pengaruh volume perdagangan dan rasio

advertisement
PENGARUH VOLUME PERDAGANGAN DAN RASIO FUNDAMENTAL
TERHADAP HARGA SAHAM SYARIAH (STUDI PADA JAKARTA
ISLAMIC INDEX PERIODE 2012-2015)
Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Untuk Memenuhi Syarat-Syarat Meraih Gelar Sarjana Ekonomi
Oleh:
Almas Khairuna
NIM: 1113046000030
JURUSAN EKONOMI SYARIAH
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1438 H/2017 M
PENGARUH VOLUME PERDAGANGAN DAN RASIO FUNDAMENTAL
TERHADAP HARGA SAHAM SYARIAH (STUDI PADA JAKARTA
ISLAMIC INDEX PERIODE 2012-2015)
Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Untuk Memenuhi Syarat-Syarat Meraih Gelar Sarjana Ekonomi
Oleh:
Almas Khairuna
NIM: 1113046000030
Di Bawah Bimbingan
Pembimbing
Dr. Sofyan Rizal, SE, M. Si
NIP. 19760430 201101 1 002
JURUSAN EKONOMI SYARIAH
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH
Yang bertanda tangan di bawah ini
Nama
: Almas Khairuna
NIM
: 1113046000030
Fakultas
: Ekonomi dan Bisnis
Jurusan
: Ekonomi Syariah
Dengan ini menyatakan dalam penelitian skripsi ini, saya:
1.
Tidak menggunakan ide orang lain tanpa mampu mengembangkan dan
mempertanggungjawabkan.
2.
Tidak melakukan plagiat terhadap naskah karya orang lain.
3.
Tidak menggunakan karya orang lain tanpa menyebut sumber asli atau
tanpa ijin pemelik karya.
4.
Tidak melakukan pemanipulasian dan pemalsuan data.
5.
Mengerjakan sendiri karya ini dan mampu bertanggung jawab atas
karya ini.
Jikalau kemudian hari ada tuntutan dari pihak lain atas karya saya, dan telah
melakukan pembuktian yang dapat dipertanggungjawabkan, ternyata memang
ditemukan bukti bahwa saya telah melanggar pernyataan di atas, maka saya siap
dikenakan sanksi berdasarkan aturan yang berlaku di Fakultas Ekonomi dan
Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya.
Jakarta, 15 September 2017
Yang Menyatakan
Almas Khairuna
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Data Pribadi
Nama
: Almas Khairuna
Tempat & Tanggal Lahir
: Jakarta, 9 Maret 1995
Jenis Kelamin
: Perempuan
Agama
: Islam
Alamat
: Perum Villa Nusa Indah blok V2 no 7, Bojong
Kulur Gunung Putri, Bogor
No Telepon
: 085694690395
Email
: [email protected]
Pendidikan Formal
2001 – 2006 : SDIT Fajar Hidayah Cibubur
2006 – 2007 : SDS Angkasa IX Jakarta
2007 – 2010 : SMP Negeri 81 Jakarta
2010 – 2013 : Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 4 Jakarta
2013 – 2017 : Program Sarjana (S1) Jurusan Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi
dan Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Pengalaman Organisasi
1.
Sekretaris Sie 2 OSIS MAN 4 Jakarta periode 2010-2011.
2.
Koord. Politik dan Berorganisasi OSIS MAN 4 Jakarta periode 2011-2012.
3.
Kegiatan dan Operasional Pramuka MAN 4 Jakarta periode 2011-2012.
4.
Sekretaris Bidang Publikasi dan Humas HMPS Muamalat periode 2014-2015.
5.
Wakil Ketua II Senat Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum periode 20152016.
6.
Wakil Bendahara PMII Komfaksyahum periode 2016-2017.
Pengalaman Kerja
1.
Staff bendahara KOMITE MAN 4 Jakarta.
ABSTRACT
This research aims to analyze and find out magnitude the influence of Stock
Trading Volume and fundamental rasio (Return on Asset, Price Earning Ratio,
and Altman Z-Score) on Sharia Stock Price in Jakarta Islamic Index (JII).
Dependent variable used is the sharia stock price, while independent variable is
Return on Asset (ROA), Price Earning Ratio (PER), and Altman Z-Score. The
data used in this research is panel data because combination of 17 listing
company in Jakarta Islamic Index (JII) and time series periode 2012-2015
published by Bursa Efek Indonesia official website.
This results of this research indicate that, stock trading volume is negative
significant and Return on Asset (ROA) is positive significant. While the other two
variables are Price Earning Ratio (PER) is not positively significant and Altman
Z-Score has no significant negative effect. If all independent variables are the
same then show the results of 68% above ratio to the stock price of sharia in JII.
Keywords: Jakarta Islamic Index (JII), Sharia Stock Price, Fundamental Analysis,
Stock Trading Volume, Return on Asset (ROA), Price Earning Ratio (PER),
Potensial of Bankruptcy with Altman.
ABSTRAK
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh dari
volume perdagangan dan rasio fundamental (Return on Asset, Price Earning
Ratio, and Altman Z-Score) terhadap saham syariah di Jakarta Islamic Index (JII).
Variabel dependen yang digunakan ialah harga saham syariah dengan variabel
independennya ialah Return on Asset (ROA), Price Earning Ratio (PER), dan
Altman Z-Score. Penelitian ini menggunakan data panel karena suatu kombinasi
dari 17 perusahaan terdaftar di Jakarta Islamic Index dan dalam kurun waktu
2012-2015 yang telah dipublikasikan di website resmi Bursa Efek Indonesia.
Hasil dari penelitian ini bahwa dua variabel memiliki pengaruh yang
signifikan yaitu, volume perdagangan berpengaruh negatif signifikan dan Return
on Asset (ROA) berpengaruh positif signifikan. Sedangkan dua variabel lainnya
menunjukkan hasil bahwa Price Earning Ratio (PER) berpengaruh positif tidak
signifikan dan Altman Z-Score berpangaruh negatif tidak signifikan.
Kata Kunci: Jakarta Islamic Index (JII), Harga Saham Syariah, Analisis
Fundamental, Volume Perdagangan, Return on Asset (ROA), Price Earning Ratio
(PER), Potensi Kebangkrutan Altman.
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillahirabbil ‘alamin, puji syukur penulis panjatkan kepada Allah
SWT yang telah dengan murahnya melimpahkan segala nikmat, hidayah, dan
kasih sayang-Nya kepada hambanya. Tidak lupa shalawat serta salam semoga
selalu tercurah kepada junjungan Nabi Muhammad SAW, berserta para keluarga
dan sahabat-sahabatnya.
Atas kehendak dan kemurahan Allah SWT, penulis dapat menyelesaikan
skripsi dengan tepat waktu “Pengaruh Volume Perdagangan dan Rasio
Fundamental terhadap Harga Saham (Studi pada Jakarta Islamic Index Periode
2012-2015). Skripsi ini ditujukan sebagai syarat kelulusan studi perkuliahan Strata
Satu (S1) di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatulla Jakarta.
Penulis menyadari bahwa selain pertolongan Allah SWT, terdapat pihak-pihak
yang telah mendukung dalam penyelesaian penulisan skripsi ini. Untuk itu,
penulis ingin mengucapkan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:
1.
Bapak Dr. Asep Saepudin Jahar, M.A., selaku Dekan Fakultas Syariah dan
Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
2.
Bapak Dr. M. Arif Mufraini, Lc., M.A., selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan
Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
3.
Bapak A.M. Hasan Ali M.A., selaku Ketua Program Studi Muamalat dan
Ketua Tim Task Force Passing Out Fakultas Syariah dan Hukum Universitas
Islam Negeri Syarif Hidayatullah.
4.
Bapak H. Abdurrauf, Lc., M.A., selaku Sekretaris Program Studi Muamalat
Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.
5.
Bapak Yoghi Citra Pratama, M.Si, selaku Ketua Program Studi Ekonomi
Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah.
i
6.
Pembimbing skripsi, Bapak Sofyan Rizan, yang telah dengan sabar dan baik
hati membantu penulis menyelesaikan skripsi, serta membagi ilmunya untuk
menjawab segala kebingungan penulis.
7.
Penasehat akademik, Bapak Syahrul A’dam, yang telah mengarahkan penulis
selama mengenyam pendidikan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
8.
Seluruh dosen yang telah membagikan ilmunya kepada penulis selama masa
perkuliahan. Semoga kebaikan bapak/ibu menjadi ladang pahala bagi
bapak/ibu.
9.
Seluruh jajaran karyawan Fakultas Syariah dan Hukum dan Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, yang telah bekerja keras untuk memberikan pelayanan
terbaik.
10. Kedua orang tua, Bapak Anis Ilahi Wahdati dan Ibu Susana Trisnawati yang
tak henti-hentinya memberikan dukungan secara moril dan doa. Ayah dan
Mama yang selalu memberikan hal terbaik sehingga memotivasi penulis
untuk membanggakan dan membahagiakan mereka.
11. Ketiga adik penulis, Nafiza, Haqi, dan Mizan yang selalu mengingatkan dan
memotivasi penulis untuk menyelesaikan studi, serta doa yang tak putus.
12. Sahabat-sahabat terbaik, Asri, Nina, Keke, Nurul, Tata, Ikoh, Rahma, Dara,
dan Ana yang telah melewati susah senang bersama-sama selama empat
tahun di UIN, menjadi pengingat satu sama lain untuk tepat waktu datang ke
kelas dan mengerjakan tugas. Kalian adalah orang-orang terbaik dalam
mendengarkan setiap keluh kesah dan menjadi penghibur di kala penat.
13. Haidar Hasan, yang telah mengajarkan nilai-nilai positif, selalu dengan sabar
mendengarkan setiap keluh kesah, juga telah menyediakan tumpangan ke
Ciputat dan atas semua dukungan serta do’anya.
14. Sahabat-sahabat sejak SMP, Tyas, Dhira, Putri, yang telah memberikan
banyak semangat kepada penulis dari depalan tahun yang lalu hingga saat ini.
Semoga kita bisa meraih impian masing-masing.
15. Teman-teman seperjuangan, Kelas A Jurusan Muamalat, yang telah mengukir
cerita tersendiri pada masa perkuliahan. Semoga kita semua bisa menjadi
orang-orang berguna.
ii
16. Teman-teman seperjuangan, PMII Komfaksyahum angkatan 2013, yang telah
memberikan banyak pengalaman dan bekal yang berharga. Semoga kita
semua bisa menjadi orang-orang yang dapat mendatangkan manfaat.
17. KBM PMII Muamalat, sebagai keluarga di Ciputat, yang telah menjadi
tempat berbagi pengalaman dan ilmu.
18. Teman-teman KKN, KKN Lintang Kerti khususnya Annisa, Anita, dan
Hasbi, yang sudah saling mendukung satu sama lain dari masa KKN hingga
sekarang.
19. Kepada pihak-pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, hal ini tidak
mengurangi rasa terimakasih penulis atas semua do’a dan dukungannya.
Semoga Allah SWT membalas kebaikannya dengan hal yang lebih besar.
Penulis menyadari bahwa karya ini masih jauh dari kata sempurna, karena
penulis memiliki keterbatasan ilmu dan kemampuan, sehingga penulis menerima
segala bentuk kritik dan saran yang membangun untuk selanjutnya. Penulis
berharap semoga karya skripsi ini dapat mendatangkan manfaat untuk berbagai
pihak.
Jakarta, 15 September 2017
Penulis
(Almas Khairuna)
iii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ...................................................................................... i
DAFTAR ISI .................................................................................................... iv
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................ vii
DAFTAR TABEL ............................................................................................ viii
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... ix
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................. 1
A. Latar Belakang Penelitian ........................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................... 7
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ................................................................ 7
D. Sistematika Penulisan ............................................................................. 8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ....................................................................... 10
A. Landasan Teori........................................................................................ 10
1.
Pasar Modal Syariah ........................................................................... 10
2.
Saham Syariah .................................................................................... 13
3.
Harga Saham Syariah ......................................................................... 16
4.
Laporan Keuangan .............................................................................. 17
5.
Volume Perdagangan .......................................................................... 18
6.
Analisis Fundamental .......................................................................... 19
7.
Return on Asset (ROA) ....................................................................... 20
8.
Price Earning Ratio (PER).................................................................. 21
9.
Potensi Kebangkrutan Altman Z-Score ............................................... 22
B. Penelitian Terdahulu................................................................................ 25
C. Keterkaitan Antara Variabel Bebas dengan Variabel Terikat ................... 30
D. Kerangka Pemikiran ................................................................................ 32
E. Pengembangan Hipotesis ......................................................................... 34
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ........................................................ 35
A. Rurang Lingkup Penelitian ...................................................................... 35
B. Metode Penentuan Sampel ...................................................................... 35
iv
C. Metode Pengumpulan Data...................................................................... 36
D. Metode Analisis ...................................................................................... 37
1. Uji Deskriptif Data ................................................................................ 37
a. Mean ................................................................................................ 37
b. Standar Deviasi................................................................................. 38
2. Uji Stasioneritas .................................................................................... 38
3. Pengujian Dasar Asumsi Klasik ............................................................. 39
a. Uji Normalitas ................................................................................. 39
b. Uji Multikolinearitas ....................................................................... 40
c. Uji Heteroskedastisitas .................................................................... 40
d. Uji Autokorelasi .............................................................................. 41
4. Analisis Data Panel ............................................................................... 42
a. Model Common Effect ..................................................................... 42
b. Model Fixed Effect .......................................................................... 42
c. Model Random Effect ...................................................................... 43
5. Tahapan Analisis Data........................................................................... 43
a. Uji Chow ......................................................................................... 43
b. Uji Hausman ................................................................................... 44
6. Pengujian Statistik ................................................................................. 45
a. Uji t ................................................................................................. 45
b. Uji F ................................................................................................ 45
c. Koefisien Determinasi R2 ................................................................ 46
E. Operasional Variabel ............................................................................... 47
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN............................................................ 49
A. Gambaran Umum Objek Penelitian ......................................................... 49
1. Tempat dan Waktu Penelitian ................................................................ 49
2. Gambaran Umum Jakarta Islamic Index (JII)......................................... 50
B. Deskriptif Data ........................................................................................ 51
C. Hasil dan Pembahasan Uji Stasioneritas .................................................. 53
D. Hasil dan Pembahasan Uji Asumsi Klasik ............................................... 55
1. Uji Normalitas ....................................................................................... 55
v
2. Uji Multikolinearitas ............................................................................. 56
3. Uji Heteroskedastisitas .......................................................................... 57
4. Uji Autokorelasi .................................................................................... 58
E. Hasil dan Pembahasan Uji Regresi Panel ................................................. 60
1. Uji Chow............................................................................................... 59
2. Uji Hausman ......................................................................................... 59
F. Hasil dan Pembahasan Pengujian Hipotesis Regresi Panel ....................... 60
1. Persamaan Regresi Linear ..................................................................... 62
2. Uji t ....................................................................................................... 63
3. Uji F...................................................................................................... 64
4. Uji Koefisien Determinasi R2 ................................................................ 64
G. Interpretasi .............................................................................................. 64
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................. 68
A. Kesimpulan ............................................................................................. 68
B. Saran ....................................................................................................... 69
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 71
LAMPIRAN ...................................................................................................... 75
vi
DAFTAR GAMBAR
No
Keterangan
Halaman
1.1
Perkembangan Indeks JII ........................................................................ 1
1.2
Grafik Harga Saham ................................................................................ 4
1.3
Grafik Volume Perdagangan .................................................................... 4
1.4
Grafik ROA (Return On Asset) ................................................................ 5
1.5
Grafik PER (Price Earning Ratio) ........................................................... 6
1.6
Grafik Altman Z-Score ............................................................................ 6
2.1
Kerangka Pemikiran ............................................................................... 33
4.1
Kapitalisasi Pasar JII ............................................................................... 51
4.2
Uji Normalitas ......................................................................................... 56
vii
DAFTAR TABEL
No
Keterangan
Halaman
2.1
Penelitian Terdahulu ................................................................................ 25
3.1
Operasional Variabel Penelitian .............................................................. 47
4.1
Daftar Sampel Penelitian ........................................................................ 49
4.2
Deskripsi Data Penelitian ........................................................................ 52
4.3
Uji Stasioneritas Level ............................................................................ 53
4.4
Uji Stasioneritas 1st Difference ............................................................... 54
4.5
Uji Stasioneritas 2nd Difference .............................................................. 55
4.6
Uji Multikolinearitas ............................................................................... 57
4.7
Uji Heteroskedastisitas ........................................................................... 58
4.8
Uji Autokorelasi ..................................................................................... 58
4.9
Hasil Uji Chow ....................................................................................... 59
4.10
Hasil Uji Hausman ................................................................................. 60
4.11
Pengujian Statistik .................................................................................. 61
viii
DAFTAR LAMPIRAN
No
Keterangan
Halaman
1.1
Hubungan Harga Saham dengan Variabel Independen ............................. 75
1.2
Data Penelitian ........................................................................................ 82
1.2
Deskripsi Data ........................................................................................ 85
1.3
Uji Multikolinearitas VIF ....................................................................... 85
1.4
Uji Heteroskedastisitas ........................................................................... 86
1.5
Uji Autokorelasi ..................................................................................... 87
1.6
Uji Common Effect ................................................................................. 88
1.7
Uji Fixed Effect ...................................................................................... 89
1.8
Uji Chow ................................................................................................ 90
1.9
Uji Random Effect .................................................................................. 91
1.10
Uji Hausman .......................................................................................... 92
ix
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Penelitian
Ekonomi syariah secara akademik dan kelembagaan mempunyai
harapan masa depan yang cerah di Indonesia. Perkembangan ekonomi syariah
dari sisi akademik terlihat dari menjamurnya pendidikan fokus ekonomi
syariah di tingkat universitas. Di sisi lain, perkembangan secara kelembagaan
ditunjukkan dengan pendirian Bank Muamalat pada tahun 1991 dan
kemudian pada tahun 1997 menyusul penerbitan reksadana syariah. Pada
tanggal 3 Juli 2000 diresmikan pasar modal syariah sebagai instrumen
pelengkap dengan nama Jakarta Islamic Index (JII) untuk menunjang
berkembangan ekonomi syariah secara kelembagaan. Tujuan dari JII adalah
sebagai tolak ukur standar dan kinerja pasar saham syariah di Indonesia,
selain itu dapat menjadi sarana pemandu bagi investor yang ingin
menyalurkan dananya pada pasar modal yang berprinsip syariah.
Selama
operasionalnya,
pasar
modal
syariah
menunjukkan
perkembangan yang baik, seperti dalam kurun waktu 5 tahun terakhir indeks
saham syariah mampu tumbuh sebesar 43% angka ini mengungguli
pertumbuhan IHSG yang berada di angka 41%. Hingga pada akhir tahun,
saham syariah di Jakarta Islamic Index mengalami kenaikan sebesar 8,05%
serta kenaikan kapitalisasi sebesar 7,91% dengan pangsa pasar sebesar
35,65% dari total kapitalisasi pasar saham di Bursa Efek.
Gambar 1.1
Perkembangan Indeks JII
Perkembangan indeks
Perkembangan indeks
691.04
372.29
2012
603.35
585.11
2013
2014
Sumber : www.ojk.go.id, diolah
2015
694.13
2016
2
Gambar
1.1
memberikan informasi bahwa
pada tahun 2015
perkembangan JII sempat mengalami penurunan dari perkembangan sebesar
691.04 turun menuju angka 603.35. Namun, pada tahun berikutnya JII
mampu menaikkan perfomanya hingga kembali mengalami kenaikan yang
cukup signifikan yaitu sebesar 694.13. Dari penyajian grafik di atas dapat
disimpulkan bahwa JII terus mengalami kenaikan nilai perkebambangan
indeks dari tahun ke tahun.
Untuk menjaga JII tetap berada di jalan syariah dan memiliki kualitas
saham terbaik, maka OJK beserta DSN menentukan beberapa kriteria dalam
proses pemilihan saham, yaitu: (1) Perusahaan yang usaha utamanya tidak
bertentangan dengan syariah; (2) Rasio kewajiban terhadap aktiva tidak
melebihi 90%; (3) Saham dipilih dengan kapitalisasi tertinggi sejumlah 60
saham lalu disaring kembali menjadi 30 saham yang memiliki transaksi
reguler rata-rata tertinggi. Menurut Peraturan OJK No.II.K1 tahun 2009
mensyaratkan bahwa saham-saham yang masuk ke Daftar Efek Syariah
(DES) mempunyai batasan total hutang yang berbasis bunga dibanding total
aset tidak lebih dari 82% dan total pendapatan bunga dan pendapatan tidak
halal lainnya dibandingkan dengan total pendapatan usaha dan pendapatan
lain tidak lebih dari 10%.
Saat memutuskan untuk berinvestasi pasti diiringi dengan harapan
mendapatkan feedback berupa keuntungan. Harga saham yang dapat berubah
naik dan turun sewaktu-waktu mengharuskan investor bersikap hati-hati dan
memperhitungkan segala kemungkinan dengan matang agar mendapatkan
keuntungan investasi seperti yang diinginkan. Menurut Tryfino (2009) harga
pasar saham merupakan fungsi dari nilai perusahaan, apabila kinerja sebuah
perusahaan publik meningkat maka nilai perusahaan akan semakin tinggi.
Saat investor menilai sebuah perusahaan bernilai baik maka ia akan
menyalurkan dananya dengan harapan mendapatkan return yang besar,
sehingga dengan banyaknya permintaan saham pada sebuah emiten akan
menaikkan harga saham tersebut.
3
Harga saham dibentuk dari kegiatan penawaran dan permintaan yang
terjadi di pasar, namun terdapat beberapa faktor pembentuk lainnya yang
dapat dilihat dari analisis teknikal dan fundamental. Menurut Husnan (2003)
analisis teknikal dan analisis fundamental dapat dijadikan dasar bagi investor
untuk meprediksi return, risiko atau ketidakpastian, jumlah, waktu, dan faktor
lain yang berhubungan dengan aktivitas invetasi di pasar modal. Analisis
teknikal menurut Subramanyam dan John (2010:11) merupakan analisis
dengan mencari pola dari sejarah harga atau volume sebuah saham untuk
memprediksi pergerakan saham di masa depan. Data-data yang digunakan
analisis teknikal berupa harga saham di masa lalu, volume perdagangan,
frekuensi, dan tren harga. Sementara itu, analisis fundamental ialah
mempraktikkan harga saham di masa yang akan datang dengan nilai faktorfaktor fundamental yang mempengaruhi harga saham (Martalena dan
Melinda, 2011:47). Faktor fundamental dapat dilihat dari sisi ekonomi,
industri, dan internal perusahaan. Penelitian ini menggunakan faktor
fundamental dari sisi internal perusahaan dengan melihat rasio-rasio
keuangan yang terdapat dalam data laporan keuangan yang diterbitkan oleh
perusahaan yang bersangkutan.
