Agency Theory

advertisement
BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS
2.1
Landasan Teori dan Konsep
2.1.1 Teori Keagenan (Agency Theory)
Perusahaan merupakan pusat perjanjian kontrak antara berbagai pihak
yang masing-masing memiliki kepentingan berbeda, yaitu pemegang saham
sebagai principal dan manajemen yang diwakili oleh manajer sebagai agen,
supplier, dan pihak-pihak lainnya termasuk calon investor dan karyawan. Teori
yang menjelaskan hubungan antara pihak-pihak tersebut (pihak prinsipal dan
pihak agen) disebut teori keagenan (agency theory) Salno dan Baridwan (2000).
Prinsipal dalam teori keagenan bertugas mendelegasikan pertanggungjawaban atas pembuatan keputusan kepada agen, hal ini dapat pula dikatakan
bahwa prinsipal memberikan suatu amanah kepada agen untuk melaksanakan
tugas tertentu sesuai dengan kontrak kerja yang telah disepakati. Wewenang dan
tanggung jawab agen maupun prinsipal diatur dalam kontrak kerja atas
persetujuan bersama (Mursalim, 2005).
Menurut Anthony dan Govindarajan (2005), teori agensi memiliki asumsi
bahwa tiap-tiap individu semata-mata termotivasi oleh kepentingan dirinya sendiri
sehingga menimbulkan konflik kepentingan antara prinsipal dan agen. Prinsipal
diasumsikan hanya tertarik pada pengembalian keuangan yang diperoleh dari
investasi mereka pada perusahaan, sedangkan agen diasumsikan akan menerima
kepuasan tidak hanya dari kompensasi keuangan tetapi juga dari tambahan lain
13
yang terlibat dalam hubungan. Sesuai dengan asumsi tersebut, maka manajer akan
mengambil kebijakan yang menguntungkan dirinya sebelum memberikan manfaat
kepada pemegang saham.
Hal ini juga didukung oleh pernyataan Komalasari (1999:167) bahwa salah
satu kunci dari teori agensi adalah adanya perbedaan tujuan antara prinsipal dan
agen sehingga semua individu berusaha untuk bertindak sesuai dengan
kepentingannya masing-masing. Beberapa hal yang lain adalah adanya tujuan dan
kepentingan yang berbeda-beda, dimana setiap individu ingin mengoptimalkan
kepentingan pribadi, menimbulkan konflik kepentingan antara prinsipal dengan
agen. Pihak prinsipal termotivasi untuk melakukan kontrak dalam rangka
menyejahterakan dirinya melalui profitabilitas yang pada umumnya diharapkan
selalu meningkat. Disisi yang lain, agen termotivasi untuk pemenuhan kebutuhan
ekonomi dan psikologisnya (Widyaningdyah, 2001). Konflik kepentingan
semakin meningkat ketika aktivitas agen sehari-hari tidak dapat dimonitor oleh
prinsipal sehingga prinsipal tidak mengetahui apakah agen sudah bekerja sesuai
dengan keinginan prinsipal atau tidak (Komalasari, 1999:168). Pertentangan
kepentingan antara agen dan prinsipal disebut sebagai konflik keagenan.
Perbedaan kepentingan tersebut mendorong pihak manajemen untuk melakukan
praktik manajemen laba.
