POST OPERASI LAPARATOMI EKSPORASI INDIKASI DI RUANG

advertisement
ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. U DENGAN
GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN : POST OPERASI
LAPARATOMI EKSPORASI INDIKASI DI RUANG DAHLIA
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH CIAMIS
Tanggal 15-18 Juni 2016
KARYA TULIS ILMIAH
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Dalam Menyelesaikan Pendidikan Program Diploma III Keperawatan
Di Stikes Muhammadiyah Ciamis
Disusun Oleh :
AHYU MUTTAKIN
NIM. 13DP277003
PROGRAM STUDI D III KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH
CIAMIS
2016
LEMBAR PERSETUJUAN
Karya Tulis Ilmiah ini Diperiksa dan Disetujui Oleh Pembimbing
Untuk Diajukan Dalam Ujian Sidang
Ciamis, Juni 2016
Pembimbing,
H. Dedi Supriadi., S.Sos., S.Kep., Ners., M.M.Kes
NIK. 0432777295008
Mengetahui,
Ketua Program Studi D III Keperawatan
STIKes Muhammadiyah Ciamis
Suhanda., S.Ag., S.Kep., M.Kes
NIK. 0432777195006
Nama
: Ahyu Muttakin
NIM
: 13DP277003
Program Studi : D III Keperawatan
ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. U
DENGAN GANGGUAN SISTEM PERCERNAAN POST OPERASI
LAPARATOMI EKSPORASI INDIKASI
DI RUANG DAHLIA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH CIAMIS
2016
INTISARI
Kesehatan adalah tanggunng jawab bersama dari setiap
individu, masarakat pemerintah dan swasta apapun peran yang
dimainkan pemerintah dan tanpa kesadaran individu dan masyarakat
untuk secara mandiri menjaga kesehatan merika.
Oleh karena itu salah satu upaya kesehatan pokok atau misi
sektor kesehatan adalah mendorong kemandirian masyarakat untuk
hidup sehat (DepKes RI 2010). Sesuai dengan pasal 28 UUD 1945
menyatakan bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan
batin, bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik
dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan; ketentuan
dalam UUD 1945 tersebut kemudian dilasanakan dengan UU No 23
tahun 1992 tentang kesehatan.
Apendiksitis adalah kondisi di mana infeksi terjadi di umbai
cacing. Dalam kasus ringan dapat sembuh tanpa perawatan, tetapi
banyak kasus memperlukan laparatomi dengan penyingkiran umbai
cacing terinfeksi. Bila tidak terawat angka kematian cukup
tinggi,dikarenakan oleh peritonitis dan shock ketika umbai cacing yang
terinfeksi hancur (Anatomi,Apendiksitis, 2007).
Apendiksitis adalah peradangan akibat infeksi pada usus buntu
umbai cacing (apendiksitis).Infeksi bisa mengakibatkan pertahanan.
Bila infeksi bertambah parah, usus buntu itu bisa pecah.Usus buntu
merupakan saluran usus yang ujungnya buntu dan menonjol dari
bagian awal usus besar atau sekum.Usus buntu besarnya sekitar
kelingking tangan dan terletak di perut kanan bawah. Strukturnya
seperti bagian usus lainnya. Namun lendirnya bayak mengandung
kelenjar yang senantiasa mengeluarkan lendir (Anonim,Apendiksitis,
2007).Apendiksitis
merupakan peradangan pada usus buntu
/apendiksitis (Anonim, Apendiksitis, 2007).
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Artinya : “Hai anak Adam, pakailah yang indah disetiap
memasuki mesjid makan dan minumlah dan janganlah berlebih - lebih.
sesungguhnya allah tidak menyukai orang – orang berlebih – lebihan”.
(Q.S AL-A’RAF : 31).
Untuk mewujudkan visi indonesia sehat 2016 ditetapkan empat
misi pembangunan untuk hidup sehat. Kesehatan adalah tanggunng
jawab bersama dari setiap individu, masarakat pemerintah dan swasta
apapun peran yang dimainkan pemerintah dan tanpa kesadaran
individu dan masyarakat untuk secara mandiri menjaga kesehatan
merika. Hanya sedikit yang dapat dicapai perilaku yang sehat dan
kemanpuan masayrakat untuk memilih dan mendapat pelayanan
kesehatan
yang
bermutu
sangat
menentukan
keberhasilan
pembangunan kesehatan.
Oleh karena itu salah satu upaya kesehatan pokokl atau misi
sektor kesehatan adalah mendorong kemandirian masyarakat untuk
hidup sehat (DepKes RI 2010). Sesuai dengan pasal 28 UUD 1945
menyatakan bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan
1
2
batin, bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik
dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan; ketentuan
dalam UUD 1945 tersebut kemudian dilasanakan dengan UU No 23
tahun 1992 tentang kesehatan. Setiap orang berhak dan wajib
mendapatkan kesehatan dalam derajat yang optimal. Itu peningkatan
derajat kesehatan harus terus menerus di upayakan untuk memenuhi
hidup sehat.
Maka untuk mewujudkan “Jawa barat sehat 2014 perintah
provensi jawa barat memiliki misi dan visi pembangunan dibidang
kesehatan. Untuk mencapai visi Dinas kesehatan Provinsi jawa barat
ditetapkan 4 visi yaitu, meningkatkan akses masyarakat terhadap
pelayanan kesehetan yang berkualitas mengembangkan kebijakan
dan manajemen pembangunan kesehatan meningkatkan sistem
survellasn dalam upaya penyegahan dan pengendalian penyakit,
kesehatan yang merata terjangkau dan berkualitas (http//dinkes.
Jabarpro .go id 2015).
Begitu juga dengan Dinas Kesehatan kabupaten Ciamis memiliki
visi yaitu meningkatkan kesehatan yang bermutu, merata dan
terjangkau melalui sumber daya manusia serta saran dan prasarana
yang baik memperdayakan masyarakat untuk berprilaku hidup sehat
dan lingkungan yang sehat secara mandiri.
Mengembangkan
Kementrian untuk terciptanya masyarakat Ciamis yang sehat (Dinas
Kesehatan kabupaten Ciamis 2010) untuk mewujudkan cita - cita
2
3
tersebut RSUD Kabupaten Ciamis dan sekitarnya, yang mempunyai
misi berorientasi pada kepuasan pelanggan yang salah satunya untuk
meningkatkan pelayanan di Rumah Sakit dengan menggunakan
metode asuhan keperawatan.
