dijual. Pengertian persediaan didalam beberapa kepustakaan

advertisement
BAB
II
LANDASAN TEORI
A. Pengertian Persediaan
Persediaan merupakan bagian dari harta perusahaan dalam bentuk barang
yang ditujukan untuk dijual maupun untuk di proses lebih lanjut sebelum
dijual.
Pengertian persediaan
mengemukakan
definisi
yang
didalam
beberapa kepustakaan
berbeda
meski
maksud
yang
umumnya
terkandung
didalamnya hampir sama.
Ikatan
Akuntan
Indonesia,
(No. 14,
paragraf
03),
mendefinisikan
Persediaan sebagai berikut:
Persediaan adalah aktiva:
1.
Tersedia untuk dijual dalam usaha kegiatan normal
2.
Dalam proses produksi dan atau dalam perjalanan; atau
3.
Dalam bentuk badan/perlengkapan (supplies) untuk digunakan
dalam proses produksi/pembenahan jasa
Sedangkan Wiwin Rahmanti ( 2004 : 129 ) memberi pengertian sebagai
berikut:
Persediaan adalah aktiva yang dimiliki perusahaan untuk dijual atau
barang yang akan digunakan atau dikonsumsi dalam proses produksi
pembuatan barang.
Dari pengertian persediaan tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa
persediaan merupakan barang yang dimiliki untuk dijual kembali dalam
rangka kegiatan usaha normal, apakah itu merupakan jenis persediaan barang
jadi, barang dalam produksi atau bahan baku. Ketiga jenis persediaan tersebut
berfungsi
sebagai barang yang nantinya akan digunakan dalam proses
produksi ataupun langsung diperdagangkan tergantung dari jenis perusahaan
yang bersangkutan.
Ketentuan suatu barang digolongkan sebagai persediaan adalah tergantung
pada tujuan perusahaan untuk memiliki atau untuk memperlakukannya, sebab
persediaan pada suatu perusahaan belum tentu sebagai persediaan pada
perusahaan lain.
Menurut Soemarso S.R ( 2002 : 384 ) pengertian persediaan adalah
sebagai berikut:
Pengertian persediaan barang dagang ( merchandise inventory )
adalah
barang-barang
yang
dimiliki
perusahaan
untuk
dijual
kembali. Untuk perusahaan pabrik, termasuk dalam persediaan
adalah barang-barang yang akan digunakan untuk proses produksi
selanjutnya.
Persediaan
dalam
perusahaan
pabrik
terdiri
dari
persediaan bahan baku, persediaan dalam proses dan persediaan
barang jadi.
Dari berbagai macam pendapat yang telah dikemukakan diatas tentang arti
atau istilah persediaan. Pada dasarnya persediaan mempermudahkan atau
memperlancar jalannya operasi perusahaan yang hams dilakukan berturutturut untuk memproduksi barang-barang yang selanjutnya disampaikan kepada
konsumen.
Tetapi
walau
bagaimanapun
pentingnya
persediaan
yang
dibutuhkan perusahaan, persediaan hams dikendalikan sesuai pemakaian
kebutuhan yang sesuai dikarenakan persediaan juga merupakan salah satu
bagian dari harta perusahaan yang memerlukan investasi yang cukup besar.
1.
Jenis Persediaan
Jenis persediaan sering juga disebut dengan istilah keluaran produk
(product output), dimana hampir setiap orang mengidentifikasikan secara
cepat sebagai persediaan. Setiap jenis persediaan mempunyai karakteristik
khusus tersendiri dan cara pengolahan yang berbeda.
Soemarso S.R ( 2002 : 171
) mengemukakan tentang jenis-jenis
persediaan yaitu:
a.
Persediaan Bahan Baku ( Raw Materials Stock) yaitu persediaan dari
barang-barang berwujud yang digunakan dalam proses produksi,
barang mana dapat diperoleh dari sumber-sumber aJam ataupun dibeli
dari suplier atau perusahaan yang menghasilkan bahan baku bagi
perusahaan pabrik yang menggunakannya. Bahan baku diperlukan oleh
pabrik
untuk
diolah,
yang
setelah
melakukan
beberapa
proses
diharapkan menjadi barang jadi (finished goods ).
b.
Persediaan
bagian
produk
atau
parts
yang
dibeli
( purchased
parts/komponents stock ) yaitu persediaan barang-barang yang terdiri
dari parts yang diterima dari perusahaan Iain, yang dapat secara
langsung diassembling dengan pars lain, tanpa melalui proses produksi
sebelumnya. Jadi bentuk barang yang merupakan parts ini tidak
mengalami perubahan dalam operasi.
c.
Persediaan bahan-bahan pembantu atau barang-barang perlengkapan
( supplies stock ) yaitu persediaan barang-barang atau bahan-bahan
yang diperlukan dalam proses produksi untuk membantu berhasilnya
produksi atau yang dipergunakan dalam bekerjanya suatu perusahaan,
tetapi tidak merupakan bagian atau komponen dari barang jadi.
d.
Persediaan barang setengah jadi atau barang dalam proses ( work in
process/progress stock ) yaitu persediaan barang-barang yang keluar
dari tiap-tiap bagian dalam satu pabrik atau bahan-bahan yang telah
diolah menjadi suatu bentuk, tetapi lebih perlu diproses kembaii untuk
kemudian menjadi barang jadi. Tetapi mungkin saja barang setengah
jadi bagi suatu pabrik, merupakan barang jadi bagi pabrik lain karena
proses produksinya memang sampai disitu saja. Mungkin pula barang
setengah jadi itu merupakan bahan baku bagi perusahaan lainnya yang
akan memproses menjadi barang jadi. Jadi pengertian dari barang
setengah jadi atau barang dalam proses adalah merupakan barangbarang yang belum berupa barang jadi, akan tetapi masih merupakan
proses lebih lanjut lagi di pabrik itu sehingga menjadi barang jadi yang
sudah siap untuk dijual kepada konsumen atau pelanggan.
e.
Persediaan barang jadi ( finished goods stock ) yaitu persediaan
barang-barang yang telah selesai diproses atau diolah dalam pabrik dan
siap untuk dijual kepada pelanggan atau perusahaan lain. Jadi barang
jadi ini adalah merupakan produk selesai dan siap untuk dijual. Biayabiaya yang meliputi pembuatan produk selesai ini terdiri dari biaya
bahan
baku,
upah
buruh
langsung,
serta
biaya
overhead
yang
berhubungan dengan produk tersebut.
Dari pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa persediaan dapat
dibedakan menurut jenisnya dilihat dari bentuk perusahaannya, yaitu
sebagai berikut:
a. Perusahaan manufaktur (industri atau pabrikan), jenis persediaannya:
1)
Bahanmentah
2) Barang dalam proses
3) Barang jadi
b. Perusahaan dagang, jenis persediaannya :
1) Barang jadi
2) Barang konsinyasi
2. Fungsi Persediaan
Menurut Eddy Herjanto (2001 : 220) fungsi persediaan dibedakan
menjadi:
a.
