12 BAB II KAJIAN TEORI A. Motivasi Belajar 1. Pengertian motivasi

advertisement
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Motivasi Belajar
1. Pengertian motivasi belajar
Kata motif diartikan sebagai daya upaya yang mendorong
seseorang untuk melakukan sesuatu. Motivasi dapat diartikan sebagai
daya penggerak agar menjadi aktif.
terutama
bila
kebutuhan
untuk
Aktif pada saat-saat tertentu,
mencapai
tujuan
sangat
dirasakan/mendesak (Sardiman, 2009: 73). Menurut Mc. Donald
dalam Sardiman A.M (2009: 73) motivasi adalah perubahan energi
dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “feeling” dan
didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan.
Motivasi
merupakan daya penggerak/pendorong untuk melakukan sesuatu
pekerjaan yang bisa berasal dari dalam diri maupun dari luar
(Dalyono, 2009: 57).
Menurut Eko Putro Widoyoko (2012: 234) motivasi adalah
kondisi yang muncul dalam diri individu yang disebabkan oleh
interaksi antara motif dengan kejadian-kejadian yang diamati oleh
individu, sehingga mendorong mengaktifkan perilaku menjadi
tindakan nyata. Motivasi belajar merupakan daya penggerak psikis
dari dalam diri seseorang untuk dapat melakukan kegiatan belajar dan
menambah keterampilan, pengalaman (Martinis Yamin, 2007: 219).
12
13
Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa
motivasi belajar merupakan suatu dorongan baik dari dalam diri siswa
maupun dari luar yang akan menimbulkan suatu perubahan pada diri
individu tersebut sebagai pengalaman dari individu itu sendiri dalam
berinteraksi dengan lingkungannya dan untuk mencapai tujuan yang
diharapkan. Motivasi memiliki pengaruh terhadap perilaku belajar
siswa, yaitu motivasi mendorong meningkatnya semangat dan
ketekunan dalam belajar. Motivasi belajar memegang peranan yang
penting dalam memberi gairah, semangat dan rasa senang dalam
belajar sehingga siswa yang mempunyai motivasi tinggi, mempunyai
energi yang banyak untuk melaksanakan kegiatan belajar yang pada
akhirnya akan mampu memperoleh prestasi yang lebih baik.
Menurut Dimyati dan Mudjiono (2009: 80-81), ada tiga
komponen utama dalam motivasi yaitu kebutuhan, dorongan dan
tujuan. Kebutuhan terjadi apabila individu merasa tidak ada
keseimbangan antara apa yang ia miliki dengan apa yang ia harapkan.
Dorongan merupakan kekuatan mental untuk melakukan kegiatan
dalam rangka memenuhi harapan sedangkan tujuan merupakan hal
yang ingin dicapai oleh seorang individu.
2. Teori tentang motivasi
McClelland dalam Eko Putro Widoyoko
(2012: 234)
mengemukakan empat model motif, yaitu:
a.
The survival motive model atau motif yang dipakai untuk
mempertahankan kelangsungan hidup. Motif ini bersumber pada
14
b.
c.
d.
kebutuhan-kebutuhan
individu
untuk
mempertahankan
kelangsungan hidupnya. Kebutuhan yang dimaksud adalah
kebutuhan biologis, seperti makan dan minum.
The stimulus intensity model merupakan motif yang bersumber
pada tingkat rangsangan yang dihadapi individu. Teori ini
mengatakan bahwa motif atau dorongan untuk berbuat timbul
karena adanya rangsangan yang kuat. Ini berarti agar timbul
dorongan untuk berbuat harus ada rangsangan yang kuat.
The stimulus pattern model merupakan motif yang didasarkan
pada pola rangsangan di dalam suatu situasi. teori ini timbul bila
rangsangan situasi berlawanan dengan harapan individu, maka
akan menimbulkan pertentangan respon yang mengarah pada
kekecewaan.
The affective arousal model adalah teori motif yang mendasarkan
diri pada pembangkitan afeksi, rangsangan atau situasi yang
dihadapi individu dipasangkan dengan keadaan afeksi individu.
motif muncul karena adanya perubahan situasi afeksi individu.
3. Fungsi dan tujuan motivasi
Hasil belajar akan lebih optimal apabila ada motivasi.
Sardiman (2009: 85) mengemukakan tiga fungsi motivasi, yakni:
a. Mendorong manusia untuk berbuat. Motivasi di sini diartikan
sebagai penggerak dari setiap kegiatan yang akan dilakukan
manusia.
b. Menentukan arah perbuatan, yakni ke arah tujuan yang hendak
dicapai.
c. Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan
apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan,
dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat
bagi tujuan tersebut.
Selanjutnya Abu Ahmadi dan Ahmad Rohani (1991: 17)
menjelaskan bahwa fungsi motivasi dalam belajar adalah sebagai
berikut:
a.
b.
c.
Memberi semangat dan mengaktifkan peserta didik supaya
tetap berminat dan siaga.
Memusatkan perhatian peserta didik pada tugas-tugas
tertentu yang berhubungan dengan pencapaian tujuan
belajar.
Membantu memenuhi kebutuhan akan hasil jangka pendek.
15
Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa fungsi
motivasi dalam belajar antara lain mendorong peserta didik agar
mempunyai semangat untuk belajar, menggerakkan kekuatan dalam
diri peserta didik untuk belajar dan mengarahkan aktivitas-aktivitas
peserta didik dalam belajar.
Secara umum tujuan motivasi adalah untuk menggerakkan atau
menggugah seseorang agar secara sadar dan sengaja timbul keinginan
dan kemampuannya untuk melakukan sesuatu sehingga dapat
memperoleh hasil dan mencapai tujuan yang diinginkan. Bagi seorang
guru tujuan motivasi adalah untuk menggerakkan minat atau memacu
para siswanya agar timbul suatu keinginan dan kemauannya untuk
meningkatkan prestasi dalam belajar sehingga akan tercapai tujuan
pendidikan sesuai dengan yang diharapkan dan ditetapkan di dalam
kurikulum sekolah (Ngalim Purwanto, 2007: 73).
4. Macam-macam motivasi
Menurut Sardiman (2009: 86) macam atau jenis motivasi dapat
dilihat dari berbagai sudut pandang. Dengan demikian, motivasi atau
motif-motif yang aktif sangat bervariasi.
a.
Motivasi dilihat dari dasar pembentukannya
1) Motif-motif bawaan
Motif bawaan adalah motif yang dibawa sejak lahir, jadi
motivasi itu ada tanpa dipelajari.
2) Motif-motif yang dipelajari
Maksudnya motif-motif yang timbul karena dipelajari.
Motif-motif ini seringkali disebut dengan motif-motif yang
disyaratkan secara sosial sebab manusia hidup dalam
lingkungan sosial dengan sesama manusia lain, sehingga
motivasi itu terbentuk.
16
Di
samping itu
Frandsen
dalam
Sardiman
(2009:87),
menambahkan jenis-jenis motif berikut ini:
1) Cognitive motives.
Motif ini menunjuk pada gejala intrinsic, yakni menyangkut
kepuasan individual. Jenis motif seperti ini adalah sangat
primer dalam kegiatan belajar di sekolah, terutama yang
berkaitan dengan pengembangan intelektual.
2) Self-expression.
Penampilan diri adalah sebagian dari perilaku manusia. Yang
penting kebutuhan individu itu tidak sekedar tahu mengapa
dan bagaimana sesuatu itu terjadi, tetapi juga mampu
membuat suatu kejadian. Untuk itu memang diperlukan suatu
kretivitas, penuh imajinasi. Jadi dalam hal ini seseorang
memiliki keinginan untuk aktualisasi diri.
3) Self-enhancement.