2.1.2 Laporan Keuangan
Laporan keuangan merupakan informasi
yang diharapkan mampu
memberikan bantuan kepada pemakai untuk membuat keputusan ekonomi yang
bersifat finansial. Laporan keuangan tersebut adalah salah satu parameter yang
14
yang digunakan untuk mengukur kinerja manajemen. Salah satu parameter yang
digunakan untuk mengukur kinerja manajemen adalah laba. Ikatan Akuntansi
Indonesia (IAI) dalam PSAK No.25 (2009:2) menyatakan manfaat dari informasi
laba yaitu untuk menilai perubahan potensi sumber daya ekonomis yang mungkin
dapat dikendalikan di masa depan, menghasilkan arus kas dari sumber daya yang
ada, dan untuk perumusan pertimbangan tentang efektivitas perusahaan dalam
memanfaatkan tambahan sumber daya. Oleh karena itu, manajemen mempunyai
kecenderungan untuk melakukan tindakan yang dapat membuat laporan keuangan
menjadi baik. Salah satu bentuk dari tindakan ini adalah praktik perataan laba
(income smoothing) yang pada dasarnya merupakan tindakan yang dinilai
bertentangan dengan tujuan perusahaan (Widyaningdyah, 2001).
Sumber informasi penting yang menggambarkan kinerja perusahaan adalah
laporan keuangan yang diterbitkan manajemen. Laporan keuangan berfungsi
memberikan informasi keuangan bagi pihak-pihak yang internal maupun eksternal
dengan tujuan yang berbeda-beda. Laporan keuangan merupakan bentuk tanggung
jawab dari manajemen dengan menampilkan hasil yang telah diraih selama
periode yang sudah berlangsung. Kebanyakan informasi keuangan dalam laporan
keuangan digunakan oleh pihak eksternal dalam pengambilan keputusan ekonomi
dan bisnis, salah satunya adalah informasi mengenai laba perusahaan (Dewi dan
Sujana, 2014) .
Menurut Standar Akuntansi Keuangan (2012:1), laporan keuangan adalah
bagian dari proses keuangan yang lengkap yang meliputi posisi keuangan, laporan
laba rugi komprehensif, dan laporan perubahan posisi keuangan (disajikan dalam
15
bentuk laporan arus kas dan laporan arus dana). Kegunaan laporan keuangan
disertai dengan catatan atas laporan keuangan menyediakan informasi mengenai
posisi keuangan suatu perusahaan, kesuksesan aktivitas operasi perusahaan,
strategi manajemen untuk mencapai laba di masa depan dan kebijaksanaan
akuntansi yang digunakan (Fraster dan Ormiston, 2004:4).
Laporan keuangan perusahaan menjadi salah satu sumber informasi dalam
menilai perusahaan menguntungkan atau tidak untuk dijadikan investasi.
Informasi tersebut dan ditambah informasi dari berbagai sumber lainnya akan
dianalisis oleh investor sehingga mereka dapat mengambil keputusan investasi,
seperti membeli, menahan, atau menjual saham. Selain itu investor juga dapat
mengetahui seberapa besar risiko atas investasi yang akan mereka tanamkan.
Salah satu informasi dalam laporan keuangan yang cukup penting adalah
informasi laba perusahaan. Laba mencerminkan hasil usaha perusahaan dalam
suatu periode. Bagi manajemen, laba merupakan salah satu indikator kinerja
perusahaan, dan baik buruknya kinerja manajemen perusahaan seringkali dilihat
dari laba yang dihasilkan dalam suatu periode. Informasi laba juga penting bagi
manajemen dalam menentukan kebijakan-kebijakan perusahaan ke depan. Bagi
investor, informasi laba perusahaan ini dapat dijadikan salah satu pertimbangan
investasi di perusahaan tersebut, atau seberapa besar investasi yang akan
ditanamkan dalam perusahaan tersebut. (Saputra, 2009)
2.1.3 Manajemen Laba
Manajemen laba beberapa tahun terakhir menjadi isu yang kontroversial
bagi pemegang saham dan pemilik modal. Belum adanya batasan kesepakatan
16
mengenai definisi tentang pengertian manajemen laba membuat banyaknya
persepsi tentang manajemen laba itu sendiri. Berbagai pandangan dan pendapat
tentang manajemen laba muncul mulai dari manajemen laba yang dianggap
sebagai sebuah taktik atau kecurangan yang dilakukan oleh manajer guna
kepentingannya pribadi, dan ada juga yang beranggapan jika manajemen laba itu
sendiri adalah cara perusahaan menyelamatkan kelangsungan perusahaan ke
depannya.
