BAB I - USU Repository

advertisement
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
ABSTRAKSI
Peristiwa incest telah terjadi sejak dulu kala. Dalam sejarah dicatat rajaraja Mesir kuno dan putra-putrinya kerap kali melakukan tingkah laku incest
dengan motif tertentu, sangat mungkin bertujuan untuk meningkatkan dan kualitas
generasi penerusnya. Pasca Invasi Alexander the Great (Iskandar Zulkarnain)
para bangsawan Mesir banyak yang melakukan perkawinan dengan saudara
kandung dengan maksud untuk mendapatkan keturunan berdarah murni dan
melanggengkan kekuasaan. Contoh yang terdokumentasi adalah perkawinan
Ptolemeus II dengan saudara perempuannya, Elsione. Beberapa ahli berpendapat,
tindakan seperti ini juga biasa dilakukan kalangan orang biasa. Toleransi semacam
ini didasarkan pada Mitologi Mesir Kuno tentang perkawinan Dewa Osiris dengan
saudaranya, Dewi Isis. Sedangkan dalam mitologi Yunani kuno ada kisah Dewa
Zeus yang kawin dengan Hera, yang merupakan kakak kandungnya sendiri.
Incest (hubungan seksual yang dilakukan oleh individu didalam sebuah
keluarga dengan anggota keluarga lainnya, baik itu ayah dengan anak, ibu dengan
anak, kakek dengan cucu, kakak dengan adik) sebagian termasuk kedalam
kejahatan atau penganiayaan seksual, dimana perilaku seksual yang dilakukan
dapat berupa penganiayaan secara fisik maupun non fisik, oleh orang yang lebih
tua atau memiliki kekuasaan yang bertujuan untuk memuaskan hasrat seksual
pelakunya.
Penyebab atau pemicu timbulnya incest salah satunya adalah karena
pengaruh aspek struktural, yakni situasi dalam masyarakat yang semakin
kompleks. Kompleksitas situasi menyebabkan ketidakberdayaan pada diri
individu. Khususnya apabila ia seorang laki-laki (notabene cenderung dianggap
dan menganggap diri lebih berkuasa) akan sangat terguncang, dan menimbulkan
ketidakseimbangan mental-psikologis.
Permasalahan dalam skripsi ini mengenai hubungan seksual sedarah atau
incest yang dilakukan ayah kandung terhadap anak kandungnya dan faktor
penyebab terjadinya incest tersebut.
Penelitian ini dilakukan di PN Mataram, data yang diambil adalah data
primer dan sekunder. Data primer adalah data yang diambil dari PN Mataram
sedangkan data sekunder diambil dari berbagai literatur bahan kepustakaan,
peraturan Perundang-undangan yang masih berlaku.
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ................................................................................
ABSTRAKSI ..............................................................................................
DAFTAR ISI ..............................................................................................
BAB I : PENDAHULUAN .....................................................................
1
A. Latar Belakang .....................................................................
1
B. Permasalahan .......................................................................
7
C. Keaslian Penulisan ...............................................................
8
D. Tujuan Penulisan .................................................................
8
E. Manfaat Penulisan ...............................................................
8
F. Tinjauan Kepustakaan ..........................................................
8
1. Pengertian Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Menurut
Para Ahli Kriminologi ....................................................
8
2. Ruang Lingkup Hubungan Sedarah ................................
13
3. Pengertian dan Batasan Umur Anak ...............................
15
G. Metode Penelitian ................................................................
27
H. Sistematika Penulisan ..........................................................
29
BAB II : PENGATURAN INCEST DALAM BERBAGAI PERATURAN
HUKUM ...................................................................................
30
A. Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Ditinjau dari Kitab
Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) .............................
30
B. Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Ditinjau dari Hukum
Islam ....................................................................................
43
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
BAB III : FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB
TERJADINYA
HUBUNGAN
DAN
AKIBAT
SEKSUAL
DARI
SEDARAH
(INCEST) ..................................................................................
49
1. Faktor-faktor Penyebab ........................................................
49
2. Akibat dari Terjadinya Incest ...............................................
59
3. Upaya-upaya Penanggulangan dari Hubungan Seksual
Sedarah ................................................................................
63
a. Upaya Preventif .............................................................
63
b. Upaya Represif ..............................................................
65
BAB IV : PENEGAKAN HUKUM TERHADAP PELAKU HUBUNGAN
SEKSUAL
SEDARAH
PENANGGULANGAN
(INCEST)
DARI
DAN
TERJADINYA
UPAYA
KASUS
INCEST .....................................................................................
70
A. Kasus dan Analisa Kasus .....................................................
70
Kasus ...................................................................................
70
BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN ..................................................
78
A. Kesimpulan ..........................................................................
78
B. Saran ...................................................................................
81
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................
82
LAMPIRAN-LAMPIRAN
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Peristiwa incest telah terjadi sejak dulu kala. Dalam sejarah dicatat rajaraja Mesir kuno dan putra-putrinya kerap kali melakukan tingkah laku incest
dengan motif tertentu, sangat mungkin bertujuan untuk meningkatkan dan kualitas
generasi penerusnya. Pasca Invasi Alexander the Great (Iskandar Zulkarnain)
para bangsawan Mesir banyak yang melakukan perkawinan dengan saudara
kandung dengan maksud untuk mendapatkan keturunan berdarah murni dan
melanggengkan kekuasaan. Contoh yang terdokumentasi adalah perkawinan
Ptolemeus II dengan saudara perempuannya, Elsione. Beberapa ahli berpendapat,
tindakan seperti ini juga biasa dilakukan kalangan orang biasa. Toleransi semacam
ini didasarkan pada Mitologi Mesir Kuno tentang perkawinan Dewa Osiris 1
dengan saudaranya, Dewi Isis. Sedangkan dalam mitologi Yunani kuno ada kisah
Dewa Zeus yang kawin dengan Hera, yang merupakan kakak kandungnya sendiri.
Incest (hubungan seksual yang dilakukan oleh individu didalam sebuah
keluarga dengan anggota keluarga lainnya, baik itu ayah dengan anak, ibu dengan
anak, kakek dengan cucu, kakak dengan adik) sebagian termasuk kedalam
kejahatan atau penganiayaan seksual, dimana perilaku seksual yang dilakukan
dapat berupa penganiayaan secara fisik maupun non fisik, oleh orang yang lebih
tua atau memiliki kekuasaan yang bertujuan untuk memuaskan hasrat seksual
pelakunya.
1
http://id.answers.yahoo.com/question/index?gid= tgl. 12 Januari 2009
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
Studi yang dilakukan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Timur
(2000), berhasil mengungkap bahwa pelaku tindak perkosaan ternyata tidak selalu
penjahat atau preman kambuhan atau orang yang tidak dikenal korban, tapi acap
kali pelakunya adalah orang yang sudah dikenal baik oleh korban, entah itu
tetangga, saudara, kerabat, guru, atau bahkan kakek atau ayah kandung korban
sendiri.
Kisah-kisah tentang incest ini bukan hanya pada mitologi saja, tapi bahkan
ada juga yang tercatat dalam kitab suci beberapa agama. Dalam kitab agama
Kristen misalnya banyak sekali dikisahkan peristiwa incest yang bahkan sangat
tidak masuk akal seperti kisah incest yang melibatkan beberapa orang Nabi
beserta keluarganya. Dan masih banyak lagi kisah tentang incest lainnya yang
dapat kita temukan dalam Alkitab (Bible) yang konon bukan hanya melibatkan
manusia biasa tapi juga melibatkan orang-orang pilihan Tuhan.
Khalil
Gibran
dalam
bukunya
yang
fenomenal,
Sang
Nabi,
menggambarkan bagaimana orang tua seharusnya mengasihi karunia Tuhan yang
sangat berharga yang disebut anak-anak. Segala perhatian dan bimbingan serta
kasih sayang sudah sepantasnya dicurahkan kepada mereka, karena anak bukanlah
manusia dewasa dalam bentuk mini, dunia anak berbeda dengan dunia orang
dewasa, anak mempunyai alam pikiran, perasaan dan kemauan sendiri (Aminah
Azis 1998). 2
Di Indonesia sendiri sampai saat ini perilaku incest masih ada pada
kelompok masyarakat tertentu, seperti suku Polahi di Kabupaten Polahi, Sulawesi,
2
Aminah Azis. Aspek Hukum Perlindungan Anak. USU Press, Medan, 1998. hal. 4.
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
dimana praktek hubungan incest banyak terjadi. Perkawinan sesama saudara
adalah hal yang wajar dan biasa di kalangan suku Polahi.
Incest akan dapat terjadi karena banyak faktor yang mempengaruhinya,
baik itu secara internal dan eksternal. Kasus incest yang terjadi, banyak sekali
tidak dilaporkan oleh korban incest. Jika dibandingkan dengan kasus yang terjadi,
hal itu tidak sebanding dengan kasus yang terjadi sebenarnya. Karena hal itu
dianggap sebagai aib keluarga, apabila diketahui masyarakat umum akan
menyebabkan keluarga yang bersangkutan menanggung malu dalam kehidupan
sosial bermasyarakat.
Penyebab atau pemicu timbulnya incest salah satunya adalah karena
pengaruh aspek struktural, yakni situasi dalam masyarakat yang semakin
kompleks. Kompleksitas situasi menyebabkan ketidakberdayaan pada diri
individu. Khususnya apabila ia seorang laki-laki (notabene cenderung dianggap
dan menganggap diri lebih berkuasa) akan sangat terguncang, dan menimbulkan
ketidakseimbangan mental-psikologis. Dalam ketidakberdayaan tersebut, tanpa
adanya iman sebagai kekuatan internal/spiritual, seseorang akan dikuasai oleh
dorongan primitif, yakni dorongan seksual ataupun agresivitas. Faktor-faktor
struktural tersebut antara lain adalah:
(1) Konflik budaya. Seperti kita ketahui, perubahan sosial terjadi begitu cepatnya
seiring dengan perkembangan teknologi. Alat-alat komunikasi seperti radio,
televisi, VCD, HP, koran, dan majalah telah masuk ke seluruh pelosok
wilayah Indonesia. Seiring dengan itu masuk pula budaya-budaya baru yang
sebetulnya tidak cocok dengan budaya dan norma-norma setempat. Orang
dengan mudah mendapat berita kriminal seks melalui tayangan televisi
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
maupun tulisan di koran dan majalah. Juga informasi dan pengalaman
pornografi dan berbagai jenis media. Akibatnya, tayangan televisi, VCD, dan
berita di koran atau majalah yang sering menampilkan kegiatan seksual incest
serta tindak kekerasannya, dapat menjadi model bagi mereka yang tidak bisa
mengontrol nafsu birahinya.
(2) Kemiskinan.
Meskipun
incest dapat terjadi
dalam
segala
lapisan
ekonomi, secara khusus kondisi kemiskinan merupakan suatu rantai situasi
yang sangat potensial menimbulkan incest. Sejak krisis 1998, tingkat
kemiskinan di Indonesia semakin tinggi. Banyak keluarga miskin hanya
memiliki satu petak rumah. Kita tidak dapat membedakan mana kamar tidur,
kamar tamu, atau kamar makan. Rumah yang ada merupakan satu atau
dua kamar dengan multi fungsi. Tak pelak lagi, kegiatan seksual terpaksa
dilakukan di tempat yang dapat ditonton anggota keluarga lain. Tempat tidur
anak dan orangtuanya sering tidak ada batasnya lagi. Ayah yang tak mampu
menahan nafsu birahinya mudah terangsang melihat anak perempuannya
tidur. Situasi semacam ini memungkinkan untuk terjadinya incest kala ada
kesempatan.
(3) Pengangguran. Kondisi krisis juga mengakibatkan banyak terjadinya PHK
yang berakibat banyak orang yang menganggur. Dalam situasi suit mencari
pekerjaan, sementara keluarga butuh makan, tidak jarang suami istri banting
tulang bekerja seadanya. Dengan kondisi istri jarang di rumah (apalagi bila
menjadi TKW), membuat sang suami kesepian. Mencari hiburan di luar
rumah pun butuh biaya. Tidak menutup kemungkinan anak yang sedang
dalam kondisi bertumbuh menjadi sasaran pelampiasan nafsu birahi ayahnya.
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
Alasan anggota keluarga yang melakukan incest, seperti pada kasus ini
yaitu ayah sebagai pelaku. Ada kemungkinan pelaku mengalami masa kecil yang
kurang menyenangkan, latar belakang keluarga yang kurang harmonis, bahkan
mungkin saja pelaku merupakan korban penganiayaan seksual di masa kecilnya.
Pelaku cenderung memiliki kepribadian yang tidak matang, pasif, dan cenderung
tergantung pada orang lain. Ia kurang dapat mengendalikan diri/hasratnya, kurang
dapat berfikir secara realistis, cenderung pasif-agresif dalam mengekspresikan
emosinya, kurang memiliki rasa percaya diri. Selain itu, kemungkinan pelaku
adalah pengguna alkohol atau obat-obatan terlarang lainnya.
Sebuah teori psiko-analisa dari Sigmund freud menyebutkan bahwa setiap
anak sebenarnya memiliki dorongan seksual terpendam terhadap orangtuanya;
begitu pula sebaliknya. Dan hanya karena super-ego orang tua mampu mengontrol
dirinya maka tidak terjadi hubungan yang nyata melainkan sebatas melalui fantasi
atau impiannya, dalam kasus incest dorongan hormonal yang tinggi serta adanya
kesempatan, lemahnya posisi obyek seksual dan ketidakmampuan super-ego
mengendalikan diri, adalah beberapa penyebabnya. 3
Ketidakberdayaan korban untuk mengungkapkan kasus incestyang
dialaminya disebabkan adanya pengalaman di masyarakat yang menunjukkan
bahwa terjadinya kasus incest, adalah kesalahan dan aib si korban, rasa malu yang
tinggi sangat menghambat terbukanya kasus incest ini ke permukaan.
Korban yang notabene adalah anak perempuan, tidak tahu dan tidak
memiliki kapabilitas untuk membuat pengaduan, sistem hukum yang kompleks
3
Forum Keadilan, September 2002, XXI, hal. 51.
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
membuat anak korban incest hanya mampu memendam apa yang telah
dialaminya.
Hal ini membuat proses hukum terhadap pelaku menjadi terhambat, secara
hukum pelaku Incest memang hanya mendapat hukuman yang relatif ringan
dibandingkan apa yang telah dialami dan trauma yang ditinggalkan dari perbuatan
itu terhadap anak korban incest.
Pada Pasal 290, 292 dan 294 KUHP, pelaku hanya diganjar hukuman
maksimal 7 tahun penjara, sementara di dalam sidang, Jaksa Penuntut Umum
bahkan dapat menuntut hukumannya jauh lebih ringan, dengan hukuman 4 sampai
5 tahun penjara, dengan alasan pelaku sudah mengaku, menyesali perbuatannya
dan belum pernah dihukum karena melakukan tindak kejahatan.
Lebih diperparah lagi dalam Pasal 168 Kitab Undang-undang Hukum
Acara Pidana menyebutkan bahwa “Kecuali ditentukan lain dalam undang-undang
ini, maka tidak dapat didengar keterangannya dan dapat mengundurkan diri
sebagai saksi :
a. Keluarga sedarah atau semenda dalam garis lurus ke atas atau ke bawah
sampai derajat ketiga dari terdakwa atau yang bersama-sama sebagai
terdakwa “berkaitan dengan Pasal 168 tersebut, di dalam Pasal 171 bagian
(a), dinyatakan “bahwa yang boleh diperiksa untuk memberi keterangan
tanpa sumpah ialah anak yang belum cukup limabelas tahun dan belum
pernah kawin”, di dalam penjelasan dari Pasal 171 ini disebutkan bahwa
mereka tidak dapat dipertanggungjawabkan secara sempurna dalam hukum
pidana maka tidak dapat diambil sumpah dalam memberikan keterangan,
karena itu keterangan mereka hanya dipakai sebagai petunjuk saja.
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
Jadi ketika korban akan bersaksi, ia tidak mengucapkan sumpah dan apa
yang diucapkannya hanyalah sebagai petunjuk saja, maka kesaksiannya lemah,
oleh karena itu maka dapat disebutkan bahwa upaya pengaduan yang diajukan
korban sabgat sia-sia.
Dalam mengatasi incest ini yang sebenarnya kompleks karena menyangkut
struktur sosial, budaya, ekonomi, agama dan hukum; sangat diperlukan perhatian
dari berbagai pihak; baik keluarga masyarakat dan aparat penegak hukum. Dengan
demikian anak-anak sebagai titipan dari Tuhan Yang Maha Kuasa, benar-benar
memperoleh haknya sebagai mutiara kehidupan.
Adapun skripsi ini berusaha menguraikan lebih lanjut tindak pidana incest,
yang akan kita lihat dari segi kriminologinya, sebab-akibat dari para pelaku incest,
dan penegakan Hukum Pidana terhadap Tindak Pidana Incest tersebut.
B. Permasalahan
Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan yang akan dibahas
dalam skripsi ini adalah :
Dan skripsi ini mengambil beberapa permasalahan yang akan diurai dalam
topik pembahasan, yaitu sebagai berikut :
2. Bagaimanakah hubungan seksual sedarah (incest) yang dilakukan oleh ayah
kandung terhadap anak kandungnya yang ditinjau dari beberapa perspektif
Hukum?
3. Apakah faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya hubungan seksual sedarah
(incest) yang dilakukan oleh ayah kandung terhadap anak kandungnya?
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
C. Keaslian Penulisan
Dalam menyusun skripsi ini, penulis membuatnya dengan melihat dasardasar yang telah ada, baik melalui literatur yang penulis peroleh dari perpustakaan
dan dari media massa, media cetak ataupun elektronik, setelah sebelumnya
penulis memeriksa bahwa belum pernah ada judul atau tema yang sama dengan
skripsi ini.
D. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan skripsi ini adalah :
1. Manfaat secara praktis :
1. Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab incest.
2. Untuk mengetahui bagaimana upaya pencegahan terjadinya incest.
2. Manfaat secara teoritis :
1. Agar skripsi ini bermanfaat sebagai bahan mencari ilmu pengetahuan
yang berkaitan dengan incest.
2. Agar dapat membantu menambah bahan bagi aparat penegak hukum.
E. Manfaat Penulisan
Manfaat dari penulisan skripsi ini adalah :
1. Dapat mengetahui faktor penyebab incest
2. Bagaimana hubungan seksual sedarah itu terjadi
3. Dapat mengetahui upaya pencegahan terjadinya incest
F. Tinjauan Kepustakaan
1. Pengertian Incest Menurut Para Ahli Kriminologi
b. Hubungan Seksual antara 2 orang saudara kandung (Menurut Kamus Bahasa
Indonesia Kontemporer, 1991)
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
c. Incest adalah kekerasan seksual yang terjadi antar anggota keluarga. Pelaku
biasanya adalah anggota keluarga yang lebih dewasa dan korban adalah anakanak.