Fluctuation Stock Merupakan persediaan untuk menjaga terjadinya
fluktuasi permintaan yang tidak diperkirakan sebelumnya, dan untuk
mengatasi jika kesalahan/penyimpangan dalam prakiraan penjualan,
waktu produksi, atau pengiriman barang.
b. Anticipation Stock Merupakan jenis persediaan untuk mengahadapi
permintaan yang dapat diramalkan, misalnya pada musim permintaan
tinggi, tetapi kapasitas produksi pada saat itu tidak mampu memenuhi
permintaan.
Persediaan
kemungkinan
sukarnya
ini
juga
diperoleh
dimaksudkan
untuk
bahan
sehingga
baku
menjaga
tidak
mengakibatkan terhentinya produksi.
c.
Lot-Size
Inventory.
Merupakan persediaan yang diadakan dalam
jumlah yang lebih besar dari pada kebutuhan pada saat itu. Cara ini
dilakukan
untuk
mendapatkan
keuntungan
dari
harga
barang
( potongan kuantitas )
karena pembelian dalam jumlah yang besar,
atau untuk mendapatkan penghematan dari biaya pengangkutan perunit
yang lebih rendah.
d. Pipeline Inventory. Merupakan persediaan dalam proses pengiriman
dari tempat asal ke tempat barang itu akan digunakan. Misalnya,
barang yang dikirim dari pabrik ke tempat penjual, yang dapat
memakan waktu beberapa hari atau beberapa minggu.
3.
Macam-macam Biaya Persediaan
Menurut Eddy Herjanto ( 2001 : 219 ) menjelaskan persediaan
adalah:
Bahan atau barang yang disimpan yang akan digunakan untuk
memenuhi tnjuan tertentu, misalnya untuk proses produksi
atau perakitan, untuk dijual kembali, dan untuk suku cadang
dari suatu peralatan atau mesin. Persediaan dapat berupa
bahan metah, bahan pembantu, barang dalam proses, barang
jadi atau suku cadang.
Kekurangan atau kelebihan persediaan merupakan gejala yang
kurang baik, kekurangan dapat berakibat larinya pelanggan sedangkan
kelebihan persediaan dapat berakibat pemborosan atau tidak efisien. Oleh
karena itu manajemen persediaan berusaha agar jumlah persediaan yang
ada dapat menjamin kelancaran proses produksi. Untuk pengambilan
keputusan penentu jumlah besamya persediaan, perlu dipertimbangkan
biaya-biaya variabelnya.
Menurut Eddy Herjanto ( 2001 : 225 ) unsur biaya yang terdapat
dalam persediaan dapat digolongkan menjadi tiga :
10
a.
Biaya pemesanan ( ordering costs ) adalah biaya yang dikeluarkan
sehubungan dengan kegiatan pemesanaan bahan/barang sejak dari
penempatan, pemesanan sampai terjadinya barang digudang. Biaya
pemesanan ini meliputi semua biaya yang dikeluarkan dalam rangka
mengadakan pemesanan barang tersebut, yang dapat mencakup biaya
administrasi dan penempatan order, biaya pemilihan vendor/pemasok,
biaya pengangkutan dan bongkar muat, biaya penerimaan dan biaya
pemeriksaan barang. Biaya pemesanan tidak bergantung pada jumlah
yang dipesan, tetapi bergantung dari berapa kali pesanan dilakukan.
Dalam kegitan produksi, biaya ini sering disebut sebagai set up cost,
yaitu biaya yang diperlukan untuk menyiapkan mesin-mesin atau
proses manufaktur dari suatu rencan produksi.
b.
Biaya penyimpanan ( carrying costs ) adalah biaya yang dikeluarkan
berkenaan dengan diadakannya persediaan barang. Yang termasuk
biaya
ini,
antara
lain
biaya
sewa
gudang,
biaya
administrasi
pergudangan, gaji pelaksana pergudangan, biaya listrik, biaya modal
yang
tertanam
kerusakan.
dalam
kehilangan
persediaan,
atau
biaya
penyusutan
asuransi
barang
ataupun
selama
biaya
dalam
penyimpanan. Biaya modal merupakan komponen biaya penyimpanan
yang terbesar, baik itu berupa biaya bunga kalau modal berasal dari
pinjaman maupun biaya oportunitas apa bila modalnya milik sendiri.
Biaya penyimpanan dapat dinyatakan dalam dua bentuk, yaitu sebagai
11
presentase dari nilai rata-rata persediaan pertahun dan dalam bentuk
rupiah pertahun perunit barang.
c.
Biaya kekurangan persediaan ( shortage costs ) adalah biaya yang
timbul sebagai akibat tidak tersedianya barang pada waktu diperlukan.
Biaya kekurangan persediaan ini pada dasarnya bukan biaya nyata
( nil ), melainkan berupa biaya kehilangan kesempatan. Termasuk
dalam biaya ini antara lain semua biaya kesempatan yang timbul
karena terhentinya proses produksi sebagai akibat tidak adanya bahan
yang
diproses,
biaya
administrasi
tambahan,
biaya
tertundanya
penerimaan keuntungan, bahkan biaya kehilangan pelanggan.
B. Sistem Pencatatan Persediaan
Pencatatan
memegang
peranan
penting
dalam
sistem
pencatatan
persediaan, karena pencatatan merupakan bentuk dokumentasi tertulis dari
suatii transaksi yang akan memberikan informasi untuk pemecahan masalah
dalam pengelolaan persediaan.
Disamping
itu
berguna
dalam
membantu kegiatan
yang
dilakukan
manajemen untuk mempermudah pekerjaan menjadi efektif dan efisien
berdasarkan laporan yang tersusun dengan baik dan relevan. Menurut Kieso,
Weygandt dan Warfield ( 2002 : 446 ), ada 2 metode yang sering digunakan
oleh perusahaan dalam kegitan usahanya yaitu:
12
1.
Sistem perpetual
Menurut sistem persediaan perpetual (perpetual inventory system),
catatan
yang
berkelanjutan
dicerminkan dalam
penjualan
akun
(pengeluaran)
menyangkut
persediaan.
barang
perubahan
Yaitu,
dicatat
persediaan
semua pembelian dan
secara
langsung
ke
akun
Persediaan pada saat terjadi. Karakteristik dari akun perpetual adalaah :
a.
Pembelian barang dagangan untuk dijual atau pembelian bahan baku
untuk produksi didebet ke Persediaan dan bukan Pembelian.
b.
Biaya transportasi masuk, retur pembelian dan pengurangan harga,
serta diskon pembelian dicatat dalam Persediaan bukan dalam akun
terpisah.
c.
Harga
pokok
penjualan
diakui
untuk
setiap
penjualan
dengan
mendebet akun Harga Pokok Penjualan, dan mengkredit Persediaan.
d.
