agribisnis tanaman pangan dan hortikultura

advertisement
SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 2017
MATA PELAJARAN/PAKET KEAHLIAN
AGRIBISNIS TANAMAN PANGAN DAN
HORTIKULTURA
BAB VIII. PUPUK DAN PEMUPUKAN
Rizka Novi Sesanti
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
DIREKTORAT JENDERAL GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
2017
BAB VIII. PUPUK DAN PEMUPUKAN
A.
Kompetensi Inti: Menguasai materi, struktur, konsep dan pola pikir keilmuan yang
mendukung mata pelajaran yang diampu.
B.
Kompetensi Dasar: Memupuk tanaman pangan dan hortikultra
C.
Uraian Materi
1.
Pupuk
Menurut kamus besar bahasa indonesia pupuk merupakan penyubur tanaman
yang ditambahkan ke tanah untuk menyediakan senyawaan unsur yang diperlukan oleh
tanaman. Definisi lain pupuk adalah bahan yang diberikan kedalam tanah baik organik
maupun an organik dengan tujuan untuk menggantikan unsur hara yang hilang.
Sedangkan dalam proses budidaya tanaman, pemupukan perlu dilakukan karena adanya
kehilangan unsur hara di dalam tanah akibat terbawa hasil panen maupun akibat adanya
pencucian oleh aliran air.
2.
Jenis-jenis pupuk
Pupuk digolongkan menjadi dua, yaitu berdasarkan bahan pembentuknya dan
berdasarkan kandungannya. Berdasarkan bahan terbentuknya pupuk digolongkan atas
pupuk organik dan pupuk anorganik.
Sedangkan berdasarkan kandungannya pupuk
digolongkan atas pupuk tunggal dan pupuk majemuk.
a.
Pupuk organik
Pupuk organik ialah pupuk yang terbuat dari sisa-sisa makhluk hidup yang diolah
melalui proses pembusukan (dekomposisi) oleh bakteri pengurai. Contohnya adalah
pupuk kompos dan pupuk kandang. Pupuk kompos berasal dari sisa-sisa tanaman, dan
pupuk kandang berasal dari kotoran ternak. Pupuk organik mempunyai komposisi
1
kandungan unsur hara yang lengkap, tetapi jumlah tiap jenis unsur hara tersebut
rendah. Sesuai dengan namanya, kandungan bahan organik ini termasuk tinggi.
Manfaat pupuk organik untuk tanaman adalah:
b.
1.
Meningkatkan kesuburan tanah
2.
Memperbaiki jasad renik
3.
Memperbaiki struktur dan karakteristik tanah
4.
Meningkatkan kapasitas serap air tanah
5.
Meningkatkan aktivitas mikroba tanah
6.
Meningkatkan kualitas hasil panen (rasa, nilai gizi, dan jumlah panen)
7.
Menyediakan hormon dan vitamin bagi tanaman
8.
Menekan pertumbuhan/serangan penyakit tanaman
9.
Meningkatkan retensi/ketersediaan hara di dalam tanah
Pupuk anorganik
Pupuk anorganik atau pupuk buatan adalah jenis pupuk yang dibuat oleh pabrik
dengan cara meramu berbagai bahan kimia sehingga memiliki persentase kandungan
hara yang tinggi. Contoh pupuk anorganik adalah Urea, TSP, dan KCl. Jenis pupuk buatan
sangat banyak.
1) Pupuk tunggal: Pupuk tunggal merupakan yang hanya mengandung satu jenis
unsur hara makro, biasanya berupa unsur hara makro primer. Sebagai contoh
urea yang hanya mengandung unsur nitrogen, SP36 yang hanya mengandung
unsur phospor (P), dan KCl yang hanya mengandung unsur kalium (K).
2) Pupuk majemuk: Pupuk majemuk adalah pupuk yang mengandung lebih dari satu
jenis unsur hara makro.
