pola komunikasi antarpribadi nonverbal

advertisement
POLA KOMUNIKASI ANTARPRIBADI NONVERBAL PENYANDANG TUNA
RUNGU (STUDI KASUS DI YAYASAN TUNA RUNGU SEHJIRA DEAF
FOUNDATION JOGLO-KEMBANGAN JAKARTA BARAT)
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Komunikasi Islam
(S.Kom.I)
Oleh:
HAMIDAH
NIM: 1110051000054
JURUSAN KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM
FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1435 H/2014 M
LEMBAR PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa:
1. Skripsi ini merupakan karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu
persyaratan memperoleh Gelar Srta satu (SI) di Uinversitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan
sesuai dengan ketentuan yang berlaku ndi Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta.
3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya saya atau
merupakan hasil Plagiat atau hasil jiplakan karya orang lain, makka saya
bersedia menerima sanksi yang berlaku di Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, 06 Mei 2014
Hamidah
ABSTRAK
Hamidah
Pola Komunikasi Antarpribadi Nonverbal Penyandang Tuna rungu (Studi Kasus Di Yayasan Tuna
Rungu Sehjira Deaf Foundation) Joglo Kembangan Jakarta-Barat
Hakikat komunikasi adalah proses pernyataan antarmanusia. Yang dinyatakan itu adalah
pikiran atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa sebagai alat
penyalurnya. Oleh karena itu manusia dalam hidupnya tidak akan pernah terlepas dari komunikasi.
Salah satu bentuk komunikasi yakni komunikasi antarpribadi nonverbal yang digunakan dalam sebuah
lingkup seseorang yang mengalami keterbatasan fisik seperti tunarungu dalam menggunakan
komunikasi nonverbal.
Adapun pertanyaan mayornya adalah bagaimana pola komunikasi antarpribadi tunarungu di
yayasan tuna rungu dalam Meaning, Language dan thought untuk tuna rungu ringan dan tuna rungu
berat? Pertanyaan minornya Apa faktor pendukung dan penghambat dalam komunikasi bagi
penyandang tunarungu di yayasan Sehjira Deaf Foundation dari segi intelegensi, bahasa dan bicara
emosi dan sosial?
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode penelitian studi kasus, yakni metode
penelitian yang menggunakan sumber data dengan sebanyak mungkin agar dapat digunakan untuk
meneliti, menguraikan serta menjelaskan bagaimana aspek dari individu, kelompok atau peristiwa
secara sistematis. Studi kasus ini menggunakan tipe deskriptif dengan cara ini peneliti berlandaskan
pada teori dan kerangka konseptual sehingga peneliti dapat menghasilkan suatu analisis yang
terkonsep melalui teori dengan studi kasus tersebut.
Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori interaksionisme simbolik George
Herbert Mead, yang memandang cara bagaimana seseorang dapat tergerak dan bertindak berdasarkan
makna yang diberikan kepada orang lain, serta makna tercipta karena adanya bahasa dan interaksi
yang dilakukan.
Penelitian ini menemukan bahwa proses komunikasi antarpribadi nonverbal bagi penyandang
tuna rungu ringan menggunakan kinesik dan vokalik, yakni dimana bahasa tubuh digunakan untuk
interaksi dan difungsikan sebagai repetisi atau pengulangan dari tindakan verbal. Sedangkan
penyandang tuna rungu berat menggunakan kinesik dan ruang dalam melakukan komunikasi mereka
sebab tuna rungu berat lebih membutuhkan jarak dalam berkomunikasi. Dan bahasa nonverbal yang
difungsikan bagi penyandang tuna rungu berat sebagai subtitusi atau bahasa nonverbal dipergunakan
untuk mengganti bahasa verbal yang ada. Penyandang tuna rungu mempunyai faktor penghambat
dalam proses komunikasi yakni dari segi intelegensi, bahasa dan bicara, serta emosi dan sosial. Serta
gangguan semantik dan noice yang menjadi penghambat dalam proses komunikasi. Bahasa nonverbal
menjadi salah satu komunikasi yang efektif bagi mereka. Karena menjadi salah satu alat bantu mereka
dalam melakukan komunikasi. Peneliti juga menemukan pola komunikasi interaksionisme simbolik
pada tuna rungu ringan dan berat dalam memaknai dirinya sebagai I, self dan other inklusif bagi
kalangan tuna rungu, karena mereka berkomunikasi hanya pada sesama tuna rungu, tidak banyak
melakukan interaksi dengan masyarakat luas. Tuna rungu ringan dan berat menggunakan bahasa
isyarat SIBI dibandingkan BISINDO.
Keyword: Komunikasi, Antarpribadi nonverbal, Kinesik, Ruang,Repetisi, Subtitusi.
i
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirabbil ‘alamin. Segala puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat
Allah SWT, karena atas segala rahmat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan skripsi
ini. Shalawat serta salam selalu tercurah kepada Nabi Besar Muhammad SAW, yang
senantiasa menuntun kita ke jalan yang diridhai Allah SWT.
Penulis menyadari tanpa bimbingan, bantuan, dan saran serta dukungan dari semua
pihak, tidak mungkin skripsi ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya. Maka haturan
terimakasih penulis sampaikan kepada pihak-pihak sebagai berikut:
1. Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta, Bapak Dr. H. Arief Subhan M.A. Bapak Suparto Ph,D. M.Ed selaku
Wakil Dekan Bidang Akademik. Bapak Drs. Jumroni M.Si selaku Wakil Dekan
Bidang Administrasi Umum. Bapak Dr. Sunandar, M.Ag selaku Wakil Dekan
Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama
2. Seluruh Dosen Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, yang telah
memberikan ilmu yang tak ternilai, sehingga penulis dapat menyelesaikan studi di
Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta.
3. Rachmat Baihaky, M.A dan Umi Musyarrofah, M.A selaku Ketua Prodi dan
Sekertaris Prodi Komunikasi Penyiaran Islam.
4. Ibu Fita Fathurokhmah M.Si selaku dosen pembimbing yang telah banyak
memberikan arahan dan meluangkan waktunya di tengah-tengah kesibukannya dan
tidak pernah bosan memberikan ide, nasihat bimbingan serta motivasi dan kritik
ii
yang diberikan kepada penulis, sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan
baik pada waktunya.
5. Segenap staf akademik dan staf perpustakaan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu
Komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
6. Yang mulia kedua orang tua, Ayahanda Kholid dan Ibunda Maimunah, yang
senantiasa memberikan cinta, kasih dan perhatiannya di kala sehat maupun sakit,
di kala penulis membutuhkan dorongan dan doa dalam sholatnya, doa yang selalu
mengiringi tiap langkah kaki ini sehingga peneliti mampu menyelesaikan skripsi
ini dengan baik.
7. Adik-adik Badrussalam, Liyanah Kholid, dan Ahmad Rifa’i yang banyak
memberikan doa serta dukungan untuk penulis, kalian adalah inspirasi Kakak
untuk terus berusaha menjadi Kakak yang baik buat kalian semua.
8. Abang M. Adi Suryadi yang banyak membantu penulis dalam meluangkan waktu
dan tenaga serta motivasi dan doa sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi
ini dengan baik.
9. Ibu Ir. Rachmita Maun
Harahap M.Sn selaku Pimpinan Yayasan Tunarungu
Sehjira Deaf Foundation dan Kaka Sabrina, Ka Chairunisa dan seluruh anggota
Yayasan yang telah bersedia meluangkan waktu dan memberikan kemudahan
kepada penulis untuk melaksanakan penelitian dalam jangka waktu yang panjang.
10. Untuk para sahabat terdekat Ulva, Dwi, Iin, yang telah banyak memberikan
support serta doa yang menjadikan semangat tersendiri bagi penulis sehingga
skripsi ini dapat terselesaikan dengan tepat waktu. Serta
11. Sahabat-sahabat KPI B Angkatan 2010 yang tidak penulis sebutkan namanya satupersatu tetapi sangat berarti bagi penulis serta yang telah banyak memberikan
support serta doa, canda tawa kalian memberikan semangat tersendiri bagi penulis
iii
sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini tepat pada waktunya. terima
kasih untuk kalian semua.
Terima kasih atas semua yang telah meluangkan waktunya untuk sekedar
sharing dan memberikan berbagai info serta memberikan motivasi dalam penyusunan
skripsi ini sehingga skripsi dapat terselesaikan. semoga Allah SWT membalas semua
kebaikan dan budi baik mereka dengan rahmat dan kasih sayang-Nya.
Harapan penulis semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca,
khususnya dapat menjadi referensi mahasiswa Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam
Syarif Hidayatullah Jakarta. Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan
ketidaksempurnaan dalam penelitian skripsi ini. Oleh karena itu kritik dan saran yang
bersifat membangun sangat penulis harapkan. Sebab kesempurnaan hanyalah milik
Allah Swt.
Jakarta, 24 april 2014
Penulis
iv
DAFTAR ISI
ABSTRAK .....................................................................................................
i
KATA PENGANTAR ..................................................................................
ii
DAFTAR ISI .................................................................................................
v
BAB I
BAB II
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah .....................................................
1
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah .................................
8
C. Tujuan Penelitian ................................................................
9
D. Manfaat Penelitian ..............................................................
9
E. Metodologi Penelitian .........................................................
10
1. Paradigma penelitian .....................................................
10
2. Pendekatan penelitian ....................................................
11
3. Metode penelitian ...........................................................
12
4. Subjek dan objek penelitian ............................................
13
5. Teknik pengumpulan data .............................................
13
6. Teknik analisis data .......................................................
15
7. Teknik penulisan ............................................................
15
F. Tinjauan Pustaka .................................................................
16
G. Sistematika Penulisan .........................................................
17
LANDASAN TEORI DAN KERANGKA KONSEP
A. Teori Symbolic Interactionism George Herbert Mead .........
20
B. Pola Komunikasi ..................................................................
26
1. Pengertian Komunikasi ..................................................
26
2. Karakteristik Komunikasi ..............................................
27
3. Unsur-Unsur Komunikasi ..............................................
28
4. Bentuk-Bentuk Komunikasi ..........................................
29
5. Faktor Hambatan Komunikasi .......................................
33
v
BAB III
C. Komunikasi Antarpribadi ..................................................
35
1. Pengertian Komunikasi Antarpribadi ..........................
35
2. Jenis-jenis Komunikasi Antarpribadi ........................ ...
37
3. Fungsi Komunikasi Antarpribadi .................................
38
D. Komunikasi Nonverbal ......................................................
39
1. Pengertian Komunikasi Nonverbal ..............................
39
2. Bentuk-bentuk Komunikasi Nonverbal .......................
40
3. Jenis-jenis Komunikasi Nonverbal ..............................
42
4. Fungsi Komunikasi Nonverbal ....................................
44
E. Tuna Rungu .......................................................................
45
1. Pengertian Tuna Rungu ...............................................
45
2. Karakteristik Tuna Rungu ...........................................
47
3. Klasifikasi Penyandang Tuna Rungu ..........................
48
GAMBARAN UMUM YAYASAN TUNA RUNGU SEHJIRA
A. Profil Umum Yayasan Sehjira ............................................
51
B. Sejarah Berdirinya Yayasan Tuna Rungu Sehjira ..............
54
1. Visi dan Misi Yayasan Tuna Rungu Sehjira ................
55
2. Kegiatan Utama Yayasan Sehjira .................................
56
3. Kegiatan Sosial Yayasan Sehjira ...................................
57
4. Prestasi Yayasan Sehjira ...............................................
58
C. Susunan Pengurus Yayasan Sehjira Deaf Foudation ...........
BAB IV
59
HASIL TEMUAN DAN ANALISIS DATA
A. Pola Komunikasi Nonverbal Penyandang Tuna Rungu Ringan
dan Berat ..............................................................................
63
1. Pola Komunikasi Nonverbal Tuna Rungu Ringan .........
79
2. Pola Komunikasi Nonverbal Tuna Rungu Berat ............
84
B. Faktor Penghambat dan Pendukung dalam Proses Komunikasi
Penyandang Tuna Rungu ......................................................
92
1. Gangguan Semantik .......................................................
95
2. Gangguan Noice ..............................................................
vi
97
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan .........................................................................
102
B. Saran ...................................................................................
106
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
1. Draft Wawancara dengan Pimpinan Yayasan
2. Draft Wawancara dengan Tuna Rungu Ringan
3. Draft Wawancara dengan Tuna Rungu Berat
4. Daftar Riwayat Hidup (Curiculum Vitae)
5. Foto Wawancara Peneliti dengan Ketua Yayasan dan Tuna Rungu Berat
6. Foto Peneliti dengan Anggota Tuna Rungu dan Kegiatan Tari Diyayasan
vii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Manusia adalah makhluk individu dan makhluk sosial. Sebagai
makhluk sosial terkadang manusia bagaimanapun juga tidak terlepas
dari individu lain. Secara kodrati manusia akan selalu hidup
berdampingan. Hidup bersama tidak terlepas dengan berbagai bentuk
komunikasi salah satunya komunikasi secara langsung.
Sebagai makhluk sosial, manusia akan selalu berkeinginan
untuk berbicara, saling berbagi gagasan, mengirim dan menerima
informasi, dan berbagai pengalaman untuk memenuhi kebutuhan dan
sebagainya. Berbagai kegiatan tersebut hanya dapat terpenuhi melalui
kegiatan interaksi dengan orang lain dalam suatu sistem sosial tertentu.
Naluri ini merupakan salah satu yang paling mendasar dalam
kebutuhan manusia, di samping kebutuhan akan afeksi (kebutuhan
akan kasih sayang), inklusi (kebutuhan akan kepuasan), dan kontrol
(kebutuhan akan pengawasan). Semuanya mendorong manusia untuk
melakukan kegiatan berkomunikasi.1
Komunikasi terjadi apabila ada komunikator (orang yang
menyampaikan pesan atau informasi) dan komunikan (orang yang
menerima pesan atau informasi). Komunikasi pada dasarnya adalah
penyampaian atau pengiriman pesan yang berupa pikiran atau perasaan
1
Suranto Aw, Komunikasi Interpersonal, (Yogyakarta: PT. Graha Ilmu, 2011), h. 1.
1
2
oleh seseorang (komunikator) untuk memberitahu guna merubah sikap,
pendapat dan prilaku baik secara langsung atau tidak, dan yang
terpenting adalah dalam proses penyampaian pesan itu harus jelas, agar
tidak terjadi salah faham.2
Salah satu jenis komunikasi yang frekuensi terjadinya cukup
tinggi adalah komunikasi interpersonal atau komunikasi antarpribadi.
Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila banyak orang yang
menganggap bahwa komunikasi interpersonal mudah dilakukan,
semudah orang makan dan minum. Komunikasi adalah suatu proses
interaksi yang secara langsung dilakukan oleh perorangan dan bersifat
pribadi melalui medium (tidak langsung) atau tidak (menggunakan
medium). Kegiatan-kegiatan seperti percakapan tatap muka face to
face communication, percakapan melalui telepon, surat menyurat,
merupakan salah satu bentuk komunikasi.3
LittleJohn (1991) mendefinisikan komunikasi adalah suatu
interaksi antar individu-individu. Agus M. Hardjana mengatakan
komunikasi sebagai interaksi tatap muka antara dua atau beberapa
orang, dimana pengirim dapat menyampaikan pesan secara langsung
pula.4
Deddy Mulyana juga mengemukakan bahwa komunikasi
antarpribadi adalah komunikasi yang terjadi antara orang secara tatap
2
Onong Uchjana Effendy, Ilmu Komunikasi, Teori dan Praktek, (Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2005), h. 11.
3
Liliweri, Alo, Komunikasi Antar Pribadi, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2010), h. 8. 4
Dedy Mulyana, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,
2010), h. 35
3
muka, yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang
lain secara langsung baik secara verbal ataupun nonverbal. Menurut
Joseph A. Devito dalam bukunya. “The interpersonal communication
book” mendefinisikan komunikasi interpersonal sebagai suatu proses
penyampaian pesan oleh satu orang dan penerimaan pesan oleh orang
lain atau sekelompok kecil orang, dengan berbagai dampaknya dan
dengan peluang untuk memberikan umpan balik segera.5
Komunikator yang efektif adalah komunikator yang mampu
mengendalikan interaksi untuk kepuasan kedua belah pihak dalam
interaksi yang efektif.6 Apabila komunikasi berlangsung dalam tatanan
interpersonal tatap muka dialogis timbal balik (face to face dialogical
reciprocal) ini dinamakan interaksi simbolik. Dengan demikian
komunikasi didefinisikan sebagai interaksi atau aksi sosial bersama
individu-individu mengenai apa yang mereka lakukan.7
Komunikasi adalah pertukaran informasi, sehingga setiap
individu yang berinteraksi dapat dengan mudah dalam penyampaian
dan penerimaan pesan. Namun, berbeda bagi yang memiliki
keterbatasan kemampuan secara fisik maupun mental yang demikian,
serta kecacatan pendengaran seperti tuna rungu. Bahkan ada kalanya
5
Onong Uchjana Effendy, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktik, (Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2003), h. 30. 6
Joseph A. Devito, Komunikasi AntarManusia, (Tangerang selatan: PT. Karisma
Publishing Group, 2011), h. 5.
7
Onong Uchjana Effendy, Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi, (Bandung:Citra Aditya
Bakti, 2007), h. 390.
4
orang yang memiliki keterbatasan melakukan tindakan-tindakan yang
menyimpang.8
Penyandang tuna rungu yang mempunyai keterbatasan
pendengaran adalah orang yang berbeda dengan orang lain pada
umumnya, tanpa selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental,
emosi, atau fisik. Dan tuna rungu berkomunikasi dengan menggunakan
bahasa verbal dan isyarat pada umumnya, akan tetapi kebanyakan
bahasa verbal yang digunakan didorong dengan bahasa nonverbal yaitu
bentuk isyarat (simbol).
Komunikasi antarpribadi (interpersonal communication) adalah
komunikasi
antara
orang-orang
secara
tatap
muka,
yang
memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara
langsung baik secara verbal ataupun nonverbal. Bentuk khusus dari
komunikasi antarpribadi ini adalah komunikasi diadik (dyadic
communication)
yang
hanya
melibatkan
antara
dua
orang.
Keberhasilan dari komunikasi menjadi tanggung jawab para anggota
komunikasi.
Komunikasi
antarpribadi
bebas
mengubah
topik
pembahasan tanpa terikat suatu topik.9
Pendengaran dan pengelihatan
sebagai panca indra primer,
akan tetapi sentuhan dan penciuman juga sama pentingnya dalam
menyampaikan pesan-pesan bersifat intim. Jelas sekali bahwa
8
Kartini Kartono, Psikologi Anak, (Bandung : PT. Bandar Maju, 2011), h. 236. Dedy Mulyana, Ilmu komunikasi Suatu Pengantar, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,
2010), h. 81.
9
5
komunikasi antarpribadi sangat potensial untuk memengaruhi dan
membujuk orang lain, karena kita dapat membujuk orang lain dari
beberapa alat panca indra tersebut.10 Namun, bagaimana bagi orang
yang memiliki keterbatasan fisik secara permanen seperti penyandang
tuna rungu.
Dalam penelitian ini akan menjelaskan komunikasi antarpribadi
penyandang tuna rungu dalam menggunakan komunikasi nonverbal,
karena komunikasi nonverbal dianggap sebagai salah satu bentuk
bahasa yang dapat memudahkan penyandang tuna rungu dalam
melakukan interaksi serta mempertegas bahasa verbal yang kurang
jelas. Sehingga isi pesan yang disampaikan dan dimaksud dapat
dengan mudah dipahami dalam sebuah interaksi bagi penyandang tuna
rungu.
Tuna rungu adalah individu yang memiliki hambatan dalam hal
pendengaran, baik secara permanen maupun tidak permanen.
Klasifikasi tuna rungu berdasarkan tingkat gangguan pendengaran
diantaranya adalah sangat ringan, dan gangguan terberat, atau
gangguan
pendengaran
ekstrem
atau
tuli.
Karena
memiliki
keterbatasan dalam pendengaran individu tuna rungu memiliki
hambatan dalam berbicara sehingga mereka bisa disebut tuna wicara.
Dan
cara
berkomunikasi
mereka
dengan
individu
lainnya
menggunakan bahasa isyarat dan abjad jari yang telah di patenkan
10
Dedy Mulyana, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, (Bandung: Remaja Rosdakarya,
2011), h. 81. 6
secara internasional. Sedangkan, untuk isyarat bahasa berbeda-beda
disetiap negara. Saat ini di beberapa sekolah telah mengembangkan
komunikasi total yaitu cara berkomunikasi dengan melibatkan bahasa
verbal bagi penyandang tuna rungu dengan bantuan bahasa isyarat
tentunya.
Sehingga
lebih
mempertegas
bahasa
verbal
yang
disampaikan.
Individu tuna rungu lebih cenderung kesulitan dalam
memahami konsep dari sesuatu yang abstrak.11 Hal inilah yang
mengakibatkan
keterbatasan
dalam
menerima
informasi
yang
disampaikan oleh lawan bicara.
Fenomena yang terjadi dalam komunikasi penyandang tuna
rungu adalah salah satu bentuk komunikasinya yang bersifat
nonverbal, yakni dengan menggunakan bahasa-bahasa serta metode
yang menunjang bagi kemampuan komunikasinya. Salah satunya
adalah
komunikasi
total
yakni
komunikasi
yang
berusaha
menggabungkan berbagai bentuk komunikasi untuk mengembangkan
konsep dan bahasa pada penderita gangguan pendengaran atau tuna
rungu. Didalamnya terdapat gerakan-gerakan, suara yang diperkeras,
ejaan jari, bahasa isyarat, membaca dan menulis. Akan tetapi dalam
penelitian ini penulis akan mencoba meneliti pola komunikasi
antarpribadi nonverbal penyandang tuna rungu yakni dimana
komunikasi yang lebih mengutamakan bantuan gerakan atau simbol
11
Artikel ini diakses dari http://id.wikipedia.org/wiki/anak_berkebutuhan_khusus.com,
pada tanggal 28/11/2013 pukul 20:25 WIB.
7
yang dapat membantu penyandang tuna rungu. Dan penelitian ini lebih
memfokuskan komunikasi diadik yakni komunikasi yang terjadi antara
dua orang secara langsung dan tatap muka.
Penelitian ini sangat penting diteliti karena pola komunikasi
tuna rungu berbeda dengan cara komunikasi orang normal pada
umumnya, mereka menggunakan bahasa isyarat atau nonverbal
sebagai bahasa yang mereka gunakan dalam interaksi sehari-hari,
sebab penyandang tuna rungu sangat sulit berkomunikasi dan
melakukan feedback dalam berkomunikasi. Terlebih lagi untuk
memahami isi dan maksud dari pembicara atau komunikator. Selain itu
juga penyandang tuna rungu sangat sulit dalam mempersepsikan
konseptual bahasa yang disampaikan oleh orang lain. Dengan
demikian, sangat penting untuk mengetahui pola komunikasi
penyandang tuna rungu menggunakan komunikasi nonverbal dan
isyarat tertentu dalam berkomunikasi, agar dapat dengan mudah
dipahami serta memudahkan penyandang dalam berkomunikasi.
Dengan adanya sebuah pola komunikasi tertentu melalui komunikasi
nonverbal
diharapkan
mampu
memberikan
kemudahan
dalam
menyampaikan fikiran, dan perasaan penyandang tuna rungu.
Yayasan tuna rungu Sehjira Deaf Foundation adalah lembaga
yang membina penyandang tuna rungu dengan memberikan edukasi,
bimbingan, serta dukungan penuh dengan keterampilan-keterampilan
khusus seperti keterampilan manusia normal pada umumnya. Yayasan
Sehjira juga berperan dalam membantu penyandang tuna rungu dalam
8
berkomunikasi,
memberikan
arahan
terhadap
kemudahan
berkomunikasi. Oleh karena itu, penulis memilih yayasan tuna rungu
sebagai subjek dalam penelitian karena yayasan ini bergerak pada
kegiatan sosial dengan tujuan memberdayakan kaum tuna rungu agar
bisa mencapai hak-haknya yang setara dengan orang yang mendengar
pada umunya. Memberdayakan dari segala bidang serta meningkatkan
sumber daya tuli melalui pendidikan informal dan keterampilan baik di
lingkungan keluarga maupun individu.12
Dalam hal ini, penulis melakukan penelitian tentang pola
komunikasi tuna rungu antarpribadi nonverbal yang diterapkan dalam
keseharian penyandang tuna rungu. Apakah efektif komunikasi yang
dilakukan melalui bantuan komunikasi nonverbal seperti bahasa dan
isyarat. Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka penulis
memilih skripsi dengan judul “Pola Komunikasi AntarPribadi
Nonverbal Penyandang Tuna Rungu (Studi Kasus Di Yayasan
Tuna Rungu Sehjira Deaf Fondation Joglo-Kembangan Jakarta
Barat).