Persediaan merupakan akun pengendali yang didukung oleh buku
besar pembantu yang berisi catatan persediaan individual. Buku
pembantu memperlihatkan kuantitas dan biaya dari
setiap jenis
persediaan yang ada di tangan.
Sistem persediaan perpetual menyediakan catatan yang berkenjutan
tentang saldo baik dalam akun Persediaan maupun akun Harga Pokok
Penjualan.
13
Menurut sistem pencatatan yang terkomputerisasi, penambahan
dan pengeluaran persediaan dapat dicatat hampir secara langsung. Naiknya
popularitas dan kemampuan perangkat lunak (software) akuntansi yang
terkomputerisasi telah membuat sistem perpetual menjadi hemat biaya
(efektif biaya) bagi banyak jenis perusahaan. Pencatatan penjualan dengan
pemindai optik pada register kas telah dipadukan ke dalam sistem akuntasi
perpetual dibanyak toko ritel.
Untuk mengilustrasikan sistem persediaan perpetual, asumsikan
bahwa Fesmeire Company memiliki transaksi-transaksi berikut selama
tahun berjalan.
Persediaan awal
100
unit
@
$
6
-
$
600
Pembelian
900
unit
@
$
6
=
$5,400
Penjualan
Persediaan akhir
600
400
unit
unit
@
@
$ 12
$ 6
=
=
$7,200
$2,400
Ayat jurnal untuk mencatat transaksi tersebut adalah :
Sistem Persediaan Perpetual
1
Persediaan awal, 100 unit @ 6 :
Akun persediaan memperlihatkan persediaan ditangan senilai $ 600
2
Pembelian900unit®6
Persediaan
5.400
Hutang usaha
3
5.400
Penjualan 60 unti @ 12
Piutang usaha
7.200
Penjualan
Hargapokokpenjual (600 @6)
7.200
3.600
persediaan
4
3.600
Ayat jurnal akhir periode untuk akun persediaan, 400 unti @ 6 :
Tidak diperlukan ayat jurnal, akun persediaan memperlihatkan saldo
akhir sebesar $2,400 ($600 + $5,400 - $3,600)
14
2.
Sistem periodik
Menurut sistem persediaan periodik (periodic inventory system),
kuantitas persediaan di tangan ditentukan, seperti yang tersirat oleh
namanya. secara periodik. Semua pembelian persediaan selama periode
akuntasi dicatat dengan mendebet akun pembelian. Total akun pembelian
pada akhir periode akuntasi
ditambahkan ke biaya persediaan ditangan
pada awal periode untuk menentukan tota biaya barang yang akan tersedia
untuk dijual selama peride berjalan. Kemudian total biaya barang yang
tersedia untuk dijual dikurangi dengan persediaan akhir untuk menentukan
harga pokok penjualan. Perhatikan bahwa dalam sistem persediaan
periodik, harga pokok penjualan adalah jumlah residu yang tergantung
pada hasil perhitungan persediaan akhir secara fisik.
Untuk
mengilustrasikan
sistem
persediaan
periodik,
dapat
digunakan contoh soal Fesmeire Company seperti pada sistem persediaan
perpetual dengan transaksi-transaksi berikut selama tahun berjalan.
Persediaan awal
100
unit
@
$
6
=
$
600
Pembelian
900
unit
@
$
6
=
$5,400
Penjualan
Persediaan akhir
600
400
unit
unit
@
@
$12
$ 6
=
=
$7,200
$2,400
Ayatjurnal untuk mencatatan transaksi tersebut adalah :
Sistem Persediaan Periodik
1
Persediaan awal, 100 unit @ 6 :
Akun persediaan memperlihatkan persediaan di tangan senilai $ 600
2
Pembelian 900 unit @ 6
Pembelian
5.400
Hutang usaha
3
5.400
Penjualan 60 unti @ 12
15
Piutang usaha
7.200
Penjualan
4
7.200
Ayat jurnal akhir periode untuk akun persediaan, 400 unti @ 6 :
Perseediaan (akhir, sesuai
perhitungan)
2.400
Harga pokok penjualan
3.600
Pembelian
5.400
Persediaan (awat)
600
C. Metode Penilaian Persediaan
Menurut Kieso, Weygandt dan Warfield (2002 : 458), ada 2 metode penilaian
persediaan yang sering digunakan oleh perusahaan dalam kegitan usahanya
yaitu:
1.
Metode harga pokok
a.
Identifikasi khusus
Identifikasi khusus ( specific identification ) digunakan dengan
cara mengidentifikasi setiap barang yang dijual dan setiap barang
dalam
pos
persediaan.
Biaya
barang-barang
yang
telah
terjual
dimasukkan dalam harga pokok penjualan, sementara biaya barangbarang
khusus
yang
masih
berada
ditangan
dimasukkan
pada
persediaan. Metode ini dapat diterapkan dengan baik dalam situasi
yang melibatkan sejumlah
dibedakan.
Dalam
perhiasan, jas
kecil
industri
bulu,
mobil,
rite]
dan
item berharga tinggi dan dapat
hal
ini
meliputi
sejumlah
beberapa jenis
furnitur.
Dalam
area
manufaktur, meliputi produk pesanan khusus dan banyak produk yang
diproduksi menurut/ofe cost system.
16
Untuk mengilustrasikan metode identifikasi khusus, asumsikan
bahwa 6.000 unit persediaan Call-Mart Inc. terdiri dari 1.000 unit yang
berasal dari pembelian 2 Maret, 3.000 unit dari pembelian tanggal 15
Maret, dan 2.000 unit dari pembelian tanggal 30 Maret. Berikut adalah
perhitungan persediaan akhir dan harga pokok penjualan :
Jumlah
Biaya
Total
Tanggal
Unit
per Unit
Biaya
2 Maret
1.000
$4,00
$4,000,00
15 Maret
3.000
$4,40
$13,200,00
30 Maret
2.000
$4,75
$9,500,00
Persediaan akhir
6.000
$26,700,00
Biaya barang yang tersedia untuk dijual
( yang telah dihitung sebelumnya)
$43,900,00
Dkurangi: Persediaan akhir
$26,700,00
Harga pokok penjualan
$17,200,00
Secara konseptual, metode ini tampak ideal karena biaya aktual
ditandingkan ( matched ) dengan pendapatan aktual, dan persediaan
akhir dilaporkan pada biaya aktual.
Dengan kata lain,
metode
identifikasi khusus menandingkan arus biaya dengan arus fisik barang.
Namun, jika diamati lebih lanjut, metode ini memiliki sejumlah
kelemahan.
Salah satu argumen yang menentang metode identifikasi khusus
menyatakan
bahwa
metode
ini
memungkinkan
perusahaan
memanipulasi laba bersih. Sebagai contoh, asumsikan bahwa sebuah
perusahaan grosir membeli kayu lapis yang identik pada awal tahun
dengan tiga harga berbeda. Saat kayu lapis itu dijual, perusahaan dapat
17
memilih harga tertinggi atau harga terendah yang akan dibebankan ke
beban hanya dengan menentukan kayu lapis yang akan dikirim kepada
pembeli. Oleh karena itu, seorang manajer bisnis dapat memanipulasi
laba bersih dengan hanya memilih pos-pos berharga tinggi atau rendah
untuk dikirim kepada pembeli, tergantung pada apakah yang akan
diinginkan adalah laba yang lebih tinggi atau laba yang lebih rendah.