Bentuk kekerasan seksual yang termasuk dalam kategori ini adalah yang terberat,
karena pertimbangan :
a. Bahwa pelaku adalah orang dekat atau keluarga sendiri, sehingga antara
korban dan pelaku sangat mungkin untuk selalu saling bertemu satu sama lain
dengan seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa diantara keduanya.
b. Biasanya incest ini terjadi secara berulang, karena bagi korban, dirinya
terjebak dalam dilema, yaitu disatu sisi takut dengan ancaman pelak, dan disisi
lain ada perasaan khawatir bila bercerita kepada anggota keluarga yang lain ia
tidak akan percaya.
Korban incest biasanya adalah anak-anak, karena biasanya perkosaan
incest terjadi tanpa ada perlawanan yang berarti dan relatif jarang menimbulkan
trauma fisik, karena biasanya anak-anak cenderung menyerah tanpa melawan
(karena tidak memahami apa yang terjadi pada dirinya). Sedangkan pelaku
kekerasan, biasanya melakukan dengan menggunakan bujukan akan memberi
imbalan tertentu, seperti jajanan, permen, atau uang sehingga anak merasa senang.
Selain itu, faktor penyebab anak-anak ini menyerah begitu saja adalah orang yang
mereka percayai atau mereka sayangi (telah mengenal mereka secara cukup
dekat).
Incest sudah dikenal sejak dahulu kala, terdapat pada semua kelompok
masyarakat, walaupun jenisnya bervariasi sesuai dengan perbedaan zaman dan
kelompok masyarakatnya. Sebagai contoh incest diantara saudara sekandung pada
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
keturunan raja-raja Mesir Kuno, Inca, dan Hawaii, kemudian incest antara ayah
dan anak yang terjadi pada suku Azande di Afrika. 4
Incest berasal dari bahasa latin Incestus yang berarti tidak suci, tidak
senonoh dan Incestare yang berarti menodai atau mengotori. Definisi incest yang
diterima masyarakat luas sekarang ini adalah hubungan seks atau aktivitas seksual
lainnya antara individu yang mempunyai hubungan dekat, yang perkawinan
diantara mereka dilarang oleh hukum maupun kultur.5
Para sarjana mempunyai pendapat sendiri tentang pengertian incest ini,
Soerjono Soekanto dan Pudji Santoso (1998) menyebutkan bahwa “Incest atau
hubungan sumbang adalah hubungan seksual yang dilakukan dengan kerabat atau
keluarga”. Yang berarti bahwa tidak ada batasan tertentu siapa yang disebut
sebagai pelaku secara spesifik. Bila telah terjadi hubungan seksual di dalam
keluarga, selain yang sepantasnya, maka ia disebut sebagai perilaku incest.
Sedangkan Sardjono Dirdjosisworo (1998), menyatakan “Incest adalah
perbuatan sumbang atau zinah dengan saudara.” Incest adalah deviasi perilaku
dalam bentuk hidup bersama sebagai suami-istri berkenaan dengan hubungan seks
antara dua orang yang bersaudara pada tingkat dimana perkawinan diantara kedua
orang itu dilarang oleh Pengadilan.” Sardjono Dirdjosisworo kelihatannya lebih
menekankan hubungan incest ini terjadi diantara sesama saudara sekandung atau
sedarah, tanpa menyinggung hubungan antara orang tua dan anak.
Ada juga pendapat yang menyebutkan Incest adalah sebuah hubungan
seksual diantara kerabat, yang dipandang umum sebagai kegiatan yang tabu,
sejauh ini bentuk umum dari incest adalah hubungan seksual anak laki-laki
4
5
Akademia, Vol. 4 No. 3 Juli 2000, hlm. 1
Ibid, hlm. 1
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
dengan saudara perempuan, yang diikuti oleh hubungan seksual antara ayah dan
anak perempuannya, sedangkan ibu dan anak lelaki jarang. 6 Pendapat John W.
Santrock ini hampir mendekati pendapat Sardjono Dirdjosisworo, yang
menekankan pada pengertian incest sebagai hubungan seksual antara saudara
sekandung, namun pendapat John W. Santrock ini menyebutkan adanya tingkatan
definisi incest berdasarkan frekwensi terjadinya yang dimulai dari hubungan antar
saudara, diikuti dengan hubungan ayah-anak perempuan, dan akhirnya hubungan
yang terjadi antara ibu dan anak laki-laki.
Ruth. S. Kempe dan C. Henry Kempe mendefenisikan Incest sebagai
hubungan seksual antara anggota keluarga dalam rumah, baik antara kakak-adik
kandung atau tiri, ayah-anak kandung, ayah-anak tiri, paman-keponakan kandung
atau tiri. 7 Sedangkan pengertian yang lebih luas lagi ialah hubungan seksual yang
dilakukan seseorang dalam keluarga atau seseorang yang sudah seperti keluarga,
baik laki-laki ataupun perempuan seperti ayah kandung, ayah tiri, ibu dari pacar,
saudara laki-laki, saudara tiri, guru, teman, pendeta/ulama, guru, paman atau
kakek (Jenny Marsh : 1988). 8 Terdapat lagi tambahan tentang pelaku incest
menurut definisi yang dinyatakan oleh Ruth S. Kempe dan C. Henry Kempe ini,
adanya pelaku yang disebut Paman, Keponakan adik tiri, anak tiri, dan kakak tiri.
Sedangkan Jenny Marsh lebih luas lagi, dengan menyebutkan pelaku seperti guru,
teman, pendeta/ulama, kakek bahkan ibu dari pacar yang mewakili pengertian
seseorang yang sudah seperti keluarga.
6
John W. Santrock, Psychology: The Science of Mind and Behavior, WCB (WM C. Brown
Publisher), 1995. hlm. 503
7
Sulaiman Zuhdi Manik, Penanganan dan Pendampingan Anak Korban Incest, PKPA,
2002. hlm. 37
8
Ibid, hlm. 37
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
Incest dapat terjadi pada anak laki-laki dan perempuan serta tidak
seluruhnya dalam bentuk hubungan seksual dan disertai dengan kekerasan fisik,
non fisik atau rayuan untuk membuat korban tidak berdaya sebelum, sesaat dan
sesudah kejadian.
Incest yang terjadi tanpa unsur kekerasan, paksaan atau rayuan, tapi
berdasarkan rasa saling mau atau suka baik untuk menyenangkan suatu pihak
maupun untuk memenuhi tujuan seksual kedua belah pihak juga ada. Incest yang
bertujuan untuk menyenangkan suatu pihak biasanya terjadi antara anak dengan
ayah kandung atau tiri maupun antara anak dengan ibu kandung atau tiri. Dalam
kasus ini umumnya anak berada di pihak pemberi atau memperhatikan dan unsur
kasihan atau ingin menyenangkan orangtuanya cenderung menjadi factor
pendorong, misalnya karena ia tahu ayah atau ibunya tidak lagi dapat
berhubungan seksual dengan ibu atau ayahnya karena alasan medis atau factor
usia. 9
Mengambil pendapat F. Pribor, “Bahwa perilaku incest merupakan
hubungan seksual diantara keluarga yang mempunyai pertalian darah yang dekat.
Yang dimaksud pertalian darah yang dekat adalah hubungan antara ayah dan anak
perempuannya, antara ibu dan anak laki-lakinya, antara saudara sekandung, antara
paman dan keponakan dan antara ayah tiri dan anak tiri. Pengertian incest pada
masa sekarang ini telah diperluas lagi meliputi peradaban pada genital, buah dada
dan pantat, oral-genital, dan hubungan seksual anal maupun vagina”. Di sini
incest meliputi tindakan seksual yang tidak hanya bersifat penetrasi alat seksual
9
Ibid, hlm. 37
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
secara wajar, namun juga dapat dikatakan kurang wajar, yang meliputi tindakan
anal sex, juga tindakan yang bersifat peradaban terhadap daerah-daerah sensitif.
Walaupun secara umum incest pada saat sekarang ini telah dianggap
sebagai sesuatu yang dilarang oleh masyarakat, atau lazim disebut tabu, namun
Robert Master menggambarkan bahwa beberapa bentuk incest di dalam dua puluh
masyarakat diakui. Di Amerika Serikat suatu cult, masyarakat Guyon,
menegakkan praktek incest dalam keluarga inti. Alasan penerimaan mereka
terhadap incest ini adalah bahwa mereka yakin ekspresi seksual tidak perlu
ditahan-tahan, dan bahwa suatu hal yang logis, orangtualah yang memperkenalkan
seksualitas terhadap anak. 10 Di Amerika Serikat, hampir seluruh Negara bagian
mempunyai sanksi criminal terhadap perilaku incest ini, jadi bukanlah suatu
kebetulan kalau keberadaan masyarakat ini bersifat rahasia. 11
2. Ruang Lingkup Hubungan Sedarah
Banyak faktor yang berperan sebagai penentu larangan incest pada
masyarakat kuno atau terbelakang seperti yang terdapat di Azwande, Mesir,
Yunani dan lain-lain. Larangan lebih menyeluruh berkembang setelah diterimanya
tradisi Yudeo-Kristian. Ahli sosiologi menekankan bahwa faktor sosial yang
berperan dalam pencegahan incest, sedangkan ahli Anthropologi memandang
bahwa bentuk tabu terhadap incest ditentukan secara cultural dan dipengaruhi oleh
bentuk keluarga patriarchaal. 12
10
Haskell/Yablonsky, Crininology, Crime and Criminality, Harper and Row Publisher, New
York, 1983, hlm. 251.
11
Ibid. hlm 251
12
Akademia, op.cit. hlm. 2
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
Incest erat kaitannya dengan perkawinan, di dalam Islam, perkawinan
yang dikenal dengan istilah munakahat, telah mempunyai aturan tersendiri.
Adanya wanita-wanita yang tidak halal (dilarang) untuk dinikahi – yang disebut
muhrim adalah suatu bentuk aturan yang pada dasarnya mencegah jatuhnya
martabat manusia sebagai makhluk yang berakal apabila menikahi muhrimnya
tersebut. Apabila hal ini dilanggar maka perkawinannya adalah tidak sah dan
hubungan mereka tergolong ke dalam zina.
Banyak hal yang tidak dapat diterima dengan akal sehat sebagai manusia
normal yang bermoral, bila kita perhatikan fakta yang ada di sekitar peristiwa
incest. Sebagai contoh bila ditelusuri beberapa bentuk dan jenis incest, juga bila
dilihat tentang karakteristik dari incest.
Berbicara tentang jenis incest, dari 1025 kasus incest yang terjadi di
Amerika Serikat, Bagley menganalisa 425 kasus dan menarik kesimpulan tentang
lima jenis perilaku incest, yaitu :
1. Incest fungsional (atau yang terlembaga)…….
Sebagai contoh dari incest ini dilihat dari praktek poligami dan perkawinan
dengan putri dan saudara perempuan oleh suku Mormon, yang menegaskan
beberapa rasionalisasi teologis untuk perilaku ini, praktek itu umum hingga
Negara bagian Utah meminta sanksi kriminal terhahap incest dan poligami.
2. Incest yang tiba-tiba atau tidak diorganisir. Jenis ini terjadi dalam komunitaskomunitas yang berada dalam keadaan disorganisasi sosial dan yang terlalu
rumit.
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
3. Incest Patologis, dalam jenis ini satu atau kedua pelaku rusak secara mental
atau psikotis. Yang rusak mental adalah ekstrasociental, dalam artian bahwa
mereka tidak mampu menginternalisir aturan moral yang melarang incest.
4. Incest melalui fiksasi objek. Jenis ini didasarkan pada objek awal kepuasan
seksual. Bila fiksasi objek menimbulkan incest, sumber kepuasan awal selalu
anak muda. Dalam usia kemudian, ayah (atau kurang khusus ibu) mengambil
anaknya sebagai mitra seksual yang paling menggairahkan.
5. Incest Psikopatic. Incest ini meliputi kasus-kasus dimana mitra dominan
adalah personalitas normal dan intelijensi, memiliki mitra yang sudah kawin
yang akan memberikan saluran seksual yang normal, akan tetapi masih
menghajar anaknya, walaupun sadar perilaku bejat itu salah. Kemungkinan
bahwa beberapa dari kasus ini akan diklasifikasikan sebagai “fiksasi objek”
jika lebih banyak data yang diperoleh. 13
Dan dari karakteristiknya incest dapat digolongkan menjadi :
a. Berdasarkan rasa saling membutuhkan dan saling memuaskan
b. Untuk menyenangkan suatu pihak
c. Dilakukan untuk mencegah suatu pihak melakukan kekerasan pada pihak lain
d. Dilakukan karena tidak berdaya akibat
e. Dapat mengetahui upaya pencegahan terjadinya incest
3. Pengertian Anak dan Batasan Umurnya
Anak adalah cikal bakal lahirnya suatu generasi baru yang merupakan
penerus cita-cita perjuangan bangsa dan sumber daya manusia bagi pembangunan
nasional.
13
Haskell/Yablonsky, op.cit, hlm. 251-252
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
Pengertian anak dapat ditinjau dari usia atau dari aspek kejiwaan.
Seseorang dapat dikategorikan sebagai anak bila ia berumur antara 8 sampai 17
tahun, bila ditinjau dari batasan usia, sementara dari aspek kejiwaan terdapat
pengklasifikasian definisi yang agak rinci dan mempunyai tingkatan yang lebih
jelas, yaitu anak, remaja dini, remaja penuh, dewasa muda, dan akhirnya
dewasa. 14
Tahapan perkembangan ini berlangsung secara berurutan, terus menerus,
dan dalam tempo perkembangan yang tertentu dan bisa berlaku umum. Untuk
lebih jelasnya tahapan perkembangan tersebut dapat dilihat pada uraian berikut :
masa pra lahir, dimulai saat terjadinya konsepsi-lahir, masa jabang bayi, satu haridua minggu, masa bayi, dua minggu-satu tahun, masa anak, masa anak-anak awal
: satu tahun-enam tahun.
Hak-hak privilege yang diberikan Negara atau pemerintah yang timbul
dari UUD 1945 dan perundang-undangan. 15
Untuk mendekati makna yang benar tentang anak itu sendiri, sangatlah
diperlukan suatu pengelompokan pengertian anak, yang dapat kita bagi dari
berbagai sudut pandang, seperti dari aspek religius, sosiologis, ekonomi, dan
hukum.
a. Pengertian anak dari aspek Religius atau agama
Pandangan tentang anak yang dibangun oleh sudut pandang agama, dalam
hal ini sudut pandang agama Islam, bahwa pengertian anak menurut pandangan
Islam adalah sebagai sesuatu yang mulia kedudukannya. Seorang anak dalam
pengertian Islam harus diperlakukan secara manusiawi dan diberi pendidikan,
14
Paulus Hadisuprapto, Juvenile Delinquency, Pemahaman dan Penanggulangannya, Citra
Bakti, 1997, Bandung, hlm. 3
15
Ibid, hlm. 4-5
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
pengajaran, keterampilan dari akhlak nul karimah agar anak tersebut kelak dapat
bertanggung jawab dalam mensosialisasikan diri untuk memenuhi kebutuhan
hidup dari masa depan yang lebih baik.
Dalam pengertian Islam anak adalah titipan Allah SWT kepada orangtua,
masyarakat, bangsa dan Negara sebagai pewaris dari ajaran Islam yang kelak akan
memakmurkan dunia sebagai rahmatan lil alamin. Pengertian ini memberikan hak
atau melahirkan hak anak yang harus diakui, diyakini dan diamankan sebagai
implementasi amalan yang diterima oleh anak dari orangtua, masyarakat, bangsa
dan Negara.
b. Pengertian anak dari aspek Sosiologis
Dalam aspek sosiologis, kedudukan anak menunjukkan anak sebagai
makhluk sosial ciptaan Allah SWT, yang senantiasa berinteraksi dengan
lingkungan masyarakat, bangsa dan Negara. Kedudukan anak dalam pengertian
ini memposisikan anak sebagai kelompok sosial yang berstatus lebih rendah dari
masyarakat di lingkungan tempat berinteraksi. Status sosial yang dimaksud
ditujukan pada kemampuan untuk menterjemahkan ilmu dan teknologi sebagai
ukuran interaksi yang dibentuk dari esensi-esensi kemampuan komunikasi sosial
yang berada pada skala terendah.
Pengelompokan pengertian anak dalam makna ini lebih mengarahkan pada
perlindungan kodrati karena keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki oleh anak
sebagai wujud untuk berekspresi sebagaimana layaknya orang dewasa. Faktor
keterbatasan kemampuan dikarenakan anak berada pada proses pertumbuhan,
proses belajar, dan proses sosialisasi dari akibat usia yang belum dewasa,
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
disebabkan kemampuan daya nalar (akal) dan kondisi fisik dalam pertumbuhan
atau mental spiritual yang berada dibawah kelompok usia dewasa.
Sosialisasi hubungan hukum anak dalam pengertian lingkungan sosial
dimaksud untuk menjaga ketentuan dalam hal manakah dapat dicabut hak-hak
tertentu dari penguasaan orang tua, masyarakat, pemerintah, bangsa dan Negara
terhadap anak.
c. Pengertian anak dalam aspek Ekonomi
Dalam pengertian ekonomi, status anak sering dikelompokkan pada
golongan orang yang non produktif. Jika terdapat kemampuan ekonomi yang
persuasive dalam kelompok anak, kemampuan tersebut dikarenakan anak
mengalami transformasi financial yang disebabkan dari terjadinya interaksi dalam
lingkungan keluarga yang berdasarkan nilai kemanusiaan. Kenyataan-kenyataan
dalam masyarakat sering memproses anak-anak melakukan kegiatan ekonomi atau
kegiatan produksi dapat menghasilkan nilai-nilai ekonomi.
Kedudukan pengertian anak dalam bidang ekonomi adalah elemen yang
mendasar untuk menciptakan kesejahteraan anak ke dalam satu konsep normatif,
agar status anak tidak menjadi korban (victim) dari ketidakmampuan ekonomi
keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara.
d. Pengertian anak dalam aspek hukum
Pengertian anak dalam kedudukan hukum meliputi pengertian kedudukan
anak dari pandangan sistem hukum atau disebut kedudukan dalam arti khusus
sebagai subjek hukum. Kedudukan anak dalam artian dimaksud meliputi ke dalam
beberapa sub sistem sebagai berikut :
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
1. Pengertian anak dalam UUD 1945
Pengertian anak dalam UUD 1945, terdapat di dalam kebijaksanaan Pasal
34 UUD 1945, yang menyebutkan :
“Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara”
Mengandung kekhususan bagi pengelompokan anak-anak yang terlantar dan
kemudian dijadikan objek pembangunan, pembinaan, pemeliharaan, dengan
tujuan anak-anak tersebut akan dapat menjalani kehidupan yang layak suatu saat.
Pasal ini mempunyai makna khusus terhadap pengertian dan status anak dalam
bidang politik, karena esensi dasar dari pengelompokan kedudukan anak ini
adalah bahwa anak adalah subjek hukum nasional, yang harus dilindungi,
dipelihara, dan dibina untuk mencapai kesejahteraan anak.
2. Pengertian anak menurut hukum Perdata
Pengertian anak dalam sistem hukum perdata dibentuk dari beberapa aspek
keperdataan yang terdapat pada anak sebagai subjek hukum yang tidak mampu.