Penelitian ini menggunakan volume perdangan dan dipadukan dengan
tiga rasio fundamental yaitu, ROA (Return on Asset), PER (Price Earning
Ratio) dan Altman Z-Score. Penggunaan volume perdagangan dan rasio
fundamental secara bersamaan dalam penilaian saham diharapkan dapat
memberikan poin lebih terhadap penilai saham. Melalui pengamatan perilaku
pasar dan kondisi internal secara bersamaan akan menghasilkan nilai yang
lebih akurat.
Terdapat semboyan populer wall street yang berisi “it takes volume to
make prices move” yang berarti volume perdagangan membentuk harga
saham. Saat volume perdagangan mengalami excess supply menyebabkan
harga saham jatuh dan ketika terjadi excess demand maka harga saham naik
(Syamsir, 2004). Menurut Ang (1997) naiknya volume perdagangan akan
berimbas pada menguatnya pasar, begitupun sebaliknya. Artinya, volume
4
perdagangan memiliki hubungan yang positif dengan harga saham. Namun,
grafik 1.1 dan 1.2 di bawah ini terdapat fenomena yang tidak sesuai dengan
teori yaitu, adanya hubungan negatif antara volume perdagangan dengan
harga saham di setiap emiten yang konsisten terdaftar di JII selama periode
2012-2015.
Gambar 1.2
Grafik Harga Saham
2012
2013
2014
2015
Unil
ev
er
Ind
on
esi
a
Tbk
.
Gambar 1.3
Grafik Volume Perdagangan
Unil
ev
er
Ind
on
esi
a
Tbk
.
5
ROA (Return on Asset) adalah perbandingan antara laba bersih dengan
total aset yang merupakan salah satu alat ukur rasio profitabilitas perusahaan.
Tujuannya ialah mengetahui seberapa besar kontribusi aset dalam mengetahui
laba bersih (Hery, 2014:193). Selain itu, tingginya nilai ROA juga akan
mempengaruhi perubahan harga saham yang semakin tinggi. Namun, dilihat
dari grafik 1.1 dan 1.3 menunjukkan bahwa teori tersebut tidak sejalan
dengan kondisi di pasar, terlihat saat dibeberapa titik bahwa harga saham naik
tetapi nilai ROA turun, meskipun dibeberapa titik lain terdapat kesesuaian
teori.
Gambar 1.4
Grafik ROA (Return On Assets)
PER (Price Earning Ratio) merupakan perbandingan antara harga saham
dengan laba bersih. Hal ini menjadi indikator kepercayaan bagi investor
karena rasio ini dapat memberikan informasi kemampuan perusahaan untuk
memenuhi kewajibannya kepada pemegang saham. PER dan harga saham
memiliki hubungan berbanding lurus di mana semakin tinggi nilai PER maka
semakin mahal harga sahamnya. Akan tetapi, dilihat dari grafik 1.1 dan 1.4
menunjukkan bahwa teori tersebut tidak sejalan dengan kondisi di pasar,
terlihat saat dibeberapa titik bahwa harga saham naik tetapi nilai PER turun.
6
Gambar 1.5
Grafik PER (Price Earning Ratio)
Altman Z-score adalah sebuah analisis yang menghubungkan berbagai
rasio dalam laporan keuangan sebagai variabelnya dan digabungkan kedalam
sebuah persamaan untuk memperoleh nilai Z, di mana nilai Z d isini adalah
nilai untuk memprediksi kondisi perusahaan, baik dalam keadaan sehat
ataupun bangkrut (Purnajaya dan Merkusiwati, 2014:51). Kondisi keuangan
perusahaan tentu akan mempengaruhi harga saham dan return yang akan
didapat oleh inverstor. Nilai perusahaan yang mendekati angka bangkrut akan
diikuti oleh turunnya harga saham, namun dalam praktiknya terjadi
ketidaksesuaian teori yang dapat dilihat pada grafik 1.1dan grafik 1.5.
Gambar 1.6
Grafik Altman Z-Score
7
Husnan (2003) menyatakan semakin berkembangnya pasar modal,
khususnya di Indonesia, mengakibatkan semua informasi yang bersifat
relevan dapat digunakan sebagai masukan atau dasar pertimbangan di dalam
menilai suatu harga saham. Namun, pada praktiknya masih ditemukan
ketidaksesuaian antara teori dengan apa yang terjadi di pasar modal JII. Maka
dari itu, berdasarkan latar belakang penelitian yang telah dipaparkan di atas,
penulis tertarik untuk melakukan penelitian analisa saham terhadap harga
saham. Maka dari itu penulis melakukan penelitian dengan judul:
“PENGARUH VOLUME PERDAGANGAN DAN RASIO
FUNDAMENTAL TERHADAP HARGA SAHAM SYARIAH (STUDI
PADA JAKARTA ISLAMIC INDEX PERIODE 2012-2015)”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan pemaparan latar belakang penelitian di atas, maka
permasalahan yang diangkat dalam penelitian adalah:
1.
Apakah volume perdagangan, Return on Asset (ROA), Price
Earning Ratio (PER), dan potensi kebangkrutan Altman Z-Score
berpengaruh secara simultan terhadap harga saham di Jakarta Islamic
Index (JII) periode tahun 2012-2015?
2.
Apakah volume perdagangan, Return on Asset (ROA), Price
Earning Ratio (PER), dan potensi kebangkrutan Altman Z-Score
berpengaruh secara parsial terhadap harga saham di Jakarta Islamic
Index (JII) periode tahun 2012-2015?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Berdasarkan pemaparan rumusan masalah diatas, maka tujuan
dalam penelitian adalah:
a. Menghitung, mengalisis, dan mendeskripsikan pengaruh secara
simultan volume perdagangan, Return on Asset (ROA), Price
Earning Ratio (PER), dan potensi kebangkrutan Altman Z-Score
8
terhadap harga saham di Jakarta Islamic Index (JII) periode tahun
2012-2015.
b. Menghitung, mengalisis, dan mendeskripsikan pengaruh secara
parsial volume perdagangan, Return on Asset (ROA), Price Earning
Ratio (PER), dan potensi kebangkrutan Altman Z-Score terhadap
harga saham di Jakarta Islamic Index (JII) periode tahun 2012-2015.
2. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat teoritis dan
manfaat praktis sebagai berikut:
a. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi bahan referensi bagi
akademisi terutama yang mendalami bidang pasar modal baik
syariah maupun konvensional, khususnya keilmuan mengenai
analisis harga saham. Selain itu, untuk mengetahui secara jelas dan
lengkap pengaruh volume perdagangan, ROA, PER, dan Altman ZScore terhadap harga saham, serta mempraktikkan dan membuktikan
secara langsung teori-teori yang didapat di bangku perkuliahan.
b. Manfaat Praktis
Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan
bagi perusahaan terdaftar di Jakarta Islamic Index dalam mengambil
kebijakan yang berkaitan dengan manajemen keuangan dan strategi
bisnis, serta dapat menjadi pertimbangan bagi investor dalam
membuat keputusan investasi di perusahaan terdaftar di Jakarta
Islamic Index.
D. Sistematika Penulisan
BAB I
PENDAHULUAN
Bab ini membahas latar belakang penelitian, rumusan masalah, tujuan
dan manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.
9
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini berisi landasan teori dari hal-hal yang akan dibahas berupa,
pengertian pasar modal syariah, saham syariah, harga saham syariah, laporan
keuangan, volume perdaganga, analisis fundamental, Return on Asset (ROA),
Price Earning Ratio (PER), dan potensi kebangkrutan Altman Z-Score,
keterkaitan antara variabel independen terhadap variabel dependennya,
review studi terdahulu, kerangka pemikiran, dan pengembangan hipotesis.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
Bab ini berisikan tentang tahapan-tahapan penelitian yang terdiri dari
penjelasan ruang lingkup penelitian, metode penentuan sampel, metode
pengumpulan data, metode analisis yang menjelaskan tentang uji deskriptif
data, uji stasioneritas, uji asumsi klasik, analisis dasar panel, tahapan analisis
data, dan pengujian statistik. Selain itu, bab ini juga berisikan penjelasan
mengenai operasional variabel penelitian.
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
Bab ini menjelaskan mengenai gambaran umum objek penelitian,
deskriptif data, hasil dan pembahasan uji stasioneritas, uji asumsi klasik, uji
regresi panel, dan interpretasi dari hasil penelitian.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
Bab ini berisikan kesimpulan akhir berupa jawaban penelitian yang
telah diterangkan sebelumnya dan memuat saran untuk beberapa pihak
terkait.
10
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
1.
Pasar Modal Syariah
Pesatnya pertumbuhan
perekonomian
dunia
mendorong
masyarakat untuk turut serta menanamkan modalnya dalam bentuk
saham. Perusahan membutuhkan modal yang tidak sedikit untuk
mengembangkan usaha yang berimbas pada pertumbuhan perekonomian,
disinilah peran masyarakat, dengan berinvetasi dalam bentuk saham
maka perusahaan akan mendapatkan suntikan dana yang akan membantu
pertumbuhannya. Investasi merupakan nama lain dari proses penyaluran
dana masyarakat, Tandelilin (2001:4) mendefinisikan investasi sebagai
komitmen atas sejumlah dana atau sumber daya lain yang dilakukan pada
saat ini dengan tujuan memperoleh keuntungan di masa depan. Investasi
membutuhkan suatu perantara yang dapat dijadikan tempat bertemunya
masyarakat penanam modal dengan perusahaan yang butuh modal,
sehingga terbentuklah bursa efek.
Islam mengajarkan umatnya untuk melakukan kegiatan muamalah
dengan tujuan agar dapat menjalankan perekonomian umat. Dalam hadis
telah diatur bahwa seluruh kegiatan muamalah adalah halal kecuali yang
telah diatur dalam Al-Qur’an dan hadis. Praktik bermuamalah harus
dijalankan oleh umat muslim sesuai dengan apa yang telah diajarkan
yaitu dengan cara halal dan baik, termasuk berinvestasi. Menurut Nafik
(2009:19), Islam melarang umatnya untuk menjalankan praktik
perekonomian yang merugikan salah satu pihak, tetapi Islam tidak
melarang umatnya untuk menanggung risiko dari kegiatan ekonomi.
Terdapat satu hadist yang mencerminan kondisi perekonomian saat ini, di
mana umat muslim mulai mengesampingkan ajaran syariah, sebagai
contoh maraknya praktik riba, gharar, maisyir, dan larangan lainnya
11
yang diterapkan dalam lembaga keuangan masa kini, Nabi Muhammad
SAW bersabda, “Akan datang kepada manusia suatu masa ketika
seseorang tidak peduli dari mana ia mendapatkan hartanya, apakah dari
(sumber dan cara yang) halal atau (sumber dan cara yang) haram” (HR
Bukhari).
Menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar
Modal (UUPMP) adalah kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran
umum dan perdagangan efek. Undang-Undang tidak merinci secara jelas
jenis pasar modal, sehingga dapat diartikan bahwa pasar modal syariah
dapat beroperasi di Indonesia dengan ketentuan-ketentuan syariah yang
akan diatur selanjutnya. Pasar modal syariah adalah pasar modal yang
seluruh mekanisme kegiatannya terutama mengenai emiten, jenis efek
yang diperdagangkan, dan mekanisme perdagangannya telah sesuai
dengan prinsip-prinsip syariah (Soemitra, 2009). Di Indonesia, letak
pembeda syariah dan bukan syariah dalam dunia investasi adalah pada
indeks harga saham yang memenuhi prinsip-prinsip syariah, bukan pada
saham syariah maupun non-syariah. Pada tahun 2003 diresmikan indeks
saham syariah yang dinamakan Jakarta Islamic Index (JII). Pendirian
indeks ini bertujuan untuk menjadi tolak ukur atau benchmark sahamsaham syariah di Indonesia serta diharapkan dapat menarik minat dan
meningkatkan kepercayaan investor muslim untuk melakukan kegiatan
investasi.
Menurut Huda dan Heykal (2010) ruang lingkup kegiatan usaha
emiten yang bertentangan dengan prinsip hukum Islam ialah:
a.
Usaha perjudian dan permainan yang tergolong judi atau
perdagangan yang dilarang.
b.
Usaha lembaga keuangan konvensional (ribawi) temasuk perbankan
dan asuransi konvensional.
c.
Usaha yang memproduksi, mendistribusi serta memperdagangkan
makanan dan minuman yang tergolong haram.
12
d.
Usaha yang memproduksi, mendistribusi serta menyiadakan barangbarang ataupun jasa yang merusak moral dan bersifat mudarat.
Selain poin-poin di atas, yang menjadi pembeda bagi pasar modal
syariah dengan pasar modal konvensional ialah sistem bagi hasil dengan
bunga. Islam melarang terjadinya praktik riba/bunga karena akan
menguntungkan salah satu pihak saja. Pengganti sitem riba dalam Islam
ialah bagi hasil, sistem ini berbasis pada pembagian nisbah, nilai
presentase bagi hasil memang sudah diketahui di awal namun nilai
nominal rupiah akan diketahui setelah mengetahui laba rugi yang terjadi.
Diresmikan pada tanggal 14 Maret 2003, Jakarta Islamic Index
(JII) merupakan buah kerjasama antara Bursa Efek Jakarta (BEJ) dengan
PT. Danareksa Invesment Management (DIM). Hal ini ditandai dengan
penandatanganan MOU (Memotandum of Understanding) antara Badan
Pengawas Pasar Modal (Bapepam) dengan Dewan Syariah NasionalMajelis Ulama Indonesia (DSN-MUI). Selama operasionalnya, JII berada
di bawah pengawasan Bapepam dan DSN-MUI. Pengawasan yang
dilakukan berupa penerapan prinsip syariah yang diterapkan di JII secara
teori maupun praktik. Selain itu, Bapepam dan DSN-MUI berwenang
menerbitkan aturan di luar Undang-Undang terkait pasar modal syariah.
Untuk menjaga kegiatan Jakarta Islamic Index (JII) tetap berada
di jalur syariah, maka setiap 6 bulan sekali Bapepam bersama dengan
DSN-MUI melakukan evaluasi saham. Selain berada di jalur syariah,
tujuan lain evaluasi saham ialah agar saham-saham di Jakarta Islamic
Index (JII) memiliki kualitas yang baik berupa tingkat likuidasi dan
kapitalisasi yang tinggi. Hal ini bertujuan untuk menaikkan tingkat
kepercayaan investor pada pasar modal syariah JII. Berikut merupakan
hal-hal yang dievaluasi per 6 bulan oleh Bapepan dan DSN-MUI:
a.
Memilih saham-saham dengan jenis usaha utama yang tidak
bertentangan dengan prinsip hukum Islam dan sudah tercatat lebih
dari tiga bulan (kecuali bila termasuk di dalam saham-saham 10
kapitalisasi terbesar).
13
b.
Memilih saham yang memiliki kewajiban terhadap aktiva maksimal
sebesar sembilan puluh persen berdasarkan laporan keuangan
tahunan atau tengah tahun yang telah dirilis.
c.
Memilih enam puluh saham dari syarat di atas berdasarkan urutan
rata-rata kepitalisasi pasar terbesar selama satu tahun terakhir.
d.
Memilih tiga puluh saham dengan urutan berdasarkan tingkat
likuiditas rata-rata nilai perdagangan selama satu tahun terakhir.
2.
Saham Syariah
Praktik saham tidak diatur dalam Al-Qur’an atau hadis, hal ini
dikarenakan pada masa Rasulullah SAW belum ada aktivitas ekonomi
berbentuk saham. Didasarkan pada dalil bahwa setiap kegiatan muamalah
adalah halal kecuali yang telah diatur, maka para fuqaha mengeluarkan
fatwa terkait saham. Terdapat perbedaan pendapat mengenai boleh atau
tidaknya aktivitas saham. Ulama komtemporer yang memperbolehkan
diantara lain ialah Abu Zahrah, Abudurrahman Hasan, dan Khalaf.
Landasan yang dipakai oleh ulama tersebut adalah saham merupakan
surat bukti kepemilikan modal perusahaan, yang mana saham merupakan
cerminan aset yang dimiliki oleh perusahaan bersangkutan, sehingga
saham dapat diperjualbelikan layaknya barang (Huda dan Heykal,
2010:225). Untuk menghindari mudarat, maka selain pelarangan usaha
haram, ditentukan juga bahwa dalam saham syariah dilarang praktik
short selling, foward contract, insider trading, option, dan penggorengan
saham.
Saham merupakan surat bukti tertulis yang menunjukkan bahwa
investor telah menanamkan modalnya pada perusahaan. Menurut
Burhanuddin (2010), saham dalam Islam pada hakikatnya merupakan
modifikasi sistem persekutuan modal dan kekayaan, yang dalam istilah
fiqih dikenal dengan nama syirkah, sedangkan pemegang saham disebut
syarik. Saham adalah instrumen paling likuid di antara instrumen pasar
modal lainnya, jika sewaktu-waktu investor membutuhkan dana ia dapat
langsung menjual saham dan mendapatkan feedback berupa uang cash.
14
Kuantitas saham yang dimiliki oleh investor menjadi tolak ukur seberapa
banyak dana yang disalurkan investor kepada perusahaan, begitupula
dapat menjadi acuan seberapa besar keuntungan yang akan diterima
investor.
Saham syariah juga tidak dapat terlepas dari berbagai risiko
saham seperti capital loss dan likuidasi. Namun dengan hadirnya indeks
saham JII yang sangat memperhatikan tingkat likuiditas saham
diharapkan dapat menekan risiko yang terjadi. Melalui pengawasan
Bapepan dan DSN-MUI dapat dipastikan bahwa saham yang beredar di
JII sudah benar menerapkan prinsip-prinsip syariah. Berikut merupakan
keuntungan dan risiko dari saham syariah:
1) Dividen, merupakan keuntungan yang diperoleh investor dalam
kurun waktu satu tahun sekali. Pembagian dividen diambil dari laba
perusahaan, dapat berupa pembagian tunai atau mendapatkan
tambahan saham.
2) Rights, merupakan keuntungan berupa keistimewaan memesan efek
terlebih dahulu yang diberikan oleh emiten (Soemitra, 2009:138).
3) Capital gain, merupakan keuntungan yang diperoleh dari selisih
harga jual saham. Biasanya didapatkan saat harga jual lebih tinggi
dari harga beli, maka selisih ini disebut keuntungan.
4) Capital loss, merupakan kerugian yang diperoleh dari selisih harga
jual saham. Biasanya didapatkan saat harga jual lebih rendah dari
harga beli, maka selisih ini disebut kerugian.
5) Risiko likuidasi, merupakan kerugian saat emiten/perusahaan
dinyatakan bangkrut oleh pengadilan dan dibubarkan. Saat kondisi
ini terjadi, hal yang diutamakan perusahaan ialah melunasi
kewajiban yang ada, apabila masih tersedia dana sisa maka baru
akan dibagikan kepada investor.
Terdapat fatwa-fatwa yang mengatur jual beli saham, Fatwa
Dewan Islam Nasional Saudi Arabia menyatakan bahwa:
15
“Jika saham diperjualbelikan tidak serupa dengan uang secara
utuh apa adanya, akan tetapi hanya representasi dari sebuah aset seperti
tanah, mobil, pabrik, dan yang sejenisnya, dan hal tersebut merupakan
sesuatu yang telah diketahui oleh penjual dan pembeli, maka dibolehkan
hukumnya untuk diperjualbelikan dengan harga tunai ataupun tangguh,
yang dibayarkan secara kontan ataupun beberapa kali pembayaran,
berdasarkan keumuman dalil tentang bolehnya jual-beli” (Huda dan
Heykal, 2010:226).
Selain itu, DSN-MUI telah menerbitkan fatwa tentang jual-beli
saham yang tertuang pada Fatwa DSN-MUI No.05/DSN-MUI/IV/2000
dan Fatwa DSN-MUI
No.40/DSN-MUI/2003.
Sehingga,
dengan
hadirnya fatwa-fatwa dari para ulama maka aktivitas jual-beli saham
adalah boleh menurut hukum syariah dan hukum positif.
Perbedaan antara syariah dan konvensional adalah terletak pada
indeks harga bukan pada jenis sahamnya, maka jenis saham di Indoensia
secara konvensional maupun syariah adalah sama. Bursa Efek Indonesia
(BEI) secara garis besar menggelompokkan saham ke dalam dua bentuk,
yaitu berdasarkan bentuknya dan hak dan keistimewannya, berikut
penjelasannya:
1) Saham berdasarkan bentuknya
a) Saham atas nama (nominal shares) merupakan saham yang
menyebut nama pemiliknya. Saham bentuk ini adalah boleh
dalam fikih kontemporer yang telah disepakati oleh para ulama,
karena penyebutan nama merupakan bentuk dari penetapan
kepemilikan pemiliknya dan memberikan perlindungan atas
haknya.
b) Saham atas unjuk (bearer shares) merupakan saham yang tidak
menyebutkan nama pemiliknya, karena ketidakjelasannya
pemiliknya maka saham ini sebaiknya dihindari.
16
2) Saham berdasarkan hak dan keistimewaannya
a) Saham biasa (common stocks) merupakan tanda penyertaan
dalam wujud selembar kertas yang menerangkan bahwa pemilik
kertas tersebut adalah pemilik perusahaan yang menerbitkan
kertas tersebut (Halim, 2015:6). Status kepemilikannya adalah
boleh karena tidak memiliki keistimewaan dari segi hak dan
kewajibannya.
b) Saham preferen (preferend stock) merupakan saham dengan
karakteristik gabungan antara saham biasa dengan obligasi.