Masalah lainnya berkaitan dengan alokasi biaya secara arbitrer
yang kadang-kadang terjadi dengan pos-pos persediaan khusus. Dalam
kondisi tertentu, sulit untuk mengaitkan secara memadahi , misalnya,
beban pengiriman, biaya penyimpanan, dan diskon secara langsung ke
pos persediaan tertentu. Alternatifnya adalah mengalokasikan biayabiaya
ini
secara
arbitrer yang
akan
menyebabkan
"penurunan"
ketetapan metode identifikasi khusus.
b.
Metode FIFO
Metode FIFO mengasumsikan bahwa barang-barang digunakan
(dikeluarkan) sesuai urutan pembeliannya. Dengan kata lain. Metode
ini mengasumsikan bahwa barang pertama yang dibeli adalah barang
pertama yang digunakan ( dalam perusahaan manufaktur ) atau dijual
( dalam perusahaan dagang ). Karena itu, persediaan yang tersisa
merupakan barang yang dibeli paling terakhir.
Sebagai ilustrasi, asumsikan bahwa Call-Mart Inc. menggunakan
sistem persediaan periodik (j unitah persediaan hanya dihitung akhir
tahun). Biaya persediaan akhir dihitung dengan mengambil biaya dari
18
pembelian paling terakhir dan dikerjakan kembali sampai semua unit
dalam persediaan diperiiitungkan. Penentuan akhir dan harga pokok
penjualan ditunjukkan seperti berikut ini:
Jumlah
Tanggal
Biaya
Total
Per Unit
Biaya
30 Maret
2.000
$4,75
$9,500
15 Maret
4.000
$4,40
$17,600
Persediaan akhir
6.000
$27,100
Biaya barang yang tersedia untuk dijual
$43,900
Dikurangt: Persediaan akhir
$27,100
Harga Pokok Penjualan
$16,800
Jika yang digunakan adalah sistem persediaan perpetual baik dalam
kuantitas maupun nilai dolar, maka angka biaya dikaitkan dengan
setiap penarikan barang. Kemudian biaya dari 4.000
unit yang
dikeluarkan pada tanggal 2 Maret dan 15 Maret. Nilai persediaan akhir
menurut metode FIFO dalam sistem persediaan perpetual untuk CallMart Inc. Ditunjukkan seperti berikut:
Tanggal
Pembelian
02 Maret
(2.000@$4,00)
$8,000
15 Maret
(6.000@$4,40)
$26,400
Dijual atau
digunakan
Saldo
(2.000@$4,00)
$ 8.000
2.000 @ $4,00-.
6.000 @ $4,40f
($34,400)
2.000 @ $4,00\
19 Maret
2.000 @ $4,40J
($16,800)
30 Maret
(2.000@$4,75)
$9,500
(2.000@$4,40)
$ 17.600
4.000 @ $4,40T
2.000 @ $4,75->
($27,100)
19
Nilai persediaan akhir dalam kasus ini adalah $ 27.100, dan harga
pokok penjualan adalah $ 16.800 [(2.000 @ $4,00) + ( 2.000 @
$4,40)].
Perhatikan bahwa dalam kedna contoh FIFO di atas, harga pokok
penjualan dan persediaan akhir adalah sama. Dalam semua kasus
FIFO, persediaan dan harga pokok penjualan akan sama pada akhir
bulan terlepas dari apakah yang dipakai adalah sistem persediaan
perpetual atau periodik. Hal ini disebabkan karena yang akan menjadi
bagian dari harga pokok penjualan adalah barang-barang yang dibeli
terlebih dahulu, dan karenanya dikeluarkan lebih dulu, terlepas dari
apakah harga pokok penjualan dihitung seiring barang dijual sepanjang
periode akuntasi (sistem
perpetual )atau sebagai residu pada akhir
periode akuntansi (sistem periodik).
Salah satu tujuan dari FIFO adalah menyamai arus fisik barang .
jika arus fisik barang secara aktual adalah yang pertama masuk, yang
pertama
keluar,
identifikasi
maka
khusus.
metode
Pada
saat
FIFO
yang
akan
sama,
menyerupai
metode
metode
FIFO
tidak
memungkinkan perusahaan memanipulasi laba karena perusahaan
tidak bebas memilih item-item biaya tertentu untuk dimasukkan ke
beban.
Keunggulan lain dari FIFO adalah mendekatkan nilai persediaan
akhir dengan biaya berjalan. Karena barang pertama yang dibeli adalah
barang pertama yang akan keluar, maka nilai persediaan akhir akan
20
terdiri dari pembelian paling akhir, terutama jika laju perputaran
persediaan
cepat.
Pendekatan
ini
umumnya
menghasilkan
nilai
persediaan akhir di neraca mendekati biaya pengganti ( replacement
cost ) jika tidak terjadi perubahan harga sejak pembelian paling
terakhir.
Kelemahan mendasar dari FIFO adalah bahwa biaya berjalan tidak
ditandingkan dengan pendapatan berjalan pada laporan laba mgi.
Biaya-biaya paling tua dibebakan ke pendapatan paling akhir, yang
bisa mengarah pada distorsi laba kotor dan laba bersih.
c.
MetodeLIFO
Metode LIFO menandingkan (matches) biaya dari barang-barang
yang paling akhir dibeli terhadap pendapatan. Jika yang digunakan
adalah persediaan periodik, maka akan diasumsikan bahwa biaya dari
total kuatitas yang terjual atau dikeluarkan selama satu bulan berasal
dari pembelian paling akhir. Persediaan akhir akan ditentukan dengan
menggunakan unit total sebagai dasar perhitungan dan mengabaikan
tanggal-tanggal
pembelian
yang
terlihat.
Contoh
berikut
mengasumsikan bahwa 4.000 unit yang dikeluarkan berasal dari 2.000
unit yang dibeli tanggal 30 Maret dan 2.000 unit ( dari 6.000 unit )
yang dibeli tanggal 15 Maret. Perhitungan persediaan dan harga pokok
penjualan untuk situasi ini ditunjukkan seperti berikut ini:
21
«,
,
Jumlah
Tanggal
Biaya
Total
Per Unit
Biaya
30 Maret
2.000
$4,00
$8,000
15Maret
4.000
$4,40
$17,600
Persediaan akhir
6.000
$25,600
Biaya barang yang tersedia untuk dijual
$43,900
Dikurangi: Persediaan akhir
$25,600
Harga Pokok Penjualan
$18,300
Jika yang digunakan adalah sistem persediaan perpetual baik dalam
kuantitas
maupun
nilai
dolar,
aplikasi
metode
LIFO
akan
menghasilkan nilai persediaan akhir dan harga pokok penjualan yang
berbeda, seperti ditunjukkan seperti berikut ini:
Dijual atau
Tanggal
Pembelian
02 Maret
(2.000@$4,00)
$8,000
15Maret
digunakan
(2.000@$4,00)
$8,000
2.000 @ $4,00"!
