BAB IV - ETD UGM

advertisement
BAB IV
KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
IV.1. Konsep Filosofis
Gambar 75. Konsep Filosofis
Taman Kuliner sebagai fasilitas pendukung di sebuah kawasan objek wisata Pantai
Widuri dirancang menjadi sebuah ikon wisata kuliner di Kabupaten Pemalang. Pemilihan
lokasi yang dekat dengan objek wisata mendukung tujuan dari penerapan konsep ini yaitu
membantu meningkatkan minat pengunjung dari dalam kabupaten dan luar kabupaten untuk
berwisata di Pantai Widuri, Pemalang. Serta menjadi usulan bagi pihak Pemerintah Daerah
untuk meningkatkan sarana dan prasarana yang memadai di seluruh potensi objek wisata di
Pemalang.
IV.2. Konsep Pengembangan Tapak
Lokasi tapak berada di area waterfront dan memiliki iklim yang kompleks. Tuntutan
performa bangunan di area waterfront adalah berorientasi menghadap ke area waterfront itu
sendiri. Dalam kasus ini yaitu pantai utara Laut Jawa. Iklim yang kompleks meliputi suhu,
kelembaban, kecepatan angin, curah hujan dan arah hadap sinar matahari diselesaikan dengan
prinsip-prinsip arsitektur tropis.
Prinsip-prinsip arsitektur ekologis yang diterapkan pada proses perandangan desain
Taman Kuliner mencakup 4 aspek mendasar yaitu:
-
Integrasi
Masing-masing desain rancangan baik berupa bangunan maupun tata lansekap harus
terintegrasi dengan lingkungan alam di sekitar site. Integrasi ini mencakup sistem bangunan
dan lansekap yang dipakai pada tapak agar menyesuaikan dengan kondisi eksisting tapak.
Keberadaan Taman Kuliner pada tapak tersebut tidak merugikan biota alam yang sudah ada
97
baik unsur biotik seperti hewan, tumbuhan dan mikro organisme maupun unsur abiotik
seperti batu, tanah dan air.
-
Ramah Lingkungan
Bangunan arsitektur ekologis menerapkan prinsip ramah lingkungan yaitu dengan
menggunakan bahan alam seperti kayu dan bambu dibandingkan menggunakan bahan pabrik
yang cenderung mengandung campuran bahan kimia yang berbahaya. Material bangunan non
alami biasanya tidak dapat terdegradasi ke dalam tanah jika bangunan hendak dibongkar.
Akibatnya, sampah hasil bangunan ini apabila dibuang sembarangan dapat merusak
ekosistem yang ada di dalam tanah. Sedangkan pada arsitektur ekologis menggunakan bahan
alam yang apabila dibongkar maka material bangunan tersebut dapat terurai oleh mikro
organisme saprofit (pengurai sampah).
-
Hemat Energi
Prinsip hemat energi diberlakukan pada segala aspek dalam perancangan bangunan.
Pada kasus bangunan arsitektur ekologis, energi yang dibutuhkan pada bangunan dan
kebutuhan manusia diperoleh dari pemanfaatan alam sekitar. Misalnya, kebutuhan
penghawaan pada bangunan tidak menggunakan AC yang memakan banyak sumber energi
listrik melainkan menggunakan energi alam seperti angin. Pencahayaan di siang hari pada
penerapan desain arsitektur ekologis memanfaatkan daylight alami dengan memaksimalkan
bukaan pada bangunan dibandingkan menggunakan lampu.
-
Sustainable/Berkelanjutan
Berkelanjutan artinya perancangan pada Taman Kuliner ini dapat bertahan dalam
segala aspek hingga beberapa tahun ke depan, pada umumnya target prinsip sustainable
adalah 30 tahun. Demi mengaplikasikan prinsip ini maka indicator yang harus dicapai adalah
area Taman Kuliner dapat menghidupi kebutuhan bangunan itu sendiri (mandiri). Pemenuhan
kebutuhan ini diperoleh dari energy alam yang dapat diperbaharui dan tersedia sepanjang
hari.
IV.3. Konsep Pendukung Perancangan
Diagram 22. Konsep Pengembangan
98
IV.3.1. Konsep Tata Ruang Luar
Gambar 76. Konsep Akses Pencapaian
a. Akses Pencapaian
Akses Pencapaian terbagi menjadi 3 yaitu:
-
Akses
langsung,
akses
dimana
untuk
mencapai
Taman
Kuliner
maka
pengunjung/wisatawan harus memasuki kompleks objek wisata Pantai Widuri dengan
membeli tiket masuk. Hal ini sesuai dengan tujuan awal Taman Kuliner sebagai
fasilitas pendukung objek wisata.
