pengaruh dukungan sosial terhadap kualitas hidup lanjut usia di

advertisement
PENGARUH DUKUNGAN SOSIAL
TERHADAP KUALITAS HIDUP LANJUT USIA
DI PUSAT SANTUNAN KELUARGA (PUSAKA)
KECAMATAN PANCORAN JAKARTA SELATAN
Skripsi
Diajukan untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar Sarjana Sosial
(S.Sos)
Oleh
YUSNIA PRATIWI
NIM: 1111054100018
PROGRAM STUDI KESEJAHTERAAN SOSIAL
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1436 H /2015 M
ABSTRAK
YUSNIA PRATIWI, 1111054100018, PENGARUH DUKUNGAN SOSIAL
TERHADAP KUALITAS HIDUP LANJUT USIA DI PUSAT SANTUNAN
KELUARGA (PUSAKA) KECAMATAN PANCORAN JAKARTA
SELATAN, DI BAWAH BIMBINGAN NOOR BEKTI NEGORO, SE,M.SI.
Lanjut usia (lansia) adalah seseorang yang telah berusia 60 tahun ke atas.
Lansia merupakan istilah tahap akhir dari proses penuaan. Di usia lanjut seseorang
banyak mengalami berbagai permasalahan hidup. Permasalahan yang dihadapinya
akan saling berkaitan, seperti kondisi fisik dan psikis dapat mempengaruhi
keadaan sosial ekonomi. Sehingga kecendrungan lansia tergantung pada orang
lain menjadi cukup besar, mereka membutuhkan bantuan atau dukungan sosial
dari orang-orang di sekitarnya. Dukungan sosial tersebut bertujuan untuk
membantu lansia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Mereka yang berusia
lanjut tentunya menginginkan kehidupan yang sejahtera dimana terpetuhinya
kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Kesejahteraan sama dengan peningkatan kualitas
hidup, yang mana kualitas hidup memiliki arti kepuasan hidup atau terpenuhinya
kebutuhan hidup berdasarkan kondisi fisik, psikologis, dan konsisi sosial yang
dirasakan seseorang. Penelitian ini dilakukan di Pusat Santunan Keluarga
(PUSAKA) yang ada di Kecamatan Pancoran, PUSAKA merupakan organisasi
kemanusian berbasis masyarakat. Keberadaan PUSAKA yang ada di DKI Jakarta
mencapai 123 PUSAKA.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh dukungan sosial
terhadap kualitas hidup lanjut usia. Penelitian ini menggunakan pendekatan
kuantitatif dengan jumlah sampel sabanyak 51 responden. Alat ukur yang
digunakan untuk mengukur variabel dukungan sosial yaitu The Social Provisions
Scale yang dikembangkan oleh Weiss. Kemudian Alat ukur untuk variabel
kualitas hidup menggunakan World Health Organization Quality of Life
(WHOQOL-OLD) yang lebih spesifik digunakan untuk mengukur kualitas hidup
pada lansia. Serta teknik pengolaan dan analisis data yang digunakan dengan
analisis statistik yang dilakaukan dengan bantuan software SPSS 20 for windows
release.
Dari hasil penelitian ini diperoleh berdasarkan F-Test di dapatkan nilai
signifikasinya sebesar 0,000 dimana angka tersebut lebih kecil dari 0,05 ini berarti
variabel dukungan sosial memiliki pengaruh terhadap variabel kualitas hidup
lanjut usia. Adapun berdasarkan hasil Adjusted R Square (R²) sebesar 42,8%
artinya variabel dukungan sosial mempengaruhi variabel kualitas hidup lanjut usia
sebesar 42,8% sedangkan sisanya sebesar 57,2% dipengaruhi atau dijelaskan oleh
variabel lain di luar variabel penelitian. Hasil Penelitian ini diharapkan dapat
dijadikan masukan yang positif bagi semua pihak agar dapat lebih memperhatikan
kondisi lanjut usia serta dapat memberikan dukungan lebih kepada sesorang yang
telah berusia lanjut.
Kata Kunci: Dukungan Sosial, Kualitas Hidup Lanjut Usia
i
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr.Wb
Segala Puji bagi Allah SWT Yang telah memberikan rahmat dan karuniaNya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang
berjudul “Pengaruh Dukungan Sosial Terhadap Kualitas Hidup Lanjut Usia di
Pusat Santunan Dalam Keluarga (PUSAKA) Kecamatan Pancoran”. Shalawat
serta salam senantiasa selalu tercurah kepada junjungan Nabi Muhammad SAW.
Skripsi ini merupakan tugas akhir yang harus diselesaikan sebagai syarat
guna meraih gelar sarjana sosoal jurusan kesejahteraan sosial. Penulis menyadari
banyak pihak yang telah membantu dalam proses penyelesain skripsi ini. Oleh
karena itu, dengan segala kerendahan hati penulisi ingin mengucapkan banyak
terimakasih kepada pihak-pihak yang telah membantu hingga selesainnya
penyusunan skripsi ini baik secara langsung maupun tidak langsung.
1. Dr. Arief Subhan, MA selaku Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu
Komunikasi. Suparto, M.Ed, Ph.D selaku Wakil Dekan Bidang Akademik.
Dr. Roudhonah, MA selaku Wakil Dekan bidang Administrasi Umum.
Dr. Suhaimi, M, SI selaku Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan.
2. Siti Napsiyah, MSW, selaku Ketua Program Studi Kesejahteraan Sosial,
Ahmad Zaky, M.Si, selaku Sekretaris Program Studi, dan para dosen
Program Studi Kesejahteraan Sosial yang telah banyak memberikan ilmu
dan pengalamannya kepada penulis. Semoga ilmu yang diberikan
bermanfaat di masa yang akan datang.
ii
3.
Ir. Noor Bekti Negoro, SE,M.SI sebagai dosen pembimbing yang telah
banyak memberi nasihat dan bimbingan kepada penulis dalam penyusunan
skripsi ini.
4. Pengurus Pusat Santunan Keluarga (PUSAKA) yang ada di Kecamatan
Pancoran.
5. Trimakasih kepada kedua orangtuaku tercinta Ayahku Yusuf dan Ibuku
Marwiyah serta nenekku yang tak pernah hentinya memanjatkan doa dan
memberikan dukungannnya kepada penulis, sehingga penulis selalu
termotivasi dengan kasih sayang kalian yang begitu besar. Dan untuk
adikku Astri dan Lulu yang juga turut memberikan dukungan bagi
kelancaran penulisan skripsi ini.
6. Teman-teman Kesejahteraan Sosial Angkatan 2011, khususnya kepada
sahabat dan orang terdekatku Mayang, Tri, Nindi, Retno, Sonia, Alfi, Elis,
Asif, Ita dan Mira.
Jakarta, Juni 2015
Yusnia Pratiwi
iii
DAFTAR ISI
ABSTRAK........................................................................................................... i
KATA PENGANTAR ........................................................................................ ii
DAFTAR ISI ..................................................................................................... iv
DAFTAR TABEL ........................................................................................... viii
DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... ix
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 1
A. Latar Belakang ........................................................................................... 1
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah .......................................................... 7
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ................................................................... 8
D. Tinjauan Pustaka ........................................................................................ 9
E. Sistematika Penulisan ............................................................................... 10
BAB II KERANGKA TEORITIS ................................................................... 12
A. Lanjut Usia ............................................................................................... 12
1. Pengertian Lanjut Usia ........................................................................ 12
2. Periode Lanjut Usia ............................................................................ 13
3. Kebutuhan Lanjut Usia ....................................................................... 14
4. Hak dan Kewajiban Lanjut Usia.......................................................... 16
B. Teori Lanjut Usia...................................................................................... 18
1. Teori Kelekatan (Attachment Theory) ................................................. 18
2. Teori Penarikan Diri (Disengagement Theory) .................................... 18
3. Teori Aktifitas (Activity Theory) ......................................................... 19
4. Teori Kontinuitas (Continuity Theory) ................................................ 19
C. Dukungan Sosial....................................................................................... 20
1. Pengertian Dukungan Sosial .............................................................. 20
2. Jenis-Jenis Dukungan Sosial .............................................................. 21
iv
3. Komponen Dukungan Sosial .............................................................. 22
4. Manfaat Dukungan Sosial .................................................................. 24
5. Sumber-Sumber Dukungan Sosial ...................................................... 25
6. Pengukuran Dukungan Sosial............................................................. 25
D. Kualitas Hidup Lanjut Usia....................................................................... 26
1. Pengertian Kualitas Hidup .................................................................. 26
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kualitas Hidup ............................. 27
3. Tujuan Peningkatan Kualitas Hidup Lanjut Usia ................................. 28
4. Domain Kualitas Hidup ..................................................................... 28
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ....................................................... 34
A. Pendekatan dan Desain Penelitian ............................................................. 34
B. Ruang Lingkup Penelitian ......................................................................... 34
1. Subjek dan Objek Penelitian............................................................ 34
2. Tempat dan Waktu Penelitian .......................................................... 35
C. Populasi dan Sampel Penelitian ................................................................ 36
1. Populasi ........................................................................................... 36
2. Sampel ............................................................................................ 36
D. Metode Pengumpulan Data ....................................................................... 37
E. Variabel Penelitian.................................................................................... 38
F. Definisi Konseptual Variabel Penelitian .................................................... 39
G. Definisi Oprasional Variabel Penelitian .................................................... 40
H. Hipotesis Penelitian .................................................................................. 49
I. Uji Instrument........................................................................................... 49
1. Uji Validitas Data ............................................................................... 49
2. Uji Reabilitas Data .............................................................................. 50
J. Teknik Analisis Data ................................................................................ 51
v
1. Uji Normalitas Kolmogrov-Smirnov .................................................. 52
2. Uji Homogenitas ................................................................................ 52
3. Uji Koefisien Korelasi ....................................................................... 53
4. Uji Koefisien Determinasi .................................................................. 54
5. Uji F-test (Simultan) .......................................................................... 55
6. Uji Regresi Linear Berganda .............................................................. 55
7. Uji T-test (Persial) ............................................................................. 56
BAB IV GAMBARAN UMUM LEMBAGA .................................................. 58
A. Visi, Misi dan Tugas Pokok ...................................................................... 58
B. Tujuan dan Sasaran Lembaga ................................................................... 59
C. Jumlah Lanjut Usia ................................................................................... 59
D. Struktur Organisasi ................................................................................... 60
E. Metode dan Jenis Pelayanan ..................................................................... 60
F. Sarana dan Prasarana ................................................................................ 62
G. Sumberdaya Manusia dan Pendanaan ....................................................... 63
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ................................... 64
A. Gambaran Umum Responden ................................................................... 64
B. Uji Instrument........................................................................................... 66
C. Analisis Data Penelitian ............................................................................ 72
1. Uji Normalitas Kolmogrov-Smirnov .................................................... 72
2. Uji Homogenitas .................................................................................. 72
3. Uji Koefisien Korelasi .......................................................................... 73
4. Uji Koefisien Determinasi .................................................................... 76
5. Uji F-test .............................................................................................. 76
6. Uji Linier Berganda.............................................................................. 77
7. Uji T-test .............................................................................................. 79
vi
D. Analisis Perspektif Pekerjaan Sosial ................................................................. 81
BAB VI PENUTUP .......................................................................................... 87
A. Kesimpulan............................................................................................... 87
B. Saran ........................................................................................................ 88
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
vii
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Variabel Penelitian ............................................................................. 39
Tabel 3.2 Definisi Oprasional dan Indikator Penelitian....................................... 41
Tabel 3.3 Blue Print Skala Dukungan Sosial (sebelum validitas instrument) ...... 43
Tabel 3.4 Blue Print Skala Kualitas Hidup (sebelum validitas instrument) ......... 44
Tabel 3.5 Blue Print Skala Dukungan Sosial (setelah validitas instrument) ........ 46
Tabel 3.6 Blue Print Skala Kualitas Hidup (setelah validitas instrument) ........... 47
Tabel 3.7 Skala Likert ........................................................................................ 51
Tabel 3.8 Interprestasi terhadap Koefisien Korelasi............................................ 54
Tabel 4.1 Data Lanjut Usia Berdasarkan Jenis Kelamin ..................................... 59
Tabel 4.2 Data Lanjut Usia Berdasarkan Usia .................................................... 59
Tabel 5.1 Jenis Kelamin Responden ................................................................... 64
Tabel 5.2 Usia Responden.................................................................................. 65
Tabel 5.3 Uji Validitas Variabel Dukungan Sosial ............................................. 66
Tabel 5.4 Uji Validitas Variabel Kualitas Hidup Lanjut Usia ............................ 68
Tabel 5.5 Reabilitas ........................................................................................... 71
Tabel 5.6 Hasil Uji Normalitas ........................................................................... 72
Tabel 5.7 Hasil Uji Homogenitas ....................................................................... 73
Tabel 5.8 Hasil Koefisien Korelasi ..................................................................... 75
Tabel 5.9 Hasil Uji Koefisien Determinasi ......................................................... 76
Tabel 5.10 Hasil Uji F-test ................................................................................. 77
Tabel 5.11 Hasil Uji Koefisien Regresi Berganda dan Uji T-test ........................ 77
viii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1
- Surat Bimbingan Skripsi
Lampiran 2
- Surat Izin Penelitian
Lampiran 3
- Angket/Kuisioner
Lampiran 4
- Uji Validitas
Lampiran 5
- Uji Reliabilitas
Lampiran 6
- Uji Analisis Data
ix
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Penduduk yang memasuki usia lanjut semakin lama semakin signifikan
jumlahnya di banyak negara tidak terkecuali di Indonesia. Fenomena
meningkatnya
pertumbuhan
penduduk
usia
lanjut
merupakan
sebuah
kecenderungan yang terjadi sebagai dampak dari perubahan struktur usia dalam
beberapa waktu belakangan. Penurunan angka kelahiran dan peningkatan usia
harapan hidup menciptakan situasi dimana penduduk berusia 60 tahun atau lebih
menjadi segmen dengan pertumbuhan terpesat dari sebuah penduduk. Jumlah
anak menurun sedangkan proporsi penduduk berusia produktif 15-59 tahun
bertambah. Berdasarkan data Sensus Penduduk 2010, jumlah penduduk Indonesia
berusia lanjut di Indonesia mencapai 18,04 juta jiwa atau sekitar 7,6% dari total
penduduk Indonesia yang berjumlah 237,6 juta jiwa.1
Berdasarkan UU No. 13 tahun 1998, yang dimaksud lanjut usia adalah
seseorang yang telah berusia 60 tahun keatas. 2 Lanjut usia merupakan tahap
perkembangan normal yang akan dialami oleh setiap individu yang mencapai usia
lanjut dan merupakan kenyataan yang tidak dapat dihindarkan. Lanjut usia adalah
kelompok orang yang sedang mengalami suatu proses perubahan yang bertahap
yang berkaitan dengan penurunan daya kemampuan untuk hidup serta penurunan
1
Dadang Hawari , Sejahtera di Usia Senja (Jakarta: FKUI, 2007), h. 6.
Soekidjo Notoatmodjo, Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni (Jakarta: Rineka Cipta,
2007), h. 275.
2
1
2
kepekaan secara individual. Lanjut usia merupakan istilah tahap akhir dari proses
penuaan.
Peningkatan usia harapan hidup mengakibatkan jumlah lanjut usia
mengalami peningkatan tiap tahun. Penduduk lanjut usia mengalami pertumbuhan
tercepat dibandingkan dengan kelompok usia lainnya. Indonesia termasuk Negara
berkembang dengan jumlah penduduk kurang lebih 237,6 juta jiwa pada tahun
2010 dan menempati peringkat empat dunia setelah Cina, India dan Jepang dalam
hal penduduk lansia terbanyak didunia. WHO memperkirakan tahun 2025 jumlah
lansia di seluruh dunia akan mencapai 1,2 miliar orang yang akan terus bertambah
hingga 2 miliar orang di tahun 2050. WHO juga memperkirakan 75% populasi
lansia di dunia pada tahun 2025 berada di negara berkembang.3
Berdasarkan Data Susenas BPS 2012 menunjukkan bahwa lanjut usia di
Indonesia sebanyak 7,56% dari total penduduk Indonesia. Menurut data tersebut
sebagian besar lanjut usia di Indonesia berjenis kelamin perempuan. Sementara itu
Bappenas memperkirakan pada tahun 2050 akan ada 80 juta lanjut usia di
Indonesia dengan komposisi usia 60-69 tahun berjumlah 35,8 juta, usia 70-79
tahun berjumlah 21,4 juta dan 80 tahun ke atas berjumlah 11,8 juta.4 Banyaknya
jumlah lanjut usia di Indonesia bisa dimaknai sebagai keberhasilan pembangunan
manusia dengan indikator bertambahnya usia harapan hidup. Di sisi lain hal itu
juga menghadirkan tantangan mengenai angka ketergantungan hidup yang akan
berkorelasi dengan beban ekonomi yang ditanggung penduduk usia produktif
untuk membiayai penduduk lanjut usia. Apalagi permasalahan lanjut usia tidak
3
Badan Pusat Statistik, “Laporan Bulanan Data Sosial Ekonomi,” artikel diakses pada 22
September 2014 dari http://www.bps.go.id/download_file/IP_Februari_2014.pdf
4
Hendra Wardhana, “Mereka Lansia, Mereka Berdaya,” artikel diakses pada 22
September 2014 dari http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2014/05/29/mereka-lansia-merekaberdaya-655403.html
3
hanya sebatas produktivitas tapi juga menyangkut hal lain seperti pendidikan dan
kesehatan.
Menurut Komisi Nasional Lanjut Usia yang dikutip dari tesis Ayu Diah,
bahwa ada beberapa permasalahan yang umum dijumpai pada masa tua antara lain
masalah hubungan keluarga, hubungan sosial yang cenderung mengisolasi diri
dan kurang melakukan sosialisasi, menurunnya daya tahan tubuh sehingga
penyembuhan penyakit lebih lama, akses transportasi yang belum ramah lansia
dan terlalu jauh dari rumah serta pekerjaan rumah tangga yang harus dilakukan
sendiri dan tidak jarang melakukan pekerjaan untuk anggota keluarga yang lain
seperti menjaga rumah, pekerjaan rumah, mengasuh cucu dan lain-lain.
Permasalahan-permasalahan yang dihadapi para lanjut usia tersebut akan saling
berkaitan, seperti kondisi fisik dan psikis dapat mempengaruhi keadaan sosial
ekonomi, sehingga kecenderungan lanjut usia menjadi tergantung pada orang lain
menjadi cukup besar.5
Meningkatnya jumlah populasi lanjut usia yang diiringi dengan
meningkatnya permasalahan yang dihadapi lanjut usia juga berdampak terhadap
penurunan kualitas hidup lansia, seperti penurunan kapasitas mental, perubahan
peran sosial, kepikunan, serta depresi.6 Dalam jurnal psikologi yang ditulis oleh
Dewinta menunjukan bahwa hasil survei awal terhadap 10 lansia didapatkan
bahwa 7 orang lansia atau 70% mengalami penurunan kualitas hidup terutama
dalam rasa kesepian dan kurangnya perhatian dari anggota keluarga lain.
5
Ayu Diah, “Evaluasi Proses Pelaksanaan Program Elderly Day Care Services Tahun
2012 di Panti Sosial Tresna Werdha Budhi Dharma Bekasi Timur,” (Tesis S2 Fakultas Ilmu Sosial
dan Politik, Universitas Indonesia, 2012), h. 20.
6
Dewianita, dkk., “Fungsi keluarga, dukungan sosial dan kualitas hidup lansia di wilayah
kerja Puskesmas III Denpasar Selatan,” artikel diakses pada 1 Maret 2015 dari
file:///C:/Users/Acer/Downloads/7878-13923-1-SM.pdf
4
Rendahnya kualitas hidup lansia sering dihubungkan dengan fungsi keluarga dan
dukungan sosial, baik dukungan sosial dari pasangan, keluarga ataupun
masyarakat.
World Health Organization Quality of Life (WHOQOL) mendefinisikan
kualitas hidup sebagai persepsi individu terhadap kehidupannya di masyarakat
dalam konteks budaya dan sistem nilai yang ada yang terkait dengan tujuan,
harapan, standar, dan perhatian. Kualitas hidup merupakan suatu konsep yang
sangat luas yang dipengarui kondisi fisik individu, psikologis, tingkat
kemandirian, serta hubungan individu dengan lingkungan.7
Kualitas hidup erat kaitannya dengan kesejahteraan lanjut usia dimana
dalam hal ini kesejahteraan lanjut usia menurut undang-undang nomor 13 tahun
1998 yaitu adalah suatu tata kehidupan dan penghidupan sosial, baik material
maupun spiritual yang diliputi rasa keselamatan, kesusilaan, dan ketenteraman
lahir dan batin yang memungkinkan setiap lanjut usia untuk mengadakan
pemenuhan kebutuhan jasmani, rohani dan sosial yang sebaik-baiknya bagi diri,
keluarga serta masyarakat dengan menjunjung tinggi hak dan kewajiban asasi
manusia. 8 Jadi dalam hal ini kesejahteraan lanjut usia dapat dikaitkan dengan
peningkatan kualitas hidup, dimana indikator kesejahteraan lanjut usia dan
kualitas hidup secara berama-sama dapat dilihat dari kondisi fisik, kondisi
psikologis, serta hubungan sosial seseorang.