Contoh pupuk majemuk antara lain diammonium
phosphat yang mengandung unsur nitrogen dan phosphor, serta pupuk NPK
Mutiara yang mengandung unsur nitrogen, phosphor, dan kalium.
2
3. Pemupukan
Pemupukan merupakan salah satu proses penting dalam budidaya suatu tanaman.
Keberhasilan produksi tanaman sangat ditentukan oleh proses pemupukan. Prosses
pemupukan sangat ditentukan oleh beberapa hal, yaitu:
a. Tanaman yang akan dipupuk
Setiap jenis tanaman memiliki kemampuan yang berbeda dalam menyerap unsur
hara dari dalam tanah. Ada jenis tanaman yang sangat rakus terhadap unsur hara
sehingga membuthkan suplai pupuk yang lebih banyak, dan ada juga jenis tanaman yang
tidakk rakus terhadap unsur hara sehingga membutuhkan suplai pupuk yang lebih sedikit.
sebagai contoh jenis tanaman yang dipanen bagian vegetatifnya maka membutuhkan
pupuk nitrogen yang lebih tinggi dibandingkan dengan pupuk phospor dan kalium, namun
untuk jenis tanaman yang dipanen buahnya seperti cabai, maka kebutuhan nitrogen lebih
sedikit dibandingkan dengan kebutuhan phospor dan kalium.
Selain jenis tanaman, umur tanaman juga sangat mempengaruhi keberhasilan
pemupukan dalam meningkatkan produksi tanaman. Masing-masing tingkatan umur
tanaman membutuhkan membutuhkan pupuk dengan kandungan unsur hara yang
bebeda.
Sebagai contoh, tanaman yang memasuki fase pertumbuhan (vegetatif)
membutuhkan pupuk dengan kandungan nitrogen yang tinggi, namun tanaman yang
menjelang berbunga atau memasuki tahap pemasakan buah membutuhkan pupuk
dengan kandungan phospor dan kalium yang lebih tinggi.
b. Waktu pemupukan
Waktu pemupukan biasanya dilakukan dua kali selama musim tanam, yaitu
sebelum dilakukan penanaman dan setelah penanaman. Pemupukan yang dilakukan
sebelum penanaman dikenal dengan istilah pupuk dasar. Sedangkan pemupukan yang
dilakukan setelah penanaman dikenal dengan istilah pupuk susulan.
Pupuk dasar biasanya diaplikasikan pada saat pengolahan tanah dan pembuatan
bedengan. Pupuk yang diberikan dapat berupa pupuk organik atau pupuk kimia. Pupuk
kimia yang biasa digunakan sebagai pupuk dasar adalah pupuk yang memiliki kelarutan
3
rendah (slow release) seperti pupuk NPK dan SP36. Pemberian pupuk dilakukan dengan
cara ditabur hingga merata dengan harapan pada saat tanam pupuk sudah siap diserap
oleh tanaman.
Pemupukan susulan biasanya dilakukan beberapa kali dalam satu periode tanam.
Jenis tanaman dan umur tanaman memiliki kebutuhan pupuk yang berbeda, sehingga
intensitas pemupukan susulan juga berbeda pada setiap jenis dan umur tanaman.
Tanaman yang dipanen pada vase vegetatif (sayuran daun) pemupukan susulan umumnya
dilakukan hanya sekali dengan menggunakan pupuk dengan kandungan nitrogen yang
tinggi. namun untuk jenis tanaman yang dipanen bunga atau buahnya, pemupukan
susulan dapat dilakukan lebih dari dua kali tergantung dari kebutuhan tanaman. Pada saat
tanaman memasuki vase vegetatif pemupukan susulan pertama dilakukan dengan
memberikan pupuk yang mengandung N tinggi. Pada saat tanaman menjelang berbunga
dilakukan pemupukan dengan kandungan P tinggi. jika tanaman telah memasuki masa
pemasakan buah biasanya untuk meningkatkan bobot buah dan meningkatkan rasa manis
pada buah pemupukan susulan ketiga dilakukan dengan memberikan pupuk dengan
kandungan K, Ca, da Mg tinggi.
