Preferensi Pemijahan dan Habitat Ikan Nomei - e

advertisement
pISSN 2302-1616, eISSN 2580-2909
Vol 5, No. 1, Juni 2017, hal 55-60
Available online http://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/biogenesis
DOI http://dx.doi.org/10.24252/bio.v4i2.3434
Preferensi Pemijahan dan Habitat Ikan Nomei (Harpodon nehereus) di Perairan
Juata Laut Tarakan Sebagai Upaya Konservasi
ENDIK DENI NUGROHO1, VLORENSIUS1, ADELYN SALURAPA1
1
Pendidikan Biologi, FKIP, Universitas Borneo Tarakan
Jl. Amal Lama No. 1, Gedung FKIP, Tarakan, Kalimantan Utara 77123
email: [email protected]
ABSTRACT
Nomei fish (Harpodon nehereus) is a local marine fish found in the territorial waters of
Tarakan. This fish is a commercial fish that is widely marketed in dry form, so the fish Nomei
become one of the specialties foods of Tarakan. Continuous Nomei fishing will have an impact on
the fishermen's incomes that begin to fall and the extinction of these fish in ecosystem habitats. One
effort that can be done to preserve the existence of Nomei fish is the basic research related to habitat
and Nomei spawning preference that founded in coastal areas of Tarakan, North Kalimantan. The
benefits of this research are as a reference in the determination of Nomei spawning habitat based on
breeding preferences of Nomei, also as the basis of management and conservation of Nomei
declining as well as efforts to conserve local marine fish of Tarakan. This research type is
descriptive qualitative, with survey approach. Descriptive qualitative, explaining Nomei spawning
preferences based on fish habitat types. The use of descriptive type is expected to determine the
spawning preference and the dispersal habitat type of Nomei. Data collection is also inseparable
from the source (fishermen) through interviews.
Keywords: conserve, Nomei fish, preference, spawning
INTISARI
Ikan Nomei (Harpodon nehereus) merupakan ikan laut lokal yang ditemukan di wilayah
perairan Tarakan. Ikan ini merupakan ikan komersial yang banyak dipasarkan dalam bentuk kering,
sehingga ikan Nomei menjadi salah satu makanan khas kota Tarakan. Penangkapan ikan Nomei
yang dilakukan secara terus-menerus akan berdampak pada pendapatan nelayan yang mulai turun
dan punahnya ikan ini di habitat ekosistem. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk
melestarikan keberadaan ikan Nomei yaitu penelitian dasar terkait habitat dan preferensi pemijahan
ikan Nomei yang ditemukan di wilayah pesisir Tarakan, Kalimantan Utara. Manfaat dari penelitian
ini yaitu sebagai acuan dalam penentuan habitat pemijahan ikan Nomei berdasarkan preferensi
pemijahan ikan Nomei, sebagai dasar pengelolaan dan pelestarian ikan Nomei yang semakin
menurun serta upaya melakukan konservasi ikan laut lokal Tarakan. Jenis penelitian yang
digunakan yaitu deskriptif kualitatif, dengan pendekatan survei. Deskriptif kualitatif, menjelaskan
preferensi pemijahan ikan Nomei berdasarkan tipe habitat ikan tersebut. Penggunaan jenis
penelitian deskriptif diharapkan dapat menentukan tempat preferensi pemijahan ikan Nomei dan
tipe habitat penyebaran ikan Nomei. Pengumpulan data juga tidak terlepas dari sumber (nelayan)
melalui wawancara.
Kata kunci: ikan Nomei, konservasi, pemijahan, preferensi
PENDAHULUAN
Ikan Nomei merupakan ikan laut lokal
yang ditemukan di wilayah perairan Tarakan.
