1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sistem

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
1
1.1
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sistem ketenagalistrikan di Indonesia dikelola oleh perusahaaan listrik
negara (PT. PLN). Sistem ketenagalistrikan di Bali juga dikelola oleh PT PLN
khususnya PT PLN Distribusi Bali yang merupakan bagian dari sistem
interkoneksi Jawa-Madura-Bali (JAMALI). Untuk memenuhi kebutuhan listrik di
Provinsi Bali selain disuplai dari Jawa dengan kabel bawah laut dengan kapasitas
200 MW, juga disuplai dari unit Pembangkit Pesanggaran 172 MW, PLTG
Gilimanuk 130 MW dan PLTG Pemaron 80 MW sehingga total daya yang
tersedia adalah sebesar 582 MW. Beban puncak sistem Bali pada tahun 2010
mencapai 552,4 MW (Suluh Dewata, 2010).
Apabila salah satu unit pembangkit keluar dari sistem, seperti contoh jika
dilakukan pemeliharaan PLTG Gilimanuk (130 MW), maka hanya tersedia daya
sebesar 452 MW, yang berarti lebih kecil dari beban puncak 552,4 MW. Sehingga
menyebabkan terjadinya pemadaman pada saat beban puncak (18.00 – 22.00
WITA). Di samping hal tersebut pertumbuhan beban di Bali cukup tinggi sekitar
13% dan pertumbuhan nasional besarnya sekitar 6%(Bappeda, 2004). Dengan
angka peningkatan beban yang tinggi tersebut, maka diperlukan peningkatan
kapasitas pembangkit. Permasalahan yang timbul di dalam peningkatan kapasitas
yaitu pembangunan pembangkit baru membutuhkan investasi yang sangat besar
serta lokasi pembangunan pembangkit baru diperlukan kesepakatan antara
1
2
masyarakat dan pemerintah daerah. Sampai saat ini belum ada pembangkit baru
yang terealisasi. Di samping itu pengiriman energi listrik ke Bali dibatasi oleh
kemampuan jaringan transmisi kabel laut Jawa-Bali 150 KV existing yang hanya
bisa menyalurkan 2 x 100 MW.
Melihat kondisi tersebut salah satunya diperlukan penghematan atau
efisiensi dalam pemanfaatan energi listrik. Efesiensi adalah kemampuan
menggunakan lebih sedikit energi dalam manjalankan fungsi dan kinerja yang
sama untuk mencapai tujuan dengan biaya yang lebih rendah (William.H.G, 1996).
Efisiensi energi menjadi semakin penting, mengingat kenaikan harga bahan bakar
minyak di seluruh belahan dunia disamping menipisnya cadangan atau potensi
sumber daya yang tersedia. Salah satu upaya PT. PLN untuk melakukan
pengelolaan pemakaian listrik adalah dengan menerapkan tarif yang berbeda
untuk LWBP (Luar Waktu Beban Puncak) dan WBP (Waktu Beban Puncak),
dimana tarif dalam WBP lebih mahal dibandingkan dengan tarif dalam LWBP.
Penerapan WBP dimulai pukul 18.00 - 22.00 WITA.
PT. Telekomunikasi Indonesia merupakan salah satu penyedia layanan
telekomunikasi, seperti layanan telepon kabel, flexi dan internet. Perkembangan
teknologi telekomunikasi yang sangat pesat, dengan jumlah pelanggan di tahun
2007 mencapai 42 juta pelanggan, di tahun 2008 jumlah pelanggan 68,6 juta dan
di tahun 2009 mencapai 105,1 juta pelanggan (PT Telkom, 2009). Dengan
peningkatan jumlah pelanggan tersebut jaringan atau infrastruktur telkom seperti:
jaringan PSTN (Public Switched Telephone Network) dan jaringan data internet
juga ikut meningkat. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi
3
berpengaruh positif terhadap berkembangnya akses terhadap ilmu pengetahuan
serta informasi sehingga bisa disampaikan semakin cepat, efisien dan murah.
Perkembangan jumlah pelanggan, penggunaan layananan telekomunikasi yang
dikuti
dengan
pengembangan
infrastruktur
telekomunikasi
menyebabkan
pemakaian energi listrik di PT. Telkom semakin meningkat.
Sentral Telepon Automat (STO) Kaliasem merupakan central (Back Bone)
yang membawahi semua sentral atau STO yang ada di Bali. STO Kaliasem berdiri
di atas lahan seluas 4.400 M 2 dan luas bangunan 2.613 M2. Jumlah karyawan di
STO Kaliasem sebanyak 37 orang, dengan jam kerja normal yaitu 08.00-17.00
WITA. PT Telkom memiliki 27 site STO di Bali. Semua STO di Bali melayani
sistem PSTN, flexi dan data internet. Tetapi keseluruhan trafik baik dari Bali
bahkan wilayah Nusa Tenggara akan menuju Jawa melalui STO Kaliasem terlebih
dahulu, dikarenakan sebagai jalur elemen core network untuk menuju ke
Singapore Telekomunikasi (SINGTEL), sehingga STO Kaliasem sangat penting
bagi sistem network komunikasi di PT Telkom. Kapasitas daya listrik terpasang di
STO Kaliasem adalah sebesar 865 KVA dan digolongkan sebagai tarif B3. Di
samping itu juga dilengkapi catu daya backup yaitu satu buah genset berkapasitas
sebesar 1.038 KVA Penggunaan energi listrik di STO Kaliasem sebagian besar
untuk perangkat keras di ruang server dan peralatan pendingin di ruang server
yang beroperasi selama 24 jam. Sedangkan sebagian lagi digunakan untuk
penerangan. Perangkat keras di gedung STO Kaliasem dikelompokkan menjadi
dua yaitu Esensial dan Non Esensial. Kategori esensial adalah perangkat yang
4
tidak boleh padam seperti rectifier, UPS dan inverter. Kategori non esensial
adalah perangkat pendukung di gedung STO Kaliasem seperti AC dan penerangan.
Pemakaian energi listrik di STO Kaliasem relatif cukup besar dan
menunjukkan adanya peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2006 tagihan
listrik adalah sebesar Rp.1.755.235.200,- sementara pada tahun 2007 sebesar
Rp.1.765.676.400,- Di sini terlihat adanya peningkatan sebesar 0,60 %. Pada
tahun 2008 tagihan listrik adalah sebesar Rp.1.811.241.200,- dan menjadi
Rp.2.093.168.000,- di tahun 2009. Di sini terjadi peningkatan tagihan yaitu
sebesar 13,5 %.
Walkthrough audit adalah kegiatan di dalam mengidentifikasikan jenis dan
besarnya energi yang digunakan pada suatu bangunan. Setelah dilakukan
walkthrough audit tehadap pemakaian energi listrik pada bulan Desember 2009
diperoleh gambaran yang menunjukkan bahwa pengelolaan energi listrik di STO
Kaliasem belum berjalan dengan baik. Hal ini ditunjukkan kurangnya prilaku
hemat energi di lingkungan ruang kerja. Kategori non esensial seperti AC dan
penerangan sebesar 223.536 kilowatt dari 74 unit AC yang berkapasitas beragam
1,5 PK sampai 15 PK. Penerangan 94 lampu TL (2 x 40 watt) dan 52 LHE (18
watt). Suhu ruangan perangkat yang diisyaratkan yaitu sebesar 18 oC–22oC.
Kategori esensial seperti rectifier, UPS dan inverter pemakaian energi listriknya
sebesar 152.788 kilowatt. Setelah dilakukan pengamatan di ruang kerja karyawan,
diberapa ruangan pada saat jam pulang kerja AC dan lampu penerangan masih
tetap menyala. Penggunaan AC di ruang perangkat masih ada yang menggunakan
kapasitas yang tidak sesuai dengan kondisi ruangan, yang mana dikarenakan
5
adanya penambahan perangkat, sehingga AC bekerja lebih keras. Manajemen
STO Kaliasem sendiri sudah berupaya melakukan renovasi di ruangan-ruangan
perangkat agar ruangan lebih terisolasi dari temperatur suhu di luar ruangan dan
temperatur ruangan lebih terjamin. Namun perusahaan belum memiliki struktur
serta program manajemen energi yang jelas. Seperti tidak tersedianya panduan
tentang hemat energi berupa buku, kebijakan, himbauan, stiker, seminar dan
ceramah, sehingga terlihat prilaku tidak hemat energi pada pemakaian AC di
ruang kerja dan kurangnya pemakaian LHE di gedung STO Kaliasem.
Melihat kondisi tersebut di atas, salah satu usaha yang bisa ditempuh
untuk meningkatkan efisiensi penggunaan energi listrik adalah dengan melakukan
manajemen energi. Manajemen energi adalah aktifitas dalam menggunakan energi
dengan bijaksana dan efektif untuk memaksimalkan keuntungan (minimize costs)
dan meningkatkan (enhance) kondisi yang kompetitif (Capehart dkk, 2003).
Berbagai upaya pengeloaan energi yang relevan dengan kondisi di STO Kaliasem
adalah dengan melakukan pengelolaan penggunaan Air Conditioning (AC).
Seperti kapasitas AC sesuai dengan kondisi dan luas ruangan, penggunaan freon
diupayakan menggunakan yang lebih ramah lingkungan khususnya dalam
konversi refrigerant sintetik (freon AC) ke refrigerant hydrocarbon yang
merupakan bahan pendingin ramah lingkungan serta hemat energi, yang mengacu
pada Peraturan Menteri ESDM No.031/2005 tentang Tata Cara Pelaksanaan
Penghematan Energi. Di samping itu manajemen STO Kaliasem akan mencoba
melakukan pengelolaan AC dengan cara mengatur temperatur ruangan perangkat
diantara 20oC–22oC agar konsumsi energi AC lebih kecil dan temperatur
6
perangkat masih terjamin. Juga peningkatan peran serta sumber daya manusia
dengan melakukan pengelolaan energi listrik di ruang kerja dengan membiasakan
prilaku budaya hemat energi dengan cara mematikan AC dan lampu penerangan
di saat jam pulang kerja.
Penelitian yang mencakup perancangan dan penerapan terhadap kondisi
pemakaian energi di STO Kaliasem ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi
penggunaan energi dan bahkan diharapkan dapat memberikan contoh pengelolaan
energi yang baik di lingkungan PT Telkom.
1.2
Rumusan Masalah
Rumusan dari penelitian tugas akhir ini adalah
1. Bagaimana mengetahui tingkat konsumsi energi listrik di gedung STO
Kaliasem Denpasar melalui proses audit energi sesuai dengan SNI ?
2. Bagaimana merancang manajemen energi listrik pada gedung STO
Kaliasem Denpasar untuk meningkatkan efisiensi penggunaan energi
listrik ?
3. Bagaimana melakukan implementasi program manajemen energi selama
dua bulan terhadap penggunaan energi listrik di Gedung STO Kaliasem
Denpasar?
4. Bagaimana pengaruh terhadap efisiensi cost atau biaya, setelah dilakukan
penerapan program manajemen energi listrik di Gedung STO Kaliasem
Denpasar?
7
1.3
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian dari tugas akhir ini adalah
1. Untuk mengetahui tingkat intensitas penggunaan energi listrik di gedung
STO Kaliasem melalui audit energi.
2. Untuk menghasilkan program manajemen energi listrik di gedung STO
Kaliasem
3. Melakukan implementasi program manajemen energi listrik yang akan
dimonitor selama dua bulan.
4. Untuk mengetahui informasi cost atau biaya, setelah dilakukan penerapan
program manajemen energi listrik tersebut.
1.4
Manfaat Penelitian
Manfaat yang didapat dari penelitian tugas akhir ini adalah
1. Bagi Mahasiswa, dapat mengaplikasikan teori yang dipelajari dengan
kondisi dan kenyataan yang terjadi di lapangan khususnya di tempat
penelitian (STO Kaliasem)
2. Bagi Universitas, dapat dipergunakan sebagai bahan referensi untuk
Program Pasca Sarjana Manajemen Energi dalam penelitian tentang
manajemen energi, khususnya pemakaian energi di sektor telekomunikasi.
3. Bagi pihak manajemen perusahaan, dapat dipakai sebagai bahan informasi
serta bahan pertimbangan untuk mengelola energi agar mendapatkan
efisiensi dan biaya yang optimal.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2
2.1
BAB II KAJIAN PUSTAKA
Audit Energi
Audit energi adalah suatu analisis terhadap konsumsi energi dalam sebuah
sistem yang menggunakan energi, seperti gedung bertingkat, pabrik dan
sebagainya. Hasil dari audit energi adalah laporan tentang bagian yang mengalami
pemborosan energi. Umumnya bentuk energi yang di-audit adalah energi listrik
dan energi dalam bentuk bahan bakar.
Audit energi dapat dilakukan setiap saat atau sesuai dengan jadwal yang
sudah ditetapkan. Monitoring pemakaian energi secara teratur merupakan
keharusan untuk mengetahui besarnya energi yang digunakan pada setiap bagian
operasi selama selang waktu tertentu. Dengan demikian usaha-usaha penghematan
dapat dilakukan. (Abdurarachim, 2002).
Penelitian terhadap audit energi di tanah air masih tergolong bidang yang
relatif baru namun telah terdapat berbagai publikasi. Seperti, Agus Rianto
menganalisa mengenai audit energi di Hotel Santika Premiere Semarang, tahun
2007. Menunjukkan intensitas konsumsi energi di hotel tersebut mencapai
341.683 kWh/m2/tahun lebih besar dari standar ASEAN-USAID yaitu 300
kWh/m2/tahun. Hasil penelitian tersebut, diperoleh nilai IKE yang masih cukup
tinggi sehingga usaha penghematan masih harus dilakukan, penelitian tersebut
tidak dilakukan implementasi di lapangan, hanya sebatas perhitungan nilai IKE
dan rekomendasi (Rianto, 2007). Litany Namara Erdianta menganalisa
8
9
performansi penggunaan energi listrik di gedung jurusan Teknik Fisika ITS, tahun
2009. Menunjukkan intensitas konsumsi energi listrik di gedung jurusan Teknik
Fisika ITS tersebut mencapai 105,229 kWh/m2/tahun. Jika dibandingkan dengan
standar IKE ASEAN yaitu 240 KWh/m2/tahun, IKE di gedung jurusan Teknik
Fisika telah memenuhi standar kebutuhan energi. Dengan adanya implentasi PHE,
nilai IKE berkurang menjadi 93,378 kWh/m2/tahun (Erdianta, 2009). Aneka
Firdaus dalam Seminar Nasional Tahunan Teknik Mesin Universitas Sriwijaya,
tanggal 13-15 Oktober 2010. Melakukan penelitian bagaimana menaikkan
efisiensi (COP) dengan penurunan temperatur pada evaporator dalam sistem Air
Conditioning dengan mengunakan Musicool-22 pengganti freon-22. Hasil
penelitian ini adalah temperatur ruang yang minimum yang bisa dicapai sekitar
16-an
o
C dengan menggunakan refrigan MC-22. COP (Coefficient of
Performance) alat pendingin yang menggunakan propana atau MC-22 lebih tinggi
dibandingkan dengan R-22.
2.1.1
Konsep Audit Energi
Audit
energi
merupakan
usaha
atau
kegiatan
untuk
mengidentifikasikan jenis dan besarnya energi yang digunakan pada bagianbagian
operasi
suatu
industri/pabrik
atau
bangunan
dan
mencoba
mengidentifikasikan kemungkinan penghematan energi. Sasaran dari audit
energi adalah untuk mencari cara mengurangi konsumsi energi persatuan
output dan mengurangi biaya operasi. Untuk mengukur besarnya efisiensi
penghematan digunakan parameter Benefit Cost Ratio (BCR) yang
didefinisikan sebagai : (Abdurarachim, 2002)
10
E .a .b
BCR 
c
(1)
keterangan :
E = biaya energi tahunan, satuan uang
a = potensi energi tahunan, satuan uang, % dari harga E
b = realisasi biaya energi yang dapat dihemat,% dari harga a
c = biaya realisasi, satuan uang
2.1.2
Intensitas Konsumsi Energi (IKE) Gedung
Intensitas Konsumsi Energi (IKE) listrik merupakan istilah yang
digunakan untuk mengetahui besarnya pemakaian energi pada suatu sistem
(bangunan). Namun energi yang dimaksudkan dalam hal ini adalah energi listrik.
Pada hakekatnya Intensitas Konsumsi Energi ini adalah hasil bagi antara
konsumsi energi total selama periode tertentu (satu tahun) dengan luasan
bangunan. Satuan IKE adalah kWh/m2 per tahun. Dan pemakaian IKE ini telah
ditetapkan di berbagai negara antara lain ASEAN dan APEC.
Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh ASEAN-USAID pada tahun
1987 yang laporannya baru dikeluarkan tahun 1992, target besarnya Intensitas
Konsumsi Energi (IKE) listrik untuk Indonesia adalah sebagai berikut :
(Direktorat Pengembangan Energi)
a. IKE untuk perkantoran (komersil) : 240 kWh/m2 per tahun
b. IKE untuk pusat belanja : 330 kWh/ m2 per tahun
c. IKE untuk hotel / apartemen : 300 kWh/ m2 per tahun
d. IKE untuk rumah sakit : 380 kWh/ m2 per tahun
11
Kategori diatas berdasarkan jumlah energi yang digunakan per tahun
(kWh), luas lantai total (m2) dan jam operasi per tahun (2000 jam). Dalam
menghitung IKE listrik pada bangunan gedung, ada beberapa istilah yang
digunakan, antara lain :
a. IKE listrik per satuan luas kotor (gross) gedung.
b. Luas kotor (gross) = Luas total gedung yang dikondisikan (berAC) ditambah
dengan luas gedung yang tidak dikondisikan.
c. IKE listrik per satuan luas total gedung yang dikondisikan (net).
d. IKE listrik per satuan luas ruang dari gedung yang disewakan (net product).
Istilah-istilah tersebut di atas dimaksudkan sebagai alat pembanding
besarnya IKE antara suatu luasan dalam bangunan terhadap luasan lain. Dan
besarnya target IKE di atas merupakan nilai IKE listrik per satuan luas bangunan
gedung yang dikondisikan (net).
Adapun perhitungan dari IKE sebagai berikut:
kWh total
IKE 
Luas Bangunan
2.2
(2)
Macam-macam audit energi
Jenis dari Audit energi bukan hanya satu jenis saja melainkan audit energi
ada bermacam-macam jenis dimana tiap jenis memiliki fungsi masing-masing.
