interaksi masyarakat dan potensi tumbuhan berguna di taman hutan

advertisement
INTERAKSI MASYARAKAT DAN POTENSI TUMBUHAN
BERGUNA DI TAMAN HUTAN RAYA PANCORAN MAS
DEPOK
DINAR DARA TRI PUSPITA PURBASARI
DEPARTEMEN
KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA
FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2011
RINGKASAN
DINAR DARA TRI PUSPITA PURBASARI. Interaksi Masyarakat dan Potensi
Tumbuhan Berguna di Taman Hutan Raya Pancoran Mas, Depok. Dibimbing
oleh: EDHI SANDRA dan AGUS HIKMAT.
Taman Hutan Raya (Tahura) Pancoran Mas pada awalnya merupakan
kawasan Cagar Alam yang telah ada sejak ±300 tahun yang lalu dan merupakan
CA pertama di Indonesia. Meskipun keberadaannya sangat penting dalam sejarah
perkembangan kawasan konservasi di Indonesia namun perhatian baik dari pihak
pengelola maupun masyarakat di sekitarnya masih terbilang rendah.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi interaksi masyarakat
terhadap Tahura Pancoran Mas, komposisi vegetasi dan potensi spesies tumbuhan
berguna yang terdapat di Tahura Pancoran Mas. Penelitian ini diharapkan dapat
menjadi acuan pengelola dalam pengembangan kawasan serta menjadi informasi
bagi masyarakat sekitar Tahura. Metode yang digunakan dalam penelitian ini
terdiri dari wawancara dan analisis vegetasi. Pemilihan responden dalam
wawancara menggunakan metode purposive sampling dengan jumlah responden
sebanyak 30 orang. Analisis vegetasi dilakukan dengan metode jalur berpetak
dengan total luasan petak contoh sebesar 2 ha.
Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 83,34% responden mengetahui
spesies tumbuhan yang ada di sekitar pinggir Tahura namun hanya 36,7%
responden pernah memanfaatkan tumbuhan. Berdasarkan hasil analisis vegetasi
teridentifikasi 83 spesies dan 43 famili di Tahura Pancoran Mas dengan komposisi
vegetasi pada tingkat pohon terdapat 27 spesies, tiang 23 spesies, pancang 12
spesies, semai 12 spesies, tumbuhan bawah 30 spesies, dan liana 4 spesies. Indeks
Nilai Penting (INP) tertinggi pada tingkat pertumbuhan pohon, tiang, pancang,
dan semai masing-masing dimiliki oleh spesies Arthocarpus elastica (56,52%),
Macaranga rhizinoides (48,86%), Grewia acuminata (31,52%), dan Melicope
lunuankeda (56,58%). Tumbuhan bawah didominasi oleh spesies Dioscorea
aculeata (19,43%) dan liana didominasi spesies Spatholobus littoralis (93.54%).
Keberadaan spesies tumbuhan dari marga Macaranga dan Mallotus
mengindikasikan bahwa habitat di dalam kawasan sudah terganggu. Secara
keseluruhan teridentifikasi 67 spesies dan 39 famili tumbuhan berguna dengan
kelompok kegunaan tumbuhan obat mendominansi yaitu sebanyak 43 spesies.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah interaksi masyarakat dengan
tumbuhan di dalam kawasan masih rendah dan terdapat potensi tumbuhan berguna
di dalam kawasan yang dapat dimanfaatkan masyarakat sekitar. Saran yang dapat
diberikan antara lain adalah pengenalan fungsi dan manfaat kawasan, pengelolaan
yang lebih intensif, serta pengembangan kawasan Tahura Pancoran Mas agar
keberadaannya tetap terjaga.
Kata kunci: interaksi, analisis vegetasi, wawancara, tumbuhan berguna.
SUMMARY
DINAR DARA TRI PUSPITA PURBASARI. Community Interaction and
Potential of Useful Plants in Pancoran Mas Grand Forest Park, Depok. Under
supervision of EDHI SANDRA and AGUS HIKMAT.
Pancoran Mas Grand Forest Park (Tahura Pancoran Mas) originally was a
Natural Reserve area that has been conserved since ± 300 years ago and it was the
first Natural Reserve in Indonesia. Although its existence is very important in the
history of conservation area in Indonesia, but the attention from the manager and
the local community is still low.
This research aims to identify the community interaction in Tahura
Pancoran Mas, composition of the vegetation and the potential useful plant
species in Tahura Pancoran Mas. This research is expected to be a reference for
the manager to the area development and information for people around Tahura.
The methods used in this research consist of interview and vegetation analysis.
Respondents are selected with purposive sampling method and the total 30
respondents interviewed. Line plot sampling method is used on vegetation
analysis with total 2 ha sample area.
Interview result shows a total of 83.34% of respondents know the plant
species that exist in Tahura but only 36.7% of those surveyed have ever utilized
the plants. Based on vegetation analysis, there are 83 plants species and 43
families that were identified which the composition is 27 species of tree, 23
species of pole, 12 species of sapling, 12 species of seedling, 30 species of ground
plants, and 4 species of liana. Important Value Index (Indeks Nilai Penting)
analysis is done for every growth level. The highest percentage for tree growth
level is Arthocarpus elastica (56.52%), Macaranga rhizinoides (48.86%) for pole,
Grewia acuminata (31.52%) for sapling, and Melicope lunuankeda (56.58%) for
seedling. Ground plants dominated by Dioscorea aculeata (19.43%) and liana
dominated by Spatholobus littoralis (93.54%). Existence of tree species of the
genus Macaranga and Mallotus in Tahura Pancoran Mas indicates that the habitat
has been disturbed. Overall identified 67 species and 39 families of potential
useful plants, and the medicinal use plants dominate as many as 43 species.
Conclusion of the research shows that plants utilization in Tahura is still
low and there are potential plants in Tahura which can be utilized by community.
Some suggestions that can be given are the introduction of function and benefit of
Tahura to the community, more intensive management, and development of
Tahura Pancoran Mas to improve community’s awareness and the area existence.
Keywords: interaction, vegetation analysis, interview, useful plants.
INTERAKSI MASYARAKAT DAN POTENSI TUMBUHAN
BERGUNA DI TAMAN HUTAN RAYA PANCORAN MAS
DEPOK
DINAR DARA TRI PUSPITA PURBASARI
Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan pada
Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata
Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor
DEPARTEMEN
KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA
FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2011
PERNYATAAN
Bersama ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “Interaksi
Masyarakat dan Potensi Tumbuhan Berguna di Taman Hutan Raya Pancoran Mas
Depok” adalah benar-benar hasil karya saya sendiri dengan bimbingan dosen
pembimbing dan belum pernah digunakan sebagai karya ilmiah pada perguruan
tinggi atau lembaga manapun. Sumber dan informasi yang berasal atau dikutip
dari karya yang diterbitkan ataupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah
disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir dari
skripsi ini.
Bogor, November 2011
Dinar Dara Tri Puspita Purbasari
E34070077
Judul Skripsi
: Interaksi Masyarakat dan Potensi Tumbuhan Berguna di
Taman Hutan Raya Pancoran Mas Depok
Nama
: Dinar Dara Tri Puspita Purbasari
NIM
: E34070077
Menyetujui:
Pembimbing I,
Pembimbing II,
Ir. Edhi Sandra, MSi
NIP. 196610191993031002
Dr. Ir. Agus Hikmat, MSc.F
NIP. 196209181989031002
Mengetahui,
Ketua Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata
Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor
Prof. Dr. Ir. Sambas Basuni, MS
NIP 195809151984031003
Tanggal Lulus:
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulisan skripsi ini dapat
terselesaikan dengan baik. Skripsi yang berjudul “Interaksi Masyarakat dan
Potensi Tumbuhan Berguna di Taman Hutan Raya Pancoran Mas, Depok”
disusun untuk memenuhi syarat untuk memperoleh gelar sarjana bidang
kehutanan di Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.
Penulisan skripsi ini dimaksudkan untuk mengetahui interaksi masyarakat
di sekitar Tahura Pancoran Mas, komposisi vegetasi, dan potensi tumbuhan
berguna di Tahura Pancoran Mas.
Besar harapan penulis agar skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi
semua pihak yang membutuhkan data tentang interaksi masyarakat dan potensi
tumbuhan berguna di Tahura Pancoran Mas Depok.
Bogor, November 2011
Penulis
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan pada tanggal 10 Juli 1989 di Jakarta
dari pasangan Bapak Badrulhadi dan Ibu Sarimah sebagai
anak ketiga dari tiga bersaudara. Penulis mengawali
pendidikan di TK. Angkasa 8 Pondok Gede pada tahun 1994,
kemudian dilanjutkan di SDN Pondok Gede I pada tahun
1995-2001, SMPN 4 Depok pada tahun 2001-2004 dan
SMAN 1 Depok pada tahun 2004-2007. Pada tahun 2007 melalui jalur Undangan
Siswa Masuk IPB (USMI), penulis diterima sebagai mahasiswa Departemen
Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan, Institut
Pertanian Bogor.
Saat menuntut ilmu di IPB, penulis aktif sebagai Anggota Kelompok
Pemerhati Flora (KPF) di Himpunan Mahasiswa Konservasi Sumberdaya Hutan
dan Ekowisata (HIMAKOVA) pada tahun 2008-2010 dan Direktur International
Forestry Students’ Association Local Committee IPB (IFSA LC-IPB) pada tahun
2009-2010. Selain itu, penulis juga mendapat kesempatan untuk menjadi delegasi
pada 37th International Forestry Students’ Symposium (37th IFSS) di Bogor dan
Jogjakarta pada tahun 2009 serta menjadi delegasi 1st IFSA Asian Regional
Meeting (1st IFSA ARM) di Taipei, Taiwan pada tahun 2010.
Praktek lapang yang pernah diikuti yaitu Praktek Pengenalan Ekosistem
Hutan di Taman Wisata Alam Gunung Papandayan dan Cagar Alam Leuwueng
Sancang (2009), Praktek Pengelolaan Hutan di Hutan Pendidikan Gunung Walat
(2010) dan Praktek Kerja Lapang Profesi di Taman Nasional Batang Gadis
(2011). Sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Kehutanan, Institut
Pertanian Bogor, penulis melakukan penelitian berjudul “Interaksi Masyarakat
dan Potensi Tumbuhan Berguna di Taman Hutan Raya Pancoran Mas Depok”
dibimbing oleh Ir.Edhi Sandra, M.Si. dan Dr.Ir. Agus Hikmat, M.Sc.F.
UCAPAN TERIMA KASIH
Puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas berkah, rahmat dan izin-Nya
sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. Dengan segenap hati dan
ketulusan, ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada:
1.
Orangtua tercinta, Ibu Sarimah dan Bapak Badrulhadi serta kakak-kakak
tersayang, Diana Oktavia Purbasari, S.H. dan Dina Maulida Purbasari, S.IP.
atas kasih sayang, dukungan dan doa tiada henti.
2.
Bapak Ir. Edhi Sandra, M.Si. dan Bapak Dr. Ir. Agus Hikmat, M.Sc.F. atas
arahan, waktu, saran, ilmu, dan kesabaran selama membimbing penulis dalam
proses hingga penyelesaian skripsi ini.
3.
Ibu Ir. Siti Badriyah Rushayati, M.Si. selaku moderator saat seminar, Bapak
Ir. Rachmad Hermawan, M.Si. selaku ketua sidang dan Bapak Dr. Ir.
Bahruni, M.S. selaku penguji.
4.
Segenap pegawai Badan Lingkungan Hidup Kota Depok dan petugas Tahura
Pancoran Mas.
5.
Irvan Nurmansyah atas kesabaran luarbiasa, kesiagaan, perhatian, dukungan,
doa, dan kasih sayang yang diberikan.
6.
Keponakanku, Falisha Ardiana Sourfina, Tubagus Ditra Ali Pradana, dan
Fadienka Ardian Shouzaqi atas kelucuan dan hiburan saat tertekan dan bosan.
7.
Guru dan pengajar sejak TK, SD, SMP, dan SMA yang sudah sangat berjasa
dalam mendidik dan memberikan ilmu yang berharga.
8.
Bapak dan Ibu dosen beserta staff pengajar yang telah memberikan ilmu
pengetahuan dan wawasan selama kuliah.
9.
Sahabatku, Ajeng Endartrianti, Ardie Ariyono, Kristina Sari, Hesti Ayu H,
Nurlela Kasim, Anindya Gitta, Aditya Wahyu TA, Aronika Kaban.
10. Teman-teman seperjuangan Dwi Woro NP, Muthia SR, Marwa Prinando,
Nayunda PW, Oman Nurrohman, Rona, Agus Prayitno dan Jeffri Manurung
atas bantuan selama penyusunan skripsi.
11. Keluarga besar KOAK (KSHE 44) atas canda, duka, ke”ajaib”an serta
kebersamaannya.
12. Keluarga besar International Forestry Students’ Association Local Committee
IPB (IFSA LC-IPB) atas kebersamaan, ilmu dan pengalaman yang sangat
berharga.
13. HIMAKOVA, khususnya keluarga KPF (Kelompok Pemerhati Flora)
angkatan 43 dan 44 atas kebersamaan, canda, tawa, ilmu dan pengalaman.
14. Keluarga besar FAHUTAN IPB atas kebersamaannya.
15. Semua pihak yang membantu semasa kuliah, praktek, dan penyusunan skripsi
yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
Hanya ucapan terima kasih beserta sebuah harapan dan doa semoga Allah
SWT selalu melimpahkan rahmat-Nya dan membalas kebaikan semua pihak yang
telah membantu penulis baik yang tersebutkan maupun yang tidak tersebutkan.
Amin.
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI ...................................................................................................
i
DAFTAR TABEL ..........................................................................................
iv
DAFTAR GAMBAR ......................................................................................
v
DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................
vi
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .............................................................................
1
1.2 Tujuan ..........................................................................................
2
1.3 Manfaat ........................................................................................
2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Taman Hutan Raya .....................................................................
3
2.1 Interaksi Masyarakat dengan Lingkungan .................................
4
2.3 Tumbuhan Berguna ....................................................................
4
2.3.1 Tumbuhan penghasil pangan ...........................................
5
2.3.2 Tumbuhan obat .................................................................
5
2.3.3 Tumbuhan aromatik ..........................................................
6
2.3.4 Tumbuhan hias ..................................................................
6
2.3.5 Tumbuhan penghasil bahan pewarna ................................
6
2.3.6 Tumbuhan tali-temali dan anyaman .................................
7
2.3.7 Tumbuhan penghasil kayu bakar ......................................
7
2.3.8 Tumbuhan penghasil pakan ternak ...................................
8
2.3.9 Tumbuhan penghasil bahan bangunan ..............................
8
2.3.10 Tumbuhan untuk ritual adat dan keagamaan ..................
8
2.3.11 Tumbuhan penghasil pestisida nabati .............................
9
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Waktu dan Lokasi .....................................................................
10
3.2 Bahan dan Alat .........................................................................
10
3.3 Jenis Data ..................................................................................
10
3.4 Tahapan Penelitian ...................................................................
12
3.5 Metode Pengambilan Data........................................................
12
3.5.1 Wawancara........................................................................
12
3.5.2 Analisis vegetasi ...............................................................
13
3.6 Pembuatan Herbarium ..............................................................
13
3.7 Analisis Data.............................................................................
14
3.7.1 Klasifikasi pemanfaatan ..................................................
14
3.7.2 Indeks nilai penting .........................................................
15
3.7.3 Persen habitus ..................................................................
16
3.7.4 Persen tumbuhan berguna ................................................
16
BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN
4.1 Letak dan Luas..........................................................................
17
4.2 Sejarah Pengelolaan Kawasan ..................................................
17
4.3 Aksesibilitas..............................................................................
18
4.4 Topografi dan Geologi .............................................................
19
4.5 Iklim .........................................................................................
19
4.6 Sosial Ekonomi dan Tingkat Pendidikan Masyarakat .............
19
4.7 Flora dan Fauna .......................................................................
20
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Kondisi Tahura Pancoran Mas .................................................
22
5.2 Interaksi Masyarakat Sekitar dengan Tahura Pancoran Mas ....
23
5.2.1 Karakteristik responden ...................................................
24
5.2.2 Pengetahuan masyarakat terhadap fungsi kawasan .........
25
5.2.3 Pengetahuan dan interaksi masyarakat terhadap
keanekaragaman tumbuhan di Tahura Pancoran Mas .....
26
5.2.4 Pemanfaatan lahan oleh masyarakat di dalam kawasan ..
28
5.2.5 Harapan masyarakat terhadap pengelolaan Tahura .........
29
5.3 Komposisi vegetasi di Tahura Pancoran Mas ..........................
29
5.4 Potensi Tumbuhan Berguna di Tahura Pancoran Mas .............
32
5.4.1 Keanekaragaman tumbuhan berguna berdasarkan famili
32
5.4.2 Keanekaragaman tumbuhan berguna berdasarkan habitus
33
5.4.3 Keanekaragaman tumbuhan berguna berdasarkan kelompok
kegunaan .........................................................................
34
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan ..............................................................................
44
6.2 Saran ........................................................................................
44
DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................
45
DAFTAR TABEL
No.
Halaman
1. Tahapan penelitian ....................................................................................
12
2. Klasifikasi kelompok kegunaan tumbuhan ...............................................
15
3. Matapencaharian masyarakat Pancoran Mas tahun 2009 .........................
20
4. Tingkat pendidikan masyarakat Pancoran Mas tahun 2009 ......................
20
5. Tingkat pendidikan responden ..................................................................
25
6. Rekapitulasi INP tertinggi spesies tumbuhan bawah ...............................
30
7. Rekapitulasi INP tertinggi spesies tumbuhan liana ...................................
31
8. Rekapitulasi INP tertinggi spesies pada tiap tingkat pertumbuhan ...........
31
9. Jumlah spesies dan famili masing-masing kelompok kegunaan ...............
34
10. Daftar spesies tumbuhan obat di Tahura Pancoran Mas ...........................
36
11. Daftar famili spesies tumbuhan hias di Tahura Pancoran Mas .................
37
12. Daftar spesies tumbuhan penghasil pangan di Tahura Pancoran Mas ......
38
13. Tumbuhan penghasil pewarna alami di Tahura Pancoran Mas ................
40
12. Daftar spesies tumbuhan penghasil bahan bangunan di Tahura Pancoran
Mas ...........................................................................................................
40
13. Daftar spesies tumbuhan penghasil kayu bakar di Tahura Pancoran
Mas ............................................................................................................
41
14. Daftar spesies tumbuhan dengan kegunaan lainnya..................................
43
DAFTAR GAMBA R
No.
Halaman
1. Denah lokasi penelitian ..............................................................................
11
2. Skema petak pengukuran untuk analisis vegetasi ......................................
13
3. a. Pintu masuk Tahura di sebelah utara kawasan .......................................
22
b. Pagar yang dibangun disekeliling kawasan............................................
22
c. Kondisi vegetasi yang terlihat dari luar kawasan ...................................
22
4. a. Beberapa titik kumpulan sampah ...........................................................
23
b. Beberapa titik kumpulan sampah ...........................................................
23
c. Papan himbauan dari Pemerintah Kota Depok.......................................
23
d. Papan informasi mengenai kawasan ......................................................
23
5. Distribusi responden berdasarkan pekerjaan ..............................................
24
6. Fungsi Tahura berdasarkan pengetahuan responden .................................
25
7. Pengetahuan dan interaksi terhadap spesies tumbuhan di Tahura .............
27
8. Perbandingan jumlah spesies tumbuhan berguna yang teridentifikasi dengan
jumlah spesies yang dimanfaatkan masyarakat ........................................
28
9. Pemanfaatan lahan oleh masyarakat dalam kawasan .................................
29
10. a. Tumbuhan bawah yang mendominansi .................................................
32
b. Pohon yang tertutupi oleh tumbuhan merambat ...................................
32
11. Keanekaragaman tumbuhan berdasarkan famili ......................................
33
12. Persen habitus tumbuhan berguna ............................................................
34
13. Habitus spesies tumbuhan obat di Tahura Pancoran Mas ........................
36
14. a. Akar areuy gember (Fibraurea tinctoria) ..............................................
36
b. Daun miana (Coleus atropurpureus) .....................................................
36
15. a. Dieffenbachia picta ...............................................................................
37
b. Syngonium podophyllum .......................................................................
