Parasit Gastrointestinal Pada Hewan Ternak Di Tempat

advertisement
Parasit Gastrointestinal Pada Hewan Ternak Di Tempat Pemotongan Hewan
Kabupaten S igi, S ulawesi Tengah
Gastrointestinal Parasites In Livestock In Slaughterhouse Sigi District ,Central Sulawesi
Intan T olistiawaty*,Junus Widjaja, Leonardo T aruk Lobo, Rina Isnawati
Balai Litbang P2B2 Donggala,
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan
Jln. Masitudju No.58 Labuan Panimba, Donggala
*E_mail : drh.intantolis@gmail.
Received date: 01-02-2016, Revised date: 19-10-2016, Accepted date: 28-11-2016
ABSTRAK
Penyakit pada ternak akibat parasit gastrointestinal dapat merugikan secara ekonomis dan kesehatan peternak
ataupun masyarakat yang mengonsumsi daging yang berasal dari hewan tersebut. Keberadaan Rumah Potong
Hewan (RPH) sangat diperlukan sebagai tempat pemantauan dan survailans penyakit hewan serta zoonosis. Data
hasil penelitian sebelumnya menemukan infeksi Ascaris lumbricoides dan Trichuris trichura pada masyarakat
yang ada di sekitar tempat pemotongan babi. Berdasarkan hasil tersebut perlu dilakukan penelitian tentang
parasit usus pada ternak yang dapat menular ke manusia di tempat pemotongan hewan babi di Desa Jono Oge
dan Rumah Potong Hewan Biromaru, Kabupaten Sigi. Disain penelitian ini adalah potong lintang. Pengambilan
sampel feses dilakukan pada 97 ekor sapi, 33 ekor babi dan 33 ekor kambing yang dipotong di RPH/TPH di
Sigi, Sulawesi Tengah. Metode yang digunakan untuk pemeriksaan sampel yakni metode sedimentasi untuk
sampel feses sapi dan Metode Ritchie untuk sampel feses babi dan kambing. Dari hasil pemeriksaan, ditemukan
adanya infeksi tunggal oleh genus Facsiola sp., Paramphistomum sp., Trichuris sp. Oesophagustomum sp.,
Ascaris sp., Eimeria sp., dan Balantidium sp pada sapi dan babi. Infeksi ganda cacing ditemukan pada sapi oleh
Strongyloidea sp. dan Paramphistomum sp., Trichuris sp. dan Paramphistomum sp., Paramphistomum sp. dan
Fasciola sp., dan multiinfeksi oleh Paramphistomum sp., Fasciola sp., dan Trichuris sp. Sementara infeksi
tunggal genus Trichostrongyloidea sp. ditemukan pada kambing.
Kata kunci : parasit gastrointestinal, rumah potong hewan, zoonosis, hewan ternak.
ABSTRACT
Disease in lifestock due to gastrointestinal parasites can cause economic loss and harmful for health of
breeders or people who eat meat from these animals. . Slaughterhouse is an important place for monitoring
parasitism in livestock, surveillance of disease in livestock and zoonoosis. Previous studies showed that some
people living nearby a swine slaughterhouse were infected with Ascaris lumbricoides and Trichuris trichura.