Visi Rumah Sakit Umum
Daerah Kabupaten Ciamis “RSUD
Ciamis Sebagai Pusat Rujukan Terpercaya Bagi Institusi Pelayanan
Kesehatan Di wilayah Kabupaten Ciamis Dan
Sekitarnya “(RSUD
Ciamis, 2016).
Appendiksitis adalah peradangan dari appendiks vermivormis
dan merupakan kegawat daruratan bedah abdomen yang paling
sering ditemukan. Dapat terjadi pada semua umur, hanya jarang
dilaporkan pada anak berusia kurang dari 1 tahun. Insiden tertinggi
pada usia 20-30 tahun terjadi pada laki-laki dan perempuan sama
banyak (Pierce dan Neil, 2007).
Apendisitis dapat mengenai semua umur, baik laki-laki maupun
perempuan. Namun lebih sering menyerang laki-laki berusia 10-30
tahun. Penelitian epidemiologi menunjukkan peranan
kebiasaan
mengkonsumsi makanan rendah serat dan pengaruh konstipasi
terhadap timbulnya penyakit apendisitis. Tinja yang keras dapat
menyebabkan terjadinya konstipasi. Kemudian konstipasi akan
menyebabkan meningkatnya tekanan intrasekal yang berakibat
timbulnya
sumbatan
fungsional
3
apendiks
dan
meningkatnya
4
pertumbuhan kuman flora kolon biasa. Semua ini akan mempermudah
timbulnya apendisitis (Syamsuddin, 2009).
Hasil survey di RSSA diperoleh data bahwa selama tahun 2004,
jumlah pasien yang menjalani pembedahan adalah sebanyak 5897
pasien, dimana dari 10 penyakit terbanyak di ruang bedah, diketahui
bahwa 12,33% adalah penyakit yang membutuhkan bedah digestif.
Penanganan diet yang diberikan tergantung dari kondisi pasien serta
jenis pembedahan yang akan dijalani (Astri, 2006).
Apendiksitis akut merupakan sala satu kasus tersering dalam
bedah abdomen. Rata – rata 7% populasi menderita Apendiksitis
dalam hidupnya (Agrawal, 2008). Selain itu, juga di laporkan hasil
survey. Angka binsedensi Apendiksitis, dimana terdapat 12 kasus
Apendiksitis pada setiap 1.000 orang di Amerika (Dahmardehei, 2013
). Menurut WHO (World Health Organization), indisdensi Apendiksitis
di Asia pada tahun 2004 adalah 4,8% penduduk dari total populasi.
Menurut departemen Kesehatan RI di Indonesia pada tahun 2006,
Apendiksitis menduduki urutan keempat penyakit terbanyak setelah
Dispepsia, Gastristis, dan Doudenitis dengan jumlah pasien rawat inap
sebanyak 28.040. Selain itu pada tahun 2008, insidensi Apendiksitis di
Indonesia menempati urutan tertinggi di luar kasus kegawatan
Abdomen lainya.
Dalam mendiagnosis Apendiksitis, anamnesis dan pemeriksaan
memegang peran utama dengan akurasi 76-80%, tetapi dalam
4
5
mencegah pasien agar tidak terjadi perforasi tindakan yang cukup
hanya dengan Anamnesis dan pemeriksa fisik. Dapat juga dilakukan
Ultrasonography (USG) dan Computed Tomography (CT) scan, tetapi
di karnakan alat ini memerlukan biaya yang tidak murah dan tidak
semua unit pelayanan memilikinya, sehingga pemeriksaan ini masih
jarang untuk dilakukan (Brunicardi, 2010), selain itu USG dan CT scan
sendiri bukan untuk mencari adanya Apendiksitis, pemeriksaan ini
untuk membantu mencari differential diagnosis atau untuk membantu
pasien yang hasil diagnosisnya masih diragukan (Rull, 2011).
Berikut adalah data 10 besar penyakit yang ada di Kabupaten
Ciamis pada bulan Januari-Desember 2015 :
Tabel 1.1
Daftar 10 Besar Penyakit di Kabupaten Ciamis
Bulan Januari-Desember 2015
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
92
Penyakit
Hipertensi Primer (esensial)
INFLUENZA
Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Atas Akut tidak Spesifik
Tukak Lambung
Nasofaringitis Akuta (Common Cold)
Gastroduodenitesis tidak spesifik
Dermatitis lain, tidak spesifik (eksema)
Diare dan Gastroenteritis
Rematisme (tidak spesifik)
Myalgia
Apendisitis
Total
48.007
41.386
37.017
34.937
24.587
22.190
20.624
18.138
18.100
16.960
123
Berdasarkan tabel di atas penyakit yang tertinggi pada periode
Januari-Desember 2015 adalah Hipertensi Primer dan penyakit
5
6
Apendisitis ada pada urutan ke 92 dengan jumlah 123 orang selama
periode 2015.
Berdasarkan data yang diperoleh dari RSUD Ciamis pada
periode
Januari-Desember
2015
pada
bagian
rekam
medik
didapatkan data 10 Besar penyakit Rawat Inap bagian bedah di
Ruangan Dahlia adalah sebagai berikut :
Tabel 1.2
Daftar 10 Besar Penyakit di Ruang Dahlia RSUD Ciamis
Bulan Januari – Desember 2015
NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
16
DIAGNOSA
SD
KATARAK
FEBRIS
HIL
CHF
GEA
TYPHID
ANEMIA
CKD
HT
APENDISITIS
JUMLAH
158
126
74417
73
68
66
58
50
45
45
28
Berdasarkan tabel diatas penyakit Apendiksitis berada pada
urutan ke 16 dengan jumlah 28 orang.
Berdasarkan data yang diperoleh dari RSUD Ciamis pada
periode januari – april 2016 pada bagian rekam medik didapatkan
data 10 besar penyakit inap bagian di ruang dahlia adalah sebagai
berikut :
6
7
Tabel 1.3
Daftar 10 Besar Penyakit di Ruang Dahlia RSUD Ciamis
Bulan Januari – April 2016
NO
DIAGNOSA
JUMLAH
1
FEBRIS
69
2
SD
45
3
ANEMIA
26
4
GEA
25
5
KATARAK
25
6
CHF
20
7
DYSPNEU
20
8
HERNIA INGUINAL
18
9
TIPHOID
17
10
HT HIPERTENSI
17
20
APENDISITIS
6
Berdasarkan Tabel di atas penyakit yang tinggi pada periode
januari – april 2016 penyakit tertinggi adalah febris dan penyakit
Apendisitis nomor 20 dengan jumlah 6 orang.