Sebagai contoh untuk penanaman cabai pada lahan kering dataran tinggi/medium
(Jenis Andosol/Latosol) adalah sebagai berikut : Pemupukan dasar terdiri dari pupuk
kandang kuda (20-30 ton/ha) atau pupuk kandang ayam (15-20 ton/ha) dan pupuk Sp-36
(300-400 kg/ha) dilakukan satu minggu sebelum tanam.Pupuk susulan terdiri dari pupuk
urea (200-300 kg/ha), ZA (400-500 kg/ha) dan KCI (250-300 kg/ha), diberikan 3 kali pada
umur 3,6 dan 9 minggu setelah tanam masing-masing 1/3 dosis, dengan cara disebarkan
disekitar lubang tanam kemudian ditutup dengan tanah.
Pada tanaman semangka pempukan susulan dilakukan hingga beberapa kali.
Mulai dari tahap pertumbuhan vegetatif, pembungaan, pembuahan, pematangan buah,
hingga menjelang panen. Berikut adalah contoh pemupukan susulan pada tanaman
semangka:
1. Pupuk susulan I: pupuk NPK 16-16-16 dilakukan pada usia 10 HST dengan dosis 5
g/tanaman. Dilarutkan dengan 300 ml air dan dikocorkan pada pangkal batang
4
2. Pupuk susulan II: pupuk ZA dilakukan pada usia 14 HST dengan dosis 10 g/
tanaman. Dilarutkan dengan 400 ml air dan dikocorkan pada pangkal batang
3. Pupuk susulan III: pupuk NPK dan ZA dengan perbandingan 1:2 dilakukan pada
usia 18 HST dengan dosis 15 g/ tanaman. Dilarutkan dengan 600 ml air dan
dikocorkan pada pangkal batang
4. Pupuk susulan IV: pupuk SP36, ZA, dan KCl dengan perbandingan 2:2:1 dilakukan
pada usia 22 HST dengan dosis 50 g/ tanaman. Dilarutkan dengan 500 ml air dan
dikocorkan pada pangkal batang
5. Pupuk susulan V: pupuk SP36, ZA, dan KCl dengan perbandingan 3:2:2 dilakukan
pada usia 26 HST dengan dosis 70 g/ tanaman. Dilarutkan dengan 500 ml air dan
dikocorkan pada pangkal batang
6. Pupuk susulan VI: pupuk SP36, ZA, dan KCl dengan perbandingan 4:2:2 dilakukan
pada usia 30 HST dengan dosis 80 g/ tanaman. Dilarutkan dengan 500 ml air dan
dikocorkan pada pangkal batang
7. Pupuk susulan VII: pupuk SP36, ZA, dan KCl dengan perbandingan 5:3:2 dilakukan
pada usia 34 HST dengan dosis 100 g/ tanaman. Dilarutkan dengan 500 ml air dan
dikocorkan pada pangkal batang
8. Pupuk susulan VIII: pupuk NPK 15 dan KCl perbandingan 1:1 pada usia 38 HST
dengan dosis 120 g/tanaman Dilarutkan dengan 500 ml air dan dikocorkan pada
pangkal batang
9. Pupuk susulan IX: pupuk NPK 15 dan KCl perbandingan 1:1 pada usia 42 HST
dengan dosis 140 g/tanaman Dilarutkan dengan 750 ml air dan dikocorkan pada
pangkal batang
10. Pupuk susulan X: pupuk KCl pada usia 50 HST dengan dosis 150 g/tanaman
Dilarutkan dengan 1000 ml air dan dikocorkan pada pangkal batang
c.
Cara pemupukan
Dengan berkembangnya teknologi pertanian dan industri, telah melahirkan
berbagai produk yang cara pemberiannya lain dari biasanya, namun secara garis besar
dapat dikelompokkan menjadi dua cara pemberian/memupuk, yakni pemupukan dengan
cara pemberian melalui akar dan pemupukan dengan cara pemberian melalui daun.