Aspek-aspek tersebut adalah :
a. status belum dewasa (batas usia) sebagai subjek hukum
b. hak-hak anak di dalam hukum perdata
Pengertian anak disini disebutkan dengan istilah “belum dewasa” dan
mereka yang berada dalam pengasuhan orangtua dan perwalian.
Kedudukan seorang anak akibat belum dewasa, menimbulkan hak-hak
anak yang harus direalisasikan dengan ketentuan hukum khusus yang menyangkut
urusan hak-hak keperdataan anak tersebut. Hak-hak keperdataan anak dijelaskan
dalam Pasal 2 KUH Perdata yang menyebutkan sebagai berikut :
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
“Anak yang ada dalam kandungan seorang perempuan, dianggap telah dilahirkan,
bilamana kepentingan si anak menghendaki”. 16
Jadi dalam ketentuan hukum perdata, kedudukan anak sangat luas dan
mempunyai peranan yang penting, dan ketentuan Hukum Perdata ini juga
memberikan perlindungan terhadap hak-hak keperdataan anak, dalam hal ini ada
kaitannya dengan masalah pembagian harta warisan. Dengan demikian
perlindungan anak dalam hukum perdata tidak hanya dilihat dari lahirnya saja
tetapi sejak berada dalam kandungan pun hak-hak anak ini tetap dilindungi.
3. Pengertian anak menurut Hukum Pidana
Anak dalam pengertian hukum pidana, lebih diutamakan pemahaman
terhadap hak-hak anak yang harus dilindungi, karena secara kodrati memiliki
substansi yang lemah dan dalam sistem hukum dipandang sebagai subjek hukum
yang dicangkokkan dari bentuk pertanggungjawaban, sebagaimana layaknya
seorang subjek hukum normal.
Pada hakekatnya kedudukan status pengertian anak dalam hukum pidana
meliputi dimensi-dimensi pengertian yaitu :
a. Ketidakmampuan untuk bertanggungjawab tindak pidana
b. Pengembalian hak-hak anak dengan jalan mensubstitusikan hak-hak anak
yang timbul dari lapangan hukum keperdataan, tata negara dengan maksud
untuk mensejahterahkan anak
c. Rehabilitasi, yaitu anak berhak untuk mendapat proses perbaikan mental
spiritual akibat dari tindakan hukum pidana yang dilakukan anak itu
sendiri
16
R. Subekti dan R. Tjitrosudibio, Kitab Undang-undang Hukum Perdata, Pradnya
Paramitha, Jakarta, 1992. hlm. 3.
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
d. Hak-hak untuk menerima pelayanan dan asuhan
e. Hak-hak anak dalam proses hukum acara pidana
Dengan demikian di dalam ketentuan Hukum Pidana telah memberikan
perlindungan terhadap hak-hak anak yang kehilangan kemerdekaan, karena anak
dipandang sebagai subjek hukum yang berada pada usia yang belum dewasa
sehingga harus tetap dilindungi segala kepentingan dan perlu mendapatkan hakhak yang khusus yang diberikan oleh Negara atau pemerintah.
4. Pengertian Perlindungan Hukum Terhadap Anak
Yang
dimaksud Perlindungan Hukum dalam skripsi ini adalah
Perlindungan hukum terhadap anak, maka sebelum sampai pada pengertian
Perlindungan Hukum terhadap anak, harus pula diketahui apakah yang dimaksud
dengan Perlindungan Anak.
Perlindungan anak adalah meletakkan hak anak ke dalam status sosial
anak dalam kehidupan masyarakat, sebagai bentuk perlindungan terhadap
kepentingan-kepentingan anak yang mengalami masalah sosial. Perlindungan
dapat diberikan pada hak-hak dalam berbagai proses edukasional terhadap
ketidakpahaman dan ketidakmampuan anak dalam melakukan suatu tugas-tugas
sosial kemasyarakatan. Perlindungan anak adalah suatu usaha mengadakan
kondisi dan situasi yang memungkinkan pelaksanaan hak dan kewajiban anak
secara manusiawi positif. 17
Perlindungan anak adalah merupakan hal yang sangat penting demi
terciptanya kontinuitas Negara. Anak adalah cikal bakal suatu generasi manusia,
pembangunan manusia Indonesia seutuhnya merupakan hakikat pembangunan
17
Romli Atmasasmita, Peradilan Anak di Indonesia, Mandar Maju. 1997. Bandung.
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
Indonesia, sangat tidak menguntungkan bila terjadi ketidakpedulian terhadap
Perlindungan anak.
Hal-hal yang tidak menguntungkan itu dapat kita terjemahkan sebagai
masalah-masalah yang akan segera muncul; seperti gangguan terhadap penegakan
hukum, ketertiban dan keamanan. Bila hal ini terjadi maka pembangunan nasional
pun terganggu, maka sudah sepantasnya ada usaha untuk mengadakan atau
meningkatkan perlindungan terhadap anak.
Tonggak sejarah perhatian terhadap anak dimulai pada tahun 1924, yaitu
dengan disahkannya Deklarasi Hak Anak oleh Liga Bangsa-Bangsa; hal itu
menunjukkan bahwa memang sangat diperlukan perlindungan dan perlakuan
khusus terhadap anak dan diwujudkan pula dengan diterbitkannya Convention on
the Rights of the Children, tahun 1989, dan telah diratifikasi oleh 191 negara. 18
Dalam arti luas Perlindungan anak adalah semua usaha yang melindungi
anak melaksanakan hak dan kewajibannya secara manusiawi positif. Setiap anak
dapat melaksanakan haknya, ini berarti dilindungi untuk memperoleh dan
mempertahankan haknya untuk hidup, mempunyai kelangsungan hidup,
bertumbuh kembang dan perlindungan dalam pelaksanaan hak dan kewajibannya
sendiri dan atau bersama para pelindungnya. 19
Perlindungan
hukum
bagi
anak
dapat
diartikan
sebagai
upaya
perlindungan hukum terhadap berbagai kebebasan dan hak asasi anak
(fundamental rights and freedom of children). Serta berbagai kepentingan yang
berhubungan dengan kesejahteraan anak. Jadi perlindungan hukum bagi anak
18
19
Kalingga, volume 5 no. 1, Januari 2002, hlm. 2
Romli Atmasasmita, op.cit., hlm. 167
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
mencakup ruang lingkup yang luas. Perlindungan hukum bagi anak dapat
mencakup berbagai bidang, antara lain :
a. Perlindungan terhadap hak-hak asasi dan kebebasan anak
b. Perlindungan anak dalam proses peradilan
c. Perlindungan kesejahteraan anak (dalam lingkungan keluarga, pendidikan
dan lingkungan sosial)
d. Perlindungan
anak
dalam
anak
dari
masalah
pemahaman
dan
perampasan
kemerdekaan
e. Perlindungan
segala
bentuk
eksploitasi
(perbudakan,
perdagangan, anak pelacuran, pornografi, perdagangan/penyalahgunaan
obat-obatan,
memperalat
anak
dalam
melakukan
kejahatan
dan
sebagainya)
f. Perlindungan terhadap anak jalanan
g. Perlindungan anak dari akibat-akibat peperangan dan konflik bersenjata
h. Perlindungan anak terhadap tindakan kekuasaan 20
Perlindungan anak dalam perspektif hukum pidana pada umumnya diatur
dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) dan sebagian lagi tersebar
dalam undang-undang lain yang ada memuat tentang ketentuan pidana.
Perlindungan terhadap anak yang diatur dalam KUHP terdiri dari
Perlindungan hukum terhadap anak sebagai pelaku tindak pidana dan
Perlindungan hukum terhadap anak sebagai korban dari tindak pidana.
20
Barda Nawawi arief, Beberapa Aspek Kebijakan Penegakan dan Pengembangan Hukum
Pidana, Citra Aditya Bakti, 1998, hlm. 155
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
Apabila anak yang melakukan suatu perbuatan kejahatan atau pelanggaran
itu ketika dituntut belum mencapai batas usia dewasa, maka hakim dapat
mengambil tindakan untuk tidak mengenakan sesuatu hukuman apapun bagi anak.
Dan dengan alasan untuk pembinaan dan pendidikan dapat diserahkan atau
dikembalikan pada orang tuanya atau walinya untuk dididik sebagaimana
mestinya. Hakim dalam mengambil keputusan ini terlebih dahulu harus
memperhatikan kondisi sosial orang tua/ wali si anak tersebut. Apakah
memungkinkan si anak mendapat pendidikan/pembinaan yang sebaik-baiknya
atau tidak? Atau anak itu diserahkan kepada pemerintah untuk dididik atau dibina.
Artinya si anak dijadikan menjadi anak Negara. Ini terjadi apabila dalam keluarga
anak tersebut tidak memungkinkan lagi dibina secara baik, karena sifat si anak
sendiri maupun karena kondisi orangtua atau walinya. 21
Sebagai korban dari tindak pidana, perlindungan terhadap anak diatur di
dalam Pasal-Pasal 283, 287, 290, 292, 293, 294, 295, 297, 320, 332, 341, 342,
346, 347 (1), 328. Pasal-Pasal di atas sebagian besar melalui isi dari Pasal-Pasal di
atas.
Perlindungan hukum terhadap anak menurut Undang-undang Hak Azasi
Manusia Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Azasi Manusia, ketentuan tentang
anak diatur dalam bagian tersendiri yaitu di Bagian Kesepuluh khusus tentang
anak. Pasal-Pasal yang mengatur tentang anak itu adalah Pasal-Pasal 52, 53, 54,
55, 56, 57, 58, 59, 60, 61, 62, 63, 64, 65 dan 66.
21
Aminah Azis, Aspek Hukum Perlindungan Anak, USU PRESS, 1998. hlm. 55.
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
Perlindungan hukum terhadap anak menurut Undang-undang Nomor 23
tahun 2002 tentang Perlindungan Anak diharapkan mampu mewujudkan bentuk
perlindungan terhadap anak yang selama ini hanya merupakan suatu cita-cita.
Menurut Pasal 1 bagian 2, bahwa :
Perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi
anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan
berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat
kemanusiaan serta mendapatkan perlindungan dari kekerasan dan
diskriminasi.
Dalam Undang-undang no. 23 tahun 2003, disamping perlindungan anak
secara umum juga terdapat Pasal yang mengatur tentang Perlindungan Khusus,
yaitu, seperti yang tercantum di dalam Pasal 1 bagian 15;
Perlindungan khusus adalah perlindungan yang diberikan kepada anak
dalam situasi darurat, anak yang berhadapan dengan hukum, anak dari
kelompok minoritas dan terisolasi, anak yang dieksploitasi secara ekonomi
dan/atau seksual, anak yang diperdagangkan, anak yang menjadi korban
penyalahgunaan narkotika, alcohol, psikotropika, dan zat adiktif lainnya
(napza), anak korban penculikan, penjualan perdagangan, anak korban
kekerasan baik fisik dan/atau mental, anak yang menyandang cacat, dan
anak korban perlakuan salah dan penelantaran.
Menurut Pasal 2 Undang-undang no. 23 tahun 2002, Perlindungan anak
haruslah berasaskan Pancasila dan berlandaskan UUD Republik Indonesia tahun
1945, serta tak lepas dari prinsip-prinsip dasar Konvensi Hak Anak yang meliputi:
a. Non diskriminasi
b. Kepentingan yang terbaik bagi anak;
c. Hak untuk hidup, kelangsungan hidup, dan perkembangan; dan
d. Penghargaan terhadap pendapat anak
Perlindungan anak merupakan tameng bagi anak dalam menghadapi
berbagai perlakuan yang kemungkinan akan didapatnya dalam pengasuhan
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
orangtua, wali, atau pihak lain manapun yang bertanggung jawab atas
pergaulannya. Adapun perlakuan-perlakuan yang mungkin didapatnya adalah :
a. diskriminasi
b. eksploitasi, baik ekonomi maupun seksual
c. penelantaran
d. kekejaman, kekerasan, dan peganiayaan
e. ketidakadilan; dan
f.
perlakuan salah lainnya
Hal diatas diatur di dalam Pasal 13 (1) Undang-undang no. 23 tahun 2002,
hal lain yang cukup menarik tentang perlindungan anak menurut Undang-undang
ini adalah adanya pemberatan hukuman.
Adanya pemberatan hukuman terhadap orangtua, wali, atau pengasuh anak
yang melakukan perbuatan seperti yang tercantum dalam Pasal 13 ayat (1) diatas
tentu sangat membantu anak, dan semakin mewujudkan upaya perlindungan anak.
Pemberatan hukuman ini tercantum di dalam Pasal 13 ayat (2), yang berbunyi :
Dalam hal orangtua, wali atau pengasuh anak melakukan segala bentuk
perlakuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), maka pelaku dikenakan
pemberatan hukuman.
Mengenai perlindungan khusus terhadap anak seperti yang terdapat dalam
Undang-undang Perlindungan anak, Penulis hanya mencoba mengetengahkan
Pasal-Pasal yang mempunyai relevansi dengan judul skripsi ini.
Pasal-Pasal yang penulis anggap erat kaitannya dengan judul skripsi yang
penulis pilih adalah, Pasal 69 dan Pasal 81 mengenai ketentuan pidananya.
Pasal 69:
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
(1) Perlindungan khusus bagi anak korban kekerasan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 59 meliputi kekerasan fisik, psikis, dan seksual
dilakukan melalui upaya:
a. Penyebarluasan dan sosialisasi ketentuan peraturan perundangundangan yang melindungi anak korban tindak kekerasan
b. Pemantauan, pelaporan, dan pemberian sanksi
(2) Setiap orang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh
melakukan, atau turut serta melakukan kekerasan sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1).
Sedangkan dalam Pasal 81 disebutkan bahwa:
(1) Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman
kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau
dengan orang lain, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15
(lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling
banyak Rp. 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit
Rp. 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah).
(2) Ketentuan pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 berlaku pula
bagi setiap orang yang dengan sengaja melakukan tipu muslihat,
serangkaian kebohongan, atau membujuk anak melakukan
persetubuhan dengannya atau dengan orang lain.
G. Metode Penelitian
Sebagai bahan di dalam menyusun skripsi ini penulis menggunakan
beberapa teknik mengumpulkan data/penelitian guna mendapatkan informasi dan
kebenaran sehingga akhirnya diterapkan mempunyai bobot yang bernilai ilmiah.
Adapun metode penelitian yang dilakukan dalam skripsi ini adalah :
1. Jenis penelitian ini adalah penelitian Hukum Normatif (Yuridis Normatif).
Yaitu penelitian terhadap efektifitas hukum dalam bidang hubungan seksual
sedarah (incest).
2. Metode Pengumpulan Data
Dalam menulis skripsi ini tentu saja membutuhkan bahan atau masukan
sehingga dapat tersusun menjadi skripsi, untuk melakukan pengumpulan data,
maka penulis melakukan penelitian, yaitu :
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
a. Penelitian Kepustakaan (Library Research)
Library Resaerch ini penulis pergunakan karena pada saat ini metode
inilah
yang
paling
efektif
dan
efisien,
juga
teknik
dapat
dipertanggungjawabkan kebenarannya, sehingga landasan pembuatan
skripsi ini dan landasan berpikir penulis dan menulis skripsi ini sangat
tergantung padanya dan banyak membantu.
Penulis melakukan penelitian pengumpulan data-data dan berbagai sumber
bacaan yaitu buku-buku, majalah, pendapat dan sarjana, peraturanperaturan yang berkaitan dengan aspek yuridis dan kriminologis dan upaya
penanggulangannya, internet, serta kasus-kasus dari kepolisian.
b. Penelitian Lapangan (Field Research)
Teknik ini juga tidak kalah juga pentingnya untuk membuka fakta dan
bobot tulisan ini, sebab dari metode ini ditemukanlah beberapa hal yang
dianggap sebagai bahan yang dapat diketahui dan dimengerti karena ada
hal yang sangat berbeda baik ditinjau dari teori maupun jika dilihat dari
segi peraturan yang mengaturnya, setidak-tidaknya dari penelitian ini
diperoleh informasi bagi kita yang tentunya justru paling banyak
mendekati kebenaran.
c. Analisa Data
Sesuai dengan sifat penelitian maka analisis data dilakukan secara
kualitatif, yaitu dengan cara mempelajari, memahami data yang ada,
selanjutnya dianalisis dengan metode induktif dan deduktif, sehingga
dapat ditarik kesimpulan dalam rangka menjawab permasalahan dalam
skripsi ini.
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
H. Sistematika Penulisan
Adapun sistematika penulisan skripsi ini secara keseluruhan dapat
diuraikan sebagai berikut :
1.
BAB I
: Pendahuluan, yang menjadi sub bab terdiri dari Latar Belakang
Penelitian,
Permasalahan,
Keaslian
Penulisan,
Tujuan
Penulisan, Manfaat Penulisan, Tinjauan Kepustakaan, Metode
Penelitian dan Sistematika Penulisan.
2.
BAB II
: Pengaturan Incest Dalam Berbagai Peraturan Hukum
3.
BAB III
: Faktor-faktor Penyebab dan Akibat dari Terjadinya Hubungan
Seksual Sedarah (Incest)
4.
BAB IV
: Penegakan Hukum Terhadap Pelaku Hubungan Seksual
Sedarah (Incest) dan Upaya Penanggulangan Dari Terjadinya
Kasus Incest
5.
BAB V
: Penutup sebagaimana layaknya dalam penulisan skripsi, maka
dalam penulisan ini penulis membuat suatu kesimpulan dan
juga saran yang menjadi bahan masukan untuk penelitian
mengenai masalah ini dan dalam skripsi ini akan turut pula
dimasukkan daftar bacaan dan lampiran-lampiran.
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
BAB II
PENGATURAN INCEST DALAM BERBAGAI
PERATURAN HUKUM
A. Hubungan Seksual Sedarah (Incest) ditinjau dari Kitab Undang-Undang
Hukum Pidana (KUHP)
Pengaturan perbuatan incest atau yang lebih dikenal dengan hubungan
seksual sedarah dalam KUHP Indonesia sangatlah penting, terutama mengenai
sanksi-sanksinya. Pengaturan untuk kasus-kasus incest masih berdasarkan pada
Pasal 285, Pasal 287, Pasal 294 ayat (1), dan Pasal 295 ayat (1) butir (1). Untuk
Pasal 285 KUHP kurang tepat, karena Pasal 285 KUHP adalah Pasal perkosaan.
Demikian juga untuk Pasal 287 KUHP juga belum tepat untuk pengaturan incest.
