41 OLAHRAGA TRADISIONAL MENYIPET DAN BALOGO DI

advertisement
OLAHRAGA TRADISIONAL MENYIPET DAN BALOGO
DI MASYARAKAT KOTA PALANGKA RAYA
Oleh:
Abd Rahman Azahari
Dosen FKIP Universitas Palangka Raya
ABSTRACT
Culture of the past has been duly preserved and developed as well as cultural richness
can also be a tourismobject. Culture festivalas a form of preservation in addition also the
promotion of various cultural forms that exist for the benefit of tourism development. One of
local or traditional cultural wealth is a traditional sport such as manyipet and balogo.In
order concept and planning of the government indeveloping and preserving traditional sports
manyipetwas good enough, because it was included in the curriculum of local curriculum
(Muatan Lokal) already exists invitational events, the winner of the invitational represent to
follow Isen Mulang Culture Festival, and the winner was sent to participate the
championship level, namely the International Borneo Sipet Tournament (BOST) whis was
held in Pontianak in West Kalimantan which will also be promoted at the ASEAN Tourism
Forum (ATF).
The formulation of the problem is (1) How the traditional sports activities of manyipet
and balogo in the Palangka Raya society? Focusing first festival and conservation efforts
that include: Festival manyipet and balogo, Invitational manyipet and balogo, Curriculum
manyipet and balogo, Development of manyipet and balogo.The second focus includes the
development of capabilities that consists of several indicators, namely: technical ability, the
ability of strategy, tactics capability. The third focus is the cultural education that includes an
attitude of sportsmanship and chivalry. The fourth focus is developing psychosocial skills
include communication and empathy. (2) The second problem is the traditional sports
activities of manyipet and balogo in the Palangkarayasociety with focus in internal and
external factors.
Through qualitative approach grounded research model, and analysis of coding with
the withdrawal of informants purposive sampling technique. Based on the analysis, it
produced some findings, propositions minor and major propositions, namely: lack of funding,
infrastructure, facilities, coordination between institutions, technology and globalization
advance cause of the declining sprit of practicing and performing and the shift from
traditional sport religious motifs into traditional sporting achievement and profit patterned.
The attention of the government, resulting in a lack of passion invitational practicing
and performing the cause of the condition of the traditional sport become too timid to live,
but unwilling to die.
The conclusions of this study are as follows
1. Traditional Sports menyipet and balogo is a cultural wealth of Dayak society in
Palangkaraya, those often participate in cultural festivals isen Mulang.
2. Menyipet and balogo is full of various teachings and noble values.
3. The efforts of preservation and development of local culture through festivals and added
into local curriculum.
4. The efforts of preservation and development was less supported by financial support,
complete facilities and infrastructure, education and training activities for teachers,and
lack of invitation.
5. Traditional Sports manyipet and balogo only on city of Palangka Raya birthday
celebration and Isen Mulang culture festival.
41
6. The players of balogo and menyipet sport usualy the older people, so gradually the sport
will be destroyed in tune with the aging of the players.
7. The younger generation does not like menyipet and balogo sport because they feel it
cannot support their income or may not be back alive in the future.
8. The constraints faced in traditional sport of menyipet and balogo in society of Palangka
raya city can be grouped into two, they are internal constraints and external constraints.
Internal constraints were such as monotonous, low value creativity, and boring, have a
high degree of difficulty. External constraints include a lack of coordination between
agencies, departments of education (curriculum), professional coaching, and training
infrastructure limitations.
Implications of the study as follows: reviewed from the aspects of social action, so the
results of this study reinforce the theory of action Parsons, that "all social actions undertaken
by traditional sports players, municipalities, students and teachers in the town of Palangka
Raya in traditional sports menyipet and balogo always base to a predetermined goal, which
is to achieve the feat in Isen Mulang cultural festival held once a year throughout Central
Kalimantan province.
Reviewed from Max Weber's theory of social action and symbolic interactionist theory
Hebert Mead, the results of this study reinforce the view of Weber and Mead, that anyaction
by individuals or groups always thought positive and negative aspects that will occur from
the action, and the ability to predict for the futuret, although in a simple form, in accordance
with the level of knowledge.
Reviewed from the symbolic interactionist theory, the results of this study reinforce the
view Mead, that the city of Palangka Raya society action in the process of developing and
preserving traditional sports ofmanyipet andbalogo was greatly influenced by the reality on
the field and logical thinking ahead about the traditional sports and the interaction between
them in the environment or society.phenomenological theory is always traying to understand
the culture through cultural view of the owner or the culprit.
There are three cultural phenomenon they are ideas,activities and artifact.Those
cultural phenomenon if the noteon a line to the three states of culture as contained in the
definition of culture Koentjaraningrat. Ideas is equal to the system of ideas,activities isequal
to the action,and the last is artifact which identical with the human work.
Keywords: Social Interaction, Social Action and Traditional Sports
Abstrak
Budaya masa lalu sudah sepatutnya dilestarikan dan dikembangkan disamping sebagai
kekayaan budayaan juga bisa sebagai objek pariwisata. Festival budaya sebagai salah satu
bentuk pelestarian disamping juga bentuk promosi berbagai budaya yang ada untuk
kepentingan pengembangan pariwisata. Salah satu kekayaan budaya lokal atau tradisional
adalah olahraga tradisional menyipet dan balogo. Dalam tataran konsep dan atau perencanaan
langkah pemerintah kota dalam mengembangkan dan melestarikan olahraga tradisional
menyipet sudah cukup baik, sebab sudah dimasukan dalam kurikulum muatan lokal, sudah
ada kegiatan invitasi, pemenang dari invitasi mewakili pemerintah kota untuk mengikuti
Festival Budaya Isen Mulang, dan pemenangnya dikirim mengikuti kejuaraan tingkat
Kalimantan yaitu dalam
Internasional Borneo Sipet Tournament (BOST) yang
diselenggarakan di Pontianak Provinsi Kalimantan Barat yang juga akan dipromosikan di
tingkat ASEAN Tourism Forum (ATF).
42
Adapun rumusan masalahnya adalah (1) bagaimana kegiatan olahraga tradisional
menyipet dan balogo di masyarakat Kota Palangka Raya ? dengan fokus pertama festival dan
upaya pelestarian yang meliputi : Festival menyipet dan balogo, Invitasi menyipet dan
balogo, Kurikulum menyipet dan balogo, Pengembangan menyipet dan balogo. Fokus
kedua meliputi pengembangan kemampuan yang terdiri dari beberapa indikator, yaitu :
kemampuan teknik, kemampuan strategi, kemampuan taktik. Fokus ketiga adalah pendidikan
budaya yang meliputi sikap sportivitas dan sikap ksatria. Fokus ke empat pengembangan
keterampilan psikososial yang meliputi komunikasi dan empati. Masalah kedua adalah
kegiatan olahraga tradisional menyipet dan balogo di masyarakat Kota Palangka Raya dengan
fokus faktor internal dan eksternal.
Melalui pendekatan kualitatif dengan model penelitian grounded, dan analisis coding
dengan teknik penarikan informan purposive sampling. Berdasarkan analisis tersebut maka
dihasilkan beberapa temuan, proposisi minor dan proposisi mayor yaitu : Terbatasnya
dukungan dana, sarana prasarana, koordinasi antar institusi pemerintah, kemajuan tekhnologi
dan globalisasi berakibat pada menurunnya semangat berlatih dan berprestasi dan terjadinya
pergeseran dari olahraga tradisional yang bermotif religi menjadi olahraga tradisional yang
bermotif prestasi dan keuntungan.
Adapun yang menjadi kesimpulan dalam penelitian ini adalah :
1. Olahraga tradisional menyipet dan balogo merupakan kekayaan budaya masyarakat
Dayak di Palangka Raya dan sering diikutsertakan dalam Festival Budaya Isen Mulang.
2. Menyipet dan Balogo sarat dengan berbagai ajaran dan nilai-nilai luhur.
3. Upaya pelestarian dan pengembangan budaya lokal melalui berbagai festival dan
memasukan ke dalam kurikulum muatan lokal.
4. Upaya pelestarian dan pengembangan kurang didukung oleh dukungan dana,
kelengkapan fasilitas dan sarana/prasarana, kegiatan pendidikan dan latihan bagi guru,
kurangnya invitasi.
5. olahraga tradisional menyipet dan balogo hanya ada pada acara perayaan ulang tahun
kota Palangka Raya dan Festival Budaya Isen Mulang saja.
6. Para pemain olahraga menyipet dan balogo rata-rata sudah tua, sehingga secara perlahan
olahraga tersebut akan musnah seirama dengan semakin tuanya para pemainnya.
7. Generasi muda kurang menyenangi olahraga tradisional menyipet dan balogo sebab tidak
bisa diharapkan untuk menjadi pekerjaan atau sandaran hidup dimasa mendatang.
8. Kendala-kendala yang dihadapi dalam kegiatan olahraga tradisional menyipet dan balogo
di masyarakat Kota Palangka Raya dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu kendala
internal dan kendala eksternal. Kendala internal misalnya adalah monoton, nilai
kreativitas rendah, dan membosankan, memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. Kendala
eksternalnya antara lain kurang adanya koordinasi antar instansi, Dinas Pendidikan
(Kurikulum), kepelatihan yang profesional, keterbatasan sarana prasarana latihan.
Implikasi penelitian sebagai berikut : ditinjau dari aspek tindakan sosial, maka hasil
penelitian ini memperkuat teori tindakan sosial Parsons, yaitu “semua tindakan sosial yang
dilakukan oleh pemain olahraga tradisional, pemerintah kota, siswa dan guru di kota
Palangka Raya dalam olahraga tradisional menyipet dan balogo selalu mendasarkan kepada
suatu tujuan yang telah ditentukan, yaitu untuk meraih prestasi dalam Festival Budaya Isen
Mulang yang diadakan setahun sekali se Provinsi Kalimantan Tengah.
Ditinjau dari teori tindakan sosial Max Weber dan teori interaksionis simbolik Hebert
Mead, maka hasil penelitian ini memperkuat pandangan Weber dan Mead, bahwa “Setiap
tindakan yang dilakukan individu maupun kelompok selalu dipikirkan aspek positif dan
negatif yang akan terjadi dari tindakan tersebut, dan kemampuan memprediksi ke depan,
meskipun dalam bentuk sederhana, sesuai dengan tingkat pengetahuannya.
43
Ditinjau dari teori interaksionis simbolik, maka hasil penelitian ini memperkuat
pandangan Mead, bahwa
tindakan masyarakat kota Palangka Raya dalam proses
mengembangkan dan melestarikan olahraga tradisional menyipet dan balogo sangat
dipengaruhi realita di lapangan dan berpikir logis kedepan tentang olahraga tradisional
tersebut serta proses interaksi diantara mereka dalam lingkungan atau komunitasnya. Teori
fenomenologi selalu berusaha untuk memahami budaya lewat pandangan pemilik budaya
atau pelakunya.
Terdapat tiga gejala kebudayaan yakni ideas, activities dan artifact. Ketiga gejala
kebudayaan ini jika diperhatikan sejajar dengan tiga wujud kebudayaan sebagaimana
tercantum dalam definisi kebudayaan Koentjaraningrat. Ideas (gagasan-gagasan) sejajar
dengan sistem gagasan, activities (aktivitas) sejajar dengan tindakan, dan terakhir artifact
yang seanalog dengan hasil karya manusia.
Kata Kunci : Interaksi Sosial, Tindakan Sosial dan Olahraga Tradisional
PENDAHULUAN
Didalam olahraga tradisional, apapun jenisnya selalu mengandung ajaran-ajaran luhur
dari pemiliknya, dan hal tersebut sebagai upaya pembentukan karakter bagi pemiliknya.
Olahraga tradisional tidak hanya sekedar menggerakkan anggota tubuh dengan tujuan agar
menjadi bugar dan sehat, namun juga mencoba meresapi perilaku moral dan bentuk
penanaman perilaku moral dan nilai-nilai dari pemilik olahraga tradisional tersebut.
Olahraga tradisional tidak hanya sekedar membantuk tubuh menjadi sehat melainkan
juga bisa sebagai alat membela diri jika diserang atau menghadapi suatu tindak kejahatan,
seperti halnya pencak silat, dan termasuk juga menyipet atau juga disebut menyumpit. Oleh
karena itu olahraga tradisional juga merupakan bentuk dari pendidikan jasmani.
Olahraga tradisional banyak mengandung keunikan-keunikan, yang sudah jarang atau
mungkin tidak ditemui dalam masyarakat modern. Sebab olahraga tradisional juga bisa
dikatakan sebagai olahraga masyarakat pada zaman dahulu atau olahraga tradisional
merupakan cerminan dari budaya masyarakat dulu. Keunikan-keunikan tersebut tidak hanya
menjadi sesuatu yang menarik dan enak ditonton, tetapi juga merupakan sajian yang mungkin
tidak dijumpai di tempat lain. Oleh karena itu olahraga tradisional juga bisa menjadi objek
wisata yang disajikan kepada para wisatawan. Orang datang ke suatu daerah bukan hanya
sekedar ingin berolahraga tradisional tersebut juga ingin menikmati keunikannya dan sebagai
ragam budaya bangsa. Masyarakat Kalimantan tengah yang suku Dayak sebagai penduduk
asli, sudah tentu sangat kaya dengan ragam budayanya, dan salah satunya adalah olahraga
tradisional.
Olahraga tradisional sudah menempati posisi yang penting dalam kehidupan seharihari masyarakat di Kota Palangka Raya bahkan meningkatnya minat masyarakat ditunjukkan
dengan semakin bertambahnya club-club atau kelompok-kelompok dari berbagai cabang
olahraga termasuk kegiatan olahraga tradisional. Di Kalimantan Tengah juga terdapat banyak
sekali olahraga tradisional namun yang sering dipertandingkan dalam event-event wisata atau
pekan seni dan budaya di Kalimantan Tengah diantaranya: Meyipet, Sepak Sawut, Bagasing,
Balogo, Besey kambe, Magaruhi, Meneweng dan Menyila Kayu yang saat ini menjadi ajang
untuk menarik perhatian masyarakat luas.
Berbagai macam kegiatan olahraga tradisional sebagaimana tersebut di atas,
merupakan refleksi dari kehidupan sehari-hari suku Dayak di Kota Palangka Raya. Hal;
tersebut sebagai aktivitas hidup suku Dayak dalam bekerja, berburu, dan dalam berpesta
selepas panen. Seperti Meyipet, awalnya bukanlah sebagai suatu olahraga, namun merupakan
44
salah satu cara berburu di hutan, karena pada saat itu belum dikenal
dan
diketahui berburu dengan senjata api, sehingga berburu menangkap burung, kijang, babi
dengan menggunakan sipet (sumpit). Demikian juga dengan besey kambe (mendayung atau
berperahu), merupakan salah satu aktivitas yang tidak mungkin ditinggalkan oleh masyarakat
Dayak, sebab mereka pada umumnya bermukim di tepi sungai, dan perahu merupakan satusatunya kendaraan atau sarana transportasi, baik ke ladang, mencari ikan maupun bepergian,
demikian juga dengan yang lainnya, dan dalam perkembangannya menjadi olahraga
tradisional yang sering ditampilkan pada acara-acara tertentu, seperti dilombakan dalam
kaitannya dengan kegiatan wisata dan pesta budaya.
Palangka Raya sebagai ibukota Provinsi Kalimantan Tengah tumbuh dan berkembang
bukan saja sebagai pusat pemerintahan saja tetapi juga menjadi pusat ekonomi, pusat politik
regional kalimantan tengah, pusat pendidikan yang sekaligus menjadi pusat budaya dan agent
perubahan sosial budaya. Sudah bisa dipastikan bahwa masyarakatnya yang beragam, dan
hingar bingar kehidupan kota menjadi karakter tersendiri dalam kehidupan kota. Hal tersebut
berpengaruh pada kehidupan budaya masyarakatnya, sehingga tidak dijumpai lagi kehidupan
masyarakat yang sarat dengan nilai-nilai kehidupan bersahaja sebagai masyarakat tradisional,
melainkan tumbuh dan berkembang sebagai masyarakat modern. Nilai-nilai sosial secara
perlahan bergeser berganti menjadi nilai-nilai modern, sikap kebersamaan dan bergeser
menjadi sikap individualistis dan sendi-sendi kehidupan juga bergeser menjadi tonggak
kehidupan modern.
Secara lambat tapi pasti dan seiring dengan perkembangan zaman dan arus
modernisasi (kemajuan teknologi) hal tersebut tidak lagi menjadi sarana pekerjaan dan
transportasi. Sebab dewasa ini hampir setiap sarana transportasi sudah menggunakan
teknologi, seperti kendaraan bermotor maupun perahu bermotor. Dalam perkembangannya
hal tersebut menjadi olahraga tradisional.
Olahraga tradisional sarat dengan nilai-nilai budya, hal tersebut lebih disebabkan
karena olahraga tersebut berakar dari budaya. Demikian juga dengan olahraga tradisional
menyipet dan balogo. Pada olahraga menyipet, dulunya merupakan alat mata pencaharian
yaitu peralatan berburu dan sekaligus sebagai peralatan untuk melindungi diri dari serangan
musuh arau binatang buas. Namun seiring dengan perkembangan teknologi dan semakin
menipisnya wilayah hutun/berburu, maka sipet tersebut mengalami pergeseran atau
perubahan pemanfaatannya, dulu menjadi senjata atau alat berburu bergeser atau berubah
menjadi alat olahraga (menyipet dan balogo). Sikap dan jiwa patriotisme tersebut tersalurkan
menjadi sikap sportif, jujur dan berjiwa besar dalam olahraga tradisional menyipet dan
balogo. Namun tidak demikian dengan balogo. Olahraga tradisional Balogo lahir sebagai
permainan pengisi aktu luang sehabis bekerja memanen padi atau tanaman pertanian lain.
Olahraga tradisional sarat dengan nilai-nilai budya, hal tersebut lebih disebabkan
karena olahraga tersebut berakar dari budaya. Demikian juga dengan olahraga tradisional
menyipet dan balogo. Pada olahraga menyipet, dulunya merupakan alat mata pencaharian
yaitu peralatan berburu dan sekaligus sebagai peralatan untuk melindungi diri dari serangan
musuh arau binatang buas. Namun seiring dengan perkembangan teknologi dan semakin
menipisnya wilayah hutun/berburu, maka sipet tersebut mengalami pergeseran atau
perubahan pemanfaatannya, dulu menjadi senjata atau alat berburu bergeser atau berubah
menjadi alat olahraga (menyipet dan balogo). Sikap dan jiwa patriotisme tersebut tersalurkan
menjadi sikap sportif, jujur dan berjiwa besar dalam olahraga tradisional menyipet dan
balogo. Namun tidak demikian dengan balogo. Olahraga tradisional Balogo lahir sebagai
permainan pengisi aktu luang sehabis bekerja memanen padi atau tanaman pertanian lain.
KAJIAN PUSTAKA
45
2.1. Tinjauan Tentang Kebudayaan
Mempelajari tentang nilai-nilai sosial budaya suatu masyarakat tentu saja juga harus
mempelajari kebudayaannya, karena tidak ada masyarakat tanpa budaya dan tidak ada budaya
tanpa masyarakat sebagai wadah pendukungnya. Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi
dalam Seokanto S, (1999) merumuskan kebudayaan sebagai semua hasil karya, rasa, dan
cipta masyarakat. Karya masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaan kebendaan atau
kebudayaan jasmaniah (Material culture) yang diperlukan oleh manusia untuk menguasai
alam sekitarny, agar kekuatan serta hasilnya dapat diabadikan untuk keperluan masyarakat.
Koentjaraningrat , (1990:180) mendefinisikan kebudayaan adalah keseluruhan sistem
gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang
dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Kebudayaan adalah segala tindakan yang harus
dibiasakan oleh manusia dengan belajar (learned behavior), (A. Hoebel, 1958 : 152-153). Jika
dikaji tentang konsep kebudayaan tersebut di atas, maka terdapat dua hal penting, yaitu
aktivitas manusia, dan kegiatan belajar. A. L Krober dan c. Kluckhohn (1952) mengatakan
bahwa kebudayaan adalah keseluruhan pola tingkah laku, baik eksplisit maupun implisit yang
diperoleh dan diturunkan melalui simbol, yang akhirnya mampu membentuk sesuatu yang
khas dari kelompok-kelompok manusia, termasuk perwujudan dalam benda-benda materi.
Kata kebudayaan berasal dari kata Sansakerta Buddhayah yaitu bentuk jamak dari buddhi
yang berarti budi dan akal. Dengan demikian kebudayaan dapat diartikan hal-hal yang
bersangkutan dengan akal, Koentjaraningrat (1990:181). P.J . Zoetmulder (1951) mengupas
kata budaya sebagai suatu perkembangan yang majemuk budi-daya , yang berarti “daya dari
budi”.
2.2. Wujud Kebudayaan
Dapat dinyatakan bahwa pada dasarnya kebudayaan memiliki tiga wujud yaitu, (1)
kompleks ide, gagasan, nilai, peraturan; (2) kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari
manusia dalam masyarakat; (3) benda hasil karya manusia (Koentjaraningrat, 1990). Ide dan
gagasan manusia yang hidup dalam suatu masyarakat memberi jiwa kepada masyarakat yang
bersangkutan. Ide atau gagasan ini sering disebut sebagai sistem budaya atau cultural sistem,
sistem budaya ini antara lain terbentuk adat atau adat istiadat. Bentuk kebudayaan yang kedua
yaitu sistem sosial yang terkait dengan tindakan manusia yang telah terpola. Sedangkan
wujud yang ketiga dari kebudayaan merupakan kebudayaan fisik, sebagai hasil karya
manusia.
Berbicara tentang budaya, dalam hal ini budaya dipandang sebagai cara hidup dapat
dirumuskan sebagai interaksi yang saling meneguhkan antara kultural bias (nilai dan norma
yang diyakini) dan sosial practice (hubungan sosial) (Thompson, 1990). Way of life (cara
hidup) merupakan kombinasi dari “hubungan sosial dan nilai atau norma yang diayakini”
(Thompson, 1990). Tumbuhnya budaya sebagai way of life (cara hidup) tergantung pada
hubungan yang saling mendukung antara kultural dan hubungan sosial.