Melalui aktualisasi diri dan pengembangan kompetensi akan
meningkatkan kemajuan diri seseorang. Ketinggian dan
kemajuan diri memang menjadi salah satu keinginan bagi
setiap individu. Dalam belajar dapat diciptakan suasana
kompetensi yang sehat bagi anak didik untuk mencapai
prestasi.
b. Jenis motivasi menurut pembagian dari Woodworth dan
Marquis dalam Sardiman (2009: 88) adalah sebagai berikut:
1) Motif atau kebutuhan organis, seperti: kebutuhan untuk
minum, makan, bernafas, dan lain-lain.
2) Motif-motif darurat. Yang termasuk dalam jenis motif ini
antara lain: dorongan untuk menyelamatkan diri, untuk
berusaha, dll. Motivasi jenis ini timbul karena
rangsangan dari luar.
3) Motif-motif objektif. Dalam hal ini menyangkut
kebutuhan untuk melakukan eksplorasi, melakukan
manipulasi, untuk menaruh minat.
c. Motivasi jasmaniah dan rohaniah
Ada beberapa ahli yang menggolongkan jenis motivasi
menjadi dua yakni motivasi jasmaniah dan motivasi rohaniah.
Motivasi jasmaniah seperti misalnya: refleks, insting otomatis,
nafsu. Sedangkan yang termasuk motivasi rohaniah adalah
kemauan (Sardiman, 2009: 88-89).
d. Motivasi intrinsik dan ekstrinsik.
1) Motivasi intrinsik
Motivasi intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif
atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena
dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk
melakukan sesuatu.
17
2) Motivasi ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan
berfungsinya karena adanya perangsang dari luar. Sebagai
contoh seseorang itu belajar karena tahu besok pagi akan
ujian dengan harapan mendapatkan nilai baik (Sardiman,
2009: 89-91).
5. Ciri-ciri motivasi berprestasi
McClelland dalam Eko Putro Widoyoko
(2012: 235)
mengemukakan Ciri-ciri orang yang memiliki motivasi tinggi adalah
sebagai berikut:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
Memperlihatkan berbagai tanda aktivitas fisiologis yang tinggi.
Menunjukkan kewaspadaan yang tinggi
berorientasi pada keberhasilan dan sensitif terhadap tandatanda yang berkaitan dengan peningkatan prestasi kerja.
Memiliki tanggung jawab secara pribadi atas kinerjanya.
Menyukai umpan balik berupa penghargaan dan bukan insentif
untuk peningkatan kinerjanya.
Inovatif mencari hal-hal yang baru dan efisien untuk
peningkatan kinerjanya.
6. Bentuk motivasi
Ada beberapa bentuk motivasi yang dapat dimanfaatkan dalam
rangka mengarahkan belajar anak didik di kelas, sebagai berikut
(Sardiman, 2009: 92-95):
a.
Memberi Angka
Angka yang dimaksud adalah sebagai simbol atau nilai dari
hasil aktivitas belajar anak didik. Angka atau nilai yang baik
mempunyai potensi yang besar untuk memberikan motivasi
kepada anak didik lainnya karena apabila anak didik mendapat
angka yang baik, maka motivasi siswa akan meningkat.
18
b.
Hadiah
Hadiah adalah memberikan sesuatu kepada orang lain sebagai
penghargaan atau kenang-kenangan. Dalam dunia pendidikan,
hadiah bisa dijadikan sebagai alat motivasi. Hadiah dapat
diberikan kepada anak didik yang berprestasi, rangking satu,
dua atau tiga dari anak didik lainnya. Dalam pendidikan
modern, anak didik yang berprestasi tinggi memperoleh
predikat sebagai anak didik teladan dan untuk perguruan tinggi
disebut sebagai mahasiswa berprestasi. Sebagai penghargaan
atau prestasi mereka dalam belajar, dapat berupa uang
beasiswa, uang pembinaan, piagam dan lain-lain.
c.
Saingan atau kompetisi
Saingan atau kompetisi ini dapat digunakan sebagai alat
motivasi untuk mendorong anak didik agar mereka bergairah
belajar. Apabila iklim belajar yang kondusif terbentuk, maka
setiap anak didik terlihat dalam kompetisi untuk menguasai
bahan pelajaran yang diberikan.
d.
Ego-Involvement
Menumbuhkan kesadaran kepada anak didik agar merasakan
pentingnya tugas dan menerimanya sebagai suatu tantangan
sehingga bekerja keras dengan mempertahankan harga diri,
adalah salah satu bentuk motivasi yang cukup penting.
Seseorang akan berusaha dengan segenap tenaga untuk
19
mencapai prestasi yang baik dengan menjaga harga dirinya.
Penyelesaian tugas dengan baik adalah simbol kebanggaan dan
harga diri. Begitu juga dengan anak didik sebagai subjek
belajar. Anak didik akan belajar dengan keras bisa jadi karena
harga dirinya.
e.
Memberi ulangan
Dengan memberikan ulangan bisa dijadikan sebagai motivasi,
anak didik biasanya mempersiapkan diri dengan belajar jauhjauh hari untuk menghadapi ulangan. Oleh karena itu, ulangan
merupakan strategi yang cukup baik untuk memotivasi anak
didik agar lebih giat belajar.
f.
Mengetahui hasil
Dengan siswa mengetahui hasil belajar bisa dijadikan sebagai
alat motivasi. Bagi anak didik yang menyadari betapa besarnya
sebuah nilai prestasi belajar akan meningkatkan intensitas
belajarnya guna mendapatkan prestasi belajar yang melebihi
prestasi belajar yang diketahui sebelumnya.
g.
Pujian
Pujian yang diucapkan pada waktu yang tepat dapat dijadikan
sebagai alat motivasi. Pujian merupakan motivasi yang baik.
Guru bisa memanfaatkan pujian untuk memuji keberhasilan
anak didik dalam mengerjakan pekerjaan sekolah. Pujian
20
diberikan sesuai dengan hasil kerja, bukan dibuat-buat atau
bertentangan sama sekali dengan hasil kerjaan anak didik.
h.
Hukuman
Pemberian hukuman merupakan alat motivasi bila dilakukan
dengan
pendekatan
edukatif,
bukan
karena
dendam.
Pendekatan edukatif yang dimaksud di sini sebagai hukuman
yang mendidik dan bertujuan memperbaiki sikap perbuatan
anak didik yang dianggap salah. Sehingga dengan hukuman
yang diberikan itu anak didik tidak mengulangi kesalahan atau
pelanggaran minimal mengurangi frekuensi pelanggaran. Akan
lebih baik bila anak didik berhenti melakukannya dihari
mendatang.
i.
Hasrat untuk belajar
Hasrat untuk belajar merupakan gejala psikologis yang tidak
berdiri sendiri, tetapi berhubungan dengan kebutuhan anak
didik untuk mengetahui sesuatu dari objek yang akan
dipelajarinya. Kebutuhan itulah yang akan menjadi dasar
aktivitas anak didik dalam belajar. Tidak ada kebutuhan berarti
tidak ada hasrat untuk belajar.
j.
Minat
Minat sangat erat kaitannya dengan motivasi sehingga apabila
dalam diri siswa terdapat minat dalam suatu hal, maka hal ini
akan dapat menumbuhkan motivasi yang tinggi.
21
k.
Tujuan yang diakui
Rumusan tujuan yang diakui merupakan alat motivasi yang
sangat penting, sebab dengan mengetahui tujuan yang harus
dicapai, maka akan timbul keinginan dan semangat untuk
mencapai tujuan tersebut. Oleh karena itu, dalam proses
kegiatan belajar mengajar, guru perlu menyampaikan tujuan
yang ingin dicapai kepada siswa.
