Bab 2 - Widyatama Repository

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Konsep, Konstruk, dan Variable Penelitian
2.1.1
Otonomi Daerah
Otonomi atau autonomi berasal dari bahasa yunani, auto berarti sendiri dan
noumus berarti hukum atau peraturan.Menurut UU No.32 Tahun 2004 otonomi
daerah dan otonom dalam rangka pelaksanaan UU Otonomi Daerah untuk
menghindari perbedaan persepsi dalam mengartikan pengertian dari otonomi tersebut.
Dalam ketentuan umum UU No.32 Tahun 2004 Pasal 1 No.5 dan 6 menyebutkan:
“Otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk
mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan
masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan”.
Sedangkan, “Daerah Otonom adalah kesatuan masyarakat hukum yang
mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus
urusan pemerintahan dan kepentingan mayarakat setempat menurut prakarsa
sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dan sistem Negara Kesatuan Republik
Indonesia”.
“Daerah otonom selanjutnya disebut daerah adalah kesatuan masyarakat
hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan
mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat
menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem
Negara Kesatuan Republik Indonesia”.
Otonomi daerah sebagai salah satu bentuk desentralisai pemerintahan pada
hakekatnya bertujuan untuk memenuhi kepentingan bangsa secara keseluruhan.
Desentralisasi merupakan sebuah instrument untuk mencapai salah satu tujuan
Negara, yaitu terutama memberikan pelayanan publik yang lebih baik dan
menciptakan proses pengambilan keputusan publik yang lebih demokratis (Dhaniar,
2013 dalam Mardiasmo, 2002)
10
11
Sedangkan pengertian desentralisasi menurut Undang-Undang No.32 tahun
2004 adalah sebagai berikut:
“Desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintah oleh pemerintah
kepala daerah otonom yang mengatur dan mengurus urusan pemerintah dalam
sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia”.
Terbentuknya otonomi daerah berawal dari adanya krisis ekonomi dan politik
yang dialami oleh bangsa Indonesia pada tahun 1997, yang berakhir pada tidak
stabilnya perekonomian dan politik Indonesia.
Dengan adanya otonomi daerah dianggap dapat menjawab tuntutan
pemerataan pembangunan social ekonomi, penyelenggaraan pemerintahan, dan
pembangunan kehidupan berpolitik yang jujur, sehingga tujuan Negara untuk
mensejahterahkan rakyat dapat terwujud. Penyelenggaraan otonomi daerah yang
dilaksanakan dengan memberi wewenang yang luas, nyata dan bertanggung jawab
kepada kepala daerah secara proporsional tersebut diwujudkan dengan pengaturan,
pembagian, dan pemanfaatan sumber daya nasional yang berkeadilan serta
perimbangan keuangan pusat dan daerah. (Halim, 2007)
2.1.2
Prinsip Otonomi
Adanya
pemberian
otonomi
kepada
suatu
daerah
bertujuan
untuk
meningkatkan daya guna kinerja pemerintah daerah, terutama dalam memberikan
pelayanan terhadap masyarakat, sehingga dapat memaksimalkan hasil yang akan
dicapai. Dikarenakan setiap daerah mempunyai karakteristik berbeda-beda maka
otonomi daerah mewajibkan pemerintah daerah memberikan pelayanan yang khusus
terhadap daerahnya masing-masing.
Otonomi daerah memberikan kesempatan kepada pemerintah daerah untuk
menumbuhkan
kemandirian
masyarakat
dengan
melakukan
pemberdayaan
12
masyarakat, sehingga masyarakat makin mandiri dan juga mencegah terjadinya
kesenjangan sosial dengan melaksanakan program pembangunan guna tercapainya
kesejahteraan rakyat yang semakin meningkat.
2.2
Landasan Teori
2.2.1
Efektifitas
Efektivitas memiliki arti berhasil atau tepat guna. Efektif merupakan kata
dasar, sementara kata sifat dari efektif adalah efektivitas. Menurut Effendy
mendefinisikan efektivitas sebagai berikut:
”Komunikasi yang prosesnya mencapai tujuan yang direncanakan sesuai
dengan biaya yang dianggarkan, waktu yang ditetapkan dan jumlah personil yang
ditentukan” (Effendy, 1989:14).
Efektivitas menurut pengertian di atas mengartikan bahwa indikator
efektivitas dalam arti tercapainya sasaran atau tujuan yang telah ditentukan
sebelumnya merupakan sebuah pengukuran dimana suatu target telah tercapai sesuai
dengan apa yang telah direncanakan.
2.2.2
Anggaran
Penganggaran mempunyai peran penting dalam organisasi sektor publik.
Organisasi membuat anggaran pendapatan dan belanja yang digunakan sebagai
pedoman kebijakan untuk kepentingan publik dimana hasil pelaksana anggaran
dipertanggungjawabkan dalam laporan keuangan.
Menurut Mardiasmo (2009) pengertian Anggaran adalah:
“Anggaran merupakan pernyataan mengenai estimasi kinerja yang hendak
dicapai selama periode waktu tertentu yang dinyatakan dalam ukuran
finansial, pada sektor publik anggaran harus diinformasikan kepada publik
untuk dikritik, didiskusikan dan diberi masukan”.
13
Berdasarkan uraian di atas anggaran adalah estimasi kinerja keuangan yang
akan di dapat dalam waktu satu tahun. Anggaran sektor publik merupakan instrument
akuntabilitas atas pengelolaan dana publik dan pelaksana program-program yang
dibiayai dengan uang publik.
