gambaran pengetahuan, masa kerja petugas dan waktu tunggu

advertisement
GAMBARAN PENGETAHUAN, MASA KERJA PETUGAS
DAN WAKTU TUNGGU PASIEN RAWAT JALAN
DI INSTALASI FARMASI RSUD SURAKARTA
TAHUN 2013
ARTIKEL PUBLIKASI ILMIAH
Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Ijazah S1 Kesehatan Masyarakat
Disusun Oleh :
DIAN AYUNINGTYAS SURIPTO
J 410 111 024
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2013
GAMBARAN PENGETAHUAN, MASA KERJA PETUGAS
DAN WAKTU TUNGGU PASIEN RAWAT JALAN
DI INSTALASI FARMASI RSUD SURAKARTA
TAHUN 2013
Dian Ayuningtyas Suripto J410 111 024
Prodi Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Surakarta
Jl. A. Yani Tromol Pos I Pabelan Surakarta 57162
Abstract
Pharmacy installation is an essential part in a hospital. Human resources can affect the
quality of pharmacy service. Pharmacy service is required to give satisfaction to the
patient. The aim of this research is to know the description pharmacy officer’s of
knowledge and work length towards the waiting time of the outpatient in in provincial
hospital’s pharmacy installation Surakarta. The research method uses observational
design with description analyze. The population of this research was the whole
pharmacy officers who were 10 respondents and 2835 prescriptions. The choice of the
sample for the pharmacy officers were exhaustive sample who were 10 respondents and
the sample for the prescription was using purposive sampling amount to 364
prescriptions. The result of this research is 50% pharmacy officer’s good knowledge
and 50% not good knowledge, 50% pharmacy officer’s with work length ≤ 3,9 and 50%
pharmacy officer’s with work length > 3,9, 42,5% the waiting time ≤ 30 minutes and
also 57,5% the waiting time > 30 minute.
Key word
: knowledge, work length, waiting time
Abstrak
Instalasi farmasi merupakan bagian penting di sektor rumah sakit. Sumber daya manusia
dapat mempengaruhi kualitas pelayanan farmasi. Pelayanan farmasi dituntut untuk
memberikan kepuasan pasien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran
pengetahuan, masa kerja petugas dan waktu tunggu pasien rawat jalan di instalasi
farmasi RSUD Surakarta. Metode penelitian adalah observasional dengan analisis
deskriptif. Populasi penelitian ini adalah seluruh petugas farmasi berjumlah 10
responden dan resep untuk pasien rawat jalan berjumlah 2835 resep. Pengambilan
sampel untuk petugas farmasi dengan exhaustive sampling sebanyak 10 responden dan
pengambilan sampel untuk pasien dengan purposive sampling sebanyak 351 resep.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 50% petugas farmasi berpengetahuan baik dan
50% petugas farmasi berpengetahuan kurang, 50% petugas dengan masa kerja ≤ 3,9
tahun dan 50% petugas dengan masa kerja > 3,9 tahun, 42,5% waktu tunggu ≤ 30 menit
serta 57,5% waktu tunggu > 30 menit.
Kata kunci
: Pengetahuan, Masa Kerja, Waktu Tunggu
PENDAHULUAN
Rumah
sakit
merupakan
salah
satu
sarana
upaya
kesehatan
yang
menyelenggarakan kegiatan pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan di rumah sakit
merupakan kegiatan yang berupa pelayanan rawat jalan, pelayanan rawat inap, dan
pelayanan gawat darurat yang mencakup pelayanan medik dan penunjang medik, salah
satu unit pelayanan yang mempunyai peranan yang sangat penting di dalamnya adalah
unit kefarmasian. Instalasi farmasi merupakan bagian penting di sektor rumah sakit.
Rumah sakit akan kesulitan melakukan kegiatan bila di rumah sakit tersebut tidak
tersedia obat. Instalasi farmasi mempunyai pengaruh besar terhadap rumah sakit dan
berbagai organisasi pelayanan kesehatan. (Kepmenkes No. 1197 Tahun 2004).