7
Amalia Yuliati, dkk., “Perbedaan Kualitas Hidup Lansia yang Tinggal di Komunitas
dengan di Pelayanan Sosial Lanjut Usia (The Different of Quality of Life Among the Elderly who
Living at Community and Social Services),” Jurnal Pustaka Kesehatan, vol. 2 (Januari 2014): h. 88.
8
Undang-Undang Online, “Undang-undang Kesejahteraan Lansia nomor 13 tahun 1998,”
artikel diakses pada 17 Januari 2015 dari file:///C:/Users/Acer/Downloads/Undang-Undang-tahun1998-13-98%20(3).pdf
5
Banyaknya permasalahan yang dihadapi yang dapat mempengaruhi
kualitas hidup lanjut usia, tentunya membutuhkan dukungan dari orang-orang
disekitarnya mengingat keterbatasan yang dimiliki oleh lanjut usia. Dukungan
tersebut berupa dukangan sosial yang bisa di terima dari keluarga, pasangan hidup
atau kelompok masyarakat. Dukungan sosial merupakan bantuan yang diberikan
berupa kasih sayang, kepedulian, perhatian dan bantuan kepada individu. Menurut
Wills dan Filler dukungan sosial membantu lansia mengatasi persoalan yang
dihadapinya lebih efektif.9 Menurut Cutrona dukungan sosial meruapakan suatu
proses hubungan yang terbentuk dari individu dengan persepsi bahwa seseorang
dicintai dan dihargai, disayangi untuk memberikan bantuan kepada individu yang
mengalami tekanan-tekanan dalam kehidupan.
Bila merujuk pada Al-Quran lanjut usia bisa dimaknai sebagai orang tua
yang sudah tua usianya. Dan Allah SWT memerintahkan untuk merawat orang tua
yang telah lanjut usia hal ini merupakan salah satu bentuk dukungan sosial,
sebagaimana yang dijelaskan dalam surah al-Isra/17: 23 berikut:10
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah
selain Dia (berbuat syirik) dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu
dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau keduaduanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali
9
Arianti Kusumawardani, “Hubungan antara Dukungan Sosial dan Kualitas Hidup pada
Lansia Penderita Hipertensi,” artikel diakses pada 20 Februari 2015 dari
http://pustaka.unpad.ac.id/wpcontent/uploads/2014/08/Hubungan-antara-Dukungan-Sosial-dan
Kualitas-Hidup-pada-Lansia-Penderita-Hipertensi.pdf
10
Al-Qur’an Online, “surah Al-Isra ayat 23,” artikel diakses pada 22 September 2014 dari
http://quran.com/17/23-24
6
janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah
kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”
Disebutkan dalam surat tersebut untuk merawat orang tua yang sudah
berusia lanjut bahkan diperintahkan untuk memuliakan orang tua yang sudah
lanjut usia. Dalam merawat orang tua tersebut bisa dimaknai dengan memberikan
kasih sayang, perhatian dan kepedulian yang merupakan bentuk dari dukungan
sosial.
Oleh karena itu untuk melihat apakah ada pengaruh antara dukungan sosial
terhadap kualitas hidup lanjut usia, maka dalam penelitian ini peneliti akan
meneliti kualitas hidup lanjut usia di PUSAT SANTUNAN KELUARGA
(PUSAKA). PUSAKA merupakan salah satu organisasi kemanusiaan yang
memiliki pola pelayanan sosial lanjut usia berbasis masyarakat yang membantu
program pemerintah dalam mensejahterakan lansia. PUSAKA melakukan
pengorganisasian kelompok kerja yang mendorong pengembangan home care di
berbagai wilayah di Jakarta, penggerak kegiatan ini ada di tingkat kelurahan dan
kecamatan. 11 Karakterisik pelayanan ini adalah pelayanan luar panti dengan
menyediakan pelayanan sosial kepada lanjut usia dalam keluarga. Di PUSAKA
para lanjut usia tidak hanya mendapatkan dukungan sosial dari keluarga tetapi
juga dari masyarakat, lembaga dan juga pemerintah.
PUSAKA diperkenalkan pertama kali pada tahun 1987, pola pelayanan ini
ditumbuhkan untuk mempertajam peran home care yang pernah diinisiasi oleh
Badan Koordinasi Panti Werdha DKI Jakarta pada tahun 1970. Berdasarkan data
yang tercatat di BKKKS DKI Jakarta, jumlah PUSAKA di DKI Jakarta sampai
11
Roem Topatimasang, Memanusiakan Lanjut Usia: Penuaan Penduduk &Pembangunan
di Indonesia (Yogyakarta: INSIST Press, 2013), h. 91.
7
dengan tahun 2011 ini mencapai 123 PUSAKA atau 50% dari kelurahan yang ada
di Jakarta yang mencapai 256 kelurahan. Sedangkan jangkauan sasaran mencapai
7.036 lanjut usia pertahun atau rata-rata 57 lansia di setiap PUSAKA.12
Salah satu Pusat Santunan Keluarga (PUSAKA) yang sudah mampu
berperan aktif dalam menjalankan model pelayanan sosial bagi lanjut usia yaitu
PUSAKA yang ada di Kecamatan Pancoran yaitu PUSAKA 48 dan 79 yang sudah
berdiri sejak tahun 1992 dan 1995. PUSAKA 48 dan 79 telah memiliki banyak
prestasi dibanding dengan PUSAKA lainnya, selain itu jumlah binaan yang ada
juga lebih banyak di bandingkan dengan PUSAKA yang ada di Kecamatan
lainnya.
Berdasarkan uraian di atas, maka menarik untuk dilakukan penelitian
mengenai pengaruh dukungan sosial terhadap kualitas hidup lanjut usia yang
dilakukan di pusat santunan keluarga (PUSAKA). Karena sebagai mana namanya
PUSAKA telah memberikan dukungan, santunan dan juga pelayanan dalam usaha
untuk mensejahterkan dan juga meningkatkan kualitas hidup lansia. Lansia juga
masuk dalam salah satu katagori penyandang masalah kesejahteraan sosial
(PMKS). Oleh karena itu penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan
judul “PENGARUH DUKUNGAN SOSIAL TERHADAP KUALITAS
HIDUP LANJUT USIA DI PUSAT SANTUNAN KELUARGA (PUSAKA)
KECAMATAN PANCORAN JAKARTA SELATAN”.
12
Kementrian Sosial RI Dierktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial, Pedoman
Penyelenggaraan Pusat Santunan Keluarga (PUSAKA) (Jakarta: Kementrian Sosial, 2012), h. 3.
8
B. Pembatasan dan Rumusan Masalah
1. Pembatasan masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis hanya akan melakukan
penelitian mengenai pengaruh dukungan sosial terhadap kualitas hidup
lanjut usia yang dilakukan di Pusat Santunan Keluarga (PUSAKA) yang
hanya berada di kecamatan pancoran. Dimana terdapat 2 Pusat santunan
keluarga yaitu PUSAKA 48 dan PUSAKA 79. Serta untuk mengetahui
apakah ada hubungan antara dukungan sosial terhadap kualitas hidup
lanjut usia di pusat santunan keluarga (PUSAKA).
2. Perumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah di atas maka perumusan masalah
penelitian ini:
a. Adakah hubungan antara dukungan sosial dengan kualitas hidup lanjut
usia di pusat santunan keluarga (PUSAKA)?
b. Adakah pengaruh dukungan sosial terhadap kualitas hidup lansia di
pusat santunan keluarga (PUSAKA) ?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan:
a. Mengetahui hubungan antara dukungan sosial dengan kualitas hidup
lanjut usia di pusat santunan keluarga (PUSAKA).
b. Mengetahui pengaruh dukungan sosial terhadap kualitas hidup lansia
di pusat santunan keluarga (PUSAKA).
9
2. Manfaat Penelitian
a. Manfaat akademis
1) Menambah wawasan keilmuan bagi mahasiswa kesejahteraan
sosial.
2) Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya literatur bagi
pengembangan penelitian serupa dimasa yang akan datang.
b. Manfaat Praktis
1) Sebagai bahan masukan bagi masyarakat dan pelaksana program
pelayanan bagi lansia agar dapat meningkatkan kesejahteraan dan
kualitas hidup lanjut usia, serta dapat mengembangkan model
pelayanan sosial lanjut usia dalam bentuk yang lebih baik.
2) Memberikan gambaran mengenai pengaruh dukungan sosial
terhadap kualitas hidup lanjut usia.
D. Tinjauan Pustaka
Dalam penelitian ini, penulis melakukan tinjauan pustaka pada:
1. Skripsi yang berjudul “HUBUNGAN KEGIATAN SOSIAL LANJUT
USIA
DENGAN
KUALITAS
HIDUP
LANJUT
USIA
DI
PUSKESMAS CIPUTAT” yang disusun oleh Rika Yunita, mahasiswa
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Melakukan
tinjauan pustaka pada skripsi tersebut merupakan ketertarikan penulis
dalam meneliti kualitas hidup lanjut usia, perbedaan dengan penelitian
10
yang penulis lakukan yaitu antara kegiatan sosial dengan dukungan
sosial.
2. Skripsi
yang
berjudul
“PENGARUH
DUKUNGAN
SOSIAL
TERHADAP BURNOUT GURU SEKOLAH LUAR BIASA” yang
disusun oleh Dyni Rafiah, mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta. Melakukan tinjauan pustaka pada skripsi tersebut
merupakan ketertarikan penulis dalam meneliti dukungan sosial,
perbedaan dengan penelitian yang penulis lakukan adalah mengenai
objek yang diteliti.
E. Sistematika Penulisan
Sistematika Penulisan ini terdiri dari lima bab, yang terdiri sebagai
berikut:
1. BAB I Pendahuluan; terdiri dari latar belakang masalah, pembatasan
masalah, dan
perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian,
tinjauan pustaka, serta sistematika penulisan.
2. BAB II Landasan Teori; terdiri dari pengertian lanjut usia (lansia),
dukungan sosial, dan kualitas hidup.
3. BAB III Metodelogi Penelitian; terdiri dari pendekatan dan desain
penelitian, ruang lingkup penelitian, populasi dan sampel, metode
pengumpulan data, variabel penelitian, definisi konseptual variabel
penelitian, definisi oprasional variabel penelitian, hipotesis penelitian,
uji instrument, dan teknik analisis data.
11
4. BAB IV Gambaran Umum Lembaga; terdiri dari visi dan misi,
tugas pokok dan fungsi, tujuan dan sasaran lembagaan, jumlah lanjut
usai, struktur organisasi, metode dan jenis pelayanan, sarana dan
prasarana, sumberdaya manusia dan pendanaan.
5. BAB V Hasil Penelitian dan Pembahasan; Pada bab ini akan
dijelaskan dan dijabarkan data hasil penelitian yang telah didapatkan
berikut analisis data berdasarkan statistik.
6. BAB VI Penutup; terdiri dari kesimpulan serta saran-saran sebagai
bentuk hasil dari penelitian yang dilakukan.
12
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Lanjut Usia
1. Pengertian Lanjut Usia
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 dikatakkan bahwa
lanjut usia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas. 13
Lanjut Usia adalah seseorang baik wanita maupun laki-laki yang telah berusia
60 tahun ke atas, dimana lanjut Usia secara fisik dapat dibedakan atas dua
yaitu lanjut usia potensial maupun lanjut usia tidak potensial. 14
Menurut kamus besar bahasa Indonesia lanjut usia adalah tahap masa
tua dalam perkembangan individu dengan batas usia 60 tahun ke atas. 15
Menurut Nugroho Wahyudi proses menua merupakan proses yang terus
menerus (berlanjut) secara alamiah dimulai sejak lahir dan umumnya dialami
pada semua makhluk hidup.16
Lanjut usia digolongkan menjadi dua yaitu lanjut usia potensial dan
juga lanjut usia tidak potensial. Lanjut usia potensial adalah lanjut usia yang
masih mampu melakukan pekerjaan dan atau kegiatan yang dapat
menghasilkan barang dan atau jasa. Kemudian lanjut usia tidak potensial
adalah lanjut usia yang tidak berdaya mencari nafkah sehingga hidupnya
13
Soekidjo Notoatmodjo, Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni (Jakarta: Rineka Cipta,
2007), h. 275.
14
Direktorat Jendral Rehabilitasi Sosial, “ Lanjut Usia,” artikel diakses pada 17 Februari
2015 dari http://rehsos.kemsos.go.id/modules.php?name=Content&pa=showpage&pid=6
15
Notoatmodjo, Kesehatan Masyarakat (Jakarta: Rineka Cipta, 2007), h. 280.
16
Universitas Sumatra Utara, “Pelayanan Lanjut Usia,” Artikel diakses pada 18 Februari
2015 dari http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/39240/3/Chapter%20II.pdf
13
bergantung pada bantuan orang lain.17 Jadi dapat disimpulkan bahwa lanjut
usia adalah seseorang yang telah berusia 60 tahun ke atas.
2. Periode lanjut usia
Menurut Burnside dkk yang dikutip oleh Endah Puspita membagi
periode lanjut usia ke dalam 4 tahapan:18
a. Young Old (60-69 tahun)
Pada periode ini orang lanjut usia harus menyesuaikan diri dengan
struktur peran yang baru agar dapat mengatasi masalah-masalahnya
yang berkaitan dengan berkurangnya penghasilan, kehilangan temanteman serta orang-orang yang dicintai. Selain itu, adanya penurunan
kekuatan fisik dapat menjadi masalah bagi para pekerja di sektor
industri. Namun demikian banyak pula orang berusia 60-an yang
memiliki kelebihan tenaga sehingga lalu mencari aktivitas baru dan
berbeda. Beberapa orang lanjut usia ada yang menjadi tenaga sukarela
pada suatu perusahaan kecil, pengunjung rumah sakit atau sebagai
kakek nenek angkat.
b. Middle age old (70-79 tahun)
Usia 70-an ditandai dengan timbulnya penyakit serta mengalami
banyak kehilangan, dimana jumlah teman dan keluarga yang
meninggal meningkat. Kondisi kesehatan orang lanjut usia semakin
menurun dan sering merasa gelisah serta mudah marah. Aktivitas
17
Undang- Undang Online, “Undang-undang Kesejahteraan Lansia nomor 13 tahun 1998,”
artikel diakses pada 17 Februari 2015 dari file:///C:/Users/Acer/Downloads/Undang-Undangtahun-1998-13-98%20(3).pdf
18
Endah Puspita Sari, “Penerimaan Diri pada Lanjut Usia Ditinjau Dari Kematangan
Emosi,” Universitas Gajah Mada, 2002, h. 75.
14
seksual pada pria dan wanita juga menurun dan pada beberapa orang
disebabkan karena pasangannya sudah meninggal. Orang lanjut usia
pun harus menyesuaikan diri dengan menurunnya partisipasi dalam
organisasi formal yang diikiutinya.
c. Old-Old (80-89 tahun)
Orang berusia 80-an semakin sulit menyesuaikan diri serta melakukan
interaksi dengan lingkungan di sekitarnya. Pada periode ini orang
lanjut usia membutuhkan bantuan agar tetap dapat mempertahankan
kontak dengan lingkungan sosial budayanya.
d. Very old-old (90-99 tahun)
Pada periode usia ini masalah kesehatan semakin parah. Orang berusia
90-an ini membutuhkan kegiatan yang tidak ada unsur persaingannya
dan hendaknya di bebasakan dari tekanan dan tanggung jawab dalam
pekerjaan. Apabila orang lanjut usia ini dapat mengatasi masalahnya
secara memuaskan, maka mereka dapat hidup tentram dan bahagia.
3. Kebutuhan Lanjut Usia
Lanjut usia memiliki kebutuhan sebagaimana manusia pada umumnya
yaitu kebutuhan biologis, psikologis, sosial dan spiritual. Dalam pemenuhan
kebutuhannya, lanjut usia menggunakan kemampuan diri sendiri atau dengan
bantuan dan dukungan keluarga atau lingkungan lainnya. Dikutip dari Ayu
Diah bahwa kebutuhan dasar manusia seperti yang dikemukakan oleh
Maslow terdiri dari kebutuhan yang bersifat fisik, kebutuhan sosial,
keamanan, penghargaan dan aktualisasi diri. Dan kebutuhan lanjut usia
15
diantaranya adalah:19
a. Kebutuhan biologis, merupakan kebutuhan yang mutlak diperlukan oleh
manusia untuk dapat memperkuat daya tahan fisik seseorang sehingga
dapat mempertahankan hidupnya. Kebutuhan ini mencakup : kebutuhan
pelayanan kesehatan, makanan yang bergizi, seksual atau intimasi,
pakaian dan tempat tinggal.
b. Kebutuhan Psikologis, merupakan kebutuhan yang berkaitan dengan
hal-hal yang bersifat psikis (emosi, perasaan) antara lain berupa : kasih
sayang, menyayangi, mendapat tanggapan dari orang lain, perasaan
tentram, merasa berguna dan memiliki jati diri serta status yang jelas.
c. Kebutuhan Sosial, merupakan kebutuhan yang berkaitan dengan relasi
dan interaksi dengan sesama manusia antara lain berupa: berinteraksi
dengan keluarga lansia, melakukan aktivitas dengan teman sebaya,
melakukan aktivitas dengan masyarakat di lingkungannya, menjadi
anggota suatu organisasi, melaksanakan aktivitas dibidang ekonomi,
melakukan aktivitas di bidang pendidikan, kebutuhan rekreasi dan
kebutuhan Informasi.
d. Kebutuhan Spiritual, merupakan kebutuhan multidimensi yaitu
mencakup
dimensi
eksistensial
dan
dimensi
agama.
Dimensi
eksistensial berfokus pada tujuan dan arti kehidupan, sedangkan
dimensi agama lebih berfokus pada hubungan seseorang dengan Tuhan
Yang Maha Kuasa. Spiritual sebagai konsep juga mengandung dua
19
Ayu Diah, “Evaluasi Proses Pelaksanaan Program Elderly Day Care Services Tahun
2012 di Panti Sosial Tresna Werdha Budhi Dharma Bekasi Timur,” (Tesis S2 Fakultas Ilmu Sosial
dan Politik, Universitas Indonesia, 2012), h. 20.
16
dimensi yaitu dimensi vertikal sebagai bentuk hubungan manusia
dengan Tuhan Yang Maha Kuasa yang menuntun kehidupan seseorang,
sedangkan dimensi horizontal adalah hubungan dengan diri sendiri,
hubungan dengan orang lain dan hubungan dengan lingkungan.
Kebutuhan ini antara lain berupa: melaksanakan ibadah, memperdalam
keimanan, melaksanakan kegiatan kerohanian, menerima keadaan
dirinya, menerima hakikat hidup dan puas akan kehidupannya dan
optimis terhadap masa depan.
4. Hak dan Kewajiban Lansia
Lanjut usia merupkan warga negara yang memiliki hak yang sama
dengan warga negara lainnya. Disebutkan dalam undang-undang nomor 13
tahun 1998 tentang kesejahteraan lanjut usia bahwa lanjut usia mempunyai
hak yang sama dalam kehidupan bemasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Dan
juga
disebutkan
dalam
undang-undang
tersebut
sebagai
penghormatan dan penghargaan kepada lanjut usia diberikan hak untuk
meningkatkan kesejahteraan sosial yang meliputi :20
a. Pelayanan keagamaan dan mental spiritual.
b. Pelayanan kesehatan.
c. Pelayanan kesempatan kerja.
d. Pelayanan pendidikan dan pelatihan.
20
Undang- Undang Online, “Undang-undang Kesejahteraan Lansia nomor 13 tahun 1998,”
artikel diakses pada 17 Februari 2015 dari file:///C:/Users/Acer/Downloads/Undang-Undangtahun-1998-13-98%20(3).pdf
17
e. Kemudahan dalam penggunaan fasilitas, sarana, dan prasarana
umum.
f. Kemudahan dalam layanan dan bantuan hukum.
g. Perlindungan sosial.
h. Bantuan sosial.
