AYAT AYAT CINTA - Perpustakaan Universitas Mercu Buana

advertisement
SKRIPSI
ANALISIS ISI
PERBANDINGAN ISI FILM DAN NOVEL ”AYAT AYAT CINTA”
DILIHAT DARI SISI PENCERITAANNYA
Disusun untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar Sarjana Strata 1 (S1)
Ilmu Komunikasi
Disusun Oleh :
Nama
: FIDYA MULIA SARI
Nim
: 44105010-205
Jurusan
: Broadcasting
FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS MERCU BUANA
JAKARTA
2009
FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS MERCU BUANA
LEMBAR PERSETUJUAN SIDANG SKRIPSI
1. Nama
: Fidya Mulia Sari
2. NIM
: 44105010-205
3. Fakultas
: Ilmu Komunikasi
4. Bidang Studi
: Broadcasting
5. Judul
: Analisis Isi Perbandingan Isi Film Dan Novel
“Ayat Ayat Cinta” Dilihat Dari Sisi Penceritaannya
Mengetahui,
Pembimbing
(Ponco Budi Sulistyo, S.Sos, M.Comm)
i
FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS MERCU BUANA
LEMBAR TANDA LULUS SIDANG
1. Nama
: Fidya Mulia Sari
2. NIM
: 44105010-205
3. Fakultas
: Ilmu Komunikasi
4. Bidang Studi
: Broadcasting
5. Judul
: Analisis Isi Perbandingan Isi Film Dan Novel
“Ayat Ayat Cinta” Dilihat Dari Sisi Penceritaannya
Jakarta, 20 Februari 2009
Mengetahui,
1. Ketua Sidang
Feni Fasta, SE, M.Si
(..............................)
2. Penguji Ahli
Afdal Makkuraga, S.Sos, MM, M.Si
(..............................)
3. Pembimbing Skripsi
Ponco Budi Sulistyo, S.Sos, M.Comm
ii
(..............................)
FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS MERCU BUANA
LEMBAR PENGESAHAN PERBAIKAN SKRIPSI
1. Nama
: Fidya Mulia Sari
2. NIM
: 44105010-205
3. Fakultas
: Ilmu Komunikasi
4. Bidang Studi
: Broadcasting
5. Judul
: Analisis Isi Perbandingan Isi Film Dan Novel
“Ayat Ayat Cinta” Dilihat Dari Sisi Penceritaannya
Jakarta, 20 Februari 2009
Mengetahui,
1. Ketua Sidang
Feni Fasta, SE, M.Si
(..............................)
2. Penguji Ahli
Afdal Makkuraga, S.Sos, MMSi
(..............................)
3. Pembimbing Skripsi
Ponco Budi Sulistyo, S.Sos, M.Comm
iii
(..............................)
FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS MERCU BUANA
LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI
1. Nama
: Fidya Mulia Sari
2. NIM
: 44105010-205
3. Fakultas
: Ilmu Komunikasi
4. Bidang Studi
: Broadcasting
5. Judul
: Analisis Isi Perbandingan Isi Film Dan Novel
“Ayat Ayat Cinta” Dilihat Dari Sisi Penceritaannya
Jakarta, 20 Februari 2009
Disetujui dan diterima oleh:
Pembimbing
(Ponco Budi Sulistyo, S.Sos, M.Comm)
Mengetahui,
Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi
(Dra. Diah Wardhani, M.si)
Kepala Jurusan Broadcasting
(Ponco Budi Sulistyo, S.Sos, M.Comm)
iv
FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS MERCU BUANA
PROGRAM STUDI BROADCASTING
Nama
NIM
Judul
Bilbiografi
: Fidya Mulia Sari
: 44105010-205
: Perbandingan Isi Film Dan Novel “Ayat Ayat Cinta”
Dilihat Dari Sisi Penceritaanya
: 5 Bab+145 Halaman+13 Tabel+24 Tabel Grafik+34
Referensi+6 Lampiran+Biografi
ABSTRAKSI
Media massa saat ini, telah menjadi sebuah industri selain sebagai
penyalur pesan. Dan film adalah salah satunya. Selama bertahun-tahun, novelnovel populer menjadi salah satu bahan untuk film-film komersil. Semenjak
bangkitnya perfilman di Indonesia hadir beberapa film yang disadur dari novelnovel best seller. Dari sekian banyak film yang diangkat dari novel. Film “AyatAyat Cinta”, besutan sutradara Hanung Bramantyo yang diangkat dari novel
dengan judul yang sama karya Habiburrahman El Shirazy adalah film religi
pertama yang paling banyak menyedot perhatian pada masa tayangnya. Film
produksi MD entertainment ini, mampu menarik penonton hingga mencapai
angka 2.8 juta.
Ketika sebuah novel dipindahkan menjadi film, bisa saja terjadi perubahan
pada pokok cerita dan pada isi cerita. Hal itulah yang membuat penulis tertarik
untuk menganalisa kecenderungan isi film dan novel Ayat Ayat Cinta yang dilihat
dari sisi penceritaanya. Serta membandingkan isi film dan novel novel tersebut.
Sehingga dapat diketahui kecenderungan isi film dan novel tersebut juga akan
terlihat perbedaan dari hasil membandingkan film dan novel Ayat Ayat Cinta.
Metode yang digunakan untuk menganalisa adalah metode analisis isi
komparatif dengan 2 (dua) koder yakni, Boim Lebon (penulis) dan Dian W
Sasmita (sutradara film “Dea Lova” dan produser). Analisis isi digunakan untuk
mendeskripsikan secara objektif, sistematik dan kuantitatif isi komunikasi yang
tampak.
Hasil analisis ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang mendasar
dari film dan novel Ayat Ayat Cinta. Hal tersebut langsung terlihat jelas pada
tema keduanya. Film lebih cenderung mengetengahkan tema percintaaan yang
dibalut unsur religi dan keikhlasan. Novel cenderung mengangkat tema religi
(islam) yang diwarnai cinta atas dasar islami.
Film Ayat Ayat Cinta menghilangkan banyak inti utama cerita yang
terdapat pada novel. Sehingga esensi pesan yang pada dasarnya sama pada
akhirnya dapat terpersepsikan dengan berbeda. Dalam pembuatan film yang
diangkat dari novel sebaiknya dilakukan observasi mendalam (baik itu riset
ataupun diskusi dengan penulis novel). Agar cita rasa utama cerita tak hilang.
v
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan banyak kesempatan
dan rahmatnya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul
”Perbandingan Isi Film Dan Novel Ayat Ayat Cinta Dilihat Dari Sisi
Penceritaannya”. Skripsi ini disusun guna melengkapi salah satu prasyarat dalam
memperoleh gelar Strata 1 (S1) Ilmu Komunikasi.
Dalam penyusunan skripsi ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada
berbagai pihak yang telah banyak membimbing serta membantu penulis, baik
yang bersifat moril maupun materil. Dengan demikian pada kesempatan ini,
penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Ponco Budi Sulistyo, S.Sos, M.Comm selaku pembimbing skripsi, yang
telah banyak membantu penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi dengan
baik.
2. Mulyono & Endang.S.Rini (my lovely parents), adik-adikku tersayang (Eliana
Ayu Karinda & Netty Rianti Mulia).
3. Ibu Nurprapti sebagai pembimbing akademik, Fakultas Ilmu Komunikasi
Universitas Mercu Buana), Dra. Diah Wardhani, M.Si (Dekan Fakultas Ilmu
Komunikasi Universitas Mercu Buana), pak Yul Andriyono. Ibu Feni Fasta,
SE, M.Si selaku ketua sidang dan pak Afdal Makkuraga Putra, S.Sos, M.Si
selaku penguji ahli.
4. Sutradara Ayat-Ayat Cinta (mas Hanung), penulis skenario Ayat-Ayat Cinta
(mas Salman dan mbak Gina). Pihak Md Entertainment (mbak Mita Nurani,
mbak Ciria dan staff).
vi
5. Pak Boim Lebon (penulis sekaligus dosen) dan mbak Dian W Sasmita
(sutradara film ”Dea lova dan produser FTV Sinemart) selaku koder.
6. Keluarga besarku (Om Ipung, Biyan, tante Ipi, Adis, Alm. Eyang Kung-Eyang
Ti, Alm. Mbah Aziz, keluarga dari papa & mama, keluarga pondok karya).
7. Sahabat-sahabatku (Danya Trieska Pratiwi, Farah Maria Gibtia, Indayani,
Niken Dwi Pramesti, Dianissa Rahmiandini, Kania Windyasih, Istianah Riski,
Aditya Priadi), terima kasih atas segala bentuk bantuan dan dukungan yang
diberikan kepada penulis
8. Ayahku di kampus, bapak H. Sjahrial (Terima kasih atas nasihat, dukungan
dan kasih sayangnya yang diberikan kepada penulis). Bapak Adi Bajuri
(Terima kasih atas bimbingannya). Serta Ibu Srijanti (Thanks for Your
Support).
9. Pemasaran Universitas Mercu Buana (bu Ela, mbak Rika, mbak Silvi, mas
Indra, mas Anton, pak Podo, pak Jum, bu Intan dan lain-lain). Biro
kemahasiswaan (bu Heny, mas Rohandi, pak Joko, pak Zalzuli dan lain-lain).
10. D’Sholeha (Elsya Aulia, Poetri Hanzani, Tyas Sayekti) dan Sholeh (Arly
Nursalim), terima kasih atas support yang tak pernah henti diberikan kepada
penulis. My brother (Arief Yuniaji Wibowo, Ahmad Deny Murdani, bang
Fajar, Tri Handono, Arif ’Ayam’, Yus Ilham Sangaji) and my sister (kak
Dyah, kak Tuti, Eci, Nita, Dewi, Vika).
11. Keluarga besar UKM Radio Mercu Buana, Abdul Malik, Ryan, Wahyu,
Topik, Qnoy, kak iyang, kak Indy, kak Tia, kak Arif ’coma-cami’, Temmy,
Ipul, Hikma, Bang Ryan, Mario, Yudi, kak Irma, kak Nana, Anjar, kakak-
vii
kakak seniorku (bang Ardi, bang Ipung, bang Anjar, bang Bayu, bang Cuplis,
dan senior lainnya), serta semua crew RMB lainnya.
12. Teman-teman seperjuangan Fikom 2005, Tuning, Wiwid, brother (Qibul,
Wawo), Bandrek, Reza, Wigih, Bakpao, Ceni, Maul, Wage, Bisma, Panji, Eka
`Robot`, Pipit ‘teteh’, Pipit, Wiwin, Intan ‘bontot’, abang Heri, Engkong,
Fitiria, Jebew, Topik “Kol”, Inyong, dan rekan-rekan Fikom yang lain. Unfil
Community (Ferdinand Alamsyah, Zakaria Harry Utomo, Lolo, Mahatir,
Awaluddin, Thomas, Zaki, Kisut, Abi, Kiting)
13. Yogha Indra Nugraha (Terima kasih atas bantuan dan dukungan yang
diberikan kepada penulis), Gandhi Achmad (Terima kasih bimbingan,
dukungan dan bantuannya), Geng Informatika (Andri Winata (Terima kasih
atas semangat dan support-nya), Hadi ‘Pentol’ Susanto, Bombom, Gondel,
Daryl, Mamet dan lain-lain),
Mahadita, Arfan ‘Psikologi’, Muhajar,
Nexbrent, Gusti Auliani (Terima kasih atas pinjaman skripsinya), Seto Nugro
Hutomo (Thanks).
14. Teman-teman 47’ers (Anggi, Angga, Enjoy, Karim, Alen, Furkhanda, dan
teman-teman yang lain). Teman-teman Samdoe (Chairul, Fajar ‘Jajang’,
Reinaldi, Erdo, Cesar, Isyana dan teman-teman yang lain).
15. Semua pihak yang tidak tersebutkan namanya satu persatu.
Jakarta, Februari 2009
Penulis
viii
DAFTAR ISI
LEMBAR PERSETUJUAN SIDANG SKRIPSI ................................................ i
LEMBAR TANDA LULUS SIDANG ................................................................. ii
LEMBAR PENGESAHAN PERBAIKAN SKRIPSI ....................................... iii
LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI ................................................................ iv
ABSTRAKSI ......................................................................................................... v
KATA PENGANTAR .......................................................................................... vi
DAFTAR ISI......................................................................................................... ix
DAFTAR TABEL .............................................................................................. xv
DAFTAR GRAFIK ........................................................................................... xvi
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang Masalah.................................................................................... 1
1.2 Perumusan Masalah ........................................................................................ 8
1.3 Tujuan Penelitian ............................................................................................. 8
1.4 Signifikansi Akademis ..................................................................................... 9
1.4.1 Signifikansi Akademis ...................................................................... 9
1.4.2 Signifikansi Praktis ........................................................................... 9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ....................................................................... 10
2.1 Komunikasi Massa ......................................................................................... 10
2.1.1 Pengertian Komunikasi Massa ....................................................... 10
ix
2.1.2 Elemen-elemen Komunikasi Massa ............................................... 12
2.1.3 Karakteristik Komunikasi Massa.................................................... 14
2.1.4 Fungsi Komunikasi Massa.............................................................. 16
2.1.5 Isi Pesan Komunikasi Massa .......................................................... 18
2.2 Media Massa .................................................................................................. 19
2.2.1 Pengertian Media Massa ................................................................. 19
2.2.2 Jenis-jenis Media Massa ................................................................. 20
2.2.3 Karakteristik Media Massa ............................................................. 23
2.2.4 Fungsi Media Massa ....................................................................... 24
2.3 Film Sebagai Media Massa ............................................................................ 25
2.3.1 Pengertian Film ............................................................................... 25
2.3.2 Karakteristik Film ........................................................................... 27
2.3.3 Jenis-jenis Film ............................................................................... 28
2.3.4 Unsur-unsur Film ........................................................................... 31
2.3.5 Fungsi Film ..................................................................................... 34
2.3.6 Jenis Cerita Film .............................................................................. 35
2.4 Penceritaan Film ............................................................................................ 37
2.4.1 Tema Cerita ..................................................................................... 37
2.4.2 Struktur Cerita ................................................................................. 39
2.4.3 Struktur Tiga Babak ........................................................................ 41
2.4.4 Karakter atau Penokohan ................................................................ 42
2.4.4.1 Tipologi Tokoh..................................................................... 43
2.4.5 Unsur Dramatik ............................................................................... 45
x
2.4.6 Bahasa Film .................................................................................... 47
2.4.7 Setting Cerita .................................................................................. 48
2.4.8 Sudut Pandang ................................................................................ 49
2.5 Novel sebagai Sumber Skenario Film............................................................ 49
2.5.1 Pengertian Novel ............................................................................. 49
2.5.2 Karakteristik Novel ......................................................................... 51
2.5.3 Jenis-jenis Novel ............................................................................. 51
2.6 Penceritaan Novel .......................................................................................... 54
2.6.1 Tema ............................................................................................... 54
2.6.2 Alur ................................................................................................. 54
2.6.3 Karakter atau Penokohan ................................................................ 57
2.6.4 Setting ............................................................................................. 58
2.6.5 Bahasa (Gaya Bahasa) .................................................................... 59
2.6.6 Sudut Pandang Pencerita................................................................. 59
2.6.7 Amanat/Pesan ................................................................................. 60
BAB III METODOLOGI .................................................................................. 61
3.1 Sifat Penelitian ............................................................................................... 61
3.2 Metode Penelitian .......................................................................................... 62
3.3 Teknik Pengumpulan Data ............................................................................. 63
3.3.1 Data Primer ..................................................................................... 63
3.3.2 Data Sekunder.................................................................................. 63
xi
3.4 Unit Analisis .................................................................................................. 64
3.5 Definisi Konsep Dan Operasional Kategorisasi............................................. 64
3.5.1 Definisi Konsep .............................................................................. 64
3.5.1.1 Film ................................................................................. 64
3.5.1.2 Novel ............................................................................... 64
3.5.1.3 Kecenderungan Isi Media................................................ 65
3.5.1.4 Penceritaan ...................................................................... 65
3.5.2 Operasional Kategorisasi ................................................................. 65
3.6 Teknik Analisis Data...................................................................................... 67
3.7 Uji Reliabilitas ............................................................................................... 69
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ................................. 71
4.1 Profil MD Entertainment ............................................................................... 71
4.1.1 Sejarah MD Entertainment................................................................... 71
4.1.2 Tujuan Dibentuknya MD Entertainment.............................................. 72
4.1.3 Motto MD Entertainment..................................................................... 72
4.1.4 Visualisasi Logo MD Entertainment.....................................................72
4.1.5 Manajemen MD Entertainment............................................................. 73
4.1.6 Pertumbuhan MD Entertainment.......................................................... 73
4.1.7 Penghargaan.......................................................................................... 74
4.2 Sekilas Tentang MD Pictures ........................................................................ 75
4.3 Profil Film Ayat Ayat Cinta ........................................................................... 76
xii
4.3.1 Sinopsis................................................................................................ 76
4.3.2 Karakter Tokoh Utama......................................................................... 78
4.3.3 Crew dan Cast..................................................................................... 79
4.3.3.1 Crew......................................................................................... 79
4.3.3.1 Cast.......................................................................................... 80
4.3.4 Prestasi Film Ayat Ayat Cinta............................................................... 81
4.4 Hasil Penelitian .............................................................................................. 81
4.5 Kecenderungan Isi Film Ayat Ayat Cinta....................................................... 82
4.5.1 Tema...................................................................................................... 82
4.5.2 Opening................................................................................................. 88
4.5.3 Karakter Tokoh Utama......................................................................... 92
4.5.4 Alur Cerita/Plot.................................................................................... 95
4.5.5 Konflik................................................................................................. 99
4.5.6 Gaya Bahasa........................................................................................102
4.5.7 Closing............................................................................................... 106
4.5.8 Pesan.................................................................................................. 108
4.5.9 Pola Alur/Jalan Cerita........................................................................ 112
4.5.10 Sudut Pandang Pencerita.................................................................. 117
4.5.11 Unsur Dramatik................................................................................ 120
4.5.12 Tipologi Tokoh................................................................................. 124
4.5 Pembahasan .................................................................................................. 127
xiii
BAB V PENUTUP............................................................................................ 142
5.1 Kesimpulan .................................................................................................. 142
5.2 Saran ............................................................................................................ 144
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
BIOGRAFI
xiv
DAFTAR TABEL
Tabel 5.1.1 Tema................................................................................................. 83
Tabel 5.2.1 Opening............................................................................................ 89
Tabel 5.3.1 Karakter Tokoh Utama..................................................................... 92
Tabel 5.4.1 Alur Cerita/Plot................................................................................. 96
Tabel 5.5.1 Konflik.............................................................................................. 99
Tabel 5.6.1 Gaya Bahasa.................................................................................. 103
Tabel 5.7.1 Closing .......................................................................................... 106
Tabel 5.8.1 Pesan.............................................................................................. 109
Tabel 5.9.1 Pola Alur/Jalan Cerita.................................................................... 113
Tabel 5.10.1 Sudut Pandang Pencerita............................................................. 118
Tabel 5.11.1 Unsur Dramatik........................................................................... 120
Tabel 5.12.1 Tipologi Tokoh Film................................................................... 124
Tabel 6.1 Perbandingan Film dan Novel Ayat Ayat Cinta.................................132
xv
DAFTAR TABEL GRAFIK
Tabel Grafik 5.1.2 Tema Film “Ayat Ayat Cinta”............................................... 84
Tabel Grafik 5.1.3 Tema Novel “Ayat Ayat Cinta”............................................ 87
Tabel Grafik 5.2.2 Opening Film “Ayat Ayat Cinta”.......................................... 89
Tabel Grafik 5.2.3 Opening Novel “Ayat Ayat Cinta”....................................... 91
Tabel Grafik 5.3.2 Karakter Tokoh Utama Film “Ayat Ayat Cinta”................... 93
Tabel Grafik 5.3.3 Karakter Tokoh Utama Novel “Ayat Ayat Cinta”................. 94
Tabel Grafik 5.4.2 Alur Cerita/Plot Film “Ayat Ayat Cinta”............................... 97
Tabel Grafik 5.4.3 Alur Cerita/Plot Novel “Ayat Ayat Cinta”............................. 98
Tabel Grafik 5.5.2 Konflik Film “Ayat Ayat Cinta”.......................................... 100
Tabel Grafik 5.5.3 Konflik Novel “Ayat Ayat Cinta”...................................... 101
Tabel Grafik 5.6.2 Gaya Bahasa Film “Ayat Ayat Cinta”................................. 104
Tabel Grafik 5.6.3 Gaya Bahasa Novel “Ayat Ayat Cinta”............................. 105
Tabel Grafik 5.7.2 Closing Film “Ayat Ayat Cinta”.......................................... 107
Tabel Grafik 5.7.3 Closing Novel “Ayat Ayat Cinta”....................................... 108
Tabel Grafik 5.8.2 Pesan Film “Ayat Ayat Cinta”............................................. 110
Tabel Grafik 5.8.3 Pesan Novel “Ayat Ayat Cinta”......................................... 111
Tabel Grafik 5.9.2 Pola Alur/Jalan Cerita Film “Ayat Ayat Cinta”.................. 114
Tabel Grafik 5.9.3 Pola Alur/Jalan Cerita Novel “Ayat Ayat Cinta”............... 116
Tabel Grafik 5.10.2 Sudut Pandang Pencerita Film “Ayat Ayat Cinta”............ 118
Tabel Grafik 5.10.3 Sudut Pandang Pencerita Novel “Ayat Ayat Cinta”......... 119
xvi
Tabel Grafik 5.11.2 Unsur Dramatik Film “Ayat Ayat Cinta”.......................... 121
Tabel Grafik 5.11.3 Unsur Dramatik Novel “Ayat Ayat Cinta”........................ 123
Tabel Grafik 5.12.2 Tipologi Tokoh Film “Ayat Ayat Cinta”........................... 125
Tabel Grafik 5.12.3 Tipologi Tokoh Novel “Ayat Ayat Cinta”... ..................... 126
xvii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Masalah
Saat ini media massa ada di mana-mana, dalam berbagai bentuk dan dapat
diakses kapan saja oleh siapa saja. Selain itu, media massa kini telah menjadi
sebuah industri. Ciri dari media massa adalah kemampuannya untuk menimbulkan
keserempakan (simultaneity) pada khalayak dalam menerima pesan-pesan yang
disebarkan secara cepat, bersifat transien dan terbuka untuk semua orang.1
Pakar komunikasi McLuhan (1964) mengungkapkan pengertian media
massa sebagai suatu jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak
tersebar, heterogen, dan anonim melewati media cetak atau elektronik, sehingga
pesan informasi yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat. Pengertian
“dapat” di sini menekankan pada pengertian, bahwa jumlah sebenarnya penerima
pesan informasi melalui media massa pada saat tertentu tidaklah esensial. Yang
penting ialah: “The communicator is a social organization capable or
reproducing the message and sending it simultaneously to large number of people
who are spartially separated” (Tan, 1981 : 73)2. Media komunikasi yang
termasuk media massa adalah radio siaran, dan televisi – keduanya dikenal
sebagai media elektronik; surat kabar dan majalah – keduanya disebut media
1
Prof. Drs. Onong Uchjana Effendy, M.A., Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. PT. Remaja
Rosdakarya Karya, Bandung, halaman 30.
2
McLuhan, M. (1964). Understanding Media : The Extensive of Man, New York , McGraw – Hill.
1
2
cetak; serta media film. Film yang dijadikan sebagai media komunikasi massa
adalah film bioskop.3
Film adalah gambar hidup, juga sering disebut movie (semula pelesetan
untuk ‘berpindah gambar’). Secara kolektif, film sering disebut sinema. Gambar
hidup adalah bentuk seni, bentuk populer dari hiburan, dan juga bisnis. Film
dihasilkan dengan rekaman dari orang dan benda (termasuk fantasi dan figur
palsu) dengan kamera, dan atau oleh animasi4. Potensi bercerita dari sebuah film
begitu khas hingga ia mengembangkan kerjasama yang kuat sekali dengan novel.
Novel adalah cerita fiktif yang panjang. Bukan hanya panjang dalam arti
fisik, tetapi juga isinya. Novel terdiri dari satu cerita pokok, dijalani dengan
beberapa cerita sampingan yang lain, banyak kejadian dan kadang banyak
masalah juga. Yang semuanya merupakan sebuah kesatuan yang bulat.5
Novel menyajikan hasil pemikiran melalui wujud penggambaran
pengalaman konkrit manusia. Dari sinilah sebuah karya ditentukan nilainya:
apakah ia mewujudkan pengalaman-pengalaman ringan dan dangkal dalam
kehidupan atau ia berhasil menunjukkan segi pengalaman-pengalaman baru,
segar, otentik, dan penting dalam kehidupan ini.6
Film di Indonesia, pertamakali diperkenalkan pada 5 Desember 1900 di
Batavia (Jakarta), lima tahun setelah film dan bioskop pertama lahir di Perancis.
Pada masa itu Film disebut Gambar Idoep.
3
Elvinaro Ardianto dan Lukiati K. Erdinaya, Komunikasi Massa Suatu Pengantar, PT. Remaja
Rosdakarya, Bandung, 2004 halaman 3.
4
http://id.wikipedia.org/wiki/Film
5
Didik Komaidi, Aku Bisa Menulis (Panduan Prakti Menulis Kreatif lengkap), Sabda Media,
Yogyakarta, 2007, halaman 194.
6
Jakob Sumarjo, Novel Populer Indonesia, CV. Nur Cahaya, Yogyakarta, 1982, halaman 23.
3
Sedangkan novel di Indonesia yang pertama adalah Si Jamin dan si Johan
yang merupakan saduran atas novel Justus van Maurik, Jan Smees, yang
dikerjakan oleh Merari Siregar pada tahun 1919. Dan novel Indonesia asli yang
pertama ditulis setahun kemudian oleh pengarang yang sama judulnya azab dan
Sengsara.
Baik film maupun novel mengisahkan cerita-cerita yang panjang dengan
detail yang cukup kaya dan hal ini dilakukan dari sudut pandang seorang
pengisah. Apapun yang diceritakan melalui sebuah novel dapat juga dikisahkan
atau diceritakan dalam film. Perbedaan kedua bentuk seni ini, disamping
perbedaan menyolok antara kisah dengan gambar dan kisah linguistik, akan
kelihatan dengan mudah.
Pertama-tama, karena film bergerak dalam jangka waktu tertentu dan
relatif singkat, maka alur ceritanya lebih terbatas. Novel berakhir kapan
dihendaki. Sedangkan film umumnya terbatas pada apa yang disebut Shakespeare
“dua jam lalu lintas panggung yang singkat”.7
Selama bertahun-tahun novel-novel populer merupakan sumber bahan
untuk film-film komersial. Bahkan ekonomi novel populer sekarang ini diatur
sedemikian rupa sehingga kemungkinan untuk dijadikan film merupakan
pertimbangan pokok untuk kebanyakan penerbit. Malah kadang-kadang kita
memperoleh kesan seolah-olah novel-novel populer sebetulnya merupakan
rancangan percobaaan pertama untuk film.