5
Pemupukan dengan cara pemberian melalui akar dilakukan dengan beberapa cara,
yaitu:
1)
Ditabur atau disebar: cara ini dapat diterapkan untuk pupuk berupa butiran
atau serbuk. Penaburannya dilakukan keseluruh lahan yang akan dipupuk.
Pemupukan dengan cara ditabur ini biasa dilakukan pada tanaman yang jarak
tanamnya rapat atau tidak teratur pada tanaman yang sistem perakarannya
dangkal seperti padi sawah. Kelemahan dari cara ini adalah memungkinkan
pertumbuhan rumput pengganggu lebih cepat, kurang mengenai sasaran, dan
sering terkikis air meskipun sudah diinjak-injak setelah ditabur.
Sumber: http://bbpadi.litbang.pertanian.go.id/index.php/berita/infoteknologi/content/226-pemupukan-pada-tanaman-padi
Gambar. Pemberian pupuk dengan cara disebar pada tanaman padi
2) Diletakkan di antara larikan atau barisan: Pada cara ini, pupuk diletakkan di
antara larikan tanaman yang kemudian ditutup dengan tanah. Cara ini sangat
baik dan pada umumnya dilakukan pada tanaman yang ditanam secara teratur
dengan jarak yang lebih leluasa seperti pada jagung dan kacang tanah.
Keuntungan dari cara ini adalah perkembangan akar lebih cepat sehingga
pertumbuhan akan baik. Yang tak kalah pentingnya adalah kehilangan unsur
hara, terutama yang mudah menguap seperti Nitrogen akan lebih cepat
teratasi.
6
Sumber: http://cybex.pertanian.go.id/materipenyuluhan/detail/10083/perawatantanaman-jagung
Gambar. Pemberian pupupk pada tanaman jagung
3) Ditempatkan dalam lubang: Cara ini pada umumnya diterapkan pada
tanaman tahunan seperti cengkeh dan buah-buahan. Lubang untuk pupuk
dibuat terlebih dahulu sedalam 30 cm. Letak lubang persis dibawah tajuk
disekitar batang tanaman. Ke dalam tanaman tersebut dimasukkan pupuk,
lalu ditutup dengan tanah. Pada tanaman muda, lubang cukup dibuat 10 cm
dari batang. Keuntungan cara ini sama seperti pada pada cara larikan.
Pemberian pupuk melalui daun dilakukan dengan cara melarutka pupuk ke
dalam air dengan konsentrasi sangat rendah kemudian disemprotkan
langsung kepada daun dengan alat penyemprot biasa (Sprayer). Konsentrasi
larutan pupuk yang akan diaplikasikan melalui daun harus sangat rendah atau
mengikuti petunjuk dalam kemasan pupuk. Jika konsentasi yang diberikan
berlebihan akan mengakibatkan daun tanaman terbakar dan dan tanaman
akan mati. Namun jika konsentrasinya lebih rendah dari anjuran maka untuk
mengimbanginya frekuensi pemupukan bisa dipercepat, misalnya dianjurkan
10 hari bisa dipercepat jadi seminggu sekali.
7
Cara aplikasi pupuk melalui daun harus memperhatikan posisi daun. Pupuk
daun disemprotkan ke bagian daun yang menghadap ke bawah. Hal ini
disebabkan karena pada kebanyakan daun tanaman, mulut daun (stomata)
umumnya menghadap ke bawah atau bagain punggung daun. Penyemprotan
pupuk hendaknya dilakukan ketika matahari tidak sedang terik-teriknya.
Paling ideal dilakukan sore atau pagi hari persis ketika matahari belum begitu
menyengat. Kalau dipaksakan juga menyemprot ketika panas, pupuk daun itu
banyak menguap daripada diserap oleh daun.