B. Prestasi Belajar
1.
Pengertian prestasi belajar
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008: 895), prestasi
belajar adalah penguasaan pengetahuan atau ketrampilan yang
dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai
tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru. Prestasi belajar
merupakan hasil evaluasi pendidikan yang dicapai oleh siswa setelah
menjalani proses pendidikan secara formal dalam jangka waktu
tertentu dan hasil belajar tersebut berupa angka-angka (Sumadi
Suryabrata, 2006: 6).
Hakikat prestasi belajar adalah sebagai berikut.
Prestasi belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar
dan tindak mengajar. Dari sisi guru mengajar diakhiri dengan
proses evaluasi hasil belajar. Dari sisi peserta didik merupakan
berakhirnya penggal dan puncak proses belajar (Dimyati dan
Mudjiono, 2009: 3).
Dari definisi-definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa prestasi
belajar adalah tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari materi
22
pelajaran yang lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai
yang diberikan oleh guru.
2.
Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar
Untuk mencapai prestasi belajar yang maksimal, seorang siswa
harus berusaha belajar dengan baik. Beberapa faktor
yang
mempengaruhi prestasi belajar menurut Sumadi Suryabrata (2006:
233) antara lain yaitu:
a. Faktor dari luar individu, meliputi:
1) Faktor sosial; pribadi guru yang mengajar, sikap orang tua
terhadap anak yang sedang belajar, situasi pergaulan dan
teman sebaya.
2) Faktor non sosial; yaitu waktu belajar, cuaca, tempat tinggal,
fasilitas, dll.
b. Faktor dari dalam diri individu, meliputi:
1) Faktor psikologis; yaitu minat, rasa aman, pengalaman masa
lampau, intelegensi dan inspirasi.
2) Faktor fisiologis; yaitu kematangan fisik, kesehatan badan,
kualitas makanan dan fungsi panca indra.
Prestasi belajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah
nilai tes hasil belajar siswa dari materi pelajaran yang dipelajari
secara bersama-sama. Sehingga dapat diketahui prestasi siswa yang
meningkat setelah menggunakan strategi pembelajaran TSTS (Two
Stay Two Stray). Dengan demikian, untuk meningkatkan prestasi
belajar siswa, guru harus memberikan motivasi-motivasi kepada
siswa agar siswa aktif selama proses pembelajaran berlangsung.
Selain itu, selama mengikuti proses belajar mengajar, siswa
diarahkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran PKn.
23
C. Konsep Belajar dan Pembelajaran PKn
1.
Konsep Belajar
a. Pengertian belajar
Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang
untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara
keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi
dengan lingkungannya (Slameto, 2010: 2).
Menurut Sardiman
A.M (2009: 20-21) Belajar dapat dilihat baik dari segi mikro
maupun makro. Dalam arti luas belajar diartikan sebagai kegiatan
psiko-fisik menuju ke perkembangan pribadi seutuhnya, sedangkan
dalam arti sempit belajar diartikan sebagai usaha penguasaan
materi ilmu pengetahuan yang merupakan sebagian kegiatan
menuju terbentuknya pribadi seutuhnya.
Dari pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa
belajar merupakan suatu proses aktivitas yang dilakukan oleh
individu secara sengaja dengan tujuan agar terjadi perubahan pada
kemampuan diri dan perilaku pada individu. Dengan belajar maka
individu yang tidak mampu untuk melakukan sesuatu menjadi
mampu untuk melakukan sesuatu.
24
b. Tujuan belajar
Menurut Sardiman A.M (2009: 26-28), secara umum ada tiga
jenis tujuan belajar, yaitu:
1) Untuk mendapatkan pengetahuan
Hal ini ditandai dengan kemampuan berpikir. Di sini dikatakan
bahwa tidak dapat mengembangkan kemampuan berfikir tanpa
adanya bahan pengetahuan, begitu juga sebaliknya, dengan
adanya
kemampuan
berpikir
maka
akan
menambah
pengetahuan.
2) Penanaman konsep dan keterampilan
Dalam
merumuskan
suatu
konsep
memerlukan
suatu
keterampilan. Keterampilan bersifat jasmani dan rohani.
Ketrampilan jasmaniah adalah ketrampilan-ketrampilan yang
dapat dilihat, diamati sehingga akan menitikberatkan pada
ketrampilan gerak/penampilan dari anggota tubuh. Sedangkan
ketrampilan rohani lebih menyangkut masalah-masalah yang
bersifat abstrak mengenai masalah-masalah penghayatan dan
ketrampilan berfikir serta kreativitas untuk menyelesaikan dan
merumuskan suatu masalah atau konsep.
3) Pembentukan sikap
Pembentukan sikap, mental dan perilaku anak didik tidak
terlepas dari penanaman nilai. Guru sebagai pendidik dalam
25
berinteraksi dengan siswa harus memindahkan nilai-nilai dalam
setiap kegiatan pembelajaran.
c. Teori-teori belajar
Menurut para ahli ada beberapa teori dalam belajar, yaitu:
(Slameto, 2010: 9-15).
1) Teori gestalt
Teori ini dikemukakan oleh Koffa dan Kohler. Menurut
mereka belajar yang penting yakni adanya penyesuaian
pertama yaitu memperoleh response yang tepat untuk
memecahkan masalah yang dihadapi. Belajar yang penting
bukan mengulangi hal-hal yang harus dipelajari tetapi mengerti
atau memperoleh suatu insight.
Prinsip belajar menurut teori gestalt:
a) Belajar berdasarkan keseluruhan.
b) Belajar adalah suatu proses perkembangan.
c) Siswa sebagai organisme keseluruhan.
d) Terjadi transfer.
e) Belajar adalah reorganisasi pengalaman.
f) Belajar harus dengan insight.
g) Belajar lebih berhasil bila berhubungan dengan minat,
keinginan dan tujuan siswa.
h) Belajar berlangsung terus menerus.
26
2) Teori belajar menurut J. Bruner
Menurut Bruner belajar tidak untuk mengubah tingkah
laku seseorang tetapi untuk mengubah kurikulum sekolah
menjadi sedemikian rupa sehingga siswa dapat belajar lebih
banyak dan mudah.
3) Teori belajar dari R. Gagne
Terhadap masalah belajar, Gagne memberikan dua definisi,
yaitu:
a) Belajar ialah suatu proses untuk memperoleh motivasi
dalam pengetahuan, ketrampilan, kebiasaan dan tingkah
laku.
b) Belajar adalah penguasaan pengetahuan atau ketrampilan
yang diperoleh dari instruksi.
4) Purposeful learning
Purposeful learning adalah belajar yang dilakukan dengan
sadar untuk mencapai tujuan dan yang:
a) Dilakukan siswa sendiri tanpa perintah atau bimbingan
orang lain.
b) Dilakukan siswa dengan bimbingan orang lain di dalam
situasi belajar mengajar di sekolah.
27
d. Prinsip-prinsip belajar
Prinsip-prinsip belajar menurut Slameto (2010: 27-28) yaitu:
1) Berdasarkan prasyarat yang diperlukan untuk belajar
a) Dalam belajar setiap siswa harus diusahakan partisipasi
aktif,
meningkatkan
minat
dan
membimbing
untuk
mencapai tujuan instruksional.
b) Belajar harus dapat menimbulkan reinforcement dan
motivasi yang kuat pada siswa untuk mencapai tujuan
instruksional.
c) Belajar perlu lingkungan yang menantang di mana anak
dapat mengembangkan kemampuannya bereksplorasi dan
belajar dengan efektif.
d) Belajar perlu ada interaksi siswa dengan lingkungannya.