37
c. Caladium hortulanum............................................................................
37
16. Jumlah spesies tumbuhan penghasil pangan berdasarkan famili .............
38
17. Daun nangka (Arthocarpus heterophyllus) ..............................................
39
18. Bambu tali (Gigantochloa apus) ..............................................................
41
DAFTAR LAMPIRAN
No
Halaman
1. Daftar spesies tumbuhan dan kegunaannya di Taman Hutan Raya Pancoran
Mas. ............................................................................................................
49
2. Daftar spesies tumbuhan obat di Tahura Pancoran Mas .............................
53
3. Daftar spesies tumbuhan hias di Tahura Pancoran Mas..............................
55
4. Daftar spesies tumbuhan pangan di Tahura Pancoran Mas ........................
56
5. Daftar spesies tumbuhan pakan ternak di Tahura Pancoran Mas ...............
56
6. Daftar spesies tumbuhan pewarna alami di Tahura Pancoran Mas.............
57
7. Daftar spesies tumbuhan penghasil bahan bangunan di Tahura Pancoran
Mas .............................................................................................................
57
8. Daftar spesies tumbuhan penghasil anyaman, tali, dan kerajinan tangan di
Tahura Pancoran Mas .................................................................................
57
9. Daftar spesies tumbuhan penghasil kayu bakar di Tahura Pancoran Mas ..
58
10. Daftar spesies tumbuhan pestisida nabati di Tahura Pancoran Mas .........
58
11. Daftar spesies tumbuhan dengan kegunaan lain di Tahura Pancoran
Mas .............................................................................................................
58
12. Daftar Indeks Nilai Penting (INP) tingkat pohon di Tahura Pancoran
Mas……… .................................................................................................
59
13. Daftar Indeks Nilai Penting (INP) tingkat tiang di Tahura Pancoran
Mas .............................................................................................................
60
14. Daftar Indeks Nilai Penting (INP) tingkat pancang di Tahura Pancoran
Mas…..... ....................................................................................................
61
15. Daftar Indeks Nilai Penting (INP) tingkat semai di Tahura Pancoran
Mas…………………………………………………………………….. ...
62
16. Daftar Indeks Nilai Penting (INP) tumbuhan bawah di Tahura Pancoran
Mas….. .......................................................................................................
63
17. Daftar Indeks Nilai Penting (INP) liana di Tahura Pancoran Mas............
64
18. Data responden ..........................................................................................
65
19. Kuesioner wawancara ...............................................................................
66
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Taman Hutan Raya (Tahura) adalah kawasan pelestarian alam yang
ditujukan untuk koleksi tumbuhan dan atau satwa yang alami atau bukan alami,
spesies asli atau bukan asli, yang dimanfaatkan untuk kepentingan penelitian, ilmu
pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi
(P.10/Menhut-II/2009). Indonesia saat ini memiliki 22 kawasan Tahura, salah
satunya adalah Tahura Pancoran Mas yang merupakan satu-satunya kawasan
konservasi di Kota Depok. Kawasan ini pada awalnya merupakan Cagar Alam
tertua di Indonesia yang diresmikan pada tahun 1913 oleh pemerintah Hindia
Belanda. Sehingga secara historis memiliki nilai yang sangat penting dalam
sejarah kawasan konservasi di Indonesia.
Tahura Pancoran Mas merupakan salah satu aset keanekaragaman hayati
seluas ±6 ha yang terletak diantara padatnya perumahan warga di Kelurahan
Pancoran Mas, Depok. Hasil penelitian Saragih (2007) menyebutkan bahwa
29,17% dari responden yang tinggal di sekitar kawasan menganggap keberadaan
Tahura tidak perlu dipertahankan dengan alasan tidak bermanfaat dan akan lebih
bermanfaat jika dijadikan lahan perumahan atau pertokoan. Hal tersebut
mengindikasikan kurangnya interaksi masyarakat dan pengetahuan tentang Tahura
serta keanekaragaman hayati di dalamnya.
Secara umum Tahura dapat dimanfaatkan untuk beberapa jenis kegiatan
antara lain penelitian dan pengembangan, ilmu pengetahuan, pendidikan, kegiatan
penunjang budidaya, pariwisata alam dan rekreasi, serta pelestarian budaya.
Selain itu, Tahura juga dapat berfungsi sebagai penyedia oksigen, daerah
penyerap air hujan, dan penyimpan cadangan karbon seperti fungsi Ruang
Terbuka Hijau pada umumnya. Fungsi inilah yang saat ini paling menonjol di
Tahura Pancoran Mas bagi masyarakat sekitarnya. Pengetahuan mengenai
manfaat dan fungsi kawasan oleh masyarakat disekitar akan mempengaruhi sikap
terhadap kawasan. Semakin banyak pengetahuan tentang fungsi dan manfaat
kawasan maka sikap yang diberikan akan semakin baik (Wiratno et al. 2004).
Manfaat lain yang dimiliki oleh Tahura Pancoran Mas namun belum
diketahui secara luas adalah keanekaragaman hayati berupa berbagai spesies
tumbuhan berguna. Tumbuhan dapat dimanfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan
sehari-hari seperti bahan penghasil pangan, sandang, obat-obatan dan kosmetika,
papan dan peralatan rumah tangga, tali-temali dan anyaman, pewarna dan
pelengkap upacara adat atau ritual serta kegiatan sosial (Soekarman & Riswan
1992). Penelitian mengenai interaksi masyarakat dan potensi tumbuhan berguna di
Tahura Pancoran Mas sangat penting bagi pengelola serta masyarakat di sekitar
kawasan.
1.2 Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi:
1. Interaksi antara masyarakat sekitar dengan tumbuhan di Tahura Pancoran Mas.
2. Komposisi vegetasi di kawasan Tahura Pancoran Mas.
3. Potensi spesies tumbuhan berguna yang terdapat di Tahura Pancoran Mas.
1.3 Manfaat
Data mengenai interaksi masyarakat dan potensi tumbuhan berguna di
Tahura Pancoran Mas diharapkan dapat menjadi acuan dalam rencana
pengembangan kawasan serta menjadi sumber pengetahuan dan informasi tentang
manfaat berbagai spesies tumbuhan di dalam Tahura Pancoran Mas bagi
masyarakat di sekitarnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Taman Hutan Raya
Taman Hutan Raya adalah kawasan pelestarian alam untuk tujuan koleksi
tumbuhan dan atau satwa yang alami atau bukan alami, jenis asli atau bukan jenis
asli, yang dimanfaatkan untuk kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan,
pendidikan, menunjang budaya, pariwisata, dan rekreasi (P.10/Menhut-II/2009).
Beberapa kriteria penunjukan dan penetapan kawasan Taman Hutan Raya adalah
(PP No.68 Tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian
Alam):
1. Memiliki ciri khas baik asli maupun buatan baik pada kawasan yang
ekosistemnya masih utuh ataupun kawasan yang ekosistemnya sudah berubah;
2. Memiliki keindahan alam dan atau gejala alam;
3. Mempunyai luas yang cukup yang memungkinkan untuk pembangunan koleksi
tumbuhan dan atau satwa baik jenis asli dan atau bukan asli.
Keputusan
Penyelenggaraan
Menteri
Tugas
Kehutanan
Pembantuan
Nomor
107/Kpts-II/2003
Pengelolaan
Taman
Hutan
tentang
Raya
menyebutkan bahwa pemerintah atau kota dapat melakukan pengelolaan terhadap
Tahura yang terdapat di dalam wilayah administratif kota bersangkutan. Saat ini
Taman Hutan Raya Pancoran Mas sudah sepenuhnya dikelola oleh Pemerintah
Kota Depok dibawah Badan Lingkungan Hidup Kota Depok. Suatu kawasan
Taman Hutan Raya dikelola berdasarkan satu rencana pengelolaan yang disusun
berdasarkan kajian aspek ekologis, teknis, ekonomis, dan sosial budaya. Rencana
pengelolaan Tahura setidaknya memuat tujuan pengelolaan dan garis kegiatan
yang menunjang upaya perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan kawasan.
Upaya pengawetan kawasan taman hutan raya dilaksanakan dalam bentuk (Ditjen
PHKA 2011):
1. Perlindungan dan pengamanan
2. Inventarisasi potensi kawasan
3. Penelitian dan pengembangan menunjang pengelolaan
4. Pembinaan dan pengembangan tumbuhan dan atau satwa. Pembinaan
pengembangan bertujuan koleksi.
2.2 Interaksi Masyarakat dengan Lingkungan
Menurut Soemarwoto (1997) diacu dalam Kamakaula (2004), lingkungan
hidup adalah ruang yang ditempati makhluk hidup bersama dengan benda-benda
hidup dan tak hidup di dalamnya. Knowies dan Wareing (1976) diacu dalam
Kamakaula (2004) menyatakan bahwa manusia selain berinteraksi dengan
lingkungannya, juga menjadikan lingkungan sebagai sumber aspirasinya. Dengan
demikian jika manusia menempati suatu tempat dalam jangka waktu yang lama,
maka akan menjadi bagian/komponen dari ekosistem yang sama. Perubahan yang
dilakukannya pada lingkungan alam juga akan mengubah ekosistemnya.
Interaksi antara masyarakat dan kawasan dibutuhkan agar masyarakat
mengetahui dan merasakan secara langsung manfaat dari kawasan. Salah satu
yang menjadi penyebab kesadaran masyarakat yang rendah terhadap perlindungan
kawasan konservasi adalah keterbatasan pengetahuan mengenai berbagai manfaat
jangka panjang kawasan dan sumberdayanya (Wiratno et al. 2004). Interaksi
manusia dengan lingkungan alamnya termasuk kawasan hutan dapat dikaji
berdasarkan persepsi dari masyarakat tersebut yang ditunjukan melalui perilaku
dan tindakan dalam pemanfaatan kawasan hutan sesuai dengan daya dukungnya.
Semakin intensif suatu masyarakat memanfaatkan kawasan hutan tersebut maka
interaksinya semakin tinggi (Kamakaula 2004).
2.3 Tumbuhan Berguna
Menurut Soekarman dan Riswan (1992), berdasarkan pemanfaatannya
tumbuhan di Indonesia dapat dibagi menjadi beberapa kegunaan antara lain
sebagai bahan pangan, sandang, obat-obatan dan kosmetika, papan dan peralatan
rumah tangga, tali-temali dan anyaman, pewarna dan pelengkap upacara adat atau
ritual serta kegiatan sosial.
2.3.1 Tumbuhan penghasil pangan
Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air yang
diolah maupun tidak diolah, yang diperuntukan sebagai makanan atau minuman
bagi konsumsi manusia (UU No. 7 Tahun 1996). Siswoyo et al. (2004)
menyebutkan bagian tumbuhan yang dapat digunakan sebagai sumber pangan
antara lain adalah buah, daun, umbut, batang, bunga, biji, getah, dan tubuh buah
(jamur).
Salah satu bahan pangan adalah rempah sebagai bumbu. hasil penelitian
Hasairin (1994) menyebutkan bahwa terdapat 29 jenis rempah yang digunakan
oleh Suku Batak Angkola dan Mandailing sebagai bumbu masakan adatnya.
Beberapa spesies tumbuhan yang digunakan diantaranya aren (Arenga pinnata),
asam galugur (Garcinia macrophylla), bawang merah (Allium cepa), bawang daun
(Allium odorum), dan cabe merah (Capsicum annura).
2.3.2 Tumbuhan obat
Tumbuhan obat dapat berupa tanaman atau bagian tanaman yang digunakan
sebagai bahan obat tradisional, sebagai bahan baku obat (prokusor), dan
diekstraksi sebagai obat (SK Menteri Kesehatan No.194/SK/Menkes/IV/1978).
Dalam pemanfaatannya, tumbuhan obat terbagi dalam beberapa kelompok (Zuhud
et al. 1994), yaitu:
1. Tumbuhan obat tradisional, yaitu spesies tumbuhan yang diketahui atau
dipercaya masyarakat mempunyai khasiat obat dan telah digunakan sebagai
bahan baku obat tradisional.
2. Tumbuhan obat modern, yaitu spesies tumbuhan yang secara ilmiah telah
dibuktikan mengandung senyawa atau bahan bioaktif dan penggunaannya
dapat dipertanggungjawabkan secara medis.
3. Tumbuhan obat potensial, yaitu spesies tumbuhan yang diduga mengandung
senyawa atau bahan bioaktif yang berkhasiat obat tetapi belum secara ilmiah
atau penggunaannya sebagai bahan obat tradisional sulit ditelusuri.
Obat bahan alam Indonesia terdiri atas tiga kelompok yaitu jamu, obat
herbal, dan fitofarmaka. Jamu merupakan obat bahan alam yang belum teruji
secara preklinis; obat herbal merupakan obat alam yang telah teruji secara
preklinis; dan fitofarmaka merupakan obat bahan alam yang telah teruji secara
preklinis dan klinis (SK. Kepala BPOM No.HK.00.05.4.2411/2004).
2.3.3 Tumbuhan aromatik
Tumbuhan penghasil aroma atau wangi-wangian yang juga disebut
tumbuhan penghasil minyak atsiri memiliki ciri-ciri berbau dan aroma karena
fungsi utamanya adalah sebagai pengharum baik parfum, kosmetik, penyegar
ruangan, sabun, pasta gigi, pemberi rasa pada makanan maupun produk rumah
lainnya (Kartikawati 2004).
Heyne (1987) menyebutkan tumbuhan yang dapat menghasilkan minyak
atsiri diantaranya spesies tumbuhan yang berasal dari beberapa famili seperti akar
wangi (Andropogon zizinoides) dari famili Graminae, kayu manis (Cinnamomum
burmanii) dari famili Lauraceae, jahe (Zingiber officinale) dari famili
Zingiberaceae, sirih (Piper betle) dari famili Piperaceae, cendana (Santalum
album) dari famili Santalaceae, dan lainnya.
2.3.4 Tumbuhan hias
Tumbuhan hias menurut Arafah (2005) merupakan tumbuhan yang
memiliki nilai estetika keindahan yang menjadi komoditas holtikultura nonpangan yang dalam kehidupan sehari-hari dibudidayakan untuk hiasan. Tumbuhan
hias banyak dibudidayakan yang kemudian disebut dengan tanaman hias.
Departemen Pertanian mendefinisikan tanaman hias adalah tanaman yang
mempunyai nilai keindahan baik karena bentuk, warna daun, tajuk maupun
bunganya, sering digunakan sebagai penghias pekarangan atau ruangan di rumahrumah atau gedung perkantoran. Heyne (1987) menyebutkan beberapa spesies
tumbuhan dari famili Palmae, Graminae, Leguminosae, Sapindaceae, dan lainnya
dapat dimanfaatkan bagian biji atau buahnya untuk keperluan hiasan.
2.3.5 Tumbuhan penghasil bahan pewarna
Menurut Lemmens dan Soetjipto (1999), pewarna nabati adalah bahan
pewarna yang berasal dari tumbuhan, bahan-bahan ini diekstrak dengan cara
fermentasi, direbus, atau secara kimiawi. PROSEA dalam situs jejaring resminya
menyebutkan bahwa tumbuhan atau bagian tumbuhan yang dapat dimanfaatkan
sebagai bahan pewarna baik untuk tekstil maupun batik.
Katz (2004) menyebutkan bagian tumbuhan yang dapat digunakan untuk
bahan baku pewarna adalah akar, kulit batang, daun, arbei, biji, ranting, cabang
pohon, dan umbi akar. Masing-masing bagian tersebut dapat menghasilkan
berbagai warna dengan ketajaman. Penggunaan yang tepat pada pewarna nabati
tahan terhadap sengatan matahari.
2.3.6 Tumbuhan tali-temali dan anyaman
Kepandaian anyam mengayam tidak hanya menciptakan motif tetapi yang
lebih penting adalah penciptaan barang atau alat baik untuk pembawa atau pun
wadah. Tumbuhan penghasil tali, anyaman, dan kerajinan adalah tumbuhan yang
biasa digunakan untuk membuat tali anyaman, maupun kerajinan (Waluyo 1992).
Hasil kerajinan anyaman yang terbuat dari rotan banyak ditemukan di
daerah Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi sedangkan kerajinan anyaman yang
terbuat dari bambu umumnya berasal dari daerah Bali, Jawa, dan Sulawesi
(Widjaja et al. 1989). Suku Melayu Tradisional memanfaatkan 21 spesies
tumbuhan sebagai bahan baku penghasil tali, anyaman, dan kerajinan. Bagian
yang dimanfaatkan antara lain rotan, daun, batang, kulit, dan isi batang. Spesies
tumbuhan yang dimanfaatkan sebagian besar dari famili pandan-pandanan dan
rotan (Fakhrozi 2009).
2.3.7 Tumbuhan penghasil kayu bakar
Tumbuhan yang dapat digunakan sebagai penghasil kayu bakar pada
dasarnya adalah semua jenis tumbuhan berkayu yang berbentuk pohon. Beberapa
kriteria tumbuhan yang dapat dijadikan bahan kayu bakar menurut Sutarno (1996)
diacu dalam Arafah (2005) adalah:
1. Tahan terhadap kekeringan dan toleran iklim.
2. Pertumbuhan tajuk baik setiap tumbuh pertunasan yang baru.
3. Pertumbuhan cepat, volume hasil kayu maksimal tercapai dalam waktu yang
singkat.
4. Kadar air rendah dan mudah dikeringkan.
5. Menghasilkan kayu yang padat dan tahan lama ketika dibakar.
6. Menghasilkan sedikit asap dan tidak beracun apabila dibakar.
2.3.8 Tumbuhan penghasil pakan ternak
Menurut Manetje dan Jones (1992) diacu dalam Kartikawati (2004), pakan
ternak adalah tanaman konsentrasi rendah dan mudah dicerna yang merupakan
penghasil pakan bagi satwa herbivora. Hidayat (2009) menyebutkan bahwa
masyarakat di Kampung Adat Dukuh memanfaatkan 33 spesies sebagai pakan
ternak. Pakan ternak di Kampung Adat Dukuh tumbuh liar di ladang, kebun dan
sawah serta beberapa spesies sengaja ditanam sebagai cadangan. Beberapa contoh
spesies pakan ternak yang dimanfaatkan diantaranya kaliandra (Caliandra
haematochepala),
bandotan
(Ageratum
conyzoides),
lamtoro
(Leucaena
leucocephala), dan gamal (Gliricidia maculata). Bagian yang dimanfaatkan untuk
pakan ternak antara lain daun, ranting, batang, dan buah muda.
2.3.9 Tumbuhan penghasil bahan bangunan
Pohon-pohon di hutan merupakan sumber bahan bangunan yang dapat
digunakan secara berkesinambungan. Pemanfaatan kayu oleh masyarakat Dayak
Meratus biasanya dilakukan apabila ingin membuat rumah. Pemilihan jenis-jenis
kayu tersebut biasanya berdasarkan pertimbangan kekuatan kayu dan ketahanan
terhadap rayap (Kartikawati 2004).
2.3.10 Tumbuhan untuk ritual adat dan keagamaan
Tumbuhan yang bersifat spiritual, magis, dan ritual merupakan salah satu
pengetahuan tentang tumbuhan yang dimiliki oleh masyarakat. Indonesia
memiliki kurang lebih 350 etnis budaya yang memiliki pengetahuan etnobotani
dalam pemanfaatan maupun penggunaannya di masing-masing daerah khususnya
yang dipakai untuk upacara adat. Dalam upacara-upacara adat yang dilakukan
oleh masyarakat Indonesia, khususnya yang berkaitan dengan daur hidup,
tumbuhan banyak digunakan untuk keperluan tersebut (Kartiwa & Martowikrido
1992).
2.3.11 Tumbuhan penghasil pestisida nabati
Pestisida nabati menggunakan senyawa sekunder tanaman sebagai bahan
bakunya, beberapa senyawa sekunder tersebut diantaranya eugenol, azadirachtin,
geraniol, sitronelol, dan tannin. Senyawa-senyawa tersebut dapat mengendalikan
berbagai jenis hama dan penyakit tanaman. Bahan aktif pada pestisida nabati
kurang toksik terhadap mamalia dan organisme bukan sasaran seperti parasit,
predator, dan polinator sehingga relatif aman untuk kelestarian lingkungan.