Ikan ini merupakan ikan komersial yang
banyak dipasarkan dalam bentuk kering. Ikan
Nomei menjadi salah satu makanan khas kota
Tarakan. Menurut DKP Tarakan (2002)
menyebutkan bahwa ikan ini mempunyai
potensi yang cukup besar, yakni 10 ton
perbulan dalam bentuk segar atau ±3 ton ikan
Nomei kering. Data KKP (2011) melaporkan
bahwa penangkapan ikan Nomei pada tahun
ENDIK DENI NUGROHO dkk
2010 sekitar 149 ton di wilayah Kalimantan
Timur, sedangkan pada wilayah perairan
pantai barat Kalimantan, hasil tangkapan ikan
Nomei pada tahun 2010 yaitu 44 ton, tetapi
Direktorat Pengembangan Potensi Daerah
BKPM tahun 2009 melaporkan potensi
perikanan tangkap di Kalimantan sebesar 807
ton. Data diatas menunjukkan bahwa hasil
penangkapan ikan Nomei mengalami
penurunan (Nugroho dan Rahayu, 2014).
Penangkapan ikan Nomei (Harpodon
nehereus) yang dilakukan secara terusmenerus akan berdampak pada pendapatan
nelayan yang mulai turun dan punahnya ikan
ini di habitat ekosistem. Aktivitas ini
ditelusuri karena kurangnya kepedulian
terhadap kelestarian habitat ekosistem ikan di
perairan Tarakan (Firdaus dkk., 2013).
Penelitian tersebut dapat dijadikan dasar
pengelolaan dan pelestarian ikan Nomei.
Tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini
adalah menentukan tingkat preferensi dan
distribusi pemijahan ikan Nomei di perairan
Juata Laut Tarakan Kalimantan Utara,
menentukan habitat pemijahan ikan Nomei di
perairan Juata Laut Tarakan, dan menentukan
waktu pemijahan ikan Nomei di perairan
Juata Laut Tarakan.
Biogenesis 56
Salah satu upaya yang dapat dilakukan
untuk melestarikan keberadaan ikan Nomei
yaitu penelitian dasar terkait habitat dan
preferensi pemijahan ikan Nomei yang
ditemukan di wilayah pesisir Tarakan. Habitat
ikan Nomei merupakan lokasi ikan
melakukan
proses
pemijahan
atau
berkembang biak yang biasanya dilakukan
secara massal atau agregasi, sehingga wilayah
ini rentan terhadap adanya penangkapan
berlebih.
Penelitian habitat pemijahan sangat
penting dilakukan untuk memprediksi
distribusi dan waktu pemijahan, terutama
pada ikan Nomei, yang berguna dalam usaha
melindungi, mengatur, dan membangun zona
larang tangkap. Selain itu, habitat pemijahan
ikan juga digunakan untuk mengetahui
kondisi suatu ekosistem agar tetap terjaga,
sehingga
tercipta
perikanan
yang
berkelanjutan.
METODE
Lokasi Penelitian. Penelitian dilakukan
dilokasi muara sungai Juata Laut Tarakan,
Kalimantan Utara. Tepatnya di kelurahan
Juata Laut, Kecamatan Tarakan Utara.
Gambar 1. Peta lokasi penelitian stasiun 1 (Tj. Simaya), stasiun 2 (Tj. Selayu), stasiun 3 (Tj. Juata).
Pengamatan dilakukan dengan ikut
langsung bersama nelayan menjaring ikan.
Selanjutnya, pengamatan terhadap ikan
Nomei 30% dari hasil tangkapan sebagai
sampel ikan. Tempat dijaringnya ikan diukur
menggunakan beberapa parameter, untuk
menentukan
faktor-faktor
yang
mempengaruhi habitat pemijahan ikan Nomei.
Pengambilan sampel dilakukan dengan 2 kali
ulangan pada tiap lokasi tertentu.
Pengumpulan
Data.
Pengambilan
sampel ikan diperoleh dari hasil tangkapan
nelayan yang beroperasi di perairan Juata
Laut Tarakan dengan cara sampling. Sampel
ikan yang dikumpulkan dari nelayan
kemudian dianalisis.
Vol 5, Juni 2017
Biogenesis 57
Prosedur pengambilan data diuraikan
sebagai berikut:
1. Penelitian
Pendahuluan.