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah
a. Pembatasan masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka penulis
membatasi pola komunikasi penyandang tuna rungu melalui
12
Artikel ini Diakses dari www.Sehjira-yayasan-keluarga-tuna-rungu.compada tanggal
28/11/2013 pukul 08:52 pm. 9
komunikasi antarpribadi bersifat nonverbal serta difokuskan
kepada penyandang tuna rungu ringan dan tuna rungu berat.
b. Perumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah diatas, maka penulis
merumuskan permasalahan sebagai berikut:
a. Bagaimana
pola
komunikasi
antarpribadi
nonverbal
penyandang tuna rungu ringan dan berat di yayasan tuna rungu
Sehjira Deaf Foundation dalam Meaning, Language, dan
Thought untuk penyandang tuna rungu ringan dan berat?
b. Apa faktor penghambat dan pendukung dalam komunikasi bagi
penyandang
tuna
rungu
di
Yayasan
Sehjira
Deaf
Foundationdari segi intelegensi, bahasa dan bicara, segi emosi
dan sosial?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah:
a. Untuk mengetahui pola komunikasi antarpribadi nonverbal
penyandang tuna rungu ringan dan berat secara langsung
dalam
kegiatan
sehari-hari
di
Yayasan
Sehjira
Deaf
Foundation.
b.
Untuk mengetahui faktor hambatan dan pendukung dalam
berkomunikasi bagi penyandang tuna rungu ringan dan berat
10
dari segi intelegensi, bahasa dan bicara serta dari segi emosi
dan sosial diYayasan Sehjira Deaf Foundation.
D. Manfaat Penelitian
a. Manfaat Akademis
Secara akademis dan ilmiah skripsi ini dapat dijadikan dan
digunakan sebagai bahan pengetahuan terutama dalam bidang
komunikasi. Penelitian ini juga di harapkan agar dapat menjadi
sumber informasi tentang pola komunikasi penyandang tuna rungu
melalui komunikasi nonverbal mereka berupa bahasa isyarat dan
simbol. Melalui komunikasi antarpribadi yakni komunikasi yang
dilakukan secara langsung bagi penyandang tuna rungu di Yayasan
Tuna Rungu Sehjira Deaf Foundation.
b. Manfaat Praktis
Secara praktis skripsi ini diharapkan dapat menambah
wawasan dan membuka pemikiran baru khusus bagi penulis dalam
rangka mengetahui langkah dan respon positif bagi penyandang
tuna rungu, yang berbeda dengan manusia normal pada umumnya
dalam hal pendengaran. Umumnya bagi orang-orang yang tertarik
dengan penelitian pola komunikasi penyandang tuna rungu serta
dapat memberikan gambaran bagi pembaca, dan menambah
khazanah pengetahuan tentang komunikasi dan bentuk komunikasi
lainnya.
11
E. Metodologi Penelitian
1. Paradigma Penelitian
Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivis. Karena
paradigma konstruktivis merupakan antitesis dari paham yang
meletakan pengamatan dan objektivitas dalam menemukan suatu
realitas atau ilmu pengetahuan. Sebab, suatu realitas yang diamati
oleh seseorang tidak bisa digeneralisasikan ke semua orang.
Karena dasar paradigma ini memfokuskan pada pengamatan dan
objektivitas. Maka hubungan antara pengamatan dan objek
bersifat kesatuan, subjektif dan merupakan hasil perpaduan
interaksi di antara keduanya. 13
Dalam penelitian ini penulis menggunakan paradigma
konstruktivis untuk mengetahui dan mengamati secara mendalam
pada objek penelitian yakni penyandang tuna rungu sebagai objek
utama. Agar penelitian yang dihasilkan dari objek tersebut bisa
menemukan suatu kebenaran terhadap suatu realitas atau ilmu
pengetahuan yang benar. Maka pengamatan yang dilakukan di
lapangan
terhadap
objektivitas
mempunyai
kesatuan
yang
subjektif.
2. Pendekatan Penelitian
13
Norman K. Dezin, Teori dan Paradigma Penelitian Sosial, (Yogyakarta: PT. Tiara
wacana yogya, 2001), h. 41.
12
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif
yang bertujuan untuk menjelaskan fenomena melalui pengumpulan
data sedalam-dalamnya. Jika data yang sudah terkumpul sudah
mendalam dan bisa menjelaskan fenomena yang diteliti, maka
tidak perlu mencari sampling lainnya. Dalam penelitian ini lebih
memfokuskan kedalaman atau kualitas data.
Dalam penelitian ini penulis menjadi bagian integral dari data,
artinya periset ikut aktif dalam menentukan jenis data yang
diinginkan. Dengan demikian penulis menjadi instrumen riset yang
harus terjun langsung ke lapangan.
Penulis mewawancarai subjek penelitian untuk mendapatkan
data dan melakukan wawancara mendalam agar mendapatkan data
yang mendalam. Selama proses ini terjadi dialog bebas antara
penulis dan masing-masing subjek penelitian. dan hasil dialog ini
kemudian diinterpretasikan oleh penulis dengan teori-teori yang
relevan.
3. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian studi kasus,
yakni metode penelitian yang menggunakan berbagai sumber data
sebanyak
mungkin
yang
bisa
digunakan
untuk
meneliti,
menguraikan, menjelaskan secara komprehensif berbagai aspek
individu, kelompok atau peristiwa secara sistematis.
13
Studi kasus ini menggunakan tipe deskriptif secara
sistematis, faktual, dan akurat tentang fakta-fakta dan sifat populasi
atau objek tertentu. Penulis terlebih dahulu membuat konsep dan
kerangka konseptual. Melalui kerangka konseptual atau landasan
teori.14Penulis melakukan operasionalisasi konsep yang akan
menghasilkan variabel beserta indikatornya.
Studi kasus ini menggunakan desain studi kasus tunggal
yakni penelitian yang menyajikan uji kritis suatu teori yang
signifikan. Desain kasus tunggal ini lebih menekankan pada
penentuan unit analisis atau kasus itu sendiri.15
4. Subjek dan Objek Penelitian
Dalam penelitian ini yang menjadi subjek utama adalah
penyandang tuna rungu ringan dan tuna rungu berat, sedangkan
yang menjadi objek penelitian ini adalah pola komunikasi
antarpribadi nonverbal penyadang tuna rungu, bagaimana mereka
menggunakan bahasa nonverbal sebagai alat dalam berkomunikasi.
5. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang dilakukan yakni melalui
tahapan sebagai berikut:
a. Wawancara Mendalam
14
Rachmat Kriyantono, Teknik Praktis Riset Komunikasi, (Jakarta: PT. Kencana Prenada
Media Group, 2010), h. 68 15
Robert K, Studi Kasus Desain dan Metode, (Depok: PT. Raja Grafindo Persada, 2013),
h. 48.
14
Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data
dimana penulis melakukan kegiatan wawancara tatap muka
secara mendalam dan terus.16 Wawancara yang dilakukan
selama proses penelitian ini lebih menggunakan tipe openended dan wawancara terfokus, tipe open-ended yang
dimaksud yakni dimana penulis dapat bertanya kepada
responden kunci guna mengetahui fakta-fakta dari suatu
peristiwa. Sedangkan wawancara tipe terfokus yakni dimana
responden diwawancarai dalam waktu yang sangat singkat.
Wawancara yang peneliti lakukan melibatkan selaku
pengasuh yayasan Ir. Rachmita Maun Harahap dan salah satu
anggota tunarugu berat dan ringan di yayasan tunarungu
Sehjira Deaf Foundation. Sehingga dapat membantu dalam
memberikan informasi dan kelengkapan data yang diperlukan
oleh penulis.
b. Dokumentasi
Pada
tahap
dokumentasi
ini
penulis
berusaha
mengumpulkan informasi dokumenter sebanyak-banyaknya
guna mendapatkan hasil yang relevan. Dokumentasi yang
dilakukan sebagai teknik pengumpulan data melalui dokumendokumen seperti buku bacaan, jurnal, majalah, studi pustaka,
artikel, dan hasil data survei seperti rekaman gambar dan data
16
Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2010),
h. 186
15
lainnya yang dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk
kelengkapan penelitian ini.
Tahap dokumentasi ini dilakukan guna mendapatkan
kelengkapan
data
dan
menghasilkan
penelitian
dengan
reliabilitas yang baik mengenai pola komunikasi antarpribadi
nonverbal penyandang tuna rungu di Yayasan tuna rungu
Sehjira Deaf Foundation. Dalam riset ini peneliti menggunakan
dokumen yang berupa dokumen pribadi yayasan, artikel dan
blog yayasan tunarungu Sehjira Deaf Foundation.
6. Teknik Analisis Data
Setelah peneliti mendapatkan data-data dan informasi yang
dibutuhkan, maka teknik analisis yang dilakukan didahului oleh
upaya mengungkapan trustworthiness dari para subjek penelitian.
Untuk mengetahui sumber data yang akurat yakni dengan cara
menguji kebenaran dan kejujuran subjek penelitian dalam
mengungkapkan realitas. Setelah penulis merasa data sudah cukup
terkumpul maka dilakukan analisis dengan membuat kategorikategori tertentu. Dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik
analisis data melalui filling system yakni dimana data sudah
terkumpul dan dirasa sudah cukup maka dilakukan analisis dengan
membuat kategori pola komunikasi antarpribadi nonverbal
tunarungu berat dan pola komunikasi antarpribadi nonverbal
penyandang tunarungu ringan. Dengan menggabungkan teori
16
interaksionisme simbolik terhadap pola komunikasi antarpribadi
melalui konsep Meaning, language, dan thought.
7. Teknik Penulisan
Dalam penulisan dan transliterasi skripsi ini menggunakan
buku “Pedoman Penulisan Skipsi, Tesis dan Disertasi” yang
disusun oleh UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang diterbitkan oleh
CeQDA April 2007.
F. Tinjauan Pustaka
Judul yang digunakan dalam skripsi ini banyak kesamaan
dengan judul-judul skripsi lain yang mencoba menganalisis tentang
pola komunikasi diantaranya skripsi Fitri Novita Sari mahasiswi
Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam
Negeri Jakarta yang ditulis pada tahun 2013 berjudul, “Pola
Komunikasi Terapis Dengan Anak Autisme Di Klinik Khusus
Tumbuh Kembang RS Anak dan Bunda Harapan kita Jakarta
Barat”17 dalam skripsi novita sari membahas pola komunikasi
antara terapis dengan anak autisme disebuah klinik khusus tumbuh
kembang anak yang memfokuskan pola komunikasi diadik.
Kemudian
skripsi
yang
ditulis
oleh
Abdul
hamid
mahasiswa Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi
Universitas Islam Negeri Jakarta yang ditulis pada tahun 2013
17
Fitri Novita Sari, “Pola Komunikasi Terapis Dengan Anak Autisme Di Klinik Khusus
Tumbuh Kembang RS Anak Dan Bunda Harapan Kita Jakarta Barat” (Skripsi SI Fakultas Ilmu
Dakwah Dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah).
17
yang berjudul “Pola Komunikasi Volunter dan Anak Didik Dalam
Membina Akhlak di Komunitas Kandank Jurang Doank Ciputat”18
dalam skripsi tersebut banyak membahas pola komunikasi antara
pengasuh dan anak didik serta pembinaan akhlak. Dengan
mengedepankan
komunikasi
antarpribadi
dan
komunikasi
instruksional, perbedaannya dengan judul skripsi ini adalah pola
komunikasi antarpribadi nonverbal penyandang tuna rungu studi
kasus di Yayasan tuna rungu Sehjira Deaf Foundation, yang lebih
menganalisis kepada sisi komunikasi antara peyandang tuna rungu
dalam percakapan sehari-hari. Dengan komunikasi antarpribadi
atau interpersonal. Dan komunikasi dipandang sebagai suatu
sistem yang dapat mentranformasikan isi pesan kepada komunikan
atau lawan bicara.
Setelah penulis melakukan tinjauan pustaka yang ada, maka
penulis memutuskan untuk melakukan penelitian dengan judul
Pola Komunikasi Antarpribadi Nonverbal Penyandang tuna rungu
studi kasus di Yayasan tuna rungu Sehjira Deaf Foundation.
G. Sistematika Penulisan
Penulisan skripsi ini bersifat sistematis, maka peneliti
membaginya menjadi lima bab dan tiap-tiap babnya terdiri dari
sub-sub bab. Adapun sistematika penulisannya adalah sebagai
berikut:
18
Abdul Hamid, “Pola Komunikasi Volunter Dan Anak Didik Dalam Membina Akhlak
Dikomunitas Kandank Jurang Doank Ciputat” (Skripsi SI Fakultas Ilmu Dakwah Dan Ilmu
Komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta).
18
BAB I
PENDAHULUAN
Membahas tentang latar belakang masalah, pembatasan masalah
dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metodologi
penelitian, tinjauan pustaka, dan sistematika penulisan.
BAB II
LANDASAN TEORI DAN KERANGKA KONSEP
Dalam bab ini terdiri dari sejarah teori interaksionisme simbolik
George Herbert Mead, ruang lingkup komunikasi, pengertian
komunikasi, bentuk-bentuk komunikasi, unsur-unsur komunikasi,
faktor hambatan komunikasi, pengetian komunikasi antarpribadi,
karakteristik komunikasi antarpribadi, jenis-jenis komunikasi
antarpribadi, pengertian komunikasi nonverbal, bentuk-bentuk
komunikasi nonverbal, jenis-jenis komunikasi nonverbal, fungsi
komunikasi nonverbal, pengertian tuna rungu dan karakteristik
tuna rungu.
BAB III GAMBARAN UMUM YAYASAN TUNA RUNGU
Dalam bab ini membahas gambaran umum objek penelitian yang
berisi tentang profil latar belakang berdirinya yayasan, visi dan
misi, bentuk kegiatan bagi penyandang tunarungu, kegiatan utama
yayasan, prestasi yayasan, Susunan pengurus yayasan.
BAB IV
ANALISIS DATA DAN HASIL PENELITIAN
Dalam bab ini akan menganalisis mengenai teori interaksionisme
simbolik sebagai pembentuk makna dalam proses interaksi melalui
19
komunikasi antarpribadi verbal dan nonverbal bagi penyandang
tuna rungu ringan dan berat, sertafaktor penghambat dan
pendukung proses komunikasi dari segi intelegensi, bahasa emosi
dan sosial.
BAB V
PENUTUP
Meliputi kesimpulan dan saran-saran dari hasil penelitian yang
berkaitan
dengan
pola
komunikasi
antarpribadi
nonverbal
penyandang tuna rungu ringan dan berat dalam Meaning, language
dan thought or mind serta komunikasi antarpribadi yang dilakukan
diyayasan tuna rungu Sehjira Deaf Foundation.
BAB II
LANDASAN TEORI DAN KERANGKA KONSEP
A. Teori Symbolic Interactionism George Herbert Mead
Sejarah teori interaksi simbolik lahir pada dua universitas
yang berbada: Universitas of lowa dan Universitas of Chicago. Di
lowa, Manford Kuhn dan mahasiswanya merupakan tokoh penting
dalam memperkenalkan ide-ide asli dari
interaksi simbolik
sekaligus memberikan kontribusi terhadap teori ini. Selain itu
pemikir Universitas of lowa mengembangkan beberapa cara
pandang mengenai konsep diri, tetapi pendekatan mereka dianggap
sebagai pendekatan yang tidak biasa, karenanya kebanyakan
prinsip dan pengembangannya yang berakar pada Mahzab
Chicago.1
George Herbert Mead dan temannya John Dewey
merupakan teman sefakultas di Universitas of Chicago. Mead
memainkan suatu peran yang penting dalam membangun
perspektif dari Mahzab Chicago, yang difokuskan pada pendekatan
terhadap teori sosial yang menekankan pentingnya komunikasi
bagi kehidupan dan interaksi sosial.2 Asumsi dari teori Interaksi
1
Richard West, dkk, Pengantar Teori Komunikasi Analisis dan Aplikasi,
(Jakarta:Salemba Humanika, 2008), h. 96.
2
Richard West, dkk, Pengantar Teori Komunikasi Analisis dan Aplikasi,
(Jakarta:Salemba Humanika, 2008), h. 95.
20 21 simbolik ini memandang cara seseorang tergerak untuk bertindak
berdasarkan makna yang diberikannya kepada orang lain melalui
peristiwa. Makna-makna ini diciptakan dalam bahasa yang
diciptakan dalam bahasa yang digunakan oleh orang baik dengan
dirinya sendiri maupun dengan orang lain. Dengan bahasa
memungkinkan orang untuk mengembangkan perasaan mengenai
diri dan untuk berinteraksi dengan orang lainnya dalam sebuah
komunitas.3 Bagi Mead tidak ada pikiran yang terlepas dar situasi
sosial. Berpikir adalah hasil internalisasi proses interaksi dengan
orang lain.4
Teori-teori sosiokultural tentang percakapan membahas
mengenai pemahaman apa yang dibuat dan dibangun dalam
percakapan, bagaimana suatu makna muncul dalam percakapan,
dan bagaimana suatu simbol dapat diartikan melalui interaksi. Dan
juga berfokus pada bagaimana pelaku komunikasi bekerjasama
dalam sebuah cara yang tersusun untuk mengatur pembicaraan
mereka. Dalam tradisi sosiokultural terdapat empat jenis teori
yakni: interaksionisme simbolis, teori pemusatan simbolis, analisis
percakapan, dan teori perundingan.5
Dalam penelitian ini penulis menggunakan teori Symbolis
Interactionism atau Interaksionisme Simbolik, yakni sebuah
3
Richard West, dkk, Pengantar Teori Komunikasi Analisis dan Aplikasi, h. 96.
Onong Uchjana Effendy, Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi, (Bandung: Citra Aditya
Bakti, 2007), cet. ke-3, h. 392.
5
Stephen W. LittleJohn, Teori Komunikasi Theories Of Human Communication, (Jakarta:
Salemba, 2009), h. 231. 4
22 pergerakan dalam sosiologi, berfokus pada cara-cara manusia
membentuk makna dan susunan dalam masyarakat melalui
percakapan. George Herbert Mead dianggap sebagai pendiri
gerakan interaksionisme simbolis dan karya-karyanya membentuk
inti dari Chicago School. Herbert Blumer menemukan istilah
interaksionisme simbolis sebuah tindakan sosial didasari oleh
sebuah proses umum, yang merupakan sebuah kesatuan tingkah
laku yang tidak dapat dianalisis ke dalam bagian-bagian tertentu.
Dari sebuah tindakan sosial mendasar melibatkan sebuah hubungan
dari tiga bagian yakni: gerakan tubuh awal dari sebuah individu,
respon orang lain terhadap gerak tubuh tersebut, dan sebuah hasil.
Hasilnya adalah arti tindakan tersebut bagi pelaku komunikasi.6
Tindakan individu yang tetap, seperti berjalan sendirian
atau membaca sebuah interaksional karena didasarkan pada gerak
tubuh serta respon yang banyak terjadi di masa lalu dan terus
berlanjut dalam pikiran individu. Mead menyebutkan bahwa
gerakan tubuh sebagai simbol signifikan. Di sini kata gerak tubuh
(gesture) mengacu pada setiap tindakan yang dapat memiliki
makna. Hal ini bersifat verbal atau berhubungan dengan bahasa,
tetapi dapat juga berupa gerak tubuh nonverbal.
Masyarakat terdiri atas sebuah jaringan interaksi sosial di
mana anggotanya menempatkan makna bagi tindakan mereka dan
tindakan orang lain dengan menggunakan simbol-simbol. Manusia
6
Stephen W. LittleJohn, Teori Komunikasi Theories Of Human Communication, h. 232.
23 selalu menggunakan simbol-simbol yang berbeda untuk menamai
objek, objek menjadi objek melalui proses pemikiran kita. Oleh
karena itu sebagai sebuah objek sosial, makna ganda diciptakan
dalam proses interaksi. Bagaimana manusia berpikir ditentukan
oleh makna-makna tersebut dan juga merupakan hasil dari
interaksi.7
Apabila
komunikasi
berlangsung
dalam
tatanan
interpersonal tatap muka dialogis timbal balik (face to face
dialogical reciprocal) ini dinamakan interaksi simbolik. Dengan
demikian komunikasi didefinisikan sebagai interaksi atau aksi
sosial bersama individu-individu mengenai apa yang mereka
lakukan.8
Dalam teori ini penulis menggali makna serta pesan yang
terkandung dalam interaksi yang berlangsung secara tersirat baik
pesan yang diterima akan memberikan makna dan tafsiran yang
berbeda melalui peristiwa-peristiwa yang terjadi sebelumnya.
Konsep dari teori ini, interaksi sosial dianggap sebagai
komunikasi
dan
dipengaruhi,
difokuskan
pada
isi
dan
memfokuskan pada makna diri kita sendiri, jati diri atau sosialisasi
individu kepada komunitas yang lebih besar. Menurut George
Herbert Mead ada tiga prinsip dari teori ini diantaranya adalah:
7
Stephen W. LittleJohn, Teori Komunikasi Theories Of Human Communication, (Jakarta:
Salemba Humanika, 2011), h. 236. 8
Onong Uchjana Effendy, Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi, (Bandung: Citra Aditya
Bakti, 2007), h. 390. 24 1. Meaning the social reality construction of self atau diri
menjadi sebuah realitas sosial yang terkonsep
Kegiatan saling memengaruhi antara merespon
pada orang lain dan diri sendiri ini adalah sebuah
konsep penting dalam teori Mead, karena dengan diri
seseorang akan dapat merespon diri sendiri sebagai
sebuah objek. Diri memiliki dua segi masing-masing
menjalankan fungsi yang penting I adalah bagian dari
diri yang menurutkan kata hati, tidak teratur, tidak
terarah, dan tidak dapat ditebak. Me adalah refleksi
umum orang lain yang terbentuk dari pola-pola yang
teratur dan tetap, yang dibagi dengan orang lain.
Jadi setiap tindakan yang dimulai dengan sebuah
dorongan I dan selanjutnya akan dikendalikan oleh Me.9
2. Language the sourch of meaning symbol atau bahasa
sebagai sumber makna
Mead menyebutkan gerak tubuh sebagai simbol
signfikan. Di sini kata gerak tubuh mengacu pada
(gesture) yang artinya mengacu pada setiap tindakan
yang dapat memiliki makna. Biasanya hal ini bersifat
verbal atau berhubungan dengan bahasa, tetapi dapat
9
Stephen W. LittleJohn, Teori Komunikasi Theories Of Human Communication, (Jakarta:
Salemba Humanika, 2011), h. 234.
25 juga gerak tubuh seperti non-verbal. Gerak tubuh
menjadi nilai dan simbol yang signifikan.
Masyarakat ada karena simbol kita dapat
mendengar diri kita sendiri dan meresponnya seperti
yang orang lain lakukan kepada kita karena adanya
kemampuan untuk menyuarakan simbol.10
3. Thought or Mind atau pikiran menjadi sebuah proses
Kemampuan untuk menggunakan simbol untuk
merespon pada diri sendiri menjadikan berpikir adalah
sesuatu yang mungkin. Berpikir adalah konsep ketiga
Mead yang ia sebut pikiran. Pikiran bukanlah sebuah
benda, tetapi merupakan sebuah proses. kemampuan ini
yang berjalan dengan diri, sangat penting bagi
kehidupan manusia, karena merupakan bagian dari
tindakan manusia.
Oleh karena itu, teori interaksionisme simbolik lebih menekankan
pada pemaknaan dari setiap bahasa yang digunakan. Karena setiap
manusia menggunakan simbol-simbol yang berbeda untuk menamai
suatu objek tertentu.11
10
11
Stephen W. LittleJohn, Teori Komunikasi Theories Of Human Communication, h. 233.
Stephen W. LittleJohn, Teori Komunikasi Theories Of Human Communication, h. 235.
26 B. Pola Komunikasi
a. Pengertian Komunikasi
Hakikat
komunikasi
adalah
sebuah
proses
pernyataan
antarmanusia. Yang dinyatakan itu adalah pikiran atau perasaan
seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa sebagai alat
penyalurnya. Dalam “bahasa” komunikasi dinamakan pesan atau
(message), orang yang menerima pesan disebut (komunikator)
sedangkan
orang
yang
menerima
pernyataan
diberi
nama
(komunikan). Komunikasi berarti mempunyai makna yakni proses
penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan. Pesan
komunikasi memiliki dua aspek diantaranya pertama, isi pesan ( the
content of message), kedua lambang (symbol). Kongkritnya pesan itu
adalah pikiran atau perasaan, lambang adalah bahasa.12
Komunikasi menjadi sebuah proses berbagi makna melalu
perilaku verbal dan nonverbal.13segala prilaku dapat disebut
komunikasi jika melibatkan dua orang atau lebih. Komunikasi disebut
efektif apabila penerima menginterpretasikan pesan yang diterimanya
sebagaimana
dimaksudkan
oleh
pengirim.
Agar
pesan
yang
tersampaikan dapat efektif yakni, pertama, kita harus mengusahakan
agar pesan-pesan yang kita kirim mudah dipahami. Kedua, sebagai
pengirim kita harus memiliki kredibilitas di mata penerima. Ketiga,
12
Onong Uchjana Effendy, Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi, (Bandung: Citra Aditya
Bakti, 2007), h. 28.