Maka dari tabel 2 dan 3 disimpulkan bahwa penderita apendisitis
dari tahun 2015-2016 mengalami penurunan jumlah kasus yang ada
di ruang Dahlia RSUD Ciamis. Sedangkan pada tabel 1 dari data
Dinas Kesehatan Kabupaten Ciamis penyakit apendisitis berada pada
urutan 92 dengan 123 kasus.
Mengingat kondisi di atas diperlukan perhatian dan penanganan
yang
inseftip
terhadap
penyakit
7
apendiksitis,
karena
dapat
8
menimbulkan dampak terhadap kebutuhan dasar manusia terutama
kebutuhan biologis. Kebutuhan dasar yang terganggu diantaranya
rasa nyaman nyeri, pola nutrisi, mobilisasi penurunan voleme cairan
pernapasan, integritis jaringan retensi urine risiko tinggi terhadap
disfungsi seksual resiko tinggi infeksi gangguan pola eliminasi BAB
dan rasa aman cemas, peran perawat sebagai pelaksana asuhan
keperawatan yang komprehensif meliputi bio- psiko sosial dan spritual
sangat diperlukan.
Hasil pengkajian di ruang dahlia pada tanggal 15 juni sampai 19
juni 2016, penulisan menemukan data sebagai berikut : klien sulit BAK
dilakukan operasi prostetectomy, gangguan pola eliminasi BAB
konstipasi, imbolisasi kurang latar belakang masalah tersebut di atas,
risiko tinggi infeksi.
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas penulis
tertarik untuk melaksanakan studi kasus mengenaim : Asuhan
Keperawatan Pada Tn. U Dengan Gangguan Sistem Pencernaan Post
Operasi Laparatomi Eksporasi Indikasi Apendik Di Ruang Dahlia
RSUD Ciamis Tanggal 15-18 2016.
B. Tujuan penelitian
1. Tujuan Umum
Mampu melaksanakan asuhan keperawatan secara langsung
dan komprehensif meliputi bio–psiko-sosio-speritual pada kasus
8
9
Post operasi prostatetomy akibat laparatomi eksporasi indikasi
apendik.
2. Tujuan khusus
a. Mampu melaksanakan pengkajian masalah keperawatan pada
klien post operasi.
b. Mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada klien post
operasi laparatomi eksporasi indikasi apendik.
c. Mampu membuat perencanaan asuhan keperawatan pada klien
post operasi laparatomi eksporasi indikasi apendik.
d. Mampu mengimplementasikan asuhan keperawatan pada klien
post operasi laparatomi eksporasi indikasi apendik.
e. Mampu mengevaluasi asuhan keperawatan pada klien post
operasi laparatomi eksporasi indikasi apendik.
f. Mampu mendokumentasikan asuhan keperawatan pada klien
post operasi laparatomi eksporasi indikasi apendik.
C. Metode telaahan
Dalam pembuatan karya ilmiah penulis menggunakan metode
deskritif dan observasi berupa studi kasus dengan pendekatan proses
keperawatan
yang
memberi
gambaran
nyata
dalam
asuhan
keperawatan yang diberikan. Adapun tehnik penggumpulan data
dilakukan melalui;
9
10
1. Wawancara, yaitu tim penggumpulan data tanya jawab dengan
klien, keluarga klien, tim kesehatan lain sehinga mendapatkan data
subjektip yang berhubungan dengan masalah kesehatan.
a. Observasi, yaitu mengadakan pengamatan pada klien untuk
memperoleh data objektip tentang masalah kesehatan.
b. Pemeriksaan fisik, untuk mendapatkan data objektip dengan
tehnik insfeksi, palpasi, asukultasi perkusi.
c. Studi dokumentasi adalah penggumpulan data yang diperoleh
dari buku status perkembangan pasien selama di Rumah Sakit
umum Daerah Ciamis.
d. Studi keputusan, yaitu studi melalui literatur dengan melihat
dari buku-buku sumber berkaitan dengan kasus yang diambil
dalam pembuatan karya tulis ilmiah internet jurnal. Maupun
materi perkulihan sebagai acuan dan landasan dalam berpikir
atau bertindak.
D. Sistematika penulisan
Adapun sistemmatika penulisan Karya tulis ini latar terdiri empat,
tujuan metode serta sistematika penulisan
BAB I
: PENDAHULUAN
Terdiri dari latar belakang, tujuan, metode Serta
sistematika penulisan
BAB II
: TINJAUAN TEORITIS
10
11
Bersihkan konsep dasar yaitu definisi, tanda dan
gejala,
etiologi
anatomi
fisiologi,
patofisiologi,
manajemen medik. Dampak tindakan post operasi
prostatectomy akibat laparatomi eksporasi indikasi
apendik terhadap kebutuhan dasar dan asuhan
keperawatan post operasi prosctatectomy, yaitu
pengakajian, intervensi implementasi dan epaluasi.
BAB III
: TINJAUAN KASUS DAN PEMBAHASAN
Tinjauan kasus berisikan tentang
pelaksanan
asuhan keperawatan yang meliputi pengkajian,
analisa data, diagnosa keperawatan post operasi
prostatectomy akibat laparatomi eksporasi indikasi
apendik berdasarkan priorintas masalah, proses
keperawatan, catetan perkembangan, pembahasan
berisihkan tentang kesengajangan – kesengajangan
yang
ditemukan
dari
perbandingan
antara
pendekatan teoritis dengan pelaksanan pada kasus.
BAB IV
: KESIMPULAN DAN SARAN
Merupakan bagian akhir dari penulisan setelah
melaksanakan kegiatan asuhan keperawatan dan
rekomendasi untuk perbaikan.