7
James Monaco. Cara Menghayati Sebuah Film: jilid 1, diterjemahkan oleh Asrul Sani, Yayasan
Citra, Jakarta, 1984, halaman 34.
4
Sebuah skenario film panjangnya rata-rata 125-150 halaman, sedangkan
panjang sebuah novel rata-rata dua kali itu. Dalam pemindahan dari buku ke film
maka tidak bisa dielakkan hilangnya sejumlah besar detail peristiwa. Film terbatas
pada kisah-kisah yang lebih pendek, biarpun ia tentu saja memiliki kemungkinan
piktorial yang tidak dimiliki oleh novel. Hal-hal yang tidak bisa dipindahkan oleh
kejadian mungkin dapat diterjemahkan ke dalam imaji. Di sini kita memasuki
perbedaan yang paling hakiki antara kedua bentuk kisah ini.
Novel dikisahkan oleh sang pengarang. Kita melihat dan mendengar yang
pengarang ingin supaya kita lihat dan kita dengar. Dalam pengertian tertentu, film
juga dikisahkan oleh para pembuatnya, kita melihat dan mendengar lebih banyak
dari pada apa yang diniatkan oleh seorang sutradara.
Tapi yang lebih penting, ialah, semua yang dilukiskan oleh seorang
pengarang novel selalu dipaparkan lewat bahasa, prasangka-prasangka dan sudut
pandangannya. Sedangkan pada film sutradara memiliki sejumlah kebebasan
untuk memilih, untuk lebih memperhatikan suatu detail, lebih daripada yang
lainnya.
Kekuatan sebuah novel berada dalam hubungan antara bahan cerita (plot,
watak-watak, lingkungan, tema dan sebagainya) dan pengisahannya dengan
bahasa; antara kisah dan pengisah. Sedangan kekuatan sebuah film, sebaliknya
berada antara bahan cerita dan sifat obyektif imaji. Pencipta atau sutradara sebuah
film seolah-olah selalu berada dalam konflik berkelanjutan dengan adegan yang
sedang ia kerjakan. Unsur kebetulan memainkan peranan lebih besar, dan hasil
5
terakhir memberikan kesempatan pada penonton untuk ikut serta dalam
pengalaman ini secara aktif.
Kata-kata di atas halaman kertas tidak berubah-ubah. Tapi imaji di atas
layar putih berubah dan setiap kali mengganti arah perhatian penonton. Dengan
demikian film merupakan pengalaman yang lebih kaya. Tapi sekaligus ia juga
lebih miskin, karena tokoh pengisah jauh lebih lemah.
Film
dapat
mendekati
ironi
yang
dikembangkan
novel
dalam
mengembangkan kisahnya, tapi film tidak akan dapat menyamai novel. Dengan
sendirinya novel menghadapi tantangan film dengan pengembangan kegiatan di
bidang ini: ironi narasi yang halus dan kompleks.
Kekuatan novel yang paling hakiki ialah kesanggupannya untuk
mempermainkan kita. Film tentu juga punya kata-kata, tapi biasanya tidak begitu
mewah dan tidak bisa menandingi realita konkrit dari halaman yang dicetak.
Peningkatan mutu filmis dari genre-genre film nasional yang laris
sekarang ini dapat meningkatkan daya apresiasi film bermutu di lingkungan
penonton urban yang marginal, tetapi mungkin juga dapat ditonton oleh golongan
terpelajar dan intelektual. Untuk membuat film bermutu yang laris ke semua
golongan penonton dengan latar belakang budaya mereka yang berbeda-beda
adalah dengan memberi kesempatan kepada para sineasnya.8
Membuat film adalah suatu kerja kolaboratif. Sebuah film dihasilkan oleh
kerjasama berbagai macam variabel yang saling mendukung. Produksi film yang
8
Sudwikatmono, “Sinepleks dan Industri film Indonesia”, dalam Layar Perak, Gramedia, Jakarta,
199.
6
normal membutuhkan kooperasi banyak ahli dan teknisi yang bekerjasama
sebagai satu tim, sebagai satu unit produksi.9
Semenjak bangkitnya perfilman di Indonesia yang ditandai dengan
munculnya film Petualangan Sherina pada tahun 2000 dan Ada Apa Dengan Cinta
pada tahun 2002. Hadir beberapa film yang disadur dari novel-novel best seller,
seperti Eiffel I’m In Love, Dea Lova, Me Versus High Heels dan lain sebagainya.
Dari sekian banyak film yang diangkat dari novel. Film Ayat Ayat Cinta, besutan
sutradara Hanung Bramantyo yang diangkat dari novel dengan judul yang sama
karya Habiburrahman El Shirazy adalah film religi yang paling banyak menyedot
perhatian masyarakat. Bahkan, beberapa media asing seperti AP membuat tulisan
tentang film ini. Dengan judul Indonesian Story A Big Hit. Selama ini belum
pernah ada film religi nasional dengan jumlah penonton melebihi Ayat Ayat
Cinta.
Film Ayat Ayat Cinta adalah film produksi MD Pictures, anak perusahaan
dari MD Entertainment. Tema yang diangkat film ini adalah cinta.10 Dimana
cerita film ini berpusar pada kompleksitas hubungan cinta antara seorang laki-laki
dengan empat perempuan. Fahri Abdullah Shidiq, pelajar Indonesia yang sedang
menimba ilmu di Universitas Al Azhar Mesir. Aisha, gadis keturunan JermanTurki, Maria, perempuan Mesir muda pemeluk Kristen Koptik. Nurul, pelajar
Indonesia anak kiai ternama. Dan, Noura, gadis Mesir yang menjadi korban
kesewenangan keluarga.
9
10
Ernest Lindgren, The Art Of The Film, Collier Books, New York, 1963, halaman 4.
Wawancara dengan Hanung Bramantyo, Sutradara Film “Ayat Ayat Cinta, Jakarta, tanggal 21
Januari 2009.
7
Kompleksitas cerita dibangun dengan menyuguhkan keikhlasan Aisha
yang meminta Fahri menikahi Maria demi keutuhan rumah tangga mereka meski
harus berperang dengan perasaannya. Jalinan cinta bertumpang tindih di antara
eksotisme Mesir. Selain tema cinta, film ini juga menjelaskan bagaimana
menghormati hak-hak wanita; toleransi sesama manusia, pengorbanan, dan
kesabaran; serta persahabatan. Melalui film ini pula, pesan keagamaan bisa
disampaikan dengan lugas. Itulah daya tarik dari film ini.
Sedangkan novel Ayat Ayat Cinta sendiri adalah sebuah novel pembangun
jiwa. yang bercerita mengenai seorang santri salaf metropolis dan musafir yang
haus ilmu. Keindahan cinta yang terdapat dalam cerita novel ini, dibangun di
bawah syariat ajaran agama Islam.
Ketika novel dipindahkan menjadi film, bisa saja terjadi perubahan pada
pokok cerita dan pada isi cerita.11 Seperti halnya film Ayat Ayat Cinta dimana
banyak cerita yang masih kurang dan belum dikupas.12 Hal itulah yang membuat
penulis tertarik untuk menganalisa perbandingan isi cerita antara film Ayat Ayat
Cinta yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo dengan novel Ayat Ayat Cinta
karya Habibburahman El Shirazy. Dengan menggunakan metode analisis isi
komparatif.
Metode ini digunakan untuk melihat perbandingan penceritaan antara
novel dengan film yang diangkat dari novel. Sehingga akan terlihat perbedaan
sisi-sisi penceritaan yang terdapat antara sebuah film yang disadur dari novel best
11
Misbach Yusa Biran, Teknik Menulis Skenario Film Cerita, Pustaka Jaya, Jakarta, 2007,
halaman 239.
12
Kutipan Wawancara, Habbiburahman El Shirazy, Penulis Novel “Ayat Ayat Cinta, Tabloid XO
Edisi 15, Jakarta, 2008.
8
seller dan novel itu sendiri. Dan judul yang akan penulis angkat adalah “Analisis
Isi Perbandingan Isi Film dan Novel Ayat Ayat Cinta Dilihat Dari Sisi
Penceritaannya”.
1.2
Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah penelitian ini
adalah :
1. Bagaimana kecenderungan isi film “Ayat Ayat Cinta” dilihat dari sisi
penceritaannya?
2. Bagaimana kecenderungan isi novel “Ayat Ayat Cinta” dilihat dari sisi
penceritaannya?
3. Bagaimana perbandingan isi film dan novel “Ayat Ayat Cinta” dilihat dari
sisi penceritaannya?
1.3
Tujuan Penelitian
Sementara tujuan penelitian dari rumusan masalah di atas adalah :
1. Untuk mengetahui kecenderungan isi dari film “Ayat Ayat Cinta” yang
dilihat dari sisi penceritaannya.
2. Untuk mengetahui kecenderungan isi dari novel “Ayat Ayat Cinta” yang
dilihat dari sisi penceritaannya.
3. Untuk mengetahui perbandingan isi dari film dan novel “Ayat Ayat Cinta”
yang dilihat dari sisi penceritaannya.
9
1.4
Signifikansi Penelitian
1.4.1
Signifikansi Akademis
Perlu diketahui signifikansi akademis penelitian ini adalah agar dapat
menjadi bahan referensi bagi mahasiswa yang akan datang. Khususnya dalam
kajian penceritaan sebuah film yang diangkat dari sebuah novel. Maupun
mengenai penceritaan film itu sendiri.
1.4.2
Signifikansi Praktis
Secara praktis penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan
kepada production house (rumah produksi) dalam hal ini MD Pictures dalam hal
penceritaan sebuah film yang diangkat dari novel best seller.
10
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Komunikasi Massa
2.1.1
Pengertian Komunikasi Massa
Komunikasi massa adalah komunikasi yang digunakan untuk
menyampaikan pesan melalui media massa (media cetak dan elektronik) kepada
khalayak luas (masyarakat) tidak tebatas oleh letak geografis maupun teritorial.
Komunikasi massa merupakan singkatan dari komunikasi media massa (mass
communication). Ahli komunikasi Severin and Tankard Jr. (1992: 3) dalam
bukunya Communication Theories: Origins, Methods, and uses In The Mass
Media mendefinisikan komunikasi massa sebagai sebagian keterampilan,
sebagian seni, dan sebagian ilmu.
Sebagai keterampilan jika komunikasi massa meliputi teknik-teknik
fundamental tertentu yang dapat dipelajari seperti memfokuskan kamera
televisi, mengoperasikan tape recorder atau mencatat ketika berwawancara.
Sebagai seni dalam pengertian bahwa ia meliputi tantangan-tantangan kreatif
seperti menulis script untuk program televisi, mengembangkan tata letak yang
estetis untuk iklan majalah atau menampilkan teras berita yang memikat bagi
sebuah kisah berita. Ia adalah ilmu dalam pengertian bahwa ia meliputi prinsip-
10
11
prinsip tertentu tentang bagaimana berlangsungnya komunikasi yang dapat
dikembangkan untuk membuat berbagai hal menjadi baik.13
Ahli komunikasi yang lain Joseph A. Devito dalam bukunya,
communilogy:
An Introduction to study of communication mendefinisikan
komunikasi massa sebagai berikut: “First, mass communication is
communication addressed to the masses, to an extremely large audience. This
does not mean that the audience includes all people or everyone who reack or
everyone who watches television; rather it means an audience that is large and
generally rather poorly defined.
Second, mass communication is
communication mediated by audio and/or visual transmitters. Mass
communiaction is perhaps most easily and most logically defined by its forms:
television, radio, newspaper, magazines, films, books and tapes.”
(Pertama, komunikasi massa adalah komunikasi yang ditujukan
kepada massa, kepada khalayak meliputi seluruh penduduk atau semua orang
yang membaca atau semua orang yang menonton televisi, agaknya ini berarti
bahwa khalayak meliputi seluruh penduduk atau semua orang yang membaca
atau semua orang yang menonton televisi, agaknya ini berarti bahwa khalayak
itu besar dan pada umumnya agak sukar untuk didefinisikan. Kedua, komunikasi
massa adalah komunikasi yang disalurkan oleh pemancar-pemancar yang audio
dan atau visual. Komunikasi massa barangkali akan lebih mudah dan logis bila
didefinisikan menurut bentuknya: televisi, radio, surat kabar, majalah, film,
buku, dan pita)14
Dari definisi-definisi komunikasi massa tersebut, Jalaluddin Rakhmat
merangkumnya menjadi: komunikasi massa diartikan sebagai jenis komunikasi
yang ditujukan kepada sejumlah khalayak tersebar, heterogen, dan anonim
melalui media cetak atau elektronik sehingga pesan yang sama dapat diterima
secara serentak dan sesaat.15
13
Siti Karlinah, Betty Soemirat dan Lukiati Komala, Komunikasi Massa, Pusat Penerbitan
Universitas Terbuka, Jakarta, 2004, halaman 1.5-1.6.
14
Ibid., halaman 1.6.
15
Ibid.
12
2.1.2
Elemen-elemen Komunikasi Massa
Elemen-elemen komunikasi massa adalah sebagai berikut:16
1. Komunikator
Komunikator disini merupakan gabungan dari berbagai individu dalam
sebuah lembaga media massa.
2. Isi
Berita dan informasi merupakan hal pokok yang harus dimiliki oleh
media massa. Setiap hari media massa memberikan informasi dan berbagai
kejadian diseluruh dunia kepada para audience
3. Audience
Audience yang dimaksud komunikasi massa sangat beragam. Menurut
Hiebert, audience dalam komunikasi massa setidaknya mempunyai lima
karakteristik sebagai berikut:
a. Audience cenderung berisi individu-individu yang condong untuk
berbagi pengalaman dan dipengaruhi oleh hubungan sosial diantara
mereka.
b. Audience cenderung besar. Besar disini berarti tersebar ke berbagai
wilayah jangkauan sasaran komunikasi massa.
c. Audience cenderung heterogen.
d. Audience cenderung anonim, yakni tidak mengenal satu sama lain.
e. Audience secara fisik dipisahkan oleh komunikator.
16
Nurudin, Pengantar Komunikasi Massa, PT. Rajagrafindo Persada, Jakarta, 2007, halaman 95133.
13
4. Umpan balik
Di dalam komunikasi massa umpan balik terjadi tidak secara langsung.
5. Gangguan
a. Gangguan saluran
Gangguan saluran dalam komunikasi massa biasanya berupa sesuatu
hal, seperti kesalahan cetak, kata yang hilang, atau paragraf yang
dihilangkan dari surat kabar, gambar yang tidak jelas di pesawat televisi,
gangguan gelombang radio, baterai yang sudah haus atau langganan
majalah yang tidak datang. Gangguan juga bisa disebabkan oleh faktor
luar.
b. Gangguan semantik
Gangguan semantik adalah gangguan yang berhubungan dengan
bahasa.
6. Gatekeeper
John R. Bittner (1996) mengistilahkan gatekeeper sebagai “individuindividu atau sekelompok orang yang memantau arus informasi dalam sebuah
saluran komunikasi (massa)”.
7. Pengatur
Yang dimaksud pengatur dalam media massa adalah mereka yang secara
tidak langsung ikut mempengaruhi proses aliran pesan media massa.
8. Filter
Filter adalah kerangka pikir melalui mana audience menerima pesan.
14
2.1.3 Karakteristik Komunikasi Massa
Karakteristik komunikasi massa adalah:17
1. Komunikator Terlembaga
Komunikasi massa melibatkan lembaga dan komunikatornya bergerak
dalam organisasi yang kompleks.
2. Pesan Bersifat Umum
Komunikasi massa bersifat terbuka, artinya komunikasi massa itu
ditujukan untuk semua orang dan tidak ditujukan untuk sekelompok orang
tertentu. Oleh karenanya, pesan komunikasi massa bersifat umum. Pesan
komunikasi massa dapat berupa fakta, peristiwa atau opini.
3. Komunikannya Anonim dan Heterogen
Komunikan pada komunikasi massa bersifat anonim dan heterogen.
Komunikasi massa bersifat anonim berarti, komunikator tidak mengenal
komunikan. Sedangkan komunikasi massa bersifat heterogen berarti,
komunikan terdiri dari berbagai lapisan masyarakat yang berbeda, yang dapat
dikelompokkan berdasarkan faktor: usia, jenis kelamin, pendidikan,
pekerjaan, latar belakang budaya, agama dan tingkat ekonomi.
4. Media Massa Menimbulkan Keserempakan
Effendy (1981) mengartikan keserempakan media massa itu sebagai
keserempakan kontak dengan sejumlah besar penduduk dalam jarak yang
17
Elvinaro Ardianto dan Lukiati K. Erdinaya, Komunikasi Massa Suatu Pengantar, Op. Cit.,
halaman 6-12.
15
jauh dari komunikator, dan penduduk tersebut satu sama lainnya berada
dalam keadaan terpisah.
5. Komunikasi Mengutamakan Isi Ketimbang Hubungan
Salah satu prinsip komunikasi adalah bahwa komunikasi mempunyai
dimensi isi dan dimensi hubungan (Mulyana, 2000:99). Dimensi isi
menunjukkan muatan atau isi komunikasi, yaitu apa yang dikatakan,
sedangkan dimensi hubungan menunjukkan bagaimana hubungan para peserta
komunikasi itu.
6. Komunikasi Massa Bersifat Satu Arah
Pada proses komunikasi massa, komunikator dan komunikan tidak dapat
melakukan kontak langsung karena pesan disampaikan melalui media massa.
Komunikator aktif menyampaikan pesan, komunikan pun aktif menerima
pesan, namun diantara keduanya tidak dapat melakukan dialog.
7. Stimulasi Alat Indra Terbatas
Dalam komunikasi massa, stimuli alat indra bergantung pada jenis media
massa. Pada surat kabar dan majalah, pembaca hanya melihat. Pada radio
siaran dan rekaman auditif, khalayak hanya mendengar, sedangkan pada
media televisi dan film, kita menggunakan indra penglihatan dan
pendengaran.
8. Umpan Balik Tertunda (Delayed) dan Tidak Langsung (Indirect)
Dalam proses komunikasi massa, umpan balik bersifat tidak langsung
(indirect) dan tertunda (delayed). Artinya, komunikator komunikasi massa
tidak dapat dengan segera mengetahui bagaimana reaksi khalayak terhadap
16
pesan yang disampaikannya. Tanggapan khalayak bisa diterima lewat telepon,
e-mail, atau surat pembaca. Proses penyampaian feedback lewat telepon, email atau surat pembaca itu menggambarkan feedback komunikasi massa
bersifat indirect. Sedangkan waktu yang dibutuhkan untuk menggunakan
telepon, menulis surat pembaca, mengirim e-mail itu menunjukkan bahwa
feedback komunikasi massa bersifat tertunda (delayed).
2.1.4 Fungsi Komunikasi Massa
Fungsi komunikasi massa menurut Dominick (2001) terdiri dari :18
1. Surveillance (Pengawasan)
Fungsi pengawasan komunikasi massa dibagi dalam bentuk utama:
a. Warning or beware surveillance (pengawasan peringatan)
Fungsi
pengawasan
peringatan
terjadi
ketika
media
massa
menginformasikan tentang ancaman dari angin topan, meletusnya gunung
merapi, kondisi yang memprihatinkan, tayangan inflasi atau adanya
serangan militer.
b. Instrumental surveillance (pengawasan instrumental)
Fungsi
pengawasan
instrumental
adalah
penyampaian
atau
penyebaran informasi yang memiliki kegunaan atau dapat membantu
khalayak dalam kehidupan sehari-hari.
18
Ibid., halaman 14-17.
17
2. Interpretation (Penafsiran)
Media massa tidak hanya memasok fakta dan data, tetapi juga
memberikan penafsiran terhadap kejadian-kejadian penting. Organisasi atau
industri media memilih dan memutuskan peristiwa-peristiwa yang dimuat
atau ditayangkan. Tujuan penafsiran media ingin mengajak para pembaca atau
pemirsa untuk memperluas wawasan dan membahasnya lebih lanjut dalam
komunikasi antarpesona atau komunikasi kelompok.
3. Linkage (Pertalian)
Media massa dapat menyatukan anggota masyarakat yang beragam,
sehingga membentuk linkage (pertalian) berdasarkan kepentingan dan minat
yang sama tentang sesuatu.
4. Transmission of Values (Penyebaran Nilai-Nilai)
Fungsi penyebaran nilai juga disebut sosialization (sosialisasi).
Sosialisasi mengacu kepada cara, dimana individu mengadopsi perilaku dan
nilai kelompok. Media massa yang mewakili gambaran masyarakat itu
ditonton, didengar dan dibaca.
5. Entertainment (Hiburan)
Fungsi dari media massa sebagai fungsi menghibur tiada lain tujuannya
adalah untuk mengurangi ketegangan pikiran khalayak, karena dengan
membaca berita-berita ringan atau melihat tayangan hiburan di televisi dapat
membuat pikiran khalayak segar kembali.
18
2.1.5 Isi Pesan Komunikasi Massa
Isi pesan yang disampaikan media mengandung unsur-unsur :19
1. Novelty (Sesuatu yang Baru)
Sesuatu yang “baru” merupakan unsur yang terpenting bagi suatu pesan
media.
2. Jarak (Dekat atau Jauh)
Jarak terjadinya suatu peristiwa dengan tempat dipublikasinya peristiwa
itu, mempunyai arti penting. Khalayak akan tertarik untuk mengetahui hal-hal
yang berhubungan langsung dengan kehidupan dan lingkungannya.
3. Popularitas
Peliputan tentang tokoh, organisasi/kelompok , tempat dan waktu yang
penting dan terkenal akan menarik perhatian khalayak.
4. Pertentangan (Conflict)
Hal-hal yang mengungkapkan pertentangan, baik dalam bentuk
kekerasan ataupun menyangkut perbedaan pendapat dan nilai, biasanya
disukai oleh khalayak yakni untuk mengetahui siapa yang akan keluar sebagai
pemenang.
5. Komedi (Humor)
Bentuk-bentuk penyampaian pesan yang bersifat humor (komedi)
lazimnya disenangi khalayak karena manusia pada dasarnya tertarik dengan
hal-hal yang lucu dan menyenangkan.
19
Sasa Djuarsa Sendjaya, Pengantar Komunikasi: cetakan kelima, Universitas Terbuka, Jakarta,
2005, halaman 7.15-7.17.
19
6. Seks dan Keindahan
Salah satu sifat manusia adalah menyenangi unsur seks dan keindahan
atau kecantikan, sehingga kedua unsur tersebut bersifat universal. Karena
unsur seks dan keindahan, kecantikan yang bersifat universal dan menarik
perhatian khalayak, maka media massa seringkali menonjolkan kedua unsur
ini.
7. Emosi
Menurut Abrahan A. Maslow, kebutuhan dasar manusia mencakup
kebutuhan fisik (pangan, sandang, papan), rasa aman sosial, harga diri dan
aktualisasi diri.
8. Nostalgia
Pengertian nostalgia disini adalah menunjukkan pada hal-hal yang
mengungkapkan pengalaman dimasa lalu.
9. Human Interest
Setiap orang pada dasarnya ingin mengetahui segala peristiwa atau hal
yang menyangkut kehidupan orang lain. Gambaran tentang kehidupan orang
ini (cerita-cerita human interest) dapat dikemas dalam bentuk berita, feature,
biografi dan berbagai bentuk acara deskriptif lainnya.
2.2
Media Massa
2.2.1 Pengertian Media Massa
Media massa khusus digunakan untuk menyalurkan komunikasi massa.
Istilah media massa berasal dari istilah bahasa Inggris, mass media. Mass media
20
ini adalah singkatan dari mass media communication atau media of mass
communication. Sebabnya disebut mass media ialah karena adanya mass
character yang melekat atau dimiliki oleh media itu.20
Media massa adalah suatu jenis komunikasi yang ditujukan kepada
sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen, dari anonim melewati media cetak
atau elektronik, sehingga pesan informasi yang sama dapat diterima secara
serentak dan sesaat.21
Media massa juga dapat dikatakan sebagai alat yang digunakan dalam
penyampaian pesan dari sumber kepada khalayak (penerima) dengan
menggunakan alat-alat komunikasi mekanis seperti surat kabar, film, radio dan
televisi.22
2.2.2 Jenis-jenis Media Massa
Media massa sebenarnya dibagi menjadi dua yaitu, media massa cetak
dan media elektronik. Media cetak yang memenuhi kriteria sebagai media massa
adalah surat kabar dan majalah. Sedangkan media elektronik yang memenuhi
kriteria media massa adalah radio, televisi, film dan media on-line(internet).
Surat kabar
Surat kabar merupakan media massa yang paling tua dibandingkan
dengan jenis media massa lainnya. Sejarah telah mencatat keberadaan surat
20
Sunarjo dan Djoenaesih, Himpunan Istilah Komunikasi: edisi kedua, Liberty, Yogyakarta, 1983,
halaman 70-71.
21
McLuhan, 1964; Bittner, 1980 : 10 : Wright, 1985: 2-7; Susanto Para Pakar Komunikasi, 1980:
2; NCSS,2002.
22
Hafied Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi: edisi revisi, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta,
2007, halaman 126.
21
kabar dimulai sejak ditemukannya mesin cetak oleh Johann Gutenberg di
Jerman. Sedangkan di Indonesia, keberadaan surat kabar ditandai dengan
perjalanan panjang melalui lima periode yakni masa penjajahan Belanda,
penjajahan Jepang, menjelang kemerdekaan dan awal kemerdekaan, serta
zaman orde lama dan serta orde baru.
Surat kabar dapat dikelompokkan pada berbagai kategori. Dilihat dari
ruang lingkupnya, maka kategorisasinya adalah surat kabar lokal, regional dan
nasional. Ditinjau dari bentuknya, ada bentuk surat kabar biasa dan tabloid.
Sedangkan dilihat dari bahasa yang digunakan, ada surat kabar berbahasa
Indonesia, bahasa Inggris dan bahasa daerah.
a. Majalah
Edisi perdana majalah yang diluncurkan di Amerika pada pertengahan
1930-an memperoleh kesuksesan besar. Majalah telah membuat segmentasi
pasar tersendiri dan membuat fenomena baru dalam dunia media massa cetak
di Amerika. Sedangkan di Indonesia, keberadaan majalah sebagai media
massa dimulai menjelang dan pada awal kemerdekaan Indonesia.
Tipe suatu majalah ditentukan oleh sasaran khalayak yang dituju.
Artinya, sejak awal redaksi sudah menentukan siapa yang akan menjadi
pembacanya, apakah anak-anak, remaja, wanita dewasa, pria dewasa, atau
untuk pembaca umum dari remaja sampai dewasa. Bisa juga sasaran
pembacanya kalangan profesi tertentu, seperti pelaku bisnis; atau pembaca
dengan hobi tertentu, seperti bertani, beternak dan memasak. Majalah-majalah
yang terbit dapat dikategorikan sebagai berikut: majalah berita, majalah
22
keluarga, majalah wanita, majalah pria, majalah remaja wanita, majalah remja
pria, majalah anak-anak, majalah ilmiah populer, majalah umum, majalah
hukum, majalah pertanian, majalah humor, majalah olah raga, majalah agama,
majalah berbahasa daerah, majalah hobi, majalah musik, dan majalah profesi.
b. Radio
Radio adalah media massa elektronik tertua dan sangat luwes.
