BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Membicarakan seksualitas pada saat ini, bukanlah lagi sesuatu yang ditabukan.
Pikiran lawas tentang “menutup-nutupi” pembahasan seksualitas, oleh banyak kalangan
cenderung dikatakan sebagai sesuatu hal yang tidak mendidik. Dalam masyarakat yang
terbuka seperti hari ini, mendorong banyak kalangan untuk membahasnya. Pembahasan
seksualitas tidak hanya bicara tentang struktur biologis saja, melainkan juga hubungannya
secara sosial. Sehingga lebih baik jika sinergi berbagai ilmu untuk membahas seksualitas
lebih penting daripada sekedar menentukan siapa yang berhak membahas tema seksualitas.
Secara sosiologis seksualitas akan dibahas sesuai dengan porsinya sebagai bagian dari
perilaku masyarakat dan hubungan-hubungan yang terjadi. Namun kita tidak bisa juga
menghindarkan aspek lain yang berada dalam diri individu tersebut.
Penulis melakukan penelitian tentang Incest (persetubuhan antara ayah dengan anak
kandung) dikaitkan dengan stuktur-struktur yang melingkupinya. Bagi sebagian banyak
orang hal ini tentunya “menggegerkan”, karena selalu diasosiasikan sebagai tindakan yang a
moral, karena tidak sesuai dengan moralitas yang ada di Indonesia. Tatanan sosial mengenai
tak diterimanya incest di Indonesia bukan hanya muncul melalu mitos dalam folkore saja
yang sejak dahulu kala telah diceritakan secara berulang-ulang. Seperti yang sering kita
dengar, cerita rakyat Terjadinya Tangkuban Parahu misalnya. Pada masa kini, nampak terasa
juga
melalui
pemberitaan-pemberitaan yang diproduksi
oleh media massa dalam
memposisikan diri mereka untuk melihat fakta adanya incest di sekitar. Media massa (koran,
TV,radio,dll)
memiliki peranan penting juga untuk mereproduksi discourse tentang gejala
seksual “tak wajar”. Misalnya, berita yang dibuat oleh Espos.com tanggal 04 Februari 2011,
dikalimat pembuka berita tersebut menyatakan,
“Perilaku bejat dilakukan seorang ayah terhadap anak kandungnya yang terbilang
masih dibawah umur” (Espos.com,04/2/2011)
Dari kalimat awal kita sudah langsung melihat dikotomisasi aktor, yaitu pelaku dan korban.
Pelaku adalah ayah dan korban adalah anak kandung. Laul bandingkan dengan berita yang
ada di detikNews tanggal 20 Juni 2014,
“MRS (16), remaja asal Deli Serdang, Sumatera Utara (SUMUT), sempat dua kali
menyetubuhi ibu kandungnya. Ternyata, sang ibu juga menikmatinya….. Warga
sekitar rumah pelaku resah. Mereka meminta si anak jangan lagi kembali ke
kampung, namun sang ibu tidak apa-apa tetap disanan.” (detik.com, 20/6/2014).
Kita melihat ada kebingungan oleh sosial dalam menentukan antara pelaku dengan korban.
Laki-laki ditempatkan pada posisi pembuat represi (pelaku) dan perempuan yang direpresi
(korban). Perlu jadi catatan, bahwa pnelitian ini bukan sedang mengarahkan terhadap isu-isu
maskulinitas atau feminisme, yang nantinya hanya akan menjebak diri pada justifikasi yang
semena-mena seperti yang muncul pada dua contoh diatas. Namun penelitian ini akan lebih
mengarah pada bahasa yang menyelubungi tiap-tiap tindakan seksual itu. Media sangat
mudah memberikan analisis (penulis tidak sedang mengatakan analisis mereka dangkal) yang
mengakibatkan orang yang membaca beritanya mudah terhanyut dan akhirnya menentukan
posisi pandang dalam menanggapi sesuatu. Dalam kasus incest diatas, orang yang membaca
berita sebagian besar pasti akan geram terhadap “pelaku” yang memiliki orientasi seksual
“tak wajar” dalam struktur sosial mereka.
Kemudian bukan hanya dalam masyarakat yang memiliki tatanan sosial tak tertulis
saja membincangkan incest sebagai sebuah pelarangan. Struktur-struktur lain yang akrab
bagi kehidupan manusia sehari-hari seperti agama dan hukum yang memiliki tatanan sosial
yang tertulispun juga ikut membicarakan hal ini. Islam sebagai mayoritas agama yang ada di
Indonesia dan diwilayah Aran Pandang pada khususnya menjadi rujukan bagi penulis dalam
mengkaji hal ini. Kehadiran agama tak bisa di hindarkan dalam perkembangan individu,
karena di Indonesia sendiri mengakui bahwa kehidupan bermasyarakatnya berbasis pula pada
agama (ketuhanan). Agama juga memiliki peran penting dalam menuntun masyarakat
menjadi “beradab” sesuai dengan ajaran-ajarannya. Baik secara langsung maupun tidak juga
mempengaruhi cara berpikir masyarakat Indonesia dalam memandang sesuatu. Dalam
konteks incest, Islam mengharamkan dan memberikan hukuman bagi pelaku Incest, seperti
yang ada pada kitab sucinya. Hal ini ditegaskan pada Surat An-Nisa ayat 22-23, yang
menyatakan hubungan seksual dengan ikatan darah yang sama merupakan sesuatu yang
haram hukumnya, dan haram merupakan dosa. Incest dalam agama dianggap sebagai suatu
perbuatan yang tidak baik dan menimbulkan keburukan bagi individu dan masyarakatnya.
Maka dari itu agama menyarankan dalam melumpuhkan hasrat seksual hewani tersebut
melalui suatu sistem pertalian yang dianggap sakral seperti melalui pernikahan.
Dalam ranah hukum, incest antara ayah dengan anak kandung ini diproses secara
pidana melalui berbagai pasal yang telah ditetapkan. Pasal-pasal tersebut berisi mengenai
perkosaan, persetubuhan, dan perzinahan seperti dalam Pasal 284 (1) KUHP, Pasal 285
KUHP, Pasal,286 KUHP, Pasal 287 (1) KUHP, Pasal 289 KUHP, pasal 290 KUHP, Pasal
294 (1) KUHP serta dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan
Anak dan Undang-undang No 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah
tangga. Tentunya semua produk hukum tersebut sangat strict sifatnya pada masyarakat,
dengan harapan produk hukum tersebut dapat menimbulkan rasa takut masyarakat untuk
melanggar dan menjalani kehidupan sesuai dengan adab yang berlaku di Negara ini. Penjara
akan menanti bagi tiap individu jika melanggar nilai-nilai hukum tersebut.
Kita bisa melihat bahwa sebenarnya dimana posisi tatanan sosial masyarakat di
Indonesia menanggapi permasalahan seksual “tak wajar” ini. Peradaban masyarakat di
Indonesia melakukan penolakan terhadap aktivitas seksual semacam itu, seperti dapat dilihat
diatas, ada norma sosial, hukum, agama, hingga media massa membicarakan tentang
penolakannya terhadap aktivitas seksual ini. Sekuat tenaga mereka membuat discourse untuk
menghalangi hasrat seksual yang dianggap mereka “brutal”. Pada akhirnya mereka harus
melakukan berbagai cara untuk membelokan hasrat seksual itu. Melalui berbagai
pembelokan tersebut kita bisa merasakan bahwa peradaban telah melakukan berbagai upaya
pembelokan baik yang bersifat represif seperti hukuman pengasingan (penjara, pengusiran,
dsb) maupun non-represif seperti dengan membelokkannya kearah kerja.
Kembali pada melihat individu sebagai subjek yang terhalang (direpresi) oleh tatanan
moral, nilai, ataupun norma. Insting seksuil dilemahkan atas nama peradaban, yang
menginginkan ketertiban yang dinikmati secara „bersama”. Hasrat seksual dibelokkan
menjadi hasrat-hasrat lain yang tidak menyentuh hasrat seksual itu sendiri. Hal ini disebut
apa yang dinamakan sebagai sublimasi. Sublimasi adalah insting-insting yang harus didorong
untuk merubah kondisi pemuasan seksual, lalu mencari kepuasan melalui jalan lai n, dapat
diarahkan pada kegiatan kegiatan ilmah, artistik, dan ideologis agar dapat memainkan
peranan di kehidupan beradab (Freud, 2007:59).
Merujuk pada bukunya Cinta dan Peradaban (Marcuse, 2004) yang mengikuti
pemikiran Freud, menyoal juga masalah seksualitas. Perlu ditegaskan kembali bahwa
manusia saat ini berada dalam peradaban dimana mereka hidup se”cara” bersama (disebut
dengan
masyarakat)
yang memiliki
seperangkat pembatasan-pembatasan kesenangan
individu, kehidupan manusia dimanapun termasuk di ranjang telah dimasuki semangatsemangat Ketuhanan dan hukum moral. Marcuse menawarkan tentang manusia yang harus
menjadi tujuannya sendiri bukan hanya menjadi sarana, namun diakuinya bahwa ideologi
hanya akan berlaku pada taraf individu, tidak akan efektif dalam fungsi-fungsi sosial dan
ranah kerja (2004:257). Tersirat dari penyataan Marcuse bahwa individu akan berhasil
dengan pembebasan seksualnya walaupun harus dengan cara melawan semangat Ketuhanan
dan hukum moral, dan gagal jika itu dilaksanakan secara masiv karena akan mengantarkan
pada
kehancuran peradaban.
Peradaban melalui produknya (kebudayaan) membuat
modifikasi atas pemuasan seksual menjadi kerja dengan tidak membelokkan hakikat
pemuasan seksual itu sendiri. Dengan ini konsep desublimasi (sublimasi non-represi) oleh
Marcuse muncul dimana tujuan seksualitas tidak dibelokkan maupun ditahan , dalam
mencapai tujuannya seksualitas mentransendensi diri menuju seksualitas yang lain, mencari
pemuasan kebutuhan yang penuh (2004:270). Dalam hal ini berarti konsep kerja yang
bersifat represif terhadap pemuasan seksual harus berubah menjadi konsep kerja yang
“bermain” dimana akan keluar pula kesenangan-kesenangan primitif yang hidup tanpa
tekanan.
Rasa pesimis Marcuse tentang gerakan kebebasan, tentunya dapat dibenarkan.
Individu yang kecil itu melawan sesuatu yang sangat besar (struktur dan tananan masyarakat)
yang semua individu mengamini keberadaannya. Namun yang menarik terkait dengan kasus
persetubuhan ayah dengan anak kandung. Kita melihat ada subjek yang bebas dan berhasil
memerdekakan fantasi dan hasrat seksualnya. Ada “sesuatu yang besar” disana, namun ada
perlawanan dari subjek
Realitas sosial semacam ini tidaklah muncul begitu saja karena sebuah kondisi atau
situasi tertentu.
Banyak dari kita berargumentasi bahwa terjadinya persetubuhan ayah
dengan anak kandung akibat adanya relasi kuasa yang muncul karena struktur masyarakat
patriarkhis. Namun sepertinya relasi kuasa bisa jadi merupakan “cara” untuk mewujudkan
fantasi dan hasrat seksual tersebut. Realitas sosial ini, dapat dikatakan berada dalam diri
individu. Berada disebuah tempat yang tidak dapat dijangkau oleh moralitas yang telah ada
dalam masyarakat. Individu menjadi subjek yang bebas sekaligus terhalang secara seksual.
Individu sadar bahwa diri berada dalam sebuah lingkungan yang memiliki segenap aturan,
namun lebih dalam dalam diri individu ada subjek yang terhalang secara seksualnya karena
segenap aturan tersebut. Hingga banyak subjek yang enggan menunjukkan “pikiran tidak
sadar” itu menjadi sebuah entitas yang dapat dilihat.
Berbeda dengan kasus transeksual yang berani menunjukkan entitas seksualnya
melalui cara berperilaku maupun berpakaiannya. Persetubuhan ayah dengan anak kandung
ini, fantasi dan hasrat seksual lebih dalam dan lebih rapat tersimpan dalam diri subjek.
Karena, ada hal-hal yang menghalangi dan bahkan memperbelokkannya kearah lain diluar
tindakan seksual. Maka dari itu yang sebetulnya menjadi garis besar penelitian ini adalah
untuk menjawab bagaimana fantasi dan hasrat seksual yang tersimpan bahkan direpresi
habis-habisan ini dapat muncul ke permukaan sebagai suatu tindakan persetubuhan yang
dalam masyarakat dianggap sebagai ketabuan. Sehingga dapat dikatakan bahwa perilaku
seksual yang dianggap selama ini oleh kebanyakan masyarakat sebagai patologi adalah
merupakan sebuah paradoks atas ketetapan moral yang merepresi dan menjadi belenggu
fantasi dan hasrat tidak sadar mereka. Hingga pada suatu kesempatan ketika ketetapan moral
yang menjadi jerat rantai atas kesadaran manusia lengah, fantasi dan hasrat seksual yang tak
sadar keluar merayakan kebebasannya.
B. Rumusan Masalah
Persetubuhan antara ayah dengan anak kandung dianggap sebagai suatu perilaku yang
menyimpang. Namun perilaku itu ada sebagai sebuah realitas sosial yang berkelindan dengan
ketetapan moral di masyarakat. Segala bentuk represi dilakukan seperti dengan hukuman
sosial maupun penjara, namun bisa jadi yang dipenjara adalah tubuh sedangkan hasrat
seksual masih liar dalam diri individu.
Bagaimanakah hasrat seksual pada diri ayah pelaku tindakan incest tersebut dapat
muncul, sementara perangkat struktur membatasi atau bahkan menolak itu?
Kedua, bagaimanakah tindakan tersebut dibahasakan oleh struktur yang berlaku di
masyarakat?
Ketiga, bagaimanakah ayah pelaku incest mendefinisikan dirinya pada saat terjadi
persetubuhan itu?
