PENGAMATAN HAMA PERUSAK DAUN SEMAI MERANTI PAKIK

advertisement
PENGAMATAN HAMA PERUSAK DAUN
SEMAI MERANTI PAKIK (Shorea seminis)
DI PERSEMAIAN BALAI DIKLAT KEHUTANAN SAMARINDA
Oleh:
SULFI
NIM. 090 500 020
Karya Ilmiah Sebagai Salah Satu Syarat
untuk Memperoleh Sebutan Ahli Madya pada Program Diploma III
Politeknik Pertanian Negeri Samarinda
PROGRAM STUDI MANAJEMEN HUTAN
JURUSAN MANAJEMEN PERTANIAN
POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA
SAMARINDA
2012
PENGAMATAN HAMA PERUSAK DAUN
SEMAI MERANTI PAKIK (Shorea seminis)
DI PERSEMAIAN BALAI DIKLAT KEHUTANAN SAMARINDA
Oleh:
SULFI
NIM. 090 500 020
Karya Ilmiah Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Sebutan Ahli Madya
pada Program Diploma III Politeknik Pertanian Negeri Samarinda
PROGRAM STUDI MANAJEMEN HUTAN
JURUSAN MANAJEMEN PERTANIAN
POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA
SAMARINDA
2012
HALAMAN PENGESAHAN
PENGAMATAN HAMA PERUSAK DAUN
SEMAI MERANTI PAKIK (Shorea seminis) DI
PERSEMAIAN BALAI DIKLAT KEHUTANAN
SAMARINDA
Judul Karya Ilmiah
:
Nama
: Sulfi
Nim
: 090500020
Program Studi
: Manajemen Hutan
Jurusan
: Manajemen Pertanian
Pembimbing
Penguji I,
Penguji II,
Dwinita Aquastini, S.Hut., MP Ir. Suparjo, MP
NIP. 197002141997032002
NIP. 19620817198931003
Menyetujui,
Ketua Program Studi ManajemenHutan
Ir. M. Fadjeri, MP
NIP. 19610812 198803 1 003
Lulus ujian pada tanggal:………………....
Ir. Noorhamsyah, MP
NIP. 196405231997031001
Mengesahkan,
Ketua Jurusan Manajemen Pertanian
Ir. Hasanudin, MP
NIP.19630805 198903 1 005
ABSTRAK
SULFI.Pengamatan Hama PerusakDaun Semai Meranti Pakik (Shorea seminis)
di Persemaian Balai Diklat Kehutanan Samarinda (di bawah bimbingan Dwinita
Aquastini).
Jenis-jenis Dipterocarpaceae adalah jenis tanaman asli Kalimantan yang
mempunyai banyak kegunaan dan bernilai ekonomis tinggi serta masih
mempunyai peranan penting dalam perdagangan kayu, merupakan juga jenis
yang sering dikembangbiakkan di persemaian untuk memenuhi kebutuhan hutan
tanaman.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis-jenis hama yang
menyerang semai meranti, bentuk-bentuk kerusakan yang ditimbulkan, frekuensi
dan intensitas kerusakan
di Persemaian Balai Diklat Kehutanan Samarinda.
Hasil yang diharapkan dari penelitian ini adalah untuk memberikan informasi
mengenai jenis-jenis hama, bentuk kerusakan, frekuensi dan intensitas
kerusakan semai merantidi persemaian Badan Diklat Kehutanan Samarinda.
Penelitian ini dilaksanakan +1 bulan mulai dari bulan Agustus 2012
sampai dengan bulan September 2012. Pengamatan dilakukan pada pagi hari
mulai pukul 08.00-10.00 Wite, dan pada siang hari pukul 13.00-15.00 Wite,
Penelitian ini menggunakan semai merantiPakik (S.seminis) sebanyak 50 semai
yang ada di persemaian Balai Diklat Kehutanan Samarinda.Identifikasi jenis
hama yang didapat, dilakukan dengan cara membandingkan bentuk-bentuk
tubuh dengan literatur-literatur dan koleksi yang ada yang terdapat di
Laboratorium Konservasi Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, ditemukan 3 jenis hamayang
menyerang daun semai meranti Pakik (S. seminis)yaitu 3 jenis yaitu adalah ulat
Plutella xylostella, ulat kantung Mahasena corbetti dan belalang Locusta
migratoria manilensis. Bentuk-bentuk kerusakan daun yang ditimbulkan yaitu
adanya daun yang dimakan pada tepi daun, daun yang dimakan sebagian
sampai tulang daun utamanya dan daun yang dimakan hanya pada tengah daun
sehingga daun berlubang-lubang.Frekuensi serangan hama pada tingkat
kerusakan sehat adalah 21 %, tingkat kerusakan ringan adalah 14 %, tingkat
kerusakan sedang adalah 24 % dan tingkat kerusakan berat adalah 20 %,
sedangkan Intensitas serangan hama adalah 30,5 % termasuk kategori
kerusakan sedang.
Kata kunci: Shorea seminis, hama.
RIWAYAT HIDUP
Sulfi lahir pada tanggal 7Agustus 1989 di Desa Liang
Bunyu Kab. Nunukan, Kalimantan Timur. Merupakan anak
kedua dari empat bersaudara dari pasangan Bapak Saleng
dan Ibu Tuti.
Pendidikan dimulai di Sekolah Dasar Negeri No. 005
Liang Bunyu pada tahun 1995, lulus pada tahun 2003.
Kemudian melanjutkan ke Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negeri 01 Liang
Bunyu lulus pada tahun 2006. Pada tahun yang sama melanjutkan ke Sekolah
Menengah Atas Pancasila Nunukan dan memperoleh ijazah tahun 2009.
Pendidikan tinggi dimulai pada tahun 2009 di Politeknik Pertanian Negeri
Samarinda, Program Studi Manajemen Hutan, Jurusan Manajemen Pertanian.
Tanggal 2 Maret 2012 sampai dengan 23 April 2012 mengikuti Praktek
Kerja Lapang di PT. Hanurata Unit Sangkulirang Sub Unit Mandu/Kelolokan.
KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,
karena berkat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan Karya Ilmiah ini.
Karya Ilmiah ini disusun berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada
dua tempat yaitu di Persemaian Balai Diklat Kehutanan Samarinda, dan di
laboratorium Konservasi Politeknik Pertanian Negeri Samarinda dari bulan
Agustus 2012 sampai dengan bulan September 2012, sebagai syarat untuk
menyelesaikan tugas akhir
di Politeknik Pertanian Negeri Samarinda dan
mendapat sebutan Ahli Madya.
Pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1. Kedua orang tua serta keluarga yang selalu memberikan dukungan baik
moril maupun materil.
2. Ibu Dwinita Aquastini S. Hut, MP selaku Dosen Pembimbing Karya Ilmiah
yang telah mengarahkan dan membimbing selama penyusunan.
3. Bapak Ir. Suparjo, MP dan Bapak Ir. Noorhamsyah, MP selaku Dosen
Penguji I dan II yang telah memberikan masukan dan saran.
4. Semua PLP Program Studi Manajemen Hutan terutama yang berada di
Laboratorium Konservasi.
5. Rekan-rekan yang telah membantu dalam kegiatan penelitian dan
penyusunan Karya Ilmiah ini.
Penulis menyadari ini masih banyak terdapat kekurangan dan kesalahan
dalam penulisan ini, namun semoga Karya Ilmiah ini dapat bermanfaat.
Penulis
Kampus Sei Keledang, September 2012
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ................................................................................
vi
DAFTAR ISI..............................................................................................
vii
DAFTAR TABEL......................................................................................
viii
DAFTAR GAMBAR ..................................................................................
ix
DAFTAR LAMPIRAN ...............................................................................
x
I.