Penelitian
pendahuluan dilakukan untuk mengetahui
habitat berbiak ikan Nomei dan
permasalahannya. Berdasarkan hasil
penelitian telah diketahui tempat-tempat
pengambilan ikan Nomei. Penentuan
koordinat tempat dilakukan dengan
menggunakan informasi dari nelayan dan
dari peta perikanan.
2. Pengumpulan Data Karakteristik Habitat
Berbiak. Data habitat yang dikumpulkan
mencakup pengukuran suhu air dan
udara, kelembaban relatif, kedalaman air,
pH air. Pengukuran faktor lingkungan ini
dilakukan dengan asumsi perbedaan
kondisi yang berpengaruh pada frekuensi
penemuan ikan Nomei. Sehingga
kecenderungan populasi ikan ini banyak
terdapat di perairan Juata Tarakan.
3. Pengumpulan
Data
Ikan
Nomei.
Pengumpulan data ini dilakukan pada
pagi hari (06.00-11.00 WITA tergantung
banyaknya ikan yang diperoleh) dengan 2
kali ulangan pada titik tertentu lokasi
pengamatan. Pengambilan sampel ikan
Nomei dilakukan saat kondisi air mati.
Analisis Data. Preferensi habitat berbiak
ikan Nomei ditentukan berdasarkan frekuensi
penyebaran ikan Nomei di Juata Laut
Tarakan.
Selanjutnya
dilakukan
pengukuran
parameter lingkungan yang telah diukur untuk
menentukan faktor yang berperan dalam
proses pemilihan habitat berbiak dengan
mengukur tingkat kedalaman, pH air, dan
beberapa parameter kualitas air (DO, BOD,
salinitas, dan suhu) sebagai acuan preferensi
habitat yang cocok untuk pemijahan ikan ini.
Ikan yang telah ditangkap kemudian dianalisis
berdasarkan ukuran dan banyaknya jumlah
ikan yang dijaring. Jika ikan yang berukuran
kecil berjumlah banyak maka kecenderungan
tempat tersebut merupakan tempat pemijahan
ikan Nomei. Analisis data mengikuti kaidah
sebagai berikut:
1. Preferensi Habitat Berbiak. Analisis
preferensi habitat berbiak ikan Nomei
diduga berdasarkan jumlah ikan Nomei
jantan dan betina, dan frekuensi
perjumpaan sarang pada tiap tempat.
Untuk mengetahui tingkat preferensi
habitat berbiak pada semua titik tempat
yang diamati dilakukan penangkapan
ikan Nomei berdasarkan tempat yang
diperoleh
oleh
nelayan
atau
kecenderungan tempat menjaring ikan
Nomei.
2. Analisis
Parameter
Kualitas
Air.
Pengukuran terhadap beberapa parameter
kualitas air digunakan untuk mengetahui
perbedaan kualitas air pada tiap lokasi
pengambilan sampel. Asumsinya tingkat
kesesuaian air terhadap populasi ikan
Nomei. Penelitian dimulai pagi hari
sehingga pengukuran parameter kualitas
air cenderung berbeda dengan kondisi air
pada siang hari yang mempengaruhi
jumlah tangkapan.
HASIL
Gambar 2. Lokasi Penangkapan Ikan Nomei
ENDIK DENI NUGROHO dkk
Biogenesis 58
Gambar 3. Pengambilan sampel menggunakan Jaring (Trawl)
Gambar 4. Hasil pemeriksaan Perut ikan
Tabel 1. Lokasi (koordinat) nelayan
Plot
Plot 1
Plot 2
Plot 3
Plot 4
Plot 5
Plot 6
Plot 7
Koordinat
03º 27' 40. 09" LU - 117º 35' 08. 21" BT
03º 27' 16. 63" LU - 117º 35' 56. 93" BT
03º 27' 09. 30" LU - 117º 36' 54. 60" BT
03º 26' 02. 79" LU - 117º 32' 46. 82" BT
03º 27' 32. 85" LU - 117º 32' 24. 52" BT
03º 27' 38. 78" LU - 117º 37' 14. 44" BT
03º 26' 54. 75" LU - 117º 36' 07. 55" BT
Tabel 2. Parameter Kualitas Air di Daerah Penangkapan Ikan Nomei
No.
