bab 3 inventarisasi lembaga perikanan dan peraturan perundang

advertisement
BAB 3
INVENTARISASI LEMBAGA PERIKANAN DAN PERATURAN
PERUNDANG-UDANGAN
3.1
Lembaga Pemerintah
Lembaga pemerintahan Republik Indonesia mengatur kebijakan-kebijakan
yang ditetapkan berdasarkan fungsi dan tanggung jawabnya masing-masing. Dalam
bab ini akan dijelaskan masing-masing lembaga pemerintah mulai dari lembaga
pemerintah yang mengatur kebijakan secara nasional hingga lembaga pemerintah
yang mengatur kebijakan di tingkat daerah. Berikut merupakan lembaga-lembaga
pemerintah yang terkait dalam pembangunan perikanan di Indonesia hingga
Kabupaten Garut khususnya dalam pengawasan penangkapan hingga pendistribusian
perikanan:
1. Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia,
2. Direktorat Perikanan Tangkap,
3. Direktorat Jendral Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan,
4. Dinas Perikanan Provinsi Jawa Barat, dan
5. Dinas Perikanan Provinsi Jawa Barat.
3.1.1
Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia
Berdasarkan pada Keputusan Presiden Nomor 9 tahun 2005, tugas pokok
Departemen Kelautan dan Perikanan (yang sekarang berubah nama menjadi
Kementerian
Kelautan
dan
Perikanan)
yaitu
membantu
presiden
dalam
menyelenggarakan sebagian urusan pemerintahan di bidang kelautan dan perikanan.
Salah satu tugas pokoknya adalah membuat kebijakan pembangunan kelautan dan
perikanan dalam rangka mengelola dan memanfaatkan sumberdaya kelautan dan
perikanan. Beberapa kebijakan tersebut meliputi pengembangan kapasitas skala
usaha nelayan, pembudidaya ikan dan pelaku usaha kelautan dan perikanan lainnya;
memperkuat dan mengembangkan usaha perikanan tangkap nasional secara efisien,
lestari, dan berbasis kerakyatan; dan mengembangkan industri penanganan dan
pengolahan serta pemasaran hasil tangkapan.
Visi pembangunan jangka pendek dari Kementerian Kelautan dan Perikanan
Republik Indonesia adalah “Indonesia Penghasil Produk Kelautan dan Perikanan
17
Terbesar 2015”, dengan tujuan yang dinamakan Grand Strategy atau The Blue
Revolution Policies yang terdiri dari:
a. Memperkuat kelembagaan dan SDM secara terintegrasi.
b. Mengelola sumber daya kelautan dan perikanan secara berkelanjutan.
c. Meningkatkan produktivitas dan daya saing berbasis pengetahuan.
d. Memperluas akses pasar domestik dan internasional.
Dan beberapa sasaran strategis yang menyangkut peningkatan taraf hidup nelayan:
a. Sumber daya kelautan dan perikanan dimanfaatkan secara optimal dan
berkelanjutan.
b. Indonesia bebas Illegal, Unreported and Unregulated (IUU) Fishing serta
kegiatan yang merusak sumber daya kelautan dan perikanan.
c. Sarana dan prasarana kelautan dan perikanan mampu memenuhi kebutuhan serta
diproduksi dalam negeri dan dibangun secara terintegrasi.
d. Seluruh desa mampu memiliki pasar yang mampu memfasilitasi penjualan hasil
perikanan.
Menteri
Kelautan dan
Perikanan
Staff Ahli
Inspektorat
Jendral
Ditjen Perikanan
Tangkap
Ditjen Perikanan
Budaya
Ditjen
Pengawasan
Sumberdaya KP
Sekertariat Jendral
Ditjen Kelautan,
Pesisir dan Pulaupulau Kecil
Ditjen Pengolahan
dan Pemasaran
Hasil Perikanan
Badan Riset
Kelautan dan
Perikanan
Badan
Pengembangan
SDM KP
3.1.
Kelautan dan
dan Perikanan
Perikanan
Gambar 3.
1 Struktur Organisasi Kementerian Kelautan
(sumber: http://kkp.go.id)
Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia memiliki Rencana
Strategis Pembangunan Kelautan dan Perikanan tahun 2010 – 2014 yang merupakan
jabaran visi dan misi Kementerian Kelautan dan Perikanan yang menjadi acuan
segenap satuan kerja di lingkungan Kementerian. Rencana Strategis Kementerian
Kelautan dan Perikanan tahun 2010 – 2014 adalah dokumen perencanaan
Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk periode 5 (lima) tahun terhitung sejak
tahun 2010 sampai dengan tahun 2014.
18
VISI
Indonesia Penghasil Produk
Kelautan dan Perikanan
Terbesar 2015
MISI
Mensejahterakan
Masyarakat Kelautan dan
Perikanan
Memperkuat Kelembagaan
dan SDM secara Terintegrasi
Mengelola Sumberdaya
Kelautan dan Periakan
Secara Berkelanjutan
Meningkatkan Produktivitas
dan Daya Saing Berbasis
Pengetahuan
Memperluas Akses Pasar
Domestik dan Internasional
Revolusi Biru
Gambar 3. 2 Rencana Strategis Pembangunan Kelautan dan Perikanan
2014http://kkp.go.id)
2010-2014 (sumber:
Beberapa arah kebijakan dan strategi Kementerian Kelautan dan Perikanan
tahun 2010 – 2014 akan diimplementasikan dalam program dan kegiatan tahun 2010
– 2014 yang berkaitan dengan peningkatan produktivitas penangkapan ikan dan
pendistribusiannya adalah sbeagai berikut:
1. Program Pengembangan dan Pengelolaan Perikanan Tangkap
Tujuan program adalah meningkatkan produktivitas perikanan tangkap dengan
sasaran peningkatan hasil tangkapan dalam setiap upaya tangkap untuk
kesejahteraan nelayan yang memiliki indikator sebagai berikut:
a. Jumlah produksi perikanan tangkap (ton) dari tahun 2010 hingga tahun 2014
Berdasarkan rencana strategis yang sudah ditentukan, produksi perikanan
tangkap di Indonesia untuk tahun 2010 hingga 2014 dapat dilihat pada Tabel
3.1.
19
Tabel 3. 1 Produksi Perikanan Tangkap (Ton) Tahun 2010-2014
No.
Tahun
Pendapatan (Rp.)
1
2010
5.384.740
2
2011
5.409.100
3
2012
5.436.290
4
2013
5.467.120
5
2014
5.500.000
(Sumber: Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, 2012)
b. Jumlah pendapatan nelayan
Berdasarkan rencana strategis yang sudah ditentukan, jumlah pendapatan
nelayan pemilik di Indonesia untuk tahun 2010 hingga 2014 dapat dilihat
pada Tabel 3.2.
Tabel 3. 2 Pendapatan Nelayan Pemilik/bulan (Rp.) Tahun 2010-2014
No.
Tahun
Pendapatan (Rp.)
1
2010
1.769.220
2
2011
1.903.290
3
2012
2.067.530
4
2013
2.236.900
5
2014
2.441.550
(Sumber: Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, 2012)
Sedangkan untuk pendapatan bagi nelayan buruh di Indonesia dapat dilihat
pada Tabel 3.3.
Tabel 3. 3 Pendapatan Nelayan Buruh/bulan (Rp.) Tahun 2010-2014
No.
Tahun
Pendapatan (Rp.)
1
2010
601.730
2
2011
721.384
3
2012
837.038
4
2013
962.692
5
2014
1.200.000
(Sumber: Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, 2012)
20
Untuk mencapai tujuan dan sasaran tersebut, kegiatan yang akan
dilaksanakan adalah:
a. Pengelolaan sumberdaya ikan.
b. Pembinaan dan pengembangan kapal perikanan, alat penangkap ikan, dan
pengawakan kapal perikanan.
c. Pengembangan pembangunan dan pengelolaan pelabuhan perikanan.
d. Pelayanan usaha perikanan tangkap yang efisien, tertib, dan berkelanjutan.
e. Pengembangan usaha penangkapan ikan dan pemberdayaan nelayan skala
kecil.
f. Peningkatan dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas teknis lainnya
Direktorat Jendral Perikanan Tangkap (Dirjen PT)
2. Program Peningkatan Daya Saing Produk Perikanan
Tujuan program adalah meningkatkan jaminan mutu dan keamanan hasil
perikanan, nilai tambah produk perikanan, investasi, serta distribusi dan akses
pemasaran hasil perikanan, dengan sasaran peningkatan volume dan nilai ekspor
hasil perikanan serta peningkatan volume produk olahan. Untuk mencapai tujuan
dan sasaran tersebut, kegiatan yang akan dilaksanakan adalah:
a. Fasilitas pengembangan industry pengolahan hasil perikanan.
b. Fasilitasi pengembangan jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan.
c. Fasilitasi penguatan dan pengembangan pemasaran dalam negeri hasil
perikanan.
d. Fasilitasi penguatan dan pengembangan pemasaran luar negeri.
e. Fasilitasi pembinaan dan pengembangan sistem usaha dan investasi
perikanan.
f. Fasilitasi pengembangan usaha industri pengolahan hasil perikanan.
g. Peningkatan dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas teknis lainnya
Direktorat Jendral Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (Ditjen
P2HP).
21
3.1.2
Direktorat Jendral Perikanan Tangkap
Direktorat Jendral Perikanan Tangkap merupakan lembaga dibawah naungan
Kementerian Kelautan dan Perikanan RI yang menangani kegiatan hulu perikanan
seperti sumber daya ikan, kapal perikanan, pelabuhan perikanan, alat penangkap
ikan, pelayanan usaha penangkapan ikan, serta pengembangannya yang memiliki
direktoratnya masing-masing.
Direktorat Jendral Perikanan Tangkap memiliki visi yaitu “Usaha Perikanan
Tangkap Indonesia yang Kokoh, Mandiri, dan Lestari pada Tahun 2020”. Sedangkan
misi yang akan diimplementasikannya adalah:
a. Mengelola sumber daya ikan secara bertanggung jawab
b. Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan nelayan
c. Mengembangkan usaha perikanan tangkap yang efisien dan berdaya saing
d. Memperkuat armada perikanan nasional
e. Memfasilitasi ketersediaan pelabuhan perikanan dengan kualitas dan kuantitas
yang memadai
Direktorat Jendral
Perikanan
Tangkap
Sekertariat Dirjen
Perikanan
Tangkap
Direktorat Sumber
Daya Ikan
Direktorat Kapal
Perikanan dan
API
Direktorat Pelayaran
Usaha dan
Penangkapan Ikan
Direktorat
Pelabuhan
Perikanan
Ditjen Kelautan,
Pesisir dan Pulaupulau Kecil
Direktorat Pengembangan Usaha
Penangkapan Ikan
Ditjen Pengolahan
dan Pemasaran
Hasil Perikanan
Gambar3.3.3.
StrukturOrganisasi
OrganisasiDirektorat
DirektoratJendral
JendralPerikanan
PerikananTangkap
Tangkap
Gambar
3 Struktur
(sumber: http://kkp.go.id)
Berdasarkan Peraturan Menteri No. 15 tahun 2010 tentang Organisasi dan
Tata Kerja Kementerian Kelautan dan Perikanan pasal 108 dalam melaksanakan
tugasnya, Ditjen Perikanan Tangkap menyelnggarakan fungsi:
22
a. Perumusan kebijakan di bidang perikanan tangkap;
b. Pelaksanaan kebijakan di bidang perikanan tangkap;
c. Penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang perikanan tangkap;
d. Pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang perikanan tangkap; dan
e. Pelaksanaan administrasi Ditjen Perikanan Tangkap.
3.1.3
Direktorat Jendral Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan
Direktorat Jendral Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan merupakan
lembaga dibawah naungan Kementerian Kelautan dan Perikanan RI yang menangani
kegiatan hilir perikanan seperti pengolahan hasil perikanan, standarisasi pengolahan,
pemasaran baik dalam negeri maupun luar negeri, dan investasi.
Direktorat Jendral Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan memiliki visi
yaitu
“Menuju
Produk
Perikanan
Prima”.
