PENGELOLAAN UANG PERSEDIAAN SUMBER DANA PNBP

advertisement
PENGELOLAAN UANG
PERSEDIAAN SUMBER
DANA PNBP
4
Menjelaskan Pengelolaan UP Sumber Dana PNBP
Menyebutkan Dasar Hukum Pengelolaan UP PNBP
Mengidentifikasi Pagu Jenis Belanja PNBP dalam
DIPA/POK
Menghitung Pagu Kegiatan dan Output Sumber Dana
PNBP
Menghitung UP/TUP Sesuai Formula Maksimum Pencairan
Membagi UP/TUP PNBP ke Unit Kerja Terkait
Mengumpulkan Bukti Pengeluaran Tepat pada Waktunya
Mengidentifikasi Bukti Pengeluaran Menurut Jenis Belanja
dan Output
Membandingkan Jumlah Realisasi dengan UP/TUP
Menyiapkan Dokumen Lampiran Permintaan
Pembayaran UP/TUP/GUP Sumber Dana PNBP
Memeriksa Arus Kas/Dana Revolving di Rekening Bank/Pos
Pusdiklat Anggaran dan Perbendaharaan
5
Uraian dan Contoh
Pengertian
Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) yang bersumber dari dana Penerimaan
Negara Bukan Pajak (PNBP) adalah sumber dana DIPA yang berasal dari setoran PNBP
kepada kas negara, yang dilakukan oleh satuan kerja K/L yang mempunyai PNBP fungsional.
Satuan kerja K/L yang memperoleh dana dalam DIPA, beberapa diantaranya ada yang
bersumber dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Satker yang memiliki sumber dana
seperti ini, adalah satker K/L yang pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya di bidang
pelayanan masyarakat, dapat memperoleh penerimaan sebagai jasa pelayanan tersebut.
Penerimaan terkait jasa pelayanan yang diberikan oleh satker, diterima, dicatat,
dilaporkan, dan disetorkan ke kas negara oleh bendahara penerimaan. Dari setoran PNBP
tersebut, dengan persetujuan Menteri Keuangan, satker yang bersangkutan dapat menarik
dan menggunakan dana tersebut (PNBP) untuk membiayai kegiatannya, dengan proporsi
tertentu yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.
Setelah tercantum dalam DIPA sebagai sumber dana PNBP, satker dapat mengajukan
penarikan dana untuk digunakan membiayai kegiatan. Salah satu penarikan dalam rangka
pembayaran belanja dari DIPA PNBP adalah memalui Uang Persediaan. Dana UP yang
berasal dari sumber dana PNBP, dapat ditarik dan dikelola oleh bendahara pengeluaran,
dengan rumus/formula tertentu sesuai peraturan yang berlaku.
Pembayaran tagihan atas beban belanja negara yang bersumber dari penggunaan
PNBP, dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut:
a.
Satker pengguna PNBP menggunakan PNBP sesuai dengan jenis PNBP dan batas
tertinggi PNBP yang dapat digunakan sesuai yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.
b.
Batas tertinggi PNBP yang dapat digunakan merupakan maksimum pencairan dana
yang dapat dilakukan oleh Satker berkenaan.
c.
Satker dapat menggunakan PNBP setelah PNBP disetor ke kas negara berdasarkan
konfirmasi dari KPPN.
d.
Dalam hal PNBP yang ditetapkan penggunaannya secara terpusat, pembayaran
dilakukan berdasarkan Pagu Pencairan sesuai Surat Edaran/Peraturan Direktur
Jenderal Perbendaharaan.
e.
Besarnya pencairan dana PNBP secara keseluruhan tidak boleh melampaui pagu
PNBP Satker yang bersangkutan dalam DIPA.
Pusdiklat Anggaran dan Perbendaharaan
6
f.
Dalam hal realisasi PNBP melampaui target dalam DIPA, penambahan pagu dalam
DIPA dilaksanakan setelah mendapat persetujuan Menteri Keuangan c.q Direktur
Jenderal Anggaran.
Dasar Hukum
Penarikan dana DIPA yang bersumber dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP)
oleh satuan kerja Kementerian dan Lembaga dapat dilaksanakan sesuai ketentuan dalam
peratura-peratuan dibawah ini.
a.
Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2013
b.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 190/PMK.05/2012
c.
Peraturan tentang penarikan dana PNBP terkait
Jenis-Jenis Satker Pengelola PNBP
Menurut tata cara penarikan, penggunaan dana, dan pertanggungjawabannya, satker
yang memiliki sumber dana PNBP dalam DIPA, dapat dibedakan sebagai berikut:
1)
Instansi Penguna PNBP
a.