Keunggulan radio adalah berada dimana saja; di tempat tidur, di dapur, di
dalam mobil, di kantor, di jalanan, di pantai dan berbagai tempat lainnya.
Radio memiliki kemampuan menjual bagi pengiklan yang produknya
dirancang khusus untuk khalayak tertentu.
c. Televisi
Dari semua media komunikasi yang ada, televisilah yang paling
berpengaruh pada kehidupan manusia. Kegiatan penyiaran melalui media
televisi di Indonesia dimulai pada tanggal 24 Agustus 1962, bertepatan
dengan dilangsungkannya pembukaan pesta olahraga se-Asia IV atau Asean
Games di Senayan.
d. Film
Gambar bergerak (film) adalah bentuk dominan dari komunikasi massa
visual di belahan dunia ini. Lebih dari ratusan juta orang menonton film di
bioskop, film televisi dan film video laser setiap minggunya. Film lebih
dahulu menjadi hiburan dibanding radio siaran dan televisi.
23
e. Komputer dan internet
Menurut Laquey (1997), internet merupakan jaringan longgar dari
ribuan komputer yang mejangkau jutaan orang di seluruh dunia. Misi awalnya
adalah sarana bagi para peneliti untuk mengakses data dari sejumlah daya
perangkat keras komputer yang mahal. Namun, sekarang internet telah
berkembang menjadi ajang komunikasi yang sangat cepat dan efektif,
sehingga telah menyimpang jauh dari misi awalnya. Dewasa ini, internet telah
tumbuh menjadi sedemikian besar dan berdaya sebagai alat informasi dan
komunikasi yang tak dapat diabaikan. 23
2.2.3 Karakteristik Media Massa
Karakteristik media massa adalah sebagai berikut:24
a. Publisitas
Media massa diperuntukkan bagi masyarakat umum. Tidak ada batasan
siapa yang boleh atau harus membaca, menonton atau mendengarkan dan
siapa yang tidak boleh membaca, menonton atau mendengarkan.
b. Universalitas
Media massa bersifat umum dalam menyampaikan suatu materi pada
khalayaknya.
23
Elvinaro Ardianto dan Lukiati K. Erdinaya, Komunikasi Massa Suatu Pengantar, Op. Cit.,
halaman. 103-150.
24
Asep Saeful Muhtadi, Jurnalistik Pendekatan dan Teori dan Praktik, Logos Wacana Ilmu,
Bandung, 1999, halaman 80.
24
c. Aktualitas
Media massa harus mampu menyampaikan berita secara cepat kepada
khalayak.
2.2.4 Fungsi Media Massa
Fungsi dari media massa adalah sebagai berikut:25
1. Fungsi memberikan informasi (to inform)
Fungsi memberikan informasi ini diartikan bahwa media massa adalah
penyebar informasi bagi pembaca, pendengar atau pemirsa. Berbagai
informasi dibutuhkan oleh khalayak media massa yang bersangkutan sesuai
dengan kepentingan khalayak. Khalayak sebagai manusia sosial akan selalu
merasa haus informasi tentang segala sesuatu yang terjadi.
2. Fungsi memberikan pendidikan atau membimbing (to educated)
Media massa merupakan sarana pendidikan bagi khalayak (mass
education). Oleh karena itu, media massa banyak menyajikan hal-hal yang
sifatnya mendidik. Salah satu cara mendidik yang dilakukan media massa
adalah melalui pengajaran nilai-nilai, opini serta aturan-aturan yang dianggap
benar kepada pemirsa atau pembaca. Artinya sebagian dari fungsi pendidikan
(edukasi) media massa diarahkan untuk membuat khalayak tersosialisasi.
25
Siti Karlinah, Betty Soemirat dan Lukiati Komala, Komunikasi Massa, Op. cit., halaman 5.3-5.6
25
3. Fungsi menghibur (to entertain)
Fungsi menghibur dari media massa bertujuan untuk mengurangi
ketegangan pikiran khalayak dikarenakan membaca berita-berita berat atau
melihat tayangan dari televisi yang mempunyai bobot ilmiah.
4. Fungsi mempengaruhi khalayak (to influence)
Fungsi mempengaruhi khalayak dari media massa sangat penting
artinya, karena hal tersebut menyebabkan media massa memegang peranan
yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Fungsi mempengaruhi dari
media massa secara implisit terdapat pada Tajuk/ Editorial, Features, Iklaniklan, Artikel-artikel dan sebagainya.
2.3
Film Sebagai Media Massa
2.3.1 Pengertian Film
Istilah film pada mulanya mengacu pada suatu media sejenis plastik
yang dilapisi dengan zat peka cahaya. Media peka cahaya ini sering disebut
selluloid. Dalam bidang fotografi film ini menjadi media yang dominan
digunakan untuk menyimpan pantulan cahaya yang tertangkap lensa.
Pada generasi berikutnya fotografi bergeser pada penggunaan media
digital elektronik sebagai penyimpan gambar. Dalam bidang sinematografi
perihal media penyimpan ini telah mengalami perkembangan yang pesat.
Berturut-turut dikenal media penyimpan selluloid (film), pita analog, dan yang
terakhir media digital (pita, cakram,memori chip).
26
Bertolak dari pengertian ini maka film pada awalnya adalah karya
sinematografi yang memanfaatkan media selluloid sebagai penyimpannya.
Sejalan dengan perkembangan media penyimpan dalam bidang sinematografi,
maka pengertian film telah bergeser. Sebuah film cerita dapat diproduksi tanpa
menggunakan selluloid (media film). Bahkan saat ini sudah semakin sedikit film
yang menggunakan media selluloid pada tahap pengambilan gambar. Pada tahap
pasca produksi gambar yang telah diedit dari media analog maupun digital dapat
disimpan pada media yang fleksibel. Hasil akhir karya sinematografi dapat
disimpan pada media selluloid, analog maupun digital.
Perkembangan teknologi media penyimpan ini telah mengubah
pengertian film dari istilah yeng mengacu pada bahan ke istilah yang mengacu
pada bentuk karya seni audio-visual. Singkatnya film kini diartikan sebagai
suatu genre (cabang) seni yang menggunakan audio (suara) dan visual (gambar)
sebagai medianya.
Film sebagai media komunikasi massa pandang dengar mempunyai
peranan penting didalam memantapkan ketahanan nasional, karena merupakan
salah satu sarana yang efektif dalam mengobarkan semangat pengabdian dan
perjuangan bangsa, memperkokoh persatuan dan kesatuan, mempertebal
kepribadian dan kecerdasan bangsa serta meningkatkan kualitas sumber daya
manusia. Sedangkan sebagai karya cipta seni budaya, film merupakan sarana di
dalam mengembangkan dan memantapkan budaya bangsa.26
26
Undang-undang perfilman
27
Film sebagai sarana baru digunakan untuk menghibur, memberikan
informasi serta menyajikan cerita, peristiwa, musik, drama, lawak dan sajian
teknis lainnya kepada masyarakat umum.27
2.3.2
Karakteristik Film
Faktor-faktor yang dapat menunjukkan karakteristik film adalah:28
1. Layar yang Luas/Lebar
Layar film yang luas memberikan keleluasaan penontonnya untuk
melihat adegan-adegan yang disajikan dalam film. Dengan adanya kemajuan
teknologi, layar film di bioskop-bioskop pada umumnya sudah tiga dimensi,
sehingga penonton seolah-olah melihat kejadian nyata dan tidak berjarak.
2. Pengambilan Gambar
Pengambilan gambar atau shot dalam film bioskop memungkinkan dari
jarak jauh atau extreme long shot, dan panoramic shot, yakni pengambilan
pemandangan menyeluruh. Shot-shot tersebut dipakai untuk memberi kesan
artistik dan suasana yang sesungguhnya, sehingga film menjadi lebih menarik.
3. Konsentrasi Penuh
Saat menonton film di bioskop kita terbebas dari gangguan hiruk pikuk.
Semua mata tertuju pada layar, sementara pikiran perasaan tertuju pada alur
cerita. Emosi pun terbawa suasana, kita akan tertawa terbahak-bahak manakala
adegan film lucu atau sedikit senyum dikulum apabila ada adegan yang
27
28
Denis McQuail, Teori Komunikasi Massa: Suatu Pengantar, Erlangga, Jakarta, 1987, halaman 3.
Siti Karlinah, Betty Soemirat dan Lukiati Komala, Komunikasi Massa, Op. cit., halaman 7.247.26.
28
menggelitik. Namun dapat pula kita menjerit ketakutan bila adegan
menyeramkan dan bahkan menangis melihat adegan menyedihkan.
4. Identifikasi Psikologis
Pengaruh film terhadap jiwa manusia (penonton) tidak hanya sewaktu
atau selama duduk di gedung bioskop, tetapi terus sampai waktu yang cukup
lama, misalnya peniruan terhadap cara berpakaian atau model rambut.
2.3.3 Jenis-jenis Film
Jenis-jenis film yang biasa diproduksi adalah:29
1. Film Dokumenter (Documentary Films)
Dokumenter adalah sebutan yang diberikan untuk film pertama karya
Lumiere bersaudara yang berkisah tentang perjalanan (travelogues) yang
dibuat sekitar tahun 1890-an. Film dokumenter menyajikan realita melalui
berbagai cara dan dibuat untuk berbagai macam tujuan. Namun harus diakui,
film dokumenter tak pernah lepas dari tujuan penyebaran informasi,
pendidikan, dan propaganda bagi orang atau kelompok tertentu. Intinya, film
dokumenter tetap berpijak pada hal-hal senyata mungkin.
Seiring dengan perjalanan waktu, muncul berbagai aliran dari film
documenter misalnya dokudrama (docudrama). Dalam dokudrama, terjadi
reduksi realita demi tujuan-tujuan estetis, agar gambar dan cerita menjadi
lebih menarik. Sekalipun demikian, jarak antara kenyataan dan hasil yang
29
Heru Effendy, Mari Membuat Film: Panduan Menjadi Produser, Yogyakarta, 2005, halaman
11-14.
29
tersaji lewat dokudrama biasanya tak berbeda jauh. Dalam dokudrama, realita
tetap menjadi pegangan.
2. Film Cerita Pendek (Short Films)
Durasi film cerita pendek biasanya di bawah 60 menit. Di banyak
negara seperti Jerman, Australia, Kanada, Amerika Serikat dan juga
Indonesia, film cerita pendek dijadikan laboratorium eksperimen dan batu
loncatan bagi seseorang/sekelompok orang untuk kemudian memproduksi
film cerita panjang.
Jenis film ini banyak dihasilkan oleh para mahasiswa jurusan film atau
orang/kelompok yang menyukai dunia film dan ingin berlatih membuat film
dengan baik. Sekalipun demikian, ada juga yang memang mengkhususkan diri
untuk memproduksi film pendek, umumnya hasil produksi ini dipasok ke
rumah-rumah produksi atau saluran televisi.
3. Film Cerita Panjang (Feature-Length Films)
Film dengan durasi lebih dari 60 menit lazimnya berdurasi 90-100
menit. Film yang diputar di bioskop umumnya termasuk dalam kelompok ini.
Film-film jenis lain:
1. Profil Perusahaan (Corporate Profile)
Film ini diproduksi untuk kepentingan institusi tertentu berkaitan
dengan kegiatan yang mereka lakukan, misal tayangan “Usaha Anda” di
SCTV. Film ini sendiri berfungsi sebagai alat bantu presentasi atau
promosi.
30
2. Iklan Televisi (TV Commercial)
Film ini diproduksi untuk kepentingan penyebaran informasi, baik
tentang produk (iklan produk) maupun layanan masyarakat (iklan layanan
masyarakat atau public service announcement/PSA). Iklan produk
biasanya menampilkan produk yang diiklankan secara eksplisit, artinya
ada stimulus audio-visual yang jelas tentang produk tersebut. Sedangkan
iklan layanan masyarakat menginformasikan kepedulian produsen suatu
produk terhadap fenomena sosial yang diangkat sebagai topik iklan
tersebut. Dengan demikian, iklan layanan masyarakat umumnya
menampilkan produk secara implisit.
3. Program Televisi (TV Programme)
Program ini diproduksi untuk konsumsi pemirsa televisi. Secara
umum, program televisi dibagi menjadi dua jenis yakni cerita dan
noncerita. Jenis cerita terbagi menjadi dua kelompok yakni fiksi dan
nonfiksi. Kelompok fiksi memproduksi film serial (TV series), film
televisi/FTV (populer lewat saluran televisi SCTV) dan film cerita pendek.
Kelompok
nonfiksi
menggarap
aneka
program pendidikan,
film
dokumenter atau profil tokoh dari daerah tertentu. Sedangkan program non
cerita sendiri menggarap variety show, TV quiz, talkshow, dan
liputan/berita.
4. Video Klip (Music Video)
Video klip adalah sarana bagi produser musik untuk memasarkan
produknya lewat media televisi. Dipopulerkan pertama kali lewat saluran
31
televisi MTV tahun 1981. Di Indonesia, video klip ini sendiri kemudian
berkembang sebagai bisnis yang mengiurkan seiring dengan pertumbuhan
televisi swasta. Akhirnya video klip tumbuh sebagai aliran dan industri
tersendiri. Beberapa rumah produksi mantap memilih video klip menjadi
bisnis utama (core business) mereka. Di Indonesia tak kurang dari 60
video klip diproduksi tiap tahun.
2.3.4 Unsur-unsur Film
Produksi film melibatkan sejumlah keahlian tenaga kreatif yang
menghasilkan bahasa film yang harus dikenali karena film bercerita tentang
kehidupan dan segala hal di dunia, sehingga penting untuk mengenali dan
memahami teknik-teknik visual dan filmis atau unsur-unsur film sebagai
berikut:30
1. Sutradara
Sutradara memiliki tanggung jawab yang meliputi aspek-aspek kreatif,
baik interpretatif maupun teknis dari sebuah produksi film. Sutradara juga
harus mampu membuat film dengan wawasan serta keartistikan untuk
mengontrol film dan awal produksi hingga tahap penyelesaian. Dengan
demikian, seorang sutradara harus membuat unsur-unsur yang terpisah
menjadi suatu kesatuan dan mengisi film dengan atau jiwa dan makna.
30
Marselli Sumarno, Dasar-Dasar Apresiasi Film, PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta,
1996, halaman 31-84.
32
2. Penulis skenario
Skenario film atau script diibaratkan kerangka bagi tubuh manusia.
Skenario yang baik dinilai dari efektifitasnya sebagai cetak biru untuk sebuah
film. Skenario film harus disampaikan dalam deskripsi visual dan harus
mengandung ritme adegan beserta dialog yang selaras dengan tuntutan sebuah
film.
3. Penata fotografi
Penata fotografi atau juru kamera bekerja sama dengan sutradara untuk
menentukan jenis shot, jenis lensa, membuat komposisi dari subjek yang
hendak direkam. Ia juga bertanggungjawab memeriksa hasil syuting dan
menjadi pengawas pada proses film di laboratorium agar mendapatkan hasil
karya yang bagus.
4. Penyunting
Seorang editing atau editor bertugas menyusun hasil syuting hingga
membentuk pengertian cerita agar sempurna dan mendapatkan isi yang
diinginkan.
5. Penata artistik
Tata artistik berarti penyusunan segala sesuatu melatarbelakangi cerita
film
atau
yang
disebut
dengan
setting.
Penata
artistik
bertugas
menerjemahkan konsep visual sutradara kepada pengertian-pengertian visual.
Penata artistik didampingi oleh tim kerja yang terdiri dari penata kostum,
bagian make up, tenaga dekorasi, dan jika diperlukan tenaga pembuat efek
khusus.
33
6. Penata suara
Penata suara adalah media audio-visual dalam film, yang akan membuat
pertunjukkan film menjadi lebih hidup.
7. Penata musik
Sejak dulu musik diangap penting untuk mendampingi film, karena
musik memiliki fungsi:
a. Merangkaikan adegan.
b. Menutupi kelemahan atau cacat dalam film.
c. Menunjukkan suasana batin tokoh-tokoh utama film.
d. Menunjukkan suasana waktu dan tempat.
e. Mengiringi kemunculan susunan kerabat kerja atau nama-nama
pendukung produksi.
f. Mengiringi adegan dengan ritme yang cepat.
g. Mengantisipasi adegan mendatang dan membentuk ketegangan
dramatik.
h. Menegaskan karakter lewat musik.
8. Pemeran/Cast
Akting film diartikan sebagai kemampuan berlaku sebagai orang lain.
Seorang pemeran harus memiliki kecerdasan untuk menguasai diri dan
melakukan pengamatan serta latihan sebelum pelaksanaan syuting. Delapan
syarat kita dapat menikmati akting dalam film:
a. Pemilihan pemeran yang tepat dalam setiap produksi film.
b. Make up yang memuaskan.
34
c. Pemahaman yang cerdas dari pemeran tentang peran yang dibawakan.
d. Kecakapan pemeran dalam menampilkan emosi tertentu.
e. Kewajaran dalam akting.
f. Kecakapan menggunakan dialog.
g. Memiliki kemampuan untuk melakukan timing, yaitu tampil dengan
tepat, berbicara pada saat yang tepat, bergerak dengan waktu yang
cepat.
2.3.5 Fungsi Film
Fungsi film ada dua, yakni:31
a. Fungsi hiburan
Dalam
mensejahterahkan
rohani
manusia
karena
membutuhkan
kepuasan batin untuk melihat secara visual serta pembinaan.
b. Fungsi penerangan
Dalam film segala informasi dapat disampaikan secara audio-visual
sehingga dapat mudah dimengerti.
c. Fungsi pendidikan
Dapat memberikan contoh suatu peragaan yang bersifat mendidik,
tauladan di dalam masyarakat dan mempertontonkan perbuatan-perbuatan
yang baik.
31
Buku Sejarah PPH UI, Jakarta, 1998, halaman 48.
35
2.3.6 Jenis Cerita Film
Cerita dapat dikelompokkan ke dalam beberapa jenis, yakni:32
1. Drama
Cerita drama adalah jenis cerita fiksi yang bercerita tentang kehidupan
dan perilaku manusia sehari-hari. Jenis cerita drama jika mengikuti teori
Aristoteles, hanya digolongkan menjadi tragedi, komedi, dan gabungan antara
tragedi dan komedi.
2. Drama tragedi
Cerita drama yang termasuk jenis ini adalah cerita yang berakhir
dengan duka lara atau kematian.
3. Drama komedi
Jenis drama ini dapat digolongkan menjadi beberapa jenis lagi:
a. Komedi situasi, cerita lucu yang kelucuannya bukan berasal dari para
pemain, melainkan karena situasinya.
b. Komedi slapstic, cerita lucu yang diciptakan dengan adegan menyakiti
para pemainnya, atau dengan gerak vulgar dan kasar.
c. Komedi satire, cerita lucu yang penuh sindiran tajam.
d. Komedi farce, cerita lucu yang bersifat dagelan, sengaja menciptakan
kelucuan-kelucuan dengan dialog dan gerak laku lucu.
4. Drama misteri
Jenis ini dapat dibagi lagi menjadi beberapa bagian:
32
Elizabeth Lutters, Kunci Sukses Menulis Skenario, PT. Gramedia Widiasarana Indonesia,
Jakarta, 2006, halaman 35-38.
36
a. Kriminal, misteri yang sangat terasa unsur ketegangannya/suspense,
dan
biasanya
menceritakan
seputar
kasus
pembunuhan
atau
pemerkosaan. Si pelaku biasanya akan menjadi semacam misteri
karena penulis skenario memperkuat alibinya. Sering kali dalam cerita
jenis ini, beberapa tokoh bayangan dimasukkan untuk mengecoh
penonton.
b. Horor, misteri yang bercerita tentang hal-hal yang berkaitan dengan
roh halus atau makhluk yang menakutkan, semacam setan.
c. Mistik, misteri yang bercerita tentang hal-hal yang bersifat klenik,
perdukunan, atau unsur gaib.
5. Drama action/laga
a. Modern, cerita drama yang lebih banyak menampilkan adegan
perkelahian atau pertempuran, namun dikemas dalam setting yang
modern.
b. Tradisional, cerita drama yang juga menampilkan adegan laga, namun
dikemas secara tradisional.
6. Melodrama
Cerita ini bersifat sentimental dan melankolis. Ceritanya cenderung
terkesan mendayu-dayu dan mendramatisir kesedihan. Emosi penonton
dipancing untuk merasa iba pada tokoh protagonis dengan menampilkannya
sedemikian rupa.
37
7. Drama sejarah
Drama sejarah adalah cerita jenis drama yang menampilkan kisahkisah sejarah masa lalu, baik tokoh maupun peristiwanya.
2.4
Penceritaan Film
2.4.1 Tema Cerita
Tema cerita adalah pokok pikiran dalam sebuah karangan. Atau, dapat
diartikan pula sebagai dasar cerita yang ingin disampaikan oleh penulisnya.
1. Percintaan
Tema
cerita
paling
umum,
dan
hampir
tiap
sinetron/film
menampilkannya, adalah seputar percintaan.
2. Rumah tangga
Tema ini biasanya bercerita tentang problema rumah tangga atau
keluarga. Mulai dari kisah seorang ibu yang bekerja di luar rumah sehingga
tidak sempat mengurus anak-anaknya, sampai konflik dengan suaminya.
Atau, cerita tentang seorang bapak yang terpaksa bekerja keras menjadi
tukang becak untuk menghidupi keluarganya.
3. Perselingkuhan
Tema ini bercerita tentang seorang suami atau istri yang tertarik pada
wanita atau pria lain. Cerita ini biasanya berawal dari munculnya masalah
dalam kehidupan rumah tangga, lalu timbullah konflik. Kemudian, salah
satu dari pasangan suami-istri itu menemukan teman curhat (curahan hati)
38
yang kebetulan berlainan jenis kelamin. Hubungan pun semakin erat, hingga
terjadilah perselingkuhan.
4. Pembauran
Tema pembauran di Indonesia lebih banyak bercerita tentang asimilasi
(perkawinan/persatuan) warga pribumi dengan keturunan Cina.
5. Persahabatan
Tema ini biasanya banyak terdapat dalam film atau sinetron anak-anak
dan remaja. Dalam setting cerita remaja di sekolah, selalu ditampilkan
dengan persahabatan antar si tokoh dan gengnya. Umumnya seorang tokoh
protagonis didampingi dua atau tiga teman. Demikian pula dengan antagonis
yang jadi rivalnya, pasti didampingi oleh sahabat-sahabatnya.
6. Kepahlawanan/Heroik
Tema kepahlawanan banyak terdapat pada sinetron atau film anakanak. Biasanya tokoh utamanya adalah seorang yang hebat dan memiliki
kelebihan dibanding manusia pada umumnya. Misalnya, tokoh itu bisa
terbang atau menghilang. Namun, di antara tokoh-tokoh hebat tersebut ada
satu hal yang sama, yakni sifat tokoh yang selalu menolong dan membela
kebenaran. Penampilan tokoh ini selalu menarik, telihat dari kostum dan
dandanannya yang berbeda dari manusia biasa.
7. Petualangan
Tema petualangan biasanya banyak terdapat pada cerita anak dan
remaja. Dalam tema ini penulis sering menampilkan setting hutan atau
39
rumah tua, seperti dalam kisah-kisah 5 (lima) sekawan. Atau, kisah tentang
para remaja yang kemping di hutan dan mendaki gunung.
8. Balas dendam
Balas dendam juga banyak dipakai sebagai tema sebuah cerita. Ceritacerita yang kategori umum banyak menampilkan tema ini terutama pada
kisah laga/action. Jenis film bertemakan balas dendam biasanya ada pada
film-film koboi, silat, atau mafia.
9. Keagamaan/Religi33
2.4.2 Struktur Cerita
1. Inti Cerita
Inti cerita atau premise akan menjadi dasar dalam membentuk plot cerita
(plotline). Intisari cerita bisa dikaitkan dengan pesan yang ingin disampaikan
oleh cerita, atau sesuatu yang menentukan arah cerita.
2. Plot
Plot adalah jalan cerita atau alur cerita dari awal, tengah, dan akhir.34
Plot dapat dibagi menjadi:35
a.
Plot lurus
Plot lurus biasa disebut plot linier. Plot ini banyak digunakan dalam
membuat skenario untuk cerita-cerita lepas semacam telesinema, FTV, film,
atau juga serial lepas. Plot linier adalah plot yang alur ceritanya terfokus
33
Ibid., halaman 41-45.
Sony Set dan Sidharta, Menjadi Penulis Skenario Profesional, PT. Gramedia Widiasarana
Indonesia, Jakarta, 2003, halaman 26.
35
Elizabeth Lutters, Kunci Sukses Menulis Skenario, Op. cit., halaman 50-51.
34
40
hanya pada konflik seputar tokoh sentral. Misalnya, tokoh sentral berkonflik
dengan pacarnya, dengan orang tuanya, dengan dirinya sendiri, dan
sebagainya. Namun, semua konflik tetap harus berkesinambungan dengan
benang merah cerita. Konfliknya tidak bisa terpisah-pisah.
b. Plot bercabang
Plot bercabang biasa disebut multiplot. Plot ini lebih banyak dipakai
untuk memuat skenario serial panjang. Multiplot adalah plot yang jalan
ceritanya sedikit melebar ke tokoh lain. Meski begitu, melebarnya tidak
boleh terlalu jauh, harus masih berhubungan dengan tokoh sentral.
Plot dalam sebuah film memiliki pola-pola yakni:36
a. Pola cinta
Disini pemuda ketemu gadis, pemuda kehilangan gadis, pemuda dapat
gadis lain sebagai penyelesaian cerita.
b. Pola sukses
Pola ini berkaitan dengan perjuangan seseorang dalam mencapai
sukses. Perjuangan akan tercapai atau gagal, sesuai dengan jenis cerita.
c. Pola Cinderella
Ini adalah kisah kuno tentang “itik buruk” yang nantinya menjelma
sebagai gadis cantik.
d. Pola segitiga
Hubungan cinta antara tiga protagonis.
36
Misbach Yusa Biran, Teknik Menulis Skenario Film Cerita, Op. cit., halaman 178-180.
41
e.
Pola kembali
Pola ini meliputi cerita-cerita seperti: kembalinya secara dramatik si
anak yang hilang, kembalinya ayah yang kabur, pulangnya isteri yang
menyeleweng.
f.
Pola balas dendam
Ini adalah pola dasar sebagian besar cerita misteri pembunuhan.
g. Pola konversi
Pola ini bertutur mengenai kisah orang jahat yang berubah menjadi
insaf.
h. Pola pengorbanan
Pada pola ini seseorang dikisahkan mengorbankan kepentingan dirinya
untuk menolong orang lain mencapai tujuan.
i. Pola keluarga
Kisah berlangsung dalam satu kelompok orang yang tergabung sebagai
suatu keluarga.