Beberapa peneliti mendefinisikan manajemen secara berbeda-beda. Menurut
Jumingan dalam Suhendah (2005) yang dikutip dalam Kartika Dewi dan Zulaikha
(2011), earning management merupakan suatu proses yang disengaja, menurut
standar akuntansi keuangan untuk mengarahkan pelaporan laba pada tingkat
tertentu. Budiasih (2009) mengatakan bahwa, manajemen laba merupakan
intervensi menajemen dalam proses menyusun pelaporan keuangan eksternal,
dengan demikian manajemen dapat menaikkan atau menurunkan laba akuntansi
sesuai dengan kepentinganya. Ningsaptiti (2010) dalam penelitiannya mengutip
beberapa pengertian yaitu menurut Schipper (1989), manajemen laba adalah suatu
kondisi dimana manajemen melakukan intervensi dalam proses penyusunan
laporan keuangan bagi pihak eksternal sehingga dapat meratakan, menaikkan, dan
menurunkan laba, sedangkan Healy dan Wahlen (1999) menyatakan bahwa,
manajemen laba terjadi ketika manajemen menggunakan keputusan tertentu dalam
pelaporan keuangan dan penyusunan transaksi-transaksi yang mengubah laporan
keuangan, hal ini bertujuan untuk menyesatkan para stakeholders tentang kondisi
17
kinerja ekonomi perusahaan, serta untuk mempengaruhi penghasilan kontraktual
yang mengendalikan angka akuntansi yang dilaporkan.
Penelitian Scott (2006) membagi bahwa manajemen laba dapat dilakukan
dengan empat teknik yaitu:
1) Taking a Bath
Pola ini terjadi pada saat reorganisasi termasuk pengangkatan CEO baru
dengan melaporkan kerugian dalam jumlah besar. Tindakan ini diharapkan
dapat meningkatkan laba di masa mendatang.
2) Minimalisasi Laba (Income Minimization)
Dilakukan pada saat perusahaan mengalami tingkat probabilitas yang
tinggi sehingga jika laba pada periode mendatang diperkirakan turun
drastis dapat diatasi dengan laba periode sebelumnya.
3) Maksimalisasi Laba (Income Maximization)
Tindakan income maximization dilakukan pada saat laba menurun.
Tindakan atas income maximization bertujuan untuk melaporkan net
income yang tinggi untuk tujuan bonus yang lebih besar. Pola ini
dilakukan oleh perusahaan yang melakukan pelanggaran perjanjian
hutang.
4) Perataan Laba (Income Smoothing)
Dilakukan perusahaan dengan cara meratakan laba yang dilaporkan
sehingga dapat mengurangi fluktuasi laba yang terlalu besar karena pada
umumnya investor lebih menyukai laba yang relatif stabil.
18
2.1.4 Perataan Laba
Seperti beberapa teknik manajemen laba yang telah dijabarkan oleh Scoot
(2006) yang paling bertahan dan digunakan dari waktu ke waktu adalah teknik
perataan laba atau income smoothing. Eckel (1981) menyebutkan bahwa ada dua
jenis income smoothing, yaitu natural smoothing dan intentionally smoothed by
management. Natural smoothing menunjukkan pendapatan yang discretionary
accrual secara alamiah mempunyai fluktuasi pendapatan yang rendah sehingga
bisa dikatakan merata, sedangkan intentionally smoothed by management dapat
dikategorikan menjadi dua macam, yaitu real smoothing dan artificial smoothing.
Real smoothing adalah income smoothing yang dilakukan oleh manajemen dengan
secara aktual mengevaluasi dan menentukan transaksi yang akan diambil atau
tidak berdasarkan pengaruh perataannya pada pendapatan (smooth effect),
sedangkan artificial smoothing adalah perataan yang dilakukan oleh manajemen
untuk memperbaiki penampilan laporan keuangan dengan memanipulasinya.