Adapun jenis-jenis audit energi tersebut dapat dibagai menjadi beberapa bentuk,
seperti walking audit, preliminary audit, deteiled audit, dan energy management
plan and implementation action.(Lybery.MD, 1981)
12
a. Walking audit
Walking audit ini sering disebut dengan mini audit. Audit yang dilakukan
secara sederhana, tanpa perhitungan yang rinci, hanya melakukan analisis
secara sederhana. Umumnya focus dari audit ini adalah pada bidang
perawatan dan penghematan yang tidak terlalu memerlukan biaya investasi
yang besar.
b. Prelimentary audit
Audit yang hanya dilakukan pada bagian vital saja. Analisa didapat
dengan melakukan perhitungan yang cukup jelas. Audit
ini meliputi
indentifikasi mesin, analisis kondisi aktual, menghitung konsumsi energi,
menghitung pemborosan energi dan beberapa usulan
c. Detailed audit
Audit energi yang dilakukan secara menyeluruh tehadap seluruh aspek
yang
mengkonsumsi
eneri
listrik
beserta
semua
kemungkinan
penghematan yang dapat dilakukan. Biasanya dilakukan oleh lembaga
auditor yang profesional dalam jangka waktu tertentu. Pelaksanaan audit
didahului dengan analisis biaya audit energi, indentifikasi mesin, analisis
kondisi aktual dan menghitung semua konsumsi energi. Konsumsi energi
ini meliputi energi primer dan energi sekunder. Selain itu melakukan
perhitungan pemborosan energi, kesempatan konservasi energi, sampai
beberapa usulan untuk melakukan penghematan energi beserta dengan
dampak dari usulan tersebut. Untuk mencari kemungkinan penghematan
maka harus diketahui terlebih dahulu analisa biaya audit energi,
13
identifikasi gedung, analisa kondisi sesungguhnya dan menghitung semua
penggunaan energi.
d. Energy management plan and implementation action
Audit energi yang dilakukan adalah suatu alat dalam manajemen energi.
Pada dasarnya audit ini sama dengan detailed audit, akan tetapi audit ini
dilakukan secara berkesinambungan, dalam jangka waktu yang cukup
lama. Audit energi ini dimulai dengan membentuk sebuah organisasi
manajement energi. Hasil dari audit menjadi masukan utama bagi sistem
manajemen energi untuk melakukan pengaturan energi secara terpadu.
Tahap yang dilakukan untuk melakukan suatu audit energi yang
sederhana, kususnya untuk gedung bertingkat bertingkat adalah
a. Menetapkan batasan masalah.
Langkah pertama adalah menetapkan batasan sistem, bagian mana
saja dari sebuah perusahaan atau gedung bertingkat yang akan diaudit.
b. Membentuk sebuah tim audit
Tim audit ini bekerja sama dengan operator peralatan dan
perlengkapan gedung, electrical dan mechanical gedung, serta
konsultasi dalam proyek yang di-audit.
c. Analisis kondisi aktual
Beberapa hal yang dilakukan dalam analisis kondisi aktual adalah
mendapatkan data teknik, petunjuk dan brosur perlatan electrical dan
mechanical. Kemudian melakukan identifikasi penggunaan energi,
14
seperti beberapa banyak kebutuhan energi dan dimana energi
digunakan.
d. Menghitung penghematan
Melakukan perhitungan besarnya energi yang dapat dihemat. Suatu hal
yang harus diperhatikan adalah besarnya penghematan energi tidak
linier terhadap investasi yang digunakan
e. Laporan audit
Laporan audit memuat semua aspek yang dapat ditemukan dalam
auditing, seperti pola konsumsi dan pemborosan yang terjadi. Pada
laporan ini juga disertakan prioritas penghemantan energi pada bagian
tertentu dari objek yang di-audit
f. Analisis penghematan
Dalam laporan ini juga disertakan beberapa usulan seprti adanya
piranti yang dapat ditambahkan beserta dengan analisis dampak yang
akan ditimbulkan
g. Eavluasi penghematan
Setelah melakukan penghematan dalam jangka waktu tertentu
dilakukan evaluasi secara berkala.
2.3
Manajemen Energi
Manajemen energi adalah aktifitas dalam menggunakan energi dengan
bijaksana dan efektif untuk memaksimalkan keuntungan (minimize costs) dan
meningkatkan (enhance) kondisi yang kompetitif (Cape Hart dkk, 1997). Sebuah
fungsi manajemen dan merupakan teknik yang berguna untuk memonitor,
15
menganalisa dan mengontrol aliran energi yang ada dalam sebuah sistem sehingga
efisiensi penggunaan energi yang maksimal dapat tercapai. Manajemen energi
sebenarnya merupakan kombinasi dari technical skill dan manjemen bisnis yang
berfokus pada business engineering. Seiring dengan harga energi akhir-akhir ini
yang terus meningkat maka manejemen energi ini semakin diperlukan. Karena
dengan melakukan manjemen energi ini maka biaya yang dikeluarkan untuk
penggunaan energi dapat ditekan.
Salah satu bagian yang mendasari manjemen energi adalah audit energi.
Laporan audit merupakan hasil dari audit plan yang akan diproses dan dianalisa
lebih lanjut dalam manajemen energi. Dan melalui dari hasil audit energi tersebut
maka aliran energi yang memberikan gambaran tentang penggunaan energi akan
dapat diketahui, sehingga dapat disusun suatu rancangan strategi untuk
mengendalikan penggunaan energi.
2.4
Matrik Manajemen Energi
Matrik manjemen energi merupakan sebuah tabel yang berfungsi sebagai
suatu alat untuk membantu perusahaan dalam menganalisa penggunaan energi.
Matrik tersebut mjulai dikembangkan pada awal tahun 1990. Melalui matrik ini
kelebihan dan kekurangan sistem manajemen energi yang digunakan disebuah
perusahaan dapat diketahui.
Matrik Manjemen energi meliputi enam area pokok dari majemen energi yaitu :
1. Kebijakan energi
Kebijakan energi merupakan sebuah bentuk regulation yang berhubungan
dengan penggunaan energi di sustu badan usaha. Kebijakan-kebijakan
16
yang dibuat hanya diterapkan pada bagian-bagian tertentu dari sebuah
badan usaha melainkan harus diterapkan pada semua bagian mulai dari
level top manajemen sampai level operator.
2. Organisasi
Organisasi disini lebih mengacu pada mengorganisai orang, alokasi
tanggung jawab dan bagaimana mengintegrasikan ini semua ke fungsifingsi manajemen lainnya. Interaksi antara departemen yang satu dengan
yang lain dibutuhkan untuk mendukung sistem manjemen energi
3. Motivasi
Motivasi yan dimaksud adalah bagaimana untuk mengubah sikap dari para
staf yang ada dalam penggunaan energi yang lebih baik di dalam
lingkungan mereka. Oleh karena motivasi ini lebih ke arah bagaimana
untuk mengubah behavior para staf dalam menggunakan energi, maka
tanggung jawab dan kesadaran dari semua staf yang ada akan sangat
diperlukan.
4. Sistem Informasi
Sistem informasi berhubungan
dengan
proses pengumpulan dan
pencatatan data mengenai energi dimana data tersebut akan diolah lalu
dilaporkan dalam bentuk yang sesuai. Melalui hal ini akan dapat diketahui
bagaimanakah performansi dari energi yang digunakan.
5. Marketing
Marketing disini bukan berarti memasarkan, mencari pelanggan melainkan
marketing yang dimaksud adalah mempublikasikan keberhasilan dari
17
sistem manajemen energi yang akan diterapkan baik didalam dan diluar
organisasi yang ada.
6. Investasi
Investasi berhubungan dengan keputusan. Bila sebuah perusahaan ingin
menerapkan sebuah sistem manajemen energi, maka perusahaan perlu
memiliki kebijakan investasi karena untuk bisa menerapkan sebuah sistem
manjemen energi, dana yang dibutuhkan cukup besar.
Matrik ini mengelompokkan kualitas dari suatu sistem manjemen energi
suatu badan usaha ke dalam lima level yang terendah adalah level 0 dan level
yang tertinggi adalah level 4.
Adapun hal yang diperlukan untuk menaikkan level matrik manajemen
energi adalah komitmen dari top manjemen, karena kesadaran para karyawan di
Indonesia akan penggunaan energi secara efisien masih kurang. Oleh karena itu
penting bagi perusahaan
untuk mempersiapkan para karyawan agar dapat
mengantisipasi problem ini. Perusahaan dapat memberikan pelatihan-pelatihan
maupun penyuluhan-penyuluhan agar para karyawan dapat mengerti akan
masalah ini, dan perusahaan juga dapat mengambil langkah ekstrim dengan
mengeluarkan peraturan tentang penggunaan energi dan memberikan sangsi bagi
karyawan yang melanggarnya.
2.5
Efisiensi sumber daya energi pada sistem tata cahaya
Sistem tata cahaya dewasa ini banyak menyerap penggunaan energi pada
banguanan yaitu sekitar 30% sampai 50% dari konsumsi energi listrik. Ditambah
pula dengan panas yang dikeluarkan oleh lampu yang harus dihilangkan oleh
18
sistem tata udara (AC). Dengan demikian efisiensi dari sistem ini akan
menghasilkan penghematan sumber daya energi yang cukup berarti.
Efesiensi ini dapat dilakukan dengan:
a. Penggunaan dari lampu dengan efisiensi yang tinggi, disini dapat dipilih
berbagai jenis lampu tersebut antara lain:
1. Full Size Flurescent lamp, lampu tipe ini dengan efisiensi yag
tinggi menggunakan campuran kripton dan argon akan mampu
menambah output yang dihasilkan sekitar 10% sampai 20% yaitu
65 sampai 70 lumens/watt menjadi 70 sampai 80 lumen/watt,
dengan perbaikan dri fosfor dapat menghasilkan efesiensi menjadi
95 sampai 100 lumen/watt.
2. Compact Fluorescent lamps, diameter lebih kecil dan ukuran lebih
pendek sehingga menggunakan ruang lebih sedikit namun kurang
efisien dibandingkan full size flurescent lamps yaitu output yang
dihasilkan hanya sekitar 35 sampai 55 lumen/watt
3. Electronic lamps, mempunyai ukuran sama dengan compact
fluorescent lamp dan mempunyai output 45 sampai 50 lumen/watt
4. Sulphur lamp, merupakan suatu teknologi baru namun menjanjikan
suatu efesiensi yaitu dengan penggatian dari penggunaan mercury
pada fluorescent lamp dengan sulfur.
5. Infrared Reflective Incandescent lamp, lampu jenis ini tidak dapat
dibandingkan dengan fluorescent lamp, mereka hanya digunakan
19
apabila lampu jenis fluorescent tidak menyediakan color rendering
indeks yang diinginkan.
b. Penggunaan ballast yang lebih efisien. Suatu kemajuan dalam teknologi
pencahayaan ini adalah penggunaan electronic ballast untuk fluorescent
lamp. Ballast adalah bagian integral dari lampu, mereka menyediakan
tegangan yang diperlukan untuk tube dan mengatur aliran listrik. Sampai
tahun awal 1980 semua ballast adalah magnetic, akan terjadi flicker
selama operasi jika lampu sudah digunakan
lama. Electronic ballast
mempunyai power factor yang lebih tinggi sekitar 0,90 sampai 0,98,
sedangkan pada magnetic ballast hanya sekitar 0,5 sampai 0,9. Juga
electronic ballast menghasilkan cahaya yang lebih terang karena cyclenya
lebih cepat sekitar ribuan kali per detik dibandigkan sekitar 120 kali per
detik pada magnetic ballast. Digabungkan dengan penggunaan dengan
lampu yang efisiensi maka electronic ballast dapat menghasilkan ouput 85
sampai 96 lumen/watt dibanding 60 sampai 70 lumen/watt untuk magnetic
ballast yang konvensional.
c. Pengoperasian yang efisien dari suatu sistem tata cahaya:
1. Suatu operasi yang efisien dapat diperoleh dari pengontrolan secara
otomatis dari sistem tata cahaya untuk menghindari penyinaran
yang tidak diperlukan. Dengan sistem manual on/off switches
maka kelebihan penyinaran yang ada tidak terhindarkan, seperti
kontribusi dari sinar matahari yang melebihi output dari lampu
20
baru atau desain berlebihan yang menghasilkan tingkat cahaya
yang tinggi yang tidak perlu.
2. Penyinaran pada ruangan yang tidak digunakan juga merupakan
suatu konsumsi sumber daya energi yang tidak diperlukan.
Persoalan diatas dapat diatasi dengan pengontrolan terjadwal dan
sensor pemakaian.
2.6
Beban Listrik di Perusahaan
Pada
suatu perusahaan, terdapat berbagai macam beban listrik sesuai
dengan kebutuhan dari perusahaan itu sendiri. Beban listrik utama yang biasanya
terdapat pada suatu perusahaan antara lain plant lighting, perangkat elektronik, air
conditioner, serta beban-beban lainnya yang membutuhkan suplai listrik.
2.6.1
Plant Lighting
Lighting adalah beban penting yang pasti ada pada suatu plant. Lighting
yang digunakan bisa bermacam-macam baik dari jenis lampu maupun ukuran
daya yang digunakan, tergantung dari fungsi dan kebutuhan ruang. Misalnya
kebutuhan penerangan pada ruangan yang berfungsi sebagai kantor, tentu berbeda
dengan kebutuhan penerangan pada ruang gedung.
Beberapa jenis lampu yang sering digunakan antara lain:
1. Lampu Incandescent (Lampu Pijar)
Lampu incandescent (lampu pijar) adalah suatu sumber cahaya
buatan yang bekerja dengan berpijar, yaitu dengan mengalirkan arus
elektrik melalui suatu kawat pijar tipis (filamen), sehingga filamen akan
21
mengalami pemanasan hingga mencapai 3000 oC
(5400oF). Dengan
demikian lampu pijar akan memancarkan panas dan cahaya secara
bersamaan.
Belakangan ini, lampu pijar mulai jarang digunakan karena selain
intensitas cahaya rendah jika dibandingkan dengan lampu jenis lain. Selian
itu lampu pijar hanya memilki masa operasional 1.000 jam. Warna sinar
lampu pijar menurut derajat Kelvin adalah 2.500 oK-2.700oK.
Berikut adalah bagian-bagian dari lampu pijar, seperti terlihat pada
gambar:
1. Glass bulb
2. Low pressure insert gas
3. Tungsten Filament
4. Contact wire (goes out of stem)
5. Contact wire (goes into stem)
6. Support wire
7. Stem (Glass mount)
8. Contact wire (goes out stem)
9. Cap (Sleeve)
10. Insulation (Vitri)
11. Electrical contact
22
Gambar 2.1 Bagian-bagian Lampu Incandescent
2. Lampu Fluorescent (lampu TL)
Warna sinar lampu TL menurut derajat Kelvin adalah 2.700oK6.500oK. dengan masa operasional 5.000-8.000 jam.
3. Lampu Compact Fluorescent
Lampu
compact fluorescent dibuat dengan bentuk menyerupai
lapu pijar, namun dapat menghasilkan intensitas cahaya yang lebih tinggi,
dengan hanya menggunakan sepertiga energi yang dibutuhkan oleh lampu
pijar. Selain itu, lampu ini juga hemat dalam material dan biaya perawatan
karena masa operasionalnya yang sepuluh kali lebih panjang jika
dibandingkan dengan lampu pijar, yaitu 10.000 jam, sedangkan warna
sinar lampunya sama dengan warna sinar lapu TL, yaitu 2.700oK-6.500oK.
Dengan masa operasional lampu lebih panjang, berarti akan semakin
pendek payback period-nya.
23
Gambar 2.2 Lampu Compact Fluorescent
4. Metal Halide
Lampu metal halide termasuk dalam jenis lampu dengan highintensity discharge (HID), yang dapat memancarkan cahaya yang sangat
terang (powerful) dengan ukuran yang ringkas dan efisien energi yang
tinggi. Lampu ini memiliki masa operasional lebih dari 6.000 jam, dengan
warna sianr lampu diatas 2.100oK.
Dalam pengoprasiannya, lampu ini bekerja pada tekanan dan
temaperatur yang tinggi, sehingga membutuhkan fixture khusus agar dapat
beroperasi dengan aman.
Lampu ini biasanya digunakan pada bagian yang membutuhkan
itensitas penerangan yang tinggi. Selain itu lampu metal halide juga sering
digunakan dalam dunia olahraga, misalnya pada lapangan olahraga.
2.6.2
Air Conditioner (AC)
Air conditioner (AC) adalah peralatan yang digunakan untuk mengambil
panas dari suatu area ataupun menyediakan panas di suatu area, dengan
menggunakan refrigeration cycle. Secara umum, saat ini AC digunakan untuk
mendinginkan dan memanaskan ruangan pada bangunan ataupun pada kendaraan.
Fungsi utama dari AC ada 4 yaitu:
1. Memperoleh suhu yang diinginkan dan konstan sepanjang hari
24
2. Memperoleh kelembaban udara yang konstan sepanjang hari
3. Memperoleh sirkuit/aliran udara yang bisa disesuaikan dengan
kebutuhan
4. Membersihkan/menyaring debu dan asap dari udara.
Suatu sistem yang mengkonbinasikan pemanasan, ventelasi dan AC
sering disebut dengan sistem HVAC ( heating, ventelation and air condtioning).
Sistem berfungsi untuk menyediakan udara segar yang sudah disaring, pemanasan
ataupun pendinginan udara, serta mengontrol kelembaban udara pada suatu
ruangan.
Keterangan :
1. Condensing coil
2. Expansion valve
3. Evaporator coil
4. Compressor
Gambar 2.3 Diagram Sistem Pendingin
Seperti terlihat dari gambar diagaram sistem pendingin diatas, AC terdiri
dari 4 bagian utama yaitu
1. Condensing coil, yaitu berupa pipa berkelok-kelok yang dilewati cairan
pendingin (refrigerant) yang bersuhu lebih tinggi dibandingkan cairan
pendingin pada evaporator coil. Bagian ini berada di luar ruangan (outdoor
side). Fungsinya adalah membunag panas yang dibawanya ke udara luar
agar cairan pendingin menjadi dingin kembali, sehingga terjadi perubahan
refrigerant dari fase uap menjadi cair.
25
2.
Expansion valve (katub pengembang), berupa titik peralihan zat pendingin
dari fase cair ke gas.
3. Evaporator coil, yaitu berupa pipa berkelok-kelok yang dilewati cairan
pendingin
(refrigerant)
yang
bersuhu
rendah.