Pemberian pupuk daun bisa dilakukan bersamaan dengan pemberian
pestisida atau zat perangsang jika dianggap perlu. Njangan sekali-kali
memberikan pupuk daun bersamaan dengan pestisida yang mengandung zat
perekat. sebab pupuk tersebut akan ikut lengket di permukaan daun tanpa
bisa diserap. Akibat lebih lanjut ialah pupuk akan menyerap air daun dan
daunpun akan rusak seperti terbakar.
Sumber: http://agrobudidaya.blogspot.co.id/2014/03/metode-pemupukan-tanaman.html
Gambar. Aplikasi pupuk dengan penyemprotan melalui daun pada tanaman cabe
4. Unsur hara esensial dan fungsinya
Dalam melangsungkan siklus hidupnya tanaman membutuhkan nutrisi. Nutrisi
tanaman adalah suatu zat yang dibutuhkan oleh tanaman dan tidak dapat digantikan
dalam menyelesaikan siklus hidupnya. Unsur tersebut disebut dengan hara tanaman.
8
unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman dikelompokkan kedalam unsur hara esensial.
Menurut Arnon dan Stout (1939) suatu unsur hara dikatakan esensial jika masuk kedalam
beberapa kriteria, yaitu: (a) ketiadaan unsur tersebut menyebabkan ketidak-mampuan
tumbuhan menyelesaikan siklus hidupnya, (b) fungsi unsur tersebut tidak dapat
digantikan oleh unsur lainnya, dan (c) unsur tersebut mempengaruhi langsung
pertumbuhan dan metabolisme tumbuhan. Kekurangan unsur hara akan menyebabkan
terjadinya hambatan dalam pertumbuhan dan gejala-gejala lain yang dapat mengganggu
mutu pertumbuhan tanaman dan pada akhirnya menurunkan produksi yang dihasilkan.
Untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman terdapat 16 unsur hara esensial.
Unsur hara esensial berdasarkan jumlah yang dibutuhkan oleh tanaman dibedakan
kedalam unsur hara makro dan unsur hara mikro. Unsur hara makro adalah unsur hara
yang dibutuhkan dalam jumlah besar, yaitu lebih dari 1000 ppm (ppm = mg/kg).
Sedangkan unsur hara mikro adalah unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman dalam
jumlah yang sedikit, yaitu kurang dari 1000 ppm. Unsur hara yang tergolong dalam unsur
hara makro adalah N,P,K,Ca, Mg, S, C,H, dan O. Sedangkan unsur hara yang tergolong
kedalam unsur hara mikro adalah Cl, Fe, B, Mn, Zn, Cu dan Mo.
Berdasarkan penyerapannya, unsur hara esensial dibedakan kedalam dua
kelompok, yaitu unsur hara yang diserap dari udara dan air serta unsur hara yang diserap
dari dalam tanah. Unsur hara yang diserap dari udara dan air adalah C, H, O. Sedangkan
unsur hara yang diserap dari dalam tanah adalah N,P,K,Ca, Mg, S, Cl, Fe, B, Mn, Zn, Cu dan
Mo.
Masing-masing unsur hara disrap oleh tanaman dalam bentuk yang berbeda.
bentuk-bentuk unsur hara yang diserap oleh tanaman adalah sebagai berikut:
Table 1. Bentuk-bentuk ion yang diserap oleh tanaman
Nama unsur hara
Makro
C
H
O
N
P
Bentuk diserap
Keterangan
CO2
H+ , H2O
O2 , CO2
NH4+ , NO2− , NO3 −
H2PO4−= , HPO4−
Diserap dari udara
dan air
Diserap dari dalam
tanah
9
K
Ca
Mg
S
Fe
Mn
B
Mikro
Mo
Cu
Zn
Cl
K+
Ca++
Mg++
SO4=
Fe++ , Fe+++
Mn++
BO33 − , H2BO3−,
B(OH)4−
MoO4− (molibdat)
Cu++
Zn++
Cl −
Masing-masing unsur hara memiliki peran yang berbeda-beda dalam mendukung
pertumbuhan dan perkembangan tanaman, fungsi unsur hara esensial dalam jaringan
tanaman adalah sebagai berikut:
•
Karbon (C) : komponen dari semua senyawa organik, seperti gula, protein, dan
asam-asam organik.