2) Sesuai hakikat belajar
a) Belajar itu proses kontinu, maka harus tahap demi tahap
menurut perkembangannya.
b) Belajar adalah proses organisasi, adaptasi, eksplorasi dan
discovery.
c) Belajar adalah
proses
kontinuitas
(hubungan
antara
pengertian yang satu dengan pengertian yang lain) sehingga
mendapatkan pengertian yang diharapkan. Stimulus yang
diberikan memberikan respon yang diharapkan.
28
3) Sesuai materi atau bahan yang harus dipelajari.
a) Belajar bersifat keseluruhan dan materi itu harus memiliki
struktur, penyajian yang sederhana, sehingga siswa mudah
menangkap pengertiannya.
b) Belajar harus dapat mengembangkan kemampuan tertentu
sesuai dengan tujuan instruksional yang harus dicapainya.
4) Syarat keberhasilan belajar
a) Belajar memerlukan sarana yang cukup, sehingga siswa
dapat belajar dengan tenang.
b) Repetisi, dalam proses belajar perlu ulangan berkali-kali
agar pengertian/ketrampilan/sikap itu mendalam pada
siswa.
e. Faktor-faktor belajar
Menurut Muhibbin Syah (2007: 145) faktor-faktor yang
mempengaruhi belajar siswa dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:
1) Faktor internal (faktor dari dalam siswa), yakni keadaan/
kondisi jasmani dan rohani siswa.
2) Faktor eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi
lingkungan disekitar siswa.
3) Faktor pendekatan belajar (approach to learning), yakni jenis
upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang
digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran
materi-materi pelajaran.
29
Berdasarkan ketiga faktor-faktor yang mempengaruhi belajar
di atas maka dapat disimpulkan bahwa ketiga faktor belajar di atas
saling mempengaruhi
dan saling berkesinambungan dalam
menentukan keberhasilan siswa dalam belajar. Maka dari itu ketiga
faktor tersebut harus dipenuhi dengan sebaik-baiknya agar dapat
menghasilkan hasil belajar yang baik.
4) Konsep Pembelajaran Pkn
a.
Pengertian pembelajaran
Pembelajaran terjemahan dari bahasa Inggris “Instruction”
terdiri dari dua kegiatan utama yaitu belajar (learning) dan
mengajar (teaching), kemudian disatukan dalam satu aktivitas
yaitu kegiatan belajar mengajar. Menurut Chaedar Alwasilah,
Sebagaimana dikutip Toto Ruhimat dkk (2011: 180-182)
pembelajaran merupakan sistem sosial tempat berlangsungnya
mengajar dan belajar. Menurut UU No. 20 Tahun 2003 tentang
Sisdiknas pasal 1 ayat 20, pembelajaran adalah proses interaksi
peserta didik dengan pendiidk dan sumber belajar pada suatu
lingkungan belajar.
Dari pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa
pembelajaran merupakan proses interaksi antara peserta didik
dengan lingkungan sekitarnya, sehingga akan timbul akibat dari
proses interaksi tersebut. Proses pembelajaran di sini tidak hanya
transfer ilmu antara guru dengan siswa, tetapi di sini terjadi
30
interaksi antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa,
sehingga dengan terjadinya interaksi tersebut maka akan
menciptakan
peserta
didik
yang
aktif
dalam
kegiatan
pembelajaran.
b.
Prinsip-prinsip pembelajaran
Menurut Chaedar Alawasilah (Toto Ruhimat, dkk, 2011:
182-187) terdapat prinsip-prinsip umum dalam pembelajaran,
yakni:
1) Bahwa belajar menghasilkan perubahan perilaku peserta
didik yang relatif permanen.
2) Peserta didik memiliki potensi, dan kemampuan yang
merupakan benih kodrati untuk ditumbuh kembangkan.
3) Perubahan atau pencapaian kualitas ideal itu tidak tumbuh
alami linier sejalan proses kehidupan.
Sedangkan prinsip-prinsip khusus dalam pembelajaran yaitu:
1) Prinsip perhatian dan motivasi
2) Prinsip keaktifan
3) Prinsip keterlibatan langsung/berpengalaman.
4) Prinsip pengulangan.
5) Prinsip tantangan.
6) Prinsip balikan dan penguatan
7) Prinsip perbedaan individual.
31
c.
Hakikat pembelajaran PKn
Pada hakikatnya PKn merupakan civic education atau
citizenship
education.
Pendidikan
Kewarganegaraan
(civic
education) merupakan mata pelajaran yang bertugas bagaimana
membentuk warga negara yang baik (how a good citizen). Warga
negara yang baik adalah warga negara yang sadar akan hak dan
kewajibannya. Dengan kesadaran akan hak dan kewajiban maka
seorang warga negara diharapkan menjadi kritis, partisipatif dan
bertanggung jawab.
Lampiran
Permendiknas
Nomor
22
Tahun
2006
menjelaskan bahwa mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan
merupakan :
Mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan diri
yang beragam dari segi agama, sosio-kultural, bahasa, usia,
dan suku bangsa untuk menjadi warga negara Indonesia
yang cerdas, trampil, dan berkarakter yang dilandasi oleh
Pancasila dan UUD 1945.
Sedangkan Arni Fajar (2005: 141) menyatakan bahwa mata
pelajaran kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang
memfokuskan pada pembentukan diri yang beragam dari segi
agama, sosiokultural, bahasa, usia dan suku bangsa untuk menjadi
warga negara Indonesia yang cerdas, terampil dan berkarakter
yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945.
32
Sementara itu, menurut Numan Somantri (2001: 299)
Pendidikan Kewarganegaraan adalah :
Program pendidikan yang berintikan demokrasi politik yang
diperluas dengan sumber-sumber pengetahuan lainnya,
pengaruh-pengaruh positif dari pendidikan sekolah,
masyarakat, dan orang tua, yang kesemuanya itu diproses
guna melatih para siswa untuk berpikir kritis, analitis,
bersikap dan bertindak demokratis dalam mempersiapkan
hidup demokratis yang berdasarka Pancasila dan UUD
1945.
Menurut NCSS (National Council of Social Studies) dalam
Numan Somantri (2001: 284) pengertian PKn adalah sebagai
berikut :
Citizenship education is a process comprising all the
positive influences which are intended to shape a ciitzen’s
view to his role in society. It comes partly from formal
schooling, partly from parental influences and partly from
learning outside the classroom and the home. Through
citizenship education, our youth are helped to gain an
understanding of our national ideas, the common good, and
the process of self government.
Dari pengertian PKn menurut NCSS diatas, maka diketahui
bahwa PKn mempunyai cakupan yang lebih tegas karena
bahannya meliputi pengaruh positif dari lingkungan sekolah,
lingkungan keluarga dan lingkungan kelas. PKn diharapkan
mampu membantu siswa dalam hal memahami dan menggapai
cita-cita nasional serta siswa dapat membuat keputusan-keputusan
yang dapat dipertanggung jawabkan dalam menghadapi masalah
pribadi, masyarakat dan negara.
33
Dari
berbagai
Kewarganegaraan
pengertian
diatas,
maka
mengenai
dapat
Pendidikan
dinyatakan
bahwa
Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang
bertujuan untuk membentuk karakter warga negara agar menjadi
warga negara yang cerdas, terampil, kritis terhadap berbagai
permasalahan
yang
terjadi
di
sekitar
dan
kreatif
yang
berlandaskan pada Pancasila dan UUD 1945. Sehingga melalui
mata pelajaran Pkn diharapkan Warga Negara Indonesia menjadi
warga negara yang cerdas dan mampu melaksanakan hak dan
kewajibannya sesuai yang diamanatkan Pancasila dan UUD 1945.
d.
