kapal/trip/hari, didominasi
oleh ekor kuning (Caesio cuning).
• Jaring Gebur (Gillnet Dasar)
Pengamatan hasil tangkapan jaring gebur dilakukan pada bulan
Agustus dan Oktober 2009. Hasil tangkapan pada bulan Agustus 2009
sebanyak 18 kg, terdiri dari 17 jenis ikan, satu jenis tidak teridentifikasi,
dan didominasi oleh kakatua (Scaridae). Hasil tangkapan pada bulan
Oktober 2009 hampir 100% adalah lingkis (Siganus canaliculatus),
sebanyak 98 ekor dan total berat kurang lebih 10 kg. Hasil tangkapan
jaring gebur menunjukkan bahwa keberadaan lingkis dan jenis-jenis
ikan kakatua (Scaridae) relatif melimpah di perairan gugusan Pulau
Pari. Komposisi hasil tangkapan disajikan pada Gambar 8.
UnIdentified
Hippocarusharid
Cheilinustrilobatus
Epibulusinsidiator
Lethrinussp.
Lutjanusfulvihammus
Scolopsislineatus
Scolopsismonogramma
Hemigymusmelanopterus
Siganuspunctatus
Chaerodonanchorago
Pseudobalisteshavicuarginatus
Scarruslongiceps
Scarrussp
Scarrusrivulatus
Scarruspyrrhurus
Scarusghobban
0
10
20
30
40
KomposisiHasilTangkapan(%)
Gambar 8.Kelimpahan dan komposisi hasil tangkapan jaring gebur
pada bulan Agustus 2009 di perairan gugusan Pulau Pari
81
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
• Jaring Rampus (Gillnet Dasar)
Pengamatan kegiatan penangkapan dengan jarring rampus dilakukan
pada bulan Februari, April, Juli, dan Agustus 2009. Kelimpahan hasil
tangkapan pada kisaran 4–20 kg/kapal/trip/hari, didominasai oleh
ikan beronang (Siganidae). Komposisi hasil tangkapan jaring rampus
pada bulan Februari, April, Juli, dan Agustus disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Komposisi hasil tangkapan jaring rampus di perairan
gugusan Pulau Pari pada tahun 2009
Jenis Ikan
Jenis Ikan
Siganus canaliculatus.
Siganus virgatus
Siganus punctatus
Scarrus ghobban
Pentapodus sp
Komposisi (%) Februari
April
Juli
97,31 20,86
70
49,1
30
30,04
0,82 1,87 Agustus
93,83
6,17
• Sero
Hasil tangkapan sero pada bulan Maret 2008 menunjukkan bahwa
bahwa hasil tangkapan pada 1 unit sero hanya 1 jenis ikan, yaitu
sembilang karang (Plotosus lineatus) pada posisi sero 1 dan ikan siro
(Amblygaster sirm) pada posisi sero 2 (Tabel 2).
Tabel 2. Kelimpahan hasil tangkapan sero di Pulau Kongsi bulan
Maret 2008
Alat tangkap
Sero 1
Sero 2
Jenis Ikan
Plotosus lineatus
Amblygaster sirm
Nama Lokal
Sembilang karang
Ikan siro
Berat (kg)
65
11
• Jaring Millenium
82
Pengamatan kegiatan penangkapan dengan jaring millenium disajikan
pada Gambar 9. Hasil tangkapan kurang lebih 25 kg/kapal/trip/hari,
terdiri lebih dari 8 jenis, didominasi oleh ikan kuwe (Caranx tille).
Status Perikanan Ikan Karang dan Demersal di Perairan Kepulauan Seribu
KomposisiMillenium(W)
Maret 2008
Psettodecrumei
18%
44%
2%
1%
Cynoglossusarel
Diagrammapunctatum
Carcharhinusleucas
15%
Mustelusmanazo
11%
KomposisiMillenium(N)
Maret2008
Caranxtille
Gnathanodonspeciosus
Ariussp
10%
40%
20%
5%
5%
Gnathanodonspeciosus
Ariussp
7%
2%
Caranxtille
Psettodecrumei
Cynoglossusarel
Diagrammapunctatum
5% 5%
10%
Carcharhinusleucas
Mustelusmanazo
Gambar 9. Komposisi hasil tangkapan jaring millenium di Pulau Tikus
bulan Maret 2008
2. Produksi dan Upaya Penangkapan Beberapa Jenis
Ikan Dominan dan Ekonomis Penting
• Ekor Kuning
Produksi ekor kuning dari Kepulauan Seribu pada tahun 1969–
1977 berkisar 793–1.339 ton, dan mencapai puncaknya pada tahun
1970–1974, lebih dari 1000 ton per tahun (Subani 1978). Dengan
tingkat upaya penangkapan 17–26 unit muroami, hasil tangkapan
per unit upaya (CPUE) adalah 34,48–69,94 ton/unit/tahun (Tabel
3). Kondisi pada periode tahun 1969–1977 berbeda dengan periode
tahun 2001–2007 (Anonim 2007), yaitu hasil tangkapan menurun
setiap tahun, pada kisaran 0,49–33,70 ton/tahun. Dengan tingkat
upaya penangkapan relatif tinggi pada setiap tahunnya yaitu mencapai
53 unit muroami, CPUE menurun tajam, 0,64 ton/unit pada tahun
83
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
2001 dan 0,03 ton/unit pada tahun 2007. Pengurangan unit upaya
penangkapan yang berlangsung mulai tahun 2008 menunjukkan
adanya peningkatan hasil tangkapan (Tabel 4).
Tabel 3. Hasil tangkapan ekor kuning, upaya penangkapan, dan
hasil tangkapan per unit upaya di Kepulauan Seribu, tahun
1969–1977
Tahun
1969
1970
1971
1972
1973
1974
1975
1976
1977
Catch
(ton)
890
1.157
1.189
1.304
1.339
1.016
793
919
938
Effort
(unit muroami)
17
17
17
21
23
24
23
26
16
CPUE
(ton/unit muroami)
52,35
68,06
69,94
62,10
58,22
42,33
34,48
35,35
58,63
Tabel 4. Hasil tangkapan ekor kuning, upaya penangkapan, dan
hasil tangkapan per unit upaya di Kepulauan Seribu, tahun
2001–2007
Tahun
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
84
Catch
(ton)
33,70
30,81
32,99
13,30
4,87
0,49
1,53
194
154
77
Effort
(unit muroami)
53
53
53
53
53
53
53
15
15
10
CPUE
(ton/unit muroami)
0,64
0,58
0,62
0,25
0,09
0,01
0,03
12,93
10,27
7,7
Status Perikanan Ikan Karang dan Demersal di Perairan Kepulauan Seribu
Daerah perlindungan (MPA) merupakan instrumen yang sangat
penting dalam pengendalian sumber daya ikan yang lestari. Dengan
adanya penetapan daerah perlindungan laut, peningkatan pengawasan
secara terpadu diharapkan akan lebih efektif. Selama periode
tahun 2008–2009, produksi ekor kuning mengalami peningkatan
cukup tajam dengan upaya penangkapan hanya 15 unit armada
penangkapan.
• Kerapu
Produksi kerapu di Kepulauan Seribu selama 3 tahun terakhir (2008–
2010) dari hasil observasi berfluktuasi pada setiap bulannya. Tahun
2008 produksi ikan kerapu 108 kg/tahun, kemudian tahun 2009
mengalami kenaikan yaitu mencapai 505 kg/tahun dan tahun 2010
menurun kembali menjadi 75 kg/tahun (Gambar 10).
30
20
Des
Nop
Okt
Sept
Agust
Juli
Juni
Mei
2009
April
0
Mar
2008
Feb
10
Jan
Produksi(Kg)
2010
Bulan
Gambar 10. Produksi kerapu di Kepulauan Seribu pada tahun
2008–2010
Berdasarkan sumber data Suku Dinas Pertanian dan Kelautan
Kepulauan Seribu, produksi ikan kerapu di Kepulauan Seribu
disajikan pada Gambar 11. Produksi ikan kerapu pada tahun 2010
berfluktuasi pada setiap bulannya, pada kisaran 68 ekor/bulan–360
ekor/bulan dengan 954 kg/bulan–1.672 kg/bulan.
85
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Produksi(N)
400
300
200
100
0
Januari Febuari Maret
April
Mei
Juni
Tahun2010
Produksi(KG)
2000
1500
1000
500
0
Januari Febuari Maret
April
Tahun2010
Mei
Juni
Gambar 11. Produksi kerapu di Kepulauan Seribu pada tahun 2010
Sumber Data: Sudin Kelautan dan Perikanan Kab Kepulauan Seribu
• Kakatua
1,500
1,000
500
2008
0
2009
Jan
Feb
Mar
April
Mei
Juni
Juli
Agust
Sept
Okt
Nop
Des
Produksi(Kg)
Produksi kakatua di Kepulauan Seribu pada tahun 2008 sampai 2010
mengalami kenaikan, berturut-turut 2.359 kg/tahun, 2.795 kg/tahun,
dan 3.269 kg/tahun. Produksi selama tahun 2008–2010 berfluktuasi
pada setiap bulannya. Gambar 12 menunjukkan bahwa produksi
relatif tinggi pada bulan Maret–April dan Oktober–November.
2010
Bulan
Gambar 12. Produksi ikan kakatua di Kepulauan Seribu pada tahun
2008–2010
86
Status Perikanan Ikan Karang dan Demersal di Perairan Kepulauan Seribu
4. Kelayakan Usaha Penangkapan dan Pemasaran
Pada usaha penangkapan ikan di Pulau Pari, diketahui bahwa ratarata pendapatan yang diperoleh nelayan antara Rp10.000,- sampai
Rp109.000,-/RTP/hari. Keragaman nilai tersebut sangat dipengaruhi
oleh musim, jenis, dan jumlah alat tangkap yang dimiliki. Investasi yang
diperlukan dalam kegiatan usaha adalah alat tangkap dan alat transportasi,
di mana rata-rata investasi yang dikeluarkan nelayan berkisar Rp700.000–
Rp8.700.000 (Tabel 5). Hasil analisis pendapatan nelayan menunjukkan
bahwa nelayan rampus, bubu bambu, dan nelayan jaring gebur memiliki
pendapatan lebih tinggi dari nelayan dengan alat tangkap yang lain.
Tingginya nilai pendapatan tersebut sangat berkaitan dengan jenis ikan
hasil tangkapan dan jumlah hasil tangkapan.
Tabel 5. Nilai Investasi pada beberapa jenis alat tangkap di Pulau Pari,
November 2009
Kepemilikan (unit)
Jenis Alat Tangkap
Investasi (Rp)
armada
Alat
tangkap
1. Pancing Tonda
1
15
8.000.000
75.000
8.075.000
2. Jaring Gebur
1
4
5.000.000
2.000.000
7.000.000
3. Jaring rampus
1
12
5.000.000
1.440.000
6.440.000
4. Bubu Lipat
1
60
5.000.000
900.000
5.900.000
5. Jaring Cendro
1
6
5.000.000
3.600.000
8.600.000
6. Pancing Ulur
1
100
5.000.000
100.000
5.100.000
7. Pancing cumi
1
5
3.500.000
75.000
3.575.000
8. Pengko
1
20
500.000
200.000
700.000
9. Bubu bambu
1
10
500.000
500.000
1.000.000
Armada
Alat
tangkap
Nilai
Investasi
(Rp)
87
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Tabel 6. Kelayakan usaha penangkapan ikan pada beberapa jenis alat
tangkap di Pulau Pari, November 2009
Jenis Alat
Tangkap
Rata-rata
Hasil
alat yang
Tangkapan
dioperasikan
(kg/Trip)
(Unit/RTP)
Rp/hari
Kelayakan
Usaha
Rp/Bulan (R/C ratio)
Pendapatan
1. Pancing Tonda
3
14
27.850
696.180
1,31
2. Jaring Gebur
1
20,8
73.500
1.838.400
4,15
3. Jaring rampus
12
12,5
109.000 2.725.000
4,94
4. Bubu Lipat
47
4
35.000
875.000
2,43
5. Jaring Cendro
4
7
10.000
250.000
1,31
6. Pancing Ulur
100
3
10.000
250.000
1,90
7. Pancing cumi
5
1,5
10.000
271.000
2,07
8. Pengko
5
1,5
27.000
700.000
5,55
9. Bubu bambu
10
2
100.000 2.500.000
9,95
Sumber: data hasil lapang di olah, November 2009
Hasil analisis terhadap kelayakan usaha penangkapan menunjukkan
bahwa pada beberapa jenis alat tangkap, usaha penangkapan ikan cukup
menguntungkan dan layak untuk diusahakan, dengan tingkat kelayakan
usaha bervariasi antara 1,31–9,95 (Tabel 6). Agar tidak mengalami
kerugian operasional, hasil tangkapan yang diperoleh dengan alat tangkap
pancing tonda harus lebih dari 8 kg/trip.
Hasil tangkapan ikan oleh nelayan, hampir seluruhnya dipasarkan
melalui pegepul setempat, dan sebagian kecil lainnya dipasarkan langsung
oleh nelayan kepada pengepul di luar pulau pari, khususnya yang berupa
ikan hidup (kelompok kerapu dan ikan hias). Di Pulau pari pengepul
ikan berjumlah 2 orang. Hasil tangkapan ikan tersebut kemudian
didistribusikan ke TPI muara saban, untuk kemudian dipasarkan kepada
pengecer dan konsumen. Dengan demikian, saluran pemasaran produksi
ikan di gugus pulau pari mengikuti skema berikut (Gambar 13).
88
Status Perikanan Ikan Karang dan Demersal di Perairan Kepulauan Seribu
Produsen
95%
Pengecer
Pengepul
Konsumen
5%
Gambar 13. Rantai Pemasaran Hasil Perikanan Pulau Pari
Kesimpulan
1. Kepadatan ikan demersal dan karang di perairan Kepulauan Seribu
pada tahun 2007 pada kisaran 42 ekor/250 m2 sampai 536 ekor/250m2,
didominasi oleh Caesionidae, Nemipteridae, Pomacentridae, Labridae,
dan Lethrinidae. Kepadatan ikan dalam kriteria sangat jarang, yaitu
pada kisaran kepadatan 1–5 ekor/m2
2. Status pemanfaatan sumber daya ikan demersal dan karang sudah
menunjukkan tingkat kejenuhan (over fishing), yang terindikasi dari
menurunnya indeks kelimpahan stok ikan tersebut.
3. Usaha penangkapan ikan cukup menguntungkan dan layak untuk
diusahakan, dengan tingkat kelayakan usaha bervariasi antara 1,31–
9,95.
Daftar Pustaka
Anonim. 2007. Data Pendaratan Ikan. TPI Muara Angke. Sudin Kelautan
dan Perikanan Jakarta Utara.
English S, C Wilkinson and V Baker.1994. Survei manual for Tropical
marine Resources. Australian Institute of Marine Science, Townsville.
Australia.
Hartati ST, Awalludin, dan SW Indar. 2004. Kelimpahan dan komposisi
jenis ikan hasil tangkapan bubu di Perairan Gugusan Pulau Kelapa
Kepulauan Seribu JPPI. Edisi Sumber Daya dan Penangkapn. Vol.
10 No.4 Tahun 2004. ISSN 0853-5884.
89
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Hartati ST dan IN Edrus. 2010 Struktur komunitas ikan dan kesehatan
terumbu karang di beberapa wilayah perairan Gugusan Pulau Pari.
Prosiding Nasional Ikan VI dan Kongres Masyarakat Iktiologi
Indonesia III.
Kuiter RH. 1992. Tropical Reef-Fishes of the Western Pacific Indonesia
and Adjacent Waters. Gramedia, Jakarta.
Lazuardi ME, NS Wijoyo, 2000. Perubahan kondisi terumbu karang
di Gugusan Pulau Kelapa, Kepulauan Seribu, Jakarta. Pros. Lok.
Pengelolaan & Iptek Terumbu Karang Indonesia. Jakarta.
Lieske E and R Myers. 1997. Reef Fishes of the World. Jakarta: Periplus
Edition.
Subani W. 1978. Studi Perikanan Muroami Sebagai Penunjang Perikanan
Rakyat. LPPL. Jakarta.
Thomas GT and PJ Kailola. 1984. Trawled Fishes of Southern Indonesia
and Northwestern Australia.
Warsa A dan BI Purnawati. 2010. Kondisi Lingkungan dan terumbu
Karang di Daerah Perlindungan Laut Pulau Pramuka, Kepulauan
Seribu. BAWAL. Widya Riset Perikanan Tangkap. Vol 3 No. 2:
115–121.
90
Status Pemanfaatan Kekerangan
di Perairan Teluk Jakarta dan Sekitarnya
Siti Nuraini*, Prihatiningsih*, Wahyuningsih dan Wejatmiko*
Abstrak
Kajian status sumber daya kekerangan didasarkan hasil penelitian
Teluk Jakarta tahun 1995–2010 dan pada September 2011. Secara umum
perikanan kekerangan bersifat skala kecil dengan alat garuk dan menyelam.
Armada garuk dioperasikan oleh nelayan Cirebon dengan kapal berukuran
9x2x1 m dengan motor diesel dan tempel 17–24PK .
Secara spasial, kekerangan dijumpai di bagian barat Teluk Jakarta yaitu
di perairan Tanjung Kait, di bagian timur dijumpai di perairan Bendera
dan Tanjung Kerawang. Di kawasan pesisir Kamal, Ancol, Marunda, dan
Cilincing ke utara sudah tidak dijumpai kekerangan. Terlihat perubahan
densitas benih kerang secara signifikan dalam waktu 2,5 dekade. Beberapa
jenis kerang ekonomis penting sudah tidak dijumpai. Produksi dan
kelimpahan kekerangan sangat menurun karena berkurangnya daerah
penangkapan dan upaya penangkapan.
Kata kunci : Status pemanfaatan, kekerangan, Teluk Jakarta
* Peneliti pada Balai Penelitian Perikanan Laut Jakarta
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Pendahuluan
Teluk Jakarta secara geografis merupakan bagian dari Laut Jawa
dan secara administratif mencakup tiga provinsi, DKI Jakarta, Banten,
dan Jawa Barat. Perairan Teluk Jakarta termasuk perairan yang terbuka
dengan kedalaman maksimum sekitar 25 m dengan kemiringan dasar laut
ke arah utara semakin dalam dan ke arah pantai semakin dangkal (± 2
m) serta pantai sekitar 21 mil laut. Perairan Teluk Jakarta bermuara di
13 sungai, empat di antaranya adalah sungai besar yaitu Sungai Cisadane
di bagian barat, Sungai Ciliwung bagian tengah, Sungai Citarum dan
Sungai Bekasi pada bagian timur. Endapan hasil sedimentasi yang dibawa
oleh sungai-sungai membentuk delta dengan topografi yang umumnya
lumpur dan pasir. Kondisi topografi perairan pantai yang berlumpur
serta melimpahnya nutrient yang berasal dari run off sungai-sungai yang
bermuara di teluk Jakarta menjadikan kawasan pantai sebagai habitat yang
sesuai bagi kehidupan berbagai jenis kekerangan.
Kekerangan (Bivalvia) mempunyai mekanisme adaptasi yang besar
untuk melangsungkan aktivitas kehidupannya sehingga dapat dijumpai
pada berbagai ekosistem perairan laut. Selain pada ekosistem pantai lumpur
berpasir (estuaria), kekerangan juga dijumpai di bakau dan terumbu
karang. Secara ekonomi kekerangan mempunyai nilai ekonomis yang
rendah, akan tetapi kekerangan dikenal mempunyai kandungan protein
tinggi yang berguna bagi pemenuhan gizi masyarakat dengan harga relatif
murah. Dengan semakin berkurangnya lapangan kerja yang berdampak
meningkatnya pengangguran telah mendorong eksploitasi kerang di
kawasan pantai. Peningkatan penangkapan dan penurunan kualitas
perairan karena buangan limbah (domestik dan industri) di kawasan teluk
menyebabkan penurunan ketersediaan sumber daya baik secara kuantitas
maupun kualitas.
Kekerangan merupakan biota yang menetap (sessile) di dasar perairan.
Hidupnya sebagai pemakan plankton dengan menyaring (filter feeder).
Sebagai biota yang tidak aktif bergerak dan menetap di suatu, kekerangan
seringkali digunakan sebagai indikator pencemaran suatu perairan. Dari
kajian kandungan logam berat (Pb, Hg, Cd, Cu, As) di dalam daging
kerang dara (Anadara granosa) di Tanjung Kait menunjukkan bahwa
kerang masih dalam batas aman untuk dikonsumsi (Murtini dan Ariyani
2005)
92
Status Pemanfaatan Kekerangan di Perairan Teluk Jakarta dan Sekitarnya
Kajian mengenai sebaran, kelimpahan bentos, plankton dan
lingkungannya di perairan Teluk Jakarta sudah banyak dilakukan (Juanita
et al. 2007). Informasi mengenai kelimpahan dan pemanfaatan SD
kekerangan di perairan teluk Jakarta sangat sedikit. Lebih dari 30 jenis
moluska dijumpai di perairan teluk. Saat ini kerang hijau (Perna viridis)
merupakan jenis kerang potensial dan dibudidayakan di Teluk Jakarta
(Anonimous 2005, 2006). Tulisan ini bertujuan untuk memberikan
gambaran mengenai sumber daya beserta pemanfaatannya di perairan
Teluk Jakarta dan sekitarnya.
Bahan dan Metode
Lokasi Penelitian
Perairan Teluk Jakarta merupakan perairan dangkal dengan kedalaman
perairan di setiap stasiun pengamatan berkisar 7,5–25 m. Berdasarkan
hasil pengukuran, diperoleh bahwa sebaran suhu permukaan berkisar
27,45oC–9,30oC dengan rata-rata 28,20 ± 0,32oC. Pada perairan muara
sungai suhu berkisar 28,14oC–30oC. Salinatas berkisar 27,45–31.98 ppm.
Salinitas rendah di jumpai di muara sungai pada musim barat. Kecerahan
di kawasan laut berkisar 1,5–5,5 m. Kecerahan rendah dijumpai dekat
kawasan pantai dan muara sungai. Semakin ke utara, kecerahan semakin
tinggi.
Sumber data
Kajian didasarkan hasil pemantauan Teluk Jakarta bekerjasama dengan
BPLH, DKI dan BRPL tahun 1995–1997, 2004–2010 di perairan Teluk
Jakarta, kajian P3O LIPI tahun 1975–1979 di perairan Teluk Jakarta
dan Kajian BRPL tahun 2006, 2008 di Pulau Pari, Kepulauan Seribu
serta dilengkapi dengan hasil updating data perikanan kerang pada bulan
September tahun 2011 di Kamal dan Cilincing.
Produksi kerang tahunan diperoleh dari hasil wawancara dengan
beberapa pengumpul kerang di tempat pendaratan kerang di Kamal dan
Cilincing serta buku bakul. Musim kerang diasumsikan tiap tahun hanya
3 bulan, dengan demikian produksi dihitung sebagai berikut.
Produksi = Jumlah upaya (jumlah kapal kerang) x trip x tiga bulan.
93
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Gambar 1. Lokasi stasion pengamatan pemantauan perairan Teluk
Jakarta tahun 1995–2011
Hasil
1. Jenis dan kelimpahan kekerangan di perairan laut
Teluk Jakarta
Hasil pengamatan tahun 1977–1978 di perairan Teluk Jakarta
dengan beam trawl dijumpai 103 jenis (Kastoro et al, 1980). Jenis yang
tertangkap antara lain Strombus, Conus, Anadara, Scaparca, Crassostrea,
Paphia, Donax sp., Turitella sp.; jenis dominan tertangkap yaitu Strombus
L. canarium (Gonggong/siput laut), Spondylus S. imperialis, dan Amusium
pleuronectes. Hasil perhitungan keragaman jenis dari tahun 1977 sampai
1979 belum menunjukkan adanya penurunan jumlah jenis. Artinya,
belum ada jenis yang punah dari perairan laut Teluk Jakarta.
94
Status Pemanfaatan Kekerangan di Perairan Teluk Jakarta dan Sekitarnya
Pemantauan makrozoobentos tahun 1995–1997 dengan
menggunakan grab di perairan Teluk Jakarta diperoleh lebih dari 40 jenis
makrozoobentos termasuk di dalamnya benih kerang (Anonimous 1995,
1997; Anonimous 2010). Benih kekerangan yang dijumpai antara lain
kerang bulu dan kerang dara (Anadara spp.), tiram/mata tuju (Crassostrea
sp.), Conus spp., dan kerang tahu (Paphia), Mendosa spp., Gonggong
(Strombus spp.). Pada tahun 1995 sampai 1997, benih kerang (Anadara
spp.) tersebar dan dijumpai pada kawasan pesisir sekitar muara sungai di
sekitar perairan Tanjung Kait (stasion A1, A2, dan B1), muara Sungai
Angke (C2), muara Sungai Ancol (stasion D3), muara Marunda (D6),
dan sekitar Tanjung Gembong (Stasion B5 dan B6). Kepadatan tertinggi
benih kerang darah di perairan teluk Jakarta pada tahun 1995 dijumpai di
muara Sungai Ancol (stasion D3) dengan kepadatan 9.214 ind/m2. Pada
stasiun lainnya, kepadatan berkisar 1 sampai 81 ind/m2. Pada tahun 1996
kepadatan tertinggi dijumpai pada stasion D3 perairan Ancol (81 ind/m2)
dan pada tahun 1997 dijumpai di sekitar perairan Muara Gembong B6
(526 ind/m2). Rata-rata kepadatan kerang darah tahun 1995 diperoleh
415 ind/m2. Pada tahun 1996 rata-rata kepadatannya menurun sebesar
11,5 ind/m2 dan tahun 1997 turun sebesar 100 ind/m2.
Pada tahun 2004 benih Anadara spp. hanya dijumpai di sekitar
perairan Tanjung Kait (B1: 175 ind/m2), A3 (25 ind/m2) dan A4 (254 ind/
m2) serta di muara Ancol (D3:50 ind/m2). Pada tahun 2006 sampai 2010,
benih kerang dara sudah tidak dijumpai lagi di semua stasion pengamatan.
Sebaran kepadatan rata-rata benih kerang Anadara spp. tahun 1995–1997
disajikan pada Gambar 2.
95
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
-5.7
Laut Jawa
-5.8
Tanjung Karawang
Lintang Selatan
-5.9
-6
Tanjung Gembong
-6.1
Muara Gembong
Kepadatan (ind./m2)
-6.2
Muara Kamal
Muara Cengkareng
Muara Sunter
Muara Angke
Muara Karang
Muara Marunda
Muara Cakung
Muara Ancol
4 to 10
10 to 14
14 to 25
-6.3
25 to 65
65 to 2367
-6.4
106.2
106.3
106.4
106.5
106.6
106.7
106.8
106.9
107
107.1
Bujur Timur
Gambar 2. Sebaran densitas Anadara spp. (ind/m2) di perairan laut Teluk
Jakarta pada 1995–1997
Pada Pulau Kongsi dengan ekosistem habitat pasir dan pecahan
karang, di dijumpai 17 jenis bivalvia, termasuk di dalamnya Arciidae,
Lucinidae, Metlynidae, Pinnidae, Tellinidae, Veneridae, Vulsellidae,
Cardidae, Mesodesmatidae, dan Fimbriidae (Supriadi 2003). Jenis yang
mendominasi habitat pasir dan pecahan karang yaitu Arca avellana dan
kerang buel (Codakia tigerina). Kepadatan tertinggi di perairan Pulau
Kongsi dijumpai sebesar 128 ind/m2. Jenis lainnya yang dimanfaatkan
oleh nelayan pesisir Pulau Kongsi dan kepulauan Seribu yaitu kima,
Tridacna gigas, gonggong (Strombus urceus), kapak (Pinna bicolor), mata
tuju, Crassostrea sp., kede (Lambis lambis), kerang bulu (Scaparca pilula,
Isognomon perna, dan Scaparca indica).
Berdasarkan hasil pencatatan harian hasil tangkapan nelayan kerang
yang didaratkan di Dadap dan Kamal, diperoleh kerang bulu (Scaparca
cornea) sebesar 46% dan kerang dara (Anadara nodifera) 39%. Jenis lainnya
96
Status Pemanfaatan Kekerangan di Perairan Teluk Jakarta dan Sekitarnya
yang tertangkap yaitu jenis keong macan (Babylonia sp.), kerang Bambu
Solen sp.), kerang darah (Anadara granosa), kerang gelatik (Anadara sp.),
gonggong (Strombus urseus), Simping (Placuna placenta). Komposisi jenis
hasil tangkapan garuk yang didaratkan di Kamal disajikan pada Gambar
3.
8%
1%2%
4%
46%
39%
Scaparca cornea
A. nodifera
Anadara sp.
Turritella sp.
Strombus canarium
Phaphia undulata
Gambar 3. Komposisi jenis kekerangan di perairan Kamal-Tanjung Kait,
Tangerang Banten pada bulan Agustus–September 2011
2. Aspek Penangkapan
Kerang di perairan Teluk Jakarta dan Kepulauan Seribu dijumpai
pada habitat pasir, lumpur berpasir, dan pasir dengan pecahan karang.
Usaha pemanfaatan kekerangan di perairan Teluk Jakarta dilakukan
dengan alat tangkap garuk, dengan menyelam dan budi daya. Selanjutnya
akan dibahas secara mendalam alat tangkap garuk sebagai alat tangkap
utama kekerangan
2.1. Alat, Daerah, Musim Penangkapan dan Laju Tangkap
Usaha penangkapan kerang di perairan Teluk Jakarta dilakukan oleh
nelayan andon dari Cirebon. Daerah penangkapan armada garuk meliputi
perairan Cirebon, Tangerang, Teluk Jakarta, Tanjung Kait, dan Tanjung
97
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Karawang (Bekasi), Serang (perairan Pontang, Bojonegara, Tengkurak,
Pulau Burung, dan Pabean), dan Lampung. Lamanya trip penangkapan
dalam satu hari (one day fishing) dari jam 05.00 sampai 14.00 atau 17.00.
Dalam satu trip sebanyak 7 sampai 8 tawur. Kapal yang digunakan yaitu
kapal kayu berukuran panjang 8–10 m x 1,8–2 m x 1 m. Mesin penggerak
yang digunakan adalah diesel 16–24 PK. Jumlah ABK 3–4 orang.
Garuk berbentuk segitiga samakaki dan terbuat dari bahan besi yang
dilengkapi dengan kantong jaring dengan tinggi 70 cm. Mulut garuk
berbentuk persegi dengan ukuran panjang 175 cm tinggi 20 cm. Pada
mulut garuk terdapat jari-jari besi dengan panjang 15 cm dan jarak masingmasing jari 2 cm (Gambar 4).
Gambar 4. Garuk alat tangkap kekerangan yang digunakan di perairan
Teluk Jakarta
Penangkapan kerang dilakukan sepanjang tahun. Pola musim
penangkapan dengan garuk tidak menentu, artinya penangkapan tidak
selalu terjadi setiap tahun. Misalnya pada tahun 2009 dan 2010, populasi
kerang kerang Anadara di perairan Teluk Jakarta tidak ada. Musim
penangkapan berlangsung sekitar 3 bulan pada bulan Juli sampai Desember
dengan puncak musim pada bulan Juli.
98
Status Pemanfaatan Kekerangan di Perairan Teluk Jakarta dan Sekitarnya
Laju tangkap (CPUE) dapat digunakan sebagai indeks kelimpahan
sumber daya ikan (kerang) yang menunjukkan jumlah kerang yang
tertangkap di suatu lokasi pada waktu tertentu. Berdasarkan pencatatan
harian tangkapan nelayan garuk yang didaratkan di Dadap dan Kamal
pada bulan Agustus sampai September 2011, dari 101 trip diperoleh hasil
tangkapan sebesar 25,8 ton. Hasil tangkapan kerang per perahu berkisar
6–725 kg per trip dengan rata-rata tangkapan keseluruhan sebesar 255,04
kg/trip. Variasi hasil tangkapan per individu nelayan dapat dilihat pada
Tabel 1 .
Tabel 1. Hasil tangkapan (CPUE: kg/trip) nelayan garuk harian di
perairan Tanjung Kait pada bulan Agustus–September 2011
Nelayan
1
2
3
4
5
6
7
Rata2 CPUE
(kg/trip)
255,0
259,3
376,1
236,2
200,9
175,4
213,8
SD (kg/
CPUE
CPUE
trip)
Maksimum Minimum
88,7143
398
115
113,6327
353
77
134,3870
725
181
100,9421
435
79
88,1069
329
6
104,2107
338,5
33
103,1566
371,5
74
Jumlah
Trip
13
11
23
13
14
17
10
Selain dengan garuk, penangkapan kerang dilakukan dengan
menyelam menggunakan kompresor. Lama trip penangkapan satu hari
(one day fishing). Daerah penangkapan sekitar Tanjung Kait dan Marunda.
Jenis kerang yang ditangkap yaitu kerang kepah/kerang batik (Meritrix
meritrix, Phaphia undulata, Polimedosa) dan kerang bambu (Solen stritus).
Hasil tangkapan harian berkisar 5 kg per trip.
2.2. Produksi
Hasil tangkapan kerang dengan garuk dari perairan Tanjung Kait,
Tanjung Karawang, Teluk Jakarta dan sekitarnya didaratkan di Tanjung
Kait Dadap, Kamal, Tangerang, Tanjung Kait, Kali Adem, Marunda,
99
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Cilincing. Penangkapan kerang dikelola oleh pengumpul kerang. Jumlah
armada garuk yang menangkap kerang sangat bervariasi jumlahnya. Pada
saat produksi melimpah, jumlah armada meningkat dan sebaliknya.
Jumlah pengumpul dan kapal yang digunakan disajikan pada Tabel 2 dan
perkembangan produksi kerang disajikan pada Tabel 3.
Tabel 2. Lokasi pendaratan kerang, jumlah pengumpul dan perkiraan
jumlah armada garuk di perairan Teluk Jakarta tahun 2011
Lokasi Pendaratan
Jumlah Pengumpul
Dadap, Kamal
Cilincing
Kali Adem
Tanjung Pasir
3
4
4
10
Jumlah Perahu
Musim
Tidak Musim
60
10
34
14
4
2
60
20
Didasarkan data hasil wawancara dengan pengumpul dan nelayan
garuk di Kamal dan Cilincing, perkembangan produksi kerang Anadara
dan kerang tahu pada tahun 1995 hingga 2011 menunjukan penurunan
produksi yang signifikan (Tabel 3).
Tabel 3. Estimasi perkembangan produksi kerang Anadara dan kerang
tahu di perairan Teluk Jakarta pada tahun 1995–2011
Periode tahun
1995–2000
2001–2003
2004–2005
2006–2008
2011
100
Rata-rata
perahu
100
100
100
50
30
Rata-rata Laju
tangkap (kg/trip)
250–2.000
250–1.000
200–500
150–400
100–350
Produksi (ton)
12.850
6.530
2.740
1.205
310
Status Pemanfaatan Kekerangan di Perairan Teluk Jakarta dan Sekitarnya
Penurunan produksi kerang ini sejalan dengan berkurangnya jumlah
benih kerang Anadara dari stasion pengamatan di perairan Teluk Jakarta.
Pada tahun 1995–1997, benih masih tercatat melimpah. Menghilangnya
benih kerang di perairan muara dan Teluk Jakarta pada tahun 2005–2006
diduga disebabkan tingginya intensitas penangkapan kerang. Pada 2–3
dekade yang lalu, hasil tangkapan kerang bulu di perairan Kamal dan
sekitarnya dapat mencapai 2–3 ton per perahu per hari, hasil tangkapan
menurun sebesar 400–500 kg per perahu per hari pada tahun 2005. Selain
itu, penurunan produksi disebabkan berkurangnya daerah penangkapan
karena konflik dengan nelayan jaring rajungan. Selain tekanan penangkapan,
penyebab punahnya benih kerang di hampir semua perairan Teluk Jakarta
diduga karena penurunan kualitas air (pencemaran limbah industri dan
domestik). Penurunan kualitas air dapat menyebabkan kematian kerang
karena kerusakan hati dan insang kerang hijau (BRPL 2006).
3. Struktur Ukuran
Hasil analisis data frekuensi panjang jenis kerang dominan yaitu
kerang dara (Anadara nodifera) dan kerang bulu A. cornea (synonym A.
inaequivalvis), kerang batik/kerang tahu (Paphia undulata, Meritrix
meritrix) diperoleh:
• Kerang bulu (Scaparca cornea) (synonym A. inaequivalvis)
Kerang bulu tertangkap di perairan Teluk Jakarta pada bulan
September 2011 dengan ukuran 18,93–40,88 mm. Pada Gambar 5
terlihat 2 modus pada panjang 26 cm dan 32 cm. Berdasarkan kurva
logistik sebaran frekuensi panjang, pada posisi 50% rata-rata ukuran
tertangkap dengan garuk di perairan Tanjung Kait, Teluk Jakarta,
Lc50% = 28 mm.
101
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Kerang bulu, Scaparca cornea
25
Frek (% )
20
15
10
5
0
18
20
22
24
26
28
30
32
34
36
38
40
Panjang (mm)
Kerang bulu, Scaparca cornea
% Cum catch
100
75
50
25
0
18
20
22
24
26
28
30
32
34
36
38
40
Panjang (mm)
Gambar 5. Struktur ukuran dan % kumulatif sebaran frekuensi
panjang kerang bulu (Scaparca cornea) yang didaratkan di
Kamal pada bulan September 2011 (Lc50% = 28 mm)
• Kerang dara (Anadara nodifera)
102
Pada bulan September 2011, kerang dara (Anadara nodifera)
merupakan jenis kerang yang banyak tertangkap di perairan Teluk
Jakarta saat ini. Kerang yang tertangkap berukuran lebih kecil
(21,95–28,03 mm). Modus dijumpai pada panjang 25 mm (Gambar
6). Berdasarkan kurva logistik sebaran frekuensi panjang, pada posisi
50% rata rata ukuran tertangkap dengan garuk di perairan Tanjung
Kait, teluk Jakarta, Lc50% = 24,33 mm. (Gambar 6).