PENDAHULUAN ...............................................................................
1
II.
TINJAUAN PUSTAKA......................................................................
A. Uraian Hama Hutan......................................................................
B. Gambaran Umum Meranti Pakik (Shorea seminis) .....................
C. Balai Diklat Kehutanan.................................................................
4
4
12
14
III. METODE PENELITIAN .....................................................................
A. Lokasi dan Waktu Penelitian.......................................................
B. Alat dan Bahan Penelitian...........................................................
C. Prosedur Penelitian.....................................................................
D. Pengolahan Data.........................................................................
16
16
16
17
20
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN .............................................................
A. Hasil.............................................................................................
B. Pembahasan................................................................................
22
22
27
V. KESIMPULAN DAN SARAN .............................................................
A. kesimpulan...................................................................................
B. Saran...........................................................................................
31
31
31
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................
32
LAMPIRAN…………….............................................................................
34
DAFTAR GAMBAR
Nomor
Tubuh Utama
Halaman
1.
Ulat Plutella xylostella ....................................................
22
2.
Ulat Kantung Mahasena corbetti ....................................
23
3.
Belalang Locusta migratoria manilensis .........................
24
4.
Daun yang Dimakan Sebagian Hingga Tulang Daun .....
25
5.
Daun yang Dimakan pada Tepi Daun .............................
25
6.
Daun yang Dimakan Sehingga Daun Berlubang ............
26
7.
Lokasi Penelitian Di Balai Diklat Kehutanan Samarinda.
39
8.
Pengambilan Data Dilapangan Persemaian Balai Diklat
Kehutanan Samarinda ....................................................
39
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor
1
2
3
4
Halaman
Tabel Data Pengamatan Hama Semai S. seminis Di
Persemaian Balai Diklat Kehutanan Samarinda…………..
34
Cara Perhitungan Frekuensi Kerusakan Semai S. seminis
Di Persemaian Balai Diklat Kehutanan Samarinda............
36
Cara Perhitungan Intensitas Kerusakan Semai S. seminis
Di Persemaian Balai Diklat Kehutanan Samarinda ...........
37
Tabel Data Suhu dan Kelembapan di Lokasi Penelitian....
38
DAFTAR TABEL
Nomor
Tubuh Utama
Halaman
1
Tally Sheet Pengamatan......................................................
2
Penentuan Nilai/Skor Serangan Hama.................................
3
Cara Penentuan Tingkat Kerusakan Tanaman....................
21
4
Frekuensi dan Intensitas Serangan Hama Perusak Daun...
26
5
Kisaran Suhu dan Kelembapan............................................
27
19
19
Lampiran
6
7
Data Pengamatan Hama Semai S. Seminis Di Balai Diklat
Kehutanan Samarinda………………………..........................
34
Data Suhu dan Kelembapan di Lokasi Penelitian…………..
38
BAB I
PENDAHULUAN
A. Gambaran Umum tentang Shorea Seminis
Shorea seminis ( DeVriese ) Sloot. Dalam Merr., PI. EIm.Born.( 1929 )
Pustaka : Ashton dalam Flora Malaisiana I, 9 ( 1982 )
Nama niaga : Kelompok balau.
Nama daerah : Meranti pakik ( M ), utang keladen ( D ), kawang ( B ).
Pohon , tinggi hingga 5 m, garis tengah hingga 1,2 m. Bulung basanya
pendek , sering terpilin. Banir mencolok, pendek dan tajam, atau tinggi hingga 3
meter, panjang 4,5 meter. Tajuk membulat, membentang lebar, lebat dammar
tidak pernah terlihat. Permukaan pepagan cokelat bebercak lebih mudah, agak
halus tetapi, berlentisel rapat, atau kasar bersisik, tidak berlekah, pohon lebih tua
mengelupas, dengan keripih agak besar. Pepagan luar biasanya tipis, pepagan
dalam cokelat kusam, suban kuning pucat, teras cokelat tua. Ranting langsing,
sering berusuk, ketika masih muda. Daun penumpu panjang kurang lebih 7 mm,
lebar kurang lebih 3,5 mm, melonjong , luru awal. Tangkai daun panjang 1-1,5
cm. Daun membundar telur lonjoang hingga melanset, panjang 9-18 cm, lebar
2,5-8 cm, permukaan bawah menggundul atau bersisik keabu – abuan,
menjangat tipis, pangkal membundar atau , kadang – kadang tidak sama, ujung
melancip, panjang 0,8 –2 cm, tulang daun sekunder 9 -15 pasang, agak lurus,
tulang daun tersiar lebat mirip tangga. Cuping kelopak hamper sama,
membundar telur tumpul, 2 yang disebelah dalam agak lebih sempit dan lebih
tipis dari pada 3 yang disebelah luar, mahkota hamper tidak terlihat, benang sari
30-40, bakal buah menggerucut hingga berbentuk gitar, tangkai putik pendek
gundul. Kelopak buah berbulu balik kekuningan keabu-abuan, cuping hamper
5
sama hingga 2x1,8 cm, membundar. Buah geluk garis tengah kurang lebih 1 cm
membulat telur atau membulat, sisa tangkai putik panjang hingga 12 mm kokoh.
Habitat dan ekologi : Lahan alluvial ditepi sungai yang becek sering tumbuh
mengelompok
Penyebaran : Borneo, Filipina
Penggunaan :Buahnya diolah sebagai sumber mentega tengkawan. Kayunya
sangat keras dan digunakan sebagai bahan kontruksi yang
memerlukan kekuatan.
Catatan :Bijinya mengapung dan cocok untuk penyebaran oleh air.
B. Frenkuensi dan Intensitas Kerusakan
Hasil perhitungan yang telah dilakukan dapat diketahui frenkuensi
kerusakan dan intensitas kerusakan tanaman Meranti Umur 4 Bulan Di
Persemaian BDK Samarinda dapat pada tabel . . . . . . . perhitunganya dapat
dilhat pada . . . . . .
Tabel . . Frekuensi Kerusakan dan Intensistas kerusakan Tanaman Meranti Umur
4 Bulan Di Persemaian BDK Samarinda.
Tingkat kerusakan
Sehat
Ringan
Sedang
Berat
Mati
Jumlah
Jumlah tanaman
yang rusak
21
7
12
10
0
50
Frekuensi
kerusakan
(%)
42
14
24
20
0
100
Intensitas
kerusakan
(%)
30,5
30,5
BerdasarkanTabel.. di atas dapat diketehui bahwa frekuensi tanaman
yang sehat adalah 42 %, frekuensi kerusakan ringan adalah 14 %, frekuensi
kerusakan sedang adalah 24 %, dan frekuensi keruskan berat adalah 20 %, serta
6
tanaman yang mati adalah 0 %. Intensitas kerusakan adalah 30,0 % termasuk
kedalam kategori kerusakan sedang.
Pada saat pengamatan dicatat keadaan suhu dan kelembapan, kisaran
suhu dan kelembapan selama pengamatan hama tanaman meranti dapat dilhat
pada tabel….. Untuk lebih lengkap mengenai data harian suhu dan kelembapan
Tabel… Kisaran Suhu dan kelembapan
No
KeadaanUdara
1 Suhu ( 0C )
2 Kelembapan ( % )
Pagi
Siang
7
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Uraian Hama Hutan
1.
Pengertian Hama
Menurut Natawiria dkk. (1991) hama adalah semua organisme hidup
yang tergolong pada jenis satwa/serangga yang dapat menimbulkan
kerusakan pada biji, bibit, tanaman muda dan tua yang secara ekonomis
berarti atau sangat merugikan karena berada di atas ambang ekonomi.