Bagian
ini
akan
mengurangkan kelembaban dari udara ruang yang dilaluinya dan
mengambil panasnya, sehingga terjadi perubahan refrigerant dari fase cair
menjadi uap.Evaporator coil merupakan bagian yang diletakkan di dalam
ruangan (indoor side)
4. Compressor, berfungsi secara terus menerus memberikan tekanan dan
hisapan pada cairan pendingin (refrigerant). Saat ini Refrigerant atau
yang dikenal dengan istilah freon (Syntetic Refrigerant) yaitu CFC, HFC
dan HCFC (C-Chloro, F-Fluor, C-Carbon, H-Hydro). Chlor adalah gas
yang merusak lapisan ozon sedangkan Fluor adalah gas yang
menimbulkan efek rumah kaca. Sekarang ini sudah ada bahan pendingin
alternatif pengganti freon yaitu Hydrocarbon Refrigerant (Natural
Refrigerant). Salah Satunya Musicool, karena Musicool adalah produk
dalam negeri, salah satu produk Pertamina yang dibuat di Unit Pengolahan
III, Plaju, Sumsel di tepi sungai Musi. Musicool adalah refrigerant dengan
bahan dasar hydrocarbon alam dan termasuk dalam kelompok refrigerant
ramah lingkungan, dirancang sebagai alternatif pengganti freon yang
merupakan refrigerant sintetic kelompok halokarbon; CFC R-12, HCFC
R-22 dan HFC R-134a yang masih memliki potensi merusak alam.
Musicool telah memenuhi persyaratan teknis sebagai refrigerant yaitu
26
meliputi aspek sifat fisika dan termodinamika, diagram tekanan versus
suhu serta uji kinerja pada siklus refrigerasi. Hasil pengujian menunjukan
bahwa dengan beban pendingin yang sama, MUSICOOL memiliki
keunggulan-keunggulan
dibandingkan
dengan
refrigerant
sintetic.
diantaranya beberapa parameter memberikan indikasi data lebih kecil,
seperti kerapatan bahan (density), rasio tekanan kondensasi terhadap
evaporasi dan nilai viskositasnya, sedangkan beberapa parameter lain
memberikan indikasi data lebih besar, seperti efek refrigeras, COP, kalor
laten dan konduktivitas bahan.
 Beberapa keunggulan Musicool Refrigerant Yaitu
 Ramah Lingkungan dan Nyaman, MUSICOOL tidak beracun, tidak
membentuk gum, nyaman dan pelepasannya ke alam bebas tidak akan
merusak lapisan ozon dan tidak menimbulkan efek pemanasan global.
 Hemat Listrik / Energi, MUSICOOL mempunyai sifat termodinamika
yang lebih baik sehingga dapat menghemat pemakaian energy/listrik
hingga 30% dibanding dengan refrigerant fluorocarbon pada kapasitas
mesin pendingin yang sama.
 Lebih Irit, MUSICOOL memiliki sifat kerapatan yang rendah sehingga
hanya memerlukan sekitar 30% dari penggunaan refrigerany fluorocarbon
pada kapasitas mesin pendingin yang sama.
 Pengganti Untuk Semua, MUSICOOL dapat menggantikan refrigerant
yang digunakan selama ini tanpa mengubah atau mengganti komponen
maupun pelumas.
27
 Memenuhi Persyaratan International, Musicool memenuhi baku mutu
internasional dalam pemakaian maupun implikasi yang menyertainya.
Yaitu sudah mengikuti prosedur keamanan dan keselamatan pada :
a. British Standard/BS 4434 : 1995 safety and environmental aspect
in the design, construction and installation of refrigerating system
and appliances.
b. AS/NZS-1677 : refrigeration and air Conditioning safety for the
use of all refrigerant, including hidrocarbons.
c. SNI 06-6500-2000 : Aturan Keamanan Penggunaan Refrigerant
pada Instalasi Tetap.
d. SNI 06-6511-2000 : Pedoman Keamanan Pengisian, Penyimpanan
dan Transportasi Refrigerant Hidrokarbon.
e. SNI 06-6512-2000 : Pedoman Praktis Pemakaian Refrigerant
Hidrokarbon Pada mesin Tata Udara Kendaraan Bermotor.
 Berikut Beberapa jenis AC yang lain seperti :
AC Window
AC window memilki 2 bagian, yaitu indoor side dan outdoor side. AC
window biasanya diletakkan di jendela atau ditaman di dinding. Sifat dari AC tipe
ini adalah:
 Mudah dalam pemasangannya
 Mudah dipindahkan
 Mudah dirawat
 Relatif murah terutama pada kapasitas kecil
28
 Agak berisik dalam pengoperasiannya
Gambar 2.4 Bagian Outdoor AC window
Gambar 2.5 Bagian Indoor AC window
AC Split
AC ini hampir sama dengan AC window, tetapi posisi kondensator dan
evaporatornya terpisah, sehingga evaporator di dalam ruangan bisa diletakkan
agak jauh dari posisi condenser dan kompresornya, sedangkan condenser dan
kompresor tetap diletakkan di luar ruangan. Dengan menggunakan AC split, tidak
perlu lagi menjebol dinding untuk meletakkan AC, tetapi cukup menghubungkan
condenser dan evaporatornya dengan sebuah pipa saja.
Kelemahan dari AC split adalah jika jendela dan pintunya sangat rapat
dengan rangkanya dan tidak ada celah masuknya udar bebas, maka pengguna
ruangan dalam jangka waktu lama akan kehabisan oksigen.
Gambar 2.6 AC Split
AC split duct
AC split duct ini sama dengan AC split, tetapi dalam pendistribusian udara
dinginnya dibantu ducting sistem sehingga jangkauan pendistribusiannya bisa
lebih jauh dan lebih merata.
29
AC sentral air dingin berpendingin air
AC tipe ini menggunakan air dingin sebagai refrigerant. Untuk
mendinginkan air tersebut, dibutuhkan mesin pendingin air, dengan menggunakan
menara pendingin (cooling tower) di tempat terbuka.
AC sentral air dingin berpendingin udara
AC tipe ini menggunakan air dingin sebagai refrigerant. Namun, berbeda
dengan AC sentral air dingin berpendingin air,pada AC tipe ini menggunakan
ruang terbuka di atas atap untuk mendiginkan air tersebut.
2.7
Sistem Tata Udara
Prinsip utama dari suatu tata udara adalah kenyamanan dari pemakai
bangunan tidak hanya terhadap temperature saja, namun kenyamanan penghuni
bangunan dipengaruhi sejumlah aspek antara lain:
a. Temperatur (suhu) dan kelembaban : keduanya sangat mempengaruhi
kenyamanan dari penghuni. Tingkat kenyamanan yang umum adalah
sekitar 20oC sampai 26oC dan kelembaban antara 30% sampai dengan
60%, kelembaban kurang dari 25-30% karena akan menghasilkan udara
kering yang tidak nyaman.
b. Aliran dan kualitas udara : aliran udara dalam suatu ruang didesain dengan
kecepatan udara tidak kurang dari 3 meter/menit dan tidak lebih dari 15
meter/menit, kualitas udara harus cukup bersih dan tersedianya kandungan
oksigen yang cukup.
c. Radiasi : jika suhu, kelembaban dan aliran udara sudah didesain nyaman,
tetapi efek dari radiasi lewat jendela atau dinding dapat menyebabkan
30
kekuranganyamanan faktor-faktor diatas. Sistem yang ada harus
mengkompensasikan atas hal ini.
d. Pertimbangan-pertimbangan khusus lainnya : Bagaimana seperti rumah
sakit, ruang komputer maupun laboratorium kadang membutuhkan syaratsyarat khusus terhadap suhu, kelembaban, aliran udara dan kualitas udara.
Beberapa syarat adalah tetap seperti pada tingkat kenyamanan penghuni,
namun syarat lainnya mungkin agak berbeda melebihi ataupun kurang dari
tingkat kenyamanan yang umum.
Dalam membahas mengenai sistem ini maka ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan seperti:
1. Zoning : yang dimaksud disini adalah suatu konsep pembagian area,
contohnya suatu rumah dengan suatu alat pengontrol suhu disebut
single-zone sistem, untuk rumah yang cukup besar dengan dua
pengontrol suhu disebut two zones. Dalam bangunan yang besar
dan kompleks mungkin menggunakan beberapa pengatur suhu
yang terpisah.
2. Pengontrol dan otomatis : sistem kontrol dasar ini bisa terbuat dari
sistem kontrol listrik, tekanan, digital atau kombinasi.
2.8
Program Manajemen, Konversi dan Audit Energi
Program
manajemen
dan
konversi
energi
adalah
kunci
untuk
menggunakan minyak bumi dan energi listrik dengan lebih efisien. Tujuan dari
manajemen energi adalah:
31
 Mengurangi penggunaan energi agar dapat menghemat biaya operasional
pada bangunan, tanpa melakukan banyak perubahan pada bangunan
sehingga tidak mengeluarkan dana investasi yang besar.
 Memelihara lingkungan kerja yang nyaman
 Mengurangi ketergantungan terhadap minyak bumi
 Meningkatkan efisiensi kerja serta memperpanjang umur peralatan
Ketika suatu organisasi memutuskan untuk melakukan manajemen energi,
maka langkah awal yang harus diambil adalah melakukan audit energi.
Audit energi adalah pemeriksaan atas penggunaan energi oleh peralatan
atau sistem untuk memastikan bahwa energi pada sistem digunakan
dengan efisien. Atau dengan kata lain, audit energi merupakan kegiatan
yang dilakukan dengan tujuan mengevaluasi potensi penghematan energi
pada suatu bangunan, serta mengidentifikasi dan mengevaluasi Energy
Conservation Oppotunities (ECOs).
Beberapa istilah yang sering digunakan sehubungan dengan audit
energi antara lain:
1. Walk Through Audit
Walk Through Audit adalah kegiatan di dalam meidentifikasikan
jenis dan besarnya energi yang digunakan pada suatu bangunan
atau audit singkat yang dilaksanakan pada pemeriksaan bangunan.
2. Energy Audit Data Base (EADB)
Energi Audit Data Base adalah penyimpanan data-data dan
informasi-informasi
yang
relevan
dan
dibutuhkan
dalam
32
pelaksanaan audit energi pada suatu bangunan, yang tersimpan dan
terorganisir dengan baik pada suatu sistem komputerisasi. Dengan
adanya EADB, waktu yang dibutuhkan untuk mengakses data yang
dibutuhkan dapat menghemat karena tidak perlu lagi mencari data
tersebut di buku. Selain itu, data yang tersimpan secara digital ini
juga memiliki lifetime yang lebih lama jika dibandingkan dengan
menyimpan di buku.
Keberadaan EADB dengan informasi-informasi yang
lengkap sangat penting bagi auditor. Dengan EADB, dapat
membantu pengidentifikasian masalah, sehingga perencanaan audit
energi dapat dibuat dengan lebih matang. Data serta informasi yang
diperlukan dimasukkan ke dalam EADB antara lain:
 Utility
records,
Maintenace
records,
Equipment
performac ,Energy consumption
 Hasil diskusi dengan penggunaan bangunan dan operator
peralatan (teknisi). Dalam pembuatan data base, setiap data
yang masuk harus dianalisa dan dicek keakuratannya. Jika
terjadi perubahan di lapangan, data base ini harus segera di
up-date agar data yang ada benar-benar sesuai dengan
keinyataan yang ada di lapangan. Selain itu, data harus
disimpan secara sistematis dan rapi agar mudah diakses
serta dapat dibaca dan mudah dipahami.
33
Pada bangunan
yang performasi energinya kurang bagus
kesempatan untuk melakukan penghematan energi dapat ditemukan
dengan mudah. Akan tetapi pada bangunan yang memiliki performansi
energi yang baik atau bangunan dengan sistem energi yang kompleks,
proses audit energi membutuhkan usaha yang lebih.
Dengan adanya audit energi, ada 3 aspek yang akan tercapai yaitu:
 Saving in money
Dengan adanya manajemen energi, dapat mengurangi biaya
operasional.
Dengan
demikian
keuntungan
yang diperoleh
persahaan meningkat.
 Environmental protection
Dengan penggunaan energi yang efisien, maka akan memberikan
kontribusi bagi dunia dalam hal membantu pelestarian alam dengan
menjaga dan mmpertahankan cadangan minyak bumi dunia agar
tidak segera habis.
 Sustainable development
Dengan penggunaan energi yang efisien, maka memberikan
kontribusi
bagi
perusahaan
di
bidang
pertumbuhan
yang
berkelanjutan, baik di sisi finansial, maupun penggunaan peralatan
industri yang memiliki lifetime maksimum/optimum.
Secara matematika, ketiga
aspek diatas dapat digambarkan dalam
formulasi sebagai berikut (G.G.Ranjan,2003) :
34
Energi Audit = Saving in money + evironmental protection + sustainable
development
Adapun karkteristik yang harus ada pada audit adalah :
1. Fokus
Audit harus menjawab kebutuhan perencanaan energi yag memiliki tujuan
mengurangi
konsumsi
energi
pada bangunan,
tanpa mengurangi
peruntukannya.
2. Ruang lingkup
Untuk membuat audit menjadi lebih focus, ruang lingkup pelaksanaan
audit perlu ditentukan. Audit dapat dilakukan pada satu atau beberapa
aspek bangunan yang menggunakan energi dalam pengoperasiannya.
3. Level of detail
Level of detail dapat dihubungkan dengan fokus pada audit, karena tujuan
yang berbeda menuntut tingkat detail yang berbeda. Dalam proses audit,
walaupun sangat mungkin untuk mengerti aliran energi pada bangunan
secara detail, akan tetapi dibutuhkan biaya yang tidak sedikit. Biaya ini
bisa dikurangi dengan memperkecil ruang lingkup dan level of detail pada
audit, tanpa mengurangi perhatian terhadap hal-hal yang penting
pengaruhnya terhadap lingkungan.
Hal-hal yang perlu dilakukan dalam melaksanakan manajemen
energi adalah:
1. Menyewa ahli energi / konsultan professional untuk menganalisa
penggunaan energi pada bangunan
35
2. Mendelegasikan seseorang yang dapat dipercaya untuk mengawasi
jalanya manajemen energi
3. Mengumpulkan dan menganalisa data penggunaan energi.
4. Mengidentifikasi
penghematan
energi
yang
mungkin
terjadi
berdasarkan analisa data yang ada, sehingga dapat dibuat rekomendasi
berupa modifikasi-modifikasi yang dapat dilakukan.
5. Membuat prioritas modifikasi yang akan dilakukan, berdasarkan
besarnya biaya investasi yang harus dikeluarkan dan besar payback
period. Modifikasi dengan investasi terendah dan payback period
terkecil akan berada pada prioritas tertinggi.
6. Membuat perkiraan penghematan finansial pada periode waktu tertentu
berdasarkan rekomendasi yang akan dilakukan.
7. Memperkirakan lama waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan
modifikasi. Perkiraan harus dibuat serealistis mungkin, karena
perkiraan ini akan dijadikan target yang harus dicapai.
8. Mengontrol penggunaan energi dengan membuat kebijakan atau
peraturan tentang penggunaan energi dengan lebih efisien, misalnya
memadamkan lampu ruangan yang tidak digunakan.
9. Mendesak para karyawan untuk membantu usaha konservasi energi,
karena usaha ini tidak akan berhasil tanpa keterlibatan semua pihak
terutama pengguna gedung.
36
10. Membuat ceklist secara periodik untuk mengevaluasi keefektifan
program manjemen energi dan mengusulkan perbaikan. Hasil evaluasi
ini harus dimasukkan ke dalam EADB
11. Menjaga
keakuratan
data-data
yang
ada
pada
EADB
agar
memudahkan pemeriksaaan berikutnya.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan dalam melakukan suatu audit
energi (Lybery.MD, 1981), yaitu:
1. Building Rating for an Audit
Bangunan-bangunan yang akan diaudit dikelompokkan berdasarkan
kemungkinan penghematan energi yang dapat dilakukan. Pengelompokan
dilakukan dengan memilih bangunan dengan potensi konservasi energi
tertinggi sampai yang terendah. Bangunan dengan potensi konservasi
energi tertinggi adalah bangunan dengan performansi energi terendah.
Bangunan seperti inilah yang menjadi prioritas utama dalam melakukan
audit energi.
2. Disaggregation
Perhatian harus difokuskan pada komponen-komponen bangunan yang
memiliki aliran energi dan potensi penghematan energi yang besar atau
produktif untuk diaudit, misalnya sistem penerangan, sistem pendingin
atau pemanas, dll
3. ECO (Energy Conservation Oppotunities) Identification & Evaluation
ECOs yang ada harus diidentifikasi dan dievaluasi untuk mengetahui
apakah potensi-potensi tersebut memungkinkan untuk diaplikasikan atau
37
tidak. Dengan adanya identifikasi dan evaluasi ini, maka berdasarkan
implementasinya, ECO dapat dikatagorikan menjadi 3 bagian yaitu:
 ECO yang diimplementasikan dengan mengurangi atau bahkan
meniadakan maintenance yang kurang penting.
 ECO yang diimplemenasikan tanpa melakukan penggantian
peralatan, tetapi cukup dengan melakukan maintenance secara
periodik.
 ECO yang diimplementasikan dengan mengganti peralatan.
Dengan ketiga kategori diatas, maka ECO dapat dibagi menjadi beberapa
prioritas
berdasarkan
diimplementasikan
implementasi
dengan
tersebut
mengurangi
atau
diatas.
ECO
yang
bahkan
meniadakan
maintenance yang kurang penting merupakan prioritas utama yang harus
dilakukan
terlebih
dahulu.
Sedangkan
ECO
yang
membutuhkan
penggantian peraltan akan menjadi prioritas terakhir.
4. Post Implementation Performace Analysis
Dua hal yang harus dilakukan pada tahap ini adalah:
1. Identifikasi Masalah
Performansi peralatan yang kurang memuaskan dapat diidentifikasikan
melalui pemeriksaaan dan penganalisaan data-data yang terkumpul,
misalnya data pemakaian energi. Untuk mengurangi rugi-rugi energi,
pemeriksaan harus dilakukan secara berkala sehingga masalah dapat
terdeteksi lebih dini.
38
2. Retrofit evaluation
Mengevaluasi perubahan-perubahan yang telah dilakukan dengan
menganalisa
apakah
perubahan
tersebut
benar-benar
telah
menghasilkan penghematan penggunaan energi. Besar penghematan
yang diperoleh juga harus dikalkulasi. Keuntungan yang diperoleh dari
hasil audit dapat dihitung dengan membandingkan konsumsi energi
sebelum dan sesudah dilakukan audit energi. Perhitungan keuntungan
ini sangat penting karena akan menjadi parameter keberhasilan audit
yang dilakukan.
2.9
Mengenali kemungkinan Peluang Hemat Energi (PHE)
Hasil pengukuran selanjutnya ditindaklanjuti dengan perhitungan besarnya
Intensitas Konsumsi Energi (IKE) dan penyusunan profil penggunaan energi
bangunan. Besarnya IKE hasil perhitungan dibandingkan dengan IKE standar atau
target IKE. Apabila hasilnya ternyata sama atau kurang dari target IKE, maka
kegiatan audit energi rinci dapat dihentikan atau bila diteruskan dengan harapan
dapat diperoleh IKE yang lebih rendah lagi. Namun sebaliknya jika hasilnya lebih
besar dari target IKE berarti ada peluang untuk melanjutkan proses audit energi
rinci berikutnya guna memperoleh penghematan energi.