1
Stasiun
1
Suhu
33
DO
3,12
Salinitas
23
BOD
2,65
pH
19,05
2
2
33,7
3, 15
19
1,65
9,721
3
3
33,8
3,74
15
4,95
8,829
4
3
33,6
3,90
17
2,35
8,714
PEMBAHASAN
Preferensi Habitat Berbiak dan
Pemijahan. Analisis preferensi habitat
berbiak ikan Nomei (Harpodon nehereus)
dilakukan berdasarkan jumlah sampel ikan
Nomei, dan frekuensi perjumpaan sarang
pada tiap tempat. Tingkat preferensi habitat
berbiak ikan Nomei pada semua titik tempat
yang diamati dilakukan penangkapan ikan
Nomei, berdasarkan tempat yang diperoleh
oleh nelayan atau kecenderungan tempat
menjaring ikan Nomei.
Dari ketujuh lokasi tersebut, stasiun 1-3
Tj. Selayu, Tj. Simaya, dan Tj. Juata
Vol 5, Juni 2017
merupakan tempat preferensi berbiak atau
beruaya
(migrasi)
karena
penelitian
bertepatan di bulan April-Mei sehingga lebih
didominasi oleh ikan yang didalam perutnya
terdapat substrat makanan dibandingkan telur.
Hal ini dapat terjadi menurut Laga (2015)
dikarenakan ikan pepija di perairan Tarakan,
hanya memijah di bulan Juni-Agustus dan
Desember-Februari. Apabila ikan pepija ini
memijah di bulan Juni-Agustus maka, tidak
akan memijah lagi di bulan DesemberFebruari begitu pula sebaliknya. Pemijahan
yang terjadi seperti ini juga sama ditemukan
oleh Khan et al. (1992), pemijahan terjadi dua
kali dalam setahun tetapi dengan waktu
berbeda yakni Februari-Maret dan November.
Perbedaan waktu dalam proses pemijahan
ini dapat disebabkan oleh kondisi parameter
kualitas air, ketersediaan nutrisi makanan, dan
kondisi
lingkungan
sekitar.
Lokasi
penangkapan ikan juga berdekatan dengan
pelabuhan sehingga aktivitas dermaga dapat
mengganggu pupulasi ikan Nomei. Wilayah
perairan Tj. Selayu-Tj. Juata merupakan salah
satu wilayah pemijahan. Hanya saja penelitian
berlangsung tidak di bulan pemijahan.
Sehingga wilayah ini cenderung tempat
beruaya mencari makan maupun berbiak.
Dari
kecenderungan
melakukan
pemijahan sekali setahun di antara periode
bulan tertentu, maka dinyatakan tipe
pemijahan ikan Nomei adalah total spawner,
ikan melepaskan seluruh telurnya sekali. Hal
ini ditunjukkan dengan pemijahan ikan Nomei
hanya satu kali dalam setahun antara periode
Juni-Agustus atau Desember-Februari.