Anonim (1992) dalam Erlinda (1998), hama hutan adalah semua binatang
yang dapat menimbulkan kerusakan pada tegakan hutan dan hasil hutan,
yang mengakibatkan kerugian pada pohon atau tegakan hutan dan juga
hasil hutan yang secara ekonomis sangat berarti.
Selanjutnya menurut
Oemijati dkk (1991) dalam Aquastini (2007) hama hutan adalah semua
binatang yang merusak pohon, tegakan hutan, bagian pohon serta hasil
hutan. Sebagian besar (80%) dari binatang yang menimbulkan kerusakan
adalah serangga, selain itu tupai, tikus, babi hutan, bekicot berperan sebagai
hama, tetapi orang utan, gajah dan sebagainya tidak berperan sebagai hama
tetapi berpotensi sebagai hama.
2. Penggolongan Hama Hutan
Menurut
Anonim
(1992),
hama
hutan
dapat
digolongkan
berdasarkan bagian pohon yang diserang dan berdasarkan jenis pohon yag
diserang. Pembagian hama hutan berdasarkan bagian pohon yang diserang
adalah sebagai berikut :
8
a. Serangga perusak daun (Defoliating insects)
Serangan serangga mengakibatkan sebagian atau seluruh bagian
dari daun rusak karena dimakan. Biasanya serangga perusak daun ini
termasuk dalam ordo-ordo Lepidoptera, Hymenoptera dan Diptera. Hanya
stadium larvanya yang merusak daun.
b. Serangga penggerek kulit pohon (Inner bark boring insects)
Bagian yang dirusak adalah kulit pohon bagian dalam sampai ke
kambium. Lubang gerekan serangga dapat merusak atau menutup jalan
pengiriman bahan makanan pohon yang dikirim akar kedaunnya. Apabila
kerusakan yang ditimbulkan sampai melingkari pohon, maka akan dapat
membentuk suatu terusan yang mengakibatkan terhalangnya pengiriman
bahan makanan dari akar ke daun, sehingga bila akar pohon sampai mati,
pohonnya akan mati.
Serangga penggerek kulit pohon ini biasanya
termasuk kedalam ordo Coleoptera.
c. Serangga pengebor pohon kulit kayu (Wood boring insects)
Kerusakan bentuk lubang-lubang yang mempunyai bermacammacam ukuran dan bentuk.
Lubang-lubang dapat dijumpai baik pada
batang dan cabang yang masih hidup ataupun pada balok-balok atau
kayu kering, tiap-tiap serangga pengebor kayu mempunyai spesifikasi
tersendiri. Ada yang tinggal didalam kayu sebagai tempat tinggal saja,
tetapi kebanyakan hidup dengan memakan batang kayu.
Beberapa
serangga ada yang hanya merusak pohon yang sehat dan ada pula
merusak pohon yang sedang merana. Serangga pengebor batang kayu
termasuk kedalam ordo Coleoptera.
9
d. Serangga penghisap cairan pohon (Sapsucking insects)
Kerusakan yang ditimbulkan berbentuk noda-noda, perubahan
warna, bentuk yang besar atau terhentinya pertumbuhan bagian-bagian
tertentu. Misalnya daun-daun atau cabang-cabang. Serangga penghisap
cairan pohon termasuk ordo Homoptera, Hymenoptera, dan Diptera.
e. Serangga perusak pucuk dan batang (Bud and twig insects)
Kerusakan yang timbul akibat dari pucuk dan cabang yang dirusak
berlubang-lubang dan diteras oleh serangga.
Oleh karena pucuk
merupakan tempat pertumbuhan dari pohon, maka serangga perusak
pucuk dan cabang sangat merugikan, penderita paling berat adalah bila
serangannya mengebor kedalam pucuk pohon, serangga perusak pucuk
biasanya termasuk kedalam ordo Lepidoptera, Coleoptera, Hemiptera dan
Hymenoptera.
f.
Serangga perusak anakan (Seedling insects)
Pada umumnya seluruh bagian dari anakan merupakan makanan
yang digemari oleh bermacam-macam serangga karena bagian itu masih
muda dan lunak.
Pada umumnya serangga atau binatang perusak
anakan merusak pada malam hari, sehingga pada siang harinya anakan
telah putus-putus batang atau daunnya, sedangkan kalau dicari
serangga-serangga sudah tidak ada lagi.
g. Serangga perusak akar (Root insects)
Pada umumnya bagian akar yang dirusak adalah ujung akar
tanaman muda yang merupakan bagian yang sangat lunak. Disamping
serangga, binatang perusak akar yang sering dijumpai adalah cacing
bulat, serangga perusak akar biasanya termasuk dalam ordo Coleoptera.
10
3. Gejala dam Tanda Serangan Hama
a. Gejala serangan hama
Menurut Coulson (1984), bentuk kerusakan daun akibat serangan
serangga dapat berupa:
-
Free feeding yaitu serangga memakan sebagian atau seluruh daun
kecuali tulang daun.
-
Hole feeding yaitu serangga memakan sebagian kecil pada semua
lapisan daun sehingga daun menjadi berlubang-lubang.
-
Skeletonizing yaitu serangga memakan bagian daun yang lunak saja
sehingga tinggal rangka.
b. Tanda serangan hama
Contoh tanda serangan hama adalah adanya telur, larva, imago,
kotoran, cairan dan lain sebagainya. Menurut Natawigena (1990), bentuk
larva serangga terdiri dari:
-
Eruciform, yaitu bentuk tubuh silindris, kepala berkembang baik,
thorax bertungkai, pada abdomen ada kaki semu (proleg). Contoh:
larva Lepidoptera dan beberapa Hymenoptera.
-
Scarabaeiform, yaitu tubuh melengkung, kepala berkembang baik,
thorax bertungkai, abdomen tanpa proleg. Contoh: larva Coleoptera.
-
Compodeiform, yaitu tubuh memanjang agak pipih, thorax bertungkai.
Contoh: larva Coleoptera.
-
Elateriform, yaitu tubuh memanjang, kecil, silindris, kulit agak keras,
tungkai agak pendek dan bulu pada abdomen pendek.
beberapa spesies Lepidoptera.
Contoh:
11
-
Vermiform, yaitu seperti cacing, tidak bertungkai, ada atau tanpa
kepala. Contoh: larva diptera, banyak pada Hymenoptera, beberapa
Coleoptera dan Lepidoptera.
4. Ciri-ciri Umum Beberapa Ordo Serangga
Menurut Soeyamto (1995) dalam Erlinda (1998), ciri-ciri umum
beberapa ordo serangga yaitu:
a. Kumbang (Ordo Coleopeta)
Serangga ini mempunyai dua pasang sayap, sayap depan keras
dan tebal yang disebut Elytra, dalam keadaan istirahat menutupi hampir
seluruh abdomen.
Sayap belakang membran untuk terbang,dalam
keadaan istirahat dilipati dilindungi oleh Elytra.
Alat tipe mulut
pengunyah. Antena 10-14 ruas, mata majemuk, kaki torak tak punya kaki
abdomen.
Pada umumnya Coleoptera menjadi hama yang penting,
beberapa diantaranya yang hidup sebagai predator.
b. Kupu-kupu (Ordo Lepidoptera)
Ukuran bermacam-macam, jenis-jenisnya cukup banyak. Bangsa
kupu-kupu terdiri dari pejer dan karper. Kupu-kupu ada yang hidup pada
siang hari (Rhopalacera) dan yang hidup pada malam hari (Heterocera).
Pada larva tipe alat mulut mengigit pengunyah, sedangkan dewasa tipe
penghisap. Larva hidup sebagai pemakan tumbuh-tumbuhan, predator,
sebagai hama gudang dan ada yang hidup sebagai pemakan sisa-sisa
tumbuh-tumbuhan yang membusuk.
c.