Sedangkan
misi
yang
akan
diimplementasikannya adalah:
a. Mendorong berkembangnya usaha pengolahan yang mengasilkan produk yang
aman, bermutu, dan ramah lingkungan dalam rangka menciptakan daya saing
b. Mengembangkan standarisasi pengolahan dan pemasaran hasil perikanan
c. Mengembangkan sistem pemasaran produk perikanan yang higienis, dan efisien
d. Memperkuat dan mengembangkan pemasaran luar negeri
e. Peningkatkan iklim usaha pengolahan dan pemasaran hasil perikanan yang
kondusif
f. Mewujudakan tata kelola pemerintahan yang baik di bidang pengolahan dan
pemasaran
23
Direktorat Jendral
Pengolahan dan
Pemasaran Hasil
Perikanan
Sekertariat Dirjen
P2HP
Direktorat
Pengolahan Hasil
Direktorat
Standarisasi dan
Akreditasi
Direktorat
Pemasaran Dalam
Negeri
Direktorat
Pemasaran Luar
Negeri
Direktorat Usaha
dan Investasi
Kelompok Jabatan
Fungsional
Gambar 3. 4 Struktur Organisasi Direktorat Jendral Pengolahan dan
Pemasaran Hasil Perikanan (sumber: http://kkp.go.id)
Berdasarkan Peraturan Menteri No. 15 tahun 2010 tentang Organisasi dan
Tata Kerja Kementerian Kelautan dan Perikanan pasal 398 dalam melaksanakan
tugasnya Ditjen P2HP menyelenggarakan fungsi:
a. Perumusan kebijakan di bidang pengolahan dan pemasaran hasil perikanan;
b. Pelaksanaan kebijakan di bidang pengolahan dan pemasaran hasil perikanan;
c. Penyususnan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang pengolahan dan
pemasaran hasil perikanan;
d. Pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang pengolahan dan pemasaran
hasil perikanan; dan
e. Pelaksanaan administrasi Ditjen P2HP.
3.1.4
Dinas Perikanan Provinsi Jawa Barat
Dinas Perikanan Provinsi Jawa Barat memiliki tugas pokok melaksanakan
sebagian tugas Pemerintah Daerah di bidang perikanan dalam merumuskan
kebijaksanaan operasional dan eksploiting kelautan serta melaksanakan kewenangan
desentralisasi provinsi dan kewenangan yang dilimpahkan Gubernur. Dinas
Perikanan Provinsi Jawa Barat memiliki visi yaitu “Prima dalam Pelayanan Menuju
Perikanan
Jawa
Barat
yang
Tangguh,
Dinamis,
dan
Mandiri”.
Yang
diimplementasikan melalui misi sebagai berikut:
24
1. Meningkatkan kualitas dan produktivitas sumberdaya manusia perikanan dan
kelautan yang berdaya saing.
2. Mendorong
peningkatan
pendapatan
masyarakat
melalui
pemanfaatan
sumberdaya perikanan dan kelautan yang bernilai ekonomis dengan penerapan
teknologi berwawasan lingkungan.
3. Menigkatkan produk perikanan dan kelautan yang berkualitas untuk pemenuhan
gizi masyarakat dan bahan baku olahan secara berkelanjutan.
4. Meningkatkan pelestarian sumberdaya perikanan dan kelautan.
Dinas Perikanan Provinsi Jawa Barat memiliki langkah-langkah strategis
dalam pelaksanaan pembangunan perikanan dan kelautan yang akan dilakukan.
Beberapa langkah-langkah strategis tersebut yaitu:
1. Memanfaatkan sumberdaya perikanan dan kelautan secara optimal, efisien, dan
berkelanjutan.
2. Meningkatkan peran serta masyarakan dalam penyediaan dan pemeliharaan
sarana dan prasarana sumberdaya perikanan dan kelautan.
3. Meningkatkan pengawasan dan pengendalian sumberdaya perikanan dan
kelautan.
4. Peningkatan pemberdayaan nelayan, pembudidaya ikan, pengolah ikan, dan
masyarakat pesisir lainnya.
Pemerintah Provisi Jawa Barat memiliki rencana jangka panjang atau disebut
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah dan menengah atau disebut Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Daerah dalam melakukan upaya peningkatan
kesejahteraan masyarakat sekitar Jawa Barat hingga batas waktu tertentu. Rencana
Pembangunan Jangka Panjang Daerah atau disingkat RPJPD Daerah Provinsi Jawa
Barat adalah dokumen perencanaan pembangunan yang memuat visi, misi dan
arahan pembangunan jangka panjang untuk periode 20 tahun terhitung dari tahun
2005 sampai dengan tahun 2025.
Upaya perwujudan visi dan misi pembangunan jangka panjang Jawa Barat
dilaksanakan secara bertahap dalam kerangka pembangunan jangka menengah, yang
diukur dengan parameter peningkatan kualitas manusia melalui indikator Indeks
Pembangunan Manusia (IPM).
25
1. Tahapan pembangunan jangka menengah untuk periode 2005 – 2008 mengenai
perikanan dan kelautan adalah:
Pembangunan
pembenahan
bisnis
sistem
kelautan
perikanan
diarahakan
budidaya,
pada
pembenahan
pemberdayaan
TPI/PPI,
masyarakat
pengolah/pengrajin ikan tradisional, peningkatan fungsi pelabuhan/pangkalan
pendaratan ikan, pembuatan database kelautan, dan pembuatan tata ruang
wilayah pesisir dan laut.
2. Tahapan pembangunan jangka menengah periode 2008 – 2013 mengenai
perikanan dan kelautan adalah:
Strategi pengembangan bisnis kelautan Jawa Barat pada tahap ini diarahkan pada
pengembangan perikanan komersial di Pantai Selatan dan Pantai Utara,
pengembangan usaha saran produksi, pengembangan usaha teknologi komunikasi
kelautan, pengembangan jejaring usaha, pengembangan usaha pengolahan hasil
serta penguatan pasar untuk industry hilir.
Sedangkan salah satu strategi untuk mendukung peningkatan pembangunan
ekonomi regional berbasis potensi lokal pada periode pembangunan jangka
menengah tahun 2008 – 2013 adalah meningkatkan produksi dan produktivitas
nelayan, sarana, dan prasarana perikanan tangkap melalui arah kebijakan:
1. Peningkatan produksi dan produktivitas serta pengolahan hasil perikanan
budidaya, dengan mendorong pemanfaatan potensi perairan pantai melalui
Gerakan Pengembangan Perikanan Pantai Utara dan Pantai Selatan (GAPURA).
2. Meningkatkan produksi dan produktivitas perikanan tangkap serta pengelolaan
dan pengawasan potensi sumber daya kelautan.
Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi
Jawa Barat tahun 2008 - 2013 terdapat Program Prioritas Penyelenggaraan Urusan
Pemerintah Daerah melalui misi yaitu “Meningkatkan pembangunan perekonomian
regional berbasis potensi lokal”. Sehingga implementasi dalam bidang kelautan dan
perikanan melalui kebijakan dan program yaitu meningkatkan pengelolaan sumber
daya ikan dan flasma nutfah di perairan tawar, payau serta sumber daya kelautan,
terutama perikanan komersil di Pantai Selatan dan Pantai Utara dalam Gerakan
Pengembangan Perikanan Pantai Utara dan Pantai Selatan (GAPURA), yang
dilaksanakan melalui Program Pengembangan Perikanan Tangkap, dengan sasaran:
26
a. Meningkatnya produksi dan produktivitas usaha perikanan tangkap;
b. Tidak Berubah;
c. Terkendalinya pemanfaatan sumber daya kelautan;
d. Berkembangnya usaha pengolahan hasil serta penguatan pasar untuk industri hilir
produk perikanan tangkap.
3.1.5
Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan Kabupaten Garut
Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan Kabupaten Garut memiliki tugas
pokok melaksanakan sebagian tugas Pemerintah Kabupaten yang salah satunya di
bidang perikanan dalam merumuskan kebijaksanaan operasional dan eksploiting
kelautan serta melaksanakan kewenangan desentralisasi kabupaten dan kewenangan
yang dilimpahkan oleh Bupati.
Pemerintah Kabupaten Garut telah merancang rencana pembangunan jangka
panjang dan menengah yang didasari oleh Rencana Pembangunan Jangka Panjang
Nasional dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Provinsi Jawa Barat.
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Garut
tahun 2005 – 2025 memuat visi, misi, dan arah pembangunan jangka panjang daerah
untuk periode 20 tahun terhitung sejak tahun 2005 hingga tahun 2025.
Salah satu misi dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD)
Kabupaten Garut tahun 2005 – 2025 adalah meningkatkan perekonomian berbasis
potensi daerah yang berfokus pada agribisnis, agroindustri, pariwisata, jasa
perdagangan dan kelautan dengan memperhatikan kearifan lokal yang berdaya saing
disertai pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan, dengan fokus
Pembangunan ekonomi dalam arah pembangunan kelautan dan perikanan
dikembangkan untuk meningkatkan optimalitas pengelolaan kelautan dan perikanan
dalam upaya pemanfaatan dan pengolahan serta pemasaran hasil kelautan dan
perikanan. Tahapan strategi dan kebijakan pembangunan:
1. Tahun 2005 – 2009
a. Pemanfaatan dan pengolahan serta pemasaran hasil kelautan dan perikanan.
b. Peningkatan pengembangan pengelolaan sumberdaya kelautan.
c. Pengembangan usaha dan pemanfaatan sumberdaya kelautan.
27
2. Tahun 2009 – 2014
a. Pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir.
b. Pengembangan perikanan tangkap.
c. Pengembangan sistem penyuluhan.
d. Optimalisasi pengolahan dan pemasaran produksi perikanan.
e. Pemberdayaan masyarakat dalam pengawasan dan pengendalian sumber daya
kelautan.
Adapun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Garut tahun 2009 – 2014 yakni didasari oleh Rencana Pembangunan
Jangka Panjang Daerah (RPJMD) Kabupaten Garut dengan salah satu misinya yaitu
Mengembangkan ekonomi kerakyatan berbasis agribisnis, agroindustri, kelautan dan
pariwisata disertai pengembangan seni budaya daerah.
Tabel 3. 4 Rencana pembangunan ekonomi urusan kelautan dan perikanan dalam
RPJMD Kabupaten Garut 2010 – 2012
2010
2011
2012
Perluasan area tangkap ikan laut
Perluasan area tangkap ikan laut
Perluasan area tangkap ikan laut
dan peningkatan kemampuan
dan peningkatan kemampuan
dan peningkatan kemampuan
peralatan tangkap ikan laut
peralatan tangkap ikan laut
peralatan tangkap ikan laut
Diversifikasi usaha
Diversifikasi usaha
Diversifikasi usaha
petani/nelayan ke agroindustri
petani/nelayan ke agroindustri
petani/nelayan ke agroindustri
Peningkatan sarana dan
Peningkatan sarana dan
-
prasarana pengolah hasil
prasarana pengolah hasil
perikanan
perikanan
Pemberdayaan ekonomi
Pemberdayaan ekonomi
Pemberdayaan ekonomi
masyarakat pesisir
masyarakat pesisir
masyarakat pesisir
Gerakan ekonomi mandiri
Gerakan ekonomi mandiri
Gerakan ekonomi mandiri
berbasis agribisnis,
berbasis agribisnis,
berbasis agribisnis,
agroindustri, kelautan dan
agroindustri, kelautan dan
agroindustri, kelautan dan
pariwisata
pariwisata
pariwisata
(Sumber: Pemerintah Kabupaten Garut, 2012)
Pada kebijakan pemerintah dalam meningkatkan pengelolaan sumberdaya
perikanan dan kelautan yang berwawasan lingkungan, pemerintah Kabupaten Garut
memiliki strategi peningkatan penangkapan, budidaya dan nilai tambah melalui
perbaikan mutu dan pengembangan produk melalui program kerja sebagai berikut:
28
1. Pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir.
Tujuan dari program ini adalah untuk meningkatkan aktivitas ekonomi kelautan
dan perikanan, yang diukur oleh meningkatnya pendapatan dan taraf hidup
nelayan untuk pengentasan kemiskinan.
2. Pengembangan perikanan tangkap.
Tujuan dari program ini yang pertama adalah untuk meningkatkan produksi dan
produktivitas nelayan, yang diukur oleh meningkatnya hasil tangkapan nelayan.