Anggaran sektor publik mempunyai beberapa fungsi utama, yaitu:
1. Anggaran sebagai alat perencanaan (Planning Tool)
Anggaran merupakan alat perencanaan manajemen untuk mencapai tujuan
organisasi. Anggaran sektor publik dibuat untuk merencanakan tindakan apa
yang akan dilakukan oleh pemerintah, berapa biaya yang dibutuhkan dan
berapa hasil yang diperoleh dari belanja pemerintah tersebut.
2. Anggaran sebagai alat pengendalian (Control Tool)
Sebagai alat pengendalian, anggaran memberikan rencana detail atas
pendapatan dan pengeluaran pemerintah agar pembelanjaan yang dilakukan
dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.
3. Anggaran sebagai alat kebijakan fiskal (Fiscal Tool)
Anggaran sebagai alat kebijakan fiskal pemerintah digunakan untuk
menstabilkan ekonomi dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
4. Anggaran sebagai alat politik (Political Tool)
Anggaran digunakan untuk memutuskan prioritas-prioritas dan kebutuhan
keuangan terhadap prioritas tersebut.
5. Anggaran sebagai alat koordinasi dan komunikasi (Coordination and
Communication Tool)
Anggaran berfungsi sebagai alat
komunikasi antar unit kerja dalam
lingkungan eksekutif. Anggaran harus dikomunikasikan keseluruh bagian
organisasi untuk dilaksanakan.
6. Anggaran sebagai alat penilaian kinerja (Performance Mearsument Tool)
Anggaran merupakan wujud komitmen dari Budget Holder (eksekutif) kepada
pemberi wewenang (Legislatif). Kinerja eksekutif akan dinilai berdasarkan
14
pencapaian target anggaran dan efesiensi pelaksana anggaran. Kinerja
manajemen publik dinilai berdasarkan beberapa yang berhasil eksekutif capai
yang dikaitkan dengan anggaran yang telah ditetapkan.
7. Anggaran sebagai alat motivasi (Motivation Tool)
Anggaran dapat digunakan sebagai alat untuk memotivasi manajer dan stafnya
agar bekerja secara ekonomis, efektif, dan efisien dalam mencapai target dan
tujuan organisasi yang telah ditetapkan.
8. Anggaran sebagai alat untuk menciptakan ruang publik (Public Sphere)
Berbagai organisasi kemasyarakatan harus terlihat dalam proses penganggaran
publik. Jika tidak ada alat untuk menyampaikan suara, maka hal-hal yang
tidak diinginkan seperti tindakan boikot, vandalisme dan sebagainya akan
terjadi.
2.2.3
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) pada hakikatnya
merupakan salah satu instrument kebijakan yang dipakai sebagai salah satu alat untuk
meningkatkan pelayanan umum dan kesejahteraan masyarakat di daerah.
Menurut Halim (2012) Pengertian APBD adalah:
“Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) adalah suatu anggaran
daerah yang memiliki unsur-unsur sebagai berikut: rencana penerimaan yang
merupakan target minimal untuk menutupi biaya-biaya sehubungan dengan
aktivitas-aktivitas tersebut, dan adanya biaya-biaya yang merupakan batas
maksimal pengeluaran-pengeluaran yang akan dilaksanakan, jenis kegiatan
dan proyek yang dituangkan dalam bentuk angka, periode anggaran biasanya
satu tahun”.
Menurut Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Anggaran Pendapatan dan
Belanja Daerah (APBD) rencana keuangan tahunan pemerintah daerah yang
ditetapkan dengan peraturan daerah. Berbagai fungsi Anggaran Pendapatan dan
Belanja Daerah (APBD) sesuai dengan ketentuan dalam pasal 3 ayat 4 UndangUndang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, yaitu:
15
1. Fungsi Otorisasi
Anggaran merupakan dasar untuk melaksanakan pendapatan dan belanja pada
tahun yang bersangkutan.
2. Fungsi Perencanaan
Anggaran daerah merupakan pedoman bagi manajemen dalam merencanakan
kegiatan pada tahun yang bersangkutan.
3. Fungsi Pengawasan
Anggaran daerah menjadi pedoman untuk menilai apakah kegiatan
penyelenggaraan pemerintah daerah sesuai dengan ketentuan yang telah
ditetapkan.
4. Fungsi Alokasi
Anggaran daerah diarahkan untuk mengurangi pengangguran dan pemborosan
sumber daya, serta meningkatkan efisiensi dan efektivitas perekonomian.
5. Fungsi Distribusi
Anggaran daerah harus mengandung arti/memperhatikan rasa keadilan dan
kepatutan.
6. Fungsi Stabilitasi
Anggaran daerah harus mengandung arti/menjadi alat untuk memelihara dan
mengupayakan keseimbangan fundamental perekonomian.
Sesuai aturan APBD dan tujuan otonomi daerah, bahwa hakekat anggaran
daerah merupakan alat untuk meningkatkan pelayanan publik dan
kesejahteraan masyarakat, maka APBD harus benar-benar menggambarkan
perangkaan ekonomis yang mencerminkan kebutuhan masyarakat untuk
memecahkan masalahnya dan meningkatkan kesejahteraannya.