Manipulasi ini tidak mencerminkan transaksi yang menjadi dasar laporan
(underlying
transaction), sedangkan menurut
Masodah (2007) perataan
merupakan upaya yang secara sengaja dimaksudkan untuk menormalkan
pendapatan dalam rangka mencapai kencenderungan tertentu atau tingkat yang
diinginkan. Perataan laba merupakan bentuk manajemen laba dan secara umum
didefinisikan sebagai peredam fluktuasi laba yang dilaporkan dari waktu ke waktu
(Ronen dan Yaari, 2008). Dapat dikatakan manajemen cenderung untuk
mengambil tindakan untuk meningkatkan penghasilan bila penghasilan yang
relatif rendah dan untuk mengurangi laba bila penghasilan yang relatif tinggi.
19
Alasan utama bahwa manajer melakukan manipulasi laba adalah memaksimalkan
kekayaan mereka sendiri, mengurangi keberisikoan dirasakan perusahaan,
meningkatkan nilai perusahaan, pertemuan perjanjian utang, mengurangi pajak
dan biaya politik, dan meningkatkan keandalan perkiraan keuangan. Meskipun
ada bukti bahwa perataan laba terjadi, efeknya terhadap informasi pendapatan
sebagian besar tidak diketahui (Tudor, 2009).
2.1.5 Ukuran Perusahaan
Menurut Vintila et al. (2013) ukuran perusahaan adalah suatu skala, atau
citra perusahaan yang dapat diklasifikasikan dengan dengan menentukan besar
kecilnya perusahaan menurut berbagai cara. Penentuan pengukurannya bisa
dengan beberapa cara antara lain dengan total aset, total penjualan, rata-rata
tingkat penjualan, nilai pasar saham, jumlah tenaga kerja,dan total ekuitas
(Sudarmaji dan Sularto 2007). Penentuan ukuran perusahaan ini didasarkan pada
log nilai total ekuitas perusahaan.
Perkembangan ukuran suatu perusahaan sangat mempengaruhi perhatian
dan ketertarikan para analis, investor maupun pemerintah dalam menilai
kelangsungan perusahaan ke depannya. Perusahaan besar cenderung akan
menghindari fluktuasi laba yang drastis, karena perusahaan nantinya akan
dibebani pajak yang besar dan juga untuk menghindari permintaan kenaikan gaji
dari serikat (Kieso dan Weygandt, 2010:260).
Ukuran aktiva dapat
dijadikan sebagi tolak ukur untuk
dapat
memperlihatkan besar atau kecilnya ukuran suatu perusahaan. Perusahaan yang
20
mampu mencapai total aktiva yang besar dapat diindikasikan bahwa perusahaan
tersebut sudah dalam tahap kedewasaan, yaitu tahapan yang memperlihatkan
bagaimana suatu perusahaan dalam jangka waktu yang relatif stabil mampu
mendapatkan prospek yang baik juga mempunyai arus kas perusahaan yang sudah
bernilai positif dan dianggap lebih mampu menghasilkan laba dibandingkan
dengan perusahaan yang mempunyai total aset kecil (Bestivano, 2013).
2.1.6
Profitabilitas
Profitabilitas adalah hasil akhir dari sejumlah kebijakan dan keputusan
yang dilakukan oleh perusahaan (Brigham, 2006). Profitabilitas sering juga
disebut rentabilitas yang berarti kemampuan suatu perusahaan untuk mendapatkan
laba selama periode tertentu. Menurut Prayudi dan Daud (2013), profitabilitas
merupakan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dimana laba bersih
merupakan ukuran profitabilitas yang terpenting. Rasio profitabilitas suatu
perusahaan selalu menjadi perhatian utama bagi kreditur maupun investor dalam
pengambilan keputusan. Ungkapan serupa juga mengatakan bahwa profitabilitas
merupakan kemampuan suatu perusahaan dalam menghasilkan laba selama
periode tertentu. Rasio keuangan profitabilitas diukur dengan membandingkan
laba bersih dengan total aktiva atau biasa disebut dengan Return On Asset (ROA)
(Dewi dan Sujana, 2014).