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui munculnya hasrat seksual disaat struktur
disekitarnya sedang membelenggu. Selain itu penelitian ini ingin menunjukkan bahwa
persoalan incest bukan hanya berada di wilayah perilaku individual saja, melainkan juga
merupakan perilaku sosial dan psikologis. Penelitian ini juga bertujuan sebagai awalan untuk
mendorong adanya penelitian-penelitian sejenis, baik dibidang psikologi, sosiologi, maupun
bidang-bidang ilmu yang lainnya.
D. Manfaat Penelitian
Melalui tulisan ini penulis berharap dapat memberikan gambaran yang komprehensif
mengenai permasalahan incest yang terjadi diwilayah Aran Pandang, terkait pandangan
masyarakat secara keseluruhan (termasuk agama) dan hukum positif terhadap hal ini. Selain
itu juga dapat diketahui mengenai “makna” tersembunyi yang membuat seseorang
melakukan hubungan seksual incest ditengah represi struktur disekitarnya. Terakhir tulisan
ini diharapkan dapat membuka mata dan wawasan bukan hanya pada kajian ditingkat
akademik, melainkan dapat digunakan oleh berbagai pihak terkait (penegak hukum,
masyarakat, maupun agama) sebagai bahan pembacaan jika terdapat persoalan incest disuatu
saat nanti. Bukan hanya persoalan incest sebenarnya yang menjadi fokus utama bagi
pengembangan kajian seperti ini. Namun, dapat juga dikembangkan untuk melihat
persoalan-persoalan lain terkait terjadinya pelanggaran subjek terhadap struktur disekitarnya.
E. Kajian Pustaka
1. Incest Sebagai Dampak Dari Sistem Patriarki
Sebenarnya cukup kesulitan pula dalam mencari literatur di dalam negeri yang
membahas secara khusus menganai persoalan incest ini. Padahal seperti yang diketahui
bahwa persoalan incest benar adanya dalam kehidupan sosial kita. Namun terdapat beberapa
kajian penelitian dengan berbagai paradigma yang dapat dibaca untuk mendekatkan diri pada
pembahasan mengenai incest yang terjadi di Indonesia.
Salah satu literatur yang mendekati penelitian yang saya lakukan adalah tulisan dari
Bagus Haryono dalam Jurnal Dilema yang berjudul “Kontruksi Sosial Penyebab Incest Di
Indonesia Dan Dampak Yang Ditimbulkannya” 1. Tulisan ini membantu saya sebagai penulis
dalam mengawali
pendalaman
untuk mengkaji
struktur-struktur
yang memberikanp
pelarangan terhadap incest itu sendiri. Terlihat dalam tujuan penulisan, Bagus menyatakan
jika dirinya ingin mengungkap bahwa penyebab terjadinya incest tak lepas dari kontruksi
sosial yang bias gender. Selain itu juga tulisannya melegitimasi bahwa incest merupakan
negasi atas moral yang memiliki dampak buruk didalam masyarakat, maka dari itu secara
khusus Bagus ingin menyumbangkan tulisannya ini untuk mengembangkan kajian mengenai
pembenahan terhadap kontruksi sosial yang keliru tersebut.
Bagus melihat bahwa terdapat kontruksi-kontruksi sosial yang pada akhirnya dapat
mendukung terjadinya kasus incest dapat terjadi di dalam masyarakat. Menurutnya
konstruksi bahwa Incest adalah hal yang tabu untuk diperbincangkan karena takut dapat
merusak citra keluarga, sebagai perbuatan aib yang harus dirahasiakan, merupakan urusan
keluarga yang tidak perlu diketahui oleh orang lain, sebagai urusan privat, bukan urusan yang
menyangkut masyarakat luas adalah yang menyebabkan incest sulit untuk dideteksi dan pada
akhirnya tenggelam tak pernah diperbincangkan. Selain itu juga Bagus menggunakan
pendekatan berbasis gender dalam melihat latar belakang terjadinya incest, tentunya dalam
sudut pandang persoalan gender di Indonesia yang bias. Baginya terdapat pemahaman keliru
di dalam masyarakat bahwa anak dan istri adalah milik ayah dan dapat diperlakukan
sesukanya bahkan hingga hubungan seksual sekalipun.
Berbagai dampak akibat terjadinya incest juga dijelaskan oleh Bagus secara tegas.
Bagi ayah pelaku incest dengan melakukan hal tersebut maka dirinya akan kehilangan hak
sebagai manusia yang hidup bermasyakat karena harus menuai akibat dari perbuatan yang
1
Haryono,Bagus. “Kontruksi Sosial Penyebab Incest Di Indonesia Dan Dampak Yang Ditimbulkannya”. Jurnal
Sosiologi Dilema vol.20 Th. 2008
dilakukannya. Dampak bagi ayah pelaku adalah ketika dirinya dihukum penjara sehingga
membatasi gerak-geriknya sebagai manusia. Selain itu fungsinya sebagai ayah yang mencari
nafkah dan mengayomi keluarga menjadi hilang. Bagi istri akan menjadi kebingungan
nantinya jika anak yang melakukan hubungan seksual dengan suaminya melahirkan seorang
bayi. Istri lalu akaan kebingungan jika memanggil bayi yang dilahirkan oleh anak
kandungnya. Bagi anak kandung,
Bagus melihat juga dari sisi biologis yaitu rusaknya
selaput dara dan hasil dari hubungan incest tersebut dapat mengakibatkan anak dari
hubungan itu kemungkinan menjadi cacat. Dari hubungan seksual yang tidak dikehendaki
itu dapat menyebabkan si anak kandung tersebut mengalami tekanan kejiwaan yang
berkepanjangan. Pada intinya menurut Bagus, jika terjadi hubungan incest tersebut maka
yang terjadi adalah rusaknya struktur keluarga dan fungsi-fungsi didalamnya juga akan
hancur. Terakhir adalah dampak bagi masyarakat, bagi Bagus akan terjadi pergolakan
didalamnya. Struktur masyarakatpun juga akan menjadi rusak, dimana lembaga perkawinan
dipertanyakan efektivitasnya sebagai pengendali anggotanya.
Kajian yang dilakukan oleh Bagus ini sangat jelas menentukan dimana posisinya
dalam memahami incest. Bagus sepakat dengan struktur yang ada di masyarakat yang
menganggap bahwa incest merupakan perbuatan yang dilarang dan harus dihentikan dengan
berbagai dampak yang akan dihasilkan nantinya. Tersurat dalam tulisan Bagus ini, bahwa
seakan struktur akan memiliki pola yang stabil dan terus menerus. Namun argumennya
mengenai adanya kontruksi sosial yang keliru ini perlu dicatat sebagai kritik atas dirinya
sendiri, hal ini menunjukkan jika struktur itu sebenarnya memiliki sistem yang tidak stabil
sehingga suatu saat akan muncul penyimpangan-penyimpangan terhadapnya. Selanjutnya
dari tulisan yang dibuat Bagus ini, mempersoalkan apa yang sudah terjadi dan tidak menilik
pada tataran individual pelaku. Hal ini dimungkinkan karena sudut pandang yang diambil
oleh Bagus adalah kajian Gender. Kajian ini selalu merujuk pada ketidakseimbangan antara
kuasa laki-laki dan perempuan, sehingga tidak memperhatikan hal yang lebih penting yaitu
apa yang menyebabkan pelaku melakukan hubungan seksual incest itu sendiri.
2. Incest Adalah Bentuk Kejahatan
Berikutnya terdapat penelitian mengenai incest (hubungan sedarah) yang dilakukan di
Aceh.2 Peneliti ini menggunakan pendekatan hukum sebagai landasan berpikirnya, dimana
incest diasosiasikan sebagai bentuk dari kejahatan (kekerasan). Di Aceh khususnya di daerah
Meulaboh, Pidie, dan Lhoksumawe terdapat total 38 kasus hubungan seksual sedarah yang
terjadi diwilayah tersebut. dalam penelitian yang dilakukan oleh Elviana ini tidak secara rinci
ditunjukkan bentuk hubungan yang semacam apa dari incest tersebut, namun melihat definisi
konseptualnya sepertinya merujuk pada incest secara umum. Mengikuti Kempe dan Kempe,
Elviana menunjukkan bahwa incest adalah sangat luas yaitu hubungan seksual antara anggota
keluarga baik antara kakak dengan adik kandung/tiri, ayah dengan anak kandung/tiri, paman
dengan keponakan atau ibu dengan anak kandung/tiri. sedangkan penelitian yang saya
lakukan cukup menggali incest yang dilakukan oleh ayah dengan anak kandung saja. Namun
hal ini cukup membantu dalam memberikan definisi tentang incest secara lebih luas.
Menurut Elviana, terjadinya incest selalu dihubungkan dengan berbagai faktor yang
langsung berkaitan dengan pelakunya. Ada beberapa faktor yang menurutnya dapat
mendukung terjadinya incest. Pertama, Incest dapat terjadi karena faktor ekonomi keluarga
yang buruk/lemah dengan fasilitas rumah yang terbatas. Kedua, faktor adanya peluang atau
2
Elviana, Dian (Skripsi). 2015. Kajian Tentang Kekerasan Seksual Yang Dilakukan Dalam Hubungan Sedarah
(Incest): Suatu Penelitian di Wilayah Hukum Pengadilan Negeri Meulaboh, Pengadilan Negeri Lhokseumawe dan
Pengadilan Negeri Pidie). Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala.
kesempatan, dalam hal ini menurutnya karena persoalan waktu (timing) karena sebagian
besar kejadian incest terjadi diwaktu kondisi rumah sedang sepi. Ketiga, faktor tidak
terpenuhinya kebutuhan biologis pelaku yang tidak mampu ditahannya sehingga meniadakan
hukum yang ada. Keempat, minimnya pengetahuan tentang agama, dimana pelaku tidak bisa
membedakan mana perbuatan baik dan buruk. Dari keempat faktor yang diajukan oleh
Elviana ini belakang merupakan pendapat yang populer di semua kalangan. Namun pendapat
ini menjadi sangat riskan, karena dapat membangun ideologi bahwa orang miskin, ruang
yang sepi, atau orang yang tidak beragama kuat adalah menjadi kandidat kuat untuk dianggap
sebagai pelaku kejahatan seksual (mengikuti pemikiran Elvina). Hal ini yang dalam
penelitian saya coba hindari sejak awal, bukan berarti memang tidak mungkin hal itu
memang benar adanya. Namun dengan menempatkan diri di posisi yang netral di awal, maka
selanjutnya kita bisa menggali secara lebih mendalam mengenai persoalan incest ini kepada
pelakunya langsung tanpa intervensi ideologi yang seperti ini dari awal. Karena dalam
penelitian yang saya lakukan tidak merujuk untuk mencari apa yang benar dan salah.
Selanjutnya Elviana menjelaskan mengenai akibat dari tindakan incest terhadap
korban. Disini Elviana memilih posisi berperspektif ke korban. Dimana dampak-dampak
yang dihasilkan oleh hubungan incest sangat medikal sekali. Pertama, dapat menimbulkan
gangguan psikologis dimana korban akan menjadi tertekan dan trauma atas kejadian incest
yang dia alami. Kedua, dampak terhadap fisik karena dalam perjalanannya hubungan seksual
incest dilakukan dengan diikuti kekerasan yang dilakukan oleh pelaku. Ketiga, Dampak pada
kesehatan reproduksi yang diakibatkan oleh pengguguran kandungan karena malu untuk
melahirkan bayi hasil incest. Keempat, dianggap sebagai pembawa aib/ petaka pada
masyarakat (Gampong), masyarakat yang menganggap hubungan sedarah sebagai aib
mendorong korban menjadi takut dicela dan akhirnya harus mengasingkan diri. Kelima,
terhambanya pendidikan, seringkali pihak sekolah memilih tindakan mengeluarkan korban
yang mungkinsedang hamil demi nama baik sekolahan. Keenam, membuat korban sering
menyalahkan diri sendiri.
Bagi Elviana diperlukan bentuk perlindungan yang holistik, baik dari segi hukum
hingga proses pemulihan baik fisik dan psikologisnya. Kemudian korban tidak boleh
berdekatan dengan orang-orang yang menyalahkannya karena akan cenderung menambha
beban kepadanya. Selain itu untuk menyembuhkan dampak psikisnya maka korban juga
membutuhkan bimbingan konseling dan untuk perlindungan secara hukum maka korban
perlu didampingi pengacara selama proses persidangan maupun setelahnya agar selalu
merasa nyaman dan aman.
Membaca penelitian yang dilakukan oleh Elvina, hampir memiliki kesimpulan yang
sama dengan Bagus sebelumnya. Dmana mengesankan bahwa korban incest adalah
perempuan yangb kemudian menjadi lemah karena kasus itu. Lalu pelaku adalah laki -laki
dimana memiliki superioritas baik secara fisik maupun wacananya didalam keluarga. Nmaun
melalui penelitian ini kita melihat bahwa terdapat bahasa yang sama dalam memandang
incest yaitu sebagai perbuatan yang terlarang. Sedangkan pelakunya adalah seorang penjahat .
3. Cerita-Cerita Rakyat (Legenda) mengenai Incest Di Indonesia.
Tentunya bagi sebagian banyak orang Indonesia telah banyak mendengarkan folklore
tentang terbentuknya Tangkuban Parahu di Jawa Barat, yang menceritakan hampir terjadinya
incest antara Sangkuriang dengan ibu kandungnya Dayang Sumbi. 3
3
Dalam cerita rakyat
diceritakan bahwa terdapat seorang anak laki-laki yang bernama Sangkuriang yang jatuh cinta kepada Dayang
Sumbi yang konon memiliki kecantikan yang abadi dan awet muda. Sangkuriang ingin meminang Dayang Sumbi
untuk menjadi istrinya, hampir saja Dayang Sumbi menerima pinangan tersebut. Namun, keputusan itu langsung
Sunda itu kita bisa melihat bahwa ada titik dimana “kesadaran” berhasil memenangkan
pertarungan terhadap hasrat individu yang berada di tataran “ketidaksadaran” ketika Dayang
Sumbi mengurungkan niatnya untuk menerima pinangan seorang pemuda tampan yang
ternyata adalah anak kandungnya yang lama menghilang dan terkena amnesia. Terlihat juga
bahwa hasrat itu ingin menolak segala bentuk tatanan sosial yang berlaku, dimana
Sangkuriang tetap teguh ingin menikahi Dayang Sumbi, walaupun sudah diberitahu bahwa
dia adalah ibu kandungnya sendiri. Hasrat itu diselubungi oleh cinta, sehingga memiliki
kesan suci dan bersih. Tapi sebenarnya Dayang Sumbi tidaklah konsisten menanggapi
gejolak hasratnya, hal ini dapat dilihat dengan perkawinannya dengan seekor anjing hutan
(walaupun konon merupakan jelmaan dewa), padahal tatanan sosial melarang hubungan
seksual terjadi antara hewan dengan manusia. Tapi hal itu bisa diakali dengan menyatakan
bahwa anjing itu merupakan peliharaan, dan mungkin orang tidak akan mengurusinya karena
itu merupakan urusan rumah masing-masing. Begitu pula dengan pengalihan hasrat seksuil,
Dayang Sumbi memberikan syarat pekerjaan yang berat kepada Sangkuriang dan berharap
dia gagal meluapkan hasratnya, dan hasrat seksuil itu berubah menjadi hasrat bekerja.