2.2.4
Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah salah satu sumber penerimaan yang
harus selalu terus menerus dipacu pertumbuhannya. Dalam pelaksanaan otonomi
daerah, PAD merupakan sumber keuangan yang paling penting dibandingkan dengan
16
sumber-sumber diluar PAD, karena PAD dapat dipergunakan sesuai dengan prakarsa
dan inisiatif daerah sedangkan bentuk pemberian pemerintah (non PAD) sifatnya
lebih terikat. Dengan penggalian dan peningkatan PAD diharapkan pemerintah
daerah juga mampu meningkatkan kemampuannya dalam penyelenggaraan urusan
daerah.
Menurut Halim (2012) pengertian Pendapatan Asli Daerah adalah:
“Pendapatan Asli Daerah adalah penerimaan yang diperoleh daerah dari
sumber-sumber dalam wilayahnya sendiri yang dipungut berdasarkan
peraturan daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlalu”.
Menurut Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang perimbangan
keuangan antara pusat dan daerah pasal 1 ayat 17 pengertian PAD adalah:
“Pendapatan Asli Daerah adalah pendapatan yang diperoleh daerah yang
dipungut berdasarkan peraturan daerah sesuai dengan peraturan perundangundangan. Apabila kebutuhan pembiayaan suatu daerah lebih banyak
diperoleh dari subsidi atau bantuan dari pusat, dan nyatanya kontribusi PAD
terhadap kebutuhan pembiayaan sangat kecil, maka dapat dipastikan bahwa
kinerja keuangan daerah masih sangat lemah”.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa Pendapatan Asli Daerah
(PAD) merupakan sumber pendapatan daerah dalam memenuhi kegiatan belanja
daerah tersebut. Pendapatan Asli Daerah dapat menunjukan tingkat kemandirian
suatu daerah. Semakin besar PAD yang didapatkan kemungkinan daerah tersebut
dapat memenuhi kebutuhan belanjanya sendiri tanpa harus bergantung pada
pemerintah pusat. Hal ini menunjukan pemerintah daerah mampu untuk mandiri, dan
begitu juga sebaliknya.
Menurut UU Nomor 33 Tahun 2004 Pasal 6 menjelaskan bahwa sumber
Pendapatan Asli Daerah terdiri dari:
1. Pajak Daerah
2. Retribusi Daerah
3. Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan
4. Lain-lain Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang sah.
17
2.2.5 Pajak Daerah
Menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan
Retribusi Daerah, bahwa:
“Pajak Daerah adalah kontribusi wajib kepada daerah yang terutang oleh
orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang,
dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk
keperluan daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”.
Jenis pendapatan pajak untuk provinsi berdasarkan Undang-Undang Nomor
28 Tahun 2009 terdiri dari:
1. Pajak Kendaraan Bermotor
2. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor
3. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor
4. Pajak Air Permukaan
5. Pajak Rokok
Jenis pendapatan pajak untuk kabupaten/kota berdasarkan Undang-Undang
Nomor 28 Tahun 2009 terdiri dari:
1. Pajak Hotel
2. Pajak Restoran
3. Pajak Hiburan
4. Pajak Reklame
5. Pajak Penerangan Jalan
6. Pajak Pengambilan bahan galian golongan c
7. Pajak Parkir
8. Pajak Mineral bukan Logam dan Bantuan
9. Pajak Sarang Burung Walet
10. Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkantoran
11. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan
18
Pajak merupakan iuran rakyat yang berfungsi untuk membiayai pengeluaranpengeluaran Negara untuk kepentingan umum. Namun demikian fungsi pajak dibagi
dalam 2 (dua) fungsi yaitu:
1. Fungsi Budgeter
Fungsi Budgeter adalah fungsi pajak yang letaknya di sektor publik pajakpajak disini merupakan suatu alat atau suatu sumber untuk memasukan uang
sebanyak-banyakan ke dalam kas Negara yang pada waktunya akan
dipergunakan untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran Negara. Pajak-pajak
ini terutama yang digunakan untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran rutin
dan apabila setelah itu masih ada sisa (surplus), maka surplus tersebut dapat
dipergunakan untuk membiayai investasi pemerintah, surplus ini disebut juga
public saving dan ini merupakan sumber utama untuk membiayai public
investment. Namun karena public saving tersebut tidak cukup untuk
membiayai pembangunan pada dewasa ini, maka pemerintah telah berusaha
untuk memperoleh dana-dana lain yang antara lain yaitu, hutang dalam negeri
maupun luar negeri.
2. Fungsi Mengatur
Fungi mengatur adalah fungsi pajak yang digunakan sebagai suatu alat untuk
mencapai tujuan-tujuan tertentu yang letaknya diluar bidang keuangan. Fungsi
mengatur ini lazimnya dilihat dari sektor swasta. Selanjutnya dapat dikatakan
bahwa untuk dapat mencapai tujuan-tujuan pembangunan yang telah
ditetapkan, maka kebijakan fiskal sebagai suatu alat pembangunan harus
didasarkan atas kombinasi tarif pajak yang tinggi (baik pajak langsung
maupun pajak tidak langsung) dengan suatu fleksibilitas yang lazim ada
dalam sistem pengenaan pajak berupa pembebasan pajak dan pemberian
insentif (dorongan-dorongan) untuk merangsang private investment yang
diharapkan.
19
2.2.6
Retribusi Daerah
Menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan
Retribusi Daerah, bahwa:
“Retribusi Daerah adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau
pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh
Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau Badan”.