Sedangkan bagi Pasal 294 ayat (1) dan Pasal 295 ayat (1) butir (1) masih relevan
untuk mengatur incest. Kasus incest bukanlah kasus perkosaan biasa, melainkan
menyangkut juga kepercayaan, kelangsungan sebuah keluarga, masa depan anak,
dan kondisi psikologi yang terbentuk. Oleh karena itu, sangat disayangkan jika
UU Indonesia memperlakukan pelaku incest sama dengan korban perkosaan
biasa. Oleh karena itu, sangat disayangkan jika UU Indonesia memperlakukan
pelaku incest sama dengan korban perkosaan biasa. Oleh karena itu, UU No. 23
Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU
PKDRT) mengatur pula masalah incest ini yakni pada Pasal 8 huruf a UU
PKDRT, yang berbunyi : Kekerasan seksual sebagaimana dimaksud dalam Pasal
5 huruf c meliputi : pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang
yang menetap dalam lingkup rumah tangga tersebut; pemaksaan hubungan seksual
terhadap salah seorang dalam lingkup rumah tangganya dengan orang lain untuk
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
tujuan komersial dan/atau tujuan tertentu. Selain itu, UU No. 23 Tahun 2002
Tentang Perlindungan Anak, mengatur masalah incest sesuai dengan UU
Perlindungan anak di Pasal 59, dinmaim pemerintah dan/atau lembaga negara
secara jelas menyebutkan memberi kepastian perlindungan khususnya antara lain
kepada anak dalam situasi yang tereksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual.
Jadi tidak perlu lagi ada kekuatiran korban terhadap kepastian janji perlindungan
dari pemerintah dan/atau lembaga negaranya. Untuk Pasal 69nya, lebih menitik
beratkan pada upaya/usaha dan/atau cara-caranya memberikan perlindungan
khusus itu, bagi si anak korban kekerasan tersebut. Hal ini pastilah harus sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang ada.
Pertanggung jawaban pidananya terhadap pelaku incest, menurut KUHP
hanya relevan dengan Pasal 294 ayat (1) dan Pasal 295 ayat (1) butir (1). Dalam
kedua Pasal ini tidak dikenal pidana penjara dan denda paling sedikit/minimalnya,
hanya mengenal pidana penjara paling banyak/maksimal saja, yaitu : 7 (tujuh)
tahun pada Pasal 294 ayat (1) dan 5 (lima) tahun untuk Pasal 295 ayat (1) butir
(1).
Pengaturan mengenai kejahatan incest dalam KUHP berada di dalam 294
ayat (1) :
Melakukan perbuatan cabul dengan anaknya, anak tiri, anak angkat, anak
dibawah pengawasannya yang belum dewasa, atau dengan orang yang
belum dewasa, yang pemeliharaanya, pendidikan atau pengawasannya
diserahkan padanya atau pun dengan bujangnya atau bawahannya yang
belum dewasa diancam dengan pidana penjara paling lama 7 tahun.
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
Perbuatan pidana pada Pasal 294 ini memiliki karakter khusus yakni
terdapat suatu hubungan tertentu antara subjek hukum dan sipembuatnya dengan
objek (korban). Karena adanya faktor hubungan tersebut, dan kemudian hubungan
itu ternyata disalahgunakan (si pelaku menyalahgunakan kedudukannya). Dalam
ayat (1) hubungan tersebut dapat dibagi menjadi dua macam yakni pertama,
hubungan kekeluargaan dimana si pelaku yang seharusnya memiliki kewajiban
hukum untuk melidungi, menghidupi, memelihara, mendidik, dan kedua, adalah
hubungan di luar kekeluargaan tetapi didalamnya tumbuh kewajiban hukum untuk
memeliharanya, atau menghidupi.
Terhadap KUHP, ada beberapa catatan penting yang patut menjadi
perhatian. Pertama, adalah bahwa kejahatan incest ini lebih dimasukkan ke dalam
delik pencabulan (perkosaan untuk berbuat cabul) ketimbang delik perkosaan
dengan persetubuhan. Padahal cara-cara perbuatan incest yang sering terjadi justru
menggunakan cara persetubuhan. Akibatnya Pasal yang digunakan tentunya
terlalu menguntungkan bagi pelaku, karena incest dengan cara perkosaan tentunya
lebih berat ketimbang pencabulan.
Kedua, disamping itu relasi (hubungan darah) antara pelaku dan korban
hanyalah hubungan orangtua dan anak. oleh karena itu KUHP masih sangat
membatasi relasi hubungan sedarah yang dikategorikan sebagai incest. Padahal
dalam banyak kasus incest dengan kekerasan justru terjadi pula di luar hubungan
darah orangtua-anak. Misalnya incest yang dilakukan antara kakek-cucu, pamankeponakan dan lain sebagainya.
Ketiga, KUHP terlihat tidak akan memidana para pelaku incest dengan
Pasal 294 jika perbuatan incest dilakukan oleh orang yang telah sama-sama
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
dewasa, dalam konteks suka sama suka, walaupun jika dilakukan dengan
perkosaan atau pencabulan. Untuk konteks incest yang dilakukan orang dewasa
secara sukarela, KUHP tidak menyatakan hal ini sebagai perbuatan yang dilarang
sebagai incest, tapi mengaturnya sebagai delik zina (bila salah satu terikat
perkawinan). Untuk kasus incest yang terjadi antara orang dewasa dengan cara
paksa (kekerasan, ancaman kekerasan dn lain sebagainya) misalya perkosaan dan
pencabulan maka KUHP hanya akan mengenakan Pasal-Pasal perkosaan atau
pencabulan. Bukan Pasal mengenai incest.
Ketiga, penerapan delik-delik di atas merupakan delik aduan yang
mengakibatkan delik tersebut tidak dapat diproses bila pihak yang berkepentingan
tidak melaporkan kepihak yang berwajib. Padahal dalam banyak kasus, keluarga
korban atau pelaku biasanya menutup-nutupi kasus incest dalam lingkungan
keluarganya. Mereka berpandangan jika kasus incest di ungkap maka akan
mencemari nama baik pelaku maupun keluarga lebih-lebih jika kasus incest
sampai di sidangkan di pengadilan. Sebagai Akibatnya, banyak kasus incest yang
tidak pernah terungkap dan menyebabkan pelaku bebas dari sanksi hukum. Akibat
lebih lanjut, orang tidak akan menjadi takut dan malu melakukan hubungan incest.
Masalah ini akan mengakibatkan kasus incest semakin banyak terjadi di
masyarakat.
Secara umum pengertian Incest adalah hubungan seksual di antara anggota
keluarga yang masih memiliki hubungan darah atau disebut juga dengan
hubungan sumbang. Incest juga sering diartikan sebagai hubungan seksual yang
terlarang antara kerabat dekat. Kamus inggris-indonesia mengartikan incest
sebagai hubungan seks antara sanak keluarga atau anggota keluarga sendiri yang
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
dilarang oleh hukum maupun adat atau larangan berhubungan seksual antara
anggota keluarga yang umumnya disebabkan hubungan sedarah. Namun
pengertian hubungan incest maupun ruang lingkupnya belum merupakan
pengertian yang baku di dalam masyarakat. Karena sesungguhnya batasan-batasan
incest ini sangatlah bervariasi baik menurut pandangan agama, sosial-budaya,
hukum, adat, bahkan kelas sosial.
Pada masyarakat tertentu perkawinan antar sepupu kadangkala dianjurkan,
tetapi ada masyarakat yang lain melarang hubungan tersebut. Dalam agama Islam
dikenal juga istilah larangan kawin selama-lamanya yaitu perkawinan yang
dilakukan karena pertalian darah, pertalian semenda, pertalian sesusuan, dan
sebab perzinaan. Masalah larang perkawinan seperti itu diatur dalam UU
Perkawinan Nomor 1. Tahun 1974 Pasal 8-11 dan Impres No.1 Tahun 1991,
kompilasi hukum islam diatur dalam Pasal 39-44. Mengacu pada konsep tersebut,
maka incest diberi pengertian hubungan seksual yang dilarang antara ayah, baik
kandung, angkat, maupun samping, maupun kebawah, pertalian sesusuan, dan
pertalian semenda.
Incest biasanya terjadi antara saudara laki-laki dengan adik kandung atau
tiri, ayah dengan anak kandung atau anak tiri, ayah dengan anak angkat atau anak
adopsi, kakek dengan cucu, paman dengan keponakan kandung atau tiri dan lakilaki lain yang sudah seperti keluarga, yang posisinya dipercaya. Pengertian yang
luas dari incest juga mencakup hubungan seksual yang dilakukan oleh orang yang
diberikan kepercayaan untuk mengasuh seseorang misalnya guru terhadap murid
atau, pendeta/ulama terhadap anak asuh nya dan Iain-lain. Namun, pada dasarnya
hubungan incest yang paling umum terjadi yaitu antara kasus incest yang terjadi
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
antara anggota keluarga antara anak dengan ayah kandung atau tiri, maupun antar
anak dengan ibu kandung atau tiri, dan antara saudara kandung.
Incest dilakukan dengan berbagai pola, misalnya disertai dengan kekerasan
fisik, non fisik atau rayuan untuk membuat korban tidak berdaya sebelum, saat
atau sesudah kejadian. Adakalanya incest terjadi tanpa menggunakan unsur
kekerasan, paksaan atau rayuan, tetapi berdasarkan rasa sating suka meskipun ini
jarang terjadi.
Dari berbagai karakteristik incest, kasus yang paling banyak terjadi ialah
hubungan seksual yang disertai dengan kekerasan, ancaman kekerasan, penipuan,
penyesatan dan bujukrayu agar anak dipaksa menurut dan atau tidak
berdaya/pingsan. (dengan tujuan perkosaan dan atau pencabulan). Ada pula
karakter kasus yang berbeda dimana Ancaman dan kekerasan tidak hanya
ditujukan kepada korban, akan tetapi kepada ibu dan saudaranya (pihak ke-3),
agar korban terpaksa menurut.
Dampak dari incest yang dirasakan oleh korban sangatlah besar seperti
trauma fisik, trauma psikologis, kehamilan yang tidak di inginkan serta kacaunya
hubungan dalam keluarga. Gangguan psikologis atau trauma sebagai akibat dari
incest yang dialami oleh korban misalnya; tidak mampu mempercayai orang lain,
takut atau khawatir dalam berhubungan seksual, depresi, ingin bunuh diri, dan
perilaku merusak diri sendiri, perasaan akan harga diri yang rendah, merasa
berdosa, marah, menyendiri, dan tidak mau bergaul dengan orang lain. Akibat lain
yang sering meresahkan korban adalah mereka sering sekali disalahkan dan
mendapat stikma yang buruk dari masyarakat
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
Kejahatan ini, tentunya menjadi ancaman terhadap (terutama) anak dalam
sebuah relasi keluarga yang mengakibatkan anak menjadi korban dari
pelampiasan seks keluarganya sendiri. Umumnya kejahatan Incest ini justru
jarang sekali di dilaporkan kepada pihak berwajib karena akan memalukan
keluarga atau khawatir akan mendapat hukuman. Lemahnya perlindungan hukum
terhadap para korbannya ini justru membuat incest tidak di sentuh oleh hukum. Ini
disebabkan karena metode Incest yang dilakukan oleh pelaku biasanya juga
disertai dengan ancaman terhadap korban supaya tidak mengadukan kejadian itu
kepada siapa pun. Jika hal itu terjadi, nyawa si korban juga terancam. Hal ini
membuat perbuatan yang sama sering berulang berkali-kali sehingga korban
pasrah saja menerima perlakuan tidak adil terhadapnya.
Pengaturan yang spesifik mengatur mengenai incest ada dalam RUU
KUHP di bagian Bab delik kesusilaan yakni dalam Pasal 490, 497 dan 498.
Pasal 490: (1) “Persetubuhan yang dilakukan terhadap seseorang yang
mempunyai hubungan sedarah dengannya dalam garis lurus atau
kesamping sampai derajat ketiga, dipidana pidana penjara paling singkat 3
tahun dan paling lama 12 tahun. (2) Jika, dilakukan dengan perempuan
yang belum berumur 18 tahun dan belum kawin maka dipidana pidana
penjara paling lama 15 tahun dan paling singkat 3 tahun”.
Pasal 497: (1) “melakukan perbuatan cabul dengan anak kandungnva
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 tahun dan paling lama 12
tahun”. (2) Setiap orang yang melakukan perbuatan cabul atau
persetubuhan dengan anak tirinya. anak angkatnya atau anak di bawah
penaawasannya yang dipercayakan padanya untuk diasuh, dididik atau
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
dijaga, atau dengan pembantu rumah tangganya atau dengan bawahannya,
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling
lama 10 (sepuluh) tahun.
(3) Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan
paling lama 12 (dua betas) tahun:
a. pejabat yang melakukan perbuatan cabul dengan bawahannya atau
dengan orang yang dipercayakan atau diserahkan padanya untuk
dijaga; atau
b. dokter, guru, pegawai, pengurus, atau petugas pada lembaga
pemasyarakatan, lembaga negara tempat latihan karya, rumah
pendidikan, rumah yatim dan atau piatu, rumah sakit jiwa, atau panti
sosial yang melakukan perbuatan cabul dengan orang yang
dimasukkan ke lembaga. rumah atau panti tersebut.
Pasal 498 ayat (1): Setiap orang yang menghubungkan atau memudahkan
orang lain melakukan perbuatan cabul atau persetubuhan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 497 ayat (1) dan ayat (2), dipidana dengan pidana
penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun.
Dengan pengaturan yang demikian ini, dapat dikemukakan bahwa
kejahatan incest dalam KUHP telah mengalami perubahan. Perubahan itu ialah
ditambahkannya “cara persetubuhan” sebagai delik baru terkait dengan kejahatan
incest, yang di dalam Pasal 294 KUHP belum dimasukkan. Ditambahkannya
elemen “persetubuhan” dalam kejahatan incest akan memberikan perubahan yang
signifikan bagi mengantisipasi kejahatan incest yang biasanya hanya di kenakan
dengan cara-cara pencabulan.
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
Pasal 490 mengenai incest ini juga menunjukkan bahwa RUU KUHP
secara tegas melarang perbuatan-perbuatan incest baik yang dilakukan karena
hubungan sedarah juga dalam hubungan relasi yang bersifat khusus, baik yang
dilakukan dengan memenuhi unsur unsur paksaan, tanpa kehendak, tanpa
persetujuan dari salah satu pihak juga dalam incest yang terjadi melalui
persetujuan dari dua belah pihak (by consent).
Disamping itu dengan adanya pengaturan sanksi pidana minimal, akan
membatasi jaksa maupun hakim dalam penuntutan dan dalam memberikan
putusan. Kebebasan para penegak hukum tersebut menjadi terbatasi, sehingga
penjatuhan hukuman terhadapa pelaku incest tidak akan dapat terlalu ringan atau
terlalu berat. Penjatuhan sanksi pidana akan disesuaikan dengan pembuktian
fakta-fakta melalui alat bukti yang dikemukakan dalam persidangan. Selain itu
pembatasan sanksi hukum minimal ini diharapkan dapat memberikan rasa
keadilan dalam kehidupan manusia baik bagi pelaku, korban, maupun masyarakat.
Perkembangan lain yang bisa dilihat dalam RUU KUHP yaitu delik incest
yang tidak lagi menjadi delik aduan. Perubahan konsep ini dapat membuka
peluang kepada penegak hukum untuk dapat menegakkan hukum yang berlaku
tanpa adanya pengaduan dari pihah-pihak yang berkepentingan. Ini diharapkan
dapat memberikan rasa keadilan dan perlindungan hukum pada masyarakat.
Rumusan tersebut juga sudah membuka pertangungjawaban bagi kejahatan
yang dilakukan terhadap anak tiri, anak angkat, anak dibawah pengawasannya
yang
belum dewasa,
atau
dengan orang
yang
belum dewasa,
yang
pemeliharaanya, pendidikan atau pengawasanya diserahkan padanya atau pun
dengan bujangnya atau bawahannya yang belum dewasa. Rumusan Pasal 497
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
menyatakan bahwa selain melakukan perbuatan cabul dengan anak kandungnya
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 tahun dan paling lama 12 tahun.
Perbuatan cabul juga mencakup dilakukan terhadap anak tiri, anak angkat, anak
dibawah pengawasannya yang belum dewasa, atau dengan orang yang belum
dewasa, yang pemeliharaanya, pendidikan atau pengawasanya diserahkan padanya
atau pun dengan bujangnya atau bawahannya yang belum dewasa.
Namun bila di telisik lebih jauh rumusan mengenai kejahatan incest dalam
RUU KUHP memiiiki beberapa kelemahan.
Pertama, dalam Pasal 490 RUU KUHP defenisi incest yang ada
mengalami penyempitan makna sehingga apa yang dimaksud dengan kejahatan
incest melalui persetubuhan ialah jika hubungan antara korban dan pelaku
memiliki hubungan sedarah dalam garis lurus atau kesamping sampai derajat
ketiga. Kedua, Pasal 490 juga hanya menegaskan bahwa kejahatan incest terjadi
jika ada Persetubuhan yang dilakukan terhadap seseorang yang mempunyai
hubungan sedarah dengannya dalam garis lurus atau kesamping sampai derajat
ketiga. Tanpa merujuk lebih lanjut mengenai apakah persetubuhan dilakukan
dengan cara-cara kekerasan, ancaman kekerasan, dan sebagainya (dengan cara
perkosaan). Hal ini justru akan menurunkan derajat kejahatan incest. Karena
haruslah dipisahkan besar pertanggungjawaban pelaku incest yang dilakukan
dengan cara-cara kekerasan, misalnya kejahatan incest dengan cara perkosaan
harus dibedakan dengan incest yang dilakukan dalam konteks persetubuhan tanpa
kekerasan (perkosaan) terutama terkait dengan status anak sebagai korban.
Padahal jika RUU KUHP konsisten maka rumusan persetubuhan tersebut
jika dikaitkan dengan Pasal perkosaan sudah jelas-jelas masuk dalam kategori
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
perkosaan. Sehingga dalam Pasal 490 RUU KUHP tersebut ada dua kejahatan
dengan pemberatan yang dilakukan oleh pelaku yakni pertama adalah kejahatan
perkosaan, kedua, perkosaan tersebut di lakukan terhadap anak dan ketiga adalah
perbuatan tersebut justru di tujukan kepada orang yang memiliki relasi atau
hubungan darah dengan pelaku.
Ketiga, rumusan Pasal 490 RUU KUHP menyatakan bahwa jika
persetubuhan dilakukan dengan perempuan yang belum berumur 18 tahun dan
belum kawin maka dipidana pidana penjara paling lama 15 tahun dan paling
singkat 4 tahun, Rumusan seperti ini akan memiliki konsekwensi yang penting.
Masih tidak jelas apa pertimbangan dari para perumus RUU KUHP memasukkan
kata “belum kawin”. Sebaiknya istilah belum kawin di hilangkan saja.
Keempat rumusan Pasal 497 menyatakan bahwa melakukan perbuatan
cabul dengan anak kandungnya dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3
tahun dan paling lama 12 tahun. Rumusan ini juga mengalami penyempitan
makna sehingga apa yang dimaksud dengan kejahatan incest melalui pencabulan
hanyalah terbatas dengan anak kandungnya saja atau dengan anak tirinya, anak
angkatnya, atau anak di bawah pengawasannya yang dipercayakan padanya untuk
diasuh, dididik atau dijaga, atau dengan pembantu rumah tangganya atau dengan
bawahannya. Berbeda dengan hubungan yang diatur dalam Pasal 490 RUU
KUHP yakni hubungan sedarah dengannya dalam garis lurus atau kesamping
sampai derajat ketiga. Pasal 497 RUU KUHP juga menyamakan korban yang
berstatus anak dan orang dewasa, dimana tidak adanya pembedaan pidana bagi
pelaku. Seharusnya bagi korban yang masih berstatus anak perlu pidana
pemberatan bagi pelaku.