Status Pemanfaatan Kekerangan di Perairan Teluk Jakarta dan Sekitarnya
Kerang darah, Anadara nodifera (n:100)
30
F rek (%)
25
20
15
10
5
0
21
22
23
24
25
26
27
28
Panjang (mm)
Kerang darah, Anadara nodifera
Cu m m . C atch (% )
100
75
50
25
0
21
22
23
24
25
26
27
28
Lebar (mm)
Gambar 6.Struktur ukuran (a) dan % kumulatif sebaran frekuensi
panjang (b) kerang darah (Anadara nodifera) yang
didaratkan di Kamal pada bulan September 2011 (Lc50% =
24,33mm)
• Kerang tahu (Paphia undulata)
Kerang tahu merupakan kerang yang banyak tertangkap di perairan
yang dangkal di kawasan Teluk Jakarta (Tanjung Kait, muara Sungai
Blencong, Marunda). Kerang yang tertangkap berukuran 37,04–
51,02 mm. Modus dijumpai pada panjang 44 mm. Berdasarkan
kurva logistik sebaran frekuensi panjang, pada posisi 50% rata rata
103
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
ukuran kerang tertangkap dengan garuk di perairan tanjung Kait,
teluk Jakarta, Lc50% =43,0 mm. (Gambar 7). Kerang yang tertangkap
di atas nilai Lm (length at first maturity).
Phaphia undulata (88)
35
F rek (% )
28
21
14
7
0
36
38
40
42
44
46
48
50
52
Panjang (mm)
Kerang tahu, Phapia undulata
% C u m C atch
100
75
50
25
0
36
38
40
42 44 46 48
Panjang (mm)
50
52
Gambar 7. Struktur ukuran dan % kumulatif sebaran frekuensi
panjang kerang tahu, Phaphia undulata yang didaratkan
di Kamal pada bulan September 2011 (Lc50% = 43mm)
• Kerang batik, Meritrix lyrata
104
Kerang batik Meritrix lyrata merupakan kerang yang hidupnya
menggerombol yang banyak tertangkap di perairan yang dangkal di
kawasan Teluk Jakarta (Tanjung Kait, muara S. Blencong, Marunda).
Kerang yang tertangkap berukuran 31,27–41,87 mm. Modus dijumpai
Status Pemanfaatan Kekerangan di Perairan Teluk Jakarta dan Sekitarnya
pada panjang 33–35 mm. Berdasarkan kurva logistik sebaran frekuensi
panjang, pada posisi 50% rata rata ukuran tertangkap dengan garuk di
perairan tanjung Kait, teluk Jakarta, Lc50% =33,9 mm (Gambar 8).
Kerang batik, M. lyrata (n:101)
25
F re k (% )
20
15
10
5
0
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
Panjang (mm)
Kerang batik, Meritrix lyrata
Cum m . catch (% )
100
75
50
25
0
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
Panjang (mm)
Gambar 8. Struktur ukuran dan % kumulatif sebaran frekuensi
panjang kerang batik (Meritrix lyrata) yang didaratkan di
Kamal pada bulan September 2011 (Lc50% = 33,9 mm)
Kesimpulan
1. Jenis kerang mengalami penurunan jumlah, dari 103 jenis tahun 1977
menjadi 40 jenis pada tahun 1995. Jenis kerang dara dan kerang bulu
(Anadara spp.) punah dari stasion pengamatan pada tahun 2006.
105
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
2. Indeks kelimpahan stok kerang di Teluk Jakarta telah mengalami
penurunan dan hal ini mengindikasikan telah terjadi overfishing dalam
pemanfaatannya.
3. Daerah penangkapan kerang pada saat ini semakin menyempit hanya
di sekitar Tanjung Kait, yang diakibatkan karena pencemaran dan
konflik dengan nelayan rajungan.
Daftar Pustaka
Andamari R dan W Ismail. 1983. Telaah produksi kerang hijau (Perna
viridis, L.) di pantai Ketapang, Mauk, Tangerang. Lap. Balai Penelitian
Perikanan Laut Jakarta, Vol.6 : 21–28
Anonimus. 1995–1997. Laporan Hasil pemantauan Perairan Teluk
Jakarta dan Muara Sungai . Balai Penelitian Perikanan Laut. Laporan
intern.
Annimous. 2005–2010. Laporan Hasil Pemantauan Perairan Teluk
Jakarta dan Muara Sungai. Balai Riset Perikanan Laut.
Juanita II, ST Hartati dan Prihatiningsih. 2006. Perkembangan Kondisi
Sumber daya Kerang Hijau (Perna viridis) di Perairan Teluk Jakarta.
Kastoro W, A Djamali, dan SoedibyoBS. Penelahaan tentang Komunitas
Moluska di Perairan Teluk Jakarta. Dalam Teluk Jakarta. Pengkajian
Fisika, Kimia, Biologi dan Geologi tahun 1975-1979.hal.: 249–269
Murtini JT dan F Ariyani. 2005. Kandungan Logam Berat Kerang Dara
(Anadara granosa) dan Kualitas Perairan di Tanjung Pasir, Jawa Barat.
JPPI vol.11 no. 8
Supriadi D. 2003. Struktur komunitas Bivalvia di Daerah Pasang Surut
Pulau Kongsi, Kab. Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Skripsi. Fak.
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Pakuan
Bogor.49 hal.
106
Aspek Penangkapan dan Biologi
Rajungan (Portunus Pelagicus Linn)
di Perairan Teluk Jakarta
Bambang Sumiono 1), Karsono Wagiyo 2), Duranta Kembaren 2),
dan Prihatiningsih 2)
Abstrak
Perairan Teluk Jakarta merupakan salah satu daerah penangkapan
sumber daya rajungan penting di pantai utara Jawa. Jaring insang dan bubu
merupakan alat tangkap rajungan yang banyak digunakan. Penelitian tentang
perikanan rajungan di perairan Teluk Jakarta telah dilakukan pada tahun
2007–2009. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh data
dan informasi tentang alat penangkapan, laju tangkap, ukuran individu dan
beberapa faktor lingkungannya. Pengumpulan data dengan cara mengikuti
kegiatan nelayan setempat dan pengumpul rajungan di pantai utara Tangerang
dan Jakarta serta di Pula Lancang, Pulau Pramuka dan Pulau Kelapa. Alat
tangkap utama untuk menangkap rajungan adalah jaring rajungan (lokal:
kejer) dan bubu lipat, sedangkan sero dan bagan digunakan untuk hasil
tangkapan ikutan. Produksi rajungan cenderung menurun sejak tahun 2006.
Pada bulan April–Mei 2007, laju tangkap rajungan tertinggi (23 kg/hari)
terdapat pada bubu lipat, diikuti oleh jaring rajungan, sedangkan terkecil
(3,25 kg/hari) terdapat pada bagan tancap. Rata-rata ukuran rajungan yang
1) Peneliti pada Pusat Penelitian Pengelolaan Perikanan dan Konservasi Sumber Daya Ikan.
Jalan Pasir Putih I, Ancol Timur. Jakarta-14440
2)Peneliti pada Balai Penelitian Perikanan Laut. Jln. Muarabaru Ujung. Jakarta-14430
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
tertangkap dengan jaring insang relatif lebih besar. Hubungan lebar karapasberat individu bersifat isometrik yang berarti pertambahan panjang sebanding
dengan pertambahan beratnya.
Kata Kunci: rajungan, alat tangkap, biologi, Teluk Jakarta
Pendahuluan
Rajungan (Portunus pelagicus Linn) tergolong hewan yang hidup di
dasar laut dan berenang ke dekat permukan laut untuk mencari makan,
sehingga disebut pula swimming crab atau blue swimming crab yang artinya
kepiting perenang. Dalam perdagangan dibedakan dengan kepiting bakau
(Scylla serrata) yang lebih banyak diam di dasar perairan sekitar bakaubakau. Stephenson (1962) dan Kailola et al. (1993) menyebutkan bahwa
penyebaran rajungan terutama terdapat di daerah estuaria dan pantai di
kawasan Asia dan Pasifik Barat. Menurut Bussiness News (1989), di antara
berbagai jenis rajungan dan kepiting di Indonesia, Portunus pelagicus
merupakan salah jenis yang mempunyai nilai ekspor yaitu dalam bentuk
beku segar tanpa kulit atau daging rajungan dalam kaleng.
Menurut DKP (2007), pada tahun 2000–2005 ekspor rajungan
menempati urutan keempat dalam volume dan nilai ekspor perikanan dari
Indonesia setelah komoditi udang, tuna, dan ikan lainnya. Peningkatan
nilai ekspor rajungan rata-rata sebesar 8,79% per tahun. Sampai dengan
akhir 2005, pangsa pasar utama komoditas perikanan Indonesia adalah
Jepang, diikuti oleh Amerika (USA) dan Uni Eropa (UE). Ditinjau dari
nilai ekspor menurut negara tujuannya, sejak tahun 2004 pangsa pasar ke
USA lebih baik daripada Jepang.
Data dan informasi tentang perikanan rajungan di Indonesia masih
belum banyak diperoleh. Sementara menurut Asosiasi Pengusaha Rajungan
Indonesia (APRI), dalam lima tahun terakhir ini volume ekspor rajungan
cenderung menurun yang diikuti oleh menurunnya ukuran (size) individu
rajungan. Eksploitasi yang tidak terkontrol disertai dengan perubahan
lingkungan perairan ditengarai penyebab menurunnya populasi rajungan
di alam. Menurut Antara News (2008) produksi rajungan di daerah
108
Aspek Penangkapan dan Biologi Rajungan (Portunus Pelagicus Linn) di Perairan Teluk Jakarta
Cirebon cenderung menurun sejak tahun 2000. Penurunan itu diikuti
oleh semakin banyaknya ukuran rajungan relatif kecil (lebih dari 100 ekor
per kg).
Penelitian oleh Moosa dan Juwana (1996) dan Sumiono (1997)
menyebutkan daerah penyebaran rajungan di Indonesia terutama terdapat
di pantai timur Sumatera, pantai utara Jawa, dan Sulawesi Selatan. Perairan
Teluk Jakarta merupakan salah satu penghasil rajungan yang cukup
penting di utara Jawa selain Labuhan, Cirebon, Brebes, dan Rembang. Di
Teluk Jakarta rajungan dikenal sebagai salah satu komoditas sumber daya
yang dominan tertangkap setelah ikan petek, teri dan tembang, di mana
kegiatan penangkapannya dilakukan oleh nelayan tradisional. Alat tangkap
ikan yang telah berkembang di kawasan pantai Teluk Jakarta antara lain
sero, bagan, jaring rampus, jaring dogol, jaring arad, sero, pukat, bubu,
dan bondet (Karsono et al. 2006 )
Sesuai dengan sifat rajungan, bahwa sebagian besar suka berada di
dasar atau dekat dasar perairan, alat tangkap yang digunakan adalah jenis
alat yang dioperasikan sampai ke dasar perairan, antara lain jaring insang
(gillnet), pukat pantai (beach seine), dan bubu (trap net). Efektivitas dan
daya tangkap alat tangkap berbeda menurut desain alat tangkap, bahan
baku dan cara pengoperasiannya (Nomura 1974; Sumiono dan Widodo
1987). Bangsa Krustasea yang terdiri dari udang, kepiting, dan rajungan
dapat tertangkap oleh jaring karena terpuntal (gilled) oleh tonjolantonjolan atau gerigi pada permukaan tubuhnya.
Daerah yang disenangi adalah habitat lumpur campur pasir.
Selanjutnya Prasad dan Tampi (1953) dalam Moosa dan Juwana (1996)
menyatakan bahwa rajungan dapat hidup di perairan dengan suhu dan
salinitas yang bervariasi. Stadia burayak (yuwana) terdapat di daerah
dengan kadar salinitas rendah dan seterusnya berkembang menjadi
dewasa yang memerlukan salinitas relatif tinggi. Romimohtarto (1977)
mengemukakan rajungan terdapat di perairan Teluk Jakarta dan Pulau
Pari pada suhu rata-rata 29,18oC dengan salinitas rata-rata 31,36 ppt.
Tulisan ini membahas secara ringkas tentang perikanan rajungan di
perairan Teluk Jakarta meliputi aspek perikanan (dekripsi alat tangkap,
laju tangkap, dan daerah penyebaran) dan aspek biologi (ukuran lebar
karapas, berat individu, dan sex ratio).
109
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Bahan dan Metode
Penelitian rajungan (Portunus pelagicus Linn) di perairan Teluk Jakarta
dilakukan pada tahun 2007–2009. Pengumpulan data dilakukan dengan
cara mengikuti kegiatan nelayan penangkap rajungan di laut dengan
berbagai alat tangkap serta pengumpulan data dan wawancara dengan
pengumpul rajungan di utara Tangerang, Jakarta, dan Kepulauan Seribu
(Pula Lancang, Pulau Pramuka, dan Pulau Kelapa).
Analisis hubungan lebar karapas-berat rajungan ditunjukkan dengan
persamaan sebagai berikut (Bal dan Rao 1984):
W = aLb. .............................................................................................. (1)
Dimana : W = berat rajungan (gram); L = lebar karapas (mm); a =
intercept (faktor kondisi) dan b = slope (koefisien pertumbuhan)
Jika:
b = 3 :Pertumbuhan bersifat isometrik (pertumbuhan panjang sebanding
dengan pertumbuhan berat).
b < 3 :Pertumbuhan bersifat alometrik negatif (pertumbuhan panjang
lebih cepat dari pertumbuhan berat).
b > 3 :Pertumbuhan bersifat alometrik positif (pertumbuhan berat lebih
cepat dari pertumbuhan panjang)
Untuk mengetahui apakah nilai b yang diperoleh lebih besar, sama
dengan, atau lebih kecil dari 3 digunakan uji t:
¦d
2
S xy
110
¦ xy ¦y x
¦
2
2
xy
2
2
¦d
2
xy
n2
................................................................ (2)
. ................................................................................ (3)
Aspek Penangkapan dan Biologi Rajungan (Portunus Pelagicus Linn) di Perairan Teluk Jakarta
Sb 2
S 2 xy ........................................................................................ (4)
¦ x2
sb 2 .......................................................................................... (5)
3b
. .................................................................................... (6)
Thitung
Sb
Di mana:
Sb
Sb= simpangan baku dari b
Uji tabel dalam taraf nyata 95% (n-2)
Hipotesa
Ho : b=3 (isometrik)
Hi: b ≠ 3 (alometrik positif atau negatif)
t hitung > t tabel = beda nyata (tolak Ho terima Hi)
t hitung < t tabel = tidak berbeda nyata (terima Ho tolak Hi)
Hasil dan Pembahasan
1. Daerah Penangkapan
Penangkapan dengan bubu rajungan dilakukan di sekitar Muara
Angke, perairan utara Cilincing, dan Kepulauan Seribu (sekitar Pulau
Lancang, Pulau Pramuka). Penangkapan dengan gillnet monofilemen
(lokal: jaring rajungan) dilakukan di perairan sekitar Pulau Onrust, Pulau
Bidadari hingga ke Pulau Untung Jawa dengan kedalaman perairan antara
5–15m (Gambar 1). Daerah penangkapan rajungan dengan menggunakan
sero bambu dan bagan tancap lebih banyak terdapat di daerah pantai
dengan kedalaman relatif lebih dangkal (Gambar 2). Menurut Kailola et
al. (1993), rajungan dewasa dapat dijumpai pada kedalaman antara 30–
50m.
111
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
5.92
SKALA 1 : 50000
1
5
2
4
11
8
2
6.00
5
94
10
5
8
10
6.08
Lokasi aktivitas tangkap
6.17
106.67
Bubu. rajungan
Gillnet rajungan
106.75
106.83
106.92
107.00
Gambar 1. Daerah penangkapan rajungan dengan menggunakan bubu
dan gillnet rajungan di perairan Teluk Jakarta
Bagan
Sero
.
Gambar 2. Daerah penangkapan rajungan dengan menggunakan sero dan
bagan di perairan Teluk Jakarta
112
Aspek Penangkapan dan Biologi Rajungan (Portunus Pelagicus Linn) di Perairan Teluk Jakarta
Perbedaan ukuran rajungan yang tertangkap erat kaitannya dengan
lokasi daerah penangkapan rajungan. Lokasi sero dan bagan terletak di
daerah muara sungai atau perairan pada kedalaman kurang dari 5 meter.
Daerah penangkapan rajungan dengan menggunakan bubu dan gillnet
terletak lebih ke tengah (arah utara dari Teluk Jakarta) pada kedalaman
lebih dari 30 m. Menurut Bellchambers dan de Lestang (2005), perairan
Estuaria merupakan daerah asuhan rajungan, artinya rajungan yang
tertangkap di perairan ini merupakan rajungan muda dan umumnya
berukuran kecil. Dalam pertumbuhannya, rajungan akan beruaya ke
perairan lebih dalam untuk melakukan pemijahan.
2. Alat Tangkap
2.1 Bubu lipat rajungan (collapsible traps)
Kegiatan penangkapan rajungan dengan bubu dilakukan secara harian
(one-day fishing) maupun lebih dari sehari (antara 4–5 hari). Kapal dengan
panjang 6 m, lebar 2,8 m, tinggi 1,5 m dengan kekuatan mesin 22 DK
digunakan untuk transportasi ke dan dari daerah penurunan bubu. Bahan
utama bubu adalah kawat, jaring polyethelene (PE), dan tali (Gambar 3).
Jumlah bubu dalam satu unit dapat mencapai 200 buah dengan jarak antar
bubu sekitar 10 meter. Setiap 100 bubu diberi pelampung berbendera.
Umpan yang digunakan adalah potongan ikan.
113
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Mulut bubu
Gambar 3. Bubu rajungan yang digunakan perairan di Teluk Jakarta
Keterangan:
Merupakan setengah dari panjang bubu; (B) Lebar bubu ; (C) Tinggi bubu; (D) Jarak antara
dasar bubu dengan tempat masuknya rajungan mulut bubu ; (E) Jarak antara atas ujung bubu
dengan mulut bubu; (F) Jarak antara bawah ujung bubu dengan mulut bubu; (G) Tempat
gantungan umpan; (H) Kunci penutup.
2.2 Jaring rajungan (Monofilament gillnet)
Jaring rajungan (lokal: kejer) dengan mata jaring berukuran 4 inci,
bersifat tidak selektif terhadap rajungan, karena prinsip tertangkapnya
rajungan adalah secara terbelit/terpuntal (entangled) oleh adanya tonjolan
atau duri-duri di sebagian tubuhnya. Sebaliknya, bila ditujukan untuk
menangkap ikan, jaring kejer bersifat selektif (Hamley 1975; Nomura
dan Yamazaki 1975; Fridman dan Carrothers 1986 ;Kawamura 1972;
114
Aspek Penangkapan dan Biologi Rajungan (Portunus Pelagicus Linn) di Perairan Teluk Jakarta
Matsuoka 1995). Menurut kriteria Sarman (1998) dalam Susanto (2007),
gillnet yang ditujukan untuk menangkap rajungan atau kepiting dapat
dikategorikan sebagai alat tangkap tidak ramah lingkungan.
Deskripsi unit jaring rajungan milik nelayan Muara angke terdiri
dari tali ris atas, tali ris bawah (bahan PE diameter 0,8–1,3 mm), badan
jaring (nilon monofilamen berdiameter 0,20 mm) dengan ukuran mata
jaring (mesh size) sebesar 4 inci (Gambar 4). Penangkapan pada umumnya
berlangsung pada malam hari dengan setting sebanyak 4 kali. Trip
penangkapan dilakukan selama satu hari (one-day fishing).
42m
Pelampung karet
n = 16 buah
PA monofilament
Mesh size 4,0 inci
0.8m
Pemberat timah (n=20),
Berat total 4 kg
Gambar 4. Rancang bangun 1 pis jaring kejer di daerah Muara Angke
(Jakarta Utara)
2.3. Sero (Guiding barrier)
Sero jaring merupakan alat penangkapan ikan yang dioperasikan di
daerah perairan pantai. Alat ini bersifat menetap (stationary) dan berfungsi
sebagai perangkap (trap) bagi ikan-ikan yang melakukan gerakan ke pantai
atau ikan-ikan yang habitatnya di pantai. Sero dipasang dengan cara
ditancapkan menggunakan bambu, pada kedalaman antara 1,5 sampai 3
m. Bahan yang digunakan adalah waring ukuran 4 mm dan tali ris atas PE
Ø 3mm (Gambar 5).
115
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Bambu
Jarak 1 m
2.5 m
Penaju
100 m
5m
1m
Bambu
Jarak 3 m
50 m
Sayap
20 m
5m
5m
Bunuhan
3m
2.5 m
Gambar 5. Rancang bangun sero jaring di perairan Teluk Jakarta
2.4 Bagan (Lift nets)
Bagan yang dioperasikan di perairan sekitar Pulau Lancang adalah
bagan tancap. Rumah bagan terbuat dari kayu pinang berjumlah 50
batang yang saling diikat menggunakan tali tambang dan kawat, disusun
membentuk piramida dengan sisi bidang atas 11 x 11 m, dan bidang
bawah berukuran 10 x 10 m. Rumah bagan berdiri pada rakit bambu yang
terdapat pada kedua sisi bawah yang berlawanan, dengan pelampung dari
drum plastik dan pemberat sehingga posisi bagan tidak berpindah. Bidang
datar bagian atas berupa pelataran yang berfungsi sebagai tempat nelayan
melakukan kegiatan dan pada salah satu bagian sisinya disediakan alat
penggulung (roller) untuk menurunkan dan mengangkat jaring (Gambar
6).
116
Aspek Penangkapan dan Biologi Rajungan (Portunus Pelagicus Linn) di Perairan Teluk Jakarta
(Dokumentasi Hartati 2009)
Gambar 6. Satu unit bagan tancap yang beroperasi di perairan Pulau
Lancang
3. Pemanfaatan dan Produksi
Pada umumnya bagian yang dimanfaatkan dari rajungan adalah
dagingnya. Cangkang (karapas) rajungan dapat digunakan sebagai bahan
campuran pembuatan lantai keramik, barang hiasan atau campuran
pakan ternak. Proses perebusan dan pengambilan daging rajungan serta
pengepakan menurut bagian tubuh rajungan banyak dilakukan oleh tenaga
kerja wanita. Menurut Romimohtarto dan Djamali (1998), sejak tahun
1992 proses perebusan rajungan sudah banyak dilakukan di desa Bondet,
Cirebon. Daging rebus yang sudah dipisah menurut beberapa bagian
rajungan di distribusikan ke perusahaan pengekspor daging rajungan.
Produk daging rajungan terdiri dari beberapa macam, yaitu:
• Collosal, adalah bagian paha rajungan paling atas, dagingnya kenyal,
dan rasanya paling enak, mempunyai harga jual yang paling mahal.
• Jumbo atau Super, adalah daging dari bagian badan yang berhubungan
langsung dengan kaki renang, berwarna putih, rasanya manis,
strukturnya padat dan kompak, mempunyai harga hampir sama
dengan kategori collosa.
117
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
• Special adalah sisa daging berupa serpihan dari bagian cangkang
rajungan, umumnya berwarna putih.
• Clawmeat adalah daging rajungan yang diperoleh dari bagian kaki
capit, kaki jalan atau kaki renang. Dagingnya berwarna khas yaitu
merah terang atau kecoklatan.
• Lump, adalah daging yang diperoleh dari bagian dada rajungan dan
umumnya berwarna putih. Beberapa miniplan membagi lagi menjadi
Lump Flower, Lump Backfin (bagian/pecahan dari daging Jumbo), dan
Super Lump (bagian dada rajungan yang berwarna putih).
Di wilayah Teluk Jakarta terdapat beberapa tempat pendaratan
rajungan/pedagang pengumpul rajungan, antara lain terdapat di Rawa
Saban (Tangerang), Muara Kamal, Kali Adem, Ancol, dan Cilincing. Di
pulau Seribu antara lain terdapat di Pulau Lancang dan Pulau Kelapa.
Berdasarkan data Asosiasi Pengusaha Rajungan Indonesia (APRI),
produksi daging rajungan dari pedagang pengumpul Teluk Jakarta terdiri
dari masing-masing bagian rajungan yang bervariasi setiap tahunnya.
Bagian yang paling banyak diproduksi adalah clawmeat dan special meat.
Pada tahun 2002–2008 total produksi daging rajungan bagian clawmeat
mencapai 307.630,8 ton atau 43.947,3 ton/tahun (31,9% dari berat total
daging rajungan). Sementara itu, produksi bagian special meat mencapai
218.067,3 ton atau 31.352,5 ton/tahun (22,6%). Perkembangan
produksi daging rajungan menurut bagiannya selama tahun 2002–2008
dikemukakan pada Gambar 7.
Menurut pengusaha (pedagang pengumpul) rajungan, nilai konversi
dari daging rajungan terhadap berat seekor rajungan tidak sama untuk
setiap lokasi penangkapan. Konversi dari berat daging rajungan terhadap
berat seekor rajungan berkisar 30%–32%, artinya berat daging sekitar
sepertiganya berat seekor rajungan utuh.
118
Produksi (kg)
Aspek Penangkapan dan Biologi Rajungan (Portunus Pelagicus Linn) di Perairan Teluk Jakarta
200,000
2
1
180,000
1
160,000
1
140,000
1
120,000
1
100,000
80,000
60,000
40,000
20,000
0
Cocktail Claw
w
Clawmeat
Special
Super Lump
Lump/ Flowerr
i
Lump/ Backfiin
20
002 2003 2004 2005 2006
2
2007 2008
Tahun
Gambar 7. Produksi daging rajungan menurut bagiannya dari pedagang
pengumpul di Teluk Jakarta, 2002–2008
Pada daerah dengan hasil tangkapan berukuran kecil, nilai konversi
tersebut berkisar 20%–22%. Bila nilai konversi 30% digunakan untuk
mengestimasi produksi rajungan di Teluk Jakarta, selama tahun 2002–
2008 produksi tertinggi (606 ton) terdapat pada tahun 2006, diikuti
dengan penurunan pada tahun berikutnya (Gambar 8).
700.0
7
606,0
Produksi (ton)
600.0
6
500.0
5
400.0
4
537,7
529,5
515,1
439,0
301,1
300.0
3
200.0
2
283,0
100.0
1
0.0
2002
2003
2
2004
200
05
2006
2007
2008
Tahun
Gambar 8. Estimasi produksi rajungan dari pedagang pengumpul di Teluk
Jakarta, 2002–2008
119
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
4. Komposisi Jenis dan Laju Tangkap
Hasil tangkapan bubu rajungan di perairan Kepulauan Seribu (Pulau
Lancang, Pulau Pramuka dan Pulau Kelapa) pada bulan April–Mei
2007 berkisar 2–80 kg/kapal/hari atau rata-rata 40 kg/kapal/hari. Hasil
tangkapan bubu rajungan yang didaratkan di pantai utara TangerangJakarta lebih sedikit, berkisar 5,0–7,0 kg, atau rata-rata 6 kg/hari. Dengan
demikian, laju tangkap rajungan di Teluk Jakarta berkisar 6–40 kg/hari.
Rajungan yang tertangkap di perairan Pulau Lancang umumnya berukuran
lebih besar (kualitas ekspor). Hasil tangkapan rajungan sekitar 80% dari
total hasil tangkapan bubu. Selain rajungan, diperoleh tangkapan ikutan,
antara lain ikan buntal (Lagocephalus inermis), kerapu (Epinephelus spp.),
ikan lidah (Cynoglosus spp.), cumi-cumi (Loligo sp.), udang jerbung, dan
udang kipas.
Hasil tangkapan rajungan dengan gillnet monofilamen sebagian besar
berkisar 5–11 kg/hari atau rata-rata 8 kg/hari. Hasil tangkapan ikan lainnya
yaitu ikan petek (Leighnathus spp.), kembung (Rastreliger brachysoma),
tembang (Clupeidae), beronang (Siganus spp.), dan gulamah (Johnius
spp.). Hasil tangkapan rajungan pada alat sero berkisar 6–10 kg/unit/hari,
sedangkan dengan bagan rata-rata kurang dari 5,0 kg/unit/hari (Tabel 1).
Ukuran rajungan pada penangkapan dengan sero dan bagan relatif kecil.
Tabel 1. Hasil tangkapan rajungan (Potunus Pelagicus) pada beberapa
alat tangkap di Teluk Jakarta, April–Mei 2007
Jenis alat
120
Total
Total rajungan
tangkapan (kg/
(kg/unit/hari)
unit/hari)
Rata-rata
rajungan (kg/
unit/hari)
Ikan dan biota
lain
Sero
120
4,0–10,0
7,0
Ikan
petek,baronang,
udang
Bagan
25,0
1,5–5,0
3,25
Petek, gulamah,
kembung,cumi
Bubu
lipat
7,5–50
6,0–40,0
23,0
Ikan gulamah,
kerapu, udang
kipas
Jr.
rajungan
7–16
5,0–11,0
8,0
Ikan petek,
gulamah,
kembung
Aspek Penangkapan dan Biologi Rajungan (Portunus Pelagicus Linn) di Perairan Teluk Jakarta
5. Hubungan Sebaran Karapas dan Berat
Pengukuran terhadap 3.843 ekor rajungan hasil tangkapan jaring
rajungan (lokal: jaring kejer) dan 406 ekor rajungan hasil tangkapan sero
pada tahun 2008 dikemukakan pada Tabel 2. Dari Tabel tersebut tampak
secara umum ukuran rajungan hasil tangkapan jaring rajungan lebih
besar daripada hasil tangkapan sero. Ukuran lebar karapas rajungan hasil
tangkapan jaring rajungan berkisar 53–136 mm. Untuk hasil tangkapan
garuk, ukuran lebar karapas rajungan berkisar 50–119 mm. Besar kecilnya
ukuran rajungan yang tertangkap berkaitan dengan ukuran mata jaring
(mesh size) alat tangkap yang digunakan dan lokasi penangkapan. Ukuran
mata jaring pada jaring kejer sebesar 4 inci dan ukuran bagian kantong
pada sero sebesar 2 mm (waring). Rajungan hasil tangkapan jaring
umumnya sudah dalam stadia dewasa.
Hubungan lebar karapas dan berat rajungan hasil tangkapan
jaring kejer diperoleh nilai b = 3,089 untuk jenis jantan dan b = 3,052
untuk betina. Setelah dilakukan perhitungan nilai uji-t pada taraf 95%
dengan derajat bebas (n-2), diperoleh nilai thitung masing-masing lebih
kecil dari ttabel (significant), yang berarti tidak berbeda nyata (terima Ho).
Dengan demikian, nilai b untuk rajungan sama dengan 3 (b=3) atau
bersifat isometrik, artinya pertambahan lebar karapas sebanding dengan
pertambahan beratnya (Gambar 9).
Tabel 2. Data lebar karapas dan berat rajungan hasil tangkapan jaring
rajungan dan sero di perairan Teluk Jakarta, Maret–Agustus
2008
Jaring rajungan (gillnet) Sero (guiding barrier)
Parameter
Jantan
Betina
Jantan
Betina
(Male)
(Female)
(Male)
(Female)
Jumlah sampel
2.228
1.615
279
127
Sex ratio
1,4
1
2,1
1
Lebar karapas (mm)
Minimum
53
59
54
50,8
Maksimum
136
126
119,1
116
Rata-rata
94,2
93
81,9
85,2
Std. Dev.
0,98
1,05
15,41
14,76
121
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Tabel 2. Data lebar karapas dan berat rajungan hasil tangkapan jaring
rajungan dan sero di perairan Teluk Jakarta, Maret–Agustus
2008 (lanjutan)
Jaring rajungan (gillnet) Sero (guiding barrier)
Jantan
Betina
Jantan
Betina
(Male)
(Female)
(Male)
(Female)
10
10
10
180
122
100
49,5
45,6
37,2
17,39
15,69
22,61
Parameter
Berat (gram)
Minimum
Maksimum
Rata-rata
Std. Dev.
200
JantanJantan
180
y = 0,053x3,037
r = 0,93
n = 2228
160
Berat (gram)
10
95
40
20
140
120
100
80
60
40
20
0
0
5
10
15
Lebar karapas (cm)
Gambar 9. Hubungan lebar karapas-berat rajungan hasil tangkapan jaring
rajungan di perairan Teluk Jakarta, Maret – Agustus 2008
122
Aspek Penangkapan dan Biologi Rajungan (Portunus Pelagicus Linn) di Perairan Teluk Jakarta
Betina
Gambar 9. Hubungan lebar karapas-berat rajungan hasil tangkapan jaring
rajungan di perairan Teluk Jakarta, Maret – Agustus 2008
(lanjutan)
Secara keseluruhan, hubungan panjang (lebar) karapas dan berat
rajungan masing-masing diperoleh nilai b = 3,037 untuk jenis jantan dan
b = 2,845 untuk jenis betina. Setelah dilakukan perhitungan uji-t pada
taraf 95% dengan derajat bebas (n-2), diperoleh nilai thitung masing-masing
lebih kecil daripada ttabel (significant), yang berarti tidak berbeda nyata
(terima Ho). Dengan demikian, nilai b untuk rajungan sama dengan 3
(b=3) atau bersifat isometrik, artinya pertambahan lebar karapas sebanding
dengan pertambahan beratnya.
Kesimpulan
1. Alat tangkap utama yang digunakann untuk menangkap rajungan
di Teluk Jakarta adalah jaring rajungan (gillnet monofilamen, lokal:
kejer), bubu lipat, sero, dan bagan tancap. Daerah pengoperasian
jaring dan bubu terdapat di perairan lebih ke tengah, terutama di
sekitar Pulau Lancang, Pulau Pramuka, dan Pulau Kelapa.
123
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
2. Produksi rajungan cenderung menurun sejak tahun 2006. Bagian
rajungan yang paling banyak diproduksi adalah clawmeat (daging
bagian kaki capit, kaki jalan atau kaki renang) dan special meat
(serpihan daging dari bagian cangkang rajungan).
3. Pada bulan April–Mei 2007, laju tangkap tertinggi (23 kg/hari)
terdapat pada bubu lipat dan terkecil (3,25 kg/hari) terdapat pada
bagan tancap.
4. Ukuran rajungan yang tertangkap dengan jaring rajungan relatif lebih
besar dibandingkan dengan sero dan hubungan lebar karapas-berat
rajungan bersifat isometrik yang berarti pertambahan panjang sebanding
dengan pertambahan beratnya.
Daftar Pustaka
Alverson DL, MH Freeberg, SA Murawski and JG Pope. 1994. A global
assessment of fisheries by-catch and discards. FAO Technical Paper 339:
1–233
Antara News. 2008. Rajungan Cirebon Nyaris Punah Akibat Penggunaan
Jaring Arad. Selasa 12 September 2008.
Bal DV and KV Rao. 1984. Marine Fisheries. Tata Mc. Graw-hill
Publishing Company Limited. New Delhi: 5–24.
Bellchambers LM and S de Lestang. 2005. Selectivity of different
gear types for sampling the blue swimmer crab, Portunus pelagicus L.
Fisheries Research 73 (2005): 21–27
Brandt AV. 1972. Fish Catching Methods of the World. Fishing News
(Books) Ltd. 110 Fleet Street, London. EC.4: 158–165 and 204–
214.
Bussines News. 1989. Kepiting, Komoditas Penting Tapi Belum Digarap
Serius. Terbitan No. 4863, tahun XXXIII, Senin 2 Oktober.
Departemen Kelautan dan Perikanan. 2002–2007. Statistik Ekspor Impor
Hasil Perikanan 2000-2005. Pusat Data Statistik dan Informasi.
Departemen Kelautan dan Perikanan. Diterbitkan setiap tahun.
124
Aspek Penangkapan dan Biologi Rajungan (Portunus Pelagicus Linn) di Perairan Teluk Jakarta
Fridman AL and PJG Currothers. 1986. Calculation of Fishing Gear
Designs. FAO. United Nation Fishing News Books. Farnham, Surrey.
242 p.
Hamley JM. 1975. Review on Gillnet Selectivity. Journal of Fisheries
Research Board of Canada 32: 1942–1969.
Kailola PJ, MJ Williams, PC Stewart, RE Riechelt, A McNee and C
Grieve (Eds.). 1993. Australian Fisheries Resources. Bureau of Resource
Sciences, Canberra: 422.
Karsono W, ST Hartati, dan A Priatna, 2006. Sebaran, intensitas,
produktifitas, komposisi dan kondisi biologi ikan hasil tangkapan alat
tangkap pasif menetap di Teluk Jakarta. Pros. Seminar Nasional Ikan
IV. Jatiluhur, 29–30 Agustus 2006: 13 hal.
Kawamura G. 1972. Gillnet Mesh Selectivity Curve Developed From
Length-Girth Relationship. Bulletin of Japanese Socity of Scientific
Fisheries 38 : 1942–1969.
Matsuoka T. 1995. A method to Calculate Selectivity of Gillnet With
a Probability Model Based on Variation of Body Girths. Faculty of
Fisheries. :Kagoshima University.
Moosa MK dan S Juwana. 1996. Kepiting Suku Portunidae dari
Perairan Indonesia (Decapoda, Brachyura). Pusat Penelitian dan
Pengembangan Oseanologi – LIPI, Jakarta: 118 hal.
Nomura M and TYamazuki. 1975. Fishing Techniques.Japan International.
Cooperation Agency, Tokyo: 46–49
Nomura M. 1974. Gillnet Fishery. Japanesse Fishing Gear and Method.
Text Book for Marine Fisheries Research Course. Overseas Technical
Cooperation Agency. Government of Japan:103–129.
