BAB IV TEOLOGI PEREMPUAN MENURUT HAMKA DALAM

advertisement
BAB IV
TEOLOGI PEREMPUAN
MENURUT HAMKA DALAM TAFSIR AL-AZHAR
A. Analisis Teologi Perempuan Dalam Tafsir al-Azhar
Teologi dan perempuan, jika keduanya digabungkan, maka akan menjadi
sebuah bahasan yang menyangkut keterkaitan antara hubungan agama terhadap
perempuan.1 Menurut Riffat Hasan, akar pemahaman teologi perempuan bermula
dari adanya kenyataan akan sikap subordinat masyarakat terhadap perempuan,
yang meyakini, bahwa hal tersebut merupakan dasar asumsi teologis, sehingga
anggapan mereka menyatakan, laki-laki lebih unggul daripada perempuan.
Asumsi-asumsi mereka ini (para masyarakat), biasanya didasarkan pada
beberapa anggapan, pertama, anggapan bahwa makhluk pertama yang diciptakan
Tuhan adalah laki-laki, bukan perempuan, karena perempuan diyakini diciptakan
dari tulang rusuk laki-laki, maka secara ontologis perempuan derivatif dan
sekunder, kedua, anggapan bahwa perempuan, bukan laki-laki, yang merupakan
penyebab utama dari apa yang biasanya dianggap sebagai dosa manusia atau
terusirnya manusia dari Taman Firdaus, karena itu semua “anak perempuan
(hawa)” harus diperlakukan dengan rasa benci, curiga dan hina, ketiga,
perempuan diciptakan tidak hanya dari laki-laki tapi juga untuk laki-laki, sehingga
eksistensinya
hanyalah
sekunder,
pelengkap
dan
tidak
memiliki
arti
frundamental.2
1
Amin Abdullah, dkk, Islam dan Problem Gender (Yogyakarta: Aditya Media, 2000), hlm.
27.
2
Riffat Hasan,”Teologi Perempuan Dalam Islam: Sejajar di Hadapan Allah?”, terj. Wardah
Hafidz, Jurnal Ulumul Qur’an, (Vol. 1, No. 4, 1990), hlm. 50-51.
109
Selain itu, kenyataan pemahaman teologi yang berlandaskan bahwa asumsi
kekuasaan hierarkis laki-laki atas perempuan dianggap sebagai keputusan Tuhan
yang tidak bisa diubah. Argumen yang diajukan untuk hal ini biasanya adalah
pernyataan Tuhan dalam al-Quran bahwa laki-laki adalah qawwāmūn atas
perempuan.3
‫ضى َج ِءب َجا أَجل َجفقُل ى‬
‫ الِّر َج اُلى َج َّو ُلا َجوى َج َج ى ا ِّرل َج ِءآى ِءب َجا ى َجف َّو‬...
ٍ ْ‫ض ُله ْمى َج َج ى َجبع‬
‫ض َجاىهللاُلى َجبعْ َج‬
....‫اِءوْ ىأَج ْا َج ا ِءِءه ْمى‬
“Kaum laki-laki adalah pemimpin atas kaum perempuan karena Allah telah
melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain, dan karena mereka telah
menafkah sebagian dari harta mereka.” (QS an-Nisā : 34).
Kata qawwāmūn, kebanyakan mufasir masa klasik mengartikanya sebagai
pemimpin, penanggungjawab, penguasa, pelindung dan sejenisnya. Argumen
yang dikemukakan untuk tugas kepemimpinan laki-laki atas perempuan ini adalah
karena laki-laki memiliki kelebihan dibandingkan perempuan. Dengan demikian,
hierarkis kekuasaan laki-laki atas perempuan telah mendapat legitimasi teologis.
Dari sini, berarti pernyataan Tuhan tersebut merupakan ketentuan pasti dan tidak
bisa diubah.4
Munculnya sikap kesewenang-wenangan dan diskriminasi terhadap
perempuan merupakan imbas dari beberapa faktor di atas, sehingga laki-laki
menjadi di absahkan kekuasaanya baik secara hukum maupun kepentingan
3
Abdurrahman Wahid, dkk, Menakar “Harga” Perempuan: Eksplorasi Lanjut Atas Hak- hak
Reproduksi Perempuan Dalam Islam, hlm. 206-207.
4
Abdurrahman Wahid, dkk, Menakar “Harga” Perempuan: Eksplorasi Lanjut Atas Hak- hak
Reproduksi Perempuan Dalam Islam, hlm. 206-207.
110
lainnya.5 Ditambah lagi sistem patriarki yang menempatkan posisi pria dalam
hierarkis yang lebih tinggi menjadi faktor pendukung dalam anggapan peran lakilaki lebih mendominasi, terutama di sektor publik.
Di sisi lain, mayoritas masyarakat Islam sebagian besar masih meyakini
bahwa
teks-teks
ajaran
keagamaan
yang
ditafsirkan
dalam
perspektif
“kepentingan” maskulin, merupakan kebenaran yang sudah menjadi kodrati,
sehingga pemahaman yang muncul akan berpeluang cendrung bersifat dikotomis
terhadap peran yang dijalankan perempuan, baik dalam peran publik maupun
domestik.6
Dengan pemahaman teologis yang demikian, agama seakan menjadi dasar
utama untuk menyudutkan kaum perempuan, yang mana nantinya berimbas
menimbulkan ketidakidealan agama dalam menjalankan fungsinya sebagai hūdan
linnās (petunjuk umat manusia) serta penopang dalam menegakkan kemaslahatan
bagi ummatnya.
Sebagaimana di kutip oleh Ahmad Baidowi7, menurut Riffat Hasan teks alQuran sebenarnya tidak serta merta mengindikasikan sebuah substansi yang
bersifat menyudutkan suatu kaum, melainkan dapat di buktikan bahwa kandungan
al-Quran sebenarnya merupakan satu jalinan pengertian yang saling menguatkan,
selain itu, lanjut Riffat menegaskan, bahwa dalam menafsirkan sebuah teks alQuran juga harus sesuai dengan prinsip etik ideal moral, sehingga penafsiran yang
5
Abdurrahman Wahid, dkk, Menakar “ Harga” Perempuan: Eksplorasi Lanjut Atas Hak- hak
Reproduksi Perempuan Dalam Islam, hlm. 205-206.
6
Amin Abdullah, dkk, Islam dan Problem Gender, hlm. 3-4.
7
Ahmad Baidhawi, Tafsir Feminis Kajian Perempuan dalam Al-Quran dan Para Mufassir
Kontemporer (Bandung: Penerbit Nuansa, 2005), hlm. 94.
111
dihasilkan tidak menimbulkan marginalisasi pada jenis kelamin tertentu, dan tidak
menimbulkan jenis kelamin tertentu menjadi tersudutkan.8
Menanggapi hal demikian, M. Quraish Shihab mengingatkan, bahwa ketika
al-Quran menetapkan tugas kepemimpinan, hal tersebut dinyatakan sebagai sebab
dari dua hal pokok. Pertama, karena adanya keistimewaan yang berbeda pada
masing-masing jenis kelamin, tetapi dalam konsteks qawwāmah lelaki lebih
sesuai untuk menjalankan tugas tersebut dibandingkan dengan perempuan, alasan
kedua, karena lelaki (suami) telah menafkahkan nafkah mereka, akan tetapi
apabila hal demikian tidak di penuhi suami, misalnya karena sang suami sakit, dan
suami tidak mampu memberi nafkah, maka perempuan (istri) dapat mengambil
alih kepemimpinan itu.9
Bagi Hamka, dalam QS. an-Nisā : 34 tersebut memang sejatinya
menjelaskan atas kepemimpinan laki-laki terhadap perempuan,10 akan tetapi di
dalamnya terdapat hak dan kewajiban yang sama untuk laki-laki dan
perempuan.11Hamka menjelaskan, bahwa kepemimpinan laki-laki terhadap
perempuan memang sudah menjadi tradisi Islam untuk tidak mengangkat
pemimpin (raja) perempuan, apalagi pejabat ataupun khalīfah, akan tetapi sejarah
Islam Mesir membuktikan pada tahun 1249 Sajāratud Dūr (pohon permata),
8
Ahmad Baidhawi, Tafsir Feminis Kajian Perempuan dalam Al-Quran dan Para Mufassir
Kontemporer, hlm. 94.
9
M. Quraish Shihab, Perempuan : dari cinta sampai seks dari nikah mut’ah sampai nikah
sunnah dari bias lama sampai bias baru (Jakarta: Lentera Hati, 2005), hlm. 368-369.
10
Hamka, Tafsir al-Azhar Juz V (Jakarta: Pustaka Panjimas, 2005), hlm. 58.
11
Hamka, Tafsir al-Azhar Juz V, hlm. 58.
112
seorang perempuan Mesir menjadi taja, menggantikan suaminya Sultan Malikus
Shalih, yang meninggal berangkat perang salib di Perancis Lodewijk IX.12
Selain itu, dalam pandangan Ahli fiqih di Indonesia, jika keadaan
memerlukan perempuan untuk diangkat menjadi raja, dan perempuan tersebut
sanggup menjalankan peranya menjadi pemimpin, maka itu dibolehklan.
sebagaimana sejarah kerajaan Islam di Aceh, pada tahun 1641, ketika raja
Iskandar Agoyat meninggal, istrinya memilih putrinya sebagai pengganti
pemegang kerajaan sebab raja Iskandar tak memiliki putra, sehingga putrinya di
beri gelar Sultan Taj‟ul Alam Syafiyatuddin Syah. Memegang kekuasaan kerajaan
selama 34 tahun, dan beliaulah yang menjadi pemimpin permpuan pertama di
Indonesia.
Dan setelah tiga tahun berakhirnya kepemimpinan Syafiyatuddin Syah
hingga tahun 1675, pada tahun 1678 muncul pula pemimpin kerajaan seorang
perempuan bernama Sultanat Kamalat Syah, memerintah selama 10 tahun sampai
tahun 1699.13 Dan sejarah mengatakan bahwa kepemimpinan perempuan pertama
di Aceh berjalan lancer. Jika melihat dari relitas sejarah yang ada dalam kerajaan
Islam di Aceh waktu itu. Dengan demikian hadits yang mengatakan bahwa “akan
celaka jika mengangkat pemimpin perempuan” tersebut bagi Hamka dianggap
tidak relevan.14
12
Hamka, Membahas Soal-Soal Islam (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983), hlm. 182.
Hamka, Membahas Soal-Soal Islam (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983), hlm. 183
14
Hamka, Membahas Soal-Soal Islam (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983), hlm. 183-184.
13
113
Demikian bunyi hadits tersebut :
‫اَج َجق ْ ى َجل َجف َجع ِءل َّو‬
‫ىهللاُلى‬
‫َج َّو َج َجل ى ُل ْ َجا وُل ىبْوُل ى ْا َجه ْ َج ِءمى َج َّو َج َجل ى َج ْ ٌف ى َج وْ ى ْا َج َج ِءوى َج وْ ىأَج ِءب ى َجب ْ َجل َجى َج َجاى‬
‫ص َّو َّو‬
‫ىهللاُلى َج َج ْ هِءى َج َج َّو َجمىأَج َّو َجمى ْا َج َجا ِءاى َجبعْ َجى َجا ى ِء ْ ُل‬
‫تىأَجوْ ى‬
‫ىل ُل ِءا َّو ِء‬
‫ىهللاى َج‬
‫ِءب َج ِء َجاةٍى َج اِءعْ ُلت َجه ىاِءوْ َج‬
‫ص َّو َّو‬
‫ىهللاُلى َج َج ْ هِءى َج َج َّو َجمىأَجوَّو ى‬
‫ىب َجصْ َج اِءى ْا َج َجا ِءاى َجف ُل َج ِءت َجاى َجا َجع ُله ْمى َج َجاىاَج َّوا ى َجب َج َجى َجل ُل َجا َّو ِء‬
‫ىهللاى َج‬
‫أَج ْا َج َج ِء‬
‫ىب ْل َج‬
‫تى ِء ْ َجل ى َج َجاىاَجوْ ى ُل ْف ِء َج ى َج ْ ٌفمى َج اَّو ْ ىأَجا َجْل ُل ْمى ا َجْلأَجًةى‬
‫أَج ْ َجاى َجف ِءل َج ى َج ْ ى َجا َّو ُل ى َج َج ِءْه ْم ِء‬
“Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Haitsam Telah menceritakan
kepada kami Auf dari Al Hasan dari Abu Bakrah dia berkata; Sungguh Allah
telah memberikan manfaat kepadaku dengan suatu kalimat yang pernah aku
dengar dari Rasulullah, -yaitu pada waktu perang jamal tatkala aku hampir
bergabung dengan para penunggang unta lalu aku ingin berperang bersama
mereka. Dia berkata; 'Tatkala sampai kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam, bahwa penduduk Persia telah di pimpin oleh seorang anak perempuan
putri raja Kisra, beliau bersabda: "Suatu kaum tidak akan beruntung, jika
dipimpin oleh seorang wanita." (HR. BUKHARI).