Hal ini menunjukan adanya timbal balik langung antara pemberi dan penerima
jasa. Pengelompokan retribusi berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009
Pasal 108 terdiri dari:
1. Jenis Retribusi Jasa Umum terdiri dari:
1) Retribusi pelayanan kesehatan
2) Retribusi layanan persampahan/kebersihan
3) Retribusi penggatian biaya cetak kartu tanda penduduk dan akta catatan
sipil
4) Retribusi pelayanan pemakaman dan pengabuan mayat
5) Retribusi pelayanan parker ditepi jalan umum
6) Retribusi pelayanan pasar
7) Retribusi pengajuan kendaraan bermotor
8) Retribui pemeriksaan alat pemadam kebakaran
9) Retribusi penggantian biaya cetak peta
10) Retribusi penyediaan dan penyedotan kakus
11) Retribusi pengolahan limbah cair
12) Retribusi pelayanan tera/tera ulang
13) Retribusi pelayanan pendidikan, dan
14) Retribusi pengadilan menara telekomunikasi
2. Jenis Retribusi Jasa Usaha terdiri dari:
1) Retribusi pemakaian kekayaan daerah
20
2) Retribusi pasar grosir dan pertokoan
3) Retribusi tempat pelelangan
4) Retribusi terminal
5) Retribusi tempat khusus parker
6) Retribusi tempat penginapan/pesanggrahan/villa
7) Retribusi rumah potong hewan
8) Retribusi pelayanan kepelabuhan
9) Retribusi tempat rekreasi dan olahraga
10) Retribusi penyebrangan air, dan
11) Retribusi penjualan produksi usaha daerah
3. Retribusi Perizinan Tertentu terdiri dari:
1) Retribusi izin mendirikan bangunan
2) Retribusi izin tempat penjualan minuman beralkohol
3) Retribusi izin gangguan
4) Retribusi izin trayek, dan
5) Retribusi izin usaha perikanan
2.2.7
Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan
Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan merupakan hasil yang
diperoleh dari pengelolaan kekayaan yang terpisah dari pengelolaan APBD. Jika atas
pengelolaan tersebut memperoleh laba, laba tersebut dapat dimasukan sebagai salah
satu sumber Pendapatan Asli Daerah. Berdasarkan Permendagri Nomor 13 Tahun
2006, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan ini mencakup:
1. Bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik daerah/Badan
Usaha Miik Daerah (BUMD).
2. Bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik pemerintah/BUMN.
3. Bagian laba ata penyertaan modal pada perusahaan milik swasta atau
kelompok usaha milik masyarakat.
21
2.2.8
Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah
Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah merupakan penerimaan daerah
yang tidak termasuk dalam jenis pajak daerah, retribusi daerah, dan hasil pengeolaan
kekayaan daerah yang dipisahkan. Jenis-jenis lain pendapatan ali daerah yang sah
berdasarkan Permendagri Nomor 13 Tahun 2006, terdiri dari:
1. Hasil penjualan aset daerah yang tidak dipisahkan
2. Jasa giro
3. Pendapatan bunga
4. Penerimaan atas tuntutan ganti kerugian daerah
5. Penerimaan komisi, potongan, ataupun bentuk lain sebagai akibat dari
penjualan pengadaan barang dan jasa oleh daerah
6. Penerimaan keuangan dari selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing
7. Pendapatan denda atas keterlambatan pelaksana pekerjaan
8. Pendapatan denda pajak
9. Pendapatan denda retribusi
10. Pendapatan eksekusi atas jaminan
11. Pendapatan dari pengembalian
12. Fasilitas sosial dan umum
13. Pendapatan dari penyelengaraan pendidikan dan penelitian
14. Pendapatan dari angsuran/cicilan penjualan
2.2.9
Efisiensi
efisiensi merupakan kemampuan perusahaan dalam menjalankan aktivitasnya
untuk memperoleh hasil tertentu dengan menggunakan masukan (input yang
serendah-rendahnya) untuk menghasilkan suatu keluaran (output), dan juga
merupakan kemampuan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dengan benar.
22
Sedangkan menurut Supriyono dalam bukunya yang berjudul “Akuntansi
Manajemen II” mendefinisikan efisiensi sebagai berikut:
“Efisiensi adalah juka suatu unit dapat bekerja dengan baik, sehingga dapat
mencapai hasil atau tujuan yang diharapkan”.(Supriyono, 1997:35)
2.2.10 Belanja Daerah
Menurut Halim (2007) pengertian Belanja Daerah:
“Belanja Daerah adalah semua pengeluaran pemerintah daerah pada suatu
periode anggaran yang mengurangi saldo anggaran lebih dalam periode
anggaran yang bersangkutan yang tidak akan diperoleh pembayarannya
kembali oleh pemerintah”.
Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005, Belanja Daerah
didefinisikan sebagai:
“Belanja Daerah adalah kewajiban pemerintah daerah yang diakui sebagai
pengurangan nilai kekayaan bersih”.
Selanjutnya, dalam pengoperasionalisasinya pada Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah (APBD), sebagaimana terutang dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri
Nomor 13 Tahun 2006, menyatakan bahwa Belanja Daerah merupakan bagian dari
pengeluaran daerah, disamping pengeluaran pembiayaan daerah. Dalam hal ini,
belanja daerah merupakan perkiraan beban pengeluaran daerah yang dialokasikan
secara adil dan merata agar relatif dapat dinikmati oleh seluruh kelompok
masyarakat, khususnya dalam pemberian pelayanan umum.