Kedua, program ini diharapkan mampu meningkatkan sarana dan prasarana
perikanan tangkap yang diukur oleh beberapa indikator yaitu:
a. Meningkatnya sarana TPI/PPI
b. Peningkatan jumlah rumponisasi
c. Meningkatnya sarana dan prasarana penangkapan ikan (Kapal Motor)
3. Pengembangan sistem penyuluhan.
Tujuan program ini agar tertatanya penyelenggaraan penyuluhan perikanan yang
diukur oleh perkembangan sistem penyuluhan yang efektif dan tepat sasaran.
4. Optimalisasi pengolahan dan pemasaran produksi perikanan.
Tujuan program ini pertama adalah untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas
hasil pengolahan yang diukur oleh meningkatnya jenis dan jumlah hasil olahan
produk perikanan dan kelautan, dan tersedianya sarana pengolahan hasil
perikanan dan kelautan. Tujuan kedua adalah untuk meningkatkan sarana
pemasaran jasil perikanan, yang diukur oleh meningkatnya sarana pasar ikan dan
meningkatnya volume pemasaran hasil perikanan dan kelautan.
5. Pemberdayaan masyarakat dalam pengawasan dan pengendalian sumber daya
kelautan.
Tujuan program ini adalah untuk membentuk kelompok masyarakat swakarsa
pengaman sumber daya kelautan dan diukur oleh terlaksanannya aktivitas
pengawasan dan pengendalian sumberdaya kelautan berbasis masyarakat.
3.2
Peraturan Perundang-undangan
Mengelola sumberdaya alam membutuhkan adanya instrument yang digunakan
sebagai framework dalam pemecahan masalah dan pencapaian tujuan. Dalam
konteks penangkapan ikan hingga pendistribusiannya dalam rangka meningkatkan
kualitas hidup nelayan adalah Undang-Undang Dasar 1945, peraturan perundang-
29
undangan, dan peraturan menteri yang berhubungan dengan penangkapan ikan dan
pendistribusiannya. Berikut adalah hirarki atau tata urut peraturan perundangundangan yang berlaku di Indonesia berdasarkan UU No. 12 tahun 2011 tentang
Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.
UUD 1945
TAP MPR
UU/PP
Pengganti UU
PP
Perda
Kab/Kota
Perda
Provinsi
Perpres
Gambar 3. 5 Hirarki Peraturan Perundang-undangan di Indonesia
Berdasarkan UU No. 12 tahun 2011 pasal 7, PERMEN & KEPMEN di
bawah perpres tapi tidak ada di hirarki, diakui keberadaannya dan memiliki kekuatan
hukum yang mengikat sepanjang diperintahkan oleh peraturan perundang-undangan
yang lebih tinggi atau dibentuk berdasarkan kewenangan. Hal-hal detail dijelaskan
oleh Peraturan Menteri.
Aspek legal yang digunakan sebagai bahan dasar pengkajian antara kebijakan
dengan penangkapan hingga pendistribusian ikan di Indonesia khususnya pada
daerah PPP Cilauteureun dalam rangka meningkatkan kualitas hidup nelayan kecil
adalah:
1. Undang-Undang Dasar 1945
2. Undang-Undang No. 45 tahun 2009 tentang Perikanan
3. Peraturan Menteri No. 1 tahun 2009 tentang Wilayah Pengelolaan Perikanan RI
4. Peraturan Menteri No. 2 tahun 2011 tentang Jalur Penangkapan Ikan dan
Penempatan Alat Penangkapan Ikan dan Alat Bantu Penangkapan Ikan di
Wilayah Pengelolaan RI
5. Peraturan Menteri No. 49 tahun 2011 tentang Usaha Perikanan Tangkap
6. Keputusan Menteri No. 10 tahun 2004 tentang Pelabuhan Perikanan
7. Keputusan Menteri No. 1 tahun 2007 tentang Persyaratan Jaminan Mutu dan
Keamanan Hasil Perikanan pada Proses Produksi, Pengolahan, dan Distribusi
30
8. Keputusan Menteri No. 6 tahun 2010 tentang Alat Penangkapan Ikan di Wilayah
Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia
9. Keputusan Menteri No. 45 tahun 2011 tentang Estimasi Potensi Sumber Daya
Ikan di Wilayah Pengelolaan
3.2.1
Undang-Undang Dasar 1945
Undang-Undang Dasar 1945 merupakan landasan konstitusional. Dalam
pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, pada alinea ke-4 diamanatkan bahwa
tujuan utama pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah melindungi
segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan memajukan
kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan
ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan
sosial. Pengelolaan kelautan merupakan salah satu upaya untuk memajukan
kesejahteraan umum, perdamaian abadi, dan keadilan sosial dengan memanfaatkan
sumber daya perikanan yang ada secara optimal dan mengelolanya dengan baik
sebagaimana diamanatkan di dalam UUD 1945 pasal 33 ayat (3) bumi dan air serta
kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan
untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat.
3.2.2
Undang-Undang RI No. 45 Tahun 2009 Tentang Perikanan (Perubahan UU
RI No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan)
Dalam UU No. 45 tahun 2009 dijelaskan mengenai beberapa hal seperti pada
pasal 1 meliputi (poin 5) penangkapan ikan adalah kegiatan untuk memperoleh ikan
di perairan yang tidak dalam keadaan dibudidayakan dengan alat atau cara apa pun,
termasuk kegiatan yang menggunakan kapal untuk memuat, mengangkut,
menyimpan, mendinginkan, menangani, mengolah, dan/atau mengawetkannya; (poin
7) pengelolaan perikanan adalah semua upaya, termasuk proses yang terintegrasi
dalam pengumpulan informasi, analisis, perencanaan, konsultasi, pembuatan
keputusan, alokasi sumber daya ikan, dan implementasi serta penegakan hukum dari
peraturan perundang-undangan di bidang perikanan, yang dilakukan oleh pemerintah
atau otoritas lain yang diarahkan untuk mencapai kelangsungan produktivitas sumber
daya hayati perairan dan tujuan yang telah disepakati; (poin 9) kapal perikanan
adalah kapal, perahu, atau alat apung lain yang digunakan untuk melakukan
penangkapan ikan, mendukung operasi penangkapan ikan, pembudidayaan ikan,
31
pengangkutan ikan, pengolahan ikan, pelatihan perikanan, dan penelitian/eksplorasi
perikanan; (poin 10) nelayan adalah orang yang mata pencahariannya melakukan
penangkapan ikan; (poin 11) nelayan kecil adalah orang yang mata pencahariannya
melakukan penangkapan ikan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari yang
menggunakan kapal perikanan berukuran paling besar 5 (lima) gross ton (GT); (poin
23) Pelabuhan Perikanan adalah tempat yang terdiri atas daratan dan perairan di
sekitarnya dengan batas-batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan
kegiatan sistem bisnis perikanan yang digunakan sebagai tempat kapal perikanan
bersandar, berlabuh, dan/atau bongkar muat ikan yang dilengkapi dengan fasilitas
keselamatan pelayaran dan kegiatan penunjang perikanan.
Pada pasal 2 UU No. 45 tahun 2009 ditetapkan bahwa pengelolaan perikanan
dilakukan
berdasarkan
asas
manfaat,
keadilan,
kebersamaan,
kemitraan,
kemandirian, pemerataan, keterpaduan, keterbukaan, efisiensi, kelestarian, dan
pembangunan yang berkelanjutan. Selanjutnya pada pasal 3 ditetapkan bahwa
pengelolaan sumberdaya perikanan dilaksanakan dengan tujuan: (a) meningkatkan
taraf hidup nelayan kecil dan pembudi daya-ikan kecil, (b) meningkatkan penerimaan
dan devisa negara, (c) mendorong perluasan dan kesempatan kerja, (d) meningkatkan
ketersediaan dan konsumsi sumber protein ikan, (e) mengoptimalkan pengelolaan
sumber daya ikan, (f) meningkatkan produktivitas, mutu, nilai tambah, dan daya
saing, (g) meningkatkan ketersediaan bahan baku untk industri pengolahan ikan, (h)
mencapai pemanfaatan sumber daya ikan, lahan pembudidayaan ikan, dan
lingkungan sumber daya ikan secara optimal dan (i) menjamin kelestarian sumber
daya ikan, lahan pembudidayaan ikan, dan tata ruang.
Pada pasal 5 ayat (1) ditetapkan bahwa wilayah pengelolaan perikanan
Republik Indonesia untuk penangkapan ikan dan/atau pembudidayaan ikan meliputi:
(a) Perairan Indonesia, (b) ZEEI, dan (c) sungai, danau, waduk, rawa, dan genangan
air lainnya yang dapat diusahakan serta lahan pembudidayaan ikan yang potensial di
wilayah Republik Indonesia. Gambar wilayah pengelolaan perikanan Republik
Indonesia dapat dilihat pada Gambar 3.6.
Pada UU No. 45 tahun 2009 pasal 7 ayat (1) ditetapkan bahwa dalam rangka
mendukung kebijakan pengelolaan sumber daya ikan, menteri menetapkan: (a)
rencana pengelolaan perikanan, (b) potensi dan alokasi sumber daya ikan di wilayah
32
pengelolaan perikanan Negara Republik Indonesia, (c) jumlah tangkapan yang
diperbolehkan di wilayah pengelolaan perikanan Negara Republik Indonesia, (d)
potensi dan alokasi lahan pembudidayaan ikan di wilayah pengelolaan perikanan
Negara Republik Indonesia, (e) potensi dan alokasi induk serta benih ikan tertentu di
wilayah pengelolaan perikanan Negara Republik Indonesia, (f) jenis, jumlah, dan
ukuran alat penangkapan ikan, (g) jenis, jumlah, ukuran, dan penempatan alat bantu
penangkapan ikan, (h) daerah, jalur, dan waktu atau musim penangkapan ikan, (i)
persyaratan atau standar prosedur operasional penangkapan ikan, (j) pelabuhan
perikanan, (k) sistem pemantauan kapal perikanan, (l) pencegahan pencemaran dan
kerusakan sumber daya ikan serta lingkungannya, (m) rehabilitasi dan peningkatan
sumber daya ikan serta lingkungannya, (n) ukuran atau berat minimum jenis ikan
yang boleh ditangkap.
Pada pasal 7 ayat (2) menjelaskan bahwa setiap orang yang melakukan usaha
dan/atau kegiatan pengelolaan perikanan wajib mematuhi ketentuan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) mengenai: (a) jenis, jumlah, dan ukuran alat penangkapan
ikan, (b) jenis, jumlah, ukuran, dan penempatan alat bantu penangkapan ikan, (c)
daerah, jalur, dan waktu atau musim penangkapan ikan, (d) persyaratan atau standar
prosedur operasional penangkapan ikan, (e) sistem pemantauan kapal perikanan, (f)
jenis ikan baru yang akan dibudidayakan, (g) jenis ikan dan wilayah penebaran
kembali serta penangkapan ikan berbasis budi daya, (h) pembudidayaan ikan dan
perlindungannya, (i) pencegahan pencemaran dan kerusakan sumber daya ikan serta
lingkungannya, (j) ukuran atau berat minimum jenis ikan yang boleh ditangkap, (k)
kawasan konservasi perairan, (l) wabah dan wilayah wabah penyakit ikan, (m) jenis
ikan yang dilarang untuk diperdagangkan, dimasukkan, dan dikeluarkan ke dan dari
wilayah Negara Republik Indonesia, dan (n) jenis ikan yang dilindungi. Khusus pada
pasal 7 (ayat 3) menjelaskan bahwa kewajiban mematuhi ketentuan mengenai sistem
pemantauan kapal perikanan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf e tidak
berlaku bagi nelayan kecil dan/atau pembudi daya-ikan kecil.
Pada BAB V Undang-Undang RI No. 45 Tahun 2009 Tentang Perikanan
mengatur mengenai pengelolaan ikan serta penditribusiannya. Pasal 25 (ayat 1)
menerangkan bahwa usaha perikanan dilaksanakan dalam sistem bisnis perikanan,
meliputi praproduksi, produksi, pengolahan, dan pemasaran dimana untuk ketentuan
33
lebih lanjut mengenai praproduksi, produksi, pengolahan, dan pemasaran diatur
dalam Peraturan Menteri. Pada pasal ini juga menjelaskan bahwa Pemerintah dan
pemerintah daerah harus membina dan memfasilitasi pengembangan usaha perikanan
agar memenuhi standar mutu hasil perikanan dan berkewajiban menyelenggarakan
dan memfasilitasi kegiatan pemasaran usaha perikanan baik di dalam negeri maupun
ke luar negeri. Pemerintah juga dituntut untuk membina dan memfasilitasi
berkembangnya industri perikanan nasional dengan mengutamakan penggunaan
bahan baku dan sumber daya manusia dalam negeri. Industri perikanan diantaranya
meliputi industri yang bergerak di bidang penyediaan sarana dan prasarana
penangkapan serta industri pengolahan perikanan.