Menurut Adiningih dan Asyik (2014) Profitabilitas merupakan salah satu
indikator yang penting untuk menilai suatu perusahaan. Selain digunakan sebagai
alat untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba,
21
profitabilitas juga dapat digunakan untuk mengetahui efektifitas perusahaan dalam
mengelola sumber-sumber yang dimilikinya. Berdasarkan definisi tersebut,
diduga profitabilitas mempengaruhi perataan laba sebab secara logis laba
merupakan instrumen yang terkait langsung dengan objek perataan laba. Dapat
dikatakan, profitabilitas menjadi tolak ukur kinerja bagi pihak eksternal. Perataan
laba lebih cenderung dilakukan oleh perusahaan yang mempunyai return on asset
yang lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan yang lebih rendah karena
manajemen paham tentang kemampuan untuk memperoleh laba pada masa
mendatang sehingga memudahkan dalam menunda atau mempercepat laba.
Profitabilitas dalam penelitian ini diproksikan dengan return on asset
(ROA). Hasil dari laba bersih dibagi dengan total aktiva merupakan nilai dari
ROA. Hasil tersebut merupakan laba bersih dimana laba sebelum dilakukannya
perataan laba. Laba sebelum perataan laba diperoleh dengan mengurangi laba
bersih dengan nilai total accruals (TA) (Prabayanti dan Gerianta 2010). Rasio
profitabilitas akan menunjukkan kombinasi efek dari likuiditas, manajemen aktiva
dan utang pada hasil-hasil operasi (Brigham, 2006). Rasio profitabilitas dapat
diukur dengan dilakukannya perbandingan antara laba setelah pajak dengan total
aktiva perusahaan. Profitabilitas itu sendiri merupakan hal paling penting yang
sangat mempengaruhi pengambilan keputusan para investor untuk dapat
menentukan sehat atau tidaknya suatu perusahaan. Zuhroh (1996), Jin dan
Machfoedz (1998) serta Suwito dan Herawaty (2005) berpendapat bahwa,
profitabilitas tidak berpengaruh terhadap perataan laba. Berbeda dengan penelitian
yang dilakukan oleh Ashari et al. (1994) menemukan bukti bahwa perusahaan
22
dengan tingkat profitabilitas rendah mempunyai kecenderungan lebih besar untuk
melakukan perataan laba.
Rasio profitabilitas dapat digunakan untuk menentukan apakah perusahaan
mempunyai prospek yang cukup baik ke depannya. Perusahaan yang profitabel
umumnya akan berkembang di masa yang akan datang. Tetapi harus pula disadari
bahwa tingkat keuntungan (profitabilitas) untuk masing-masing jenis industri bisa
berbeda-beda tergantung sifat usaha dan risiko. Meskipun tingkat keuntungan
tersebut berbeda-beda, tetapi selalu ada tingkat hasil minimum yang diharapkan
yaitu lebih besar dari tingkat keuntungan investasi bebas resiko (Sunarto dan
Agus, 2009).
2.1.7
Pertumbuhan Perusahaan
Pertumbuhan perusahaan menggambarkan tolak ukur keberhasilan
perusahaan. Keberhasilan tersebut juga menjadi tolok ukur investasi untuk
pertumbuhan pada masa yang akan datang (Sunarto dan Agus, 2009).