Saham ini mewakili kepemilikan ekuitas, diterbitkan tanpa
tanggal jatuh tempo, dan membayar deviden, namun saham ini
juga memiliki klaim atas laba dan aset sebelumnya, dividen
yang tetap, memiliki hak tebus, dapat dipertukarkan dengan
saham
biasa
(Halim,
2015:7).
Saham
preferen
tidak
diperbolehkan dalam islam karena adanya keuntungan tetap
yang dikategorikan oleh ulama sebagai riba dan pemiliknya
mendapat hak istimewa terutama saat perusahaan terjadi
likuidasi, hal ini tidak sejalan dengan prinsip keadilan yang
dijunjung oleh Islam.
3.
Harga Saham Syariah
Harga saham merupakan harga pasar, di mana harga pasar
dibentuk oleh proses kegiatan permintaan dan penawaran. Islam
mengajarkan bahwa harga ditentukan oleh keseimbangan penawaran dan
permintan. Konsepnya jika terjadi kenaikan penawaran harga akan turun
dan jika permintaan yang mengalami kenaikan maka harga akan naik.
Menurut Wijayanti (2010) dalam Rusena (2015:26) bahwa semakin
banyak investor yang ingin membeli saham, maka harga akan cenderung
meningkat, sebaliknya semakin banyak investor yang akan menjual
saham, maka harga saham akan cenderung mengalami penurunan.
17
Selain permintaan dan penawaran, harga saham juga dipengaruhi
oleh faktor-faktor lainnya, yaitu faktor fundamental, teknis, dan sosial
dan politik. Faktor yang bersifat fundamental bersumber dari kondisi
spesifik internal perusahaan yang menjelaskan tentang kemampuan
manajemen dalam mengelola operasional, prospek masa depan, prospek
pemasaran bisnis, pengembangan teknologi, dan kemampuan perusahaan
menghasilkan laba. Dari sisi teknis memperhatikan hal-hal seperti,
perkembangan kurs, kondisi di pasar modal. Volume dan frekuensi
transaksi suku bunga, kekuatan pasar modal dalam memperngaruhi harga
saham perusahaan. Terakhir, faktor sosial dan politik memperhatikan
tentang tingkat inflasi yang terjadi, kebijaksanaan moneter yang
dilakukan oleh pemerintah, kondisi perekonomian, dan keadaan politik
suatu negara (Wiguna dan Mendari, 2008:133).
4.
Laporan Keuangan
Dalam PSAK No 1 disebutkan bahwa tujuan laporan keuangan
adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan,
kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang
bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan.
Menurut Helfert (1991) laporan keuangan memiliki empat tujuan yaitu
sebagai penafsiran, informasi keuangan, penggunaan data komparatif,
dan analisis pasar uang. Informasi yang tersedia dalam laporan keuangan
dapat menjelaskan bagaimana kondisi perusahaan di saat ini dan
bagaimana prediksi kondisi perusahaan di masa datang. Selain sebagai
cerminan perusahaan, laporan keuangan dapat dipakai sebagai bahan
pembanding internal dan antara perusahaan satu dengan lainnya yang
sejenis.
Bagi pemegang saham, laporan keuangan merupakan harapan
investasi untuk sebuah usaha, intinya sebuah ungkapan dari pertukaran
risiko atau imbalan yang mendasari setiap investasi dalam ekuitas
perusahaan (Helfert, 1991:22). Menurut Bernstein (1983) dalam Hery
18
(2014:114) menyebutkan bahwa terdapat lima jenis analisis laporan
keuangan sebagai berikut:
a.
Screening, yaitu analisis yang dilakukan dengan melihat secara kritis
data-data
yang
tekandung
dalam
laporan
keuangan
untuk
kepentingan pemilihan investasi atau kemungkinan merger usaha.
b.
Forcasting,
yaitu analisis yang dilakukan untuk memprediksi
kondisi keuangan perusahaan di masa yang akan datang.
c.
Diagnosis, yaitu analisis yang dilakukan untuk melihat kemungkinan
adanya masalah-masalah yang terjadi dalam perusahaan, baik dalam
manajemen operasi, keuangan, dan lainnya.
d.
Evaluation, yaitu analisis yang dilakukan untuk menilai prestasi
manajemen. Kinerja operasional, tingkat efesiensi, dan penilain
prestasi lainnya.
e.
Understanding, yaitu dengan melakukan analisis laporan keuangan
akan menjadikan informasi mentah menjadi lebih bermakna.
5.
Volume Perdagangan
Volume perdagangan merupakan aktivitas saham suatu emiten
yang dapat dilihat per harinya. Aktif atau tidaknya saham merupakan
akibat dari kegiatan permintaan dan penawaran saham dalam pasar
modal. Nilai volume perdagangan merupakan ungkapan aktivitas jualbeli saham dari suatu emiten. Dalam kegiatan pasar modal dikenal teori
signalling (Waluyo, Eko, 2012) dalam Widiyanti dan A. Mulyo (2013:2)
menyatakan bahwa setiap informasi yang dikeluarkan oleh pelaku pasar
modal yang bersumber dari emiten akan diinterpretasikan dan dianalisis
sebagai sinyal baik atau sinyal buruk bagi perdagangan efek. Baik
buruknya sinyal yang diterima oleh investor tentu akan mempengaruhi
tingkat
kepercayaan. Investor tidak akan mengambil keputusan
menyalurkan dana pada emiten yang mempunyai sinyal buruk karena
risiko di masa datang akan lebih tinggi. Sementara itu, sinyal emiten
yang baik akan mendapatkan kepercayaan yang tinggi dari investor, dari
kepercayaan inilah investor akan memutuskan menanamkan modalnya
19
melalui saham sehingga, dengan banyaknya permintaan maka volume
perdagangan saham akan mengalami kenaikan.
Lembar saham yang banyak diperjualbelikan dapat menunjukkan
tingkat likuiditas perusahaan/emiten yang bersangkutan. Saat saham
bergerak
aktif
berarti
menunjukkan
bahwa
saham
banyak
diperjualbelikan yang berarti banyaknya jumlah permintaan dan
penawaran. Tingginya kegiatan permintaan dan penawaran menunjukkan
bahwa saham akan semakin mempunyai nilai likuidasi yang baik.
Sedangkan dari sisi pasar, volume perdagangan merupakan cerminan
langsung dari kondisi pasar. Naiknya volume perdagangan maka akan
berimbas pada menguatnya kondisi pasar, begitupun sebaliknya, saat
volume perdagangan mengalami penurunan maka kondisi pasar ikut
melemah (Ang, 1997).
6.
Analisis Fundamental
Analisa fundamental merupakan studi tentang ekonomi, industri,
dan kondisi perusahaan untuk memperhitungkan nilai dari saham.
Analisa ini menggunakan data-data kunci dalam laporan keuangan untuk
memperhitungkan apakah harga saham sudah diapresiasi secara akurat
(Kodrat dan Indonanjaya, 2010:2). Martalena dan Melinda (2011:47)
menyatakan bahwa analisis fundamental ialah mempraktikkan harga
saham di masa yang akan datang dengan nilai faktor-faktor fundamental
yang mempengaruhi harga saham. Sedangkan, menurut Halim (2015)
analisis fundamental ialah membandingkan antara nilai intrisik saham
dengan harga pasarnya yang bertujuan untuk melihat apakah harga saham
sudah mencerminkan nilai intrinsiknya atau belum, nilai intrinsik
ditentukan dari faktor-faktor fundamental kinerja perusahaan.
Dapat disimpulkan bahwa analisis fundamental merupakan
penilaian saham dari faktor internal perusahaan menggunakan rasio-rasio
keuangan. Data berupa rasio keuangan dapat dilihat dan/atau diolah
melalui laporan keuangan yang telah dipublikasikan oleh perusahaan
20
bersangkutan. Rasio keuangan yang dapat dijadikan alat analisis
fundamental saham ialah:
a.
Rasio Likuiditas, penilai aset di pasar aktif guna melihat seberapa
cepat aset dapat dikonversikan menjadi kas. Rasio ini terdiri dari
current ratio, quick ratio, dan cash ratio.
b.
Rasio Aktivitas, merupakan alat ukur tingkat efektivitas suatu
perusahaan, aktivitas yang rendah pada tingkat penjualan tertentu
akan berimbas pada kelebihan dana yang tertaman pada aktiva
(Kodrat dan Indonanjaya, 2010:237). Rasio ini terdiri dari inventory
turnover ratio, days sales outstanding, fixed asset turnover, dan total
asset turnover.
c.
Rasio
Profitabilitas,
rasio
yang
menunjukkan
kemampuan
perusahaan dalam menghasilkan laba. Rasio ini terdiri dari tiga rasio
keuangan, yaitu Return on Asset (ROA), Return on Equity (ROE),
dan Net Profit Margin (NPM).
d.
Rasio Solvabilitas, rasio yang mengukur jumlah utang yang
digunakan perusahaan untuk menjalankan usahanya. Rasio ini terdiri
dari debt ratio, time interes earned ratio dan cash coverage ratio.
e.
Rasio Penilaian atau Rasio Pasar, rasio harga pasar suatu saham
terhadap nilai bukunya (Brigham dan Houston, 2010:151). Rasio ini
terdiri dari Price Earning Ratio (PER) dan Price Book Value (PBV).
Selain PER dan PBV dapat dilihat dari dividend yield dan dividend
payout.
7.
Return on Asset (ROA)
Rasio profitabilitas terdiri dari tiga jenis rasio keuangan yaitu
Return on Asset (ROA), Return on Equity (ROE), dan Net Profit Margin
(NPM). Menurut Kasmir (2009:196), penggunaan rasio ini bertujuan
untuk melakukan perbandingan agar dapat melihat perkembangan
perusahaan dalam rentang waktu tertentu, baik peningkatan kinerja
perusahaan atau penuruan, serta manajemen diharapkan dapat melihat
penyebab dari perubahan tersebut. Melalui rasio ini dapat diamati
21
bagaimana besarnya laba, di mana posisi laba perusahaan, perkembangan
laba dari periode ke periode, serta mengetahui produktivitas manajemen
dalam mengelola dananya.
Ketiganya memiliki peran yang berbeda namun dengan tujuan
yang sama yaitu mengukur jumlah laba yang akan didapatkan oleh
perusahaan. Return on Asset (ROA) merupakan rasio keuangan yang
cukup populer digunakan, rasio ini bertujuan untuk mengukur seberapa
besar laba perusahaan yang akan dihasilkan oleh aset yang dimiliki.
Selain itu penilaian ROA dapat dijadikan bahan pengamatan kemampuan
manajemen perusahaan dalam mengelola asetnya.
ROA
menurut
Hery
(2014:193)
merupakan
hasil
pengembalian (return) atas penggunaan aset perusahaan
atau
dalam
menciptakan laba bersih atau mengukur seberapa besar jumlah laba
bersih yang akan dihasilkan dari setiap rupiah dana yang tertanam dalam
total aset. Singkatnya, ROA merupakan rasio laba bersih terhadap total
aset (Brigham dan Houston, 2010:148), seberapa besar kemampuan
perusahaan menghasilkan laba melalui asetnya. Untuk mendapatkan nilai
Return on Asset (ROA) berikut adalah rumusnya:
π‘…π‘’π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘› π‘œπ‘› 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑑 (ROA) =
8.
Laba Bersih
Total Aset
Price Earning Ratio (PER)
Rasio pasar/penilaian merupakan alat untuk mengetahui apakah
harga saham berada pada nilai yang wajar, rendah, atau tinggi. Rasio ini
mencuri perhatian investor ketika akan menanamkan modalnya, dengan
pengamatan rasio pasar/penilaian investor dapat melihat tentang risiko,
keuntungan, serta prospek perusahaan di masa depan. Jika rasio
likuiditas, aktivitas, profitabilitas, dan solvabilitas seluruhnya memiliki
nilai yang baik dan jika kondisi ini terus berjalan secara stabil maka akan
mempengaruhi nilai pasar dan akan mengalami peningkatan nilai.
Selanjutnya, harga saham juga akan ikut tinggi sesuai dengan apa yang
22
telah diperkirakan, yang berarti manajemen telah menjalankan tugasnya
dengan baik.
Price Earning Ratio (PER) merupakan perhitungan untuk
mengetahui harga per saham terhadap laba per saham, di mana investor
akan mendapatkan informasi berapa rupiah yang dikeluarkan untuk laba
berjalan. Menurut Hery (2014:144) melalui rasio PER harga saham
sebuah emiten dibandingkan dengan laba bersih yang dihasilkan oleh
emiten bersangkutan. Dilihat dari sudut pandang investor, PER yang
terlalu tinggi tidak menarik karena harga saham kemungkinan akan sulit
untuk naik lagi, dan hal ini akan mengurangi perolehanan peluang
keuntungan capital gain (Kodrat dan Indonanjaya, 2010:241). Melalui
nilai PER, prospek masa depan perusahaan akan dapat diprediksikan,
nilai PER yang tinggi mempunyai arti bahwa perusahaan mempunyai
prospek yang tinggi untuk bertumbuh, sebaliknya nilai PER yang rendah
maka perusahaan akan terprediksi mengalami pertumbuhan yang rendah.
Untuk mengetahui nilai PER dibutukan informasi harga saham
dan laba per lembar saham, dengan rumus perhitungan sebagai berikut:
π‘ƒπ‘Ÿπ‘–π‘π‘’ πΈπ‘Žπ‘Ÿπ‘›π‘–π‘›π‘” π‘…π‘Žπ‘‘π‘–π‘œ (PER) =
9.
Harga Saham
Laba per Lembar Saham
Potensi Kebangkrutan Altman Z-Score
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 37 tahun
2004 pasal 1 butir 1 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban
Pembayaran Utang, kepailitan adalah sita umum atas semua kekayaan
Debitor Pailit yang pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh
Kurator di bawah pengawasan Hakim Pengawas sebagaimana diatur
dalam undang-undang. Sebelum perusahaan dinyatakan pailit/bangkrut
akan terlebihi dahulu melalui tahapan potensi kebangkrutan yang
merupakan sebuah tanda yang menunjukkan bahwa perusahaan memiliki
masalah dalam pengelolaan keuangannya. Hal ini terjadi saat perusahaan
sudah tidak memiliki dana untuk mengelola usaha dan memenuhi
kewajibannya.
23
Upaya pencegahan lebih baik daripada pengobatan. Begitupun
berlaku dengan kebangkrutan, akan jauh lebih baik apabila perusahaan
dapat mendeteksi sedini mungkin risiko kebangkrutan agar dapat
menanggulanginya secara cepat dan tepat. Terdapat beberapa alat analisis
yang dapat membantu dalam mendeteksi kebangkrutan, tiga yang populer
adalah Altman Z-Score, Springate, dan Zmijewski. Diantara ketiga model
tersebut, Altamn Z-Score lebih popular digunakan karena memiliki
keunggulan yang dapat digunakan oleh seluruh jenis usaha dan
mempunyai nilai ketepatan yang cenderung lebih baik dari pembanding.
Penelitian yang dilakukan oleh Prihantini dan Maria (2013) dan
Anggraeni (2013) model Z-Score memiliki nilai yang lebih tepat dalam
memprediksi kebangkrutan dibanding alat analisis model potensi
kebangkrutan lainnya.
Altman pada tahun 1968 memperkenalkan Analisis Z-Score, yaitu
sebuah analisis yang menghubungkan berbagai rasio dalam laporan
keuangan sebagai variabelnya dan digabungkan kedalam sebuah
persamaan untuk memperoleh nilai Z, di mana nilai Z diartikan sebagai
nilai untuk memprediksi kondisi perusahaan (Purnajaya dan Ni K.,
2014:51). Perhitungan analisis Altman menggunakan fungsi diskriminan
dengan model prediksi MDA (Multiple Discriminant Analysis). MDA
adalah sebuah bentuk analisis diskriminan berganda atau dengan kata lain
grup yang dimiliki sebagai variabel dependen bukan lagi dua, melainkan
tiga, empat, atau lebih. Alat analisis Altman Z-Score memanfaatkan
rasio-rasio yang ada dalam laporan keuangan untuk dijadikan
perhitungan. Model Altman Z-Score memiliki tiga jenis model, yaitu:
1) Model Altman Z-Score Original
Formula Z-Score merupakan sebuah multivariate formula
yang digunakan untuk mengukur kesehatan finansial sebuah
perusahaan. Awalnya, Altman menemukan lima jenis rasio keuangan
yang dapat dikombinasikan untuk melihat perbedaan antara
24
perusahaan yang bangkrut dan yang tidak bangkrut, berikut adalah
fungsi diskriman Z-Score generasi pertama yang:
Z = 1,2X1 + 1,4X2 + 3,3X3 + 0,6X4 + 1,0X5
2) Model Altman Z-Score Revisi
Perkembangan selanjutnya mengalami perubahan pada X4.
Pada model original X4 merupakan hasil hitung dari market value of
equity to total assets direvisi menjadi nilai buku ekuitas terhadap
total kewajiban (book value of equity to book value of total debt)
perubahan ini bertujuan untuk menyesuaikan dengan perusahaan
yang belum go public. Selain perubahan pada X4, revisi lain yang
dilakukan adalah pada penilai Z antara model original dengan revisi.
Z = 0,71X1 + 0,847X2 + 3,107X3 + 0,420X4 + 0,998X5
3) Model Altman Z-Score Modifikasi
Perkembangan model Altman Z-Score terbaru bernama
modifikasi. Model ini dapat digunakan untuk berbagai jenis usaha
baik yang bergerak di bidang non manufaktur ataupun manufaktur,
serta cocok diterapkan di negara-negara berkembang. Altman ZScore modifikasi menghilangkan X5 (sales to total assets) karena
rasio ini sangat bervariatif pada industri dengan ukuran aset yang
berbeda-beda. Model Altman Modifikasi yang dapat digunakan
untuk berbagai jenis usaha serta negara berkembang, maka model ini
menjadi cocok digunakan untuk penelitian potensi kebangkrutan
pada pasar modal Jakarta Islamic Index (JII) yang memiliki emiten
dengan jenis usaha beragam.
Z = 6,56X1 + 3,26X2 + 6,72X3 + 1,05X4
dimana,
Z = overall index
X1 = net working capital to total assets
X2 = retained earning to total assets
X3 = earning before interest and tax to total assets
X4 = book value of equity to book value of debt
25
B. Penelitian Terdahulu
Beberapa penelitian terdahulu digunakan sebagai bahan rujukan
karena mengandung tema yang sama. Namun penelitian terdahulu memiliki
variabel, periode waktu, objek, dan penentuan sampel yang berbeda maka
akan menjadi pembeda dengan penelitian ini, selain itu dengan adanya
penelitian terdahulu akan dapat saling melengkapi dan menjadi bahan
referensi. Berikut adalah rangkuman dari penelitian yang telah dilakukan:
Judul
No.
Penelitian/Peneliti
/Tahun
1.
Tabel 2.1
Penelitian Terdahulu
Variabel dan Metode Penelitian
Persamaan
Perbedaan
1. Mengganti
Hasil Penelitian
Pengaruh Volume
Menggunakan
Hasil uji secara
Perdagangan, EPS,
Volume
variabel EPS
dan PER Terhadap
Perdagangan dan
dengan potensi menunjukkan
Harga Saham
PER sebagai
kebangkrutan
bawah masing-
Sektor
variabel
Altman Z-
masing variabel
Pertambangan
independennya
Score.
berpengaruh positif
Pada Periode
dan Harga Saham
2000-2005 di BEJ
sebagai variabel
(Bram Hadianto
dependen.
parsial
dan signifikan
2. Tidak
terhadap Harga
menggunakan
Saham, begitupun
dan Rony
Regresi Linear
dengan pengujian
Setiawan, 2007).
berganda
Volume
melainkan
Perdagangan, EPS,
Regresi Panel.
dan PER secara
simultan adalah
berpengaruh
signifikan terhadap
harga saham.
26
2.
Analisis Ketepatan
Menggunakan
1. Menambahkan
Prediksi
Altman Z-Score
dengan
Kebangkrutan
sebagai prediktor
variabel terikat semakin tinggi
dengan
potensi
(harga saham)
kemungkinan
Menggunakan
kebangkrutan di
dan variabel
bangkrut, sehingga
Model Altman Z-
pasar saham.
bebas, yaitu
model Altman Z-
Score (Studi
volume
Score dapat
Empiris pada
perdagangan,
digunakan untuk
perusahaan
ROA dan
memprediksi
Manufaktur yang
PER.
potensi
Delisting di BEI
Semakin rendah
nilai Z-Score, maka
kebangkrutan
Tahun 2011-2006)
2. Tidak
sebelum perusahaan
(Anastasia Novi
menggunakan
dinyatakan
Triharyanti, 2008).
Regresi Linear
delisting.
berganda
melainkan
Regresi Panel.
3.
Peranan Analisis
Menggunakan
1. Menambahkan
Hasil perhitungan
Metode Z-Score
variabel yang
variabel
Z-Score
dalam
sama, yaitu
independen
menunjukkan
Memprediksi
variabel Z-Score
ROA, PER
bahwa sebagian
Kebangkrutan
sebagai variabel
dan Volume
besar emiten
Suatu Perusahaan
independennya
Perdagangan.
perbankan yang
dan Kaitannya
dan harga saham
Terhadap Harga
sebagai variabel
Saham (Studi Pada
dependen.
terdaftar di Bursa
2. Tidak
Efek Indonesia
menggunakan
berpotensi
Perusahaan
Regresi
bangkrut.
Perbankan yang
Sederhana
Sedangkan hasil
Go Public di Bursa
tetapi Regresi
dari regresi
Efek Indonesia)
Panel.
sederhana
(Irsyad Nurdin,
menunjukkan
27
2012).
bahwa terdapat
pengaruh Z-Score
terhadap harga
saham. Hal ini
dibuktikan dengan
nilai R2 pada
integrasi lebih
tinggi.
4.
Pengaruh EPS,
Menggunakan
1. Menambahkan
Hasil dari penelitian
PER, ROA, DER,
rasio fundamental
Volume
ini menunjukkan
dan MVA
PER dan ROA
Perdagangan
bahwa secara
Terhadap Harga
sebagai variabel
dan Z-Score
parsial EPS, PER,
Saham dalam
independen dan
sebagai
MVA berpangruh
Kelompok Jakarta
harga saham
variabel bebas. secara signifikan
Islamic Index
sebagai variabel
Tahun 2008-2011
dependennya.
terhadap Harga
2. Tidak
Saham sedangkan
(Abied Luthfi
menggunakan
dua variabel lainnya
Safitri, 2013).