Penyetoran Terpusat (sentralisasi)
b.
Penyetoran Tidak Terpusat (desentralisasi)
2)
Perguruan Tinggi Negeri Non-BHMN
3)
Badan Layanan Umum
Adapun materi pembahasan pada modul ini adalah untuk satker yang berstatus
sebagai Instansi Pengguna PNBP, yang pengelolaannya secara terpusat (sentralisasi) dan
desentralisasi.
Pusdiklat Anggaran dan Perbendaharaan
7
Formula Maksimum Pencairan
Secara umum, dana yang berasal dari PNBP dapat dicairkan maksimal sesuai formula
sebagai berikut:
MP = (PPP x JS) – JPS
MP
= maksimum pencairan dana
PPP = proporsi pagu pengeluaran terhadap pendapatan
JS
= jumlah setoran
JPS = jumlah pencairan dana sebelumnya sampai dengan SPM
terakhir yang diterbitkan
Dalam pengajuan SPM-UP/TUP/GUP PNBP ke KPPN, satker pengguna harus
melampirkan Daftar Perhitungan Jumlah MP. Untuk satker pengguna yang setorannya
dilakukan secara terpusat, pencairan dana diatur secara khusus dengan Surat Earan Dirjen
Perbendaharaan Negara tanpa melampirkan SSBP. Satker pengguna yang menyetorkan
pada masing-masing unit (tidak terpusat), pencairan dana harus melampirkan bukti setoran
SSBP yang telah dikonfirmasi oleh KPPN.
Besaran proporsi pagu pengeluaran terhadap pendapatan (PPP) untuk masing-masing
satker pengguna, diatur berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan yang berlaku.
Besarnya pencairan dana PNBP secara keseluruhan tidak boleh melampaui pagu PNBP
satker yang bersangkutan dalam DIPA. Pertanggungjawaban penggunaan dana UP/TUP
PNBP oleh Kuasa PA, dilakukan dengan mengajukan SPM GUP, baik isi/revolving, maupun
nihil/pengesahan ke KPPN setempat.
Khusus perguruan tinggi negeri selaku pengguna PNBP (non BHMN), sisa dana PNBP
yang disetorkan pada akhir tahun anggaran ke rekening kas negara, dapat dicairkan kembali
maksimal sebesar jumlah yang sama pada awal tahun anggaran berikutnya, meskipunDIPA
belum diterima dan merupakan bagian dari target PNBP yang tercantum dalam DIPA tahun
anggaran berikutnya.
Sisa dana PNBP dari satker pengguna selain perguruan tinggi negeri, yang disetorkan
ke rekening kas negara pada akhir tahun anggaran, merupakan bagian realisasi penerimaan
PNBP tahun anggaran berikutnya dan dapat dipergunakan untuk membiayai kegiatankegiatan setelah diterimanya DIPA.Sisa UP/TUP sumber dana PNBP sampai akhir tahun
Pusdiklat Anggaran dan Perbendaharaan
8
anggaran yang tidak disetorkan ke rekening kas negara, akan diperhitungkan pada saat
pengajuan pencairan dana UP tahun anggaran berikutnya.
Tata Cara Penarikan UP dan TUP
Seperti halnya DIPA yang bersumber dari Rupiah Murni (RM), penarikan dana UP pada
DIPA PNBP juga dapat dilakukan sesuai kebutuhan, baik UP Normal, Tambahan UP,
Perubahan UP, dan Dispensasi. Penarikan dana UP dan TUP tersebut dilakukan sesuai
kebutuhan dan menggunakan ketentuan yang berlaku sebagaimana diuraikan dibawah ini.
Satker pengguna PNBP dapat diberikan UP sebesar 20% (dua puluh persen) dari
realisasi PNBP yang dapat digunakan sesuai pagu PNBP dalam DIPA maksimum sebesar
Rp500.000.000 (lima ratus juta rupiah). Realisasi PNBP dimaksud, di dalamnya termasuk sisa
Maksimum Pencairan (MP) dana PNBP tahun anggaran sebelumnya. Dalam hal UP tidak
mencukupi dapat mengajukan TUP sebesar kebutuhan riil 1 (satu) bulan dengan
memperhatikan batas Maksimum Pencairan (MP).