Secara tekstual hadits tersebut seakan menjadi dalil untuk melegalkan
perintah akan larangan kepada perempuan untuk memimpin suatu negeri, akan
tetapi tidak kendati hadits tersebut dimakan secara mentah-mentah, melainkan di
balik teks hadits tersebut juga terdapat asbab al-wurūd15 hadits (sebab munculnya
hadits tersebut).
15
Asbab adalah bentuk jama‟ dari kata sabab yang berarti “segala sesuatu yang
mengghubungkan kepada sesuatu yang lain atau penyebab terjadinya sesuatu”. Sedangkan lafadz
“wurud” merupakan bentuk isim masdar dari “warada yufridu wurudan” yang berarti “datang
atau sampai”. Dengan demikian dapat diartikan bahwa “sababul wurud” adalah “sebab-sebab
datangnya sesuatu”.
114
Dimana “asbabul al-wurūd” hadits tersebut ialah, menjelaskan pada masa
itu, sebelum Nabi Muhammad saw menyampaikan hadits tersebut, Nabi saw
pernah mengirim surat kepada banyak pembesar negeri sekitar arab untuk
memeluk agama Islam. Kisra Persia merupakan salah satu pembesar yang dikirimi
surat oleh Nabi Muhammad saw, akan tetapi pembesar Persia malah menyobeknyobek surat pemberian Nabi saw. Mendengar kejadian tersebut Nabi saw
mengeluarkan sebuah statemen “orang yang merobek surat tersebut maka diapun
akan di robek-robek.
Jelang beberapa dekade, kerajaan Persia mengalami kekacauan dalam
berbagai bidang seperti halnya di doakan oleh Nabi saw. Raja persia di bunuh
putranya sendiri karena ambisi menjadi raja, namun sayangnya tidak lama
kemudian sang putra meninggal dunia akibat meminum racun yang memang
sudah disiapkan oleh ayahnya, kemudian kerajaan di pimpin oleh anak
perempuanya (Buwaran), yang kemudian membawa kehancuran kerajaan Persia.
Karena memang sang putri ini tidak memiliki kualititas seorang pemimpin
yang adil, bijaksana, visioner, dan karakteristis kepemimpinan lainya, melainkan
hanya ingin berkuasa (harsh: tamak) pada masa kepemimpinanya, Ratu kisra juga
tidak mengaplikasikan nilai-nilai musyawarah dan mufakat, dan juga tidak
menghormarti pihak lain. hubungan antar individu menjadi tidak baik dan
pembunuhan meraja lela. Mendengar berita dan situasi tersebut maka Nabi saw
merespon dengan hadits di atas tersebut.16
16
Hamka Hasan, Tafsir Jender (Jakarta: Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama RI,
2009), hlm. 205
115
Dengan dasar penjelasan asbabul al-wurūd hadits di atas, ungkapan Hamka
akan “ketidak relevanan”17 hadits tersebut bukanlah sebuah anggapan tanpa dalil,
melainkan sebuah pemahaman dalam rangka meninggalkan pemahaman teologis
yang tidak relevan menjadi yang relevan. Di lain itu, sejarah kesuksesan
kepemimpinan perempuan pada masa Sajaratud Dūr (pohon permata) th 1249 di
Mesir, di Aceh, pada tahun 1641 Sultan Taj‟ul Alam Syafiyatuddin Syah. Sultanat
Kamalat Syah,18 menjadi bukti bahwa perempuan juga boleh menjadi pemimpin
asalkan ia mampu.
Dengan landasan ini, Hamka telah merekonstruksi pemahaman teologis
perempuan yang dianggap sebagai makhluk Tuhan yang tersubordinasi, menjadi
pemahaman teologis yang menghargai dan menghormati kaum perempuan. Hal
ini karena perempuan juga sama seperti laki-laki sebagai hamba Tuhan, begitu
pula berarti perempuan dan laki-laki berhak diperlakukan secara adil sebagaimana
mestinya.
Lebih jauh, Hamka menguraikan bahwa pada dasarnya, Islam tidak
memandang perempuan lebih rendah dari laki-laki, karena pemahaman
subordinasi laki-laki dan perempuan sebenarnya hanyalah hegemoni pemahaman
pengaruh ajaran Kristiani yang memandang perempuan adalah sumber dosa.19 Hal
ini sebagaimana di sebutkan dalam Bible dinyatakan “yang mula-mula memakan
buah terlarang adalah Eva sedangkan Adam setelahnya, Mereka tidak
mempunyai hak apa-apa.” Menurut ajaran Paulus: Wanita wajib tunduk kepada
17
Hamka, Membahas Soal-Soal Islam .,hlm. 183-184.
Hamka, Membahas Soal-Soal Islam, hlm. 182-184.
19
Hamka, Studi Islam (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983), hlm. 236-237.
18
116
suami,sebagai tunduk pada Tuhan, dia tidak berhak atas harta bendanya sendiri,
namanya hilang kedalam nama suaminya bila dia telah bersuami. (Epesus 5:22).
Melihat pandangan tersebut sangat berbeda dengan Islam yang memberikan
penghormatan kepada kaum perempuan,20sebagaimana di dalam QS. an-Nisā: 19,
suami diperintahkan:
............‫ِءى‬
‫ىب ْا َجاعْ ُلل‬
‫ى َج َج اِء ُلل ُلوَّو ِء‬...
“...gaulilah isterimu dengan baik....” (Surat an-Nisā: 19).
Selain itu, Hamka juga menanggapi akan maraknya anggapan setereotype
terhadap perempuan yang dilandaskan dengan pemahaman, bahwa “perempuan di
ciptakan dari tulang rusuk lak-laki”, bagi Hamka, pemahaman tersebut merupakan
imbas hegemoni pemahaman dari ajaran Yahudi dan Nasrani. Sebagaimana yang
tertera dalam “Perjanjian Lama” yang bernama Kitab Kejadian” yang dianggap
Kitab suci oleh Yahudi dan Nasrani. Dalam Kitab Kejadian” 2:21 tersebut
terdapat keterangan “bahwa Tuhan mencabut tulang rusuk Adam untuk di jadikan
Jodohnya”.
Sedangkan
al-Quran
tidak
berbicara
demikian,
menjelaskan tentang bagaimana asal usul penciptaan manusia21
melainkan
sebagaimana
tertera dalam QS. an-Nisā : 1.
‫ىز ْ َج َجه ى َج َجب َّو‬
‫ِءيىخ َج َجق ُل مىاِّروْ ى َجل ْف ٍ ى َج ِء َج ٍى َج َجخ َج َج ى ِءا ْل َجه َج‬
‫ىل َّوب ُل ُلمى اَّوذ َج‬
‫ثى‬
‫َج أَج ُّ َجه ى ا َّول ُل ى َّوتقُل َج‬
‫هللاى َج َجوى‬
‫ىبهِءى َج ْألَجلْ َج َجمىإِءوَّو ى َج‬
‫ىل َج الًةى َج ِء لًة ى َج ِءل َج آًةى َج َّوتقُل ى َج‬
‫هللاى اَّوذِءيى َجت َج َجآا ُل َجو ِء‬
‫ِءا ْل ُله َجا ِء‬
}1{‫ىل ِء ًةب ى‬
‫َج َج ْ ُل ْم َج‬
20
21
Hamka, Studi Islam, hlm. 236-237.
Hamka, Membahas Soal-Soal Islam (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983), hlm. 193
117
“Wahai manusia, bertaqwalah kamu kepada Allah yang telah menjadikan
kamu dari diri yang satu dan dijadikanya pula daripadanya istrinya dan
diperkembangkan daripada keduanya laki-laki perempuan yang banyak”
Hamka menjelaskan, bahwa dalam ayat tersebut jelas tidak ada kejadian
Hawa diciptakan dari tulang rusuk Nabi Adam, akan tetapi beberapa penafsir
menjelaskan ayat tersebut berkaitan dengan penciptaan Siti Hawa dari tulang
rusuk Nabi Adam.22
Selain dirinya, Hamka menyebutkan beberapa mufassir seperti Muhammad
Abduh juga membantah penafsiran “tulang rusuk” dalam tafsir ayat tersebut,
hingga ketika itu, Muhammad Abduh diklaim sesat sebab menolak pernafsiran
“tulang rusuk” dalam tafsir surah an-Nisā : 1.
Oleh sebab itu, bagi Hamka, penafsiran “tulang rusuk” dalam tafsir surat
an-Nisā ayat 1 tidaklah tepat, yang tepat ialah bahwa ayat tersebut menjelaskan,
tentang awal mula penciptaan manusia yang beasal dari nafsin wāhidatin dari
dirinya yang satu.23 Hal ini berarti manuisa sama-sama memiliki sifat yang sama,
seperti sama-sama berakal, sama-sama menginginkan yang baik dan tidak
menginginkan yang buruk. Oleh karena itu, setiap kita melihat orang lain
hendaklah melihat diri kita sendiri.
Sehingga dari diri yang satu, juga dijadikan jodohnya, yang kemudian di
bagi menjadi dua, sebagian menjadi laki-laki dan sebagian menjadi perempuan,
maka keduanya menikah dan berkembang biak. Hamka menjelaskan demikian
karena dalam ayat selanjutnya ditegaskan: “serta keduanya memperkembang
22
23
Hamka, Membahas Soal-Soal Islam, hlm. 194
Hamka, Membahas Soal-Soal Islam, hlm. 194.
118
biakan laki-laki perempuan yang banyak”. Dari sinilah ayat tersebut menjelaskan
perkembangan manusia di dunia, yang pada asalnya, manusia adalah satu dalam
kemanusiaan, satu dalam keturunan, yang kemudian diciptakan laki-laki dan
perempuan.24
Dalam ayat selanjutnya: “Bertakwalah kepada Allah, yang kamu tanyatanya tentang (nama-Nya) dan (periharalah) kekeluargaan”. Hamka menjelaskan
hubungan dengan ayat sebelumnya, setelah dijelaskan tentang perkembangan
manusia, maka supaya kerukunan dan kesejahteraan terpelihara, Allah
memberikan kesadaran kepada manusia, setelah akal manusia itu tumbuh dan
mereka telah hidup bermasyarakat, mereka selalu menyebut nama Allah yang
telah menganugrahi mereka hidup dalam dunia. Setelah mereka menyebut dan
bertanya-tanya tentang Tuhan, maka ayat selanjutnya menegaskan, bahwa Tuhan
janganlah hanya menjadi pertanyaan, melainkan hendaklah ditanamkan dalam
jiwa rasa taqwa kepada-Nya.25
Dari penafsiran di atas, dalam menafsirkan ayat tersebut, Hamka jelas tidak
berbicara tentang “perempuan yang tercipta dari tulang rusuk” melainkan
menjelaskan tentang dasar hidup dalam membangunkan kemasyarakatan yang
bertuhanan dan berperikemanuisaan, dasar pertama ialah percaya kepada Allah
dan bertaqwa kepada-Nya. Allah selalu menjadi isi pertanyaan diantara manusia
apabila bertemu dengan manusia lain, dan di dalam bertaqwa kepada Allah itulah
dibina silaturrahim antara sesama manusia. Sebab pada hakikatnya manusia pada
mulanya hanyalah dari satu diri. Ayat ini juga menjadi dasar untuk meneladani
24
25
Hamka, Tafsir al-Azhar Juz IV (Jakarta: Pustaka Panjimas, 2004), hlm. 280.
Hamka, Tafsir al-Azhar Juz IV, hlm. 281.
119
ayat selanjutnya yang menerangkan tentang memelihara anak yatim, poligami,
mahar, pernikahan, perceraian, rumah tangga, bahkan sampai dengan urusan
peperangan dan perdamaian, dan semuanya ini didasarkan pada ayat pertama yaitu
taqwa kepada Allah dan rahim sesama keluarga kemanusiaan.26
Dengan demikian, sebagai seorang mufassir kontemporer, secara tidak
langsung Hamka telah merekonstruksi pemahaman teologi berdasarkan pedoman
al-Quran, dari pemahaman teologi bias lama yang bersifat menyubordinasi jenis
kelamin tertentu (perempuan) menjadi teologi yang membebaskan dari sikap
subordinasi tersebut, sehingga dengan pemahaman teologi yang membebaskan
seperti ini, agama benar-benar berperan sebagai petunjuk bagi umat manusia dan
menyejahterahkan umatnya melalui sikapnya yang menjamin keadilan dan
keseteraan bagi manusia (baik laki-laki maupun perempuan).