Selain hak lanjut usia juga memiliki kewajiban yang telah disebutkan
dalam undang-undang nomor 13 tahun 1998 dimana lanjut usia mempunyai
kewajiban yang sama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara. Sesuai dengan peran dan fungsinya, lanjut usia berkewajiban
untuk:
a. Membimbing dan memberi nasihat secara arif dan bijaksana
berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya, terutama di
lingkungan keluarganya dalam rangka menjaga martabat dan
meningkatkan kesejahteraannya.
b. Mengamalkan
dan
mentransformasikan
ilmu
pengetahuan,
keahlian, keterampilan, kemampuan, dan pengalaman yang
dimilikinya kepada generasi penerus.
c. Memberikan keteladanan dalam segala aspek kehidupan kepada
generasi penerus.
18
B. Teori Lanjut Usia
1. Teori Kelekatan (Attachment Theory)
Menurut Howe teori kelekatan adalah pengalaman kelekatan masa kecil
mempengaruhi tingkat kenyamanan dan keamanan seseorang. Pengalaman ini
menjadi dasar bagi anak untuk mengembangkan kapasitas dan kompetensi
sosial dimasa tuanya.
21
Kelekatan juga bisa dimaknai sebagai ikatan
emosional yang erat antara dua orang.22
Manusia membentuk indentitas diri mereka dalam hubungan sosial
melalui proses pembelajarannya tentang bagaimana berhubungan dengan
orang lain. Teori kelekatan memang erat kaitannya dengan perkembangan
seorang anak, namun teori ini juga dapat digunakan dalam memberikan
kelekatan kepada lansia. Berupa kelekatan emosional yang diberikan oleh
orang-orang sekitar maupun pengasuh sehingga lansia merasa nyaman dan
aman. Kelekatan yang diterimanya dapat membantu lansia dalam
mengembangkan kapasitas diri lansia.
2. Teori Penarikan diri (Disengagement Theory)
Menurut Cumming teori penarikan diri yaitu seseorang yang berusia
lanjut hanya meninggalkan posisi mereka ketika mereka meninggal atau
menjadi tidak kompeten.23 Pensiun menjadi pilihan untuk membujuk lansia
agar menyerahkan posisi mereka kepada orang yang lebih muda. Dengan
21
Siti Napsiyah Ariefuzzaman dan Lisma Diawati Fuaida, Belajar Teori Pekerjaan Sosial
(Jakarta: UIN, 2011), h. 33.
22
John W Santrock, Perkembangan Anak (Jakarta: Erlangga, 2007), h. 49.
23
James M Henslin, Sosiologi Dengan Pendekatan Membumi (Jakarta: Erlangga, 2006),
h.71.
19
demikin pensiun atau penarikan diri merupakan suatu kesepakatan yang
saling menguntungkan antar generasi masyarakat.
Jadi teori penarikan diri merupakan persetujuan antara lansia dan
masyarakat bahwa individu akan menarik diri dari masyarakat akibat menjadi
tua, dimana hal ini menjadikan keseimbangan sosial.
3. Teori Aktifitas (Activity Theory)
Teori aktivitas melihat bahwa semakin banyak kegiatan yang dilakukan
orang usia lanjut, maka semakin memuaskan hidup mereka.24 Kondisi yang
tetap aktif membuat lansia tetap merasa muda dan semangat menjalani hidup
dan tidak menarik diri dari masyarakat karena usia. Jadi aktivitas sebagai
sebuah keharusan untuk mempertahankan kepuasaan hidup seseorang dan
konsep diri yang positif.
4. Teori Kontinuitas (Continuity Theory)
Teori Kontinuitas merupakan cara seseorang menyesuaikan diri pada
perubahan dengan melanjutkan beberapa aspek dalam kehidupan mereka
seperti peran yang telah mereka jalani.25
Jadi dalam teori ini mengusulkan bahwa seseorang di sepanjang
hidupnya adalah bagaimana orang tersebut melanjutkan sisa hidupnya. Usia
lanjut tidak dipandang sebagai bagian akhir hidup terlepas dari sisa
kehidupan.
h.73.
24
James M Henslin, Sosiologi Dengan Pendekatan Membumi (Jakarta: Erlangga, 2006),
25
Ibid., h.73.
20
C. Dukungan Sosial
1. Pengertian Dukungan Sosial
Menurut Cohen dan Syme dukungan sosial dipahami sebagai bentuk
hubungan sosial yang bersifat menolong dengan melibatkan aspek emosi,
informasi, bantuan instrumental dan penghargaan.26
Menurut Gottlieb dalam dukungan sosial sebagai informasi verbal dan
non-verbal berupa saran atau nasihat, bantuan yang nyata atau tingkah laku
yang diberikan oleh suatu jaringan yang akrab dengan subyek di dalam
lingkungan sosialnya atau yang berupa kehadiran dan hal-hal yang dapat
memberikan keuntungan emosional atau berpengaruh pada tingkah laku
penerimanya.27
Dukungan sosial biasanya didefinisikan sebagai keberadaan atau
adanya seseorang yang dapat dipercaya, yang memahami, memperhatikan,
dan mencintai kita. 28 Menurut Cutrona dukungan sosial meruapakan suatu
proses hubungan yang terbentuk dari individu dengan persepsi bahwa
seseorang dicintai dan dihargai, disayangi untuk memberikan bantuan kepada
individu yang mengalami tekanan-tekanan dalam kehidupan.29
Sarason, Lerin dan Basham mendefinisikan dukungan sosial sebagai
suatu keadaan yang bermanfaat bagi individu yang diperoleh dari orang lain
26
Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS), Teknologi Pengembangan Masyarakat
(Bandung: STKS, 2008), h. 62.
27
Kamalia Najah, “Pengaruh Dukungan Sosial dan Spiritual Terhadap Simton Depresi
Pada Santri di Pesantrean,” (Skripsi S1 Fakultas Psikologi, Universitas Islam Negeri Jakarta,
2013), h. 42.
28
Surbakti, Menata Kehidupan Pada Usia Lanjut (Jakarta: Pranita Aksara, 2013), h. 111.
29
Dyni Raafiah, “Pengaruh Dukungan Sosial Terhadap Burnout Guru Sekolah Luar
Biasa,” (Skripsi S1 Fakultas Psikologi, Universitas Islam Negeri Jakarta, 2012), h. 26.
21
yang dapat dipercaya. Dengan demikian individu mengetahui bahwa orang
lain memperhatikan, menghargai dan mencintai.30
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa dukungan
sosial merupakan perhatian, perasaan nyaman dan bantuan yang didapat
individu dari orang lain atau kelompok sehingga menimbulkan perasaan
bahwa seseorang merasa diperhatikan, dihargai dan dicintai.
2. Jenis-Jenis Dukungan Sosial
Dalam menjelaskan konsep dukungan sosial, kebanyakan peneliti
sependapat
untuk
membedakan
jenis-jenis
yang
berlainan.
House
membedakan empat jenis dukungan sosial, yaitu:31
a. Dukungan emosional
Dukungan emosional mencakup ungkapan empati, kepedulian dan
perhatian terhadap orang yang bersangkutan.
b. Dukungan penghargaan
Dukungan penghargaan terjadi lewat ungkapan hormat (penghargaan)
positif untuk orang tersebut, dorongan maju atau persetujuan terhadap
gagasan atau perasaan individu dan perbandingan positiforang itu
dengan orang-orang lain
c. Dukungan instrumental
30
Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS), Teknologi Pengembangan Masyarakat
(Bandung: STKS, 2008), h. 63.
31
Ibid., h. 63.
22
Dukungan instrumental mencakup bantuan langsung contohnya
seperti memeberikan pinjaman uang kepada orang atau menolong
dengan pekerjaan.
d. Dukungan informasi
Dukungan informasi mencakup pemeberian nasehat, petunjukpetunjuk, saran-saran dan umpan balik.
3. Komponen Dukungan Sosial
Para ahli berpendapat bahwa dukungan sosial dapat dibagi ke dalam
berbagai komponen yang berbeda-beda. Weiss mengemukakan adanya 6
(enam) komponen dukungan sosial yang disebut sebagai The Social Provision
Scale dimana masing-masing komponen dapat berdiri sendiri-sendiri, namun
satu sama lain saling berhubungan dan digunakan sebagai pengukuran pada
dukungan sosial. Adapun komponen-komponen tersebut adalah:32
a. Kerekatan emosional (emostional attachment). Jenis dukungan sosial
semacam ini memungkinkan seseorang untuk memperoleh kerekatan
(kedekatan) emosional sehingga menimbulkan rasa aman bagi yang
menerima. Orang yang menerima dukungan sosial semacam ini merasa
tentram, aman dan damai yang ditunjukkan dengan sikap tenang dan
bahagia. Sumber dukungan sosial semacam ini yang paling sering dan
umum adalah diperoleh dari pasangan hidup, namun juga diperoleh
melalui hubungan yang akrab dengan kerabat.
32
Zainuddin Sri, “Dukungan Sosial Pada Lansia,” Jurnal Psikologi, 16 Agustus 2006, h. 3.
23
b. Integrasi sosial (social integration) jenis dukungan sosial semacam ini
memungkinkan seseorang untuk memperoleh perasaan memiliki di
dalam kelompoknya yang memungkinkan untuk membagi minat,
perhatian serta melakukan kegiatan yang sifatnya rekreatif secara
bersama-sama. Sumber dukungan semacam ini memungkinkan
seseorang mendapatkan rasa aman, nyaman serta merasa memiliki dan
dimiliki dalam kelompok.
c. Penghargaan atau pengakuan (reassurance of worth) pada dukungan
sosial jenis ini seseorang akan mendapatkan pengakuan atas
kemampuan dan keahlian serta mendapat penghargaan dari orang lain
atau lembaga terhadap kompetensi, keterampilan dan nilai yang
dimiliki seseorang. Sumber dukungan sosial semacam ini dapat berasal
dari keluarga atau instansi dimana ia bekerja.
d. Hubungan yang dapat diandalkan untuk mendapatkan bantuan yang
nyata (reliable aliance), yaitu dalam dukungan sosial jenis ini agar
mendapat dukungan sosial berupa jaminan bahwa ada orang yang
dapat diandalkan bantuannya ketika individu membutuhkan bantuan
tersebut. Jenis dukungan sosial ini bersumber pada umumnya
diberikan oleh anggota keluarga.
e. Saran atau informasi (guidance), yaitu dukungan sosial janis ini adalah
memungkinkan mendapatkan informasi, saran atau nasihat yang
diperlukan dalam memenuhi kebutuhan dan mengatasi permasalahan
yang dihadapai. Jenis dukungan sosial ini bersumber dari guru, mentor,
pembimbing, atau sosok orang tua.
24
f. Kemungkinan membantu (Opportunity for naturance), yaitu suatu
aspek penting dalam hubungan interpersonal adalah perasaan
dibutuhkan orang lain.
4. Manfaat Dukungan Sosial
Menurut Brownell dan Schumaker ada tiga pengaruh atau manfaat
dasar dari dukungan sosial diantaranya, pengaruh langsung, tidak langsung
dan interaktif.33
a. Pengaruh langsung
Yaitu terciptanya hubungan interpersonal dan hubungan yang bersifat
menolong dan hubungan tersebut dapat memfasilitasi terbentuknya
prilaku yang lebih sehat.
b. Pengaruh tidak langsung
Yaitu membantu individu mengahdapi dan mengatasi stressor yang
datang dengan cara membantu individu mengatasi stress yang datang,
dengan mencoba membantu individu mempelajari cara pemecahan
masalah dan mengontrol masalah-masalah kecil sebelum menjadi
masalah besar.
c. Pengaruh interaktif
Berupa dampak yang diinterprestasikan untuk meredam atau
memperbaiki dampak-dampak yang merugikan dengan mempengaruhi
kualitas dan kuantitas terhadap sumber-sumber coping.
33
Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS), Teknologi Pengembangan Masyarakat
(Bandung: STKS, 2008), h. 63.
25
5. Sumber-Sumber Dukungan Sosial
Sumber-sumber dukungan sosial menurut Gottlieb terdapat tiga
yaitu:34
a. Orang-orang sekitar individu yang termasuk kalangan non-profesional,
Seperti: keluarga, teman dekat, atau rekan kerja. Hubungan dengan
non-profesional merupakan hubungan yang menempati bagian terbesar
dari kehidupan seseorang individu dan menjadi sumber dukungan
sosial yang sangat potensial karena lebih mudah diperoleh, bebas dari
biaya finansial dan berakar pada kekerabatan yang cukup lama.
b. Profesional, seperti: psikolog, dokter, pekerja sosial dan perawat.
c. Kelompok-kelompok dukungan sosial (social support groups). Sumber
dukungan lain yang juga bermanfaat bagi individu adalah kelompokkelompok dukungan sosial. Kelompok dukungan (support group)
merupakan suatu kelompok kecil yang melibatkan interaksi langsung
dari para anggotanya, menekankan pada partisipasi individu yang hadir
secara
sukarela
yang
bertujuan
untuk
secara
bersama-sama
mendapatkan pemecahan masalah dalam menolong serta menyediakan
dukungan emosi kepada para anggotanya.
6. Pengukuran Dukungan Sosial
Untuk mengukur dukungan sosial dalam penelitian ini digunakan
alat pengukur dukungan sosial yang dikembangkan oleh Weiss, berbentuk
34
Aamalia Kusuma Putri, “Pengaruh Dukungan Sosial dan Prestasi Belajar Terhadap
Kepercayaan Diri Remaja,” (Skripsi S1 Fakultas Psikologi, Universitas Islam Negeri Jakarta,
2012), h. 28.
26
skala yang bernama The Social Provisions Scale. Skala ini mempunyai
tujuan untuk menguji sejauh mana hubungan sosial responden.35 Instrumen
dalam skala ini mempunyai enam aspek. Adapun komponen-komponen
menurut Weiss dapat berdiri sendiri, namun satu sama lain saling
berhubungan. Weiss membaginya dalam enam komponen dukungan sosial
yaitu kerekatan emosional (emostional attachment), Integrasi sosial (social
integration), penghargaan atau pengakuan (reassurance of worth),
hubungan yang dapat diandalkan (reliable aliance), saran (guidance), dan
kemungkinan membantu (Opportunity for naturance).
D. Kualitas Hidup Lanjut Usia
1. Pengertian Kualitas Hidup
World Health Organization Quality of Life (WHOQOL) mendefinisikan
kualitas hidup sebagai persepsi individu terhadap kehidupannya di
masyarakat dalam konteks budaya dan sistemnilai yang ada yang terkait
dengan tujuan, harapan, standar, dan perhatian. Kualitas hidup merupakan
suatu konsep yang sangat luas yang dipengarui kondisi fisik individu,
psikologis,
tingkat
kemandirian,
serta
hubungan
individu
dengan
lingkungan.36
Menurut Kazdagli kualitas hidup yaitu istilah deskriptif dan memiliki
arti yang luas, mengacu pada kesehatan emosional, sosial dan fisik individu,
35
Dyni Raafiah, “Pengaruh Dukungan Sosial Terhadap Brunout Guru Sekolah Luar
Biasa,” (Skripsi S1 Fakultas Psikologi, Universitas Islam Negeri Jakarta, 2012), h. 29.
36
Amalia Yuliati, dkk “Perbedaan Kualitas Hidup Lansia yang Tinggal di Komunitas
dengan di Pelayanan Sosial Lanjut Usia (The Different of Quality of Life Among the Elderly who
Living at Community and Social Services),” Jurnal Pustaka Kesehatan, vol. 2 (Januari 2014): h. 88.
27
serta kemampuan untuk dapat berfungsi dalam tugas kehidupan biasa. Sadli
menyebutkan bahwa kualitas hidup terdiri dari penelian subjektif seseorang
mengenai sejauh mana berbagai dimensi, seperti lingkungan, kondisi fisik,
ikatan sosial dan kondisi psikologis dirasakan memenuhi kebutuhannya.
Kualitas Hidup merupakan konsep yang kompleks, yang terkait dengan
kepuasan individu terhadap seluruh aspek hidupnya mulai dari fisik hingga
sosial dan psikologi. Banyak hal dapat mempengaruhi kualitas hidup,
termasuk penghasilan, lingkungan sosial dan fisik, hubungan antar pribadi,
dan kesehatan.37
Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut maka pengertian kualitas
hidup bisa diartikan dengan kepuasan hidup yang dapat dilihat dari kondisi
fisik, psikologis, dan kondisi sosial yang dirasakan oleh individu tersebut.
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kualitas Hidup
Kualitas hidup lanjut usia seseorang dipengaruhi oleh faktor-faktor
berikut ini, yaitu:38
a. Hubungan sosial yang baik dengan keluarga, teman dan tetangga.
b. Standar harapan dalam hidup
c. Keterlibatan dalam kegiatan sosial dan kegiatan amal
d. Kegiatan hobi dan kesukaan
e. Kesehatan yang baik dan kemampuan fungsional
f. Rumah dan lingkungan yang baik serta perasaan aman
g. Kepercayaan atau nilai diri positif
37
Penney Upton, Psikologi Perkembangan (Jakarta: Erlangga, 2012), h. 260.
Surbakti, Menata Kehidupan Pada Usia Lanjut (Jakarta: Praninta Aksara, 2013), h. 91.
38
28
h. Kesejahteraan psikologis dan emosional
i. Pendapatan yang cukup
j. Akses yang mudah dalam transportasi dan pelayanan sosial
k. Perasaan dihargai dan dihormati oleh orang lain
3. Tujuan Peningkatan Kualitas Hidup Lanjut Usia
Peningkatan kualitas hidup bagi lanjut usia bertujuan untuk:39
a. Memberikan kesempatan bagi para lanjut usia yang potensial untuk
meningkatkan pengetahuan dan keterampuilan, baik untuk berkarya
lebih lanjut ataupun untuk pengembangan hobi mereka melalui
lembaga-lembaga pendidikan dan pelatihan formal maupun nonformal.
b. Memberikan kesempatan dengan memberdayakan para lanjut usia
yang potensial dan produktif untuk berkarya sesuai dengan
kemampuan, pengetahuan, dan pengalamannya.
c. Meningkatkan dan memantapkan iman dan ketakwaan para lansia
sesuai agamanya atau kepercayaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa
serta memandu pelaksanaannya dalam kehidupan sehari-hari.
4. Domain Kualitas Hidup
Penelitian ini menggunakan instrument World Health Organization
Quality of Life (WHOQOL-OLD) yang lebih spesifik digunakan pada lansia.
39
Soekidjo Notoatmojo, Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni (Jakarta: Rineka Cipta,
2007), h. 292.
29
Berdasarkan WHOQOL-OLD, kualitas hidup lansia terdiri dari 6 domain
(WHOQOL-OLD):40
a. Kemampuan sensori (sensory abilities)
Penting untuk memahami setiap perubahan yang terjadi pada sensori
visual dan audiotori seiring dengan proses penuaan karena perubahan
ini akan berdampak serius pada kemanan yang lebih lanjut akan
mempengaruhi interaksi lansia dengan lingkungan sekitar. Pada mata
terjadi perubahan struktural dan fungsional seiring dengan penuaan.
Kelompok mata manjadi kurang elastis dan melengkung, bulu mata
menjadi lebih pendek dan tipis bahkan tidak ada sama sekali. Kabut
keabuan pada tepi kornea, arcus senilis, terbentuk seiring dengan
penuaan dan terutama terjadi pada lansia dengan ras kulit berwarna.
Begitupula dengan produksi air mata yang menurun pada lansia akibat
penurunan volume cairan tubuh dan penurunan sekresi.
Sama halnya pada mata, telinga lansia juga mengalami perubahan.
Membran timpani menipis dan otot kecil yang menyokong membran
menunjukkan tanda-tanda atropi dengan pertambahan usia. Perubahan
arthritis mempengaruhi persendian antara tulang telinga tengah dan sel
rambut di telinga dalam seringkali menurun.
Domain kemampuan sensori dalam WHOQOL-OLD meliputi:
kemunduran panca indera, penilaian terhadap fungsi sensori,
kamampuan melakukan aktifitas dan kemampuan berinteraksi.
40
Rika Yunita, “Hubungan Kegiatan Sosial Lanjut Usia dengan Kualitas Hidup Lanjut
Usia di Puskesmas Ciputat,” (Skripsi S1 Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas
Islam Negeri Jakarta, 2011), h. 26.
30
b. Otonomi (autonomy)
Otonomi individu terkait dengan persepsi diri dan harga diri yang
dimiliki. Seseorang yang memiliki nilai diri yang kuat akan percaya
bahwa ia memiliki kemampuan untuk mengontrol hidupnya. Individu
tersebut akan memiliki pengalaman hidup yang positif dan mendapat
umpan balik yang positif dari orang-orang di sekitarnya.