Pestisida nabati juga mudah terurai oleh cahaya matahari sehingga residunya yang
terbawa pada produk pertanian dapat diabaikan dan tidak menyebabkan resistensi
hama karena bahan aktifnya tersusun atas beberapa senyawa kimia (Wiratno
2010).
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Waktu dan Lokasi
Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni sampai dengan Juli 2011 di Taman
Hutan Raya (Tahura) Pancoran Mas, Depok.
3.2 Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain tallysheet,
kuesioner, kertas koran, label, alkohol 70%, kantong plastik besar, dan sampel
bagian tumbuhan untuk pembuatan herbarium. Sedangkan alat yang digunakan
antara lain kompas, tambang plastik 100 m, pita meter, golok, kamera, dan alat
tulis.
3.3 Jenis Data
Data yang diperlukan dalam penelitian ini terbagi dalam dua jenis
berdasarkan sumbernya, yaitu data primer dan sekunder.
1. Data primer didapatkan melalui hasil observasi lapang yang meliputi data
spesies, diameter dan jumlah individu tingkat pohon dan tiang, spesies dan
jumlah individu tingkat pancang dan semai, serta jumlah dan habitus tumbuhan
bawah (herba, semak, perdu), liana dan epifit. Data primer juga didapatkan
melalui wawancara masyarakat yang tinggal di sekitar Tahura.
2. Data sekunder didapatkan melalui studi pustaka sejumlah literatur dan
dokumen lainnya yang mendukung penelitian ini.
Gambar 1 Denah lokasi penelitian Tahura Pancoran Mas.
(Foto udara sumber: www.wikimapia.org)
3.4 Tahapan Penelitian
Tahapan penelitian terdiri dari tiga tahapan utama, yakni tahap kajian
pustaka, observasi lapang, dan tahap pengolahan dan analisis data. Setiap tahapan
memiliki aspek kajian, sumber data, dan metode yang berbeda (Tabel 1).
Tabel 1 Tahapan kegiatan, aspek kajian, sumber data, dan metode dalam
pengambilan data
No
1
Tahapan
kegiatan
Kajian pustaka
Aspek kajian
Sumber data
 Kondisi umum lokasi
penelitian
 Kondisi demografi
masyarakat
Kecamatan
Pancoran Mas,
Badan
Lingkungan
Hidup (BLH)
Depok
Tahura Pancoran
Mas dan
masyarakat
sekitar
Data primer dan
data sekunder
yang terkumpul
selama penelitian
2
Observasi
lapang
 Interaksi masyarakat
 Komposisi vegetasi
 Kegunaan tumbuhan
3
Pengolahan dan
Analisis data
 Pengolahan data
 Analisis data
Metode
Studi literatur dan
dokumen lainnya
 Wawancara
 Analisis vegetasi
 Studi literatur
Pengolahan secara
kuantitatif dan
analisis secara
deskriptif melalui
penjabaran secara
tabulasi
3.5 Metode Pengambilan Data
3.5.1 Wawancara
Wawancara dilakukan untuk mendapatkan data mengenai interaksi dan
pengetahuan
masyarakat
terhadap
Tahura
Pancoran
Mas
terutama
keanekaragaman hayati di dalamnya. Penentuan responden dilakukan dengan
metode purposive sampling yaitu pemilihan responden berdasarkan kriteria
tertentu. Beberapa kriteria yang ditetapkan dalam penelitian ini adalah masyarakat
yang tinggal dengan jarak terdekat di sekeliling Tahura, lama tinggal, dan
kerelaan untuk diwawancara. Wawancara dilakukan mengacu pada kuesioner
yang telah dibuat. Responden dalam wawancara diambil sebanyak 30 orang yang
terdiri dari 15 responden wanita dan 15 responden pria.
3.5.2 Analisis Vegetasi
Analisis vegetasi dalam plot pengamatan dilakukan dengan menggunakan
metode kombinasi jalur garis berpetak. Penetapan jalur pengamatan ditentukan
menggunakan metode systematic sampling yaitu penetapan jalur secara berurutan
dengan jarak antar jalur ditetapkan sebesar 30 meter. Metode analisis vegetasi
dilakukan dengan pengamatan pada suatu petak yang dibagi-bagi kedalam petakpetak berukuran 20x20 m2, 10x10 m2, 5x5 m2, dan 2x2 m2.
Petak berukuran 20x20 m2 digunakan untuk pengambilan data vegetasi
liana, epifit, dan tingkat pohon dengan diameter setinggi dada (130 cm) dari
permukaan tanah sebesar ≥20 cm; petak berukuran 10x10 m2 untuk pengambilan
data vegetasi tingkat tiang dengan diameter 10-20 cm; petak berukuran 5x5 m2
digunakan untuk pengambilan data vegetasi tingkat pancang dengan diameter <10
cm, tinggi > 1.5 m; dan 2x2 m2 digunakan untuk pengambilan data vegetasi
tingkat semai (anakan pohon yang baru tumbuh hingga anakan pohon yang
mempunyai tinggi hingga 1,5 m) dan tumbuhan bawah. Bentuk unit contoh
pengamatan vegetasi seperti disajikan pada Gambar 3.
B
C
D
A
Transek
Gambar 2 Skema petak-petak pengukuran analisis vegetasi.
Keterangan:
A = Petak pengukuran untuk pohon, epifit, liana dan parasit (20 x 20 m2)
B = Petak pengukuran untuk tiang (10 x 10 m2)
C = Petak pengukuran untuk pancang (5 x 5 m2)
D = Petak pengukuran untuk semai dan tumbuhan bawah (2 x 2 m2)
3.6 Pembuatan Herbarium
Herbarium digunakan sebagai dokumentasi dan mempermudah referensi
dalam penelitian botani. Herbarium terbagi atas dua jenis yaitu awetan basah dan
kering. Penelitian ini menggunakan metode herbarium awetan kering dengan
langkah-langkah pembuatan sebagai berikut:
1. Sampel herbarium yang lengkap terdiri dari ranting, daun, bunga dan buah jika
ada serta diusahakan memilih sampel yang kondisinya masih sangat baik dan
utuh.
2. Sampel dipotong dengan panjang 40 cm atau lebih bergantung ukuran sampel.
3. Sampel diberi label gantung berukuran 3x5 cm dengan keterangan mengenai
nomor koleksi, inisial nama kolektor, tanggal pengambilan spesimen, nama
lokal, dan lokasi pengembilan spesimen
4. Sampel disisipkan ke dalam lipatan kertas koran kemudian dimasukkan ke
dalam plastik
5. Sampel disusun dalam sasak lalu siram sampel dengan alkohol 70% secara
merata
6. Sampel dijemur herbarium dalam sasak di bawah panas matahari hingga kering
atau dapat juga disusun dan dikeringkan dalam oven dengan suhu 55⁰C selama
5 hari (sesuai kebutuhan, jika sudah kering proses pengeringan dapat
dihentikan)
7. Spesimen yang sudah kering kemudian diidentifikasi untuk diketahui nama
ilmiahnya.
3.7 Analisis Data
Data hasil analisis vegetasi dikelompokkan berdasarkan kelompok kegunaan
yang terdiri dari nama ilmiah, nama lokal, famili dan kegunaan. Analisis data
untuk analisis vegetasi dan hasil wawancara dilakukan secara deskriptif dan data
dijabarkan secara tabulasi.
3.7.1 Klasifikasi pemanfaatan
Data spesies tumbuhan yang didapatkan melalui wawancara dan
identifikasi diklasifikasikan berdasarkan pemanfaatannya yang meliputi 10
kelompok kegunaan (Tabel 2). Identifikasi spesies tumbuhan berguna dilakukan
melalui dua tahap kegiatan, yaitu (a) identifikasi spesies tumbuhan secara umum
dan (b) identifikasi spesies tumbuhan berguna. Identifikasi spesies tumbuhan
berguna dikerjakan dengan studi berbagai buku/literatur dan sumber-sumber
lainnya tentang tumbuhan berguna yang ada. Penyajian data dilakukan dengan
pengelompokkan berdasarkan kelompok kegunaan dengan menyaring dari tiaptiap kegunaan masing-masing spesies tumbuhan.
Tabel 2 Klasifikasi Kelompok Kegunaan Tumbuhan
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Kelompok Kegunaan
Tumbuhan obat
Tumbuhan hias
Tumbuhan penghasil pangan
Tumbuhan pakan ternak
Tumbuhan bahan pewarna alami
Tumbuhan penghasil bahan bangunan
Tumbuhan penghasil tali, anyaman dan kerajinan
Tumbuhan penghasil kayu bakar
Tumbuhan penghasil pestisida alami
Lainnya
3.7.2 Indeks Nilai Penting
Dominansi suatu spesies terhadap spesies-spesies lain dalam suatu tegakan
dapat dinyatakan berdasarkan besaran-besaran seperti banyaknya individu, persen
penutupan (cover percentage) dan luas bidang dasar (basal area), volume,
biomasa, dan Indeks Nilai Penting. Indeks Nilai Penting (INP) dapat
menggambarkan kedudukan suatu spesies di dalam komunitas tegakannya,
semakin tinggi nilai INP yang dimiliki suatu spesies maka semakin dominan
keberadaan spesies tersebut di suatu habitat. Untuk mengetahui struktur dan
komposisi vegetasi, maka pada masing-masing petak ukur dilakukan analisis
kerapatan, frekuensi dan dominansi untuk setiap spesies tumbuhan (Soerianegara
& Indrawan 1998).
Perhitungan dilakukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
Kerapatan suatu spesies (K)
Kerapatan relatif suatu spesies (KR)
Frekuensi suatu spesies (F)
Frekuensi relatif suatu spesies (FR)
Dominansi suatu spesies (D)
Dominansi relatif suatu spesies (DR)
Setelah dilakukan tahapan perhitungan diatas dapat dilakukan perhitungan
Indeks Nilai Penting (INP) sebagai berikut:
Untuk tingkat semai dan pancang:
INP = KR + FR
Untuk tingkat tiang dan pohon:
INP = KR + FR + DR
Total Indeks Nilai Penting (INP) untuk setiap tingkat pohon, tiang,
pancang, semai, dan tumbuhan bawah dihitung untuk menggambarkan kondisi
vegetasi.
3.7.3 Persen Habitus
Perhitungan persen habitus perlu untuk mengetahui kelompok habitus
yang paling dominan ditemui di suatu habitat. Kelompok habitus diantaranya
adalah pohon, perdu, semak, liana, herba, palem dan epifit. Adapun cara
perhitungannya adalah sebagai berikut:
∑
∑
3.7.4 Persen Tumbuhan Berguna
Persen tumbuhan berguna tertentu dihitung untuk mengetahui kelompok
tumbuhan berguna yang paling dominan di habitat tertentu. Adapun cara
perhitungannya adalah sebagai berikut:
∑
∑
BAB IV
KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN
4.1 Letak dan Luas
Kawasan Taman Hutan Raya Pancoran Mas secara administratif terletak di
Kota Depok, Jawa Barat. Luas Tahura Pancoran Mas berdasarkan hasil
pengukuran kasar pada tahun 1997 yaitu seluas 7,26 ha meskipun pada SK
Menteri Kehutanan tahun 1999 ditetapkan seluas 6 ha. Taman Hutan Raya
Pancoran Mas terletak diantara perumahan warga di Jalan Cagar Alam Pancoran
Mas, Kelurahan Pancoran Mas, Kecamatan Pancoran Mas, Depok. Letak kawasan
ini hanya berjarak 300 meter dari Stasiun Kereta Api Depok Lama.
Kelurahan Pancoran Mas memiliki luasan sebesar 473,55 Ha dengan batasbatas wilayah sebagai berikut:
Sebelah Utara
: Kelurahan Mampang dan Kelurahan Depok Jaya
Sebelah Selatan
: Kelurahan Cipayung dan Kelurahan Ratujaya
Sebelah Timur
: Kelurahan Depok
Sebelah Barat
: Kelurahan Rangkapan Jaya
4.2 Sejarah Pengelolaan Kawasan
Cagar Alam Pancoran Mas merupakan lahan hibah dari seorang ahli
tanaman obat dan tuan tanah di Depok bernama Cornelis Chastelein kepada para
pekerjanya. Dalam wasiatnya tertanggal 13 Maret 1714 dituliskan bahwa lahan
tersebut tidak boleh dipindahtangankan dan dikelola sebagai Cagar Alam karena
kealamiannya yang tidak dapat tergantikan. Pada tanggal 31 Maret 1913 lahan
tersebut diserahkan kepada pemerintahan Hindia Belanda yang terhimpun dalam
perkumpulan Perlindungan Alam Hindia Belanda (Nederlandsh Indische
Vereeniging tot Natuurbescheming). Kawasan ini ditetapkan sebagai Cagar Alam
berdasarkan Keputusan Gubernur Jenderal Belanda No.7 Tanggal 13 Mei 1926
dan merupakan cagar alam pertama di Indonesia dengan luasan 6 ha.
Kawasan ini pada awalnya merupakan inti dari kawasan hutan Depok dan
habitat flora dan fauna endemik Pulau Jawa, namun pada saat ini telah terjadi
perubahan mendasar dan dinilai sudah tidak layak sebagai kawasan cagar alam.
Melalui Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No.276/KPTS-II/1999,
fungsi Cagar Alam Depok dirubah menjadi Taman Hutan Raya.
Perubahan fungsi kawasan juga berakibat pada pengelolaan. Pada awalnya
di tahun 1960, Cagar Alam Depok berada di dalam pengawasan Kebun Raya
Bogor. Tahun 1971 pengelolaan berpindah ke wilayah kerja sub BKSDA DKI
Jakarta hingga pada tahun 1999 pengawasan secara langsung dibawah
Departemen Kehutanan RI dan pengelolaan diserahkan pada Pemda Provinsi Jawa
Barat. Sesuai dengan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 107/Kpts-II/2003
Tentang Penyelenggaraan Tugas Pembantuan Pengelolaan Taman Hutan Raya
oleh Gubernur atau Bupati/Walikota maka tugas pembantuan pengelolaan Tahura
Pancoran Mas diserahkan kepada Walikota Depok. Saat ini, dikelola oleh
Pemerintah Kota Depok khususnya Balai Lingkungan Hidup Kota Depok.
4.3 Aksesibilitas
Aksesibilitas menuju kawasan ini cukup mudah karena hanya berjarak ± 3
Km dari pusat Kota Depok. Perjalanan menuju Tahura Pancoran Mas dapat
ditempuh dengan beberapa rute, yaitu:
1. Perjalanan dapat ditempuh dengan menggunakan jasa angkutan kota dari
stasiun Depok maupun terminal Depok ke arah Pitara dan turun di Jalan Cagar
Alam yang merupakan akses utama menuju kawasan, kemudian dapat
dilanjutkan dengan berjalan kaki maupun menggunakan alat transportasi becak
dan ojek menuju Tahura.
2. Perjalanan menggunakan transportasi kereta api berhenti di stasiun kereta api
Depok, kemudian berjalan kaki maupun dengan jasa becak atau ojek ke arah
Tahura.
3. Perjalanan menggunakan jasa angkutan kota dari terminal Depok dapat
menggunakan angkutan umum kemudian turun di stasiun Depok dan
dilanjutkan dengan berjalan kaki, naik becak, atau pun ojek menuju lokasi.
4.4 Topografi dan Geologi
Kondisi topografi Kota Depok berupa dataran rendah bergelombang
dengan kemiringan lereng yang landai menyebabkan masalah banjir di beberapa
wilayah, terutama kawasan cekungan antara beberapa sungai yang mengalir dari
selatan menuju utara: Kali Angke, Sungai Ciliwung, Sungai Pesanggrahan dan
Kali Cikeas. Kawasan Tahura Pancoran Mas berada pada ketinggian 95 mdpl dan
memiliki topografi relatif datar hingga landai dengan kelerengan antara 0-8%.
Jenis tanah di kawasan ini adalah Latosol, sedangkan bebatuan didominasi batuan
Vulkanik Kwarter.
4.5 Iklim
Iklim secara umum di Taman Hutan Raya Pancoran Mas secara umum
sama dengan iklim di daerah Kota Depok yaitu memiliki iklim Tipe A menurut
Schmidt & Fergusson. Curah hujan rata-rata 2.629 mm/tahun dengan suhu udara
berkisar antara 22,5⁰C - 33⁰C. Wilayah Depok termasuk dalam daerah beriklim
tropis dengan perbedaan curah hujan yang cukup kecil dan dipengaruhi oleh iklim
musim. Secara umum musim kemarau antara bulan April-September dan musim
hujan antara bulan Oktober-Maret.
4.6 Sosial Ekonomi dan Tingkat Pendidikan Masyarakat
Masyarakat sekitar Tahura Pancoran Mas adalah masyarakat yang bertempat
tinggal di Kelurahan Pancoran Mas. Sebagian besar masyarakat merupakan
pendatang dari berbagai suku di Indonesia. Pada tahun 2009, jumlah penduduk
Kelurahan Pancoran Mas berjumlah sekitar 50.015 jiwa yang terdiri dari 25.844
laki-laki dan 24.171 perempuan.
Mata pencaharian sebagian besar masyarakat Kelurahan Pancoran Mas
adalah pekerja jasa yaitu sebanyak 26,4%. Buruh industri dan tenaga penjualan
masing-masing sebanyak 13,4% dan 10,1%. Selain bidang pekerjaan tersebut,
masyarakat Kelurahan Pancoran Mas juga ada yang berprofesi sebagai profesional
tatalaksana (PNS dan ABRI) 4,5%, Pekerja angkutan (0,06%), Petani (3,4%),
Buruh tani (6,4%), Usaha industri (0,2%), dan Pekerja bangunan (9,4%) seperti
tersaji dalam Tabel 3.
Tabel 3 Matapencaharian masyarakat Pancoran Mas tahun 2009
No
Mata Pencaharian
Jumlah (jiwa)
1
Petani
2
Buruh tani
3
Usaha industry
4
Buruh industry
5
Pekerja bangunan
6
Pekerja angkutan
7
Tenaga penjualan
8
Pekerja jasa
9
PNS, ABRI
Sumber: Profil kelurahan Pancoran Mas 2009.
Presentase (%)
1.717
3.216
101
6.706
4.710
28
5.075
13.213
2.273
3,4
6,4
0,2
13,4
9,4
0,06
10,1
26,4
4,5
Tingkat pendidikan masyarakat cukup beragam. Masyarakat dengan tingkat
pendidikan akhir SLTP sederajat mendominasi yaitu sebanyak 33%, selanjutnya
tamat SD sebanyak 29,2% dan SLTA sederajat sebanyak 23,7% (Tabel 4).Sarana
pendidikan di Kelurahan ini cukup lengkap dari tingkat PAUD (Pendidikan Anak
Usia Dini) hingga Perguruan Tinggi. Aksesibilitas menuju sekolah pun terbilang
cukup mudah dengan berbagai alternatif alat transportasi umum yang tersedia.
Tabel 4 Tingkat pendidikan masyarakat Pancoran Mas tahun 2009
No
Jenjang pendidikan
1
Belum sekolah
2
Buta aksara
3
Tidak tamat SD
4
Tamat SD
5
Tamat SLTP sederajat
6
Tamat SLTA sederajat
7
D1/D2/D3/D4
8
Sarjana
Sumber: Profil kelurahan Pancoran Mas 2009.
Jumlah (jiwa)
Presentase (%)
695
137
4.510
14.580
16.512
11.870
908
803
1,4
0,3
9,0
29,2
33,0
23,7
1,8
1,6
4.7 Flora dan Fauna
Kawasan Tahura Pancoran Mas termasuk ke dalam tipe hutan dataran
rendah. Dalam Laporan Draft Rencana Pengelolaan Taman Hutan Raya Pancoran
Mas-Depok tahun 2006 disebutkan beberapa jenis flora di kawasan Tahura yaitu
waru (Hibiscus tiliaceus), kopo (Eugenia cymosa), laban (Vitex pubescen), randu
(Ceiba pentandra), nangka (Artocarpus heterophyllus) dan Rengas (Gluta
renghas). Sedangkan fauna yang dapat ditemui antara lain cerucuk (Pycnonotus
goiavier), kipasan (Rhipidura javanica), bondol jawa (Lonchura leucogastroides),
burung kacamata jawa (Zosterops flavus), tupai (Dendrogale sp), Musang
(paradoxurus hermaphrodistus), dan ular welang (Bungarus fasciatus).