13
Dedy Mulyana, Komunikasi Efektif Suatu Pendekatan LintasBudaya, (Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya, 2005), h. 3
27 kita harus berusaha mendapatkan umpan balik atau feedback secara
optimal tentang pengaruh pesan kita itu dalam diri penerima. Dengan
kata lain, kita harus memiliki kredibilitas dan keterampilan mengirim
pesan.14
Definisi komunikasi secara bahasa atau etimologi berasal dari
bahasa inggris yaitu communication. Communication
berasal dari
bahasa latin yaitu communicatio yang berarti pemberitahuan atau
pertukaran pikiran.15
Adapun
definisi
komunikasi
secara
istilah
banyak
dikemukakan oleh para ahli komunikasi dan salah salah satunya
Everett M. Rogers seorang pakar Sosiologi Pedesaan Amerika
komunikasi adalah “proses dimana suatu ide dilahirkan dari sumber
kepada satu penerima atau lebih, dengan maksud untuk mengubah
tingkah laku mereka”.16
b. Karakteristik Komunikasi
Dalam definisi komunikasi yang telah dijelaskan. komunikasi
mempunyai beberapa karakteristik yakni, komunikasi sebagai suatu
proses, komunikasi merupakan serangkaian tindakan atau peristiwa
yang terjadi secara berurutan, serta berkaitan satu sama lainnya dalam
kurun waktu tertentu. Sebagai suatu proses, komunikasi akan terus
14
Supratiknya, Komunikasi antarpribadi tinjauan psikologis, h. 35
Astrid S. Sutanto, Komunikasi dalam Teori dan Praktik, (Bandung: PT. Bina Cipta,
1998), h. 1.
16
Hafied Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada,
2007), h. 20.
15
28 mengalami perubahan dan berlangsung secara terus menerus.
Komunikasi melibatkan beberapa unsur, seperti yang diungkapkan
Laswell, lima unsur tersebut yang melibatkan dalam komunikasi who,
say what, in which channel, to whom, with what effect. Komunikasi
juga bersifat transaksional yakni menuntut tindakan memberi dan
menerima. Kedua tindakan tersebut tentunya perlu dilakukan secara
seimbang
oleh
masing-masing
pelaku
yang
terlibat
dalam
komunikasi.17
c. Unsur-unsur Komunikasi
Dalam komunikasi terdapat beberapa unsur komunikasi,
selama proses komunikasi berlangsung unsur komunikasi ini tidak
terlepas dari perannya masing-masing. Diantaranya sebagai berikut:
a. Komunikator, adalah pelaku atau orang yang menyampaikan
pesan kepada orang lain.
b. Pesan, yakni suatu gagasan atau ide, informasi, pengalaman
yang disampaikan baik berupa kata-kata, lambang-lambang,
isyarat, tanda-tanda, atau gambar untuk disebarkan kepada
orang lain dalam proses komunikasi berlangsung.
c. Komunikan,
yakni
orang
yang
menerima
pesan
dari
komunikator.
d. Media, adalah alat yang digunakan untuk berkomunikasi, agar
komunikasi dapat berlangsung secara efektiv.
17
Sasa Djuarsa, dkk, Pengantar Komunikasi, (Jakarta: UT, 1999), h. 111.
29 e. Tujuan (Destination), tujuan atau harapan yang ingin dicapai
dalam proses komunikasi berlangsung. 18
f. Feedback (umpan balik), yakni tanggapan atau respon dari
komunikan kepada komunikator.
g. Efek, yakni bagaimana pesan yang disampaikan oleh
komunikator dapat memberikan efek tertentu pada komunikan,
sehingga pesan yang disampaikan dapat mengubah perilaku
dan sikap.
d. Bentuk-bentuk Komunikasi
Menurut Onong Uchjana Effendy dalam bukunya yang
berjudul Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Ada beberapa bentuk
komunikasi
yaitu
komunikasi
pribadi
(intrapribadi
dan
antarpribadi), komunikasi kelompok (kelompok besar dan kecil),
komunikasi massa dan komunikasi media.19
a. Komunikasi Pribadi
Komunikasi
pribadi
(personal
communication)
adalah komunikasi seputar diri seseorang, baik fungsinya
sebagai komunikator maupun sebagai komunikan. Dalam
tatanannya komunikasi pribadi dibagi menjadi dua bagian
yakni komunikasi intrapribadi dan komunikasi antarpribadi.
18
Pawit M. Yusuf, Komunikasi Instruksional Teori Dan Praktik, (Jakarta: PT. Bumi
Aksara, 2010), h. 213.
19
Onong Uchjana Effendy, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. (Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2006), h. 7.
30 1) Komunikasi intrapribadi
Komunikasi
intrapribadi
adalah
komunikasi
yang
berlangsung dalam diri seseorang, dia berkomunikasi dan berdialog
dengan dirinya sendiri. Dan dia bertanya pada dirinya sendiri.
Ronald L. Applbaum dalam bukunya “Fundamental concept In
Human Communication” mendefinisikan komunikasi intrapribadi
sebagai komunikasi yang berlangsung dalam diri kita, ia meliputi
kegiatan berbicara kepada diri kita sendiri dan kegiatan-kegiatan
mengamati dan memberikan makna (intelektual dan emosional)
kepada lingkungan kita.20
2) Komunikasi Antarpribadi
Komunikasi antarpribadi didefinisikan oleh Joseph A.
Devito dalam bukunya “The Interpersonal Communication book”
sebagaimana yang dikutip dalam buku Onong Uchjana Effendy
dalam buku Ilmu Teori dan Filsafat Komunikasi sebagai proses
pengiriman dan penerimaan pesan-pesan antara dua orang, atau di
antara sekelompok kecil orang-orang, dengan beberapa efek dan
beberapa efek dan beberapa umpan balik seketika.21
Berdasarkan definisi itu komunikasi antarpribadi dapat
berlangsung antara dua orang yang memang sedang berdua-duaan
seperti suami istri yang sedang bercakap-cakap atau antara dua
20
Onong Uchjana Effendy, Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi, h. 58.
Onong Uchjana Effendy, Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi, (Bandung: Citra Aditya
Bakti, 2007, h. 58
21
31 orang dalam satu pertemuan. Dialog adalah bentuk komunikasi
antarpribadi yang menunjukan terjadinya interaksi. Mereka yang
terlibat
mempunyai
fungsi
ganda,
masing-masing
menjadi
pembicara dan pendengar.22
b. Komunikasi Kelompok
Komunikasi kelompok (Group Communication)
adalah komunikasi yang berlangsung antara seorang
komunikator dengan sekelompok orang yang jumlahnya
lebih dari dua orang.23Komunikasi kelompok biasanya
terjadi
dalam
satu
lingkungan
organsisasi.
Dalam
komunikasi kelompok pesan mempunyai fungsi yang
berkenaan dengan hubungan interpersonal, konsep diri,
perasaan dan moral.
c. Komunikasi Massa
Komunikasi massa adalah komunikasi melalui media
massa modern, yang meliputi surat kabar yang mempunyai
sirkulasi yang luas, siaran radio, televisi yang ditunjukan
kepada
khalayak
menyiarkan
umum.
informasi,
Komunikasi
gagasan,
dan
massa
sikap
juga
kepada
komunikan yang beragam dan jumlahnya sangat banyak
dengan menggunakan media.
22
Onong Uchjana Effendy, Ilmu Teori dan Filsafat Komunikasi, h. 60. Onong Uchjana Effendy, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek, (Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2006), h. 75.
23
32 Ada beberapa ciri-ciri khusus komunikasi massa,
yang
membedakannya
dengan
komunikasi
lainnya.
Diantaranya adalah:
1) Orang yang terlibat dalam berkomunikasi atau menjadi
komunikan sangat banyak jumlahnya.
2) Audience, khalayak, dan publik yang terlibat komunikasi itu
tersebar dimana-mana (di berbagai wilayah atau daerah).
3) Hal-hal yang disampaikan bersifat umum dan menyangkut
kepentingan orang banyak.24
Dengan
demikian
peneliti
menyimpulkan
bahwa
komunikasi massa adalah komunikasi yang berlangsung pada
orang dengan jumlah banyak atau lebih dari 2 orang dengan
menggunakan media sebagai alat penyalur informasi, dan
komunikasi massa bersifat satu arah (one way traffic).
d. Komunikasi Media
Komunikasi massa atau (mass communication) yang
dimaksud adalah komunikasi melalui media massa modern, hal
tersebut dijelaskan oleh pakar salah satunya Evertt M. Rogers,
yang menyatakan selain media modern terdapat media massa
tradisional. Lazimnya media massa modern menunjukan seluruh
sistem di mana pesan-pesan diproduksikan, dipilih, disiarkan dan
di terima serta ditanggapi.
24
Teuku May Rudy, Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Internasional, (Bandung:
Refika Aditya, 2005), h. 13.
33 Komunikasi massa menyiarkan informasi, gagasan dan
sikap kepada komunikan yang beragam dalam jumlah yang banyak
dengan menggunakan media. Kegiatan komunikasi massa jauh
lebih sukar dari pada komunikasi pribadi. Karena, komunikasi
massa dapat menyampaikan pesan kepada ribuan pribadi yang
berbeda dalam waktu yang sama.25
Karakteristik dari komunikasi massa itu sendiri mempunyai
perbedaan dengan komunikasi lainnya, diantaranya komunikasi
massa bersifat umum artinya pesan yang disampaikan melalui
media massa terbuka untuk semua orang, komunikasi massa juga
bersifat heterogen yakni perpaduan antara jumlah komunikan yang
besar dalam keterbukaan dalam mendapatkan pesan-pesan
komunikasi.26
e. Faktor Hambatan Komunikasi
Dalam
komunikasi
melakukan
menyatakan
komunikasi
bahwa
tidak
ada
beberapa
mungkin
ahli
seseorang
melakukan komunikasi yang sebenarnya secara efektif. Ada
beberapa hambatan yang terjadi selama proses komunikasi
berlangsung diantaranya:
1. Gangguan,
ada
beberapa
gangguan
selama
proses
komunikasi berlangsung dan menurut sifatnya dapat
25
Onong Uchjana Effendy, Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi, (Bandung: Citra Aditya
Bakti, 2007), h. 79.
26
Onong Uchjana Effendy, Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi, h. 81.
34 diklasifikasikan sebagai berikut, yakni gangguan mekanik
dan gangguan semantik.
a. Gangguan mekanik adalah gangguan yang disebabkan
saluran komunikasi atau kegaduhan yang bersifat fisik.
b. Gangguan semantik adalah gangguan pada pesan
komunikasi
yang
pengertiannya
menjadi
rusak.
Biasanya hal ini terjadi dalam konsep atau makna yang
diberikan pada komunikator yang lebih banyak
gangguan semantik dalam proses pesannya.
2. Kepentingan, interest atau kepentingan akan membuat
seseorang selektif dalam menanggapi atau menghayati
suatu
pesan.
Seseorang
akan
lebih
memperhatikan
perangsang dengan kepentingannya sendiri.
3. Motivasi, motivasi yang terjadi akan mendorong seseorang
berbuat sesuatu yang sesuai benar dengan keinginan,
kebutuhan dan kekurangannya.
4. Prasangka, prasangka merupakan salah satu rintangan atau
hambatan berat bagi suatu kegiatan komunikasi. Sehingga
komunikasi yang terjalin akan terasa kurang efektif. 27
Dasar gangguan dan penentangan inilah yang biasanya
disebabkan karena adanya pertentangan kepentingan, prejudge, tamak
dan sebagainya, sehingga komunikasi yang dilakukan sangat
berlawanan dengan tujuan dan pesan yang disampaikan.
27
Onong Uchjana Effendy, Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi, (Bandung: Citra Aditya
Bakti, 2007), h. 49. 35 C. Komunikasi Antarpribadi
a. Pengertian Komunikasi Antarpribadi
Menurut
Joseph
A.
Devito
dalam
bukunya
“The
Interpersonal Communication book” mendefinisikan komunikasi
antarpribadi sebagai suatu proses pengiriman dan penerimaan
pesan antara dua orang atau lebih atau di antara sekelompok kecil
orang, dengan beberapa efek dan adanya umpan balik atau
feedback.28
Berdasarkan definisi di atas, komunikasi antarpribadi
berlangsung antara dua orang yang sedang bercakap dengan
bertatap wajah dalam satu pertemuan. Pentingnya komunikasi
antarpribadi ialah karena prosesnya berlangsung secara dialogis.
Menunjukan suatu bentuk komunikasi di mana seorang berbicara,
dan yang lain mendengarkan. Dialog dalam bentuk komunikasi
antarpribadi yang menunjukan adanya interaksi secara langsung.
Mereka yang terlibat dalam komunikasi bentuk ini berfungsi
ganda, masing-masing menjadi pembicara dan pendengar secara
bergantian.
Secara umum komunikasi antarpribadi dapat diartikan
sebagai suatu proses pertukaran makna antara orang-orang yang
Suranto, Aw, Komunikasi Antarpribadi, (Yogyakarta: PT. Graha Ilmu, 2011), h. 1
28
36 saling berkomunikasi. Komunikasi yang terjadi secara tatap muka
(face to face) antara dua individu. 29
Komunikasi antarpribadi juga dibedakan berdasarkan
tingkatan analisis yang digunakan untuk melakukan prediksi guna
mengetahui apakah komunikasi itu bersifat non-antarpribadi atau
antarpribadi. Menurut Miller dan Stainberg seperti yang dikutip
dalam buku Muhammad Budyana dalam buku Teori Komunikasi
Antarpribadi terdapat tiga tingkatan analisis dalam diantaranya
yaitu kultural, sosiologis, dan psikologis.
a. Analisis pada tingkat kultural
Kultur merupakan keseluruhan kerangka kerja
komunikasi berupa kata-kata, tindakan, postur, gerak, nada
suara, ekspresi wajah, penggunaan waktu dan ruang.
Semuanya merupakan sistem-sistem komunikasi yang
lengkap dengan makna-makna yang hanya dapat dibaca
secara tepat apabila seseorang akrab dengan perilaku dalam
konteks sejarah, sosial, dan kultural. Terdapat dua kultur
yang membedakannya yakni homogeneous yang artinya
apabila orang-orang disuatu kultur berperilaku kurang lebih
sama
dan
menilai
sesuatu
juga
sama.
Sedangkan
heterogeneous yakni adanya perbedaan didalam pola
perilaku dan nilai-nilai yang dianutnya. Jadi apabila
Dr. Muhammad Budyatna, dkk, Teori Komunikasi Antarpribadi, (Jakarta: Kencana
Prenada Group, 2011), h. 110.
29
37 seorang komunikator melakukan prediksi terhadap reaksi
penerima atau receiver sebagai akibat menerima pesan
dengan menggunakan dasar kultural.30
b. Analisis pada tingkat sosiologis
Analisis pada tingkat sosiologis ini apabila prediksi
komunikator tentang reaksi penerima terhadap pesan-pesan
yang ia sampaikan didasarkan kepada keanggotaan
penerima
didalam
kelompok
sosial
tertentu,
maka
komunikator melakukan prediksi melalui tingkat sosiologis.
c. Analisis pada tingkat psikologis
Pada
analisis
tinkat
psikologis
komunikator
memprediksi reaksi pihak lain atau penerima terhadap
perilaku
komunikasi
didasarkan
pada
analisis
dari
pengalaman-pengalaman belajar individual yang unik,
maka prediksi itu didasarkan pada tingkat psikologis. 31
b. Jenis-jenis Komunikasi Antarpribadi
Berdasarkan
diklasifikasikan
jenisnya
menjadi
dua
komunikasi
jenis
antarpribadi
menurut
sifatnya.
Diantaranya adalah:
1) Komunikasi diadik (dyadic communication)
30
Muhammad Budyatna, dkk, Teori Komunikasi Antarpribadi, (Jakarta: Kencana Prenada
Group, 2011), h. 2.
31
Muhammad Budyatna, dkk, Teori Komunikasi Antarpribadi, h. 5.
38 Komunikasi diadik adalah komunikasi antarpribadi
yang berlangsung antara dua orang yakni seorang berlaku
sebagai komunikator yang menyampaikan pesan dan seorang
lagi sebagai komunikan yang menerima pesan.
2) Komunikasi triadik (triadic communication)
Komunikasi triadik adalah komunikasi antarpribadi
yang pelakunya terdiri dari tiga orang, yakni seorang
komunikator dan dua orang komunikan. Jika dibandingan
dengan komunikasi diadik maka komunikasi diadik lebih
efektif karena komunikator memusatkan perhatiannya hanya
kepada seorang komunikan.32
c. Fungsi Komunikasi Antarpribadi
Menurut definisinya, fungsi adalah sebagai tujuan
dimana komunikasi digunakan untuk mencapai tujuan tersebut.
Fungsi utama dari komunikasi ialah mengendalikan lingkungan
guna memperoleh imbalan-imbalan tertentu berupa fisik,
ekonomi dan sosial. Sebagaimana telah dikemukakan bahwa
komunikasi insani atau human communication baik yang nonantarpribadi
maupun
antarpibadi
semuanya
mengenai
pengendalian lingkungan guna mendapatkan imbalan seperti
dalam bentuk fisik, ekonomi, dan sosial.
Onong Uchjana Effendy, Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi, (Bandung: Citra Aditya
Bakti, 2007), h. 63. 32
39 Keberhasilan
yang
relatif
dalam
melakukan
pengendalian lingkungan melalui komunikasi menambah
kemungkinan menjadi bahagia, kehidupan pribadi yang
produktif. Namun, kegagalan dalam komunikasi relatif
mengarah kepada ketidakbahagiaan yang dapat mengakibatkan
krisis identitas.33
D. Komunikasi Nonverbal
a. Pengertian Komunikasi Nonverbal
Pengertian komunikasi nonverbal dalam buku “Cultural
and Communication Studies”, yang dikutip dari buku
Muhammad Budyatna dalam bukunya yang berjudul Teori
Komunikasi Antarpribadi menyatakan, komunikasi nonverbal
adalah semua ekspresi eksternal selain kata-kata terucap atau
tertulis, termasuk gerak tubuh karakteristik penampilan,
karakteristik suara, dan penggunaan ruang dan jarak.
Sedangkan komunikasi
sejumlah
alat
indra
seperti
nonverbal dapat memicu
pendengaran,
penglihatan,
penciuman dan perasaan untuk menyebutkan beberapa kalimat
yang terlihat dengan gerakan tubuh. Dengan demikian
seseorang akan merespon isyarat-isyarat nonverbal secara
emosional, sedangkan orientasi mereka hanya kepada kata-kata
Muhammad Budyatna, dkk, Teori Komunikasi Antarprib adi, (Jakarta: Kencana
Prenada Group, 2011), h. 27.
33
40 lebih bersifat rasional.34 Intinya komunikasi nonverbal
merupakan salah satu bentuk komunikasi yang pada umumnya
digunakan untuk memperkuat atau memperjelas pesan-pesan
verbal.
b. Bentuk-Bentuk Komunikasi Nonverbal
Komunikasi nonverbal dapat berbentuk bahasa tubuh,
tanda, tindakan atau perbuatan (action), atau objek (object).35
Secara
sederhana
bahasa
tubuh
dapat
diartikan
penyampaian pesan nonlisan yang menggunakan seluruh
kemampuan anggota badan untuk menyampaikan pesan, seperti
gerak tubuh, mimik wajah, isyarat tangan, dan jarak tubuh.
Tanda dalam komunikasi nonverbal mengganti kata-kata,
sedangkan tindakan atau perbuatan tidak khusus dimaksudkan
untuk
mengganti
kata-kata
akan
tetapi
hanya
sebuah
penghantar makna tersembunyi. Sedangkan objek sebagai
bentuk komunikasi nonverbal tidak untuk mengganti kata-kata
akan tetapi hanya sebagai penyampaian arti tertentu.
34
Dr. Muhamma d Budyatna, dkk, Teori Komunikasi Antarpribadii, (Jakarta: Kencana
Prenada Group, 2011), h. 110.
35
M. Hardjana, Komunikasi Intrapersonal dan Interpersonal, (Yogyakarta: Kanisius,
2009), h. 27.
41 Terdapat banyak bentuk komunikasi nonverbal menurut
Venderber, et al. Yang dikutip dalam buku M. Hardjana
Komunikasi Intrapersonal dan Interpersonal Diantaranya:
a. Kontak mata, menyampaikan banyak makna. Hal ini
menunjukan apakah kita menaruh perhatian dengan orang
yang berbicara dengan kita. Bagaimana kita melihat dan
menatap pada seseorang yang menyampaikan serangkaian
emosi, seperti rasa marah, takut, dan rasa sayang.
b. Ekspresi wajah, merupakan pengaturan otot-otot wajah
untuk berkomunikasi dalam keadaan emosional atau reaksi
terhadap pesan-pesan.
c. Emosi, merupakan kecenderungan yang dirasakan terhadap
rangsangan. Karena emosi adalah perasaan dan perasaan
merupakan satu bentuk emosi.
d. Gerakan isyarat atau gestur merupakan gerakan tangan,
lengan, dan jari-jari yang kita gunakan untuk menjelaskan
atau untuk menegaskan.
e. Sikap badan atau posture merupakan posisi dan gerakan
tubuh istilah lainnya untuk sikap badan dalam bahasa
indonesia adalah postur.
42 f. Sentuhan atau touch secara formal dikenal sebagai haptics,
sentuhan menempatkan bagian dari tubuh dalam kontak
dengan sesuatu. 36
c. Jenis-jenis Komunikasi Nonverbal
Dalam komunikasi nonverbal terdapat beberapa jenisjenis komunikasi nonverbal diantaranya:
1. Komunikasi objek
Komunikasi objek yang paling umum adalah penggunaan
pakaian. Dalam berkomunikasi tentu seseorang akan melihat dari
jenis pakaian yang dipergunakan.
2. Sentuhan
Dalam bagian sentuhan ini dapat berupa, bersalaman,
menggenggam tangan dan pukulan. Masing-masing bentuk
komunikasi ini mempunyai tujuan yaitu menyampaikan pesan
tentang tujuan atau perasaan dari penyentuh. Sentuhan juga dapat
menyebabkan suatu perasaan pada sang penerima pesan baik
positif ataupun negatif.
3. Kronemik
Kronemik adalah bidang yang mempelajari penggunaan
waktu dalam komunikasi nonverbal. Penggunaan waktu dalam
M. Hardjana, Komunikasi Intrapersonal dan Interpersonal, (Yogyakarta: Kanisius,
2009), h. 29.
36
43 komunikasi nonverbal meliputi durasi yang dianggap cocok bagi
suatu aktivitas.
4. Gerakan tubuh
Dalam komunikasi nonverbal, kinesik atau gerakan tubuh
meliputi kontak mata dan ekspresi wajah, isyarat dan sikap tubuh.
Gerakan tubuh biasanya digunakan untuk menggantikan suatu kata
atau frasa.37
5. Proxemik
Proxemik adalah bahasa ruang, yang dimaksud yaitu jarak
yang digunakan ketika berkomunikasi dengan orang lain, termasuk
juga tempat atau lokasi posisi keberadaan. Dalam ruang personal,
dapat dibedakan menjadi 4 ruang interpersonal. Diantaranya
adalah:
1) Jarak intim yakni jarak dari bersentuhan sampai jarak satu
setengah kaki.
2) Jarak personal, yakni jarak yang menunjukan perasaan
masing-masing
pihak
yang
berkomunikasi
dan
juga
menunjukan keakraban dalam suatu hubungan, jarak ini
berkisar antara satu setengah kaki sampai empat kaki.
3) Jarak sosial, dalam jarak ini pembicara menyadari betul
kehadiran orang lain dalam pembicaraan. Oleh karena itu,
Ekmen, P, dkk, Semiotika, (Jakarta: Kencana Prenada Group, 1969 ), h. 49.
37
44 dalam jarak ini pembicara berusaha tidak terlibat dalam
komunikasi dan menekan orang lain.
4) Jarak publik, yakni jarak yang berkisar antara dua belas kaki
sampai tak terhingga.
6. Vokalik
Vokalik atau paralanguage adalah unsur nonverbal dalam
suatu ucapan, yaitu cara berbicara.
7. Lingkungan
Lingkungan juga dapat digunakan untuk menyampaikan
pesan-pesan tertentu. Diantaranya adalah penggunaan ruang, jarak,
temperatur dan sebagainya.38
d. Fungsi Komunikasi Nonverbal
Ada beberapa fungsi komunikasi nonverbal dalam
berkomunikasi diantaranya adalah:
1. Repetisi yakni perilaku nonverbal dapat mengulangi perilaku
verbal.
2. Subtitusi adalah perilaku nonverbal dapat mengganti perilaku
verbal jadi tanpa berbicara kita dapat berinteraksi dengan orang
lain.
Ekmen, P, dkk, Semiotika, (Jakarta: Kencana Prenada Group, 1969 ), h. 50. 38
45 3. Kontradiksi adalah perilaku nonverbal yang dapat digunakan
untuk membantah dan bertentangan dengan perilaku verbal dan
bisa memberikan makna lain terhadap pesan verbal.
4. Aksentuasi adalah memperteguh, menekankan atau melengkapi
perilaku verbal.
5. Komplemen yakni perilaku nonverbal dapat meregulasi
perilaku verbal.