Melalui cerita rakyat ini yang tentunya banyak diketahui oleh seluruh masyarakat di
saja berubah ketika mengetahui dan sadar bahwa Sangkuriang adalah anak kandungnya yang dahulu menghilang
setelah diusirnya sewaktu kecil karena membunuh anjing yang merupakan jelmaan suaminya. Sangkuriang kini
berubah menjadi pemuda tampan dan gagah sehingga Dayang Sumbi sempat tertarik juga. Dayang Sumbi ingin
menolak pinangan Sangkuriang dengan cara yang halus, karena dia tidak mau juga diketahui secara langsung oleh
sangkuriang bahwa dia adalah ibunya (mungkin hal ini karena rasa bersalah yang muncul karena mengusir
Sangkuriang saat kecil). Dayang Sumbi membuat persyaratan yang tidak masuk akal yaitu menyuruh Sangkuriang
untuk membuat sebuah danau dan perahu pada waktu satu malam saja. Sangkuriang menyanggupi syarat itu, dan
mulai memulai pekerjaannya dengan kesaktian dan bantuan dari banyak makhluk halus. Dayang Sumbi menjadi
panik ketika belum sampai fajar datang pekerjaan itu hampir selesai, sehingga dia harus mencari cara agar
Sangkuriang gagal menyelesaikan pekerjaannya. Dengan bantuan masyrakat desa terdekat, Dayang Sumbi membuat
suasana seakan-akan sudah pagi yang ditandai dengan langit-langit yang kemerah merahan dan ayam yang sudah
mulai berkokok. Sangkuriang tahu bahwa itu ulah dayang sumbi yang mengakibatkan para makhluk halus
meninggalkan pekerjaan mereka. Marah, Sangkuriang menendang perahu buatannya hingga sekarang menjadi
sebuah gunung yang bernama Tangkuban Parahu. Sedangkan Dayang Sumbi melarikan diri jauh dan berubah
menjadi sebuah bunga, Sangkuriang kehilangan jejak dan akhirnya dia pun menghilang.
Indonesia memiliki banyak pesan-pesan mengenai tatanan sosial yang berlaku ketat dan
tatanan sosial yang dapat dimanipulasi dengan kondisi tertentu.
Selain kisah Tangkuban Parahu, di Indonesia khususnya pada masyarakat Bali dan
Jawa ada beberapa yang mengenal cerita mengenai Watugunung4, dimana memiliki
persoalan yang sama dengan sangkuriang. Keduanya sama-sama memiliki hubungan asmara
dengan ibu kandungnya. Namun yang membedakan jika sangkuriang belum sempat
mengawini ibunya, Watugunung sudah memperistri ibu kandungnya. Cerita kedua kisah
itupun hampir memiliki kesamaan, Watugunung kecil yang memiliki kesaktian tidak bisa
mati kecuali dengan Batara Wisnu sangat bandel dan nakal. Pada suatu hari karena sangat
lapar Watugunung kecil mencuri makanan dan kemudian ibunya tahu dan marah. Maka
dipukulah watugunung dengan entong hingga berdarah. Marah, akhirnya Watugunung
meninggalkan rumah. Saat dewasa karena kesaktiannya Watugunung unjuk gigi dengan
mengalahkan kerajaan-kerajaan, termasuk kerajaan ibunya. Lalu sang ibu diperistri oleh
Watugunung. Ibu Watugunung baru tahu bahwa suaminya ini adalah anak kandungnya
sendiri setelah mencari kutu di rambut Watugunung. Merasa bersalah karena mempersuami
anak kandungnya, maka perlahan ingin menjauhkan diri dari Watugunung. Watugunung
menolaknya, namun tak habis akal sang ibu memberi syarat agar dirinya bertahan
Watugunung harus juga mengawini istri Batara Wisnu. Batara Wisnu tentu saja menolak dan
marah karena istrinya ingin dimadu oleh Watugunung. Mengetahui kelemahan Watugunung
adalah dengannya maka dia ingin membunuhnya. Tapi dewa Siwa akhirnya memohon
kepada Wisnu agar tidak membunuhnya. Dari sinilah postulat mengenai pelarangan
4
http://www.ypdkuta.com/index.php/artikel/2-uncategorised/24-saraswati-dan-makna-mitos-runtuh-watugunung
perkawinan dengan
dengan wanita yang sudah bersuami, apalagi ibu kandung atau ibu
tirinya. Hingga kini momentum kisah Watugunung menjadi monumen fiksi dan diwujudkan
dalam bentuk peribadatan umat Hindu Bali. Ada hari Redite paing (diambil dari nama kecil
Watugunung), dimana umat Hindu melakukan mandi dilaut, sungai dan rumah dengan bunga
tujuh rupa sebagai proses penandaan pendewasaan dan penyucian diri.
Jadi, mitos Watugunung dapat dianggap melambangkan berakhirnya, atau teratasinya,
“kegelapan” manusia purba.Dengan Kedasaran yang Tercerahkan sebagaimana terwujud
dalam: (1) pelarangan atas inses (tabu); (2) kesadaran akan waktu dan penyusunan kelender;
(3) penetapan aturan sosial dan ritual-ritual agama; dan (4) penceraian, terungkap unsurunsur yang merupakan hakikat dari Jati Diri Manusia yang beradab versi Bali (dan Jawa).
Ajaran tentang kisah watugunung melukiskan bahwa terdapat hubungan yang dekat antara
dunia dengan alam akhirat. Dimana dalam menyeimbangkan keduanya manusia dilarang
untuk melampaui ketetapan dari Akhirat.
Namun jika diperhatikan merasa dosa mengawini anak sendiri yang disadari oleh
Dayang Sumbi dan Sinta (ibu Watugunung) sebenarnya telah hadir sebelum postulat tentang
pelarang itu dibuat. Karena jika memang incest bukan dianggap sebagai sebuah kesalahan
maka tidak perlu bagi para ibu itu ingin menjauhkan diri dari anak kandung yang ingin
mengawininya. Artinya Dalam folklore itu sudah terbangun ideologi tentang pelarangan
incest sebelum cerita itu selesai. Karena ada kesadaran bahwa incest bagi tokoh-tokoh itu
terlarang. Folklore sepertinya dapat menjadi medium penting dalam mereproduksi
pelarangan tentang incest yang dapat mudah diingat dan tertanan dalam diri individu.
F. Kerangka Teoritik
1.
Incest: Tabu Seksual.
Pandangan tentang incest tidaklah bisa melalui satu arah saja yaitu dengan
memahaminya hanya sebagai sebuah pelanggaran yang berakibat pada rusaknya suatu
institusi dalam sebuah struktur. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia incest diartikan
sebagai zina sekandung, yang bermakna bahwa tindakan ini merupakan hal yang kotor.
Hal ini setidaknya hanya akan mengarahkan setiap pembahasan mengenai incest sebagai
yang selalu dianggap menjijikkan dan menimbulkan amarah. Sehingga dibutuhkan
pendekatan teoritik yang lebih jernih dan adil dalam membincangkan persoalan ini.
Jacques Lacan seorang psikoanalis Perancis tidak menentukan posisinya pada
memberikan definisi incest merupakan tindakan yang menyimpang atau tidak. Melainkan
lebih detil mengungkap dorongan subjek dalam melakukan tindakan perversi semacam
itu.5 Lacan melihat ada keguncangan dalam diri subjek pelaku “perversi” tersebut, karena
terdapat persoalan yang tak mampu dijawab oleh subjek itu sendiri. Keguncangan itu
sebenarnya sudah dimulai sejak masa infantil manusia, yang oleh Lacan disebut sebagai
fase cermin (mirror stage). Fase ini merupakan proses identifikasi bagi subjek itu untuk
mencoba mengenali dirinya sendiri melalui hal-hal eksternal yang berada diluar tubuhnya
(diri), hingga mendapat apa yang disebut dengan imago (citra diri).6 Pada fase ini si
infantil sedang mencari kesejatian atas dirinya, dia mungkin telah menerima
“pengidentifikasian” atas dirinya dari hal-hal dar luar seperti orang tua atau lingkungan.
Subjek pada akhirnya menjadi terbahasakan dan dideterminasi oleh struktur sosial diluar
5
Lihat dalam Zizek, Slavoj. The Ticklish Subject Of Ideology… ,Hal; 247. Menurut Lacan mengikuti Freud, pervesi
selalu dikontrusi oleh sosial.
6
Lihat, Lacan.Ecrits, hal; 76
dirinya. Walaupun pada akhirnya subjek itu memperoleh identitas melalui citra diri itu,
tapi sesungguhnya dirinya tidak benar-benar bertemu dengan diri (aku) yang sejati itu.
Karena fungsi dari imago itu sendiri adalah menyusun hubungan antara organisme
dengan realitas (sosial) nya.
7
Selanjutnya subjek akan mengalami transference
(pengalihan) dan displacement (pemindahan) dari ke-aku-annya menjadi “Aku” sosial.
Sesungguhnya pula “aku” yang sejati itu adalah pada saat seorang manusia masih
menjadi bayi (masa neo-natal) yang mana belum terdapat bahasa yang membelenggunya,
karena pada masa itu yang diketahuinya adalah pemuasan akan kebutuhannya saja.
Goncangan terjadi ketika dirinya mulai menjadi bagian dari sosial dan mendapatkan akan
citra dirinya.
Tahapan cermin ini disebut Lacan berada dalam wilayah imajiner, dimana imago
tentang diri tercipta melalui proses identifikasi imajiner dimana citraan di cermin sebagai
ego, padahal citraan itu lebih stabil daripada Aku itu sendiri. Infant mencari contoh pada
dunia luarnya atau yang disebut oleh Lacan sebagai other (liyan), dan dia akan
mendambakan akan dapat menyatu dengan liyan tersebut, other yang paling utama bagi
infant sesungguhnya adalah Sang ibu dan imago yang terdapat pada tahapan cermin itu
yang berlangsung ketika anak berusia 6-8 bulan.8 Dalam tahapan cermin itu selanjutnya
akan membawa anak (individu) kepada suatu normalisasi terhadap kebutuhan seksuilnya,
bahwa apa yang dirasakannya sebelum tahapan cermin itu dihilangkan. Namun rasa
kehilangan itu yang cenderung membuat individu selalu mengalami kekurangan (lack)
atas pemuasan hasratnya. Sehingga individu akan terus melakukan pencarian selama
hidupnya.
7
8
Ibid, hal; 78
Ibid, hal; 77-80
Dalam hal ini Lacan mengikuti Freud mengenai adanya kompleks odipus (odiepus
complex) pada diri subjek. Hal ini dikarenakan terdapatnya goncangan pada diri subjek
yang sedang menuntut kembalinya “aku” yang utuh itu pada dirinya selalu tidak
terpenuhi. Sehingga yang terjadi adalah adanya pelarangan-pelarangan terhadap hasrat
primal yang ada pada masa neo-natal pada diri subjek. Begi Freud penderita neurosis
termasuk incest biasanya menampakkan suatu bentuk infantilisme psikis dimana dirinya
tidak bisa membebaskan dirinya kondisi psikososial anak-anak, atau ia malah kembali,
jadi fiksi libido yang berbasis incest ini masih atau kembali memainkan peran utama
dalam kehidupan psikis ketaksadarannya (unconcisscouness).
9
Freud percaya bahwa
objek seksual individu memiliki pemilihan objek seksual awal adalah cenderung menuju
incest yang mana selalu diarahkan pada hal-hal yang terlarang seperti pada ibu atau
saudara perempuan sekandungnya. Artinya kecenderungan tindakan incest ini sendiri
sebenarnya sudah mengendap pada diri individu dalam ketaksadarannya. Namun
persoalannya hal ini terhalang oleh sosial yang menganggap bahwa tindakan itu adalah
terlarang. Sehingga pada masa dewasanya manusia diintervensi oleh kultural dalam
pemilihan objek seksualnya dan hal ini terkait dengan oedipus complex itu sendiri.10
Pada odiepus complex dapat dipahami, jika sesungguhnya manusia masih
menyimpan perasaan arkais yang telah dilalui pada masa sebelum ada bahasa. Perasaan
rasa takut untuk kehilangan objek pemenuhan kesenangannya. Dalam penelitian ini incest
yang terjadi antara ayah dengan anak kandungnya hanya berbeda konteks pelakunya saja.
9
Lihat, Freud.S, terj.Kurniawan A.S, Totem dan Tabu, hal;29
Lihat, Ecrits, hal;79. Oedipus Complex adalah terdapat keinginan dari anak laki-laki yang cenderung memiliki
hasrat erotis terhadap ibunya sedangkan bersamaan dengan permusuhan dengan sang ayah sebagai saingan.
Ambivalensi terjadi pada diri individu itu, perasaan cinta terhadap ibu cenderung agresif sedangkan rasa benci pada
ayah dapat menjadi simpati. Perlu ditekankan bahwa kontestasi ini berada pada ketaksadaran. (lebih lengkap lihat
pengantar K.Bertens dalam buku Freud, Mempersoalkan Psikoanalisa, hal; xxix-xxx)
10
Namun, konteks yang dapat dikaitkan dengan pemikiran Lacan maupun Freud tadi adalah
“perversi” yang dilakukan pelaku ini berkaitan pula dengan aspek sosial disekitarnya.