Kualitas suatu rumah sakit khususnya di bagian instalasi farmasi dapat dilihat
dari sumber daya manusia. Sumber daya manusia mempunyai peranan penting dalam
memberikan pelayanan kesehatan di rumah sakit, karena kemajuan dan keberhasilan
suatu manajemen rumah sakit tidak lepas dari peran dan kemampuan sumber daya
manusia yang baik. Pengetahuan dan masa kerja petugas farmasi merupakan salah satu
bagian dari sumber daya manusia. Pengetahuan dan masa kerja dapat mempengaruhi
kecepatan pelayanan, terutama berkaitan dengan waktu tunggu pasien dalam pelayanan
resep. Waktu tunggu merupakan masalah yang sering menimbulkan kendala pasien di
beberapa rumah sakit. Lama waktu tunggu pasien mencerminkan bagaimana rumah
sakit mengelola komponen pelayanan yang disesuaikan dengan situasi dan harapan
pasien.
Waktu
tunggu
pelayanan
obat
berdasarkan
Kepmenkes
RI
No.
129/Menkes/SK/II/2008 yaitu waktu tunggu pelayanan obat jadi ≤ 30 menit, sedangkan
waktu tunggu pelayanan obat racikan ≤ 60 menit.
RSUD (Rumah Sakit Umum Daerah) Surakarta sebagai salah satu rumah sakit
umum daerah milik pemerintah yang berada di kota Surakarta yang menerima pasien
rawat jalan umum, askes, jamkesmas, dan PKMS (Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat
Surakarta). Pelayanan kesehatan di
RSUD Surakarta meliputi poliklinik umum,
poliklinik mata, poliklinik gigi, poliklinik penyakit dalam, poliklinik KIA (Kesehatan
Ibu Anak), poliklinik spesialis anak, poliklinik kulit dan kelamin, poliklinik bedah dan
poliklinik gizi dengan pelayanan farmasi 24 jam yang terbagi menjadi 3 shif yaitu shif
pagi mulai pukul 07.00-14.00, shif siang mulai pukul 14.00-20.30, dan shif malam
mulai pukul 20.30-07.00. Instalasi farmasi RSUD Surakarta mempunyai 1 apoteker, 6
teknik kefarmasian dan 3 tenaga honorer.
Jumlah kunjungan pasien rawat jalan tahun 2010 sebesar 44993 pasien dan
jumlah pasien yang menebus obat sebesar 35140 pasien. Tahun 2011 sebesar 47274
pasien dan jumlah pasien yang menebus obat sebesar 38714 pasien. Tahun 2012 sebesar
37414 pasien dan jumlah pasien yang menebus obat sebesar 30902 pasien. Data
kunjungan pasien tahun 2010-2011 mengalami peningkatan tetapi tahun 2012
mengalami penurunan. Penurunan jumlah pasien yang berkunjung dikarenakan kualitas
pelayanan tidak sesuai dengan harapan pasien. Penurunan jumlah pasien menebus obat
di farmasi dikarenakan stok obat kosong sehingga pasien rawat jalan harus membeli
obat di apotek luar dengan mendapatkan fotocopy resep dari petugas farmasi.
Hasil survei pendahuluan menyatakan bahwa pada waktu jam sibuk terdapat
banyak antrian di depan instalasi farmasi yang mengakibatkan waktu tunggu pasien
menjadi lama, penyerahan obat tidak sesuai dengan nomor antrian, terdapat pasien yang
mengeluh tentang kecepatan pelayanan pengambilan obat, dan jarak antara nomor
antrian satu dengan nomor antrian berikutnya lama. Waktu tunggu pasien rawat jalan
untuk pelayanan obat jadi dengan jumlah sampel 105 resep, diperoleh hasil tertinggi 74
menit dan terendah 10 menit sehingga rata-rata waktu tunggu pasien 39 menit.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan jenis penelitian observasional dengan analisis
deskriptif. Populasi penelitian ini adalah seluruh petugas farmasi yang berjumlah 10
orang dengan teknik pengambilan sampel menggunakan exhaustive sampling dan resep
pasien rawat jalan dengan pelayanan obat jadi yang berjumlah 2835 resep dengan teknik
pengambilan sampel menggunakan purposive sampling.