Karena, hal ini juga merupakan prinsip kemerdekaan manusia yang berakar
pada nilai-nilai tauhid yang juga berarti persamaan atau kesetaraan manusia secara
universal. Sebagaimana dalam surat dan ayat yang lain, al-Quran berbicara bahwa
manusia (lelaki dan perempuan) sama-sama meiliki hak dan tanggung jawab yang
sama sebagai manusia ciptaan Tuhan. Bahkan dalam kehidupan sosialpun
mempunyai hak yang sama, hanya saja peranya sajalah yang berbeda. 27
Sebagaimana bunyi dalam Q.S al-Hujūrat : 13.
‫ىاِء َجت َجع َجلفُل ْ ى إِءوَّو ى‬
‫ىخ َج ْق َجل ُل مىاِّروى َجذ َج ٍلى أُلل َج ى َج َج َجع ْ َجل ُل ْمى ُل‬
‫َج أَج ُّ َجه ى ا َّول ُل ىإِء َّول َج‬
‫ا ُلع ًةب ى َج َج َجب ِءآ َجاى‬
‫هللاى َج ِء ٌفم َج‬
}13{‫ىخ ِءب لٌفى‬
‫أَج ْ َجل َجا ُل ْمى ِء ل َجى ِء‬
‫هللاىأَج ْت َجق ُل ْمىإِءوَّو ى َج‬
26
Hamka, Tafsir al-Azhar Juz (Jakarta: Pustaka Panjimas, 2004), hlm. 284.
Baharuddin Lopa, Al-Quran dan Hak-Hak Asasi Manusia (Yogyakarta: Pt Dana Bhakti
Prima Yasa, 1996), hlm. 74.
27
120
“Hai manusia, kami jadikan kamu laki-laki dan perempuan dan
kamijadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling
mengenal. Seseungguhnya yang paling mulia diantara kamu adalah yang paling
taqwa”.(Q.S. al-Hujūrat : 13).
Kata (‫ )تعارفو‬terambil dalam ayat tersebut berasal dari kata (‫ )عرف‬yang
berarti mengenal, kata yang digunakan dalam ayat diatas mengandung makna
saling mengenal. Tafsirannya adalah bahwasanya semakin kuat pengenalan satu
pihak dan pihak lainnya dapat membuka peluang untuk saling memberi manfaat.
Perkenalan itu dibutuhkan untuk saling menarik pelajaran dan pengalaman dari
pihak lain guna meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT. Kemudian
dampaknya tercermin pada kedamaian dan kesejahteraan.
Kualitas ketaqwaan dan kemuliaan seseorang di sisi Allah SWT tidak dapat
diukur oleh manusia, dan kadar ketakwaan hanya dapat diketahui oleh Allah
SWT. Di sisi lain penutup ayat ini mengisyaratkan, bahwa apa yang ditetapkan
oleh Allah SWT menyangkut dengan esensi kemuliaan adalah yang paling tepat,
bukan apa yang diperebutkan oleh banyak manusia, karena Allah maha
mengetahui dan maha mengenal.28
Dari penafsiran tersebut, jelas bahwa ayat di atas menegaskan tentang
kesatuan asal usul manusia dengan menunjukkan kesamaan derajat kemanusiaan,
maka tidak wajar apabila seseorang berbangga dan merasa diri lebih tinggi dari
orang lain. Bukan saja antar satu bangsa, suku, warna kulit antara satu dan lainnya
28
M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, Vol 13
(Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm. 260-264.
121
maupun jenis kelamin mereka. Atas penjelasan ayat tersebut, maka nampak
perbedaan manusia hanya diukur oleh segi ketaqwaan.
Menurut Hamka, ayat tersebut menjelaskan bahwa manusia pada mulanya
berasal dari yang satu. Dengan demikian maka tidak lah ada perbedaan anatara
manusia yang satu dengan yang lainya, baik laki-laki maupun perempuan. Hal ini
juga ditegaskan di akhir ayat “sesungguhnya yang semulia-mulia di sisi Allah
ialah yang setaqwa-taqwanya kamu” yang mana akhir ayat ini menegaskan
bahwa kemulian sejati yang dianggap bernilai di hadapan Allah ialah kemulian
hati, kemulian budi, kemulian perangai, serta ketaatan kepada Allah.29
Dengan penjelasan demikian, jelas bahwa Islam dengan asar al-Quran tidak
membedakan status ataupun derajat untuk saling merendahkan satu sama lain,
baik dari perbedaan jenis kelamin maupun lainya, karena bagi agama Islam,
manusia sama di hadapan Tuhan (Allah SWT) sedangkan yang dibedakan
hanyalah ketaqwanya.
B. Kesetaraan Hak Perempuan Dalam Tafsir al-Azhar
Perihal yang menyangkut kesetaraan antara laki-laki dan perempuan
memang bukanlah suatu yang dianggap biasa pada kalangan masyarakat pada
umumnya, hal ini karena kebanyakan masyarakat masih saja memandang bahwa
antara laki-laki dan perempuan bertempat pada posisi yang berbeda, asumsi
pandangan ini biasanya dikaitkan dengan pencampur-adukan antara biologis (jenis
29
Hamka, Tafsir al-Azhar Juz XXVI (Surabaya: Yayasan Latimojong, 1982), hlm. 245.
122
kelamin) maupun melihat dari makna sosialnya (gender)30 yang dianggap sudah
menjadi pemahaman yang tak tergantikan.31
Akar asumsi tersebut memang setidaknya sudah menghegemoni di kalangan
masyarakat pada umumnya, karena pemahaman tersebut tak lain telah dibentuk, di
sosialisasikan, diperkuat bahkan dikonstruksi secara social maupun kultural
melalui ajaran keagamaan maupun negara pada umumnya. 32 Bahkan proses
pembentukan pemahamanya telah diajarkan secara turun-temurun oleh orangtua
(keluarga), masyarakat, bahkan lembaga pendidikan, sehingga pemahaman
tersebut menjadi sebuah ideologi yang membentuk perbedaan perilaku serta
menimbulkan sikap merendahkan terhadap perempuan.33
Melihat hal demikian, imbasnya jelas, dampak dari pemahaman tersebut di
pertahankan terus menerus akan menjadi paradigma yang memandang bahwa
kaum tertentu (perempuan) menjadi lebih di rendahkan derajatnya ketimbang lakilaki. Padahal pada dasarnya, Islam sebagai agama malah memberikan kedudukan
yang tinggi untuk perempuan dalam hukum dan masyarakat.34
Sejarah Islam membuktikan, bahwa Islam mengangkat derajat perempuan
sama dengan laki-laki. Tercatat pada masa pra Islam dalam nuansa Arab yang
patriarkal perempuan bisa dikatakan mempuanyai suatu kewajiban, akan tetapi
tidak mempunyai hak, namun setalah Islam datang yang dibawakan oleh Nabi
30
Asma Barlah, Cara Quran Membebaskan Perempuan (Yogyakarta: 2007), hlm. 54
Marshall Sahlin, Analsis Dengan Prespektif Gender Atas Majalah Wanita Di Indonesia
(Yogyakarta: Fisipol UGM, 2006), hlm. 65.
32
Mansour Faqih, Analisis Gender dan Transformasi Sosial (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2006), hlm. 9.
33
Silvia Walby, Theorizing Patriarchy (USA: nOxford Blackwell, 1998), hlm. 29
34
Muhammad Daud Ali, Habibah Daud, Lembaga-Lembaga Islam di Indonesia (Jakarta: Raja
Grafindo Utama, 1995), hlm 200.
31
123
Muhammad saw perempuan menjadi berharga dan dihormati.35 Dari sini jelas,
bahwa pemahaman yang masih saja memberikan pemahaman bahwa “perempuan
lebih rendah dari pada laki-laki”, hal demikian bukanlah pemahaman dari Islam,
melainkan hegemoni pemahaman masyarakat pra Islam, yang masih saja di
jadikan kebiasaan hingga kini masyarakat pada umumnya.
Karena Islam justru memandang perempuan lebih mulia dan memiliki
derajat yang sama dengan laki-laki, hal ini bukanlah ungkapan tanpa dalil,
melainkan beberapa bukti menguatkan argumentasi tersebut, diantaranya terdapat
banyaknya ayat al-Quran yang yang berkenaan dengan perempuan. Bahkan untuk
menunjukan pentingnya kedudukan perempuan, dalam al-Quran terdapat surat
dengan nama an-Nisā yang artinya perempuan, selain itu terdapat pula haditshadits Nabi Saw yang berbicara tentang perempuan dalam kedudukan hukum dan
bermasyarakat.36
Sebagai pedoman umat Islam, beberapa ayat al-Quran telah mengungkap
peranan kesetaraan bagi laki-laki dan perempuan37 sebagaimana bunyi QS. alAhzāb : 35.
‫ص ِء ِء َجوى‬
‫إِءوَّو ى ْا ُلا ْ ِء ِءا َجوى َج ْا ُلا ْ ِء َجا تِءى َج ْاا ُْلؤ ِءا ِءل َجوى َج ْاا ُْلؤ ِءا َجل تِءى َج ْا َجق ِءل ِءت َجوى َج ْا َجق ِءل َجت تِءى َج ا َّو‬
‫ص ِّر ِء َجوى‬
‫ص ِءب ِءل َجوى َج ا َّو‬
‫ص ِء َج تِءى َج ا َّو‬
‫َج ا َّو‬
‫ص ِءب َجل تِءى َج ْا َجخ اِء ِءع َجوى َج ْا َجخ اِء َجع تِءى َج ْا ُلا َجت َج‬
‫ص ِءآ َجا تِءى َج ْا َج فِءظِء َجوىفُل ُلل َج ُله ْمى َج ْا َج ِءف َجظ تِءى َج َّواذ ِءِءل َجوى‬
‫ص ِءآ ِءا َجوى َج ا َّو‬
‫ص ِّر َج تِءى َج ا َّو‬
‫َج ْا ُلا َجت َج‬
}35{‫هللاَجى َج ِء لًة ى َج َّواذ َجِءل تِءىأ ّ َج َّو ىهللاُلىاَجهُلمىا َّْوغف َجِءل ًةى َج أَج ْ لًة ى َجظِء ًةا ى‬
35
Muhammad Daud Ali, Habibah Daud, Lembaga-Lembaga Islam di Indonesia, hlm. 201.
Muhammad Daud Ali, Habibah Daud, Lembaga-Lembaga Islam di Indonesia, hlm 200.
37
Husein Muhammad, Islam Agama Ramah Perempuan Pembelaan Kiai Pesantren, hlm. 15.
36
124
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan
perempuan yang mu’min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta’atanya,
laki-laiki dan perempuan yang benar,laki-laki dan perempuan yang sabar,lakilaki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, dan
laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang
memelihara kehormatanya ,laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut
(asma) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang
besar “(QS. al-Ahzāb: 35).
Sebagai seorang Mufassir dekade kontemporer, Hamka menjelaskan,
bahwa ayat tersebut hendak memberikan pemahaman kepada umat manusia akan
kesamaan kedudukan perempuan dan laki-laki yang muslim serta mukmin,
keduanya tidak ada perbedaan sedikitpun dalam tatatan Islam di hadapan Allah
swt.38 Dari penjelasan Hamka tersebut jelas, bahwa dalam Islam tak ada
perbedaan
derajat
antara
laki-laki
dan
perempuan,
lebih-lebih
Hamka
menegaskan, bahwa terdapat kedudukan yang sama antara perempuan dan lakilaki yang muslim (beragama Islam) dan mukmin (beriman kepada Allah swt dan
Rasul-Nya).
Dari pemaparan al-Quran dan penjelasan Hamka akan ayat tersebut, nampak
jelas bahwa Islam dengan dasar al-Quran benar-benar tidak memandang
perempuan dalam keadaan yang direndahkan, sehingga kebenaran ini perlu
diaplikasikan guna menegakan pedoman al-Quran sebagai hūdan linnās umat
38
Hamka, Tafsir al-Azhar Juz XXII (Jakarta: Pustaka Panjimas, 2002), hlm. 28
125
manusia. Keharusan menegakan suatu kebenaran telah tertera, sebagaimana dalam
bunyi firman Allah dalam QS. al-Baqarah 2 : 147.