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
Dari Paparan tersebut di atas menunjukkan bahwa RUU KUHP telah lebih
progresif mengatur mengenai ketentuan tindak pidana incest namun masih
memiliki beberapa kekurangan mengatur tindak pidana ini secara lebih konsisten.
Ruang lingkup tindak pidana incest dalam RUU KUHP dapat dilihat
melalui tabel seperti yang dikatakan oleh Supriadi Widodo Edyyono. Tindak
Pidana Incestt Dalam RUU KUHP. 22
Dengan cara
Objek (korban)
Perkosaan
Hubungan
sedarah dalam
garis lurus atau
kesamping
sampai derajat
ketiga
Hubungan
sedarah dalam
garis lurus atau
kesamping
sampai derajat
ketiga
Hubungan
sedarah dalam
garis lurus atau
kesamping
sampai derajat
ketiga
Hubungan
sedarah dalam
garis lurus atau
kesamping
sampai derajat
ketiga
Anak tirinya,
anak
angkatnya, atau
anak di bawah
pengawasannya
yang
dipercayakan
Perkosaan
Persetubuhan (diluar
konteks perkosaan)
dengan persetubuhan
Persetubuhan (diluar
konteks perkosaan
dengan
persetubuhan)
Persetubuhan (diluar
konteks perkosaan
dengan
persetubuhan)
22
Status usia
Pasal relevan
korban
Dewasa (sudah Disamakan
18 tahun)
dengan
kejahatan
perkosaan
(Pasal 491 di
RUU KUHP)
Anak (belum
Disamakan
18 tahun)
dengan
kejahatan
perkosaan
(Pasal 491 di
RUU KUHP)
Dewasa (sudah Pasal Inces
18 tahun) dan
490 RUU
sudah kawin
KUHP Ayat
(1)
Range Ancaman
pidana penjara
Anak (belum
18 tahun) dan
belum kawin
3 tahun 15 tahun
Anak maupun
dewasa
Pasal incest
490 RUU
KUHP Ayat
(2)
3 tahun 12 tahun
2 tahun 10 tahun
Supriadi Widodo Edyyono. Tindak Pidana Insest Dalam RUU KUHP. Januari 17, 2008.
Opini.
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
Pencabulan
Perbuatan cabul
Perbuatan cabul
(pejabat)
Perbuatan cabul
(dokter, guru,
pegawai, pengurus,
atau petugas pada
lembaga
pemasyarakatan,
lembaga negara
tempat latihan karya,
rumah pendidikan,
rumah yatim dan atau
piatu, rumah sakit
jiwa, atau panti
sosial)
padanya untuk
diasuh, dididik
atau dijaga,
atau dengan
pembantu
rumah
tangganya atau
dengan
bawahannya
Anak
kandungnya
Dengan anak
tirinya, anak
angkatnya, atau
anak di bawah
pengawasannya
yang
dipercayakan
padanya untuk
diasuh, dididik
atau dijaga,
atau dengan
pembantu
rumah
tangganya atau
dengan
bawahannya
Bawahannya
atau dengan
orang yang
dipercayakan
atau diserahkan
padanya untuk
dijaga
Dengan orang
yang
dimasukkan ke
lembaga,
rumah, atau
panti tersebut
Anak maupun
dewasa
Pasal incest
497 RUU
KUHP Ayat
(1)
Pasal incest
497 RUU
KUHP Ayat
(2)
3 tahun 10 tahun
Anak maupun
dewasa
Pasal incest
497 RUU
KUHP Ayat
(3)
3 tahun 12 tahun
Anak maupun
dewasa
Pasal incest
497 RUU
KUHP Ayat
(3)
3 tahun 12 tahun
Anak maupun
dewasa
2 tahun 10 tahun
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
B. Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Ditinjau dari Hukum Islam
Perkawinan sedarah dalam pandangan Islam dan agama-agama yang lain
tidak dapat dibenarkan atau tidak dikehendaki. Alasan atau lebih tepatnya hikmah,
yang banyak dikemukakan para ulama Islam adalah perkawinan tersebut dapat
memutuskan rahim, (qath’ al arham) atau memutuskan hubungan kekeluargaan.
Memutuskan hubungan dengan orang lain saja yang tidak sedarah dilarang agama,
apalagi sedarah. Hubungan suami isteri dalam perkawinan tidak selamanya
berjalan baik-baik, tetapi sering kali terjadi bentrok, mungkin saling membenci.
Nah di sini ada kemungkinan pisah, cerai dan seterusnya.
Seluruh pandangan mazhab fiqh Islam mengharamkan perkawinan ini.
Mereka menyamakannya, dengan zina yang harus dihukum. Tetapi ada perbedaan
diantara mereka soal hukumannya. Mazhab Maliki Syafi’i, Hambali, Zhahiri,
Syi’ah Zaidi dan lain-lain menghukumnya dengan pidana hudud (hukum islam
yang sudah ditentukan bentuk dan kadarnya seperti hukum potong tangan), persis
seperti hukum bagi pezina. Sementara Abu Hanifah menghukumnya dengan
pidana ta’zir (peringatan keras atau hukuman keras).
Dari sisi kesehatan, beberapa anak dari hasil incest memang mengalami
kecacatan, akan tetapi kalaupun tidak mengalami kecacatan fisik, anak tersebut
juga akan sangat terganggu psikologisnya. Ayat-ayat suci Al-Quran telah
menyebutkannya dengan jelas. Kalaupun secara psikologis hubungan itu
menimbulkan masalah, tentu merupakan penjelasan bahwa perkawinan tersebut
perlu dilarang. Agama berfungsi menentukan arah bagi kebaikan manusia. Nabi
pernah mengatakan : “ightaribu la tadhwu”, kawinilah perempuan dari keluarga
jauh supaya anak yang dilahirkannya tidak lemah. Dalam Islam dianjurkan agar
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
anak-anak yang sudah besar dipisahkan tempat tidurnya, baik dengan orang
tuanya sendiri maupun antara laki-laki dan perempuan. Dalam ayat Al-Quran
disebutkan agar anak-anak yang sudah besar, menjelang dewasa tidak memasuki
kamar orang tuanya pada tiga waktu : sebelum shalat fajar (subuh), waktu istirahat
siang hari dan sesudah shalat Isya. Tiga waktu ini tentu merupakan waktu-waktu
di mana orang tua biasanya beristirahat, membuka pakaiannya dan mungkin saja
berhubungan intim. Al-Quran menyebutnya waktu-waktu “aurat”. Pada sisi lain
orang tua juga harus menjaga kesucian anak-anaknya. (Q.S. al Nur, 58-59).
Beberapa contoh pernikahan yang diharamkan oleh Islam, antara lain
nikah Ar-Rabth, nikah Al-Istibdha’, nikah Mut’ah, nikah Syighar, nikah Tahlil,
nikah dalam masa iddah dan menikahi wanita kafir kitabiyah (wanita Yahudi),
nikah dengan wanita-wanita yang diharamkan.
Menikah dengan sepupu saat ini masih dipertanyakan boleh tidaknya.
Namun, berdasarkan ayat di atas menikah dengan sepupu bukan merupakan hal
yang dilarang. Islam memperbolehkannya asal tidak ada hubungan kemahraman.
Hal ini dilihat berdasarkan dua pandangan:
Pertama, Rasulullah dan para sahabat juga melakukan hal tersebut.
Contohnya, saat Rasulullah menikahkan Fathimah, putri beliau, dengan Ali bin
Abi Thalib yang tidak lain adalah sepupunya. Menikah dengan sepupu boleh saja,
selama tidak ada hubungan kemahraman, halal untuk saling menikahi.
Kedua, ditinjau dari media, ternyata diantara mereka juga masih terdapat
perbedaan pendapat. Sebagaian kalangan medis menganggap hal itu bukan apaapa. Ada sebuah riset yang dilakukan oleh beberapa pakar medis barat, di
beberapa daerah pedalaman Afrika yang biasa menikahkan putra-putri mereka
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
dengan kerabat dekat. Kebiasaan itu sudah berjalan berabad-abad, bahkan lebih
dari seribu tahun. Ternyata tidak terdapat keanehan-keanehan atau berbagai
bahaya kesehatan terhadap keturunan-keturunan mereka, seperti yang diklaim
sebagian kalangan medis. Tentu saja, menikahkan anak dengan kerabat dekat,
bukanlah sebuah anjuran khusus. Tidak ana nash yang menunjukkan adanya
anjuran khusus seperti itu, sehingga juga tidak layak bila dengan sengaja
dibudayakan, seperti yang terjadi di beberapa wilayah pedalaman Afrika tersebut.
Tapi setidaknya, dalam Islam memperbolehkannya.
Dengan dua bentuk tinjauan tersebut, Islam dan pandangan medis sebagai
ahli kesehatan dan reproduksi, jelas pernikahan dengan sepupu bukanlah sesuatu
yang dilarang, meski tidaklah dianjurkan secara khusus.
Sementara dalam syariat Islam yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi
Muhammad, dan menjadi syariat bagi umat manusia hingga baru kiamat kelak,
incest di haramkan secara mutlak. Firman Allah :
“Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan,
saudara-saudara perempuanmu, saudara-saudara bapakmu yang perempuan (bibi),
anak perempuan dan saudara-saudaramu yang perempuan, anak perempuan dari
saudara-saudaramu yang laki-laki (keponakan), ibumu yang menyusukanmu,
mertua, anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaan dari istri yang telah kamu
campuri (anak tiri), akan tetapi jika belum campur dengan istrimu itu (sudah kamu
ceraikan) maka tidak berdosa bila kamu kawin, dan diharamkan bagimu
mengawini menantumu;...” (An Nisaa : 22)
Dalam tata nilai di masyarakat kita, setidaknya perkawinan sedarah inipun
terbilang tabu. Jadi sungguh tidak ada tradisi dan kebiasaan yang mungkin
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
melegalitaskan terjadinya budaya ini. Budaya import (budaya dari kalangan Barat
Non Muslim), juga tidak pernah memperkenalkan budaya perkawinan sedarah ini
secara blak-blakan. Meski ruh dari free sex jelas memiliki akses ke arah itu.
Sehingga, ada beberapa faktor penyebab terjadinya itu, yang sebagiannya adalah
berdasarkan pengakuan dari para pelaku perkawinan sedarah tersebut.
1) Karena sikap rendah diri berlebihan, sehingga menghilangkan kepercayaan diri
secara totalitas.
2) Karena paksaan atau bujukan salah satu pihak. Berbee dengan perkosaan pada
umumnya, yang terjadi secara tiba-tiba.
Perkawinan sedarah ini sering terjadi dengan pendekatan dalam waktu lama,
melalui bujukan kepada pihak yang berada di bawah sampai akhirnya terjadilah
hal tabu itu.
3) Karena sekedar memperturutkan nafsu syahwat yang tidak dapat dibendung,
sementara pelampiasan secara normal dianggap sulit.
Masing-masing dari alasan itu tentu harus diantisipasi secara positif
melalui petunjuk-petunjuk Al-Quran dan Al-Hadist Kepada mereka yang rendah
diri, harus ditegaskan, bahwa mereka itu adalah kaum yang berderajat tinggi
sebagai kaum beriman. Kepada mereka yang terintimidasi dan dipaksa oleh
keadaan atau bujukan untuk melakukan pernikahan sedarah yang jelas-jelas haram
itu, sadarkanlah, bahwa hidup di dunia hanya sebentar saja. Dan tidak ada kekuatan
dan daya, kecuali dengan pertolongan Allah.
Tidak ada satupun hal yang diharamkan Al-Qur’an yang tidak
mengandung madharat (bahaya). Kalaupun dari segi tertentu manfaat bisa
ditemukan, tetap saja madharat lebih mendominasi. Kalaulah madharat tersebut
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
tidak langsung menimpa individu, ia bisa menimpa keluarga, atau masyarakat
luas. Bahwa ada penemuan incest dipraktekkan dalam masyarakat tertentu untuk
menjaga keunggulan trah (garis keturunan) dan ternyata tidak ada akibat negatif,
hal itu tidak berarti bahwa secara logika incest menjadi sah-sah saja. Namun
sekali lagi, tidak ada sesuatu yang diharamkan Islam yang tidak mengandung
bahaya. Sehingga boleh jadi secara dlohir incest (baik karena sedarah maupun
sepersusuan) bagi penjagaan galur murni ini tidak ada bahaya, namun bisa saja
secara kejiwaan dan moral bisa berbahaya.
Apalagi jika dihadapkan pada agama. Semua agama tanpa dikomando
menganggap praktek incest sebagai sesuatu yang terlarang. Demikian pula
perasaan moral masyarakat secara kolektif - baik yang dibentuk oleh agama
maupun yang dibentuk oleh akalbudi - menolak praktek ini sebagai bentuk
penyaluran naluri seksual manusia. Sekalipun argumen dan pendekatannya
berbeda-beda, pembahasan incest dari sudut pandang agama-agama selalu
berujung pada kesimpulan yang sama.
Dimasukkannya incest (baik karena sedarah maupun sepersusuan) dalam
masalah pernikahan sesungguhnya sangat logis. Sebab, Al-Qur’an hanya
mengenal pernikahan sebagai satu-satunya jalan menuju kehalalan hubungan seks.
Siapa yang boleh dinikahi maka sah saja berhubungan seks. Sebaliknya siapa
yang haram dinikahi maka dia tidak boleh diajak berhubungan seks, apapun
alasannya! Berdasarkan logika ini maka hubungan seks sedarah atau sepersusuan
baik karena zina maupun perkosaan adalah hal yang keharamannya berlapis-lapis.
Incest dengan cara zina (suka sama suka) menabrak dua garis keharaman
sekaligus yakni haram menikah dan haram berhubungan seks di luar nikah. Lebih
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
dari zina, incest dengan perkosaan menabrak satu lagi garis keharaman yakni
merampas kehormatan perempuan secara paksa.
Secara eksplisit Al-Qur’an memang tidak menjelaskan mengapa menikahi
mahram diharamkan. Ini cara yang biasa ditempuh Al-Qur’an ketika
mengharamkan sesuatu yang madharatnya mudah diketahui atau dirasakan akal
sehat. Berbeda dengan keharaman khamr dan riba, misalnya, Al-Qur’an
menempuh beberapa fase dan memberikan penjelasan untuk meyakinkan alasan
pengharaman karena hal itu banyak dipraktekkan orang dan dirasakan ada unsur
manfaatnya meski tidak sebesar madharatnya. Meskipun setelah Al-Qur’an sudah
sempurna turun, khamr dan riba pun juga sempurna keharamannya, tidak lagi
bertahap.
Keharaman incest (baik sedarah maupun sepersusuan) tampaknya
dipandang sebagai hal yang mudah diterima akal sehat. Jadi kenapa harus
dipersulit?
Begitulah Islam. Selain perkara ibadah khas yang telah diatur sedemikian
rupa, ternyata dalam hubungan antar manusia pun Islam mengatur sedemikian
detailnya. Banyak hikmah dari pengaturan ini, yang salah satunya kelak terungkap
lewat peran ilmu pengetahuan yang meneliti dampak buruk perkawinan sedarah
atau saudara dekat yang dalam syara’ disebut sebagai mahram (orang yang haram
dinikahi).
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
BAB III
FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB DAN AKIBAT DARI
TERJADINYA HUBUNGAN SEKSUAL SEDARAH (INCEST)
1. Faktor-faktor Penyebab Incest
Di masa sekarang ini, sangatlah sulit untuk menggeneralisir penyebab
terjadinya kasus incest. Setiap kasus memiliki latar belakang yang berbeda-beda,
dan penyebab yang berbeda pula. Dalam skripsi ini akan mencoba digolongkan
penyebab terjadinya kasus incest ini menjadi dua golongan utama yaitu Faktor
penyebab yang sifatnya ekstern dan faktor penyebab yang sifatnya intern.
Faktor penyebab terjadinya kekerasan seksual hubungan sedarah (incest)
ada dua kategori yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
Yang termasuk faktor internal adalah :
a. Semua bentuk kekerasan tersebut berkaitan dengan ketimpangan hubungan
kekuasaan baik antara perempuan dengan laki-laki, atau anak dengan
pengasuhnya, dan juga ketimpangan ekonomi yang semakin besar baik
b. Kelalaian pihak keluarga, yang seharusnya waspada terhadap kekerasan
seksual ini. Kurang proteksi terhadap anaknya.
c. Gangguan Psikologis pihak keluarga yang melakukan kekerasan Seksual
(Incest), mempunyai kelainan seks terhadap anak-anak atau juga mungkin
tergolong HyperSeks.
d. Merasa kesepian ditinggal oleh istri, pergi keluar kota, pulau.
e. Mencari atau memperdalam ilmu hitam
f. Iman, tipisnya iman dan kepercayaan terhadap Tuhan YME, yang berguna
untuk membentengi dirinya terhadap berbuat dosa.
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
g. Sekolah ataupun lembaga pendidikan yang kurang menanamkan nilai-nilai,
norma maupun etika, Pendidikan yang diterapkan hanya sebatas teori dan
sangat minim.
h. Faktor ekonomi, di dalam keluarga yang taraf ekonominya rendah incest
sangat potensial untuk terjadi, dengan kondisi keuangan yang susah, terkadang
istri sebagai ibu rumah tangga juga terpaksa untuk bekerja mencari nafkah.
Hal ini akan menimbulkan adanya kesempatan bagi ayah untuk mencari
pelampiasan seksual kepada anak perempuannya.
Bahwa faktor ekonomi yang sulit melahirkan kesempatan untuk
melakukan incest dapat dilihat dari peristiwa yang dialami oleh Nr, ketika
berumur 8 tahun, ayah tirinya J, melakukan pemerkosaan terhadap dirinya ketika
ibunya pergi mencari nafkah tambahan. 23
Hal ini semakin
menegaskan kalimat
yang menyatakan bahwa
“kemiskinan mendekatkan pada kekufuran”.
Konsepsi anak adalah hak milik orang tua yang kemudian dipatrikan
kepada anak, maka sang anak harus patuh kepada orang tua dan sebagainya. Jelas
konsep seperti ini melemahkan posisi tawar dan kedudukan anak sebagai manusia
yang memiliki hak azasi di hadapan orang tuanya. Akhirnya orang tua berada
pada posisi yang lebih dominant terhadap anaknya sehingga dapat berbuat
seenaknya, termasuk mencabuli anaknya sendiri.