2.4.3 Struktur Tiga Babak
1. Babak I
-
Perkenalan karakter tokoh
-
Menghadapkan pada problema atau krisis
-
Memperkenalkan antagonis
-
Membangun alternatif yang mengerikan
42
2. Babak II
Intensif problem sang tokoh dengan sejumlah komplikasi
3. Babak III
Pemecahan masalah yakni selamat, sukses atau sebaliknya tragis.
2.4.4 Karakter atau Penokohan
Karakter adalah pemain yang melakukan dialog dalam scene dan
selalu ditulis dalam huruf besar. Karakter dapat berupa manusia (laki-laki dan
perempuan), hewan, robot, komputer atau makhluk-makhluk tertentu yang
breperan dalam isi dialog. Secara garis besar terdapat pembagian jenis-jenis
karakter yang mewarnai sebuah cerita.37
1. Karakter Protagonis
Karakter ini sering disebut sebagai karakter utama. Ia mewakili sisi
kebaikan dan mencerminkan sifat-sifat kebenaran yang mewarnai setiap
aktivitas dalam cerita.
2. Karakter Sidekick
Karakter ini berpasangan dengan karakter protagonis. Tugasnya
membantu setiap tugas yang diemban sang karakter protagonis.
3. Karakter Antagonis
Karakter antagonis selalu berlawanan dengan karakter protagonis. Ia
selalu berupaya menggagalkan setiap upaya karakter protagonis dalam
menyelesaikan tugas dan tanggung jawabnya.
37
Sony Set dan Sidharta, Menjadi Penulis Skenario Profesional, Op. cit., halaman 74.
43
4. Karakter Kontagonis
Kontagonis adalah karakter yang membantu setiap aktivitas yang
dilakukan antagonis dalam menggagalkan langkah sang protagonis.
5. Karakter Skeptis
Sesuai dengan sifat skeptis yang disandangnya, tokoh ini adalah karakter
yang paling tidak peduli terhadap aktivitas yang dilakukan sang tokoh
protagonis.
2.4.4.1 Tipologi Tokoh
Tipologi adalah istilah psikologis untuk membedakan manusia
berdasarkan tipe. Agar lebih sederhana, tipologi tokoh ini dapat dibedakan
menjadi tipe fisik dan tipe psikis, dengan menggunakan teori dari dua tokoh
yang berbeda.
1. Tipologi tipe fisik
Tipe ini bisa disebut penggolongan tipe manusia berdasarkan
bentuk tubuh, berdasarkan teori E. Kretschmer. Tipologi Kretschmer
ada 4 tipe, yaitu:
a. Piknis
Tipe piknis mengarah pada tubuh dengan ciri-ciri pendek dan
gemuk (berat badan melebihi berat normal). Jenis tubuh ini
memperlihatkan banyak lemak sehingga tulang-tulangnya tidak
tampak. Kegemaran tipologi piknis yang paling menonjol adalah
suka makan dan tidur.
44
b. Leptosom
Tipe leptosom mengarah pada tubuh tinggi dan kurus (berat
badan kurang dari normal). Jenis tubuh ini adalah kebalikan dari
piknis sehingga tulang-tulangnya pun terlihat menonjol. Wajahnya
cenderung memelas atau sedih. Kegemaran atau hobi dari tipe ini
adalah membaca buku, suka menyendiri, dan melamun. Karakter
dari tipe ini kebalikan dari karakter tipe piknis, yaitu melankolis.
c. Atletis
Tipe atletis mengarah pada bentuk tubuh yang tinggi dan
kekar. Tidak banyak lemak, tapi tidak juga tampak tulang-tulang di
tubuhnya. Yang tampak menonjol adalah urat-uratnya. Biasanya
badannya tegap dan kuat. Perbandingan tinggi dan berat badan
seimbang. Kegemaran atau hobi manusia dengan tipologi ini yang
utama adalah olahraga dan bekerja kasar. Karakter yang menyertai
tipologi ini adalah koleris.
d. Displastis
Tipe displastis adalah bentuk tubuh yang khas atau tidak
umum. Kategori ini tidak dapat dijabarkan dengan detail tertentu,
mengingat tipe ini menyimpang dari konstitusi normal, atau bisa
dibilang spesifik. Kegemaran atau hobinya pun tidak dapat
dipertegas. Hanya untuk karakter, biasanya tipe ini adalah
flegmantis.
45
2. Tipologi tipe psikis
Menurut teori Immanuel Kant, tipologi tipe psikis dibagi ke
dalam empat tipe, yaitu:
a. Sanguinis
Sifat-sifat dasar: periang, ramah, suka tertawa atau gembira,
mudah berganti haluan.
b. Melankolis
Sifat-sifat dasar: pemurung, penuh angan-angan, muram,
pesimistis, mudah kecewa, daya juang kurang, bila mengerjakan
sesuatu mesti dipikir dengan matang.
c. Koleris
Sifat-sifat dasar: hidup keras, bersemangat, daya juang besar,
optimistis, hatinya mudah terbakar atau terpengaruh, mudah marah
dan kasar.
d. Flegmantis
Sifat-sifat dasar: tidak suka buru-buru, kalem, tenang, tidak
mudah dipengaruhi, setia.38
2.4.5 Unsur Dramatik
Unsur dramatik dalam istilah lain disebut dramaturgi, yakni unsurunsur yang dibutuhkan untuk melahirkan gerak dramatik pada cerita atau pada
pihak pikiran penontonnya.
38
Elizabeth Lutters, Kunci Sukses Menulis Skenario, Op. cit., halaman 70-76.
46
1. Konflik
Konflik adalah permasalahan yang kita ciptakan untuk menghasilkan
pertentangan dalam sebuah keadaan sehingga menimbulkan dramatik yang
menarik. Konflik biasanya timbul jika seorang tokoh tidak berhasil mencapai
apa yang diinginkannya. Sasaran pelampiasannya bisa bermacam-macam,
misal tokoh lawannya, tokoh pendampingnya, diri sendiri, binatang, atau
benda-benda yang berada di sekitarnya. Konflik bisa bermacam-macam
bentuknya, bisa meledak-ledak, bisa datar tapi tajam, dan bisa juga konflik
dalam diri sendiri atau konflik batin.
2. Suspense
Suspense adalah ketegangan. Ketegangan yang dimaksudkan di sini
tidak berkaitan dengan hal yang menakutkan, melainkan menanti sesuatu yang
bakal terjadi, atau H2C (harap-harap cemas). Penonton digiring agar merasa
berdebar-debar menanti risiko yang bakal dihadapi oleh tokoh dalam
mengahadapi problemnya. Hal ini biasanya sering menimpa tokoh protagonis
sehingga suspense pada penonton semakin tinggi tensi-nya, dibandingkan jika
tokoh antagonis yang menghaapi hambatan.
Ketegangan penonton akan semakin terasa jika penonton tahu hambatan
yang dihadapi tokoh cukup besar dan keberhasilannya semakin kecil. Pada
film-film action, unsur ini sangat dominan dibandingkan pada film-film
drama. Namun, pada semua cerita drama, unsur ini juga sangat penting dan
tak bisa diabaikan begitu saja..
47
3. Curiosity
Curiosity adalah rasa ingin tahu atau penasaran penonton terhadap
sebuah adegan yang kita ciptakan. Hal ini bisa ditimbulkan dengan cara
menampilkan sesuatu yang aneh sehingga memancing keingintahuan
penonton. Atau, bisa juga dengan berusaha mengulur informasi tentang
sebuah masalah sehingga membuat penonton merasa penasaran.
4. Surprise
Surprise adalah kejutan. Dalam penjabaran sebuah cerita, perasaan
surprise pada penonton timbul karena jawaban yang mereka saksikan adalah
di luar dugaan.39
2.4.6 Bahasa Film
“Bahasa” dalam pengertiannya, yakni sebagai sistim, lambang, tandatanda (signs) sebagai alat untuk berkomunikasi. Sarana fisik dari bahasa adalah
media gambar (visual) dan media suara (audio). Kemampuan masing-masing
unsur media visual dan media suara berfungsi sebagai alat komunikasi dan alat
untuk menciptakan dramatik.40
a. Media visual
Media gambar atau visual adalah segala sesuatu yang diinformasikan
bagi mata. Unsur-unsur media visual, dalam rangka penyajian cerita adalah:
pelaku (aktor), set (tempat kejadian), properti dan cahaya. Artinya informasi
cerita yang akan disampiakan kepada mata penonton adalah dengan
39
40
Elizabeth Lutters, Kunci Sukses Menulis Skenario, Op. cit., halaman 100-103.
Misbach Yusa Biran, Teknik Menulis Skenario Film Cerita, Op. cit., halaman 45.
48
penampilan akting pelaku, dengan penampilan set, dengan pengkaitan properti
dengan set atau pelaku dengan cahaya menurut penataan tertentu. Media
visual pada pertunjukan film menjadi andalan utama dalam menyampaikan
informasi kepada penonton.
b. Media audio
Media audio berfungsi sebagai pendukung visual/gambar.
41
Media
audio adalah media informasi yang berbentuk suara, yang diterima oleh
penonton dengan indra telinganya. Unsur-unsur media audio terdiri dari dialog,
sound effect, dan ilustrasi musik.42
2.4.7 Setting Cerita
Setting cerita adalah lokasi tempat cerita ini ingin ditempatkan atau
diwadahi.
a. Media/tempat
Setting dalam arti media dapat dibedakan menjadi in door dan out door.
Setting in door selain diartikan sebagai setting di dalam ruangan (dalam
rumah), juga diartikan setting buatan di dalam studio. Sedangkan setting out
door dibuat di luar studio.
41
42
Ibid., halaman 47.
Ibid., halaman 61.
49
b. Budaya
Setting dikaitkan dengan budaya tertentu. Semua unsur yang terkait
dengan setting tersebut disesuaikan dengan daerah dan budaya yang akan
ditampilkan.43
2.4.8 Sudut Pandang
Pengambilan sudut pandang oleh pengarang adalah untuk memberi
kesan akhir yang dia inginkan. Menilai ketepatan sudut pandang yang dipakai
adalah dengan melihat betul-tidaknya pengertian akhir yang bisa ditimbulkan.44
2.5
Novel Sebagai Sumber Skenario Film
2.5.1 Pengertian Novel
The Dictionary of Contemporary American English, Monroe Allen
Publishers Inc., 2000: 1023 menjelaskan novel sebagai berikut: “Novel a fulllength work of fiction (noun). New and different (adj.) ả he thought of a novel
solution to the problem.” Sementara itu, kamus Inggris-Indonesia susunan John
M. Echols dan Hassan Shadily, Gramedia Pustaka Utama, Maret 2002: 389
mengartikan, “Novel = (cerita) roman.” Sedangkan Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI) edisi ketiga, Pusat Bahasa, Depdiknas-Balai Pustaka, 2001:
788 menjelaskan: “Novel adalah karangan prosa yang panjang mengandung
43
44
Elizabeth Lutters, Kunci Sukses Menulis Skenario, Op. cit., halaman 56-58.
Misbach Yusa Biran, Teknik Menulis Skenario Film Cerita, Op. cit., halaman 239-240.
50
rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang disekeliling dengan
menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku.”45
Novel dalam pengertian umum adalah cerita karangan yang panjang
dalam bentuk prosa, yang mengemukakan watak-watak, menampilkan
serangkaian peristiwa dan latar secara sistematik. Jadi, novel merupakan sebuah
cerita tentang manusia dan boleh juga tentang binatang atau makhluk lain.46
Sedangkan novel secara luas diartikan sebagai cerita panjang yang
berwujud prosa. Penekanan novel lebih terletak pada “kekinian” baik berupa
kenyataan formal maupun persoalan.47
Novel adalah sebuah karya fiksi prosa yang tertulis dan naratif;
biasanya dalam bentuk cerita. Kata novel berasal dari bahasa Italia novella yang
berarti "sebuah kisah, sepotong berita". Novel lebih panjang (setidaknya 40.000
kata) dan lebih kompleks dari cerpen, dan tidak dibatasi keterbatasan struktural
dan metrikal sandiwara atau sajak.
Umumnya sebuah novel bercerita tentang tokoh-tokoh dan kelakuan
mereka dalam kehidupan sehari-hari, dengan menitikberatkan pada sisi-sisi yang
aneh dari naratif tersebut. Novel dalam bahasa Indonesia dibedakan dari roman.
Sebuah roman alur ceritanya lebih kompleks dan jumlah pemeran atau tokoh
cerita juga lebih banyak.48
45
R. Masri Sareb Putra dan Yennie Hardiwidjaja, How to Write and Market a Novel, Kolbu,
Bandung, 2007, halaman 21.
46
Othman Puteh, Persediaan Menulis Novel, Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pendidikan
Malaysia, Kuala Lumpur, 1992, halaman 18.
47
Jakob Sumardjo, Segi Sosiologis Novel Indonesia, Pustaka Prima, Jakarta,1981, halaman 12.
48
http://id.wikipedia.org/wiki/Novel
51
2.5.2 Karakteristik Novel
Novel memiliki beberapa karakter yang memberikan identitas pada
sebuah novel: 49
2. Ceritanya panjang (lebih panjang dari cerpen).
3. Memiliki lebih dari satu alur (terdiri dari beberapa alur).
4. Peristiwa pada novel akan senantiasa berkembang.
5. Manuskrip novel mengandung antara 25.000 hingga 40.000 perkataan,
atau antara 120-200 halaman berukuran kuarto atau A4.
6. Dari segi tempo bercerita, novel bergerak cepat dan meyakinkan.
7. Setiap bab tidak terlalu panjang.
8. Ada cetusan konflik dalam bercerita.
9. Watak/karakter didalam cerita bisa berubah-ubah, dari antagonis menjadi
protagonis dan begitupun sebaliknya.
10. Background (latar) ceritanya dapat bermacam-macam dan bisa berpindahpindah dari satu tempat ke tempat yang lain.
11. Lebih detail/lengkap menggambarkan situasi dan kondisi.
2.5.3 Jenis-Jenis Novel
Dilihat dari isi dan wilayahnya, novel dapat digolongkan menjadi
sembilan jenis yaitu:50
49
50
Wawancara dengan Boim Lebon, Penulis, Jakarta, tanggal 25 April 2008.
R. Masri Sareb Putra dan Yennie Hardiwidjaja, How to Write and Market a Novel ,Op. Cit.,
halaman 22-26.
52
1. Picaresque novel
Novel ini berbentuk episodik dan berisi kisah-kisah petualangan yang
eksentrik dan kisah kepahlawanan yang luar biasa. Contohnya novel
petualangan Dwianto Setyawan, seperti Terlibat di Trowulan dan Terlibat di
Bromo.
2. Epistolary novel
Bentuk novel ini seperti surat/jurnal, buku harian. Gaya penulisannya
populer, menggunakan tokoh “aku”. Biasanya, novel jenis ini berbentuk
catatan harian pribadi, atau diawali seperti pesan singkat atau sms. Novel
yang mengambil bentuk jenis ini adalah karya Dyan Nuranindya dengan
Dealova, Yennie Hardiwidjaja dengan Miss Jutek, dan lain sebagainya.
3. Historical novel
Dalam bahasa Indonesia disebut novel historis, yakni novel yang
mengambil latar sejarah. Beberapa novel Pramoedya ananta Toer dapat
disebut sebagai novel sejarah karena mengambil setting sejarah.
4. Regional novel
Regional novel ialah novel yang mengambil setting disuatu daerah
tertentu. Novel Ashadi Siregar, Cintaku di Kampus Biru dapat dimasukkan
dalam jenis novel ini. Karena setting novelnya mengambil setting kampus
Universitas Gajah Mada, Jogjakarta.
5. Bildungsroman
Istilah ini berasal dari bahasa Jerman, yang secara harfiah berarti novel
perkembangan. Jenis novel ini mengambil setting perkembangan anak-anak,
53
termasuk juga autobiografi fiktif. Contohnya karya Charles Dickens berjudul
Great Expectations.
6. Roman ả thẻse
Istilah ini berasal dari bahasa Perancis yang secara harfiah berarti novel
yang ditulis dengan argumen. Novel jenis ini didasarkan pada masalah sosial
atau politik yang mencerminkan kenyataan dan mencari pengaruh perubahan
sosial dalam masyarakat, seperti novel Parakitri T.Simbolon, Kusni Kasdut
(1979).
7. Roman ả clef
Berasal dari bahasa Perancis yang secara harfiah berarti novel yang
mempunyai “kunci” khusus. Novel yang ditulis berdasarkan imajinasi satu
pihak, dipadukan dengan karakter manusia secara terselubung di pihak lain.
Sebagai contoh, karya Aldous Huxley berjudul Pont Counter Point (1928).
8. Roman-fieuve
Arti harfiah dari bahasa Perancisnya ialah novel arus. Tema atau
cakupan dari karakter novel ini terlentang luas dan panjang, membentuk
sejumlah novel. Sebagai contoh, novel Antony Powel, A Dance to the Music
of Time (1951-1928).
9. Non-fictional novel
Bertentangan dengan namanya, novel jenis ini ialah novel yang ditulis
berdasarkan kisah nyata masa kini dan benar-benar dialami. Contohnya novel
Norman Mailer berjudul The Executioner’s Story (1965).
54
2.6
Penceritaan Novel
2.6.1 Tema
Secara harfiah, tema berarti makna yang dikandung oleh sebuah
cerita. Makna yang terdapat pada sebuah tema masih bersifat umum dan masih
perlu dibuat secara mendetail.
2.6.2 Alur
Alur atau sering disebut dengan plot ialah rangkaian peristiwa yang
direka dan dijalin dengan seksama dan menggerakkan jalan cerita melalui
kerumitan ke arah klimaks dan penyelesaian (KBBI, 2001: 33). Jalan cerita
berbeda dengan logika cerita. Jalan cerita merupakan langkah demi langkah
membangun sebuah peristiwa. Jalan cerita tidak harus tegak lurus berdasarkan
kronologi waktu, masa lampau, kini, dan akan datang.
Sebuah cerita merupakan rangkaian peristiwa, yang disajikan dengan
urutan tertentu, seperti pendapat Panuti Sudjiman berikut: “Didalam cerita
rekaan berbagai peristiwa disajikan dengan urutan tertentu. Peristiwa yang
diurutkan itu membangun tulang punggung cerita yaitu alur. (1998: 29)
Urutan tertentu itu menghasilkan irama alur yang dapat dibedakan
menjadi awal, tengah dan akhir (ibid: 30)
Dalam alur cerita novel terdapat tiga kata kunci, yaitu watak, latar
waktu dan latar tempat. Jadi, tiap-tiap peristiwa yang dialami oleh tokoh dalam
cerita dapat disusun dengan berbagai ragam pola, seperti susunan pola
berdasarkan urutan waktu berlakunya berikut:
55
Urutan Peristiwa
a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z
G A B H I J D F T U W Y Z
Urutan Plot
Dari a sampai z adalah urutan peristiwa dalam kehidupan seorang
tokoh. Akan tetapi, tidak berarti pula semua kejadian dalam kehidupan watak itu
akan ditampilkan secara berurutan dan lengkap sejak dari waktu kelahirannya
hingga ke akhir hayat sang tokoh. Peristiwa-peristiwa yang dipilih adalah
peristiwa yang penting dan bermakna untuk dapat membina cerita.
Urutan peristiwa dapat disusun secara berurutan, yang sifatnya
kronologis. Atau dapat pula secara flashback. Yang penting harus diperhatikan
dalam pengaluran peristiwa cerita adalah hubungan sebab-akibat (kausaliti)
dalam suatu cerita. E.M. Forster dalam buku Aspect of the novel (1955:86)
menegaskan:
....... a story as a narrative of events arranged their time-sequence. A
plot is also a narrative of events, the emphasis falling on causality. The king
died and then the queen died, is a story. ‘The king died and the queen died of
grief’, is a plot.
The time-sequence is preserved, but the sense of causality over-shadow
it. Or again: ‘The Queen died, no one knew why, until it was discovered that is
was through grief at the death of king’. This is a plot with a mystery in it, a form
capable of high development..... a plot demands intelligence and memory also.51
51
Othman Puteh, Persediaan Menulis Novel, Op. Cit., halaman 36-37.
56
Sebuah cerita yang dimulai dengan masa sekarang kemudian loncat
ke masa lalu dinamakan flash-back (alur mundur). Cerita dimulai dengan masa
lalu kemudian secara kronologis diceritakan berurut hingga masa depan, disebut
fore-shadowing (alur maju). Dalam pengembangan sebuah alur (plot) cerita
terdapat tiga unsur yang sangat esensial, yaitu:52
1. Peristiwa
Sebuah peristiwa dapat diartikan sebagai peralihan satu keadaan ke
keadaan yang lain.
2. Konflik
Konflik
secara
harfiah
berarti
percecokan,
perselisihan,
dan
pertentangan. Namun dalam sastra, konflik merupakan “ketegangan atau
pertentangan di dalam cerita atau drama (pertentangan antara dua kekuatan,
pertentangan dalam diri satu tokoh pertentangan antara dua tokoh, dan
sebagainya)”. Konflik dalam novel dibedakan menjadi dua, yakni:
a. Konflik internal
Konflik internal adalah konflik yang terjadi dan dialami sang tokoh.
b. Konflik eksternal
Konflik eksternal adalah konflik yang terjadi diluar dirinya, namun
tetap ada pengaruhnya pada pelaku.
52
R. Masri Sareb Putra dan Yennie Hardiwidjaja, How to Write and Market a Novel, Op. Cit.,
halaman 102-106.
57
3. Klimaks dan penyelesaian
Klimaks ialah puncak dari sebuah cerita. Setelah mengalami
pergumulan yang menegangkan dan melelahkan, sampailah pada puncak,
untuk kemudian berakhir (ending).
Struktur alur yang umum dalam penceritaan novel adalah sebagai
berikut:53
a. Permulaan
-
exposition
-
inciting moment
-
rising action
b. Pertengahan
-
konflik
-
complication
-
klimaks
c. Pengakhiran
2.6.3
-
falling action
-
penyelesaian
Karakter atau Penokohan
Istilah “tokoh” menunjuk pada orangnya, pelaku cerita, misalnya dari
pertanyaan: “Siapakah tokoh utama novel itu?”, atau “Ada berapa orang jumlah
pelaku novel itu”, atau Siapakah tokoh protagonis dan antagonis dalam novel
53
Othman Puteh, Persediaan Menulis Novel, Op.Cit., halaman 38.
58
itu?” dan sebagainya. Watak, perwatakan, dan karakter menunjuk pada sikap
dan sifat para tokoh seperti yang ditafsirkan pembaca, lebih menunjuk pada
kualitas pribadi seorang tokoh. Penokohan dan karakterisasi sering disamakan
artinya dengan karakter dan perwatakan menunjuk pada penempatan tokohtokoh tertentu dengan watak tertentu dalam sebuah cerita.
1. Tokoh tumpuan atau tokoh pusat (protagonis)
Tokoh ini menjadi pusat tumpuan perkembangan dalam pengisahan
cerita.
2. Tokoh Penentang (antagonis)
Tokoh ini bukanlah tokoh tumpuan tetapi kehadirannya sangat
diperlukan untuk menyokong atau mendukung peranan watak utama.
3. Tokoh Pipih (datar)
Tokoh ini bersifat statis.54
2.6.4
Setting
Setting atau latar dalam karya fiksi dapat berarti lokasi peristiwa yang
dilukiskan tempat terjadinya addegan-adegan yang dilakoni para tokoh. Latar
memberikan pijakan cerita secara konkrit dan jelas. Setting meliputi tempat,
latar belakang, waktu, dan peristiwa (sejarah misalnya). Selain itu, setting juga
bisa diartikan sebagai suatu suasana yang dibangun penulis dalam sebuah novel.
54
Ibid., halaman 30.
59
2.6.5
Bahasa (Gaya Bahasa)
Bahasa didalam novel melukiskan suasana dalam sebuah novel. Isi,
adegan, pesan, dan keindahan di dalam sebuah novel tidak akan mempunyai
efek dahsyat jika tidak ditunjang dengan bahasa yang baik, benar, indah,
memikat, dan menyentuh.
2.6.6 Sudut Pandang Pencerita
Secara terperinci, sudut pandang dikategorikan menjadi:55
1. Orang pertama tunggal
Pengarang atau pencerita terlibat dalam cerita sebagai tokoh utama dan
atau tokoh pemerhati (sampingan). Sudut pandangan ini dikenali juga sebagai
pencerita akuan karena tokoh utamanya menggunakan kata ganti nama orang
pertama (tunggal) ‘aku’ atau ‘saya’.
2. Orang ketiga serba tahu
Pengarang atau pencerita berada diluar cerita dan mengisahkannya
dengan menggunakan kata ganti nama ‘dia’ dan atau memakai nama tokoh.
3. Orang ketiga terbatas
Menggunakan kata ganti nama orang ketiga ‘dia’ atau menggunakan
nama sebenarnya tokoh. Cuma, dalam novel yang demikian, pengaranng
menentukan satu tokoh saja yang bercerita.
55
Ibid., halaman 44-46.
60
2.6.7
Amanat/Pesan
Amanat atau pesan sering disebut message adalah salah satu pilar
penting dalam novel. Sebuah novel yang tidak mengandung pesan, menjadi
sebuah karya yang dangkal dan tidak banyak faedahnya. Akan tetapi, pesan
yang disampaikan sebaiknya terselubung, dibangun serasi, dan wajar, dengan
karakter atau ucapan yang wajar dari sang tokoh. Yang perlu diperhatikan dalam
penyampaian pesan adalah sebaiknya pesan tersebut tidak bersifat menggurui,
atau juga menyimpulkan pesan itu sesudah bercerita.
61
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1
Sifat Penelitian
Jenis penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan kuantitatif.
Penelitian deskriptif adalah jenis penelitian yang memberikan gambaran atau
uraian atas suatu keadaan sejelas mungkin tanpa ada perlakuan terhadap objek
yang diteliti.56
Penelitian deskriptif ditujukan untuk: (1) mengumpulkan informasi aktual
secara rinci yang melukiskan gejala yang ada, (2) mengidentifikasi masalah atau
memeriksa kondisi dan praktek-praktek yang berlaku, (3) membuat perbandingan
dan evaluasi, (4) menentukan apa yang dilakukan orang lain dalam menghadapi
masalah yang sama dan belajar dari pengalaman mereka untuk menetapkan
rencana dan keputusan pada waktu yang akan datang.57
Selain itu, penelitian deskriptif memiliki tujuan untuk melukiskan secara
sistematis fakta atau karakteristik populasi tertentu atau bidang tertentu secara
faktual dan cermat.58
56
Ronny Kountur, Metode Penelitian Untuk Penulisan Skripsi dan Tesis, PPM, Jakarta, 2003,
halaman 105.
57
Jalaluddin Rakhmat, Metode Penelitian Komunikas, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2007,
halaman 24.
58
Issac dan Michael dalam Jalaludin Rachmat, Metode Penelitian Komunikasi, PT. Remaja Rosda
Karya, Bandung, 2000 halaman 22.