Belanja daerah dalam Pasal 22 (1) huruf b dirinci menurut urusan
pemerintahan daerah, organisasi, program, kegiatan, kelompok, jenis, objek, dan
rincian objek belanja, yaitu:
1. Urusan wajib
23
2. Urusan pilihan
3. Urusan yang penanganannya dalam bagian atau bidang tertentu yang dapat
dilaksanakan bersama antara pemerintah dan pemerintah daerah atau antar
pemerintah daerah yang ditetapkan dengan ketentuan perundang-undangan.
Belanja penyelenggaraan urusan wajib diprioritaskan untuk melindungi dan
meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dalam upaya memenuhi kewajiban
daerah yang diwujudkan dalam bentuk peningkatan pelayanan dasar, pendidikan,
kesehatan, failitas sosial dan fasilitas umum yang layak serta mengembangkan sistem
jaminan sosial.
Klasifikasi belanja menurut urusan wajib, mencakup:
1. Pendidikan
2. Kesehatan
3. Pekerjaan umum
4. Perumahan rakyat
5. Penataan ruang
6. Perencanaan pembangunan
7. Perhubungan
8. Lingkup hidup
9. Pertanahan
10. Kependudukan dan catatan sipil
11. Pemberdayaan perempuan
12. Keluarga berencana dan keluarga sejahtera
13. Sosial
14. Tenaga kerja
15. Koperasi dan usaha kecil menengah
16. Penanaman modal
17. Kesatuan bangsa dan politik dalam negeri
18. Pemerintahan umum
19. Kepegawaian
24
20. Pemberdayaan masyarakat dan desa
21. Statistik
22. Arsip, dan
23. Komunikasi dan informatika
Klasifikasi belanja urusan pilihan, mencakup:
1. Pertanian
2. Kehutanan
3. Energi dan sumber daya mineral
4. Pariwisata
5. Kelautan dan perikanan
6. Perdagangan
7. Perindustrian, dan
8. Transmigrasi
2.2.11 Belanja Daerah Menurut Fungsi
Belanja menurut fungsi yang digunakan untuk tujuan keseluruhan dan
perpaduan pengelolaan keuangan Negara.
Klasifikasi belanja menurut fungsi, terdiri dari:
1. Pelayanan umum
2. Ketertiban dan ketentraman
3. Ekonomi
4. Lingkungan hidup
5. Perumahan dan fasilitas umum
6. Kesehatan
7. Pariwisata dan budaya
8. Pendidikan, dan
9. Perlindungan sosial
25
2.2.12 Belanja Daerah Menurut Organisasi
Klasifikasi belanja menurut organisasi disesuaikan dengan urusan pemerintah
yang menjadi kewenangan daerah.
2.2.13 Belanja Daerah Menurut Program dan Kegiatan
Klasifikasi belanja menurut program dan kegiatan disesuaikan dengan urusan
pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah.
2.2.14 Belanja Daerah Menurut Kelompok Belanja
Klasifikasi belanja menurut kelompok belanja dirinci dalam kelompok belanja
langsung dan kelompok belanja tidak langsung.
1. Belanja Langsung
Belanja Langsung merupakan yang dianggarkan secara terikat secara
langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan. Kelompok belanja
langsung dari suatu kegiatan dibagi menurut jenis belanja yang terdiri dari:
1) Belanja
pegawai
untuk
pengeluaran
honorarium/upah
dalam
melaksanakan program dan kegiatan pemerintahan daerah.
2) Belanja
barang
dan
jasa
digunakan
untuk
pengeluaran
pembelian/pengadaan barang yang nilai manfaatnya kurang dari 12 bulan
dan/atau pemakaian jasa dalam melaksanakan program dan kegiatan
pemerintah daerah. Belanja barang pakai harus bahan/material, jasa
kantor, premi asuransi, perawatan kendaraan bermotor, cetak/pengadaan,
sewa rumah/gedung/gudang/parkir, sewa sarana mobilitas, sewa alat
berat, sewa perlengkapan dan peralatan kantor, makanan dan minuman,
pakaian dinas dan atributnya, pakaian kerja, pakaian khusus dan hari-hari
tertentu, perjalanan dinas, perjalanan dinas pindah tugas dan pemulangan
pegawai.
26
3) Belanja modal sebagaimana dimaksud dalam pasal 50 huruf c digunakan
untuk pengeluaran yang dilaksanakan dalam rangka pembelian/pengadaan
barang dan jasa.
2. Belanja Tidak Langsung
Belanja tidak langsung merupakan belanja yang dianggarkan tidak terkait
secara langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan. Kelompok belanja
tidak langsung dibagi menurut jenis belanja terdiri dari:
1) Belanja pegawai merupakan belanja kompensasi, dalam bentuk gaji dan
tunjangan, serta penghasilan lainnya yang diberikan kepada pegawai
negeri sipil yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan perundangundangan. Belanja pegawai juga tunjangan pimpinan dan anggota DPRD
serta gaji dan tunjangan kepala daerah dan wakil kepala daerah.
2) Belanja bunga digunakan untuk menganggarkan pembayaran bunga utang
yang dihitung atas kewajiban pokok utang (principal outstanding)
berdasarkan perjanjian jangka pendek, jangka menengah, dan jangka
panjang.
3) Belanja subsidi digunakan untuk menganggarkan bantuan biaya produksi
kepada perusahaan/lembaga tertentu agar harga jual produksi/jasa yang
dapat terjangkau oleh masyarakat banyak.