Visi dan misi Pendidikan Kewarganegaraan
Visi mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn)
adalah berorientasi pada terbentuknya masyarakat demokratis
yang lebih dikenal dengan masyarakat madani (civil society). PKn
paradigma baru berupaya memberdayakan warga Negara melalui
proses pendidikan agar mampu berperan serta aktif dalam sistem
pemerintahan yang demokratis.
Berdasarkan pada visi mata pelajaran PKn tersebut, maka
dapat
dikembangkan
misi
mata
pelajaran
Pendidikan
Kewarganegaraan paradigma baru, yaitu membentuk warga
negara
yang baik (good citizenship),
yaitu menciptakan
kompetensi siswa agar mampu berperan aktif dan bertanggung
jawab bagi kelangsungan pemerintahan demokratis melalui
34
pengembangan pengetahuan karakter dan keterampilan warga
negara.
Dengan demikian misi dari PKn dapat disimpulkan dari
bagian pendahuluan pada naskah standar isi mata pelajaran
Pendidikan Kewarganegaraan.
Misi dari Pendidikan Kewarganegaraan yaitu sebagai
berikut :
1) Pendidikan sebagai wawasan kebangsaan yang berarti
pendidikan yang menyiapkan peserta didik agar memiliki
pemahaman yang mendalam dan komitmen yang kuat
serta konsisten terhadap prinsip dan semangat kebangsaan
dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara
yang berdasarkan pada Pancasila dan UUD 1945
Konstitusi Negara Republik Indonesia.
2) Pendidikan yang demokrasi berarti pendidikan yang
menyiapkan peserta didik agar mampu menjalankan hakhak sebagai warga negara untuk menjalankan prinsipprinsip demokrasi dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara.
3) Pendidikan yang menyiapkan peserta didik agar memiliki
kesadaran bela negara, penghargaan terhadap hak asasi
manusia, kemajemukan bangsa, pelestarian lingkungan
hidup, tanggung jawab sosial, ketaatan pada hukum,
ketaatan membayar pajak serta sikap perilaku anti korupsi,
kolusi dan nepotisme (Winarno, 2006: 29).
Dari pemaparan di atas maka dapat disimpulkan bahwa visi
Pendidikan Kewarganegaraan adalah menciptakan masyarakat
madani yang demokratis, dari visi tersebut maka dapat
dikembangkan
misi
Pendidikan
Kewarganegaraan
adalah
membentuk masyarakat yang baik dan bertanggung jawab
terhadap kelangsungan pemerintahan yang demokratis, serta
memiliki wawasan pendidikan demokratis sehingga menyiapkan
35
peserta didik yang memiliki kesadaran bela negara, penghargaan
terhadap hak asasi manusia.
e.
Fungsi dan tujuan PKn
Fungsi
Pendidikan
Kewarganegaraan
adalah
sebagai
wahana untuk membentuk warga negara yang cerdas, terampil,
dan berkarakter yang setia kepada bangsa dan negara Indonesia
dengan merefleksikan dirinya dalam kebiasaan berfikir dan
bertindak sesuai dengan amanat Pancasila dan UUD 1945
(Sunarso, dkk, 2006: 5).
Tujuan
Pendidikan
Kewarganegaraan
menurut
Permendiknas No 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi dalam
KTSP adalah agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai
berikut:
1) Berpikir secara kritis, rasional dan kreatif dalam
menanggapi isu kewarganegaraan.
2) Berpartisipasi secara bermutu dan bertanggung jawab, dan
bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyaarakat,
berbangsa dan bernegara.
3) Berkembang secara positif dan demokratis untuk
membentuk diri berdasarkan pada karakter masyarakat
Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa
lain.
4) Berinteraksi dengan bangsa lain dalam percaturan dunia
secara langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan
teknologi informasi dan komunikasi.
Selain
itu,
“Secara
sederhana
tujuan
PKn
adalah
membentuk warga negara yang lebih baik (a good citizen) dan
mempersiapkannya untuk masa depan. Ukuran warga negara yang
baik untuk setiap bangsa/negara akan ditentukan oleh ukuran
36
normatif yaitu ideologi dan konstitusi negara yang bersangkutan”
(Cholisin, 2004: 12).
Menurut Ahmad Sanusi, Tujuan Civic Educatioan pada
umumnya adalah sebagai berikut, (Cholisin, 2004 : 15) :
1) Kehidupan kita di dalam jaminan-jaminan konstitusi.
2) Pembinaan bangsa menurut syarat-syarat konstitusi.
3) Kesadaran warga negara melalui pendidikan dan
komunikasi politik.
4) Pendidikan untuk (ke arah) warga negara yang bertanggung
jawab.
5) Latihan-latihan berdemokrasi.
6) Turut serta secara aktif dalam urusan-urusan publik.
7) Sekolah sebagai laboratorium demokrasi.
8) Prosedur dalam pengambilan keputusan.
9) Latihan-latihan kepemimpinan.
10) Pengawasan demokrasi terhadap lembaga-lembaga
eksekutif dan legeslatif
11) Menumbuhkan pengertian dan kerjasama internasional.
Selain itu, Numan Somantri (2001: 279) mengemukakan
bahwa tujuan umum PKn adalah untuk mendidik warga negara
agar menjadi warga negara yang baik, yang bisa digambarkan
dengan warga negara yang berjiwa patriotik, mempunyai rasa
toleransi yang tinggi, setia terhadap bangsa dan negara, beragama,
demokratis dan berjiwa pancasilais.
Berdasarkan pemaparan di atas, maka dapat dinyatakan
bahwa tujuan mata pelajaran PKn adalah untuk menciptakan
warga negara yang baik yang mampu berpartisipasi aktif dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara, mempunyai rasa tanggung
jawab yang tinggi, dan berjiwa pancasila yang bertindak sesuai
dengan Pancasila dan UUD 1945.
37
f.
Karakteristik mata pelajaran PKn
Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor
22 Tahun 2006, Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata
pelajaran yang secara umum bertujuan untuk mengembangkan
potensi individu warga negara Indonesia, sehingga memiliki
wawasan, sikap, dan keterampilan kewarganegaraan yang
memadai dan memungkinkan untuk berpartisipasi secara cerdas
dan bertanggung jawab dalam berbagai kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara
Sehubungan dengan itu, Pendidikan Kewarganegaraan
mencakup dimensi pengetahuan (knowledge), keterampilan
(skill), dan nilai (values). Secara garis besar dimensi pengetahuan
Kewarganegaraan (Civic knowledge) yang tercukup dalam Mata
pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan meliputi politik, hukum
dan moral. Materi pengetahuan kewarganegaraan meliputi
pengetahuan tentang prinsip-prinsip dan proses demokrasi,
lembaga pemerintahan dan nonpemerintahan, identitas nasional,
pemerintahan berdasar hukum dan peradilan yang bebas dan tidak
memihak, konstitusi, sejarah nasional, hak dan tanggung jawab
warga negara, hak asasi manusia, hak sipil, dan hak politik
(Abdul Gafur, 2003 : 9-10).
38
Pendidikan
kewarganegaraan
yang
berhasil,
akan
menumbuhkan sikap mental yang bersifat cerdas dan penuh
tanggung jawab pada peserta didik dengan perilaku yang:
1) Beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan
menghayati nilai-nilai falsafah bangsa.
2) Berbudi pekerti luhur, berdisiplin dalam bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara.
3) Bersikap rasional, dinamis, dan sadar akan hak dan
kewajiban sebagai warga negara.
4) Bersikap profesional yang dijiwai oleh kesadaran bela
negara.
5) Aktif memanfaatkan ilmu dan teknologi serta seni untuk
kepentingan kemanusiaan, bangsa, dan negara (Sunarso, dkk,
2008: 13).