Based on those results, it is required to study about the gastrointestinal parasites in livestock which could
transmit to human in Slaughterhouse in Jono Oge Village and Biromaru Slaughterhouse, Sigi regency. This
study was a cross-sectional design, and fecal samples collection were carried out on 97 cattles, 33 pigs and 33
goats slaughtered at slaughterhouse of Sigi, Central Sulawesi. Samples from cattleswere examined according to
sedimentation method, while those from pigs and goats were examined using Ritchie method. Single infections by
Facsiola sp., Paramphistomum sp., Trichuris sp., Oesophagustomum sp., Ascaris sp., Eimeria sp., and
Balantidium sp. were found in cattle and pigs. In cattle, dual infections were found which caused by
Strongyloidea sp. and Paramphistomum sp., Trichuris sp. and Paramphistomum sp., Fasciola sp. and
Paramphistomum sp. A mixed infection also observed in cattles which caused by Paramphistomum sp., Fasciola
sp., and Trichuris sp. while Trichostrongylus sp., was found in goat
Keywords:gastrointestinal parasites,slaughterhouse, livestock , zoonosis
71
BALABA Vol. 12 No.2, Desember 2016 : 71-78
PENDAHULUAN
Rumah Potong Hewan (RPH) merupakan
unit pelayanan masyarakat dalam penyediaan
daging yang aman, utuh, sehat, dan halal, serta
sebagai tempat pemantauan dan survailans
penyakit hewan serta zoonosis. Dengan adanya
RPH, daging dan jeroan yang dikonsumsi
masyarakat bisa bebas dari kontaminasi
mikroorganisme berbahaya seperti bakteri,
virus, jamur, dan parasit. Penyakit yang dapat
ditularkan dari hewan ke manusia disebut
zoonosis. Adapun beberapa penyakit parasit
usus yang bersifat zoonosis dan ditularkan
melalui daging yang berasal dari RPH adalah
fascioliasis, toxoplasmosis, balantidiosis dan
taeniasis. Infeksi fasciolosis di dunia
dilaporkan terjadi peningkatan dari 2,4 juta
menjadi 17 juta orang terinfeksi di dunia
termasuk Asia dan Africa. Penyakit ini di Iran
bersifat sporadik dan ketika terjadi wabah
menginfeksi hampir 10.000 orang. 1
Infeksi oleh parasit usus ini, selain
mengakibatkan gangguan kesehatan pada
manusia juga merugikan dari segi ekonomi
peternaknya. Jika hewan ternak terinfeksi
mengakibatkan
perkembangan
tubuh
terhambat sehingga karkas atau daging yang
dihasilkan kualitasnya menjadi jelek dan bagi
peternak biaya yang harus ditanggung olehnya
cukup besar .2 umumnya infeksi parasit usus
ini menyerang ternak muda yang dipelihara
dengan kurang baik.
T empat pemotongan hewan di Kabupaten
Sigi dilakukan di RPH sapi milik pemerintah
dan tempat – tempat pemotongan hewan
(T PH) perseorangan untuk babi. Hasil survei
pada peternak babi dan masyarakat disekitar
peternakan babi di Desa Jono Oge
menunjukkan 5 sampel tinja positif Ascaris
lumbricoides,
Trichuris trichura, dan
campuran kedua dari 16 sampel yang
dikumpulkan 3 . Selain itu, kelayakan RPH dan
T PH kurang baik sehingga dikhawatirkan
kontaminasi parasit usus bisa ditemukan pada
daging atau jeroan yang dihasilkan.
Berdasarkan uraian tersebut maka penelitian
ini perlu dilakukan untuk mengetahui
72
persentase infeksi parasit usus pada hewan
ternak di tempat pemotongan hewan yang ada
di Kabupaten Sigi.
METO DE
Penelitian dilaksanakan di Rumah Potong
Hewan (RPH) Biromaru, T empat Pemotongan
Hewan (T PH) babi milik perseorangan, dan
peternakan kambing.
Waktu pelaksanaan
selama 8 bulan yaitu April - November 2014.
Desain penelitian adalah cross sectional study.
Sampel feses diambil dari hewan yang siap
dipotong untuk dikonsumsi sebanyak 97 ekor
sapi, 33 ekor babi dan 33 ekor kambing.
Pemeriksaan
sampel
dilakukan
di
Laboratorium Parasitologi Balai Litbang P2B2
Donggala.
Penelitian ini telah mendapatkan
persetujuan ethical clearence dari Komisi Etik
Badan Litbang Kesehatan dengan nomor LB.
02. 01/ 5.2/ KE. 629 /2013.
Pengambilan sampel feses sapi
Sampel feses sapi diambil sebanyak 3
gram
dan
dibuat
suspensi
dengan
menambahkan
aquades.
Penyaringan
dilakukan dan endapan yang tersisa diambil
serta ditempatkan ke dalam tabung plastik
yang berbentuk kerucut (conical flask)
berukuran 250 ml. Air ditambahkan sampai
batas 250 ml sambil diaduk dan didiamkan
selama 5 menit. Supernatan yang ada dibuang
dan endapan yang tertinggal dilarutkan
kembali dengan aquades seperti sebelumnya.