Mereka dianggap pervert (menyimpang) karena pada saat itu membongkar hal-hal yang
telah lama dihalangi dan menjadi terlarang, memunculkan dalam tindakannya dalam
realitas sosial yang sebenarnya.
Foucault juga memiliki pandangan mengenai incest yang pada beberapa hal
memiliki kesamaan dengan Freud, dimana seksualitas lahir dengan ciri ”incest”.11 Bukan
tanpa sebab Foucault menuduh seperti itu. Keluarga sejak dulu telah menjadi tempat
wajib untuk kasih sayang dan perasaan cinta. Sehingga dengan sangat radikal bahwa
kencenderungan incest bisa saja terjadi kepada siapa saja dan dimana saja asalkan dalam
bentuk kekerabatan. Bagi Foucault, incest berada pada kondisi yang ambivalen dimana
dia didambakan tapi juga ditolak, menghantui tapi diinginkan, rahasia yang ditakuti dan
mau tidak mau harus ada.12 Karena dengan adanya incest itu keluarga dianggapnya akan
terus berjalan, kasih sayang dan perasaan cinta akan terus diproduksi. Namun kuasa
pengetahuan pada sistem modern telah membangun incest sebagai bentuk seksualitas
yang terlarang, yang mana pada setiap kebudayaan diletakkan dalam tanda peraturan dan
hukum.13
2. Subjek Berada Di Dunia Simbolik, The [big] Other, Name-Of-The-Father: Negara,
Agama, Dan Masyarakat.
Persoalan persetubuhan ayah dengan anak kandung ini tidak terlepas dari cara
pandang umum terhadap kasus ini. Secara umum fenomena ini dianggap sebagai suatu
11
Foucault, M. 2008. La Valonte de Savoir Historie de la Sexualite : Ingin Tahu Sejarah Seksualitas, hal; 140
12
Ibid
Ibid,hal: 141
13
kesalahan dan aib bagi lingkungan sekitar kejadian. Lalu, tentunya banyak dari kita
pertama kali akan menyatakan bahwa ini adalah kebejatan dari “pelaku” hubungan
seksual, mereka adalah para “pervert”, tidak kenal norma agama, hukum, dan sosial,
maka matilah saja mereka. Hal itu mungkin yang terbersit dalam common sense kita
semua yang memegang struktur norma yang tetap dan kaku ini. Namun, pertanyaan
sederhana yang sejak awal dibahas dalam tulisan ini kembali muncul, kenapa hal ini
muncul ketika struktur norma itu kaku, sebagian besar orang akan patuh untuk tidak
melakukannya.
Disinilah peran besar analisis psikologis dan sosiologis untuk memahami
persoalan ini, membantu untuk menjembatani agar keduanya menjadi sinergis, dengan
melibatkan discourse dalam persoalan persetubuhan ayah dengan anak ini. Persetubuhan
ayah dan anak adalah konteks yang diperebutkan oleh struktur besar (Negara, Agama,
Masyarakat) dengan diri sebagai subyek yang ingin bebas. Jika begini, maka marilah kita
menggeser cara kita memandang fenomena persetubuhan ayah dengan anak kandung ini
dengan tidak terburu-buru menimpakan kesalahan secara sepihak kepada para pelaku,
dalam penelitian ini adalah ayah “pelaku”.
Maka perlu untuk dikembangkan pembahasan ini menuju suatu persoalan yang
lebih besar ketimbang membahas diri sebagai subjek “independen”, yaitu persoalan
sosialnya. Sosial ini terkait dengan ruang-ruang yang didalamnya sebenarnya terdapat
subjek yang juga ikut terlibat. Lebih khususnya adalah negara dengan hukumnya, agama
dengan moralnya, dan masyarakat dengan adatnya. Ini tidak bisa dikesampingkan dalam
psikoanalisis yang dikembangkan Lacan, ketiganya merupakan pemasok pada The Other,
sesuatu yang sebenarnya berada diluar ketidaksadaran subjek,
…who, giving soul to the ego's wagers and body to the mirages of perverse
desire,brings about coalescences of the signifier with the signified onto which all
resistance grabs hold and in which all suggestion finds its pivotal point,without
anything being sketched out thereby way of some cunning of reason, if not that
they are permeable to it…this Other (to be provided with a capital O) ,faith in
whom is invoked by anyone when he addresses another (with a lowercase o),even
if only to lie to him…The unconscious is the Other's discourse in which the
subject receives his own forgotten message in the inverted form suitable for
promises.14
Walaupun berada diluar (tubuh) subjek namun, apa yang dimaksud the Other oleh
Lacan ini pada akhirnya sebenarnya ikut memberi warna pada ketidaksadaran untuk
dapat mengetahui hasrat (desire)-nya. Berbeda dengan apa yang dikatakan oleh banyak
psikolog bahwa sepertinya hubungan antara id (unconciousness), ego (Conciousness),
dan super ego (other/structures) itu terpisah, dan untuk melakukan treatment kepada
subjek ego itu maka yang dimunculkan adalah legitimasi kebenaran super ego yang
berada diluar diri subjek. Hal ini sebenarnya memenjarakan subjek itu kedalam ruang
hampa pencarian jati diri yang tak kunjung selesai dia temukan.
Subjek menjadi
limbung, mempertanyakan keabsahan super ego yang dibawa oleh subjektivitas analyst
tentang kemana seharusnya hasrat mereka dibawa. Para psikolog sementara selalu
membuat pertentangan antara ketidaksadaran dengan kesadaran seperti instingtual
menjadi intelektual, otomatis menjadi terkontrol, intuitif menjadi diskursif, bernafsu
menjadi terasionalisasi, perasaan dasar menjadi terintegrasi. Dengan menempatkan objek
analisis sebagai “yang rendah” dan para ahli itu adalah “yang tinggi”, memberikan
intervensi tentang kebenaran yang hakiki untuk hidup menjadi manusia sosial. Bagi
Lacan ini cenderung sia-sia jika ternyata ketidaksadaran dan kesadaran adalah sintesis. 15
Keduanya berada pada lokus yang sama yaitu The Other discourse, yang membedakan
14
15
Lihat, Lacan, J.2006 (1966). Ecrits. Hal: 366
Ibid, hal : 369
pada akhirnya adalah bagaimana subjek itu menampilkan dalam pergaulannya. Lacan
mengikuti Hegel dalam cara pandang ini, membicarakan tentang hasrat (desire), hasrat
merupakan bukan sesuatu yang diinginkan oleh tubuh tersebut, karena manusia itu
sedang berhasrat memiliki hasrat orang lain.
16
Artinya bahwa, walaupun ketidaksadaran
itu berada jauh didalam diri subjek namun berkaitan erat dengan other diluar dirinya.
Sama dengan kesadaran yang bersentuhan langsung dengan other yang mampu
menampilkan dirinya sebagai manusia sosial.
Inilah awal yang menjembatani bahwa persoalan diri (termasuk didalamnya
ketidaksadaran) bukanlah konsumsi analisis psikologis semata, melainkan secara
sosiologis menjadi penting untuk dibahas. Melalui pembahasan mengenai
The
[Big]Other yang muncul pada diri subjek. Kita mengetahui bahwa manusia bukanlah
merupakan subjek yang tidak teratur dalam hubungannya dengan masyarakat, mereka
secara tidak sadar mengikuti aturan yang telah disepakati olehnya dan generasi sebelum
mereka. Lingkungan pergaulan (milieu) mereka mengajarkan tentang hal itu dengan
beragam cara, bahkan mereka tidak sadar telah melakukannya sebagai suatu cara untuk
melegitimasi aturan, seolah berjalan sebagaimana adanya. Mari kita melihat suatu contoh
yang agak satir, pernahkah bertanya pada diri sendiri mengapa Dian Sastro kita anggap
cantik? Seolah para laki-laki ingin menikahinya, atau, mengapa Al Ghazali anak Ahmad
Dhani adalah ganteng? Apakah kita punya ukuran sendiri tentang itu, kalaupun benar kita
memiliki ukuran sendiri mengenai keduanya, baik
penolakan maupun penerimaan
terhadap asumsi tersebut perlu dipertanyakan ulang independensinya, darimana kita
16
Kojève, Alexandre (1947 [1933–39]) Introduction to the Reading of Hegel,trans. James H.Nichols
Jr., New York and London: Basic Books, 1969.
mendapatkan ukurannya dan mengapa?.
Disinilah The [Big] Other bekerja, merasuk
dalam ketidaksadaran subyek dan menghadirkan gambaran tertentu. Contoh lain, ketika
kita berbicara dengan teman-teman di sebuah rumah makan yang ramai, menyerempet
pembicaraan mengenai hal yang seksuil lalu tertawa terbahak-bahak, kemudian pada titik
tertentu kita mengatakan
“ups” karena takut didengar orang diluar kelompok kita,
sehingga membuat kita malu nantinya. “Ups” merupakan komunikasi spontan yang
menginformasikan kepada teman-teman kita bahwa pembicaraan ini menjadi salah jika
diperdengarkan oleh orang lain diluar kelompok. Kehadiran The [Big] Other tentang
pelarangan membicarakan hal seksuil di ruang public terasa disini secara otomatis ego
kita terkontrol (bukan yang dari otomatis menjadi terkontrol). The [Big] Other hadir
dengan cara yang luar biasa melalui ketidaksadaran yang diterima oleh ego sehingga
dapat memutuskan apa yang harus dimunculkan subjek dalam komunikasinya.
The [Big] Other17 menyediakan gambaran kepada kita mengenai apa yang
menjadi persepsi yang sudah lazim. The [Big] Other (The Other oleh Lacan) sendiri bagi
Lacan merupakan perintah simbolik, keadaan tak tertulis di masyarakat, sifat penyokong
dari tiap wujud pembicaraan, yang mengatur dan mengkontrol tiap tindakan. Lacan
melalui Zizek mengistilahkan bahwa The [big] Other merupakan,
We human individuals are mere epiphenomena, shadows with no real power of
our own, that our self-perceptionas autonomous free agents is a kind of user's
illusion blinding us to the fact that we are tools in the hands of the big Other that
hides behind the screen and pulls the strings? 18
Merangkak dari sini kita mulai dapat mengidentifikasi subjek di mata Lacan yang
sebenarnya teralienasikan, terjauhkan dari dirinya sendiri. Subjek kehilangan daya untuk
17
18
istilah ini dipakai oleh Zizek, sedangkan Lacan menggunakan The Other dengan huruf capital “O” besar.
Lihat Zizek, Slavoj.2007 (2006). How To Read Lacan. W.W Norton & Compani.inc. New York. Hal: 8
menemukan dirinya sendiri, menjauhkan dari penemuan atas jati dirinya.
Individu
(subjek) dapat dibilang pada akhirnya mengikuti common sense dari lingkungan
organicnya, menempatkan dirinya untuk hidup menjadi mereka. Common sense menjadi
baku layaknya hukum yang mengatur tindakan mereka dan menjadi tabu untuk
dilangkahi. Sebagai contoh ketika kita menonton sebuah sinetron drama tentang
perselingkuhan, dimana tokoh laki-laki berselingkuh sementara istrinya adalah seorang
yang baik dan alim. Dia berselingkuh dengan seorang perempuan yang materialistis (haus
akan uang) menggerogoti perekonomian keluarga laki-laki terus menerus. Suatu hari sang
istri tahu dan menemukan bahwa suaminya telah tidur bersama di suatu hotel dengan
perempuan lain itu. Apa yang muncul dalam pikiran kita, sama kebanyakan pastinya,
mungkin kata-kata yang muncul dalam pikiran kita adalah “tampar mereka”, “laporkan
ke polisi”, atau “minta cerai pada suamimu”. 19 Inilah tempat dimana The [big] Other
bekerja, menjalankan pikiran kita sama dengan yang lainnya. Lalu ketika si istri
memaafkan, dan mengakui perempuan lain itu sebagai madunya, maka kita akan
menyebut istri itu adalah perempuan yang aneh (pervert). Coba kalau kita detail dalam
melihat ini, mungkin saja sang istri mengharapkan kepuasan seksual melalui threesome
sex. The [big] Other tidak menawarkan kosakata mengenai threesome dalam hubungan
seksual lazim mereka, sehingga yang dimunculkan adalah penyimpangan sebagai bahasa
yang mesti diterima oleh istri itu.
Subjek dihilangkan dari keberadaannya, digantikan sebagai The [big] Other.
Manusia
sebenarnya
“kebenaran”,
19
sehingga
mengalami
manusia
kebingungan.
menjadi
Lihat Contoh yang ditunjukkan Zizek dalam ibid, hal: 8
Struktur
sosial
telah menetapkan
tidak tahu dengan hasratnya
sendiri.
Sesungguhnya kita tidak memiliki kosakata bahasa yang dapat mengungkapkan hasrat
kita, maka yang terjadi adalah pencarian. Kita (manusia) adalah subjek yang dibahasakan
oleh struktur kita, maka hadirlah The [big] Other itu. Itu tidaklah muncul sebelum
kehadiran subjek, semenjak subjek tidak dapat datang ke tempat dimana itu bisa
dimunculkan, melainkan muncul di tempat dimana subjek berada. 20 The [big] Other
menyediakan bahasa kepada subjek agar dapat menamai dirinya sendiri, namun dalam
pencariannya tidak pernah menemukan hasrat yang sesunggungnya. Maka dari itu dalam
pencarian itu selalu mengalami kegelisahan. Walaupun struktur telah memberikan
pengalihan
kepada subjek sekalipun, kegelisahan itu tetap muncul. Subjek memiliki
Jouissance21 dan menginginkan agar hasratnya terpenuhi, namun tidak tahu apa hasrat
itu. Lacan menyebut Jouissance sebagai ruang dimana subjek tidak memiliki keberadaan,
bukan tanpa alasan perlindungan itu sendiri membuat keberadaan itu merana. 22 Dapat
diartikan bahwa jouissance merupakan ruang bagi subjek untuk mengamankan hasrat
terselubungnya karena tidak diakomodasi oleh realitas sosialnya. Prinsip kesenangan
sebagai bahasa (Law) menolak kehadiran jouissance itu sendiri. Zizek menegaskan
bahwa jouissance merupakan tempat dimana subjek tidak mungkin dapat berada disana,
das sein, dan juga subjek tidak mendapatkan tempat, tidak bisa bergabung, dan harus
menghargai itu.23
“Desire is desire for desire, the Other's desire, as I have said,in other words,
subjected to the Law.”24
20
Lihat Ecrits, hal: 432
Jouissance merupakan istilah yang digunakan oleh Lacan untuk merujuk pada “penikmatan/penyenangan” subjek,
dan cenderung bersifat seksual (Lacan menyatakan sebagai orgasme). Lihat penerjemahannya oleh Evan, Dylan.