61
62
Metode dekriptif mengumpulkan data secara univariat yang diperoleh
dengan ukuran-ukuran kecenderungan pusat (centaral tendency) atau ukuran
sebaran (dispersion).
Pendekatan kuantitatif yakni, merupakan penelitian yang hasilnya berupa
laporan yang menggunakan bilangan atau angka-angka. Pendekatan kuantitatif
bertujuan melukiskan secara sistematis fakta atau karakteristik populasi tertentu
atau bidang tertentu secara faktual dan cermat.59 Pendekatan kuantitatif
didasarkan atas pendekatan positivisme (klasik/ objektif).60
3.2
Metode Penelitian
Metode penelitian dalam penulisan skripsi ini adalah metode analisis isi
dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Menurut Barelson, analisis isi
sebagai teknik penelitian untuk mendeskripsikan secara objektif, sistematik dan
kuantitatif isi komunikasi yang tampak.61 Objektif berarti bahwa periset harus
mengesampingkan faktor-faktor yang bersifat subjektif atau bias personal,
sehingga hasil analisis benar-benar objektif dan bila dilakukan riset lagi oleh
orang lain, maka hasilnya relatif sama. Sistematik berarti bahwa segala proses
analisis harus tersusun melalui proses yang sistematik, mulai dari penentuan isi
komunikasi yang dianalisis, cara menganalisisnya, maupun kategori yang dipakai
59
Jalaludin Rakhmat, Metode Penelitian Komunikasi, Universitas terbuka, Jakarta, 1995, hal 114.
Rachmat Kriyantono, Riset Komunikasi, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2006, halaman
52.
61
Alex Sobur, Analisis Teks Media, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2002, halaman 145.
60
63
untuk menganalisis.62 Analisis isi digunakan untuk memperoleh keterangan dari
isi komunikasi yang disampaikan dalam bentuk lambang.
3.3
Teknik Pengumpulan Data
3.3.1
Data Primer
Data Primer didapat dengan mengumpulkan data-data dalam bentuk
dokumentasi yang terdiri:
1. Film “Ayat Ayat Cinta”.
2. Novel ”Ayat-Ayat Cinta”.
3.3.2
Data Sekunder
Penulis memilih dua jenis data yang digunakan sebagai data sekunder
untuk menunjang dan melengkapi data, yakni:
1. Wawancara
Peneliti melakukan wawancara dengan pihak penulis novel, penulis
skenario (script writer), produser, pemain/ cast (extra talent), sutradara film
‘Ayat-Ayat Cinta’.
2. Studi kepustakaaan
Peneliti
mempergunakan
buku-buku
sebagai
menunjang penelitian.
62
Rachmat Kriyantono, Riset Komunikasi, Op. Cit., halaman 61-63.
referensi
untuk
64
3.4
Unit Analisis
Unit analisis dalam penelitian ini adalah sequence yang ada pada film
“Ayat Ayat Cinta” serta bab pada novel “Ayat Ayat Cinta”.
3.5
Definisi Konsep dan Operasional Kategorisasi
3.5.1 Definisi Konsep
3.5.1.1 Film
Film ialah karya cipta seni dan budaya yang merupakan media
komunikasi massa audio-visual yang dibuat berdasarkan asas sinematografi
dengan sistem perekaman menggunakan pita seluloid, pita video, piringan
video dan atau bahan hasil penemuan teknologi lainnya dalam segala bentuk
jenis dan atau ukuran melalui proses kimiawi, proses elektronik, atau proses
lainnya dengan sistem proyeksi mekanik, elektronik dan lain sebagainya.
3.5.1.2
Novel
Novel adalah cerita fiktif yang panjang. Terdiri dari satu cerita
pokok, dijalani dengan beberapa cerita sampingan yang lain, banyak
kejadian dan kadang banyak masalah juga. Yang merupakan sebuah
kesatuan yang bulat. Novel menyajikan hasil pemikirannya melalui wujud
penggambaran pengalaman konkrit manusia.
65
3.5.1.3
Kecenderungan Isi Media
Kecenderungan isi media adalah “kecondongan” dari sebuah
media mengarahkan isi dari tayangannya. Apakah ke arah pendidikan,
kontrol sosial, politik, atau hiburan. Hal tersebut dapat terlihat dari bentuk
dan format yang ditunjukkan oleh tayangan dari media tersebut.63
3.5.1.4 Penceritaan
Penceritaan dapat diartikan sebagai rangkaian dari kejadian. 64
Cerita; susunan sebuah cerita yang datar dan berurutan. Sebuah pengertian
yang penting dalam SEMIOLOGI.65
3.5.2
Operasional Kategorisasi
Kategori
1. Tema
63
Sampel
Film
Novel
Percintaan
Rumah tangga
Perselingkuhan
Pembauran
Persahabatan
Kepahlawanan/Heroik
Petualangan
Balas dendam
Keagamaan/Religi
Wawancara dengan Adi Badjuri, Praktisi Jurnalistik, Jakarta, Tanggal 28 Januari 2009.
Nathan Abrams, Ian Bell, Jan Udris, Stuying Film, Oxford University Press Inc. New York,
London, 2001, halaman 132.
65
James Monaco. Cara Menghayati Sebuah Film: jilid 2, diterjemahkan oleh Asrul Sani, Yayasan
Citra, Jakarta, 1984, halaman 200.
64
66
2. Opening
3. Karakter
Tokoh Utama
4. Alur Cerita/ Plot
5. Konflik
6. Gaya Bahasa
7. Closing
8. Pesan
9. Pola Alur/Jalan Cerita
Exposition
Inciting Moment
Rising Action
Protagonis
Sidekick
Antagonis
Kontagonis
Skeptis
Maju
Mundur
Cepat
Lambat
Lurus
Bercabang
Internal
Eksternal
Sehari-hari
Resmi
Bertutur
Audio
Visual
Sad Ending
Happy Ending
Moral
Agama
Sosial
Pola Cinta
Pola sukses
Pola Cinderella
Pola Segitiga
Pola Kembali
Pola Balas Dendam
Pola Konversi
Pola Pengorbanan
Pola Keluarga
10. Sudut Pandang Pencerita Orang Pertama Tunggal
67
11. Unsur Dramatik
12. Tipologi Tokoh
Orang Ketiga Serba
Tahu
Orang Ketiga Terbatas
Konflik
Suspense
Curiosty
Surprise
Piknis
Leptosom
Atletis
Displastis
Sanguinis
Melankolis
Koleris
Flegmantis
3.6 Teknik Analisis Data
Analisis data menurut Palton (1980:268), adalah proses mengatur urutan
data, mengorganisasikannya ke dalam suatu pola kategori, dan satuan uraian
dasar. Ia membedakannya dengan penafsiran, yaitu memberikan arti yang
signifikan terhadap analisis, menjelaskan pola uraian dan mencari hubungan
diantara dimensi-dimensi uraian. Dari rumusan tersebut diatas dapatlah kita
menarik garis bahwa analisis data bermaksud pertama-tama mengorganisasikan
data.66
Setelah peneliti memperoleh data, maka akan mengumpulkan unit analisis.
Unit analisis dipilih berdasarkan jenis-jenisnya, kemudian diteliti dengan cara
66
Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 1998,
halaman 3.
68
dibandingkan antara novel dan film. Berikut tahapan-tahapan yang dilakukan
untuk menganalisis data:67
a. Menyiapkan data
Pengolahan data adalah kegiatan lanjutan setelah pengumpulan data
dilaksanakan pada penelitian kuantitatif, pengolahan data secara umum
dilaksanakan dengan melalui tahapan memeriksa (editing), proses pemberian
identitas (coding) dan proses pembeberan (tabulating).
b. Editing
Editing adalah kegiatan yang dilaksanakan setelah peneliti selesai
menghimpun data di lapangan. Proses editing dimulai dengan memberi identitas
pada instrumen penelitian yang telah terjawab. Kemudian memeriksa satu per
satu lembaran instrumen pengumpulan data, kemudian memeriksa poin-poin
serta jawaban yang tersedia.
c. Pengkodean
Setelah tahap editing selesai dilakukan, kegiatan berikutnya adalah
mengklasifikasi data-data tersebut melalui tahapan coding. Pengkodean ini
menggunakan dua cara, pengkodean frekuensi dan pengkodean lambang.
Pengkodean frekuensi digunakan apabila jawaban pada poin tertentu memiliki
bobot atau arti frekuensi tertentu. Sedangkan pengkodean lambang, digunakan
pada poin yang tidak memiliki bobot tertentu.
67
Burhan Bungin, Metodologi Penelitian Kuantitatif, Prenada Media, Jakarta, 2005, halaman 164168.
69
d. Tabulasi (Proses Pembeberan)
Tabulasi adalah bagian terakhir dari pengolahan data. Maksud tabulasi
adalah memasukkan data pada tabel-tabel tertentu dan mengatur angka-angka
serta menghitungnya.
3.7
Uji Reliabilitas
Roger D. Winner dan Joseph R. Dominique menjelaskan bahwa
reliabilitas merupakan bagian yang sangat penting dalam analisis isi. Untuk itu
analisis isi harus objektif. Maka ukuran-ukuran dan prosedur-prosedur yang
dipergunakan harus dapat dipercaya, berarti apabila dilakukan penelitian ulang
dengan bahan yang sama akan diperoleh hasil yang sama.68
Reliabilitas artinya memiliki sifat dapat dipercaya. Suatu alat ukur
dikatakan memiliki reliabilitas apabila dipergunakan berkali-kali oleh peneliti
yang sama atau oleh peneliti yang lain tetap memberikan hasil yang sama
(Forcese dan Richer, 1973: 71).69
Cara yang digunakan pada penelitian ini adalah menggunakan cara Ole R.
Holsti (1969) dengan formulanya:70
CR = 2M
N1+N2
= 2(9+10)
24+24
68
Siti Nurmala Analisis Isi Berita Politik Tayangan Jurnal ANTV Pagi Periode April 2004, Skripsi
Fakultas Ilmu Komunikasi Mercu Buana 2004, halaman 32.
69
Jalaluddin Rakhmat, Metode Penelitian Komunikas, Op. Cit., halaman 17.
70
Rachmat Kriyantono, Riset Komunikasi, Op. Cit., halaman 235..
70
= 2(19)
48
= 40
48
CR = 0.79
CR = 0.79 x 100% = 79%
Keterangan :
CR
: Coeficient Reliability
M
: Jumlah pernyataan yang disetujui oleh pengkoding (hakim) dan
periset
N1, N2
: Jumlah pernyataan yang diberi kode oleh pengkoding (hakim) dan
periset
Dalam formula Holsti, angka reliabilitas minimum yang ditoleransi
adalah 70%. Artinya, kalau hasil perhitungan menunjukkan angka reliabilitas di
atas 70%, berarti alat ukur itu benar-benar reliabel. Tetapi jika di bawah angka
70%, berarti alat ukur (coding sheet) bukan alat yang reliabel.71
71
ISAI, Panduan Analisis Isi Media, Jakarta, ISAI-TAF, 2005, halaman 51.
71
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1
4.1.1
Profil MD Entertainment
Sejarah MD Entertainment
MD Entertainment berdiri pada tanggal 1 Agustus 2002 atas gagasan 4
orang pendirinya yaitu: Dhamoo Punjabi, Manoj Punjabi, Sunita Punjabi dan
Shania Punjabi. Pada awal berdirinya, MD entertainment berkantor di Bursa Efek
Jakarta lalu pindah ke Plaza Permata, sampai akhirnya dapat menempati gedung
sendiri yang beralamat di JL. Tanah Abang III no. 23A. Gedung MD
entertainment yang baru, diresmikan pada tanggal 6 September 2003 oleh
Gubernur DKI Jakarta yang saat itu menjabat yaitu bapak Sutiyoso dan Menteri
Komunikasi & Informasi saat itu yaitu bapak Syamsul Mu’arif.
Kata MD didepan tulisan Entertainment bukanlah suatu singkatan,
melainkan sepasang huruf yang menarik yang memancing rasa ingin tahu namun
juga mudah diingat, baik bila diucapkan dalam bahasa Indonesia maupun dalam
bahasa Inggris.
MD adalah sebuah rumah produksi baru yang terbentuk dalam situasi
unik yang penuh tantangan, dimana pengalaman yang dimiliki digabungkan
dengan kesempatan yang berlandaskan pendekatan segar dengan situasi yang baru
dan penuh tantangan dengan dukungan tenaga-tenaga kerja muda yang penuh
semangat, kreatif, dan dedikasi yang tinggi.
71
72
4.1.2
Tujuan dibentuknya MD Entertainment
MD bertujuan untuk selalu menghasilkan sinetron yang didasarkan
atas cerita yang menarik yang dapat memberikan makna dan warna bagi
kehidupan, sehingga sinetron MD tidak hanya mempunyai nilai seni dan estetika
yang dapat memberikan hiburan segar tapi juga sekaligus mempunyai nilai
moral dan pendidikan (edukatif) bagi pemirsanya, sehingga tidak hanya sekedar
menjual mimpi dan parade bintang. Sajian MD juga ditujukan bagi segala usia
dan semua lapisan serta golongan masyarakat, bahkan setiap individu, karena
semua orang berhak untuk mendapatkan hiburan yang berkualitas.
4.1.3 Motto MD Entertainment
Motto MD Entertainment adalah inovasi, kreatifiti, kualitas.
4.1.4 Visualisasi Logo MD Entertainment
Visualisasi logo MD yang sederhana, mewakili teknologi maju yang
mutakhir, khususnya dalam pendekatan terhadap kreasi sebuah entertainment.
Tiga tiang penyangga yang solid dari huruf M, memberikan indikasi kekuatan
dan keyakinan atas tiga prinsip yang menjadi acuan bagi MD, yaitu inovasi,
keanggunan dan kualitas. Kekuatan dan keyakinan ini dibuat lentur oleh
lengkungan halus untuk menggambarkan keluwesan yang diperlukan untuk
mendukung keberhasilan dalam pencapaian tujuan.
Kombinasi warna hijau, kuning dan coklat, merupakan warna-warna
yang mempertegas warna emas huruf 'MD'. Warna yang luar biasa ini diramu
73
dari warna-warna yang semula biasa-biasa saja, merupakan simbol dari nilai
kreatif sebuah tim kerja yang inovatif. Sebuah kreasi baru dari hakekat kilau
emas dengan menghindari kesan glamor yang selalu dikaitkan dengan dunia
entertainment/showbiz selama ini. Warna hitam yang menjadi latar belakang,
menunjukkan keanggunan dan kewibawaan yang melambangkan pendekatan
modern yang diterapkan oleh MD.
Diharapkan MD dapat lebih maju dan berkembang dalam ikut
memperkaya khasanah dunia entertainment di Indonesia, khususnya melalui
produksi sinetron-sinetron dan film yang berkualitas.
4.1.5 Manajemen MD Entertainment
Board of Commissioners :
1.o Punjabi – President Commissioner
2. Mrs. Sunita Punjabi – Commissioner
Board of Directors :
1. Mr. Manoj Punjabi – President Director
2. Mrs. Shania Punjabi – Director of Corporate Affairs
4.1.6
Pertumbuhan MD Entertainment
Awal dibangun, MD entertainment hanya terdiri dari lima karyawan
dan satu ruang kerja. Namun saat ini MD entertainment telah memiliki kurang
lebih 200 karyawan tetap dan ratusan karyawan kontrak.
74
Di tahun pertama, MD memproduksi beberapa sinetron yang laris di
televisi seperti ‘Si Yoyo’, ‘Si Kembar’, dan ‘Dia’. Dan saat ini MD telah
memproduksi lebih dari 100 (seratus) judul dan program-program MD
mengudara sebanyak 25 jam per minggunya.
4.1.7
Penghargaan
Dalam 3 (tiga) tahun belakangan ini MD entertainment telah menerima
beberapa penghargaan, yakni:
1. Tahun 2005
Di tahun ini, sinetron ‘Malin Kundang’ mendapat penghargaan ‘best
programme’ dalam ajang SCTV Awards dan ‘Bawang Merah Bawang Putih’
mendapat penghargaan ‘Top Show of The Year’ dalam ajang penghargaan
Panasonic Awards.
2. Tahun 2006
Di tahun ini, sinetron musikal ‘Mimpi Manis’ mendapat penghargaan
‘best programme’ dalam ajang SCTV Awards dan ‘Hikma 2’ mendapat
penghargaan ‘Top Show of The Year’ dalam ajang penghargaan Panasonic
Awards.
3. Tahun 2007
Di tahun ini, sinetron ‘Cinderella’ mendapat penghargaan ‘best
programme’ dalam ajang SCTV Awards dan ‘Hikma 2’.
75
4.2 Sekilas Tentang MD Pictures
Saat ini dunia perfilman Indonesia kembali bangkit dengan banyak
dihasilkannya film-film karya anak bangsa yang bermutu, berawal dari semangat
ingin memajukan & menyemarakkan perfilman Indonesia. Dua tahun lalu MD
mengembangkan produksinya ke layar lebar, maka lahirlah MD pictures.
Film perdana MD pictures berjudul KALA yang disutradarai sekaligus
ditulis oleh Joko Anwar (Best Director Janji Joni di dalam Film Festival Bali,
penulis skenario terbaik film Arisan di Festival Film Bandung) berhasil
mendapatkan banyak penghargaan dalam beberapa festival film internasional,
seperti:
1. Best Cinematography (FFI 2007)
2. Best Indonesian Language (FFI 2007)
3. Best Film Of The World (Sound Magazine U.K 2008)
4. Best Film (Berlin Asia Hot Shots Film Festival Germany 2008)
5. Best Visual Achievement (Jury Awards-NY Asian Film Festival USA 2008)
Film lain yang juga mendapat sambutan luar biasa, baik nasional maupun
internasional adalah Ayat Ayat Cinta. Berikut adalah film-film produksi MD
pictures:
1. Kala
: Fachry Albar, Fahrani, Shanty, dll. (2007)
2. Suster Ngesot
: Nia Ramadhani, Mike Lewis, dll. (2007)
3. Lawang Sewu
: Thalita Latief, Marcell Darwin dll. (2007)
4. Beranak Dalam Kubur
: Aditya Putri, Jula Perez dll. (2007)
5. Hantu Jembatan Ancol
: Ben Joshua, Nia Ramadhani, dll. (2008)
76
6. Ayat Ayat Cinta
: Fedi Nuril, Rianty, Carissa dll. (2008)
7. Kesurupan
: Nia Ramadhani, dll. (2008)
8. Namaku Dick
: Tora Sudiro, VJ Marissa dll. (2008)
9. Best Friend
: Nikita Willy, Risty Tagor dll. (2008)
10. Oh Baby
: Cinta Laura, Randy P dll (2008)
11. Asoy Geboy
: Raffi Ahmad, Indah Kalalo dll. (2008)
12. Cinta Lokasi
: Luna Maya, Tora Sudiro dll. (2008)
Struktur kepemimpinan di MD pictures adalah sebagi berikut:
1. Producer
: Dhammo Punjabi & Manoj Punjabi
2. Executive Producer
: Shania Punjabi
3. Produser Pelaksana
: Karan Mahtani
4. Director of Sales & Promotion
: Shania Punjabi
5. Public Relation Manager
: Mita Nurani
6. Casting Director
: Sanjay Mulani
4.3 Profil Film Ayat Ayat Cinta
4.3.1
Sinopsis
Ini adalah kisah cinta. Tapi bukan cuma sekedar kisah cinta yang biasa.
Ini tentang bagaimana menghadapi turun-naiknya persoalan hidup dengan cara
Islam. Fahri bin Abdillah adalah pelajar Indonesia yang berusaha menggapai
gelar masternya di Al Azhar. Berjibaku dengan panas-debu Mesir. Berkutat
dengan berbagai macam target dan kesederhanaan hidup. Bertahan dengan
77
menjadi penerjemah buku-buku agama. Semua target dijalani Fahri dengan
penuh antusiasme kecuali satu: menikah.
Kenapa? Karena Fahri adalah laki-laki taat yang begitu ‘lurus’. Dia
tidak mengenal pacaran sebelum menikah. Dia kurang artikulatif saat
berhadapan dengan mahluk bernama perempuan. Hanya ada sedikit perempuan
yang
dekat
dengannya
selama
ini.
Neneknya,
Ibunya
dan
saudara
perempuannya.
Betul begitu? Sepertinya pindah ke Mesir membuat hal itu berubah.
Tersebutlah Maria Girgis. Tetangga satu flat yang beragama Kristen Koptik tapi
mengagumi Al Quran. Dan menganggumi Fahri. Kekaguman yang berubah
menjadi cinta. Sayang cinta Maria hanya tercurah dalam diary saja.
Lalu ada Nurul. Anak seorang kyai terkenal yang juga mengeruk ilmu
di Al Azhar. Sebenarnya Fahri menaruh hati pada gadis manis ini. Sayang rasa
mindernya yang hanya anak keturunan petani membuatnya tidak pernah
menunjukkan rasa apa pun pada Nurul. Sementara Nurul pun menjadi ragu dan
selalu menebak-nebak.
Setelah itu ada Noura. Juga tetangga yang selalu disika Ayahnya
sendiri. Fahri berempati penuh dengan Noura dan ingin menolongnya. Sayang
hanya empati saja. Tidak lebih. Namun Noura yang mengharap lebih. Dan
nantinya
ini
menjadi
masalah
besar
ketika
Noura
menuduh
Fahri
memperkosanya.
Terakhir muncullah Aisha. Si mata indah yang menyihir Fahri. Sejak
sebuah kejadian di metro, saat Fahri membela Islam dari tuduhan kolot dan
78
kaku, Aisha jatuh cinta pada Fahri. Dan Fahri juga tidak bisa membohongi
hatinya.
Lalu bagaimana bocah desa nan lurus itu menghadapi ini semua? Siapa
yang dipilihnya? Bisakah dia menjalani semua dalam jalur Islam yang sangat
dia yakini?
4.3.2
Karakter Tokoh Utama
a. Fahri bin Abdullah, 28 th (Fedi Nuril)
Mahasiswa bersahaja yang memegang teguh prinsip hidup dan
kehormatannya. Cerdas dan simpatik hingga membuat beberapa gadis 'jatuh
hati'. Dihadapkan pada kejutan-kejutan menarik atas pilihan hatinya.
b. Aisha, 25 th (Rianti Cartwright)
Mahasiswi asing keturunan Jerman dan Turki, cerdas, cantik dan kaya
raya. Latar belakang keluarganya yang berliku mempertemukan dirinya
dengan Fahri.
c. Maria Girgis, 26 th (Carissa Putri)
Gadis Kristen Koptik yang jatuh cinta pada Islam. Dia menderita
karena cinta yang teramat dalam kepada Fahri.
d. Noura bin Bahadur, 22 th (Zaskia Adya Mecca)
Siksa telah menjadi bagian dalam hidupnya. Janin yang dikandungnya
79
menjadikannya terobsesi pada Fahri untuk menjadi ayah dari calon bayinya.
e. Nurul binti Ja'far Abdur Razaq, 26 th (Melanie Putria)
Anak kyai besar di Jawa Timur. Dengan aura yang menenangkan,
kecerdasan dan kualitasnya menyatukan segala kelebihannya, dia sangat
percaya diri untuk meminang Fahri sebagai suaminya.
4.3.3
Crew dan Cast
4.3.3.1 Crew
Director
: Hanung Bramantyo
Producer
: Dhamoo Punjabi
Manoj Punjabi
Executive Producer
: Shania Punjabi
Co-Producer
: Karan Mahtani
Line Producer
: Tika Angela Sandy
Muslich Widjaya
Screenplay
: Ginatri S. Noer
Salman Aristo
Hanung Bramantyo
Still Photo
: Erick Wirasakti
Director of Photography
: Faozan Rizal
Film Editor
: Sastha Sunu
Music Composed
: Tya Subiyakto
80
Sound Designer
: Satrio Budiono
Adimolana Mahmud
Art Director
: Allan Sebastian
Make Up
: Didin Syamsudin
Costume Designer
: Retno Ratih Damayanti
Casting
: Sanjay Mulani
Ameliya Octavia
Ruth Damai Pakpahan
4.3.3.2 Cast
1. Fedi Nuril
2. Rianty Rhiannon Cartwright
3. Carissa Puteri
4. Melanie Putria
5. Zaskia Adya Mecca
6. Marini Burhan
7. Surya Saputra
8. Rudi Wowor
9. Leroy Osmani
10. Hj. Mieke Wijaya
11. Oka Antara
12. Dennis Adhiswara
13. Sellen Fernandez
81
Also Starring : Mochtar Sum
Sito Resmi
Amak Baldjun
4.3.4
Prestasi Film Ayat Ayat Cinta
Film Ayat Ayat Cinta merupakan film paling fenomenal di eranya,
karena berhasil memperoleh penonton sampai 3,8 juta orang. Tidak hanya di
Indonesia, film ini juga diputar di Malaysia, Singapore, Hongkong, CannesPerancis, Jepang, Tehran-Iran dan Alexandria-Cairo. Beberapa penghargaan
yang diperoleh film ini adalah sebagai berikut:
2. Best Movie (Festival Film Bandung 2008)
3. Rolling Stone Award 2008 (Box Office Movie Of The Year)
4. Muri Award 2008
4.4 Hasil Penelitian
Pada bab ini, peneliti menguraikan hasil penelitian dari data yang
diperoleh dengan cara mendeskripsikan data mengenai perbandingan isi film dan
novel Ayat Ayat Cinta dilihat dari sisi penceritannya. Berdasarkan penelitian yang
diperoleh peneliti menunjuk dua orang koder yakni, Boim Lebon (penulis) dan
Dian W Sasmita (sutradara film “Dea Lova" dan produser).
82
4.5 Kecenderungan Isi Film dan Novel Ayat Ayat Cinta Dilihat Dari Sisi
Penceritaannya
4.5.1 Tema
Tema dapat diartikan sebagai makna yang dikandung oleh sebuah
cerita. Tema dalam sebuah film dan novel mengandung makna yang masih
sangat umum yang nantinya akan diperinci lagi dalam sequence maupun
bab. Pada film Ayat Ayat Cinta, tema film diperinci ke dalam 8 (delapan)
sequence.72 Sedangkan pada novel, tema di masukkan ke dalam 33 bab
Berikut hasil analisis kecenderungan tema yang terdapat dalam film dan
novel Ayat Ayat Cinta pada setiap sequence dan bab.