Pengulangan dilakukan hingga 3 kali. Endapan
yang terakhir ditetesi 1-2 methylen blue
diperiksa dengan menggunakan mikroskop,
Nikon Eclipse E200 (Nikon corps, Japan) .4
Pemeriksaan sampel feses babi dan
kambing
Pemeriksaan sampel feses untuk babi dan
kambing menggunakan metode Ritchie 5 .
Sebanyak 5 gram feses digerus dengan
menggunakan mortar dan ditambahkan
aquades hingga homogen dan disaring. Feses
hasil endapan diambil sebanyak 0,5 gram dan
dimasukkan ke dalam 10 ml formalin 10%.
Suspensi disaring menggunakan kain kassa dan
Parasit Gastrointestinal……..(Tolistiawaty, dkk)
dimasukkan ke dalam tabung sentrifugasi serta
dilakukan penambahan 3 ml eter. Larutan
disentrifugasi selama 2 menit dengan
kecepatan 1500 rpm dan endapan diambil
dengan
cara
membuang
supernatan.
Pemeriksaan
telur
dilakukan
dengan
meneteskan
endapan
sampel
dengan
menggunakan pipet tetes ke permukaan kaca
objek dan ditetesi lugol. Selanjutnya ditutup
dengan kaca penutup dan diperiksa dengan
menggunakan mikroskop Nikon Eclipse E200
(Nikon corps, Japan) dengan perbesaran
10x10. Pemeriksaan dilakukan sebanyak tiga
kali untuk setiap sampel feses6 .
Penentuan Patogenitas terhadap manusia
Penentuan patogenitas masing-masing
cacing didasarkan atas studi literatur.
Pada penelitian ini dilakukan pemeriksaan
sampel feses dari RPH sapi, T PH babi, dan
peternakan kambing terhadap parasit usus yang
ada dengan jumlah keseluruhan sampel
sebanyak 164 sampel (T abel 1). Hasil yang
didapatkan terlihat sapi terinfeksi kecacingan
sebanyak 63,91 % dan protozoa sebanyak 3,09
%. Rata-rata cacing dan protozoa yang
menginfeksi
adalah
Facsiola
sp.,
Paramphistomum
sp.,
Trichuris
sp.,
Strongyloidea sp., Oesophagustomum sp,
Balantidium sp dan Eimeria sp Infeksi
kecacingan pada babi didominasi oleh genus
Ascaris sp.(27,27 %) dan protozoa oleh
Eimeria sp. (2,94 %). Pada kambing
ditemukan infeksi cacing dari genus
Trichostrongyloidea sp. (23,52 %) dan tidak
ditemukan adanya infeksi protozoa.
HASIL
T abel 1.
Hasil pemeriksaan feses sapi, babi, dan kambing dari RPH dan T PH di Kabupaten Sigi,
Sulawesi T engah
Hewan
T otal Sampel
Cacing
Jumlah
Jenis Parasit
Protozoa
%
Jumlah
%
Sapi
97
62
63,9
3
3,1
Babi
33
9
27,2
1
2,9
Kambing
33
8
23,5
0
0
Hasil pemeriksaan sampel feses di
RPH Biromaru didapatkan tipe telur cacing
dari genus Facsiola sp., Paramphistomum sp.,
Trichuris sp., Strongyloidea sp., dan
Oesophagustomum sp.
Pemeriksaan sampel feses sapi, babi,
dan kambing terdapat infeksi tunggal (terdiri
dari satu jenis cacing) dan infeksi campuran
(terdiri atas dua atau lebih cacing). Infeksi
tunggal terdapat pada ketiga sampel feses
sedangkan infeksi campuran hanya terdapat
pada sampel feses sapi (T abel 2).
Berdasarkan identifikasi genus parasit
yang ditemukan pada sampel feses hewan ini,
diketahui bahwa tidak ada parasit yang
berpotensi patogen atau dapat menular ke
manusia
(T abel
3).