Pasal 41 UU No. 45 tahun 2009 menerangkan tentang peran pemerintah
dalam menyelenggarakan dan melakukan pembinaan pengelolaan pelabuhan
perikanan yakni: (a) rencana induk pelabuhan perikanan secara nasional, (b)
klasifikasi pelabuhan perikanan (klasifikasi pelabuhan perikanan termasuk
diantaranya pelabuhan perikanan samudera, pelabuhan pelabuhan perikanan
nusantara dan pelabuhan perikanan pantai), (c) pengelolaan pelabuhan perikanan, (d)
persyaratan dan/atau standar teknis dalam perencanaan, pembangunan, operasional,
pembinaan, dan pengawasan pelabuhan perikanan, (e) wilayah kerja dan
pengoperasian pelabuhan perikanan yang meliputi bagian perairan dan daratan
tertentu yang menjadi wilayah kerja dan pengoperasian pelabuhan perikanan, dan (f)
Untuk mendukung dan menjamin kelancaran operasional pelabuhan perikanan,
ditetapkan batas-batas wilayah kerja dan pengoperasian dalam koordinat geografis.
Pelabuhan perikanan mempunyai fungsi pemerintahan dan pengusahaan guna
mendukung kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan
sumber daya ikan dan lingkungannya mulai dari praproduksi, produksi, pengolahan
sampai dengan pemasaran. Fungsi pelabuhan perikanan dalam mendukung kegiatan
yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya ikan dan
lingkungannya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa: (a) pelayanan
tambat dan labuh kapal perikanan, (b) pelayanan bongkar muat, (c) pelayanan
pembinaan mutu dan pengolahan hasil perikanan, (d) pemasaran dan distribusi ikan,
(e) pengumpulan data tangkapan dan hasil perikanan, (f) tempat pelaksanaan
penyuluhan dan pengembangan masyarakat nelayan, (g) pelaksanaan kegiatan
operasional kapal perikanan, (h) tempat pelaksanaan pengawasan dan pengendalian
34
sumber daya ikan, (i) pelaksanaan kesyahbandaran, (j) tempat pelaksanaan fungsi
karantina ikan, (k) publikasi hasil pelayanan sandar dan labuh kapal perikanan dan
kapal pengawas kapal perikanan, (l) tempat publikasi hasil riset kelautan dan
perikanan, (m) pemantauan wilayah pesisir dan wisata bahari, dan/atau (n)
pengendalian lingkungan.
Dalam hal wilayah kerja dan pengoperasian pelabuhan perikanan berbatasan
dan/atau mempunyai kesamaan kepentingan dengan instansi lain, penetapan batasnya
dilakukan melalui koordinasi dengan instansi yang bersangkutan. Untuk setiap kapal
penangkap ikan dan kapal pengangkut ikan harus mendaratkan ikan tangkapan di
pelabuhan perikanan yang ditetapkan atau pelabuhan lainnya yang ditunjuk. Lalu
pada ayat (4) dijelaskan untuk setiap orang yang memiliki dan/atau mengoperasikan
kapal penangkap ikan dan/atau kapal pengangkut ikan yang tidak melakukan
bongkar muat ikan tangkapan di pelabuhan perikanan yang ditetapkan atau
pelabuhan lainnya yang ditunjuk dikenai sanksi administratif berupa peringatan,
pembekuan izin, atau pencabutan izin.
Pada BAB VII Undang-Undang RI No. 45 Tahun 2009 Tentang Perikanan
mengatur mengenai pungutan perikanan, sehingga pada pasal 48 (ayat 1) menyatakan
bahwa setiap orang yang memperoleh manfaat langsung dari sumber daya ikan dan
lingkungannya di wilayah pengelolaan perikanan Negara Republik Indonesia dan di
luar wilayah pengelolaan perikanan Negara Republik Indonesia dikenakan pungutan
perikanan. Kepada setiap orang yang berusaha di bidang penangkapan atau
pembudidayaan ikan yang dilakukan di laut atau di perairan lainnya di dalam
maupun di luar wilayah pengelolaan perikanan Negara Republik Indonesia
dikenakan pungutan perikanan karena mereka telah memperoleh manfaat langsung
dari sumber daya ikan dan/atau lingkungannya. Pungutan perikanan sebagaimana
merupakan penerimaan negara bukan pajak dan tidak dikenakan bagi nelayan kecil
dan pembudi daya-ikan kecil. Pungutan perikanan digunakan untuk pembangunan
perikanan serta kegiatan konservasi sumber daya ikan dan lingkungannya.
Pada BAB X Undang-Undang RI No. 45 Tahun 2009 Tentang Perikanan
mengatur mengenai pemberdayaan nelayan kecil dan pembudidaya ikan kecil. Pada
pasal 60 (ayat 1) pemerintah memberdayakan nelayan kecil dan pembudi daya-ikan
kecil melalui: (a) penyediaan skim kredit bagi nelayan kecil dan pembudi daya-ikan
35
kecil, baik untuk modal usaha maupun biaya operasional dengan cara yang mudah,
bunga pinjaman yang rendah, dan sesuai dengan kemampuan nelayan kecil dan
pembudi daya-ikan kecil, (b) penyelenggaraan pendidikan, pelatihan, dan
penyuluhan bagi nelayan kecil serta pembudi daya -ikan kecil untuk meningkatkan
pengetahuan dan keterampilan di bidang penangkapan, pembudidayaan, pengolahan,
dan pemasaran ikan; dan (c) penumbuhkembangkan kelompok nelayan kecil,
kelompok pembudi daya-ikan kecil, dan koperasi perikanan.
Pemberdayaan nelayan kecil dan pembudi daya-ikan kecil dapat juga
dilakukan oleh masyarakat. Nelayan kecil bebas menangkap ikan di seluruh wilayah
pengelolaan perikanan Republik Indonesia dan wajib menaati ketentuan konservasi
dan ketentuan lain, dan menjaga kelestarian lingkungan perikanan dan keamanan
pangan hasil perikanan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Nelayan kecil dan
pembudi daya-ikan kecil harus mendaftarkan diri, usaha, dan kegiatannya kepada
instansi perikanan setempat, tanpa dikenakan biaya, yang dilakukan untuk keperluan
statistik serta pemberdayaan nelayan kecil dan pembudi daya-ikan kecil. Pada pasal
62 pemerintah menyediakan dan mengusahakan dana untuk memberdayakan nelayan
kecil dan pembudi daya-ikan kecil, baik dari sumber dalam negeri maupun sumber
luar negeri, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang -undangan yang berlaku
dan pengusaha perikanan mendorong kemitraan usaha yang saling menguntungkan
dengan kelompok nelayan kecil atau pembudi daya-ikan kecil dalam kegiatan usaha
perikanan.
3.2.3
Peraturan Menteri No. 1 tahun 2009 tentang Wilayah Pengelolaan Perikanan
RI
Pada Peraturan Menteri ini menjelaskan mengenai Wilayah Pengelolaan
Perikanan Republik Indonesia (WPP RI) yang merupakan pembagian wilayah yang
diatur oleh pemerintah untuk penangkapan ikan, pembudidayaan ikan, konservasi,
penelitian, dan pengembangan perikanan yang meliputi perairan pedalaman, perairan
kepulauan, laut teritorial, zona tambahan, dan zona ekonomi eksklusif Indonesia
yang dituangkan ke dalam Peta WPP-RI.
Kecamatan Cilauteureun Kabupaten Garut berada pada WPP RI 573 yang
meliputi perairan Samudera Hindia sebelah Selatan Jawa hingga sebelah Selatan
Nusatenggara, Laut Sawu dan Laut Timor bagian Barat seperti pada Gambar 3.6.
36
37
Gambar 3. 6 Wilayah Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia (Sumber: PERMEN No. 1 tahun 2009)
3.2.4
Peraturan Menteri No. 2 tahun 2011 tentang Jalur Penangkapan Ikan dan
Penempatan Alat Penangkapan Ikan dan Alat Bantu Penangkapan Ikan di
Wilayah Pengelolaan RI
Tujuan dari Peraturan Menteri ini adalah untuk mewujudkan pemanfaatan
sumberdaya ikan yang bertanggung jawab, optimal dan berkelanjutan serta
mengurangi konflik pemanfaatan sumber daya ikan berdasarkan prinsip pengelolaan
sumber daya ikan.
Pada pasal 3 Peraturan Menteri No. 2 tahun 2011 dijelaskan bahwa jalur
penangkapan ikan di WPP-NRI terdiri dari:
 Jalur Penangkapan Ikan I, yang terdiri dari Jalur Penangkapan Ikan IA yang
meliputi perairan pantai sampai dengan 2 (dua) mil laut yang diukur dari
permukaan air laut pada surut terendah, dan Jalur Penangkapan Ikan IB meliputi
perairan pantai di luar 2 (dua) mil laut sampai dengan 4 (empat) mil laut.
 Jalur Penangkapan Ikan II, yang meliputi perairan di luar jalur penangkapan ikan
I sampai dengan 12 (dua belas) mil laut diukur dari permukaan air laut pada surut
terendah.
 Jalur Penangkapan Ikan III yang meliputi ZEEI dan perairan di luar jalur
penangkapan ikan II.
Pada BAB V pasal 21 hingga 32 Peraturan Menteri No. 2 tahun 2011
menjelaskan mengenai penempatan Alat Penangkapan Ikan (API) dan Alat Bantu
Penangkapan Ikan (ABPI) pada jalur penangkapan ikan dan wilayah pengelolaan
perikanan negara Republik Indonesia yang disesuaikan dengan:
a. Sifat API, yang dibedakan menjadi tiga (3) macam yaitu statis, pasif, dan aktif.
Statis merupakan alat penangkap ikan yang dipasang menetap dan tidak
dipindahkan untuk jangka waktu lama. Pasif merupakan alat penangkap ikan
yang dipasang menetap dalam waktu singkat. Dan aktif merupakan alat
penangkapan ikan yang di operasionalkan secara aktif dan bergerak.
b. Tingkat selektifitas dan kapasitas API, yang dibedakan berdasarkan ukuran,
yaitu; mesh size, nomor mata pancing, tali ris atas, bukaan mulut, luasan, penaju,
dan jumlah mata pancing.
c. Jenis dan ukuran ABPI, yang terdiri dari jumlah rumpon dan daya/kekuatan
lampu
38
d. Ukuran kapal perikanan, yang terdiri dari kapal tanpa motor, kapal motor
berukuran lebih kecil dari 5 GT, kapal motor berukuran 5 – 10 GT, kapal motor
berukuran 10 – 30 GT, dan kapal motor berukuran diatas 30 GT.
e. Wilayah penangkapan, yang dilakukan pada jalur penangkapan ikan di WPP-RI.
Gambar 3. 7 Pembagian jalur penangkapan ikan di PPP Cilauteureun, Kab. Garut
Gambar 3.7 menunjukan batas antara jalur penangkapan pada wilayah Kec.
Pameungpeuk Kab. Garut.
Pada pasal 5 Peraturan Menteri No. 2 tahun 2011 ayat (1) jalur penangkapan
ikan di WPP-NRI ditetapkan berdasarkan karakteristik kedalaman perairan yang
dibedakan menjadi (2) karakteristik yaitu perairan dangkal (≤ 200 meter) dan
perairan dalam (> 200 meter).
39
Berikut merupakan penempatan Alat Penangkapan Ikan yang digunakan oleh
masyarakat nelayan di PPP Cilauteureun berdasarkan kriteria yang sudah ditentukan:
1. API tonda (trolling lines) merupakan API yang bersifat aktif dioperasikan dengan
jumlah tonda ≤ 10 buah, menggunakan kapal motor berukuran ≤ 30 GT, dan
dioperasikan pada jalur penangkapan ikan 1B, II, dan III.