-
Akses tersamar, akses ini digunakan untuk para pengelola dan karyawan. Akses
tersamar ini memiliki dua opsi yaitu akses dari utara bersama dengan jalur masuknya
wisatawan dan dari selatan yaitu membuka jalan tembus batu dari Jalan Cucakrowo.
Pertimbangan akses masuk dari back entrance tidak bisa dipakai mengingat lahan
tersebut sudah sepenuhnya milik area Sirkuit Widuri dimana apabila masuk dikenakan
biaya tiket Rp. 3.000,- per orang.
-
Akses Servis dan keadaan darurat, akses ini digunakan untuk distributor yang
mengirimkan bahan makanan atau keperluan lain dan mobil pemadam kebakaran
untuk mengunjungi site secara cepat dan mudah. Akses ini diletakkan di arah selatan
dari Jalan Cucakrowo melewati lahan kosong.
b. Orientasi Bangunan
Orientasi bangunan menempatkan building mass yang berada dekat jalan agar menghadap ke
arah jalan tersebut (utara). Hal ini sekaligus sebagai penanda entrance bagi para wisatawan
yang datang. Konsep menghadap jalan ini juga berlaku bagi wahana maupun fasilitas lain
yang sudah lebih dulu ada. Pada building mass yang berada menjorok lebih ke dalam site
maka orientasi berupa linier memusat (radial). Konsep ini dapat diciptakan dengan
penggunaan ruang innercourt.
99
Gambar 77. Konsep Orientasi Bangunan
Gambar 78 Desain Pada Innercourt
sumber. http://www.rmjm.com/portfolio/khoo-teck-puat-hospital-singapore/
khoo teck puat hospital, singapore
c. Bentukan Bangunan
Bentuk bangunan dasar mengacu pada penyesuaian site itu sendiri dengan
penambahan prinsip yaitu:
-
Tidak ada dead space yang tercipta yang disebabkan oleh bentukan bangunan. Sebisa
mungkin lahan site yang tidak dipakai menjadi bangunan dijadikan sebagai kawasan
ruang terbuka hijau dan taman.
-
Bentukan bangunan tanggap terhadap kondisi bangunan eksisting. Beberapa aspek
yang ditujukan sebagai ikon/simbol bangunan Taman Kuliner tidak bersifat
menyaingi bangunan sekitarnya namun justru ikut mendukung teriptanya kompleks
objek wisata Pantai Widuri yang terintegrasi
-
Bentukan bangunan tanggap terhadap iklim dan cuaca yang ada di Pemalang, dalam
kasus ini yaitu iklim tropis pantai dengan curah hujan yang tinggi. Aspek arsitektur
tropis dapat digabungkan ke dalam proses perancangan dengan gubahan unsur
modernitas.
100
-
Pemanfaatan lahan dimakasimalkan dengan antisipasi pengadaan air dengan membuat
sistem resapan biopori serta memasang system-sistem lain yang mendukung seperti
pengolahan sampah, vegetasi, sanitasi dll.
d. Elemen Bangunan
Gambar 79. Contoh Design Arsitektur Tropis Modern
Sumber. Sayembara Arsitektur Nusantara Propan 2014
Detail elemen bangunan yang dipakai mengadopsi dari prinsip desain arsitektur tropis
yang tanggap terhadap iklim dan cuaca di lingkungan sekitarnya. Prinsip-prinsip arsitektur
tropis yang dimaksud yaitu:
-
Elemen atap bangunan
Atap bangunan berbentuk miring dengan sudut minimal 15 o atau tiap
ketinggian atap 1 meter memiliki panjang ceiling 4 meter. Semakin besar derajat
kemiringan yang dipakai maka akan semakin mudah dan cepat bagi aliran air hujan
Gambar 80. Dinding Void Dengan Aksen Bambu
Sumber. http://desainbambu.wordpress.com
jatuh ke tanah/tandon penampungan air hujan.
-
Elemen dinding bangunan
Dinding bangunan memiliki prosentase luas dinding void yang lebih besar
dibandingkan luas dinding solid. Penyelesaian dinding void yang tetap memberikan
kesan privat dan artistic yaitu penggunaan dimensi void yang kecil tapi banyak.