Romimohtarto K. 1977. Hasil Penelitian Pendahuluan tentang Biologi
Budidaya Rajungan, Portunus pelagicus (L), dari Teluk Jakarta dan
Pulau Pari (Pulau-pulau Seribu). Prosiding Seminar Biologi V dan
Kongres III Biologi Indonesia I: 199–216.
125
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Stephenson W. 1962. Evolution and ecology of portunid crabs, with special
reference to Australian species. In: Leeper, G.W. (Ed.): The Evolution
of Living Organisms. Melbourne University Press, Melbourne: 311–
327.
Sumiono B. 1997. Fishing Activities in Relation to Commercial and Smallscale Fisheries in Indonesia. Proceeding of the Regional Workshop on
Responsible Fishing. Bangkok, Thailand, June 24–27,1997. SEAFDEC,
Samutprakarn, Thailand: 41-70
Susanto. 2007. Studi Alat Tangkap Kepiting Rajungan Ramah Lingkungan
di Wilayah Perairan Kabupaten Pangkep.Jurnal Agrisistem Vol. 3(2):
76–73
126
Kajian Kawasan Konservasi Daerah Asuhan
Udang di Teluk Jakarta
Adriani Sri Nastiti*), Masayu Rahmia Anwar Putri*)
dan Sri Turni Hartati**)
Abstrak
Udang merupakan salah satu sumber daya ikan yang menjadi hasil
tangkapan utama nelayan di Teluk Jakarta. Apabila sumber daya udang
ini terus menerus dieksploitasi dengan jumlah kapal penangkap ikan yang
terus bertambah, akan terjadi penurunan produksi udang. Penelitian ini
bertujuan untuk memilih calon kawasan konservasi udang sebagai salah
satu langkah untuk melindungi dan melestarikan sumber daya udang di
Teluk Jakarta. Penelitian dilakukan selama tahun 2010 pada bulan April,
Juni, Agustus dan Oktober di wilayah timur Teluk Jakarta. Pengumpulan
data primer untuk pemilihan kawasan konservasi mencakup tiga parameter
yaitu bioekologi, sosial, dan ekonomi. Data yang diperoleh dari ketiga
parameter tersebut kemudian diolah berdasarkan kriteria pemilihan calon
kawasan konservasi yang dimodifikasi sesuai dengan kondisi Teluk Jakarta.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan timur Teluk Jakarta yang
sesuai untuk konservasi kawasan asuhan udang adalah Muara Grobak (KU
5), Muara Beuting, (KU 6) dan Muara Bungin (KU 7) dengan estimasi
total luas kawasan asuhan sebesar 53,92 ha.
KATA KUNCI: Pemilihan, Konservasi Udang, Teluk Jakarta
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Pendahuluan
Teluk Jakarta telah dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas domestik,
industri, transportasi, dan penangkapan sumber daya ikan yang akhirnya
akan memberi tekanan terhadap lingkungan perairan Teluk Jakarta.
Aktivitas penangkapan sumber daya ikan yang tidak ramah lingkungan
dan memiliki intensitas yang cukup tinggi merupakan kondisi yang cukup
mengkhawatirkan bagi sumber daya ikan di Teluk Jakarta. Hal ini bisa
menyebabkan kerusakan habitat sumber daya ikan, penurunan produksi,
hilangnya ikan jenis tertentu, penurunan kualitas sumber daya ikan, baik
dari bobot ataupun genetik dan masih banyak dampak negatif lainnya.
Udang merupakan salah satu sumber daya ikan yang menjadi hasil
tangkapan utama nelayan Teluk Jakarta karena memiliki nilai ekonomis
yang tinggi. Perairan Teluk Jakarta memiliki potensi produksi sumber
daya udang yang cukup tinggi, data produksi udang dari tahun 1997
sampai 2008 mencapai 18.617,09 ton dengan kenaikan rata-rata per tahun
mencapai 5,75 % (Pemda DKI Jakarta 2009). Apabila sumber daya udang
ini terus menerus dieksploitasi dengan jumlah kapal penangkap ikan yang
terus bertambah, akan terjadi penurunan produksi udang.
Wilayah penangkapan udang di Teluk Jakarta tidak hanya di laut
lepas, tetapi juga di wilayah estuari yang menjadi daerah asuhan (nursery
ground), daerah mencari makan (feeding ground), dan juga tempat memijah
(spawning ground) bagi berbagai jenis udang, khususnya udang dari famili
Penaidae. Salah satu langkah untuk melindungi dan melestarikan sumber
daya udang di Teluk Jakarta adalah dengan memilih calon kawasan
konservasi sumber daya udang. Berdasarkan PP No. 60 Tahun 2007,
konservasi diharapkan akan menjamin keberadaan, ketersediaan, dan
kesinambungan dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai
serta keanekaragaman sumber daya ikan, termasuk udang.
Tujuan dari penelitian ini adalah memilih kawasan asuhan udang
yang sesuai untuk dijadikan sebagai calon daerah konservasi agar sumber
daya udang yang ada tetap tersedia dan tidak terganggu populasinya.
128
Kajian Kawasan Konservasi Daerah Asuhan Udang di Teluk Jakarta
Metode Penelitian
Penelitian dilakukan pada pada bulan April, Juni, Agustus, dan
Oktober tahun 2010 di wilayah timur Teluk Jakarta meliputi 7 (tujuh)
stasiun penelitian yaitu Muara Gembong (KU1), Tanjung Gembong
(KU2), Muara Karawang (KU3), Tanjung Karawang (KU4), Muara
Grobak (KU5), Muara Beuting (KU6), dan Muara Bungin (KU7)
(Gambar 1 dan Tabel 1). Penentuan wilayah timur Teluk Jakarta sebagai
lokasi penelitian karena kawasan ini memiliki kualitas perairan yang lebih
baik dibandingkan wilayah barat untuk mendukung pertumbuhan udang
dan didukung juga dengan vegetasi mangrove yang tumbuh di sepanjang
pantai lokasi penelitian (Nastiti et al. 2009).
Gambar 1. Lokasi penelitian (KU1-KU7)
129
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Tabel 1. Posisi geografis lokasi penelitian di Teluk Jakarta
No Lokasi
Kode
1
2
3
4
5
6
7
KU1
KU2
KU3
KU4
KU5
KU 6
KU 7
Muara Gembong
Tanjung Gembong
Muara Karawang
Tanjung Karawang
Muara Grobak
Muara Beuting
Muara Bungin
Posisi Geografis
Lintang Selatan Bujur Timur
06o 01.772’
106o 59’ 237”
06o 00.386’
106o 59’ 074”
05o 56.655’
106o 68’ 230”
05o 57.536”
107o 00’ 469”
05o 64.941”
107o 01’ 762”
05o 55.559”
107o 05’ 424”
05o 44’ 939”
107o 02’ 502”
Pengumpulan data primer untuk pemilihan kawasan konservasi
(Tabel 2) mencakup tiga parameter yaitu bioekologi, sosial, dan ekonomi.
Data yang diperoleh dari ketiga parameter tersebut kemudian diolah
berdasarkan kriteria pemilihan calon kawasan konservasi (Salm et al. 2000)
yang dimodifikasi sesuai dengan kondisi Teluk Jakarta. Kriteria pemilihan
kawasan konservasi ditampilkan pada Tabel 3.
Tabel 2. Parameter yang diukur selama pengamatan
No
130
Parameter
Satuan
BIOEKOLOGI
A. Fisika:
1
Kedalaman air
2
Kecerahan
3
Suhu air
4
Arus
B. Kimia:
5
pH
m
Cm
o
C
m/dtk
6
7
Mg/L
0
/00
Oksigen Terlarut
Salinitas
unit
Alat/bahan dan metode yang
digunakan
Depth Meter, in situ
Cakram Secchi, insitu
Revershing Thermometer , in situ
Bola dan tali 10 meter, in situ
Titrasi dengan indikator universal pH
4-7/ in situ
Water Quality Checker, insitu
Refraktometer, insitu
Kajian Kawasan Konservasi Daerah Asuhan Udang di Teluk Jakarta
Tabel 2. Parameter yang diukur selama pengamatan (lanjutan)
No
Parameter
BIOEKOLOGI
C. Biologi:
8
Plankton
9
10
D.
11
12
Satuan
Alat/bahan dan metode yang
digunakan
Sel /L
Fitoplankton dikumpulkan dengan
menggunakan
fitoplankton
net
berbentuk kerucut yang mempunyai
diamater mulut 31 cm, panjang 100
cm, dan ukuran mata jaring 0,08 mm
(80 um).
Ind/L Zooplankton dikumpulkan dengan
zooplankton net yang berukuran
diameter mulut 45 cm, panjang 180
cm dan mata jaring 0,30 mm
Makrozoobentos) Ind/m2 Mini bottom trawl, in situ
Vegetasi
Kualitatif Sumber Informasi dari Dinas
Kehutanan dan Perkebunan, Kab.
Bekasi
Sumber daya udang:
Larva
Kelimpahan
Ind/dm3; Bonggo net, in situ
Komposisi
%,
Mikroskop, Laboratorium
Juvenil
Kelimpahan
Ind/m2; Mini Bottom Trawl, in situ
Komposisi
%
SOSIAL
Kualitatif Wawancara dan pengamatan di
lapangan (Tabel 3)
EKONOMI
Kualitatif Wawancara dan pengamatan di
lapangan (Tabel 3)
131
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Tabel 3. Beberapa parameter sebagai kriteria pemilihan kawasan
konservasi (Salm et al. 2000) yang dimodifikasi sesuai kondisi
Teluk Jakarta
No
Parameter
1.
Bioekologi
Sosial
Kelimpahan hayati Peraturan
2.
Kealamian
3.
Ketergantungan
4.
5.
Keterwakilan
Produktivitas
6.
7.
Ekonomi
Kepentingan
perikanan
Manfaat ekonomi
(pariwisata)
Dapat digunakan untuk
rekreasi masyarakat
Budaya (nilai sejarah dari
lokasi)
Estetika
Berpengaruh pada aktivitas
masyarakat lokal
Aksesibilitas
Kelembagaan nelayan
Kriteria yang digunakan untuk mengevaluasi adalah:
A. Bioekologi yaitu parameter yang mempelajari interaksi antar
makhluk hidup, maupun interaksi antara makhluk hidup dengan
lingkungannya, antara lain:
1. Kelimpahan hayati dapat diartikan keberadaan makhluk hidup
yang melimpah dan beranekaragam, seperti plankton, juvenil
dan bentos
2. Kealamian dapat diartikan sebuah kondisi lingkungan perairan
yang belum tercemar oleh limbah dan biota lautnya masih
beraneka ragam serta jarang dijamah oleh manusia
3. Keterwakilan bahwa lingkungan perairan tersebut mewakili jenis
biota tertentu dan atau unit-unit penyusunnya
4. Ketergantungan didasarkan pada tingkat ketergantungan spesies
pada lokasi atau tingkat di mana ekosistem bergantung pada
proses ekologis yg berlangsung di lokasi.
132
Kajian Kawasan Konservasi Daerah Asuhan Udang di Teluk Jakarta
5. Produktivitas didasarkan pada tingkat di mana proses-proses
produktif di lokasi memberikan manfaat atau keuntungan bagi
biota atau manusia (Anonim 2007).
B. Sosial, yaitu sebuah parameter yang menelaah ketergantungan
dan kepedulian masyarakat terhadap kawasan calon konservasi, di
antaranya:
1. Tempat rekreasi dapat diartikan wilayah tersebut sangat cocok
sebagai tempat rekreasi bagi masyarakat sekitar atau luar.
2. Budaya dapat diartikan kebiasaan dan adat istiadat masyarakat
setempat yang patut dilestarikan.
4. Estetika dapat diartikan wilayah suaka tersebut memiliki
pemandangan yang indah dan mengesankan.
5. Aktivitas masyarakat lokal dapat diartikan ketergantungan
masyarakat setempat dan pendatang terhadap kawasan suaka
sebagai tempat mencari nafkah.
6. Aksesbilitas dapat diartikan kemudahan bagi para nelayan
setempat maupun pendatang untuk memasuki wilayah suaka.
7. Peraturan dapat diartikan sebagai perangkat peraturan, baik
tertulis maupun tidak tertulis, yang dapat dijadikan payung
hukum dalam pengelolaan sumber daya perikanan.
8. Kelembagaan nelayan dapat diartikan keberadaan kelompok
nelayan yang dapat mendukung adanya calon suaka di perairan
tersebut.
C. Ekonomi
1. Kepentingan perikanan didasarkan pada jumlah nelayan yang
bergantung pada lokasi dan ukuran hasil perikanan
2. Pariwisata didasarkan pada nilai keberadaan atau potensi lokasi
untuk pengembangan pariwisata
Selanjutnya, untuk setiap parameter diberi nilai 1–3, dengan rincian
sebagai berikut.
133
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Skor 1 : bila nilai parameter tidak memenuhi persyaratan (Buruk)
Skor 2 : bila nilai parameter mendekati persyaratan (Sedang)
Skor 3 : bila nilai parameter memenuhi persyaratan (Baik)
Setelah skoring, masing-masing parameter diberikan bobot sesuai
dengan urutan tingkat kepentingan dengan jumlah 100. Berdasarkan hal
tersebut, pemberian bobot pada setiap parameter adalah sebagai berikut:
Bioekologi : 75
Sosial
: 15
Ekonomi : 10
Skor yang diperoleh dari setiap parameter dikalikan bobot sesuai
dengan bagian dari faktor dan hasilnya dijumlahkan, hasil tertinggi
dicalonkan sebagai kawasan konservasi sumber daya udang.
Klasifikasi konservasi kawasan asuhan udang di Teluk Jakarta
berdasarkan bobot total adalah sebagai berikut.
Tabel 4. Klasifikasi calon kawasan konservasi asuhan udang
Klasifikasi
I
II
III
Nilai
> 3.000
2.000–3.000
< 2.000
Kategori
Baik
Sedang
Kurang Baik
Hasil Dan Pembahasan
Lingkungan Perairan
Parameter fisika, kimia, biologi perairan serta sumber daya udang
ditampilkan pada Tabel 5. Rata-rata kedalaman perairan di lokasi penelitian
berkisar 1,85–3,25 meter, di mana lokasi penelitian yang paling dalam
perairannya berada di stasiun 3 dan 4, sedangkan terdangkal di stasiun 1.
Rata-rata kecerahan perairan berkisar 52,5–97,5 cm, di mana kecerahan
di stasiun 5 paling rendah dibandingkan stasiun lainnya. Rendahnya nilai
134
Kajian Kawasan Konservasi Daerah Asuhan Udang di Teluk Jakarta
kecerahan disebabkan partikel biotik dan abiotik (tanah). Nilai kecerahan
akan memengaruhi intensitas cahaya yang masuk dalam perairan sehingga
perannya sangat besar untuk kehidupan fitoplankton sebagai produsen
primer.
Suhu air berkisar 29,65°C–31,35°C, dengan suhu tertinggi berada di
stasiun 1 dan terendah di stasiun 4. Menurut Nybakken (1992), suhu
normal permukaan air laut berkisar 20°C–30°C. Arus permukaan ratarata berkisar 0,14–6,86 m/detik dengan arus tertinggi di stasiun 6 dan
terendah di stasiun 5.
Konsentrasi pH di lokasi penelitian berkisar 7,5–8,25, Nilai tersebut
masih disukai oleh sebagian besar biota air yaitu antara 7–8,5 (Effendi
2003). Konsentrasi pH tertinggi berada di stasiun 5 dan terendah di
stasiun 7. Rata-rata konsentrasi oksigen terlarut berkisar 5,21–6,86 mg/l,
di mana konsentrasi oksigen tertinggi berada di stasiun 2 dan terendah di
stasiun 1. Salinitas di perairan Teluk Jakarta berkisar 21,2‰–31,33 ‰,
di mana nilai salinitas minimum di stasiun 3 dan maksimum di stasiun 6.
Nilai ini masih berada dalam kisaran salinitas yang umumnya ditemukan
di perairan estuari yaitu sekitar 5‰–30‰ (Effendi 2011; Ohler dan
Register 2007).
Fitoplankton memiliki peran penting sebagai sumber energi di
perairan estuari setelah mangrove. Kelimpahan fitoplankton minimum
di stasiun 2 dengan nilai 1.404.105 sel/dm3 dan maksimum di stasiun 5
dengan kelimpahan 6.720.453 ind/dm3. Zooplankton sebagai konsumen
pertama di perairan memiliki kisaran kelimpahan antara 2.813–100.694
ind/ dm3, di mana nilai minimum berada di stasiun 3 dan maksimum di
stasiun 5. Kelimpahan makrozoobentos berkisar 32–1635 ind/m2 dengan
nilai kelimpahan minimum berada di stasiun 6 dan maksimum di stasiun
1. Makrozoobentos sering dijadikan sebagai indikator kualitas air karena
habitat hidupnya yang relatif tetap (Sinaga 2009).
Kelimpahan larva udang di lokasi penelitian berkisar 61–2035 ind/
dm . Kelimpahan larva udang terbesar ditemui di stasiun 7 (2.035 ind/
dm3) dan terendah di stasiun 1 (61 ind/dm3). Kepadatan juvenil minimum
berada di stasiun 2 dengan nilai 0,6 ind/m2 dan kepadatan maksimum
berada di stasiun 6 sebesar 336,76 ind/m2.
3
135
136
m/detik
unit
mg/l
‰
Arus
B.KIMIA
pH
Oksigen terlarut
Salinitas
C. BIOLOGI
Fitoplankton
Zooplankton
Macrozoobenthos
SUMBER DAYA UDANG
Kelimpahan Larva
Komposisi Larva
Kelimpahan Juvenil
Komposisi Juvenil
°C
Suhu air
Rata-rata
Rata-rata
Rata-rata
Rata-rata
Rata-rata
Rata-rata
Rata-rata
sel/dm³
ind/dm³
ind/m²
ind/m²
%
ind/m²
%
61
0,01
1,54
58,9
5.970.276
4.683
1.635
8,13
3,07–4,33
5,21
10–31
22,82
cm
Kecerahan
Rata-rata
Kisaran
Rata-rata
Kisaran
Rata-rata
1,5–2,3
1,85
60–100
72,5
30–31,4
31,35
0,39
m
Kisaran
Rata-rata
Kisaran
Rata-rata
Kisaran
Rata-rata
KU 1
Unit
Parameter/Parameters
BIOEKOLOGI
A. FISIKA
Kedalaman
160
0,03
0,6
47,9
1.404.105
8.396
1.134
8,14
5,01–9,83
6,86
30–31
29,82
1,8–3,3
2,5
90–170
95
30,5–31,3
31,27
0,18
KU 2
KU 4
1,9–2,5
2,6
60–70
52,5
30,4-31,5
30,92
0,14
KU 5
202
0,04
1,13
45,6
2.226.469
2.813
881
731
0.15
49.44
93.4
1.023
0,21
128,29
98,9
2.850.672 6.720.453
5.574
10.694
281
97
7,82
8,07
8,25
5,32–7,28 4,27 –6,04 5,96 –6,77
6,2
5,81
6,15
13–28
28–30
30–32
21,2
22,25
31,3
2,2–2,5
3–3,3
3,25
3,25
50–150
60–220
97,5
95
27,9–30,7 28,5 –31,7
30,27
29,65
5,66
0,40
KU 3
Tabel 5. Nilai parameter perairan di lokasi penelitian Teluk Jakarta
7,5
5,09 –5,9
5,26
10–29
23
1,4 –2,7
2,63
50–60
73,33
28,3–30
30,33
0,23
KU 7
310
0,06
336,76
99,8
2.035
0,42
246,4
94,1
5.668.082 4.925.690
6.151
2.988
32
212
8
5,53 –6,65
6,31
30–35
31,33
2–2,7
2,13
10–90
70
28–30,7
30,26
6,86
KU 6
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
A. Ekologi
a) Keanekaragaman Hayati
1.
Kelimpahan Larva Udang (ind/dm³)
2.
Komposisi Larva udang terhadap biota lain (%)
3.
Kepadatan Juvenil Udang (ind/m²)
4.
Komposisi Juvenil Udang terhadap biota lain(%)
b) Ketergantungan
1.
Kelimpahan Fitoplankton(sel/dm³)
2.
Kelimpahan Zooplankton (ind/dm³)
3.
Kelimpahan Makrozoobentos (ind/m²)
4.
Kedalaman (m)
5.
Kecerahan (cm)
6.
Suhu (°C)
7.
Salinitas (‰)
8.
DO (mg/l)
9.
pH (unit)
c) Keterwakilan
Parameter
>52*105
>8.000
>240
>3
>90
25–32
5–30
>5
>6,5–8,5
≤13*105 13*105-2*105
≤2.000
2.000–8.000
≤60
60–240
<2
2–3
<45
45–90
<25; >32
<5; >30
<3
3–5
<6
6–6,5
3 (Baik)
>1.600
>0,2
>200
>60
Kategori Penilaian
2 (Sedang)
400–1.600
0,1–0,2
100–200
30–60
≤400
≤0,1
≤100
≤30
1 (Buruk)
Tabel 6. Pengelompokan parameter dan skor berdasarkan kriteria pemilihan kawasan konservasi (Salm et al.
2000)
Parameter-parameter yang diperoleh kemudian dikelompokkan berdasarkan kriteria pemilihan kawasan
konservasi (Salm et al. 2000) yang telah dimodifikasi dan diberi skor untuk masing-masing parameter (Tabel 6).
Kajian Kawasan Konservasi Daerah Asuhan Udang di Teluk Jakarta
137
138
Ekosistem mangrove (jarang, sedang, rapat)
d) Kealamian
Pemanfaatan perairan (pemukiman, perikanan, jalur transportasi, penambangan pasir,
PLTU, pengeboran minyak)
e) Produktivitas
Produksi juvenil (ton/tahun)
B. Sosial
1.
Dapat digunakan untuk rekreasi masyarakat
2.
Budaya (nilai sejarah dari lokasi)
3.
Estetika (keindahan)
4.
Berpengaruh pada aktivitas masyarakat lokal
5.
Aksesibilitas
6.
Peraturan
7.
Kelembagaan nelayan
C. Ekonomi
1.
Kepentingan perikanan
2.
Manfaat ekonomi (pariwisata)
Parameter
Kategori Penilaian
2 (Sedang)
Sedang
Kurang alami
25–200
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Cukup
Cukup
Sedang
Sedang
1 (Buruk)
Jarang
Tidak Alami
< 25
Kurang cocok
Rendah
Kurang
Tinggi
Mudah
Kurang
Kurang
Kurang
Kurang
Tinggi
Tinggi
Cocok
Tinggi
Indah
Rendah
Sulit
Baik
Baik
>200
Alami
3 (Baik)
Rapat
Tabel 6. Pengelompokkan parameter dan skor berdasarkan kriteria pemilihan kawasan konservasi (Salm et al.
2000) (lanjutan)
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Kajian Kawasan Konservasi Daerah Asuhan Udang di Teluk Jakarta
Berdasarkan hasil analisis skoring terhadap beberapa parameter utama
(Lampiran 1), yaitu bioekologi, sosial, dan ekonomi menunjukkan bahwa
ada beberapa stasiun yang layak dijadikan sebagai calon kawasan asuhan
konservasi udang di Teluk Jakarta seperti yang tersaji pada Gambar 2.
Berdasarkan Gambar 2, didapatkan bahwa lokasi penelitian yang sesuai
untuk dijadikan sebagai calon kawasan asuhan juvenil udang adalah lokasi
dengan kategori baik, di mana nilai skoring yang didapatkan di atas 3.000
(Tabel 4) yaitu Muara Grobak, Muara Beuting, dan Muara Bungin (KU5–
KU7). Ketiga lokasi tersebut terletak di luar Teluk Jakarta (Gambar 3),
yang pemanfaatan perairannya semakin berkurang.
KU7
3.580
KU6
3.355
KU5
3.580
KU4
2.920
KU3
2.830
KU2
2.980
KU1
2.530
0
500
1000
1500
2000
2500
3000
3500
4000
Gambar 2.Evaluasi per stasiun di Teluk Jakarta
139
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Gambar 3.Lokasi yang dijadikan sebagai calon konservasi kawasan asuhan
udang
Tabel 7. Estimasi luas kawasan asuhan juvenil udang
Lokasi Kelimpahan
Rataan
Rekruitment
Total
Estimasi Luas
Total Juvenil Kelimpahan * (ind/m2)
Tangkapan
Kawasan
(ind/m2)
Juvenil
Udang ** (ind) Asuhan***(ha)
(ind/m2)
KU5
509,45
127,36
89,15
11.164.800,00
12,52
KU6
1.34,54
336,89
235,82
11.164.800,00
4,73
KU7
987,30
329,10
230,37
11.164.800,00
4,84
Total
53,92
* Rekruitmen = Kelimpahan rata-rata * SR (Survival Rate) = Kelimpahan rata-rata * 0,7 SR =
70%
** Total Tangkapan udang: Udang Hasil Tangkapan Nelayan, diasumsikan 400 nelayan aktif
*** Luas Kawasan Asuhan = (Total tangkapan udang/Rekruitmen)/ 10.000.
Tabel 7 menyajikan estimasi luas kawasan asuhan juvenil udang.
Berdasarkan Tabel 7, dapat dilihat bahwa lokasi dengan nilai rekruitmen
juvenil yang tinggi mengindikasikan bahwa habitat tersebut memiliki
kualitas yang lebih baik sehingga luas kawasan asuhan yang akan
140
Kajian Kawasan Konservasi Daerah Asuhan Udang di Teluk Jakarta
dikonservasi menjadi lebih sempit. Nilai rekruitmen di stasiun Muara
Grobak (KU 5) untuk juvenil udang sebanyak 89,15 ind/m2 dan estimasi
kawasan asuhannya sebesar 12,52 hektare. Nilai ini cukup jauh jika
dibandingkan dengan KU 6 (Muara Beuting) dan KU 7 (Muara Bungin)
yang estimasi kawasan asuhannya masing-masing hanya 4,73 dan 4,84
hektare, di mana recruitment-nya mencapai 230,37–235,82 ind/m2.
HubunganRekruitmenJuvenilTerhadapEstimasi
LuasanKonservasiKawasanAsuhanUdang
EstimasiLuasanKawasan(ha)
14
12
10
y=Ͳ0.053x+17.30
R²=0.999
8
6
4
2
0
0
50
100
150
200
250
Rekruitment (ind/m2)
Gambar 4. Hubungan rekruitment juvenil terhadap estimasi luasan
konservasi kawasan asuhan udang.
Semakin rendah rekruitment juvenile, luasan kawasan asuhan yang
diestimasi akan semakin tinggi (Gambar 4). Hal ini terjadi karena tingginya
pemanfaatan perairan yang ada di lokasi tersebut sehingga juvenil yang
ada tidak bisa berkembang biak dengan baik, sehingga kawasan yang
dikonservasi akan semakin luas.
Kesimpulan
Kawasan timur Teluk Jakarta yang sesuai untuk konservasi kawasan
asuhan udang adalah Muara Grobak (KU 5), Muara Beuting (KU 6),
dan Muara Bungin (KU 7) dengan estimasi total luas kawasan asuhan
sebesar 53,92 ha. Pemilihan ini didukung oleh berbagai parameter yang
menunjang untuk konservasi terutama dari parameter ekologi.
141
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Daftar Pustaka
Anonimus. 2009. Buku Statitisk Perikanan Provinsi DKI Jakarta.
Effendi H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber daya dan
Lingkungan Perairan. Yogyakarta.
Effendi. 2011. Fitoplankton. Diunduh dari http://efendikonservasi.
blogspot.com/2011/01/fitoplankton.html 6 Mei 2011
Nastiti et al. 2009. Kesesuaian Perairan untuk Upaya Konservasi Sumber
Daya Ikan di
Teluk Jakarta. Laporan Tahunan. Loka Riset Pemacuan Stok Ikan. Pusat
Riset Perikanan Tangkap. BRKP-DKP.
Nybakken JW. 1992. Biologi Laut. Suatu Pendekatan Ekologis. Jakarta:
PT Gramedia.
Ohler RL jr. and KM Register. 2007. Volunteer Estuary Monitoring a
Methods Manual 2nd edition. US Environment Protect Agency.
PP 60 Tahun 2007. Konservasi Sumber Daya Ikan. Kementerian Kelautan
Perikanan.
Salm RV, JR Clark, and E Siirila. 2000. Marine and Coastal Protected Areas:
A Guide for Planners and Managers. Washington, DC: International
Union for The Conservation of Nature and Natural Resources.
Washington, DC. 371 pages + prologue. Diunduh dari http://mpa.
gov/pdf/helpfulresources/mpalessons.learned.pdf pada tanggal 18
Januari 2010 pukul 14.20 WIB
Sinaga T. 2009. Keanekaragaman Makrozoobenthos Sebagai Indikator
Kualitas perairan Danau Toba Balige Kabupaten Toba Samosir. Tesis
(Tidak dipubilkasikan). Program Pascasarjana Universitas Sumatera
Utara.
142
75
Bobot
Skor
Bobot
Skor
6. Kelimpahan Zooplankton (ind/dm³)
Bobot
Skor
5.Kelimpahan Fitoplankton(sel/dm³)
b)ketergantungan
Bobot
2
3
225
2
150
8.396
150
2
4.683
225
3
5.970.276 1.404.105
150
2
150
47,9
75
1
0,6
75
1
0,03
75
1
160
KU2
58,9
75
Bobot
4. Komposisi Juvenil Udang terhadap biota lain(%)
1
Skor
1,54
75
Bobot
3. Kepadatan Juvenil Udang (Ind/m²)
1
Skor
0,01
1
2. Komposisi larva udang terhadap biota lain (%)
61
1. Kelimpahan larva Udang (ind/dm³)
KU1
Skor
a) Keanekaragaman Hayati
A. BIOEKOLOGI
Parameter
75
1
202
150
2
2.813
150
2
2.226.469
150
2
45,6
75
1
1,13
75
1
0,04
KU3
Lampiran 1. Hasil skoring parameter bioekologi, sosial, dan ekonomi
Stasiun
150
2
5.574
150
2
2.850.672
225
3
93,4
75
1
49,44
150
2
0,15
150
2
731
KU4
225
3
10.694
225
3
6.720.453
225
3
98,9
150
2
128,29
225
3
0,21
150
2
1.023
KU5
75
1
310
150
2
6.151
225
3
5.668.082
225
3
99,8
225
3
336,76
75
1
0,06
KU6
150
2
2.988
150
2
4.925.690
225
3
94,1
225
3
246,4
225
3
0,42
225
3
2.035
KU7
Kajian Kawasan Konservasi Daerah Asuhan Udang di Teluk Jakarta
143
144
Skor
3
2
0,4
1
75
Skor
Bobot
150
225
0,18
225
Bobot
14. Arus (m/dtk)
6,86
3
5,21
150
2
29,82
3
Skor
13. DO (mg/l)
75
Bobot
22,82
1
12. Salinitas (‰)
Skor
225
3
225
3
Bobot
Skor
8,14
8,13
11.pH (unit)
225
3
31,27
225
3
31,35
225
2
150
Bobot
Skor
10. Suhu (°C)
Bobot
95
150
2
2,5
225
3
1.134
KU2
72,5
75
Bobot
9. Kecerahan (cm)
1
1,85
8.Kedalaman (m)
Skor
225
3
1.635
KU1
Bobot
Skor
7. Kelimpahan Makrozoobentos (ind/m²)
Parameter
225
3
881
225
3
0,09
225
3
6,2
75
1
21,2
225
3
7,82
225
3
30,27
225
3
97,5
225
3
3,25
KU3
75
1
0,4
225
3
5,81
150
2
22,25
225
3
8,07
225
3
29,65
225
3
95
225
3
3,25
225
3
281
KU4
Stasiun
Lampiran 1. Hasil skoring parameter bioekologi, sosial, dan ekonomi (lanjutan)
2
97
225
3
0,14
225
3
6,15
225
3
31,3
225
3
8,25
225
3
30,92
225
3
52,5
150
2
2,6
150
KU5
75
1
32
225
3
0,11
225
3
6,31
225
3
31,33
225
3
8
225
3
30,26
225
3
70
150
2
2,13
KU6
150
2
2,63
150
2
212
150
2
0,23
225
3
5,26
225
3
23
225
3
7,5
225
3
20,33
225
3
73,33
KU7
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
2
3
225
0,8
0,6
1
1
15
Skor
Bobot
15
1
15
1
75
75
15
1
0,29
288
1
0,66
664
664.146,8 287.667,5
2
1,54
Skor
2. Budaya (nilai sejarah dari lokasi)
2
150
KU2
331.711,7 367.274,7
Bobot
1. Dapat digunakan untuk rekreasi masyarakat
B. SOSIAL
Bobot
Skor
Produksi (ton/tahun)
Produksi (kg/tahun)
Produksi (gr/m²)
Kelimpahan Juvenil Udang(ind/m²)
Luas (m²)
e). Produktivitas
1
75
Skor
150
KU1
Bobot
d). Kealamian (Pemanfaatan perairan (Pemukiman, Perikanan, Jalur transportasi, Penambangan pasir, PLTU,
Pengeboran Minyak)
Bobot
skor
c). keterwakilan (Ekosistem mangrove)(Jarang, sedang,
rapat))
Parameter
2
75
1
150
3
150
2
225
KU5
64,3
49,44
166,8
128,29
323.301 328.072,71
75
1
150
2
Stasiun
KU4
3
150
2
225
437,8
336,76
706.762,7
KU6
3
150
2
225
320,3
246,4
709.791,92
KU7
15
1
15
1
75
1
0,48
480
15
1
15
1
75
1
20,78
20.781
15
1
15
1
150
2
54,72
54.716
15
1
15
1
225
3
309,41
309.412
15
1
15
1
225
3
227,36
227.357
479.616,8 20.780.823 54.715.853 309.411.517 227.356.949,2
1,5
1,13
325.878,5
KU3
Lampiran 1. Hasil skoring parameter bioekologi, sosial, dan ekonomi (lanjutan)
Kajian Kawasan Konservasi Daerah Asuhan Udang di Teluk Jakarta
145
146
Bobot
Bobot
1
3
2.980
2.530
Jumlah Total Bobot
10
1
10
1
30
3
45
3
45
15
1
15
1
15
Bobot
KU2
Skor
2. Manfaat ekonomi (pariwisata)
3
30
Skor
1. Kepentingan perikanan
C. EKONOMI
3
45
Skor
Bobot
7. Kelembagaan nelayan
3
45
Skor
6.Peraturan
1
15
Skor
Bobot
5. Aksesibilitas
1
15
Skor
Bobot
4. Berpengaruh pada aktivitas masyarakat lokal
1
15
Skor
KU1
Bobot
3. Estetika
Parameter
1
10
1
30
3
45
3
45
3
15
1
15
1
15
2.830
KU3
1
10
1
30
3
15
1
15
1
15
1
15
1
15
2.920
KU4
Stasiun
Lampiran 1. Hasil skoring parameter bioekologi, sosial, dan ekonomi (lanjutan)
2
10
1
30
3
15
1
15
1
45
3
30
2
30
3.580
KU5
2
10
1
30
3
15
1
15
1
45
3
30
2
30
3.355
KU6
2
10
1
30
3
15
1
15
1
45
3
30
2
30
3.580
KU7
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Kondisi Lingkungan Perairan Teluk Jakarta
Oleh:
Suprapto, Duranta Kembaren1 dan Pratiwi Lestari 1
Abstrak
Pemantauan tentang kondisi kualitas perairan Teluk Jakarta telah
dilakukan oleh Balai Riset Perikanan Laut (BRPL) bekerjasama dengan
Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Provinsi DKI
Jakarta sejak tahun 1996 hingga saat ini. Pengambilan sampel dilakukan
di perairan laut dan muara sungai, yang dilaksanakan pada saat musim
barat, peralihan barat-timur, musim timur, dan peralihan timur-barat.
Parameter yang diukur meliputi kondisi fisik, kimia, dan biologi perairan
yang erat kaitannya dengan penilaian kualitas perairan. Informasi ini dapat
digunakan sebagai salah satu data dukung dalam pengelolaan perairan di
Teluk Jakarta. Hasil analisis terhadap beberapa parameter fisik, kimia, dan
biologi menunjukkan bahwa angin musim memberikan pengaruh yang
nyata terhadap pola sebaran parameter dan kualitas massa air di Teluk
Jakarta. Karakteristik perairan Teluk Jakarta dipengaruhi oleh sirkulasi
massa air Laut Jawa dan massa air sungai yang berlangsung secara periodik
sesuai dengan perubahan musim. Nilai indeks keanekaragaman bentos
menunjukkan bahwa perairan Teluk Jakarta termasuk tercemar dalam
tingkat ringan sampai berat.
Kata Kunci: Kualitas perairan, musim, Teluk Jakarta
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Pendahuluan
Teluk Jakarta sebagai pintu gerbang masuk ibukota, peranannya
sangat penting dan strategis bagi perekonomian Indonesia. Berbagai sektor
industri, pertambangan, perhubungan, perdagangan, kependudukan,
perikanan dan pariwisata telah memanfaatkan lingkungan perairan Teluk
Jakarta dalam mendukung pembangunan ekonomi. Perkembangan
pembangunan di kawasan ini sangat cepat dan masing-masing sektor
memiliki berbagai kepentingan pengembangan kawasan, bahkan tampak
tidak terintegrasi antara sektor yang satu dengan yang lainnya.
