9 BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA BERPIKIR, DAN

advertisement
BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA BERPIKIR, DAN HIPOTESIS
A. Kajian Pustaka
1. Tinjauan Tentang Anak Tunagrahita Ringan
a. Pengertian Anak Tunagrahita Ringan
Terdapat banyak istilah yang digunakan tentang anak tunagrahita dalam
Bahasa Inggris yaitu mental retardation, mental disoder, menttaly retarded,
mental deficiency, feeblemindedness, mental defective, dan sebagainya,
sedangkan dalam Bahasa Indonesia yaitu anak lemah ingatan, anak
terbelakangan mental, anak lemah pikir, anak lemah otak, dan sebagainya.
Namun berdasarkan (PP No. 72/1991) istilah yang digunakan pada saat ini
untuk anak yang memiliki tingkat kecerdasan rendah yaitu tunagrahita.
Tunagrahita menurut Soemantri (1996: 83) adalah “istilah yang
digunakan untuk menyebut anak yang mempunyai kemampuan intelektual di
bawah rata-rata”. Pengertian mengenai tunagrahita juga diungkapkan oleh
Yusuf (2009: 6) mengungkapkan bahwa “tunagrahita (retardation mental)
adalah anak yang secara nyata mengalami hambatan dan keterbelakangan
perkembangan mental-intelektual di bawah rata-rata, sehingga mengalami
kesulitan dalam menyelesaikan tugas-tugasnya.
Menurut American Asosiation on Mental Deficiency (AAMD) dan PP
No.72 tahun 1991 tentang anak berkebutuhan khusus dalam Amin (1995: 22)
menjelaskan bahwa ”Anak tunagrahita ringan adalah mereka yang
mengalami hambatan dalam kecerdasan dan adaptasi sosialnya, namun
mereka mempunyai kemampuan untuk berkembang dalam bidang pelajaran
akademik, penyesuaian sosial, dan kemampuan bekerja”. Anak tunagrahita
ringan menurut Amin dalam Wantah (2007: 10) adalah “anak tunagrahita
ringan memiliki kemampuan untuk berbicara, tetapi pembendaharaan katakatanya sangat kurang”.
Hourcade & Martin dalam Wantah (2007: 10) juga mengemukakan
bahwa “berdasarkan data menunjukan bahwa kira-kira 85% dari anak
9
10
retardasi mental tergolong retardasi mental ringan, memiliki IQ adalah 50-75,
dan mereka dapat mempelajari ketrampilan, dan akademik mereka sampai
kelas 6 Sekolah Dasar”. Kemis dan Rosnawati (2013: 12) menjelaskan bahwa
“anak pada kelompok educable ini masih mempunyai kemampuan dalam
akademik setara dengan anak reguler pada kelas 5 Sekolah Dasar”.
Berdasarkan berbagai pengertian tersebut dapat disimpulkan anak
tunagrahita ringan adalah anak yang memiliki kemampuan intelektual
dibawah normal sekitar 50-75, serta memiliki kemampuan yang hampir sama
dengan anak normal pada umumnya tetapi memiliki hambatan dalam
kecerdasan dan kekurangan dalam interaksi sosial. Tetapi masih memiliki
potensi yang dapat dikembangkan dalam bidang akademis dan keterampilan
yang sederhana setara dengan jenjang SD kelas 5 atau 6 anak reguler.
b. Penyebab Anak Tunagrahita Ringan
Menurut Kemis dan Roswati (2013: 15), tunagrahita disebabkan oleh
beberapa faktor yaitu:
1) Genetik yang disebabkan kerusakan/kelainan Biokimiawi,
Abnormalitas Kromosomal
2) Sebelum lahir (pre-natal)
3) Kelahiran (peri-natal) yang disebabkan oleh kejadian yang terjadi
pada saat kelahiran
4) Setelah lahir (post-natal) akibat infeksi misalnya: maningitis
(peradangan pada selaput otak) dan problema nutrisi yaitu
kekurangan gizi seperti kekurangan protein.
5) Faktor sosio-kultural atau sosial budaya lingkungan
6) Gangguan metabolism/nutrisi
Dari sisi pertumbuhan dan perkembangan, penyebab ketunagrahitaan
menurut Davenport dalam Efendi (2008: 91) dirinci sebagai berikut:
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
Kelainan atau ketunaan yang timbul pada benih plasma
Kelainan atau ketunaan yang dihasilkan selama penyuburan telur
Kelainan atau ketunaan yang dikaitan dengan implantasi
Kelainan atau ketunaan yang timbul dalam embrio
Kelainan atau ketunaan yang timbul dari luka saat kelahiran
Kelainan atau ketunaan yang timbul dalam janin, dan
Kelainan atau ketunaan yang timbul pada masa bayi dan kanakkanak.