•
Hidrogen (H) : komponen senyawa organik, seperti gula, protein, dan asam-asam
organik.
•
Oksigen (O) : komponen senyawa organik, seperti gula, protein, dan asam-asam
organik.
•
Nitrogen (N) : penyusun klorofil, asam- amino, protein, asam-asam nukleat, dan
asam-asam organik.
•
Fosfor (P) : penyusun asam nukleat, ATP (penting dalam transfer energi), sebagai
bahan penyusun inti sel, lemak dan protein, memacu pertumbuhan akar dan
pembentukan sistem perakaran, dan mempercepat pembungaan dan pemasakan
buah.
•
Kalium atau potasium (K) : aktivator lebih dari 50 enzim, tidak menjadi penyusun
struktur tanaman, memperlancar foto sintesa, sebagai katalisator dalam
tranformator tepung, gula dan lemak tanaman.
•
Belerang atau sulfur (S): penyusun asam amino sistein dan metionin, protein,
enzim
10
•
Kalsium (Ca) : kalsium pektat untuk perkembangan dinding sel, kofaktor enzim,
calmodulin (2nd messenger)
•
Magnesium (Mg) : penyusun klorofil, kofaktor enzim ATP-ase
•
Besi atau ferum (Fe) : reaksi biokimia pembentuk klorofil, sitokrom, porfirin,
kofaktor katalase & peroksidase
•
Mangan (Mn) : kofaktor reaksi enzimatik yang melibatkan ATP & enzim dalam
fotosintesis
•
Tembaga atau cuprum (Cu) : kofaktor enzim dalam reaksi terang fotosintesis
(sistem transport elektron)
5.
•
Seng (Zn) : aktivator enzim, sintesis IAA
•
Molibdenum (Mo) : penyusun enzim nitrogenase, nitrat reduktase
•
Klor (Cl) : berperan dalam reaksi terang fotosintesis
•
Boron (B) : penting dalam translokasi fotosintat
Gejala difisiensi unsur hara esensial
Defisiensi atau kahat unsur hara adalah kekurangan meterial (bahan) yang berupa
makanan bagi tanaman untuk melangsungkan hidupnya. Kebutuhan tanaman akan unsur
hara berbeda-beda tergantung dari umur dan jenis tanamannya. Jika unsur hara dalam
tanah tidak tersedia maka pertumbuhan tanaman akan terhambat dan produksinya
menurun.
Untuk mengetahui apakah suatu tanaan mengalami kecukupan atau kekurangan
unsur hara dapat diketahui dengan beberapa cara. Diantaranya adalah dengan melakukan
pengamatan secara visual terhadap gejala kekurangan unsur hara secara langsung di
lapangan atau dengan melalukan analisis tanaman.
Tanaman yang kekurangan unsur hara tertentu akan menampakkan gejala
defisiensi yang spesifik. Sehingga akan mudah untuk menganalisa kekurangan unsur hara
dari gejala yang tampak. Namun demikian identifikasi kekurangan unsur hara pada
tanaman terdapat beberapa kelemahan, diantaranya adalah: (a) gejala yang sama dapat
disebabkan oleh defisiensi satu unsur hara atau lebih, contoh klorosis diantara jaringan
11
pembuluh pada daun muda merupakan ciri defisiensi baik Fe maupun Mn; (b) gejala
visual yang sama, dapat disebabkan oleh serangga, penyakit, herbisida, dan faktor lain (c)
defisiensi pada tanaman mungkin bukan disebabkan ketidak-cukupan hara tersebut
dalam tanah, melainkan disebabkan oleh pH, kelebihan unsur lain, atau faktor lain yang
dapat menghambat pertumbuhan akar.