}147{‫كى َجفالَجى َجت ُل َجلوَّو ىا َجِءوى ْا ُلا ْا َجت ِءل َجوى‬
‫ْا َج ُل ىاِءوىلَّو ِّرب َج‬
“Yang benar dari Tuhanmu, maka janganlah kamu masuk orang-orang
yang ragu”
Ayat ini menegaskan, akan keharusan menegakan kemaslahatan dan
menolak kerusakan, karena hal inilah merupakan prinsip dasar atas hukum-hukum
Tuhan. Bagi Hamka, ayat ini menjelaskan, bahwa seberapapun mereka (manusia)
menyembunyikan sebuah kebenaran, namun kebenaran tetaplah datang dari
Tuhan, dan tidak ada satupun selain Tuhan yang dapat menyembunyikan
kebenaran.39 Dari sini jelas bahwa, apa yang di sebutkan al-Quran tentang sebuah
kebenaran memang tidak dapat di sembunyikan oleh manusia, jika kebenaran itu
tetap saja di sembunyikan, maka tetap sajalah kebenaran tersebut nantinya akan
terlihat, karena kebenaran akan datang dari Allah SWT.
Atas landasan demikian, sebuah kebenaran memanglah harus ditegakan dan
dijalankan, guna menciptakan kesejahterahan yang mengedepankan kemaslahatan
umat, karena dengan menegakan kebenaran sebagaimana dijelaskan ayat al-Quran
tadi, maka sikap yang bersifat mendikreditkan jenis kelamin tertentu (perempuan)
dan merendahkan kaum tertentu (perempuan) tidak akan terjadi, karena jelas
bahwa agama membenarkan akan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan.
Hal ini di dukung dengan bunyi al-Quran dalam Q.S al-An‟ām : 5740:
39
Hamka, Tafsir al-Azhar Juz II (Jakarta: Pustaka Panjimas, 2004), hlm. 15.
Abdurrahman Wahid, dkk, Menakar “ Harga” Perempuan: Eksplorasi Lanjut Atas Hakhak Reproduksi Perempuan Dalam Islam, hlm. 205.
40
126
‫هللى َج قُلصُّ ى ْا َج َّو ى َج ُل َج َج‬
‫ىخ ْ لُلى ْا َجف صِء ِء َجوى‬
‫ىإِء ِءوى ْا ُل ْ ُلمىإِءالَّوى ِء‬.....
“Hukum hanyalah wewenang Allah. Dialah yang menyatakan kebenaran
(al- ḥaq) dan dialah sebaik-baik yang memutuskan”.41
Dengan demikian, hukum-hukum yang dibuat oleh paradigma manusia,
tidak boleh di benarkan (sebagaimana hukum yang bersifat diskriminasi terhadap
perempuan), sedangkan hukum hanya dapat dibenarkan sesuai dengan hukumhukum Tuhan tersebut,42 karena agama bersifat membebaskan manusia.43
Hamka menanggapi akan masalah demikian, Menurutnya Islam sangat
memberikan penghargaan dan penghormatan terhadap perempuan, dengan
demikian, jika terdapat kaum perempuan yang bersikukuh untuk menuntut
haknya, maka hal tersebut bukanlah berontak terhadap aturan agama Islam,
melainkan berontak untuk menuntut hak-hak mereka yang telah diberikan oleh alQuran yang selama ini dirampas oleh susunan foedal pemahaman kebodohan.44
Karena bagi Hamka, beberapa ayat-ayat al-Quran turun menyebutkan nama
perempuan bersama nama laki-laki.
Mereka (para perempuan) memiliki hak-hak otonom yang tidak bisa di
intervensi laki-laki. Bahkan beberapa surah diberi nama “an-Nisā” yang berarti
perempuan, ataupun nama seorang perempuan, seperti Maryam dan beberapa
surat yang berkaitan dengan persoalan hak reproduksi perempuan seperti aṭ-ṭalaq45
41
Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Quran dan Terjemahnya, hlm. 180.
Abdurrahman Wahid, dkk, Menakar “ Harga” Perempuan: Eksplorasi Lanjut Atas Hakhak Reproduksi Perempuan Dalam Islam, hlm. 205.
43
Ukasyah Abdulmannan Aṭibi, Taḍūru Akhlaqun Nisā’i (Kairo: Maktabah aṭ-ṭurāṡ al-Islami,
1993), hlm. 51.
44
Hamka, Studi Islam, 238.
45
La Ode Angga,“Hak Reproduksi Perempuan Dalam Perspektif Syariat Islam” Jurnal,
Muwâzâh, (Vol. 3, No. 2, Desember 2011), hlm. 481.
42
127
serta segala aktifitas kehidupan praktis yang lain.46 Sebagimana bunyi Q.S. alBaqarah : 228.
‫َج ْا ُلا َجط َّو َجق ُل‬
‫ىب َج ْلفُل ِء ِءهوَّو ى َج الَج َج َجةى ُل ُلل ٍآى َج الَج َج ِءاُّىاَجهُلوَّو ىأَجوى َج ْ ُلتا َجْوى َجا َجخ َج َج ىهللاُلى ِءف ى‬
‫تى َج َجت َجلبَّوصْ َجو ِء‬
‫َج‬
‫كىإِءوْ ى‬
‫ىب ِء‬
‫ىب َجل ِّر ِءوَّو ى ِءف ى َجذاِء َج‬
‫هللى َج ْا َج ْ ِءمى ْألخ ِءِءلى َج ُلب ُلع اَج ُلتهُلوَّو ىأَج َج ُّ ِء‬
‫أَجلْ َج ا ِءِءهوَّو ىإِءوى ُل وَّو ى ُْلؤاِءوَّو ِء‬
‫ِء ى َج اِء لِّر َج ِءاى َج َج ِءْهوَّو ى َجَجل َج ٌفةى َج هللاُلى‬
‫ىب ْا َجاعْ ُلل‬
‫أَج َجل ُل ىإِءصْ الَج ًة ى َج اَجهُلوَّو ى ِءا ْ اُلى اَّوذِءيى َج َج ِءْهوَّو ِء‬
}228{‫َج ِءز ٌفزى َج ِء ٌفمى‬
“ Dan para istri yang di ceraikan (wajib) menahan diri mereka (menunggu)
tiga kali queru’. Tidak boleh bagi mereka menyembunyikan apa yang diciptakan
Allah dalam rahim mereka, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhir,
jika mereka menghendaki perbaikan. Dan mereka para (perempuan) memiliki hak
yang sebanding dengan kewajiban menurut cara yang patut,..... Allah maha
perkasa lagi maha bijaksana.”
Menurut Hamka, ayat ini menerangkan sebuah hak dan kewajiban
perempuan, sebagaimana laki-laki juga memiliki kewajiban. perempuan juga
memiki hak untuk di hargai, hak milik untuk dirinya dan lain sebagainya. Selain
demikian, ayat ini juga memberikan penjelasan, bahwa laki-laki dan perempuan
sama-sama berhak mendapatkan taklīf dari Allah dalam hal iman dan beramal
ṣalih, seperti ibadah, muamalah dan ketaatann kepada Allah swt, maupun
pergaulan hidup.47
46
La Ode Angga,“Hak Reproduksi Perempuan Dalam Perspektif Syariat Islam”
Muwâzâh, hlm. 481.
47
Hamka, Tasfir al-Azhar Juz II (Jakarta: Pustaka Panjimas, 2004), hlm. 276-278.
128
Jurnal,
Di zaman Nabi saw, perempuan-perempuan juga dibai‟at, sebagaimana lakilaki dibaiat, serta perempuan-perempuan juga ikut dalam peperangan sebagaimana
pula laki-laki ikut perang untuk berjihad, hanya saja pekerjaan antara keduanya di
bagi untuk saling melengkapi. Pada Masa Islam waktu itu, Nabi Muhammad saw
juga memperlakukan sama, baik kepada laki-laki maupun perempuan,
sebagaimana ketika waktu hari raya idul fitri sekiranya Nabi saw selesai
memberikan khutbah kepada kaum laki-laki, kemudian Nabi saw berkhutbah
untuk kaum perempuan, bahkan Nabi saw memperlakukan kaum perempuan
dengan sangat menghargai dan menghormati kaum perempuan.48
Selain itu, ayat tersebut juga menjelaskan, bahwa perempuan yang menjadi
istri juga mempunyai hak dan kewajiban, diakhir ayat disebut “bil ma’rūf”
diartiakan “patut” (hak-hak yang berpatutan menurut hukum masyarakat). Hal ini
berarti perempuan berhak mendapatkan nafkah, pakaian yang mencukupi,
pendidikan tinggi, kegiatan bersama sesama perempuan, dan sejenisnya, asalkan
semua itu tidak melanggar agama dan ma’rūf. 49
Hal demikian, sesuai dengan penjelasan dalam Hadits Nabi Muhammad saw
dalam riwayat Abu Dawud.
‫ى َجا ى َج ُّ َج‬,‫هللا ُل‬
‫ى ُل ْ ُل‬:‫ىلىضِء َج ىهللاى َج ْلهُلى َج َجاى‬
‫ىز ْ ى َج ةِءىأَجى‬
‫ىل ُل ْ َجاى ى‬
‫تى َج َج‬
‫ْوى َج ْ َجى َج َج‬
‫َج وْ ى ُلا َجع ى ِء ى َج َجةىب ِء‬
ْ ْ‫ىأَجو‬:‫ا‬
‫ى َج ىالَجى َجتضْ ِءلى‬.‫ْت‬
‫ى َج ى َجت ْ ُل ْ ى َج ى ِءى َجذى ْ َجت َج َجى‬,‫ْت‬
‫ىتط ِءع َجا َجه ى ِءى َجذ ى َجط ِءعا َجى‬
‫ِء َجى َجل ى َج َج ْ هِءى ى َج َجى‬
‫ىى‬. ‫ىل هىأب ى ى‬.‫ت‬
‫ى َج ىالَجى َجت ْه ُللْ ى ِءالَّوى ِءف ى ْا َجب ْ ِءى‬,‫اِءى ْا َج ى ْ َجهى َج ىالَجى ُلت َجق ِّرب ْى‬
48
49
Hamka, Tasfir al-Azhar Juz II, hlm. 277.
Hamka, Tasfir al-Azhar Juz II, hlm. 278.
129
Mu’awiyah bin Haidah bertanya.”Ya Rasulullah, apakah hak seorang isteri
terhadap suaminya? Jawab Nabi SAW: “ harus kau beri makan jika kau makan,
dan kau beri pakaian jika kau berpakaian, dan jangan memukul muka dan jangan
menjelekanya, dan jangan memboikot kecuali dalam rumah saja’ (HR. Abu
Dawud).
Diakhir ayat al-Baqarah ayat 228 disebutkan“Dan Allah maha menguasai
dan maha bijaksana.” Menurut Hamka, ayat ini menjelaskan, bahwa Allah Maha
kuasa untuk menghukum seorang suami yang bersikap sewenang-wenang
terhadap istrinya, dan Allah pula maha kuasa untuk menghukum istri yang
meminta lebih dari batas hak dan kewajibanya.50
Dengan demikian, berdasarkan penjelasan Hamka dari beberapa ayat-ayat
al-Quran tersebut, maka, Islam dengan pedoman al-Quran tidak membedabedakan hak antara laki-laki dan perempuan, serta keduanya sama-sama memilki
hak dan kewajiban.
Selain beberapa ayat yang telah diungkapkan diatas, lagi-lagi al-Quran juga
menegaskan pula tentang hak kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, hal ini
sebagamana penjelasan al-Quran akan adanya balasan yang sama antara laki-laki
dan perempuan, sebagaimana dalam QS. ali-Imrān : 195.
‫ض ُل مىاِّروى‬
‫ىل ُّب ُله ْمىأَج ِّرل ىآلَجأُلضِء عُلى َج َجا َجاى َج ا ٍِءاىاِّرل ُل مىاِّروى َجذ َج ٍلى َج أُلل َج ى َجبعْ ُل‬
‫اىاَج ُله ْم َج‬
‫َجف ْ َجت َج َج‬
‫ضى َجف اَّو ِءذ َجوى َج َج ُلل ى َج أ ُل ْخ ِءل ُل ىاِءوى ِء َج ِءل ِء ْمى َج أ ُل ُلذ ى ِءف ى َج ِءب ِء ى َج َج َجت ُل ى َج ُل ِءت ُل ى‬
ٍ ْ‫َجبع‬
50
Hamka, Tasfir al-Azhar Juz II, hlm. 279.