Regresi Linear
tidak. Dan secara
berganda
simultan, kelima
melainkan
variabel
Regresi Panel.
berpengaruh
terhadap Harga
Saham.
5.
Analisis Pengaruh
Menggunakan
Return on Asset
ROA sebagai
variabel DER,
menunjukkan
(ROA), Debt to
variabel
NPM, CR
bahwa hanya
Equity Ratio
independen dan
dengan
variabel ROA yang
(DER), Net Profit
Harga Saham
variabel PER,
berpengaruh
Margin (NPM) dan sebagai variabel
Altman Z-
terhadap harga
Current Ratio
Score dan
saham, tiga variabel
dependen.
1. Mengganti
Hasil dari penelitian
28
(CR) Terhadap
Volume
lainya (DER, NPM,
Harga Saham
Perdagangan.
CR) tidak
(Studi Empiris
berpengaruh
Pada Perusahaan
2. Tidak
terhadap harga
Tambang yang
menggunakan
saham. Namun
Terdaftar di Bursa
Regresi Linear
secara simultan,
Efek Indonesia
berganda
keempat variabel
Tahun 2011-2013)
melainkan
secara bersama-
(Egi Ferdianto,
Regresi Panel.
sama dapat
2014).
mempengaruhi
harga saham.
6.
Analisis Faktor-
Menggunakan
1. Mengganti
Secara parsial
Faktor yang
variabel yang
variabel EPS,
variabel yang
Mempengaruhi
sama yaitu ROA
BV, dan harga
berpangaruh
Harga Saham
dan Volume
terdahulu
signifikan adalah
Syariah (Studi
Perdagangan
dengan
ROA, dan Harga
Pada Pasar
sebagai variabel
variabel PER
Saham Terdahulu,
Sekunder Jakarta
independen dan
dan potensi
sedangkan Volume
Islamic Index (JII)
Harga Saham
kebangkrutan
Perdagangan
Tahun 2009-2013)
sebagai variabel
Altman Z-
berpengaruh secara
(Muksal, 2015).
dependen.
Score.
negatif. Untuk
variabel DER dan
2. Tidak
BV tidak
menggunakan
berpengaruh.
Regresi Linear
Sedangkan secara
berganda
simultan, keenam
melainkan
variabel tersebut
Regresi Panel.
memiliki pengaruh
signifikan terhadap
harga saham.
29
7.
Analisis Metode
Menggunakan
Altman Z-Score
variabel potensi
variabel
adalah sebagai alat
sebagai Alat
kebangkrutan
analisis
pendeteksi potensi
Prediksi
Altman Z-score
fundamental
kebangkrutan yang
Kebangkrutan dan
sebagai variabel
ROA dan
cukup akurat.
Pengaruhnya
independen dan
PER, dan
Sebagian besar
Terhadap Harga
harga saham
volume
perusahaan farmasi
Saham pada
sebagai variabel
perdagangan.
listing di BEI
Perusahaan
dependen.
Farmasi yang
1. Menambahkan
Altman Z-Score
termasuk pada
2. Tidak
kondisi perusahaan
Terdaftar di Bursa
menggunakan
yang sehat. Selain
Efek Indonesia
Regresi
itu hasil regresi
(Nur Fadli
Sederhana
sederhana
Andriawan dan
tetapi Regresi
menunjukkan
Dantje Salean,
Panel.
bahwa Alman Z-
2016).
Score berpengaruh
terhadap harga
saham.
8.
Pengaruh Volume
Menggunakan
1. Mengganti
Perdagangan
variabel yang
variabel
penelitian ini adalah
Saham, Leverage,
sama yaitu
Leverage dan
hanya variabel
dan Tingkat Suku
Volume
Tingakat Suku
Volume
Bunga Terhadap
Perdagangan
Bunga dengan
Perdagangan yang
Volatilitas Harga
sebagai variabel
ROA, PER
berpengaruh
Saham
independen dan
dan Z-Score.
terhadap Harga
(Ni Made Ayu
Harga Saham
Krisna D. Dan I
sebagai variabel
Gst Ngr Agung S.,
dependen.
2016).
Kesimpulan dari
Saham, dua lainnya
2. Tidak
tidak memiliki
menggunakan
pengaruh. Namun
statistika
secara simultan
deskriptif
ketiga variabel ini
melainkan
mempengaruhi
30
Regresi Panel.
Harga Saham.
Kesimpulan lainnya
ialah alat Regresi
Linear Berganda
dapat digunakan
untuk jenis model
ini.
C. Keterkaitan Antara Variabel Bebas dengan Variabel Terikat
1. Keterkaitan Antara Volume Perdagangan dengan Harga Saham
Menurut Ang (1997), naiknya Volume Perdagangan akan
megakibatkan kondisi pasar yang menguat dan turunnya volume
perdagangan maka akan melemahkan pasar. Volume Perdagangan
merupakan cerminan dari harga saham, ketika terjadi excess supply maka
akan menyebabkan harga saham jatuh dan ketika terjadi excess demand
maka harga saham akan naik (Syamsir, 2004:9). Hal tersebut telah
dibuktikan oleh beberapa penelitian. Pertama, penelitian yang dilakukan
oleh Bram Hadianto dan Rony Setiawan (2007) menyatakan bahwa
volume perdagangan berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap
harga saham pada sektor pertambangan tahun 2000-2005. Kedua,
penelitian yang telah dilakukan oleh Ni Made Ayu dan I Gusti Ngr (2016)
menunjukan bahwa pada sektor indeks LQ45, volume perdagangan
berpengaruh terhadap harga saham. Berdasarkan pemaparan ini, maka
dapat disimpulkan bahwa harga saham bergantung pada volume
perdagangan.
2. Keterkaitan Antara Return On Assets (ROA) dengan Harga Saham
Return On Assets (ROA) merupakan rasio untuk mengetahui
seberapa besar aset menghasilkan laba. Meningkatnya nilai aset akan
diiringi oleh naiknya harga saham karena ROA merupakan cerminan dari
produktivias
aktiva
sehingga,
semakin
produktif
aktiva
dalam
31
menghasilkan laba alan diiringi dengan naiknya harga saham. Pernyataan
ini didukung oleh beberapa penelitian. Pertama, penelitian yang dilakukan
oleh Egi Ferdianto (2014) menyimpulkan bahwa ROA berpengaruh
terhadap harga saham pada sektor pertambangan tahun 2011-2013.
Kedua, penelitian yang dilakukan oleh Muksal (2015) menunjukkan
bahwa pada sektor pasar sekunder di Jakarta Islamic Index (JII) ROA
berpengaruh terhadap harga saham. Dengan pemaparan tersebut maka
dapat disimpulkan bahwa harga saham bergantung pada ROA.
3. Keterkaitan Antara Price Earning Ratio (PER) dengan Harga Saham
Menurut Tandelilin (2001) Price Earning to Ratio (PER) bersama
EPS merupakan komponen utama dalam analisis fundamental untuk
menilai pada level perusahaan. PER digunakan oleh para investor untuk
memprediksikan kemampuan perusahaan dalam membayar laba dimasa
yang akan datang (Pasaribu, 2008) karena PER memberikan informasi
kemampuan
perusahaan
untuk
memenuhi
kewajibannya
kepada
pemegang saham. Semakin tinggi nilai PER maka akan semakin mahal
harga saham karena tingkat pengembalian yang juga besar. Selain itu
besar kecilnya nilai PER akan mempengaruhi harga saham terhadap
pendapatan bersih per saham. Pernyataan tersebut didukung oleh beberapa
penelitian yang pernah dilakukan, diantaranya, penelitian yang dilakukan
oleh Bram Hadianto
dan Rony Setiawan (2007)
pada sektor
pertambangan tahun 2000-2005 menyatakan bahwa PER berpengaruh
secara positif dan signifikan terhadap harga saham. Penelitian lainnya
dilakukan oleh Abied Luthfi Safitri (2013) pada perusahaan kelompok
Jakarta Islamic Index (JII) menyimpulkan bahwa PER memiliki pengaruh
terhadap harga saham. Berdasarkan pemaparan ini maka dapat
disimpulkan bahwa harga saham bergantung pada PER.
4. Keterkaitan Antara Potensi Kebangkrutan (Z-Score) dengan Harga
Saham
Menurut Harahap (2010) dalam Ardian dan Khoiruddin (2013:3)
sesuai dengan analisis fundamental, jika diketahui terdapat potensi
32
kebangkrutan pada suatu perusahaan maka, akan dapat memberikan
dampak terhadap harga saham dan return. Salah satu penyebab kegagalan
pada perusahaan yaitu kegagalan keuangan di mana ketidakmampuan
perusahaan untuk membedakan antara dasar arus kas dan saham.
Pernyataan tersebut didukung oleh beberapa penelitian yang pernah
dilakukan. Pertama, penelitian yang dilakukan oleh Irsyad Nurdin (2012)
menyimpulkan bahwa potensi kebangkrutan dengan Altman Z-Score
berpengaruh terhadap Harga Saham pada sektor perbankan tahun 2011.
Kedua, penelitian yang dilakukan oleh Nur Fadli Andriawan dan Dantje
Salean (2016) pada perusahaan farmasi 2009-2013 menyimpulkan bahwa
terdapat pengaruh antara Z-Score terhadap Harga Saham. Berdasarkan
memaparan ini maka dapat disimpulkan bahwa Harga Saham bergantung
pada Z-Score.
D. Kerangka Pemikiran
Umma Sekaran dalam (Sugiyono, 2011) mengemukakan bahwa,
kerangka berfikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori
berhubungan dengan berbagai faktor yang diidentifikasi sebagai masalah
yang penting. Kerangka pemikiran merupakan acuan bagi peneliti karena
bertujuan untuk menjelaskan secara ringkas garis besar penelitian yang
dilakukan. Kerangka pemikiran dalam penelitian ini akan disajikan dalam
bentuk bagan sebagai berikut:
33
Gambar 2.1
Kerangka Pemikiran
Perusahaan listing di
JII tahun 2012-2015
Harga Saham (Y)
Rasio Fundamental:
ROA (X2), PER (X3), Z-Score (X4)
Volume Perdagangan (X1)
Uji Asumsi Klasik:
Uji Normalitas, Multikolinearitas,
Heteroskedastisitas, Autokorelasi
Common Effect
Uji Chow
Fixed Effect
Random Effect
Uji Hausman
Fixed Effect
Hasil Pengujian Model
Model Regresi Panel:
Pit = α + β1 Vtit + β2 ROAit + β3 PERit + β4 Z-Scoreit + εit...
Uji Hipotesis:
Uji t, Uji F, Uji Koefisien Determinasi R2
Interpretasi, Kesimpulan, dan Saran
34
E. Pengembangan Hipotesis
Hipotesis bersifat lemah karena merupakan jawaban dugaan
sementara pada suatu penelitian yang hanya berdasarkan teori. Maka dari itu
suatu hipotesis harus dibuktikan kebenarannya guna memperkuat teori yang
telah ada. Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.
H1
: Volume Perdagangan berpengaruh signifikan terhadap harga
saham.
2.
H2
: ROA berpengaruh signifikan terhadap harga saham.
3.
H3
: PER berpengaruh signifikan terhadap harga saham.
4.
H4
: Z-Score berpengaruh signifikan terhadap harga saham.
5.
H5
: Volume Perdagangan, ROA, PER, Z-Score secara simultan
berpengaruh signifikan terhadap harga saham.
35
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini berfokus pada hubungan pengaruh antar variabel
independen terhadap variabel dependen. Ruang lingkup penelitian adalah
volume perdagangan dan rasio fundamental yang digunakan sebagai variabel
independen dan harga saham sebagai variabel dependen. Rasio fundamental
yang digunakan dalam penelitian terdiri dari Return on Asset (ROA), Price
Earning Ratio (PER), potensi kebangkrutan Altman Z-Score. Data yang
dibutuhkan dalam penelitian berupa volume perdagangan, Return on Asset
(ROA), Price Earning Ratio (PER), potensi kebangkrutan Altman Z-Score
dan harga saham didapat dari laporan keuangan yang dimuat di website Bursa
Efek Indonesia (BEI).
Batasan pengambilan data dalam kurun waktu 4 tahun yaitu periode
2012-2015, dengan subjek perusahaan yang konsisten terdaftar di Jakarta
Islamic Index (JII) selama kurun waktu tersebut. Penelitian dengan
penggunaan kurun waktu (time series) serta laporan keuangan dari beberapa
perusahaan (cross section) maka penelitian ini masuk dalam kelompok
penelitian data panel.
B. Metode Penentuan Sampel
Langkah pertama dalam menentukan sampel adalah menentukan
populasi penelitian. Populasi merupakan objek umum yang ditentukan dalam
penelitian untuk selanjutnya ditarik kesimpulan. Populasi mempunyai ruang
lingkup yang lebih luas dari sampel. Penelitian ini menggunakan Daftar
Saham Jakarta Islamic Index (JII) selama periode tahun 2012-2015 untuk
dijadikan poupulasi penelitian. Peneliti mengumpulkan daftar saham yang
telah terdaftar di JII selama periode penelitian.
36
Setelah menentukan populasi penelitian maka langkah kedua berupa
menarik kesimpulan dengan menentukan sampel penelitian. Pemilihan
sampel sebagai objek penelitian menggunakan metode purposive sampling,
yaitu pemilihan sampel berdasarkan kriteria tertentu. Penggunakan metode ini
didasarkan bahwa saham syariah di Jakarta Islamic Index (JII) akan dilakukan
evaluasi per 6 bulan, sehingga memungkinkan saham syariah untuk masuk
dan keluar dari daftar. Peneliti menentukan kriteria berikut dalam
menentukan sampel penelitian:
1.
Saham syariah yang konsisten terdaftar di Jakarta Islamic Index selama
periode tahun 2012-2015.
2.
Perusahaan yang konsisten mempublikasikan laporan keuangan dalam
periode tahun 2012-2015 yang telah diaudit oleh akuntan publik. Audit
ini menjadi penting karena dianggap telah memenuhi standar akuntansi
yang berlaku.
C. Metode Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan dua metode pengumpulan data yaitu studi
kepustakaan dan penelitian lapangan. Studi kepustakaan yang penulis lakukan
adalah dengan membaca literatur, buku, artikel, dan jurnal yang berkaitan
dengan penelitian. Tujuan dari dilakukannya studi kepustakaan adalah untuk
memperkuat landasan teori dan menjadi acuan penulis dalam melakukan
penelitian.
Penelitian lapangan dilakukan untuk mendapatkan data yang
dibutuhkan dalan penelitian. Data penelitian merupakan data sekunder yang
telah diolah terlebih dahulu oleh orang lain, dalam hal ini oleh perusahaan
yang bersangkutan. Seluruh data sekunder yang digunakan untuk penelitian
diakses dari website BEI (www.idx.co.id). Berikut merupakan data yang
dibutuhkan dalam penelitian:
1.
Data Harga Saham diperoleh dari ringkasan laporan keuangan
perusahaan per Juli 2016 yang diakses dari website (www.idx.co.id).
37
2.
Data Volume Perdagangan diperoleh dari ringkasan laporan keuangan
perusahaan per Juli 2016 yang diakses dari website (www.idx.co.id).
3.
Data ROA diperoleh dari ringkasan laporan keuangan perusahaan per Juli
2016 yang diakses dari website (www.idx.co.id).
4.
Data PER diperoleh dari ringkasan laporan keuangan perusahaan per Juli
2016 yang diakses dari website (www.idx.co.id).
5.
Data Z-Score diperoleh dari laporan keuangan tahunan perusahaan.
D. Metode Analisis
1.
Uji Deskriptif Data
Statistik deskriptif dipergunakan untuk mengorganisasikan dan
meringkas data numerik yang diperoleh dari hasil pengumpulan data di
lapangan, dalam bentuk tabulasi data, presentasi yang diwujudkan pada
grafik-grafik
atau
gambar-gambar,
serta
perhitungan-perhitungan
deskriptif, sehingga dapat diketahui ciri-ciri khusus dari data tersebut,
yang selanjutnya dapat diinterpretasikan sebagai informasi yang tegas
dan jelas mengenai data tersebut (Soepeno, 2002:11). Dalam statistik
deskriptif terdapat dua penjelesan, yaitu sebagai berikut:
a. Mean
Mean adalah nilai rata-rata dari data (berupa skor) yang
diperoleh dari pengumpulan data di mana besarannya bersifat
kuantitas dan tidak bervariasi (Soepeno, 2002:23). Cara menghitung
mean yaitu dengan menjumlah seluruh skor dan dibagi dengan
responden penelitian, berikut rumusnya:
Mean =
X1 + X2+. . . Xn
n
Keterangan:
X1-Xn
= Skor responden
n = Jumlah responden
Namun, apabila frekuensi tiap-tiap skornya lebih dari satu,
maka menggunakan rumus dibawah ini:
38
Mean =
Σfx
n
Keterangan:
Σfx
= Jumlah hasil perkalian f dengan x
n
= Jumlah responden
b. Standar Deviasi
Standar deviasi adalah nilai statistik untuk melihat sebaran
data. Nilai ini dapat melihat jauh dekatnya titik individu dengan niai
rata-rata atau mean. Semakin kecil angka standar deviasi berarti
sebaran titik individu semakin dekat dengan mean. Sebaliknya,
semakin besar angka standar deviasi maka semakin jauh dari nilai
mean. Apabila hasil standar deviasi adalah nol berati semua nilai
dalam himpunan adalah sama.
2.
Uji Stasioneritas
Penggunaan data time series biasanya erat hubungannya dengan
masalah keacakan data. Masalah keacakan data berhubungan dengan
sekumpulan data runtut waktu yang bersifat acak (variabel acak),
masalah ini berhubungan dengan stasionaritas dari suatu data dan
permasalahan autokorelasi.
Praktiknya, untuk menguji stasionaritas data dapat digunakan dua
metode yaitu Fungsi Autkorelasi dan Correlogram dan Pengujian Unit
Root. Fungsi Autkorelasi dan Correlogram merupakan pengujian
stasionaritas dengan memanfaatkan autokorelasi yang pada data karena
adanya autokorelasi dapat menunjukkan bahwa data tidak acak lagi.
Sementara itu, Pengujian Unit Root merupakan pengujian dengan
penggunaan model pengujian unit root, di mana variabel yang memiliki
masalah unit root dapat dimaksudkan sebagai kondisi variabel yang tidak
stasioner (Effendi dan Setiawan, 2014:126-127). Namun pada umunya,
39
penggunaan Pengujian Unit Root lebih populer dibandingkan dengan
Fungsi Autkorelasi dan Correlogram.
Pengujian unit root test karya Dickey-Fuller bertujuan untuk
memverifikasi bahwa proses generasi (data generating process/DGP)
data bersifat stasioner, apabila data bersifat stasioner maka DGP
menunjukkan karakteristik rata-rata dan varians yang konstan serta nilai
autokorelasi yang tidak terikat titik waktu (Ariefianto, 2012:132).
3.
Pengujian Dasar Asumsi Klasik
a.
Uji Normalitas
Untuk mendapatkan model regresi yang baik dari sebuah data
maka data harus memiliki distribusi yang nomal. Uji signfikansi
antara variabel Y (dependen) dengan variabel X (independen) akan
menjadi valid apabila data yang digunakan berdistribusi normal,
maka dilakukanlah uji normalitas, yaitu untuk menguji apakah
variabel yang digunakan dalam regresi panel berdistribusi normal
atau tidak (Ansofino dkk, 2016).
Setiap data pengujian tentu memiliki peluang terjadi
normalitas, menurut Suliyanto (2011) dalam Rusena (2015:59)
menyatakan bahwa tidak terpenuhinya normalitas, umumnya
disebabkan karena distribusi data yang dianalisis tidak normal,
karena terdapat nilai ekstrem pada data yang diambil. Oleh karena
itu, untuk mengatasi masalah ini sebaiknya menambahkan data
penelitian, karena semakin banyak data yang digunakan maka angka
pembagi akan semakin besar, untuk selanjutnya nilai ekstrem bisa
berubah ke arah nilai tengah/rata-rata. Namun, terjadi pengecualian
pada data panel, penggunaan data panel akan terhindar dari masalah
normalitas, hal ini dikarenakan data panel sudah memiliki cukup
banyak data.
40
b. Uji Multikolinearitas
Masalah multikolinearitas terjadi karena adanya hubungan
sempurna atau tepat diantara variabel-variabel independen yang
digunakan dalam penelitian. Untuk penilaian pada variabel
keuangan, diperkirakan hampir seluruhnya memiliki peluang
multikolinearitas sebab, variabel-variabel yang digunakan dalam
keuangan
biasanya
merupakan
sebuah
turunan.
Data
multikolinearitas berhubungan dengan nilai standard error yang
akan terjadi, apabila uji data menunjukkan multikolineritas yang
tinggi maka koefisien regresi X akan sulit ditentukan dan
mempunyai nilai standard error yang tinggi, begitupun yang terjadi
sebaliknya.
Gujarati dan Porter (2013) mengungkap bahwa ada lima poin
konsekuensi apabila terjadi multikolinearitas, yaitu:
1) Estimator OLS memiliki varians dan kovarians yang besar
sehingga membuat estimasi yang akurat menjadi sulit.
2) Dikarenakan konsekuensi nomor 1, maka interval kepercayaan
cenderung
sangat
lebar,
menimbulkan
penerimaan
dari
“hipotesis nol” (koefisien populasi yang sebenarnya nol) lebih
awal.
3) Dikarenakan konsekuensi nomor 1, rasio t dari satu atau lebih
koefiesien akan cenderung tidak signifikan secara statistik.
4) Walaupun rasio t dari satu atau lebih koefisien secara statistik
tidak signifikan, namun nilai R2 bisa sangat tinggi.
5) Estimator OLS dan standard error dapat bersifat sensitif
terhadap perubahan yang kecil pada data.
c.
Uji Heteroskedastisitas
Kesamaaan varian dari resudial antara pengamatan yang satu
dengan yang lain tetap atau bisa disebut dengan homoskedastisitas,
sedangkan varian yang tidak konstan dan berubah-ubah dikenal
dengan istilah heteroskedastisitas. Masalah ini umumnya ditemui
41
pada data cross section, karena melakukan pengamatan pada banyak
individu di waktu yang sama namun, data time series juga masih
memiliki
kemungkinan
terkena
masalah
ini.