73
BALABA Vol. 12 No.2, Desember 2016 : 71-78
T abel.2 Hasil pemeriksaan feses hewan dengan Infeksi T elur Cacing Parasit T unggal dan Campuran
Jenis Infeksi
Sapi (%)
Babi (%)
Kambing (%)
Infeksi telur cacing tunggal
43 (69,3)
9 (100)
8 (100)
Infeksi telur cacing campuran
19 (30,7)
-
-
T abel 3. Hasil pemeriksaan feses dengan infeksi tunggal berdasarkan sifat patogenitas terhadap
manusia
Parasit
Patogen
(%)
Sapi
Babi
Nonpatogen Patogen Nonpatogen
(%)
(%)
(%)
Kambing
Patogen Nonpatogen
(%)
(%)
Cacing
-
Fasciola sp
Paramphistomum sp
-
9 (14,5)
31 (50)
-
-
-
-
Trichuris sp
-
2 (3,2)
-
-
-
-
Strongyloidea sp
-
-
-
-
-
-
Oesophagustomum sp
-
1 (1,6)
-
-
-
-
Ascaris sp
Trichostrongyloidea sp
-
-
-
9 (100)
-
-
-
-
-
-
8 (100)
-
Protozoa
Balantidium sp
-
2 (66,7)
-
-
-
-
Eimeria sp
-
1 (33,3)
-
1 (100)
-
-
PEMBAHASAN
Hasil penelitian yang dilakukan di RPH
Biromaru menunjukkan bahwa kecacingan
pada sapi sangat tinggi terutama oleh Fasciola
sp. Hal ini juga terlihat pada penelitian di
beberapa daerah menunjukkan prevalensi
Fasciola sp. (cacing hati) sebesar 47 % RPH di
wilayah eks keresidenan Banyumas dan di
daerah RPH Purbalingga, Cilacap serta
Banjarnegara mencapai 50 %7 .
Jenis cacing Fasciola sp yang sering
menginfeksi hewan ternak terutama sapi yakni
F. hepatica dan F. gigantica. Cacing ini
merupakan trematoda yang dapat menginfeksi
inang melalui makanan misalnya melalui
rumput atau air minum yang mengandung telur
parasit, yang terbawa siput Lymneae. Hasil
penelitian di RPH di kota Pontianak terlihat
adanya beberapa jenis infeksi telur cacing
seperti Paramphistomum sp dan Fasciola
74
hepatica dari kelas Trematoda, Strongyloid
sp.,Trichuris trichiura, dan Ascaris sp.
(infertil, fertil dan berembrio) dari kelas
Nematoda, pada sapi – sapi yang akan
dipotong. Hal ini kemungkinan diakibatkan
sistem pemeliharan sapi – sapi tersebut masih
secara ekstensif di padang gembala sehingga
memudahkan terjadinya infeksi8 . Prevalensi
kecacingan pada sapi juga ditemukan cukup
tinggi pada sapi bali yang ada di Desa Wosu
Kecamatan Bungku Barat dimana sebanyak 15
ekor (75 %) terinfeksi kecacingan dengan jenis
: Monieza benedi, Monieza expansa, Eimeria
sp,
Bonustomum
phlebotomum ,
Paramphistomum sp, dan Cooperia pectinita. 2
Infeksi protozoa juga ditemukan pada sapi
walaupun dengan presentase yang sedikit.
Kerugian karena infeksi kecacingan menurut
Direktorat Jenderal Pertanian (2010) mencapai
4 milyar rupiah per tahun dan merupakan
Parasit Gastrointestinal……..(Tolistiawaty, dkk)
penyakit
yang
dapat
mempengaruhi
produktivitas, kekurusan, lemah, penurunan
daya produksi bahkan pada infeksi berat dapat
menyebabkan gangguan pencernaan hingga
terhambatnya pertumbuhan hewan itu sendiri.
Efek lain yang ditimbulkan yakni penurunan
berat badan akibat diare dan efek pada induk
semangnya karena parasit ikut menyerap bahan
makanan dalam saluran cerna serta cairan
induk semang9 . Selain itu bahaya penularannya
ke manusia. Penyakit yang disebabkan parasit
ini umumnya menyerang ternak yang
dipelihara dengan tata laksana yang kurang
baik misalnya hewan tidak dikandangkan dan
digembalakan didaerah yang tergenang air.
Infeksi telur cacing yang didapatkan
pada babi di dominasi oleh genus Ascaris sp.