11
Turner dkk dan McDonnell dkk dalam Slavin (2009: 215)
mengemukakan “penyebab keterbelakangan mental yaitu terdapatnya
warisan genetik; kelainan kromosom, seperti sindrom Down; penyakit yang
ditularkan antara ibu dan janin dalam rahim, seperti rubella (campak Jerman)
dan sifilis; sindrom kebergantungan kimia janin yang disebabkan oleh
penyalahgunaan Alkohol atau kekurangan kokain oleh ibu selama kehamilan;
kecelakaan kelahiran yang mengakibatkan kekurangan oksigen; dan
kontaminasi racun dari lingkungan, seperti keracunan timbal”.
Menurut beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa penyebab
anak tunagrahita ringan adalah:
1) Disebabkan karena faktor keturunan
2) Disebabkan karena faktor saat di dalam kandungan
3) Disebabkan karena faktor saat kelahiran
4) Disebabkan karena faktor setelah kelahiran
c. Karakteristik Anak Tunagrahita Ringan
Menurut Amin (1995: 37) mengemukakan bahwa:
“anak tunagrahita ringan banyak yang lancar bicara tetapi kurang
perbendaharaan kata-katanya. Mereka mengalami kesukaran berpikir
abstrak, tetapi mereka masih dapat mengikuti pelajaran akademik
dengan baik disekolah umum maupun sekolah khusus. Pada umur 16
tahun baru mencapai umur kecerdasan yang sama dengan anak umur 12
tahun, tetapi itu pun hanya sebagian dari mereka. Sebagaimana tertulis
dalam The New American Webster dalam Amin (1995: 37) bahwa:
“Moron (debile) is a person whose mentality does not develop beyond
the 12 years old level”. Maksudnya, kecerdasan berpikir seseorang
tunagrahita ringan paling tinggi sama dengan kecerdasan anak normal
usia 12 tahun”.
Karakteristik anak tunagrahita ringan menurut Efendi
(2008: 90)
bahwa anak tunagrahita ringan atau anak tunagrahita mampu didik (debil)
memiliki IQ 50-75, anak dalam kategori tersebut tidak mampu mengikuti
program sekolah biasa, tetapi ia masih memiliki kemampuan yang dapat
dikembangkan melalui pendidikan walaupun hasilnya tidak maksimal.
12
Kemampuan yang dapat dikembangkan pada anak tunagrahita mampu didik
antara lain:
1) Membaca, menulis, mengeja dan berhitung.
2) Menyesuaikan diri dan tidak menggantungkan diri pada orang lain.
3) Keterampilan yang sederhana untuk kepentingan kerja di kemudian hari.
The American Association on Mental Retardasi (AAMR) dalam Leano
(2015: 2) mengatakan:
“further cited that children with mild mental retardation are
approximately 85% of mentally retarded population is in mildly
retarded category with IQ score ranges from 50-75. They can acquire
academics skills up to 6th grade level; can become fairly self-sufficient;
in some cases live independently, with community and social support”.
Pendapat tersebut dapat diartikan bahwa karakteristik anak-anak
keterbelakangan mental ringan adalah sekitar 85% dari populasi dalam
kategori agak terbelakang mental yaitu dengan rentang skor IQ 50-75.
Mereka dapat memperoleh keterampilan akademisi hingga tingkat kelas 6;
dapat menjadi cukup mandiri; dalam beberapa kasus hidup secara bebas,
dengan masyarakat dan dukungan sosial.
Hourcade dalam Wantah (2007: 16) berpendapat bahwa ciri-ciri anak
tunagrahita ringan atau anak mampu didik adalah:
1) Memerlukan dukungan yang terbatas (kadang-kadang)
2) Biasanya tidak berbeda dengan anak normal yang memiliki usia
yang sama
3) Seringkali mereka hanya mengalalami sedikit hambatan dalam
perkembangannya yang merupakan kekurangan utamanya, kecuali
pada bidang akademik
4) Anak tersebut dapat teridentifikasi setelah bersekolah dimana
ketidakmampuan mereka mulai nampak
5) Anak yang termasuk dalam kategori ini dapat bersekolah di sekolah
reguler
6) Mereka dapat mencapai kemampuan akademik kelas tiga sampai
kelas enam
7) Setelah dewasa, mereka dapat memperoleh pekerjaan sendiri, dan
8) Kebanyakan anak tersebut akan kawin, dan memperoleh anak dan
dapat berbaur dengan masyarakat dengan baik tanpa perbedaan.