E. Tuna Rungu
a. Pengertian Tuna rungu
Istilah tuna rungu diambil dari kata “tuna” yang artinya kurang
dan “rungu” yang berarti pendengaran. Istilah tuna rungu digunakan
untuk orang yang memiliki cacat atau kelainan pada pendengaran yaitu
organ pendengaran tidak berfungsi dengan normal. Terkadang kita
menyebut dengan istilah ‘tuli’ atau pekak. Namun sebutan yang lazim
digunakan adalah tuna rungu.
Menurut Andreas Dwidjosumanto mengemukakan bahwa
seseorang yang tidak atau kurang mampu mendengar suara dikatakan
tuna rungu. Ketunarunguan dibedakan menjadi dua kategori, yaitu tuli
(deaf) atau kurang mendenger (hard of hearing). Tuli adalah seseorang
yang indera pendengarannya mengalami kerusakan dalam taraf berat
sehingga pengdengarannya tidak berfungsi lagi. Sedangkan kurang
dengar adalah orang yang mengalami kerusakan dalam hal
pendengaran, tetapi masih dapat berfungsi untuk mendengar. Baik
46 dengan maupun tanpa menggunakan alat bantu dengar (hearing aids)
seperti alat bantu pendengaran.
Bila dilihat secara fisik penyandang tuna rungu tidak berbeda
dengan
manusia
normal
pada
umumnya.
Namun,
setelah
berkomunikasi barulah diketahui bahwa seseorang tersebut mengalami
gangguan pada pendengarannya.39
Murni Winarsih mengemukakan bahwa tuna rungu adalah
suatu istilah umum yang menunjukan kesulitan mendengar dari yang
ringan sampai yang berat, digolongkan ke dalam tuli dan kurang
dengar. Orang yang menyandang status tuli akan kehilangan
kemampuan mendengar sehingga menghambat proses informasi
bahasa melalui pendengaran. Sedangkan menurut Tin Suharmini
mengemukakan tunarungu dapat diartikan sebagai keadaan dari
seseorang
individu
yang
mengalami
kerusakan
pada
indera
pendengaran sehingga menyebabkan tidak bisa menangkap berbagai
rangsang suara, atau rangsang lain melalui suara sejenis komunikasi
verbal pada umumnya.40
Sutjihati Somantri, Tuna Rungu Dalam Pandangan sosial, (Yogyakarta: Graha Ilmu,
1996), h. 74.
40
Sutjihati Somantri, Tuna Rungu Dalam Pandangan sosial, h. 74.
39
47 Beberapa dan definisi diatas telah jelas bahwa tuna rungu
adalah seseorang yang memiliki gangguan dalam pendengaran baik
secara keseluruhan maupun memiliki sedikit pendengeran yang masih
sedikit berfungsi.41
b. Karakteristik Tuna Rungu
Karakteristik penyandang tuna rungu dari segi fisik tidak
memiliki karakteristik yang berbeda. Karena secara fisik tunarungu
tidak mengalami gangguan yang terlihat. Sebagai dampak dari
kekurangan
pendengaran
penyandang
tuna
rungu
memiliki
karakteristik yang berbeda dilihat dari berbagai aspek menurut
Permanarian Somad dan Tati Hernawati diantaranya yaitu dari segi:
intelegensi, bahasa bicara, emosi dan sosial.42
a. Segi intelegensi
Penyandang tuna rungu tidak berbeda dari orang lain
kebanyakan namun penyandang tuna rungu memiliki intelegensi yang
sangat rendah dari pada anak normal kebanyakan karena dipengaruhi
oleh kemampuan penyandang tuna rungu dalam interaksi yang kurang
di fahami melalui bahasa verbal. Aspek intelegensi yang bersumber
pada verbal seringkali sulit dipahami. Sedangkan bahasa yang
bersumber pada penglihatan dan gerakan akan mudah ditanggapi.
41
Murni Winarsih, Pembinaan Tuna Rungu Dalam Lingkungan Sosial, (Yogjakarta:
Graha Ilmu, 2007), h. 23.
42
Murni Winarsih, Pembinaan Tuna Rungu dalam Lingkungan Sosial, (Yogyakarta:
Graha Ilmu, 2007), h. 24.
48 b. Segi bahasa dan bicara
Kemampuan penyandang tunarungu dalam berbahasa dan
berbicara berbeda dengan anak normal pada umumnya. Sehingga
penyandang tuna rungu mengalami hambatan dalam berkomunikasi.
Bahasa merupakan alat dan sarana utama dalam berkomunikasi.
Kemampuan berbicara pada penyandang tunarungu juga dipengaruhi
oleh kemampuan berbahasa yang dimiliki oleh penyandang tuna rungu
tersebut. Sehingga mereka dapat dengan mudah berbicara sama dengan
orang lain pada umumnya.
c. Segi emosi dan sosial
Mempunyai
kekurangan
dalam
hal
pendengaran
akan
menyebabkan keterasingan lingkungan bagi penyandang cacat fisik
seperti tuna rungu, keterasingan tersebut akan mempunyai efek
tersendiri
seperti:
egosentrisme
yang
melebihi
anak
normal,
mempunyai perasaan takut akan lingkungan yang lebih luas, dan
ketergantungan terhadap orang lain, dan lebih mudah tersinggung.43
d. Klasifikasi Penyandang Tuna Rungu
Klasifikasi bagi penyandang tuna rungu diperlukan karena hal
ini sangat menentukan dalam pemilihan alat bantu mendengar yang
sesuai dengan sisa pendengarannya dan menunjang komunikasi yang
efektif.
Murni Winarsih, Pembinaan Tuna Rungu dalam lingkungan sosial, (Yogjakarta: Graha
Ilmu, 2007), h. 25.
43
49 Menurut Boothroyd seperti yang dikutip dalam buku Murni
Winarsih Pembinaan Tuna Rungu dalam Lingkungan Sosial klasifikasi
tuna rungu adalah sebagai berikut:
a. Kelompok I
: kehilangan 15-30 dB, mild hearing losses atau
ketunarunguan ringan; daya tangkap terhadap suara cakapan
manusia normal.
b. Kelompok II : kehilangan 31-60, moderate hearing losses atau
ketunarunguan atau sedang; daya tangkap terhadap suara cakapan
manusia hanya sebagian.
c. Kelompok III : kehilangan 61-90 dB, severe hearing losses atau
ketunarunguan berat; daya tangakap terhadap suara cakapan
manusia tidak ada.
d. Kelompok IV : kehilangan 91-120 dB, profound hearing losses
atau ketunarunguan sangat berat; daya tangkap terhadap suara
cakapan manusia tidak ada sama sekali.
e. Kelompok V
: kehilangan lebih dari 120 dB, total hearing
lossesatau ketunarunguan total; daya tangkap terhadap suara
cakapan manusia tidak ada sama sekali.44
Penyanang tuna rungu dalam proses pemahaman akan
terlambat karena informasi yang diterima tidak sebanyak informasi
yang diterima oleh orang yang mendengar pada umumnya. Informasi
yang didapatkan penyandang tuna rungu akan menjadi tidak bermakna
44
Murni Winarsih, Pembinaan Tuna Rungu dalam lingkungan sosial, (Yogjakarta: Graha
Ilmu, 2007), h. 23
50 apa-apa jika mereka tidak memahami apa maksud dari informasi
tersebut. Infomasi yang disampaikan harus dikongkritkan sesuai
dengan bahasa yang sudah mereka mengerti.45
45
Artikel ini diakses melalui www.unas-dokumen-komunikasitunarungu.com, pada
tanggal 7 maret 2014, pukul. 13.45.
BAB III
GAMBARAN UMUM YAYASAN TUNA RUNGU SEHJIRA
A. Profil Umum Yayasan Sehjira Deaf Foundation
Hakikat komunikasi adalah proses pernyataan antarmanusia.
Yang dinyatakan itu adalah pikiran atau perasaan seseorang kepada
orang lain dengan menggunakan bahasa sebagai alat penyalurnya.
Dalam pergaulan hidup manusia di mana masing-masing individu satu
sama lain terjadi interaksi, saling mempengaruhi demi kepentingan dan
keuntungan pribadi masing-masing.1 Yayasan tuna rungu SehjiraDeaf
Foundation adalah sebuah yayasan yang menaungi dan memberikan
perlindungan bagi para penyandang tunarungu atau tuli. Yayasan ini
bergerak dalam bidang sosial khususnya memberikan advokasi dan
pelatihan khusus bagi penyandang tunarungu yang memiliki
keterbatasan dan hambatan dalam berkomunikasi.2
Yayasan tunarungu SehjiraDeaf Foundation berlokasi di
Komplek DPR RI-Pribadi Blok C No.40 Joglo Jakarta Barat, lokasi
yang berada tidak jauh dari jalan raya ini yang memungkinkan
kenyamanan bagi para penyandang tunarungu untuk melakukan
aktivitas dan mengembangkan segala bentuk kegiatan di yayasan
Sehjira.
1
Onong Uchjana Effendy, Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi, (Bandung: Citra Aditya
Bakti,2003), h. 28.
2
Wawancara Pribadi dengan Rachmita, Pada tanggal 7 Maret 2014, pukul. 16.45.
51
52
Sebagai lembaga non-profit dengan anggota yang semakin
banyak, yayasan sehjira dihadapkan pada suatu tantangan untuk
mengembangkan organisasi agar eksistensinya dapat membantu
pengembangan potensi para anggota untuk mendapatkan hak dan
kehidupan yang layak dimasyarakat. Untuk mencapai hal tersebut
pihak yayasan menyari pentingnya suatu tujuan dan kerangka kerja
yayasan sehjira yang sesuai dengan visi misi serta ciri khas dan
keadaan saat ini.3
Pelatihan dan kemandirian yang diadakan diyayasan Sehjira
Deaf Foundation sangat memberikan sisi positif bagi para penyandang
tunarungu. Karena dengan adanya kegiatan yang dilakukan tersebut
dapat membantu mereka dalam bersosialisasi dengan masyarakat
lingkungan luas. Menurut Rachmita Maun Harahap mengatakan bahwa
“Penyandang tunarungu harus memiliki sedikitnya potensi
untuk pengembangan diri, agar mampu bersaing dengan
manusia normal pada umumnya, yang tidak mempunyai
latarbelakang kecacatan fisik. Dan mereka juga lebih percaya
diri”.4
Penyandang tunarungu memang jauh berbeda untuk melakukan
komunikasi dengan manusia pada umumnya, karena tunarungu ini
mengalami kekurangan pendengaran yang jauh dari kata normal.
Kecacatan seperti ini dialami bisa karena sejak lahir, dan ada juga
3
4
Dokumen Pribadi Yayasan Sehjira Deaf Foundation.
Wawancara Pribadi dengan Rachmita, pada tanggal 7 Maret 2014, pukul. 16.57.
53
karena faktor usia. Namun hal tersebut tidak mengurangi bahwa
penyandang tunarungu juga sama halnya dengan manusia normal
kebanyakan ingin mendapatkan kehidupan yang layak dan setara
seperti masyarakat pada umumnya.
Yayasan Sehjira memberikan dukungan dan perlindungan
terhadap penyandang tuna rungu agar mereka merasa terlindungi dari
segala macam bentuk diskrimisi. Advokasi yang diberikan yayasan
sehjira mendapat perhatian juga dari segala macam bentuk lembaga
yang membantu para penyandang tuna rungu dalam menggapai
kelayakan hidup serta dapat menerima segala macam bentuk tantangan
dari lingkungan sosial.
Pelatihan dan advokasi yang diberikan yayasan sehjira tidak
memandang golongan dan status sosial. Karena yayasan ini bergerak
dibidang sosial dan sebagai lembaga non-profit maka yayasan ini tidak
membeda-bedakan siapapun yang ingin bergabung dalam lembaga ini.
Komunikasi yang dilakukan pengurus yayasan kepada para
anggota yayasan Sehjira terkadang mengalami hambatan dalam
komunikasi baik bahasa dan gerak isyarat yang dilakukan penyandang
tunarungu berat dengan ringan. Mereka masing-masing mempunyai
gerak dan isyarat tertentu agar si pembicara dapat memahami maksud
dan tujuan kita.
54
Oleh karena itu, yayasan ini memberikan pelatihan bahasa
isyarat yang berbasis internasional agar gerak dan bahasa tubuh yang
digunakan penyandang tunarungu dapat dipahami dengan sempurna.5
B. Sejarah Berdirinya Yayasan Tuna Rungu
Yayasan Tunarungu Sehjira (Sehat Jiwa Raga) adalah lembaga
swadaya sosial yang didirikan pada tanggal 5 desember 2001 oleh
sekumpulan relawan yang memiliki hambatan pendengaran, sebagai
upaya menggalang dana dan menyediakan informasi seputar
pendidikan
dan
lapangan
kerja
bagi
penyandang
hambatan
pendengaran (tuli). Sehjira juga memberikan dukungan kepada
keluarga penyandang tuli untuk mendapatkan kesetaraan.6
Sebagai lembaga non-profit dengan anggota yang semakin
banyak,
sehjira
dihadapkan
pada
suatu
tantangan
untuk
mengembangkan organisasi agar eksistensinya dapat membantu
pengembangan potensi para anggota untuk mendapatkan hak dan
kehidupan yang layak dimasyarakat.
Semenjak berdiri pada tahun 2001, sehjira telah beranggotakan
sekitar 780 orang yang terdiri dari para penyandang tuli dan
keluarganya serta beberapa pemerhati atau volunter. Untuk mencapai
hal tersebut, yayasan sehjira menyadari pentingnya suatu tujuan dan
Wawancara Pribadi dengan Rachmita, pada tanggal 7 Maret 2014, pukul. 16.57.
Artikel ini diakses melalui [email protected], Pada tanggal 05 Maret 2014, pukul
5
6
22:35.
55
kerangka kerja Yayasan Sehjira Deaf Foundation yang sesuai dengan
visi, misi serta ciri khas dan keadaan saat ini.
Rachmita Maun Harahap adalah anak ke empat dari enam
bersaudara yang mendirikan yayasan tunarungu sejak pertengahan
tahun 2001. Pada awalnya yayasan ini hanya beranggotakan 20 orang
penyandang tunarungu, hingga saat ini anggota yayasan sudah
mencapai 223 penyandang tunarungu yang seluruhnya berasal dari
wilayah jabodetabek yang sudah ikut dalam program sehjira. Hasil
yang mereka raih selama mengikuti pelatihan dan keterampilan
diyayasan ini penyandang tunarungu sudah mampu menjahit dan
membuka usaha mandiri dan sudah mampu bekerja diperusahaan
garmen. Dan salah satu dari mereka sudah mampu mendapatkan
prestasi menjadi juara pertama lomba dalam membuat jas tingkat
nasional. Selain dari keterampilan menjahit, para penyandang
tunarungu sudah mampu bersaing dengan para pekerja dibagian
marketing, auditing keuangan, administrasi dan juga berbagai keahlian
lainnya.7
1. Visi dan Misi Yayasan Sehjira Deaf Foundation.
a. Visi Yayasan Sehjira adalah:
1. Mencapai pemberdayaan dalam segala bidang
2. Meningkatkan sumber daya tuli melalui pendidikan dan keterampilan
baik dilingkungan keluarga maupun individu.
7
Wawancara Pribadi dengan rachmita, (di yayasan Tuna rungu Sehjira Deaf Foundation),
Jum’at 05 maret 2014, pukul 14.30.
56
3. Menciptakan sumber daya manusia Tuli yang terampil, cerdas dan
mandiri.
b. Misi Yayasan Sehjira adalah:
1. Berusaha membantu keluarga tuli dengan pemberian advokasi atau
perlindungan terutama menjembatani penyandang disabilitas dengan
organisasi kemitraan.
2. Menjalin kerjasama antar lembaga misalnya lembaga kesehatan,
tenaga kerja, olah raga, organisasi, hubungan masyarakat, pendidikan,
kesenian dan
3. Pemberdayaan tuli agar turut serta berpartisipasi dalam pembangunan
dan memberikan sosialisasi kepada masyarakat umum mengenai
ketulian.8
2. Kegiatan Utama Yayasan Sehjira
1. Pelatihan kemandirian bagi remaja tuna rungu.
2. Pelatihan kemandirian tuna rungu bekerja.
Yang meliputi kegiatan sebagai bentuk program diversifikasi
peluang tuna rungu untuk bekerja antara lain adalah:
a. Pelatihan usaha mebel bagi tuna rungu yang belum bekerja.
b. Pelatihan pembuatan film (sablon) bagi tuna rungu
c. Pelatihan origami bagi perempuan tuna rungu
d. Pelatihan manajemen organisasi bagi pengurus dan anggota sehjira
e. Pelatihan soft skill bagi tuna rungu
8
22.37.
Artikel ini diakses melalui [email protected], pada tanggal 05 Maret 2014, pukul
57
f. Pelatihan pengembangan SDM bagi pengurus dan anggota sehjira
g. Kursus bahasa isyarat ASL or internasional
h. Kursus komputer tingkat dasar dan mahir
i. Kursus bahasa inggris
j. Kursus mengaji dan sebagainya9
3. Kegiatan Sosial dari Yayasan Sehjira
Dari beberapa bentuk kegiatan SDM dan pengembangan
keterampilan tersebut, ada beberapa kegiatan utama yang rutin dilakukan
oleh pengurus dan anggota sehjira, antara lain adalah:
1. Menggalang pengadaan dana
2. Menyediakan informasi tentang pendidikan dan lapangan kerja
3. Memberikan beasiswa kepada anak-anak dari keluarga kurang
mampu
4. Pelatihan
kemandirian
remaja
tunarungu
untuk
dapat
mengaktualisasikan diri dengan cara yang positif
5. Penyaluran tenaga kerja tunarungu yang belum bekerja
6. Pengenalan bahasa isyarat (American Sign Language), mengaji
dan kursus komputer.10
9
Wawancara Pribadi dengan Rachmita, Jum’at 05 Maret 2014, pukul 15.30.
Artikel ini diakses melalui [email protected], pada tanggal 05 maret 2014, pukul
10
22.37.
58
4. Prestasi Yang Dicapai Yayasan Tuna Rungu Sehjira
a. Penghargaan dalam bentuk prestasi
Yayasan
Tunarungu
SehjiraDeaf
Foundation
telah
mendapatkan beberapa penghargaan dari berbagai instansi dan
menyalurkan berbagai macam kreatifitas diantaranya:
1. Penghargaan dari pemda DKI Jakarta dalam rangka
memperingati hari internasional penyandang cacat
(Hipenca) melalui lembaga Pelita. Dalam penghargaan
ini melalui Dinas Sosial memberikan penghargaan
kepada para penyandang cacat berprestasi.
2. Penghargaan yang diberikan secara perorangan yakni
kepada Ir. Rachmita Maun Harahap (selaku pimpinan
yayasan sehjira), ia adalah sebagian dari penyandang
tunarungu
pembicaraan
yang
berprestasi
dalam
dibidang
seminar-seminar
akademisi,
dan
seorang
motivator.
3. Penghargaan dari GERKATIN (gerakan kesejahteraan
untuk tunarungu indonesia), dalam rangka advokasi bagi
penyandang tunarungu melalui disabilitas. Penghargaan
dalam kategori individu kepada Ir. Rachmitaa Maun
Harahap sebagai First President APFHO.11
11
Wawancara dengan Rachmita, pada tanggal 05 Maret 2014, pukul 15.30.
59
Pemberian penghargaan disampaikan Wakil Gubernur Provinsi
DKI Jakarta Prijanto di TMII. Penghargaan tersebut diberikan
penyandang cacat berprestasi dan non penyandang cacat secara
perorangan, kelembagaan yang telah mengabdikan hidupnya bagi
kepentingan kesejahteraan bagi penyandang cacat. Selain itu, bakti
sosial pengobatan gratis juga dilakukan, guna memberikan alat bantu
penunjang fisik dan santunan uang serta bingkisan natural.12
Penghargaan yang diberikan oleh berbagai macam lembaga
termasuk pemprop DKI Jakarta yang turut memberikan berbagai
macam penghargaan. Diharapkan mampu memberikan dorongan dan
motivasi bagi penyandang cacat untuk terus memberikan sebuah
kreatifitas serta mengembagkan potensi yang dimiliki, agar dapat
menyatu dengan masyarakat dan jauh dari kata diskriminasi bagi
penyandang cacat khususnya tuna rungu.13
C. Susunan Pengurus Yayasan Sehjira Deaf Foundation
Pimpinan Yayasan
: Ir. Rachmita Maun Harahap, M.Sn
Dewan Pengawas
: Ahmad Fachri S., S.Sos
Irwan Ibrahim
Dewan Pengurus
: Ketua: Ir. Rachmita Maun Harahap, M.Sn
Sekretariat: Revita Alvi, A.Md
12
13
Wawancara Pribadi dengan Rachmita, Jum’at 05 Maret 2014, pukul 15.30.
Wawancara Pribadi dengan Rachmita, Jum’at 05 Maret 2014, pukul 15.30
60
Bendahara
: Dian Inggrawati, S.Ds.
Amrina Lugina Pagar Alam.14
Divisi-divisi pengurus yayasan
a. Pendidikan dan Peningkatan SDM
1. Angkie Yudistia, S.Si
2. Fuad Tanjung, A.Md
3. Erwin Syafrudin Harahap
4. Endro suseno
b. Pemberdayaan
5. Renny Nazir
6. Revita Alvi
c. Hubungan Masyarakat
7. Angkie Yudistia
8. Mecky Kurniawan
d. Advokasi Pelayanan Publik
9. Muhaemin Bahnadi, S.Ag
10. Sutan kemasjah, A.Md
e. Relawan
11. Gempita Group
12. Bravo Penyandang Disabilitas.15
14
Artikel ini dikutip melalui brosur yayasan Sehjira deaf foundation, pada tanggal 8
Maret 2014, pukul. 12.53.
15
Artikel ini diakses melalui [email protected], pada tanggal 05 Maret 2014, pukul
23.32.
61
Yayasan
tuna
rungu
Sehjira
Deaf
Foundation
ini
memberikan sedikit banyaknya pelatihan dan keterampilan bagi
penyandang cacat khususnya tuna rungu, karena dengan pelatihan
dan
soft
skill
menjadikan
penyandang
cacat
siap
untuk
mendapatkan hak dan kehidupan yang layak dimasyarakat.
Sehingga mampu bersaing dengan kemampuan yang dimilikinya.16
Sesuai dengan visi misi yayasan, yayasan ini bergerak
untuk membantu para penyandang tuna rungu dengan memberikan
advokasi
atau
perlindungan
terutama
untuk
menjembatani
penyandang dengan organisasi kemitraan. Dengan bantuan dan
campur tangan dari berbagai macam instansi seperti DPO, lembaga
pemerintah, lembaga swasta dan perusahaan, agar dapat membantu
dalam pengaktualisasian skill dan kemampuan di berbagai macam
bidang.
Pentingnya pemberdayaan kaum tuna rungu bagi yayasan
Sehjira Deaf Foundation sangat berarti, karena selama ini
penyandang cacat hanya dilihat sebelah mata, dikucilkan, serta
terdiskriminasi dari lingkungan masyarakat. Itu sebabnya yayasan
ini didirikan untuk membantu para penyandang tuna rungu dalam
rangka memberikan dorongan dan motivasi bagi para penyandang
cacat.
16
Wawancara pribadi dengan Rachmita, pada tanggal 7 Maret 2014, pukul. 16.00.
62
Tuna
berkomunikasi
rungu
sendiri
dengan
mempunyai
masyarakat
lainnya
hambatan
yang
dalam
memiliki
penampilan fisik yang baik. Sehingga perlu adanya pembinaan
serta arahan yang diberikan yayasan kepada penyandang
tunarungu. Seperti bahasa isyarat yang digunakan dalam
percakapan sehari-hari.17
17
Wawancara pribadi dengan Rachmita, pada tanggal 7 Maret 2014, pukul. 16.00.
BAB IV
HASIL TEMUAN DAN ANALISIS DATA
A. Pola Komunikasi Nonverbal Penyandang Tuna Rungu Ringan dan
Berat
Komunikasi adalah sebuah proses pengiriman pesan yang terjadi
antara dua orang atau lebih dengan tujuan agar sesama anggota yang
berkomunikasi dapat memberikan umpan balik atau feedback secara
langsung dan umpan balik seketika.
Namun lain halnya dengan penyandang tuna rungu ringan dan
berat, komunikasi mereka berbeda dengan komunikasi normal pada
umumnya. Sebab, penyandang tuna rungu memiliki keterbatasan dalam
hal pendengaran, sehingga menyulitkan mereka dalam melakukan proses
umpan balik dan memaknai isi pesan yang terkandung dalam sebuah
informasi. Dalam komunikasi antarpribadi di mana pesan terkirim dari
pengirim dan penerima keduanya sama-sama berperan ganda menjadi
pembicara dan pendengar. Oleh karena itu penulis meneliti lebih dalam
proses interaksi yang berlangsung bagi penyandang tuna rungu agar
mengetahui Feedback atau umpan balik yang dilakukan oleh kedua belah
pihak dalam proses komunikasinya.