11
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Konsep Dasar Penyakit
1. Pengertian
Apendiksitis adalah kondisi di mana infeksi terjadi di umbai
cacing. Dalam kasus ringan dapat sembuh tanpa perawatan, tetapi
banyak kasus memperlukan laparatomi dengan penyingkiran umbai
cacing terinfeksi. Bila tidak terawat angka kematian cukup tinggi,
dikarenakan oleh peritonitis dan shock ketika umbai cacing yang
terinfeksi hancur (Anatomi, Apendiksitis, 2007).
Apendiksitis adalah peradangan akibat infeksi pada usus
buntu umbai cacing (apendiksitis). Infeksi bisa mengakibatkan
pertahanan. Bila infeksi bertambah parah, usus buntu itu bisa
pecah. Usus buntu merupakan saluran usus yang ujungnya buntu
dan menonjol dari bagian awal usus besar atau sekum. Usus buntu
besarnya sekitar kelingking tangan dan terletak di perut kanan
bawah. Strukturnya seperti bagian usus lainnya. Namun lendirnya
bayak mengandung kelenjar yang senantiasa mengeluarkan lendir
(Anonim, Apendiksitis, 2007). Apendiksitis merupakan peradangan
pada usus buntu / apendiksitis (Anonim, Apendiksitis, 2007).
2. Tanda dan Gejala
a. Sering menjalar keperut bagian kanan bawah
b. Nyeri yang menjadi tajam dalam beberapa jam
c. Bawah yang terjadi ketika area di tekan dan kemudian tekanan
d. tersebut di lepas dengan cepat
e. Berjalan atau membuat gerakan bergetar
f.
Mual
g. Muntah
h. Hilang nafsu makan
i.
Demam ringan
j.
Konstipasi
k. Sulit buang angin
l.
Diare
m. Bengkak pada bagian perut
n. Lokasi rasa sakit berpareasi, berdasarkan pada usia dan posisi
apendik anda. Anak anak dan wanita hamil, khususnya dapat
memiliki nyeri apendiksitis pada tempat yang berbeda
3. Etiologi
Terjadinya apendiksitis akut umumnya disebabkan oleh infeksi
bakteri. Namun terdapat banyak sekalih faktor pencetus terjadi
penyakit ini. Diantaranya obstruksi yang terjadi pada lumen
apendiksitis ini biasanya disebakan karena adanya timbunan tinja
yang keras (Fekalit). hipeplasia jaringan limfoid, penyakit cacing
parasit, benda asing dalam tubuh, cancer primer dan struktur.
Namun
yang
paling
sering
menyebabkan
obstruksi
lumen
apendiksitis adalah fekalit dan hiperplasia jaringan limfoid (Irga,
2007).
4. Anatomi fisiologi
Usus buntu dalam bahasa latin disebut sebagai apendiksitis
vermiformis apendiksitis terletak diujung saerum kira–kira 2 cm di
bawah anterior ileo saekum, bermuara di bagian posterior dan
medial dari saekum pada pertemuan ke tiga taenia yaitu : Taenea
arterior, Medial dan Posterior. Secara klinis Apendik terletak pada
daerah
Mc.
Burney
yaitu
daerah
1/3
tengah
garis
yang
menghubungkan sias kanan dengan pusat. Posisi Apendik berada
pada Laterosekal yaitu di Lateral kolon asendens. Di daerah
inguinal : membelok kearah dinding Abdomen (Harnawatia, 2008).
Walaupun lokasi Apendik selalu tetap, lokasi ujung umbai cacing
bisa berbeda bisa di retrocaecal atau di pinggang (pelvis) yang
jelas tetapi terletak di Peritoneum.
Ukuran panjang Apendik rata-rata 6-9 cm. Isi 0,1 cc. Cairan
bersifat bisa mengandung Amilase dan musin. Pada kasus
Apendiksitis,
apendik
dapat
terletak
Intraperitoneal
atau
petroperitronieal. Apendik disaraf oleh syaraf parasimpatis (berasal
dari cabang Nervus fagus) dan simpatis (berasal dari Nervus
torakalis X). Hal ini mengakibatkan nyeri pada Apendiksitis berawal
dari sekitar Umbilicus (Nasution, 2010).
Saat ini di ketahui bahwa fungsi Apendik adalah sebagai
organ imunologik dan secara aktif berperan dalam sekresi
Immunoglobulin (suatu kekebalan tubuh ) dimana memiliki / berisi
kelenjar limfoid. Apendik menghasilkan sesuatu immunoglobulin
sekretoar yang di hasilkan oleh GALT 9Gut Associtede Lymphoid
tissue)
yaitu
lg
immnoglobulin
ini
sangat
efektip
sebagai
perlingdungan terhadap infeksi. Tetapi jumlah yang di hasilkan oleh
apendiksitis sangat sedikit bila dibandingkan dengan jumlah yang di
hasilkan oleh organ saluran cerna yang lain. Jadi pengakatan
apendiksitis
tidak
akan
mempengaruhi
sistem
imun
tubuh,
obsturksi
lumen
khussunya saluran cerna (Nasution, 2010).
5. Patofisiologi
Apendiksitis
biasanya
disebakan
oleh
apendik.obstruksi tersebut menyebabkan mukus yang di produksi
mukosa mengalami bendungan .Makin lama mukus tersebut
semakin banyak ,namun elestisitas dinding apendiks menpuyai
keterbatasan
sehinga
menyebabkan
peningkatan
tekanan
intralumen. Tekan yang meningkat tersebut akan menghabat aliran
limfle yang mengakibatkan edema,dipendesis bakteri,dan ulserasi
mukosa. Pada saat inilah terjadi apendikssitis akut fokal yang
ditandai nyeri epigastrium .
Bila sekresi mukus terusberlanjut.tekanan akan meningkat .
Hal tersebut akan menyebabkan obstruksi vena ,edema bertambah
, dan bakteri akan menembus dinding peradangan yang timbul
meluas dan mengenai peritoneium sehinga menimbulkan nyeri di
daerah –kuadran bayak keadaan ini disebut dengan
apendiksitis
supuratif akut.
Bila kemudian aliran terganggu terjadi infrak dinding apendiks
ganggrenosa diikuti dengan gangren .Stadium ini disebut dengan
apendiksitis gangrenosa .Bila telah rapuh itu pecah ,akan terjadi
apendiksitis perforasi .