13
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa anak
tunagrahita ringan mempunyai karakteristik perkembangan yang berbeda
dibawah anak normal baik dari fisik, mental, bahasa, dan kecerdasannya, akan
tetapi anak tunagrahita ringan juga dapat bersosialisasi dengan cukup baik
dan cukup mandiri. Kecerdasan anak tunagrahita ringan mengalami
keterbatasan dalam aspek kehidupannya sebab kemampuan berpikir anak
tunagrahita ringan paling tinggi sekitar umur 12 tahun anak normal atau setara
kelas VI Sekolah Dasar umum. Setelah dewasa anak tunagrahita ringan dapat
bekerja dan menikah seperti orang normal pada umumnya.
d. Masalah - Masalah yang Dihadapi Anak Tunagrahita Ringan
Menurut Efendi (2008: 98) menjelaskan beberapa hambatan yang
tampak pada anak tunagrahita dari segi kognitif yaitu sebagai berikut:
1) Cenderung memiliki kemampuan berpikir konkret dan sukar
berpikir
2) Mengalami kesulitan dalam konsentrasi
3) Kemampuan sosialisasinya terbatas
4) Tidak mampu menyimpan intruksi yang sulit
5) Kurang mampu menganalisis dan menilai kejadian yang dihadapi
6) Pada anak tunagrahita mampu didik, prestasi tertinggi bidang baca,
tulis, hitung tidak lebih dari anak normal setingkat kelas III-IV
Sekolah Dasar.
Amin (1995: 41-50) juga mengemukakan kemungkinan-kemungkinan
masalah yang dihadapi anak tunagrahita dalam konteks pendidikan,
diantaranya adalah sebagai berikut:
1) Masalah dalam kesulitan sehari-hari.
2) Masalah-masalah yang sering ditemukan diantaranya adalah: cara makan,
mengosok gigi, memakai baju, memasang sepatu, dan lain-lain.
3) Masalah kesulitan belajar
Masalah-masalah yang sering dirasakan dalam kaitannya dengan proses
belajar mengajar diantaranya: kesulitan menangkap pelajaran, kesulitan
dalam belajar yang baik, mencari metode yang tepat, kemampuan berpikir
abstrak yang terbatas, daya ingat yang lemah, dan sebagainya.
14
4) Masalah penyesuaian diri
Masalah ini berkaitan dengan masalah-masalah atau kesulitan dalam
hubungannya dengan kelompok maupun individu disekitarnya. karena
tingkat kecerdasan anak tunagrahita yang rendah maka anak tunagrahita
mengalami gangguan dalam penyesuaian diri.
5) Masalah penyaluran ke tempat kerja
Kehidupan
anak
tunagrahita
cenderung
banyak
yang
masih
menggantungkan diri kepada orang lain terutama kepada keluarga
(orangtua) dan masih sedikit sedikit sekali yang sudah dapat hidup
mandiri. Sehingga mereka sulit untuk mencari pekerjaan atau menyalurkan
mereka ke tempat kerja.
6) Masalah gangguan kepribadian dan emosi
Nampak jelas anak tunagrahita kurang memiliki kemampuan berpikir,
keseimbangan pribadinya kurang konstan/labil, kadang-kadang stabil dan
kadang-kadang kacau. Kodisi tersebut bisa dilihat pada penampilan
tingkah laku sehari-hari. Seperti: berdiam diri berjam-jam lamanya,
hiperaktif, mudah marah dan mudah tersinggung, suka mengganggu orang
lain disekitarnya (bahkan tindakan merusak/destruktif).
7) Masalah pemanfaatan waktu luang.
Ketidakmampuan anak untuk memanfaatkan waktu luang mengakibatkan
anak berpotensi mengganggu ketenangan lingkungannya apalagi untuk
mereka yang hiperaktif.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa masalahmasalah yang dialami anak tunagrahita ringan sangat bermacam-macam.
Tergantung dari sisi mana kita melihatnya. Masalah-masalah tersebut
disebabkan oleh ketidakmampuan dalam hal intelegensi. Masalah-masalah
tersebut diantaranya dalam kognitif, kepribadian, sosial, dan perilaku.
15
2. Tinjauan Tentang Pemahaman Bangun Datar Anak Tunagrahita Ringan
a. Pengertian Pemahaman Konsep
Pemahaman merupakan hal yang penting dalam mempelajari suatu
pengetahuan baru dalam ranah kognitif. Pengetahuan dalam ranah kognitif
merupakan salah satu hasil pembelajaran yang paling penting berupa
keterampilan dalam mengatur proses internal dalam penghampiran,
pemahaman, mengingat, dan berpikir” (Surya, 2015: 1).
Bloom dalam Degeng (2013: 202) menjelaskan bahwa pemahaman
adalah salah satu aspek dari tujuan pendidikan. Secara hirarkis, aspek-aspek
itu jika diurutkan dari yang paling sederhana sampai yang paling kompleks
adalah: pengetahuan (knowledge), pemahaman/persepsi (comprehension),
penerapan (application), analisis (analysis), sintesis (synthesis), dan penilaian
(evaluation). Menurut Bloom dalam Sahusilawane (2015: 5) bahwa
pemahaman (comperhension) megacu pada kemampuan memahami atau
mengerti tentang isi pelajaran yang dipelajari tanpa perlu menghubungkannya
dengan isi pelajaran lainnya
Menurut Rosser dalam Handani, D., Kurniati, E., Sakti, I. (2012: 82)
konsep adalah suatu abstraksi yang mewakili satu kelas objek-objek,
kejadian-kejadian, atau hubungan-hubungan yang mempunyai atribut-atribut
yang sama. Konsep merupakan penyajian-penyajian internal dari stimulus.