Hal tersebut juga berlaku pada lansia. Lansia yang masih memiliki
kepercayaan diri yang tinggi, nilai diri yang positif akan memiliki
kebebasan untuk membuat keputusan bagi dirinya sendiri. Akan tetapi
masalah sering timbul akibat stereotip bahwa lansia secara fisik dan
mental tidak mampu, non produktif dan ketergantungan. Hal inilah
terkadang yang membuat keluarga tidak memberikan kebebasan bagi
lansia untuk menentukan dan mengontrol hidupnya sendiri.
Domain
otonomi dalam
WHOQOL-OLD
meliputi:
kebebasan
mengambil keputasan, menentukan masa depan, melakukan hal-hal
yang dikehendaki, dihargai kebebasannya.
c. Aktifitas masa lalu, saat ini dan masa yang akan datang (past, present,
and future activities)
Lansia dapat merasakan kebahagian dari harapan-harapan yang telah
ditanamkan semenjak muda dengan melakukan kegiatan yang dapat
mendukung harapan-harapan tersebut tercapai. Sebaliknya apabila
harapan dan target yang ditetapkan tidak dapat tercapai lansia menajdi
tidak puas dan putus asa di hari tuanya.
31
Domain aktivita masa lalu, saat ini dan masa yang akan datang dalam
WHOQOL-OLD meliputi: hal-hal yang diharapkan, pencapain
keberhasilan,
penghargaan
yang
diterima,
pencapaian
dalam
kehidupan.
d. Partisipasi sosial (sosial participation)
Partisipasi sosial lansia terkait dengan kemampuan fisik yang
dimilikinya. Lansia yang seringkali mengalami penurunan fisik,
memiliki energy yang kurang untuk melakukan interaksi sosial.
Frekuensi berkemih dan inkontinensia membuat lansia enggan untuk
terlibat dalam kegiatan sosialnya. Sama halnya dengan kekakuan, nyeri
sendi dan ketidaknyamanan lainnya. Perubahan dalam penampilan
juga dapat merubah konsep diri individu dan mengganggu motivasi
diri dalam hal kualitas interaksi sosial.
Domain
partisipasi
sosial
dalam
WHOQOL-OLD
meliputi:
penggunaan waktu, tingkat aktivitas, kegiatan setiap hari, pertisipasi
pada kegiatan masyarakat.
e. Kematian dan kondisi terminal (death and dying)
Kepercayaan, sikap dan nilai terhadap pengalaman kematian dan
perawatan pada akhir kehidupan sangat bervariasi. Respon seseorang
dipengaruhi oleh usia, gener, budaya, latar belakang keagamaan dan
pengalaman hidup. Lansia menginginkan kematian yang nyaman
dengan kehadiran orang-orang yang dicintainya. Banyak pula lansia
yang menyatakan tidak takut terhadap kematian begitu pula dengan
cara bagaimana mereka akan meninggal.
32
Sebagian besar orang tidak nyaman untuk membicarakan kematian.
Anggota keluarga, perawat, dan pemberi asuhan lainnya harus
mengatasi ketidak nyamanan ini sehingga mereka dapat menyediakan
asuhan yang baik bagi lansia yang mendekati akhir hidupnya.
Idealnya, diskusi mengenai asuhan akhir hidup dan rencana kematian
dilakukan sebelum krisis kesehatan muncul. Sering kali keputusan
penting mengenai asuhan menjelang kematian dihindari atau ditunda
akibat penyangkalan pikiran akan kematian. Hal ini setingkali menjadi
hambatan bagi keluarga untuk bersiap terhadap kematian yang
semakin mendekat dari orang yang dicintai.
Domain kematian dan kondisi terminal dalam WHOQOL-OLD
meliputi: jalannya atau carannya meninggal, mengontrol akhir hidup,
takut akan akhir hidup, merasakan sakit pada akhir hidup.
f. Persahabatan dan cinta kasih (intimacy)
Walaupun terjadi penurunan kemampuan fisik dan fungsional, lansia
tetap dapat memperoleh dukungan emosional dari orang yang dicintai
atau orang terdekat, karena kehilangan dukungan emosional akan
memiliki dampak lebih buruk terhadap nilai diri lansia dibandingkan
dengan kehilangan kemampuan fisik dan fungsional. Teman-teman,
orang tercinta akan membuat hidup lansia merasa dicintai dan merasa
lebih bernilai. Cinta kasih yang diberikan oleh orang-orang terdekat
akan menjadi alasan bagi lansia untuk tetap bertahan hidup sehingga
mortalitas pada lansia dapat menurun.
33
Domain persahabatan dan cinta kasih dalam WHOQOL-OLD
meliputi: persahabatan dalam kehidupan, kesempatan untuk dicintai.
34
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Pendekatan dan Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif yaitu penelitian yang
berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi
atau sample tertentu, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian,
analisis data bersifat kuantitatif atau statistika, dengan tujuan untuk menguji
hipotesis yang telah ditetapkan.
41
Jadi dalam pendekatan penelitian ini
menghasilkan data berupa angka-angka dan kemudian dianalisis dengan statistik.
Sedangkan desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian
Inferensial. Statistik inferensial adalah teknik ststistik yang digunakan untuk
menganalisi data sampel dan hasilnya diberlakukan untuk populasi.42
B. Ruang Lingkup Penelitian
1. Subjek dan Objek Penelitian
Yang menjadi subjek dalam penelitian ini yaitu para binaan Pusat
Santunan Keluarga (PUSAKA) yang ada di kecamatan pancoran. Sedangkan
objek dalam penelitian ini adalah “Pengaruh dukungan sosiat terhadap
kualitas hidup lanjut usia”.
41
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D (Bandung: Alfabeta,
2011), h. 8.
42
Ibid., h. 148.
35
2. Tempat dan Waktu Penelitian
a. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Pusat Santunan Keluarga (PUSAKA)
yang berada di kecamatan Pancoran yaitu PUSAKA 79 dan juga
PUSAKA 48. Alasan peneliti memilih organisasi sosial ini dan juga
lokasi tersebut didasari pertimbangan-pertimbangan berikut ini:
1) Lanjut Usia yang berada di Pusat Santunan Keluarga (PUSAKA)
tidak hanya mendapatkan dukungan sosial dari keluarga tetapi
juga lembaga dan masyarakat.
2) Ketertarikan peneliti terhadap model pelayanan sosial lanjut usia
berbasis masyarakat.
3) Pusat Santunan Keluarga (PUSAKA) yang ada di Pancoran sudah
berdiri sejak lama dan sudah memiliki banyak prestasi, serta
PUSAKA yang ada di Kecamatan Pancoran memiliki binaan
yang lebih banyak dari pada Kecamatan lainnya.
b. Waktu Penelitian
Adapun waktu penelitiannya dilakukan mulai bulan Februari 2015
sampai dengan bulan April 2015.
36
C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi penelitian merupakan keseluruhan (universum) dari objek
penelitian. 43 Sedangkan menurut Sugiyono mengartikan populasi sebagai
wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai
kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan.44 Jadi populasi dalam penelitian
ini yaitu lanjut usia binaan Pusat Santunan Keluarga (PUSAKA) yang ada di
Kecamatan Pancoran, yaitu sebanyak 104 lanjut usia binaan.
2. Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh
populasi tersebut. 45 Dalam penelitian ini teknik pengambilan semple yang
digunakan yaitu purposive sampling yaitu penarikan sample yang ditetapkan
berdasarkan karakteristik atas elemen populasi dan target yang disesuaikan
dengan tujuan masalah penelitian. 46 Atau teknik penetuan sample dengan
pertimbangan tertentu.47
Dan untuk menentukan banyak sampel minimal yang perlu diambil
dalam melakukan penelitian dapat digunakan rumus slovin sebagai berikut:48
43
Syofian Siregar, Statistika Deskriptif untuk Penelitian (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada, 2014), h. 144.
44
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D (Bandung: Alfabeta,
2011), h. 80.
45
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, h. 81.
46
Masri Mansoer dan Elin Driana, Statistik Sosial, h. 35.
47
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, h. 85.
48
Bambang Prasetyo dan Lina Miftahul Jannah, Metode Penelitian Kuantitatif: Teori dan
Aplikasinya (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2006), h.137.
37
n=
N
N.d2 + 1
Keterangan:
n = Jumlah sampel
N = Jumlah Populasi
d² = Presisi (perkiraan tingkat kesalahan)
Dengan jumlah lanjut usia binaan Pusat Santunan Keluarga (PUSAKA)
yang ada di kecamatan Pancoran sebanyak 104 orang. Maka berdasarkan
rumus di atas, jumlah sample yang diperoleh untuk penelitian ini dengan nilai
presisi yang ditetapkan sebesar 10% , maka diperoleh jumlah sampel minimal
adalah sebagai berikut:
n=
N
=
104
= 50,98 (dibulatkan menjadi 51)
N.d2 + 1 104 x (10%)2 + 1
Maka jumlah sampel yang dibulatkan adalah menjadi 51 orang. Sampel
yang akan diambil dari populasi menggunakan tekhnik purposive sampling,
yaitu penetapan responden untuk dijadikan sample berdasarkan pada kriteriakriteria tertentu.49 Sample dipilih berdasarkan kriteria bahwa responden lanjut
usia masih mampu untuk diajak berkomunikasi.
D. Metode Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini terdapat dua jenis data yang digunakan, yakni data
primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang dikumpulkan sendiri oleh
49
Syofian Siregar, Statistika Deskriptif untuk Penelitian (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada, 2014), h. 148.
38
peneliti langsung dari sumber pertama atau tempat objek penelitian dilakukan.
Sedangkan data skunder adalah data yang diterbitkan atau digunakan oleh
organisasi yang bukan pengolahannya.50
Data primer dalam penelitian ini berupa informasi yang diperoleh dengan
melakukan penelitian langsung, data ini didapatkan dari interview, observasi
lembaga dan penyebaran angket atau kuesioner kepada para lanjut usia binaan
Pusat Santunan Keluarga (PUSAKA) yang ada di Kecamatan Pancoran
sehubungan dengan informasi yang diperlukan untuk penelitian ini.
Adapun data skunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah riset
Kepustakaan. Riset kepustakaan (Library Research) adalah penelitian yang
datanya diambil terutama atau seluruhnya dari kepustakaan yaitu buku, dokumen,
artikel, jurnal, internet, dan lain sebagainya.
E. Variabel Penelitian
Dalam penelitian ini peneliti mengidentifikasi dua variabel yang nantinya
akan dicari korelasi antara keduanya. Menurut Arikunto, variable objek penelitian
atau apa yang menjadi titik perhatian saat penelitian. 51 Dalam penelitian ini
terdapat dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat.
Variabel bebas (variable independent) adalah variabel yang menjadi sebab
atau berubah mempengaruhi suatu variabel lain (variable dependent). Juga sering
disebut variabel bebas, prediktor, stimulus, eksogen atau atencendent. Jadi
variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi. Sedangkan variabel terikat
50
Siregar, Statistika Deskriptif untuk Penelitian, h. 128.
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. (Jakarta: Rineka
Cipta. 2010), h. 213.
51
Ibid., hal 99
51
39
(variable dependet) merupakan variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat
karena adanya variabel lain (variable independent). Variabel ini juga sering
disebut variabel terikat, variabel respons, dan variabel endogen.52 Adapun variable
penelitian ini adalah :
1. Dukungan Sosial sebagai variable independent (X)
2. Kualitas hidup lanjut usia sebagai variable dependent (Y)
Tabel 3.1 Variabel Penelitian
Variable Independet
Variable Dependent
Dukungan Sosial
Kualitas Hidup Lanjut Usia
( Variabel X)
( Variabel Y )
F. Definisi Konseptual Variabel Penelitian
Definisi konseptual adalah suatu definisi konstrak yang diberikan kepada
suatu konstrak dengan menggunakan konstrak yang lain. definisi konseptual dari
varabel-variable dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:
1. Dukungan sosial adalah kenyamanan, perhatian, penghargaan, ataupun
bantuan yang diterima individu dari orang lain.53
2. Kualitas hidup adalah persepsi individu terhadap kehidupannya di
masyarakat dalam konteks budaya dan sistemnilai yang ada yang terkait
dengan tujuan, harapan, standar, dan perhatian. Kualitas hidup merupakan
suatu konsep yang sangat luas yang dipengarui kondisi fisik individu,
52
Siregar, Statistik Deskriptif untuk Penelitian, h. 110.
Surbakti, Menata Kehidupan Pada Usia Lanjut (Jakarta: Pranita Aksara, 2013), h. 111.
53
40
psikologis, tingkat kemandirian, serta hubungan individu dengan
lingkungan.54
G. Definisi Oprasional Variable Penelitian
Definisi oprasional adalah sebuah konsep yang mempunyai variasi nilai
yang diterapkan dalam suatu penelitian dan sangat erat kaitannya dengan
indikator. Penelitian ini terdiri dari dua variabel, yaitu variabel bebas dan
variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah dukungan social
sedangan variabel terikat dalam penelitian ini adalah kualitas hidup lanjut usai.
Definisi oprasional dari variable-variable yang terdapat dalam penelitian ini
dirumuskan sebagai berikut:
1. Dukungan sosial adalah skor yang didapat dari skala dukungan sosial
yang menggunakan 6 (enam) komponen dukungan sosial yaitu; kerekatan
emosional (emostional attachment), integrasi sosial (social integration),
penghargaan atau pengakuan (reassurance of worth), hubungan yang
dapat diandalkan (reliable aliance), saran atau informasi (guidance),
kemungkinan membantu (Opportunity for naturance).
2. Kualitas hidup adalah skor yang didapatkan dari skala kualitas hidup
yang menggunakan domain kualitas hidup lanjut usia berdasarkan World
Health Organization Quality of Life (WHOQOL-OLD) yang terdiri dari;
kemampuan sensori (sensory abilities), otonomi (autonomy), aktifitas
masa lalu, saat ini dan masa yang akan datang (past, present, and future
54
Amalia Yuliati, dkk “Perbedaan Kualitas Hidup Lansia yang Tinggal di Komunitas
dengan di Pelayanan Sosial Lanjut Usia (The Different of Quality of Life Among the Elderly who
Living at Community and Social Services),” Jurnal Pustaka Kesehatan, vol. 2 (Januari 2014): h. 88.
41
activities), partisipasi sosial (sosial participation), kematian kondisi
terminal (death and dying), dan persahabatan dan cinta kasih (intimacy).
Tabel 3.2 Definisi Oprasional dan Indikator Penelitian
Dimensi
Dimensi
Dukungan Sosial
(Variabel X)
1. Kerekatan
emosional
2. Integrasi
sosial
3. Penghargaan
dan
pengakuan
4. Hubungan
yang dapat
diandalkan
5. Saran atau
informasi
6. Kemungkinan
membantu
Dimensi
1. Kerekatan emosonal:
Dukungan ini
memungkinkan seseorang
untuk memperoleh
kerekatan emosional
sehingga menimbulkan
rasa aman bagi yang
menerimanya.
2. Integrasi sosial:
Dukungan untuk
memperoleh perasaan
memiliki di dalam
kelompok yang
memungkinkan untuk
membagi minat dan
perhatian serta melakukan
kegiatan secara bersamasama.
3. Penghargaan dan
pengakuan:
Mendapat pengakuan atas
kemampuan dan keahlian
yang dimiliki serta
mendapat penghargaan
dari orang lain.
4. Hubungan yang dapat
diandalkan:
Jaminan bahwa ada orang
yang dapt diandalkan
bentuannya ketika
individu membutuhkan
Indikator
1. Kerekatan emosional
a. Merasakan kedekatan
emosional
b. Merasa aman
2. Integrasi sosial
a. Ikut serta dalam
aktifitas kelompok
b. Melakukan aktifitas
bersama
3. Penghargaan atau
pengakuan
a. Mendapat pengakuan
atas keahlian dan
kemampuan
b. Mendapat penghargaan
atas kemampuan dan
keahlian
4. Hubungan yang dapat
diandalkan
a. Hubungan yang dapat
diandalkan
5. Saran atau informasi
a. Mendapat saran/nasihat
dari orang lain
6. Kemungkinan
membantu
a. Perasaan dibutuhkan
orang lain
42
bantuan tersebut.
5. Saran atau informasi:
Mendapat saran/informasi
dan nasihat yang
dibutuhkan dalm
memnuhi kebutuhan dan
mengatasi permasalahan
yang dihadapi.
6. Kemungkinan
membantu:
Perasaan dibutuhkan
orang lain.
Dimensi Kualitas
Hidup Lanjut Usia
(Variabel Y)
1. Kemampuan
sensori
(sensory
abilities)
2. Otonomi
(autonomy)
3. Aktifitas masa
lalu, saat ini
dan masa yang
akan datang
(past, present,
and future
activities)
4. Partisipasi
sosial (sosial
participation)
5. Kematian
kondisi
terminal (death
and dying)
1. Kemampuan sensori
(sensory abilities):
Perubahan yang terjadi
pada sensori visual dan
audiotori seiring dengan
proses penuaan.
2. Otonomi (autonomy):
Terkait dengan persepsi
harga diri yang dimiliki.
1. Kemampuan Sensori:
a. Kemunduran panca
indra
b. Penilaian terhadap
sensori
c. Kemampuan melakukan
aktifitas
d. Kemampuan berinteraksi
2. Otonomi:
a. Kebebasan mengambil
keputusan
3. Aktifitas masa lalu, saat
b. Menentukan masa depan
ini dan masa yang akan
c. Melakukan hal-hal yang
datang (past, present, and
dikehendaki
future activities):
d. Dihargai kebebasannya
Kebahagiaan dari harapan
–harapan yang telah
3. Aktifitas masa lalu, saat
ditanamkan sejak muda
ini & masa yang akan
dengan melakukan
datang:
kegiatan yang dapat
a. Hal-hal yang diharapkan
b. Pencapai keberhasilan
mendukungan harapan
c. Penghargaan yang
tersebut.
diterima
d. Pencapaian dalam
4. Partisipasi sosial (sosial
kehidupan
participation):
4. Partisipasi sosial
Kemampuan fisik yang
a. Penggunaan waktu
dimiliki lansia.
b. Tingkat aktivitas
43
6. Persahabatan
dan cinta kasih
(intimacy)
c. Kegiatan setiap hari
d. Partisipasi pada kegiatan
masyarakat
5. Kematian dan kondisi
terminal:
a. Jalannya/ caranya
meninggal
b. Mengontrol akhir hidup
c. Takut akan akhir hidup
d. Merasakan sakit pada
akhir kematian
5. Kematian kondisi
terminal (death and
dying)
kepercayaan sikap dan
nilai terhadap pengalaman
kematiaan dan perawatan
pada akhir kehidupan.
6. Persahabatan dan cinta
kasih (intimacy):
Memperoleh dukungan
emosional dari orang yang
dicintai/ orang terdekat.
6. Persahabatan & cinta
kasih:
a. Persahabatan dalam
kehidupan
b. Kesempatan untuk
dicintai.
Berikut blue print skala dukungan sosial dan skala kualitas hidup lanjut
usia sebelum dilakukan uji validitas dukungan sosial.
Tabel 3.3 Blue Print Skala Dukungan Sosial
(sebelum validitas instrument)
Item
No
1.
2.
Dimensi Kerekatan
Emosional
(X1)
Merasakan kedekatan
emosional
Merasa Aman
Favorable
Un
Favorable
Jumlah
-
1, 2, 3
3
4, 5
6
3
Item
No
Dimensi Integrasi Sosial
(X2)
Favorable
Un
Favorable
Jumlah
1.
Ikut serta dalam aktifitas
kelompok
Melakukan aktivitas bersama
1, 2
3
3
4
5, 6
3
2.
Item
44
No.
Dimensi Penghargaan/
Pengakuan (X3)
Favorable
Un
Favorable
Jumlah
1.
Mendapat pengakuan atas
keahlian dan kemampuan
Mendapat penghargaan atas
kemampuan dan keahlian
2, 3
1
3
5, 6
4
3
2.
Item
No.
Dimensi Hubungan yang
dapat Diandalkan(X4)
Favorable
Un
Favorable
Jumlah
1.
Hubungan yang dapat
diandalkan
1, 2, 4
3
4
No.
Dimensi Saran atau nasihat
(X5)
Favorable
Un
Favorable
Jumlah
1.
Mendapat saran/ nasihat dan
informasi dari orang lain
1, 4
2, 3
4
Item
Item
No.
Dimensi Kemungkinan
Membantu (X6)
Favorable
Un
Favorable
Jumlah
1.