Infeksi yang terjadi dapat masuk ke peritoneal lewat sistem
vaskular.sehinga peritonium mengalami infeksi .A adanyaproliferasi
bakterial, terjadi edama jaringan dan dalam waktu singkat terjadi
eksudasi cairan .cairan dalam rangga peritonial menjadi keruh
dengan peningkatan jumlah protein ,sel darah putih,debres selurel
dan darah.
6. Manifestasi Klinis
Apendisitis memliki gejala kombinasi yang khas. Yang terdiri
dari Mual. Muntah dari nyeri yang hebat di perut kanan bagian
bawah. Nyeri bisa mendadak mendadak dimulai di perut sebelah
atas atau di sekitar pusar, lalu timbul mual dan muntah setelah
beberapa jam rasa mual hilang dan nyeri berpindah ke perut kanan
bagian
bawah,
jika
dokter
menekan
daerah
ini
penderita
merasakan nyeri tumpul dan jika penekanan ini dilepaskan nyeri
bisa bertambah tajam. Demam bisa mencapai 37,8-38,85°Celsius
pada bayi dan anak anak nyeri
bersipat menyeluruh di semua
bagian perut pada oran tua dan wanita tumpulnya tidak terlalu. Bila
usus buntu pecah, nyeri dan demam bisa menjadi berat. Infeksi
yang
bertambah
buruk
bisa
menyebabkan
syok
(Anonim,
Apendiksitis, 2007).
a. Demam tinggi
b. Nyeri yang makin hebat yang meliputi seluruh perut
c. Perut menjadi tegang dan kembung
d. Nyeri tekan
e. Defans muskuler
f. Peristaltik menurun sampai hilang
g. Malaise
h. Leukostosis
7. Penatalaksanaan Medis
1) Post Pembedahan
Perlu
dilakukan
observasi
tanda–tanda
vital
untuk
mengetahui terjadi perdarahan di dalam syok, hipertermi atau
gangguan pernapasan. Angkat sonde lambung bila pasien telah
sadar,
sehinga
aspirasi
cairan
lambung
dapat
dicegah.
Baringkan pasien dalam posisi semi fowler, pasien dikatakan
baik bila dalam 12 jam tidak terjadi gangguan. Selamanya itu
pasien dipuaskan. Bila tindakan operasi lebih besar, misalnya
pada perprasi atau umum, puasa diteruskan sampai fungsi usus
kembali normal.
Bila terjadi peritonitas umum terapi spefisik yang dilakukan
adalah operasi untuk menutup asal, perforasi, sedangkan untuk
tindakan lain sebagai penunjang, tirah baring dalam posisi semi
fowler medium, pemasangan NGT, puasa, koreksi cairan
elktrolit, pemberian penenang, pemberian antibiotik spektrum
luas di lanjutkan dengan antibiotik sesuai kultur, tranfusi untuk
mengatasi anemia dan penenganan syok septik secara intensip
bila ada. Bila terbentuk abses apendik akan teraba masa di
kuandran kanan bawah yang cendurung mengelembung ke arah
rektum atau Vagina, terapi ini dapat di berikan kondinasi
antibiotik (misalnya anfisilin,
gentasilin, metronidazol atau
klindamisin ). Dengan sedian ini abses akan segera menghilang
.apendiktomi dapat di lakukan 6-12 minggu kemudian pada
abses yang tetap progresif segera dilakukan drainase. Abses
daearah pelvis yang menonjol ke arah rektum vagina dengan
fluktuasi positip juga perlu di buatkan drainnase.
8. Fisiologi
Fungsi apendiksitis pada manusia belum di ketahui secara
pasti. Di duga berhubungan dengan sistem kekebalan tubuh.
Lapisan dalam apendiksitis menghasilkan lendir. Lendir ini secara
normal dialirkan ke apendiksitis dan secum. Hambatan lendir
dimuara apendiksitis berperan pada patogenesis apendiksitis.
Apendiksitis menghasilkan lendir 1-2 mil perhari bersipat basa
mengandung amilase, erepsin dan musin. Lendir itu secara normal
dicurahkan ke dalam bumen dan selanjutnya ke caeum. Hambatan
aliran lendir dimuara apendiksitis berperan pada patofisiologi
apendiksitis.
Imunoglobulin sekretor yang di hasikan oleh GALT (but
associatted lymphoid tissue) Yang terdapat di sepanjang saluran
cerna termasuk apendiksitis. Imunoglobulin itu sangat epektif
sebagai
perlindungan
terhadap
infeksitapi
pengangkatan
apendiksitis tidak mempengaruhi sistem Imunoglobulin tubuh sebab
jaringan limfe kecil sekali jika di pandingkan dengan jumlah di
salurkan cerna ke seluruh tubuh.
9. Dampak terhadap kebutuhan dasar manusia
Dampak adalah yang menimbulkan oleh kemajuan IPTEK ada
yang positif dan ada juga yang negatif. Dampak positf antara lain :
a. Ditemukan bibit unggul yang dalam waktu singkat dapat
diproduksi berlipat ganda
b. Digunakan mekanikasi pertanian untuk mepungut hasil produksi
sehinga hasilna lebih besar bila dibandingkan dengan tenaga
manusia.
c. Diterapkannya cara memuputkan yang tepat serta di gunakanya
bakteri yang sanggup memperkuat akar tanaman dengan
mengambil jat hara dengan lebih baik sehingga hasil bertambah
banyak.
Digunakan bioteknologi (misalnya hormon tumbuhan), untuk
merangsang tubuhan daun, bunga atau buah sehinga tumbuh lebih
baik.
10. Komplikasi
Usus buntu dapat saja pecah sebagai akibat dari peradangan
yang semakin parah. Juga usus buntu telah pecah maka
keselametan jiwa pun tentu akan terancam. Setelah terjadinya
pecah pada usus buntu maka tidak menutup kemungkinan bahwa
infeksi akan menyebar ke daerah perut sekitarnya jika usus buntu
telah pecah, maka operasi harus segera dilakukan.
B. Asuhan keperawatan post operasi laparatomi eksporasi indikasi
apendiksitis.
1. Pengkajian
Indentitas klein Nama umur jenis kelamin status perkawinan
agama suku /bangsa pendidikan pekerjaan pendapatan alamat
dan nomer register indentitas penanggung riwayat kesehatn
sekarang.
a. Pengumpulan data
1) Indentitas Penaggung jawab
Identitas penanggung jawab meliputi ;nama umur
.pekerjaan, agama, alamat dan hubungan dengan klien.