Dibalik peran strategis dan prospek yang cerah dari kawasan
perairan pesisir dan laut Teluk Jakarta, terdapat kendala yang cenderung
mengancam kapasitas berkelanjutan (sustainable capacity) dalam
menunjang kesinambungan pembangunan di kawasan Teluk Jakarta,
salah satunya adalah masalah pencemaran perairan. Secara ekologis,
Teluk Jakarta tergolong perairan yang tercemar tinggi berkaitan dengan
tingginya masukan bahan organik (KPPL 1997) dan unsur logam berat
(Yatim et al. 1979; Lestari dan Edward 2004). Masalah ini sudah sangat
krusial dan belum pernah teratasi hingga saat ini. Berbagai kasus sering
terjadi, mulai dari matinya ratusan ribu ikan, udang, rajungan, biota laut
dan banyak lagi penghuni ekosistem pantai dan laut, sampai dengan ribuan
nelayan kehilangan mata pencaharian mereka, bahkan hingga masalah
buruknya tingkat kesehatan yang diderita nelayan dan warga Jakarta yang
mengonsumsi makanan dari laut (Rochyatun dan Rozak 2007; Lestari dan
Edward 2004)
Pencemaran di perairan Teluk Jakarta dapat terjadi karena berbagai
faktor yang sangat kompleks, tidak hanya disebabkan oleh limbah yang
dihasilkan kegiatan berbagai sektor industri yang berkembang di sekitar
perairan laut, tetapi juga kontribusi bahan pencemar dari darat yang
terbawa oleh aliran sungai-sungai yang bermuara ke Teluk Jakarta. Perairan
Teluk Jakarta merupakan tempat pelimpahan terakhir, baik sungai-sungai
yang terdapat di kawasan DKI, maupun yang berada di sekitar Bogor,
Tangerang, dan bekasi (BOTABEK). Kondisi tersebut menunjukkan
bahwa Teluk Jakarta mendapatkan tekanan ekologis yang cukup berat. Hal
tersebut berdampak pada kerusakan lingkungan ketika beban pencemaran
telah melewati daya dukung kawasan Teluk. Tingkat kualitas perairan
148
Kondisi Lingkungan Perairan Teluk Jakarta
dipastikan menurun dan akan berpengaruh secara signifikan terhadap
berbagai sektor kegiatan, khususnya perikanan maupun pariwisata.
Untuk mengetahui sejauh mana kondisi kualitas perairan Teluk
Jakarta, Balai Riset Perikanan Laut bekerja sama dengan Badan Pengelola
Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Provinsi DKI Jakarta telah
melakukan pemantauan perairan secara rutin sejak tahun 1996 hingga
saat ini. Makalah ini akan menginformasikan hasil pemantauan tersebut,
dengan tujuan identifikasi nilai beberapa parameter lingkungan perairan
ditinjau dari aspek fisik, kimia, dan biologi perairan serta menganalisis
pola sebarannya. Informasi ini diharapkan dapat digunakan sebagai salah
satu bahan rekomendasi yang dapat dipertimbangkan dalam pengelolaan
lingkungan perairan Teluk Jakarta.
Bahan dan Metode
1. Lokasi Pengamatan
Ruang lingkup wilayah perairan Teluk Jakarta yang diamati
difokuskan di perairan laut dan beberapa muara-muara sungai di sepanjang
pantai Teluk Jakarta. Batas-batas wilayahnya meliputi: di sebelah barat
mulai dari wilayah Tanjung Kait, selanjutnya berturut-turut ke arah
timur sampai wilayah Tanjung Kerawang. Khusus di laut, pengambilan
contoh (sampling) dilakukan pada 23 stasiun dengan posisi tersebar secara
acak berlapis di perairan Teluk Jakarta. Agar diperoleh informasi yang
representatif dengan gambaran pola sebaran mendatar yang informatif,
stasiun pengamatan dibagi menjadi beberapa zona A, B, C dan D.
Pengamatan di muara sungai dilakukan pada 9 muara yakni: Muara
Kamal (M1), Muara Cengkareng Drain (M2), Muara Angke (M3), Muara
Karang (M4), Muara Ancol (M5), Muara Sunter (M6), Muara Cakung
(M7), Muara Marunda (M8), dan Muara Gembong (M9). Lokasi daerah
penelitian tampak pada Gambar 1, sedangkan posisi geografis tiap stasiun
pengamatan ditampilkan pada Lampiran 1.
149
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Gambar 1. Peta lokasi daerah pengamatan kualitas perairan di Teluk
Jakarta
2. Waktu Pengamatan dan Analisis Data
Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama penelitian antara Balai
Penelitian Perikanan Laut (BPPL) dengan Badan Pengelola Lingkungan
Hidup Daerah (BPLHD) Provinsi DKI Jakarta. Data dikumpulkan mulai
tahun 1996 sampai dengan Agustus 2011, yang telah dilakukan pada saat
musim angin (monsoons) yang berbeda, yakni musim barat (Desember,
Januari, Februari), musim peralihan barat-timur (Maret, April, Mei),
musim timur (Juni, Juli, Agustus) dan musim peralihan timur-barat
(September, Oktober, November), selanjutnya data-data mewakili musim
yang sama pada tahun yang berbeda dihitung rataannya. Selama musimmusim tersebut, diduga terjadi sirkulasi massa air secara periodik, sehingga
memperlihatkan karakteristik lingkungan perairan yang spesifik dan
bervariasi baik dari aspek fisik, kimia maupun biologi.
150
Kondisi Lingkungan Perairan Teluk Jakarta
3. Parameter Lingkungan yang Diamati
3.1. Fisik dan Kimia Air
Parameter fisik air yang diukur meliputi: kedalaman perairan,
kecerahan, suhu, salinitas, dan kecerahan air. Kedalaman dan kecerahan
air diukur secara manual menggunakan tali sounding dan sechi disk. Nilai
suhu air diperoleh secara langsung dengan menggunakan termometer
balik (reversing thermometer), sedangkan salinitas dianalisis menggunakan
salinometer Bechman terhadap sejumlah volume contoh air yang diambil
menggunakan Nansen Bottle Sampler . Parameter kimia air yang diukur
meliputi: oksigen terlarut (DO), pH, logam berat (Hg, Cd, CU, Pb, Zn,
Ni), organik (KMnO4), amonia (NH3), sulfida (H2S), detergen (MBAS),
phenol dan nitrit (NO2). Dua parameter pertama akan dibahas pada
makalah ini, sedangkan parameter yang lain telah dianalisis oleh tim
peneliti dari BPLHD Provinsi DKI Jakarta dan diinformasikan pada
tulisan secara terpisah. Kadar oksigen terlarut dan pH air dianalisis melalui
sejumlah volume contoh air yang diambil menggunakan botol Nansen. DO
dianalisis dengan metode titrasi iodometri menurut Winkler (Anonimous
1959), sedangkan kadar pH air diperoleh langsung dengan menggunakan
pH meter.
3.2. Biologi Perairan
Parameter biologi perairan yang diamati terdiri dari kelimpahan
bentos, plankton (fito dan zooplankton), dan mikrobiologi (bakteri coli).
Khusus analisis bakteri dilakukan oleh tim peneliti BPLHD Provinsi DKI
Jakarta, sehingga informasinya tidak dilaporkan pada makalah ini. Sampel
fitoplankton dikumpulkan dengan menyaring air secara horizontal di
permukaan laut, menggunakan jaring fitoplankton No. 25, berbentuk
kerucut, panjang jaring 31 cm, diamater mulut jaring dan diameter mata
jaring (mesh zise) 80 µm (setara dengan 0,08 mm). Pengambilan sampel
zooplankton menggunakan jaring zooplankton, panjang 180 cm, diameter
mulut jaring 45 cm, dan mesh zise 300 µm (0,30 mm). Sampel plankton
yang diperoleh kemudian disimpan dalam botol dan diawetkan dengan
larutan formalin 4%. Pencacahan dan penghitungan plankton dilakukan
di laboratorium menggunakan mikroskop binokuler dan buku petunjuk
identifikasi jenis (Yamaji 1996; Tomas 1997). Hasil perhitungan kemudian
151
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
dianalisis lebih lanjut untuk memperoleh nilai komposisi, kelimpahan,
indeks keragaman dan keseragaman genus (Ludwig dan Reynold 1988;
Krebs 1989) dengan persamaan:
H’ = - Σ (ni/n) Ln (ni/n) ,
Di mana
H’ = Indeks keanekaragaman Shannon
ni = Jumlah individu jenis ke i
n = Jumlah individu semua jenis
Sampel bentos diperoleh pada substrat dasar perairan yang diambil
mengunakan “grab sampler “berukuran 20 x 20 cm. Sampel bentos yang
diamati adalah kelompok makrozoobentos yang telah dipisahkan dari
substratnya menggunakan ayakan (saringan) berdiameter mata (mesh zise)
1 mm, selanjutnya diawetkan dengan larutan alkohol 70%. Pencacahan
dilakukan di laboratorium menggunakan alat bantu mikroskop binokuler.
Pengidentifikasian bentos menggunakan referensi Tan dan Peter (1988);
Zin dan Ingle (1995); Habe dan Kosuge (1966); Abbot dan Dance (1982).
Analisis data struktur komunitas bentos ditujukan untuk memperoleh
komposisi jenis, kelimpahan relatif, dan distribusinya secara horizontal di
dasar perairan. Indeks keanekaragam jenis diperoleh dengan menggunakan
persamaan Shannon-Wiener (Krebs 1989), seperti halnya metode yang
diterapkan untuk menganalisis keragaman plankton.
Hasil dan Pembahasan
1. Kondisi Fisik Perairan
1.1. Kedalaman dan Kecerahan Perairan
Hasil pengukuran kedalaman perairan dan variasi kecerahan air pada
setiap stasiun pengamatan seperti tampak pada Lampiran 2. Kedalaman
perairan berkisar 5 sampai dengan 25 meter, sedangkan tingkat kecerahan
berkisar 2 sampai dengan 7 meter. Daerah pengamatan terdangkal berada
di sekitar pantai Tanjung Kait (B1), dan sebagian besar di pantai Ancol
dan Marunda (D4, D5). Data dan informasi tersebut menunjukkan bahwa
Teluk Jakarta termasuk perairan dengan kedalaman relatif dangkal, tidak
152
Kondisi Lingkungan Perairan Teluk Jakarta
ditemukan kedalaman lebih dari 50 meter, perairan terdalam terdalam
mencapai 25 meter dengan kecerahan relatif rendah. Bila diperhatikan
pola sebaran secara horizontal, zona A (jauh dari pantai) tampak cenderung
lebih dalam, kemudian semakin mendekati pantai (zona D) lebih dangkal.
Hal tersebut diduga karena pengaruh run off dari sungai yang bermuara di
Teluk Jakarta membawa material padat dari daratan.
1.2. Suhu Permukaan Air Laut
Hasil pengukuran suhu air permukaan di Teluk Jakarta yang
dikelompokkan berdasarkan perbedaan musim angin (monsoons) diperoleh
variasi nilai seperti tampak pada Lampiran 3. Pada musim barat, suhu
berkisar 28,50oC sampai dengan 31,04oC, suhu terendah dijumpai pada
stasiun B5 dan tertinggi pada stasiun C3. Pada musim peralihan barattimur berkisar 29,96oC–31,12oC, suhu terendah dijumpai pada stasiun
B4 dan tertinggi pada stasiun D5 mendekati muara sungai Sunter. Pada
musim timur, suhu berkisar 29,12oC–29,97oC, terendah pada stasiun C4
dan tertinggi pada stasiun B1. Sedangkan pada musim peralihan timurbarat, suhu berkisar 29,77oC–31,04oC, suhu terendah teridentifikasi di
stasiun B5 dan tertinggi pada stasiun B7. Secara umum, kondisi suhu
tersebut tidak jauh berbeda dengan kondisi umum seperti yang dilaporkan
Ilahude (1995), yakni pada musim barat berkisar 28,5oC–30,0oC, musim
peralihan barat-timur 29,5oC–30,7oC, musim timur 28,5oC–31,0oC, dan
musim peralihan timur-barat 28,5oC–31,0oC.
Berdasarkan hasil analisis sebaran suhu secara mendatar pada tiap
musim, diperoleh gambaran pola sebaran seperti tampak pada Gambar
2. Pada musim barat, suhu rendah cenderung terkonsentrasi antara
muara Sunter-muara Marunda yang menyebar hingga pertengahan
Teluk bagian timur, selanjutnya kondisi serupa tampak terkonsentrasi
di sekitar muara Kamal hingga Tanjung Kait, dan sebaliknya di bagian
utara Teluk Jakarta kondisi suhu cenderung tinggi. Pada musim peralihan
barat-timur, suhu tinggi cenderung berada di antara muara Sunter-muara
Marunda, selanjutnya menyebar hingga pertengahan teluk bagian timur
dan sekitar muara Kamal hingga Tanjung Kait, di mana kedua daerah ini
pada saat musim barat kondisinya justru relatif rendah, demikian pula di
bagian tengah Teluk Jakarta berbatasan dengan Laut Jawa pada musim
ini cenderung rendah. Pada musim timur, terdapat dua massa air yang
153
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
menyebar dengan pola berbeda, yakni suhu relatif rendah terkonsentrasi
di sebelah timur, dan sebaliknya suhu tinggi terkosentrasi di bagian barat
Teluk Jakarta. Sedangkan pada musim peralihan timur-barat, kondisi
suhu malah sebaliknya, yakni suhu tinggi terkonsentrasi di sebelah timur
dan suhu rendah terkonsentrasi di sebelah barat Teluk Jakarta.
LAUT JAWA
TG.KARAWANG
TG
TG.GEMBONG
TG
M.GEMBONG
KAMAL
CENGKARENG
KAMAL
CENGKARENG
ANGKE
M.SUNTER
M.CAKUNG
M.KARANG
ANGKE
M.MARUNDA
106.5
106.6
106.7
106.8
SPL - Barat-Timur
106.9
107
107
6.4
106.5
106.6
LAUT JAWA
LAUT JAWA
TG.KARAWANG
TG.KARAWANG
TG.GEMBONG
TG.GEMBONG
TG.GEMBONG
M.GEMBONG
M.GEMBONG
KAMAL
KAMAL
CENGKARENG
CENGKARENG
ANGKE
ANGKE M.KARANG
M.KARANG
M.MARUNDA
M.ANCOL
M.ANCOL
M.ANCOL
106.7
106.8
106.9
107
107
ur Timur
6.4
6.4
106.5
106.5
106.6
106.7
106.6
106.7
Timur
BujurTimur
Bujur
ANGKE
106.8
106.8
106.9
106.9
M.GEMBONG
107
107
107.1 .4
107.1
M.KARANG
154
M.ANCOL
SPL - Timur
M.MARUNDA
M.GEMBONG
KAMAL
CENGKARENG
ANGKE
M.SUNTER
M.CAKUNG
M.KARANG
M.ANCOL
SPL Timur-Barat
M.MAR
SPL Timur-Barat
TG.GEMBONG
TG.GEMBONG
M.SUNTER
M.CAKUNG
10
M.ANCOL
TG.KARAWANG
TG.KARAWANG
M.SUNTER
M.CAKUNG
M.KARANG
106.5
106.6
M.MARUNDA
106.7
Bujur Timur
LAUT JAWA
Gambar 2. Pola sebaran mendatar
rata-rata suhu permukaan laut (SPL) di
perairan Teluk Jakarta pada musim angin yang berbeda pada
tahun 1996–2011
LAUT JAWA
106.9
KAMAL
CENGKARENG
M.SUNTER
M.MARUNDA
M.SUNTER
M.MARUNDA
M.CAKUNG
M.CAKUNG
SPL- Barat-Timur
- Timur
SPL
SPL - Barat
106.8
LAUT JAWA
TG.KARAWANG
M.GEMBONG
M.SUNTER
M.CAKUNG
106.7
Bujur Timur
Bujur Timur
M.KARANG
M.MARU
M.ANCOL
SPL - Barat
6.4
M.SUNTER
M.CAKUNG
M.KARANG
M.ANCOL
AUT JAWA
KE
LAUT JAWA
106.8
106.9
1
M.GEMBONG
KAMAL
CENGKARENG
KAMAL
CENGKARENG
ANGKE
M.SUNTER
M.CAKUNG
M.KARANG
ANGKE
M.MARUNDA
SPL - Barat
6.4
106.5
106.6
106.7
M.ANCOL
SPL - Barat-Timur
Kondisi Lingkungan Perairan Teluk Jakarta
106.8
106.9
107
107
6.4
106.5
106.6
106.7
106.8
106.
Bujur Timur
Bujur Timur
LAUT JAWA
LAUT JAWA
LAUT JAWA
LAUT JAWA
M.SUNTER
M.CAKU
M.KARANG
M.ANCOL
TG.KARAWANG
TG.KARAWANG
TG.KARAWANG
TG.GEMBONG
TG.GEMBONG
TG.GEMBONG
M.GEMBONG
KAMAL
CENGKARENG
KAMAL
ANGKE
CENGKARENG
ANGKE
M.GEMBONG
GKE
M.SUNTER
M.CAKUNG
M.KARANG
M.MARUNDA
M.KARANG
M.KARANG
106.8
106.9
6.4
6.4
107
107
106.5
106.5
ujur Timur
106.6
106.7
106.6
106.7
Bujur Timur
Bujur Timur
6.6
106.8
106.8
106.9
106.9
SPL Timur-Barat
107.1 .4
107.1
107
107
106.5
106.6
106.7
106.8
Bujur Timur
TG.GEMBONG
TG.GEMBONG
M.GEMBONG
M.SUNTER
M.CAKUNG
M.KARANG
M.GEMBONG
KAMAL
CENGKARENG
ANGKE
M.MARUNDA
M.MARUNDA
M.ANCOL
SPL Timur-Barat
SPL - Timur
106.8
M.SUNTER
M.CAKUNG
M.KARANG
M.ANCOL
106.7
M.ANCOL
TG.KARAWANG
TG.KARAWANG
Bujur Timur
M.SUNTER
M.CA
M.KARANG
LAUT JAWA
LAUT JAWA
NGKE
ANGKE
SPL - Timur
SPL - Barat-Timur
SPL - Barat
106.7
KAMAL
CENGKARENG
M.ANCOL
M.ANCOL
.6
M.ANCOL
M.GEMBONG
M.SUNTER
M.MARUNDA
M.CAKUNG
M.SUNTER
M.MARUNDA
M.CAKUNG
106.9
107
107.1 .4
106.5
106.6
106.7
106.8
106.9
107
107
Bujur Timur
Gambar 2. Pola sebaran mendatar rata-rata suhu permukaan laut (SPL) di
perairan Teluk Jakarta pada musim angin yang berbeda pada
tahun 1996–2011 (lanjutan)
Variasi pola sebaran mendatar suhu menunjukkan bahwa pada musim
barat, massa air di Teluk Jakarta didominasi oleh pengaruh massa air Laut
Jawa dari utara dengan suhu relatif tinggi (isoterm 30oC) dan massa air
sungai suhu rendah (isoterm 28oC) dari Muara Sunter hingga Muara
Gembong. Pola serupa juga tampak pada musim peralihan barat-timur.
155
10
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Namun, kondisi kualitas massa airnya memperlihatkan kondisi sebaliknya,
yakni massa air suhu tinggi berasal dari muara sungai, sedangkan massa
air Laut Jawa relatif rendah. Pada musim timur, kondisi perairan Teluk
didominasi oleh pengaruh air sungai bermassa air suhu tinggi dari sebelah
barat (Kamal dan Cengkareng) dan dari sebelah timur (Tanjung KarawangGembong) membawa massa air suhu rendah. Sebaran suhu permukaan
laut pada musim peralihan timur-barat memperlihatkan pengaruh massa
air Laut Jawa sangat kuat dari arah barat.
1.3. Salinitas
Hasil pengukuran kadar salinitas permukaan laut yang telah
dikelompokkan ke dalam empat musim berbeda tercantum pada Lampiran
4. Pada musim barat, salinitas berkisar 27‰–32‰, terendah pada
stasiun C5 dan tertinggi pada stasiun D4. Pada musim peralihan barattimur, salinitas berkisar 22,0‰–30,5‰, salinitas minimum terdeteksi
pada stasiun A7, dan maksimum pada stasiun B5. Pada musim timur,
salinitas berkisar 30,9‰–32,8‰, terendah pada stasiun C2 dan tertinggi
pada stasiun C4. Sedangkan pada musim peralihan timur-barat, salinitas
berkisar 25,0‰–30,7‰, terendah pada stasiun C2 dan tertinggi pada
stasiun B2.
Sebaran salinitas permukaan pada empat musim angin yang berbeda
memperlihatkan pola yang bervariasi seperti tampak pada Gambar 3.
Pada musim barat, salinitas relatif tinggi cenderung berada di sebelah
barat, sebaliknya di sebelah timur relatif rendah. Pada musim peralihan
barat-timur, kondisi hampir serupa terjadi pada musim peralihan barattimur. Pada musim timur kondisi sebaran salinitas tampak sebaliknya
dibanding dua musim sebelumnya, yakni salinitas rendah terkonsentrasi
di sebelah barat terutama sekitar muara Kamal dan Cengkareng dengan
salinitas tertinggi berada di sebelah timur. Kondisi serupa juga terjadi pada
musim peralihan timur-barat. Pada musim timur kondisi salinitas tampak
lebih tinggi, berkisar 30,9‰–32,8‰ (rata-rata 32,3‰), sebaliknya pada
saat musim peralihan, kondisinya relatif rendah (barat-timur, rata-rata
28,5‰; timur-barat 29,1‰). Hal tersebut menunjukkan bahwa musim
angin berhubungan erat dengan kondisi massa air di Teluk Jakarta.
156
Kondisi Lingkungan Perairan Teluk Jakarta
LAUT JAWA
TG.KARAWANG
TG.GEMBONG
M.GEMBONG
KAMAL
CENGKARENG
ANGKE
M.SUNTER
M.CAKUNG
M.KARANG
M.MARUNDA
M.ANCOL
SALIN - Barat
.4
106.5
106.6
106.7
106.8
106.9
107
107.1
Bujur Timur
LAUT JAWA
TG.KARAWANG
TG.GEMBONG
M.GEMBONG
KAMAL
CENGKARENG
ANGKE
M.SUNTER
M.CAKUNG
M.KARANG
M.MARUNDA
M.ANCOL
SALIN - Barat-Timur
6.4
106.5
106.6
106.7
106.8
106.9
107
107.
Bujur Timur
Gambar 3. Pola sebaran mendatar salinitas permukaan laut di perairan
Teluk Jakarta pada musim yang berbeda.
157
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
LAUT JAWA
TG.KARAWANG
TG.GEMBONG
M.GEMBONG
KAMAL
CENGKARENG
ANGKE
M.SUNTER
M.CAKUNG
M.KARANG
M.MARUNDA
M.ANCOL
SALIN - Timur
6.4
106.5
106.6
106.7
106.8
106.9
107
107
Bujur Timur
LAUT JAWA
TG.KARAWANG
TG.GEMBONG
M.GEMBONG
KAMAL
CENGKARENG
ANGKE
M.SUNTER
M.CAKUNG
M.KARANG
M.MARUNDA
M.ANCOL
SALIN - Timur-Barat
.4
106.5
106.6
106.7
106.8
106.9
107
107.
Bujur Timur
Gambar 3. Pola sebaran mendatar salinitas permukaan laut di perairan
Teluk Jakarta pada musim yang berbeda (lanjutan)
158
Kondisi Lingkungan Perairan Teluk Jakarta
Massa air laut Teluk Jakarta secara umum merupakan massa air Laut
Jawa yang pada dasarnya memiliki kadar salinitas relatif tinggi (Ilahude
1995). Kondisi biofisik pantai—banyak sungai-sungai yang bermuara—
serta pengaruh kondisi iklim yang terjadi secara periodik akan memengaruhi
kualitas perairan Teluk Jakarta. Pada musim barat, pengaruh air tawar
sangat kuat berasal dari sungai-sungai di sebelah timur (Tg. KarawangGembong), pengaruh sungai ini masih tampak kuat hingga musim
peralihan barat-timur. Pada musim timur justru sebaliknya, pengaruh
sungai sangat kuat berasal dari sungai-sungai di sebelah barat (KamalCengkareng), selanjutnya pada musim peralihan timur-barat banyak
dipengaruhi sungai-sungai sebelah timurnya (Angke-Muara Karang).
2.1.Oksigen Terlarut (DO)
Kadar oksigen terlarut permukaan laut tiap musim angin
memperlihatkan nilai yang tidak barvariasi (Lampiran 5). Pada musim
barat, oksigen terlarut berkisar 5,44–9,54 ppm, terendah pada stasiun
B1 dan tertinggi pada stasiun C6. Pada musim peralihan barat-timur,
DO berkisar 6,34–8,06 ppm, oksigen terendah dijumpai pada stasiun A3
dan tertinggi pada stasiun C5. Pada musim timur, kadar oksigen terlarut
relatif lebih rendah, berkisar 5,44–7,62 ppm, oksigen terendah dijumpai
pada stasiun A3 dan tertinggi pada stasiun B1. Pada musim peralihan
timur-barat, kadar oksigen relatif sama dibandingkan pada musim timur,
berkisar 5,41–7,48 ppm.
Pola sebaran mendatar kandungan oksigen terlarut di Teluk Jakarta
disajikan pada Gambar 4. Pada gambar tersebut terlihat bahwa pada
musim barat, kadar oksigen tertinggi terkonsentrasi di sebelah timur Teluk
Jakarta, terutama di sekitar muara Gembong, sebaliknya di sebelah barat
(sekitar muara Kamal dan Cengkareng) cenderung rendah. Pada musim
peralihan barat-timur, sebagian besar oksigen terlarut terkonsentrasi
di dekat muara-muara sungai yang berada di pantai sebelah selatan,
sebaliknya di sebelah utara hingga perairan tengah Teluk Jakarta oksigen
terlarut cenderung rendah. Pada musim timur, sebagian besar perairan
Teluk Jakarta memiliki kadar oksigen terlarut relatif rendah, sebaliknya
pada beberapa lokasi muara Kamal dan Cengkareng tampak tinggi. Pada
musim peralihan timur-barat, kondisi menunjukkan sebaliknya.
159
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
LAUT JAWA
TG.KARAWANG
TG.GEMBONG
M.GEMBONG
KAMAL
CENGKARENG
ANGKE
M.SUNTER
M.CAKUNG
M.KARANG
M.MARUNDA
M.ANCOL
DO Barat-Tmur
6.4
106.5
106.6
106.7
106.8
106.9
107
107.1
Bujur Timur
LAUT JAWA
TG.KARAWANG
TG.GEMBONG
M.GEMBONG
KAMAL
CENGKARENG
ANGKE
M.SUNTER
M.CAKUNG
M.KARANG
M.MARUNDA
M.ANCOL
DO - Barat
.4
106.5
106.6
106.7
106.8
106.9
107
107.1
Bujur Timur
Gambar 4. Pola sebaran mendatar rata-rata oksigen terlarut di Teluk
Jakarta pada musim yang berbeda tahun 1996–2011
160
Kondisi Lingkungan Perairan Teluk Jakarta
LAUT JAWA
TG.KARAWANG
TG.GEMBONG
M.GEMBONG
KAMAL
CENGKARENG
ANGKE
M.SUNTER
M.CAKUNG
M.KARANG
M.MARUNDA
M.ANCOL
DO Tmur
.4
106.5
106.6
106.7
106.8
106.9
107
107.1
Bujur Timur
LAUT JAWA
TG.KARAWANG
TG.GEMBONG
M.GEMBONG
KAMAL
CENGKARENG
ANGKE
M.SUNTER
M.CAKUNG
M.KARANG
M.MARUNDA
M.ANCOL
DO Timur-Barat
4
106.5
106.6
106.7
106.8
106.9
107
107.1
Bujur Timur
Gambar 4. Pola sebaran mendatar rata-rata oksigen terlarut di Teluk
Jakarta pada musim yang berbeda tahun 1996–2011
(lanjutan)
161
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Gambaran pola sebaran oksigen terlarut pada setiap musim
menunjukkan adanya pengaruh massa air Laut Jawa sangat kuat. Pada
musim barat, massa air Laut Jawa dengan kadar oksigen relatif rendah
tampak memasuki perairan Teluk Jakarta dari arah barat menuju tenggara.
Sementara itu, pada saat yang sama pula massa air sungai beroksigen tinggi
yang berasal dari sebelah tenggara (Marunda-Gembong) juga memasuki
Teluk Jakarta, meskipun tidak tampak dominan. Pola sebaran berikutnya
tampak berkembang ketika musim peralihan barat-timur berlangsung,
yakni massa air dari muara dengan kadar oksigen relatif tinggi telah
mendorong sangat kuat ke sebagian besar perairan Teluk Jakarta. Pada
saat memasuki musim timur, massa air Laut Jawa dengan kadar oksigen
rendah kembali memasuki perairan Teluk sangat dominan hingga
menekan sampai pantai sebelah selatan. Pada musim peralihan timurbarat, pola sebaran tampak mirip dengan musim timur dengan kualitas
sangat berbeda, yakni didominasi massa air Laut Jawa berkadar oksigen
relatif tinggi. Sementara itu, pengaruh air sungai berkadar oksigen rendah
pada musim ini juga memasuki perairan Teluk Jakarta walaupun tidak
begitu dominan
2.2. Kadar pH air
Nilai pH air permukaan laut pada masing-masing stasiun relatif stabil
tidak banyak bervariasi, nilainya berada pada kisaran lebih dari 7 sampai
8 (Lampiran 6). Pada musim barat pH berkisar 7,11–8,19, terendah
dijumpai pada stasiun B2 dan tertinggi pada stasiun C5. Pada musim
peralihan barat-timur, pH berkisar 7,30–8,28, nilai terendah pada stasiun
C6 dan tertinggi pada stasiun C5. Pada musim timur, pH air berkisar
7,80–8,20, pH terendah pada stasiun C2 dan tertinggi pada stasiun zona
B. Pada musim peralihan, kondisinya tidak berbeda dengan kondisi pada
musim timur, pH berkisar 7,86–8,35. pH terendah pada stasiun B1 dan
tertinggi pada stasiun A1. Berdasarkan pada variasi nilai pH di permukaan,
menunjukkan pola sebaran yang bervariasi pada setiap musim yang berbeda
(Gambar 5). Pada musim barat, pH relatif tinggi cenderung berasal dari
muara sungai yang berada di sebelah timur (Tg. Karawang-GembongMarunda) yang memasuki Teluk sampai dengan wilayah tengah. Pada
saat musim peralihan barat-timur, kondisinya berubah, massa air sungai
dengan pH tinggi yang sebagian berasal dari sungai di sepanjang pantai
162
Kondisi Lingkungan Perairan Teluk Jakarta
selatan Teluk memasuki sebagian besar Teluk Jakarta hingga tengah laut.
Pada musim timur, tampak bahwa massa air dengan pH tinggi dari muaramuara sungai sebelah timur (Tg. Karawang-Gembong) kembali memasuki
wilayah perairan dan bergerak menuju barat Teluk. Pada musim peralihan
timur-barat, massa air di sebagian besar teluk terdiri dari dua massa air
yang berbeda (muara sungai dan Laut Jawa), yang masing-masing tidak
mendominasi sehingga tampak terpusat pada tempat-tempat tertentu.
LAUT JAWA
TG.KARAWANG
TG.GEMBONG
M.GEMBONG
KAMAL
CENGKARENG
ANGKE
M.SUNTER
M.CAKUNG
M.KARANG
M.MARUNDA
M.ANCOL
pH - Barat
6.4
106.5
106.6
106.7
106.8
106.9
107
107.1
Bujur Timur
LAUT JAWA
TG.KARAWANG
TG.GEMBONG
M.GEMBONG
KAMAL
CENGKARENG
ANGKE
M.SUNTER
M.CAKUNG
M.KARANG
M.MARUNDA
M.ANCOL
pH - Barat-Timur
6.4
106.5
106.6
106.7
106.8
106.9
107
107.1
Bujur Timur
Gambar 5. Pola sebaran mendatar rata-rata pH air di Teluk Jakarta pada
musim yang berbeda tahun 1996–2011
163
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
LAUT JAWA
TG.KARAWANG
TG.GEMBONG
M.GEMBONG
KAMAL
CENGKARENG
ANGKE
M.SUNTER
M.CAKUNG
M.KARANG
M.MARUNDA
M.ANCOL
pH - Timur
.4
106.5
106.6
106.7
106.8
106.9
107
107.
Bujur Timur
LAUT JAWA
TG.KARAWANG
TG.GEMBONG
M.GEMBONG
KAMAL
CENGKARENG
ANGKE
M.SUNTER
M.CAKUNG
M.KARANG
M.MARUNDA
M.ANCOL
pH Timur-Barat
.4
106.5
106.6
106.7
106.8
106.9
107
107.
Bujur Timur
Gambar 5. Pola sebaran mendatar rata-rata pH air di Teluk Jakarta pada
musim yang berbeda tahun 1996–2011 (lanjutan)
164
Kondisi Lingkungan Perairan Teluk Jakarta
3. Kondisi Biologi Perairan
3.1. Bentos
Analisis kelimpahan bentos difokuskan pada nilai keanekaragaman
jenis makrozoobentos yang merupakan salah satu indikator biologi untuk
menilai status tingkat pencemaran di perairan. Hasil analisis menunjukkan
nilai indeks keanekaragaman jenis yang bervariasi seperti tampak pada
Lampiran 7.
Pada musim barat, indeks keragaman tertinggi 2,97 ditemukan
pada stasiun B6, sebaliknya terendah bernilai nol, dijumpai pada stasiun
muara Kamal (M1) dan muara Angke (M3). Pada musim peralihan barattimur, indeks keragaman serupa seperti pada musim barat, berkisar nol
sampai 2,99 dengan indeks terendah dijumpai pada muara Angke (M3)
dan relatif tinggi pada stasiun B6. Pada musim timur, kondisinya tampak
lebih rendah, berkisar nol sampai dengan 2,43, terendah umumnya di
muara-muara sungai Kamal dan Cengkareng, sedangkan relatif tinggi di
stasiun A4. Kondisi agak lebih baik tampak terjadi pada musim peralihan
timur-barat, yakni berkisar 0,21–3,0, indeks tertinggi pada stasiun B6 dan
terendah pada stasiun D5. LAUT JAWA
-5.8
Indeks div. Barat
TG.KARAWANG
-5.9
-6
TG.GEMBONG
-6.1
M.GEMBONG
KAMAL
CENGKARENG
ANGKE
M.MARUNDA
M.ANCOL
-6.2
0
1
2
3
-6.3
-6.4
106.2
M.SUNTER
M.CAKUNG
M.KARANG
106.3
to
to
to
to
1
2
3
4
106.4
tercemar berat
tercemar ringan
tercemar sedang
tidak tercemar
106.5
106.6
106.7
106.8
106.9
107
107.1
Bujur Timur
Gambar 6. Variasi rata-rata indeks keanekaragam jenis bentos tiap stasiun
penelitian di Teluk Jakarta pada musim yang berbeda tahun
1996–2011
165
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
LAUT JAWA
-5.8
Indeks div. Barat-Timur
TG.KARAWANG
-5.9
-6
TG.GEMBONG
-6.1
M.GEMBONG
KAMAL
CENGKARENG
ANGKE
M.MARUNDA
M.ANCOL
-6.2
0
1
2
3
-6.3
-6.4
106.2
M.SUNTER
M.CAKUNG
M.KARANG
106.3
to
to
to
to
1
2
3
4
106.4
tercemar berat
tercemar ringan
tercemar sedang
tidak tercemar
106.5
106.6
106.7
106.8
106.9
107
107.
Bujur Timur
LAUT JAWA
-5.8
Indeks div. Timur
TG.KARAWANG
-5.9
-6
g
TG.GEMBONG
-6.1
M.GEMBONG
KAMAL
CENGKARENG
ANGKE
M.MARUNDA
M.ANCOL
-6.2
0
1
2
3
-6.3
-6.4
106.2
M.SUNTER
M.CAKUNG
M.KARANG
106.3
to
to
to
to
1
2
3
4
106.4
tercemar berat
tercemar ringan
tercemar sedang
tidak tercemar
106.5
106.6
106.7
106.8
106.9
107
107.1
Bujur Timur
LAUT JAWA
-5.8
Indeks div. Timur-Barat
TG.KARAWANG
-5.9
-6
TG.GEMBONG
-6.1
M.GEMBONG
KAMAL
CENGKARENG
ANGKE
M.MARUNDA
M.ANCOL
-6.2
0
1
2
3
-6.3
-6.4
106.2
M.SUNTER
M.CAKUNG
M.KARANG
106.3
to
to
to
to
1
2
3
4
106.4
tercemar berat
tercemar ringan
tercemar sedang
tidak tercemar
106.5
106.6
106.7
106.8
106.9
107
107.1
Bujur Timur
Gambar 6. Variasi rata-rata indeks keanekaragam jenis bentos tiap stasiun
penelitian di Teluk Jakarta pada musim yang berbeda tahun
1996–2011 (lanjutan)
166
Kondisi Lingkungan Perairan Teluk Jakarta
Berdasarkan sebaran nilai indeks keragamannya, diperoleh gambaran
pola sebaran seperti tampak pada Gambar 6. Nilai indeks keanekaragaman
tampak sangat rendah di sebagian besar perairan muara. Bahkan pada
musim timur, kondisi tersebut hampir merata pada semua perairan
Teluk.
Variasi nilai indeks keanekaragaman bentos pada masing-masing
stasiun pengamatan berkisar nol sampai dengan 3, rata-ratanya antara
1,02 sampai dengan 1,71. Hal tersebut menunjukkan nilai yang sangat
rendah jika dibandingkan dengan nilai baku mutu perairan, sehingga dapat
dikatakan sebagian besar perairan Teluk Jakarta sudah tercemar dengan
tingkat ringan sampai berat. Kondisi tampak lebih buruk khususnya di
sekitar muara-muara sungai, terutama pantai sebelah selatan Teluk Jakarta,
yang diduga berkaitan erat dengan tingginya bahan pencemar di daerah
tersebut.
3.2. Kelimpahan Plankton
Analisis terhadap plankton pada penelitian ini difokuskan pada nilai
kelimpahan fitoplankton yang dianggap sebagai indikator kesuburan
perairan. Hasil analisis kelimpahan fitoplankton pada musim barat,
peralihan barat-timur dan peralihan timur barat tercantum pada Lampiran
8, sedangkan pada musim timur tidak ditampilkan karena data tidak
mencukupi.