Apabila peluang hemat energi ini telah dikenali sebelumnya, maka perlu
ditindak lanjuti dengan analisis peluang hemat energi, yaitu dengan cara
membandingkan potensi perolehan hemat energi dengan biaya yang harus dibayar
untuk pelaksanaan rencana penghematan energi yang direkomendasikan.
Penghematan energi pada bangunan gedung tidak dapat diperoleh begitu saja
39
dengan cara mengurangi kenyamanan penghuni ataupun produktivitas di
lingkunan kerja. Perlu dilakukan usaha-usah seperti: Mengurangi sekecil mungkin
pemakaian energi (mengurangi kW dan jam operasi), Memperbaiki kinerja
peralatan, Penggunaan sumber energi yang murah.
2.10 Rekomendasi
Setelah melakukan survey dan menganalisa data penggunaan energi pada
suatu plant, auditor energi akan memberikan beberapa rekomendasi pada
perusahan. Rekomendasi merupakan usulan-usulan yang dapat dilakukan
perusahaan untuk memperbaiki efisiensi penggunaan energi di perusahaan
tersebut.
Secara umum, rekomendasi bisa berupa:
 Rekomendasi untuk mengganti sistem, karena sistem yang lama dianggap
sudah tidak efisien.
 Rekomendasi untuk perbaikan sistem, karena sistem dianggap kurang
efisien, sehingga dirasa perlu untuk melakukan sedikit perbaikan agar
efisiensinya dapat ditingkatkan.
 Rekomendasi untuk memasang peralatan baru.
Berdasarkan EMO (Energy Management Opportunity), rekomendasi dapat
dibagi menjadi 3 kategori berdasarkan capital cost-nya, yaitu:
 Kategori 1 : meliputi no cost investment dan tidak mengubah operasional
sistem. Biasanya hanya berupa rekomendasi untuk mematikan lampu atau
AC ketika tidak digunakan, mengubah setingan suhu AC agar tidak terlalu
rendah, dll
40
 Kategori 2 : Meliputi low cost investment dengan sedikit perubahan atau
perbaikan pada sistem. Misalnya memasang timer untuk mematikan
peralatan, mengganti lampu T8 fluorescent tube dengan T5 fluerescent
tubes.
 Kategori 3 : meliputi hight cost investment dengan beberapa perubahan
dan perbaikan pada sistem. Misalnya memasang perlatan power factor
correction, memasang variable speed drive.
BAB III
METODE PENELITIAN
3
BAB III METODE PENELITIAN
3.1
Objek Kajian, Lokasi dan Waktu
Objek kajian pada Tugas Akhir ini adalah bagaimana memanajemen
energi listrik di STO Kaliasem-Denpasar, yang dilaksanakan mulai bulan Januari
2010
3.2
Data
3.2.1
Bentuk Data
Bentuk data yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Data kuantitatif
Data kuantitatif yaitu data yang berbentuk angka-angka atau data yang dapat
dihitung, seperti data perhitungan tagihan listrik tiap bulannya dalam kWh
meter, analisa jumlah lampu, jumlah mesin, jumlah alat-alat bertenaga listrik,
untuk mengetahui jumlah penggunaan energi listrik yang diperlukan, sehingga
konsumsi listrik disetiap ruangan dapat diketahui.
2. Data kualitatif
Data kualitatif yaitu data-data yang tidak dapat diukur dan dihitung, berbentuk
uraian gambar, dalam hal ini berupa peta spesifikasi gedung perusahaan untuk
mengetahui nama ruangan dan pola aktivitas di setiap ruangan di gedung STO
Kaliasem- Denpasar.
41
42
3.2.2
Jenis Data
Dalam penelitian ini diperlukan beberapa data, adapun data yang
digunakan adalah:
1. Data primer
Data primer adalah data-data yang diperoleh langsung di lapangan, seperti
data inventaris perusahaan, data spesifikasi gedung perusahaan, data
spesifikasi alat listrik dan data tagihan listrik di Gedung STO KaliasemDenpasar
2. Data sekunder
Data sekunder, yaitu data-data yang diperoleh dari studi literature dengan
referensi buku, jurnal, diktat, internet yang relevan dengan teknologi
Manajemen Energi tersebut.
3.3
Metode Pengumpulan Data
Metode yang digunakan dalam rangka pengumpulan data-data yang
diperlukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Interview yaitu melakukan pengumpulan data melalui wawancara dengan
pihak-pihak yang terkait yaitu bagian (Infratel) Divisi O&M Civil and Mecanical
Electrical Netre 7 KTI Area Bali dan Sekretariat Keuangan Administrasi Niaga
PT. Telkom Bali dan PT. PLN Bali.
Studi Literatur yaitu dari sumber-sumber kepustakaan sebagai landasan
dalam menganalisa pembahasan yang akan dibuat dalam penyusunan Tugas Akhir.
43
3.4
Metode Analisis
Berdasarkan data yang telah diperoleh, maka pembahasan penelitian
Tugas Akhir ini dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Studi Literatur, bertujuan untuk memahami konsep dan teori yang berkaitan
dengan permasalahan yang diteliti, melalui sumber buku-buku dan jurnal yang
berkaitan dengan topik Tugas Akhir ini.
2. Melakukan pengumpulan data ke gedung STO Kaliasem, ini perlu dilakukan
untuk mengetahui keadaan atau kondisi yang sesungguhnya, Misalnya :
Kondisi gedung perkantoran atau Kondisi Luas STO dan jenis perangkat yang
terdapat di gedung STO
3. Kajian awal :
 Melakukan walkthrough audit pada gedung STO Kaliasem, untuk
mengetahui pemakaian energi, seperti jumlah peralatan listrik yang ada
di gedung STO Kaliasem
 Mengamati kondisi pemakaian energi yang ada di gedung STO
tersebut, khususnya didalam pengelolaan energi, baik itu pengelolaan
umum untuk AC dan peralatan listrik yang ada di gedung STO
Kaliasem
4. Melakukan pengumpulan dan penyusunan data historis pemakaian energi di
tahun sebelumnya.
5. Menghitung Besarnya Nilai Intensitas Konsumsi Energi (IKE) di tahun
sebelumnya, ini dilakukan untuk mengetahui profil penggunaan energi pada
44
bangunan, sehingga dapat diketahui peralatan penggunaan energi apa saja
yang pemakaian energinya cukup besar.
Kegiatan yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu
 Mengumpulkan
dan
meneliti
sejumlah
masukan
yang
dapat
memepengaruhi besarnya kebutuhan energi bangunan dari hasil
penelitian dan pengukuran.
 Pengukuran yang dilakukan adalah dengan mengukur pemakaian
energi tiap unit peralatan listrik yang bekerja di gedung STO Kaliasem.
6. Mengenali kemungkinan Peluang Hemat Energi (PHE)
Hasil pengukuran selanjutnya ditindaklanjuti dengan perhitungan
besarnya Intensitas Konsumsi Energi (IKE) dan penyusunan profil
penggunaan energi bangunan.
Pada penelitian ini besarnya IKE hasil perhitungan awal akan
dibandingkan dengan IKE standar atau target IKE. Setelah melalui
pengamatan secara langsung atau walkthrough audit pada gedung STO
Kaliasem, diperoleh indikasi pemakaian energi yang
berlebihan, salah
satunya yaitu pemakaian AC atau pendingin ruangan. Sehingga perlu
dilakukan Manajemen Energi. Dengan harapan dapat diperoleh IKE (standar
nilai konsumsi energi di gedung STO Kaliasem), sehingga ada peluang untuk
melanjutkan proses audit energi berikutnya guna memperoleh penghematan
energi.
45
7. Analisis Peluang Hemat Energi (PHE)
Apabila peluang hemat energi ini telah dikenali sebelumnya, maka
perlu ditindak lanjuti dengan analisis peluang hemat energi, yaitu dengan cara
membandingkan potensi perolehan hemat energi dengan biaya yang harus
dibayar
untuk
pelaksanaan
rencana
penghematan
energi
yang
direkomendasikan.
Penghematan energi pada bangunan gedung tidak dapat diperoleh
begitu saja dengan cara mengurangi kenyamanan penghuni ataupun
produktivitas di lingkunan kerja. Analisis peluang hemat energi dilakukan
dengan usaha-usaha:
a. Mengurangi sekecil mungkin pemakaian energi (mengurangi kW dan
jam operasi).
b. Memperbaiki kinerja peralatan
c. Penggunaan sumber energi yang murah.
8. Implementasi :
Melakukan penerapan yang sesuai dengan rekomendasi dari peluang
hemat energi tersebut, sehingga mampu mengurangi pemakaian energi listrik
di gedung STO Kaliasem.
Rekomendasi yang akan diajukan mencakup sebagi berikut:
1) Manajemen energi
Yaitu di dalamnya termasuk :
a) Program manajemen yang telah diperbaiki.
b) Implementasi audit energi yang lebih baik.
46
c) Cara meningkatkan kesadaran penghematan energi.
2) Pemanfaatan energi
Yaitu di dalamnya terdapat :
a) Langkah-langkah perbaikan efisiensi penggunaan energi tanpa
biaya, misalnya merubah prosedur pengoperasian.
b) Langkah-langkah dengan investasi kecil.
c) Langkah-langkah dengan investasi besar.
Alur analisis yang digunakan dalam Tugas Akhir ini dapat digambarkan
sebagai berikut:
3.5
Alur Analisis Tugas Akhir
Gambar 3.1 Alur Analisis Tugas Akhir
47
3.6
Alur Analisis Audit Energi
48
Gambar 3.2 Alur Analisis Audit Energi
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4
4.1
BAB IVHASIL DAN PEMBAHASAN
Profil STO Kaliasem Denpasar
Gedung STO Kaliasem berdiri di atas lahan seluas 4.400 M2 dan luas
bangunan 2.613 M2 . Gedung STO Kaliasem ini memiliki dua buah gedung yaitu
gedung sebelah Utara dan gedung sebelah Selatan, gedung sebelah Utara memiliki
dua buah lantai dan gedung sebelah selatan memiliki tiga buah lantai. Setiap
gedung memiliki lantai dan jumlah ruang yang berbeda. Lantai satu gedung utara
memiliki 13 ruangan dan selatan memiliki 9 ruangan. Lantai dua memiliki 10
ruangan untuk gedung utara dan 5 ruangan untuk gedung selatan. Lantai tiga
hanya ada di gedung selatan memiliki 5 ruangan namun untuk perangkat listrik di
lantai tiga sudah tidak digunakan sehingga ruangan di lantai tiga kosong atau tidak
berfungsi.
Gedung STO Kaliasem berlokasi di Jalan Kaliasem No.2 Denpasar, Bali.
Jumlah karyawan di STO Kaliasem sebanyak 37 orang, dengan jam kerja normal
yaitu 08.00 - 17.00 WITA. Untuk memberikan layanan telekomunikasi yang baik
seperti layanan telepon kabel, flexi dan internet, maka diperlukan ketersediaan
energi listrik yang mampu mencukupi semua keperluan. Dalam industri
telekomunikasi, energi listrik sangatlah penting. Hal ini dapat dilihat bahwa
peralatan seperti peralatan sever, rectifier, UPS dan inverter, lampu-lampu, AC,
televisi adalah beberapa alat yang dominan dalam operasional di gedung STO
Kaliasem. Untuk memenuhi kebutuhan di bidang kelistrikan. Gedung STO
49
50
Kalisem disuplay dengan daya yang berasal dari PLN dengan trafo berkapasitas
sebesar 865 KVA. Untuk mengantisipasi saat terjadinya gangguan sumber listrik
dari PLN, gedung STO ini dipasang sebuah genset dengan kapasitas sebesar
1.038 KVA. Penggunaan energi listrik di STO Kaliasem sebagian besar untuk
perangkat keras di ruang server dan peralatan pendingin di ruang server yang
beroperasi selama 24 jam. Lokasi dan denah gedung STO Kaliasem dapat dilihat
pada gambar berikut :
Gambar 4.1 Lokasi Gedung STO Kaliasem
Gambar 4.2 Gambar layout Gedung STO Kaliasem
51
STO Kaliasem Denpasar, memiliki lahan seluas 4.400 M2 dan luas total
bangunan yang dikondisikan (ber AC dan non AC pada gedung) seluas 4.271,6
M2. Komposisi luas bangunan STO Kaliasem Denpasar sebagai berikut:
Tabel 4.1 Komposisi Luas Bangunan STO Kaliasen
No.
Area
Luas Total
1.
Lantai satu 2.388,5 m²
2.
Lantai dua 1.629,9 m²
3.
Lantai tiga 381,6 m²
Total
4.400 m²
Luas bangunan yang dikondisikan
2.260,1 m²
1.629,9 m²
381,6 m²
4.271,6 m²
Tabel 4.2 Komposisi Luas Bangunan STO Kaliasen untuk Gedung Utara
No.
1.
2.
Area
Lantai Satu
Lantai Dua
Total
Luas Total (M2 )
1.620,9
1.248,3
2.869,2
Tabel 4.3 Komposisi Luas Bangunan STO Kaliasen untuk Gedung Selatan
No.
Area
1.
Lantai Satu
2.
Lantai Dua
3.
Lantai Tiga
Total
Luas Total (M2)
639,2
381,6
381,6
1.402,4
Gedung STO Kaliasem ini terbagi menjadi tiga lantai yaitu terdiri dari lantai
1, lantai 2 dan lantai 3. Dimana untuk setiap lantainya terdapat beberapa ruangan
yang terdiri dari :
1. Lantai Satu.
a.
Ruang Sentral Lokal 1 luas
: 285,48 m²
b.
Ruang PCM luas
: 26,92 m²
c.
Ruang MDF (Sentral Lokal 2) luas
: 328,35 m²
d.
Ruang Rectifier dan Inverter luas
: 108 m²
e.
Ruang Baterai luas
: 125,40 m²
f.
Ruang Travo luas
: 101,52 m²
g.
Ruang OMC luas
: 113,85 m²
h.
Ruang Gudang luas
: 103,68 m²
52
i.
Ruang Toilet luas
: 131,25 m²
j.
Ruang Sentral Trunk luas
: 125,55 m²
k.
Ruang MDP luas
: 251,38 m²
l.
Ruang Mushola luas
: 60,48 m²
m.
Ruang NOC luas
: 103,68 m²
n.
Ruang Asman CME luas
: 60,48 m²
o.
Ruang Staff CME luas
: 143,19 m²
p.
Ruang Perpustakaan luas
: 53,82 m²
q.
Ruang Arsip
: 20,25 m²
2. Lantai Dua
a.
Ruang Sentral soft swicth luas
: 123,84 m²
b.
Ruang Toilet luas
: 142,56 m²
c.
Ruang Kerja OM soft switvh luas
: 31,68 m²
d.
Ruang Serat Optik/ BMK luas
: 65,52 m²
e.
Ruang Flexi/SMSC luas
: 211,68 m²
f.
Ruang Transmisi luas
: 278,82 m²
g.
Ruang Staff transmisi luas
: 132,4 m²
h.
Ruang Satelit luas
: 37,44 m²
i.
Ruang Radio/OLO luas
: 51,48 m²
j.
Ruang NOC luas
: 44,55 m²
k.
Ruang Multimedia luas
: 158,67 m²
l.
Ruang Staff multimedia luas
: 76,5 m²
m.
Ruang Perangkat multimedia luas
: 212,85 m²
n.
Ruang Gudang luas
: 61,38 m²
3. Lantai Tiga
a.
Ruang toilet luas
: 237,7 m²
b.
3 Ruang staff luas
: 63,36 m²
c.
2 Ruang Gudang luas
: 80,64 m²
53
Gambar 4.3 Tampak depan Gedung Utara STO Kaliasem Denpasar
Gambar 4.4 Tampak depan Gedung Selatan STO Kaliasem Denpasar
Gedung STO Kaliasem memiliki lantai dan jumlah ruang yang berbeda.
Lantai satu gedung utara memiliki 13 ruangan dan selatan memiliki 9 ruangan.
Lantai dua memiliki 10 ruangan untuk gedung utara dan 5 ruangan untuk gedung
selatan. Lantai tiga hanya ada di gedung selatan memiliki 5 ruangan.
4.2
Karakteristik Pemakaian Energi Listrik di Gedung STO Kaliasem
Dari hasil investigasi di lapangan memperlihatkan konstruksi ruangan
kantor dan ruangan perangkat server memiliki anatomi yang berbeda baik dari
fungsi dan pemanfaatan ruangan itu sendiri. Pada ruangan perangkat server
mencakup semua ruang sentral, ruang satelit, ruang rectifier dan ruang
54
flexi/SMSC, dimana aktivitas harian yang dilakukan yaitu pemasangan, perbaikan
dan monitoring perangkat, namun aktivitas tersebut yang dominan dilakukan
hanya sebatas monitoring layanan. Pada ruangan sever perangkat beroprasi selama
24 jam. Ruang perkantoran mencakup semua ruang staf karyawan dan ruang
ASMAN (Asisten Manager). Pada ruang karyawan dan ruang ASMAN kegiatan
dilakukan selama 9 jam/hari dari hari senin sampai jumat. Jumlah pengguna
ruangan staf karyawan dan ruang ASMAN dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.4 Keadaan Pengguna Setiap Ruangan
No.
Ruangan
Staff (Orang)
Teknis Administrasi
1.
Sentral MDF Lokal 1 dan 2
4
2.
PCM
2
3.
ASMAN Multimedia
1
4.
Staf Multimedia
4
5.
ASMAN CME
1
6.
Staff CME
4
7.
NOC
3
8.
Soft Switch
3
9.
Flexi
4
10.
ASMAN Transmisi
1
11.
Staf Transmisi
4
12.
Satpam
2
Jumlah (Orang)
33
2
1
1
4
Dalam suatu perusahaan, struktur organisasi mempunyai peranan penting
sebagai salah satu unsur pengawasan dan pengendalian intern perusahan. Dalam
struktur organisasi dapat terlihat gambaran pemisah tugas, fungsi, wewenang dan
55
tanggung jawab antara karyawan perusahaan. Berikut struktur organisasi di
Gedung STO Kaliasem Denpasar:
Gambar 4.5 Struktur Organisasi PT. Telkom di Gedung STO Kaliasem
Dari informasi umum pada pengguna energi listrik diatas. Pemakaian
energi listrik lebih diperuntukkan penggunaannya sebagai pendingin ruangan
(AC), sistem pencahayaan, pemakaian perangkat server dan peralatan listrik yang
portebel (Laptop). Presentase pengguna listrik pada Gedung STO Kaliasem dapat
di lihat pada gambar berikut
Pengguna Gedung STOKaliasem
11%
Teknis
Administrasi
89%
Gambar 4.6 Keadaan Pengguna Gedung STO Kaliasem Denpasar
4.3
Sistem Kelistrikan STO Kaliasem Denpasar
Untuk memenuhi kebutuhan di bidang kelistrikan, Gedung STO Kalisem
Denpasar disuplay dengan daya yang berasal dari PLN dengan trafo berkapasitas
56
865 KVA. Dan untuk mengantisipasi saat terjadinya gangguan sumber listrik dari
PLN, dipasang sebuah genset dengan kapasitas sebesar 1.038 KVA.