Tujuan dari dinding void yaitu agar aliran udara segar dapat masuk dan keluar
bangunan melalui cross ventilation. Desain ini juga menyelesaikan penghawaan dan
menggantikan posisi Air Conditioner sehingga bangunan dapat menghemat energi.
101
-
Elemen lantai bangunan
Lantai bangunan memaksimalkan penggunaan alam seperti batu dan kayu agar
mendukung suhu dan kelembaban udara di dalam bangunan tetap nyaman. Pada
beberapa bagian bangunan yang menggunakan struktur kayu, lantai bangunan dibuat
panggung. Hal ini untuk menghindari dominasi pondasi beton bertulang yang
cenderung menghabiskan seluruh lahan terbangun dan menjadikan mikro organisme
dan biota alam yang tinggal di tanah tersebut mati. Sedangkan pada bangunan
panggung dengan pondasi umpak cenderung mempertahankan kelangsungan biota
baik mikro organism hidup maupun kepadatan tanah di bawahnya.
e. Gubahan Massa Bangunan
Gubahan massa dibentuk berasarkan kondisi bentukan batas site yang ada. Gubahan
Gambar 81. Olah Gubahan Massa
massa ini terdiri dari 3 zonasi yaitu area makan, stand restoran dan area servis/manajemen.
Pembagian massa ini berdasarkan olah fungsi dan sirkulasi. Bagian depan dimana dekat
dengan view pantai yang indah ditempatkan area makan yang berupa massa dengan banyak
bukaan. Bagian tengah di tempatkan stand restoran berjumlah 3 buah dengan pemisahan void
yang jelas. Antara area makan dan area stand terdapat innercourt sebagai ruang void pada
tapak. Innercourt ini berfungsi sebagai view kea rah dalam tapak dan sebagai sumber
penghawaan alami pada bangunan di sekitarnya.
f. Fasad Bangunan
102
Konsep pada olah fasad bangunan ditonjolkan pada sistem struktur yang dipakai.
Penggunaan bahan material kayu pada sebagian besar bangunan di Taman Kuliner membuat
design banyak dipengaruhi oleh system struktur itu sendiri. Ekspos struktur kayu akan
mengurangi aksen fasad yang tidak perlu/tidak fungsional namun tetap mengacu pada
keseimbangan dan kaidah arsitektural.
Gambar 82. Contoh Fasad dengan Sistem Struktur Kayu Sederhana
Sumber. Karya Studio Tematik Penulis
g. View
Potensi view yang paling baik adalah kea rah utara atau Laut Jawa. Dengan panjang
site ±260 meter maka potensi view ini tidak bisa mengcover seluruh desain rencana bangunan
yang ada di Taman Kuliner, mengingat dari seluruh garis pantai di Kompleks Objek Wisata
Pantai Widuri ini tertutup sebagian pandangannya akibat pembangunan Widuri Waterpark.
Oleh karena itu solusi yang bisa diberikan adalah menciptakan view kea rah dalam site berupa
desain perancangan taman maupun innercourt yang sekaligus bisa menjadi ruang terbuka
hijau.
Gambar 83. Konsep View pada Site
h. Penataan Lansekap
Penataan lansekap menjadi interaksi pemersatu antar bangunan rancangan. Penataan
lansekap ini meliputi:
103
1. Area Ruang Terbuka Hijau
Area ruang terbuka hijau meliputi vegetasi yang berada pada tapak Taman Kuliner
baik vegetasi eksisting atau penambahan vegetasi baru.
-
Vegetasi Eksisting
Pada umumnya vegetasi eksisting merupakan jenis vegetasi peneduh yang tinggi dan
dapat menahan angin laut yang besar.
Gambar 84. Kondisi Vegetasi Eksisting
-
Vegetasi Anti Polutan
Tanaman Anti Polutan yang dimaksud adalah tanaman yang dapat mengurangi
pencemaran zat polutan yang disebabkan oleh asap rokok, emisi gas kendaraan
bermotor maupun bau yang ditimbulkan dari sanitasi dan dapur. Beberapa yang
direkomendasikan untuk mengurangi polusi dari gas karbon monoksida hasil emisi
Gambar 85. Beberapa Rekomendasi Vegetasi Non Eksisting
Dari berbagai sumber
gas kendaraan bermotor adalah tanaman kacang merah (Phaseolus vulgaris) dan
mikro organism di dalam tanah. Tanaman yang dapat menangkis bau dari sanitasi dan
dapur maupun menetralisir kandungan zat kimia di udara umumnya merupakan
tanaman berbau harum seperti Cempaka (Michelia champaka), Pandan (Pandanus
sp.) dan Tanjung (Mimusops elengi) dan Sanseiverra.