Permasalah
heteroskedastisitas yang ada pada data akan berdampak pada
penilaian
uji
hipotesis
yang
tidak
akurat,
sehingga
akan
mempengaruhi penarikan kesimpulan penelitian, hal ini dikarenakan
varian koefisien regresi yang besar (Nachrowi dan Usman,
2006:112).
Terdapat banyak metode yang dapat digunakan dalam
mendeteksi ada atau tidaknya permasalah heteroskedastisitas pada
data, salah satu yang populer adalah metode white. Menurut Effendi
dan Setiawan (2014) metode white tidak menggunakan asumsi
normalitas sehingga akan mudah diinterpretasikan. Uji white
merupakan pengujian yang paling mudah dilakukan diantara metode
heteroskedastisitas lainnya, di mana uji ini mengasumsikan bahwa
varian error merupakan fungsi yang mempunyai hubungan dengan
variabel bebas, kuadrat masing-masing variabel bebas, dan interaksi
antara variabel bebas (Nachrowi dan Usman, 2006:118).
d. Uji Autokorelasi
Pengujian model regresi bertujuan untuk melihat pengaruh
antara variabel independen terhadap variabel dependen maka jika
terjadi autokorelasi akan mengganggu hal tersebut. Menurut
Sumodiningrat (2002) autokorelasi merupakan korelasi (hubungan)
yang terjadi antara anggota-anggota serangkaian pengamatan yang
tersusun dalam rangkaian waktu (time series) atau yang tersusun
dalam rangkaian ruang (cross section).
Metode populer
yang digunakan dalam menganalisis
autokorelasi adalah Durbin Watson. Pengujian ini diperkenalkan
oleh J. Durbin dan G. Watson tahun 1951, analisis ini dihitung
berdasarkan jumlah selisih kuadrat nilai taksiran faktor gangguan
yang berurutan (Sumodiningrat, 2002:245). Analisis ini dilakukan
42
dengan nilai apabila ρ = 0 (tidak ada autokorelasi sama sekali), maka
nilai DW-stat berada pada nilai 2. Apabila terdapat autokorelasi
negatif dan positif sempurna, maka nilai DW-stat berada pada nilai 4
dan 0 (Effendi dan Setiawan, 2014:71).
4.
Analisis Data Panel
a.
Model Common Effect
Model pertama dalam model panel adalah common effect,
analisis model ini mengganggap bahwa perilaku individu akan tetap
sama dalam kurun waktu penelitian. Singkatnya, model ini tidak
memperhatikan perilaku individu dan dimensi waktu, semua
dianggap sama. Common effect dirumuskan sebagai berikut:
y = α + β’ xi.t + εi.t
di mana, i = 1, 2, ..., N dan t = 1, 2, ..., T, dengan keterangan
N adalah jumlah unit/individu cross section dan T adalah jumlah
periode waktu (time series).
b. Model Fixed Effect
Handika (2015) menyatakan bahwa model fixed effect
memiliki karakteristik khas yang membedakan antara satu unit
observasi dengan unit observasi lainnya yang dapat diasumsikan
tercermin pada perbedaan intercept-nya, sehingga peneliti hanya
tinggal
menganalisis
koefisien
dan
signifikansi
variabel
independennya. Berikut merupakan rumus fixed effect:
yi.t = αio + β1xi.t + β2xi.t + β3xi.t + β4d1i + β5d2i + εi.t
di mana, konstanta αio diberi subskrip, oi, i diartikan sebagai
objek penelitian, sehingga masing-masing objek memiliki konstanta
yang berbeda. Sedangkan variabel semu d1i untuk objek pertama dan
0 untuk objek lainnya dan variabel d2i objek kedua dan 0 untuk objek
lainnya.
43
c.
Model Random Effect
Model dummy dalam fixed effect memiliki kelemahan yaitu,
berkurangnya df sehingga mengurangi efisiensi parameter, sehingga
untuk mengatasi ini menggunakan error terms (random effect).
Melalui analisis random effect tidak dapat terlihat pengaruh dari
berbagai karakteristik yang bersifat konstan dalam waktu atau
konstan secara individual, dapat dirumuskan sebagai berikut:
(Rosadi, 2011)
yi.t = xi.t β + vi.t
di mana, vi.t = ci + dt + εi.t , model tersebut diasumsikan
sebagai model independen satu dengan yang lainnya, ci diasumsikan
bersifat independent and indenticallt distributed (i.i.d) normal
dengan mean 0 dan variansi σ²c, dt diasumsikan bersifat independent
and indenticallt distributed (i.i.d) normal dengan mean 0 dan
variansi σ²d, dan εi.t , ci diasumsikan bersifat independent and
indenticallt distributed (i.i.d) normal dengan mean 0 dan variansi σ²ε.
Apabila ci dan dt adalah nol maka model efek acak satu arah,
sedangkan apabila terdapat kondisi lain maka model dua arah.
5.
Tahapan Analisis Data
a.
Uji Chow
Tahap awal pengujian data panel ialah uji chow yaitu,
pemilihan model terbaik antara common effect dengan fixed effect.
Pengujian ini menggunakan rumus sebagai berikut:
πΆβ„Žπ‘œπ‘€ =
𝑁−1
𝑁𝑇 − 𝑁 − 𝐾
Keterangan
N = Jumlah data cross section.
T = Jumlah data time series.
K = Jumlah variabel penjelas.
Uji chow memiliki hipotesis sebagai berikut:
H0 : Model menggunakan pendekatan common effect.
44
H1 : Model menggunakan pendekatan fixed effect.
Sedangkan penilaian uji chow dapat dilihat dari besaran nilai
probabilitas cross section F dan Chi Square dengan ketentuan
berikut:
ο‚·
Apabila nilai prob. < 0.05 maka H0 ditolak.
ο‚·
Apabila nilai prob. > 0.05 maka H0 diterima.
b. Uji Hausman
Pengujian Hausman dilakukan saat pada uji chow didapat
fixed effect sebagai model terbaik. Pengujian ini dilakukan untuk
mendapat hasil yang lebih baik dari perbandingan antara model fixed
effect dengan model random effect.
Uji hausman memiliki hipotesis sebagai berikut:
H0 : Model menggunakan pendekatan random effect.
H1 : Model menggunakan pendekatan fixed effect.
Penilaian uji hausman dapat dilihat dari besaran nilai
probabilitas cross section F dan Chi Square dengan ketentuan
berikut:
-
Apabila nilai prob. < 0.05 maka H0 ditolak.
-
Apabila nilai prob. > 0.05 maka H0 diterima.
Menurut Hill et all (2008) dalam Handika (2015), prinsipnya
RE lebih diutamakan karena beberapa poin berikut:
1) Estimator yang dihasilkan oleh model RE mencerminkan proses
random sampling pengambilan sampel data untuk menarik
kesimpulan suatu populasi.
2) Estimator model RE memungkinkan kita untuk menganalisis
dampak variabel yang statis.
3) Model RE merupakan prosedur estimasi generalized least
square (GLS) sedangkan model FE menerapkan prosedur
estimasi OLS. Pada jumlah sampel yang besar, variance dari
estimator GLS lebih kecil/efesien dibanding varian estimator
OLS.
45
Namun, poin-poin di atas tidak menjadikan RE mutlak
sebagai pilihan model terbaik karena ketika RE merupakan model
terbaik maka terdapat random error (resudials) berkorelasi dengan
salah satu dari variabel independen penelitian.
6.
Pengujian Statistik
a.
Uji t
Uji t digunakan untuk menganalisis apakah terdapat hubungan
antara variabel X dengan variabel Y secara parsial atau individu.
Keterkaitan antar variabel tersebut dapat dilihat dari besaran nilai t
statistik atau p value. Distribusi t atau uji t memiliki parameter
perhitungannya, yaitu derajat kebebasan yang dapat ditulis dengan
rumus (n-1). Menurut Ariefianto (2012), pada dasarnya pengujian
hipotesis individual pada regresi berganda adalah sama dengan
regresi bivariat. Penilaian standard error dari uji t diperoleh dari
matriks perkalian resudial atau yang dikenal dengan matriks varians
kofarians. Gujarati (2007) menyatakan bahwa uji t memiliki dua
sifat, yaitu:
1) Seperti halnya distribusi normal, distribusi t memiliki bentuk
yang simetris.
2) Rata-rata distribusi t adalah nol tetapi dengan varians k/(k-2)
maka dari itu, varian untuk distribusi t didefinisikan untuk
derajat kebebasan lebih dari dua.
b. Uji F
Uji F merupakan pengujian untuk menganalisis keterkaitan
antara variabel X dengan variabel Y secara simultan. Analisis uji F
dilakukan dengan tujuan memberikan penilaian apakah secara
simultan seluruh variabel independen yang digunakan pada model
regresi memberikan dampak penjelas yang signifikan pada variabel
depedennya (Ariefianto, 2012:22).
46
Gujarati (2007) menyatakan bahwa uji F memiliki sifat-sifat
dibawah ini:
1) Uji F memiliki bentuk condong ke kanan dan memiliki rentang
antara 0 dan tak terhingga.
2) Uji F mendekati distribusi normal manakala k1 dan k2 yang
merupakan derajat kebebasan sangatlah besar.
3) Kuadrat dari variabel acak yang didistribusikan sebagai t dengan
derajat kebebasan = k mempunyai distribusi/uji F dengan derajat
kebebasan = 1 pada pembilang dan k penyebutnya,
π‘‘π‘˜2 = 𝐹 1,k
4) Terdapat hubungan dengan chi-square.
c.
Koefisien Determinasi R2
Koefisien determinasi R2 merupakan komponen penting yang
akan dapat menunjukkan kesimpulan penelitian. Nilai R2 akan
menunjukkan seberapa besar variabel independen penelitian dapat
mempengaruhi variabel dependennya atau dapat diartikan seberapa
kuat hubungan variabel independen dengan variabel dependennya.
Dalam penelitian tiga variabel atau lebih dikenal korelasi majemuk
atau dapat dilambangkan dengan R, di mana hal ini menjelaskan
bahwa koefisien tersebut merupakan sebuah ukuran dari tingkat
hubungan variabel Y dengan seluruh variabel-variabel independen
yang digunakan, pada praktiknya R jarang digunakan dan yang
populer digunakan ialah R2 (Gujarati dan Porter, 2013:256).
Umumnya,
untuk
meningkatkan
nilai
R2
peneliti
menambahkan variabel independen dalam penelitiannya sehingga
terbentuk pemikiran bahwa variabel independen yang banyak
merupakan model terbaik karena menghasilkan nilai R2 yang lebih
besar. Namun menurut Nachrowi dan Usman (2006) terkadang satu
variabel
independen dalam
model
regresi
sederhana
dapat
menerangkan variabel dependen dengan lebih baik dibandingkan
dengan banyak variabel independen.
47
E. Operasional Variabel
Penelitian ini menggunakan satu variabel dependen yaitu harga
saham. Sedangkan variabel independen yang digunakan berjumlah empat
variabel, yaitu volume perdagangan, ROA, PER, dan Z-Score. Berikut adalah
ringkasan dari variabel yang digunakan
Tabel 3.1
Operasional Variabel Penelitian
No
Variabel
Indikator
Skala
Satuan
1
Harga Saham
Harga Saham
Rasio
Rupiah
Pengukuran Definisi
Operasional
Harga saham merupakan
penutupan
persepsi investor mengenai
(closing price)
keberhasilan
dari masing-
perusahaan menggunakan
masing emiten
sumber
kinerja
daya
yang
dimiliki. (Pakpahan, 2010
dalam Putu Dina, 2013).
2
3
Volume
Volume
Perdagangan
Perdagangan
adalah
tahunan dari
saham perusahaan yang
masing-
diperdagangkan
masing emiten
waktu tertentu.
Return on
Laba bersih
Asset (ROA)
Rasio
Rasio
Sh.
Persen
Volume
Perdagangan
jumlah
lembar
dalam
ROA
merupakan
rasio
dibagi total
yang
digunakan
untuk
aset
mengukur seberapa besar
jumlah laba bersih yang
akan dihasilkan dari setiap
rupiah dana yang tertanam
dalam total aset (Hery,
2015).
4
Price Earning
Harga pasar
Ratio (PER)
per lembar
Rasio
X
PER
merupakan
rasio
yang menunjukkan hasil
48
saham dibagi
perbandingan antara harga
dengan laba
per lembar saham dengan
per saham.
laba per lembar saham.
(Hery, 2015).
5
Altman Z-
Z-Score =
Rasio
X
Altman
Z-Score
Score
6.65 X1 + 3.26
Modifikasi
Modifikasi
X2 + 6.72 X3
model
+ 1.05 X4
kebangrkrutan yang dapat
merupakan
prediksi
digunakan untuk seluruh
jenis perusahaan.
49
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Objek Penelitian
1.
Tempat dan Waktu Penelitian
Sampel dalam penelitian ini diambil dari saham konsisten yang
terdaftar di Jakarta Islamic Index (JII) pada tahun 2012-2015.
Berdasarkan hasil pengkajian saham yang konsisten dalam kurun waktu
tahun 2012-2015 maka terpilih sampel sebanyak 17 saham. Informasi
data yang dibutuhkan didapatkan dari ringkasan laporan keuangan
masing-masing emiten yang diperoleh dari situs resmi BEI yaitu
www.idx.co.id. Dari seluruh sampel yang ada, keseluruhan 17 sampel
secara konsisten menerbitkan ringkasan laporan keuangan, sehingga
tidak ada pengurangan sampel yang disebabkan kurangnya informasi
perusahaan. Berikut adalah sampel dalam penelitian:
No
Kode
Tabel 4.1
Daftar Sampel Penelitian
Nama Perusahaan
1
AALI
Astra Agro Lestari Tbk.
2
ADRO
Adaro Energy Tbk.
3
AKRA
Akr Corporindo Tbk.
4
ASII
Astra International Tbk.
5
ASRI
Alam Sutera Realty Tbk.
6
ICBP
Indofood Cbp Sukses Makmur Tbk.
7
INDF
Indofood Sukses Makmur Tbk.
8
INTP
Indocement Tunggal Prakarsa Tbk.
9
ITMG
Indo Tambangraya Megah Tbk.
10
KLBF
Kalbe Farma Tbk.
11
LPKR
Lippo Karawaci Tbk.
50
2.
12
LSIP
PP London Sumatra Indonesia Tbk.
13
PGAS
Perusahaan Gas Negara (PERSERO) Tbk.
14
SMGR
Semen Indonesia (PERSERO) Tbk.
15
TLKM
16
UNTR
United Tractors Tbk.
17
UNVR
Unilever Indonesia Tbk.
Telekomunikasi Indonesia (PERSERO)
Tbk.
Gambaran Umum Jakarta Islamic Index (JII)
Pendirian Jakarta Islamic Index (JII) adalah sebagai sarana bagi
investor yang ingin menyalurkan dananya pada pasar modal yang
berprinsip syariah. Jakarta Islamic Index (JII) cenderung mempunyai
tingkat risiko investasi yang lebih kecil dikarenakan selain terbebas dari
unsur riba, perjudian, spekulasi, dan lain-lain, emiten yang terdaftar di JII
adalah 30 jenis saham dengan likuidasi serta kapitalisasi tertinggi di
bursa efek.
Setelah OJK dan DSN memutuskan 30 saham yang masuk dalam
daftar JII maka tugas selanjutnya adalah mengevaluasi 30 jenis saham
setiap 6 bulan sekali guna mengetahui apakah saham-saham ini masih
konsisten memenuhi syarat, jika sudah tidak memenuhi syarat maka akan
dikeluarkan dari daftar saham JII, namun saham yang telah dikeluarkan
masih mempunyai kesempatan masuk kembali dalam daftar saham JII.
Selain itu, OJK dan DSN juga terus memantau usaha dari setiap emiten
agar memastikan tidak ada usaha yang menyimpang dari syariat Islam.
Sejak mulai beroperasional, JII menunjukkan perkembangan yang
baik, di akhir tahun 2006 kapitalisasi JII mencapai angka 48% dari total
kapitalisasi saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Hingga pada lima
tahun terakhir, kapitalisasi pasar JII terus mengalami kenaikan, walaupun
sempat menurun pada tahun 2015 namun JII kembali bangkit di tahun
berikutnya dengan kenaikan yang cukup tinggi. Grafik dibawah ini
51
menunjukkan perkembangan kepitalisasi pasar JII selama 5 tahun
terakhir yaitu tahun 2012-2016:
Gambar 4.1
Kapitalisasi Pasar JII
Kapitalisasi Pasar
2500
2000
1500
1000
2035.19
1944.53
1672.1
1737.29
1671
Kapitalisasi Pasar
500
0 : www.ojk.go.id, diolah
Sumber
2012
2013
2014
2015
2016
P
erkembangan yang baik dan penerapan aturan syariah yang ketat, maka
JII menjadi instrumen terpecaya bagi umat muslim yang ingin
menyalurkan dananya untuk berinvestasi. Pasar yang halal dan tingkat
likuidasi serta kapitalisasi saham yang baik menjadi keunggulan JII
sebagai pilihan berinventasi.
B. Deskriptif Data
Statistik deskriptif adalah penggambaran dari suatu penelitian yang
ditunjukkan melalui jumlah sampel rata-rata, nilai minimal, nilai maksimal,
dan standar deviasi. Tujuan dilakukannya statistik deskriptif untuk
mengetahui penyebaran data sampel atau objek penelitian. Variabel dependen
yang digunakan adalah harga saham, dengan variabel independen Vt, ROA,
PER, Z-Score.
Berdasarkan tabel dibawah nilai N sebesar 68 yang menujukkan
jumlah objek penelitian, diambil dari sampel perusahaan konsisten terdaftar
di Jakarta Islamic Index (JII) selama periode tahun 2011-2015.
52
Tabel 4.2
Deskripsi Data Penelitian
LN HARGA
LN Vt
LN ROA
SAHAM
PER
Z CORE
Mean
8.583868
8.089174
2.336237
18.85000
5.740735
Median
8.747170
8.086930
2.403325
15.59000
5.340000
Maximum
10.63465
10.36319
4.269837
48.24000
14.02000
Minimum
5.837730
5.590987
0.908259
6.320000
1.180000
Std. Dev.
1.283191
1.425657
0.703832
9.790421
3.039842
68
68
68
68
68
Observations
Dari Tabel 4.2, maka didapat statistika deskriptif sebagai berikut:
1. Harga Saham
Variabel Harga Saham menujukkan nilai rata-rata sebesar 8.583868,
dengan standar deviasi sebesar 1.283191, nilai maksimun sebesar
10.63465, serta nilai minimum sebesar 5.837730.
2. Vt (Volume Perdagangan)
Variabel Vt menujukkan nilai rata-rata sebesar 8.089174, dengan
standar deviasi sebesar 1.425657, nilai maksimun sebesar 10.36319,
serta nilai minimum sebesar 5.590987.
3. Return on Asset (ROA)
Variabel ROA menujukkan nilai rata-rata sebesar 2.336237, dengan
standar deviasi sebesar 0.703832, nilai maksimun sebesar 4.269837,
serta nilai minimum sebesar 0.908259.
4. Price on Earning Ratio (PER)
Variabel PER menujukkan nilai rata-rata sebesar 18.85000, dengan
standar deviasi sebesar 9.790421, nilai maksimun sebesar 48.24,
serta nilai minimum sebesar 6.32.
53
5. Potensi Kebangkrutan Z-Score
Variabel Z-Score menujukkan nilai rata-rata sebesar 5.740735,
dengan standar deviasi sebesar 3.039842, nilai maksimun sebesar
14.02, serta nilai minimum sebesar 1.18.
C. Hasil dan Pembahasan Uji Stasioneritas
Pengujian stasioner merupakan tahap pertama pada penelitian yang
menggunakan data time series. Uji ini diperlukan untuk memastikan bahwa
data time series tidak dipengaruhi oleh waktu. Dalam penelitian ini
menggunakan uji augemted dickey-fuller (ADF), pengujian ini untuk
menentukan apakah data time series mengandung akar unit (unit root).
Berikut adalah hasil uji stasioneritas level:
Variabel
Tabel 4.3
Uji Stasioneritas Level
ADF Statistik
Keterangan
t-statistic
critical values 5%
prob
Vt
-2.938982
-2.905519
0.0462
Stasioner
ROA
-3.932070
-2.906923
0.0031
Stasioner
PER
-4.277967
-2.905519
0.0010
Stasioner
Z-Score
-1.858258
-2.911730
0.3494
Tidak Stasioner
Data stasioner dapat dilihat menggunakan dua alat analisis, yaitu
dengan critical value 5% dan prob. Analisis dengan critical value 5% adalah
data akan stasioner apabila nilai t-statistic > critical value 5%. Sedangkan
dengan Prob. ketika nilai Prob. < 0.05. Berdasarkan tabel 4.3 hasil uji
stasioner tingkat level menunjukkan bahwa semua variabel stasioner kecuali
variabel Z-Score karena masih satu variabel yang belum stasioner maka
dilakukan uji stasioner tingkat 1st difference. Namun sebelumnya, berikut
pemaparan hasil uji stasioner tingkat level, yaitu Variabel Vt memiliki nilai
t-statistic -2.938982 > critical value -2.905519 dengan nilai Prob. 0.0462 <
0.05. Variabel ROA memiliki nilai t-statistic sebesar -3.932070 > critical
54
value -2.906923, dengan nilai Prob. 0.0031 < 0.05. Variabel PER memiliki
nilai t-statistic -4.277967 > nilai critical value -2.905519, dengan nilai Prob.
0.0010 < 0.05. Variabel Z-Score memiliki nilai t-statistic -1.858258 < 2.911730 critical value, dengan nilai Prob. 0.3494 > 0.05.
Tabel 4.4
Uji Stasioneritas 1st Difference
Variabel
ADF Statistik
Keterangan
t-statistic
citical values 5%
Prob
Vt
-7.415289
-2.90621
0.0000
Stasioner
ROA
-11.41414
-2.90842
0.0000
Stasioner
PER
-11.27429
-2.90621
0.0000
Stasioner
Z-Score
-2.723205
-2.91173
0.0762
Tidak Stasioner
Berdasarkan tabel 4.4 hasil uji stasioner tingkat 1st difference
menunjukkan bahwa semua variabel stasioner kecuali variabel Z-Score.