Belalang (Ordo Orthoptera)
Mempunyai ukuran tubuh yang sedang sampai besar, ada yang
mempunyai sayap dan ada yang tidak bersayap sedangkan yang
12
bersayap mempunyai dua pasang sayap terdiri dari empat buah, alat
mulut mengunyah dan menggigit.
Suara yang jantan ada yang
mempunyai alat penghasil suara yang terletak pada tibia atau abdomen.
d. Rayap (Ordo Isoptera)
Ordo Isoptera adalah Rayap yang hidup sebagai serangga sosial
dan hidup dalam satu koloni yang terdiri dari rayap pekerja (Kasta
pekerja), kasta reproduktif dan kasta prajurit
e. Lebah (Ordo hymenoptera)
Mempunyai dua pasang sayap yang tipis, sayap depan lebih lebar
dari sayap belakang.
Metamorfosis sempurna. Tipe antena sedang
sampai panjang. memiliki ovipositor yang berfungsi sebagai alat
penyengat.
f.
Lalat (Ordo Diptera)
Mempunyai satu pasang sayap yang tipis, sayap belakang hanya
beberapa bonggolan kecil disebut halters.
Tipe mulut menusuk dan
menghisap, antena pendek, metamorfosis sempurna. tubuh relatif lunak.
Larva dipteral disebut belatung.
g.
Kutu (Ordo Homoptera)
Mempunyai dua pasang sayap, sayap depan lebih besar dari pada
sayap belakang saat beristirahat sayap disusun seperti atap genteng.
Metamorfosis sederhana, tipe mulut menusuk dan menghisap, antena
pendek dan panjang.
h.
Kepik (Ordo Hemiptera)
Hemiptera terdiri dari berbagai jenis kepik, kutu loncat, kutu perisai,
dan kutu sisik yang mempunyai alat tipe penghisap. Makanannya cairan
13
tanaman. Sayap muka tebal, dari zat tanduk, sayap belakang menonjol
dibawah sayap depan.
5.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Serangga
Menurut
Jumar
(2000),
faktor-faktor
yang
mempengaruhi
perkembanganbiakan serangga terdiri dari faktor biotik dan faktor abiotik
sebagai berikut:
a.
Faktor Biotik
1) Daya reproduksi dan daya survival.
Daya reproduksi adalah
kemampuan reproduksi
suatu
serangga di dalam periode waktu tertentu dari setiap ekor serangga
betina yang dewasa pada keadaan sekeliling yang optimum. Faktorfaktor
yang
menentukan
daya
reproduksi
adalah:
fecundity
(kesuburan) yaitu kemampuan reproduksi suatu serangga untuk
menghasilkan telur, life cyle yaitu panjang umur serangga dari mulai
telur sampai menjadi imago, sex ratio yaitu perbandingan antara
serangga jantan dan betina yang dihasilkan dari telur-telurnya,
parthenogenesis
yaitu
perkembangan
tanpa
pembuahan,
polyembrioni yaitu dua serangga atau lebih yang dapat dihasilkan
dari telur.
Daya Survival adalah kemampuan tumbuh, cara hidup dan
sifat-sifat lainnya dari serangga untuk dapat tetap hidup dengan
keadaan sekitarnya
2) Parasit dan Predator
Parasit adalah suatu organisme yang hidup di dalam atau di
luar tubuh organisme lain, dimana organisme yang pertama
14
mendapat kebutuhan hidupnya dari organisme kedua sehingga
organisme kedua dirugikan.
Predator adalah suatu organisme yang hidup di alam, yang
untuk hidupnya mendapatkan makanan dengan memangsa dan
membunuh mangsanya, baik berupa telur, pupa/nimfa ataupun
imago. Biasanya selama hidup predator memerlukan lebih dari satu
mangsa.
3) Kualitas dan Kuantitas Makanan
Kualitas makanan adalah keadaan makanan sesuai (cocok)
atau tidak sesuai (tidak cocok) dengan yang disukai serangga. Setiap
jenis serangga hama memilih pakan berupa
bagian tumbuhan
tertentu. Ada serangga hama yang mengkonsumsi daun ,jaringan
pengangkutan (xilem dan atau floem), epidermis dan lain sebagainya.
Variasi kebutuhan jenis pakan ini dapat terjadi pada spesies yang
berbeda, pada stadium perkembangan yang berbeda dalam spesies
yang sama maupun pada umur serangga yang berbeda.
Kuantitas
makanan
adalah
keadaan
makanan
dengan
jumlahnya cukup atau tidak bagi serangga. Spesies serangga akan
semakin banyak variasinya apabila makanan yang tersedia berupa
jenis-jenis tanaman inang juga cukup variasinya.
Tersedianya makanan dengan kualitas yang sesuai (cocok)
dan kuantitas yang cukup bagi serangga, akan menyebabkan
meningkatnya populasi serangga dengan cepat. Sebaliknya apabila
keadaan kekurangan makanan, maka populasi serangga dapat
menurun.
15
b.
Faktor abiotik
1) Suhu
Serangga adalah binatang yang berdarah dingin artinya suhu
badan sama dengan suhu di sekelilingnya, karena tergantung pada
temperatur di sekeliling untuk hidup, tumbuh dan berkembang dari
telur sampai dewasa suhu di sekitarnya harus berada pada daerah
temperatur yang cocok untuk perkembangan hidup serangga ada
zona-zona aktifitas kehidupan serangga.
Suhu efektif untuk
perkembangan serangga berkisar antara 15 – 38 ºC sedangkan suhu
optimum untuk perkembangan serangga adalah 26ºC.
2) Hujan/kelembapan
Butiran air hujan yang kecil dan ringan tidak banyak berpengaruh
pada serangga, tetapi untuk hujan deras dengan butiran yang lebih
besar dapat membunuh serangga, dapat mengancam serangga ke
tempat yang banyak musuhnya atau ke tempat yang tidak ada
makanan.
3) Angin
Pengaruh langsung dari angin misalnya karena angin suatu
serangga dapat menyebar ke daerah yang jauh hingga dapat
menentukan makanan dan tempat yang baru untuk kehidupan
serangga tapi dapat juga karena angin suatu serangga dapat terbawa
ke tempat yang tidak ada makanannya dan banyak musuhnya.
16
B. Gambaran Umum Meranti Pakik (Shorea seminis)
Menurut Heyne (1987), termasuk dalam kelompok balau, dengan nama
daerah Meranti Pakik (M), Utang Keladen (D), Kawang (B). Pohon tinggi hingga
5 m, garis tengah hingga 1,2 m. Bulung basanya pendek, sering terpilin. Banir
mencolok,pendek dan tajam, atau tinggi hingga 3 m, panjang 4,5 m.
Tajuk
membulat, membentang lebar, lebat damar tidak pernah terlihat. Permukaan
pepagan cokelat bebercak lebih mudah, agak halus tetapi berlentisel rapat, atau
kasar bersisik, tidak berlekah, pohon lebih tua mengelupas, dengan keripih agak
besar.
Pepagan luar biasanya tipis, pepagan dalam cokelat kusam, suban
kuning pucat, teras cokelat tua. Ranting langsing, sering berusuk, kietika masih
muda. Daun penumpu panjang kurang lebih 7 mm, lebar kurang lebih 3,5 mm,
melonjong , luru awal. Tangkai daun panjang 1-1,5 cm. Daun membundar telur
lonjoang hingga melanset, panjang 9-18 cm, lebar 2,5-8 cm, permukaan bawah
menggundul atau bersisik keabu – abuan, menjangat tipis, pangkal membundar
atau , kadang – kadang tidak sama, ujung melancip, panjang 0,8 – 2 cm, tulang
daun sekunder 9 -15 pasang, agak lurus, tulang daun tersiar lebat mirip tangga.