Hal ini serupa dengan penelitian yang
dilakukan oleh Muslihin dkk (2014) di Desa
Surana di Kecamatan Lombok barat ditemukan
adanya infeksi Ascaris suum, Taenia sp.,
Metastrongylus sp., dan Trichostrongylus sp.
pada babi yang dipelihara oleh masyarakat 10 .
Prevalensi Ascaris suum pada babi yang
terdapat di Bali cukup tinggi sebesar 34,45 %
dengan rata-rata jumlah telur pergram tinja
(EPG) sebanyak 387,50. Dengan persentase
infeksi yang cukup tinggi ini mengakibatkan
kerugian ekonomi berupa pengafkiran
beberapa organ setelah dipotong misalnya
organ hati yang ditandai fibrosis akibat migrasi
larva cacing ini11 . Pada tempat pengambilan
sampel terlihat babi tersebut masih dipelihara
secara tradisional dan pemotongannya pun
sama tidak sesuai dengan standar yang ada.
Menurut Levine (1995), kejadian infeksi
parasit terjadi akibat sistem pemeliharaan babi
yang masih bersifat tradisional sehingga
mudah terkena penyakit. Faktor lain misalnya
manajemen pemeliharaan yang masih kurang
baik dan sanitasi kandang yang buruk dapat
meningkatkan risiko infeksi. Adanya infeksi
pada hewan tidak menutup kemungkinan dapat
menginfeksi manusia. Hal ini terlihat dari
genus cacing yang didapatkan mempunyai
spesies yang bersifat zoonosis12 . Adanya
keterbatasan pada penelitian sehingga
identifikasi hanya sampai genus tidak
dilanjutkan ke spesies.
Infeksi telur cacing pada kambing
didapatkan tipe Trichostrongyloidea sp. yang
paling dominan. Hasil pengamatan ini sama
dengan yang dilakukan oleh Dhewiyanti dkk
(2015) pada tempat pemotongan hewan
kambing di pontianak, ditemukan genus
Trichostrogylus sp. dengan intensitas tinggi
sebesar 41,33 larva/gram/ekor dan infeksi
cacing ini salah satu yang dominan ditemukan
dalam kultur feses kambing. Jenis cacing ini
banyak ditemukan pada daerah sejuk 13 .
Hasil penelitian ini menunjukkan adanya
infeksi tunggal dan infeksi campuran dari
cacing, dimana infeksi tunggal cacing parasit
umum terjadi karena lemahnya ketahanan
tubuh hewan dalam melawan serangan cacing
parasit. Menurut Levine (1995) infeksi tunggal
ataupun campuran sering terjadi pada sapi
sehingga sulit untuk mengetahui pengaruh
khusus yang ditimbulkan. Infeksi yang terjadi
biasanya dilakukan oleh bermacam-macam
jenis cacing yang terjadi baik pada abomasum,
usus dan organ lain sehingga pengaruhnya
berupa kombinasi atau campuran parasit yang
ada12 . Cara pemeliharaan hewan ternak sangat
berpengaruh terhadap kejadian infeksi parasit.
Jika peternak menggunakan sistem semi
intensif dengan membiarkan sapi mencari
makan sendiri (sistem gembala) atau sama
sekali tidak dikandangkan (sistem tradisional)
maka peluang besar terinfeksi kecacingan
sangat besar. Pada hewan ternak yang
dipelihara secara intensif (sistem kandang),
resiko infeksi dapat dikurangi karena pakan
ternak diberikan di dalam kandang14 .
T idak ditemukannya parasit yang
bersifat patogen pada sampel feses hewan
dikarenakan hasil temuan hanya berupa telur
cacing. T ipe telur hanya bisa menggambarkan
genus bukan spesies parasit sehingga tidak bisa
menggolongkan parasit yang bersifat patogen
sehingga parasit yang ditemukan tidak
berpotensi patogen pada manusia.
Diketahui sebanyak 1.415 spesies
organisme penyakit yang diketahui bersifat
patogen bagi manusia, meliputi 217 virus dan
75
BALABA Vol. 12 No.2, Desember 2016 : 71-78
prion, 538 bakteri dan rickettsia, 30 fungi, 66
protozoa, dan 287 parasit cacing. Dari jumlah
ini, 872 (61,6%) spesies patogenik bersumber
dari hewan 15 . T ipe telur yang ditemukan
adalah jenis Fasciola sp., tipe ini mempunyai
dua jenis spesies (F. hepatica dan F.
gigantica) yang bersifat patogenik bagi
manusia. Dimana 17 juta manusia terinfeksi
dan 180 juta orang hidup di daerah endemis.