Instrumen penelitian ini berupa kuesioner untuk mengetahui pengetahuan dan
masa kerja petugas farmasi serta stopwatch untuk pengumpulan data waktu tunggu
pasien. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dengan mendeskripsikan hasil
penilaian kuesioner dari pengetahuan, masa kerja dan hasil perhitungan waktu tunggu
pasien rawat jalan dengan pelayanan obat jadi dalam bentuk tabel distribusi frekuensi
dan narasi.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. HASIL
1. Karakteristik Responden
a. Umur
No
1
2
3
4
5
6
7
8
Total
Tabel 1. Deskriptif Karakteristik Petugas Farmasi
Menurut Umur di RSUD Surakarta
Umur
f
%
Mean
Minimum Maximum
19 tahun
1
10
25 tahun
2
20
28 tahun
1
10
30 tahun
1
10
29,5 tahun 19 tahun 37 tahun
31 tahun
1
10
32 tahun
2
20
36 tahun
1
10
37 tahun
1
10
10
100
Tabel 1 menunjukkan bahwa terdapat 10% petugas farmasi yang berumur
19 tahun, 28 tahun, 30 tahun, 31 tahun, 36 tahun, dan 37 tahun dengan
masing-masing berjumlah 1 petugas serta terdapat 20% petugas farmasi
yang berumur 25 tahun dan 32 tahun dengan masing-masing berjumlah 2
petugas. Tabel 1 menunjukkan bahwa rata-rata umur petugas farmasi adalah
29,5 tahun. Umur tertinggi petugas farmasi yaitu 37 tahun dan yang
terendah 19 tahun.
b. Jenis Kelamin
No
1
2
Total
Tabel 2. Deskriptif Karakteristik Petugas Farmasi
Menurut Jenis Kelamin di RSUD Surakarta
Jenis Kelamin
f
%
Laki-laki
1
10
Perempuan
9
90
10
100
Tabel 2 menunjukkan bahwa terdapat 10% petugas farmasi laki-laki dengan
jumlah 1 petugas, dan 90% petugas farmasi perempuan dengan jumlah 9
petugas.
c. Pendidikan
No
1
2
3
4
Total
Tabel 3. Deskriptif Karakteristik Petugas Farmasi
Menurut Pendidikan di RSUD Surakarta
Pendidikan
f
SMF
3
D3 Farmasi
3
S1 Farmasi
3
S1 Apoteker
1
10
%
30
30
30
10
100
Tabel 3 menunjukkan bahwa terdapat 30% petugas farmasi berpendidikan
SMF dengan jumlah 3 petugas, 30% petugas farmasi berpendidikan D3
Farmasi dengan jumlah 3 petugas, 30% petugas farmasi berpendidikan S1
Farmasi dengan jumlah 3 petugas, dan 10% petugas farmasi berpendidikan
S1 Apoteker dengan jumlah 1 petugas.
2. Hasil Penelitian
a. Pengetahuan petugas farmasi
Tabel 4. Deskriptif Petugas Farmasi Menurut Pengetahuan
di RSUD Surakarta
Skor
No Pengetahuan
f
%
Mean Median Minimum Maximum
1
Baik
5
50
16,3
16,5
13
19
2
Kurang
5
50
Total
10
100
Tabel 4 menunjukkan bahwa terdapat 50% petugas farmasi yang
berpengetahuan baik dan kurang dengan masing-masing berjumlah 5
petugas. Tabel 4 menunjukkan bahwa rata-rata jumlah pertanyaan yang
dijawab dengan benar oleh petugas farmasi adalah 16 soal dengan median
16 soal. Jumlah pertanyaan yang dijawab oleh petugas farmasi dengan benar
tertinggi yaitu 19 soal dan yang terendah 13 soal.
b. Masa kerja petugas farmasi
Tabel 5. Deskriptif Petugas Farmasi Berdasarkan Masa Kerja
di RSUD Surakarta
No
Masa Kerja
f
%
Mean Minimum Maximum
1
7 Bulan
1
10
2
8 Bulan
2
20
3
3 Tahun
2
20
4
4 Tahun
1
10
3,9
0,58
8
5
6 Tahun
1
10
6
7 Tahun
2
20
7
8 Tahun
1
10
Total
10
100
Tabel 5 menunjukkan bahwa terdapat 10% petugas farmasi dengan masa
kerja 7 bulan, 4 tahun, 6 tahun, dan 8 tahun dengan masing-masing
berjumlah 1 petugas serta terdapat 20% petugas farmasi dengan masa kerja
8 bulan, 3 tahun, dan 7 tahun dengan masing-masing berjumlah 2 petugas.