Cuping kelopak hampir sama, membundar telur tumpul, 2 yang disebelah dalam
agak lebih sempit dan lebih tipis dari pada 3 yang disebelah luar, mahkota
hamper tidak terlihat, benang sari 30-40, bakal buah menggerucut hingga
berbentuk gitar, tangkai putik pendek gundul. Kelopak buah berbulu balik
kekuningan keabu-abuan, cuping hamper sama hingga 2x1,8 cm, membundar.
Buah geluk garis tengah kurang lebih 1cm membulat telur atau membulat, sisa
tangkai putik panjang hingga 12mm kokoh. Habitat dan ekologi: lahan aluvial
ditepi sungai yang becek sering tumbuh mengelompok. Penyebaran: Borneo,
Filipina.
Penggunaan: buahnya diolah sebagai sumber mentega tengkawan.
17
Kayunya sangat keras dan digunakan sebagai bahan kontruksi yang memerlukan
kekuatan. Bijinya mengapung dan cocok untuk penyebaran oleh air.
C. Balai Diklat Kehutanan
Anonim (2009),
Balai Diklat Kehutanan sebagai sebuah Institusi
kediklatan, sarana praktek merupakan kebutuhan yang mutlak diperlukan karena
diklat merupakan wahana untuk menambah pengetahuan dan ketrampilan.
Peningkatan ketrampilan peserta diklat tidak akan terlihat apabila tidak difasilitasi
dengan kawasan yang dapat menunjukkan tingkat ketrampilan seseorang,
sehingga dengan demikian diklat dianggap tidak berhasil.
Oleh karena itu,
sarana Hutan Diklat mutlak diperlukan karena hutan diklat merupakan miniatur
dari sebuah pengelolaan hutan. Sehingga dengan demikian pengelolaan hutan
pendidikan dan pelatihan (Hutan Diklat) merupakan suatu sistem pengelolaan
kawasan hutan yang bersifat menyeluruh dan terpadu guna meningkatkan peran
kawasan dan sumberdaya alam hayati bagi peningkatan kualitas pendidikan dan
pelatihan. Pengelolaan kawasan hutan tersebut adalah untuk mendukung
pengembangan dan peningkatan kualitas sumberdaya manusia kehutanan yang
beriman dan bertaqwa dalam rangka membangun hutan secara lestari untuk
kesejahteraan masyarakat.
Saat ini, sesuai dengan Keputusan Menteri Kehutanan nomor: 8815/KptsII/2002, tanggal 24 September 2002 Balai Diklat Kehutanan Samarinda telah
mempunyai Hutan Diklat
seluas 4.310 hektar dan pada tahun 2009 telah
dilaksanakan survey potensi untuk memperoleh “potret” kawasan Hutan Diklat
tersebut serta potensi kelola kawasan. Akan tetapi sampai dengan saat ini Hutan
Diklat ini belum dapat dimanfaatkan sebagai sarana praktek lapangan bagi
peserta pelatihan. Hal tersebut disebabkan karena belum lengkapnya sarana
dan prasarana serta belum adanya dokumen Rencana Pengelolaan Hutan Diklat
18
sebagai dasar perencanaan pengelolaan hutan diklat ke depan (5 tahun
mendatang) yang terpadu, terarah dan berkesinambungan.
Persemaian yang ada di Balai Diklat Kehutanan ini merupakan
persemaian yang sederhana dengan luas tidak lebih dari 0,25 ha dimana terdiri
dari satu bangunan kantor yang merupakan juga gudang dan selebihnya
bedeng-bedeng untuk menyemaikan bibit terutama bibit-bibit Dipterocarpaceae
juga bibit-bibit jenis fast growing.
19
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada dua tempat yaitu di persemaian Badan
Diklat Kehutanan Samarinda dan
identifikasi hama dilakukan di laboratorium
Konservasi Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.
Penelitian dilaksanakan + 1 bulan mulai dari bulan Agustus 2012 sampai
dengan bulan September 2012 yang meliputi persiapan dilapangan dan
peralatan, pengambilan data dilapangan, pengolahan data dan penyusunan
penulisan.
B. Alat dan Bahan
1. Alat
Alat yang dipergunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
a) Kalkulator, untuk mengolah data
b) Alat tulis menulis
c) Kamera, untuk dokumentasi
d) Toples, untuk tempat hama
e) Pinset, untuk mengeluarkan hama dari dalam toples
f) Gunting, untuk mengunting daun
g) Higrometer untuk mengukur suhu dan kelembapan.
h) Mistar untuk mengukur besar kecilnya hama.
2. Bahan
Bahan yang akan digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut ;
a) Alkohol 70 %, untuk pengawetan hama
b) Label plastik, untuk penandaan nomor pohon
20
c) Semai meranti (Shorea seminis) sebanyak 50 buah
d) Kantong plastik, untuk menyimpan daun yg terserang hama
C. Prosedur Penelitian
1. Orientasi Lapangan dan Persiapan Semai
Orentasi lapangan dilakukan untuk mengetahui lokasi pengamatan dan
keadaan tanaman yang akan dijadikan sampel pengamatan. Semai yang
digunakan untuk penelitian ini adalah semai meranti (S. seminis) dengan
jumlah semai yang digunakan untuk sampel adalah sebanyak 50 semai.
2. Pemberian Nomor Sampel Pengamatan
Pemberian nomor sampel pengamatan dengan menggunakan label
plastik pada tanaman meranti untuk memudahkan dalam pengamatan.
3. Menangkap Hama
Melakukan penangkapan hama yang ditemukan pada saat pengamatan
(pagi hari pukul 08.00 – 10.00 dan siang pukul 13.00 – 15.00), menangkap
dengan cara manual (menggunakan tangan) kemudian dimasukkan ke dalam
toples berisi kapas yang telah diberi alkohol 70% untuk diawetkan.
4. Mengambil Gambar
Melakukan pengambilan gambar terhadap hama dan gejala kerusakkan
yang ditemukan pada tanaman meranti.
5. Pengambilan data di persemaian
Data yang diambil dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Gejala (symptom) serangan
Dilakukan dengan cara melihat perubahan fisik yang ditimbulkan
oleh semai, seperti daunnya berlubang, daun sebagian atau seluruhnya
habis dimakan, pucuk terpotong, dan sebagainya.
21
b. Tanda (sign)
Dilakukan dengan cara melihat tanda serangan hama seperti telur,
ulat, cairan, sarang, dan lain-lain. Untuk mengetahui serangan hama
yang menyerang digunakan identifikasi seperti yang dilakukan
Mardji
(1996), yaitu penentuan langsung di persemaian untuk jenis-jenis hama
yang telah benar-benar diketahui, sedangkan untuk jenis-jenis yang
belum diketahui atau meragukan, serangan hama yang ditemukan
dikumpulkan di dalam toples berisi alkohol 70% dan dibawa ke
laboratorium Konservasi Politeknik Pertanian Negeri Samarinda untuk di
identifikasi.
c. Jumlah semai yang sehat, terserang dan mati
d. Menangkap Hama
Melakukan penangkapan hama yang ditemukan pada saat
pengamatan (pagi hari pukul 08.00 – 10.00 dan siang pukul 13.00 –
15.00), menangkap dengan cara manual (menggunakan tangan)
kemudian dimasukkan ke dalam toples berisi kapas yang telah diberi
alkohol 70% untuk diawetkan.
Untuk mencatat data di persemaian digunakan tally sheet sebagai
berikut.
Tabel 1. Tally Sheet Pengamatan
No
Tanaman
Gejala
kerusakan
Tingkat
kerusakan
Nilai
Suhu (°C)
Pagi
Siang
Kelembapan
(%)
Pagi
siang
Ket
22
Menurut de Gusman (1985), Singh dan Mishra (1992) dalam
Aquastini (2007) cara menentukan nilai/skor serangan hama pada setiap
semai dapat dilihat pada Tabel 2 di bawah ini.