Manusia akan terinfeksi cacing ini apabila
termakan cyst yang menempel pada tanaman
air yang dikonsumsi seperti selada air dan
mengkonsumsi
air
yang
tercemar
16
metaserkaria . Kejadian di propinsi Yunan,
China menunjukkan adanya wabah dari
fascioliasis ini pada akhir november 2011.
Gejala yang terlihat pada penderita yakni
demam hingga 41 0 C, nyeri pada epigastric dan
hepatalgia atau rasa sakit di perut bagian atas17.
Kejadian fascioliasis ini 50 % bersifat
asimtomatis dan tidak t erlaporkan. Penegakan
diagnosis
akan
lebih
jelas
apabila
menggunakan Metode recombinant cathepsin
L-based ELISA karena akan memperlihatkan
sensitifitas dan spesifisitas 99 %16 .
T elur Ascaris sp. yang ditemukan
tidak bisa dipastikan adalah spesies Ascaris
suum karena telur dari spesies Ascaris sp.
mempunyai rentang ukuran dan bentuk yang
sama. Pada babi, jenis yang sering ditemukan
adalah Ascaris suum yang bisa bersifat patogen
pada manusia karena menyebabkan creeping
eruption 18 . Pada penelitian yang dilakukan di
daerah pedesan Chungcheongnam-do, Korea,
ditemukan parasit ini merupakan agen
penyebab ‘visceral larva migrans’dan adanya
lesi pada hati dan paru. Pendiagnosaan ini
diperkuat dengan ditemukan adanya antibodi
terhadap cacing ini pada kasus tersebut 19 .
sp. dan Paramphistomum sp., Trichuris sp.
dan Paramphistomum sp., Paramphistomum
sp. dan Fasciola sp., dan multiinfeksi oleh
Paramphistomum sp., Fasciola sp., dan
Trichuris sp. Sementara infeksi tunggal genus
Trichostrongyloidea sp ditemukan pada
kambing. Parasit usus yang menginfeksi
hewan ternak yang ada di tempat pemotongan
hewan Kabupaten Sigi tidak berpotensi
menular ke manusia.
SARAN
Identifikasi pada parasit usus yang ada di
tempat pemotongan hewan perlu dilakukan
penelitian lebih lanjut untuk melihat potensi
parasit usus menular ke manusia sehingga
produk yang dihasilkan dari RPH baik dan
aman untuk dikonsumsi masyarakat. .
.
UCAPAN TERIMA KASIH
T erima kasih kami ucapkan kepada
Kepala Balai Litbang P2B2 Donggala atas izin
dan
dukungannya
dalam pelaksanaan
penelitian ini, tak lupa pula kami mengucapkan
terima kasih kepada Kepala Dinas Pertanian
Kabupaten Sigi dan Kepala UPT RPH
Kabupaten Sigi. T erima kasih pula kepada
Julianty P dan Nurendah P (Badan Litbangkes)
atas bimbingannya selama penelitian serta
teman-teman dari Balai Litbang P2B2
Donggala yang membantu dalam pelaksanaan
penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
1.
Talari Safar Ali, Vakily Zarichech, Talari
Mohammad
Reza, Bagbam Hassani
Amroallah, Targah Hossin, Matini Amir,
Tabibian
Akbar,
Hooshyar Hossin,
RoshanzamirTourag and EH. Prevalence of
liver flukes infections in slaughtered
animals in Kashan , Isfahan province ,
central Iran. IIOAB. 2011;2(February):1418.
2.
Ngurah IG, Widnyana P. Prevalensi infeksi
parasit cacing pada saluran pencernaan sapi
bali dan sapi rambon di desa wosu
kecamatan
bungku
barat
kabupaten
morowali.
Agropet.
2013;10:39-46.
KESIMPULAN
Kecacingan pada sapi dan babi ditemukan
dengan jenis infeksi tunggal oleh genus
Facsiola sp., Paramphistomum sp., Trichuris
sp., Oesophagustomum sp., Ascaris sp.,
Eimeria sp., dan Balantidium sp. Infeksi ganda
cacing ditemukan pada sapi oleh Strongyloidea
76
Parasit Gastrointestinal……..(Tolistiawaty, dkk)
3.