(6.000@$4,40)
$26,400
19 Maret
Saldo
6.000 @ $4,40 |
($34,400)
(4.000@$4,40)
$17,600
2.000 @ $4,00*1
2.000 @ $4,40J
($16,800)
30 Maret
(2.000@$4,75)
2.000 @ $4,00-1
$9,500
4.000 @ $4,40 >
2.000 @ $4,75^
($26,300)
Perhitungan persediaan periodik akhir bulan yang ditunjukkan
dalam contoh diatas ( persediaan akhir $25,600 dan harga pokok
penjualan $18,300 ) memperlihatkan hasil yang berbeda dengan hasil
perhitungan persediaan perpetual (persediaan akhir $26,300 dan harga
pokok penjualan $17,600 ). Perbedaan bulan bersangkutan dengan
total pembelian
untuk
bulan
yang sama dalam
mengaplikasikan
22
metode
LIFO,
penarikan
sementara
dengan
sistem
pembelian
perpetual
terakhir
menandingkan
yang
setiap
mendahuluinya.
Sebenarnya, perhitungan persediaan periodik mengasumsikan bahwa
biaya barang yang dibeli pada tanggal 30 Maret telah dimasukkan
dalam penjualan atau pengeluaran persediaan pada tanggal 19 Maret.
d.
Metode rata-rata
Seperti dengan namanya, metode biaya rata-rata ( average cost
method ) menghitung harga pos-pos yang terdapat dalam persediaan
atas dasar biaya rata-rata barang yang sama yang tersedia selama satu
periode.
Sebagai
ilustrasi,
asumsikan
bahwa
Call-Mart
Inc.
menggunakan metode persediaan periodik, dimana persediaan akhir
dan harga pokok penjualan akan dihitung sebagai berikut dengan
menggunakan
metode
rata-rata
tertimbang
(
weighted-average
method ):
Tanggal
Jumlah
Biaya
Total
Unit
per Unit
Biaya
2 Maret
2.000
$4,00
$8,000,00
15 Maret
6.000
$4,40
$26,400,00
30 Maret
2.000
$4,75
$9,500,00
total barang tersedia
$43,900,00
10.000
Biaya rata-rata tertimbang per unit
$43,900
$10,000
Persediaan akhir dalam unit
6.000
Persediaan akhir
6.000
=
$4,39
x
$4,39
$26,340
Biaya barang yang tersedia untuk dijual
$43,900
Dikurangi: Persediaan akhir
$26,340
Harga pokok penjualan
$17,560
23
Jika perusahaan memiliki persediaan awal, maka persediaan awal
ini dimasukkan dalam total unit yang tersedia dan total barang yang
tersedia untuk dijual ketika mengitung biaya rata-rata per unit.
Metode biaya rata-rata yang lain adalah metode rata-rata bergerak
( moving average method), yang digunakan dalam sistem persediaan
perpetual. Aplikasi metode biaya rata-rata untuk catatan persediaan
perpetual ditunjukkan seperti berikut:
Dijual atau
digunakan
Saldo
Tanggal
Pembelian
2Maret
( 2.000 @ $4.00 )
$8,000
( 2.000 @ $4.00 )
( 6.000 @ $4.40 )
( 8.000 @ $4.30 )
$34,400
15Maret
$26,400
( 4.000 @ $4.30 )
$17,200
19Maret
30Maret
$8,000
( 2.000 @ $4.75 )
$9,500
( 4.000 @ $4.30 )
$17,200
( 6.000 @ $4.45 )
$26,700
Dalam metode ini, biaya rata-rata per unit yang bam akan dihitung
setiap kali pembelian dilakukan. Pada tanggal IS Maret, setelah 6.000
unit dibeli dengan harga $26,400, terdapat 8.000unit persediaan
berharga pokok $34,400 ( $8,000 + $26,400 ). Dengan demikian, biaya
rata-rata per unit adalah $34,400 dibagi 8.000, atau $4,30. biaya per
unit ini digunakan dalam kalkulasi biaya penarikan sampai pembelian
berikutnya dilakukan,
ketika biaya rata-rata per unit yang baru
dihitung. Oleh karena itu, biaya 4.000 unit yang dikeluarkan pada
tanggal 19 Maret adalah $4,30, atau total harga pokok penjualan
24
sebesar $17,200. Pada tanggal 30 Maret, menyusul pembelian 2.000
unit seharga $9,500, biaya per unit yang baru sebesar $4,45 ditetapkan
untuk persediaan akhir sebesar $26,700.
Pemakaian metode rata-rata biasanya dapat dibenarkan dari sisi
praktis, bukan karena alasan konseptual. Metode ini mudah diterapkan,
objektif, dan tidak dapat dimanfaatkan untuk memanipulasi laba
seperti halnya dengan metode penentuan harga persediaan lainnya.
Selain itu, pendukung metode biaya rata-rata berpendapat bahwa
secara
umum
perusahaan
tidak
mungkin
mengurus
arus
fisik
persediaan secara khusus, dan karenanya, lebih baik menghitung biaya
persediaan atas dasar biaya rata-rata. Argumen ini memang ada
benarnya jika persediaan terlibat relatif bersifat homogen.
2.
Metode taksiran
a.
Metode laba kotor
Kadang-kadang, perhitungan fisik tidak praktis untuk dilakukan.
Jika, ukuran yang lain dapat digunakan untuk mengestimasi persediaan
yang ada di tangan. Salah satu metode yang dimaksud adalah metode
laba kotor ( atau sering juga disebut metode marjin kotor). Metode ini
digunakan secara luas oleh para auditor dalam situasi dimana hanya
diperlukan
satu estimasi
atau persediaan perusahaan
(
misalnya,
laporan interim). Metode ini juga digunakan ketika catatan perusahaan
atau persediaan itu sendiri telah musnah akibat kebakaran atau bencana
lain.
25
Metode laba kotor ( gross profit method ) didasarkan pada tiga
asumsi:
1) Persediaan awal ditambah pembelian sama dengan total barang
yang diperhitungkan.
2) Barang yang belum terjual hams berada di tangan.
3) Jika
penjualan,
persediaan
dikurangi
awal
ditambah
biaya,
dikurangkan
pembelian,
maka
dari
jumlah
hasilnya
adalah
persediaan akhir.