Budaya sebagai cara hidup dan bentuk keorganisasian serta persepsi secara koheren,
maka nilai dan norma tidak lagi terpisah dari struktur dan tindakan melainkan merupakan
bagian dari tindakan itu sendiri. Pilihan mengenai hubungan sosial tertentu akan melahirkan
cara pandang tertentu terhadap sekitarnya, orang yang mengikuti pola hubungan sosial
tertentu melahirkan nilai dan kepercayaan yang tertentu pula, dan sebaliknya tentang
pandangan dunia melegitimasi pola hubungan sosial yang sesuai dengan pandangan dunia
tersebut.
2.3.Unsur-unsur Kebudayaan
Unsur-unsur kebudayaan yakni keseluruhan dari tindakan manusia yang berpola
berkisar sekitar pranata-pranata tertentu yang amat banyak jumlahnya; dengan demikian
46
sebenarnya suatu masyarakat yang luas selalu dapat kita perinci ke dalam pranata-pranata
yang khusus. Sejajar dengan itu suatu kebudayaan yang luas selalu dapat pula kita rinci ke
dalam unsur-unsurnya yang khusus. C. Kluckhohn dalam sebuah karangan berjudul
Universal Categories of Culture (1953) mengambil sari dari berbagai kerangka tentang
unsur-unsur kebudayaan universal yang ditemukan pada semua bangsa di dunia. Ketujuh
unsur yang dapat kita lihat sebagai isi pokok dari tiap kebudayaan di dunia itu adalah: (1)
bahasa, (2) sistem pengetahuan, (3) organisasi sosial, (4) sistem peralatan hidup dan
teknologi, (5) sistem mata pencaharian hidup, (6) sistem religi, (7) kesenian.
2.4. Nilai-Nilai Budaya dalam Masyarakat
Di dalam kehidupan masyarakat terjadi dinamika hubungan satu sama lain yang
di tentukan oleh kekuatan pengikatnya dan dikenal dengan nilai-nilai atau norma.
Koentjaraningrat (1997), menjelaskan untuk dapat membedakan kekuatan pengikat dalam
masyarakat tersebut, secara sosiologi dikenal adanya empat pengertian, yakni : Cara (usage),
yakni kebiasaan seseorang yang disengaja atau tidak dianggap lumrah untuk dirinya, tetapi
menjadi tidak lumrah untuk orang lain.
Penyimpangan terhadap kebiasaan semacam ini hanya terletak pada kesantunan
atau tidak. Demikian juga dengan kebiasaan (folksway), yang menurut Mac Iver and Page
(1967) merupakan perilaku yang diakui dan diterima oleh masyarakat, misalnya kebiasaan
menghormati orang yang lebih tua sudah merupakan kebiasaan yang dihormati. Nilai-nilai
sosial tata kelakuan (mores) kebiasaan yang hidup dalam interaksi manusia, yang dijaga dan
dilindungi, bahkan dia menjadi alat pengawas atau kontrol dalam masyarakat. Kemudian adat
istiadat (custom).
Jiwa kekerabatan sebagai salah satu nilai budaya Kalimantan Tengah, sudah
mendarah daging dalam masyarakat dan umumnya sifat luas serta bertopang pada ikatan
darah. Semuanya itu disadari oleh kebersamaan yang sudah dibangun dalam lingkup rumah
adat sebagai pusat dan yang mengatur segala kegiatan masyarakat. Adanya ikatan ini
mempertebal rasa solidaritas antara mereka. Hal ini jelas tampak dalam pesta-pesta, dalam
upacara-upacara adat atau bila menghadapi bahaya yang mengancam suku, dan pada
melaksanakan sesuatu bagi kepentingan seseorang atau bersama.
Nilai budaya melalui rumah adat yang juga menonjol adalah cara-cara di dalam
mencari nafkah yang mendorong dan menyebabkan Masyarakat Kalimantan Tengah
memiliki cara pikir sosial-kolektif. Dalam hal ini pertanian misalnya, ada banyak tanah
garapan adalah milik suku, walau di zaman ini sistem serupa itu agaknya semakin berkurang
tersebab meningkatnya penduduk dan karena setiap keluarga, ingin mempunyai tanah
garapan sendiri. Tetapi milik bersama atas tanah yang mendorong rasa persatuan dan
keterikatan dalam masyarakat. Banyak tanah pertanian Masyarakat Kalimantan Tengah
terdiri dari dataran tinggi, rendah dan bukit-bukit serta hutan belantara. Sebagian tenah
dipakai untuk perladangan, meski ada sebagian kecil saja yang gersang dan kering.
2.5.Kebudayaan Sebagai Cara Hidup
Kebudayaan menurut Koentjaraningrat (1986) dideskripsikan sebagai
keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan
masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Lebih lanjut dijelaskan bahwa
kebudayaan dapat dibedakan dalam tiga wujud yakni:
(1) wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma,
peraturan,
(2) wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas tindakan berpola oleh manusia
dalam masyarakat; dan
(3) wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.
2.6. Pengertian Dayak
Sebutan kata Dayak, adalah sebutan yang umum di Kalimantan. Bahkan di
47
seluruh Indonesia, setiap orang yang mendengar kata Dayak, sudah tentu pandangannya
tertuju kepada salah satu suku di Indonesia yang mendiami Kalimantan. Apakah arti kata
Dayak itu yang sebenarnya? O.K. Rahmat dan R. Sunardi, mengatakan bahwa kata Dayak
adalah satu perkataan menamakan stam-stam yang tidak beragama Islam yang mendiami pedalaman Kalimantan. Istilah ini sendiri diberikan oleh bangsa di pesisir Kalimantan yang
berarti gunung.
Bila Bangsa Melayu yang mendiami pesisir Kalimantan yang memberi istilah
Dayak kepada stam-stam yang tidak beragama Islam yang mendiami pedalaman Kalimantan
dan berarti orang gunung, maka timbul suatu pertanyaan, siapakah orang Melayu itu? Bila
dilihat dari arti yang umum, tidak lain, yang dinamakan bangsa Melayu pada waktu itu adalah
orang-orang yang berasal dari Melayu dan berbahasa Melayu. Akan tetapi apabila yang
dimaksud dengan orang Melayu adalah orang Dayak yang telah menganut agama Islam, akan
terasa ada yang janggal. Bila dilihat dari sisi orang Dayak sendiri, yang disebut orang Melayu
ialah orang-orang yang berasal dari daerah Melayu dan para pendatang lainnya, selain
Tionghoa, yang tinggal di Kalimantan. Muncul lagi pertanyaan, apakah ada kata Dayak
dalam bahasa Melayu yang artinya orang gunung?
Sampai saat ini belum pernah ada kamus yang menyatakan bahwa Dayak berarti
orang gunung. Kemungkinan pengertian kata Dayak sama dengan orang gunung, disebabkan
karena sebagian besar orang-orang Dayak tinggal di udik-udik sungai yang tanahnya
bergunung-gunung, tetapi bukan berarti bahwa kata Dayak berarti orang gunung. Di samping
nama Dayak, kita kenal juga istilah Dyak yang merujuk pula pada pengertian Dayak. Istilah
Dyak ini diberikan oleh orang-orang Inggris kepada suku-suku Dayak di Kalimantan Utara.
Suku Dayak di Kalimantan, tersebar di seluruh pulau Kalimantan, hidup
berpencar, di hulu-hulu sungai, di gunung-gunung, lembah dan kaki bukit. Untuk menyebut
identitas diri, menyebut tempat asal, mereka memakai daerah aliran sungai besar di mana
mereka bertempat tinggal. Misalnya yang berasal dari daerah Sungai Barito, mereka menyebut diri sebagai uluh Barito, demikian pula yang berasal dari daerah aliran Sungai
Kahayan, uluh Kahayan. Ada uluh Katingan, uluh Kapuas dan sebagainya.
Dayak juga dapat berarti Sahawung. Suatu organisasi orang-orang Dayak, diberi
nama Partai Daya. Dengan demikian kata Dayak dan Daya, dalam bahasa Ngaju,
menunjukkan kata sifat dan menunjukkan pula suatu kekuatan. Demikian pula kata
Sahawung, yang berarti sifat kepahlawanan seseorang, gagah perkasa, dan tidak kenal
menyerah. Kalau kita hubungkan sifat orang-orang Dayak di masa lalu, yang terkenal dengan
semboyan Menteng Ureh Mamut, yang berarti seseorang yang mempunyai kekuatan gagah
berani dan tidak kenal menyerah, maka nama Daya Sahawung lebih condong kepada kata
sifat. Dalam bahasa Sangen, Dayak berarti bakena yang artinya gagah, cantik.
2.7. Pengertian dan Konsep Olahraga Masyarakat
Sebagaimana diuraikan diatas, maka pada olahraga masyarakat di luar negeri disebut
sebagai "sport for all". Sport for All di dunia yang tumbuh dan berkembang sejak tahun 1970an, te1ah meluas di segala penjuru dunia. Organisasi-organisasi sport for all telah dibentuk
baik tingkat internasional, regional, continental, nasional maupun local. Yang menjadi
masalah adalah apa sebenarnya pengertian akan sport for all itu dan apa yang mennjadi
konsep akan berkembangnya sport for all di dunia.
Pengertian akan sport for all itu sendiri. Memiliki arti kalimat itu sendiri dapat
diterjemahkan dalam “Olahraga untuk semua”, artinya olahraga itu bukan monopoli
olahragawan berprestasi saja, tetapi olahraga dapat dilakukan oleh siapa saja, tak terbatas
pada jenis kelamin dan usianya, malah bagi yang belum melakukan dianjurkan oleh World
Health Organisation yang terkenal dengan singkatan WHO yaitu Badan Dunia yang bergerak
dibidang kesehatan. Yang menjadi tujuan dari WHO dengan semboyan "health for all"
48
adalah agar semua penduduk di dunia ini, tanpa membedakan usia, jenis kelamin, status kaya
atau miskin bisa mendapatkan pelayanan kesehatan.
Suatu tujuan yang amat mulia akan tetapi hasilnya pun masih jauh dari harapan,
karena beragamnya masyarakat dimana mereka tinggal, masih terdapatnya perbedaan
menyolok antara Negara kaya dan miskin serta perbedaan status kaya miskin pada suatu
masyarakat dalam satu Negara. Pendek kata Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang
bergerak di bidang kesehatan pun masih belum mampu untuk mengatasi sepenuhnya kendala
untuk merealisasikan gerakan "health for all". Demikian pula gerakan dalam merealisasikan
"sport for all". Meskipun telah banyak organisasi olahraga masyarakat yang terlibat dan
bertujuan untuk merealisasikannya, namun hasilnya juga masih belum memuaskan.
Adapun konsep yang mendasari mengapa orang berpaling pada olahraga
masyarakat atau sport for all sebagai salah satu pilihan untuk dikembangkan, dapat di
inventarisasi sebagai berikut : berkurangnya gerakan fisik manusia dalam kehidupan modern
dewasa ini, sebagai akibat kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, sehingga kehidupan
manusia dimudahkan dengan memencet tombol untuk mencapai tujuannya. Dalam hal ini
dapat diberikan contoh tersedianya lift dalam gedung bertingkat, tombol remote control untuk
tidak perlu berjalan mendekati pesawat televise untuk memindah channel ataupun mengatur
volume suara, tersedianya telepon selular sebagai pilihan untuk tidak selalu tergantung pada
telepon rumah, dan masih banyak contoh yang lain lagi.
Olahraga masyarakat sudah merupakan kebutuhan masyarakat banyak, selain
sangat bermanfaat untuk masyarakat banyak guna memelihara dan meningkatkan kesehatan
dan kebugaran, sehingga banyak Negara telah meyakini bahwa dengan memasyarakatkan
olahraga akan, dapat menekan atau mengurangi anggaran di bidang kesehatan suatu Negara.
Sebagai reaksi atas gerakan olimpic. Sebagaimana diketahui gerakan olimpik telah
berangsur-angsur mendapatkan pupularitasnya, sejak pad tahun 1886 olympiade modern yang
pertama diadakan di kota Athena, Yunani. Sejak tahun 1984, yaitu pada olympiade ke 23 di
Los Angeles, Amerika Serikat, ollympiade telah dikelola secara "kodern management", yang
dapat menghasilkan untung besar bagi panitia sampai ratusan Juta U.S. Dollar. Sejak itu'
Negara-negara berlomba-lomba untuk menjadi tuan rumah olympiade, bahkan sudah
cenderung kearah komersialisasi. Pada dasarnya ollympiade yang hanya mempertandingkan
28 cabang olahraga itu, irengetrapkan seleksi yang ketat bagi atlet yang akan berlaga d i
kancah olympiade yang diikuti hanya kurang lebih 10.000 orang dari hampir 200 negara.
Seleksi yang ketat dan inemprioritaskan atlit-atlit muda yang punya bakat tinggi, pada cabang
olahraga yang hanya 28 cabang itu dirasakan sangat membatasi keikutsertaan masyarakat
banyak. Oleh karena itu sebagai reaksi atas berkembangnya gerakan olimpik tersebut di
ciptakan olahraga masyarakat, yang tidak membatasi peserta, baik dari segi umur, jenis
kelamin, keanggotaan pada organisasi nasional/internasional tertentu, dan lain-lain.
2.8.
Pengertian Olahraga Tradisional
Olahraga tradisional merupakan bagian dan hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat
yang disebut dengan kebudayaan. Kebudayaan sendiri pada dasarnya merupakan kemampuan
manusia untuk menyesuaikan din secara aktif terhadap lingkungannya. Oleh karena itu
kebudayaan merupakan pola bagi tingkah laku yang nyata maupun yang abstrak, dan
diperoleh serta diwariskan melalui proses belajar dengan menggunakan lambang-lambang.
Olahraga tradisional Indonesia yang berupa permainan pada dasarnya merupakan
perwujudan dan proses adaptasi masyarakat Indonesia dalam menghadapi lingkungannya
dalam bentuk permainan. Realita proses kemunculan suatu jenis olahraga tradisional atau
permainan rakyat adalah sebagai ekspresi diri dan adaptasi atas apa yang mereka alami dan
rasakan. Sebagai misal adalah permainan “perisaian” di Nusa Tenggara Barat; permainan ini
muncul sebagai proses adaptasi dan penalaran atas apa yang mereka alami, mereka berpikir
49
bahwa hujan yang diharapkannya akan turun ketika mereka mau berkorban mengeluarkan
darahnya. Untuk itulah, mereka melakukan permainan “perisaian” hingga salah satu diantara
mereka mengeluarkan darah akibat cambukan lawan.
2.10. Manfaat Olahraga Tradisional
Olahraga tradisional sebagai hasil budaya merupakan wujud dan jati diri bangsa.
Olahraga tradisional dalam kemunculannya dapat menjadi terapi atas krisis jati diri bangsa.
(Dwi Arbaningsih 2003) menyebutnya dengan istilah pada saat bangsa Indonesia mengidap
amnesia sosial, lupa akan jati dirinya. Dalam statusnya sebagai sebuah permainan, olahraga
tradisional dapat mengembangkan intelegensia praktis, pendidikan budaya (culture
education), dan keterampilan psikososial.
a. Pengembangan intelegensia praktis
Sebagai suatu permainan, olahnaga tradisional menuntut adanya kemampuan
teknik, strategi dan taktik. Teknik, strategi, dan taktik dapat dilakukan dengan baik manakala
tersedia kemampuan intelegensia praktis yang memadai, atau sebaliknya kemampuan
intelegensia menjadi berkembang manakala dirangsang oleh tuntutan kemampuan teknik,
strategi, dan taktik dalam suatu permainan. Arbiningsih mencontohkan, bahwa di dalam
permainan gobak sodor (hadang) terdapat pola pikir mempertahankan wilayah dari serangan
musuh. Didalam upaya mempertahankan wilayah, maka perlu memiliki jiwa patriotisme,
nasionalis, dan keberanian untuk membela tanah air. Karakter ini tidak bisa datang begitu
saja, tetapi harus ditanamkan dididik melalui sistem pendidikan yang tepat guna. Nilai-nilai
nasionalis, keberanian dan patriotisme serta semangat untuk membela wilayah ini tidak
sekedar dihafal, tetapi harus dipraktekkan melalui latihan dan simulasi pada hari-hari tertentu.
b. Pendidikan Budaya (culture education)
Sebagai permainan tradisional yang diwariskan secara turun temurun, olahraga
tradisional dapat dijadikan sebagai alat pendidikan dalam menanamkan budaya kepada
masyarakat. Selain itu, olahraga tradisional yang di dalamnya mengandung unsur menang
dan kalah dapat dijadikan alat dalam menanamkan budaya sportivitas atau “ksatria”, yaitu
siap menerima kemenangan tanpa rasa sombong dan menerima kekalahan tanpa rasa sakit
hati dan mencari-cari alasan.
Budaya diartikan sebagai keseluruhan sistem berpikir, nilai, moral, norma, dan
keyakinan (belief) manusia yang dihasilkan masyarakat. Sistem berpikir, nilai, moral, norma,
dan keyakinan itu adalah hasil dari interaksi manusia dengan sesamanya dan lingkungan
alamnya. Sistem berpikir, nilai, moral, norma dan keyakinan itu digunakan dalam kehidupan
manusia dan menghasilkan sistem sosial, sistem ekonomi, sistem kepercayaan, sistem
pengetahuan, teknologi, seni, dan sebagainya. Manusia sebagai makhluk sosial menjadi
penghasil sistem berpikir, nilai, moral, norma, dan keyakinan; akan tetapi juga dalam interaksi
dengan sesama manusia dan alam kehidupan, manusia diatur oleh sistem berpikir, nilai, moral, norma,
dan keyakinan yang telah dihasilkannya.
c. Pengembangan Keterampilan Psikososial
Sebagai suatu permainan, olahraga tradisional melibatkan orang lain dalam
pelaksanaannya. Keterlibatan orang lain dapat terjadi proses sosialisasi dan komunikasi
antara sesama di sinilah dapat berkembang-nya keterampilan psikososial seperti: komunikasi,
asertivitas, dan empati. Adanya nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, olahraga tradisional
sangat tepat untuk dijadikan bahan ajar dalam pendidikan jasmani. Dalam fungsinya sebagai
bahan ajar, olahraga tradisional juga dapat dijadikan bentuk permainan bagi anak-anak dan
masyarakat dalam mengisi waktu luang atau kegiatan rekreasi. Permainan rakyat yang telah
dibakukan sebagai olahraga tradisional tentu telah dikaji kandungan nilai gerak dan
fisiologisnya. Dengan demikian olahraga tradisional dapat dijadikan bentuk latihan untuk
meningkatkan kemampuan gerak dan kebugaran jasmani.
Manfaat lain dan olahraga tradisional adalah dan segi ekonomi. Banyaknya jenis
50
olahraga tradisional di Indonesia dapat dijadikan salah satu sajian yang menghibur bagi para
wisatawan. Hal mi mengandung makna bahwa olahraga tradisional dapat menyuburkan
industri pariwisata yang akan berdampak pada kegiatan ekonomi masyarakat dan bangsa
Indonesia.
2.11. Perspektif Sistem Teknologi Tradisional
Tentang sistem teknologi tradisional tersebut tokoh budaya Indonesia
Koentjaraningrat menjelaskan bahwa terdapat 8 macam sistem peralatan dan unsur
kebudayaan fisik digunakan oleh manusia yang hidup dalam masyarakat kecil yang
berpindah-pindah atau masyarakat petani di daerah pedesaan. Ke delapan sistem peralatan
tersebut adalah : (1) alat-alat produksi; (2) senjata; (3) wadah; (4) alat untuk membuat api;
(5) makanan, minuman, bahan pembangkit gairah dan jamu; (6) pakaian dan perhiasan; (7)
tempat berlindung dan rumah; (8) alat-alat trasnportasi (2005: 23).
Suatu deskripsi etnografi sudah memadai apabila ke delapan unsur kebudayaan fisik
itu tercantum di dalamnya. Ahli budaya lain JJ. Honigmann dalam bukunya The world Of
Man (1959: 290) menjelaskan bahwa teknologi adalah “.....segala tindakan baku ang
digunakan manusa untuk mengubah aloam, termasuk tubuhnya sendiri atau tubuh orang
lain.” Oleh karena itu teknologi adalah cara manusia membuat, memakai dan memelihara
seluruh peralatannya, dan bahkan bertindak selama hidupnya. Teknologi tradisional adalah
teknologi yang dihasilkan manusia adalah teknologi yang sederhana, baik itu bersifat tunggal,
misalnya kalau di Pulau Kalimantan dikenal dengan sumpit (sipet) mupun yang dibuat secara
massal (alat tenun bukan mesin).
Berdasarkan pada penggunaannya, alat-alat produksi dalam budaya tradisional dapat
dikelompokkan sebagai berikut : (1) alat potong; (2) alat tusuk; (3) alat untuk melubangi; (4)
alat pukul; (5) alat giling; (6) alat peraga; (7) alat untuk membuat api; (8) alat untuk meniup
api; (9) alat pertanian; (10) alat penangkapan ikan dan lain sebagainya. Alat-alat produksi
tersebut di atas sampai sekarang masih kita gunakan dan diproduksi terus, hakekatnya tetap
yaitu sebagai alat-alkat produksi, peralatan kerja yang membantu pekerjaan manusia, namun
bentuknya atau desainnya yang berbeda.
Sumpit di Kalimantan bagi suku Dayak) sebagai teknologi tradisional yang
berfungsi sebagai senjata dan alat bekerja yaitu untuk berburu (menangkap burung, kera, babi
hutan, kijang dan lain sebagainya). Namun dewasa ini sumpit sudah tidak sepopuler dulu
sebagai alat berburu (sebab sudah ada senjata). Penggunaan sumpit dalam berburu adalah
dengan ditiup dan ujung dari anak sumpit sudah dibubuhi racan, jadi kekuatan sumpit terletak
pada kemampuan manusia meniupnya.