D. Metode Ceramah
1.
Pengertian metode ceramah
Metode ceramah adalah penuturan atau penjelasan guru secara
lisan, dimana dalam pelaksanaannya guru dapat menggunakan alat
bantu mengajar untuk memperjelas uraian yang disampaikan kepada
siswa-siswanya (Suryono, 1992:99). Menurut Winarno Surachmad
dalam Suryosubroto (2002: 165) yang dimakhsud ceramah sebagai
metode mengajar ialah penerangan dan penuturan secara lisan oleh
guru terhadap kelasnya., sedangkan menurut Wina Sanjaya (2010:
147) metode ceramah adalah suatu cara menyajikan pelajaran melalui
penuturan secara lisan atau penjelasan secara langsung kepada
sekelompok siswa.
Dari beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa
metode ceramah merupakan salah satu metode mengajar dimana guru
39
dalam melaksanakan pembelajarannya dengan menerangkan atau
menjelaskan materi pelajarannya secara lisan di depan kelas.
Berkenan dengan sifatnya menurut Suryosubroto (2002: 165)
metode ceramah dilaksanakan dalam hal apabila:
a. Guru akan menyampaikan fakta-fakta/kenyataan atau pendapatpendapat dimana tidak ada bahan bacaan yang menerangkan faktafakta tersebut.
b. Guru harus menyampaikan fakta kepada murid-murid yang besar
jumlahnya, sehingga metode lain tidak mungkin dipakai.
c. Guru menghendaki berbicara yang bersemangat untuk merangsang
murid-murid mengerjakan sesuatu.
d. Guru akan menyimpulkan pokok penting yang telah dipelajari
untuk memperjelas murid dalam melihat hubungan antara hal-hal
yang penting lainnya.
e. Guru akan memperkenalkan hal-hal baru dalam rangka pelajaran
yang lalu.
Suryosubroto (2002: 168) mengemukakan Langkah-langkah
untuk mengefektifkan metode ceramah antara lain sebagai berikut:
a. Terlebih dahulu harus diketahui dengan jelas dan dirumuskan
sekhusus-khususnya mengenai tujuan pembicaraan atau hal yang
hendak dipelajari oleh murid.
40
b. Bahan ceramah kemudian disusun sedemikian hingga:
1) Dapat dimengerti dengan jelas, artinya setiap pengertian dapat
menghubungkan
antara
guru
dengan
murid-murid
pendengarnya.
2) Menarik perhatian murid-murid.
3) Memperlihatkan pada murid-murid bahwa bahan pelajaran
yang mereka peroleh berguna bagi penghidupan mereka.
c. Menanam pengertian yang jelas dimulai dengan suatu ikhtisar
ringkas tentang pokok-pokok yang akan diuraikan. Kemudian
menyusul bagian utama penguraian dan penjelasan pokok-pokok
tersebut. Pada akhirnya disimpulkan kembali pokok-pokok penting
yang telah dibicarakan itu. Dapat pula dilengkapi gambar-gambar,
bagan-bagan dan sebagainya.
2.
Kelebihan dan Kelemahan Metode Ceramah
Menurut Wina Sanjaya (2010: 148-149) ada beberapa alasan
mengapa ceramah sering digunakan, alasan ini sekaligus merupakan
keunggulan metode ini, antara lain:
a. Ceramah merupakan metode yang murah dan mudah untuk
dilakukan.
b. Ceramah dapat menyajikan materi pelajaran yang luas.
c. Ceramah dapat memberikan pokok-pokok materi yang perlu
ditonjolkan.
41
d. Melalui ceramah guru dapat mengontrol keadaan kelas oleh karena
sepenuhnya
kelas
merupakan
tanggung
jawab
guru
yang
memberikan ceramah.
e. Organisasi kelas dengan menggunakan ceramah dapat diatur
menjadi lebih sederhana.
Disamping beberapa kelebihan diatas ceramah juga memiliki
beberapa kelemahan, diantaranya:
a. Materi yang dapat dikuasai siswa sebagai hasil dari ceramah akan
terbatas pada apa yang dikuasai guru .
b. Ceramah yang tidak disertai dengan peragaan dapat mengakibatkan
terjadinya verbalisme.
c. Guru yang kurang memiliki kemampuan yang bertutur baik,
ceramah sering dianggap sebagai metode yang membosankan.
d. Melalui ceramah sangat sulit untuk mengetahui apakah seluruh
siswa sudah mengerti apa yang dijelaskan atau belum.
E. Pembelajaran Kooperatif dan TSTS (Two Stay Two Stray)
1.
Pembelajaran Kooperatif
a.
Pengertian pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning)
Pembelajaran kooperatif berasal dari kata cooperative yang
artinya mengerjakan sesuatu secara bersama-sama dengan saling
membantu satu sama lainnya sebagai satu kelompok atau satu tim.
Slavin mengemukakan, pembelajaran kooperatif adalah suatu
model pembelajaran di mana kelompok belajar dan bekerja dalam
42
kelompok-kelompok kecil yang berjumlah empat orang secara
kolaboratif sehingga dapat merangsang siswa lebih bergairah
dalam belajar (Isjoni, dkk. 2008: 150).
Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran
dengan menggunakan sistem pengelompokan/tim kecil, yaitu
antara empat sampai enam orang, yang mempunyai latar belakang
kemampuan akademik, jenis kelamin, ras atau suku yang berbeda
(heterogen) (Wina Sanjaya, 2010: 242). Menurut Made Wena
(2008: 189) pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang
secara sadar menciptakan interaksi yang silih asih sehingga
sumber belajar bagi siswa bukan hanya guru dan buku ajar tetapi
juga sesama siswa. Menurut Anita Lie (2008: 28) pembelajaran
kooperatif adalah sistem pembelajaran yang memberi kesempatan
kepada siswa untuk bekerja sama dengan sesama siswa dalam
tugas-tugas terstruktur. Pembelajaran kooperatif adalah proses
belajar mengajar yang melibatkan penggunaan kelompokkelompok kecil yang memungkinkan siswa untuk bekerja
bersama-sama di dalamnya guna memaksimalkan pembelajaran
mereka sendiri dan pembelajaran satu sama lain (David W
Johnson, dkk, 2010:4)
Dengan memperhatikan pengertian dari pembelajaran
kooperatif di atas, dapat disimpulkan bahwa Pembelajaran
kooperatif merupakan pembelajaran yang di dalamnya terdapat
43
kelompok-kelompok, setiap kelompok terdiri atas 4-5 orang yang
heterogen dengan tujuan untuk melatih kerterampilan siswa baik
keterampilan berpikir maupun keterampilan sosial. Bentuk
keterampilan yang dimaksud seperti keterampilan mengemukakan
pendapat, menerima saran dan masukan dari orang lain, serta
bekerja sama antar sesama atau anggota kelompok.
b.
Karakteristik pembelajaran kooperatif
Pembelajaran
kooperatif
berbeda
dengan
strategi
pembelajaran yang lain. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari
proses pembelajaran yang lebih menekankan kepada proses kerja
sama dalam kelompok. Tujuan yang ingin dicapai tidak hanya
kemampuan akademik dalam pengertian penguasaan bahan-bahan
materi pelajaran, tetapi juga adanya unsur kerja sama dan gotong
royong antarsesama anggota kelompoknya.
Wina Sanjaya (2010: 244-246) mengemukakan empat
karakteristik dalam pembelajaran kooperatif, yaitu:
1) Pembelajaran secara tim
Tim merupakan tempat untuk mencapai tujuan, oleh karena
itu, tim harus mampu membuat setiap siswa belajar. Setiap tim
bersifat heterogen artinya kelompok terdiri atas anggota yang
memiliki kemampuan akademik, jenis kelamin, dan latar
belakang sosial yang berbeda.