Pertumbuhan perusahaan diproksikan dengan pertumbuhan aktiva yang
diperoleh melalui perbandingan antara total aktiva tahun berjalan yang dikurangi
total aktiva tahun sebelumnya. Lambatnya pertumbuhan perusahaan merupakan
sinyal bagi investor bahwa kinerja perusahaan menurun. Menurunnya kinerja
perusahaan akan menimbulkan keengganan bagi calon investor untuk melakukan
investasi pada perusahaan tersebut. Titman dan Wessel (1988) mengatakan bahwa
kesempatan tumbuh sebagai perusahaan merupakan proksi yang tepat untuk biaya
agensi hutang. Mereka menyarankan bahwa tendensi untuk melakukan investasi
23
adalah terjadi pada perusahaan-perusahaan yang berada dalam industri yang
sedang tumbuh.
Pertumbuhan perusahaan dapat diukur dari pertumbuhan aktiva, yaitu
dengan membandingkan antara total aktiva tahun berjalan dikurangi total aktiva
tahun sebelumnya dibagi dengan total aktiva tahun sebelumnya. Dilihat dari sudut
pandang investor, pertumbuhan suatu perusahaan merupakan suatu tanda
perusahaan memiliki aspek yang menguntungkan, sehingga investor pun akan
mengharapkan tingkat pengembalian dari investasi yang dilakukan menunjukkan
perkembangan (Pratiwi, 2013).
Pertumbuhan aset menggambarkan pertumbuhan aktiva perusahaan yang
akan mempengaruhi profitabilitas perusahaan yang menyakini bahwa persentase
perubahan total aktiva merupakan indikator yang lebih baik dalam mengukur
pertumbuhan perusahaan (Putrakrisnanda, 2009). Ukuran yang digunakan adalah
dengan menghitung proporsi kenaikan atau penurunan aktiva. Pada penelitian ini,
pertumbuhan
perusahaan
diukur
dari
proporsi
perubahan
aset,
untuk
membandingkan kenaikan atau penurunan atas total aset yang dimiliki oleh
perusahaan (Oka, 2011). Kustono (2009) menjelaskan adanya pengaruh
pertumbuhan perusahaan terhadap praktik perataan laba. Hasil ini mendukung
pernyataan Key (1997) tentang adanya hubungan antara pertumbuhan perusahaan
dengan praktik perataan laba.
24
2.2
Hipotesis Penelitian
2.2.1
Pengaruh Ukuran Perusahaan pada Praktik Perataan Laba
Ukuran perusahaan pada penelitian ini diukur melalui total ekuitas yang
dimiliki oleh perusahaan. Ukuran perusahaan secara umum dapat diartikan
sebagai suatu perbandingan besar atau kecilnya suatu objek. Pengukuran
perusahaan bertujuan untuk membedakan secara kuantitatif antara perusahaan
besar (large firm), perusahaan sedang (medium firm), dan perusahaan kecil (small
firm) (Putrakrisnanda, 2009). Moses (1987) menemukan bukti bahwa perusahaanperusahaan yang lebih besar memiliki dorongan yang lebih besar pula untuk
melakukan perataan laba dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan yang lebih
kecil
karena
perusahaan-perusahaan
pemeriksaan (pengawasan yang lebih
yang lebih besar menjadi
subyek
ketat dari pemerintah dan masyarakat
umum / general public).
Penelitian tentang pengaruh ukuran perusahaan pada perataan laba
semakin banyak diteliti, namun hasil dari penelitian tersebut masih banyak yang
menghasilkan ketidakkonsistenan. Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh
Budiasih (2009), Bestivano (2013), Pranasari dan Dharmadiaksa (2014), serta
Dewi dan Sujana (2014) menyimpulkan hasil bahwa ukuran perusahaan
berpengaruh positif terhadap praktik perataan laba. Hasil tersebut berarti bahwa
perusahaan yang memiliki ukuran yang besar memiliki dorongan yang lebih besar
untuk melakukan perataan laba. Sebaliknya, Jao dan Pagalung (2011)
membuktikan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh negatif pada praktik
perataan laba. Hal tersebut didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh
25
Adiningsih dan Asyik (2014) serta Fatmawati dan Djajanti (2015) yang
menunjukkan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh negatif terhadap perataan
laba.