Keluarga
sebagai
kesatuan
fungsional,
mempunyai
tugas
untuk
menyelenggarakan kebutuhan manusiawi tertentu dan pemeliharaan anak, yang
meliputi : pengaturan seksual, reproduksi, afeksi, perlindungan, ekonomi,
23
Pusat Data Yayasan Pusaka Indonesia
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
penentuan status. Bila fungsi keluarga tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya,
maka keadaan ini akan mempengaruhi interaksi diantara anggota keluarga
tersebut 24
Timbulnya incest mengindikasikan adanya disfungsi dalam sistem
keluarga. Disfungsi sistem keluarga adalah rusaknya organisasi dalam keluarga,
dan ikatan dalam keluarga diwarnai rasa ketakutan akan ditinggalkan ayah sebagai
tiang keluarga, yang akan menyebabkan kehancuran keluarga. 25
Disfungsi dapat dilihat bedasarkan ciri dan karakteristik anggota keluarga
tersebut.
Riwayat masa kecil mereka sering mencerminkan pola masa kanak-kanak
yang tidak bahagia, banyak mengalami kesulitan, baik kesulitan ekonomi,
kesulitan dalam hubungan dengan orangtua, maupun penyiksaan fisik dan seksual.
Pengalaman masa kanak-kanak yang menyakitkan tersebut mempengaruhi
perannya sebagai orangtua dikemudian hari. Ayah tidak mampu menjalankan
tugasnya mengasuh dan melindungi anaknya. Pengalaman dimasa lalu, yang
melihat orangtua sebagai penyiksa terekam dan berulang pada dirinya, yaitu
menyalahgunakan otoritasnya sebagai orangtua dan mengeksploitasi anak
perempuannya untuk memuaskan kebutuhan seksualnya. Pengalaman awal
dirinya sebagai korban incest, menjadi model prilaku incest di belakang hari
terhadap anak perempuannya.
Kadang-kadang ayah yang melakukan incest mempunyai kesulitan dalam
menjalin hubungan heteroseks yang normal karena mempunyai dorongan
homoseks yang laten. Adanya riwayat tidak melakukan hubungan seksual dalam
24
25
Akademia, vol. 4, Juli 2000, hlm. 2
Ibid, hlm. 3
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
waktu yang lama dan riwayat melakukan hubungan seks bebas menambah
dorongan incest ayah.
Ayah sebagai pelaku utama incest sering ketakutan kalau anaknya akan
mengungkapkan perihal hubungannya kepada orang lain. Di samping rasa takut,
ayah juga merasa memiliki campur cemburu pada anak gadisnya, sehingga ia
berusaha menghalangi anak perempuannya untuk bergaul dan berhubungan wajar
dengan grup remaja lain maupun orang luar. 26
Berlawanan dengan gambaran ayah, gambaran ibu secara umum
dilukiskan sebagai seorang yang pasif, menarik diri, dan sangat tergantung. Ibu
seringkali tidak menjalankan fungsinya sebagai ibu rumah tangga dan
menyerahkan tugasnya kepada anak perempuannya karena alasan sakit dan
ketidakmampuannya. Ibu mempunyai ketergantungan ekonomi dan emosional
yang besar kepada ayah.
Masa kanak-kanak ibu sering diwarnai oleh rasa tidak aman dan suasana
rumah yang tidak stabil, sehingga timbul ketergantungan dan cemas perpisahan.
Seperti halnya ayah, ibu juga mempunyai pengalaman pengasuhan yang buruk
pada masa kanak-kanaknya. Sehingga ibu tidak mempunyai model pola
pengasuhan yang baik bagi anak-anaknya, dan ia tidak mampu menjalankan
perannya sebagai ibu secara memadai. 27
Kebanyakan anak yang pertama kali menjadi korban incest adalah anak
perempuan yang tertua, dan anak perempuan yang lebih muda akan menjadi
korban berikutnya. Biasanya incest dimulai ketika anak berusia 8-12 tahun.
26
27
Ibid, hlm. 3
Ibid, hlm. 4
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
Sulaiman Z. Manik mengungkapkan adanya perbedaan prilaku anak dalam
menghadapi perbuatan incest yang dialaminya menurut usia korban. Pada anak
usia 15 tahun ke bawah, peristiwa incest ditanggapi dengan tindakan penolakan
dan perasaan dikhianati kepercayaanya terhadap pelaku dan hal ini diikuti dengan
efek trauma yang sangat besar. Bujukan dan ancaman dari pelaku adalah hal yang
lazim dalam kasus-kasus seperti ini.
Sedangkan dalam kasus yang usia korbannya 15 tahun ke atas, korban
mulai menerima dengan anggapan bahwa dirinya adalah sebagai penyelamat
keluarga, baik dari segi seksual, dalam hal ini ibu yang mungkin tidak mampu lagi
menjalankan kewajibannya, penyelamat dari terjadinya kekerasan fisik yang sama
yang kemungkinan akan menimpa adiknya, dan ekonomi, sesuai dengan sifat ayah
sebagai tiang keluarga, dan ada juga hal yang agak mengejutkan, bahwa ketika
korban ternyata mulai menikmati hubungan tersebut.
Yang merupakan faktor eksternal yaitu :
a. Media elektronik maupun media yang lain, baik berupa gambar maupun VCD
porno yang bebas beredar atau yang disebut ilegal. Situs pornos dalam internet
yang mudah diklik.
b. Mode atau cara berpakaian yang mengundang daya tarik seksual atau lebih
berani dalam menonjolkan auratnya.
c. Minuman keras, narkoba, dan obat perangsang
Kekerasan terhadap perempuan merupakan masalah universal yang
melewati batas-batas negara dan budaya. Studi yang dilakukan di 90 komunitas
yang berbeda di dunia menunjukkan pola tertentu dalam insiden kekerasan
terhadap perempuan. Menurut studi tersebut, terdapat empat faktor untuk
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
terjadinya kekerasan. Pertama adalah ketimpangan ekonomi antara perempuan
dan laki-laki; selanjutnya adalah penggunaan kekerasan sebagai jalan keluar suatu
konflik; otoritas dan kontrol laki-laki dalam pengambilan keputusan. Faktorfaktor tersebut seringkali tertutupi oleh mitos-mitos. Misalnya dominasi laki-laki
terhadap perempuan memang suatu hal yang sudah semestinya karena itu
merupakan bagian dari ‘kejahatan’ itu sendiri. Dengan melakukan tindak
kekerasan, maka hal itu bisa mengurangi stress. Rasa rendah diri dan keinginan
perempuan untuk didominasi; dan mitos bahwa kekerasan adalah suatu hal yang
tidak terelakkan dalam hubungan perempuan laki-laki. Namun para pengadvokasi
anti kekerasan terhadap perempuan mengamati bahwa kekerasan itu merupakan
fungsi dari norma-norma sosial yang telah terkonstruksi yang menempatkan lakilaki pada posisi yang dominan dan perempuan pada posisi tersubordinasi.
Faktor dominan penyebab terjadinya kekerasan seksual Hubungan sedarah
(incest) terhadap Perempuan dibawah umur, yaitu ketimpangan yang terjadi atau
kekuasaan antara laki-laki dengan perempuan khususnya pada anak di bawah
umur. Hal tersebut yang menjadi tolok ukur terjadinya sehingga memudahkan hal
itu dapat tersebut terjadi. Hal tersebut adalah faktor internal, disisi lain juga faktor
eksternal juga besar pengaruhnya. Yang menjadi faktor pendukung yaitu takut
dengan ancaman yang diberikan oleh pihak yang lebih berkuasa (yaitu pihak
keluarga yang akan melakukan incest), lemahnya anak di bawah umur dari segi
fisik untuk melawan. Dan menjadi faktor penghambat adalah iman yang tebal
yang harus dimiliki oleh pihak keluarga sehingga tidak timbul incest,
menanamkan nilai-nilai, etika dan moralitas, Pihak keluarga memberikan proteksi,
perhatian dan kasih serta keluarga yang komunikatif.
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
Disamping itu faktor eksternal yang mempunyai pengaruh besar adalah
media-media elektronik maupun media tulis yang menyajikan gambar yang dapat
membuat orang melakukan tindakan Kekerasan Seksual ini. Media elektronik
contohnya yaitu VCD porno yang beredar bak kacang goreng yang dengan mudah
dapat diperoleh ditempat-tempat khusus, hal inilah media ini adalah media yang
menampilkan secara visual dan audio jadi secara tidak langsung dapat
menanamkan dalam pikiran yang kotor, dan pasti butuh obyek dalam pemuas
hawa nafsu tersebut. Dalam hal inilah dapat menyebabkan anak sendiri, ataupun
anak tetangga yang menjadi sasaran. Karena begitu besar pengaruh yang
ditimbulkan oleh media, maka pemerintah harus dapat lebih tegas terhadap
pengedar VCD ataupun gambar porno.
Faktor pendukung terhadap masalah ini ada beberapa hal :
a. Mudahnya VCD porno atau gambar porno yang dijual dipasaran
b. Harganya yang murah
Selain Faktor Pendukung juga ada faktor penghambat yaitu :
a. Pemerintah mengeluarkan hukuman yang lama hingga pemasar atau yang
membeli menjadi takut
b. Iman yang tebal.
Dalam kaitannya sebagai penyebab incest, perubahan sosial adalah
perubahan-perubahan aspek sosial sebagai akibat adanya modernisasi. Perubahan
sosial yang diakibatkan modernisasi itu seperti munculnya kebebasan dalam
publikasi media massa, seperti yang diungkapkan Dadang Hawari; (2002:55).
“Faktor penyebabnya adalah longgarnya tata norma dan moral masyarakat akibat
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
invasi media. Kasus Incest makin banyak karena adanya rangsangan lewat media
yang semakin marak.”
Kalau kita perhatikan, penayangan film-film impor yang mengumbar
budaya barat secara bebas memang semakin sering dilakukan stasiun-stasiun
televisi yang ada di Indonesia. Ketika acara-acara yang semula dianggap tabu
menjadi hal yang dianggap lazim oleh masyarakat karena koran publikasi
informasi terbuka lebar, maka bentrokan perilaku sosial pun terjadi.
Demikian pula halnya dengan media cetak, belakangan ini banyak tabloid
mingguan yang menampilkan pose-pose seronok para modelnya, dan disertai
dengan cerita-cerita yang menjurus pada cerita porno sebagai menu utama dari
tabloid tersebut.
Walaupun batasan pornografi sangat sulit untuk ditetapkan, namun bila
kita perhatikan isi dari Pasal 282 KUHP :
(1) Barangsiapa menyiarkan, mempertontonkan atau menempelkan dengan
berterang-terangan suatu tulisan yang diketahui isinya, atau suatu gambar
atau barang yang dikenalnya yang melanggar perasaan kesopanan, maupun
membuat, membawa masuk, mengirimkan langsung, membawa keluar
atau menyediakan tulisan, gambar atau barang itu untuk disiarkan,
dipertontonkan atau ditempelkan sehingga kelihatan oleh orang banyak,
ataupun dengan terang-terangan atau dengan menyiarkan sesuatu surat,
ataupun dengan berterang-terangan diminta atau menunjukkan bahwa
tulisan, gambar atau barang itu boleh didapat, dihukum penjara selamalamanya satu tahun empat bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp.
45.000,(2) Barangsiapa menyiarkan, memepertontonkan atau menempelkan dengan
berterang-terangan suatu tulisan, gambar atau barang yang melanggar
perasaan kesopanan, maupun membawa masuk, mengirimkan terus,
membawa keluar atau menyediakan surat, gambar atau barang itu untuk
disiarkan, dipertontonkan atau ditempelkan, sehingga kelihatan oleh orang
banyak ataupun dengan berterang-terangan atau dengan menyiarkan
sesuatu tulisan menawarkan dengan tidak diminta atau menunjukkan,
bahwa tulisan, gambar atau barang itu boleh didapat, dihukum penjara
selama-lamanya sembilan bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp.
45.000,- jika ada alasan yang sungguh-sungguh untuk menduga, bahwa
tulisan, gambar atau barang itu melanggar perasaan kesopanan.
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
(3) Jika melakukan kejahatan yang diterangkan dalam ayat pertama dijadikan
suatu pencaharian atau kebiasaan, oleh tersangka, dapat dijatuhkan
hukuman penjara selama-lamanya dua tahun delapan bulan atau denda
sebanyak-banyaknya Rp. 75.000,Perubahan budaya juga diyakini sebagai salah satu penyebab terjadinya
kasus incest. Menurut Dadang Hawari (Forum : 2002;55) maksud dari perubahan
budaya itu adalah munculnya budaya baru bahwa hubungan seksual itu adalah
ungkap kasih sayang, anak mau, dan bapak mau, akhirnya terjadilah hubungan
seksual. Lebih lanjut Dadang Hawari menyebutkan – dengan mengambil contoh
kasus yang terjadi di barat – bahwa akibat kehidupan yang free sex itu, data
statistik menunjukkan bahwa sepertiga gadis di barat justru diperawani oleh
bapaknya sendiri.
Kecenderungan melakukan seks sedarah adalah dampak dari terjadinya
pelompatan budaya; menurut Sulaiman Zuhdi Manik 28, mengutip pendapat Alvin
Toeffler “Bahwa ketika seseorang berada pada suatu pola budaya yang
sebenarnya belum pantas untuk ditempatinya, maka orang tersebut cenderung
untuk melakukan hal-hal yang tidak wajar”. Dalam kasus incest, akibat
munculnya budaya barat secara tiba-tiba, maka rakyat timur yang memegang
budaya yang sangat bertentangan dengan kebebasan dalam budaya barat
menimbulkan ketimpangan perilaku anggota masyarakatnya, hingga hal-hal tabu
dapat berlangsung.
Ada pameo dalam masyarakat yang menyebutkan bahwa “pria dapat
memilih wanita, namun wanita tidak dapat memilih pria”, karena memang jumlah
wanita lebih banyak dari pria di muka bumi ini.
28
wawancara
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
Akibatnya Kontrol sosial terhadap kondisi padat populasi wanita itu sangat
lemah 29, hal ini menyebabkan tingginya potensi untuk terjadinya kekerasan
terhadap perempuan. Dan memang telah terbukti dengan seringnya terjadi kasus
kekerasan seksual terhadap perempuan, yang salah satu bentuknya adalah incest.
Ringannya hukuman yang dijatuhkan kepada terdakwa dapat disebut
sebagai factor yang paling dominant dalam penyebab maraknya incest ini. Pasal
294 KUHP menyebutkan:
(1) Barangsiapa melakukan perbuatan cabul dengan anaknya yang belum
dewasa, anak tiri, atau anak pungutnya, anak peliharaannya, atau
dengan seseorang yang belum dewasa yang dipercayakan padanya
untuk ditanggung, dididik atau dijaga, atau dengan bujang atau orang
sebawahnya yang belum dewasa, dihukum penjara selama-lamanya
tujuh tahun
(2) Dengan hukuman yang serupa, dihukum
le. Pegawai negeri yang melakukan perbuatan cabul dengan orang
yang dibawah perintahnya atau dengan orang yang dipercayakan
atau diserahkan padanya untuk dijaga
2e. Pengurus, tabib, guru, pegawai, mandor (opzichter) atau bujang
dalam penjara, rumah tempat melakukan pekerjaan untuk negeri
(Landswerkinrichting), rumah pendidikan, rumah piatu, rumah
sakit ingatan atau balai derma, yang melakukan pencabulan dengan
orang yang ditempatkan di situ
Dengan hukuman yang maksimalnya hanya tujuh tahun memang sangat
tidak setimpal dengan akibat yang telah ditimbulkan pelaku terhadap korban.
Sebagai contoh kasus yang dialami oleh Sr, penduduk jalan SM. Raja
Medan, ia dicabuli oleh ayahnya M.S.H, pada tanggal 15 April 2006 Jaksa
Penuntut Umum mengajukan tuntutan empat tahun penjara terhadap terdakwa,
namun Majelis Hakim dalam amar putusannya No. 1.121/pid.B/2006 Mdn
menjatuhkan hukuman penjara tiga tahun enam bulan kepada pelaku.
29
Forum Keadilan, September 2005, hlm. 55
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
Walaupun menurut visum dokter pada kasus tersebut menyatakan bahwa
selaput dara korban belum mengalami kerusakan, yang mengindikasikan belum
terjadinya persetubuhan, namun harus pula diperhatikan dampak psikologis yang
telah dialami korban akibat perbuatan tersebut.
Sudah sepantasnya perbuatan ini diperberat hukumannya, namun karena
hukuman maksimal yang dapat dijatuhkan dalam kasus ini hanya tujuh tahun,
maka sering hukuman yang dijatuhkan lamanya jauh di bawah tuntutan jaksa
ataupun di bawah hukuman maksimal.
2. Akibat Dari Terjadinya Incest
Akibat yang ditimbulkan kekerasan seksual hubungan sedarah (incest)
bagi korban secara umum, pada kasus kekerasan seksual pada perempuan dan
anak-anak, korban akan mengalami dampak jangka pendek (short term effect) dan
dampak jangka panjang (long term effect). Keduanya merupakan suatu proses
adaptasi yang normal (wajar) setelah seseorang mengalami peristiwa traumatis.
Dampak jangka pendek biasanya dialami sesaat hingga beberapa hari setelah
kejadian. Dampak jangka pendek ini termasuk segi fisik korban, seperti ada
gangguan pada organ reproduksi (infeksi, kerusakan selaput dara, robek dan
sebagainya) dan luka-luka pada bagian tubuh yang lain, akibat perlawanan atau
penganiayaan fisik. Dari segi psikologis biasanya korban merasa sangat marah,
jengkel, merasa bersalah, malu dan terhina. Gangguan emosi ini biasanya
menyebabkan terjadinya kesulitan tidur (Insomnia) dan kehilangan nafsu makan
(lost appetite).
Dampak jangka panjang dapat terjadi apabila korban tidak mendapat
penanganan dan bantuan (Konseling psikologis) yang memadai. Dampak jangka
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
panjang itu dapat berupa sikap atau persepsi yang negatif terhadap laki-laki atau
terhadap seks.
Selain hal-hal yang telah disebutkan di atas, ada istilah khusus dalam
memahami dampak kekerasan seksual terhadap perempuan yaitu apa yang disebut
dengan trauma. Trauma adalah “luka jiwa yang disebabkan oleh karena seseorang
mengalami hal diluar batas normal (berdasarkan standar dirinya sendiri).
Bila seseorang perempuan mengalami gejala-gejala yang khas, seperti
mimpi-mimpi buruk (Nightmares) atau ingatan-ingatan akan kejadian yang
muncul secara tiba-tiba (flashback), dan gejala tersebut berkepanjangan hingga
lebih dari sekitar 30 hari, besar kemungkinan korban mengalami Post Stress
Diorder atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan stres pasca trauma.
Ada 3 kategori gejala yang paling umum terjadi, yaitu :
c. Hyper arousal, gejala ini sangat dipengaruhi oleh kerja hormonal tubuh yang
ikut berubah sehubungan dengan perubahan kondisi psikologis korban. Gejala
yang paling umum adalah agresi, insomnia dan reaksi emosional yang intens,
seperti depresi yang menyebabkan korban ingin bunuh diri. Gejala ini
merupakan indikasi dari adanya persistant continuing expectation of danger
atau perasaan seolah-olah kejadian yang buruk itu akan terjadi.
d. Instrusion, merupakan constant reliving of the traumatic event atau dan
korban sungguh-sungguh tidak mampu mengontrol pemunculan ingataningatan peristiwa yang mengerikan itu. Biasanya gejala berupa Nightmares
(mimpi-mimpi buruk) dan flashback (ingatan-ingatan yang berulang, seperti
sebuah kilas balik), sehingga dapat dikatakan sebagai kekacauan ingatan.