2) Riwayat Kesehatan
a) Keluhan utama
Klien dengan post operasi laparatomi apendiktomi
umumnya mengeluh nyeri akan bertambah bila klien
bergerak dan menurun jika diistirahtakn dengan kaki
diteluk, nyeri bersipat tajam yang dirasakan terus
menerus hilang timbul, nyeri dirasakan pada area
operasi dan cenderung dirasakan dari sedang sampai
berat.
b) Riwayat kesehatan Sekarang
Umunya nyeri yang dirasakan bertambah bila
bergerak, terutama bila batuk dan ekstensi eksterimitas
bagian bawah dan berkurang bila berbarin mengankat
kaki mendekati perut untuk menahan tekanan pada otot
abdomen.
Nyeri
dirasa
menyebar
ke
abdomen
kuandran bagian kanan bawah. nyeri dirasakan terus
menerus dari pada hilang timbul nyeri dirasakan berat.
c) Riwayat penyakit dahulu
Kaji kebiasan menahan BAB, kebiasan makan
makanan pedes, rendah serat dan makanan biji –bijian.
kaji adanya penyakit diabetes melitus dan TB paru yang
dapat menghambat proses penyembuhan luka. Riwayat
pembedahan perut. riwayat penyakit kanker dan
jantung, riwayat cacingan dan riwayat alergi obat dan
protein.
d) Riwayat kesehatan keluarga
Kaji adanya anggota keluarga/lingkungan yang
mempunyai penyakit menular infeksi seperti TB dan
hepatitis kaji adanya riwayat penyakit hipertensi,
jantung dan diabetes melitus di keluarga. Kebiasan
sehari –hari meliputi pola
nutrisi, eliminasi, personal
hygiene, istirahat tidur, aktivitas dan latihan serta
kebiasaan yang mengpengaruhi kesehatan.
3) Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik secara umum dilakukan mulai dari
ujung tambut sampai dengan ujung kaki menggunakan
empat tehnik, yaitu infeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi
namun untuk pemeriksaan fisik abdomen pada klien
apendiksitis memperlukan tehnik khusus antara lain ;
a) Sistem Pernapasan
Pada klien dengan post operasi kaji adanya
penumpukan sekret dan pernapasan yang cepet dan
dangkal, suara nafas ronchi dan rales dan peningkatan
respirasi akibat nyeri.
b) Sistem kardiovaskular
Klien luka post operasi kaji peningkatan nadi dan
tekanan darah, konjungtiva pucat , penurunan Hb,
adanya hipotensi orthostatik, kaji CRT. Akral klien untuk
mengetahui fungsi perfungsi jaringan dan homon sign.
c) Sistem Pencernaan
Pada klien post operasi ditemukan mulut kering
dan distensi abdomen. terdapat mual, muntah, dan
anoreksia, distensi abdomen dan nyeri terdapat luka
operasi dan drain sehinga perlu dikaji keadanya,
adanya tanda - tanda infeksi seperti kemerahan,
bengkak
panas nyeri dan fungsio laesa. terjadi
penurunan peristaltik akibat efek anestesi selama 24
jam dan berangsur angsur peristaltik normal kembali.
Kaji adanya konstipasi (teraba masa akibat pengerasan
feses di kuandran kanan bawah) dan setelah efek
anestensi hilang mungkin masih terdapat mual dan
tidak nafsu makan.
d) Sistem Muskuloskeletal
Pada
saat
operasi
mungkin
kelemahan, keterbatasan mobilisasi dan
ditemukan
ketakutan
untuk bergerak. Dikaji keadan tempat pemasangan
infus apakah ada kemerahan dan panas.
e) Sistem persyarafan
Setelah operasi kaji adanya rasa pusing dan
kepala terasa berat akibat epek anestensi. Kaji tingkat
kesadaran dan fungsi cerebral. Kaji tingak kesadaran
adanya lethargy, kegelisaan dan iritabilitas dan kaji
kohensi dan orentasi klien. Kaji kemampuan motorik
yang disadari dan kemangpuan mengontrol prilaku dan
adany nyeri, nilai refleks pupil, Kornea, dan refleks
fisiologis.
f) Sistem perkemihan
Pada klien post operasi mungkin di temukan
adanya pemasangan kateter sesuai indikasi dan
penuirunan
jumlah
urine
output
akibat
adanya
kekurangan volume cairan. Kaji adanya katerisasi dan
keadaan keberesihkan kateter dan kulit sekitar seperti
adanya kemerahan, nyeri atau perasan ketidaknyaman.
g) Sistem Integumen
Setelah operasi terdapat luka operasi laparatomi
eksporasi dan drain. Suhu tubuh akan meningkat bila
terjadi infeksi. Kaji adanya kulit kepala dan rambut
kotor. Kulit kotor dan teraba lengket, kaji adanya
penurunan turgor kulit akibat adanya kekurangan
volume cairan.
4) Data Penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium
-
Leopkopsit ; Data 12.000mm3
-
Neutrofil
-
Urinalisis
; mungkin sampai75%
:Normal,
eritrosit/leukossit
tetapi
mungkin
ditemukan
b. Radiologi
Foto
abdomen
dapat
menyatakan
adanya
pergerakan material dari apendiks (fekalit),
ileus
terlokalisir.
c. USG
USG dilakukan bila terjadi infiltrat apendikularis.
a. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan
prosedur invasif .insisi bedah.
b. Resiko tinggi terhadap
berhubungan
dengan
kekurangan volume cairan
pembatasan
pasca
operasi
(contoh puasa), status hipermetabolik (contoh demam,
proses penyembuhan), penurunan intake oral dan
kehilangan cairan abnormal.
c. Nyeri berhubungan dengan insisi bedah
d. Risiko tinggi terhadap perubahan nutrisi, kurang dari
kebutuhan
tubuh.
Yang
berhubungan
dengan
peningkatan kebutuhan preotein dan vitamin untuk
penyembuhan luar dan penurunan masukan sekunder
terhadap nyeri, mual muntah dan pembatasan diet.
e. Gangguan
penurunan
istirahat
dengan medikasi dan hospitalisasi.
tidur berhubungan
f. Kurang
perawatan
keterbatasan
diri
mobilisasi
berhubungan
fisik
sekunder
dengan
terhadap
pembedahan.