Sebagai ilustrasi, asumsikan bahwa Cetus Corporation memiliki
persediaan awal sebesar $60,000 dan pembelian $200,000, keduanya
berbasis biaya. Penjualan menurut harga jual berjumlah $280,000. laba
kotor atas harga jual adalah 30%. Motode laba kotor diaplikasikan
sebagai berikut:
Persediaan awal (pada biaya)
$60,000
Pembelian (pada biaya)
$200.000
Barang yang tersdian (pada biaya)
$260,000
Penjualan (pada harga jual)
$280,000
Dikurangi: laba kotor (30 % dari $280,000)
$84.000
Penjualan (pada biaya)
$196.000
Perkiraan persdiaan (pada biaya)
$64,000
Semua informasi yang dibutuhkan untuk menghitung persediaan
Cetus pada biaya, kecuali persentase laba kotor, tersedia dalam catatan
periode berjalan. Persentase laba kotor ditentukan dengan meninjau
kebijakan
perusahaan
atau
catatan
periode
sebelumnya.
Dalam
26
sejumlah
kasus,
persentase
ini
harus
disesuaikan
jika
periode
sebelumnya dianggap tidak mewakili periode berjalan.
b.
Metode harga eceran
Akuntansi untuk persediaan dalam bisnis eceran memberikan
sejumlah tantangan. Retailer yang memiliki jenis persediaan tertentu
bisa memakai metode identifikasi khusus untuk menilai persediaannya.
Pendekatan seperti ini dapat diterima jika setiap unit persediaan adalah
signifikan, seperti mobil, piano, atau jas bulu. Akan tetapi, man kita
bayangkan penggunaan pendekatan semacam itu di retailer bervolume
tinggi yang memiliki banyak jenis persediaan yang berbeda. Akan
sangat sulit untuk menentukan biaya setiap penjualan, mencatat kode
biaya pada kartu, mengubah kode untuk mencerminkan penurunan
nilai barang dagang, mengalokasikan biaya seperti transaksi, dan
sebagainya.
Alternatif yang
bisa dilakukan
adalah menyusun persediaan
menurut harga eceran. Dalam sebagian besar pemsahaan eceran,
terdapat pola yang dapat diamati antara biaya dengan harga. Karena
itu, harga eceran dapat dikonversikan menjadi biaya dengan satu
rumus. Metode ini, yang dinamakan metode persediaan eceran ( retail
inventory method ), mensyaratkan bahwa pencatatan dilakukan atas :
1) Total biaya dan nilai eceran dari barang yang dibeli.
2) Total biaya dan nilai eceran barang yang tersedia untuk dijual.
3) Penjualan periode berjalan.
27
Di sini akan dijelaskan cara kerjanya: Penjualan periode berjalan
dikurangkan dari nilai eceran barang yang tersedia untuk dijual guna
mendapatkan estimasi persediaan ( barang di tangan ) pada eceran.
Rasio biaya terhadap harga eceran untuk semua barang yang melalui
sebuah departemen atau perusahaan kemudian ditentukan dengan
membagi total barang yang tersedia untuk dijual pada biaya dengan
total barang yang tersedia pada harga eceran. Persediaan yang dinilai
menurut harga eceran kemudian dikonversikan menjadi persediaan
akhir pada biaya dengan mengaplikasikan rasio biaya terhadap harga
eceran. Metode persediaan eceran sangat umum dipakai. Sebagai
contoh,
toko
serba
ada
milik
Safeway
menggunakan
metode
persediaan eceran sama seperti toko-toko swalayan milik Dayton
Hudson Corporation. Berikut ini adalah ilustrasi tentang metode
persediaan eceran yang digunakan oleh Jordan Guess Inc.
JORDAN-GUESS INC.
(Periode berjalan)
Harga
Biaya
Eceran
$20,000
Persediaan awat
$14,000
Pembelia
$63,000
$90,000
barang tersedia untuk dijual
$77,000
$110,000
Dikurangi: Penjualan
$85,000
Persediaan akhir, pada harga eceran
$25,000
Rasio biaya terhadap harga eceran ($77,000
+ $110.000)
70%
Persediaan akhir pada biaya ( 70% x
$17,500
$25,000)
Untuk
menghindari
kemungkinan
lebih
saji
persediaan,
perhitungan persediaan periodik hams dilakukan, terutama dalam
28
bisnis eceran di mana kerugian akibat pencurian dan kerusakan sering
terjadi.
Ada beberapa versi metode persediaan eceran metode konvensional
( nilai terendah antara biaya rata-rata dan harga pasar ), metode biaya,
metode eceran LIFO, metode eceran FIFO nilai dolar . tanpa
memperlihatkan versi mana yang dipakai, metode persediaan eceran
didukung oleh IRS, berbagai asosiasi perusahaan eceran, dan profesi
akuntansi. Salah satu keunggualannya adalah bahwa saldo persediaan
dapat diestimasi tanpa perhitungan fisik.
Metode persediaan eceran sangat berguna bagi setiap jenis laporan
interim, karena pengukuran nilai persediaan yang handal dan cepat
biasanya dibutuhkan. Para penaksir akuntansi biasanya memakai
metode ini untuk mengestimasi kerugian akibat kebakaran, banjir, atau
bencana
lainnya.
Metode
ini juga
berfungsi
sebagai
perangkat
pengendalian ( control device ) karena setiap penyimpangan dari hasil
fisik pada akhir tahun harus dijelaskan. Selain itu, metode eceran ini
juga memepercepat perhitunga fisik persediaan pada akhir tahun.
Petugas yang melakukan perhitungan fisik persediaan hanya perlu
mencatat harga eceran setiap barang, tidak perlu melihat biaya faktur
setiap barang sehingga bisa menghemat waktu dan uang.
29
3
Metode penilaian persediaan selain harga pokok
a.
Metode nilai terendah antara biaya atau harga pasar
Persediaan yang mengalami penurunan manfaat masa depan
akan dinilai berdasarkan nilai terendah antara biaya dan harga
pasar (lower of cost or market-LCM ), bukan berdasarkan biaya
awal. Biaya atau harga pokok ( cost ) adalah harga perolehan
persediaan yang dihitung dengan memakai salah satu metode
berdasarkan biaya historis identifikasi khusus, biaya rata-rata,
FIFO atau LIFO. Istilah pasar ( market ) dalam frase "nilai
terendah antara biaya dan harga pasar" ( LCM ) umumnya berarti
biaya untuk mengganti barang melalui pembelian atau reproduksi.
Dalam bisnis eceran, istilah pasar mengacu pada pasar tempat
barang-barang dibeli, bukan tempat barang-barang dijual; dalam
bisnis manufaktur, istilah pasar mengacu pada biaya reproduksi.
Jadi aturan ini sebenarnya berarti bahwa barang hams dinilai
berdasarkan biaya atau biaya pengganti, mana yang lebih rendah.
Sebagai contoh, sebuah kakulator casio yang berharga $30,00 saat
dibeli di toko eceran. Dapat dijual seharga $48,95 dan dapat diganti
dengan harga $25,00 hams dinilai sebesar $25,00 untuk tujuan
persediaan menurut aturan yang terendah antara biaya dan harga
pasar (LCM).