72
Wawancara dengan Salman Aristo, Penulis Skenario Film “Ayat Ayat Cinta”, Jakarta, tanggal
24 Desember 2008.
83
Tabel 5.1.1
Tema
Tema
∑
Film
Sequence
%
Tema
∑
Novel
Bab
%
Percintaan
0
0.00%
Percintaan
2
6.06%
Rumah Tangga
0
0.00%
Rumah tangga
2
6.06%
Perselingkuhan
0
0.00%
Perselingkuhan
0
0.00%
Pembauran
0
0.00%
Pembauran
2
6.06%
Persahabatan
0
0.00%
Persahabatan
1
3.03%
Kepahlawanan/heroik
0
0.00%
Kepahlawanan/heroik
3
9.09%
Petualangan
0
0.00%
Petualangan
0
0.00%
Balas dendam
0
0.00%
Balas dendam
2
6.06%
Keagamaan/religi
0
0.00%
Keagamaan/religi
6
18.18%
Persahabatan dan religi
1
12.5%
Religi dan pembauran
4
12.12%
Kepahlawanan dan percintaan
1
12.5%
Pembauran dan persahabatan
1
3.03%
Percintaan dan pembauran
1
12.5%
Pembauran, persahabatan dan religi
2
6.06%
Percintaan dan balas dendam
1
12.5%
Percintaan dan persahabatan
1
3.03%
Religi dan keikhlasan
1
12.5%
Percintaan dan religi
4
12.12%
Keikhlasan
1
12.5%
Rumah tangga dan religi
1
3.03%
Percintaan dan keikhlasan
1
12.5%
Balas dendam dan religi
1
3.03%
Rumah tangga dan religi
1
12.5%
Keikhlasan, religi dan pembauran
1
3.03%
8
100%
33
100%
Jumlah
Jumlah
84
Tabel Grafik 5.1.2
Tema Film “Ayat Ayat Cinta”
Tema Film
Percintaan
Rumah Tangga
Perselingkuhan
Pembauran
Persahabatan
Kepahlawanan/ heroik
Petualangan
Balas dendam
13%
0%
13%
13%
13%
13%
13%
13%
13%
Keagamaan/ religi
Persahabatan dan religi
Kepahlawanan dan
percintaan
Percintaan dan
pembauran
Percintaan dan balas
dendam
Religi dan keikhlasan
Keikhlasan
Percintaan dan
keikhlasan
Rumah tangga dan religi
Sumber: Hasil Penelitian
85
Berdasarkan tabel di atas terlihat, dalam setiap sequence film Ayat
Ayat Cinta terdapat tema yang berbeda-beda yakni:
1. Pada sequence 1 (satu) mengangkat tema persahabatan dan religi.
2. Sequence 2 (dua) bertemakan kepahlawanan dan percintaan.
3. Sequence 3 (tiga) memiliki tema percintaan dan pembauran.
4. Sequence 4 (empat) mengambil tema percintaan dan balas dendam.
5. Pada sequence 5 (lima) mengangkat tema religi dan keikhlasan.
6. Sequence 6 (enam) bertemakan keikhlasan.
7. Sequence 7 (tujuh) mengambil tema percintaan dan keikhlasan
8. Sequence terakhir, yaitu sequence 8 (delapan) memiliki tema
rumah tangga dan religi.
Kesemua tema diatas memiliki frekuensi yang sama sebesar 12.5%.
Dari hasil tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwasanya, kecenderungan
tema yang diangkat dalam film Ayat Ayat Cinta adalah percintaan yang juga
didasari oleh religi serta keikhlasan.
Tema percintaan yang diangkat berkutat seputar cinta segitiga antara
tokoh Fahri dengan Maria dan Aisha, yang pada akhirnya terjebak pada
pernikahan poligami. Juga mengenai perempuan-perempuan disekeliling
Fahri yang memendam perasaan cinta terhadap Fahri. Tokoh perempuan
yang kental terlihat memendam perasaan cinta pada Fahri adalah tokoh
Nurul dan Noura. Bahkan cinta Noura digambarkan sebagai cinta yang
berubah menjadi obsesi dan kekecewaan yang berimplementasi negatif,
sehingga pada akhirnya membuat Noura memfitnah Fahri.
86
Tema religi dalam film ini, terwujud pada atmosfir yang dibangun
cerita yang sarat akan nuansa islami. Selain itu, setting kota Cairo yang
memang termasuk ke dalam negara islam memperkuat unsur religi (islam)
dalam film ini. Sedangkan tema keikhlasan sangat identik dengan tokoh
Aisha yang rela di poligami.
87
Tabel Grafik 5.1.3
Tema Novel “Ayat Ayat Cinta”
Tema Novel
Percintaan
Rumah tangga
Perselingkuhan
Pembauran
Persahabatan
Kepahlawanan/heroik
Petualangan
12%
3%
3%3%
3%
6%
Balas dendam
Keagamaan/religi
9%
0%
6%
6%
3%
12%
6%0%
6%
3%
Religi dan pembauran
18%
Pembauran dan
persahabatan
Pembauran, persahabatan
dan religi
Percintaan dan
persahabatan
Percintaan dan religi
Rumah tangga dan religi
Balas dendam dan religi
Keikhlasan, religi dan
pembauran
Sumber: Hasil Penelitian
88
Tema dalam sebuah novel menjadi identitas novel tersebut.
Dari hasil analisa di atas diketahui kecenderungan tema yang terdapat dalam
novel Ayat Ayat Cinta yakni, keagamaan/religi dengan persentase 18.18%.
Dalam novel ini dijelaskan bagaimana seorang santri menjalani kehidupan
keagamaannnya. Dimana santri tersebut adalah seorang pelajar Indonesia
yang menempuh pendidikan di universitas Al Azhar, Cairo. Sosok santri
tersebut digambarkan sangat memegang teguh ajaran agama yang dianutnya
yaitu, islam. Dari sinilah tema keagamaan sangat kental terasa. Selain itu
perjalanan santri tersebut yang mencari pendamping hidup melalui proses
ta’aruf serta caranya menghadapi permasalahan yang terjadi dalam
kehidupannya,
menjadikan
novel
ini
penuh
dengan
nuansa
keagamaan/religi. Disamping dalam beberapa bab juga mengangkat tematema yang lain seperti, tema percintaaan dan pembauran yang menambah
warna pada novel ini, serta tema-tema yang lain.
4.5.2 Opening
Opening merupakan elemen awal dalam sebuah cerita film dan
novel. Pada film, elemen ini digunakan untuk menarik perhatian penonton.
Sedangkan dalam sebuah novel menandai adanya bab baru yang memiliki
kesinambungan dengan bab sebelumnya. Berikut hasil analisa opening pada
film serta novel Ayat-Ayat Cinta.
89
Tabel 5.2.1
Opening
Opening
∑
Film
Sequence
%
Opening
∑
Novel
Bab
%
Exposition
1
12.5%
Exposition
16
48.48%
Inciting moment
3
37.5%
Inciting moment
4
12.12%
Rising action
4
50%
Rising action
13
39.39%
8
100%
33
100%
Jumlah
Jumlah
Tabel Grafik 5.2.2
Opening Film “Ayat Ayat Cinta”
Opening Film
13%
Exposition
Inciting moment
49%
38%
Sumber: Hasil Penelitian
Rising action
90
Hasil tabel diatas menunjukkan sebagian besar opening pada film ini,
cenderung menggunakan rising action, yakni sebesar 50%. Secara umum
rising action digunakan untuk membuat penonton bersimpati pada pada
tokoh protagonis. Sequence-sequence yang menggunakan rising action
dalam opening-nya adalah :
1. Sequence 4
Sequence ini diawali dengan sakitnya (berupa mental dan
fisik) tokoh Maria akibat depresi karena Fahri telah menikah.
2. Sequence 5
Pada sequence ini, Aisha menemui pengacara Indonesia
untuk membela Fahri di persidangan. Lalu datang ke flat Fahri demi
mencari tahu mengenai sosok Fahri yang sebenarnya.
3. Sequence 6
Sequence 6 menggunakan opening yang ditandai dengan ke
datangan Aisha menemui ibu dari Maria. Kemudian madame Nahed
(ibu dari Maria) bercerita mengenai sakitnya Maria.
4. Sequence 8
Sequence ini dibuka dengan kedatangan Maria ke rumah
Fahri dan Aisha untuk tinggal bersama. Pada adegan ini terlihat mimik
wajah Maria yang “kikuk”.
91
Tabel Grafik 5.2.3
Opening Novel “Ayat-Ayat Cinta”
Opening Novel
39%
49%
Exposition
Inciting moment
Rising moment
12%
Sumber: Hasil Penelitian
Dari grafik diatas dapat diketahui, 48.48% opening dalam
novel Ayat Ayat Cinta berbentuk exposition, 39.39% rising action dan
12.12% inciting moment. Dari hasil tersebut dapat ditarik sebuah kesimpulan
bahwasanya kecenderungan opening dalam novel Ayat Ayat Cinta adalah
exposition.
Dimana pencerita akan memberikan “keterangan” terlebih
dahulu, tidak langsung masuk ke dalam pokok permasalahan yang diangkat
dalam bab tersebut.
92
4.5.3 Karakter Tokoh Utama
Tokoh utama dalam sebuah film merupakan tokoh tumpuan.
Dimana tokoh ini yang menjadi sorotan utama. Film Ayat Ayat Cinta
memiliki 3 (tiga) tokoh utama yakni Fahri, Aisha dan Maria.73 Sedangkan
tokoh utama pada novel Ayat Ayat Cinta digambarkan hanya 1 (satu) orang
yaitu, Fahri Bin Abdullah Syiddiq. Dan Tabel dibawah ini adalah hasil
analisa penulis mengenai kecenderungan karakter tokoh utama dalam setiap
sequence dan bab.
Tabel 5..3.1
Karakter Tokoh Utama
Karakter
∑
Tokoh Utama
Sequence
%
∑
%
Tokoh Utama Bab
Film
Novel
Protagonis
8
100%
Protagonis
33
100%
Sidekick
0
0.00%
Sidekick
0
0.00%
Antagonis
0
0.00%
Antagonis
0
0.00%
Kontagonis
0
0.00%
Kontagonis
0
0.00%
Skeptis
0
0.00%
Skeptis
0
0.00%
8
100%
33
100%
Jumlah
73
Karakter
Jumlah
Wawancara dengan Ginatri S Noer, Penulis Skenario “Ayat Ayat Cinta, Jakarta, tanggal 29
Januari 2009.
93
Tabel Grafik 5.3.2
Karakter Tokoh Utama Film “Ayat Ayat Cinta”
Karakter Tokoh Utama Film
0%
Protagonis
Sidekick
Antagonis
Kontagonis
100%
Skeptis
Sumber: Hasil Penelitian
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecenderungan karakter tokoh
utama dalam film Ayat Ayat Cinta yaitu protagonis. Hal tersebut dapat
terlihat dari data tabel diatas yang menunjukkan angka 100%.
Pada karakter Fahri kekuatan karakter ini terdapat pada ketaatan yang
dimilikinya. Sedangkan kekuatan karakter pada tokoh Maria terdapat pada
bagaimana ia memendam rasa cintanya kepada Fahri. Sebab Maria adalah
simbol cinta pada film ini, yang menggambarkan cinta yang tulus, cinta
yang penuh dengan pengorbanan.
Tokoh Aisha sendiri adalah simbol godaan (harta, cantik) yang
berwujud duniawi, yang bersifat positif.
94
Tabel Grafik 5.3.3
Karakter Tokoh Utama Novel “Ayat Ayat Cinta”
Karakter Tokoh Utama Novel
0%
Protagonis
Sidekick
Antagonis
Kontagonis
100%
Skeptis
Sumber: Hasil Penelitian
Dari hasil analisis diketahui bahwa karakter tokoh Fahri dalam novel
Ayat Ayat Cinta adalah protagonis. Hal ini tergambar dari sosoknya yang
bersahaja, memiliki rasa kepedulian yang tinggi, taat beribadah dan sopan
serta sangat menghargai wanita.
Pada novel ini, tokoh Fahri digambarkan sebagai sosok yang
“sempurna” oleh sang penulis (Habbiburahman El Shirazy). Terlihat dari
kepribadian Fahri seperti yang diungkapkan diatas.
95
4.5.4 Alur Cerita/Plot
Alur/plot merupakan urutan dalam sebuah cerita. Film dapat
dikatakan memiliki cerita jika telah memiliki alur/plot, begitupun pada
novel. Alur dalam sebuah novel menjadi “lalu lintas” cerita yang dihadapi.
Alur tersebut sangat menentukan bagaimana sebuah novel dapat menarik
bagi pembacanya agar terhanyut ke dalam cerita yang dibawa novel itu.
Dalam hal ini peneliti akan mencoba memaparkan alur yang dipakai dalam
penceritaan film dan novel Ayat Ayat Cinta.
96
Tabel 5.4.1
Alur Cerita/ Plot
Alur Cerita/ Plot
∑
Film
Sequence
%
Alur Cerita/Plot
∑
Novel
Bab
%
Maju
1
12.5%
Maju
28
84.85%
Mundur
0
0.00%
Mundur
0
0.00%
Cepat
0
0.00%
Cepat
0
0.00%
Lambat
0
0.00%
Lambat
5
15.15%
Lurus
1
12.5%
Lurus
0
0.00%
Bercabang
0
0.00%
Bercabang
0
0.00%
Maju dan mundur
2
25%
Maju dan lurus
4
50%
8
100%
33
100%
Jumlah
Jumlah
97
Tabel Grafik 5.4.2
Alur Cerita/ Plot Film “Ayat Ayat Cinta”
Alur Cerita/ Plot Film
Maju
13%
Mundur
0%
13%
Cepat
Lambat
49%
0%
25%
Lurus
Bercabang
Maju dan mundur
Maju dan lurus
Sumber: Hasil Penelitian
Dari hasil analisis diketahui, sebagian besar sequence yang terdapat
pada film Ayat Ayat Cinta cenderung menggunakan alur maju dan lurus
dengan frekuensi 50%. Penggambaran alur pada film ini dimulai dari Fahri
bertemu dengan Maria lalu Aisha dan menikah dengan Aisha serta karena
pernikahan itu, Maria sakit. Kemudian hadirnya Noura yang memfitnah
Fahri dan pada akhirnya Fahri dibebaskan dari dakwaan. Kemudian Fahri,
Aisha dan Maria menjalani kehidupan bertiga (dalam pernikahan poligami).
Terakhir Maria meninggal dunia.
Pada tabel diatas juga ditunjukkan sebesar 25% bagian dari alur
menggunakan alur maju dan mundur dimana alur ini dipakai pada sequence
yang terdapat pengangkatan peristiwa flashback yang kemudian kembali lagi
98
ke alur utama. Alur maju dan mundur dalam film ini, terdapat dalam
sequence 6 (enam) dan sequence 7 (tujuh).
Pada sequence 6 (enam), alur maju dan mundur terlihat pada saat Fahri
diminta Aisha untuk merekam suaranya saat di penjara. Sequence 7 (tujuh),
ketika Maria memberikan kesaksiannya untuk membela Fahri di pengadilan.
Tabel Grafik 5.4.3
Alur Cerita/Plot Novel “Ayat Ayat Cinta”
Alur Cerita/ Plot Novel
15%
0%
Maju
0%
Mundur
Cepat
Lambat
Lurus
85%
Bercabang
Sumber: Hasil Penelitian
Alur cerita/plot yang cenderung ada pada novel Ayat Ayat
Cinta adalah alur maju. Dimana menceritakan dari asal mula Fahri
mendapatkan pasangan hidup juga konflik yang mendera hidupnya. Selain
99
alur maju dalam bab ini juga terdapat alur lambat. Dimana alur tersebut
menjadi kekhasan dari beberapa novel.
4.5.5 Konflik
Tabel berikut ini, menganalisa konflik yang terdapat dalam film
dan novel Ayat Ayat Cinta.
Tabel 5.5.1
Konflik
Konflik
∑
Film
Sequence
Internal
5
62.5%
Internal
9
27.27%
Eksternal
3
37.5%
Eksternal
11
33.33%
Datar (Flat)
12
36.36%
Internal dan eksternal
1
3.03%
Jumlah
33
100%
Jumlah
8
%
Konflik Novel
∑
%
Bab
100%
100
Tabel Grafik 5.5.2
Konflik Film “Ayat Ayat Cinta”
Konflik Film
38%
Internal
Eksternal
62%
Sumber: Hasil Penelitian
Dari hasil analisa penulis diketahui bahwa sebesar 62.5% konflik yang
terjadi pada film Ayat Ayat Cinta yaitu cenderung kepada konflik internal.
Konflik internal ini terdapat pada beberapa sequence, yakni:
1. Sequence 4
Konflik pada sequence ini didasari oleh pernikahan Fahri dengan
Aisha yang membuat Maria sakit karena depresi yang berkepanjangan.
2. Sequence 5
Pada sequence ini konflik dimulai pada saat Fahri berada di dalam
penjara. Dimana ia mengalami pergulatan batin yang luar biasa.
101
3. Sequence 6
Sequence ini menengahkan konflik batin yang dialami oleh Aisha
saat meminta Fahri untuk menikahi Maria.
4. Sequence 7
Konflik dalam sequence ini muncul ketika Maria memasuki
kehidupan Fahri dan Aisha.
5. Sequence 8
Sequence kedelapan memberikan gambaran konflik rumah tangga
yang didasari oleh pernikahan poligami dengan dibalut cinta segitiga
antara ketiga tokoh utama.
Tabel Grafik 5.5.3
Konflik Novel “Ayat Ayat Cinta”
Konflik Novel
3%
27%
37%
Internal
Eksternal
Datar (Flat)
33%
Sumber: Hasil Penelitian
Internal dan eksternal
102
Hasil penelitian di atas menunjukkan bahwa konflik yang terdapat
pada novel Ayat Ayat Cinta adalah 36.36% datar (flat), 33.33% eksternal
dan 27.27% internal.
Konflik datar dalam sebuah novel memang sering digunakan dalam
setiap babnya. Sebab pada bab-bab tersebut digunakan untuk memberi
“keterangan” cerita. Yang digunakan untuk memancing rasa penasaran
pembaca novel. Konflik utama biasanya akan muncul di pertengahan/pun
mendekati akhir cerita.
4.5.6 Gaya Bahasa
Film dan novel memiliki gaya bahasanya sendiri, meskipun film
dan memiliki kesamaan yakni mengkomunikasikan pesan. Dan berikut ini
adalah hasil analisis penulis mengenai gaya bahasa yang terdapat dalam film
serta novel Ayat Ayat Cinta.
103
Tabel 5.6.1
Gaya Bahasa
Gaya Bahasa
∑
Film
Sequence
%
Gaya Bahasa
∑
Novel
Bab
%
Sehari-hari
0
0.00%
Sehari-hari
0
0.00%
Resmi
0
0.00%
Resmi
0
0.00%
Bertutur
0
0.00%
Bertutur
33
100%
Audio
0
0.00%
Audio
0
0.00%
Visual
0
0.00%
Visual
0
0.00%
Audio dan visual
8
100%
Audio dan visual
0
0.00%
8
100%
Jumlah
33
100%
Jumlah
104
Tabel Grafik 5.6.2
Gaya Bahasa Film “Ayat Ayat Cinta”
Gaya Bahasa Film
0%
Sehari-hari
Resmi
Bertutur
Audio
Visual
100%
Audio dan visual
Sumber: Hasil Penelitian
Film memiliki grammer sendiri yang diwujudkan dalam audio dan
visual. Dari hasil analisa, gaya bahasa yang digunakan pada film Ayat Ayat
Cinta cenderung berupa audio dan visual dengan frekuensi 100%.
Pada film Ayat Ayat Cinta, gaya bahasa visual yang digunakan
didekatkan pada SPOK (gaya bahasa dalam teks) sehingga tidak berjarak.
Jadi penonton akan lebih mudah menangkap pesan yang dimaksud dalam
film ini. Karena sejak awal, film sudah diproyeksikan untuk visual yang juga
menjadi aspek utama dalam sebuah film. Sebab film adalah sebuah media,
dimana esensi utama sebuah media adalah menyampaikan pesan.
Visual yang digunakan film Ayat Ayat Cinta adalah cerminan dari
cerita yang berlatar belakang muslim. Dengan menampilkan elemen-elemen
105
dasar seperti perempuan berjilbab, baju kokoh, peci dan lain sebagainya.
Juga menampilkan elemen-elemen lain yang tidak biasa seperti masjid AlAzhar, kisi-kisi/sekat-sekat di tembok serta properti-properti seperti sajadah,
Al-Qur’an, tasbih, dan lain-lain. Sedangkan audio yang digunakan dalam
gaya bahasa film Ayat-Ayat Cinta tidak hanya berupa dialog tapi juga suarasuara lain seperti suara orang mengaji di dalam ruangan dan suara adzan di
lorong-lorong eksterior yang dipakai untuk memperkuat visual/memberikan
simbol pada film ini. Juga digunakan untuk membangun sebuah dunia di
dalam frame agar dipahami penonton sebagai film dengan nuansa islami.
Tabel Grafik 5.6.3
Gaya Bahasa Novel “Ayat Ayat Cinta”
Gaya Bahasa Novel
0%
Sehari-hari
Resmi
Bertutur
Audio
Visual
100%
Sumber: Hasil Penelitian
Audio dan visual
106
Hasil penelitian menunjukkan gaya bahasa yang digunakan pada novel
Ayat ayat Cinta adalah bertutur. Gaya bahasa bertutur adalah gaya bahasa
bercerita, yang memang lazim digunakan oleh novel-novel dalam
mengungkapkan kisah yang terdapat di dalamnya. Sehingga akan
memancing imajinasi pembaca untuk “hanyut” ke dalam cerita tersebut.
4.5.7 Closing
Closing pada sebuah film digunakan untuk menandai berakhirnya
satu bagian cerita. Sedangkan pada novel, closing menandai berakhirnya
satu bagian cerita yang terdapat dalam bab. Tabel dibawah ini adalah analisa
penulis mengenai closing yang terdapat dalam film dan novel Ayat Ayat
Cinta, yang didasarkan atas sequence per sequence serta bab per bab
Tabel 5.7.1
Closing
Closing
∑
Film
Sequence
%
Closing
∑
Novel
Bab
%
Sad Ending
4
50%
Sad Ending
10
30.30%
Happy Ending
4
50%
Happy Ending
14
42.42%
Flat Ending
9
27.27%
Jumlah
33
100%
Jumlah
8
100%
107
Tabel Grafik 5.7.2
Hasil Analisis Isi
Closing Film Ayat Ayat Cinta
Closing Film
Sad Ending
50%
50%
Happy Ending
Sumber: Hasil Penelitian
Dalam film Ayat Ayat Cinta, closing digunakan sebagai ‘benang
merah’ antar sequence selain sebagai ending cerita keseluruhan. Menurut
hasil analisa, kecenderungan closing film ini sama-sama mengarah ke sad
ending dan happy ending dengan frekuensi yang sama yakni 50%.
Closing sad ending pada film Ayat Ayat Cinta terdapat pada sequence
3-6. Sedangkan closing happy ending film ini terdapat pada sequence 1-2, 78. Dimana dalam sequence kedelapan digunakan sebagai ending seluruh
cerita film.
108
Tabel Grafik 5.7.3
Closing Novel “Ayat Ayat Cinta”
Closing Novel
27%
30%
Sad Ending
Happy Ending
Flat Ending
43%
Sumber: Hasil Penelitian
Tabel di atas menunjukkan bahwa kecenderungan closing dalam novel
Ayat Ayat Cinta yakni, happy ending. Hal tersebut dapat terlihat dari bab 3,
4, 6, 11, 12, 15, 18, 20, 21, 22, 23, 25, 32, dan bab terakhir yaitu bab 33.
4.5.8 Pesan
Film adalah media yang memberikan pengaruh yang kuat. Untuk
itu dalam setiap film terdapat pesan yang terkandung. Pesan inilah yang
kemudian akan dihantarkan kepada masyarakat. Dan pada novel, pesan
dapat dikatakan sebagai amanat. Berikut adalah analisis penulis terhadap
pesan yang terdapat pada film juga novel Ayat Ayat Cinta.
109
Tabel 5.8.1
Pesan
Pesan Film
∑
%
Pesan Novel
Sequence
∑
%
Bab
Moral
1
12.5% Moral
3
9.09%
Agama
3
37.5% Agama
11
33.33%
Sosial
0
0.00% Sosial
6
18.18%
Moral, agama dan sosial
2
Agama dan sosial
4
12.12%
Moral dan sosial
1
12.5% Agama dan moral
6
18.18%
Moral dan agama
1
12.5% Sosial dan Moral
3
9.09%
8
100%
33
100%
Jumlah
25%
Jumlah
110
Tabel Grafik 5.8.2
Pesan Film “Ayat-Ayat Cinta”
Pesan Film
13%
Moral
13%
Agama
13%
Sosial
37%
24%
0%
Moral, agama dan sosial
Moral dan sosial
Moral dan agama
Sumber: Hasil Penelitian
Hasil tabel di atas menunjukkan, 37.5% pesan bersifat agama, 25%
gabungan antara moral, agama dan sosial. Serta moral, moral dan sosial,
moral dan agama masing-masing 12.5%. Hal tersebut menunjukkan
bahwasanya kecenderungan pesan film ini adalah pesan keagamaan. Pesan
tersebut dapat ditangkap melalui visualisasi yang diwujudkan dalam film ini.
Seperti adegan Fahri sedang talaqi, Fahri yang tidak mau menjabat tangan
perempuan yang bukan muhrimnya juga proses ta’aruf yang dijalani FahriAisha, adegan Fahri didalam penjara serta adegan-adegan yang lainnya.
111
Selain itu pesan moral dan sosial juga berusaha disampaikan film
ini selain pesan utama tadi. Pesan moral dapat terlihat dari penggambaran
tokoh Fahri yang begitu menghormati wanita.
Sedangkan pada pesan sosial, terlihat pada kehidupan Fahri dengan
kawannya dan Maria serta pernikahan Fahri dengan Aisha dan lain-lain.
Yang menunjukkan bagaimana multikultural itu dapat hidup berdampingan
dengan damai.
Tabel Grafik 5.8.3
Pesan Novel “Ayat Ayat Cinta”
Pesan Novel
9%
Moral
9%
Agama
18%
Sosial
34%
Agama dan sosial
Agama dan moral
12%
18%
Sosial dan Moral
Sumber: Hasil Penelitian
Hasil tabel diatas menunjukkan bahwa kecenderungan pesan yang
terkandung dalam novel Ayat Ayat Cinta adalah agama. Dimana hal
112
tersebut kental digambarkan melalui tokoh Fahri. Dan didukung oleh
beberapa tokoh disekitar fahri seperti Aisha. Serta keseharian para tokoh
yang terdapat pada novel ini.
4.5.9 Pola Alur/Jalan Cerita
Pola alur dalam sebuah penceritaan film serta novel merupakan
desain jalan cerita. Dimana menghubungkan sequence yang satu dengan
sequence yang lainnya, juga bab yang satu dengan bab yang lainnya. Berikut
adalah hasil analisa pola alur/jalan cerita dari film dan novel Ayat Ayat
Cinta.