2.12. Kegiatan Olahraga Tradisional
Ada empat tahapan utama dalam kegiatan olahraga tradisional, yaitu perencanaan,
pengorganisasian, kepemimpinan dan pengawasan.
2.13.1. Perencanaan
Perencanaan yaitu usaha untuk menemukan jawaban yang meyakinkan
terhadap lima pertanyaan pokok, yaitu:
a. Apa program pembinaan dan pengembangan olahraga tradisional yang akan diterapkan
dikarenakan dalam satu kurun waktu tertentu di masa yang akan datang?
b. Siapa yang akan bertanggung jawab pada setiap bentuk kegiatan dan kepada siapa ia
mempertanggungjawabkan pekerjaannya?
c. Prosedur, mekanisme dan metode kerja yang bagaimana yang akan digunakan dalam
pembinaan dan pengembangan olahraga tradisional secara strategis?
d. Apakah ada penjadwalan kegiatan yang jelas dan yang hams ditaati di dalam pembinaan
dan pengembangan olahraga tradisional?
e. Apakah alasan yang digunakan untuk membuat sebuah program pembinaan dan
pengembangan olahraga tradisional benar-benar dapat dipertanggung jawabkan?
51
Pengelola olahraga tradisional yang telah menyusun perencanaan dengan baik dan tepat
berarti sudah 30 % melakukan pelestarian; sisanya 50 % adalah pelaksanaan program, dan 20
% evaluasi. Hal ini mengandung makna bahwa perencanaan merupakan hal yang penting dan
menjadi bagian integral yang tak terpisahkan dalam kegiatan olahraga tradisional.
2.13.Kegiatan
Program kegiatan dimaksudkan sebagai upaya menjaga keberadaan suatu jenis
olahraga tradisional. Program ini dilakukan melalui upaya memperkenalkan olahraga
tradisional kepada seluruh lapisan masyarakat dan menjadikan olahraga Tradisional sebagai
bentuk latihan jasmani bagi masyarakat. Program kegiatan dilakukan dalam bentuk festival,
invitasi, dan memasukkan suatu jenis olahraga tradisional sebagai muatan lokal, materi
pelajaran pendidikan jasmani di sekolah.
a. Festival
Festival, dari bahasa Latin berasal dari kata dasar "festa" atau pesta dalam bahasa
Indonesia. Festival biasanya berarti "pesta besar" atau sebuah acara meriah yang diadakan
dalam rangka memperingati sesuatu, atau juga bisa diartikan dengan hari atau pekan gembira
dalam rangka peringatan peristiwa penting atau bersejarah, atau pesta rakyat (W.J.S
Purwadarminta: Kamus Umum Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga, Balai Pustaka). Bisa pula
berarti sayembara atau perlombaan.
Festival olahraga tradisional bagi pelaku merupakan ajang kreasi dan unjuk
kebolehan, dan bagi pengelola merupakan tempat aktualisasi atas program yang
dilakukannya, dan bagi masyarakat merupakan tempat mengenal berbagai jenis olahraga
tradisional. Dalam festival dapat dijadikan upaya sosialisasi, sehingga olahraga tradisional
semakin dikenal masyarakat yang muaranya akan dipraktikkan oleh sebagai bentuk latihan
jasmani dalam mencapai tingkat kebugaran yang baik.
b. Invitasi Olahraga Tradisional
Invitasi merupakan mata rantai kegiatan kejuaraan dalam cabang olahraga. Kejuaraan
invitasi lebih bersifat tidak resmi, diadakan atas dasar undangan untuk berprestasi, sesuai
dengan arti kata invitare (mengundang). Tujuan utama invitasi ialah menguatkan tali
persahabatan antar atlit pada cabang tersebut. Karena tidak memburu prestasi semata-mata,
kerapkali kejuaraan invitasi seringkali dipakaai untuk pemansan, uji coba untuk memantau
kemampuan atlit .
c. Suplementasi Kurikulum
Menyadari bahwa olahraga tradisional merupakan warisan budaya yang sarat dengan
ajaran nilai-nilai luhur yang merupakan karakter dan jati diri suku yang memilikinya, maka
upaya mewariskan pada generasi berikutnya menjadi prioritas. Bentuk dan cara untuk
melstarikan budaya leluhur tersebut salah satunya dengan cara memasukkanya ke dalam
kurikulum muatan lokal. Hal ini mengingat sebagian besar generasi penerus merupakan anak
yang berada yang sedang mengikuti proses pendidikan di sekolah. Diterapkannya olahraga
tradisional sebagai muatan lokal materi pelajaran berarti terdapat upaya memperkenalkan dan
mewariskan olahraga tradisional kepada generasi penerus.
d. Pengembangan
Program pengembangan merupakan upaya untuk menjadikan suatu jenis olahraga
tradisional yang bersifat lokal kedaerahan dan hanya dapat dilakukan oleh masyarakat
setempat men jadi olahraga tradisional yang bersifat nasional dan dapat dilakukan oleh
masyarakat luas. Salah satu bentuk pengembangan adalah melalui pembakuan; yaitu
merupakan kegiatan untuk membuat ketentuan yang baku mengenai peraturan
52
pertandingan/perlombaan dan peralatan, sehingga jenis olahraga tersebut memenuhi syarat
keselamatan dan layak untuk dipertandingkan/perlombakan. Program pembakuan dilakukan
melalui proses kajian secara teoretik dan empirik.
- Kajian Teoritik
Kajian teoritik merupakan langkah awal dalam upaya pembakuan. Dari kajian ini
akan didapatkan informasi tentang kelayakan suatu jenis olahraga tradisional sebagai suatu
bentuk latihan jasmani; kelayakan dalam statusnya sebagai bentuk permainan yang
mengandung arti olahraga dan budaya tradisi.
- Kajian Empirik
Kajian empirik perlu dilakukan mengingat tidak semua hal yang layak secara teoritik
akan layak pula secara empirik. Sebagai contoh adalah kelayakan lebar lapangan hadang
yang lebarnya 9 meter, lebar tersebut secara teoritik sudah ditetapkan berdasarkan data ratarata panjang lengan dan kelincahan anak, ternyata secara empiric sangat sulit bagi anak untuk
mempertahankan wilayahnya dari serangan lawan. Keadaan seperti ini manjadikan permainan
kurang menarik mengingat tidak ada persaingan yang ketat.
2.15. Olahraga Menyipet dan Balogo
2.15.1. Sipet/Menyipet (Menyumpit/Bermain Sumpit)
Sipet (Sumpitan), Merupakan sebuah senjata utama selain Mandau, bagi suku
Dayak. Umumnya terbuat dari kayu ulin. Bentuknya bulat dibor dengan diameter 2-3 cm,
panjang 1,5 – 2,5 meter, ditengah-tengahnya berlubang dengan diameter lubang ¼ - ¾ cm
yang digunakan untuk memasukan ‘damek’ (bahasa Dayak Ngaju), bahasa Indonesia
‘damak’ yaitu anak sumpitan dengan bentuk bulat, berdiameter kurang dari 1cm. Anak
sumpit dapat terbuat dari lidi pelepah rigel/handiwung ( sedang/sejenis palm hutan ) atau bisa
juga dari bambu yang diraut, yang salah satu ujungnya berbentuk seperti kerucut yang terbuat
dari kayu massanya ringan dari kayu pelawi atau batang taberu yang dikeringkan (bahasa
Indonesia tamberau). Ini namanya ‘pimping damek’ berfungsi sebagai sayap kendali supaya
anak sumpit dapat melesat dengan lurus atau sebagai penyeimbang saat lepas dari rombak
sipet (lobang sumpit).
Gambar 2.1. Gambar horisontal Sipet, senjata sekaligus alat olahraga menyipet
Gambar 2.2. Tempat menyimpan damek
Sedangkan ujungnya yang lain adalah mata anak sumpit. Mata anak sumpt diberi
racun yang sangat mematikan binatang buruan atau manusia terbuat dari getah tumbuhtumbuhan (gita siren, ditambah dengan ramuan lainnya seperti bisa binatang : ular, dan
kalajengking) atau ujung matanya bisa juga disambung dengan panting ikan pari, atau besi
yang dibuat secara khusus. ‘Taberau’ merupakan jenis tumbuhan gelagah yang biasanya
tumbuh dipinggir sungai bentuknya seperti pohon tebu, pohon inilah yang sangat ringan
untuk dikendalikan anak sumpit. Pada ujung sumpit sebelah atas ada mata tombak, dalam
53
bahasa Dayak Ngaju mata tombak itu disebut ‘sangguh’ sipet jika pada jaman dahulu
berfungsi untuk menombak binatang buruan.
Dahulu ‘sangguh sipet’ ini terbuat dari batu gunung yang diikat dengan rotan dan
telah dianyam, ‘simpei sipet’. Kelengkapan lain pada sumpitan ini yaitu disebut ‘telep’
menyimpan ‘ipu’ (ipuh atau racun damak). Dahulu dalam proses pembuatan sumpit atau sipet
dilakukan dengan dua cara yaitu pertama keterampilan tangan dari sang pembuat. Cara
kedua, yaitu dengan menggunakan tenaga dari alam dengan memanfaatkan kekuatan arus air
riam (air jeram) yang dibuat menjadi semacam kincir penumpuk padi. Harga jual sumpit atau
sipet telah ditentukan oleh hukum adat, yaitu sebesar ‘jipen ije atau due halamaung taheta’
(senilai satu buah atau dua buah guci antik yang baru). Menurut kepercayaan suku Dayak
sumpit atau sipet ini tidak boleh digunakan untuk membunuh sesama. Sumpit atau sipet
hanya dapat dipergunakan untuk keperluan sehari-hari, seperti berburu.
Sipet ini tidak diperkenankan atau pantang diinjak-injak apalagi dipotong dengan
parang karena jika hal tersebut dilakukan artinya melanggar hukum adat, yang dapat
mengakibatkan pelakunya akan ‘impautang’ (dituntut / didenda dalam rapat adat) dari segi
penggunaannya sumpit atau sipet ini memiliki keunggulan tersendiri karena dapat digunakan
sebagai senjata jarak jauh dan tidak merusak alam karena bahan pembuatannya yang alami.
2.15.2. Logo / Balogo (Bermain Logo)
Permainan Balogo ini mengandung mitos sekaligus filosofi yang luhur sebagai tradisi
permainan yang diwariskan nenek moyang Suku Dayak Kalimantan Tengah. Pada kehidupan
masa lalu Suku Dayak di Kalimantan Tengah, permainan balogo itu merupakan permainan
yang dipercaya bisa mengukur tingkat kesuburan (keberuntungan) kehidupan mereka. Tradisi
permainan balogo ini memang ada hampir di seluruh wilayah Kalimantan Tengah kendati
tidak diketahui jelas sejak kapan tradisi itu mulai berjalan. Dimasyarakat setempat,
permainan ini bersifat musiman.
Biasanya digelar setelah masa panen padi dan upacara Tiwah. Usai upacara Tiwah di
mana para pesertanya dianggap telah banyak ‘membuang’ harta, masyarakat lantas mencoba
mereka-reka tingkat keberuntungannya di kemudian hari. Setelah menggelar upacara Tiwah,
sama artinya itu, telah membuang harta. Guna mengukur apakah kita masih punya rejeki
setelah upacara Tiwah itu, dipermainkan permainan balogo. Balogo itu, pada awalnya
merupakan permainan orang per orang.
Sifatnya permainan coba-coba bagi setiap orang yang ikut bermain. Jika pada suatu
pertandingan ternyata hasilnya seseorang menang., berarti seseorang itu akan lebih dulu
sukses, gampang rejekinya disbanding peserta yang lain. Demikianlah tentang mtosnya.
Nama permainan balogo diambil dari kata logo, yaitu bermain dengan menggunakan alat
logo. Logo terbuat dari bahan tempurung kelapa dengan ukuran garis tengah sekitar 5-7 cm
dn tebal antara 1-2 cm dan kebanyakan dibuat berlapis dua yang direkatkan dengan bahan
aspal atau dempul supaya berat dan kuat.
Gambar 2.4. stick sebagai
alat pemukul
Gambar 2.3. Macam-macam bentuk Logo
54
Gambar 2.4. Struktur permainan Balogo
Bentuk alat logo ini bermacam-macam, ada yang berbentuk bere (labilabi/bulus), bajuku (penyu), sagitelo (segitiga), bentuk kaliangan (layang-layang), dan dawen
sirih (daun sirih bundar). Dalam permainnya harus dibantu dengan sebuah alat yang disebut
‘ungkang’ (panapak) atau kadang-kadang beberapa daerah ada yang menyebutnya dengan
campa yakni stik atau alat pemukul yang panjangnya sekitar 40 cm dengan lebar 2 cm terbuat
dari bilah bambu atau bilah kayu.
Fungsi ‘ ungkang’ (panapak) atau campa ini adalah untuk mendorong logo agar bisa
meluncur dan merobohkan logo pihak lawan yang dipasang saat bermain. Permainan balogo
ini bisa dilakukan satu lawan satu atau secara beregu. Jika dimainkan secara beregu, maka
jumlah pemain yaitu “naik” (yang melakukan permainan) harus sama dengan jumlah pemain
yang “pasang” (pemain yang logonya dipasang untuk dirobohkan). Jumlah pemain beregu
minimal 2 orang dan maksimal 5 orang.
Jumlah logo yang dimainkan sebanyak jumlah pemain yang disepakati dalam
permainan. Cara memasang logo ini adalah didirikan berderet ke belakang pada garis-garis
melintang. Karena inti dari permainan balogo ini adalah keterampilan memainkan logo agar
bisa merobohkan logo lawan yang dipasang. Regu yang paling banyak dapat merobohkan
lawan, mereka itulah pemenangnya.
2.16.1.Teori Tindakan Sosial
Dalam rngka membedah permasalahan dalam penelitian ini, maka diperlukan
teori-teori sosial, dalam hal ini teori tindakan sosial Parsons menjadi teori utama. Dalam
teori tindakan sosial terdapat beberapa pemikiran Parson dalam menganalisis fenomena sosial
(Johnson Doyle, 1981; Priyono. H. 2002), antara lain :
Pertama, elemen dasar untuk suatu tindakan sosial adalah bersifat voluntaristik
(tindakan sosial yang berdasarkan nilai-nilai sosial yang dianut bersama secara sukarela dan
diterima atau diakui oleh anggota masyarakat).
Kedua, Kerangka tujuan (mens-ends framework) sebagai alat analisis yang
terdiri dari (1) setiap tindakan itu memiliki tujuan, (2) tindakan terjadi dalam suatu situasi,
dan (3) secara normatif tindakan itu diatur sehubungan dengan penentuan alat dan tujuan.
Jadi, tindakan itu dilihat sebagai satuan kenyataan sosial yang paling kecil dan paling
fundamental (Johnson, D. 1981; Abraham, 1982).
Ketiga, Terdapat empat komponen dasar, yaitu : (a) alat untuk mendukung
terlaksananya kegiatan; (b) kondisi atau lingkungan yang ikut mewarnai suatu tindakan; (c)
Tujuan sebagai dasar orientasi individu dalam bertindak; (d) norma sosial yang berlaku dalam
kelompok atau masyarakat yang bersifat kompleks (Johnson, D. 1982; Hamilton, 1990).
55
Kelima, ada tiga parameter teoritis tentang tindakan individu dalam tindakan
sosial, yaitu : (a) individu benar-benar memiliki kebebasan untuk memilih alat dan tujuan
yang akan dicapai dan lebih mementingkan keuntungan (paham kaum ulititarism); (b)
pilihan-pilihan individu dalam bertindak sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungannya
(paham positive anti intelektual); (c) pilihan-pilihan individu dalam bertindak diatur dan
dipengaruhi oleh norma dan nilai-nilai bersama yang telah disepakati bersama (paham kaum
idealisme). Posisi pemikiran Parsons tentang tindakan sosial adalah memadukan ketiga
paham tersebut (Hamilton, 1990).
2.16.2.Teori Kebudayaan
a.
Kebudayaan
Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia
dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.
Definisi tersebut jika ditelusuri lebih jauh mempertimbangkan arah-arahan yang disampaikan
Kroeber dan Talcott Parson yang menginginkan pembedaan secara tegas antara sisi gagasan
dan sisi tindakan dalam kebudayaan.
Terdapat tiga gejala kebudayaan yakni ideas, activities dan artifact. Ketiga gejala
kebudayaan ini jika diperhatikan sejajar dengan tiga wujud kebudayaan sebagaimana
tercantum dalam definisi kebudayaan Koentjaraningrat. Ideas (gagasan-gagasan) sejajar
dengan sistem gagasan, activities (aktivitas) sejajar dengan tindakan, dan terakhir artifact
yang seanalog dengan hasil karya manusia. Dalam bukunya Manusia dan Kebudayaan
Indonesia, Koentjaraningrat membuat tipe-tipe masyarakat atau dalam istilahnya "tipe-tipe
sosial-budaya" yang mengklasifikasikan masyarakat Indonesia ke dalam kelompok-kelompok
tersebut. Koentjaraningrat menyebut adanya 6 tipe mulai dari masyarakat berdasarkan sistem
berkebun yang sederhana, bercocok tanam di sawah, bercocok tanam di sawah tetapi dengan
diferensiasi dan stratifikasi yang sedang, hingga masyarakat perkotaan bahkan metropolitan
dengan ciri-ciri yang kompleks.
b.
Adat- Istiadat
Sistim Nilai Budaya, Pandangan Hidup, dan Ideologi. Sistem nilai budaya. merupakan
tingkat yang paling tinggi dan paling abstrak dari adat istiadat, karena nilai budaya
merupakan konsep-konsep mengenai apa yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar dari
warga masyarakat mengenai apa yang mereka anggap bernilai, berharga, dan penting dalam
hidup, sehingga dapat berfungsi sebagai suatu pedoman yang memberi arah pada warga
masyarakat.
Pandangan hidup, biasanya mengandung sebagian dari nilai-nilai yang dianut oleh
sebagian individu dan golongan-golongan dalam masyarakat.Konsep ideologi. Konsep ini
juga merupakan suatu sistem hidup atau cita-cita, yang ingin sekali dicapai oleh banyak
individu dalam masyarakat. Adat Istiadat, Norma dan Hukum, Telah dipelajari bahwa nilai
budaya sebagai pedoman yang member arah dan orientasi terhadap hidup bersifat amat
umum.
2.16.3.Teori Interaksionisme Simbolik
Gagasan-gagasan tentang interaksi sosial bisa dirujukkan dengan baik dalam teori
interaksionisme simbolik. Teori ini unik dalam sosiologi yang sering dilihat sebagai ilmu
yang mempelajari masyarakat secara umum. Sementar teori interaksionisme simbolik
mempelajari mengenai individu. Namun demikian pengertian individu di sini adalah mereka
yang membentuk masyarakat.
Ada tiga ilmuwan sosiologi dalam konteks teori interaksionisme simbolik ini yakni
George H. Mead, Erving Goffman dan George Homans. Dalam kajian sosiologis dalam
kaitannya dengan teori interaksionisme simbolik ini, maka kunci utama kehidupan sosial
adalah interaksi sosial. Kimball Young menyatakan bahwa interaksi sosial adalah inti dari
56
kehidupan sosial. Artinya, dengan melihat, menggambarkan, serta menganalisis hubungan
sosial antar manusia berarti bisa dilihat tingkatan kehidupan sosial yang lebih luas. Dalam
perkembangan sosiologi, obyek perhatian hubungan sosial adalah kajian yang termasuk baru.
Oleh karena itu, setelah mempelajari skup makro masyarakat, para sosiolog
mengalihkan perhatian pada wilayah mikro.
Keadaan ini dipelopori dengan menguatnya perspektif interaksionisme simbolik.
Dengan tokoh seperti George H. Mead, Herbert Blumer, Erving Goffman dan Howard
Becker. Di sini ditegaskan bahwa hubungan sosial bukanlah barang yang sekali jadi,
melainkan dibentuk dengan interpretasi para aktor yang mengambil makna di dalamnya.
Interaksi bermakna aktor saling mengambil catatan, saling mengkomunikasikan dan saling
menginterpretasikan sepanjang terus berjalan. Oleh karena itu, hampir semua bentuk interaksi
sosial adalah simbolik. Proses interaksi simbolik berarti bahwa dalam membuat keputusan
dan berkaitan langsung dengan aliran tindakan yang terus menerus. Dalam hal ini Blumer
menyatakan:
Symbolic interaction involves interpretation, or ascertaining the meaning of actions or
remarks of the other person, and definition, or conveying indications to another person as to
how he is to act. Human association consist of process of such interpretation and definition.
Through this process the participants fit their own acts to the ongoing acts of one another and
guide others in doing so.(Artinya: interaksicnisme simbolik terdiri atas interpretasi, atau
memastikan arti-arti tindakan atau perkataan orang lain dan definisi atau menyampaikan
petunjuk pada orang lain seperti bagaimana ia berlaku. Kumpulan manusia terdiri atas proses
seperti interpretasi dan definisi. Lewat proses ini para partisipan menjadikan tindakan mereka
pada aktivitas yang tidak pernah henti satu dengan lain dui memberikan petunjuk
pasangannya itu untuk melakukan sebagaimana yang dikehendaki.