Sementara itu Yudho dan Mita (2010), Dewi (2010), Prabayanti dan
Gerianta (2014), serta Sari (2009) menyimpulkan hasil yang berbeda bahwa
ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap perataan laba, yang artinya bahwa
ukuran besar atau kecilnya suatu perusahaan tidak menjadi dasar atau menjadi
dorongan untuk suatu perusahaan penerapkan praktik perataan laba dalam
perusahaan. Berdasarkan penjelasan hasil penelitian di atas maka hipotesis yang
dapat dirumuskan adalah sebagai berikut.
H1:
Ukuran perusahaan berpengaruh positif pada praktik perataan laba.
2.2.2 Pengaruh Profitabilitas pada Praktik Perataan Laba
Profitabilitas mencerminkan tingkat efektivitas yang dicapai oleh
operasional perusahaan. Semakin besar rasio profitabilitas perusahaan, maka akan
semakin baik perusahaan dalam menghasilkan laba. Laba menunjukkan
keberhasilan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan. Sehingga dapat
dikatakan bahwa laba merupakan berita baik bagi pihak manajemen perusahaan
maupun investor (Fatmawati dan Djajayanti, 2015). Tingkat profitabilitas yang
stabil (smooth) akan memberikan keyakinan pada investor bahwa perusahaan
tersebut memiliki kinerja yang baik dalam menghasilkan laba, karena investor
lebih menyukai tingkat profitabilitas yang stabil setiap tahunnya (Putrakrisnanda,
26
2009). Profitabilitas juga seringkali digunakan oleh kreditor untuk memutuskan
pinjaman mereka kepada suatu perusahaan (Utomo dan Baldric, 2008).
Penelitian yang dilakukan oleh Ashari, dkk. (1994), Zurroh (1996),
Peranasari dan Dharmadiaksa (2014), Budiasih (2009), Prabayanti dan Gerianta
(2014) memperoleh hasil bahwa profitabilitas merupakan salah satu faktor yang
berpengaruh positif dalam praktik perataan laba. Hasil tersebut menjelaskan
bahwa semakin tinggi profitabilitas yang dihasilkan perusahaan cenderung akan
melakukan perataan laba. Sebaliknya penelitian yang dilakuan oleh Pratiwi dan
Handayani (2014) serta Tuti dan Indrawati (2007) menunjukkan bahwa
pfofitabilitas berpengaruh negatif pada perataan laba.
Penelitian yang dilakukan oleh Adiningsih (2014), Prayudi dan
Rochmawati (2013), Utomo dan Baldric (2008), Suwito dan Herawaty (2005),
Bestivano (2013), serta Dewi dan Zulaika (2011) menemukan hasil bahwa
profitabilitas tidak berpengaruh pada praktik perataan laba. Hasil penelitian
tersebut menandakan bahwa semakin tinggi tingkat profitabilitas perusahaan
cenderung untuk tidak melakukan perataan laba. Hal tersebut disebabkan karena
perusahaan tersebut akan semakin menjadi sorotan publik sehingga perusahaan
kemungkinan berusaha untuk tidak melakukan tindakan yang membahayakan
kredibilitas perusahaan. Berdasarkan penjelasan hasil penelitian di atas maka
hipotesis yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut:
H2:
Profitabilitas berpengaruh positif pada praktik perataan laba.