2. API jaring insang tetap (Set gillnets (anchored)) merupakan API yang bersifat
pasif dioperasikan dengan menggunakan ukuran:
a. Mesh size ≥ 1,5 inch, P ≤ 500 m, menggunakan kapal motor berukuran ≤ 10
GT, dan dioperasikan pada jalur penangkapan ikan IB, II, dan III.
b. Mesh size ≥ 1,5 inch, P ≤ 1000 m, menggunakan kapal motor berukuran > 10
s/d < 30 GT, dan dioperasikan pada jalur penangkapan ikan II dan III.
3. API jaring insang hanyut (driftnets) merupakan API yang bersifat pasif
dioperasikan dengan menggunakan ukuran:
a. Mesh size ≥ 1,5 inch, P tali ris ≤ 500 m, menggunakan kapal motor berukuran
≤ 5 GT, dan dioperasikan pada jalur penangkapan ikan IB, II, dan III.
b. Mesh size ≥ 1,5 inch, P tali ris ≤ 1000 m, menggunakan kapal motor
berukuran > 5 s/d 10 GT, dan dioperasikan pada jalur penangkapan ikan IB,
II, dan III.
c. Mesh size ≥ 1,5 inch, P tali ris ≤ 2500 m, menggunakan kapal motor
berukuran > 10 s/d < 30 GT dan dioperasikan pada jalur penangkapan ikan
III.
4. API jaring insang lingkar (encircling gillnets) merupakan API yang bersifat aktif
dioperasikan dengan menggunakan ukuran mesh size ≥ 1,5 inch, P tali ris ≤ 600
m, menggunakan kapal motor berukuran > 5 s/d 10 GT, dan dioperasikan pada
jalur penangkapan ikan IB dan II.
5. API jaring insang berpancang (fixed gillnets (on stakes)) merupakan API yang
bersifat statis dan pasif dioperasikan dengan menggunakan ukuran mesh size ≥
1,5 inch, P tali ris ≤ 300 m, menggunakan kapal motor berukuran ≤ 5 GT, dan
dioperasikan pada jalur penangkapan ikan IA.
6. API combined grillnets-trammer net merupakan API yang bersifat pasif
dioperasikan dengan menggunakan ukuran mesh size ≥ 1 inch, P ≤ 1000 m,
menggunakan kapal tanpa motor dan kapal motor menggunakan < 30 GT, dan
dioperasikan pada jalur penangkapan ikan IA, IB, dan II.
40
7. API payang merupakan API yang bersifat aktif dioperasikan dengan
menggunakan ukuran:
a. Mesh size ≥ 2 inch dan tali ris atas ≤ 100 m (kecuali mesh size paying teri 1
mm), menggunakan kapal motor berukuran > 5 s/d 10 GT, dan dioperasikan
pada jalur penangkapan ikan IB, II, dan III.
b. Mesh size ≥ 3 inch dan tali ris atas ≤ 200 m, menggunakan kapal motor
berukuran > 10 s/d < 30 GT, dan dioperasikan pada jalur penangkapan ikan II
dan III.
c. Mesh size ≥ 3 inch dan tali ris atas ≤ 300 m, menggunakan kapal motor
berukuran ≥ 30 GT, dan dioperasikan pada jalur penangkapan ikan III.
8. API pukat tarik pantai (beach seines) merupakan API yang bersifat aktif
dioperasikan dengan menggunakan ukuran mesh size ≥ 1 inch dan tali ris atas ≤
300 m, menggunakan kapal tanpa motor dan kapal motor berukuran ≤ 5 GT, dan
dioperasikan pada jalur penangkapan ikan IA.
3.2.5
Peraturan Menteri No. 49 tahun 2011 tentang Usaha Perikanan Tangkap
(Perubahan atas Peraturan Menteri No. 14 tahun 2011 tentang Usaha
Perikanan Tangkap)
Peraturan Menteri No 49 tahun 2011 menjelaskan mengenai usaha perikanan
tangkap, dimana usaha perikanan tangkap adalah usaha perikanan yang berbasis pada
kegiatan penangkapan ikan dan/atau kegiatan pengangkutan. Penangkapan ikan
adalah kegiatan untuk memperoleh ikan di perairan yang tidak dalam keadaan
dibudidayakan dengan alat atau cara apapun, termasuk kegiatan yang menggunakan
kapal untuk memuat, mengangkut, menyimpan, mendinginkan, menangani,
mengolah, dan/atau mengawetkannya. Sedangkan pengankutan ikan adalah kegiatan
yang khusus melakukan pengumpulan dan/atau pengangkatan ikan.
Orang yang akan melakukan usaha perikanan wajib memiliki surat-surat yang
sudah ditentukan pada Peraturan Menteri ini. Yang pertama adalah Surat Izin Usaha
Perikanan (SIUP) adalah izin tertulis yang harus dimiliki perusahaan perikanan untuk
melakukan usaha perikanan dengan menggunakan sarana produksi yang tercantum
dalam izin tersebut. Selanjutnya dikenal dengan Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI)
adalah izin tertulis yang harus dimiliki setiap kapal perikanan untuk melakukan
penangkapan ikan yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari SIUP.
41
Lalu dikenal dengan yang namanya Surat Izin Kapal Pengangkut Ikan
(SIKPI) adalah izin tertulis yang harus dimiliki setiap kapal perikanan untuk
melakukan pengangkutan ikan yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari SIUP.
Direktur Jenderal berwenang menerbitkan SIUP, SIPI, dan SIKPI untuk kapal
perikanan dengan ukuran di atas 30 (tiga puluh) GT. Untuk kapal berukuran antara
10 – 30 GT, kewenangan berada pada tangan gubernur di wilayah administrasinya
dan beroperasi di wilayah pengelolaan perikanan yang menjadi kewenangannya.
Sedangkan kapal berukuran 5 – 10 GT, kewenangan berada pada tangan
bupati/walikota di wilayah administrasinya dan beroperasi di wilayah pengelolaan
perikanan yang menjadi kewenangannya. Namun untuk kewajiban memiliki SIUP,
SIPI, dan SIKPI dikecualikan bagi nelayan kecil.
3.2.6
Keputusan Menteri No. 10 tahun 2004 tentang Pelabuhan Perikanan
Ketentuan umum pada Keputusan Menteri No. 10 tahun 2004 menyatakan
bahwa Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) adalah Pelabuhan Perikanan Klas C yang
skala layanannya sekurang-kurangnya mencakup kegiatan usaha perikanan di
wilayah perairan pedalaman, perairan kepulauan, perairan territorial, dan Zone
Ekonomi Eksklusif. Pasal 3 Keputusan Menteri No. 10 tahun 2004 menjelaskan
bahwa pelabuhan perikanan dibangun oleh pemerintah, dimana apabila letak
pelabuhan berada pada kabupaten suatu wilayah tertentu maka Pemerintah
Kabupaten yang membangun dibawah tanggung jawab Bupati dan unit pelaksana
teknis pemerintahnya berada di bawah tanggung jawab Direktur Jenderal.
Pasal 6 Keputusan Menteri No. 10 tahun 2004 menjelaskan bahwa Pelabuhan
Perikanan mempunyai tugas melaksanakan produksi, fasilitasi penanganan dan hasil
pengolahan, fasilitasi pengendalian dan pengawasan mutu, fasilitasi pemasaran hasil
perikanan di wilayahnya, fasilitasi dan melakukan pembinaan masyarakat nelayan,
pengendalian dan pengawasan pemanfaatan sumberdaya ikan, fasilitasi kelancaran
kegiatan kapal perikanan, serta fasilitasi pengumpulan data.
Tabel 3.5 merupakan jenis beserta klasifikasi berdasarkan kriteria teknis
pelabuhan perikanan di Indonesia sesuai dengan Keputusan Menteri No. 10 tahun
2004 pasal 10.
42
Tabel 3. 5 Jenis dan Klasifikasi Pelabuhan di Indonesia
Tipe/Kelas
Pelabuhan
Kelas
Wilayah
Perikanan
Kapal
Daya Tampung
Kapal
(GT)
≥ 60
> 6000 GT (ekivalen
Panjang
Dermaga
Contoh
(m)
Pelabuhan
Wilayah laut
> 300
PPS Cilacap,
Perikanan
teritorial,
dengan 100 buah
PPS Teluk
Samudera (PPS)
ZEEI, dan
kapal berukuran 60
Bungus, PPS
perairan
GT)
Belawan
internasional
30 – 60
Wilayah laut
Perikanan
territorial dan
dengan 75 buah
Cirebon, PPN
Nusantara
wilayah ZEEI
kapal berukuran 60
Pelabuhan Ratu,
GT)
PPN Untia, PPN
(PPN)
> 2250 GT (ekivalen
150 – 300
Pelabuhan
PPN Kejawanan
Ambon
10 – 30
> 300 GT (ekivalen
100 – 150
Pelabuhan
Wilayah
PPP
Perikanan
perairan
dengan 75 buah
Cilauteureun,
Pantai (PPP)
pedalaman,
kapal berukuran 30
PPP Temperan,
kepulauan,
GT)
PPP Teluk
laut teritorial,
Batang, PPP
ZEEI
Lempasing
3 – 10
> 60 GT (ekivalen
50 – 100
Pangkalan
Wilayah
PPI Paotere, PPI
Pendaratan Ikan
perairan
dengan 20 buah
Lhok bubon, PPI
(PPI)
pedalaman
kapal berukuran 3
Padang Sarehat
dan perairan
GT)
kepulauan
Pada pembangunan pelabuhan perikanan terdapat fasilitas-fasilitas yang harus
dimiliki seperti dijelaskan pada pasal 15, fasilitas tersebut terbagi menjadi tiga (3)
macam yaitu fasilitas pokok, fasilitas fungsional, dan fasilitas penunjang.
Fasilitas pokok terdiri dari:
a. Fasilitas pelindung seperti breakwater, revetment, dan groyne.
b. Fasilitas tambat seperti dermaga dan jetty.
c. Fasilitas perairan seperti kolam dan alur pelayaran.
d. Fasilitas penghubung seperti jalan, drainase, gorong-gorong, dan jembatan.
e. Fasilitas lahan seperti lahan Pelabuhan Perikanan.
43
Fasilitas fungsional terdiri dari:
a. Fasilitas pemasaran hasil perikanan seperti Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dan
pasar ikan.
b. Fasilitas navigasi pelayaran dan komunikasi seperti telepon, internet, SSB,
rambu-rambu, lampu suar, dan menara pengawas.
c. Fasilitas suplai air bersih, es, listrik, dan bahan bakar.
d. Fasilitas pemeliharaan kapal dan alat penangkap ikan seperti dock/slipway,
bengkel, dan tempat perbaikan jaring.
e. Fasilitas penanganan dan pengolahan hasil perikanan seperti transit sheed dan
laboratorium pembinaan mutu.
f. Fasilitas perkantoran seperti kantor administrasi pelabuhan dan kantor swasta
lainnya.
g. Fasilitas transportasi seperti alat-alat angkut kan dan es.
h. Fasilitas pengolahan limbah seperti IPAL.
Fasilitas penunjang terdiri dari:
a. Fasilitas pembinaan nelayan seperti Balai Pertemuan Nelayan.
b. Fasilitas pengelola pelabuhan seperti mess operator, pos jagam dan pos
pelayanan terpadu.
c. Fasilitas sosial dan umum seperti tempat penginapan nelayan, tempat
peribadatan, MCK, guest house, dan kios.
d. Fasilitas kios IPTEK.
3.2.7
Keputusan Menteri No. 1 tahun 2007 tentang Persyaratan Jaminan Mutu dan
Keamanan Hasil Perikanan pada Proses Produksi, Pengolahan, dan Distribusi
Pada Keputusan Menteri No. 1 tahun 2007 menjelaskan mengenai jaminan
mutu dan keamanan hasil perikanan pada proses produksi, pengolahan, dan
distribusi, dimana berdasarkan Undang-Undang No. 45 tahun 2009 (perubahan atas
Undang-Undang No. 31 tahun 2004 tentang Perikanan) telah ditetapkan agar produk
pangan dalam hal ini hasil perikanan yang dipasarkan untuk dikonsumsi manusia
harus mengikuti persyaratan-persyaratan yang ditetapkan sehingga dapat menjamin
kesehatan manusia. Maksud ditetapkan keputusan ini untuk mengatur persyaratan
jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan pada proses produksi, pengolahan, dan
ditribusi.