Gambar 1
Simbol dan Pengambilan Peran dalam Teori Interaksionisme Simbolik
Obyek Sosial
Interaksi
Aksi
Simbol sebagaisebagai ciri khusus
Penafsiran
atas situasi
Obyek
Sosial
Bahasa sebagai
ciri khusus
dari simbol
(Sumber: Wallme dan Alison, 1980)
Goffman menjelaskan bahwa dalam melakukan hubungan sosial bisa dikaji beberapa
hal sebagai berikut.
a. Ungkapan-ungkapan yang tersirat, yaitu ungkapan, baik direkayasa atau tidak yang
menunjukkan teateris, jenis-jenis kontekstual dan non verbal, baik direkayasa ataukah
tidak. Dalam interaksi sosial bukan saja yang dilihat apa kata/kalimat dalam interaksi
57
tersebut. Melainkan, perasaan yang kuat dimainkan. Maka ungkapan-ungkapan mimik
wajah, syarat, kualitas tindakan dapat menunjukkan maksud. Hubungan sosial bisa
dikatakan terdiri atas komunikasi non-verbal dan verbal.
b. Setiap aktor yang sedang berpartisipasi akan mengatur perasaan-perasaan yang
sebenarnya dari mengkomunikasikan pandangan situasi tersebut. Sehingga orang lain
akan menerimanya. Jadi demi keberlangsungan, hubungan sosial ada semacam konsensus
pura-pura, di mana setiap partisipan menyembunyikan perasaan yang sebenarnya.
c. Dalam penampilan hubungan sosial seorang aktor dapat membohongi dirinya sendiri
sebagaimana motif-motif dia yang sebenarnya, dan ia juga dapat membohongi orang lain.
Dalam penampilan aktor akan selalu menyesuaikan dan memisah-misahkan penonton
yang dilihatnya. Dalam hubungan sosial aktor akan memisah-misahkan penonton agar, ia
bisa berlaku tepat.
d. Ketika individu bekerjasama untuk menyusun penampilan secara rutin, maka mereka
membuat team pertunjukan. Penampilan ini bisa dibuat dengan status silang antar pemain.
Goffman menjelaskan agar fakta-fakta bisa disembunyikan, maka penampilan kita
membutuhkan wilayah-wilayah yang terpisah. Wilayah depan adalah suatu wilayah
dimana team tersebut menghadirkan penampilan mereka, sebagaimana dikehendaki para
penonton. Sedangkan wilayah belakang adalah suatu tempat di mana kesan-kesan yang
dibentuk melalui penampilan berbeda dengan permasalahan yang sebenarnya. Impression
manajemen (pengaturan kesan-kesan) adalah pada saat para aktor kembali ke daerah
panggung belakang, karena pada saat itulah seseorang akan mendeteksi karakter yang
mengesankan dan tersembunyi.
2.16.4. Teori Fenomenologi
Fenomenologi (Inggris: Phenomenology) berasal dari bahasa Yunani phainomenon
dan logos. Phainomenon berarti tampak dan phainen berarti memperlihatkan. Sedangkan
logos berarti kata, ucapan, rasio, pertimbangan. Dengan demikian, fenomenologi secara
umum dapat diartikan sebagai kajian terhadap fenomena atau apa-apa yang nampak. Lorens
Bagus memberikan dua pengertian terhadap fenomenologi. Dalam arti luas, fenomenologi
berarti ilmu tentang gejala-gejala atau apa saja yang tampak. Dalam arti sempit, ilmu tentang
gejala-gejala yang menampakkan diri pada kesadaran kita.
Sebagai sebuah arah baru dalam filsafat, fenomenologi dimulai oleh Edmund
Husserl (1859 – 1938), untuk mematok suatu dasar yang tak dapat dibantah, ia memakai apa
yang disebutnya metode fenomenologis. Ia kemudian dikenal sebagai tokoh besar dalam
mengembangkan fenomenologi. Namun istilah fenomenologi itu sendiri sudah ada sebelum
Husserl. Istilah fenomenologi secara filosofis pertama kali dipakai oleh J.H. Lambert (1764).
Dia memasukkan dalam kebenaran (alethiologia), ajaran mengenai gejala (fenomenologia).
Maksudnya adalah menemukan sebab-sebab subjektif dan objektif ciri-ciri bayangan objek
pengalaman inderawi (fenomen).
58
2.17. Kerangka Konseptual
Kerangka Konseptual Penelitian
Masyarakat
Olahraga Tradisional Meyipet dan
Balogo di Masyarakat Kota
Palangka Raya
Penentuan Informan
dengan Purposive
Fokus
-Tokoh masyarakat,
- Kepala Disbudpar
- Kepala Disdikpora
- Guru Olahraga.
- Siswa/club
- Pelatih
- Atlit
Wawancara,
Dokumentasi
Observasi
A.1. Kegiatan Olahraga Tradisional
Menyipet dan Balogo di
Masyarakat Kota Palangka
Raya :
- Festival
- Invitasi
- Suplemen Kurikulum
- Pengembangan
2. Pengembangan Kemampuan
Motorik :
- Kemampuan Tehnik
- Kemampuan Strategi
- Kemampuan Taktik
3. Pendidikan Budaya:
- Sikap Sportivitas
- Sikap Kesatria
4. Pengembangan Keterampilan
Psikososial:
- Komunikasi
- Empati
B.Kendala – kendala dalam Kegiatan
Olahraga Tradisional Meyipet dan
Balogo di Masyarakat Kota Palangka
Raya :
- Internal
- eksternal.
59
Teori Utama adalah
- Teori Tindakan
Sosial
Teori Pendukung :
- Teori Budaya
- Interaksionisme
Simbolik,
- Teori
Fenomenologi
-,
Analisis Data :
Grounded
Temuan Penelitian
Proposisi Minor
Proposisi Mayor
METODE PENELITIAN
3.1. Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan. pendekatan kualitatif dan diharapkan mendapatkan hasil
yang mendalam (insight) sekaligus menyeluruh (holistic). Dikatakan demikian, karena
menurut Muhadji pendekatan kualitatif dilandasi filsafat fenomenologi, yang melahirkan
beberapa istilah, seperti naturalistik oleh Guba, etnometodologi oleh Bogdan, dan
interaksionisme simbolik oleh Blumer, dan masing-masing mempunyai kekhasan dalam
menjalankan penelitiannya.
Pendekatan kualitatif karena sifat data (jenis informasi) yang dikumpulkan bersifat
kualitatif. Alasan memakai pendekatan naturalistik karena situasi lapangan penelitian bersifat
natural, wajar, atau sebagaimana adanya (natural setting), tanpa manipulasi dan tidak diatur
dengan eksperimen atau test. Penelitian kualitatif sangat menekankan pemilihan latar
alamiah, karena fenomena yang dikaji, apapun bentuknya, punya makna yang hakiki bila
berada dalam konteksnya yang asli atau alamiah.
Pemilihan metode kualitatif tersebut dengan pertimbangan : Pertama metode
kualitatif memiliki keunggulan, antara lain (i) lebih melihat proses daripada produk dari
objek penelitiannya; (ii) sebagai upaya pemahaman penelitian perilaku dan penelitian
motivasional, (iii) menggunakan analisis data secara induktif; (iii) untuk meneliti latar
belakang fenomena yang tidak dapat diteliti dengan menggunakan penelitian kuantitatif, (iv)
untuk meneliti sesuatu secara mendalam (v) untuk meneliti sesuatu latar belakang misalnya
tentang motivasi, peranan, nilai, sikap dan persepsi, (vi) dimanfaatkan peneliti yang ingin
meneliti sesuatu dari segi prosesnya (Moleong, J. Lexi. 2004 : 7).
Kedua, peneliti berusaha mendeskripsikan dan memahami masyarakat yang menjadi
sasaran pengamatan tadi lebih dipandang sebagai subyek yang memiliki kreativitas, pendapat,
sikap, dan cita-cita tentang diri mereka sendiri atau dunia luar.
Ketiga, Sifat dari permasalahan yang diteliti lebih sesuai jika digunakan pendekatan
kualitatif daripada pendekatan kuantitatif, sebab sifat permasalahan yang menghendaki data
yang dikumpulkan bersifat data kualitatif tentang kegiatan olahraga tradisional meyipet dan
balogo, dan kendala-kendala dalam kegiatan olahraga tradisional tersebut.
Keempat, sifat dari permasalahan dalam penelitian ini dan tujuan yang hendak
diperoleh yaitu tentang kajian fenomena dari olahraga tradisional yang hendak mengungkap
dibalik yang tampak dari fenomena tersebut yang sulit dipahami oleh metode kuantitatif.
Realita fenomena sosial sering tampil dalam kondisi yang normal, kompleks, jamak dan
60
dinamik, oleh karena itu kajian dengan menggunakan pendekatan kualitatif akan lebih
proporsional.
Kelima, karena penelitian ini merupakan kajian fenomenologi maka hal tersebut
termasuk di dalam jenis penelitian definisi sosial dan materi penelitian menyangkut budaya
maka analisis penelitian yang proporsional adalah dengan strategi analisis penelitian
Grounded Theory yang dikembangkan oleh Strauss dan Corbin, yaitu melalui prosedur open
coding (perspektif emik).
Paradigma definisi sosial. Sebagaimana yang dikemukakan dalam paradigma
definisi sosial bahwa teori interaksionisme simbolik dan fenomenologi masuk di dalam
kategorinya. Teori interaksionisme simbolik menurut Blumer dalam hal ini sudah digunakan
untuk memahami interaksi yang terjadi dalam kegiatan olahraga tradisional.
3.2. Penentuan Informan
Salah satu karakter dari penelitian kualitatif adalah mendasarkan pada realitas
atau fenomena sosial yang bersifat unik dan kompleks, dan didalamnya mengandung
regularitas atau pola tertentu, namun penuh dengan variasi. Oleh karena itu data atau
informasi ditelusuri seluas-luasnya dan sedalam mungkin sesuai dengan variasi yang ada,
sehingga fenomena yang diteliti dapat berlangsung secara utuh. Dalam prosedur penentuan
informan yang terpenting adalah bagaimana dapat menemukan informan kunci (key
informan) atau situasi sosial tertentu yang syarat informasi sesuai dengan fokus penelitian
dengan benar sesuai secara metodologi.
Penentuan informan, berperan penting dan menentukan terhadap keberhasilan
penelitian. Memperhatikan kenyataan sosial dan realita bahwa peneliti adalah dosen
Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi, dan aspek lain bahwa peneliti juga orang asli
Kalimantan Tengah yang dari kecil sampai sekarang dibesarkan di Kalteng, dan sekaligus
sebagai pelaku olahraga tradisional tersebut. Maka penentuan informan yang sesuai dengan
metodologi dan pendekatan kualitatif adalah purposive (Sanggar Kanto dalam Burhan
Bungin, 2003: 51). yaitu penentuan informan dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu
(sesuai dengan metodologis). Adapun pertimbangan dimaksud antara lain, (1), (2) pengambil
kebijakan (Dinas Budaya dan Pariwisata), dan (Guru Olahraga).
3.3. Fokus Penelitian
A. 1. Kegiatan olahraga tradisional menyipet dan balogo di masyarakat Kota Palangka
B.
Raya.
a. Festival menyipet dan balogo
b. Invitasi menyipet dan balogo
c. Suplemen Kurikulum menyipet dan balogo
d. Pengembangan menyipet dan balogo
2. Pengembangan Kemampuan Motorik
a. Kemampuan teknik
b. Kemampuan strategi
c. Kemampuan taktik.
3. Pendidikan Budaya
a. Sikap sportivitas
b. Sikap Kesatria
4. Pengembangan Keterampilan Psikososial
a. Komunikasi
b. Empati
B. Kendala-kendala dalam Kegiatan olahraga tradisional menyipet dan balogo
di masyarakat Kota Palangka Raya.
1. Faktor Internal
2. Faktor Eksternal.
61
3.4.
Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Masyarakat Kota Palangka Raya Provinsi
Kalimantan Tengah, dengan alasan :
3.4.1. Memiliki penduduk yang beragam baik itu suku, asal usul, agama dan budaya,
namun hidup secara harmonis, masing-masing dapat melaksanakan hak dan
kewajiban sosial budaya (tanpa harus terganggu).
3.4.2. Ancaman pengaruh teknologi, budaya dan globalisasi lebih besar, jika
dibandingkan dengan pedesaan, yang secara faktual masih terpelihara dan
eksis olahraga tradisional menyipet dan balogo tersebut.
3.4.3. Kehidupan kota lebih berkarakter individualistis, dan materialistis, sehingga
penghargaan yerhadap penggunaan waktu untuk mengejar dan mengumpulkan
materi lebih dihargai.
3.5.
Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data untuk menjawab
permasalahan penelitian ini adalah menggunakan instrumen pendekatan kualitatif
sebagai berikut:
a. Instrumen utama adalah peneliti sendiri dengan menggunakan berfikir analisis
mampu membuat/menarik kesimpulan/verifikasi terhadap fenomena yang diteliti;
b. Instrumen bantu adalah teridiri dari sarana-sarana atau alat-alat yang dapat
membantu si peneliti (instrumen utama) dalam menarik kesimpulan atau membuat
verifikasi terhadap fenomena yang diteliti.
3.6. Teknik Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi
sebagaimana pendapat Bogdarn dan Taylor (dalam Baharuddin, 2005;79) maka pengumpulan
data akan dilakukan dengan pengamatan (observasi), wawancara mendalam, dan melakukan
tilikan dokumen yang relevan.
Dalam hal ini peneliti akan terjun langsung ke lapangan untuk mengamati, melakukan
wawancara mendalam, dan melakukan tilik dokumen untuk mengumpulkan data-data yang
diperlukan. Secara operasional, pengumpulan data dalam penelitian ini akan dilakukan
sebagai berikut :
3.6.1. Observasi
Observasi atau pengamatan dapat diklasifikasikan atas pengamatan melalui cara
berperan serta dan yang tidak berperan serta. Pada pengamatan tanpa peran serta, pengamat
hanya melakukan satu fungsi, yaitu mengadakan pengamatan. Pengamatan berperan serta
melakukan dua peranan sekaligus, yaitu sebagai pengamat dan sekaligus menjadi anggota
resmi dari kelompok yang diamati (Moleong, 1991;126-127). Dalam penelitian ini
pengamatan dilakukan pada setiap ada kegiatan yang menyajikan tentang olahraga tradisional
khususnya Menyipet dan Balogo di Kota Palangka Raya Kalimantan Tengah.
3.6.2. Wawancara
Sebagaimana ditegaskan Lincoln dan Guba (Moleong, 1991,135) maksud
mengadakan wawancara antara lain: mengkonstruksi mengenai orang, kejadian, kegiatan,
organisasi, perasaan, motivasi, tuntutan, kepedulian dan lain-lain kebulatan-kebulatan;
merekonstruksi kebulatan-kebulatan demikian sebagai yang dialami masa lalu,
memproyeksikan kebulatan-kebulatan sebagai yang telah diharapkan untuk dialami pada
masa yang akan datang; memverifikasi, mengubah, dan memperluas informasi yang
diperoleh dari orang lain, baik manusia maupun bukan manusia (triangulasi); dan
62
memverifikasi, mengubah dan memperluas konstruksi yang dikembangkan oleh peneliti
sebagai pengecekan anggota. Dengan mengacu kepada fokus penelitian, wawancara akan
dilakukan terhadap informan kunci yang terdiri dari pengambil keputusan dan kebijakan
kaitannya dengan budaya dan olahraga tradisional (Disbudpar), guru pendidikan jasmani dan
Olahraga, tokoh masyarakat.
3.6.3.
Dokumentasi
Moleong (1991;161) menjelaskan bahwa dokumen digunakan dalam penelitian
karena dalam banyak hal dokumen sebagai sumber data dapat dimanfaatkan untuk menguji,
menafsirkan, bahkan untuk meramalkan. Dalam penelitian ini dokumen yang akan ditilik
mencakup dokumen-dokumen kebijakan yang terkait dengan pelaksanaan kebijakan
kaitannya dengan olahraga tradisional.
Langkah-langkah pengumpulan data tersebut di atas bukan merupakan urutan yang
kaku tetapi teknik-teknik itu secara operasional bersifat fleksibel sesuai situasi, kondisi, dan
tuntutan di lapangan. Dalam hal ini tetap harus terjaga konsistensi dan kecermatan
penggunaan teknik-teknik tersebut sehingga informasi yang diperoleh terjaga kualitasnya dan
memenuhi standar kredibilitas, standar transferabilitas, standar dependabilitas dan standar
konfirmabilitas yang dipersyaratkan dalam penelitian kualitatif.
3.7.
Sumber Informasi
Menurut Lufland dan Lofland (Moleong, 1993; 112) sumber data utama dalam
penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan selebihnya adalah data tambahan seperti
dokumen dan lain-lain. Sedangkan Arikunto (1997;107) menjelaskan bahwa untuk
mempermudah identifikasi sumber data penelitian dapat disingkat 3P, yaitu Person (sumber
data berupa orang), Place (sumber data tempat), dan Paper (sumber data berupa simbol).
3.8. Teknik Analisis Data
Menurut Patton yang dikutip Moleong, (2002), analisis data adalah proses mengatur
urutan data, mengorganisasikannya ke dalam suatu pola, kategori, dan satu uraian dasar.
Analisis data pertama-tama bermaksud mengorganisasikan data. Semua data yang terkumpul
yang terdiri dari catatan lapangan dan komentar peneliti, gambar foto, dokumen berupa
laporan, biografi, artikel, dan sebagainya diatur, diurutkan, dikelompokkan, diberi kode, dan
kemudian dikategorisasikan. Pengorganisasian dan pengelolaan data tersebut minimal dapat
menemukan tema dan proposisi sebagai teori substantif.
Mengingat pendekatan penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, maka antara
kegiatan pengumpulan data dan analisis data tidak mungkin dipisahkan satu sama lain,
berlangsung simultan atau serempak dan terus menerus (Noeng Muhajir, 1990), sebelum,
selama dan sesudah pengumpulan data.
Grounded Theory. yaitu suatu teori yang diperoleh melalui studi fenomena yang
mewakilinya. Karena itu, teori ini lalu diketemukan, dikembangkan, dan juga diuji secara
professional melalui pengumpulan data yang sistematis, di samping itu juga dianalisis data
tersebut yang berkaitan dengan fenomena yang diteliti (Anselm Strauss, Juliet Corbin yang
disadur oleh Djunaidi Ghoni; 1997:17), melalui prosedur coding, yang terdiri dari tiga
tahapan : open coding; axial coding; dan selective coding.
63
Kerangka Analisis Penelitian
olahraga tradisonal Menyipet dan Balogo di
Masyarakat Kota Palangka Raya
Fokus
Teori Utama
- Teori Tindakan
Sosial
Teori Pendukung :
- Teori Budaya
- Teori Interaksionis
Simbolik
- Teori Fenomenologi
A.1. Kegiatan Olahraga Tradisional
Menyipet dan Balogo di
Masyarakat Kota Palangka Raya :
- festival
- Invitasi
- Suplemen Kurikulum
- Pengembangan
2. Pengembangan Kemamuan Motorik :
- Kemampuan Tehnik
- Kemampuan Strategi
- Kemampuan Taktik
3. Pendidikan Budaya:
- Sikap Sportivitas
- Sikap Kesatria
4. Pengembangan Keterampilan
Psikososial:
- Komunikasi
- Empati
B. Kendala – kendala dalam Kegiatan
Olahraga Tradisional Meyipet dan
Balogo di Masyarakat Kota Palangka
Raya :
- Internal
Analisis
Grounded
- Eksternal.
Temuan-temuan
PROPOSISI
3.9. Keabsahan Data Penelitian
64
Untuk memperoleh keabsahan hasil penelitian, penulis menggunakan langkahlangkah sebagaimana yang dikemukakan oleh Lincoln dan Guba. Menurut Lincoln dan Guba
(1985), ada empat kriteria utama validitas guna menjamin keabsahan hasil penelitian
kualitatif, yaitu: standar kredibilitas, standar transferabilitas, standar dependabilitas
dan standar konfirmabilitas (Faisal dalam Baharuddin, 1990: 31-33) :
a. Standar kredibilitas adalah terpenuhinya persyaratan validitas internal, yang ditempuh
dengan mengamati, mencermati, mengenali secara langsung, serta memahami dengan
baik dan mendalam bagaimana interaksi sosial dalam kegiatan olahraga tradisional di
lokasi penelitian dalam jangka waktu yang relatif lama. Untuk mengecek kebenaran
hasil penelitian dilakukan triangulasi data, (sumber, teori dan metode), diskusi yang
cukup panjang dengan berbagai kalangan (peer debriefing) dalam rangka negative case
analysis, member checking;
b. Standar transferabilitas adalah terpenuhinya validitas eksternal, yang dilakukan
dengan mencari sebanyak mungkin gambaran tentang konteks yang melingkupi obyek
penelitian;
c. Standar dependabilitas adalah terpenuhinya persyaratan reliabilitas, yang dilakukan
dengan mencermati padu tidaknya suatu konsep, kategori, atau. penarikan kesimpulan
dengan data yang tersedia termasuk kenyataan yang ada di lapangan itu sendiri;
d. Standar konfirmabilitas, yaitu terpenuhinya persyaratan obyektivitas, yang dilakukan
dengan mencermati padu tidaknya hasil penelitian secara keseluruhan dengan data dan
kenyataan lapangan.
PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
5.1. Festival dan Upaya Pelestarian
Festival yang berkaitan dengan budaya di Palangka Raya dikenal dengan Festival
Budaya Isen Mulang (FBIM). Festival ini dilaksanakan setahun sekali bertepatan dengan hari
ulang tahun provinsi Kalimantan Tengah yaitu pada setiap tanggal 19-24 bulan Mei. Adapun
yang difestivalkan adalah aneka ragam kesenian dan budaya masyarakat Kalimantan Tengah,
maupun masyarakat pendatang namun bermukim atau penduduk kota Palangka Raya, seperti
suku Jawa (Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat). Adapun acara di festival ini dimulai dari
acara pembukaan yaitu diisi acara pawai yang diikuti ribuan orang dari berbagai kabupaten
kota di provinsi Kalimantan Tengah, Lomba membuat makanan tradisional, lomba tari,
permainan tradisional dan juga pemilihan putra/putri pariwisata.
Memperhatikan fenomena mengenai budaya tradional yang tercermin melalaui
olahraga tradisionalnya menyipet dan balogo yang ada saat ini di kota Palangka Raya,
sebagai suatu bentuk penghargaan masyarakat kota Palangka Raya terhadap kebudayaannya
yang sarat dengan nilai-nilai luhur, norma-norma dan berbagai aturan yang mengendalikan
segala tindakan manusia terkandung didalamnya. Norma-norma dan aturan-aturan yang
mengendalikan tindakan manusia dan yang memantapkan stuktur sosial dinilai sebagai hasil
interpretasi si aktor terhadap kejadian-kejadian yang dialaminya. Berikut diagram alir
mengenai Festival Budaya Isen Mulang dilaksanakan.