Dinas Lingkungan Hidup Kota Depok pada tahun 2006 memulai kegiatan
penanaman di kawasan Tahura Pancoran Mas sebanyak 1.250 bibit. Beberapa
spesies yang ditanam antara lain mahoni daun lebar (Swietenia macrophylla),
eboni (Diospyros selebica), matoa (Pometia pinnata), akasia (Acacia mangium),
rasamala (Altingia excelsa), dan tanjung (Mimusops elengi).
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Kondisi Tahura Pancoran Mas
Taman Hutan Raya Pancoran Mas pada awalnya merupakan kawasan
Cagar Alam, kini dikelilingi oleh padatnya perumahan warga. Letak kawasan
tepat di pinggir jalan raya yang dinamai karena keberadaan kawasan ini yaitu
Jalan Cagar Alam, Pitara, Depok. Kawasan Cagar Alam Pancoran Mas yang telah
dilestarikan sejak tahun 1714 dan ditetapkan pada tahun 1913 menjadikan
kawasan ini sebagai cagar alam tertua di Indonesia. Keberadaannya yang bernilai
penting dalam sejarah kawasan konservasi di Indonesia tidak membuat kawasan
ini menjadi terpelihara bahkan hampir terlupakan.
(a)
(b)
(c)
Gambar 3 Kondisi Tahura Pancoran Mas: (a) Pintu masuk Taman Hutan Raya di
utara kawasan; (b) Pagar yang dibangun disekeliling kawasan; dan (c)
Kondisi vegetasi yang terlihat dari luar kawasan.
Kondisi vegetasi Tahura mencerminkan bahwa kondisi hutan di dalamnya
cukup terganggu. Hal ini terlihat dari dominansi tumbuhan merambat dan semak
belukar yang tumbuh subur diakibatkan kondisi tegakan yang jarang dan cukup
terbuka (Gambar 3c). Selain itu, kadang terdapat pakaian yang dijemur di
sekeliling pagar dan masih ditemukan kumpulan-kumpulan sampah yang sengaja
dibuang oleh warga ke dalam kawasan (Gambar 4a dan 4b).
Gambar 4
(a)
(b)
(c)
(d)
Kondisi pengelolaan kawasan Tahura Pancoran Mas: (a) dan (b)
Beberapa titik kumpulan sampah; (c) Papan himbauan dari
Pemerintah Kota Depok dan (d) Papan informasi mengenai kawasan.
Pemasangan beberapa papan himbauan dan papan informasi mengenai
kawasan sepertinya tidak cukup untuk memberikan gambaran kepada masyarakat
mengenai pentingnya untuk menjaga kawasan tersebut. Pemerintah Kota Depok
bahkan membuat Peraturan Daerah No. 23 Tahun 2003 tentang Ketertiban Umum
yang isinya berupa larangan membuang sampah dan menjemur pakaian di
kawasan Taman Hutan Raya Pancoran Mas (Gambar 4c). Sikap masyarakat
seperti ini dapat diakibatkan karena kurangnya rasa menghargai terhadap
keberadaan keanekaragaman hayati serta fungsi dari kawasan Tahura.
5.2 Interaksi Masyarakat Sekitar dengan Tahura Pancoran Mas
Masyarakat yang tinggal di sekeliling Tahura pada umumnya merupakan
penduduk yang sudah tinggal lebih dari 10 tahun, bahkan beberapa warga yang
berusia lanjut (diatas 50 tahun) sudah menghabiskan sepanjang hidupnya di
daerah tersebut.
5.2.1 Karakteristik responden
5.2.1.1 Usia dan jenis kelamin
Menurut Hurlock (1980) diacu dalam Anggana (2011), pengklasifikasian
kelas umur dibedakan kedalam enam kategori yaitu kelas umur bayi (0-2 tahun),
balita (3-5 tahun), anak-anak (6-12 tahun), remaja (13-18 tahun), dewasa (19-59
tahun), dan lansia (≥60 tahun). Pada hasil penelitian hanya didapat dua kelas umur
responden yaitu dewasa dan lansia. Kelas umur dewasa mendominansi jumlah
responden yaitu sebanyak 83,34%. Distribusi jenis kelamin pada responden
tersebar merata yaitu masing-masing 15 responden pria dan 15 responden wanita.
5.2.1.2 Pekerjaan
Masyarakat yang tinggal dengan jarak terdekat dari Tahura Pancoran Mas
hanya terpisah oleh jalan selebar 3-4 meter. Jalan tersebut merupakan akses utama
yang dapat dilalui berbagai moda kendaraan bermotor roda dua maupun roda
empat. Aktivitas masyarakat disekitar Tahura tidak pernah sepi karena terletak di
jalan utama tersebut sehingga banyak didirikan toko, bengkel, dan rumah makan.
12
11
10
Jumlah
10
8
6
4
3
4
2
1
2
0
wirausaha
ibu rumah
tangga
buruh
jasa
swasta
pensiun
Pekerjaan
Gambar 5 Distribusi responden berdasarkan pekerjaan.
Mata pencaharian masyarakat yang menjadi responden pun dipengaruhi
oleh letak tempat tinggal mereka yang berdekatan dengan jalan utama dan
keramaian. Sebagian besar responden memiliki pekerjaan sebagai pedagang
/wirausaha. Sedangkan responden wanita sebagian besar tinggal di rumah sebagai
ibu rumah tangga (Gambar 5).
5.2.1.3 Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan rata-rata responden adalah lulusan SMP dan SMA.
Jumlah responden yang merupakan lulusan SMP dan SMA sederajat sebesar
36,67% atau masing-masing sebanyak 11 orang (Tabel 5). Selain itu juga terdapat
6 orang responden yang merupakan lulusan SD dan sisanya adalah 1 orang tidak
sekolah dan 1 orang lulusan Diploma.
Tabel 5 Tingkat pendidikan responden
No
1
2
3
4
5
Pendidikan
Tidak sekolah
SD
SMP
SMA sederajat
Diploma
Jumlah (orang)
1
6
11
11
1
Presentase (%)
3,33
20
36,67
36,67
3,33
Daerah Pancoran Mas memiliki akses dan fasilitas sekolah yang cukup
baik dari tingkat SD sampai SMA bahkan terdapat cukup banyak perguruan tinggi
yang dapat dicapai dari daerah tersebut hanya dengan angkutan perkotaan.
Sebagian besar responden menyatakan tidak melanjutkan sekolah ke tingkat
pendidikan atas dan perkuliahan disebabkan oleh keadaan ekonomi dan kemauan
untuk bekerja setelah lulus sekolah tingkat SMP maupun SMA.
5.2.2 Pengetahuan masyarakat terhadap fungsi kawasan
Pengetahuan masyarakat mengenai fungsi dari keberadaan kawasan
Tahura Pancoran Mas masih sangat terbatas. Fungsi dari keberadaan
keanekaragaman hayati terutama flora di kawasan Tahura menurut hampir seluruh
responden hanya sebagai daerah resapan air (73,3%), peneduh dan penyedia udara
segar (16,7%) dan sisanya sebanyak 10% responden menyatakan tidak ada
manfaatnya (Gambar 6).
resapan air
16,70%
10%
tidak ada
manfaatnya
73,30%
peneduh dan udara
segar
Gambar 6 Fungsi Tahura berdasarkan pengetahuan responden.
Hal ini berbeda dengan fungsi dari Taman Hutan Raya berdasarkan PP
No.68 Tahun 1998 yang dapat dimanfaatkan untuk tujuan koleksi tumbuhan dan
satwa baik spesies asli maupun bukan asli, kegiatan penelitian dan
pengembangan, pendidikan, kegiatan penunjang budidaya, pariwisata alam dan
rekreasi, serta pelestarian budaya.
Keterbatasan pengetahuan mengenai berbagai manfaat jangka panjang
kawasan dan sumberdayanya merupakan salah satu hal yang menjadi penyebab
kesadaran masyarakat yang rendah terhadap perlindungan kawasan konservasi
(Wiratno et al. 2004). Pengetahuan mengenai fungsi kawasan Tahura juga
berpengaruh
terhadap
pendapat
responden
saat
diwawancara
mengenai
keberadaan Tahura di wilayah tersebut. Hasil penelitian menunjukkan seluruh
responden berpendapat bahwa keberadaan kawasan perlu dipertahankan terlebih
lagi jika responden mengetahui manfaat dari keanekaragaman hayati khususnya
tumbuhan yang ada didalam kawasan. Sebanyak 99,67% responden menyatakan
akan lebih menjaga kelestarian Tahura Pancoran Mas untuk mempertahankan
fungsinya sebagai daerah resapan air bagi lingkungan sekitar.
Daerah sekitar Tahura Pancoran Mas termasuk wilayah Depok yang tidak
pernah tergenang air hujan atau pun kekurangan air bersih. Bagi masyarakat hal
itu dapat terjadi karena masih ada kawasan hutan di daerah tersebut. Manfaat
Tahura yang dirasakan langsung oleh masyarakat ini juga dapat digunakan dalam
penentuan koleksi tanaman di dalam kawasan. Dahlan (2004) menyebutkan
persyaratan tumbuhan untuk konservasi tanah dan air adalah: 1) Daya
transpirasinya rendah; 2) Memiliki sistem perakaran yang kuat dan dalam
sehingga dapat menahan erosi dan meningkatkan resapan air; 3) Serasah yang
dihasilkan banyak dan tidak bersifat allelopati. Spesies tumbuhan yang memenuhi
kriteria tersebut sangat memungkinkan untuk dipertimbangkan dalam pemilihan
spesies tumbuhan untuk dikoleksi di dalam kawasan agar dapat menunjang
keberlanjutan manfaat tersebut.
5.2.3 Pengetahuan dan interaksi masyarakat terhadap keanekaragaman
tumbuhan di kawasan Tahura Pancoran Mas
Pengetahuan masyarakat tentang keanekaragaman hayati terutama
tumbuhan di dalam kawasan masih rendah. Hal ini dapat terjadi karena meskipun
hampir seluruh responden telah tinggal lebih dari 10 tahun di sekitar kawasan
namun 50% diantaranya tidak pernah sama sekali memasuki kawasan. Beberapa
alasan responden yang tidak pernah memasuki Tahura diantaranya adalah
dikarenakan sebagian besar masyarakat menganggap bahwa memasuki kawasan
Tahura adalah perbuatan yang melanggar hukum, adanya satwaliar seperti ular
dan biawak, serta mitos-mitos seperti seseorang akan tersasar dan hilang jika
memasuki kawasan.
Sebagian besar tumbuhan yang diketahui responden hanya yang terletak di
pinggir Tahura karena terlihat oleh warga dari luar kawasan. Sekitar 16,7% dari
responden sama sekali tidak mengetahui spesies tumbuhan di dalam kawasan
(Gambar 7). Spesies tumbuhan yang diketahui oleh masyarakat diantaranya
adalah aren (Arenga pinnata), rotan (Calamus sp.), mangga (Mangifera indica),
cabai
(Capsicum
annum),
rambutan
(Nephelium
lappaceum),
jengkol
(Archidendron jiringa), jambu air (Syzigium aqueum), bacang (Mangifera
foetida), singkong (Manihot utilissima), mahkota dewa (Phaleria macrocarpa),
dan alpukat (Persea Americana). Tumbuhan tersebut diketahui oleh responden
karena letak tempat tumbuhnya di pinggir kawasan sehingga mudah dilihat dan
sebagian dimanfaatkan. Sedangkan keanekaragaman tumbuhan yang terletak di
dalam kawasan jarang diketahui spesiesnya oleh responden.
Tahu spesies tumbuhan
25
Pengetahuan
Tidak tahu
5
Tahu manfaat
19
Tidak tahu
11
Pernah memanfaatkan
11
Tidak pernah
19
0
10
20
Jumlah responden
30
Gambar 7 Pengetahuan terhadap spesies tumbuhan di Tahura.
Responden yang mengetahui spesies tumbuhan tidak seluruhnya
mengetahui manfaat dari tumbuhan tersebut. Terdapat 36,7% dari keseluruhan
responden tidak mengetahui kegunaan dari spesies tumbuhan yang mereka
ketahui. Hal ini dapat terjadi karena responden tidak pernah memanfaatkan
tumbuhan tersebut. Sebanyak 36,7 % dari responden berpendapat pernah
memanfaatkan tumbuhan dari dalam Tahura untuk kegunaan pangan dan obat
sedangkan sisanya yaitu 63,3% responden tidak pernah memanfaatkan.
Masyarakat yang berpendapat pernah memanfaatkan pada umumnya hanya
pernah satu kali atau sesekali selama hidupnya memanfaatkan tumbuhan dari
kawasan Tahura. Bagian yang diambil masyarakat untuk dimanfaatkan sebagai
pangan dan obat secara keseluruhan hanya bagian daun atau buah.
Interaksi masyarakat sekitar dengan tumbuhan yang terdapat di dalam
kawasan Tahura Pancoran Mas masih cukup rendah. Hal ini terlihat dari jumlah
spesies tumbuhan yang pernah dimanfaatkan jauh lebih rendah dibandingkan
dengan jumlah spesies tumbuhan berguna yang teridentifikasi melalui analisis
vegetasi (Gambar 8). Spesies tumbuhan yang pernah dimanfaatkan masyarakat
adalah mangga (Mangifera indica), cabai (Capsicum annum), rambutan
(Nephelium lappaceum), jengkol (Archidendron jiringa), bacang (Mangifera
foetida), miana (Coleus atropurpureus), bambu (Gigantochloa apus) dan alpukat
(Persea Americana)
67
80
60
40
20
0
8
Jumlah spesies tumbuhan
Spesies dimanfaatkan masyarakat
Spesies yang teridentifikasi melalui analisis vegetasi
Gambar 8 Perbandingan jumlah spesies tumbuhan berguna yang teridentifikasi
dengan jumlah spesies yang pernah dimanfaatkan masyarakat.
Kamakaula (2004) menyebutkan bahwa semakin intensif suatu masyarakat
memanfaatkan hasil dari kawasan hutan sesuai dengan daya dukungnya maka
interaksinya semakin tinggi. Interaksi antara masyarakat sekitar Tahura Pancoran
Mas dengan tumbuhan yang ada di dalam kawasan tergolong rendah. Masyarakat
tidak lagi bergantung pada sumberdaya alam yang ada di hutan dan sekitarnya
karena hampir seluruh kebutuhan hidupnya sudah tersedia di pertokoan dan
berbagai fasilitas kota yang dapat diakses dengan sangat mudah.
5.2.4 Pemanfaatan lahan oleh masyarakat di dalam kawasan
Tumbuhan pangan seperti jambu air, singkong, cabai, pepaya, dan pisang
memang sengaja ditanam oleh warga di pinggir Tahura. Menurut warga,
penanaman singkong dan tanaman pangan lainnya dilakukan di lahan yang
memang tidak ada pepohonannya dan menurut warga sangat disayangkan jika
lahan tersebut tidak dimanfaatkan. Warga juga meletakkan kandang peliharaan
ternak dan kolam-kolam untuk memelihara ikan selain berkebun di dalam
kawasan (Gambar 9).
(a)
(b)
(c)
Gambar 9
Pemanfaatan lahan oleh masyarakat di dalam kawasan Tahura: (a)
Jalan setapak yang dibuat warga di kebun singkong dalam kawasan,
(b) Kandang ternak unggas milik warga, (c) Kolam ikan milik
warga.
Hasil dari kebun dan ternak ini digunakan untuk kebutuhan sehari-hari saja
bukan untuk dijual. Letak dari kebun, kandang ternak, dan kolam ikan ini tidak
jauh dari pagar kawasan atau di sisi pinggir kawasan tepatnya di sebelah utarabarat Tahura. Aktivitas pemanfaatan lahan di dalam kawasan Tahura perlu
diperhatikan oleh pihak pengelola terutama untuk mengantisipasi potensi konflik
atau permasalahan terkait penggunaan lahan dan status kawasan yang mungkin
timbul di masa yang akan datang.
5.2.5 Harapan masyarakat terhadap pengelolaan Tahura
Harapan masyarakat terhadap pengelolaan Tahura dan keanekaragaman
hayati yang terdapat di dalamnya cukup tinggi. Pada umumnya responden
berharap adanya pengelolaan yang lebih intensif dari pemerintah Kota Depok agar
kondisi di dalam kawasan lebih rapi dan tertata sehingga dapat menambah nilai
estetika mengingat letaknya ditengah-tengah perumahan warga.
Masyarakat juga berharap keberadaan Tahura dapat memberikan manfaat
lebih bagi kehidupan masyarakat di sekitar. Usulan untuk menjadikan Tahura
sebagai arboretum atau taman botani juga diungkapkan oleh beberapa responden.
Selain itu, pembuatan jogging track atau jalan setapak di dalam Tahura juga
diusulkan oleh masyarakat dengan tujuan untuk lebih mengetahui kondisi di
dalam Tahura dan menikmati suasana serta keasrian di dalam kawasan.
5.3 Komposisi vegetasi di Tahura Pancoran Mas
Hasil analisis vegetasi menunjukkan bahwa komposisi vegetasi di Tahura
Pancoran Mas teridentifikasi 83 spesies yang termasuk kedalam 43 famili.
Terdapat 27 spesies pada tingkat pertumbuhan pohon, 23 spesies tingkat
pertumbuhan tiang, 12 spesies tingkat pertumbuhan pancang, dan semai.
Sedangkan untuk tumbuhan bawah sebanyak 30 spesies dan liana sebanyak 4
spesies.
Tumbuhan bawah yang teridentifikasi di kawasan Tahura sebanyak 30
spesies. Beberapa spesies yang memiliki INP tertinggi diantaranya adalah
Dioscorea aculeata (19,43%), Selaginella doederleinii (17,51%), dan Leea indica
(17,01%). Lima spesies tumbuhan bawah dengan INP tertinggi selengkapnya pada
Tabel 6.
Tabel 6 Rekapitulasi INP tertinggi spesies tumbuhan bawah di Tahura Pancoran
Mas
No
1
Habitus
Tumbuhan bawah
Spesies tumbuhan
Dioscorea aculeata
Selaginella doederleinii
Leea indica
Ageratum conyzoides
Jacquemontia panniculata
INP (%)
19,43
17,51
17,01
16,36
15,71
Tumbuhan liana didominansi oleh jenis areuy bayur (Spatholobus
littoralis) dengan INP sebesar 93,54%. Tumbuhan dengan habitus liana hanya
ditemukan sebanyak 4 spesies di kawasan Tahura Pancoran Mas seperti yang
terdapat dalam Tabel 7.
Tabel 7 Rekapitulasi INP tertinggi spesies tumbuhan liana di Tahura Pancoran
Mas
No
1
Habitus
Liana
Spesies tumbuhan
Spatholobus littoralis
Calamus sp.
Agelaea macrophylla
Fibraurea tinctoria
INP (%)
93,54
74,27
22,32
9,88
Indeks Nilai Penting (INP) tertinggi pada tingkat pertumbuhan semai
dimiliki oleh spesies Melicope lunu-ankeda (56,58%), selanjutnya huru
(Macaranga rhizinoides) dan mahoni daun lebar (Swietenia macrophylla)
memiliki nilai INP masing-masing 17,32%. Nilai INP tertinggi pada tingkat
pertumbuhan pancang dimiliki oleh spesies Grewia acuminata (31,52%) dan
untuk tingkat tiang didominansi oleh spesies Macaranga rhizinoides (48,86%).
Tabel 8 Rekapitulasi INP tertinggi spesies pada tiap tingkat pertumbuhan pohon
di Tahura Pancoran Mas
No
1
Tingkat pertumbuhan
Semai
2
Pancang
3
Tiang
4
Pohon
Spesies tumbuhan
Melicope lunu-ankeda
Spathodea campanulata
Macaranga rhizinoides
Swietenia macrophylla
Grewia acuminata
Grewia acuminata
Swietenia macrophylla
Mallotus phillipinensis
Durio zibethinus
Arthocarpus elastica
Macaranga rhizinoides
Spathodea campanulta
Cecropia peltata
Grewia acuminata
Hibiscus tiliaceus
Arthocarpus elastica
Cecropia peltata
Melicope lunu-ankeda
Mallotus philippinensis
Spathodea campanulata
INP (%)
56,58
34,51
17,32
17,32
14,88
31,52
26,97
24,85
22,42
15,76
48,86
29,19
23,28
16,55
14,94
56,52
36,49
22,68
20,40
17,80
Pada tingkat pertumbuhan pohon terdapat spesies Artocarpus elastica
(benda), spesies ini sangat mendominansi di kawasan Tahura Pancoran Mas.