Pembayaran UP/TUP untuk Satker Pengguna PNBP dilakukan terpisah dari UP/TUP
yang berasal dari Rupiah Murni. Satker pengguna PNBP yang belum memperoleh Maksimum
Pencairan (MP) dana PNBP dapat diberikan UP sebesar maksimal 1/12 (satu perduabelas)
dari pagu dana PNBP pada DIPA, maksimal sebesar Rp200.000.000 (dua ratus juta rupiah).
Ketentuan tersebut dapat dilakukan untuk pengguna PNBP sebagi berikut:
a.
yang telah memperoleh Maksimum Pencairan (MP) dana PNBP namun belum
mencapai 1/12 (satu perduabelas) dari pagu dana PNBP pada DIPA; atau
b.
yang belum memperoleh Pagu Pencairan
Penyiapan Perminataan Pembayaran
Pengajuan Surat Permintaan Pembayaran (SPP) untuk UP, Tambahan UP, dan
Penggantian UP (GUP) DIPA yang bersumber dari PNBP, harus dilakukan sesuai ketentuan
dan persyaratan yang berlaku. Demikian juga dengan dokumen yang harus dilampirkan dalam
SPP tersebut. Ketentuan pengajuan dan dokumen lampiran yang dipersyaratkan pada SPP
DIPA PNBP tersebut adalah sebagai berikut:
1.
Permintaan Pembayaran Uang Persediaan (UP)
Pusdiklat Anggaran dan Perbendaharaan
9
Surat Permintaan Pembayaran (SPP) UP untuk DIPA yang bersumber dari dana
PNBP, merupakan SPP permintaan uang muka kerja, yang dapat diajukan pertama kali
setelah satker menerima DIPA. Pengajuan SPP UP tersebut harus dilengkapi dengan
dokumen sebagai berikut:
a)
Daftar perhitungan dan SSBP tahun sebelumnya
b)
Realisasi penarikan dana PNBP tahun sebelunya
c)
Surat Keputusan tentang proporsi penarikan dana PNBP dari menteri/ketua
lembaga terkait
d)
2.
Perhitungan Maksimum Pencairan (MP)
Permintaan Pembayaran Tambahan UP
Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dapat mengajukan permintaan Tambahan
Uang Persediaan (TUP) kepada Kepala KPPN dalam hal sisa UP pada Bendahara
Pengeluaran
tidak
cukup
tersedia
untuk
membiayai
kegiatan
yang
sifatnya
mendesak/tidak dapat ditunda. Syarat penggunaan dana Tambahan UP adalah:
a)
digunakan dan dipertanggungjawabkan paling lama 1 (satu) bulan sejak tanggal
SP2D diterbitkan,
b)
tidak digunakan untuk kegiatan yang harus dilaksanakan dengan pembayaran LS.
Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) mengajukan permintaan Tambahan Uang
Persediaan (TUP) kepada Kepala KPPN selaku Kuasa Bendahara Umum Negara
(BUN) disertai:
a)
rincian rencana penggunaan TUP,
b)
dokumen lain yang dipersyaratkan oleh Kuasa BUN (KPPN) dalam rangka
penggunaan TUP
Seperti halnya DIPA yang bersumber dari Rupiah Murni, satker/Instansi
pengguna PNBP juga dapat memperoleh Tambahan UP dari DIPA yang bersumber
PNBP. Akan tetapi, TUP ini dapat diberikan oleh KPPN setelah menghitung proporsi
pengeluaran terhadap pendapatan dari PNBP yang sudah disetorkan ke kas negara.
Pengajuan SPP TUP untuk DIPA yang bersumber dari PNBP harus dilengkapi dengan
dokumen sebagai berikut:
a)
Daftar perhitungan setoran dan SSBP
b)
Rincian Rencana Penggunaan Dana
c)
Surat Pernyataan TUP dari KPA
d)
Surat Keputusan tentang proporsi penarikan dana PNBP dari menteri/ketua
lembaga terkait
e)
Perhitungan Maksimum Pencairan (MP)
Pusdiklat Anggaran dan Perbendaharaan
10
f)
Rekening koran yang menunjukkan saldo terakhir
g)
Surat Pernyataan KPA yang berisi kebutuhan mendesak, tidak dapat dibayarkan
secara langsung, dan sisa dana akan disetorkan ke kas negara.
3.