5) Intervensi Keperawatan
a. Risiko tingi terhadap infeksi berhubungan dengan
prosedur invasif, insisi bedah.
Tujuan : Infeksi tidak terjadi
Kriteria hasil;
-
Meningkatnya penyembuhan luka dengan benar
-
Bebas tanda infeksi ,eritema
-
Bebas dari demam
Tabel 2.1
Intervensi dan rasional Diagnosa keperawatan
Intervensi
1. Awasi
terutama
Rasional
tanda –tanda vital
suhu.
Perhatikan
1. Untuk
mengidentifikasikan
kemajuan atau penyingpangan
demam, berkeringat, perubahan
dari
mental,
suhu tubuh yang meningkat
abdomen
meningkatnya
nyeri
hasil
yang
diharapkan,
adalah salah satu tanda dari
terjadi infeksi jika suhu tubuh
meningkat akan mengengaruhi
tanda vital lainnya .Dugaan
infeksi/terjadi sepsis, abses dan
peritonitas
2. Ganti verband sesuai aturan
dengan tehnik aseptik
2. Verband
yang
lembab
merupakan media kultur untuk
pertumbuhan bakteri. Dengan
mengikuti tehnik aseptik akan
mengurangi risiko kontanminasi
bakteri
3. Pantau
terhadap
tanda
dan
gejala infeksi
3. Respon
jaringan
terhadap
infiltrasi
patogen
dengan
peningkatan darah dan aliran
limfe (dimanifestasikan dengan
edama
kemerahan
peningkatan
dan
drainise)
dan
penurunan epitelisasi (ditandai
dengan pemisahan luka).
4. Apabila pada klien tentang
faktor-faktor
yang
dapat
memperlambat
penyembuhan luka;
a. Jaringan luka dehidrasi
a. Penelitian
bahwa
melaporkan
migrasi
epitel
dihambat di bawah krusta
kering : gerakan
tiga kali
lebih cepat di atas jaringan
basah.
b. Infeksi luka
b. Eksudat pada luka terinfeksi
merusak
epitelisasi
dan
penutupan luka
c. Nutrisi
dan hidrasi tidak
c.
adekuat
untuk
memperbaiki
meningkatkan
harus
masukan
protein dan karbohidrat dan
hidrasi yang adekuat dan
untuk transpor vaskular dari
oksigen dan zat sampah
d. Gangguan suplai darah
d.suplai
cedera
darah
harus
pada
jaringan
adekuat
untuk
mentranspor
leokosit
dan
membuang zat sampah
e. Peningkatan
stres
aktivitas berlebihan
atau e.Peningkatan stres dan aktivitas
mengakibatkan peningkatan kadar
kalon, suatu penghambat miotik
yang
menekan
regenerasi
epidermal
5.Berikan antibiotik seseuai 5.Mungkin
indikasi
diberikan
secara
profilaktik atou menurunkan jumlah
organisme [pada infeksi yang ada
sebelumnya
]untuk
menurunkan
penyebaran dan pertumbuhan pada
ronga abdomen .
6.Berikan paling sedikit 2 liter 6.Cairan membantu menyebarkan
cairan
setiap
hari
melaksanakan
ketika obat ke jaringan tubuh
terapi
antibiotic
b. Risiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan
dengan pembatasan pasca operasi [contoh puasa]. Status
hipermetabolik[contoh
demam
,proses
penyembuhan
],penurunan intaki oral dan kehilangan cairan abnormal
Tujuan ;volume cairan adekuat
Kriteria hasil;
- Mempertahankan keseimbangan cairan
- Membran mukosa lembab
-Turgor kulit baik
- Tanda –tanda vital stabil
- Haluaran urine adekuat
Tabel 2.2
Intervensi dan Rasional Diagnosa keperawatan
Intervensi
Rasional
1.Awasi TD dan nadi
Tanda
yang
membantu
mengidenfikasikan fluktuasi volume
intravaskuler
2.Lihat membran mukosa;kaji turgor 2.indikator keadaan sirkulasi parifer
kulit dan pengisian kapiler
dan hidrasi seluler
3.Awasi masukan dan haluaran
3.Penurunan haluaran urine pekat
Catat
warna
urine
/konsentrasi dengan
berat jenis
diduga
peningkatan berat jenis
dehidrasi/
kebutuhan
peningkatan cairan
4.Auskultasi bising usus
4.Indikasi kembalianya peristaltik,
kesiapan untuk masukan peroral
5.Berikan sejumlah kecil minuman 5.Menurunkan iritasi gaster /muntah
jernih bila permasukan oral di mulai untuk
menimbulkan
kehilangan
dan dilanjutkan dengan diet sesuai cairan
tolenransi
Mandiri
6.Dehidrasi
mengakibatkan
bibir
6.Berikan perawatan mulut sering dan mulut kering dan pecah-pecah
dengan
perhatian
khusus
pada
perlindungan bibir
Kolaborasi
7.Pertahankan
gaster/usus
7.Selang NG biasanya dimasukan
penghisapan pada prooperasi dan dipertahankan
pada fase segera pasca operasi
untuk
dekonmpresi
meningkatkan
usus
istiraht
usus
,mencegah muntah
8.Berikan cairan Ivdan elektrolit
8.Peritonium
bereaksi
terhadap
iritasi infeksi dengan mengahasikan
sejumlah besar cairan yang dapat
menurunkan
volume
,mengakibatkan
.dehidrasi
sirkulasi
hipovolemia
dan
dapat
terjadi
kektidakseimbangan .
c. Nyeri berhubungan dengan insisi bedah
Tujuan ;Mendenmonstrasikan berkurangnya rasa tidak nyaman
Kriteria hasil;
- Melaporkan nyeri hilang /terkontrol
- Poster tubuh rileks
- Klien mampu istirahat /tidur dengan tepat
Intervensi
1.Kaji
dalam
pengawasan
,karakterstik [skala 0-10].selidiki dan keefektifan
obat
kemajuan
laporan perubahan nyeri dengan penyembuhan
.perubahan
cepet .
nyeri catat
Rasional
lokasi 1.
Berguna
karakteristik
nyeri
pada
menujukan
terjadinya
abses
/peritonitis,memerlukan
upaya
evaluasi medik dan intervensi .