Tabel 5 menunjukkan bahwa rata-rata lama kerja petugas farmasi adalah 3,9
tahun. Lama kerja tertinggi petugas farmasi yaitu 8 tahun dan yang terendah
0,58 tahun = 7 bulan.
c. Waktu Tunggu Pasien Rawat Jalan dengan Pelayanan Obat Jadi
Tabel 6. Deskriptif Waktu Tunggu Perhari pada Pasien Rawat Jalan
dengan Pelayanan Obat Jadi di RSUD Surakarta
Hari
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Lama Waktu Tunggu
f
Jumlah
%
Mean Median Min
Pelayanan Obat Jadi
≤ 30 menit
8
16
50
49,04
51,5
17
> 30 menit
42
84
≤ 30 menit
13
40,63
42
40,79
41
16
> 30 menit
29
59,37
≤ 30 menit
28
70
40
28,18
28
14
> 30 menit
12
30
≤ 30 menit
18
60
30
28,77
27,5
12
> 30 menit
12
40
≤ 30 menit
12
60
20
26,6
29
12
> 30 menit
8
40
≤ 30 menit
13
65
20
26,6
27,5
11
> 30 menit
7
35
≤ 30 menit
7
14
50
48,24
51
17
> 30 menit
43
86
≤ 30 menit
17
40,5
42
43,19
45
15
> 30 menit
25
59,5
≤ 30 menit
16
40
40
39,05
38
14
> 30 menit
24
60
≤ 30 menit
17
100
17
23,88
26
14
> 30 menit
Total Keseluruhan Lama Waktu Tunggu Pelayanan Obat Jadi
≤ 30 menit
149
42,5
351
38,21
35
11
> 30 menit
202
57,5
Max
72
68
62
49
39
37
67
76
69
29
76
Tabel 6 menunjukkan bahwa hari ke-1 penelitian merupakan ratarata tertinggi waktu tunggu pasien rawat jalan dengan pelayanan obat jadi
yaitu 49,04 menit dan hari ke-10 penelitian merupakan rata-rata terendah
waktu tunggu pasien rawat jalan dengan pelayanan obat jadi yaitu 23,88
menit. Rata-rata waktu tunggu pasien rawat jalan dengan pelayanan obat
jadi 351 resep adalah 38,21 menit. Jumlah resep tertinggi yang diteliti
adalah hari ke-1 dan hari ke-7 berjumlah 50 resep dan terendah terdapat
pada hari ke-10 yaitu 17 resep. Rata-rata resep yang diteliti perhari
berjumlah 35 resep dari total 351 resep.
B. PEMBAHASAN
1. Pengetahuan Petugas Farmasi
Hasil penelitian dari 10 petugas farmasi menunjukkan bahwa terdapat
50% petugas farmasi yang berpengetahuan baik dengan jumlah 5 petugas, dan
50% petugas farmasi berpengetahuan kurang dengan jumlah 5 petugas. Dari 23
pertanyaan yang diberikan pada petugas farmasi, rata-rata jumlah pertanyaan
yang dijawab dengan benar oleh petugas farmasi adalah 16 soal dengan median
16 soal. Jumlah pertanyaan yang dijawab oleh petugas farmasi dengan benar
dan tertinggi yaitu 19 soal serta terendah 13 soal.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertanyaan yang dijawab dengan
benar semua oleh 10 petugas farmasi adalah pernyataan tentang pengelolaan
perbekalan farmasi yang dimulai dari pemilihan, perencanaan, pengadaan,
penerimaan,
penyimpanan,
pendistribusian,
pengendalian,
penghapusan,
administrasi dan pelaporan serta evaluasi, berhubungan tentang tujuan
pelayanan farmasi, dan tentang tujuan pencatatan dan pelaporan data mengenai
jenis dan jumlah penerimaan, persediaan, pengeluaran atau penggunaan serta
data mengenai waktu dari seluruh rangkaian kegiatan mutasi obat, pernyataan
tentang penyusunan stok obat yang disusun menurut bentuk sediaan dan
alfabetis, pengaturan tata ruang gudang agar mudah dalam penyimpanan,
penyusunan, pencarian dan pengawasan obat-obatan, tahap pemilihan obat,
pengertian dari formularium, serta tentang tanda-tanda perubahan mutu obat.