Penyimpangan dari konsep biaya histories dapat dibenarkan
karena hilangnya manfaat harus dibebankan terhadap pendapatan
30
periode
dimana
kehilangan
itu
terjadi,
bukan
pada
periode
penjualan. Selain itu metode LCM merupakan pendekatan nilai
persediaan yang konservatif yaitu, jika teidapat keraguan mengenai
nilai aktiva, maka lebih baik mencatatnya pada nilai yang lebih
rendah.
D. Perbandian Antara Metode FIFO, LIFO dan Rata-rata
Menurut Fred Skousen, Earl K Stice dan James D Stice ( 2001 : 538 ) :
Metode penilaian persediaan mana yang seharusnya dipakai perusahaan?
Situasi berbeda antara perusahaan, dan keputusan akan didasarkan pada
sebuah analisis dari keempat faktor ini:
1.
Pengaruh pajak penghasilan
Jika
perusahaan
yang
memiliki
tingkat
persediaan
tinggi,
sedangkan mengalami kenaikan biaya persediaan yang signifikan, dan
tidak mengantisipasi pengurangan persediaan di
membenkan
keuntungan
arus
kas
yang
masa depan,
substansial
dalam
LIFO
kondisi
penundaan pajak. Ini adalah alasan utama pengadopsian LIFO oleh
kebanyakan
perusahaan.
Untuk
banyak
perusahaan
dengan
tingkat
persediaan yang kecil atau dengan biaya persediaan yang datar atau
menunin, LIFO membenkan keuntungan kecil, jika ada. Perusahaan yang
seperti ini jarang menggunakan LIFO.
2.
Biaya pembukuan
Pembukuan yang diasosiasikan dengan LIFO lebih rumit dari pada
FIFO atau nilai rata-rata. Dalam dolar dan sen, sebuah sistem LIFO lebih
31
mahal untuk digunakan. Karena alasan ini, LIFO kurang lunum digunakan
di antara perusahaan kecil dimana tiap keuntungan pajak dapat ditekan
oleh kenaikan biaya pembukuan.tetapi dengan teknologi informasi yang
telah berkembang dan dengan penyederhanaan LIFO pools dan LIFO nilai
dolar, biaya pembukuan LIFO yang incremental dapat diminimisasi.
3.
Dampak pada laporan keuangan
Ketika LIFO memberikan keuntungan pajak, ia juga memberikan
pengurangan pada nilai pendapatan dari nilai persediaan yang dilaporkan.
Pengaruh
negatif dari
laporan
keuangan
ini
dapat
membahayakan
perusahaan karena akan membuat takut para pemegang saham, investor
potensial,
dan
bank.
Salah
satu
cara mengatasinya
adalah
dengan
menyediakan laporan suplemen yang menjelaskan kepada para penguna
laporan keuangan bagaimana bentuk laporan keuangan apabila yang
digunakan adalah metode FIFO maupun nilai rata-rata.
4.
Perbandingan industri
Walaupun pengguna laporan keuangan harusnya meningkatkan
pengetahuan mereka dalam memahami akuntansi persediaan, seringkali
yang terjadi tidak demikian. Mereka mengabaikan laporan suplemen LIFO
dan
hanya
membandingkan
angka-angka
yang
disesuaikan.
Jika
perusahaan lain dalam suatu industri menggunakan FIFO laporan kinerja
dari perusahaan yang menggunkian LIFO akan kelihatan buruk, jika
dibandingkan.
32
£. Kartu Persediaan
Menurut Soemarso S.R. Dalam metode perpetual, setiap jenis barang
dibuat suatu catatan tersendin yang disebut kartu stock atau kartu persediaan (
Stock card ). Kumpulan dari kartu persediaan, untuk semua jenis barang yang
ada. disebut buku stock atau buku tambahan persediaan (Inventory subsidiary
ledger ). Buku stock, seperti halnya dengan buku piutang maupun buku
hutang, merupakan buku tambahan ( buku pembantu ), yang dalam hal ini
untuk mengetahui perkiraan persediaan barang dagangan. Seperti halnya
dengan buku tambahan yang lain, kartu persediaan digunakan untuk mencatat
penambahan, pengurangan, dan saldo akhir (juga terdapat kolom ralat/adjust)
dari persediaan.
Seperti transaksi pembelian bahan baku hams dicatat, baik dikartu
persediaan maupun dikolom perkiraan persediaan dibuku besar. Apabila
digunakan buku pembelian, maka setiap transaksi pembelian persediaan
dicatat di kartu persediaan, sementara total dari kolom yang disediakan untuk
pembelian tersebut, yang dalam hal ini kolomnya akan disebut dengan:
Persediaan bahan baku, dicatat ke perkiraan persediaan bahan baku di buku
besar. Demikian halnya, apabila teijadinya pengurangan, yang sebagian besar
disebabkan oleh karena adanya penjualan.
Harga pokok dari setiap transaksi penjualan hams dicatat baik kartu
persediaan maupun diperkiraan bahan baku dibuku besar.
33
F.
Pelaporan Persediaan
Menurut Dedhy Sulistiawan dan Yie Ke Feliana bahwa : Melalui PSAK
14 IAI, menyatakan bahwa laporan keuangan harus melakukan pengungkapan
segala aspek yang berhubungan dengan penyajian nilai persediaan, antara lain
1.
Kebijakan akuntansi yang digunakan dalam pengungkapan persediaan.
Misalnya, pemilihan metode penilaian persediaan apakah menggunakan
LIFO, FIFO atau yang lainnya.
2.
Jumlah nilai tercatat secara total atau menurut klasifikasi yang sesuai bagi
perusahaan. Misalnya, dengan menunjukkan nilai total persediaan dan
nilai persediaan berdasarkan tingkat penyelesaiannya.
3.
Jumlah tercatat persediaan yang tercatat menggunakan nilai pelepasan
bersih. Misalnya, Perusahaan bisa menyajikan dicatatan laporan keuangan
bahwa 40 % persediaan mereka menggunakan harga perolehan dan sisanya
menggunakan nilai realisasi bersih.
4.
Jumlah pemulihan atas penurunan persediaan
Penggunaan LCM, akan memungkinkan terjadinya penurunan persediaan
di bahwa harga perolehan, pemulihan atas penurunan itu diperbolehkan
oleh profesi (IAI ). Untuk itu pemulihan ( meningkatkan kembali) nilai
persediaan harus diungkapkan. agar pembaca bisa mengetahui peningkatan
nilai tersebut.
5.
Nilai persediaan yang digunakan sebagai jaminan kewajiban.
34
G. Penentuan Kuantitas Persediaan
Menurut C. Wiyati Retno Astuti dan Cornelio Purwanti bahwa : Penentuan
kuantitas persediaan di maksudkan untuk menentukan jumlah unit persediaan
pada tanggal neraca. Dua hal yang perlu diperhatikan, yaitu : melakukan
perhitungan fisik di gudang dan menentukan kepemilikan barang yang ada
dalam perjalanan.
1.