Seluruh variabel yang stasioner memiliki nilai masing-masing sebesar,
variabel Vt memiliki nilai t-statistic -7.415289 > critical value -2.90621
dengan nilai Prob. 0.0000 < 0.05, variabel ROA memiliki nilai t-statistic
sebesar -11.41414 > critical value -2.90842 dengan nilai Prob. 0.0000 <
0.05, dan variabel PER memiliki nilai -11.27429 t-statistic > critical value 2.90621 dengan nilai Prob. 0.0000 < 0.05.
Sedangkan variabel yang tidak stasioner, variabel Z-Score, memiliki
nilai sebesar nilai t-statistic -2.723205 < critical value -2.91173 dengan nilai
Prob. 0.0762 > 0.05. Berdasarkan haji uji 1st difference yang menunjukan
bahwa satu variabel belum stasioner maka selanjutnya akan dilakukan uji
2nd difference.
55
Variabel
Tabel 4.5
Uji Stasioneritas 2nd Difference
ADF Statistik
Keterangan
t-statistic
citical values 5%
Prob.
Vt
-7.221161
-2.909206
0.0000
Stasioner
ROA
-9.307906
-2.913549
0.0000
Stasioner
PER
-8.840068
-2.909206
0.0000
Stasioner
Z-Score
-10.12217
-2.911730
0.0000
Stasioner
Berdasarkan tabel 4.5 hasil uji stasioner tingkat 2nd difference
menunjukkan bahwa semua variabel lolos uji stasioner, dengan nilai,
variabel Vt memiliki nilai t-statistic -7.221161 > critical value -2.909206
dengan nilai Prob. 0.0000 < 0.05, variabel ROA memiliki nilai t-statistic
sebesar -9.307906 > critical value -2.913549 dengan nilai Prob. 0.0000 <
0.05, variabel PER memiliki nilai t-statistic -8.840068 > nilai critical value
-2.909206 dengan nilai Prob. 0.0000 < 0.05, variabel Z-Score memiliki nilai
t-statistic -10.12217 > critical value -2.911730 dengan nilai Prob. 0.0000 <
0.05. Setelah semua variabel lolos uji stasioner maka penelitian dapat
dilanjutkan pada tahap berikutnya.
D. Hasil dan Pembahasan Uji Asumsi Klasik
1.
Uji Normalitas
Pengujian ini ditujukan untuk mengetahui apakah nilai resudial
penelitian berdistribusi normal atau tidak. Model regresi yang layak
adalah model yang memiliki nilai resudial berdistribusi normal.
Penelitian ini menggunakan uji normalitas Jarque Bera, dengan analisis
jika nilai Prob. > nilai signifikansi 0.05 maka, data berdistribusi normal
dan apabila nilai Prob. < nilai signifikansi 0.05 maka, data tidak
berdistribusi normal.
56
Gambar 4.2
Uji Normalitas
9
Series: Residuals
Sample 3 68
Observations 34
8
7
6
5
4
3
2
1
0
-1.00
-0.75
-0.50
-0.25
0.00
0.25
0.50
0.75
Mean
Median
Maximum
Minimum
Std. Dev.
Skewness
Kurtosis
2.18e-15
0.028748
0.955261
-0.971705
0.503160
-0.163941
2.185106
Jarque-Bera
Probability
1.093043
0.578960
1.00
Berdasarkan hasil olah data gambar 4.2 nilai Prob. sebesar
0.578960 > 0.05, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa resudial data
yang digunakan dalam penelitian ini telah berdisribusi normal dan berarti
data ini layak digunakan untuk penelitian.
2.
Uji Multikolinearitas
Pengujian multikolinearitas dilakukan untuk mengetahui seberapa
tinggi korelasi antara variabel-variabel independen. Korelasi antar
variabel independen tidak boleh terlalu tinggi karena apabila hal ini
terjadi maka akan mengganggu hubungan/korelasi antar variabel
independen dengan variabel dependennya. Analisis pengujian data
terbebas dari multikolinearitas adalah nilai centered VIF kurang dari 10.
Berikut hasil uji multikolinearitas data penelitian:
57
Tabel 4.6
Uji Multikolinearitas
Variable
Centered VIF
C
NA
DLN_Vt
1.333398
DLN_ROA
1.688714
DPER
1.125635
DZ_SCORE
1.363141
Berdasarkan hasil olah data tabel 4.6 diatas dapat dijabarkan
sebagai berikut:
a. Variabel Volume Perdagangan memiliki nilai centered VIF
sebesar 1.333398 < 10, maka variabel volume perdagangan
terbebas dari multikolinearitas.
b. Variabel ROA memiliki nilai centered VIF sebesar 1.688714
< 10, maka variabel ROA terbebas dari multikolinearitas.
c. Variabel PER memiliki nilai centered VIF sebesar 1.125635
< 10, maka variabel PER terbebas dari multikolinearitas.
d. Variabel Z-Score memiliki nilai centered VIF sebesar
1.363141 < 10, maka variabel Z-Score terbebas dari
multikolinearitas.
3.
Uji Heteroskedastisitas
Model regresi yang baik adalah terdapat kesamaan varian dari
resudial antara pengamatan yang satu dengan yang lain atau bisa disebut
dengan homoskedastisitas, maka untuk mengetahui hal tersebut
dilakukan
uji
heteroskedastisitas
terhadap
data.
Penelitian
ini
menggunakan uji heteroskedastisitas white di mana data akan bebas dari
heteroskedastisitas apabila nilai Prob. Obs*R-squared > 0.05.
58
Tabel 4.7
Uji Heteroskedastisitas
Heteroskedasticity Test: White
F-statistic
0.555325
Prob. F(4,29)
Obs*R-squared
2.418998
Prob. Chi-Square(4)
Scaled explained SS
1.042799
Prob. Chi-Square(4)
0.6967
0.6592
0.9032
Berdasarkan hasil olah data tabel 4.7 menunjukkan bahwa data
dalam penelitian memiliki kesamaan varian dari resudial antara
pengamatan yang satu dengan yang lainnya, terbukti dari nilai Prob.
Obs*R-squared > 0.05, yaitu 0.6592 > 0.05. Kesimpulannya ialah data
penelitian memiliki model regresi yang baik karena bebas dari
heteroskedastisitas.
4.
Uji Autokorelasi
Pengujian dilakukan untuk memastikan bahwa tidak terjadi
korelasi antara satu periode t dengan periode sebelumnya (t-1), karena
model regresi adalah untuk melihat pengaruh antara variabel independen
terhadap variabel dependen maka jika terjadi autokorelasi akan
mengganggu hal tersebut. Penelitian ini menggunakan autokorelasi
durbin-watson, di mana data dikatakan lolos dari autokorelasi apabila
memiliki nilai dU < DW < 4-dU, berikut hasil olah datanya:
Tabel 4.8
Uji Autokorelasi
Mean dependent var
8.635998
S.D. dependent var
1.281782
Akaike info criterion
1.579466
Schwarz criterion
1.893716
Hannan-Quinn criter.
1.686634
Durbin-Watson stat
2.059358
59
Data yang dipakai berjumah 34 dengan variabel independen
berjumlah 4 (Vt, ROA, PER, Z-Score) maka didapat nilai dU sebesar
1.7277, dengan hasil olah data menunjukkan nilai dW sebesar 2.059358.
Dari hasil olah data disimpulkan bahwa data peneltian bebas autokorelasi
karena memiliki nilai dW yang lebih besar dari nilai dU dan lebih kecil
dari nilai 4-dU, dengan angka sebagai berikut 1.7277 < 2.059358 <
2.2723.
E. Hasil dan Pembahasan Uji Regresi Panel
1. Uji Chow
Uji Chow dilakukan untuk memilih model terbaik antara common
effect dan fixed effect. Apabila nilai Prob. cross section < 0.05 maka H0
ditolak (FE) dan apabila nilai Prob. cross section > 0.05 maka H0
diterima (CE). Berikut adalah hasil dari uji chow:
Tabel 4.9
Hasil Uji Chow
Redundant Fixed Effects Tests
Pool: PERUSAHAAN_JII
Test cross-section fixed effects
Effects Test
Statistic
Cross-section F
Cross-section Chi-square
d.f.
Prob.
7.355479
(16,13)
0.0004
78.467269
16
0.0000
Hasil olah data tabel 4.9 menunjukkan bahwa nilai Prob. cross
section chi-square 0.0000 < 0.05. Berdasarkan hipotesis, apabila nilai
prob. < 0.05 maka H0 ditolak, sehingga dapat disimpulkan bahwa model
terbaik dari data ini adalah menggunakan fixed effect.
2. Uji Hausman
Uji Hausman dilakukan untuk memilih model terbaik antara fixed
effect dan random effect. Apabila nilai Prob. cross section < 0.05 maka
60
H0 ditolak (FE). Apabila nilai Prob. cross section > 0.05 maka H0
diterima (RE). Berikut adalah hasil Uji Hausman yang telah dilakukan:
Tabel 4.10
Hasil Uji Hausman
Correlated Random Effects - Hausman Test
Pool: PERUSAHAAN_JII
Test cross-section random effects
Chi-Sq.
Test Summary
Cross-section random
Statistic
Chi-Sq. d.f.
Prob.
9.365351
4
0.0526
Hasil olah data tabel 4.10 nilai Prob. cross section 0.0526 > 0.05.
Berdasarkan hipotesis, apabila nilai prob. > 0.05 maka H0 diterima,
sehingga dapat disimpulkan bahwa model terbaik dari data ini adalah
menggunakan random effect.
F. Hasil dan Pembahasan Pengujian Hipotesis Regresi Panel
Hasil Uji Chow dan Uji Hausman menunjukkan bahwa diantara
common effect, fixed effect, dan random effect, model terbaik dalam penelitian
ini adalah random effect. Berikut adalah hasil oleh data random effect:
61
Tabel 4.11
Pengujian Statistik
Dependent Variable: DLN_HARGA_SAHAM?
Method: Pooled EGLS (Cross-section random effects)
Sample (adjusted): 3 4
Included observations: 2 after adjustments
Cross-sections included: 17
Total pool (balanced) observations: 34
Swamy and Arora estimator of component variances
Variable
Coefficient
Std. Error
t-Statistic
Prob.
C
DLN_VT?
DLN_ROA?
DPER?
DZ_SCORE?
Random Effects (Cross)
AALI--C
ADRO--C
AKRA--C
ASII--C
ASRI--C
ICBP--C
INDF--C
INTP--C
ITMG--C
KLBF--C
LPKR--C
LSIP--C
PGAS--C
SMGR--C
TLKM--C
UNTR--C
UNVR--C
13.53435
-0.697913
0.405342
0.003795
-0.057576
1.012189
0.090266
0.195913
0.012440
0.046219
13.37136
-7.731708
2.068987
0.305096
-1.245712
0.0000
0.0000
0.0476
0.7625
0.2228
-0.315308
-0.241473
-0.146234
0.677697
-0.771494
-0.286402
0.244630
0.629929
0.122386
-0.571779
-0.167325
-0.424938
0.162734
0.571165
0.310967
0.629770
-0.424327
Effects Specification
S.D.
Cross-section random
Idiosyncratic random
0.485401
0.252840
Rho
0.7866
0.2134
Weighted Statistics
R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
F-statistic
Prob(F-statistic)
0.714478
0.675095
0.275237
18.14207
0.000000
Mean dependent var
S.D. dependent var
Sum squared resid
Durbin-Watson stat
2.984821
0.482869
2.196912
2.003357
Unweighted Statistics
R-squared
Sum squared resid
0.819189
9.803183
Mean dependent var
Durbin-Watson stat
8.635998
0.448956
62
Dari hasil regresi pada tabel 4.11 akan dilakukan analisis persamaan
regresi panel, uji t, uji F, dan uji koefisien determinasi R2 untuk mendapat
penjelasan mengenai hasil penelitian.
1.
Persamaan Linear Berganda
DLN_HARGA_SAHAM = 13.53435 - 0.697913 DLN_Vt + 0.405342
DLN_ROA + 0.003795 DPER –
0.057576 DZ_SCORE + εi
Dari regresi panel diatas dapat dijelaskan sebagai berikut:
a.
Apabila seluruh variabel indenpenden adalah sama atau bernilai nol,
yang artinya tidak terjadi kenaikan atau penurunan, maka Harga
Saham memiliki nilai sebesar 13.53435.
b.
Variabel Volume Perdagangan (DLN_Vt) memiliki nilai koefisien
regresi sebesar - 0.697913, yang artinya apabila terdapat penurunan
nilai Volume Perdagangan sebesar 1%, maka akan meningkatkan
Harga Saham sebesar 0.697913 %
c.
Variabel ROA (DLN_ROA) memiliki nilai koefisien regresi sebesar
0.405342, yang artinya apabila terdapat kenaikan nilai ROA sebesar
1%, maka akan meningkatkan Harga Saham sebesar 0.405342%
d.
Variabel PER (DLN_PER) memiliki nilai koefisien regresi sebesar
0.003795, yang artinya apabila terdapat kenaikan nilai PER sebesar
1%, maka akan meningkatkan Harga Saham sebesar 0.003795%
e.
Variabel Z-Score (DLN_Z_Score) memiliki nilai koefisien regresi
yaitu sebesar -0.057576, yang artinya apabila terdapat penurunan
nilai Z_SCORE sebesar 1%, maka akan meningkatkan Harga Saham
sebesar 0.057576%
63
2.
Uji t
Analisis uji t dilakukan untuk menguji pengaruh nyata variabelvariabel independen secara parsial (individu) terhadap variabel dependen,
dengan cara melihat nilai prob. Apabila nilai prob. < signifikansi α = 0.05
maka variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen
secara parsial. Selain penilaian dari Prob., bisa dilihat dari nilai t statistik
dan t tabelnya, apabila t statistik > t tabel maka terdapat pengaruh antara
variabel independen terhadap variabel depedennya. Nilai t tabel dalam
penelitian ini ialah sebesar 2.04523. Berikut adalah hasil analisis uji t:
a.
Analisis t statistik pengaruh Volume Perdagangan dengan
Harga Saham
Volume Perdangangan menunjukkan hubungan negatif
terhadap harga saham. Hasil nilai t statistik DLN_Vt -7.731708 >
2.04523, dengan nilai Prob. sebesar DLN_VP 0.0000 < 0.05 maka
secara parsial volume perdagangan berpengaruh secara signifikan
terhadap harga saham.
b. Analisis t statistik pengaruh ROA dengan Harga Saham
ROA menunjukkan hubungan positif terhadap harga saham.
Dengan hasil nilai t statistik DLN_ROA 2.068987 > 2.04523 dengan
nilai Prob. DLN_ROA 0.0476 < 0.05 maka secara parsial ROA
berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham.
c.
Analisis t statistik pengaruh PER dengan Harga Saham
PER menunjukkan hubungan positif terhadap harga saham.
Dengan hasil nilai t statistik DPER 0.305096 < 2.04523 dengan nilai
Prob. DPER 0.7625 > 0.05 maka secara parsial PER tidak
berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham.
d. Analisis t statistik pengaruh Z-Score dengan Harga Saham
Z-Score menunjukkan hubungan negatif terhadap harga
saham. Dengan hasil nilai t statistik DZ_Score -1.245712 < 2.04523
dengan nilai Prob. DZ_SCORE 0.2228 > 0.05 maka secara parsial ZScore tidak berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham.
64
3.
Uji F
Uji F dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh
variabel-variabel
independen
terhadap
variabel
dependen
secara
simultan. Menentukan pengaruh tersebut dengan melihat nilai Prob. (FStatistic), apabila nilai Prob. (F-Statistic) < dari signifikansi 0.05 maka
secara simultan variabel independen berpengaruh terhadap variabel
dependen dan begitupun sebaliknya.
Hasil olah data pada tabel 4.11 Data diatas menunjukkan nilai FStatistik sebesar dengan nilai Probabilitas F-Statistik sebesar 0.0000.
hasil prob. lebih kecil dari nilai signifikansi α = 0.05 maka dapat
disimpulkan bahwa DLN_Vt, DLN_ROA, DPER, DZ_SCORE secara
simultan dapat mempengaruhi harga saham pada studi di Jakarta Islamic
Index.
4.
Uji Koefisien Determinasi R2
Pengujian Koefisien Determinasi R2 untuk mengetahui seberapa
besar hubungan variabel indenpenden secara simultan terhadap variabel
dependen. Hasil pengujian data penelitian menunjukkan R2 sebesar 0.68
berarti secara besama-sama variabel independen (DLN_Vt, DLN_ROA,
DPER, DZ_SCORE) dapat menjelaskan variabel dependen harga saham
sebesar 67.5% untuk studi di Jakarta Islamic Index, sedangkan sisa
32.5% dijelaskan oleh faktor lain diluar penelitian ini.
G. Interpretasi
Adapun interpretasi penulis terhadap hasil penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1.
Volume Perdagangan terhadap Harga Saham
Dari hasil uji regresi yang sudah dipaparkan, uji t volume
perdagangan terhadap harga saham telah sesuai dengan hipotesis yaitu
memiliki pengaruh yang signifikan. Akan tetapi, hasil uji bertentangan
dengan teori yang menyatakan naiknya volume perdagangan akan
megakibatkan kondisi pasar menguat dan turunnya volume perdagangan
65
maka akan melemahkan pasar (Ang, 1997). Hal yang terjadi pada hasil
uji ialah volume perdagangan memiliki hubungan yang negatif dengan
harga saham. Artinya, bahwa apabila terjadi penurunan volume
perdagangan maka harga saham akan meningkat dan begitupun
sebaliknya. Fenomena ini terjadi karena pasar harus tetap bergerak aktif,
maka ketika volume saham yang beredar meningkat akan berimbas pada
penurunan harga agar investor tertarik untuk membeli. Sebaliknya, saat
pasar kekurangan volume perdagangan maka nilai saham akan naik agar
investor menjual sahamnya.
Kesimpulan ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan
oleh Muksal (2015) yang mengungkapkan bahwa volume perdagangan
berpengaruh negatif signifikan terhadap harga saham. Sedangkan hasil
yang menyatakan bahwa volume perdagangan memiliki pengaruh yang
signifikan mendukung hasil penelitian sebelumnya yang telah dilakukan
oleh Bram Hadianto dan Rony Setiawan (2007) dan Ni Made Ayu K. D.
Dan I Gst Ngr A. S. (2016) yang berkesimpulan bahwa volume
perdagangan memiliki pengaruh yang siginifikan terhadap harga saham.
2.
Return on Asset (ROA) terhadap Harga Saham
Dari hasil uji regresi yang sudah dipaparkan, uji t ROA terhadap
harga saham adalah berpengaruh positif signifikan, yang dapat diartikan
bahwa apabila terjadi kenaikan pada ROA maka diikuti oleh kenaikan
pada harga saham, begitupun sebaliknya. Hal ini sejalan dengan teori
yang menyatakan bahwa ROA menjadi tolak ukur dalam menentukan
harga saham karena ROA merupakan cerminan kondisi sebuah
perusahaan (Brigham dan Houston, 2008). Meningkatnya nilai aset akan
diiringi oleh naiknya harga saham karena ROA merupakan cerminan dari
produktivias
aktiva
sehingga,
semakin
produktif
aktiva
dalam
menghasilkan laba alan diiringi dengan naiknya harga saham
Hasil penelitian ini mendukung penelitian terdahulu yang
dilakukan oleh Egi Ferdianto (2014) dan Muksal (2015) menyimpulkan
bahwa ROA berpengaruh signifikan secara positif terhadap harga saham.
66
Namun penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penelitian Abied Luthfi
S. (2013) yang menyatakan bahwa ROA tidak berpengaruh terhadap
harga saham.
3. Price Earning Ratio (PER) terhadap Harga Saham
Berdasarkan hasil uji regresi yang sudah dipaparkan, uji t PER
terhadap harga saham adalah berpengaruh positif tidak signifikan
terhadap harga saham. Tujuan dari nilai PER adalah untuk melihat sejauh
mana kemampuan perusahaan dalam membagikan laba kepada pemegang
sahamnya. Semakin tinggi nilai PER maka akan semakin tinggi juga
tingkat pendapatan bersih per saham. Nilai PER menjadi penting karna
menentukan keputusan investor yang ingin berinvestasi. Tidak ada
satupun investor yang mengharapkan risiko dari perusahaan yang tidak
mampu membagikan labanya. Namun, perlu diperhatikan bahwa
terkadang tingginya nilai PER tidak menunjukkan prospek perusahaan
yang baik karna perusahaan kurang optimal dalam mengelola labanya
atau sebuah perusahaan sedang melakukan ekspansi sehingga laba yang
didapat digunakan terlebih dahulu untuk menutupi biaya operasional.
Hasil ini juga tidak sejalan dengan hasil penelitian yang telah
dilakukan oleh Bram Hadianto dan Rony Setiawan (2007) dan Abied
Luthfi S. (2013) menyimpulkan bahwa nilai PER berpengaruh terhadap
harga saham. Namun terdapat penelitian lain yang sejalan dengan
penelitian ini, yaitu yang dilakukan oleh Thina Mashluki (2016) dan
Guruh Pratama Sukma (2016)
menyatakan bahwa PER tidak
berpengaruh terhadap harga saham.
4. Z-Score terhadap Harga Saham
Berdasarkan hasil uji regresi yang sudah dipaparkan, uji t Z-Score
terhadap harga saham adalah berpengaruh negatif tidak signifikan
terhadap harga saham. Hal ini tidak sejalan dengan teori yang
menyatakan bahwa potensi kebangkrutan yang terjadi pada suatu
perusahaan akan mempengaruhi harga sahamnya (Harahap, 2010), hal itu
terjadi karena turunnya tingkat investor. Altman Z-Score yang
67
berpengaruh tidak signifikan dikarenakan masih terdapat banyak rasio
keuangan dan analisis yang praktis dalam menentukan investasi
memungkinkan para investor untuk lebih mengutaman analisis lainnya
dibanding analisa potensi kebangkrutan Altman Z-Score. Selain itu,
hubungan negatif disebabkan saat mengalami potensi kebangkrutan
berarti emiten membutuhkan dana tambahan dan salah satu sumber dana
permodalan adalah saham, maka dari itu harga saham akan meningkat.