44
2) Didasarkan pada manajemen koopertaif
Dalam pembelajarn kooperatif memiliki empat fungsi pokok,
yaitu
fungsi
perencanaan,
fungsi
organisasi,
fungsi
pelaksanaan dan fungsi kontrol.
3) Kemauan untuk bekerja sama
Keberhasilan dalam pembelajaran kooperatif ditentukan oleh
keberhasilan secara kelompok. Oleh karena itu prinsip kerja
sama perlu ditekankan dalam pembelajaran kooperatif.
4) Ketrampilan bekerja sama
Kemampuan untuk bekerja sama kemudian dipraktikan
melalui aktivitas dan kegiatan yang tergambarkan dalam
ketrampilan bekerja sama. Ketrampilan tersebut dapat
diwujudkan
dalam
menyampaikan
ide,
bentuk
bagaimana
mengemukakan
siswa
pendapat,
dalam
dan
memberikan kontribusi kepada keberhasilan kelompok.
Dengan melihat karakteristik dari pembelajaran kooperatif
di atas, maka dapat disimpulkan bahwa dalam pembelajaran
kooperatif, setiap kelompok dituntut untuk saling bekerja sama
antarsesama anggotanya, sehingga semua anggota kelompok
saling berpartisipasi secara aktif, dengan begitu maka tidak ada
anggota kelompok yang hanya nitip nama saja.
45
c.
Unsur-unsur dalam pembelajaran kooperatif
Menurut Johnson & Johnson dan Sutton, sebagaimana
dikutip Anita Lie (2008: 31) terdapat lima unsur penting dalam
pembelajaran kooperatif, yaitu:
1)
2)
3)
4)
5)
d.
Saling ketergantungan positif.
Tanggung jawab perseorangan
Tatap muka
Komunikasi antar anggota.
Evaluasi proses kelompok.
Langkah-langkah pembelajaran kooperatif
Trianto (2010: 66-67) mengemukakan enam langkah utama
dalam pembelajaran kooperatif, yaitu:
1) Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa.
2) Menyajikan informasi kepada siswa, baik lewat jalan
demonstrasi maupun lewat bahan bacaan.
3) Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok kooperatif.
4) Membimbing kelompok bekerja dan belajar.
5) Evaluasi.
6) Memberikan penghargaan kepada kelompok yang
berprestasi.
Dengan melihat langkah-langkah dalam pembelajaran
kooperatif di atas, maka dapat disimpulkan bahwa dalam
pembelajaran kooperatif yang berperan aktif dalam kegiatan
pembelajaran adalah siswa, di sini guru hanya sebagai fasilitator.
Untuk itu kerja sama dalam kelompok sangat mempengaruhi hasil
belajar.
46
e.
Jenis-jenis pembelajaran kooperatif
Variasi dalam model cooperative learning, yaitu:
1) STAD (Student Teams Achievement Division)
Model pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan model
pembelajaran yang terdiri dari kelompok-kelompok kecil
dengan jumlah tiap kelompok 4-5 siswa secara heterogen.
STAD terdiri atas lima kegiatan utama yaitu: penyampaian
tujuan pembelajaran, penyampaian materi, kegiatan
kelompok, kuis, dan penghargaan kelompok (Trianto, 2010:
68).
2) Model pembelajaran Jigsaw
Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dikembangkan
oleh Elliot Aronson. Menurut Priyanto sebagaimana dikutip
Made Wena (2008: 194-195) ada beberapa langkah dalam
pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, yaitu: pembentukan
kelompok asal, pembelajaran pada kelompok asal,
pembentukan kelompok ahli, diskusi kelompok ahli, diskusi
kelompok asal (induk), diskusi kelas, pemberian kuis dan
pemberian penghargaan kelompok.
3) Investigasi Kelompok (Group Investigation)
Model pembelajaran ini pertama kali dikembangkan oleh
Thelan. Sharan, dkk membagi langkah-langkah pelaksanaan
model investigasi kelompok meliputi 6 fase, yaitu: memilih
topik, perencanaan kooperatif, implementasi, analisis dan
sintesis, presentasi hasil final.
4) TPS (Think Pair Share)
Strategi TPS (think pair share) atau berpikir berpasangan
berbagi adalah merupakan jenis pembelajaran kooperatif
yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa.
Strategi ini pertama kali dikembangkan oleh Frang Lyman
dan kolegannnya. Langkah-langkah dalam strategi ini adalah
guru memberi suatu pertanyaan atau masalah kepada siswa
dan meminta siswa untuk berpikir (Thinking) sendiri atas
jawaban atau masalah, selanjutnya guru meminta siswa untuk
berpasangan (pairing) dan mendiskusikan apa yang telah
mereka peroleh, pada langkah akhir guru meminta pasanganpasangan untuk berbagi (share) mempresentasikan hasil
diskusinya didepan kelas ( Trianto, 2010: 81-82).
5) NHT (Numbered Head Together)
NHT (Numbered Head Together) atau penomoran berpikir
bersama merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang
dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan
sebagai alternatif terhadap struktur kelas tradisional. Model
pembelajaran ini pertama kali dikembangkan oleh Spenser
47
Kagen. Langkah-langkah dalam pembelajaran ini adalah:
penomeran kepada setiap anggota kelompoknya, kemudian
guru memberikan pertanyaan kepada siswa, selanjutnya siswa
dituntut untuk berpikir bersama dan menyataukan
pendapatnya kepada tiap anggota kelompoknya. Pada
langkah akhir guru memanggil nomer tertentu dan siswa yang
nomernya dipanggil mengacungkan tangannya untuk
menjawab pertanyaan (Trianto. 2010: 82-83).
6) TGT (Team Games Tournament)
Model pembelajaran ini pertama kali dikembangkan oleh
David De Vries dan Keath Edward (1995). Pada model ini
siswa memainkan permainan dengan anggota-anggota tim
lain untuk memperoleh tambahan poin untuk skor tim
mereka. Komponen TGT meliputi:
Presentasi guru,
kelompok belajar, turnamen dan pengenalan kelompok.
Berdasarkan variasi model pembelajaran kooperatif di atas
maka dapat disimpulkan bahwa semua model pembelajaran
kooperatif pada dasarnya sama yaitu merupakan pembelajaran
secara kelompok dan tujuannya untuk meningkatkan kerjasama
antar anggota kelompok, sedangkan yang membedakan model
pembelajaran kooperatif dengan tipe lainnya adalah terletak pada
langkah-langkah pembelajarannya.
2.
TSTS (Two Stay Two Stray)
a.
Pengertian TSTS
Teknik belajar mengajar dua tinggal dua tamu (Two Stay Two
Stray) dikembangkan oleh Spencer Kagan (1992). Teknik ini bisa
digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua
tingkatan usia didik.
Struktur dua tinggal dua tamu memberi kesempatan kepada
kelompok untuk membagikan hasil dan informasi dengan
48
kelompok lain. Teknik ini dikembangkan karena banyaknya
kegiatan belajar yang diwarnai dengan kegiatan individu, siswa
bekerja sendiri dan tidak diperbolehkan melihat pekerjaan siswa
yang lain. Padahal dalam kenyataan hidup di luar sekolah,
sebagai makhluk sosial kehidupan dan kerja manusia saling
bergantung satu sama lain dengan sesama manuisa.
b.
Langkah-langkah TSTS
Adapun langkah-langkah model pembelajaran Dua Tinggal
Dua Tamu Anita Lie (2008:60-61) adalah sebagai berikut:
1) Siswa bekerja sama dalam kelompok berempat seperti biasa.