Sedangkan pernyataan tentang pengetahuan yang tidak dapat dijawab oleh
semua petugas farmasi adalah pernyataan tentang tujuan penyimpanan obat
yang meliputi memelihara mutu obat, menghindari penggunaan yang tidak
bertanggungjawab, menjaga kelangsungan persediaan obat memudahkan
pencarian dan pengawasan serta tentang kegiatan pengendalian mutu pelayanan
farmasi yang meliputi pemantauan, penilaian, tindakan, evaluasi dan umpan
balik.
Tingkat pengetahuan petugas farmasi yang berbeda tersebut tidak lepas
dari tingkat pendidikan formal yang diselesaikan oleh petugas farmasi.
Perbedaan pendidikan petugas farmasi mengakibatkan perbedaan pemahaman
tentang segala sesuatu yang diketahui oleh petugas farmasi tentang pelayanan
farmasi. Tingkat pendidikan tertinggi petugas farmasi adalah S1 apoteker dan
terendah SMF (Sekolah Menengah Farmasi). Berdasarkan hasil penelitian
menyatakan bahwa tingkat pendidikan mempengaruhi pengetahuan petugas
farmasi tetapi tidak semua petugas farmasi yang berpendidikan tinggi
mempunyai pengetahuan baik.
Pengetahuan sangat erat kaitannya dengan pendidikan dimana
diharapkan seseorang dengan pendidikan tinggi, maka seseorang akan semakin
luas pula pengetahuannya (Notoatmodjo, 2010). Individu yang memiliki
pendidikan akan mempunyai pemikiran yang maju dan akan memiliki sikap dan
tingkah laku yang baik pula. Makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah
menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki,
sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap
seseorang terhadap nilai-nilai yang baru diperkenalkan (Mubarak, 2006).
Namun perlu ditekankan bahwa petugas farmasi yang berpendidikan rendah
tidak berarti mutlak berpengetahuan rendah pula. Peningkatan pengetahuan
tidak mutlak diperoleh di pendidikan formal, akan tetapi juga dapat diperoleh
pada pendidikan non formal seperti mengikuti pelatihan dan seminar.
Tingkat
pendidikan
seseorang
dapat
menentukan
kemampuan
intelektual, pemahaman, dan kemampuan berfikir kritis dan logis dalam
mengolah informasi dan mengambil keputusan dalam bertindak. Tingginya
tingkat pendidikan seseorang tanpa diikuti kemauan belajar, tidak menjamin
seseorang untuk memiliki tingkat pengetahuan yang baik sebaliknya seseorang
yang mau belajar dan menambah pengetahuannya dengan informasi meskipun
latar belakang pendidikan rendah dapat memiliki pengetahuan yang baik
(Kurniawan, Asmika dan Sarwono (2008)).
Pendidikan yang tinggi maka seseorang akan cenderung untuk
mendapatkan informasi. Semakin banyak informasi yang masuk semakin
banyak pula pengetahuan yang didapat tentang pemahaman farmasi. Informasi
yang diperoleh petugas farmasi berasal dari pendidikan formal maupun non
formal yang dapat menghasilkan perubahan atau peningkatan pengetahuan.
Majunya teknologi dan sarana komunikasi yang berbagai bentuk media massa
cetak maupun elektronik seperti televisi, radio, surat kabar, majalah, dan
internet mempunyai pengaruh besar terhadap pengetahuan petugas farmasi.
Kemudahan untuk memperoleh suatu informasi dapat membantu mempercepat
petugas farmasi untuk memperoleh pengetahuan yang baru. Pengalaman juga
dapat mempengaruhi pengetahuan petugas farmasi dimana semakin banyak
pengalaman seseorang terhadap suatu pengetahuan tertentu maka akan semakin
banyak pengetahuan yang didapat.
Menurut
Notoatmodjo
(2007)
usia
merupakan
faktor
yang
mempengaruhi pengetahuan seseorang. Berdasarkan hasil penelitian, rata-rata
usia petugas farmasi adalah 29,5 tahun. Usia tertinggi 38 tahun dan terendah 19
tahun. Berdasarkan distribusi umur, petugas farmasi tergolong masih muda.