Hasil ini juga tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh
Irsyad Nurdin (2012) dan Nur Fadli A. dan Dantje Salean (2016) yang
menyimpulkan bahwa Altman Z-Score berpengaruh terhadap harga
saham. Namun penelitian ini sejalan dengan yang dilakukan oleh
Andromeda Ardian dan Moh. Khoiruddin (2014) yang menyatakan
bahwa Altman Z-Score tidak berpengaruh terhadap harga saham.
68
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Penelitian ini dilakukan terhadap 17 perusahaan yang konsisten
terdaftar di Jakarta Islamic Index (JII) selama periode tahun 2012-2015.
Penelitian ini mengkaji pengaruh variabel independen yang terdiri dari
Volume Perdagangan, ROA, PER, Z-Score terhadap variabel dependen Harga
Saham. Berdasarkan hasil analisa dan pembahasan pengujian hipotesis
dengan menggunakan regresi panel, didapat kesimpulan sebagai berikut:
1.
Secara simultan, seluruh variabel, Volume Perdagangan (Vt), Return on
Asset (ROA), Price Earning Ratio (PER), dan Altman Z-Score (Potensi
Kebangkrutan) berpengaruh terhadap harga saham di Jakarta Islamic
Index periode 2012-2015 dengan nilai sebesar 0.675. Artinya, bahwa
keempat variabel peneltian dapat menjelaskan harga saham di Jakarta
Islamic Index sebesar 67.5%. Sedangkan 32.5% sisanya dijelaskan oleh
variabel diluar penelitian.
2.
Berikut merupakan kesimpulan secara parsial:
a. Variabel Volume Perdagangan (Vt) berpengaruh negatif signifikan
terhadap Harga Saham, yang dapat diartikan bahwa apabila terdapat
penurunan Volume Perdagangan, maka akan meningkatkan Harga
Saham sebaliknya, jika Volume Perdagangan mengalami kenaikan,
maka Harga Saham akan mengalami penurunan. Hasil hubungan
yang signifikan dapat disimpulkan bahwa Volume Perdagangan
dapat dijadikan acuan dalam mengambil keputusan berinvestasi.
b. Variabel Return on Asset (ROA) berpengaruh positif signifikan
terhadap Harga Saham, yang dapat diartikan bahwa apabila terdapat
kenaikan ROA, maka akan meningkatkan Harga Saham sebaliknya,
jika ROA mengalami penurunan, maka Harga Saham juga ikut
69
menurun. Hasil hubungan yang signifikan dapat disimpulkan bahwa
nilai ROA dapat dijadikan acuan dalam mengambil keputusan
berinvestasi.
c. Variabel Price Earning Ratio (PER) berpengaruh positif tidak
signifikan terhadap Harga Saham. Hasil hubungan yang tidak
signifikan dapat disimpulkan bahwa nilai PER tidak dapat dijadikan
acuan dalam mengambil keputusan berinvestasi.
d. Variabel Altman Z-Score (Potensi Kebangkrutan) berpengaruh
negatif tidak signifikan terhadap Harga Saham. Hasil hubungan yang
tidak dapat disimpulkan bahwa nilai Altman Z-Score tidak dapat
dijadikan acuan dalam mengambil keputusan berinvestasi.
B. Saran
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, peneliti mencoba untuk
memberikan implikasi sebagai berikut:
1.
Bagi Investor
Hasil
penelitian
dapat
dijadikan
sebagai
bahan
pertimbangan sebelum mengambil keputusan investasi pada suatu
perusahaan. Selain itu dapat dijadikan bahan kajian bagi
masyarakat yang akan memulai kegiatan berinvestasi.
2.
Bagi Emiten
Hasil
penelitian
diharapkan
dapat
menjadi
bahan
pertimbangan bagi kebijakan dan strategi manajemen keuangan
perusahaan
serta
sebagai
bahan
evaluasi
untuk
kinerja
perusahaan.
3.
Bagi Akademisi
Hasil penelitian dapat menambah kajian literatur dan
keilmuan di bidang pasar modal syariah khusunya analisia
terhadap harga saham. Selain itu dapat dijadikan sebagai bahan
bacaan juga kajian untuk menambah wawasan keilmuan.
70
4.
Bagi Peneliti Selanjutnya
Peneliti selanjutnya diharapkan dapat menambahkan
variabel yang signifikan serta dapat melakukan penelitian dengan
membandingkan analisis teknikal dan analisis fundamental, dan
diharapkan untuk memperpanjang periode waktu penelitian dan/
memperbanyak perusahaan, sehingga hasil penelitian selanjutnya
lebih representatif dan lebih lengkap.
71
DAFTAR PUSTAKA
Ang, Robert. Pasar Modal Indonesia. Media Soft Indonesia, 1997.
Ardian, Andromeda dan Moh. Khoiruddin. Pengaruh Analisis Kebangkrutan
Model
Altman
Terhadap
Harga
Saham
Perusahaan
Manufaktur.
Management Analysis Journal, MAJ 1 (3) (2014), 2014.
Brigham, Eugene F. dan Joel F. Houston. Dasar-Dasar Manajemen Keuangan.
Jakarta: Salemba Empat, 2010.
Burhanuddin S. Aspek Hukum Lembaga Keuangan Syariah. Yogyakarta: Ghara
Ilmu, 2010.
Effendi, Nury dan Setiawan Maman. Ekonometrika: Pendekatan Teori dan
Terapan. Jakarta: Salemba Empat, 2014.
Gujarati, Damondar N. Dan Dawn C Porter. Dasar-Dasar Ekonometrika. Jakarta:
Salemba Empat, 2013.
Halim, Abdul. Analisis Investasi di Aset Keuangan. Jakarta: Mitra Wacana Media,
2015.
Handika, Kangga. Ekonometrika Keuangan Menggunakan Software R/. Jakarta:
Mitra Wacana Media, 2015.
Helfert A. Erich. Techniques of Financial Analysis. Jakarta: Erlangga, 1991.
Hery. Analisis Kinerja Manajemen. Jakarta: Penerbit PT. Grasindo, 2014.
Huda, Nurul dan Mohamad Heykal. Lembaga Keuangan Islam Tinjauan Teoritis
dan Praktis. Jakarta: Kencana, 2010.
Husnan, Suad. Dasar-Dasar Teori Portofolio dan Analisis Sekuritas. Yogyakarta:
UPP AMP YKPN, 2003.
72
Kamal, ST.
Ibrah M. Analisis Prediksi Kebangkrutan Pada Perusahaan
Perbankan Go Public di Bursa Efek Indoensia (Dengan Menggunakan Model
Altman Z-Score). Skripsi S1, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas
Hasanuddin, 2012.
Kartika, Sharfina Putri. Potensi Kebangkrutan Pada Sektor Perbankan Syariah
untuk Menghadapi Perubahan Lingkungan Bisnis dengan Menggunakan
Model Altman Z-Score. Skripsi S1, Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta, 2015.
Kasmir. Analisis Laporan Keuangan. Jakarta: Rajawali Pers, 2009.
Kodrat, David Sukardi dan Kurniawan Indonanjaya. Manajemen Investasi:
Pendekatan Teknikal dan Fundamental untuk Analisis Saham. Yogyakarta:
Graha Ilmu, 2010.
Martalena dan Maya Melinda. Pengantar Pasar Modal. Yogyakarta: ANDI, 2011.
Nachrowi, D. Nachrowi dan Hardius Usman. Pendekatan Populer dan Praktis
Ekonometrika untuk Analisis Ekonomi dan Keuangan. Jakarta: Lembaga
Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 2006.
Nafik, Muhammad HR. Bursa Efek dan Investasi Syariah. Jakarta: Serambi, 2009.
Pasaribu, R. Pengaruh Variabel Fundamental Terhadap Harga Saham
Perusahaan Go Public di Bursa Efek Indonesia Periode 2003-2006. Jurnal
Ekonomi dan Bisnis, 2(2), h-101-113, 2008.
Prihanthini, N. M. E. Dwi dan Maria M. R. Sari. Prediksi Kebangkrutan dengan
Model Grover, Altman Z-Score, Springate, dan Zmijewski Pada Perusahaan
Food and Beverage di Bursa Efek Indonesia. E-Jurnal Akuntansi Universitas
Udayana 5.2, 2013.
73
Purnajaya, Komang D. M dan Ni K. Lely A. M. Analisis Komparasi Potensi
Kebangkrutan dengan Metode Z-Score Altman, Springate, dan Zmijewski
Pada Industri Kosmetik yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia. E-Jurnal
Akuntansi Universitas Udayana 7.1, h. 48-63, 2014.
Rusena, Adisi Sharesia. Analisis Fundamentak dan Teknikal Saham Syariah di
Indonesia (Studi Empiris Perusahaan yang Masuk dalam JII dan ISSI di BEI
tahun 2011-2015). Skripsi S1, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta, 2015.
Rosadi, Dede. Analisis Ekonometrika dan Runtut Waktu Terapan dengan R.
Yogyakarta: ANDI, 2011.
Safitri, Abied Luthfi. Pengaruh Earning Per Share, Price Earning Ratio, Return
on Asset, Debt to Equity Ratio, dan Market Value Added Terhadap Harga
Saham dalam Kelompok Jakarta Islamic Index tahun 2008-2011. Skripsi S1,
Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Semarang, 2013.
Soemitra, Andri. Bank dan Lembaga Keuangan Syariah. Jakarta: Kencana, 2009.
Soepeno, Bambang. Statistik Terapan. Jakarta: PT. Rinerka Cipta, 2002.
Subramanyam dan John J. Wild. Analisis Laporan Keuangan. Jakarta: Salemba
Empat, 2010.
Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung:
Alfabeta, 2011.
Sumodiningrat,
Gunawan.
Ekonometrika
Pengantar.
Yogyakarta:
BPFE-
Yogyakarta, 2002.
Syamsir, H. Solusi Investasi di Bursa Saham Indonesia: Pendekatan Analisis
Teknikal Melalui Kasus Stu di Rill dengan Dilengkapi Formulasi Meta Stock.
PT. Umas Stockhumindo, Jakarta, 2004.
74
Tandelilin, E. Analisis Investasi dan Manajemen Portofolio. Yogyakarta: BPFE,
2011.
Tryfino. Cara Cerdas Berinvestasi Saham. Jakarta: Transmedia Pustaka,, 2009.
Widayanti, Puri dan A. Mulyo Haryanto. Analisis Pengaruh Faktor Fundamental
dan Volume Perdagangan Terhadap Return Saham (Studi Kasus Pada
Perusahaan Real Estate and Property yang Terdaftar di BEI Periode 20072010). Diponegoro Journal of Management, Volume 2, Nomor 3, Tahun
2013, h. 1-11, 2013.
Wiguna, Robin dan Anastasia Sri Mendari. Pengaruh Earning Per Share dan
Tingkat Suku Bunga SBI Terhadap Harga Saham pada Perusahaan yang
Terdaftar di LQ45. Jurnal Keuangan dan Bisnis, Volume 6. Nomor 3, Tahun
2008, h. 130-142
75
LAMPIRAN
Lampiran 1.1: Hubungan Harga Saham dengan Variabel Independen
No
Kode
Nama Emiten
AALI
1
2
3
4
5
AALI
AALI
Astra Agro Lestari
Tbk.
268
2013
25,100
388
Positif
24,250
439
Negatif
15,850
355
Positif
ADRO
2012
1,590
11,350
2013
1,090
13,864
Negatif
2014
1,040
15,254
Negatif
ADRO
2015
515
11,977
Positif
AKRA
2012
4,150
3,297
2013
4,375
2,637
Negatif
2014
4,120
2,141
Positif
AKRA
2015
7,175
2,316
Positif
ASII
2012
7,600
6,209
2013
6,800
9,508
Negatif
2014
7,425
9,828
Negatif
ASII
2015
6,000
10,141
Negatif
ASRI
2012
600
29,410
2013
430
31,672
Negatif
2014
560
22,540
Negatif
2015
343
22,460
Positif
2012
7,800
990
2013
10,200
1,082
Positif
2014
13,100
899
Negatif
ICBP
2015
13,475
735
Negatif
INDF
2012
5,850
3,371
2013
6,600
3,207
Negatif
2014
6,750
2,490
Negatif
2015
5,175
2,765
Negatif
2012
22,450
841
2013
20,000
955
Negatif
2014
25,000
874
Negatif
2015
22,325
991
Negatif
2012
41,550
386
ADRO
ADRO
AKRA
AKRA
ASII
ASII
ASRI
ASRI
Adaro Energy Tbk.
Akr Corporindo
Tbk.
Astra International
Tbk.
Alam Sutera Realty
Tbk.
ICBP
ICBP
INDF
INDF
Indofood Cbp
Sukses Makmur
Tbk.
Indofood Sukses
Makmur Tbk.
INTP
INTP
INTP
Indocement
Tunggal Prakarsa
Tbk.
INTP
9
19,700
2015
INDF
8
2012
2014
ICBP
7
Tahun
Vol.
Perdagan
gan
AALI
ASRI
6
Hub. Harga
Saham dengan
Vol.
Perdagangan
Harga
Saham
ITMG
Indo Tambangraya
76
ITMG
10
11
12
Megah Tbk.
2013
28,500
306
Positif
ITMG
2014
15,375
436
Negatif
ITMG
2015
5,725
446
Negatif
KLBF
2012
1,060
6,640
2013
1,250
19,997
Positif
2014
1,830
13,944
Negatif
KLBF
2015
1,320
12,168
Positif
LPKR
2012
1,000
12,933
2013
910
26,782
Negatif
2014
1,020
23,222
Negatif
LPKR
2015
1,035
18,995
Negatif
LSIP
2012
2,300
3,744
2013
1,930
6,246
Negatif
2014
1,890
7,566
Negatif
2015
1,320
5,701
Positif
2012
4,600
7,191
2013
4,475
7,074
Positif
2014
6,000
5,365
Negatif
PGAS
2015
2,745
9,592
Negatif
SMGR
2012
15,850
2,149
2013
14,150
2,548
Negatif
2014
16,200
2,173
Negatif
2015
11,400
1,883
Positif
2012
9,050
5,788
2013
2,150
15,741
KLBF
KLBF
LPKR
LPKR
LSIP
LSIP
Kalbe Farma Tbk.
Lippo Karawaci
Tbk.
PP London Sumatra
Indonesia Tbk.
LSIP
PGAS
13
14
PGAS
PGAS
SMGR
SMGR
Perusahaan Gas
Negara
(PERSERO) Tbk.
Semen Indonesia
(PERSERO) Tbk.
SMGR
TLKM
15
16
17
TLKM
TLKM
Telekomunikasi
Indonesia
(PERSERO) Tbk.
Negatif
2014
2,865
30,227
Positif
TLKM
2015
3,105
23,627
Negatif
UNTR
2012
19,700
1,711
2013
19,000
1,120
Positif
2014
17,350
1,005
Positif
UNTR
2015
16,950
879
Positif
UNVR
2012
20,850
552
2013
26,000
608
Positif
2014
32,300
435
Negatif
2015
37,000
505
Positif
Hubungan
Harga Saham
dengan ROA
UNTR
UNTR
UNVR
UNVR
United Tractors
Tbk.
United Tractors
Tbk.
UNVR
No
Kode
Nama Emiten
Tahun
Harga
Saham
ROA
1
AALI
Astra Agro Lestari
2012
19,700
20.29
77
AALI
2
3
4
5
Tbk.
2013
25,100
12.72
Negatif
AALI
2014
24,250
14.13
Negatif
AALI
2015
15,850
3.23
Positif
ADRO
2012
1,590
5.73
2013
1,090
3.40
Positif
2014
1,040
2.86
Positif
ADRO
2015
515
2.53
Positif
AKRA
2012
4,150
5.25
2013
4,375
4.21
Negatif
2014
4,120
5.34
Negatif
AKRA
2015
7,175
6.96
Positif
ASII
2012
7,600
12.48
2013
6,800
10.42
Positif
2014
7,425
9.37
Negatif
ASII
2015
6,000
6.36
Positif
ASRI
2012
600
11.11
2013
430
6.17
Positif
2014
560
6.95
Positif
2015
343
3.66
Positif
2012
7,800
12.86
2013
10,200
10.51
Positif
2014
13,100
10.16
Negatif
ICBP
2015
13,475
11.01
Positif
INDF
2012
5,850
8.06
2013
6,600
4.38
Negatif
2014
6,750
5.99
Positif
2015
5,175
4.04
Positif
2012
22,450
20.93
2013
20,000
18.84
Positif
2014
25,000
18.26
Negatif
INTP
2015
22,325
15.76
Positif
ITMG
2012
41,550
28.97
2013
28,500
16.56
Positif
2014
15,375
15.31
Positif
ITMG
2015
5,725
5.36
Positif
KLBF
2012
1,060
18.85
2013
1,250
17.41
Negatif
2014
1,830
17.07
Negatif
2015
1,320
15.02
Positif
2012
1,000
5.32
2013
910
5.09
ADRO
ADRO
AKRA
AKRA
ASII
ASII
ASRI
ASRI
Adaro Energy Tbk.
Akr Corporindo
Tbk.
Astra International
Tbk.
Alam Sutera Realty
Tbk.
ASRI
ICBP
6
7
ICBP
ICBP
INDF
INDF
Indofood Cbp
Sukses Makmur
Tbk.
Indofood Sukses
Makmur Tbk.
INDF
INTP
8
9
10
INTP
INTP
ITMG
ITMG
KLBF
KLBF
Indocement
Tunggal Prakarsa
Tbk.
Indo Tambangraya
Megah Tbk.
Kalbe Farma Tbk.
KLBF
11
LPKR
LPKR
Lippo Karawaci
Tbk.
Positif
78
12
LPKR
2014
1,020
8.30
Positif
LPKR
2015
1,035
2.48
Negatif
LSIP
2012
2,300
14.77
2013
1,930
9.64
Positif
2014
1,890
10.59
Negatif
2015
1,320
7.04
Positif
2012
4,600
23.42
2013
4,475
20.49
Positif
2014
6,000
12.03
Negatif
PGAS
2015
2,745
6.20
Positif
SMGR
2012
15,850
18.54
2013
14,150
17.39
Positif
2014
16,200
16.24
Negatif
2015
11,400
11.86
Positif
2012
9,050
16.49
2013
2,150
15.86
Positif
2014
2,865
15.22
Negatif
TLKM
2015
3,105
14.03
Negatif
UNTR
2012
19,700
11.44
2013
19,000
8.37
Positif
2014
17,350
8.03
Positif
UNTR
2015
16,950
4.52
Positif
UNVR
2012
20,850
40.38
UNVR
2013
26,000
71.51
Positif
2014
32,300
40.18
Negatif
2015
37,000
37.20
Negatif
LSIP
LSIP
PP London Sumatra
Indonesia Tbk.
LSIP
PGAS
PGAS
13
14
PGAS
SMGR
SMGR
Perusahaan Gas
Negara
(PERSERO) Tbk.
Semen Indonesia
(PERSERO) Tbk.
SMGR
TLKM
15
16
17
TLKM
TLKM
UNTR
UNTR
UNVR
Telekomunikasi
Indonesia
(PERSERO) Tbk.
United Tractors
Tbk.
United Tractors
Tbk.
UNVR
No
Kode
Nama Emiten
AALI
1
2
Tahun
Harga
Saham
Hubungan
PER
Harga Saham
dengan PER
2012
19,700
12.64
AALI
Astra Agro Lestari
2013
25,100
21.94
Positif
AALI
Tbk.
2014
24,250
15.62
Positif
AALI
2015
15,850
40.32
Negatif
ADRO
2012
1,590
13.78
2013
1,090
12.29
Positif
2014
1,040
9.27
Positif
2015
515
7.83
Positif
ADRO
ADRO
ADRO
Adaro Energy Tbk.
79
AKRA
3
4
5
2013
4,375
26.19
Positif
AKRA
Tbk.
2014
4,120
20.90
Positif
AKRA
2015
7,175
27.41
Positif
ASII
2012
7,600
13.70
ASII
Astra International
2013
6,800
14.18
Negatif
ASII
Tbk.
2014
7,425
15.56
Positif
ASII
2015
6,000
16.79
Negatif
ASRI
2012
600
9.69
ASRI
Alam Sutera Realty
2013
430
9.64
Positif
ASRI
Tbk.
2014
560
10.08
Positif
2015
343
11.30
Negatif
2012
7,800
19.88
2013
10,200
26.73
Positif
2014
13,100
27.67
Positif
ICBP
2015
13,475
26.18
Negatif
INDF
2012
5,850
10.54
ICBP
ICBP
Indofood Cbp
Sukses Makmur
Tbk.
INDF
Indofood Sukses
2013
6,600
23.14
Positif
INDF
Makmur Tbk.
2014
6,750
14.67
Negatif
2015
5,175
15.31
Positif
2012
22,450
17.35
2013
20,000
14.69
Positif
2014
25,000
18.57
Positif
INTP
2015
22,325
18.86
Negatif
ITMG
2012
41,550
11.38
INDF
INTP
8
9
10
11
21.15
Akr Corporindo
ICBP
7
4,150
AKRA
ASRI
6
2012
INTP
INTP
Indocement
Tunggal Prakarsa
Tbk.
ITMG
Indo Tambangraya
2013
28,500
11.39
Negatif
ITMG
Megah Tbk.
2014
15,375
6.32
Positif
ITMG
2015
5,725
7.43
Negatif
KLBF
2012
1,060
30.38
2013
1,250
30.53
Positif
2014
1,830
43.27
Positif
KLBF
2015
1,320
30.87
Positif
LPKR
2012
1,000
9.30
KLBF
KLBF
Kalbe Farma Tbk.
LPKR
Lippo Karawaci
2013
910
17.10
Negatif
LPKR
Tbk.
2014
1,020
16.76
Negatif
2015
1,035
44.61
Positif
LPKR
80
LSIP
12
2013
1,930
17.11
Negatif
LSIP
Indonesia Tbk.
2014
1,890
13.84
Positif
2015
1,320
14.45
Negatif
2012
4,600
12.61
2013
4,475
10.27
Positif
2014
6,000
15.09
Positif
PGAS
2015
2,745
12.02
Positif
SMGR
2012
15,850
19.09
PGAS
PGAS
Perusahaan Gas
Negara
(PERSERO) Tbk.