113
Tabel 5.9.1
Pola Alur/Jalan Cerita
Pola Alur/ Jalan Cerita
∑
Film
Sequence
%
Pola Alur/Jalan Cerita
∑
Novel
Bab
%
Pola Cinta
0
0.00%
Pola Cinta
9
27.27%
Pola Sukses
0
0.00%
Pola Sukses
4
12.12%
Pola Cinderella
0
0.00%
Pola Cinderella
0
0.00%
Pola Segitiga
0
0.00%
Pola Segitiga
1
3.03%
Pola Kembali
0
0.00%
Pola Kembali
0
0.00%
Pola Balas Dendam
1
12.5%
Pola Balas Dendam
3
9.09%
Pola Konversi
0
0.00%
Pola Konversi
0
0.00%
Pola Pengorbanan
2
25%
Pola Pengorbanan
4
12.12%
Pola Keluarga
0
0.00%
Pola Keluarga
3
9.09%
Pola Pengorbanan dan Pola
1
12.5%
Tidak
9
27.27%
cinta
2
25%
Pola Cinta dan Pola Segitiga
1
12.5%
Pola Cinta dan Pola Balas
1
12.5%
8
100%
33
100%
ada
pola
yang
spesifik
Dendam
Pola Segitiga dan Pola Sukses
Jumlah
Jumlah
114
Tabel Grafik 5.9.2
Pola Alur/Jalan Cerita “Ayat Ayat Cinta”
Pola Cinta
Pola Alur/ Jalan Cerita Film
Pola Sukses
Pola Cinderella
Pola Segitiga
Pola Kembali
0%
6%
Pola Balas Dendam
0%
13%
0%
6%
Pola Konversi
Pola Pengorbanan
50%
13%
6%
6%
Pola Keluarga
Pola Pengorbanan dan
Pola cinta
Pola Cinta dan Pola
Segitiga
Pola Cinta dan Pola
Balas Dendam
Pola Segitiga dan Pola
Sukses
Sumber: Hasil Penelitian
Dari data pada tabel diatas dapat diketahui bahwa pola pengorbanan
serta pola cinta dan pola segitiga menjadi kecenderungan pola yang dipakai
pada sequence film Ayat Ayat Cinta, yaitu masing-masing sebesar 25%.
115
Kemudian disusul oleh pola balas dendam, serta gabungan antara pola
pengorbanan dan pola cinta, pola cinta dan pola balas dendam, pola segitiga
dan pola sukses. Masing-masing dengan persentase 12.5%.
Berdasarkan hasil analisa yang diperoleh terlihat jelas jika film Ayat
Ayat Cinta penuh dengan atmosfer cinta. Cinta yang digambarkan disini
adalah cinta dengan berbagai bentuk yakni, cinta yang dilandasi dengan rasa
iman, cinta dengan pengorbanan, cinta segitiga, cinta yang menimbulkan
efek negatif dan cinta yang menyatukan kultur yang berbeda.
116
Tabel 5.9.3
Hasil Analisis Isi
Pola Alur/Jalan Cerita Novel “Ayat Ayat Cinta”
Pola Alur/Jalan Cerita Novel
Pola Cinta
Pola Sukses
Pola Cinderella
Pola Segitiga
27%
28%
Pola Kembali
Pola Balas Dendam
9%
12%
0%
9%
0%
3%
0%
12%
Pola Konversi
Pola Pengorbanan
Pola Keluarga
Tidak ada pola yang
spesifik
Sumber : Hasil Penelitian
Dari hasil diatas diketahui bahwa novel Ayat Ayat Cinta memiliki
2 (kecenderungan) pola alur/jalan cerita dengan persentase yang sama yakni,
27.27%. Pertama pola cinta yang mengisahkan mengenai kisah cinta Fahri
dengan Aisha, serta tokoh Nurul, Maria dan Noura yang diam-diam mencintai
117
Fahri. Kedua adalah tidak ada pola alur/jalan cerita yang spesifik. Hal tersebut
dikarenakan dalam beberapa bab, hanya menceritakan tentang “keteranganketerangan” seperti kegiatan yang dilakukan tokoh Fahri selama 1 (satu hari)
penuh atau perjalanan Fahri ke masjid untuk talaqi dan lain-lain.
Tidak adanya pola yang spesifik dalam bab yang terdapat pada
sebuah novel adalah hal biasa. Sebab ada beberapa jenis novel yang tidak
masuk langsung ke dalam inti cerita. Dan novel Ayat Ayat Cinta termasuk
didalamnya.
4.5.10 Sudut Pandang Pencerita
Pengambilan sudut pandang pencerita dalam sebuah film adalah
untuk memberi kesan akhir yang diinginkan. Dan Sudut pandang pencerita
dalam sebuah novel digunakan untuk membatasi si pencerita dalam
menempatkan dirinya pada novel. Tabel berikut ini adalah analisa sudut
pandang pencerita film serta novel Ayat Ayat Cinta.
118
Tabel 5.10.1
Sudut Pandang Pencerita
Sudut Pandang Pencerita
∑
Film
Sequence
%
Sudut Pandang Pencerita
∑
Novel
Bab
%
Orang Pertama Tunggal
0
0.00% Orang Pertama Tunggal
33
100%
Orang Ketiga Serba Tahu
8
100%
0
0.00%
Orang Ketiga Terbatas
0
0.00% Orang Ketiga Terbatas
0
0.00%
8
100%
33
100%
Jumlah
Orang Ketiga Serba Tahu
Jumlah
Tabel Grafik 5.10.2
Sudut Pandang Pencerita Film “Ayat Ayat Cinta”
Sudut Pandang Pencerita dalam Film
0%
Orang Pertama Tunggal
Orang Ketiga Serba
Tahu
100%
Sumber: Hasil Penelitian
Orang Ketiga Terbatas
119
Hasil analisa di atas menunjukkan bahwa pencerita dalam film Ayat
Ayat Cinta cenderung menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu
sebesar 100%/keseluruhan. Dimana sang pencerita berada di luar tokoh-tokoh
atau cerita film ini. Di tangan sang pencerita-lah arah cerita dibawa.
Tabel Grafik 5.10.3
Sudut Pandang Pencerita Novel “Ayat Ayat Cinta”
Sudut Pandang Pencerita Novel
0%
Orang Pertama Tunggal
Orang Ketiga Serba
Tahu
100%
Orang Ketiga Terbatas
Sumber: hasil Penelitian
Hasil tabel tersebut menunjukkan bahwa kecenderungan sudut
pandang pencerita novel Ayat Ayat Cinta menempatkan dirinya adalah
sebagai orang pertama tunggal dengan persentase 100%. Ciri dari sudut
pandang itu adalah kata aku/saya yang dipakai dalam menceritakan sebuah
120
cerita. Biasa disebut sebagai “akuan”. Dalam novel ini pencerita
menempatkan dirinya sebagai tokoh Fahri.
4.5.11 Unsur Dramatik
Jika pada film unsur dramatik dibutuhkan untuk melahirkan
gerak cerita pada film itu sendiri. Maka unsur dramatik dalam novel
digunakan sebagai “bumbu” cerita agar pembaca novel dapat ikut masuk ke
dalam cerita.Dalam film dan novel Ayat Ayat Cinta, hasil analisa penulis
mengenai unsur dramatik adalah sebagai berikut.
Tabel 5.11.1
Unsur Dramatik
Unsur Dramatik
∑
Film
Sequence
%
Unsur Dramatik
∑
Novel
Bab
%
Konflik
6
75%
Konflik
4
12.12%
Suspense
2
25%
Suspense
3
9.09%
Curiosty
0
0.00%
Curiosty
25
75.76%
Surprise
0
0.00%
Surprise
1
3.03%
8
100%
33
100%
Jumlah
Jumlah
121
Tabel Grafik 5.11.2
Unsur Dramatik Film “Ayat Ayat Cinta”
Unsur Dramatik Film
25%
0%
Konflik
Suspense
Curiosty
75%
Surprise
Sumber: Hasil Penelitian
Menurut hasil analisa di atas, unsur dramatik yang cenderung
dipakai oleh film Ayat-Ayat Cinta adalah konflik yang memiliki
presentase 75%. Penggambaran konflik disini dapat dirasakan pada
sequence 1-3, sequence 5-6, dan yang terakhir sequence 8.
Sequence 1 (satu), konflik yang diwujudkan lebih kepada konflik
yang muncul dari luar tokoh utama tapi menyangkut tokoh utama yakni,
kejadian di metro, saat itu Aisha berdebat dengan penduduk setempat
karena memberi tempat duduk kepada orang Amerika. Lalu Fahri yang
coba menolong malah terkena hantaman dari penduduk tersebut.
122
Pada sequence 2 (dua), bentuk konflik yang ditonjolkan adalah
konflik yang terjadi antara Noura dengan ayah tirinya. Bagaimana sang
ayah memperlakukan Noura dengan tidak manusiawi sampai ingin
menjual Noura.
Konflik dalam sequence 3 (tiga) ini lebih kepada konflik
percintaan antara Fahri dengan para wanita yang mengagumi dan
memendam perasaan pada dirinya.
Jika pada sequence-sequence sebelumnya konflik yang berasal dari
luar diri. Kali ini, konflik yang ditonjolkan sequence 5 (lima) lebih kepada
konflik dalam diri sendiri atau konflik batin. Dan hal tersebut sangat
nampak saat frame Fahri berada di penjara. Juga saat Aisha bergelut
dengan perasaannya sendiri. Apakah ia harus mempercayai Fahri/tidak
dan rahasia apa saja yang disimpan Fahri? Semua pertanyaan-pertanyaan
yang timbul dari visualisasi diri Aisha menggambarkan konflik yang
terjadi di dalam dirinya.
Pada sequence 6 (enam) terjadi konflik yang datar tapi tajam.
Dimana seorang isteri harus merelakan suaminya menikah lagi demi
membebaskan sang suami dari segala fitnah dan hukum pidana yang
dialamatkan. Sedangkan sequence terakhir, yakni sequence 8 (delapan)
lebih mengedepankan konflik rumah tangga yang didasarkan atas poligami
antara Aisha, Fahri dan Maria.
123
Tabel Grafik 5.11.2
Unsur Dramatik Novel “Ayat Ayat Cinta”
Unsur Dramatik Novel
3%
12%
9%
Konflik
Suspense
Curiosty
Surprise
76%
Sumber: Hasil Penelitian
Hasil tabel diatas menunjukkan kecenderungan unsur dramatik yang
dipakai dalam novel Ayat Ayat Cinta adalah curiosty sebanyak 75.76%.
Unsur dramatik ini digunakan sebagai pemancing rasa keingintahuan
pembaca mengenai tokoh atau kelanjutan cerita.
cerita dibuat
Biasanya dalam sebuah
sedikit “menggantung” atau memunculkan hal-hal yang
membuat pembaca novel menebak-nebak. Dan unsur dramatik tersebut
terdapat pada bab 1, bab 2, bab 4, bab 5, bab 7-16, bab 20-25 dan bab 29-31.
124
4.5.12 Tipologi Tokoh
Tipologi adalah istilah psikologi untuk membedakan tipe
manusia. Dalam sebuah film dan novel, tipologi digunakan sebagai dasar
membangun karakter tokoh. Di bawah ini adalah tabel analisa tipologi tokoh
yang terdapat dalam film serta novel Ayat Ayat Cinta.
Tabel 5.12.1
Tipologi Tokoh
Tipologi Tokoh
∑
Film
Sequence
%
Tipologi Tokoh
∑
Novel
Bab
%
Piknis
0
0.00% Piknis
0
0.00%
Leptosom
0
0.00% Leptosom
0
0.00%
Atletis
0
0.00% Atletis
0
0.00%
Displastis
0
0.00% Displastis
0
0.00%
Sanguinis
2
Sanguinis
0
0.00%
Melankolis
1
12.5% Melankolis
6
18.18%
Koleris
1
12.5% Koleris
2
6.06%
Flegmantis
4
50%
25
75.76%
8
100%
33
100%
Jumlah
25%
Flegmantis
Jumlah
125
Tabel Grafik 5.12.2
Tipologi Tokoh Film “Ayat Ayat Cinta”
Tipologi Tokoh dalam Film
Piknis
0%
25%
Leptosom
Atletis
Displastis
Sanguinis
49%
13%
13%
Melankolis
Koleris
Flegmantis
Sumber: Hasil Penelitian
Berdasarkan data tabel diatas, tipologi tokoh yang cenderung
terlihat dalam sequence-sequence yang ada pada film Ayat Ayat Cinta yaitu
flegmantis, sebesar 50%.
126
Tabel Grafik 5.12.3
Tipologi Tokoh Novel “Ayat Ayat Cinta”
Tipologi Tokoh Novel
Piknis
0%
Leptosom
18%
6%
Atletis
Displastis
Sanguinis
Melankolis
76%
Koleris
Flegmantis
Sumber: Hasil Penelitian
Hasil analisa penulis menunjukkan kecenderungan tipologi tokoh
dalam novel Ayat Ayat Cinta adalah flegmantis sebesar 75.76%. Namun
dalam beberapa bab, tokoh ini juga digambarkan memiliki tipologi
melankolis dengan persentase 18.18%.
Penggambaran tipologi tokoh yang flegmantis terlihat dari betapa
Fahri memegang teguh janji dan keputusannya. Sedangkan melankolis
ditunjukkan dari beberapa bab dimana Fahri adalah tokoh yang memiliki
tingkat sensitifitas yang cukup tingi. Digambarkan melalui beberapa hal
yang membuat Fahri menangis dan ungkapan-ungkapan dirinya mengenai
rasa ketidakpercayaan dirinya yang dilatar belakangi oleh faktor ekonomi
dan keluarganya.
127
4.6 Pembahasan
Film merupakan sebuah karya seni yang berbentuk media. Dimana
esensi utama sebuah film adalah mengkomunikasikan pesan. Film yang
diwujudkan ke atas layar umumnya memiliki grammer tersendiri yang berbeda
dengan karya seni yang lainnya.
Novel sebagai karya seni serta bentuk lain dari media sering digunakan
sebagai inspirasi dari sebuah film. Novel-novel yang memiliki tingkat kredibilitas
tinggi dalam ceritanya menjadi suatu ketertarikan tersendiri untuk diangkat ke
media yang lain, seperti film.
Film Ayat Ayat Cinta yang disadur dari novel dengan judul yang sama
merupakan film religi yang paling banyak menarik perhatian pada masa
tayangnya. Dari hasil analisis penulis mengenai perbandingan isi dari film dan
novel Ayat Ayat Cinta yang dilihat dari sisi penceritaannya, ditemukan beberapa
perbedaan dan kesamaan yang mendasar.
Pada tema, film Ayat Ayat Cinta cenderung mengetengahkan tema
percintaan yang diikuti dengan tema religi dan keiikhlasan. Tema percintaan yang
utama diangkat dalam film ini adalah cinta segitiga, antara Fahri dengan Aisha
dan Maria. Dimana cinta mereka diiringi dengan pernikahan poligami yang
membingungkan (complicated). Tema cinta ini juga mendasari pemasalahan yang
diangkat film ini. Dimana cinta Noura yang bertepuk sebelah tangan membuat ia
memfitnah Fahri yang mengangkibatkan Fahri di penjara. Juga terdapat kisah
cinta seorang gadis bernama Nurul yang diam-diam memendam perasaan terhadap
Fahri. Dimana saat Fahri menikah, ia mengalami kekecewaan yang mendalam
128
yang diakibatkan oleh patah hati. Sedangkan pada novel lebih diketengahkan
unsur religi dengan presentase 18,18%, yang diselimuti oleh cinta yang islami.
Novel ini lebih menekankan pada perjalanan seorang tokoh bernama Fahri yang
berlabel sebagai santri, yang menjalani pendidikan di universitas Al Azhar-Cairo.
Dimana ia menjalani kesehariannnya sebagai seorang yang memegang teguh
keimanannya dengan segala rintangan yang dihadapi. Serta bagaimana dirinya
menyelesaikan segala permasalahan yang selalu didasari atas agama (islam).
Opening yang cenderung digunakan pada awal cerita film adalah rising
action sebesar 50%. Di sini penonton film akan langsung diajak untuk mengetahui
persoalan apa yang terjadi pada tokoh utama film. Hal tersebut dikarenakan oleh
keterbatasan media film. Sedangkan pada novel, opening yang cenderung
digunakan adalah exposition dengan persentase 48.48%. Opening jenis ini
mengarahkan pembaca novel untuk tetap berkonsentrasi pada cerita dan menebaknebak cerita selanjutnya. Pengungkapan opening ini biasanya dimainkan melalui
kosakata-kosakata dalam kalimatnya.
Karakter tokoh utama pada film Ayat ayat Cinta ada tiga orang yakni,
Fahri, Aisha dan Maria. Ketiganya memiliki karakter protagonis selama
keseluruhan cerita di film (100%). Sedangkan di novel hanya memiliki satu tokoh
utama yaitu Fahri yang juga digambarkan sebagai karakter protagonis.
Alur cerita pada film ayat-Ayat Cinta cenderung maju dan lurus dengan
persentase 50%. Dimana perjalanan dimulai dengan Fahri dan Maria lalu
pertemuan Fahri dengan Aisha dilanjutkan dengan pernikahan Fahri dengan
Aisha, persidangan sampai Maria akhirnya meninggal dunia. Namun alur
129
cerita/plot tersebut juga iikuti oleh pola maju-mundur dibeberapa sequence untuk
menjelaskan latar belakang kejadian agar lebih ringkas. Pada novel alur/plot yang
digunakan cenderung maju dengan persentase 84.85%. Lalu diikuti dengan pola
lambat sebesar 15.15% yang menjadi ciri dari sebuah novel. Dimana pada bab
yang berpola lambat hanya menerangkan mengenai kegiatan yang dilakukan sang
tokoh seperti, perjalanan ke Masjid untuk talaqi atau proses dirinya (Fahri)
menyelesaikan terjemahan.
Konflik yang dibangun dalam film cenderung kepada konflik internal
yang langsung melibatkan tokoh utama, berpresentase 62.5%. Sedangkan pada
novel, konflik yang dibangun cenderung datar (flat) dengan persentase 36.36%.
Hal ini dikarenakan kosakata yang digunakan media novel dalam mengisahkan
cerita di dalam novel tersebut, yang lebih terperinci/mendetail. Namun
kecenderungan konflik ini juga diikuti oleh konflik eksternal sebesar 33.33%.
Konflik yang terjadi lebih banyak dari luar tokoh utama karena pada novel ini
hanya terdapat satu tokoh utama. Seperti konflik Maria dan Nurul dengan
perasaannnya masing-masing, konflik Noura dengan ayah tirinya yang menarik
perhatian tokoh utama serta konflik Aisha dengan kegamangannya dalam
mengizinkan Fahri menikah lagi. Namun konflik eksternal yang terjadi dalam
cerita tersebut tetap berhubungan dengan tokoh utama yaitu, Fahri.
Gaya bahasa dalam film Ayat Ayat Cinta ini sama dengan gaya bahasa
film kebanyakan yakni, audio dan visual dengan persentase 100%. Sedangkan
pada novel gaya bahasa yang digunakan adalah bertutur juga dengan persentase
130
100%. Gaya bahasa bertutur adalah gaya bahasa bercerita yang menggunakan
kosakata.
Pada film Ayat Ayat Cinta kecenderungan closing pada setiap sequence
memiliki persentase yang sama yaitu 50%, masing-masing untuk sad ending dan
happy ending Hal tersebut dapat terjadi karena untuk mempermainkan perasaan
penonton agar kesan yang ingin ditautkan dapat tercapai dengan baik. Sedangkan
pada novel closing cenderung happy ending dengan persentase 42.42%. Dimana
pada novel permasalahan-permasalahan yang timbul disekeliling cerita dapat
terselesaikan satu per satu, baik itu dalam satu bab ataupun dua bab. Yang
nantinya akan mengarah kepada ending di bab terakhir.
Pesan pada film dan novel Ayat Ayat Cinta memiliki kecenderungan
yang sama, yaitu pesan agama. Namun masing-masing memiliki persentase yang
berbeda, pada film persentasenya 37.5% dan pada novel 33.33%. Hal tersebut
membuktikan bahwa kedua media ini memiliki kesamaan pesan yang ingin
dikomunikasikan kepada khalayak yakni agama.
Pola alur/jalan cerita dalam film ini lebih didominasi oleh pola cinta. Hal
tersebut berimplementasi dari kecenderungan tema yang diangkat pada film.
Sedangkan pada novel, kecenderungannya terletak pada dua hal. Tidak ada pola
yang spesifik dan pola cinta, masing-masing dengan persentase 27.27%, Hal
tersebut dikarenakan alur dan opening cerita. Alur yang lambat menjadikan
sebuah novel memiliki bab-bab tertentu yang hanya sebagai “keterangan”,
begitupun pada opening yang exposition.
131
Sudut pandang yang digunakan film ini adalah orang ketiga serba tahu
dengan persentase 100%. Dimana sang pencerita menempatkan dirinya diluar
tokoh cerita. Sedangkan pada novel Ayat Ayat Cinta sebaliknya. Pencerita
menggunakan kata “akuan” yang berarti ia menempatkan dirinya sebagai tokoh
utama atau orang pertama tunggal yang juga berpresentase sebesar 100%.
Unsur dramatik yang dibangun film Ayat Ayat Cinta cenderung ke
konflik, yang berpresentase 75%. Unsur ini digunakan untuk menggerakkan cerita
yang memiliki “keterbatasan”. Sedangkan pada novel, lebih cenderung kepada
curiosty yang memiliki presentase 75.76%. Sebab pada novel yang diandalkan
adalah permainan kata-kata. Sehingga para pembaca akan diajak untuk berfikir
terlebih dahulu.
Tipologi tokoh pada film Ayat Ayat Cinta lebih beragam dibandingkan
novel. Pada film tokoh digambarkan pada tipologi Flegmantis, Sanguinis,
Melankolis dan Koleris. Namun kecenderungan tipologi tokoh dalam film ini
adalah flegmantis dengan presentase 50%. Sedangkan pada novel tipologi tokoh
hanya 2 (dua) yaitu, flegmantis dengan presentase 75.76% dan melankolis yang
berpresentase 18.18%. Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa kecenderungan
tipologi tokoh pada film dan novel Ayat Ayat Cinta sama yakni, flegmantis.
Pembahasan diatas dapat diperkuat lagi dengan hasil penemuan penulis
pada beberapa perbedaan yang nyata terlihat dalam film dan novel berikut:
132
Tabel 6.1
Perbandingan Film dan Novel Ayat Ayat Cinta
No.
1.
Film
Novel
Maria hanya tinggal
Tokoh Maria tinggal
bersama Madame Nahed
bersama Tuan Boutros
(ibunya).
(ayah), Madame Nahed
Unsur
Penceritaan
Penokohan
(ibu), dan Yousef (adik
lelakinya).
2.
Saat di Metro, Aisha
Saat pertemuan dengan
memakai cadar hitam
Fahri di Metro (kereta
(cadar warna ini selalu
listrik), Aisha memakai
digunakan untuk seluruh
cadar putih dan ada 3
adegan di film) dan
(tiga) orang bule yang
hanya dua orang bule
masuk, yaitu seorang
yang masuk, yaitu
nenek, pemudi (Alicia),
seorang wanita muda
dan pemuda yang
(Alicia) dan seorang
memakai topi
nenek. (Sequence 1)
berbendera Amerika.
Pola Alur
(Bab 3)
3.
Nama wartawati
Nama wartawati
Amerika itu adalah
Amerika yang dikenal
Penokohan
133
Alicia Abrams (terlihat
Fahri di Metro adalah
dari kartu nama yang
Alicia Brown.
diberikan).
4.
Tidak ada adegan
Fahri memberi hadiah
pemberian hadiah.
ulang tahun kepada
Pola Alur
Madame Nahed sebuah
tas tangan dan untuk
Yousef (adik Maria)
sebuah kamus bahasa
Perancis. (Bab 9)
5.
Tidak ada adegan makan
Tuan Boutros
Pola Alur
bersama Tuan Boutros
sekeluarga mengajak
dengan Fahri dan kawan-
Fahri dan teman-teman
kawan di restoran.
satu flatnya untuk
makan bersama di
sebuah restoran mewah
bernama Cleopatra
Restaurant. (Bab 10)
6.
Fahri sering jalan berdua Fahri tidak biasa jalan Tipologi Tokoh
Maria berdua dengan Maria.
dengan
(beriringan).
7.
(Sequence Fahri
selalu
berjalan
1)
didepan Maria. (Bab 12)
Fahri dan Maria
Tidak ada dialog antara
Pola Alur
134
berbincang soal jodoh
Fahri dan Maria soal
sambil menikmati
jodoh.
sungai nil. (Sequence 1)
8.
Noura disiksa hanya oleh Noura disiksa oleh
Bahadur
terlihat
ketika
sibuk
kamarnya
Pola Alur
Fahri Bahadur dan kakaknya
di ketika Fahri dan temansambil temannya sedang
memegang kamus yang bersantap malam di atap
diberikan
9.
Maria. flat saat tengah malam.
(Sequence 2)
(Bab 6)
Tuan Boutros sejak awal
Keluarga
tidak ditampilkan
mengetahui kalau Noura
sehingga adegan tersebut
disiksa
tidak ada.
malam
Boutros Pola Alur
oleh
Bahadur
itu
mengusulkan
dan
kepada
Fahri bahwa sebaiknya
Noura tinggal sementara
di rumah orang yang
seiman daripada tinggal
di rumah mereka karena
berbagai alasan
10.
Fahri menemui langsung
Fahri meminta Nurul
Nurul untuk meminta hal
melalui telepon agar
Pola Alur
135
tersebut. (Sequence 2)
bersedia menampung
Noura di rumahnya.
(Bab 7)
11.
Noura mau bercerita
Noura tidak mau
secara terbuka masalah
bercerita masalah yang
yang menimpanya
menimpanya kepada
kepada Maria dan Fahri
Maria dan Fahri saat dia
saat berada di tempat
bersama mereka. Noura
Nurul. (Sequence 2)
baru bercerita setelah
Pola Alur
beberapa hari tinggal di
flat Nurul. Dan itu
hanya kepada Nurul.
(Bab 10)
12.
Tidak ada adegan Fahri
Fahri sakit parah karena
sakit.
terlalu sering kepanasan
Pola Alur
sehingga masuk rumah
sakit. (Bab 14 dan 15)
13.
Syaikh
Ustman
terlihat
melakukan
dan
Fahri
tidak Saat mengaji dengan
itu Syaikh Ustman, Fahri
langsung ditawari syaikh untuk
datang begitu saja ke berjodoh dengan
perjodohan.
keponakannya dengan
memberikan album foto
Pola Alur
136
calon istri yang
ditawarkan agar Fahri
dapat mengenalnya.
14.
Fahri menikah di flat
Fahri menikah di masjid
Aisha. (Sequence 3)
Abu Bakar Ash-Shiddiq,
Setting
Shubra El-Khaima. (Bab
20)
15.
Aisha gampang cemburu
Setelah menikah dengan
kepada Fahri. Aisha
Fahri, Aisha tidak
digambarkan lebih egois
pernah terlihat cemburu
dan memamerkan harta
kepada Fahri. Sosok
yang dimiliki. (Sequence
Aisha lebih
4)
digambarkan sebagai
Tipologi Tokoh
istri yang sabar dan
“kalem” (penurut). (Bab
23-25)
16.
Tidak ada adegan
Aisha memberikan 2
pemberian ATM.
buah ATM kepada
Fahri. Agar Fahri
memilih mana yang
akan dipegangnya.