Spesies lainnya yang mendominansi adalah Cecropia peltata yang disebut sebagai
tumbuhan walisongo oleh penduduk setempat sebesar 36,94% dan Melicope lunuankeda sebesar 22,68%.
Hampir di tiap tingkat pertumbuhan yang teridentifikasi di kawasan
Tahura Pancoran Mas terdapat spesies dari marga Macaranga dan Mallotus.
Spesies tersebut diantaranya Macaranga rhizinoides, Macaranga tanarius, dan
Mallotus philippinensis. Menurut Slik et al. (2003), spesies dari marga Macaranga
lebih banyak terdapat pada habitat yang lebih terganggu dibandingkan dengan
spesies dari marga Mallotus.
Spesies
dari
kedua
marga
tersebut
dapat
dijadikan
indikator
kerusakan/gangguan yang terjadi dalam suatu habitat. Bahkan beberapa spesies
seperti Macaranga trichocarpa, Mallotus macrostachyus, Macaranga tanarius,
dan Mallotus paniculatus dapat dikelompokkan sebagai pionir yang hidup di
habitat dengan gangguan tinggi di hutan dataran rendah Kalimantan Timur. Hal
ini disebutkan dalam penelitian Mirmanto (2011) di Pulau Moti, yang
menjelaskan bahwa Mallotus philippinensis dan Macaranga tanarius masih
dominan
terutama
pada
daerah
terbuka.
Keberadaan
spesies
tersebut
mengindikasikan bahwa telah terjadi gangguan atau kerusakan di kawasan Tahura
Pancoran Mas. Kondisi vegetasi yang cukup terbuka juga dapat menjadi penyebab
tumbuhnya
spesies
pionir
seperti
Macaranga
tanarius
dan
Mallotus
philippinensis.
Selain keberadaan dari spesies pionir tersebut, gangguan habitat juga
ditunjukkan melalui tumbuhan merambat dan tumbuhan bawah yang sangat subur.
Persaingan antar spesies bisa saja terjadi seperti pada Gambar 10.
(a)
Gambar 10
(b)
Dominansi tumbuhan merambat: (a) Tumbuhan merambat yang
sangat subur dan (b) Pohon yang tertutupi oleh tumbuhan
merambat.
Keadaan tersebut cukup mengkhawatirkan terutama bagi pertumbuhan
pepohonan di dalam kawasan Tahura Pancoran Mas. Balai Lingkungan Hidup
Kota Depok mengantisipasi hal ini dengan cara menugaskan dua orang warga
untuk membersihkan tumbuhan bawah dan tumbuhan merambat di dalam
kawasan secara rutin. Namun sepertinya cara tersebut masih kurang efektif,
karena pada saat penelitian masih ditemukan beberapa pohon yang sudah
dirambati hingga bagian tajuknya tidak terlihat lagi.
5.4 Potensi Tumbuhan Berguna di Tahura Pancoran Mas
Berdasarkan hasil analisis vegetasi di kawasan Tahura Pancoran Mas
teridentifikasi 67 spesies dan 39 famili tumbuhan berguna. Jika dilihat dari segi
presentase, maka spesies tumbuhan berguna sebanyak 80,7% dari keseluruhan
spesies yang ditemukan pada petak contoh seluas 2 ha.
5.4.1 Keanekaragaman tumbuhan berguna berdasarkan famili
Keanekaragaman tumbuhan berguna yang terdapat di kawasan Tahura
Pancoran Mas terdiri 67 spesies dari 39 famili. Pada Gambar 11, didapat 9 famili
Famili
yang memiliki jumlah spesies lebih dari 2 spesies.
3
3
3
Rubiaceae
Meliaceae
Lauraceae
Anacardiaceae
Moraceae
Euphorbiaceae
Arecaceae
Fabaceae
Araceae
4
5
5
5
6
6
0
2
4
Jumlah spesies
6
Gambar 11 Keanekaragaman tumbuhan berdasarkan famili.
Famili Araceae dan Fabaceae merupakan famili yang memiliki jumlah
spesies tumbuhan berguna terbanyak. Sebagian besar spesies dalam famili
Araceae terdapat dalam kelompok kegunaan tumbuhan hias sedangkan famili
Fabaceae menyebar di beberapa kelompok kegunaan.
5.4.2 Keanekaragaman tumbuhan berguna berdasarkan habitus
Berdasarkan hasil analisis vegetasi didapat 6 kelompok habitus yaitu
pohon, herba, perdu, semak, liana, dan bambu. Kelompok habitus pohon, herba,
dan semak merupakan tiga kelompok habitus yang memiliki persen habitus
tertinggi yaitu masing-masing 51,8%, 20,5%, dan 12,0% (Gambar 12). Persen
Persen habitus (%)
habitus menunjukkan kelompok habitus yang paling dominan di suatu habitat.
51,8
60
40
20,5
12,0
20
9,6
4,8
Semak
Perdu
Habitus
Liana
1,2
0
Pohon
Herba
Bambu
Gambar 12 Persen habitus tumbuhan berguna.
Jumlah spesies dengan habitus pohon mendominansi, ditemukan 43
spesies pohon dalam analisis vegetasi di Tahura pancoran Mas. Kelompok habitus
herba 17 spesies, semak 10 spesies, perdu 8 spesies, liana 4 spesies dan bambu 1
spesies.
5.4.3 Keanekaragaman tumbuhan berguna berdasarkan kelompok kegunaan
Spesies tumbuhan berguna hasil analisis vegetasi dikelompokkan kedalam
10 kelompok kegunaan yakni tumbuhan obat, hias, penghasil pangan, penghasil
pakan ternak, pewarna alami, penghasil bahan bangunan, anyaman, kerajinan dan
tali, penghasil kayu bakar, penghasil pestisida nabati, dan kegunaan lainnya.
Jumlah total spesies tumbuhan berguna yang ditemukan sebanyak 67 spesies dari
39 famili (Tabel 9).
Tabel 9 Jumlah spesies dan famili masing-masing kelompok kegunaan tumbuhan
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Kelompok kegunaan tumbuhan
Obat
Hias
Pangan
Pakan ternak
Pewarna alami
Bahan bangunan
Anyaman, kerajinan tangan dan tali
Kayu bakar
Pestisida nabati
Lainnya
Jumlah
Spesies
Famili
43
33
9
7
23
17
3
1
7
7
14
9
4
4
7
6
1
1
5
5
Persentase(%)
51,8
10,8
27,7
3,6
8,4
16,8
4,8
8,4
1,2
6,0
Persen tumbuhan berguna menunjukkan dominansi kelompok tumbuhan
berguna tertentu dalam suatu habitat. Hasil analisis vegetasi menunjukkan bahwa
kelompok kegunaan tumbuhan obat memiliki jumlah spesies terbanyak yaitu 43
spesies tumbuhan dari 33 famili atau sebanyak 51,8%, sedangkan dalam
kelompok kegunaan penghasil pestisida nabati hanya ditemukan 1 spesies
tumbuhan dengan persentase sebesar 1,2% dari seluruh spesies tumbuhan yang
ditemukan.
5.4.3.1 Tumbuhan obat
Salah satu ciri budaya masyarakat di negara berkembang adalah masih
dominannya unsur-unsur tradisional dalam kehidupan sehari-hari. Keadaan ini
didukung oleh keanekaragaman hayati yang terhimpun dalam berbagai tipe
ekosistem. Salah satu aktivitas tersebut adalah penggunaan tumbuhan sebagai
bahan baku obat (Rahayu et al. 2006). Pemanfaatan secara luas tumbuhan sebagai
bahan baku obat mendorong berbagai penelitian mengenai zat yang terkandung di
dalam tanaman, khasiat serta cara dan dosis penggunaannya. Di Indonesia,
pengobatan dengan menggunakan tumbuhan alami sebagai bahan utamanya
sedang berkembang pesat sebagai alternatif dari pengobatan secara medis.
Kelompok kegunaan tumbuhan obat yang teridentifikasi di Tahura
Pancoran Mas memiliki jumlah spesies yang paling banyak. Hal ini dapat terjadi
dikarenakan sudah banyak dan luasnya penelitian mengenai tumbuhan obat.
Selain itu, potensi tumbuhan obat di berbagai wilayah di Indonesia sudah banyak
digali dan didokumentasi melalui inventarisasi tumbuhan maupun penelitian
etnobotani sehingga memudahkan dalam proses identifikasi dibandingkan dengan
kelompok kegunaan lainnya.
Potensi spesies tumbuhan obat yang terdapat di kawasan Tahura Pancoran
Mas ditemukan sebanyak 43 spesies dari 33 famili. Habitus tumbuhan obat yang
paling banyak ditemukan adalah berturut-turut dari kelompok habitus pohon,
semak dan herba (Gambar 13).
17
Jumlah
20
15
9
7
10
6
3
5
1
0
Pohon
Semak
Herba
Perdu
Habitus
Liana
Bambu
Gambar 13 Jumlah spesies tumbuhan obat berdasarkan habitus.
Berbagai spesies tumbuhan obat yang ditemukan di Tahura Pancoran Mas
pada umumnya berkhasiat sebagai obat pencernaan, luka, demam, dan ginjal.
Beberapa spesies yang ditemukan diantaranya adalah areuy gember (Fibraurea
tinctoria) dan miana (Coleus atropurpureus) pada Tabel 10 dan Gambar 14.
Tabel 10 Beberapa khasiat tumbuhan obat di Tahura Pancoran Mas
No
1
Nama ilmiah
Alstonia scholaris
Nama lokal
Pulai
Famili
Apocynaceae
2
Coleus atropurpureus
Miana
Lamiaceae
3
4
Fibraurea tinctoria
Hibiscus tiliaceus
Areuy gember
Waru lengis
Menispermaceae
Malvaceae
5
Persea americana
Alpukat
Lauraceae
Khasiat
Demam, tekanan darah
tinggi
Demam, bisul, kencing
manis, keputihan
Sakit kuning
Diare,
batuk,
sakit
tenggorokan, TBC
Batu ginjal, rematik
Sumber: Zuhud et al. (2003) dan Rudjiman et al. (2003)
Areuy gember memiliki khasiat untuk menyembuhkan penyakit kuning
dan penyakit dalam, sedangkan miana dikenal luas oleh masyarakat berkhasiat
untuk menyembuhkan penyakit demam, bisul, keputihan, dan sebagainya. Khasiat
dari berbagai spesies di dalam kawasan Tahura Pancoran Mas selengkapnya dapat
dilihat pada Lampiran 2.
(a)
(b)
Gambar 14 Beberapa spesies tumbuhan obat: (a) Akar areuy gember (Fibraurea
tinctoria), dan (b) daun miana (Coleus atropurpureus).
Hingga saat ini pengetahuan masyarakat mengenai spesies tumbuhan obat
dan pemanfaatannya di kawasan Tahura masih sangat minim. Adanya potensi
tumbuhan obat yang cukup besar di Tahura Pancoran Mas dapat dimanfaatkan
oleh masyarakat di sekitarnya baik untuk pengobatan, sumber bibit, maupun ilmu
pengetahuan.
5.4.3.2 Tumbuhan hias
Jumlah spesies tumbuhan hias yang ditemukan di kawasan Tahura
Pancoran Mas sebanyak 9 spesies yang terdiri dari 6 famili (Tabel 11). Famili
Araceae cukup dominan karena memiliki 3 spesies tumbuhan hias di dalamnya
(Gambar 15).
Tabel 11 Daftar famili spesies tumbuhan hias di Tahura Pancoran Mas
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Nama ilmiah
Caladium hortulanum
Ciccus discolor
Coleus atropurpureus
Colocasia esculenta
Dieffenbachia picta
Impatiens balsamina
Ixora sp.
Spathodea campanulata
Syngonium podophyllum
Nama lokal
Keladi
Irah-irahan
Miana
Talas
Pacar air
Kembang soka
Spathodea
Syngonium
Famili
Araceae
Rosaceae
Lamiaceae
Araceae
Araceae
Balsaminaceae
Rubiaceae
Bignonaceae
Araceae
Secara umum tanaman hias dikelompokkan menjadi dua yaitu tanaman
hias daun dan tanaman hias bunga. Tanaman hias daun merupakan tanaman hias
yang memiliki bentuk dan warna daun yang unik, sedangkan tanaman hias bunga
memiliki daya tarik pada bentuk, warna, dan aroma bunganya (Ratnasari 2007).
(a)
(b)
(c)
Gambar 15 Beberapa spesies tumbuhan hias: (a) Dieffenbachia picta, (b)
Syngonium podophyllum, dan (c) Caladium hortulanum.
Famili Araceae merupakan suku talas-talasan yang beberapa spesiesnya
dapat dimanfaatkan umbinya. Keunikan serta corak warna daun beberapa spesies
dari famili ini telah banyak dimanfaatkan untuk memperindah taman dan halaman
rumah sebagai tanaman hias.
5.4.3.3 Tumbuhan penghasil pangan
Pangan merupakan segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air,
baik diolah maupun tidak diolah, yang diperuntukkan sebagai makanan atau
minuman bagi manusia (PP No.28 Tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu, dan
Gizi Pangan). Sumber hayati yang dimaksudkan adalah keanekaragaman
tumbuhan dan hewan yang dapat dijadikan sumber protein, karbohidrat, lemak,
mineral dan sebagainya. Sumber pangan dari keanekaragaman hayati sangat
banyak ditemukan di dalam hutan, begitu juga di dalam kawasan Tahura Pancoran
Mas.
Potensi tumbuhan penghasil pangan melalui analisis vegetasi secara
keseluruhan teridentifikasi 23 spesies dari 17 famili (Gambar 16). Famili yang
mendominansi tumbuhan penghasil pangan di kawasan ini adalah famili
Moraceae dan Anacardiaceae. Masing-masing famili tersebut memiliki 3 spesies
Famili
tumbuhan penghasil pangan yang selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 4.
Solanaceae
Schizaeaceae
Sapindaceae
Oxalidaceae
Moraceae
Meliaceae
Malvaceae
Lauraceae
Gnetaceae
Fabaceae
Euphorbiaceae
Dioscoreaceae
Cecropiaceae
Cacricaceae
Bombacaceae
Arecaceae
Anacardiaceae
2
1
1
1
3
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
2
3
0
2
Jumlah spesies
4
Gambar 16 Jumlah spesies tumbuhan penghasil pangan berdasarkan famili.
Spesies penghasil pangan di Tahura Pancoran Mas pada umumnya
berpotensi sebagai penghasil buah seperti misalnya mangga (Mangifera indica),
kecapi (Sandoricum koetjape), nangka (Arthocarpus heterophyllus), durian (Durio
zibethinus), dan belimbing (Averrhoa carambola). Beberapa spesies tumbuhan
penghasil pangan lainnya yang ditemukan diantaranya terdapat dalam Tabel 12.
Tabel 12 Daftar spesies tumbuhan penghasil pangan di Tahura Pancoran Mas
No.
1
2
3
4
5
Nama ilmiah
Archidendron jiringa
Averrhoa carambola
Gnetum gnemon
Mangifera similis
Solanum torvum
Nama lokal
Jengkol
Belimbing
Melinjo
Mangga
Takokak
Famili
Fabaceae
Oxalidaceae
Gnetaceae
Anacardiaceae
Solanaceae
Salah satu tumbuhan penghasil pangan yang terdapat di dalam kawasan
adalah belimbing (Averrhoa carambola) yang juga merupakan buah maskot Kota
Depok. Belimbing sudah dibudidayakan di beberapa wilayah di Kota Depok.
Spesies belimbing yang menjadi ikon Kota Depok dikenal dengan sebutan
belimbing dewa.
5.4.3.4 Tumbuhan penghasil pakan ternak
Menurut Manetje dan Jones (1992) diacu dalam Kartikawati (2004), pakan
ternak adalah tanaman konsentrasi rendah dan mudah dicerna yang merupakan
penghasil pakan bagi satwa herbivora. Tumbuhan penghasil pakan ternak yang
ditemukan di Tahura Pancoran Mas seluruhnya berasal dari famili Moraceae.
Spesies yang teridentifikasi dapat digunakan sebagai pakan ternak yaitu
Arthocarpus heterophyllus (nangka), Arthocarpus altilis (sukun) dan Arthocarpus
elastica (benda). Bagian yang dimanfaatkan sebagai pakan ternak dari spesiesspesies tumbuhan tersebut adalah bagian daunnya. Daun nangka sudah sangat
umum dimanfaatkan sebagai pakan untuk hewan ternak seperti kambing, kerbau,
maupun sapi (Gambar 17).
Gambar 17 Daun nangka (Arthocarpus heterophyllus).
5.4.3.5 Tumbuhan penghasil pewarna alami
Spesies tumbuhan yang bermanfaat sebagai pewarna alami yang
ditemukan di Tahura Pancoran Mas terdiri dari 7 spesies yang berasal dari 6 famili
berbeda (Tabel 13). Pemanfaatan tumbuhan sebagai pewarna alami sudah lama
dilakukan di Indonesia. Heyne (1987) dalam bukunya menyebutkan beberapa
jenis tumbuhan seperti Macaranga tanarius dan Terminalia Bellirica dapat
digunakan sebagai pewarna alami.
Tabel 13 Daftar spesies tumbuhan pewarna alami di Tahura Pancoran Mas
No
1
2
3
4
5
6
7
Nama ilmiah
Arenga pinnata
Archidendron jiringa
Arthocarpus heterophyllus
Capsicum anuum
Macaranga tanarius
Mangifera indica
Terminalia bellirica
Nama lokal
Aren
Jengkol
Nangka
Cabai
Makaranga
Mangga
Jaha kebo
Manfaat
Pewarna makanan
Pewarna hitam bahan anyaman
Pewarna hijau muda
Pewarna makanan
Pewarna hitam bahan anyaman
Pewarna kain
Pewarna alami dan penyamak
Sumber: Heyne (1987) dan Lemmens dan Soetjipto (1999).
Daun dari spesies tumbuhan Macaranga tanarius (makaranga) dapat
digunakan untuk pewarna hitam pada bahan anyaman (Heyne 1987). Sedangkan
spesies Mangifera indica (mangga) dalam Lemmens dan Soetjipto (1999)
disebutkan dapat digunakan sebagai pewarna alami dalam pewarnaan kain.
5.4.3.6 Tumbuhan penghasil bahan bangunan
Potensi tumbuhan penghasil bahan bangunan yang ada di kawasan Tahura
Pancoran Mas cukup besar yaitu sebanyak 14 spesies dari 9 famili (Lampiran 7).
Beberapa spesies seperti Alstonia scholaris, Macaranga sp., Sandoricum koetjape,
dan Arthocarpus elastica termasuk ke dalam kelompok komersial (Lemmens et
al. 2002). Bagian tumbuhan yang umum digunakan sebagai bahan bangunan
adalah batang. Batang kayu dapat digunakan untuk konstruksi atap, kerangka
bangunan, tiang pondasi, pintu, jendela, dan lainnya. Beberapa spesies tumbuhan
yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan terdapat pada Tabel 14.
Tabel 14 Daftar spesies tumbuhan penghasil bahan bangunan di Tahura Pancoran
Mas
No
1
2
3
4
5
Nama ilmiah
Acacia mangium
Sandoricum koetjape
Swietenia macrophylla
Vitex quinata
Xanthophyllum excelsum
Nama lokal
Akasia
Kecapi
Mahoni daun lebar
Kalipapa
Kayu endog
Famili
Fabaceae
Meliaceae
Meliaceae
Verbenaceae
Polygalaceae
Satu-satunya cara untuk memanfaatkan potensi ini adalah melalui
penebangan. Meskipun pemanenan berupa penebangan di kawasan konservasi
seperti Tahura tidak diperbolehkan namun penggalian potensi ini tetap diperlukan
baik untuk informasi bagi pendidikan dan penelitian maupun sumber bibit bagi
keperluan budidaya tanaman.
5.4.3.7 Tumbuhan penghasil anyaman, tali dan kerajinan tangan
Anyaman dan kerajinan tangan yang berbahan dasar tumbuhan dikenal di
berbagai suku di Indonesia. Beberapa spesies yang berpotensi untuk digunakan
sebagai bahan anyaman, tali dan kerajinan tangan yang ditemukan di Tahura
Pancoran Mas sebanyak empat spesies yaitu langkap (Arenga obtusifolia), paku
hata
(Lygodium circinatum), bambu tali (Gigantochloa apus)
dan Tetracera
indica. Bambu tali (Gigantochloa apus) merupakan salah satu spesies yang sudah
umum digunakan oleh masyarakat (Gambar 18).