Petugas farmasi yang masih muda relatif cepat dalam melakukan pekerjaan,
tetapi dalam penelitian masih terdapat 57,5% waktu tunggu pelayanan obat jadi
yang melebihi standar. Hal ini karena petugas farmasi banyak perempuan dan
jumlah sumber daya manusia terbatas.
Usia mempengaruhi daya tangkap dan pola pikir seseorang, semakin
bertambah usia akan semakin berkembang pula daya tangkap dan pola pikirnya,
sehingga pengetahuan yang diperolehnya semakin membaik. Semakin tua
semakin berpengalaman dan semakin meningkat kemampuan profesionalnya.
Usia lanjut umumnya lebih bertanggungjawab dan lebih teliti dibanding dengan
usia muda (Dharma, 2004). Namun perlu diketahui bahwa petugas farmasi
dengan usia muda mempunyai pengetahuan yang baik. Umur seseorang tidak
dapat menggambarkan kematangan seseorang, belum tentu seseorang yang
lebih tua memiliki tingkat kematangan yang tinggi dibandingkan dengan
seseorang yang lebih muda. Pengalaman yang menentukan tingkat kematangan
seseorang. Semakin banyak pengalaman seseorang semakin tinggi pula tingkat
kematangan. Kecerdasan seseorang akan menurun cukup cepat sejalan dengan
bertambahnya usia (Izza, Salawati, dan Prasida (2009)).
2. Masa Kerja Petugas Farmasi
Petugas farmasi terdiri dari 1 petugas laki-laki dan 9 petugas
perempuan. Hasil penelitian dari 10 petugas farmasi menunjukkan bahwa
terdapat 10% petugas farmasi dengan masa kerja 7 bulan, 4 tahun, 6 tahun, dan
8 tahun, masing-masing berjumlah 1 petugas serta terdapat 20% petugas
farmasi dengan masa kerja 8 bulan, 3 tahun, dan 7 tahun, masing-masing
berjumlah 2 petugas. Rata-rata lama kerja petugas farmasi adalah 3,9 tahun.
Lama kerja tertinggi petugas farmasi yaitu 8 tahun dan yang terendah 7 bulan.
Masa kerja petugas farmasi di RSUD Surakarta terdapat 50% petugas dengan
masa kerja ≤ 3,9 tahun dan 50% petugas dengan masa kerja > 3,9 tahun.
Masa kerja dikaitkan dengan waktu mulai berkerja dengan umur pada
saat ini dan berkaitan erat dengan pengalaman yang didapat selama
menjalankan tugas, petugas farmasi yang yang berpengalaman dipandang lebih
mampu melaksanakan tugas. Semakin lama seseorang bekerja maka semakin
tinggi pula produktivitasnya karena semakin berpengalaman dan mempunyai
keterampilan yang baik dalam menyelesaikan tugas yang dipercayakan
kepadanya (Siagian, 2008). Masa kerja petugas farmasi lama akan lebih cepat
melayani pelayanan resep daripada petugas farmasi baru. Masa kerja
mempengaruhi kinerja petugas farmasi, semakin lama bekerja maka semakin
cepat dalam melayani pengambilan obat sehingga dapat meminimalisir waktu
tunggu pasien.
Faizin (2007) menyatakan bahwa asumsi yang sering berlaku dan
diyakini adalah petugas kesehatan lama dipandang telah memiliki kinerja yang
tinggi, sedangkan petugas kesehatan baru masih perlu dikembangkan dan dibina
lagi. tetapi petugas kesehatan yang baru lebih dapat bekerja dengan
menunjukkan kinerja yang baik daripada petugas kesehatan yang telah lama
bekerja.