Menurut Amin (1995: 219) mengungkapkan bahwa mempelajari
konsep dapat dilakukan melalui tiga tahap belajar konsep, yaitu:
1) Tahap konkrit. Murid mengenal objek dan membuat tahapan
mengenai objek tersebut.
2) Tahap identitas. Murid mengenal objek tersebut yang muncul pada
waktu dan tempat lain
3) Tahap klarifikasi. Murid menemukan persamaan antara dua hal yang
sama kategorinya, akan tetapi belum menyebutkan ciri-ciri yang
sama antara kedua hal tersebut.
Taba dalam Degeng (2013: 111) berpendapat pengorganisasian
pembelajaran untuk keperluan pembentukan konsep terdiri dari tiga langkah:
1) Mengidentifikasi contoh-contoh yang relevan dengan konsep yang akan
dibentuk.
16
2) Mengelompokkan contoh-contoh berdasarkan karakteristik serupa (atau
kriteria tertentu) yang dimilikinya.
3) Mengembangkan kategori atau nama untuk kelompok-kelompok itu.
Menurut Bruner dalam Degeng (2013: 115) model pemahaman konsep
secara berulang-ulang digunakan istilah-istilah, seperti : contoh, kriteria, dan
atribut
atau
karakteristik
untuk
melukiskan
kegiatan-kegiatan
mengkategorikan pemahaman konsep. Istilah-istilah ini memiliki arti dan
fungsi khusus dalam semua bentuk dalam hal belajar konsep, khususnya
belajar konsep.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pemahaman
merupakan ranah kognitif. Dimana untuk memahami konsep kita harus
mempelajari ciri-ciri dan fungsi dari objek yang akan dipelajari. Dalam
pemahaman konsep merupakan proses menentukan kategori dan fungsi dari
objek. Membuat kategori berarti mengidentifikasi objek dan menempatkan
contoh-contoh berdasarkan kriteria dari objek tertentu.
b. Pengertian Bangun Datar
“Bangun datar ialah bangun yang digambar atau dilukis pada bidang
datar” (Suharyanto & C.Jacob, 2009: 102). Pendapat lain disampaikan Untoro
(2007: 151) yang menjelaskan bahwa bangun datar adalah “suatu bangun
geometri yang berbentuk datar (rata)”.
Al Ayuby dalam Rokhim (2015) berpendapat bahwa bangun datar
adalah bagian dari bidang datar yang dibatasi oleh garis-garis lurus atau
lengkung. Hambali dkk dalam Nalole (2014: 8) mendefinisikan, “bangun
datar sebagai bangun yang rata yang mempunyai dua demensi yaitu panjang
dan lebar, tetapi tidak mempunyai tinggi atau tebal”.
Berdasarkan pendapat ahli di atas dapat disimpulkan bangun datar
adalah bangun geometri dua dimensi yang permukaannya rata atau datar yang
dibatasi oleh garis-garis lurus dan lengkung serta mempunyai panjang dan
lebar tetapi tidak mempunyai tinggi dan tebal. Bangun-bangun tersebut juga
bisa digambar dan dilukis pada bidang yang datar.
17
c. Macam-macam Bangun Datar
Untoro (2007: 151) menjelaskan bahwa bangun datar dibagi menjadi
dua yaitu :
1) Bangun datar bersisi lengkung misalnya:
a) Lingkaran
b) Elips
c) Busur setengah lingkaran
2) Bangun datar bersisi lurus misalnya:
a) Bujur sangkar
b) Persegi panjang
c) Jajargenjang
d) Belah ketupat
e) Trapesium
f) Segitiga
g) Persegi
h) Dan sebagainya.
Pendapat lain menurut Pardiyono (2010: 38-43) mengemukakan
macam-macam bangun datar antara lain adalah:
1) Persegi sama sisi
Bangun persegi sama sisi adalah bentuk bangun yang memiliki 4 sisi yang
sama ukuran panjangnya
Contoh :
Ciri atau sifat:
a) Setiap bangun memiliki 4 sisi, yang sama panjangnya.
b) Setiap bangun memiliki 4 sudut.
c) Panjang keliling = 4 x panjang sisi.
d) Luas bangun = 2 x panjang sisi.
18
2) Persegi Panjang
Bangun persegi panjang adalah bentuk bangun yang memiliki 4 sisi yang
meliputi 2 sisi pendek menunjukan ukuran lebar dan 2 sisi panjang
menunjukan ukuran panjang.
Contoh:
Ciri atau sifat:
a) Setiap bangun memiliki 4 sisi, yang terdiri atas dua sisi pendek (sisi
lebar) dan dua sisi panjang (sisi panjang).
b) Setiap bangun memiliki empat sudut.
c) Panjang keliling = 2 x sisi pendek + 2 x sisi panjang.
d) Luas bangun = sisi pendek x sisi panjang.