Identifikasi kekurangan unsur hara selain dengan melakukan pengamatan visual
dengan melihat gejala kekurangan unsur hara yang tampak, juhga dapat dilakukan
dengan analisis tanaman. Analisis tanaman dapat dilakukan dengan analisis jaringan
tanaman di laboratorium atau dengan Test uji cepat langsung di lapang (semiquantitative). Analisis jaringan tanaman dapat dilakukan dengan mengambil sampel
jaringan tanaman (biasanya bagian daun) kemudian dibawa kelaboratoorium untuk
dianalisis kandungan haranya, apakah kecukupan atau kekurangan.
Melalui analisis
jaringan tanaman ini akan diperoleh hasil yang akurat apakah suatu tanaman mengalami
kecukupan atau kekurangan unsur hara serta lebih spesifik unsur hara jenis apa yang
berlebihana tau kurang. Namun demikain analisis jaringan tanaman memerlukan keahlian
khusus dan hanya dapat dilakukan di tempat-tempat tertentu, seperti laboratorium yang
ada di perguruan tinggi, instansi pemerintah atau perusahaan. Sehingga tidak mudah
diaplikasikan oleh petani.
Selain menggunakan analisis jaringan tanaman, untuk mengetahui kekurangan
unsur hara juga dapat dilakukan dengan Test uji cepat langsung di lapang (semiquantitative), yaitu dengan mengukur tingkat kehijauan daun atau “Leaf greenness" yang
berkaitan dengan pendugaan kandungan N daun. Dengan menggunakan indikator warna
(Chlorophyll meter) petani akan dengan mudah mengetahui apakah suatu tanaman
mengalami kelebihan atau kekurangan nitrogen.
12
Sumber:http://bbpadi.litbang.pertanian.go.id/index.php/berita/infoteknologi/content/226-pemupukan-pada-tanaman-padi
Gambar. Test uji cepat langsung di lapang terhadap kecukupan unsur Nitrogen pada
tanaman padi
Difisiensi atau kekurangan unsur hara menunjukkan gejala yang berbeda beda
untuk setiap unsur, berikut ini adalah gejala defisiensi unsur hara yang terlihat pada
jaringan tanaman:

Nitrogen (N), gejala kekurangan nitrogen ditandai dengan warna daun berubah
menjadi hijau muda kemudian menjadi kuning sempurna, jaringan daun mati
dan mengering berwarna merah kecoklatan. Bentuk buah tidak sempurna,
kecil, kekuningan dan masak sebelum waktunya. Cara penanganan kekurangan
unsur nitrogen adalah dengan menambahkan pupuk kimia berupa urea (N=46
%), ZA (N=21 %), KNO3, NPK serta pupuk daun kandungan N tinggi.

Fosfor (P), gejala kekurangan fosfor ditandai dengan warna bagian bawah daun
terutama tulang daun merah keunguan, daun melengkung dan terpelintir. Tepi
daun, cabang dan batang juga berwarna ungu. Hal ini menyebabkan
terhambatnya sistem perakaran dan pembuahan. Cara penanganan kekurangan
unsur fosfor adalah dengan menambahkan pupuk kimia SP36 (P=36 %), NPK,
MKP serta pupuk daun kandungan P tinggi.

Kalium (K), gejala kekurangan kalium ditandai dengan mengerutnya daun
terutama daun tua meski tidak merata, tepi dan ujung daun menguning yang
13
kemudian menjadi bercak coklat. Bercak daun ini akhirnya gugur, sehingga
daun tampak bergerigi dan akhirnya mati. Buah yang terbentuk tidak
sempurna, kecil, kualitas jelek dan tidak tahan simpan. Cara penanganan
kekurangan unsur kalium adalah dengan menambahkan pupuk kimia KCl (K=52
%), NPK, MKP serta pupuk daun kandungan K tinggi.