Perhitungan fisik digudang
Untuk mengetahui jumlah barang pada tanggal neraca, dapat dilakukan
dengan menghitung persediaan digudang. Untuk memperkecil kesalahan
pada saat perhitungan maka dapat dilakukan sebagai berikut:
a.
Perhitungan dilakukan oleh orang yang tidak bertugas menyimpan
persediaan.
b.
Tiap bagian mendapatkan tugas yang jelas mengenai jenis persediaan
yang menjadi tanggung jawabnya.
2.
c.
Lakukan perhitungan ke dua oleh orang yang berlainan.
d.
Gunakan kartu persediaan yang bernomer unit tercetak.
e.
Ada petugas yang mengawasi bahwa semua persediaan diberi kartu.
Barang dalam pejalanan
Barang dalam perjalanan meliputi barang yang pada tanggal neraca
masih berada ditangan pihak pengangkut. Contoh perusahaan pengangkut
adalah perusahaan kereta api, perusahaan pengkapalan dan sebagainya.
Perlakuan terhadap barang dalam perjalanan ini tergantung dari syarat
35
penjualan yang disepakati oleh pembeli dan penjual. Syarat penjualan ada
dua macam yaitu :
a.
FOB ( Free On Board ) shipping point
Menurut FOB shipping point, pemilikan atas barang akan berpindah ke
tangan pembeli saat pihak pengangkut menerima barang ditangan
penjual.
b.
FOB destination
FOB ini mengakui kepemilikan tetap ditangan penjual sampai barang
diserahkan ke tangan pembeli oleh perusahaan pengangkut.
H. Penentuan Harga Pokok Persediaan
Menurut C. Wiyati Retno Astuti dan Comelio Purwanti bahwa : Harga
pokok
persediaan
atau
harga
peroiehan
adalah
segala
sesuatu
yang
dipergunakan untuk memperoleh dan menempatkan barang sehingga barang
tersebut siap dijual. Segala sesuatu tersebut meliputi pengeiuaran-pengeluaran,
potongan
tunai
pembelian
dan
retur
pembelian.
Faktor-faktor
yang
mempengaruhi terbentuknya harga peroiehan dapat di lihat sepeti berikut ini:
Faktor
Nama Rekening
Pengaruh
terhadap
harga pokok
peroiehan
1
Harga faktur
2
Biaya angkut
Biaya angkut pembelian
3
Potongan tunai pembelian
Potongan tunai pembelian
4
Retur dan potongan pembelian
Retur dan potongan pembelian
Pembelian ( sistem fisik )
Persediaan ( sistem perpetual)
36
Secara teori pengeluaran untuk pembelian dan penyimpanan barang
tennasuk
komponen
harga
perolehan.
Tetapi,
karena
sulit
untuk
mengalokasikan ke setiap unit persediaan, maka dalam bentuk praktek sering
dimasukkan dalam biaya operasi perusahaan.
I.
Harga Pokok Penjualan
Harga pokok penjualan menurut Haryono Jusuf ( 2001 : 333 ) adalah
sebagai berikut:
Sesuai dengan prinsip penanding ( matching principle), laba bersih
suatu perusahaan dagang didihitung dengan cara mengurangkan
biaya untuk memperoleh pendapatan dari hasil penjualan pada
periode yang bersangkutan. Biaya-biaya tersebut meliputi harga
pokok ( Cost ) barang yang terjual dan biaya-biaya operasi yang
terjadi selama periode yang bersangkutan. Harga pokok barang yang
telah laku dijual biasa disebut harga pokok penjualan
Dalam perusahaan dagang, yang dimaksud dengan harga pokok penjualan
adalah saldo awal persediaan ditambah harga perolehan barang-barang yang
dibeli lalu dikurangkan jumlah persediaan akhir.
Untuk perusahaan industri
harga pokok barang yang diproduksi pada saldo awal barang jadi, kemudian
dikurangkan dengan saldo akhir persediaan barang jadi. Harga pokok barang
yang diproduksi meliputi semua biaya produksi tak langsung, dengan
mempertimbangkan
saldo
awal
dan
saldo akhir barang
dalam proses
pengolahan.
Dengan sistem pencatatan persediaan perpetual, harga pokok penjualan
dihitung setiap kali terjadi penjualan sedangkan dalam sistem pencatatan
persediaan periodik. Setelah diadakan perhitungan secara fisik terhadap
persediaan barang dagangan yang ada. Dengan demikian, dalam sistem
37
perpetual harga pokok penjualan dapat diketahui setiap waktu dan untuk itu
diperlukan perhitungan secara fisik terlebih dahulu. Walaupun demikian,
untuk menghasilkan sistem baik, selalu dianjurkan agar perhitungan fisik
secara berkala tadi tetap dilakukan, paling tidak sekali dalam setahun.
Hasil dari perhitungan fisik ini kemudian dibandingkan dengan kuantitas
barang yang ada menumt kartu persediaan. Setiap perbedaan yang ada perlu
dicari
penyebabnya.
Jika
adanya
perbedaan,
kartu persediaan harus
disesuaikan dengan hasil perhitungan secara fisik (adjust).
Dalam menetapkan harga pokok persediaan secara teknis, tidak ada
perbedaan apakah perusahaan itu mengunakan sistem periodik ataupun sistem
perpetual. Perbedaannya terletak pada kapan penetapan dilakukan. Kalau
dalam sistem periodik, penetapan harga pokok dilakukan secara berkala.
Sementara, dalam sistem perpetual, penetapan harga pokok dilakukan setiap
kali ada pemakaian.
Apabila metode penilaian persediaan di perbandingkan akan tampak
bahwa nilai persediaan dan harga pokok penjualan yang dihasilkan berbeda.
Akibat adanya perbedaan nilai persediaan akhir dan harga pokok penjualan
adalah berbedanya laba bersih, total aktiva dan total modal. Laba bersih
tertinggi akan diperoleh apabila perusahaan mengunakan metode FIFO. Laba
bersih terendah akan dihasilkan oleh metode LIFO. Pada metode FIFO total
aktiva dan modal juga menghasilkan angka yang tertinggi sedangkan metode
LIFO menghasilkan angka terendah. Metode rata-rata akan menghasilkan laba
bersih, total aktiva dan total modal diantara nilai menurut FIFO dan LIFO.
38
Ketika metode tersebut boleh dipilih untuk diterapkan dalam perusahaan.
Menajemen dalam memilih salah satu dari ketiganya harus memperhatikan
manfaatnya. Apabila harga beli barang dipasaran mengalami penurunan,
maka, hasil analisis yang diperoleh merupakan kebalikan dari padanya. Dalam
keadaan ini, laba bersih dan nilai persediaan tertinggi akan diperoleh apabila
menggunakan metode LIFO dan laba bersih serta nilai persediaan tercndah
akan diperoleh apabila menggunakan metode FIFO. Metode rata-rata tidak
berubah, nilai persediaan dan harga pokok penjualannya akan terletak diantara
FIFO dan LIFO.
39
Download