3) Segitiga
Bangun segitiga adalah bentuk bangun yang memiliki 3 sisi yang dapat
memiliki ukuran sama ataupun berbeda. Bangun segitiga dasarnya adalah
bangun persegi yang dibelah menjadi dua.
Contoh:
19
Ciri atau sifat:
a) Setiap bangun memiliki 3 sisi:
2 sisi sama panjang = sama kaki,
3 sisi sama panjangnya = sama sisi,
Semua sisi berbeda panjangnya.
b) Setiap bangun memiliki 3 sudut.
c) Panjang keliling= jumlah panjang ketiga sisi.
d) Panjang sisi miring = akar dari kuadrat sisi tegak
e) Luas bangun= ½ (lebar x tinggi)
4) Trapesium
Bangun trapesium adalah bangun yang merupakan gabungan antara
bangun segi empat (persegi sama sisi atau persegi panjang)dengan bangun
segitiga.
Contoh:
Ciri atau sifat:
a) Setiap bangun memiliki 4 sisi
2 sisi sejajar dengan panjang berbeda,
2 sisi tinggi yang bisa sama panjang atau berbeda panjang.
20
b) Setiap bangun memiliki 4 sudut.
c) Panjang keliling = jumlah panjang ke empat sisi.
d) Luas bangun = 2 x luas bangun segitiga + luas bangun persegi
5) Layang-layang
Bangun layang-layang adalah bentu bangun yang merupakan gabungan 4
buah bangun segitiga atau gabungan belahan-belahan bangun segiempat.
Ciri atau sifat:
a) Setiap bangun memiliki 4 sisi yaitu 2 pasang sisi yang sama panjang.
b) Setiap bangun memiliki 4 sudut.
c) Panjang keliling = jumlah panjang ke empat sisi.
d) Luas bangun = ½ (tinggi x lebar).
6) Jajaran Genjang
Bangun jajaran genjang adalah bentuk bangun yang merupakan gabungan
antara bangun segiempat dengan dua bangun segitiga.
Ciri atau sifat:
a) Setiap bangun memiliki 4 sisi yaitu 2 pasang sisi yang sejajar dan sama
panjang.
b) Setiap bangun memiliki 4 sudut.
c) Panjang keliling = jumlah panjang ke empat sisi.
d) Luas bangun = panjang x tinggi.
21
7) Belah Ketupat
Bangun belah ketupat adalah bentuk bangun yang merupakan gabungan 4
buah bangun segitiga atau gabungan dari belahan-belahan bangun
segiempat. Belah ketupat hampir sama dengan layang-layang akan tetapi
memiliki panjang sisi luar yang sama.
Ciri atau sifat:
a) Setiap bangun memiliki 4 sisi yang sejajar dan sama panjang.
b) Setiap bangun memiliki 4 sudut.
c) Panjang keliling = jumlah panjangke empat sisi.
d) Luas bangun = ½ (panjang x tinggi).
8) Lingkaran
Lingkaran adalah bentuk bangun berbentuk bulat yang tidak bersegi dan
tidak bersudut. Sisi bangun lingkaran dinyatakan dengan garis tengah
(diameter) dan jari-jari.
Ciri atau sifat:
a) Setiap bangun memiliki titik pusat (perpotongan antara dua garis
tengah).
b) Jari-jari adalah garis antara titik pusat dengan sisi keliling bangun. Jarijari dinyatakan dengan r.
c) Panjang keliling = 2 (π x r).
22
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa jenisjenis bangun datar banyak macamnya. Setiap bangun datar juga memiliki ciri
dan sifatnya masing-masing. Dalam penelitian peneliti hanya menggunakan
4 macam bangun datar antara lain : persegi, persegi panjang, segitiga dan
lingkaran.
3. Tinjauan Tentang Media Geoboard
a. Pengertian Media Pembelajaran
Media berasal dari bahasa latin medius yang berarti “tengah”,
“perantara”, “pengantar”. Suryani & Agung (2012: 136) mengemukakan
bahwa “Media pembelajaran adalah media yang digunakan dalam
pembelajaran, yaitu meliputi alat bantu guru dalam mengajar serta sarana
pembawa pesan dari sumber belajar ke penerima pesan belajar (siswa)”.
Pengertian lain dikemukan oleh Aqib (2014: 50) berpendapat bahwa
“media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk
penyaluran pesan dan merangsang terjadinya proses belajar pada si
pembelajar (siswa)”. Hamalik dalam Meimulyani & Caryoto (2013: 34)
menjelaskan bahwa “Media pembelajaran adalah metode dan teknik yang
digunakan untuk mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan
siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran”
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa media
pembelajaran adalah alat bantu apa saja yang dapat digunakan dalam proses
pendidikan dan pengajaran di kelas. Alat bantu tersebut bertujuan untuk
penyaluran pesan sehingga dapat mengefektifkan komunikasi dan interaksi
guru dan siswa serta merangsang belajar siswa. Dengan penggunaan media
pembelajaran, siswa dapat dengan mudah memahami materi pelajaran serta
tujuan dari pembelajaran juga akan tersampaikan secara maksimal.