27
2.2.3
Pertumbuhan Perusahaan memoderasi dengan memperlemah
Pengaruh Ukuran Perusahaan pada Praktik Perataan Laba
Banyak penelitian yang sudah dilakukan dalam meneliti hubungan antara
ukuran perusahaan dan praktik perataan laba. Peneliti-peneliti sebelumnya yang
melakukan penelitian dengan variabel ukuran perusahaan ini menemukan hasil
yang berbeda-beda mengenai pengaruh ukuran perusahaan pada praktik perataan
laba. Hasil pengaruh signifikan ukuran perusahaan terhadap praktik perataan laba
banyak ditemukan oleh beberapa peneliti yang meneliti hubungan ukuran
perusahaan terhadap perataan laba dalam penelitiannya antara lain Budiasih
(2009), Bestivano (2013), Peranasari dan Dharmadiaksa (2014), serta Dewi dan
Sujana (2014). Namun, beberapa peneliti tidak dapat membuktikan bahwa ukuran
perusaahaaan berpengaruh atau dengan kata lain dapat mendorong adanya
tindakan perataan laba yang dilakukan oleh perusahaan (Yudho dan Mita, 2010;
Kustono, 2009; Prabayanti dan Gerianta, 2014).
Perusahaan-perusahaaan manufaktur yang terdaftar dalam Bursa Efek
Indonesia tentu mempunyai tingkat pertumbuhan perusahaan yang berbeda-beda.
Setiap perusahaan yang mempunyai pertumbuhan perusahaan yang baik maupun
kurang juga mempunyai ukuran perusahaan yang berbeda pula. Saat pelaporan
keuangan dan pelaporan labapun setiap perusahaan akan melaporkan labanya
sesuai dengan pencapaian terbaik perusahaannya. Bisa dikatakan semakin besar
ukuran perusahaan dengan pertumbuhan perusahaan yang melemah maka akan
semakin kompleks laporan keuangan yang dilaporkan. Akibatnya untuk dapat
mengurangi fluktuasi laba maka pihak manajemen akan tertarik untuk melakukan
28
praktik perataan laba untuk dapat menyesuaikan laba sesuai dengan minat dari
para investor.
H3: Pertumbuhan perusahaan memoderasi pengaruh ukuran perusahaan pada
perataan laba.
2.2.4
Pertumbuhan Perusahaan memoderasi dengan
pengaruh Profitabilitas pada Praktik Perataan Laba
memperlemah
Profitabilitas merupakan ukuran penting untuk menilai sehat atau tidaknya
perusahaan yang mempengaruhi investor untuk membuat keputusan untuk
membeli atau menjual saham perusahaan. Rasio profitabilitas perusahaan adalah
rasio yang diukur berdasarkan perbandingan antara laba setelah pajak dengan
total aktiva perusahaan (Suwito dan Arleen, 2005). Profitabilitas serupa dengan
ukuran perusahaan merupakan variabel yang sama halnya dengan ukuran
perusahaan, dimana profitabilitas juga menjadi variabel yang masih terbilang
menghasilkan hasil yang tidak konsisten dalam penelitian yang dilakukan oleh
beberapa peneliti sebelumnya.
Perusahaan-perusahaan yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia dalam
menyediakan laporan keuangannya memberikan informasi yang tidak sama.
Perbedaan tersebut selain karena perbedaan sektor industri juga dipengaruhi oleh
perbedaan
perkembangan
atau
pertumbuhan
suatu
perusahaan
dalam
menghasilkan laba perusahaan. Menurut Sunarto dan Agus (2009), suatu
perusahaan yang sedang berada pada tahap pertumbuhan akan membutuhkan dana
yang besar. Jika kebutuhan dana semakin besar maka perusahaan cenderung
menahan
sebagian
besar
pendapatannya.
29
Laba
yang
dihasilkan
akan
mempengaruhi rasio profitabilitas suatu perusahaan. Suatu industri yang
menyajikan profitabilitas yang besar akan memperlihatkan bahwa semakin baik
kinerja manajemen dalam menghasilkan laba yang tinggi yang nantinya akan
berpengaruh pada keputusan dari para investor apakah akan tetap menanamkan
sahamnya atau tidak (Dewi dan Prasetiono, 2012).
H4:
Pertumbuhan perusahaan memoderasi dengan memperlemah pengaruh
profitabilitas pada perataan laba.
30
Download