Pada musim barat, kelimpahan relatif tinggi, berkisar 816x105 sel/
m3 sampai dengan 25.372(x105 ) sel/m3, tertinggi pada stasiun D5 dan
terendah pada stasiun B2. Pada musim peralihan barat-timur, berkisar
3x105 sel/m3 sampai dengan 909.634 x105 sel/m3. Kelimpahan fitoplankton
paling rndah ditemukan pada saat musim peralihan barat timur, berkisar
21 sampai 2.350 x105 sel/m3.
Berdasarkan sebaran nilai kelimpahan fitoplankton, diperoleh
gambaran pola sebaran secara mendatar seperti pada Gambar 7. Pada
musim barat, kelimpahan tertinggi terkonsentrasi di dekat muara-muara,
terutama di sekitar pantai sebelah timur dan selatan Teluk Jakarta.
Pada musim peralihan barat-timur, perairan yang padat fitoplankton
terkonsentrasi dekat muara pada pantai sebelah selatan, sedangkan pada
musim peralihan timur-barat, konsentrasi terpadat berada di pantai
167
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
sebelah barat dan selatan Teluk Jakarta. Bila dilihat dari sebaran variasi
nilai kelimpahan fitoplankton, tampak bahwa pola sebarannya tidak
memberikan pola yang nyata pada musim yang berbeda. Pada musimmusim peralihan barat-timur maupun timur-barat polanya hampir sama
yakni kelimpahan terpadat cenderung pada muara-muara sungai Sunter
ke arah timur hingga muara Gembong.
LAUT JAWA
-5.8
Fitoplankton. Barat
TG.KARAWANG
-5.9
-6
TG.GEMBONG
-6.1
M.GEMBONG
KAMAL
CENGKARENG
ANGKE
-6.2
M.SUNTER
M.CAKUNG
M.KARANG
8160003.5 to 39576840
M.MARUNDA
M.ANCOL
39576840 to 53224280
-6.3
53224280 to 80779658
80779658 to 107523733.5
107523733.5 to 253800000
-6.4
106.2
106.3
106.4
106.5
106.6
106.7
106.8
106.9
107
107.1
Bujur Timur
LAUT JAWA
-5.8
Fitoplankton. Barat-Timur
TG.KARAWANG
-5.9
-6
TG.GEMBONG
-6.1
M.GEMBONG
KAMAL
CENGKARENG
ANGKE
-6.2
M.SUNTER
M.CAKUNG
M.KARANG
8160003.5 to 39576840
M.MARUNDA
M.ANCOL
39576840 to 53224280
-6.3
53224280 to 80779658
80779658 to 107523733.5
107523733.5 to 253800000
-6.4
106.2
106.3
106.4
106.5
106.6
106.7
106.8
106.9
107
107.
Bujur Timur
Gambar 7. Variasi sebaran rata-rata kelimpahan fitoplankton di perairan
Teluk Jakarta pada tiga musim yang berbeda pada tahun
1996–2011
168
Kondisi Lingkungan Perairan Teluk Jakarta
LAUT JAWA
-5.8
Fitoplankton. Timur-Barat
TG.KARAWANG
-5.9
-6
TG.GEMBONG
-6.1
M.GEMBONG
KAMAL
CENGKARENG
ANGKE
-6.2
M.SUNTER
M.CAKUNG
M.KARANG
8160003.5 to 39576840
M.MARUNDA
M.ANCOL
39576840 to 53224280
-6.3
53224280 to 80779658
80779658 to 107523733.5
107523733.5 to 253800000
-6.4
106.2
106.3
106.4
106.5
106.6
106.7
106.8
106.9
107
107
Bujur Timur
Gambar 7. Variasi sebaran rata-rata kelimpahan fitoplankton di perairan
Teluk Jakarta pada tiga musim yang berbeda pada tahun
1996–2011 (lanjutan)
Kesimpulan
1. Perairan Teluk Jakarta termasuk perairan dangkal dengan kecerahan
relatif rendah.
2. Variasi musim angin sangat nyata pengaruhnya terhadap pola sebaran
suhu, salinitas, DO maupun pH yang erat kaitannya dengan sirkulasi
massa air Laut Jawa maupun massa air sungai yang bermuara ke Teluk
Jakarta.
3. Berdasarkan nilai indeks keanekaragaman bentos, disimpulkan bahwa
perairan Teluk Jakarta terindikasi tercemar ringan sampai sangat
berat.
Daftar Pustaka
Anonimous. 1959. U.S.Navy Hydrographic Office, Instruction Manual
for Oceanographic of Observation , H.O.Publ.No. 607, Washingto
DC, p. 1-210.
Abbort RT and Dance SP. 1982. Compendium of Sea Shells, A Full Colour
Guide to More Than 4200 of The World Marine Shells, E.P.Duta
Inc., New York, 410 pp.
169
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Habe T and Kosuge S. 1966. Shells of The World in Colour, Vol. II”The
Tropical Pacific”, Hoikhusha, Tokyo, 193 pp
Ilahude AG. 1995. Sebaran suhu, Salinitas, Sigma-T, Oksigen Terlarut
dan Zat Hara di Perairan Teluk Jakarta dalam Suyarso (ed). Atlas
oseanologi Teluk Jakarta. Jakarta: Lembaga Ilmu Pengetahuian
Indonesia-P3O,.Krebs CJ. 1989. Ecological methodology. Harper
and Collins, New York: xii+654 hlm
KPPL. 1997. Studi potensi kawasan perairan Teluk Jakarta, Kantor
Pengkajian Perkotaan dan Lingkungan (KPPL) DKI Jakarta. Interim
Report 1997.
Ludwig JA and JF Reynold. 1988. Statictic Ecology. A. Primer on Methods
and Computing. New York: John Wiley & Sons, 337 pp.
Lestari dan Edward, 2004. Dampak Pencemaran Logam Berat terhadap
Kualitas Air Laut dan Sumber Daya Perikanan (Studi Kasus
Kematian Massal Ikan-Ikan) di Teluk Jakarta. Makara Sains, Vol.8,
No.2: 52–58
Rochyatun E dan A Rozak. 2007. Pemantauan Kadar Logam Berat dalam
Sedimen di Perairan Teluk Jakarta. Makara Sains,Vol.11, No.1: 2836
Thomas CR. 1997. Identifying Marine Phytoplankton. San Diego:
Academic Press.
Tan LWH and Peter KL. 1988. A Guide to Seashore Science Centre,
Singapore, 159pp.
Yatim S, Surtipanti S, Suwirma dan E Lubis. 1979. Distribusi logam berat
dalam air permukaan Teluk Jakarta. Majalah Batan, No.12: 1–19
Yamaji I. 1996. Illustrations of The Marine Plankton of Japan. Osaka:
Hoikhusha Publi. Co.Ltd.
Zim HS and Ingle L. 1955. A Golden Guide: Seashores, A Guide to
Animals and Plants a Long The Beaches. New York: Golden Press,
160 pp.
170
Kondisi Lingkungan Perairan Teluk Jakarta
Lampiran 1. Posisi geografis lokasi penelitian kualitas perairan
Teluk Jakarta
Nomor stasion
A1
A2
A3
A4
A5
A6
A7
B1
B2
B3
B4
B5
B6
B7
C2
C3
C4
C5
C6
D3
D4
D5
D6
M1
M2
M3
M4
M5
M6
M7
M8
M9
Posisi (o)
Lintang Selatan
5,985
5,976
5,964
5,958
5,942
5,926
5,910
6,060
6,048
6,039
6,027
6,010
5,988
5,976
6,117
6,102
6,083
6,072
6,050
6,152
6,135
6,113
6,105
6,100
6,140
6,151
6,162
6,177
6,140
6,137
6,136
6,099
Bujur Timur
106,545
106,626
106,697
106,774
106,845
106,920
106,983
106,588
106,651
106,720
106,794
106,867
106,938
106,997
106,639
106,736
106,808
106,882
106,952
106,751
106,792
106,901
106,969
106,544
106,570
106,638
106,659
106,749
106,863
106,918
106,940
107,024
171
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Lampiran 2. Variasi kedalaman perairan dan tingkat kecerahan air
di Teluk Jakarta
172
Stasiun
Kedalaman (m)
Kecerahan (m)
A1
11
3
A2
20
4
A3
25
5
A4
25
7
A5
25
6
A6
23
5
A7
19
3
B1
5
2
B2
14
3
B3
19
4
B4
22
5
B5
21
5
B6
21
4
B7
15
3
C2
11
3
C3
15
4
C4
15
4
C5
16
3
C6
15
3
D3
7
4
D4
6
3
D5
8
3
D6
10
3
Minimum
5
2
Maksimum
25
7
Kondisi Lingkungan Perairan Teluk Jakarta
Lampiran 3. Suhu air permukaan laut Teluk Jakarta pada musim
yang berbeda pada periode tahun 1996–2011
Stasiun
A1
A2
A3
A4
A5
A6
A7
B1
B2
B3
B4
B5
B6
B7
C2
C3
C4
C5
C6
D3
D4
D5
D6
Min
Max
Musim Barat
29.22
30.86
30.12
29.20
29.01
29.38
29.18
29.67
29.06
30.53
29.18
28.50
28.87
29.86
29.09
31.04
29.10
28.94
29.13
29.75
28.70
28.80
28.87
28.50
31.04
Peralihan Barat-Timur Musim Timur Peralihan Timur-Barat
30.45
29.62
30.07
30.54
29.50
30.45
30.45
29.55
30.34
30.24
29.54
29.96
30.24
29.33
30.10
30.08
29.35
30.25
30.33
29.50
30.48
31.02
29.97
30.43
30.37
29.50
30.14
30.43
29.44
30.11
29.96
29.42
29.98
30.16
29.23
29.77
30.62
29.30
29.94
30.24
29.20
31.04
30.35
29.90
30.32
30.54
29.40
30.34
30.47
29.12
30.32
30.46
29.12
30.33
30.62
29.40
30.59
30.65
29.50
30.54
30.75
29.40
30.71
31.12
29.48
30.72
30.67
29.38
30.85
29.96
29.12
29.77
31.12
29.97
31.04
173
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Lampiran 4. Kadar salinitas permukaan laut (‰) Teluk Jakarta
pada musim yang berbeda pada periode tahun 1996–
2011
Stasiun
A1
A2
A3
A4
A5
A6
A7
B1
B2
B3
B4
B5
B6
B7
C2
C3
C4
C5
C6
D3
D4
D5
D6
Min
Max
174
Musim Barat Peralihan Barat-Timur Musim Timur Peralihan Timur-Barat
31.4
28.90
31.5
29.6
31.3
29.96
32
29.5
30.6
30.12
32.5
30.3
31.3
30.30
32.8
29.9
30.3
28.70
32.7
29.1
30.2
28.82
32.7
28.1
27.8
22.04
32.2
28.2
31.1
28.40
31
30.4
31.6
29.53
31.5
30.7
30.7
29.53
32.6
29.6
31.4
29.39
32.4
29.5
31.6
30.47
32.6
29.4
28.2
28.21
32.6
29.1
28.7
28.07
32.7
27.0
31.3
27.84
30.9
25.0
31.6
29.44
32.7
29.3
31.6
29.43
32.8
29.3
27.0
28.73
32.6
29.3
30.0
25.01
32.5
28.9
31.4
29.88
32.7
28.7
32.0
29.89
32.6
29.4
31.3
27.76
32.6
29.4
31.0
25.50
32.3
29.4
27.0
22.0
30.9
25.0
32.0
30.5
32.8
30.7
Kondisi Lingkungan Perairan Teluk Jakarta
Lampiran 5. Kadar oksigen terlarut permukaan laut (ppm) Teluk
Jakarta pada musim yang berbeda, pada periode
tahun 1996–2011
Stasiun
A1
A2
A3
A4
A5
A6
A7
B1
B2
B3
B4
B5
B6
B7
C2
C3
C4
C5
C6
D3
D4
D5
D6
Min
Max
Musim Barat
6.65
6.49
6.49
6.89
7.39
6.96
7.20
5.44
6.57
6.81
6.57
8.13
7.36
7.28
6.34
6.42
7.12
7.55
9.54
6.42
7.82
9.07
9.33
5.44
9.54
Peralihan Barat-Timur
7.34
7.77
6.34
6.51
6.74
6.58
6.71
7.92
7.68
7.40
6.96
7.08
7.19
6.96
7.65
7.09
7.40
8.06
7.31
7.18
7.28
8.01
7.77
6.34
8.06
Musim Timur
6.48
5.70
5.44
5.56
5.66
5.60
5.69
7.62
6.81
5.87
5.82
5.72
6.02
6.37
6.28
5.70
5.45
5.62
6.29
6.52
5.74
6.43
6.71
5.44
7.62
Peralihan Timur-Barat
6.13
7.42
6.90
6.59
6.96
6.94
7.10
5.41
7.25
7.48
6.57
7.22
7.35
6.82
6.86
7.01
7.11
7.02
7.37
6.29
6.91
6.55
6.02
5.41
7.48
175
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Lampiran 6. Kadar pH air laut di permukaan Teluk Jakarta pada
musim yang berbeda pada periode tahun 1996–
2011.
Stasiun
A1
A2
A3
A4
A5
A6
A7
B1
B2
B3
B4
B5
B6
B7
C2
C3
C4
C5
C6
D3
D4
D5
D6
Min
Max
176
Musim Barat
7.22
7.41
7.18
7.21
7.98
8.12
8.05
7.20
7.11
7.20
7.96
8.00
8.04
7.91
7.67
7.36
8.13
8.19
8.13
7.48
8.07
8.12
8.16
7.11
8.19
Peralihan Barat-Timur
7.63
7.75
7.64
7.56
7.53
7.45
7.79
7.68
7.64
7.62
7.55
7.73
7.72
7.65
8.03
8.15
8.07
8.28
7.30
7.87
8.17
7.88
7.55
7.30
8.28
Musim Timur Peralihan Timur-Barat
7.9
8.35
8
8.09
8
8.00
8
8.21
8.1
8.01
8.1
7.94
8.1
8.00
8.2
7.86
8.2
7.92
8.2
8.03
8.2
8.00
8.1
8.01
8.2
7.94
8.2
7.99
7.8
8.01
7.9
8.08
7.9
8.21
7.9
8.11
8
7.92
8
8.00
8
8.08
8.1
8.01
8
8.03
7.80
7.86
8.20
8.35
Kondisi Lingkungan Perairan Teluk Jakarta
Lampiran 7. Nilai indeks keanekaragaman jenis makrozoobentos
di perairan Teluk Jakarta pada musim yang berbeda,
pada periode tahun 1996–2011
Stasi un
Musi m Barat
Peral i han Barat-Ti mur
Musi m Ti mur
A1
2.88
2.50
1.27
Peral i han Ti mur-Barat
2.55
A2
2.16
2.31
1.45
1.81
A3
2.34
2.04
1.85
2.13
A4
2.22
1.56
2.43
2.01
A5
1.88
2.00
0.73
1.90
A6
1.92
2.28
1.76
1.82
A7
2.66
2.52
0.97
1.99
B1
1.90
1.50
0.84
1.45
B2
2.66
2.76
0.44
2.44
B3
2.69
2.08
1.26
2.45
B4
1.93
2.51
2.22
1.67
B5
2.87
2.84
1.86
2.58
B6
2.97
2.99
0.58
3.00
B7
1.59
2.43
1.95
1.48
C2
1.28
0.84
1.78
1.02
C3
2.24
2.34
0.81
2.52
C4
2.88
2.76
1.65
2.85
C5
1.29
2.86
0.30
1.39
C6
1.45
1.73
0.48
1.29
D3
1.00
0.75
0.39
0.81
D4
0.73
0.89
0.24
0.81
D5
0.08
0.24
0.21
0.21
0.47
D6
0.70
0.46
2.14
M1
0.00
0.66
0.00
0.93
M2
0.59
1.12
0.00
1.31
M3
0.00
0.00
1.36
0.60
M4
1.27
0.98
0.11
0.72
M5
1.43
1.23
1.35
1.05
M6
0.92
0.33
0.11
0.92
M7
1.99
1.81
1.18
1.10
M8
1.77
1.34
0.83
0.94
M9
0.44
2.24
0.07
1.41
Mi n
0.00
0.00
0.00
0.21
Max
2.97
2.99
2.43
3.00
177
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Lampiran 8. Kelimpahan fitoplankton (x105 sel/m3) pada lokasi
stasiun penelitian di Teluk Jakarta pada tiga musim
berbeda, pada periode tahun 1996–2011.
Stasiun
A1
A2
A3
A4
A5
A6
A7
B1
B2
B3
B4
B5
B6
B7
C2
C3
C4
C5
C6
D3
D4
D5
D6
Min
Max
178
Musim Barat Peralihan Barat-Timur Peralihan Timur-Barat
3958
10075
212
5322
34249
2350
7657
26
236
8165
13768
56
8078
46
65
9424
2251
21
10752
8
78
3576
223
302
816
123194
98
10123
388
194
6846
13200
118
6108
1082
146
5081
874
109
3566
3
146
12105
593506
243
13002
471
34
3648
384859
129
4129
239969
260
10574
2707
771
7677
92
242
4159
259240
826
25372
909634
517
16532
299567
215
816
3
21
25372
909634
2350
Keragaan Sumber Daya Ikan Pelagis
Kecil di Perairan Teluk Jakarta dan
Kepulauan Seribu
Oleh
Muhammad Taufik , Tuti Hariati1 dan Mohamad Fauzi1
1
Abstrak
Sumber daya ikan pelagis kecil sebagai salah satu sumber daya ikan di
perairan Teluk Jakarta dan Kepulauan Seribu merupakan sumber daya yang
penting. Selain sebagai sumber pemenuhan gizi dan protein yang murah,
sumber daya tersebut dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan
bagi masyarakat pesisir. Sumber daya ikan pelagis kecil sudah sejak lama
dimanfaatkan di Teluk Jakarta. Berdasarkan hasil penelitian yang telah
dilakukan selama tahun 2006–2008 dapat diketahui jenis-jenis ikan
pelagis kecil yang tertangkap di perairan Teluk Jakarta dan Kepulauan
Seribu antara lain adalah ikan kembung (Rastrelliger brachysoma), banyar
(Rastrelliger kanagurta), selar (Selar crumenophthalmus), selar kuning
(Selaroides leptolepis), selar hijau (Atule mate), tetengkek (Megalaspis cordyla),
tembang (Sardinella gibbosa), siro (Amblygaster sirm), dan teri (Stolephorus
sp.). Alat tangkap yang dioperasikan nelayan untuk menangkap ikan pelagis
kecil adalah payang, jaring rampus kembung, dan bagan. Alat tangkap
bagan merupakan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan karena hasil
tangkapannya didominasi trash fish, merupakan ikan-ikan kecil yang bila
dibiarkan tumbuh besar akan bernilai ekonomis tinggi. Hasil penelitian
mengenai biologi ikan kembung (Rastrelliger brachysoma) pada tahun
2010 di perairan Teluk Jakarta menunjukkan bahwa nilai L∞=19,9 cm;
L50=16,1 cm dan Lm=16,37 cm.
Kata kunci: pelagis kecil, Teluk Jakarta, Kepulauan Seribu, alat tangkap.
1 Peneliti pada Balai Penelitian Perikanan Laut Jakarta
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Pendahuluan
Sumber daya ikan laut yang tertangkap di kawasan Kepulauan Seribu
dan Teluk Jakarta terdiri dari ikan pelagis kecil dan demersal. Kelompok
jenis ikan pelagis kecil antara lain jenis ikan kembung, selar, tembang, dan
layang, sedangkan kelompok ikan demersal ikan petek dan ikan manyung.
Sifat sumber daya ikan laut yang penting adalah mampu memperbarui
dirinya (renewable) namun bukan tanpa batas, sehingga dapat luruh
(perishable) dengan tekanan eksploitasi yang berlebihan (over exploitated).
Sebagai sumber daya yang pemanfaatannya bersifat terbuka (open access)
dengan pemilikan yang bersifat umum (common property) diperlukan
usaha pengelolaan yang akan mengatur pemanfaatan, pelestarian, dan
(jika diperlukan) juga rehabilitasinya.
Peranan sumber daya ikan pelagis kecil sangat penting dalam
pembangunan ekonomi Indonesia. Sumber daya tersebut berperan dalam
pemenuhan gizi dan kebutuhan protein masyarakat di dalam negeri,
meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat nelayan serta
penduduk di wilayah pesisir. Selain itu, sumber daya ikan pelagis kecil
memberikan lapangan kerja, mendukung agribisnis, dan agroindustri serta
pengembangan wilayah (Widodo et al. 1994).
Sumber daya ikan pelagis kecil mempunyai sifat-sifat berikut: 1)
bentuk badan seperti cerutu, 2) kulit dan tekstur tubuh yang mudah
rusak serta daging yang berkadar lemak tinggi sehingga mudah mengalami
kerusakan mutu, 3) membentuk gerombolan-gerombolan yang terpencar
(patchness), 4) melakukan ruaya (migrasi) secara reguler baik temporal
maupun spatial mengikuti pola perubahan musiman dari kondisi
lingkungan, dan 5) mempunyai variasi rekrutmen yang tinggi dan erat
kaitannya dengan kondisi lingkungan yang labil (Widodo et al. 1994).
Pemanfaatan sumber daya ikan pelagis kecil di perairan Kawasan
Kepulauan Seribu dan Teluk Jakarta sudah berlangsung sejak tahun 1960an menggunakan alat tangkap bagan. Saat ini jenis-jenis alat tangkap
lainnya yang digunakan untuk pemanfaatan sumber daya ikan pelagis
kecil terutama jaring insang/rampus, sero, dan payang.
Dengan semakin pesatnya perkembangan pembangunan perikanan,
informasi sumber daya perikanan terkini sangat penting bagi para perencana
180
Keragaan Sumber Daya Ikan Pelagis Kecil di Perairan Teluk Jakarta dan Kepulauan Seribu
pembangunan perikanan di suatu daerah. Tulisan ini menyajikan hasil
riset tahun 2006–2007 serta 2010. Data dan informasi perikanan pelagis
kecil di perairan Kepulauan Seribu dan Teluk Jakarta yang dihasilkan,
diharapkan bermanfaat sebagai bahan rekomendasi dalam pelaksanan
pengelolaan di wilayah tersebut.
Metodologi
€
Gambar 1. Peta lokasi penelitian
Pengumpulan data perikanan pelagis kecil dilakukan oleh Tim Peneliti
dari Balai Penelitian Perikanan Laut pada tahun 2006–2008. Adapun jenis
data yang dikumpulkan meliputi data alat tangkap, daerah penangkapan,
jenis ikan yang tertangkap, dan beberapa aspek biologi ikan pelagis kecil.
Lokasi-lokasi penelitian pada tahun 2006 dipusatkan di perairan Teluk
Jakarta (Pulau Bidadari, Pulau Onrust dan sekitarnya) (Gambar 1), pada
tahun 2007 di perairan Kepulauan Seribu (Pulau Tidung, Pulau Kelapa,
181
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Pulau Lancang) dan pada tahun 2008 dipusatkan di gugusan Pulau Pari
dan sekitarnya.
Penelitian aspek biologi hanya dilakukan terhadap jenis ikan kembung
perempuan (Rastrelliger brachysoma) yang dilaksanakan pada tahun
2010. Pengumpulan data dilakukan dengan cara mengikuti aktivitas
penangkapan setiap jenis alat tangkap sampel di perairan. Pengambilan
sampel untuk pengamatan aspek biologi ikan kembung dengan melakukan
pengukuran terhadap karakter individu dari setiap individu ikan seperti
panjang (FL dan TL, cm), berat tubuh (gram), sex, tingkat kematangan
gonad (visual), berat gonad segar (gram). Sex dan tingkat kematangan
gonad (TKG) ditentukan secara visual melalui pembedahan bagian perut
(abdomen) terlebih dahulu. Gonad (testis dan ovary) ditimbang dalam
keadaan segar. Beberapa ovary, terutama TKG III/maturing dan IV/mature
diambil dan diawetkan dengan larutan Gilson untuk validasi TKG dan
eksaminasi telur/ova secara mikroskopik. Ekstra sampling juga dilakukan
terhadap ikan-ikan betina matang (dengan hydrated oocyte) yang biasanya
berukuran lebih besar. Posisi (Lintang dan Bujur) pengoperasian setiap
jenis alat tangkap yang diikuti, dicatat dengan alat GPS.
Hasil dan pembahasan
1. Jenis Sumber Daya Ikan Pelagis Kecil
Jenis-jenis ikan pelagis kecil yang tertangkap di kawasan perairan
Kepulauan Seribu—yang mencakup perairan Teluk Jakarta—umumnya
sama dengan yang biasa tertangkap di perairan lainnya di wilayah
Indonesia, seperti ikan kembung, banyar, selar, tembang, alu-alu,
tetengkek dan teri. Jenis-jenis ikan pelagis kecil tersebut juga ditemui
di perairan pantai lainnya, misalnya di perairan Laut Jawa, Selat Sunda,
Selat Malaka, dan di perairan barat Sumatera (Hariati 2005). Salah satu
jenis ikan yang kehadirannya temporer adalah ikan cekong (Sardinella
sp.). Ikan tersebut muncul ketika kadar garam perairan meningkat yang
disebabkan oleh perubahan cuaca. Jenis ikan pelagis kecil yang bernilai
ekonomis di antaranya adalah ikan kembung, ikan banyar, dan ikan selar
kuning (Indarsyah dan Hartati 2008).
182
Keragaan Sumber Daya Ikan Pelagis Kecil di Perairan Teluk Jakarta dan Kepulauan Seribu
Selama pengamatan terhadap hasil tangkapan dari beberapa jenis alat
tangkap yang beroperasi di kawasan Kepulauan Seribu dan Teluk Jakarta,
dapat diketahui terdapat 6 Famili ikan pelagis kecil yang terdiri dari 13
spesies yaitu Carangidae (5 spesies), Clupeidae (3 spesies), Scombridae
(2 spesies), Engraulidae (1 spesies), Sphyraenidae (1 spesies), dan
Chirocentridae (1 spesies). Nama jenis-jenis ikan pelagis kecil tersebut
beserta nama lokalnya dapat dilihat dalam Tabel 1.
Tabel 1. Sumber daya ikan pelagis kecil utama yang tertangkap di
perairan Kepulauan Seribu tahun 2006-2008
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13.
Famili
Carangidae
Clupeidae
Scombridae
Engraulidae
Spyraenidae
Chirocentridae
Spesies
Selaroides leptolepis
Alepes spp.
Atule mate
Selar crumenophthalmus
Selar boops
Sardinella gibbosa
Sardinella sp.
Amblygaster sirm
Rastrelliger kanagurta
Rastrelliger brachysoma
Stolephorus spp.
Sphyraena spp.
Chirocentrus dorab
Nama lokal
Selar kuning
Selar como
Selar hijau
Selar bentong
Selar bentong
Tembang
Cekong/Krismon
Siro/Lemuru Jawa
Banyar
Kembung
Teri
Alu-alu
Parang-parang
2. Jenis Alat Tangkap untuk Menangkap
Ikan Pelagis Kecil
Jenis-jenis alat tangkap yang dioperasikan nelayan di perairan
Kepulauan Seribu dan Teluk Jakarta adalah payang, bagan tancap,
muroami, sero, pancing dan jaring (gillnet) rampus. Pengamatan ini
khusus mengamati alat tangkap ikan pelagis kecil yaitu bagan, payang,
jaring rampus atau jaring kembung. Daerah penangkapan ikan pelagis
kecil hampir terdapat di seluruh perairan Kepulauan Seribu. Untuk bagan
terdapat di perairan Teluk Jakarta terutama di sepanjang pantai bagian
barat (Pulau Bidadari, Onrust, dan sekitarnya), Pulau Lancang dan di
gugusan Pulau Pari; untuk payang di perairan Teluk Jakarta misalnya
183
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Pulau Damar, Muara Angke dan sekitarnya pada kedalaman perairan 20–
30 meter, di Kepulauan Seribu sekitar Pulau Kelapa.
2.1 Bagan Tancap
Daerah Penangkapan
Berdasarkan hasil penentuan posisi geografis alat tangkap bagan tancap
di Teluk Jakarta pada tahun 2006, diperoleh daerah penangkapan bagan
seperti dalam Gambar 2 yang meliputi seluruh bagian dari Teluk Jakarta
dengan bagian terpadat di sebelah barat. Sedangkan 7 unit bagan tancap
sampel yang terletak di bagian barat Teluk sekitar Pulau Kayangan, Bidadari
dan Onrust posisinya dapat dilihat pada gambar 3. Lokasi penelitian pada
tahun 2007 dapat dilihat pada Gambar 4 di mana lokasi bagan sampel ada
di perairan sebelah barat Pulau Lancang, berjarak kurang lebih 1 km dari
pantainya. Menurut informasi nelayan, jumlah bagan di perairan Teluk
Jakarta pada tahun 2005 adalah 498 unit.
5.92
SKALA 1 : 50000
8
15
29
8
6.00
16
24
19
9
10
15 17
7
2
6
12
10
178
6.08
30
11
30
2420
6
10
42
16
9 13
9 5 8
1 9
12 1925
3
Lokasi aktivitas tangkap
Bagan
6.17
106.67
106.75
106.83
106.92
107.00
Gambar 2. Peta lokasi pengamatan aktivitas bagan tancap di seluruh
perairan Teluk Jakarta
184
Keragaan Sumber Daya Ikan Pelagis Kecil di Perairan Teluk Jakarta dan Kepulauan Seribu
6.1
2
6.05
. Kamal
1
3
4 6
5 7
6
Pluit
5.95
Priok
106.7
106.75
106.8
106.85
106.9
106.95
107
107.05 Gambar 3. Peta lokasi pengamatan aktivitas bagan tancap sampel di
perairan barat Teluk Jakarta, bulan Mei 2006 (1–7 = Posisi
bagan tancap yang diamati)
Komposisi jenis ikan hasil tangkapan bagan
Komposisi jenis ikan hasil tangkapan bagan pada tahun 2006
didominasi oleh ikan campuran (Trash Fish) sebanyak (60%), kemudian
diikuti oleh kelompok ikan pelagis kecil (36%) yaitu ikan banyar
(Scombridae) 21%, tembang (Clupeidae) 9%, dan teri (Engraulidae) 6%.
Sisanya (4%) terdiri dari jenis-jenis nonikan seperti sotong (Sepiidae),
rebon (Hemirhampidae), dan jenis-jenis ikan demersal kapas-kapas
(Gerreidae), seperti kuwe (Carangidae) dan sokang (Triacanthidae). Pada
tahun 2007, hasil tangkapan bagan didominasi oleh teri (49%), di mana
secara keseluruhan hasil tangkapan didominasi oleh kelompok ikan pelagis
kecil (71 %) yang terdiri dari ikan teri, belo, tembang, dan selar kuning.
Komposisi hasil tangkapan ikan pelagis kecil dari bagan pada bulan
Mei 2006 diperkirakan sebanyak 80%, yang terdiri dari ikan tembang
(36%), banyar (38%), dan ikan teri (6%). Pada bulan Oktober dan
Desember 2006, persentase hasil tangkapan ikan pelagis kecil dari hasil
tangkapan total bagan tancap menurun dari bulan Mei 2006 (80%)
menjadi masing-masing 20% dan 27%.
185
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Gambar 4. Daerah penangkapan ikan dengan bagan tancap di sekitar
Pulau Lancang, Kepulauan Seribu pada tahun 2007
Jika dibandingkan dengan hasil tangkapan bagan pada tahun 1996–
1998, telah terjadi gejala penurunan hasil tangkapan bagan pada tahun
2007. Pada tahun 1996–1998 hasil tangkapan bagan tancap mencapai 500
kg/bagan. Demikian juga dengan ukuran hasil tangkapan yang semakin
mengecil. Selain perubahan faktor lingkungan, bertambahnya jumlah
bagan tancap dan sero dari tahun ke tahun (adanya lebih tangkap) diduga
sebagai penyebabnya.
Ikan campuran (Trash fish) terdiri dari jenis-jenis ikan berukuran
kecil (nonekonomis) yang hampir selalu mendominasi hasil tangkapan
bagan di perairan Teluk Jakarta (Prihatiningsih dan Hartati 2008). Pada
bulan Mei 2006, dari pengamatan terhadap komposisi trash fish hasil
tangkapan 4 unit bagan sampel telah teridentifikasi 41 jenis ikan, 17 jenis
di antaranya adalah ikan pelagis kecil (44%) yang didominasi oleh ikan
tembang (Sardinellabrachysoma) 27% dan banyar (Rastreliger kanagurta)
17%. Kemudian kelompok ikan demersal (20 jenis) yang didominasi oleh
ikan petek (Leiognathus bindus) dari famili Leiognathidaedan, ikan beseng
(Ambassis spp.) dari famili Apogonidae, serta dari kelompok nonikan (4
186
Keragaan Sumber Daya Ikan Pelagis Kecil di Perairan Teluk Jakarta dan Kepulauan Seribu
jenis) didominasi oleh udang kipas (Chloridopsis scorpio) sekitar 16%.
Untuk mempertahankan kelestarian sumber daya ikan, diharapkan ikan
campuran (Trash fish) tidak tertangkap. Jika tidak tertangkap, trash fish
dapat tumbuh menjadi ikan yang memiliki nilai ekonomis lebih tinggi.
Laju tangkap ikan pelagis kecil
Hasil observasi dari 6 bagan pada bulan Mei 2006, hasil tangkapan
berkisar 10–132 kg dengan laju tangkap 50 kg/bagan/hari. Berdasarkan
pengamatan pada bulan Oktober 2006, hasil tangkapan total dari 2 bagan
masing-masing 150 kg dan 1.082 kg/dengan rata-rata 616 kg/bagan/
hari. Pada bulan Desember, hasil tangkapan dari 7 unit bagan berkisar
37–172 kg dengan laju tangkap 74 kg/bagan/hari. Diduga laju tangkap
ikan pelagis kecil pada bulan Mei, Oktober dan Desember masing-masing
40 kg/bagan/hari, 123,2 kg/bagan/hari, dan 20 kg/bagan/hari. Hasil
tangkapan ikan dari alat tangkap bagan tancap yang didaratkan di Pulau
Lancang pada bulan Juli 2007 berkisar 2–190 kg dengan laju tangkap 25
kg/bagan/trip/hari.
Selama pengamatan pada tahun 2006–2007, laju tangkap total jenisjenis ikan yang tertangkap bagan 38–170 kg/bagan/hari, sedangkan laju
tangkap ikan pelagis kecil berkisar 17–40 kg/bagan/hari. Mengingat
komposisi jenis-jenis ikan campuran (Trash fish) yang tertangkap oleh alat
tangkap bagan terdiri dari yuwana dan ikan-ikan ekonomis, diperlukan
pengaturan agar jumlah (%) tangkapan trash fish sekecil mungkin sehingga
ikan-ikan tersebut mendapat kesempatan tumbuh yang kemudian
tertangkap pada ukuran dewasa. Ukuran jenis-jenis ikan pelagis kecil
seperti ikan banyar dan tembang yang tertangkap di perairan Kepulauan
Seribu terutama oleh alat tangkap bagan pada umumnya relatif kecil karena
terdiri dari ikan muda, seperti yang telah dikemukakan oleh Prihatiningsih
dan Hartati (2008). Prihatiningsih dan Hartati (2008) menyarankan agar
areal penangkapan bagan sebaiknya tidak dibangun di lokasi-lokasi yang
merupakan daerah asuhan yang diduga berada di perairan Teluk Jakarta,
tetapi di perairan Kepulauan Seribu di mana tertangkap jenis-jenis ikan
teri seperti di sekitar Pulau Lancang.
187
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
2.2 Payang
Daerah penangkapan
Daerah penangkapan payang yang diamati pada tahun 2006 meliputi
perairan di sekitar Pulau Damar, Pulau Bendera, Pulau Onrust, Pulau
Putri dan di perairan sekitar Kronjo Muara Pecah, Muara Angke. Daerah
penangkapan yang diamati pada tahun 2007 adalah di sekitar perairan
Pulau Pabelokan sampai ke perairan Pulau Gosong pada kedalaman 20–
30 m. Lama trip payang adalah satu hari (one day fishing), yaitu dari jam
6 sore hari sampai jam 4–6 pagi keesokan harinya. Daerah penangkapan
kegiatan penangkapan jaring payang ada juga yang dilakukan hanya
pada siang hari, yaitu dari jam 07.00 sampai jam 14.00 siang. Daerah
penangkapan siang hari hanya di perairan sebelah barat Pulau Genteng.
Kapal yang digunakan berukuran panjang 10–12 m, lebar 2,0–2,5 m, dan
dalam 1,5 m dengan tenaga penggerak mesin 300 PK. Awak kapal jaring
payang berjumlah 6–8 orang. Dari 15 pelele atau pengumpul ikan yang
berada di Pulau Kelapa, rata-rata memiliki 7–8 armada.
Komposisi jenis ikan hasil tangkapan payang
Hasil tangkapan payang terdiri dari jenis-jenis ikan pelagis kecil
seperti ikan cekong (Sardinella sp.), kembung (Rastrelliger sp.), tembang
(Sardinella brachyosoma), alu-alu (Sphyraena sp.), dan jenis-jenis ikan
demersal. Dalam tahun 2006 hasil tangkapan didominasi ikan pelagis
kecil (83%), sedangkan ikan demersal 17% dari total tangkapan payang
(Tabel 2).