Sulfur (S), gejala kekurangan sulfur ditandai dengan warna daun muda
memudar (klorosis), berubah menjadi hijau muda, kadang-kadang tampak tidak
merata, menguning atau keputih-putihan. Pertumbuhan tanaman terhambat,
kerdil, berbatang pendek, dan kurus. Cara penanganan kekurangan unsur sulfur
adalah dengan menambahkan pupuk kimia ZA (S=20 %), Phonska (S=10 %) serta
pupuk daun yang mengandung unsur S.

Kalsium (Ca), gejala kekurangan kalsium ditandai dengan pertumbuhan kuncup
yang terhenti dan mati, pertumbuhan tanaman lemah dan merana, tepi daun
muda mengalami klorosis, buah muda banyak yang rontok dan masak sebelum
waktunya, warna buah kurang sempurna. Cara penanganan kekurangan unsur
kalsium adalah dengan menambahkan kapur dolomite (Ca=38 %), kalsium
karbonat (Ca=90 %) serta pupuk kalsium kandungan Ca 80-99 %.

Magnesium (Mg), gejala kekurangan magnesium ditandai dengan daun tua
yang semula hijau segar berubah menjadi kekuningan dan tampak pucat.
Diantara tulang-tulang daun terjadi klorosis, warna berubah menguning,
terdapat bercak-bercak berwarna kecoklatan, sedangkan tulang daun tetap
berwarna hijau. Cara penanganan kekurangan unsur magnesium adalah dengan
menambahkan pupuk kimia kieserite, kapur dolomite (Mg=18 %) serta pupuk
daun yang mengandung unsur Mg.

Unsur MikroBesi (Fe), gejala kekurangan besi ditandai dengan warna kuning
pada daun muda, pertumbuhan tanaman terhambat, daun berguguran, mati
pucuk, tulang daun yang berwarna hijau berubah kekuningan kemudian
memutih, pertumbuhan tanaman seolah terhenti.

Boron (B), gejala kekurangan boron ditandai dengan tepi daun mengalami
klorosis mulai dari bawah daun kemudian mengering dan akhirnya mati. Pada
14
tanaman bercabang, ruas tanaman memendek, batang keropos, pembentukan
cabang tumbuh sejajar berdampingan.

Tembaga (Cu), gejala kekurangan tembaga ditandai dengan daun berwarna
hijau kebiru-biruan, ujung daun secara tidak merata ditemukan layu, terkadang
terjadi klorosis meski jaringannya tidak mati, pertumbuhan tanaman kerdil dan
gagal membentuk bunga.

Mangan (Mn), gejala kekurangan mangan ditandai dengan pertumbuhan
tanaman kerdil, daun berwarna kekuningan atau kemerahan, jaringan daun di
beberapa tempat mati serta biji yang terbentuk tidak sempurna.

Seng (Zn), gejala kekurangan seng ditandai dengan daun tua berwarna
kekuningan atau kemerahan, daun berlubang, mengering dan akhirnya mati.

Molibedenum (Mo), gejala kekurangan molibdenum ditandai dengan warna
daun memudar, keriput, mengering, pertumbuhan tanaman seolah terhenti
dan akhirnya mati. Cara penanganan kekurangan unsur mikro adalah dengan
menambahkan pupuk organikyang tinggi, pemberian pupuk organik cair untuk
pemupukan susulan serta penyemprotan pupuk daun dengan kandungan mikro
lengkap.
Sumber: http://jacq-planter.blogspot.co.id/2014/09/unsur-hara-makro-dan-mikroyang.html
Gambar. Gejala defisiensi beberapa unsur hara pada tanaman jagung
15
Sumber: https://wongtaniku.wordpress.com/2013/05/21/kalsium-ca/
Gambar. Gejala defisiensi unsur Ca pada tanaman tomat
16
Download