Tabel 2. Penentuan Nilai/Skor Serangan Hama
Kondisi semai
Skor
Sehat (tidak ada gejala serangan).
0
Terserang ringan (jumlah daun yang terserang relatife
sedikit dan jumlah serangan pada masing-masing daun
1
yang terserang sedikit atau daun rontok atau berlubang
sedikit).
Terserang sedang (jumlah daun yang terserang dan jumlah
serangan pada masing-masing daun yang terserang relatif
2
agak banyak atau daun rontok atau berlubang agak
banyak).
Terserang berat (jumlah daun yang terserang dan jumlah
serangan pada masing-masing daun yang terserang relatife
3
sangat banyak atau daun rontok atau berlubang sangat
banyak.
Mati (seluruh daun layu atau rontok atau tidak ada tanda4
tanda kehidupan).
6. Pengambilan Data di Laboratorium
Identifikasi jenis hama yang menyebabkan kerusakan semai
di
persemaian dilakukan dengan cara membandingkan bentuk-bentuk tubuh
serangga dengan literatur dan koleksi yang ada.
D. Pengolahan Data
Frekuensi serangan (F) dihitung menurut James (1974) dalam Aquastini
(2007), dengan membandingkan jumlah semai yang diserang dengan seluruh
jumlah setiap jenis semai yang diamati dalam persen seperti rumus berikut:
F=
Jumlah semai yang terserang dan yang mati
X 100 %
Jumlah seluruh semai sampel
23
Intensitas serangan (I) dihitung berdasarkan rumus menurut de Gusman
(1985), Singh dan Mishra (1992) dalam Aquastini (2007) sebagai berikut:
X1y1 + X2y2 + X3y3 + X4y4
I=
X 100 %
Xy4
Keterangan :
I = Intensitas serangan
X = Jumlah seluruh tanaman yang diamati
X1= Jumlah tanaman yang terserang ringan
X2= Jumlah tanaman yang terserang sedang
X3= Jumlah tanaman yang terserang berat
X4= Jumlah tanaman yang terserang sangat berat
Y1= Skor 1
Y2= Skor 2
Y3= Skor 3
Y4= Skor 4
Setelah diperoleh nilai intensitas serangannya, kemudian ditentukan
kondisi semai. Menurut Sharma dan Sankaran (1998) dalam Aquastini (2007),
cara penentuan tingkat kerusakan semai dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Cara Penentuan Tingkat Kerusakan Semai
Intensitas serangan %
Tingkat kerusakan
0-1
Sehat
>1 – 25
Rusak ringan (RR)
>25 – 50
Rusak sedang (RS)
>50 – 75
Rusak berat (RB)
>75 – 100
Rusak sangat berat(RSB)
24
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
1. Jenis-jenis Hama Daun
Berdasarkan hasil penelitian pada daun semai Meranti Pakik (S. seminis)
di persemaian Balai Diklat Kehutanan Samarinda ditemukan jenis hama daun
sebanyak 3 macam yaitu ulat Plutella xylostella, ulat kantung Mahasena
corbetti, dan belalang Locusta migratoria manilensis.
a. Ulat Plutella xylostella
Gambar 1. Ulat Plutella xylostella
Ulat ini mempunyai ciri-ciri berwarna hijau muda menyerupai warna
daun, berbuku-buku diselingi warna putih, sepanjang tubuh terdapat bintik
kecil warna coklat, diujung tubuh terdapat semacam tanduk warna coklat
tua diselimuti oleh bulu-bulu kecil, pada kedua ujung badan terdapat kaki
yang kecil berwarna coklat, ukuran tubuh + 9 cm.
Klasifikasi Ulat Plutella xylostella menurut Sugura dan Haruo (1997)
adalah sebagai berikut:
25
Kerajaan (Kingdom)
: Animalia
Filum (Phylum)
: Arthropoda
Kelas (Class)
: Insecta
Bangsa (Ordo)
: Lepidoptera
Suku (Familia)
: Plutellidae
Marga (Genus)
: Plutella
Jenis (Species)
: Plutella xylostella
b. Ulat Kantung Mahasena corbetti
Gambar 2. Ulat Kantung Mahasena corbetti
Ulat kantung ini mempunyai ciri-ciri berwarna coklat menyelimuti
seluruh tubuh, menempel pada daun hingga dewasa, termasuk dengan
karakter yang unik tinggal dalam kantong yang mudah dibawa.
Klasifikasi Ulat Kantung Mahasena corbetti menurut Anonim (2010)
adalah sebagai berikut:
Kerajaan (Kingdom)
: Animalia
Filum (Phylum)
: Arthropoda
Kelas (Class)
: Insecta
26
Bangsa (Ordo)
: Microlepidoptera
Suku (Familia)
: Psychidae
Marga (Genus)
: Mahasena
Jenis (Species)
: Mahasena cobetti
c. Belalang Locusta migratoria manilensis
Gambar 3. Belalang Locusta migratoria manilensis
Belalang jenis ini mempunyai ciri-ciri berwarna coklat, dengan ukuran
+ 4,5 cm, mempunyai sepasang kaki belakang bagian femurnya yang
besar dan panjang sehingga mampu melompat jauh, tubuh ramping dan
ujung kepala runcing.
Klasifikasi Belalang Locusta migratoria manilensis menurut Anonim
(2010) adalah sebagai berikut:
Kerajaan (Kingdom)
: Animalia
Filum (Phylum)
: Arthropoda
Kelas (Class)
: Insecta
Bangsa (Ordo)
: Orthoptera
Suku (Familia)
: Locustidae
Marga (Genus)
: Locusta
Jenis (Species)
: Locusta migratoria manilensis
27
2. Bentuk Kerusakan Daun
Bentuk kerusakan daun yang ditimbulkan oleh hama perusak daun semai
S. Seminis yaitu dengan adanya daun yang dimakan pada tepi daun, daun
yang dimakan sebagian sampai tulang daun utamanya dan ada pula daun
yang dimakan hanya pada tengah daun sehingga daun berlubang. Untuk
lebih jelasnya bentuk-bentuk kerusakan daun dapat dilihat pada gambar 4, 5,
dan gambar 6 dibawah ini.
Gambar 4. Daun yang Dimakan Sebagian Hingga Tulang Daun
Gambar 5. Daun yang Dimakan pada Tepi Daun
28
Gambar 6. Daun yang Dimakan Sehingga Daun Berlubang.
3. Frekuensi dan Intensitas Serangan
Data lengkap hasil penelitian dapat dilihat pada lampiran 1.
Cara
perhitungan frekuensi dan intensitas serangan dapat dilihat pada lampiran 2,
sedangkan hasil perhitungan frekuensi dan intensitas serangan dapat dilihat
pada Tabel 5 berikut ini.
Tabel 5. Frekuensi dan Intensitas Serangan Hama Perusak Daun
Tingkat kerusakan
Jumlah
tanaman
Yang rusak
21
Frekuensi
Serangan (%)
Rusak Ringan
7
14
Rusak Sedang
12
24
Rusak Berat
10
20
Rusak Sangat Berat
0
0
Jumlah
50
100
Sehat
Intensitas
Serangan
(%)
42
30,5
Pada Tabel 5 di atas diketahui bahwa daun semai S. seminis dengan
tingkat kerusakan sehat sebesar 42%, tingkat kerusakan ringan mempunyai
frekuensi serangan sebesar 14 %, tingkat kerusakan sedang frekuensinya 24
29
%, dan tingkat kerusakan berat sebesar 20 %, sedangkan intensitas serangan
daun semai meranti pakik adalah 30,5 %, termasuk kategori rusak sedang.