Globalisasi, Kemajuan
Teknologi, Pendidikan
Budaya lokal yang
hampir punah (Menyipet
dan Balogo)
Upaya Pelestarian
dan Pengembangan
65
Sarat dengan ajaran
dan nilai-nilai luhur
Pelaksanaan Festival
Budaya Isen Mulang
Diagram 5.1. Alasan Penyelenggaraan Festival Budaya Isen Mulang
Temuan Penelitian
1. Festival sebagai ajang atau media untuk pelestarian budaya masyarakat kota Palangka
Raya.
2. Festival merupakan cerminan budaya perilaku masyarakat Dayak tempo dulu dan patut
untuk dipelajari sebagai budaya leluhur.
Proposisi :
Melalui festival, dapat dilestarikan, dipelajari dan sebagai cerminan perilaku masyarakat
masa lalu dan budaya masa lalu.
5.1.1. Menyipet
Pada kehidupan yang lalu, menyipet bukanlah sebagai salah satu jenis olahraga
tradisional, namun menyipet sebagai salah satu jenis pekerjaan yang bertujuan untuk
menambah variasi jenis lauk atau sekaligus untuk membasmi hama tanaman (berburu babi).
Menyipet merupakan salah satu senjata bagi orang Dayak, disamping untuk melindungi diri
dari serangan musuh juga sebagai senjata untuk berburu. Oleh karena itu setiap anak laki-laki
maupun perempuan sangat tertarik dan diajari oleh orang tuanya dan khususnya bagi anak
laki-laki selalu diajak oleh orang tunya untuk berburu dengan alat sipet. Bakan senjata sipet
ini sangat ditakuti oleh orang-orang Belanda pada era penjajahan Belanda dulu, karena
penggunaan sipet tidak menimbulkan suara, tetapi jika terkena sudah bisa dipastikan akan
mati. Hal ini dapat terjadi karena diujung sipet telah dibubuhi racun yang mematikan.
Dalam kaitanya dengan upaya pelestarian menyipet, yang salah satu upayanya adalah
melalui festival menyipet pada akhirnya berpulang kepada individu dari peserta itu sendiri.
Karena menyipet dimainkan oleh perorangan, satu-satu, sehingga sangat tergantung pada
kemampuan individu. Mereka sudah memiliki peralatan untuk menyipet, mereka mau
mematuhi norma-norma atau tidak, mereka bermain jujur sportif atau tidak. Hal iinilah yang
diikupas oleh Parsons bahwa (a) individu benar-benar memiliki kebebasan untuk memilih
alat dan tujuan yang akan dicapai dan lebih mementingkan keuntungan (paham kaum
ulititarism); (b) pilihan-pilihan individu dalam bertindak sangat dipengaruhi oleh kondisi
lingkungannya (paham positive anti intelektual); (c) pilihan-pilihan individu dalam bertindak
diatur dan dipengaruhi oleh norma dan nilai-nilai bersama yang telah disepakati bersama
(paham kaum idealisme). Posisi pemikiran Parsons tentang tindakan sosial adalah
memadukan ketiga paham tersebut (Hamilton, 1990).
1. Hutan yang semakin
menipis
2. Kemajuan Teknologi
Dulu : Menyipet sebagai
Mata Pencaharian
(Berburu) dan membela
diri
1. Pendidikan
2. Tidak dapat menjadi Jaminan
masa depan
3. Tidak ada kreativitas,
membosankan, monoton.
Menyipet sebagai
Olahraga Tradisional
yang sarat dengan nilai66 nilai luhur
Perkembangan Olahraga
Ttradisional Menyipet
tidak maksimal (ada tetapi
tidak eksis)
Diagram 5.2. Diagram Alir Olahraga Tradisional Menyipet
Temuan Penelitian.
1. Menyipet dulu untuk berburu atau membela diri, sipet sebagai alat untuk bekerja, namun
sekarang sipet sebagai alat untuk berolahraga.
2. Olahraga tradisional menyipet dalam kondisi mati suri, sebab tidak ada lagi aktivitasnya,
baik itu di sekolah, di kampung-kampung atau di kompleks perumahan, maupun di
masyarakat, kecuali menjelang ada festival saja.
3. Masyarakat kota Palangka Raya kurang peduli pada olahrga tradisional menyipet dan
Balogo.
4. Faktor yang membuat generasi muda atau remaja tidak tertarik dengan menyipet adalah
tidak ada unsur kreativitas, memiliki tingkat kesulitan yang tinggi, serta perlu latihan
yang terus menerus, konsentrasi tinggi, dan membosankan.
5. Atlit olahraga tradisional menyipet rata-rata sudah berumur 30 tahun lebih, dan
kaderisasi kurang berjalan dengan baik.
Proposisi minor
Kemajuan teknologi, dan pendidikan menjadi faktor penyebab terjadinya pergeseran dan
perubahan perilaku masyarakat terhadap penggunaan alat berburu (sipet)
5.2.1. Balogo
Sebagaimana olahraga tradisional menyipet, balogo merupakan jenis permainan
anak-anak tempo dulu sebagai pengisi waktu sehabis panen padi atau pada acara-acara adat,
namun sekarang permainan seperti itu anak-anak sudah tidak mau lagi melakukan, mereka
lebih asyik main permainan elektronik (game di computer). Sebagai permainan team, maka
unsur kerja sama, kerja keras, taat sama wasit, sangsi atau hukuman dari wasit jika
melanggar, semangat seportivitas, dari para pemain dan wasit serta official merupakan norma
yang harus dipatuhi.
Permainan balogo merupakan suatu permainan yang sangat menghormati dan
mematuhi apa yang telah disepakati bersama. Jadi sebelum permainan balogo dimulai, team
dari masing-masing regu, bersama dengan wasit, official berunding mengenai berbagai aturan
yang harus dipatuhi bersama. Jadi pada permainan balogo sangat menjunjung tinggi azaz
musyawarah mufakat. Pada permainan balogo sarat dengan berbagai ajaran kebaikan antara
lain ajjaran kerjasama, ajran kejujuran, ajaran tentang menyelesaikan masalah dengan
musyawarah mufakat dan ajaran kejujuran. Karena dalam kehidupan bersama dalam
masyarakat tidak menutup kemungkinan nilai-nilai budaya tersebut tadi sangat diperlukan,
agar kehidupan bermasyarakat menjadi harmonis. Atas alasan itulah maka pemerintah sangat
mendukung permainan ini untuk dilestarikan. Hal itulah yang menjadi salah satu dari tujuan
festival balogo dilaksanakan.
Sebagaimana pada menyipet, festival balogopun juga mempunyai tujuan yang
ingin dicapai. Disamping bertujuan agar balogo menjadi tetap eksis (para remaja juga
67
menyenagi hal ini), juga pada permainan ini secara tidak langsung terjadi proses penanaman
nilai-nilai budaya sebagaimana tersebut diatas pada para pemainnya, sehingga para pemain
balogo tertanam jiwa kejujuran, sikap tidak egois, sikap kerjasama, sikap kerja keras dan
musyawarah mufakat dalam menyelesaikan persoalan. Adapun konsep tentang tujuan dalam
suatu kegiatan tersebut dijelaskan dalam teori tindakan Parsons yang menyatakan bahwa
segala sesuatu tentu memiliki tujuan, dan diperlukan media, situasi dan kondisi untuk
mencapai tujuan tersebut. Oleh karena itu keberadaan atau dukungan sarana dan prasarana
serta dana sangat diperlukan dalam mencapai tujuan dari kegiatan tersebut.
Simbol-simbol tersebut sebagai media interaksi antar manusia sehingga
keadaan ini dipelopori dengan menguatnya perspektif interaksionisme simbolik. Tokoh
seperti George H. Mead, Herbert Blumer, Erving Goffman dan Howard Becker. Dapat
dijelaskan bahwa hubungan sosial bukanlah barang yang sekali jadi, melainkan dibentuk
dengan interpretasi para aktor yang mengambil makna di dalamnya. Interaksi bermakna aktor
saling mengambil catatan, saling mengkomunikasikan dan saling menginterpretasikan
sepanjang terus berjalan. Oleh karena itu, hampir semua bentuk interaksi sosial adalah
simbolik. Proses interaksi simbolik berarti bahwa dalam membuat keputusan dan berkaitan
langsung dengan aliran tindakan yang terus menerus.
Temuan :
1. Tata aturan permainan dalam balogo tergantung pada kesepakatan antara pemain, wasit,
official dan manager.
2. Nilai budaya yang terkandung dalam permainan balogo adalah kesederhanaan,
keterampilan, kerja keras, kerja sama, semangat pantang mundur dan sportivitas.
Proposisi Minor :
Permainan balogo sangat menghargai azaz musyawarah dan sarat dengan ajaran-ajaran
kearifan lokal.
5.2.2. Invitasi Menyipet dan Balogo
Invitasi untuk olahraga tradisional menyipet dan balogo di kota Palangka Raya
diadakan setiap tahun sekali menjelang hari ulang tahun kota Palangka Raya. Dalam
kesempatan ini pemerintaha kota Palangka Raya sekaligus juga mencari bibit unggul yang
akan mewakili pemerintahan kota dalam festival budaya yang diselenggarakan di
pemerintahan provinsi Kalimantan Tengah pada bulan Mei setiap tahunnya juga dalam
rangkaian ulang tahun atau hari jadi provinsi Kalimntan Tegah.
Oleh karena itu semua club menyipet yang ada di kota Palangka Raya sudah
mempersiapkan diri untuk melakukan latihan dalam rangka meningkatkan ketrampilan
mereka baik menyipet maupun balogo. Invitasi olahraga tradisional menyipet dan balogo
dilakukan dalam rangka upaya pemerintah untuk melestarikan budaya yang dimiliki
khususnya oleh masyarakat Dayak di Palangka Raya. Upaya pelestarian dalam bentuk
melakukan invitasi yang nantinya bermuara pada festival budaya sebagau usaha kerja keras
pemerintah untuk pelestarian budaya, walaupun budaya tersebut kurang disenangi oleh
generasi muda. Para generasi muda bukannya tidak bisa melakukan tetapi sekedar bisa dan
mengetahui bahwa menyipet dan balogo itu adalah salah satu bentuk permainan olahraga
tradisional nenek moyang mereka. Hal ini sebagai upaya pembentukan karakter (caracter
building) masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah pada umumnya dan khususnya di kota
Palangka Raya.
Disampng itu invitasi olahraga tradisional menyipet dan balogo sebagai bentuk
estafet penanaman nilai-nilai atau pembangunan karakter masyarakat Dayak di kota Palangka
Raya. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh George H. Mead, Erving Goffman dan George
Homans dalam kajian interaksi onisme simbolik. Jadi bukan hanya sekedar olahraga
tradisional menyipet dan balogo yang dilestarikan akan tetapi didalam kedua olahraga
tersebut mengandung makna-makna atau ajaran nilai-nilai budaya yang luhur dari leluhur
68
mereka yang perlu untuk diturunkan kepada mereka. Jadi melalui upaya pelestarian budaya
atau olahraga tradisional berarti juga melestarikan nilai-nilailuhur dari leluhur mereka.
Kandungan nilai-nilai luhur dalam kedua olahraga tradisional tersebut
merangsang, mendorong dan memotivasi mereka untuk tetap terus berlatih berinvitasi
walaupun apapun yang menjadi tantanganya. Sebab club-club menyipet dan club balogo di
kota Palangka Raya keberadaannya jauh dari baik, sayangnya semangat dan motivasi
sebagaimana tersebut di atas hanya dimiliki oleh pemain atau atlit menyipet maupun balogo
yang minimal sudah berusia di atas 30 tahun.
Kendala yang lain lagi adalah pemerintah kurang memperhatikan dan membantu
keberadaan mereka. Mereka tidak pernah memperoleh bantuan dana, lapangan berlatih juga
tidak ada. Dana operasional mereka peroleh dari iuran para anggota. Mereka bergerak untuk
berlatih menjelang diadakanya invitasi. Itupun belum terjadwal dan terkoordinir dengan baik.
Jika tidak menghadapi festival juga tidak ada latihan dan artinya tidak ada lagi kedengaran
semangat menyipet dan balogo. Para remaja atau siswa hanya berlatih untuk mengisi waktu
senggang di sekolah, itupun tidak disertai dengan semangat yang tinggi, kaena yang penting
bisa dan mengerti tata ara permainan.
Sebagai suatu kegiatan olahraga yang melibatkan orang banyak, sudah tentu
koordinasi memiliki peran yang sangat penting dan menentukan kebehasilan kegiatan
tersebut. Mengingat kegiatan invitasi tersebut suatu ajang seleksi dari club-club menyipet dan
balogo yang lebih dari satu, maka Lemahnya koordinasi antar instansi dapat berdampak
buruk pada kualitas atlit olahraga. Lemahnya koordinasi antar instansi menyebabkan
ketidakpastian suatu kegiatan, dan iin cukup berbahaya.
Terjadi dua sisi semangat yang berbeda tujuan atau sasaran yang ingin cicapai, di
satu sisi memiliki semangat juang yang tinggi, dorongan untuk belajar yang sangat tinggi
sebagimana leluhur merekaa, namun di ssi yang lain adalah semangat menyerah, yang
didasari oleeh melemahnya semangat mereka. Sebab para siswa olahraga tradisional
menyipet dan balogo tidak menarik mereka, belajarnya sulit dan memerlukan daya nalar yang
tinggi. Invitasi merupakan ajang untuk mengukur kemampuan yang dimiliki oleh setiap
pemain baik itu menyipet maupun balogo. Invitasi menyipet dan balogo yang
diselenggarakan di kota Palangka Raya merupakan kegiatan rutin setiap tahun. Sebagaimana
kegiatan festival, kegiatan invitasi jelas memiliki tujuan, yaitu pertama untuk memilih caloncalon pemain yang mewakili kota Palangka Raya dalam permaian menyipet dan balogo
dalam festival budaya nantinya, juga sebagai jang mencari bibit-bibit unggul atlit menyipet.
Sayangnya kegiatan ini tampak monoton, kurang sosialisasi, sehingga kurang diketahui oleh
masyarakat, tidak memiliki fasilitas atau lapangan pertandingan yang memadai, sehingga
invitasi berjalan tidak maksimal.
Kondisi ini sebagaimana dikupas dengan jelas dalam teori tindakan Parsons,
bahwa untuk mencapai tujuan dari setiap tindakan harus didukung oleh sarana atau fasilitas
yang memadai (termasuk dukungan dana), dan situasi yang mendukung. Sementara itu
kurangnya dukungan sarana atu fasilitas seperti lapangan yang memadai, sebagai simbol
bahwa kegiatan invitasi tidak berjalan maksimal dan terdapat kurang kesiapan yang memadai.
Menyipet
Terbatasnya
Dukungan/Fasilitas
Invitasi
69
Balogo
1. Ajang Seleksi Atlit
2. Evaluasi atlit
3. Mencari bibit-bobit
atlit
Festival
Diagram 5.3. Invitasi Menyipet dan balogo
Temuan Penelitian
1. Terdapat 5 club menyipet di kota Palangka Raya, dan setiap kecamatan memiliki 1
club menyipet, demikian juga dengan balogo.
2. Setiap club menyipet maupun balogo, tidak memiliki lapangan dan sarana latihan
yang memadai, mereka berlatih di samping rumah
3. Terbatasnya perhatian dan dukungan dana, fasilitas dari Pemerintah terhadap clubclub yang ada.
4. Invitasi menyipet dan balogo diadakan menjelang hari ulang tahun kota Palangka
Raya, selain itu tidak pernah diadakan invitasi.
5. Invitasi menyipet maupun balogo bertujuan untuk memilih pemain dalam rangka
menghadapi festival budaya.
6. Invitasi menyipet, aturan main, wasit belum terkoordinir dengan baik, belum
tersosialisasi secara merata.
7. Generasi muda tidak menyenangi balogo, katanya itu sudah tidak zamannya lagi.
8. Para pemain menyipet maupun balogo rata-rata sudah berusia 30 tahun lebih.
Proposisi Minor
Minimnya perhatian, dukungan dana, sarana prasarana olahraga, lapangan, sosialisasi, dan
invitasi mendorong olahraga menyipet dan balogo mati suri dan kurang disenangi generasi
muda.
5.2.3. Kurikulum Menyipet dan Balogo
Disdikpora mempunyai tanggung jawab sesuai dengan amanat Undang undang
Nomor 3 Tahun 2005, tentang Keolahragaan Nasional, bahwa olahraga tradisonal yang ada
harus tetap dilestarikan. Hal ini dijabarkan lebih lanjut sebagai awal dan pengembangan
pendidikan kearifan lokal dalam rangka pembentukan karakter bangsa. Dalam rangka
mencapai itu semua, pemerintah kota Palangka Raya khususnya Dinas Pendidikan
memasukan olahraga tradisional menyipet dan balogo ke dalam kurikulum SMA dan SMK
sebagai muatan lokal. Hal ini sebagai bentuk atau upaya pemerintah untuk melestarikan
menyipet dan balogo sebagai olahraga tradisional yang patut untuk dipelajari dan dikuasai
oleh siswa yang kemudian dikembangkan.
Secara umum tujuan program pendidikan muatan lokal adalah mempersiapkan
murid agar mereka memiliki wawasan yang mantap tentang lingkungannya serta sikap dan
perilaku bersedia melestarikan dan mengembangkan sumber daya alam, kualitas sosial, dan
kebudayaan yang mendukung pembangunan nasional maupun pembangunan setempat.
Tujuan penerapan muatan lokal pada dasarnya adalah sebagai (1) bahan pengajaran lebih
mudah diserap oleh murid., (2) sumber belajar di daerah dapat lebih dimanfaatkan untuk
kepentingan pendidikan. (3) murid dapat menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang
dipelajarinya untuk memecahkan masalah yang ditemukan di sekitarnya., (4) murid lebih
70
mengenal kondisi alam, lingkungan sosial dan lingkungan budaya yang terdapat di
daerahnya.
Penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar maka besar kemungkinan murid
dapat mengamati, melakukan percobaan atau kegiatan belajar sendiri. Belajar mencari,
mengolah, menemukan informasi sendiri dan menggunakan informasi untuk memecahkan
masalah yang abadi lingkungannya merupakan pola dasar dari belajar. Belajar tentang
lingkungan dan dalam lingkungan mempunyai daya tarik tersendiri bagi seorang anak.
Makin sering murid mendengar dan melihat maka makin besar dorongan untuk
lebih melihat dan mendengar. Lingkungan secara keseluruhan mempunyai pengaruh terhadap
cara belajar siswa. Semakiin sering anak melihat menyipet dan balogo dipertandingkan maka
hal tersebut semakin menjadi dorongan pada anak untuk lebih tertarik dan mempelajari hal
tersebut.
Namun fenomena mengenai menyipet dan balogo tidak demikian, sebab hampir
tidak pernah dilihat ada pertandingan atau invitasi menyipet dan balogo di kota Palangka
Raya, kecuali jika sudah dekat dengan hari ulang tahun kota Palangka Raya atau sudah dekat
dengan bulan Mei atau Festival Budaya Isen Mulang. Anggapan pemerintah dalam hal ini
Dinas Pendidikan bahwa dengan memasukkannya olahraga tradisional menyipet dan balogo
ke dalam kurikulum muuatan lokal tugasnya sudah selesai dan sudah cukup sebagai upaya
pelestarian buudaya lokal atau olahraga tradisional, itu merupakan anggapan yang salah.
Seharusnya dibarengi dengan kebijakan pertandingan antar pelajar mengenai menyipet dan
balogo, bantuan diklat bagi guru olahraganya, sehingga nantinya menjadi bersemangat dan
memiliki kemampuan yang profesional dalam mengajar menyipet dan balogo.
Temuan Penelitian
1. Pemerintah kota Palangka Raya melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan telah
memasukan olahraga tradisional menyipet dan balogo ke dalam kurikulum muatan lokal.
2. Pemasukan olahraga tradisional menyipet dan balogo kedalam kurikulum muatan lokal
tidak disertai dengan kebijakan memberikan DIKLAT mengenai menyipet dan balogo,
dukungan sarana prasarana menyipet dan balogo secara memadai, dan pertandingan atau
invitasi antar pelajar tentang hal tersebut.
3. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kota Palangka Raya belum pernah mengadakan
pekan olahraga antar pelajar tentang olahraga tradisional menyipet dan balogo.
Proposisi Minor
Memasukan olahraga tradisional menyipet dan balogo ke dalam kurikulum muatan lokal
sebagai bentuk upaya pelestarian budaya lokal belum cukup tanpa disertai dengan pemberian
DIKLAT,
dukungan sarana prasarana menyipet dan balogo secara memadai, dan
pertandingan atau invitasi antar pelajar.
5.2.4. Pengembangan Menyipet dan Balogo
Menyadari bahwa olahraga trdisional menyipet dan balogo memiliki kandungan
nilai-nilai budaya yang luhur dan memiliki keteladanan sosial yang tinggi dari ajaran
olahraga tersebut, mka pemerintah melalui invitasi, memasukannya ke dalam kurikulum
muatan lokal dan festival berupaya keras untuk melestarikannya dan mengembangkan
olahraraga tradisional tersebut.
Memperhatikan bahwa olahraga tradisional menyipet dan balogo tersebut sudah
dimasukkan ke dalam kurikulum muatan lokal, sehingga sudah seharusnya hal tersebut
menjadi sesuatu yang rutin dipelajari oleh siswa, namun tidak demikian faktanya. Hal ini
disebabkan peralatan olahraga menyipet dan balogo kurang tersedia atau dengan kata lain
kebijakan memasukkan menyipet dan balogo ke dalam kurikulum muatan lokal tidak disertai
dengan kebijakan lain dari pemerintah yang mendukung pelaksanaan kurikulum muatan lokal
tersebut. Akibatnya pelaksanaan olahraga tradisional menyipet dan balogo di sekolah tidak
71
berjalan sebagaimana mestinya. Artinya upaya pelestarian dan pengembangan melalui
sekolah kurang berhasil.