63
64
Komunikasi antarpribadi menjadi proses komunikasi yang sangat
lazim dilakukan bagi semua orang. Begitu juga dengan penyandang tuna
rungu. Melalui komunikasi antarpribadi nonverbal, mereka dapat
menyampaikan pesan secara langsung dan lebih mudah dalam memahami
makna dan isi pesan yang terkandung dalam isi pesan tersebut.
Komunikasi yang berlangsung bagi penyandang tuna rungu dengan
menggunakan bahasa nonverbal menjadi sebuah bantuan dari komunikasi
yang dilakukan. Karena bahasa nonverbal adalah salah satu bentuk
pengganti kalimat verbal seperti ucapan yang kurang jelas dalam proses
komunikasi.
Dalam hal ini peneliti melihat dari hasil analisis selama wawancara
berlangsung bahwa fungsi dari komunikasi nonverbal yang digunakan bagi
penyandang tuna rungu memiliki dua fungsi yang berbeda, sebab fungsi
bahasa nonverbal bagi penyandang tuna rungu ringan dan berat jelas
berbeda. Fungsi komunikasi nonverbal bagi penyandang tuna rungu ringan
berpotensi hanya sebagai repetisi yakni dimana pesan yang tersampaikan
melalui pesan verbal dapat dibantu dan diulang dengan bahasa nonverbal.
Bagi penyandang tuna rungu ringan penggunaan kinesik hanya sebagai
penunjang kalimat verbal yang kurang jelas jika didengar. Makna dari
komunikasi verbal bagi penyandang tuna rungu adalah kalimat atau
ucapan yang terucap dari lisan, atau yang disebut sebagai mimik mulut.
Sedangkan komunikasi nonverbal yang mereka gunakan disebut sebagai
bahasa isyarat atau simbol. Seperti gerakan tangan, tubuh, dan ekspresi
wajah serta kontak mata yang terdapat dalam proses komunikasi mereka.
65
Sebagaimana dari hasil analisis yang penulis lakukan selama
dilapangan diketahui bahwa penyandang tuna rungu berat memilih
komunikasi nonverbal sebagai salah satu fungsi sebagai subtitusi yakni
dimana perilaku nonverbal dapat mengganti perilaku verbal jadi tanpa kita
berbicara dengan orang lain maka kita dapat berinteraksi melalui pesan
nonverbal.1 Fungsi komunikasi nonverbal yang berbeda bagi penyandang
tuna rungu ringan dan berat memberi pengertian akan fungsi komuniikasi
nonverbal sebagaimana sesuai dengan hasil wawancara dengan Chairunisa
mengatakan bahwa:
“Kalau seperti kita yah pasti lebih gunain gerak tangan biar
mudah, kalau sabrina nahh baru ngobrol lebih dari 4 meter ajah
udah ga jelas, gak ngerti gitu apa yang diomongin”.2
Seperti hasil wawancara diketahui bahwa pengguanaan ruang atau
yang lebih dikenal dalam bahasa komunikasi proxemik dalam proses
komunikasi nonverbal bagi penyandang tuna rungu berat sangat
diperlukan karena jarak yang digunakan ketika berkomunikasi tidak boleh
lebih dari 4 meter, agar proses komunikasi dapat berjalan dengan lancar.
Sesuai dengan penelitian yang dilakukan diketahui bahwa
penyandang tuna rungu diyayasan tuna rungu Sehjira Deaf Foundation
berkomunikasi dengan menggunakan komunikasi nonverbal sebagai
bahasa untuk berkomunikasi. Dalam penelitian ditemukan bahwa
penyandang tuna rungu ringan menggunakan kinesik dalam proses
komunikasi atau yang lebih dipahami sebagai komunikasi nonverbal
1
Ekmen, P, dkk, Semiotiika, h. 47.
Wawancara Pribadi dengan Chairunisa Tuna Rungu Ringan, pada tanggal 06 April 2014,
pukul 16.00.
2
66
seperti gerak tangan dan ekpresi wajah sedangkan, penyandang tuna rungu
berat lebih menggunakan kinesik dan ruang dalam proses komunikasi
yang mereka lakukan. Sebab, tuna rungu berat lebih sulit memahami pesan
yang disampaikan dengan jarak tertentu sehingga membutuhkan kedekatan
jarak untuk berkomunikasi dan lebih memudahkan mereka dalam
berkomunikasi dibandingkan berkomunikasi hanya mengandalkan bahasa
verbal dan nonverbal sebagai alat komunikasinya. Secara teori komunikasi
nonverbal sepeti jenis gerakan tubuh dan kinesik meliputi ruang dan
vokalik hal ini sesuai dengan analisis peneliti yang dilakukan peneliti
selama proses wawancara berlangsung. Pernyataan dari Rachmita Maun
Harahap mengatakan bahwa:3
“Kalau buat komunikasi tuna rungu lebih gampang
dipahamin pake bahasa isyarat dari pada sekedar ucapan ajah, kan
gak semua orang paham apa yang kita ucapin, seenggaknya kan
kalo pake bahasa isyarat lebih jelas pesan yang dimaksud dan buat
mereka yang dengar gak salah paham”4
Dalam proses komunikasi antarpribadi nonverbal tuna rungu ini
menggunakan tiga tahapan yang sesuai dengan teori interaksionisme
simbolik yang digunakan dalam penelitian ini. Teori yang diperkenalkan
oleh George Herbert Mead ini lebih menekankan pada pentingnya
komunikasi. George memandang bagaimana seseorang tergerak dan
bertindak sesuai makna yang diberikannya kepada orang lain melalui
peristiwa tertentu melalui interaksi selama proses komunikasi itu
berlangsung. Sebab teori ini muncul karena adanya interaksi dalam
masyarakat, George Herbert Mead memandang bahwa sebuah interaksi
3
Ekmen, P, dkk, Semiotika, (Jakarta: Kencana Prenada Group, 1969), h. 46.
Wawancara pribadi dengan Rachmita, pada tanggal 7 maret 2014, pukul 15.45.
4
67
dapat memberikan makna tersendiri terhadap pesan yang disampaikan dan
mereka terima.5
Berdasarkan teori tersebut penulis memandang suatu proses
informasi dan pesan yang disampaikan seseorang itu berdasarkan
pemaknaan yang mereka buat sendiri. Dengan begitu akan mudah lawan
bicara memberikan penekanan makna terhadap suatu objek tertentu. Bagi
penyandang tuna rungu komunikasi bukan hanya saja berfungsi sebagai
alat bantu dalam proses komunikasi akan tetapi dapat memberikan ruang
dalam menyampaikan perasaan dan makna dibalik tujuan pesan.
Bagaimana pesan dilakukan melalui konsep diri yang menjadikan diri
sebagai pembentukan dari sebuah makna, bagaimana pesan dikemas
dengan menggunakan bahasa verbal dan nonverbal bagi penyandang tuna
rungu dengan menggunakan pikiran sebagai proses berpikir terhadap
pesan yang disampaikan.
Perbedaan jenis komunikasi nonverbal yang didapatkan dari hasil
penelitian, penulis memberikan gambaran bahwa komunikasi nonverbal
yang meliputi jenis kinesik dan vokalik hanya dilakukan bagi penyandang
tuna rungu ringan. Dengan fungsi komunikasi nonverbal hanya sebagai
repetisi. Sebab, tuna rungu ringan tidak memerlukan ruang atau jarak
sebagai batasan dalam berkomunikasi. Hanya saja bagi penyandang tuna
rungu ringan mimik wajah dan kontak mata diperlukan agar pesan yang
disampaikan dapat diterima dengan baik melalui komunikasi antarpribadi
5
Richard West, dkk, Pengantar Teori Komunikasi Analisis dan Aplikasi, (Jakarta:
Salemba Humanika, 2008), cet. Ke-3, h. 96. 68
nonverbal. Yang dimaksud dengan komunikasi verbal bagi penyandang
tuna rungu adalah kalimat atau ucapan yang terucap dari mulut mereka
meski kalimat yang terucap tidak sejelas dengan komunikasi verbal yang
dilakukan pada manusia normal pada umumnya yang tidak mempunyai
kekurangan fisik dari segi pendengaran. Sehingga, bahasa verbal yang
diucapkan dibantu dengan bahasa nonverbal sebagai pengganti dari bahasa
verbal yang kurang dapat dipahami bagi lawan bicara pada penyandang
tuna rungu.
Yayasan tuna rungu Sehjira Deaf Foundation membantu
penyandang tuna rungu dalam memberikan dukungan dan pelatihan
khusus dalam hal keterampilan berbicara dengan menggunakan bahasa
nonverbal yang disesuaikan dengan taraf Internasional. Bahasa simbol
yang digunakan bagi penyandang tuna rungu memberikan kemudahan
dalam proses komunikasi, sesuai dengan wawancara yang peneliti lakukan
terhadap penyandang tuna rungu berat Amrina Lugina mengatakan bahwa:
“Awalnya saya susah banget buat ngomong sama orang
lain, karena mereka susah banget buat pahamin bahasa saya, itu
saya ngomong tanpa gerak tubuh, tapi selama saya coba diajarkan
sama bu mita bahasa simbol alhmdulillah sekarang lebih gampang
buat komunikasinya, kadang kalo kesulitan sih masih ada.”.6
Jelas sekali dalam wawancara yang dilakukan penulis, penyandang
tuna rungu mengatakan bahwa komunikasi yang dibantu dengan bahasa
isyarat atau simbol dapat memudahkan mereka memberikan umpan balik
dan pemaknaan dengan benar dari pada harus menggunakan bahasa verbal
6
Wawancara Pribadi dengan Sabrina penyandang tuna rungu berat, pada tanggal 06 April
2014, pukul. 15. 43.
69
saja. Sebab penyandang tuna rungu berbeda dari manusia normal pada
umumnya, pendengaran mereka jauh dari kata normal sehingga terkadang
jika berkomunikasi dengan mereka harus menggunakan bahasa isyarat
tertentu dan jarak tentu lebih dekat. Kedekatan atau ruang yang diperlukan
dalam berkomunikasi bagi penyandang tuna rungu memang dibutuhkan
karena mereka membutuhkan kedekatan fisik atau bicara secara dekat
sehingga pesan yang diterima maupun yang disampaikan dapat dipahami
dengan baik.
Keterbatasan yang dimiliki penyandang tuna rungu tidak
memudarkan semangat dan kerja keras mereka dalam segi intelegensi, hal
ini dapat dibuktikan dengan hasil penelitian yang dilakukan penulis bahwa
penyandang tuna rungu ringan dan berat sama-sama melakukan hal yang
sama seperti manusia normal pada umumnya, yakni belajar dan aktif
dalam kegiatan apapun. Sebab, tuna rungu melakukan hal tersebut agar
status mereka diakui oleh lingkungan hal ini sesuai dengan pernyataan
Rachmita mengatakan bahwa:
“Buat masalah diasingkan atau enggak dipeduliin sama
orang lain, dianggap remeh itu udah pasti ada, tapi bagaimana kita
menyikapinya ajah, kan enggak semua orang bisa terima
kekurangan kita. Ya begitu juga kita harus bisa terima baik
buruknya, sisi positif dan negatif lingkungan luar”.7
Keterbatasan yang dimiliki penyandang tuna rungu tidak
menghambat mereka dalam mengasah kemampuan yang dimilikinya,
sebab dengan adanya keterampilan dan soft skill yang diberikan yayasan
tuna rungu Sehjira Deaf Foundation menjadikan keterampilan tersebut
7
Wawancara Pribadi dengan Rachmita, pada tanggal 06 April 2014, pukul. 16.42.
70
sebagai modal utama bagi penyandang tuna rungu untuk menyatu dengan
masyarakat luas tanpa adanya kesenggangan. Sesuai dari hasil wawancara
yang dilakukan penulis dengan Rachmita mengatakan bahwa
“Kita memberikan pelatihan khusus buat tuna rungu agar
mereka bisa bersaing dalam bidang pekerjaan, masyarakat, sama
menyesuaikan diri dengan perkembangan yang ada, seenggaknya
kan kalau ada keterampilan mereka enggak minder, kalau yang
saya tangkap dari beberapa anggota diyayasan ini yah” ujar bu mita
selaku pimpinan yayasan sehjira deaf foundation”8
Keterasingan dan diskriminasi dari lingkungan luar kerap kali
dirasakan oleh penyandang tuna rungu karena keterbatasan mereka.
Namun, Rachmita beranggapan bahwa sesuai dari pernyataan wawancara
mengatakan bahwa
“Buat masalah diasingkan atau enggak dipeduliin sama
orang lain, dianggap remeh itu udah pasti ada, tapi bagaimana kita
menyikapinya ajah, kan enggak semua orang bisa terima
kekurangan kita. Ya begitu juga kita harus bisa terima baik
buruknya, sisi positif dan negatif lingkungan luar”9
Dalam hal ini penulis menyimpulkan bahwa adanya peran dari
lingkungan sosial dalam pembentukan jati diri seorang penyandang tuna
rungu, apabila lingkungan mengasingkan atau mendiskriminasikan
keberadaan tuna rungu dengan segala keterbatasan mereka, maka disitulah
mereka akan merasa terasingkan dan tidak diperdulikan. Sebab lingkungan
sosial lah yang dapat membantu penyandang tuna rungu untuk
mendapatkan kepercayaan diri untuk berinteraksi dan menyatu dengan
masyarakat luas. Sesuai dengan konsep dari teori George Herbert Mead
8
Wawancara Pribadi dengan Rachmita, pada tanggal 06 april 2014, pukul. 16.42.
Wawancara Pribadi dengan Rachmita, pada tanggal 06 april 2014, pukul. 16.42.
9
71
mengatakan bahwa adanya sebuah simbol dalam tatanan masyarakat
karena adanya sebuah interaksi dalam suatu masyarakat.10.
Komunikasi yang digunakan bagi penyandang tuna rungu melalui
komunikasi antarpribadi nonverbal yang berupa kinesik atau semacam
gerakan tubuh mereka, secara tidak langsung mereka mengisyaratkan
bahwa komunikasi yang mereka lakukan dalam keseharian mereka lebih
banyak melakukannya dengan pemahaman bagi pihak lawan bicara yakni
pemahaman pesan dari makna yang disampaikan melalui pesan nonverbal
mereka, baik pesan yang berbentuk gerak tubuh, tangan, mimik wajah, dan
ekspresi selama proses komunikasi berlangsung. Seperti gerakan tangan
yang tidak pernah berhenti dilakukan selama proses komunikasi
berlangsung.
Komunikasi dapat terbentuk karena adanya proses dan begitu pula
proses terbentuk karena adanya pemahaman dari dalam diri. Sebab pesan
komunikasi yang disampaikan akan mudah terbentuk apabila kita dapat
memaknai maksud dan tujuan yang menjadi peran penting dalam proses
komunikasi. Jika dilihat dari sisi sosial komunikasi menjadi sebuah
aktivitas rutin yang dilakukan semua orang. Sebab tanpa adanya
komunikasi seseorang akan merasakan ketidakbahagiaan karena mereka
tidak dapat membagi rasa senang dan sedih. Jika dilihat dari pentingnya
komunikasi, komunikasi bisa memberikan isyarat bahwa komunikasi
penting dalam membentuk konsep diri, dan untuk kelangsungan hidup
10
Richard West, dkk, Pengantar Teori Komunikasi Analisis dan Aplikasi, (Jakarta:
Salemba Humanika, 2008), cet. Ke-3, h. 96.
72
seseorang dalam memperoleh kebahagiaan. Jadi lewat komunikasi kita
dapat bekerjasama dengan orang lain untuk mencapai tujuan bersama.
Sebab ada pepatah mengatakan bahwa jika seseorang tidak berkomunikasi
dengan manusia lainnya dipastikan ia akan tersesat karena mereka tidak
dapat menata dirinya dalam lingkungan sosial. oleh karena itu komunikasi
menjadi penting apabila kita dapat menyesuaikannya dalam lingkungan
sosial.
Sesuai dengan karakteristik komunikasi, komunikasi mempunyai
karakteristik sebagai suatu proses, yakni dimana komunikasi merupakan
serangkaian tindakan atau peristiwa yang terjadi secara berurutan dan satu
sama lainnya dalam kurun waktu tertentu.11 Sesuai dengan karakteristik
tersebut komunikasi dilakukan untuk proses pendekatan sosial dan
interaksi yang dilakukan dalam kurun waktu yang lama. Karena
komunikasi akan mengalami perubahan dan akan berlangsung secara terus
menerus. Sebab manusia akan terus membutuhkan komunikasi sebagai
alat penyalur perasaan dan pikiran seseorang.
Proses komunikasi yang berlangsung melibatkan diri sebagai
subjek yang terlibat dalam proses komunikasi tersebut. Sebab dari dirilah
yang dapat memengaruhi lawan bicara dalam komunikasi. Begitu juga
yang dilakukan penyandang tuna rungu, sebelum pesan yang terkirim
melalui bahasa verbal dan gerak tubuh mereka meyakinkan bahwa diri
Hafied Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,
2007), h. 20. 11
73
mereka terlibat langsung dalam pemaknaan yang ditimbulkan dari pesan
yang disampaikan dan direspon balik oleh lawan bicara mereka.
Pola komunikasi tuna rungu menggunakan bahasa isyarat dan
simbol menjadi keunikan tersendiri dari komunikasi pada umumnya, sebab
komunikasi yang dilakukan penyandang tuna rungu diyayasan Sehjira
Deaf Foundation menggabungkan antara bahasa verbal dan nonverbal
sebagai sumber pemaknaan pesan yang disampaikan. Yang dimaksud
dengan komunikasi verbal adalah segala bentuk kalimat yang terucap dari
mimik mulut, meski kalimat yang terucap tidak jelas sebagaimana makna
kalimat verbal menurut pengertiannya. Sebagaimana hasil wawancara
yang peneliti lakukan kepada bu Rachmita, ia mengatakan bahwa:
“Memang komunikasi isyarat ini sulit dipahami banyak
orang tapi kita berusaha untuk bisa dipahamin orang lain dengan
bahasa isyarat sama simbol, buat ngeyakinin lawan bicara kita
sendiri harus benar-benar yakin sama pesan yang kita sampaikan”12
Dari
hasil
wawancara
tersebut
dapat
disimpulkan
bahwa
komunikasi nonverbal dengan bahasa isyarat dan simbol tertentu tidak
selamanya dapat membantu proses komunikasi. Fungsi dari diri sendiri
menjadi penting dalam pembentukan makna terhadap pesan yang ingin
disampaikan dalam proses interaksi yang sedang berlangsung. Diri
menjadi fungsi yang melibatkan antara tindakan dan kata hati. Karena
keduanya berjalan secara bersamaan dalam menjalankan fungsinya
masing-masing. Sehingga pesan komunikasi yang berlangsung antara
penyandang tuna rungu dapat berlangsung dengan baik.
12
Wawancaea Pribadi dengan Rachmita, pada tanggal 06 april 2014, pukul. 15.00. 74
Bagi penyandang tuna rungu ada dua penggunaan bahasa isyarat
yang diterapkan bagi penyandang tuna rungu, yakni SIBI dan BISINDO
keduanya memiliki fungsi yang sama, yakni untuk berkomunikasi melalui
gerak tangan serta bahasa tubuh yang digunakan. Namun, dalam
penggunaan dan pemaknaan keduanya jelas berbeda. SIBI dalam
penggunaan dan pemaknaan yang ada dalam gerakannya lebih
memudahkan penyandang tuna rungu, sebab gerakan yang terlihat lebih
mudah dipahami tanpa memakan waktu yang lama dalam menjelaskan
pesan dengan gerakan tersebut. Sedangkan isyarat BISINDO penggunaan
dan gerakan yang dilakukan lebih sulit dan memakan waktu yang lama.
Tidak singat seperti SIBI. Penyandang tuna rungu ringan dan berat lebih
memilih menggunakan bahasa isyarat SIBI sebab menurut Amrina Lugina
dan Chairunisa bahwa:
“Kalau kita cari yang mudah ajah, kaya SIBI semua tuna
rungu juga pake isyarat SIBI ketimbang BISINDO, soalnya enggak
lama buat kita pake gerakannya”13
Dari hasil wawancara yang dilakukan kepada dua penyandang tuna
rungu ringan dan berat diketahui bahwa mereka lebih banyak
menggunakan bahasa isyarat SIBI karena mudah dalam gerakan yang
dilakukan tidak seperti BISINDO yang mempunyai makna sama dengan
SIBI namun gerakannya sulit dilakukan dan memakan waktu.
Keterbatasan yang dimiliki penyandang tuna rungu dalam
melakukan komunikasi tidak memberikan batasan kepada mereka dalam
13
Wawancara Pribadi dengan Sabrina dan Chairunisa penyandang tuna rungu ringan dan
berat, pada tanggal 19 April 2014, pukul. 16.00.
75
melakukan kegiatan sosial. sebab diyayasan tuna rungu Sehjira ini
memberikan arahan serta
edukasi yang menjadikan penyandang tuna
rungu dapat disetarakan dengan masyarakat lainnya, tanpa melihat sisi
kekurangannya. Diketahui dari segi Intelegensi pada penyandang tuna
rungu ringan seperti Chairunisa bahwa tingkat Intelegensi sangat baik
sama dengan manusia normal pada umumnya yang tidak memiliki
kekurangan fisik satu pun, ia adalah salah satu Alumni Universitas Mercu
Buana Jakarta ini mengakui dalam wawancara mengatakan bahwa:
“Pas waktu kuliah ya saya kalau dosen bicara emang ga
dengar, tapi kan selalu pake slide bahan pelajaran, jadi saya sedikit
banyaknya paham”14
Menurut Chairunisa penyandang tuna rungu ringan sepertinya
tidaklah mudah dalam melakukan komunikasi, seperti halnya selama ia
kuliah mengatakan kesulitan dalam hal pendengaran membuatnya
kesulitan dalam memahami materi yang diberikan oleh dosennya. Akan
tetapi penggunaan alat bantu seperti slide show (power point)
memudahkan ia dalam memahami pelajaran.
Penggunaan bahasa nonverbal dalam interaksi yang dilakukan bagi
penyandang tuna rungu akan lebih memudahkan mereka dalam
berkomunkasi dengan komunitas yang lebih luas, bukan hanya kepada
sesama penyandang tuna rungu saja, akan tetapi komunikasi yang
dilakukan pada lingkungan sosial.
14
Wawancara Pribadi dengan Chairunisa penyandang tuna rungu ringan, pada tanggal 06
April 2014, pukul. 15.46. 76
Bentuk
dari
sebuah
proses
adalah
bagaimana
seseorang
penyandang tuna rungu dapat melakukan interaksi sebagai sebuah proses
sosial, karena dengan adanya interaksi yang dilakukan penyandang tuna
rungu mereka akan lebih mudah menyatu dengan masyarakat lainnya.
bentuk dari interaksi sosial menurut perspektif sosiologi dapat dibangun
melalui kerjasama dan bahkan dapat berbentuk semacam pertikaian. Oleh
karena itu fungsi dari komunikasi antarpribadi yang dibangun akan mudah
berlangsung dan dapat dipahami oleh satu sama lain antara penyandang
tuna rungu.15 Jika tuna rungu dilihat dari sisi intelegensi baik namun sisi
emosi dan sosial tuna rungu dapat dilihat lebih mudah tersinggung apabila
pesan yang mereka sampaikan tidak mudah dipahami dengan lawan bicara
normal dengan baik. Akan tetapi jika dilihat dari segi sosial tuna rungu
lebih banyak tertutup dengan masyarat luar. Berkomunikasi hanya dengan
menggunakan alat bantu lainnya seperti handphone.
Keterbatasan dalam hal pendengaran menjadi salah satu faktor
penyandang tuna rungu merasa berbeda dengan manusia normal pada
umumnya, seseorang yang mempunyai fakor hambatan fisik akan lebih
mudah tersinggung dan tingkat emosi mereka jauh lebih tinggi dari pada
manusia normal pada umumnya.
Pemaknaan dari jati diri menjadi peran utama yang diungkapkan
oleh George Herbert Mead dalam teori interaksionisme simbolik, Mead
memandang bahwa tindakan sosial itu didasarkan pada proses umum yang
15
h. 61. Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005),
77
merupakan sebuah kesatuan tingkah laku yang tidak dapat dianalisis
kedalam bagian-bagaian tertentu.16
Pernyataan dari teori tersebut diketahui bahwa proses komunikasi
yang berlangsung secara bersamaan melalui kata hati yang kemudian
dibentuk dengan sebuah tindakan yang dapat menjadikan pesan
disampaikan dengan makna yang berbeda-beda. Bahasa simbol dan
pemaknaan menjadi dua alat penting dalam proses komunikasi yang
dilakukan penyandang tuna rungu agar pesan yang disampaikan dapat
dipahami dengan baik dan mendapatkan makna yang lebih luas.
Teori interaksionisme simbolik dalam penerapan komunikasi
antarpribadi verbal dan nonverbal bagi penyandang tuna rungu sangat
dibutuhkan dalam pengkonsepan diri. Bagaimana penyandang tuna rungu
mengembangkan pesan dan makna melalui bahasa nonverbal yang
digunakan agar lawan bicara (komunikan) sesama penyandang tuna rungu
dalam memahami pesan yang disampaikan oleh mereka dengan
menggunakan bahasa isyarat. Makna yang terkandung dalam pesan
nonverbal bagi penyandang tuna rungu akan muncul selama adanya proses
interaksi berlangsung. Dengan menggunakan bahasa nonverbal tersebut
maka lawan bicara akan memahami isi pesan yang ditujukan dengan
gerakan tertentu seperti gerakan kinesik dan ekspresi wajah. Gerakan
simbol yang dilakukan penyandang tuna rungu akan dapat diartikan
melalui interaksi yang mereka lakukan seperti komunikasi antarpribadi.