Pada bulan Agustus dan Oktober 2006, kelompok ikan pelagis kecil
mendominasi hasil tangkapan payang, masing-masing 70% dan 90%
(gambar 4), bahkan pada bulan Oktober, hasil tangkapan ikan pelagis
kecil mencapai 19 kali lebih besar daripada ikan demersal. Sebaliknya,
pada bulan Desember 2006, kelompok ikan demersal tertangkap tiga kali
lebih besar dari ikan pelagis kecil yang berjumlah 25%. Pada bulan Maret
2007, hasil tangkapan dari 3 unit payang didominasi oleh 2 jenis ikan
pelagis kecil (100%) yaitu ikan selar kuning (Selaroides leptolepis) 99% dan
sisanya 1% adalah ikan kembung (Tabel 5).
Hasil tangkapan ikan pelagis kecil yang tinggi pada bulan Agustus
dan Oktober 2006 disebabkan tertangkapnya ikan cekong/ikan krismon
188
Keragaan Sumber Daya Ikan Pelagis Kecil di Perairan Teluk Jakarta dan Kepulauan Seribu
(Sardinella sp.) dalam jumlah besar. Ikan cekong pernah muncul pada
tahun 1997, saat salinitas air laut tinggi karena musim kemarau yang
panjang. Pada bulan Desember ikan cekong sulit dicari sehingga nelayan
menangkap ikan demersal (ikan yang menetap di perairan Teluk Jakarta).
Tabel 2. Komposisi gabungan hasil tangkapan payang sampel (Agustus,
Oktober, dan Desember 2006) dari perairan Teluk Jakarta
Famili
Carangidae
Chirocentridae
Clupeidae
Engraulidae
Scombridae
Sphyraenidae
Trychyuridae
Nonikan
Kelompok/Jenis Ikan
I. Ikan Demersal
II. Ikan Pelagis kecil :
1. Como/Alepes djedaba
2. Selar kuning/Selaroides leptolepis
3. Parang parang (Chirocentrus dorab)
4. Cekong (Sardinella sp.)
5. Tembang (Dussumieria elopsoides)
6. Tembang (Escaulosa thoracata)
7. Tembang (Hilsa sp.)
8. Tembang (Sardinella brachysoma)
9. Tembang (Sardinella sp.)
10. Tembang (Thryssa mystax)
11. Teri (Stolephorus devisi)
12. Teri (Stolephorus waitei)
13. Teri (Anadontostoma chacunda)
14. Teri (Stoleporus indicus)
15. Banyar (Rastrelliger kanagurta)
16. Alu-alu (Sphyraena sp.)
17. Alu-alu (Sphyraena barracuda)
18. Layur (Trychiurus sp.)
19. Layur (Trychiurus savala)
udang dan cumi-cumi
Jumlah
Berat
(gram)
5.860,4
28.631,7
15,5
91,6
5,3
10.248
80
290
800
6.682,4
7.245,6
312,6
228,5
98,4
1.500
76,2
15,1
90
174
370
16,3
76,5
34.276,6
%
17,11
82,67
0,05
0,27
0,02
29,90
0,23
0,85
2,33
19,50
21,14
0,91
0,67
0,29
4,38
0,22
0,04
0,26
0,51
1,08
0,05
0,22
100
189
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Tabel 3. Laju tangkap ikan pelagis kecil dari payang pada tahun 2006
Bulan
Agustus
Oktober
Desember
Laju tangkap (kg/hari/kapal)
Total
Ikan pelagis kecil
137
98,6 (70%)
5.000
4.500,0 (95%)
42
10,5 (25%)
Jenis ikan pelagis kecil
dominan
tembang
cekong
tembang
100
% berat
80
60
40
20
0
Agustus 2006
Oktober 2006
ikan demersal
ikan pelagis
Desember 2006
non ikan
Gambar 5. Komposisi ikan demersal, ikan pelagis, dan non ikan yang
tertangkap payang bulan Agustus, Oktober, dan Desember
2006 di perairan Teluk Jakarta
Laju tangkap payang
Hasil tangkapan payang pada bulan Agustus 2006 berkisar 85–190
kg dengan laju tangkap 137 kg/trip/hari. Jenis yang mendominasi adalah
ikan campuran (Trash fish) mencapai 50%. Pada bulan Oktober 2006,
hasil tangkapan mencapai 2.083–7.045 kg/trip yang didominasi oleh ikan
cekong (Sardinella sp.). Berdasarkan data dan hasil wawancara pemilik
kapal payang, ikan cekong atau krismon muncul kembali ke perairan
Teluk Jakarta setelah 10 tahun yang lalu yaitu antara tahun 1996–1997
dengan hasil tangkapan mencapai 5 ton/payang. Hasil tangkapan payang
pada bulan Desember relatif rendah, yaitu pada kisaran 28–56 kg/trip,
dengan laju tangkap 42 kg/trip/hari. Berdasarkan persentase ikan pelagis
kecil dan hasil tangkapan payang pada 3 bulan pengamatan, laju tangkap
ikan pelagis kecil dapat dilihat pada Tabel 3.
190
Keragaan Sumber Daya Ikan Pelagis Kecil di Perairan Teluk Jakarta dan Kepulauan Seribu
Pada bulan Maret 2007, hasil tangkapan payang berkisar 60–600
kg dengan laju tangkap 216 kg/trip/hari/kapal. Pada bulan Juli 2007,
laju tangkap payang adalah 60 kg/hari/kapal didominasi oleh ikan selar
kuning dengan laju tangkap 9,4 kg/hari/kapal. Berdasarkan informasi
dari nelayan, hasil tangkapan yang melimpah biasanya terjadi pada bulan
Januari–Februari.
Tabel 4. Komposisi jenis ikan hasil tangkapan payang yang didaratkan di
Pulau Kelapa pada bulan Maret 2007
No
Jenis Ikan
Hasil tangkapan (kg)
%
1
Selar kuning (Selaroides leptolepis)
860
99
2
Kembung (Rastrelliger brachysoma)
5
1
865
100
Total
2.3 Jaring Rampus/Insang
Daerah Penangkapan
Daerah penangkapan jaring insang/rampus pada bulan Desember
2006 hanya di sekitar Pulau Damar, sedangkan pada tahun 2007 adalah
di sekitar perairan Pulau Lancang, Pulau Damar, Pulau Pari, dan Pulau
Pramuka. Pengoperasian jaring rampus umumnya dilakukan pada malam
hari, berangkat melaut pada pukul 17.00 sore dan kembali pada keesokan
harinya sekitar pukul 07.00 pagi. Perahu yang digunakan nelayan jaring
rampus berukuran panjang 6–7 m, lebar 2,5–3 m dan dalam 1 m dengan
menggunakan mesin 16 PK. Jumlah ABK antara 3–4 orang. Kegiatan
penangkapan ikan dengan gillnet kembung dilakukan secara harian,
dimulai dari pukul pukul 17.00 sampai dengan 06.00 WIB. Dalam satu
trip penangkapan biasanya dilakukan tawur sebanyak 2 kali.
Komposisi jenis ikan hasil tangkapan jaring insang
Komposisi hasil tangkapan jaring insang kembung pada bulan
Desember 2006 adalah kembung, banyar tembang, alu-alu, tenggiri,
kuro, kakap dan ikan campuran (Trash fish), sedangkan pada tahun 2007
didominasi oleh ikan kembung (Rastrelliger brachysoma) dan ikan banyar
(Rastrelliger kanagurta). Hasil identifikasi terhadap ikan campuran dari
jaring kembung sampel terdiri atas 17 jenis ikan dan 1 jenis nonikan
(rajungan).
191
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Laju tangkap jaring insang
Hasil tangkapan pada bulan Desember 2006 berkisar 18–64 kg,
dengan laju tangkap 45 kg/trip/hari. Berdasarkan berat masing-masing
jenis ikan, komposisi ikan campuran terdiri atas ikan pelagis kecil (78%),
ikan demersal (18,7%), ikan karang (2,3%), dan rajungan (1%) (Tabel 5).
Berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan terhadap ikan pelagis kecil
yang tertangkap jaring insang diketahui bahwa ukuran yang tertangkap
berkisar 10,0 cm dan 17,9 cm di mana ukuran rata-rata ikan kembung
(Rastrelliger brachysoma) dan tembang (Sardinella gibbosa) adalah 16,4 cm
dan 11 cm (Tabel 6).
Tabel 5. Komposisi ikan campuran tertangkap jaring rampus pada bulan
Desember 2006
No
Famili
No
I
II
Clupeidae
Scombridae
Carangidae
1
2
3
4
5
6
7
8
III
IV
Carangidae
9
10
Ikan demersal
Ikan pelagis
Berat
(gram)
1.849,7
7.713,6
18,7
78,0
Belo (Hilsa kelee)
Tembang (Sardinella gibbosa)
Cekong (Sardinella sp.)
Tembang (Sardinella fimbriata)
4.116,2
642,9
45,9
307,1
41,6
6,5
0,5
3,1
Banyar (Rastrelliger kanagurta)
Kembung (Rastrelliger brachysoma)
68,8
2.433
0,7
24,6
Selar kuning (Selaroides leptolepis)
Selar hijau (Atule mate)
Ikan karang
20,4
79,3
223,5
0,2
0,8
2,3
155,6
67,9
101,3
9.888,1
1,6
0,7
1,0
100,0
Jenis Ikan
Kuwe (Alepes vati)
Kuwe (Alectis sp.)
Nonikan
Jumlah
%
Laju tangkap ikan pelagis kecil pada bulan Desember diperkirakan
sebesar 35,1 kg/hari/trip. Pada tahun 2007, hasil tangkapan berkisar 26–
192
Keragaan Sumber Daya Ikan Pelagis Kecil di Perairan Teluk Jakarta dan Kepulauan Seribu
210 kg/hari/kapal, dengan laju tangkap 115 kg/kapal/trip/hari. Komposisi
hasil tangkapan dari 4 unit jaring kembung di perairan Kepulauan Seribu
pada bulan Mei 2007 didominasi kelompok ikan pelagis kecil yang terdiri
dari 5 jenis, yaitu ikan banyar (dominan), tembang, layur, tetengkek dan
alu-alu (Tabel 7).
Tabel 6. Ukuran ikan yang dominan di dalam hasil tangkapan jaring
rampus di perairan Teluk Jakarta pada bulan Desember 2006
Jenis ikan dan spesies
Jumlah
Belo, Hilsa kelee
Kembung, Rastrelliger brachysoma
Tembang, Sardinellagibbosa
65
28
31
Panjang cagak (FL)
Kisaran
Rerata
13,5–16,5
11,9–17,9
10–12,3
14,8
16,4
11,0
Tabel 7. Komposisi hasil tangkapan 4 kapal jaring kembung sampel di
perairan Kepulauan Seribu bulan Mei 2007
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9
Jenis Ikan dan non ikan
Banyar (Rastrelliger kanagurta)
Tembang ( Sardinella brachysoma)
Layur ( Trichius lepturs)
Tetengkek (Megalaspis cordyla)
Alu-alu ( Sphyraena forsteri)
Tongkol ( Scomberomorus sp.)
Tenggiri (Scomberomorus commerson)
Cumi-cumi (Loligo sp.)
Kuro ( Polydactylus plebeius)
Total hasil tangkapan
Hasil Tangkapan (kg)
350
25
2
3
3
18
46
3
4
460
%
76,1
5,4
0,4
0,7
0,6
3,91
10,00
0,65
0,86
100,00
Dari pengamatan dengan mengikuti kegiatan nelayan jaring kembung
pada bulan Juli 2007, rata-rata hasil tangkapan adalah 33 kg/kapal/ hari
terdiri atas ikan pelagis kecil yang didominasi oleh ikan kembung (30 kg),
banyar (2 kg), dan tetengkek (1 kg).
3. Biologi Reproduksi Ikan Kembung
Ikan kembung (R. brachysoma) di pantai utara Jawa termasuk
spesies neritic yang mengalami eksploitasi penuh (heavy exploitation) oleh
193
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
perikanan artisanal (pukat cincin mini) (Suwarso et al. 2010). Ukuran
ikan yang tertangkap semakin besar ke arah barat (Teluk Jakarta), di mana
di perairan Teluk Jakarta sex ratio lebih seimbang (F:M=1,0:1,2).
Lebih jauh lagi Suwarso et al. (2010) menyatakan bahwa pemijahan
ikan kembung diduga lebih terkonsentrasi di perairan sebelah barat
(Teluk Jakarta) walaupun di Blanakan juga terindikasi ada pemijahan.
Pemijahan diduga berlangsung setelah bulan Oktober. Berat rata-rata ikan
betina matang sekitar 91 gram; batch fecundity 244 butir/gram atau 5.930
butir telur matang. Data length-frekuensi menunjukkan kecenderungan
munculnya satu kelompok ukuran (modus), baik menurut waktu maupun
lokasi, kecuali di Teluk Jakarta (dua kelompok ukuran). Ukuran asymptotic
(L∞) berdasarkan ukuran maksimum yang tertangkap sekitar 19,9 cm.
Ukuran recruit (10 cm) terlihat di Teluk Jakarta. Rata-rata ukuran ikan
yang tertangkap (L50) sebesar 16,1 cm lebih rendah dari nilai ukuran
pertama kali matang gonad (Lm=16,37 cm). Ukuran ikan pertama kali
tertangkap (Lc) jauh lebih rendah dari kedua nilai tersebut sebesar 12,8
cm.
Kesimpulan dan saran
1. Jenis-jenis ikan pelagis kecil yang tertangkap di kawasan perairan
Kepulauan Seribu yang mencakup perairan Teluk Jakarta umumnya
sama dengan yang biasa tertangkap di perairan lainnya di wilayah
Indonesia terutama dari Laut Jawa. Sebagian besar dari hasil tangkapan
berukuran relatif kecil.
2. Alat tangkap yang paling efektif untuk menangkap ikan pelagis kecil
di wilayah perairan Kepulauan Seribu dan Teluk Jakarta adalah bagan,
payang, dan jaring (gillnet) kembung.
3. Selama pengamatan pada tahun 2006–2008, laju tangkap jenis-jenis
ikan pelagis kecil yang tertangkap bervariasi. Dari jenis alat bagan,
laju tangkap 38–170 kg/bagan/hari, dengan laju tangkap ikan pelagis
kecil berkisar 17–40 kg/bagan/hari, sedangkan dari jaring (gillnet)
kembung 33–100 kg/trip/payang/hari.
4. Ukuran jenis-jenis ikan pelagis kecil seperti ikan banyar dan tembang
yang tertangkap di perairan Kepulauan Seribu terutama oleh alat
tangkap bagan pada umumnya relatif kecil karena terdiri dari ikan
muda.
194
Keragaan Sumber Daya Ikan Pelagis Kecil di Perairan Teluk Jakarta dan Kepulauan Seribu
Saran yang dapat dikemukakan adalah:
1. Perlu pengaturan agar jumlah (%) trash fish menjadi sekecil mungkin,
untuk mendapat kesempatan tumbuh sampai ukuran dewasa sebelum
tertangkap.
2. Daerah penangkapan bagan sebaiknya tidak dibangun di lokasi-lokasi
yang merupakan daerah asuhan jenis-jenis ikan (yang diduga berada
di perairan Teluk Jakarta,) tetapi di perairan Kepulauan Seribu,
yang tertangkap hanya jenis-jenis ikan teri seperti di sekitar Pulau
Lancang.
Daftar Pustaka
Hariati T. 2005. Perkembangan Pemanfaatan Ikan Pelagis Kecil
Menggunakan Pukat Cincin di Perairan Barat Sumatera pada
Tahun 2003. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol. 11 No. 2:
57–67.
Indarsyah IJ dan ST Hartati. 2008. Kajian Aspek Biologi Selar Kuning
(Selaroides leptolepis) Hasil Tangkapan Jaring Payang yang Didaratkan
di Pulau Kelapa, Kepulauan Seribu. Dalam Prosiding Seminar
Nasional Ikan V. Masyarakat Iktiologi Indonesia bekerjasama
dengan PRPT, BRKP-DPK, FPIK IPB, PPB- LIPI & PPO-LIPI:
hal. 47–54.
Prihatiningsih dan ST Hartati. 2008. Perkembangan Perikanan dan
Aspek Biologi Beberapa Jenis Ikan Hasil Tangkapan Bagan
Tancap di Perairan Teluk Jakarta dan Kepulauan Seribu. Dalam
Prosiding Seminar Nasional Ikan V. Masyarakat iktiologi Indonesia
bekerjasama dengan PRPT, BRKP-DPK, FPIK IPB, PPB- LIPI &
PPO-LIPI: hal. 175–186.
Widodo J, et al. 1994. Pedoman Teknis Pemanfaatan dan Pengelolaan
Sumber Daya Ikan Pelagis Kecil dan Perikanannya. Departemen
Pertanian. Badan Litbang Pertanian Pusat Penelitian dan
Pengembangan Perikanan: 109 hal.
Suwarso, Hariati T dan Ernawati T. 2011. Biologi Reproduksi dan
Dugaan Pemijahan Ikan Kembung (Rastrelliger brachysoma, FAM.
SCOMBRIDAE) Di Pantai Utara Jawa. In press.
195
Perkembangan Kapasitas Penangkapan di
Perairan Jakarta dan Sekitarnya
Hufiadi*), Tri Wahyu Budiarti*), Baihaqi*), dan Mahiswara*)
*) Peneliti pada Balai Penelitian Perikanan Laut, Jakarta
Abstrak
Kajian perkembangan perikanan tangkap dilakukan berdasarkan
periodesasi. Trawl, jaring arad, bondet, jaring insang dasar yang
merupakan tipe alat tangkap yang beraktivitas di Teluk Jakarta dan
Kepulauan Seribu mengalami perkembangan, perubahan, dan pergeseran
orientasi. Pelarangan pengoperasian trawl tahun 1980 menyebabkan
perkembangan modifikasi alat tangkap jaring dogol, cantrang dan pukat
pantai berupa rancang bangun, konstruksi dan cara operasinya. Pada
periode setelah 1991, perkembangan teknologi pada pukat cincin ditandai
dengan penggunaan lampu sorot (fluorosence lamp) dan GPS, kemudian
tahun 2000-an memanfaatkan teknologi fish finder. Hal yang sama terjadi
pada perikanan bagan, pada akhir periode tahun 1990-an menggunakan
generator set sebagai sumber cahaya dan memasang fluorosence lamp,
sebagai upaya mengefektifkan upaya menarik ikan ke area penangkapan.
Berdasarkan kajian kapasitas penangkapan dikaitkan dengan pengukuran
efisiensi perikanan menunjukkan bahwa kapasitas penangkapan di
perairan Jakarta dan sekitarnya (payang, pancing, bubu dan muroami)
menunjukkan telah terjadi kelebihan kapasitas. Kondisi ini diindikasikan
oleh tidak optimalnya pemanfaatan kapasitas selama periode antara tahun
2001–2010.
Kata kunci: perkembangan, pemanfaatan, kapasitas penangkapan, Teluk
Jakarta, Pulau Seribu
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Pendahuluan
Aktivitas perikanan tangkap di Teluk Jakarta dan Kepulauan Seribu
terus berkembang, mengikuti kondisi sumber daya perikanan yang ada.
Berdasarkan data dan informasi yang berhasil dihimpun, terdapat beberapa
jenis alat tangkap yang tetap dioperasikan sepanjang periode waktu antara
1970 sampai dengan sekarang, antara lain bagan, bubu,sero, jaring insang.
Jenis alat tangkap muroami dengan target penangkapan ikan ekor koning
(Caesio spp.) yang pada tahun 70-an cukup dominan, sempat mengalami
penurunan, sebelum muncul kembali pada periode tahun 2000-an.
Produksi ekor kuning pada tahun 1969 -1977 mencapai kisaran 800 – 1400
ton/tahun, namun pada tahun 2001 - 2007, hasil tangkapan hanya pada
kisaran 1 - 34 ton per tahun (Anonim, 2007). Semenjak keluarnya Kepres
No. 39 Tahun 1980, alat tangkap trawl, tidak lagi beroperasi di perairan
Teluk Jakarta dan sekitarnya. Dalam perjalanannya, pengoperasian alat
tangkap yang masih ada saat ini telah mengalami penyesuaian dari segi
teknologi baik menyangkut alat tangkap, alat bantu penangkapan, wahana
maupun cara pengoperasian.
Pergeseran dominansi aktivitas jenis alat tangkap yang dioperasikan
di perairan Teluk Jakarta dan Kepulauan Seribu menyebabkan terjadinya
pergeseran dominansi produksi jenis ikan yang didaratkan. Pada periode
70-an, ikan hias merupakan salah satu komoditas yang dihasilkan dari
perairan Kepulauan Seribu. Namun, seiring dengan praktik penangkapan
yang tidak bertanggung jawab, saat ini dari wilayah perairan Kepulauan
Seribu tidak lagi dihasilkan jenis ikan hias bernilai ekonomis tinggi.
Di samping jenis ikan, perubahan juga terjadi pada ukuran ikan yang
tertangkap, yang cenderung semakin kecil seperti pada jenis ikan ekor
kuning (Caesio spp.) yang kembali muncul pada periode tahun 2000-an.
Pada tahun 2002 produksi penangkapan mengalami penurunan sebesar
17,29%, demikian juga nilainya menurun sebesar 39,10% (Fauzy dan Anna
2005). Patut diduga bahwa penurunan ini disebabkan karena tangkap
lebih (over fishing) sebagai akibat meningkatnya input/effort, tercemarnya
perairan serta kerusakan terumbu karang. Penangkapan yang berlebih ini
diindikasikan dari angka CPUE (catch per unit effort) yang mengalami
penurunan pada tahun 2000–2010.
198
Perkembangan Kapasitas Penangkapan di Perairan Jakarta dan Sekitarnya
Salah satu masalah yang dihadapi perikanan tangkap adalah adanya
tangkap lebih dan kapasitas lebih. Pada intinya, pengertian kapasitas
penangkapan mengacu pada komponen input dan output yang digunakan
dalam perikanan. Substitusi terhadap input berupa teknologi yang
lebih canggih menyebabkan upaya efektif terus meningkat. Kombinasi
peningkatan jumlah kapal, perbaikan dalam teknologi penangkapan,
dan ekspansi upaya penangkapan menyebabkan terjadinya fenomena
kapasitas lebih, baik dalam jangka pendek (excess capacity) maupun jangka
panjang (over capacity). Konsep kapasitas dalam perikanan tangkap dapat
didefinisikan dan diukur, baik dengan pendekatan ekonomi, teknologi
maupun dinyatakan secara eksplisit dalam optimisasi berdasarkan teori
mikroekonomi (Morrison 1985, 1993).
Tulisan ini menyajikan kajian perkembangan penangkapan ikan
dan kondisi pemanfaatan kapasitas yang terjadi di perairan Jakarta dan
sekitarnya berdasarkan data dan informasi yang berhasil dihimpun.
Bahan dan Metode
Data dan informasi kegiatan perikanan tangkap di perairan Jakarta
dan sekitarnya berupa data sekunder yang dihimpun dari berbagai sumber
serta data hasil penelitian. Data untuk keperluan kajian kapasitas perikanan
tangkap berupa data statistik perikanan yang dikeluarkan secara resmi oleh
Pemerintan Provinsi DKI Jakarta.
Analisis deskriptif digunakan untuk memperoleh gambaran
mengenai perkembangan perikanan tangkap. Untuk mengetahui kapasitas
penangkapannya, data dianalisis menggunakan metode Data Envelopment
Analysis (DEA) dengan pendekatan BCC (Cooper et al. 2004) dan PeakTo-Peak (PTP). Menurut Ballard dan Roberts (1997) dalam Zheng and
Zhou (2005), metode PTP adalah pengukuran sederhana terhadap respons
lembaga atau pengamat oleh industri untuk mengubah permintaan.
Pengukuran itu didasarkan pada tren melalui pendekatan puncak yang
dianggap mencerminkan output maksimum yang dicapai pada stok modal
dan ikan. Model analisis yang digunakan dalam analisis efisiensi bersifat
variable return to scale (VRS).
199
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Hasil Dan Bahasan
1. Perkembangan Teknologi Penangkapan
Pemanfaatan sumber daya perikanan di perairan Teluk Jakarta dan
Kepulauan Seribu telah berlangsung sejak lama. Kepulauan Seribu dengan
bagian terbesar merupakan habitat perairan karang, hingga saat ini masih
dikenal sebagai salah satu daerah penangkapan ikan-ikan karang, baik
untuk kelompok ikan konsumsi maupun ikan hias. Jenis alat tangkap yang
digunakan oleh nelayan untuk menangkap ikan karang sampai saat ini
antara lain adalah muroami dan bubu. Untuk sumber daya ikan pelagis
kecil antara lain menggunakan alat tangkap bagan dan jaring insang. Alat
tangkap pancing tonda dan jaring insang hanyut merupakan jenis alat
tangkap yang dioperasikan untuk menangkap ikan pelagis besar.
Kelompok ikan demersal dan sumber daya udang penaeid juga
merupakan komoditas yang dihasilkan dari perairan Teluk Jakarta dan
Kepulauan Seribu. Jenis alat tangkap seperti trawl, jaring arad, bondet,
jaring insang dasar merupakan beberapa contoh tipe alat tangkap tidak
mengusahakan sumber daya ini. Seiring dengan berjalannya waktu,
aktivitas pemanfaatan sumber daya ikan di perairan Teluk Jakarta dan
Kepulauan Seribu mengalami perkembangan, perubahan, dan pergeseran
orientasi.
Perubahan dalam pemanfaatan sumber daya ikan, merupakan
bentuk penyesuaian pemanfaatan terhadap berbagai faktor yang secara
langsung maupun tidak berpengaruh terhadap kondisi sumber daya
ikan dan lingkungan. Menurunnya kuantitas dan kualitas ikan hias dari
Kepulauan Seribu misalnya, merupakan akibat dari cara penangkapan
yang tidak mengindahkan kelestarian. Kondisi ini menyebabkan nelayan
menyesuaikan target penangkapannya dengan komoditas yang tersedia
dan melakukan pergantian alat tangkap, bahkan tekniknya.
Pergeseran aktivitas perikanan tangkap yang terjadi di Teluk Jakarta
dan Kepulauan Seribu terjadi sebagai dampak adanya perubahan peran
dan fungsi wilayah dalam rangka pengembangan ekonomi. Wilayah
perairan Kepulauan Seribu yang berada di ibukota terus didorong untuk
dikembangkan sebagai objek wisata bahari. Dampak positif kegiatan ini
200
Perkembangan Kapasitas Penangkapan di Perairan Jakarta dan Sekitarnya
adalah terjadinya pergeseran sebagian peran perikanan tangkap menjadi
bukan saja sekadar commersial fishing namun juga leisure fishing.
Pemanfaatan teknologi penangkapan dengan trawl (pukat tarik udang
tunggal) di Teluk Jakarta dan Kepulauan Seribu mengalami perkembangan
dalam dua periode, sebelum 1970 dan antara tahun 1971–1980. Sejak
tahun 1981, alat tangkap trawl mengalami penurunan yang drastis setelah
dikeluarkannya Keppres Nomor 39 Tahun 1980 tentang pelarangan
penggunaan alat tangkap trawl di seluruh perairan Indonesia.
Pelarangan pengoperasian trawl menyebabkan nelayan melakukan
pengembangan alat tangkap jaring dogol, cantrang dan pukat pantai
dengan melakukan modifikasi baik rancang bangun, konstruksi maupun
cara operasinya. Pada perikanan pelagis, awal tahun 1990-an penangkapan
ikan dengan pukat cincin mulai memanfaatkan perkembangan teknologi
berupa penggunaan lampu mercuri dan GPS. Pada tahun 2000-an,
penangkapan perikanan pelagis memanfaatkan teknologi fish finder untuk
melacak keberadaan ikan. Hal sama terjadi pada perikanan bagan, di
mana pada akhir periode tahun 1990-an, mulai menggunakan generator
set sebagai sumber cahaya dan memasang fluorosence lamp untik menarik
ikan ke area penangkapan.
Dalam satu dekade terakhir, jenis alat tangkap seperti pancing, bubu,
jaring insang, garpu, jala, tombak dan muroami masih dioperasikan nelayan.
Pengoperasian jenis alat tangkap ini sangat mungkin dikembangkan,
sekaligus untuk menunjang program pariwisata yang tengah dilakukan
di Kepulauan Seribu. Dengan memberikan sedikit sentuhan untuk
mendukung aspek keselamatan, unit-unit penangkapan tersebut sangat
potensial meningkatkan kesejahteran nelayan. Orientasi pengoperasian
alat tangkap yang selama ini hanya tertuju untuk memproduksi ikan
diharapkan dapat ditambah menjadi sebagai sarana perikanan rekreasi
(leisure fishing).
2. Kapasitas Penangkapan
Untuk mengetahui perkembangan perikanan tangkap di wilayah
Jakarta, telah dilakukan analisis kapasitas penangkapan terhadap 4 jenis
unit penangkapan yaitu payang, pancing, bubu, dan muroami. Data runtun
waktu yang digunakan adalah data perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan
201
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Provinsi DKI Jakarta periode tahun 2001–2010. Analisis digunakan untuk
mengetahui pola efisiensi dari keempat unit penangkapan.
2.1 Perikanan Payang
Hasil dari analisis kapasitas penangkapan menunjukkan bahwa payang
menghasilkan skor efisiensi paling tinggi yaitu rata-rata 0,8. Sementara
itu, untuk tiga alat tangkap yang lain yaitu pancing rata-rata 0,6; bubu
0,7; dan muroami rata-rata 0,6.
Gambar 1 memperlihatkan trajektori paling efisien perikanan payang
yang terjadi pada tahun 2001, 2002, 2006 dan 2008. Sementara itu,
trajektori paling tidak efisien terjadi pada tahun 2009 dan 2010. Perikanan
payang pada tahun 2001, 2002, 2006 dan tahun 2008 dapat dijadikan
tahun acuan, sedangkan tahun lainnya dibandingkan secara relatif terhadap
tahun tersebut.
Gambar 1. Trajektori efisiensi payang di perairan Teluk Jakarta
Peningkatan efisiensi yang tajam terjadi setelah tahun 2004 yang
dibarengi dengan ekspansi input (trip penangkapan) mencapai 170%.
Dengan peningkatan jumlah trip operasi secara agregat, terjadi juga
peningkatan output. Pada kondisi ekspansi seperti digambarkan mulai
tahun 2004 dan mencapai puncak pada 2006, akan terjadi kontraksi dari
sumber daya perikanan yang mengakibatkan stok sumber daya menurun.
Hal ini diperlihatkan dengan menurunnya tingkat efisiensi setelah tahun
2006. Ketika ekspansi kembali terjadi, efisiensi kembali meningkat,
namun pola yang sama terjadi kembali menurun setelah tahun 2008.
Pola seperti ini (double bump) akan terjadi berulang-ulang secara alami
202
Perkembangan Kapasitas Penangkapan di Perairan Jakarta dan Sekitarnya
pada perikanan yang dikelola secara quasi open access (Fauzi A dan Anna
2005).
Perbedaan produksi aktual dengan produksi potensial perikanan
payang selama periode 2001–2010 dapat dilihat pada Gambar 2. Dari
gambar tersebut tampak bahwa jika kapasitas perikanan dikendalikan,
produksi perikanan sebenarnya mampu ditingkatkan mengikuti grafik
produksi potensial, misalnya pada tahun 2009 dan 2010, kapasitas
perikanan payang masing-masing adalah 265% dan 477% lebih besar dari
produksi aktual. Dengan mengurangi kapasitas sebesar 73% dan 83%
pada tahun 2009 dan 2010 akan memungkinkan output diproduksi secara
optimal.
3000
Actualcatch(ton)
Produksi(ton)
2500
Potentialcatch(ton)
2000
1500
1000
500
0
2001
2002
2003
2004
2005 2006
Tahun
2007
2008
2009
2010
Gambar 2. Produksi aktual dan produksi potensial perikanan payang DKI
Jakarta periode tahun 2001–2002
Pada tahun 2010, khusus untuk payang hanya mampu mendukung
sekitar 17% dari sumber dayanya untuk mencapai kapasitas optimum.
Artinya, tingkat input yang ada saat ini sudah melebihi kapasitas yang
seharusnya (optimal).
2.2 Perikanan pancing
Gambar 3 memperlihatkan bahwa trajektori paling efisien perikanan
pancing terjadi pada tahun 2002, 2003, 2008 dan 2010. Sedangkan
trajektori paling tidak efisien terjadi pada tahun 2007 dan 2009. Pada
tahun 2007 dan 2009, masing-masing hanya mampu men-support sekitar
19% dan 18% dari input yang ada untuk mencapai kapasitas optimum.
Penurunan efisiensi yang tajam terjadi setelah tahun 2003 dan 2008.
203
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Hal ini lebih disebabkan oleh produksi aktual yang menurun drastis
dibandingkan dengan tahun sebelumnya dan jumlah upaya (effort) yang
ada tidak sebanding dengan hasil tangkapan yang diperoleh.
1.20
Efisiensi
1.00
0.80
0.60
0.40
0.20
0.00
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
Tahun
Produksi(ton)
Gambar 3. Trajektori efisiensi pancing di perairan Teluk Jakarta
3000
Potentialcatch(ton)
2500
Actualcatch(ton)
2000
1500
1000
500
0
2001
2002
2003
2004
2005 2006
Tahun
2007
2008
2009
2010
Gambar 4. Produksi aktual dan produksi potensial perikanan pancing
DKI Jakarta periode tahun 2001–2002
Kombinasi peningkatan jumlah kapal, perbaikan teknologi
penangkapan, dan ekspansi upaya penangkapan menyebabkan terjadinya
fenomena kapasitas lebih, baik dalam jangka pendek (excess capacity)
maupun jangka panjang (over capacity). Le Floc’h et al. (1998) dalam
Muldoon (2009) menyebutkan bahwa teknologi adalah penyebab utama
perubahan excess fishing capacity yang berdampak pada perikanan skala
tradisional maupun industri.
Kapasitas lebih (excess capacity) perikanan pancing divisualisasikan
pada Gambar 4, yaitu sebagai selisih kapasitas produksi potensial dengan
204
Perkembangan Kapasitas Penangkapan di Perairan Jakarta dan Sekitarnya
produksi aktual. Indikasi telah terjadi excess capacity pada perikanan
pancing terutama ditunjukkan pada tahun 2005, 2007, dan 2009. Pada
tahun 2005, 2007, dan 2009 kapasitas perikanan pancing masing-masing
adalah 265%, 415% dan 471%, lebih besar dari produksi aktual. Untuk
meningkatkan produksi perikanan pancing mengikuti grafik produksi
potensial pada tahun 2005, 2007 dan 2009 adalah dengan mengurangi
kapasitas masing-masing sebesar 73%, 81% dan 83%.
2.3 Perikanan Bubu
Berdasarkan perhitungan DEA, nilai kapasitas penangkapan perikanan
bubu yang beroperasi di perairan DKI Jakarta dan sekitarnya selama periode
2001–2010 diperoleh rata-rata sebesar 0,69. Hal ini mengindikasikan
bahwa selama periode tersebut perikanan bubu beroperasi 69% dari
kapasitas optimal. Artinya, perikanan tersebut semestinya mampu
menghasilkan produksi yang lebih tinggi seperti ditunjukkan oleh produksi
potensial dari yang ada saat ini. Secara teknis, perikanan mengalami excess
capacity sebesar 31%. Gambar 5 memperlihatkan trajektori paling efisien
pada perikanan bubu terjadi pada tahun 2002 dan 2009. Sementara itu,
trajektori paling tidak efisien terjadi pada tahun 2010 yang hanya mampu
men-support sekitar 24% dari input yang ada untuk mencapai kapasitas
optimum.
1.20
Efisiensi
1.00
0.80
0.60
0.40
0.20
0.00
2001
2002
2003
2004
2005 2006
Tahun
2007
2008
2009
2010
Gambar 5. Trajektori efisiensi bubu di perairan Teluk Jakarta
Perbedaan produksi aktual dengan produksi potensial perikanan
bubu selama periode 2001–2010 dapat dilihat pada Gambar 6. Pada
tahun 2010, produksi aktual diperoleh sebesar sebesar 0,297 ton. Pada
tahun 2010, nilai pemanfaatan kapasitas yang diperoleh paling kecil
205
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
(0,24) jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnyanya. Seharusnya
kapasitas perikanan bubu pada tahun 2010 adalah 318% lebih besar dari
produksi aktual. Dengan demikian, dengan mengurangi kapasitas sebesar
76% tahun 2010 akan memungkinkan output diproduksi soptimal secara
ekonomi.
Produksi(ton)
Potentialcatch(ton)
Actualcatch(ton)
3500
3000
2500
2000
1500
1000
500
0
2001
2002
2003
2004
2005 2006
Tahun
2007
2008
2009
2010
Gambar 6. Produksi aktual dan produsi potensial perikanan bubu DKI
Jakarta periode tahun 2001–2010
2.4 Perikanan Muroami
Berdasarkan hasil perhitungan, kapasitas penangkapan pada perikanan
muroami yang beroperasi di perairan DKI Jakarta dan sekitarnya, diperoleh
3 periode waktu yang mempunyai nilai efisiensi penuh (100%) yaitu tahun
2001, 2002 dan 2007 (Gambar 7). Hal ini menunjukkan bahwa pada
periode tersebut tingkat kapasitas pemanfaatan optimal dengan asumsi
tahun-tahun tersebut perikanan karang/demersal mencapai kondisi output
maksimum jangka pendek dalam kondisi teknologi penangkapan dan
stok yang ada. Sementara pada beberapa tahun lainnya, tingkat kapasitas
pemanfaatannya menunjukkan tingkat yang paling rendah (tidak optimal).
Nilai terendah tingkat pemanfaatan kapasitas pada periode waktu tersebut
adalah 0,43 terjadi pada tahun 2008 dan 0,13 pada tahun 2010. Artinya,
input potensial yang dimanfaatkan sekitar 43% dan 13% dari input aktual
selama kapal beroperasi. Dengan kata lain, pada tahun 2008 dan 2010
masing-masing hanya mampu men-support sekitar 43% dan 13% dari
input yang ada untuk mencapai kapasitas optimum.