Perasaan dibutuhkan orang lain
1, 3, 4
2
4
30
Jumlah
Tabel 3.4 Blue Print Skala Kualitas Hidup Lanjut Usia
(sebelum validitas instrument)
Item
No
Dimensi Kemampuan
Sensori
(Y)
Favorable
Un
Favorable
Jumlah
1
2
Kemunduran panca indra
Penilaian terhadap sensori
1
2
-
1
1
3
Kemampuan melakukan
aktifitas
Kemampuan berinteraksi
4
3
2
-
5
1
4
45
Item
No
Dimensi Otonomi
(Y)
Favorable
Un
Favorable
Jumlah
1
Kebebasan mangambil
keputusan
Menentukan masa depan
Melakukan hal-hal yang
dikehendaki
Dihargai kebebasannya
1
-
1
2
4
3
1
2
5
-
1
2
3
4
Item
No
Dimensi Aktifitas masa lalu,
saat ini & masa yang akan
datang (Y)
Favorable
Un
Favorable
Jumlah
1
Hal-hal yang diharapkan
-
1
1
2
Pencapaian keberhasialan
3
2
2
3
Penghargaan yang diterima
4
-
1
4
Pecapaian dalam kehidupan
5
-
1
Favorable
Un
Favorable
Jumlah
Item
No
Dimensi Partisipasi sosial
(Y)
1
Penggunaan waktu
1
-
1
2
Tingkat aktivitas
2
-
1
3
Kegiatan setiap hari
3
-
1
4
Partisipasi pada kegiatan
masyarakat
4
5
2
No
Dimensi Kematian dan
kondisi terminal
(Y)
Favorable
Un
Favorable
Jumlah
1.
Jalannya/ caranya meninggal
1
-
1
2
Mengontrol akhir hidup
2
-
1
3
Takut akan akhir hidup
3
-
1
4
Merasakan sakit pada akhir
kematian
4, 5
-
2
Item
Item
46
No
Dimensi Persahabatan
dan cinta kasih
(Y)
Favorable
Un
Favorable
Jumlah
1.
Persahabatan dalam kehidupan
1, 2, 3
-
3
2
Kesempatan untuk dicintai
5
4
2
30
Jumlah
Dan berikut blue print untuk skala dukungan soaial dan skala kualitas
hidup lanjut usia selah dilakukan uji validitas instrument.
Tabel 3.5 Blue Print Skala Dukungan Sosial
(setelah validitas instrument)
Item
No
Dimensi Kerekatan
Emosional
(X1)
Favorable
Un
Favorable
Jumlah
1.
Merasakan kedekatan
emosional
Merasa Aman
-
1, 2
2
5
6
2
2.
Item
No
Dimensi Integrasi Sosial
(X2)
Favorable
Un
Favorable
Jumlah
1.
Ikut serta dalam aktifitas
kelompok
Melakukan aktivitas bersama
1, 2
-
2
4
5, 6
3
2.
Item
No.
Dimensi Penghargaan/
Pengakuan (X3)
Favorable
Un
Favorable
Jumlah
1.
Mendapat pengakuan atas
keahlian dan kemampuan
Mendapat penghargaan atas
kemampuan dan keahlian
2, 3
1
3
5, 6
4
3
2.
Item
47
No.
Dimensi Hubungan yang
dapat Diandalkan(X4)
Favorable
Un
Favorable
Jumlah
1.
Hubungan yang dapat
diandalkan
1, 2, 4
3
4
Item
No.
Dimensi Saran atau nasihat
(X5)
Favorable
Un
Favorable
Jumlah
1.
Mendapat saran/ nasihat dan
informasi dari orang lain
4
2
2
Item
No.
Dimensi Kemungkinan
Membantu (X6)
Favorable
Un
Favorable
Jumlah
1.
Perasaan dibutuhkan orang lain
3
2
2
Jumlah
23
Tabel 3.6 Blue Print Skala Kualitas Hidup Lanjut Usia
(setelah validitas instrument)
Item
No
Dimensi Kemampuan
Sensori
(Y)
Favorable
Un
Favorable
Jumlah
1
2
Kemunduran panca indra
Penilaian terhadap sensori
1
2
-
1
1
3
Kemampuan melakukan
aktifitas
Kemampuan berinteraksi
4
-
1
-
5
1
4
Item
No
Dimensi Otonomi
(Y)
Favorable
Un
Favorable
Jumlah
1
Kebebasan mangambil
keputusan
Menentukan masa depan
Melakukan hal-hal yang
dikehendaki
1
-
1
2
-
3
1
1
2
3
48
4
Dihargai kebebasannya
5
-
1
Item
No
Dimensi Aktifitas masa lalu,
saat ini & masa yang akan
datang (Y)
Favorable
Un
Favorable
Jumlah
1
Hal-hal yang diharapkan
-
1
1
2
Pencapaian keberhasialan
3
2
2
3
Penghargaan yang diterima
4
-
1
4
Pecapaian dalam kehidupan
5
-
1
Favorable
Un
Favorable
Jumlah
Item
No
Dimensi Partisipasi sosial
(Y)
1
Penggunaan waktu
1
-
1
2
Tingkat aktivitas
2
-
1
3
Kegiatan setiap hari
3
-
1
4
Partisipasi pada kegiatan
masyarakat
4
5
2
No
Dimensi Kematian dan
kondisi terminal
(Y)
Favorable
Un
Favorable
Jumlah
1.
Jalannya/ caranya meninggal
1
-
1
2
Mengontrol akhir hidup
2
-
1
3
Takut akan akhir hidup
3
-
1
4
Merasakan sakit pada akhir
kematian
5
-
1
Item
Item
No
Dimensi Persahabatan
dan cinta kasih
(Y)
Favorable
Un
Favorable
Jumlah
1.
Persahabatan dalam kehidupan
1, 2, 3
-
3
2
Kesempatan untuk dicintai
5
-
1
Jumlah
26
49
H. Hipotesis Penelitian
Hipotesis adalah suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap
masalah penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul.55 Terdapat
dua jenis hipotesis yaitu hipotesis alternatif (Hₐ ) yang menyatakan adanya
hubungan antar variabel X dan Y. Dan Hipotessis nol (Hₒ )
yang
menyatakan tidak adanya pengaruh variabel X terhadap variabel Y. 56
Hipotesis dapat dirumuskan pertanyaan sebagai berikut:
Hₒ :
ᵦ
= 0 Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara dukungan
sosial terhadap kualitas hidup lanjut usia.
Hₐ :
ᵦ
≠ 0 Terdapat pengaruh yang signifikan antara dukungan sosial
terhadap kualitas hidup lanjut usia.
I.
Uji Instrumen
Uji Validitas Data
1.
Uji validitas dimaksudkan untuk mengukur sah atau valid
tidaknya suatu kuesioner. Instrumen yang valid berarti alat ukur yang
digunakan untuk mendapatkan data itu valid. Valid berarti instrument
tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur.57
55
Suharsimin Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Cet.Ke-14
(Jakarta: PT Rineka Cipta, 2010), h. 110.
56
Ibid., h. 112-113.
57
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D (Bandung: Alfabeta,
2011), h. 121.
50
Uji validitas ini dapat dilakukan dengan menghitung korelasi
antara masing-masing pernyataan dengan skor total menggunakan rumus
teknik korelasi product moment. Rumusnya adalah :
Keterangan :
r = koefisien korelasi
X = skor variable (jawaban responden)
Y = skor total variable untuk responden n
N = banyaknya sampel dalam penelitian
Dalam pengambilan keputusan :
a. Jika r hitung positif serta r hitung > r tabel, maka butir atau
variabel tersebut valid.
b. Jika r hitung tidak positif serta r hitung < r tabel, maka butir atau
variabel tersebut tidak valid.
c. Jika r hitung > r tabel, tapi bertanda negatif, maka butir atau
variabel tersebut tidak valid.
2.
Uji Reabilitas Data
Uji Reliabilitas merupakan pengujian yang menunjukan sejauh
mana alat ukur dipercaya atau dapat diandalkan. Instrument dikatakan
reliable apabila terdapat kesamaan data dalam waktu yang berbeda. Suatu
51
kuesioner dikatakan reliabel atau handal jika jawaban seseorang terhadap
pertanyaan adalah konsisten meskipun diuji berkali-kali.
Jika hasil dari cronbach alpha < 0,60 maka data tersebut
mempunyai reabilitas kurang baik, sedangkan cronbach alpha > 0,7 dapat
diterima, dan cronbach alpha > 0,8 adalah baik.58
J.
Tekhnik Analisis Data
Analisis data merupakan proses penyederhanaan data ke dalam bentuk
yang lebih mudah dibaca dan diinterprestasikan. Dalam menganalisis data ini,
peneliti menggunakan metode analisis kuantitatif guna mengetahui pengaruh
dukungan sosial terhadap kualitas hidup lanjut usia dilakukan dengan skala likert.
Skala likert adalah skala yang dapat digunakan untuk mengukur sikap, pendapat
dan persepsi seseorang tentang suatu objek atau fenomena tertentu, berikut tabel
untuk skor skala likert:59
Tabel 3.7 Skala Likert
No
Alternatif Jawaban
Positif
Negatif
1
Sangat Setuju
5
1
2
Setuju
4
2
3
Cukup Setuju
3
3
4
Tidak Setuju
2
4
5
Sangat Tidak Setuju
1
5
Kemudian data yang diperoleh dengan menggunakan kuesioner, dimana
hasil analisisnya dipresentasikan di dalam table analisis berdasarkan variabel
58
Duwi Prayitno, 5 Jam Belajar Olahan Data dengan SPSS 17 (Yogyakarta: CV. Andi
offset, 2009), h. 172.
59
Syofian Siregar, Statistik Deskriptif untuk Penelitian, h.138.
52
dukungan sosial terhadap kualitas hidup lanjut usia di Pusat Santunan Keluarga
(PUSAKA) dapat dianalisis dengan cara sebagai berikut:
1.
Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnov
Uji normalitas dibuat untuk mengetahui normal tidaknya suatu
distribusi data dalam variabel yang akan digunakan dalam penelitian.60
Secara umum data yang baik dan layak digunakan dalam penelitian
adalah data yang memiliki distribusi normal. Dasar pengambilan
keputusan dalam uji normalitas data adalah:
a. Jika nilai signifikansinya lebih besar dari 0,05 maka data tersebut
berdistribusi normal.
b. Jika nilai signifikansinya lebih kecil dari 0,05 maka data tersebut
tidak berdistribusi normal.61
2.
Uji Homogenitas
Uji homogenitas digunakan untuk mengetahui varian dari
beberapa populasi sama atau tidak. Asumsi yang mendasari dalam
Analisis Of Varian (ANOVA) adalah bahwa varian dari beberapa
populasi adalah sama. Adapun dasar pengambilan keputsan dalam uji
homogenitas adalah:
a. Jika nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 maka dikatakan bahwa
varian dari dua atau lebih kelompok populasi data adalah sama.
60
Jubilee Enterprise, SPSS Untuk Pemula (Jakarta: Elex Media, 2014), h. 43.
Sahid Raharjo, Cara Melakukan Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnov dengan SPSS, di
unduh pada tangga 30 April 2015 dari http://spssindo.blogspot.com/2014/01/uji-normalitaskoimogorov-smirnov-spss.html
61
53
b. Jika nilai signifikansi lebih kecil dari 0, 05 maka dikatakan bahwa
varian dari dua atau lebih kelompok populasi data adalah tidak
sama.62
Uji Koefisien Korelasi
3.
Uji koefisien korelasi digunakan untuk membandingkan hasil
pengukuran dua variabel yang berbeda agar dapat menentukan tingkat
hubungan variabel-variabel tersebut.63 Perumusan masalah untuk regresi
linier sederhana (X,Y), yaitu adakah hubungan yang signifikan antara
variabel X dengan variabel Y.
Sebelum mengetahui seberapa besar koefisien determinasi perlu
menghitung koefisiennya terlebih dahulu, rumus yang digunakan
koefisien kolerasia dalah:64
∑xy
rxy =
√∑x²y²
Keterangan:
62
rxy
= Korelasi antara variabel X dengan variabel Y
x
= (x1-x2) selisih nilai X dengan rata-rata variabel X
y
= (y1-y2) selisih nilai Y dengan rata-rata variabel Y
Sahid Raharjo, Cara Melakukan Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnov dengan SPSS, di
unduh pada tanggal 30 April 2015 dari http://spssindo.blogspot.com/2014/02/uji-homogenitasdengan-spss.html
63
Arikunto, Prosedur Penelitian, h. 313.
64
Arikunto, Prosedur Penelitian, h. 313.
54
Untuk dapat memberikan penafsiran terhadap koefisien
korelasi yang ditentukan tersebut besar atau kecil, maka dapat
berpedoman pada ketentuan yang tertera pada tabel 8 sebagai
berikut:65
Tabel 3.8 Interprestasi Terhadap Koefisien Korelasi
Interval Koefisien
Tingkat Hubungan
0,00 - 0,199
Sangat rendah
0,20 - 0,399
Rendah
0,40 - 0,599
Sedang
0,60 - 0,799
Kuat
0,899-1,000
Sangat Kuat
4. Uji Koefisien Determinasi
Uji koefisien determinasi bertujuan untuk mengetahui seberapa
besar kemampuan variabel independen menjelaskan variabel dependen.
Dalam output SPSS, koefisien determinasi terletak pada model summary
dan tertulis R square.
Nilai R square diketahui baik diatas 0,5 karena R square berkisar
antara 0-1. Pada umumnya sampel dengan data deret waktu (time series)
memilih R square maupun adjust R square dikatakan cukup tinggi
dengan nilai diatas 0,5.66
5.
Uji F-test (Simultan)
65
Sugiyono, Statistik untuk Penelitian, h.229.
Jubilee Enterprise, SPSS Untuk Pemula (Jakarta: Elex Media, 2014), h. 89.
66
55
Pengujian serentak digunakan untuk mengetahui apakah secara
simultan (bersama-sama) koefisien regresi variabel bebas mempunyai
pengaruh nyata atau tidak terhadap variabel tergantung. 67 Adapun nilai
taraf signifikansi sebesar a= 0,01 sampai dengan 0,5.
Untuk melakukan uji hipotesis, maka ada beberapa ketentuan yang
perlu diperhatikan, seperti berikut ini:
Hₒ :
ᵦ
= 0 Tidak terdapat pengaruh positif dan signifikan antara
dukungan sosial terhadap kualitas hidup lanjut usia.
Hₐ :
ᵦ
≠0
Terdapat pengaruh positif dan signifikan antara
dukungan soaial terhadap kualitas hidup lanjut usia.
Jika sig F > 0,05 maka artinya tidak terdapat pengaruh yang
signifikan antara variabel bebas terhadap variabel terikat. Jika sig F <
0,05 artinya terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel bebas
terhadap variable terikat.
Uji Regresi Linear Berganda
6.
Untuk menguji hipotesis penelitian mengenai hubungan dukungan
sosial terhadap kualitas hidup lanjut usia, maka peneliti mengolah data
67
Sonny Sumarsono, Metode Riset Sumber Daya Manusia (Yogyakarta: Graha Ilmu,
2004), h.225.
56
yang didapat dengan menggunakan analisis regresi linear berganda
(multiple linear regression), rumus regresi linear berganda adalah:68
Keterangan:
7.
Y
= Variabel dependen
X
= Variabel independen
a, b
= koefisien regresi
Uji T-tes (Persial)
T-tes bertujuan untuk mengetahui besarnya pengaruh masingmasing variabel independen secara individual (parsial) terhadap variabel
dependen. Adapun nilai-nilai taraf signifikansinya sebesar α = 5%.
Terdapat dua jenis hipotesis yaitu hipotesis alternatif (Hₐ ) yang
menyatakan adanya hubungan antar variabel X dan Y. Dan Hipotessis
nol (Hₒ ) yang menyatakan tidak adanya pengaruh variabel X terhadap
variabel Y.69 Hipotesis dapat dirumuskan pertanyaan sebagai berikut:
68
Sugiyono, Statistik untuk Penelitian, h. 188.
Suharsimin Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Cet.Ke-14
(Jakarta: PT Rineka Cipta, 2010), h. 110.
69
57
Hₒ :
ᵦ
= 0 Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara
dukungan sosial terhadap kualitas hidup lanjut
usia.
Hₐ :
ᵦ
≠ 0 Terdapat pengaruh yang signifikan antara dukungan
sosial terhadap kualitas hidup lanjut usia.
58
BAB IV
GAMBARAN UMUM LEMBAGA
A. Visi Misi dan Tugas Pokok
1. Visi
Menuju lanjut usia yang sejahtera melalui kelembagaan sosial yang
berkualitas, mandiri dan berdaya.
2. Misi
a. Meningkatkan kesejahteraan sosial lanjut usia
b. Mendorong peran serta keluarga untuk memperhatikan pelayanan
terhadap lanjut usai
c. Meningkatkan peran serta lingkungan dan mayarakat untuk
memperhatikan pelayanan terhadap lanjut usia.
3. Tugas Pokok Lembaga
a. Menyediakan pelayanan sosial kepada lanjut usia di lingkungan
keluarga.
b. Membantu menyediakan pemenuhan kebutuhan dasar lanjut usai
seperti sandang, pangan dan papan serta kesehatan.
c. Memberikan bimbingan fisik, mental spiritual dan sosial.
59
d. Memberi pemahaman tentang peran dan tanggung jawab keluarga,
lingkungan dan masyarakat di dalam mengatasi permasalahan
lanjut usia.
e. Membuat program kegiatan penyelenggaraan kesejahteraan sosial
lanjut usai
f. Menggali potensi dan sumber kesejahteraan sosial yang ada untuk
menunjang penyelenggaraan kesejahteraan sosial.
B. Tujuan dan Sasaran Kelambagaan
1. Tujuan
Terwujudnya lanjut usia yang sehat, aktif, potensial, dan mandiri.
2. Sasaran
Lanjut usia yang masih bertempat tinggal bersama keluarga, miskin,
terlantar dan tidak mampu.
C. Jumlah Lanjut Usia
Jumlah lanjut usia di Pusat Santunan Keluarga (PUSAKA) yang
ada di kecamatan Pancoran sebanyak 104 lanjut usia. Untuk lebih jelas
dapat dilihat dari tabel di bawah ini:
Tabel 4.1 Data Lanjut Usia Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin
Jumlah
Laki- laki
11
Perempuan
93
Total
104
Tabel 4.2 Data Lanjut Usia Berdasarkan Usia
60
Umur
Laki-Laki
Perempuan
Jumlah
Usia 60-70
2
37
39
Usia 71-80
6
39
45
Usia 81-90
3
17
20
Jumlah
11
93
104
D. Struktur Organisasi
1. Tempat dan kedudukan
Pusat santunan keluarga (PUSAKA) bertempat dan berkedudukan di
wilayah desa atau kelurahan atau wilayah adat sederajat.
2. Struktur kepengurusan PUSAKA terdiri dari:
a. Ketua sebagai penanggung jawab dan koordinator kegiatan unit
PUSAKA.
b. Sekertaris
dengan
tugas
membantu
ketua
dalam
bidang
membantu
ketua
dalam
bidang
pengelolaan administrasi.
c. Bendahara
dengan
tugas
pengelolaan keuangan.
d. Beberapa bidang teknis seperti:
1. Bidang layanan keagamaan
2. Bidang layanan permakanan
3. Bidang kesehatan
4. Bidang sosial
5. Bidang rekreasi dan olah raga
6. Bidang pelayanan dan bantuan hukum
61
E. Metode dan Jenis Pelayanan
1.
Metode
Metode yang dilaksanakan adalah pelayanan langsung kepada sasaran
atau kepada lanjut usia
2. Jenis Pelayanan yang diberikan antara lain:
a. Jenis pelayanan untuk lanjut usia
1) Layanan mental dan spiritual
a) Bimbingan ibadah
b) Pembinaan kerohaniaan
c) Pengajian
2) Layanan fisik
a) Pemeberian pemakanan
b) Senam lanjut usia
3) Layanan keseshatan
a) Pemeriksaan rutin
b) Pengobatan
c) Penyuluhan kesehatan
4) Layanan rekreasi dan pengisian waktu luang
a) Rekreasi dan hiburan
b) Keterampilan untuk mengisi waktu
5) Layanan bantuan hukum
b. Jenis layanan untuk keluarga lanjut usia
62
1) Memberikan pengetahuan kepada keluarga tentang teknikteknik praktis pelayanan kepada keluarga lanjut usia.
2) Menumbuhkan, meningkatkan dan memelihara pendapatan
keluarga melalui bantuan bergulir, bantuan usaha ekonomi
produktif, investasi sosial dan sebagainya.
c. Jenis pelayanan untuk lingkungan dan masyarakat
1) Memeberikan informasi tentang pelayanan lanjut usia.
2) Memeberikan kemudahan mengakses kebutuhan lanjut usia.
F. Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana Pusat santunan keluarga (PUSAKA) idealnya
terdiri dari prasarana dan sarana pendukung yang diperlukan sesuai dengan
kebutuhan lanjut usia.