SINGLE LINE DIAGRAM CATUAN AC
STO KALIASEM
ATS
MD P
1
MCCB
800 A
Ke MDP-1
TRAFOPLN
865 KVA
ACB
2000 A
RST
2
INTERLOCK
MCCB
400A
Ke MDP-2
ACB
2000 A
NH Fuse
630 A
GENSET
1038KVA
3
Ke MDP-3 SDP
TRANS
400 A
400 A
SUB MDP R
. RECT
RECT200 A 18
Gambar 4.7 Skematik sistem penyediaan daya listrik gedung STO Kaliasem
Dari gambar 4.7 dapat dilihat konfigurasi sumber listrik di Gedung STO
Kaliasem (lebih lengkap dapat dilihat pada lampiran 1) yaitu sumber daya listrik
dari PLN sebagai sumber daya listrik yang utama, sumber daya listrik dari diesel
57
generator sebagai sumber daya listrik cadangan dari sumber daya listrik akan
menuju panel ATS yang mendistribusikan energi ke MDP 1 sampai MDP 3. Pada
MDP 1 mendistribusikan energi ke lantai 1 dan lantai 2 Gedung Utara dan
Gedung Selatan yang terdiri dari AC Split, rectifier dan penerangan. dan pada
MDP 2 yang terdiri dari pemakaian SDP Penerangan sentral, SDP AC sentral,
SDP AC Hiross, SDP AC OMC, SDP AC BMK, SDP AC rectifier, SDP Fan
Battere dan SDP ruang PCM. Pada panel MDP 3 yang terdiri dari SUB MDP
Ruang rectifier, SUB MDP Transmisi, SDP Rectifier 200A dan penggunaan AC
Split.
Gedung STO Kaliasem ini memiliki sebuah kWh meter untuk mengetahui
besarnya penggunaan energi listrik. Daya terpasang pada beban yang digunakan
pada gedung STO Kaliasem ini dapat dibagi menjadi dua kategori yaitu kategori
Esensial merupakan perangkat yang tidak boleh padam seperti Rectifier, UPS dan
inverter. Sedangkan kategori non esensial adalah merupakan perangkat
pendukung di gedung STO Kaliasem seperti AC, lampu, komputer, dispanser, TV,
laptop dan peralatan kerja lainya yang menggunakan listrik. Waktu aktifitas server
setiap harinya adalah selama 24 jam untuk ruangan-ruangan khusus seperti ruang
komputer atau server, rectifier, inverter, UPS namun pada ruangan seperti ruang
ruang kerja karyawan penggunaan peralatan listrik umumnya dimulai pada pukul
08.00 sampai dengan 17.00. Berdasarkan beban listrik pada gedung STO
Kaliasem dapat dibagi menjadi 2 beban utama yaitu berupa:
1. Beban untuk kategori esensial seperti server, rectifier, inverter dan UPS
2. Beban untuk kategori non esensial seperti AC, penerangan lampu,
58
dispanser, TV, laptop, computer dan peralatan kerja lainya yang
menggunakan listrik.
Berdasarkan penggolongan atau pengelompokan beban, kapasitas daya
terpasang pada Gedung STO Kaliasem Denpasar dapat dikelompokkan seperti
pada tabel 4.5:
Tabel 4.5 Presentase Daya Terpasang pada Beban di Gedung STO Kaliasem Denpasar
No.
Kategori
1.
Non
Esensial
Jenis
Beban
AC
Nama
Bangunan
Daya
(Watt)
Gedung Utara
Gedung Selatan
Lampu
Gedung Utara
Gedung Selatan
Peralatan Gedung Utara
Lain
Gedung Selatan
Esensial
Gedung Utara
82,43
29.840
13,35
Total
214.102 56,89
3.758
1,68
938
0,42
Total
4.696 1,25
1.637
0,73
3.101
1,39
Total
4.738 1,26
223.536 59,40
148.708
Gedung Selatan
Persen
(%)
184.262
Total Non Esensial
2.
Total
97,33
4.080
Total Esensial
Total Non Esensial + Esensial
2,67
152.788 40,60
376.324 100
Berdasarkan tabel 4.5 di atas dapat dihitung persentase untuk masingmasing kelompok beban listrik yaitu sebesar :
1. Beban kategori esensial sebesar 152.788 watt (40,60 %).
59
2. Beban kategori non esensial sebesar 223.536 watt (59,40 %), yang
dijabarkan berdasarkan jenis beban AC sebesar 214.102 watt (56,89 %),
beban lampu sebesar 4.696 watt (1,25 %) dan beban peralatan lain sebesar
4.738 (1,26 %).
Jika digambarkan dalam bentuk pie chart maka akan diperoleh hasil
seperti pada gambar 4.8:
Komposisi Beban Listrik Gedung STO Kaliasem Denpasar
40,60%
Kategori Esensial
Kategori Non Esensial
59,40%
Gambar 4.8 Komposisi beban listrik Gedung STO Kaliasem
Berdasarkan gambar 4.8 terlihat beban listrik terbesar ada pada beban
kategori non esensial yaitu sebesar 59,40% dan 40,60% untuk beban kategori
esensial. Tingginya beban non esensial dikarenakan pemakaian AC pada gedung
STO kaliasem lebih diutamakan untuk pendingan perangkat server atau peralatan
lain seperti komputer, rectifier, inverter, UPS, sehingga perangkat tersebut
bekerja selama 24 jam.
4.4
Audit Energi Listrik di Gedung STO Kaliasem Denpasar
Untuk standar audit pada bangunan gedung, indonesia telah memiliki
standar yakni SNI 03-6196-2000 Prosedur Audit Energi pada Bangunan Gedung.
Standar tersebut memuat prosedur audit energi pada bangunan gedung
60
diperuntukkan bagi semua pihak yang terlibat dalam perencanaan, pelaksanaan,
pengawasan dan pengelolaan gedung. Pada pelaksanaan di lapangan banyak
bangunan yang tidak siap untuk diaudit karena tidak tersedianya kelengkapankelengkapan data dasar yang dibutuhkan untuk pelaksanaan teknik audit energi
awal dan hal-hal yang terkait dengan manajemen energi pada bangunan tersebut.
SNI 03- 6196-2000 membagi alur proses audit energi menjadi tiga tahap
yakni audit energi awal, audit energi rinci, implementasi dan moitoring. Pada
tahap awal audit energi, kegiatannya meliputi pengumpulan sejumlah data energi
dan rekening energi.
4.4.1
Data History Pemakaian Energi di Gedung STO Kaliasem Denpasar
Penggunaan energi di Gedung STO Kaliasem salah satunya yaitu
penggunaan energi listrik. Pembayaran rekening listrik dilakukan setiap bulan
berdasarkan besarnya jumlah pemakaian energi (kWh) yang tercatat pada kWh
meter yang terpasang. Selisih pemakaian antara bulan lalu dengan bulan
berikutnya adalah jumlah kWh yang harus dibayar oleh konsumen.
Dari data history pemakaian energi listrik pada gedung STO Kaliasem
Denpasar, maka dapat dihitung jumlah kWh total yang dikonsumsi selama tahun
2009 dan juga jumlah total biaya yang harus dibayar untuk pengadaan energi
listrik pada periode tersebut. Total kWh adalah 3.222.000 kWh dan ini senilai
dengan Rp. 2.093.168.000,00. Berikut perhitungan tarif rata-rata yang dikenakan
PLN dengan golongan tarif B3 (865 KVA)
Biaya pemakaian listrik :
1. Tarif WBP (Waktu Beban Puncak) per kWh dari PLN
61
Harga Rp. 954,00/kWh jam berlaku pukul 18.00 s/d 22.00 (4 Jam)
2. Tarif LWBP (Luar Waktu Beban Puncak) per kWh dari PLN
Harga Rp. 475,00/kWh jam berlaku pukul 22.00 s/d 18.00 (20 Jam)
Untuk mengetahui nilai tariff rata-rata listrik yang berlaku di gedung STO
Kaliasem Denpasar adalah sebagai berikut :
WBP = Rp. 954,00/kWh x 4 jam
= Rp. 3.816,00
jam/kWh
LWBP = Rp. 475,00/kWh x 20 jam = Rp. 9.500,00
jam/kWh
Total = Rp. 13.316,00 jam/kWh
Sehingga tariff rata-rat per kWh per jam didapatkan sebesar :
Rp. 13.316,00 jam/kWh

24 jam
Rp 554.9 kWh
Berikut ini adalah data konsumsi energi di gedung STO Kaliasem
Denpasar selama satu tahun : ( periode bulan Januari – Desember 2009).
Tabel 4.6 Data Konsumsi Energi Listrik Tahun 2009
Bulan
LWBP (kWh)
Jan-09
218.000
Feb-09
220.000
Mar-09
200.000
Apr-09
222.000
Mei-09
232.000
Jun-09
246.000
Jul-09
227.000
Agust-09
230.000
Sep-09
229.000
Okt-09
215.000
Nop-09
225.000
Des-09
222.000
Maksimum
246.000
Minimum
200.000
Total
2.686.000
Rata-rata
223.833
Sumber: (PLN, 2009)
WBP (kWh) Total kWh Energy Cost
44.000
262.000
171.029.500
42.000
262.000
170.080.300
42.000
242.000
160.588.300
44.000
266.000
172.927.900
47.000
279.000
180.521.500
49.000
295.000
189.064.300
45.000
272.000
176.250.100
46.000
276.000
178.621.500
46.000
275.000
178.148.500
42.000
257.000
167.707.300
45.000
270.000
175.300.900
44.000
266.000
172.927.900
49.000
295.000
189.064.300
42.000
242.000
160.588.300
536.000
3.222.000 2.093.168.000
44.667
268.500
174.430.667
62
Data Rekening Konsumsi Energi ListrikGedung STOKaliasemDenpasar
350.000
300.000
250.000
k Wh
200.000
150.000
100.000
50.000
0
Jan-09
Feb-09
Mar-09
Apr-09
Mei-09
Jun-09
Jul-09 Agust-09 Sep-09
Okt-09
Nop-09
Des-09
Bulan
LWBP(kWh) WBP(kWh)
Total kWh
Gambar 4.9 Grafik Pemakaian Energi Listrik Gedung STO Kaliasem Denpasar
4.4.2
Menghitung Intensitas Konsumsi Energi Listrik (IKE)
Dari data konsumsi energi dan data luasan bangunan serta tingkat konsumsi
energi listrik di gedung STO Kaliasem, maka dapat dihitung besarnya Intensitas
Konsumsi Energi (IKE) Gedung STO Kaliasem Denpasar selama satu tahun
dengan periode bulan Januari s/d Desember 2009. Adapun perhitungannya
sebagai berikut :
kWh total
IKE 
Luas Bangunan
3 .222 .000

4 .271 , 6
 754 ,28 kWh / m 2
63
754 ,28 kWh / m 2

3
 251 , 43 kWh / m 2
Dari perhitungan di atas, mengingat belum adanya standarisasi yang baku
dari SNI untuk gedung sentral dengan perangkat server yang bekerja selama 24
jam per harinya, maka penentuan target IKE per satuan luas yang dikondisikan
diambil nilai target IKE pada perkantoran (komersil) sebesar 240 kWh/m2 tahun
dengan pemakaian 2000 jam per tahun atau setara dengan 8 jam per hari. Maka
nilai IKE Gedung STO Kaliasem Denpasar diperoleh sebesar 251,43 kWh/m2
tahun.
Dari data tersebut dapat dikatakan nilai IKE yang diperoleh lebih besar
dari pada target IKE listrik, sehingga perlu dilakukan audit rinci lebih lanjut. Hal
ini bertujuan untuk mendapatkan besar IKE akhir yang mendekati atau kurang
dari target IKE atau lebih rendah dari mula-mula.
Berdasarkan data hasil audit energi awal di atas, maka untuk proses audit
energi serta melakukan saving cost yang cukup, maka untuk proses audit energi
rinci akan lebih dititik beratkan pada energi listrik pada kategori non esensial
yaitu pada pengkondisian udara atau AC.
4.5
Audit Energi Rinci
Dari hasil perhitungan data historis gedung STO Kaliasem dapat dilihat
bahwa penyumbang terbesar dalam jumlah energi yang dikonsumsi dan berimbas
pada besarnya biaya pengeluaran adalah energi listrik pada kategori non esensial
yaitu sebesar 59,40 %.
64
Disamping itu, dari analisis audit awal, juga diperoleh harga IKE (Intensitas
Konsumsi Energi) melebihi target IKE untuk perkantoran di Indonesia yaitu
sebesar 251,43 kWh/m2 per tahun dari 240 kWh/m2 per tahun. Oleh karena itu
pada bab ini akan diukur berapa besar konsumsi energi listrik sesungguhnya dan
diharapkan dari pengukuran ini dapat mendekati proses yang sebenarnya
(mendekati sistem) serta menghitung besar IKE listrik dari hasil pengukuran yang
dilakukan pada gedung STO Kaliasem Denpasar.
Untuk pengecekan serta perhitungan nilai konsumsi listrik (energi listrik)
yang sebenarnya, digunakan data arus yang diukur pada masing-masing sub panel.
Untuk mengukur arus, digunakan peralatan seperti ampere meter baik itu digital
maupun analog dan pencatat waktu yaitu jam.
Jika hasil dari perhitungan IKE listrik berdasarkan data arus dan kWh
meter terukur pada gedung STO Kaliasem Denpasar nantinya masih lebih besar
dari target IKE listrik, maka akan dilakukan usaha-usaha untuk penghematan
energi yang diharapkan dan menurunkan harga IKE listrik pada gedung STO
Kalisem Denpasar. Usaha-usaha penghematan yang akan dilakukan nantinya akan
lebih difokuskan pada peralatan yang menggunakan energi listrik yang sangat
besar. Hal ini dimaksudkan agar usaha-usaha yang dilakukan untuk penghematan
energi akan sangat berarti (signifikan) dan tentunya akan berimplikasi pada
penghematan anggaran pengeluaran.
4.5.1
Data dan Perhitungan
Perhitungan
energi
listrik
dilakukan
dengan
menggunakan
data
berdasarkan pada nilai terukur yang terbaca pada kWh meter yang terletak pada
65
ruang kontrol panel dan melakukan pengukuran langsung di gedung STO
Kaliasem Denpasar.
Peralatan-peralatan yang disediakan adalah jam tangan dan digital clamp
meter yang
berfungsi untuk mengukur arus, sedangkan kWh cukup dengan
melakukan pengamatan langsung. Pengukuran ini dilakukan pada tanggal 13 Juli
2010. Berikut ini adalah data hasil pengukuran energi listrik pada gedung STO
Kaliasem Denpasar.
Gambar 4.10 kWh Meter Gedung STO Kaliasem
Tabel 4.7 Tabel Pengukuran kWh meter di gedung STO Kaliasem Denpasar
13/07/2010
14/07/2010
Nilai terbaca
kWh (x1000)
9430,93
9440,23
Pemakaian
(x1000)
9,30
8,15
15/07/2010
9448,38
8,79
16/07/2010
9457,17
8,79
17/07/2010
9465,96
8,62
18/07/2010
9474,58
8,41
19/07/2010
9482,99
8,58
20/07/2010
9491,57
8,49
21/07/2010
9500,06
8,43
22/07/2010
9508,49
8,69
23/07/2010
9517,18
8,38
24/07/2010
9525,56
-
Rata-rata per
Hari :
8.602,72 kWh
Tanggal
66
Dari data kWh meter diatas apabila diambil nilai rata-rata perhari, dengan
nilai pengali faktor meter sebesar 1000, maka akan didapat nilai sebesar 8.602,72
kWh/hari. Nilai kWh ini berada pada bulan Juli 2010, pemilihan bulan juli
dikarenakan bertepatan pada musim kemarau dan bulan tersebut merupakan salah
satu pemakaian energi listrik yang besar di tahun 2009. Sehingga rata-rata untuk
satu bulan ini kWhnya adalah:
8 .602 ,72 kWh x 31 hari
266 .684 ,3 kWh / bulan
Untuk rata-rata satu tahun kWhnya adalah
266 .684 ,3 kWh x 12 Bulan
3 .200 .211 , 6 kWh / tahun
Biaya rata-rata untuk pemakaian listrik selama periode satu tahun adalah sebesar
Rata rata h arg a per kWh X Jumlah
kWh
Rp 554.9 kWH X 3.200.211, 6 kWh
Rp 1. 775 .797 .417 ,00
Dari jumlah pemakaian dan biaya energi selama periode satu tahun terlihat
pada tabel berikut :
Tabel 4.8 Kondisi sebelum PHE pada pemakaian energi listrik di Gedung STO Kaliasem Denpasar
Kondisi
Energi kWh/Tahun
Total Rp/Tahun
Sebelum PHE
3.200.211,6
1.775.797.417,-
Sehingga nilai IKE bisa dihitung yaitu sebesar :
kWh total
IKE 
Luas Bangunan
67
3 .200 .211 , 6

4 .271 , 6
 749 ,18 kWh / m 2Tahun
749 ,18 kWh / m 2

3
 249 ,72 kWh / m 2
Tabel 4.9 Besar intensitas konsumsi energi hasil pengukuran di gedung STO Kaliasem Denpasar
Jenis Area
Luas lantai (m2 )
kWh/m2 tahun
Area dikondisikan
4.271,6
249,72
Untuk data yang diperoleh dari PT. PLN yaitu hasil rekaman Automatic
Meter Reading (AMR) selama satu hari, dimana rekaman AMR tersebut berisi
laporan pemakaian energi yaitu load profil energi, load profil arus. Berikut
ditampilkan hasil rekaman AMR pada tanggal 01 Agustus 2010 (selama satu hari).
Untuk hasil rekaman pengukuran AMR yang lain dapat dilihat pada lampiran 3.