1996. An introductory dictionary of Lacanian psychoanalysis. Routledge. New York,hal:93-94
22
Lihat Zizek, Slavoj.2008.The Plague Of Fantasy. Verso. New york, hal: 60
23
Ibid, hal: 61
24
Lihat Ecrits, hal: 723
21
Dalam hal ini Lacan mengikuti Freud dengan konsep Oedipal-nya, Lacan melihat
dengan menamakan ini sebagai kondisi “The-Name-Of-Father”25. Dimana Father
sebagai pemilik kuasa (phallus) memiliki hasrat (desire) kepada Mother sama seperti
anak yang membutuhkan layanan “seksuil” mother. Ayah menciptakan hukum untuk
melarang
anak
berhasrat
seksual
kepada
ibu
yang
menyebabkan
terjadinya
Incest.“Father” disini adalah ayah simbolik, bukan dalam artian ayah secara hubungan
biologis. Untuk lebih membumi Father dapat diterjemahkan sesuai persoalan sehari-hari,
contoh; Negara, agama, maupun adat masyarakat.
Ayah simbolik menjadi aparatus bagi prinsip kesenangan (pleasure principle)
untuk menghalangi hadirnya jouissance subjek dengan membuat bahasa yang dikenal
sebagai kebenaran dalam realitas sosial. Sehingga jika jouissance subjek dimunculkan
lalu tidak memiliki bahasa yang ada pada Ayah Simbolik, maka yang terjadi adalah
munculnya penyimpangan. Lalu, selanjutnya yang kita dapatkan dari konsep-konsep
yang dibicarakan oleh Lacan pada penelitian kita kali ini adalah pelampauan
independensi subjek oleh The [big] Other yang telah menjadi objek dari Name-of-thefather. Perilaku persetubuhan antara ayah dengan anak kandung tidak memiliki bahasa di
masyarakat, tidak berada dalam institusi apapun, dan ditolak oleh struktur realitas sosial.
Negara dengan hukumnya, melalui berbagai undang-undangnya menolak adanya
peristiwa ini. Untuk mengkastrasi jouissance dari subjek maka ditawarkannya
pelanggaran hukum yang konsekuensinya adalah pemenjaraan tubuh subjek. Subjek
25
Istilah ini dipergunakan Lacan untuk menunjukkan bentuk normalisasi, yang ditemukan dalam tugas “Father”
yang berhak memberi pelarangan terhadap pelanggaran. Father disini bukanlah ayah dalam artian hubungan
biologis, tapi lebih diartikan sebagai Ayah simbolik. Lacan menggunakan istilah ini untuk menanggapi Oedipus
Complex, dimana terdapat peranan Ayah (Father) untuk melakukan pelarang terhadap incest taboo dan
mengkategorikannya sebagai pelanggaran. Lihat penerjemahannya pada Dylan, Evan. 1996. An introductory
dictionary of Lacanian psychoanalysis. Routledge. New York, hal: 112
sebelum dibahasakn oleh hukum negara, sebetulnya tidak bisa membahasakan dirinya
sendiri
namun
menggunakan
organ
genitalnya
untuk
melakukan
tindakan
itu.
Persoalannya dimana The [big] Other berada sebelum hukum Negara membahasakan
perilaku mereka?. Asumsi yang dapat ditawarkan adalah bahwa The Other yang
dipengaruhi oleh hukum Negara hadir bersamaan dengan discourse The Other yang lain
(commonsense tentang pemenuhan birahi dengan melakukan hubungan seksual). Artinya
subjek memiliki discourse sendiri dalam menanggapi perilaku ini.
Agama dengan kebenaran Ilahiahnya, menentukan perilaku sebagai orang baik
dan buruk, menawarkan surga bagi yang baik dan neraka bagi yang buruk. Hubungan
seksual sedarah adalah haram dan laknat Tuhan didepan mata. Lalu kasus persetubuhan
ayah dengan anak kandung masih ada, hal ini bukan sekedar langsung diartikan karena
subjek tidak takut kepada Tuhan. Padahal, internalisasi agama dari sebelum lahir-pun
telah menjadi bagian dari diri mereka. Persoalannya sederhana, agama tidak memiliki
atau membuat kosakata bahasa untuk peristiwa ini, maka hasilnya peristiwa itu adalah
menyimpang dari moral ilahiah.
Masyarakat dengan Adat atau nilai sosialnya, sebenarnya hal ini tergantung pada
system masyarakatnya. Jika merupakan masyarakat terbuka biasanya ini menjadi gejala
patologi sosial, sedangkan jika dalam masyarakat tertutup biasanya menjadi lazim
dilakukan. Namun, masyarakat hari ini adalah masyarakat yang terbuka sehingga
kemungkinan peristiwa ini ditolak sangatlah besar. Sesungguhnya masyarakat merupakan
objek dari phallic Ayah Simbolik. The Other hadir didalam keseluruhan subjek
masyarakat melalui hukum dan agama (yang paling jelas terlihat). Sehingga, masyarakat
juga akan menjadi bingung jika peristiwa “patologik” muncul diantara mereka, sehingga
yang mereka gunakan untuk menanggapinya adalah dengan discourse agama dan hukum.
Menjaga agar fantasi dan hasrat seksual tidak menjadi liar dan mengendalikan
individu berbuat semaunya, bukanlah suatu perkara yang mudah dalam sebuah
masyarakat. Artinya, dibutuhkan cara yang begitu sistematis dan terstruktur hingga
individu dapat menyadarai dirinya sebagai bagian dari manusia social yang hidup dalam
suatu bentuk masyarakat yang telah diatur. Fantasi dan hasrat seksual harus ditertibkan
sebagai bagian dari suatu bentuk pendisiplinan tubuh.
Pada masyarakat Indonesia telah diatur berbagai nilai dan norma yang telah
menjadi kesepakatan bersama dalam memandang kasus Incest ini, hal ini dibuktikan
dengan adanya hukum, tatanan agama, dan kultur yang serentak melakukan penolakan
terhadap fenomena ini. Discourse yang berlaku pada masyarakat Indonesia khususnya di
Boyolali adalah melakukan represi atas perilaku ini. Namun jika melihat pada kasus
incest di Boyolali ini hadir sebuah pemaknaan atas kejadian ini, disini terdapat penamaan
atas korban dan pelaku incest. Korban Incest adalah anak perempuan yang diajak
berhubungan intim oleh sang ayah, sedangkan ayah menjadi pelaku dan mendapatkan
hukuman penjara. Discourse yang muncul sepintas adalah untuk melakukan represi atas
incest, maka yang harus dilakukan adalah menjauhkan (memenjarakan) laki-laki. Lebih
mudahnya dapat dikatakan bahwa laki-laki adalah sumber dari perilaku incest dan dia
yang dipersalahkan. Terkesan bahwa discourse kriminalitas dan pelanggaran atas nilai
dan moral saja yang ditangkap melainkan melewati narasi discourse yang juga
disampaikan oleh subjek pelaku (ayah).
3. Represi Terhadap Tubuh Melalui Pendisiplinan.
Tentunya sangat naïf jika kajian tentang incest ini hanya berhenti sampai
penjelasan itu saja. Foucault pernah melakukan suatu telaah pada sebuah kasus
pembunuhan yang terjadi di Perancis. Pembunuhan yang dilakukan oleh seorang pemuda
berusia dua puluh satu tahun kepada ibunya yang sedang hamil, adik perempuannya, dan
dua orang adik laki-lakinya. Pemuda itu bernama
Pierre Riviere, yang menginginkan
sebuah pembunuhan yang penuh kemenangan karena dia lepas dari tirani ibunya. Ketika
publik saat itu memberikan penghakiman pada Riviere atas perbuatannya yang dianggap
sebagai kekejian, Foucault tidak menerima itu dengan mentah-mentah. Foucault
menelusuri arsip-arsip yang ada pada saat itu dan memahami narasi yang dibuat Riviere.
Foucault melihat bahwa publik saat itu terjebak pada satu discouse yang berkembang
pada masa itu, dimana discourse itu bicara tentang kekejian akibat pembunuhan. Foucault
coba membandingkan tentang pembunuhan pada saat perang, kuasa raja untuk
melakukan penguasaan atas daerah lain yang tentunya disertai juga dengan pembunuhan.
Menurutnya ada kuasa dalam pembunuhan, dalam pembunuhan itu akan muncul siapa
yang akan menjadi pahlawan. Jadi pendeknya, bahwa kasus pembunuhan itu tergantung
kuasa dan discourse yang melingkupinya. Discourse yang dibawa oleh pembunuh dan
discourse mainstream yang ada di masyarakat.
Lalu bagaimana dengan kasus Incest?. Foucault mengantarkan pada pemahaman
bahwa ada discourse biner pada suatu kasus, termasuk incest. Ada discourse mainstream
yang ada pada masyarakat yang bersilangan dengan discourse yang dibawa individu.
Discourse yang dibawa individu merupakan sesuatu yang ideologis yang mungkin sulit
diterima oleh masyarakat luas. Ideologi itu mengendap dalam diri subyek individu yang
tersimpan rapat dalam fantasi alam bawah sadar. Dalam kasus incest ini, apa yang
tersimpan dalam alam bawah sadar keluar dan menjadi bentuk material yaitu tindakan
persetubuhan. Dalam masyarakat, tindakan inilah yang menjadi persoalannya bukan pada
narasi tentang incest yang terjadi.
Bagi Foucault discourse seksualitas sendiri berada dalam ketidaknetralan.
Penolakan atas Incest bukan karena ingin melawan incest itu sendiri melainkan
perlawanan terhadap implikasi penyebaran seksualitas semacam ini yang dapat
digunakan untuk mengesampingkan hukum dan susunan yuridis dari perserikatan
(Foucault, 1978:109). Artinya bahwa konsentrasi penindakan didasarkan hanya pada
perilaku itu tidak sesuai dengan hukum yang berlaku tapi mengesampingkan narasi apa
yang digunakan oleh subjek pelaku. Sehingga terkesan bahwa masyarakat hanya akan
menindak jika terjadi sebuah tindakan yang dapat mereka lihat, tapi untuk membicarakan
saja sebelumnya mereka anggap tabu dan penuh sensor (Foucault, 1978: 17).
Incest merupakan paradoks atas moralitas yang menjadi discourse utama di
masyarakat. Discourse yang memiliki jangkauan yang berlaku general bagi seluruh
anggota masyarakat. Namun munculnya Incest ditengah discourse moralitas ini tentunya
menampar mereka. Pendisiplinan yang sudah dilakukan secara tersturktur dan sistematis
merasa “kecolongan” dengan adanya kasus ini. Pendisiplinan tubuh sebagai agenda
penjinakan atas tubuh (Foucault, 1977: 135-137) agar mudah diatur oleh discourse
moralitas ternyata tidak berlaku bagi pelaku incest ini. Bahkan strategi panoptik yang
berupa pengawasan dan pengontrolan (Foucault,1977 : 202) juga tidak mampu
menjangkau hal ini. Panoptik hadir untuk meningkatkan kualitas moral masyarakat
(Foucault,1977 : 208) sepertinya tidak berjalan sesuai tujuan secara keseluruhan.
Perangkat panoptik sudah disiapkan oleh pemilik kuasa, aparatus yang berperan sebagai
pengawas (Foucault,1977: 204) dalam konteks penelitian ini dapat kita asumsikan
misalnya polisi, perangkat desa atau pemuka agama, namun mereka tidak dapat melihat
secara mendalam kejadian incest hingga persetubuhan itu terlihat hasilnya seperti
misalnya kehamilan dan sebagainya.
Kehadiran Panoptik sebagai mekanisme pendisiplinan tubuh hanya menjangkau
lapisan atas saja, namun tidak mampu untuk menjangkau hingga lapisan terdalam
(pikiran). Bahkan proses pendisiplinan ini tidak mampu menjangkau kedalam rumah
(keluarga), sehingga disini bisa jadi terdapat discourse tertentu yang digunakan untuk
melegitimasi ideologi/fantasi dalam melakukan tindakan incest tersebut.
4. Tindakan Incest Sebagai Otentitas Subjek
a.
Munculnya Fantasi dan Hasrat Seksual
Dalam penelitian ini hadirnya fantasi dan hasrat seksual menjadi tidak dapat
dipisahkan. Keduanya bisa jadi tidak muncul secara bersamaan namun menjadi saling
berkaitan. Fantasi terletak didalam ruang yang tersembunyi di dalam tataran tidak
sadar dari individu. Fantasi merupakan mode aktifitas yang tetap bebas dari realitas
dan hanya tetap berada di bawah tekanan pengaruh kesenangan, fantasi juga
menggabungkan lapisan tak sadar yang paling dalam dengan produk kesadaran hingga
citra-citra kebebasan yang ditabukan.26 Dalam ruang itu sebetulnya tidak ada yang
mampu menyentuhnya, namun yang anehnya ruang itu sering terbelenggu oleh sesuatu
diluar diri. Dapat dikatakan kesadaran dirilah yang berhasil menegoisasikan sesuatu
26
Lihat Marcuse, Herbert (2007). Cinta Dan Peradaban, hal: 180. Marcuse mengikuti pemikiran Freud tentang
imajinasi, baca juga: Freud, Sigmund.Interpretation Of Dream (1955,2010). Fantasi sebagai bentuk material yang
dibawa kedalam alam ketidak sadaran.
diluar diri hingga mampu membuatnya tak berani muncul ke permukaan sewaktuwaktu. Fantasi meberikan tempat bagi hal-hal yang dianggap tabu dalam masyarakat,
di ruang itu gambar-gambar “cabul” dapat diproduksi terus menerus.