2) Setelah selesai, dua siswa dari masing-masing kelompok
akan meninggalkan kelompoknya dan masing-masing
bertamu ke kelompok yang lain.
3) Dua siswa yang tinggal dalam kelompok bertugas
membagikan hasil kerja dan informasi mereka ke tamu
mereka.
4) Tamu mohon diri dan kembali ke kelompok mereka sendiri
dan melaporkan temuan mereka dari kelompok lain.
5) Kelompok mencocokkan dan membahas hasil-hasil kerja
mereka.
c.
Kelebihan dan kekurangan TSTS
Adapun kelebihan dari model pembelajaran kooperatif tipe
TSTS (Two Stay Two Stray) adalah sebagai berikut:
1) Dapat diterapkan pada semua kelas/tingkatkan
2) Kecenderungan belajar siswa menjadi lebih bermakna
3) Menumbuhkan keaktifan siswa dalam mengikuti kegiatan
belajar
49
4) Menumbuhkan kerjasama siswa untuk saling memberikan ide
dan gagasan
5) Melatih siswa untuk berbagi informasi dengan siswa lain.
6) Membantu meningkatkan motivasi belajar siswa
Sedangkan kekurangan dari model pembelajaran kooperatif
tipe TSTS (Two Stay Two Stray) adalah sebagai berikut:
1) Membutuhkan waktu lama
2) Siswa cenderung tidak mau belajar dalam kelompok.
F. Penelitian yang Relevan
1. Jurnal penelitian dari Lina Nurkhasanah, Bakti Mulyani dan Suryadi
Budi Utomo (2013) Mahasiswa prodi Pendidikan Kimia Universitas
Sebelas Maret Surakarta dalam jurnalnya yang berjudul “Efektifitas
Pembelajaran Kooperatif Tipe Two Stay Two Stray (TSTS) dan Think
Pair Square (TPSq) Melalui Pemanfaatan Peta Konsep terhadap
Prestasi Belajar Siswa pada Pokok Bahasan Sistem Koloid Kelas XI
SMA N 4 Magelang Tahun Ajaran 2011/2012” Dalam jurnal penelitian
ini disimpulkan bahwa prestasi belajar siswa pada pokok bahasan
sistem koloid menggunakan pembelajaran kooperatif berbantuan peta
konsep tipe TSTS lebih tinggi daripada tipe TPSq. Hal itu terbukti pada
hasil penelitian diperoleh selisih prestasi kognitif siswa kelas
eksperimen I (TSTS) dan kelas eksperimen II (TPSq) masing-masing
sebesar 32.28 dan 28.56. Nilai rata-rata prestasi kognitif siswa kelas
eksperimen I dan kelas eksperimen II masing-masing sebesar 71.34 dan
50
69.03. Hasil uji t pihak kanan diperoleh ‫ݐ‬௧௔௕௘௟ (1.67) < ‫ݐ‬௛௜௧௨௡௚ kognitif
(1.75) dan ‫ݐ‬௧௔௕௘௟ (1.67) < ‫ݐ‬௛௜௧௨௡௚ afektif (2.12).
2. Penelitian dari Wiga Arini (2012) mahasiswa Universitas Negeri
Yogyakarta dalam skripsinya yang berjudul “Efektivitas Metode
Problem Solving dalam Meningkatkan Motivasi dan Prestasi Belajar
Peserta Didik Kelas XI SMA Negeri di Kabupaten Magelang pada
Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaran”. Dalam penelitian ini,
disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara motivasi
belajar PKn peserta didik yang menggunakan problem solving dan yang
menggunakan ceramah. Terdapat perbedaan antara prestasi belajar PKn
peserta didik yang menggunakan metode problem solving dengan yang
menggunakan metode ceramah.
G. Kerangka Berpikir
Motivasi sangat diperlukan dalam proses pembelajaran karena
dengan adanya motivasi belajar yang tinggi maka akan berpengaruh pada
prestasi belajar siswa. Faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar
siswa berasal dari dalam (intern) dan luar (ekstern). Faktor yang berasal
dari dalam individu meliputi: minat, kecerdasan, persepsi, keadaan
jasmani sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi dari luar
individu meliputi: pribadi guru yang mengajar, sikap orang tua terhadap
anak yang sedang belajar dan situasi pergaulan serta teman sebaya. Ciriciri motivasi belajar yang baik bisa ditunjukkan dengan perilaku-perilaku
peserta didik yang mengarah pada kegiatan pencapaian prestasi,
51
kemampuan peserta didik dalam mengantisipasi kegagalan serta
bertanggung jawab secara pribadi dalam menyelesaikan tugas-tugasnya.
Kurangnya motivasi dalam mengikuti pembelajaran PKn dipengaruhi oleh
model pembelajaran yang digunakan oleh guru dalam menyampaikan
materi pelajaran yang masih menggunakan metode konvensional yaitu
ceramah yang membuat siswa merasa bosan dan kurang tertarik terhadap
pelajaran PKn. Hal ini berpengaruh terhadap prestasi belajar mereka yang
rendah. Proses belajar saat ini harus bisa memberdayakan potensi peserta
didik dalam setiap kegiatan. Guru tidak lagi sebagai satu-satunya sumber
informasi/teacher center yang siap mentransfer pengetahuan kepada
peserta didik, namun fungsinya berubah menjadi fasilitator dalam proses
pembelajaran yang tujuannnya agar peserta didik lebih aktif dan mandiri
dalam usaha mencapai tujuan belajar. Agar peserta didik tidak merasa
bosan dalam mengikuti pembelajaran PKn maka guru perlu mengubah
cara penyampaian materi pelajaran dengan menggunakan model
pembelajaran yang inovatif. Salah satu model pembelajaran yang
digunakan adalah model pembelajaran kooperatif tipe TSTS (Two Stay
Two Stray) yaitu model pembelajaran yang memberikan kesempatan
kepada kelompok untuk membagikan hasil dan informasi dengan
kelompok lain.
Model pembelajaran ini merupakan upaya untuk memicu motivasi
dan semangat belajar siswa agar kegiatan pembelajaran lebih bermakna
dan lebih berorientasi pada keaktifan siswa. Proses pembelajaran dengan
52
model kooperatif tipe TSTS (Two Stay Two Stray) dimulai dengan
pembagian kelompok diskusi yang masing-masing kelompok terdiri dari 4
siswa dengan tugas yang berbeda, yakni 2 siswa tinggal di tempat untuk
membagikan informasi kepada siswa yang bertamu kekelompoknya dan 2
siswa lainnya bertamu kekelompok lain untuk mencari informasi. langkah
terakhir yang dilakukan adalah siswa bisa mengambil kesimpulan dari apa
yang telah didiskusikan. Karena itu Penggunaan model pembelajaran
kooperatif tipe TSTS (Two Stay Two Stray) diduga dapat meningkatkan
motivasi
dan
prestasi
belajar
siswa
mata
pelajaran
Pendidikan
Kewarganegaraan dan diharapkan bisa memfasilitasi aktivitas belajar
siswa dalam pembentukan ranah kognitif, afektif dan psikomotor yang
dimiliki siswa sebagai sarana untuk memperoleh motivasi dan prestasi
belajar PKn yang lebih daripada metode ceramah.
H. Perumusan Hipotesis
Berdasarkan kerangka berfikir tersebut, maka dirumuskan hipotesis
sebagai berikut:
1. Terdapat perbedaan motivasi belajar pendidikan kewarganegaraan
antara kelas yang menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe
TSTS dengan metode ceramah.
2. Terdapat perbedaan prestasi belajar pendidikan kewarganegaraan antara
kelas yang menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe TSTS
dengan metode ceramah.
Download