3. Waktu Tunggu Pasien Rawat Jalan dengan Pelayanan Obat Jadi
Waktu tunggu pelayanan resep merupakan salah satu indikator untuk
mengevaluasi mutu pelayanan. Oleh karena itu, dilakukan pengukuran waktu
tunggu pelayanan resep di RSUD Surakarta untuk mengevaluasi kesesuaian
mutu pelayanan dengan standar yang telah ditentukan. Waktu tunggu pelayanan
resep obat jadi menurut Kepmenkes RI No. 129/Menkes/SK/II/2008 adalah
tenggang waktu mulai pasien menyerahkan resep sampai dengan menerima obat
jadi dengan waktu ≤ 30 menit. Sampel yang digunakan adalah resep pasien
rawat jalan yang menerima obat jadi. Populasi dalam penelitian ini diperoleh
dari jumlah rata-rata resep yang masuk setiap bulan yaitu 2835 resep. Sampel
dihitung dengan rumus Slovin dengan tingkat kesalahan yang masih ditolerir
5% sehingga diperoleh jumlah sampel yang dibutuhkan dalam penelitian ini
adalah 351 resep.
Hasil penelitian 351 resep menunjukkan bahwa rata-rata waktu tunggu
pasien rawat jalan dengan pelayanan obat jadi adalah 38,21 menit dengan
median 35 menit. Lama waktu tunggu tertinggi rawat jalan dengan pelayanan
obat jadi yaitu 76 menit dan yang terendah 11 menit dengan rincian 42,5% lama
waktu tunggu pasien rawat jalan ≤ 30 menit dengan pelayanan obat jadi
berjumlah 149 resep, serta 57,5% lama waktu tunggu pasien rawat jalan > 30
menit dengan pelayanan obat jadi berjumlah 202 resep.
Hari ke-1 penelitian merupakan rata-rata tertinggi waktu tunggu pasien
rawat jalan dengan pelayanan obat jadi yaitu 49,04 menit dan hari ke-10
penelitian merupakan rata-rata terendah waktu tunggu pasien rawat jalan
dengan pelayanan obat jadi yaitu 23,88 menit. Rata-rata waktu tunggu pasien
rawat jalan dengan pelayanan obat jadi 351 resep adalah 38,21 menit. Jumlah
resep tertinggi yang diteliti adalah hari ke-1 dan hari ke-7 berjumlah 50 resep
dan terendah terdapat pada hari ke-10 yaitu 17 resep. Rata-rata resep yang
diteliti perhari berjumlah 35 resep dari total 351 resep.
Hari Senin sampai Kamis sekitar pukul 09.30–12.00 banyak pasien
rawat jalan yang menebus obat jadi di instalasi farmasi RSUD Surakarta
sehingga waktu tunggu pasien rawat jalan dengan pelayanan resep obat jadi
menjadi lebih lambat, tetapi sebelum pukul 09.30 dan sesudah pukul 12.00
waktu tunggu pasien rawat jalan dengan pelayanan resep obat jadi menjadi
lebih cepat. Hari Jumat dan Sabtu pasien yang menebus obat tidak sebanyak
hari Senin sampai Kamis sehingga waktu tunggu pasien rawat jalan dengan
pelayanan resep obat jadi menjadi lebih cepat.
Berdasarkan
jawaban
dari
petugas
farmasi,
mereka
merasa
menjalankan pelayanan resep sesuai dengan standar Kepmenkes RI No.
129/Menkes/SK/II/2008 yaitu untuk pelayanan resep obat jadi ≤ 30 menit.
Tetapi setelah diteliti, waktu tunggu pasien rawat jalan dengan pelayanan obat
jadi terdapat 57,5% pelayanan resep yang melebihi standar. Kendala pelayanan
resep menurut petugas farmasi meliputi stok obat minimum, sumber daya
manusia terbatas, resep tidak jelas atau tidak lengkap secara administrasi, dan
proses peracikan sulit dan banyak. Sedangkan bagian yang memerlukan
penambahan petugas adalah bagian penerimaan resep, bagian penyerahan resep,
bagian pengambilan obat, bagian peracikan, bagian gudang, dan bagian
administrasi.