2.Pertahankan
istirahat dengan 2Gravitasi
semifowler
melokalisasi
eskudat
inflemnasi dalam abdimen bawah
atau
pelvis.
tegangan
Menghilangkan
abdomen
yang
bertambah dengan posisi terlentang
.
3.Dorong ambulasi dini
3.Meningkatkan normalisasi fungsi
organ
contoh
merangsang
peristaktik dan kelancaran flatus
,menurunkan
ketidaknyaman
abdomen
4.Berikan aktivitas liburan
4.Fokus
perhatian
meningkatkan
kembali
relaksasi
dapatmeningkatan
,dan
kemampuan
koping
Kolaborasi ;
5.Pertahankan
Menurunkan
puasa pada perstaltik usus dini dan iritasi
/penghisapan NG awal;
Kolaborasi
ketidaknyamanan
gaster/muntah
6.Berikan analgesik sesuai 6
indikasi
Menghilangkan
nyeri
,mempermudah kerja sama dengan
intervensi
terapi
lain
contoh
ambulasi batuk .
7.Berikan kantong es pada 7.Mehilangkan
abdomen
dan
mengurangi
nyeri melalui penghilangkan ujung
syaraf
.catetan
kompres
jangan
panas
lakukan
karena
dapat
menyembabkan kongestik jaringan .
d. Risiko tinggi terhadap perubahan nutrisi ;kurang kebutuhan
tubuh ,yang berhubungan dengan peningkatkan kebutuhan
protein dan vitamin untuk penyembuhan lua dan penurunan
masukan
sekunder
terhadap
nyeri
,mual
muntah
dan
pembatasan siet .
Tujuan ;nutrisi adekuat
kriteria hasil :
- BB klien tetep atau meningkat
- Porsi makan klien habis
- klien memahami pentinya nutrisi terhadap pennyembuhan luka
Intervensi
1.Jelaskan
Rasional
pentingnya
masukan 1. penyembuhan luka memperlukan
nutrisi yang optimal
masukan cukup protein ,kabohidrat
,vitamin dan mineral untuk froblas
dan
jaringan
granulasi
serta
produksi kolagen
2Anjurkan klien untuk makn porsi 2. Dengan makanan sedikit demi
sedikit tapi sering
sedikit
diharapkan
ke
butuhan
nutrisi terpenuhi .
3.Anjurkan
makan
klien
untuk 3.makanan
yang
hangat
yang mengurangi
rasa
mual
makananan
dapat
sehinga
hangat
menambah selera makn klien
4.Lakukan oral hygene
Mulut bersih dapat membuat klien
nyaman dan meningkatan napsu
makan
5.Berikan antiemetik seseuai 5.Anti emitik dapat menetralkan
indikasi
atatu
menurunkan
asam
untuk
pembetukan
mencegah
erosi
mukosa dan kemungkinan userasi
6.Pertahankan cairan IV
6.Memperbaiki
cairan dan elektrolit
keseimbangan
e. Gangguan pemenuhan istirahat tidur berhubungan dengan
medikasi dan hospilitasi
Tujuan ;istirahat tidur klien terpenuhi
Kriteria hasil;
- klien tidak mengeluh susah tidur
- klien dapat tidur 7-8 jam sehari
- klien tampak seger
Tabel 2.4
Intervensi dan rasional Diagnosa keperawatan
Intervensi
Rasional
1.Berikan penjelaskan pada klien 1.transfer informasi sehingga klien
tentang pentingnya istirahat tidur
mengetahui pentingnya pemunuhan
kebutuhan istirahat tdur agar tubuh
menjadi reflek dan seger daya
tahan
tubuh
tetep
stabil
dan
mengembalikan stamina /tetangga.
2.Ciptakan
lingkungan
nyaman dengan cara;
-Tayakan
pada
klien
sebelum tidur
-Lingkungan yang tenang
yang 2.Dengan lingkungan yang nyaman
dan tenang akan mendungkung
kebiasan untuk memenuhi kebutuhan tidur
klien .
-Merapihkan tempat tidur
-Mengatur posisi tidur klien seseua
kenyamanan
3.Anjurkan klien untuk minum susu 3.Didalam susu mengandung zat
hangat sebelum tidur
lactoferin yang dapat merangsang
kantuk.
4.Anjurkan klien untuk membatasi Kafein
makanan
minuman
mengandung kafein
yang pasien
dapat
untuk
memperhambat
tidur
tahap
REM,mengakibatkan pasein tidak
merasa seger.
5.kolaborasi dengan dokter untuk 5.Obat hipnotik dapat menurunkan
pemberian obat hipnotik
perangsangan
RAS
sehinga
membantu klien untuk memenuhi
kebutuhan istirahat tidur.
f. kurang perawatan diri berhubungan dengan keterbatasan
mobilisasi fisik sekunder terhadap pembedahan
kriteria hasil
- klien dapat mengidentifikasikan area kebutuhan
- klien mengungkapkan ADLnya terpenuhi
Intervensi
1. tentukan
tingkatan
Rasional
bantuan 1. Untuk mendorong kemandirian
yang
diperlukan
.berikan
bantuan dengan ADL sesuai
keperluan
memberikan
klien
melakukan sebanyak mungkin
untuk dirina .
2. Berikan waktu yang cukup bagi 2.Membebani klien dengan aktivitas
klien
untuk
melaksanakan menyebakan frustasi
aktivitas
3 Instrusikan
yang
klien
adaptasi 3.untuk
diperlukan
melasanakan
untuk
AKS.dimulai
mendorong
kemandirian
pujian memotivasi untuk terus
belajar
dengan tugas yang mudah
dilakukan
sampai
Berikan
dan
bberlanjut
tugas
yangsulit.
pujian
untuk
keberahasilan tersebut
4.Menaruh bel
di tempat yang 4.Untuk membenani rasa aman
mudah dijangkau
4 . Evaluasi
Evaluasi adalah tindakan keperawatan intelektual untuk
Melengkapi proses keperawatan yang menandakan seberapa
Jauh diagnosa keperawatan ,rencana tindakan ,dan pelaksanaanya
sudah berhasil dicapai.Melalui evaluasi memungkinkan perawat
untuk memonitor kelapangan yang terjadi selama tahap pengkajian
Analisa,perencanaan dan pelaksanaan tindakan (Nursalam ,2008)
Download