Karena Fahri sebagai
kepala keluarga
Pola Alur
137
sekaligus imam bagi
Aisha. (Bab 23)
17.
Tidak ada adegan
Aisha menceritakan
menceritakan masa lalu.
masa lalu keluarga, ayah
Pola Alur
dan ibunya kepada
Fahri. (Bab 22)
18.
Pola Alur
Menikahnya Fahri
Sejak tahu Fahri
dengan Aisha tidak
menikahi Aisha, Maria
mengakibatkan Maria
sakit hati dan langsung
jatuh sakit dan sakitnya
jatuh sakit.
Maria justru karena
ditabrak mobil.
19.
20.
Maria ditabrak mobil
Tidak ada cerita Maria
oleh orang suruhan
ditabrak orang suruhan
Bahadur. (Sequence 4)
Bahadur.
Aisha menjual komputer
Tidak
PC Fahri tanpa
komputer
sepengetahuan Fahri dan
dijual oleh Aisha.
ada
PC
Pola Alur
cerita Pola Alur
Fahri
menggantinya dengan
laptop (Sequence 4).
21.
Fahri mengetahui bahwa Fahri baru mengetahui Pola Alur
Nurul
ternyata
menyukainya
juga bahwa Nurul ternyata
sesudah juga
menyukainya
138
dia
menikahi
Aisha. sebelum dia menikahi
(Sequence 4)
22.
Aisha. (Bab 19)
Fahri langsung tinggal di Setelah menikah, Aisha Pola Alur
flat Aisha dan tidak ada dan Fahri pindah di flat
23.
adegan pindah rumah.
mewah Aisha.
Teman satu sel Fahri
Teman satu sel Fahri di
hanya 1 (satu) orang.
penjara berjumlah 5
Pola Alur
(lima) orang.
24.
Fahri hanya sekali sekali Dalam penjara, Fahri
Pola Alur
saja disiksa. (Sequence disiksa setiap hari oleh
25.
5)
polisi Mesir. (Bab 27)
Tidak ada adegan
Aisha sempat ingin
percobaan perkosaan.
diperkosa oleh polisi
Pola Alur
Mesir yang ikut
menangkap Fahri. (Bab
28)
26.
27.
Buku harian Maria
Buku harian Maria
diserahkan oleh Madame
diserahkan oleh
Nahed kepada Aisha.
Madame Nahed kepada
(Sequence 6)
Fahri. (Bab 31)
Aisha yang meminta
Madame Nahed dan
Fahri agar merekam
Yousef yang meminta
suaranya untuk
Fahri agar merekam
Pola Alur
Pola Alur
139
diperdengarkan dengan
suaranya untuk
Maria. (Sequence 6)
diperdengarkan dengan
Maria. (Bab 31)
28.
29.
Aisha yang mengajukan
Tuan Boutros dan
izin kepada kepala
Madame Nahed yang
penjara agar
mengajukan izin kepada
membolehkan Fahri
kepala penjara agar
untuk menjenguk Maria
membolehkan Fahri
di rumah sakit dengan
untuk menjenguk Maria
bantuan atase
di rumah sakit dengan
pertahanaan Jerman.
jaminan diri mereka.
(Sequence 6)
(Bab 31)
Tidak ada adegan Maria
Maria jatuh pingsan saat
jatuh pingsan.
memberikan kesaksian
Pola Alur
Pola Alur
di pengadilan. (Bab 32)
30.
Penembak burung hantu
Seorang penembak
yang menjadi saksi tidak
burung hantu yang
mengakui
sebelumnya
kebohongannya.
memberikan kesaksian
palsu akhirnya
mengakui
kebohongannya saat di
persidangan Fahri. (bab
Pola Alur
140
32)
31.
Menjelang akhir
Menjelang akhir
Pola Alur
hayatnya, Maria meminta hayatnya, Maria
Fahri untuk
meminta Fahri untuk
mengajarkannya shalat
mengajarkannya
dan Maria tidak
berwudhu karena dia
diceritakan bermimpi.
bermimpi bahwa dia
(Sequence 8)
tidak dapat masuk surga
kalau tidak berwudhu.
(Bab 33)
32.
Maria sempat menjalani
Di akhir cerita Maria
kehidupan berumah
jatuh sakit dan koma
tangga (poligami)
setelah memberikan
dengan Fahri dan Aisha.
kesaksian di pengadilan
(Sequence 8)
dan tak sempat
Pola Alur
menjalani kehidupan
berumah tangga
(poligami)dengan Fahri
dan Aisha. (Bab 33)
33.
Maria Langsung
Setelah dinikahkan
mengucapkan begitu
Maria tidak langsung
sadar dari koma.
masuk Islam. Maria
(sequence 7)
masuk Islam setelah
Pola Alur
141
bermimpi. (Bab 31)
34.
Aisha
baru
mengenal Aisha sudah mengenal Pola Alur
Nurul setelah menikah Nurul
jauh
sebelum
saat dibawa Fahri ke menikah dengan Fahri.
Wisma
(Sequence 4)
Nusantara. Saat dibawa Fahri ke
mesjid Indonesia. (Bab
8)
142
BAB V
PENUTUP
Kesimpulan
Setelah peneliti menyelesaikan penelitian ini dan sesuai dengan apa yang
dieskripsikan dalam hasil penelitian, pembahasan, maka diperoleh kesimpulan
yakni:
1. Tema pada film dan novel Ayat Ayat Cinta berbeda. Film lebih cenderung
mengetengahkan tema percintaaan yang dibalut unsur religi dan keikhlasan.
Novel cenderung mengangkat tema religi (islam) yang diwarnai cinta atas
dasar islami.
2. Opening pada film dan novel juga berbeda. Jika pada film setiap sequencenya cenderung menggunakan rising action, sedangkan novel cenderung
menggunakan exposition.
3. Kecenderungan alur cerita/plot yang dibangun film serta novel Ayat Ayat
Cinta hampir sama yakni maju. Dikatakan hampir sama karena tidak
identik. Sebab pada film kecenderungan alur maju yang dibangun diiringi
dengan alur lurus dan pada novel kecenderungan alur maju diiringi dengan
alur lambat.
4. Konflik yang diutarakan pada film adalah cenderung kepada konflik internal
dengan presentase 62.5%. Sedangkan pada novel cenderung mengarah ke
datar (flat).
142
143
5. Kecenderungan gaya bahasa yang digunakan film dan novel sangat berbeda.
Film
menggunakan
gaya
bahasa
audio-visual
sedangkan
novel
menggunakan gaya bahasa bertutur.
6. Closing yang digunakan setiap sequence pada film Ayat Ayat Cinta
memiliki 2 (dua) kecenderungan yakni, happy ending dan sad ending, yang
sama-sama berpresentase 50%. Sedangkan pada novel, closing cenderung
ke happy ending pada setiap bab-nya dengan presentase 42.42%.
7. Pola alur/jalan cerita pada film cenderung mengarah pada pola cinta.
Sedangkan pada novel cenderung ke arah 2 pola yaitu, pola cinta dan tidak
memiliki pola yang spesifik dengan presentase masing-masing 27.27%.
8. Sudut pandang pencerita pada film cenderung ke orang ketiga serba tahu
dengan persentase 100%. Berbanding terbalik dengan film, novel
menggunakan sudut pandang orang pertama tunggal berpresentase 100%.
9. Unsur dramatik yang dibangun pada film cenderung mengarah pada konflik
yang berpresentase 75% sedangkan novel lebih kepada curiosty dengan
presentase 75.76%.
10. Dari 12 unsur penceritaan yang dianalisis hanya 3 (tiga) unsur penceritaan
pada film dan novel yang memiliki kecenderungan yang sama. Yakni,
karakter tokoh utama, pesan dan tipologi tokoh.
11. Meskipun kecenderungan karakter tokoh utama dan tipologi tokoh pada
film dan novel Ayat Ayat Cinta sama yakni, protagonis dan flegmantis.
Terdapat perbedaan tokoh utama, pada film ada 3 (tiga) tokoh utama (Fahri,
Aisha, Maria) dan novel hanya 1 (satu) tokoh utama (Fahri).
144
Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa, penceritaan film dan
novel memiliki “jurang” pembeda yang memberikan identitas pada cerita
tersebut. Film dengan segala keterbatasannya lebih mengungkapkan banyak hal
melalui simbol-simbol yang divisualisasikan. Sedangkan pada novel, kata-kata
yang memiliki ruang yang lebih luas menjadikan sebuah cerita dapat diutarakan
dengan lebih panjang.
Film Ayat Ayat Cinta
memiliki banyak sekali perbedaan-perbedaan
unsur penceritaan dengan novel (sumber film tersebut). Film Ayat Ayat Cinta
menghilangkan banyak inti utama cerita yang terdapat pada novel. Hal tersebut
dapat langsung terlihat dari kecenderungan tema yang berbeda. Sehingga esensi
pesan yang pada dasarnya sama pada akhirnya dapat terpersepsikan dengan
berbeda.
Saran
Sebagai bahan masukan, penulis akan mengungkapkan beberapa hal
yang terkait dengan pengangkatan sebuah novel best seller ke dalam film:
1. MD pictures bersama sutradara hendaknya tidak menghilangkan esensi
utama cerita karena novel yang memiliki tingkat penjualan tinggi telah
memiliki banyak pembaca. Sehingga penghilangan tersebut akan
memberikan nilai min (kurang) pada film
145
2. Bagi sutradara dan rumah produksi, diharapkan melakukan observasi dan
riset yang lebih dalam serta banyak melakukan diskusi dengan penulis
novel, agar film tersebut dapat tervisualisasikan dengan lebih baik lagi.
3. Terus melahirkan karya-karya sinematografi nasional yang berkualitas
untuk memajukan industri perfilman nasional baik dari segi unsur
penceritaan, penokohan maupun visualisasi gambar.
DAFTAR PUSTAKA
Ardianto, Elvinaro dan . Erdinaya , K, Lukiati, Komunikasi Massa Suatu
Pengantar, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2004.
Biran, Yusa, Misbach, Teknik Menulis Skenario Film Cerita, Pustaka Jaya,
Jakarta, 2007.
Broom, M. , Glen, dan Dozier, M., David, Using Research In Public Relation
Applications to Programme Management Prentice Hal, New Jersey.
Bungin, Burhan, Metode Penelitian Kuantitatif, Rajawali Press, Jakarta, 1993.
Metodologi Penelitian Kuantitatif, Prenada Media, Jakarta,
2005.
Effendy, Heru, Mari Membuat Film: Panduan Menjadi Produser, Yogyakarta,
2005.
Effendy , Uchjana, Onong., Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek, PT. Remaja
Rosdakarya Karya, Bandung.
ISAI, Panduan Analisis Isi Media, Jakarta, ISAI-TAF, 2005.
Issac dan Michael dalam Rachmat, Jalaludin, Metode Penelitian Komunikasi, PT.
Remaja Rosda Karya, Bandung, 2000.
Karlinah, Siti, Soemirat, Betty dan Komala, Lukiati, Komunikasi Massa, Pusat
Penerbitan Universitas Terbuka, Jakarta, 2004.
Komaidi, Didik, Aku Bisa Menulis (Panduan Praktis Menulis Kreatif lengkap),
Sabda Media, Yogyakarta, 2007.
Kountur, Ronny, Metode Penelitian Untuk Penulisan Skripsi dan Tesis, PPM,
Jakarta, 2003.
Kriyantono, Rachmat, Riset Komunikasi, Kencana Prenada Media Group, Jakarta,
2006.
Lindgren, Ernest, The Art Of The Film, Collier Books, New York, 1963.
McLuhan, 1964; Bittner, 1980 : 10 : Wright, 1985: 2-7; Susanto Para Pakar
Komunikasi, 1980: 2; NCSS,2002.
M , McLuhan, Understanding Media : The Extensive of Man, New York ,
McGraw – Hill.
M , McLuhan, Understanding Media : The Extensive of Man, New York ,
McGraw – Hill.
McQuail, Denis, Teori Komunikasi Massa: Suatu Pengantar, Erlangga, Jakarta,
1987.
Moleong, J. , Lexy, Metodologi Penelitian Kualitatif, PT. Remaja Rosdakarya,
Bandung, 1998.
Monaco, James, Cara Menghayati Sebuah Film, terjemahan oleh Sani, Asrul,
Yayasan Citra, Jakarta, 1984.
Muhtadi, Saeful, Asep, Jurnalistik Pendekatan dan Teori dan Praktik, Logos
Wacana Ilmu, Bandung, 1999.
Nurmala, Siti, Analisis Isi Berita Politik Tayangan Jurnal ANTV Pagi Periode
April 2004, Skripsi Fakultas Ilmu Komunikasi Mercu Buana 2004.
Nurudin, Pengantar Komunikasi Massa, PT. Rajagrafindo Persada, Jakarta, 2007.
Puteh, Othman, Persediaan Menulis Novel, Dewan Bahasa dan Pustaka
Kementerian Pendidikan Malaysia, Kuala Lumpur, 1992.
Putra, Sareb, R. Masri dan Hardiwidjaja, Yennie, How to Write and Market a
Novel, Kolbu, Bandung, 2007.
Rakhmat, Jalaluddin, Metode Penelitian Komunikasi, PT. Remaja Rosdakarya,
Bandung, 2007.
Sendjaya, Djuarsa, Sasa, Pengantar Komunikasi: cetakan kelima, Universitas
Terbuka, Jakarta, 2005.
Set, Sony dan Sidharta, Menjadi Penulis Skenario Profesional, PT. Gramedia
Widiasarana Indonesia, Jakarta, 2003.
Sobur, Alex, Analisis Teks Media, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2002.
Sudwikatmono, “Sinepleks dan Industri film Indonesia”, dalam Layar Perak,
Gramedia, Jakarta, 199.
Sumardjo, Jakob, Novel Populer Indonesia, CV. Nur Cahaya, Yogyakarta, 1982.
Segi Sosiologis Novel Indonesia, Pustaka Prima, Jakarta,1981.
Sumarno, Marselli, Dasar-Dasar Apresiasi Film, PT. Gramedia Widiasarana
Indonesia, Jakarta, 1996.
Sunarjo dan Djoenaesih, Himpunan Istilah Komunikasi: edisi kedua, Liberty,
Yogyakarta, 1983.
Sumber lain:
Buku Sejarah PPH UI, Jakarta, 1998.
http://id.wikipedia.org/wiki/Film
http://id.wikipedia.org/wiki/Novel
Undang-undang perfilman
Kutipan Wawancara, Habbiburahman El Shirazy, Penulis Novel “Ayat Ayat
Cinta, Tabloid XO Edisi 15, Jakarta, 2008.
Wawancara dengan Boim Lebon, Penulis, Jakarta, tanggal 25 April 2008.
Wawancara dengan Salman Aristo, Penulis Skenario Film ”Ayat Ayat Cinta”,
Jakarta, tanggal 24 Desember 2008.
Wawancara dengan Hanung Bramantyo, Sutradara Film ”Ayat Ayat Cinta”,
Jakarta, tanggal 21 Januari 2009.
Wawancara dengan Adi Badjuri, Praktisi Jurnalistik, Jakarta, tanggal 28
Januari 2009.
Wawancara dengan Ginatri S Noer, Penulis Skenario Film ”Ayat Ayat Cinta”,
Jakarta, tanggal 29 Januari 2009.
HASIL WAWANCARA PENULIS SKENARIO
FILM ”AYAT AYAT CINTA”
(SALMAN ARISTO, [email protected], 24 Desember 2008)
1. Apa pengertian dari penceritaan film?
•
Penceritaan film adalah proses cerita yang terdapat di dalam film.
2. Sepenting apakah unsur penceritaan di dalam film?
•
Sangat penting karena film buat kami adalah bercerita. Film itu
storytelling.
3. Apa saja unsur-unsur penceritaan yang terdapat di film “Ayat Ayat
Cinta”?
•
Unsurnya sama dengan film lain. Ada pembabakan, karakter, plot,
objektif karakter utama dan konflik.
4. Apa tema yang diangkat dalam film “Ayat Ayat Cinta”?
•
Keikhlasan,
5. Berapa banyak sequence yang terdapat didalam film “Ayat Ayat Cinta”?
•
Ada delapan sequence besar.
6. Berapa banyak scene yang terdapat di dalam film “Ayat Ayat Cinta”?
•
Ada dua ratus lebih.
7. Berapa tokoh yang diusung film “Ayat Ayat Cinta”?
•
Ada banyak sekali. Tapi yang utama ada 3.
8. Siapa saja tokoh yang ada di film “Ayat Ayat Cinta”?
•
Ada 3 tokoh utama. Fahri, Aisha, dan Maria
9. Bagaimana karakteristik masing-masing tokoh yang ada di film ”Ayat
Ayat Cinta”?
•
Fahri
berusaha
menjalankan
segala
hal
sesuai
dengan
keyakinannya. Termasuk dalam hal percintaan. Meski kadang ada
hal yang berbenturan. Aisha adalah gadis mandiri yang tegas dalam
menjalankan pilihan-pilihannya. Maria adalah gadis riang yang
selalu berusaha merayakan hidup setoleran mungkin.
10. Pesan apa yang ingin disampaikan dalam film “Ayat Ayat Cinta”?
•
Bahwa selain kepatuhan dan keyakinan hidup juga harus diterima
dengan ikhlas.
11. Bagaimana proses pengerjaan skenario “Ayat Ayat Cinta”? dan apa saja
tahapan-tahapannya?
•
Prosesnya berlangsung hampir sekitar 10 bulan. Menghasilkan 11
draft. Tahapannya mulai dari sinopsis, treatment sampai skenario.
HASIL WAWANCARA PENULIS SKENARIO
FILM ”AYAT AYAT CINTA”
(GINATRI S NOER, Shushi ET-Pondok Indah Mall 2, 29 Januari 2009)
1. Apa pengertian dari penceritaan film?
•
Proses cerita. Bagaimana cerita itu, karakter dari awal sampai
akhir. Dalam kasus Ayat Ayat Cinta Fachri itu menganggap
dirinya selalu benar. Saat dipenjara dia baru memiliki
bayangan, bahwa manusia itu memiliki banyak sisi.
2. Sepenting apakah unsur penceritaan di dalam film?
•
Intinya. Jika tidak ada penceritaan maka tidak ada film.
3. Apa saja unsur-unsur penceritaan yang terdapat di film “Ayat Ayat
Cinta”?
•
Ada pembabakan, karakter, plot, objektif karakter utama dan
konflik.
4. Apa tema yang diangkat dalam film “Ayat Ayat Cinta”?
•
Keikhlasan, bahwa dalam beragama harus ikhlas. Terkadang
kita melakukan kesalahan dan mendapat cobaan yang berat.
5. Berapa banyak sequence yang terdapat didalam film “Ayat Ayat Cinta”?
•
Ada delapan sequence besar.
6. Berapa banyak scene yang terdapat di dalam film “Ayat Ayat Cinta”?
•
Dua ratusan.
7. Berapa tokoh yang diusung film “Ayat Ayat Cinta”?
•
Ada banyak sekali. Tapi yang utama ada 3.
8. Siapa saja tokoh yang ada di film “Ayat Ayat Cinta”?
•
Ada 3 tokoh utama. Fahri, Aisha, dan Maria. Noura dan Nurul
tokoh pendukung (subplot).
9. Bagaimana karakteristik masing-masing tokoh yang ada di film ”Ayat
Ayat Cinta”?
•
Fahri berusaha menjalankan segala hal sesuai dengan
keyakinannya. Termasuk dalam hal percintaan. Meski kadang
ada hal yang berbenturan. Aisha adalah gadis mandiri yang
tegas dalam menjalankan pilihan-pilihannya. Maria adalah
gadis riang yang selalu berusaha merayakan hidup setoleran
mungkin.
10. Pesan apa yang ingin disampaikan dalam film “Ayat Ayat Cinta”?
•
Bahwa selain kepatuhan dan keyakinan hidup juga harus
diterima dengan ikhlas.
11. Bagaimana proses pengerjaan skenario “Ayat Ayat Cinta”? dan apa saja
tahapan-tahapannya?
•
Prosesnya berlangsung hampir sekitar 10 bulan. Menghasilkan
11 draft. Tahapannya mulai dari sinopsis, storyline, treatment
sampai skenario.
HASIL WAWANCARA SUTRADARA FILM ”AYAT AYAT CINTA”
(HANUNG BRAMANTYO, Jl. Abdul Majid, no.40 Cipete, 21 Januari 2009)
1. Apa pengertian dari penceritaan film?
•
Film adalah sebuah media sebagaimana teks. Ada pesan untuk
dikomunikasikan. Film itu sendiri memiliki aspek penceritaan.
Sejak awal film memang di proyeksikan untuk visual (aspek utama
dari sebuah film grammer). Selain gambar, suara juga sebagai
aspek pembentuk film. Suara tidak hanya berupa dialog. Suara
sama dengan kekuatan visual tidak harus mensuarakan apa yang
semestinya. Suara memiliki pesan yang lain.
2. Sepenting apakah unsur penceritaan di dalam film?
•
Unsur-unsur penceritaan dalam film sangat penting sekali. Dengan
adanya unsur-unsur penceritaan, penonton bisa memahami apa
yang digambarkan, dibawakan dan disampaikan.
3. Apa saja unsur-unsur penceritaan yang terdapat di film “Ayat Ayat
Cinta”?
•
Tergantung bagaimana film ini mau ditunjukkan kepada siapa.
Kalau film ini ingin ditunjukkan kepada masyarakat dimana
masyarakat itu lagi mengalami krisis tentang kasih sayang/cinta
maka film ini harus menjawab kegelisahan itu. Bagaimana
kemudian cerita cinta itu dibalut, dengan elemen apa? Sehingga
penonton tidak hanya menonton cerita cinta yang biasa. Di Ayat
Ayat Cinta pilihannya adalah unsur cerita cinta muslim yang
berlatar belakang kota Cairo, yang memiliki kultur yang berbeda.
4. Apa tema yang diangkat dalam film “Ayat Ayat Cinta”?
•
Cinta
5. Berapa banyak sequence yang terdapat didalam film “Ayat Ayat Cinta”?
•
8 sequence
6. Berapa banyak scene yang terdapat didalam film “Ayat Ayat Cinta”?
•
250 scene
7. Pesan apa yang ingin disampaikan dalam film “Ayat Ayat Cinta”?
•
- Bagaimana multikultur itu hidup dalam 1 (satu) rumah tangga.
- Islam adalah sebuah agama yang mengedepankan rasa cinta.
8. Yang paling “dijual” di film “Ayat Ayat Cinta”?
•
Cerita
Lembar Coding
Kategori
1. Tema
2. Opening
3. Karakter
Tokoh Utama
4. Alur Cerita/ Plot
Percintaan
Rumah tangga
Perselingkuhan
Pembauran
Persahabatan
Kepahlawanan/ Heroik
Petualangan
Balas dendam
Keagamaan/ Religi
Persahabatan dan Religi
Kepahlawanan dan Percintaan
Exposition
Inciting Moment
Rising Action
Protagonis
Sidekick
Antagonis
Kontagonis
Skeptis
Maju
Mundur
Cepat
Lambat
Lurus
Bercabang
Maju dan Lurus
1
2
1
3
Unit Analisis (Sequence)
4
5
1
1
6
1
1
7
8
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
Kategori
5. Konflik
6. Gaya Bahasa
7. Closing
8. Pesan
9. Pola Alur /
Jalan Cerita
Internal
Eksternal
Sehari-hari
Resmi
Bertutur
Audio
Visual
Audio dan Visual
Sad Ending
Happy Ending
Moral
Agama
Sosial
Moral, Agama dan Sosial
Moral dan Sosial
Pola Cinta
Pola sukses
Pola Cinderella
Pola Segitiga
Pola Kembali
Pola Balas Dendam
Pola Konversi
Pola Pengorbanan
Pola Keluarga
Pola Pengorbanan dan Pola Cinta
Pola Cinta dan Pola Segitiga
Pola Cinta dan Pola Balas Dendam
1
2
3
1
1
1
1
1
1
1
1
1
Unit Analisis (Sequence)
4
5
1
1
1
1
1
1
6
1
7
1
8
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
Kategori
10. Sudut Pandang
Pencerita
11. Unsur Dramatik
12. Tipologi Tokoh
Orang Pertama Tunggal
Orang Ketiga Serba Tahu
Orang Ketiga Terbatas
Konflik
Suspense
Curiosty
Surprise
Piknis
Leptosom
Atletis
Displastis
Sanguinis
Melankolis
Koleris
Flegmantis
1
2
3
1
1
1
1
1
1
Unit Analisis (Sequence)
4
5
1
6
7
8
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
Lembar Koding
Unit Analisis (Bab)
Kategori
1
1. Tema
2
3
4
5
6
7
8
9
10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33
Percintaan
1
1
Rumah tangga
1
1
Perselingkuhan
Pembauran
1
Persahabatan
1
1
Kepahlawanan/ Heroik
1
1
1
Petualangan
Balas dendam
Keagamaan/ Religi
1
1
Religi dan Pembauran
1
1
1
1
1
1
Pembauran dan Persahabatan
1
1
1
1
Pembauran, Persahabatan dan religi
1
Percintaan dan Persahabatan
1
1
Percintaan dan Religi
1
1
1
1
Rumah tangga dan Religi
1
Balas Dendam dan Keagamaan
1
Keikhlasan, Religi dan Pembauran
2. Opening
Exposition
1
1
1
Inciting Moment
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
Protagonis
Tokoh
Sidekick
Utama
Antagonis
Kontagonis
1
1
1
1
1
1
1
1
Rising Action
3. Karakter
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
Unit Analisis (Bab)
Kategori
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33
Skeptis
4. Alur Cerita/
Plot
Maju
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
Mundur
Cepat
Lambat
1
1
1
1
1
Lurus
Bercabang
5. Konflik
Internal
1
Eksternal
Datar (Flat )
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
Eksternal dan Internal
1
6. Gaya Bahasa Sehari-hari
Resmi
Bertutur
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
Audio
Visual
7. Closing
Sad Ending
1
Happy Ending
Flat Ending
8. Pesan
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
Sosial
Agama dan Sosial
Agama dan Moral
Sosial dan Moral
1
1
Moral
Agama
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
Unit Analisis (Bab)
Kategori
1
9. Pola Alur /
Jalan Cerita
2
3
4
5
6
7
8
9
10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33
Pola Cinta
1
Pola sukses
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
Pola Cinderella
Pola Segitiga
1
Pola Kembali
Pola Balas Dendam
1
1
1
Pola Konversi
Pola Pengorbanan
1
1
1
1
Pola Keluarga
10. Sudut
Tidak ada pola yang spesifik
1
1
Orang Pertama Tunggal
1
1
Pandang
Orang Ketiga Serba Tahu
Pencerita
Orang Ketiga Terbatas
11. Unsur
Dramatik
1
Konflik
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
Tokoh
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
Surprise
12. Tipologi
1
1
1
Suspense
Curiosty
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
Piknis
Leptosom
Atletis
Displastis
Sanguinis
Melankolis
1
1
1
1
1
1
Koleris
Flegmantis
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
Download