SMGR
Semen Indonesia
2013
14,150
15.63
Positif
SMGR
(PERSERO) Tbk.
2014
16,200
17.63
Positif
2015
11,400
14.96
Positif
2012
9,050
9.92
2013
2,150
15.26
Negatif
2014
2,865
18.92
Positif
TLKM
2015
3,105
20.21
Positif
UNTR
2012
19,700
12.54
SMGR
TLKM
15
16
17
TLKM
TLKM
Telekomunikasi
Indonesia
(PERSERO) Tbk.
UNTR
United Tractors
2013
19,000
14.66
Negatif
UNTR
Tbk.
2014
17,350
10.17
Positif
UNTR
2015
16,950
16.41
Negatif
UNVR
2012
20,850
32.87
UNVR
United Tractors
2013
26,000
37.06
Positif
UNVR
Tbk.
2014
32,300
45.65
Positif
2015
37,000
48.24
Positif
Tahun
Harga
Saham
ZSCORE
Hubungan
Harga Saham
dengan ZScore
2012
19,700
6.83
2013
25,100
4.52
Negatif
2014
24,250
4.43
Positif
AALI
2015
15,850
1.55
Positif
ADRO
2012
1,590
2.59
2013
1,090
2.36
Positif
2014
1,040
2.60
Negatif
2015
515
3.13
Positif
UNVR
No
Kode
Nama Emiten
AALI
1
2
13.98
PP London Sumatra
PGAS
14
2,300
LSIP
LSIP
13
2012
AALI
AALI
ADRO
ADRO
ADRO
Astra Agro Lestari
Tbk.
Adaro Energy Tbk.
81
AKRA
3
4
5
AKRA
AKRA
Akr Corporindo
Tbk.
10
11
12
4,375
2.18
Negatif
4,120
2.25
Negatif
7,175
3.53
Positif
ASII
2012
7,600
4.01
2013
6,800
3.60
Positif
2014
7,425
3.74
Positif
ASII
2015
6,000
3.66
Positif
ASRI
2012
600
2.68
2013
430
1.30
Positif
2014
560
2.03
Positif
2015
343
1.18
Positif
2012
7,800
6.55
2013
10,200
5.64
Negatif
ASII
ASII
ASRI
ASRI
Astra International
Tbk.
Alam Sutera Realty
Tbk.
ICBP
ICBP
Indofood Cbp
Sukses Makmur
Tbk.
2014
13,100
4.48
Negatif
ICBP
2015
13,475
5.76
Positif
INDF
2012
5,850
4.29
2013
6,600
3.08
Negatif
2014
6,750
3.47
Positif
2015
5,175
3.16
Positif
2012
22,450
13.59
2013
20,000
14.02
Negatif
2014
25,000
13.11
Negatif
INTP
2015
22,325
12.80
Positif
ITMG
2012
41,550
8.49
2013
28,500
7.00
Positif
2014
15,375
5.95
Positif
ITMG
2015
5,725
5.84
Positif
KLBF
2012
1,060
11.11
2013
1,250
9.71
Positif
2014
1,830
10.81
Positif
KLBF
2015
1,320
10.94
Negatif
LPKR
2012
1,000
6.04
2013
910
5.80
Positif
2014
1,020
6.39
Positif
LPKR
2015
1,035
6.21
Negatif
LSIP
2012
2,300
9.90
2013
1,930
8.92
Positif
2014
1,890
9.11
Negatif
2015
1,320
8.30
Positif
INDF
INDF
Indofood Sukses
Makmur Tbk.
INTP
9
2013
2015
INDF
8
3.12
2014
ICBP
7
4,150
AKRA
ASRI
6
2012
INTP
INTP
ITMG
ITMG
KLBF
KLBF
LPKR
LPKR
LSIP
LSIP
LSIP
Indocement
Tunggal Prakarsa
Tbk.
Indo Tambangraya
Megah Tbk.
Kalbe Farma Tbk.
Lippo Karawaci
Tbk.
PP London Sumatra
Indonesia Tbk.
82
PGAS
13
14
PGAS
PGAS
Perusahaan Gas
Negara
(PERSERO) Tbk.
17
7.56
2013
4,475
6.39
Positif
2014
6,000
4.70
Negatif
2015
2,745
3.57
Positif
SMGR
2012
15,850
6.57
2013
14,150
7.01
Negatif
2014
16,200
7.54
Positif
2015
11,400
6.43
Positif
2012
9,050
4.82
2013
2,150
4.77
Positif
2014
2,865
4.58
Negatif
TLKM
2015
3,105
4.49
Negatif
UNTR
2012
19,700
5.47
2013
19,000
5.21
Positif
SMGR
SMGR
Semen Indonesia
(PERSERO) Tbk.
TLKM
16
4,600
PGAS
SMGR
15
2012
TLKM
TLKM
UNTR
UNTR
Telekomunikasi
Indonesia
(PERSERO) Tbk.
United Tractors
Tbk.
2014
17,350
5.80
Negatif
UNTR
2015
16,950
5.85
Negatif
UNVR
2012
20,850
4.12
2013
26,000
6.46
Positif
2014
32,300
3.96
Negatif
2015
37,000
3.31
Negatif
UNVR
UNVR
United Tractors
Tbk.
UNVR
Lampiran 1.2: Data Penelitian
HARGA
SAHAM
Vt
ROA
PER
ZSCORE
NO.
KODE
TAHUN
1
AALI
2012
19,700
268
20.29
12.64
6.83
1
AALI
2013
25,100
388
12.72
21.94
4.52
1
AALI
2014
24,250
439
14.13
15.62
4.43
1
AALI
2015
15,850
355
3.23
40.32
1.55
2
ADRO
2012
1,590
11,350
5.73
13.78
2.59
2
ADRO
2013
1,090
13,864
3.4
12.29
2.36
2
ADRO
2014
1,040
15,254
2.86
9.27
2.60
2
ADRO
2015
515
11,977
2.53
7.83
3.13
3
AKRA
2012
4,150
3,297
5.25
21.15
3.12
3
AKRA
2013
4,375
2,637
4.21
26.19
2.18
3
AKRA
2014
4,120
2,141
5.34
20.90
2.25
3
AKRA
2015
7,175
2,316
6.96
27.41
3.53
4
ASII
2012
7,600
6,209
12.48
13.70
4.01
83
4
ASII
2013
6,800
9,508
10.42
14.18
3.60
4
ASII
2014
7,425
9,828
9.37
15.56
3.74
4
ASII
2015
6,000
10,141
6.36
16.79
3.66
5
ASRI
2012
600
29,410
11.11
9.69
2.68
5
ASRI
2013
430
31,672
6.17
9.64
1.30
5
ASRI
2014
560
22,540
6.95
10.08
2.03
5
ASRI
2015
343
22,460
3.66
11.30
1.18
6
ICBP
2012
7,800
990
12.86
19.88
6.55
6
ICBP
2013
10,200
1,082
10.51
26.73
5.64
6
ICBP
2014
13,100
899
10.16
27.67
4.48
6
ICBP
2015
13,475
735
11.01
26.18
5.76
7
INDF
2012
5,850
3,371
8.06
10.54
4.29
7
INDF
2013
6,600
3,207
4.38
23.14
3.08
7
INDF
2014
6,750
2,490
5.99
14.67
3.47
7
INDF
2015
5,175
2,765
4.04
15.31
3.16
8
INTP
2012
22,450
841
20.93
17.35
13.59
8
INTP
2013
20,000
955
18.84
14.69
14.02
8
INTP
2014
25,000
874
18.26
18.57
13.11
8
INTP
2015
22,325
991
15.76
18.86
12.80
9
ITMG
2012
41,550
386
28.97
11.38
8.49
9
ITMG
2013
28,500
306
16.56
11.39
7.00
9
ITMG
2014
15,375
436
15.31
6.32
5.95
9
ITMG
2015
5,725
446
5.36
7.43
5.84
10
KLBF
2012
1,060
6,640
18.85
30.38
11.11
10
KLBF
2013
1,250
19,997
17.41
30.53
9.71
10
KLBF
2014
1,830
13,944
17.07
43.27
10.81
10
KLBF
2015
1,320
12,168
15.02
30.87
10.94
11
LPKR
2012
1,000
12,933
5.32
9.30
6.04
11
LPKR
2013
910
26,782
5.09
17.10
5.80
11
LPKR
2014
1,020
23,222
8.3
16.76
6.39
11
12
LPKR
LSIP
2015
2012
1,035
2,300
18,995
3,744
2.48
14.77
44.61
13.98
6.21
9.90
12
LSIP
2013
1,930
6,246
9.64
17.11
8.92
84
12
LSIP
2014
1,890
7,566
10.59
13.84
9.11
12
LSIP
2015
1,320
5,701
7.04
14.45
8.30
13
PGAS
2012
4,600
7,191
23.42
12.61
7.56
13
PGAS
2013
4,475
7,074
20.49
10.27
6.39
13
PGAS
2014
6,000
5,365
12.03
15.09
4.70
13
PGAS
2015
2,745
9,592
6.2
12.02
3.57
14
SMGR
2012
15,850
2,149
18.54
19.09
6.57
14
SMGR
2013
14,150
2,548
17.39
15.63
7.01
14
SMGR
2014
16,200
2,173
16.24
17.63
7.54
14
SMGR
2015
11,400
1,883
11.86
14.96
6.43
15
TLKM
2012
9,050
5,788
16.49
9.92
4.82
15
TLKM
2013
2,150
15,741
15.86
15.26
4.77
15
TLKM
2014
2,865
30,227
15.22
18.92
4.58
15
TLKM
2015
3,105
23,627
14.03
20.21
4.49
16
UNTR
2012
19,700
1,711
11.44
12.54
5.47
16
UNTR
2013
19,000
1,120
8.37
14.66
5.21
16
UNTR
2014
17,350
1,005
8.03
10.17
5.80
16
UNTR
2015
16,950
879
4.52
16.41
5.85
17
UNVR
2012
20,850
552
40.38
32.87
4.12
17
UNVR
2013
26,000
608
71.51
37.06
6.46
17
UNVR
2014
32,300
435
40.18
45.65
3.96
17
UNVR
2015
37,000
505
37.2
48.24
3.31
85
Lampiran 1.3: Deskripsi Data
Date: 04/01/17
Time: 21:02
Sample: 1 68
LN_HARGA_SA
HAM
LN_ROA
LN_VT
PER
Z_SCORE
8.583868
8.747170
10.63465
5.837730
1.283191
-0.349065
1.992863
2.336237
2.403325
4.269837
0.908259
0.703832
0.076100
2.843368
8.089174
8.086930
10.36319
5.590987
1.425657
-0.081540
1.731617
18.85000
15.59000
48.24000
6.320000
9.790421
1.399829
4.347435
5.740735
5.340000
14.02000
1.180000
3.039842
0.958127
3.458820
Jarque-Bera
Probability
4.254844
0.119144
0.135145
0.934660
4.633610
0.098588
27.35206
0.000001
11.00054
0.004086
Sum
Sum Sq. Dev.
583.7030
110.3207
158.8641
33.19046
550.0638
136.1773
1281.800
6422.107
390.3700
619.1229
Observations
68
68
68
68
68
Mean
Median
Maximum
Minimum
Std. Dev.
Skewness
Kurtosis
Lampiran 1.4: Uji Multikolinearitas VIF
Variance Inflation Factors
Date: 04/01/17 Time: 23:12
Sample: 1 68
Included observations: 34
Variable
Coefficient
Variance
Uncentered
VIF
Centered
VIF
C
DLN_VT
DLN_ROA
DPER
DZ_SCORE
0.837404
0.005953
0.032455
0.000182
0.001269
98.82922
47.09919
25.81205
7.548667
6.844045
NA
1.333398
1.688714
1.125635
1.363141
86
Lampiran 1.5: Uji Heteroskedastisitas
Heteroskedasticity Test: White
F-statistic
Obs*R-squared
Scaled explained SS
0.555325
2.418998
1.042799
Prob. F(4,29)
Prob. Chi-Square(4)
Prob. Chi-Square(4)
0.6967
0.6592
0.9032
Test Equation:
Dependent Variable: RESID^2
Method: Least Squares
Date: 04/01/17 Time: 23:17
Sample: 3 68
Included observations: 34
Variable
Coefficient
Std. Error
t-Statistic
Prob.
C
DLN_VT^2
DLN_ROA^2
DPER^2
DZ_SCORE^2
0.187518
0.001092
0.010048
-0.000239
2.91E-05
0.243150
0.002475
0.017987
0.000173
0.001122
0.771202
0.441289
0.558612
-1.380707
0.025940
0.4468
0.6623
0.5807
0.1779
0.9795
R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
Sum squared resid
Log likelihood
F-statistic
Prob(F-statistic)
0.071147
-0.056971
0.279152
2.259841
-2.155789
0.555325
0.696749
Mean dependent var
S.D. dependent var
Akaike info criterion
Schwarz criterion
Hannan-Quinn criter.
Durbin-Watson stat
0.245724
0.271524
0.420929
0.645394
0.497478
1.673439
87
Lampiran 1.6: Uji Autokorelasi
Dependent Variable: DLN_HARGA_SAHAM
Method: ARMA Maximum Likelihood (OPG - BHHH)
Date: 09/23/17 Time: 23:20
Sample: 3 68
Included observations: 34
Convergence achieved after 7 iterations
Coefficient covariance computed using outer product of gradients
Variable
Coefficient
Std. Error
t-Statistic
Prob.
C
DLN_VT
DLN_ROA
DPER
DZ_SCORE
AR(1)
SIGMASQ
14.24971
-0.753584
0.308287
-0.004346
-0.040395
0.650614
0.148336
0.927286
0.069113
0.234441
0.012806
0.039800
0.140983
0.053720
15.36711
-10.90373
1.314983
-0.339401
-1.014948
4.614842
2.761279
0.0000
0.0000
0.1996
0.7369
0.3191
0.0001
0.0102
R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
Sum squared resid
Log likelihood
F-statistic
Prob(F-statistic)
0.906978
0.886307
0.432197
5.043438
-19.85091
43.87581
0.000000
Inverted AR Roots
.65
Mean dependent var
S.D. dependent var
Akaike info criterion
Schwarz criterion
Hannan-Quinn criter.
Durbin-Watson stat
8.635998
1.281782
1.579466
1.893716
1.686634
2.059358
88
Lampiran 1.7: Uji Common Effect
Dependent Variable: DLN_HARGA_SAHAM?
Method: Pooled Least Squares
Date: 04/01/17 Time: 23:25
Sample (adjusted): 3 4
Included observations: 2 after adjustments
Cross-sections included: 17
Total pool (balanced) observations: 34
Variable
Coefficient
Std. Error
t-Statistic
Prob.
C
DLN_VT?
DLN_ROA?
DPER?
DZ_SCORE?
14.62373
-0.789575
0.389983
-0.021312
-0.037139
0.915098
0.077154
0.180152
0.013476
0.035618
15.98051
-10.23371
2.164739
-1.581551
-1.042689
0.0000
0.0000
0.0388
0.1246
0.3057
R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
Sum squared resid
Log likelihood
F-statistic
Prob(F-statistic)
0.845907
0.824652
0.536740
8.354615
-24.38362
39.79940
0.000000
Mean dependent var
S.D. dependent var
Akaike info criterion
Schwarz criterion
Hannan-Quinn criter.
Durbin-Watson stat
8.635998
1.281782
1.728448
1.952913
1.804997
0.803130
89
Lampiran 1.8: Uji Fixed Effect
Dependent Variable: DLN_HARGA_SAHAM?
Method: Pooled Least Squares
Date: 04/01/17 Time: 23:27
Sample (adjusted): 3 4
Included observations: 2 after adjustments
Cross-sections included: 17
Total pool (balanced) observations: 34
Variable
Coefficient
Std. Error
t-Statistic
Prob.
C
DLN_VT?
DLN_ROA?
DPER?
DZ_SCORE?
Fixed Effects (Cross)
AALI--C
ADRO--C
AKRA--C
ASII--C
ASRI--C
ICBP--C
INDF--C
INTP--C
ITMG--C
KLBF--C
LPKR--C
LSIP--C
PGAS--C
SMGR--C
TLKM--C
UNTR--C
UNVR--C
11.36323
-0.486569
0.945348
0.016854
-0.242019
1.742855
0.202150
0.454245
0.019105
0.144736
6.519893
-2.406968
2.081144
0.882194
-1.672140
0.0000
0.0317
0.0578
0.3937
0.1184
-0.086166
-0.613060
-0.339571
0.255333
-1.788021
-0.126226
0.234953
2.201350
0.688965
-0.496669
-0.067876
0.089333
-0.048961
0.646363
-0.195424
0.933322
-1.287645
Effects Specification
Cross-section fixed (dummy variables)
R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
Sum squared resid
Log likelihood
F-statistic
Prob(F-statistic)
0.984672
0.961090
0.252840
0.831065
14.85001
41.75535
0.000000
Mean dependent var
S.D. dependent var
Akaike info criterion
Schwarz criterion
Hannan-Quinn criter.
Durbin-Watson stat
8.635998
1.281782
0.361764
1.304516
0.683269
3.777778
90
Lampiran 1.9: Uji Chow
Redundant Fixed Effects Tests
Pool: PERUSAHAAN_JII
Test cross-section fixed effects
Effects Test
Statistic
Cross-section F
Cross-section Chi-square
7.355479
78.467269
d.f.
Prob.
(16,13)
16
0.0004
0.0000
Cross-section fixed effects test equation:
Dependent Variable: DLN_HARGA_SAHAM?
Method: Panel Least Squares
Date: 04/01/17 Time: 23:28
Sample (adjusted): 3 4
Included observations: 2 after adjustments
Cross-sections included: 17
Total pool (balanced) observations: 34
Variable
Coefficient
Std. Error
t-Statistic
Prob.
C
DLN_VT?
DLN_ROA?
DPER?
DZ_SCORE?
14.62373
-0.789575
0.389983
-0.021312
-0.037139
0.915098
0.077154
0.180152
0.013476
0.035618
15.98051
-10.23371
2.164739
-1.581551
-1.042689
0.0000
0.0000
0.0388
0.1246
0.3057
R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
Sum squared resid
Log likelihood
F-statistic
Prob(F-statistic)
0.845907
0.824652
0.536740
8.354615
-24.38362
39.79940
0.000000
Mean dependent var
S.D. dependent var
Akaike info criterion
Schwarz criterion
Hannan-Quinn criter.
Durbin-Watson stat
8.635998
1.281782
1.728448
1.952913
1.804997
0.803130
91
Lampiran 1.10: Uji Random Effect
Dependent Variable: DLN_HARGA_SAHAM?
Method: Pooled EGLS (Cross-section random effects)
Date: 04/01/17 Time: 23:30
Sample (adjusted): 3 4
Included observations: 2 after adjustments
Cross-sections included: 17
Total pool (balanced) observations: 34
Swamy and Arora estimator of component variances
Variable
Coefficient
Std. Error
t-Statistic
Prob.
C
DLN_VT?
DLN_ROA?
DPER?
DZ_SCORE?
Random Effects (Cross)
AALI--C
ADRO--C
AKRA--C
ASII--C
ASRI--C
ICBP--C
INDF--C
INTP--C
ITMG--C
KLBF--C
LPKR--C
LSIP--C
PGAS--C
SMGR--C
TLKM--C
UNTR--C
UNVR--C
13.53435
-0.697913
0.405342
0.003795
-0.057576
1.012189
0.090266
0.195913
0.012440
0.046219
13.37136
-7.731708
2.068987
0.305096
-1.245712
0.0000
0.0000
0.0476
0.7625
0.2228
-0.315308
-0.241473
-0.146234
0.677697
-0.771494
-0.286402
0.244630
0.629929
0.122386
-0.571779
-0.167325
-0.424938
0.162734
0.571165
0.310967
0.629770
-0.424327
Effects Specification
S.D.
Cross-section random
Idiosyncratic random
0.485401
0.252840
Rho
0.7866
0.2134
Weighted Statistics
R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
F-statistic
Prob(F-statistic)
0.714478
0.675095
0.275237
18.14207
0.000000
Mean dependent var
S.D. dependent var
Sum squared resid
Durbin-Watson stat
2.984821
0.482869
2.196912
2.003357
Unweighted Statistics
R-squared
0.819189
Mean dependent var
8.635998
92
Sum squared resid
9.803183
Durbin-Watson stat
0.448956
Lampiran 1.10: Uji Hausman
Correlated Random Effects - Hausman Test
Pool: PERUSAHAAN_JII
Test cross-section random effects
Chi-Sq.
Statistic
Chi-Sq. d.f.
Prob.
9.365351
4
0.0526
Random
Var(Diff.)
Prob.
-0.697913
0.405342
0.003795
-0.057576
0.032717
0.167956
0.000210
0.018812
0.2426
0.1876
0.3678
0.1787
Test Summary
Cross-section random
Cross-section random effects test comparisons:
Variable
DLN_VT?
DLN_ROA?
DPER?
DZ_SCORE?
Fixed
-0.486569
0.945348
0.016854
-0.242019
Cross-section random effects test equation:
Dependent Variable: DLN_HARGA_SAHAM?
Method: Panel Least Squares
Date: 04/01/17 Time: 23:31
Sample (adjusted): 3 4
Included observations: 2 after adjustments
Cross-sections included: 17
Total pool (balanced) observations: 34
Variable
Coefficient
Std. Error
t-Statistic
Prob.
C
DLN_VT?
DLN_ROA?
DPER?
DZ_SCORE?
11.36323
-0.486569
0.945348
0.016854
-0.242019
1.742855
0.202150
0.454245
0.019105
0.144736
6.519893
-2.406968
2.081144
0.882194
-1.672140
0.0000
0.0317
0.0578
0.3937
0.1184
Effects Specification
Cross-section fixed (dummy variables)
R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
Sum squared resid
Log likelihood
F-statistic
Prob(F-statistic)
0.984672
0.961090
0.252840
0.831065
14.85001
41.75535
0.000000
Mean dependent var
S.D. dependent var
Akaike info criterion
Schwarz criterion
Hannan-Quinn criter.
Durbin-Watson stat
8.635998
1.281782
0.361764
1.304516
0.683269
3.777778
93
Download