Dalam kaitannya dengan permasalahan persetubuhan dengan anak kandung,
ada kemungkinan bahwa si ayah menyimpan gambaran tertentu yang tak tidak dapat
dia ungkapkan dengan bahasa (kata) kepada orang lain, yang bisa jadi membuat dia
malu atau apapun, sehingga tetap diendapkan namun selalu muncul dalam ketidak
sadaran. Lacan menyebutkan fantasi sebagai sesuatu yang mode pertahanan yang
relatif stabil dan permanen untuk membela diri dari pengebirian dan menutupi
kekurangan dari The Other.27 Mode defensif dilakukan oleh individu untuk
menyelamatkan fantasi mereka yang sebenarnya tak ingin diganggu oleh dunia luar
dan dunia luar tak mampu memuaskan kesenangan-kesenangan yang diinginkan.
Fantasi tidak sesederhana ketika kita menginginkan sesuatu dan tidak mendapatkannya
maka kita akan berfantasi. Hal ini sekedar menyiratkan suatu diri yang pasrah atas
kegagalan mendapatkan sesuatu.
Maka dari itu perlu dikaitkan antara fantasi dengan hasrat. Hasrat sendiri sering
membingungkan ketika dicari padanan kata secara teoritis. Lacan memberikan batasan
tentang hasrat seksual sebagai desir yang padanan katanya lebih dekat dengan bahasa
Inggris “desire” bukan keinginan atau harapan seperti yang Freud katakan. Bagi
Lacan dengan tidak mengesampingkan kesadaran, memberikan pengertian hasrat
sebagai keinginan yang berada dalam alam tidak sadar, hasrat tak sadar sepenuhnya
seksual.28 Fantasi dan hasrat seksual dapat menjadi kolaborasi yang mengagumkan.
27
28
Lihat Evan, Dylan. An introductory dictionary of Lacanian psychoanalysis, hal: 61.
Lihat Lacan, Jacques (2007). Ecrit, hal:131
Dalam pengertian Zizek melihat praxis antara fantasi dan hasrat sebagai “through
fantasy, we learn „how to desire‟”29. Jadi untuk memperjelas bagaimana dan fantasi
bekerja untuk dapat memproduksi hasrat, dalam penelitian ini cenderung akan
menggunakan pemikiran Lacan juga Zizek yang mengungkapkan bahwa fantasilah
yang mengkoordinasikan hasrat, namun disaat yang sama juga melawan “apa yang
mereka mau”.30
b.
Objek Hasrat Dari Subjek Pelaku Incest
Untuk memperjelas konsep diatas, perlu sekiranya dalam penelitian ini
menentukan subjek dan objeknya. Penelitian ini akan cenderung memberikan
pemahaman tentang subjek yang memiliki fantasi dan hasrat serta untuk apa
keduanya. Dalam hal ini merujuk pada pemikiran Lacan tentang Subjek yang tak lebih
dari “keberadaan manusia”.
31
Lacan membedakan tiga jenis subjek32. Pertama, subjek
impersonal, yang independen dari yang lain, subjek gramatikal murni, subjek yang
abstrak. Kedua, ada subjek timbal balik, yang benar-benar sama dengan dan
disubstitusikan untuk yang lain, dan yang mengakui dirinya dalam kesetaraan dengan
yang lain. Ketiga, ada subjek pribadi, yang adalah keunikan dibentuk oleh tindakan
afirmasi diri. Dari ketiga definisi yang ditawarkan oleh Lacan, dalam penelitian ini
nantinya kita akan dapat memberikan makna yang berbeda-beda bahkan dari satu
objek saja. Secara implisit, dapat disederhanakan sebagai subjek sebagai diri dan
subjek secara sosial. Dalam pengertian tersebut menyiratkan bahwa tidak hanya subjek
“sadar” saja yang akan menjadi perhatian melainkan juga subjek “tak sadar” juga
29
Lihat Zizek (1989,2008). The Sublime Of Ideology, hal:132. Disini Zizek mengikuti pemikiran Lacan tentang
fantasi dan hasrat seksual
30
Ibid. “apa yang mereka mau” dalam pengertian Zizek disebut “Che Vuoi”
31
Lihat Evan, Dylan. An introductory dictionary of Lacanian psychoanalysis, hal:197
32
Ibid
menjadi sangat penting. Karena didalam subjek “tak sadar” itulah fantasi dan hasrat
seksual akan terkuak.
Dalam fantasi dan hasrat seksual tentunya akan hadir obyek tertentu tentang
“yang lain”. Seperti yang dikatakan pada pembahasan sebelumnya tentang fantasi
sebagai hal yang tidak kosong dan memiliki gambaran serta scene tertentu. Gambaran
itulah adalah sebuah objek, objek yang menyenangkan. Fantasi dan hasrat seksual
arahnya bukan menuju pada rasa sakit melainkan rasa senang atau nikmat. Lacan
menyebut ini sebagai Jouissance (penikmatan). Lacan menjelaskan jouissance terkait
hasrat seksual sebagai penikmatan atas objek seksual yang sering juga dihalangi. 33
Hanya subjek individu yang dapat memahami penikmatan yang dia rasakan, karena
hanya mereka yang merasakannya. Penikmatan ini lebih berada di tempat
tersembunyi, bersama dengan fantasi untuk melahirkan hasrat seksual.
Objek fantasi seksual merupakan hal penting dalam fantasi itu sendiri. Objek
seksual bisa disebut sebagai pembangkit hasrat individu. Dalam konteks persetubuhan
ayah dengan anak kandung, bisa jadi si ayah mendapatkan objek seksualnya melalui si
anak. Dirinya membuat gambaran-gambaran tertentu yang dapat membangkitkan
gairah tersebut, namun belum tentu juga yang muncul adalah gambar anak itu, karena
bisa jadi yang muncul adalah gambar objek lain. sedangkan si anak hanya menjadi
tubuh yang digunakan. Lacan menyebutnya sebagai object petit a, maksudnya adalah
objek yang menyebabkan hasrat berkaitan dengan arah untuk menuju kenikmatan si
subjek34. Oleh Lacan objek bukanlah sesederhana untuk diterjemahkan sebagai bentuk
33
Lihat THE SEMINAR OF JACQUES LACAN Edited by Jacques-Alain Miller BOOK VII The Ethics of
Psychoanalysis 1959-1960, hal: 179-190. Dalam penjelasan ini, Jouissance bahnan disebut sebagai bentuk dari
kejahatan.
34
Lihat Zizek (1989,2008 : 184), dan Lacan (2007: 653-656)
material berupa manusia, karena bisa jadi objek adalah bagiannya atau bahkan
sesuatau yang material. Maka, dengan pengertian objek ini akan mengantarkan kita
bagaimana individu mendapatkan ransangan dalam fantasinya dan mengirim kode
menjadi hasrat seksual.
c.
Tindakan Subversif Subjek Pelaku Incest
Lokus fantasi dan hasrat seksual diatas sebenarnya berada didalam pikiran
manusia. Keduanya tersimpan dalam ruang ketidaksadaran subjek, berkontestasi
dengan ego yang berada di lapisan atasnya. Ketaksadaran bagi Lacan bukanlah
sebenar-benarnya kosong, namun berisi konten-konten imajiner mengenai diri.
Menurut Lacan ketidaksadaran memiliki struktur seperti bahasa,
35
yang mana
penanda tidak selalu merujuk pada satu petanda saja. Seperti yang kita pahami pada
Lacan bahwa dia menolak bahwa subjek absolut itu dibentuk dalam kesadaran,
melainkan ketidaksadaranlah yang membentuk subjek itu sendiri.
Maka yang dapat kita ambil disini adalah tindakan incest ini menjadi sebuah
konsep pelarangan karena telah ditandai sebelumnya oleh The [big] Other melalui
hukum The-Name of-Father. Namun karena subjek merasa bahwa apa yang menjadi
pemenuhan kesenangan seksualnya tidak dicapai melalui The [big] Other, dalam
konteks ini misalnya melalui pernikahan. Maka dia mencari petanda lain yang mampu
untuk memuaskan kesenangannya itu. Bagi Lacan mengikuti Freud hal-hal yang tidak
diterima oleh realitas sosial, akan mucul dalam alam ketidaksadaran seperti melalui
mimpi, keseleo lidah, maupun lelucon sebagai bentuk “strategi menghindar” dari
jangkauan The [big] Other. Hal ini akan merujuk pada dorongan (Trieb) untuk
35
Lihat Lacan, The Four Fundamental Concept, hal;18-26
mencari, mengembalikan,dan memperbaiki objek pemuasannya yang telah hilang
dimasa lalu.
Melalui hal itu kita telah mendapatkan jembatan antara yang selama ini fiksi
karena berada dalam alam ketidaksadaran yang telah menjadi suatu tindakan seperti
incest ini. Disini Zizek sebagai pengikut setia Lacan, memberikan provokasi terhadap
subjek mengenai tindakan bebas radikal. Membedakan dirinya dengan Lacan, yang
menyatakan bahwa pelepasan diri subjek dari yang simbolik bukan hanya pada tataran
dalam alamp pikiran tidak sadar saja, melainkan dapat muncul melalui suatu tindakan
yang cenderung radikal. Bagi Zizek yang mendorong tindakan radikal subjek adalah
kesadaran terhadap kehampaan dan kekosongan yang besar dari setiap pendasaran
ideologis, ia telah berhasil menaklukan ketidak mungkinan dari suatu kenyatan dimana
tidak ada lagi kata-kata yang berbicara.36 Zizek melihat bahwa ketika tidak ada lagi
yang mempengaruhi secara eksternal kepada subjek, maka subjek itu telah
menemukan “diri”-nya. Kita lihat pada pelaku tindakan incest ketika struktur diluar
dirinya begitu mengekangnya, mereka berani mengambil sikap yang cederung bersifat
destruktif pada dirinya di dunia normal. Dilanjutkan oleh Zizek, bahwa tindakan
radikal itu tidak bicara tentang apa yang telah dicapai, melainkan terlebih “aku tidak
lagi sama seperti sebelumnya”, dimana dampaknya adalah subjek pada akhirnya akan
dibantai namun kemudian menjadi lahir kembali (atau tidak). 37 Dapat diartikan bahwa
subjek telah melepaskan dirinya dari belenggu simbolik, melalui kesadaran akan
kekosongan dan kekurangan atas kesenangannya yang hilang diawal kehidupannya.
36
37
Lihat, Zizek, S. Enjoy Your Symptomp, hal; 36
Ibid, hal :150
G. Kerangka Berpikir
Pada masyarakat hari ini yang telah menganggap bahwa incest merupakan tindakan
yang terlarang dan tidak patut untuk dilakukan, nyatanya masih didapati dilakukan oleh
anggotanya. Hal ini mendorong perlunya kajian akademik yang melibatkan bukan hanya
persoalan manusia secara individual saja melainkan juga terkait dengan lingkaran struktur
dalam lingkungan sosial yang ada. Pelaku incest dianggap sebagai kriminal, pelanggar, atau
nama-nama buruk lainnya adalah merupakan kontruksi sosial. Sehingga tidak perlu lagi
untuk secara runtut membincangkan definisi incest di masyarakat Indonesia hari ini. Karena
jawabannya sudah jelas dan sangat terbuka.
Melihat hal ini maka penulisan ini berkeinginan untuk mengungkap terdapat
persoalan yang ada ketika terdapat struktur yang begitu kuat dan kentara menghalangi
munculnya incest , namun disisi lain masih ada yang melakukannya. Penulisan ini sekali lagi
tidak bertujuan untuk mendefinisikan incest sebagai bentuk tindakan yang buruk atau tidak,
melainkan lebih menekankan pada pengungkapan persoalan ini. Untuk itu perlu pemahaman
terhadap subjek yang melakukan tindakan incest itu. Melihat subjek tidak hanya pada yang
terlihat secara visual saja, melainkan sampai ranah ruang psikisnya menjadi sangat penting
disini. Karena di ruang itu terdapat manuver-manuver yang menggerakkan subjek melakukan
suatu tindakan. Subjek sendiri sebenarnya merupakan suatu entitas yang kosong, namun
terdapat ruang ketidaksadaran yang sudah berisi berbagai impuls-impuls yang siap untuk
mendorong subjek itu melakukan suatu tindakan. Kerinduan subjek atas prinsip kesenangan
yang telah hilang, yaitu kesenangannya yang dapat dipenuhi oleh “ibu”, tidak mampu
dipenuhi atau bahkan dihalangi oleh struktur sosial telah mengaktifkan mode-mode tertentu
dalam diri subjek. Mode yang paling mencolok ada fantasi, dimana di ruang itu subjek bisa
melakakukan apa yang tidak boleh oleh struktur. Namun dalam persoalan persetubuhan
incest ini tidaklah hasrat itu selesai ditingkat fantasi, melainkan membutuhkan sentuhan
material dalam pemenuhan hasratnya itu.
Tindakan incest dapat terjadi ketika subjek merasa bahwa tidak ada struktur yang
tengah mengawasinya. Dia merasa jika tidak ada kuasa/belenggu struktur atas dirinya tau
sengaja menghilangkannya. Sehingga dengan leluasa, subjek pelaku tindakan incest berani
mengambil sikap keluar dari belenggu struktur. Struktur yang seyogyanya dapat menuntut
subjek untuk patuh padanya, sepertinya gagal dalam mewujudkannya. Untuk itu agar lebih
memperjelas masalah ini, perlu juga untuk melihat relasi yang terjadi antara subjek dengan
struktur dan begitupun sebaliknya. Dengan melacak itu diharapkan bahwa didapat hal-hal
yang fundamental yang menyebabkan terjadinya incest ditengah-tengah struktur yang
menolaknya begitu kuat.