16
Richard West, dkk, Pengantar Teori Komunikasi Analisis dan Aplikasi, (Jakarta:
Salemba Humanika, 2008), h. 97.
78
Dimana tuna rungu berinteraksi lebih banyak dengan teman mereka
sesama penyandang tuna rungu dengan menggunakan bahasa isyarat
mereka. Dengan demikian, pesan yang disampaikan dapat dipahami
dengan sebagaimana mestinya dengan makna dari komunikasi itu sendiri.
Menurut dari analisis yang penulis lakukan diketahui bahwa teori
interaksionisme simbolik menjadi sumber utama sebagai pemaknaan yang
dibuat dengan menggunakan bahasa nonverbal. dengan begitu penyandang
tuna rungu dapat mengerti dan memahami dan memberikan feedback
terhadap pesan yang disampaikan. Bagaimana penyandang tuna rungu
memaknai pesan yang diterima serta disampaikan melalui konsep diri
yang mereka buat sehingga dengan bahasa nonverbal yang ada dapat
membantu mereka dalam memberikan makna dari setiap pesan yang
diterima. Segala bentuk simbol yang dilihat dari bahasa tubuh dan segala
bentuk tindakan yang digunakan dalam interaksi tuna rungu akan memiliki
makna karena dengan simbol kita dapat mendengar dan memberikan
umpan balik dengan kemampuan untuk menyuarakan simbol. Begitu pun
penyandang tuna rungu dengan pemaknaan serta konsep diri yang
dilakukan dengan baik akan menghasilkan respon yang positif dalam
interaksi yang berlangsung.
Proses yang selanjutnya digunakan dalam proses interaksi tuna
rungu adalah dengan menggunakan pikiran sebagai alat bantu dalam
merespon pesan yang disampaikan. dimana pikiran menjadi salah satu
bentuk dalam proses komunikasi dan pengembangan dari makna yang
tersirat melalui bahasa nonverbal. Ketika pesan yang disampaikan akan
79
terdapat perubahan maka disitulah proses berfikir dilakukan oleh
penyandang tuna rungu. Oleh karena itu analisis pada penelitian ini lebih
menekankan pada tingkat pemaknaan dari setiap bahasa yang digunakan
oleh penyandang tuna rungu. Karena semua tuna rungu tidak sama dalam
menafsirkan sebuah simbol. Peneliti meneliti penyandang tuna rungu :
1. Chairunisa Eka A.R (Penyandang Tuna Rungu Ringan
atauHard Of Hearing)
Bagi
Chairunisa
komunikasi
menggunakan
bahasa
nonverbal sangat membantu dalam pesan yang disampaikan fungsi
yang ada pada komunikasi nonverbal seperti repetisi sebagai
pengganti perilaku nonverbal. Jika pesan tidak tersampaikan
dengan baik maka pengulangan yang dilakukan hanya dua kali
pengulangan bagi Chairunisa selaku penyandang tuna rungu
ringan. Vokalik atau yang lebih dikenal sebagai paralanguage
adalah salah satu unsur ucapan dalam cara berbicara.17
Sebagai tuna rungu ringan Chairunisa menyadari bahwa
kekurangannya dalam hal pendengaran untuk berkomunikasi yang
mengharuskan ia menggunakan bahasa nonverbal sebagai repetisi
dalam
mengungkapkan
sesuatu
melalui
perilaku
yang
dilakukannya. Gerakan kinesik yang lebih banyak digunakan pada
penyandang tuna rungu ringan hanya sebagai alat bantu dari
kalimat verbal yang kurang jelas dalam pengucapannya. Sebab
17
Ekmen, P, dkk, Semiotika, (Jakarta: Kencana Prenada Group, 1969), h. 50. 80
tuna rungu ringan seperti Chairunisa hanya membutuhkan kinesik
dan kontak mata sebagai alat bantu dalam proses komunikasi.
Pemaknaan pesan yang dilakukan bagi penyandang tuna
rungu ringan Chairunisa memaknai pesan dengan diri sebagai
konsep utama dalam memahami pesan. Yang kemudian peran
bahasa nonverbal menjadi sebuah alat bantu dalam memahami isi
pesan dengan gerakan tertentu yang kemudian diolah dengan
pikiran sebagai proses dalam memahami makna melalui interaksi.
Komunikasi yang dilakukan penyandang tuna rungu ringan
seperti Chairunisatidak selamanya berjalan dengan baik dan sama,
perbedaan dalam hal pendengaran juga memberikan efek yang
berbeda dari pesan yang disampaikan serta pesan yang diutarakan.
Bagi penyandang tuna rungu ringan dari hasil penelitian yang
dilakukan dapat dilihat bahwa tuna rungu ringan lebih mudah
berkomunikasi tanpa adanya alat bantu seperti gerakan tangan dan
mimik wajah yang mengharuskan ekspresi secara jelas. Sesuai
dengan wawancara yang dilakukan dengan bu Rachmita selaku
pimpinan
yayasan
tuna
rungu
Sehjira
Deaf
Foundation
mengatakan bahwa:
“Komunikasi bagi penyandang tuna rungu ringan
jelas beda, mereka (tuna rungu ringan) masih mudah dan
bisa berkomunikasi meski enggak pakai bahasa isyarat, kan
mereka masih bisa dengar jelas meski ada sedikit
81
hambatan, mungkin bisa dua kali omongan diulang, itu juga
seandainya ada yang enggak faham”18
Bahasa isyarat dan simbol tertentu bagi penyandang tuna
rungu ringan tidak harus dilakukan akan tetapi dalam berbicara
perlu dua kali pengulangan agar memperjelas dari pesan
komunikasi yang disampaikan. Menurut Rachmita mengatakan
bahwa:
“Ada dua gaya bahasa isyarat yang dipake tuna
rungu buat komunikasi ada SIBI dan BISINDO, itu sama
ajah bahasa isyarat-isyarat juga tapi beda dalam
penggunaan gerak yang dilakukan, biasanya kalo tunarungu
pake yang sibi keliatan lebih gampang enggak ribet, kalau
bisindo biasanya banyak dipake buat tunarungu berat
semacem tuli gitu lah”19
Penggunaan isyarat tersebut tergantung masing-masing
kebutuhan penyandang tuna rungu, bagi penyandang tuna rungu
ringan seperti Chairunisa lebih banyak menggunakan bahasa
isyarat SIBI yang lebih mudah dipahami dengan gerakan yang
simpel dan tidak terlalu menunjukan ekspresi wajah. Seperti
penjelasan yang peneliti paparkan diatas, ada dua penggunaan
bahasa isyarat bagi tuna rungu yang memiliki kemudahan dan
kerumitan tersendiri. Penyandang tuna rungu seperti Chairunisa
menggunakan SIBI (Sistem Isyarat Bahasa Indonesia) dalam
berkomunikasi sebab gerakan SIBI sangat mudah dan tidak rumit
sehingga banyak digunakan oleh penyandang tuna rungu lainnya.
18
19
Wawancara pribadi dengan Rachmita, pada tanggal 06 April 2014, pukul 15.35.
Wawancara pribadi dengan Rachmita, pada tanggal 06 April 2014, pukul 15.35.
82
Sesuai dengan pernyataan dari Chairunisa dalam wawancara
mengatakan bahwa:
“Kalau saya pake gerakan SIBI karna kan lebih
mudah padahal artinya sama ajah, cuma gerakannya lebih
mudah dari pada BISINDO”20
Penggunaan
gerak
sebagai
penunjang
komunikasi
penyandang tuna rungu dapat mempertegas dalam komunikasi
yang disampaikan. oleh karena itu keefektifan komunikasi
antarpribadi nonverbal sangat menunjang dalam proses komunikasi
sehari-hari penyandang tuna rungu diyayasan tuna rungu sehjira.
Dalam
penelitian
ini
peneliti
mengambil
satu
partisipan
penyandang tuna rungu ringan sebagai objek riset yakni
Chairunnisa Eka A.R, nisa adalah salah satu dari sekian banyak
penyandang tuna rungu ringan diyayasan Sehjira yang berjumlah
70 orang. Kemampuan Chairunisa dalam mendengar masih sedikit
berfungsi dengan normal. Tidak seperti penyandang tuna rungu
berat yang tidak dapat mendengar sama sekali. Alumni Universitas
Mercu Buana ini mengakui bahwa:
“Kekurangan fisik yang saya punya sejak lahir
emang susah banget buat saya komunikasi, enggak kaya
orang lain ajah, tapi kan yahh gimana lagi saya terima
kekurangan saya ini.”21
Menurutnya hambatan dalam komunikasi dan sulitnya
memahami apa yang dimaksudkan orang lain menjadi salah satu
20
Wawancara Pribadi dengan Chairunisa penyandang tuna rungu ringan, pada tanggal 19
April 2014, pukul 13.00. 21
Wawancara pribadi dengan Chairunisa penyandang tuna rungu ringan, pada tanggal 07
Maret 2014, pukul 16.48.
83
masalah dalam dirinya. Akan tetapi mahasiswi ini tidak pernah
putus asa. Sebab dengan komunikasi menggunakan bahasa
nonverbal seperti gerak tangan, mimik wajah dan gestur tubuh
semua dapat mendukung proses komunikasi. Nisa mengatakan
dalam wawancaranya bahwa:
“Mmm.. kalo bicara sama orang normal pastilah ada
hambatan, kan gak semua orang ngerti apa yang kita
omongin, lagian kalo tuna rungu kaya saya pasti beda harus
pake isyarat tangan dan bahasa isyarat juga.”22
Dari segi intelegensi penyandang tuna rungu tidak jauh
berbeda dengan orang normal pada umumnya, akan tetapi setelah
kita berkomunikasi dengan mereka, barulah kita tahu bahwa
mereka memiliki hambatan dalam hal pendengaran. Oleh sebab itu,
bahasa nonverbal yang digunakan dapat menunjang komunikasi
yang dilakukan bagi penyandang tuna rungu.
Penyandang tuna rungu diyayasan tuna rungu sehjira
berjumlah sekitar 125 penyandang tuna rungu dengan perbedaan
gangguan pendengaran yang berbeda-beda. Menurut bu Rachmita
selaku pimpinan yayasan mengatakan bahwa:
“Penyandang tuna rungu disini memang beda-beda
tergantung gangguan pendengaran yang mereka alami,
biasanya pelatihan bahasa isyarat juga beda, penyandang
tuna rungu ringan ada sekitar 68 orang kalau penyandang
tuna rungu berat 57 orang”. 23
22
Wawancara pribadi dengan Chairunisa penyandang tuna rungu ringan, pada tanggal 07
Maret 2014, pukul 16.40.
23
Wawancara Pribadi dengan Rachmita, pada tanggal 06 April 2014, pukul. 16.44.
84
Sesuai dengan pernyataan diatas dari hasil wawancara,
diketahui bahwa pelatihan bahasa nonverbal untuk tuna rungu berat
lebih diintensifkan dalam hal penggunaan. Sebab, tuna rungu berat
lebih sulit dalam memahami bahasa isyarat.
Penggunaan bahasa isyarat yang digunakan dalam proses
interaksi sehari-hari dapat membantu bagi penyandang tuna rungu
dalam memaknai pesan yang mereka terima maupun pesan yang
mereka sampaikan dapat dengan mudah mereka pahami. Dengan
begitu komunikasi antarpribadi nonverbal menjadi salah satu
bentuk komunikasi yang efektif yang mereka gunakan dalam
interaksi.
2. Amrina Lugina Pagar Alam (penyandang tuna rungu berat
atau Deaf Of Hearing)
Pola
komunikasi
nonverbal
yang
digunakan
bagi
penyandang tuna rungu berat seperti Amrina Lugina ini lebih
banyak
menggunakan
bahasa
nonverbal
sebagai
alat
berkomunikasi. Sebab, menurut pengakuannya, kesulitan dalam
pengucapan bahasa verbal menjadi penghambat dalam proses
komunikasi. Baginya, fungsi komunikasi nonverbal selain sebagai
alat bahasa nonverbal juga sebagai subtitusi atau pengganti kalimat
verbal yang kurang jelas. Peneliti mengamati bahwa pola
komunikasi nonverbal bagi penyandang tuna rungu berat seperti
sabrina bahasa verbal tidak terlalu banyak digunakan dalam proses
85
interaksi sebab sulit sekali dalam pengucapan yang mereka lakukan
membuatnya memilih bahasa nonverbal dan gerak tubuh serta
tangan yang dilakukan untuk menyampaikan pesan secara
langsung.
Penggunaan bahasa nonverbal bagi penyandang tuna rungu
difungsikan dalam bentuk kinesik dan ruang. Kinesik atau gerak
tubuh, serta kontak mata yang dilakukan penyandang tuna rungu
berat memungkinkan untuk memahami dan memberikan pesan
sesuai dengan pemahaman yang dilakukan mereka (penyandang
tuna rungu berat), sedangkan penggunaan ruang, dilakukan untuk
memberikan jarak dalam berkomunikasi. Batas bagi penyandang
tuan rungu berat sesuai analisis yang didapatkan dilapangan
menunjukan bahwa tidak boleh lebih dari empat meter dalam
melakukan interaksi agar dapat dipahami.
Bagi penyandang tuna rungu berat tingkat emosional dan
intelegensi yang ada, menjadi faktor hambatan dalam komunikasi,
sebab menurut pengakuan bu Rachmita tentang Amrina selaku
penyandang tuna rungu berat, diketahui bahwa:
“Kalau Amrina kan sulit buat komunikasi, jadi dia
jarang juga buat ngomong sama orang banyak”.24
Kesulitan dalam interaksi dan menyampaikan serta
mendengarkan pesan yang total membuat Sabrina kesulitan,
sehingga terkadang emosi suka terlontar dari sikap dan ucapan ia.
24
Wawancara dengan Rachmita selaku pimpinan yayasan, pada tanggal 19 april 2014,
pukul. 16.07.
86
Karena lawan bicara tidak dapat memahami isi pesan yang ingin
dia sampaikan.
Seperti yang sudah peneliti jelaskan diatas, bahwa pola
komunikasi penyandang tuna rungu diyayasan tuna rungu sehjira
lebih menggunakan komunikasi antarpribadi nonverbal sebagai
komunikasi yang digunakan dalam interaksi bagi penyandang tuna
rungu. Karena bahasa nonverbal menjadi bahasa pengganti dari
pesan verbal sehingga pesan yang disampaikan dapat dimengerti
dan dipahami bagi lawan bicara yang sama-sama berinteraksi
dengan penyandang tuna rungu tersebut.
Salah satu penyandang tuna rungu berat adalah Amrina,
hambatan dan kesulitan dalam berkomunikasi yang dilakukan bagi
penyandang tuna rungu berat berbeda dengan tuna rungu ringan
yang masih dapat mendengar meski bahasa nonverbal tidak
digunakan. Sesuai pernyataan dalam wawancara peneliti dengan
Amrina mengatakan bahwa:
“Saya kalau bicara enggak bisa kalau enggak pake
gerak sama mimik wajah, saya harus jelas melihat sama
gerak yang digunain sama teman bicara saya, jarak pandang
kalau saya enggak bisa lebih dari empat meter”.25
Komunikasi yang digunakan penyandang tuna rungu berat
memang harus lebih memfokuskan pada komunikasi nonverbalnya dengan
menggunakan jenis komunikasi nonverbal kinesik dan ruang.26 Sebagai
25
Wawancara Pribadi dengan Sabrina penyandang tuna rungu berat, pada tanggal 06 April
2014, pukul. 14.33.
26
Ekmen, P, dkk, Semiotika, (Jakarta: Kencana Prenada Group, 1969), h. 50.
87
bahasa penunjang karena pendengaran yang ada pada mereka tidak
berfungsi dengan baik atau bisa dikatakan tuli. Sehingga jika mereka
berbicara harus melihat mimik mulut dan ekspresi wajah. Komunikasi
antarpribadi yang dilakukan seluruh penyandang tuna rungu diyayasan
tuna rungu Sehjira Deaf Foundation dengan interaksi seperti berbicara
dalam percakapan sehari-hari, sharing dan seluruh bentuk kegiatan lainnya
yang dilakukan penyandang tuna rungu diyayasan.
Penggunaan Meaning sebagai konsep diri sangat dibutuhkan oleh
penyandang tuna rungu ringan, sebab diri menjadi hal utama untuk
meyakinkan
pesan
yang
ingin
disampaikan
karena
keterbatasan
pemahaman pesan yang terdapat pada penyandang tuna rungu berat seperti
Amrina, language atau bahasa yang digunakan dalam proses komunikasi
adalah alat yang sangat dibutuhkan bahasa yang bersifat verbal ataupun
nonverbal sehingga komunikan dapat dengan baik memahami isi pesan.
Kekurangan dalam hal pendengaran yang dimiliki Amrina menjadi
hambatan dalam komunikasi yang ia lakukan. Sebab dalam mengutarakan
pesan nonverbal pun Amrina masih terlihat sulit. Karena bahasa verbal
yang terucap darinya sama sekali tidak jelas. Sebagaimana sesuai dengan
pernyataan yang diutarakan oleh bu Rachmita mengatakan bahwa
“Kalau Amrina kan memang pendengarannya total tidak
bisa digunakan, nah jadi kalau ada orang lain bicara sama dia
biasanya gunain buku sama pulpen kalau kurang jelas”27
27
Wawancara pribadi dengan bu rachmita selaku pimpinan yayasan, pada tanggal 07
maret 2014, pukul 16.00.
88
Komunikasi yang dilakukan Amrina Lugina Pagar Alam terkadang
pun suka menggunakan alat bantu seperti buku dan pulpen jika kalimat
dan bahasa isyarat yang ia gunakan kurang jelas dan sulit dipahami.
Sehingga pesan komunikasi dan umpan balik dapat dengan mudah
dilakukan. Dan menghasilkan makna yang sesuai dengan harapan Amrina
sebagai pembicara. Kinesik dan ruang yang diperlukan bagi penyandang
tuna rungu berat sangat dibutuhkan sebab jarak dari komunikasi tidak
boleh lebih dari empat meter. Gangguan yang terdapat dalam pesan
komunikasi atau yang lebih dikenal sebagai noise terkadang menghambat
proses interaksi yang sedang berlangsung. Menurut Amrina mengatakan
dalam wawancaranya bahwa:
“Kadang kalau saya bicara yang saya maksud enggak
sampai sama orang yang saya ajak bicara, kadang yang saya
maksud A tapi dia anggapnya b. Kadang benda-benda disekitar
saya buat tempat biar mereka paham sama pesan saya”28
Terkadang pesan yang tersampaikan tidak sesuai atau yang lebih
dikenal dalam komunikasi antarpribadi gangguan semantik, yakni dimana
penafsiran makna pesan berbeda dari maksud pesan dan tujuan tersebut.
Biasanya pesan yang disampaikan memiliki gangguan baik terhadap
komunikator (Amrina) dan komunikannya (lawan bicara). Dalam pesan
komunikasi yang tersampaikan makna dan interaksi terus berjalan yang
kemudian dipengaruhi adanya interaksi sosial. keterbatasan yang dimiliki
Amrina tidak menghambat ia dalam mengaktualisasikan keterampilannya
dalam kegiatan-kegiatan yang bermanfaat sebagai contoh Amrina
28
Wawancara pribadi dengan sabrina penyandang tuna rungu berat, pada tanggal 07 maret
2014, pukul 16.56.
89
memegang peranan penting sebagai bendahara yayasan yang menjadi
sebuah aktivitas kesenggangan waktu baginya.
Kegiatan komunikasi yang dilakukan bagi penyandang tuna rungu
diyayasan tuna rungu Sehjira Deaf Foundation memang terbilang lebih
banyak berinteraksi lewat komunikasi antarpribadi nonverbal. dari pada
komunikasi yang dilakukan lewat komunikasi media, hal ini terbukti dari
hasil pengamatan yang peneliti lakukan selama proses penelitian.
komunikasi yang dilakukan antara penyandang tuna rungu dengan tuna
rungu lainnya dengan menggunakan bahasa nonverbal sebagai bahasa
yang digunakan dalam proses interaksinya. Baik dengan ekspresi wajah,
gerak tangan, gerak tubuh dan tangan.
Proses analisis yang penulis lakukan dalam proses komunikasi agar
dapat mengetahui apakah komunikasi yang dilakukan bersifat antarpribadi
atau non-antarpribadi, analisis yang penulis lakukan dengan beberapa
pendekatan seperti analisis pada tingkat kultural yang lebih dianalisis
dalam komunikasi penyandang tuna rungu melalui kata-kata yang mereka
gunakan dalam proses interakasi, melalui tindakan dari bahasa tubuh
mereka, postur tubuh, gerak suara dan semua makna-makna yang tersirat
dari komunikasi yang mereka lakukan.29
Sehingga peneliti dapat mengetahui tingkat kedekatan komunikasi
antarpribadi yang dilakukan penyandang tuna rungu diyayasan sehjira.
Semua bentuk komunikasi nonverbal yang digunakan oleh penyandang
29
Muhammad Budyatna, dkk, Teori Komunikasi Antarpribadi, (Jakarta: Kencana Prenada
Group, 2011), h. 5.
90
tuna rungu tidak semuanya dapat berbentuk bahasa tubuh dan tanda saja,
akan tetapi semacam tindakan dan perbuatan , atau objek sebagai
komunikasi nonverbal. hal ini sesuai dengan wawancara dengan bu
Rachmita mengatakan bahwa
“Biasanya kita dalam bicara gak semua pake bahasa isyarat
kadang bahasa yang kita gunakan dalam gerakan kita
menggunakan tindakan atau barang mati seperti gelas, bangku atau
pulpen gitu”30
Dalam hal ini proses komunikasi menjadi penting karena
pemaknaan dari konsep diri yang terkonstruk dengan baik akan
menghasilkan komunikasi yang efektif bagi penyandang tuna rungu.
Sebagaimana yang peneliti jelaskan diatas, bahwa seseorang akan
membentuk kesadaran atas keterlibatannya dalam proses komunikasi akan
menjadikan diri seseorang akan mudah terkonsep dalam perannya sebagai
komunikator atau komunikan. Begitu pula dengan penyandang tuna rungu
apabila mereka memahami isi pesan dengan menggunakan bahasa
nonverbal dan komunikasi antarpribadi, tujuan dan harapan dari pesan
akan tersampaikan dengan baik.
Dari hasil penelitian yang peneliti lakukan bahwa diketahui proses
komunikasi yang dilakukan bagi penyandang tuna rungu berat seperti
Amrina lebih banyak menggunakan bahasa nonverbal sebagai penunjang
dalam berkomunikasi dengan menggunakan jenis kinesik dan ruang
sebagai proses interaksi dengan fungsi komunikasi nonverbal bagi
penyandang tuna rungu sebagai subtitusi yakni dimana pesan nonverbal
30
Wawancaea pribadi dengan Rachmita, pada tanggal 06 april 2014, pukul 15.30.
91
mewakilkan bahasa verbal yang kurang jelas dengan menggunakan bahasa
isyarat sebagai bentuk komunikasi yang Amrina lakukan.
Dari segi intelegensi yang memengaruhi proses komunikasi bagi
penyandang tuna rungu berat menjadi sangat penting dengan pengetahuan
dan pemahaman dari penggunaan bahasa simbol sebagai pemaknaan dari
pesan tersebut. Meskipun bahasa menjadi faktor penghambat dalam
komunikasi mereka, dengan adanya bahasa verbal dan nonverbal seperti
bahasa isyarat memudahkan mereka dalam melakukan interaksi mereka.
Jika dilihat dari segi emosional bagi penyandang tuna rungu berat
sisi emosional mereka cenderung lebih tinggi. Karena penyandang tuna
rungu berat lebih sulit untuk berinteraksi karena kekurangan pendengaran
total yang mereka alami. Sehingga mereka membutuhkan kedekatan jarak
dalam berkomunikasi dengan dua kali pengulangan kalimat. Jika dilihat
dari sisi sosial penyandang tuna rungu berat memiliki perbedaan dengan
penyandang tuna rungu ringan. Tuna rungu berat lebih tertutup dalam hal
pergaulan dengan masyarakat yang luas. Sebab, menurut pengakuan dari
Amrina mengatakan dalam wawancaranya bahwa:
“Kalau saya lebih banyak diyayasan, enggak terlalu sering
bergaul sama tetangga. Kecuali sama anggota yayasan juga”
Hal ini dibuktikan karena adanya keterasingan yang dirasakan
Amrina. Sehingga berkomunikasi hanya dengan lingkungan kelompok
saja, tidak menyatu dengan masyarakat yang lebih luas.