-
Vegetasi Penghias
Vegetasi penghias pada Taman Kuliner menggunakan aplikasi pot tanaman dan
pergola yang menyatu dengan desain interior maupun eksterior bangunan. Vegetasi
104
penghias ini berfungsi menambah nilai estetika pada area Taman Kuliner. Kolaborasi
furniture dan bahan material yang digunakan mendukung konsep taman yang
diterapkan pada desain area makan. Memaksimalkan skylight dan penghawaan alami
yaitu membiarkan udara pantai yang segar masuk ke dalam lingkup area maka
membuat area indoor-outdoor menjadi bias.
Gambar 86. Aplikasi Vegetasi Penghias pada Le Bon Café and Restaurant
Sumber : www.youtube.com
2. Area Ruang Terbuka Non Hijau
-
Penataan Path Pedestrian
Path pada lansekap merupakan penghubung antar bangunan. Path ini diperuntukkan
bagi pedestrian untuk memudahkan akses ke beberapa titik di Taman Kuliner. Path
dilengkapi dengan aksen pergola dan street furniture serta desain peneduh jalan
apabila terjadi hujan.
-
Kelengkapan Street furniture
Street furniture yang dimaksud berupa elemen-elemen pelengkap lansekap seperti
pergola, sculpture, tempat sampah, lampu taman dll. Elemen street furniture ini
menggunakan prinsip repetisi/modul/sustainable agar integrasi dalam lansekap
kawasan dapat tercipta.
Gambar 87. Penataan Lansekap dan Street furniture pada Bale Udang
Sumber : http://www.baleudang.com/facilities/ubud/
IV.3.2. Konsep Tata Ruang Dalam
105
a. Hubungan Antar Ruang
-
Area Manajemen
Diagram 23. Hubungan Antar Ruang di Area Manajemen
-
Area Stand Restoran
Diagram 24. Hubungan Antar Ruang di Area Stand Restoran
-
Area Makan
106
Diagram 25. Hubungan Antar Ruang di Area Makan
b. Organisasi Ruang
Diagram 26. Organisasi Ruang pada Area Manajemen
Diagram 27. Organisasi Ruang pada Area Stand Restoran
107
Diagram 28. Organisasi Ruang pada Area Makan
c. Zoning
Pembagian zonasi pada area Taman Kuliner dibagi menjadi 3 yaitu:
-
Zoning berdasarkan area indoor dan area outdoor
Lahan tapak Taman Kuliner terbagi menjadi area indoor dan area outdoor.
Area indoor ditempatkan dekat dengan batas tapak untuk memberikan ruang
bagi area taman dalam bangunan/innercourt.
Gambar 88. Konsep Zonasi Indoor-Outdoor pada site
-
Zoning berdasarkan fungsi
Berdasarkan fungsi, maka zoning dibagi menjadi 3 yaitu:

Area makan, terletak di bagian depan.

Area stand restoran, terletak di bagian tengah.
108

Area manajemen dan servis, terletak di bagian belakang.
Gambar 87. Konsep Zonasi Fungsi Bangunan
-
Zoning berdasarkan akses pengunjung
Pengunjung dapat mengakses 85% dari luas area tapak seluruhnya. Sisa dari
area tapak yang tidak dapat diakses pengunjung merupakan area privat yang
dipakai oleh pengelola Taman Kuliner. Area yang dapat diakses pengunjung
Gambar 89. Konsep Zonasi Fungsi pada site
109
antara lain seluruh area makan, toilet, mushola, taman innercourt dan sebagian
area stand restoran.
d. Sirkulasi
Gambar 90. Konsep Zonasi Pelaku Kegiatan
Sumber. Analisis Pribadi
Gambar 91. Konsep Sirkulasi pada Taman Kuliner
Jalur sirkulasi pada tapak Taman Kuliner memanfaatkan jalan utama yang membelah
objek wisata Pantai Widuri dan jalur samping yang berasal dari area Sirkuit Widuri.