Tabel 4.10 Tabel hasil rekaman Automatic Meter Reading (AMR)
selama satu hari di Gedung STO Kaliasem Denpasar
Jam
00:00
00:30
01:00
01:30
02:00
02:30
03:00
03:30
04:00
04:30
05:00
05:30
06:00
06:30
07:00
IR (A)
363
363
362
358
362
363
362
363
362
362
362
361
360
355
361
IS (A)
401
400
398
395
399
395
394
395
395
395
395
393
397
392
394
IT (A)
385
381
380
377
381
378
375
377
376
377
376
374
378
373
376
68
Lanjutan tabel 4.10
Jam
07:30
08:00
08:30
09:00
09:30
10:00
10:30
11:00
11:30
12:00
12:30
13:00
13:30
14:00
14:30
15:00
15:30
16:00
16:30
17:00
17:30
18:00
18:30
19:00
19:30
20:00
20:30
21:00
21:30
22:00
22:30
23:00
23:30
00:00
IR (A)
362
362
372
380
384
384
384
385
388
385
387
389
386
388
387
389
387
385
382
384
381
380
377
371
372
373
370
372
371
372
369
371
365
361
IS (A)
395
394
403
402
405
407
410
411
411
407
405
408
406
409
412
413
409
405
403
404
400
404
405
404
405
408
403
404
401
405
402
404
401
401
IT (A)
376
377
385
386
390
391
396
396
395
395
396
399
394
399
399
403
399
393
390
393
391
393
394
393
392
397
392
393
390
391
386
388
384
382
69
Arus (I)
420
410
400
390
380
370
360
350
340
330
320
Jam
00:00
00:30
01:00
01:30
02:00
02:30
03:00
03:30
04:00
04:30
05:00
05:30
06:00
06:30
07:00
07:30
08:00
08:30
09:00
09:30
10:00
10:30
11:00
11:30
12:00
12:30
13:00
13:30
14:00
14:30
15:00
15:30
16:00
16:30
17:00
17:30
18:00
18:30
19:00
19:30
20:00
20:30
21:00
21:30
22:00
22:30
23:00
23:30
00:00
IR (A)
IS (A)
IT (A)
Gambar 4.11 Grafik Pemakaian Load Profil Arus Listrik Gedung STO Kaliasem Denpasar
70
Dari hasil data AMR di atas memperlihatkan bahwa beban pemakaian
energi terbesar mencapai puncaknya yaitu pada pukul 13.00 sampai 14.00 WITA.
Selain data pemakaian energi diatas, pemakaian perangkat yang ada di gedung
STO Kaliasem sendiri yaitu sebagai sentral telepon atau berupa perangkat server
yang di dalamnya terdapat aktifitas layanan seperti layanan data. Berikut hasil
salah satu trafik layanan data yang ada di gedung STO Kaliasem selama satu hari,
untuk trafik layanan yang lain dapat dilihat pada lampiran 5 :
Gambar 4.12 Trafik Rata-Rata Aktifitas Pemakaian Server
Melihat hasil trafik data diatas menunjukkan aktifitas pemakaian server
tertinggi pada siang hari sampe sore hari. Dari data diatas baik trafik load profil
penggunaan energi listrik terhadap trafik layanan server, menunjukkan aktifitas
yang saling berpengaruh terhadapat kinerja perangkat, ini dikarenakan untuk
mencapai suhu ruangan perangkat yang diisyaratkan.
Gambaran yang bisa diperoleh adalah IKE listrik per satuan luas yang
dikondisikan hasil audit rinci (hasil pengukuran) diperoleh nilai sebesar 249,72
kWh/m2, dari nilai tersebut masih jauh dari standar yang ada yaitu untuk
perkantoran (komersil) adalah 240 kWh/m2 tahun. Sehingga sangatlah perlu
71
dilakukan usaha-usaha penghematan yang diharapkan akan menurunkan harga
IKE listrik yang terdapat pada gedung STO Kaliasem Denpasar.
Melihat komposisi beban memperlihatkan AC memakai listrik yang besar
dan bekerja selama 24 jam seperti pada ruang sentral lokal 1, ruang MDF, ruang
rectifier, ruang OMC, ruang sentral trunk, ruang MDP, ruang sentral soft switch,
ruang BMK, ruang SMSC, ruang transmisi, ruang satelit, ruang radio dan ruang
multimedia untuk memperoleh temperatur udara yang konstan sesuai dengan
Suhu ruangan perangkat yang diisyaratkan yaitu sebesar 18oC–22oC.
4.5.2
Sistem Pengkondisian Udara gedung STO Kaliasem
Untuk memperoleh kenyamanan dalam ruangan, maka diperlukan sistem
pengkondisian udara yaitu yang berupa AC. AC ini akan mengatur suhu pada
suatu ruangan sesuai dengan temperatur yang ditentukan pengguna. Untuk
masing-masing ruangan digunakan jenis dan kemampuan pendinginan AC yang
berbeda sesuai dengan kebutuhannya agar tidak terjadi pemborosan. Besarnya
tingkat konsumsi energi listrik untuk sistem pengkondisisan udara dipengaruhi
oleh total daya AC, jumlah dan lama waktu beroperasi dari AC untuk tiap ruangan.
Gambar 4.13 AC pada ruangan perangkat Multimedia
72
Jenis AC yang digunakan untuk masing-masing ruangan di gedung STO
Kaliasem ini secara lengkap dapat dilihat pada tabel 4.11 :
Tabel 4.11 Spesifikasi AC yang digunakan di Gedung STO Kaliasem
Data pabrik
No
1
2
3
Nama
Jum
Ruangan
lah
Model
PK
Waktu
CC
Daya
nyala
BTU/h
(kW)
(Jam)
Merk
Sentral
1
ACN 105
6
53.400
4,476
24
Hiross
Lokal 1
1
ACN 105
15
140.000
11,190
24
Hiross
2
ACN 105
12
220.000
17,904
24
Hiross
2
CS-PC18HKF
2
36.000
2,984
24
Panasonic
Ruang MDF
2
ACN 108
10
192.000
14,920
24
Hiross
(sentral
2
ACN 110
10
192.000
14,920
24
Hiross
Lokal 2)
1
FVG.05.10AV2
10
96.000
7,460
24
Daikin
Ruang
2
CS-84DV6
7
128.000
10,444
24
National
1
LS-K2465DL
2,5
22.500
1,865
24
LG
2
R60CV1
2,5
22.500
3,730
24
Daikin
1
R60EV1
2
18.000
1,492
24
Daikin
rectifier
dan inverter
4
Ruang OMC
5
Sentral Trunk
3
HCA 24
10
288.000
22,380
24
Hiross
6
Ruang MDP
1
CU-PC18DKH
2
18.000
1,492
24
Panasonic
7
Ruang NOC
1
KF60W/A10
2
18.000
1,492
24
Gree
1
KF60W/A10
2,5
22.500
1,865
24
Gree
1
R60GV19
2
18.000
1,492
24
Daikin
1
R60GV1
2,5
22.500
1,865
24
Daikin
1
RE25JV1
1 ,5
12.000
1,119
12
Daikin
1
AS0972
1 ,5
12.000
1,119
24
Artic
1
R25CV1
1,5
12.000
1,119
7
Daikin
8
Ruang
ASMAN
CME
9
Ruang
STAFF CME
10
Arsip Cada
73
Lanjutan tabel. 4.11
Data pabrik
No
Nama
Jum
Ruangan
lah
Waktu
CC
Daya
nyala
BTU/h
(kW)
(Jam)
6
53.400
4,476
24
Panasonic
S130A/HCE17
6
53.400
4,476
24
Hiross
4
R50BV1
2,5
90.000
7,460
24
Daikin
2
CS-PC18HKF
2
36.000
2,984
24
Panasonic
2
CS-PC18HKF
2
36.000
2,984
24
Panasonic
2
FT35BAVM
1,5
24.000
2,238
24
Daikin
Ruang Flexi /
1
SAPC245G5
2,5
22.500
1,865
24
Sanyo
SMSC
4
R60GV1
2,5
90.000
7,460
24
Daikin
Ruang
1
CU8RV6
7
64.000
5,222
24
National
Transmisi
1
CU1800KH
2,5
22.500
1,865
24
National
3
R45CV1
2,5
67.500
5,595
24
Daikin
Staf
1
R45CV1
2
18.000
1,492
12
Daikin
17
Ruang Satelit
2
LS-K2465DL
2,5
45.000
3,730
24
LG
18
Ruang Radio
6
R60GV19
2,5
135.000
11,190
24
Daikin
/ OLO
1
R45ECV1
2
18.000
1,492
24
Daikin
2
AC-S19CGA
2
36.000
2,984
24
Akira
11
Ruang
Sentral
Soft
Switch
12
Ruang Kerja
OM
Model
PK
1
CU-C45FFH
1
Merk
Soft
Switch
13
Ruang
Serat
Optik / BMK
14
15
16
Ruang
Transmisi
19
NOC Latai 2
1
R45ECV1
2
18.000
1,492
24
Daikin
20
Ruang
1
S130A/HCE17
6
53.400
4,476
24
Hiross
Multimedia
1
R60GV19
2,5
22.500
1,865
24
Daikin
2
RE35JV1
2
36.000
2,984
24
Daikin
1
CU-C12CKH
2
18.000
1,492
12
Panasonic
Ruang
3
RE25JV1
1,5
36.000
3,357
24
Daikin
Perangkat
1
CU-C12CKH
2,5
22.500
1,865
24
Panasonic
Multimedia
2
R35ECV1
2,5
22.500
3,730
24
Daikin
21
Ruang STAF
Multimedia
22
74
Dari keseluruhan sistem pengkondisian udara di Gedung STO Kaliasem
Denpasar mempergunakan refrigerant sintetic jenis HCFC R-22 dalam
pengoperasiannya. Jumlah AC dapat dilihat pada tabel 4.11, dan total konsumsi
energinya dapat dihitung seperti pada Ruang STAFF CME, dengan daya 1.119
watt dan jam nyala 24 jam dengan cos φsebesar 0,85 maka konsumsi energi
listriknya dapat dihitung dengan cara:
Konsumsi listrik AC /hari
= ( p x cos φx t)
= ( 1.119 x 0,85 x 24 )
= 22.827,6 Wh / hari
= 22,83 kWh / hari
Untuk hasil selengkapnya dapat dilihat pada tabel 4.12.
Tabel 4.12 Total konsumsi energi listrik sistem pengkondisian udara (AC) perhari
Daya
AC
(kW)
1,492
Jam
nyala
Konsumsi
/hari (kWh)
Gedung Utara
Kemampuan
pendinginan AC
(btu/h)
18.000 (2 PK)
24
Lantai satu
22.500 (2,5 PK)
1,865
53.400 (6 PK)
Nama ruangan
30,42
Jumlah
AC
(buah)
4
Total
konsumsi
(kWh)
121,75
24
38,05
3
114,14
4,476
24
91,31
1
91,31
64.000 (7 PK)
5,222
24
106,53
2
213,06
96.000 (10 PK)
7,460
24
152,18
8
1.217,47
110.000 (12 PK)
8,952
24
182,62
2
365,24
140.000 (15PK)
11,190
24
228,28
1
228,28
21
8
2.351,24
273,49
Gedung Utara
18.000 (2 PK)
1,492
24
Total
30,44
Lantai Satu
18.000 (2 PK)
1,492
12
15,22
1
15,22
22.500 (2,5 PK)
1,865
24
38,05
21
798,97
53.400 (6 PK)
4,476
24
91,31
2
182,62
64.000 (7 PK)
5,222
24
106,53
1
106,53
12.000 (1,5 PK)
1,119
24
22,83
2
45,66
35
1.392,48
Total
75
Lanjutan tabel. 4.12
Nama ruangan
Daya
AC
(kW)
1,119
Jam
nyala
Konsumsi
/hari (kWh)
Gedung
Kemampuan
pendinginan AC
(btu/h)
12.000 (1,5 PK)
22,83
Jumlah
AC
(buah)
1
Total
konsumsi
(kWh)
22,83
24
Selatan Lantai
12.000 (1,5 PK)
1,119
7
6,63
1
6,66
satu
12.000 (1,5 PK)
1,119
12
11,41
1
11,41
18.000 (2 PK)
1,492
24
30,44
2
60,87
22.500 (2,5 PK)
1,865
24
Gedung
18.000 (2 PK)
1,492
24
38,05
Total
30,44
2
7
2
76,09
177,87
60,87
Selatan Lantai
18.000 (2 PK)
1,492
12
15,22
1
15,22
dua
22.500 (2,5 PK)
1,865
24
38,05
4
152,18
53.400 (6 PK)
4,476
24
91,31
1
91,31
12.000 (1,5 PK)
1,119
24
22,83
3
11
74
68,48
388,07
4.309,66
Total
Berdasarkan perhitungan tabel 4.12 terlihat penggunaan energi listrik yang
besar terdapat pada gedung utara lantai satu dengan pengoperasian AC sejumlah
21 buah dengan konsumsi energi sebesar 2.351,24 kWh. Dapat dilihat besarnya
penggunaan energi listrik pada sistem pengkondisian udara selama satu hari yaitu
sebesar 4.309,66 kWh perhari.
4.5.3
Sistem Pencahayaan pada Gedung STO Kaliasem Denpasar
Pola konsumsi energi listrik sistem pencahayaan dipengaruhi oleh jadwal
kegiatan di masing-masing ruangan. Besarnya tingkat konsumsi energi listrik
untuk sistem pencahayaan dipengaruhi oleh total daya lampu yang beroperasi dan
waktu nyala dari tiap lampu.
76
Gambar 4.14 Lampu LHE Gedung STO
Kaliasem Denpasar
Gambar 4.15 Lampu TL Gedung STO
Kaliasem Denpasar
Jenis lampu adalah TL-D fluorescent tube dengan merk Philips dengan
daya 40 Watt dan LHE merk Philips Essential dengan daya 18 Watt. Untuk lebih
lengkapnya dapat dilihat pada tabel 4.13:
Tabel 4.13 Lampu yang digunakan di Gedung STO Kaliasem.
No
Nama ruangan
Jenis lampu
Jumlah
Jam
Masing-masing daya
(buah)
nyala
(watt)
1
Ruang Sentral Lokal 1
TL (Philips)
13
12
40
2
Ruang PCM
TL (Philips)
1
24
40
3
Ruang MDF (Sentral Lokal 2)
TL (Philips)
13
12
40
4
TL (Philips)
2
24
40
5
Ruang rectifier
dan inverter
Ruang Baterai
TL (Philips)
2
24
40
6
Ruang Travo
TL (Philips)
2
6
40
7
Ruang OMC
TL (Philips)
2
24
40
8
Ruang Gudang
TL (Philips)
1
12
40
9
Pos Satpam
LHE (Essential)
3
14
18
10
Toilet lantai 1 Gd Utara
LHE (Essential)
6
24
18
11
Sentral Trunk
TL (Philips)
2
24
40
12
Ruang MDP
TL (Philips)
4
1,5
40
13
Ruang Mushola
TL (Philips)
1
8
40
14
Koridor lantai 1
LHE (Essential)
6
7
18
15
Toilet lantai 1 Gd Selatan
LHE (Essential)
4
24
18
16
Ruang NOC
LHE (Essential)
4
24
18
77
Lanjutan tabel 4.13
No
Nama ruangan
Jenis lampu
Jumlah
Jam
Masing-masing daya
(buah)
nyala
(watt)
17
Ruang ASMAN CME
LHE (Essential)
2
24
18
18
Ruang STAFF CME
LHE (Essential)
8
15
18
19
Ruang Baterai
TL (Philips)
2
24
40
20
Ruang Perpustakaan
LHE (Essential)
1
12
18
21
Ruang Gudang
LHE (Essential)
2
12
18
22
Arsip Cada
LHE (Essential)
1
7
18
23
Ruang Sentral Soft Switch
TL (Philips)
4
24
40
24
Toilet Lantai 2 Gd Utara
LHE (Essential)
2
24
18
25
Ruang Kerja OM Soft Switch
TL (Philips)
2
7
40
26
Ruang Serat Optik / BMK
TL (Philips)
4
24
40
27
Ruang Flexi / SMSC
TL (Philips)
10
24
40
28
Ruang Transmisi
TL (Philips)
16
7
40
29
Ruang Staf Transmisi
TL (Philips)
2
24
40
30
Ruang Satelit
TL (Philips)
2
24
40
31
Ruang Radio / OLO
TL (Philips)
2
24
40
32
NOC Latai 2
TL (Philips)
4
7
40
33
Ruang Multimedia
LHE (Essential)
18
7
18
34
Ruang STAF Multimedia
LHE (Essential)
6
7
18
35
Ruang Perangkat Multimedia
TL (Philips)
2
24
40
36
Ruang Gudang
TL (Philips)
1
7
40
37
Toilet Lantai 2 Gd Selatan
LHE (Essential)
3
24
18
Konsumsi energi listrik pada sistem pencahayaan di gedung STO
Kaliasem Denpasar dipengaruhi oleh jumlah lampu, daya lampu dan lama waktu
pengoperasianya. Jumlah lampu dapat dilihat pada tabel 4.13 dan total konsumsi
energinya dapat dihitung seperti pada ruang Sentral Trunk, dengan daya lampu 40
watt dan jam nyala 24 jam dengan cos φsebesar 0,85 maka konsumsi energi
listriknya dapat dihitung dengan cara:
Konsumsi listrik lampu/hari = ( p x cos φx t)
= ( 40 x 0, 85 x 24 )
= 0,816 kWh / hari.
78
Untuk hasil selengkapnya dapat dilihat pada tabel 4.14:
Tabel 4.14 Total konsumsi energi listrik sistem pencahayaan perhari
Nama ruangan
Gedung Utara
Tipe lampu
LHE (Essential)
Daya
Lampu
(watt)
18
Lantai satu
TL (Philips)
40
0,21
Jumlah
lampu
(buah)
3
Total
konsumsi
(kWh)
0,64
24
0,37
6
2,20
12
0,41
27
11,02
24
0,82
5
4,08
6
0,20
2
0,41
1,5
0,05
4
0,20
8
0,27
1
0,27
48
2
18,83
0,73
Jam
nyala
Konsumsi
(kWh)
14
Gedung Utara
LHE (Essential)
18
24
Total
0,37
Lantai dua
TL (Philips)
40
24
0,82
28
22,85
7
0,24
22
5,24
7
Total
0,11
52
7
28,82
0,75
24
0,37
10
3,67
15
0,23
8
1,84
12
0,18
3
0,55
Gedung Selatan
LHE (Essential)
18
Lantai satu
TL (Philips)
40
24
0,82
2
1,63
LHE (Essential)
18
7
Total
0,11
30
10
8,44
1,07
24
0,37
3
1,10
7
0,24
1
0,24
24
0,82
2
1,63
16
146
4,04
60,13
Gedung Selatan
Lantai dua
TL (Philips)
40
Total
Berdasarkan perhitungan tabel 4.14 terlihat penggunaan energi listrik
terbesar pada sistem pencahayaan di gedung utara lantai dua. Hal ini disebabkan
jumlah lampu pada gedung utara lantai dua yang sebanyak 52 buah dengan
penggunaan energi listrik perharinya yaitu 28,82 kWh.