4) Belanja hibah digunakan untuk menganggarkan pemberian hibah dalam
bentuk uang, barang dan jasa kepada pemerintah atau pemerintah daerah
lainnya, dan kelompok masyarakat/perorangan yang secara spesifik telah
ditetapkan peruntukannya.
5) Belanja sosial digunakan untuk menganggarkan pemberian bantuan
dalam bentuk uang dan/atau barang kepada masyarakat yang bertujuan
untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat.
6) Belanja bagi hasil digunakan untuk menganggarkan dana bagi hasil yang
bersumber dari pendapatan provinsi kepada kabupaten/kota atau
27
pendapatan kabupaten/kota kepada pemerintah desa atau pendapatan
pemerintah daerah tertentu kepada pemerintah daerah lainnya sesuai
dengan ketentuan perundang-undangan.
7) Bantuan keuangan sebagaimana dimaksud dalam pasal 37 huruf g
digunakan untuk menganggarkan bantuan keuangan yang berifat umum
atau khusus dari provinsi kepada kabupaten/kota.
8) Belanja tidak terduga merupakan belanja untuk kegiatan yang sifatnya
tidak bisa atau tidak diharapkan berulang seperti penanggulangan bencana
alam dan bencana sosial yang tidak diperkirakan sebelumnya, termasuk
pengembalian atas kelebihan penerimaan pemerintah daerah tahun-tahun
sebelumnya yang telah ditutup.
2.3
Kinerja Pemerintah Daerah
2.3.1
Pengertian Kinerja Pemerintah Daerah
Batasan mengenai kinerja bisa dilihat dari berbagai sudut pandang. tergantung
tujuan masing-masing organisasi (misalnya untuk profit atau untuk costumer
satisfaction) juga tergantung pada bentuk organisasi itu sendiri (misalnya organisasi
publik verus organisasi swasta atau organisasi sosial).
Kinerja Pemerintah Daerah dapat didefinisikan sebagai gambaran mengenai
tingkat pencapaian hasil pelaksanaan suatu kegiatan/program/kebijakan Pemerintah
Daerah dalam mewujudkan visi, misi, tujuan dan sasaran daerah yang terutang dalam
dokumen perencanaan daerah. Dilihat dari dimensi waktu, dokumen perencanaan
daerah terdiri dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) 20
tahunan, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 1 tahunan.
(Soleh dan Supripto, 2011)
Kinerja adalah istilah yang mencakup banyak konsep yang berbeda. Kinerja
berarti hasil kegiatan yang dilakukan dalam kaitannya dengan tujuan yang dikejar.
28
Tujuannya adalah untuk memperkuat sejauh mana pemerintah mencapai tujuan
mereka. (Curristine, 2005)
Misi adalah sesuatu yang harus diemban atau dilaksanakan oleh aparat
pemerintah daerah sebagai penjabaran visi yang telah ditetapkan. Misi merupakan
pernyataan yang menetapkan tujuan aparat pemerintah daerah dan sasaran yang ingin
dicapai. Pernyataan misi membawa organisasi bisa berbentuk apa saja tugas
organisasi, dan bagaimana melakukan tugas organisasi tersebut.
Tujuan merupakan penjabaran atau implementasi dari pernyataan misi, dan
tujuan adalah hasil akhir yang akan dicapai atau dihasilkan dalam jangka waktu 1
sampai dengan 5 tahun. Tujuan organisasi adalah meletakkan kerangka prioritas
untuk memfokuskan arah semua program dan aktivitas lembaga dalam melaksanakan
misi lembaga.
Sasaran adalah penjabaran dari tujuan, yaitu yang akan dicapai melalui
tindakan-tindakan yang akan dilakukan dalam jangka waktu tahunan, semesteran,
triwulanan ataupun bulanan. Sasaran harus menggambarkan hal yang ingin dicapai
melalui tindakan-tindakan yang akan dilakukan untuk mencapai suatu tujuan. Adanya
strategi didasarkan pada keunggulan dan kemampuan yang dimiliki oleh organiasi
dengan mempertimbangkan keunggulan dan kelemahannya. Oleh sebab itu, strategi
juga harus bersifat realistis dengan memperhatikan peluang dan hambatan eksternal
organisasi.
2.3.2
Pengukuran Kinerja Instansi Pemerintah
Pengukuran kinerja sektor publik adalah suatu sistem yang bertujuan untuk
membantu manajer publik dalam menilai pencapaian suatu strategi melalui alat ukur
finansial dan non finansial. Sistem pengukuran kinerja dapat dijadikan sebagai alat
untuk mengendalikan suatu organisasi. Pengukuran kinerja pemerintah tersebut
bermaksud untuk meningkatkan akuntabilitas, transparansi, pengelolaan organisasi
dan peningkatan pelayanan kepada masyarakat (Bambang dan Osmad, 2007)
29
Adanya pengukuran kinerja tidak bisa langsung sempurna dan pemerintah
harus selalu melakukan upaya. Setelah itu, pemerintah akan melakukan perbaikanperbaikan atau pengukuran kinerja yang telah disusun. Dalam menetapkan ukuran
kinerja, organisasi harus menetapkan sesuai dengan besarnya organisasi, kultur, visi,
tujuan, sasaran, dan struktur orgaisasi.