-
Akses Masuk : Akses masuk dapay melalui 2 jalur yaitu jalan utama objek
wisata dan jalur dari sirkuit widuri
-
Akses Keluar : Akses keluar diarahkan melewati satu jalur saja yaitu jalan
keluar kea rah timur atau menuju jalur keluar area Sirkuit Widuri.
-
Area Parkir : area parkir yang disediakan berada di area transisi antara semi
public dan area privat. Penyediaan lahan parkir ini memudahkan pengunjung
yang hanya ingin menikmati Taman Kuliner saja.
Sirkulasi yang terjadi pada tapak Taman Kuliner terbagi menjadi sirkulasi
pengunjung, sirkulasi pengelola dan sirkulasi loading barang.

Sirkulasi pengunjung/wisatawan
Diagram 29. Sirkulasi Pengunjung
110
Sirkulasi pengunjung secara detil dapat dijelaskan sebagai berikut:
-
Pengunjung yang datang biasanya setelah melakukan aktifitas
piknik/wisata.
-
Saat pengunjung datang langsung menuju stand restoran untuk memesan
makanan.
-
Pada jam makan siang dimana jumlah pengunjung mencapai angka
maksimal, akan ada kondisi area makan yang penuh. Hal ini bisa
diantisipasi dengan penambahan luas area makan, namun jika tetap penuh
maka pada stand restoran diberi area ruang tunggu untuk pengunjung yang
masuk ke dalam waiting list.
-
Setelah pemesanan dilakukan, pengunjung dipersilahkan membayar
tagihan ke bagian kasir
-
Pengunjung yang mendapatkan tempat duduk dipersilahkan menunggu
makanan diantar ke meja makan.

Sirkulasi pengelola
Diagram 30. Sirkulasi Pengelola
Sirkulasi pengelola dapat dijelaskan sebagai berikut:
-
Pengelola yang datang dapat memakai jalur sirkulasi ke area privat di
bagian bangunan manajemen dan servis.
-
Persiapan Taman Kuliner dilakukan oleh karyawan Taman Kuliner.
Persiapan ini meliputi mengganti pakaian dengan pakaian kerja, menuju
area storage bahan makanan dan memastikan semua bahan siap, kemudia
111
membersihkan area Taman Kuliner beserta perlengkapan makan dan
memasak.
-
Setelah persiapan selesai, Taman Kuliner siap dibuka. Selama jam kerja,
karyawan dan pengelola melaksanakan tugas di 3 area utama yaitu area
dapur, area kasir dan area makan.
-
Saat Objek Wisata Pantai Widuri tutup maka saatnya pengelola dan
karyawan membersihkan area Taman Kuliner. Mereka beristirahat
sebentar di area yang sudah disediakan sebelum akhirnya pulang.

Sirkulasi loading barang
Sirkulasi loading barang adalah proses mengantarkan barang-barang kebutuhan
selama Taman Kuliner buka. Untuk keperluan ini maka di dalam area Taman Kuliner
disediakan parkir dalam dan jalur side entrance dari Jalan Cucakrowo sehingga sirkulasi
loading barang tersebut tidak mengganggu aktifitas pengunjung.
Diagram 31. Sirkulasi Distributor

Sirkulasi tamu
Diagram 32. Sirkulasi Tamu
Tamu yang dimaksud adalah mitra bisnis, investor atau tamu dari pihak Pemerintah
Daerah selaku pemilik lahan Taman Kuliner. Tamu yang datang dapat memanfaatkan area
meeting yang disediakan di bagian bangunan manajemen/pengelola.
e. Unsur dan Citra Pembentuk Ruang
112
-
Solid-Void
Gambar 92. Konsep Solid-Void pada Taman Kuliner
-
Buatan-Alami
Gambar 93. Konsep Unsur Buatan-Alami pada Taman Kuliner
-
Interior-Eksterior
Gambar 94. Konsep Unsur Interior-Eksterior pada Taman Kuliner
IV.3.3. Konsep Sistem Bangunan
a. Karakteristik Pelayanan
113
-
Pelayanan Couple Visitors/Berpasangan
Pelayanan pada pengunjung yang berpasangan menggunakan sistem
pelayanan counter services. Hal ini berdasarkan pertimbangan bahwa pengunjung
yang berpasangan atau hanya berjumlah dua orang tidak akan memerlukan waktu
yang lama saat makan. Selain itu penggunaan counter services pada pengunjung yang
berpasangan akan lebih efisien dalam penggunaan tenaga pelayanan.