1. Prasarana yang dimiliki pusat santunan keluarga (PUSAKA) terdiri
dari:
a. Ruang sekretariat
b. Ruang makan atau dapur
c. Ruang serbaguna (difungsikan untuk ibadah, perpustakaan dll)
d. Ruang MCK khusus lanjut usia
2. Sarana yang dimiliki pusat santunan keluarga (PUSAKA) terdiri dari:
a. Papan nama PUSAKA
b. Papan data yang mencantumkan antara lain susunan pengurus dan
binaan
63
c. Meja tulis kantor
d. Lemari arsip
e. Komputer
G. Sumberdaya Manusia dan Pendanaan
1. Sumber daya manusia
Dalam memberikan pelayanan dan memenuhi kebutuhan lanjut
usia maka dalam pelaksanaannya pusat santunan keluarga (PUSAKA)
memerlukan berbagai macam profesi keahlian seperti:
a. Pekerja sosial
b. Dokter atau tenaga medis
c. Rohaniawan
d. Instruktur kegiatan
e. Psikolog
f. Relawan sosial
2. Pendanaan
Guna memperlancar kegiatan yang ada di pusat santunan keluarga
(PUSAKA) maka sumber dana yang diperoleh didapat dari:
a. Donatur tetap yang secara rutin memeberikan bantuan
b. Donatur tidak tetap
c. APBD
64
d. APBN
BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Dalam bab ini akan dibahas hasil dari penelitian yang telah di lakukan di
Pusat Santunan Dalam Keluarga (PUSAKA) yang berada di kecamatan Pancoran.
Hasil penelitian ini mencakup gambaran umun responden, hasil uji instrument,
pembahasan hasil pengujian hipotesis dan analisis perspektif pekerjaan sosial.
A. Gambaran Umum Responden
Gambaran umun subyek penelitian ini diuraikan secara rinci di bawah ini,
yaitu berdasarkan usia dan jenis kelamin. Dari penyebaran angket terhadap 51
responden yang merupakan lanjut usia binaan Pusat Santunan Keluarga
(PUSAKA) yang berada di Kecamatan Pancoran.
1. Responeden berdasarkan usia
Berdasarkan tingkat usia, responden dalam penelitian ini dapat
digambarkan dalam tabel berikut:
Tabel 5.1 Jenis Kelamin Reponden
NO
Jenis Kelamin
Frekuensi
Presentasi
65
1
Laki-laki
4
7,8 %
2
Perempuan
47
92,2%
Total
51
100%
Dari 51 responden yang diteliti berdasarkan jenis kelamin pada
penelitian ini diketahui terdapat 4 responden laki-laki dengan presentase
7,8% dan jumlah responden perempuan sebanyak 47 responden dengan
presentase 92,2%. Berdasarkan jumlah responden tersebut diketahui bahwa
jumlah responden perempuan lebih banyak dibandingkan dengan responden
laki-laki. Hal tersebut di karenakan jumlah lanjut usia yang berjenis kelamin
laki-laki yang ada di sekitar PUSAKA memang sedikit, dan juga mereka
yang menjadi anggota dari PUSAKA adalah mereka yang memiliki kriteria
lansia yang tidak mampu. Banyak dari lansia yang berjenis kelamin laki-laki
tidak ingin dan tidak mau menjadi anggota karena mereka merasa masih
mampu dalam membiyayai hidup mereka sendiri. Selain itu kegiatan yang
ada di PUSAKA lebih banyak ditujukan untuk perempuan seperti kegiatan
pengajian yang dikhususkan bagi lansia berjenis kelamin perempuan. Oleh
karena itu banyak lansia laki-laki enggan ataupun menolak untuk
mendaftarkan diri menjadi binaan PUSAKA.
2. Responden Berdasarkan Usia
Berdasarkan
usia
responden
dalam
digambarkan dalam tabel berikut:
Tabel 5.2 Usia Responden
penelitian
ini
dapat
66
NO
Usia
Frekuensi
Presentasi
1
60-70
22
43,1%
2
71-80
18
35,3%
3
81-90
11
21,6%
51
100%
TOTAL
Dari 51 yang di teliti berdasarkan hasil usia pada penelitian ini
diketahui terdapat 22 responden usia antara 60-70 dengan presentase
43,1%, dan terdapat 18 responden usia antara 71-80 dengan presentase
35,3%, kemudia terdapat 11 responden dengan usia antara 81-90 dengan
presentase 21,6%.
Data responden berdasarkan usia tersebut ditentukan berdasarkan
kriteria bahwa lansia tersebut masih mampu untuk di ajak berkomunikasi
dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan peneliti. Banyak
lansia yang berusia lebih dari 70 tahun namun mereka masih mampu
untuk diajak berkomunikasi.
B. Uji Instrument
Sebelum kuesoner diberikan kepada 51 responden lanjut usia yang
merupakan binaan Pusat Santunan Keluarga (PUSAKA) yang ada di kecamatan
Pancoran peneliti terlebih dahulu melakukan uji instrument kepada 30 responden
yang terdiri dari 60 butir pertanyaan. Yang bertujuan untuk melakukan uji
validitas dan reabilitas terhadap pertanyaan dalam penelitian yang dilakukan.
Analisis dilakukan dengan menggunakan software SPSS 20.0 for windows
release.
67
1. Hasil Uji Validitas
Berikut hasil uji validitas variabel dukungan sosial (X) dan
variabel kualitas hidup lanjut usia (Y) , dari masing-masing pertanyaan:
Tabel 5.3 Uji Validitas Variabel Dukungan Sosial (X)
Hasil
NO
Pertanyaan
r hitung
r tabel
Instrumen
1
Tidak ada seorangpun yang peduli dengan saya.
0.628377
0.349
Valid
2
Saya lebih senang jika jauh dari keramaian
0.46177
0.349
Valid
3
Saya merasa kesepian.
0.311976
0.349
Tidak Valid
4
Saya merasa lebih aman jika berada di lingkungan rumah. 0.110295
0.349
Tidak Valid
5
Berkumpul bersama keluarga membuat saya lebih tenang. 0.401296
0.349
Valid
6
Tidak ada seorangpun yang dapat saya percaya, sehingga
merasa tidak aman jika berada dengan orang lain.
0.549475
0.349
Valid
7
Saya sering mengikuti kegiatan (arisan, pengajian,dll)
yang ada di lingkungan tempat tinggal.
0.5498
0.349
Valid
8
Saya sering meluangkan waktu untuk hobi bersama
teman-teman.
0.582448
0.349
Valid
9
Saya terpaksa mengikuti kegiatan yang ada di lingkungan
tempat tinggal.
0.344085
0.349
Tidak Valid
10
Saya sering berkumpul dengan teman-teman.
0.556953
0.349
Valid
11
Saya lebih senang berada di rumah, karena tidak ada yang 0.522511
mengganggu.
0.349
Valid
12
Saya memiliki banyak musuh
0.406411
0.349
Valid
13
Keluarga menganggap saya tidak berguna.
0.610352
0.349
Valid
14
Karena pengalaman yang saya miliki, sehingga orangorang di sekitar sering meminta nasihat/saran .
0.677649
0.349
Valid
15
Saya adalah sesepuh yang disegani di masyarakat.
0.553669
0.349
Valid
16
Apapun kebaikan yang telah saya lakukan tidak pernah
0.683601
0.349
Valid
68
dihargai oleh orang lain.
17
Saya merasa dihormati oleh keluarga/orang-orang
disekitar.
0.641879
0.349
Valid
18
Keluarga sering memberikan hadiah atas apa yang telah
saya lakukan.
0.644724
0.349
Valid
19
Ketika saya sakit, maka banyak yang membantu.
0.46912
0.349
Valid
20
Saya sering mendapat bantuan dari orang lain (bantuan
jasa/ barang).
0.558202
0.349
Valid
21
Tidak ada seorangpun dalam keluarga/orang-orang
sekitar yang dapat diandalkan ketika saya membutuhkan
pertolongan.
0.619367
0.349
Valid
22
Tetangga saya adalah orang yang baik, karena sering
membantu. (bantuan jasa/ barang)
0.399494
0.349
Valid
23
Saya sering mendapat nasihat dari orang-orang di sekitar.
0.347844
0.349
Tidak Valid
24
Saya selalu memecahkan masalah sendiri tanpa dibantu
orang lain.
0.618539
0.349
Valid
25
Terkadang masalah yang saya hadapi tidak terpecahkan,
karena tidak ada yang membantu.
0.233338
0.349
Tidak Valid
26
Di lingkunan tempat tinggal sering dilakukan sosialisasi
kesehatan.
0.42566
0.349
Valid
27
Saya sering diminta tolong untuk membantu orang-orang
di sekitar (mengurus rumah, menjaga cucu, dll).
0.212475
0.349
Tidak Valid
28
Keluarga/orang-orang sekitar tidak mengharapkan
keberadaan saya.
0.480001
0.349
Valid
29
Ketika saya keluar rumah terlalu lama, maka keluarga
akan mencari.
0.511729
0.349
Valid
30
Tenaga saya masih dibutuhkan oleh orang lain.
0.052211
0.349
Tidak Valid
Tabel 5.4 Uji ValiditasVariabel Kualitas Hidup (Y)
NO
Pernyataan
r hitung
r tabel
Hasil
69
Instrumen
1
Saya sering berobat ke rumah sakit, karena gangguan
panca indra. (gangguan mata/telinga)
0.375808
0.349
Valid
2
Saya sudah tua, sehingga merasa perlu untuk merawat
kesehatan panca indra. (kesehatan mata/telinga)
0.387152
0.349
Valid
3
Gangguan panca indra yang saya alami mengganggu
aktifitas yang saya lakukan. (mata/telinga)
0.031533
0.349
Tidak Valid
4
Saya marasa masih mampu berkarya seperti orang lain,
walaupun saya sudah tua.
0.544394
0.349
Valid
5
Saya sulit berinteraksi dengan orang-orang sekitar,
karena maslah kesehatan panca indra. (mata/ telinga)
0.379955
0.349
Valid
6
Keluarga mendukung apa pun kegiatan yang saya
lakukan (pengajian, arisan, dll)
0.755829
0.349
Valid
7
Saya selalu dilibatkan oleh keluarga/orang-orang sekitar
dalam mengambil keputusan bersama.
0.723466
0.349
Valid
8
Keluarga/orang-orang di sekitar sering mengatur apa
yang harus saya lakukan.
0.466773
0.349
Valid
9
Saya akan marah, jika dilarang melakukan suatu hal.
0.16757
0.349
Tidak Valid
10
Keluarga menghargai kebebasan hidup saya, sehingga
saya hidup senang di masa tua.
0.815663
0.349
Valid
11
Saya sudah tua, sehingga sudah tidak ada lagi harapan
yang ingin dicapai dalam hidup.
0.367207
0.349
Valid
12
Saya merasa puas dengan apa yang telah dicapai dalam
hidup
0.36459
0.349
Valid
13
Saya merasa bangga dengan diri sendiri.
0.439474
0.349
Valid
14
Saya adalah orang yang berpengaruh di lingkungan
tempat tinggal
0.591196
0.349
Valid
15
Sekarang saya hidup berkecukupan, karena kerja keras
ketika muda.
0.626738
0.349
Valid
16
Saya mempunyai berbagai macam kegiatan setiap harinya
(memasak, mencuci, mengurus cucu, dll)
0.35391
0.349
Valid
17
Saya mengikuti berbagai kegiatan yang ada di lingkungan
0.645725
0.349
Valid
70
tempat tinggal (pengajian, arisan, dll)
18
Saya sering sakit, karena kegiatan harian yang padat.
0.372548
0.349
Valid
19
Saya merasa senang masih bisa berpartisipasi dalam
kegiatan masyarakat (pengajian, arisan dll).
0.59004
0.349
Valid
20
Saya hanya keluar rumah jika hanya ada urusan penting
saja.
0.433228
0.349
Valid
21
Saya merasa khawatir tentang bagaimana saya akan
meninggal nanti.
0.363393
0.349
Valid
22
Saya merasa penting untuk memiliki asuransi kematian.
0.467501
0.349
Valid
23
Saya merasa takut ketika membayangkan kematian.
0.385447
0.349
Valid
24
Saya merasa takut, jika nanti merasakan sakit sebelum
meninggal
0.090998
0.349
Tidak Valid
25
Saya merasa penyakit yang saya derita tidak dapat di
sembuhkan
0.359673
0.349
Valid
26
Saya memiliki banyak teman.
0.650757
0.349
Valid
27
Banyak teman yang peduli kepada saya.
0.57213
0.349
Tidak Valid
28
Ketika saya memerlukan pertolongan selalu ada teman
yang membantu.
0.51082
0.349
Valid
29
Saya merasa kesepian dalam hidup ini.
0.055687
0.349
Tidak Valid
30
Keluarga/orang-orang sekitar mencintai saya.
0.464394
0.349
Valid
Dari hasil uji validitas yang dilakuakn oleh 30 responden diketahui
bahwa terdapat 24 butir dikatakan valid pada varibel dukungan sosial (X),
dan terdapat 26 butir valid pada variabel kualitas hidup lanjut usia (Y).
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari nilai koefisien kolerasi yang diperoleh
rata-rata lebih besar dari “r” tabel. Kemudian setelah itu hasil uji instrument
yang telah valid disebar kembali kepada 51 responden.
71
2. Uji Reabilitas
Melalui perhitungan dengan menggunakan bantuan softwere SPSS
20 for windows release maka didapat nilai koefisien reabilitas Cronbach’s
Alpha sebagai berikut:
Tabel 5.5 Hasil Uji Koefisien Reabilitas
Case Processing Summary
N
Valid
Cases
a
Excluded
Total
%
Reliability Statistics
30
100,0
0
,0
30
100,0
a. Listwise deletion based on all variables in the
procedure.
Case Processing Summary
N
Valid
Cases
a
Excluded
Total
%
30
100,0
0
,0
30
100,0
a. Listwise deletion based on all variables in the
procedure.
Cronbach's
N of Items
Alpha
,894
23
Reliability Statistics
Cronbach's
N of Items
72
Alpha
,868
26
Dari hasil koefisien reabilitas (Alpha) yang tertera pada table diatas
adalah 0,894 dan 0,868 maka dapat dikatakan bahwa instrument yang
digunakan baik. Karena cronbach alpha > 0,07 dapat diterima, dan cronbach
alpha > 0,08 adalah baik. Maka hasil data angket memiliki rebilitas yang baik,
atau dengan kata lain data hasil angket dapat dipercaya untuk digunakan
sebagai alat ukur pengumpulan data atau mengukur objek yang sudah
ditetapkan.
C. Analisis Data Penelitian
1. Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnov
Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil penelitian yang
kemudian diolah dengan menggunakan bantuan SPSS 20 for windows release,
maka didapatkan hasil sebagai berikut:
Tabel 5.6 Hasil Uji Normalitas
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized
Residual
N
Normal Parameters
51
a,b
Most Extreme Differences
Mean
Std. Deviation
0E-7
8,44931702
Absolute
,106
Positive
,106
Negative
-,059
Kolmogorov-Smirnov Z
,758
Asymp. Sig. (2-tailed)
,614
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
73
Berdasarkan hasil tersebut diketahui bahwa nilai signifikasi dari uji
normalitas kolmogorov-smirnov sebesar 0,614 dengan alpha 0,05 karena nilai
signifikansi lebih besar dari alpha, maka dapat dikatakan data tersebut
berdistribusi normal.
2. Uji Homogenitas
Berikut hasil uji homogenitas yang di dapat dari data hasil penelitian
yang kamudian dioleh dengan menggunakan bantuan SPSS 20 for windows
release, maka didapatkan hasil sebagai berikut:
Tabel 5.7 Hasil Uji Homogenitas
Test of Homogeneity of Variances
KUALITAS HIDUP
Levene Statistic
df1
df2
Sig.
2,956
13
23
,011
Berdasarkan data diatas diketahui bahwa nilai signifikansi 0,011
dengan alpha 0,05. Karena nilai signifikansi lebih kecil dari alpha, maka
kelompok populasi data tidak memiliki kesamaan atau homogen.
3. Uji Koefisien Korelasi
Berdasarkan hasil penelitian yang telah diolah dengan menggunakan
bantuan software SPSS 20 for windows release, maka diperoleh hasil
koefisien korelasi dan di dapatkan hasil sebagai berikut:
74
Tabel 5.8 Hasil Koefisien Korelasi
Correlations
Kualitas hidup
Kualitas
(X1)
(X2)
(X3)
(X4)
(X5)
(X6)
hidup
Kerekatan
Integrasi
Pengakuan
Hubungan
Saran
Kemungkin
emosional
sosial
yang dapat
an
diandalkan
membantu
1,000
,395
,446
,434
,494
,074
,238
Kerekatan emosional
,395
1,000
,347
,422
,086
,204
,133
Pearson
Integrasi sosial
,446
,347
1,000
,384
,266
,328
,141
Correlatio
Pengakuan
,434
,422
,384
1,000
,521
-,132
,390
n
Hubungan yang dapat diandalkan
,494
,086
,266
,521
1,000
-,176
,175
Saran
,074
,204
,328
-,132
-,176
1,000
,000
Kemungkinan membantu
,238
,133
,141
,390
,175
,000
1,000
.
,002
,001
,001
,000
,302
,046
Kerekatan emosional
,002
.
,006
,001
,275
,076
,176
Integrasi sosial
,001
,006
.
,003
,030
,009
,161
Pengakuan
,001
,001
,003
.
,000
,179
,002
Hubungan yang dapat diandalkan
,000
,275
,030
,000
.
,108
,110
Saran
,302
,076
,009
,179
,108
.
,500
Kemungkinan membantu
,046
,176
,161
,002
,110
,500
.
Kualitas hidup
51
51
51
51
51
51
51
Kerekatan emosional
51
51
51
51
51
51
51
Integrasi sosial
51
51
51
51
51
51
51
Pengakuan
51
51
51
51
51
51
51
Hubungan yang dapat diandalkan
51
51
51
51
51
51
51
Saran
51
51
51
51
51
51
51
Kemungkinan membantu
51
51
51
51
51
51
51
Kualitas hidup
Sig. (1tailed)
N
a. Korelasi antara variabel Kerekatan Emosional (X1) dan variabel Y
memiliki nilai 0,395 yang dapat dikategorikan memiliki hubungan yang
rendah. Berdasarkan uji signifikan hasilnya menunjukan nilai 0,002 yang
berarti hubungan kedua variabel adalah signifikan atau terdapat hubungan
antara variabel kerekatan emosional dengan kualitas hidup lanjut usia.
75
b. Korelasi antara variabel integrasi sosial (X2) dan variabel Y memiliki nilai
0,446 yang dapat dikategorikan memiliki hubungan sedang. Berdasarkan
uji signifikan hasilnya menunjukan nilai 0,001 yang berarti hubungan
kedua variabel adalah signifikan atau terdapat hubungan antara variabel
integrasi sosial dengan kualitas hidup lanjut usia.
c. Korelasi antara variabel pengakuan (X3) dan variabel Y memiliki nilai
0,434 yang dapat dikategorikan memiliki hubungan sedang. Berdasarkan
uji signifikan hasilnya menunjukan nilai 0,001 yang berarti hubungan
kedua variabel adalah signifikan atau terdapat hubungan antara variabel
pengakuan dengan kualitas hidup lanjut usia.
d. Korelasi antara variabel hubungan yang dapat diandalkan (X4) dan
variabel Y memiliki nilai 0,494 yang dapat dikategorikan memiliki
hubungan sedang. Berdasarkan uji signifikan hasilnya menunjukan nilai
0,000 yang berarti hubungan kedua variabel adalah signifikan atau
terdapat hubungan antara variabel hubungan yang dapat diandalkan
dengan kualitas hidup lanjut usia.
e. Korelasi antara variabel saran (X5) dan variabel Y memiliki nilai 0,074
yang dapat dikategorikan memiliki hubungan yang sangat rendah.
Berdasarkan uji signifikan hasilnya menunjukan nilai 0,302 yang berarti
hubungan kedua variabel adalah tidak signifikan atau tidak terdapat
hubungan antara variabel saran dengan kualitas hidup.
f. Korelasi antara variabel kemungkinan membantu (X6) dan variabel Y
memiliki nilai 0,238 yang dapat dikategorikan memiliki hubungan rendah.
Berdasarkan uji signifikan hasilnya menunjukan nilai 0,046 yang berarti
76
hubungan kedua variabel adalah signifikan atau terdapat hubungan antara
variabel kemungkinan membantu dengan kualitas hidup.