H. Metode Penelitian
1. Psikoanalisis Dalam Pendekatan Biografi Life Story
Penelitian ini bersifat kualitatif, yang lebih mengutamakan kepadatan eksplorasi
data
yang
didapatkan
dilapangan.
Penelitian kualitatif mencakup,
mempelajari
memanfaatkan dan mengumpulkan berbagai bahan empiris - studi kasus, pengalaman
pribadi, introspeksi, cerita hidup, wawancara, artefak, teks-teks produksi budaya dan;
observasi sejarah. interaksional, dan teks-visual yang menggambarkan tentang momen
rutin dan makna dalam kehidupan pribadi. 38 Dalam penelitian kali ini saya menggunakan
pendekatan biografi life story (kisah hidup) dimana dalam pendekatan ini percaya bahwa
38
Lihat Denzin, Norman K & Lincoln, Yvonna S (2005). The Sage Handbook Of Qualitatif Researh Third Edition,
hal: 3
terdapat keterkaitan antara kehidupan individual dengan dinamika sosial. 39 Kehidupan
individual seseorang (informan) tak dapat dilepaskan dari struktur sosial yang
melingkupinya selama menjadi bagian anggota masyarakat. Pendekatan biografis
digunakan untuk menangkap
pengalaman-pengalaman informan ketika
melakukan
tindakan incest, yang mana disekitarnya terdapat institusi-institusi sosial yang selalu
melingkupinya. Artinya dalam menjelaskan mengenai perilaku dan kehidupan individual
informan maka sekaligus juga sedang membicarakan struktur sosial yang berada
disekitarnya.40 Maka dalam penelitian ini tidak hanya secara mendalam menjelaskan
mengenai diri informan secara pribadi tentang tindakan incest yang dilakukannya, tapi
juga menjelaskan pandangan informan terhadap struktur sosial (lingkungan sosial) secara
umum dan khususnya mengenai incest itu sendiri. Bahkan juga, menjelaskan secara
mendalam mengenai pandangan institusi-institusi (struktur) terhadap informan pelaku
incest. Pendekatan biografis bagi Ferraroti mengijinkan peneliti untuk melihat irama yang
terjadi antara biografi (kisah hidup individu) pada sistem sosial ataupun sebaliknya,
selain itu juga memediasi hubungan resiprokal yang sifatnya dialektis antara satu
masyarakat dengan satu individu secara khusus. 41
Untuk itu dalam penelitian ini sangat perlu melacak kehidupan sehari-hari para
informan kunci ini serta keseluruhan masyarakat yang ada disekitar mereka. Penting bagi
penelitian ini untuk dapat menunjukkan hal itu, agar dapat melihat relasi antara subjek
dengan struktur. Daniel Bertaux dan Isabelle Bertaux – Wiame menggunakan pendekatan
penelitian seperti ini menitik-beratkan pada proses keseharian dalam struktur dan
39
Lihat Bertaux, Daniel (1981). Biography and Society: The Life History Approach in The Social Science. Sage
publication.inc, hal; 6
40
Ibid, hal; 8-9
41
Ibid, hal;21-22
ketetapannya, menunjukkan kontradiksinya, dan untuk mengikuti dinamikanya melalui
alur historisnya.42 Kejadian incest yang ada dalam penelitian ini bukanlah sesuatu yang
biasa dialami oleh masyarakat disana. Hal ini bertolak belakang dengan keseharian yang
dilakukan oleh keseluruhan masyarakat disana. Mengetahui bahwa incest merupakan hal
yang bertolak belakang dengan keseharian masyarakat dapat dilakukan dengan informasiinformasi mengenai keseharian masyarakat yang ada disana sendiri. Sehingga didapatkan
letak kontradiksi antara jalannya struktur dengan hal yang bertolak belakang dengannya.
Untuk mendapatkan informasi-informasi yang semacam itu, dapat dilakukan
dengan mengumpulkan cerita-cerita mengenai kehidupan sehari-hari (daily activity)
informan maupun lingkungannya. Seperti yang dikatakan oleh Bertaux, untuk mulai
mengumpulkan kisah hidup seseorang dapat melalui cerita yang keluar dari mulutnya
(oral) sendiri.43 Artinya disini seorang peneliti harus mampu untuk membuat
informannya mengungkapkan berbagai cerita kehidupannya sesuai dengan pertanyaan
penelitian yang telah dirumuskan sebelumnya. Dalam pendekatan biografi life story yang
saya lakukan ini sangat mementingkan penuturan informan, terkait dengan incest mereka
adalah orang-orang yang mengalami hal itu sendiri. Sedangkan penuturan mereka tidak
selalu dapat ditangkap langsung, karena beberapa kali ada penuturan yang sifatnya tidak
kronologis atau bahkan keluar dari konteks. Mengingat bahwa incest merupakan tindakan
yang traumatik bagi mereka, sehingga banyak hal yang terkesan ditutupi atau
menggunakan cerita-cerita lain yang sebenarnya mengarah pada tindakan itu. Sehingga
dibutuhkan kemampuan peneliti untuk dapat memaknai setiap penuturan dari informan
itu.
42
43
Ibid, hal; 169
Ibid, hal; 7
Kajian biografis sangat berkaitan dengan sisi psikologis seseorang untuk
menjelaskan tindakan yang telah dilakukannya. Maka yang dilakukan dalam penelitian
ini adalah mencari dan merekontruksi makna historis dari fenomena psikologis pada
suatu masa, dan diungkapkan oleh informan pada saat ini. 44 Saya disini membuat
informan untuk dapat menceritakan kembali mengenai tindakan incest yang dilakukan
pada beberapa tahun lalu, untuk dapat direkontruksi dalam penelitian ini. Pada saat para
informan menceritakan pengalaman hidupnya, saya “memaksa” mereka untuk dapat
menggali sangat dalam memori mengenai kejadian incest tersebut. Karena dengan masuk
secara dalam pada alam pikiran tersebut, informasi mengenai pokok persoalan pada
penelitian ini akan terjawab. Terkait dengan penelitian ini Lacan pernah membicarakan
tentang pengungkapan suatu kejahatan yang dilakukan oleh seseorang haruslah dilacak
hingga kedalam alam ketaksadarannya (unconciscousness) hingga diketahui motif
sebenarnya tindakan itu.45
Pada tahap ini saya berhutang pada teknik psikoanalisis yang dipakai Lacan
dalam melakukan terapi terhadap pasiennya. Psikoanalisis sangat populer dikalangan
para akademisi lintas ilmu setelah dikembangkan oleh Freud. Psikoanalisis Freud menitik
beratkan pemikirannya bahwa ketidaksadaran (unconciusness) merupakan titik penting
dari munculnya gangguan kejiwaan (psycotic).46 Tehnik terkenal yang digunakan oleh
Freud adalah tafsir mimpi. Dalam tafsir mimpi dikumpulkan data-data atau kode-kode
tertentu, memahami pengulangan-pengulangan (repetition) si pasien atas peristiwa
traumatis dalam hidupnya di masa lalu, dan pengalaman seksual.
44
Ibid. ditulis oleh Jan Szczepanski, hal; 226-228 .
Lihat Ecrits, hal: 102-12
46
Untuk selayang pandang pemikiran Freud tentang Psikoanalisisnya baca Memperkenalkan Psikoanalisa. PT.
Gramedia.1984.Jakarta. Selain itu
45
Namun selama beberapa dekade psikoanalisis Freud dipertanyakan bahkan
banyak yang meninggalkannya. Tapi Lacan mengikuti Freud berusaha menghidupkannya
kembali, bahkan melampauinya. Psikoanalisis Lacan bersandar pada pembacaan bahasa.
Melihat bahwa ketidaksadaran dibangun seperti sebuah bahasa. 47 Bagi Lacan,
psikoanalisis tidak sekedar teori dan praktis untuk mengatasi gangguan kejiawaan, tapi
merupakan teori dan praktis menghadapkan individu dengan dimensi eksistensi manusia
yang radikal.
48
Lacan juga mengkritik para psikoanalisis yang berorientasi klinik,
baginya Psikoanalisis bukan membuat pasien menjadi sembuh, berhasil dalam kehidupan
sosialnya, pemenuhan pribadinya. Melainkan, untuk membawa pasien untuk menghadapi
penyelarasan mendasar dengan jalan buntu dari hasratnya. Dapat dikatakan bahwa Lacan
menginginkan individu yang dapat memahami hasratnya dan pilihan tindakan yang harus
dia lakukan sendiri terhadap struktur sosialnya.
Penjelasan singkat diatas terkesan sangat psikologis, sedangkan penelitian ini
adalah untuk sosiologi. Lacan menerangkan dalam presentasinya “A theoritical
Introduction to the Function Of Psycoanalysis in Criminology (1950)” 49 bahwa untuk
menjangkau kebenaran pelaku kriminal yang melakukan tindakan kejahatan perlu dilacak
hingga ketidaksadarannya (unconciouness) untuk mendapatkan informasi dan alasan
melakukan itu. Sering ditemukan bahwa tindakan kejahatan oleh subjek dikatakan karena
tidak sadar, terdesak, atau karena intuisi. Hal ini cenderung membingungkan bagi analisa
hukumnya. Lacan meletakkan psikoanalisis berdampingan dengan sosiologi untuk dapat
menerjemahkannya. Berbekal pernyataan agung dari Saint Paul yang memformulasikan
bahwa hukum yang membuat kejahatan. Maksud dari pernyataan ini adalah hukum (super
47
Op.cit, hal; 66-67
Lihat How To Read Lacan, hal: 3
49
Lihat Ecrits, hal: 102-12
48
ego), membuat bahasa untuk mengatur individu, yang melanggar akan disebut sebagai
kriminal (sang pelaku kejahatan). Konsekuensi dari pelanggaran itu, maka kriminal harus
mempertanggungjawabkan perbuatannya dengan diberi hukuman yang macam-macam.
Bagi Lacan ini belum selesai perlu ada penjelasan yang lebih terang untuk
menyelesaikan persoalan kejahatan. Dalam pandangan sosiologis, individu hidup didalam
organisme sosial berperilaku sesuai dengan kebiasaan sekitarnya. Jika dia berbuat diluar
sosialnya dan kontra produktif maka dia bisa saja dianggap tidak wajar. Lacan
menganggap kriminalitas muncul karena super ego, maksudnya adalah kriminal
dibahasakan oleh super ego. Dengan kata lain hukuman seharusnya tidak bisa
digeneralisasikan. Sehingga perlu penanganan khusus secara psikologis untuk melacak
motif melalui ketidaksadaran dengan melihat struktur yang menyelimutinya. Inilah pada
akhirnya psikoanalisa dan sosiologi dapat saling bersinergi dapat melihat persoalan
individu dimasyarakat dan begitu juga sebaliknya, masyarakat/struktur mempengaruhi
individu.
2. Unit Analisis
a) Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di wilayah Kabupaten Aran Pandang, Jawa
Tengah. Alasan dipilihnya lokasi ini terkait dengan kejadian persetubuhan antara
ayah dengan anak yang terjadi dalam lingkup rumah tangga. Terdapat dua kejadian
incest antara ayah dengan anak kandungnya yang terjadi di kabupaten ini. Namun
kejadian persetubuhan ayah dengan anak dalam satu rumah tangga telah terjadi
beberapa kali pada tahun yang sama. Berikut adalah data yang dikumpulkan oleh
peneliti dari berbagai media lokal.
Kasus Persetubuhan antara Ayah dengan Anak Dalam Lingkungan Rumah Tangga
Di Aran Pandang
Waktu
Pemberitaan
Aktor yang terlibat
Tempat kejadian
28 Mei 2013
Ayah kandung
Anak Perempuan Dalam Rumah
13 Juni 2013
Ayah tiri
Anak Perempuan Dalam Rumah
3 Juli 2013
Ayah Kandung
Anak Perempuan Dalam Rumah
5 Juli 2013
Ayah tiri
Anak Perempuan Dalam Rumah
Sumber: dikumpulkan dari s***pos.com dan Me***ka.com50
Dalam penelitian ini lebih difokuskan pada “pelaku” hubungan seksual
sedarah saja. Lebih khusus adalah hubungan seksual yang dilakukan oleh ayah
dengan anak kandungnya. Tempat dilakukannya interview sendiri terpisah-pisah
sesuai dengan para informan berada. Untuk kedua informan kunci, saya melakukan
interview di Lapas Aran Pandang dan Alas Watu yang mana mereka ditempatkan
untuk menjalani hukuman. Lalu informan yang meliputi tokoh masyarakat dan
agama, interview saya lakukan di dukuh Sidorejo dan Worombo, di Kabupaten Aran
Pandang yang juga merupakan tempat tinggal para informan kunci. Sedangkan untuk
Institusi hukum, saya menemui dan melakukan interview mereka di Polresta Aran
Pandang, begitupun dengan petugas lapas yang ada di Aran Pandang dan Alas Watu.
b) Pemilihan Informan
Melalui sumber tersebut, saya melakukan pelacakan yang dikhususkan pada
para pelaku incest melalui pihak-pihak terkait. Karena yang informasi yang
dibutuhkan dalam penelitian ini adalah para pelaku tindakan persetubuhan yang
50
LIhat http://www.me***ka.com/peristiwa/ditolak-istri-seorang-ayah-di-boyolali-gagahi-anak-sendiri.html
,http://www.s***pos.com/2013/06/13/pemerkosaan-duh-siswi-smp-diperkosa-ayah-tiri-415429,
http://www.me***ka.com/peristiwa/ditinggal-mati-istri-bapak-di-aranpandang-perkosa-anak-kandungnya.html,
http://www.me***ka.com/peristiwa/ayah-di-aranpandang-tega-cabuli-anak-tirinya-hingga-800-kali.html diakses
pada tanggal 29 Oktober 2013
dilakukan oleh ayah dengan anak kandungnya saja.