Media pembelajaran bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)
khususnya anak tunagrahita sangatlah penting untuk dipakai dalam proses
pembelajaran. Hal ini dikarenakan anak tunagrahita memiliki daya berpikir
yang berbeda dengan anak normal sehingga butuh proses dalam penyampaian
23
materi yang lebih. Selain untuk membantu dan mempermudah penyampaian
materi pelajaran kepada peserta didik, media pembelajaran yang menarik juga
sangat dibutuhkan agar dapat menambah minat anak dalam pembelajaran.
b. Macam-Macam Media Pembelajaran
Sutikno (2013: 108) mengklasifikasikan media pembelajaran sebagai
berikut:
1) Dilihat dari jenisnya, media dibagi ke dalam:
a) Media audio adalah media yang hanya mengandalkan
kemampuan suara saja, seperti radio, cassete recorder, piringan
hitam.
b) Media visual adalah media yang hanya mengandalkan indera
penglihatan. Media visual ada yang menampilkan gambar atau
simbol yang bergerak seperti film strip (rangkaian film), foto,
gambar atau lukisan, cetakan. Ada pula media visual yang
menampilkan gambar atau simbol yang bergerak seperti film bisu
dan film kartun.
c) Media audio visual merupakan media yang mempunyai unsur
suara dan unsur gambar. Media audio visal terdiri atas audio
visual diam, yaitu media yang menampilkan suara dan gambar
diam seperti film bingkai suara (sound slides), film rangkaian
suara. Audio visual gerak, yaitu media yang dapat menampilkan
unsur suara dan gambar yang bergerak seperti film suara dan
video cassette.
2) Dilihat dari daya liputnya, media dibagi menjadi:
a) Media dengan daya liputnya yang luas dan serentak
Penggunaan media ini tidak terbatas oleh tempat dan ruang serta
dapat menjangkau jumlah siswa yang banyak dalam waktu yang
sama.
b) Media dengan daya liputnya yang terbatas oleh ruang dan tempat
Media ini dalam penggunaanya membutuhkan ruang dan tempat
yang khusus seperti film, sound slide, film rangkai, yang harus
menggunakan tempat tertutup dan gelap.
3) Dilihat dari bahan pembuatannya media dibagi atas :
a) Media sederhana, yakni media yang bahan dasarnya mudah
diperoleh dengan harga yang murah, cara pembuatannya mudah,
dan penggunasnya tidak sulit.
b) Media kompleks, yakni media dengan bahan yang sulit didapat,
alat tidak mudah dibuat dan harga relatif mahal.
24
Sutjipto dan Kustandi (2011: 33-35) mengemukakan bahwa
berdasarkan perkembangan teknologi, maka media pembelajaran dapat
dikelompokkan ke dalam empat kelompok yaitu:
1) Media hasil teknologi cetak
2) Media hasil teknologi audio visual
3) Media hasil teknologi komputer
4) Media hasil gabungan teknologi cetak dan komputer
Menurut Suryani dan Agung (2012: 143) berpendapat bahwa
penggolongan media jika dilihat dari berbagai sudut pandang adalah sebagai
berikut:
1) Dilihat dari jenisnya media dapat digolongkan menjadi media audi,
media visual dan media audio visual.
2) Dilihat dari daya liputnya media dapat digolongkan menjadi media
dengan daya liput luas dan serentak, media dengan daya liput
terbatas dengan ruang dan tempat dan media pangajaran individual.
3) Dilihat dari bahan pembuatannya media dapat digolongkan menjadi
sederhana (murah dan mudah memperolehnya) dan media
kompleks.
4) Dilihat dari bentuknya media dapat digolongkan menjadi media
grafis (dua dimensi), media tiga dimensi, dan media elektronik.
Berdasarkan berbagai pendapat di atas, mengenai macam-macam
media pembelajaran dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran yang
dapat menunjang dalam proses pembelajaran banyak macamnya diantaranya
media audio, media visual, media audio visual, dan lain-lain. Tergantung
sudut pandang kita melihat media tersebut.
c. Fungsi Media Pembelajaran
Menurut Sutikno (2013: 106) berpendapat bahwa dalam proses
pembelajaran, hadirnya media sangat diperlukan, sebab media mempunyai
peranan besar yang berpengaruh terhadap pencapaian tujuan pembelajaran.
Ada beberapa fungsi penggunaan media dalam proses pembelajaran, di
antaranya:
1) Membantu untuk
pembelajaran;
mempercepat
pemahaman
dalam
proses
25
2) Memperjelas penyajian pesan agar tidak bersifat verbalistis (dalam
bentuk kata-kata tertulis atau lisan);
3) Mengatasi keterbatasan ruang;
4) Pembelajaran lebih komunikatif dan produktif;
5) Waktu pembelajaran bisa dikondisikan;
6) Menghilangkan kebosanan siswa dalam belajar;
7) Meningkatkan motivasi siswa dalam mempelajari sesuatu;
8) Melayani gaya belajar siswa yang beraneka ragam, serta;
9) Meningkatkan kadar keaktifan/keterlibatan siswa dalam kegiatan
pembelajaran.