Invitasi menyipet dan balogo dilakukan selalu berkaitan dengan hari ulang tahun
suatu instansi, belum disusun secara organisatoris dan sistematis sebagaimana layaknya
organisasi olahraga. Namun invitasi dan festival yang dilakukan sebagai upaya
pengembangan dari olahraga tradisional tersebut dengan harapan nantinya bisa dilaksanakan
suatu even internasional. Sebagaimana yang terjadi di Festival Budaya Isen Mulang yang
memang menamplkan berbagai acara seni, ketrampilan dan berbagai budaya masa lalu, dan
juaranya nantinya akan diikutkan ke dalam Internasional Borneo Sipet Tournament (BOST)
yang diselenggarakan di Pontianak Provinsi Kalimantan Barat yang juga akan dipromosikan
di tingkat ASEAN Tourism Forum (ATF).
Secara konsep langkah-langkah pengembangan olahraga tradisonal menyipet dan
balogo sudah cukup baik, mulai dari memasukan olahraga tradisional menyipet dan balogo
kedalam kurikulum, kemudian melakukan invitasi, dari invitasi berlanjut ke festival, juara di
festival akan mewakili provinsi dan bertanding di tingkat antar provinsi, yaitu Internasional
Borneo Sipet Tournament (BOST), namun demikian pesertanya sudah termasuk Malaysia,
Brunei dan Philipina. Berangkat dari BOST kemudian mengikuti di kejuaraan tingkat ASEAN
Tourism Forum (ATF).
Temuan Penelitian :
1.
Olahraga Tradisional Menyipet dn Balogo sudah masuk kedalam rangkaian rencana
pengembangan yang dimulai dari sekolah, invitasi, festival budaya, International Borneo
Sipet Ttournament (BOST), dan terakhir ATF.
2. Secara konseptual rencana pelestarian menyipet dan balogo di sekolah sudah berjalan
cukup baik, namun dalam pelaksanaan masih berjalan kurang baik, yang disebabkan oleh
kurangnya perhatian dan koordinasi antar instnsi.
Proposisi Minor
Perhatian dan koordinasi merupakan kunci sukses dalam pelaksanaan kegiatan budaya atau
olahraga tradisional, mulai dari tingkat lokal, regional, nasional maupun internasional, dan
hal tersebut sebagai upaya pengembangan.
5.3. Pengembangan Kemampuan Motorik
Olahraga sebagai bentuk gerak fisik dari pamnusia yang dikenal dengan aktivitas
jasmani yang didesain uuntuk meninngkatkan kebugaran jasmani, mengembangkan
ketrampilan motorik, pengetahuan dan perilaku hidup sehat dan aktif, sikap sportif dan
kecerdasan emosi. Salah satu tujuan berolahraga adalah mengembangkan aktivitas jasmani
dimaksud adalah pengembangan kemampuan motorik (motoric ability).
Adapun kemampuan motorik itu sendiri adalah kemampuan gerak dasar dari
seseorang yang berkaitan dengan pelaksanaan dan peragaan suatu ketrampilan yang relatif
melekat. Jadi jika hal tersebut dilakukan pada olahraga tradisional menyipet dan balogo,
maka seorang atlit menyipet dan balogo harus memiliki dan mengembangkan kemampuan
gerak dasar dari menyipet dan balogo tersebut. Kemamppuan terhadap keberhasilan suatu
permainan olahraga. Oleh karena itu setiap atlit harus memiliki dan menguasai kemampuan
teknik dari jenis olahraga yang dimainkaannya.
5.3.1. Kemampuan Teknik
Teknik dasar adalah faktor utama selain kondisi fisik, taktik, dan mental seorang
pemain. Sipet adalah senjata jarak jauh yang mengandalkan kemampuan pengolahan napas si
pemakai senjata tersebut sebagai pemicu utamanya. Tentu saja ada teknik pengolahan
tersendiri yang harus dikuasai penyipet, yang berbeda dengan pengolahan napas untuk
kebutuhan lain. Bahwa napas adalah sumber daya energi yang bisa dimanfaatkan manusia
untuk kebutuhan-kebutuhan yang bahkan sebelumnya tidak pernah terbayangkan.
72
Tekhnik pernapasan akan berhubungan langsung dengan posisi tubuh penyipet.
Lazimnya, Sipet digunakan dengan posisi tubuh berdiri atau berjongkok. Kedua posisi ini
sangat memudahkan penyipet memampatkan napasnya dan meledakkannya atau meniup
dengan seketika melalui mulut, mendorong damek yang ada pada lubang sipet. Begitupun,
cara memegang sipet sangat berpengaruh akurasi tembakan. Cara yang benar memegang sipet
adalah kedua telapak tangan harus menghadap ke atas. Kedua telapak tangan itu sebaiknya
berdekatan atau bersentuhan. Tingkat konsentrasi yang tinggi pada sasaran tembak sangat
dibutuhkan. Menyipet, sebagaimana halnya sebuah keterampilan, adalah kemampuan yang
diraih oleh kebiasaan atau latihan. Semakin banyak berlatih, kemampuan menyipet tentu akan
semakin tinggi. Kemampuan teknik akan berkembang dengan sendirinya seirama dengan
kontinyuitas latihan, uji tanding guna untuk meningkatkan jam terbang dan menambah
pengalaman. Oleh karena itu kegiatan seperti invitasi olahraga itu penting.
Demikian juga dengan kemampuan teknik balogo yang harus dikuasai dan
dikembangkan adalah posisi kuda-kuda dan siap memukul champa. Posisi memegang
champa, melatih konsenttrasi agar logo pasang terkena saat dipukul oleh logo serang, atau
minimal mendekati logo pasang.
Kemampuan teknik yang dapat diperoleh dan dikembangkan jika berlatih terus
secara kontinyu antara lain :
a. Mengembangkan daya nalar, kreatif dan pengambil keputusan yang tepat.
b. Menganalisis kesiapan fisik, teknik dan mental
c. Mengendalikan emosi,
d. Mencegah cidera.
e. Mengantisipasi kekuatan dan kelemahan lawan.
Kemampuan motorik memang harus dikembangkan melalui latihan-latihan secara
kontinyu, sehingga kelenturan otot tetap bisa terjaga, tidak hanya pada saat mau bertanding
saja, walaupun dalam kondisi, dukungan dana, fasilitas yang terbatas. Dalam masalah
pengembangan kemampuan teknik, tidak bisa ditinggalkan peran dari pelatih. Pelatih sudah
tentu mengetahui tentang kualitas kemampuan teknik dari masing-masing pemainnya.
Pengembangan kemampuan motorik melalui latihan-latihan rutin itu berarti mengembangkan
hubungan atau interaksi dengan orang lain, minimal sesama pemain.
Latihan bersama, disamping meningkatkan kemampiuan motorik, kemampuan
teknik, namun juga dapat menciptakan peningkatan kerja sama team (keterpaduan) dalam
team atau kelompok. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh George Herbert Mead, Charon
menjelaskan hubungan sosial dengan orang lain bukan berarti sederhana, melainkan
hubungan sosial bersifat kompleks. Sebab pada saat pemain melakukan hubungan sosial
bukan hanya mengembangkan bahasa atau simbol-simbol yang dimaknai sama, tetapi, juga
mengambil peran (role taking) dari orang lain dengan tujuan untuk memahami dan
komunikasi.
Tentu dalam proses mengambil peran tentu tidak bisa lepas dari faktor emosional.
Dalam hal ini pemain tidak hanya mengerti pemain se team dalam suatu permainan, namun
juga berupaya untuk merasakan sebagaimana orang lain lakukan itu. Kemampuan untuk
mengambil peran dalam interaksi sosial secara bersama ini menjadikan hubungan sosial
sangat kompleks dan hampir tidak pernah dapat diramalkan secara sempurna.
1. Latihan
bersama
2. Pertandingan
persahabatan.
3. Invitasi
Keterbatasan dana,
Fasilitas, peralatan
Menyipet dan
balogo
73
Intruksi Pelatih
1. Peningkatan Kemampuan
Teknik.
2. Peningkatan kemampuan
kerjasama/kekompakan
Diagram 5.4. Peningkatan Kemampuan Teknik
Temuan Penelitian :
1. Para pemain sudah memiliki kemampuan teknik dalam olahraga tradisional menyipet
maupun balogo dan terus ditingkatkan melalui latihan.
2. Para pemain di club masing-masing sudah berlatih secara teratur dan kontinyu
ditengah kondisi dana dan sarana parasarana latihan yang seadanya.
3. Belum dimilikinya sanggar atau Gedung Olahraga dan Seni (GORSENI) yang khusus
untuk berlatih olahraga tradisional berdampak pada motivasi atau semangat berlatih
dan bertanding atlit, dan atlit berlatih pada bulan-bulan mendekati bulan Mei.
Proposisi Minor
Minimnya fasilitas atau sarana prasarana bukan hambatan untuk meningkatkan kemampuan
teknik, sepanjang didukung oleh semangat atau motivasi yang tinggi untuk berlatih,
bertanding dan menjadi juara.
5.3.2. Kemampuan Strategi
Kemampan strategi adalah suatu siasat atau akal yang dirancang sebelum
pertandingan berlangsung dan digunakan oleh pemain maupun pelatih untuk memenangkan
pertandingan yang dilaksanakan secara sportif dan sehat. Strategi mengacu pada gerakangerakan yang dibutuhkan dalam pertandingan. Kedudukan strategi dalam olahraga memiliki
makna sebagai pendukung aspek taktik olahraga. Maka antara taktik dan strategi memiliki
perbedaan, akan tetapi dalam pelaksanaannya keduanya saling berkaitan serta mendukung
untuk mencapai tujuan yang sama, yaitu memenangkan pertandingan.
Menjalankan strategi permainan tidak bisa lepas dari kondisi kebugaran dan
semangat pemain. Kondisi kebugaran pemain merupakan persyaratan mutlak yang harus
dijaga oleh pemain, karena menentukan kualiitas permainan dan juga dalam menjalankan
suatu strategi. Demikian pula denggan faktor psikologi yang terimplementasin dalam bentuk
motivasi, semangat bertanding, dan mental juara. Kondisi ini yang harus terus dimonitor dan
menjadi alasan pemilihan pemain.
Ciri-ciri suatu kemampuan strategi dalam permainan khususnya dalam olahraga
tradisional menyipet dan balogo antara lain :
a. Siasat yang disusun sebelum pertandingan dimulai.
b .Penyusunan siasat didasari kondisi, tempat serta sistem yang dipakai.
c. Mengutamakan pada hasil observasi kekuatan lawan.
d. Keberadaan pelatih lebih berperan daripada si atlit.
Maka dari itu seorang Pelatih harus memperhatikan ke 4 hal tersebut, dan
memerlukan kerjasama dengan ilmuwan berbagai disiplin ilmu, disamping tugas pokoknya
meningkatkan ketrampilan dalam segii tehnik, taktik, dan strategi pertandingan. Strategi
mengacu pada gerakan-gerakan yang dibutuhkan dalam pertandingan. Kedudukan strategi
dalam olahraga memiliki makna sebagai pendukung aspek taktik olahraga. Antara taktik dan
74
strategi memiliki perbedaan, akan tetapi dalam pelaksanaannya keduanya saling berkaitan
serta mendukung untukmencapai tujuan yang sama, yaitu memenangkan pertandingan.
Strategi dalam permainan balogo secara garis besar dapat dikelompokkan sebagai
strategi penyerangan. Strategi penyerangan diartikan sebagai suatu siasat yang dijalankan
oleh perorongan, kelompok,maupun tim terhadap lawan dengan tujuan memimpin dan
mematahkan pertahanan dalam rangka memenangkan pertandingan secara sportif. Strategi
penyerangan dapat dibedakan menjadi :
a. Strategi menghantam logo pasang 1 dan kena sampai logo 3.
b.Strategi meletakkan logo serang dekat dengan logo pasang, dan bisa menghantam semua
logo pasang.
c. Strategi bermain cepat.
Kebugaran, semangat
bermain, motivasi,
mental juara
Pelatih + Pakar Team
(Official)
Menyipet dan
Balogo
Kemampuan Strategi
Diagram 5.5 : Diagram Alir Kemampuan Strategi
Temuan Penelitian :
1. Club-club menyipet maupun balogo sudah mempersiapkan dengan matang melalui
latihan cukup, latih tanding cukup, istirahat cukup, persiapan peralatan sipet, damek yang
sesuai sudah cukup baik, konsentrasi yang kuat (pikiran fokus).
2. Dalam invitasi ataupun festival penyipet dari kota Palangka Raya menggunakan damek
yang superior, dan sering menjadi juara.
3. Strategi team menyipet di palangka Raya adalah berdiri tegak, posisi kuda-kuda atau bisa
saja membungkuk, memegang sipet dengan benar, dan kekuatan tiupan, serta
konsentrasi.
4. Strategi bermain team balogo Palangka Raya dengan permainan cepat, dan meletakkan
logo serang berdekatan dengan logo pasang.
Proposisi Minor
Konsentrasi tinggi, penggunaan peralatan yang terbaik, didukung dengan kemampuan teknik,
taktik dan kemampuan strategi yang tepat merupakan media untuk menjadi pemenang dalam
setiap permainan atau perlombaan.
5.3.3. KemampuanTaktik
Hakekat olahraga merupakan kegiatan fisik yang mengandung sifat permainan
dan berisi perjuangan melawan diri sendiri atau dengan orang lain atau konfrontasi dengan
unsur-unsur alam. Kegiatan olahraga meliputi gaya pertandingan, maka kegiatan itu harus
dilaksanakan dengan semangat atau jiwa sportif. Pada olahraga kelompok mendorong
manusia saling bertanding dalam suasana kegembiraan dan kejujuran. Taktik adalah suatu
siasat atau pola pikir tentang bagaimana menerapkan teknik-teknik yang telah dikuasai
75
didalam bermain untuk menyerang lawan secara sportif guna mencari kemenangan. Atau
dengan kata lain taktik adalah siasat yang dipakai untuk menembus pertahanan lawan secara
sportif sesuai dengan kemampuan yang telah dimiliki oleh pemain atau atlit.
Pada hakikatnya, penggunaan taktik dalam suatu permainan olahraga adalah suatu usaha
mengembangkan kemampuan berpikir, kreativitas, serta improvisasi untuk menentukan
altenatif terbaik memecahkan masalah yang di hadapi dalam suatu pertandingan secara
efektif, efesien, dan produktif dalam rangka memperoleh hasil yang maksimal yaitu sebuah
kemenangan dalam pertandingan.
Kemampuan taktik harus terus ditingkatkan, caranya adalah dengan latihan baik
secara individu maupun kelompok. Secara individu, kemampuan teknik harus ditingkatkan
dalam rangka menciptakan kerja sama team bisa harmonis. Kerja sama team sulit terbentuk
dan solit jika masing-masing individu memiliki kemampuan individu yang tidak sama. Hal
ini akan menguntungkan lawan dalam menciptakan strategi guna melemahkan kekompakkan
team. Latihan secara team atau bersama-sama harus terus dilakukan dalam rangka
menciptakan keharmonisan team. Agar masing-masing pemain mengetahui kebiasaan kawan,
mengetahui apa yang sering dipikirkan lawan, apa yang dikehendaki oleh pimpinan team,
perlu latihan kerjasama dalam waktu yang lama. Latihan secarabersam-sama saja belumlah
cukup jika belum diujicobakan atau uji tanding dengan group lain. Kegiatan uji tanding
sangat berperan dalam pembentukan kerjasama dan kekompakkan.
Melalui seringnya latihan bersama, bermain bersama, menghadapi lawan
bersama-sama, maka akan terbentuk kebersamaan, kekompakkan, dan saling mengerti apa
yang dikehendai teman sepermainan. Jika sudah demikian maka taktik dikuasai dengan
matang. Peran pelatih tidak bisa dianggap enteng, sebab sudah menjadi tugas pelatih untuk
memberikan saran dan solusi dalam setiap pertandingan. Apa yang telah dijelaskan di atas
menggambarkan bahwa betapa pentingnya latihan dalam suatu kegiatan olahraga itu. Oleh
karena itu olahraga tradisional menyipet dan balogo harus sering berlatih, baik bersama-sama
maupun sendiri. Latihan olahrga juga bertujuan agar otot-otot tetap terjaga dan selalu siap
jika sewaktu-waktu digunakan untuk berolahraga.
Sudah diketahui bersama bahwa baik menyipet maupun balogo berlatih tidak teratur dan
tidak kontinyu (tidak terjadwal). Hal itu disebabkan bahwa kurangnya dukungan dana, kurangnya
fasilitas, minimnya waktu (karena harus berbagi dengan pekerjaan, ingat pemain menyipet maupun
balogo di Palangka Raya adalah minimal umur 30 tahun), minimnya peralatan olahraga. Itupun
berlatihnya setelah mendekati hari invitasi maupun festival. Karena faktor pemainnya yang pada
umumnya adalah karyawan (orang yang sudah bekerja), menyebabkan latihan tidak terpola, namun
demikian, besarnya semangat untuk upaya pelestarian budaya olahraga tradisional, maka kemampuan
taktik tetap terpelihara. Hal tersebut juga didukung oleh faktor pengalaman.
Temuan Penelitian
1. Minimnya dukungan dana, lapangan, fasilitas, peralatan menyebabkan club atau pemain juga
jarang berlatih.
2. Pemain menyipet maupun balogo dari Palangka Raya merupakan pemain yang sudah
berpengalaman, sehingga walaupun berlatih tidak teratur atau
tidak terpola, namun tetap memiliki kemampuan taktik yang cukup baik.
Proposisi Minor
Kemampuan taktik pemain olahraga tidak sepenuhnya bergantung pada faktor kontinyuitas,
kualitas sarana dan prasarana latihan, namun juga semangat atau motivasi untuk menang dan
pengalaman.
5.4. Pendidikan Budaya
Sudah diketahui bersama bahwa olahraga dapat menjadi media
dalam
membangun karakter seseorang. Olahraga dan aktivitas fisik adalah salah satu cara bagi
seseorang untuk meningkatkan kebugaran serta mengoptimalisasikan fungsi organ-organ
tubuh. Namun demikian, selain untuk tujuan di atas olahraga serta aktivitas fisik dapat pula
76
dijadikan sarana bagi seseorang maupun sekelompok orang untuk membangun karakter
masing-masing. Seperti diketahui bahwa dengan berolahraga, karakter individu dapat dengan
mudah diketahui serta dapat membawa seseorang ke dalam situasi yang lebih baik.
Partisipasi dalam olahraga merupakan bagian gaya hidup sehat yang perlu
dikembangkan. Partisipan olahraga mulai dari usia muda sampai tua, dari tingkat permainan
untuk tujuan rekreasi sampai tingkat profesional. Alasan keikutsertaan seseorang dalam
olahraga sangat beragam mulai dari alasan kesehatan, kebugaran, maupun dengan alasan lain
seperti membentuk karakter positif dan sosialisasi. Banyak orang menemukan olahraga
sebagai sumber kegembiraan dan kepuasan diri. Tidak diragukan lagi bahwa banyak anak
muda mengalami kematangan kepribadian melalui pengalaman dalam olahraga. Namun
demikian, efek pasti olahraga pada pembentukan karakter positif sangat ditentukan kondisikondisi yang dialami pada saat berolahraga.
5.4.1. Sikap Sportivitas
Karakter dan sportivitas itu sulit untuk didefinisikan secara pasti, sehingga
terdapat beberapa pendapat dan definisi. Seseorang yang berkarakter memiliki kebijaksanaan
untuk mengetahui dan membedakan mana yang benar dan mana yang salah, jujur, dapat
dipercaya, adil, hormat, dan bertanggung jawab, mengakui dan belajar dari kesalahan, dan
berkomitmen untuk hidup menurut prinsip-prinsip tersebut (Dimyati, 2010). Terkait dengan
hal tersebut di atas, penulis dapat merangkum definisi tersebut menjadi sebuah pengertian
sederhana mengenai karakter, yaitu sebuah cara untuk bersikap secara terhormat kepada
seluruh komponen pertandingan. Dalam hal ini seluruh komponen pertandingan meliputi
pelatih, lawan, wasit, penonton, dan lain sebagainya terkait dengan pertandingan tersebut.
sportifitas yaitu merupakan kata sifat yang berarti jujur dan kesatria atau gagah.
Kata sportifitas yang sebagai kata benda mempunyai arti orang yang melakukan olahraga
tersebut (harus) memiliki kejujuran dan sikap ksatria dalam bertindak dan berperilaku saat
berolahraga, seperti disiplin, mengikuti ketentuan dan peraturan yang telah ditetapkan atau
yang telah disepakati bersama, terutama saat mengikuti suatu pertandingan atau perlombaan
olahraga. Jadi sportifitas dalam olahraga adalah perilaku atau tindakan dari seorang atau
sekelompok olahragawan yang memperlihatkan sikap jujur, kesatria, disiplin, dan menaati
ketentuan dan peraturan pertandingan/ perlombaan olahraga, guna mencapai sesuatu yang
diharapkan.
Nilai-nilai :
Kejujuran, rendah
hati/tidak sombong, bisa
menerima kelebihan
lawan dan kelemahan diri,
moral/mental yang baik
Olahraga
Tradisional
Menyipet
dan Balogo
Pendidikan Budaya
Sikap Sportivitas
Diagram 5.6 : Munculnya Sikap Sportivitas
Temuan Penelitian
1. Dalam olahraga tradisional menyipet dan balogo mengandung ajaran jujur atau sportif,
rendah hati atau tidak sombong, setia kawan, dan berjiwa besar.
2. Melalui permainan menyipet dan balogo terbentuk semangat sportivitas, berjiwa besar,
dan sikap rendah hati.
Proposisi Minor :
Melalui olahraga tradisional terbentuk sikap sportif, jujur, rendah hati dan berjiwa besar.