44
Beberapa ruang lingkup yang dibahas pada Keputusan ini meliputi kapal
penangkap ikan dan kapal pengangkut ikan, tempat pendaratan ikan, tempat
pelelangan ikan, unit pengolahan ikan, dan sarana distribusi hasil perikanan.
1. Kapal Penangkap Ikan dan Kapal Pengangkut Ikan
a. Persyaratan umum kapal penangkap dan pengangkut ikan terdiri dari:
 Kapal penangkap dan pengangkut ikan yang digunakan untuk melakukan
penangkapan dan penanganan di atas kapal harus memenuhi persyaratan
ketentuan sanitasi dan hygiene kapal perikanan.
 Kapal ikan harus didesain dan dikonstruksi sehingga tidak menyebabkan
kontaminasi produk dari air kotor, limbah, asap, minyak, oli, gemuk atau
bahan-bahan lain.
 Permukaan kontak langsung dengan produk harus dibuat dari bahan yang
tidak korosif yang halus dan mudah dibersihkan. Permukaan yang
menggunakan pelapis harus tahan/kuat dan tahan lama serta tidak toksin.
 Peralatan dan bahan yang digunakan untuk menangani ikan harus terbuat
dari bahan yang tidak mudah karat yang mudah dibersihkan dan disanitasi.
 Bila kapal penangkap dan/atau pengangkut ikan mempunyai penampung
air untuk penanganan ikan, maka harus ditempatkan pada lokasi yang
terhindar dari kontaminasi.
b. Persyaratan khusus struktur dan peralatan kapal penangkap dan pengangkut
ikan terdiri dari:
 Kapal
ikan
yang
didesain
dan
dilengkapi
peralatan
untuk
mempertahankan kesegaran ikan selama penangkapan hingga 24 jam.

Kapal yang didesain dan dilengkapi peralatan untuk menjaga
kesegaran ikan hingga 24 jam harus dilengkapi peralatan palka, tanki
atau wadah untuk menyimpan ikan dan menjaga suhu pendinginannya
pada titik leleh es.

Palka harus terpisah dari ruang mesin dan ruang anak buah kapal
untuk menjaga kontaminasi. Palka, tangki atau wadah yang digunakan
harus menjamin bahwa kondisi penyimpanan dalam menjaga
kesegaran ikan memenuhi persyaratan hygine.

Kapal yang dilengkapi dengan pendingin dengan air laut bersih
dingin, tangki harus dilengkapi dengan peralatan yang menjamin
45
kondisi suhu yang merata pada seluruh bagian tangki dengan suhu <
3oC setelah 6 jam setelah ikan ditangkap dan < 6oC. Kondisi suhu
dimonitor dan dicatat.
 Persyaratan kapal dilengkapi dengan pembeku (freezer), kapal penangkap
dan pengangkut ikan dengan freezer harus:
 Memiliki peralatan pembekuan yang cukup kapasitas untuk menurunkan
suhu secara cepat sehingga mencapai suhu pusat ikan sama atau kurang
dari -18°C;
 Mempunyai peralatan pembekuan yang cukup untuk menjaga produk
dalam palka tidak lebih besar dari -18oC. Ruang penyimpanan harus
dilengkapi dengan alat pencatat suhu yang ditempatkan pada tempat yang
mudah dibaca. Sensor suhu harus ditempatkan pada tempat suhu tertinggi
di dalam palka.
c. Registrasi kapal penangkap dan pengangkut ikan terdiri dari:
 Kapal penangkap dan pengangkut ikan yang telah menerapkan
persyaratan diberikan nomor registrasi.
 Kapal penangkap dan pengangkut ikan wajib menerapkan persyaratan
hygiene kapal ikan.
 Kapal penangkap dan pengangkut ikan wajib menempatkan penanggung
jawab mutu di atas kapal dan memiliki sertifikat pengolah ikan (SPI).
 Persyaratan dan tata cara penempatan penanggung jawab mutu di atas
kapal dan pemberian nomor registrasi ditetapkan lebih lanjut oleh
Direktur Jenderal Perikanan Tangkap.
 Persyaratan dan tata cara pemberian SPI sebagaimana poin c ditetapkan
lebih lanjut oleh Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil
Perikanan.
d. Persyaratan hygiene kapal penangkap dan pengangkut ikan terdiri dari:
 Setiap kapal penangkap dan pengangkut ikan harus memenuhi
persyaratan hygiene dan penerapan sistem rantai dingin.
 Ketika digunakan, bagian-bagian dari kapal atau wadah untuk penyimpan
hasil tangkap harus dijaga kebersihannya dan dijaga selalu dalam kondisi
baik, terutama tidak terkontaminasi bahan bakar dan air kotor.
46
 Segera setelah diangkat ke geladak, produk perikanan harus dijaga dari
kontaminasi dan dari akibat panas matahari atau sumber panas lainnya.
Ketika ikan dicuci, air yang digunakan adalah air minum atau dengan air
laut bersih.
 Produk hasil tangkap harus ditangani dan disimpan sehingga terhindar
dari memar. Penanganan menggunakan ganco untuk menangani ikan
besar harus dijaga agar tidak melukai daging ikan.
 Produk perikanan yang tidak disimpan dalam keadaan hidup harus segera
didinginkan setelah naik ke kapal penangkap dan/atau pengangkut ikan.
 Es yang digunakan untuk pendinginan ikan harus terbuat dari air minum
atau air laut bersih.
 Bila ikan dipotong kepala dan/atau dihilangkan isi perut, maka kegiatan
tersebut harus dilakukan secara higienis setelah penangkapan, dan produk
harus dicuci segera dan menyeluruh dengan air minum atau air laut
bersih. Isi perut dan bagian lain yang dapat mengakibatkan bahaya
kesehatan harus segera disingkirkan. Hati dan telur yang dapat
dikonsumsi harus disimpan dengan es pada suhu dingin (chilling), atau
dibekukan.
 Jika menggunakan pembekuan dengan air garam (brine) untuk ikan utuh
sebagai bahan baku pengalengan, suhu tidak boleh lebih besar dari -9oC
pada pusat ikan. Air garam harus tidak menjadi sumber kontaminasi ikan.
e. Persyaratan hygiene terhadap penanganan di kapal penangkap dan
pengangkut ikan terdiri dari:
 Penanggung jawab penanganan ikan di kapal penangkap dan pengangkut
ikan harus bertanggung jawab dalam menerapkan cara pananganan ikan
yang baik;
 Penanggung jawab sebagaimana dimaksud pada angka 1, harus
mempunyai kewenangan untuk menjamin bahwa persyaratan-persyaratan
yang tercantum dalam ketentuan ini diterapkan;
 Penanggung jawab sebagaimana dimaksud pada angka 1 juga
menyediakan program pengendalian bagi Inspektur hasil perikanan untuk
tujuan pemeriksaan mutu di atas kapal penangkap dan/atau pengangkut
47
ikan serta menyediakan lembaran catatan yang meliputi lembaran
komentar inspektur dan pencatatan suhu;
 Kondisi umum hygiene tempat dan peralatan harus mempunyai kondisi
yang hygiene;
 Karyawan yang menangani langsung hasil perikanan di atas kapal harus
menggunakan pakaian kerja yang bersih dan tutup kepala sehingga
menutupi rambut secara sempurna;
 Karyawan yang menangani hasil perikanan harus mencuci tangan
sebelum memulai pekerjaan;
 Karyawan yang sedang mengalami luka tangan tidak boleh menangani
produk;
 Tidak diperbolehkan merokok, meludah, makan dan minum diruang kerja
dan di tempat penyimpanan produk;
 Pembuangan kepala dan isi perut harus dilakukan secara hygienis dan
segera dicuci dengan air minum dan atau air laut bersih;
 Hasil perikanan yang dibungkus dan dikemas harus dilakukan pada
kondisi yang hygienis untuk menghindari kontaminasi;
 Bahan kemasan dan bahan lain yang kontak langsung dengan hasil
perikanan harus memenuhi persyaratan higiene, dan khususnya:
 Tidak boleh mempengaruhi karakteristik organoleptik dari hasil
perikanan;
 Tidak boleh menularkan bahan-bahan yang membahayakan kesehatan
manusia;
 Harus cukup kuat melindungi hasil perikanan.
 Penyimpanan hasil perikanan di atas kapal harus dijaga suhunya sesuai
dengan persyaratan, khususnya:
 Hasil perikanan segar atau dilelehkan termasuk krustasea rebus yang
didinginkan dan produk kekerangan harus disimpan pada suhu leleh es;
 Hasil perikanan beku, kecuali ikan beku yang menggunakan air garam
untuk keperluan pengalengan, harus dipertahankan pada suhu pusat -18°C
atau lebih rendah, untuk semua bagian produk dengan fluktuasi tidak
lebih dari 3°C selama pengangkutan;
 Pelaku usaha penangkapan dan pengangkutan ikan harus:
48
 Membuktikan kepada otoritas kompeten atas pemenuhan persyaratan
sebagaimana pasal 5 hingga 9;
 Pelaku
usaha
Penangkapan
dan
pengangkutan
ikan
harus
mendokumentasikan GHdP yang diterapkan.
 menjamin bahwa dokumen yang dikembangkan selalu dijaga tetap
terkini;
 memelihara dokumen lainnya dan rekaman hingga periode waktu tertentu.
2. Tempat Pendaratan Ikan
a. Pelaku usaha dalam melakukan bongkar muat produk perikanan di tempat
pendaratan ikan wajib:
 Memastikan bahwa bongkar muat dan peralatan pendaratan yang
berhubungan langsung dengan produk perikanan terbuat dari bahan yang
mudah dibersihkan dan disanitasi serta dijaga tetap dalam keadaan baik
terpelihara atau dibersihkan;
 Menghindari kontaminasi produk perikanan selama bongkar muat dan
pendaratan khususnya dengan cara:

melakukan operasi bongkar muat dan pendaratan dengan cepat;

menempatkan produk perikanan dan tidak terlambat dalam melakukan
perlindungan suhu sebagaimana yang dipersyaratkan; dan

tidak menggunakan peralatan dan perlakuan yang menyebabkan halhal kerusakan yang tidak diinginkan pada bagian produk perikanan.
b. Kegiatan penyimpanan dan pengangkutan hasil perikanan dilakukan dengan:
 Sistem rantai dingin;
 Menjaga suhu selama penyimpanan dan pengangkutan sesuai dengan
persyaratan yang berlaku;
 Diangkut dari cold storage ke UPI untuk dilelehkan pada saat penerimaan
untuk tujuan preparasi dan/atau pengolahan, di mana jarak yang ditempuh
singkat, tidak melebihi 50 km atau 1 jam perjalanan;
 Diangkut atau disimpan dengan produk lain yang dapat mengakibatkan
kontaminasi atau mempengaruhi higiene tidak diperkenankan kecuali,
produk tersebut dikemas sedemikian rupa, sehingga mampu melindungi
produk tersebut;
49
 Menggunakan kendaraan pengangkut hasil perikanan dengan kontruksi
dan dilengkapi peralatan sedemikian rupa, sehingga suhu dapat dijaga
selama pengangkutan. Jika es digunakan untuk pendinginan maka harus
ada saluran pembuangan untuk menjamin lelehan es tidak menggenangi
produk. Permukaan bagian dalam dari alat transportasi harus didesain
sedemikian rupa sehingga tidak merusak produk, di mana permukaannya
harus rata, mudah dibersihkan, dan disanitasi;
 Menggunakan alat pengangkut yang tidak dapat mengkontaminasi produk
hasil perikanan;
 Tidak boleh diangkut dengan menggunakan kendaraan atau wadah yang
tidak bersih kecuali disanitasi terlebih dahulu;
 Persyaratan pengangkutan hasil perikanan yang dipasarkan dalam
keadaan hidup harus tidak berpengaruh buruk terhadap hasil perikanan
tersebut;
 Pelaku usaha penyimpanan dan pengangkutan Ikan harus:
 membuktikan kepada otoritas kompeten atas pemenuhan persyaratan
sebagaimana butir 1 hingga 8;
 pelaku usaha penyimpanan dan pengangkutan Ikan harus menerapkan
dan mendokumentasikan GHdP.
 menjamin bahwa dokumen yang dikembangkan selalu dijaga tetap
terkini;
 memelihara dokumen lainnya dan rekaman hingga periode waktu
tertentu.