Dapat dilihat total
79
besarnya penggunaan sistem pencahayaan di gedung STO Kaliasem selama sehari
yaitu sebesar 60,13 kWh perhari.
4.5.4
Sistem Perangkat Utama pada Gedung STO Kaliasem Denpasar
Pola konsumsi energi listrik pada sistem perangkat utama seperti rectifier,
UPS, inverter dipengaruhi oleh lama perangkat tersebut beroprasi. Total konsumsi
energinya dapat dihitung seperti pada perangkat UPS, dengan daya 154 watt dan
jam nyala 24 jam dengan cos φsebesar 0,85 maka konsumsi energi listriknya
dapat dihitung dengan cara :
Konsumsi listrik perangkat UPS/hari = ( p x cos φx t)
= ( 4000 x 0, 85 x 24 )
= 81,60 kWh / hari.
Untuk lebih lengkapnya dapat dilihat pada tabel 4.15:
Tabel 4.15 Total Konsumsi Listrik Untuk Perangkat Utama perhari
Total
No
Nama
Jam
Daya
Konsumsi
Jumlah
Perangkat
nyala
(watt)
(kWh)
(buah)
konsumsi
(kWh)
1
Rectifier
24
5506
112,32
18
2.022
2
UPS
24
4000
81,60
1
82
2400
48,96
1
49
1600
32,64
1
33
2480
50,59
1
51
800
16,32
2
33
2000
40,80
8
326
2400
48,96
10
490
800
16,32
2
33
44
3.117
3
Inverter
24
Total
80
Berdasarkan perhitungan tabel 4.15 terlihat penggunaan energi listrik pada
peralatan lainnya pada gedung STO Kaliasem yang sebanyak 44 buah dengan
penggunaan energi listrik perharinya yaitu 3.117 kWh.
4.5.5
Sistem Perangkat Listrik Lainnya pada Gedung STO Kaliasem
Denpasar
Pola konsumsi energi listrik pada sistem perangkat listrik lainya seperti
komputer, dispanser, laptop, printer dan TV dipengaruhi oleh lama perangkat
tersebut beroprasi. Total konsumsi energinya dapat dihitung seperti pada
perangkat komputer, dengan daya 154 watt dan jam nyala 24 jam dengan cos φ
sebesar 0,85 maka konsumsi energi listriknya dapat dihitung dengan cara :
Konsumsi listrik perangkat Komputer/hari
= ( p x cos φx t)
= ( 154 x 0, 85 x 24 )
= 3,14 kWh / hari.
Untuk lebih lengkapnya dapat dilihat pada tabel 4.16:
Tabel 4.16 Total Konsumsi Listrik untuk Perangkat Listrik Lainnya perhari
Total
Nama
Jam
Daya
Konsumsi
Jumlah
Perangkat
nyala
(watt)
(kWh)
(buah)
No
konsumsi
(kWh)
1
Komputer
2
Dispanser
3
Laptop
4
TV
5
Printer
24
154
3,14
9
28
7
154
0,92
6
5
24
150
3,06
5
15
7
45
0,27
13
3
17
120
1,73
1
2
7
95
0,57
1
1
15
114
1,45
2
3
7
140
0,83
1
1
7
110
0,65
1
1
24
100
2,04
5
10
44
69
Total
81
Berdasarkan perhitungan tabel 4.16 terlihat penggunaan energi listrik pada
peralatan lainnya pada gedung STO Kaliasem yang sebanyak 44 buah dengan
penggunaan energi listrik perharinya yaitu 69 kWh.
4.5.6
Kesesuain Temperatur Udara Ruangan Terhadap Standar Nasional
Indonesia (SNI)
Dalam proses bekerja di kantor diperlukan kondisi ruangan kerja yang
nyaman. Untuk mengetahui kondisi tersebut maka dilakukan pengukuran suhu di
dalam ruangan dengan mengambil sempel ruangan yang menggunakan AC.
Pengukuran suhu ruangan menggunakan alat ukur, yaitu thermometer digital.
Pengukuran ini dilakukan pada Gedung STO Kaliasem yang dimulai dari pukul
09.00 Wita sampai dengan pukul 17.00 Wita.
Alat mengukur temperatur udara yang digunakan adalah Termometer digital
dengan merk Taylor Indoor / Outdoor dengan Model 1522 seperti terlihat pada
gambar 4.16. Alat ini dapat mengukur temperatur udara dengan rentang
temperatur range indoor : 32ºF – 122ºF (-0ºC – 50ºC) dan range Outdoor : -40ºF –
158ºF (-40ºC – 70ºC).
Alat ini memiliki respone time yaitu kurang dari 10 detik. Saat alat ini
diletakkan pada suatu ruangan, maka dalam waktu kurang dari 10 detik maka alat
ini akan menunjukkan temperatur dari ruangan tersebut.
82
Gambar 4.16 Alat Digital Thermometer yang dipakai saat pengukuran
Setelah mendapatkan temperatur ruangan yang diukur, kemudian
dibandingkan nilai-nilai berdasarkan pengukuran tersebut dengan standar yang
ditentukan di dalam ASHRAE Handbook of Fundamentals. Standar Nasional
Indonesia (SNI) 03-6572-2001 tentang pengkondisian udara pada bangunan
dengan standar temperatur untuk ruangan kerja 23-27 ºC dan ruang perangkat atau
server sebesar 18–22 ºC . Pengamatan dilakukan pada setiap ruangan dari gedung
STO Kaliasem yang telah ditentukan standar temperaturnya. Selengkapnya dapat
dilihat pada tabel 4.17
Tabel 4.17 Hasil pengukuran temperatur ruangan Gedung STO Kaliasem Denpasar
Pengukuran Temperatur
Standar
Nama Ruangan
(ºc)
temperatur
ruangan (ºc)
JAM
09.00
11.00
13.00
15.00
Kondisi Luar
17.00
31,4
32,9
33,1
32,1
30,3
Ruang Sentral Lokal 1
18–22
20,5
20,8
21,1
20,8
20,8
Ruang PCM
18–22
20,4
20,7
21,0
20,9
20,7
Ruang MDF (Sentral Lokal 2)
18–22
20,6
20,5
21,3
20,7
20,7
Ruang rectifier dan inverter
18–22
20,8
20,7
21,7
20,6
20,6
Ruang Baterai
-
25.8
26.4
26.9
26.8
26.3
Ruang Travo
-
25.8
26.4
26.9
26.8
26.3
Ruang OMC
18–22
21,4
21,7
21,6
21,4
21,3
Ruang Gudang
-
30,3
30,5
31,5
30,7
30,5
Pos Satpam
-
30,2
30,5
31,3
31,5
30,5
Toilet lantai 1 Gd Utara
-
30,2
30,6
31,2
30,9
30,3
83
Lanjutan tabel 4.17
Nama Ruangan
Pengukuran Temperatur
(ºc)
Standar
temperatur
ruangan (ºc)
09.00
11.00
13.00
15.00
17.00
Sentral Trunk
18–22
20,4
20,7
21,0
20,9
20,7
Ruang MDP
23-26
24.8
25.4
25.9
25.8
25.3
Ruang Mushola
-
30,2
30,6
31,2
30,9
30,3
Koridor lantai 1
-
30,2
30,5
31,3
31,5
30,5
Toilet lantai 1 Gd Selatan
-
30,2
30,6
31,2
30,9
30,3
Ruang NOC
18–22
20,4
20,7
21,0
20,9
20,7
Ruang ASMAN CME
23-27
25,6
26,8
26,9
25,6
25,5
Ruang STAFF CME
23-27
25,6
26,8
26,9
25,6
25,5
Ruang Perpustakaan
23-27
26,6
26,7
26,9
26,6
25,8
-
30,2
30,5
31,3
31,5
30,5
18–22
20,4
20,6
21,0
20,6
20,4
-
30,2
30,5
31,6
31,5
30,7
Ruang Kerja OM Soft Switch
23-27
25,6
26,8
26,9
25,6
25,5
Ruang Serat Optik / BMK
18–22
20,4
20,7
21,2
20,8
20,7
Ruang Flexi / SMSC
18–22
20,4
20,7
21,0
20,9
20,7
Ruang Transmisi
18–22
20,4
20,6
21,0
20,9
20,7
Ruang Staf Transmisi
23-27
25,6
26,7
26,9
25,6
25,5
Ruang Satelit
18–22
20,4
20,3
21,0
20,6
20,5
Ruang Radio / OLO
18–22
20,5
20,6
21,1
20,8
20,6
NOC Latai 2
18–22
20,4
20,5
20,9
20,7
20,7
Ruang Multimedia
23-27
25,6
26,7
26,8
25,7
25,7
Ruang STAF Multimedia
23-27
25,6
26,8
26,9
25,6
25,5
Ruang Perangkat Multimedia
18–22
20,4
20,7
21,0
20,9
20,7
-
30,2
30,6
31,4
31,3
30,5
JAM
Arsip Cada
Ruang Sentral Soft Switch
Toilet Lantai 2 Gd Utara
Toilet Lantai 2 Gd Selatan
84
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada pukul 09.00 sampai 17.00
pada tanggal 23 Agustus 2010, terlihat ruangan kerja pada gedung STO Kaliasem
sudah memenuhi dalam syarat dari ASHRAE Handbook of Fundamentals. Standar
Nasional Indonesia (SNI) 03-6572-2001 tentang pengkondisian udara pada
bangunan gedung. Ruangan yang sesuai dengan standar akan sangat penting agar
untuk menghindari risiko penyebaran penyakit serta memungkinkan pencemaran
lingkungan dan gangguan kesehatan bagi penggunanya.
4.6
Mengidentifikasi Peluang Hemat Energi (PHE)
Dari data analisa pemakaian energi listrik di Gedung STO Kaliasem
Denpasar selama sehari diperoleh konsumsi listrik untuk AC sebesar 4.309,66
kWh, untuk pemakaian lampu sebesar 60,13 kWh, untuk perangkat utama sebesar
3.117 kWh dan untuk pemakaian peralatan lain sebesar 69 kWh. Jika
digambarkan dalam bentuk pie chart akan diperoleh hasil seperti berikut:
Persentase Pemakaian Listrik perhari di Gedung STOKaliasem
0,91%
AC
41,25%
Lampu
Perangkat Utama
57,04%
Peralatan Lain
0,80%
Gambar 4.17 Persentase pemakaian listrik Perhari di Gedung STO kaliasem Denpasar
Persentase di atas bisa dilihat bahwa pemakaian AC (pendingin ruangan)
sebesar 57,04% merupakan komponen yang menyerap energi listrik yang
85
besar dibandingkan dengan pemakaian perangkat listrik yang lainnya.
Berdasarkan
analisis di atas, maka akan dilakukan pencarian peluang hemat
energi yang terkait dengan kerja perangkat AC tersebut. Setelah dilakukan
observasi pada unit-unit AC yang terdapat di Gedung STO Kaliasem Denpasar
dapat dikenali Peluang Hemat Energi (PHE) antara lain:
a. Usaha penghematan konsumsi diarahkan kepada usaha penggatian
refrigerant, hal ini diambil karena jumlah operasi AC di satu ruangan
lebih dari satu AC yang beroperasi sehingga dapat dilakukan penggatian
refrigerant secara bergilir, namun terlebih dahulu dilakukan pengamatan
serta pengecekan yang cermat terhadap berbagai aspek dari mesin AC.
Hasil pengamatan atau pengecekan tersebut akan menghasilkan, apakah
mesin AC tersebut dalam kondisi baik dan secara teknis dapat dilakukan
recovery dan konversi refrigerant. Pengecekan performance mesin AC
sebelum recovery (ketika masih menggunakan freon), meliputi :
Arus/Daya Listrik, tekanan dan temperatur pada evaporator (efek
pendinginan).
Pengeluaran
refrigeran
freon
dari
mesin
AC,
Pemvakuman Mesin AC, sekaligus pengecekkan kebocoran pengisian
dengan bahan pendingin Musicool. Pengecekkan performance Mesin AC
setelah diisi musicool untuk dibandingkan dengan performance sewaktu
masih menggunakan freon.
b. Penggantian
refrigerant
refrigerant
musicool
dengan
merupakan
menggunakan
bahan
musicool,
pendingin
dimana
alamiah
jenis
hidrokarbon yang ramah lingkungan yang merupakan pengganti
86
refrigerant sintetic kelompok halokarbon CFC R-12,HCFC R-22 dan HFC
R-134a yang masih memiliki potensi merusak alam. Dari sisi
pengaplikasiannya kelebihan dari pemakaian musicool jika dibandingkan
dengan bahan pendingin freon, antara lain;
 Dapat menurunkan konsumsi tenaga listrik hingga 15-25%
 Tidak perlu adanya penggantian atau penambahan komponen pada
mesin AC
 Kerja kompresor menjadi lebih ringan
 Ramah Lingkungan.
 Kelebihan-kelebihan dari refrigerant musicool tersebut disebabkan
oleh sifat fisika dan thermodinamikanya yang lebih baik jika
dibandingkan dengan freon.
c. Selain penggatian refrigerant pada AC, salah satu usaha untuk mengurangi
pemakiaan listrik yaitu dengan penggantian lampu TL ke lampu LHE. Ini
dilihat dari hasil survew menunjukkan pemakaian lampu TL di seluruh
ruangan lebih banyak dibandingkan penggunaan lampu LHE, yaitu sebanyak
94 buah lampu TL dan lampu LHE yang berjumlah 52 buah. Dilihat dari sisi
kapasitas pemakaian energi listrik untuk penerangan sangat kecil sebesar
60,13 kWh per hari atau sebesar 0,8% dibandingkan dengan pemakaian energi
listrik yang lain, namun tidak menutup kemungkinan penggantian tersebut
dapat menurunkan penggunaan energi listrik di gedung STO Kaliasem.
d. Dari Pihak dari STO Kaliasem sendiri menginginkan adanya usaha
peningkatan efisiensi peralatan dan pengurangan konsumsi energi, yang mana
87
pastinya tidak perlu mengganggu operasional perangkat server yang ada di
gedung STO Kaliasem.
Dari pengenalan peluang hemat energi listrik (PHE) di atas, peluang yang
dapat menurunkan konsumsi energi listrik difokuskan hanya pada sistem
pendingin ruangan (AC), yang pada akhirnya mampu menurunkan nilai IKE
listrik di Gedung STO Kaliasem Denpasar.
4.7
Implementasi Peluang Hemat Energi pada Pengkondisian Udara
Untuk implementasi peluang hemat energi dari Gedung STO Kaliasem
pada pemakaian pendingin ruangan (AC), diketahui bahwa jumlah AC yang
digunakan di gedung STO Kaliasem sebanyak 74 unit dari 76 unit AC yang
tersebar di ruangan-ruangan yang berkapasitas beragam 1,5 PK sampai 15 PK,
baik itu dari lantai 1 sampai lantai 2 Gedung Utara dan Gedung Selatan, untuk 2
unit AC yang lain berada di ruangan lantai 3, dimana kondisi ruangan di lantai 3
tidak difungsikan lagi. Dari observasi di lapangan pemakaian AC lebih banyak
digunakan untuk pendingin di ruangan server.
Dalam peluang hemat ini akan dilihat seberapa besar pengaruh
penggantian refrigerant pada AC. Selama observasi dan wawancara dengan
engineering staft dijelaskan bahwa periode pembersihan unit AC selama 1 s/d 2
bulan sekali dan melakukan perbaikan atau penggatian komponen AC yang
mengalami kerusakan. Untuk proses penggatian refrigerant yang telah dilakukan
di gedung STO Kaliasem sudah dilakukan namun dikarenakan engineering staft
yang ada sangat minim mengingat pekerjaan setiap harinya cukup padat, sehingga
88
penggantian tersebut mengalami keterlambatan, mengingat juga biaya dan waktu
yang diperlukan untuk penggatian tersebut.
Proses pengukuran sebelum dan sesudah penggatian refrigrant, dilakukan
pengukuran pada nilai arus serta kondisi suhu ruangan. Kondisi AC pada saat
pengukuran dalam kondisi hidup dan mencapai suhu standar ruangan. AC
diasumsikan bekerja selama 24 jam, sehingga energi yang digunakan menjadi
maksimal.
Berikut data hasil pemakaian energi sebelum dan sesudah penggantian
refrigerant dengan menggunakan merek Musicool yang ada di ruangan Asman
CME.
Data-data AC Split 1,5 PK yang diganti refrigerantnya:
 Energi Listrik :
E = I x V x PF x jam x hari
= 5,09 x 220 x 0,85 x 24
= 22.827,60 Watt/h
= 22,83 kWh /Hari
 Biaya Listrik / Hari
Biaya = Energi Listrik x Tarif/kW
= 22,83 kWh x Rp. 554,9,= Rp. 12.667,04,Analisa perhitungan menggunakan Refrigerant Musicool
 Energi Listrik :
E = I x V x PF x jam x hari
89
= 3,89 x 220 x 0,85 x 24
= 17,44 kWh / Hari
 Biaya Listrik / Hari
Biaya = Energi Listrik x Tarif/kW
= 17,44 kWh x Rp. 554,9,= Rp. 9.678,57 ,Analisa penghematan yang diperoleh :
 Energi Listrik :
E = Menggunakan Freon – Menggunakan Musicool
= 22,83 kWh – 17,44 kWh
= 5,39 kWh / Hari
 Biaya Listrik/Hari :
Biaya = Menggunakan Freon – Menggunakan Musicool
= Rp. 12.667,04 – Rp. 9.678,57
= Rp. 2.988,47,Dari hasil implementasi penggantian refrigerant AC tersebut, biaya yang
harus dibayar untuk pelaksanaan rencana tersebut, diperoleh analisa sebagai
berikut :
 Analisa penggantian refrigerant :
Jumlah total PK = 287 PK
Harga penggatian per PK = Rp. 250.000, Biaya = Jumlah PK x harga penggantian per PK
= 287 x Rp. 250.000,= Rp. 71.750.000,-
90
Sehingga biaya investasi yang diperlukan untuk penggantian refrigerant
tersebut sebesar Rp. 71.750.000,-.
Berikut tabel hasil pengukuran sebelum dan sesudah penggatian freon,
penggatian dilakukan pada tanggal 24 September 2010, pada pukul 09.00 WITA
dengan jumlah teknisi 2 orang. Untuk hasil pengukuran data AC yang lain dapat
dilihat pada lampiran 4.