Gambar 18 Bambu tali (Gigantochloa apus).
Bambu tali banyak digunakan sebagai bahan utama dalam pembuatan
berbagai anyaman untuk peralatan rumahtangga dan tali. Di wilayah Jawa Barat
pemanfaatan bambu khususnya bambu tali sudah sangat umum. Gubuk yang
terbuat dari bambu khas Jawa Barat biasa disebut saung sangat mudah ditemukan
bahkan di perkotaan. Masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan Cagar Alam
Gunung Simpang memanfaatkan bambu tali dengan cara dianyam dan digunakan
sebagai dinding rumah atau bilik (Handayani 2010).
5.4.3.8 Tumbuhan penghasil kayu bakar
Berdasarkan hasil analisis vegetasi didapat sebanyak 7 spesies dari 6
famili yang berpotensi untuk digunakan sebagai kayu bakar (Tabel 15). Seorang
pengumpul ranting ditemukan saat penelitian di Tahura Pancoran Mas. Ranting
yang telah dikumpulkan digunakan untuk keperluan memasak dan sebagian dijual.
Tabel 15 Daftar spesies tumbuhan penghasil kayu bakar di Tahura Pancoran Mas
No
1
3
2
4
5
6
7
Nama Ilmiah
Acacia mangium
Cinnamomum iners
Gigantochloa apus
Gnetum gnemon
Hibiscus tiliaceus
Litsea umbellata
Swietenia macrophylla
Nama lokal
Akasia
Ki teja
Bambu tali
Melinjo
Waru lengis
Kayu malau
Mahoni daun lebar
Famili
Fabaceae
Lauraceae
Poaceae
Gnetaceae
Malvaceae
Lauraceae
Meliaceae
Tidak kurang dari 1.5 milyar manusia di negara berkembang memenuhi
90% kebutuhan energi dengan memanfaatkan kayu dan arang. Di Indonesia, kayu
bakar biasa digunakan sebagai pengganti bahan bakar minyak maupun gas untuk
keperluan memasak atau pun penghasil energi panas lainnya (National Academy
of Sciences 1980). Hal tersebut tidak hanya terjadi di desa-desa atau masyarakat
sekitar hutan, di perkotaan pun masih banyak pemanfaatan kayu bakar untuk
berbagai keperluan bahkan industri-industri rumahan masih banyak yang
memanfaatkan kayu bakar dalam proses produksinya.
5.4.3.9 Tumbuhan penghasil pestisida nabati
Pestisida nabati menurut Wiratno (2010) merupakan pestisida yang
menggunakan senyawa sekunder tanaman sebagai bahan bakunya, beberapa
senyawa sekunder tersebut diantaranya eugenol, azadirachtin, geraniol, sitronelol,
dan tanin. Potensi spesies tumbuhan yang dapat digunakan sebagai bahan
pestisida alami hanya ditemukan satu spesies di Tahura Pancoran Mas, yaitu
pepaya (Carica papaya).
Konno et al. (2004) menyebutkan bahwa enzim yang terkandung di dalam
getah pepaya adalah kelompok enzim sistein protease seperti papain, ficin,
bromelain dan lain sebagainya yang sangat beracun bagi serangga pemakan
tumbuhan. Pada umumnya daun pepaya adalah bagian yang digunakan oleh
masyarakat sebagai bahan baku dalam pembuatan pestisida nabati atau
biopestisida.
5.4.3.10 Tumbuhan dengan kegunaan lainnya
Kegunaan lain yang dimaksud dalam penelitian ini adalah manfaat
tumbuhan berguna selain sebagai tumbuhan obat, tumbuhan pangan, tumbuhan
hias, penghasil pakan ternak, pewarna alami, penghasil bahan bangunan,
penghasil anyaman, tali dan kerajinan tangan, penghasil kayu bakar, aromatik,
keperluan adat, ritual keagamaan serta penghasil pestisida nabati. Terdapat
sebanyak lima spesies tumbuhan yang memiliki kegunaan lain seperti yang tersaji
dalam Tabel 16.
Tabel 16 Daftar spesies tumbuhan kegunaan lainnya
No
1
2
3
4
5
Nama ilmiah
Arthocarpus elastica
Elaeis guineensis
Gnetum gnemon
Macaranga tanarius
Persea americana
Nama lokal
Benda/Terap
Sawit
Melinjo
Makaranga
Alpukat
Kegunaan
Lem perekat burung
Bahan bakar nabati
Bahan serat
Lem
Bahan kosmetik
Sumber: www.prosea.org.
Spesies tumbuhan yang bermanfaat untuk kegunaan lainnya ditemukan di
Tahura Pancoran Mas. Kegunaan tersebut antara lain sebagai bahan pembuatan
lem perekat alami, bahan bakar nabati, bahan serat pakaian, dan bahan kosmetik.
Makaranga (Macaranga tanarius) memiliki getah yang cukup baik untuk
digunakan sebagai lem perekat terutama untuk alat musik. Pemanfaatan ini sudah
umum dilakukan di Indonesia dan Filipina (www.prosea.org).
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
1. Interaksi dan pengetahuan masyarakat terhadap tumbuhan yang ada di Tahura
cukup rendah. Sebanyak 63,7% responden tidak pernah memanfaatkan spesies
tumbuhan yang ada di kawasan Tahura.
2. Teridentifikasi sebanyak 83 spesies dari 43 famili yang ditemukan di kawasan
Tahura Pancoran Mas. Indeks Nilai Penting (INP) tertinggi pada tingkat
pertumbuhan pohon, tiang, pancang, dan semai masing-masing dimiliki oleh
spesies Arthocarpus elastica (56,52%), Macaranga rhizinoides (48,86%),
Grewia acuminata (31,52%), dan Melicope lunuankeda (56,58%). Tumbuhan
bawah didominansi oleh spesies Dioscorea aculeata (19,43%) dan liana
didominansi spesies Spatholobus littoralis (93,54%).
3. Teridentifikasi sebanyak 67 spesies dari 39 famili tumbuhan berguna.
Kelompok kegunaan tumbuhan obat memiliki spesies terbanyak yaitu 43
spesies dan 33 famili dengan persen tumbuhan berguna sebesar 51,8%.
6.2 Saran
1. Pengenalan fungsi dan manfaat kawasan untuk menambah pengetahuan
masyarakat serta himbauan untuk menjaga kebersihan kawasan Tahura
Pancoran Mas perlu ditingkatkan.
2. Perlu adanya tindakan pengelolaan untuk mengurangi tumbuhan merambat
yang sangat subur dan dikhawatirkan menghambat pertumbuhan pohon beserta
permudaannya.
3. Pemantauan terhadap pemanfaatan lahan oleh masyarakat di dalam kawasan
untuk menghindari konflik di masa yang akan datang.
4. Pengembangan kawasan Tahura serta penanaman tumbuhan koleksi perlu
segera dilakukan agar keberadaan Tahura Pancoran Mas dapat dinilai penting
dan lebih dikenal khususnya oleh masyarakat Depok sehingga dapat menjadi
salah satu ikon Kota Depok.
DAFTAR PUSTAKA
Anggana AF. 2010. Kajian Etnobotani Masyarakat di Sekitar Taman Nasional
Gunung Merapi [Skripsi]. Bogor: Departemen Konservasi Sumberdaya
Hutan dan Ekowisata. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.
Arafah. 2005. Studi Potensi Tumbuhan Berguna di Kawasan Taman Nasional Bali
Barat [Skripsi]. Bogor: Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan
Ekowisata. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.
Dahlan EN. 2004. Membangun Kota Kebun Bernuansa Hutan Kota. IPB Press.
Bogor.
[DEPTAN] Departemen Pertanian. Diakses dari www.deptan.go.id/tanaman hias
[8 Mei 2011].
Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup Kota Depok dan Departemen
Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata IPB. 2006. Laporan Draft
Rencana Pengelolaan Taman Hutan Raya Pancoran Mas-Depok. Bogor:
Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata. Fakultas
Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.
[DITJEN PHKA] Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam.
Diakses dari www.ditjenphka.go.id [8 Mei 2011].
Fakhrozi I. 2009. Etnobotani Masyarakat Suku Melayu Tradisional di Sekitar
Taman Nasional Bukit Tiga Puluh: Studi Kasus di Desa Rantau Langsat,
Kec. Batang Gangsal, Kab. Indragiri Hulu, Provinsi Riau [Skripsi]. Bogor:
Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata. Fakultas
Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.
Handayani A. 2010. Etnobotani Masyarakat Sekitar Kawasan Cagar Alam
Gunung Simpang (Studi kasus di Desa Balegede, Kecamatan Naringgul,
Kabupaten Cianjur, Jawa Barat) [Skripsi]. Bogor: Departemen Konservasi
Sumberdaya Hutan dan Ekowisata. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian
Bogor.
Hasairin A. 1994. Etnobotani Rempah dalam Makanan Adat Masyarakat Batak
Angkola dan Mandailing [Tesis]. Bogor: Program Pascasarjana. Institut
Pertanian Bogor.
Heyne K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia Jilid I-IV. Jakarta: Badan Litbang
Kehutanan Yayasan Wana Jaya.
Hidayat S. 2009. Kajian Etnobotani Masyarakat Kampung Adat Dukuh
Kabupaten Garut, Jawa Barat [Skripsi]. Bogor: Departemen Konservasi
Sumberdaya Hutan dan Ekowisata. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian
Bogor.
Kamakaula Y. 2004. Interaksi Masyarakat dengan Kawasan Hutan Mangrove
(Studi Kasus di Kota Sorong dan Kabupaten Sorong Provinsi Papua)
[Tesis]. Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Indonesia.
Katz DA. 2004. Natural Plant Dyes. Amazon: Departement of Chemistry, Pima
Community College.
Kartikawati SM. 2004. Pemanfaatan Sumberdaya Tumbuhan oleh Masyarakat
Dayak Meratus di Kawasan Hutan Pegunungan Gunung Meratus,
Kabupaten Hulu Sungai Tengah [Tesis]. Bogor: Program Pascasarjana
Institut Pertanian Bogor.
Kartiwa S, Martowikrido W. 1992. Hubungan antara Tumbuhan dan Manusia
dalam Upacara Adat di Indonesia. Di dalam: Seminar dan Lokakarya
Nasional Etnobotani; Cisarua-Bogor. 19-20 Februari 1992. Bogor:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Departemen Pertanian RI,
LIPI, Perpustakaan Nasional RI. Hal: 149-155.
Kelurahan Pancoran Mas Depok. Laporan Tahunan Kelurahan Pancoran Mas
Depok. 2009.
Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 107/Kpts-II/2003 tentang Penyelenggaraan
Tugas Pembantuan Pengelolaan Taman Hutan Raya.
Konno K, Hirayama C, Nakamura M, Tateishi K, Tamura Y, Hattori M, Kohno K.
2004. Papain protects papaya trees from herbivorous insects: role of
cysteine proteases in latex. The Plant Journal (37): 370-378.
Lemmens RHMJ, Soetjipto NW. 1999. Sumberdaya Nabati Asia Tenggara 3.
Tumbuh-tumbuhan Penghasil Pewarna dan Tanin. PROSEA - Balai
Pustaka. Bogor.
Lemmens RHMJ, Soerianegara, Indrawan. 2002. Sumber Daya Nabati Asia
Tenggara 5(1): Pohon penghasil kayu perdagangan yang utama. PROSEA –
Balai Pustaka. Jakarta.
Mirmanto E. 2011. Vegetasi Pulau Moti, Ternate, Maluku Utara. Ekologi Ternate:
227-236. Jakarta: LIPI Press.
National Academy of Sciences. 1980. Firewood Crops Shrub and Tree Species
for Energy Production. Report of an Ad Hoc Panel of the Advisory
Committee on Technology Innovation Board on Science and Technology
for International Development Commission on International Relations.
Washington DC: National Academy of Sciences.
Pemerintah Kota Depok. Profil Kota Depok. Diakses dari www.depok.go.id/profilkota [17 Mei 2011].
Peraturan Pemerintah No.28 Tahun 2004 Tentang Keamanan, Mutu dan Gizi
Pangan.
Peraturan Pemerintah No.68 Tahun 1998 Tentang Kawasan Suaka Alam dan
Kawasan Pelestarian Alam.
Peraturan Menteri Kehutanan No.P.10/Menhut-II/2009 Tentang Pedoman
Penyusunan Rencana Pengelolaan Taman Hutan Raya.
Peta Lokasi Penelitian Tahura Pancoran Mas. Diakses dari www.wikimapia.org
[15 Agustus 2011].
[PROSEA] Plant Resources of South-East Asia. Diakses dari www.prosea.org [25
Juli 2011].
Rahayu M, Sunarti S, Sulistiarini D, Prawiroatmodjo S. 2006. Pemanfaatan
Tumbuhan Obat secara Tradisional oleh Masyarakat Lokal di Pulau
Wawonii, Sulawesi Tenggara. Biodiversitas 3(7): 245-250. Bogor: LIPI.
Ratnasari J. 2007. Galeri Tanaman Hias Bunga. Jakarta: Penebar Swadaya.
Rudjiman, Adriyanti DT, Indriyanto, Dwiasmoro PS. 2003. Buku Acuan Umum
Tumbuhan Obat Indonesia Jilid I-V. Universitas Gadjah Mada - Yayasan
Sarana Wanajaya. Jakarta: Yayasan Sarana Wana Jaya.
Saragih GS. 2007. Sikap Masyarakat Kelurahan Pancoran Mas Terhadap Taman
Hutan Raya, Depok [Skripsi]. Bogor: Departemen Konservasi Sumberdaya
Hutan dan Ekowisata. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.
Siswoyo, Zuhud EAM, Soekmadi R, Sandra E. 2004. Inventarisasi dan
Identifikasi Sumberdaya Alam Hayati Berupa Tumbuhan Selain Obat di
Kabupaten Sintang. Bogor: Pemerintah Kabupaten Sintang dan Departemen
Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan IPB.
Slik JWF, Keßler PJA, Welzen van PC. 2003. Macaranga and Mallotus species
(Euphorbiaceae) as indicator for disturbance in the mixed lowland
dipterocarp forest of East Kalimantan Indonesia. Ecological Indicators (2):
311-324. [www.elsevier.com/locate/ecolind].
Soekarman, Riswan S. 1992. Status Pengetahuan Etnobotani di Indonesia.
Prosiding Seminar dan Lokakarya Nasional Etnobotani I. Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan RI, Departemen Pertanian RI, LIPI,
Perpustakaan Nasional RI. Bogor. Hal: 1-7.
Soerianegara I, Indrawan A. 1998. Ekologi Hutan Indonesia. Laboratorium
Ekologi Hutan Fakultas Kehutanan. Bogor.
Surat Keputusan BPOM No.HK.00.05.4.2411/2004 Tentang Ketentuan Pokok
Pengelompokan dan Penandaan Obat Bahan Alam Indonesia.
Surat Keputusan Menteri Kesehatan No.194/SK/Menkes/IV/1978.
Undang-Undang No.7 Tahun 1996 Tentang Pangan.
Waluyo EB. 1992. Tumbuhan dalam Kehidupan Tradisional Masyarakat Dawan
di Timor. Prosiding Seminar dan Lokakarya Nasional Etnobotani I.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. Bogor. Hal: 216-224.
Widjaja EA, Mahyar UW, Utomo SS. 1989. Tumbuhan
Jakarta: PT Melon Putra.
Anyaman
Indonesia.
Wiratno. 2010. Beberapa Formula Pestisida Nabati dari Cengkih. Tabloid Sinar
Tani. Edisi: 6-12 Oktober.
Wiratno, Daru I, Ahmad S, Ani K. 2004. Berkaca di Cermin Retak; Refleksi
Konservasi dan Implikasi bagi Pengelolaan Taman Nasional. Jakarta: The
Gibbon Foundation Indonesia, PILI-NGO Movement.
Zuhud EAM, Ekarelawan, Riswan S. 1994. Hutan Tropika Indonesia sebagai
Sumber Keanekaragaman Plasma Nutfah Tumbuhan Obat. Pelestarian
Pemanfaatan Keanekaragaman Tumbuhan Obat Hutan Tropika Indonesia.
Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutanan IPB, Lembaga
Alam Tropika Indonesia.
Zuhud EAM, Siswoyo, Sandra E, Hikmat A, Adhiyanto E. 2003. Buku Acuan
Umum Tumbuhan Obat Indonesia Jilid I-V. Universitas Gadjah Mada Yayasan Sarana Wanajaya. Jakarta: Yayasan Sarana Wana Jaya.
LAMPIRAN
Lampiran 1 Daftar spesies tumbuhan dan kegunaannya di Tahura Pancoran Mas.
No
Nama ilmiah
Nama lokal
Habitus
Famili
Kegunaan
1
Acacia mangium Willd.
Akasia
Pohon
Fabaceae
Pb, Kb
2
Acalyphae australis L.
Anting-anting
Herba
Euphorbiaceae
To
3
Agelaea macrophylla (Zoll.) Leenh.
Areuy kokotokan
Liana
Connaraceae
-
4
Ageratum conyzoides L.
Babadotan
Herba
Asteraceae
To
5
Alstonia scholaris (L) R.Br.
Pulai
Pohon
Apocynaceae
To
6
Amorphophallus campanulatus BI.
Suweg, ileus
Herba
Araceae
To
7
Archidendron ellipticum (Bl) I. Nielsen.
Jering
Pohon
Fabaceae
Pb
8
Archidendron fagifolium (Bl.ex Miq.) I. Nielsen.
-
Pohon
Fabaceae
-
9
Archidendron jiringa (Jack) I. C. Nielsen.
Jengkol
Pohon
Fabaceae
To, Pg
10
Ardisia crispa A. DC.
Mata ayam
Semak
Myrsinaceae
To
11
Arenga obtusifolia Mart.
Langkap
Pohon
Arecaceae
An
12
Arenga pinnata (Wurmb). Merr.
Aren
Pohon
Arecaceae
To, Pg
13
Arthocarpus altilis Park.
Sukun
Pohon
Moraceae
Pg, Pt, Pb
14
Arthocarpus elastica Reinw.
Benda, terap
Pohon
Moraceae
Pg, Pt, Kl
15
Arthocarpus heterophyllus Lam.
Nangka
Pohon
Moraceae
To, Pg, Pt, Pw, Pb
16
Averrhoa carambola L.
Belimbing
Pohon
Oxalidaceae
To, Pg
17
Caladium hortulanum Birdsey.
Keladi
Herba
Araceae
Hi
18
Calamus sp.
Rotan
Liana
Arecaceae
Pw, Pb
19
Capsicum annum L.
Cabai
Semak
Solanaceae
To, Pg
20
Carica papaya L.
Pepaya
Perdu
Caricaceae
To, Pg, Ps
21
Cecropia peltata L.
Walisongo
Pohon
Cecropiaceae
To, Pg
22
Chasaclia curviflora Thw.
-
Perdu
Rubiaceae
To
23
Ciccus discolor Bl.
Irah-irahan
Herba memanjat
Rosaceae
To, Hi
24
Cinnamomum iners Reinw ex (Bl)
Ki teja
Pohon
Lauraceae
To, Kb
25
Clerodendrum villosum Bl.
-
Semak
Verbenaceae
-
26
Clidemia hirta (L) D D. Don.
Harendong bulu
Perdu
Melastomataceae
To
27
Coleus atropurpureus Benth.
Miana
Semak
Lamiaceae
To, Hi
28
Colocasia esculenta L.Schott.
Talas
Herba
Araceae
Hi
Lampiran 1 Lanjutan.
No
Nama ilmiah
Nama lokal
Habitus
Famili
Kegunaan
29
Dieffenbachia picta Schott.
-
Herba
Araceae
Hi
30
Dioscorea aculeata L
Gembili
Herba memanjat
Dioscoreaceae
To, Pg
31
Dioscorea bulbifera L.
-
Herba memanjat
Dioscoreaceae
-
32
Durio zibethinus Merr.
Durian
Pohon
Bombacaceae
To, Pg
33
Dysoxylum densiflorum Miq.