Sadiman dkk dalam Suryani dan Agung (2012: 146) menyampaikan
fungsi media (media pendidikan) secara umum adalah sebagi berikut:
1) Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat visual.
2) Mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan daya indra, misal objek
yang terlalu besar untuk dibawa ke kelas dapat diganti dengan
gambar, slide, dsb., peristiwa yang terjadi di masa lalu bisa
ditampilkan lagi lewat film, video, foto, atau film bingkai.
3) Meningkatkan kegairahan belajar, memungkinkan siswa belajar
sendiriberdasarkan minat dan kemampuannya, dan mengatasi sikap
pasif siswa.
4) Memberikan rangsangan yang sama, dapat menyamakan
pengalaman dan persepsi siswa terhadap isi pelajaran.
Pendapat lain mengenai manfaat media pembelajaran dari Sudjana dan
Rivai dalam Sundayana (2015: 9) menyebutkan ada enam fungsi pokok media
pembelajaran dalam proses pembelajaran antara lain:
1) Sebagai alat bantu untuk mewujudkan situasi belajar mengajar yang
efektif.
2) Media pengajaran merupakan bagian yang integral dari keseluruhan
situasi mengajar. Ini merupakan salah satu unsur yang harus
dikembangkan oleh seorang guru.
3) Dalam pemakaian media pengajaran harus melihat tujuan dan bahan
ajar.
4) Media pengajaran bukan sebagai alat hiburan, akan tetapi alat ini
dijadikan untuk melengkapi proses belajar mengajar supaya lebih
menarik perhatian peserta didik.
5) Diutamakan untuk mempercepat proses belajar mengajar serta dapat
membantu siswa dalam menangkap pengertian yang disampaikan
oleh guru.
6) Penggunaan alat ini diutamakan untuk meningkatkan mutu belajar
mengajar.
26
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa penggunaan
media pembelajaran dalam proses pembelajaran mempunyai peranan yang
sangat besar yaitu sebagai alat bantu yang dapat digunakan untuk membantu
peserta didik memahami suatu materi pembelajaran yang diberikan oleh guru,
media pembelajaran juga membantu meningkatkan minat, perhatian dan
kegairahan belajar. Sebab dengan media pembelajaran peserta didik tidak
hanya mendengarkan penjelasan dari guru tetapi juga berperan aktif dalam
proses pembelajaran, seperti: mengamati, mencoba, dan mendemontrasikan.
Sehingga dalam proses belajar mengajar tujuan dari pembelajaran dapat
dicapai secara maksimal.
d. Geoboard
1) Pengertian Geoboard
Media geoboard merupakan modifikasi dari media papan baca
dengan sedikit merubah tampilan pada sisi-sisi papan baca dengan
menambahkan beberapa paku secara permanen yang bertujuan untuk
tempat mengkaitkan tali. Tali tersebut digunakan untuk membuat bentukbentuk bangun datar, sesuai dengan sub bahasannya yakni dengan
mengaitkan ujung-ujung tali pada paku yang tersedia pada geoboard
sehingga membentuk bangun datar yang diinginkan (Yatiningsih dan
Maryadi, 2010). Menurut Muhsetyo dalam Rahayu (2015) mengemukakan
media manipulatif papan berpaku adalah media yang terbuat dari triplek
dan paku, peragaannya menggunakan karet gelang.
Jannah (2014: 3) berpendapat, “Media papan berpaku adalah media
yang terbuat dari papan atau tripleks, paku dan dilengkapi dengan karet
gelang. Fungsinya adalah untuk menanamkan konsep bangun datar pada
anak, terutama anak SD”.
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa geoboard
atau papan berpaku merupakan media pembelajaran matematika yang
terbuat dari papan atau triplek, paku dan dilengkapi karet gelang atau tali.
Karet gelang atau tali digunakan untuk membentuk bangun datar yang
27
diinginkan. Geoboard tersebut dapat digunakan untuk menanamkan
pemahaman konsep kepada anak tentang materi geometri pokok bahasan
bangun datar. Geoboard yang digunakan dalam penelitian dibuat menarik
dan menggunakan karet gelang berbagai warna.
2) Kelebihan dan Kekurangan Geoboard
Winasis
geoboard/papan
dalam
Prasdita
berpaku
(2013:
memiliki
3)
berpendapat
kelebihan-kelebihan
media
yaitu:
a)
bentuknya sederhana sehingga mudah pembuatannya; b) lebih ekonomis
karena biayanya murah dan dapat dipakai berkali-kali; c) bahan dan alat
produksinya mudah diperoleh; d) terdapat unsur bermain dalam
penggunaannya karena dapat digunakan untuk membentuk macam-macam
bangun datar dengan permainan karet gelang.