Berdasarkan hasil pengukuran parameter
kualitas air di daerah penangkapan ikan
Nomei di perairan Juata Laut Tarakan, bahwa
pengukuran kadar pH pada stasiun 3
menggambarkan kadar air laut yang tidak
terlalu basa dibandingkan dengan stasiun
lainnya. Sehingga pada plot 7 kadar pH 8,714
stasiun 3 Tj. Juata dengan koordinat 03º 26'
54. 75" LU - 117º 36' 07. 55" BT diperoleh
ikan Nomei sebanyak 73 ekor dan yang
bertelur hanya 1 ekor. Namun kadar oksigen
sangat sedikit sehingga kurang baik untuk
proses pemijahan. Ikan Nomei merupakan
ikan yang tidak menyukai cahaya. Oleh sebab
Biogenesis 59
itu habitatnya di dasar dengan substrat
lumpur. Kedalaman habitat ikan ini berkisar
antara 13-20 meter sehingga membutuhkan
suplai oksigen yang cukup. Pada ketujuh titik
koordinat di atas, ikan Nomei ditemukan
hanya pada plot 1, 2, 3, dan 7 (Tj. Selayu dan
Tj. Juata). Pada Tj. Simaya tidak ada satupun
ikan Nomei yang didapatkan.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui
bahwa ikan Nomei memiliki beruaya yang
termasuk unik, karena selain beruaya di
muara sungai yaitu Juata dan juga di perairan
laut di pantai Amal. Hal ini ditegaskan dalam
temuan Nugroho dan Rahayu (2015), yang
menyatakan bahwa ikan Nomei yang
ditemukan di perairan Juata dan perairan laut
Amal secara genetik menggunakan marka gen
16S rRNA merupakan spesies yang sama
yaitu Harpodon nehereus. Hal ini dibuktikan
melalui bentuk kesamaan karakter morfologi
pada perairan Amal dan Juata. Perbedaan
hanya terdapat pada panjang sirip dan panjang
tubuh. Menurut Nugroho et al. (2015) ada
tujuh karakter pembeda ikan Nomei pada
perairan Juata dan Amal yaitu panjang sirip
lemak (PSL), panjang terakhir sirip anal
dengan pangkal ekor (PtSAdPE), panjang
standart (SL), tinggi kepala (HD), panjang
terakhir sirip lemak dengan pangkal ekor
(PtsLPE), panjang sebelum sirip pektoral
(PsSP), dan panjang dasar sirip pektoral
(PDSP).
Ikan Nomei baik yang ditemukan di
perairan Juata maupun di perairan Amal
bukan hanya beruaya pemijahan tetapi juga
berkaitan dengan ketersediaan makanan di
sekitar perairan yang dipilih sebagai feeding
ground atau salah satu daerah tempat mencari
makanan.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang
dilakukan di perairan Juata Laut dapat
disimpulkan bahwa lokasi pengambilan
sampel yang tersebar dari stasiun 1-3
merupakan habitat pemijahan. Ikan Nomei
memijah dua kali dalam setahun yaitu JuniAgustus dan Desember-Februari. Jika telah
memijah di bulan Juni-Agustus maka tidak
akan memijah lagi di bulan Juni-Desember.
ENDIK DENI NUGROHO dkk
DAFTAR PUSTAKA
Firdaus, M, Salim G, Maradhy E, Abdiani
IM,
Syahrun.
2013.
Analisis
Pertumbuhan dan Struktur Umur Ikan
Nomei (Harpodon nehereus) di Perairan
Juata Kota Tarakan. Jurnal Akuatika. vol
IV(2): 159-173.
Khan MZ, Kurup KN, Lipton AP. 1992.
Status of Bombay duck Harpodon
nehereus (Ham.) Resource off Saurashtra
Coast. Indian J. Fish. vol 39(3,4): 235242.
Laga A. 2015. Kajian Ekobiologi Ikan Pepija
(Harpodon nehereus, Hamilton 1822)
Sebagai Dasar Pengelolaan Berkelanjutan
di Perairan Pulau Tarakan. [Disertasi].
Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Nugroho ED dan Rahayu DA. 2014. Variasi
Morfologi dan Kekerabatan Ikan Nomei
Biogenesis 60
Perairan Kalimantan Sebagai Upaya
Konservasi Ikan Laut Lokal di Indonesia.
In Proceeding Biology Education
Conference:
Biology,
Science,
Enviromental, and Learning. vol. 11(1):
505-511.
Nugroho ED, Rahayu DA, Amin M, Lestari
U. 2015. Morphometric Characters of
Marine Local Fish (Harpodon sp.) From
Tarakan, Northern Borneo. Journal of
Biological Researches. vol 21(1): 41-45.
Nugroho ED, Rahayu DA. 2015. Status
Taksonomi Ikan Nomei Dari Perairan
Tarakan, Kalimantan Utara Berdasarkan
Gen 16s rRNA Sebagai Upaya
Konservasi Ikan Laut Lokal Indonesia.
Jurnal Harpodon Borneo. vol 8(2): 132141.
Download