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
e. Numbing, atau dalam istilah kita “mati rasa”. Gejala ini pada dasarnya adalah
wajar, tetapi menjadi tidak wajar jika terjadi terus-menerus sehingga orang
menjadi indifferent (acuh tak acuh) dan detached (terpisah dari interaksi
sosial).
Ketiga hal inilah yang dikenal dengan sebagai Dialektika Trauma, yaitu
gejala-gejala yang sangat umum dialami oleh seseorang yang mengalami trauma.
Akibat kekerasan seksual bisa berbeda-beda. Ada yang dapat segera
terlihat mata seperti kekerasan fisik. Tetapi ada pula jenis kekerasan yang
akibatnya baru tampak berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun kemudian dan
itupun tidak secara kasat mata, misalnya kekerasan emosional. Menurut Elly
Nurhayati dari Rifka Annisa, satu hal yang khas pada perempuan yang mengalami
tekanan psikologis termasuk yang dikarenakan kekerasan adalah gangguan pada
fungsi reproduksi. Misalnya saja haid yang tidak teratur atau tidak terhenti, sering
mengalami keguguran, atau kesulitan menikmati hubungan seksual.
Terlepas dari apakah akibat kekerasan itu bisa langsung terlihat mata
ataupun baru tampak kemudian, tapi yang jelas dampaknya akan membatasi
kehidupan perempuan itu. Gangguan kesehatan, hilangnya konsep diri dan rasa
percaya terhadap diri sendiri, jelas akan menghambat kegiatan-kegiatan mereka
untuk berpartisipasi secara penuh dalam masyarakat. Ini berarti hilangnya sumber
daya manusia yang sangat penting. Perempuan yang seharusnya bisa aktif
berpartisipasi dalam masyarakat, dan bisa mengembangkan potensi dirinya,
sekarang terhambat karena masalah kekerasan tersebut. Organisasi Kesehatan
Sedunia WHO memperkirakan bahwa biaya pengobatan terhadap korban
kekerasan 2,5 kali lebih banyak daripada penyakit biasa. Dan perempuan yang
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
mengalami kekerasan akan kehilangan 50 persen produktivitasnya. Belum lagi
kalau kita melihat dampak kekerasan terhadap perempuan terhadap generasi
mendatang. Anak-anak yang tumbuh di lingkungan keluarga yang diwarnai
kekerasan akan menyebabkan anak-anak tersebut tidak bisa berkembang menjadi
manusia dewasa yang utuh karena mereka tidak mengenal apa itu kekebasan dan
demokrasi. Tidak ada pilihan-pilihan lain bagi anak-anak itu. sejumlah studi
menunjukkan bahwa anak-anak yang hidup dalam keluarga yang diwarnai
kekerasan, pada masa dewasanya cenderung akan terlibat dalam situasi yang sama
karena nilai-nilai yang hidup dalam keluarga itu akan berpindah dan
terinternalisasi oleh anak.
Analisa terhadap permasalahan ini dapat juga dari dampak sosial. Dampak
sosial dari permasalahan ini adalah pelaku atau korban akan merasa dikucilkan
dari masyarakat, hal ini menyebabkan masa depan dari anak atau korban
kekerasan seksual seolah-olah tidak berpengharapan, yang menjadi faktor
pendukung korban merasa tidak berpengharapan atau masa depan yang surama
adalah :
1. Masyarakat ataupun pihak keluarga yang menjauhi dan menghindari pelaku
atau korban kekerasan seksual.
2. Masyarakat atapun pihak keluarga yang bersifat pasif, maksudnya tidak
melakukan segala sesuatu untuk menghibur atau memberi suatu support
terhadap korban kekerasan seksual.
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
Yang menjadi faktor penghambat adalah :
1. Masyarakat ataupun pihak keluarga berusaha menghibur dan memberikan
pengertian kepada masyarakat yang lainnya untuk tidak menjauhinya ataupun
menghindarinya.
2. Masyarakat dan pihak memberikan dukungan terhadap pelaku kekerasan
seksual bahwa dia mempunyai harapan di dalam bermasyarakat.
3. Dampak Psikologi. Dampak psikologi dari penderita atau korban dapat
dikatakan sangat besar artinya pastilah korban akan mengalami dampak
psikologis yang mungkin dapat mempengaruhi kejiwaannya.
4. Dampak fisik. Pada dampak fisik biasanya dapat terlihat langsung secara kasat
mata seperti memar-memar ditubuh atau goresan-goresan luka.
5. Dampak Ekonomi. Dampak ekonomi, yang menjadi sumber dari hal ini adalah
dimana perekonomian sangat mempengaruhi, dimana dalam suatu keluarga.
3. Upaya-upaya Penanggulangan dari Hubungan Seksual Sedarah
1. Upaya Preventif
Pencegahan sebelum terjadinya kasus incest sangat diperlukan, karena
pada dasarnya lebih baik mencegah sebelum hal yang buruk terjadi daripada harus
menata dan memperbaiki sesuatu yang telah mengalami kerusakan.
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan sebagai upaya pencegahan
terhadap terjadinya kasus incest ini, yaitu :
a. Meningkatkan Pemahaman tentang Agama
Semua hal di atas berpulang pada kemampuan memahami dan
melaksanakan ajaran agama. Penanaman nilai-nilai agama sejak dini akan sangat
membantu proses pencegahan incest ini.
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
Ajaran agama selalu menanamkan kasih sayang, welas asih, kesabaran dan
ketaatan, maka bila tiap individu dibekali ajaran agama ini seutuhnya, tidak akan
ada lagi penyelewengan-penyelewengan tingkah laku.
b. Perbaiki Masalah Ekonomi
Sungguh tepat ungkapan yang menyebutkan bahwa kemiskinan membawa
kepada kekufuran. Masalah ekonomi, seperti yang telah disebutkan dalam faktor
penyebab incest memang merupakan faktor utama dalam terjadinya kasus incest.
Ketua MUI Sumatera Utara, mengatakan bahwa Islam mengajarkan
umatnya untuk berupaya memperbaiki kesejahteraan. 30 Lebih lanjut ia
mengatakan, dalam kaitannya dengan incest; bahwa incest ini dapat menimbulkan
dampak besar yaitu pencemaran kelamin dan pencemaran nasab (keturunan). 31
Untuk itu sebagai upaya pencegahan; bila seseorang merasa belum
mempunyai kemampuan untuk mensejahterahkan keluarga, janganlah berumah
tangga atau kawin. Masih menurut bahwa Islam mendorong umatnya, terutama
kepala keluarga untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Itu dimaksudkan agar bisa
lebih tenang beribadah kepada Allah SWT. Sebelum calon suami-istri
melangsungkan pernikahan, terlebih dahulu ditanyakan kesanggupan baik moril,
maupun materiil. Dan bila tidak sanggup, Islam mengajarkan agar berpuasa.
c. Menyediakan Tempat Tinggal Yang Layak
Masalah tempat tinggal atau rumah yang layak ini juga perlu
dikedepankan, dengan tersedianya tempat tinggal yang layak huni bagi anggota
keluarga, akan dapat menjadi pencegah sebelum terjadinya incest.
30
31
Sumut Pos, 22 Februari 2005, halaman 19.
Ibid
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
Rumah hunian yang layak di sini, dimaksudkan adalah adanya pembedaan
kamar tidur bagi anggota keluarga. Idealnya sebuah rumah memiliki tiga kamar
tidur; satu kamar tidur untuk orang tua, satu kamar tidur untuk anak laki-laki, satu
kamar tidur untuk anak perempuan. 32 Hal ini juga ditegaskan oleh Mahmud Azis
Siregar, bahwa Islam memerintahkan untuk memisahkan anak dari kamar orang
tua, bila anak mulai mumaiz (belum remaja tapi sudah mengerti lelaki dan
perempuan), dan memisahkan tempat tidur dengan saudara yang tidak sejenis,
kalau sudah baligh adalah mutlak. 33
d. Jangan Terlalu Dekat dengan Lawan Jenis
Bagi anak, haruslah diupayakan untuk tidak terlalu dekat dengan lawan
jenis, terlebih dengan keluarga dekat, demikian yang diungkapkan oleh Dra. Psi.
Mustika Tarigan. Sebab pelaku incest adalah orang dekat korban, bisa ayah
kandung, ayah tiri, paman, kakek, abang. 34
Jadi sebaliknya, demi keamanan anak atau kaum perempuan, sudah
sepantasnya ada pengawasan yang ketat bagi orang lain (laki-laki) yang masuk ke
kamar. Jangan sampai orang lain itu demikian bebasnya keluar masuk kamar tidur
anak perempuan.
2. Upaya Represif
Upaya represif yang dapat dilakukan bila kasus incest telah terjadi
terhadap anak korban incest adalah :
32
Forum Keadilan, september 2005, halaman 61
Op.cit
34
Ibid
33
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
a. Terapi
Terapi atau konseling sangat dibutuhkan, karena menurut tinjauan
psikologi, tindakan incest sangat berdampak terhadap mental seorang anak,
bentuk terapi ini adalah :
1) Terapi Individu
Terapi individu ditujukan baik terhadap anak sebagai korban incest, ibu,
dan ayah sebagai pelaku. Di dalam terapi individu anak sebagai korban perilaku
incest dapat mengungkapkan kemarahannya akibat perilaku incest pelaku kepada
terapis.
Tugas utama terapis dalam terapi individu anak adalah :
a) Meyakinkan pasien bahwa keamanannya terjamin, setelah ia mengungkapkan
perilaku incest dengan pelaku.
b) Meyakinkan kembali pasien bahwa perilaku incest bukan kesalahannya.
c) Membangun kembali kemampuan pasien untuk dapat percaya kepada orang
lain, dan mengembalikan kemampuannya untuk merasa nyaman dalam
menjalin hubungan dekat dengan orang lain.
2) Terapi Berkelompok
Bertujuan untuk menolong korban incest dari pengalaman traumatisnya
yang sudah lewat. Terapi ini berguna untuk membantu korban dalam mengatasi
rasa malu karena keyakinan bahwa dirinya telah tercemar dan merasa berbeda
dengan lainnya. Ikatan dalam kelompok mengembangkan rasa kebersamaan
dalam menghadapi rahasia. Ketakutan dan rasa putus asa.
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
Korban Incest dapat belajar dari grup bahwa mereka tidak sendirian dalam
penderitaan akibat incest, dan mulai menolak perasannya ia harus bertanggung
jawab untuk perilaku incest ayahnya atau pelaku yang lain.
3) Terapi Keluarga
Terapi keluarga berguna dalam usaha untuk mengembangkan keluarga
sebagai kesatuan fungsional dan mengembangkan atau menumbuhkan peranan
dalam keluarga yang lebih sehat untuk setiap anggotanya.
Kontrol eksternal yang didapatkan dari terapis dapat membantu mencegah
perilaku incest, sementara individu yang terlibat belajar untuk mengembangkan
kemampuannya menahan diri dengan menggunakan cara yang lebih serasi dan
dapat diterima masyarakat dalam memuaskan kebutuhannya.
b. Pemindahan Korban
Pemindahan korban dari lingkungan tempat tinggalnya juga sangat
diperlukan, walaupun pada dasarnya hal ini terkait dengan adanya terapi psikologi
yang diterapkan kepada korban.
Pemindahan ini juga dianjurkan oleh Elisabeth, S.H. dengan tujuan untuk
menumbuhkan rasa aman bagi korban, dan pelepasan dirinya dari perspektif aib
dari masyarakat.
Masyarakat di lingkungan yang kebetulan sebagai tempat terjadinya kasus
incest juga harus dibina, dengan berbagai penyuluhan yang menekankan
terjadinya peningkatan rasa peduli terhadap korban, adanya tanggung jawab
bersama terhadap korban, dan rasa kebersamaan bahwa korban adalah orang yang
perlu ditolong.
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
Upaya Dalam Mencegah Kekerasan Seksual Hubungan Sedarah (Incest)
Terhadap Perempuan Di bawah Umur
1) Upaya Pemerintah
a) Mengenai VCD porno, pemerintah harus lebih mengoptimalkan tentang
hukuman yang berlaku pada pengedar VCD porno atau gambar-gambar
porno.
b) Bekerja dengan pengurus ibadah untuk lebih mendukung kegiatan
beribadah.
c) Pengulangan narkoba dan miras harus lebih dioptimalkan.
d) Bekerjasama dengan lembaga pendidikan, memberikan penyuluhan
terhadap para orangtua dan anak.
e) Mengadakan seminar-seminar tentang kekerasan seksual.
f) Aparat penegak hukum, untuk menangani kasus ini bekerjasama dengan
seluruh lapisan masyarakat.
2) Upaya Masyarakat
Mendukung segala proyek pemerintah dan mau diajak bekerjasama,
khususnya dalam hal ini adalah mengenai mode atau etika berpakaian yang sopan
dan sesuai dengan budaya kita. Masyarakat juga melihat kejadian kekerasan
seksual diharapkan melapor kepada aparat keamanan atau pihak yang berwajib.
3) Upaya Pemimpin Agama
Juga bekerjasama dengan masyarakat serta pemerintah, baik dalam
kebebasan beragama ataupun memberikan atau menanamkan nilai agama dengan
baik, dan lebih memperhatikan jemaatnya. Jadi dalam hal ini ketiga unsur yaitu
pemerintah, masyarakat dan pemimpin agama harus dapat saling bekerjasama
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
untuk mencapai suatu tujuan bersama. Juga mengadakan seminar mengenai hal
tersebut.
4) Upaya Lembaga Sosial Masyarakat
Adanya Lembaga Masyarakat yang timbul di Indonesia menunjukkan
bahwa masyarakat pun dapat menjadi pemerhati dan bukan hanya pasif melihat
kejadian-kejadian yang ada tetapi mau bergerak secara aktif. Jadi lembaga
masyarakat juga sama-sama bekerjasama dalam menyerukan pencegahan
Kekerasan Seksual terhadap anak di bawah umur.
5) Upaya media televisi dan media lainnya
Peran media sangat besar pengaruhnya dalam timbulnya tindakan
kekerasan seksual, jadi dalam hal ini Media TV harus lebih lagi dalam membatasi
atau mensensor film-film yang dapat dikategorikan film untuk dewasa dengan
bekerjasama dengan Lembaga sensor film, dan media massa juga harusnya lebih
membatasi tampilan gambar yang dapat mengundang daya tarik seksual.
6) Upaya Keluarga
Keluarga dapat dikatakan kelompok terkecil dalam masyarakat yang
merupakan sumber awal kasih sayang dan perhatian, jadi dalam hal ini diusahakan
keluarga-keluarga dapat lebih menerapkan nilai-nilai, moralitas, etika, kasih
sayang dan perhatian.
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
BAB IV
PENEGAKAN HUKUM TERHADAP PELAKU HUBUNGAN SEKSUAL
SEDARAH (INCEST) DAN UPAYA PENANGGULANGAN DARI
TERJADINYA KASUS INCEST
A. Kasus dan Analisa Kasus
1. Kasus
Pada waktu dan tempat tersebut di atas yaitu pada hari Jum’at jam 14.00
Wita sekitar akhir tahun 2005, terdakwa menemui saksi korban SITI JULAEHA
(anak kandung terdakwa) yang sedang tertidur terlentang di kamar. Setelah itu
terdakwa mengangkat kain sarung, lalu membuka serta melorotkan celana dalam
yang dipakai oleh saksi korban. Kemudian terdakwa mengoleskan penisnya dan
vagina saksi korban dengan air liurnya sambil melebarkan kedua kaki saksi
korban. Selanjutnya terdakwa berusaha memasukkan penisnya ke dalam lubang
vagina saksi korban, tetapi ketika penis terdakwa baru menyentuh vagina saksi
korban, tiba-tiba saksi korban tersadar dari tidurnya dan terkejut begitu
mengetahui dirinya sudah tidak memakai celana dalam lagi dan melihat tubuh
terdakwa dalam keadaan telanjang dihadapannya. Saat itu saksi korban sempat
menolak dan melakukan perlawanan terhadap terdakwa, namun terdakwa tetap
memaksa saksi korban untuk melayaninya bersetubuh dengan memegang secara
paksa kedua tangan dan menekan kedua kaki saksi korban dengan badan dan
kedua terdakwa sehingga tidak bisa bergerak lagi. Setelah itu terdakwa
mengancam saksi korban dengan perkataan “Kamu layani saya sekarang, kalau
tidak, saya tidak akan mengurus kamu lagi, tidak ngasih makan dan tidak ngasih
uang belanja, dan kalau kamu cerita sama orang-orang, saya akan bunuh kamu”.
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
Dalam keadaan saksi korban takut dan tidak berdaya, kemudian terdakwa
melanjutkan perbuatannya dengan cara memegang penisnya dan memasukkannya
ke dalam lubang vagina sambil melakukan gerakan naik turun hingga
mengeluarkan cairan sperma di dalam lubang vagina saksi korban. Bahwa setelah
itu, terdakwa tetap melakukan perbuatan tersebut berkali-kali dan yang terakhir
pada sekitar bulan Juni 2006. Akibat perbuatan terdakwa tersebut, menyebabkan
saksi korban hamil, sesuai dengan hasil Visum Et Repertum Nomor :
166/PKM/KRP/VII/2006 tanggal 29 Juni 2006 yang dibuat dan ditandatangani
oleh dr. I Wyn Restu Adnyana, dokter pemeriksa pada Puskesmas Kuripan, yaitu :
puting susu kanan dan kiri menonjol agak hitam kecoklatan, dipencet ASI keluar,
didapatkan pembesaran rahim setinggi pusar identik dengan kehamilan 22 minggu
sampai dengan 24 minggu, denyut jantung janin/bayi sudah jelas terdengar dan
teratur sebanyak 144 kali per menit, selaput dara didapatkan robekan yang tidak
teratur pada jam empat, jam tujuh dan jam delapan tetapi tidak sampai ke dasar
selaput dara, dinding kemaluan berwarna merah kecoklatan dengan kesimpulan
selaput dara robek tidak teratur karena dimasuki benda bulat, keras, tumpul secara
paksa dan korba SITI JULAEHA dalam keadaan hamil identik dengan kehamilan
22 minggu sampai dengan 24 minggu.