77
5.4.2. Sikap Ksatria
Tugas utama seorang kesatria adalah menegakkan kebenaran, bertanggung jawab,
lugas, cekatan, pelopor, memperhatikan keselamatan dan keamanan, adil, dan selalu siap
berkorban untuk tegaknya kebenaran dan keadilan. Pada zaman dahulu, ksatria merujuk pada
kasta bangsawan, tentara, hingga raja.
Pada zaman sekarang, kesatria merujuk pada profesi seseorang yang mengabdi
pada penegakan hukum, kebenaran dan keadilan prajurit, bisa pula berarti perwira yang
gagah berani atau pemberani. Kelompok ini termasuk pemimpin negara, pimpinan lembaga
atau tokoh masyarakat yang tugasnya untuk menjamin terciptanya kebenaran, kebaikan,
keadilan, dan keamanan masyarakat, bangsa, dan negara.
Adapun yang dimaksud dengan bersikap ksatria dalam olahraga adalah berjiwa
kesatria yaitu sikap atau perberbuatan atau sesuatu yang menghasilkan kebaikan antara kita
dan orang lain. Dalam makna yang sesungguhnya adalah “mengalah” karena lebih
mengutamakan kepentingan orang lain daripada kepentingan diri sendiri, hal itulah yang kini
sulit untuk dicapai. Mengalah bukan berarti kalah, namun berbuat sesuatu yang membuat
situasi yang lebih terkendali. Biarlah diri kita tersakiti, namun yakinlah suatu saat rasa sakit
itu akan terobati dan tergantikan dengan kebahagiaan.
Biarkan kita mengalah demi kebahagiaan orang lain, selama itu benar dan tidak
membahayakan kehidupan salah satu dari mereka. Daripada kita harus memaksakan
kebahagiaan pada diri kita, yang sebenarnya kebahagiaan itu belum jatah hidup kita. Memang
berat rasanya untuk mengalah demi kebahagiaan orang lain. Namun setidaknya muncul rasa
bangga, karena telah menang melawan rasa egois. Janganlah mengedepankan sikap egois
terhadap suatu masalah. Karena sesungguhnya sikap egois itulah yang kelak menjadi racun
hidup. Senyumlah terhadap kebahagiaan mereka, jangan menyesal telah besikap mengalah.
Tuhan akan membalas segala ketulusan yang kita perbuat. Memang sulit sekali dilakukan,
namun setidaknya dipraktikkan dari hal yang kecil terlebih dahulu. Terutama saat
menghadapi suatu masalah, kesampingkan rasa egois. Andai kata sikap mengalahlah yang
menjadi jalan keluar terbaiknya, maka coba lakukanlah. Hidup tak selamanya pahit dan getir,
suatu saat akan ditemukan manisnya hidup yang telah dipupuk dengan rasa tulus tanpa
pamrih itu. Bahkan akan lebih manis dari yang dibayangkan. Dunia memang banyak orang
yang pandai, tapi orang yang pandai belum tentu bersikap benar. Namun hakekatnya, orang
yang bersikap benar adalah pandai.
1. Karakter cinta Tuhan dan
segenap ciptaan-Nya.
2. Kemandirian dan
tanggungjawab.
3. Kejujuran atau amanah
diplomatis.
4. Hormat dan santun.
5. Dermawan, suka tolongmenolong dan gotong
royong.
6. Percaya diri dan pekerja
keras.
7. Kepemimpinan dan
keadilan
8. Baik dan rendah hati.
9. Karakter toleransi,
Olahraga
Tradisional
Menyipet
dan Balogo
Pendidikan Budaya
Sikap Ksatria
kedamaian, dan kesatuan
78
Diagram 5.7 : Munculnya Sikap Ksatria dalam Olahraga
Menyipet dan Balogo
Temuan Penelitian
1. Terdapat sembilan karakter ajaran luhur dalam menyipet dan balogo, yaitu karakter
cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya, Kedua kemandirian dan tanggungjawab,
kejujuran atau amanah. hormat dan santun, dermawan, suka tolong-menolong dan
gotong royong atau kerjasama, percaya diri dan pekerja keras, kepemimpinan dan
keadilan, kedelapan baik dan rendah hati; kesembilan karakter toleransi, kedamaian,
dan kesatuan.
2. Para pemain olahraga tradisional menyipet dan balogo memiliki sikap ksatria,
minimal sikap percaya diri dalam bertanding, rendah hati, setia kawan, jujur atau
sportif, dan cinta Tuhan Yang Maha Esa.
Proposisi Minor
Melalui olahraga tradisional tertanam dan terbentuk sikap-sikap ksatria dalam diri atlit.
5.5. Pengembangan Ketrampilan Psikososial
Banyak faktor yang mempengaruhi dalam menjalin interaksi sosial, antara lain
faktor intelektual atau pendidikan, emosional, dan aspek spiritual. Hasil dari interaksi sosial
tersebut menghasilkan suatu tingkah laku atau perilaku. Psikososial adalah satu kesatuan dari
aspek intelektual, emosional dan pembawaan spiritual. Menekankan pada hubungan yang
dekat dan dinamis, dekat antara aspek psikologis dari pengalaman sesorang (pemikiran,
perasaan, tingkah laku) dan pengalaman sosial yang ada disekelilingnya (hubungan dengan
orang lain, tradisi, budaya), yang secara terus menerus saling mempengaruhi satu sama lain.
Olahraga disamping sebagai media untuk ulah fisik supaya sehat atau bugar,
namun juga sebagai media untuk berinteraksi sosial, baik itu sesama pemain, pemain dengan
pelatih, pemain dengan offisial, maupun pemain dengan penonton, demikian dalam olahraga
tradisional. Bahkan dalam olahraga tradisonal menyipet dn balogo sarat dengan muatan
ajaran-ajaran nilai luhur dari budaya masa lalu. Jadi melalui menyipet dan balogo kita bisa
menonton bagaimana manusia masa lalu berkomunikasi atau berinteraksi, menyampaikan
pesan nilai-nilai budaya, mengajarkan tentang permusyawaratan, mengajarkan tentang
kejujuran, menghargai kelompok ataupun manusia lain, dan menghormatnya, serta belajar
berjiwa besar.
5.5.1. Komunikasi
Interaksi sosial adalah peristiwa saling mempengaruhi satu sama lain ketika dua
orang atau lebih hadir bersama ataupun melalui media. Mereka menciptakan suatu hasil satu
sama lain, atau berkomunikasi satu sama lain. Mereka belajar berprilaku sebagaimana orang
dewasa berperilaku dengan sesamanya, seperti dalam (1) mengorganisasikan kegiatankegiatan olahraga dan sosial, (2) memilih pemimpin, dan (3) menciptakan peraturan dalam
kelompok.
Proses dari mengambil peran (role taking) adalah emosional. Keberhasilan proses ini
akan membimbing kita tidak hanya dalam kaitan mengerti orang lain, melainkan pula
berupaya untuk merasakan sebagaimana orang lain lakukan itu. Kemampuan untuk
mengambil peran dalam interaksi sosial secara bersama ini menjadikan hubungan sosial
sangat kompleks dan hampir tidak pernah dapat diramalkan secara sempurna. Bahkan,
keberhasilan hubungan sosial akan bergabung dengan ciri lain. Seperti interaksi yang
79
berubah-ubah, sebab termasuk berfikir tentang harapan orang lain (role expectations),
menentukan petunjuk tindakan yang menyesuaikan dan mendiskusikan kerangka harapan.
Dalam berolahraga terjadi kebersamaan, terbentuk rasa senasib sepenanggungan,
berjuang bersama untuk memenangkan pertandingan atau perlombaan, secara jujur dan
menjunjung tinggi nilai-nilai sportivitas. Perasaan saling mengerti diantara kawan
sepermainan, saling menghargai tersebut terbentuk sebagai hasil dari latihan dan berkumpul
serta bermain bersama. Hal ini memang harus diciptakan supaya pemain tidak main sendiri
(merasa dirinya lebih dari yang lain, kemudian egois main sendiri).
Temuan Penelitian
1. Dalam menyipet ataupun balogo terjadi interaksi sosial atau berkomunikasi dengan teman
main, pelatih atau guru, atlit berlatih menerima kawan main apa adanya, dia tidak melihat
asal suku, bahasa, agama maupun status sosial (kaya atau miskin.
2. Dalam menyipet dan balogo tercipta kebersamaan, semangat olahraga untuk menang,
semangat berlatih, sportif, rasa senasib sepenanggungan dan meningkatkan rasa tenggang
rasa, semangat sportivitas.
Proposisi Minor :
Olahraga menciptakan kebersamaan, saling menghargai dan menghormati, statussosial, dan
membentuk sikap jujur, sportif dan sikap ksatria, semangat membara.
5.5.2. Empati
Perbedaan antara simpati dan empati, simpati itu adalah , rasa kasih; rasa setuju;
rasa suka. keikutsertaan merasakan perasaan (senang, susah, dsb) orang lain. Ber-simpati, 1
menaruh kasih, suka (akan). 2 ikut serta merasakan perasaan orang lain. Empati, (Psikhologi)
keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam
keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain. Ber-empati,
mampu memahami perasaan dan pikiran orang lain. Oleh karena itu empati adalah
kemampuan Anda untuk berhubungan dan memahami perspektif serta situasi orang lain.
Hubungan kuat yang abadi hampir selalu dibangun di atas empati. Ini adalah keterampilan
hidup yang membutuhkan kesadaran diri, praktik dan pengalaman.
Jadi ber-empati mempunyai pengertian lebih dalam, karena ada usaha
‘mengidentifikasi diri’. Simpati bersifat ‘transenden’ (menjaga jarak terhadap obyek),
sedangkan empati bersifat ‘imanen’ (menyatu dengan obyek). Semua sama-sama penting,
tergantung kondisi dan situasi. Saat tertentu boleh jadi kita mementingkan simpati, saat lain
kita mementingkan empati atau pada kondisi lainnya lagi kita menggunakan simpati dan
empati sama besarnya.
Sikap toleransi berarti sikap yang rela menerima dan menghargai perbedaan dengan orang
atau kelompok lain. Empati adalah sikap yang secara ikhlas mau merasakan pikiran dan
perasaan orang lain. Sikap tolerans dan empati ini sangat penting ditumbuhkembangkan
dalam kehidupan masyarakat Indonesia multicultural. Pengembangan sikap toleransi dan
empati sosial, maka masalah-masalah yang berkaitan dengan keberagaman sosial budaya
akan dapat dikendalikan, sehingga tidak mengarah pada pertentangan sosial yang dapat
mengancam diisintegrasi nasional.. Oleh karena itu, penempatan diri sebagai warga
masyarakat yang merupakan bagian utuh dari bangsa Indonesia. Perlu dikembangkan sikap
dan perilaku yang dilandasi oleh sikap demokratis, toleransi, empati, solidaritas, tolong
menolong, dan kekeluargaan. Memelihara dan mewujudkan kehidupan masyarakat yang
dilandasi oleh nilai-nilai budaya nasional.
Empati termasuk kemampuan untuk merasakan keadaan emosional orang lain,
merasa simpatik dan mencoba menyelesaikan masalah, dan mengambil perspektif orang lain.
Empati adalah kemampuan berkisar pada orang lain yang menciptakan keinginan untuk
menolong sesama, mengalami emosi yang serupa dengan emosi orang lain, mengetahui apa
80
yang orang lain rasakan dan pikirkan. Karakter yang diperoleh dari hasil berlatih olahraga
menyipet dan balogo sebagaimana penjelasan pak Lodeweik tersebut secara perlahan
membentuk rasa empati kepada kawan sepelatihan dan berkembang serta melekat pada
dirinya membentuk sikap empati kepada orang yang memerlukan. Sikap empati ini penting
sebab dengan memiliki sikap ini.
Sikap Sportivitas,
Sikap Ksatria
Interaksi sosial dan
interaksi simbolik
Menyipet dan
balogo
Keterbasan dana,
Fasilitas, koordinasi
Intruksi Pelatih
Pengembangan
Psikososial :
1. Komunikasi dan
2. Empati
Diagram 5.8 : Pengembangan Komunikasi dan emppati
Temuan Penelitian
1. Pada saat sudah dijadwal untuk bermain diinvitasi maupun festival saja latihan menyipet
maupun balogo dimulai.
2. Pada suasana berlatih dan bertanding itulah perasaan senasib sepenanggungan (empati)
terbentuk.
Proposisi Minor :
Seringnya berkumpul, berlatih bersama, bertanding bersama, membentuk rasa empati,
senasib sepenanggungan.
5.6. Kendala-kendala dalam Kegiatan olahraga tradisional Menyipet dan Balogo
di masyarakat Kota Palangka Raya.
Setiap kegiatan sudah tentu memiliki daya dukung dan hambatan atau kendala,
demikian juga dengan olahraga tradisional menyipet dan balogo. Apalagi kedua jenis
olahraga tradisional hanya endemik di pulau Kalimantan dan Papua. Sebagai olahraga
tradisional yang tidak populer, sudh tentu tidak memiliki penggemar sehingga tidak banyak
yang berminat. Walaupun oleh pemerintah sudah dimasukkan ke dalam kurikulum mutan
lokal, namun belum tentu serta merta banyak yang berminat. Berikut di bawah ini merupakan
beberapa kendala, baik internal maupun eksternal.
5.6.1. Kendala Faktor Internal
81
Faktor kendala tersebut dikelompokkan menjadi dua, yaitu faktor internal dan
faktor eksternal. Kendala faktor internal adalah faktor kendala yang berasal dari dalam
olahraga tradisional menyipet dan balogo itu sendiri, misalnya monoton, nilai kreativitas
rendah, dan membosankan, memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. Adapun kendala faktor
eksternal adalah kendala yang berasal dari luar lahraga tradisional itu sendiri, misalnya dari
masyarakat, pemerintah, dinas pendidikan, dinas pariwisata.
5.6.1.1. Monoton
Kebosanan biasanya terjadi bila seseorang mengalami peristiwa yang sama secara
berulang, terus dan rutin. Kecenderungan adanya suatu perubahan dari yang telah telah ada,
dan kita menginginkan adanya variasi dalam kehidupan. Karena hanya begitu-begitu saja,
akhirnya perasaan bosan menghinggapi karena sudah tidak suka lagi sebab sudah terlalu
sering atau banyak dan itu ke itu saja. Kegiatan yang monoton akan mempercepat datangnya
lelah, karena orang tersebut merasa capek melakukan aktivitas yang membosankan itu,dan
karena itu nafsu untuk melakukan aktivitas menjadi hilang
Sikap bosan dapat pula dikurangi atau dihindari apabila pekerjaan itu dibuat
menarik sehingga menimbulkan perhatiannya, rangsangan, motivasi, dan interesse bagi yang
melakukan aktivitas tersebut. Suasana bosan ini juga terjadi di olahraga. Kadang-kadang
terjadi, bahwa atlet-atlet kurang prestasinya, ataupun sebaliknya atlet berpotensi
sekalipun,tiba-tiba meninggalkan olahraganya tanpa alasan yang jelas. Malah ada yang sama
sekali tidak mau lagi melakukan cabang olahraganya atau cabang olahraga lainnya.
Disamping itu, untuk bisa menyipet proses belajarnya cukup lama, dan cukup
sulit serta diperlukan semangat dan motivasi tinggi, dan setelah bisa, olahraga menyipet ini
untuk apa. Sebab dalam even-even lain tidak pernah dipertandingkan baik itu menyipet
maupun balogo, kecuali di lingkup provinsi Kalimantan Tengah dan mungkin pulau
Kalimantan.
Urut-urutan menyipet itu adalah pegang sipet di pangkalnya, masukan damek,
tempelkan sipet pada mulut, dan perhatikan sasaran, kemudian tiup dengan kuat. Sementara
itu kegiatan balogo, meliputi : pasang logo pasang pada tempat yang telah ditentukan, pasang
juga logo serang yang telah ditentukan, tempelkan champa, dan perhatikan sasaran (logo
pasang) lalu pukul., ya begitu terjadi berulang-ulang sampai ada pemenangnya. Semuanya
dibatasi oleh waktu yang telah diberikan dan disepakati bersama.
Temuan Penelitian
1. Sistem permainan olahraga tradisional menyipet dan balogo bersifat monoton sehingga
permainan idak menarik.
2. Olahraga tradisional menyipet dan balogo ini sudah kehilangan penggemarnya.
Proposisi Minor
Sistem permainan pada olahraga tradional yang monoton menyebabkan olahraga tradisional
tersebut ditinggalkan penggemarnya.
5.6.1.2. Tingkat Kesulitan
Setiap kegiatan yang ditekuni, baik itu kegiatan otak, maupun fisik tentu selalu
mengandung tingkat kesulitan, hanya bedanya tingkat kesulitan itu setiap kegiatan
memupunyai tingkat kesulitan yang tidak sama. Perbedaan tingkat kesulitan ini juga
dipengaruhi oleh bakat, minat dan semangat ingin bisa yang tidak sama. Setiap manusia
selalu mempunyai solusi dalam menghadapi tingkat kesulitan tersebut. Tergantung pada
perbedaan tingkat kemampuan manusia itu sendiri.
Dalam upaya mempelajari sesuatu (olahraga tradisional) tentunya ada pelatih,
dalam hal ini menjadi tugas pelatih dalam mengatasi tingkat kesulitan tersebut. Kegigihan,
semangat dan motivasi tinggi serta sikap tidak mudah menyerah membantu dalam
memecahkan kesulitan itu. Tingkat kesulitan yang terdapat dalam belajar menyipet antara
82
lain, kekuatan meniup. Sebab hal ini sangat tergantuung pada bagaimana seseorang
menghimpun udara dalam paru-parunya yang kemudia melepaskannya dalam waktu yang
singkat. Hal ini diperlukan latihan meniup sipet di dalam air. Kemudian kesulitan kedua
adalah damek masuk pada tiga lingkaran skor tertinggi (yaitu nilai 10, 9, dan 8) dari jarak 50
meter, 100 meter ataupun 200 meter. Inilah tingkat kesulitan paling tinggi, sementara
sipetnya sendiri cukup berat. Tingkat kesulitan yang terakhir adalah setelah bisa atau setelah
menjadi atlit menyipet, kegiatan ini jarang dimainkan dalam even-even olahraga, kecuali
pada hari ulang tahun suatu instansi atau pada festivalbudaya. Bagian yang terakhir ini dapat
merontokkan semangat bertanding dan melemahkan motivasi.
Jika tidak memiliki bakat yang kuat memang sungguh sulit dan hampir dibilang
tidak mungkin bisa memegang sipet diujung sambil meniup dan mengenai sasaran. Sebab
sipetnya itu sendiri sudah cukup berat apalagi memegangnya diujung sumpit sambil meniup.
Kondisi inilah yang menjadi penyebab para generasi muda, bahkan mahasiswa Program Studi
Pendidikan Jasmani dan Olahraga tidak mau dan tidak menyenangi menyumpit, sekedar
mengetahui tata cara bermainnya saja. Cukup mudah untuk mempelajari sampai bisa
bermain balogo, hanya permainan ini juga tidak disenangi oleh anak-anak sekarang karena
permainan ini dimainkan ditempat terbuka dan berpanas-panas.
Temuan Penelitian
1. Olahraga tradisional menyipet cukup sulit dipelajari, dan balogo cukup muda dipelajari.
2. Olahraga tardisional tidak dapat dipakai untuk suatu pekerjaan yang dapat menjadi
sandaran hidup layak.
Proposisi Minor :
Tingkat kesulitan yang tinggi dan tidak dapat dijadikan pekerjaan yang dapat menjadi
sandaran hidup layak menyebabkan olahraga tradisional tidak disenangi para remaja.
5.7. Kendala Faktor Ekternal
Faktor eksternal yang menjadi penghambat dalam upaya pelestarian budaya
tradisi tersebut adalah kurangnya sosialisasi dan mediasi baik itu dari pihak yang bertanggung
jawab menangani masalah tersebut maupun media sebagai sarana public relations yang
menjembatani informasi kepada masyarakat. Selain itu, peran masyarakat juga cukup penting
untuk mengajarkan pada generasi muda agar memiliki keahlian untuk melestarikan budaya
yang dimilikinya. Namun, realisasi di lapangan hal tersebut tidak terlaksana sehingga
generasi muda tidak peduli dengan eksistensi budayanya sendiri
Usaha untuk menjaga kelestarian budaya tradisi dapat dilakukan dengan berbagai
cara diantaranya adalah pementasan-pementasan seni budaya tradisional di berbagai pusat
kebudayaan atau tempat umum yang dilakukan secara berkesinambungan.
5.7.1. Kurangnya Koordinasi antar Instansi
Kordinasi berkaitan dengan penempatan berbagai kegiatan yang berbeda-beda
pada keharusan tertentu, sesuai dengan aturan yang berlaku untuk mencapai tujuan dengan
sebaik-baiknya melalui proses yang tidak membosankan. Koordinasi juga dapat diartikan
sebagai suatu usaha kerja sama antara badan, instansi, unit dalam pelaksanaan tugas-tugas
tertentu, sehingga terdapat saling mengisi, saling membantu dan saling melengkapi.
Pengkoordinasian merupakan upaya untuk menyelaraskan satuan-satuan,
pekerjaan-pekerjaan, dan orang-orang agar dapat bekerja secara tertib dan seirama menuju
kearah tercapainya tujuan tanpa terjadi kekacauan (chaos), penyimpangan, percekcokan dan
kekosongan kerja (vaccum). Jadi, koordinasi dapat dimaknai sebagai proses penyatupaduan
sasaran-sasaran dan kegiatan-kegiatan dari unit-unit lembaga untuk mencapai tujuan lembaga
secara efektif dan efisien.