Diagram 33. Alur Pelayanan pada Pengunjung Berpasangan
-
Pelayangan Family Visitors
Diagram 34. Alur Pelayanan pada Pengunjung Berkelompok Kecil
Pelayanan pada pengunjung yang berada dalam kelompok kecil atau biasanya
berupa kelompok keluarga akan meluangkan waktu yang cukup banyak di area
makan. Pengunjung tipe ini akan menikmati suasana makan sehingga pelayanan yang
diberikan yaitu berupa table service yang dimodifikasi. Jika pada pelayanan table
service pada umumnya menempatkan meja makan sebagai area pemesanan dan
114
pembayaran, maka pada pelayanan modifikasi ini kegiatan pemesanan dan
pembayaran dilakukan di masing-masing counter pelayanan yang sudah disediakan.
-
Pelayangan Mass Visitors
Pelayanan pada pengunjung dalam kelompok besar seperti rombongan study
tour anak sekolah memerlukan pelayanan yang ekstra cepat. Pelayanan pada sasaran
pengunjung ini akan menimbulkan banyak aktifitas dari masing-masing pengunjung.
Sehingga untuk meminimalisasi aktifitas pengunjung digunakan pelayanan sistem
table service dimana kegiatan pengunjung berorientasi hanya pada area makan.
Diagram 35. Alur Pelayanan pada Pengunjung Berkelompok Besar
b. Citra Interior dan Eksterior Bangunan
-
Konsep Entrance
Gambar 95. Konsep Cul De Saac pada Kondisi Tapak
Sumber. Analisis Pribadi
115
Gambar 96. Desain Gate pada The Breeze
Sumber. http://www.bsdcity.com/site/properties/office-retail/the-breeze
-
Konsep Taman
Gambar 97. Perancangan Taman Awi Panglipuran, bamboo resort park
Sumber. Sayembara Desain Taman
-
Konsep Area Makan
Gambar 98. Desain pada Interior Area Makan
Berbagai Sumber
c. Struktur dan Material
Material bangunan yang dipakai dibagi menjadi 2 yaitu material bangunan dengan
bahan alam dan bahan non alam.
-
Bahan Alam
116
Bahan alam yang digunakan yaitu 85% dari total material yang digunakan
pada perancangan Taman Kuliner. Bahan alam yang dipakai adalah kayu,
bambu, batu, dan bata. Penggunaan bahan alam mengacu pada prinsip
arsitektur ekologis yang ramah lingkungan. Bahan ala mini diaplikasikan pada
ruang-ruang utama yang tidak membutuhkan perlakuan khusus seperti pada
area makan, area stand makanan dan area administrasi.
Gambar 99. Integrasi Material alam dengan Lingkungan
Sumber : Taman Awi Panglipuran
-
Bahan Non Alam
Bahan non
alam digunakan pada ruangan yang membutuhkan perlakuan
khusus seperti area dapur, freezer dan ruang penyimpanan. Bahan non alam
yang dipakai yaitu 15 % dari seluruh total material yang ada di Taman
Kuliner. Bahan tersebut meliputi bahan untuk konstruksi seperti beton dan
bahan untuk finishing seperti kaca, cat, pelitur/cotting.
d. Pencahayaan
Pencahayaan yang dipakai sehari-hari pada Taman Kuliner adalah pencahayaan alami
dengan memaksimalkan bukaan dan unsur void pada bangunan. Hal ini didasarkan pada
kondisi eksisting objek wisata Pantai Widuri yang hanya buka pada pagi hari hingga sore
hari. Namun pemasangan lampu di titik tertentu tetap ada untuk mengantisipasi cuaca
mendung dan sebagai pencahayaan di hari petang.
-
Pencahayaan Alami
Gambar 100. Penerapan Pencahayaan Alami pada Borbounni Restaurant
Sumber : Borbounni-Greek Restaurant
117
Pencahayaan alami pada ruang interior bertujuan agar perancangan Taman
Kuliner tetap mengacu pada prinsip hemat energi. Kondisi eksisiting site
yang berada pada iklim tropis memiliki intensitas cahaya matahari yang
tinggi setiap harinya. Oleh karena itu pemanfaatan cahaya matahari untuk
penerangan dalam bangunan dapat mengurangi pemakaian energi
listrik/lampu.