Permintaan Pembayaran Penggantian UP (GUP)
Pengajuan SPP-GUP baik Isi maupun Nihil, harus dilengkapi dengan dokumen
sebagai berikut:
a)
Daftar Rincian Penggunaan Dana
b)
Bukti Pembelian/Kuitansi/Bukti Pembayaran
c)
Copy SSP yang telah dikonfirmasi KPPN
d)
Surat Perintah Kerja, jika dipersyaratkan
e)
Berita acara pemeriksaan/serah terima barang/jasa
f)
Perhitungan Maksimum Pencairan (MP)
g)
Copy SSBP yang telah dilegalisir oleh KPA
Contoh
1)
Diketahui pagu DIPA sumber dana PNBP suatu satker Rp500 juta, dan Proporsi
Pengeluaran terhadap Pendapatan (PPP) adalah 80%. Uang Persediaan (UP) yang
sudah ditarik sebesar Rp100 juta (20% x Rp500 juta). Jumlah penerimaan yang telah
disetorkan ke kas negara sampai dengan saat ini sebesar Rp300 juta.
Dari transaksi diatas, dapat dihitung Maksimum Pencairan (MP) dengan rumus
sebagai berikut:
MP = (PPP x JS) – JPS
MP = (80% x Rp300 juta) – Rp100 juta
MP = Rp240 juta – Rp100 juta
MP = Rp140 juta
Berdasarkan perhitungan diatas, seluruh dana UP dapat disahkan menjadi
belanja negara, jika jumlah pertanggungjawaban penggunaan dana yang disampaikan
mencapai Rp100 juta. Seandainya Surat Permintaan PembayaranPenggantian UP
(SPP-GUP) yang diajukan melebihi Rp100 juta, maka jumlah maksimal yang akan
disahkan menjadi belanja negara tetap sebesar UP yang telah ditarik, yaituRp100 juta.
Meskipun demikian, Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) satker dimaksud, masih
dimungkinkan mengajukan Tambahan UP atau mengajukan pembayaran secara
langsung (SPM-LS) sebesar maksimal Rp40 juta, yaitu selisih lebih antara jumlah MP
terhadap UP yang telah ditarik.
Pusdiklat Anggaran dan Perbendaharaan
11
2)
Dengan mengunakan contoh diatas, jika jumlah penerimaan yang telah disetorkan ke
kas negara sampai saat ini sebesar Rp200 juta, maka MP dapat dihitnung sebagai
berikut:
MP = (PPP x JS) – JPS
MP = (80% x Rp200 juta) – Rp100 juta
MP = Rp160 juta – Rp100 juta
MP = Rp60 juta
Menurut perhitungan diatas, dari dana UP yang telah ditarik oleh bendahara
pengeluaran sebesar Rp100 juta, jumlah maksimal yang dapat disahkan menjadi
belanja negara hanya Rp60 juta. Demikian juga jumlah pembayaran langsung (SPMLS) yang dapat diajukan KPA satker/Instansi Pengguna PNBP tersebut, maksimal
hanya sebesar Rp60 juta.
Pusdiklat Anggaran dan Perbendaharaan
12
Rangkuman
Penerimaan terkait jasa pelayanan yang diberikan oleh satker, diterima, dicatat,
dilaporkan, dan disetorkan ke kas negara oleh bendahara penerimaan. Dari setoran
PNBP tersebut, dengan persetujuan Menteri Keuangan, satker yang bersangkutan dapat
menarik dan menggunakan dana tersebut (PNBP) untuk membiayai kegiatannya, dengan
proporsi tertentu yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.
Permintaan pembayaran UP untuk DIPA yang bersumber dari dana PNBP,
merupakan SPP permintaan uang muka kerja, yang dapat diajukan pertama kali setelah
satker menerima DIPA. Seperti halnya DIPA yang bersumber dari Rupiah Murni, satker
K/L juga dapat memperoleh Tambahan UP dari DIPA yang bersumber PNBP. Akan
tetapi, tambahan UP ini dapat diberikan oleh KPPN setelah menghitung proporsi
penarikan dari PNBP yang sudah disetorkan ke kas negara oleh satker.
Uang Persediaan dapat diberikan kepada satker pengguna sebesar 20% dari pagu
dana PNBP pada DIPA maksimal sebesar Rp500.000.000 (lima ratus juta rupiah),
dengan melampirkan Daftar Realisasi Pendapatan dan Penggunaan Dana DIPA (PNBP)
Tahun Anggaran sebelumnya. Apabila UP tidak mencukupi dapat mengajukan TUP
sebesar kebutuhan riil satu bulan dengan memperhatikan Maksimum Pencairan (MP).
Pusdiklat Anggaran dan Perbendaharaan
13
Download