3. Tempat Pelelangan Ikan
a. Tempat pelelangan ikan harus memenuhi persyaratan:
 terlindung dan mempunyai dinding yang mudah untuk dibersihkan;
 mempunyai lantai yang kedap air yang mudah dibersihkan dan disanitasi,
dilengkapi dengan saluran pembuangan air dan mempunyai sistem
pembuangan limbah cair yang higiene;
 dilengkapi dengan fasilitas sanitasi seperti tempat cuci tangan dan toilet
dalam jumlah yang mencukupi. Tempat cuci tangan harus dilengkapi
dengan bahan pencuci tangan dan pengering sekali pakai;
 mempunyai penerangan yang cukup untuk memudahkan dalam
50
 pengawasan hasil perikanan;
 kendaraan
yang
mengeluarkan
asap
dan
binatang
yang
dapat
mempengaruhi mutu hasil perikanan tidak diperbolehkan berada dalam
Tempat Pelelangan Ikan/pasar grosir;
 dibersihkan secara teratur minimal setiap selesai penjualan; wadah harus
dibersihkan dan dibilas dengan air bersih atau air laut bersih;
 dilengkapi dengan tanda peringatan dilarang merokok, meludah, makan
dan minum, dan diletakkan di tempat yang mudah dilihat dengan jelas;
 mempunyai fasilitas pasokan air bersih dan atau air laut bersih yang
cukup;
 mempunyai wadah khusus yang tahan karat dan kedap air untuk
menampung hasil perikanan yang tidak layak untuk dimakan;
b. Tempat pelelangan ikan harus memenuhi persyaratan higiene dan penerapan
sistem rantai dingin;
c. Pelaku usaha perikanan yang bertanggungjawab pada pelelangan dan pasar
induk atau pasar lainnya yang memaparkan produk, harus memenuhi
persyaratan berikut:
 harus mempunyai fasilitas penyimpanan dingin yang dapat dikunci untuk
menyimpan produk perikanan dan mempunyai fasilitas wadah untuk
produk yang tidak layak konsumsi pada tempat yang diberi tanda;
 mempunyai tempat khusus untuk unit pengendalian kemanan hasil
perikanan.
d. Pada saat memaparkan atau menyimpan hasil perikanan:
 peralatan harus tidak digunakan untuk tujuan lain;
 kendaraan yang mengeluarkan asap yang dapat mempengaruhi produk
tidak boleh mengkontaminasi ruangan peralatan tersebut;
 personil yang mempunyai akses ke ruang peralatan tidak diperbolehkan
memasukkan binatang lain, dan
 peralatan harus memungkinkan dilakukan pengendalian oleh Otoritas
Kompeten.
e. Jika pendinginan tidak memungkinkan dilakukan di atas kapal, ikan segar
harus didinginkan sesegera mungkin dan disimpan dengan susu mendekati
suhu leleh es;
51
f. Pelaku usaha perikanan harus bekerjasama dengan otoritas kompeten
sehingga memungkinkan petugas pengawas mutu dapat melakukan
pengawasan sesuai dengan peraturan yang berlaku;
g. Tempat Pelelangan Ikan harus:
 membuktikan kepada otoritas kompeten atas pemenuhan persyaratan
sebagaimana pada angka 1 hingga 6;
 tempat Pelelangan Ikan harus menerapkan dan mendokumentasikan
GHdP.
 menjamin bahwa dokumen yang dikembangkan selalu dijaga tetap
terkini;
 memelihara dokumen lainnya dan rekaman hingga periode waktu tertentu.
4. Unit Pengolahan Ikan
a. Pelaku usaha perikanan pada tahap pengolahan:
 Harus memenuhi persyaratan umum hygiene sesuai dengan peraturan
yang berlaku;
 Harus mengadopsi dan menerapkan persyaratan sebagai berikut:

sesuai dengan kriteria mikrobiologi, kimia, dan fisik untuk hasil
perikanan;

prosedur yang diperlukan untuk mencapai target yang ditetapkan oleh
peraturan ini;

sesuai dengan persyaratan pengendalian suhu pada hasil perikanan;

menjaga rantai dingin hasil perikanan;

pengambilan contoh dan pengujian.
 Harus memenuhi kriteria, persyaratan dan target pada butir 2 harus
diadopsi berdasarkan standar dan peraturan spesifik produk yang sesuai;
 Bila peraturan yang ada tidak spesifik dan tidak mencakup suatu produk
perikanan, maka pelaku usaha dapat menggunakan standar internasional,
atau metode yang dikembangkan sendiri dengan validasi ilmiahnya sesuai
dengan standar atau pedoman internasional; (1) membuktikan kepada
otoritas kompeten atas pemenuhan persyaratan sebagaimana butir 1
hingga 4; (2) mendokumentasikan sistem manajemen keamanan
pangannya yang mencakup GMP, SSOP dan panduan mutu rencana
HACCP yang diterapkan. (3) menjamin bahwa dokumen panduan mutu
52
dan dokumen lainnya yang dikembangkan selalu dijaga tetap terkini; (4)
memelihara dokumen lainnya dan rekaman hingga periode waktu tertentu.
b. Persyaratan Bangunan, Peralatan dan Karyawan yang meliputi:
 Unit Pengolahan Ikan (UPI) harus memenuhi persyaratan fasilitas
minimal sebagai berikut:

ruang kerja yang cukup untuk melakukan kegiatan harus mempunyai
kondisi yang higiene;

bangunan dan peralatan harus mampu menghindari kontaminasi
terhadap produk dan terpisah antara bagian yang bersih dan yang
terkontaminasi.
 Unit pengolahan harus dibangun di lokasi yang tidak tercemar dan yang
menjamin tersedianya ikan yang bermutu baik;
 Bangunan unit pengolahan dan sekitarnya harus dirancang dan ditata
dengan konstruksi sedemikian rupa sehingga memenuhi persyaratan
sanitasi;
 Setiap unit pengolahan harus memiliki laboratorium yang dapat
digunakan untuk menunjang pengendalian mutu secara mandiri;
 Peralatan dan perlengkapan unit pengolahan harus ditata sedemikian rupa
sehingga terlihat jelas tahap-tahap proses yang menjamin kelancaran
pengolahan, mencegah kontaminasi silang dan mudah dibersihkan;
 Peralatan dan perlengkapan yang berhubungan langsung dengan ikan
yang diolah harus terbuat dari bahan tahan karat, tidak menyerap air,
mudah dibersihkan dan tidak menyebabkan kontaminasi sesuatu apapun
terhadap bahan baku yang sedang diolah maupun produk akhir serta
dirancang sesuai persyaratan sanitasi;
 Peralatan dan perlengkapan yang dipakai untuk menangani bahan bukan
makanan atau bahan yang dapat menyebabkan kontaminasi baik secara
langsung maupun tidak langsung, harus diberi tanda dan dipisahkan
dengan jelas supaya tidak dipergunakan untuk menangani ikan, bahan
penolong, bahan tambahan makanan serta produk akhir;
 Bangunan unit pengolahan, perlengkapan, peralatan serta semua sarana
fisik yang digunakan harus dirawat, dibersihkan dan dipelihara secara
saniter dengan tertib dan teratur;
53
 Pembuangan kotoran atau limbah (padat, cair atau gas) dari lingkungan
kerja harus dilakukan dengan sempurna dan memenuhi ketentuan yang
berlaku;
 Pestisida, fumigan, desinfektan dan deterjen harus disimpan dalam
ruangan terpisah dan hanya ditangani di bawah pengawasan petugas yang
mengetahui tentang bahayanya untuk menghindari kontaminasi terhadap
produk dan penggunaannya harus dalam batas-batas yang tidak
membahayakan kesehatan sesuai dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku dan ditetapkan oleh Menteri Kesehatan;
 Tindakan pencegahan harus diambil untuk mencegah masuknya orang
yang berpenyakit menular atau menyebarkan kuman penyakit menular,
serangga, tikus, burung dan hama lainnya serta binatang peliharaan ke
dalam halaman gedung dan ruang pengolahan;
 Pada setiap pintu masuk ruang pengolahan dan tempat-tempat tertentu
harus disediakan perlengkapan pencuci-hama;
 Karyawan yang dipekerjakan harus sehat dan tidak menderita penyakit
menular atau menyebarkan kuman penyakit menular;
 Kesehatan para karyawan harus diperiksa secara periodik untuk
menghindarkan penularan penyakit baik terhadap produk maupun
karyawan lainnya;
 Setiap karyawan harus dilengkapi dengan pakaian dan perlengkapan kerja
sesuai dengan bidangnya masing-masing.
c. Penanganan Hasil Perikanan harus memenuhi:
Persyaratan produk segar, persyaratan produk beku, produk yang dilelehkan,
persyaratan produk olahan, pengalengan, pengasapan, penggaraman, produk
crustacea dan kekerangan yang dimasak, pemisahan daging ikan secara
mekanis, persyaratan mengenai parasit
d. Persyaratan dalam melakukan pengepakan dan pelabelan:
 Pengepakan harus dilakukan pada kondisi yang higienis untuk
menghindari kontaminasi pada hasil perikanan;
 Bahan pengepak dan bahan lain yang kontak langsung dengan hasil
perikanan harus memenuhi persyaratan hygiene;
54
 Dengan pengecualian terhadap wadah tertentu yang terbuat dari bahan
yang kedap air, halus, dan tahan karat yang mudah dibersihkan dan
disanitasi, yang mungkin digunakan kembali setelah pencucian dan
sanitasi, bahan pengepakan tidak boleh digunakan kembali. Bahan
pengepakan yang digunakan untuk produk segar yang di-es harus
dilengkapi dengan saluran pembuangan untuk lelehan air;
 Bahan pengepak yang tidak digunakan harus disimpan dalam bangunan
yang jauh dari tempat produksi dan terlindung dari debu dan kontaminasi;
 Untuk tujuan pengawasan kemamputelusuran produk dapat digunakan
label (untuk produk yang dikemas) atau dokumen yang menyertai (untuk
produk yang tidak dikemas).
5. Sarana Distribusi Hasil Perikanan
a. Sarana distribusi hasil perikanan baik yang digunakan untuk hasil tangkapan
maupun budidaya harus dijaga dalam keadaan bersih dan baik untuk
menghindari kontaminasi dan kerusakan fisik, dan didesain agar mudah
dibersihkan dan/atau disanitasi.
b. Sarana berupa kendaraan pengangkut tidak digunakan untuk tujuan lain selain
hasil perikanan yang dapat mengkontaminasi hasil perikanan.
c. Bila pada saat yang sama sarana kendaraan yang digunakan juga untuk
mengangkut produk lain, harus dipisahkan dan dijamin kebersihannya agar
tidak mengkontaminasi hasil perikanan.
d. Sarana pengangkut harus dapat melindungi produk dari resiko penurunan
mutu dan keamanan hasil perikanan.
e. Pelaku usaha distribusi hasil perikanan harus:
 Membuktikan kepada otoritas kompeten atas pemenuhan persyaratan
sebagaimana butir a hingga d;
 Pelaku usaha distribusi hasil perikanan harus mendokumentasikan sistem
manajemen keamanan pangannya yang mencakup GHdP yang diterapkan.
 Menjamin bahwa dokumen yang dikembangkan selalu dijaga tetap
terkini;
 Memelihara dokumen lainnya dan rekaman hingga periode waktu
tertentu.
55
3.2.8
Keputusan Menteri No. 6 tahun 2010 tentang Alat Penangkapan Ikan di
Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia
Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan menetapkan bahwa pengelolaan
dan pemanfaatan sumberdaya ikan secara optimal dan berkelanjutan, perlu
menetapkan Alat Penangkapan Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara
Republik Indonesia. Berikut adalah gambar Alat Penangkapan Ikan yang dipakai
oleh nelayan di PPP Cilauteureun yang dijelaskan dalam Keputusan Menteri No. 6
tahun 2010:
1. Jenis alat penangkapan ikan pancing (Hook and Lines)
Kelompok jenis alat penangkapan ikan pancing adalah kelompok alat
penangkapan ikang yang terdiri dari tali dan mata pancing dan atau sejenisnya.