92
B. Faktor Penghambat dan Pendukung dalam Proses Komunikasi
Penyandang Tuna Rungu
1. Faktor Penghambat Proses Komunikasi Penyandang Tuna Rungu
Dalam proses komunikasi penyandang tuna rungu tidak selamanya
mengalami kelancaran, sebab komunikasi yang normal pada umumnya
saja dapat mengalami hambatan, sudah tentu bagi penyandang tuna rungu
yang memiliki kekurangan dalam hal pendengaran. Sudah tentu ada faktor
yang dapat menghambat dalam proses komunikasi. Dalam penelitian yang
peneliti lakukan terdapat beberapa faktor hambatan dalam proses
komunikasi yang berlangsung bagi penyandang tuna rungu. Salah satunya
adalah gangguan semantik yakni gangguan yang bisa saja terjadi dari
komunikator
dan
komunikan
biasanya
pesan
yang
disampaikan
penyandang tuna rungu ringan (komunikator) bisa berbeda makna jika
pesan yang sudah tersampaikan ke lawan bicara (komunikan) penyandang
tuna rungu berat.
Dari analisis yang dilakukan penulis terhadap penyandang tuna
rungu ringan dan berat terhadap faktor penghambat dan pendukung dapat
dianalisis melalui beberapa segi yakni, segi intelegensi, segi bahasa dan
bicara serta segi emosi dan sosial. Jika dilihat dari segi intelegensi
penyandang tuna rungu mempunyai intelegensi yang berbeda-beda, tingkat
intelegensi dapat memengaruhi sikap dan prilaku serta tingkat emosional
mereka, semakin tinggi tingkat intelegensi yang mereka miliki maka akan
93
semakin mudah penyandang tuna rungu bergaul dengan masyarakat luas
seperti halnya ungkapan yang dinyatakan dari Rachmita selaku pimpinan
mengatakan dalam wawancara bahwa:
“Enggak semua tuna rungu itu kurang, bisa dilihat banyak
tuna rungu yang potensinya diatas rata-rata, tetap kuliah dan kerja
sama seperti orang lain. Cuma bedanya kan, kalau kita ini punya
kekurangan dalam hal pendengaran”.31
Tingkat intelegensi bagi penyandang tuna rungu menjadikan dirinya
lebih dapat terkonsep dengan baik, baik dari segi bahasa dan bicara serta
pengkontrolan emosi pada diri mereka sehingga mereka lebih dapat
bersosialisasi dengan masyarakat luas. Kekurangan pendengaran bagi
penyandang tuna rungu ringan seperti Chairunisa yang masih mempunyai
daya tangkap terhadap suara dari interaksi manusia normal memungkinkan
dirinya mampu melakukan interaksi dengan masyarakat luas.
Faktor hambatan ini terjadi selama proses komunikasi berlangsung
menurut ungkapan bu Rachmita dalam wawancaranya mengatakan bahwa:
“Memang komunikasi isyarat ini sulit dipahami banyak
orang tapi kita berusaha untuk bisa dipahamin orang lain dengan
bahasa isyarat sama simbol, buat ngeyakinin lawan bicara kita
sendiri harus benar-benar jelas sama pesan yang kita sampaikan”32
Ada beberapa faktor penghambat dalam proses komunikasi yang
berlangsung pada penyandang tuna rungu, peneliti menganalisis dalam
beberapa proses diantaranya adalah:
Selain dari faktor segi intelegensi, ada faktor pendukung dari segi
bahasa dan bicara, hambatan yang ada pada penyandang tuna rungu pasti
tidak jauh berbeda dengan pendengara, serta bahasa yang digunakan dalam
31
32
Wawancara Pribadi dengan Rachmita, pada tanggal 19 April 2014, pukul 15.00.
Wawancara pribadi dengan Rachmita, pada tanggal 07 Maret 2014, pukul 16.54.
94
percakapan sehari-hari. Faktor hambatan jika dilihat dari segi bahasa
adalah bahasa verbal dalam bahasa ilmu komunikasi bahasa verbal adalah
semua kalimat yang terucap melalui kata-kata. Namun, bagi penyandang
tuna rungu kalimat verbal tidak ubahnya dengan ucapan yang tidak jelas
sehingga memaksakan penyandang tuna rungu menggunakan bahasa
nonverbal sebagai alat bantu dalam berkomunikasi.
Bahasa nonverbal yang dimaksud disini bagi penyandang tuna
rungu yakni gerak tubuh yang meliputi gerak tangan, mimik wajah,
ekspresi dan kontak mata. Hal tersebut termasuk kedalam bentuk kinesik.
Yang digunakan selama proses komunikasi berlangsung. Bahasa
nonverbal bagi penyandang tuna rungu adalah sebuah alat pendukung
dalam proses komunikasi. Sebab tanpa bahasa nonverbal akan sulit bagi
penyandang tuna rungu melakukan komunikasi.
Faktor hambatan yang selanjutnya dapat dilihat dari segi emosi dan
sosial. Penyandang tuna rungu atau lebih dikenal dengan (tuli) mempunyai
tingkat emosi yang relatif tinggi hal ini dapat dilihat selama proses
komunikasi berlangsung. Jika pesan yang mereka sampaikan tidak dapat
dipahami dengan baik maka mereka akan mudah merasa kecewa karena
ketidakpahaman lawan bicara terhadap pesan yang mereka berikan. Hal ini
menjadi salah satu penghambat dalam proses komunikasi antarpribadi
sebab komunikasi yang berlangsung dapat dihentikan secara langsung
dengan adanya pemutusan.
95
Faktor
sosial
dapat
mempengaruhi
keterbatasan
dalam
berkomunikasi. Karena tuna rungu memiliki kekurangan dari segi
pendengaran maka keterasingan yang dirasakan cukup dirasakan sebab
tidak semua masyarakat mampu berkomunikasi dengan baik terhadap tuna
rungu. Peneliti mengamati selama proses kegiatan yang ada diyayasan
tuna rungu Sehjira dapat diketahui bahwa komunikasi atau interaksi yang
dilakukan lebih banyak melibatkan sesama penyandang tuna rungu. Dari
pada melibatkan masyarakat pada umumnya. Oleh karena itu faktor sosial
dapat mempengaruhi mereka dalam melakukan komunikasi. Hal ini sesuai
dengan hasil wawancara peneliti dengan salah satu penyandang tuna rungu
diyayasan mas Eko mengatakan bahwa:
“Kita kalau bicara lebih nyaman sama tuna rungu ajah, kan
mereka sama-sama ngerti bahasa kita, tapi kalau orang lain kan
belum tentu”.33
Selain dilihat dari beberapa faktor dari empat segi tersebut. Ada
beberapa faktor hambatan lainnya dalam proses komunikasi bagi
penyandang tuna rungu diantaranya adalah:
a. Gangguan semantik
Gangguan semantik atau yang lebih difahami dengan
gangguan pada pesan, dimana pesan yang disampaikan oleh
penyandang tuna rungu mengalami perubahan dan kesalahan pada
penafsiran makna dan pesan. Baik pesan yang disampaikan dari
penyandang tuna rungu (komunikator) ataupun pesan yang
33
15.23. Wawancara Pribadi dengan mas Eko anggota Sehjira, pada tanggal 19 april 2014, pukul
96
diterima oleh lawan bicara (komunikan) tuna rungu. Keduanya
sama-sama mengalami kesalahfahaman dalam pentafsiran makna
pesan. Dalam hal ini penyandang tuna rungu bisa terbilang sering
dalam salah penafsiran. Sebab, pesan yang disampaikan harus
diucapkan dua kali. Hal ini dikarenakan
adanya keterbatasan
dalam pemahaman pesan yang disampaikan oleh penyandang tuna
rungu sesuai dengan wawancara peneliti dengan Rachmita
mengatakan bahwa:
“Kalau memang lawan bicara kita enggak faham
sama apa yang kita bicarakan ya kita harus ulang kembali
pesan yang tadi diucap”. 34
Jadi dapat diketahui bahwa proses komunikasi penyandang
tuna rungu di yayasan sehjira mengalami proses hambatan terhadap
pesan yang disampaikan maupun pesan yang diterima seperti
(gangguan semantik) hal itu terjadi karena adanya gangguan pada
diri komunikator yang menyebabkan pesan yang diterima oleh
lawan bicara mengalami kesalahfahaman dalam memberikan
makna pesan tersebut
34
Wawancara pribadi dengan Rachmita, pada tanggal 06 april 2014, pukul 13.46. 97
b. Noice
Faktor hambatan yang kedua noice atau yang disebut
gangguan suara, penghambat ini bisa berupa suara-suara gaduh
atau perilaku dari pihak lawan bicara selama proses komunikasi
berlangsung. Gangguan ini sering terjadi pada proses komunikasi
lainnya yang berbentuk verbal bagi orang normal. Namun,
penyandang tuna rungu juga mengalami gangguan noice sebagai
salah satu faktor penghambat dalam proses komunikasi sebagai
contoh kehadiran orang ketiga dalam proses interaksi berlangsung.
Pesan dan interaksi yang dilakukan akan berhenti dan akan adanya
pemutusan pesan dari salah satu pihak penyandang tuna rungu
yang melakukan interaksi.
Menurut hasil analisis penulis dalam proses wawancara
yang dilakukan bahwa terdapat hambatan komunikasi melalui
noice yakni gangguan yang disebabkan adanya suara gaduh dan
gangguan orang ketiga dalam sebuah interaksi yang dilakukan
penyandang tuna rungu selama proses komunikasi berlangsung
menurut ungkapan Chairunisa penyandang tuna rungu ringan
mengatakan bahwa
“Kadang pesan yang kita ungkapin enggak gampang
direspon balik kadang ada ajah gangguan ya, kaya
semacem temen ikut nimbrung ngomong gitu, kan bahasan
kita udah pasti beda kan yah”35
35
Wawancara pribadi dengan Chairunisa penyandang tuna rungu ringan, pada tanggal 06
April 2014, pukul 14. 54. 98
Bahwa kehadiran orang ketiga juga dapat mengubah sebuah
interaksi yang sedang berlangsung antara dua orang penyandang
tuna rungu, seperti interaksi yang dilakukan semacam sharing,
percakapan kecil, dan obrolan jarak jauh. Oleh sebab itu faktor
hambatan ini harus dijauhkan agar terhindar dari kesalahfahaman
dalam pesan yang disampaikan dan diterima.
2. Faktor Pendukung dalam Proses Komunikasi Penyandang Tuna
Rungu
Faktor
pendukung
dalam
komunikasi
antarpribadi
nonverbal penyandang tuna rungu menurut analisis peneliti yang
sesuai dengan hasil temuan data terdapat dalam bahasa isyarat dan
simbol atau lebih disebut (Media) proses komunikasi antarpribadi
nonverbal tuna rungu sudah jelas lebih banyak menggunakan
bahasa isyarat dengan bantuan beberapa simbol pengenal sebagai
proses interaksi yang mereka lakukan. Sebab, komunikasi yang
mereka lakukan jika hanya mengandalkan bahasa verbal maka
mereka akan mengalami hambatan sebab bahasa nonverbal salah
satu bahasa atau sebagai alat pembantu dalam proses interaksi
mereka.
Sebagaimana hasil wawancara yang diungkapkan oleh
Rachmita mengatakan bahwa:
“Ya untuk tuna rungu seperti kita lebih banyak
menggunakan bahasa isyarat kaya gini ketimbang bahasa
ucapan ya, karna kan kalau bahasa aja yang kita ucapin
99
agak sulit dipahamin sama orang lain, belum tentu kita
bicara mereka paham ya kan? Jadi sedikit banyaknya kita
pake simbol sih.”36
Simbol dan bahasa isyarat tertentu dalam mengenali sebuah
benda atau sebagai pengganti ungkapan verbal memanglah tidak
mudah untuk dipahami bagi kita selaku orang normal, namun jika
kita sering melakukan interaksi secara terus menerus maka kita
akan paham dengan sendirinya bahasa isyarat yang mereka
gunakan selama proses interaksi berlangsung.
Bahasa isyarat sebagai media pendukung dalam proses
komunikasi nonverbal tuna rungu telah menjadi salah satu
kemudahan dalam melakukan interaksi dan kemudahan dalam
memahami isi pesan yang disampaikan penyandang tuna rungu
kepada lawan bicaranya atau tuna rungu dengan lawan bicara yang
berperan sebagai (komunikator). Vokalik dalam menyampaikan
pesan sangat dibutuhkan dalam proses komunikasi karena
kejelasan ekspresi mulut dan wajah sangat berperan besar dalam
proses pesan dan pemahaman pesan. Ada beberapa faktor
pendukung dalam proses komunikasi nonverbal penyandang tuna
rungu diantaranya bahasa isyarat dan simbol yang meliputi gerak
tubuh, mimik wajah, ekspresi, vokalik dan gerak mata.
Faktor yang telah disebutkan diatas bahwa ada beberapa
faktor lain yang dapat memengaruhi dalam proses komunikasi
diantaranya adalah dari segi intelegensi, bahasa , emosi dan sosial.
36
Wawancara Pribadi dengan Rachmita, pada tanggal 06 april 2014, pukul 13.56.
100
Yang dimaksud dari intelegensi dari hasil penemuan data
dilapangan bahwa kemampuan intelegensi dari penyandang tuna
rungu ringan dan berat sama seperti manusia normal pada
umumnya bahkan kepintaran mereka lebih dari rata-rata. Sebab,
tekat mereka yang kuat dan kemauan yang tinggi dan kekurangan
mereka menjadi sebuah pacuan untuk berkembang dari segi
integensi. Sesuai dengan pernyataan dari bu Rachmita bahwa:
“Saya dapat nilai camlaude pas waktu kuliah dimercu,”.37
Salah satu gerak tubuh yang ditunjukan selama proses
komunikasi dengan gerak tangan serta ekspresi wajah menunjukan
bahwa pesan yang disampaikan memiliki makna dan tujuan pesan
yang diharapkan oleh penyandang tuna rungu agar pihak dari
lawan bicara dapat memahami isi pesan tersebut. Sebagaimana hal
ini disampaikan melalui wawancara dengan bu Rachmita yang
mengungkapkan bahwa:
“Gerak tubuh selama pembicaraan berlangsung
setidaknya dapat ngebantu kita buat sampein pendapat kita,
aspirasi, tujuan dan kita harap orang yang paham sama
bahasa kita ya ini melalui ekspresi wajah sama gerak ya
agar mereka paham.”38
Sesuai pernyataan diatas peneliti penyimpulkan bahwa pola
komunikasi antarpribadi nonverbal penyandang tuna rungu
mendapatkan kemudahan dengan menggunakan bahasa isyarat dan
simbol tertentu dalam memberikan makna tertentu terhadap benda
ataupun ucapan yang disampaikan melalui pesan verbal mereka.
37
38
Wawancara Pribadi dengan Rachmita, pada tanggal 06 April 2014, pukul 17.00.
Wawancara pribadi dengan Rachmita, pada tanggal 06 April 2014, pukul 14.00.
101
Pola komunikasi antarpribadi nonverbal penyandang tuna
rungu di yayasan tuna rungu sehjira dapat disimpulkan bahwa
memiliki faktor pendukung dalam proses komunikasinya. Dari segi
intelegensi bahasa dan faktor emosi dan sosial.
Faktor pendukung bagi penyandang tuna rungu diyayasan
tuna rungu sehjira menurut hasil analisis dan hasil data yang
didapatkan adalah bahasa nonverbal atau bahasa isyarat dan simbol
yang digunakan dalam proses komunikasi. Sebab bahasa simbol
atau bahasa nonverbal yang meliputi berbagai gerakan dan simbol
adalah
sebagai
alat
pendukung
dalam
kelancaran
proses
komunikasi mereka. Sehingga pesan dapat tersampaikan dengan
baik dan dapat dipahami oleh kedua belah pihak selama proses
komunikasi
berlangsung.
Menurut
wawancara
dengan
ka
Chairunisa mengatakan bahwa:
“Yang kita pake ya gerakan tangan, muka, mata
sama ngomong ajah kaya biasanya diucap gitu”.39
Sangat jelas bahasa yang digunakan selama proses
komunikasi berlangsung dengan menggunakan bahasa verbal dan
nonverbal dapat membantu dalam penyampaian pesan mereka
sebab gerakan atau kinesik yang meliputi beberapa anggota tubuh
dapat menyalurkan perasaan dan inti dari isi pesan yang dimaksud
dari komunikator (penyandang tuna rungu ringan dan berat).
39
Wawancara Pribadi dengan Chairunisa penyandang tuna rungu ringan, pada tanggal 06
April 2014, pukul. 16.32.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis dan temuan data maka penulis
menyimpulkan
tentang
pola
komunikasi
antarpribadi
nonverbal
penyandang tuna rungu di yayasan tuna rungu Sehjira Deaf Foundation,
penulis mempunyai kesimpulan sebagai berikut:
1. Komunikasi yang digunakan dalam interaksi bagi penyandang tunarungu
menggunakan komunikasi antarpribadi nonverbal dengan menggunakan
tiga (3) dasar prinsip dari teori interaksionisme simbolik yang
diperkenalkan oleh George Herbert Mead yakni meaning, language dan
thought atau mind. Dengan tiga (3) dasar prinsip tersebut diketahui bahwa
pengkonsepan diri dari penyandang tuna rungu sangat dibutuhkan dalam
membuat konsep yang berpengaruh terhadap pesan yang disampaikan,
serta pemaknaan yang terdapat selama proses interaksi berlangsung. Yang
artinya kesimpulan dari hasil analisis yang peneliti lakukan bahwa
diketahui penyandang tuna rungu ringan dan berat seperti Chairunisa dan
Amrina Lugina melakukan proses komunikasi dengan penggunaan makna
dalam mengkonsep diri mereka dalam sebuah interaksi dengan
menggunakan bahasa nonverbal mereka untuk memahami makna serta
didukung dengan pikiran sebagai proses berfikir dalam sebuah interaksi.
Serta bagaimana bahasa nonverbal yang mereka gunakan untuk
102
103
memahami makna dari pesan yang disampaikan oleh lawan bicara mereka.
Yang kemudian pesan yang mereka terima dapat dipahami kembali
dengan menggunakan Thought untuk berpikir dari hasil porses pesan
tersebut. Diketahui bahwa pola komunikasi yang dilakukan penyandang
tuna rungu ringan lebih menggunakan kinesik dan vokalik serta kontak
mata sebagai proses dalam komunikasi dengan bantuan gerakan tubuh dan
kontak mata yang dilakukan maka pesan dapat tersampaikan dengan baik,
penyandang tuna rungu ringan juga menggunakan bahasa verbal yakni
dimana kalimat yang terucap dari mulut menjadi salah satu pesan verbal
mereka. Jadi komunikasi nonverbal bagi penyandang tuna rungu ringan
tidak terlalu diperlukan. Sedangkan pola komunikasi yang diterapkan bagi
penyandang tuna rungun berat lebih menitik beratkan pada kinesik dan
ruang. Dimana penggunaan bahasa tubuh seperti gerak tangan dan ekprsesi
wajah sangat dibutuhkan dalam proses komunikasi serta penggunaan jarak
dalam komunikasi bagi penyandang tuna rungu berat tidak boleh lebih dari
4 meter. Sebab kedekatan jarak intim lah yang memberikan kemudahan
serta pehaman dalam proses komunikasi bagi penyandang tuna rungu
berat. Dalam proses komunikasi bagi penyandang tuna rungu ringan dan
berat menggunakan bahasa isyarat SIBI (Sistem Isyarat bahasa Indonesia)
keduanya, karena dianggap lebih mudah dari pada menggunakan
BISINDO (Bahasa Isyarat Indonesia) yang terlalu rumit dalam melakukan
gerakan tersebut yang memakan waktu.
2. Komunikasi antarpribadi merupakan pola komunikasi yang paling
efektif digunakan dalam interaksi penyandang tunarungu dalam penunjang
104
komunikasi mereka sebab dengan penggunaan bahasa simbol dan makna
realitas pesan yang tersampaikan akan dapat diterima dengan baik serta
feedback yang dapat dimengerti.
3. Sedangkan fungsi komunikasi nonverbal bagi penyandang tuna rungu
berat lebih digunakan untuk subtitusi yakni menggunaan bahasa nonverbal
semata-mata hanya sebagai pengganti bahasa verbal yang terucap kurang
jelas agar dipertegas dalam tindakan nonverbal mereka. Penggunaan
komunikasi nonverbal mereka bagi penyandang tuna rungu berat menitik
beratkan pada kinesik dan penggunaan ruang atau proxemik. Dimana jarak
antara penyandang tuna rungu berat harus dekat tidak boleh berjauhan agar
komunikasi nonverbal mereka dapat dimengerti dengan baik. Serta
mendapatkan feedback dengan cepat.
4. Faktor hambatan dari pola komunikasi antarpribadi nonverbal bagi
penyandang tunarungu diyayasan tunarungu Sehjira Deaf Foundation
yakni dilihat dari segi intelegensia, bahasa serta emosi dan sosial. Ketiga
segi ini sama-sama dapat memengaruhi hambatan serta kelancaran dalam
berkomunikasi. Segi intelegensi dapat memengaruhi bahwa dengan tingkat
kecerdasan tuna rungu yang berbeda-beda dapat menghambat dalam
proses komunikasi,
5. Sedangkan faktor pendukung dalam proses komunikasi bagi
penyandang tuna rungu adanya bahasa isyarat atau nonverbal yang
digunakan selama proses komunikasi berlangsung. Akan tetapi segi
emosional juga dapat memengaruhi untuk lingkungan sosial. Karena
keterbatasan mereka dalam hal pendengaran membuat mereka sulit
105
berinteraksi dengan masyarakat luas sehingga tingkat sosial mereka bisa
terbilang cukup rendah sehingga mereka berinteraksi atau bersosialisasi
dengan komunitas kecil saja seperti sesama penyandang tuna rungu.
5. Adanya gangguan semantik dalam komunikasi ini berupa gangguan
pada pesan yang disampaikan baik dari penyandang tuna rungu atau pesan
yang diterima memiliki perbedaan makna yang terdapat dalam pesan
tersebut, yang menjadi rusak dalam pengertiannya serta makna yang
tersampaikan. Biasanya hal ini terjadi dalam konsep atau makna yang
diberikan pada komunikator (tuna rungu ringan atau berat) seperti
Chairunisa dan Amrina Lugina yang lebih banyak mengalami gangguan
semantik dalam proses komunikasi mereka.
Diantaranya segi intelegensi yakni dimana penyandang tuna rungu
tidak semuanya memiliki intelegensi yang sama dan pasti berbeda. Dan
faktor dari segi emosional mereka lebih tinggi dari pada manusia normal
pada umumnya, mereka terkadang tidak dapat mengkontrol emosi disaat
lawan bicara tidak dapat memahami makna dan isi pesan yang mereka
sampaikan. Sehingga terkadang membuat mereka merasa malu dan
menjauh dari lingkungan luar. Bahasa yang dipergunakan tuna rungu
berbeda dari komunikasi pada umumnya dengan menggunakan bahasa
verbal. Sebab itulah faktor bahasa dan bicara yang menjadi penghambat
mereka dalam melakukan komunikasi.
Dalam hal ini teori interaksionisme simbolik mengambil peran
penting dalam pembentukan makna dalam proses interaksi yang dilakukan
penyandang tuna rungu ringan dan berat melalui konsep dasar diri sebagai
106
penentuan sikap dalam berkomunikasi yang kemudian dilanjutkan dengan
Language sebagai simbol atau pemaknaan dari bahasa yang digunakan
dengan peran thought sebagai proses berpikir dari sebuah pemaknaan
yang dibuat. Dengan begitu pesan yang tersampaikan serta interaksi yang
berlangsung dapat memudahkan tujuan serta memberikan effeck dan
feedback yang baik bagi pembicara atau pendengar.
B. Saran
1. Bagi penyandang tuna rungu sebaiknya dalam melakukan proses interaksi
atau komunikasi harus menggunakan bahasa nonverbal yang mudah dan
dapat dipahami dengan lawan bicara seperti penyandang tuna rungu ringan
lebih harus menggunakan bahasa kinesik dan vokalik. Sedangkan bagi
penyandang tuna rungu berat sebaiknya menggunakan bahasa nonverbal
dan penggunaan ruang sebagai batas jarak dalam berkomunikasi sehingga
tidak ada kesulitan bagi tuna rungu berat selama proses berlangsung.
2. Saran umum yakni bagaimana kita memahami jika berkomunikasi dengan
penyandang tuna rungu, baik tuna rungu berat ataupun tuna rungu ringan.
kita harus memperhatikan bahasa yang mereka gunakan, sehingga kita
dapat memahami dengan mudah maksud dari tujuan pesan yang mereka
sampaikan.
(penyandang
Sehingga
tuna
tidak
rungu)
ada
untuk
rasa
keterasingan
melakukan
bagi
mereka
komunikasi
dengan
masyarakat yang lebih luas. Serta melihat dari segi intelegensi, bahasa dan
emosi serta sosial yang mereka miliki. Untuk dapat menyetarakan bahasa
yang mereka pergunakan sehingga tercapainya sebuah pesan dan tujuan
yang sama dari penyandang tuna rungu kepada lawan bicara mereka. Dan
107
jangan memandang serta merendahkan penyandang tuna rungu karena
mereka sama seperti kita, mereka ingin disama ratakan dengan manusia
normal pada umumnya, tidak ada pengkucilan, diskriminatif serta
mengasingkan mereka dari lingkungan sosial. Sebab semua makhluk yang
ada dimuka bumi ini semuanya adalah Ciptaan Allah SWT.