2.3.3
Dimensi Kinerja Pemerintah Daerah
Dimensi Keungan
Dimensi ini meliputi kemampuan Pemerintah Daerah dalam hal:

Meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas, peningkatan
pendapatan perkapita, pendapatan asli daerah, dan mengurangi celah
fiskal daerah.

Memperbaiki struktur belanja daerah. Hal ini penting, mengingat dewasa
ini persentase belanja pegawai pada umumnya masih sangat besar
dibandingkan dengan belanja modal.
2.4
Kerangka Pemikiran
Penelitian ini menggunakan dua variabel independen yaitu Pendapatan Asli
Daerah (X1) dan Belanja Daerah (X2) serta variabel dependen yaitu Kinerja
Pemerintah Daerah (Y1). Kemampuan pemerintah daerah untuk menghasilkan
keuangan daerah melalui penggalian kekayaan asli daerah atau PAD, harus terus
dipacu pertumbuhannya karena kenaikan Pendapatan Asli Daerah (PAD) ini akan
sangat berpengaruh pada kinerja pemerintah daerah. Dengan adanya Undang-Undang
No.22 Tahun 1999 yang berganti menjadi Undang-Undang No.32 Tahun 2004, lalu
kemudian berganti lagi menjadi Undang-Undang No.12 Tahun 2008 tentang
Pemerintah Daerah, kini Pemerintah Daerah memiliki kewenangan yang lebih besar
untuk mengurus dan mengelola khususnya dalam hal pengelolaan keuangan
daerahnya sendiri. Dengan diberlakukannya Undang-Undang ini, pemerintah daerah
30
dapat mendapatkan peluang yang lebih besar untuk dapat menggali potensi lokal dan
meningkatkan kinerja keuangan daerahnya dalam rangka mewujudkan kemandirian
suatu daerah.
Adanya desentralisasi keuangan merupakan konsekuensi dari adanya
kewenangan untuk mengelola keuangan secara mandiri. Pemerintah daerah akan
melaksanakan fungsinya secara efektif jika mendapat kebebasan dalam pengambilan
keputusan pengeluaran di sektor publik dan mendapat dukungan sumber-sumber
keuangan yang berasal dari Pendapatan Asli Daerah (PAD), dana perimbangan,
pinjaman daerah, dan lain-lain dari pendapatan yang sah.
Menurut Halim (2012) pengertian Pendapatan Asli Daerah adalah:
“Pendapatan Asli Daerah adalah penerimaan yang diperoleh daerah dari
sumber-sumber dalam wilayahnya sendiri yang dipungut berdasarkan
peraturan daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlalu”.
Menurut Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang perimbangan
keuangan antara pusat dan daerah pasal 1 ayat 17 pengertian PAD adalah:
“Pendapatan Asli Daerah adalah pendapatan yang diperoleh daerah yang
dipungut berdasarkan peraturan daerah sesuai dengan peraturan perundangundangan. Apabila kebutuhan pembiayaan suatu daerah lebih banyak
diperoleh dari subsidi atau bantuan dari pusat, dan nyatanya kontribusi PAD
terhadap kebutuhan pembiayaan sangat kecil, maka dapat dipastikan bahwa
kinerja keuangan daerah masih sangat lemah”.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa Pendapatan Asli Daerah
(PAD) merupakan sumber pendapatan daerah dalam memenuhi kegiatan belanja
daerah tersebut. Pendapatan Asli Daerah dapat menunjukan tingkat kemandirian
suatu daerah. Semakin besar PAD yang didapatkan kemungkinan daerah tersebut
dapat memenuhi kebutuhan belanjanya sendiri tanpa harus bergantung pada
pemerintah pusat. Hal ini menunjukan pemerintah daerah mampu untuk mandiri, dan
begitu juga sebaliknya.
31
Pembelanjaan rutin yang dilakukan oleh pemerintah daerah disebut sebagai
belanja daerah. Untuk dapat membiayai belanja daerah, pemerintah daerah harus
dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah yaitu melalui peningkatan daya guna
dan hasil guna penyelenggaraan pemerintah daerah.
Menurut Halim (2007) pengertian Belanja Daerah:
“Belanja Daerah adalah semua pengeluaran pemerintah daerah pada suatu
periode anggaran yang mengurangi saldo anggaran lebih dalam periode
anggaran yang bersangkutan yang tidak akan diperoleh pembayarannya
kembali oleh pemerintah”.
Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005, Belanja Daerah
didefinisikan sebagai:
“Belanja Daerah adalah kewajiban pemerintah daerah yang diakui sebagai
pengurangan nilai kekayaan bersih”.
Klasifikasi belanja menurut kelompok belanja dirinci dalam kelompok belanja
langsung dan kelompok belanja tidak langsung.
1. Belanja Langsung
Belanja Langsung merupakan yang dianggarkan secara terikat secara
langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan.
2. Belanja Tidak Langsung
Belanja tidak langsung merupakan belanja yang dianggarkan tidak terkait
secara langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan.
Kinerja Pemerintah Daerah dapat didefinisikan sebagai gambaran mengenai
tingkat pencapaian hasil pelaksanaan suatu kegiatan/program/kebijakan Pemerintah
Daerah dalam mewujudkan visi, misi, tujuan dan sasaran daerah yang terutang dalam
dokumen perencanaan daerah. Dilihat dari dimensi waktu, dokumen perencanaan
daerah terdiri dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) 20
tahunan, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 1 tahunan.