Lebih mengerucut lagi, yang
menjadi informan kunci disini adalah para ayah “pelaku” incest yang di kabupaten ini
terdapat dua orang. Para ayah “pelaku” ini dipilih sebagai informan karena sesuai
dengan tujuan utama penelitian untuk mencari makna yang sebenarnya dibalik
terjadinya incest yang mereka lakukan. Seperti yang dijelaskan oleh Camargo dalam
pendekatan kisah hidup ini diperlukan seorang aktor (dalam bahasanya) yang
mengetahui
tentang
persoalan
yang
dibahas
dalam
penelitian,
dapat
mengartikulasikan tindakan yang dilakukannya sendiri, selain itu dapat menjelaskan
proses-proses sosial dan sejarah yang melingkupinya dan kronologisnya. 51 Hal ini
tentunya hanya akan didapatkan dari subjek “pelaku” tindakan incest yang mengalami
kejadian itu sendiri.52 Sehingga kedua subjek “pelaku” incest itu kemudian akan
disebut sebagai informan kunci dalam penelitian ini.
Selanjutnya bukan hanya informan kunci seperti yang dijelaskan diatas saja,
sehingga untuk kebutuhan pemenuhan data saya juga mencari informan pendukung
untuk memperkuat argumentasi pada penelitian ini nantinya. Dibutuhkan informan
pendukung yang juga mengetahui seluk beluk dari informan kunci dan kesehariannya.
Selain itu mereka juga harus memahami melalui pengalamannya selama hidup dalam
institusi-institusi sosial. Baik mengenai aturan hidup, cara berperilaku dan berpikir
yang menjadi common sense, dan kebiasaan yang ada. Intinya mereka merupakan
representasi dari dari tiap institusi yang mereka ikuti, mereka merupakan mediator
51
Dalam Bertaux,D. hal; 196-197
Saya menggunakan pilihan kata pelaku bukan merujuk pada identitas yang diberikan oleh hukum positif sebagai
subjek yang dianggap bersalah dalam tindakannya, melainkan lebih bermaksud pada subjek yang melakukan dan
memiliki pengalaman tentang tindakan incest.
52
dari struktur sosial ada.53 Sehingga yang dipilih dalam penelitian ini adalah orangorang yang selain memiliki hubungan secara sosial dengan subjek “pelaku” incest,
juga orang yang mengetahui seluk beluk struktur sosial. Seperti misalnya tokoh
masyarakat, agama, polisi, dan petugas Lapas.
Saya mendapatkan nama para informan kunci setelah melakukan penelusuran
terhadap mereka melalui berbagai pihak. Dua informan kunci dalam penelitian saya
bernama As dan Puj. Keduanya merupakan ayah yang melakukan hubungan seksual
incest dengan anak kandungnya sendiri. Sedangkan untuk informan pendukung,
seperti yang disebutkan sebelumnya mereka berasal dari beberapa institusi. Had dan
Dar, merupakan representasi dari institusi “masyarakat” dimana kedua informan
kunci itu tinggal. Keduanya, karena telah hidup bersama dalam hubungan bertetangga
cukup lama maka dianggap sangat mengetahui kehidupan sehari-hari As dan Puj.
Lalu di institusi hukum terdapat tiga informan yaitu, Bay, An, Ut dan petugas Lapas.
Petugas lapas hanya memiliki porsi sedikit dalam penelitian ini karena tidak banyak
informasi yang dapat diberikan oleh mereka. Selanjutnya yang terakhir adalah Kat
dan Had yang merupakan representasi dari institusi agama. Keduanya dianggap
memiliki pengetahuan agama yang baik di wilayah tempat tinggal para subjek
“pelaku” incest tersebut.
Saya menggunakan nama inisial yang disamarkan untuk para informan dalam
penelitian ini, karena dengan sangat sadar dan mengakui bahwa persoalan incest
masih amatlah sensitif jika dibicarakan. Apalagi hal ini sudah masuk ranah hukum
negara, beberapa informan meminta kepada saya untuk menyamarkan nama mereka
53
Ibid,ditulis oleh Franco Ferrarotti,hal; 23-24
agar tidak ada resiko disuatu hari nanti. Selain itu dengan menunjukkan itikad seperti
ini kepada kedua informan kunci membuat mereka lebih leluasa untuk bercerita
kepada saya. Sehingga diputuskan untuk penelitian ini bahwa nama informan hingga
nama daerah (dukuh hingga kabupaten) disamarkan.
3. Teknik Pengumpulan
Penelitian ini dimulai Maret 2014 setelah membaca beberapa sumber yang
didapat dari media massa lokal yang memberitakan akan adanya kasus incest di Aran
Pandang. Diawali dengan pelacakan para informan yang akan diinterview untuk
kebutuhan penelitian ini. Pelacakan informan ini dilakukan karena pada saat itu benarbenar belum mengetahui dimana posisi para informan kunci itu tinggal. Karena pada saat
itu kedua informan kunci tidak lagi tinggal di kedua dusun yang seperti diberitakan oleh
media massa lokal itu. Penelurusuran dimulai dengan mencari informasi melalui pihak
kepolisian. Ada seorang polisi yang sudah saling berkomunikasi dengan saya terkait
dengan adanya kasus ini. Dia bersedia membantu untuk melacak melalui dokumendokumen yang menjadi arsip pihak kepolisian Aran Pandang. Namun sayangnya kami
tidak menemukan dokumen lengkap terkait pemeriksaan hukum (BAP) para informan
kunci, karena menurutnya dokumen itu berada di Unit kepolisian lain (Unit Perlindungan
Anak Dan Perempuan). Saya hanya mendapatkan informasi singkat mengenai nama asli,
waktu pemeriksaan, dan alamat mereka tinggal saja. Selain itu saya juga mendapatkan
informasi singkat mengenai pandangan polisi itu terhadap kejadian incest menurut
pribadi dan hukum yang berlaku. Kemudian dia menyarankan kepada saya untuk
melengkapi surat-surat perijinan agar dapat menemui pihak Unit Perlindungan Anak Dan
Perempuan Polres Aran Pandang atau langsung saja menuju ke Lapas Aran Pandang,
karena biasanya untuk pertama kali tahanan masuk biasanya ditempatkan disana.
Sehingga mereka mungkin tahu dimana para informan kunci itu ditempatkan.
Selanjutnya saya menuju ke Lapas Aran Pandang untuk meminta keterangan
mengenai posisi kedua informan kunci saya saat ini ditempatkan. Disanalah pada
akhirnya kedua informan kunci saya tersebut ditemukan keberadaaannya. Menurut pihak
Lapas kedua informan saat itu berada di Lapas aran Pandang dan Alas Watu. Namun
sebelum saya melakukan interview kepada para informan kunci, pihak Lapas
menyarankan
saya
untuk
melengkapi
perijinan
baik
dari
universitas
maupun
Kemenkumham. Saya menyanggupi, dan mengapresiasi keramahan mereka dalam
mendukung adanya penelitian diwilayah mereka.
Pada April 2015, setelah semua surat perijinan saya lengkap. Saya menuju Polres
Aran Pandang untuk mendapatkan informasi mengenai pandangan hukum terhadap incest
dan pelakunya. Begitupun juga pada saat saya berada di Lapas Aran Pandang, disana
mendapatkan sedikit pandangan mengenai pelaku incest. Sayangnya dikedua lembaga
negara tersebut saya tidak mendapat akses untuk melihat BAP dari kedua informan kunci
karena merupakan rahasia negara.
Pada Juli hingga Desember tahun 2015, saya melakukan interview kepada kedua
informan kunci dan juga para tetangga mereka yang merupakan tokoh-tokoh masyarakat.
Pada kedua informan kunci yang merupakan para pelaku tindakan incest itu saya
menerapkan teknik mengungkap informasi yang terdalam dari mereka, yaitu dengan
membiarkan pembicaraan itu mengalir begitu saja dari para informan. Hal ini merupakan
teknik yang digunakan oleh Freud dan kemudian diikuti oleh Lacan dalam mengungkap
berbagai informasi dari pasien mereka. Teknik ini disebut sebagai free association,
dimana lebih mengutamakan analisis terhadap pengalaman pasien (informan) dalam
kehidupannya sehari-hari serta menguak fantasi dan hasrat terdalam yang keluar dari
mulut mereka sendiri tanpa intervensi dari luar (peneliti atau pihak lain). 54 Sesuai yang
diinginkan pendekatan biografi life story yang mengutamakan story telling untuk
mengungkap pengalaman individu seperti yang dijelaskan sebelumnya. Tidak menutup
kemungkinan dalam free association melihat gestur dan kesalahan-kesalahan bicara yang
kemudian diralat oleh para informan, karena disana terkadang terdapat makna yang
tersembunyi. Oleh sebab itu disini saya sebagai peneliti harus menempatkan diri sebagai
teman bicara.55 Cara ini cukup berhasil dalam penelitian ini untuk menumbuhkan
kepercayaan informan kepada saya, karena salah satu informan kunci (off the record)
mengutarakan bahwa diharapkan pembicaraan ini tidak hanya berhenti sampai disini saja
dan dia berharap suatu hari bisa bertemu lagi untuk saling berdiskusi. Hal ini juga terjadi
pada informan pendukung yang berasal dari tokoh masyarakat dan agama, bahwa
pertemuan dengan mereka merupakan awal terbentuknya hubungan persaudaraan.
Untuk itu dibutuhkan kesabaran tinggi peneliti pada saat menjadi teman bicara
informan. Selain itu juga dibutuhkan pendengaran yang baik oleh peneliti, dalam
memahami setiap detil kata yang diucapkan oleh informan. Untuk itu saya menggunakan
bantuan
teknologi
alat
perekam,
agar
bisa
secara
tepat
memahami
ucapan
informan.Tentunya penggunaan alat perekam itu seizin dari para informan. Tugas utama
seorang psikoanalis (peneliti) adalah untuk mendengar (listening) apa yang diucapkan
oleh informan, mendengar disini berarti tidak berusaha langsung mengerti (pura-pura
54
55
Lihat, Ecrits, hal; 65-66
Ibid, hal; 67
mengerti)
namun lebih pada
memahami
kondisi
saat terjadinya pembicaraan,
memperhatikan secara seksama setiap ucapan dari informan, dan membandingkan juga
dengan pengalaman kita.56 Itulah pentingnya ada bantuan alat perekam, sehingga kita
tidak terburu-buru dapat mengambil kesimpulan atas apa yang kita dengan pada saat
pembicaraan itu terjadi. Melainkan kita bisa mengulangnya agar detil dari pembicaraan
itu tidak hilang.
Setelah semua data interview terkumpul, sampailah pada tahap untuk melakukan
pemilahan data. Dalam melakukan analisis tidak hanya menggunakan data yang
didapatkan dari interview saja, melainkan dibutuhkan juga observasi dan sumber-sumber
literatur yang mendukung untuk penelitian ini seperti Undang-undang atau kitab-kitab
suci. Selain itu pula penting dalam membandingkan data interview yang diberikan oleh
informan kunci dengan interview dengan informan pendukung sebagai model untuk
melakukan triangulasi data. Seperti yang diungkapkan Elder, bahwa analisis dengan
menggunakan
data
dari
informan
saja
melainkan
juga
perlu
memperhatikan
keterangannya dengan struktur sosial yang ada disekitar sebagai proses yang dialektis. 57
Hal ini saya lakukan dengan cara membandingkan antara yang diungkapkan oleh
informan kunci dengan para pihak lain seperti Polisi, Tokoh agama, dan Tokoh
masyarakat. Disinilah didapatkan kepaduan data yang mengerucut pada tujuan utama
kajian penelitian yang saya lakukan.
56
57
Lihat Fink, Bruce, hal; 1-3
Lihat dalam Bertaux.D, hal;108
4. Teknik Analisis Data
Dalam penelitian ini saya melakukan analisa dengan pendekatan psikoanalisa
Lacanian dimana lebih pada pembacaan bahasa. Sedangkan bahasa itu dapat muncul
melalui pengujaran-pengujaran oleh subjek penelitian. Sebelum melakukan intepretasi,
diperlukan formulasi pertanyaan yang dapat membuat subjek mampu menceritakan
pengalaman dan kenangannya yang mungkin menyakitkan baginya. Dalam hal ini
peneliti harus berada dalam posisi yang sama dengan subjek penelitiannya, terkait kata
dan ekspresinya, dan tidak membangun pertanyaan sesuai dengan pikiran-pikiran yang
sebelumnya dibawa oleh peneliti.58 Hal ini dilakukan agar data terkumpul murni dari
ujaran dari subjek dan tidak ada intervensi dari peneliti sebelum dilakukan intepretasi.
Dalam pembacaan data melalui psikoanalisis Lacanian diperlukan kesabaran dan
tidak boleh begitu saja menyederhanakan informasi yang diberikan oleh subjek. Untuk itu
menurut Lacan (dalam Fink) menyatakan bahwa interpretasi yang disediakan oleh
peneliti tidak bermaksud ditemukan dalam pengetahuan subjek itu sendiri, namun dapat
menambahkan kedalam pengetahuan itu sendiri dan memberikan makna atasnya. 59
Dimana artinya disini peneliti harus dapat memaknai berbagai ujaran-ujaran yang
disampaikan oleh subjek penelitian untuk dapat melakukan analisa. Artinya pula peneliti
perlu untuk mereduksi berbagai informasi itu untuk merujuk pada makna tertentu agar
kemudian dapat dibaca.
Dengan begitu maka dalam pembacaan data kita dapat melihat dan mengaitkan
hubungan-hubungan subjek dengan lingkungan sosialnya. Hal ini selain untuk melihat
58
59
Lihat Fink, Bruce, hal; 1-3
Ibid, hal; 82
kaitan hasrat subjek dengan dunia sosialnya juga melihat bahasa-bahasa apa saja yang
menempel pada subjek itu. Melalui pembacaan data yang seperti ini, maka analisisnya
akan sangat mendalam hingga ke dasar alam ketaksadaran subjek. Setelah itu, peneliti
juga perlu melihat pula informasi-informasi dari informan lain mengenai subjek
penelitian sebagai bentuk triangulasi. Hal ini juga berguna untuk melihat subjek diluar
dirinya sendiri, dan bagaimana dirinya dinilai oleh lingkungan sekitarnya. Karena dengan
begitu analisis mengenai hasrat dan juga bentuk-bentuk represinya akan terlihat.
Download