206
Perkembangan Kapasitas Penangkapan di Perairan Jakarta dan Sekitarnya
1.20
Efisiensi
1.00
0.80
0.60
0.40
0.20
0.00
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
Tahun
Gambar 7. Trajektori efisiensi muroami di perairan Teluk Jakarta
Hasil tangkapan (actual catch) yang diperoleh pada kurun waktu 2001–
2010 mempunyai tren yang hampir sama jika dibandingkan dengan nilai
kemampuan tangkap (potential catch) (Gambar 8). Pada tahun 2009 dan
2010, kapasitas penangkapan payang yang sesuai adalah 265% dan 477%
lebih besar dari produksi aktual. Dengan mengurangi kapasitas sebesar
73% dan 83% pada tahun 2009 dan 2010, akan memungkinkan output
diproduksi secara optimal. Hal ini mengindikasikan pemanfaatan sumber
daya ikan perairan DKI Jakarta dan sekitarnya sudah mengalami kapasitas
berlebih (excces capacity). Excess capacity merupakan perbandingan relatif
antara tingkat tangkapan potensial (maksimal) terhadap hasil tangkapan
aktual berdasarkan pengamatan dalam jangka pendek.
Secara umum, perbedaan produksi aktual dengan produksi potensial
menunjukkan jika kapasitas perikanan dikendalikan, produksi perikanan
sebenarnya mampu ditingkatkan mengikuti grafik produksi potensial.
Dalam rangka mengatasi kapasitas berlebih, penerapan kebijakan
pembatasan intensitas berupa kebijakan pengurangan kapasitas harus
dilakukan oleh penentu kebijakan agar dihasilkan perikanan yang efisien.
Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan
penurunan efisiensi harus dikendalikan. Di samping pengendalian
upaya penangkapan (effort), faktor-faktor seperti pengendalian kondisi
pencemaran di perairan Jakarta dan sekitarnya mungkin akan membantu
meningkatkan efisiensi perikanan ke pengelolaan yang lestari.
207
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Produksi(ton)
Potentialcatch(ton)
Actualcatch(ton)
3500
3000
2500
2000
1500
1000
500
0
2001
2002
2003
2004
2005 2006
Tahun
2007
2008
2009
2010
Gambar 8. Produksi aktual dan produksi potensial perikanan muroami
DKI Jakarta periode tahun 2001–2010.
Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan
1. Perikanan tangkap yang beroperasi di perairan Teluk Jakarta dan
Kepulauan Seribu cenderung terus mengikuti dan memanfaatkan
perkembangan teknologi penangkapan yang berkembang. Sentuhan
teknologi ini juga merambah pada unit-unit penangkapan yang
mengoperasikan alat tangkap konvensional seperti bagan, pancing,
bubu, arad dan lain-lain, seperti pada penggunaan fluorosence lamp,
GPS, fish finder.
2. Secara umum kapasitas penangkapan payang, pancing, bubu dan
muroami menunjukkan adanya kelebihan kapasitas yang diindikasikan
oleh tidak optimalnya pemanfaatan kapasitas (CU) selama periode
antara 2001–2010. Hal ini mengakibatkan penangkapan sumber daya
ikan di Teluk Jakarta menjadi tidak efisien. Untuk mengefisienkan
penangkapan sumber daya ikan di Teluk Jakarta, harus dilakukan
pengurangan input yang berlebih di samping pengendalian faktorfaktor pencemaran perairan.
208
Perkembangan Kapasitas Penangkapan di Perairan Jakarta dan Sekitarnya
Saran
1. Pengendalian upaya penangkapan dan faktor-faktor pencemaran
lingkungan perairan harus terus dilakukan di perairan Teluk
Jakarta untuk meningkatkan efisiensi perikanan tangkap yang
berkelanjutan.
2. Pada saat ini, dengan meningkatkan aspek keselamatan armada
penangkapan, perikanan tangkap dapat lebih menyokong program
wisata Kepulauan Seribu melalui perikanan tangkap rekreasi (leisure
fishing), seperti yang sudah dimulai dalam beberapa tahun terakhir.
Daftar Pustaka
Anonim. 2007. Identifikasi Kondisi Sumber Daya dan Lingkungan pada
Lokasi Pemanfaatan Lahan Perikanan di Perairan Teluk Jakarta.
Laporan Akhir. 2007.
Cooper WC, LM Seiford , Tone, Kaoru. 2004. Data Envelopment Analysis. Massachusets: Kluwer Academic Publisher.
Dinas Kelautan dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta. 2011. Buku Tahunan
Statistik Perikanan Provinsi DKI Jakarta Tahun 2010. Jakarta .
Fauzi A dan S Anna. 2005. Data Envelopment Analysis (DEA) Kapasitas
Perikanan di Periaran Pesisir DKI Jakarta. Permodelan Sumber Daya
Perikanan dan Kelautan:
untuk Analisis Kebijakan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Moorrison CJ. 1985. Primal and Dual capacity utilization: An Aplication
to Productivity Measurenment in the U.S. Automobile Industry.
Journal of Business and Economic Statistics Vol.3. pp.312–324.
Moorrison CJ. 1993. A Microeconomic Aprooachto the Measurenment of
Economic Performance: Productyvity Growth, Capacity Utilization,
and Performance Indicators. Berlin: Springer-Verlag.
Muldoon GJ. 2009. Innovation and Capacity in Fisheries: Value-Adding and
The Emergence of The Live Reef Fish Trade as Part of The Great Barrier
Reef Reef-Line Fishery. Phd thesis, James Cook University, http://
eprints.jcu.edu.au.
209
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Subani W. 1978. Alat dan Cara Penangkapan Ikan di Indonesia, jilid I. :
LPPL.
Zheng Yi and Qi Zhou Ying. 2005. Measures of the Fishing Capacity of
Chinese Marine Fleets and Discussion of the Methods, www.terrapub.
co.jp diakses tanggal 10 Mei 2011
210
Upaya Menuju Pengelolaan Perikanan
Berkelanjutan: Fragmentasi Habitat Teluk
Jakarta dan Kepulauan Seribu
Oleh:
Suherman Banon Atmaja1)
Abstrak
Sejumlah artikel ilmiah dan populer menunjukkan krisis habitat
dan kegagalan pengelolaan perikanan yang telah menyebabkan krisis
ini. Dengan tingkat pencemaran Teluk Jakarta sudah sangat berat, sulit
merestorasi terumbu karang. Nasib nelayan di pesisir teluk tidak pernah
akan berubah, justru sebaliknya kehidupan mereka kian sulit akibat dampak
langsung dari krisis habitat. Upaya pengelolaan sumber daya perikanan
Teluk Jakarta .melalui intervensi lingkungan yang meliputi: membangun
terumbu karang buatan, rehabilitasi mangrove, dan marikultur. Proses
menuju pengelolaan perikanan berkelanjutan masih berhadapan dengan
permasalahan dasar yaitu human dimension. Selain itu, bentuk kebijakan
perikanan yang akan ditetapkan juga beragam sesuai dengan hierarki
perikanannya.
Pendahuluan
Secara umum diakui bahwa sumber utama krisis perikanan global
adalah buruknya pengelolaan perikanan yang dapat dilihat dari fenomena,
yakni over capcity dan kerusakan habitat. Dari kedua fenomena itu kemudian
muncul berbagai penyebab lain, misalnya subsidi yang massif, kemiskinan,
1
Peneliti pada Balai Penelitian Perikanan Laut Jakarta
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
over fishing dan berbagai turunan lainnya (Fauzi 2005). Permasalahan
dan bentuk ancaman yang sangat serius terhadap sektor perikanan dan
kelautan, yang terkait dengan kelestarian sumber daya hayati laut sebagai
masalah utama dalam pengelolaan dan pengembangan konservasi perairan
antara lain: (1) pemanfaatan berlebih (over exploitation) terhadap sumber
daya hayati, (2) penggunaan teknik dan peralatan penangkapan ikan
yang merusak lingkungan, (3) perubahan dan degradasi fisik habitat, (4)
pencemaran, (5) introduksi spesies asing, (6) konversi kawasan lindung
menjadi peruntukan pembangunan lainnya, dan (7) perubahan iklim
global serta bencana alam (Dermawan et al. 2008).
Teluk Jakarta terdiri dari dua ekosistem pantai (coastal ecosystems), yaitu
Teluk Jakarta dan Kepulauan Seribu atau Pulau Seribu Complex (Williams
et al. 2000 dalam Arifin 2004). Keseluruhan ekosistem, yang disebut
Greater Jakarta Bay Ecosystem terbentang dari garis bujur timur 106o 20’–
107o 03’, dari garis lintang selatan 5o 10’–6o 10’, terletak di bagian barat
Tanjung Pasir dan bagian timur Tanjung Karawang. Kawasan Kepulauan
Seribu memiliki karakteristik rantaian dari 110 gugusan pulau-pulau kecil
dengan rataan pantai yang dangkal dan terlindung (protected shallow sea)
memiliki ciri khas karang penghalang (barrier reef) dengan rataan pantai
memiliki reef flet dan goba (lagoon), secara ekologis merupakan bagian
yang tak terpisahkan dari Kawasan Metropolitan Jakarta (Gambar 1).
Situasi perikanan tangkap di Teluk Jakarta dan Kepulauan Seribu
saat ini yang meliputi: ekologis, ekonomi, sosial, kelembagaan dan
permasalahan terkait dengan kebijakan memperlihatkan kompleksitas krisis
pengelolaan. Perubahan signifikan yang telah terjadi adalah perubahan
wilayah pantai yang mencakup daerah tutupan hutan mangrove. Dalam
kurun 42 tahun, tutupan mangrove di kawasan teluk ini telah berkurang
dari semula 1.334 ha menjadi 232 ha, atau telah kehilangan sekitar 80%.
Perairan teluk ini kini telah menjadi hiper-eutrofik atau subur berlebihan
sampai sejauh 3–5 km dari pantai (Ongkosongo et al. 2008). Suharsono
(Media Indonesia; 27-4-2009) mengatakan bahwa pencemaran berat yang
melanda Teluk Jakarta membuat terumbu karang di perairan ini hanya
tersisa 2. Penyusutan habitat alami (50%) mengakibatkan penyusutan
keanekaragaman spesies (10%). Selain itu, juga mengakibatkan penyusutan
keanekaragaman spesies mencapai 50% (Keanekaragaman Hayati KelautanKeanekaragaman Hayati Laut. web.ipb.ac.id/ ~mujizat/). Sementara itu,
212
Upaya Menuju Pengelolaan Perikanan Berkelanjutan: Fragmentasi Habitat
Teluk Jakarta dan Kepulauan Seribu
sebagian besar pulaumya berada di kawasan Taman Nasional Kepulauan
Seribu (TNKPS), sebagai Kawasan Pelestarian Alam yang mempunyai
fungsi: (a) perlindungan sistem penyangga kehidupan, (b) pengawetan
keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, dan (c) pemanfaatan secara
lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.
Gambar 1. Ekosistem Teluk Jakarta terdiri dari dua ekosistem pantai (coastal
ecosystems), yaitu Teluk Jakarta dan Kepulauan Seribu atau Pulau
Seribu Complex (sumber: Williams et al. 2000 dalam Arifin
2004)
Berdasarkan aspek hukum dan kelembagaan, adanya disharmonisasi
dalam pengelolaan dan pemanfaatan kawasan konservasi dan terbatasnya
kapasitas pengelolaan, serta kurang koordinasi antarinstansi yang
bertanggung jawab terhadap pengelolaan sumber daya ikan menyebabkan
penegakan hukum tidak dapat terlaksana dengan baik. Dari faktor sosial
ekonomi diperoleh informasi bahwa tingkat kesejahteraan dan pendapatan
nelayan sangat rendah, sumber daya manusia rendah, serta belum ada
budaya konservasi.
213
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Tujuan utama dari makalah ini adalah untuk mengevaluasi kondisi
Teluk Jakarta dalam dua dekade terakhir, untuk menilai perubahanperubahan ekologi yang terjadi di perairan ini. Selain itu, juga meninjau
ulang sistem pengelolaan perikanan di DKI Jakarta, sejauhmana pengelolaan
sumber daya ikan berkelanjutan di Teluk Jakarta dan Kepulauan Seribu
Bahan dan Metode
Bahan tulisan ini merupakan hasil penelusuran studi pustaka. Analisis
kualitatif dilakukan dengan cara memetakan fenomena perikanan yang
sedang berlangsung didukung oleh diskusi terbatas dengan berbagai
pemangku usaha perikanan pada saat melakukan observasi lapang,
selanjutnya disajikan dalam bentuk deskriptif analisis.
Hasil Dan Pembahasan
1. Penurunan Kualitas Ekosistem Teluk Jakarta dan
Kepulauan Seribu serta Kondisi Perikanan Tangkap
Kondisi ekologis air laut dan kondisi ekosistem pantai memengaruhi
langsung kehidupan masyarakat. Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan
berlokasi di Teluk Jakarta dan dekat daratan Metropolitan Jakarta, harus
berhubungan dengan permasalahan kota besar. Permasalahan utama yang
datang dari Jakarta dan bagian pinggir kota adalah ledakan populasi dan
residu limbah rumah tangga serta industri. Menurut UNESCO (2000),
rata-rata 1.400 m3 sampah dibuang ke sungai sehari-hari. Diperkirakan
dalam sehari lebih dari 7.000 m3 limbah cair termasuk di antaranya yang
mengandung logam berat dibuang melalui empat sungai yang melintasi
wilayah Tanggerang dan bermuara di Teluk Jakarta, yaitu: Sungai Cisadane,
Cimanceri, Cirarab dan Kali Sambi (Lestari dan Edward 2004). Firman
dan Dharmapatni (1994) melaporkan polusi air telah berdampak terhadap
kesehatan manusia dan kehidupan akuatik. Polusi organik juga telah
berkontribusi terhadap kemunduran terumbu karang di Teluk Jakarta.
Kandungan air raksa di dalam spesies ikan komersil di esturin Angke
melebihi ambang batas petunjuk WHO dunia untuk konsumsi manusia.
Arifin (2004) menyatakan bahwa selama 20 tahun, rata-rata konsentrasi
Pb dan Cu dalam sedimen Teluk Jakarta meningkat masing-masing 5 dan
214
Upaya Menuju Pengelolaan Perikanan Berkelanjutan: Fragmentasi Habitat
Teluk Jakarta dan Kepulauan Seribu
9 kali. Distribusi spasial Pb dan Cu tertinggi di bagian barat dan tengah
Teluk Jakarta, di mana aktivitas manusia terkonsentarsi di kawasan ini.
Permasalahan pencemaran tersebut juga berpengaruh langsung,
terutama di sekitar kampung Pulau Untung Jawa dan Pari. Hanya di
kampung Pulau Tidung yang berlokasi lebih ke utara, kondisi air laut
masih relatif baik dibandingan kedua pulau sebelumnya. Survei terumbu
karang pada periode 1969–1995 sudah menunjukkan suatu kemunduran
kesehatan terumbu karang yang dramatis, dan beberapa pulau sudah
menghilang dalam dekade terakhir. Berdasarkan data jarak pulau dari
daratan Pulau Jawa dan persentase tutupan karang hidup memperlihatkan
semakin jauh dari daratan Pulau Jawa, kondisi terumbu karang semakin
baik (Tabel 1 dan Gambar 2). Jarak kurang dari 15 km dari pantai,
terumbu karangnya hanya tersisa kurang dari 5%, sedangkan untuk jarak
15–20 km dari pantai tinggal 5%–10%, dan pada jarak 20 km tinggal
20%–30%.
Tabel. 1. Persentase penutupan terumbu karang untuk 2 pulau di
Kepulauan Seribu
Lokasi
1969–1970
1985
1995
Pulau Pari
80%
22%
15%
Pulau Air
70%
25%
30%
Sumber: (UNESCO 2000)
Secara umum terumbu karang di Kepulauan Seribu dalam kondisi
baik pada 1920an, walaupun beberapa pengaruh manusia telah nyata pada
turumbu karang dekat pantai (Umbgrove 1928, 1929, 1939 dan Verwey
1931 dalam Cesar 1996). Dengan perluasan ibukota yang begitu cepat,
meningkatkan penggunaan sumber daya terumbu karang dan pulau-pulau
di Laut Jawa (Harger 1986 dalam Cesar 1996; Tomascik et al. 1994 dalam
Cesar 1996). Suatu kemunduran kesehatan terumbu karang yang dramatis
di Kepulauan Seribu direkam antara tahun 1985 dan 1995 (Vantier et al.
1998 dalam Cesar 1996).
Kondisi terumbu karang di Kepulauan Seribu pada umumnya dapat
dikategorikan dalam kondisi rusak hingga sedang. Persentase penutupan
karang hidup hanya berkisar 0%–24,9 % dan 25%–49,9%. Hal ini
menunjukkan dominasi tutupan unsur-unsur abiotik seperti pasir, pecahan
215
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
karang, serta karang mati telah melampaui 50%. Kerusakan terumbu karang
sebagian besar diakibatkan oleh penambangan karang batu untuk bahan
bangunan serta penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak
dan bahan kimia. Pada tahun 2000, terumbu karang di Kepulauan Seribu
mengalami pemulihan dengan tutupan karang hidup sekitar 20%–30%
(Burke et al. 2002). Pengamatan yang dilakukan pada bulan September
2005 menunjukkan persentase tutupan karang hidup tiap zona berkisar
24,6%–34,4% (Terangi 2007). Suharsono (Media Indonesia, 27-4-2009)
mengatakan bahwa tingkat pencemaran Teluk Jakarta sudah sangat berat,
sehingga terumbu karang yang tersisa tidak bisa lagi ditingkatkan dan
penanaman terumbu karang baru juga tidak bisa dilakukan. Satu-satunya
jalan untuk menumbuhkan kembali terumbu karang adalah dengan
memperbaiki kualitas perairan di Teluk Jakarta, dan ini pun sangat sulit
dilakukan.
Gambar 2. Hubungan antara tutupan karang hidup dan jarak dari
daratan (pengamatan 28 pulau di Kepulauan Seribu) (Sumber:
Hutomo 1987 dalam Cesar 1996)
Kawasan mangrove di wilayah DKI Jakarta pada tahun 1939 tercatat
1.210 ha (Backer 1952 dalam Waryono 2006), saat sekarang tercatat
tinggal 310,50 ha (Distanhut 2000 dalam Waryono 2006). Dari potensi
luasan tersebut, 168 ha di antaranya berada di pantai Jakarta, meliputi:
216
Upaya Menuju Pengelolaan Perikanan Berkelanjutan: Fragmentasi Habitat
Teluk Jakarta dan Kepulauan Seribu
(a) kawasan hutan lindung (44,0 ha), suaka alam (25,0 ha), dan hutan
wisata mangrove (99,0 ha). Hutan mangrove di pantai utara Jakarta dalam
kondisi kritis hanya tersisa 10% (3 km dari 32 km garis pantai Jakarta)
yang masih ditumbuhi mangrove (Kompas, 31-7-2009). Tekanan berat
terhadap kawasan mangrove di DKI Jakarta, antara lain meliputi: (a)
pengembangan permukiman, seperti kawasan Pantai Indah kapuk, (b)
pembangunan fasilitas rekreasi, dan (c) pemanfaatan lahan pasang surut
untuk kepentingan budi daya pertambakan.
Secara ekologis, degradasi fisik habitat hayati (yaitu: degradasi
mangrove, kerusakan terumbu karang, dan pencemaran, yaitu: sedimentasi,
eutrofikasi, kekurangan oksigen) berimplikasi langsung terhadap penurunan
produktivitas primer perairan dan spesies ikan memiliki tingkah laku
antarkoneksi habitat (inter habitat connectivity), seperti krustasea, moluska
dan ikan yang memiliki keteraturan migrasinya terganggu.
Gambar 3. Diagram illustrasi pergerakan ikan antara habitat mangrove,
padang lamun, dan terumbu karang pada perbedaan tingkat
daur hidup (adaptasi dari Mumby et al. 2003 dalam Unsworth
2007)
Khusus bagi ikan pelagis kecil yang bersifat neritik dan oseanik,
hilangnya perlindungan secara alami (daerah pemijahan dan asuhan)
yang berkaitan dengan estuarine dan perairan karang, akan menyebabkan
perubahan tingkah laku dan siklus hidup, mereka hanya didukung oleh
kondisi kawasan estuarine di sekitar Kepulauan Seribu dan adanya kolomkolom massa air yang berkualitas baik. Pada akhirnya berdampak terhadap
proses pemulihan (renewable) biota laut termasuk ikan, secara langsung
akan berpengaruh terhadap kuantitas dan kualitas stok ikan. Namun
demikian, penentuan krisis spesies dan varietas merupakan bagian tersulit
karena pelaporan kejadian banyak tidak didokumentasikan. Dari beberapa
217
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
indikator yang mendukung terjadinya krisis habitat, ditandai oleh sektor
produksi perikanan tangkap yang menurun selama kurun waktu tahun
1999–2002. Produksi ikan secara terus menerus mengalami penurunan,
semula 35.008,0 ton pada 1999 menjadi 28.525,6 ton pada tahun 2000
dan terakhir menjadi 17.828,7 ton pada tahun 2002 (DP2K-DKI 2003
dalam Arifin 2004). Bahkan sejak tahun 2002 lalu, produksi ikan nelayan
di kawasan ini menurun hingga 38%. Indikator lainnya adalah persepsi
pemimpin sosial lokal. Kebanyakan dari masyarakat Kepulauan Seribu
menyatakan bahwa kondisi sumber alam, yaitu terumbu karang dan
hutan mangrove menurun dibandingkan dengan 10 tahun sebelumnya,
dan kondisi ini juga berperan terhadap penurunan jumlah hasil tangkapan
(Napitupulu et al. 2005). Ribuan nelayan tradisional di perairan pantai
Kabubaten Indramayu juga merasakan kelangkaan ikan yang tidak ada
kaitannya dengan musim paceklik. Mereka menyatakan pada periode 70an merupakan masa jaya penangkapan. Pada periode 1985–1990-an mulai
terasa kemerosotan potensi sumber daya perikanan. Pada umumnya,
masyarakat nelayan di desa-desa pantai Utara Jawa menghadapi persoalan
yang sama dengan nelayan Indramayu, kecuali nelayan bermodal besar
yang beroperasi hingga lepas pantai (off shore). Secara sosial ekonomi,
tingkat kehidupan nelayan tradisional tidak banyak berubah. Justru tingkat
kesejahteraan mereka semakin merosot jika dibandingkan masa-masa
tahun 1970-an, bahkan para nelayan buruh lebih parah (Kusnadi 2002).
Kematian massal ikan dan biota air di perairan sekitar Ancol dan Dadap
pada tahun 2004 merupakan sinyal bahwa perairan Teluk Jakarta telah
mengalami tingkat pencemaran yang sangat berat. Untuk menghindari
kematian (cangkang kerang keropos) pada budi daya kerang hijau yang
banyak terdapat di perairan Kamal dan Dadap dari ancaman pencemaran,
mereka harus memindahkan rakit semakin ke Tengah. Pada Tambak
percobaan Instalansi Kamal Balai Riset Perikanan Laut, hampir dipastikan
spesies udang sudah tidak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik,
begitu juga hasil tangkapan udang di saluran tambak menurun drastis
sejak tahun 1990-an. Dengan demikian, nasib nelayan di pesisir teluk
tidak pernah akan berubah, justru sebaliknya kehidupan mereka kian sulit
akibat dampak langsung krisis habitat.
218
Upaya Menuju Pengelolaan Perikanan Berkelanjutan: Fragmentasi Habitat
Teluk Jakarta dan Kepulauan Seribu
2. Upaya Pengelolaan Sumber Daya Ikan Berkelanjutan
Gambar. 4. Dualistik kegiatan yang diperlukan untuk pengelolaan sumber
daya pesisir, yang tidak terbatas pada peraturan perikanan
(kiri), tetapi juga termasuk intervensi aktif bertujuan untuk
rehabilitasi habitat atau perangkat tambahan yang sebenarnya
(kanan)
Tantangan untuk memelihara sumber daya ikan yang sehat menjadi
isu yang cukup kompleks dalam pembangunan perikanan. Keberlanjutan
perikanan merupakan isu yang bersifat multidemensional. Dalam konsep
pengelolaan sumber daya ikan berkelanjutan, terdapat tiga komponen
penting yang berjalan dalam kondisi berimbang, yaitu: ekologi, sosial,
dan ekonomi. Secara empiris adalah proses tarik ulur antara ketiga
kepentingan tersebut (Satria 2004). Kusumastanto (*) menyatakan
bahwa perikanan yang berkelanjutan bukan semata-mata ditujukan
untuk kepentingan kelestarian ikan itu sendiri (as fish) atau keuntungan
ekonomi semata (as rents), tetapi lebih dari itu adalah untuk keberlanjutan
komunitas perikanan (sustainable community) yang ditunjang oleh
keberlanjutan institusi (institutional sustainability) yang mencakup kualitas
219
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
keberlanjutan dari perangkat regulasi, kebijakan, dan organisasi untuk
mendukung tercapainya keberlanjutan ekologi, ekonomi, dan komunitas
perikanan. Sementara itu, Pitcher dan Pauly (1998) menyatakan bahwa
lebih penting untuk memulihkan ekosistem dibandingkan terjaminnya
keberlanjutan, dan hal ini harus menjadi tujuan dalam pengelolaan
perikanan. Keberlanjutan adalah memberdayakan tujuan terkait dengan
pemanenan ikan oleh manusia yang mengarah pada penyederhanaan
terhadap pentingnya ekosistem, tingginya keuntungan, dan semakin
rendahnya “trophic level” jenis ikan yang dapat bertahan dari perusakan
maupun penurunan kualitas habitat.
Menurut Pauly dan Eng (1988) ada dua tingkat pengelolaan perikanan,
yakni pengelolaan melalui regulasi perikanan dan melalui intervensi
lingkungan. Regulasi perikanan meliputi aturan-aturan penutupan daerah
dan musim, peningkatan ukuran mata jaring, kontrol terhadap upaya
penangkapan, pembatasan jumlah izin masuk, pengunaan hak wilayah
(territorial uses right fisheries). Sementara pengelolaan melalui intervensi
lingkungan meliputi: membangun terumbu karang buatan, penanaman
kembali lamun, penanaman kembali mangrove, pengembalaan ikan di
laut, marikultur, dan kontrol yang ketat terhadap pencemaran (Gambar 4).
Dari beberapa penelitian menunjukkan ada beberapa indikator
yang diperkirakan sensitif terhadap pembangunan yang berkelanjutan di
pesisir Jakarta. Dari aspek ekonomi adalah pengaturan hasil tangkapan,
sistem bagi hasil, dan lapangan pekerjaan di luar sektor perikanan, serta
peningkatan taraf hidup. Aspek teknologi penangkapan diarahkan untuk
memperbaiki selektivitas alat tangkap. Perikanan di dalam teluk secara
ekonomi cenderung memiliki sustainability rendah. Hal tersebut terjadi
mungkin karena teluk telah tercemar, sehingga menghasilkan nilai
ekonomi rendah dan biaya sosial cukup tinggi (Fauzi dan Anna 2005).
Status keber1anjutan perikanan tangkap di DKI Jakarta berkaitan dengan
lapangan pekerjaan dan pendapatan alternatif di luar perikanan tangkap
(Susilo 2003). Beberapa strategi yang penting mendukung keberlanjutan
pengelolaan tersebut adalah pemberdayaan SDM, peningkatan
pengawasan melekat, penyuluhan kepada nelayan, manajemen terpadu
untuk mempertahankan fungsi ekosistem perairan, standarisasi terhadap
perikanan skala kecil, dan pengaturan hari operasi dengan penerapan closedopen season (Radarwati et al. 2010). Dengan demikian, tidak ada solusi
220
Upaya Menuju Pengelolaan Perikanan Berkelanjutan: Fragmentasi Habitat
Teluk Jakarta dan Kepulauan Seribu
sederhana yang dapat berfungsi sebagai model untuk mengelola sumber
daya milik bersama (common property resources), proses menuju pengelolaan
perikanan berkelanjutan atau masih berhadapan dengan permasalahan
dasar “human dimension“.
3. Restorasi Habitat dan Pemberdayaan Masyarakat
Beragam program untuk mengatasi krisis habitat dan penurunan
stok sumber daya ikan Kepulauan Seribu telah dilakukan. UNESCO-CSI
(1999), dalam rangka proyek “Environmental governance and wise practices
for tropical coastal mega-cities: Sustainable human development of the
Jakarta Metropolitan Area”, merumuskan kegiatan yang berkaitan dengan
peningkatan kualitas lingkungan hidup di Kawasan Metropolitan Jakarta,
secara garis besar sebagai berikut: (1) Menggalakkan partisipasi masyarakat
dalam peningkatan kualitas lingkungan hidup dengan mendorong
partisipasi masyarakat dan LSM dalam pembangunan masyarakat
berkelanjutan; (2) Mengintegrasikan kegiatan peningkatan kualitas
kawasan pesisir sebagai salah satu bagian dari program pembangunan
pemerintah (pusat dan daerah), merumuskan kebijaksanaan lingkungan
hidup dan sistem pemantauan, analisis and desiminasi hasil lapangan;
dan (3) Meningkatkan kesadaran sektor swasta (para pengelola kawasan
pariwisata dan kawasan industri) akan pentingnya arti dari pelestarian
lingkungan hidup.
Restorasi ekologi merupakan upaya untuk memulihkannya seperti
sediakala sebelum terdegradasi, sehingga menjamin kembali pulihnya
habitat bagi kehidupan satwa liar dan mengembalikan fungsinya sebagai
produsen primer dalam ekosistem dengan melihat dari berbagai sudut
pandang ilmiah. Restorasi habitat mangrove dan terumbu karang melalui
pemberdayaan masyarakat yang dituangkan terhadap arah kebijakan
perikanan bertujuan mempercepat pengembangan dan peningkatan
kesejahteraan masyarakat dengan prioritas utama budi daya perikanan dan
industri pariwisata bahari. Dua sektor ini diharapkan menjadi primemover pembangunan masyarakat dan wilayah Kabupaten Administratif
Kepulauan Seribu. Beberapa prioritas utama program yang dilakukan
bertujuan untuk: 1) memperbaiki produktivitas subsistem, 2) promosi
keikutsertaan dan community based management, 3) pengembangan
kesempatan kerja dan meningkatkan pendapatan kesejahteraan masyarakat
221
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
dan nelayan, 4) regenerasi lingkungan, dan 5) efektivitas pengaturan
sumber daya alam (Tabel 2).
Tabel 2. Beberapa program intervensi/manipulasi lingkungan dari Suku
Dinas Perikanan dan Kelautan di Kabupaten Administratif
Kepulauan Seribu
Jenis Budi daya
Lokasi
Ikan kerapu
Pulau Lancang, Pari,
Tidung dan Kongsi (1).
Pulau Panggang, Hara-pan,
Kelapa dan Kelapa dua (2)
Rumput laut
Pulau Pari, Kongsi, Tikus
dan Burung (1), Panggang
(2)
Transplantasi
karang
Tujuan
Sasaran
Pulau Gosong, Pulau
Pramuka Semak daun (2)
Pemulihan
kembali kondisi
terumbu karang
Meningkatkan
kesadaran Masyarakat
tentang arti penting
terumbu karang bagi
biota laut
Gugusan Pulau Untung
Jawa, Pulau Pari, Pulau
Tidung (1),
Mengamankan
kawasan
DPL dari
eksploitasi yang
berlebihan dan
mempertahankan
ekosistem
terumbu karang
Sarana peningkatan
produksi Perikanan,
meningkatkan
pendapatan
kesejahteraan
masyarakat dan
nelayan, lokasi
pemancingan,
ekowisata (diving)
Rumah
Singgah ikan
Pulau panggang dan
Harapan (2)
Program Sea
Farming
Semak daun (2)
Di luar kawasan MPA, (2) Dalam kawasan MPA *
(Sumber Suku Dinas Perikanan dan Kelautan DKI Jakarta)
Salah satu aktivitas penyuluhan dan pelatihan pemberdayaan masyarakat
terus dilakukan baik oleh pemerintah (Balai Taman Nasional Kepulauan
Seribu bersama dengan Suku Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi DKI
Jakarta) maupun oleh NGO, untuk mencari alternatif mata pencaharian
selain menangkap ikan Pelatihan teknis budi daya terumbu karang dan
ikan, serta NGO di Pulau Panggang memperkenalkan ekowisata, dimulai
organisasi akar rumput “Elang Ekowisata”. UNEP (2006) menyatakan
222
Upaya Menuju Pengelolaan Perikanan Berkelanjutan: Fragmentasi Habitat
Teluk Jakarta dan Kepulauan Seribu
organisasi ini tidak akan mampu berkembang jika ketiadaan pengalaman
dan dukungan dalam mengembangkan aktivitas-aktivitas yang berkaitan
dengan ekowisata. Fauziah (1994) menyimpulkan keadaan sosial ekonomi
nelayan yang mendapat kesempatan kerja di bidang Kepariwisataan sebagai
pemandu wisatawan bahari lebih baik daripada keadaan sosial ekonomi
nelayan biasa. Hal ini disebabkan nelayan pemandu wisatawan bahari
mempunyai 2 sumber mata pencarian, ketika pada saat tidak melaut
mereka bekerja tambahan di bidang kepariwisataan.
Selain itu, Suku Dinas Perikanan dan Kelautan, dalam penguatan
kelembagaan pengawasan dan pengendalian sumber daya kelautan dan
perikanan juga dilakukan pada kelembagaan pengawasan di tingkat akar
rumput melalui pengembangan Sistem Pengawasan Berbasis Masyarakat
(Siswasmas) dengan membentuk Kelompok Masyarakat Pengawas
(Pokmaswas) di beberapa Pulau di Kepulauan Seribu (Pulau Pari, Pulau
Tidung, Pulau Lancang, Pulau Panggang, Pulau Pramuka, Pulau Sebira,
Pulau Sepa). Pembentukan Pokmaswas adalah suatu proses membentuk
kelompok atau organisasi masyarakat yang akan mempunyai peran dan
fungsi bidang tertentu (konservasi, produksi, peningkatan peran, dan
kemampuan perempuan). Pokmaswas mempunyai tugas dan tanggung
jawab utama, yaitu (1) Menyebarluaskan informasi kepada masyarakat
tentang arti dan nilai penting ekosistem terumbu karang, adanya ancaman
terhadap kelestarian ekosistem terumbu karang serta upaya-upaya yang
harus dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan menjaga kelestarian
ekosistem terumbu karang. (2) Berperan aktif dalam penyusunan rencana
pengelolaan terumbu karang terpadu (RPTK Terpadu) yang mencakup
program pengelolaan terumbu karang, pengembangan mata pencaharian
alternatif, pengembangan prasarana dasar, dan peningkatan kapasitas dan
kesadaran masyarakat. (3) Mengimplementasikan RPTK terpadu sesuai
dengan bidang Pokmaswas yang bersangkutan, misalnya Pokmaswas
konservasi melaksanakan program-program pengelolaan terumbu karang.
(4) Membuat laporan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan program
kegiatan masing-masing Pokmaswas. Selain itu, di Kepulauan Seribu juga
sudah dikembangkan 5 (lima) lokasi DPL berbasis masyarakat (DPL BM)
yang dikukuhkan melalui SK Bupati Kepulauan Seribu nomor 375/2004,
yaitu Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan (Pulau Tidung, Pulau Pari),
Kecamatan Kepulauan Seribu Utara (Pulau Harapan, Pulau Panggang dan
Gosong Pramuka).
223
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
4. Peranan Perikanan Tangkap
Perikanan tangkap di Teluk Jakarta telah mengalami tekanan
pencemaran, sedangkan di bagian Utara (Kepulauan Seribu) dibatasi
oleh Kawasan Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu. Oleh karena itu,
Prioritas pengembangan perikanan tangkap adalah dengan melakukan
ekspansi daerah penangkapan ke luar teluk dan Kepulauan Seribu.
Hierarki perikanan tangkap di DKI Jakarta dapat dibedakan
berdasarkan kemampuan jangkauan daerah penangkapan, dengan
mengacu pada klasifikasi Yamamoto (1983), yaitu: (i) perikanan pesisir
atau coastal fishery, (ii) perikanan lepas pantai atau offshore fishery, dan (iii)
perikanan laut lepas atau distant-water fishery. Pada perikanan pesisir,
sebagian besar nelayan artisanal menggunakan jenis alat tangkap relatif
sederhana dan perahu relatif kecil, biasanya mereka kurang dari 10 gross
ton (GT), serta daerah penangkapan masih terkonsentrasi di dalam Teluk
dan Kepulauan Seribu. Terdapat tiga kelompok nelayan, yaitu nelayan
yang tinggal pesisir Pulau Jawa, nelayan di sekitar Kepulauan Seribu
yang sangat bergantung pada keberadaan terumbu karang dan nelayan
pendatang atau dikenal dengan “andon” yang berasal dari Jawa Tengah dan
Jawa Timur, umumnya mereka menggunakan pukat cincin dan cantrang.
Setelah keberhasilan motorisasi, kini daerah penangkapan beberapa alat
tangkap seperti muroami, bouke ami, gillnet, bubu, dan pancing, meliputi
Kepulauan Seribu, Kepulauan Karimunjawa dan Pulau Bawean, Pulau
Bangka dan Belitung, Selat Karimata, dan Laut Cina Selatan.
Di Jakarta Utara, jumlah nelayan yang terdaftar mencapai 18.996,
nelayan yang menetap sebanyak 11.525 dan nelayan pendatang sebanyak
7.471, yang hidupnya masih berada di dalam lingkaran kemiskinan. Dari
enam kecamatan, kawasan Cilincing menjadi salah satu tempat domisili
terbesar masyarakat nelayan di Jakarta Utara dengan jumlah nelayan
mencapai kurang lebih 8.000 nelayan dengan kehidupan yang umumnya
masih di bawah garis kemskinan (http/utara.jakarta.go.id). Hasil tangkapan
ratusan nelayan di sepanjang pantai utara Kabupaten Tangerang, Banten
terus berkurang karena kerusakan habitat yang diakibatkan hilangnya
hutan mangrove di sepanjang pantai dan adanya pengerukan pasir pantai.