Tabel 4.18 Perbandingan Sebelum dan Sesudah Pengantian Freon
Indikator
Sebelum
Sesudah
Power Faktor (Cos Q)
0,85
0,85
Voltase (V)
220
220
Arus (I)
5,09
3,89
Temperatur (o C) Ruangan
20,4
19,7
Energi Listrik (kWh)
22,83
17,44
12.667,04
9.678,57
29,9
29,9
Biaya Listrik (Rp)
Temperatur (o C) Luar
Ruangan
4.8
Analisis Peluang Hemat Energi pada Pengkondisian Udara
Dari hasil implementasi peluang hemat energi (PHE) diatas, maka analisis
penghematan yang diperoleh dari penggatian refrigerant sintetic jenis HCFC R-22
dengan menggunakan merek Musicool di setiap AC yang terpasang di gedung
STO Kaliasem, diproleh hasil seperti pada tabel berikut :
91
Tabel 4.19 Hasil Penggantian Refrigerant AC pada Gedung STO Kaliasem
Sebelum Ganti Refrigerant
No
Nama
Ruangan
1
Sentral
Lokal 1
2
Ruang MDF
(sentral
Lokal 2)
Ruang
rectifier
dan inverter
Ruang OMC
3
4
5
6
Sentral
Trunk
Ruang MDP
7
Ruang NOC
8
Ruang
ASMAN
CME
Ruang
STAFF
CME
Arsip Cada
9
10
11
Ruang
Sentral Soft
Switch
12
Ruang Kerja
OM
Soft
Switch
Ruang Serat
Optik
/
BMK
Ruang Flexi
/ SMSC
Ruang
Transmisi
13
14
15
Sesudah Ganti Refrigerant
Jumlah
AC
(buah)
PK
Daya
(kW)
Waktu
nyala
(Jam)
Total
konsumsi
(kWh)
Daya
(kW)
Waktu
nyala
(Jam)
Total
konsumsi
(kWh)
1
1
2
2
2
2
1
2
6
15
12
2
10
10
10
7
4,476
11,190
17,904
2,984
14,920
14,920
7,460
10,444
24
24
24
24
24
24
24
24
91,31
228,28
365,24
60,87
304,37
304,37
152,18
213,06
3,97
10,68
16,89
1,97
13,91
13,91
6,95
9,43
24
24
24
24
24
24
24
24
80,99
217,95
344,60
40,23
283,72
283,72
141,86
192,41
1
2
1
3
2,5
2,5
2
10
1,865
3,73
1,492
22,380
24
24
24
24
38,05
76,09
30,44
456,55
1,36
2,72
0,99
20,86
24
24
24
24
27,72
55,45
20,11
425,58
1
2
1,492
24
30,44
0,99
24
20,11
1
1
1
1
1
2
2,5
2
2,5
1,5
1,492
1,865
1,492
1,865
1,119
24
24
24
24
12
30,44
38,05
30,44
38,05
11,41
0,99
1,36
0,99
1,36
0,86
24
24
24
24
12
20,11
27,72
20,11
27,72
8,72
1
1,5
1,119
24
22,83
0,86
24
17,44
1
1,5
1,119
7
6,66
0,86
7
5,09
1
1
4
2
2
6
6
2,5
2
2
4,476
4,476
7,460
2,984
2,984
24
24
24
24
24
91,31
91,31
152,18
60,87
60,87
3,97
3,97
5,44
1,97
1,97
24
24
24
24
24
80,99
80,99
110,89
40,23
40,23
2
1,5
2,238
24
45,66
1,71
24
34,88
1
4
1
1
3
2,5
2,5
7
2,5
2,5
1,865
7,460
5,222
1,865
5,595
24
24
24
24
24
38,05
152,18
106,53
38,05
114,14
1,36
5,44
4,72
1,36
4,08
24
24
24
24
24
27,72
110,89
96,21
27,72
83,17
92
Lanjutan tabel 4.19
16
17
18
19
20
21
22
Ruang Staf
Transmisi
Ruang
Satelit
Ruang
Radio
/
OLO
NOC Latai
2
Ruang
Multimedia
Ruang
STAF
Ruang
Perangkat
1
2
1,492
12
15,22
0,99
12
10,06
2
2,5
3,730
24
76,09
2,72
24
55,45
6
1
2
1
2,5
2
2
2
11,190
1,492
2,984
1,492
24
24
24
24
228,28
30,44
60,87
30,44
8,15
0,99
1,97
0,99
24
24
24
24
166,34
20,11
40,23
20,11
1
1
2
1
6
2,5
2
2
4,476
1,865
2,984
1,492
24
24
24
12
91,31
38,05
60,87
15,22
3,97
1,36
1,97
0,99
24
24
24
12
80,99
27,72
40,23
10,06
3
1,5
2
2,5
1
2,5
Total
3,357
3,73
1,865
24
24
24
68,48
76,09
38,05
4.309,66
2,57
2,72
1,36
24
24
24
52,33
55,45
27,72
3.602,13
Dari tabel diatas menunjukkan bahwa adanya penurunan total konsumsi
energi listrik perharinya, dimana sebelum penggatian freon Musicool diperoleh
total konsumsi energi listrik sebesar 4.309,66 kWh, namun setelah penggantian
diperoleh total konsumsi energi listrik menjadi 3.602,13 kWh.
4.9
Komposisi Pemakaian Pendingin Ruangan.
Setelah melakukan survey dan pengukuran diperoleh komposisi luas
ruangan penggunaan AC dan non AC pada gedung STO Kaliasem yang terbagi
menjadi tiga lantai bangunan yaitu terdiri dari lantai 1, lantai 2 dan lantai 3.
Sehingga dapat diperoleh komposisi pemakaian AC di gedung STO Kaliasem
adalah sebagai berikut :
Tabel 4.20 Komposisi Pemakaian AC di Gedung STO Kaliasem
No
Nama ruangan
Luas Ruangan (m²)
Ruang Lantai Satu
1
Ruang Sentral Lokal 1
2
Ruang PCM
3
Ruang MDF (Sentral Lokal 2)
AC
Non AC
285,48
-
-
26,92
328,35
-
93
Lanjutan tabel 4.20
4
Ruang rectifier dan inverter
108
-
5
Ruang Baterai
-
125,40
6
Ruang Travo
-
101,52
7
Ruang OMC
113,85
-
8
Ruang Gudang
-
103,68
9
Ruang Toilet
-
131,25
10
Ruang Sentral Trunk
125,55
-
11
Ruang MDP
251,38
-
12
Ruang Mushola
-
60,48
13
Ruang Koridor
-
117,18
14
Ruang NOC
103,68
-
15
Ruang ASMAN CME
60,48
-
16
Ruang STAFF CME
143,19
-
17
Ruang Perpustakaan
-
53,89
18
Ruang Arsip
-
20,25
123,84
-
-
142,56
Ruang Lantai Dua
1
Ruang Sentral Soft Switch
2
Ruang Toilet
3
Ruang Kerja OM Soft Switch
31,68
-
4
Ruang Serat Optik / BMK
65,52
-
5
Ruang Flexi / SMSC
211,68
-
6
Ruang Transmisi
278,82
-
7
Ruang Staf Transmisi
132,4
-
8
Ruang Satelit
37,44
-
9
Ruang Radio / OLO
51,48
-
10
Ruang NOC
44,55
-
11
Ruang Multimedia
158,67
-
12
Ruang STAF Multimedia
76,5
-
13
Ruang Perangkat Multimedia
212,85
-
14
Ruang Gudang
-
61,38
Ruang Lantai Tiga
1
3 Ruang Staff
-
237,7
2
Toilet Lantai 3
-
63,36
3
2 Ruang Gudang
-
80,64
Total
2.945,39
1.326,21
Persentase (%)
68,95
31,05
94
Jika digambarkan dalam bentuk pie chart maka akan diperoleh hasil
seperti pada gambar 4.18:
Komposisi Pemakaian AC
31,05%
AC
Non AC
68,95%
Gambar 4.18 Komposisi Sistem Pendingin Ruangan
Dari gambar diatas menunjukkan bahwa komposisi luas ruangan
pemakaian AC lebih besar dibandingkan non AC, dimana diperoleh persentase
penggunaan ruangan AC sebesar 68,95 %, sedangkan persentase non AC sebesar
31,05 % dari total luas ruangan gedung yang dikondisikan.
4.10
Menghitung IKE
Dari hasil implementasi diatas dapat diperoleh jumlah pemakaian energi
baik untuk konsumsi energi pada kategori Esensial dan Non Esensial di gedung
STO Kaliasem setelah dilakukan PHE. Untuk lebih jelas dilihat pada tabel
berikut :
Tabel 4.21 Konsumsi Energi Listrik Kategori Esensial
No
1.
Perangkat
Rectifier
Jumlah
18 Unit
Total Konsumsi (kWh/Hari)
2.022
2.
UPS
6 Unit
246
3.
Inverter
20 Unit
849
Total
3.117
95
Tabel 4.22 Konsumsi Energi Listrik Kategori Non Esensial
Total Konsumsi (kWh/Hari)
AC
Jumlah
74 Unit
2.
Lampu
146 Buah
60,13
3.
Komputer
15 Buah
34
4.
Dispanser
5 Buah
15
5.
Laptop
13 Buah
3
6.
TV
6 Buah
7
7.
Printer
5 Buah
10
No
1.
Perangkat
Total
3.602,13
3.731,70
Dari tabel diatas diperoleh hasil jumlah konsumsi energi setelah PHE yang
menunjukkan konsumsi energi listrik per hari, maka dapat dihitung jumlah energi
listrik terpakai dan jumlah biaya yang harus dikeluarkan untuk pengadaanya.
Jumlah pemakaian listrik baik kategori Esensial dan Non Esensial yang terpakai
selama satu bulan adalah sebesar 191.760 kWh/bulan. Dan rata-rata jumlah untuk
pemakaian listrik selama satu tahun adalah
12 Bulan X Jumlah
kWh Sebulan
12 X 191.760 kWh
2. 301 .122 kWH per tahun
Biaya rata-rata untuk pemakaian listrik selama periode tersebut adalah
sebesar
Rata rata h arg a per kWh X Jumlah
Rp 554.9 kWh X 2.301.122 kWh
Rp 1. 276 .892 .462 ,00
kWh
96
Dari jumlah pemakaian dan biaya energi selama periode satu tahun terlihat
adanya penurunan seperti terlihat pada tabel berikut :
Tabel 4.23 Perbandingan kondisi sebelum dan sesudah PHE pada pemakaian energi listrik di
Gedung STO Kaliasem Denpasar
Kondisi
Sebelum PHE
Sesudah PHE
Selisih
Energi kWh/Tahun
3.200.211,6
2.301.122
899.090
Total Rp/Tahun
1.775.797.417
1.276.892.462
498.904.955
Dari data tabel 4.23 diatas menunjukkan penurunan biaya energi listrik
yang dihemat sebesar Rp. 498.904.955,-, dengan biaya yang harus dibayar untuk
pelaksanaan penggantian refrigerant sebesar Rp. 71.750.000,-.
Sehingga dari data konsumsi energi dan data luasan bangunan serta tingkat
konsumsi energi listrik di gedung STO Kaliasem berdasarkan analiasa Peluang
Hemat Energi (PHE) yang telah diperoleh, maka dapat dihitung besarnya
Intensitas Konsumsi Energi (IKE) Gedung STO Kaliasem Denpasar selama satu
tahun. Adapun perhitungannya sebagi berikut :
kWh total
IKE 
Luas Bangunan
2 .301 .122

4 .271 ,6
 538 ,70 kWh / m 2 Tahun
538 , 70 kWh / m 2

3
 179 ,57 kWh / m 2
97
Tabel 4.24 Besar intensitas konsumsi di gedung STO Kaliasem Denpasar
Kondisi
Sebelum PHE
Sesudah PHE
Luas lantai (m2 )
4.271,6
4.271,6
kWh/m2 tahun
249,72
179,57
Dari perhitungan di atas dapat diperoleh besarnya IKE listrik per satuan
luas yang dikondisikan adalah sebesar 179,57 kWh/m2 tahun. Untuk target IKE
per satuan luas yang dikondisikan untuk perkantoran adalah sebesar 240 kWh/m2
tahun. Ternyata IKE Implementasi PHE pada Gedung STO Kaliasem Denpasar
terlihat sudah sesuai dengan standar atau taget IKE listrik.
5
BAB V PENUTUP
BAB V
PENUTUP
5.1
Kesimpulan
Dari hasil analisis yang telah dilakukan, maka beberapa kesimpulan
hasil audit energi, terkait dengan konsumsi energi pada gedung STO
Kaliasem Denpasar yang bisa penulis ambil antara lain :
1.
Berdasarkan pelaksanaan walkthrough audit yang dilakukan, perangkat
keras di gedung STO Kaliasem dikelompokkan menjadi dua yaitu esensial
dan non esensial. Beban terpasang pada kategori esensial sebesar 157.788
watt dan kategori non esensial sebesar 223.536 watt. Pada analisa audit
energi awal, nilai Intensitas Konsumsi Energi (IKE) yang terbesar adalah
konsumsi energi listrik pada kategori Non Esensial. Untuk gedung STO
Kaliasem Denpasar berdasarkan hasil audit energi awal, IKE energi
listriknya adalah sebesar 249,72 kWh/m2 tahun, dari kondisi tersebut
masih melebihi standar IKE perkantoran di Indonesia yaitu sebesar 240
kWh/m2 tahun, sehingga perlu dilakukan audit energi rinci.
2.
Kesesuaian penggunaan energi listrik di gedung STO Kaliasem dari hasil
observasi, diperoleh persentase luas ruangan penggunaan AC sebesar
68,95 %, sedangkan persentase non AC sebesar 31,05 % dari total luas
gedung yang dikondisikan. Sehingga penggunaan perangkat AC di gedung
STO Kaliasem lebih besar dibanding pemakaian energi yang lain, maka
perancangan manajemen energi listrik difokuskan pada sistem pendingin
98
99
ruangan (AC), yang pada akhirnya mampu menurunkan nilai IKE listrik di
Gedung STO Kaliasem Denpasar.
3.
Implementasi Peluang Penghematan Energi (PHE) pada penelitian audit
energi ini adalah dengan mengganti refrigerant pada AC yang awalnya
menggunakan Freon R-22 dengan menggunakan merek Musicool, dimana
penghematan yang diperoleh dari penggantian refrigerant tersebut selama
perhari sebesar 3.602,13 kWh. Jadi besarnya IKE listrik hasil implemetasi
PHE persatuan luas yang dikondisikan diperoleh sebesar 179,57 kWh/m2
tahun. Sehingga dapat dikatakan IKE listrik di Gedung STO Kaliasem
Denpasar sudah sesuai dengan standar SNI (Standar Nasional Indonesia).
4.
Jumlah biaya yang dikeluarkan setelah mengimplemantasikan PHE
sebesar Rp. 71.750.000,- dengan biaya yang dihemat selama setahun
setelah mengimplementasikan PHE adalah sebesar Rp.498.904.955,- atau
sebesar 58,17 % dari total biaya listrik setahun.
5.2
Saran
Adapun saran yang diberikan untuk penelitian audit energi ini adalah
sebagai berikut :
1. Hasil penelitian yang telah dilakukan masih jauh dari sempurna. Untuk
itu, perlu ditindak lanjuti dengan pendalaman pada pengimplementasian
PHE yang bersifat hight cost, yaitu tentang penggantian AC yang sudah
lama dan di sisi low cost tentang pemasangan kapasitor bank serta
pengendalian harmonisa yang ada. Dan agar bisa diketahui upaya lain
yang dapat dilakukan untuk memperbaiki power quality yang ada
100
sehingga mampu mendapatkan nilai IKE listrik yang lebih kecil dan
efisien.
2. Untuk
penelitian
selanjutnya
sebaiknya
menggunakan
data-data
beberapa tahun sebelumnya agar dapat mengetahui nilai estimasi, nilai
real, dan nilai setelah manajemen energi sehingga di tahun berikutnya
dapat diperoleh nilai kemungkinan penghematan energi yang lebih baik.
6
Daftar Pustaka
DAFTAR PUSTAKA
ASHRAE Journal, Jan 2009. Energy Audits in Large Commercial Office
Buildings.
Abdurarachim. Halim, Pasek, Darmawan Ari, dan Sulaiman, TA. 2002. Audit
Energi,Modul 2, Energi Conservation Efficiency And Cost Saving
Course, Bandung : PT. Fiqry Jaya Mandiri.
Bappeda. 2004. Rencana Umum Ketenaga Listrikan Daerah (RUKD). Provinsi
Bali
Capehart BL, Turner CT and William J.Kennedy. 2003. Guide to Energy
Management Fairmont press inc. Bureau of Energy Efficiency
Direktorat Pengembangan Energi. Petunjuk teknis konservasi energi; Prosedur
Audit Energi Pada Bangunan Gedung. Jakarta: Departemen
Pertambangan dan
Energi. Direktotat Jendral Pengembangan Energi.
Erdianta,L.N. 2009. Analisa Performansi Penggunaan Energi Listrik di Gedung C,
P Dan E Jurusan Teknik Fisika ITS Surabaya Berbasis SNI 03-61962000. (tesis). Surabaya: ITS Surabaya
European Commission Directorate General for Employment and Social Affairs
European Social Fund, May 2000
G.G.Rajan ;McGraw-Hill . 2003. Optimizing Energy Efficiencies in Industry
(Energy Audits, Feasibility Studies, Prelimnary and Detailed
Engineering, Project and Construction Managemennt, Implementation)
Lybery, MD. 1981. Source Book for Energy Auditor, International Energy Agency
PT. Telkom. 2009. Telkom Tetap Ekspansi di Era Krisis. Patriot135, Januari 2009,
hal3, kol. 1
PT PLN Distribusi Bali. 2009. Sistem Kelistrikan di Bali. Suluh Dewata,
Desember 2009.
Rianto.A. 2007. Audit Energi dan Analisis Peluang Penghematan Konsumsi
Energi pada Sistem Pengkondisian Udara di Hotel Santika Premiere
Semarang. (tesis). Semarang: UNNES
101
102
Standar Nasional Indonesia ( SNI ) 03-6196-2000, Konversi Energi Sistem Tata
Udara pada Bangunan Gedung, dan SNI 03-6390-2000, Prosedur Audit
Energi pada Bangunan Gedung.
Tata Cara Perhitungan Rekening, viewed on Jan 19th 2010, 16 : 12 pm,
www.plnjaya.co.id/pelayanan/
Wahyu Sujatmiko. 29 Juli 2008. Penyempurnaan Standar Audit Energi Pada
Gedung, Staf Balai Sains Bangunan, Puslitbang Permukiman,
Departemen Pekerjaan Umum. Bandung
William H. Golove and Joseph H. Eto, March 1996. Energy Efficiency: A Critical
Reappraisal of the Rationale for Public Policies to Promote Energy
Efficiency. Energy & Environment Division Lawrence Berkeley
National Laboratory University of California Berkeley, California 94720
Download