Dari kasus di atas dapat dibagi menjadi 3 dakwaan :
Dakwaan Kesatu :
Bahwa ia terdakwa MUHALI pada waktu-waktu dalam tahun 2005 sampai
dengan tahun 2006, bertempat di rumah terdakwa, Dusun Kumbung, Desa
Kuripan Utara, Kecamatan Kediri, Kabupaten Lombok Barat atau setidaktidaknya di tempat lain yang masih berada di daerah hukum Pengadilan Negeri
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
Mataram, telah dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan
memaksa anak yaitu saksi korban SITI JULAEHA melakukan persetubuhan
dengannya atau dengan orang lain, jika antara beberapa perbuatan, meskipun
masing-masing merupakan kejahatan atau pelanggaran, ada hubungannya
sedemikian rupa sehingga harus dipandang sebagai satu perbuatan berlanjut
Dakwaan Kedua Primair :
Bahwa ia terdakwa MUHALI pada waktu-waktu dalam tahun 2005 sampai
dengan tahun 2006, bertempat di rumah terdakwa, Dusun Kumbung, Desa
Kuripan Utara, Kecamatan Kediri, Kabupaten Lombok Barat atau setidaktidaknya di tempat lain yang masih berada di daerah hukum Pengadilan Negeri
Mataram, dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang wanita
yaitu saksi korban SITI JULAEHA bersetubuh dengan dia di luar perkawinan,
jika antara beberapa perbuatan, meskipun masing-masing merupakan kejahatan
atau pelanggaran, ada hubungannya sedemikian rupa sehingga harus dipandang
sebagai satu perbuatan berlanjut.
Subsidair :
Bahwa ia terdakwa MUHALI pada waktu-waktu dalam tahun 2005 sampai
dengan tahun 2006, bertempat di rumah terdakwa, Dusun Kumbung, Desa
Kuripan Utara, Kecamatan Kediri, Kabupaten Lombok Barat atau setidaktidaknya di tempat lain yang masih berada di daerah hukum Pengadilan Negeri
Mataram, telah melakukan perbuatan cabul dengan anaknya, anak tirinya, anak
angkatnya, anak dibawah pengawasannya yang belum dewasa, atau dengan orang
yang belum dewasa yang pemeliharaannya, pendidikannya dan penjagaannya
diserahkan kepadanya ataupun dengan bujangnya atau bawahannya yang belum
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
dewasa, jika antara beberapa perbuatan, meskipun masing-masing merupakan
kejahatan atau pelanggaran, ada hubungannya sedemikian rupa sehingga harus
dipandang sebagai satu perbuatan berlanjut.
Berdasarkan fakta-fakta yang tersebut di atas, maka Jaksa Penuntut Umum
untuk membuktikan unsur-unsur pidana yang telah didakwakan terhadap
terdakwa. Sebagaimana disebutkan diawal tuntutan, terdakwa didakwakan
melakukan tindak pidana yang kami susun dengan dakwaan alternatif yang terdiri
dari :
-
Dakwaan Kesatu melanggar Pasal 81 ayat (1) UU RI Nomor 23 Tahun 2002
jo Pasal 64 ayat (1) KUHP, Atau
-
Dakwaan Kedua Primair melanggar Pasal 285 KUHP jo Pasal 64 ayat (1)
KUHP, Subsidiair melanggar Pasal 294 ayat (1) KUHP jo Pasal 64 ayat (1)
KUHP.
Namun dalam persidangan ini, dakwaan yang dapat dibuktikan telah dilakukan
oleh terdakwa yaitu dakwaan Kesatu Pasal 81 ayat (1) UU RI Nomor 23 Tahun
2002 jo Pasal 64 ayat (1) KUHP yang unsur-unsurnya terdiri dari :
1. Unsur setiap orang
Unsur ini menunjuk siapa pelaku atau subyek dari tindak pidana yang
dimaksud dalam Surat Dakwaan. Dalam persidangan terungkap fakta bahwa
terdakwa menerangkan identitas yang sama dengan identitas dalam Surat
Dakwaan yaitu MUHALI, kemudian karena tidak diketemukan fakta-fakta
yang dapat menghilangkan atau menghapuskan kesalahan terdakwa, maka
dengan demikian dapat dipertanggungjawabkan atas perbuatannya.
2. Unsur dengan sengaja
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
Dalam teori dasar Hukum Pidana, kata “sengaja” digambarkan dalam arti
“tahu dan dikehendaki” artinya terdakwa tahu dalam sadar apa yang
dikerjakan dan apa akibat dari pekerjaannya, namun demikian terdakwa tetap
berkehendak dan bersikeras dalam niatnya untuk melakukan. Dalam
pemeriksaan dipersidangan diperoleh fakta bahwa terdakwa tahu apa yang
dilakukannya yaitu menyetubuhi dengan paksa Siti Julaeha anak kandungnya
sendiri dan terdakwa mengetahui akibatnya yaitu bisa menyebabkan hamil dan
merusak masa depan anak kandungnya sendiri, namun demikian terdakwa
tetap melaksanakan niatnya dengan menyetubuhi anaknya tersebut sampai
hamil.
3. Unsur melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak
melakukan persetubuhan dengannya
Bahwa unsur ini bersifat alternatif redaksional, artinya apabila salah satu sub
unsur terbukti, maka sub unsur lainnya dianggap terbukti pula. Dari
pemeriksaan persidangan diperoleh fakta bahwa saksi korban Siti Julaeha
sempat menolak dan melakukan perlawanan terhadap terdakwa pada saat akan
disetubuhi, namun terdakwa tetap memaksa saksi korban untuk melayaninya
bersetubuh dengan memegang secara paksa kedua tangan dan menekan kedua
kaki saksi korban dengan badan dan kedua kaki terdakwa sehingga tidak bisa
bergerak lagi. Setelah itu terdakwa mengancam saksi korban dengan perkataan
“Kamu layani saya sekarang, kalau tidak, saya tidak akan mengurus kamu
lagi, tidak ngasih makan dan tidak ngasih uang belanja, dan kalau kamu cerita
sama orang-orang, saya akan bunuh kamu”. Dalam keadaan saksi korban takut
dan tidak berdaya, kemudian terdakwa melanjutkan perbuatannya dengan cara
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
memegang penisnya dan memasukkannya ke dalam lubang vagina sambil
melakukan gerakan naik turun hingga mengeluarkan cairan sperma di dalam
lubang vagina saksi korban.
4. Unsur jika antara beberapa perbuatan, meskipun masing-masing
merupakan kejahatan atau pelanggaran, ada hubungannya sedemikian
rupa sehingga harus dipandang sebagai satu perbuatan berlanjut
Dari pemeriksaan persidangan diperoleh fakta bahwa semua perbuatan
terdakwa sebagaimana tersebut di atas dilakukan secara berkali-kali sampai
lebih dari 10 kali dan yang terakhir pada sekitar bulan Juni 2006 atau setidaktidaknya lebih dari satu kali dan secara berlanjut dengan demikian dapat
diklasifikasikan sebagai perbuatan yang ada hubungannya satu dengan lainnya
dan harus dipandang sebagai perbuatan yang diteruskan atau berlanjut.
Dengan demikian karena semua unsur telah terpenuhi maka Pasal dalam
Surat Dakwaan telah terbukti secara sah dan meyakinkan menurut hukum dan
terhadap perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa tersebut maka seharusnya ia
dihukum.
Pengadilan
Negeri
Mataram
dalam
Petikan
Putusan
Nomor
:
306/PID.B/2006/PN.MTR “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha
Esa” Pengadilan Negeri Mataram yang memeriksa dan mengadili perkara pidana
dengan acara pemeriksaan biasa, telah menjatuhkan putusan sebagai berikut
dalam perkara Terdakwa : MUHALI, lahir di Kumbung, umur 60 tahun, jenis
kelamin laki-laki, kebangsaan Indonesia, tempat tinggal Dsn. Kumbung, Desa
Kuripan Utara, Kec. Kuripan, Kabupaten Lombok Barat, agama Islam, pekerjaan
buruh; terdakwa ditahan di Rutan Mataram sejak tanggal 29-06-2006 s/d
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
sekarang; Pengadilan Negeri tersebut; menimbang dst; mengingat Pasal 81 ayat
(1) No. 23 Tahun 2002 yo Pasal 64 ayat (4 KUHP) mengadili :
3. Menyatakan terdakwa MUHALI telah terbukti secara sah dan meyakinkan
bersalah melakukan tindak pidana “Dengan kekerasan atau ancaman
kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya secara
berlanjut;
4. Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa tersebut oleh karena itu dengan
pidana penjara selama 5 (lima) tahun dan denda sebesar Rp. 30.000.000,- (tiga
puluh juta rupiah) dengan ketentuan jika denda tersebut di bayar, diganti
dengan pidana kurungan selama 4 (empat) bulan;
5. Menetapkan masa penahanan yang telah dijalani Terdakwa dikurangkan
seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan itu;
6. Menetapkan Terdakwa tetap ditahan.
7. Menetapkan barang bukti berupa : 1 (satu) lembar kain sarung warna dasar
kuning bermotif bunga, 1 (satu) lembar baju kaos warna hitam, 1 (satu) buah
BH warna pink, 1 (satu) buah celana dalam warna krem, dikembalikan kepada
saksi SITI JULAEHA, sedangkan 1 (satu) lembar kain sarung warna dasar
coklat, 1 (satu) lembar tikar warna hijau, hitam dan putih merk. Cap Manggis
dikembalikan kepada Terdakwa;
8. Membebankan biaya perkara kepada Terdakwa sebesar Rp. 1.000,- (seribu
rupiah).
Maka diputuskan dalam rapat permusyawaratan Majelis Hakim Pengadilan
Negeri Mataram pada hari : Rabu tanggal 8 Nopember 2006, oleh Haji
Yuliusman, SH sebagai Ketua Majelis, I.B. Putu Madeg, SH.MH dan Dewa Putu
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
Wanten, SH masing-masing sebagai Hakim Anggota, putusan tersebut pada hari
itu juga diucapkan dalam sidang yang terbuka untuk umum oleh Majelis Hakim
tersebut, dengan dibantu oleh : Made Subrata, SH Panitera Pengganti Pengadilan
Negeri tersebut serta dihadiri oleh : M. Rusdi, SH, Penuntut Umum pada
Kejaksaan Negeri Mataram dan Terdakwa tanpa dihadiri oleh Penasihat
Hukumnya.
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat penulis ambil dari berbagai permasalahan yang
terdapat dalam tulisan ini adalah :
2. Faktor-faktor yang menjadi penyebab terjadinya incest dapat dibagi ke dalam
dua faktor utama, yaitu faktor ekstern dan faktor intern. Faktor ekstern
maksudnya adalah faktor-faktor yang bersifat umum dan bukan berasal dari
diri pelaku maupun korban, sedangkan faktor intern adalah faktor yang
bersifat khusus dan terdapat pada diri korban dan pelaku. Faktor ekstern ini
terdiri dari adanya perubahan sosial yang merujuk pada terjadinya
modernisasi, ketidakmampuan individu memilah dan mengapresiasi suatu
bentuk perubahan mendorong terjadinya incest. Perubahan Budaya juga
sebagai salah satu faktor ekstern terjadinya incest, berdasarkan penelitian di
Amerika Serikat, ada kecenderungan orang tua untuk melakukan hubungan
seks dengan anak perempuannya sebagai wujud bentuk kasih sayang dalam
keluarga. Jumlah wanita yang lebih banyak dari pria membuat lemahnya
kontrol terhadap kekerasan yang terjadi terhadap wanita yang salah satu
bentuknya adalah incest. Faktor ekstern yang terakhir adalah ringannya
hukuman yang dijatuhkan terhadap pelaku, dampak terjadinya kasus incest
terhadap anak yang mengalami hal tersebut sangat besar, jadi ketika hukuman
yang dijatuhkan terhadap pelaku jauh dari tuntutan jaksa maka dapat
dinyatakan bahwa tujuanpenjera dari hukuman itu tidak tercapai, dan kasus-
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
kasus incest pun lebih sering terjadi. Dalam faktor intern, faktor ekonomi
memegang peran penting, faktor ini merupakan faktor penyebab terbesar dari
terjadinya
incest
terhadap
anak,
ketidakmampuan
secara
ekonomi
menyebabkan seseorang mencari jalan pintas dalam menyalurkan kebutuhan
biologisnya, bila istri tidak mampu melaksanakan kewajibannya. Faktor yang
berikut adalah mengenai konsepsi anak adalah milik orang tua, orang tua
merasa memiliki anak secara mutlak dan akhirnya merasa dapat melakukan
segalanya terhadap anaknya itu, bahkan hal-hal yang bersifat asusila seperti
incest. Dan yang terakhir adalah adanya disfungsi keluarga, bahwa ketika
orangtua tidak mampu melaksanakan tugasnya sebagai pelindung anak, maka
akan terjadilah perbuatan yang semena-mena terhadap anak.
3. Upaya pencegahan kasus incest, upaya yang bersifat preventif dapat dilakukan
dengan memperbaiki masalah ekonomi, dengan terciptanya keadaan ekonomi
yang lebih baik niscaya peristiwa asusila seperti incest akan dapat dihalangi.
Menyediakan tempat tinggal yang layak bagi keluarga, banyak kasus incest
yang terjadi karena para anggota keluarga disatukan ke dalam satu kamar, jadi
sudah sepantasnya untuk satu keluarga itu ada 3 kamar tidur, yaitu satu kamar
untuk orang tua, satu kamar untuk anak laki-laki dan satu kamar untuk anak
perempuan. Jangan terlalu dekat dengan lawan jenis, pelaku incest adalah
keluarga atau orang yang dekat dengan korban, bisa ayah, abang, atau paman
bahkan kakek, jadi untuk mencegah terjadinya kasus ini, kedekatan dengan
lawan jenis dalam satu keluarga harus dibatasi ketika anak sudah mencapai
usia reproduktif atau bahkan sejak anak masih berusia sangat muda.
Meningkatkan pemahaman tentang agama, pembinaan moral anak adalah
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
berasal dari rumah tangga, pemberian pengertian dan ajaran tentang agama
sangat penting untuk menghindarkan keluarga dari berbagai perbuatan asusila
atau maksiat. Untuk upaya yang bersifat represif, dapat melakukan terapi
seperti
terapi
individu,
bahwa
korban
diberi
kesempatan
untuk
mengungkapkan apa yang dirasakannya secara pribadi dengan psikolog, terapi
berkelompok, korban menerima bimbingan dengan beberapa korban lain yang
mempunyai nasib yang sama dengannya dengan tujuan agar ia mengetahui
bahwa masih banyak orang lain yang bernasib sama dengan dirinya dan
dengan harapan ia dapat menerima kenyataan serta melupakan hal yang
pernah dialaminya untuk menuju masa depannya yang lebih baik, dan terapi
keluarga, incest yang terjadi menunjukkan adanya ketidaksesuaian fungsi
keluarga, jadi sepantasnya keluargapun mengalami perbaikan. Upaya
pemindahan korban dari lingkungannya juga pantas untuk dilakukan sebagai
upaya pemulihan mental yang bersangkutan.
4. Perlindungan hukum terhadap anak korban incest, upaya perlindungan hukum
terhadap anak korban incest dimulai dari kepolisian, tersedianya RPK (Ruang
Pelayanan Khusus) sangat dirasakan manfaatnya, korban dapat mengadukan
masalah yang dihadapinya secara bebeas, kepolisian juga dapat segera
melakukan penanganan kasus dengan sistem jemput bola, yaitu melakukan
upaya hukum tanpa menunggu adanya laporan dari korban, Posyandu atau
Pusat Pelayanan Terpadu, memberikan kemungkinan terciptanya kemudahan
dan terjaminnya kelangsungan penanganan kasus-kasus susila umumnya dan
incest pada khususnya. Dalam proses peradilan kesaksian korban yang hanya
sebagai keterangan dapat dianggap sangat merugikan dalam penjatuhan
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
putusan, belum lagi rendahnya masa hukuman yang hanya mencapai tujuh
tahun maksimal untuk kasus yang terkait dengan Pasal 294 KUHP, dan hal ini
diperparah dengan vonis hakim yang sering di bawah tuntutan jaksa.
B. Saran
Saran yang dapat penulis berikan adalah :
1. Faktor-faktor penyebab incest tidak dapat disamakan dalam setiap kasus,
namun hampir rata-rata penyebab terjadinya incest adalah lemahnya kondisi
ekonomi keluarga, maka sudah sepantasnya ada perhatian yang lebih besar
terhadap perbaikan masalah ekonomi ini, diharapkan adanya peningkatan taraf
hidup masyarakat pada umumnya.
2. Kuantitas dan kualitas incest menunjukkan suatu peningkatan yang
mengkhawatirkan, maka sebaiknya dibuat suatu program pencegahan yang
terarah dan terpadu untuk penanganan kasus-kasus kesusilaan umumnya dan
kasus incest khususnya.
3. Upaya pencegahan dari kasus incest masih sangat kurang, kalau tidak mau
dikatakan buruk, karena banyaknya kasus incest yang terjadi, bahkan ada
kemungkinan lebih banyak dari yang terungkap karena incest termasuk ke
dalam fenomena gunung es, jadi sebaiknya upaya pencegahan ini
dimaksimalkan tindakannya.
4. Perlindungan hukum terhadap anak korban incest belum menunjukkan
keberhasilan tujuannya.
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
DAFTAR PUSTAKA
A. Buku
Azis, Aminah, SH, Aspek Hukum Perlindungan Anak, USU Press, 1997
Akademia, Volume 4, no. 3, Juli 2000
Bagong Sujanto, dkk, Tindak Kekerasan terhadap Anak, Masalah dan
Pemantauannya, LPA Jawa Timur, 2000
Arief, Barda Nawawi, Beberapa Aspek Kebijakan Penegakan dan Pengembangan
Hukum Pidana, Citra Aditya Bakti, 1998
Haskell / Yablonsky, Criminology, Crime and Criminality, Harper and Row
Publisher, New York, 1983
Santrock, John. W, Psychology: The Science of Mind and Behaviour, W.M.C.
Bown Publisher.
Marpaung, Leden, Tindak Pidana Terhadap Kesusilaan, Rajawali Grafika
Bandung
Hasan Wedong, Maulana, Advokasi dan Hukum Perlindungan, Gramedia Wira
Sarana Indonesia Jakarta, 2000
Hadisuprapto, Paulus, SH, MH, Juvenile Delinquency, Pemahaman dan
Penanggulangannya, Citra Bakti Bandung, 1997
Soesilo, R. Kitab Undang-undang Hukum Pidana, Politeia Bandung
Subekti, R, Tjitrosoediro, R, Kitab Undang-undang Hukum Perdata, Pradnya
Paramitha Jakarta 1992
Atmasasmita, Romli, Peradilan Anak di Indonesia, Mandar Maju Bandung, 1997
Manik, Sulaiman Zuhdi, Penanganan dan Pendampingan Anak Korban Incest,
PKPA, 2002
Hamid, Syamsul Rijal, Buku Pintas Agama Islam, Penerbit Salam, 1999
B. Majalah dan Koran
Sumut Pos, Februari 2002
Kalingga, Volume 5 no. 1, Januari 2002
Kalingga, Mei 2002
Forum Keadilan, edisi XXI 2002
C. Internet
Dina Afriani : Aspek Yuridis Dan Kriminologi Terhadap Hubungan Seksual Sedarah (Incest) Yang Dilakukan
Ayah Kandung Terhadap Anak Kandungnya (Studi Putusan Register No. 110/P.2.10/08/2006/PN. Mataram),
2009.
Download