130
‫أل ُل َج ِّرف َجلوَّو ى َج ْل ُله ْمى َج ِّر َجآ ت ِءِءه ْمى َج أل ُل ْ ِءخ َج َّول ُله ْمى َج َّول تٍى َجت ْ ِءليىاِءوى َجت ْ ِءت َجه ى ْألَج ْل َجه لُلى َج َج ًةب ىاِّروْ ى ِء ل ِءى‬
‫)ى‬195(‫ا‬
‫هللاى َج هللاُلى ِء ل َج هُلى ُل ْ وُل ى ا َّو َج ِءى‬
‫ِء‬
“Maka
Tuhan
mereka
memperkenankan
permohonannya
(dengan
berfirman): "Sesungguhnya aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang
beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu
adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang
diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang
dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan
pastilah aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di
bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah dan Allah pada sisi-Nya pahala yang
baik." (QS. āli-Imrān: 195).51
Menurut Hamka dalam tafsir al-Azhar, ayat tersebut menjelaskan bahwa
segala permohonan seseorang terhadap Allah SWT, maka Allah pasti akan
mendengarkan apa yang dimohonkanya, tetapi permohonan seseorang tidaklah
cukup dengan menadahkan kedua tangan dan kerendahan hati, melainkan dengan
perbuatan, amal ibadah, kerja dan usaha. Dengan demikian, maka Allah akan
mengabulkan permohonanya. Hal ini karena sejatinya iman adalah dengan
tindakan.52
Lebih lanjut, Hamka menjelaskan, bahwa dalam masalah amal tidak hanya
diberatkan kepada laki-laki saja. Tetapi perempuan juga mempunyai hak dan
kewajiban, seperti halnya laki-laki yang mempunyai hak dan kewajiban. Hal ini di
51
Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Quran dan Terjemahnya, hlm. 97.
Hamka, Tafsir al-Azhar Juz IV (Jakarta: Pustaka Panjimas, 2004), hlm. 255.
52
131
buktikan sebagaimana seorang suami dan istri yang saling melengkapi, seperti
halnya si suami yang bekerja keluar untuk mencari nafkah. sedangkan isteri
bekerja di rumah menjaga ketentraman dalam rumah tangga.53 Di dalam tafsir alAzhar, Hamka menegaskan bahwasanya kerjasama antara laki-laki dan perempuan
hukumnya wajib dalam menegakkan amal. Hal ini karena menurut Hamka telah
dibuktikan dalam sejarah Islam sejak mula perkembangannya, dari Makkah
sampai Madinah. Sebagaimana yang menyatakan percaya pertama sekali kepada
Rasulullah ialah perempuan, yaitu isteri beliau yang pertama Khadijah binti
Khuwailid ra. Selain itu, syahid yang pertama karena memperjuangkan Islam juga
perempuan yaitu Ummi Yasir, yang disula (ditusuk) kemaluannya sampai
menembus lehernya dengan pucuk daun pohon kurma.54
Lanjut Hamka, sebagaimana dalam sejarah, Hamka menjelaskan sejarah
seorang Shafiyah binti Abdul Muthalib, Ammah (saudara dari ayah) Nabi saw,
saudara kandung Hamzah yang perwira, yang mana ketika ikut dalam peperangan
satu kali turun dari bentengnya ia membunuh orang musyrik. Berkata Ibnu Abbas:
“Perempuan-perempuan ikut berperang bersama Rasulullah,” Berkata Ibnu
Mas‟ud: “Perempuan-perempuan di peperangan Uhud berdiri di garis belakang
kaum laki-laki mengobati yang luka. Sebab itu kepala-kepala peperangan seperti
Abu Ubaid bin Khalid bin Walid memerlukan juga tenaga perempuan dalam
perang. Ketika menaklukan Damaskus banyak perempuan turut dalam perang.
Mereka duduk di kemah menunggu kalau ada yang luka dan diobati, tetapi
di tangan mereka ada pula batu dan tongkat. Kalau ada laki-laki yang mundur dan
53
Hamka, Tafsir al-Azhar Juz IV, hlm. 255-256.
Hamka, Tafsir al-Azhar Juz IV, hlm. 258.
54
132
berlari ke dalam kemah, mereka lempari dengan batu atau mereka pukuli dengan
tongkat, kemudian mereka angkat anak-anak mereka yang masih kecil lalu
berkata: “Pertahankan keluargamu dan belalah Islam”. Bahkan Khalid berkata
kepada perempua-perempuan itu: “Wahai perempuan-perempuan Islam, kalau ada
laki-laki yang mundur, hendaklah bunuh saja”.55
Sebagaimana dikutip oleh Hamka, Menurut Imam Al-Auza‟i, perempuanperempuan yang ikut berangkat perang berhak menerima bagian dari ghanimah,
sedangkan Ibnu Rusyd di dalam kitab Bīdayatul Mujtahid
berkata: “sama
pendapat ulama‟ bahwa perempuan boleh ikut berperang”. Ibnu Hazm
berpendapat, bahwa perempuan pergi berperang adalah sunnah. Ada tiga tingkat
fatwa ulama‟ tentang ikutnya perempuan dalam perang:
Pertama adalah mūbah; boleh, artinya kalau ada perempuan yang ikut
berperang jangan dihalangi. Kedua, sunnat; yaitu bagi perempuan-perempuan
yang punya kesanggupan dan keahlian, terutama dalam mengobati yang luka.
Ketiga, perempuan wajib berperang, sebab telah menjadi fardhu ain, apabila
musuh telah masuk ke dalam negeri, supaya merekapun turut berjuang bersama
laki-laki.
Dalam akhir penjelasan penafsiranya terhadap QS. ali-Imrān: 195, Hamka
menegaskan, demikian kata al-Quran dan demikian pula sunnah Rasul saw pada
contoh-contoh perempuan pada zaman Rasulullh saw dan zaman sahabat-sahabat,
pendapat para ulama, niscaya jelas bahwa dalam hal yang lainpun perempuanperempuan mendapat hak dan kewajiban yang sama dengan laki-laki, yaitu di
55
Hamka, Tafsir al-Azhar Juz IV, hlm. 259.
133
dalam bakat dan bidang yang sesuai dengan keadaan dirinya sebagai perempuan.
Lebih lanjut Hamka menegaskan, Carilah agama lain yang bersikap setegas itu
terhadap perempuan. Maka jika ada negeri Islam yang masih terdapat perempuan
yang tertindas dan tidak diberi hak, maka itu bukanlah dari Islam, melainkan
setelah umat Islam yang tidak berpedoman kepada Islam lagi”.56
Berlandaskan hal tersebut, maka jelas bahwa perempuan dan laki-laki
berada dalam keadaan setara, yang mana berarti keduanya berhak mendapatkan
hak yang sebanding dan diperlakukan secara adil, karena hal inilah yang diajarkan
oleh agama Islam. terlebih sebagai seorang muslim serta mukmin, maka wajib
hukumnya memperlakukan manusia secara adil baik terhadap laki-laki maupun
perempuan. Kendati hal tersebut juga telah juga termaktub dalam Q.S. an-Nāhl :
90:
ْ
‫ئىذِءيى ْاقُللْ َجب ى َج َج ْل َجه ى َج ِءوى ْا َجف ْ َجا ِءآى َج ْااُلل َج ِءلى‬
‫إل ْ َج ِءوى َج إِء َجت ِء‬
‫إِءوَّو ى َج‬
‫هللاى َج ُلال ِء‬
‫ُلىب ْا َجع ْ ِءاى َج ْ ِء‬
‫َج ْا َجب ْغ ى َج ع ُل‬
‫ِءظ ُل ْمىاَج َجع َّو ُل ْمى َجت َجذ َّو ُلل َجوى‬
‫ِء‬
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berbuat adil dan berbuat
kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan dia melarang (melakukan)
perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran
kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”57
Sebagaimana dikutip oleh M. Quraish Shihab, menurut ar-Raghib alAshfihani kata (‫ )اإلحسان‬al-ihsān digunakan untuk dua hal: pertama, memberi
nikmat kepada pihak lain, dan kedua, perbuatan baik. Karena itu lanjutannya kata
56
Hamka, Tafsir al-Azhar Juz IV, hlm. 260.
Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Quran dan Terjemahnya (Jakarta: Kemenag RI,
2002), hlm. 377.
57
134
ihsān lebih luas dari sekadar „memberi nikmat atau nafkah.” Maknanya bahkan
lebih tinggi dan dalam dari kandungan makna “adil”, karena adil adalah
“memperlakukan orang lain sama dengan perlakuannya terhadap Anda,” sedang
ihsān adalah memperlakukannya lebih baik dari perlakuannya terhadap Anda.”
Adil adalah mengambil semua hak Anda dan atau memberi semua hak orang lain,
sedang ihsān adalah memberi lebih banyak daripada yang harus Anda beri dan
mengambil lebih sedikit dari yang seharusnya Anda ambil.58
Sedangkan perintah yang ketiga, yaitu memberi kepada keluarga yang
terdekat, hal inilah merupakan lanjutan dari pada ihsān, hal ini sebagaimana
memberikan sebagian rizkinya untuk saudara-saudanya, lebih lanjut saudara
kandung dari ayah dan Ibu perlu di dahulukan.59
Menanggapi ayat tersebut, Hamka mengungkapkan, bahwa dalam Q.S. anNāhl : 90 mengandung tiga hal perintah Allah SWT, pertama jalan adil yaitu
tidak berat sebelah, membenarkan yang benar dan menyalahkan yang salah, lawan
dari adil adalah zālim, yang berarti memungkiri kebenaran karena hendak ingin
mencari keuntungan untuk dirinya sendiri. Sedangkan yang kedua melatih berbuat
Ihsan yang mengandung dua arti, pertama, meninggikan amalan, kedua,
memberikan kebaikan lebih dari kebaikan yang diberikan kepada kita.60
Al-Quran selalu menghargai kebenaran, tidak peduli darimana atau siapapun
datangnya. Karena itu, laki-laki atau perempuan, tidak pernah dihalangi untuk
mengeluarkan pendapat. Hal ini terbukti sebagaimana dialog antara Nabi saw
dengan ḥawlat binti Tsa‟lāb, ia mengadukan kepada Nabi saw perihal suaminya
58
M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah Vol. 7 (Jakara: Lentera Hati, 2002), hlm. 324.
Hamka, Tafsir al-Azhar Juz XIV (Jakarta:Pustaka Panjimas, 2004), hlm. 283.
60
Hamka, Tafsir al-Azhar Juz XIV, hlm. 283.