‫َّاس إِنَّا َخلَ ْقنَا ُك ْم ِم ْن ذَ َك ٍر َوأُنْثَى َو َج َع ْلنَا ُك ْم ُشعُوبًا َوقَبَائِ َل‬
ُ ‫يَا أَيُّ َها الن‬
ِ ِ‫لِتَ َعارفُوا إِ َّن أَ ْكرَم ُكم ِعْن َد اللَّ ِو أَتْ َقا ُكم إِ َّن اللَّوَ َعل‬
ٌ‫يم َخبي‬
ٌ
ْ
ْ َ
َ
“Wahai Manusia sungguh kami telah menciptakan kamu dari
seorang laki-laki dan seorang perempuan kemudian kami jadikan kamu
berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar kamu saling mengenal sungguh
yang [aling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling
bertaqwa sungguh Allah maha mengetahui Maha teliti” (Qs. Al-Hujarat:
13).
ِِ
ِْ ‫لََق ْد َخلَ ْقنَا‬
‫ إََِّّل‬.‫ي‬
َ ‫َس َف َل َسافل‬
ْ ‫اْلنْ َسا َن ِِف أ‬
ْ ‫ ُُثَّ َرَد ْدنَاهُ أ‬.‫َح َس ِن تَ ْق ِو ٍي‬
ِ ‫الص‬
ِ ‫اِل‬
ِ ‫الَّ ِذين آمنُوا وع‬
ٍ ُ‫ات فَلَهم أَجر َغي ر َمَْن‬
‫ون‬
‫ا‬
‫و‬
‫ل‬
‫م‬
ُ
َّ
ََ َ َ
ُْ ٌ ْ ْ ُ
َ
“Sungguh kami telah ciptakan manusia dalam bentuk yang sebaikbaiknya, kemudian kami kembalikan dia ketempat yang serendahrendahnya. Kecuali orang-orang yang beriman dan menggerakan
kebaikan maka mereka akan mendapat pahala yang tidak ada putusputusnya” (Qs. At-tin: 4-6)
3. Saran yang terakhir bagi Yayasan Tuna Rungu Sehjira Deaf Foundation
bahwa proses komunikasi penyandang tuna rungu tidak semua memiliki
kesamaan dalam penggunaan komunikasi nonverbal mereka. Karena
dengan kita memahami apa yang mereka butuhkan dalam berkomunikasi
108
dengan begitu pesan yang diterima dapat dipahami dengan baik. Tanpa
adanya hambatan dalam proses komunikasi. Dan terus kembangkan
kemampuan dan pelatihan soft skill yang ada untuk pemberdayaan kaum
tuna rungu agar mereka mendapatkan hak yang setara dengan kita.
DAFTAR PUSTAKA
Sumber Buku:
Aw, Suranto, Komunikasi Interpersonal, (PT. Ghalia Ilmu, Yogyakarta, 2011)
Budyatna, Muhammad. Teori Komunikasi AntarPribadi, PT. Kencana Prenada
Jakarta, 2011.
Group,
Canggara Hafidz, Pengantar Ilmu Komunikasi, (PT. Raja Grafindo, Jakarta, 2007).
Devito, Joseph, A. Komunikasi Antarmanusia, (PT. Karisma Publishing Group,
pamulang tangerang Selatan,2011).
Denzin, K. Norman, Teori Dan Paradigma Penelitian Sosial, (PT. Tiara Wacana Yogya,
Yogyakarta, 2001).
Djuarsa Sasa, dkk, Pengantar Komunikasi, ( Universitas Terbuka, Jakarta, 1999).
Effendy,Uchjana, Onong. Ilmu Komunikasi,Teori Dan Praktek, (PT. Remaja Rosdakarya,
Bandung, 2005).
Effendy, Onong Uchjana, Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi, (PT. Citra Aditya Bakti,
Bandung, 2003).
Effendy, Uchjana Onong, Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi, (PT. Citra Aditya Bakti,
Bandung, 2007).
Hardjana, M, Komunikasi Intrapersonal dan Interpersonal, (Kanisius, Yogyakata, 2009).
Kriyantono, Rachmat, Teknik Praktis Riset Komunikasi, (PT. Kencana Prenada Media
Group,Jakarta,2010).
LittleJohn, W Stephen, Teori Komunikasi Theories Of Human Communication, (Salemba
Humanika, Jakarta, 2011).
Moleong, Lexy J. Devito, Joseph, A. Komunikasi antarmanusia, (PT. Karisma Publishing
Group, pamulang Tangerang Selatan, 2011).
Mulyana Dedy, M.A, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, (PT. Remaja rosdakarya,
Bandung, 2010).
Mulyana Dedy, Komunikasi Efektif Suatu Pendekatan LintasBudaya, (Remaja
Rosdakarya, 2005).
P, Ekmen, dkk, Semiotika, (Kencana Prenada Group, Jakarta, 1969).
Rudy May Teuku, Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Internasional, (Refika Aditya,
Bandung, 2005).
Supratiknya, Komunikasi antarpribadi tinjauan psikologi, (PT. Bumi Aksara, Jakarta,
2009).
Sutanto, S Astrid, Komunikasi dalam Teori dan Praktik, (PT. Bina Cipta, Bandung,
1998).
Soekanto Soerjono, Sosiologi Suatu Pengantar, (PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta,
2005).
Somantri Sutjihati, Tuna Rungu Dalam Pandangan sosial, (Graha Ilmu, Yogyakarta,
1996).
West Richard, dkk, Pengantar Teori Komunikasi Analisis dan Aplikasi, (Salemba
Humanika, Jakarta, 2008).
Winarsih Murni, Pembinaan Tuna Rungu dalam lingkungan sosial, (Graha Ilmu,
Yogyakarta, 2007).
Yin, Robert, Studi Kasus Desain Dan Metode, (PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta,
2013).
Yusuf, M Pawit, Komunikasi Instruksional Teori Dan Praktik, (PT. Bumi Aksara, 2010).
Sumber lain:
http://id.wikipedia.org/wiki/anak_berkebutuhan_khusus.com
www.Sehjira-yayasan-keluarga-tuna-rungu.com
www.unas.dokumen.komunikasitunarungu.com
[email protected]
LAMPIRAN 1
Wawancara Penelitian
Pewawancara
: Hamidah (Mahasiswi UIN Jakarta)
Narasumber
: Ir. Rachmita Maun Harahap (Selaku Pimpinan Yayasan
Sehjira Deaf Foundation)
Pelaksanaan Wawancara
:
Hari
: Jumat 07 Maret 2014
Pukul
: 14.00 s/d selesai WIB
Tempat
: Yayasan Sehjira Deaf Foundation
Kembangan Jak-bar
T
: Apa itu Yayasan Sehjira Deaf Foundation? (Gambaran Umum mengenai
yayasan mencakup sejarah berdirinya, visi dan misi yayasan)
J
: (jawaban terlampir melalui file pribadi yayasan)
T
: Jasa apa saja yang ditawarkan Yayasan Sehjira Deaf Foundation kepada
Penyandang tuna rungu?
J
: diyayasan kami itu memberikan pelatihan khusus untuk penyandang tuna rungu,
mmm,,, yaa seperti pelatihan keterampilan dukungan moril, advokasi dan
bimbingan dalam tahap sosial.
T
: Apa saja bidang pekerjaan pengurus Yayasan Sehjira Deaf Foundation?
(Lampiran Struktur Organisasi)
J
: jawaban terlampir dokumen pribadi yayasan,
T
: Apa keunggulan Yayasan Sehjira Deaf Foundation dari yayasan tuna tungu
lainnya?
J
: mungkin yayasan ini berbeda dari yayasan tunarungu pada umumnya yaa,
soalnya kita memberikan berbagai macam pelatihan khusus yang bisa dilakukan
tunarungu agar bisa bersaing diluar sama masyararakat,, kaya pelatihan soft skill
dan kegiatan lainnya masih banyak ko”
T
: Bagaimana komunikasi yang diterapkan pengasuh terhadap penyandang
tuna rungu dalam pemberdayaan kaum tuna rungu?
J
: kalau bicara soal bagaimana komunikasi kita, ya biasa ajah,, kita menerapkan
komunikasi bahasa isyarat dan belajar simbol tertentu buat kemudahan mereka
dalam komunikasi, simbol yang simple ajah yang biasa dilakukan penyandang
tunarungu (di praktekan dalam gerakan oleh bu mita), biasanya komunikasi buat
anggota baru itu sulit diterapkan, tapi lama-kelamaan akan mudah dilakuin, kan
semua ada prosesnya, kita juga sering belajar komunikasi bagi penyandang berat
sama ringan biar semua pada ngerti simbol masing-masing yang digunain.
T
:Apa saja tugas Yayasan Tuna rungu Sehjira Deaf Foundation?
J
: tugas kita seperti awal visi misi kita yahh,,memberdayakan kaum tunarungu
untuk mendapatkan haknya agar setara dengan orang lain. Ya kan setidaknya
kalau ada keterampilan dan kemampuan pasti gak di sepelehin sama orang, ya
kan.. ?
T
: Seberapa penting pemberdayaan kaum tuna rungu bagi pihak yayasan?
J
: penting sekali sebab memang visi misi kami diawal mendirikan yayasan untuk
memberikan perlindungan dan memajukan tunarungu, agar lebih mandiri dan bisa
berkarya dengan lingkungan sosial.
T
: Bagaimana yayasan tuna rungu menjalin komunikasi yang baik terhadap
para penyandang tuna rungu, serta arahan apa saja yang diberikan?
J
: kita biasanya, mengadakan pertemuan seminggu sekali, sebulan sekali.. share
bareng temen-temen tunarungu lainnya, agar kita semua tuh bisa menyatu gitu
sama yang lain.. agar kedekatan kita makin akrab, saling kasih support dan
masukan juga. Arahan yang kita beri biasanya arahan yang memang akan ada
manfaatnya buat tunarungu sama lingkungan sosialnya juga mmmm...udah gitu
ajah.
T
: Siapa saja pihak yang terlibat dalam Yayasan Tuna Rungu Sehjira Deaf
Foundation dalam membantu kegiatan sosial?
J
: kalau buat kegiatan sosial kan kita ada kegiatan tahunan kaya semacam hari
Disabilitas Nasional, nah itu yang bantu dalam kegiatan itu banyak dari pihak
pemerintah DKI dan lembaga sosial lainnya. Kalau dari pihak dalam yayasan
seperti anggota dan pihak yayasan.
T
: Adakah media yang digunakan dalam komunikasi tahap awal bagi
penyandang di yayasan sehjira ?
J
: media yang digunakan untuk tahap awal tunarungu belajar simbol, biasanya kita
menggunakan alat peraga seperti benda dan bantuan tangan ajah untuk penunjang
komunikasi kita.
T
: Prestasi apa saja yang didapatkan yayasan sehjira Deaf Foundation?
J
: hehhehhe (partisipan tertawa), yaa kalau buat prestasi ada beberapa sih
(terlampir) dan diperlihatkan beberapa penghargaan
T
: Lembaga apa saja yang bekerjasama dengan pihak yayasan sehjira Deaf
Foundation?
J
: kalau untuk lembaga pemerintah, kita bekerjasama dengan lembaga sosial
GERKATIN khusus tunarungu, masih banyak lainnya. Tapi untuk even-even
tertentu yah.
T
: Hambatan apa saja yang terjadi selama proses komunikasi berlangsung
pada penyandang tuna rungu ?
J
: biasanya susah gitu kalau bicara yang bukan sama penyandang tunarungu.
contohnya kaya aku sama kamu nih, bahasa simbol yang digunakan enggak
semua orang tau kan apalagi orang normal, ya makanya kita kadang suka dibantu
sama alat tulis ajah. Gerakan tangan mimik wajah sama bibir yang kita pakai.
T
: Adakah perbedaan pola komunikasi nonverbal yang diterapkan bagi
penyandang tuna rungu ringan dengan penyandang tuna rungu yang
mengalami gangguan berat?
J
: ada karena kan bahasa simbol yang digunain juga beda, kadang kalau
komunikasi yang diterapin sama penyandang tunarungu berat jarak komunikasi
harus dekat enggak boleh lebih dari 4 meter dan ekspresi wajah juga harus lebih
terbuka. Kalau penyandang tunarungu ringan itu dia masih bisa komunikasi
dengan jarak pandang yang jauh dan gerak tangan dalam komunikasi engga
terlalu dipakai gitu.
T
: Sejauh ini hal apa yang dapat memberikan ruang bagi penyandang tuna
rungu dalam mengembangkan potensinya?
J
: yang buat kita merasa lebih nyaman ya dengan keterampilan dan skill yang kita
miliki, kalau emang seandainya engga ada yayasan ini siapa yang mau
memberikan wadah dan perhatian khusus bagi tunarungu. pemerintah ajah engga
ada lembaga khusus yang menaungi penyandang tunarungu.
Wawancara Penelitian
Pewawancara
: Hamidah (Mahasiswi UIN Jakarta)
Narasumber
: Ir. Rachmita Maun Harahap (Selaku Pimpinan Yayasan
Sehjira Deaf Foundation)
Pelaksanaan Wawancara
:
Hari
: Minggu 06 april 2014
Pukul
: 15.00 s/d selesai WIB
Tempat
: Yayasan Sehjira Deaf Foundation
Kembangan Jak-bar
T
: Bagaimana komunikasi nonverbal yang digunakan dalam interaksi seharihari bagi penyandang tuna rungu?
J
: kalau buat komunikasi tuna rungu lebih gampang dipahamin pake bahasa isyarat
dari pada sekedar ucapan ajah, kan gak semua orang paham apa yang kita ucapin,
seenggaknya kan kalo pake bahasa isyarat lebih jelas pesan yang dimaksud dan
buat mereka yang dengar gak salah paham.
T
: Adakah kesulitan dalam menggunakan bahasa nonverbal dalam interaksi
sehari-hari bagi penyandang tuna rungu?
J
: awalnya saya susah banget buat ngomong sama orang lain, karena mereka susah
banget buat pahamin bahasa saya, itu saya ngomong tanpa gerak tubuh, tapi
selama saya coba diajarkan sama bu mita bahasa simbol alhmdulillah sekarang
lebih gampang buat komunikasinya, kadang kalo kesulitan sih masih ada.
T
: Bagaimana pengaktualisasian diri penyandang tuna rungu kepada
masyarakat luas?
J
: kita memberikan pelatihan khusus buat tuna rungu agar mereka bisa bersaing
dalam bidang pekerjaan, masyarakat, sama menyesuaikan diri dengan
perkembangan yang ada, seenggaknya kan kalau ada keterampilan mereka enggak
minder, kalau yang saya tangkap dari beberapa anggota diyayasan ini yah” ujar bu
mita selaku pimpinan yayasan sehjira deaf foundation.
T
: Adakah kesulitan dalam komunikasi dengan menggunakan bahasa isyarat
atau (bahasa nonverbal) selama proses komunikasi berlangsung?
J
: memang komunikasi isyarat ini sulit dipahami banyak orang tapi kita berusaha
untuk bisa dipahamin orang lain dengan bahasa isyarat sama simbol, buat
ngeyakinin lawan bicara kita sendiri harus benar-benar yakin sama pesan yang
kita sampaikan.
T
: Apakah ada perbedaan pola komunikasi nonverbal yang digunakan bagi
penyandang tuna rungu ringan dan penyandang tuna rungu berat?
J
: komunikasi bagi penyandang tuna rungu ringan jelas beda, mereka (tuna rungu
ringan) masih mudah dan bisa berkomunikasi meski enggak pakai bahasa isyarat,
kan mereka masih bisa dengar jelas meski ada sedikit hambatan, mungkin bisa
dua kali omongan diulang, itu juga seandainya ada yang enggak faham. Tapi
kalau buat tuna rungu berat lebih kebahasa isyarat digunain.
T
: Apa bahasa isyarat yang paling mudah yang dapat digunakan bagi
penyandang tuna rungu?
J
: ada dua gaya bahasa isyarat yang dipake tuna rungu buat komunikasi ada SIBI
dan BISINDO, itu sama ajah bahasa isyarat-isyarat juga tapi beda dalam
penggunaan gerak yang dilakukan, biasanya kalo tunarungu pake yang sibi
keliatan lebih gampang enggak ribet, kalau bisindo biasanya banyak dipake buat
tunarungu berat semacem tuli gitu lah.
T
: Bagaimana bentuk kesulitan yang dirasakan selama proses komunikasi
antarpribadi nonverbal berlangsung?
J
: mmm.. kalo bicara sama orang normal pastilah ada hambatan, kan gak semua
orang ngerti apa yang kita omongin, lagian kalo tuna rungu kaya saya pasti beda
harus pake isyarat tangan dan bahasa isyarat juga.
T
: Bagaimana komunikasi yang dilakukan bagi sabrina dalam interaksi
sehari-hari dalam menggunakan bahasa isyarat?
J
: saya kalau bicara enggak bisa kalau enggak pake gerak sama mimik wajah, saya
harus jelas melihat sama gerak yang digunain sama teman bicara saya, jarak
pandang kalau saya enggak bisa lebih dari empat meter.
T
: Apakah ada alat yang digunakan selain menggunakan bahasa isyarat
sebagai alat dalam berkomunikasi bagi penyandang tuna rungu berat?
J
: kalau sabrina kan memang pendengarannya total tidak bisa digunakan, nah jadi
kalau ada orang lain bicara sama dia biasanya gunain buku sama pulpen kalau
kurang jelas. biasanya kita dalam bicara gak semua pake bahasa isyarat kadang
bahasa yang kita gunakan dalam gerakan kita menggunakan tindakan atau barang
mati seperti gelas, bangku atau pulpen gitu.
T
: Bagaimana respon yang diberikan lawan bicara saat proses interaksi
berlangsung?
J
: kadang kalau saya bicara yang saya maksud enggak sampai sama orang yang
saya ajak bicara, kadang yang saya maksud A tapi dia anggapnya b. Kadang
benda-benda disekitar saya buat tempat biar mereka paham sama pesan saya.
T
: Seperti apa hambatan yang dirasakan selama proses komunikasi
berlangsung?
J
: memang komunikasi isyarat ini sulit dipahami banyak orang tapi kita berusaha
untuk bisa dipahamin orang lain dengan bahasa isyarat sama simbol, buat
ngeyakinin lawan bicara kita sendiri harus benar-benar jelas sama pesan yang kita
sampaikan.
T
: Apa saja faktor hambatan yang dirasakan selama proses komunikasi
berlangsung?
J
: kadang pesan yang kita ungkapin enggak gampang direspon balik kadang ada
ajah gangguan ya, kaya semacem temen ikut nimbrung ngomong gitu, kan
bahasan kita udah pasti beda kan yah.
T
: Apakah ada perbedaan komunikasi dengan menggunakan bahasa
nonverbal dan bahasa verbal?
J
: ya untuk tuna rungu seperti kita lebih banyak menggunakan bahasa isyarat kaya
gini ketimbang bahasa ucapan ya, karna kan kalau bahasa aja yang kita ucapin
agak sulit dipahamin sama orang lain, belum tentu kita bicara mereka paham ya
kan? Jadi sedikit banyaknya kita pake simbol sih.
T
: Bahasa nonverbal seperti apa yang sering digunakan dalam proses
komunikasi penyandang tuna rungu?
J
: gerak tubuh selama pembicaraan berlangsung setidaknya dapat ngebantu kita
buat sampein pendapat kita, aspirasi, tujuan dan kita harap orang yang paham
sama bahasa kita ya ini melalui ekspresi wajah sama gerak ya agar mereka paham.
LAMPIRAN 2
DRAFT WAWANCARA
Pewawancara
: Hamidah (Mahasiswi UIN Jakarta)
Narasumber
: Chairunisa Eka (Penyandang Tuna Rungu Ringan atau
Hard Of Hearing)
Pelaksanaan Wawancara
:
Hari
: Minggu 06 april 2014
Pukul
: 13:00 WIB
Tempat
: Yayasan Sehjira Deaf Foundation
Kembangan Jak-bar
T
: Bagaimana komunikasi nonverbal yang digunakan dalam interaksi seharihari bagi penyandang tuna rungu?
T
: Adakah kesulitan dalam menggunakan bahasa nonverbal dalam interaksi
sehari-hari bagi penyandang tuna rungu?
T
: Adakah kesulitan dalam komunikasi dengan menggunakan bahasa isyarat
atau (bahasa nonverbal) selama proses komunikasi berlangsung?
T
: Bagaimana bentuk kesulitan yang dirasakan selama proses komunikasi
antarpribadi nonverbal berlangsung?
T
: Apakah ada alat yang digunakan selain menggunakan bahasa isyarat
sebagai alat dalam berkomunikasi bagi penyandang tuna rungu berat?
T
: Bagaimana respon yang diberikan lawan bicara saat proses interaksi
berlangsung?
T
: bagaimana proses interaksi dengan masyarakat lain yang bukan
penyandang tuna rungu?
T
: menggunakan bahasa isyarat SIBI atau BISINDO dalam komunikasi
sehari-hari?
Biodata Narasumber
Nama
: Chairunisa Eka a.r, s. Ds (Penyandang Tuna Rungu Ringan Hard Of
Hearing)
Tanggal Lahir : Jakarta, 1 April 1987
Alamat
: Jl. Komplek DPR RI-pribadi Blok C No. 40 joglo kembangan jakarta
barat
Pendidikan
: Alumni Jurusan Design Grafis Universitas Mercu Buana sebagai anggota
Yayasan Sehjira Deaf Foundation dan menjabat sebagai sekretariat
diyayasan (Penyandang Tuna Rungu Ringan atau Hard Of Hearing)
Agama
: Islam
No. Tlp
: 0896-0291-6140
Email
: [email protected]
LAMPIRAN 3
Draft Wawancara
Pewawancara
: Hamidah (Mahasiswi UIN Jakarta)
Narasumber
: Amrina Lugina Pagar Alam (Penyandang Tuna Rungu
Berat atau Deaf of Hearing)
Pelaksanaan Wawancara
:
Hari
: Minggu 06 april 2014
Pukul
: 13:00 WIB
Tempat
: Yayasan Sehjira Deaf Foundation
Kembangan Jak-bar
T
: Bagaimana komunikasi nonverbal yang digunakan dalam interaksi seharihari bagi penyandang tuna rungu?
T
: Bagaimana jika teman yang diajak berbicara tidak memberikan tanggapan
selain tuna rungu?
T
: Adakah kesulitan dalam memahami pesan verbal bagi tuna rungu?
T
: Adakah kesulitan dalam menggunakan bahasa nonverbal dalam interaksi
sehari-hari bagi penyandang tuna rungu?
T
: Adakah kesulitan dalam komunikasi dengan menggunakan bahasa isyarat
atau (bahasa nonverbal) selama proses komunikasi berlangsung?
T
: Bagaimana bentuk kesulitan yang dirasakan selama proses komunikasi
antarpribadi nonverbal berlangsung?
T
: Apakah ada alat yang digunakan selain menggunakan bahasa isyarat
sebagai alat dalam berkomunikasi bagi penyandang tuna rungu berat?
T
: Bagaimana respon yang diberikan lawan bicara saat proses interaksi
berlangsung?
Biodata Narasumber
Nama
: Amrina Lugina Pagar Alam (Penyandang Tuna Rungu Berat Deaf of
Hearing)
Tanggal Lahir : Bandar lampung, 22 mei 1984
Alamat
: Jl. Komplek DPR RI-pribadi Blok C No. 40 joglo kembangan jakarta
barat
Pendidikan
: SMALB SLBM-B Pembina tingkat Provinsi Sumedang-Jawa Barat,
2003.
Agama
: Islam
No. Tlp
: 0852-2226-6331
Email
: [email protected]
LAMPIRAN 4
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
CURICULUM VITAE
Nama
: Hamidah
Tmpt/tgl lahir : Jakarta, 11 Juli 1991
Alamat
: Jl. Utan Jati Rt. 002/011, Pegadungan Kalideres, Jakarta Barat
Pendidikan
: Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Al-amanah Al-Gontory, Perigi Baru, Pondok-Aren
Tangerang Selatan, 2010.
Agama
: Islam
Judul Skripsi
: Pola Komunikasi Antarpribadi Nonverbal Penyandang Tuna Rungu (Studi
Kasus Di yayasan Tuna Rungu Sehjira Deaf Foundation).
Email
: [email protected]/ [email protected]
Facebook
: Midach Kamelia Aouesira/ twitter @MidachKamelia
No. Tlp
: 0838-7557-1889/ 0812-1958-0224
LAMPIRAN 6
Bersama Ka Widya dan Mas Eko Anggota Yayasan Sehjira Deaf Foundation
Salah Satu Kegiatan Tari Diyayasan Tuna Rungu Sehjira
LAMPIRAN 5
Bersama Bu Rachmita Maun Harahap M.Sn Selaku Pimpinan Yayasan Sehjira
Bersama Ka Amrina Lugina Penyandang Tuna Rungu Berat Diyayasan Sehjira
Download