Laboratorium
Forthcoming.
Helmintologi
BLPD.
4.
Parfitt J and ab. A Method For counting
Fasciola egss in cattle faeces in the field.
Vet Rec. 1977;87:180-182.
5.
Suryastini KAD, Dwinata IM DI. Akurasi
metode ritchie dalam mendeteksi infeksi
cacing saluran pencernaan pada babi.
Indones Med Veterinus. 2012;1(5):567-581.
6.
Kaufman J. Parasitic Infectious of
Domestic Animal. ILRI, Germany; 1996.
7.
Munadi. Tingkat Infeksi Cacing Hati
Kaitannya dengan Kerugian Ekonomi Sapi
Potong yang Disembelih di Rumah Potong
Hewan
Wilayah
Eks-Kresidenan
Banyumas. Agripet. 2011;11(1):45-50.
8.
Tantri N, Setyawati TR, Khotimah S.
Prevalensi dan Intensitas Telur Cacing
Parasit pada Feses Sapi
( Bos Sp . )
Rumah Potong Hewan ( RPH ) Kota
Pontianak Kalimantan Barat. J Protobiont.
2013;2(2):102-106.
9.
Iskandar T. Parasit penyebab diare pada
sapi perah friesian holstein ( fh ) di
kabupaten bandung dan sukabumi jawa
barat.; 2008:384-388.
10.
Supriadi, A. Muslihin, Roesmanto B. PreEliminasi Parasit Gastrointestinal Pada
Babi Dari Desa Suranadi Kecamatan
Narmada Lombok Barat. Media Bina Ilm.
2014;8(1978):64-68.
11.
Suweta I. Prevalensi Infeksi Cacing Ascaris
Suum Pada Babi Di Bali. Dampakknya
Terhadap Babi Penderita Dan Upaya
Penangulangannya.; 1996.
12.
Levine
N.
Protozoologi
Veteriner.
(Soekardono, ed.). Gadjah Mada University
Press. Yogyakarta; 1995.
13.
Dhewiyanty V, Setyawati TR, Yanti AH.
Prevalensi dan Intensitas Larva Infektif
Nematoda Gastrointestinal Strongylida dan
Rhabditida pada Kultur Feses kambing (
Capra sp .) di Tempat Pemotongan Hewan
Kambing
Pontianak.
Protoboint.
2015;4:178-183.
14.
Harminda D hata. Infestasi Parasit Cacing
Neoascaris Vitulorum Pada Ternak Sapi
Pesisir Di Kecamatan Lubuk Kilangan Kota
Padang.; 2011.
15.
Cleaveland S, Laurenson MK, Taylor LH.
Diseases of humans and their domestic
mammals : pathogen characteristics , host
range and the risk of emergence. Phil Times
R
Soc
L.2001;356:991999.
doi:10.1098/rstb.2001.0889.
16.
Cwiklinski K, Neill SMO, Donnelly S,
Dalton JP. A prospective view of animal
and human Fasciolosis. Parasite Imunol.
2016;(February):1-11.
doi:10.1111/pim.12343.
17.
Chen, J. X. M, Chen. Lin Ai et all. An
Outbreak of Human Fascioliasis gigantica
in
Southwest
China.
PLoS One.
2013;8:doi : 10.137/journal.pone.0071520.
18.
Asihka, Verdira,. Nurhayati G. Artikel
Penelitian Distribusi Frekuensi Soil
Transmitted Helminth pada Sayuran Selada
( Lactuca sativa ) yang Dijual di Pasar
Tradisional dan Pasar Modern di Kota
Padang. Kesehat Andalas. 2014;3(3):480485.
19.
Ahmed H, Ahmed H, Jeon H, Yu Y, Do C,
Lee Y. Intestinal Parasite Infections in Pigs
and Beef Cattle in Rural Areas of
Chungcheongnam-do , Korea. Korean J
Parasitol.
2010;48(4):347-349.
doi:10.3347/kjp.2010.48.4.347.
77
BALABA Vol. 12 No.2, Desember 2016 : 71-78
78
Download