83
Koordinasi sangat diperlukan dalam managemen, terutama untuk menyatukan
kesamaan pandangan antara berbagai pihak yang berkepentingan dengan kegiatan dan tujuan
organisasi, demikian juga dengan organisasi pelatihan olahraga maupun pembelajaran
olahaga tradisional. Koordinasi diperlukan untuk menghubungkan bagian yang satu dengan
bagian yang lain sehingga tercipta suatu kegiatan yang terpadu mengarah pada tujuan umum
lembaga sebagaimana jari-jari kerangka payung. Tanpa koordinasi, spesialisasi dan
pembagian kerja yang dilakukan pada setiap usaha kerja sama akan sia-sia karena setiap
bagian cenderung hanya memikirkan pekerjaan atau tugas masing-masing dan melupakan
tujuan lembaga secara keseluruhan.
Melalui koordinasi setiap bagian yang menjalankan fungsi dengan spesialisasi
tertentu dapat disatupadukan dan dihubungkan satu sama lain sehingga dapat menjalankan
peranannya secara selaras dalam mewujudkan tujuan bersama. Koordinasi sangat penting
meningkatkan efesiensi dan efektifitas pencapaian tujuan lembaga.
Koordinasi antar instansi, siswa, lembaga pembelajaran, club olahraga tradisional
masih sangat minim, masing-masing masih jalan sendiri-sendiri. Ditambah lagi minimnya
invitasi yang dilakukan, menjadi semakin lengkap kegagalan organisasi pelestarian budaya
dalam bentuk olahraga tradisional. Invitasi olahraga tradisional hanya diadakan setahun
sekali, itupun dananya menumpang pada anggaran peringatan ulang tahun kota atau anggaran
festival.
Temuan Penelitian
1. Minimnya koordinasi antar instansi dalam masalah upaya pelestarian olahraga tradisional
memyipet dan balogo antara Dinas Pendidikan dan dinas Pariwisata.
2. Minimnya invitasi dan pertandingan-pertandingan dalam kaitannya dengan olahraga
tradisional menyipet dan balogo menjadi salah satu penyebab olahraga tersebut sebagai
pengisi waktu luang dan remaja tidak menyenangi olahraga tradisional tersebut.
Proposisi Minor
Minimnya koordinasi dan invitasi mendorong olahraga tradisional hanya sekedar pengisi
waktu luang dan tidak disenangi remaja.
5.7.2. Lemahnya Kedudukan Mata Pelajaran Olahraga Tradisonal dalam kurikulum sekolah
(Muatan Lokal) di Palangka Raya
Kurikulum muatan lokal ialah program pendidikan yang diisi dan media
penyampaiannya dikaitkan dengan lingkungan alam dan lingkungan budaya serta kebutuhan
daerah dan wajib dipelajari oleh murid didaerah tersebut. Muatan Lokal merupakan kegiatan
kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi
daerah, termasuk keunggulan daerah, yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam
mata pelajaran yang ada. Substansi mata pelajaran muatan lokal ditentukan oleh satuan
pendidikan, tidak terbatas pada mata pelajaran keterampilan.
Muatan lokal merupakan bagian dari struktur dan muatan kurikulum yang
terdapat pada Standar Isi di dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan. Keberadaan mata
pelajaran muatan lokal merupakan bentuk penyelenggaraan pendidikan yang tidak terpusat,
sebagai upaya agar penyelenggaraan pendidikan di masing-masing daerah lebih meningkat
relevansinya terhadap keadaan dan kebutuhan daerah yang bersangkutan. Hal ini sejalan
dengan upaya peningkatan mutu pendidikan nasional sehingga keberadaan kurikulum muatan
lokal mendukung dan melengkapi kurikulum nasional. Muatan lokal merupakan mata
pelajaran, sehingga satuan pendidikan harus mengembangkan Standar Kompetensi dan
Kompetensi Dasar untuk setiap jenis muatan lokal yang diselenggarakan. Satuan pendidikan
dapat menyelenggarakan satu mata pelajaran muatan lokal setiap semester. Ini berarti bahwa
dalam satu tahun satuan pendidikan dapat menyelenggarakan dua mata pelajaran muatan
lokal.
84
Keadaan daerah adalah segala sesuatu yang terdapat didaerah tertentu yang pada
dasarnya berkaitan dengan lingkungan alam, lingkungan sosial ekonomi, dan lingkungan
sosial budaya. Kebutuhan daerah adalah segala sesuatu yang diperlukan oleh masyarakat di
suatu daerah, khususnya untuk kelangsungan hidup dan peningkatan taraf kehidupan
masyarakat tersebut, yang disesuaikan dengan arah perkembangan daerah serta potensi
daerah yang bersangkutan. Kebutuhan daerah tersebut misalnya kebutuhan untuk (1)
melestarikan dan mengembangkan kebudayaan daerah; (2) meningkatkan kemampuan dan
keterampilan di bidang tertentu, sesuai dengan keadaan perekonomian daerah.
Menyadari apa yang telah dijelaskan di atas, dan dalam upaya melestarikan
budaya luhur yaitu olahraga tradisional menyipet dan balogo, maka dinas pendidikan
memasukan olahraga tradisional menyipet dan balogo tersebut ke dalam muatan lokal dari
suatu kurikulum. Namun hal tersebut belum cukup, tanpa adanya dukungan dana untuk
mengembangkan kedua olahraga tradisional tersebut dalam suatu pertandingan-pertandingan.
Dukungan dana untuk keperluan pengembangan kedua olahraga tradisional tersebut, Diklat
bagi guru yang mengajar olahraga yang tidak pernah ada, dukungan sarana prasarana
olahraga tersebut yang minim, belum lagi saling melempar tanggung jawab dengan instansi
lain jika terjadi kekurangan.
Perhatian guru atau satuan pendidikan menjadi kurang maksimal dalam
mengembangkan olahraga tradisional, karena berada pada kurikulum muatan lokal, apalagi
tidak termasuk pelajaran yang diujikan nasional. Hal ini juga menjadi kendala dalam upaya
pelestarian. Artinya memasukan olahraga tradisioanl dalam suatu kuriklum muatan lokal
belum cukup tanpa harus diperhatikan, didukung dengan berbagai kebijakan dari pemerintah,
dan juga gurunya serta yang lebih penting lagi masyarakat.
Temuan Penelitian
1. Memasukan olahraga tradisional menyipet dan balogo kedalam kurikulum muatan lokal
tanpa disertai dengan pemberian berbagai kebijakan dari pemerintah.
2. Olahraga tradisional menyipet dan balogo dalam kurikulum muatan lokal kurang
didukung oleh dana, diklat dan kegiatan lanjut sebagai upaya pelestarian .
Proposisi Minor
Kurangnya dukungan dana, pendidikan dan latihan bagi guru, dan kegiatan lanjut dan
pemberian kebijakan-kebijakan lain menjadi penyebab sulitnya kurikulum muatan lokal
untuk berkembang.
5.7.3. Keterbatasan Sarana/Prasarana latihan
Sarana olah raga adalah sumber daya pendukung yang terdiri dari segala bentuk
dan jenis peralatan serta perlengkapan yang digunakan dalam kegiatan olah raga. Prasarana
olah raga adalah sumber daya pendukung yang terdiri dari tempat olah raga dalam bentuk
bangunan di atasnya dan batas fisik yang statusnya jelas dan memenuhi persyaratanyang
ditetapkan untuk pelaksanaan program kegiatan olah raga.
Sarana maupun alat merupakan benda yang dibutuhkan dalam pembelajaran
olahraga, dan alat tersebut sangat mudah dibawa sehingga sarana atau alat tersebut sangat
praktis dalam pelaksanaan pembelajaran. Alat olahraga merupakan hal yang mutlak harus
dimiliki sekolah, tanpa ditunjang dengan hal ini pembelajaran pendidikan jasmani tidak akan
dapat berjalan dengan baik.
Dalam proses pembelajaran dan pelatihan olahraga menyipet dan balogo akan
berjalan maksimal jika didukung dengan sarana yang baik dan mencukupi, maka peserta
latihan atau siswa bahkan guru akan dapat menggunakan sarana tersebut dengan baik dan
maksimal. Tentunya peserta pelatihan di club maupun di sekolah akan merasa senang dan
puas dalam memakai sarana yang terdapat di sekolahnya. Memiliki sarana yang memenuhi
85
standar, maka dapat dikembangkan keinginannya untuk terus mencoba olahraga yang
disenanginya. Salah satu fungsi alat peraga, yaitu penggunaan alat peraga dalam pengajaran
diutamakan untuk mempertinggi belajar mengajar.
Penggunaan sarana yang baik mempunyai peranan penting untuk meningkatkan
kualitas latihan hasil belajar. Oleh karena itu, penyediaan sarana olahraga harus ideal sesuai
dengan jumlah siswa yang berlatih. Tersedianya sarana olahraga yang ideal akan
meningkatkan efektif efisiensi dan kualitas latihan. Namun sebaliknya, sarana olahraga yang
tidak ideal pembelajaran dan pelatihan olahraga dapat terhambat, kurang efektif, dan banyak
waktu yang terbuang.
Kendala Internal :
1. Monoton
2. Tingkat kesulitan
yang tinggi untuk
belajar menyiipet
Menyipet dan
balogo
Kendala Eksternal :
1. Kurangnya Koordinasi
antar Instansi
2. Lemahnya kedudukan
matpel OR Menyipet
dan Balogo dalam
kurikulum lokal
3. Keterbatasan sapras
Prestasi dalam Invitasi
dan festival
Diagram 5.9. Kendala Internal dan eksternal terhadap Menyipet dan Balogo
Disamping itu juga, kualitas dan kondisi sarana dan prasarana pendidikan jasmani
yang kurang atau tidak ideal serta tidak layak masih digunakan dalam pembelajaran, akan
mempengaruhi proses pembelajaran pendidikan jasmani. Peralatan olahraga yang tidak layak
dipakai justru menjadi masalah bagi kualitas latihan. Bagaimana bisa memperoleh prestasi
yang maksimal jika tidak didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai.
Temuan Penelitian
1. Sarana prasarana latihan olahraga tradisional menyipet dan balogo sangat terbatas,
sehingga harus berlatih disamping rumah.
2. Berlatih olahraga tradisional menyipet dan balogo dengan kondisi seadanya.
Proposisi Minor
Keterbatasan sarana prasarana latihan olahraga tradisional menyebabkan semangat berlatih
dan bertanding menurun.
Proposisi Mayor :
86
Terbatasnya dukungan dana, sarana prasarana, koordinasi antar
institusi pemerintah, kemajuan tekhnologi dan globalisasi berakibat
pada menurunnya semangat berlatih dan berprestasi dan terjadinya
pergeseran dari olahraga tradisional yang bermoti f religi menjadi
olahraga tradisional yang bermotif prestasi dan keuntungan .
PENUTUP
6.1. Kesimpulan
6.1.1. Olahraga tradisional menyipet dan balogo merupakan kekayaan budaya masyarakat
Dayak di Palangka Raya dan sering diikutsertakan dalam Festival. Budaya Isen
Mulang.
6.1.2. Menyipet dan Balogo sarat dengan berbagai ajaran dan nilai-nilai luhur.
6.1.3. Upaya pelestarian dan pengembangan budaya lokal melalui berbagai festival dan
memasukan ke dalam kurikulum muatan lokal.
6.1.4. Upaya pelestarian dan pengembangan kurang didukung oleh dukungan dana,
kelengkapan fasilitas dan sarana/prasarana, kegiatan pendidikan dan latihan bagi guru,
kurangnya invitasi.
6.1.5. Olahraga tradisional menyipet dan balogo hanya ada pada acara perayaan ulang tahun
kota Palangka Raya dan Festival Budaya Isen Mulang saja.
6.1.6. Para pemain olahraga menyipet dan balogo rata-rata sudah tua, sehingga secara
perlahan olahraga tersebut akan musnah seirama dengan semakin tuanya para
pemainnya.
6.1.7. Generasi muda kurang menyenangi permainan menyipet dan balogo sebab tidak bisa
diharapkan untuk menjadi pekerjaan atau sandaran hidup dimasa mendatang.
6.1.8. Kendala-kendala yang dihadapi dalam kegiatan olahraga tradisional menyipet dan
balogo di masyarakat Kota Palangka Raya dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu
kendala internal dan kendala eksternal. Kendala internal misalnya adalah monoton,
nilai kreativitas rendah, dan membosankan, memiliki tingkat kesulitan yang tinggi.
Kendala eksternalnya antara lain kurang adanya koordinasi antar instansi, Dinas
Pendidikan (Kurikulum), kepelatihan yang profesional, keterbatasan sarana prasarana
latihan.
DAFTAR PUSTAKA
AAHPERD. 1999. Physical Education for Lifelong Fitness, The Physical Best Teacher’s
Guide. Human Kinetics.
Adian, Donny Gahral, 2001, Matinya Metafisika Barat, Jakarta: komunitas Bambu
Aldridge, J. and Soldman, R. 2002. Current Issues And Trends In Education. Boston: Allya
And Baron.
Arikunto, Suharsimi (2002). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan dan Praktek. Jakarta
Rineka Cipta.
Armando Pribadi. (Desember 2010). Fair Play. Makalah yang disajikan dalam Seminar
Nasional Sport Enterpreuneur, di FIK UNY.
ASFAA, Sport For All Structures In Asian and Oceanian Countries, Sasakawa Sports
Foundation, Tokyo, 1997.
87
Blumer, Herbert. (1986). Symbolic Interactionism: Perpective and Method. Berkeley and
London: University of California Press.
Bungin, Burhan. 2003. Analisis Data Penelitian Kualitatif, PT. RajaGrafindo Persada,
Jakarta.
Charon, J. M. 1979. Symbolic Interactionism, an Introduction, an Interpretation, an
Integration. New Jersey. Prentice Hall.
Dwi Anibiningsih Soeleiman. 2003. Memahami Olahraga Tradisional Nusantara dalam
Konteks Persatuan dan Kesatuan Bangsa Indonesia. Makalah Sarasehan Olahraga
Tradisional, Nusa Dua, Bali.
Deutcher Sportbund, Memorandum for the Action :Trim yourself through Sport", Frankfurt,
1971.
Deutcher Sportbund, International Congress, Fundamentals of Sport for All, D.S.B.,
Frankfurt on the Main, 1986.
Depdikbud, 1990, Astronomi, dan Meteorologi Tradisionaldi Daerah Kalimantan Tengah,
Dirjen Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai-Nilai Tradisional Proyek
Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya, Jakarta
Depdiknas, 2004, Panduan Pengelolaan Olahraga Tradisional, Dirjen Olahraga, Bagian
Proyek Olahraga Masyarakat, Jakarta.
Depdiknas, 2004, Kumpulan Olahraga Tradisional, Dirjen Olahraga, Bagian Proyek
Olahraga Masyarakat, Jakarta.
Depdiknas, 2004, Perkembangan Olahraga Masyarakat Di Indonesia, Dirjen Olahraga,
Bagian Proyek Olahraga Masyarakat, Jakarta
Dimyati. (2010). Peran Guru sebagai Model Dalam Pembelajaran Karakter dan Kebajikan
Moral Melalui Pendidikan Jasmani. Yogyakarta: Cakrawala Pendidikan, 85-98.
Eddiyana Hatia, dkk. (2002). Model Pengembangan Olahraga Masyarakat. Pemerintah
Provinsi Jawa Barat bekerjasama dengan FPOK UPI Bandung.
Fadjria Novari Manan. 2003. Revitalisasi Olahraga Tradisional sebagai Asset Budaya.
Makalah Sarasehan Olahraga Tradisional, Nusa Dua, Bali.
Geddes, W. R. 1968, Nine Dayak Nigths, London, Oxfor, and New York : Basic Books.
Geertz, Clifford, 1973, Agricultura Invulation The Process of Ecological Change in
Indonesia,. Bartkley University of California.
Harsuki, Istilah/Pengertian/Definisi Olahraga, Penjurusan, Dalam Mengembangkan
Keahlian dan Kode Etik Profesi Olahraga, Suatu Makalah, Semarang, 1982.
Harsuki, Hasil Survey Lapangan Olahraga di Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta, 1973.
I. B. Wirawan. (2012). Teori-Teori Sosial Dalam Paradigma, Kencana Prenada Group
Jakarta.
Jung, Insung, Seonghee Choi, Cheolil Lim, Junghoon Leem, TT. Pengaruh Berbagai Jenis
Interaksi terhadap Prestasi Belajar, Kepuasan dan Partisipasi dalam Pembelajaran
Berbasis Web (http://cat.inist.fr/?aModele= afficheN&cpsidt). Diunduh 23 Mei
2010.
Jurgen Palm, Role of Sporting and Recreation Associations in Considering Ways to Increase
participation in Physical Activity, Proceedings : Conrefence on People and
Participation, Melbourne, 1977.
Krober, A.L., C. Kluckhohn, 1952, Culture, Critical Review of Consepts and Definitions,
Cambrige, Peabody Museum of American Anthropology.
Kantor Menpora, Sejarah Olahraga Indonesia, Kantor Menpora, Jakarta, 1991.
Kantor Menpora, Pola Dasar Pembangunan Olahraga, Kantor Menpora, Jakarta, 1984.
Koentjaraningrat, 2007. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Djembatan, Jakarta.
88
Koentjaraningrat, 2005. Pengantar Antropologi, Pokok-pokok Etnografi Jilid II. Jakarta.
Rineka Cipta.
---------------, 1990. Pengantar Ilmu Antropologi, Rineka Cipta, Jakarta.
Lauer, H. Robert. 2003. Perspektif Tentang Perubahan Sosial, Rineka Cipta, Jakarta.
Moleong, Lexy. (1991). Metodologi penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda Karya.
Matthew B. Miles - A. Michael Huberman. 2009. Analisis Data Kualitatif. Universitas
Indonesia. Jakarta.
Menpora 1999. Kebijakan Pemberdayaan Panji Olahraga. Kantor MENPORA. Jakarta.
Nila Riwut, 2003. Maneser Panatau Tatu Hiang (Menyelami Kekayaan Leluhur), Pusaka
Lima, Palangka Raya.
Ngurah Nala. 2003. Pengembangan Olahraga Tradisional dari Perspektif Budaya. Makalah
Sarasehan Olahraga Tradisional, Nusa Dua, Bali.
Narwoko Dwi J – Bagong Suyanto. 2004. Sosiologi, Teks dan Pengantar, Prenada Media,
Jakarta.
Offeny A. Ibrahim. 2014. Seni Budaya Kalimantan Tengah , Jenggala Pustaka Utama,
Surabaya.
Parsons, Talcott. (1978) Action Theory and the Human Condition. New York: Free Press.
Parsons. Talcott (1937) The Structure of Sosial Action. New York: McGraw-Hill.
Poloma, Margaret. Sosiologi Kontemporer. Jakarta: CV. Rajawali. 1984.
Poerwanto, Hari, 2000, Kebudayaan dan Lingkungan dalam Perspektif Antrolpologi,
Pustaka Pelajar : Yogyakarta.
Prijono, H. 2002. Anthony Giddens. Suatu Pengantar. Grafika Mardi Yuana. Bogor.
Ravo, Bernand. 2007. Teori Sosiologi Modern. Jakarta:Prestasi Pustaka.
Ritzer, George dan Goodman, Douglas. 2007. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Kencana.,
Ritzer, George 1996. Sosial Theory, Fourth Edition, The McGraw-Hill Companies, inc.,
New York.
Riwut Tjilik, 1979, Kalimantan Membangun, Agung Offset, Yogyakarta.
Rusli Luthan. 2002. Pengembangan Olahraga Masyarakat. Makalah Workshop
Pengembangan Olahraga Masyarakat. Jakarta.
Sugiono. 2013. Memahami Penelitian Kualitatif, Alfabeta, Bandung.
Sondang P. Siagian (1997). Organisasi, Kepemimpinan dan Perilaku, Administrasi, PT. Toko
Gunung Agung, Jakarta.
Soekanto, Soejono, 1999, Sosiologi Suatu Pengantar, Rajawali Press, Jakarta.
Sondang P. Siagian (1985). Analisis serta Perumusan Kebijakan dan Strategi Organisasi,
PT. Gunung Agung, Jakarta.
Soeprapto, Riyadi. 2001. Interaksionisme Simbolik dalam Perspektif Sosiologi Modern.
Yogyakarta: Averoes dan Pustaka Pelajar
Sutedjo Brajanegara, Sejarah Pendidikan Indonesia, Ketua Badan Kongres Pendidikan
Indonesia, Yogyakarta.
Sutopo, HB. (2006). Penelitian Kualitatif: Dasar Teori dan Terapannya dalam Penelitian.
Surakarta: Universitas Negeri Sebelas Maret
Sutopo, H.B., 2002, Metodologi Penelitian Kualitatif, Surakarta: Universitas
Sebelas Maret Press.
Stephen P. Savage. (1981). The Theories of Talcott Parsons: The Sosial Relations of Action.
London: Macmillan.
Strauss, A, and Corbin, J. (1990). Basics of Qualitative Research Grounded Theory
Procedures and Techniques. London; Sage Publications.
Suwarno. 2007. Perubahan sosial masyarakat Bakumpai di Tumbang Samba Kabupaten
Katingan. Desertasi: Universitas Merdeka Malang.
89
Sztompka, Piotr. 2005. Sosiologi Perubahan Sosial, Prenada, Jakarta,
Turner, Jonathan. The Structure of Sociological Theory. California: Wadsworth Publishing
Company, 1991.
UNESCO, International Charter on Physical Education and Sport, Paris, 1978
Veeger, K.J. 1990. Realitas Sosial, Refleksi Filsafat sosial atas hubungan individumasyarakat dalam cakrawala sejarah Sosiologi, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta..
Walace and Alison Wolf. 1980. Contemporary Sociological Theory: Continuing The
Classical Tradition. New Jersey: Prentice Hall.
W.J.S Purwadarminta: Kamus Umum Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga, Balai Pustaka. Jakarta
Zeitlin, I. M. 1973. Rethinking Sociology: A Critique of Contempory Theory. New Jersey:
Prentice Hall.
http://teguhimanprasetya.wordpress.com/2008/09/25/fenomenologi-1/
http://sarwono.staff.uns.ac.id/2009/03/06/fenomenologi-dan-hermeneutika-4/
http://veggy.wetpaint.com/page/Fenomenologi,+Hermeneutika+dan+Positivisme
90
Download