59
135
‫‪(Aus bin al-Shamit) yang telah men-zihar-nya.61 Yang kemudian turunlah empat‬‬
‫‪ayat pertama dari surat al-Mujādalah:‬‬
‫كى ِءف َج‬
‫هللاى َج هللاُلى َج ْ َجاعُلى َجت َج ُل َجل ُل َجا ى‬
‫ىز ْ ِء َجه ى َج َجت ْا َجت ِء ىإِءاَج ى ِء‬
‫َج ْ ى َج ا َجِءعىهللاُلى َج ْ َجاى اَّو ِءت ى ُلت َج ِء ا ُل َج‬
‫هللاى َج ِءا عٌفىبَجصِء لٌفى{ ‪}1‬ى اَّو ِءذ َجوى ُل َجظ ِء ُلل َجوىاِءل ُل مىاِّروى ِّرل َج ِءآ ِءمى َّوا ُلوَّو ىأ ُل َّوا َجه ت ِءِءه ْمىإِءوْ ى‬
‫إِءوَّو ى َج‬
‫هللاىاَج َجعفُل ٌّ ى‬
‫أ ُل َّوا َجه ُلت ُله ْمىإِءالَّوى اَّو ِءآ ى َج اَج ْ َجل ُله ْمى َج إِء َّول ُله ْمىاَج َج قُل ا ُل َجوىاُلل َج لًة ىا َجِّروى ْا َجق ْ ِءاى َج ُلز لًة ى َج إِءوَّو ى َج‬
‫ُلىل َج َجبةٍىاِّروى‬
‫َجغفُل لٌفى{ ‪}2‬ى َج اَّو ِءذ َجوى ُل َجظ ِء ُلل َجوىاِءوى ِّرل َج آ ِءِءه ْمى ُل َّومى َج ُلع ُل َجوى ِءا َجا ى َج ا ُل ى َجف َجت ْ ِءل ل َج‬
‫َجب ِءْاىأَجوى َج َجت َجا َّو ى َجذاِء ُل ْمى ُلت َج ُل‬
‫ىب َجا ى َجتعْ َجا ُل َجو َج‬
‫ىخ ِءب لٌفى{ ‪}3‬ى َجف َجاوىاَّو ْمى َج ِء ْ ى َجفصِء َج ُلمى‬
‫ىبهِءى َج هللا ُل ِء‬
‫ظ َجو ِء‬
‫كى‬
‫ْوىاِءوى َجب ِءْاىأَجوى َج َجت َجا َّو ى َجف َجاوىاَّو ْمى َج ْ َجتطِء عْ ى َجفإِء ْط َجع ُلمى ِء ِّرت َجوى ِءا ْ ِء ًةل ى َجذاِء َج‬
‫ْوى ُلا َجت َجت ِءب َجع ِء‬
‫َجاه َجْل ِء‬
‫هللاى َج ِءا ْ َج ف ِءِءل َجوى َج َجذ اٌف ىأَجاِء ٌفمى{‪}4‬‬
‫كى ُل ُل ُل ى ِء‬
‫ىب ِء‬
‫هللى َج َجل ُل اِءهِءى َج ِءت ْ َج‬
‫اِء ُلت ْؤ ِءا ُلل ِء‬
‫‪“...Sungguh Allah telah mendengar ucapan wanita yang berdialog‬‬
‫‪denganmu tentang suaminya, dan ia mengadu kepada Allah; Allah mendengar‬‬
‫‪percakapan kalian berdua. Sesungguhnya Allah maha mendengar dan Maha‬‬
‫‪Melihat...........”.‬‬
‫‪Selain itu, terdapat pula akan ayat yang menerangkan tidak melarang berbuat adil,‬‬
‫‪sebagaimana bunyi QS. al-Mumtaḥanah : 8.‬‬
‫الَج َج ْل َجه ُل ُلمىهللاُلى َج ِءوى اَّو ِءذ َجوىاَج ْمى ُل َجق ِءت ُل ُل ْمى ِءف ى ا ِّر ِءوى َج اَج ْمى ُْلخ ِءل ُل ُل مىاِّروى ِء َج ِءل ُل ْمىأَجوى‬
‫َجت َجبلُّ ُل ْمى َج ُلت ْق ِء ُل‬
‫هللاى ُل ِءاُّ ى ْا ُلا ْق ِء طِء َجوى{‪}8‬‬
‫ط ىإِءاَج ِءْه ْمىإِءوَّو ى َج‬
‫‪61‬‬
‫‪Nasharuddin Baidan, Tafsir bi Al-Ra’yi Upaya peanggalian Konsep Wanita dalam Al-Quran‬‬
‫‪Mencermati Konsep Kesejajaran dalam Al-Quran, hlm. 42.‬‬
‫‪136‬‬
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap
orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak pula mengusir
kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku
adil”. (QS. al-Mumtaḥanah : 8).
Bagi Hamka, ayat tersebut menjelaskan, bahwa Allah tidak melarang
seorang laki-laki ataupun perempuan untuk berbuat adil, bergaul dengan cara yang
baik dan berlaku jujur serta adil kepada siapapun.62 Selanjutnya dalam ayat
tersebut di sebut muqsiṭīn yang berarti berlaku adil. (Allah menyukai orang-orang
yang menegakan keadilan) selain itu para ahli tafsir juga mengomentari, bahwa
ayat ini adalah “muhkamah” berlaku selama-lamanya, tidak di mansukhkan.
Dalam segala hal, hendaklah bersikap adil serta jujur.63
Ayat lain yang menerangkan tentang menegakan keadilan terhadap sesama
manusia, juga telah di jelaskan, bahkan ayat ini menyerukan untuk menegakan
keadilan tanpa pamrih (kepada siapapun manusia tanpa meliahat siapa manusia
tersebut), sebagaimana dalam QS. an-Nisā: 135.
‫ىب ْا ِءق ْ طِء ى ُل‬
‫ْوى‬
‫ا َجه َج آ َجآى ِء‬
‫هللى َج اَج ْ ى َج َجى َجلفُل ِء ُل ْمىأَج ِء ى ْا َج اِء َج ِء‬
‫َج أَج ُّ َجه ى اَّو ِءذ َجوى َجآ َجا ُلل ى ُل ُلل ى َج َّو ِءا َجو ِء‬
‫َج‬
‫ىب ِءه َجا ى َجفالَجى َجت َّوت ِءب ُلع ى ْا َجه َج ىأَجوى َجتعْ ِء ا ُل ى َج إِءوى‬
‫َج ْأل ْ َجل ِءب َجوىإِءوى َج ُل وْ ى َجغ ِءل ًةّ ىأَج ْ ى َجف ِءق لًة ى َجف هللُلىأَج ْ اَج ِء‬
‫ىب َجا ى َجتعْ َجا ُل َجو َج‬
(135) ‫ىخ ِءب لًة ى‬
‫َجت ْ ُل ىأَج ْ ى ُلتعْ ِءل ُل‬
‫ض ى َجفإِءوَّو ى َج‬
‫هللاى َج َجو ِء‬
“Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar
penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, biarpum terhadap dirimu sendiri
atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya atau miskin, maka Allah lebih
62
63
Hamka, Tafsir al-Azhar XXVIII (Jakarta: Pustaka Panjimas, 2004), hlm. 105.
Hamka, Tafsir al-Azhar XXVIII, hlm. 106
137
tahu kemaslahatanya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin
menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikan kata-kata atau
enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah maha mengetahui segala
apa yang kamu kerjakan”. (QS. al-Nisā: 135)
Menurut penjelasan Hamka, ayat tersebut merupakan suatu seruan untuk
menegakan keadilan Allah SWT, walaupun untuk diri sendiri, Ibu Bapak, ataupun
keluarga kerabat.64 Didahulukannya perintah penegakan keadilan atas kesaksian
karena Allah, karena tidak sedikit orang yang hanya pandai memerintahkan yang
ma‟ruf, tetapi ketika tiba gilirannya untuk melaksankan ma‟ruf yang
diperintahkannya itu, ia lalai. Ayat ini memerintahkan kepada mereka, bahkan
semua orang, untuk melaksanakan keadilan atas dirinya baru menjadi saksi yang
mendukung atau memberatkan orang lain.
Di sisi lain, menurut Fakhruddin ar-Razi, sebagaimana dikutip oleh M.
Quraish Shihab, penegakan keadilan serta kesaksian dapat menjadi dasar untuk
menampikan mudharat yang dapat dijatuhkan. Bila demikian halnya, maka
menjadi wajar penegakan keadilan disebut terlebih dahulu, karena menolak
kemudharatan atas diri sendiri melalui penegakkan keadilan lebih diutamakan
daripada menolak mudharat atas orang lain. Atau karena penegakan keadilan
memerlukan aneka kegiatan yang berbentuk fisik, sedang kesaksian hanya berupa
ucapan, dan tentu saja kegiatan fisik lebih berarti daripada sekedar ucapan.65
Hendaklah perhatian menegakkan keadilan dengan sempurna kalian jadikan
sebagai sifat yang tetap melekat di dalam jiwa kalian. Menegakkan keadilan bisa
64
65
Hamka, Tafsir al-Azhar Juz V (Jakarta: Pustaka Panjimas, 2005), hlm. 406-407.
M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah Vol. 2 (Jakara: Lentera Hati, 2002), hlm. 591
138
dilakukan dalam memerintah umat manusia bagi orang yang diangkat oleh sultan
sebagai wali atau dijadikan sebagai hakim oleh orang-orang yanag memutuskan
perkara-perkara mereka. Bisa pula dilakukan dalam pekerjaan lain, seperti
menegakkan kewajiban persamaan antara para istri dan anak-anak. Sekiranya
kaum muslimin mengikuti petunjuk al-Qur‟an, tentulah mereka menjadi umat
yang paling adil dan bisa menegakkan keadilan.66
Menurut Qatadah, sebagaimana dikutipoleh Ahmad Mustafa Al-Maraghi,
ayat tersebut berkenaan dengan kesaksian. Maka, tegakkanlah kesaksian itu wahai
anak Adam, meski kesaksian itu merugikan dirimu sendiri, kedua orang tuamu,
kaum kerabatmu, atau orang-orang terhormat diantara kaummu. Karena kesaksian
itu sesungguhnya diberikan hanya karena Allah Ta‟ala, bukan karena manusia.
Keadilan adalah timbangan Allah di muka bumi. Dengan keadilan itu, Allah
mengembalikan yang ḥaq, dari yang kuat kepada yang lemah, dari yang dusta
kepada yang jujur, dan dari yang berbuat kebatilan kepada yang berbuat
kebenaran.
Janganlah kalian mengikuti hawa nafsu, agar kalian tidak menyimpang dari
yang haq kepada yang bathil, karena di dalam hawa nafsu itu terdapat
penyimpangan-penyimpangan. Janganlah kalian memutar balikkan kata-kata dan
menyimpangkan kesaksian, atau jangan pula kalian enggan memberikan
kesaksian, karena sesungguhnya Allah Maha Mengetahui tentang segala
66
Ahmad Musthafa al-Maragi, Tafsir al-Maragi Juz V, terj. Bahrun Abu Bakar, Hery Noer
Aly, K. Anshori Umar Sitanggal (Semarang: CV. Toha Putra, 1993). hlm. 300-301.
139
perbuatan kalian. Tidak ada satu maksud kalian pun yang tidak diketahui-Nya.
Dia akan memberikan balasan atas apa yang kalian kerjakan.67
Selain itu, memegang prinsip keadilan dalam memutuskan sesuatu perkara
juga di jelaskan dalam al-Quran Surat an-Nisā ayat 58:
‫هللاى َج ْ ُلا ُلل ُل ْمىأَجوى ُلت َجؤ ُّ ىْى ألَج َجا َجل تِءىإِءاَج ىأَج ْ ِء َجه ى َج إِء َجذ ى َج َج ْا ُلت ْمى َجب َجْوى ا َّول ِء ىأَجوْ ى َجت ْ ُل ُلا ى‬
‫إِءوَّو ى َج‬
‫هللاى ِءل ِءع َّوا ى َج ع ُل‬
‫هللاى َج َجوى َج ِءا ًةع ىبَجصِء لًة ى‬
‫ىبهِءىإِءوَّو ى َج‬
‫ِءب ْا َجع ْ ِءاىإِءوَّو ى َج‬
‫ِءظ ُل ْم ِء‬
“Sungguh Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak
menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum diantara manusia
hendaknya kamu menetapkanya dengan adil. Sungguh Allah sebaik-baik memberi
pengajaran kepadamu, sungguh Allah Maha mendengar, Maha melihat.”68
Dalam pandangan Hamka, ayat ini menjelaskan tentang menyerahkan
amanat kepada ahlinya, serta menegakan hukum yang berkeadilan sesuai dengan
haknya masing-masing dan tidak berbuat zālim. Dengan landasan ini berarti,
menentukan hukum berdasarkan sumber hukum yang asli, yaitu hukum Allah.69
Setelah mengetahui seruan isi kandungan al-Quran yang dijelaskan oleh
Hamka, maka dapat diambil kesimpulan, bahwa agama Islam jelas memandang
dan memperlakukan perempuan setara di hadapan kaum lain (laki-laki) dan
keduanya tidak ada perbedaan sedikitpun, melainkan hanyalah ketaqwaan dan
keimanan dari pandangan Allah swt, dengan demikian, maka sudah sepatutnya
perempuan tidak lagi di pandang sebelah mata dari sudut pandangan manapun,
67
Ahmad Musthafa al-Maragi, Tafsir al-Maragi Juz V, terj. Bahrun Abu Bakar, Hery Noer
Aly, K. Anshori Umar Sitanggal (Semarang: CV. Toha Putra, 1993). hlm. 302.
68
Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Quran dan Terjemahnya, hlm. 113.
69
Hamka, Tafsir Al-Azhar Juz V (Jakarta: Pustaka Panjimas, 2005)., hlm. 158
140
melainkan memandang merekalah (perempuan) dengan penghargaan dan
penghormatan sebagaimana diajarkan oleh al-Quran dan as-Sunnah. Oleh karena
itu, jikalau penafsiran al-Quran terdapat produk hukum yang menghasilkan bentuk
penindasan dan ketidakadilan, maka penafsiran hukum tersebut perlu diteliti
kembali.70
C. Peran Publik Perempuan Dalam Tafsir Al-Azhar
Peran publik perempuan berarti peran perempuan dalam menjalankan ranah
kegiatan kemasyarakan, baik aktivitas perempuan yang berkenaan dengan
kegiatan ekonomi (pekerjaan), aktivitas politik, maupun aktifitas kebudayaan.71
Untuk lebih jelasnya berikut diantara beberpa aktifitas perempuan.