Berdasarkan penelitian yang diakukan oleh Rahayu (2015) media
media
manipulasi
meningkatkan
papan
kemampuan
berpaku
guru
mempunyai
kelebihan
merencanakan,
dapat
melaksanakan
pembelajaran hasil belajar siswa. Penelitian yang lain dilakukan oleh
Jannah (2014) menunjukkan bahwa kelebihan penggunaan media papan
berpaku yaitu mampu meningkatkan hasil belajar siswa materi bangun
datar. Selain itu hasil penelitian yang dilakukan oleh Yatiningsih dan
Maryadi (2010) menjelaskan kelebihan dari media geoboard yaitu dapat
meningkatkan prestasi belajar matematika pada siswa tunanetra kelas D-2
di SLB-A YAAT Klaten.
Selain ada kelebihan juga ada kekurangan dari geoboard itu sendiri,
kekurangan geoboard menurut Santoso (2014: 22) antara lain:
a) Mengajar dengan menggunakan alat peraga papan berpaku lebih
banyak menuntut guru.
b) Papan berpaku sangat berbahaya bagi anak karena terdapat paku
yang tajam jadi perlu hati-hati saat mengajar
c) Banyak waktu yang terbuang untuk membuat alat peraga papan
berpaku
d) Perlu kesediaan berkorban secara materiil
28
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa media
geoboard atau sering disebut media papan berpaku mempunyai beberapa
kelebihan dan kekurangan dari berbagai segi antara lain yaitu dari segi
pembuatannya, penggunaanya dan pemanfaatannya.
B. Kerangka Berpikir
Anak tunagrahita ringan pada awalnya kurang memiliki pemahaman
konsep bangun datar. Dalam pembelajaran di kelas VI SDLB C Setya Darma anak
tunagrahita ringan masih kesulitan berpikir abstrak dan simbolis tentang konsep
geometri pokok bahasan bangun datar. Konsep bangun datar pada kurikulum SDLB
kelas VI termasuk dalam mata pelajaran matematika. Pemahaman konsep bangun
datar termasuk lingkup pengembangan kognitif. Pengembangan kognitif bertujuan
mengembangkan kemampuan berpikir anak untuk memperoleh belajarnya. Agar
anak tunagrahita ringan mampu menerima pelajaran dengan maksimal, diperlukan
media yang mampu membangkitkan semangat belajar anak dan mampu membantu
anak dalam memahami pelajaran yang disampaikan guru. Terlebih lagi mereka
mempunyai daya abstraksi yang kurang, sehingga dengan media pembelajaran anak
dapat mudah memahami pelajaran yang bersifat abstrak menjadi lebih konkrit.
Pemahaman konsep tentang geometri pada anak kelas VI SDLB C dapat
dilakukan dengan media geoboard. Media tersebut merupakan cara yang cocok
untuk meningkatkan pemahaman geometri pokok bahasan bangun datar.
Dikarenakan penggunaan geoboard di dalamnya melalui praktik langsung. Praktik
langsung melibatkan anak secara aktif dalam pembelajarannya. Media geoboard
dalam pembelajarannya juga melibatkan interaksi aktif dan dinamis antara guru dan
anak. Pemahaman bangun datar dengan media geoboard diharapkan dapat
meningkatkan pemahaman geometri khususnya pokok bahasan bangun datar anak
tunagrahita ringan kelas VI SDLB C Setya Darma Surakarta. Dalam penelitian ini,
peneliti menggunakan media geoboard dalam pembelajaran pemahaman bangun
datar anak tunagrahita ringan kelas VI SDLB C Setya Darma Surakarta. Skema
kerangka berpikir dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar 2.1.
29
Pembelajaran Matematika materi geometri pokok
bahasan bangun datar kelas VI SDLB C Setya
Darma Surakarta
Pembelajaran belum menggunakan media geoboard
Kemampuan pemahaman bangun datar anak
tunagrahita ringan kelas VI SDLB C Setya Darma
Surakarta rendah
Pembelajaran menggunakan media geoboard
Kemampuan pemahaman bangun datar anak
tunagrahita ringan kelas VI SDLB C Setya Darma
Surakarta meningkat
Gambar 2.1. Skema Kerangka Berpikir
C. Hipotesis
Hipotesis penelitian menurut Arikunto (2010: 110), hipotesis dapat
diartikan sebagai suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan
penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul. Menurut Sugiono (2013:
159) hipotesis dapat diartikan sebagai jawaban sementara terhadap rumusan
masalah penelitian.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hipotesis
penelitian adalah suatu jawaban sementara terhadap permasalahan dalam
penelitian. Dalam penelitian ini peneliti mengajukan hipotesis sebagai berikut:
“penggunaan geoboard berpengaruh dalam meningkatkan pemahaman bangun
datar anak tunagrahita ringan kelas VI SDLB C Setya Darma Surakarta tahun ajaran
2015/2016”
Download