4. Koefisien Determinasi
Berdasarkan hasil penelitian yang telah diolah dengan menggunakan
bantuan software SPSS 20 for windows release, maka didapatkan hasil
sebagai berikut:
Tabel 5.9 Hasil Uji Koefisien Determinasi
b
Model Summary
Model
1
R
,654
R Square
a
,428
Adjusted R
Std. Error of the
Square
Estimate
,350
8,617
Durbin-Watson
1,782
Tabel 19, menunjukan bahwa nilai koefisien determinasi R² (R Square)
sebesar 0,428. Itu berarti, variable X1 (Kerekatan Emosional), X2 (Integrasi
Sosial), X3 (pengakuan), X4 (hubungan yang dapat diandalkan), X5 (saran),
dan X6 (kemungkinan membantu) mempengaruhi variabel Y (Kualitas Hidup)
sebesar 42,8%. Sedangkan sisanya sebesar 57,2% dipengaruhi atau dijelaskan
oleh variabel lain di luar variabel penelitian.
5. Uji F-Test
Berdasarkan hasil penelitian yang telah diolah dengan menggunakan
bantuan software SPSS 20 for windows release, maka didapatkan hasil
sebagai berikut:
77
Tabel 6.10 Hasil Uji F-Test
a
ANOVA
Model
1
Sum of Squares
df
Mean Square
Regression
2443,268
6
407,211
Residual
3266,771
44
74,245
Total
5710,039
50
F
Sig.
5,485
,000
b
a. Dependent Variable: KUALITAS HIDUP
b. Predictors: (Constant), Kemungkinan Membantu, Saran , Kerekatan Emosional, Hubungan
Yang Dapat Diandalkan, Integrasi Sosial, Pengakuan
Berdasarkan tabel diatas menunjukan bahwa nilai signifikansi untuk
uji F adalah sebesar 0,000. Itu artinya, nilai signifikannya lebih kecil dari
nilai alpha 0,05, maka terdapat pengaruh variabel X (dukungan sosial)
terhadap variabel Y (kualitas hidup lanjut usia).
6. Uji Regresi Berganda
Berdasarkan hasil penelitian yang telah diolah dengan menggunakan
bantuan SPSS 20 for windows release, maka didapatkan hasil sebagai berikut:
Tabel 6.1 Hasil Uji Koefisien Regresi Berganda dan Uji T-test
Coefficients
Model
a
Unstandardized Coefficients
Standardized
t
Sig.
Coefficients
B
(Constant)
,051
,272
2,023
,049
,498
,234
1,687
,099
-,063
,530
-,020
-,119
,906
1,785
,614
,402
2,909
,006
Saran
,092
1,174
,010
,078
,938
Kemungkinan Membantu
,757
,886
,106
,855
,397
Integrasi Sosial
Pengakuan
Hubungan Yang Dapat
Diandalkan
26,116
12,991
1,292
,639
,840
Beta
2,010
Kerekatan Emosional
1
Std. Error
78
a. Dependent Variable: KUALITAS HIDUP
Berdasarkan tabel diatas maka dapat disusun dan disimpulkan hasil
persamaan regresi linier berganda sebagai berikut:
Y = 26,116 + 1,292X1 + 0,840X2 - 0,063X3 + 1,785 X4 + 0,092X5 + 0,757X6
a. Variabel Kerekatan emosional (X1) mempunyai nilai koefisien regresi
sebesar 1,292. Dengan demikian setiap ada penambahan satu nilai
maka akan ada kenaikan kualitas hidup lanjut usia sebesar 1,292.
b. Variabel Integrasi sosial (X2) mempunyai nilai koefisien regresi
sebesar 0,840. Dengan demikian setiap ada penambahan satu nilai
maka akan ada kenaikan kualitas hidup lanjut usia sebesar 0,840.
c. Variabel Pengakuan (X3) mempunyai nilai koefisien regresi sebesar 0,063. Dengan demikian setiap ada penambahan satu nilai maka akan
ada penurunan kualitas hidup lanjut usia sebesar -0,063.
d. Variabel hubungan yang dapat diandalkan (X4) mempunyai nilai
koefisien regresi sebesar 1,785. Dengan demikian setiap ada
penambahan satu nilai maka akan ada kenaikan kualitas hidup lanjut
usia sebesar 1,785.
e. Variabel Saran (X5) mempunyai nilai koefisien regresi sebesar 0,092.
Dengan demikian setiap ada penambahan satu nilai maka akan ada
penambahan kualitas hidup lanjut usia sebesar 0,092.
f. Variabel kemungkinan membantu (X6) mempunyai nilai koefisien
regresi sebesar 0,757. Dengan demikian setiap ada penambahan satu
nilai maka akan ada kenaikan kualitas hidup lanjut usia sebesar 0,757.
79
7. Uji T-Test
Berdasarkan hasil uji T-test dilihat dari tabel 6.1 dapat dijelaskan
bahwa nilai masing-masing variabel adalah sebagai berikut:
a. Nilai Signifikansi pada uji t untuk variabel kerekatan emosional (X1)
sebesar 0,049 dengan alpha 0,05. Nilai signifikansi tersebut lebih kecil
dari nilai alpha. Karena nilai signifikansi lebih kecil dari alpha, maka
Hₒ ditolak. Hal itu berarti, terdapat pengaruh yang signifikan antara
variabel X1 terhadap variabel Y.
b. Nilai Signifikansi pada uji t untuk variabel integrasi sosial (X2) sebesar
0,099 dengan alpha 0,05. Nilai signifikansi tersebut lebih besar dari
nilai alpha. Karena nilai signifikansi lebih besar dari alpha, maka Hₒ
diterima. Hal itu berarti, tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara
variabel X2 terhadap variabel Y.
c. Nilai Signifikansi pada uji t untuk variabel pengakuan (X3) sebesar
0,906 dengan alpha 0,05. Nilai signifikansi tersebut lebih besar dari
nilai alpha. Karena nilai signifikansi lebih besar dari alpha, maka Hₒ
diterima. Hal itu berarti, tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara
variabel X3 terhadap variabel Y.
d. Nilai Signifikansi pada Uji t untuk variable hubungan yang dapat
diandalkan (X4) sebesar 0,006 dengan alpha 0,05. Nilai signifikansi
tersebut lebih kecil dari nilai alpha. Karena nilai signifikansi lebih
kecil dari alpha, maka Hₒ ditolak. Hal itu berarti, terdapat pengaruh
yang signifikan antara variabel X4 terhadap variabel Y
80
e. Nilai Signifikansi pada uji t untuk variable saran (X5) sebesar 0,938
dengan alpha 0,05. Nilai signifikansi tersebut lebih dari besar nilai
alpha. Karena nilai signifikansi lebih besar dari alpha, maka Hₒ
diterima. Hal itu berarti, tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara
variabel X5 terhadap variabel Y
f. Nilai Signifikansi pada uji t untuk variable kemungkinan membantu
(X6) sebesar 0,397 dengan alpha 0,05. Nilai signifikansi tersebut lebih
dari besar nilai alpha. Karena nilai signifikansi lebih besar dari alpha,
maka Hₒ diterima. Hal itu berarti, tidak terdapat pengaruh yang
signifikan antara variabel X6 terhadap variabel Y
Hₒ :
ᵦ
= 0 Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara dukungan
sosial terhadap kualitas hidup lanjut usai.
Hₐ :
ᵦ
≠ 0 Terdapat pengaruh yang signifikan antara dukungan sosial
terhadap kualitas hidup lanjut usia.
Maka dapat disimpulkan dari hipotesis tersebut bahwa, terdapat
pengaruh secara signifikan pada variabel kerekatan emosional (X1) dan
variabel hubungan yang dapat diandalkan (X4) terhadap variabel kualitas
hidup lanjut usia (Y) dengan nilai signifikansi sebesar 0,049 dan 0,006.
Sedangkan tidak terdapat pengaruh signifikan pada variabel integrasi
sosial (X2), pengakuan (X3), Saran (X5) dan kemungkinan membantu (X6),
81
terhadap variabel kualitas hidup lanjut usia (Y) dengan signifikansi masingmasing sebesar 0,099, 0,906, 0,938 , dan 0,397.
D. Analisis Perspektif Pekerjaan Sosial
Berdasarkan hasil analisis kuantitatif dan juga hasil wawancara dan
observasi yang dilakukan di Pusat Santuanan Keluarga (PUSAKA) yang ada di
Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan menunjukkan bahwa secara umum
dukungan sosial memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kualitas hidup
lanjut usia. Dukungan sosial tersebut didapatkan lansia dari pasangan, keluarga
ataupun masyarakat. Dukungan sosial erat kaitannya dengan kualitas hidup,
dimana lanjut usia yang mengalami penurunan kualitas hidup dikarenakan rasa
kesepian dan kurangnya perhatian dari anggota keluarga atau karena kurangnya
dukungan sosial dari orang-orang disekitar. Hal tersebut diperkuat dengan hasil
penelitan kuantitatif dalam penelitian ini, bahwa dukungan sosial mempengaruhi
kualitas hidup sebesar 42,8% sedangkan sisanya dipengaruhi oleh variabel lain
diluar penelitian, jadi menurut peneliti hasil ini sudah cukup berpengaruh.
Kemudian berdasarkan hasil penelitian dengan bantuan perhitungan
software SPSS 20 for windows release, diketahui bahwa variabel lain yang
secara signifikan dan positif mempengaruhi kualitas hidup lanjut usia adalah
variabel kerekatan emosional (X1). Dengan nilai koefisien regresi sebesar 1,292
dan nilai signifikasi sebesar 0,049. Pengaruh pada variabel kerekatan emosional
bernilai positif, artinya setiap ada penambahan satu nilai kerekatan emosional
maka akan ada kenaikan kualitas hidup lanjut usia sebesar 1,292. Kerekatan
emosional merupakan kedekatan emosional sehingga menimbulkan rasa aman,
82
tentram, dan dicintai bagi lansia yang menerimanya. Dan dari hasil penelitian
yang dilakukan oleh peneliti bahwa lansia yang ada di PUSAKA mendapatkan
kerekatan emosional dengan keluarga, teman, pasangan, dan juga masyarakat.
Sehingga lansia merasa dirinya diperhatikan, dicintai serta merasa nyaman
bersama orang lain.
Di PUSAKA lansia tidak hanya menerima santunan tetapi juga pelayanan
sosial, dan juga dukungan sosial. Sehingga lansia yang berada di PUSAKA
dapat merasakan kerekatan emosional tidak hanya dari keluarga tetapi juga dari
pengasuh dan masyarakat. Lansia yang kurang mendapatkan kerekatan
emosional dari keluarganya tetap bisa mendapatkannya dari pengasuh dan juga
masyarakat. Karena ada beberapa lansia yang menerima perlakuan yang salah
dari keluarganya, sehingga dirinya merasa tidak nyaman bila berada di rumah.
Perlakuan yang salah yang diterima oleh lansia misalnya diusianya yang sudah
tua mereka dipaksa untuk mengerjakan pekerjaan rumah bahkan mereka harus
mengurus cucu. Namun dengan adanya keberadaan PUSAKA para lansia
mendapatkan perhatian, kerekatan emosional yang diperoleh dari pengasuh,
yang mana hal tersebut dapat meningkatkan kualitas hidup lansia. Hal tersebut
sesuai
dengan
teori
kelekatan
(attachment
theory)
yaitu
kelekatan
mempengaruhi tingkat kenyamanan dan kemanan seseorang, sehingga dapat
mengembangkan kapasitas diri seseorang. Kelekatan emosional yang diterima
lansia oleh pengasuh membuat lansia merasa nyaman dan aman. Kelekatan yang
diterimanya dapat membantu lansia dalam mengembangkan kapasitas diri lansia.
Peningkatan kapasitas diri lansia artinya peningkatan kualitas hidup lansia. Jadi
variabel kerekatan emosional sangat mempengaruhi kualitas hidup lanjut usia.
83
Pada variabel integrasi sosial (X2) tidak mempunyai pengaruh yang
signifikan namun mempunyai nilai yang positif terhadap kualitas hidup. Dengan
nilai koefisien regresi sebesar 0,840 dan nilai signifikasi sebesar 0,099. Integrasi
sosial merupakan perasaan memiliki didalam kelompok yang memungkinkan
membagi minat dan perhatian. Integrasi sosial erat kaitannya dalam keikut
sertaan lansia dalam aktifitas kelompok. Berdasarkan penelitian yang dilakukan
hal ini menjadi tidak signifikan karena di usia lanjut tidak semua lanjut usia
potensial. Banyak dari lanjut usai mengalami penurunan dalam kemampuan fisik
sehingga mereka tidak dapat melakukan dan mengikuti aktifitas terlalu lama,
ditambah diusia lanjut seseorang cenderung menarik diri dari lingkungan. Hal
tersebut juga sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Cumming yaitu teori
penarikan diri (disengagement theory) bahwa sesorang yang telah berusia lanjut
akan meinggalkan posisi mereka ketika mereka meninggal atau menjadi tidak
kompeten. Walaupun para lansia mengikuti kegiatan yang ada di PUSAKA,
namun tetap ada batasan dalam menjalani berbagai kegiatan tersebut. Sehingga
integrasi sosial dalam penelitian ini tidak signifikan mempengaruhi kualitas
hidup.
Kemudaian pada variabel pengakuan (X3) tidak mempunyai pengaruh
yang signifikan dan mempunyai nilai yang negatif terhadap kualitas hidup.
Dengan nilai koefisien regresi sebesar -0,063dan nilai signifikasi sebesar 0,906.
Yang artinya setiap ada penambahan satu nilai maka akan ada penurunan
kualitas hidup lanjut usia sebesar 0,063. Variabel pengakuan merupakan
pengakuan atas kemapuan dan keahlian yang dimiliki lansia. Berdasarkan
penelitian yang dilakuakan banyak lansia yang merasa kurang dihargai dan
84
diakui dengan apa yang telah dilakukannya. Bahkan ada lansia yang
mendapatkan perlakuan kurang baik dari keluarganya sendiri. Sehingga variabel
pengakuan memiliki pengaruh yang tidak signifikan dalam mempengaruhi
kualitas hidup lanjut usia.
Variabel hubungan yang dapat diandalkan (X4) mempunyai pengaruh yang
signifikan dan positif terhadap kualitas hidup. Dengan nilai koefisien regresi
sebesar 1,785 dan nilai signifikasi sebesar 0,006. Yang artinya setiap ada
penambahan satu nilai maka akan ada kenaikan kualitas hidup lanjut usia sebesar
1,785. Variabel hubungan yang dapat diandalkan memiliki pengaruh dan nilai
hubungan yang cukup besar dengan kualitas hidup. Hubungan yang dapat
diandalkan adalah jaminan bahwa ada orang yang dapat diandalkan bantuannya
ketika individu membutuhkan bantuan. Bantuan yang dimaksud adalah bantuan
berupa materi maupun tindakan yang diterima seseorang. Berdasarkan hasil
penelitian yang dilakuakan hubungan yang dapat diandalkan menjadi signifikan
karena para lansia yang menjadi binaan PUSAKA mendapatkan berbagai
bantuan dan juga pelayanan sosia. Bantuan dan pelayanan sosial yang diterima
lansia yaitu pelayanan mental dan spiritual, layanan fisik, layanan kesehatan,
serta layanan rekreasi dan pengisian waktu luang. Sehingga dengan berbagai
bantuan yang diterima oleh lansia dapat membantu mereka dalam meningkatkan
kualitas hidup mereka. Salah satu bantuan yang diterima oleh para lansia
misalnya dalam hal pemenuhan gizi dimana setiap bulannya para lansia
menerima bantuan berupa kebutuhan bahan pokok selain itu juga setiap dua kali
dalam seminggu lansia diberikan makanan, hal tersebut dimaksudkan agar
kebutuhan hidup lansia terpenuhi. Karena lansia yang menjadi binaan PUSAKA
85
adalah mereka yang tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya karena
keterbatasan fisik maupun ekonomi. Oleh karena itu hubungan yang dapat
diandalkan menjadi signifikan karena variabel ini memiliki dampak yang sangat
besar bagi pemenuhan hidup lansia atau dapat meningkatkan kualitas hidup
lansia.
Pada variabel saran (X5) tidak mempunyai pengaruh yang signifikan
namun mempunyai nilai yang positif terhadap kualitas hidup. Dengan nilai
koefisien regresi sebesar 0,092 dan nilai signifikasi sebesar 0,938. Yang artinya
setiap ada penambahan satu nilai maka akan ada kenaikan kualitas hidup lanjut
usia sebesar 0,092. Yang dimaksud variabel saran adalah mendapatkan informasi
dan nasihat yang dibutuhkan dalam memenuhi kebutuhan dan mengatasi
permasalahan yang dihadapi. Berdasarkan hasil penelitian variabel ini menjadi
tidak memiliki pengaruh dikarenakan informasi atau saran yang di dapat lansia
kurang dirasakan dampaknya. Variabel saran atau informasi ini contohnya
berupa penyuluhan yang dilakukan di PUSAKA maupun lingkungan tempat
tinggal. Di PUSAKA lansia mendapatkan penyuluhan kesehatan namun
penyuluhan yang dilakukan jarang diadakan, sehingga penyuluhan tersebut
kurang dirasakan dampaknya. oleh karena itu variabel saran menjadi tidak
memiliki pengaruh terhadap kualitas hidup lansia, karena kurangnya dampak
terhadap kehidupan para lansia.
Selanjutnya pada variabel kemungkinan membantu (X6) tidak mempunyai
pengaruh yang signifikan namun mempunyai nilai yang positif terhadap kualitas
hidup. Dengan nilai koefisien regresi sebesar 0,757 dan nilai signifikasi sebesar
0,397. Yang artinya setiap ada penambahan satu nilai maka akan ada kenaikan
86
kualitas hidup lanjut usia sebesar 0,757. Kemungkinan membantu merupakan
perasaan dibutuhkan orang lain. Variabel ini menjadi tidak berpengaruh terhadap
kualitas hidup dikarenakan banyak lansia yang merasa di usia mereka yang
sudah tua tidak banyak hal yang dapat mereka lakukan. Hal itu juga ditambah
dengan perlakuan keluarga yang mengaggap orangtua sebagai beban. Sehingga
banyak lansia yang merasa bahwa dirinya tidak berguna dan merasa keberadaan
mereka tidak diharapkan, oleh karena itu banyak lansia yang menjalani sisa
hidup mereka hanya dengan berada dirumah dan dengan tidak melakukan
aktifitas. Keadaan ini tidak sejalan dengan teori aktivitas (activity theory), bahwa
semakin banyak kegiatan yang dilakukan orang usia lanjut, semakin memuaskan
hidup mereka atau dengan kata lain memiliki kualitas hidup yang baik. Sehingga
perasaan tidak dibutuhkan dan tidak banyak melakukan kegiatan menyebabkan
kualitas hidup lansia yang menurun. Jadi variabel kemungkinan membantu
menjadi tidak berpengaruh terhadap kualitas hidup lansia.
87
BAB VI
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data serta pengujian hipotesis, maka kesimpulan
yang dapat diambil dari penelitian ini adalah sebagi berikut:
1. Terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan sosial dengan
kualitas hidup lanjut usia. Variabel dukungan sosial yang memiliki
korelasi yang signifikan terhadap kualitas hidup adalah variabel kerekatan
emosional, variabel integrasi sosial, variabel pengakuan, variabel
hubungan yang dapat diandalkan, dan variabel kemungkinan membantu.
Sedangkan tidak terdapat korelasi yang signifikan pada variabel saran
terhadap kualitas hidup lanjut usia.
2. Terdapat pengaruh yang signifikan antara dukungan sosial dengan kualitas
hidup lanjut usia. Variabel dukungan sosial yang berpengaruh secara
signifikan terhadap kualitas hidup adalah variabel kerekatan emosional
dan variabel hubungan yang dapat diandalkan. Sedangkan tidak terdapat
pengaruh yang signifikan antara variabel integrasi sosial, variabel
pengakuan, variabel saran, dan variabel kemungkinan membantu terhadap
kualitas hidup lanjut usia.
B. Saran
Setelah melalui seluruh proses penelitian dan penyusunan laporan hasil
penelitian, peneliti menyadari masih banyak kekurangan dalam penelitian ini.
88
Untuk penyempurnaan penelitian selanjutnya maka penulis memberikan saran
yang dapat dijadikan pertimbangan.
1. Untuk penelitian selanjutnya, peneliti menyarankan untuk menggunakan
item-item yang lebih menditail mewakili indikator dimensi yang akan
diukur. Serta untuk peneliti selanjutnya agar dapat meneliti variabel
lainnya.
2. Untuk pemerintah dan PUSAKA agar dapat meningkatkan pelayanan
yang diberikan kepada lanjut usia, dengan menambahkan pengasuh bagi
para lansia. Sehingga para binaan mendapatkan bantuan dan perhatian
yang lebih banyak. Serta dapat menambah sarana dan prasarana yang
ramah bagi lanjut usia.