Pada saat pengamatan dicatat keadaan suhu dan kelembapan, kisaran
suhu dan kelembapan selama pengamatan hama semai S. seminis dapat
dilihat pada Tabel 6 di bawah ini. Untuk lebih lengkap mengenai data harian
suhu dan kelembapan dapat dilihat pada lampiran 3.
Tabel 6. Kisaran Suhu dan Kelembapan
No
Keadaan Udara
0
1
Suhu ( C)
2
Kelembapan (%)
Pagi
Siang
28,1 – 30
32,8 – 35,5
62 – 79
46 – 59
B. Pembahasan
1.
Jenis Hama Daun dan Bentuk Kerusakan Daun
a. Ulat Plutella xylostella
Ulat ini menyerang daun dengan memakan hampir separuh dari
seluruh daun. Menurut Anonim (2010), ulat tritip tergolong nyengat jenis
kecil, bersembunyi di bawah permukaan daun sambil merusak jaringan
dan memakan selnya. Pada serangan ringan membuat daun tampak
bercak-bercak putih. Kehadirannya dipicu suhu dan kelembapan tinggi
lantaran saat itu serangga dewasa ramai-ramai berbiak. Instar memakan
permukaan daun dan meninggalkan lubang serta luka-luka. Ulat Kantung
Mahasena corbetti
Ulat Kantung Mahasena corbetti memakan daun pada tengah daun
membuat daun berlubang-lubang, yang tersisa hanya tulang daun primer
dan sekunder saja. Menurut Anonim (2010), ulat kantung ini berkerabat
30
dekat dengan kupu-kupu dan nyengat, bersifat polifag, memangsa hampir
semua tanaman buah dan tanaman hias berdaun dengan membentuk
kantung dan menetap hingga dewasa pada kantung tersebut. Daun yang
dimakan berlubang dengan jarak yang berdekatan, pada serangan berat
membuat warna daun di sekitar lubang menguning. Biasanya muncul
awal musim kemarau dimana pada saat itu memicu pupa menjadi
serangga dewasa yang segera kawin dan bertelur.
b. Belalang Locusta migratoria manilensis
Belalang Locusta migratoria manilensis memakan hampir separuh
daun mulai dari daging daun, tulang primer dan tulang sekunder.
Menurut Anonim (2010), anggota famili Locustidae tergolong hama
perusak yang sangat ditakuti.
Saat ini banyak menyerang sentra
tanaman padi, jagung dan sorgum. Mampu melahap mulai dari batang,
daun hingga tunas.
Gejala serangan tidak spesifik, tergantung tipe
tanaman dan tingkat populasi. Umumnya daun menjadi target utama,
bekas gigitan berbentuk sobekan bergerigi tidak beraturan.
Pada
serangan berat hanya tersisa tulang daun. Populasi berkembang pesat
ketika terjadi perubahan iklim.
Suhu dan kelembapan rendah
mempercepat pertumbuhan telur yang diletakkan dalam tanah.
2. Frekuensi dan Intensitas Serangan
Hasil perhitungan intensitas serangan hama daun semai S. seminis
adalah 30,5 %, maka tingkat kerusakan yang diakibatkan adalah termasuk
katergori rusak sedang, sesuai dengan pendapat Sharma dan Sankaran
(1998) dalam Rizal (2004), yang menyatakan bahwa semai termasuk dalam
kategori rusak sedang apabila intensitas serangan >25 – 50 %. Banyaknya
31
serangan pada daun karena jumlah daun pada setiap semai relatif lebih
banyak bila dibandingkan dengan bagian lainnya. Dengan banyaknya daun
yang menjadi makanan hama, maka perkembangbiakan hama menjadi lebih
cepat, pertambahan jumlah individu hama lebih cepat dan menyebabkan
serangan pada daun lebih banyak.
Ini sesuai dengan pendapat Sulthoni
(1978) dalam Rizal (2004), perkembangbiakkan hama sangat dipengaruhi
oleh kemampuan hama itu sendiri untuk berkembangbiak dan faktor
lingkungan, yaitu faktor fisik seperti suhu, kelembaban, curah hujan, cahaya
serta faktor makanan dan kualitas makanan. Kemudian faktor biotik seperti
persaingan hidup antar sesama jenis parasit dan predator.
Kehidupan hama sangat di pengaruhi oleh lingkungan.
Apabila
keseimbangan semua faktor lingkungan dapat dipertahankan secara ideal,
seperti halnya pada ekosistem alam, yang interaksi antara faktor-faktor itu
menghasilkan ekosistem yang tidak terganggu, maka gangguan hama dan
penyakit dapat ditekan sampai pada tingkat minimum.
Selain itu campur
tangan manusia terhadap hutan dapat menimbulkan gangguan keseimbangan
yang menstimulasi berkembangnya hama dan penyakit.
Menurut Anonim (2010), kondisi lingkungan sangat mempengaruhi
perkembangbiakan hama dimana kelembapan tinggi yakni ketika musim hujan
berakhir berganti kemarau, pada saat itu tanaman mulai membentuk tunas
bunga dan kelak menjadi buah pada saat kemarau.
Kondisi yang sangat
disenangi oleh hama karena telur menetas bersamaan dengan musim itu dan
langsung mendapatkan makanan yang berlimpah.
Selanjutnya
dinyatakan
juga
bahwa
kesehatan
tanaman
juga
mempengaruhi penyebaran hama dimana kekuatan sistem pertahanan
32
tanaman dipengaruhi oleh suplai hara, ketersediaan air dan intensitas sinar
matahari. Ketika tanaman kekurangan salah satunya pada saat itulah rentan
serangan hama ditambah lagi dengan penanaman yang monokultur, serangan
pada satu tanaman dapat meluluhlantakkan seluruh tanaman yang sejenis.
33
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian hama perusak daun semai S.
seminis di
persemaian Balai Diklat Kehutanan Samarinda, ditarik kesimpulan sebagai
berikut:
1. Hama yang menyerang ada 3 jenis yaitu adalahulat Plutella xylostella,
ulat
kantung
Mahasena
corbetti
dan
belalangLocusta
migratoria
manilensis.
2. Bentuk-bentuk kerusakan daun yang ditimbulkan yaitu adanya daun yang
dimakan pada tepi daun, daun yang dimakan sebagiansampai tulang
daun utamanya dan daun yang dimakan hanya pada tengah daun
sehingga daun berlubang-lubang.
3. Frekuensi serangan hama pada tingkat kerusakan sehat adalah 21 %,
tingkat kerusakan ringan adalah 14 %, tingkat kerusakan sedang adalah
24 % dan tingkat kerusakan berat adalah 20 %, sedangkan Intensitas
serangan hama adalah 30,5 % termasuk kategori kerusakan sedang.
B. Saran
1. Untuk menghindari meningkatnya intensitas serangan hama yang lebih besar
sebaiknya dilakukan pengawasan yang lebih intensif seperti penyemprotan
pestisida.
2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan waktu yang lebih lama terhadap
hama daun semai S. seminis, untuk mendapatkan informasi lebih lengkap.
34
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 1992. Manual Kehutanan. Departemen Kehutanan Republik Indonesia,
Jakarta.
Anonim. 2009. Rencana Pengelolaan 2010-2035 Hutan Diklat Loa Haur. Balai
Pendidikan dan Latihan Kehutanan. Samarinda.
Anonim.
2010.
Hama dan Penyakit Tanaman,
Penanggulangan. Trubus Info Kit. Jakarta.
Deteksi
Dini
dan
Aquastini, D. 2007. Identifikasi dan Pemberantasan Penyakit pada Semai 3
Jenis Dipterocarpaceae Di Persemaian Politeknik Pertanian Negeri
Samarinda. Tesis Sarjana S2. Universitas Mulawarman. Samarinda. 107
hlm.