-
Pencahayaan Buatan
Gambar 101. Penerapan Pencahayaan Buatan pada Borbounni Restaurant
Sumber : Borbounni-Greek Restaurant
Pencahayaan buatan mencakup pencahayaan interior dan pencahayaan
taman. Keduanya memanfaatkan pencahayaan buatan sebagai elemen dari
dekorasi ruang yang tercipta. Penempatan lampu dan pemilihan jenis
lampu yang dipakai juga turut mempengaruhi ambience yang dihasilkan.
e. Penghawaan
Penghawaan terbagi menjadi 3 tipe yaitu penghawaan alami, penghawaan buatan dan
penghawaan khusus.
-
Penghawaan Alami
Penghawaan alami ditempatkan pada ruang makan dan stand restoran.
Penghawaan alami memanfaatkan angin laut yang bertiup dari arah utara
site. Untuk mendukung penghawaan alami ini, maka ditempatkan ruang
terbuka hijau yang menyebar dalam konsep taman di area tapak.
-
Penghawaan Buatan
Penghawaan buatan ditempatkan pada ruang administratif seperti kantor
manajer yaitu menggunakan AC split yang produknya dipilih hemat
energy.
-
Penghawaan Khusus
118
Penghawaan khusus diperlukan bagi ruang freezer dan dapur. Pada ruang
freezer dibutuhkan pendingin yang dapat mengkondisikan ruang dengan
suhu sekitar 0oC. Ruangan freezer digunakan untuk menyimpan bahan
makanan mentah berkapasitas besar agar tetap awet dan tidak mudah
busuk. Ruangan ini memiliki dinding solid berlapis kedap udara agar
energy untuk mendinginkan ruangan tidak terbuang keluar. Berbeda
dengan dapur, area ini membutuhkan perlakuan khusus
berupa
saluran/pipa ducting yang berfungsi memindahkan hawa pengap di dapur
menuju ke luar/lingkungan. Hawa pengap yang biasanya berasal dari
proses memasak bahan makanan dikirim keluar area dapur dengan
pemasangan exhausting fan.
f. Jaringan Air Bersih

Penggunaan PDAM
Pada site Taman Kuliner telah dilalui oleh salura pipa PDAM Kab. Pemalang
sehingga dapat memanfaatkan air bersih dari fasilitas tersebut. Namun aliran air dari pipa
PDAM biasanya tidak lancar sepanjang hari karena harus bergilir tiap masing-masing
kecamatan. Pada area tapak, aliran PDAM mengalir dengan debit yang banyak hanya pada
jam-jam tertentu seperti jam 4 pagi dan jam 4 sore. Untuk menampung debit air maka
disediakan beberapa tendon penampung air. Air dari PDAM digunakan untuk bahan masakan
dan air minum.

Penggunaan deepwell
Deepwell dimanfaatkan untuk mengatasi kekurangan air bersih pada tapak yang
disebabkan aliran air PDAM menuju kawasan site kurang maksimal. Deepwell pada site
ditempatkan di area paling belakang yaitu area paling jauh dari laut. Hal ini berdasar
pertimbangan bahwa semakin dekat dengan laut maka kualitas air semakin asin sehingga
tidak bisa dimanfaatkan sebagai sumber air bersih. Jenis air yang dihasilkan oleh deepwell
adalah air payau. Air ini
dimanfaatkan untuk aktifitas di dalam Taman Kuliner selain
dapur/bahan masakan.

Pemanfaatan air hujan
Pemanfaatan air hujan menggunakan sistem pengolahan 2 cara yaitu sistem sumur
resapan biopori dan sistem penyaringan air hujan.
119
Untuk mendukung keberlangsungan ketersediaan air pada deepwell maka disediakan sistem
resapan sumur biopori yang terdapat di dalam tanah. Sumur biopori ini diletakkan di
beberapa titik lanskap dan merupakan muara darisaluran air yang ditanam di dalam tanah.
Selain menggunakan sumur resapan, air hujan diolah melalui penyaringan menggunakan
bahan seperti sabut kelapa, batu bata, kerikil dan batu arang hitam. Beberapa bahan tersebut
berfungsi sebagai penyaring zat asam yang terkandung dalam air hujan, penyaring kotoran
yang berasal dari atap dan penetral kandungan air hujan agar dapat langsung dipakai sesuai
kebutuhan.