Faktor yang menyebabkan waktu tunggu pasien rawat jalan dengan
pelayanan resep obat jadi menjadi melebihi standar adalah lama tidaknya
petugas farmasi dalam melayani resep tergantung dari jumlah obat yang dibuat
serta banyak tidaknya resep yang masuk. Semakin banyak jumlah komponen
obat dalam satu resep serta semakin banyak resep yang masuk pada waktu yang
hampir bersamaan maka semakin lama pula petugas farmasi dalam melayani
resep obat jadi. Sebaliknya, bila jumlah resep yang masuk sedikit dan jumlah
komponen obat dalam satu resep sedikit maka semakin cepat petugas farmasi
dapat melayani resep obat jadi. Resep yang menumpuk menjadi faktor penentu
obat lama diserahkan pada pasien rawat jalan. Penumpukan resep terjadi sekitar
pukul 09.30–12.00 karena pada jam tersebut banyak pasien rawat jalan yang
baru saja berobat di poliklinik menyerahkan resep obat jadi pada petugas
farmasi. Resep tidak lengkap secara admistrasi sehingga harus dikonfirmasi
terlebih dahulu kepada dokter yang memberi resep. Ketersediaan obat, dimana
stok obat di instalasi farmasi sering kosong sehingga pasien harus membeli obat
di apotek luar dengan di beri fotocopy resep dari petugas farmasi. Peletakan
obat-obatan juga berpengaruh terhadap waktu pelayanan terutama pada proses
pengambilan obat dimana pegawai farmasi harus menjelajahi ruangan untuk
mencari obat sesuai dengan resep. Tempat pelayanan resep rawat jalan dan
rawat inap tidak dipisah. Faktor penyebab waktu tunggu pasien rawat jalan
dengan pelayanan resep obat jadi menjadi melebihi standar dapat dikendalikan
dengan cara memberikan pembinaan untuk meningkatkan kualitas sumber daya
manusia agar dapat memberikan pelayanan yang baik dan tempat pelayanan
resep rawat jalan dan rawat inap dipisahkan agar memudahkan pelayanan resep.
SIMPULAN DAN SARAN
1. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa tingkat pengetahuan
petugas farmasi di RSUD Surakarta terdapat 50% petugas berpengetahuan baik dan
50% petugas berpengetahuan kurang. Masa kerja petugas farmasi di RSUD
Surakarta terdapat 50% petugas dengan masa kerja ≤ 3,9 tahun dan 50% petugas
dengan masa kerja > 3,9 tahun. Waktu tunggu pasien rawat jalan ≤ 30 menit dengan
pelayanan obat jadi berjumlah 149 resep (42,5% ) dan waktu tunggu pasien rawat
jalan > 30 menit dengan pelayanan obat jadi berjumlah 202 resep (57,5%).
2. Saran
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, diharapkan dapat digunakan sebagai informasi
dan masukan bagi rumah sakit untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia,
mutu pelayanan kesehatan, tempat pelayanan resep rawat jalan dan rawat inap
sebaiknya dipisahkan agar dapat meminimalisir waktu tunggu pasien sehingga dapat
meningkatkan kepuasan pasien.
DAFTAR PUSTAKA
Dharma A. 2004. Manajemen Supervisi. Jakarta: PT Raja Grafindo.
Faizin A. 2007. Hubungan Lama Kerja dan Motivasi Diri dengan Kinerja Perawat
Ruangan di RSUD Dr. Muwardi Surakarta. Skripsi. Universitas
Muhammadiyah Surakarta.
Izza K, Salawati T, dan Prasida DW. 2009. Perbedaan Pengetahuan dan Sikap Wanita
terhadap Pemeriksaan Pap Smear Sebelum dan Sesudah Penyuluhan Tentang
Pap Smear di Rumah Bersalin Budi Rahayu di Kelurahan Tandan Kecamatan
Tembalang Kota Semarang Tahun 2009. Jurnal. Universitas Muhammadiyah
Semarang.
Keputusan
Menteri
Kesehatan
Republik
Indonesia.
2004.
Nomor:
1197/Menkes/SK/X/2004. Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit.
Keputusan
Menteri
Kesehatan
Republik
Indonesia.
2008.
129/Menkes/SK/II/2008. Standar Pelayanan Minimum Rumah Sakit.
Nomor:
Kurniawan B, Asmika dan Sarwono I. 2008. Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan
Partisipasi pada Pemeriksaan Pap Smear pada Wanita Pekerja Seks
Komersial. Jurnal. Universitas Brawijaya.
Mubarak WH. 2006. Pengantar Keperawatan Komunitas 2. Jakarta: Sagung Seto.
Notoatmodjo S. 2007. Kesehatan Masyarakat Ilmu & Seni. Jakarta: Rineka Cipta.
Notoatmodjo S. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Siagian. 2008. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Bumi Aksara.
Download