(Soleh dan Supripto, 2011)
32
Kinerja adalah istilah yang mencakup banyak konsep yang berbeda. Kinerja
berarti hasil kegiatan yang dilakukan dalam kaitannya dengan tujuan yang dikejar.
Tujuannya adalah untuk memperkuat sejauh mana pemerintah mencapai tujuan
mereka. (Curristine, 2005)
Berdasarkan kerangka pemikiran terebut, maka hubungan antara variable
dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:
Efektifitas PAD (X1)
Kinerja Pemerintah
Daerah (Y1)
Efisiensi Belanja Daerah
(X2)
2.5
Hipotesis Penelitian
2.5.1 Pengaruh Efektifitas Pendapatan Asli Daerah terhadap Kinerja
Pemerintah Daerah Kabupaten Serang
Pendapatan Asli Daerah memiliki peran yang cukup signifikan dalam
menentukan kemampuan daerah untuk melakukan aktivitas pemerintah dan programprogram
pembangunan
daerah.
Pemerintah
mempunyai
kewajiban
untuk
meningkatkan taraf kesejahteraan rakyat serta menjaga dan memelihara ketentraman
dan ketertiban masyarakat.
Peningkatan Pendapatan asli daerah merupakan wujud dari kinerja
pemerintah. Jika peningkatan realisasi pendapatan asli daerah lebih besar dari target
pendapatan asli daerah, maka hal tersebut menunjukan bahwa kinerja pemerintah
dalam meningkatkan efektifitas pendapatan asli daerah dapat dikatakan baik.
33
Semakin tingginya pendapatan asli daerah yang dihasilkan, maka semakin
baik pula kinerja yang ditunjukan pemerintah dalam meningkatkan efektifitas
pendapatan asli daerah sebagai wujud kemandirian dari suatu daerah.
Untuk menentukan tingkat efektivitas Pendapatan Asli Daerah digunakan
asumsi sebagai berikut ini (Mahmudi, 2010:143) :
Tabel 2.1
Tingkat Efektivitas Pendapatan Asli Daerah
Persentase
Pencapaian Hasil
>100%
Sangat Efektif
100%
Efektif
86%-99%
Cukup Efektif
75%-85%
Kurang Efektif
<75%
Tidak Efektif
2.5.2 Pengaruh Efisiensi Belanja Daerah terhadap Kinerja Pemerintah Daerah
Kabupaten Serang
Belanja Daerah merupakan salah satu pengeluaran rutin yang dikeluarkan
pemerintah daerah dalam membiayai kebutuhan pemerintah daerah serta dalam
menjalankan program-program yang dibuat oleh pemerintah dalam menunjang
pemerataan bangunan dan pertumbuhan ekonomi. Sumber dana untuk memenuhi
belanja daerah berasal dari transfer pemerintah pusat, pendapatan asli daerah, serta
investasi daerah.
Dana transfer berupa dana perimbangan yang diberikan pemerintah pusat
kepada pemerintah daerah setiap tahunnya merupakan salah satu bantuan pemerintah
untuk memenuhi kebutuhan pemerintah daerah, terutama untuk pemerintah daerah
yang secara maksimal belum dapat menghasilkan pendapatan asli daerah.
Berdasarkan hal tersebut, dengan terpenuhinya belanja daerah yang digunakan
untuk memenuhi kebutuhan pemerintah daerah seperti salah satunya belanja pegawai,
34
maka seharusnya kinerja pemerintah daerah dapat meningkat seiring dengan
meningkatnya belanja daerah untuk setiap tahunnya. Dengan terpenuhinya kebutuhan
pemerintah daerah berupa belanja daerah, pemerintah daerah seharusnya mampu pula
menunujukan kinerja yang maksimal baik dalam mengelola dana tersebut ataupun
dalam menggunakannya untuk program-program pemerintah.
Belanja Daerah dapat dikatakan efisien apabila belanja daerah yang
dianggarkan pemerintah lebih besar dibandingkan realisasi belanja daerah. Hal ini
tersebut tentu mengacu pada efisiensi belanja daerah yang meunjukan bahwa kinerja
pemerintah daerah dalam mengelola dana tersebut dapat dikatakan baik.
Untuk menentukan tingkat efisiensi belanja daerah digunakan asumsi sebagai
berikut ini (Mahmudi, 2010:148) :
Tabel 2.2
Tingkat Efisiensi Belanda Daerah
Persentase
Pencapaian Hasil
>100%
Sangat Tidak Efisien
100%
Tidak Efisien
86%-99%
Cukup Efisien
75%-85%
Efisien
<75%
Sangat Efisien
2.6
Hipotesis
Menurut Sugiyono (2009) Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap
rumusan masalah penelitian. Dikatakan sementara karena jawaban yang dikemukakan
baru berdasarkan pada teori yang peneliti peroleh, belum berdasarkan fakta-fakta
yang diperoleh melalui pengumpulan dan analisis data. Maka dari itu berdasarkan
pembahasan diatas, hipotesis yang akan disajikan adalah sebagai berikut:
35
H1
: Efektifitas Pendapatan Asli Daerah berpengaruh positif secara parsial
terhadap Kinerja Pemerintah Daerah.
H2
: Efisiensi Belanja Daerah berpengaruh positif secara parsial terhadap
Kinerja Pemerintah Daerah.
H3
: Efektifitas Pendapatan Asli Daerah dan Efisiensi Belanja Daerah
berpengaruh positif terhadap Kinerja Pemerintah Daerah.
Download