Dilengkapi
dengan
Pengoperasian
alat
umpan
alami,
penangkapan
umpan
ikan
buatan
panacing
atau
dan
tanpa umpan.
atau
sejenisnya,
menggunakan atau tanpa jorang yang dilengkapi dengan umpan alami, umpan
buatan atau tanpa umpan. Pengoperasiannya dilakukan pada permukaan, kolom
maupun dasar perairan, umumnya untuk menangkap ikan pelagis maupun ikan
demersal tergantung jenis pancing. Tonda dioperasikan di permukaan perairan
dengan cara ditarik secara horizontal dengan menggunakan kapal umumnya
menangkap ikan pelagis. Salah satu jenis alat penangkapan ikan pancing yang
digunakan oleh nelayan di PPP Cilauteureun adalah Tonda (Trolling lines)
Gambar 3. 8 Alat Penangkapan Ikan Pancing Tonda (Trolling lines) (sumber:
KEPMEN No. 6 tahun 2010)
56
2. Jenis alat penangkapan ikan jaring insang (gillnets)
Kelompok jenis alat penangkapan ikan jaring insang adalah kelompok jaring
berbentuk empat persegi panjang dilengkapi dengan pelampung, pemberat, tali
ris atas dan tali ris bawah atau tanpa tali ris bawah untuk menghadang ikan
sehingga ikan tertangkap dengan cara terjerat dan/atau terpuntal dioperasikan di
permukaan, pertengahan dan dasar secara menetap, hanyut dan melingkar dengan
tujuan menangkap ikan pelagis dan demersal. Pengoperasian jaring insang
dilakukan dengan cara menghadang arah renang gerombolan ikan pelagis atau
demersal yang menjadi sasaran tangkap sehingga terjerat pada jaring.
Pengoperasiannya dilakukan pada permukaan, pertengahan maupun pada dasar
perairan, umumnya untuk menangkap ikan pelagis maupun ikan demersal
tergantung jenis jaring isang. Jaring insang dioperasikan secara menetap,
dihanyutkan, melingkar maupun terpancang pada permukaan, pertengahan
maupun dasar perairan. Jaring insang ada yang satu lapis maupun berlapis.
Jenis alat penangkapan ikan jaring insang yang digunakan oleh nelayan di PPP
Cilauteureun adalah:
a. Jaring insang tetap (Set gillnets (anchored))
Gambar 3. 9 Alat Penangkap Ikan Jaring Insang Tetap (Set gillnets (anchored))
(sumber: KEPMEN No. 6 tahun 2010)
57
b. Jaring insang hanyut (Driftnets)
Gambar 3. 10 Alat Penangkap Ikan Jaring Insang Hanyut (Driftnets)
(sumber: KEPMEN No. 6 tahun 2010)
c. Jaring insang lingkar (Encircling gillnets)
Gambar 3. 11 Alat Penangkap Ikan Jaring Insang Lingkar (Encircling gillnets)
(sumber: KEPMEN No. 6 tahun 2010)
58
d. Jaring insang berpancang (Fixed gillnets (on stakes))
Gambar 3. 12 Alat Penangkap Ikan Jaring Insang Berpancang (Fixed gillnets (on
stakes))
(sumber: KEPMEN No. 6 tahun 2010)
e. Jaring insang berlapis (Trammel nets)
Gambar 3. 13 Alat Penangkap Ikan Jaring Insang Berlapis (Trammel nets)
(sumber: KEPMEN No. 6 tahun 2010)
59
f. Combined gillnets-trammel nets
Gambar 3. 14 Alat Penangkap Ikan Combined gillnets-trammel nets
(sumber: KEPMEN No. 6 tahun 2010)
3. Jenis alat penangkapan ikan pukat tarik
Kelompok jenis alat penangkapan ikan pukat tarik adalah kelompok alat
penangkapan ikan berkantong (cod-end) tanpa alat pembuka mulut jaring,
pengoperasiannya dengan cara melingkari gerombolan (schooling) ikan dan
menariknya ke kapal yang sedang berhenti/berlabuh jangkar atau ke darat/pantai
melalui kedua bagian sayap dan tali selambar. Pengoperasian alat penangkapan
ikan pukat tarik dilakukan dengan cara melingkari gerombolan ikan pelagis atau
ikan demersal dengan menggunakan kapal atau tanpa kapal.
Pukat ditarik kearah kapal yang sedang berhenti atau berlabuh jangkar atau ke
darat/pantai melalui tali selambar di kedua bagian sayapnya. Pengoperasiannya
dilakukan pada permukaan , kolom maupun dasar perairan umumnya untuk
menangkap ikan pelagis maupun ikan demersal tergantung jenis pukat tarik yang
digunakan. Pukat terik pantai dioperasikan di daerah pantai untuk menangkap
ikan pelagis dan demersal yang hidup di daerah pantai.
Jenis alat penangkapan ikan pukat tarik yang digunakan oleh nelayan di PPP
Cilauteureun adalah:
60
a. Pukat tarik pantai (Beach seinses)
Gambar 3. 15 Alat Penangkap Ikan Pukat Tarik Pantai (Beach seinses)
(sumber: KEPMEN No. 6 tahun 2010)
b. Payang
Gambar 3. 16 Alat Penangkap Ikan Payang
(sumber: KEPMEN No. 6 tahun 2010)
61
3.2.9
Keputusan Menteri No. 45 tahun 2011 tentang Estimasi Potensi Sumber Daya
Ikan di Wilayah Pengelolaan
Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan menetapkan estimasi potensi
sumber daya ikan di wilayah pengelolaan perikanan negara Republik Indonesia tahun
2011. Estimasi potensi sumber daya ikan dapat dipergunakan sebagai salah satu
pertimbangan dalam menentukan alokasi sumber daya ikan dan jumlah tangkapan
yang diperbolehkan dengan mempertimbangkan status tingkat eksploitasi sumber
daya ikan di masing-masing Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik
Indonesia. Tabel 3.6 menjelaskan mengenai estimasi potensi sumber daya ikan pada
wilayah WPP-NRI 573 dimana Kabupaten Garut berada pada wilayah pengelolaan
tersebut. Berdasarkan tabel 3.6 ikan pelagis kecil dan ikan pelagis besar memiliki
potensi yang sangat besar untuk diproduksi. Sedangkan lobster, cumi-cumi, dan ikan
karang memiliki potensi yang kecil.
Tabel 3. 6 Estimasi Potensi Sumber Daya Ikan pada Wilayah WPP-NRI 573 (dalam
ribu ton/tahun)
Kelompok Sumberdaya Ikan
WPP 573
Ikan Pelagis Besar
Ikan Pelagis Kecil
Ikan Demersal
Udang Penaeid
Ikan Karang Konsumsi
Lobster
Cumi-cumi
201.4
210.6
66.2
5.9
4.5
1
2.1
Total Potensi (1.000 ton/tahun)
491.7
(Sumber: Keputusan Menteri No. 45 tahun 2011)
Tabel 3.7 menjelaskan mengenai tingkat eksploitasi sumber daya ikan pada
wilayah WPP-NRI 573. Berdasarkan tabel, tingkat eksploitasi tertinggi adalah udang,
lemuru, mata besar, dan SBT. Sedangkan tingkat eksploitasi yang kecil adalah
kelompok demersal, pelagis kecil, dan cumi-cumi.
62
3.3
Klasifikasi Hasil Inventarisasi Peraturan Perundang-undangan
Berdasarkan hasil inventarisasi peraturan perundang-undangan yang dilakukan
pada sub bab sebelumnya, didapat dua komponen utama yang terdiri dari komponen
hulu dan hilir. Komponen-kompenen tersebut akan dikelompokan berdasarkan kaitan
inventaris undang-undang yang dilakukan pada sub bab sebelumnya.
PER-1-MEN-2009 tentang Wilayah
Pengelolaan Perikanan RI
Komponen Hulu
PER-2-MEN-2011 tentang Jalur
Penangkapan Ikan dan Penempatan Alat
Kewilayahan
Penangkapan Ikan dan Alat Bantu
Penangkapan Ikan di Wilayah
Pengelolaan RI
PER-45-MEN-2011 tentang Estimasi
Potensi Sumber Daya Ikan di Wilayah
Pengelolaan
KEP-10-MEN-2004 tentang Pelabuhan
Perikanan
Sarana
KEP-6-MEN-2010 tentang Alat
Penangkapan Ikan di Wilayah
Pengelolaan Perikanan Negara Republik
Indonesia
Undang-Undang No. 45 tahun 2009
tentang Perikanan
SDM
Gambar 3. 17 Kaitan antara Kebijakan Pemerintah dengan Komponen Hulu dalam
Pengelolaan Perikanan
Gambar 3.16 menjelaskan mengenai kaitan antara kebijakan pemerintah
berdasarkan inventarisasi yang dilakukan dengan komponen hulu pengelolaan
perikanan, sedangkan pada Gambar 3.17 menjelaskan mengenai kaitan antara
kebijakan pemerintah berdasarkan inventarisasi yang dilakukan dengan komponen
hilir pada pengelolaan perikanan. Hal ini menunjukan hasil klasifikasi yang
dilakukan berdasarkan kaitan antara undang-undang yang sudah terinventarisasi
dengan komponen utama yang ditentukan.
63
Berdasarkan Peraturan Menteri No. 1 tahun 2009 tentang Wilayah Pengelolaan
Perikanan RI, Peraturan Menteri No 2 tahun 2011 tentang Jalur Penangkapan Ikan
dan Penempatan Alat Penangkapan Ikan dan Alat Bantu Penangkapan Ikan di
Wilayah Pengelolaan RI, dan Keputusan Menteri No. 45 tahun 2011 tentang Estimasi
Potensi Sumber Daya Ikan di Wilayah Pengelolaan dapat dirangkumkan pada
komponen hulu kelompok kewilayahan. Secara ringkas undang-undang tersebut
menjelaskan mengenai batas-batas wilayah pengelolaan perikanan yang ada di
Indonesia, batas wilayah pengelolaan yang ditentukan berdasarkan penempatan alat
tangkap yang digunakan, serta sumber daya perikanan yang teralokasi berdasarkan
wilayahnya. Sedangkan berdasarkan Keputusan Menteri No. 10 tahun 2004 tentang
Pelabuhan Perikanan dan Keputusan Menteri No. 6 tahun 2010 tentang Alat
Penangkapan Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia
merangkumkan komponen hulu untuk kelompok sarana pengelolaan perikanan.
Undang-undang tersebut menjelaskan mengenai sarana penangkapan yang digunakan
dalam aktivitas penangkapan ikan seperti penjelasan mengenai standarisasi fasilitas
pelabuhan serta jenis-jenis alat tangkap pancing dan jaring.
Berdasarkan hasil inventarisasi mengenai Peraturan Menteri No. 49 tahun 2011
tentang Usaha Perikanan Tangkap dan Keputusan Menteri No. 1 tahun 2007 tentang
Persyaratan Jaminan Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan pada Proses Produksi,
Pengolahan, dan Distribusi, dapat dirangkumkan pada komponen hilir dan
dikelompokan pada distribusi hasil produksi, tata kelola, dan penjualan hasil
produksi perikanan.
Undang-Undang No. 45 tahun 2009 tentang Perikanan meringkaskan mengenai
seluruh komponen dalam pengelolaan perikanan di Indonesia, sehingga setiap
komponen utama yang ditentukan di atur dalam peraturan ini. Dan komponen yang
menjadi tambahan dalam mengkaji pengelolaan perikanan yaitu komponen hulu
dalam kelompok sumber daya manusia perikanan.
64
Komponen Hilir
KEP-1-MEN- 2007 tentang Persyaratan
Jaminan Mutu dan Keamanan Hasil
Distribusi
Perikanan pada Proses Produksi,
Pengolahan, dan Distribusi
Tata Kelola
PER-49-MEN No. 49 tahun 2011
tentang Usaha Perikanan Tangkap
Penjualan
Gambar 3. 18 Kaitan antara Kebijakan Pemerintah dengan Komponen Hilir dalam
Pengelolaan Perikanan
65
Download