Gambar 102. Konsep Rencana Penggunaan Air Bersih pada Taman Kuliner
Sumber : Analisis Penulis
g. Jaringan Air Kotor
Jaringan air kotor yang terdapat pada tapak Taman Kuliner terbagi menjadi 3 tipe
yaitu:
Sistem Pembuangan Grey Water
Grey Water atau air bekas pakai yang berasal dari wastafel diolah melalui
pengendapan untuk dimanfaatkan kembali guna menyiram tanama n pada lansekap taman.
-
Sistem Pembuangan Black Water
Black Water atau air yang berasal dari toilet dibuang menuju septictank.
-
Sistem Pembuangan Air Lemak
120
Air lemak yang berasal dari wastafel dapur diolah melalui penyaringan khusus untuk
memisahkan antara lemak dan air serta campuran sampah dapur. Pengolahan biofilter ini
menggunakan peran bakteri anaerob untuk menguraikan sampah yang tercampur. Hasil akhir
pada proses pengolahan berupa endapan lemak yang dapat langsung diambil dan dibuang
serta air yang sudah dapat dibuang atau diresapkan ke dalam sumur biopori.
Gambar 103. Konsep Rencana Penempatan Saluran Air Kotor pada Taman Kuliner
h. Perlindungan Terhadap Kebakaran
Perlindungan terhadap kebakaran terbagi ke dalam 3 tindakan yaitu:
Gambar 104. Konsep Rencana Fire Protection pada Taman Kuliner
-
Tindakan Preventif
Tindakan preventif adalah tindakan pencegahan terjadinya kebakaran. Tindakan
pencegahan ini diterapkan pada bangunan yang memiliki sumber api seperti dapur. Bangunan
dapur memakai material tahan api seperti beton. Tindakan preventif pada bangunan lain
adalah seperti penempatan jarak antar bangunan agar tidak terlalu rapat dan memiliki jarak
121
aman. Antar bangunan yang berbahan material kayu atau bamboo ditempatkan ruang void
berupa taman hijau. Tindakan represif yang terdapat di dalam bangunan bisa berupa
penyediaan smoke detector seperti pada area ruang administrasi. Penyediaan smoke detector
sekaligus mencegah polusi asap rokok dari pengguna bangunan.
-
Tindakan Represif
Tindakan represif adalah tindakan penanggulangan apabila terjadi sumber api atau
kebakaran. Tindakan yang dapat dilakukan adalah penyediaan fire hydrant pada tata lansekap
dengan jarak antar fire hydrant 10 meter. Penyediaan fire extinguisher di jalur sirkulasi dalam
bangunan dan di area sumber api seperti dapur.
-
Penyediaan Jalur Evakuasi
Penyediaan jalur evakuasi kebakaran merupakan salah satu dari tindakan represif.
Jalur evakuasi ini menempatkan pengguna bangunan menuju satu area titik kumpul yang
aman.
i.
Jaringan Listrik dan Telekomunikasi
Jaringan listrik pada site Taman Kuliner bersumber dari Kantor Pengelola Kompleks
Objek Wisata Pantai Widuri. Tiang yang disediakan oleh PLN untuk memenuhi kebutuhan
listrik objek wisata ini terletak di pojok perempatan antara Jalan Cucakrowo dan Jalan
Laksda Yos Sudarso. Tiang ini menampung kapasitas listrik . Telekomunikasi yang dipakai
adalah direct lines berjumlah 2 buah, untuk keperluan administrasi dan keperluan hotline
servis.
Gambar 105. Konsep Rencana Jaringan Listrik dan Telekomunikas pada Taman Kuliner
j.
Pembuangan Sampah
122
Gambar 106. Konsep Rencana Penampungan Sampah Sementara
Sampah pada tapak Taman Kuliner berasal dari sampah dapur dan sampah
lingkungan. Sampah yang dihasilkan terdiri dari sampah organik dan anorganik. Keduanya
dipisahkan dengan penempatan tempat sampah. Sampah dari dapur diolah terlebih dahulu
melalui bak pengolah sampah agar terpisah dengan air. Ampas sampah yang dihasilkan dapat
dibuang ke TPA dan air dapat langsung diresapkan ke sumur biopori. Sedangkan sampah
anorganik dapat dijual ke pengepul sampah atau dibuang langsung ke TPA.
123
Download