3. Agar semua pihak dapat lebih memperhatikan kesejahteraan lanjut usia,
karena usia lanjut merupakan usia dimana seseorang membutuhkan
dukungan dari orang-orang di sekitarnya.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:
Rineka Cipta, 2010.
Ariefuzzaman, Siti Napsiyah Ariefuzzaman dan Lisma Diawati Fuaida. Belajar
Teori Pekerjaan Sosial . Jakarta: UIN, 2011.
Enterprise, Jubille. SPSS Untuk Pemula. Jakarta: Elex Media, 2014.
Hawari, Dadang. Sejahtera di Usia Senja. Jakarta: FKUI, 2007.
Henslin, James M Henslin. Sosiologi Dengan Pendekatan Membumi. Jakarta:
Erlangga, 2006.
Kementrian Sosial RI Dierktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial, Pedoman
Penyelenggaraan Pusat Santunan Keluarga (PUSAKA). Jakarta:
Kementrian Sosial, 2012.
Prasetyo, Bambang dan Lina Miftahul Jannah. Metode Penelitian Kuantitatif:
Teori dan Aplikasinya. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2006.
Prayitno, Duwi. 5 Jam Belajar Olahan Data dengan SPSS 17. Yogyakarta: CV.
Andi offset, 2009.
Santrock, John W. Perkembangan Anak . Jakarta: Erlangga, 2007.
Sari, Endah Puspita. Penerimaan Diri pada Lanjut Usia Ditinjau Dari
Kematangan Emosi. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada, 2002.
Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS), Teknologi Pengembangan
Masyarakat. Bandung: STKS, 2008.
Siregar, Syofian. Statistika Deskriptif untuk Penelitian. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada, 2014.
Soekidjo Notoatmodjo, Soekidjo. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni. Jakarta:
Rineka Cipta, 2007.
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta,
2011.
Surbakti. Menata Kehidupan Pada Usia Lanjut. Jakarta: Pranita Aksara, 2013.
Sumarsono, Sonny. Metode Riset Sumber Daya Manusia. Yogyakarta: Graha
Ilmu, 2004.
1
Topatimasang, Roem. Memanusiakan Lanjut Usia: Penuaan
&Pembangunan di Indonesia. Yogyakarta: INSIST Press, 2013.
Penduduk
Upton, Penney. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga, 2012.
JURNAL
Amalia Yuliati, dkk., “Perbedaan Kualitas Hidup Lansia yang Tinggal di
Komunitas dengan di Pelayanan Sosial Lanjut Usia (The Different of
Quality of Life Among the Elderly who Living at Community and Social
Services),” Jurnal Pustaka Kesehatan, vol. 2 (Januari 2014): h. 88.
Sri, Zainuddin “Dukungan Sosial Pada Lansia,” Jurnal Psikologi, 16 Agustus
2006.
SKRIPSI
Diah, Ayu. “Evaluasi Proses Pelaksanaan Program Elderly Day Care Services
Tahun 2012 di Panti Sosial Tresna Werdha Budhi Dharma Bekasi Timur.”
Tesis S2 Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Indonesia, 2012.
Najah, Kamalia. “Pengaruh Dukungan Sosial dan Spiritual Terhadap Simton
Depresi Pada Santri di Pesantrean.” Skripsi S1 Fakultas Psikologi,
Universitas Islam Negeri Jakarta, 2013.
Putri, Amalia Kusuma. “Pengaruh Dukungan Sosial dan Prestasi Belajar Terhadap
Kepercayaan Diri Remaja,” Skripsi S1 Fakultas Psikologi, Universitas Islam
Negeri Jakarta, 2012.
Raafiah, Dyni. “Pengaruh Dukungan Sosial Terhadap Burnout Guru Sekolah Luar
Biasa.” Skripsi S1 Fakultas Psikologi, Universitas Islam Negeri Jakarta,
2012.
Yunita, Rika “Hubungan Kegiatan Sosial Lanjut Usia dengan Kualitas Hidup
Lanjut Usia di Puskesmas Ciputat.” Skripsi S1 Fakultas Kedokteran dan
Ilmu Kesehatan, Universitas Islam Negeri Jakarta, 2011.
WEBSITE
Badan Pusat Statistik. “Laporan Bulanan Data Sosial Ekonomi.” artikel diakses
pada
22
September
2014
dari
http://www.bps.go.id/download_file/IP_Februari_2014.pdf
Wardhana, Hendra. “Mereka Lansia, Mereka Berdaya,” artikel diakses pada 22
September
2014
dari
http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2014/05/29/mereka-lansia-merekaberdaya-655403.html
Dewianita, dkk. “Fungsi keluarga, dukungan sosial dan kualitas hidup lansia di
wilayah kerja Puskesmas III Denpasar Selatan,” artikel diakses pada 1
Maret 2015 dari file:///C:/Users/Acer/Downloads/7878-13923-1-SM.pdf
Undang-Undang Online, “Undang-undang Kesejahteraan Lansia nomor 13 tahun
1998,”
artikel
diakses
pada
17
Januari
2015
dari
file:///C:/Users/Acer/Downloads/Undang-Undang-tahun-1998-1398%20(3).pdf
Kusumawardani, Arianti “Hubungan antara Dukungan Sosial dan Kualitas Hidup
pada Lansia Penderita Hipertensi,” artikel diakses pada 20 Februari 2015
http://pustaka.unpad.ac.id/wpcontent/uploads/2014/08/Hubungandari
antara-Dukungan-Sosial-dan
Kualitas-Hidup-pada-Lansia-PenderitaHipertensi.pdf
Al-Qur’an Online, “surah Al-Isra ayat 23,” artikel diakses pada 22 September
2014 dari http://quran.com/17/23-24
Direktorat Jendral Rehabilitasi Sosial, “ Lanjut Usia,” artikel diakses pada 17
Februari
2015
dari
http://rehsos.kemsos.go.id/modules.php?name=Content&pa=showpage&pid
=6
Universitas Sumatra Utara, “Pelayanan Lanjut Usia,” Artikel diakses pada 18
Februari
2015
dari
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/39240/3/Chapter%20II.pdf
Raharjo, Sahid. “Cara Melakukan Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnov
dengan SPSS.” artikel diakses pada tangga 30 April 2015 dari
http://spssindo.blogspot.com/2014/01/uji-normalitas-koimogorov-smirnovspss.html
LEMBAR PERMOHONAN
Kepada Yth
Para Responden
Di Tempat
Assalamualaikum Wr. Wb.
Saya mahasiswi Universitas Islam Negreri Syarif Hidayatullah Jakarta,
jurusan kesejahteraan sosial sedang melaksanakan pelenitian untuk penulisan
skripsi sebagai tugas akhir menyelesaikan pendidikan sebagai Sarjana Sosial.
Dalam lampiran ini terdapat beberapa pertanyaan yang berhubungan
dengan penelitian yang saya lakukan mengenai “PENGARUH DUKUNGAN
SOSIAL TERHADAP KUALITAS HIDUP LANJUT USIA DI PUSAT
SANTUNAN KELUARGA (PUSAKA) KECAMATAN PANCORAN
JAKARTA SELATAN”. Untuk itu saya harap kepada responden untuk bersedia
mengisi Angket yang telah disediakan.
Demikian surat permohonan ini saya sampaikan. Saya ucapkan terima
kasih atas bantuan dan partisipasi yang telah diberikan dalam pengisian Angket
ini.
Jakarta , April 2015
Yusnia Pratiwi
ANGKET UNTUK LANJUT USIA
Nama
:
Umur
:
Jenis Kelamin : L / P (Lingkari)
PETUNJUK PENGISISAN
1. Bacalah dan perhatikan baik-baik pernyataan yang tertera pada angket dibawah ini.
2. Berilah tanda silang (X) pada jawaban yang sesuai dengan pendapat anda pribadi tanpa pengaruh orang lain.
3. Pililah salah satu jawaban yang telah disediakan.
1. Angket Dukungan Sosial
No
1
2
3
Sangat
setuju
(selalu)
Pernyataan dimensi Kerekatan Emosional
Tidak ada seorangpun yang peduli dengan saya.
Saya lebih senang jika jauh dari keramaian.
Saya merasa kesepian.
1
Setuju
(sering)
Cukup
setuju
(kadang)
Tidak
setuju
(hampir
tidak
pernah)
Sangat
tidak
setuju
(tidak
pernah)
4
5
6
Saya merasa lebih aman jika berada di lingkungan rumah.
Berkumpul bersama keluarga membuat saya lebih tenang.
Tidak ada seorangpun yang dapat saya percaya, sehingga
merasa tidak aman jika berada dengan orang lain.
No
Pernyataan Dimensi Integrasi Sosial
1
Saya sering mengikuti kegiatan (arisan, pengajian,dll) yang ada
di lingkungan tempat tinggal.
Saya sering meluangkan waktu untuk hobi bersama temanteman.
Saya terpaksa mengikuti kegiatan yang ada di lingkungan
tempat tinggal.
Saya sering berkumpul dengan teman-teman.
Saya lebih senang berada di rumah, karena tidak ada yang
mengganggu.
Saya memiliki banyak musuh.
2
3
4
5
6
No
Pernyataan Dimensi Penghargaan dan Pengakuan
Sangat
setuju
(selalu)
Sangat
setuju
(selalu)
Setuju
(sering)
Setuju
(sering)
Cukup
setuju
(kadang)
Cukup
setuju
(kadang)
Tidak
setuju
(hampit
tidak
pernah)
Sangat
tidak
setuju
(tidak
pernah)
Tidak
setuju
(hampit
tidak
pernah)
Sangat
tidak
setuju
(tidak
pernah)
1
2
3
4
5
6
Keluarga menganggap saya tidak berguna.
Karena pengalaman yang saya miliki, sehingga orang-orang di
sekitar sering meminta nasihat/saran .
Saya adalah sesepuh yang disegani di masyarakat.
Apapun kebaikan yang telah saya lakukan tidak pernah
dihargai oleh orang lain.
Saya merasa dihormati oleh keluarga/orang-orang disekitar.
Keluarga sering memberikan hadiah atas apa yang telah saya
lakukan.
No
Pernyataan Dimensi Hubungan Yang Dapat Diandalkan
1
2
Ketika saya sakit, maka banyak yang membantu.
Saya sering mendapat bantuan dari orang lain (bantuan jasa/
barang).
Tidak ada seorangpun dalam keluarga/orang-orang sekitar yang
dapat diandalkan ketika saya membutuhkan pertolongan.
Tetangga saya adalah orang yang baik, karena sering
membantu. (bantuan jasa/ barang)
3
4
No
Pernyataan Dimensi Saran/ Informasi
Sangat
setuju
(selalu)
Setuju
(sering)
Cukup
setuju
(kadang)
Tidak
setuju
(hampit
tidak
pernah)
Sangat
setuju
(selalu)
Setuju
(sering)
Cukup
setuju
(kadang)
Tidak
setuju
(hampit
Sangat
tidak
setuju
(tidak
pernah)
Sangat
tidak
setuju
1
2
3
4
No
1
No
2
tidak
pernah)
(tidak
pernah)
Cukup
setuju
(kadang)
Tidak
setuju
(hampit
tidak
pernah)
Sangat
tidak
setuju
(tidak
pernah)
Cukup
setuju
(kadang)
Tidak
setuju
(hampit
tidak
pernah)
Sangat
tidak
setuju
(tidak
pernah)
Saya sering mendapat nasihat dari orang-orang di sekitar.
Saya selalu memecahkan masalah sendiri tanpa dibantu orang
lain.
Terkadang masalah yang saya hadapi tidak terpecahkan,
karena tidak ada yang membantu.
Di lingkunan tempat tinggal sering dilakukan sosialisasi
kesehatan.
Pernyataan Dimensi Kemungkinan Membantu
Sangat
setuju
(selalu)
Setuju
(sering)
Saya sering diminta tolong untuk membantu orang-orang di
sekitar (mengurus rumah, menjaga cucu, dll).
Pernyataan Dimensi Kemungkinan Membantu
Keluarga/orang-orang sekitar tidak mengharapkan
keberadaan saya.
Sangat
setuju
(selalu)
Setuju
(sering)
3
4
Ketika saya keluar rumah terlalu lama, maka keluarga akan
mencari.
Tenaga saya masih dibutuhkan oleh orang lain.
B. Angket Kualitas Hidup
No
1
2
3
4
5
Pernyataan Dimensi Kemampuan Sensori
Saya sering berobat ke rumah sakit, karena gangguan panca
indra. (gangguan mata/telinga)
Saya sudah tua, sehingga merasa perlu untuk merawat
kesehatan panca indra. (kesehatan mata/telinga)
Gangguan panca indra yang saya alami mengganggu aktifitas
yang saya lakukan. (mata/telinga)
Saya marasa masih mampu berkarya seperti orang lain,
walaupun saya sudah tua.
Saya sulit berinteraksi dengan orang-orang sekitar, karena
maslah kesehatan panca indra. (mata/ telinga)
Sangat
setuju
(selalu)
Setuju
(sering)
Cukup
setuju
(kadang)
Tidak
setuju
(hampit
tidak
pernah)
Sangat
tidak
setuju
(tidak
pernah)
No
Pernyataan Dimensi Otonomi
1
Keluarga mendukung apa pun kegiatan yang saya lakukan
(pengajian, arisan, dll)
Saya selalu dilibatkan oleh keluarga/orang-orang sekitar dalam
mengambil keputusan bersama.
Keluarga/orang-orang di sekitar sering mengatur apa yang
harus saya lakukan.
Saya akan marah, jika dilarang melakukan suatu hal.
Keluarga menghargai kebebasan hidup saya, sehingga saya
hidup senang di masa tua.
2
3
4
5
No
1
2
3
4
Pernyataan Dimensi Aktifitas Sosial
Saya sudah tua, sehingga sudah tidak ada lagi harapan yang
ingin dicapai dalam hidup.
Saya merasa puas dengan apa yang telah dicapai dalam hidup
Saya merasa bangga dengan diri sendiri.
Saya adalah orang yang berpengaruh di lingkungan tempat
Sangat
setuju
(selalu)
Sangat
setuju
(selalu)
Setuju
(sering)
Setuju
(sering)
Cukup
setuju
(kadang)
Tidak
setuju
(hampit
tidak
pernah)
Sangat
tidak
setuju
(tidak
pernah)
Cukup
setuju
(kadang)
Tidak
setuju
(hampit
tidak
pernah)
Sangat
tidak
setuju
(tidak
pernah)
5
No
1
2
3
4
5
tinggal
Sekarang saya hidup berkecukupan, karena kerja keras ketika
muda.
Pernyataan Dimensi Partisipasi Sosial
Sangat
setuju
(selalu)
Setuju
(sering)
Cukup
setuju
(kadang)
Tidak
setuju
(hampit
tidak
pernah)
Sangat
tidak
setuju
(tidak
pernah)
Cukup
setuju
(kadang)
Tidak
setuju
(hampit
tidak
pernah)
Sangat
tidak
setuju
(tidak
pernah)
Saya mempunyai berbagai macam kegiatan setiap harinya
(memasak, mencuci, mengurus cucu, dll)
Saya mengikuti berbagai kegiatan yang ada di lingkungan
tempat tinggal (pengajian, arisan, dll)
Saya sering sakit, karena kegiatan harian yang padat.
Saya merasa senang masih bisa berpartisipasi dalam kegiatan
masyarakat (pengajian, arisan dll).
Saya hanya keluar rumah jika hanya ada urusan penting saja.
No
Pernyataan Dimensi Kematian
1
Saya merasa khawatir tentang bagaimana saya akan meninggal
nanti.
Sangat
setuju
(selalu)
Setuju
(sering)
2
3
4
5
No
1
2
3
4
5
Saya merasa penting untuk memiliki asuransi kematian.
Saya merasa takut ketika membayangkan kematian.
Saya merasa takut, jika nanti merasakan sakit sebelum
meninggal
Saya merasa penyakit yang saya derita tidak dapat di
sembuhkan
Pernyataan Dimensi Persahabatan dan Cinta
Saya memiliki banyak teman.
Banyak teman yang peduli kepada saya.
Ketika saya memerlukan pertolongan selalu ada teman yang
membantu.
Saya merasa kesepian dalam hidup ini.
Keluarga/orang-orang sekitar mencintai saya.
Sangat
setuju
(selalu)
Setuju
(sering)
Cukup
setuju
(kadang)
Tidak
setuju
(hampit
tidak
pernah)
Sangat
tidak
setuju
(tidak
pernah)
1
Hasil Uji Koefisien Reabilitas
Case Processing Summary
N
Valid
Cases
a
Excluded
Total
%
Reliability Statistics
30
100,0
0
,0
30
100,0
Cronbach's
N of Items
Alpha
,894
23
a. Listwise deletion based on all variables in the
procedure.
Case Processing Summary
N
Valid
Cases
a
Excluded
Total
%
Reliability Statistics
30
100,0
0
,0
30
100,0
Cronbach's
N of Items
Alpha
,868
26
a. Listwise deletion based on all variables in the
procedure.
Hasil Uji Normalitas
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized
Residual
N
Normal Parameters
51
a,b
Most Extreme Differences
Mean
Std. Deviation
0E-7
8,44931702
Absolute
,106
Positive
,106
Negative
-,059
Kolmogorov-Smirnov Z
,758
Asymp. Sig. (2-tailed)
,614
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
Hasil Uji Homogenitas
Test of Homogeneity of Variances
KUALITAS HIDUP
Levene Statistic
df1
df2
Sig.
2,956
13
23
,011
Hasil Uji Koefisien Determinasi
b
Model Summary
Model
1
R
,654
R Square
a
Adjusted R
Std. Error of the
Square
Estimate
,428
,350
Durbin-Watson
8,617
1,782
Hasil Uji F-Test
a
ANOVA
Model
1
Sum of Squares
df
Mean Square
Regression
2443,268
6
407,211
Residual
3266,771
44
74,245
Total
5710,039
50
F
5,485
Sig.
,000
a. Dependent Variable: KUALITAS HIDUP
b. Predictors: (Constant), Kemungkinan Membantu, Saran , Kerekatan Emosional, Hubungan
Yang Dapat Diandalkan, Integrasi Sosial, Pengakuan
b
Hasil Koefisien Korelasi
Correlations
Kualitas hidup
Kualitas
(X1)
(X2)
(X3)
(X4)
(X5)
(X6)
hidup
Kerekatan
Integrasi
Pengakuan
Hubungan
Saran
Kemungkin
emosional
sosial
yang dapat
an
diandalkan
membantu
1,000
,395
,446
,434
,494
,074
,238
Kerekatan emosional
,395
1,000
,347
,422
,086
,204
,133
Pearson
Integrasi sosial
,446
,347
1,000
,384
,266
,328
,141
Correlatio
Pengakuan
,434
,422
,384
1,000
,521
-,132
,390
n
Hubungan yang dapat diandalkan
,494
,086
,266
,521
1,000
-,176
,175
Saran
,074
,204
,328
-,132
-,176
1,000
,000
Kemungkinan membantu
,238
,133
,141
,390
,175
,000
1,000
.
,002
,001
,001
,000
,302
,046
Kerekatan emosional
,002
.
,006
,001
,275
,076
,176
Integrasi sosial
,001
,006
.
,003
,030
,009
,161
Pengakuan
,001
,001
,003
.
,000
,179
,002
Hubungan yang dapat diandalkan
,000
,275
,030
,000
.
,108
,110
Saran
,302
,076
,009
,179
,108
.
,500
Kemungkinan membantu
,046
,176
,161
,002
,110
,500
.
Kualitas hidup
51
51
51
51
51
51
51
Kerekatan emosional
51
51
51
51
51
51
51
Integrasi sosial
51
51
51
51
51
51
51
Pengakuan
51
51
51
51
51
51
51
Hubungan yang dapat diandalkan
51
51
51
51
51
51
51
Saran
51
51
51
51
51
51
51
Kemungkinan membantu
51
51
51
51
51
51
51
Kualitas hidup
Sig. (1tailed)
N
Hasil Uji Koefisien Regresi Berganda dan Uji T-test
Coefficients
Model
a
Unstandardized Coefficients
Standardized
t
Sig.
Coefficients
B
(Constant)
,051
,272
2,023
,049
,498
,234
1,687
,099
-,063
,530
-,020
-,119
,906
1,785
,614
,402
2,909
,006
Saran
,092
1,174
,010
,078
,938
Kemungkinan Membantu
,757
,886
,106
,855
,397
Integrasi Sosial
Pengakuan
Hubungan Yang Dapat
Diandalkan
a. Dependent Variable: KUALITAS HIDUP
26,116
12,991
1,292
,639
,840
Beta
2,010
Kerekatan Emosional
1
Std. Error
Download