Coulson, R. N. 1984. Forest Entomology. Ecology and Management. John
Wiley and Sons, New York. 651 hlm.
Darmansyah. 2009. Pengamatan Serangan Belalang Perusak Daun Tanaman
Kapur (Dryobalanops sp) Umur 2 Tahun Di PT.Hanurata Sangkulirang.
Karya Ilmiah Politeknik Pertanian Negeri Samarinda. Samarinda.
Erlinda. 1998. Pengamatan Serangga Perusak Daun Anakan Acacia mangium
Willd Umur 5 Bulan Di Persemaian Lempake. Karya Ilmiah Politeknik
Pertanian Negeri Samarinda. Samarinda.
Hadi, S. 1986. Pengelolaan Hutan Tanaman Industri dengan Penekanan pada
Masalah Upaya Perlindungan Terhadap Penyakit.
Prosiding Seminar
Nasional Ancaman Terhadap HTI. Jakarta. Hlm 38-50.
Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia Jilid III.
Kehutanan Jakarta. 1420 hlm.
Badan Litbang
Jumar. 2000. Entomologi Pertanian. Penerbit Renika Cipta. Jakarta.
Mardji, J. 1996. Hama dan Penyakit Tanaman Jenis Dipterocarpaceae Di Bukit
Soeharto. Lembaga Pendidikan Universitas Mulawarman. Samarinda
Natawigena. 1990. Entomologi Pertanian. Orba Shakti. Bandung. 200 hlm.
Natawiria, D.; M. Suharti dan E. Santoso. 1991. Teknik Pengenalan
Penyakit Hutan Tanaman Industri. Informasi Teknis Nomor 22. Pusat
Penelitian dan Pengembangan Hutan. Bogor. 34 hlm.
Rizal. 2004. Pengamatan Serangan Hama Perusak Daun Tanaman Jati
(Tectona grandis L. F) Umur Tiga Tahun Km. 38 Arah BalikpapanSamarinda, Kelurahan Sei Merdeka Kecamatan Samboja. Karya Ilmiah
Politeknik Pertanian Negeri Samarinda. Samarinda.
35
Sugura, I. G. And F. Haruo. 1997. The Life Histories of Asian Butterflyes.
Vol. 1. Tokai University Press, Tomigaya, Shibuya-ku Tokyo. Japan. 151
hlm.
Sutisna, M.
1991.
Budidaya Hutan Hujan Dipterocarpaceae, Alternatif
Pengelolaan yang Berkesinambungan. GFG Report. No 20, Desember
1991. Faculty of Forestry Mulawarman University. Samarinda.
33
Lampiran 1.
Tabel 1. Data Pengamatan Hama Semai S. seminis Di Persemaian Balai Diklat
Kehutanan Samarinda
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
Bentuk kerusakan
tanaman
Daun berlubang
Sehat
Daun berlubang
Sehat
Daun berlubang, daun
dan tulang daun dimakan
Sehat
Daun berlubang
Sehat
Hanya tengah daun yang
berlubang
Daun berlubang
Sehat
Daun berlubang daun dan
tulang daun dimakan
Daun berlubang
Sehat
Hanya ujung daun yang
dimakan
Daun berlubang
Daun berlubang daun
dimakan
Daun berlubang, daun
dan tulang daun dimakan
Daun dimakan
Daun berlubang
Daun berlubang
Daun berlubang, daun
dimakan
Daun berlubang daun dan
tulang daun dimakan
Daun berlubang
Daun berlubang
Daun berlubang dan
tulang daun dimakan
Daun berlubang
Hanya ujung daun
dimakan
Daun berlubang
Daun berlubang, daun
dan tulang daun yang
dimakan
ingkat kerusakan
Nilai
Sedang
Sehat
Sedang
Sehat
Sedang
2
0
2
0
2
Sehat
Berat
Sehat
Sehat
0
3
0
0
Sedang
Sehat
Berat
2
0
3
Sedang
Sehat
sehat
2
0
0
Sedang
Ringan
2
1
Berat
3
Ringan
Ringan
Ringan
Berat
1
1
1
3
Berat
3
Sedang
Ringan
Berat
2
1
3
Ringan
Sehat
1
0
Sehat
Berat
0
3
Keterangan
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
Daun berlubang
Hanya daun yang
berlubang
Hanya tengah daun
berlubang
Daun berlubang
Hanya tengah
daun yang dimakan
Hanya ditengah daun
yang berlubang
Daun berlubang, daun
dan tulang daun dimakan
Hanya tengah daun yang
berlubang
Sehat
Daun berlubang
Daun berlubang
Daun berlubang
Hanya ujung daun yang
dimakan
Daun berlubang, daun
dan tulang daun dimakan
Sehat
Daun berlubang
Hanya ujung yang
dimakan
Sehat
Hanya tengah daun yang
berlubang
Daun berlubang, daun
dan tulang daun dimakan
Sedang
Sehat
2
0
Sehat
0
Sedang
Sehat
2
0
Sehat
0
Berat
3
Sehat
0
Sehat
Sedang
Sedang
Sedang
Sehat
0
2
2
2
0
Berat
3
Sehat
Ringan
Sehat
0
1
0
Sehat
Sehat
0
0
Berat
3
Lampiran 2.
Cara Perhitungan Frekuensi Pengamatan Hama Perusak Daun pada Semai S.
seminis Di Persemaian Balai Diklat Kehutanan Samarinda
F!
"
$ 100 %
#
Ketengan :
F
: Frekuensi Serangan Hama
N
: Jumlah Tanaman Selurhnya
N
: Jumlah tanaman yang rusak pada masing – masing tingkat
1. Sehat :
F!
&'
()
$ 100 %
= 42%
2 . Tingkat Kerusakan Ringan
F!
*
$
()
100 %
= 14%
3. Tingkat Kerusakan Sedang
'&
F ! () $ 100 %
= 24%
4. Tingkan Kerusakan berat
')
F ! () $ 100 %
= 20%
Lampiran 3.
Cara Perhitungan Intensitas Pengamatan Hama Perusak Daun Pada Semai S.
seminis Di Persemaian Balai Diklat Kehutanan Samarinda
i!
X'Y' + X&Y& + X,Y, + X-YXY -
x 100%
Keterangan :
I = Intensitas serangan
X = Jumlah seluruh tanaman yang diamati
X1 = Jumlah tanaman yang terserang ringan
X2 = Jumlah tanaman yang terserang sedang
X3 = Jumlah tanaman yang terserang berat
X4 = Jumlah tanaman yang mati
Y1 = skor 1
Y2 = skor 2
Y3 = skor 3
Y4 = skor 4
Intensitas kerusakan pada tanaman meranti :
i!
*.' + '&.& + ')., + ).-
i!
*+&-+ ,)+)
i!
/'))
() . -
&))
&))
x 100%
= 30,5 %
x 100%
Lampiran 4.
Data Suhu Dan Kelembapan Di Lokasi Penelitian
Hari
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
kisaran
Keterangan:
Pagi
Suhu C
Pagi
Siang
29,4
33,4
28,3
33,2
29,7
35,3
28,1
33,4
28,2
35,5
28,7
32,8
29,3
33,3
29,3
35,5
30,0
33,1
29,7
33,4
28,1
35,3
28,3
33,8
30,0
32,8
29,3
33,3
29,4
33,2
28,1 - 30,0
32,8 - 35,5
: 08.00 – 10.00
Siang : 13.00 – 15.00
Kelembapan %
Pagi
Siang
73
57
75
55
73
56
79
59
76
58
72
46
62
55
68
56
68
57
75
55
73
55
75
57
72
56
62
56
73
57
62 - 79
46 - 59
Download