1. Perempuan dan aktivitas ekonomi
Pada mulanya, membincang masalah perempuan dalam aktivitas ekonomi
(pekerjaan) dianggap sebagai sebuah pelanggaran agama, karena dalam tatanan
pekerjaan, dalam pandangan agama dan pemahaman masyarakat pada umumnya,
menganggap bahwa ranah perempuan hanyalah dalam ruang domestik (rumah
tangga), dengan demikian, perempuan yang beraktivitas selain mengurusi masalah
domestik, maka, dianggap melanggar syari‟at agama.
Kendati demikian, menurut M. Quraish Shihab, menanggapi anggapan yang
masih saja beredar akan pandangan “bahwa agama melarang perempuan
berperan dalam masalah ekonomi (pekerjaan)” hal tersebut tidak dibenarkan,
karena berdasarkan penelurusuran Quraish Shihab dalam ayat-ayat al-Quran,
beliau tidak menemukan satu tekspun dalam al-Quran yang berbicara jelas dan
70
Nasarudin Umar, Kesetaraan Jender Perspektif Al-Quran, hlm. 13.
Arief Subhan, dkk, Citra Perempuan Dalam Islam Pandangan Ormas Keagamaan (Jakarta:
PT Gramedia Utama, 2003), hlm. 97.
71
141
pasti akan “larangan perempuan beraktifitas di sektor ekonomi (pekerjaan), baik
dalam al-Quran maupun sunnah.
Oleh sebab itu, pada prinsipnya perempuan tidak dilarang untuk berkiprah
dalam ruang publik bekerja, karena pada dasarnya, agama menetapkan kaidah:
dalam hal kemasyarakatan, semuanya boleh selama tidak ada larangan dari
agama, dan dalam hal ibadah murni, semuanya boleh selama selama tidak ada
tuntutan.72
Bahkan, al-Quran malah mendukung perempuan untuk berkiprah yang baikbaik, sebagaiaman dijelaskan dalam QS. an-Naḥl : 97.
‫ص اِء ًة ىاِّروى َجذ َج ٍلىأَج ْ ىأُلل َج ى َج ُل َج ىا ُْلؤ ِءاوٌف ى َجف َج ُلل ْ ِء َج َّولهُلى َج َج ًةى َجط ِّر َجب ًةةى َج اَج َجل ْ ِءز َج َّول ُله ْمى‬
‫َجاوْ ى َج ِءا َجاى َج‬
}97{‫ىب َج ْ َج ِءوى َجا َج ُلل ى َج عْ َجا ُل َجوى‬
‫أَج ْ َجل ُل ْم ِء‬
“Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan
dalam keadaan beriman, maka pasti akan berikan kepadanya kehidupan yang
baik dan akan kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa apa
yang telah mereka kerjakan.(QS. an-Naḥl : 97)73
Menurut Hamka, ayat ini menjelaskan, bahwa dalam hal amal shalih dan
iman, laki-laki dan perempuan berada dalam kedudukan yang sama. Masingmasing sama-sama sanggup untuk menumbuhkan iman dalam hatinya serta
sanggup untuk berbuat baik. Oleh sebab itu, perempuan dan laki-laki sama-sama
di janjikan Tuhan untuk di berikan kehidupan yang baik.74
72
M. Quraish Shihab, Perempuan : dari cinta sampai seks dari nikah mut’ah sampai nikah
sunnah dari bias lama sampai bias baru, hlm. 399
73
Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Quran dan Terjemahnya, hlm. 378-379.
74
Hamka, Tafsir al-Azhar Juz XIV (Jakarta: Pustaka Panjimas, 2004), hlm. 292.
142
Dengan demikian, selagi laki-laki dan perempuan tersebut melakukan
pekerjaan dengan baik (tidak melanggar agama), maka hal tersebut tidak dilarang,
bahkan Allah akan menjanjikan kehidupan yang baik bagi umatnya (laki-laki) dan
perempuan yang melakukan kebajikan yang baik pula.
Dalam ayat lain, terdapat juga ayat yang mendorong perempuan dalam hal
bekerja, sebagimana dalam QS. an-Nisā : 124.
‫كى َج ْ ُلخ ُل َجوى ْا َج َّول َجةى‬
‫َج َجاوى َج عْ َجااْىا َجِءوى ا َّو‬
‫ص اِء َج تِءىاِءوْ ى َجذ َج ٍلىأَج ْ ىأُلل َج ى َج ُل َج ىا ُْلؤاِءوُل ى َجف ُل ْ الَج ِءآ َج‬
}124{‫َج الَج ُْلظ َج ُلا َجوى َجل ِءق لًة ى‬
“Dan siapa saja yang berbuat baik, laki-laki atau perempuan sedang dia
seorang mukmin, maka mereka berhak masuk surga dan tak akan di zalimi
sedikitpun”(QS. an-Nisā : 124).
Ayat ini sekaligus menegaskan pengulangan akan penjelasan dalam QS. anNaḥl : 97, Menurut Hamka, ayat ini menegaskan kembali, bahwa orang yang
beriman dan beramal shaleh baik laki-laki maupun perempuan berhak masuk
syurga.75
Berdasarkan penjelasan dari ayat-ayat tersebut, dapat disimpulkan, bahwa
al-Quran tidak melarang peran perempuan dalam aktivitas pekerjaan, selagi
perempuan tersebut menjalankan perannya dengan baik (sesuai dengan ketentuan
perintah agama).76 Karena pada dasarnya mengerjakan suatu pekerjaan yang baik
sama dengan beramal salih, hal ini berdasarkan fakta yang ada, pada
kenyataannya seseorang bekerja tak lain hanyalah ingin memenuhi kebutuhan
75
76
Hamka, Tafsir al-Azhar Juz V (Jakarta: Pustaka Panjimas, 2004), hlm. 377.
Hamka, Tafsir al-Azhar Juz V, hlm. 37.
143
dirinya dan keluarganya, bagaimana tidak hal demikian tidak termasuk amal
shalih, karena segala bentuk amal shalih tak lain hanyalah dari latarbelakang suatu
aktivitas yang baik pula.
Selain hal demikian, sejarah juga mencatat, pada zaman Nabi Muhammad
saw, aktivitas perempuan dalam sektor pekerjaan bukanlah sebuah pemandangan
yang asing, karena pada saat itu juga perempuan-perempuan telah bekerja dengan
aneka pekerjaanya, bahkan pada masa khalifah Umar ra. seorang perempuan,
ditugaskan langsung oleh khalifah Umar bin Khattab r.a untuk mengurus semua
aktivitas administrasi pasar.77
Sebagaimana dikutip oleh M. Qurais Shihab, Syaikh Muhammad alGhozali, salah seorang ulama‟ kontemporer, mengemukakan empat hal dalam
kaitanya perempuan untuk bekerja, yaitu: Pertama, perempuan tersebut memiliki
kemampuan
luar
biasa.
Dan
dengan
pekerjaanya
dapat
mencipatakan
kemaslahatan untuk masyarakat. Kedua, pekerjaan yang dilakukan merupakan
pekerjaan yang layak bagi perempuan, seperti bekerja dalam sektor pendidikan
ataupun menjadi bidan dan lainya. Ke-tiga, perempuan bekerja untuk membantu
suaminya dalam pekerjaanya. Ke-empat, perempuan perlu bekerja dalam
memenuhi kebutuhan hidupnya dan kehidupan keluarganya.78
Dengan demikian, pada dasarnya Islam tidak melarang perempuan bekerja
di dalam maupun di luar rumah, bahkan, Islam malah menghargai peran
perempuan dalam segala aktifitas pekerjaanya, selama pekerjaan tersebut
77
M. Quraish Shihab, Perempuan : dari cinta sampai seks dari nikah mut’ah sampai nikah
sunnah dari bias lama sampai bias baru, hlm. 400
78
M. Quraish Shihab, Perempuan : dari cinta sampai seks dari nikah mut’ah sampai nikah
sunnah dari bias lama sampai bias baru, hlm. 401
144
dilakukan dalam suasana terhormat, serta selama mereka dapat memelihara
tuntunan bagi agama dan dapat menghindarkan dampak-dampak negatif dari
pekerjaan yang ia lakukan itu terhadap, diri sendiri, keluarga, dan lingkunganya.
2. Perempuan dan Aktifitas Politik
Politik berasal dari bahasa Inggris politic, yang berarti menunjukkan sifat pribadi
atau perbuatan. Bahasa politic kemudian di serap dalam Bahasa Indonesia dengan tiga
arti, yaitu: Segala urusan dan tindakan (kebijaksanaan, siasat, dan sebagainya) mengenai
pemerintahan sesuatu Negara atau atau terhadap Negara lain, tipu muslihat atau
kelicikan.79
Dalam bahasa Arab, politik disebut juga sebagai ṡiyāsah, yang secara etimologis
berasal dari kata ṡāṡa-yaṡūṡū-siyāṡatan, yang berarti: menguasai, mengendalikan,
mengatur, memperbaiki. Sedangkan secara garis besar pengertian politik ialah segala
sesuatu tentang proses perumusan dan pelaksanaan kebijakan publik.80 Politik juga
diartikan sebagai urusan dan tindakan atau kebijakan mengenai pemerintahan negara.
Selain itu, politik juga berarti kebijakan dan cara bertindak dalam menghadapi dan
menangani suatu masalah, baik yang berkaitan dengan masyarakat maupun selainya. AlQuran berbicara tentang politik melalui sekian ayatnya, khususnya yang menggunakan
ḥukmu.
Namun persoalnya tak hanya demikian, melainkan terkait peran seseorang
dalam mengurusi masalah politi tersebut, baik sebagai pemimpin ataupun anggota
aktif, hal inilah yang menjadi topik pembicaraan hangat dikalangan sekian banyak
79
Abd. Muin Salim, Fiqh Siyasah: Konsepsi Kekuasaan Politik dalam Al-Qur’an (Jakarta: PT
Raja Grafindo Persada, 1995), hlm. 34.
80
Tutik Hamidah, Fiqih Perempuan Berwawasan Gender (Malang: UIN MALIKI Press,
2011), hlm. 159
145
anggota masyarakat Islam.81 melihat pemahaman bias lama masyarakat pada
umumnya, tentu hal ini dianggap sebagai sesuatu yang “dilarang”, namun ketika
ayat al-Quran dikaji secara mendalam dan hasilnya membolehkan peran
perempuan berkiprah dalam tatanan publik, maka peran politik bagi perempuan
menjadi diabsahkan.
Menurut Zaitunah Subhan, dalam masalah perpolitikan Islam pada dasarnya
ialah membolehkan perempuan berkiprah dalam aktivitas politik, hal ini
sebagaimana bolehnya perempuan dalam berdakwah, ber-āmār ma’rūf nahī munk
ār, memberi bimbingan dalam meningkatkan peribadatan dan nilai-nilai yang
bersifat positif,82sebagaimana banyak ditemukan dalam beberapa teks keagamaan
yang mendukung hak-hak perempuan dalam bidang aktivitasnya di ruang publik,
tak lain dalam urusan politik, salah satu ayat yang dikemukakan dalam kaitan ini
adalah QS. at-Taubah : 71.83
Sebagaimana Allah telah menegaskan dalam firman-Nya QS. at-Taubah:
71.
‫ِء ى َج َج ْل َجه ْ َجوى َج ِءوى‬
ْ ٍ ْ‫ض ُله ْمىأَج ْ اِء َج آُلى َجبع‬
‫َج ْاا ُْلؤ ِءا ُلل َجوى َج ْاا ُْلؤ ِءا َجل ُل‬
‫ىب ْا َجاعْ ُلل‬
‫تى َجبعْ ُل‬
‫ضى َج ُلا ُلل َجو ِء‬
‫صالَج َجى َج ُْلؤ ُلت َجوى َّو‬
‫كى َج َج لْ َج ُلا ُله ُلمى‬
‫ْااُلل َج ِءلى َج ُل ِءق ُلا َجوى ا َّو‬
‫هللاى َج َجل ُل اَجهُلىأ ُل ْ الَج ِءآ َج‬
‫از َج َجى َج ُلطِء ُلع َجوى َج‬
.}71{‫هللاى َج ِءز ٌفزى َج ِء ُلمى‬
‫هللاُلىإِءوَّو ى َج‬
81
M. Quraish Shihab, Perempuan : dari cinta sampai seks dari nikah mut’ah sampai nikah
sunnah dari bias lama sampai bias baru, hlm. 377-378.
82
Zaitunah Subhan, Menggagas Fiqih Pemberdayaan Perempuan (Jakarta: El-Kahfi, 2008),
hlm. 95.