Kapinango
Pohon
Meliaceae
Pb
34
Elaeis guineensis Jacq.
Sawit
Pohon
Arecaceae
Kl
35
Fibraurea tinctoria Lour.
Areuy gember
Liana
Menispermaceae
To
36
Ficus fistulosa Reinw.
Beunying
Pohon
Moraceae
-
37
38
Ficus racemosa L.
Gigantochloa apus (J.A. & J.H. Schults.) Kurz.
Elo
Bambu tali
Pohon
Bambu
Moraceae
Poaceae
To
To, Pb, An, Kb
39
Gnetum gnemon L.
Melinjo
Pohon
Gnetaceae
Pg, Kb, Kl
40
Grewia acuminata Juss.
Talok
Pohon
Tiliaceae
To
41
Grewia acuminata Juss.
Drowak
Pohon
Tiliaceae
-
42
Harpullia cupanioidez Roxb.
-
Pohon
Sapindaceae
-
43
Hibiscus tiliaceus L.
Waru lengis
Pohon
Malvaceae
To, Pg, Kb
44
Hymenaceae courbaril L.
Jatoba
Pohon
Fabaceae
Pb
45
Impatiens balsamina L.
Pacar air
Herba
46
Ipomea triloba L
-
Herba memanjat
Balsaminaceae
Convolvulaceae
To, Hi
-
47
Ixora coccinea L.
Kembang soka
Perdu
Rubiaceae
Hi
48
Jacquemontia panniculata (Burm.f) Hallier F.
-
Herba memanjat
Convolvulaceae
-
49
Leea indica (Burm.f.) Merr.
Girang
Perdu
Leeaceae
To
50
Lithocarpus cf. daphnoides Bl.
-
Pohon
Fagaceae
-
51
Litsea umbellata Merr
Kayu malau
Pohon
Lauraceae
Kb
52
Lygodium circinatum (Burm.) Sw.
Paku hata
Herba
Schizaeaceae
Pg, An
53
Macaranga rhizinoides Mull.Arg.
Huru
Pohon
Euphorbiaceae
-
54
Macaranga tanarius (L) M.A.
Makaranga
Pohon
Euphorbiaceae
To, Pw, Kl, Pb
55
Mallotus philippensis (Lam.) Muell. Arg.
-
Pohon
Euphorbiaceae
-
56
Mangifera foetida Lour.
Bacang
Pohon
Anacardiaceae
To, Pg
Lampiran 1 Lanjutan.
No
57
Nama ilmiah
Mangifera indica L.
Nama lokal
Mangga
Pohon
Habitus
Famili
Anacardiaceae
Kegunaan
To, Pg, Pw, Pb, Kl
58
Mangifera similis Bl.
Asam rawa
Pohon
Anacardiaceae
Pg
59
Manihot utilissima Pohl.
Singkong
Herba
Euphorbiaceae
Pg
60
Melicope latifolia (DC.) T.G.Hartley.
-
Pohon
Rutaceae
-
61
Melicope lunu-akenda (Gaertn.) T.G.Hartley.
-
Pohon
Rutaceae
-
62
Mikania micrantha Kunth.
Sembung rambat
Herba
Asteraceae
-
63
Nephelium Lappaceum L.
Rambutan
Pohon
Sapindaceae
To, Pg
64
Persea americana Mill.
Alpukat
Pohon
Lauraceae
To, Pg, Kl
65
Piper umbellatum L.
-
Semak
Piperaceae
To
66
Psychotria viriiflora Reinw.ex Bl.
Kadamba
Semak
Rubiaceae
To
67
Rhapidophora pinnata (L) Schott.
Lolo munding
Semak
Araceae
To, Pw
68
Rubus moluccanus L.
Hareueus
Perdu
Rosaceae
To
69
Ruellia tuberosa L.
Ceplikan
Herba
Acanthaceae
To
70
Salacca zalacca (Gaertener) Voss.
Salak
Semak
Arecaceae
To, Pg
71
Sandoricum koetjape (Burm.f.) Merr.
Kecapi
Pohon
Meliaceae
To, Pg, Pb
72
Selaginella doederleinii Hieron.
Ceker ayam
Semak
Selaginellaceae
To
73
Semecarpus heterophylla Bl.
Rengas putih
Pohon
Anacardiaceae
-
74
Solanum torvum Swartz.
Takokak
Kembang
kecrutan
Areuy bayur
Perdu
Solanaceae
To, Pg
Pohon
Bignonaceae
Hi
Liana
Fabaceae
To
Semak
Celastraceae
To
Pohon
Meliaceae
Pb, Kb
75
Spathodea campanulata Beauv.
76
Spatholobus littoralis Hassk.
77
Stephania hernandifolia (Willd) Walp.
79
Syngonium podophyllum Schott.
Stephania
Mahoni daun
lebar
Syngonium
Herba
Araceae
Hi
80
Terminalia bellirica (Gaertner) Roxb.
Jaha kebo
Pohon
Combretaceae
Pw
81
Tetracera indica Merr.
Mempelas
Perdu
Dilleniaceae
To, An
82
Vitex quinata (Lour.) F.N.Will.
Kalipapa
Pohon
Verbenaceae
Pb
83
Xanthophyllum excelsum (Bl) Miq.
Kayu endog
Pohon
Polygalaceae
Pb
78
Swietenia macrophylla King.
Keterangan Tabel Lampiran 1:
To
: Tumbuhan Obat
Hi
: Tumbuhan hias
Pg
: Tumbuhan penghasil pangan
Pt
: Tumbuhan penghasil pakan semakk
Pw
: Tumbuhan pewarna alami
Pb
: Tumbuhan penghasil bahan bangunan
An
: Tumbuhan penghasil anyaman, tali, dan kerajinan tangan
Kb
: Tumbuhan penghasil kayu bakar
Ps
: Tumbuhan penghasil pestisida nabati
Kl
: Tumbuhan kegunaan lain
: Belum teridentifikasi kegunaannya
Lampiran 2 Daftar spesies tumbuhan obat di Tahura Pancoran Mas.
No
1
Nama ilmiah
Nama lokal
Habitus
Famili
Bagian yang
digunakan
Khasiat
Diare, bisul, eksim, mimisan, muntah
darah
Obat luka, radang (inflamasi) dan gatalgatal
Ddemam, tekanan darah tinggi
Diare, luka, rematik, sakit kulit, sakit
perut, sembelit
Acalyphae australis L.
Anting-anting
Herba
Euphorbiaceae
Herba
Ageratum conyzoides L.
Babadotan
Herba
Asteraceae
Daun, herba
3
4
Alstonia scholaris (L) R.Br.
Pulai
Pohon
Apocynaceae
Kulit batang
Amorphophallus campanulatus BI.
Suweg, ileus
Herba
Araceae
Umbi
5
Archidendron jiringa (Jack) I. C.
Nielsen.
Ardisia crispa A. DC.
Jengkol
Pohon
Fabaceae
Kulit
Darah tinggi
Mata ayam
Semak
Myrsinaceae
Arenga pinnata (Wurmb). Merr.
Aren
Pohon
Arecaceae
Arthocarpus heterophyllus Lam.
Averrhoa carambola L.
Nangka
Belimbing
Pohon
Pohon
Moraceae
Oxalidaceae
Akar, daun
Akar, getah,
sabut
Buah muda
Buah, bunga
Capsicum annum L.
Cabai
Semak
Solanaceae
Buah, daun
Batuk, pelancar peredaran darah
Batu ginjal, peluruh air seni, peluruh haid,
sariawan, gatal, disentri
Sakit perut, sakit urat
Darah tinggi, sariawan, sakit gigi
Obat bisul, borok, perut mulas, kurang
nafsu makan, darah rendah
2
6
7
8
9
10
11
Carica papaya L.
Pepaya
Herba
Caricaceae
12
13
14
Cecropia peltata L.
Chasaclia curviflora Thw.
Walisongo
-
Pohon
Perdu
Cecropiaceae
Rubiaceae
Akar, biji, buah,
daun, getah buah,
kulit batang,
pucuk daun
Daun
Semua bagian
Ciccus discolor Bl.
Irah-irahan
Liana
Rosaceae
Semua bagian
15
16
Cinnamomum iners Reinw ex (Bl)
Ki teja
Harendong
bulu
Pohon
Lauraceae
Kulit kayu
Liver, digigit ular
Sakit kuning
Bengkak, sakit perut, mulas, peluruh haid,
asma
Demam
Perdu
Melastomataceae
Daun
Luka
Coleus atropurpureus Benth.
Miana
Semak
Lamiaceae
Daun
Dioscorea aculeata L
Gembili
Herba
Dioscoreaceae
Umbi
17
18
Clidemia hirta (L) D D. Don.
Batu ginjal, cacing kremi, kencing manis,
rematik
Demam, bisul, borok, cacingan, kencing
manis, keputihan
Bengkak pada leher, radang usus
memanjat
19
Durio zibethinus Merr.
Durian
Pohon
Bombacaceae
Daun, buah
Demam, centengan, malaria, pelancar haid,
pencahar, ruam
Lampiran 2 Lanjutan.
No
Nama ilmiah
Areuy
gember
Elo
Bambu tali
Liana
Menispermaceae
Bagian yang
digunakan
Batang
Pohon
Bambu
Moraceae
Poaceae
Daun, buah
Semua bagian
Diare
Mual, pendarahan, luka memar, kuit bersisik
Talok
Waru lengis
Pohon
Pohon
Tiliaceae
Malvaceae
Kulit kayu
Daun, akar
Impatiens balsamina L.
Pacar air
Herba
Balsaminaceae
Herba
26
Leea indica (Burm.f.) Merr.
Girang
Perdu
Leeaceae
27
28
Macaranga tanarius (L) M.A.
Mangifera foetida Lour.
Makaranga
Bacang
Pohon
Pohon
Euphorbiaceae
Anacardiaceae
Akar,
batang,
daun, kayu, kulit
batang
Akar, daun
Daun dan biji
Campuran dalam ramuan obat tradisional
Diare, batuk, sakit tenggorokan, TBC,
memperlancar proses kelahiran
Antiinflamasi, rematik, rematik, sakit
pinggang, kanker saluran pencernaan atas
Antifungi, malaria, obat bisul, sakit kepala,
antiracun ular
29
30
31
Mangifera indica L.
Nephelium lappaceum L.
Persea americana Mill.
Mangga
Rambutan
Alpukat
Pohon
Pohon
Pohon
Anacardiaceae
Sapindaceae
Lauraceae
32
33
Piper umbellatum L.
Psychotria viriiflora Reinw.ex Bl.
Kadamba
Semak
Semak
Piperaceae
Rubiaceae
20
Fibraurea tinctoria Lour.
21
22
23
24
Ficus racemosa L.
Gigantochloa apus (J.A. & J.H.
Schults.) Kurz.
Grewia acuminata Juss.
Hibiscus tiliaceus L.
25
Nama lokal
Habitus
Famili
Buah
Kulit buah
Daun,
daging
buah
Daun
Daun
Khasiat
Sakit kuning, penyakit dalam
Demam, disentri, luka
Antipiretik, melawan trichophytosis, scabies
dan eczema
Asma, bronkhitis, sesak nafas, flu berat
Demam
Batu ginjal, rematik
Keputihan
Sakit kulit, luka
34
35
36
Rhapidophora pinnata (L) Schott.
Rubus moluccanus Linn.
Ruellia tuberosa L.
Lolo munding
Hareueus
Ceplikan
Semak
Perdu
Herba
Araceae
Rosaceae
Acanthaceae
Obat
Daun muda, akar
Daun
37
Salacca zalacca (Gaertener) Voss.
Salak
Semak
Arecaceae
38
Sandoricum koetjape (Burm.f.)
Merr.
Kecapi
Pohon
Meliaceae
Kulit buah, buah,
kulit
Buah, daun, kulit
batang, akar, kayu
Obat bengkak
Sariawan, disentri
Kencing batu, peluruh air seni, pegal linu,
batu ginjal
Kencing manis, mencret,
Penurunan demam, cacing gelang, diare,
kembung
Lampiran 2 Lanjutan.
No
39
Selaginella doederleinii Hieron.
Cakar ayam
Semak
Selaginellaceae
Bagian yang
digunakan
Herba
40
Solanum torvum Swartz.
Takokak
Perdu
Solanaceae
Buah, daun
41
42
Spatholobus littoralis Hassk.
Stephania hernandifolia (Willd)
Walp.
Tetracera indica Merr.
Areuy bayur
Stephania
Liana
Semak
Fabaceae
Celastraceae
Getah
Akar, daun
Mempelas
Perdu
Dilleniaceae
Akar, daun
43
Nama ilmiah
Nama lokal
Habitus
Famili
Manfaat
Batuk, infeksi saluran nafas, radang paru,
hepatitis, diare, keputihan, tulang patah,
pendarahan dan kanker
Tekanan darah tinggi, penambah nafsu
makan
Kaki terasa berat dan sulit digerakkan
Diare, mencret, demam, sakit perut,
memperlancar air seni
Demam, tekanan darah tinggi, gatal-gatal
Lampiran 3 Daftar spesies tumbuhan hias di Tahura Pancoran Mas.
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Nama ilmiah
Caladium hortulanum Birdsey.
Ciccus discolor Bl.
Coleus atropurpureus Benth.
Colocasia esculenta L. Schott.
Dieffenbachia picta Schott.
Impatiens balsamina L.
Ixora sp.
Spathodea campanulata Beauv.
Syngonium podophyllum Schott.
Nama lokal
Keladi
Irah-irahan
Miana
Talas
Sri rejeki
Pacar air
Kembang soka
Spathodea
Syngonium
Habitus
Famili
Araceae
Rosaceae
Lamiaceae
Araceae
Araceae
Balsaminaceae
Rubiaceae
Bignonaceae
Araceae
Habitus
Famili
Fabaceae
Arecaceae
Moraceae
Moraceae
Moraceae
Oxalidaceae
Solanaceae
Caricaceae
Cecropiaceae
Dioscoreaceae
Bombacaceae
Gnetaceae
Malvaceae
Schizaeaceae
Anacardiaceae
Anacardiaceae
Anacardiaceae
Euphorbiaceae
Sapindaceae
Herba
Herba
Semak
Herba
Herba
Herba
Perdu
Pohon
Herba
Lampiran 4 Daftar spesies tumbuhan penghasil pangan di Tahura Pancoran Mas.
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
Nama ilmiah
Archidendron jiringa (Jack) I.C. Nielsen.
Arenga pinnata (Wurmb) Merr.
Arthocarpus altilis Park.
Arthocarpus elastica Reinw.
Arthocarpus heterophyllus Lam.
Averrhoa carambola L.
Capsicum annum L.
Carica papaya L.
Cecropia peltata L.
Dioscorea esculenta Burkill.
Durio zibethinus Merr.
Gnetum gnemon L.
Hibiscus tiliaceus L
Lygodium circinatum (Burm.) Sw.
Mangifera foetida Lour.
Mangifera indica L.
Mangifera similis Bl.
Manihot utilissima Pohl.
Nephelium Lappaceum L.
Nama lokal
Jengkol
Aren
Sukun
Benda
Nangka
Belimbing
Cabai
Pepaya
Walisongo
Gembili
Durian
Melinjo
Waru lengis
Paku hata
Bacang
Mangga
Mangga
Singkong
Rambutan
Pohon
Pohon
Pohon
Pohon
Pohon
Pohon
Semak
Pohon
Pohon
Herba
Pohon
Pohon
Pohon
Herba
Pohon
Pohon
Pohon
Herba
Pohon
20
21
22
23
Persea Americana Mill.
Salacca zalacca (Gaertner) Voss.
Sandoricum koetjape (Burm.f.) Merr.
Solanum torvum Swartz.
Alpukat
Salak
Kecapi
Takokak
Pohon
Semak
Pohon
Perdu
Lauraceae
Arecaceae
Meliaceae
Solanaceae
Lampiran 5 Daftar spesies tumbuhan penghasil pakan ternak di Tahura Pancoran Mas.
No.
1
2
3
Nama ilmiah
Arthocarpus altilis Park.
Arthocarpus elastica Reinw.
Arthocarpus heterophyllus Lam.
Nama lokal
Sukun
Benda
Nangka
Habitus
Pohon
Pohon
Pohon
Famili
Moraceae
Moraceae
Moraceae
Lampiran 6 Daftar spesies tumbuhan penghasil pewarna alami di Tahura Pancoran Mas.
No
1
2
3
4
5
6
7
Nama ilmiah
Arenga pinnata (Wurmb). Merr.
Archidendron jiringa (Jack) I.C. Nielsen.
Arthocarpus heterophyllus Lam.
Capsicum annum L.
Macaranga tanarius (L) M.A.
Mangifera indica L.
Terminalia bellirica (Gaertner) Roxb.
Nama lokal
Aren
Jengkol
Nangka
Cabai
Makaranga
Mangga
Jaha kebo
Habitus
Pohon
Pohon
Pohon
Semak
Pohon
Pohon
Pohon
Famili
Arecaceae
Fabaceae
Moraceae
Solanaceae
Euphorbiaceae
Anacardiaceae
Combretaceae
Lampiran 7 Daftar spesies tumbuhan penghasil bahan bangunan di Tahura Pancoran Mas.
No
1
2
3
4
5
6
Nama ilmiah
Acacia mangium Willd.
Archidendron ellipticum (Bl) I.Nielsen.
Arthocarpus altilis Park.
Arthocarpus heterophyllus Lam.
Calamus sp.
Dysoxylum densiflorum Miq.
Nama lokal
Akasia
Jering
Sukun
Nangka
Rotan
Kapinango
Habitus
Pohon
Pohon
Pohon
Pohon
Liana
Pohon
Famili
Fabaceae
Fabaceae
Moraceae
Moraceae
Arecaceae
Meliaceae
7
8
9
10
11
12
13
14
Gigantochloa apus (J.A. & J.H. Schults.) Kurz.
Hymenaceae courbariil
Macaranga tanarius (L) M.A.
Mangifera indica Lour.
Sandoricum koetjape (Burm.f.) Merr.
Swietenia macrophylla King.
Vitex quinata (Lour) F.N. Will.
Xanthophyllum excelsum (Bl) Miq.
Bambu tali
Jatoba
Huru
Mangga
Kecapi
Mahoni daun lebar
Kalipapa
Kayu endog
Bambu
Pohon
Pohon
Pohon
Pohon
Pohon
Pohon
Pohon
Poaceae
Fabaceae
Euphorbiaceae
Anacardiaceae
Meliaceae
Meliaceae
Verbenaceae
Polygalaceae
Lampiran 8 Daftar spesies tumbuhan penghasil anyaman, tali dan kerajinan tangan di Tahura Pancoran Mas.
No
1
2
3
4
Nama ilmiah
Arenga obtusifolia Mart.
Gigantochloa apus (J.A. & J.H. Schults.) Kurz.
Lygodium circinatum (Burm.) Sw.
Tetracera indica Merr.
Nama lokal
Langkap
Bambu tali
Paku hata
-
Habitus
Pohon
Bambu
Herba
Semak
Famili
Arecaceae
Poaceae
Schizaeaceae
Dilleniaceae
Lampiran 9 Daftar spesies tumbuhan penghasil kayu bakar di Tahura Pancoran Mas.
No
1
3
2
4
5
6
7
Nama Ilmiah
Acacia mangium Willd.
Cinnamomum iners Reinw ex (Bl)
Gigantochloa apus (J.A. & J.H. Schults.) Kurz.
Gnetum gnemon L.
Hibiscus tiliaceus L.
Litsea umbellata Merr.
Swietenia macrophylla King.
Nama lokal
Akasia
Ki teja
Bambu tali
Melinjo
Waru lengis
Kayu malau
Mahoni daun lebar
Habitus
Pohon
Pohon
Bambu
Pohon
Pohon
Pohon
Pohon
Famili
Fabaceae
Lauraceae
Poaceae
Gnetaceae
Malvaceae
Lauraceae
Meliaceae
Lampiran 10 Daftar spesies tumbuhan penghasil pestisida nabati di Tahura Pancoran Mas.
No
1
Nama Ilmiah
Carica papaya L.
Nama lokal
Perdu
Habitus
Perdu
Famili
Caricaceae
Lampiran 11 Daftar spesies tumbuhan kegunaan lain di Tahura Pancoran Mas.
No
1
2
3
4
5
Nama ilmiah
Arthocarpus elastica Reinw.