Dalam dua tahun terakhir, ikan, udang, dan rajungan yang biasa mereka
tangkap sehari-hari, jumlahnya menurun drastis (indonesia.com). Selain
224
Upaya Menuju Pengelolaan Perikanan Berkelanjutan: Fragmentasi Habitat
Teluk Jakarta dan Kepulauan Seribu
itu, dengan terbentuknya seluruh wilayah Kepulauan Seribu menjadi
Kabupaten Kepulauan Seribu, ternyata berimbas ke kalangan nelayan
Tangerang karena mereka akan melanggar batas wilayah Jakarta. Sebagian
besar nelayan yang melaut hingga perairan Kepulauan seribu tidak
memiliki izin resmi (Suara Karya 22/5/2011). Sementara itu, ribuan
nelayan tradisional di pesisir utara Bekasi kini terancam bangkrut. Mereka
kekurangan modal untuk melaut dan mengembangkan usaha karena
penghasilan dari usaha perikanan tangkap terus merosot, sedangkan untuk
mengembalikan biaya operasional susah (Koran Tempo 2/8/2004)
Perikanan lepas pantai yang beroperasi di luar Teluk dengan kapal
lebih besar (biasanya lebih dari 10 GT) umumnya memiliki karakteristik
dimensi ekonomi menjadi dominan, karena pelaku perikanan terus
mengusung konsep efisiensi dan produktivitas, sehingga masalah ekologi
kerapkali diabaikan. Pada kenyataannnya, untuk alat tangkap tertentu
kerapkali daerah penangkapan antara perikanan pesisir dengan perikanan
lepas pantai tidak dapat dipisahkan secara tegas dan tumpang tindih
daerah penangkapan akan terjadi, terutama pada perikanan cantrang,
cumi-cumi, dan pukat cincin. Sementara itu, perikanan laut lepas yang
beroperasi di dalam zona ekonomi eksklusif Indonesia (ZEEI) sampai
di luar ZEEI (Samudera Hindia) digerakkan oleh pelaku yang berciri
industrial. Mereka padat modal dan berteknologi tinggi, terutama pada
perikanan tuna, cumi-cumi, dan pukat cincin pelagis besar. Pada Tabel 3
disajikan jenis alat tangkap berdasarkan klasifikasi perikanan yang berada
di DKI Jakarta.
Perkembangan yang sangat pesat pada perikanan lepas pantai dan laut
lepas, terutama perikanan tuna (rawai tuna), pukat cincin dan jaring cumi.
Namun, kontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja nelayan di pesisr
Teluk Jakarta masih relatif kecil, karena pada umumnya nahkoda lebih
mementingkan ABK dari keluarganya sendiri atau ABK yang berasal satu
desa dengannya, untuk lebih mudah diatur dan dipercaya. Selain itu, tidak
mudah untuk mengubah kebiasaan nelayan pesisir ke ABK nelayan kapal
yang beroperasi relatif lama
225
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Tabel 3. Jenis alat tangkap berdasarkan hierarki perikanan
Perikanan pesisir
Sero/Jermal
Cantrang/Dogol
Jr. rampus
Jr. Kritik
Jr. Insang lingkar
Tramell net
Jr. Insang lingkar
Jr. Insang hanyut
Jr. Insang tetap
Payang
Bagan Tancap
Bagan Perahu
Pukat Pantai
Pancing Lainnya
Perikanan pesisir
Kepulauan Seribu
Bubu
Pancing
muroami
Pukat
Bagan
jaring ikan hias
Arad,
Payang
panah, pengkoan
Perikanan lepas
pantai
Pukat cincin
Jr. Cumi-cumi
Cantrang
Jr. Insang hanyut
Pancing
Rawai dasar
Perikanan laut lepas
Rawai Tuna
Pukat cincin
Jr. Insang hanyut
Kesimpulan
1. Kesulitan pengelolaan di Teluk Jakarta dan Kepulauan Seribu
diakibatkan segenap faktor eksternal bekerja secara sinergis dan
bersama, sehingga menyebabkan efek akut terhadap ikan dan biota
air.
2. Upaya pengelolaan sumber daya perikanan Teluk Jakarta melalui
intervensi lingkungan yang meliputi pembangunan terumbu karang
buatan, rehabilitasi mangrove, dan marikultur.
3. Dengan tingkat pencemaran Teluk Jakarta yang sudah sangat
berat, sulit merestorasi terumbu karang. Satu-satunya jalan untuk
menumbuhkan kembali terumbu karang adalah dengan memperbaiki
kualitas perairan di Teluk Jakarta, dan ini pun sangat sulit dilakukan.
Oleh karena itu, nasib nelayan di pesisir teluk tidak pernah akan
berubah, justru sebaliknya kian mempersulit kehidupan mereka akibat
dampak langsung krisis habitat.
4. Upaya pemerintah dalam melaksanakan undang-undang telah
menyerahkan sebagian tanggung jawab untuk mengelola sumber
daya ikan kepada masyarakat lokal dalam bentuk kawasan konservasi.
226
Upaya Menuju Pengelolaan Perikanan Berkelanjutan: Fragmentasi Habitat
Teluk Jakarta dan Kepulauan Seribu
Namun, masih ada beberapa hambatan darlam mentransf pengelolaan
penuh kepada organisasi berbasis masyarakat, karena kontrol penuh
untuk pengelolaan bersama oleh masyarakat dan pemerintah masih
relatif baru dan belum teruji. Selain itu, keberhasilan pengelolaan
tersebut sangat bergantung pada ukuran kelompok, heterogenitas
peserta, ketergantungan mereka pada manfaat informasi yang tersedia
bagi peserta, dan latar belakang peserta
Daftar Pustaka
Arifin Z. 2004. Local Millenium Ecosystem Assessment: Condition and
Trend of the Greater Jakarta Bay Ecosystem. The Ministry of Environment, Republic of Indonesia. 30 pp
Burke L, Selig E and M. Spanding. 2002. Terumbu Karang yang Terancam di Asia Tenggara. Publikasi World Resources Institut, United
Nations Environment Program-World,Conservation Monitoring
Centre, World Fish Center, dan International Coral Reef Action
Network.44pp
Cesar,H. 1996. Economic Analysis of Indonesian Coral Reefs. International
Coral Reef Initiative. Evironment Department. Work in Progress.
103 pp. http://csc.noaa. gov/ mpas/
Dermawan A, A.Rusandi, D Sutono dan Suraji. 2008. Kebijakan Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan Mendukung Pengelolaan
Perikanan Berkelanjutan. Makalah disampaikan pada Konferensi
Nasional VI di Manado, 27 September 2008. surajis.multiply.com/
journal/item/20 - 93k
Fauzi A. 2005. Kebijakan Perikanan dan Kelautan, Isu, Sistesis, dan Gagasan. Jakarta: PT Gramedia, 187p.
Fauzi A dan Anna S. 2005. Pemodelan Sumber Daya Perikanan dan Kelautan untuk Analisis Kebijakan. Jakarta: PT Gramedia, 335p.
Fauziah H. 1994. Dampak Pembangunan Pariwisata terhadap Keadaan
Sosial Ekonomi Nelavan di Kepulauan Seribu. Ecotourism.:http://
digilib.ui.ac.id/opac/Firman T and IA Dharmapatni. The Challenges
to Sustainable Development in Jakarta Metropolitan Region, Habitat International, Vol. 18, No. 3 (1994), p. 88
227
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
http/ utara.jakarta.go.id.redaktur. Kehidupan Nelayan Jakarta Utara Masih
Memrihatinkan. Diakses tanggal 6 April 2011.
Kompas. 31/7/2009. Pantai Utara Kritis. http://koran.kompas.com/read/
xml/2009/07/31/03393673/pantai.utara.jakarta.kritis
Koran Tempo. 2/8/2004. Ribuan Nelayan Bekasi Terancam Bangkrut.
www.infoanda.com
Kusnadi. 2002. Konflik Sosial Nelayan: Kemiskinan dan Perebutan Sumber Daya Perikanan. LKIS. Jogyakarta. 190p
Kusumastanto (*). Kusumastanto T (*). .Revitalisasi Sektor Kelautan dan
Perikanan secara Berkelanjutan. tridoyo.blogspot.com
Lestari dan Edward. 2004. Dampak Pencemaran Logam Berat terhadap
Kualitas Air Laut dan Sumber daya Perikanan (Studi Kasus Kematian Massal Ikan –Ikan di Teluk Jakarta). Makara Sains. Vol.8.
No.2: 56–62
Media Indonesia. Rumah Ikan di Teluk Jakarta Tersisa 2%. Senin, 27 April
2009
Napitupulu, D Lydia, SN Hodijah and AC Nugroho, 2005. Sosio-Economic Assessment: In The Use of Reef Resources by Local Community and Other Direct Stakeholder (Angraini, editor): A research
Report Submmiied to: NOAA. The Indonesian Coral Reef Foundation (Yayasan Terangi). 128 pp.
Radarwati S, MS Baskoro, DR Monintja, A Purbayanto. 2010. Analisis
Faktor Internal – Eksternal dan Status Keberlanjutan Pengelolaan
Perikanan Tangkap di Teluk Jakarta. Jurnal Teknologi Perikanan
dan Kelautan. Vol. 1, No. 1
Pauly D and CT Eng. 1988. The Overfishing of Marine Resources: Sosioeconomi Background in Southeast Asia. Ambio, a Journal of The
Human Environment. Vol 17 (3): 200-206
Pitcher TJ and D Pauly. 1998. Rebuilding Ecosystems, Not sustainability,
as The Proper Goal of Fishery Management. in Reinventing Fisheries Management ed T. Pitcher, D. Pauly & P. Hart, (1998) Chapman
& Hall Fish and Fisheries Series. Pages 311–325 (Chapter 24 ).
228
Upaya Menuju Pengelolaan Perikanan Berkelanjutan: Fragmentasi Habitat
Teluk Jakarta dan Kepulauan Seribu
Ongkosongo OSR, Helfinalis, Pramudji, Hadikusumah, M Muchtar, T
Sidabutar, A Djamali, A Aziz, Ruyitno, Z Arifin. 2008. Kajian Perubahan Ekologis Perairan Teluk Jakarta. LIPI Press. 228 pp
Satria A. 2004. Paradigma Perikanan Berkelanjutan REPUBLIKA. Jumat, 16 Juli 2004
Suara Karya 22 Mei 2011. Perikanan Nelayan Tangerang Mengaku
Diperas Oknum Polair Jakarta. Suara karya online
Susilo SB. 2003. Keberlanjutan Pembangunan Pulau-Pulau Kecil: Studi
Kasus Kelurahan Pulau Panggang Dan Pulau Pari, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Disertasi. Program Pascasarjana Institut Pertanian
Bogor.
Terangi 2007. Terumbu Karang di Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Warta
Terangi Vol 2 No 1, Januari–Juli 2007. Yayasan Terumbu Karang
Indonesia.
Tridoyo KT. (*) Revitalisasi Sektor Kelanjutan dan Perikanan Secara Berkelanjutan. Pusat Kajian Sumber daya Pesisir dan Lautan. Institut
Pertanian Bogor. tridoyo.blogspot.com.UNEP 2006. Raising Awareness and Capacity of Grassroots Organisations on Coral Reef Ecology and Coral Reef Monitoring in Panggang Island in Case-Studies
of Coral Reef Monitoring and Management Projects (2004–2005).
Coordinating Body on the Seas of East Asia (COBSEA):13–17.
UNESCO-CSI. 1999. Environmental Governance and Wise Practices for
Tropical Coastal Mega-Cities: Sustainable Human Development of
The Jakarta Metropolitan Area. Workshop on Wise Coastal Practices for Sustainable Human Development. www.unesco.org/csi/
act/other/indonesi.htm.
UNESCO 2000. Reducing Megacity Impacts on The Coastal Environment-Alternative Livelihoods and Waste Management in Jakarta
and The Seribu Islands. Coastal Region and Small Island Papers 6,
UNESCO, Paris, 59 pp.
Unsworth RKF. 2007. Aspects of The Ecology of Indo-Pacific Seagrass
Systems. A thesis submitted for the degree of doctor of philosophy
Department of Biological Science University of Essex.
229
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Yamamoto T. 1983. Fishery Regulations Adopted for Coastal and Offshore
fisheries in Japan with particular reference to the Fishing Right System. Papers presented at the Expert Consultation on the Regulation
of Fishing Effort (Fishing Mortality), Rome, 17–26 January 1983.
Waryono T. 2006. Konsepsi Manajemen Pemulihan Kerusakan Mangrove di DKI Jakarta. Seminar Perencanaan Pemulihan Mangrove.
Yayasan Mangrove Indonesia. Jakarta 12 Desember 2006.
http://www.indonesia.com/.
tangerang.
230
hasil-tangkapan-nelayan-pantai-utara-
Alternatif Pengelolaan Sumber Daya Ikan
di Teluk Jakarta
Ali Suman *)
Abstrak
Perairan Teluk Jakarta dan sekitarnya sudah lama dimanfaatkan untuk
memenuhi kebutuhan ekonomi. Semakin meningkatnya angkatan kerja di
sektor perikanan dan meningkatnya permintaan akan komoditas perikanan
mengakibatkan tekanan penangkapan semakin intensif. Konsekuensi
logisnya adalah terjadinya penangkapan yang berlebih (over fishing) dan
dalam jangka panjang akan mengarah kepada terancamnya kelestarian
sumber daya ikan. Untuk mencegah hal tersebut, sumber daya ikan harus
dikelola secara rasional. Saat ini terlihat pengelolaan yang ada di Teluk
Jakarta belum memenuhi kaedah-kaedah tersebut. Dengan demikian,
perlu dilakukan pembaruan opsi-opsi pengelolaan untuk mencari alternatif
pengelolaan yang dapat memanfaatkan sumber daya secara berkelanjutan
di Teluk Jakarta. Alternatif pengelolaan yang dianjurkan adalah dengan
menerapkan opsi penutupan daerah penangkapan terutama pada daerah
asuhan, pembatasan upaya, penerapan kuota, dan mendorong budi daya
perikanan.
*) Peneliti pada Balai Penelitian Perikanan Laut Jakarta
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Pendahuluan
Produksi ikan di perairan Teluk Jakarta mengalami penurunan secara
terus menerus yaitu dari 35.008 ton pada 1999 menjadi 28.526 ton pada
tahun 2000 dan pada tahun 2002 menjadi 17.828,7 ton (DP2K-DKI,
2003 dalam Arifin 2005). Sejak tahun 2002 lalu, produksi ikan nelayan di
kawasan ini menurun hingga 38 persen. Indikator lainnya adalah persepsi
pemimpin lokal dan masyarakat Kepulauan Seribu yang menyatakan
bahwa kondisi sumber alam seperti terumbu karang dan hutan mangrove
menurun dibandingkan dengan 10 tahun yang lalu, dan kondisi ini turut
berperan terhadap penurunan jumlah hasil tangkapan (Napitupulu et al.
2005). Dengan demikian pengelolaan sumber daya ikan di Teluk Jakarta
saat ini belum mampu menjamin kelestarian sumber dayanya dan apabila
dibiarkan dalam jangka panjang akan dapat menyebabkan kepunahan
sumber daya di perairan tersebut.
Dalam kaitan tersebut, evaluasi pengelolaan terhadap sumber daya ikan
di perairan Teluk Jakarta mutlak diperlukan, mengingat penangkapan
yang dilakukan sangat intensif yang melibatkan berbagai bentuk armada
penangkapan. Hal ini menyebabkan intensitas pemanfaatan sumber daya
ikan telah berada pada tingkat yang tinggi dan kondisi pemanfaatan sumber
daya ikan saat ini sudah mengarah kepada pemanfaatan yang berlebih dan
cenderung sudah over-exploited. Apabila keadaan ini dibiarkan terus dalam
jangka panjang maka akan mengarah kapada terancamnya kelestarian
sumber daya dan bahkan dapat mengalami kepunahan. Oleh karena itu
perlu dilakukan kajian alternatif pengelolaan terhadap sumber daya ikan
di Teluk Jakarta untuk memberikan masukan dalam penyempurnaan
kebijakan pengelolaan sumber daya ikan tersebut. Dengan demikian tujuan
pengelolaan sebagaimana tertera dalam UU Perikanan No.45 tahun 2009
dapat tercapai serta dapat mengakomodir implementasi undang-undang
mengenai otonomi daerah.
Bahan dan Metode
Bahan makalah ini merupakan hasil penelusuran studi pustaka dari
berbagai sumber terutama dari hasil-hasil penelitian Balai Penelitian
Perikanan Laut Jakarta. Analisis kualitatif dilakukan dengan cara
memetakan fenomena perikanan yang sedang berlangsung didukung oleh
232
Alternatif Pengelolaan Sumber Daya Ikan di Teluk Jakarta
diskusi terbatas dengan berbagai sumber pada saat melakukan observasi
lapang.
Status Pemanfaatan
Kepadatan ikan demersal dan karang di perairan Kepulauan Seribu
pada tahun 2007 42 ekor/250 m2–536 ekor/250 m2, didominasi oleh
Caesionidae, Nemipteridae, Pomacentridae, Labridae, dan Lethrinidae.
Kepadatan ikan dalam kriteria sangat jarang, yaitu pada kisaran 1–5
ekor/m2. Pada umumnya hasil tangkapan menunjukkan kecenderungan
menurun dan relatif rendah. Pada perikanan muroami menunjukkan
gejala kolaps pada awal tahun 2000. Secara ekonomi usaha penangkapan
ikan demersal masih cukup menguntungkan dan layak untuk diusahakan,
dengan tingkat kelayakan usaha bervariasi antara 1,31–9,95. Hal inilah
yang menyebabkan nelayan masih terus memanfaatkan sumber daya
ikan demersal ini, walaupun dari sisi lain stok sumber daya ikan sudah
mengalami penurunan (Hartati et al. 2011).
Perairan Teluk Jakarta juga merupakan salah satu daerah penangkapan
sumber daya rajungan penting di pantai utara Jawa. Alat tangkap utama
untuk menangkap rajungan adalah jaring rajungan (lokal: kejer) dan
bubu lipat, sedangkan pada sero dan bagan merupakan hasil tangkapan
ikutan. Produksi rajungan cenderung menurun sejak tahun 2006. Pada
bulan April-Mei 2007, laju tangkap rajungan tertinggi (23 kg/unit/hari)
terdapat pada bubu lipat, diikuti oleh jaring rajungan, sedangkan terkecil
(3,25 kg/unit/hari) terdapat pada bagan tancap. Rata-rata ukuran rajungan
yang tertangkap dengan jaring insang relatif lebih besar. Hubungan lebar
karapas-berat individu bersifat isometrik yang berarti pertambahan panjang
sebanding dengan pertambahan beratnya (Sumiono et al. 2011).
Komposisi jenis kekerangan di Teluk Jakarta sekitar 103 jenis dan
yang mendominasi adalah S. cornea dan A. nodifera.Pemanfaatannya sudah
menunjukkan kecenderungan berlebih yang terindikasi dari menurunnya
jumlah jenis kerang sekitar 103 jenis pada tahun tahun 1977 menjadi
40 jenis pada tahun 1995. Jenis kerang dara dan bulu (Anadara spp.)
sudah tidak ditemukan pada stasiun pengamatan tahun 2006. Selain itu
CPUE kekerangan juga telah mengalami penurunan yaitu dari 2 ton per
trip tahun 1980 menurun menjadi 255 kg per trip pada saat ini. Daerah
233
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
penangkapan saat ini semakin menyempit hanya di perairan Tanjung
Kait. Pada awal 1980 daerah penangkapan kekerangan meliputi semua
perairan Teluk Jakarta, mulai dari perairan pesisir Tanjung Karawang,
Marunda, Cilincing, Kali Adem M. Angke dan Kamal sampai Tanjung
Kait. Berkurangnya daerah penangkapan tersebut diduga ikarena dampak
pencemaran dan adanya konflik interest dengan nelayan lokal terutama
nelayan jaring rajungan (Nuraini et al.,2011).
Kesimpulan yang dapat ditarik adalah sebagai berikut:
Selain jenis ikan demersal, tertangkap juga ikan pelagis kecil di perairan
Teluk Jakarta. Jenis-jenis ikan pelagis kecil yang tertangkap umumnya
sama dengan yang biasa tertangkap di perairan lainnya di wilayah
Indonesia terutama dari Laut Jawa. Alat tangkap yang paling efektif untuk
menangkap ikan pelagis kecil ini adalah bagan, payang dan jaring (gillnet)
kembung. Ukuran jenis-jenis ikan pelagis kecil seperti ikan banyar dan
tembang yang tertangkap di perairan Kepulauan Seribu terutama oleh alat
tangkap bagan pada umumnya relatif kecil karena terdiri dari ikan muda.
Status pemanfaatan sumber daya ikan pelagis kecil di perairan Teluk
Jakarta sudah berada dalam tahapan yang jenuh seperti umumnya yang
terjadi di Laut Jawa (Hariati et al. 2011).
Opsi-Opsi Pengelolaan
Menyadari keseriusan permasalahan pemanfaatan sumber daya
perikanan dunia, maka Komisi Perikanan Dunia (The Committe on Fisheries)
pada sidang yang kesembilan belas pada bulan Maret 1991 melakukan
pengembangan konsep baru menuju perikanan yang bertanggung jawab
dan berkelanjutan. Selanjutnya pada Konferensi Internasional tentang
penangkapan ikan yang bertanggung jawab yang diselenggarakan pada
tahun 1992 di Cancun, Mexico telah menunjuk FAO untuk mempersiapkan
suatu konsep petunjuk pelaksanaan (code of conduct) untuk penangkapan
ikan yang bertanggung jawab (responsible) dan memperhatikan prinsipprinsip berkelanjutan (sustainability). Pemanfaatan sumber daya secara
berkelanjutan (sustainable mangement) dalam perikanan timbul karena
adanya isu global tentang terbatasnya sumber daya perikanan di satu pihak
dan kebutuhan akan sumber daya perikanan yang terus meningkat akibat
meningkatnya penduduk di lain pihak. Dengan menerapkan konsep
234
Alternatif Pengelolaan Sumber Daya Ikan di Teluk Jakarta
pemanfaatan sumber daya perikanan yang berkelanjutan maka akan dapat
menyelamatkan sumber daya ikan tersebut dari kepunahan dan sekaligus
menyelamatkan kepentingan kehidupan semua orang yang bergantung
kepada sumber daya perikanan ini.
Pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan adalah
pemanfaatan sumber daya alam yang terbarui untuk kepentingan generasi
sekarang dan yang akan datang dengan tetap menjaga kelestarikan sumber
daya tersebut. Menurut Dahuri (2000), pemanfaatan sumber daya alam
secara berkelanjutan adalah suatu strategi pemanfaatan ekosistem alamiah
sedemikian rupa, sehingga kapasitas fungsionalnya untuk memberikan
manfaat bagi kehidupan manusia tidak rusak. Selanjutnya Monintja
(2000) menyatakan bahwa pemanfaatan sumber daya perikanan secara
berkelanjutan mempunyai beberapa kriteria yaitu: (1) hasil tangkapan
tidak melebihi jumlah yang boleh dimanfaatkan, (2) menggunakan bahan
bakar lebih sedikit, (3) secara hukum alat tangkap legal, (4) investasi yang
dibutuhkan rendah dan (5) produk mempunyai pasar yang baik.
Agar pemanfaatan sumber daya ikan ini dapat dilakukan secara
berkelanjutan, maka sumber daya ini harus dikelola secara rasional. Oleh
karena itu maka sumber daya harus dikelola mulai dari tingkat awal
pemanfaatannya sehingga diperoleh keseimbangan antara pengembangan
dan keuntungan yang optimal. Dalam konteks ini kita dianjurkan
untuk mengidentifikasikan tujuan-tujuan pengelolaan dan selanjutnya
menentukan metode yang paling sesuai untuk itu. Dalam menentukan
langkah-langkah pengelolaan maka harus didasarkan pada bukti ilmiah
yang akurat.
Berbagai macam peraturan dan undang-undang telah dikeluarkan
untuk pengelolaan dan pemanfaatan ikan yang berkelanjutan untuk
melindungi sumber daya tersebut dari kelebihan tangkap dan
kepunahannya. Pada prinsipnya metode-metode pengelolaan tersebut
digolongkan menjadi dua bagian yaitu pengontrolan ukuran udang yang
tertangkap dan pengontrolan jumlah penangkapan (amount of fishing).
1. Penutupan daerah dan musim penangkapan
Tindakan ini terutama dimaksudkan untuk memelihara siklus
pertumbuhan, agar tidak terjadi pemutusan terhadap siklus yang dapat
235
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
mengakibatkan penurunan populasi dan kepunahan satu atau beberapa
jenis udang. Tindakan ini terutama ditujukan untuk membatasi efisiensi
penangkapan, dan hanya akan efektif bila dilakukan secara simultan
dengan pembatasan terhadap ukuran, jumlah serta kekuatan mesin kapal.
Penutupan musim penangkapan tidak boleh berjalan terlalu
lama, sebab akan menimbulkan masalah ketenagakerjaan bagi nelayan
yang mata pencahariannya tergantung sepenuhnya pada kegiatan
penangkapan. Penutupan daerah penangkapan merupakan salah satu
faktor yang mempunyai pengaruh relatif terbatas terhadap pembatasan
upaya penangkapan. Penerapan tindakan ini pada umumnya dapat
berupa penutupan terhadap berlakunya suatu jenis alat tangkap tertentu,
misalnya trawl pada kedalaman atau jarak tertentu dari pantai. Dalam
prakteknya, pelaksanaan peraturan penutupan daerah penangkapan
kadang-kadang akan merupakan problema yang sulit diatasi tanpa adanya
patroli/pengawasan yang efisien.
2 Pembatasan Ukuran Ikan Terkecil
Pengontrolan ukuran ikan pada saat pertama kali ditangkap dengan
menentukan ukuran minimum yang boleh didaratkan ternyata kurang
efektif dan telah merangsang praktek-praktek memusnahkan dan
membuang kembali ke laut ikan-ikan yang ukurannya di bawah ukuran
yang telah ditentukan. Walaupun demikian, peraturan tersebut dapat
membantu dalam menegakkan peraturan lain seperti penutupan daerah
penangkapan. Peraturan ini mungkin akan lebih efektif jika pemasaran
ikan yang berukuran di bawah minimum yang telah ditetapkan juga
dilarang.
3 Pengaturan Ukuran Mata Jaring
Pengaturan ukuran mata jaring dimaksudkan untuk meloloskan
individu-individu ikan yang berukuran kecil (muda) dari suatu stok. Jika
pengaturan ukuran mata jaring telah menjadi pilihan, beberapa faktor
berikut perlu dicoba. Termasuk diantaranya selektivitas (pengaruh tipe
jaring dan benang yang berbeda dan ukuran hasil tangkap serta waktu
penarikan), pendugaan pengaruh jangka pendek dan jangka panjang dan
penentuan efektivitas penegakan peraturan.
236
Alternatif Pengelolaan Sumber Daya Ikan di Teluk Jakarta
4 Pembatasan Jumlah Penangkapan
Berbagai metode telah dicoba untuk mengurangi kematian karena
penangkapan, tetapi tingkat keberhasilannya cukup bervariasi. Termasuk
ke dalam cara pembatasan jumlah penangkapan ini adalah mempersingkat
musim penangkapan, mengurangi daerah penangkapan yang dibuka,
menggunakan alat dan metode yang kurang efisien, penentuan kuota
hasil tangkapan, pembatasan jumlah kapal atau izin penangkapan dan
pembatasan modal.
Karena kelimpahan stok sangat bervariasi (yang tergantung faktor
lingkungan), manajer harus diberi informasi peramalan terakhir jika ia
harus mengontrol tekanan penangkapan dan mencegah kelebihan tangkap
penambahan baru (recruitment over-harvest). Manajer juga harus cepat
menyadari setiap perubahan dari upaya penangkapan atau praktek-praktek
lain yang mungkin mempengaruhi total hasil tangkapan. Manajer harus
mempertimbangkan dampak sosial-ekonomi karena pengurangan efisiensi
nelayan terutama selama periode meningkatnya biaya operasional dan
pengolahan.
5 Pembatasan Alat Penangkapan
Hasil tangkapan dapat dikurangi dengan membatasi efisiensi unit
penangkapan yang ada dengan syarat nelayan tidak meningkatkan upaya
penangkapannya. Metode yang biasa digunakan adalah pembatasan ukuran
trawl atau melarang penggunaan trawl di daerah tertentu. Thailand telah
melarang penggunaan trawl bermesin pada perairan sejauh 3000 m dari
pantai. Di seluruh perairan Indonesia penggunaan trawl telah dilarang
untuk melindungi nelayan tradisional. Tindakan tersebut sudah tentu
memberikan dampak sosial ekonomi yang besar.
6 Kuota Penangkapan
Walau kuota terhadap total hasil tangkapan tahunan sering dilakukan
untuk hewan air yang umurnya panjang (ikan paus, halibut, cod,
udang Pandalid), tetapi kuota terhadap hasil tangkapan tidak begitu
cocok. Karena umurnya pendek, kuota tahunan tidak akan mengontrol
kematian penangkapan, bahkan mungkin akan merangsang nelayan
untuk menangkap secara intensif pada waktu musim penangkapan karena
khawatir jangka waktu kuota sangat singkat.
237
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Pembatasan hasil per kapal per hari atau per trip dapat mengurangi
mortalitas. Cara ini dilakukan pada beberapa perairan pantai di teluk
Meksiko-Amerika Serikat untuk membatasi penangkapan yuwana udang.
Hal ini memerlukan tingkat pemantauan yang tinggi agar penegakan
hukum dapat efektif.
7 Pembatasan Upaya Penangkapan
Walau metode pengelolaan lain seperti kuota penangkapan dapat
mencapai maksud-maksud biologi, tapi kontrol langsung terhadap upaya
penangkapan (atau kapasitas armada penangkapan) kelihatannya masih
perlu untuk merealisasikan keuntungan ekonomi yang nyata yang dapat
diperoleh dari pengelolaan yang efektif. Metode ini kelihatannya juga
dapat memberikan cara pengalokasian sumber daya diantara kelompok
pemakai yang berbeda-beda.
Implikasi Kebijakan
Sumber daya ikan dipandang sebagai sumber daya yang dapat pulih
kembali (renewable resources), maka pemanfaatan yang berkelanjutan harus
diartikan sebagai upaya pemanfaatan sumber daya yang laju ekstrasinya
tidak boleh melampaui laju kemampuan daya pulihnya. Oleh karena itu
rezim pemanfaatan secara terbuka, sebagaimana yang umumnya dianut di
Indonesia saat ini, sudah seharusnya tidak digunakan untuk mengusahakan
sumber daya ini.
Dari tujuh macam cara pengelolaan untuk menuju pemanfaatan
sumber daya ikan secara berkelanjutan seperti yang telah dikemukakan,
terlihat tidak seluruhnya dapat diaplikasikan dalam pengelolaan sumber
daya ikan di Teluk Jakarta. Pembatasan atau penentuan ukuran ikan
terkecil yang boleh didaratkan tidak dapat dilaksanakan, karena juvenil
ikan yang harus dilindungi dan ikan dewasa lainnya terdapat pada daerah
yang sama (bercampur). Kesukaran lain ialah jika sebagian hasil tangkap
nelayan terdiri dari ikan-ikan dengan ukuran dibawah ukuran ikan
terkecil yang telah ditetapkan, akan membuat nelayan membuang kembali
hasil tangkapannya ke laut dan akan terbuang percuma karena akan mati
sendiri.
238
Alternatif Pengelolaan Sumber Daya Ikan di Teluk Jakarta
Dengan demikian dari beberapa metoda pengelolaan yang dikemukan
untuk menuju pemanfaatan sumber daya ikan secara berkelanjutan
di perairan Teluk Jakarta, ternyata metode yang layak dilaksanakan
adalah penutupan musim dan daerah penangkapan, pembatasan upaya
penangkapan dan kuota penangkapan.
Penutupan daerah dan musim penangkapan bertujuan untuk
melindungi ikan muda serta meningkatkan ukuran ikan pertama kali
matang kelamin dan akhirnya meningkatkan produksi. Dengan metode
ini maka waktu yang krusial yang dibutuhkan oleh ikan dalam siklus
hidupnya, yaitu mulai memijah, menjadi larva dan menuju daerah asuhan
dalam bentuk post larva, dapat terlindungi dan dengan demikian akan
terjamin kelestarian sumber daya.
Penerapan metode pengelolaan berupa pembatasan upaya penangkapan
ikan didasarkan pada hasil riset kapasitas penangkapan. Kajian kapasitas
penangkapan perikanan tangkap kaitannya dengan pengukuran efisiensi
perikanan menunjukkan bahwa kapasitas perikanan Jakarta dan sekitarnya
(payang, pancing, bubu dan muroami) menunjukkan telah terjadi
kelebihan kapasitas diindikasikan sebagian besar berada pada tingkat
pemanfaatan yang tidak optimal (Hufiadi et al. 2011).
Selanjutnya pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya ikan yang
dapat diaplikasikan adalah kuota penangkapan. Kuota penangkapan
yang dilakukan adalah dengan membagi potensi penangkapan yang ada
berdasarkan kemampuan wilayah dalam menangkap ikan. Prinsip kuota
ini sangat sejalan juga dengan prinsip otonomi daerah yang mulai berlaku
sejak tahun 1999. Berdasarkan kemampuan penangkapan ikan per wilayah
tersebut maka alokasi penangkapan dan alokasi produksi masing-masing
wilayah di sekitar daerah penangkapan di perairan Teluk Jakarta.
Selanjutnya untuk mendasari pemanfaatan sumber daya ikan secara
berkelanjutan ke depannya, maka masukan data dan informasi penelitian
yang dibutuhkan disajikan pada Tabel 1.
239
Sumber Daya Ikan di Perairan Teluk Jakarta dan Alternatif Pengelolaannya
Tabel 1. Kebutuhan data dan informasi bagi pemanfaatan secara
berkelanjutan
Informasi
Kebutuhan metode pemanfaatan
- Rata-rata ukuran matang kelamin
Penentuan ukuran ikanl yang boleh
ditangkap
- Musim pemijahan
Penutupan daerah/musim
- Laju Pertumbuhan
Pengendalian jumlah upaya
- Laju Kematian
Pengendalian jumlah upaya
- Laju Pengusahaan
Pengendalian jumlah upaya
- Pola penambahan baru
Penutupan daerah/musim
- Indeks Kelimpahan Stok
Pengendalian jumlah upaya
- Potensi Lestari
Pengendalian jumlah upaya
- Ukuran Ikan
Penutupan daerah/musim
- Migrasi
- Daerah Pemijahan
- Selektivitas
- Kemampuan tangkap
Penutupan daerah/musim
Penutupan daerah/musim
Pembatasan alat tangkap
Pembatasan alat tangkap
Kesimpulan
Dalam rangka pemanfaatan sumber daya ikan secara berkelanjutan maka
harus dimulai dari awal pemanfaatannya, dengan mulai mengidentifikasi
skenario pengelolaan dan pemanfaatan yang sesuai dengan prinsip-prinsip
keberlanjutan. Dalam kaitan pengelolaan sumber daya ikan di perairan
Teluk Jakarta maka harus dilakukan pengendalian jumlah upaya seperti
pada tahun 2008. Selain itu, pada waktu-waktu tertentu harus dilakukan
penutupan daerah dan musim penangkapan serta penetapan kuota
penangkapan, disamping itu harus dilakukan MCS dengan baik.
240
Alternatif Pengelolaan Sumber Daya Ikan di Teluk Jakarta
Daftar Pustaka
Dahuri R. 2002. Regenerasi dan Peningkatan Kesejahteraan Nelayan.
Harian Kompas Jakarta, edisi 21 Februari 2002, hal: 28.
Hartati ST, IN Edrus, A Nurfiarini dan I Juanita. 2011. Status Perikanan
Ikan Karang dan Demersal di Perairan Kepulauan Seribu. Balai
Penelitian Perikanan Laut, Jakarta.
Hariati T, M Taufik dan M Fauzi. 2011. Status pemanfaatan Sumber Daya
Ikan Pelagis Kecil di Perairan Kepulauan Seribu. Balai Penelitian
Perikanan Laut, Jakarta.
Hufiadi TW, Budiarti, Baihaqi dan Mahiswara. 2011. Perkembangan
Perikanan Tangkap di Perairan Teluk Jakarta dan Sekitarnya.
Monintja DR. 2000. Prosiding Pelatihan untuk Pengelolaan Wilayah
Pesisir Terpadu. Pusat Kajian Sumber Daya Pesisir dan Lautan. IPB
Bogor, hal: 45–57.
Napitupulu, D Lydia, SN Hodijah and AC Nugroho. 2005. SosioEconomic Assessment: in The Use of Reef Resources by Local
Community and Other Direct Stakeholder (Anngraini, editor): A
research Report Submmiied to: NOAA. The Indonesian Coral Reef
Foundation (Yayasan Terangi). 128 pp.
Nuraini S, Wahyuningsih, Prihatiningsih dan Wejatmiko. 2011. Status
Pemanfaatan Kekerangan di Perairan Teluk Jakarta dan Sekitarnya.
Balai Penelitian Perikanan Laut, Jakarta.
Sumiono B, K Wagiyo, D Kembaren dan Prihatiningsih. Aspek
Penangkapan dan Biologi Rajungan (Portunus pelagicus Linn) di
Perairan Teluk Jakarta. Balai Penelitian Perikanan Laut, Jakarta
241
Download