83
M. Quraish Shihab, Perempuan : dari cinta sampai seks dari nikah mut’ah sampai nikah
sunnah dari bias lama sampai bias baru, hlm. 380.
146
“Orang mukmin laki-laki dan perempuan, sebagian mereka adalah
pemimpin yang lain.mereka mengajak berbuat yang ma’ruf dan mencegah yang
munkar. Mereka menegakan shalat dan menunaikan zakat dan mereka ta’at
kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah SWT,
seseungguhnya Allah Maha perkasa lagi maha Bijaksana.”
Menurut Hamka, di dalam ayat ini kita bertemu lagi dengan kalimat auliyā’
yang merupakan jama‟ dari kata wali, yang biasanya diartikan sebagai pemimpin,
maka di jelaskan disini perbedaan antara munafik dan mukmin, perbedaan
tersebut nampak, apabila ia orang munafik, maka terdapat perangai yang sama,
kelakuan yang sama namun diantara mereka tidak ada pemimpin. Sebab masingmasing mereka mementingkan diri sendiri, kalaupun mereka bersatu itu hanyalah
kebetulan saja kepentingan mereka sama, akan tetapi bila terdapat kesempatan
mereka akan saling menghianati. Dan yang demikian tersebut bukan merupakan
sikap atau ciri-ciri dari orang mukmin.
Orang mukmin itu harus bersatu, saling pimpin memimpin baik laki-laki
maupun perempuan, sama-sama mempunyai hak untuk bersikap demikian. Dan
disatukan dengan kesatuan i’ṭiqād (percaya kepadaAllah), yang kemudian akan
menjadi ukhuwwah (persaudaraan, saling mencintai, tolong menolong dan lain
sebagainya) sebagaimana yang kaya mencintai yang miskin dan yang miskin
mencintai yang kaya.84
Sebagaimana bunyi hadits, yang di riwayatkan oleh Ibnu Umar :
84
Hamka, Tafsir al-Azhar Juz X (Jakarta: Pustaka Panjimas, 2001), hlm. 275.
147
‫ْوى ُل َجا َجلى‬
‫َج َّو َج َجل ى َج ْب َج وُل ىأَج ْخ َجب َجل َجل ى َج ْب ُل َّو ِء‬
‫ىهللاىأَج ْخ َجب َجل َجل ى ُلا َج ىبْوُل ى ُل ْق َجب َجةى َج وْ ى َجل ف ٍِءعى َج وْ ى ب ِء‬
‫ص َّو َّو‬
‫َجلضِء َج َّو‬
‫ىل ٍعى َج ُل ُّ ُل ْمى َجا ْ ُلآ اٌفى َج وْ ى‬
‫ىهللاُلى َج َج ْ هِءى َج َج َّو َجمى َج َجاى ُل ُّ ُل ْم َج‬
‫ىهللاُلى َج ْل ُله َجا ى َج وْ ى ا َّول ِءب ِّر ى َج‬
‫ىل ِء َج ٌفةى َج َج ى َجب ْ ت َج‬
‫ِءىز ْ ِء َجه ى‬
‫ُلىل ٍعى َج َج ىأَج ْ ِءاى َجب ْ ِءتهِءى َج ْا َجالْ أَج ُل َج‬
‫ُلىل ٍعى َج الَّو ُل ا َج‬
‫َجل ِء َّو ِءتهِءى َج ْألَج ِءا ل َج‬
‫ىل ِء َّو ِءتهِءى‬
‫ىل ٍعى َج ُل ُّ ُل ْمى َجا ْ ُلآ اٌفى َج وْ َج‬
‫َج َج اَج ِء هِءى َجف ُل ُّ ُل ْم َج‬
“Telah menceritakan kepada kami Abdan Telah mengabarkan kepada kami
Abdullah Telah mengabarkan kepada kami Musa bin Uqbah dari Nafi' dari Ibnu
Umar radliallahu 'anhuma, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau
bersabda: "Setiap kalian adalah pemimpin. Dan setiap kalian akan dimintai
pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya. Seorang Amir adalah
pemimpin. Seorang suami juga pemimpin atas keluarganya. Seorang wanita juga
pemimpin atas rumah suaminya dan anak-anaknya. Maka setiap kalian adalah
pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang
dipimpinnya."85(HR. Bukhori)
Selain itu, sahabat-sahabat Rasulullah saw yang miskin tinggal pada ruang
yang bernama ṣuffāh di dekat Masjid Madinah, dan makan minumnya diantarkan
oleh orang-orang yang mampu. Orang-orang perempuan pergi bersama-sama ke
medan perang, sebab mereka adalah mu‟minat. Di dalam hadits-hadits ṣaḥih,
riwayat Bukhari Muslim dan ahli hadits lainya di jelaskan, bahwa, Fatimah binti
Rasulullah bersama Ummu Sulaim turut dalam perang Uhud. Aisyahpun turut
dalam perang itu.86
85
86
Digital Library, Hadits Sembilan, Hadits Riwayat Bukhari, no. 4801
Hamka, Tafsir al-Azhar Juz X (Jakarta: Pustaka Panjimas, 2001), hlm. 275.
148
Selain itu, dalam perang Khaibar, banyak perempuan pergi dan turut
mengerjakan pekerjaan yang layak bagi perempuan. Kadang-kadangpun turut
mengangkat senjata, sehingga seketika membagi ghanimah, merekapun diberi
sebagian oleh Rasulullah saw.
Sampaipun setelah beliau wafat, Binti Malhan turut pergi berperang ke
Cyprus, menurutkan suaminya Ubadah bin Shamit, dan syahid dalam perangan
itu.87 Dengan adanya kejaidan tersebut, kita melihat apa artinya bahwa laki-laki
beriman dengan perempuan-perempuan beriman adalah sama-sama menjadi
pemimpin bagi yang lain. artinya perempuanpun ambil bagian yang penting di
dalam menegakan agama, bukan laki-laki saja.88
“Mereka itu menyuruh berbuat yang ma’rūf dan melarang yang mūnkār”,
Dengan semangat tolong-menolong, pimpin-memimpin itu mereka menegakan
amal dan membangun masyarakat Islam, masyarakat orang yang beriman, lakilaki dan perempuan. Kalau ada pekerjaan yang baik, yang ma’rūf semua
menegakan dan menggiatkan. Dan kalau ada yang munkar, yang tidak patut,
semuanya menentang. Sehingga mereka mempunyai pandangan umum publik
yang baik. Tidak ada penghinaan kepada perempuan dari pihak laki-laki dan tidak
ada tantangan yang buruk dari pihak perempuan kepada laki-laki. Misalnya
menuntut hak, sebab hak telah berbagi dengan adil.89
“Dan mereka mendirikan sembahyang dan mengeluarkan zakat”, Karena
dengan mendirikan sembahyang mereka mendapat dua hubungan. Pertama,
hubungan dengan Allah dalam ibadat, kedua hubungan sesama mukmin dengan
87
Hamka, Tafsir al-Azhar Juz X, hlm. 275.
Hamka, Tafsir al-Azhar Juz X.,hlm. 276
89
Hamka, Tafsir al-Azhar Juz X.,hlm. 276
88
149
berjama‟ah. Dari berdirinya jama‟ah sembahyang itu, bertambah suburlah amar
ma‟ruf dan nahi munkar tadi. Sebab ukhuwwah telah terpadu dalam ibadat.
Sehabis sembahyang itu, bertambahlah suburlah amar ma’rūf dan nahī mūnkār
tadi.90
Dalam ayat selanjutnya dijelaskan “mereka itu adalah orang-orang yang
akan di beri rahmat oleh Allah.”. artinya asal mereka tetap memegang pendirian
iman dan syarat-syarat yang tersebut di atas tadi, pimpinan-memimpin, tolongmenolong, sama menganjur berbuat ma’rūf, sama mencegah berbuat mūnkār,
mendirikan sembahyang, mengeluarkan zakat, dan ta‟at kepada Allah swt dan
rasulnya, Tuhan berjanji bahwa mereka akan diberi rahmat: yaitu cinta, kasih dan
sayang dari Allah swt. Pokoknya ialah ketentraman jiwa dalam iman, sebagai
lawan dari ciri-ciri sikap orang munafik yang dilupakan oleh Tuhan,
“sesungguhnya Allah ialah Maha gagah” untuk menghukum orang yang tiada
taat, “lagi Maha bijaksana,”.91
Dengan Melihat maksud dari ayat tersebut, sebagaimana dijelaskan oleh
Hamka, maka antara laki-laki dan perempuan memiliki hak dan kesempatan yang
sama untuk berkiprah dalam ruang berpolitik. Sebagaimana laki-laki, perempuan
juga memiliki hak untuk mengatur masyarakat (wilayah al-ām). Mereka memiliki
hak yang sama untuk memerintah yang serta ma’rūf mencegah yang mūnkār.92
Selain demikian beberapa riwayat sejarah akan keikut sertaan perempuan dalam
menghadapi berbagai masalah sosial kemasyarakatan dan politik tersebut menjadi
90
Hamka, Tafsir al-Azhar Juz X.,hlm. 276
Hamka, Tafsir al-Azhar Juz X.,hlm. 276
92
Tutik Hamidah, Fiqih Perempuan Berwawasan Gender (Malang: UIN MALIKI Press,
2011), hlm. 162
91
150
bukti bahwa Islam membolehkan, bahkan menganjurkan perempuan untuk ikut
andil berpartisipasi dalam wilayah politik, asalkan dalam koledor yang ma’rūf
(tidak melanggar agama).
Selain beberapa riwayat peran politik perempuan yang dikemukakan Hamka
di atas, terbukti pula bahwa sejarah lagi-lagi berbicara, di zaman Nabi Muhammad
saw dalam menjalankan peran politik, istri-istri Nabi saw terutama Aisyah ra
banyak perempuan lain yang terlibat dalam urusan politik, seperti halnya
Sayyidah Fātimah, Aisyah binti Abū Bakar, bahkan Aisyah ketika itu menjadi
pemimpin perang Jamal.93
Di samping itu, al-Quran juga menguraikan permintaan perempuan pada
zaman Nabi Muhbammad saw untuk melakukan bai’at (Janji setia kepada Nabi
Muhammad saw dan Agama Islam). Permintaan ini terlaksana sebagaimana
disebutkan dalam QS. al-Mumtaḥanah : 12. Dengan hal ini, dapat dijadikan bukti,
bahwa perempuan dapat melakukan kiprahnya dalam ranah politik.94 Selain itu,
dalam QS. an-Naḥl : 97 juga mengungkapkan, bahwa peluang menentukan
kegiatan yang baik dalam hal apapun juga tidak ada perbedaan antara laki-laki dan
perempuan,95 sebagaimana ditegaskan:
‫ص اِء ًة ىاِّروى َجذ َج ٍلىأَج ْ ىأُلل َج ى َج ُل َج ىا ُْلؤ ِءاوٌف ى َجف َج ُلل ْ ِء َج َّولهُلى َج َج ًةى َجط ِّر َجب ًةةى َج اَج َجل ْ ِءز َج َّول ُله ْمى‬
‫َجاوْ ى َج ِءا َجاى َج‬
}97{‫ىب َج ْ َج ِءوى َجا َج ُلل ى َج عْ َجا ُل َجوى‬
‫أَج ْ َجل ُل ْم ِء‬
93
Istibsyaroh, Hak-Hak Perempuan (Jakarta: Refleksi Masyarakat Baru, 2004), hlm. 185.
M. Quraish Shihab, Perempuan : dari cinta sampai seks dari nikah mut’ah sampai nikah
sunnah dari bias lama sampai bias baru, hlm. 382
95
Nasaruddin Umar, Argumentasi Kesetaraan Gender Perspektif Al-Quran, hlm. 263.
94
151
“Barangsiapa yang mengerkjakan amal shaleh baik laki-laki maupun
perempuan dalam keadaan beriman, maka seseungguhnya akan kami berikan
kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan kami beri balasan
kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari yang telah mereka kerjakan.”
Menurut Hamka, dalam ayat ini dijelaskan bahwa laki-laki dan perempuan
memiliki kedudukan yang sama. Masing-masing sama-sama berhak untuk
menentukan kiprahnya selagi dalam koridor yang baik.96 Oleh sebab itu,
perempuan dan laki-laki sama-sama berhak untuk berkiprah dalam mengurusi
masalah politik ataupun permasalahan lainya (asalkan tidak melanggar agama).
96
Hamka, Tafsir al-Azhar Juz XIV (Jakarta: Pustaka Panjimas, 2004), hlm. 292.
152
Download