Elaeis guineensis Jacq.
Gnetum gnemon L.
Macaranga tanarius (L) M.A.
Persea americana Mill.
Nama lokal
Benda/Terap
Sawit
Melinjo
Makaranga
Alpukat
Habitus
Pohon
Pohon
Pohon
Pohon
Pohon
Famili
Moraceae
Arecaceae
Gnetaceae
Euphorbiaceae
Lauraceae
Kegunaan
Lem perekat burung
Bahan bakar nabati
Bahan serat
Lem
Bahan kosmetik
Lampiran 12 Daftar Indeks Nilai Penting (INP) tingkat pohon di Tahura Pancoran Mas.
No
1
Nama Ilmiah
∑ind
∑petak
LBDS
K
KR
F
FR
D
DR
INP (%)
2
2
0,48
1
2,33
0,04
3,33
0,24
6,62
12,28
2
Archidendron ellipticum (Blume) I.Nielsen.
Archidendron fagifolium (Bl.ex Miq.) I.
Nielsen.
2
2
0,51
1
2,33
0,04
3,33
0,25
6,98
12,64
3
Archidendron jiringa (Jack) I.C. Nielsen.
1
1
0,09
0,5
1,16
0,02
1,67
0,04
1,19
4,02
4
Arthocarpus altilis Park.
5
Arthocarpus elastica Reinw.
6
2
2
0,25
1
2,33
0,04
3,33
0,13
3,50
9,16
16
7
1,90
8
18,60
0,14
11,67
0,95
26,25
56,52
Arthocarpus heterophyllus Lam.
1
1
0,05
0,5
1,16
0,02
1,67
0,02
0,63
3,46
7
Arthrophyllum diversifolium Bl.
2
2
0,13
1
2,33
0,04
3,33
0,07
1,83
7,49
8
Averrhoa carambola L.
9
Cecropia peltata L.
1
1
0,06
0,5
1,16
0,02
1,67
0,03
0,76
3,59
11
7
0,87
5,5
12,79
0,14
11,67
0,44
12,03
36,49
10
Cinnamomum iners Reinw ex (Bl).
2
1
0,10
1
2,33
0,02
1,67
0,05
1,32
5,32
11
Dysoxylum densiflorum Miq.
1
1
0,04
0,5
1,16
0,02
1,67
0,02
0,48
3,31
12
Ficus racemosa L.
2
2
0,10
1
2,33
0,04
3,33
0,05
1,37
7,02
13
Gnetum gnemon L.
1
1
0,06
0,5
1,16
0,02
1,67
0,03
0,86
3,68
14
Grewia acuminata Juss.
2
1
0,21
1
2,33
0,02
1,67
0,10
2,84
6,83
15
Hibiscus tiliaceus L.
4
3
0,07
2
4,65
0,06
5,00
0,04
0,98
10,63
16
Litsea umbellata Merr.
Macaranga tanarius (L) M.A.
1
1
0,05
0,5
1,16
0,02
1,67
0,02
0,63
3,46
2
1
0,08
1
2,33
0,02
1,67
0,04
1,10
5,10
Macaranga rhizinoides Mull. Arg.
Mallotus philippinensis (Lam.) Muell. Arg.
2
1
0,09
1
2,33
0,02
1,67
0,05
1,26
5,25
19
7
5
0,29
3,5
8,14
0,1
8,33
0,14
3,93
20,40
20
Mangifera foetida Lour.
3
2
0,27
1,5
3,49
0,04
3,33
0,14
3,74
10,56
21
Mangifera indica L.
2
1
0,09
1
2,33
0,02
1,67
0,05
1,30
5,29
22
Melicope lunu-ankeda (Gaertn.) T.G. Hartley.
6
5
0,53
3
6,98
0,1
8,33
0,27
7,37
22,68
23
Nephelium Lappaceum L.
3
2
0,14
1,5
3,49
0,04
3,33
0,07
1,88
8,70
17
18
24
Persea Americana Mill.
1
1
0,05
0,5
1,16
0,02
1,67
0,02
0,63
3,46
25
2
2
0,27
1
2,33
0,04
3,33
0,14
3,72
9,38
26
Sandoricum koetjape (Burm.f) Merr.
Terminalia bellirica (Gaertner) Roxb.
1
1
0,19
0,5
1,16
0,02
1,67
0,10
2,63
5,46
27
Spathodea campanulata Beauv.
6
4
0,30
3
6,98
0,08
6,67
0,15
4,15
17,80
86
50
7,25
43
100
1,2
100,00
3,62
100,00
300,00
TOTAL
Lampiran 13 Daftar Indeks Nilai Penting (INP) tingkat tiang di Tahura Pancoran Mas.
No.
Nama ilmiah
∑ind
∑petak
LBDS
K
KR
F
FR
D
DR
INP (%)
1
Acacia mangium Willd.
1
1
0,01
2
1,25
0,02
1,52
0,02
0,76
3,53
9
Alstonia scholaris (L) R.Br.
2
1
2,5
0,02
1,52
0,04
1,53
5,55
1
1
2
1,25
0,02
1,52
0,03
0,97
3,74
3
Archidendron jiringa (Jack) I.C. Nielsen.
Arthocarpus elastica Reinw.
0,02
0,01
4
2
2
2
0,05
4
2,5
0,04
3,03
0,10
3,41
8,94
4
Cecropia peltata L.
7
5
0,10
14
8,75
0,1
7,58
0,20
6,95
23,28
5
Ficus fistulosa Reinw.
2
2
0,05
4
2,5
0,04
3,03
0,11
3,69
9,22
6
Ficus racemosa L.
2
1
0,11
4
2,5
0,02
1,52
0,22
7,72
11,73
7
Grewia acuminate Juss.
4
4
0,08
8
5
0,08
6,06
0,16
5,49
16,55
8
Harpullia cupanoidez Roxb.
1
1
0,02
2
1,25
0,02
1,52
0,03
1,11
3,88
9
Hibiscus tiliaceus L.
6
6
0,12
12
7,5
0,12
9,09
0,24
8,34
24,94
10
Litsea umbellata Merr.
1
1
0,02
2
1,25
0,02
1,52
0,03
1,11
3,88
11
Macaranga rhizinoides Mull.Arg.
Macaranga tanarius (L) M.A.
13
10
0,25
26
16,25
0,2
15,15
0,50
17,45
48,86
12
4
4
0,06
8
5
0,08
6,06
0,12
4,17
15,23
13
Mallotus philippinensis (Lam.) Muell. Agr.
3
3
0,04
6
3,75
0,06
4,55
0,08
2,92
11,22
14
Mangifera foetida Lour.
1
1
0,01
2
1,25
0,02
1,52
0,02
0,56
3,32
15
Mangifera indica L.
1
1
0,01
2
1,25
0,02
1,52
0,02
0,56
3,32
16
Mellicope latifolia (DC) T.G. Hartley.
Mellicope lunu-ankeda (Gaertn.) T.G.
Hartley.
4
3
0,05
8
5
0,06
4,55
0,11
3,69
13,23
3
3
0,05
6
3,75
0,06
4,55
0,11
3,69
11,98
1
1
0,01
2
1,25
0,02
1,52
0,02
0,56
3,32
19
Nephelium Lappaceum L.
Sandoricum koetjape (Burm.f.) Merr.
4
3
0,08
8
5
0,06
4,55
0,15
5,22
14,76
20
Semecarpus heterophylla Bl.
2
2
0,04
4
2,5
0,04
3,03
0,07
2,50
8,03
21
Spathodea campanulata Beauv.
8
5
0,17
16
10
0,1
7,58
0,33
11,61
29,19
22
Swietenia macrophylla King.
4
2
0,04
8
5
0,04
3,03
0,07
2,57
10,60
17
18
23
Vitex quinata (Lour.) F.N. Will.
TOTAL
3
3
0,05
6
3,75
0,06
4,55
0,10
3,41
11,70
80
50
1,44
160
100
1,32
100
2,88
100
300
Lampiran 14 Daftar Indeks Nilai Penting (INP) tingkat pancang di Tahura Pancoran Mas.
No.
Nama ilmiah
Nama lokal
∑ind
∑petak
K
KR
F
FR
INP (%)
1
Acacia mangium Willd.
Akasia
1
1
8
4,55
0,02
6,67
11,21
2
Arthocarpus elastica Reinw.
Benda
2
1
16
9,09
0,02
6,67
15,76
3
Arthocarpus heterophyllus Lam.
Nangka
1
1
8
4,55
0,02
6,67
11,21
4
Cecropia peltata L.
-
1
1
8
4,55
0,02
6,67
11,21
5
Cinnamomum iners Reinw ex (Bl).
Ki teja
1
1
8
4,55
0,02
6,67
11,21
6
Durio zibethinus Murr.
Durian
2
2
16
9,09
0,04
13,33
22,42
7
Grewia acuminata Juss.
Drowak
4
2
32
18,18
0,04
13,33
31,52
8
Hibiscus tiliaceus L.
Waru lengis
1
1
8
4,55
0,02
6,67
11,21
9
Mallotus philippinensis (Lam.) Muell. Arg.
-
4
1
32
18,18
0,02
6,67
24,85
10
Mangifera indica L.
Mangga
1
1
8
4,55
0,02
6,67
11,21
11
Melicope lunu-ankeda (Gaertn.) T.G. Hartley.
1
1
8
4,55
0,02
6,67
11,21
12
Swietenia macrophylla King.
TOTAL
Mahoni daun
lebar
3
2
24
13,64
0,04
13,33
26,97
176
100
0,3
100
200
22
50
Lampiran 15 Daftar Indeks Nilai Penting (INP) tingkat semai di Tahura Pancoran Mas.
No.
Nama ilmiah
Nama lokal
∑ind
∑petak
K
KR
F
FR
INP (%)
1
Acacia mangium Willd.
Akasia
1
1
50
2,44
0,02
5
7,44
2
Archidendron jiringa (Jack) I.C. Nielsen.
Jengkol
1
1
50
2,44
0,02
5
7,44
3
Arthocarpus elastica Reinw.
Benda
2
1
100
4,88
0,02
5
9,88
4
Grewia acuminata Juss.
-
2
2
100
4,88
0,04
10
14,88
5
Macaranga rhizinoides Mull.Arg.
Huru
3
2
150
7,32
0,04
10
17,32
6
Mallotus phillipinensis (Lam.) Muell. Arg.
-
2
1
100
4,88
0,02
5
9,88
7
Mangifera indica L.
Mangga
2
1
100
4,88
0,02
5
9,88
8
Mangifera similis Bl.
Mangga similis
9
Melicope lunuankeda (Gaertn.) T.G. Hartley
-
10
Sandoricum koetjape (Burm.f.) Merr.
11
Spathodea campanulata Beauv
12
Swietenia macrophylla King.
TOTAL
1
1
50
2,44
0,02
5
7,44
15
4
750
36.59
0,08
20
56,59
Kecapi
1
1
50
2,44
0,02
5
7,44
Spathodea
Mahoni daun
lebar
8
3
400
19,51
0,06
15
34,51
3
2
150
7,32
0,04
10
17,32
41
50
2050
100
0,4
100
200
Lampiran 16 Daftar Indeks Nilai Penting (INP) tumbuhan bawah di Tahura Pancoran Mas.
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
Nama ilmiah
Acalyphae australis L.
Ageratum conyzoides L.
Amorphophallus campanulatus BI.
Ardisia crispa A. DC.
Caladium hortulanum Birdsey.
Chasaclia curviflora Thw.
Ciccus discolor Bl.
Clerodendrum villosum Blume
Coleus atropurpureus Benth.
Colocasia esculenta L.Schott.
Dieffenbachia picta Schott
Dioscorea aculeata L.
Dioscorea bulbifera L.
Impatiens balsamina L.
Ipomea triloba L.
16
Ixora coccinea L.
17
18
19
Jacquemontia panniculata (Burmf) Hallier F.
Leea indica (Burm.f.) Merr.
Lygodium circinatum (Burm.) Sw.
20
Mikania micrantha Kunth.
21
22
23
24
25
26
27
Piper umbellatum L.
Psychotria viriiflora Reinw.ex Bl.
Rhapidophora pinnata (L) Schott.
Rubus moluccanus L.
Ruellia tuberosa L.
Selaginella doederleinii Hieron.
Solanum torvum Swartz.
Nama lokal
Anting-anting
Babadotan
Suweg, ileus
Mata ayam
Keladi
Irah-irahan
Miana
Talas
Sri rejeki
Gembili
Pacar air
Kembang
soka
Girang
Paku hata
Sembung
rambat
Kadamba
Lolo munding
Hareueus
Ceplikan
Cakar ayam
Takokak
∑ind
1
15
1
1
2
1
20
1
4
9
2
22
11
2
15
∑petak
1
9
1
1
1
1
1
1
2
2
1
9
3
2
7
Perdu
3
Herba
Perdu
Semak
Habitus
Herba
Herba
Herba
Semak
Herba
Perdu
Herba
Semak
Herba
Herba
Herba
Herba
Herba
Herba
Herba
K
50
750
50
50
100
50
1000
50
200
450
100
1100
550
100
750
KR
0,44
6,58
0,44
0,44
0,88
0,44
8,77
0,44
1,75
3,95
0,88
9,65
4,82
0,88
6,58
F
0,02
0,18
0,02
0,02
0,02
0,02
0,02
0,02
0,04
0,04
0,02
0,18
0,06
0,04
0,14
FR
1,09
9,78
1,09
1,09
1,09
1,09
1,09
1,09
2,17
2,17
1,09
9,78
3,26
2,17
7,61
INP (%)
1,53
16,36
1,53
1,53
1,96
1,53
9,86
1,53
3,93
6,12
1,96
19,43
8,09
3,05
14,19
1
150
1,32
0,02
1,09
2,40
16
14
14
8
10
4
800
700
700
7,02
6,14
6,14
0,16
0,20
0,08
8,70
10,87
4,35
15,71
17,01
10,49
Herba
8
1
400
3,51
0,02
1,09
4,60
Semak
Semak
Semak
Perdu
Herba
Semak
Perdu
2
12
1
7
1
30
1
2
5
1
1
1
4
1
100
600
50
350
50
1500
50
0,88
5,26
0,44
3,07
0,44
13,16
0,44
0,04
0,10
0,02
0,02
0,02
0,08
0,02
2,17
5,43
1,09
1,09
1,09
4,35
1,09
3,05
10,70
1,53
4,16
1,53
17,51
1,53
28
29
30
Stephania hernandifolia (Willd) Walp.
Syngonium podophyllum Schott.
Tetracera indica Merr.
TOTAL
Stephania
Syngonium
Mempelas
Semak
Herba
Perdu
1
2
9
228
1
1
9
50
50
100
450
11400
0,44
0,88
3,95
100
0,02
0,02
0,18
1,84
1,09
1,09
9,78
100
1,53
1,96
13,73
200
Lampiran 17 Daftar Indeks Nilai Penting (INP) liana di Tahura Pancoran Mas.
No.
Nama ilmiah
Nama lokal
1
Agelaea macrophylla (Zoll.) Leenh.
Areuy kokotokan
2
Calamus sp.
Rotan
3
Fibraurea tinctoria Lour.
Areuy gember
4
Spatholobus littoralis Hassk.
Areuy bayur
TOTAL
∑ind
∑petak
K
KR
F
FR
INP (%)
3
3
1,5
7,32
0,06
15
22,32
12
9
6
29,27
0,18
45
74,27
2
1
1
4,87
0,02
5
9,88
24
7
12
58,54
0,14
35
93,54
41
50
20,5
100
0,4
100
200
Lampiran 18 Data responden.
No.
Jenis
kelamin
Nama
Usia
Pendidikan
Pekerjaan
Lama
tinggal
1
Agus Sudarto
L
40
SD
Buruh
>10 th
2
Ahmad juliansyah
L
20
SMP
Wirausaha
>10 th
3
Ahmad jumari
L
67
SMA
Wirausaha
>10 th
4
Aminah
P
63
SMP
Wirausaha
>10 th
5
Bayu
L
30
SMP
Wirausaha
>10 th
6
Choky
L
38
D3
Wirausaha
> 10 th
7
Erik
L
40
SMP
Jasa ojek
>10 th
8
Hayati
P
53
SD
Ibu rumah tangga
>10 th
9
Kenawati
P
56
SD
Ibu rumah tangga
>10 th
10
Lin
P
40
SMEA
Ibu rumah tangga
>10 th
11
Lina
P
22
SMA
Karyawan swasta
5-10 th
12
Miranti
P
40
SMEA
Wirausaha
>10 th
13
Muryati
P
31
SMP
Ibu rumah tangga
5-10 th
14
Piping Arifin
L
78
SMA
Buruh
>10 th
15
Rahmad Maulana
L
21
SMP
Jasa ojek
>10 th
16
Rahmat
L
41
SMP
Wirausaha
>10 th
17
Ruslan
L
42
SMA
Karyawan swasta
>10 th
18
Salim
L
61
STM
Pensiun
>10 th
19
Solihin
L
51
SMEA
Wirausaha
>10 th
20
Sumarni
P
55
SD
Ibu rumah tangga
>10 th
21
Suryati
P
54
SD
Ibu rumah tangga
>10 th
22
Teguh
L
55
STM
Wirausaha
>10 th
23
Tika
P
30
SMA
Wirausaha
<5 th
24
Tugimin
L
60
SD
Wirausaha
>10 th
25
Vita
P
29
SMP
Ibu rumah tangga
5-10 th
26
Wati
P
30
TS
Ibu rumah tangga
>10 th
27
Wawantjatja
L
59
SMP
Buruh
>10 th
28
Yani
P
19
SMP
Pramuniaga
>10 th
29
Yulinda
P
35
SMP
Ibu rumah tangga
>10 th
30
Yuni
P
36
SMEA
Ibu rumah tangga
>10 th
Lampiran 19 Kuesioner wawancara.
LEMBAR KUESIONER INTERAKSI MASYARAKAT TERHADAP
TAHURA PANCORAN MAS
A. Data Diri Responden
Nama
:
Jenis kelamin :
Usia
:
Pendidikan
:
Pekerjaan
:
B. Interaksi masyarakat terhadap TAHURA Pancoran Mas:
1. Berapa lama Anda sudah tinggal di daerah ini?
a. Kurang dari 5 tahun
b. 5-10 tahun
c. Lebih dari 10 tahun
2. Pernahkah Anda masuk ke dalam kawasan TAHURA Pancoran Mas?
a. Pernah (Lanjut ke nomor 3-4)
b. Tidak pernah (Lanjut ke nomor 5)
3. Seberapa sering Anda masuk ke dalam kawasan TAHURA?
a. Jarang
b. Cukup sering
c. Sering
4. Apa yang Anda lakukan di dalam kawasan TAHURA Pancoran Mas?
a. Mengambil tumbuhan
b. Mengambil kayu bakar
c. Menebang pohon
d. Lainnya,………………………………………………………………………
5. Tahukah Anda spesies tumbuhan apa saja yang ada di dalam TAHURA
Pancoran Mas?
a. Tahu, sebutkan (jawaban boleh lebih dari satu)
………………………………………………………………………………..
b. Tidak tahu
6. Tahukah Anda manfaat/kegunaan dari beberapa spesies tumbuhan di dalam
TAHURA?
a. Ya, (jawaban boleh lebih dari satu)
Nama
tumbuhan:……………………………………………………………………
Manfaat:…………………………………………………………………........
b. Tidak
7. Pernahkah Anda memanfaatkan spesies tumbuhan tersebut?
a. Ya,
untuk…………………………………………………………………………
b. Tidak
8. Menurut Anda, apakah keberadaan keanekaragaman hayati (tumbuhan dan
satwa) di dalam TAHURA memiliki manfaat atau kegunaan tertentu dalam
kehidupan sehari-hari?
a. Ya,
sebutkan………………………………………………………………………
b. Tidak
9. Jika diketahui bahwa tumbuhan di dalam TAHURA memiliki beberapa
manfaat/kegunaan apakah Anda akan lebih menjaga kelestarian TAHURA
Pancoran Mas?
a. Ya
b. Tidak
10. Menurut Anda, apakah keberadaan TAHURA Pancoran Mas perlu
dipertahankan?
a. Ya
b. Tidak
11. Apakah harapan Anda terhadap pengelolaan tumbuhan di TAHURA
Pancoran Mas?
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
Download